PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI INFUSA KOMBINASI

advertisement
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI INFUSA KOMBINASI
DAUN SIRIH (Piper betle L.) DAN DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum
Ruiz & Pav.) DENGAN INFUSA TUNGGALNYA TERHADAP BAKTERI
Staphylococcus aureus
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Program Studi Farmasi
Oleh:
Rakhel Nugraheni Putri
NIM : 138114089
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2017
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI INFUSA KOMBINASI
DAUN SIRIH (Piper betle L.) DAN DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum
Ruiz & Pav.) DENGAN INFUSA TUNGGALNYA TERHADAP BAKTERI
Staphylococcus aureus
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Program Studi Farmasi
Oleh:
Rakhel Nugraheni Putri
NIM : 138114089
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2017
i
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
iii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
HALAMAN PERSEMBAHAN
“I can do all things through Christ who strengthens me.”
(Philippians 4:13)
“Whatever you do work at it with all your heart as working for the Lord not for
men.”
(Colossians 3:23)
Karya ini kupersembahkan untuk
Tuhan Yesus Kristus Sang Juruselamatku dan Penebusku
Bapak Wakiyo, Ibu Ari Setyani, mas Andrianus Kurniawan, dik Debora Oktaviani
Seluruh keluarga dan saudara-saudaraku
Teman-temanku tercinta
Serta almamaterku
iv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
v
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
vi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PRAKATA
Segala puji dan syukur hanya bagi Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa
mencurahkan berkat dan kasih setia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul “Perbandingan Aktivitas Antibakteri Infusa Kombinasi Daun
Sirih (Piper betle L.) dan Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) dengan
Infusa Tunggalnya terhadap Bakteri Staphylococcus aureus”. Keberhasilan
penulisan skripsi ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak, oleh
karena itu dengan penuh kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terimakasih
yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ibu Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Sanata
Dharma Yogyakarta.
2. Ibu Dr. Yustina Sri Hartini M.Si., Apt. selaku dosen pembimbing skripsi
yang selalu sabar membimbing dan memberikan arahan yang baik kepada
penulis.
3. Ibu Dr. Erna Tri Wulandari, Apt. dan ibu Damiana Sapta Candrasari, S.Si.,
M.Sc. selaku dosen penguji yang selalu memberikan kritik dan saran yang
membangun kepada penulis.
4. Bapak Wakiyo dan ibu Ari Setyani yang selalu memberikan dukungan doa,
semangat dan kasih sayang serta selalu setia menemani dalam penyusunan
skripsi.
5. Mas Andrianus Kurniawan dan dik Debora Oktaviani yang memberikan
cinta, semangat dan dukungan doa kepada penulis.
6. Mbah putri Slamet, mbah Kakung Ponidi Sumarjo dan Eka Arma Novianti
yang selalu menjadi semangat dan kekuatan penulis.
7. Keluarga besar Sumarjo dan keluarga besar Hadi Saroyo serta saudarasaudara penulis yang tiada henti memberikan dukungan dan doa yang
berharga.
8. Yohanes Medika Seta Diaseptana dan Lia Elisa Susanti yang menjadi teman
satu tim skripsi yang selalu setia menjalani suka dan duka bersama-sama.
vii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
viii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.....................................................................................
i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...........................................
ii
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI .......................................................
iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................
iv
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................................
v
LEMBAR PERNYATAAN PUBLIKASI ....................................................
vi
PRAKATA ....................................................................................................
vii
DAFTAR ISI .................................................................................................
ix
DAFTAR TABEL .........................................................................................
x
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................
xi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................
xii
ABSTRAK ....................................................................................................
xiii
ABSTRACT ....................................................................................................
xiv
PENDAHULUAN ........................................................................................
1
METODE PENELITIAN ..............................................................................
3
Jenis dan Rancangan Penelitian .................................................
3
Alat dan Bahan ...........................................................................
3
Determinasi Tanaman ................................................................
3
Pengumpulan Bahan Uji.............................................................
3
Pembuatan Simplisia .................................................................
4
Penentuan Kadar Air dengan Destilasi Toluen ..........................
4
Pembuatan Infusa Sirih, Sirih Merah dan Kombinasi ................
5
Pengujian Daya Hambat Dengan Metode Difusi Disk ..............
5
Teknik Analisis Data Penelitian .................................................
6
HASIL DAN PEMBAHASAN .....................................................................
7
KESIMPULAN DAN SARAN .....................................................................
12
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................
13
LAMPIRAN ..................................................................................................
17
BIOGRAFI PENULIS ..................................................................................
23
ix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil penimbangan daun sirih dan daun sirih merah .....................
7
Tabel 2. Penetapan kadar air dengan metode destilasi toluen ......................
8
Tabel 3. Diameter Zona Hambat ...................................................................
10
x
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Tanaman Sirih dan Daun Merah Segar .....................................
7
Gambar 2. Infusa Kombinasi, Sirih Merah dan Sirih .................................
8
Gambar 3. Kontrol Media dan Kontrol Pertumbuhan ..................................
9
Gambar 4. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri ...................................................
9
Gambar 5. Grafik Rerata Diameter Zona Hambat .......................................
11
xi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat keterangan determinasi tanaman ...................................
17
Lampiran 2. Sertifikat hasil uji isolasi dan identifikasi bakteri ..................
18
Lampiran 3. Data pengukuran diameter zona hambat .................................
19
Lampiran 4. Pengukuran standar deviasi ....................................................
20
Lampiran 5. Hasil uji pearson chi-square ..................................................
21
Lampiran 6. Hasil uji levene .........................................................................
21
Lampiran 7. Hasil uji anova one-way ..........................................................
21
Lampiran 8. Hasil uji TukeyHSD .................................................................
22
xii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ABSTRAK
Staphylococcus aureus merupakan flora normal di tubuh manusia tetapi
dalam jumlah tidak seimbang justru mempunyai peluang untuk menjadi patogen
yang dapat membahayakan manusia. Bakteri ini dapat menyebabkan bakteremia
dan infeksi endokarditis, osteoartikular, pleuropulmonari, kulit dan jaringan lunak.
Resistensi merupakan permasalahan yang sering terjadi di dalam pengobatan
penyakit infeksi. S. aureus resisten terhadap penisilin sebesar 100%, eritromisin
sebesar 17,7%, rifampisin sebesar 14%, gentamisin sebesar 13,8%, dan klindamisin
sebesar 11,1%. Peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotik menunjukkan
peluang mengembangkan obat dengan memanfaatkan senyawa bioaktif tanaman.
Daun sirih mengandung saponin, flavonoid, polifenol. Sirih merah mengandung
senyawa aktif seperti polifenol, tanin. Senyawa-senyawa bioaktif tersebut diketahui
memiliki aktivitas antibakteri. Saat ini, terapi kombinasi menjadi suatu cara untuk
mengatasi kasus infeksius ketika agen monoterapi sudah tidak mampu mengatasi,
sehingga penting dilakukan eksplorasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
perbedaan aktivitas antibakteri dalam infusa kombinasi sirih dan sirih merah
dibandingkan infusa tunggalnya terhadap bakteri S. aureus.
Metode penelitian menggunakan rancangan post-test only control group
design. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi disk. Data diameter
zona hambat yang diukur kemudian diuji secara statistik dengan program R i386
(versi 3.31) menggunakan Anova one-way dan uji post-hoc TukeyHSD untuk
mengetahui perbedaannya.
Hasil penelitian yang didapat diameter zona hambat infusa daun sirih, sirih
merah dan kombinasi berturut-turut 6,1±0,50 mm; 5,3±0,30 mm; dan 4,1±0,25 mm.
Pengujian statistik mendapati bahwa antara infusa sirih dengan infusa kombinasi
terdapat perbedaan yang bermakna karena nilai p = 0,0085 (p < 0,05), sama halnya
dengan infusa sirih merah dengan infusa kombinasi juga terdapat perbedaan yang
bermakna karena nilai p = 0,0492 (p < 0,05).
Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna yaitu
aktivitas antibakteri infusa kombinasi daun sirih dan daun sirih merah lebih kecil
dibandingkan infusa tunggalnya terhadap bakteri S. aureus.
Kata kunci: sirih, sirih merah, infusa, kombinasi, Staphylococcus aureus,
antibakteri
xiii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ABSTRACT
Staphylococcus aureus is a normal flora in the human body but when it is
in an unbalanced amount it will have the chance to become a pathogen that can
harm humans. These bacteria can cause bacteremia and infections of endocarditis,
osteoarticular, pleuropulmonary, skin and soft tissue. Antibiotic resistance is a
common problem in the treatment of infectious diseases. Penicillin resistance to S.
aureus was 100%, erythromycin 17.7%, rifampicin 14%, gentamicin 13.8%, and
clindamycin 11.1%. Increased bacterial resistance to antibiotics suggests the
possibility of drug development by utilizing plant bioactive compounds. Betel leaf
contains saponins, flavonoids, polyphenols. Red betel contains active compounds
such as polyphenols, tannins. This bioactive compound is known to have
antibacterial activity. Currently, combination therapy becomes a way to treat
infections when monotherapy agents are unable to cope, so it is important to explore
the combination form. This study was conducted to determine the differences of
antibacterial activity in combination infusion of betel and red betel leaf compared
with single infusion against S. aureus bacteria.
The research method used post-test only control group design. Test
antibacterial activity using the disk diffusion method. Data of inhibitory zone
diameter then tested statistically with the R i386 program (version 3.31) using oneway Anova test and post-hoc TukeyHSD test to determine the difference.
The result of the research obtained the diameter of inhibition zone of betel
leaf, red betel leaf and combination infusion respectively 6,1 ± 0,50 mm; 5.3 ± 0.30
mm; and 4.1 ± 0.25 mm. Statistical tests found that between the betel infusion and
the combination infusion there was a significant difference because the value of p
= 0,0085 (p <0,05), as well as red betel infusion with combination infusion there
was also a significant difference because the value of p = 0, 0492 (p <0.05). It can
be concluded that there is a significant difference that the antibacterial activity of
the combination of betel leaf and red betel leaf was smaller than single infusion to
S. aureus.
Keywords: betel, red betel, infusion, combination, Staphylococcus aureus,
antibacteria
xiv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PENDAHULUAN
Staphylococcus aureus atau S. aureus merupakan anggota flora alami yang terdapat
pada tubuh manusia tetapi dalam jumlah yang tidak seimbang justru mempunyai peluang
untuk menjadi patogen yang dapat membahayakan manusia (Hiramatsu et al, 2014).
Sebagian besar infeksi klinis yang dialami oleh manusia disebabkan oleh S. aureus. Bakteri
ini adalah penyebab utama bakteremia dan infeksi endokarditis, osteoartikular,
pleuropulmonari, kulit dan jaringan lunak (Tong et al, 2015). Di Amerika, S. aureus
menyebabkan terjadinya kasus food-borne desease (FBD) sebanyak 241.000 kejadian.
WHO mendefinisikan FBD sebagai penyakit infeksi yang diakibatkan dari konsumsi
makanan dan minuman (Kadariya et al, 2014).
Resistensi merupakan permasalahan yang sering terjadi di dalam pengobatan
penyakit infeksi. Resistensi dapat diartikan sebagai tidak terhambatnya pertumbuhan bakteri
dengan pemberian antibiotik pada dosis kadar hambat minimalnya (Utami, 2012). Penelitian
Ragbetli et al. (2016) melaporkan bahwa S. aureus resisten terhadap penisilin sebesar 100%,
eritromisin sebesar 17,7%, rifampisin sebesar 14%, gentamisin sebesar 13,8%, dan
klindamisin sebesar 11,1%. Menurut Rijayanti et al. (2014) peningkatan resistensi bakteri
terhadap antibiotik menunjukkan peluang mengembangkan obat dengan memanfaatkan
senyawa bioaktif tanaman sehingga pemanfaatan tanaman untuk pengembangan obat perlu
dilakukan. Penelitian antibakteri berbasis tanaman sudah banyak dilakukan, bahkan menurut
WHO sebanyak 90% populasi dunia secara tradisional mengandalkan tanaman sebagai
sumber pengobatan (Dominius, 2015).
Tanaman sirih banyak dimanfaatkan sebagai pengobatan di Indonesia, terutama
bagian daunnya. Daun sirih telah terbukti secara ilmiah memiliki aktivitas sebagai
antibakteri. Daun sirih mengandung saponin, flavonoid, polifenol. Kandungan saponin
dalam daun sirih berkerja sebagai antibakteri dengan cara merusak membran sitoplasma,
sedangkan flavonoid diduga memiliki mekanisme kerja mendenaturasi protein sel bakteri
(Noventi dan Carolia, 2016). Penelitian Inayatullah (2012) melaporkan bahwa ekstrak etanol
daun sirih pada konsentrasi 106, 5.106, dan 107 ppm dengan menggunakan metode difusi disk
secara signifikan menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dengan diameter zona hambat
sebesar ≥21,3 mm.
Sirih merah termasuk dalam keluarga Piperaceae dikenal sebagai tanaman obat yang
berkhasiat sebagai antibakteri. Sirih merah mengandung senyawa aktif seperti alkaloid,
1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
polifenol, tanin yang diketahui memiliki sifat antibakteri (Pasril dan Yuliasanti, 2014).
Flavonoid memiliki mekanisme kerja menganggu integritas membran sel bakteri. Alkaloid
bekerja dengan cara menganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri dan
tanin bekerja dengan cara merusak membran sel bakteri (Juliantina et al, 2009). Ekstrak daun
sirih merah pada konsentrasi 1.106 ppm dengan metode difusi disk dapat menghambat
pertumbuhan bakteri S. aureus dengan daya hambat kuat yakni ≥17,3 mm (Ma’rifah, 2012).
Pengembangan pengobatan berbasis tanaman obat dengan melibatkan banyak
komponen senyawa kimia telah banyak dilakukan. Banyaknya komponen senyawa kimia
yang terkandung dalam suatu tanaman memungkinkan terjadinya interaksi antara bahan aktif
senyawa apabila dikombinasikan dengan tanaman lain. Kombinasi antar bahan aktif dapat
menunjukkan efek sinergis, efek adiktif dan efek antagonis (Syahrir et al, 2016). Efek
sinergis terjadi saat interaksi antar senyawa menciptakan efek antimikroba yang lebih besar,
selanjutnya ada efek adiktif terjadi saat efek antimikroba yang diciptakan sama hasilnya
dengan penjumlahan masing-masing efek senyawa tunggalnya. Efek antagonis yaitu efek
antimikroba yang diciptakan oleh interaksi antar senyawa lebih kecil dibandingkan dengan
senyawa tunggalnya (Baljeet et al, 2015). Berbagai metabolit sekunder yang terkandung
dalam tanaman memiliki fungsi yang belum diketahui dengan jelas, namun pada proporsi
yang tepat campuran dari berbagai metabolit sekunder tersebut akan memiliki aktivitas
biologis yang lebih baik bila dibandingkan komponen tunggal atau kombinasi acak dari
komponen tunggal (Carmona dan Pereira, 2013).
Infusa merupakan metode ekstraksi dengan pemanasan 90°C selama 15 menit untuk
mendapatkan zat-zat penting dari suatu herbal. Infusa daun sirih memiliki turunan fenolik
sehingga menyebabkan aktivitas antibakterialnya enam kali lebih kuat dibandingkan fenol
itu sendiri (Amalia et al, 2009). Infusa daun sirih merah mengandung senyawa aktif saponin
dalam jumlah kecil yang berperan sebagai antibakteri (Pangabdian, 2012).
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan
dari aktivitas bakteri infusa kombinasi daun sirih dan saun sirih merah dibandingkan infusa
tunggalnya terhadap bakteri S. aureus. Hasil penelitian yang didapat bisa memberikan
kesimpulan terkait efektivitas yang lebih baik antara infusa kombinasi atau infusa
tunggalnya untuk penanganan terhadap bakteri S. aureus.
2
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
METODE PENELITIAN
Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan rancangan post-test only
control group design. Rancangan tersebut memiliki konsep bahwa terdapat dua kelompok.
Kelompok pertama merupakan kelompok yang diberikan perlakuan (kelompok eksperimen)
dan kelompok lainnya tidak diberikan perlakuan (kelompok kontrol). Selanjutnya, pengaruh
perlakuan diuji perbedaanya dengan uji statistik (Sugiyono, 2012).
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah oven, nampan/wadah, kipas
angin, toples kaca, timbangan digital, blender, pemanas (heating mantle), labu destilasi,
tabung kondenser, pipa leher penyambung, selang air, bejana infusa (panci enamel),
termometer, hot plate, pengaduk, kain flannel, gelas beker, autoklaf, timbangan analitik,
erlenmeyer, stirer, sendok, tabung reaksi, cawan petri, jarum ose, kertas payung, karet
gelang, inkubator, bunsen, korek api, vortex, rak tabung reaksi, gelas ukur 100 mL, spreader,
penjepit, pinset, pipet volume 1 mL dan 10mL, glasfirn, mikropipet, dan mistar.
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kultur bakteri murni
Staphylococcus aureus, daun sirih, daun sirih merah, silika gel, akuades, alkohol 70 %, NA
(Nutrient Agar), NB (Nutrient Broth), standar II McFarland, paperdisk ampicillinsulbactam, paperdisk blank, dan toluen p.a (pro-analysis).
Determinasi Tanaman
Bahan yang akan dideterminasi adalah tanaman sirih dan sirih merah yang diperoleh
dari perkebuan Merapi Farma Herbal di daerah Sleman. Determinasi tanaman daun sirih dan
daun sirih merah dilakukan oleh ahli tanaman di Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. Cara untuk melakukan determinasi tanaman ini adalah dengan mencocokan ciri
morfologi yang terdapat pada tanaman daun sirih dan daun sirih merah terhadap acuan
kepustakaan pada kunci determinasi.
Pengumpulan Bahan Uji
Daun sirih dan daun sirih merah didapatkan dari perkebunan Merapi Farma Herbal
di daerah Sleman. Daun sirih dan daun sirih merah yang diambil adalah daun sirih dan daun
sirih merah yang memiliki umur yang sama yaitu berumur sekitar 4 bulan dengan melihat
dari ciri lebar daun yang berkisar antara 15-20 cm, daun tidak terlalu muda ataupun tua
3
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ditunjukkan dengan warna daun yang tidak terlalu terang atau gelap (Werdhany et al, 2008).
Pemanenan dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terbit (Katno, 2008).
Pembuatan Simplisia
Pembuatan simplisia mengacu pada standar Pengelolaan Pasca Panen Tanaman Obat
yang ditetapkan oleh DepKes RI (2008). Langkah awal adalah sortasi basah dengan cara
memisahkan pengotor dan barang-barang asing dari bahan uji. Selanjutnya dilakukan
penimbangan dalam satuan gram untuk mengetahui berat basah bahan uji. Setelah ditimbang
lalu dicuci dengan air bersih yang mengalir, kemudian ditiriskan dalam nampan dan
dikeringkan menggunakan kipas angin sambil sesekali dibolak-balik. Lalu daun sirih dan
daun sirih merah dikeringkan secara terpisah dengan menggunakan oven pada pengaturan
suhu 40°C selama 4 hari. Simplisia kering ditunjukkan dengan tanda mudah hancur ketika
diremas. Selanjutnya dilakukan sortasi kering yaitu memisahkan simplisia dengan pengotor
dan benda-benda asing. Setelah dibersihkan lalu ditimbang untuk mengetahui berat kering
bahan uji. Simplisia kemudian disimpan di dalam toples kaca yang tertutup rapat, lalu
diletakkan di tempat yang kering dan tidak terkena sinar matahari secara langsung.
Penetapan Kadar Air menggunakan metode Destilasi Toluen
Penentuan kadar air dengan metode destilasi toluen mengacu pada standar penentuan
kadar air yang ditetapkan oleh WHO (2011), Budiarti et al. (2013), dan Zainab et al. (2016).
Simplisia kering dihaluskan menggunakan blender, selanjutnya simplisia halus ditimbang
sebanyak 20 gram. Alat-alat destilasi dibilas terlebih dahulu menggunakan akuades lalu
dikeringkan menggunakan oven selama 1 jam. Dilakukan penjenuhan toluen p.a sebanyak
200 mL yang dimasukan dalam corong pisah lalu ditambahkan akuades sebanyak 20 mL,
digojog lalu didiamkan kurang lebih 1 jam hingga didapati terbentuk 2 fase. Air dialirkan
hingga batas fase sehingga didapatkan toluen jenuh air.
Sebanyak 20 gram serbuk simplisia halus dimasukkan ke dalam labu alas bulat dan
ditambahkan toluen jenuh air sebanyak 195 mL. Setelah peralatan destilasi dirangkai lalu
labu alas bulat mulai dipanaskan selama 15 menit. Setelah toluen mendidih, maka
penyulingan diatur pada kecepatan 2 tetes/detik hingga didapatkan sebagian air tersuling dan
dilanjutkan kecepatan 4 tetes/detik. Kemudian kondensor dibilas dengan 5 mL toluen.
Penyulingan dilanjutkan selama 5 menit dan selanjutnya didinginkan hingga mencapai suhu
ruangan. Setelah dipastikan air dan toluen memisah sempurna, dilanjutkan dengan
pengukuran. Perhitungan dilakukan dalam % volume/berat.
4
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Pembuatan Infusa Sirih, Sirih Merah dan Kombinasi
Pembuatan infusa mengacu pada standar dalam Acuan Sediaan Herbal yang
ditetapkan oleh BPOM (2012). Masing-masing simplisia daun sirih dan daun sirih merah
yang telah kering, diremas lalu ditimbang sebanyak 60 gram, lalu ditambahkan akuades
sebanyak 120 mL untuk menjenuhkan serbuk simplisia dan ditambah 60 mL akuades untuk
menyari simplisia (Yuliani et al, 2015), lalu dipanaskan menggunakan hot plate hingga suhu
mencapai 90°C dan pada suhu 90°C dipertahankan selama 15 menit sambil sesekali diaduk.
Selanjutnya cairan infusa diserkai melalui kain flannel. Apabila volume akhir infusa yang
didapat kurang dari 60 mL, maka perlu ditambahkan air panas secukupnya yang dialirkan
melalui ampas hingga diperoleh volume 60 mL. Infusa tunggal daun sirih dan daun sirih
merah yang didapat memiliki konsentrasi 100% b/v.
Pembuatan infusa kombinasi daun sirih dan daun sirih merah mengadaptasi metode
yang digunakan pada penelitian Safithri (2012) dan Kinuthia (2013). Infusa tunggal daun
sirih dan daun sirih merah dicampur dengan rasio 1:1 selagi panas. Rasio 1:1 didapatkan
dengan mencampurkan 20 mL infusa daun sirih dan 20 mL infusa daun sirih merah sambil
diaduk, sehingga didapatkan infusa kombinasi rasio 1:1 sebanyak 40 mL dengan konsentrasi
100% b/v.
Pengujian Daya Hambat Menggunakan Metode Difusi Disk
Pengujian daya hambat atau aktivitas antibakteri mengacu pada Das et al, (2009),
Hermawan (2007) dan Rizqina (2014). Kultur murni S. aureus disubkultur (diremajakan)
dengan cara menginokulasikan 1 ose biakan murni bakteri S. aureus ke dalam media NA
yang telah disterilisasi menggunakan autoklaf lalu dibiarkan memadat, kemudian media
diinkubasikan pada suhu 37°C selama 24 jam. Subkultur pada media cair NB dengan cara
menginokulasikan 1 ose biakan murni bakteri ke dalam NB, lalu diinkubasikan pada suhu
37°C selama 24 jam. Stok bakteri pada media cair NB di-vortex dan disamakan
kekeruhannya dengan McFarland nomor 2 (6.108 CFU/mL). Selanjutnya diambil sebanyak
0,2 mL dari stok bakteri dan di-spread pada media NA yang telah memadat.
Pengujian daya hambat pertumbuhan bakteri dilakukan dengan metode difusi disk.
Disk kosong (paper disk blank) berukuran 5 mm masing-masing ditetesi menggunakan
mikropipet sebanyak 20 µL infusa sirih, infus sirih merah, infusa kombinasi, dan akuades
sebagai kontrol negatif, lalu diletakan diatas permukaan media NA dengan teknik aseptis.
Selanjutnya disk antibiotik sebagai kontrol positif berisi ampicilin-sulbactam 20 µg
5
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
diletakan diatas permukaan media NA dengan teknik aseptis. Ampicilin-sulbactam dipilih
sebagai kontrol positif karena telah terbukti mampu menghambat S. aureus (Anonim, 2008).
Selanjutnya diinkubasikan dalam inkubator pada suhu 37°C selama 24 jam.
Setiap cawan petri berisi disk nyang berisi kontrol positif (antibiotik), kontrol negatif
(akuades), perlakuan (infusa tunggal daun sirih 100% b/v, infusa tunggal daun sirih merah
100% b/v, infusa kombinasi 1:1 100% b/v). Kontrol media hanya berisi media NA yang
telah disterilisasi kemudian dibiarkan memadat dan tidak diberi perlakuan apapun,
sedangkan kontrol pertumbuhan berisi media NA yang telah memadat yang ditambah bakteri
S. aureus sebanyak 0,2 mL dan di-spread. Setiap kelompok uji dilakukan replikasi sebanyak
tiga kali.
Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur zona hambat (zona bening) yang
terbentuk disekitar paper disk. Pengukuran diameter zona hambat dilakukan setelah 24 jam
inkubasi dengan menggunakan mistar pada satuan mm. Pengukuran zona hambat dilakukan
pada zona iradikal, yaitu zona disekitar kertas cakram (paper disk) yang dihambat
pertumbuhan bakterinya tetapi tidak dimatikan (Inayatullah, 2012). Pengukuran zona
hambat dilakukan dengan diukur sebanyak dua kali yaitu pengukuran berdasarkan garis
tengah vertikal dan horisontal lalu masing-masing dikurangi dengan diameter kertas cakram
(5 mm), hasil dari pengurangan tersebut kemudian ditambahkan dan hasilnya dibagi dua.
Rumus pengukuran zona hambat =
((𝑋−𝑑)+(𝑌−𝑑))
2
(Sendy et al, 2014).
Teknik Analisis Data Penelitian
Pengujian statistik dilakukan menggunakan program R i386 (versi 3.31). Analisis
data diameter zona yang didapat diuji distribusi normalitasnya menggunakan uji pearson
chi-square dan diuji variannya menggunakan uji Levene. Apabila hasilnya terdistribusi
normal dan variansinya homogen maka dilanjutkan dengan uji ANOVA One Way. Apabila
ditemukan perbedaan maka dilanjutkan Post-Hoc dengan TukeyHSD pada taraf kepercayaan
95%.
6
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
HASIL DAN PEMBAHASAN
Determinasi dilakukan di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, hal
ini dilakukan untuk identifikasi tanaman sehingga dapat menghindari kesalahan dalam
pengambilan tanaman. Hasil determinasi menunjukkan bahawa tanaman yang diteliti adalah
benar sirih (Piper betle L.) dan sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.).
(a)
(b)
Gambar 1. Tanaman sirih (a) dan sirih merah (b)
Daun sirih dan daun sirih merah yang telah dipanen, dalam kondisi masih segar disortasi
basah terlebih dahulu kemudian ditimbang, selanjutnya dicuci dengan air bersih yang
mengalir sambil dipisahkan dari pengotor yang menempel pada daun. Setelah dicuci daun
sirih dan daun sirih merah kemudian diangin-anginkan sambil sesekali dibolak-balik.
Dilanjutkan proses pengeringan menggunakan oven pada suhu 40°C selama 4 hari hingga
didapatkan simplisia daun sirih dan daun sirih merah dengan ciri rapuh dan mudah retak saat
dipegang. Simplisia kemudian disortasi kering lalu ditimbang. Rendemen simplisia dihitung
dengan rumus=
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔 (𝑔)
𝑥100%.
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑏𝑎𝑠𝑎ℎ (𝑔)
Tabel 1. Hasil penimbangan daun sirih dan sirih merah
Bobot
Daun Sirih
Daun Sirih Merah
Bobot Basah (g)
1406,52
1685,92
Bobot Kering (g)
281,30
392,07
Rendemen simplisia %
20
23,2
Simplisia sirih dan sirih merah dihitung kadar airnya menggunakan metode destilasi
toluen, dan % kadar air dihitung dengan rumus =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑎𝑖𝑟 (𝑚𝐿)
𝑥100%.
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎 (𝑔)
baik adalah kadar air <10% (Farmakope Indonesia, 1995).
7
Kadar air yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Tabel 2. Penetapan kadar air dengan metode destilasi toluen
Bobot simplisia (g)
Volume air (mL)
Kadar air %
Sirih
20,61
0,5
2,43
Sirih Merah
20,12
0,75
3,73
Simplisia sirih dan sirih merah dihancurkan dengan cara diremas lalu ditimbang
masing-masing sebanyak 60 g untuk pembuatan infusa. Konsentrasi infusa yang diinginkan
adalah 100% b/v sehingga ditambahkan akuades sebanyak 60 mL, sebelumnya ditambahkan
terlebih dahulu 120 mL akuades untuk menjenuhkan simplisia sehingga mempermudah
penyarian senyawa bioaktif simplisia. Menurut Farmakope Indonesia IV (1995) simplisia
halus diberi air secukupnya pada panci lalu dipanaskan pada tangas air selama 15 menit
terhitung mulai suhu 90°C sambil sesekali diaduk. Cairan infusa diserkai melalui kain flanel
kemudian jika volume kurang dapat ditambahkan air panas secukupnya melalui ampas
hingga diperoleh volume infusa yang dikehendaki. Pada penelitian ini infusa diserkai selagi
panas untuk mencegah terjadinya pengendapan infusa yang berakibat menurunnya
konsentrasi ketika diserkai, namun menurut BPOM (2012), infusa yang mengandung
minyak atsiri sebaiknya diserkai ketika sudah dingin untuk menghindari hilangnya senyawa
volatil. Maka, pada penelitian ini, ada kemungkinan kadar minyak atsiri dalam infusa
mengalami penurunan. Setelah diserkai didapatkan volume 60 mL untuk infusa sirih dan
sirih merah, masing-masing infusa diambil sebanyak 20 mL dan dicampurkan dalam wadah
yang berbeda untuk membuat infusa kombinasi sirih dan sirih merah. Hasil akhir didapatkan
masing-masing sebanyak 40 mL infusa sirih, sirih merah dan sirih kombinasi.
(a)
(b)
(c)
Gambar 2. Infusa kombinasi (a), infusa sirih merah (b), infusa sirih (c)
Kontrol media dibuat untuk memastikan bahwa pembuatan media NA aseptis,
sedangkan kontrol pertumbuhan dibuat untuk memastikan bahwa bakteri S. aureus dapat
tumbuh dengan baik pada media NA. Hal ini ditunjukkan pada Gambar 3 yaitu kontrol media
8
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
bersih dan tidak ada kontaminasi dan kontrol pertumbuhan menunjukkan bakteri S. aureus
dapat tumbuh dengan baik pada media NA.
(a)
(b)
Gambar 3. Kontrol media (a) dan kontrol pertumbuhan (b)
Uji aktivitas antibakteri infusa sirih, sirih merah dan kombinasi keduanya dilakukan
untuk mengetahui perbedaan aktivitas antibakteri terhadap bakteri S. aureus dengan
menggunakan metode difusi disk. Hasil uji aktivitas antibakteri ditunjukkan pada Gambar 4
dan Tabel 3.
(a)
(b)
(c)
Gambar 4. Hasil uji aktivitas antibakteri, replikasi 1 (a), replikasi 2 (b), replikasi 3 (c)
Keterangan : A: kontrol positif (ampicillin-sulbactam); B: kontrol negatif (akuades); C:
infusa sirih; D: infusa kombinasi; E: infusa sirih merah
Berdasarkan Gambar 4, dari ketiga replikasi yang dilakukan dapat diamati bahwa
infusa sirih memiliki diameter zona hambat terbesar kedua setelah kontrol positif. Kontrol
negatif yang berisi akuades tidak menunjukkan terbentuknya zona hambat atau akuades tidak
memiliki aktivitas antibakteri sebagai pelarut bahan uji. Diameter zona hambat yang
terbentuk pada infusa sirih dan infusa sirih merah mempunyai kemampuan menghambat
bakteri yang sedang karena diameter yang terbentuk ≥ 5 mm, sedangkan pada diameter zona
hambat yang terbentuk dari infusa kombinasi mempunyai daya hambat bakteri yang lemah
karena diameter yang terbentuk < 5 mm. Diameter zona hambat pada kontrol positif dapat
9
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
dikategorikan kuat karena diameter yang terbentuk ≥ 10 mm (Nopiyanti, 2016). Ketika
dibandingkan dengan penelitian Nair dan Chanda (2008), ekstrak metanol daun sirih
memberikan zona penghambatan sebesar 13 mm terhadap S. aureus, Sedangkan pada
penelitian Aroljathi et al. (2016), ekstrak air daun sirih memberikan penghambatan sebesar
8,9±0,3 mm terhadap S. aureus. Penelitian serupa mengenai aktivitas ekstrak pelarut air daun
sirih merah terhadap S. aureus masih sulit ditemukan, namun penelitian yang dilakukan
Kusuma et al. (2017), ekstrak etanol daun sirih merah 80% b/v memberikan zona hambat
sebesar 17,3±0,04 mm. Pada penelitian ini, zona hambat yang diperoleh relatif kecil bila
dibandingkan penelitian sebelumnya, ada beberapa kemungkinan yang mendasari antara
lain, i) adanya substansi aktif yang sama antar sirih dan sirih merah ketika diekstraksi dengan
pelarut air maupun pelarut organik, namun dalam pelarut air konsentrasinya lebih rendah;
ii) adanya substansi aktif yang pada dasarnya akan terlarut pada pelarut organik (Nair dan
Chanda, 2008) iii) perbedaan tempat tumbuh bahan tanaman akan mempengaruhi substansi
aktif di dalamnya (Aruljothi et al, 2016), selain itu dapat pula dipengaruhi proses ekstraksi
yang berbeda, penelitian Aruljothi et al. (2016) menggunakan ekstraksi sokhletasi dengan
pelarut air sehingga kualitas sari lebih baik karena proses ekstraksi dilakukan secara
berulang.
Tabel 3. Diameter zona hambat
Replikasi
Positif
Negatif
Sirih
Sirih merah
Kombinasi
I
10,0 mm
0 mm
6,8 mm
5,0 mm
4,6 mm
II
10,7 mm
0 mm
6,0 mm
5,4 mm
4,0 mm
III
12,0 mm
0 mm
5,4 mm
5,6 mm
3,6 mm
0±0 mm
6,1±0,50
5,3±0,30
4,1±0,25
mm
mm
mm
Rerata±SD 10,9±1,03 mm
Distribusi data diuji dengan uji chi-square karena jumlah sampel tiap kelompok
hanya berjumlah tiga sampel. Hasil analisis chi-square didapatkan nilai p = 0,8013 untuk
sirih, nilai p = 0,7648 untuk sirih merah dan p = 0,3173 untuk sirih kombinasi. Maka dapat
disimpulkan bahwa data terdistribusi normal karena nilai p > 0,05. Analisis data dilanjutkan
dengan uji homogenitas varian yang dilakukan dengan uji Levene Test of Varian. Hasil uji
ini didapatkan nilai p = 0,5183 (p > 0,05) yang menunjukkan data adalah homogen. Data
10
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
yang terdistribusi normal dan homogen memenuhi syarat untuk dilakukan uji ANOVA one
way, hasi uji ini didapatkan nilai p = 0,00991 (p < 0,05) menunjukkan data berbeda
bermakna. Untuk dapat melihat perbedaan dilakukan uji TukeyHSD, dan didapatkan hasil
bahwa antara infusa sirih dengan infusa kombinasi terdapat perbedaan yang bermakna
karena nilai p = 0,0085 (p < 0,05), sama halnya dengan infusa sirih merah dengan infusa
kombinasi juga terdapat perbedaan yang bermakna karena nilai p = 0,0492 (p < 0,05). Kedua
hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara aktivitas antibakteri
infusa kombinasi daun sirih dan daun sirih merah dibandingkan infusa tunggalnya terhadap
bakteri S. aureus.
Aktivitas antibakteri infusa sirih dan sirih merah beserta kombinasi keduanya berasal
dari senyawa fitokimia yang terkandung di dalamnya seperti flavonoid, saponin, tanin dan
turunan fenol. Flavonoid akan mengganggu integritas membran sel bakteri, tanin akan
merusak membran sel bakteri dan turunan fenol akan mendenaturasi protein dan melisiskan
sel membran (Juliantina et al, 2009). Saponin akan merusak membran sel sehingga
menyebabkan kematian sel karena hilangnya bahan-bahan esensial sel (Setyani, 2016).
Sirih merah
Kombinasi
Positif
4.1
5.3
6.1
10.9
Sirih
MEAN
Gambar 5. Grafik rerata diameter zona hambat
Diameter zona hambat infusa kombinasi selalu lebih rendah dibandingkan dengan
infusa tunggalnya dari ketiga replikasi. Hal ini diduga adanya interaksi antagonis dalam
infusa kombinasi, sehingga aktivitas antibakterinya mengalami penurunan. Chanda dan
Rakholiya (2011), mendefinisikan interaksi antagonis sebagai efek yang muncul dari suatu
kombinasi lebih rendah apabila dibandingkan efek senyawa tunggalnya. Aksi antagonis
reseptor terjadi saat suatu bentuk kimia inaktif yang menyerupai agonis akan berkompetisi
menduduki sisi aktif dari reseptor sehingga efek yang diharapkan tidak muncul. Efek
antagonis yang juga dapat terjadi adalah non-kompetitif yaitu suatu bentuk kimia inaktif
yang akan menduduki sisi alosterik dari suatu reseptor sehingga kimia aktif lain yang bersifat
11
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
agonis menjadi tidak memiliki afinitas sehingga akan menurunkan efek yang dikehendaki
(Dick, 2011).
Produk dari tanaman tidaklah seperti obat konvensional, karena produk alam terdiri
dari berbagai campuran senyawa bioaktif dan karakter dari tiap-tiap konstituen kimia yang
terkandung di dalamnya masih belum diketahui secara jelas kegunaannya. Beberapa hal
dapat mempengaruhi komposisi bioaktif kimia tanaman itu sendiri, seperti tempat asal
tanaman, musim dan pengolahan tanaman (Chavez et al, 2006).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian Perbandingan Aktivitas Antibakteri Infusa Kombinasi
Daun Sirih (Piper betle L.) dan Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) dengan
Infusa Tunggalnya terhadap Bakteri Staphylococcus aureus, dapat disimpulkan :
1. Hasil pengukuran diameter zona hambat infusa daun sirih, sirih merah dan kombinasi
berturut-turut 6,1±0,50 mm; 5,3±0,30 mm; dan 4,1±0,25 mm.
2. Adanya perbedaan aktivitas antibakteri secara bermakna antara infusa kombinasi
daun sirih dan daun sirih merah dibandingkan dengan infusa tunggalnya terhadap
bakteri Staphylococcus aureus.
3. Infusa tunggal daun sirih dan daun sirih merah memiliki daya hambat bakteri yang
lebih besar dibandingkan dengan infusa kombinasi keduanya.
SARAN
Setelah dilakukan penelitian ini, diharapkan dilakukan penelitian selanjutnya dengan
metode checkerboard untuk mengevaluasi interaksi yang terjadi di dalam kombinasi infusa
sirih dan sirih merah.
12
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, H., Sitompul, R., Hutauruk, J., Adrianjah., Mun’im, A., 2009, Effectiveness of Piper
betle Leaf Infusion As a Palpebral Skin Antiseptic, Universal Medicina, 28:2,
83-91.
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi keempat, Depkes RI: Jakarta, 9.
Anonim,
2008,
UNASYN:
ampicillin/sulbactam,
http://www.accessdata.fda.gov/drugsatfda_docs/label/2008/050608s029lbl.pdf
diakses 17 Juli 2017.
Aruljothi, S., Uma, C., dan Sivagurunathan, P., 2016, Comparative Evaluation on the
Antibacterial Activity of Karpoori variety Piper betle Leaves Against Certain
Bacterial Pathogens, IJSRM, 3:3, 36-45.
Baljeet, S.Y., Ritika, S.G., dan Roshanlal, Y., 2015, Antimicrobial Activity Of Individual
And Combined Extracts Of Selected Spices Against Some Pathogenic And Food
Spoilage Microorganisms, IFRJ, 22:6, 2594-2600.
BPOM RI, 2012, Acuan Sediaan Herbal, Edisi I, vol. 7, Badan Pengawas Obat dan Makanan
RI, Jakarta, 7.
Budiarti, R., Djamil, R., dan Kumala, S., 2013, Parameter Farmakognosi dan Uji Aktivitas
Antibakteri dari Ekstrak Buah Kapulaga (Amomum cardamomum Willd.)
terhadap Bakteri Streptococcus mutans, Seminar nasional universitas Pancasila
: Jakarta, 1-10.
Carmona, F., dan Pererira., 2013, Herbal Medicines : Old and New Concepts, Truths, and
Misunderstanding, Brazilian Journal of Pharmacognosy, Brazil, 381.
Chanda, S dan Rakholiya, K., 2011, Combination Therapy: Synergism Between Natural
Plant Extract and Antibiotic Against Infectious Disease, Formatex, 520-529.
Chavez, M.L., Jordan, M.A., dan Chavez, P.I., 2006, Evidence-based drug-herbal
Interactions, Life Sciences, 78, 2146-2157.
Das, K., Tiwari, R.K.S., Shirvastava, P.K., 2010, Techniques for Evaluating of Medicinal
Plant Products as Antimicrobial Agent: Current Methods and Future Trends, J.
Med. Plant. Res., 4:2, 104-111.
Depkes RI, 2008, Pengelolaan Pasca Panen Tanaman Obat, Departemen Kesehatan RI, 539.
Dick, R.M., 2011, General Pharmacologic Concepts, Jones and Bartlet Learning : London,
17-19.
Dominius, A., 2015, Uji Aktivitas Antibakteri Kombinasi Infusa Umbi Bawang Dayak
(Eleutherine americana (Aubl.) dan Daun Mangga Bacang (Mangifera foetida
L.) terhadap Staphylococcus aureus secara In Vitro, Universitas Tanjung Pura:
Pontianak.
13
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Hermawan, A., 2007, Pengaruh Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) terhadap Pertumbuhan
Staphylococcus aureus dan Eschercia coli dengan Metode Difusi Disk,
Universitas Airlangga : Surabaya.
Hiramatsu, K., Matsuo, K.M., Sasaki, Y.M., Sekiguchi, A., Baba, T., 2014, Multi-drugResistant Staphylococcus aureus and Future Chemotherapy, J Infect Chemother,
20, 593-601.
Inayatullah, S., 2012, Efek Ekstrak Daun Sirih Hijau terhadap Pertumbuhan Bakteri S.
aureus, UIN: Jakarta.
Juliantina, F., Citra, D.E., Nirwani, B., Nurmasitoh, T., Bowo, E.T., 2009, Manfaat Sirih
Merah (Piper crocatum) sebagai Agen Anti Bakterial terhadap Bakteri Gram
Positif dan Gram Negatif, JKKI, 1-10.
Kadariya, J., Smith, T.C., dan Thapali, D., 2014, Staphylococcus aureus and Staphylococcal
Food-Borne Disease: An Ongoing Challenge in Public Health, BioMed Research
International, 1-10.
Katno., 2008, Pengelolaan Pasca Panen Tanaman Obat, Departemen Kesehatan RI, 5-39.
Kinuthia, G., Anjili, C.O., Gikonyo, N.K., Kigondu, E.M., Ingonga, J.M., Kabiru, E.W.,
2013, In Vitro and In Vivo activity of Blends of Crude Aquous Extract from
Allium sativum, Callistemon citrinosa, Moringa against L. Major, Int. J. Med.
Arom. Plants., 3:2, 234-236.
Kusuma, S.A.F., Zuhrotun, A., dan Meidina, F.B., 2017, Antimicrobial Spectrum of Red
Betle Leaf Extract (Piper crocatum Ruiz&Pav.) as Natural Antiseptics against
Airborne Pathogen, Pharm. Sci&Res, 9:5, 583-587.
Ma’rifah, A., 2012, Efek Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum) terhadap
Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus, UIN: Jakarta.
Nair, R. dan Chanda, S., 2008, Antimicrobial Activity of Terminalia catarna, Manikara
zapota, and Piper betle extract, Indian Journal of Pharmaceutical Sciences,
May-June, 390-395.
Nopiyanti, H.T., Agustriani, F., Isnaini., Melki., 2016, Screening of Nypa Fructions as
Antibacterial of Bacillus subtilis, E. coli, and S. aureus, Journal Maspori, 8:2,
83-90.
Noventi, W. dan Carolia, N., 2016, Potensi Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) sebagai
Alternatif Terapi Acne Vulgaris, Majority, 5:1, 140-145.
Pangabdian, F., Soetanto, S., dan Suardita, K., 2012, The Effective Concentration Of Red
Betel Leaf (Piper crocatum) Infusion As Root Canal Irrigant Solution, Dental
Journal, 45:1, 12-15.
14
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Pasril, Y. dan Yuliasanti, A., 2014, Daya Antibakteri Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper
crocatum) terhadap Bakteri Enterococcus faecalis sebagai Bahan Medikamen
Saluran Akar dengan Metode Dilusi, IDJ, 3:1, 88-94.
Ragbetli, C.L., Parlak, M., Bayram, Y., Guducouglu, H., Ceylan, N., 2016, Evaluation of
Antimicrobial Resistance in Staphylococcus aureus Isolates by Years,
Interdisciplinary Perspectives on Infectious Diseases, 1-4.
Rijayanti, R.P., 2014, Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Mangga Bacang
(Mangifera foetida L.) Terhadap Staphylococcus aureus Secara In Vitro,
Universitas Tanjungpura: Pontianak.
Rizqina, N., 2014, Uji Efektivitas Antibakteri Infusum Daun Jambu Biji (Psidium guajava
Linn.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab Karies Streptococcus mutans
Secara In Vitro, Universitas Andalas : Padang
Safihtri, M., Yasni, S., Bintang, M., Ranti, A.S., 2012, Toxicity Study of Antidiabetics
Functional Drink Piper crocatum and Cinnamomum burmanii, Hayati Journal
of Biosciences, 32.
Sendy, V.A.A., Pujiastuti, P., dan Ernawati, T., 2014, Daya Antibakteri Ekstrak Daun Sirih
Merah terhadap Porphyromonas gingivalis, Artikel Ilmiah Hasil Penelitian
Mahasiswa, Universitas Jember, 1-5.
Setyani, W., Setyowati, H., dan Ayuningtyas, D., 2016, Pemanfaatan Ekstrak Terstandarisasi
Daun Som Jawa (Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn) dalam Sediaan Krim
Antibakteri Staphylococcus aureus, Jurnal Farmasi Sains dan Komunitas, 13:1,
44-51.
Sugiyono., 2012, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Alfabeta: Bandung, 76.
Syahrir, N.H.A., Afendi, F.M., dan Budi, S., 2016, Efek Sinergis Bahan Aktif Tanaman Obat
Berbasiskan Jejaring dengan Protein Target, Jurnal Jamu Indonesia, 1:1, 35-46.
Tong, S.Y.C., Davis, J.S., Eichen, E., Hollan, T.L., Fowler, V.G., 2015, Staphylococcus
aureus Infections: Epidemiology, Pathophysiology, Clinical Manifestations, and
Management, Clinical Microbiology Reviews, 28:3, 603-661.
Utami, E.R., 2012, Antibiotika, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi, Saintis, 1:1, 124-138.
Werdhany, W.I., Marton, A., Setyorini, W., 2008, Sirih Merah, Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian : Yogyakarta, 15.
WHO., 2011, Quality Control Methods for Herbal Materials, World Health Organization,
1-51.
Yuliani, N.I., Hilaria, M., dan Karim, M., 2015, Uji Toksisitas Akut Ekstrak Kental Infusa
Temulawak dengan Metode BST, Jurnal Informasi Kesehatan, 13:1, 837-951.
Zainab, Gunanti, F., Witasari, H.A., Edityaningrum, C.A., Mustofa., Murrukmihadi, M.,
2016, Penetapan Parameter Standarisasi Non Spesifik Ekstrak Etanol Daun
15
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.), Prosiding Rakernas dan Pertemuan
Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia, 210-216.
R-Team, R: The R Project for Statistical Computing, https://www.r-project.org/
16
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat keterangan determinasi tanaman
17
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lampiran 2. Sertifikat hasil uji isolasi dan identifikasi bakteri
18
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lampiran 3. Data pengukuran diameter zona hambat
Infusa tunggal sirih :
Replikas Diamete
i
r1
I
7,0
II
6,0
III
5,3
Diamete
r2
6,6
6,0
5,5
Mea
n
6,8
6,0
5,4
Infusa tunggal sirih merah :
Replikasi Diameter Diameter
1
2
I
5,0
5,0
II
5,5
5,3
III
5,9
5,3
Kontrol positif :
Replikasi Diameter
1
I
11,7
II
12,3
III
11,5
Infusa kombinasi:
Replikas Diamete
i
r1
I
5,1
II
4,0
III
3,5
Diamete
r2
4,1
4,0
3,7
Mea
n
4,6
4,0
3,6
Kontrol negatif :
Replikas Diamete
i
r1
1
0
2
0
3
0
Diamete
r2
0
0
0
Mea
n
0
0
0
Replikasi Positif
Negatif
Sirih
Mean
5,0
5,4
5,6
Diameter
2
8,3
9,0
12,5
Sirih merah
Mean
10,0
10,7
12,0
Kombinasi
I
10,0 mm
0 mm
6,8 mm
5,0 mm
4,6 mm
II
10,7 mm
0 mm
6,0 mm
5,4 mm
4,0 mm
III
12,0 mm
0 mm
5,4 mm
5,6 mm
3,6 mm
19
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lampiran 4. Perhitungan standar deviasi
Perhitungan standar deviasi dengan formula :
Kelompok infusa tunggal sirih :
n=3
i
Xi
Xi2
1
6,8
46,24
2
6,0
36,00
3
5,4
29,16
∑
18,2
111,40
(∑ Xi)2 331,24
((3).(111,40))−331,24
(3).(2)
S2=
= 0,50
Kelompok infusa tunggal sirih merah :
n=3
i
Xi
Xi2
1
5,0
25,00
2
5,4
29,16
3
5,6
31,36
∑
16
85,52
(∑ Xi)2
256
((3).(85,52))−256
(3).(2)
S2=
= 0,093
S=0,70
S=0,30
Kelompok infusa kombinasi :
n=3
i
Xi
Xi2
1
4,6
21,16
2
4,0
16,00
3
3,6
12,96
∑
12,2
50,12
(∑ Xi)2 148,84
Kontrol positif :
n=3
i
Xi
1
10,0
2
10,7
3
12,0
∑
32,70
(∑ Xi)2 1069,29
((3).(50,12))−148,84
(3).(2)
S2=
S=0,50
= 0,253
((3).(358,49))−1069,29
(3).(2)
S2=
S=1,01
20
Xi2
100,00
114,49
144,00
358,49
= 1,03
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lampiran 5. Hasil uji pearson chi-square
Lampiran 6. Hasil uji levene
Lampiran 7. Hasil uji anova one-way
21
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lampiran 8. Hasil uji TukeyHSD
22
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BIOGRAFI PENULIS
Penulis bernama Rakhel Nugraheni Putri, lahir di Kulon
Progo pada tanggal 10 Mei 1995. Penulis yang akrab
dipanggil Rakhel ini merupakan anak kedua dari tiga
bersaudara pasangan Wakiyo dan Ari Setyani. Penulis
menempuh pendidikannya di TK Pangudi Luhur Kalirejo
(2000-2001), SD Pangudi Luhur Kalirejo (2001-2007), SMP
Negeri 1 Samigaluh (2007-2010), SMA BOPKRI 1
Yogyakarta (2010-2013), dan pada tahun 2013 melanjutkan
pendidikan di Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selama berkuliah di
Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, penulis aktif
mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan diantaranya menjadi anggota aktif Paduan
Suara Farmasi Veronica (2014/2015), menjadi panitia Dana dan Usaha dalam kegiatan Desa
Mitra 1 (2013), panitia Konsumsi dalam kegiatan Cara Belajar Insan Aktif (CBIA) 2015,
panitia koordinator Acara dalam kegiatan Cara belajar Insan Aktif (CBIA) 2016, panitia
Hubungan Masyarakat dalam kegiatan Desa Mitra 2 (2016), dan menjadi panitia Konsumsi
dalam acara Pengambilan Sumpah Apoteker Angkatan 30 (2016).
23
Download