analisis pendapatan dan tingkat kepuasan

advertisement
BAB VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1 Karakteritik Responden
Karakteristik responden merupakan sifat atau ciri konsumen yang sudah
diberikan pertanyaan melalui kuesioner yang disajikan dari hasil survei.
Karakteristik responden dibagi menjadi tiga kelompok rumah tangga berdasarkan
tingkat pendapatannya, yaitu kelas ekonomi bawah, menengah, dan atas, dimana
pada penelitian ini yang menjadi reponden mayoritas adalah ibu rumah tangga.
Karakteristik responden yang dijelaskan dan dibahas dalam penelitian ini meliputi
variabel usia, jenis kelamin, pekerjaan, pekerjaan, tingkat pendidikan, pendapatan
keluarga, pengeluaran keluarga, pengeluaran untuk pangan, pengeluaran untuk
tempe, lokasi pembelian tempe, alasan mengonsumsi tempe dan kapan pembelian
tempe.
6.1.1 Usia
Usia sebagai karakteristik demografi yang dapat mempengaruhi preferensi
seseorang dalam melakukan keputusan pembelian Rata-rata usia responden pada
kelas ekonomi atas adalah 45.5 tahun, untuk kelas ekonomi menengah rata-rata
usia responden adalah 43.3 tahun, dan kelas ekonomi bawah adalah 42.8 tahun.
Sebagian besar reponden pada kelas ekonomi atas, menengah, dan bawah yang
umurnya di atas antara 36-50 tahun tahun sebesar 76 persen, 72 persen, dan 68
persen. Sebaran reponden menurut usia dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Sebaran Responden Berdasarkan Usia
Kelas Ekonomi
Kelas Ekonomi
Umur
Atas
Menengah
(Tahun)
n
%
n
%
21-35
6
12
6
12
Kelas Ekonomi
Bawah
n
%
12
24
36-50
38
76
36
72
34
68
>50
6
12
8
16
4
8
Jumlah
50
100
50
100
50
100
6.1.2 Jenis Kelamin
Mayoritas responden kelas ekonomi atas, menengah, maupun bawah
adalah perempuan yang umumnya adalah ibu rumah tangga, baik yang memiliki
pekerjaan maupun tidak memiliki pekerjaan. Hal ini diambil karena biasanya ibu
rumah tangga sebagai pengambil keputusan dalam keluarga untuk hal yang
berkaitan dengan urusan konsumsi keluarga. Selain itu, jenis kelamin telah
menjadi dasar segmentasi pasar yang digunakan dalam menentukan produk yang
khusus dihubungkan dengan jenis kelamin tersebut. Untuk sebaran reponden
menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 7 berikut.
Tabel 7. Sebaran Responden Menurut Jenis Kelamin
Kelas Ekonomi
Kelas Ekonomi
Jenis
Atas
Menengah
Kelamin
n
%
n
%
Laki-laki
6
12
8
16
Kelas Ekonomi
Bawah
n
%
0
0
Perempuan
44
88
42
84
50
100
Jumlah
50
100
50
100
50
100
6.1.3 Pekerjaan
Bekerja adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara teratur dan
berkesinambungan dalam jangka waktu tertentu dengan tujuan yang jelas, yaitu
untuk menghasilkan atau mendapatkan sesuatu dalam bentuk uang, benda, jasa,
maupun ide. Secara umum jenis pekerjaan akan membedakan tingkat pendapatan.
Dalam penelitian ini pekerjaan yang diamati adalah pekerjaan dari responden,
sementara tingkat pendapatan yang diamati adalah tingkat pendapatan dari rumah
tangga. Responden rumah tangga kelas ekonomi atas persentase terbesar untuk
jenis pekerjaan adalah ibu rumah tangga yaitu sebesar 70 persen, pegawai negeri
sebesar 14 persen, pegawai swasta sebesar 10 persen, dan sisanya enam persen
adalah wiraswasta. Untuk reponden kelas ekonomi menengah persentase terbesar
untuk jenis pekerjaan adalah ibu rumah tangga sebesar 66 persen, pegawai negeri
sebesar 22 persen, pegawai swasta sebesar 12 persen. Sedangkan untuk responden
untuk kelas ekonomi bawah persentase terbesar untuk jenis pekerjaan adalah ibu
rumah tangga sebesar 90 persen dan wiraswasta sebesar 10 persen. Besarnya
proporsi responden yang bekerja untuk semua kelas sosial, baik pegawai negeri,
pegawai swasta maupun berwiraswasta merupakan salah satu upaya untuk
menambah pendapatan keluarga. Sebaran responden menurut jenis pekerjaan
dapat dilihat pada Tabel 8 sebagai berikut.
Tabel 8. Sebaran Responden Menurut Jenis Pekerjaan
Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi
Atas
Menengah
Jenis Pekerjaan
n
%
n
%
Ibu Rumah Tangga
35
70
33
66
Kelas Ekonomi
Bawah
n
%
45
90
Pegawai Negeri
7
14
11
22
0
0
Pegawai Swasta
5
10
6
12
0
0
Wiraswasta
3
6
0
0
5
10
Jumlah
50
100
50
100
50
100
6.1.4 Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan dari responden rumah tangga berbeda satu dengan
lainnya dari tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sampai dengan
Sarjana. Selain itu pendidikan dan pekerjaan adalah dua hal yang saling
berhubungan, dimana pendidikan akan mampu menentukan jenis pekerjaan
konsumen, dan akan berimplikasi pada pendapatan yang akan diterimanya.
Persentase terbesar responden rumah tangga kelas ekonomi atas adalah yang
memiliki tingkat pendidikan SLTA yaitu sebanyak 34 responden atau 68 persen
dari total responden kelas atas. Kelas ekonomi menengah persentase terbesar
responden rumah tangga untuk tingkat pendidikan adalah yang memiliki tingkat
pendidikan SLTA, yaitu sebanyak 33 responden atau 66 persen dari total
responden kelas menengah. Sedangkan untuk kelas ekomoni bawah persentase
terbesar responden rumah tangga untuk tingkat pendidikan adalah yang memiliki
tingkat pendidikan SLTP yaitu sebanyak 29 responden atau sebesar 58 persen dari
total responden kelas ekonomi bawah. Sebaran responden menurut tingkat
pendidikannya dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan
SD
Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi
Atas
Menengah
n
%
n
%
0
0
0
0
Kelas Ekonomi
Bawah
n
%
0
0
SLTP
0
0
0
0
29
58
SLTA
34
68
33
66
21
42
Diploma 3
9
18
17
34
0
0
Sarjana
7
14
0
0
0
0
Jumlah
50
100
50
100
50
100
6.1.5 Jumlah Anggota Keluarga
Jumlah anggota keluarga kelas ekonomi atas, menengah dan bawah antara
5-6 orang merupakan persentase terbesar dari responden yaitu 68 persen, 60
persen dan 66 persen. Jumlah anggota keluarga akan menentukan distribusi
pangan antar anggota keluarga. Keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga
yang lebih kecil tentunya akan lebih mudah untuk memenuhi kebutuhan
pangannya, terutama bagi keluarga yang termasuk kedalam kelas ekonomi
menengah ke bawah, karena kesenjangan distribusi pangan dapat berakibat buruk
pada anggota keluarga yang rawan gizi meskipun ketersediaan pangan tercukupi.
Tabel 10. Sebaran Responden Menurut Jumlah Anggota Keluarga
Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi
Kelas Ekonomi
Jumlah Anggota
Atas
Menengah
Bawah
Keluarga
n
%
n
%
n
%
Kecil (≤ 4 Orang)
11
22
20
40
17
34
Sedang (5-6 Orang)
34
68
30
60
33
66
Besar (> 6Orang)
5
10
0
0
0
0
Jumlah
50
100
50
100
50
100
6.1.6 Pendapatan Keluarga
Tingkat pendapatan rumah tangga tergantung pada kemampuan anggota
keluarga untuk memperoleh kesempatan kerja dan penghasilan yang cukup sesuai
dengan kemampuan seseorang. Pendapatan berpengaruh terhadap kualitas dan
kuantitas konsumsi pangan. Semakin tinggi tingkat pendapatan, maka akan
mempengaruhi individu untuk meningkatkan konsumsinya. Sebaran responden
menurut jumlah pendapatan keluarga dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Sebaran Responden Menurut Jumlah Pendapatan Keluarga
(Rp/bulan)
Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi
Jumlah Total Pendapatan
Atas
Menengah
Bawah
Keluarga (Rp/bulan)
n
%
n
%
n
%
< Rp 2.000.000
0
0
0
0
50
100
Rp 2.000.000-Rp 4.900.000
0
0
50
100
0
0
≥ Rp 5.000.000
50
100
0
0
0
0
Jumlah
50
100
50
100
50
100
6.1.7 Pengeluaran
Dalam penelitian ini pengeluaran rumah tangga adalah pengeluaran total
yang dikeluarkan suatu rumah tangga selama satu bulan. Pengeluaran total rumah
tangga dapat diketahui dengan menghitung jumlah rupiah yang dikeluarkan oleh
suatu runmah tangga selama sebulan, baik itu untuk keperluan sehari-hari maupun
untuk keperluan rumah tangga lainnya. Responden memiliki jumlah pengeluaran
per bulan yang berbeda dengan kisaran berbeda pula untuk setiap kelas sosial.
Untuk kelas ekonomi atas, variasi pengeluaran total memiliki kisaran antara
Rp 1.000.000- 3.000.000 dengan rata-rata pengeluaran Rp 2.760.000. Untuk kelas
ekonomi menengah
variasi pengeluaran total
perbulan berkisar antara
Rp 1.000.000- 2.500.000 dengan rata-rata pengeluaran Rp 1.782.000. untuk kelas
ekonomi bawah variasi pengeluaran total perbulan berkisar antara Rp 500.0001.500.000 dengan rata-rata pengeluaran Rp 1.035.000. Sebaran responden
menurut total pengeluaran keluarga per bulan dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Sebaran Responden Menurut Jumlah Total Pengeluaran Keluarga
(Rp/bulan)
Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi
Jumlah Total Pengeluaran
Atas
Menengah
Bawah
Keluarga (Rp/bulan)
n
%
n
%
n
%
< Rp 1.000.000
0
0
0
0
6
12
Rp 1.000.000 - Rp 2.000.000
5
10
31
62
44
88
> Rp 2.000.000
45
90
19
38
0
0
Jumlah
50
100
50
100
50
100
6.1.8 Pengeluaran untuk Pangan
Pengeluaran keluarga khusus untuk konsumsi pangan dapat diketahui
dengan menghitung jumlah rupiah yang dikeluarkan oleh suatu rumah tangga
untuk membeli produk pangan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Responden
memiliki pengeluaran khusus untuk pangan per bulan yang berbeda satu dengan
lainnya dengan kisaran yang berbeda pula untuk setiap kelas sosial.
Untuk kelas ekonomi atas, variasi pengeluaran khusus untuk pangan per
bulan memiliki kisaran antara Rp 1.000.000- 2.000.000 dengan rata-rata
pengeluaran Rp 1.562.000. Untuk kelas ekonomi menengah, variasi pengeluaran
khusus untuk pangan per bulan memiliki kisaran antara Rp 500.000- 2.000.000
dengan rata-rata pengeluaran Rp 1.042.000. Sedangkan untuk kelas ekonomi
bawah, variasi pengeluaran khusus untuk pangan per bulan memiliki kisaran
antara Rp 400.000- 1.000.000 dengan rata-rata pengeluaran Rp 600.000.
Tabel 13 menunjukkan bahwa sebanyak lima responden rumah tangga
kelas ekonomi atas memiliki jumlah pengeluaran khusus untuk pangan per bulan
sebesar Rp 1.100.000-2.000.000, sedangkan 45 rumah tangga responden memiliki
jumlah pengeluaran khusus untuk pangan per bulan lebih dari 2.000.000.
Responden kelas menengah memiliki 25 rumah tangga yang jumlah
pengeluaran khusus untuk pangan per bulan sebesar Rp 500.000- 1.000.000,
sisanya sebanyak 25 responden rumah tangga memiliki jumlah pengeluaran
khusus untuk pangan per bulan sebesar >Rp 1.000.000- 2.000.000. Sedangkan
untuk kelas ekonomi bawah, 13 rumah tangga memiliki jumlah pengeluaran
khusus untuk pangan sebesar kurang dari Rp 500.000 dan 37 rumah tangga
lainnya memiliki jumlah pengeluaran khusus untuk pangan per bulan sebesar
Rp 500.000- 1.000.000.
Tabel 13. Sebaran Responden Menurut Jumlah Total Pengeluaran untuk
Pangan (Rp/bulan)
Kelas
Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi
Ekonomi
Jumlah Total Pengeluaran
Atas
Menengah
Bawah
Untuk Pangan (Rp/bulan)
n
%
n
%
n
%
< Rp 500.000
0
0
0
0
13
26
Rp 500.000 - Rp 1.000.000
0
0
25
50
37
74
>Rp1.000.000 – Rp 2.000.000
5
10
25
50
0
0
>Rp 2.000.000
45
90
0
0
0
0
Jumlah
50
100
50
100
50
100
6.1.9 Pengeluaran untuk Tempe
Pengeluaran keluarga khusus untuk tempe dapat diketahui dengan
menghitung jumlah rupiah yang dikeluarkan oleh suatu rumah tangga untuk
membeli produk tempe tersebut guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Responden memiliki pengeluaran khusus untuk tempe per bulan yang berbeda
satu dengan lainnya dengan kisaran yang berbeda pula untuk setiap kelas sosial.
Tabel 14. Sebaran Responden Menurut Jumlah Total Pengeluaran untuk
Tempe (Rp/bulan)
Jumlah Total
Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi
Pengeluaran
Atas
Menengah
Bawah
Untuk Tempe
n
%
n
%
n
%
(Rp/bulan)
< Rp 40.000
0
0
9
18
6
12
40.000 – Rp 60.000
12
24
17
34
20
40
>Rp 60.000
38
76
24
48
24
48
Jumlah
50
100
50
100
50
100
Tabel 14 menunjukkan bahwa sebanyak 12 responden rumah tangga kelas
ekonomi atas memiliki jumlah pengeluaran sebesar Rp 40.000- 60.000, 38
responden rumah tangga jumlah pengeluaran untuk tempe per bulan lebih dari Rp
60.000.
Untuk kelas ekonomi menengah sebanyak sembilan responden rumah
tangga memiliki jumlah pengeluaran khusus untuk tempe per bulan kyrang dari
Rp. 40.000, sebanyak 17 responden memiliki jumlah pengeluaran Rp 40.00060.000, dan 24 responden rumah tangga jumlah pengeluaran untuk tempe per
bulan lebih dari Rp 60.000. Untuk kelas ekonomi bawah, sebanyak enam
responden rumah tangga memiliki jumlah pengeluaran khusus untuk tempe per
bulan kurang dari Rp 40.000, sebanyak 20 responden rumah tangga jumlah
pengeluaran untuk tempe per bulan berkisar antara Rp 40.000- 60.000, sedangkan
24 responden rumah tangga memiliki jumlah pengeluaran khusus untuk pangan
per bulan lebih dari Rp 60.000.
6.1.10 Lokasi Pembelian Tempe
Lokasi pemebelian tempe merupakan tempat dimana konsumen dapat
membeli tempe. Untuk ekonomi kelas atas lokasi pembelian tempe yang terbesar
adalah di pasar yaitu sebesar 56 persen, pembelian di pedagang sayur keliling
sebesar 38 persen dan sisanya 3 persen lokasi pembeliannya di warung. Untuk
kelas ekonomi menengah lokasi pembelian tempe tebesar adalah di pedagang
sayur keliling (38 persen), warung (34 persen), dan pasar (28 persen). Sedangkan
kelas ekonomi bawah, lokasi pembelian tempe terbesar adalah di pedagang sayur
keliling yaitu sebesar 50 persen, warung (38 persen), dan sisanya 12 persen di
pasar. Sebaran lokasi pembelian tempe dapat dilihat pada Tabel 15 berikut.
Tabel 15. Sebaran Responden Menurut Lokasi Pembelian Tempe
Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi
Atas
Menengah
Bawah
Lokasi Pembelian
n
%
n
%
n
%
Pasar
28
56
14
28
6
12
Warung
3
6
17
34
19
38
Supermarket
0
0
0
0
0
0
19
38
19
38
25
50
50
100
50
100
50
100
Pedagang Sayur
Keliling
Jumlah
6.1.11 Alasan Mengonsumsi Tempe
Alasan untuk mengonsumsi tempe adalah hal-hal yang mendasari
seseorang untuk mengonsumsi tempe. Alasan seseorang untuk mengonsumsi
tempe itu berbeda-beda untuk setiap kalangan, baik itu kalangan ekonomi atas,
menengah, dan bawah. Untuk Kelas ekonomi atas, alasan mengonsumsi tempe
terbesar yaitu karena tempe sudah menjadi kebutuhan yaitu sebesar 44 persen,
variasi menu sebesar 28 persen, sisanya katena harganya murah dan untuk
pemenuhan gizi yaitu sebesar 16 persen dan 12 persen.
Alasan kelas ekonomi menengah mengonsumsi tempe terbesar karena
sudah menjadi kebutuhan (46 persen), variasi menu (20 persen), pemenuhan gizi
(18 persen) dan harganya murah (16 persen). Sedangkan untuk kelas ekonomi
bawah, alasan mengonsumsi tempe sebagian besar karena harganya yang murah
(50 persen), dan sudah menjadi kebutuhan (44 persen) serta untuk pemenuhan gizi
(6 persen).
Tabel 16. Sebaran Responden Menurut Alasan MengonsumsiTempe
Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi
Alasan Mengonsumsi
Atas
Menengah
Bawah
Tempe
n
%
n
%
n
%
Harganya Murah
8
16
8
16
25
50
Variasi Menu
14
28
10
20
0
0
Pemenuhan Gizi
6
12
9
18
3
6
Sudah Menjadi Kebutuhan
22
44
23
46
22
44
Jumlah
50
100
50
100
50
100
6.1.12 Kapan Pembelian Tempe
Kelas ekonomi atas biasanya melakukan pembelian tempe secara
mendadak, hal ini dapat dilihat pada tabel 16 yaitu sebesar 62 persen, jika
pesediaan habis sebesar 22 persen, dan sisanya 16 persen secara terencana. Untuk
kelas ekonomi menengah waktu pemebelian tempe adalah secara mendadak yaitu
sebesar 50 persen, secara terencana 32 persen, dan jika persediaan habis sebesar
18 persen. Sedangkan untuk kelas ekonomi bawah, waktu pembelian tempe
terbesar adalah secara mendadak yaitu 80 persen, secara terencana sebesar 14
persen dan sisanya 6 persen ketika pesediaan tempe telah habis.
Tabel 17. Sebaran Responden Menurut Waktu Pembelian Tempe
Kelas Ekonomi
Kelas Ekonomi Kelas Ekonomi
Kapan Pembelian
Atas
Menengah
Bawah
Tempe
n
%
n
%
n
%
Mendadak
31
62
25
50
40
80
Terencana
8
16
16
32
7
14
Jika Persedian Habis
11
22
9
18
3
6
Jumlah
50
100
50
100
50
100
6.2 Analisis Faktor yang Mempengaruhi Konsumi Tempe
Model atau bentuk persamaan yang digunakan untuk menganalisis faktorfaktor yang mempengaruhi konsumsi tempe adalah dengan menggunakan model
persamaan regresi berganda. Faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap
konsumsi tempe adalah harga tempe (X1), harga tahu (X2), harga telur (X3),
jumlah anggota keluarga (X4), pendidikan terakhir (X5), dan kelas ekonomi atas
(D1), kelas ekonomi menengah (D2), dan kelas ekonomi atas (D3)
Hasil pendugaan yang diperoleh dengan menggunakan regresi linear
berganda adalah sebagai berikut :
C = - 32094 + 11.4 X1 + 10.2 X2 + 2.06 X3 + 1732 X4 + 726 X5 + 3892 D1 + 6864 D2
Keterangan :
C
X1
X2
X3
X4
X5
D1
D2
D3
= Konsumsi Tempe
= Harga Tempe
= Harga Tahu
= Harga Telur
= Jumlah anggota Keluarga
= Pendidikan Terakhir
= Kelas Ekonomi Bawah
= Kelas Ekonomi Menengah
= Kelas Ekonomi Atas
Tabel 18. Hasil Analisis Ragam
Source
DF
SS
27205949362
Regression
7
5067785638
Residual Error
142
32273735000
Total
149
MS
3886564195
35688631
Fhit
108.90
P
0.000
Dari hasil pendugaan diperoleh koefisien determinasi (R2) sebesar 84.3
persen. Hal ini mengartikan bahwa model regresi yang digunakan dapat
menerangkan variasi keragaman dari nilai konsumsi tempe beserta variabel
independennya sebesar 84.3 persen, kemudian sisanya sebesar 15.7 persen
diterangkan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model.
Dari tabel diketahui nilai F-hitung sebesar 108.90 yang lebih besar dari
nilai F-tabel sebesar 2,01 pada selang kepercayaan 95 persen, sehingga dapat
dihipotesiskan bahwa variabel independen yaitu harga tempe, harga tahu, harga
telur, jumlah anggota keluarga, dan pendidikan terakhir secara bersama-sama
berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe.
Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan linear pada variabel itu
sendiri yang terlambat beberapa periode dilakukan uji autokorelasi. Statistik uji
Durbin-Watson digunakan untuk mengetahui apakah terdapat autokorelasi atau
tidak. Nilai Durbin-Watson (d) yang didapatkan pada model ini adalah 0.43. Nilai
ini menandakan bahwa terdapat autokorelasi pada model regresi. Untuk
mengetahui apakah residual atau error sudah menyebar normal dilakukan uji
normalitas dengan uji Komogorov-Smirnov. Nilai dengan uji uji KomogorovSmirnov kurang dari 0,01, ini berarti residual atau error dalam model regresi linear
berganda sudah tidak menyebar normal. Untuk melihat signifikansi dan koefisien
masing-masing variabel independent yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Analisis Variabel Pada Model Regresi Linear Berganda Konsumsi
Tempe
Predictor
Constant
Harga Tempe (X1)
Harga Tahu (X2)
Harga Telur (X3)
Jumlah Anggota Keluarga (X4)
Pendidikan Terakhir (X5)
Kelas Ekonomi Bawah (D1)
Kelas Ekonomi Menengah (D2)
Ttabel(0,05;142)
= 1,645
Coef
-32094
11.4281
10.194
2.0633
1732.4
726.3
3892
6864
SE
Thitung Phitung
13940 -2.30 0.023
0.5555 20.57 0.000
1.857
5.49 0.000
0.9035
2.28 0.024
696.4
2.49 0.014
316.0
2.30 0.023
1730
2.25 0.026
1308
5.25 0.000
VIF
1.7
1.4
1.7
1.2
2.1
2.8
1.6
Interpretasi koefisien dan signifikansi setiap variabel independen dari hasil
analisis secara detail dapat dilihat sebagai berikut :
Harga Tempe (X1)
Koefisien harga tempe bernilai positif yaitu sebesar 11.4281 Angka ini
mengartikan bahwa jika terjadi kenaikan harga tempe sebesar satu rupiah, maka
rata-rata konsumsi tempe akan meningkat 11.4281. Pernyataan ini tidak sejalan
dengan hipotesis awal, yaitu semakin tinggi harga tempe maka konsumsi tempe
akan turun, dimana harga tempe mempunyai hubungan negatif dengan konsumsi
tempe. Ketidaksesuaian ini mungkin terjadi karena konsumen sudah mengetahui
kandungan gizi yang terdapat dalam tempe, sehingga walaupun harga tempe naik
mereka tetap tidak mengurangi untuk mengonsumsi tempe.
Kemudian untuk mengetahui apakah variabel harga tempe secara parsial
berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe, dapat dilihat dari nilai Thitung. Untuk
variabel harga tempe nilai Thitung nya lebih besar jika dibandingkan dengan Ttabel
(1,645) pada taraf nyata
lima persen.
Hal ini mengartikan bahwa variabel
tersebut berpengaruh nyata secara parsial terhadap konsumsi tempe. Kemudian
nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang didapatkan untuk variabel harga tempe
lebih kecil dari lima yaitu sebesar 1,7. Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat
multikolinear antar variabel harga tempe dengan variabel independen lainnya.
Harga Tahu (X2)
Koefisien harga tahu bernilai positif yaitu sebesar 10.194. Angka ini
mengartikan bahwa jika terjadi kenaikan harga tahu sebesar satu rupiah, maka
rata-rata konsumsi tempe akan meningkat 10.194. Pernyataan ini sejalan dengan
hipotesis awal, yaitu semakin tinggi harga tahu maka konsumsi tempe akan naik,
dimana harga tahu mempunyai hubungan positif dengan konsumsi tempe.
Kemudian untuk mengetahui apakah variabel harga tahu secara parsial
berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe, dapat dilihat dari nilai Thitung. Untuk
variabel harga tahu nilai Thitung nya lebih besar jika dibandingkan dengan Ttabel
(1,645) pada taraf nyata lima persen. Hal ini mengartikan bahwa variabel tersebut
berpengaruh nyata secara parsial terhadap konsumsi tempe. Kemudian nilai
Variance Inflation Factor (VIF) yang didapatkan untuk variabel harga tahu lebih
kecil dari lima yaitu sebesar 1,4. Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat
multikolinear antar variabel harga tahu deng an variabel independen lainnya
Harga Telur (X3)
Koefisien harga telur bernilai positif yaitu sebesar 2.0633. Angka ini
mengartikan bahwa jika terjadi kenaikan harga telur sebesar satu rupiah, maka
rata-rata konsumsi tempe akan meningkat 2.0633. Pernyataan ini sejalan dengan
hipotesis awal, yaitu semakin tinggi harga telur maka konsumsi tempe akan naik,
dimana harga telur mempunyai hubungan positif dengan konsumsi tempe
Untuk mengetahui apakah variabel harga telur secara parsial berpengaruh
nyata terhadap konsumsi tempe, dapat dilihat dari nilai Thitung. Untuk variabel
harga telur nilai Thitung nya lebih besar jika dibandingkan dengan Ttabel (1,645)
pada taraf nyata
lima persen. Hal ini mengartikan bahwa variabel tersebut
berpengaruh nyata secara parsial dan dapat menjelaskan konsumsi tempe.
Kemudian nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang didapatkan untuk variabel
harga telur lebih kecil dari lima yaitu sebesar 1,7. Hal ini menandakan bahwa
tidak terdapat multikolinear antar variabel harga telur dengan variabel
independent lainnya.
Jumlah Anggota Keluarga (X4)
Koefisien pendapatan bernilai positif yaitu sebesar 1732.4. Angka ini
mengartikan bahwa jika jumlah anggota betambah sebesar satu orang, maka ratarata konsumsi tempe akan meningkat 1732.4. Pernyataan ini sejalan dengan
hipotesis awal, yaitu semakin banyak anggota keluarga maka konsumsi tempe
akan naik, dimana jumlah anggota keluarga mempunyai hubungan positif dengan
konsumsi tempe.
Kemudian untuk mengetahui apakah variabel jumlah anggota keluarga
secara parsial berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe, dapat dilihat dari nilai
Thitung. Untuk variabel jumlah anggota keluarga nilai T hitung nya lebih besar jika
dibandingkan dengan Ttabel (1,645) pada taraf nyata
lima persen. Hal ini
mengartikan bahwa variabel tersebut berpengaruh nyata secara parsial terhadap
konsumsi tempe. Kemudian nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang
didapatkan untuk variabel pendapatan lebih kecil dari lima yaitu sebesar 1,2. Hal
ini menandakan bahwa tidak terdapat multikolinear antar variabel jumlah anggota
keluarga dengan variabel independent lainnya.
Pendidikan Terakhir (X5)
Koefisien pendidikan terakhir bernilai positif yaitu sebesar 726.3. Angka
ini mengartikan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, maka rata-rata
konsumsi tempe akan meningkat 726.3. Pernyataan ini sejalan sejalan dengan
hipotesis awal, yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan maka konsumsi tempe
akan naik, dimana tingkat pendidikan mempunyai hubungan positif dengan
konsumsi tempe.
Kemudian untuk mengetahui apakah variabel tingkat pendidikan secara
parsial berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe, dapat dilihat dari nilai Thitung.
Untuk variabel tingkat pendidikan nilai Thitung nya lebih besar jika dibandingkan
dengan Ttabel (1,645) pada taraf nyata lima persen. Hal ini mengartikan bahwa
variabel tersebut berpengaruh nyata secara parsial terhadap konsumsi tempe.
Kemudian nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang didapatkan untuk variabel
pendapatan lebih kecil dari lima yaitu sebesar 2.1. Hal ini menandakan bahwa
tidak terdapat multikolinear antar variabel tingkat pendidikan dengan variabel
independent lainnya.
Kelas Ekonomi Bawah (D1)
Koefisien pendidikan terakhir bernilai positif yaitu sebesar 3892. Angka
ini mengartikan bahwa semakin tinggi kelas ekonomi bawah, maka rata-rata
konsumsi tempe akan meningkat 3892. Pernyataan ini sejalan sejalan dengan
hipotesis awal, yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan maka konsumsi tempe
akan naik, dimana kelas ekonomi bawah mempunyai hubungan positif dengan
konsumsi tempe.
Kemudian untuk mengetahui apakah variabel kelas ekonomi bawah secara
parsial berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe, dapat dilihat dari nilai Thitung.
Untuk variabel kelas ekonomi bawah nilai Thitung nya lebih besar jika
dibandingkan dengan Ttabel (1,645) pada taraf nyata
lima persen. Hal ini
mengartikan bahwa variabel tersebut berpengaruh nyata secara parsial terhadap
konsumsi tempe. Kemudian nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang
didapatkan untuk variabel kelas ekonomi bawah lebih kecil dari lima yaitu sebesar
2.8. Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat multikolinear antar variabel tingkat
pendidikan dengan variabel independent lainnya
Kelas Ekonomi Menengah (D2)
Koefisien pendidikan terakhir bernilai positif yaitu sebesar 6864. Angka
ini mengartikan bahwa semakin tinggi kelas ekonomi menengah, maka rata-rata
konsumsi tempe akan meningkat 6864. Pernyataan ini sejalan sejalan dengan
hipotesis awal, yaitu semakin tinggi kelas ekonomi menengah maka konsumsi
tempe akan naik, dimana kelas ekonomi menengah mempunyai hubungan positif
dengan konsumsi tempe.
Kemudian untuk mengetahui apakah variabel kelas ekonomi menengah
secara parsial berpengaruh nyata terhadap konsumsi tempe, dapat dilihat dari nilai
Thitung. Untuk variabel kelas ekonomi menengah nilai Thitung nya lebih besar jika
dibandingkan dengan Ttabel (1,645) pada taraf nyata
lima persen. Hal ini
mengartikan bahwa variabel tersebut berpengaruh nyata secara parsial terhadap
konsumsi tempe. Kemudian nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang
didapatkan untuk variabel kelas ekonomi menengah lebih kecil dari lima yaitu
sebesar 1.6. Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat multikolinear antar variabel
kelas ekonomi menengah dengan variabel independent lainnya
Faktor-faktor yang berpengaruh nyata dalam mengonsumsi tempe adalah
harga tempe itu sendiri, harga tahu, harga telur, jumlah anggota keluarga,
pendidikan terakhir dari responden, kelas ekonomi bawah, dan kelas ekonomi
menengah. Harga tempe berpengaruh nyata karena konsumen melihat harga dari
barang yang akan dibelinya atau dikonsumsinya. Harga tahu berpengaruh nyata
karena, apabila harga tahu naik maka konsumen akan beralih pada makanan yang
bahan dasarnya sama dari kedelai dan salah satunya tempe. Harga telur
berpengaruh nyata karena apabila harga telur naik, maka konsumen akan
mengurangi untuk mengonsumsi telur dan beralih pada makanan lain yang
harganya lebih murah.
Jumlah anggota keluarga berpengaruh nyata karena, semakin banyak
anggota keluarga maka konsumsi suatu barangpun akan semakin meningkat.
Sedangkan pendidikan terakhir berpengaruh nyata karena konsumen akan
mempertimbangkan produk mana yang lebih bermanfaat atau berguna sebelum
membelinya. Kelas ekonomi bawah dan menengah berpengaruh nyata terhadap
konsumsi tempe karena harganya yang murah dan bergizi, selain itu karena sudah
menjadi kebiasaan untuk mengonsumsi tempe.
Harga tempe merupakan variabel yang paling responsif diantara variabelvariabel lainnya, hal ini di karenakan konsumen akan mengonsumsi suatu barang
dilihat dari harga barang itu sendiri Apabila harga barang itu murah maka
konsumen akan mengonsumsinya, apabila harganya tinggi, maka konsumen akan
mempertimbangkan untuk mengonsumsi barang tersebut.
Download