BAB II LANDASAN TEORI A. Kerangka Teori 1. Tinjauan tentang

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kerangka Teori
1. Tinjauan tentang Jabatan Notaris
a. Dasar Hukum Jabatan Notaris
Tentang Notaris di Indonesia, semula diatur di dalam Reglement
op het Notarisambt in Nederlands Indie atau yang biasa disebut
Peraturan Jabatan Notaris di Indonesia, yang berlaku mulai tahun
1860 (Stbl. 1860 No.3).1 Kemudian Jabatan Notaris diatur dalam :
1.a)
Ordonantie
tanggal
16
September
1931,
Tentang
Honorarium Notaris,
2.a)
Undang‐Undang Nomor 33 Tahun 1954, Tentang Wakil
Notaris dan Wakil Notaris Sementara.
Dalam perkembangannya, banyak ketentuan‐ketentuan didalam
Peraturan Jabatan Notaris yang sudah tidak sesuai lagi dengan
kebutuhan perkembangan masyarakat di Indonesia. Sehingga pada
tanggal 6 Oktober 2004, di undangkan Undang‐Undang Nomor 30
Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris dalam Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor : 117 yang terdiri dariXIII
bab dan 92 pasal. Kemudian di tahun 2014 pada tanggal 17 Januari
2014 mulailah berlakunya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014
Tentang Jabatan Notaris (UUJN) yang baru di Indonesia.
Lembaga notariat mempunyai peranan yang penting, karena
menyangkut akan kebutuhan dalam pergaulan antara manusia yang
menghendaki adanya alat bukti tertulis dalam bidang hukum
Perdata, sehingga mempunyai kekuatan otentik. Mengingat
pentingnya lembaga ini, maka harus mengacu pada peraturan
1
R. Soegondo Notodisoerjo, op.cit, hlm. 29
8
perundang-undangan di bidang notariat, yaitu Undang-Undang Nomor 2
Tahun 2014.
b. Pengertian Jabatan Notaris
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris
(UUJN), termasuk dalam lingkup Undang-Undang dan peraturan-peraturan
organik, karena mengatur Jabatan Notaris. Materi yang diatur dalamnya
termasuk dalam hukum publik, sehingga ketentuan-ketentuan yang terdapat di
dalamnya adalah peraturan-peraturan yang bersifat memaksa (dwingend
recht). Seorang notaries, berwenang untuk membuat akta-akta otentlik dan
merupakan satu-satunya pejabat umum yang diangkat serta diperintahkan oleh
suatu peraturan yang umum atau yang dikehendaki oleh orang-orang yang
berkepentingan. Notaris pada Pasal 1 angka 1 UUJN adalah pejabat umum
yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan
lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini atau berdasarkan
undang-undang lainnya.
c. Kewenangan dan Kewajiban Jabatan Notaris
Notaris harus berwenang sepanjang yang menyangkut akta yang dibuat itu,
artinya tidak setiap pejabat umum dapat membuat semua akta, akan tetapi
seorang pejabat umum dapat membuat akta-akta tertentu, yakni ditugaskan
atau dikecualikan kepadanya berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Kewenangan Notaris dalam Pasal 15 UUJN yang lebih komprehensif
mengatur sebagai berikut :
1. Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan,
perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundangundangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk
menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta,
semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan
atau dikecualikan kepada pejabat lain yang ditetapkan oleh undangundang.
2. Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Notaris
berwenang pula:
a) mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal
surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
b) membukukan surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam
buku khusus;
9
c) membuat kopi dari asli surat di bawah tangan berupa salinan
yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan
dalam surat yang bersangkutan;
d) melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat
aslinya;
e) memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan
pembuatan Akta;
f) membuat Akta yang berkaitan dengan pertanahan; atau
g) membuat Akta risalah lelang.
3. Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2),
Notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan.
Kewenangan disini antara lain kewenangan mensertifikasikan transaksi
yang dilakukan secara elektronik (cyber notary) termasuk ikrar wakaf dan hipotek
pesawat terbang. Terhadap definisi yang diberikan oleh Pasal 1 UUJN pada
hakikatnya masih ditambahkan “yang dilengkapi dengan kekuasaan umum”, oleh
karena Grosse dari akta Notaris yang memuat kewajiban untuk melunasi suatu
jumlah uang, yang pada bagian kepala akta memuat perkataan “Demi Keadilan
Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, mempunyai kekuatan eksekutorial yang
sama seperti yang diberikan kepada putusan hakim.
Dari bunyi Pasal 15 ayat (1) UUJN tersebut, dapat dilihat bahwa di satu sisi
wewenang notaris diberikan secara luas, namun di sisi yang lain diberikan
pembatasan terhadap wewenang tersebut. Pertama-tama dinyatakan bahwa notaris
berwenang untuk membuat akta otentik, hanya apabila hal itu dikehendaki atau
diminta oleh yang berkepentingan, serta tidak membuat akta yang bukan menjadi
tugas Notaris, ini berarti bahwa notaris tidak berwenang membuat akta otentik
diluar jabatan yang seharusnya wewenangnya terbatas pada pembuatan akta-akta
di bidang hukum perdata. Perbuatan hukum yang tertuang dalam akta notaries
bukanlah merupakan perbuatan hukum dari notaris itu sendiri, melainkan
merupakan perbuatan hukum dari pihak-pihak yang minta atau menghendaki
perbuatan hukum itu dituangkan dalam suatu akta notaries
Sedangkan mengenai kewajiban Notaris, disebutkan dalam Pasal 16 UUJN
dan 16A UUJN, bahwa Notaris dalam menjalankan jabatannya berkewajiban
untuk :
(1) Dalam menjalankan jabatannya, Notaris wajib:
a. bertindak amanah, jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga
kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum;
10
b. membuat Akta dalam bentuk Minuta Akta dan menyimpannya sebagai
bagian dari Protokol Notaris;
c. melekatkan surat dan dokumen serta sidik jari penghadap pada Minuta
Akta;
d. mengeluarkan Grosse Akta, Salinan Akta, atau Kutipan Akta
berdasarkan Minuta Akta;
e. memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang
ini, kecuali ada alasan untuk menolaknya;
f. merahasiakan segala sesuatu mengenai Akta yang dibuatnya dan segala
keterangan yang diperoleh guna pembuatan Akta sesuai dengan
sumpah/janji jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain;
g. menjilid Akta yang dibuatnya dalam 1 (satu) bulan menjadi buku yang
memuat tidak lebih dari 50 (lima puluh) Akta, dan jika jumlah Akta
tidak dapat dimuat dalam satu buku, Akta tersebut dapat dijilid
menjadi lebih dari satu buku, dan mencatat jumlah Minuta Akta, bulan,
dan tahun pembuatannya pada sampul setiap buku;
h. membuat daftar dari Akta protes terhadap tidak dibayar atau tidak
diterimanya surat berharga;
i. membuat daftar Akta yang berkenaan dengan wasiat menurut urutan
waktu pembuatan Akta setiap bulan;
j. mengirimkan daftar Akta sebagaimana dimaksud dalam huruf i atau
daftar nihil yang berkenaan dengan wasiat ke pusat daftar wasiat pada
kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
hukum dalam waktu 5 (lima) hari pada minggu pertama setiap bulan
berikutnya;
k. mencatat dalam repertorium tanggal pengiriman daftar wasiat pada
setiap akhir bulan;
l. mempunyai cap atau stempel yang memuat lambang negara Republik
Indonesia dan pada ruang yang melingkarinya dituliskan nama,
jabatan, dan tempat kedudukan yang bersangkutan;
m. membacakan Akta di hadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling
sedikit 2 (dua) orang saksi, atau 4 (empat) orang saksi khusus untuk
pembuatan Akta wasiat di bawah tangan, dan ditandatangani pada saat
itu juga oleh penghadap, saksi, dan Notaris; dan
n. menerima magang calon Notaris.
(2) Kewajiban menyimpan Minuta Akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b tidak berlaku, dalam hal Notaris mengeluarkan Akta in originali.
(3) Akta in originali sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
meliputi:.hukumonline.com
a. Akta pembayaran uang sewa, bunga, dan pensiun;
b. Akta penawaran pembayaran tunai;
c. Akta protes terhadap tidak dibayarnya atau tidak diterimanya surat
berharga;
d. Akta kuasa;
e. Akta keterangan kepemilikan; dan
f. Akta lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Akta in originali sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dibuat lebih
dari 1 (satu) rangkap, ditandatangani pada waktu, bentuk, dan isi yang
sama, dengan ketentuan pada setiap Akta tertulis kata-kata “BERLAKU
SEBAGAI SATU DAN SATU BERLAKU UNTUK SEMUA".
11
(5) Akta in originali yang berisi kuasa yang belum diisi nama penerima kuasa
hanya dapat dibuat dalam 1 (satu) rangkap.
(6) Bentuk dan ukuran cap atau stempel sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf l ditetapkan dengan Peraturan Menteri.
(7) Pembacaan Akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf m tidak wajib
dilakukan, jika penghadap menghendaki agar Akta tidak dibacakan karena
penghadap telah membaca sendiri,mengetahui, dan memahami isinya,
dengan ketentuan bahwa hal tersebut dinyatakan dalam penutup Akta serta
pada setiap halaman Minuta Akta diparaf oleh penghadap, saksi, dan
Notaris.
(8) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dikecualikan terhadap
pembacaan kepala Akta, komparasi, penjelasan pokok Akta secara singkat
dan jelas, serta penutup Akta.
(9) Jika salah satu syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf m dan
ayat (7) tidak dipenuhi, Akta yang bersangkutan hanya mempunyai
kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan.
(10) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (9) tidak berlaku untuk
pembuatan Akta wasiat.
(11) Notaris yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a sampai dengan huruf l dapat dikenai sanksi berupa:
a. peringatan tertulis;
b. pemberhentian sementara;
c. pemberhentian dengan hormat; atau
d. pemberhentian dengan tidak hormat.
(12) Selain dikenai sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (11), pelanggaran
terhadap ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf j dapat menjadi alasan bagi
pihak yang menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti
rugi, dan bunga kepada Notaris.
(13) Notaris yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf n dapat dikenai sanksi berupa peringatan tertulis.”
Pasal 16A
(1) Calon Notaris yang sedang melakukan magang wajib melaksanakan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf a.
(2) Selain kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1), calon Notaris juga
wajib merahasiakan segala sesuatu mengenai Akta yang dibuatnya dan
segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan Akta.”
2. Tinjauan tentang Akta Notaris
a. Pengertian Akta Notaris
Sudikno Merokusumo mendefiniskan tentang akta sebagai berikut :
12
“Akta adalah surat sebagai alat bukti yang diberi tandatangan, yang
memuat peristiwa yang menjadi dasar suatu hak atau perikatan, yang
dibuat sejak semula dengan sengaja untuk pembuktian.”2
Istilah atau perkataan akta dalam bahasa Belanda disebut “acte” atau
“akta” dan dalam bahasa Inggris disebut “act” atau “deed” menurut pendapat
umum mempunyai dua arti, yaitu:
1.a
Perbuatan (handling) atau perbuatan hukum (rechtshandeling).
2.a
Suatu tulisan yang dibuat untuk dipakai atau untuk digunakan
sebagai perbuatan hukum tertentu yaitu berupa tulisan yang
ditunjukkan kepada pembuktian tertentu.
Secara etimologi menurut S. J. Fachema Andreae, kata “akta” berasal dari
bahasa latin “acta” yang berarti “geschrift” atau surat.3
Akta adalah surat tanda bukti berisi pernyataan (keterangan, pengakuan,
keputusan, dsb) tentang peristiwa hukum yang dibuat menurut peraturan yang
berlaku, disaksikan dan disahkan oleh pejabat resmi. Dengan demikian, maka
unsur penting untuk suatu akta ialah kesengajaan untuk menciptakan suatu
bukti tertulis dan penandatanganan tulisan itu.
Akta sendiri adalah surat sebagai alat bukti yang diberi tanda tangan, yang
memuat peristiwa yang menjadi dasar suatu hak atau perikatan yang dibuat
sejak semula dengan sengaja untuk pembuktian.4 Menurut Pasal 1 ayat (7)
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris Akta Notaris
yang selanjutnya disebut Akta adalah akta autentik yang dibuat oleh atau di
hadapan Notaris menurut bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalam UndangUndang ini.
Pada umumnya akta itu adalah suatu surat yang ditandatangani, memuat
keterangan tentang kejadian-kejadian atau hal-hal yang merupakan dasar dari
suatu perjanjian, dapat dikatakan bahwa akta itu adalah suatu tulisan dengan
mana dinyatakan sesuatu perbuatan hukum. Berdasarkan bentuknya akta
terbagi menjadi atas akta otentik dan akta di bawah tangan, yang menjadi
dasar hukumnya adalah Pasal 1867 KUHPerdata. Yang termasuk akta otentik
adalah sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1868 KUHPerdata. Selain dari
2
Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdara Indonesia, edisi ke-8, cetakan pertama, Liberty, Yogyakarta,
2009 hlm 51
3
Suharjono, “Varia Peradilan Tahun XI Nomor 123”, Sekilas Tinjauan Akta Menurut Hukum, 1995, hal.128
4
Abdul Ghofhur Anshori, op.cit, hlm 18
13
yang ditentukan dalam pasal tersebut maka termasuk dalam akta di bawah
tangan.
Dalam Pasal 1868 KUHPerdata yang dimaksud dengan akta otentik adalah
Suatu akta otentik ialah suatu akta yang di dalam bentuk yang ditentukan oleh
Undang-Undang, dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum yang
berkuasa untuk itu di tempat di mana akta dibuatnya. Pegawai umum yang
dimaksud di sini ialah pegawai-pegawai yang dinyatakan dengan UndangUndang mempunyai wewenang untuk membuat akta otentik, misalnya
Notaris, panitera juru sita, pegawai pencatat sipil, Hakim dan sebagainya. Akta
yang dibuat dengan tidak memenuhi Pasal 1868 KUHPerdata bukanlah akta
otentik atau disebut juga akta di bawah tangan. Perbedaan terbesar antara akta
otentik dan akta yang dibuat di bawah tangan ialah:5
1. Akta otentik
Merupakan alat bukti yang sempurna, sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 1870 KUH Perdata. Ia memberikan di antara para pihak
termasuk para ahli warisnya atau orang yang mendapat hak dari para
pihak itu suatu bukti yang sempurna tentang apa yang diperbuat
/dinyatakan dalam akta ini. Ini berarti mempunyai kekuatan bukti
sedemikian rupa karena dianggap melekatnya pada akta itu sendiri
sehingga tidak perlu dibuktikan lagi dan bagi Hakim itu merupakan
“Bukti Wajib/Keharusan” (Verplicht Bewijs). Dengan demikian barang
siapa yang menyatakan bahwa Akta otentik itu palsu, maka ia harus
membuktikan tentang kepalsuan akta itu. Oleh karena itulah maka
Akta otentik mempunyai kekuatan pembuktian, baik lahiriah, formil
maupun materil (Uitwendige, formiele, en materiele bewijskrach).
Menurut C.A.Kraan, akta otentik mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut :6
a.1
Suatu tulisan dengan sengaja dibuat semata-mata untuk
dijadikan bukti atau suatu bukti dari keadaan sebagaimana
disebutkan di dalam tulisan dibuat dan dinyatakan oleh
pejabat
yang
5
berwenang.
Tulisan
tersebut
turut
N.G Yudara, Pokok-pokok Pemikiran Diseputar Kedudukan dan Fungsi Notaris serta Akta Notaris Menurut
Sistim Hukum Indonesia“, Renvoi, Nomor 10.34.III, tanggal 3 Maret 2006, hal 74.
6
Herlien Soerojo, Kepastian Hukum Hak Atas Tanah di Indonesia, Arkola, Surabaya, 2003, hlm 148
14
ditandatangani oleh atau hanya ditandatangani oleh pejabat
yang bersangkutan saja;
b.1
Suatu tulisan sampai ada bukti sebaliknya, dianggap berasal
dari pejabat yang berwenang;
c.1
Ketentuan
peraturan
dipenuhi;
ketentuan
pembuatannya
perundang-undangan
tersebut
mengatur
(sekurang-kurangnya
memuat
yang
harus
tata
cara
ketentuan-
ketentuan mengenai tanggal, tempat dibuatnya akta suatu
tulisan, nama dan kedudukan atau jabatan pejabat yang
membuatnya);
d.1
Seorang pejabat yang diangkat oleh negara dan mempunyai
sifat dan pekerjaan yang mandiri serta tidak memihak dalam
menjalankan jabatannya;
e.1
Pernyataan atau fakta dari tindakan yang disebut oleh pejabat
adalah hubungan hukum di dalam bidang hukum privat.
2. Akta Bawah Tangan
Akta di bawah tangan bagi Hakim merupakan “Bukti Bebas” (VRU
Bewijs) karena akta di bawah tangan ini baru mempunyai kekuatan
bukti materil setelah dibuktikan kekuatan formilnya. Sedang kekuatan
pembuktian formilnya baru terjadi, bila pihak-pihak yang bersangkutan
mengakui akan kebenaran isi dan cara pembuatan akta itu. Tulisan di
bawah tangan atau disebut juga akta di bawah tangan dibuat dalam
bentuk yang tidak ditentukan oleh undang-undang, tanpa perantara
atau tidak dihadapan Pejabat Umum yang berwenang, seperti terdapat
di Pasal 1874 KUHPerdata. Dengan demikian akta di bawah tangan
berlainan dengan akta otentik, sebab bilamana satu akta di bawah
tangan dinyatakan palsu, maka yang menggunakan akta di bawah
tangan itu sebagai bukti haruslah membuktikan bahwa akta itu tidak
palsu.
Adapun yang termasuk akta di bawah tangan adalah:
a.2
Legalisasi, yaitu akta di bawah tangan yang belum
ditandatangani, diberikan pada Notaris dan di hadapan
Notaris ditandatangani oleh para pihak yang bersangkutan,
setelah isi akta dijelaskan oleh Notaris kepada mereka. Pada
15
legalisasi, tanda tangannya dilakukan di hadapan yang
melegalisasi.
b.2
Waarmerken, yaitu akta di bawah tangan yang didaftarkan
untuk memberikan tanggal yang pasti. Akta yang sudah
ditandatangani diberikan kepada Notaris untuk didaftarkan
dan beri tanggal yang pasti. Pada waarmerken tidak
menjelaskan mengenai siapa yang menandatangani dan
apakah
penandatangan
memahami
isi
akta.
Hanya
mempunyai kepastian tanggal saja dan tidak ada kepastian
tanda tangan.
b. Bentuk Akta Notaris sebagai Kekuatan Pembuktian
Pembuktian dengan tulisan dilakukan dengan tulisan-tulisan otentik
maupun dengan tulisan-tulisan di bawah tangan.7 Suatu akta Notaris dapat
menjadi kekuatan pembuktian di mata hukum dalam mencari kebenaran dari
isi akta.
Suatu Akta Notaris tercipta dan lahir karena :
1.b
Berdasarkan keinginan atau kehendak pihak yang bersangkutan,
Notaris menuangkan perbuatan hukum tersebut kedalam akta
2.b
Berdasarkan ketentuan Undang-Undang perbuatan hukum harus
dituangkan dalam akta otentik agar tidak kehilangan kebatalan atas
perbuatan hukum
Baik akta otentik maupun akta di bawah tangan dibuat dengan tujuan
untuk dipergunakan sebagai alat bukti. Keduanya juga harus memenuhi
rumusan mengenai sahnya suatu perjanjian berdasarkan Pasal 1320
KUHPerdata dan secara materiil mengikat para pihak yang membuatnya Pasal
1338 KUHPerdata, sebagai suatu perjanjian yang harus ditepati oleh para
pihak (pacta sun servanda). Pertimbangan perlunya dituangkan dalam bentuk
akta otentik, adalah untuk menjamin kepastian hukum guna melindungi pihakpihak, baik secara langsung, yaitu para pihak yang berkepentingan langsung
dengan akta itu maupun secara tidak langsung, yaitu masyarakat. Sehingga hal
itu merupakan jaminan bagi para pihak bahwa perbuatan-perbuatan atau
7
Habib Adjie, Kebatalan dan Pembatalan Akta Notaris, PT.Refika Aditama, Bandung, 2013, hlm 7
16
keterangan-keterangan yang dikemukakan memberikan suatu bukti yang tidak
dapat dihilangkan.
Akta Notaris disini merupakan alat bukti tertulis yang dibuat oleh Notaris,
seperti dalam Pasal 1866 KUHPerdata menerangkan bahwa Alat-alat bukti
terdiri atas bukti tulisan, bukti dengan saksi-saksi, persangkaan-persangkaan,
pengakuan, sumpah, segala sesuatunya dengan mengindahkan aturan-aturan
yang ditetapkan dalam bab-bab yang berikut.
Letak kekuatan pembuktian yang istimewa dari suatu akta otentik menurut
Pasal 1870 KUHPerdata, adalah suatu akta otentik memberikan di antara para
pihak, beserta ahli warisnya atau orang-orang yang mendapat hak dari mereka,
suatu bukti yang sempurna tentang apa yang dimuat di dalamnya. Akta otentik
juga harus merupakan suatu alat bukti yang dianggap benar selama
kebenarannya tidak dibuktikan kebalik.
Berkaitan dengan kekuatan pembuktian akta Notaris sebagai alat bukti,
menurut pendapat yang umum dianut dapat dikatakan bahwa pada setiap akta
otentik demikian juga akta Notaris, dibedakan menjadi tiga (3) macam
kekuatan pembuktian yaitu sebagai berikut :
1)
Kekuatan pembuktian lahiriah (Uitwendige Bewijskracht), yaitu :
Kemampuan lahiriah akta Notaris merupakan akta itu sendiri untuk
membuktikan kebasahannya sebagai akta otentik. Kemampuan ini
berdasarkan Pasal 1875 KUH Perdata tidak dapat diberikan kepada akta
yang dibuatdi bawah tangan. Akta yang dibuatdi bawah tangan berlaku
sah, yakni sebagai yang benar-benar berasal dari pihak, apabila pihak
yang menandatanganinya mengakui kebenarannya dan apabila dengan
cara yang menurut hukum telah diakui oleh yang bersangkutan. Apabila
akta otentik yang sesuai dengan aturan hukum yang sudah ditentukan
mengenai syarat akta otentik, maka akta tersebut berlaku sebagai akta
otentik, sampai terbukti sebaliknya, artinya sampai ada yang
membuktikan bahwa akta tersebut bukan akta otentik secara lahiriah.
2)
Kekuatan pembuktian formal (Formale Bewijskracht), yaitu:
Kepastian bahwa sesuatu kejadian dan fakta tersebut dalam akta
benar dilakukan oleh Notaris atau diterangkan oleh pihak-pihak yang
menghadap pada saat yang tercantum dalam akta sesuai dengan
prosedur yang sudah ditentukan dalam pembuatan al sepanjankta
17
menurut peraturan perundangan. Dalam arti formal, sepanjang
mengenai akta pejabat akta itu membuktikan kebenaran dari apa yang
disaksikan, yang dilihat, didengar juga dilakukan sendiri oleh notaries
sebagai pejabat umum di dalam menjalankan jabatannya. Untuk
menyangkal aspek formal dari akta notaries harus bisa membuktikan
kebenaran atau ketidakbenaran pernyataan atau keterangan para pihak
yang diberikan atau disampaikan di hadapan Notaris, jika tidak mampu
membuktikan ketidakbenaran akan akan yang , maka akta tersebut
harus diterima oleh siapapun.
Akta di bawah tangan kekuatan pembuktian ini hanya meliputi
kenyataan bahwa keterangan ini diberikan, apabila tanda tangan yang
tercantum dalam akta di bawah tangan itu diakui oleh orang yang
menandatangani atau dianggap sebagai telah diakui sedemikian
menurut hukum.8 Akta Otentik berlaku kekuatan pembuktian formal
dan berlaku terhadap setiap orang yakni apa yang ada dan terdapat
diatas tandantangan mereka.9
3)
Kekuatan pembuktian material (Materiele Bewijskracht)10, yaitu:
Kepastain bahwa apa yang ada dalam akta itu merupakan
pembuktian yang sah terhadap pihak-pihak yang membuat akta atau
mereka yang mendapat hak dan berlaku untuk umum. Akta Otentik
sebagai kepastian yang sebenarnya menjadi bukti yang sah hakim tidak
diperkenankan meminta tanda pembuktian lainnya disamping akta
otentik. Akta yang dibuat notaris sebagai kekuatan pembutian
mengandung makna materiil yang sebaiknya diperjelaskan dalam akta
alasan-alasan yang menyebabkan nantinya akta itu menjadi celah
hukum untuk dipersalahkan dimuka pengadilan, missal seperti pihak
yang tidak bisa tandatangan saat itu dikarekan sakit dan lain
sebagainya. Lain halnya jika ternyata pernyataan atau keterangan para
penghadap tersebut menjadi tidak benar, maka hal tersebut menjadi
tanggungjawab para pihak sendiri.
8
Abdul Ghofur Anshori, op.cit, hlm 20
Ibid
10
G.H.S. Lumban Tobing, Peraturan Jabatan Notaris, Penerbit Erlangga. Jakarta, 1999, hlm 55-59
9
18
Adapun untuk lebih jelas dalam memahami kekuatan
pembuktian akta otentik, menurut pendapat Th. Kussunaryatun dalam
penulisan hukum (tesis) Bambang Rianggono, ada tiga macam
kekuatan pembuktian akta otentik, yaitu :11
a.3) Kekuatan bukti lahir yaitu syarat-syarat dari terbentuknya akta
otentik sudah terpenuhi.
b.3) Kekuatan bukti formil yaitu kebenaran dari peristiwa yang
dinyatakan di dalam akta, dengan kata lain apakah pada tanggal
tertentu benar-benar telah menerangkan sesuatu.
c.3) Kekuatan bukti materiil yaitu kebenaran dari isi akta
dipandang dari segi Yuridis, dengan kata lain apakah sesuatu
yang diterangkan benar-benar terjadi.
c. Otentisitas Akta Notaris
Menurut definisi Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, akta
otentik harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang,
dalam hal ini yaitu Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan
Notaris (UUJN). Otentisitas dari akta notaris bersumber dari Pasal 1 angka 1
dan Pasal 15 ayat (1) UUJN, di mana notaris dijadikan sebagai pejabat umum,
sehingga akta yang dibuat oleh notaries dalam kedudukannya tersebut
memperoleh sifat akta otentik.
Pasal 15 ayat (1) UUJN menegaskan bahwa kewenangan Notaris adalah
salah satunya membuat akta secara umum. Pembuatan akta harus didasarkan
pada Pasal 1320 KUHPerdata yang mengatur mengenai syarat sahnya
perjanjian. Setelah semua terpenuhi, dituangkanlah segala yang menyangkut
perjanjian kedalam akta Notaris. Akta Notaris pun harus mendasar pada Pasal
38 UUJN, yang terdiri dari:
(1) Setiap akta Notaris terdiri atas :
a. awal Akta atau Kepala Akta
b. badan Akta; dan
c. akhir atau penutup Akta.
(2) Awal Akta atau Kepala Akta memuat :
a. Judul Akta;
b. Nomor Akta;
c. Jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun ; dan
11
Bambang Rianggono, “Kekuatan Akta Pernyataan Keputusan Rapat (PKR) Yang Dibuat Berdasarkan Risalah
Rapat Di Bawah Tangan Ditinjau Dari Tanggung Jawab Notaris”, Tesis, Universotas Diponegoro, Semarang,
2007, hlm 2
19
d. Nama lengkap dan tempat kedudukan Notaris.
(3) Badan Akta memuat :
a. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, kewarganegaraan,
pekerjaan, jabatan, kedudukan, tempat tinggal para penghadap
dan/atai orang yang mereka wakili;
b. Keterangan mengenai kedudukan bertindk penghadap;
c. Isi Akta yang merupakan kehendak dan keinginan dari pihak yang
berkepentingan; dan
d. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, serta pekerjaan, jabatan,
kedudukan, dan tenpat tinggal dan tiap-tiap saksi pengenal.
(4) Akhir atau pentutup Akta memuat :
a. Uraian tentang pembacaan Akta sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 16 ayat (1) huruf m atau Pasal 16 ayat (7) ;
b. Uraian tentang penandatanganan dan tempat penandatanganan atau
penerjemah Akta jika ada;
c. Nama lengkap, tempat tanggal lahir, dan pekerjaan, jabatan,
kedudukan, dan tempattinggal dari tiap-tiap saksi Akta; dan
d. Uraian tentang tidak adanya perubahanyang terjadi dalam
pembuatan Akta atau uraian tentang adanya perubahan yang dapat
berupa penambahan, pencoretan, atau penggntian serta jumlah
perubahan.
(5) Akta Notaris Pengganti dan Pejabat Sementara Notaris, selain memuat
ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), (3), dan (4), juga
memuat nomor dan tanggal penetapan pengangkatan, serta pejabat
uang mengangkatnya.
Dari Pasal 38 UUJN ini merupakan syarat Akta Notaris sebagai Akta
Otentik yang dibuat oleh atau dihadapan Notaris menurut bentuk dan tatacara
yang ditetapkan UUJN, dan secara tersiratnya dalam Pasal 58 ayat (2) UUJN
disebutkan bahwa Notaris wajib membuat Daftar Akta dan mencatat semua
akta yang dibuat oleh atau dihadapan Notaris. Akta yang menjadi kewenangan
Notaris, yaitu :
(1) Akta yang dibuat oleh (door) Notaris dalam praktik Notaris disebut
Akta Relaas atau Akta Berita Acara yang berisi berupa uraian Notaris
yang dilihat, didengar, disaksikan, dan diputuskan Notaris sendiri atas
permintaan para pihak, agar perbuatan para pihak tersebut dituangkan
dalam bentuk akta Notaris.
(2) Akta yang dibuat di hadapan (ten overstaan) Notaris, dalam praktik
Notaris disebut Akta Pihak, yang berisi uraian atau keterangan,
pernyataan para pihak yang diberikan atau yang diceritakan di hadapan
20
Notaris. Para pihak berkeinginan agar uraian atau keterangan
dituangkan dalam bentuk akta Notaris.12
Dari Pasal 38 UUJN tersebut telah menentukan bahwa suatu bentuk akta
dapat berakibat hukum tertentu jika tidak terpenuhi syaratnya. Adapun syarat
subjektif artinya syarat yang berkaitan dengan subjek yang mengadakan atau
membuat perjanjian, yang terdiri dari kata sepakat dan cakap bertindak untuk
melakukan perbuatan hukum, dan syarat objektif artinya syarat yang berkaitan
dengan isi perjanjiannya atau berkaitan dengan objek perjanjian yang
dijadikan perbuatan hukum, yang terdiri dari suatu hal tertentu dan klausa
yang halal.
Dari kedua syarat tersebut akta Notaris berakibat hukum dapat dibatalkan
apabila syarat subjektif tidak terpenuhi dan batal demi hukum apabila syarat
objektif tidak terpenuhi. Berikut uraian mengenai Akta Notaris yang dapat
dibatalkan dan batal demi hukum :13
Tabel 1: Akta Notaris yang Dapat Dibatalkan dan Batal Demi Hukum
Keterangan
Alasan
Akta Notaris yang Dapat
Akta Notaris Batal
Dibatalkan
Demi Hukum
Melanggar unsur subjektif, yaitu :
1. Sepakat
mereka
mengikatkan dirinya
2. Kecakapan
untuk
Melanggar
unsur
yang objektif, yaitu :
1. Suatu hal tertentu
membuat 2. Seuatu sebab yang
suatu perikatan
terlarang
Mulai berlaku/ - Akta tetap mengikat selama Sejak saat akta tersebut
terjadinya
belum ada putusan pengadilan ditandatangani
pembatalan
yang
telah
dan
mempunyai tindakan hukum yang
kekuatan hukum tetap.
tersebut
dalam
akta
- Akta menjadi tidak mengikat dianggap tidak pernah
sejak ada putusan pengadilan terjadi,
yang
telah
mempunyai perluada
kekuatan hukum tetap.
12
13
Habib Adjie op.cit, hlm 44
Ibid, hlm 42
21
dan
pengadilan.
tanpa
putusan
Akta yang dibuat dihadapan Notaris ini juga merupakan akta yang
mempunyai pembuktian sempurna di muka pengadilan. Asalkan baik syarat,
tata cara, dan prosedurnya sesuai dengan aturan hukum yang sudang
diundangkan. Agar nantinya akibat hukum dari akta yang dibuat dihadapan
Notaris ini tidak dapat dibatalkan ataupun batal demi hukum.
3. Tinjauan tentang Perseroan Terbatas (PT)
a. Dasar Hukum Perseroan Terbatas
Perseroan Terbatas yang sebelumnya hanya diatur dengan Kitab
Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD). Selama ini Perseroan Terbatas
telah diatur dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan
Terbatas, yang menggantikan peraturan perundang-undangan yang berasal dari
zaman kolonial. Namun, dalam perkembangannya ketentuan dalam UndangUndang tersebut dipandang tidak lagi memenuhi perkembangan hukum dan
kebutuhan masyarakat karena keadaan ekonomi serta kemajuan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan informasi sudah berkembang begitu pesat
khususnya pada era globalisasi. Di samping itu, meningkatnya tuntutan
masyarakat akan layanan yang cepat, kepastian hukum, serta tuntutan akan
pengembangan dunia usaha sesuai dengan prinsip pengelolaan perusahaan
yang baik (good corporate governance) menuntut penyempurnaan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
merupakan dasar hukum bagi pengaturan Perseroan Terbatas di Indonesia.
Dalam Undang-Undang ini telah diakomodasikan berbagai ketentuan
mengenai Perseroan, baik berupa penambahan ketentuan baru, perbaikan
penyempurnaan, maupun mempertahankan ketentuan lama yang dinilai masih
relevan. Untuk lebih memperjelas hakikat, di dalam Undang-Undang ini
ditegaskan bahwa Perseroan adalah badan hukum yang merupakan
persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan
usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang serta peraturan
pelaksanaannya.
Dalam rangka memenuhi tuntutan masyarakat untuk memperoleh layanan
yang cepat, Undang-Undang ini mengatur tata cara :
22
1. Pengajuan permohonan dan pemberian pengesahan status badan
hukum;
2. Pengajuan permohonan
dan pemberian persetujuan perubahan
anggaran dasar;
3. Penyampaian
pemberitahuan
dan
penerimaan
pemberitahuan
perubahan anggaran dasar dan/atau pemberitahuan dan penerimaan
pemberitahuan perubahan data lainnya, yang dilakukan melalui jasa
teknologi informasi sistem administrasi badan hukum secara elektronik
di samping tetap dimungkinkan menggunakan sistem manual dalam
keadaan tertentu.
Berkenaan dengan permohonan pengesahan badan hukum Perseroan,
ditegaskan bahwa permohonan tersebut merupakan wewenang pendiri
bersama-sama yang dapat dilaksanakan sendiri atau dikuasakan kepada
Notaris. Untuk lebih memperjelas dan mempertegas ketentuan yang
menyangkut Organ Perseroan, dalam Undang-Undang ini dilakukan
perubahan atas ketentuan yang menyangkut penyelenggaraan Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.
Dengan demikian, penyelenggaraan RUPS dapat dilakukan melalui media
elektronik seperti telekonferensi, video konferensi, atau sarana media
elektronik lainnya.
Undang-Undang Perseroan Terbatas memperjelas dan mempertegas tugas
dan tanggung jawab Direksi dan Dewan Komisaris, Undang-Undang ini
mengatur mengenai komisaris independen dan komisaris utusan. Sesuai
dengan berkembangnya kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, UndangUndang ini mewajibkan Perseroan yang menjalankan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah selain mempunyai Dewan Komisaris juga
mempunyai Dewan Pengawas Syariah. Tugas Dewan Pengawas Syariah
adalah memberikan nasihat dan saran kepada Direksi serta mengawasi
kegiatan Perseroan agar sesuai dengan prinsip syariah.
Dalam Undang-Undang ini ketentuan mengenai struktur modal Perseroan
tetap sama, yaitu terdiri atas modal dasar, modal ditempatkan, dan modal
disetor. Namun, modal dasar Perseroan diubah menjadi paling sedikit Rp
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), sedangkan kewajiban penyetoran atas
modal yang ditempatkan harus penuh. Mengenai pembelian kembali saham
23
yang telah dikeluarkan oleh Perseroan pada prinsipnya tetap dapat dilakukan
dengan syarat batas waktu Perseroanmenguasai saham yang telah dibeli
kembali paling lama 3 (tiga) tahun. Khusus tentang penggunaan laba, UndangUndang ini menegaskan bahwa Perseroan dapat membagi laba dan
menyisihkan cadangan wajib apabila Perseroan mempunyai saldo laba positif.
b. Pengertian Perseroan Terbatas
Perseroan Terbatas dalam bahasa Belanda disebut Naamloze Vennotschap
(NV) artinya Perseroan tanpa nama, yang dimaksud tanpa nama ialah tanpa
nama perseorangan yang memasukkan modalnya. Perseroan Terbatas, yang
selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan hukum yang merupakan
persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan
usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta
peraturan pelaksanaannya.14
Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas menyebutkan bahwa :
Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan
hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan
perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang
seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang
ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaannya.
Pengertian perseroan, adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan
perjanjian, yang melakukan kegiatan usaha dengan modal tertentu, yang
seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan
dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas serta peraturan pelaksanaannya.15
Perseroan Terbatas adalah persekutuan yang berbentuk badan hukum,
diamana badan hukum ini disebut “perseroan”. Istilah perseroan pada
Perseroan Terbatas menunjuk pada cara penentuan modal pada badan hukum
itu yang terdiri dari sero-sero atau saham-saham dan istilah terbatas menunjuk
pada batas tanggung jawab para pesero atau pemegang saham, yaitu hanya
14
Mulyoto. Kriminalisasi Notaris Dalam Pembuatan Akta Perseroan Terbatas (PT), Cakrawala Media,
Yogyakarta, 2012, hlm 1
15
Ahmad Yani & Gunawan Widjaya, Perseroan Terbatas, PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta, 2006, hlm 7.
24
terbatas pada jumlah nilainominal dari semua saham-saham yang dimiliki.16
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) tidak diberikan
definisi mengenai Perseroan Terbatas, namun dapat ditemukan dalam Pasal
36, 40, 42, dan 4 KUHD. Dalam Pasal tersebut mengandung unsur-unsur yang
dapat membentuk badan usaha menjadi perseroan terbatas. Unsur-unsur
tersebut disimpulkan menjadi :
a. Merupakan badan hukum
b. Merupakan asosiasi modal
c. Didirikan berdasarkan perjanjian
d. Berwenang melakukan kegiatan usaha
e. Memenuhi persyaratan yang ditetapkan Undang-Undang
f. Ada kekayaan yang terpisah dari kekayaan pribadi masingmasing
pesero
g. Adanya pesero yang tanggung jawabnya terbatas pada jumlah nominal
saham yang dimilikinya
h. Adanya pengurus (Direksi dan Komisaris)
Perseroan memerlukan organ-organnya untuk menjalankan usahanya,
mengurus kekayaannya dan mewakili perseroan di depan pengadilan maupun
di luar pengadilan. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 menentukan,
bahwa organ perseroan terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS),
Direksi dan Dewan Komisaris. Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS
adalah organ perseroan yang memegang kekuasaan tertinggi dalam perseroan
dan memegang segala wewenang yang tidak diserahkan kepada Direksi dan
Komisaris. RUPS mempunyai segala wewenang yang tidak diberikan kepada
Direksi atau Komisaris dalam batas yang ditentukan UU No. 40 Tahun 2007
dan atau Anggaran Dasar. RUPS berhak memperoleh segala keterangan yang
berkaitan dengan kepentingan perseroan dari direksi dan komisaris. Eksistensi
RUPS sangat signifikan dalam penyelenggaraan perseroan terbatas, mengingat
keputusan-keputusan yang penting dalam suatu Perseroan Terbatas akan
diambil melalui mekanisme RUPS. Oleh karena itu, pelaksanaan RUPS harus
memenuhi segala sesuatu ketentuan yang termaktub dalam anggaran dasar
16
CST Kansil dan Christine S.T Kansil, Seluk Beluk Perseroan Terbatas Menurut Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2007, PT. Rineka Cipta:Jakarta 2009, hlm 2
25
perseroan dan peraturan perundangan yang berlaku, khususnya UndangUndang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
c. Kedudukan Perseroan Terbatas sebagai Badan Hukum
Pengertian dan definisi badan hukum lahir dari doktrin ilmu hukum yang
oleh para ahli, berdasarkan pada kebutuhan praktik hukum dan dunia usaha,
hal ini pada akhirnya melahirkan banyak teori tentang badan hukum yang
terus berkembang dikembangkan dari waktu ke waktu. Dalam kepustakaan
hukum belanda istilah badan hukum dikenal dengan sebutan “recthsperson”
dalam kepustakaan Common Law sering disebut dengan istilah Legal Entity,
Juristic Person, Artificial Person.17
Dari pengertian yang diberikan di atas dapat dilihat bahwa, badan hukum
merupakan penyandang hak dan kewajibannya sendiri yang memiliki suatu
status yang dipersamakan dengan orang-perorangan sebagai subjek hukum
dalam pengertian sebagai penyandang hak dan kewajiban, badan hukum dapat
digugat ataupun menggugat di pengadilan. Hal ini membawa konsekuensi
bahwa keberadaannya sebagai badan hukum tidak digantungkan pada
kehendak pendiri atau anggotanya melainkan pada sesuatu yang ditentukan
oleh hukum.18
Ilmu hukum mengenal dua macam subjek hukum, yaitu subjek hukum
pribadi (orang-perorangan) dan subjek hukum berupa badan hukum. Terhadap
masing-masing subjek hukum tersebut berlaku ketentuan hukum yang berbeda
satu dengan lainnya, meskipun dalam hal-hal tertentu terhadap keduanya dapat
diterapkan suatu aturan yang berlaku umum.19
Badan hukum merupakan kumpulan manusia pribadi (natuurlijke persoon)
dan mungkin pula kumpulan dari badan hukum yang pengaturannya sesuai
dengan hukum yang berlaku20. Badan hukum (rechts persoon) dibedakan
dalam dua bentuk yaitu21:
17
Gunawan Widjaja, Tanggung Jawab Direksi Atas Kepailitan Perseroan, Jakarta: PT.RajaGrafindo, 2003, hlm
17
18
Ibid, hlm 18
19
Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja, Perseroan Terbatas, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003, hlm 8
20
C.S.T Kansil dan Cristine S.T K ansil, Pokok-Pokok Badan Hukum, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002,
hlm 9
21
Ibid, hlm 10
26
1. Badan hukum publik atau publick rechts persoon, adalah badan hukum
yang didirikan berdasarkan hukum publik atau yang menyangkut
kepentingan publik atau orang banyak atau Negara pada umumnya
Badan hukum privat (sipil) atau privaat rechts persoon, adalah badan
hukum yang didirikan berdasarkan hukum sipil/perdata yang
menyangkut kepentingan pribadi pribadi orang di dalam badan hukum
itu.
2. Badan hukum privat (sipil) atau privaat rechts persoon, adalah badan
hukum yang didirikan berdasarkan hukum sipil/perdata yang
menyangkut kepentingan pribadi pribadi orang di dalam badan hukum
itu.
d. Macam-Macam Perseroan Terbatas
Suatu Perseroan Terbatas dapat diklasifikasi kepada beberapa bentuk
apabila dilihat dan berbagai kriteria, yaitu sebagai berikut:
1. Dilihat dari banyaknya Pemegang Saham, jika dilihat dari segi banyaknya
pemegang saham suatu Perseroan Terbatas dapat dibagi ke dalam:
a)
Perusahaan Tertutup
b)
Perusahaan Terbuka
c)
Perusahaan Publik
2. Dilihat dari Jenis Penanaman Modal Jika dilihat dan segi jenis penanaman
modalnya, suatu Perseroan Terbatas dapat dibagi ke dalam:
a) Perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)
b) Perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA)
c) Perusahaan Non-Penanaman Modal Asing (PMA)/Penanaman Modal
Dalam Negeri (PMDN)
3. Dilihat Keikutsertaan Pemerintah
a) Perusahaan Swasta
b) Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
c) Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
27
4. Dilihat dari Sedikitnya Pemegang Saham Jika dilihat dari segi sedikitnya
jumlah pemegang saham, maka suatu Perseroan Terbatas dapat dibagi ke
dalam :
a) Perusahaan Pemegang Saham Tunggal (Corporation Sole)
Yang dimaksud dengan perusahaan pemegang saham tunggal
(Corporation Sole), adalah suatu Perseroan Terbatas di mana
pemegang sahamnya hanya terdiri dari 1 (satu) orang saja. UndangUndang
Perseroan
Terbatas
tidak
memungkinkan
eksistensi
perusahaan pemegang saham tunggal ini Lihat Pasal 7 ayat (3), ayat (4)
dan ayat (5) Undang-Undang Perseroan Terbatas. Undang-Undang
hanya memungkinkan adanya pemegang saham tunggal dalam suatu
Perseroan Terbatas hanya dalam 2 (dua) hal sebagai berikut:
-
Apabila perusahaan tersebut adalah Badan Usaha Milik Negara
(BUMN).
-
Dalam waktu maksimal 6 (enam) bulan setelah terjadinya
perusahaan pemegang saham tunggal.
b) Perusahaan Pemegang Saham Banyak (Corporation Agregate)
Perusahaan Pemegang Saham Banyak (Corporation Agregate),
adalah Perseroan Terbatas yang jumlah pemegang sahamnya 2 (dua)
orang atau lebih. Pada prinsipnya Perseroan Terbatas seperti inilah
yang dikehendaki oleh Undang-Undang Perseroan Terbatas.
e. Organ-Organ Perseroan Terbatas
1) Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
Perseroan Terbatas mempunyai alat yang disebut organ perseroan,
gunanya untuk menggerakkan perseroan agar badan hukum dapat
berjalan sesuai dengan tujuannya.22 Organ perseroan adalah RUPS,
Direksi dan Dewan Komisaris. Rapat Umum Pemegang Saham atau
RUPS adalah organ perseroan yang memegang kekuasaan tertinggi
dalam perseroan dan memegang segala wewenang yang tidak
diserahkan kepada Direksi dan Komisaris. Menurut Misahardi
Wilamarta dalam struktur Perseroan Terbatas RUPS mempunyai
22
Gatot Supramono, Hukum Perseroan Terbatas, Djambatan, Jakarta, 2007 1996, hlm 3
28
kekuasaan yang tertinggi, tetapi hal tersebut bukan berarti bahwa
RUPS memiliki jenjang tertinggi diantara organ perseroan, tetapi
sekedar mempunyai kekuasaan tertinggi bila wewenang tersebut tidak
dilimpahkan kepada organ perseroan lain.23 Jadi masing-masing organ
perseroan mempunyai tugas dan wewenang yang berdiri sendiri.
1. Hak dan Wewenang RUPS
a) Rapat Umum Pemegang Saham mempunyai segala wewenang
yang tidak diberikan kepada Direksi atau Komisaris dalam
batas yang ditentukan UU No. 40 Tahun 2007 Pasal 75 ayat 1
dan atau Anggaran Dasar.
b) Rapat Umum Pemegang Saham berhak memperoleh segala
keterangan yang berkaitan dengan kepentingan perseroan dari
Direksi dan Komisaris.
c) Pengangkatan direksi dan komisaris adalah menjadi wewenang
RUPS demikian juga dengan pemberhentian direksi dan
komisaris
d) Pemegang Saham berhak memperoleh keterangan yang
berkaitan dengan Perseroan dari Direksi dan/atau Dewan
Komisaris, sepanjang berhubungan dengan mata acara rapat
dan tidak bertentangan dengan kepentingan Perseroan.
e) RUPS dalam mata acara lain-lain tidak berhak mengambil
keputusan, kecuali semua pemegang saham hadir dan/atau
diwakili dalam RUPS dan menyetujui penambahan mata acara
rapat, serta keputusan atas acara rapat harus disetujui suara
bulat.
Setiap organ diberi kebebabasan asal semuanya dilakukan demi
tujuan dan kepentingan perseroan. Instruksi dari organ lain, misalnya
RUPS, dapat saja tidak dipenuhi oleh direksi, meskipun direksi
diangkat oleh RUPS sebab pengangkatan direksi oleh RUPS tidak
berarti bahwa wewenang yang dimiliki direksi merupakan pemberian
kuasa atau bersumber dari pemberian kuasa dari RUPS kepada direksi,
23
David, Legalitas Akta Notaris Rapat Umum Pemegang Saham Melalui Media Telekonferensi, Universitas
Atma Jaya, Yogjakarta, 2013
29
namun bersumber dari Undang-Undang dan Anggaran Dasar. Oleh
karena itu, RUPS tidak dapat mencampuri tindakan pengurusan
perseroan sehari-hari yang dilakukan direksi sebab tindakan direksi
semata-mata adalah untuk kepentingan perseroan, bukan untuk
RUPS.24 Hal demikian sudah jelas diatur dalam BAB VI Pasal 75 ayat
1 UUPT bahwasanya RUPS mempunyai wewenang yang tidak
diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris, dalam batas yang
ditentukan dalam Undang-Undang ini dan/atau anggaran dasar.
Selama pengurus menjalankan wewenangnya dalam batas-batas
ketentuan Undang-Undang dan anggaran dasar, maka pengurus
tersebut berhak untuk tidak mematuhi perintah-perintah atau instruksiinstruksi dari organ lainnya, baik dari komisaris maupun RUPS.
Dengan kata lain, menurut paham tersebut wewenang yang ada pada
organ-organ dimaksud bukan bersumber dari limpahan atau kuasa dari
RUPS, melainkan bersumber dari ketentuan Undang-Undang dan
Anggaran Dasar.25
2. Tempat Kedudukan dan Tempat RUPS Diadakan
a) Tempat kedudukan perseroan adalah tempat kantor pusatnya
berada atau tempat perseroan melakukan kegiatan usahanya.
b) RUPS diadakan di tempat kedudukan perseroan. Dalam
Anggaran Dasar dapat ditetapkan bahwa RUPS dapat dilakukan
di luar tempat kedudukan perseroan atau kecuali ditentukan lain
dalam Anggaran Dasar tetapi harus terletak di wilayah negara
Republik Indonesia.
3. Macam-macam RUPS
a) RUPS terdiri atas RUPS tahunan dan RUPS lainnya;
b) RUPS tahunan, diadakan dalam waktu paling lambat 6 (enam)
bulan setelah tahun buku, dan dalam RUPS tahunan tersebut
harus diajukan semua dokumen perseroan;
c) RUPS lainnya dapat diadakan sewaktu-waktu berdasarkan
kebutuhan.
24
Agus Budiarto, Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendiri Perseroan Terbatas, Ghalia Indonesia,
Jakarta, 2002, hlm 58
25
Ibid
30
4. Penyelenggaraan dan Pemanggilan RUPS
Penyelenggaraan
menyelenggarakan
RUPS
RUPS
adalah
tahunan
dan
Direksi.
untuk
Direksi
kepentingan
perseroan, ia juga berwenang menyelenggarakan RUPS lainnya,
atau dapat juga dilakukan atas permintaan satu pemegang saham
atau lebih yang bersama-sama mewakili 1/10 bagian dari jumlah
seluruh saham dengan hak suara yang sah, atau suatu jumlah yang
lebih kecil sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar
perseroan yang bersangkutan. Permintaan tersebut diajukan kepada
Direksi dengan surat tercatat disertai alasannya. Surat tercatat
tersebut yang disampaikan oleh pemegang saham tembusannya
disampaikan kepada dewan komisaris (Pasal 79 ayat (1), (2), (3),
(4) UUPT), RUPS seperti itu hanya dapat membicarakan masalah
yang berkaitan dengan alasan yang diajukan tersebut.
Direksi wajib melakukan pemanggilan RUPS dalam jangka
waktu paling lambat 15 hari terhitung sejak tanggal permintaan
penyelenggaraan RUPS dierima. Dalam hal Direksi tidak
melakukan pemanggilan RUPS yang dimaksud, permintaan
penyelenggaraan RUPS diajukan kembali kepada dewan komisaris
atau dewan komisaris sendiri yang melakukan pemanggilan.
Dewan komisaris wajib melakukan pemanggilan RUPS dalam
jangka waktu paling lambat 15 hari terhitung sejak tanggal
permintaan penyelenggaraan RUPS diterima Pasal 79 ayat (5), (6),
dan (7) UUPT)
Pemanggilan RUPS dilakukan dengan tahapan :
a) Dalam jangka waktu paling lambat 14 hari sebelum
tanggal RUPS diadakan. Jangka waktu ini adalah jangka
waktu minimal, anggaran dasar tidak dapat menentukan
jangka waktu lebih singkat dari 14 hari, kecuali untuk
rapat kedua atau ketiga sesuai UUPT (Pasal 82 ayat (1)
UUPT);
b) Dilakukan dengan surat tercatat dan/atau dengan iklan
dalam surat kabar. Dalam panggilan ini dicantumkan
tanggal, waktu, tempat, dan mata acara rapat disertai
31
pemberitahuan bahan yang dibicarakan dalam RUPS
tersedia di kantor perseroan sejak tanggal dilakukan
pemanggilan RUPS sampai tanggal RUPS diadakan.
Perseroan wajib memeberikan kepada pemegang saham
salinan bahan yang akan dibicarakan secara cuma-Cuma
(Pasal 82 ayat (2), (3). dan (4) UUPT);
c) Undangan dibawa saat menghadiri RUPS, untuk
menunujukkan jumlah kehadiran pemegang saham
sesuai dengan agenda rapat untuk menentukan kuorum
dan pengambilan suara dalam RUPS.
5. Kuorum RUPS
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas, telah diklarifikasi syarat kuantitas kuorum
kehadiran dan pengambilan keputusan bagi setiap agenda atau mata
acara RUPS seperti berikut :26
Tabel 1.2 Ketentuan Kuorum suatu Perseroan Terbatas
No
1
2
TENTANG
Perbuatan
hukum yang
dilakukan
calon
pendiri(kuas
anya) untuk
kepentingan
perseroan
yang belum
didirikan
Perbuatan
hukum yang
PENYELENGGARA
AN
KUORUM
KEHADIRA KEPUTUSA
N
N
RUPS pertama
perseroan
diselenggarakan
paling lambat 60 hari
sejak perseroan
memperoleh status
badan hukum dengan
tegas
menyatakan
mengambil alih hak
dan kewajiban yang
dilakukan oleh calon
pendiri (kuasanya)
dimaksud
Semua
pemegang
saham yang
Mewakili
seluruh
saham
perseroan
atau 100%
dari seluruh
jumlah
saham yang
memiliki hak
suara
Disetujui
oleh semua
atau (100 %)
pemegang
saham yang
hadir yang
mewakili
seluruh
saham
perseroan
atau dari
seJuruh
jumlah
saham
Dasar : Pasal 13 ayat
(1) dan (2)
Dasar : Pasal
13 ayat (3)
Dasar : Pasal
13 ayat (3)
RUPS pertama
perseroan
Semua
pemegang
Disetujui
oleh semua
26
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007
32
dilakukan
oleh pendiri
untuk
kepentingan
perseroan
yang belum
memperoleh
status badan
hukum
3
diselenggarakan
paling lambat 60 hari
sejak perseroan
memperoleh status
badan hukum
saham yang
mewakili
seluruh
saham
perseroan
atau 100%
dari seluruh
jumlah
saham
Dasar : Pasal 14 ayat
(5)
Dasar : Pasal
14 ayat (4)
Perubahan 1. Penambahan modal 1.
Anggaran
dasar perseroan.
Dasar
Dasar : Pasal 41ayat
Perseroan.
(1) dan Pasal 42 ayat
(1)
Dasar :
Pasal 19 2. Pengurangan modal
perseroan.
Dasar : Pasal 44 ayat
(1) dan Pasal 47 ayat
(5)
Paling
1.
sedikit 2/3
(dua pertiga)
bagian dari
jumlah
seluruh
saham
dengan hak
suara.
Dasar : Pasal
88 ayat (1)
2.
2. Apabila
tidak
tercapai 2/3
bagian, dapat
diadakan
RUPS
kedua,
dengan
dihadiri
minimal 3/5
(tiga
perlima)
bagian dari
jumlah
seluruh
saham
dengan hak
suara.
Dasar : Pasal
88 ayat (3)
33
(100 %)
pemegang
saham yang
hadir yang
mewakili
seluruh
saham
perseroan
atau dari
seluruh
jumlah
saham
Dasar : Pasal
14 ayat (4)
Disetujui
paling
sedikit 2/3
(dua per
tiga) bagian
dari jumlah
suara yang
dikeluarkan.
Dasar : Pasal
88 ayat (1)
Dalam
RUPS kedua
disetujui
paling
sedikit 2/3
(dua per
tiga) bagian
dari jumlah
suara yang di
keluarkan.
Dasar : Pasal
88 ayat (3)
4
4. Perpanjangan jangka 1. Paling
1.
waktu berdirinya
sedikit ¾
perseroan.
(tiga per
empat)
bagian dari
Dasar : Pasal 89 ayat ju mlah
seluruh
(1)
saham
dengan hak
suara.
Dasar: Pasal
89 ayat (1)
Disetujui
paling
sedikit ¾
(tiga
perempat)
bagian dari
jumlah suara
yang
dikeluarkan.
2. Apabila
2.
lidak
tercapai 3/4
(tiga
perempat)
bagian, dapat
diadakan
RUPS kedua
dengan
dihadiri
minimal 2/3
bagian dari
jumlah
seluruh
saham
dengan hak
suara.
Dasar : Pasal
89 ayat (3)
Disetujui
paling
sedikit ¾
(tiga
perempat)
bagian dari
jumlah suara
yang
dikeluarkan.
Penggabung
an,
Peleburan,P
engambilali
han
atau
pemisahan,P
engajuan
permohonan
pailit dan
pembubaran
perseroan.
Dasar : Pasal
88 ayat (1)
Dasar : Pasal
89 ayat (3)
1. Paling
1. Disetujui
sedikit ¾
paling
(tiga
sedikit ¾
perempat)
(tiga per
bagian dari
empat)
jumlah
bagian dari
seluruh
jumlah suara
saham
yang
dengan hak
dikeluarkan.
suara.
Dasar : Pasal Dasar : Pasal
89 ayat (1)
88 ayat (1)
2. Apabila tidak2. Disetujui
tercapai ¾
paling
34
5
6
7
Penambaha
n modal di
tempatkan
dan
disetor
dalam batas
modal dasar
perseroan.
Pengambila
n keputusan
dalam mata
acara lainlain, selama
RUPS
Penggunaan
Hak Tagih
sebagai
kompensasi
kewajiban
penyetoran
atas harga
saham oleh
35
(tiga
perempat)
bagian, dapat
diadakan
RUPS kedua
dengan
dihadiri
minimal 2/3
(dua per
tiga) bagian
dari jumlah
seluruh
saham
dengan hak
suara.
.
Dasar : Pasal
89 ayat (3)
sedikit ¾
(tiga per
empat)
bagian dari
jumlah suara
yang
dikeluarkan
Lebih dari
(satu per
dua) bagian
dari seluruh
jumlah
saham
dengan hak
suara.
Disetujui
lebih dari ½
(satu per
dua) bagian
dari jumlah
seluruh suara
yang
dikeluarkan.
Dasar : Pasal
42 ayat 121
Dasar Pasal
42 ayat (21)
Semua
pemegang
saham
hadir/diwakil
i
Disetujui
secara bulat
oleh semua
pemegang
saham yang
hadir.
Dasar : Pasal
75 ayat (3)
Dasar : Pasal
75 ayat (4)
Sesuai
ketentuan
RUPS
Sesuai
ketentuan
RUPS
Dasar : Pasal
89 ayat (3)
pemegang
saham atau
kreditor
perseroan.
Dasar :
Pasal 35
8
Pembelian
kembali
saham yang
telah
dikeluarkan
perseroan
Dasar :
Pasal 38
9
RUPS
dengan
agenda
tertentu
10
Sesuai
ketentuan
RUPS
Sesuai
ketentuan
RUPS
Tempat RUPS dapat
diadakan dimanapun
dalam wllayah
Negara Republik
Indonesia.
Semua
pemegang
saham.
Disetujui
secara bulat
oleh semua
pemegang
saham yang
hadir.
Dasar : Pasal 76 ayat
(3)
Dasar : Pasal
76 ayat (4)
Dasar : Pasal
76 ayat (4)
Lebih dari
(satu per
dua) bagian
dari jumlah
seluruh
saham
dengan hak
suara.
Diselenggarakan atas Dasar : Pasal
permintaan :
86 ayat (1)
satu orang atau lebih 2.
yang mewakili
Apabila
jumlah saham
tidak
tertentu.
tercapai
Dewan komisaris.
lebih dari ½
(satu per
dua) bagian,
Dasar : Pasal 79 ayat dilakukan
(2)
pemanggilan
RUPS kedua
yang wajib
Disetujui
lebih dari
(satu per
dua) bagian
dari
jumlahsuara
yang
dikeluarkan.
Dasar : Pasal
87
RUPS
1. Diselenggarakan
1.
Tahunan.
direksi paling lambat
6 bulan setelah tahun
Dasar :
buku berakhir.
Pasal 78
ayat (1)
Dasar : Pasal 78 ayat
(2)
2.
a.
b.
3.
36
Pemanggilan RUPS
dilakukan paling
lambat 14 hari
sebelum didakan
RUPS.
Dasar : Pasal 82 ayat
(1)
4. Persetujuan laporan 3.
tahunan termasuk
pengesahan laporan
keuangan .
Dasar : Pasal 69 ayat
(1)
dihadiri
paling sedi
kit 1/3
(sepertiga)
bagian dari
jumlah
seluruh
saham
dengan hak
suara.
Dasar : Pasal
86 ayat (4)
Apabila tidak
tercapai 1/3
(sepertiga)
bagian,
permohonan
ke PN untuk
menetapkan
kuorum
RUPS
ketiga.
Dasar : Pasal
86 ayat (5)
2) Direksi
Direksi atau disebut juga sebagai pengurus perseroan adalah alat
perlengkapan perseroan yang melakukan semua kegiatan perseroan
dan mewakili perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan.
Dengan demikian, ruang lingkup tugas direksi ialah mengurus
perseroan, untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan
tujuan Perseroan. Direksi sendiri berwenang menjalankan pengurusan
perseroan dengan kebijakan yang dipandang tepat, dalam batas yang
ditentukan oleh ketentuan UUPT dan anggaran dasar Perseroan
Terbatas tersebut sesuai dengan Pasal 92 ayat 2 UUPT. Dikatakan
bahwa tugas direksi dalam mengurus perseroan antara lain meliputi
pengurusan sehari-hari dari perseroan. Mengenai pengurusan seharihari lebih lanjut tidak ada penjelasan resmi, oleh karena itu harus
dilihat dalam Anggaran Dasar tentang apa yang termasuk pengurusan
sehari-hari, walaupun tidak mungkin disebut secara detail dalam
anggaran dasar tersebut. Mengurus perseroan semata-mata adalah
37
tugas direksi yang tidak dapat dicampuri langsung oleh organ lain
dengan itikad baik dan dengan penuh tanggung jawab. Hingga
tanggung jawab direksi dilakukan secara penuh sampai harta pribadi
dan tanggung renteng atas kerugian apabila yang bersangkutan
bersalah atau lalai menjalankan tugasnya seperti pada Pasal 97 ayat 2
dan 3 UUPT. Seorang direksi tidak perlu mempertanggungkan
jawaban atas kerugian apabila dapat dibuktikan seperti pada Pasal 97
ayat 5 UUPT.
Tanggung jawab Direksi dilandasi prinsip fiduciary duty yaitu
prinsip yang lahir karena tugas dan kedudukan diercayakan kepadanya
oleh perseroan dan Prinsip duty of skill and care yaitu prinsip yang
mengacu pada kemampuan serta kehati-hatian tindakan Direksi.27 Dari
prinsip ini maka Direksi dituntutuntuk beritikad baik dan berprinsip
kehati-hatian penuh terhadap perseroan. Karena tanggung jawabnya
yang dapat diminta hingga harta pribadinya.
Pembagian tugas dan wewenang setiap anggota Direksi dan
penghasilannya ditentukan RUPS. Kewenangan RUPS ini dapat
dilakukan Komisaris jika ditetapkan dalam Anggaran Dasar (Pasal 81
ayat (2) UUPT).
Tugas-tugas Direksi berdasarkan Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas:
a. Melakukan pendaftaran dan pengumuman setelah akta
pendirian perseroan disahkan oleh Menteri Kehakiman;
b. Melakukan pengurusan perseroan untuk kepentingan dan
tujuan perseroan;
c. Mewakili perseroan di dalam dan di luar pengadilan;
d. Membuat dan memelihara Daftar Pemegang Saham,
notulen RUPS, dan notulen rapat Direksi;
e. Menyelenggarakan pembukuan perseroan;
f. Member izin kepada pemegang saham untuk memeriksa
dan mendapatkan salinan Daftar Pemegang Saham, notulen
27
CST Kansil dan Christine S.T Kansil, opcit hlm 13
38
dan pembukuan dengan permohonan tertulis pemegang
saham;
g. Melaporkan
kepada
perseroan
tentang
kepemilikan
sahamnyadan atau keluarganya pada perseroan tersebut atau
perseroan lain.
3) Komisaris
Perseroan memiliki komisaris yang wewenang dankewajibannya
ditetapkan dalam Anggaran Dasar. Sebagai organ Perseroan Terbatas,
komisaris lazim disebut juga “Dewan Komisaris”, sedangkan sebagai
orang perseorangan disebut “anggota komisaris”, sebagai organ
Perseroan Terbatas pengertian Komisaris termasuk juga badan-badan
lain yang menjalankan tugas pengawasan khusus.28 Menurut Pasal 1
ayat 6 UUPT menjelaskan Dewan Komisaris adalah Organ Perseroan
yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus
sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada Direksi.
Pasal 96 menyatakan “Yang dapat diangkat menjadi komisaris adalah
rang perorangan yang mampu melaksanakan perbuatan hukum dan
tidak pernah dinyatakan pailit atau menjadi anggota Direksi atau
Komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu persoeroan
dinyatakan pailit atau orang yang pernah dihukum karena melakukan
tindak pidana yang merugikan keuangan negaradalam waktu 5 tahun
sebelum pengangkatan, dihitung sejak yang bersangkutan dinyatakan
bersalah menyebabkan perseroa pailitatau apabila dihukum terhitung
sejak menjalani hukuman”.
Dewan komisaris dapat terdiri 1 (satu) orang anggota atau lebih,
perseroan yang bidang usahanya mengerahkan dana masyarakat seperti
perseroan yang bergerak di bidang perbankan, perseroan yang
menerbitkan surat pengakuan hutang atau obligasi atau perseroan yang
terbuka (PT. Tbk) yaitu perseroan yang go public, wajib mempunyai
paling sedikit 2 (dua) orang komisaris. Karena pengawasanyang
diberikan kepada Perseroan Terbatas akan lebih besar dibanding
dengan Perseroan Terbatas lain. Sehingga apabila Dewan Komisaris
28
Agus Budiarto, op.cit, hlm 71
39
yang terdiri atas lebih dari 1 (satu) orang anggota merupakan majelis
dan setiap anggota Dewan Komisaris tidak dapat bertindak sendirisendiri, melainkan berdasarkan keputusan Dewan Komisaris. Dewan
komisaris memberikan pengawasan dan nasihat kepada direksi sebatas
untuk tujuan Perseroan Terbatas. Begitu pula yang menjalankan
perseroannya dengan prinsip syariah, selain Dewan Komisaris harus
ada juga Dewan Pengawas Syariah.
Tugas Komisaris adalah mengawasi kebijaksanaan Direksi dalam
menjalankan perseroan serta memberikan nasihat kepada Direksi
(Pasal 97 UUPT). Komisaris dapat melaksanakan tindakan pengurusan
perseroan dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu tertentu
berdasarkan Anggaran Dasar atau Keputusan RUPS (Pasal 100 ayat (2)
UUPT). Wewenang kepada Komisaris untuk melakukan pengurusan
peseroan yang sebenarnya hanya dapat dilakukan dalam hal Direksi
tidak ada. Apabila Direksi ada, Komisaris hanya dapat melakukan
tindakan tertentu yang secara tegas ditetukan dalam anggaran dasar
Perseroan.
Tanggung jawab Komisaris dalam hal terjadi kesalahan atau lalai
dalam melakukan tindakan pengurusan maka berlaku pula tanggung
jawab Direksi untuknya, yaitu dapat dimintai pertanggungjawaban
secara pribadi atas kesalahan atau kelalaiannya dalam UUPT. Selain
itu Komisaris wajib melaporkan kepada perseroan mengenai
keemilikan sahamnya dan atau keluarganya pada perseroan tersebut
dan perseroan lain.29
f. Peran Notaris Sehubungan dengan Perseroan Terbatas
Seorang Notaris dalam menjalankan jabatannya mempunyai hubungan
yang sangat penting denganta segala bentuk Badan Hukum salah satunya
Perseroan Terbatas. Notaris disini sebagai pejabat umum mempunyai
kewajiban seperti dalam ketentuan yang ada dalam Pasal 16 UndangUndang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris (UUJN), Notaris
wajib membuat minuta akta yang nantinya akan disimpan sebagai bagian
dari Protokol Notaris, memyimpan akta, dan merahasiakan isi akta. Dari
29
CST Kansil dan Christine S.T Kansil, op.cit hlm 15
40
kewajiban Notaris membuat akta tersebut, Perseroan Terbatas perlu
tendensi Notaris dalam akta yang dibuat oleh dan/atau dibuat dihadapan
Notaris antara lain :
1) Akta Pendirian PT
Dibuat pada saat PT didiritar adalah ikan dan yang harus
menghadap Notaris adalah para pendiri dan kuasanya. Dalam Pasal
9 ayat (3) UUPT dapat dijelaskan bahwa Notaris dalam
menjalankan tugas jabatannya selaku pejabat umum khususnya
dalam mengajukan pengesahan badan hukum yang tidak dilakukan
oleh para pendiri, tidak perlu memberikan kuasa kepada Notaris,
tetapi wajib dilaksanakan oleh Notaris dalam menjalankan
jabatannya selaku pejabat umum yang melaksanakan sebagian
tugas Negara, khususnya di bidang hukum keperdataan.30 Pendirian
Perseroan Terbatas telah menjadi kewajiban Notaris untuk
menyelesaikan pengesahan badan hukum tersebut sehingga tidak
perlu lagi diperlukan kuasa apa pun dari para pendiri.
Permohonan untuk memperoleh keputusan Menteri dilakukan oleh
Notaris, sesuai Pasal 10 ayat (1) UUPT bahwa permohonan
tersebut untuk memperoleh keputusan Menteri harus diajukan
paling lambat 60 hari terhitung sejak tanggal akta pendirian
ditandatangani,
dilengkapi
keterangan
mengenai
dokumen
pendukung.
2) Akta Perubahan yang dibedakan menjadi :
a. Ketika belum berstatus badan hukum; dan
b. Ketika sudah berstatus badan hukum, yang dibedakan lagi
antara lain:
i. Perubahan anggaran dasar perseroan dan
ii. Prubahan data perseroan
c. Macam-macam Perubahan Anggran Dasar:
i. Perubahan atas kehendak pendiri sebelum akta pendirian
disahkan
30
Habib Adjie, Menjalin Pemikiran-Pendapat Tentang Kenotariatan (Kumpulan Tulisan), PT Citra Aditya
Bakti, Bandung, 2013, hlm 102
41
ii. Perubahan yang dibuat atas permintaan instansi yang
berwajib sebelum akta disetujui
iii. Perubahan yang dibuat sesudah akta pendirian PT disahkan
oleh Menteri
iv. Perubahan
yang
dibuat
dalam
rangka
melakukan
penggabungan, peleburan dan go public
v. Perubahan
Anggaran
Dasar
yang
harus
mendapat
persetujuan Menteri
vi. Perubahan yang cukup diberitahukan kepada Menteri
Perubahan Anggaran Dasar tersubstansi pada Pasal 21 ayat (5)
UUPT yaitu perubahan anggaran dasar yang tidak dimuat dalam
akta berita acara rapat yang dibuat Notaris harus dinyatakan dalam
akta Notaris paling lambat 30 hari terhitung sejak keputusan RUPS
dan di Pasal 21 ayat (6) perubahan anggaran dasar tidak boleh
dinyatakan dalam akta Notaris lewat dari 30 hari.
3) Akta Pengalihan Saham
Yang menghadap Notaris adalah penjual/yang mengalihkan dan
pembeli / yang menerima pengalihan saham31
4) Akta Pernyataan Keputusan Rapat atas RUPS PT
Merupakan bentuk akta yang dibuat dihadapan Notaris,
berdasarkan atas notulensi RUPS PT bawah tangan yang mana
notulensi
rapat
tersebut
dibawa
ke
Notaris
oleh
salah
seorang/beberapa kuasa notulen RUPS PT yang dibuat oleh para
pemegang saham. Sehingga yang menghadap Notaris ialah kuasa
notulen RUPS PT tersebut. Akta ini juga disebut sebagai “Akta
Partij” atau Akta Para Pihak, karena disini Notaris hanya
menuangkan kesepakatan para pihak ke dalam akta. Termasuk
31
Mulyoto, op.cit, hlm 7
42
dalam akta ini adalah akta hibah, wasiat, kuasa, dan lainnya. Akta
partij ini sangat diharuskan dan diperlukan tandatangan dari para
pihak
yang
bersangkutan,
karena
nantinya
Notaris
harus
mencantumkan keterangan atau alasan, surat dokumen yang terkait
dan sidik jari pihak sesuai Psal 16 ayat (1) huruf c UUJN,
mengenai pihak yang tidak ikut menandatangani akta tersebut,
apakah karena buta huruf, atau sedang cidera tangan, atau
sebagainya maka diharuskan ada keterangan atau alasan karena hal
tersebut
yang
mengakibatkan
akta
tersebut
tidak
dapat
ditandatangai oleh pihak tersebut dan ditulis pada akhir akta,
karena akta partij yang tidak ada tanda tangan para pihak terkait
akan kehilangan otentisitasnya atau dikenakan denda.
Jadi pada dasarnya bentuk suatu akta Notaris yang berisikan
keterangan-keterangan dan hal-hal lain yang dikonstantir oleh
Notaris, umumnya harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang
dicantumkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku,
yaitu antara lain KUHPerdata dan UUJN. Dalam hubungannya
dengan apa yang diuraikan di atas, maka yang pasti secara otentik
pada akta partij terhadap pihak lain, ialah :
a. tanggal dari akta itu;
b. tanda tangan-tanda tangan yang ada dalam akta itu;
c. identitas dari orang-orang yang hadir (comparanten) ;
d. bahwa apa yang tercantum dalam akta itu adalah sasuai
dengan apa yang diterangkan oleh para penghadap kepada
Notaris untuk dicantumkan dalam akta itu, sedang
kebenaran dari keterangan-keterangan itu sendiri hanya
pasti antara pihak-pihak yang bersangkutan sendiri.
5) Akta Berita Acara RUPS PT
Akta ini dibuat oleh Notaris, yang mana atas permintaan dari
direksi atau pemegang saham PT agar Notaris menjadi notulis
didalam RUPS suatu Perseroan Terbatas. yang menghadap atau
berada dihadapan Notaris adalah para pemegang saham yang
mengadakan RUPS PT tersebut. Dalam Berita Acara RUPS PT,
Notaris
menulis/mencatat
43
semua
yang
didengar,
dilihat,
dibicarakan, dan diputuskan dalam RUPS PT tersebut, oleh karena
itu maka disebut juga “Akta Relaas” atau “Ambtelijke Akte”.
4. Teori Hukum
a. Teori Hukum Kontrak
Dalam teori ini diterangkan bahwa Perseroan sebagai badan hukum,
dianggap merupakan kontrak antara anggota-anggotanya pada satu segi, dan
antara anggota-anggota Perseroan, yakni pemegang saham dengan Pemerintah
pada segi lain.32 Selain itu pemegang saham juga dengan organ-organ yang
lain, yang mana terangkum dalam aturan Undang-Undang Nomor 40 Tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT). Teori ini sejalan dengan pandangan
Pasal 1 angka 1 jo Pasal ayat 1 dan 3 UUPT, yang mana menurut Pasal ini
sebagai badan hukum merupakan persekutuan modal yang didirikan
berdasarkan perjanjian oleh pendiri dan pemegang saham yang terdiri
sekurang-kurangnya dua orang atau lebih.33
Keterkaitannya teori kontrak ini adalah penuangan dalam bentuk Akta
yang dibuat dihadapan Notaris berdasarkan dari kontrak para anggota-anggota
atau organ-organ Perseroan tersebut yang tentunya sesuai dengan Anggaran
Dasar Perseroan Terbatas dan ketentuannya tidak melanggar UUPT. Kontrak
para anggota atau organ Perseroan Terbatas itu sendiri disebut Notulen Rapat.
b. Teori Hukum Pembuktian
Dalam penulisan hukum ini menggunakan Teori Pembuktian untuk dapat
menjawab pertanyaan. Menurut M. Yahya Harahap suatu pembuktian adalah
ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara
yang dibenarkan undang-undang membuktikan kesalahan yang didakwakan
kepada terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alatalat bukti yang dibenarkan undang-undang dan boleh dipergunakan hakim
membuktikan
kesalahan
yang
didakwakan.34
Pengertian Hukum pembuktian adalah merupakan sebagian dari hukum acara
32
Harry G. Henna, John R. Alexander, Law of Corporation, Handbook Series, St. Paul Minn, West Publisha Co.
1983, hlm 115
33
Yahya harahap, Hukum Perseroan Terbatas, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hlm 56
34
Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP: Pemerikasaan Sidang Pengadilan,
Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali: Edisi Kedua. Jakarta: Sinar Grafika, 2003, hlm 273
44
pidana yang mengatur macam-macam alat bukti yang sah menurut hukum,
sistem yang dianut dalam pembuktian, syarat-syarat dan tata cara mengajukan
bukti tersebut serta kewenangan hakim untuk menerima, menolak dan menilai
suatu pembuktian.35 Di dalam sistem atau teori ini undang-undang telah
menentukan alat bukti yang hanya dapat dipakai oleh hakim, dan asal alat
bukti itu telah dipakai secara yang telah ditentukan oleh undang-undang maka
hakim harus dan berwenang menetapkan terbukti atau tidaknya suatu perkara
yang diperiksanya itu, meskipun barangkali hakim sendiri belum begitu yakin
atas kebenaran dalam putusannya itu, sebaliknya apabila tidak terpenuhi
persyaratan yang telah ditentukan oleh undang-undang, maka hakim akan
mengambil putusan yang sejajar, dalam arti bahwa putusan itu harus berbunyi
tentang sesuatu yang tidak dapat dibuktikan adanya. Sekalipun untuk peristiwa
yang disengketakan itu telah diajukan pembuktian, namun pembuktian itu
masih harus dinilai. Berhubung dengan menilai pembuktian, hakim dapat
bertindak bebas seperti yang terdapat pada Pasal 1908 KUHPerdata bahwa
hakim tidak wajib mempercayai satu orang saksi saja, yang berarti hakim
bebas menilai kesaksiannya atau diikat oleh undang-undang, serta Pasal 1906
KUHPerdatahakim bebas memberikan kekuatan pada kesaksian-kesaksian dari
setiap peristiwa yang berdiri sendiri.
Pada teori Pembuktian ini Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(KUHPerdata) mengaturnya dalam Buku Ke IV tentang Pembuktian dan
Daluwarsa Bab Kedua. Menurut Pitlo dalam bukunya yang dialihbahasakan
oleh M. Isa Arief dengan judul Pembuktian dan Daluwarsa, tiga teori yang
diterapkan dalam acara perdata untuk memberikan pembebanan terhadap
pembuktian adalah:36
a) Teori Hak (Teori Hukum Subjektif)
Dalam teori ini, pihak yang mengemukakan hak (pihak yang
menuntut) harus membuktikan segala apa yang diperlukan untuk
membuktikan
haknya.
Sedangkan
pihak
lawan
juga
harus
membuktikan adanya kekeliruan yang dituntutkan oleh pihak penuntut,
35
Hari Sasangka dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana. Bandung: Mandar Maju, 2003,
hlm 10
36
Pitlo. Pembuktian dan Daluwarsa Menurut Undang-Undang Hukum Perdata Belanda (Bewijs en Verjaring
naar heet Nederlands Burgerlijk Weetboek) Diterjemahkan M. Isa Arief, cet ke 2, PT.Intermasa, Jakarta, 1986.
Hlm 3
45
seperti adanya fakta khusus yang menghapuskan hak yang dimiliki
oleh penuntut dengan sudah dibayarnya hak tersebut oleh pihak
tertuntut misalnya.
b) Teori Hukum (Teori Hukum Objektif)
Teori ini lebih mengedepankan pada apa yang diatur dalam
Undang-undang. Sehingga tugas hakim adalah mengoreksi apakah
yang disampaikan oleh penuntut telah memenuhi Undang-undang atau
belum yang pada akhirnya memberikan putusan untuk menerima atau
menolaknya.
c) Teori Hukum Acara dan Teori Kepatutan
Teori ini mengatur tentang bagaimana seharusnya hakim bertindak
adil dalam memberikan hak berperkara dalam sidang kepada kedua
belah pihak dan tidak diperbolehkan baginya untuk memihak kepada
salah satu pihak. Seperti halnya tidak boleh bagi hakim memberikan
beban pembuktian kepada salah satu pihak yang tidak berpadanan
beratnya dengan pihak lawan.
Pembuktian dalam hal ini adalah adanya alat-alat bukti seperti tulisan yang
berupa akta otentik yaitu Akta Pernyataan Keputusan Rapat, alat bukti
berbentuk tulisan dengan maksud agar kelak dapat digunakan atau dijadikan
bukti kalau sewaktu-waktu dibutuhkan. Dibuat oleh pejabat yang berwenang
dan dilakukan oleh orang yang cakap serta bentuknya tidak cacat.
c. Teori Kepastian Hukum
Menurut aliran normatif-dogmatik yang dianut oleh John Austin dan van
Kan, menganggap bahwa pada asasnya hukum adalah semata-mata untuk
menciptakan kepastian hukum. Bahwa hukum sebagai sesuatu yang otonom
atau hukum dalam bentuk peraturan tertulis. Artinya, karena hukum itu
otonom sehingga tujuan hukum semata-mata untuk kepastian hukum dalam
melegalkan kepastian hak dan kewajian seseorang.37 Kepastian hukum sangat
diperlukan untuk menjamin ketentraman dan ketertiban dalam masyarakat
karena kepastian hukum (peraturan/ketentuan umum) mempunyai sifat sebagai
berikut:38
37
Marwan Mas, Pengantar Ilmu Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2004, hlm 74.
Fernando M. Manullang.Menggapai Hukum Berkeadilan Tinjauan Hukum Kodrat dan Antitomi Nilai, Kompas
Media Nusantara, Jakarta,2007,hlm 94-95
38
46
a. Adanya paksaan dari luar (sanksi) dari penguasa yang bertugas
mempertahankan dan membina tata tertib masyarakat dengan peran
alat-alatnya
b. Sifat undang-undang yang berlaku bagi siapa saja
Kepastian hukum ditujukan pada sikap lahir manusia, ia tidak
mempersoalkan apakah sikap batin seseorang itu baik atau buruk, yang
diperhatikan adalah bagaimana perbuatan lahiriahnya. Kepastian
hukum tidak memberi sanksi kepada seseorang yang mempunyai sikap
batin yang buruk, akan tetapi yang diberi sanksi adalah perwujudan
dari sikap batin yang buruk tersebut atau menjadikannya perbuatan
yang nyata atau konkrit. Namun demikian dalam praktiknya apabila
kepastian hukum dikaitkan dengan keadilan, maka akan kerap kali
tidak sejalan satu sama lain. Adapun hal ini dikarenakan suatu sisi
tidak jarang kepastian hukum mengabaikan prinsip-prinsip keadilan
dan sebaliknya tidak jarang pula keadilan mengabaikan prinsip-prinsip
kepastian hukum.
Kepastian hukum sebagaimana keadilan dan kemanfaatan hukum,
seperti bentuk doktrin yang mengajarkan kepada setiap pelaksana dan
penegak hukum untuk mendayagunakan hukum yang sama pada kasus yang
sama, demi terkendalikannya kepatuhan warga agar ikut menjadi ketertiban
dalam setiap aspek kehidupan. Kepastian hukum menurut Pasal 1338 ayat
(2) KUHPerdata mengharapkan terwujudnya kepastian hukum dalam
hubungan kontraktual dengan melarang kontrak ditarik kembali selain
sepakat kedua belah pihak atau harus ada alasan yang cukup menurut
undang-undang,39 begitu pula halnya dengan suatu Akta Pernyataan
Keputusan Rapat yang dibuat di hadapan Notaris karena merupakan suatu
kontrak yang perlu menjadi perhatian banyak pihak terkait dengan
Perseroan, dengan adanya perjanjian-perjanjian lain yang masih terikat
dengan Perseroan, diharapkan dengan teori kepastian hukum tidak adanya
hukum yang kontradiktif, agar tidak multitafsir serta dapat dilaksanakan
sesuai dengan hak dan kewajibannya.Kepastian hukum menurut Lon Fuller
dalam buku The Morality of Lawharus ada kepastian antara peraturan dan
39
Fakriansa , Perlindungan Hukum Terhadap Event Organizer dalam Kontrak Penyelenggaraan Konser
Musik, Jurnal Penelitian Hukum, Vol. 1 No. 2 Januari 2012, hlm 218
47
pelaksanaannya, dengan demikian sudah memasuki bentuk dari perilaku,
aksi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana hukum positif
djalankan, dengan 8 (delapan) asasnya yaitu :40
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
Suatu sistem hukum yang terdiri dari peraturan-peraturan, tidak
berdasarkan putusan-putusan sesat untuk hal-hal tertentu;
Peraturan tersebut diumumkan kepada public
Tidak berlaku surut, karena akan merusak integritas sistem;
Dibuat dalam rumusan yang dimengerti oleh umum;
Tidak boleh ada peraturan yang saling bertentangan;
Tidak boleh menuntut suatu tindakan yang melebihi apa yang bisa
dilakukan;
Tidak boleh sering diubah-ubah;
Harus ada kesesuaian antara peraturan dan pelaksanaan sehari-hari.
B. Penelitian yang Relevan
Penelitian-penelitian yang ada relevansinya dengan penelitian penulis yaitu :
1) Penulisan Hukum yang ditulis oleh ROITA ASMA, SH Program Studi Magister
Kenotariatan
Universitas
TANGGUNG
PERNYATAAN
JAWAB
Diponegoro
tahun
NOTARIS
DALAM
KEPUTUSAN
RAPAT
2008
dengan
judul
PEMBUATAN
PERSEROAN
Tesis
AKTA
TERBATAS
DI
JAKARTA TIMUR.Dalam penulisan hukum ini mengkaji tanggung jawab
Notaris dalam pembuatan akta pernyataan keputusan rapat Perseroan Terbatas di
jakarta timur, bagaimana kewenangan dan tanggung jawab Notaris dalam
pembuatan akta pernyataan keputusan rapat, apakah akibat dari pembuatan akta
pernyataan keputusan rapat itu bagi Notaris, dan bagaimana perlindungan
hukumnya untuk Notaris.
Persamaan dengan penelitian ini adalah mengenai akibat pembuatan akta
pernyataan keputusan rapat Perseroan Terbatas yang mana akta tersebut dibuat
dihadapan Notaris dari hasil Notulen Rapat Perseroan Terbatas yang diabawa
kuasa Perseroan Terbatas.
Perbedaan dengan penelitian ini adalah tidak dalam tanggung jawab Notaris yang
membuat akta pernyataan keputusan rapat, karena Notaris memiliki wewenang
untuk membuatnya, selain akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan
kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.
Kewenangan Notaris disini sebatas kewenangan formalitas dalam membuatkan
akta.
40
Lon Fuller, The Morality of Law, New Haven, Conn.: Yale University Press, 1971, 54-58
48
Penulisan hukum tersebut memberikan referensi mengenai akibat hukum nantinya
dari pengerjaan Akta Pernyataan Keputusan Rapat yang dibuat Dihadapan
Notaris, selain daripada aktanya yang sah mengikat dan diakui para pihak dalam
perjanjian tersebut. Tidak ada perbedaan pembuktian mengenai akta di bawah
tangan maupun otentik. Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham
yang dibuatdi bawah tangan akan menjadi suatu akta otentik apabila dituangkan
ke dalam suatu akta notariil dengan judul Akta Pernyataan Keputusan Rapat
Umum Pemegang Saham. Akibat hukum yang berdampak juga terhadap pihak
ketiga, pihak yang menerima akibat dari akta pernyataan keputusan rapat, dan
Notaris.
2) Penulisan Hukum yang ditulis oleh BAMBANG RIANGGONO, SH Program
Studi Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro tahun 2007 dengan judul
Tesis KEKUATAN AKTA PERNYATAAN KEPUTUSAN RAPAT (PKR)
YANG DIBUAT BERDASARKAN RISALAH RAPAT DI BAWAH TANGAN
DITINJAU DARI TANGGUNG JAWAB NOTARIS.Dalam penulisan hukum ini
mengkaji kekuatan Akta Pernyataan Keputusan Rapat yang dibuat berdasarkan
rapat di bawah tangan yang ditinjau dari tanggung jawab notaris, bagaimana
kekuatan pembuktian dari akta tersebut, bagaimana tanggung jawab Notaris
terhadap kebenaran isi akta tersebut.
Persamaan dengan penelitian ini adalah kekuatan Akta Pernyataan Keputusan
Rapat yang dibuat berdasarkan rapat di bawah tangan. Akta tersebut berdasarkan
atas risalah rapat yang dibuat di bawah tangan, merupakan akta otentik tetapi isi
dari akta tersebut merupakan akta di bawah tangan.
Perbedaan dengan penelitian tersebut adalah akta pernyataan keputusan rapat yang
diambil adalah khusus mengenai perubahan anggaran dasar, dan hanya ditinjau
dari tanggung jawab Notaris, sedangkan penulis ingin meneliti pula dari aspek
pihak ketiga dan pihak yang terkait dengan organ Persero.
Penulisan hukum ini memberikan referensi mengenai kekuatan dari akta
pernyataan keputusan rapat yang tidak dihadiri langsung oleh Notaris, Notaris
hanya menerima hasil rapat bawah tangan dan kekuatan pembuktian dari akta
pernyataan keputusan rapat Persroan Terbatas.
49
C. Kerangka Berpikir
UUPT
40 TH 2007
UUJN
2 TH 2014
RUPS
AKTA OTENTIK
(RAPAT UMUM
PEMEGANG SAHAM)
AKTA NOTARIS
NOTULEN
BERITA ACARA
AKTA BERITA ACARA
RUPS / AKTA RELAAS
AKTA PERNYATAAN
KEPUTUSAN RAPAT (APKR) /
AKTA PARTIJ
Dibuat Oleh Notaris
Dibuat dihadapan notaris
Tanpa kehadiran Notaris
1.
2.
Kekuatan hukum akta pernyataan keputusan rapat umum pemegang
saham perseroan terbatas yang dibuat dihadapan notaris
Akibat hukum akta pernyataan keputusan rapat umum pemegang saham
perseroan terbatas yang dibuat dihadapan notaris
Teori Pembuktian
Teori Kontrak
Teori Kepastian Hukum
Harapan dengan adanya penulisan hukum ini:
1. Tersosialisasi pemahaman terkait AKPR
2. Supaya tidak terjadi perbuatan yang nantinya
terbukti melawan hukum terkait AKPR
50
Keterangan
Dalam kerangka pemikiran tersebut di atas penulis ingin menguraikan
mengenai bentuk Rapat Umum Pemegang Saham seperti yang diatur dalam
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 20017 Tentang Perseroan Terbatas dan Akta
otentik yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan
Notaris. Dengan diadakannya RUPS diperlukan suatu bentuk dari hasil rapat
tersebut yaitu dengan Akta Notaris, akta ini dapat berupa notulen dan berita acara.
Notulen tersebut dibuat oleh para pemegang saham hasil suatu rapat tersebut
dilakukan secara bawah tangan antara para pemegang saham, setelah itu hasil
notulen rapat tersebut dibawa oleh Kuasa daripada perseroan tersebut ke Notaris,
yang kemudian baru dibuatkan akta otentik oleh Notaris. Akta otentik yang dibuat
oleh Notaris tersebut berdasarkan isi keputusan rapat yang dilakukan sendiri oleh
para pemegang saham secara bawah tangan. Akta ini kemudian dikenal dengan
Akta Pernyataan Keputusan Rapat (AKPR) atau Akta Partij/Akta Para Pihak.
Sedangkan cara Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham adalah rapat para
pemegang saham suatu Perseroan Terbatas yang mana Notaris menulis atau
mencatat lalu membuatkan akta otentiknya berdasarkan apa yang dilihat,
didengar, dibicarkan dan diputuskan dalam rapat RUPS PT tersebut atau biasa
disebut Akta Relaas atau Relaas Akta.
Akta Pernyataan Keputusan Rapat/Akta Partij ini dibuat dihadapan Notaris,
yang hanya menyalin hasil Notulen RUPS tanpa dihadiri oleh Notaris, sehingga
Notaris hanya mengetahui penjelasan isi Notulen RUPS dari kuasa Perseroan dan
lalu menyalinnya ke sebuah akta, Akta ini dibuat oleh para pihak kemudian
dimintakan kepada Notaris untuk dibuatkan akta otentiknya, jelas terkadang hal
ini sedikit meresahkan Notaris, terlebih jika Notaris tidak teliti dalam menjalankan
tugasnya dalam pembuatan akta. Karena dari ketidakpahaman Notaris ini bias
menjadikan Akta tersebut dipertanyakan kekuatan hukumnya serta akibat
hukumya terhadap Akta yang tidak dihadiri Notaris serta belum lengkapnya
ketentuan yang seharusnya diperhatikan Notaris.
Notaris dalam melakukan tugasnya tetap berpedoman pada peraturan yang
mengaturnya yaitu Undang-Undang Jabatan Notaris Nomor 2 Tahun 2014, serta
beberapa peraturan yang mengatur mengenai tugas dan kewenangan seorang
Notaris dalam pembutan akta. Kemudian dari sini bentuk kekuatan hukum akta
51
pernyataan keputusan rapat umum pemegang saham Perseroan Terbatas yang
dibuat dihadapan Notaris tersebut dipertanyakan dan juga akibat hukumnya
terhadap akta pernyataan keputusan rapat tersebut, sudahkah sesuai dengan unsur
keabsahan bentuk suatu akta otentik. Penulis dalam hal ini mengambil teori
hukum Pembuktian, teori hukum kontrak, dan Teori kepastian hukum sebagai
dasar jawaban dari analisis yang diangkat.
Disini Notaris dalam menuliskan kembali notulen rapat ke dalam akta, harus
teliti mengenai jumlah kuorum para pemegang saham yang hadir, nama-nama
pemegang saham yang hadir, tanggal bulan tahun serta jam berlangsungnya rapat,
dan hukum mengenai APKR RUPS tersebut telah tersosialisasi, dan dengan
harapan supaya tidak terjadi perbuatan melawan hukum terhadap pembuatan akta
PKR tersebut.
52
Download