agribisnis tanaman pangan dan hortikultura

advertisement
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017
MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN
AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN
HORTIKULTURA
BAB XI. TEKNIK PERLAKUAN KHUSUS PADA
TANAMAN
Rizka Novi Sesanti
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2017
BAB XI. TEKNIK PERLAKUAN KHUSUS PADA TANAMAN
A.
Kompetensi Inti: Menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang
mendukung mata pelajaran yang diampu
B.
Kompetensi Dasar: Menerapkan teknik perlakuan khusus tanaman pangan dan
hortikultura
C.
1.
Uraian Materi
Zat Pengatur Tumbuh
Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) adalah senyawa organik bukan hara (yang alami
maupun sintetik) yang dalam konsentrasi rendah mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman, sedangkan hormon adalah senyawa organik alami (disintesis
oleh tanaman) yang dalam konsentrasi rendah dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Ada berbagai jenis ZPT yaitu; Auxins (pemanjangan sel),
Giberelins (pemanjangan sel + pembelaha sel – diwujudkan pada pertumbuhan),
Cytokinins (Pembelahan sel + menghambat senesens), Abscisic acid=ABA (abscisi daun
dan buah + merangsang dormansi benih dan mata tunas), dan Ethylene (Merangsang
senesens, epinasti, dan pemasakan buah).
a.
Auksin
Ditemukan sebagai senyawa yang berhubungan dengan respons fototropisme.
Terdapat di tanaman pada konsentrasi sangat rendah (1 g dalam 20 000 ton bahan
tanaman). Auksin dapat menyebabkan berbagai respons fisiologis tergantung pada
konsentrasi dan bagian tanaman target. Contoh auksin IAA (Indoleasetatic Acid), 2,4 D
(dichlorophenoxyacetic acid), IBA (indolebutyric acid), NAA (naphthaleneacetic acid),
2,4,5-trichlorophenoxyacetic acid (2,4,5-T), Picloram, Dicamba.
1
1) Auksin sintetik: Auksin sintetik banyak digunakan secara luas dalam budidaya
pertanian, di antaranya untuk:
a) Mencegah absisi daun.
b) Mencegah kerontokan buah.
c) Merangsang pembungaan dan pembuahan.
d) Mengendalikan gulma.
e) Merangsang pertumbuhan akar.
f)
Menginduksi kalus dan embrio somatik dari eksplan.
Auksin dapat menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis seperti :
a) Pembelahan sel, auksin merangsang pembelahan sel-sel kambium vaskuler.
b) Pemanjangan Sel, auksin merangsang pemanjangan sel. Dampaknya terlihat
pada pertumbuhan tajuk.
c) Diferensiasi dan Dediferensiasi Sel, auksin merangsang diferensiasi xylem dan
floem, merangsang inisiasi atau pembentukan bakal akar pada setek,
mengatur morfogenesis kalus.
d) Auksin merangsang dediferensiasi sel pada eksplan.
e) Auksin menyebabkan dominansi apikal, pertumbuhan apikal (pucuk) yang
mendominasi pertumbuhan tunas-tunas lateral di dekat pucuk tajuk. Semakin
ke bawah, dominansi apikal semakin lemah, sehingga tunas-tunas lateral
dapat tumbuh tanpa hambatan. Dominansi apikal dapat dihilangkan dengan
memotong pucuk tajuk, sehingga tanaman dirangsang percabangannya.
Prinsip dominansi apikal biasa digunakan dalam membentuk percabangan
tajuk dalam budidaya berbagai tanaman.
b. Giberelin (GA)
Gibberellin ditemukan pada angiospermae, gymnospermae, paku-pakuan, algae,
sedikitnya dua cendawan.
Pengaruh fisiologis akibat giberelin yaitu:
1) Merangsang pertumbuhan tanaman: karena terjadi pemanjangan sel dan
2
pembelahan sel. Pemanjangan sel yang diakibatkan oleh GA tidak melibatkan
pengasaman dinding sel sepertihalnya pemanjangan sel akibat pengaruh
auksin.
2) Merangsang perkecambahan benih yang
tunas yang
dorman atau pertumbuhan
dorman.
3) Merangsang pembungaan, menggantikan kebutuhan tanaman akan panjang
hari tertentu atau perlakuan suhu rendah untuk terjadinya pembungaan.
4) Merangsang mobilisasi cadangan makanan dan mineral
pada sel-sel
penyimpanan pada biji, yang digunakan untuk proses pengecambahan.
5) Merangsang pembentukan buah partenokarpi (buah tanpa biji).
6) Menghambat senesens.
7) Menyebabkan perubahan fase pada tanaman:
Dewasa menjadi juvenil.
Juvenil menjadi dewasa.
8) Meningkatkan ekspresi seksual
GA dapat merangsang pertumbuhan tanaman yang kerdil. Tanaman Jagung (Zea
mays) yang kerdil dan Kapri (Pisum sativum) kerdil, kalau diberi GA3 , dapat tumbuh dan
berubah menjadi tidak kerdil. Jagung dan Kapri normal yang diberi GA3, tidak berubah.
GA dapat merangsang pembungaan dan bolting pada tanaman yang roset. Tanaman kubis
(long day-plant) pada kondisi short-day tetap roset, tetapi dengan aplikasi gibberellin
dapat dirangsang tumbuh memanjang (bolting) dan berbunga.
Dalam benih GA dapat merangsang mobilisasi cadangan makanan pada benih
1) GA keluar dari embrio menuju ke aleuron.
2) Di aleuron, GA merangsang sintesis enzim α-amylase
dan enzim-enzim
protease. Enzim protease mengubah β-amylase tidak aktif menjadi β-amylase
aktif.
3) α –amylase dan β-amylase mengatalisis pengubahan pati menjadi glukosa.
Glukosa digunakan untuk pertumbuhan embrio pada proses perkecambahan
biji.
3
c.
Sitokinin
Sitokini adalah ZPT tanaman yang dapat merangsang pembelahan sel (sitokinesis).
Fungsi Fisiologis Sitokinin adalah sebagai berikut:
1) Merangsang pembelahan sel.
2) Menyebabkan morfogenesis.
3) Merangsang perkembangan mata tunas lateral.
4) Menunda senesens.
Yang termasuk dalam Sitokinin alami (derivat adenin) adalah:
1) Zeatin
2) 2-i-P (isopentenyl-adenin ) =IPA
3) Di-hidro-zeatin
Yang termasuk dalam Sitokinin sintetik (derivat adenin):
1) Benziladenin (BA)= benzilamino purin (BAP)
2) Kinetin (Kin)= furfuryl-amino purin
3) Sitokinin derivat phenyl urea:
4) Thidiazuron = (N-phenyl-N’-1,2,3 –thiadiazol-5ylurea)
5) CPPU (chloro-pyridyl-phenylurea)
d.
Asam Absisat (ABA):
Banyak ditemukan di alam, di antaranya pada tumbuhan berpembuluh dan fungi.
Pada Tumbuhan, ABA dijumpai pada hampir semua organ/jaringan, dari akar sampai
pucuk, terutama di daun hijau yang sudah dewasa dan pada buah.
Asam Absisat (ABA) dikenal sebagai penghambat pertumbuhan melawan kerja
auksin, menyebabkan penutupan stomata, diproduksi sebagai respons tanaman terhadap
stress, dan dapat menghambat sintesis enzim hidrolitik, sehingga merangsang dormansi
biji.
Perangan fisiologis ABA
1) ABA menekan pertumbuhan mata tunas dan menyebabkan senesens
(penuaan jaringan) pada daun.
4
2) ABA juga berperan penting pada pengontrolan penutupan dan pembukaan
stomata.
3) Tanaman mutan yang tidak mampu menyintesis ABA, stomatanya terus
membuka (tidak dapat menutup), shg mengalami layu permanen.
e.
Ethilen
Etilen merupakan satu-satunya ZPT tanaman berbentuk gas. Karena berbentuk
gas, ethylene mudah berdifusi. Ethylene yang diproduksi oleh suatu tanaman dapat
dengan mudah berpengaruh terhadap tanaman di sekitarnya.
Fungsi ethylene
1) Ethylene dapat merangsang terjadinya pemasakan buah
2) Mendorong terjadinya senesens and absisi daun dan buah
3) Menyebabkan inisiasi pemanjangan batang dan perkembangan mata tunas
4) Menghambat pembungaan pada kebanyakan spesies tetapi
merangsang
pembungaan pada beberapa tanaman seperti nanas, bromeliads, and
mangga.
5) Ethylene mempengaruhi ekspresi sex (jantan-betina) pada bunga. Mentimun
yang diberi C2H4 banyak memunculkan bunga betina, dan yang disemprot GA,
banyak memunculkan bunga jantan.
2.
Pemangkasan
Pemangkas adalah kegiatan menghilangkan bagian tanaman dengan tujuan
tertentu.
a.
Tujuan Pemangkasan
Ada berbagai macam pemangkasan yang biasa dilakukan pada tanaman. Masing-
masing pangkasan mempunyai tujuan yang berbeda.
1) Pemangkasan Bentuk: Pemangkasan bentuk bertujuan untuk pembentukan
kerangka pohon sehingga tanaman tidak terlalu tinggi, menghasilkan cabang yang
5
kuat, letaknya teratur, arahnya menyebar dan produktif. Dengan demikian
sehingga pemeliharaan dan pemetikan buah lebih mudah.
2) Pemangkasan Pemeliharaan: Pemangkasan pemeliharaan bertujuan untuk
mengatur pertumbuhan cabang juga untuk mengurangi kerimbunan pohon,
supaya tanaman mendapat sinar matahari yang cukup.
Dengan demikian,
tanaman dapat terhindar dari keadaan yang lembab dan otomatis tanaman dapat
dijauhkan dari kemungkinan serangan jamur yang merupakan sumber penyakit.
3) Pemangkasan Peremajaan: Pemangkasan peremajaan bertujuan untuk mengganti
tajuk tanaman lama dengan tajuk baru yang masih muda dan produktif.
Pemangkasan peremajaan dilakukan terhadap batang atau cabang tanaman yang
sudah tua, tidak produktif dan yang bentuk tajuknya sudah tidak menentu.
4) Pemangkasan pembungaan: Pemangkasan pembungaan bertujuan untuk
merangsang munculnya bunga pada tanaman. Contohnya pada tanaman anggur
dan tanaman yang letak buahnya di ujung cabang baru seperti rambutan,
kelengkeng, dan mangga. Tanaman anggur akan berbunga apabila dipangkas,
karena calon-calon bunga berasal dari tunas baru yang muncul.
b. Jenis Pemangkasan
1) Pemangkasan Bentuk: Pemangkasan bentuk dilakukan setelah bibit yang telah
memenuhi syarat ditanam, biasanya dalam beberapa waktu akan mulai tumbuh
dan menjadi besar. Jika dibiarkan tumbuh akan tumbuh tinggi dengan
percabangan yang rimbun dan tidak teratur. Akibatnya tanaman mudah terserang
penyakit, tidak banyak menghasilkan buah dan sulit untuk dipanen. Saat itulah kita
tidak boleh lalai memperhatikan kondisi tanamannya. Pertumbuhannya harus
dijaga jangan sampai terlalu subur. Tanaman yang terlalu subur biasanya
ditunjukkan dengan daun-daun yang tumbuh lebat dan rimbun. Pada kondisi
demikian biasanya
tanaman tidak akan mengeluarkan bunga. Untuk menjaga
agar jangan sampai menjadi terlalu subur sebaiknya tanaman segera di bentuk
dengan cara di pangkas. Pemangkasan bisa dilakukan terhadap cabang, ranting
daun atau akar. Pemangkasan bentuk dapat dilakukan sejak tanaman masih kecil.
6
Umur tanaman mulai dipangkas akan sangat tergantung pada jenisnya dan
pertumbuhannya. Pemangkasan bentuk pada tanaman mangga dapat dimulai
sejak pohon berumur 1 – 2 tahun.
2) Pemangkasan Pemeliharaan:

Pemangkasan Percabangan
Pemangkasan percabangan dibedakan menjadi dua, yaitu pemangkasan berat
dan pemangkasan ringan.
Pemangkasan berat dilakukan awal musim hujan atau akhir musim hujan.
Pemangkasan ini dilakukan terhadap wiwilan cabang primer yang sudah tua
dan tidak produktif, cabang primer dan bagian-bagian lainnya yang terserang
hama penyakit, cabang balik, cabang liar, daun-daun dan cabang yang
mengering.
Pemangkasan ringan, biasa disebut juga pewiwilan, dilakukan setiap tiga bulan
sekali untuk tanaman mangga. Pemangkasan ini bertujuan untuk membuang
wiwilan-wiwilan yang tumbuhnya tidak dikehendaki. Dalam hal ini tidak perlu
menggunakan alat (gunting atau pisau) akan tetapi cukup dengan tangan, agar
seluruh bagian dapat terambil dan mata tunasnya tidak tertinggal.

Pemangkasan Perakaran
Pemangkasan akar ini dilakukan, jika tanaman terlalu cepat pertumbuhannya,
tetapi keadaan bunga kurang baik. Pemangkasan akar akan menghambat
pertumbuhan vegetatif tanaman sampai 40 persen selama sekitar 1 musim.
Pemotongan akar terutama dilakukan dibagian luar batas mahkota daun dan
harus dilakukan dengan hati-hati. Pemangkasan dibatasi terutama pada akarakar yang kecil saja.
Dengan pemotongan yang intensif, produksi tanaman bisa diatur dan
penggunaan pupuk dapat dihemat. Sistem pemangkasan ini sangat
berpengaruh terhadap kebutuhan pupuk yang diserap oleh akar. Karena
7
kebutuhan pupuk akan terbatas pada bidang yang dibatasi oleh alur-alur yang
diputus oleh pisau yang terutama di bawah mahkota daun
3) Pemangkasan Peremajaan: Pemangkasan peremajaan adalah proses untuk
memperlakukan tanaman yang sudah tua dan pohon-pohon yang tidak produktif
menjadi muda kembali tanpa disertai penanaman kembali. Proses tersebut
dilaksanakan dengan memangkas cabang primer atau batang pokok tanaman yang
sudah tua dan yang dianggap tidak memenuhi syarat untuk dipertahankan. Pada
prinsipnya peremajaan dengan memangkas ini tidak hanya membuat tanaman
menjadi muda kembali akan tetapi ada maksud yang lebih utama yakni untuk
memperbaiki sifatsifat pohon yang kurang baik. Perbaikan ini dilakukan dengan
menyambung/mengokulasi tunas-tunas yang tumbuh setelah pemangkasan
dengan entres/mata tunas yang berasal dari tanaman sejenis yang lebih baik
sifatnya.
c.
Waktu Pemangkasan
Waktu pemangkasan sangat tergantung pada jenis pangkasan dan peertumbuhan.
Pemangkasan bentuk biasanya dilakukan 1 – 2 tahun setelah tanam, untuk tanaman
tahunan waktu pemangkasan yang paling baik adalah awal atau akhir musim hujan. Lain
dengan pemangkasan pemeliharaan (Kesehatan dan Produksi) ini dilakukan 3 bulan
sekali, yakni ketika hujan mulai turun. Akan tetapi bagi tanaman yang sudah berbuah
pemangkasan dilakukan ketika buah usai dipanen. Untuk pemangkasan peremajaan tidak
terikat kepada waktu, akan tetapi pada kondisi tanaman. Sesuai dengan tujuan yaitu
untuk mengganti tajuk tanaman maka pemangkasan peremajaan dilakukan pada
tanaman tua yang sudah menurun produksinya.
1) Menentukan bagian yang dipangkas: Tajuk tanaman yang teratur akan sangat
mendukung terjadinya buah yang bermutu. Pembentukan tajuk merupakan
pengaturan percabangan yang menyebar rata ke segala arah secara simetris. Hal
ini berarti jumlah dan arah cabang harus dibentuk sejak tanaman masih kecil. Yang
harus diperhatikan dalam pembentukan tajuk ini adalah kondisi batang utama,
cabang primer, dan cabang sekunder. Batang utama harus tunggal dan tajuk harus
8
ke atas. Cabang primer dalam satu tanaman berkisar antara 3-4 cabang. Kondisi
cabang primer ini harus menyebar dan membentuk sudat 120 o atau 90o terhadap
sesamanya. Sebagaimana cabang primer, cabang sekunderpun sebaiknya hanya
berkisar antara 3 -4 cabang dengan arah dan penyebaran yang sama. Dengan
kondisi ini, dalam setiap tanaman hanya terdapat 9 - 16 cabang sekunder yang
siap menopang ranting, bunga dan buah.
Ranting, bunga dan buah dapat bervariasi jumlahnya tergantung kemampuan
cabang sekunder yang menunjangnya. Bentuk pemangkasan yang lain adalah
pemangkasan produksi. Pola pemangkasan ini cabang-cabang yang tidak
produktif, tumbuh kearah dalam, menggantung, atau cabang kering, serta cabang
yang terserang hama penyakit, maupun yang berhimpit dipangkas dengan selang
waktu tertentu. Dengan pemangkasan produksi, diharapkan produksipun
meningkat karena pemangkasan tersebut akan mengurangi cabang-cabang yang
hanya memanfaatkan hara saja, menambah kelembaban, dan dapat mengurangi
intensitas sinar matahari bagi daun.
Selain cabang tersebut diatas dikenal pula tunas air, yaitu tunas yang tumbuh dari
batang pokok, cabang primer maupun cabang sekunder yang mengarah secara
vertikal. Tunas air ini harus dipangkas karena kalau dibiarkan tumbuh hanya akan
menyerap hara dan menjadi inang beberapa hama. Disamping itu cabang
demikian kalau dibiarkan tumbuh akan semakin membesar sehingga semakin
menyulitkan ketetapan
pemangkasan juga pemangkasan akan semakin
sukar dilaksanakan dan dapat merugikan bagi tanaman itu sendiri.
Pada pengelolaan produksi/pemeliharaan dilakukan pula pemangkasan pada
perakaran
dengan
tujuan
untuk
menghambat
pertumbuhan
vegetatif.
Pemangkasan akar tidak hanya membuat tanaman menjadi dapat berbuah tetapi
kualitas buah yang dihasilkan pun menjadi lebih baik. Disamping itu kerugian pada
masa awal produksi yang pertamapun bisa ditekan karena jumlah bunga dan buah
yang rontok akan berkurang. Untuk tanaman yang sudah
produktif perlu diremajakan. Untuk
peremajaan
dibongkar sampai ke akar-akarnya. Tetapi cukup
itu
tua
tanaman
dilakukan
dan
tidak
kurang
harus
pemangkasan.
9
Pemangkasan peremajaan ini bisa dilakukan terhadap batang pokok atau cabang
primer.
2. Pemangkasan pada tanaman yang menjalar/merambat: Cara pemangkasan pada
tanaman yang menjalar atau merambat berbeda dengan tanaman yang berbentuk
pohon. Misalnya pada tanaman semangka. Pemangkasan tanaman semangka
biasanya dilakukan pada saat tanaman berumur 10-15 hari setelah tanam (hst).
Bagian tanaman yang dipotong addalah batang utama (toping) pada ruas ke 5 atau ke
6. Setelah cabang utam di toping, biasanya akan muncul cabang samping. Pilih 2
cabang samping yang terbaik untuk kemudian akan dijadikan cabang utama. Cabang
yang tidak terpilih kemudian dipangkas. Buah yang akan dibesarkan pada ruas 10-15
(bulat) dan 13-21 (oblong) di kedua cabang samping yang dipelihara. Untuk
mendapatkan buah yang baik dilakukan kegiatan penyerbukan bunga. Penyerbukan
sebaiknya dilakukan pada umur 30 hst dan pada pagi hari (pkl. 06.00—10.00). bunga
yang dipilih adalah bunga yang memiliki bentuk sempurna tidak terserang hama dan
penyakit, dan tidak ada bintik hitam. Sebelum penyerbukan sebaiknya bunga jantan
dikumpulkan terlebih dahulu untuk memudahkan menempelkan bunga jantan ke
bunga betina.
Sumber: http://benihpertiwi.co.id/wp-content/uploads/top-semangka.jpg
10
3.
a.
Cahaya
Pengaruh cahaya pada tanaman
1.
Cahaya menstimulasi atau menghambat perkecambahan benih. Pada tanaman
selada perkecambahan dapat distimulasi oleh cahaya.
2.
Cahaya mempengaruhi perkembangan kecambah. Akibat kekurang cahaya terjadi
etiolasi, perkembangan kloroplas dan aktivitas enzim sangat lambat
3.
Cahaya menyebabkan deetiolasi. Dalam keadaan intensitas cahaya tinggi,
pemanjangan batang dihambat, tetapi kondisi ini merangsang sintesis klorofil,
karotenoid, dan antosianin dan perkembangan kloroplas.
4.
Cahaya mempengaruhi aktivitas pada membran sel. Mempengaruhi aliran ion dan
potensial bioelektrik membran (transmembran potensial), serta potensial
permukaan akar. Mempengaruhi penyerapan Ca+, K+, dll.
5.
Cahaya mempengaruhi ekspansi/pembesaran daun dan kotiledon.
6.
Cahaya mempengaruhi gerak nictinastic pada daun.
7.
Cahaya mempengaruhi pergerakan (rotasi) phototaktik kloroplas.
8.
Cahaya mempengaruhi sintesis protein dan aktivasi enzim-enzim tertentu.
9.
Cahaya mempengaruhi aktivasi gen (transkripsi mRNA).
10. Cahaya berperan dalam induksi pembungaan.
Pada tanaman lobak dan aster pemberian periode cahaya pendek 98-10 jam/hari)
akan menginisiasi pembentukan kuncup bunga, sedangkan pada tanaman kentang
dan kastuba, pemberian periode cahaya panjang (4-16 jam/hari akan menginisisai
pembentukan kuncup bunga)
11. Meregulasi ritmik harian (Jam/Siklus/Ritme Circadian). Contoh: membukanya
(siang) & menutupnya (malam) daun Albizzia (kelompok legume).
b. Photoperiodism
Fotoperiod: panjang relatif malam dan siang dalam siklus satu hari satu malam.
Fotoperiodisme adalah respons fisiologis tumbuhan terhadap panjang hari (day length)
atau panjang malam (night length). Adanya fenomena tanaman hari panjang (long-day
11
plants), tanaman hari pendek (short-day plants) dan tanaman netral (day-neutral plants)
merupakan salah satu fotomorfogenesis.
c.
Tanaman hari pendek (Short Day Plants)
Tanaman yang akan berbunga jika mendapat periode gelap (night) yang lebih
panjang atau sama dengan periode gelap minimum tertentu. Atau disebut juga tanaman
‘malam panjang’ (long night plants).
Contoh tanaman Hari Pendek (SDP)= (Long Night Plant):
1.
Chenopodium rubrum
2.
Chrysanthemum morifolium (Dendranthema grandiflora)
3.
Euphorbia pulcherima (poinsettia)
4.
Glycine max
5.
Nicotiana tabacum
6.
Xanthium strumarium
7.
Pharbitis sp.
8.
Cocklebur.
Contoh tanaman hari pendek yang popular adalah tanaman krisan
Tanaman krisan akan berbunga jika mendapat periode gelap (night) yang lebih
panjang atau sama dengan periode gelap minimum tertentu. Jika kondisi hari pendek/
gelap panjang, maka tanaman krisan akan berbunga, sebaliknya jika kondisi hari
panjang/gelap pendek tidak berbunga (vegetative)
Krisan perlu pengaturan hari panjang pada tahap-tahap tertentu yang diharapkan
tunas vegetatifnya tumbuh, misalnya :
•
Pemeliharaan tanaman induk sumber bahan setek.
•
Perbanyakan bibit dengan bahan setek.
•
Pertumbuhan awal bibit di bedeng produksi.
Kondisi hari panjang diperlukan agar tanaman tetap pada fase vegetatif:
12
Penambahan cahaya pada pk 22.00 – 2.00 dini hari setiap malam biasanya
diperlukan untuk pemeliharaan tanaman induk, pada saat penyetekan, dan pada
saat awal (3-4 mg) setelah penanaman bibit.
d.
Tanaman hari panjang (Long Day Plants)
Tanaman hari panjang adalah tanaman yang akan berbunga jika mengalami
periode gelap (night) yang lebih pendek atau sama dengan periode gelap maksimum
tertentu. Atau disebut juga tanaman malam pendek (short night plant).
Contoh tanaman Hari Panjang (LDP) = (Short Night Plant)
1. Beta vulgaris
2. Raphanus sativus
3. Spinacea oleracea
4. Sinapsis alba
5. Lolium sp.
6. Clover
e.
Tanaman hari netral
Tanaman hari netral adalah tanaman yang pembungaannya tidak dipengaruhi oleh
panjang hari atau panjang malam.
Contoh:
Cucumis sativus = mentimun
Helianthus annuus = bunga matahari
Zea mays = jagung
Phaseolus vulgaris = buncis
Pisum sativum = kapri
13
Download