dasar-dasar perikatan pengertian perikatan

advertisement
20-Mar-17
PENGERTIAN PERIKATAN
DASAR-DASAR PERIKATAN
• Perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang
atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak
menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain
berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu. (Subekti, 2005 :
1)
• Menurut Pitlo, perikatan adalah suatu hubungan hukum yang
bersifat harta kekayaan antara dua orang atau lebih atas dasar
mana pihak yang satu berhak (kreditur) dan pihak lain
berkewajiban (debitur) atas sesuatu prestasi.
DISUSUN OLEH:
1. Adhisti Friska Paramita
166010200111055
2. Sumawati
166010200111058
3. I Made Sukma Aryawan 166010200111059
4. Baiq Husnul Hidayati
166010200111060
5. Bagus Pratama Wahyudi 166010200111065
6. Andi Moh. Era Wirambara 166010200111074
(16)
(19)
(20)
(21)
(26)
(31)
1
• Menurut Abdulkadir Muhammad, Perikatan adalah hubungan
hukum yang terjadi antara debitur dan kreditur, yang terletak
dalam bidang harta kekayaan.
• Soediman Kartohadiprodjo, juga merumuskan perikatan
adalah suatu hubungan hukum yang bersifat harta kekayaan
antara dua orang atau lebih, atas dasar mana pihak yang satu
berhak (kreditur) dan pihak lain berkewajiban (debitur) atas
sesuatu prestasi.
• Perikatan menurut R. Setiawan adalah suatu hubungan
hukum, yang artinya hubungan yang diatur dan diakui oleh
hukum. (Setiawan, 1994 : 2)
2
• Buku III KUHPerdata tentang Perikatan, tidak memberikan
suatu rumusan dari perikatan itu sendiri, maka dari itu
pemahaman perikatan senantiasa didasarkan atas doktrin
(ilmu pengetahuan).
• Menurut Badrulzaman (1982 : 1) perikatan ialah hubungan
yang terjadi di antara dua orang atau lebih yang terletak di
dalam lapangan harta kekayaan dimana pihak yang satu
berhak atas prestasi dan pihak yang lainnya wajib memenuhi
prestasi itu.
• Dalam hal ini Vollmar menyatakan, ditinjau dari isinya bahwa
perikatan itu ada selama seseorang (debitur) harus melakukan
sesuatu prestasi yang mungkin dapat dipaksakan terhadap
kreditur, kalau perlu dengan bantuan hakim. (Badrulzaman,
1982 : 1)
3
4
20-Mar-17
UNSUR-UNSUR PERIKATAN
HUBUNGAN HUKUM
• Menurut Mariam Darus Badrulzaman, dkk., bahwa pada suatu
perikatan terdapat beberapa unsur, antara lain :
1) Hubungan hukum
2) Kekayaan
3) pihak-pihak
4) prestasi
• Hubungan hukum adalah hubungan yang terhadapnya hukum
meletakkan “hak” pada satu pihak dan melekatkan
“kewajiban” pada pihak lainnya.
• Contoh hubungan hukum adalah A berjanji menjual sepeda
motor ke B. Akibat dari janji itu, A wajib menyerahkan sepeda
motor miliknya kepada B dan berhak menuntut harganya,
sedangkan B wajib menyerahkan harga sepeda motor itu dan
berhak untuk menuntut penyerahan sepeda motor itu.
5
KEKAYAAN
6
PIHAK-PIHAK
• Dahulu yang menjadi kriteria hubungan hukum itu perikatan
atau bukan adalah jika hubungan hukum itu dapat dinilai
dengan uang, belakangan hal itu telah ditinggalkan karena di
dalam masyarakat terdapat juga hubungan hukum yang tidak
dapat dinilai dengan uang.
• Dalam hubungan hukum yang tidak dapat dinilai dengan
uang, bila pelanggarnya tidak diberi sanksi maka dirasa tidak
ada keadilan dalam masyarakat itu, dan hal ini bertentangan
dengan salah satu tujuan hukum yaitu mencapai keadilan.
• Jadi hubungan hukum merupakan perikatan bila memuat
kriteria dapat dinilai dengan uang dan atau adanya rasa
keadilan.
• Hubungan hukum pada perikatan harus terjadi antara dua
orang atau lebih. Pertama, pihak yang berhak atas prestasi,
pihak yang aktif atau pihak yang berpiutang yaitu kreditur.
Kedua, pihak yang berkewajiban memenuhi atas prestasi,
pihak yang pasif atau berhutang disebut debitur
7
8
20-Mar-17
PRESTASI
PERBEDAAN PERIKATAN DAN
PERJANJIAN
• Berdasarkan Pasal 1234 KUHPerdata prestasi dapat dibedakan
atas:
1) memberikan sesuatu (pasal 1235 BW),misal pemberian
sejumlah uang, memberi benda untuk dipakai (menyewa),
penyerahan hak milik atas benda tetap dan bergerak
2) berbuat sesuatu (pasal 1239 BW), misalnya membangun
ruko
3) tidak berbuat sesuatu (pasal 1241 BW), misal X membuat
perjanjian dengan Y ketika membuka butik untuk tidak
menjalankan usaha butik di daerah yang sama
• Dalam Pasal 1233 KUHPerdata ditegaskan bahwa perikatan
selain dari undang-undang, perikatan dapat dilahirkan juga
dari perjanjian. Dengan demikian suatu perikatan belum tentu
merupakan perjanjian sedangkan perjanjian merupakan
perikatan.
• Prof. Subekti memberikan perbedaan pada pengertian
perikatan dan perjanjian sebagai berikut :
“Perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua
orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu
berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak
yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu.”
9
“Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada
seseorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk
melaksanakan sesuatu hal.”
• Perjanjian itu menerbitkan perikatan. Perjanjian adalah sumber
perikatan disampingnya sumber-sumber lain.
• Hakekat antara perikatan dan perjanjian pada dasarnya sama, yaitu
merupakan hubungan hukum antara pihak-pihak yang diikat
didalamnya, namun pengertian perikatan lebih luas dari perjanjian,
sebab hubungan hukum yang ada dalam perikatan munculnya tidak
hanya dari perjanjian tetapi juga dari undang-undang.
• Hal lain yang membedakan adalah bahwa perjanjian pada
hakekatnya merupakan hasil kesepakatan para pihak, jadi
sumbernya benar-benar kebebasan para pihak yang ada untuk
diikat dengan perjanjian (Pasal 1338 KUHPerdata). Sedangkan
perikatan selain mengikat karena adanya kesepakatan juga
mengikat karena diwajibkan oleh undang-undang.
11
10
• Selain itu, perbedaan antara perikatan dan perjanjian terletak
pada konsekuensi hukumnya. Pada perikatan masing-masing
pihak mempunyai hak hukum untuk melaksanakan prestasi
dari masing-masing pihak yang terikat. Sementara pada
perjanjian tidak ditegaskan tentang hak hukum yang dimiliki
oleh masing-masing pihak yang berjanji apabila salah satu
pihak yang berjanji ingkar janji. Hal ini terlihat pada
pengertian perjanjian dalam Pasal 1313 KUHPerdata yang
menggambarkan bahwa tindakan dari satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih, tidak
hanya merupakan suatu perbuatan hukum yang mengikat
tetapi dapat pula merupakan perbuatan tanpa konsekuensi
hukum.
12
20-Mar-17
• Konsekuensi hukum lain yang muncul dari dua pengertian itu
adalah bahwa oleh karena dasar perjanjian adalah
kesepakatan para pihak, maka tidak dipenuhinya prestasi
dalam perjanjian menimbulkan ingkar janji (wanprestasi),
sedangkan tidak dipenuhinya suatu prestasi dalam perikatan
menimbulkan konsekuensi hukum sebagai perbuatan
melawan hukum.
• Perikatan adalah suatu pengertian abstrak, sedangkan
perjanjian adalah suatu hal yang konkrit atau suatu peristiwa.
DASAR HUKUM PERIKATAN
• Perikatan diatur dalam Buku III KUHPerdata, yang terdiri dari
18 bab yang mana Bab I – Bab IV mengenai ketentuan umum
dan Bab V – Bab XVIII mengenai perjanjian-perjanjian khusus.
• Buku III KUHPerdata menganut sistem terbuka, maksudnya
perjanjian dapat dilakukan oleh siapa saja asal tidak
bertentangan dengan Undang-Undang, ketertiban umum, dan
kesusilaan.
13
14
DASAR HUKUM PERIKATAN
DASAR HUKUM PERIKATAN
• Dasar hukum perikatan berdasarkan KUH Perdata terdapat
tiga sumber adalah sebagai berikut :
3. Perikatan terjadi bukan perjanjian, tetapi terjadi karena perbuatan melanggar
hukum ( onrechtmatige daad ) dan perbuatan yang diperbolehkan atau
perwakilan sukarela ( zaakwaarneming )
1.Perikatan yang timbul dari persetujuan ( perjanjian )
a. Perbuatanmelanggar hukum ( onrecthmatige daad ) diatur dalam pasal 1365
BW. Pasal ini menetapkan, bahwa tiap perbuatan yang melanggar hukum
mewajibkan orang yang melakukan perbuatan itu, jika karena kesalahannya
telah timbul kerugian, maka harus membayar kerugian itu.
2.Perikatan yang timbul dari undang-undang saja adalah
perikatan - perikatan yang timbul oleh hubungan kekeluargaan.
Yang terdapat dalam buku 1 BW. Misalnya kewajiban seorang
anak yang mampu untuk memberikan nafkah pada orang tuanya
yang berada dalam kemiskinan.
15
b. Perwakilan sukarela ( Zaakwaarneming ) dalam pasal 1354 KUHP ini terjadi
jika seseorang dengan sukarela dan dengan tidak diminta, mengurus
kepentingan- kepentingan orang lain.
16
20-Mar-17
SUMBER-SUMBER PERIKATAN
SUMBER-SUMBER PERIKATAN
SUMBER PERIKATAN (1233)
PERJANJIAN
(1313)
TERTULIS =
KONTRAK
OTENTIK
Pasal 1233 KUHPerdata
“Tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan,
baik karena Undang-Undang”.
UNDANG-UNDANG
(1352)
LISAN =
PERJANJIAN LISAN
PERBUATAN MANUSIA
(1353)
DITENTUKAN
UNDANG-UNDANG
(1352)
HAK ALIMENTASI
DIBAWAH TANGAN
ZAAKWAARNEMING
PERBUATAN
MENURUT HUKUM
(1354 & 1359)
PERBUATAN
MELAWAN HUKUM
(1365)
17
PERIKATAN YANG BERSUMBER DARI
PERJANJIAN
Perikatan yang lahir dari perjanjian, memang dikehendaki
(disepakati) oleh para pihak yang membuat perjanjian.
Pasal 1313 KUHPerdata
“suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana
satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang
lain atau lebih”.
19
18
Pasal 1320 KUHPerdata
“Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan 4 syarat :
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya.
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan.
3. Suatu hal tertentu.
4. Suatu sebab yang halal.
Contoh :
1. Perjanjian Sepihak (wasiat)
2. Perjanjian timbal balik (jual beli)
3. Perjanjian Cuma-Cuma (hibah)
20
20-Mar-17
PERIKATAN BERSUMBER DARI UNDANGUNDANG
Pasal 1352 KUHPerdata
“Perikatan-perikatan yang dilahirkan demi Undang-Undang,
timbul dari
UndangUndang saja, atau dari
UndangUndang sebagai akibat perbuatan orang”.
1) Perikatan yang melalui Undang-Undang saja/sematamata karena Undang-Undang.
Perikatan yang dengan terjadinya peristiwa-peristiwa
tertentu, ditetapkan
melahirkan suatu hubungan hukum
(perikatan) diantara
pihak-pihak
yang
bersangkutan
terlepas dari kemauan pihak-pihak
tersebut.
21
Contoh :
Pasal 41 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang
perkawinan, pada
dasarnya setiap orangtua (suami istri) yang
mengikatkan diri dalam perkawinan
memiliki
kewajiban
mendidik atau memelihara anak mereka.
23
22
2) Perikatan dari undang-Undang sebagai akibat perbuatan
Manusia.
Pasal 1353 KUHPerdata
“Perikatan-perikatan yang dilahirkan dari Undang- Undang
sebagai akibat perbuatan orang, terbit dari perbuatan
halal atau perbuatan melanggar hukum”.
1. Perbuatan yang halal (recht matige).
a. Mengurus kepentingan orang lain dengan sukarela
(Zaakwerneing) yaitu suatu perbuatan dimana seseorang
dengan sukarela tanpa adanya perintah, menyediakan
diri dengan maksud mengurus kepentingan orang lain
dengan perhitungan dan resiko ada pada orang yang
mengurus tadi.
(Pasal 1354 KUHPerdata)
24
20-Mar-17
b.
Contoh :
A adalah seorang mahasiswa. A memiliki hewan peliharaan hewan HAMSTER, yang
ditaruh dikandang depan kamar kosnya. Suatu saat dia KKN selama 1 bulan, lalu B
tetangga kos A melihat HAMSTER yang kelaparan, dengan inisiatif sendiri B memberi
makan dan membersihkan kandang HAMSTER milik A, maka berdasarkan hukum, B
harus terus merawat HAMSTER itu selayaknya pemilik sampai A tiba selesai KKN dan
merawatnya sendiri.
Pembayaran tak terutang (onverschulding Betaling)
suatu pembayaran dimana seseorang melakukan
pembayaran tanpa adanya utang berhak untuk menuntut
kembali apa yang telah dibayarkan, yang menerima tanpa
hak berkewajiban mengembalikannya.
(Pasal 1359 KUHPerdata).
Contoh :
A berhutang sejumlah uang kepada B, kemudian sesuai perjanjian hutangnya, A
telah dibayarkan dan lunas, akan tetapi karena A seorang pelupa maka A
melakukan pembayaran lagi kepada B, dan B menerima saja uang tersebut, maka
pembayaran yang kedua itu adalah pembayaran yang tidak terutang.
25
c. Perikatan Wajar/Alami (Naturrlijke Verbintenis)
Perikatan alami dalam arti sempit : adanya perbuatan
berdasarkan pada hukum positif baik yang sejak semula
memang tidak mempunyai tuntutan hukum, maupun oleh
karena keadaan yang timbul kemudian tuntutan hukumnya
menjadi hapus.
(Pasal 1359 ayat 1 KUHPerdata)
contoh :
26
Perikatan dalam arti luas : perikatan yang terjadi di
samping adanya ketentuan dalam Undang-Undang juga
dimungkinkan dapat timbul atas dasar kesusilaan dan
kepatutan yang berlaku dalam masyarakat.
Contoh :
- Memberikan pertolongan terhadap orang kecelakaan dijalan, ia tidak dapat
menggugat imbalan jasa.
Hutang dalam perjudian dalam hal ini jika dibuat dalam suatu hutang dalam
perjudian tidak ada kewajiban hukum untuk membayar hutang tersebut, akan
tetapi jika hutang tersebut sudah dibayar, pembayarannya tersebut tidak adapat
dibatalkan lagi.
27
28
20-Mar-17
Contoh :
2. Perbuatan melawan hukum (onrech matige)
Perbuatan melawan hukum diartikan tidak hanya
perbuatan yang melanggar kaidah-kaidah tertulis yaitu
perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban hukum
diperlakukan dan melanggar hak subyek orang lain tetapi
juga perbuatan yang melanggar kaidah yang tidak tertulis
yaitu kaidah yang mengatur tata susila, kepatutan,
ketelitian dan kehati-hatian yang seharusnya dimiliki
seseorang dalam pergaulan hidup dalam masyarakat atau
terhadap harta benda warga masyarakat.
(Pasal 1365 KUHPerdata)
(Pasal 1366 KUHPerdata)
1. Seorang pengemudi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi
dan kurang waspada terhadap keadaan lalu lintas yang ramai, sehingga
menabrak kendaraan lain, sehingga ia berkewajiban mengganti
kerugian yang ditimbulkan.
2. Seseorang melempar mangga dengan batu dan mengenai kaca rumah
orang lain maka wajib menggantinya.
29
30
BENTUK-BENTUK WANPRESTASI
WANPRESTASI (INGKAR JANJI)
• Wanprestasi adalah suatu keadaan apabila debitur tidak
memenuhi apa yang menjadi kewajibannya.
• Wanprestasi berasal dari bahasa Belanda yang berarti “prestasi
buruk” (Subekti, 1967:45). Selain itu, perkataan wanprestasi
sering juga dipadankan pada kata lalai atau alpa, ingkar janji,
atau melanggar perjanjian.
• Dasar Hukum Pasal 1243 KUH Perdata:
“Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak
dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur,
walaupun telah dinyatakan Ialai, tetap Ialai untuk memenuhi
perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau
dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam
waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan.”
31
1. Memenuhi prestasi tetapi tidak tepat pada waktunya.
Atau dengan kata lain terlambat melakukan prestasi, artinya meskipun
prestasi itu dilaksanakan atau diberikan, tetapi tidak sesuai dengan
waktu penyerahan dalam perikatan.
2. Tidak memenuhi prestasi.
Artinya prestasi itu tidak hanya terlambat, tetapi juga tidak bisa
dijalankan.
Hal ini disebabkan oleh:
a) Pemenuhan prestasi tidak mungkin dilaksanakan karena
barangnya musnah.
b) Prestasi kemudian sudah tidak berguna lagi, karena saat
penyerahan mempunyai arti yang sangat penting. Misalnya:
penyerahan baju pengantin setelah tanggal acara pernikahan.
32
20-Mar-17
AKIBAT WANPRESTASI
BENTUK-BENTUK WANPRESTASI
3. Memenuhi prestasi tidak sempurna.
Artinya prestasi diberikan, tetapi tidak sebagaimana mestinya.
Misalnya, prestasi mengenai penyerahan satu truk kacang kedelai
berkualitas nomor 1, namun yang diserahkan adalah kacang kedelai
yang berkualitas nomor 2.
4. Memenuhi prestasi, tetapi melakukan yang dilarang dalam perjanjian
Artinya prestasi diberikan, tetapi melakukan hal-hal yang dilarang
dalam perjanjian. Misalnya, menyerahkan barang yang jelas-jelas
dinyatakan dalam perjanjian termasuk larangan, seperti
“menyerahkan daging babi pada kreditur yang menjual makanan halal
dan telah mencantumkan tanda halal pada produknya.”
1. Debitur diharuskan membayar ganti-kerugian yang diderita oleh kreditur (pasal
1243 KUH Perdata);
2. Pembatalan perjanjian disertai dengan pembayaran ganti-kerugian (pasal 1267
KUH Perdata);
3. Peralihan risiko kepada debitur sejak saat terjadinya wanprestasi (pasal 1237 ayat
2 KUH Perdata);
4. Pembayaran biaya perkara apabila diperkarakan di muka hakim (pasal 181 ayat 1
HIR).
Menurut Pasal 1267 bahwa pihak kreditur dapat menuntut debitur yang telah
lalai memenuhi perjanjian, dengan tuntutan sbb:
1.
2.
3.
4.
Pemenuhan perjanjian
Pemenuhan perjanjian disertai dengan ganti rugi
Ganti rugi saja
Pembatalan disertai ganti rugi
33
34
SOMASI
SOMASI
Somasi adalah pemberitahuan dari kreditur kepada debitur bahwa
kreditur menginginkan pemenuhan perikatan selambat-lambatnya
pada waktu yang diberikan pada pemberitahuan itu.
Somasi diatur dalam pasal 1238 KUH Perdata yang berbunyi:
“Debitur dinyatakan Ialai dengan surat perintah, atau dengan akta
sejenis itu, atau berdasarkan kekuatan dari perikatan sendiri, yaitu
bila perikatan ini mengakibatkan debitur harus dianggap Ialai dengan
lewatnya waktu yang ditentukan.”
Dari ketentuan pasal tersebut dapat dikatakan bahwa debitur
dinyatakan wanprestasi apabila sudah ada somasi (in gebreke stelling).
Adapun bentuk-bentuk somasi menurut pasal 1238 KUH Perdata adalah:
1. Surat perintah
Surat perintah tersebut berasal dari hakim yang biasanya berbentuk
penetapan. Dengan surat penetapan ini juru sita memberitahukan
secara lisan kepada debitur kapan selambat-lambatnya dia harus
berprestasi. Hal ini biasa disebut “exploit juru Sita”
2. Akta sejenis
Akta ini dapat berupa akta dibawah tangan maupun akta notaris.
3. Tersimpul dalam perikatan itu sendiri
Maksudnya sejak pembuatan perjanjian, kreditur sudah
menentukan saat adanya wanprestasi.
35
36
20-Mar-17
LALAI (ingebrekestelling)
OVERMACHT / FORCE MAJEUR
Pernyataan lalai atau ingebrekestelling adalah pernyataan yang
disampaikan atau dinyatakan sebelum seseorang ditetapkan
wanprestasi. Agar seseorang dapat dimintakan ganti rugi dan bunga
akibat wanprestasi (ingkar janji), maka debitor tersebut terlebih
dahulu dinyatakan berada dalam keadaan lalai.
• Overmacht adalah keadaan yang terjadi di luar kesalahan
debitur, di mana terjadi setelah perikatan dibuat. keadaan itu
tidak dapat diduga sebelumnya dan menghalangi debitur
untuk memenuhi prestasi, misalnya kebakaran, angin ribut,
perang, kerusuhan, dsb. Force majeur atau overmacht
merupakan salah satu konsep dalam hukum perdata dan
diterima sebagai prinsip dalam hukum.
Prof. Mariam Darus Badrulzaman (2001: 19) berpendapat lembaga
pernyataan lalai merupakan upaya hukum untuk sampai pada suatu
fase dimana debitor dinyatakan ingkar janji.
Pasal 1238:
“Debitur dinyatakan Ialai dengan surat perintah, atau dengan akta
sejenis itu, atau berdasarkan kekuatan dari perikatan sendiri, yaitu bila
perikatan ini mengakibatkan debitur harus dianggap Ialai dengan
lewatnya waktu yang ditentukan.”
• Salah satu ahli yakni Mochtar Kusumaatmadja menjelaskan
bahwa force majeur merupakan suatu alasan yang dapat
diterima untuk tidak melaksanakan prestasi dimana dalam hal
tersebut dikarenakan hilangnya suatu objek perjanjian atau
tujuan yang diperjanjikan.
37
38
39
40
OVERMACHT / FORCE MAJEUR
• Pengaturan mengenai force majeur terdapat dalam pasal
1244 dan pasal 1245 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
yang dalam bunyinya menjelaskan mengenai ganti rugi yang
harus dilaksanakan tetapi dalam arti khusus mengatur
mengenai overmacht atau force majeur.
20-Mar-17
EXCEPTION NON ADIMPLETI CONTRACTUS
Contoh kasus exception non adimplati
contractus
• Exception non adimpleti contractus merupakan suatu prinsip
dalam hukum perjanjian di mana dalam pengertiannya
merupakan suatu tangkisan yang bertujuan untuk mengetahui
fakta di mana pihak yang menggugat tidak mempunyai hak
untuk mengajukan gugatan dan memaksa pihak lainnya untuk
melaksanakan prestasi dikarenakan pihak yang menggugat
telah melakukan wanprestasi terlebih dahulu.
• Dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam kasus
PT. Surya Mas Duta melawan Bank Niaga. Hakim memutuskan
bahwa pihak tergugat (Bank Niaga) harus menambah lagi
kreditnya kepada penggugat sesuai yang diperjanjikan,
meskipun pihak penggugat sudah tidak membayar terhadap
41
42
PELEPASAN HAK / RECHTSVERWEKING
kredit yang diambilnya.
RISIKO
• Pelepasan hak dalam perjanjian atau disebut juga dengan
Rechtsverweking merupakan suatu pernyataan yang dilakukan
oleh pihak kreditur dimana pihak debitur boleh
menyimpulkan bahwa kreditur tidak akan menuntut ganti rugi
• Misalnya si pembeli, meskipun barang yang diterimanya tidak
memenuhi kwalitas, tidak menegur si penjual atau
mengembalikan barangnya, tetapi barang itu dipakainya. Atau
ia pesan lagi barang seperti itu. Dari sikap tersebut dapat
disimpulkan bahwa barang itu sudah memuaskan si pembeli.
43
• Secara umum resiko mempunyai arti kerugian yang harus
dipikul apabila terjadi overmacht. Dalam ruang lingkupnya
resiko selalu berkaitan dengan overmacht.
• Secara umum resiko mempunyai arti kerugian yang harus
dipikul apabila terjadi overmacht. Dalam ruang lingkupnya
resiko selalu berkaitan dengan overmacht.
44
20-Mar-17
• Pada perjanjian timbal balik menganut asas
kepatutan (billijkheid) yakni Isi perjanjian
hendaknya diharapkan oleh kepatutan yang
ada di masyarakat berdasarkan sifat
perjanjiannya. Yang dapat diartikan bahwa
resiko ditanggung oleh pemilik.
• Pada perjanjian sepihak diatur dalam pasal
1237, yang berbunyi : “Pada suatu perikatan
untuk memberikan barang tertentu, barang
itu menjadi tanggungan kreditur sejak
perikatan lahir. Jika debitur lalai untuk
menyerahkan barang yang bersangkutan,
maka barang itu semenjak perikatan
dilakukan, menjadi tanggungannya.”sesuai
pernyataan diatas terdapat resiko pada
kreditur
45
Risiko Pada Perjanjian Jual-Beli
46
Risiko Pada Perjanjian Sewa-Menyewa
• Pasal 1460 BW:
“Jika barang yang dijual itu berupa suatu barang
yang sudah ditentukan, maka barang ini sejak
saat pembelian adalah tanggungan si pembeli,
meskipun penyerahannya belum dilakukan, dan
si penjual berhak menuntut harganya.”
Pasal 1460 meletakkan risiko pada pembeli,
yang merupakan kreditur terhadap barang yang
dibelinya. (Subekti, Hukum Perjanjian, Penerbit Intermasa: 2005)
47
• Pasal 1553 BW:
“Jika selama waktu sewa, barang yang
dipersewakan itu musnah di luar kesalahan
salah satu pihak, maka perjanjian sewamenyewa gugur demi hukum.”
• Terfokus pada perkataan “gugur”, dapat
diartikan bahwa masing-masing pihak tak
dapat menuntut sesuatu dari pihak lainnya.
48
20-Mar-17
Risiko Pada Perjanjian PinjamMeminjam
• Jika barangnya berkurang harganya hanya karena
pemakaian untuk mana barang itu telah dipinjam,
dan di luar kesalahan si pemakai, maka si peminjam
tidak bertanggung jawab atas itu.
• Pasal 1747, menyebutkan bahwa jika barang dipakai
dalam batas-batas yang ditetapkan dalam perjanjian
atau undang-undang, maka resiko atau barang
dipikul oleh pemilik barang atau yang meminjamkan.
Hal ini dikarenakan peminjam telah memanfaatkan
atau menggunakan barang yang dipinjam sesuai
dengan apa yang telah disepakati atau diperjanjikan.
• 1754 BW:
Pinjam-meminjam adalah persetujuan dengan
mana pihak yang satu memberikan kepada
pihak yang lain suatu jumlah tertentu barangbarang yang menghabis karena pemakaian
dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini
akan mengembalikan sejumlah yang sama dari
macam dan keadaan yang sama pula.
49
50
TANYA JAWAB DASAR-DASAR PERIKATAN
DAFTAR PUSTAKA
1)
• Badrulzaman, Maryam Darus dkk., 1996. KUH Perdata Buku III Hukum
Perikatan dengan Penjelasan. Cetakan I. Bandung: Alumni.
• _______ 2001 Kompilasi Hukum Perikatan dalam Rangka Menyambut
Masa Purnabhakti Usia 70 Tahun. Bandung: Citra Aditya Bakti.
• Subekti, R. 1987. Hukum Perjanjian. Cetakan kesebelas. Jakarta: Intermasa.
• _________1989. Aneka Perjanjian. Cetakan kedelapan. Bandung: Citra
Aditya Bakti.
• Harry Purwanto, Keberadaan Asas Rebus Sic Stantibus Dalam Perjanjian
Internasional, Jurnal Mimbar Hukum Edisi Khusus, November 2011.
• Munir Fuady, 2007, Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis)
Buku Ke dua, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
• Harlien Budiono, 2010, Kumpulan Tulisan Hukum Perdata di Bidang
Kenotariatan; Buku Kedua, Bandung: PT.Citra Aditya Bakti.
51
Apakah maksud dari pernyataan “perikatan adalah suatu pengertian abstrak,
sedangkan perjanjian adalah suatu hal yang konkrit”? Ditanyakan oleh: Nova
Winantika Rindang Kirana 166010200111041 absen 04
Jawaban: (dijawab oleh: Dijawab oleh: Adhisti Friska Paramita 166010200111055
absen 16)
Maksud pernyataan “perikatan adalah suatu pengertian abstrak, sedangkan perjanjian
adalah suatu hal yang konkrit” adalah bahwa suatu perikatan tidak dapat dilihat
dengan mata kita, tetapi kita hanya dapat membayangkannya dalam alam pikiran kita.
Sedangkan suatu perjanjian dapat dilihat atau dibaca ataupun didengarkan perkataanperkataannya.
52
20-Mar-17
TANYA JAWAB DASAR-DASAR PERIKATAN
2.
3.
Apakah perbedaan dari wakil sukarela dan pemberian kuasa? (ditanyakan oleh:
Arlita Shinta, No. absen: 12)
Jawaban: (dijawab oleh Sumawati, No. Absen 19)
A. Wakil Sukarela:
•Mewakili urusan orang lain dengan sukarela tanpa adanya perjanjian kedua belah
pihak (pasal 1354 KUH Perdata);
•Pengurusan sukarela sampai dengan selesai pengurusannya, jika orang yang
diwakilinya meninggal dunia, maka dia harus tetap menyelesaikan suatu urusan
tersebut sampai selesai (pasal 1355 KUH Perdata)
•Tidak adanya upah.
B. Pemberian Kuasa:
• Adanya janji/kuasa yang timbul dari perjanjian baik diucapkan lisan/tulisan dan
sepakat;
• Jika yang memberi kuasa meninggal, maka kuasa tersebut gugur;
• Adanya upah dari pemberian kuasa.
Jawaban : (dijawab oleh Baiq Husnul Hidayati, No. absen 21)
Iya, debitur dapat memberikan alasan atas prestasi yang tidak dapat
dipenuhinya dengan 3 alasan yaitu:
a. Menyatakan adanya keadaan memaksa (overmacht).
Debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya disebabkan oleh suatu hal
yang tidak diduga, dan di mana ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap
keadaan atau peristiwa yang timbul di luar dugaan tadi.
Pasal 1244 dan 1245 KUHPer mengatur pembebasan debitur dari
kewajiban mengganti kerugian, karena suatu kejadian yang dinamakan
keadaan memaksa.
53
b. Menyatakan bahwa kreditur lalai.
Dalam setiap perjanjian timbal balik, dianggap ada suatu asas bahwa kedua pihak
harus sama-sama melakukan kewajibannya. Apabila kreditur lalai melakukan
kewajibannya maka pihak debitur tidak bisa dituntuk untuk memenuhi
kewajibannya.
Misalnya dalam jual beli mobil, kreditur terlambat menyerahkan mobil kepada debitur sesuai
dengan kesepakatan, sehingga debitur tidak melakukan pembayaran seperti yang tercantum
dalam perjanjian.
c. Menyatakan bahwa kreditur telah melepaskan haknya.
Merupakan suatu sikap pihak kreditur dari mana pihak debitur boleh
menyimpulkan bahwa kreditur itu sudah tidak akan menuntut ganti rugi. Misalnya,
si pembeli, meskipun barang yang diterimanya tidak memenuhi kwalitas, tidak
menegur si penjual atau mengembalikan barangnya, tetapi barang itu dipakainya.
55
Apakah pihak yang melakukan wanprestasi dapat memberikan alasan
atas prestasi yang tidak dapat dipenuhinya, sehingga terhindar dari
sangsi akibat dari wanprestasi? (ditanyakan oleh Dhimas Haryowidanto,
no absen: 29)
54
4.
Di slide Dasar hukum perikatan ada disampaikan perbuatan melawan
hukum (onrechtmatige daad), coba saudara jelaskan yang dimaksud
dengan perbuatan melawan hukum tersebut? Dan coba sebutkan syarat syarat yang dapat dikatakan melawan hukum tersebut?
(Ditanya oleh: Fanny Landriany Rossa, No. Absen 2)
Jawaban: (Dijawab oleh: I Made Sukma Aryawan, No. absen 20 )
Djaja S Meliala, SH. MH. Dalam Buku Perkembangan Hukum Perdata Tentang
Benda Dan Hukum Perikatan menyatakan bahwa:
Perbuatan melawan hukum Pasal 1365 : KUHPer.
“Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada seorang
lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu,
mengganti kerugian tersebut”.
56
20-Mar-17
Syarat-syarat perbuatan melanggar hukum tersebut ialah :
a. Harus ada perbuatan yang dimaksud dengan perbuatan baik yang
bersifat positif maupun yang bersifat negative, artinya setiap tingkah
laku berbuat atau tidak berbuat.
b. Perbuatan itu harus melawan hukum.
c. Ada kerugian.
d. Ada hubungan sebab akibat antara perbuatan melawan hukum itu
dengan kerugian.
e. Ada kesalahan (schuld).
d.
Perbuatan yang melanggar kaidah yang tidak tertulis, yaitu kaedah yang mengatur
tata susila,
e.
Kepatutan, ketelitian, dan kehati-hatian yang seharusnya dimiliki seseorang dalam
pergaulan hidup di dalam masyarakat atau terhadap harta benda warga
masyarakat.
Perbuatan yang bertentangan dengan kesusilaan (geode zeden ).
Dapat dinyatakan sebagai norma-norma moral yang dalam pergaulan masyarakat
telah diterima sebagai norma-norma hukum. Tindakan yang melanggar kesusilaan
yang oleh masyarakat telah diakui sebagai hukum tidak tertulis juga dianggap
sebagai perbuatan melawan hukum, manakala dengan tindakan melanggar
kesusilaan tersebut telah terjadi kerugian bagi pihak lain, maka berdasarkan atas
perbuatan melawan hukum.
Contohnya:
Salah satu karyawan perusahaan membocorkan rahasia perusahaan kepada
perusahaan lain dianggap sebagai tindakan yang bertentangan dengan kesusilaan,
sehingga dapat digolongkan sebagai suatu perbuatan melawan hukum.
Selanjutnya Perbuatan melawan hukum kemudian diartikan tidak hanya
perbuatan yang melanggar kaidah-kaidah tertulis saja, yaitu
a. Perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku dan
b. Melanggar hak subyektif orang lain tetapi juga
57
5. Apa yang dimaksud kelompok Anda dengan menyebutkan “terdapat hubungan
hukum yang tidak dapat dinilai dengan uang” pada slide bagian “Kekayaan” karena
dalam presentasi tidak ada pula contoh mengenai itu? Lalu apakah jika ada dua
teman yang janjian ingin menonton bioskop, tetapi salah satunya tidak datang, apa
itu dapat disebut perikatan? (ditanyakan oleh Ibu Afifah)
Jawaban (dijawab oleh Andi Moh. Era Wirambara, nomor absen 31):
Penjelasan “hubungan hukum yang tidak dapat dinilai dengan uang” terdapat pada
lanjutan slide tersebut, yaitu “Dalam hubungan hukum yang tidak dapat dinilai
dengan uang, bila pelanggarnya tidak diberi sanksi maka dirasa tidak ada keadilan
dalam masyarakat itu, dan hal ini bertentangan dengan salah satu tujuan hukum
yaitu mencapai keadilan.” Maka dapat diartikan, bahwa meski ada hubungan
hukum yang tidak dapat dinilai dengan uang, hubungan hukum tersebut belum
tentu memenuhi “kriteria” untuk bisa disebut sebagai perikatan. Hal tersebut juga
berlaku bagi dua orang yang janjian untuk menonton bioskop tetapi salah satunya
tidak datang. Janji yang demikian tidak bisa disebut perikatan karena hubungan
mereka tergolong dalam lapangan moral, bukan hukum, sehingga pelanggarannya
ada pada ranah hubungan sosiologis.
59
58
6.
Apakah orang yang wanprestasi bisa dipidana? Jika bisa, unsur-unsur apa saja
yang memenuhi untuk dipidana? (Ditanyakan oleh: Wahyu Adi Wibowo, No.
Absen: 28)
Jawaban: (dijawab oleh Bagus Pratama, No. Absen: 26)
Menurut kelompok kami, orang yang wanprestasi bisa dipidana apabila hal
tersebut memenuhi unsur kesesatan hukum seperti penipuan, penggelapan.
Contohnya:
Misalnya kita membeli baju di toko online, akan tetapi ketika kita sudah membayar
baju yang kita beli tidak dikirimkan oleh pihak penjual, maka si penjual dapat kita
pidanakan karena telah melakukan wanprestasi dengan tuduhan penipuan.
60
20-Mar-17
Sekian dan Terima Kasih
Senin, 13 Maret 2017
61
Download