remaja - TJC IA - True Jesus Church

advertisement
Tahun 3 Buku 4
REMAJA
Buku Pegangan Guru
Surat-Surat Paulus
Berjaga-jaga dan Berdoa
April/Mei/Juni)
Berjaga-jaga dan berdoa!
Sungguh sebuah gagasan yang luar biasa!
Kita perlu memulai setiap hari dengan memohon Allah
menolong kita untuk melihat taktik tipu muslihat Iblis,
sekaligus dapat melihat jelas akibat-akibat dari dosa.
Kita perlu memohon Allah untuk membuat kita peka
terhadap dosa dan membencinya,
sehingga akan menemukan jalan untuk menjauhinya.
Mohonlah pertolongan dari Allah pada saat-saat pencobaan!
“Berjaga-jagalah dan berdoalah,
supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan;
roh memang penurut, tetapi daging lemah.”
(Matius 26:41)
ÿ
Diterbitkan oleh Majelis Pusat
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Tahun 3 Buku 4
REMAJA
Buku Pegangan Guru
Surat-Surat Paulus
Judul
Surat-Surat Paulus
Surat-surat Paulus
memainkan peranan
yang sangat penting
dalam menguatkan
iman dari banyak gereja
dan jemaat mula-mula.
Ketiga belas surat ini
dapat dibagi menjadi tiga
kategori:
A. Enam surat
perjalanan
penginjilan
Surat Galatia (perjalanan
penginjilan yang
pertama, tahun 40-49 M);
surat 1 dan 2 Tesalonika
(perjalanan penginjilan
yang kedua, tahun
50-59 M); surat 1 dan
2 Korintus, surat Roma
(perjalanan penginjilan
yang ketiga, tahun 50-59
M)
B. Empat surat
penjara (ditulis di
Roma, tahun 60-62
M)
Surat Efesus
Surat Filipi
Surat Kolose
Surat Filemon
C. Tiga surat
penggembalaan
Surat 1 Timotius (ditulis
di Makedonia, tahun 6366 M)
Surat-Surat Paulus
Surat 2 Timotius (ditulis
di Roma, tahun 67 M)
Surat Titus (ditulis di
Makedonia, tahun 63-66
M)
Di Alkitab, surat-surat itu
tidaklah disusun menurut
aturan kronologis,
tetapi menurut panjang
suratnya. Surat yang
lebih panjang ditujukan
kepada gereja-gereja
dan yang lebih pendek
ditujukan kepada
perorangan. Surat-surat
awal Paulus ditulis kirakira 25 tahun setelah
kematian Tuhan Yesus,
sementara surat-surat
terakhir Paulus mungkin
ditulis sebelum penulisan
keempat kitab Injil.
Profil pribadi:
Paulus adalah seorang
rasul bagi bangsabangsa non-Yahudi.
Dikenal pula dengan
Saulus, nama Yahudinya.
Keluarga Paulus dan
dirinya berasal dari suku
Benyamin, tetapi setelah
bertobat, dia dikenal
dengan nama Paulus.
Tempat tinggal:
Paulus tinggal di
Antiokhia, Siria (Kis.
13:1), tetapi menempuh
perjalanan ke seluruh
Kerajaan Romawi dan
menetap paling lama di
Korintus dan Efesus.
Pekerjaan:
Pekerjaan Paulus adalah
tukang kemah
(Kis. 18:1-3)
Pengalaman perubahan
hidup:
Melihat sebuah
penglihatan di jalan
menuju Damsyik, yang
membawanya kepada
pertobatan dan dipanggil
menjadi seorang rasul
(Kis. 9:1-32; Gal. 1:1-24).
Pada mulanya,
Paulus memandang
dirinya sebagai seorang
pemimpin Kristen yang
penting, tetapi kemudian,
memandang dirinya
sebagai seorang “yang
paling hina dari semua
rasul” (1 Kor. 15:9).
Lalu, Paulus menyadari
bahwa “di dalam aku
sebagai manusia, tidak
ada sesuatu yang baik”
(Rm. 7:18) dan dirinya
adalah seorang “yang
paling hina di antara
segala orang kudus” (Ef.
3:8). Akhirnya, Paulus
menempatkan dirinya
sebagai seorang “yang
paling berdosa” (1 Tim.
1:15).
Daftar Isi
Selamat Datang di
Kurikulum Remaja
Memahami
Para Remaja Anda
Beberapa Keinginan
Para Remaja (1-2)
Bagaimana Saya
Berkomunikasi
Secara Tepat Guna
kepada Murid-Murid?
i-ii
iii
iv-v
vi
Membangun
Persahabatan Bersama
dengan Murid-Murid
vii
Bagaimana Membuat
Murid-Murid
Tetap Termotivasi
dan Tertarik?
viii
Lomba Ayat Hafalan
dan Bacaan Kitab
untuk Minggu ini
ix
Ayat Hafalan untuk
Kwartal ini
x-xi
Surat-Surat Paulus
Sasaran dan Renungan Bagi Para Guru
1. Surat Roma
2. Surat 1 Korintus
3. Surat 2 Korintus
4 Surat Galatia
5. Surat Efesus
6. Surat Filipi
7. Surat Kolose
8. Surat 1 Tesalonika
9. Surat 2 Tesalonika
10. Surat 1 Timotius
11. Surat 2 Timotius
12. Surat Titus dan Filemon
13. Ulasan
xiii
1
11
25
37
45
61
69
79
89
99
107
115
123
Selamat Datang di Kurikulum Remaja
Buku ini telah dirancang untuk membantu para Guru Pendidikan Agama untuk
merencanakan dan menjadikan suasana belajar dan mengajar menjadi lebih terarah
kepada murid-murid.
Karena pengaruh firman Allah yang dahsyat, para Guru Pendidikan Agama
memohon agar dapat menyaksikan sendiri setiap langkah perubahan dari muridmurid dalam memahami dan menerapkan Alkitab di dalam kehidupan mereka.
Di sini, Anda akan menemukan berbagai bahan yang diperlukan untuk mengajar
kebenaran firman Allah yang tidak berubah selamanya.
Judul Pelajaran
Ringkasan dari
Lima Kitab Taurat
Kurikulum ini
meliputi:
Bacaan Kitab
Mat. 24-25; 22:31-32; Yoh. 5:39;
Kel. 20-23; Im. 17-26;
Ul. 5:12-26
CONTOH
Sasaran Pelajaran
1.
2.
Memahami pentingnya mempelajari Perjanjian Lama
dan mengenal pengajaran utama dari Lima Kitab
Taurat
Menjadi termotivasi untuk mempelajari Alkitab dan
beroleh pemahaman bagaimana menjalankan hidup
mereka
Ayat Alkitab
Karena Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya selama
belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu
titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum
semuanya terjadi.” (Mat. 5:18)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini
Kejadian 1-10
˜
i
Surat-Surat Paulus
Semua pelajaran ini didasarkan pada:
(Tidak tertera di dalam Buku Aktivitas Murid)
Latar Belakang Alkitab
Sumber tambahan yang berkaitan dengan pelajaran
untuk diketahui bagi para guru dan murid.
Pemanasan
Sesuatu yang menawan perhatian
murid-murid,
agar mereka dapat memulainya.
Pemahaman Alkitab
Bimbinglah murid-murid di dalam menemukan
kebenaran firman Allah yang tidak berubah
selamanyamelalui penerapan pemahaman Alkitab
di dalam kehidupan nyata.
(Lembar Kerja Murid hanya dalam bentuk yang sederhana)
Menguji Pemahaman
Ujilah pemahaman keseluruhan
dari murid murid. Anda dapat
melakukannya dengan berbagai
cara yang berbeda. Salah satunya
adalah menanyakan suatu pertanyaan
yang berkaitan dengan apa yang mereka
telah pelajari.
Penerapan Kehidupan
Bantulah setiap murid untuk menerapkan firman Allah
di dalam kehidupan mereka sama seperti
Roh Kudus memimpin mereka.
Motivasilah murid-murid melakukan tindakan untuk
melatih apa yang mereka telah pelajari.
Bagaimana mereka melakukan tindakan itu?
Kapankah mereka melakukannya?
Renungan dan Doa
Mintalah murid-murid untuk berbagi
apa yang mereka masih ingat
setelah pelajaran berlangsung dan
akhirilah di dalam doa.
Ingatlah!!!
Sasaran dan pengajaran guru ada tertulis pada setiap pendahuluan pelajaran.
Bacaan Kitab untuk Minggu ini dan Ayat Hafalan ada tertulis pada setiap pelajaran.
Pastikan membacanya sebelum mempersiapkan dan mengajar murid-murid.
Surat-Surat Paulus
ii
Memahami Para Remaja
Adalah penting mengajarkan dan
memperlengkapi para remaja dengan
dasar kekuatan yang kokoh, yaitu iman
yang teguh. Sekarang ini, kita bersama
dengan angkatan yang sedang mencari
jawaban yang benar. Sekalipun mungkin
telah mengalami suka maupun duka
di dalam kehidupan atau kemerosotan
rohani, mereka tetap ingin mengetahui
siapa yang membuat suatu perbedaan
di dalam dunia ini.
Para remaja yang menjadi
percaya kepada Allah akan dianggap
tidak masuk akal, karena mereka pun
hidup di dunia yang penuh dengan
kekerasan terhadap hukum-hukum
Allah. Sebagai akibat dari hal ini adalah
timbulnya wabah penyakit, kerusaksan
lingkungan dan kekerasan rumah tangga.
Oleh karena itu, mereka diperhadapkan
dengan keputusan-keputusan penting
setiap harinya. Apa yang mereka
putuskan dapat mempengaruhi nilai-nilai
Kehidupan, iman, pendidikan, pilihan
dalam berteman, pekerjaan, pernikahan
dan kehidupan bergereja. Selain itu, para
remaja mungkin berjuang menghadapi
tekanan dari teman sebaya, gaya hidup,
penyalahgunaan, persoalan keluarga,
sebagaimana pula dengan jati diri.
Dengan kata lain, mereka diombangambingkan oleh perubahan, entahkah
secara rohani, perasaan, sosial maupun
jasmani.
iii
Surat-Surat Paulus
Para
remaja
membutuhkan
sesuatu dan seseorang bagi mereka untuk
disandari, apapun yang dianggap layak
untuk menjadi pegangan hidup mereka.
Lalu, tugas kita adalah membimbing
para remaja untuk menyaksikan kuasa
Allah di dalam dunia yang selalu
berubah ini. Sangat mengherankan,
para remaja ingin menjadi ‘rohani’.
sekalipun seluruh masyarakat berada di
sekitar mereka. Oleh karena itu, mereka
perlu mendengarkan banyak kesaksian
pribadi dan kebenaran Alkitab mengenai
bagaimana kasih Allah telah menyentuh
kehidupan orang lain serta pengharapan
apa saja yang dimiliki, sekalipun kita
hidup di dunia yang sering kali tidak
berperikemanusiaan. Bagaimana kita
dapat meneguhkan iman mereka di
dalam Tuhan, yang mengasihi dan
peduli kepada mereka lebih daripada
siapapun juga?
Beberapa Keinginan Para Remaja (1)
1. Mengasihi dan Diterima
Para remaja memiliki suatu keinginan
yang besar untuk diterima oleh temanteman sebayanya dan memperhatikan
apa yang orang lain pikirkan mengenai
diri mereka. Mereka kuatir mengenai
bagaimana orang lain memperhatikan
mereka secara jasmani (penampilan:
terlalu tinggi, terlalu pendek, terlalu
gemuk, terlalu kurus, pemahaman
mengenai seks) dan secara mental
(kepandaian: terlalu pandai atau terlalu
bodoh). Mereka pun memperhatikan
para teman, guru, olahragawan, personal
media sebagai contoh bagi diri mereka.
Oleh karena itu, cara guru menyatakan
iman dan keyakinan akan menjadi saksi
yang positif bagi diri mereka.
2. Menjalin hubungan dengan Allah atau Mencari Keyakinan
Iman
3.
Merasakan Pengalaman Pribadi Bersama dengan Allah
Dalam kehidupan mereka sampai saat
ini, para remaja mungkin masih belum
memiliki banyak pengalaman pribadi
bersama dengan Allah. Kehidupan
ibadah mereka sepertinya telah teratur
berjalan dengan menghadiri kebaktian
di gereja ataupun di kelas dan berdoa
sebelum tidur. Sekalipun keteraturan
ini baik, tetapi masih belum cukup.
Sekarang, saatnya memotivasi mereka
untuk berdoa secara tekun, sehingga
dapat menyadari peran Allah dalam
kehidupan sehari-hari mereka. Bagikan
beberapa kesaksian pribadi yang
akan menyentuh hati mereka. Dengan
demikian, mereka akan mulai melihat
Allah sebagai sahabat, penghibur dan
penasihat pribadi bagi diri mereka.
Pada usia seperti ini, para remaja
tidak lagi akan datang ke gereja
hanya disebabkan orangtua menyuruh
mereka melakukannya. Mereka mulai
mengembangkan hubungan pribadi
dengan Yesus Kristus. Sekalipun
kemampuan berpikir para remaja akan
menyebabkan mereka mempertanyakan
apa peranan Allah dan Alkitab di dalam
kehidupan sehari-hari, tetapi penting
bagi Guru Pendidikan Agama senantiasa
menantang mereka untuk menyediakan
waktu dalam berdoa dan beribadah di
luar kelas dan gereja, sehingga dapat
membangun iman mereka sendiri.
Sasaran kerohanian mereka adalah
menemukan makna dan tujuan hidup
mereka melalui Yesus Kristus.
Surat-Surat Paulus
iv
Beberapa Keinginan Para Remaja
kemampuan untuk membiarkan mereka mengetahui kelayakan diri mereka.
Para remaja menghormati orangtua dan
orang dewasa lainnya secara konsisiten.
Ketika mereka membuat keputusan
sendiri dan belajar dari kesalahan, hal
itu akan membuat mereka menemukan
jati dirinya sendiri dan apa yang diyakininya. Ketika melakukannya, mereka pun
dapat menjadi setia terhadap keyakinan
dan nilai-nilai kehidupan mereka.
4.
4.
5.
Memahami Tujuan Hidup yang Sesungguhnya
Para remaja ingin mengetahui siapa
sesungguhnya diri mereka. Pada usia
kritis seperti ini, mereka mulai bertanya kepada diri sendiri, “Apakah tujuan
hidup saya?” dan “Apakah maksud dari
semuanya ini?” Seorang remaja perlu
memandang diri sendiri sebagai seseorang yang berbeda dan yang layak
untuk mencapai keberhasilan dari masa
transisi menuju masa dewasa. Keyakinan diri mereka begitu kuat, hingga
merasa perlu membuktikan diri sebagai
seseorang yang berkemampuan untuk itu. Beberapa orangtua tidak ingin
membiarkan anak-anak mereka pergi
seorang diri hingga menjadi berlebihan,
karena merasa kuatir akan adanya ancaman perkembangan diri dari anakanak mereka. Sebagai akibatnya, para
remaja akhirnya memberontak kepada
orangtua. Sebagai Guru Pendidikan
Agama, kita perlu menunjukkan dukungan dan motivasi serta memberikan
nasihat yang membantu mereka. Kita
pun perlu meneguhkan talenta dan
v
Surat-Surat Paulus
Kemurnian dan Kekudusan
Mungkin karena usia yang masih muda
dan kurang begitu berpengalaman di
dalam dunia yang nyata ini, para remaja
sering kali merasa bahwa mereka dapat mengatasi segala sesuatunya, bila
berusaha dengan cukup keras. “Saya
dapat mengatasinya,” demikianlah pikir
mereka. “Itu boleh saja terjadi kepada
diri mereka, tetapi tidak akan terjadi kepada diri saya!” Di satu sisi adalah positif
memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
Bagaimanapun, ketika menghadapi
banyak perncobaan yang sesungguhnya, mereka mungkin belum siap untuk
menghadapi semuanya dengan ‘kepala
dingin’. Sekalipun tidak perlu memberitahukan mereka dengan cerita-cerita
dari banyak orang yang telah gagal untuk tetap murni dan kudus, kita tetap
perlu membiarkan mereka memahami
kenyataan dan kesulitan-kesulitan itu.
Tantanglah mereka untuk berpikir mengenai apa yang penting bagi diri mereka
dan motivasilah agar tetap teguh kepada
apa yang mereka yakini.
Bagaimana Saya Berkomunikasi
Secara Tepat Guna kepada Murid-Murid?
1. Sambutlah setiap murid pada tiap-tiap bagian pelajaran
Sambutan yang bersahabat dan yang ramah menyatakan perhatian yang sepenuhnya.
Ungkapan seperti “bagaimana keadaan kamu?” dapat menyatakan perhatian yang
tulus. Ungkapan seperti “luar biasa bertemu dengan kamu!” dapat mengubah harihari dari seseorang. Sambutan kita hanya memerlukan waktu sekitar 30-40 detik,
tetapi murid-murid akan begitu merasakan bahwa kita benar-benar peduli kepada
mereka.
2.
Kirimlah sebuah kartu/email atauhubungilah melalui telepon untuk mengetahui seseorang sedang melakukan hal apa
Dengan mengatakan, “Saya takjub bagaimana kamu dapat melakukannya”, akan
membuat suatu perbedaan yang menonjol di dalam kehidupan seseorang. Sekalipun
perbuatan ini hanya memerlukan waktu 4-5 menit dan harga yang tidak seberapa dari
selembar kartu, tetapi akan membuat hari-hari para remaja bersemangat kembali.
3.
Undanglah setiap murid ke ru-
mah dalam acara persekutuan
atau kejadian istimewa lainnya
Kenangan terindah kita dari melayani
Tuhan dihasilkan melalui persekutuan
atau kejadian istimewa lainnya.
Setiap persekutuan akan memberikan
suatu kesempatan yang baru untuk
menunjukkan rasa simpati dan empati
kepada seseorang.
4.
Berdoalah bersama dengan mereka
Para remaja perlu mengetahui bahwa para guru ternyata mendoakan mereka
dengan tekun. Sekalipun mereka mungkin begitu sibuk dengan aktivitas belajar,
kita hendaknya senantiasa mengingatkan bahwa berdoa bersama pada saat-saat
tertentu itu merupakan satu-satunya cara untuk memohon hikmat dan kekuatan dari
Allah.
Surat-Surat Paulus
vi
Membangun Persahabatan Bersama
dengan Murid-Murid
Pada abad 21 ini, hampir
semua remaja berkomunikasi melalui
email setiap harinya. Dengan bantuan
internet, banyak orang menemukan
cara yang luar biasa untuk tetap dapat
berkomunikasi dengan orang-orang
di sekitar mereka yang tidak dapat
berbicara langsung dan dengan orangorang yang tinggalnya berjauhan.
Sebagai
Guru
Pendidikan
Agama, penggunaan email untuk
menjangkau murid-murid merupakan
cara yang indah di dalam membangun
persahabatan.
Sejak mengetahui murid-murid dapat
mengirimkan email yang sedikit lebih
mendalam daripada sekedar katakata sambutan atau pujian, Anda
mungkin dapat ajukan pertanyaan
yang merangsang pikiran murid-murid
mengenai apa yang sedang terjadi di
dunia saat ini, apa yang mereka yakini,
bagaimana hubungan mereka dengan
keluarga atau mungkin mulailah dengan
suatu pertanyaan yang pribadi mengenai
hubungan mereka dengan Allah.
Fakta
menunjukkan
bahwa
murid-murid merasa senang bila
menemukan email di mailbox mereka,
sekalipun Anda dan mereka jarang
berkomunikasi. Setidaknya, pikirkan
vii
Surat-Surat Paulus
email apa yang dapat memotivasi muridmurid agar mengetahui bahwa mereka
berada di dalam pikiran Anda atau
mengetahui bahwa Anda mengharapkan
mereka berhasil di dalam ujian atau
aktivitas olahraga. Bahkan Anda dapat
membuat hari-hari mereka penuh
semangat dengan memberikan pujian
atau motivasi tertulis di dalamnya.
Untuk menjangkau murid-murid
secara tepat guna melalui email, tulislah
pesan Anda secara singkat (cukup satu
paragraf atau satu kalimat). Hidup di
dalam masyarakat yang serba cepat
ini, tidak banyak dari antara kita yang
ingin memeriksa sebuah email yang
panjang isinya. Begitu pula penting
untuk menjawab pesan dalam waktu 1-2
hari. Murid-murid mencari Anda untuk
memperoleh dukungan dan bimbingan.
Anda
akan
segera
kehilangan
kepercayaan dari mereka, bila tidak ada
balasan dari Anda selama satu minggu
ke depan.
Tetap usahakan menggunakan
nada kalimat yang ramah di dalam
menulis email Anda. Biarkan mereka
mengetahui bahwa Anda selalu berada
di dekat mereka, terutama ketika salah
seorang murid sedang sakit jasmani
atau lemah rohani. Kutiplah sebagian
ayat Alkitab dan gunakan humor
secara bebas. Para remaja tidak akan
menanggapi secara positif kepada guruguru yang selalu menyalahkan. Tetaplah
berada di sana dan jadilah teladan.
Email adalah alat komunikasi
yang luar biasa dengan murid-murid.
Kiranya Allah meneguhkan iman muridmurid dan menanamkan pemahaman
akan firman-Nya kepada mereka.
Bagaimana Membuat Murid-Murid
Tetap Termotivasi dan Tertarik?
Kamu dapat menggunakan...
1. Permainan
2. Video klip
3. Diskusi untuk menemukan solusi
atau gagasan lainnya
4. Poster
5. Pertanyaan yang menarik atau
topik-topik yang hangat
6. Kesaksian atau pujian yang
menyentuh hati
7. Saat-saat perenungan untuk
mengintrospeksi diri
8. Kesetiaan dan kerajinan
Ketika membawakan pelajaran,
kamu dapat menggunakan...
1. Suatu gaya dari seorang guru ketika mengajar murid-murid
2. Suatu penggalian Alkitab yang mendalam
3. Suatu tulisan singkat yang menarik perhatian murid-murid
4. suatu film yang bermakna dalam dan yang berkaitan dengan topik pelajaran
Guru dapat menguji pemahaman murid-murid dengan...
1. Meminta murid-murid untuk berbagi apa yang mereka telah pelajari
2. Menanyakan beberapa pertanyaan mengenai pemahaman Alkitab
3. Meminta murid-murid untuk menemukan moral yang baik selama pelajaran
4. Menanyakan siapa tokoh yang murid-murid ingin jadikan bagian dari kehidupan
mereka
5. Meminta murid-murid untuk menerapkan pemahaman Alkitab di dalam kehidupan sehari-hari
Surat-Surat Paulus
viii
Lomba Ayat Hafalan
Apakah Anda mengetahui bahwa
dengan
bersama-sama
menghafal
Ayat Hafalan di dalam kelas, dapat
memberikan saat yang paling baik dalam
mengajarkan firman Allah? Kebanyakan
orang beranggapan bahwa murid-murid
kelas Remaja telah mengetahui banyak
mengenai ayat-ayat dalam Alkitab.
Bagaimanapun, anggapan itu tidaklah
benar. Oleh karena itu, kita sebagai
Guru Pendidikan Agama haruslah
lebih menekankan bagian pelajaran
ini daripada yang lainnya. Mengapa?
Karena dengan mengingat ayat Alkitab
dapat membantu murid-murid bertahan
menghadapi
pencobaan
dan
membangun iman yang lebih teguh.
Pastikan bahwa ini merupakan
hal yang melibatkan para guru dan
murid. Tantanglah murid-murid untuk
dapat mengingat Ayat Hafalan bersama
dengan Anda setiap minggunya. Adalah
gagasan yang positif, bila Anda dan
murid-murid dapat mengucapkan ketiga
belas Ayat Hafalan pada akhir kwartal.
Ini merupakan cara yang luar biasa
untuk memotivasi Anda dan muridmurid. Mungkin Anda dapat menantang
murid-murid dengan sebuah lomba.
Buatlah lomba itu sebagai tantangan
yang nyata dan lihatlah siapa yang
dapat mengucapkan Ayat Hafalan paling
banyak pada perlombaan itu. Anda
dapat memberikan apapun macam
penghargaan kepada murid-murid yang
menang.
Karena perlu mengulang Ayat
Hafalan dari minggu ke minggu, Anda
dapat menghabiskan waktu lebih
banyak
untuk
membicarakannya
bersama murid-murid. Biarkan firman
Allah itu mempengaruhi kehidupan
ix
Surat-Surat Paulus
pribadi murid-murid dan menjadi
bagian dari kehidupan mereka. Setelah
suatu periode waktu tertentu, Anda
pasti akan melihat kehidupan muridmurid bertumbuh seperti yang Allah
kehendaki. Intinya adalah bila muridmurid mendapati Anda sedang serius
dalam menghafal Ayat Alkitab, mereka
pun akan melihatnya sebagai suatu
cara yang penting untuk bertumbuh
lebih menyerupai Yesus Kristus.
Kiranya Allah senantiasa meneguhkan
semangat pelayanan kita kepada muridmurid.
Bacaan Kitab untuk Minggu ini
1. Roma 1-16
2. 1 Korintus 1-16
3. 2 Korintus 1-13
4. Galatia 1-6
5. Efesus 1-6
6. Filipi 1-4
7. Kolose 1-4
8. 1 Tesalonika 1-5
9. 2 Tesalonika 1-3
10. 1 Timotius 1-6
11. 2 Timotius 1-4
12. Titus 1-3 dan Filemon
Ayat Hafalan untuk
Bulan April, Mei dan Juni
1.
“Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang
kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati
manusia, oleh Kristus Yesus. Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi
dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah.” (Rm. 2:16-17)
2.
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di
dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah dan bahwa kamu bukan
milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar:
Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Kor. 6:19-20)
3.
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah
berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Kor. 5:17)
4.
“…bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum
Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus…” (Gal. 2:16)
5.
“Satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu
pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman,
satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan
oleh semua dan di dalam semua.” (Ef. 4:4-6)
6.
“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus
Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah, aku
telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku
memperoleh Kristus” (Flp. 3:8)
7.
“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu, hendaklah hidupmu
tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di
atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan
kepadamu dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” (Kol. 2:6-7)
8.
“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga
roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada
kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Tes. 5:23)
9.
“Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita
menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya
menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan
segala pekerjaan imanmu.” (2 Tes. 1:11)
Surat-Surat Paulus
x
Ayat Hafalan untuk
Bulan April, Mei dan Juni
10. “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah
teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu,
dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Tim. 4:12)
11. “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan
damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati
yang murni.” (2 Tim. 2:22)
12. “Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya,
agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha
melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia.”
(Tit. 3:8)
xi
Surat-Surat Paulus
Halaman Kosong
Surat-Surat Paulus
xii
Sasaran
Surat-Surat Paulus
Surat-Surat Paulus
Surat-surat Paulus memainkan
peranan yang sangat penting
dalam menguatkan iman dari
banyak gereja dan jemaat
mula-mula. Ketiga belas surat
ini dapat dibagi menjadi tiga
kategori:
A. Enam surat perjalanan
penginjilan
Surat Galatia (perjalanan
penginjilan yang pertama, tahun
40-49 M);
surat 1 dan 2 Tesalonika
(perjalanan penginjilan yang
kedua, tahun 50-59 M); surat
1 dan 2 Korintus, surat Roma
(perjalanan penginjilan yang
ketiga, tahun 50-59 M)
B. Empat surat penjara
(ditulis di Roma, tahun 6062 M)
Surat Efesus
Surat Filipi
Surat Kolose
Surat Filemon
C. Tiga surat penggembalaan
Surat 1 Timotius (ditulis di
Makedonia, tahun 63-66 M)
Surat 2 Timotius (ditulis di Roma,
tahun 67 M)
Surat Titus (ditulis di Makedonia,
tahun 63-66 M)
xiii
Surat-Surat Paulus
Renungan Bagi Para Guru
Firman Allah adalah peta harta
karun rohani bagi kita dan
Roh Kudus adalah penuntun
kehidupan bagi kita. Membaca
surat-surat Paulus, dapat
menggerakkan semangat hingga
bernyala-nyala dalam diri kita.
Kehidupan Paulus memberikan
kita kekuatan untuk berjalan
dan melayani Allah, karena Dia
telah berjanji untuk senantiasa
menyertai kita. Ketika tetap
berjalan, tetap berpaut padanya,
maka seperti yang dikatakan
dalam kitab Yesaya, kita akan
seumpama rajawali yang naik
terbang dengan kekuatan
sayapnya; mereka berlari dan
tidak menjadi lesu, mereka
berjalan dan tidak menjadi lelah.
Sesungguhnya, begitu
berhenti hidup bagi Kristus, kita
akan mulai mati secara rohani.
Hidup dalam hadirat Allah
merupakan inti dari kehidupan
umat Kristen.
Larilah dalam Perlombaanmu
“Sambil berpegang pada
firman kehidupan,
agar aku dapat bermegah
pada hari Kristus,
bahwa aku tidak percuma
berlomba dan
tidak percuma bersusah-susah.”
(Filipi 2:16)
pelajaran
Surat Roma
1
Bacaan Kitab
Rm. 12:1-2; Dan. 1:1-21; 2:14-49; 6:1-28
Sasaran Pelajaran
1. Memperkenalkan struktur dan pengajaran dari kitab Roma
2. Mengajarkan bagaimana murid-murid memperkenalkan Injil keselamatan
kepada orang lain
3. Memotivasi murid-murid untuk menjalani hidup kudus, sehingga
memuliakan Allah
Ayat Alkitab
“Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang
kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam
hati manusia, oleh Kristus Yesus. Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang
Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah.”
(Rm. 2:16-17)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)
Roma 1-16
Latar Belakang Alkitab
Surat-Surat Paulus
Dua puluh tujuh kitab yang terdapat dalam Perjanjian Baru dapat dibagi menjadi tiga
bagian:
1. Kitab-kitab Sejarah (empat kitab Injil dan Kisah Para Rasul)
2. Surat-surat (tiga belas surat Paulus dan delapan surat umum)
3. Penglihatan (kitab Wahyu)
Surat-surat Paulus memainkan peranan yang begitu penting dalam
menguatkan beberapa gereja mula-mula maupun iman jemaat mula-mula. Ketiga
belas surat ini dapat dibagi menjadi tiga kategori:
Surat-Surat Paulus
1
A.
Surat-surat Perjalanan
Surat Galatia (perjalanan penginjilan pertama, tahun 40-49 M)
Surat 1 dan 2 Tesalonika (perjalanan penginjilan kedua, tahun 50-59 M)
Surat 1 dan 2 Korintus, surat Roma (perjalanan penginjilan ketiga, tahun 50-59
M)
B.
Empat Surat Penjara (ditulis di Roma, tahun 60-62 M)
Surat Efesus
Surat Filipi
Surat Kolose
Surat Filemon
C.
Tiga Surat Penggembalaan
Surat 1 Timotius (ditulis di Makedonia, tahun 63-66 M)
Surat 2 Timotius (ditulis di Roma, tahun 67 M)
Surat Titus (ditulis di Makedonia, tahun 63-66 M)
Di Alkitab, surat-surat itu tidaklah disusun menurut aturan kronologis, tetapi
menurut panjang suratnya. Surat yang lebih panjang ditujukan kepada gereja-gereja
dan yang lebih pendek ditujukan kepada perorangan. Surat-surat awal Paulus ditulis
kira-kira 25 tahun setelah kematian Tuhan Yesus, sementara surat-surat terakhir
Paulus mungkin ditulis sebelum penulisan keempat kitab Injil.
Latar Belakang Surat Roma
A. Setelah Kerajaan Selatan, Yehuda, dihancurkan (tahun 586 Sebelum Masehi),
orang-orang Yahudi menjadi pengembara. Dari cerita mengenai kehidupan
Akwila dan Priskila, kita mengetahui bahwa orang-orang Kristen Yahudi tinggal
di Roma pada awal tahun 49 M ketika Klaudius mengeluarkan maklumat untuk
mengusir orang-orang Yahudi dari kota itu (Kis. 18:2).
B. Surat kepada jemaat Roma ditulis di Korintus saat-saat akhir dari perjalanan
penginjilan Paulus yang ketiga pada tahun 57-58 M (Kis. 19:21; 20:2; 18:1,11).
Paulus tidak menulis surat ini seorang diri, tetapi dia mendiktekannya kepada
Tertius (Rm. 16:22).
C. Paulus tidak mendirikan gereja di Roma. Sesungguhnya, dia belum pernah
melihat bangunan gereja di Roma saat surat itu ditulis.
D. Saat surat itu ditulis, jemaat Roma berada dalam konflik seorang dengan yang
lainnya mengenai persoalan sunat dan apakah itu penting untuk keselamatan
atau tidak sama sekali.
Kata-kata Kunci
A. Injil berarti kabar baik, berkaitan dengan hidup, mati dan kebangkitan Yesus
Kristus.
B. Pembenaran berarti membebaskan atau menunjukkan keadilan. Dalam bahasa
Yunani, istilah ini resmi dipakai untuk keputusan yang menguntungkan di ruang
pengadilan dan Allahlah sebagai Hakim yang memimpin penghakiman itu.
C. Pengudusan berarti menjadi kudus, suci dan dipakai khusus untuk perkaraperkara kudus.
2
Surat-Surat Paulus
Pemanasan
Apakah makna ‘Injil Keselamatan’ bagi kalian? Mintalah murid-murid
menuliskan jawaban mereka di sehelai kertas dan bagikan jawababnya kepada yang
lainnya. (Batasilah waktu hingga lima menit)
Pemahaman Alkitab
Bagian # 1 – Ikhtisar Umum
Surat Roma secara sistematis menjelaskan mengenai Injil Keselamatan
dengan konsep ‘pembenaran oleh iman.’ Konsep ini dapat ditemukan dalam
1:16-17, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan
memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: Orang benar akan hidup oleh iman.”
Untuk mempertahankan konsep ini, Paulus membuktikan bahwa semua orang
adalah berdosa, baik orang Yahudi maupun orang non-Yahudi. Orang-orang nonYahudi berbuat dosa kepada Allah setiap harinya dalam hidup mereka; orang-orang
Yahudi berbuat dosa kepada Tuhan, karena mereka tidak memegang hukum Taurat.
Oleh karena itu, semua orang dihukum. Satu-satunya pilihan untuk menanggung
penghukuman itu adalah Yesus Kristus, yang telah mati bagi dosa-dosa kita, melalui
penumpahan darah-Nya. Ketika menerima Kristus melalui iman, kita dibenarkan atau
dijadikan benar di hadapan Allah. Dalam baptisan air, kita mati dan bangkit bersama
dengan Yesus Kristus dan dikuduskan oleh darah-Nya. Kemudian, barulah kita dapat
hidup berkemenangan oleh kuasa Roh Kudus dan berjalan bersama dengan-Nya.
Struktur surat Roma dapat diuraikan sebagai berikut:
A. Pendahuluan (1:1-17)
B.
Pengajaran (1:18-15:13)
1. Dosa/Penghukuman (1:18-3:20)
2. Pembenaran (3:21-5:21)
3. Pengudusan (6:1-8:39)
4. Keselamatan umat pilihan Allah (9-11)
5. Penerapan kehidupan dari Iman Kristen (12:1-15:13)
C. Penutup (15:14-16:29)
Bagian # 2 – Pemahaman Alkitab dari Surat Roma
A. Pendahuluan (1:1-17)
Setelah memberi salam kepada orang-orang percaya, Paulus mengemukakan
alasannya menulis surat Roma, yaitu:
Surat-Surat Paulus
3
a. Memenuhi kerinduannya secara rohani untuk bergabung dengan orang-orang
percaya itu (1:8-10)
b. Membagikan karunia rohaninya (1:11-12)
c. Menghasilkan buah di antara orang-orang percaya (1:13)
d. Membayar hutangnya terhadap Injil (1:14-15)
Lalu, dia memperkenalkan tema dari surat Roma, yang disampaikan dengan
kata-katanya sendiri sebagai Injil adalah Kebenaran Allah. Kebenaran ini dimulai
dengan iman dan diakhiri pula dengan iman, “seperti ada tertulis: Orang benar akan
hidup oleh iman” (1:17).
B. Injil Keselamatan (1:18-15:3)
1. Dosa/Penghukuman
Pada mulanya, Injil
mengendalikan dosa mereka.
keselamatan
menolong
banyak
orang
dalam
a. Dosa orang-orang non-Yahudi (1:18-32)
Orang-orang non Yahudi seharusnya mengakui keberadaan Allah, karena hati
nurani mereka (1:19) dan bukti dari penciptaan (1:20). “Sebab sekalipun mereka
mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap
syukur kepada-Nya. Sebaliknya, pikiran mereka menjadi sia-sia da hati mereka
yang bodoh menjadi gelap.” Oleh karena itu, Allah menyerahkan mereka kepada
keinginan hati mereka dan membiarkan mereka hidup dalam homoseksualitas
dan segala macam dosa (1:28-32).
b. Dosa orang-orang Yahudi (2:1-29)
Orang-orang Yahudi memegahkan iman mereka kepada Allah dan menghakimi
kehidupan dari orang-orang non-Yahudi. Bagaimana, mereka sendiri bukannya
tidak memiliki dosa. Bahkan dengan perjanjian sunatpun, mereka ternyata tidak
lebih baik daripada orang-orang non-Yahudi, karena tidak menjalankan hukum
dan perintah-perintah yang mereka telah sangat ketahui.
c. Dosa semua umat manusia (3:1-20)
Tidak peduli orang Yahudi atau orang non-Yahudi, semuanya telah kehilangan
kemuliaan Allah. Tidak seorangpun dapat berdiri di hadapan penghakiman
Allah dan dinyatakan benar melalui hukum Taurat. Satu-satunya hanya dapat
dibenarkan melalui iman (bandingkan dengan Gal. 3:12).
2. Pembenaran (3:21-5:21)
Pembenaran (Rm. 4:2,5; 5:1) berarti membebaskan atau menunjukkan
keadilan. Dalam bahasa Yunani, istilah ini resmi dipakai untuk keputusan yang
menguntungkan di ruang pengadilan dan Allahlah sebagai Hakim yang memimpin
penghakiman itu.
Sekalipun kita semua adalah orang-orang yang berdosa, Allah telah memberikan
kita kesempatan untuk dibenarkan, sehingga dapat luput dari penghukuman yang
seharusnya kita terima. Keselamatan kita diberikan melalui anugerah Allah dan
penebusan dari kematian Kristus.
4
Surat-Surat Paulus
a. Pembenaran hanya melalui iman (3:21-31)
i. Manusia tidak dapat dibenarkan melalui perbuatan baik (3:27), melakukan
hukum Taurat (3:28) atau tradisi sunat (4:11). Pembenaran ini adalah melalui
anugerah Allah, darah Kristus dan iman dari seseorang, yang membuat
dirinya dibenarkan di hadapan Allah (3:24-25; 4:25; 5:9).
ii. Pembenaran oleh Allah bukanlah sebuah izin untuk bebas berbuat dosa lagi.
Ketika percaya Kristus, kita dibenarkan dari dosa-dosa yang telah diperbuat
dahulu (3:25). Ketika menerima anugerah ini, kita seharusnya secara sadar
berusaha untuk berjalan di jalan Tuhan.
b. Contoh dari pembenaran oleh iman, yaitu Abraham (4:1-25)
i. Abraham adalah bapa iman kita. Allah memanggil, memberkati dan
memperbanyak keturunannya (Yes. 51:2).
ii. Abraham tidak dibenarkan oleh sebab perbuatan-perbuatannya (4:1-8),
sunat (4:9-10) atau hukum Taurat (4:13); dia dinyatakan benar oleh Allah,
karena imannya yang tidak goyah.
– Abraham terkenal oleh sebab perbuatannya. Dia mengikuti perintah
Allah, bahkan sampai mengorbankan putranya, Ishak, di atas mezbah.
Bagaimanapun, Abraham dinyatakan benar sebelum dia memiliki anak,
ketika Allah menjanjikannya banyak keturunan (Kej. 15:5-6).
– Abraham tidak mengandalkan sunat, agar dibenarkan (Rm. 4:10-11).
– Pada zaman Abraham, belum ada hukum seperti hukum Taurat Musa.
iii. Ciri khas dari iman Abraham:
– Dia percaya kepada janji Allah (4:13-16).
– Dia percaya bahwa kuasa Allah dapat membangkitkan orang mati (Ibr.
11:17-19)
– Dia percaya bahwa Allah dapat mengubah yang tidak ada menjadi ada
(Rm. 4:17).
c. Keuntungan orang yang dibenarkan oleh sebab iman (5:1-21):
i. Hidup dalam damai sejahtera dengan Allah melalui Tuhan kita, Yesus Kristus
(5:1).
ii. Beroleh jalan masuk kepada kasih karunia Allah (5:2).
iii. Bermegah dalam kesengsaraan (5:3).
iv. Dipenuhi dengan kasih Kristus (5:5).
v. Beroleh hidup (5:18). Pada mulanya, kita terbelenggu oleh dosa yang
masuk ke dalam dunia melalui Adam dan dikutuk untuk mati (5:12). Karena
dibenarkan melalui rencana keselamatan Kristus, kita dapat menerima
hidup.
3. Jalan Menuju Pengudusan (6:1-8:39)
a. Melalui baptisan air, kita memakukan diri yang lama di kayu salib (6:1-9).
i. Kita mati, dikuburkan dan bangkit bersama dengan Kristus (Rm. 6:3-8).
ii. Baptisan air merupakan saat penting dalam hidup, karena kita keluar dari
kuasa Iblis dan masuk ke dalam perlindungan Allah. Status kita diubah dari
seorang hamba dosa menjadi anak Allah. Kita diberikan kesempatan untuk
hidup baru (6:4) dan menjadi senjata-senjata kebenaran (6:13).
Surat-Surat Paulus
5
b. Pergumulan kita terhadap dosa belumlah berakhir dengan baptisan air
i. Kita masih akan mengalami saat-saat lemah, karena ada dua hukum yang
berperang di dalam diri kita – hukum Allah dan hukum dosa (7:18-25).
ii. Oleh sebab sifat dosa kita yang alami dan tinggal di dalam dunia yang
penuh dosa, yang dikendalikan oleh Iblis, kita seringkali ditaklukkan oleh
dosa (7:21).
c. Kita harus mengandalkan Roh Kudus untuk ‘mati terhadap dosa’ dan menemukan
kebebasan di dalam Kristus (6:4)
i. Roh Kudus membebaskan seseorang dari hukum dosa dan maut (8:1-2).
ii. Selama berada di dunia, dosa akan berusaha menarik kita untuk menjauh
dari Allah. Hanya Roh Kuduslah yang akan memberikan kita kuasa untuk
memandang bahwa diri sendiri telah mati bagi dosa (6:11). Ketika kita mati
bagi dosa, kita dengan sendirinya akan membenci segala hal yang berdosa
dan menjauhi kejahatan.
iii. Bila orang Kristen tidak berdoa, dia tidak dapat memiliki kepenuhan kuasa
Roh Kudus. Akan sulit baginya untuk menanggung pencobaan dan akan
sangat mudah dikalahkan oleh keinginan-keinginan dosa.
4. Keselamatan umat pilihan Allah (9:1-11:36)
a. Memahami hak pilih dari Allah yang berdaulat
i. Allah memilih seseorang sesuai dengan janji-Nya (9:6-9), bukan oleh sebab
perbuatan atau tindakan kita (9:10-13).
ii. Allah memiliki kebebasan mutlak dalam memutuskan siapa yang akan
diselamatkan. Dia memilih seseorang berdasarkan pilihan-Nya (9:11-13),
kemurahan-Nya (9:15) dan otoritas-Nya (9:20-21).
iii. Kita tidak berhak mempertanyakan keadilan Allah, karena kita semua
diselamatkan oleh kemurahan-Nya (9:15).
b. Status pilihan dari keturunan Yahudi
i. Status khusus ‘pilihan’ dari keturunan Yahudi merupakan bukti dari otoritas
Allah yang mutlak.
ii. Orang-orang Yahudi mengejar kebenaran melalui perbuatan dan bukannya
melalui iman (9:32). Mereka tidak memahami kebenaran Allah dan
mendirikan kebenaran mereka sendiri (10:3). Oleh karena itu, mereka tidak
percaya atau mengakui Kristus dan keselamatan yang diberikan kepada
orang-orang non-Yahudi (10:9-21).
iii. Keturunan Yahudi akhirnya akan diselamatkan karena janji Allah kepada
Abraham (11:1-36).
5. Pembaruan – Penerapan Hidup dari Iman Kristen (12:1-15:13)
Bagian akhir dari menerima Injil Keselamatan adalah menjalankannya. Kita
membalas kasih Allah dengan memelihara diri tetap kudus dan menyatakan Kristus
kepada orang-orang di sekitar kita.
a. Terhadap Allah, kita... (12:1-2):
– ...mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan
yang berkenan kepada Allah (12:1).
6
Surat-Surat Paulus
–
...janganlah menjadi serupa dengan dunia, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budi kita (12:2)
b. Di gereja, kita bertujuan untuk... (12:3-8):
– ...menjadi rendah hati dan berpikirlah dengan tenang (12:3).
– ...tetap bersatu dan bekerja sama untuk membangun tubuh Kristus (4-8; Ef.
4:11-16; 1 Kor. 12).
c. Di masyarakat, kita... (13:1-14):
– ...tunduk terhadap otoritas pemerintah (13:1-14).
– ...melakukan kewajiban kita sebagai warga negara (13:6-7).
d. Terhadap sesama, kita... (14:1-22):
– ...menerima kelemahan sesama dengan iman dan tidak menghakiminya
(14:1-13).
– ...melakukan segala sesuatu berdasarkan kasih (14:5-12).
– ...berhati-hati, agar tidak menyebabkan saudara-saudara seiman jatuh
tersandung, bahkan jika itu berarti mengabaikan kebebasan kita (14:1318).
– ...mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna
untuk saling membangun (14:19).
C. Penutup (15:14-16:28)
Paulus mengakhiri dengan menyatakan amanat dirinya sebagai seorang
pemberita Injil bagi orang-orang non-Yahudi, membagikan rencananya untuk
mengunjungi Roma dan menyampaikan salam kepada jemaat di sana.
Menguji Pemahaman
1. Apakah pesan penting dari surat Roma?
2. Apakah lima hal utama yang Paulus gunakan untuk menjelaskan Injil
Keselamatan?
3. Menurut surat Roma, mengapa orang-orang non-Yahudi dihukum? Mengapa
orang-orang Yahudi dihukum? Mengapa semua manusia dihukum?
4. Apakah makna dari pembenaran? Mengapa kita harus dibenarkan?
5. Mengapa penting bagi kita untuk dibaptis? Apakah setelah dibaptis, kita bebas
dari dosa?
6. Apakah yang diajarkan surat Roma kepada kita mengenai hak pilih dari Allah
yang berdaulat mengenai keselamatan?
7. Bagaimana kita membalas kemurahan Allah?
Surat-Surat Paulus
7
Penerapan Kehidupan
“Apakah yang Kalian Akan Perbuat?”
Kadang, sangatlah sulit untuk menjalani sebuah kehidupan yang berkorban.
Bacalah skenario dan saran berikut berdasarkan pengajaran dari surat Roma.
Skenario 1
Johnny adalah seorang siswa tingkat 10 (setara dengan SMU kelas 1 di Indonesia),
sekaligus merupakan jemaat Gereja Yesus Sejati dari angkatan kedua, yang dibaptis
ketika dia masih bayi. Sekalipun menjadi dewasa di gereja, tetapi tidak pernah ada
anak yang sebaya dengannya. Sebagai akibatnya, kebanyakan dari teman-temannya
adalah bukanlah jemaat. Suatu hari, Johnny dan James sedang berdiri dekat lockers
(lemari penyimpan barang untuk murid) di sekolah. Segerombolan gadis sedang
lewat dan salah seorang dari antara mereka tersenyum kepada Johnny. Setelah
mereka lewat, Jamespun memberi sikutan kepada Johnny.
James: “Hei, menurutku dia menyukaimu. Apakah kamu akan mengajaknya
pergi?”
Johnny: “Tidak, aku rasa aku belum siap untuk berpacaran.”
James: “Apakah kamu bercanda? Kamu sungguh pemalu. Kamu adalah satusatunya pria di kelas kita yang tidak pernah memiliki kekasih. Apakah ada masalah
denganmu?”
Johnny (dengan muka merah padam): “Tidak, hentikanlah!”
Pertanyaan – pergumulan apakah menurut kalian yang sedang dihadapi Johnny?
Saran apakah yang kalian akan berikan kepada Johnny berdasarkan Roma 12:1-2?
(Johnny sedang bergumul dengan tekanan dari seorang teman dan godaan untuk
penyesuaian dirinya. Roma 12:1-2 memberitahukan untuk “persembahkan tubuhmu
(kita) sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada
Allah: Ini adalah ibadahmu (kita) yang sejati. Janganlah kamu (kita) menjadi serupa
dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu
(kita) dapat membedakan manakah kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan
kepada Allah dan yang sempurna.” Oleh karena itu, merupakan kehendak Allah bagi
kita untuk memelihara tubuh tetap kudus. Pula, seseorang seharusnya stabil dalam
emosi, mental dan rohani sebelum seseorang berpacaran.
Skenario 2
Keluarga Sasha percaya kepada Tuhan ketika dia bersekolah pada tingkat 4 (setara
dengan SD kelas 4 di Indonesia). Dia menjadi dewasa di gereja dengan sukacita dan
tidak pernah melewatkan hari Sabat sejak saat itu. Saat remaja, Koordinator Guru
Pendidikan Agama merekomendasikan dirinya untuk mengikuti Persekutuan Guru
Pendidikan Agama dan menjadi guru bantu di kelas Madya. Dengan sukacita, Sasha
menerima tanggung jawab itu.
Bagaimanapun, ketika mulai membantu di kelas Madya, dia menyadari bahwa
guru-guru Pendidikan Agama di kelas itu tidaklah mempersiapkan diri seperti yang
seharusnya diperkirakannya. Beberapa di antara mereka adalah ibu-ibu yang tidak
dapat berbicara dalam bahasa Inggris dengan fasih. Yang lainnya, mengajar
8
Surat-Surat Paulus
dengan kaku dari buku tanpa alat bantu visual apapun. Sesungguhnya, dia pun
menduga bahwa mereka hanyalah membaca pelajaran sesaat sebelum pelajaran
dimulai.
“Sungguh mengecewakan,” pikir Sasha. “Aku yakin bahwa diriku dapat
berbuat lebih baik, sekiranya mereka mengizinkanku mengajarkan pelajaran itu
daripada hanya menjadikanku seorang guru bantu.”
Pertanyaan – Apakah ada yang salah dengan sikap Sasha? Saran apakah yang
kalian akan berikan kepadanya dari Roma 12:3? (Sikap Sasha menunjukkan
kesombongan. Roma 12:3 memberitahukan: “Janganlah kamu memikirkan hal-hal
yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir
begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan
Allah kepada kamu masing-masing.”
Skenario 3
Jennifer adalah putri seorang diaken. Seumur hidupnya, dia merasa bahwa dirinya
seolah-olah berada di dalam akuarium; orang-orang selalu memperhatikan dan
mengevaluasi tindakannya.
Pada suatu hari Sabat, saat makan siang, Jane menemukan Jennifer sedang
menangis di kamar mandi. “Apakah yang terjadi?” tanya Jane. “Aku tidak tahan lagi!
Sungguh tidak adil! Mengapa orang-orang selalu mengatakan hal yang menakutkan
mengenai diriku?” isak Jennifer. “Aku tidak dapat melakukan apa-apa!”
Dia memberitahu Jane bahwa ibunya telah memarahinya, karena mengenakan
pakaian berwarna merah muda yang agak transparan ke gereja. Beberapa ibu
merasa bahwa pakaian itu terlalu ketat dan terbuka, terutama untuk putri seorang
diaken. “Aku benci itu! Aku ingin mereka mati!” tangis Jennifer.
Pertanyaan – Apakah ada yang salah dengan sikap atau perbuatan Jennifer? Bila
kalian adalah Jane, apakah yang kalian akan katakan kepada Jennifer berdasarkan
Roma 12:17-18; 14:13 dan 14:21? (Jennifer tidak menyadari bahwa pakaian yang
dipilihnya dapat menyebabkan orang lain tersandung. Dia sangat pendendam, kita
haruslah menasihatinya dengan:
1. Roma 12:17-18, “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah
apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung
padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”
2. Roma 14:13, “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik
kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau
tersandung!”
3. Rom 14:21, “Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur atau
sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.”
Surat-Surat Paulus
9
Renungan dan Doa
Tuhan Yesus yang terkasih,
Terima kasih atas pengorbanan-Mu. Karena Engkau telah mati di kayu salib
menggantikan kami, sehingga kami dapat dibenarkan dan luput dari hukuman atas
dosa-dosa kami. Sungguh, anugerah-Mu luar biasa dan mengherankan. Ketika
kami melanjutkan perjalanan hidup, tolonglah kuatkan iman kami, sehingga dapat
memepercayai-Mu seperti Abraham. Penuhilah kami dengan Roh KudusMu dan
tolonglah kami dalam mengalahkan pencobaan-pencobaan pada masa muda.
Tolonglah kami, agar dapat menjadi kudus dan murni sebagai persembahan yang
hidup, sehingga dapat menunjukkan kasih-Mu kepada semua orang yang berada di
sekitar kami dan menarik mereka kepada Injil Keselamatan. Dalam nama-Mu yang
kudus, kami berdoa. Amin.
10
Surat-Surat Paulus
pelajaran
Surat 1 Korintus
2
Bacaan Kitab
1 Korintus 1-16
Sasaran Pelajaran
1. Memotivasi murid-murid untuk memuliakan Allah dengan menjalani
hidup yang kudus
2. Mengajarkan murid-murid pentingnya memiliki kesatuan di dalam
gereja
3. Mengajarkan murid-murid untuk mengandalkan hikmat rohani dan kasih
ketika menangani konflik-konflik yang ada di dalam gereja.
Ayat Alkitab
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang
diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah dan bahwa
kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah
lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”
(1 Kor. 6:19-20)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)
1 Korintus 1-16
Latar Belakang Alkitab
Kota Korintus hampir dimusnahkan oleh bangsa Romawi pada tahun 146 SM
(Sebelum Masehi) dan dibangun kembali pada tahun 44 SM sebagai koloni bagi
tempat tinggal para budak Romawi yang telah dibebaskan dan rakyat jelata yang
terlantar. Karena letaknya yang strategis di Yunani selatan, kota Korintus dengan
segera menjadi pusat perdagangan dan sebagai salah satu kota termakmur di
Kerajaan Romawi. Sekalipun Korintus dikenal oleh sebab pengejarannya akan
pengetahuan dan filsafat, tetapi dikenal pula oleh sebab percabulannya. Kelonggaran
standar moral itu sangat dipengaruhi oleh penyembahan kepada Aprodite, dewi cinta
dan praktek prostitusi agama.
Surat-Surat Paulus
11
Korintus adalah sebuah daerah perkotaan utama (selain di Anthiokia), yang
mendapat pemberitaan Injil dari Paulus. Bersama dengan rekan-rekan kerja seperti
Timotius, Silas, Akwila, Priskila dan Febe, Paulus mengadakan berbagai pertemuan
rumah tangga dan mengajar selama 18 bulan. Pertemuan-pertemuan rumah tangga
di Korintus akan berkumpul bersama secara periodik untuk mengambil bagian
dalam perjamuan Tuhan (Perjamuan Kudus). Setelah Paulus menyeberang ke Laut
Tengah untuk memberitakan Injil di Efesus, Apolos pun menggembalakan jemaat
Korintus. Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Korintus ditulis sekitar tahun
57 M (1 Kor. 16:8-9), sekaligus merupakan tanggapan pribadi Paulus dalam wujud
surat atas pertanyaan-pertanyaan dari jemaat Korintus dan berita-berita konflik yang
berkembang di dalam gereja saat itu. Surat ini ditulis di Efesus dan diantarkan oleh
Timotius.
Pemanasan
Apakah yang kita akan lakukan ketika menjumpai pertanyaan-pertanyaan
rohani atau alkitabiah dalam hidup sehari-hari? Sekalipun teman-teman dapat
memberikan beberapa jawaban, kita biasanya lebih suka bertanya kepada orangtua,
guru Pendidikan Agama yang dapat dipercaya atau pendeta yang memiliki lebih
banyak hikmat rohani dan dapat membedakan. Bagaimanapun, apakah yang kita
lakukan ketika mereka tidak berada di sekitar kita? Kita dapat menelepon atau
mengirimkan email kepada mereka.
Gereja Korintus pun mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan
dengan karunia-karunia rohani dan kebangkitan. Sebagai gereja yang masih baru,
mereka merasa cara terbaik untuk berhubungan adalah dengan menulis surat
kepada rasul mereka. Sebagai balasannya, Paulus menuliskan surat 1 Korintus untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Dia pun menggunakan kesempatan itu
untuk memberikan petunjuk tambahan berdasarkan berita yang mereka dengar
dari keluarga Kloe (1:11). Melalui surat itu, kita dapat belajar mengenai beberapa
persoalan yang mungkin kita hadapi sekarang dan bagaimana cara menanganinya
dengan cara yang saleh.
Pemahaman Alkitab
Surat 1 Korintus
Surat 1 Korintus seperti biasanya dimulai dengan tujuan, salam dan ucapan
syukur Paulus. Kemudian, isi dari surat ini ditujukan kepada serangkaian persoalan
utama seputar jemaat Korintus.
12
Surat-Surat Paulus
Persoalan-persoalan utama itu meliputi:
A. Perpecahan gereja (pasal 1-4)
B. Persoalan-persoalan moral (pasal 5-6)
C. Perkawinan (pasal 7)
D. Makanan yang dipersembahkan kepada berhala (pasal 8-10)
E. Ketidaktertiban dalam gereja (pasal 11)
F. Karunia-karunia rohani (pasal 12-14)
G. Kebangkitan (pasal 15)
A. Perpecahan Gereja (pasal 1-4)
Sekalipun gereja Korintus diberkati dengan karunia-karunia dengan limpahnya
(1:7), banyak perpecahan dan perselisihan yang terjadi di kalangan jemaat:
a. Salah mengira hikmat rohani sebagai hikmat duniawi (pasal 1-2)
Kebudayaan Yunani yang dominan pada saat itu menyebabkan pengejaran
akan pengetahuan dan sering dimasukkan ke dalam diskusi-diskusi filsafat (Kis.
17:21). Beberapa jemaat menganggap Injil sebagai hikmat duniawi yang harus
dikejar, dibanggakan dan diperdebatkan. Di sini, Paulus mengingatkan mereka
bahwa “supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada
kekuatan Allah” (1 Kor. 2:5). Hanya orang-orang yang mengejar hikmat rohanilah
yang dapat memahami rahasia dan anugerah Allah.
b. Mengikuti pemimpin palsu (pasal 3)
Jemaat Korintus menyalahpahami peran dari para pembawa pesan Injil seperti
Paulus, Apolos dan Petrus. Mereka menyetarakan diri dengan para hamba Allah
itu dan memperdebatkan di antara mereka sendiri mengenai siapa ‘pemimpin
rohani’ yang terbaik. Sebagai rekan sekerja Allah, seharusnya tidak ada yang
harus diperdebatkan atau dimegahkan. Siapapun yang menanam atau menyiram,
Allahlah yang memberi pertumbuhan. Yesus Kristus, Tuhan kita adalah satusatunya Pemimpin kita. Kita hanya bekerja sama dengan Dia untuk mencapai
tujuan yang sama (3:7).
c. Yang berhikmat menurut pandangan mereka (pasal 4)
Beberapa jemaat menganggap diri mereka berhikmat dan memegahkan talenta
dan karunia rohani yang mereka miliki (4:7-8). Bahkan kekayaan rohani dari
jemaat Korintus menyebabkan mereka menjadi sombong dan memandang
rendah orang lain. Untuk mengingatkan keparahan kekeliruan mereka ini, Paulus
menggunakan banyak perbandingan untuk menunjukkan bagaimana hambahamba Allah yang benar tidak akan mengejar kehormatan atau kemuliaan
duniawi. Mereka bekerja, berjerih lelah, memberkati dan bertahan demi Kristus,
tetapi dipandang sebagai orang bodoh dan menjadi tontonan (4:9-10). Oleh
karena itu, kita seharusnya meneladani para hamba Allah dan memperlakukan
mereka dengan rasa hormat.
Surat-Surat Paulus
13
B. Persoalan-Persoalan Moral (pasal 5-6)
a. Percabulan – inses/berhubungan seks antar saudara (pasal 5-6)
1. Membuang kecemaran demi kemurnian
Gereja adalah sebuah lembaga kudus yang tidak dapat mentolerir percabulan,
ketamakan, penyembahan berhala, fitnah, kemabukan dan penipuan (5:9-11).
Ketika dikatakan bahwa ada seorang jemaat sedang berzinah dengan ibu tirinya,
Paulus menggunakan perumpamaan ragi. Untuk mencegah gereja menjadi
cemar dan sombong, para jemaat disarankan untuk ‘membuang ragi yang lama’
(5:7) dan ‘orang itu harus diserahkan kepada Iblis, agar tubuhnya binasa’ (5:5).
2. Memuliakan Allah dengan tubuh kita (6:12-20)
Beberapa jemaat Korintus memandang tubuh mereka sebatas tubuh jasmani
saja bahwa seks diciptakan untuk tubuh dan tubuh diciptakan untuk seks.
Kaum Hedonis (sekelompok orang yang hanya mencari kesenangan dunia)
pada masa itu, bahkan meyakini bahwa untuk melenyapkan keinginan daging,
seseorang haruslah berusaha dengan berbagai cara untuk memuaskannya.
Untuk mengoreksi pandangan keliru ini, Paulus mengatakan bahwa perbuatanperbuatan jasmani pun dapat mempengaruhi kehidupan rohani seseorang.
Setelah rohani seseorang bersatu dengan Allah, tubuh kita menjadi Bait Roh
Kudus. Tubuh jasmani bukan lagi milik kita, karena diri kita telah dibeli dengan
suatu harga. Oleh karena itu, kita haruslah memuliakan Allah, baik dengan tubuh
maupun roh kita (6:19-20).
Catatan untuk Guru Pendidikan Agama: “Sesuatu yang benar di tempat yang salah
dan waktu yang salah merupakan sesuatu yang salah.“ Seks adalah hal baik yang
diciptakan Allah untuk kenikmatan suami isteri di dalam ikatan pernikahan. Namun,
ketika sesuatu yang baik digunakan di luar tujuan sebenarnya dan dipergunakan
secara tidak sah, seks menjadi tidak bermoral dan keliru. Istilah ‘percabulan’ (5:1)
berasal dari kata Yunani ‘porneia’ yang berarti perilaku seksual yang tidak sah, yaitu
dari seks pranikah sampai perzinahan. Kata ini merupakan akar kata Yunani yang
kita serap dari kata bahasa Inggris – pornografi. Cara terbaik untuk menghindari
ketidakbenaran seperti ini adalah menjauhkan diri dari percabulan (6:18).
b. Perkara hukum dalam gereja (6:1-8)
1. Menyelesaikan perselisihan di dalam gereja
Para jemaat Korintus tidak dapat saling mengampuni, bahkan menyeret saudarasaudara seiman mereka ke pengadilan untuk dihakimi di hadapan orang-orang
yang tidak percaya. Perbuatan seperti ini bukan hanya melukai jemaat, tetapi
mempermalukan pula nama Allah. Paulus menyarankan di 1 Korintus 6:1-6
bahwa orang-orang Kristen seharusnya jangan menuntut saudara-saudara
mereka, tetapi kembali ke gereja untuk menyelesaikan perkara-perkara kecil
yang ada.
2. Pengampunan adalah kuncinya
Sebagai jemaat Kristus, kita harus memperlakukan seorang dengan yang lainnya
dengan kasih dan pengampunan. Perpecahan dan perselisihan dapat dihindari,
bila setiap orang mau saling mengampuni ketika melakukan kesalahan
14
Surat-Surat Paulus
(6:7). Bila Allah dapat membersihkan dan mengampuni orang-orang berdosa –
orang cabul, penyembah berhala, pezinah, banci, pemburit, pencuri, orang kikir,
pembauk, pemfitnah dan penipu (6:9-10) – dan menguduskan mereka melalui
baptisan air, bukankah betapa kita harus lebih lagi mengampuni pelanggaran
seorang saudara?
Catatan untuk Guru Pendidikan Agama: Melatih ‘kewaspadaan terhadap keluhan.’
Hari ini, kita pun haruslah berhati-hati apabila mengeluh kepada teman-teman
yang belum percaya mengenai persoalan-persoalan di dalam gereja kita. Lagipula,
siapakah yang mau bergabung dengan sebuah kelompok yang selalu bertengkar
dan berselisih? Sebaliknya, kita haruslah berusaha berdamai seorang dengan yang
lainnya dan menarik orang-orang ke gereja dengan kasih kita.
C. Perkawinan (pasal 7)
a. Suami dan istri (7:1-5)
Sementara percabulan mendominasi latar belakang suatu kebudayaan, ada
beberapa jemaat yang beranggapan bahwa hubungan intim itu menjijikkan,
bahkan di dalam perkawinan sekalipun. Paulus menanggapi hal ini dengan
pengajaran bahwa perkawinan merupakan lembaga suci yang didirikan oleh
Allah. Hubungan intim dalam perkawinan merupakan hal yang berkenan kepada
Allah, sekaligus merupakan berkat bagi pria dan wanita yang dipersatukan di
dalam Tuhan. Setiap pasangan di dalam perkawinan haruslah memperlakukan
pasangannya dengan rasa hormat. Setelah menikah, seseorang haruslah
memberikan dirinya bagi pasangannya, kecuali untuk berdoa dan untuk waktu
yang singkat.
b. Hidup Melajang (7:6-9)
Para pria dan wanita lajang dapat berkonsentrasi dalam melayani Tuhan,
sementara itu, orang-orang yang menikah sibuk dengan tanggung jawab
keluarga. Bagaimanapun, Paulus tidak menuntut orang lain mengikuti teladannya
untuk hidup melajang dan justru menekankan bahwa karunia hidup melajang itu
pastilah diberikan oleh Allah (bandingkan dengan Mat. 19:10-11).
c. Perceraian (7:10-24)
Bila seseorang memiliki pasangan yang bukan orang percaya, jemaat itu tidak
boleh meninggalkannya. Sebaliknya, dia justru harus dengan kasih membawa
pasangannya kepada Tuhan. Jemaat hanya dapat menceraikan pasangannya,
bila dia berbuat zinah. Tetapi, adalah lebih baik untuk hidup bersama demi anakanak. Bila terjadi perceraian, wanita tidak dapat menikah lagi sampai mantan
suaminya meninggal.
d. Menikah Lagi (7:25-40)
Menurut Paulus, adalah sah bagi para janda untuk menikah lagi selama mereka
menikah di dalam Tuhan. Tetapi, lebih berbahagia, apabila tetap menjadi seorang
janda.
Catatan untuk Guru Pendidikan Agama: Persiapan untuk perkawinan – muridmurid kelas Remaja dapat mulai mempersiapkan diri untuk menikah dalam sebuah
pernikahan kudus dengan mengumpulkan konsep-konsep alkitabiah atau
Surat-Surat Paulus
15
kebenaran mengenai pernikahan, memelihara diri tetap kudus secara seksual
terhadap pasangan mereka kelak dan mempersembahkan waktu yang berharga dari
kehidupan lajang mereka bagi pekerjaan Allah.
D. Makanan yang Dipersembahkan kepada Berhala (pasal 8-10)
a. Tidak mengambil bagian dengan roh-roh jahat
Penyembahan berhala merajalela di kota Korintus dan banyak binatang
dipersembahkan sebagai korban di dalam kuil-kuil berhala. Bagian yang tidak
terpakai dari daging binatang itu dijual ke pasar atau dihidangkan pada perayaan
umum atau di restoran yang letaknya dekat dengan kuil. Beberapa jemaat
Korintus yang memegahkan diri karena memiliki pengetahuan (8:1), mengira
bahwa itu tidaklah berdosa untuk memakan daging yang telah dipersembahkan
kepada berhala, karena: 1) mereka tidak percaya kepada berhala dan 2) Paulus
pun menyetujui bahwa berhala bukanlah Allah yang sesungguhnya (8:4).
Bagaimanapun, menyantap makanan yang telah dipersembahkan kepada
berhala dapat menyebabkan kita bersekutu dengan roh-roh jahat (10:20), kita
haruslah menghindarinya, apapun resikonya.
b. Mempertimbangkan jemaat yang lebih lemah imannya
Gereja mula-mula telah memerintahkan orang-orang percaya untuk menahan
diri terhadap hal-hal yang telah dipersembahkan kepada berhala (Kis. 15:29).
Bila jemaat yang lebih lemah imannya melihat orang percaya yang lebih
kuat imannya makan di kuil-kuil berhala, jemaat yang imannya lebih lemah
dapat menodai hati nurani mereka. Oleh karena itu, Paulus meminta jemaat
Korintus untuk tetap belajar mengasihi dalam pengejaran mereka akan hak dan
kebebasan.
E. Ketidaktertiban di dalam gereja (pasal 11)
a. Penutup kepala (11:1-16)
Etika seorang wanita pada masa surat 1 Korintus ditulis adalah kebiasaan
orang Yunani, yaitu seorang wanita terhormat haruslah menutup kepala mereka
(perempuan sundal ditandai dengan penggundulan rambutnya). Oleh karena
itu, Paulus menyarankan kepada para wanita untuk memelihara rambut panjang
sebagai kemuliaan mereka. Sekalipun saat sekarang ini tidak perlu memelihara
rambut panjang secara literal, tetapi saudari-saudari seiman masih harus
memegang semangat kesetiaan, kerendahan hati dan ketaatan yang sama, baik
di gereja maupun di rumah.
b. Perjamuan Tuhan – pembagian dan penghormatan (pasal 11:17-34)
i.
16
Berbicara pada waktu makan
Pada masa gereja mula-mula, orang-orang Kristen berkumpul untuk
bersekutu dalam perjamuan malam yang akan diakhiri dengan Perjamuan
Kudus. Persoalan yang terjadi di Korintus adalah tidak meratanya pembagian
makanan selama perjamuan malam. Beberapa orang makan dengan
rakusnya, sementara yang lain kelaparan (21). Tidak ada orang yang mau
menantikan jemaat lainnya (22). Paulus tidak suka dengan perbuatan
seperti itu dan mengingatkan mereka bahwa tujuan dari perjamuan malam
adalah untuk menunjukkan kasih persaudaraan.
Surat-Surat Paulus
ii. Ketidakkhidmatan selama Perjamuan Kudus
Perjamuan Kudus pun dilaksanakan dengan tidak khidmat dan kacau.
Oleh karena itu, Paulus memperingatkan orang-orang percaya untuk
memperhatikan keberadaan tiap-tiap jemaat selama perjamuan malam dan
dengan hormat, mengambil bagian dari tubuh dan darah Kristus. Bila tidak
demikian, mereka sesungguhnya, makan dan minum dosa sendiri.
Catatan untuk Guru Pendidikan Agama: Lebih dari sekedar yang dikenakan orangorang pada zaman para rasul, para wanita akan memelihara rambut panjang mereka
dan menutupinya sebagai tanda kehormatan. Bahkan bila seorang wanita melakukan
perbuatan yang membangun seperti berdoa dan bernubuat (berkhotbah) dengan
kepala yang tidak ditutup akan membuat dia merasa malu (11:6). Ini mengajarkan
kepada kita pentingnya berdandan yang benar ketika beribadah di Rumah Allah.
Sekalipun rasa hormat yang berasal dari dalam hati paling penting, tetapi kita pun
haruslah menjaga penampilan luar kita. Kita tidak ingin rambut/pakaian/aksesoris
menarik perhatian dan menyebabkan orang melirik kita untuk kedua kalinya.
Sebaliknya, kita haruslah menjaga, agar pakaian tetap rapi, bersih dan pantas,
sehingga dapat memuliakan Allah dari dalam hati maupun penampilan luar.
F. Karunia-karunia Rohani (pasal 12-14)
a. Banyak karunia untuk satu tubuh (pasal 12)
Gereja Korintus diberkati dengan banyak karunia rohani – hikmat, pengetahuan,
iman, kesembuhan, mujizat, nubuat, membedakan roh dan bahasa roh (pasal
14-16). Sayangnya, beberapa jemaat berusaha untuk saling membandingkan
dan merasa lebih unggul dalam karunia-karunia mereka. Paulus mengoreksi hal
itu dengan menggunakan perumpamaan tubuh. Dalam satu tubuh, tidak ada
bagian tubuh yang lebih penting atau kurang penting. Karena semua anggota
tubuh saling bergantung yang satu terhadap lainnya dalam fungsinya. Demikian
pula, tidak ada karunia rohani yang lebih unggul atau kurang unggul. Kita perlu
menggunakan karunia-karunia yang telah diberikan Roh Kudus untuk bekerja
bersama-sama, sehingga jemaat Kristus dapat saling memberi kesejahteraan
dan dimuliakan.
b. Karunia yang terbesar adalah kasih (pasal 13)
Gereja Korintus diberikan karunia rohani dengan limpahnya, namun kekurangan
kasih, sehingga menyebabkan jemaat terbagi-bagi ke dalam golongan-golongan.
Di sini, Paulus mengingatkan mereka bahwa kasih merupakan karunia yang
terbesar. Kasih lebih besar daripada pengetahuan, iman, perbuatan. Kasih mau
berkorban dan sempurna. Kasih dapat mengalahkan keirihatian, kesombongan
dan kemegahan diri yang disebabkan oleh pembagian talenta yang tidak sama.
Hanya melalui kasihlah, semua karunia rohani, perbuatan dan tanggung jawab
jemaat dapat bernilai.
c. Membangun dengan karunia-karunia rohani (pasal 14)
i.
Paulus menyebutkan dua macam bahasa roh, yaitu berbahasa roh (14:2),
yang menjadi bukti dari menerima Roh Kudus dan bernubuat dalam bahasa
roh (14:3), yang merupakan karunia untuk menyampaikan khotbah dalam
bahasa roh.
Surat-Surat Paulus
17
ii. Banyak orang percaya di gereja Korintus diberkati dengan karunia bernubuat
dalam bahasa roh. Beberapa di antaranya dapat memberitakan Injil dalam
bahasa roh dan melakukannya tanpa dapat mengendalikannya atau
menafsirkannya. Ini menyebabkan terjadi kekacauan selama kebaktian.
iii. Kita seharusnya menyembah Alalh dengan hati yang tenang. Baik
menyanyikan himne maupun memberikan kesaksian, semuanya haruslah
dilakukan dengan tertib dan untuk kemajuan bersama.
G. Kebangkitan (pasal 15)
Dalam gereja Korintus, ada banyak ajaran bidat dan kultur kepercayaan yang
bertentangan dengan kebenaran kebangkitan Kristus.
Pembelaan Paulus:
a. Kebangkitan Yesus Kristus merupakan suatu kejadian yang dapat dibuktikan
dan disaksikan.
b. Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan dasar dari iman kita, pengajaran
utama dari Injil dan dasar dari keselamatan kita.
c. Bila menyangkal realita mengenai kebangkitan Kristus, kita akan menjadi siasia.
Setelah menyampaikan tujuh kategori utamanya, Paulus memberikan
nasihat dan perintahnya yang akhir. Dia mendesak orang-orang percaya di Korintus
untuk terikat dalam persekutuan, saling mengasihi dan peduli terhadap para hamba
Allah. Akhirnya, dia menasihati, agar mereka senantiasa “berjaga-jagalah! Berdirilah
dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!” (16:13)
dan melakukan segala sesuatu dalam kasih.
Catatan untuk Guru Pendidikan Agama: Kebangkitan adalah penting bagi kita untuk
memahami bahwa Yesus Kristus adalah manusia pertama yang pernah dibangkitkan
dari kematian dan hidup selamanya. Lazarus dan beberapa orang lainnya dalam
Perjanjian Lama memang pernah dihidupkan kembali dari kematian, tetapi tidak
seorang pun yang pernah bangkit dan hidup selamanya, kecuali Yesus Kristus.
Saat Kristus bangkit, Dia tidak lagi berada pada kehidupan yang sama dan dengan
cara yang sama seperti keadaan sebelumnya. Tetapi, tubuh-Nya diubah menjadi
tubuh rohani, tidak lagi menjadi milik dunia ini. Ketika Alkitab menggunakan istilah
‘kebangkitan,’ itu selalu merujuk pada kebangkitan Kristus dan kebangkitan itu
sedang menanti kita kelak ketika Kristus datang kembali yang kedua kalinya.
Menguji Pemahaman
1. Dua hal apakah yang memotivasi Paulus untuk menulis suratnya yang pertama
kepada gereja Korintus?
2. Tujuh hal apakah yang Paulus tuliskan di dalam suratnya itu?
18
Surat-Surat Paulus
3. Mengapa gereja Korintus terpecah-pecah?
4. Dua persoalan moral besar apakah yang terjadi di gereja Korintus? Apakah yang
Paulus sarankan untuk dilakukan berkenaan dengan persoalan itu?
5. Menurut 1 Korintus 5-7, kapankah hubungan intim itu merupakan hal yang baik?
Kapankah hal itu merupakan hal yang buruk?
6. Bila berhala adalah Allah yang palsu, mengapa kita tidak boleh menyantap
makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala?
7. Ketidaktertiban apakah yang terjadi selama kebaktian di Korintus? Apakah
sumber penyebab dari ketidaktertiban ini?
8. Menurut 1 Korintus 12, mengapa jemaat di suatu gereja menerima karunia rohani
yang berbeda-beda?
9. Mengapa penting bahwa kita percaya terhadap kebangkitan Kristus?
Penerapan Kehidupan
Bagian A – Persoalan Gereja Korintus pada Masa Kini
Masing-masing skenario berikut ini menggambarkan persoalan utama yang
dihadapi oleh gereja Korintus.
a. Bacalah skenario yang ada dan kaitkan dengan persoalan gereja Korintus.
b. Rangkumlah secara singkat apa yang telah terjadi dalam gereja Korintus dan
nasihat Paulus.
c. Berikan solusi pada masa kalian sekarang ini untuk persoalan yang serupa
berdasarkan pengajaran surat 1 Korintus.
Skenario 1
“Saya suka spaghetti!” kata Jerry. Mark dan dia mengetahui bahwa hari itu adalah
minggu keempat di gereja mereka dan selalu akan ada spaghetti. Mereka memastikan
bahwa diri mereka berada di barisan depan pada saat makan siang. Ketika tiba giliran
mereka, masing-masing mengambil piring yang penuh dengan spaghetti dan piring
tambahan yang berisi bakso daging. Dengan gembira, mereka pergi ke ruang kelas
untuk makan. Dua puluh menit kemudian, Larissa masuk dengan membawa sepiring
kecil spaghetti dan saus. “Apakah kamu sedang diet?” ejek Jerry. “Tidak,” jawab
Larissa. “Tidak banyak lagi spaghetti yang tersisa ketika aku mengambilnya.”
Kaitan dengan persoalan yang ada dalam gereja Korintus – Ketidaktertiban (pasal
11)
Selama perjamuan malam, para jemaat tidak saling memperhatikan. Tidak
seorangpun yang menantikan sesamanya. Beberapa jemaat makan dengan begitu
banyaknya, sementara yang lainnya kelaparan. Paulus menasihati gereja itu untuk
saling memperhatikan dan menunjukkan kasih persaudaraan saat perjamuan malam
itu.
Surat-Surat Paulus
19
Skenario 2
Danny telah menjadi seorang jemaat di Gereja Yesus Sejati dan di dalam hatinya,
dia mengetahui bahwa Allah telah menciptakan dunia ini. Bagaimanapun, ketika
belajar fisiologi manusia di kelas biologi, dia mulai bertanya-tanya apakah orang
yang telah meninggal selama ribuan tahun, tulangnya dapat berubah menjadi tubuh
rohani atau tidak.
Kaitan dengan persoalan yang ada dalam gereja Korintus – Kebangkitan (pasal 1516)
Karena populernya kebudayaan dan ajaran bidat bangsa Yunani, beberapa jemaat
Korintus menjadi sangat kesulitan dalam mempercayai kebangkitan Kristus. Paulus
menegaskan kembali mengenai kebenaran, pentingnya dan pengharapan akan
kebangkitan Kristus dan kedatangan-Nya yang kedua kalinya kelak.
Skenario 3
Shannon dan Karen adalah sepasang sahabat, baik di gereja maupun di sekolah.
Mereka pun bersahabat dengan Trisha. Trisha bukan seorang percaya, tetapi dia
telah berkali-kali diajak ke gereja. Suatu hari, Shannon dan Karen berdebat. Karena
ingin membenarkan diri, Shannon menelepon Trisha dan mulai membicarakan
kepribadian Karen yang keras kepala. Segera, mereka menyebutkan kesalahan
Karena dan membicarakan sifat-sifatnya.
Kaitan dengan persoalan yang ada dalam gereja Korintus – Persoalan moral (pasal
5-6)
Jemaat Korintus tidaklah dapat saling mengampuni. Mereka justru saling menuntut
dan membawa lawan mereka untuk dihakimi oleh pihak ketiga, mereka yang bukan
jemaat. Dengan berbuat demikian, bukan hanya melukai saudara-saudari seiman,
tetapi mempermalukan pula Allah dan gereja-Nya. Hal itu dapat pula menghalangi
pemberitaan Injil kita.
Skenario 4
Itu adalah minggu pertama bulan November dan Debby pergi ke rumah temannya,
Grace, untuk menyelesaikan pekerjaan kelompok mereka. Ketika mereka sedang
bekerja, tiba-tiba Grace mengeluarkan sekantong besar permen. “Apakah kamu
mau?” tawar Grace. “Aku telah membohongi adikku yang masih kecil setahun ini.”
Kaitan dengan persoalan yang ada dalam gereja Korintus – Makanan yang
dipersembahkan kepada berhala (pasal 8-10)
Beberapa jemaat Korintus meyakini bahwa makanan yang dipersembahkan kepada
berhala bukanlah menjadi persoalan selama mereka tidak percaya kepada berhala.
Bagaimanapun, Paulus memberitahukan bahwa kita seharusnya menahan diri
terhadap makanan seperti itu, agar tidak menyebabkan orang lain jatuh dan jangan
bersekutu dengan roh-roh jahat.
Skenario 5
Pendeta Terrance adalah salah seorang pendeta kesukaan David. Khotbahkhotbahnya menyentuh dan penuh dengan pengetahuan alkitabiah. Setelah
menghabiskan sepanjang minggu bersama dengan pendeta itu pada saat Retreat
Pemuda, David bertekad untuk mulai mengumpulkan khotbah-khotbah pendeta
Terrance secara pribadi. Dengan gembira, dia menceritakan idenya ini kepada
20
Surat-Surat Paulus
sahabatnya, Sean. Bagaimanapun, Sean tidak merasa antusias. “Apakah kamu
bercanda?” balasnya. “Menurutku, dia itu membosankan. Seharusnya kamu lebih
banyak mendengarkan khotbah dari Pendeta Leonard. Menurut pendapatku, dia
jauh lebih baik.”
Kaitan dengan persoalan yang ada dalam gereja Korintus – Gereja terpecah-pecah
(pasal 1-4)
Persoalan utama dalam gereja Korintus adalah terpecah-pecahnya pandangan
jemaat terhadap pendeta. Mereka tidak memahami peran dari para hamba Allah
dan mengikatkan diri dengan para pendeta kesukaan mereka. Paulus mengingatkan
jemaat bahwa semua pendeta adalah sama. Setiap jemaat seharusnya menghargai
berbagai karunia dari para pendeta yang berbeda.
Skenario 6
Berbagai hal mulai berubah pada kehidupan Megan, ketika tiba-tiba semua
temannya mulai berpacaran. Mereka tidak memiliki banyak waktu lagi untuk dirinya
dan berkomunikasi kepadanya di telepon. Ketika mereka menceritakan betapa
dahsyatnya perasaan jatuh cinta itu, Megan mulai kehilangan ketetapan hatinya
untuk melayani Tuhan. Sebaliknya, dia justru makin lama semakin ingin memiliki
pula seseorang yang istimewa di dalam hidupnya.
Kaitan dengan persoalan yang ada dalam gereja Korintus – Perkawinan (pasal 7)
Percabulan merupakan persoalan yang terjadi dalam gereja Korintus. Oleh karena itu,
Paulus menulis surat untuk mengajarkan mereka bukan hanya mengenai percabulan,
tetapi pula mengenai perkawinan dan hidup melajang. Paulus menyarankan jemaat
yang masih hidup melajang untuk melayani Tuhan pada masa muda mereka,
sebelum terbebani oleh tanggung jawab keluarga. Mereka dapat melayani Tuhan
dengan lebih efektif.
Skenario 7
Itu adalah minggu yang ketiga, saat Kevin mendapat giliran untuk bermain piano
pada hari Jumat dan hari Sabtu. “Mengapa tidak ada seorangpun yang dapat naik
panggung mimbar dan melakukan sesuatu di sini?” pikirnya. “Mengapa selalu harus
diriku? Orang-orang seusiaku hanya duduk saja di sana.”
Kaitan dengan persoalan yang ada dalam gereja Korintus – Karunia-karunia rohani
(pasal 12-14)
Jemaat di gereja Korintus diberkati dengan berbagai macam karunia rohani. Tetapi,
mereka menjadi sombong dan membanding-bandingkan karunia yang mereka miliki.
Paulus mengajarkan bahwa jemaat merupakan satu tubuh yang memiliki banyak
anggota. Semua anggota memiliki karunia dan fungsi yang berbeda, sehingga kita
dapat melayani dan memuliakan Tuhan bersama-sama.
Pertanyaan untuk direnungkan:
Solusi-solusi pada zaman sekarang terhadap persoalan-persoalan itu
(berdasarkan pengajaran surat 1 Korintus):
1. Saran apakah yang kalian akan berikan kepada Jerry dan Mark?
2. Saran apakah yang kalian akan berikan kepada Danny?
3. Saran apakah yang kalian akan berikan kepada Shannon?
Surat-Surat Paulus
21
4.
5.
6.
7.
Saran apakah yang kalian akan berikan kepada Debby?
Saran apakah yang kalian akan berikan kepada David dan Sean?
Saran apakah yang kalian akan berikan kepada Megan?
Saran apakah yang kalian akan berikan kepada Kevin?
Bagian B – Apakah Kasih yang Sejati?
Sepanjang sejarah manusia, orang-orang telah berusaha untuk menjelaskan
pengertian dari kasih. Banyak puitisi, penulis, musisi dan ahli filsafat telah berusaha
untuk mengungkapkan pikiran mereka mengenai cinta dalam segala macam media.
Kasih telah dibandingkan dengan gunung, lautan, desau angin, pengorbanan diri
dan lain sebagainya. Apakah sebenarnya penjelasan Allah mengenai kasih? Paulus
memberitahukan jawabannya dalam 1 Korintus 13. Dalam aktivitas berikut, marilah
kita memikirkan penjelasan Allah mengenai kasih dan renungkan bagaimana kita
pun dapat membagikan kasih ini kepada orang-orang yang berada dalam kehidupan
kita (lihatlah pada tabel setelah bagian Renungan dan Doa).
Renungan dan Doa
Memang mudah membayangkan betapa jengkelnya Paulus menghadapi
semua persoalan dan pertanyaan rumit dari gereja Korintus. Gereja Korintus bagaikan
seseorang yang baru menjadi remaja, yang memiliki begitu banyaknya potensi
pelayanan, sering bertindak tergesa-gesa, merasa bingung dan selalu dicobai oleh
suasana percabulan. Untuk menolong gereja itu, Paulus secara sistematis, tegas,
sabar dan penuh kasih menjawab pertanyaan demi pertanyaan dan menunjukkan
jalan yang benar kepada mereka. Sebagai hasilnya adalah selama ribuan tahun –
petunjuk kehidupan yang kuno itu masih tetap berlaku dalam kehidupan kita yang
nyata sekarang ini. Sebagai guru-guru Pendidikan Agama kelas Remaja, marilah
kita belajar melalui teknik mengayomi Paulus terhadap jemaat Korintus. Marilah
kita dengan sungguh-sungguh memperhatikan kehidupan rohani para siswa kita,
memberikan jawaban yang alkitabiah atas pertanyaan mereka dalam kehidupan
yang nyata, membangun hubungan berdasarkan karunia terbesar dari kasih Allah.
22
Surat-Surat Paulus
Menurut
1 Korintus
13:4-8
...bagaimana
Allah
telah
kasihiku?
...bagaimana
dapat
kasihi
keluargaku?
...bagaimana
dapat
kasihi
temanku?
...bagaimana
dapat
kasihi
gerejaku?
...bagaimana
dapat
kasihi
musuhku?
...bagaimana
dapat
kasihi
pasangan
hidupku?
Kasih itu sabar;
kasih itu murah
hati.
Ia tidak
cemburu.
Ia tidak
memegahkan
diri dan tidak
sombong.
Ia tidak
melakukan
yang tidak
sopan dan
tidak mencari
keuntungan
diri sendiri. Ia
tidak pemarah
dan tidak
menyimpan
kesalahan
orang lain.
Ia tidak
bersukacita
karena
ketidakadilan,
tetapi karena
kebenaran.
Ia menutupi
segala
sesuatu,
percaya segala
sesuatu,
mengharapkan segala
sesuatu, sabar
menanggung
segala
sesuatu.
Kasih tidak
berkesudahan.
Surat-Surat Paulus
23
Halaman Kosong
24
Surat-Surat Paulus
pelajaran
Surat 2 Korintus
3
Bacaan Kitab
Surat 2 Korintus
Sasaran Pelajaran
1. Belajar mengenai sukacita, keputusasaan, tanggung jawab dan otoritas
dari seorang pemberita Injil, melalui pengalaman Paulus dalam surat 2
Korintus
2. Memotivasi murid-murid untuk mendoakan para pemberita Injil, agar
bersukacita dalam melayani pekerjaan Allah
Ayat Alkitab
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama
sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Kor. 5:17)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)
2 Korintus 1-13
Latar Belakang Alkitab
Tampaknya surat 1 Korintus berpengaruh terhadap gereja Korintus, karena
Paulus tidak pernah lagi menyebutkan perkara-perkara hukum di antara jemaat
(1 Kor. 6:1-8) atau perbuatan yang tidak tertib selama Perjamuan malam (1 Kor.
11:11-34). Bagaimanapun, setelah surat 1 Korintus disampaikan, berita-berita yang
kembali kepada Paulus bahwa guru-guru palsu (para misionaris Kristen Yahudi) telah
tiba di Korintus dan berusaha merusak karakter dan pengajarannya. Dengan segera,
Paulus meninggalkan pelayanannya di Efesus dan pergi ke Korintus. Kunjungan itu
dikenal dengan kunjungan yang menyakitkan, karena Paulus menjadi bersedih hati
(2 Kor. 2:1; 12:14,21; 13:1-2).
Setelah kembali ke Efesus, Paulus dengan terbuka merasa telah dihina di
Korintus (2 Kor. 2:5-8). Ini memotivasinya untuk menulis ‘surat yang bernada keras’
(2 Kor. 2:4), yang ditulis di Efesus dan disampaikan oleh Titus (7:5-16). Lalu, Paulus
harus meninggalkan Efesus, karena kerusuhan yang timbul akibat hasutan Demetrius
(Kis. 19:23-20:1). Dia memberitakan Injil di Troas dan pergi ke Makedonia.
Surat-Surat Paulus
25
Di situlah, Titus membawa kabar baik bahwa jemaat Korintus telah menanggapi ‘surat
yang bernada keras,’ yang akhirnya, meluruskan jalan mereka (2 Kor. 7:5-16). Oleh
karena itu, Paulus menuliskan pasal 1-9 dari surat 2 Korintus untuk mengungkapkan
kelegaan hati dan sukacitanya serta menggerakkan untuk dilakukannya pengumpulan
persembahan bagi gereja di Yerusalem. Setelah mendengar ada persoalan lagi di
Korintus, dia menulis pasal 10-13 dan mengjrimkan surat itu ke Korintus melalui Titus
(8:16-24). Kemudian, Paulus pergi ke Korintus (12:14; 13:1-2). Kunjungan ketiga ini
(tahun 56 M) berhasil, karena jemaat Korintus dengan sukarela berpartisipasi dalam
persembahan untuk memberi bantuan kepada gereja di Yerusalem (Rm. 15:26).
Selama menetap di situ, Paulus menulis surat Roma. (Lihatlah Pelajaran 2 untuk
informasi tambahan yang berkaitan dengan sejarah Korintus.)
Pemanasan
Apakah makna dari istilah ‘rasul’? (Orang yang diutus). Pada zaman sekarang
ini, siapakah yang dapat disamakan dengan seorang rasul? Apakah para rasul
haruslah seorang pendeta penuh waktu yang telah ditahbiskan? Atau apakah kita
semua adalah para rasul? Tanggung jawab apa yang dimiliki dari seorang rasul?
Melalui tulisan Paulus dalam surat 2 Korintus, kita dapat belajar perihal sukacita,
pencobaan, keputusasaan dan penghiburan dari seorang rasul pada abad pertama.
Ketika mempelajari pengalaman-pengalaman Paulus, marilah kita mengingat
kerasulan kita sendiri dan kerasulan para pendeta yang sekarang. Marilah kita
memutuskan untuk berpartisipasi dalam pekerjaan Allah dan berdoa bagi para
hamba-Nya.
Pemahaman Alkitab
Bagian # 1 – Ikhtisar Umum
Surat 2 Korintus merupakan pendahuluan dan pembelaan Paulus atas
kerasulannya. Ada tiga tujuan utama dari surat itu, yaitu: 1) menjawab tuduhan
dari rasul-rasul palsu tentang karakter Paulus, 2) memotivasi jemaat berjuang bagi
pertumbuhan rohani mereka dan berpartisipasi dalam pekerjaan Allah, 3) membela
otoritas Paulus sebagai seorang rasul, sehingga pelayanannya tidak dipermalukan.
Melalui surat 2 Korintus, kita dapat melihat sukacita dan keputusasaan Paulus
sebagai seorang rasul pemberita Injil, yang dengan giat menyelesaikan tugas
kerasulannya, dan hatinya yang sungguh-sungguh untuk melayani dan membantu
jemaat Korintus.
Struktur isi dari surat 2 Korintus:
1. Hati Seorang Rasul (pasal 1-5)
A. Karakter Paulus (pasal 1-2)
B. Pelayanan Paulus (pasal 3-4)
C. Motivasi Paulus (pasal 5)
26
Surat-Surat Paulus
2. Harapan Seorang Rasul (pasal 6-9)
A. Berharap agar orang-orang percaya memisahkan diri dari segala kecemaran
dosa dan hidup kudus (pasal 6).
B. Berharap agar orang-orang percaya bertumbuh dalam roh (pasal 7).
C. Berharap agar orang-orang percaya dapat memberi dengan sukacita (pasal
8-9).
3. Otoritas Seorang Pemberita Injil (pasal 10-13)
A. Tujuan dari Otoritas Paulus (pasal 10)
B. Pembelaan terhadap Otoritas Paulus (pasal 11)
C. Rencana Kunjungan Paulus yang ketiga (pasal 12:14-13:14)
Bagian # 2 – Hati Seorang Rasul (pasal 1-5)
A. Karakter Paulus (pasal 1-2)
a. Penuh ucapan syukur (1:1-11)
Sebagai seorang rasul, Paulus selalu menghadapi banyak pencobaan dan
kesukaran. Pengalaman-pengalaman penderitaan ini mengajarkannya untuk
memiliki pengharapan melalui iman. Oleh karena itu, dia dapat menghibur jemaat
yang sedang mengalami pencobaan dan mengajarkan mereka untuk mengucap
syukur dalam segala keadaan.
b. Hati yang suci (1:12-24)
Saat dituduh memiliki pikiran yang berubah-ubah (karena Paulus mengubah
rencananya untuk mengunjungi Korintus), satu-satunya pembelaan Paulus adalah
sebuah hati nurani yang bersih. Alalh dapat menjadi saksi bahwa dia melakukan
segala sesuatu dengan kudus dan jujur.
c. Mengampuni (2:1-11)
Karena kasih, Paulus menasihati jemaat untuk mengampuni dan merangkul orangorang yang telah menentangnya. Mereka yang telah membuat Paulus bersedih hati
ini bukanlah saudara-saudara yang melakukan perbuatan inses (1 Kor. 5), tetapi
justru yang dengan terang-terangan menentang Paulus.
d. Perbuatan (2:12-17)
Paulus mengenakan dan menyebarkan keharuman Kristus. Tidak peduli ke manapun
pergi, dia menyebarkan Inji, memajukan gereja dan memuliakan Tuhan.
Catatan untuk Guru Pendidikan Agama: Keharuman dari kehidupan dan kematian
(2:16)
Di sini, Paulus menggunakan gambaran dari arak-arakan kemenangan pasukan
Romawi untuk menggambarkan keharuman Kristus. Pada arak-arakan seperti ini, para
imam akan berjalan di belakang para tawanan, mengikuti pedupaan yang diisi penuh
dengan kemenyan. Bagi para pemenang, bau harum yang berasal dari pendupaan akan
menjadi bau harum sukacita, kemenangan dan kehidupan. Bagi para tawanan yang
berjalan agak jauh di depan, itu merupakan bau harum kematian, yang ditandai dengan
datangnya hukuman. Di sini, Paulus membandingkan diri dan rekan-rekan sekerjanya
bagaikan berjalan di dalam arak-arakan itu, memberitakan Injil kemenangan Yesus
Kristus (Jenderal Pemenang). Bagi orang-orang yang menerima Injil,
Surat-Surat Paulus
27
bau harum itu merupakan aroma kehidupan, sama seperti para pemenang dalam
arak-arakan itu, tetapi bagi orang-orang yang menolaknya, itu merupakan aroma
kematian, sama seperti bagi para tawanan.
B. Pelayanan Paulus (pasal 3-4)
a. Diberikan oleh Allah (3:1-11)
Kuasa Allah dapat terlihat di dalam iman dan pembaruan hidup dari jemaat
Korintus. Gereja Korintus merupakan sebuah surat rekomendasi yang
membuktikan bahwa pelayanan Paulus berasal dari Allah.
b. Kejujuran (4:1-6)
Paulus tidak berlaku licik, tetapi berhati-hati, agar tidak salah menjelaskan firman
Allah, hanya menyatakan kebenaran Kristus.
c. Pengorbanan diri (4:7-12)
Paulus memandang dirinya sebagai bejana tanah liat yang tidak berharga,
yang membawa Injil yang berharga. Demi injil, dia rela ditindas, dibingungkan,
dianiaya dan dipukul. Karena penderitaan seperti inilah, kehidupan Yesus justru
dinyatakan dalam kehidupan dan pelayanan Paulus.
d. Seumur hidup (4:13-18)
Paulus mempersembahkan hidupnya bagi Allah, karena dia merasa
penderitaannya bagi Allah dianggap ringan, bila dibandingkan dengan kemuliaan
kekal yang jauh lebih besar kelak. Sudut pandang inilah yang membuat dia tetap
berfokus pada kerohanian dan kekekalan (hal-hal yang tidak tampak).
C. Motivasi Paulus (pasal 5)
a. Menaruh keyakinan pada pengharapan kekal (5:1-10)
Sebuah kemah dapat dibongkar pasang dengan cepat. Kemah bersifat
sementara dan tidak tetap. Paulus meyakini bahwa kehidupan di dunia ini sama
seperti kemah, singkat dan penuh kesengsaraan. Selama mendiami tubuh, dia
jauh dari Allah. Oleh karena itu, dia berfokus pada bangunan kekal yang ada
di surga, bertujuan untuk menyenangkan Allah dan memotivasi jemaat untuk
berbuat demikian.
b. Digerakkan oleh kasih Kristus (5:11-21)
Sebelum bertobat, Paulus keliru menilai Kristus menurut ukuran manusia.
Setelah itu, Paulus menyadari bahwa Kristus yang tidak bersalah telah mati,
karena dosa-dosa semua umat manusia. Digerakkan oleh kasih seperti inilah,
Paulus menjadi utusan Kristus, mendamaikan manusia dengan Allah. Di sini,
Paulus meminta kepada kita dengan sangat agar tidak menghakimi seorangpun
menurut ukuran manusia, tetapi berpartisipasi dalam pekerjaan pendamaian.
28
Surat-Surat Paulus
Bagian # 3 – Pengharapan Seorang Rasul (pasal 6-9)
A. Berharap agar orang-orang percaya memisahkan diri dari segala kecemaran
dosa dan hidup kudus (pasal 6).
a. Orang-orang percaya adalah hamba-hamba Allah (6:1-10)
Paulus berharap, agar jemaat tidak akan menerima anugerah Allah dengan siasia. Mereka haruslah menderita bagi Kristus dan berhati-hati atas perbuatan
mereka, sehingga hamba Allah tidak dipersalahkan.
b. Orang-orang percaya adalah anak-anak Allah (6:11-18)
Para pengikut Kristus bukanlah pasangan yang seimbang dengan orangorang yang berada dalam kegelapan rohani dan melanggar hukum. Paulus
mengingatkan orang-orang percaya bahwa mereka adalah bait dari Allah yang
hidup dan Kristus tinggal di dalam diri mereka. Bila mereka berasal dari orangorang non-Yahudi dan menghindari ketidakkudusan, mereka akan disebut anakanak Allah.
B. Berharap agar orang-orang percaya bertumbuh di dalam roh (pasal 7)
a. Menyatakan kebenaran dengan kasih (7:1-4)
Paulus sangat mengasihi orang-orang percaya Korintus, sehingga dia rela hidup
dan mati bersama dengan mereka. Kasih ini mendorongnya untuk berbicara
dengan berani tentang kesalahan orang-orang percaya dan resiko yang akan
mereka hadapi.
b. Penghiburan seorang pelayan (7:5-16)
Titus menegaskan bahwa orang-orang percaya mengindahkan peringatan
Paulus dan bertobat dengan penuh penyesalan. Pertumbuhan rohani orangorang percaya Korintus sangat menghibur Paulus, walaupun dia mengalami
banyak pencobaan pada saat itu.
C. Berharap agar orang-orang percaya dapat memberi dengan sukacita (pasal
8-9)
a. Teladan dari jemaat Makedonia (8:1-15)
Paulus menggunakan teladan kerelaan yang tulus dari jemaat Makedonia, yang
memberi persembahan untuk memotivasi jemaat Korintus, agar melakukan hal
yang sama. Dia berharap orang-orang percaya dapat berpartisipasi dalam kasih
karunia Allah dan mengambil bagian dalam persekutuan dalam melayani orangorang kudus.
b. Bersikap ramah terhadap para hamba Allah (8:16-24)
Paulus menasihati gereja untuk menunjukkan kasih dan bersikap ramah terhadap
Titus dan saudara-saudara yang diutus untuk mengumpulkan persembahan bagi
Yerusalem. Dia menekankan kerajinan, etos kerja, reputasi yang baik dan peran
mereka sebagai para utusan yang setia.
Surat-Surat Paulus
29
c. Buah-buah dari persembahan (9:1-15)
Kadang, belumlah cukup hanya berpikir mempersembahakan harta, waktu
atau talenta kita. Di sini, Paulus memuji kerelaan hati jemaat dalam memberi,
sekaligus memotivasi mereka untuk mempersiapkannya jangan sampai tidak
berbuat sesuai dengan janji mereka. Dia pun mengingatkan bahwa orang-orang
yang memberi dengan murah hati akan menerima kemurahan dari Tuhan.
Mereka akan membuat orang lain merasakan kehangatan saudara-saudari
seiman, termotivasi oleh iman dan memuliakan Allah.
Catatan untuk Guru Pendidikan Agama: Persembahan untuk Yerusalem – Mengapa
hal itu penting? Ada beberapa alasan mengapa orang-orang Kristen Yahudi di
Yerusalem membutuhkan pertolongan dari gereja-gereja non-Yahudi: (1) Setelah
menjadi Kristen, orang-orang Yahudi di Yerusalem mungkin telah ‘dihukum’ dengan
cara harus kehilangan status sosial dan ekonomi mereka. (2) Pembagian bersama
dalam Kis. 2:44-45; 4:32,34-35 telah menekankan pada kondisi kemeralatan hidup
dari orang-orang Yahudi yang menjadi Kristen. (3) Terjadi kelaparan pada tahun 46
M (Kis. 11:27-30), meningkatkan kelangkaan akan bahan makanan dan kelebihan
penduduk di Palestina. (4) Sebagai ‘induk gereja,’ Gereja Yerusalem didukung oleh
sejumlah besar guru dan pengunjung. (5) Orang-orang Yahudi Palestina dikenakan
pajak ganda, baik dari bangsa Yahudi maupun bangsa Romawi. Oleh karena itu,
selama tahun 52-57 M, Paulus berusaha keras untuk mengumpulkan persembahan
untuk “orang-orang miskin di antara orang-orang kudus di Yerusalem” (Rm. 15:26).
Persembahan itu bukan hanya perbuatan yang menunjukkan kasih persaudaraan,
tetapi lebih daripada itu, kesatuan orang-orang Yahudi dan non Yahudi dalam Kristus.
(Uraian singkat ini diambil dari Zondervan NIV Bible Commentary, 1994, volume 2,
halaman 661-662)
Bagian # 4 – Otoritas Seorang Pemberita Injil (pasal 10-13)
A. Tujuan dari Otoritas Paulus (pasal 10)
a. Membangun kerohanian orang-orang percaya (10:1-11)
Beberapa orang percaya menuduh Paulus telah menggunakan cara dan motif
duniawi dalam memberitakan Injil. Mereka mengecamnya, karena berani dalam
hal tulisan saja, tetapi secara pribadi bersikap lemah. Paulus mengingatkan
mereka bahwa dia tidak berjuang secara duniawi. Otoritas kerasulannya
diberikan oleh Allah untuk membangun kerohanian dari orang-orang percaya. Dia
memiliki otoritas untuk menjadi ‘berani,’ tetapi berharap agar tidak menggunakan
otoritasnya dan mengoreksi orang-orang percaya yang belum bertobat pada
kunjungan berikutnya.
b. Menerima pujian dari Allah (10:12-18)
“Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang
dipuji Tuhan” (10:18). Tidak seperti rasul-rasul palsu, Paulus tidak bermegah
atas perbuatannya sendiri atau mengambil keuntungan dari pekerjaan orang
lain. Motifnya dalam memberitakan Injil adalah untuk memperoleh pujian dari
Allah.
30
Surat-Surat Paulus
B. Pembelaan atas Otoritas (Kemegahan) Paulus (pasal 11)
Sebagai ‘bapa dari mempelai wanita’ secara rohani, Paulus dipenuhi dengan
kecemburuan ilahi terhadap gereja Korintus. Dia ingin mempersembahkan gereja
itu kepada Kristus sebagai perawan suci pada hari terakhir (hari kedatangan Yesus
yang kedua kalinya). Bagaimanapun, seperti ular memperdayai Hawa, rasul-rasul
palsu pun mengancam kemurnian iman gereja. Oleh karena itu, Paulus meminta
orang-orang percaya untuk berlaku ‘agak bodoh’ ketika dia menggunakan taktik para
lawannya mengenai ‘kemegahan’ untuk membela otoritas kerasulan dan ajaranajarannya. Kemegahan itu meliputi:
a. Pengetahuan akan Allah (11:1-6)
Paulus menanggapi kriteria duniawi yang menghakimi dirinya. Dia mengakui
bahwa dirinya tidak terlatih untuk berbicara sefasih para rasul palsu.
Bagaimanapun, pengetahuannya dalam Allahlah yang menutupi kekurangannya
itu.
b. Kemandirian dalam keuangan (11:7-15)
Merupakan hak seorang rasul untuk memperoleh nafkah dari orang-orang
percaya (1 Kor. 9:3-18). Oleh karena itu, beberapa orang merasa bahwa Paulus
memandang dirinya sebagai rasul yang hina, karena bersikeras terhadap
ajaran-ajaran kemandirian. Paulus mengingatkan orang-orang percaya bahwa
kemandiriannya secara keuangan merupakan perbuatan kasih yang disengaja.
Dia berhati-hati, agar tidak membebani siapapun, sehingga tidak seorangpun
dapat menuduh dirinya memperoleh keuntungan pribadi.
c. Pengalaman-pengalaman dari seorang rasul (11:16-12:13)
Sekilas, tampaknya Paulus berusaha untuk membuktikan kesetaraan dirinya
dengan kemegahan dari ‘rasul-rasul yang luar biasa’ itu. Bagaimanapun, dia
hanya bermegah di dalam kelemahannya, agar kuasa Kristus dapat dinyatakan.
Kemegahan Paulus meliputi:
i. Menderita bagi Kristus (11:16-12:13)
ii. Pengalaman-pengalaman rohani mengenai surga (12:1-4)
iii. Kelemahan jasmani (12:5-10)
iv. Tanda, mujizat dan perbuatan ajaib (12:11-13)
C. Rencana Kunjungan Paulus yang Ketiga (12:14-13:14)
a. Pengharapan dan keyakinan (12:19-21)
i. Demi orang-orang percaya, Paulus berjanji tidak akan menjadi beban dalam
hal keuangan (12:14-15). Sama seperti orangtua, dia rela mengorbankan
tenaga dan uangnya untuk memelihara jiwa-jiwa orang percaya.
ii. Selama kunjungan, Paulus berharap menemukan orang-orang percaya
yang menjalani hidup mereka dengan damai dan merdeka dari dosa-dosa
yang lama – ketidakkudusan, perzinahan dan percabulan (12:19-21). Sama
seperti orangtua, dia pun mengancam akan bereaksi sebaliknya, bila mereka
terus melanggarnya.
iii. Paulus berharap, agar orang-orang percaya menguji iman mereka sendiri
(13:1-10).
Surat-Surat Paulus
31
b. Perkataan penutup (13:11-14)
Terakhir, Paulus memotivasi orang-orang percaya untuk menjadi sempurna,
penghibur yang baik, yang memiliki satu pikiran, hidup dalam damai dan diam
dalam hadirat Allah.
Menguji Pemahaman
1. Apakah tiga alasan utama mengapa Paulus menulis surat 2 Korintus?
2. Apakah empat ciri khas (masing-masing) dari karakter dan pelayanan Paulus?
3. Menurut pasal 5, apa dua motivasi Paulus di balik pelayanannya? Bagaimana
dia menggunakan perumpamaan mengenai kemah?
4. Apakah tiga pengharapan Paulus terhadap orang-orang percaya Korintus?
5. Mengapa kita harus memisahkan diri dari segala kecemaran dosa dan hidup
kudus?
6. Mengapa Paulus ‘bermegah’? Apakah yang dia ‘megahkan’?
Penerapan Kehidupan
Bagian A – Mengadopsi Hamba Tuhan
Kadang, memang tidak mudah untuk menjadi seorang pemberita Injil. Seperti
Paulus, seorang hamba Tuhan penuh waktu yang harus pergi jauh, memimpin
seminar-seminar pelatihan dengan baik dan menyediakan makanan rohani untuk
banyak gereja dan jemaat. Karena sifat dari pekerjaan mereka, para hamba Tuhan
lebih banyak mengalami pencobaan dan keputusanasaan dibandingkan dengan
banyak jemaat lainnya. Oleh karena itu, adalah penting bagi kita untuk mendoakan
para hamba Tuhan dalam pelayanan mereka secara rutin.
Dalam aktivitas ini, marilah kita mengembangkan kebiasaan untuk
memasukkan para hamba Tuhan dalam doa-doa kita. Marilah kita mengadopsi satu
atau dua hamba Tuhan dari gereja kita – memberi perhatian lebih seperti halnya
orangtua yang mengadopsi anak – dan mendoakannya bagi mereka mulai dari
sekarang sampai pada akhir kwartal. Kita perlu beberapa menit lamanya dalam satu
hari untuk berpartisipasi dalam pekerjaan kudus ini!
Pilihan Catatan Doa: Para Guru Pendidikan Agama boleh hamba Tuhan
manakah yang akan dimasukkan ke dalam ‘catatan doa bagi hamba Tuhan’ dan
ditempelkan di dalam ruang kelas. Di akhir setiap minggunya, murid-murid dapat
menuliskan doa-doa mereka atau ayat-ayat Alkitab yang memotivasi di lembar
catatan itu. Lembar catatan itu boleh pula dikirim sebagai hadiah bagi hamba Tuhan
‘yang teradopsi’ pada akhir kwartal.
32
Surat-Surat Paulus
Nama hamba Tuhan yang aku akan
‘adopsi’:
Saat terakhir aku mendoakan
untuknya:
Tanggung jawab hamba Tuhan di
gereja:
Hal-hal yang dapat mencobai/
mencemaskan/membuat hamba
Tuhan merasa putus asa:
Tiga hal yang aku dapat bantu doakan
untuk hamba Tuhan:
Bagaimana caraku berpartisipasi
dalam pekerjaan kudus dengan
mendoakan hal-hal ini:
Seberapa seringkah aku membuat
rencana untuk mendoakan hamba
Tuhan:
Berapa lamakah aku mendoakan
hamba Tuhan setiap kalinya:
Tanggal mulai mendoakan hamba
Tuhan:
Tanggal akhir mendoakan hamba
Tuhan:
Surat-Surat Paulus
33
Minggu dari...
Permohonan doa bagi
hamba Tuhanku
Tanggal rampung doanya
Pelajaran 3
Pelajaran 4
Pelajaran 5
Pelajaran 6
Pelajaran 7
Pelajaran 8
Pelajaran 9
Pelajaran 10
Pelajaran 11
Pelajaran 12
Pelajaran 13
Bagian B – Memberi dengan Sukacita: Itu adalah Sebuah Rencana!
Paulus memberitahu kita dalam 2 Korintus 9:6-7, “Camkanlah ini: Orang yang
menabur sedikit, akan menuai sedikit juga dan orang yang menabur banyak, akan
menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan
hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi
orang yang memberi dengan sukacita.” Dalam aktivitas ini, marilah kita membuat
rencana mengenai apa yang kita akan berikan untuk Tuhan dan bagaimana kita
dapat mewujudkannya.
Bagian 1: Kenalilah lingkup bantuan pekerjaan kudus
a. Pendidikan Agama
b. Pelayanan Literatur
c. Pelayanan Internet
d. Seminar Pelatihan
e. Penginjilan
f. Administrasi Gereja
g. Pelayanan Musik
h. Kelompok Doa
i. Persekutuan Pemuda
j. Lain-lain
34
Surat-Surat Paulus
a. Lingkup pekerjaan kudus manakah yang masih kosong dan diperlukan di
gerejaku?
b. Dari lingkup-lingkup ini, manakah yang aku paling sukai untuk berpartisipasi di
dalamnya?
c. Apakah tugas khusus dalam lingkup ini yang aku akan suka lakukan?
d. Apakah aku dapat melakukan tugas ini dengan benar?
Bagian 2: Evaluasi aset kita dalam usaha membantu pekerjaan kudus
a. Waktu
b. Tenaga
c. Talenta
d. Doa
e. Kekayaan
f. Keahlian
g. Pengetahuan
h. Lain-lain
1.
2.
3.
4.
Apakah aset yang kuperlukan untuk lakukan pekerjaan kudus pada bagian 1?
Apakah aset yang telah kumiliki?
Apakah aset yang harus kuperoleh untuk melayani Tuhan di lingkup ini?
Bagaimana aku membuat rencana untuk memperoleh asset-aset ini? Tujuan
harian apakah yang aku dapat buat? Tujuan mingguan apakah yang aku dapat
buat? Tujuan tahunan apakah yang aku dapat buat?
Bagian 3: Tujuan jangka panjang
1. Bagaimana aku melihat diriku berpartisipasi dalam melakukan pekerjaan kudus
di universitas?
2. Bagaimana aku melihat diriku berpartisipasi dalam melakukan pekerjaan kudus
selama 10 tahun ke depan?
Renungan dan Doa
Membaca surat 1 Korintus seakan-akan kita melihat langsung kehidupan
gereja pada abad pertama, sementara membaca surat 2 Korintus seakan-akan
melihat langsung kehidupan hamba Tuhan pada abad pertama. Pada pelajaran ini,
kita dapat menyaksikan hati, keyakinan dan pengharapan dari seorang rasul. Sungguh
terharu menyaksikan kesungguhan Paulus dan perhatian kebapaan terhadap sebuah
gereja muda, yang sempat berseberangan pandangan dan memberontak terhadap
dirinya.Sungguh pilu melihat keputusasaannya sebagai orangtua, yang anak-anak
perempuannya telah meragukan ajaran-ajarannya, bahkan menyerah terhadap
pengaruh-pengaruh dari luar dan mencemarkan kekudusan dan kesetiaan mereka
kepada Allah. Tetapi, sungguh puas, mengetahui bahwa Allah kita yang Maha kuasa
hadir untuk menolong para hamba-Nya dalam menyelesaikan kesulitan-kesulitan di
dalam keluarga rohani dan berbalik kepada-Nya. Ketika kita menyelesaikan surat
2 Korintus, marilah kita berdoa, agar Allah membimbing kita ketika menabur benih
firman dalam pelayanan pikiran dan hati para pemuda. Marilah kita memohon hikmat
rohani kepada Allah, sehingga dapat membimbing para siswa sama seperti Paulus
membimbing gereja Korintus.
Surat-Surat Paulus
35
Halaman Kosong
36
Surat-Surat Paulus
pelajaran
Surat Galatia
4
Bacaan Kitab
Surat Galatia
Sasaran Pelajaran
1. Memotivasi murid-murid untuk sungguh-sungguh memahami apa yang
mereka percayai (sebagai contoh: Apakah maknanya bagi kita bahwa
Kristus telah mati bagi kita? Mengapa kita hidup bagi Kristus?)
2. Menolong murid-murid bersyukur atas anugerah dan kasih karunia
Allah
3. Mengajarkan murid-murid bagaimana hidup sebagai seorang Kristen
Ayat Alkitab
“…bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum
Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus…” (Gal. 2:16)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)
Galatia 1-6
Latar Belakang Alkitab
Galatia, sebuah propinsi Roma, yang terletak di sebelah utara Laut Tengah, di
sebelah selatan dari Asia Kecil. Tempat-tempat seperti Antiokhia di Pisidia, Ikonium,
Listra, Derbe dan lain sebagainya – merupakan tempat-tempat Paulus memberitakan
Injil dan mendirikan banyak gereja – semua berada di propinsi Galatia. Pada
perjalanan penginjilan Paulus yang pertama ke tempat ini, banyak orang-orang nonYahudi menerima kebenaran dan dengan ramah menyediakan kebutuhan Paulus
dan rekan-rekan sekerjanya. Bagaimanapun, setelah Paulus meninggalkan daerah
itu, orang-orang tertentu yang mendukung Yudaisme menyesatkan mereka dengan
mengatakan kepada orang-orang percaya di Galatia bahwa mereka haruslah
berpegang pada hukum Taurat orang Yahudi dan melakukan sunat. Selanjutnya,
orang-orang ini memfitnah Paulus dengan mengatakan bahwa dia adalah seorang
rasul yang palsu.
Surat-Surat Paulus
37
Untuk menyelamatkan iman dari jemaat Galatia, Paulus menulis surat untuk
memotivasi mereka, agar memahami kebenaran Injil bahwa kita dibenarkan oleh
iman. Paulus menekankan dalam suratnya bahwa karena orang-orang Kristen telah
diselamatkan oleh iman, mereka seharusnya jangan lagi diperhamba oleh hukum
Taurat.
Pemanasan
Pada saat-saat tertentu dalam hidup, adalah penting bahwa kita memahami
apa yang kita yakini. Mungkin kita dibaptis ketika masih bayi dan makin dewasa di
gereja. Mungkin kita yakin terhadap hal itu; tetapi entahlah karena apa suatu hari
menjadi lemah iman, kita semua tetap berada di dalam gereja, karena kita telah
mengalami anugerah Allah. Tetapi, bila tidak mencari pemahaman yang sempurna
atas iman kita dan dengan teguh berakar dalam kebenaran, kita akan dengan
mudahnya disesatkan ketika menghadapi suatu tantangan hidup.
Inilah yang terjadi pada gereja-gereja di Galatia. Ketika mendengar Injil
untuk pertama kalinya, mereka menerima Roh Kudus, karena percay kepada
Tuhan. Namun, mereka tidak teguh berakar dalam kepercayaan kepada Tuhan dan
mengabaikannya ketika diperhadapkan pada versi kebenaran yang diputarbalikkan.
Dalam menanggapi kegagalan untuk berpegang teguh dalam iman mereka, Paulus
menulis surat ini untuk mengingatkan mengenai kepercayaan mereka itu. Dengan
menggunakan contoh-contoh Alkitab, Paulus menjelaskan secara rinci kepada
jemaat Galatia, kebenaran-kebenaran inti dari iman Kristen. Dan lagi, Paulus pun
memberikan perintah-perintah bagaimana mereka seharusnya senantiasa hidup
sebagai seorang Kristen.
Pemahaman Alkitab
Bagian # 1 – Ikhtisar Umum
Di Galatia, Paulus mengawali suratnya dengan menyampaikan pesan
mengenai ketidakyakinan orang-orang percaya di Galatia ketika para pendukung
Yudaisme mencemarkan pikiran mereka. Lalu, Paulus mengajarkan jemaat Galatia
suatu doktrin mengenai pembenaran oleh iman dan bagaimana mereka dapat hidup
dengan iman. Surat itu dibagi sebagai berikut:
A. Pendahuluan (1:1-5)
B. Mempertahankan satu Injil yang tidak akan pernah berubah (1:6-10)
C. Bukti kerasulan Paulus (1:11-2:21)
i. Asal mula dari kerasulan Paulus (1:11-17)
ii. Hubungan Paulus dengan rasul lainnya (1:18-2:21)
38
Surat-Surat Paulus
D. Pembenaran oleh iman (3:1-4:31)
i. Tidak seorangpun dapat dibenarkan karena melakukan hukum Taurat (3:110)
ii. Hanya hidup oleh iman (3:11-29)
iii. Hukum Taurat dan Anugerah (4:1-31)
E. Hidup oleh iman (5:1-6:18)
i. Kemerdekaan di dalam Kristus (5:1-15)
ii. Kemenangan atas keinginan daging melalui Roh Kudus (5:16-26)
iii. Saling berbagi beban (6:1-10)
iv. Bermegah atas salib (6:11-18)
Bagian # 2 – Pemahaman Alkitab atas Surat Galatia
A. Mempertahankan Satu Injil yang Tidak Akan Pernah Berubah (1:6-10)
Jemaat Galatia tidak memegang teguh terhadap Injil Kristus. Setelah
menerimanya, mereka diusik oleh pendukung-pendukung Yudaisme, mereka segera
mengikuti Injil lainnya. Oleh karena itu, Paulus dengan keras memberitahukan bahwa
“sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepada kamu
suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu; terkutuklah
dia.” Sikap ingin menyenangkan Allah dalam segala keadaan dan keteguhannya
terhadap kebenaran ini ditunjukkan oleh Paulus dalam bagian ini adalah layak untuk
kita teladani (Yud. 3; Kis. 4:19-20).
B. Bukti Kerasulan Paulus (1:11-2:21)
Ketika orang-orang Yahudi, yang merupakan orang-orang yang meyakini
Yudaisme, memfitnah Paulus dengan mengatakan bahwa dia bukanlah rasul dan
tidak memiliki otoritas atas apa yang dia beritakan, jemaat Galatiapun menjadi
terperdaya. Paulus, yang selalu menghargai posisi yang telah diberikan kepadanya
ini, memberikan bantahan dalam surat ini atas fitnahan orang-orang Yahudi dengan
menggunakan fakta-fakta untuk membuktikan bahwa Injil yang dia beritakan sungguhsungguh berasal dari Allah.
a. Asal mula Kerasulan Paulus (1:11-17)
Paulus menekankan sebuah fakta bahwa kerasulannya bukanlah berasal dari
manusia, tetapi melalui kehendak Yesus Kristus dan Bapa Surgawi; dia telah
dikhususkan ketika masih berada di dalam kandungan ibunya. Sekalipun dahulu
dia taat kepada Yudaisme dan telah menganiaya orang Kristen secara luar
biasa, Allah tetap memanggilnya dan menyatakan keselamatan dari Kristus
dalam hatinya. Oleh karena itulah, Paulus dipanggil untuk memberitakan Injil
kepada orang-orang non-Yahudi (Kis. 9:1-16; 22:3-21; 2 Tes. 2:13; Ibr. 5:4; Yoh.
15:16; Bil. 16:3; Mrk. 10:40).
b. Hubungan Paulus dengan rasul lainnya (1:18-2:21)
i. Saat Paulus dipanggil Allah, dia sebelumnya pergi ke Arab, lalu kembali
ke Damsyik selama sekitar tiga tahun. Setelah itu, dia mengunjungi Petrus
di Yerusalem (tempat tinggalnya selama 15 hari) dan bertemu dengan
Yakobus. Dari urutan kejadian-kejadian ini, kita dapat ketahui bahwa bukan
hanya kerasulan Paulus tidak diberikan oleh manusia, tetapi dia pun ternyata
bukan belajar dari perkataan manusia mengenai apa yang dia katakan.
Surat-Surat Paulus
39
ii. Empat belas tahun kemudian, Paulus pergi lagi ke Yerusalem, karena
wahyu. Kali ini, dia pergi untuk membahas persoalan orang-orang nonYahudi yang percaya kepada Tuhan. Paulus bersaksi kepada tua-tua dan
rasul lainnya mengenai bagaimana dia memberitakan Injil kepada orangorang non-Yahudi. Setelah mendengar hal ini, para rasul memberikan
suatu tanda persekutuan kepada Paulus dan menerimanya sebagai salah
seorang dari antara mereka. Para rasul mengakui bahwa sama seperti
mereka merupakan para rasul untuk orang-orang Yahudi, demikian pula
Paulus merupakan rasul untuk orang-orang non-Yahudi (2:9; Kis. 15).
iii. Lalu, saat Petrus pergi ke Antiokhia, dia makan bersama dengan orangorang percaya non-Yahudi. Tetapi, saat orang-orang yang memegang
hukum sunat datang, Petrus segera mundur dan menarik diri dari orangorang non-Yahudi itu. Melihat hal ini, orang-orang Yahudi yang datang
bersama dengan Petrus ke Antiokhia pun mengikuti kemunafikannya. Pada
saat itu, Paulus melihat bahwa apa yang mereka sedang perbuat itu tidaklah
sesuai dengan kebenaran Injil. Oleh karena itu, Paulus menegur Petrus
saat itu pula, sekaligus menunjukkan kesalahan mereka. Kita melihat dari
antusiasme Paulus dalam memegang kebenaran bahwa kerasulannya tidak
kurang sedikitpun daripada rasul lainnya (2:11-14).
C. Pembenaran oleh Iman (3:1-4:31)
a. Tidak seorangpun dapat dibenarkan karena melakukan hukum Taurat (3:1-10)
Dalam 3:2, Paulus bertanya kepada jemaat Galatia: “Adakah kamu telah
menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada
pemberitaan Injil?” Jawabannya tentu jelas (adalah karena percaya kepada
pemberitaan Injil). Karena Allah menyebut Abraham orang benar, karena dia
percaya; bahwa itu terjadi sebelum hukum Taurat dan sunat ada. Demikianlah,
orang-orang yang hidup dari hukum Taurat berada di bawah kutuk. Sebab
tidak seorangpun yang hidup dari daging dapat dibenarkan melalui hukum
Taurat. Sebaliknya, tujuan dari hukum Taurat adalah membiarkan orang-orang
memahami hakikat dari dosa dan menjadi jera terhadap akibatnya; sehingga,
membawa orang-orang pada pengharapan dan mencari jalan keselamatan.
b. Hanya hidup oleh iman (3:11-29)
Dari ayat-ayat ini, Paulus menjelaskan bahwa Allah menginginkan orang-orang
non-Yahudi dibenarkan oleh iman. Lalu, Paulus mengutip Kejadian 15:6, “Lalu
percayalah Abraham kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal
itu kepadanya sebagai kebenaran.” Oleh karena itu, orang-orang yang hidup
oleh iman akan diberkati bersama-sama Abraham. Sesuai dengan janji Allah
kepada Abraham, bangsa-bangsa akan diberkati karena keturunan Abraham.
Keturunan yang dimaksud adalah Yesus Kristus. Melalui kayu salib, Kristus telah
dikutuk, karena kita dan menebus kita dari kutuk hukum Taurat. Melalui Yesus
Kristuslah berkat Abraham turun pada orang-orang non-Yahudi. Semua orang
terbelenggu oleh dosa di bawah hukum Taurat. Namun, dengan percaya kepada
Yesus Kristus, berkat yang dijanjikan akan turun kepada orang-orang percaya.
Selanjutnya, ketika meletakkan iman kita kepada Tuhan Yesus dan dibaptis di
dalam-Nya, kita telah menjadi keturunan-keturunan Abraham dan menjadi ahliahli waris surgawi yang berhak menerima kehidupan yang kekal.
40
Surat-Surat Paulus
c. Hukum Taurat dan Hukum Anugerah (4:1-31)
i. Melanjutkan ayat yang terakhir, Paulus menjelaskan bahwa untuk hidup di
bawah hukum Taurat pada zaman Perjanjian Lama adalah sama seperti
seorang ahli waris yang masih belum dewasa. Sama seperti seorang anak
kecil yang berada di bawah perlindungan para penjaga dan pembantunya;
orang-orang yang berada di bawah hukum Taurat haruslah memelihara
upacara-upacara keagamaan dan peraturan dari hukum Taurat. Ketika tidak
melakukannya, mereka akan dihukum. Selain itu, sekalipun telah membaca
kitab hukum Taurat dan berpegang pada peraturan-peraturannya, mereka
pun tidak memahami maksudnya. Sebaliknya, orang-orang percaya pada
Perjanjian Baru telah menerima status sebagai anak melalui penebusan
Tuhan Yesus. Roh Kudus masuk ke dalam hati mereka sambil berseruseru ‘Abba, Bapa,’ menjadi suatu jaminan kehidupan kekal bagi keturunan
ini. Karena alasan inilah, orang-orang percaya pada Perjanjian Baru telah
menerima berkat dan kuasa yang luar biasa dan terus bertumbuh, karena
anugerah Allah (4:1-7; 2 Kor. 3:13-14; Rm. 8:17).
ii. Lalu, Paulus mengingatkan cerita mengenai Hagar dan Sarah untuk
mengajarkan tentang anugerah. Keturunan Hagar dan keturunan Sara,
sesungguhnya, menubuatkan dua perjanjian (4:21-31). Di satu sisi, Hagar
adalah seorang hamba perempuan dan putranya, Ismael, lahir karena
kehendak dan keinginan manusia. Anaknya berasal dari daging dan diusir,
agar tidak memperoleh bagian dalam milik pusaka (Kej. 16:3-4,15; 21:9-12;
25:5). Orang-orang percaya dari gereja sejati adalah keturunan-keturunan
rohani dari Abraham. Sama seperti Ishak, orang-orang percaya lahir melalui
Roh Kudus yang dijanjikan dan memilikinya sebagai jaminan untuk menerima
warisan surgawi (Ef. 1:14).
D. Hidup oleh iman (5:1-6:18)
a. Kemerdekaan dalam Kristus (5:1-15)
“Karena Kristus telah memberikan kemerdekaan, kita haruslah berdiri teguh
dalam anugerahNya. Kita tidak perlu lagi menjadi hamba dari hukum Taurat
dan dibelenggu oleh kuk perhambaan (5:1). Oleh karena itu, mempertahankan
sunat dan berusaha untuk dibenarkan dengan memegang hukum Taurat adalah
tindakan menyia-nyiakan anugerah Allah dan kita terlepas dari Kristus. Bagi
orang-orang yang melakukan hal seperti itu, keselamatan dari kayu salib tidaklah
memiliki makna lagi baginya. Paulus menulis: “Sebab bagi orang-orang yang ada
di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu
arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” Tentu saja, sekalipun dipanggil untuk
merdeka, kita janganlah mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan
untuk memuaskan keinginan kita dan membiarkan dosa berkuasa atas kita lagi.
b. Menang atas keinginan daging melalui Roh Kudus (5:16-26)
Dalam ayat ini, Paulus menunjukkan bahwa keinginan daging berlawanan
dengan keinginan Roh Kudus. Adalah penting bahwa kita tunduk pada pimpinan
Roh Kudus, karena perbuatan-perbuatan daging telah nyata – perzinahan,
percabulan, kecemaran dan lain sebagainya – berasal dari Iblis. Orang-orang
yang melakukan hal-hal seperti itu tidaklah dapat masuk ke dalam Kerajaan
Allah. Selain itu, karena telah menerima kehidupan melalui Roh Kudus, kita pun
Surat-Surat Paulus
41
harus berjalan dalam Roh Kudus dan menghasilkan buah Roh – kasih, sukacita,
damai sejahtera dan lain sebagainya. Dengan berbuat demikian, kita akan
dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, apabila menghasilkan buah roh yang
melimpah.
c. Saling berbagi beban (6:1-10)
Dalam hal berbagi beban, Paulus melanjutkan dengan mengatakan bahwa bila
seseorang telah dikalahkan oleh dosa, kita haruslah dengan hati yang lemah
lembut membawa orang itu kembali. Sambil berbuat demikian, kita perlu berjagajaga, karena mungkin akan dicobai. Namun, Paulus menunjukkan bahwa kita
perlu secara aktif menunjukkan kasih dan permohonan atas kelemahan dan
kekurangan dari saudara-saudari seiman kita. Kita perlu saling mendukung dan
berbagi beban. Selanjutnya, kita perlu berusaha semaksimal mungkin dalam
menyediakan kebutuhan para hamba Tuhan dan pekerja kudus lainnya di gereja.
Ini agar mereka tidak terbeban oleh perkara-perkara duniawi dan akan dapat
berfokus untuk melayani Tuhan. Paulus menganjurkan, agar kita tidak menjadi
lelah dalam melakukan semua perbuatan baik ini, “karena pada waktunya kita
akan menuai jika kita tidak menjadi lemah.”
d. Bermegah pada salib (6:11-18)
Dalam bagian terakhirnya, Paulus menunjukkan motif-motif yang bengkok dan
kemunafikan dari guru-guru palsu yang telah menyesatkan jemaat Galatia.
Nabi-nabi palsu ini ingin terlihat benar dan bermegah dalam kedagingan
mereka. Mereka memotivasi jemaat untuk disunat, padahal mereka sendiri
tidak memegang hukum Taurat. Bagaimanapun, kita melihat bahwa Paulus
adalah berbeda. Dia melakukan apa yang benar di hadapan Allah dan hanya
bermegah pada salib Kristus. Dia rela mengabaikan semua yang ada di dunia
demi keselamatan dari salib.
E. Penutup
Dalam Galatia 6:15, Paulus mengakhiri suratnya dengan menulis, “Sebab
bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah
yang ada artinya.” Dalam seluruh suratnya, Paulus menekankan bahwa menjalankan
hukum Taurat dan peraturan-peraturannya tidaklah penting. Yang penting adalah
apakah kita memperbarui kehidupan kita, seperti yang dicatatkan dalam Titus 3:5,
“Pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang
telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan
oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.”
Menguji Pemahaman
1. Mengapa Paulus menulis surat ini kepada gereja-gereja di propinsi Galatia?
2. Apakah tujuan dari pada hukum Taurat? (Bila keselamatan hanya datang melalui
Kristus, lalu mengapa Allah memberikan hukum Taurat kepada umat Israel?
42
Surat-Surat Paulus
3. Mengapa kita harus ‘hidup oleh Roh’ dan tidak menuruti keinginan daging kita?
4. Tuliskan ‘perbuatan-perbuatan daging dan ‘buah Roh Kudus.’
5. Tuliskan ayat-ayat dari surat Galatia, yang kalian sukai atau yang penting
menurut kalian dan jelaskan alasannya.
Penerapan Kehidupan
Bagian A – Memetik Buah
Galatia 5:22-23 mencatatkan buah Roh. Sebagai orang Kristen, kita
senantiasa berusaha untuk menghasilkan buah Roh. Seringkali, kita melihat buah
Roh yang ada pada kehidupan saudara-saudari seiman dan kita merasa rindu
pula untuk memilikinya. Selama Youth Theological Training Course (setara dengan
Kursus Alkitab Lanjutan di Indonesia) di suatu musim panas, sembilan orang pemuda
bertekad untuk saling memetik buah roh dari kehidupan mereka. Buah ini adalah
sesuatu yang dimiliki oleh mereka masing-masing atau buah yang seharusnya
mereka kejar untuk hasilkan. Setiap pemuda memiliki satu buah dan bertekad bahwa
pada tahun depan, mereka akan berkumpul kembali untuk melihat apa yang telah
diperbuat dengan buah mereka itu dan akan memilih buah lainnya untuk dikejar.
Kalian pun dapat melakukan hal yang sama! Dalam daftar berikut, tuliskan
nama seseorang yang ada di kelas, yang paling menunjukkan pengejaran dari buah
(Roh) tertentu dalam kehidupannya, selain yang telah ada. Sebagai contoh, mungkin
kalian meletakkan nama Joe dengan ‘buah damai sejahtera’ di samping namanya,
karena dia jarang menyebabkan terjadinya perpecahan dalam kelompok atau di
‘buah sukacita’ di samping namanya, karena dia tampak selalu ceria.
Ketika kalian telah selesai menuliskan nama-nama dalam daftar itu, bagikan
kepada yang lainnya, daftar yang kalian tuliskan berikut buah Roh di samping tiaptiap nama yang ada. Ketika setiap orang telah terlibat dalam aktivitas ini, tanyakan
kepada setiap orang, buah manakah yang menurut dia tidak ada dalam hidupnya
dan apa sebabnya. Kelilingi kelompok itu sampai setiap orang memiliki kesempatan
untuk mengatakannya.
Kasih Sukacita
Damai sejahtera
Kesabaran
Keramahan
Kebaikan
Kesetiaan
Kelemahlembutan Pengendalian diri
_____________________
_____________________
_____________________
_____________________
_____________________
_____________________
_____________________
_____________________
_____________________
Surat-Surat Paulus
43
Bagian B – Ucapkanlah Syukur!
Kita telah belajar melalui pelajaran ini untuk bersikap menghargai dan bersyukur
atas anugerah Allah. Ini adalah lirik lagu ‘Give Thanks.’
Give thanks with a grateful heart
Give thanks unto the Holy One
Give thanks because He’s given
Jesus Christ, His Son.
And now let the weak say, “I am strong”
Let the poor say, “I am rich
Because of what the Lord
Has done for us.”
1. Kapankah kita merasa sangat bersyukur kepada Tuhan? Mengapa?
2. Bagaimana kita belajar untuk bersyukur kepada Tuhan setiap waktu?
Memang tidak mudah untuk bersyukur atau bersukcaita itu, terutama ketika kita
mengalami pencobaan, tetapi seperti yang disarankan oleh pujian tadi, kita perlu untuk
mengucap syukur kepada Tuhan dengan sepenuh hati, karena Dia telah memberikan
Yesus Kristus kepada kita. Nyanyikan pujian ini bersama-sama dan mintalah semua
siswa untuk memberikan pendapat mereka mengenai pujian ini.
Renungan dan Doa
Nyanyikan pujian dalam Kidung Rohani #.356: “Imanlah Kemenangan.”
Pujian ini memberitahu bahwa selama beriman kepada Kristus, kita akan
menang atas dunia ini. Itu berarti bahwa bila bersandar dan berjalan menurut
pimpinan Roh Kudus, kita akan dapat mengalahkan keinginan daging, mengejar
hidup beriman dan kekudusan. Marilah senantiasa berjuang untuk iman yang berakar
dalam pada Kristus, sehingga kita boleh memastikan kemenangan atas hidup yang
akan menghasikan buah untuk kemuliaan-Nya. Marilah kita senantiasa mengucap
syukur untuk nama-Nya yang indah!
44
Surat-Surat Paulus
pelajaran
Surat Efesus
5
Bacaan Kitab
Surat Efesus
Sasaran Pelajaran
1. Memeriksa kembali iman kita dan berdirilah bersama Kristus
2. Memperbarui kembali kehidupan rohani, sehingga kita dapat hidup untuk
memuliakan Allah
3. Berjalan dalam kesatuan dan ketaatan terhadap kehendak-Nya yang
baik.
Ayat Alkitab
“Satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu
pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman,
satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua
dan oleh semua dan di dalam semua.” (Ef. 4:4-6)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)
Efesus 1-6
Latar Belakang Alkitab
Surat Efesus ditulis sekitar tahun 61 M saat Paulus menjadi tahanan di Roma
(Ef. 3:1; 4:1; 6:20). Surat ini terutama ditulis untuk orang-orang non-Yahudi yang
bertobat, yang menjadi penopang dari gereja Efesus, Paulus mencari penjelasan
lebih lanjut mengenai tanda-tanda keselamatan yang diberikan oleh Yesus Kristus,
Tuhan kita dan memancarkan terang rahasia Injil.
Sekalipun Paulus tidak dapat mengunjungi dan menggembalakan gereja di
Efesus, tetapi dia memberi perintah, mengajar dan memotivasi orang-orang percaya
melalui sebuah surat yang disampaikan oleh Tikhikus – surat kepada jemaat Efesus.
Seumur hidupnya, Paulus dapat sepenuhnya menggunakan waktu-waktunya di
penjara untuk terus menggembalakan gereja. Surat-surat untuk jemaat Efesus, Filipi
dan Kolose dan kepada Filemon ditulis selama Paulus dipenjarakan di Roma. Secara
berurutan, surat-surat ini dikelompokkan dan dikenal sebagai Surat-surat Penjara.
Surat-Surat Paulus
45
Setelah dibebaskan, Paulus pergi dan menulis surat kepada Timotius dan Titus
sebelum dia ditangkap kembali. Saat dipenjara kedua kali inilah, Paulus menghasilkan
surat lain untuk Timotius dan akhirnya, sampai pada kemartirannya di Roma pada
waktu pemerintahan Kaisar Nero.
Surat Efesus pun disebut kitab Yosua Perjanjian Baru. Sekalipun ada banyak
persamaan dalam ajaran-ajaran antara kedua kitab ini, tetapi persamaan utamanya
terletak pada tema utamanya – menerima warisan yang telah dijanjikan. Kitab
Yosua mencatatkan bagaimana umat pilihan memperoleh Tanah Kanaan yang telah
dijanjikan, sementara surat Efesus menggambarkan bagaimana seorang percaya
menerima warisan surgawi.
Pemanasan
Seringkali, ketika menjalani kehidupan yang nyaman dan santai, kita
cenderung untuk membiarkan kepuasan jasmani itu menguasai diri kita. Ketika
membiarkan kerohanian kita melemah, bahkan kenangan-kenangan yang berharga
– mengenai bagaimana kita mengenal Alalh dan segala berkat dan anugerah yang
Dia telah berikan – menjadi kenangan yang jauh.
Sementara, semua orang menikmati perayaan-perayaan pada saat-saat
berkelimpahan, sedikit orang yang menggunakan waktu untuk menelusuri kembali
asal mula dari semua berkat itu. Kita mengetahui bahwa segala hal yang indah di
dalam hidup kita telah diberikan Allah kepada kita. Jadi, ketika bersenang-senang
atas berkat-berkat Allah, kita haruslah bertanya kepada diri sendiri: “Apakah kita
menjalankan iman dan hidup dengan menunjukkan penghargaan yang tinggi atas
apa yang Allah telah berikan kepada kita? Allah telah memberikan kita kesempatan
untuk menjadi karya besar-Nya, sehingga dapat memuliakan-Nya dan berguna bagi
orang-orang di sekitar kita. Sungguh malang, bila kita menyia-nyiakan kesempatan itu.
Apakah kita telah lupa bahwa kita adalah “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani,
bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu (kita) memberitakan
perbuatan-perbuatan yang besari dari Dia, yang telah memanggil kamu (kita) keluar
dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib?” (1 Pet. 2:9). Apakah kita mengetahui
nilai diri kita yang sesungguhnya dan berdiri bersama dengan Kristus?
Pemahaman Alkitab
Bagian # 1 – Ikhtisar Umum
Efesus pernah menjadi pusat Kerajaan Romawi dalam bidang kebudayaan,
politik dan perdagangan. Karena terletak di pantai barat Asia Kecil (sekarang Turki),
Efesus memberikan kemudahan akses ke Sungai Cayster dan Laut Tengah. Iklimnya
yang sejuk dan lembah-lembah yang subur menyebabkan daerah itu memiliki reputasi
kemewahan dan kesenangan. Bagaimanapun, kota Efesus dikenal terutama sebagai
pusat keagamaan.
46
Surat-Surat Paulus
Sekalipun terletak di Asia dan sangat dipengaruhi oleh bangsa Yunani dan
Romawi, tetapi Efesus merupakan kota perlindungan dari salah satu tujuh Keajaiban
Dunia zaman kuno – Kuil Artemis, kuil untuk dewa bangsa Yunani, Artemis (bangsa
Romawi menyebutnya Diana), yang dibangun dengan menggunakan 127 tiang
raksasa. Dengan tinggi hampir 25 meter dan pada masing-masing tiang dibuatkan
patung raja-raja yang berdiri di atasnya. Sekalipun bangunan raksasa ini telah
dihancurkan sebelum kunjungan Paulus, tetapi kelompok orang yang setia kepada
Artemis masih ada. Paulus melakukan kunjungan singkat di sini saat dia kembali
dari Antiokhia dari perjalanan penginjilannya yang kedua (Kis. 18:19-22). Selama
perjalanan penginjilannya yang ketiga, Paulus tinggal selama tiga tahun di Efesus
(Kis. 20:31).
Selama kunjungan Paulus yang pertama, kerusuhan besar terjadi saat
seorang pandai perak yang bernama Demetrius menyebabkan keributan yang
menimbulkan kerugian dalam usaha (Kis. 19:23-41), karena orang-orang yang telah
kembali kepada Kristus tidak lagi menyembah dewi Artemis orang Efesus. Di kota
inilah sejumlah besar tukang sihir bertobat (Kis. 19:17-20) dan banyak mujizat yang
terjadi (Kis. 19:11-12). Di sinilah, dua belas pengikut Yohanes Pembaptis dibaptis.
Setelah itu, Paulus menumpangkan tangan ke atas mereka dan mereka menerima
Roh Kudus.
Tidak seperti surat Roma dan 1 dan 2 Korintus, surat kepada jemaat Efesuspun
tidak mengangkat persoalan serius di dalam gereja. Tetapi, Paulus memperingatkan
para pemimpin gereja untuk mewaspadai penyusupan ajaran-ajaran palsu. Pada
akhir perjalanan penginjilannya yang ketiga (Kis. 20:13-35), Paulus bertemu dengan
para tua-tua Efesus di kota pesisir, Miletus. Paulus memberitahu mereka untuk
mewaspadai ‘serigala-serigala dari luar’ dan kejatuhan jemaat dari dalam; semua
faktor ini akan berusaha untuk menghalau jemaat dengan mengajarkan hal-hal yang
jahat. Beberapa perkiraan bahwa ini pasti merupakan salah satu alasan utama yang
memotivasi Paulus untuk menulis surat ini.
Dalam surat Wahyu, jemaat Efesus dipuji karena tekadnya dalam mencegah
guru-guru dan ajaran-ajaran palsu merayap masuk ke dalam gereja (Why. 2:2).
Bagaimanapun, satu hal yang menentang mereka adalah bahwa mereka gagal dalam
mempertahankan kasih yang mula-mula kepada Yesus Kristus (Why. 2:4). Dalam 1
Timotius 1:5, Paulus memotivasi Timotius (yang kemudian berada di Efesus) bahwa
“tujuan nasihat itu adalah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang
murni dan dari iman yang tulus ikhlas.” Tema dan pesan kasih haruslah ditekankan
berkali-kali pada orang-orang percaya di Efesus. Salah satu catatan tambahan yang
menarik adalah bahwa dari 107 kali Paulus menggunakan kata ‘kasih’ dalam seluruh
suratnya, 19 di antaranya terdapat dalam surat kepada jemaat Efesus ini. Surat ini
diawali dengan kasih (1:5-6) dan diakhiri dengan kasih (6:23-24).
Isi dari surat Efesus sama dengan isi dari surat Kolose, yang menyebutkan
bahwa surat-surat itu ditulis selama masa penjara yang sama di Roma. Keduanya
menekankan pada pembenaran oleh iman (2:8). Setengah pertama dari surat Efesus
(pasal 1-3) ditujukan pada doktrin-doktrin utama dari iman Kristen dan bagaimana
membawa kebenaran-kebenaran ini dan menerapkannya dalam kehidupan Kristen.
Tidak peduli betapa berbedanya latar belakang kita, kita semua perlulah bergabung
bersama-sama di dalam Kristus. Setengah kedua dari surat itu diikuti dengan
pembahasan mengenai peperangan rohani yang dapat dialami oleh tiap-tiap orang
ketika menjalani hidup serupa dengan Kristus.
Surat-Surat Paulus
47
Bagian # 2 – Studi Alkitab tentang Efesus
A. Salam dan Pemberian Hormat (1:1-3)
Paulus memuji orang-orang kudus di Efesus, karena menjadi setia kepada
Yesus Kristus. Dia pun menyebutkan bahwa Tuhan Yesus telah memberkati mereka
dengan berkat-berkat surgawi di dalam Kristus. Dengan puji-pujian Paulus kepada
jemaat di sana dan ucapan syukur kepada Allah, kita dapat melihat bahwa dia
sungguh-sungguh merindukan jemaat Efesus.
B. Anugerah dalam Kristus
a. Berkat-berkat Kekal
i. Menjadi anak-anak Allah (1:4-10)
Sesuai dengan kehendak-Nya yang baik, Allah memilih kita sebelum
penciptaan dunia untuk menjadi kudus dan tidak bercela di hadirat-Nya.
Dalam kasih, Dia menentukan kita untuk dijadikan sebagai anak-anak-Nya
melalui Yesus Kristus. Oleh karena itu, merupakan hak dan kehendak mutlak
dari Pengangkat (Allah) dan hak istimewa bagi kita, orang yang diangkat.
Berkat-berkat seperti ini sungguh tidak ternilai harganya!
ii. Warisan surgawi (1:11-14)
Selain menjadi anak-anak Allah, kita haruslah percaya pada kebenaran dan
ditandai oleh meterai Roh Kudus, yang merupakan jaminan warisan surgawi
kita dan kemuliaan pada akhirnya.
b. Hikmat rohani (1:15-23)
Dalam ayat ini, Paulus menunjukkan doa-doanya bagi jemaat Efesus. Dia
memohon kepada Allah, Bapa kita yang mulia, agar dapat memberikan jemaat di
Efesus Roh hikmat dan wahyu, sehingga dapat mengenal-Nya dengan benar dan
dengan jelas mengenal kuasa dan otoritas Allah yang tidak tertandingi sebagai
Penguasa utama gereja. Demikian pula, kita haruslah berdoa memohon hikmat
rohani untuk memperoleh pemahaman dan pengenalan akan Allah yang lebih
baik dan memperbaiki kembali kasih dan perjanjian kita terhadap Yesus Kristus
setiap harinya. Yeremia 9:24 berkata, “Tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah
bermegah karena yang berikut: Bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa
Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi;
sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”
c. Anugerah Keselamatan
i. Mati dalam dosa (2:1-3)
Sebelum diselamatkan, kita hidup di bawah kuasa Iblis – kita mengikuti
keinginan daging dan pikiran kita, memuaskan sifat-sifat kita yang selalu
berdosa. Di hadapan Allah, kita dianggap sebagai anak-anak murka, yang
mati dalam pelanggaran dan tidak memenuhi persyaratan atas kebaikanNya.
ii. Setelah menerima anugerah (2:4-22)
Bagaimanapun, karena kasih-Nya yang besar dan tidak terukur, Allah
melepaskan kita dari kematian, membiarkan tahu bahwa
48
Surat-Surat Paulus
kita dapat diselamatkan melalui iman di dalam-Nya – bukan karena usaha
kita sendiri. Melalui darah Yesus yang berharga dan Roh Kuduslah, kita
yang dahulu adalah orang-orang non-Yahudi dan secara rohani terlepas
dari Kristus, sekarang dapat menjadi anggota-anggota keluarga Allah. Kita
bergabung dan dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan
Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Kita semua terbiasa dengan ungkapan
“apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai” dan “tidak ada makan siang
yang gratis.” Dalam hidup ini, kita belajar bahwa apa yang kita peroleh
berasal dari apa yang kita taburkan ke dalamnya. Bila menginginkan sesuatu,
selalu ada harga yang harus dibayar. Syukurlah, Allah tidak menetapkan
standar ini kepada kita, karena Dia berkata, “Sebab rancangan-Ku bukanlah
rancanganmu dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN”
(Yes. 55:8). Allah tidak menuntut terlalu banyak dari pada kita. Selama kita
mau percaya, keselamatan-Nya akan datang kepada kita.
Karena iman, Abraham taat ketika ia dipanggil untuk pergi ke suatu tempat
yang kelak akan ia akan terima sebagai milik pusakanya (Ibr. 11:8). Karena iman,
Abraham mempersembahkan putranya, Ishak (Ibr. 11:17). Karena iman, Musa
memilih mengabaikan kesenangan dosa dan sebaliknya, menderita demi Kristus (Ibr.
11:24-29). Sebaliknya, apakah yang kita telah perbuat dengan iman? Memahami
bahwa iman merupakan pengharapan yang belum menjadi kenyataan dan tanpa
iman tidak mungkin berkenan kepada Allah.
d. Berbagi rahasia dan kasih Kristus
i. Rahasia Kristus (3:1-13)
Ayat ini mengungkap rahasia yang sebelumnya tidak diketahui. Rahasianya
adalah bahwa melalui Injil, orang-orang non-Yahudi menjadi ahli waris
bersama dengan orang Israel, menjadi anggota-anggota dari satu tubuh dan
mengambil bagian yang sama dalam janji Yesus Kristus, Tuhan kita. Paulus
menjadi seorang hamba dari Injil ini dan hamba bagi orang-orang nonYahudi. Melalui gereja, berbagai ragam hikmat Allah akan diperkenalkan,
sehingga membuka pintu keselamatan bagi orang-orang non-Yahudi.
ii. Kasih Kristus (3:14-21)
Kasih Allah tidaklah terukur. Allah dapat melakukannya dengan tidak dapat
terukur, lebih dari semua yang kita pohonkan atau bayangkan. Paulus pun
berdoa bagi orang-orang percaya, agar diteguhkan di dalam Tuhan, agar
tidak kehilangan keberanian hanya karena Paulus berada dalam penjara.
Dia menasihati orang-orang percaya, agar selalu berakar dan berdasar
dalam kasih, untuk memuliakan Kristus.
Tidaklah dapat disangkal bahwa berbagai tantangan akan kita hadapi dalam
memberitakan Injil kepada orang banyak pada hari dan zaman ini. Kemakmuran
masyarakat dan prestasi pribadi memperkuat keyakinan manusia pada
kemampuannya sendiri. Perlahan-lahan hadirat Allah menjadi tidak relevan lagi.
Bagaimananpun, kita tidak dapat menggunakan semua kecenderungan ini sebagai
alasan untuk tidak memberitakan Injil. Selain itu, adalah amanat kita sebagai orang
Kristen untuk memberitakan Injil setiap saat. “Karena jika aku memberitakan Injil,
aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan
bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.
Surat-Surat Paulus
49
Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak
menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri,
pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku”
(1 Kor. 9:16-17). Pada akhir zaman, kasih Kristuslah yang akan memotivasi dan
mewajibkan kita untuk melakukan pekerjaan-Nya (2 Kor. 5:14-15).
C. Perbuatan yang Saleh
a. Hidup Bersama (4:1-16)
Ayat ini meletakkan petunjuk bagi kehidupan orang Kristen secara bersamasama, di dalam gereja. Gereja adalah tubuh Kristus dan kita orang-orang
percaya, adalah para jemaatNya. Kita harus berjuang untuk saling bersatu
dan berpegangan tangan, bertumbuh dan membangun tubuh di dalam kasih,
sehingga setiap jemaat melakukan pekerjaannya. Ini ditekankan pada ayat 2-3
“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah
kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan
Roh oleh ikatan damai sejahtera” karena kita semua adalah milik tubuh yang
sama yang berbagi satu Roh, satu iman dan satu baptisan. Setiap orang percaya
harus menggunakan karunia yang telah diberikan Allah untuk saling membantu
bertumbuh di dalam iman, hikmat, karakter dan kasih.
b. Kehidupan Pribadi
i. Jangan meniru perbuatan orang-orang non-Yahudi (4:17-32).
Kita perlu menanggalkan diri kita yang lama, yang penuh dengan kejahatan
dan keinginan yang menipu. Kita tidak lagi dapat memberikan diri kepada
kepuasan nafsu, dusta, pencurian dan perkataan yang tidak sehat. Ini
berarti membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian
dan fitnah dan segala bentuk kejahatan. Lalu, menjadi ciptaan baru di dalam
perilaku dan pikiran, karena kita diciptakan untuk menjadi serupa dengan
Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sejati. Pula, menjadi “ramah
seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni,
sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (kita).” Kata
Yunani dari ‘baru’ bukanlah merujuk pada sesuatu yang merupakan hal yang
paling baru atau paling akhir. Sebaliknya, kata itu merujuk pada sesuatu
yang memiliki sifat atau hakikat yang berbeda. Oleh karena itu, sifat kita
yang baru adalah manusia baru yang diciptakan di dalam Kristus Yesus.
Dengan bersatu, kita akan menjadi kuat. Kita pun mengetahui
pepatah ini: ‘Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.’ Pengkhotbah 4:12
memberitahu kita bahwa, “Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua
orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.” Gereja
adalah tubuh rohani, yang memiliki kekuatan terbesar ketika semua pihak
melayani sebagai satu kesatuan atau satu tubuh yang rohani. Menang atau
kalah tidaklah dapat segera dipastikan dalam peperangan rohani yang lama
dan berlarut-larut. Oleh karena itu, kita haruslah saling memperhatikan dan
mendukung dengan membantu seorang kepada yang lainnya tanpa henti.
Seperti Yoab, komandan pasukan Daud mengatakan kepada saudaranya,
Abisai saat berperang dengan bangsa Amon dan Aram “Jika orang Aram itu
lebih kuat daripadaku, maka haruslah engkau menolong aku, tetapi jika bani
Amon itu lebih kuat daripadamu, maka aku akan datang menolong engkau”
(2 Sam. 10:11). Bila ada perbedaan pendapat, janganlah berubah menjadi
50
Surat-Surat Paulus
musuh dan biarkan hal itu menjadi sebuah pendapat saja. Sebaliknya,
ketulusan dan kemurahan hati akan membawa setiap orang dalam damai
sejahtera. Jangan biarkan Iblis memanfaatkannya untuk mengubah kita
menjadi saling bermusuhan.
Surat ini merinci kepercayaan-kepercayaan Kristen dalam
kehidupan nyata. Jelaslah bahwa Alkitab bukan hanya kitab sejarah orang
Yahudi atau hanya sebuah kitab moral. Alktiab mengandung banyak
penerapan pengajaran seputar kehidupan sehari-hari. Dengan tinggal di
dalam aturan-aturan ini akan menjamin ketersediaan berkat yang tidak ada
habis-habisnya bagi kita. Dari kata penutup suratnya, Paulus mengakui
bahwa kehidupan Kristen bukanlah berakhir pada catatan moralitas saja,
tetapi catatan peperangan rohani pula. Namun, kehidupan moral yang lurus
meletakkan dasar yang penting bagi kehidupan rohani yang berkemenangan.
Hanya ketika menjalani kehidupan yang saleh di rumah, di sekolah, dengan
tetangga, di gereja dan di manapun serta bersandar pada kehendak Allahlah
yang akan membuat kita dapat berdiri dengan teguh.
ii. Meneladani Kristus (5:1-21)
Ingatlah bahwa Kristus mengasihi kita dan telah menyerahkan diri-Nya
bagi kita. Bagaimana cara kita mengasihi-Nya? Dengan tidak melakukan
perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi
sebaliknya hasilkanlah buah terang – kebaikan, keadilan dan kebenaran. Kita
perlu menggunakan waktu terbaik kita untuk dipenuhi dengan Roh Kudus
dan rendahkanlah dirmu seorang kepada yang lain di dalam takut akan
Kristus. Dengan berbuat demikian, kita menjadi berbeda dan memisahkan
diri menjadi kudus terhadap orang-orang yang tidak percaya. Kita janganlah
pernah meragukan kebaikan Allah. Hanya ketika tidak ragu, kepercayaan
dan iman kita kepada-Nya akan bertumbuh, karena menyadari bahwa Allah
sungguh-sungguh penuh dengan kebaikan dan layak menerima semua
penyembahan kita.
c. Kehidupan Keluarga
i. Antara suami dan Istri (5:22-33)
Suami-suami hendaklah mengasihi istri mereka sama seperti tubuh mereka
sendiri, sebagaimana Kristus mengasihi jemaat dan menyerahkan diri-Nya.
Istri-istri, tunduklah kepada suami-suami mereka seperti kepada Tuhan.
ii. Anak-anak dan orangtua (6:1-4)
Anak-anak hendakah mentaati orangtua mereka di dalam Tuhan, karena
inilah yang benar. Orangtua janganlah menyakiti hati anak-anak mereka;
sebaliknya, mereka hendaknya membesarkan anak-anak dalam didikan
dan perintah Tuhan. Keluarga yang saleh merupakan faktor penting dalam
pertumbuhan dan kesejahteraan gereja.
iii. Tuan-tuan dan hamba-hamba (6:5-9)
Hamba-hamba hendaklah mentaati tuan mereka yang di dunia dengan rasa
hormat dan takut dan dengan tulus hati, sama seperti mentaati Kristus.
Mereka haruslah melayani dengan sepenuh hati, seolah-olah sedang
melayani Tuhan dan bukan melayani manusia. Tuan-tuan hendaklah
memperlakukan hamba-hamba mereka dengan cara yang sama.
Surat-Surat Paulus
51
Tuan-tuan tidak boleh mengancam hamba-hamba mereka, karena baik tuan
maupun hamba sama-sama memiliki Tuan yang sama di surga dan Dia tidak
memandang muka kepada siapapun. Baik hamba maupun tuan hendaklah
sama-sama mengendalikan diri dan saling menunjukkan penghormatan
yang pantas.
Penekanan utama Paulus dalam ayat ini adalah menunjukkan kepada para
pembaca akan kewajiban mereka, yaitu orang-orang yang memiliki wewenang atas
hal itu. Suami-suami haruslah meneladani Kristus. Orangtua seharusnya jangan
memunculkan amarah dari anak-anak mereka. Tuan-tuan jangan mengancam
hamba-hamba mereka. Yang ingin Paulus sampaikan kepada kita adalah bahwa
melayani lebih penting daripada berkausa atas orang lain. Melayani adalah sebuah
hak istimewa dan kita dapat belajar untuk memiliki sikap melayani yang sehat di
dalam Tuhan Yesus. Paulus menuliskan dalam Filipi 2:5-8, “Hendaklah kamu dalam
hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus
Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan
Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan
diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan
manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan
taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Yesus tidak menggunakan hak istimewa dan otoritas-Nya sebagai Allah
untuk menjadi raja dan tuan atas manusia; sebaliknya Dia merendahkan dan
mengosongkan diri-Nya menjadi seorang hamba bagi kita semua. Kita membaca
pula dalam Yohanes 13:12-16 mengenai Yesus membasuh kaki para murid-Nya.
Ini merupakan sebuah tugas yang seharusnya disediakan dan dikerjakan untuk
seorang hamba yang kedudukannya paling rendah di dalam rumah. Sekalipun
Yesus, sebagai Anak Allah, dapat menuntut ketaatan dari pada kita semua, Dia
melakukannya terlebih dahulu untuk menunjukkan teladan bagi kita. Oleh karena
itu, kita semua haruslah berusaha lebih keras untuk taat dalam perjalanan hidup
kita bersama-Nya. Seringkali, kita cenderung membiarkan emosi dan perasaan
mengendalikan pikiran dan mengambil keputusan bagi diri sendiri. Ini adalah resep
yang berbahaya dan membawa bencana bagi kehidupan Kristen! Sebaliknya, kita
haruslah memiliki kepenuhan Roh dan memperbaharui pikiran dan kesetiaan yang
akan membantu kita mengambil keputusan-keputusan yang baik pada tahap-tahap
kacau dalam kehidupan kita. Sebagai contoh, Daniel menetapkan hatinya bahwa
dia tidak akan mencemarkan dirinya dengan hidangan raja yang lezat atau dengan
anggur yang dia minum (Dan. 1:8).
D. Bagian Akhir
a. Peperangan Rohani
i. Musuh (6:10-12)
“Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan
pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulupenghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”
52
Surat-Surat Paulus
ii. Perlengkapan Rohani (6:13-18)
“Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.
Kenakanlah seluruth perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan
melawan tipu muslihat Iblis. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan
kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk
memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah
perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua
panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh,
yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu
di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan
yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.”
Paulus memotivasi jemaat di Efesus untuk memperlengkapi diri mereka dengan
perlengkapan rohani Allah, sehingga mereka dapat bertahan terhadap serangan Iblis.
Pada saat yang sama, Paulus pun meminta jemaat untuk mendoakan dirinya, “supaya
kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan
keberanian aku memberitakan rahasia Injil” (6:19). Demikian pula, sebagai orang-orang
percaya, kita seharusnya tidak mengabaikan untuk mendukung para pemberita Injil yang
selalu berada dalam peperangan rohani di garis depan dengan mendoakan mereka.
b. Penghiburan dan ucapan syukur (6:21-24)
Paulus meminta Tikhikus untuk menyampaikan apa yang sedang dilakukannya
dan memberikan mereka berkat-berkatnya, sehingga orang-orang percaya dapat
terhibur.
c. Penutup
Pusat dari tema surat Efesus adalah gereja sebagai tubuh Kristus dan bagaimana
menerapkan ajaran-ajaran gereja di dalam kehidupan kita. Hanya ada satu tubuh.
Gereja Tuhan seharusnya tidak terbagi-bagi, sama seperti anggota tubuh kita tidak
terbagi-bagi pula. Pertumbuhan rohani yang seimbang dari tiap-tiap anggota jemaat
akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dari sebuah gereja. Kita
haruslah dengan giat mengambil inti dari prinsip-prinsip yang berkaitan dengan
kehidupan gereja, kehidupan keluarga dan kehidupan pribadi. Gereja melambangkan
mempelai perempuan dari Yesus Kristus. Oleh karena itu, seharusnya gereja
dapat berdandan dengan baik setiap saat dan siap untuk menyambut kedatangan
mempelai pria. Kiranya kita secara teratur mengintrospesi diri, sehingga menjadi
dewasa untuk membantu gereja dengan talenta-talenta tertentu yang kita miliki dan
dipersiapkan untuk menyaksikan kemuliaan Yesus Kristus.
Surat-Surat Paulus
53
Menguji Pemahaman
1. Bagaimana Paulus menggunakan persamaan suami dan istri untuk menjelaskan
hubungan antara Kristus dan jemaat?
2. Apakah seluruh perlengkapan senjata Allah?
3. Menurut kalian, apakah maksud dari ‘menanggalkan manusia lama’ dalam
Efesus 4:22?
4. Jelaskan perbedaan antara hikmat dan kecerdasan. Berikan contoh sebagai
sebuah hal yang berbeda dan perbandingannya.
Penerapan Kehidupan
Perlengkapan Senjata Allah
Sebagai orang Kristen, kita perlu untuk memakai seluruh perlengkapan
senjata Allah, agar dapat menghadapi pertempuran dengan baik. Berikut adalah
kesaksian-kesaksian yang berkenaan dengan masing-masing perlengkapan senjata
Allah.
Berikatpinggangkan kebenaran (Ef. 6:14)
Seorang saudari yang baru percaya diajarkan tentang Sepuluh Perintah Allah.
Sebagai hasilnya, dia mulai lebih berjaga-jaga diri dalam memegang hukum ke-8,
“Jangan mencuri.” Di tempat kerja, saudari ini tidak akan mau menggunakan telepon
perusahaan atau mesin fotokopi untuk keperluan pribadi. Di rumah, dia tidak akan mau
menggunakan software yang tidak ilegal. Bahkan ketika makanpun, dia tidak akan
mengambil tisu yang berlebih dari Mac Donald untuk dibawa pulang ke rumahnya.
Pada suatu musim panas, saudari ini membawa anaknya ke pusat
perbelanjaan. Anaknya melihat uang kertas satu dollar di lantai pusat perbelanjaan
itu dan bertanya kepada dirinya sendiri, “Uang siapakah ini?” Dia memberitahu
anaknya bahwa uang itu bukanlah milik siapapun dan anak itu dapat menyimpannya.
Segera setelah anaknya mengambil uang itu, dia merasakan kepalanya panas. Dia
mulai merasa sangat tidak nyaman dan bertanya-tanya apakah Roh Kudus sedang
menegur dirinya, sehingga dia menyuruh anaknya untuk meletakkan uang itu kembali
di lantai.
Minggu berikutnya, dia pergi ke pusat perbelanjaan lainnya dan melihat
uang kertas dollar yang lainnya. Anak dari saudari ini melihat uang itu dan kembali
bertanya, “Milik siapakah uang itu?” Saudari itu memberikan jawaban yang sama dan
seketika itu juga kepalanya terasa panas lagi. Dia mulai bertanya-tanya apakah ini
adalah pengajaran dari Roh Kudus.
54
Surat-Surat Paulus
Sebulan kemudian, saudari ini belajar melalui pelajaran dari kelas Pendidikan
Agama anaknya bahwa Perintah ke-8 di dalam Alkitab anak-anak berkata, “Kamu
tidak boleh mengambil apa yang bukan milikmu.” Inilah penjelasan yang paling
sederhana dari perintah Allah “Jangan mencuri” – Jangan mengambil apa yang
bukan milikmu. Setelah menyadari hal ini, saudari itu mengetahui bahwa inilah yang
Tuhan wajibkan dari kita, yaitu memegang kebenaran dalam segala keadaan.
Berbajuzirahkan keadilan (Ef. 6:14)
Sejak kanak-kanak, Thomas telah mengetahui bahwa hari Sabtu adalah hari Sabat
– hari perhentian yang didirikan oleh Allah. Orangtua dan guru-guru Pendidikan
Agamanya telah menjelaskan kepadanya bahwa dia haruslah selalu berusaha
semaksimal mungkin untuk mengkhususkan hari kudus itu untuk mengingat anugerah
Allah dan lebih dekat kepada-Nya. Dia pun mengetahui bahwa memegang hari Sabat
adalah salah satu dari Sepuluh Perintah. Karena sepanjang yang dapat diingatnya,
dia selalu menghindari aktivitas pada hari Sabat; semua teman yang tidak berasal
dari gereja mengetahui bahwa Thomas tidak dapat pergi bersama dengan mereka
pada hari Sabtu.
Pada waktu liburan musim dinginpun, salah seorang teman baik Thomas
memenangkan paket main ski gratis untuk empat orang di sebuah tempat
peristirahatan yang indah. Teman-temannya sangat gembira dan menginginkan
Thomas ikut bersama dengan mereka. “Ayolah, ini hanya sekali. Kita tidak akan
pernah memiliki kesempatan seperti ini lagi. Aku yakin Allah tidaklah keberatan, bila
kamu meninggalkan kebaktian Sabat satu kali saja,” kata salah seorang temannya.
Yang lainnya bertanya kepada Thomas, “Mengapa kamu bersikeras untuk pergi ke
gereja pada hari Sabtu? Bukankah itu pokok persoalannya? Pergi ke gereja hanyalah
sebuah ritual. Lihatlah, begitu banyak orang Kristen yang menipu orang banyak
dan sekelompok orang yang munafik; jadi pergi ke gereja tidak akan membuatmu
menjadi orang yang lebih baik.” Bahkan teman-teman Thomas yang beragama
Kristen pun menyetujui pendapat itu. “Aku mengetahui bahwa memegang hari Sabat
adalah persoalan besar bagimu, tetapi kita tidak hidup pada zaman Perjanjian Lama
lagi. Paulus mengatakan dalam Roma 14 bahwa tidak peduli pada hari apa kamu
beribadah kepada Tuhan, karena yang penting adalah kamu melakukannya setiap
hari. Jadi, mengapa kamu tidak pergi bersama dengan kami pada hari Sabtu ini?
Kamu dapat merenungkan dan memuji Allah selagi menuruni lereng. Kamu mengenal
kami, kami tidak pernah melakukan hal yang buruk seperti mengkonsumsi minuman
yang berakohol, memakai obat-batan atau berpesta pora. Akhir pejan ini, kami akan
pergi dengan papan salju. Kita memliki paket luar biasa ini secara gratis, yang hanya
dapar dipakai pada akhir pekan ini saja. Semuanya telah lunas dan orangtua kita
menyetujuinya, kita hanya kehilangan satu hal yaitu kamu. Ayolah, ikutlah bersama
kami. Kamu telah menyembah Allah setiap hari, tetapi satu kali ini saja kamu pergi
dengan teman-teman terbaikmu.”
Setelah mendengarnya, Thomas tidak mengetahui harus bagaimana
menjawab mereka sekalian. Tetapi, dua ayat yang diingatnya melintas dalam
pikirannya. Salah satunya adalah Yohanes 14:21, yaitu Tuhan Yesus telah berkata
bahwa orang-orang yang mengasihi-Nya akan berpegang pada perintah-perintahNya. Ayat lainnya adalah dari Yesaya 58:13-14 mencatatkan bahwa bila kamu
menahan diri dari menginjak-injak hari Sabat dengan mengejar keinginan atau
urusanmu sendiri, tetapi sebaliknya, menyukai dan menghormati hari kudus Tuhan,
Allah akan memberkatimu. Memegang hari Sabat merupakan perintah Allah. Bila
Thomas pergi dan menikmati akhir pekannya, dia telah membenarkan tindakannya,
Surat-Surat Paulus
55
sehingga hati nuraninya tidak akan mengganggu pikirannya. Tetapi bila dia
melakukannya, siapakah yang mengetahui apa yang mungkin akan dilakukannya
kelak?
Dia telah melihat banyak teman gerejanya yang tidak lagi datang ke gereja.
Itu selalu dimulai dari hal yang sederhana dan tidak berbahaya, seperti pertunjukan,
darmawisata, acara olahraga dan lain sebagainya. Mereka semua lambat laun telah
menjadi terlalu sibuk untuk datang kebaktian. Akhirnya, bahkan bila tidak lagi sibuk
sekalipun, mereka merasa lebih baik untuk beristirahat di rumah saja. Thomas tidak
mau hal itu terjadi terhadap dirinya.
Thomas menyadari bahwa dia haruslah berdiri teguh di dalam Firman
Allah dan tidak membiarkan pikiran semacam itu mengacaukan hatinya. Setelah
merenungkannya, Thomas memberitahu teman-temannya bahwa dia benar-benar
harus memegang hari Sabat. Bila dia tidak memegangnya, Allah tidak akan berkenan
kepadanya dan itu merupakan suatu kekalahan dari tujuan untuk menjadi seorang
Kristen.
Sebagai akibatnya, teman-teman Thomas tidak pernah memintanya lagi untuk
melakukan apa-apa. Sekalipun Thomas merasa sedih, karena harus kehilangan
kesempatan besar untuk bergabung dengan teman-temannya, tetapi dia merasa
bersukacita, karena dapat melakukan apa yang benar. Dia telah memelihara hatinya
dengan berpegang teguh pada pengajaran-pengajaran dari Alkitab.
Kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil Damai Sejahtera (Ef.
6:15)
Pada tahun 1981, setelah usaha misi penginjilan yang kurang berhasil di Nigeria,
beberapa pendeta Gereja Yesus Sejati pulang ke rumah mereka masing-masing
dengan transit terlebih dahulu melalui Liberia. Sambil menanti kepulangan dari Liberia,
mereka memutuskan untuk membagikan semua selebaran yang masih ada di tangan
mereka di bandara itu. Seseorang yang telah mengambil dan membaca selebaran
itu, menulis surat ke gereja untuk mengungkapkan rasa tertariknya terhadap Injil.
Hal ini tentu membuka jalan untuk misi penginjilan tambahan, mengawali pendirian
gereja-gereja di negara itu. Sampai sekarang, ada lebih dari 300 jemaat di Liberia.
Seorang saudari dari Afrika memperoleh penglihatan mengenai Tuhan Yesus
saat disalibkan. Ketika melihat betapa besar penderitaan Tuhan dan seluruh darah
yang telah dicurahkan-Nya, dia menangis dengan begitu sedihnya dan bertanya,
“Tuhan, apa yang aku dapat lakukan untuk-Mu?” Tuhan Yesus berkata, “Kamu harus
memberitakan Injil untuk-Ku.”
Pergunakanlah Perisai Iman (Ef. 6:16)
Ada seorang saudari yang diajarkan pelajaran mengenai iman melalui sebuah
mimpi. Di dalam mimpinya, dia dipojokkan oleh dua penjahat yang kejam. Ketika
mereka mulai mendekatinya perlahan-lahan, dia merasa putus asa dan bingung,
sehingga mulai berdoa kepada Tuhan. Tiba-tiba, seorang pria berpakaian putih
muncul. Dia memegang tangan dari saudari ini dan membawanya ke dalam awanawan sampai tiba di suatu padang gurun. Di sana, Dia mendudukkan saudari itu di
atas sebuah batu. Sebuah suara berkata, “Percayalah kepada Tuhan dan kamu akan
dibebaskan.” Lintasan cahaya memancar di angkasa. Dia melihat kedua tangannya
yang baru saja dipegang oleh pria ini dan mendapati bahwa kedua tangannya itu
ditetesi oleh darah. Mimpi itu dijelaskan kepada saudari ini: Yesus telah menderita
dan mati untuk kita; Dia telah mencurahkan darah-Nya untuk menebus dosa-dosa
kita. Allah akan merasa bersukacita, bila kita menghargai pengorbanan-Nya dan
beriman kepada-Nya.
56
Surat-Surat Paulus
Terimalah ketopong keselamatan (Ef. 6:17)
Sekitar tahun 320 M, Kaisar Licinius menguasai setengah dari Kekaisaran Romawi
sebelah timur. Karena musuhnya, Kaisar Konstantin, yang secara terang-terangan
mentolerir kekristenan, tetapi sebaliknya, Licinius justru memberantas orang-orang
Kristen, karena kuatir akan mengancam kedudukannya. Dia mengeluarkan larangan
atas semua praktek ibadah orang Kristen dan memaksa semua rakyatnya untuk
memberikan persembahan kepada dewa-dewa Romawi.
Selama musim dingin, di sebuah kota kecil yang terpencil, Sebaste, empat
puluh prajurit yang berasal dari bangsa Armenia menjadi Kristen. Ketika diperintahkan
untuk memberi persembahan kepada dewa-dewa Romawi, mereka justru menolak
untuk mentaatinya. Sebagai akibatnya, mereka ditelanjangi dan dibawa ke tengah
danau beku sampai mereka mati beku. Hanya bila meninggalkan kepercayaan
mereka, mereka akan segera dibebaskan. Bak air panas telah diletakkan di pantai
untuk mencobai mereka.
Ketika malam tiba, ada seorang prajurit yang menyerah, karena kedinginan
dan menyangkal imannya, meninggalkan 39 prajurit lainnya yang mati membeku.
Lalu, salah seorang dari penjaga yang berada di pantai itu beroleh sebuah
penglihatan. Dia melihat sekelompok malaikat muncul. Para malaikat itu meletakkan
mahkota kehidupan ke atas kepala orang-orang yang binasa, karena iman mereka
seperti sebuah pujian menyanyikan, “Forty martyrs and forty crowns.” Tiba-tiba, dia
melihat sebuah mahkota melayang di udara. Tampaknya mahkota terakhri ini adalah
milik dari seorang prajurit yang telah menyangkal imannya itu. Lalu penjaga itu
berkata kepada prajurit itu, “Bila kamu telah melihat apa yang aku telah lihat, kamu
tidak akan pernah meninggalkan mahkotamu. Marilah, aku akan menggantikan
tempatmu dan mahkotamu akan menjadi milikku.” Tanpa berpikir lagi, penjaga itu
segera melepaskan pakaiannya dan bergabung dengan 39 orang yang berada di
danau beku itu. Ironisnya, menurut tradisi yang terkenal, prajurit yang menyerahkan
mahkotanya justru mati saat dia masuk ke dalam bak air panas yang menantinya –
perbedaan suhu antara danau beku dan bak air panas sangatlah tinggi, sehingga dia
mati karena terkejut.
Empat puluh prajurit rela menyerahkan nyawa mereka demi kebenaran,
karena mengetahui bahwa mahkota kehidupan telah menanti mereka. Demikian pula,
pada masa-masa sukar, kita haruslah senantiasa memandang pada keselamatan
yang sedang menanti kita dan mengambil kekuatan yang berasal dari ketopong
keselamatan.
Terimalah Pedang Roh – Firman Allah (Ef. 6:17)
Sejauh yang dapat diingat seseorang, Tatiana selalu menjadi aktivis sosial. Sebagai
mahasiswi tingkat dua, dia dikenal begitu ramah dan bersahabat. Tatiana pun telah
menjadikan kepercayaan kepada Allah itu sebagai hal penting dari kepribadiannya
sebagaimana dengan keahliannya bermasyarakat. Sebagai hasilnya, Tatiana
memiliki reputasi sebagai seorang Kristen yang setia, sekalipun akhir-akhir ini,
untuk berdiri teguh dalam imannya telah menimbulkan banyak persoalan hidup.
Kebanyakan teman baik dari Tatiana di tim hoki lapangan mulai mengkonsumsi
minuman beralkohol dan berpesta pora pada akhir pekan.
Suatu hari, setelah latihan, Ellen, kapten tim senior, sekaligus salah seorang
gadis yang paling terkenal di sekolah, memberikan Tatiana sebuah undangan pribadi
untuk pergi ke pesta yang akan diadakan di rumahnya pada hari Sabtu malam. Tanpa
berpikir lagi, Tatiana menerima undangan Ellen. Selama kebaktian hari Sabat pada
minggu itu, seluruh pikirannya terfokus pada pesta.
Surat-Surat Paulus
57
Dia mengetahui bahwa mengkonsumsi minuman beralkohol di bawah usia bukan
hanya berbahaya, tetapi bertentangan pula dengan kehendak Allah. Dia masih
mengingat sebuah ayat dari 1 Petrus 4:3 yang telah diajarkan oleh Guru Pendidikan
Agamanya dengan tujuan tertentu sebelum memulai tahun pertamanya di kampus.
“Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan kehendak
orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam rupa-rupa hawa
nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan
berhala yang terlarang.” Tatiana masih belum mampu menolaknya, bahkan berpikir
bahwa bila mengabaikan undangan Ellen, dia akan dikeluarkan dari timnya. Dan bila
dikeluarkan dari tim, dia akan tampak seperti seorang yang bersikap bodoh hanya
karena tidak mau mengkonsumsi minuman beralkohol. Sesungguhnya, apakah
Tatiana dapat menahan diri untuk mengkonsumsi minuman beralkohol saat di sana?
Sebelum kebaktian berakhir, Tatiana menemui Lisa, teman baiknya di dalam Kristus,
dan memberitahukan hal ini kepadanya. Lisa menyarankan, agar Tatiana datang
ke rumahnya. Dengan lemah lembut, Lisa mengingatkan Tatiana perihal perjanjian
(dalam 2 Timotius 2:22) yang mereka telah buat dalam hidup mereka, “Sebab itu
jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersamasama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.”
Pertanyaan untuk direnungkan:
1. Bagaimana kita dapat mengikat pinggang dengan kebenaran, sehingga akan
selalu melakukan apa yang benar dan berkenan di hadirat Allah?
2. “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar
daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya
kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat. 5:20). Apakah maksud
dari “tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orangorang Farisi?” Bagaimana berbajuzirahkan kebenaran dapat memelihara hati
kita terhadap kemerosotan rohani?
3. Pernahkah kalian mengedarkan selebaran untuk orang lain sebelumnya?
Bagaimana perasaan kalian? Pernahkah kalian berbicara kepada teman-teman
atau yang bukan anggota keluarga dan kerabat mengenai Yesus Kristus? Bila
belum pernah, mengapa?
4. Perisai digunakan untuk melindungi kita dari bahaya. Bagaimana iman dapat
bertindak sebagai perisai? Bagaimana kematian Tuhan Yesus menolong kita
dalam iman?
5. Empat puluh prajurit rela menyerahkan nyawa mereka demi kebenaran, karena
mengetahui bahwa mahkota kehidupan menanti mereka. Apakah kalian akan
rela menyerahkan hidup kalian demi kebenaran?
6. Firman Allah adalah senjata yang efektif, yang kita miliki dalam menghindari
pencobaan. Bagaimanapun, seperti sebilah pedang, kalian haruslah ahli dalam
menggunakannya, agar menjadi efektif. Bagaimana kalian melatih diri dengan
Firman Allah, sehingga dapat menjadi seorang ahli pedang rohani?
58
Surat-Surat Paulus
Renungan dan Doa
Nyanyikan pujian dalam Kidung Rohani # 168: “Laskar Kristus Maju.”
Kita adalah laskar-laskar Tuhan yang sedang berjuang dalam peperangan
rohani bersama dengan-Nya. Untuk berperang dengan efektif, kita haruslah
melindungi diri dengan seluruh perlengkapan senjata Allah. Ke manapun kita pergi,
apapun yang kita lakukan, haruslah memastikan bahwa kita membawa kebenaran,
keadilan, Injil damai sejahtera, iman, keselamatan dan Firman Allah bersama dengan
kita. Hanya dengan berbuat demikian, kita akan sepenuhnya diperlengkapi dan
dipersiapkan dengan baik untuk menghadapi peperangan rohani. Kiranya Tuhan
memberkati kita masing-masing, sehingga dapat menjadi laskar-laskar Kristus yang
teguh.
Surat-Surat Paulus
59
Halaman Kosong
60
Surat-Surat Paulus
pelajaran
Surat Filipi
6
Bacaan Kitab
Surat Filipi; Kis. 16:6-40
Sasaran Pelajaran
1. Bersukacita di tengah kesukaran
2. Meneladani Yesus Kristus
3. Mendahulukan Allah dalam kehidupan kita
Ayat Alkitab
“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus
Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah, aku
telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku
memperoleh Kristus” (Flp. 3:8)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)
Filipi 1-4
Latar Belakang Alkitab
Paulus menulis surat ini saat dia dipenjara untuk pertama kalinya di Roma,
sekitar tahun 62 M. Gereja Filipi berlimpah dalam kasih dan seringkali menyediakan
kebutuhan penginjilan Paulus. Setelah mendengar berita penangkapannya, jemaat
Filipi mengumpulkan uang dan kebutuhan lain dan mengirimkannya untuk Paulus.
Epafrodituslah yang menyampaikan pemberian itu dari jemaat Filipi, tetapi dia jatuh
sakit selama perjalanan atau saat berada di Roma. Setelah sembuh, dia diutus
kembali ke Filipi untuk menyampaikan surat dari Paulus ini.
Gereja Filipi pertama kali didirikan di propinsi Makedonia, di Eropa. Selama
perjalanan penginjilannya yang kedua, Paulus tinggal Troas di propinsi Asia dan
tidak lama kemudian, berangkat menuju Makedonia sebagai tanggapan terhadap
penglihatan dari Allah (Kis. 16:8-10). Biasanya, Paulus dan Silas akan berkhotbah di
rumah ibadat setempat, tetapi rupanya saat itu, tidak ada satupun rumah ibadat yang
didirikan di Filipi. Dan karena itulah, mereka pergi ke luar pintu gerbang kota untuk
menemukan kumpulan orang yang sedang berdoa.
Surat-Surat Paulus
61
Ini menunjukkan bahwa penduduk Yahudi pada waktu itu masih sedikit. Karena
menurut peraturan orang Yahudi, sebuah rumah ibadat dapat didirikan, bila terdapat
sedikitnya sepuluh orang Yahudi yang tinggal di suatu tempat tertentu. Paulus dan
Silas bertemu dengan sekelompok wanita yang sedang berdoa dan beribadah selama
hari Sabat, termasuk Lidia dan seisi rumah tangganya yang kemudian menjadi orang
Kristen pertama yang bertobat di seluruh Eropa (Kis. 16:14-15). Lalu, kepala penjara
Filipipun dan keluarganya turut bertobat (Kis. 16:16-34).
Filipi ternyata diambil dari nama Philip II, ayah dari Alexander Agung, suatu
kota dengan letak yang begitu strategis, di persimpangan jalan yang disebut
Egnatian Way, yang menghubungkan Eropa dengan Asia. Kota ini pun beruntung
dalam hal sumber daya alam, sumber mata air yang banyak dan tambang emas
di daerah itu. Di bawah pemerintahan Romawi, Filipi diberikan status tertinggi
sebagai ibukota propinsi, yang merupakan koloni Romawi, sekaligus diberikan
hak istimewa. Orang-orang yang lahir di kota ini dianggap sebagai warga negara
Romawi. Kewarganegaraan dapat dibeli, dimiliki dan dipindahkan. Mereka memiliki
hak istimewa terhadap catatan-catatan perkara hukum sipil di Pengadilan Romawi,
dan mereka dibebaskan dari pembayaran pajak atas pendapatan dan atas tanah.
Pemanasan
Sekolah, teman, orangtua, kerabat, gereja. Semuanya dapat menjadi sumber
dari persoalan hidup manusia, tetapi bagaimana itu dapat mempengaruhi kita dan
bagaimana pula mengatasinya tiap-tiap persoalan yang ada. Mintalah murid-murid
kelas Remaja untuk memikirkan kembali saat-saat mereka tetap bersikap tenang
dan ‘berkepala dingin,’ seperti ketika dua orang dari antara teman-teman berdebat
dan mereka tetap memiliki suatu pendapat. Atau ketika mereka memiliki tugas besar
di sekolah untuk diselesaikan. Antara keterampilan hidup dan pengetahuan rohani,
bagaimana cara mereka menghilangkan stress dan memperoleh kedamaian dalam
hati?
Tanyakan kepada murid-murid apakah mereka memahami perbedaan
antara sukacita dan kegembiraan? Apakah mereka katakan bahwa sukacita berasal
dari dalam hati, sementara kegembiraan berasal dari luar, bahwa sukacita tidak
memerlukan alasan untuk mempengaruhinya, tetapi kegembiraan memerlukannya?
Mintalah murid-murid untuk memberikan jawaban mereka.
62
Surat-Surat Paulus
Pemahaman Alkitab
Pengajaran dari Jemaat Filipi
Surat untuk jemaat Filipi disebut surat sukacita, karena surat itu menjelaskan
sukacita Paulus di dalam Tuhan, sekalipun dia mengalami penderitaan. Surat Filipi
tidaklah memuat pengajaran filsafat yang mendalam, tetapi Paulus justru memotivasi
jemaat Filipi untuk meneguhkan iman mereka dengan menunjukkan kehidupannya
pribadinya bahwa sukacita sejati hanya berasal dari Yesus Kristus. Tidak ada bentukbentuk pencobaan yang dapat mengurangi semangat dan kasihnya untuk Allah.
Kesulitan bukanlah alasan untuk menyimpang dari standar dan harapan Yesus.
Sebaliknya, justru mengajarkan Paulus untuk mencukupkan diri dalam segala
keadaan.
Filipi merupakan lebih dari sekadar sebuah surat, karena isinya yang
menyelami kehidupan seorang Kristen yang berkecukupan dan memotivasi orangorang percaya untuk tidak menghiraukan situasi yang terjadi, karena kita masih dapat
berpegang pada Yesus sebagai harta kita yang terbesar dan memperoleh sukacita di
dalam dan melalui Allah.
A. Bersukacita di tengah Penderitaan
Sekalipun Paulus berbicara perihal sukacita di tengah penderitaan sejak
permulaan suratnya, tetapi hal yang paling penting dibuat pada akhir suratnya.
Bersukacita selama titik terendah di dalam kehidupan tampaknya merupakan sesuatu
yang bersifat paradoks (saling bertentangan). Tetapi kehidupan Paulus merupakan
kesaksian nyata bahwa hal ini dapat dicapai olehnya. Bagaimana caranya? Melalui
Allah yang memberi kekuatan kepadanya (4:13). Dan untuk apakah Allah memberi
kekuatan kepadanya? Agar Paulus dapat mencukupkan diri dalam segala hal.
Apapun situasinya, entahkah mudah ataupun sulit, Allah dapat membimbing kita
untuk melaluinya. Ketika kehidupan ini lancar, kita memerlukan Dia untuk menjaga
kita tetap rendah hati dan merasa cukup dalam menikmati berkat-berkat yang ada.
Ketika kehidupan ini terasa sulit, kita memerlukan Dia pula untuk menjaga kita tetap
setia dan yakin akan kehendak-Nya yang baik bagi kita. Pada saat baik ataupun
buruk, Dia dapat memberikan kita kekuatan untuk mengendalikan diri, memiliki
pikiran dan hati yang tenang dan teduh.
Menggunakan pesan kesatuan dalam surat kepada jemaat Efesus, Paulus
mungkin menderita secara fisik, tetapi secara rohani, dia bersukacita (2:17-18). Dia
adalah orang yang berada bersama dengan Yesus dan bersekutu dengan orangorang percaya. Dia beroleh sukacita bersama dengan rekan-rekan sekerjanya di Filipi
dalam penyebaran Injil (1:4-6). Dia bersukacita, karena kepercayaan dan kemajuan
iman jemaat di sana (1:7,9-11,19-26). Dia bersukacita terhadap saudara-saudara
seiman yang menyaksikan anugerah penderitaannya, sehingga termovasi untuk
menjunjung salib demi Injil (1:12-14). Dan dia merasa terhibur, karena rasa simpati,
doa dan pemberian dari jemaat Filipi (2:25; 4:14-18). Dia memotivasi mereka untuk
terus bersatu di dalam Juruselamat mereka, di dalam Roh, Injil, kasih dan perbuatan
mereka.
Surat-Surat Paulus
63
B. Meneladani Kristus
Meneladani Yesus Kristus adalah salah satu aspek untuk menjadi satu di
dalam-Nya. Kita semua adalah anggota dari tubuh-Nya dan oleh sebab itu, seharusnya
bekerja untuk keutuhan gereja. Dengan mengikuti teladan-Nya yang mengagumkan
dari apa yang seharusnya seorang saleh perbuat, kita dapatlah bersinar sebagai
keturunan-keturunan Abraham yang rohani (Kej. 22:17-18; Ibr. 11:11-12).
a. Kerendahan hati (2:3-11)
Tentu saja, Yesus Kristus merupakan teladan terbaik dari kerendahan hati. Itu
merupakan salah satu aspek terbesar dalam kehidupan-Nya mengenai kasih
terhadap Allah dan manusia. Dia tidaklah pernah membebani orang lain. Jemaat
Filipi merupakan sebuah gereja yang murah hati dan Paulus mengingatkan
bahwa kemurahan hati mereka tidak akan menjadi sia-sia, karena mereka
mengikuti teladan Yesus Kristus. Dan bila mereka menjadi satu dengan Yesus
Kristus dalam kehidupan, mereka akan mnejadi satu pula dengan-Nya dalam
kematian.
Ketika seorang sahabat memerlukan seseorang untuk berbicara segera,
adalah hal yang biasa untuk mendengarkan dan ada untuknya. Itu merupakan
teladan dari sikap kasih dan rendah hati. Tentu saja, tidak selalu mudah untuk
menunjukkan kerendahan hati, tetapi sama seperti Paulus katakan: “Dia (Allah)
yang memberi kekuatan kepadaku (kita).” Dan bila kalian berusaha bersamasama, Dia akan membantu kalian untuk melaluinya. Dan yang lebih hebat lagi,
Dia dapat memakai kita tanpa sepengetahuan diri kita. Perbuatan baik yang tidak
disadari, yang tampaknya bukan apa-apa secara pribadi, ternyata dapat memiliki
makna yang mendalam bagi penerimanya atau orang yang menyaksikannya.
Kita hanya perlu menjadi perabot yang dapat dipakai oleh Allah (2 Tim. 2:21).
b. Bersinar (2:12-15; 3:12; 4:8-9)
Keselamatan merupakan proses yang berkelanjutan dan ketika telah dewasa
rohani, ketaatan kepada Allah janganlah didasarkan pada kehadiran para
pemimpin gereja, tetapi lebih karena memahami bahwa Tuhan menerangi hati
kita masing-masing. Tindakan kita seharusnya menunjukkan bahwa kita adalah
anak-anak Allah, ahli waris rohani dari Abraham. Bila orang-orang dunia suka
berdebat, tidak harmonis dan rusak moralnya, kita seharusnya penuh damai,
tidak suka mengeluh dan suci. Sebagai terang dunia, kita seharusnya berjuang
untuk apapun yang akan memuliakan Yesus Kristus (Mat. 5:14-16).
c. Dua tokoh teladan (2:19-30)
Paulus menyebut Timotius dan Epafroditus untuk diutus ke Filipi. Epafroditus
menyampaikan surat, sementara Paulus berharap dapat mengutus Timotius
untuk memeriksa keadaan jemaat pada saat itu. Mereka adalah dua tokoh
teladan dari orang-orang yang meneladani Kristus dalam kerendahan hati dan
bersinar seperti bintang-bintang dalam tindakan mereka.
Di hadapan Paulus, Timotius sungguh-sungguh memperhatikan orang lain
dan dengan sepenuh hati melayani Injil. Dia menunjukkan kesetiaan dan rasa
hormat kepada Paulus, termasuk membantu pelayanannya. Epafroditus adalah
seorang rekan sekerja dan laskar dalam menyebarkan Injil. Dia melakukan
pekerjaan kudus, mendukung dan mempertaruhkan nyawanya untuk itu.
64
Surat-Surat Paulus
C. Mengutamakan Yesus Kristus
Tidak ada keraguan bahwa Paulus menempatkan Yesus Kristus sebagai yang
terutama di dalam hidupnya. Setelah Yesus Kristus memanggilnya, tujuan hidupnya
adalah menyebarkan Injil. Tidak ada pikiran mengenai karir atau menghasilkan uang.
Paulus memiliki martabat melalui garis keturunan Yahudinya dan kedudukannya
sebagai seorang Farisi, tetapi dia membuang semua pujian manusia itu dan
menukarnya untuk Yesus (3:3-9). Dia menegaskan dan memprioritaskan kembali
hidupnya, karena memahami dan sungguh menghargai keselamatan dari Yesus
Kristus (3:10-11).
Dan dalam mengutamakan Yesus dalam hidup, kita memiliki tujuan yang
indah yang kita harus tekankan. Kehidupan kekal bersama dengan Juruselamat
yang penuh kebaikan sedang menanti, tetapi kita perlu hidup dengan mencapai apa
yang telah diberikan-Nya kepada kita – keselamatan. Kita perlu lebih memperhatikan
perkara-perkara ilahi daripada perkara-perkara duniawi (3:2-4:1).
Murid-murid kelas Remaja seharusnya tidak merasa terbeban dengan
gagasan bahwa Yesus Kristus ingin menjadi yang terutama di dalam kehidupan kita.
Itu merupakan perjuangan yang terus-menerus, terutama ketika mereka memiliki
ambisi dan kewajiban di dunia ini. Murid-murid kelas Remaja sedang bergumul
dalam menyeimbangkan urusan sekolah, kehidupan sosial dan Allah, begitu pula
antara apa yang mereka dan orangtua inginkan. Yesus Kristus tidak selalu dijadikan
yang teratas dari daftar hidup mereka. Tetapi, bila mereka mengutamakan Allah, Dia
tidak akan pernah membuat mereka menyesalinya.
Menguji Pemahaman
1. Apakah tema utama dalam surat kepada jemaat Filipi?
2. Bagaimana kita bersukacita di tengah penderitaan?
3. Bagaimana kita dapat meneladani Yesus Kristus?
4. Mengapa kita perlu meneladani Yesus Kristus?
5. Apakah yang Paulus peroleh dari mengutamakan Yesus Kristus dalam
hidupnya?
Surat-Surat Paulus
65
Penerapan Kehidupan
Bagian A – Pengaruh Survei
Siapakah yang memegang kuasa terbesar atas apa yang kalian pikirkan,
lakukan dan ucapkan?
Langkah 1:
Rata-ratakan masing-masing bagian berikut menurut tingkat pengaruh mereka
terhadap pikiran dan perilaku kalian. Berilah tanda silang pada kategori yang
tersedia.
Langkah 2:
Kembalilah dan beri tanda + atau - di sebelah kiri dari setiap pengaruh yang terdaftar
untuk menunjukkan apakah pengaruh itu begitu positif (+) atau negatif (-). Bila
menurut kalian pengaruh itu tidak positif ataupn negatif, berilah tanda 0.
+/-/0
Pengaruh
Ibu
Ayah
Teman sekolah
Saudara kandung
Pemberita Injil
Tuhan Yesus
Saudara/i seiman
Kerabat
Internet
Televisi
Film
Majalah
Musik
Buku
66
Surat-Surat Paulus
Tidak ada
Sedikit
Banyak
Terlalu
Banyak
Mintalah murid-murid kelas Remaja untuk saling berbagi kepada yang
lainnya dan jelaskan dengan cara apa pengaruh ini berdampak terhadap diri
mereka? Bagaimana mereka dapat mengurangi pengaruh-pengaruh negatif yang
ada? Apakah ada pengaruh lainnya yang belum disebutkan? Kecenderungan atau
kesimpulan apakah yang mereka buat?
Bagian B – Permainan Mencocokkan
Apakah sudut pandang murid terhadap kehidupan Paulus dan surat-suratnya?
Bagaimana mereka melihat kaitan di antaranya?
Langkah 1:
Pilihlah seorang murid untuk menjadi orang yang mencocokkan.
Langkah 2:
Berikan semua murid pertanyaan pertama dan mintalah mereka menuliskan
jawabannya. Sebagai contoh: “Bila Anda adalah Paulus, hal apakah yang paling
diharapkan dari jemaat Filipi akan dikirimkan untuk Anda?”
Langkah 3:
Setelah semua murid menuliskan jawaban mereka, biarlah seorang pencocok
menunjukkan jawaban pertama dari seorang murid kepada yang lainnya, sambil
menjelaskan mengapa dia memilih jawaban itu.
Langkah 4:
Lalu, mintalah murid lainnya untuk memperlihatkan jawaban mereka dan lihatlah
seberapa banyakkah dari jawaban itu yang cocok dengan milik orang yang
mencocokkan. Berikan angka untuk jawaban yang banyak kecocokkannya. Mintalah
orang yang jawabannya tidak cocok untuk menjelaskan pilihan mereka. Inilah cara
yang baik bagi murid untuk melihat bagaimana pendapat setiap orang.
Langkah 5:
Ulangilah langkah 1-4 dengan ‘orang yang mencocokkan’ selanjutnya dengan
menggunakan pertanyaan berikut.
Pertanyaan lain yang mungkin:
1. Bila Anda adalah seorang jemaat Filipi, barang apakah yang Anda akan kirimkan
untuk Paulus?
2. Bila Anda memiliki pilihan antara hidup untuk Kristus atau mati adalah suatu
keuntungan, manakah yang Anda akan pilih?
3. Bila Anda adalah Paulus, apakah yang akan menjadi kesulitan terbesar Anda
sebagai seorang tahanan?
4. Bila Anda menempuh perjalanan penginjilan, satu barang apakah yang pasti
Anda akan bawa?
5. Bila Anda menempuh sebuah perjalanan penginjilan yang jauh, satu paket
barang perawatan apakah yang Anda harapkan dari saudara-saudari seiman
untuk dikirimkan kepada Anda?
6. Apakah yang tampaknya sulit bagi Anda untuk korbankan – uang atau
martabat?
Surat-Surat Paulus
67
7. Aspek apakah dari kasih Yesus Kristus yang secara pribadi mempengaruhi
tindakan Anda?
8. Yang manakah dari saksi-saksi iman yang tercatat dalam Ibrani 11, yang paling
Anda kagumi?
9. Bila Anda adalah seorang jemaat Filipi, apakah yang Amda akan lakukan untuk
mendukung para pekerja kudus?
10. Apakah yang Anda akan lakukan untuk mendukung para pekerja kudus yang
sekarang?
11. Cerita Alkitab mengenai doa manakah yang paling mempengaruhi Anda secara
pribadi?
Renungan dan Doa
Sekalipun Paulus berada dalam penjara, suratnya kepada jemaat Filipi sering
menyebutkan sukacita yang dia miliki, walau sedang alami penderitaan. Dengan
bersatunya Kristus di dalam hidupnya, dia diberikan kekuatan untuk memperoleh
kedamaian dan kepuasan dalam segala keadaan. Dan Paulus mengingatkan jemaat
Filipi mengenai keyakinannya dalam melampaui kebesaran keselamatan dari Yesus
Kristus. Murid kelas Remaja adalah mereka yang sedang beranjak dewasa dengan
sebuah dunia yang bebas dan kemungkinan-kemungkinan yang menanti mereka.
Adalah hal serius untuk memikirkan semua keputusan dalam kehidupan mereka
yang berkaitan dengan kematian dan hari penghakiman. Allah tidaklah bermaksud
untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menghibur. Paulus tidak pernah memikirkan Yesus
Kristus dan kematian sebagai akhir yang menakutkanl; dia justru memandangnya
sebagai sukacita yang tidak terlukiskan dan sebuah keberadaan yang jauh lebih
mulia. Dan sekalipun Paulus berkata: “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan
takut dan gentar,” Yesus Kristus selalu merupakan motivasi yang positif dalam
kehidupan imannya. Allah ingin menjadi sama untuk kita. Melalui pasang surut
dalam kehidupan kita, Allah ingin menjadi sebuah motivasi yang positif dalam fokus
kerohanian kita, sehingga dapat bertumbuh di dalam iman.
68
Surat-Surat Paulus
pelajaran
Surat Kolose
7
Bacaan Kitab
Surat Kolose
Sasaran Pelajaran
1. Membantu murid untuk memahami latar belakang dan pengajaran utama
dari surat Kolose
2. Memotivasi murid untuk berakar dan dibangun di dalam Kristus
3. Memotivasi murid untuk mengejar pembaruan hidup di dalam Kristus
Ayat Alkitab
“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu, hendaklah
hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan
dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang
telah diajarkan kepadamu dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”
(Kol. 2:6-7)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)
Kolose 1-4
Latar Belakang Alkitab
Kolose adalah sebuah kota kecil yang terletak di Lycus (Sungai Frigia), yang
subur dengan pegunungan sepanjang hampir 161 kilometer di sebelah timur Efesus
di Asia Kecil. Kolose merupakan pusat perdagangan yang penting dan terkenal akan
kain wol hitamnya yang mengkilat. Daerah ini kaya akan kandungan mineral dan
selalu menjadi sasaran gempa bumi. Bagaimanapun pada zaman Paulus, kota ini
sudah merosot dalam semangat dan kepopulerannya.
Paulus menulis surat kepada jemaat Kolose kira-kira tahun 61 M ketika berada
dalam penjara di Roma. Paulus belum pernah mengunjungi gereja ini, seperti yang
dijelaskan dalam ayat 1:7; 2:1 dan 4:12. Mungkin saja gereja di Kolose ini ditemukan
oleh seorang percaya Kolose, Epafras. Epafras datang mengunjungi Paulus selama
dia dipenjarakan di Roma. Kunjungan dan laporan dari orang Kolose itulah yang
menggerakkan hati Paulus untuk menulis sepucuk surat bagi jemaat Kolose.
Surat-Surat Paulus
69
Pada masa itu, ajaran bidat mengancam, terutama kepada gereja non-Yahudi.
Sifat ajaran bidat ini menggabungkan elemen-elemen seperti perdebatan dari
masyarakat Yunani (2:4,8,10), hukum sunat (2:11-17), ilmu kebatinan dunia timur
(2:18-23). Sunat, peraturan-peraturan tentang makanan dan praktek-praktek ritual,
termasuk pertapaan, penyembahan kepada malaikat, dan penggunaan pengalamanpengalaman mistis sebagai pendekatan dalam bidang kerohanian. Ajaran bidat
semacam ini menyebabkan jemaat Kolose mencari keselamatan melalui akal budi
dan pemikiran manusia. Mereka menyangkal kemuliaan Kristus, penebusan-Nya dan
jaminan keselamatan-Nya. Untuk melindungi kebenaran firman Allah dan kemurnian
iman orang-orang percaya, Paulus menulis untuk memperingatkan orang-orang
percaya Kolose terhadap ajaran-ajaran bidat itu.
Pemanasan
Pernahkah kalian bertemu dengan seseorang yang membaca dan percaya
pada horoskop, menggunakan ilmu pengetahuan atau filsafat untuk menyangkal
keberadaan Allah atau praktek-praktek yoga untuk memperoleh pencerahan?
Bagaimana cara kalian memberitakan Injil kepada orang-orang macam demikian
mengenai Kristus? Bagaimana cara kalian mempertahankan iman, bila sebaliknya,
mereka berusaha meyakinkan kalian? Dalam surat Kolose, Paulus menulis surat
untuk sebuah gereja yang berada di bawah serangan ajaran bidat seperti itu. Melalui
pelajaran ini, marilah kita belajar bagaimana mempertahankan diri terhadap ajaranajaran palsu dan berdiri teguh di dalam Kristus.
Pemahaman Alkitab
Bagian # 1 – Ikhtisar Umum
Kolose mungkin dianggap sebagai surat yang paling berpusat kepada Kristus
dalam seluruh Alkitab. Surat Kolose menekankan bahwa kita dapat memperoleh
anugerah Allah dan hikmat rohani-Nya hanya melalui Tuhan Yesus Kristus. Kristus
adalah satu-satunya yang kita sembah sebagai Kepala dari seluruh prinsip dan
kuasa. Pasal 1-3 menjelaskan doktrin teologi Kristen, sementara bagian akhir dari
pasal 3 dan 4 memuat nasihat bagi kehidupan orang Kristen.
A. Di dalam Kerajaan Kristus (pasal 1)
i. Kita dapat menerima pengharapan sejati
ii. Kita dapat mengalami kepenuhan Allah
iii. Kita memiliki bagian dalam pekerjaan Tuhan
B. Dibangun di dalam Kristus (pasal 2)
i. Menghindari keduniawian atau kejatuhan iman
ii. Mencegah iman yang timbul karena kebiasaan atau hukum
iii. Membangun iman yang teguh di dalam Kristus
70
Surat-Surat Paulus
C. Hidup di dalam Kristus (pasal 3)
i. Ciri khas dari kehidupan di dalam Kristus
ii. Pembaruan hidup di dalam Kristus
iii. Perwujudan hidup di dalam Kristus
D. Mengejar Kehidupan di dalam Kristus (pasal 4)
i. Di dalam doa
ii. Di dalam hubungan kita dengan sesama
iii. Di dalam hubungan kita dengan rekan sekerja dalam Kristus
Bagian # 2 – Pengajaran dalam Surat Kolose
A. Di dalam Kerajaan Kristus (pasal 1)
a. Kita dapat menerima pengharapan sejati (1:3-8,12-14)
i. Pengharapan sejati bukanlah bersifat duniawi atau materi. Pengharapan
sejati bersifat surgawi (1:5), tidak dapat layu (1 Pet. 1:4) dan merupakan
bagian yang ditentukan untuk orang-orang kudus (1:12). Kita hanya dapat
menerima pengharapan kekal ini melalui Kristus.
ii. Hanya darah Kristuslah yang berharga, yang dapat mengampuni dosa-dosa
kita, melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memungkinkan kita hidup
dalam Kerajaan Allah (1:13-14).
b. Kita dapat mengalami kepenuhan Allah (1:9-12)
i. Dalam Kerajaan Kristus, kita dapat sepenuhnya diperdamaikan dengan Allah
(1:20-22). Melalui darah Kristus di kayu salib, kita dapat berdamai dengan
Allah dan tinggal dalam damai sejahtera bersama-Nya. Ketika memohon
sesuatu dari pada-Nya, kita dapat dikuduskan dan tidak bercela. Ini adalah
sesuatu yang orang-orang non-Kristen harap dapat mereka capai melalui
kemampuan manusia, tetapi yang ternyata tidak akan pernah dapat mereka
capai (2:23).
ii. Kita dapat dipenuhi dengan pengenalan akan Allah dan pengertian
yang rohani (1:9). Melalui Roh Kudus, kita akan memiliki hikmat untuk
membedakan yang benar dan yang salah. Kita akan dapat berfokus pada
perkara-perkara rohani, memahami dan mentaati rencana Allah bagi kita
dan berkenan kepada-Nya (1:10).
iii. Kita dapat mengalami kepenuhan kuasa Allah (1:11)
Kuasa Allah akan membuat kita memiliki kesabaran dan sukacita.
iv. Di dalam Kerajaan Kristus, kita dapat mengalami kepenuhan kemuliaan
Allah (15-19)
Kita akan mengetahui bahwa Yesus Kristus adalah gambar Allah yang tidak
kelihatan (1:15), bahwa Dia lebih utama dalam segala sesuatu (1:18) dan
seluruh kepenuhan Allah ada di dalam-Nya (1:19).
Surat-Surat Paulus
71
c. Kita mengambil bagian dalam pekerjaan Allah
i. Pekerjaan Kristus adalah untuk menyelamatkan kita.
Oleh karena itu, kita seharusnya memegang iman dengan teguh, sehingga
pekerjaan Allah dapat diselesaikan (1:23).
ii. Pekerjaan Allah adalah untuk menyelamatkan seluruh umat manusia.
Karena telah menerima anugerah Allah, kita seharusnya memandang
pemberitaan Injil sebagai tanggung jawab kita. Kita seharusnya meneladani
etos kerja dari orang-orang kudus yang ada sebelum kita hidup (1:24-29) dan
memberitakan Injil setiap saat untuk menggenapi pekerjaan keselamatan.
B. Dibangun di dalam Kristus (pasal 2)
a. Menghindari keduniawian dan kejatuhan iman (2:8-18)
i. Dalam gereja Kolose, ajaran-ajaran bidat merusak iman sampai ke
tahap keduniawian hingga menyangkal jati diri Kristus sebagai Allah dan
Juruselamat. Ajaran-ajaran itu menggunakan filsafat manusia yang kosong
dan palsu, ajaran turun-temurun dan azas-azas dunia untuk menafsirkan
keilahian dan kemanusiaan dari Kristus. Demikian pula, orang-orang zaman
sekarang ini menggunakan filsafat dan ilmu pengetahuan untuk meragukan
Kristus dan mujizat-mujizat yang telah dilakukan-Nya.
ii. Ajaran-ajaran bidat memperkenalkan praktek-praktek sunat dan menjalankan
hari-hari raya dan pemujaan terhadap malaikat.
iii. Semua ini adalah konsep penyembahan yang keliru
Hanya ketika berakar di dalam Kristus, kita dapat bertahan terhadap
pencobaan dan berpegang teguh dalam kebenaran.
b. Mencegah iman timbul karena kebiasaan atau hukum (2:20-23)
i. Ajaran-ajaran bidat berusaha untuk membuktikan iman mereka melalui
pertapaan (penyangkalan diri terhadap semua kesenangan). Akhirnya
mereka menjadi sama seperti orang-orang Farisi, yang imannya bersifat
sesuai dengan hukum yang dianutnya dan berdasarkan pada penampilan
luar serta perbuatan saja.
ii. Kita seharusnya bersandar pada Roh Kudus untuk membangun iman yang
tulus, yang dimulai dari dalam ke luar.
c. Membangun Iman yang teguh di dalam Kristus (2:6-7)
Ayat-ayat ini memberitahukan bahwa kita haruslah berakar dan dibangun di
dalam Kristus dan berdiri teguh di dalam iman. Untuk melakukan ini, kita harus:
i. Sungguh-sungguh mengenal Kristus (2:3,9-10).
Tuhan Yesus adalah satu-satunya dasar dari iman kita (1 Kor. 3:11). Kita
dapat menerima segala hikmat, pengetahuan dan anugerah hanya melalui
Dia.
ii. Memahami tujuan dari hukum Taurat (2:16-17)
Melalui Kristus, kita dapat memahami semangat dari hukum Taurat. Tujuan
hukum Taurat adalah untuk membuktikan jati diri Kristus dan memimpin
manusia untuk percaya kepada-Nya.
72
Surat-Surat Paulus
iii. Saling memotivasi dan berhubungan (3:16)
Sebagai tubuh Kristus, kita dapat saling membantu dengan saling mengajar
dan menasihati dengan mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani (saling
menjadi perantara).
iv. Hidup setia dalam iman (3:5)
Pertahanan diri terbaik terhadap ajaran bidat adalah hidup setia dalam iman
yang merupakan kebebasan dari perbudakan dosa.
C. Hidup di dalam Kristus (pasal 3)
a. Ciri khas dari kehidupan di dalam Kristus (3:1-4)
i. Hidup di dalam Kristus adalah sesuatu yang baru. Dalam Kolose 3:1, ayat
ini dimulai dengan “karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan
Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah
kanan Allah.” Ketika dibangkitkan kembali, kita menerima hidup yang baru.
Dengan hidup yang baru ini, kita seharusnya menetapkan tujuan yang baru
pula untuk mengarahkan pikiran kita kepada perkara-perkara yang di atas,
bukan yang di bumi (3:2).
ii. Hidup di dalam Kristus adalah sesuatu yang stabil. Ketika hidup kita
tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (3:3), iman kita akan
tetap stabil, teguh dan tidak goyah oleh tekanan-tekanan dari luar (Rm. 8:3537). Kestabilan di dalam Kristus terutama menjadi berharga bagi para remaja
berkenaan dengan perubahan cepat dan tekanan dari teman-temannya.
iii. Hidup di dalam Kristus adalah sesuatu yang mulia. Ketika Kristus yang
adalah kehidupan kita menyatakan diri kelak, kita pun akan menyatakan diri
bersama dengan Dia di dalam kemuliaan (3:4).
b. Pembaruan hidup di dalam Kristus (3:5-17)
i. Menanggalkan manusia lama (3:5-9). Setelah kita menerima hidup yang
baru dari Allah, kita seharusnya mematikan semua kebiasaan buruk, pikiran
yang jahat dan perbuatan jahat kita yang lainnya. Ini termasuk percabulan,
kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, keserakahan, marah, geram, kejahatan,
fitnah, kata-kata kotor dari mulut kita dan dusta.
ii. Mengenakan manusia baru (3:10-17). Manusia baru senantiasa memperbarui
pengetahuan yang benar akan Kristus (3:10). Dia kudus, pemurah, baik,
rendah hati, lemah lembut dan tahan menderita. Dia menanggungnya
bersama dengan saudara-saudari seiman dan pengampun. Dia pengasih,
penuh ucapan syukur, damai dan dipenuhi oleh firman dan hikmat Allah.
c. Perwujudan hidup di dalam Kristus (3:18-4:1)
i. Di dalam lingkungan rumah (3:18-21).
Ketika ‘diri kita’ yang baru dinyatakan dalam lingkungan rumah, Kristus
akan menjadi kepala rumah tangga di dalamnya. Setiap orang akan
menyelesaikan tugas-tugas mereka untuk membangun keluarga yang
bahagia dan diberkati. Suami-suami dan istri-istri akan saling mengasihi,
anak-anak akan taat, orangtua-orangtua akan mengasihi dan semua orang
akan saling menghormati.
Surat-Surat Paulus
73
ii. Di dalam lingkungan masyarakat (3:22-4:1)
Kita seharusnya bertindak hormat kepada Tuhan ketika sedang bekerja
dan hidup di dalam lingkungan masyarakat. Biia kita menyelesaikan tugas
di kantor dan mengabdi kepada atasan yang di dunia ini, kita akan dapat
membangun orang lain.
D. Mengejar Kehidupan di dalam Kristus – Penerapan Iman (pasal 4)
a. Di dalam doa (4:2-4)
i. Berdoalah untuk diri kita sendiri. Mari “bertekunlah dalam doa dan dalam
pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur” (4:1), sehingga
kerohanian kita dapat bertumbuh dan terpelihara.
ii. Berdoalah untuk pekerjaan Allah. Selagi mempersiapkan diri untuk
menyambut kedatangan Kristus yang kedua kalinya, marilah kita berdoa
untuk para hamba Allah. Berdoalah agar Allah membuka pintu-pintu bagi
pemberitaan firman dan menyampaikan rahasia Kristus.
b. Di dalam hubungan kita dengan sesama (4:5-6)
i. Pergunakan hikmat dalam berhubungan dengan orang-orang di luar sana.
Kita seharusnya menggunakan setiap kesempatan untuk memberitakan
Injil. Bagaimanapun, kita seharusnya mempergunakannya dengan hati-hati
dan bijak, sehingga kita jangan sampai tersesat.
ii. Perlakukan sesama dengan lemah lembut. Marilah kita tetap rendah hati
dan mengejar perdamaian dengan semua orang, sehingga nama Tuhan
dimuliakan.
c. Di dalam hubungan kita dengan rekan sekerja dalam Kristus (4:7-18)
i. Menunjukkan keramahan terhadap rekan-rekan sekerja. Sebagai orang
Kristen, tugas kita adalah untuk menunjukkan keramahan dan dukungan
kepada para pemberita Injil. Marilah kita menyambut keberadaan mereka
dan menerima ajaran dan nasihat mereka.
ii. Bekerja bersama-sama dengan satu hati. Marilah kita menggunakan
karunia-karunia yang berbeda untuk membangun orang-orang percaya dan
mendirikan gereja.
Menguji Pemahaman
1. Menurut Kolose 1, apakah tiga manfaat yang kita dapat peroleh dari menjadi
bagian dalam Kerajaan Allah?
2. Dalam aspek apakah kita akan dapat mengalami kepenuhan Allah?
3. Menurut Kolose 2, persoalan apa sajakah yang ada dalam gereja Kolose?
Bagaimana kita dapat menghindari persoalan yang serupa? (Lihatlah 2:6-7)
74
Surat-Surat Paulus
4. Empat hal apakah yang kita dapat lakukan untuk membangun iman yang teguh
di dalam Kristus?
5. Apakah tiga ciri khas dari hidup di dalam Kristus?
6. Bagaimana kita dapat mengalami pembaruan hidup dan menyatakan Kristus di
dalam hidup?
7. Dalam aspek apakah kita harus menjadi serupa dengan Kristus, menurut Kolose
4?
Penerapan Kehidupan
Menanggalkan Manusia Lama, Mengenakan Manusia Baru
Mengejar kehidupan di dalam Kristus merupakan proses seumur hidup yang
memerlukan kedisiplina dan ketetapan hati untuk menanggalkan kekang dan bagianbagian dari manusia lama kita dan menggantinya dengan sifat-sifat dari manusia baru
kita. Dalam latihan ini, marilah menggali sifat-sifat dari manusia lama dan manusia
baru kita dan renungkan bagaimana kita dapat membuang atau memperoleh setiap
sifat itu.
a. Menanggalkan Manusia Lama
1. Kembalilah ke Kolose 3:5-9. Sebutkan semua sifat manusia lama.
2. Tuliskan contoh dari tiap-tiap sifat negatif di tempat yang telah tersedia (jumlahnya
11 sifat dan contoh).
a. Percabulan – (berhubungan seks dengan seseorang yang belum atau telah
menikah)
b. Kenajisan – (tidak menjadi kudus dalam pikiran, menonton film-film yang
tidak baik)
c. Hawa nafsu (daging) – (menuruti keinginan untuk bermain video game tanpa
dapat mengendalikan diri)
d. Nafsu jahat – (keinginan untuk melukai seseorang)
e. Keserakahan – (perasaan serakah dan menginginkan lebih banyak membeli
atau mengenakan pakaian dengan merk ternama)
f. Marah – (amarah yang meledak-ledak terhadap saudara kandung)
g. Geram – (Memiliki sifat yang tidak terkendali)
h. Kejahatan – (mengatakan kata-kata yang tidak berarti mengenai seseorang
dengan maksud untuk merendahkan orang itu)
i. Fitnah – (mengatakan hal-hal yang tidak benar terhadap seseorang) atau
hujat – (menggunakan nama Allah dengan sembarangan)
j. Perkataan kotor – (menggunakan perkataan yang tidak baik ketika berbicara
dengan teman)
k. Dusta – (berkata tidak jujur kepada orangtua mengenai alasan pulang
terlambat)
Surat-Surat Paulus
75
3. Lingkari dan sebutkan lima sifat buruk teratas yang kalian perjuangkan di dalam
doa untuk tidak melakukannya lagi.
4. Tuliskan lima ketetapan hati (masing-masing satu) untuk membantu kalian
membuang sifat manusia lama di bulan depan (lihatlah Gambar 1):
Gambar 1
manusia lama
manusia baru
b. Mengenakan Manusia Baru
1. Kembali ke Kolose 3:12-15. Sebutkan semua sifat manusia baru.
a. Kudus
b. Belas kasih
c. Murah hati
d. Rendah hati
e. Lemah lembut
f. Sabar
g. Saling menanggung beban
h. Saling mengampuni
i. Pengasih
j. Penuh damai
k. Penuh syukur
l. Perkataan Kristus diam di dalam dirinya dengan berlimpah
m. Saling mengajar dan menasihati dalam mazmur, puji-pujian dan nyanyian
rohani.
n. Mengucap syukur kepada Allah di dalam hati
o. Melakukan segala sesuatu dalam nama Kristus
76
Surat-Surat Paulus
2. Lingkarilah lima sifat manusia baru yang dapat menggantikan pergumulan
manusia lama kalian.
3. Dalam Gambar 2, sebutkan masing-masing sifat manusia baru dan satu sasaran
yang kalian dapat capai di bulan berikutnya untuk menjadi manusia baru.
Gambar 2
manusia baru
Sasaran 1
Sasaran 2
Sasaran 3
Sasaran 4
Sasaran 5
Renungan dan Doa
Kita tidak boleh menyia-nyiakan kedudukan kita dan teguh berdiri sebagai
anak-anak Allah yang berharga. Kita pernah berada dalam perhambaan dosa, tetapi
Tuhan Yesus telah membayar harga yang mahal untuk membawa kita keluar dari
cengkeraman dosa dan masuk ke dalam anugerah penebusan-Nya. Karena Kristus
telah mati untuk kita, maka “kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu,
tetapi pemberian Allah.” Kita tidak perlu lagi membuktikan iman kita dengan perbuatan
seperti menderita kelaparan, bersunat atau menjalankan perayaan-perayaan
keagamaan. Bagaimanapun, dunia kita sekarang ini dipenuhi dengan ajaran-ajaran
bidat yang membuat kita merasa bingung dan ragu. Di sekolah atau di tempat kerja,
kita akan menemukan orang-orang yang menggunakan ilmu pengetahuan, logika,
filsafat, hikmat duniawi dan tradisi manusia untuk menyerang atau melemahkan iman
kita. Agar berdiri teguh di dalam Kristus, kita haruslah berakar dan dibangun di dalam
kebenaran Alkitab. Kiranya kita dapat saling menasihati untuk mengejar kehidupan
yang setia di dalam Kristus dan memperbarui kehidupan sehari-hari, sehingga kita
dapat memelihara iman dan dengan berani memberitakan firman Allah.
Surat-Surat Paulus
77
Halaman Kosong
78
Surat-Surat Paulus
pelajaran
Surat 1 Tesalonika
8
Bacaan Kitab
Kis. 16-18; surat 1 Tesalonika
Sasaran Pelajaran
1. Memotivasi murid untuk hidup berkenan kepada Allah, entahkah pada
saat baik maupun buruk
2. Menekankan pentingnya pemberitaan Injil
3. Mengajarkan murid untuk mempersiapkan diri terhadap kekekalan
dengan tujuan untuk mencapai kekudusan rohani
Ayat Alkitab
“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga
roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada
kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Tes. 5:23)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)
1 Tesalonika 1-5
Latar Belakang Alkitab
Kota Tesalonika (sekarang Salonica/Thessaloniki) adalah sebuah kota yang
makmur, karena letaknya yang strategis dekat ujung barat laut dari Laut Tengah.
Egnatian Way (Jalan Egnatian) yang menghubungkan Tesalonika dengan Roma
ke Timur, sehingga menyebabkan kota ini menjadi salah satu pusat perdagangan
terkaya di Kekaisaran Romawi. Saat surat 1 Tesalonika ditulis, Tesalonika merupakan
ibukota, sekaligus kota terbesar dari propinsi Makedonia, yang penduduknya kirakira 200 ribu jiwa.
Tesalonika merupakan salah satu kota pertama di benua Eropa yang diinjili
oleh Paulus dan Silas. Kunjungan mereka ke sana diawali dari suatu penglihatan
bahwa “ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya:
“Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!” (Kis. 16:9). Selama perjalanan
penginjilan Paulus yang kedua itulah, gereja Tesalonika didirikan di sana.
Surat-Surat Paulus
79
Setelah meninggalkan Tesalonika, kesejahteraan dari jemaat yang baru
percaya ini selalu ada dalam pikiran Paulus. Karena kasihnya yang besar untuk
mereka, Paulus mengutus Timotius untuk berkunjung ke sana, menasihati dan
memeriksa kemajuan rohani mereka (1 Tes. 3:2). Dan Timotiuspun akhirnya bergabung
kembali di Korintus dengan membawa kabar-kabar yang menggembirakan mengenai
iman mereka (Kis. 18:1,5; 1 Tes. 3:6-7). Paulus menulis surat untuk mengungkapkan
kelegaan hatinya dan memberi beberapa nasihat kepada mereka.
Surat Paulus yang pertama untuk jemaat Tesalonika ditulis sekitar tahun 51
M. Surat ini dianggap menjadi satu-satunya dari surat-surat Paulus yang paling awal
(dengan surat Galatia sebagai satu-satunya surat sebelumnya). Surat Tesalonika
memuat perhatian penuh Paulus terhadap jemaat di sana. Di dalamnya, Paulus
memotivasi orang-orang percaya Tesalonika untuk mempertahankan kekudusan
mereka dan memuji mereka, karena kesetiaan mereka sewaktu mengalami
penganiayaan. Paulus pun mengoreksi tuduhan-tuduhan palsu yang timbul setelah
kedatangannya. Dia menjelaskan kebenaran berkenaan dengan orang-orang Kristen
yang telah mati sebelum kedatangan Tuhan. Dalam membicarakan kematian,
Paulus mengingatkan orang-orang percaya bahwa kepastian berdiri di hadapan
Allah merupakan jaminan terbesar dari segala sesuatunya. Menurut struktur surat,
tiga pasal pertama bersifat lebih pribadi, sementara dua pasal terakhir cenderung
terhadap praktek penerapan dari doktrin-doktrin yang Paulus ajarkan.
Pemanasan
Bagaimana kekudusan berkaitan erat dengan kehidupan kekal? Apakah yang
akan terjadi terhadap kita, bila kita meninggal pada hari ini? Apakah kita memiliki
jaminan dari keselamatan kita? Dalam masyarakat yang penuh dengan perilaku
seksual ini, mempertahankan kekudusan merupakan pergumulan terbesar untuk
pemuda-pemudi kita sekarang. Bagaimanapun, tetap hidup dalam kekudusan
bukanlah satu-satunya persoalan dari zaman sekarang ini. Kekudusan rohani pun
merupakan bagian penting dari menyenangkan hati Allah dan mempersiapkan
diri kita untuk menyambut kedatangan-Nya yang kedua kali. Dalam pelajaran ini,
marilah kita belajar bagaimana Paulus mengkaitkan hidup takut akan Allah dengan
pengharapan kita akan kehidupan yang kekal.
Pemahaman Alkitab
Pengajaran dari Surat 1 Tesalonika
A. Ikhtisar Umum
Sekalipun diberkati dengan akal budi dan materi yang berlimpah, Tesalonika
bukanlah sebuah kota yang menyambut hangat kehadiran Injil. Karena Paulus tidak
dapat menghabiskan banyak waktu di sana untuk meletakkan dasar yang lebih teguh,
sehingga begitu memperhatikan kehidupan jemaat yang baru percaya
80
Surat-Surat Paulus
di dalam lingkungan yang kurang bersahabat (secara rohani) seperti ini. Di dalam surat
ini, kita dapat melihat bagaimana Paulus membangun kerohanian dari jemaat yang
baru percaya. Pertama, dia memotivasi jemaat untuk terus melanjutkan kesetiaan
mereka kepada Tuhan. Kedua, dia mengajarkan jemaat bagaimana menerapkan
pengajaran Kristus di dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, dia mengingatkan jemaat
mengenai Injil Kristus dan pengharapan akan kedatangan-Nya yang kedua kali.
Dengan berbuat demikian, Paulus membantu jemaat Tesalonika untuk menanamkan
dalam pikiran mereka, bahwa mereka dapat hidup layak dan berkenan, karena
pengorbanan Tuhan.
B. Iman Jemaat Tesalonika yang Patut Dipuji
Gereja di Tesalonika didirikan di tengah masa penganiayaan besar.
Bagaimanapun, bukannya jatuh dalam iman ketika di bawah penganiayaan,
sebaliknya, mereka justru sejahtera di dalam iman dan jemaat semakin bertambah
jumlahnya. Di sini, ada beberapa hal yang kita dapat pelajari melalui iman mereka:
a. Ketahanan rohani (1:3-6)
Sekalipun orang-orang percaya di Tesalonika mengalami penganiayaan karena
iman mereka, mereka justru memperlihatkan pekerjaan iman, perbuatan kasih
dan kesabaran dalam pengharapan.
b. Semangat memberi (1:7-8)
Karena telah mengalami sukacita dari Roh Kudus, iman dari orang-orang
percaya di Tesalonika menjadi teguh. Mereka menjadi teladan bagi semua orang
percaya di Makedonia dan Akhaya dan dikenal karena semangat mereka dalam
memberi (2 Kor. 8:1-8). Mereka rela membantu orang-orang percaya lainnya
dalam keuangan, sekalipun mereka sendiri memerlukannya. Sebagai hasilnya,
iman dari jemaat Tesalonika menyentuh jemaat lainnya di daerah setempat
(Makedonia) maupun di luar daerah itu (Akhaya).
c. Suatu kesaksian bagi orang lain (1:9-10)
Perubahan hidup dari jemaat Tesalonika menjadi kesaksian hidup bagi orang
lain. Orang banyak dapat melihat bagaimana mereka berubah dari menyembah
berhala menjadi melayani Allah yang hidup dan benar.
C. Paulus, Teladan Hidup Kristen
Dalam pasal 2, Paulus mengkaitkan kejadian-kejadian yang memicu
kunjungannya dan pendirian gereja di Tesalonika. Dalam prosesnya, dia memberi
teladan kehidupan Kristen bagi jemaat yang baru percaya.
a. Tidak gentar oleh persoalan yang timbul (2:1-2)
Sebelum kunjungan ke Tesalonika, Paulus mengalami penghinaan dan dipenjara
di Filipi. Kunjungannya ke Filipi ditandai dengan perlawanan yang keras dan
penganiayaan (Kis. 17:5-9). Bagaimanapun, Paulus tetap berani dan bersemangat
sepenuh hatinya dalam memberitakan Injil Tuhan. Penganiayaan mungkin dapat
menurunkan semangat juang, tetapi penganiayaan dapat pula menjadi sebab
bagi pertumbuhan rohani. Dalam Yakobus 1:2-4, dikatakan bahwa pencobaan
dan penganiayaan yang timbul dalam kehidupan akan menguji sifat-
Surat-Surat Paulus
81
sifat kita. Demikian pula, penderitaan dapat menghasilkan persekutuan dan
membantu orang-orang percaya secara bersama menjadi satu di dalam Kristus
Yesus.
b. Termotivasi oleh kasih (2:3-8)
Penginjilan Paulus tidak berasal dari motif-motif yang tidak kudus – demi
kepentingan pribadi. Sebaliknya, dia justru memberitakan Injil sejati untuk
menyenangkan hati Allah. Dia tidak mencari pujian dari manusia, tetapi
memperlakukan jemaat dengan kasih sama seperti seorang ibu mengasihi
bayinya.
c. Bersaksi melalui perbuatan (2:9)
Pelayanan Paulus dengan sendirinya memerlukan dana. Tetapi menyadari bahwa
jemaat mula-mula di Tesalonika bukanlah orang yang kaya, Paulus bekerja
siang malam, agar tidak menjadi beban bagi seorangpun, sambil memberitakan
Injil Allah. Paulus dan rekan-rekan sekerjanya pun bersaksi melalui kehidupan
mereka sehari-hari (2:10). Ini mengajarkan kita bahwa kesalehan, keadilan dan
ketidakbercacatan dari kehidupan Paulus merupakan saksi-saksi terbaik bagi
pemberitaan Injil.
D. Membangun Iman melalui Motivasi
Dalam pasal 3, Paulus terus menunjukkan perhatiannya terhadap jemaat
Tesalonika.
a. Menunjukkan perhatian setiap saat (3:1-5)
Saat Paulus menemukan bahwa jemaat mengalami kesusahan, dia segera
mengutus seorang pekerja untuk memberikan mereka kelepasan rohani
dan motivasi. Kita pun seharusnya bersikap proaktif dalam menunjukkan
kasih. Kita seharusnya memegang kesempatan untuk membantu orang lain
dengan menunjukkan perhatian ketika mereka dalam keadaan yang paling
membutuhkan.
b. Motivasi melalui pujian (3:6-9)
Paulus memberikan pujian yang tinggi berupa menaruh kenang-kenangan yang
baik terhadap jemaat Tesalonika, karena mereka mempertahankan kesetiaan
mereka di bawah pencobaan (1:3). Menunjukkan penghargaan yang tulus
atas kekuatan dan kebajikan orang lain adalah cara yang paling positif untuk
memotivasi orang lain.
c. Doa yang tidak putus-putus (3:10-13)
Salah satu karunia terbaik yang seseorang dapat berikan adalah melakukan
doa syafaat. Siang dan malam, Paulus dengan sungguh-sungguh berdoa, agar
Allah mencukupkan apa yang masih kurang dalam iman dari jemaat Tesalonika.
Sekalipun mereka setia dalam menanggung pencobaan, tetapi mereka adalah
jemaat yang baru percaya, yang memerlukan tuntunan dan perhatian. Paulus
berdoa, agar Allah menguatkan hati jemaat, sehingga mereka menjadi tidak
bercela dan kudus di hadirat Allah saat kedatangan-Nya yang kedua kali.
82
Surat-Surat Paulus
E. Memotivasi Pertumbuhan Rohani
Pasal 4 dan 5 memuat perintah praktis dalam hal apa yang masih kurang
dalam pengetahuan jemaat Tesalonika mengenai kedatangan Tuhan Yesus yang
kedua kalinya. Pasal-pasal ini memotivasi orang-orang percaya, agar menerapkan
kebenaran dalam kehidupan Kristen mereka.
a. Bertujuan untuk memperoleh dasar kerohanian yang lebih tinggi
Paulus memotivasi orang-orang percaya, agar berjuang untuk memperoleh
dasar kerohanian yang lebih tinggi dengan cara:
i. Mengejar kekudusan hidup terhadap percabulan (4:1-8; 5:23)
Mereka adalah para petobat baru, yang selalu dikelilingi oleh perbuatanperbuatan yang tidak bermoral dan tidak beriman. Oleh karena itu, Paulus
menasihati mereka untuk menjauhkan diri dari percabulan dan menjalani
kehidupan yang kudus. Hari ini, kita pun tidak kurang rentannya terhadap
tekanan-tekanan duniawi, bila dibandingkan dengan jemaat Tesalonika. Kita
haruslah senantiasa mengintrospeksi diri dan “menawan segala pikiran dan
menaklukkannya kepada Kristus” (2 Kor. 10:5). Kita harus pula membiarkan
firman Allah menguduskan dan menyucikan kita (Ef. 5:26).
ii. Hidup dengan tertib (4:9-11)
Jemaat Tesalonika telah mengetahui bagaimana saling mengasihi, tetapi
Paulus menasihati mereka untuk berusaha melakukannya lebih daripada
sekedar itu. Dia meminta, agar mereka tidak hanya mengasihi, tetapi
mempertahankan pula gaya hidup tertib untuk menjadi teladan bagi orangorang yang tidak percaya. Dia memotivasi mereka untuk mengejar hidup
yang sopan, yang mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja
dengan tangan sendiri untuk membiayai kebutuhan hidup mereka sendiri.
iii. Bersyukur dan bersukacita (5:16-18)
Ketika sedang bekerja keras untuk Tuhan, tidak dapat dihindari bahwa kita
mengalami keadaan yang membuat kita merasa putus asa. Pada masamasa itu, kita haruslah mengingat bahwa merupakan kehendak Allah bagi
kita untuk bersukacita, berdoa dan merasa cukup dalam segala keadaan.
b. Mempersiapkan diri untuk kedatangan Tuhan yang kedua kali
Paulus menasihati, agar jemaat mempersiapkan diri untuk kedatangan Kristus
yang kedua kali dengan melakukan:
i. Kewaspadaan rohani (5:1-10)
Banyak orang di dunia hidup di dalam kegelapan dan terus berbuat dosa
tanpa rasa takut kepada Allah atau penghakiman-Nya kelak. Bagaimanapun,
kita adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita haruslah sadar dan
menaruh perintah-perintah Allah di dalam pikiran kita. Kita janganlah seperti
orang-orang malam (kegelapan), yang tidur secara rohani dan bersukaria
dalam kesenangan dunia seperti orang yang mabuk. Sebaliknya, kita
seharusnya melindungi hati sendiri dengan perisai iman dan kasih. Kita pun
seharusnya melindungi pikiran sendiri dengan meneruskan pengharapan
dan keselamatan yang dari Allah.
Surat-Surat Paulus
83
ii. Saling memberi dukungan (5:11-14)
Karena kita hanyalah manusia, kita tidak dapat menghindari semua pengalaman
pada saat-saat lemah. Untuk membangun iman di dalam tubuh Kristus, kita
perlu saling membangun dan mendukung.
iii. Tetaplah Berdoa (5:17)
Kekuatan manusia sungguh terbatas. Untuk mengatasi pencobaan dan
penganiayaan dunia, kita haruslah selalu berdoa untuk menerima kuasa yang
lebih besar dari Allah.
iv. Menguji segala sesuatu (5:19-21)
Bagaimana kita mengetahui apa yang benar dan yang salah di dalam masyarakat
yang jamak ini? Standar penilaian yang terbaik didasarkan pada kebenaran
dan hikmat yang diberikan oleh Roh Kudus. Dengan demikian, kita akan dapat
menguji dan menegaskan kehendak Allah yang baik, yang berkenan kepadaNya dan yang sempurna (Rm. 12:2).
F. Kebangkitan
Sebagai orang-orang yang baru percaya, jemaat Tesalonika memiliki pertanyaan
seputar kematian dan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Oleh karena itu, Paulus
menggunakan bagian dari suratnya sebagai sesi tanya jawab. Dengan mengulas
kebenaran seputar kedatangan Yesus yang kedua kalinya, membantu kita pula untuk
tetap berfokus pada tujuan akhir dari iman kita.
a. Apakah yang akan terjadi pada saat kebangkitan (4:16)
i. Kita akan mengetahui dengan pasti ketika Tuhan datang, karena Dia akan turun
dari surga dengan sebuah seruan, dengan suara penghulu malaikat dan suara
sangkakala Allah (4:16).
ii. Orang-orang Kristen yang telah mati di dalam Tuhanlah yang akan bangkit
pertama kalinya (4:13; 1 Kor. 15:23).
iii. Orang-orang kepunyaan Kristus yang masih hidup akan diubah (4:17).
iv. Orang-orang Kristen yang telah diubah akan berkumpul di awan-awan bersama
dengan orang kudus yang telah ‘tidur’ (mati) sebelumnya untuk bertemu dengan
Tuhan di angkasa. Orang-orang kepunyaan Kristus akan tinggal bersama
dengan Tuhan selamanya (4:17).
b. Pengajaran dari kebangkitan – apakah yang harus kita lakukan bersama-sama
sekarang?
i. Kita tidak perlu merasa takut akan kematian. Ketika orang-orang yang terkasih di
dalam Kristus meninggal, kita seharusnya tidak berdukacita sampai begitu rupa
seperti orang-orang yang tidak percaya, yang tidak memiliki pengharapan akan
hidup yang kekal (4:13). Kita wajib menghibur keluarga yang sedang berduka
(4:18), memenuhi kebutuhan dan menguatkan iman mereka. Dengan berbuat
demikian akan menunjukkan semangat kepemilikan di antara anggota-anggota
rumah tangga Allah.
84
Surat-Surat Paulus
ii. Dengan berharap pada kekekalan yang luar biasa seperti ini, kita seharusnya
terus berusaha memberitakan Injil, agar lebih banyak orang yang dapat
diselamatkan pada hari kedatangan Tuhan yang kedua kalinya.
Menguji Pemahaman
1. Mengapa Paulus katakan bahwa jemaat Tesalonika adalah sebuah gereja
teladan? Apakah yang kita dapat pelajari dari mereka?
2. Bagaimana Paulus memuji jemaat Tesalonika? Kelebihan apa sajakah yang dia
tunjukkan?
3. Bagaimana sikap Paulus ketka memotivasi jemaat Tesalonika?
4. Apakah tiga tujuan rohani yang Paulus berikan kepada jemaat Tesalonika?
5. Bagaimana Paulus memotivasi jemaat mempersiapkan diri untuk menyambut
kedatangan Tuhan yang kedua kalinya?
6. Menurut surat 1 Tesalonika, apakah yang akan terjadi pada orang-orang Kristen
yang mati sebelum kedatangan Kristus yang kedua kalinya?
Penerapan Kehidupan
Bagian A – Tiga Langkah Rencana untuk Hidup Kudus terhadap Percabulan
Sebagai orang-orang percaya yang hidup di bawah pengaruh perubahanperubahan hormonal pada masa remaja, bagaimana kita dapat menjadi kudus dan
tetap hidup dalam kekudusan? Lihatlah tabel berikut dan bacalah ayat-ayat mengenai
tetap hidup dalam kekudusan. Lalu, renungkan bagaimana ayat-ayat itu menjadi
teladan bagi kehidupan kalian.
Surat-Surat Paulus
85
Langkah-Langkah
Apakah yang Alkitab
telah sampaikan?
Bagaimana terapkan
ayat dalam hidupku?
1. Bacalah Ayub 31:1
Ayub membuat sebuah
tekad yang sungguh
untuk tidak mengikuti
keinginan daging. Tekad
itu ditanamkan dalam
hatinya untuk menuntun
dirinya pada saat sebelum
dan selagi pencobaan itu
datang.
Aku seharusnya
bertekad untuk tetap
murni dan kudus. Pada
tahap ini, aku akan
berencana bertindak
ketika mengalami
pencobaan-pencobaan
yang tidak diharapkan.
2. Bacalah
Kejadian 39:12 dan
2 Timotius 2:22
Yusuf menjauh dari
godaan secara fisik
dengan melarikan diri.
Aku akan menghindari
atau menyingkirkan
diriku dari situasisituasi yang merusak
kekudusan dan imanku
terhadap Allah.
3. Bacalah
Mazmur 119:9 dan
Galatia 5:16-25
Seorang muda dapat
mempertahankan
kelakukannya bersih
dengan menjaganya
sesuai dengan firman
Allah. Kita dapat
menghindari hawa nafsu
daging dengan berjalan di
dalam Roh Allah.
Aku dapat bersandar
pada firman Allah dan
Roh-Nya yang kudus
untuk membimbing dan
mentahirkanku dalam
kehidupan seharihari. Aku seharusnya
menyempatkan diri untuk
berdoa dan membaca
Alkitab, agar mendekat
kepada Allah.
Bagian B – Menelaah Biaya dan Manfaat
Hidup kudus mungkin menyebabkan kita mnejadi tampak aneh di tengah
arus dunia, karena untuk menjadi ‘terpisah dan kudus,’ mungkin perlu menjauhkan
diri dari norma-norma budaya seperti berdansa, memainkan video games, berpesta
pora dan kondisi sosial lainnya yang menyatu dengan dosa dan godaan. Sekalipun
harga tekad untuk tidak lagi ‘bersenang-senang’ mungkin tampaknya begitu besar,
tetapi manfaat yang dipreoleh sesungguhnya jauh lebih besar. Dalam aktivitas
berikut, marilah kita membantu murid-murid menggambarkan biaya dan manfaat
dari kenikmatan jasmani dan kekudusan rohani.
Langkah 1:
Mintalah semua murid untuk memikirkan ide mengenai pencobaan-pencobaan
yang mungkin dapat merusak kekudusan mereka (contoh: Berpacaran, berdansa,
menonton acara televisi, film-film orang dewasa, video games, papan iklan, novel
roman, majalah…)
86
Surat-Surat Paulus
Langkah 2:
Adakanlah pemilihan suara dan pilihlah tiga pencobaan yang paling sulit untuk
dihadapi.
Langkah 3:
Isilah analisis berikut untuk masing-masing dari tiga pencobaan. Sebuah contoh
telah dibuat untuk diperhatikan oleh semua murid. Mereka dapat mengisinya dalam
tabel kosong berikut.
Pencobaan
(contoh: Mengunjungi
situs yang sebenarnya
aku tidak boleh kunjungi)
...menyerah pada
pencobaan sekarang
Biaya
...menolak pencobaan
sekarang
Manfaat
Biaya
Manfaat
sedikit
merasa
bersalah
gembira,
heran akan
hal-hal
yang baru
sangkal
diri dari
apa yang
temanteman
dapat atau
boleh lihat
hati nurani
tidak
merasa
bersalah
Apakah yang akan
kurasakan 20 tahun
yang lalu, bila aku...
aku
mungkin
kecanduan
situs-situs
porno,
karena
kebiasaan
yang
terbentuk
di kelas
Remaja
tahu akan
informasi
dunia
tidak terlalu
banyak
dapat
menjadi
teladan
bagi anakanakku
Apakah yang akan
kurasakan ketika
meninggal dan
menghadap Allah,
bila aku...
aku akan
dihakimi
karena
semua
perbuatanku
tidak ada
tidak ada
sukacita
dapat
berdiri di
hadapan
Allah tanpa
sesal hati
terhadap
kunjungan
ke situs
porno
Apakah yang menjadi
hasilnya, bila aku...
Surat-Surat Paulus
87
Pencobaan
(contoh: Mengunjungi
situs yang sebenarnya
aku tidak boleh kunjungi)
...menyerah pada
pencobaan sekarang
Biaya
Manfaat
...menolak pencobaan
sekarang
Biaya
Manfaat
Apakah yang menjadi
hasilnya, bila aku...
Apakah yang akan
kurasakan 20 tahun
yang lalu, bila aku...
Apakah yang akan
kurasakan ketika
meninggal dan
menghadap Allah,
bila aku...
Renungan dan Doa
Jemaat Tesalonika dianggap sebagai orang-orang Kristen teladan yang
mengasihi Tuhan, karena memberi kepada orang-orang yang membutuhkan dengan
murah hatinya dan memberitakan-Nya melalui iman mereka. Tetapi, mereka memiliki
banyak potensi untuk bertumbuh dalam kerohanian dan belajar. Hanya karena
setia kepada Tuhan, bukan berarti bahwa mereka tahan uji terhadap penganiayaan
dan pencobaan tiap-tiap hari terhadap percabulan, ketidaktertiban hidup dan
ketidakpedulian. Mereka pun belum mengerti benar terhadap doktrin-doktrin dasar
seperti kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Kita mungkin menemukan banyak dari
murid-murid kelas Remaja yang sama seperti jemaat Tesalonika. Sekalipun mereka
mengasihi Tuhan dan datang ke gereja, tetapi baru sebatas merasakan hadirnya
hal-hal rohani di usia belia mereka. Mereka memiliki keinginan untuk melakukan
hal yang baik dan bekerja untuk Tuhan, tetapi hadapi tantangan dari teman-teman
sebaya dan situasi-situasi yang menggoda. Marilah kita belajar melalui Paulus dan
membimbing mereka dengan lemah lembut dan kasih; marilah kita berdoa, agar
mereka dapat bertumbuh di dalam Tuhan, mengatasi pencobaan-pencobaan masa
muda, memberitakan firman dan memiliki tujuan untuk mencapai kekekalan di dalam
kehidupan mereka sehari-hari.
88
Surat-Surat Paulus
pelajaran
Surat 2 Tesalonika
9
Bacaan Kitab
Kis. 17; surat 2 Tesalonika
Sasaran Pelajaran
1. Mempelajari bagaimana memotivasi seseorang yang sedang mengalami
penganiayaan
2. Membantu murid mengenali tanda-tanda akhir zaman
3. Memotivasi murid mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan
Kristus yang kedua kali dengan mengejar gaya hidup yang saleh dan
produktif
Ayat Alkitab
“Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita
menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya
menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan
segala pekerjaan imanmu.” (2 Tes. 1:11)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)
2 Tesalonika 1-3
Latar Belakang Alkitab
Surat Paulus yang kedua untuk jemaat Tesalonika ditulis di Korintus kira-kira
setengah tahun setelah surat yang pertama (kira-kira tahun 50-51 M). Surat yang
pertama telah begitu memotivasi jemaat Tesalonika. Bagaimanapun, guru-guru palsu
segera mulai mengacaukan pesan Paulus yang berkaitan dengan eskatologi (doktrin
mengenai akhir zaman). Bahkan beberapa di antaranya meniru Paulus dengan
mengajar dalam namanya (2 Tes. 2:1-2). Sebagai akibatnya, banyak jemaat yang
berhenti bekerja, karena mereka meyakini bahwa dunia hampir berakhir. Mereka
menjadi para pemalas yang membuang-buang waktu dan meninggalkan pekerjaan
mereka. Ini membuat situasi kacau di kalangan gereja. Oleh karena itu, Paulus
menuliskan surat kedua ini dengan tiga tujuan:
Surat-Surat Paulus
89
1. Memotivasi jemaat yang mengalami penganiayaan.
2. Mengoreksi ajaran-ajaran palsu mengenai kedatangan Tuhan yang kedua kali.
3. Menasihati jemaat, agar kembali bekerja dan menjalani hidup yang saleh, gaya
hidup yang produktif.
Catatan: Untuk memperoleh permahaman yang lebih menyeluruh mengenai latar
belakang dari surat 2 Tesalonika, Anda dapat mengulang kembali bagian Latar
Belakang Alkitab pada Pelajaran 8.
Pemanasan
Dalam berita-berita, kita mendengar para pemimpin agama yang menubuatkan
bahwa dunia akan berakhir pada suatu tanggal tertentu. Beberapa pengikutnya,
bahkan menjual harta mereka, berkumpul di suatu tempat tertentu dan pada waktu
tertentu sambil menantikan kedatangan Tuhan. Sayangnya, Kristus tidak pernah
muncul pada waktu yang ditentukan itu dan gerakan itu berakhir dengan tragedi atau
kekecewaan. Apakah salah untuk meyakini keterdesakan dari akhir zaman itu akan
segera tiba waktunya? Bagaimana kita seharusnya hidup dalam mempersiapkan diri
untuk menyambut kedatangan Kristus yang kedua kalinya?
Pemahaman Alkitab
Bagian # 1 – Ikhtisar Umum
A. Motivasi
i. Memuji pertumbuhan rohani
ii. Mengingatkan kembali tentang tujuan akhir
1. Menderita untuk Kerajaan Allah
2. Menghukum orang-orang yang menentang kebenaran
iii. Berdoa untuk pekerjaan Tuhan
B. Eskatologi
i. Bertahan dalam pencobaan
ii. Mengenali dosa atau pelanggaran manusia
iii. Berdiri teguh dalam pengharapan
C. Menjalani hidup yang saleh dan produktif
i. Di dalam doa
ii. Di dalam perbuatan
iii. Di dalam kasih
90
Surat-Surat Paulus
Bagian # 2 – Pengajaran dari Surat 2 Tesalonika
A. Motivasi (pasal 1)
a. Memuji pertumbuhan rohani (1:3-4)
Paulus mengawali suratnya dengan memotivasi jemaat Tesalonika yang
mengalami penganiayaan hebat. Dia memberikan pujian, karena ketekunan dan
pertumbuhan rohani mereka dalam hal:
i. Iman
Jemaat tidak gentar terhadap penganiayaan. Sebaliknya, iman mereka
makin lama semakin bertumbuh dalam menghadapi pencobaan dan
penganiayaan.
ii. Kasih
Sekalipun sedang menderita, tetapi mereka secara proaktif memperhatikan,
menghibur dan mendukung orang lain (Ibr. 10:32-34). Ini menunjukkan
kepenuhan kasih mereka.
iii. Kemampuan untuk menghibur orang lain
Paulus merasa terhibur dengan iman dari jemaat Tesalonika. Dia memegahkan
mereka dan dapat bersyukur kepada Allah oleh karena mereka. Demikian
pula, kita dapat menghibur dan meyakinkan para orangtua dan mereka
yang berusia lebih tua bahwa kita tetap berdiri teguh ketika menghadapi
penganiayaan dan berpegang pada prinsip-prinsip alkitabiah.
b. Mengingatkan kembali tentang tujuan akhir (1:5-10)
Kadang, cara terbaik untuk tetap fokus adalah menyimpan tujuan akhir di dalam
ingatan mereka. Filipi 3:14 berbicara mengenai penekanan pada “tujuan untuk
memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”
Demikian pula, Paulus membantu jemaat Tesalonika terfokus kembali pada
tujuan untuk:
i. Memasuki Kerajaan Allah (1:5)
Tuhan berkenan kepada orang-orang yang menderita demi nama-Nya (Mat.
5:10). Karena jemaat telah menderita untuk Kerajaan Allah, mereka memiliki
jaminan untuk menerima upah dari Tuhan.
ii. Berdiri di hadapan Tuhan pada hari terakhir (1:8-10)
Allah itu memang adil. Sekalipun orang-orang jahat mungkin tampak
merajalela pada suatu saat, tetapi pada akhirnya, Allah akan menghukum
mereka yang menentang kebenaran dan yang mengakibatkan penderitaan
(6-7). Dia akan memberikan upah kepada orang-orang yang telah menderita
demi nama-Nya, sehingga mereka yang menjadi kepunyaan-Nya itu akan
menyaksikan kemuliaan Tuhan.
c. Berdoa untuk pekerjaan Tuhan (1:11-12)
Seorang atlet dimotivasi untuk melakukan yang terbaik selama sebuah
pertandingan olahraga berlangsung, terlebih lagi ketika ada fans dan pendukung
yang memberikan semangat di sampingnya. Konsep yang sama diterapkan pula
pada peperangan rohani. Adalah jauh lebih mudah berperang dalam perjuangan
yang baik ketika kita memiliki seseorang yang mendukung kita melalui doa.
Surat-Surat Paulus
91
Di sini, Paulus mengatakan:
i. Bahwa Allah akan memperhitungkan jemaat Tesalonika layak atas panggilanNya.
ii. Bahwa Allah akan menolong orang-orang percaya untuk menyelesaikan
pekerjaan-Nya yang baik.
iii. Bahwa Allah akan memberikan kekuatan kepada orang-orang percaya
dalam pekerjaan kudus mereka.
Tujuan di balik semua ini adalah untuk memuliakan Yesus Kristus, Tuhan kita.
B. Eskatologi – Pengajaran mengenai Akhir Zaman (pasal 2)
Dalam bagian kedua dari suratnya, Paulus menjelaskan perihal akhir zaman.
Dia bukan hanya mengoreksi ajaran-ajaran palsu mengenai kedatangan Kristus
yang kedua kali, tetapi mengajarkan pula bagaimana jemaat mempersiapkan diri
dan bereaksi terhadap kedatangan Kristus yang kedua kalinya itu.
a. Bertahan dalam pencobaan (2:1-3)
Untuk bertahan dalam pencobaan, kita haruslah:
i. Memahami tanda-tanda akhir zaman (2:2)
Akan ada rumor dan kejadian-kejadian rohani yang mengawali kedatangan
Tuhan yang kedua kalinya. Untuk berdiri teguh dalam hal ini, orang-orang
percaya haruslah dapat membedakan yang benar dan yang salah.
ii. Dengan sabar menantikan Tuhan (2:3)
Tuhan Yesus dengan jelas memberitahukan bahwa kita akan dapat
mengamati dan mengetahui tanda-tanda akhir zaman yang sudah mendekat
(Mat. 24:34). Dia pun berkata: “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak
seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak dan Anakpun tidak,
hanya Bapa sendiri” (Mat. 24:36). Sebagai orang Kristen, semua yang kita
lakukan adalah menantikan kedatangan Tuhan dengan sabar dan tekun.
Kedua, kita janganlah membuat pernyataan mengenai waktu kedatangan
Tuhan atau janganlah percaya pada spekulasi orang lain.
b. Mengenali durhaka/pelanggaran manusia (2:3-12)
Hari Tuhan tidak akan datang sebelum durhaka (pelanggaran manusia dalam
New International Version – NIV) dinyatakan. Oleh karena itu, penting bagi kita
untuk dapat mengenali beberapa durhaka manusia.
i. Ciri khas (2:4)
Manusia durhaka akan menentang Allah dan berusaha untuk “meninggikan
diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Dia
duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah...dan akan
disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu.”
(2:4,9). Bagaimanapun di bawah terang kebenaran, manusia durhaka ini
akan tampak seperti tiruan Allah yang jahat dan sombong.
ii. Pembatasan (2:9)
Sekalipun manusia durhaka akan tetap disertai dengan kuasa Iblis untuk
melakukan mujizat-mujizat, tetapi waktu dan kuasanya dibatasi oleh Tuhan
(2:7). Manusia durhaka mungkin dapat menipu orang lain, tetapi Roh Kudus
akan memberi petunjuk dan menjauhkan kita dari tipu dayanya itu, selama
kita takut akan Allah dan berdiri teguh di dalam iman.
92
Surat-Surat Paulus
iii. Akhir (2:8)
Manusia durhaka akan dibunuh oleh nafas mulut Tuhan dan dimusnahkan
dengan kedatangan-Nya yang dahsyat. Akhirnya, manusia durhaka akan
gagal dan dihukum untuk selama-lamanya.
c. Berdiri teguh dalam pengharapan (2:13-17)
i. Memelihara iman (2:15)
Orang-orang percaya seharusnya tidak terpengaruh oleh ajaran-ajaran
palsu yang berkenaan dengan akhir zaman. Kita memang mengharapkan
kedatangan Tuhan akan segera tiba, tetapi jangan menanggapinya dengan
berlebihan. Kita seharusnya berpegang teguh pada ajaran-ajaran yang telah
diajarkan kepada kita, baik melalui perkataan (khotbah) atau tulisan (Alkitab).
Kebenaran akan menolong kita membedakan yang benar dan yang salah,
mengalahkan keinginan yang mementingkan diri sendiri dan menghindari
ajaran bidat dan kecenderungan dunia.
ii. Mengejar kekudusan (2:13)
Salah satu cara untuk berdiri teguh dalam pengharapan adalah dengan
terus-menerus dan secara aktif mengejar kekudusan dan kemajuan rohani
melalui Roh Kudus.
C. Menjalani Hidup yang saleh dan produktif (pasal 3)
Pasal 3 merupakan bagian Penerapan Kehidupan dari surat 2 Tesalonika.
Di sini, Paulus menasihati jemaat untuk membuang kemalasan untuk mencapai
peningkatan-peningkatan dalam bidang berikut:
a. Di dalam doa (3:1-5)
i. Berdoa untuk para hamba Tuhan (3:1-3)
Jemaat Tesalonika diminta untuk berdoa bagi Paulus, Silas dan Timotius,
agar mereka dapat memberitakan Injil dengan baik, terlepas dari para
pengacau dan orang jahat serta memuliakan Tuhan. Hari ini, kita pun harus
ingat untuk mendoakan para hamba Tuhan, sehingga mereka tidak patah
semangat dalam penginjilan mereka.
ii. Berdoa untuk diri kita sendiri (3:5)
Kita seharusnya berdoa, agar Tuhan mengarahkan hati kita ke dalam kasihNya dan dalam kesabaran Kristus.
b. Di dalam perbuatan (3:6-12)
i. Tindakan yang tertib (3:6-11)
Paulus menasihati jemaat untuk hidup dengan tertib. Dalam kehidupan seharihari dan interaksi kita dengan orang lain, kita seharusnya menggunakan
kebenaran Alkitab sebagai prinsip penuntun kehidupan kita. Kita seharusnya
menjauhkan diri dari saudara-saudari yang tidak taat atau yang tidak tertib
hidupnya, menghormati gereja dan menjalani hidup untuk memuliakan Allah
dan membangun sesama.
Surat-Surat Paulus
93
ii. Bekerja dengan tenang (3:12)
Sekalipun mengharapkan kedatangan Kristus yang kedua kalinya, kita
janganlah hanya duduk-duduk sepanjang hari tanpa berbuat apa-apa.
Sebaliknya, jemaat perlu menghindari kemalasan dan menjadi bagian dari
masyarakat yang produktif. Kita perlu untuk bekerja dan jalani kehidupan
yang jujur, sehingga dapat memiliki penghasilan untuk menghidupi diri
sendiri, keluarga dan pekerjaan kudus. Dengan cara ini, kita tidak akan
menjadi beban bagi orang lain dan akan dapat membantu pekerjaan
Tuhan.
c. Di dalam kasih (3:13-15)
i. Jangan jemu-jemu berbuat kebaikan (3:13)
Kita seharusnya berusaha sebaik mungkin untuk membantu orang-orang
yang membutuhkan. Ketika kaya dalam kebajikan (1 Tim. 6:18), kita
sesungguhnya, telah menunjukkan semangat kesatuan di dalam keluarga
Kristus (1 Yoh. 3:17-18).
ii. Saling menasihati (3:14-15)
Dengan kasih, jemaat menghibur hati yang hancur, memotivasi yang lemah,
memperingatkan yang tidak taat dan saling mengindahkan peringatanperingatan. Dengan cara ini, tubuh Kristus dapat bertumbuh dalam kasih
menuju kesempurnaan.
Menguji Pemahaman
1. Apakah tiga alasan utama, sehingga Paulus menulis surat kedua untuk jemaat
Tesalonika?
2. Bagaimana Paulus memotivasi jemaat Tesalonika yang sedang menderita oleh
sebab kepercayaan mereka?
3. Menurut pasal 2, sikap apakah yang seharusnya dimiliki oleh orang Kristen
mengenai kedatangan Tuhan yang kedua kalinya? Apakah yang mereka dapat
lakukan untuk mempersiapkan diri menyambut akhir zaman?
4. Siapakah yang akan muncul sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali?
Bagaimana dengan ciri khas, pembatasan dan akhirnya?
5. Mengapa penting untuk menjauhkan diri dari kemalasan? Sebaliknya, apakah
yang kita harus lakukan?
94
Surat-Surat Paulus
Penerapan Kehidupan
Ke manakah Perginya Waktuku?
Dalam surat 2 Tesalonika, Paulus menasihati jemaat untuk menjauhkan diri
dari kemalasan dan jalanilah hidup yang saleh dan produktif. Sekalipun mungkin
sedikit dari antara kita yang hanya duduk-duduk saja menantikan kedatangan Tuhan,
tetapi sangatlah mungkin bahwa kita tidak menggunakan waktu kita dengan bijak
sebagaimana seharusnya. Latihan pertama ini akan membantu kita melihat di mana
sebagian besar dari waktu yang ada kita habiskan.
Bahan-bahan yang diperlukan:
5-6 spidol/pensil warna untuk setiap murid
Petunjuk:
1. Setiap kotak adalah SATU JAM. Gunakan pensil/pen untuk mewarnai semua
waktu luang yang kita miliki pada tabel berikut. Ini adalah waktu yang tidak dapat
kalian kendalikan. Waktu yang tidak bebas untuk dipilih, termasuk:
– fungsi-fungsi waktu yang digunakan untuk kelangsungan hidup (waktu
makan, waktu tidur, waktu buang air kecil/besar)
– memerlukan waktu untuk menjalankan kewajiban yang sehat (waktu
perawatan)
– pekerjaan (saat bersekolah, saat bekerja, termasuk saat berkendara)
– Lain-lain __________ (pekerjaan paruh waktu, bila membutuhkan uang
tambahan)
2. Tempat berwarna putih yang tersisa seharusnya menjadi waktu untuk kalian
pilih.Hitunglah kotak-kotak putih yang ada.
– Waktu luang kalian PER MINGGU adalah __________ JAM
– Bagilah waktu luang kalian dengan tujuh hari dalam seminggu.
– Waktu luang kalian PER HARI adalah __________ JAM
3. Gunakan pensil warna untuk menandai setiap kategori berikut. Kalian dapat
memasukkan kategori-kategori yang termasuk jumlah waktu penting per
harinya.
– Ibadah kelompok (waktu ke gereja, ke persekutuan)
– Ibadah pribadi (doa pribadi dan pembacaan Alkitab)
– Menjalin sebuah hubungan (waktu yang dihabiskan bersama keluarga dan
teman-teman, telepon, email)
– Perbaikan diri (belajar, berlatih dengan menggunakan peralatan)
– Kegiatan santai (olahraga, hobi, bepergian, membaca, menonton, musik
dan bermain internet)
– Lain-lain __________
Surat-Surat Paulus
95
CIRI KHAS DALAM SATU MINGGU DARI KEHIDUPAN _______________
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
6:00 AM
7:00 AM
8:00 AM
9:00 AM
10:00 AM
11:00 AM
12:00 PM
1:00 PM
2:00 PM
3:00 PM
4:00 PM
5:00 PM
6:00 PM
7:00 PM
8:00 PM
9:00 PM
10:00 PM
11:00 PM
12:00 AM
1:00 AM
2:00 AM
3:00 AM
4:00 AM
5:00 AM
4. Hitunglah jumlah kotak dari tiap-tiap warna.
– Waktu rata-rata yang kalian habiskan dalam ibadah kelompok per minggu
adalah __________ jam
– Waktu yang kalian habiskan untuk ibadah pribadi per minggu adalah
__________ jam
– Waktu yang kalian habiskan untuk menjalin sebuah hubungan adalah
__________ jam
96
Surat-Surat Paulus
–
–
–
Waktu yang kalian habiskan untuk perbaikan diri adalah __________ jam
Waktu yang kalian habiskan untuk kegiatan santai adalah __________ jam
Waktu yang kalian habiskan adalah __________ setiap minggunya adalah
__________ jam
5. Hitunglah persentase dari waktu luang yang kalian habiskan pada tiap-tiap
kategori dengan membagi jumlah jam dengan total waktu luang yang ada.
Hitunglah persentase menurut aturan. (Pilihan: Buatlah diagram dengan angka
dari persentase itu.)
6. Renungkan: Apakah ada hal yang mengejutkan mengenai bagaimana kalian
menggunakan waktu luang yang ada? Menurut tabel waktu kalian, apakah ada
peningkatan jumlah kemalasan dalam hidup kalian? Apakah kehidupan kalian
sekarang lebih saleh, lebih produktif atau justru lebih malas? Lingkarilah deretan
angka berikut untuk mengetahui di manakah diri kalian berada:
Bersikap malas
atau
menyia-nyiakan
hidup
– 1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 6 – 7 – 8 – 9 – 10 –
Bersikap saleh,
produktif dalam
penggunaan waktu
yang bijak
7. Tuliskan tiga hal yang ingin kalian ubah mengenai penggunaan waktu pribadi
dan bagaimana kalian dapat memperbaiki kehidupan pribadi.
Renungan dan Doa
Ketika kita menantikan kedatangan Tuhan yang kedua kali, banyaklah ajaran
bidat dan palsu yang akan muncul untuk memperdaya dunia hingga menyebabkan
orang-orang percaya mengabaikan kebenaran yang semula. Oleh karena itu, kita
haruslah melatih diri dalam ketajaman membedakan ajaran dan membiarkan Roh
Kudus dan kebenaran yang memimpin kehidupan kita sehari-hari. Seperti Amsal
16:25 memberitahu kita: “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju
maut.” Marilah kita berdoa, agar Tuhan memberikan kekuatan dan hikmat, sehingga
kita dapat luput dari kebinasaan yang kekal dan tetap tinggal di jalan kehidupan.
Marilah kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan yang kedua
kalinya sebagai hamba-hamba Kristus yang setia dan berguna.
Surat-Surat Paulus
97
Halaman Kosong
98
Surat-Surat Paulus
pelajaran
Surat 1 Timotius
10
Bacaan Kitab
Surat 1 Timotius; surat Efesus
Sasaran Pelajaran
1. Mengajarkan murid bagaimana menjadi pemimpin-pemimpin muda di
gereja, mengatasi tantangan yang mungkin akan mereka alami bersama
dengan jemaat lainnya
2. Memotivasi murid untuk memahami apa dan mengapa mereka percaya,
sehingga iman mereka dapat bertahan terhadap pandangan-pandangan
yang tidak alkitabiah
3. Mengingatkan kembali murid bahwa perbuatan saleh adalah yang
diharapkan ada di lingkungan gereja, Rumah Tangga Allah
Ayat Alkitab
“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.
Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam
tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”
(1 Tim. 4:12)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)
1 Timotius 1-6
Latar Belakang Alkitab
Dengan melihat sekilas kitab Kisah Para Rasul (17:14-15; 18:5; 20:4) dan
sejumlah surat Paulus (1 Kor. 4:17; Flp. 1:1; 2:19-23; Kol. 1:1; 1 Tes. 1:1; 3:2; 2
Tes. 1:1; Flm. 1), hubungan dirinya yang erat dengan Timotius menjadi bukti nyata.
Dengan memanggil Timotius ‘anak di dalam iman,’ nyatalah bahwa hubungan guru
dan murid berubah menjadi ikatan antara bapa dan anak. Timotius terlahir dari ayah
orang Yunani dan ibu orang Yahudi, Eunike; bertobat pada sewaktu perjalanan
penginjilan Paulus yang pertama saat Paulus dan Barnabas diusir oleh orang-orang
Yahudi dan mereka pergi ke Ikonium untuk memberitakan Injil di kampung halaman
Timotius, Listra, di propinsi Galatia.
Surat-Surat Paulus
99
Saat Paulus kembali ke Listra pada perjalanan penginjilannya yang kedua,
dia membimbing Timotius untuk bekerja bersama di dalam pelayanan (Kis. 16:1-3).
Timotius menyertai Paulus ke Berea, Atena, Korintus dan Yerusalem dan dia
diutus ke Korintus, Filipi dan Tesalonika sebagai wakil Paulus, sering pula untuk
menyampaikan persoalan jemaat kepada Paulus.
Timotius bersama dengannya selama dalam pemenjaran Paulus yang
pertama kali di Roma dan setelah dilepaskan, dia diutus ke Filipi untuk memberikan
kabar baik (tahun 62-64 M). Lalu, Timotius bergabung dengan Paulus di Efesus dan
menetap di sana, sementara Paulus melanjutkan pemberitaan Injil ke Makedonia.
Pada saat itulah, Paulus menulis surat 1 Timotius, surat penggembalaannya yang
pertama dari tiga surat, yang memuat prinsip-prinsip kepemimpinan yang bermanfaat
di dalam Rumah Allah, sebagaimana pula petunjuk mengenai menjalani hidup yang
benar.
Pemanasan
Apakah kalian masih datang ke gereja, karena alasan berikut – kebiasaan
dari orangtua kalian? Apakah iman kalian sungguh-sungguh adalah iman dari
diri kalian sendiri? Apakah kalian memiliki pertanyaan yang tidak terjawab yang
menghalangimu untuk menyakini Allah lebih mendalam? Boleh-boleh saja memiliki
pertanyaan-pertanyaan, yang seharusnya mengarahkan diri pada perenungan
pribadi, pencerahan dalam persekutuan, perenungan firman dan doa. Mengenal
dan memahami Allah merupakan proses yang luar biasa dan menyenangkan (dalam
skala besar); dengan mengakui bahwa hal ini memang tidak selalu mudah untuk
dirasakan. Siswa kelas Remaja memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk
melayani di gereja. Agar menjadi seorang hamba yang efektif, menjadi seorang
pemimpin, kita perlulah mengetahui kepada siapa kita melayani dan percaya serta
apa yang Dia inginkan dari hal-hal itu.
Pemahaman Alkitab
Pengajaran dari Surat 1 Timotius
Sekalipun Timotius berusia kira-kira 40 tahun pada saat itu, dia masih dianggap
terlalu muda untuk memimpin dan mengarahkan gereja yang digembalakannya.
Sekalipun memiliki pengetahuan rohani lebih daripada jemaat lainnya di gereja,
Timotius menghadapi persoalan-persoalan, seperti bagaimana orang lain memandang
keberadaan dirinya. Dalam hal ini, faktor usialah yang menjadi persoalan. Sekalipun
siswa kelas Remaja tidak mengalami pertumbuhan rohani (dan jasmani) yang sama
seperti Timotius, mereka mungkin dapat mengkaitkan hambatan yang ada dan sudut
pandang dari seseorang.
Paulus menulis surat ini adalah untuk menasihati Timotius mengenai
bagaimana memelihara kebenaran Allah, bagaimana gereja seharusnya berperan
100
Surat-Surat Paulus
dan bagaimana mengembangkan kepemimpinan yang baik. Sebagai surat yang
lebih praktis dibandingkan dengan surat pengajaran, hal-hal yang telah disebutkan
justru dapat membangun diri sendiri tanpa dihalangi oleh lainnya. Surat ini bukanlah
sebuah tulisan yang cemerlang seperti surat Roma dan lebih menyerupai sebuah
surat yang sungguh-sungguh ditujukan kepada satu orang, gagasan-gagasan yang
ditulis adalah sama seperti yang dipikirkan.
Catatan: Lihatlah pada Pelajaran 5 (Surat Efesus) untuk latar belakang kota dan
gereja.
A. Ajaran-Ajaran Palsu dan Mitos (Takhyul dan dongeng)
Tujuan Timotius tinggal di Efesus adalah untuk mengoreksi ajaran-ajaran
palsu manusia dan yang mengabdikan diri pada dongeng dan silsilah (1:3-4). Tujuan
dari perintah-perintah itu bagi Timotius sendiri dan jemaat Efesus adalah untuk
belajar mengasihi melalui hati yang suci, hati nurani yang murni dan iman yang tulus
ikhlas (1:5).
a. Ajaran-ajaran palsu (1:3-11; 6:3-10)
Sekalipun sebagian besar dari jemaat di Efesus adalah orang-orang Yahudi
yang telah bertobat menjadi Kristen, namun ajaran-ajaran palsu yang berkenaan
dengan hukum Taurat muncul, karena beberapa orang justru memperoleh
keuntungan dari hal ini. Ditambah lagi dengan kemegahan dan kurangnya
pemahaman, guru-guru palsu ini tidak merasa bersalah atasnya timbulnya
kebingungan dan perselisihan.
• Kesombongan (sedikitnya pengenalan akan Allah) dan perselisihan masih
ada dalam perdebatan-perdebatan gereja sekarang ini. Bagaimana cara
kalian membaurkan situasi seperti ini?
b. Mitos (4:1-8)
Rupanya penduduk Efesus mengambil batasan-batasan yang tidak perlu
berdasarkan alasan-alasan budaya. Mitos-mitos ini mungkin telah ada sejak
dahulu ketika mereka berkembang dewasa atau satu-satunya mitos yang
mereka seringkali dengar, seperti sebuah mode. Hal ini dapat mengkondisikan
persoalan-persoalan etnosentris yang kita miliki sekarang (percampuran antara
kebudayaan Asia, kebudayaan Amerika, pengajaran Alkitab, pengharapan
gereja).
• ‘Penjaga lama’ gereja sekarang cenderung menjadi lebih Asia secara
kebudayaan. Ini menjadi persoalan bagi pemuda yang lebih berpikiran
budaya barat. Ada jurang antara dua kelompok budaya ketika keduanya turut
memainkan bagian dari pengertian-pengertian yang ‘baik’ dalam kerohanian
gereja. Inikah hal yang dapat disampaikan? Bila demikian, apakah yang
akan menjadi hal yang saleh? Bila tidak, apakah sebabnya?
B. Pengharapan Bagi Orang Percaya (pasal 2-3; 5-6:1-2)
Untuk menunjukkan kasih kepada Allah dan segenap anggota keluarga-Nya,
saudara-saudari seiman bertanggung jawab untuk berperilaku dengan cara tertentu.
Gereja merupakan tiang penopang dan dasar kebenaran dan jemaat haruslah
menunjukkan dasar realitas dari Yesus Kristus ini.
Surat-Surat Paulus
101
Dan orang-orang yang menginginkan kehormatan dengan melayani Tuhan dalam
kapasitas yang lebih besar sebagai seorang penatua atau diaken, ada pengharapanpengharapan yang lebih besar di dalam peran itu dan orang-orang yang ada dalam
otoritas, kedudukan yang tinggi. Berikut adalah hal-hal penting bagi siswa kelas
Remaja.
a. Berdoa (2:1-7)
Permohonan doa melebihi orang-orang yang kita ketahui telah diselamatkan
dan yang kita doakan agar diselamatkan. Allah ingin menyelamatkan semua
orang dan Dia hanya meminta kita untuk berdoa dan memperhatikan hal yang
sangat berarti bagi-Nya ini.
• Apakah yang kalian dapat masukkan ke dalam permohonan doa kalian
sekarang? Bagaimana kalian membuatnya menjadi sepenuh hati?
b. Saudara-saudara (2:8; 3:1-13; 5:1,17-20; 6:1-2)
Persyaratan untuk menjadi seorang penatua atau diaken mungkin tampak
merupakan pemikiran yang sangat jauh, tetapi semua persyaratan itu membuat
orang yang lebih tua, yang diperkenan Allah berlaku juga untuk orang-orang
yang lebih muda: Sabar, dapat mengendalikan diri, terhormat, ramah, dapat
mengajar, tidak mabuk, lemah lembut, pendamai, rendah hati, tidak tamak, tulus,
setia di dalam iman, menghormati perempuan. Pula, mereka janganlah berdoa
dengan marah dan tidak menegur orang-orang yang lebih tua. Kita perlulah
menjadi teladan bagi saudara-saudara yang lebih muda.
• Apakah yang menurut kalian merupakan teladan khusus dari perilaku
persaudaraan yang baik? Satu hal apa yang kalian dapat perbuat untuk
menjadi teladan yang lebih baik bagi orang-orang yang lebih muda?
c. Saudari-saudari Seiman (2:9-15; 5:2-16)
Para perempuan seharusnya berpakaian sederhana, sopan dan pantas, seperti
berpakaian untuk Allah dan bukan untuk manusia. Untuk memperoleh perhatian
dari Allah, mereka mendandani diri dengan perbuatan-perbuatan saleh. Belajar
dengan tenang dan taat sepenuhnya berarti menjadi ‘tenang, tidak mengganggu
dan taat.’ Tampaknya, ini bertentangan dengan gagasan kemerdekaan dari kaum
perempuan di dalam masyarakat modern. Tetapi saran Paulus justru berkaitan
dengan pembelajaran dan ditujukan untuk menciptakan lingkungan tertib bagi
yang berbuat demikian. Pula, untuk kaum laki-laki, memperlakukan perempuan
yang lebih tua sebagai ibu dan perempuan yang lebih muda sebagai saudari,
dengan kekudusan yang mutlak.
• Apakah tantangan untuk berperilaku saleh seperti ini bagi saudari-saudari?
• Bahkan para saudara dapat memberikan penguatan yang negatif (misalkan:
menguatkan hati suadari itu untuk berpakaian dengan gaya yang lebih
duniawi). Apakah yang kalian dapat lakukan secara pribadi untuk membantu
saudari-saudari (yang lebih muda/lebih tua dari usia kalian) untuk menjadi
lebih saleh?
C. Seorang Pemimpin Baik yang tidak menghiraukan keadaan
Beberapa jemaat di Efesus mungkin tidak memiliki pikiran seperti Timotius
karena usianya, tetapi seorang pemimpin gereja yang baik bukanlah diukur menurut
berapa banyak suara yang dia peroleh dari persetujuan jemaat. Seorang pemimpin
gereja yang baik diukur dengan perkenanan dari Allah.
102
Surat-Surat Paulus
a. Belajar dan terus belajar (1:18-19; 4:6-16)
Timotius memang dibesarkan di dalam kebenaran oleh neneknya, Lois
dan ibunya, tetapi dia lebih banyak belajar dari Paulus dalam perjalanan
penginjilannya yang kedua. Dan dia terus belajar ketika Paulus memberikannya
lebih banyak petunjuk dan hikmat melalui suratnya. Sama seperti kita memotivasi
jemaat untuk membaca Alkitab setiap harinya, demikianlah Paulus menyuruh
Timotius untuk mempersembahkan dirinya bagi pembacaan Kitab Suci. Dan
agar tidak menyimpang dari kepercayaannya, Timotius haruslah merenungkan
dan menyelidiki doktrin-doktrin dengan seksama.
b. Syarat-syarat seorang pemimpin yang baik di gereja (4:6-16; 6:11-21)
Seorang pemimpin yang baik, memahami bahwa dia bukannya hanya seorang
pekerja, tetapi seorang teladan pula bagi orang lain yang melihatnya melakukan
pekerjaan itu. Oleh karena itu, setiap pemimpin yang baik mengingat bahwa
peran dan tindakannya dapat mempengaruhi orang lain, baik secara positif
maupun negatif. Orang yang sungguh-sungguh diperkenan oleh Allah adalah
orang-orang yang dapat memimpin karena Dia akan memakainya. Paulus
memotivasi Timotius untuk mengejar hal-hal berikut untuk menjadi seorang
pemimpin yang baik:
i. Sama seperti Yesus, seorang pemimpin di gereja melayani. Gunakan
otot-otot rohani itu! Timotius diperintahkan untuk mengatur, mengajar dan
memberitakan Injil.
ii. Sama seperti Yesus, seorang pemimpin gereja yang efektif dekat dengan
Allah dan secara rohani bertumbuh. Paulus menyuruh Timotius untuk
senantiasa mempelajari Kitab Suci dan mengejar sifat-sifat yang baik –
keadilan, kesalehan, iman, kasih, kesabaran dan kelemahlembutan.
iii. Sama seperti Yesus, fokus! Timotius diperingatkan, agar menjauhkan diri
dari hal-hal yang dapat mengubah imannya – kesombongan, cinta akan
uang, perkara-perkara duniawi, perkataan yang tidak baik dan pemikiran
yang berlawanan. Dia seharusnya berpegang pada pengharapan dan
kegigihan untuk berperang dalam perjuangan iman yang baik.
iv. Sama seperti Yesus, kasih. Di dalam surat penggembalaan ini, Paulus
memberikan petunjuk dalam skala besar kepada Timotius mengenai
bagaimana melayani berbagai jemaat di gereja; mengampuni dan mentolerir
terhadap anggota keluarganya sendiri.
Surat-Surat Paulus
103
Menguji Pemahaman
1. Apakah tujuan Timotius tinggal di Efesus dan apakah hasilnya dari tujuan itu?
2. Paulus memperingatkan Timotius terhadap ajaran-ajaran palsu apakah?
3. Apakah yang kita dapat pelajari untuk berperang melawan ajaran-ajaran palsu
dan guru-guru palsu?
4. Perilaku apakah yang diharapkan dari antara kita sebagai para pemuda di
gereja?
5. Apakah persyaratan dari seorang pemimpin yang baik?
Penerapan Kehidupan
Bagian A – Mempelajari Kembali Lima Dasar Kepercayaan
Lima Dasar Kepercayaan Gereja Yesus Sejati berbeda dengan aliran
kekristenan yang lainnya. Teman-teman Kristen mungkin bertanya-tanya mengapa
iman kepercayaan kita dan ketika mereka menanggapi tidak mempercayainya, kita
mungkin bertanya-tanya apakah yang kita percayai selama ini benar adanya. Marilah
kita mengulang kembali apa yang kita percayai dan mengapa kita percaya itu.
Langkah 1:
Bagilah murid-murid ke dalam dua kelompok. Guru dapat memilih atau memberikan
tugas secara acak, kepercayaan yang dimiliki setiap orang. Sekelompok rekan yang
tidak memiliki kepercayaan yang sama.
Langkah 2:
Pada babak pertama, rekan yang pertama akan menjelaskan kepada rekannya
mengenai kepercayaan itu dan mengapa itu menjadi Dasar Kepercayaan Gereja
Yesus Sejati. Boleh melihat ke dalam Alkitab. Rekan lainnya seharusnya mengajukan
pertanyaan dengan maksud ingin tahu.
Langkah 3:
Pada babak kedua, rekan yang kedua akan melakukan hal yang sama dengan
kepercayaan yang ditugaskan kepadanya.
Langkah 4:
Bila ada cukup banyak kelompok, pilihlah pasangan untuk menjelaskan sebuah
Dasar Kepercayaan di hadapan semua orang. Demikian pula, setiap siswa akan
menjelaskan dan menjawab pertanyaan dari kelas dengan tangkas.
104
Surat-Surat Paulus
Diskusikan sebagai satu kelas, hal apa sajakah yang utama dan sulit dipisahkan
dari yang telah disebutkan di atas. Lihatlah pada Buku Inti Kebenaran Alkitab dan
buku Pertanyaan dan Jawaban Dasar-Dasar Kepercayan Gereja Yesus Sejati untuk
mendapatkan informasi yang lebih mendalam mengenai tiap-tiap Kepercayaannya.
Dasar-dasar Kepercayaan – Apa dan Mengapa
Hari Sabat Kudus
Hari Tuhan ditetapkan sebagai hari yang kudus (Kej. 2:3); hari perhentian yang
ditujukan untuk Dia (Kel. 16:23). Hari Sabat merupakan hari terakhir dalam satu
minggu – hari Sabtu, sesuai dengan kalender Romawi. Kita mengetahui bahwa
orang-orang Yahudi Orthodoks mengikuti tradisi dan memegang Sabat mulai hari
Jumat malam. Allah memerintahkan orang-orang Israel memegang hari Sabat di
dalam Sepuluh Perintah Allah (Kel. 20:8-11). Gereja mula-mula selalu memegang
hari Sabat (Kis. 13:14) bukan karena tradisi legal, tetapi karena hakikat rohani dari
pada hari Sabat.
Baptisan Air
Berdasarkan baptisan Yohanes Pembaptis – diselam ke dalam air yang hidup. Yesus
memberikan teladan ketika Dia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Baptisan Yohanes
merupakan baptisan pertobatan, setelah kematian Yesus, baptisan itu adalah untuk
penebusan dosa (Kis. 2:38; 22:16). Para murid-Nya membaptis orang lain pula ketika
Dia masih hidup (Yoh. 4:2). Setelah Yesus bangkit dan kembali ke surga, mereka
terus membaptis orang-orang percaya yang baru (Kis. 8:38).
Basuh Kaki
Membasuh kaki orang-orang percaya. Terjadi setelah sakramen baptisan air. Yesus
membasuh kaki murid-murid-Nya pada perjamuan terakhir. Pada mulanya, Petrus
menolak, sehingga Yesus berkata, “Sebab Aku telah memberikan suatu teladan
kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat
kepadamu” (Yoh. 13:15).
Perjamuan Kudus
Memperingati pengorbanan dan kematian Yesus (1 Kor. 11:24-26) dan mengambil
bagian di dalam tubuh dan darah-Nya (1 Kor 10:16). Melakuan perjamuan terakhir
selama Hari Raya Paskah. Roti adalah tubuh dan cawan adalah darah, yang secara
rohani berubah setelah pengucapan syukur (Mat. 26:26-28). Satu roti dipecah-pecah
menjadi bagian-bagian kecil, karena hanya ada satu tubuh Allah (1 Kor. 10:16-17).
Karena ragi melambangkan hal negatif di dalam Alkitab, maka roti adalah tidak
beragi dan “hasil pokok anggur” adalah sari buah anggur, sebab anggur (arak)
difermentasikan melalui ragi.
Roh Kudus
Roh Kudus adalah Yesus (Yoh. 14:16-17), yang adalah Allah sendiri (Kis. 5:3-4).
Sekalipun ada gerakan-gerakan dari Roh Kudus dalam Perjanjian Lama, itu tidak
terjadi sampai Yesus bangkit dan kembali ke surga serta Roh Kudus tinggal di dalam
manusia (Kis. 1:1-5). Roh Kudus pertama-tama dicurahkan saat hari raya Pentakosta
(Kis 2:1-4). Roh Kudus dicurahkan ke atas orang-orang non-Yahudi sebagai tanda
bahwa keselamatan Allah tidaklah terbatas pada orang-orang Yahudi saja (Kis 10:4448). Buktinya dengan berbahasa roh (Kis 2:4; 10:46; 19:6). Roh Kudus perlu mutlak
bagi keselamatan seseorang (Yoh. 3:5; Rm. 8:9; 2 Kor. 1:22).
Surat-Surat Paulus
105
Bagian B –
Perubahan Dimulai dari Kalian –
Menjadi Seorang Hamba Allah yang Lebih Baik
Kekurangan apa sajakah yang ada pada pekerjaan gereja yang kita lakukan?
Apakah yang kita dapat lakukan untuk memperbaikinya?
Langkah 1
Mintalah murid-murid menuliskan tugas-tugas mereka di gereja sekarang di selembar
kertas dan dengan cara apakah mereka akan memperbaiki pekerjaan itu. Mereka
dapat pula menuliskan pekerjaan yang diharapkan dapat mereka ambil bagian di
masa datang?
Langkah 2
Mintalah murid-murid memberikan lembaran kertas mereka kepada orang yang
berada di sebelah mereka. Setelah melihat lembar milik temannya itu, mintalah
mereka menuliskan nasihat atau motivasi bagaimana temanmu itu dapat mencapai
tujuannya. Berilah 30 detik dan terus mengedarkan kertas itu sampai setiap murid
memperoleh kembali lembarannya.
Langkah 3
Mintalah murid-murid memberikan nasihat dan motivasi yang mereka kira itu
bermanfaat.
Renungan dan Doa
Beberapa murid kelas Remaja menghadapi tanggung jawab yang meningkat
dalam pekerjaan gereja dan mereka dapat mengkaitkannya dengan beban yang
mungkin Timotius rasakan. Memang memerlukan kesabaran dan kerendahan hati
seseorang untuk menjadi cukup bijak menggembalakan semua orang di dalam kasih
dan kesalehan. Paulus memotivasi Timotius untuk tetap teguh dengan belajar dan
merenungkan Kitab Suci setiap harinya. Pengenalan akan Allah membawa kita lebih
dekat kepada-Nya. Makin kita dekat, semakin mudah bagi-Nya untuk memakai diri
kita sebagai perabot-Nya. Bukanlah atas kehendak Timotius atau kehendak kita
yang membuat diri dengan lemah lembut dan bijak menggembalakan jemaat dan
melakukan pekerjaan gereja, tetapi merupakan kehendak Allahlah.
106
Surat-Surat Paulus
pelajaran
Surat 2 Timotius
11
Bacaan Kitab
Surat 2 Timotius
Sasaran Pelajaran
Menjadi hamba Kristus yang teladan
Ayat Alkitab
“Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih
dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan
dengan hati yang murni.” (2 Tim. 2:22)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)
2 Timotius 1-4
Latar Belakang Alkitab
Paulus menulis surat 2 Timotius (suratnya yang terakhir) kira-kira tahun 67
M saat pemenjaraannya yang kedua di Roma dan sebelum penganiayaan dirinya.
Tidak seperti pada saat pemenjaraannya yang pertama kalinya di Roma, yang lebih
menyerupai rumah tahanan, Paulus kali ini terkunci di dalam penjara dan hanya ada
sedikit harapan untuk dibebaskan. Hanya Lukas yang menemani Paulus.
Tidak seperti suratnya yang pertama kepada Timotius, yang isinya sebagian
besar merupakan nasihat praktis dan penggembalaan, surat yang kedua ini penuh
dengan penghiburan rohani dan penginjilan – menjadi setia dan memberitakan kabar
baik. Dua tema berasal dari kasih Paulus kepada Yesus Kristus dan kasihnya kepada
Timotius. Hubungan Paulus dan Timotius yang erat terbukti dari ucapan salamnya,
yang menyebutkan Timotius sebagai anaknya yang terkasih dan keinginannya, agar
Timotius datang ke Roma sebelum dia meninggal. Hubungan mereka mengalami
kemajuan dari hubungan antara guru-murid dan tuan-hamba menjadi hubungan
bapa-anak di dalam iman.
Surat-Surat Paulus
107
Pemanasan
Kalian melihat bahwa orang-orang yang sebaya atau lebih muda dari diri kalian
memerlukan beberapa motivasi di dalam iman mereka. Saudara-saudari ini dicobai
untuk menjalani kehidupan yang lebih dari seperti teman-teman non-Kristen mereka
atau teman-teman Kristen yang sambil lalu saja. Apakah yang kalian akan katakan
untuk memotivasi macam orang demikian? Apakah yang kalian akan lakukan untuk
menggembalakan orang ini? Pikirkan kembali saat-saat seseorang mengatakan
sesuatu yang membangun kerohanian kalian.
Pemahaman Alkitab
Pengajaran dari Surat 2 Timotius
Sekalipun Paulus dipenjara dan hanya Lukaslah yang menemaninya, tetapi
dia menulis surat akrab ini yang memuat motivasi dan pengharapannya kepada
Timotius. Setelah mengalami kehidupan yang sukar dan dianiaya selama bertahuntahun sebagai rasul Yesus Kristus, Paulus tidak merasa menyesal dan berdiri teguh
dalam imannya. Dia menasihati Timotius, yang tidak mau menderita sebanyak itu,
untuk melakukan hal yang sama. Surat-surat Paulus memberikan teladan bagi hamba
Kristus, dan itu memberikan pengajaran mengapa mencapai standar itu merupakan
tujuan yang berharga.
Catatan: Lihatlah pula Pelajaran 10 yang memuat latar belakang dari aspek-aspek
penting dari surat Paulus yang pertama kepada Timotius.
A. Teladan dari Hamba Kristus
Paulus menulis hampir setengah dari kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Antara
pengajarannya dan pandangan sekilas dari kehidupannya sebagai seorang rasul (di
luar kitab Kisah Para Rasul), dia mungkin adalah seorang Kristen paling terkenal di
dalam Alkitab. Sekalipun kita belajar mengenai Petrus dan Yohanes terlebih dahulu
melalui Injil, kita hanya mendengar dari mereka dalam beberapa surat pendek
setelah kemunculan mereka di dalam kitab Kisah Para Rasul. Yesus Kristus adalah
standar yang diinginkan setiap orang Kristen dan Paulus merupakan teladan terbaik
dari orang yang telah berhasil mendekati tujuan itu.
a. Gunakan karunia dan terapkan pengetahuan rohani (1:6; 3:16-17)
Paulus memotivasi Timotius untuk “mengobarkan karunia Allah yang ada
padamu oleh penumpangan tanganku ke atasmu” (1:6). Sekalipun kita tidak
mengetahui karunia khusus apa yang Timotius terima, kita dapat melihat bahwa
dia merasa takut untuk menggunakannya. Tetapi seperti yang kita ketahui dari
perumpamaan tentang talenta (Mat. 25:14-30), bila Allah memberikan kita suatu
keahlian, Dia mengharapkan kita dapat menggunakannya.
108
Surat-Surat Paulus
Kadang, kita mungkin beranggapan bahwa diri kita ini tidak memiliki talenta untuk
diberikan melayani kepada Allah, tetapi bila kita memiliki hati untuk melayaniNya, Dia akan membuka jalan untuk kita. Seorang hamba teladan harus pula
memahami Kitab Suci dan menerapkannya. Dia haruslah membaca Alkitab,
merenungkannya dan hidup di dalamnya. Mengetahui kepada siapa dia percayai
dan apa yang dia percayai itu memelihara imannya menjadi mantap, sehingga
membuat dirinya mengikutinya pula dan pemberitaaan Firman Allahpun menjadi
lebih mudah.
b. Pemberita Injil (1:7-14; 4:1-5)
Yesus Kristus memberikan para murid sebuah amanat yang agung: “Karena
itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam
nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:19-20a). Pelayanan
Paulus mencerminkan hal ini saat memberitakan Injil melalui tiga perjalanan
penginjilannya dan nasihat melalui surat-suratnya. Dia memotivasi Timotius
demikian: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya,
nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran
dan pengajaran” (2 Tim. 4:2).
Jangan malu memberitakan Injil. Janganlah kita menjadi takut. Pada zaman
Paulus dan Timotius, penganiayaan terhadap orang Kristen berlangsung hebat
di bawah pimpinan Kaisar Nero, tetapi Paulus lebih memperhatikan kematian
rohani daripada kematian jasmani. Dia mengetahui nilai keselamatan dari Yesus
Kristus, bahkan bila orang lain tidak mengetahuinya, dia tidak merasa malu
terhadap dirinya maupun Allah yang sangat banyak membantunya.
c. Kuat di dalam Kristus (2:1-7)
Paulus memberikan tiga perumpamaan bagaimana Timotius dapat menjadi kuat
di dalam Kristus (mungkin siswa kelas Remaja memiliki pengaruh lain yang kuat,
yang dapat mereka bahas).
Perumpamaan mengenai prajurit menekankan pada tiga sifat: Kesabaran,
fokus dan kesetiaan. Paulus katakan bahwa untuk mengatasi masa-masa sulit
atau pencobaan, ikutilah Yesus Kristus.
Perumpamaan mengenai olahragawan menekankan pada ketaatan. Bila
kehidupan merupakan sebuah permainan yang diciptakan oleh Allah, satusatunya cara agar seseorang dapat memenangkan hadiah yang kekal adalah
bermainlah menurut aturan-Nya. Bila tidak, kita haruslah mendapat hukuman.
Hukuman itu dapat berupa dicobai untuk mengabaikan peraturan-peraturan
Allah karena tampaknya bertolak belakang dengan cara untuk menjadi berhasil
di dunia. Tetapi, hadiah yang diperoleh tentu lebih baik daripada hadiah dari
dunia.
Perumpamaan mengenai petani menekankan pada kerja keras dan usaha.
Kerja keras petani menghasilkan buah, sehingga sudahlah sepantasnya bila
dia diberi hadiah. Tidak peduli jumlah talentanya, bekerja keras untuk Allah
sangatlah dianjurkan. Seperti Yakobus berkata, “Sebab seperti tubuh tanpa roh
adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”
(Yak. 2:26).
Surat-Surat Paulus
109
d. Berhati-hati dalam perkataan (2:14-19,23-26)
Tubuh Kristus memiliki banyak anggota dan memang ada dari beberapa di
antaranya secara alami tidak rukun. Sehingga hal itu mencobai kita untuk menghardik,
menjadi pasif – agresif dan menjadi marah, tetapi Paulus mengingatkan Timotius,
agar tidak bertengkar dan mengubah keadaan, penuh kesabaran dan kerendahan
hati untuk mengurangi perdebatan, terutama ketika kalian adalah bagian itu dari
tubuh-Nya, tetapi kuasa kelemahlembutan tidak dapat diragukan lagi. “Dengan
kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan
tulang” (Ams. 25:15).
Sekalipun teguran dan peringatan dapat menjadi efektif dalam mengoreksi
orang lain, tetapi kelemahlembutan dan kebijakan menggunakan kesabaran dan
kasih untuk mengubah orang-orang di sekitarnya. “Jawaban yang lemah lembut
meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” (Ams.
15:1).
Hubungan antara saudara-saudari seiman adalah unik dan sekalipun sulit
untuk terbuka mengenai perasaan atau persoalan pribadi, karena takut tampak buruk
di hadapan jemaat, tetapi sesungguhnya sangat memuaskan menjadi terbangun
secara rohani melalui teman-teman.
e. Dipersiapkan untuk tujuan yang mulia (2:20-22)
Ini merupakan ayat yang terkenal bagi sebagian besar siswa kelas Remaja,
tetapi ayat ini tidak pernah gagal untuk menjadi pengingat terhadap potensi
tetap yang masing-masing dari antara mereka miliki. Perabot di dalam rumah,
yang dicatatkan pada ayat 20, sama dengan peran para hamba di dalam
perumpamaan tentang talenta – tidak peduli seseorang tampak jauh lebih baik
daripada yang lainnya, tetapi bagi Tuannya, potensinya adalah sama. Hamba
yang memiliki lima talenta bukanlah dianggap lebih baik daripada hamba yang
memiliki dua talenta. Demikian pula, perabot yang terbuat dari emas dan perak,
tidak selalu lebih baik daripada perabot yang terbuat dari kayu dan tanah liat.
Semua perabot itu memiliki potensi yang bermanfaat, tetapi itu hanya bila
perabot itu menguduskan diri mereka terhadap tujuan-tujuan yang kurang mulia
(kurang mulia di sini berarti dikarakteristikkan dengan kehinaan, kerendahan
dan ketidakberartian,” menurut Merriam – Webster). Jadi sebuah perabot emas
yang asyik dalam kehinaan, akan menjadi kurang nilainya daripada cawan tanah
liat yang bersih di hadirat Tuannya.
Paulus menguraikan semua hal yang hina di dalam ayat 22, dan seperti
Yesus Kristus katakan dalam Matius 12:43-45, ‘keinginan jahat’ tidaklah dapat
hanya ditinggalkan. Tempat itu perlulah diisi kembali dengan keadilan, iman,
kasih dan damai sejahtera.
f.
Kesetiaan dan kesabaran (3:1-15)
Pemahaman dari ketidaksalehan pada akhir zaman kedengarannya biasa
saja. Kita mendengar atau melihat semua ini di dalam berita, majalah, acara
televisi atau dari orang yang kita kenal. Dunia bukan hanya telah jatuh ke dalam
perangkap perilaku-perilaku yang demikian, tetapi sesuai dengan ayat 5 –
“rupa kesalehan” – jemaat akan menjadi mangsanya pula. Kemurtadan berarti
meninggalkan iman atau agama seseorang adalah kata yang sering digunakan
untuk bagian ini.
110
Surat-Surat Paulus
Di tengah ketidaksalehan dan penganiayaan, Paulus memotivasi Timotius untuk
berdiri teguh berpegang pada ajaran-ajaran Kitab Suci dan dengan melihat
teladan dari kesabaran dari pada dirinya.
B. Motivasi untuk menjadi Seorang Hamba yang Teladan
Paulus memberikan beberapa peringatan rohani untuk memotivasi Timotius.
a. Membalas anugerah Yesus (1:9-12)
Paulus katakan bahwa dia dan Timotius diselamatkan dan dipanggil kepada
suatu hidup yang kudus bukanlah tanpa tujuan. Dalam anugerah Yesus Kristus,
ada tujuan di dalamnya. Paulus merendahkan hati dan dengan mengagumkan
menerima kemurahan ini tanpa ragu, dia mengambil amanat yang Yesus Kristus
rancang untuknya (Kis. 9:1-29; 1 Tim. 1:12-17).
b. Keselamatan (2:8-12; 4:6-8)
Sekalipun Paulus harus mengalami kesukaran sebagai seorang hamba
yang teladan dari Yesus Kristus, dia mengetahui ada hadiah yang kekal atas
ketegarannya ini. Paulus merasa aman, karena mengetahui dirinya bahwa
mati bersama Yesus, bertahan terhadap kesukaran dan memelihata iman akan
membawanya kepada mahkota kebenaran dan kehidupan serta pemerintahan
bersama dengan-Nya. Kasih dan pengertian Paulus yang mendalam mengenai
kehidupan kekal memotivasinya untuk “sabar menanggung semuanya itu bagi
orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam
Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.“ Paulus tetap menjadi seorang
hamba yang teladan, bukan hanya untuk keselamatan dirinya sendiri, tetapi
untuk keselamatan orang lain pula.
Menguji Pemahaman
1. Apakah tiga perumpamaan yang Paulus pergunakan untuk menggambarkan
menjadi kuat di dalam Kristus dan sifat apa sajakah yang seharusnya
diteladani?
2. Perabot seperti apakah yang dapat bermanfaat bagi Tuannya dan dipersiapkan
untuk setiap pekerjaan yang baik?
3. Apakah yang seharusnya dihindari oleh seorang hamba yang teladan?
4. Bagaimana seorang hamba yang teladan itu dapat tetap teguh?
5. Bagaimana kehidupan Paulus menjadi teladan bagi Timotius?
6. Apakah yang Paulus tuntut dari Timotius?
Surat-Surat Paulus
111
Penerapan Kehidupan
Bagian A – Mendukung Iman Orang Lain
Pikirkan tujuan dan tema dari surat terakhir Paulus ini. Lakukan dan motivasilah
saudara-saudari dengan menuliskan salah satu dari dua surat berikut:
Pilihan 1:
Tuliskan surat 2 Timotius versi masa kininya. Pikirkan tentang gereja, jemaat dan
masyarakat yang sekarang ini. Nasihat apakah yang kalian akan berikan kepada
Timotius mengenai hal-hal yang sebaiknya dihindari dan hal-hal yang diharapkan?
Motivasi apakah yang kalian akan berikan? Persoalan apakah yang kalian akan
sebutkan dan solusi apakah yang kalian akan sarankan? Apakah lagi yang kalian
dapat masukkan ke dalamnya?
Pilihan 2:
Tuliskan surat jawaban kepada Paulus. Bayangkan diri kalian sebagai Timotius. Hal
apa sajakah yang kalian akan katakan untuk menghibur Paulus? Nasihat manakah
yang membantu? Tantangan apa sajakah yang masih kalian hadapi? Pertanyaan
apa sajakah yang masih kalian miliki? Apakah lagi yang kalian dapat masukkan ke
dalamnya?
Bagian B – Ketidaksalehan
Apakah yang siswa kelas Remaja hadapi sekarang? Paulus tidak pernah
menyebutkan secara khusus – keinginan jahat dari masa muda –, sementara
beberapa hal ada pada diri kalian, hal baru dan khusus apakah yang ada untuk
siswa kelas Remaja di gereja Anda? Ketidaksalehan apakah dari akhir zaman ini
yang sedang mereka hadapi (tidak selalu merupakan pencobaan bagi mereka)?
Langkah 1:
Potonglah lembaran kertas dan siapkan sebelum pelajaran dimulai.
Langkah 2:
Berikan selembar kertas kepada siswa (sediakan lebih banyak) dan mintalah mereka
menuliskan pencobaan-pencobaan yang mereka alami dan perilaku non-Kristen
yang mereka alami. Mereka haruslah menulis SATU percobaan atau perilaku nonKristen di setiap lembar. Mintalah mereka untuk melipat dan meletakkannya ke dalam
sebuah kantong.
Langkah 3:
Ketika telah selesai, berikan kantong itu kepada seorang siswa dan mintalah dia
mengeluarkan semua lipatan kertas itu dan membacakannya dengan keraskeras. Mintalah siswa yang lainnya membahas bagaimana hal ini menjadi sebuah
persoalan. Apakah hal itu lazim? Mintalah mereka membahas bagaimana mereka
dapat memecahkan persoalan itu dan langkah apa sajakah yang mereka akan ambil.
Tanyakan mereka cara memotivasi teman-teman sekelas untuk bertindak dan
112
Surat-Surat Paulus
memecahkan persoalan itu; seringkali persoalan itu sederhana, tetapi siswa tidak
ingin mengalami akibatnya – kehilangan teman-teman sekolah dan lain sebagainya.
Langkah 4:
Berikan kantong itu kepada siswa berikutnya dan ulangi lagi langkah 3. Ketika
kantong itu telah beredar ke sekeliling, bila ada yang mengulangi topik yang dapat
dibahas lebih lanjut dan bila siswa telah membicarakannya, para Guru Pendidikan
Agama haruslah menyimpan topik-topik yang diulang ini di dalam otaknya, sehingga
kelak dapat menasihati siswa lagi di masa yang akan datang.
Renungan dan Doa
Dengan orangtua rohaninya yang segera tidak dapat lagi membimbing
imannya, Timotius berada dalam posisi yang sama dengan beberapa siswa kelas
Remaja yang mulai menemukan hubungan mereka dengan Allah sebagai sesuatu
yang lebih daripada sekedar perhatian dari orangtua mereka. Teladan yang Paulus
telah berikan mungkin tampak seperti pencapaian yang berlebihan bagi Timotius,
yang tidak diragukan lagi tampak seperti itu bagi kebanyakan siswa kelas Remaja.
Tetapi, Paulus memiliki kunci untuk membuatnya menjadi mudah – Kitab Suci. Melalui
pembacaan dan perenungan Alkitab setiap harinya, semua orang dapat memahami
siapa Allah dan apa yang Dia inginkan dengan lebih baik. Dan yang mengherankan,
di antara Firman dan Roh-Nya, kita menjadi orang seperti yang Dia inginkan menjadi
lebih mudah. Daripada dimotivasi ke arah yang benar terus-menerus, lebih baik kita
secara alami menempuh arah itu dengan mudah dan gembira.
Surat-Surat Paulus
113
Halaman Kosong
114
Surat-Surat Paulus
pelajaran
Surat Titus dan Filemon
12
Bacaan Kitab
Surat Titus, surat Filemon, surat 1 Timotius, surat Kolose
Sasaran Pelajaran
1. Melatih pengendalian diri terhadap perbuatan yang tidak baik dan
mengejar perbuatan yang memuliakan Allah
2. Mengampuni orang lain sama seperti Yesus Kristus telah mengampuni
kita
Ayat Alkitab
“Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin
menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguhsungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan
berguna bagi manusia.” (Tit. 3:8)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)
Titus 1-3 dan Filemon
Latar Belakang Alkitab
Titus adalah seorang Kristen Yunani (Gal. 2:3), yang setelah bertobat,
membantu Paulus dalam perjalanan penginjilannya yang kedua dan ketiga serta
menjadi pembantu Paulus yang terdekat dan paling dipercaya. Oleh karena itu, saat
Paulus melihat kebutuhan, agar seseorang menangani gereja-gereja di Kreta, dia
memilih “anakku yang sah menurut iman kita bersama,” Titus.
Gereja-gereja di Kreta didirikan pada saat pemenjaraan Paulus yang pertama
kali. Kreta merupakan pulau yang terbesar di Yunani, dengan panjang sekitar 257 km
dan lebar 56 km, yang terletak di sebelah selatan Laut Tengah. Orang-orang Kreta
mengembangkan agrikultur dan perdagangan yang maju pesat, sehingga membuat
pulau itu menjadi salah satu pusat bisnis utama di zaman kuno. Bagaimanapun,
tampaknya kemakmuran ini membawa orang-orang Kreta pada gaya hidup yang
berlebihan. Seperti yang dikutip Paulus dari puisi Yunani Epimenides di dalam 1:12,
“Dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap yang malas.”
Surat-Surat Paulus
115
Paulus menulis suratnya kepada Titus kira-kira pada waktu yang sama ketika surat
1 Timotius ditulis (tahun 62-64 M), antara waktu pemenjaraannya yang pertama dan
kedua di Roma. Surat-surat itu termasuk salah satu dari tiga surat penggembalaan
Paulus; dua lainnya adalah surat 1 dan 2 Timotius, yang telah kita pelajari. Surat ini
begitu mirip dengan surat 1 Timotius, karena ditujukan kepada tema-tema ajaran
palsu, organisasi gereja dan kehidupan Kristen.
Surat Filemon, ditulis sekitar tahun 60-61 M sebelum surat Titus atau surat
penggembalaan lainnya ditulis, termasuk salah satu dari empat surat penjara Paulus
(tiga surat lainnya adalah surat Efesus, Filipi, Kolose). Tikhikus dan Onesimus
menyampaikan surat ini bersama dengan surat Paulus kepada jemaat Kolose.
Filemon, orang Kolose (Kol. 4:9,17) dan salah seorang petobat Paulus (Flm. 19) adalah
orang kaya yang membuka rumahnya untuk tempat pertemuan ibadah. Termasuk
orang yang disalami oleh Paulus adalah isteri Filemon, Apfia dan anaknya, Arkhipus,
yang juga membantu gereja. Sekalipun arti nama Onesimus adalah ‘berguna,’ salah
seorang dari budak-budak mereka, Onesimus adalah sangat berlawanan sebagai
seorang pencuri yang sedang melarikan diri. Tetapi, Allah membawa Onesimus ke
Roma, tempat dia bertemu dan setelah menjadi Kristen, hidup sesuai arti namanya.
Surat kepada Filemon memberikan gambaran sekilas secara pribadi mengenai
hubungan gereja mula-mula dan institusi perbudakan. Perbudakan merupakan
bagian penting dari Kerajaan Romawi dan tidak lazim bagi sebuah keluarga untuk
memiliki budak lebih dari satu orang. Sebagai ganti dari memakai tenaga mereka
hanya untuk pekerjaan yang kasar/fisik, para majikan mendidik beberapa dari
budak mereka untuk bekerja sebagai dokter, guru, akuntan dan lain sebagainya.
Tetapi, tetap saja sebagai komoditi, melarikan diri dari seorang majikan merupakan
kejahatan yang dapat dijatuhi hukuman mati dalam kebanyakan kasus.
Memang Perjanjian Baru tidak mengutuk kepemilikan budak, tetapi
memperkenalkan perbuatan baik terhadap mereka dan mengakui persamaan para
budak dan majikan mereka secara rohani (Flm. 16; Gal. 3:28; Ef. 6:9; Kol. 4:1; 1 Tim.
6:1-2).
Pemanasan
Dalam kedua surat itu, Paulus menunjukkan bahwa orang-orang Kreta, seperti
Titus dan Filemon seharusnya cenderung untuk berbuat baik sebagai orang-orang
Kristen yang bertobat. Mereka tidak boleh tetap berada di jalan hidup mereka yang
sebelumnya, bagaimanapun baiknya, tetapi perlu menjadi serupa dengan gambar
Kristus. Perubahan apa sajakah yang telah dilakukan ketika kalian dewasa secara
rohani sebagai seorang Kristen? Renungkan kekuatan dan kelemahan dari diri
kalian. Apakah yang kalian telah pupuk? Kemenangan? Apakah yang tetap menjadi
tantangan? Apakah yang telah dikembangkan di dalam tantangan?
116
Surat-Surat Paulus
Pemahaman Alkitab
Sekalipun Titus adalah sebuah surat pendek, tetapi itu mencakup tema yang
sama seperti surat 1 Timotius. Sebuah gereja memerlukan struktur organisasi yang
baik, doktrin yang dapat dipercaya dan ajaran yang benar untuk menyelesaikan
amanat yang telah diberikan oleh Allah. Lihatlah Pelajaran 10 untuk rinciannya.
Paulus memberitahu Titus bahwa melalui anugerah Allah, yang
memperkenalkan pekerjaan-pekerjaan baik di antara umat-Nya, jemaat dapat melatih
pengendalian diri dan membangun gereja. Dengan mempraktekkan sifat-sifat Kristen
seperti ‘garam dunia’ dan ‘terang dunia’ (Mat. 5:13-14), mereka meneladani Yesus
Kristus dan memuliakan Dia.
Surat pendek Paulus kepada Filemon mengenai Onesimus menekankan
pada pengampunan dan pemeriksaan kembali hubungan majikan-budak Kristen
dalam Yesus Kristus. Sama seperti Onesimus menghadapi tugas sebagai orang
Kristen, untuk memperbaiki kesalahannya di masa yang lalu dan kembali kepada
majikannya, Paulus memohon dengan sangat kepada Filemon untuk menanggapi
dengan kebaikan Kristen yang sama, menerima Onesimus yang sekarang menjadi
saudara di dalam Kristus dan menunjukkan kasih dan kemurahan kepadanya.
Bagian # 1 – Pengajaran dari Surat Titus
A. Kepemimpinan Gereja
Sejak zaman para rasul mula-mula di Yerusalem, ktia mengetahui penting
dan dampak kepemimpinan yang efektif di gereja.
a. Para penatua atau penilik jemaat (1:5-9)
Karena kunjungan Paulus ke Kreta sebelum pemenjaraannya yang pertama
adalah singkat (Kis. 27:7-9,12-13,21), Titus ditugaskan untuk meneruskan
pekerjaan untuk memperbaiki struktur organisasi gereja itu, terutama dengan
mengangkat orang-orang yang berkualitas untuk menjadi penatua. Itu adalah
persyaratan yang sama, yang kemudian Paulus katakan kepada Timotius di
dalam 1 Timotius 3:2-7.
Catatan pada ayat 7, Paulus menggunakan kata ‘uskup’ dalam terjemahan
New King James Version (NKJV), yang berarti penilik, sekaligus merujuk pula
kepada penatua.
b. Guru-guru palsu (1:10-16)
Memang pada mulanya, para pemimpin penggembalaan dibentuk untuk
membagikan makanan kepada jemaat orang Yunani dan jemaat orang Yahudi
Ibrani (Kis. 6:1-7), tetapi saat Paulus menulis surat kepada Titus bahwa mereka
ternyata melayani lebih untuk tujuan-tujuan rohani, selain tugas-tugas adminitratif
mereka. Kestabilan gereja dan kepemimpinan yang efektif adalah penting, karena
mereka melindungi jemaat dari kemurtadan dalam iman. Paulus menekankan
pentingnya peran ini kepada para penatua Efesus, mengumpamakan mereka
sebagai seorang gembala, jemaat sebagai kawanan domba dan guru-guru palsu
sebagai serigala (Kis. 20:28-31).
Surat-Surat Paulus
117
Paulus ingin Titus belajar bagaimana mengenali guru-guru palsu dan bagaimana
cara menghadapi mereka. Mereka kebanyakan adalah para pembicara dan
penipu yang memberontak, sama seperti guru-guru palsu di Efesus, tetapi di
Kreta, Titus pun harus menghadapi ‘kelompok bersunat’ – orang-orang Kristen
Yahudi. Mereka membebani hukum Taurat Yahudi kepada orang-orang Kristen
non-Yahudi untuk tujuan memperoleh keuntungan dengan tidak jujur.
B. Kehidupan yang Saleh
Dalam 2:11-14, Paulus katakan bahwa kasih karunia Allah dapat mendidik
kita untuk meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan agar dapat
mengendalikan diri dan hidup benar. Kehidupan Yesus Kristus menunjukkan adanya
kasih karunia ini bahwa kehidupan yang saleh dapat dicapai melalui Dia yang
memberikan kekuatan kepada kita. Dan kasih karunia ini memotivasi orang-orang
Kristen berjuang untuk hidup saleh, karena hutang kita atas kasih. Yesus Kristus
mengorbankan diri-Nya untuk menebus kita dari kejahatan dan menguduskan diriNya bagi mereka. Penebusan saja tidak menjadikan kita sebagai salah satu milik
kepunyaan-Nya; kekudusan juga perlu.
a. Pengendalian diri (2:1-10)
Dalam terjemahan New International Version (NIV) untuk pasal ini, kata
‘pengendalian diri’ berulang kali muncul dan dapat dipergunakan sebagai aspek
utama dari perilaku di tengah berbagai kelompok gereja.
Sebagai tambahan untuk pelajaran sebelumnya, kebanyakan siswa
kelas Remaja terbiasa dengan Galatia 5:22-23 mengenai buah Roh Kudus
dan mengetahui bahwa pengendalian diri merupakan salah satu bagiannya.
Melatih pengendalian diri dapat menjadi hal yang sulit pada tiap-tiap tingkatan
usia. Kita ingin menikmati hidup dan kadang dengan melatih pengendalian diri,
kita merasa seolah-olah kehilangan sesuatu. Tetapi, mengendalikan diri berarti
menyeimbangkan sifat kita yang berdosa dan yang menyenangkan hati Allah
(Rm. 8:5-8).
Paulus memotivasi Titus untuk mendidik laki-laki dan perempuan yang lebih
lanjut usianya di gereja Kreta, untuk melatih pengendalian diri mereka sebagai
teladan bagi laki-laki dan perempuan yang lebih muda usianya. Laki-laki dan
perempuan yang lebih muda usianya dan para budak seharusnya melatih
pengendalian diri untuk memuliakan Allah dan memberitakan keselamatan
Yesus Kristus, menunjukkan bahwa mereka adalah para pengikut-Nya di dalam
perbuatan dan bukan hanya dalam nama saja.
b. Berbuat Baik (3:1-11)
Gagasan untuk menjadi taat dan lemah lembut sulit untuk diterima oleh para
pemuda modern. Sebagian, mungkin itu karena perkataan seperti kehendak
yang lemah, menginjak-injak atau tidak ada kekuatan di dalam pikiran ketika
kita memikirkan perihal ketaatan. Tetapi, kita mengetahui bahwa itu bukanlah
hal yang buruk. Sebaliknya, Allah tidak akan menuntut hal ini dari pada kita.
Ketaatan membutuhkan kepercayaan (Ef. 5:24), balasan (Ef. 5:33) dan yang
terpenting adalah ketaatan kepada Allah. Pula sulit untuk tidak memfitnah
orang lain, penuh damai dan perhatian dan menunjukkan kerendahan hati yang
sejati. Tetapi, tidak peduli kecenderungan-kecenderungan dalam masyarakat,
kebanyakan orang dipengaruhi oleh orang-orang yang berbuat baik.
118
Surat-Surat Paulus
Paulus pun mengingatkan Titus untuk memotivasi jemaat Kreta untuk melakukan
perbuatan baik sebagai tanda bahwa mereka adalah ciptaan baru di dalam
Kristus (2 Kor. 5:17). Bila rupa mereka ‘sebelumnya’ termasuk kebodohan,
ketidaktaatan, dendam, iri hati, kebencian dan hawa nafsu, maka rupa mereka
‘setelahnya’ seharusnya hanya berbuat kebaikan. Paulus pun menyebutkan,
seperti di dalam surat-suratnya yang lain, bahwa perbuatan baik kita adalah
setitik debu yang sungguh tidak sebanding dengan apa yang Yesus Kristus telah
perbuat bagi kita. Dia menyelamatkan kita, sekalipun kita tidak layak atau tidak
dapat membalas-Nya. Dan sekalipun kita berada jauh di bawah sana, Dia akan
mengangkat kita menjadi ahli waris kehidupan kekal bersama dengan-Nya.
Bagian # 2 – Pengajaran dari Surat Filemon
A. Pengampunan
Yang menarik, Paulus menggunakan nada pasif-agresif dalam surat pribadinya
untuk menyentuh Filemon dengan arah yang benar (8-9,13-14,18-19,21). Itu dapat
menjelaskan dari tidak hadirnya kata ‘mengampuni.’ Padahal memang itulah yang
Paulus ingin Filemon lakukan. Melalui percakapan 70 kali tujuh kali antara Yesus
Kristus dengan Petrus dan perumpamaan mengenai hamba yang jahat (Mat. 18:2135), kita mengetahui pentingnya pengampunan. Tetapi dengan meninggikan status
Onesimus sebagai saudara di dalam Kristus, kita dapat melihat bahwa pengampunan
seperti Kristus termasuk kerendahan hati. Paulus tidak memotivasi Filemon untuk
mengampuni Onesimus dari kemuliaan seorang majikan baik yang tinggi, tetapi lebih
pada persamaan kedudukan sebagai saudara seiman. Perlu kerendahan hati untuk
memberikan pengampunan; juga diperlukan kerendahan hati untuk menerimanya
dan membiarkan dendam berlalu.
B. Hamba-hamba Kristus
Hubungan antara Onesimus dan Filemon menggaungkan hubungan orang
Kristen dengan Yesus Kristus. Kita adalah para budak dan Yesus Kristus adalah
Majikan kita. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, adalah mudah untuk melupakan
apa yang bukan milik kita. Tetapi, kita telah dibeli dan ditebus dengan sebuah harga
(1 Kor. 6:19-20), dengan darah Anak Domba Allah. Kita adalah milik Allah dan satusatu cara yang Dia inginkan adalah kita mengakuinya dengan memelihara tubuh
kita, bait-Nya yang kudus. Sebagai orang-orang Kristen, kita bukan lagi hamba dosa,
tetapi hamba-hamba kebenaran (Rm. 6:15-23).
Menguji Pemahaman
1. Mengapa Titus pergi ke Kreta dan apa tujuan dari pelayanannya di sana?
2. Apakah tujuan dari pengendalian diri?
3. Mengapa kita seharusnya berbuat baik?
Surat-Surat Paulus
119
4. Apakah persamaan dan perbedaan antara surat Titus dan surat 1 Timotius?
5. Mengapa Filemon harus mengampuni Onesimus?
Penerapan Kehidupan
Bagian A – Melatih Pengendalian Diri
Ketika menghadapi sebuah situasi yang para siswa seharusnya melatih
pengendalian diri, apakah yang mereka dapat katakan atau lakukan?
Langkah 1:
Mintalah siswa memberikan contoh ketika mereka menghadapi pencobaan dan
perlu melatih pengendalian diri. Mereka dapat melakukannya tanpa mencantumkan
nama dengan menuliskannya di atas lembaran-lembaran kertas, melipatnya dan
memberikannya kepada Anda atau Anda dapat membahasnya secara terbuka di
dalam kelas.
Langkah 2:
Bagilah siswa menjadi kelompok yang terdiri dari 2-4 orang per kelompok. Inilah
waktu untuk memerankan sebuah lakon yang pendek!
Langkah 3:
Gunakan skenario yang dibagikan kepada siswa pada langkah 1 dan mintalah
kelompok untuk memilih satu skenario untuk diperankan. Berikan mereka waktu
untuk memutuskan bagaimana adegan itu dibuka, bagaimana pengendalian diri
dilakukan atau tidak dilakukan dalam peran dan hasilnya.
Bagian B – Mengampuni atau Tidak Mengampuni
Memang tidak mudah untuk memohon pengampunan dan tidak mudah
pula untuk sungguh-sungguh mengampuni, tetapi itulah yang Allah minta untuk
kita perbuat. Itu tidak berarti bahwa Dia ingin kita melupakan dan menjadi naif di
masa yang akan datang, tetapi Dia ingin kita belajar untuk mengampuni seperti Dia
mengampuni.
Bagilah siswa menjadi dua kelompok. Inilah waktu untuk berdebat!
Lemparkan koin dan biarkan tim yang menang memutuskan hal yang ingin mereka
perdebatkan.
Pilihan 1:
Sebuah kelompok akan berdebat agar Filemon mengampuni Onesimus dan kelompok
lainnya akan berdebat pula untuk tidak mau mengampuninya.
Pilihan 2:
Buatlah skenario untuk diperdebatkan oleh siswa atau terhadap pengampunan.
Sebagai contoh: Seseorang sedang berbicara di belakang Anda dan tidak
menganggap keberadaan diri Anda sebagai seorang teman,
120
Surat-Surat Paulus
karena dia memiliki kekasih atau teman baru, seseorang yang tidak lagi menjadi
teman baik bagi Anda, seseorang yang dengannya Anda berbagi pekerjaan gereja
menyisakan semua pekerjaan itu untuk Anda, seseorang yang mengambil keuntungan
dari Anda (untuk kendaraan, uang, pekerjaan rumah, catatan dan lain sebagainya),
seseorang yang mencuri dari Anda, seseorang yang berdusta kepada Anda dan lain
sebagainya.
Catatan: Ingatkan siswa bahwa perdebatan jangan sampai menjadi perselisihan.
Tidak ada nama panggilan. Perdebatan itu haruslah cerdas, terdengar seperti
argumen dan dapat dipercaya dan temukan kekurangan yang ada pada pihak-pihak
yang berlawanan dalam perdebatan Anda. Dalam perdebatan itu, pihak yang satu
akan memperdebatkan mengenai apa yang Allah inginkan, tetapi siswa tidak harus
selalu memenangkan perdebatan tanpa berdebat dengan baik. Guru akan menjadi
hakimnya.
Renungan dan Doa
Siswa kelas Remaja sedang memperoleh banyak kemerdekaan dan
kebebasan dari orangtua mereka tahun demi tahun. Mereka sedang memperoleh
izin mengemudi, mulai meninggalkan rumah dan pergi kuliah. Jadi memikirkan
pelatihan pengendalian diri dan menjadi hamba-hamba Kristus mungkin bukan
sebuah permohonan bagi mereka. Mereka sedang memasuki masa pencarian jati diri
dan batasan-batasan suara yang membatasi gerak mereka. Tetapi, siswa mungkin
tidak menyadari bahwa banyak orang mengalami dan mengadopsi kejahatan dalam
usaha mereka memenuhi rasa ketidakamanan atau kehampaan emosional. Bila
Anda memandang Allah bagi kepenuhan emosional, Dia akan menyediakannya.
Dan bila para siswa merenungkan perjalanan mereka sendiri yang luar biasa melalui
Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Siswa, banyak dari antara mereka yang
mungkin dapat memahami bagaimana Dia memenuhi itu semua.
Surat-Surat Paulus
121
Halaman Kosong
122
Surat-Surat Paulus
pelajaran
Ulasan
13
Sasaran Pelajaran
1. Mengulang kembali setiap surat Paulus yang ada dalam kwartal ini
2. Membantu siswa mengingat pengajaran-pengajaran penting dari setiap
surat Paulus dan menerapkannya dalam kehidupan mereka sendiri
Ulasan
Bagian # 1 – Kuis Ayat Hafalan
Tujuan dari kuis ini adalah untuk membantu para siswa dan guru mengulang
kembali dan mengingat ayat-ayat Alkitab. Kami sangat merekomendasikan para
siswa dan guru untuk menggunakan kuis ini.
Isilah tempat yang kosong (jumlah nilai 40)
1. (nilai 4) “Sebab aku mempunyai __________ (keyakinan) yang kokoh dalam
Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang
percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga __________ (orang Yunani).
Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari __________
(iman) dan memimpin kepada __________ (iman), seperti ada tertulis: “Orang
benar akan hidup oleh iman.” (Rm. 1:16-17)
2. (nilai 4) “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah __________ (bait)
Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah
dan bahwa kamu bukan __________ (milik kamu sendiri)? Sebab kamu telah
__________ (dibeli) dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah
Allah dengan __________ (tubuh) mu!” (1 Kor. 6:19-20)
3. (nilai 2) “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah __________ (ciptaan)
baru; yang __________ (lama) sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah
datang.” (2 Kor. 5:17)
Surat-Surat Paulus
123
4. (nilai 4) “...tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan __________
(hukum Taurat), tetapi hanya oleh karena __________ (iman) dalam Kristus Yesus.
Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan
oleh karena __________ (iman) dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan
__________ (hukum Taurat). Sebab: Tidak ada seorangpun yang dibenarkan oleh
karena melakukan hukum Taurat.” (Gal. 2:16)
5. (nilai 4) “Satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu
pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu __________ (Tuhan), satu
__________ (iman), satu __________ (baptisan), satu __________ (Allah) dan
Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.”
(Ef. 4:4-6)
6. (nilai 2) “Malahan segala sesuatu kuanggap __________ (rugi), karena pengenalan
akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah
aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya __________ (sampah),
supaya aku memperoleh Kristus” (Flp. 3:8)
7. (nilai 3) “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah
hidupmu __________ (tetap di dalam) Dia. Hendaklah kamu __________ (berakar)
di dalam Dia dan __________ (dibangun) di atas Dia, hendaklah kamu bertambah
teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu dan hendaklah hatimu melimpah
dengan syukur.” (Kol. 2:6-7)
8. (nilai 3) “Semoga Allah damai sejahtera __________ (menguduskan) kamu
seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan
__________ (tak bercacat) pada __________ (kedatangan) Yesus Kristus, Tuhan
kita.” (1 Tes. 5:23)
9. (nilai 3) “Karena itu kami senantiasa __________ (berdoa) juga untuk kamu, supaya
Allah kita menganggap kamu __________ (layak) bagi panggilan-Nya dan dengan
kekuatan-Nya menyempurnakan __________ (kehendak)mu untuk berbuat baik
dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu.” (2 Tes. 1:11)
10. (nilai 4) “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau __________
(muda). Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam
__________ (tingkah laku)mu, dalam kasihmu, dalam __________ (kesetiaan)mu
dan dalam __________ (kesucian)mu.” (1 Tim. 4:12)
11. (nilai 4) “Sebab itu __________ (jauhilah) nafsu orang muda, kejarlah __________
(keadilan), kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang
__________ (berseru) kepada Tuhan dengan hati yang __________ (murni).”
(2 Tim. 2:22)
12. (nilai 3) “Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin
menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh
berusaha melakukan __________ (pekerjaan) yang __________ (baik). Itulah yang
baik dan ___________ (berguna) bagi manusia.” (Tit. 3:8)
124
Surat-Surat Paulus
Bagian # 2 – Surat-Surat dan Pesan-Pesan
Tujuan dari bagian ini adalah untuk membantu siswa mengingat surat-surat
Paulus dan pesan-pesan utamanya. Bila siswa tidak terbiasa dengan surat-surat
itu, disarankan, agar mereka diberikan review singkat oleh guru sebelum menjalani
bagian tes ini.
A. Sebutkan tiga belas surat Paulus agar nama semua surat itu muncul di
dalam Alkitab:
1. ____________________
2. ____________________
3. ____________________
4. ____________________
5. ____________________
6. ____________________
7. ____________________
8. ____________________
9. ____________________
10. ____________________
11. ____________________
12. ____________________
13. ____________________
B. Cocokkan nama dari surat-surat Paulus dengan gagasan utama yang
disebutkan:
1. Paulus menulis surat ini untuk gereja non-Yahudi yang baru, yang tidak menonjol.
Jemaat di gereja ini telah menerima iman dengan setia, tetapi mereka diombangambingkan oleh guru-guru orang Yahudi, yang mengajarkan pentingnya hukum
Taurat dan sunat. Paulus menggunakan surat ini untuk menyangkal perbudakan
dari hukum Taurat dan menasihati jemaat untuk hidup sebagai manusia mereka
di bawah Kristus – orang merdeka yang bergumul dengan sifat mereka yang
berdosa dan menghasilkan buah Roh di dalam kehidupan mereka sehari-hari.
____________________ (Surat Galatia)
2. Ini adalah surat pertama untuk gereja yang memiliki banyak pertanyaan seputar
kebangkitan. Surat ini menjelaskan proses kebangkitan dan apa yang akan
terjadi terhadap umat Kristen yang meninggal sebelum kedatangan Tuhan.
____________________ (Surat 1 Tesalonika)
3. Beberapa orang percaya bahwa karena Tuhan Yesus akan segera datang,
mereka tidak perlu lagi bekerja. Mereka duduk-duduk saja sepanjang hari,
menantikan Tuhan dan tidak melakukan apa-apa. Paulus menyampaikan hal ini di
dalam suratnya dan mengulangi pernyataan kebenaran mengenai kebangkitan.
____________________ (Surat 2 Tesalonika)
Surat-Surat Paulus
125
4. Paulus menulis surat ini untuk gereja yang memiliki banyak karunia dan
persoalan. Para jemaat diberkati dengan karunia bernubuat dalam bahasa roh,
tetapi kebaktian mereka tidak tertib. Orang-orang tidak mengambil bagian dalam
Perjamuan Kudus dengan sikap hormat dan kepala dari jemaat perempuan
tidaklah ditutupi. Gereja tidak berfungsi sebagai satu tubuh, bahkan mentolerir
perbuatan zinah. ____________________ (Surat 1 Korintus)
5. Dalam surat ini, Paulus membela kerasulannya, sehingga pelayanannya tidak
dipermalukan. Dia menghadapi tuduhan dari rasul-rasul palsu dan menjelaskan
mengapa dia bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Dia ‘bermegah’ atas
kelemahannya sambil menyatakan kelebihannya sebagai seorang rasul. Dia
pun memotivasi jemaat untuk memenuhi janji mereka membantu saudarasaudara yang kurang beruntung di Yerusalem. _____________________ (Surat
2 Korintus)
6. Surat ini berisi penjelasan yang paling lengkap dari Paulus mengenai Injil
Keselamatan. Surat ini berbicara mengenai bagaimana kita dibenarkan
karena iman dan dikuduskan oleh darah Kristus di dalam baptisan.
____________________ (Surat Roma)
7. Sekalipun ditulis di dalam penjara, surat ini disebut sebagai injil kasih, karena
kasih sering disebutkan di dalamnya. Paulus menggambarkan hubungan kasih
antara suami-istri, orangtua-anak, majikan-hamba dan memotivasi jemaat untuk
mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah. ____________________
(Surat Efesus)
8. Ini adalah surat penjara Paulus dari Roma yang berbicara perihal sukacita di dalam
penderitaan. Dia berterima kasih kepada gereja ini, karena kasih dan partisipasi
mereka di dalam pelayanan dan memotivasi mereka untuk meneladani Kristus
dan mengutamakan Dia di dalam kehidupan mereka. ____________________
(Surat Filipi)
9. Gereja ini dibingungkan oleh campuran antara filsafat dunia dan ajaran-ajaran
bidat. Jemaat mengejar pengetahuan rohani dengan cara yang sama dengan
mengejar pengetahuan duniawi dan memiliki persoalan dengan pertapaan
duniawi dan penyembahan kepada malaikat. Paulus menulis surat ini dari
dalam penjara untuk membantu jemaat berfokus kembali kepada Kristus dan
‘mengenakan manusia baru.’ ____________________ (Surat Kolose)
10. Surat ini ditulis untuk majikan yang budaknya melarikan diri dan menjadi orang
yang percaya Kristus. Pesan utamanya adalah pengampunan dan perkenanan.
____________________ (Surat Filemon)
11. Surat ini ditulis sebagai motivasi untuk seorang pemberita Injil muda. Surat ini
dipenuhi dengan nasihat praktis mengenai bagaimana memelihara kebenaran
Allah, bagaimana gereja harus berfungsi dan bagaimana mengembangkan
kepemimpinan yang saleh. ____________________ (Surat 1 Timotius)
126
Surat-Surat Paulus
12. Surat ini ditulis untuk seorang pemberita Injil muda yang memimpin gerejagereja di Kreta. Dalam surat ini, Paulus memberitahu pemberita Injil itu mengenai
bagaimana cara memilih penatua (penilik jemaat) untuk membantu urusan gereja
dan bagaimana memotivasi tiap-tiap pelaksanaan administrasi di dalam gereja
dapat berjalan sesuai dengan Firman Allah. ____________________ (Surat
Titus)
13. Ini merupakan surat Paulus yang terakhir sebelum dia dieksekusi. Di dalamnya,
Paulus memotivasi seorang pemberita Injil muda untuk menjadi setia terhadap
kebenaran dan memberitakan kabar baik. Dua tema di dalam surat ini adalah
kasih Paulus untuk ‘anak-anak’nya dan untuk Kristus. ___________________
(Surat 2 Timotius)
Bagian # 3 – Permainan Mengulang
Pilihan 1: Mengasah Otak
Untuk setiap surat Paulus, pilihlah satu dari dua ‘kata kunci’ yang ada
untuk menjawab pertanyaan berikut. Ini dapat dilakukan secara pribadi maupun
kelompok.
1. Jelaskan dengan perkataan sendiri apa maksud dari kata ini.
2. Bagaimana kata ini disesuaikan dengan tema dari surat-surat Paulus yang
disebutkan?
3. Bagaimana penerapannya dalam kehidupanku sekarang?
Pilihan 2: Gambar
Ini adalah permainan yang menyenangkan, siswa dapat mengungkapkan
gagasan utama dari setiap surat Paulus di dalam gambar.
Bahan: Papan tulis warna putih, spidol, lonceng, jam atau penunjuk waktu, kertas,
gunting, topi atau tas yang berisi lembaran-lembaran kertas.
Persiapan: Tulis atau ketikkan KALIMAT-KALIMAT KUNCI pada selembar kertas
kecil. Lipatlah kertas itu dan letakkan di dalam tas atau topi untuk digambar. Bila
siswa tidak terbiasa dengan kalimat-kalimat kunci itu, Anda dapat mengulangnya
kembali secara singkat sebelum permainan dimulai.
Peraturan:
1. Siswa boleh menggunakan Alkitab
2. Orang yang sedang menggambar tidak boleh mengucapkan atau menuliskan
kalimat itu.
3. Siswa tidak boleh menggambar lagi setelah waktu habis.
Cara bermain:
1. Bagilah siswa menjadi dua kelompok.
2. Siswa dari setiap kelompok akan memperoleh giliran untuk menggambar sebuah
KALIMAT KUNCI yang ada di dalam topi atau tas.
3. Siswa akan menyerahkan KALIMAT KUNCI itu kepada Guru Pendidikan Agama
dan memiliki waktu satu menit (atau waktu yang diberikan) untuk menggambarkan
KALIMAT KUNCI itu di papan tulis.
Surat-Surat Paulus
127
4. Ketika siswa itu menggambar, anggota kelompoknya dapat menebak jawabannya.
Bila Guru Pendidikan Agama mendengar kalimat yang benar (tidak perlu kata
per kata), kelompok itu akan menerima 2 angka dan boleh menggambar kalimat
lainnya.
5. Selama satu menit, kelompok itu dapat mengucapkan “MINTA PETUNJUK” dan
menerima sebuah petunjuk dari Guru Pendidikan Agama dan yang menebak
jawaban itu mendapat angka 1 (bukan angka 2).
6. Guru Pendidikan Agama akan membunyikan lonceng setelah satu menit.
7. Bila kelompok itu tidak dapat menebak pada waktu yang diberikan, kelompok
lainnya dapat mendiskusikan dan menebak kalimat itu untuk memperoleh 2
angka sebelum pindah pada giliran mereka.
8. Kelompok yang memiliki angka terbanyaklah yang menang.
Kalimat Kunci:
SURAT ROMA
Kalimat kunci: “Dibenarkan karena iman” (4:24-5:1)
Kalimat kunci: “Persembahan yang hidup” (12:1)
SURAT 1 KORINTUS
Kalimat kunci: “Tubuhmu adalah bait Roh Kudus” (6:19)
Kalimat kunci: “Perjamuan Tuhan” (11:20)
SURAT 2 KORINTUS
Kalimat kunci: “Menabur banyak” (9:6)
Kalimat kunci: “Rasul-rasul yang tak ada taranya” (11:5)
SURAT GALATIA
Kalimat kunci: “Hamba perempuan dan perempuan merdeka” (4:30)
Kalimat kunci: “Buah Roh” (5:22)
SURAT EFESUS
Kalimat kunci: “Anak-anak Terang” (5:8)
Kalimat kunci: “Pedang Roh yaitu firman Allah” (6:17)
SURAT FILIPI
Kalimat kunci: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan” (4:4)
Kalimat kunci: “Kewargaan kita adalah di dalam surga” (3:20)
SURAT KOLOSE
Kalimat kunci: “Berakar di dalam Dia (Kristus) dan dibangun di atas Dia (Kristus)”
(2:6)
Kalimat kunci: “Pikirkanlah perkara yang di atas” (3:2)
SURAT 1 TESALONIKA
Kalimat kunci: “Sangkakala Allah berbunyi” (4:16)
Kalimat kunci: “Tuhan datang seperti pencuri pada malam” (5:2)
SURAT 2 TESALONIKA
Kalimat kunci: “Manusia durhaka” (2:3)
Kalimat kunci: “Saudara yang bermalas-malasan” (pasal 3)
128
Surat-Surat Paulus
SURAT 1 TIMOTIUS
Kalimat kunci: “Berdoa dengan menadahkan tangan” (2:8)
Kalimat kunci: “Akar dari segala kejahatan ialah cinta uang” (6:10)
SURAT 2 TIMOTIUS
Kalimat kunci: “Layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja” (2:15)
Kalimat kunci: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah” (3:16)
SURAT TITUS DAN FILEMON
Kalimat kunci: “Sehat dalam iman” (Tit. 1:13)
Kalimat kunci: “Bukan lagi sebagai hamba” (Flm. 1:16)
Renungan dan Doa
Selama kwartal ini, kita telah mempelajari secara singkat semua surat Paulus
dalam Perjanjian Baru. Dari surat-surat ini, kita telah memperoleh pengetahuan
yang banyak mengenai iman Paulus sebagai seorang percaya, sikapnya sebagai
seorang pekerja dan hatinya sebagai seorang hamba. Dalam surat Roma, Galatia,
dan Kolose, kita melihat Paulus terbiasa dengan Kitab Suci dan keyakinan yang
berakar di dalam Kristus, sehinga dia membela Injil dan meletakkan doktrin-doktrin
dasar untuk gereja-gereja non-Yahudi. Dalam surat 1 dan 2 Timotius, Titus, 1 dan
2 Tesalonika dan 2 Korintus, kita belajar mengenai kerendahan hati, etos kerja dan
pemahaman Paulus yang jelas dari panggilan kerasulannya. Akhirnya, dalam surat
1 Korintus, Efesus, Filipi dan Filemon, kita menyaksikan kasih Paulus bagi gerejagereja dan berharap atas kesatuan dan pertumbuhan rohani mereka. Marilah kita
belajar dari teladan Paulus mengenai iman dan kecakapan kerjanya; marilah kita
berusaha keras untuk mengetahui apa yang kita percayai, bekerja dengan giat untuk
Tuhan dan membalas kasih Allah dengan memperhatikan tubuh Kristus.
Surat-Surat Paulus
129
Halaman Kosong
Halaman Kosong
Halaman Kosong
llllllllllllllllll
“Apapun juga yang kamu perbuat,
perbuatlah dengan segenap hatimu
seperti untuk Tuhan dan
bukan untuk manusia.”
(Kolose 3:23)
“Cukuplah kasih
karunia-Ku bagimu,
sebab justru dalam kelemahanlah
kuasa-Ku menjadi sempurna.
Sebab itu terlebih suka aku
bermegah atas kelemahanku,
supaya kuasa Kristus
turun menaungi aku.”
(2 Korintus 12:9)
“Dan jadikanlah dirimu sendiri
suatu teladan dalam berbuat baik.
Hendaklah engkau jujur dan
bersungguh-sungguh
dalam pengajaranmu.”
(Titus 2:7)
Pendidikan Agama
REMAJA
Tahun 3 Buku 4
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah
memang bermanfaat untuk mengajar,
untuk menyatakan kesalahan,
untuk memperbaiki kelakuan dan
untuk mendidik orang dalam kebenaran.”
(2 Timotius 3:16)
True Jesus Church
General Assembly, USA
(Buku ini hanya dipergunakan
di dalam Gereja Yesus Sejati)
Edisi Revisi 1, 2012
Download