laporan penelitian ilmu-ilmu sosial dan humaniora judul pendidikan

advertisement
LAPORAN PENELITIAN
ILMU-ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA
JUDUL
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MATA PELAJARAN
BAHASA INGGRIS DI SMPIT INSAN CENDIKIA PAYAKUMBUH
STAI
N BATUSANGKAR
OLEH : SUYONO, M.A (TESOL)
NIP 19720403 200003 1005
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
(STAIN BATUSANGKAR)
2014
Abstrak
Suyono, NIP. 197204032000031005. Judul Penelitian: Pembelajaran Bahasa
Inggris Berbasis Pendidikan Karakter pada SMPIT Insan Cendikia Payakumbuh.
Kurikulum 2013 mengamanatkan kepada para guru untuk melakukan
pembelajaran dengan memperhatikan nilai-nilai yang menjadi target kurikulum
sesuai dengan jenjang pendidikan yang diikuti siswa. Namun sosialisasi
pembelajaran berbasis nilai-nilai karakter belumlah memadai untuk semua guru
yang ada disekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana
guru di SMPIT Insan Cendikia Payakumbuh yang sudah mendapatkan sosialisasi
pembelajaran berbasis karakter melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris
dengan memperhatikan penguatan pada karakter tertentu.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan penelitian kualitatif. Subyek dari
penelitian ini adalah guru bahasa Inggris kelas VII disekolah tersebut, sedangkan
yang menjadi objek penelitian adalah aktivitas guru dalam rangka menanamkan
nilai-nilai sikap dalam pembelajaran bahasa Inggris. Data diambil dengan
melakukan observasi langsung dikelas dan observasi video pembelajaran, studi
dokumentasi dan wawancara. Data dianalisis dengan pendekatan kualitatif dan
divalidasi dengan membandingkan data dari observasi, hasil studi dokumen dan
data dari wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada sejumlah karakter yang dikembangkan
di sekolah tersebut. Karakter tersebut meliputi perilaku religius, santun, peduli,
jujur, displin, percaya diri, bertanggung jawab, kerjasama dan cinta damai.
Sedangkan dalam hal cara menumbuhkembangkannya dalam pembelajaran bahasa
Inggris dimulai dari perencanaan guru dalam memilih dan mengembangkan
materi ajar, menentukan langkah pembelajaran, memilih media untuk mengajar
serta dalam pengelolaan kelas yang memberikan kesempatan yang sama dan
hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa, dan dengan sesama
siswa. Karakte tersebut dikuatkan juga diluar sekolah seperti di asrama, di kantin,
di kantor, di masjid/mushala dan di lapangan.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
ABSTRAK
i
KATA PENGANTAR
ii
DAFTAR ISI
iii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1
B. Perumusan Masalah dan Batasan Masalah
4
C. Tujuan Penelitian
4
D. Definisi Operasional
4
E. Kontribusi Penelitian
5
BAB II. KAJIAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Pendidikan Karakter
6
2. Model Pendidikan Berkarakter
7
3. Nilai-nilai Karakter
8
4. Ukuran Nilai Karakter
11
5. Pendidikan Karakter di SMP
11
6. Pendidikan Karakter dalam Bahasa Inggris
12
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
13
B. Subyek dan Obyek Penelitian
13
C. Kancah Penelitian
13
D. Instrumen Penelitian
14
E. Prosedur Penelitian
15
F. Trianggulasi data
16
G. Analisis Data
17
BAB IV. HASIL PENELITIAN
A. Temuan Penelitian
15
1. Karakter dalam Pembelajaran Bahasa Inggris
15
2. Penanaman karakter di dalam Kelas
16
a. Dilakukan secara bertahap
18
b. Pemilihan Materi Ajar yang Kontekstual
19
c. Pemakaian Media yang Memadai
19
d. Penggunaan Strategi Mengajar yang Mendukung
20
e. Manajemen Kelas dan Rapport yang Baik
21
3. Pembinaan Karakter Diluar Kelas
B. Pembahasan
22
22
BAB V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
24
B. Rekomendasi
24
Daftar Pustaka
Lampiran-Lampiran
Kata Pengantar
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, akhirnya
penulis berhasil menyelsaikan penelitian ini yang berjudul “ Pendidikan Karakter
dalam Mata Pelajaran Bahasa Inggris di SMPIT Insan Cendikia Payakumbu.
Shalawat dan Salam buat Rasulullah Muhammad SAW.
Dalam menyelesaikan penelitian ini penulis berhutang budi kepada
berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam penelitian ini. Oleh karena itu
penulis ingin menghaturkan ucapan terima kasih kepada Ustadzah Melya Ida
Sari, S.Pd, dan Ustadzah Krisia Defiyona yang telah memberi izin untuk
memasuki kelas beliau untuk direkam aktifitasnya dalam mengajar dan atas izin
untuk mendapatkan RPP yang beliau pakai dalam mengajar. Terima kasih yang
tak tehingga kepada Ustadz Zulherman Syafril, S.PdI dan Ustadz Al Mauodudi,
Lc, M.A selaku Kepala Sekolah dan Pimpinan Pesantren yang telah mengizinkan
penulis untuk melakukan penelitian di lembaga pendidikan yang beliau pimpin.
Selanjutnya ucapan terima kasih kepada saudara Zefki Oktaferi, S.PDI dan
Windi Agara, S.Pd yang telah membantu dalam mentraskrip dan mengumpulkan
data bagi analisis penelitian ini. Terima kasih yang tak tehingga kami sampaikan
kepada ketua Jurusan Tarbiyah, Kepala P3M beserta Staf dan kepada Bapak
Ketua STAIN Batusangkar yang telah memungkinkan terlaksananya penelitian in.
Tak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah berkontribusi dalam perencanaan dan penyelesaian penelitian ini
Batusangkar, 10 Nopember 2014
Peneliti
Suyono
BAB 1.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sekolah Menengah Pertama
Islam Terpadu (SMPIT) Insan Cendikia
adalah sebuah sekolah swasta di kota Payakumbuh
yang mengalami
perkembangan cukup fenomental. Semenjak didirikan empat tahun yang lalu,
peminat sekolah tersebut jauh melampaui daya tampung yang mampu disediakan
oleh pihak sekolah bahkan meskipun dari tahun ke tahun daya tampungnya selalu
dinaikkan dua kali lipat. Ditahun pertamanya sekolah tersebut menerima sebanyak
dua kelas yang terdiri dari satu kelas putra dan satu kelas putri dengan jumlah
siswa 47 dari 120 orang yang mendaftar. Tahun kedua menerima 4 kelas; 2 kelas
putra dan 2 kelas putri dengan jumlah siswa 88 orang dari 150 orang yang
mendaftar.. Ditahun ketiga, dengan seleksi yang ketat, sekolah tersebut
menambah daya tampung kelas menjadi 151 orang yang terdistribusi kedalam 6
kelas; 3 kelas putra dan 3 kelas putri. Ditahun ke empat, mereka menerima 230
dari 360 pendaftar yang terbagi ke dalam 4 kelas putra dan 4 kelas putri
(Insancendikia.com/profil-smpit-insan-cendikia-boarding-school, 2013). Untuk
tahun ini jumlah siswa yang diterima sebanyak 225 yang terbagi ke dalam 4 kelas
putra dan 4 kelas putri dari 400 pendaftar (Kepsek SMPIT).
Bukan tanpa alasan kenapa sekolah tersebut begitu booming di hati banyak
orang tua/wali murid. Ada beberapa faktor yang menjadikan sekolah ini menjadi
sangat diminati oleh banyak orang. Ada yang sifatnya internal dari pihak sekolah
tersebut dan ada faktor eksternal yang turut mempengaruhi perkembangan sekolah
tersebut. Dari faktor internal yang mungkin menjadi magnetnya adalah tawaran
konsep terpadu dari sekolah tersebut. Konsep ini mencoba memadukan berbagai
aspek-aspek pendidikan seperti integrasi dan interkoneksi disiplin ilmu,
keterpaduan antara domain kognitif, afektif dan psikomotor (Amin Abdullah,
2013). Konsep ini juga sejalan dengan amanat kurikulum 2013 yang
mengharuskan proses pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu harus
memadukan kompetensi spiritual dan sosial dengan kompetensi intelektual,
emosional dan aplikatif dalam belajar.
1|Page
Konsep pendidikan berasrama (boarding school system) juga menjadi
tawaran menarik yang mampu merebut hati banyak orang tua untuk
menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut.
Konsep ini memungkinkan
terjadinya penguatan (reinforcement) terhadap conten knowledge yang sudah
dipelajari didalam kelas. Penguatan itu bisa terjadi di playground, di asrama, di
masjid dan dimana saja baik terprogram maupun secara insidental. Dengan
konsep ini, guru, siswa dan karyawan menyatu kedalam satu institusi yang secara
total untuk belajar (total learning institution).
Faktor internal berikutnya, kemampuan manajerial pimpinan sekolah
dalam mengelola stake holder sekolah tersebut sehingga semua pihak bekerja
untuk kemajuan sekolah tersebut. Kemampuan ini dibuktikan dengan misalnya
hadirnya banyak pejabat pemerintah seperti walikota bahkan gubernur turut serta
event-event yang diciptakan disekolah tersebut, seperti milad sekolah, penyerahan
rapor, dan sebagainya. Berikutnya, prestasi akademis siswa sekolah tersebut yang
cukup fenomental pada level lokal, regional bahkan nasional juga menjadi bukti
tersendiri bagaimana sekolah ini mampu menginspirasi siswanya untuk
berprestasi. Sederet koleksi piala dalam bidang olimpiade sains, lomba bahasa
Arab bahasa Inggirs, lomba tahfidz dan tilawah, menghiasi lemari prestasi sekolah
tersebut yang bisa menjadi daya dorong tersendiri terhadap orang tua untuk
menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut.
Untuk faktor eksternal, banyaknya muslim middle class (Azyumardi Azra,
2013) ditengarai menjadi salah satu pemicu meningkatnya peminat terhadap
sekolah ini. Kelompok sosial ini memiliki kesadaran yang kuat dalam beragama
dan termasuk dalam hal pendidikan terhadap anak-anaknya. Mereka ingin melihat
anak-anaknya memiliki keseimbangan dalam hal ilmu, amal dan akhlak, dan
SMPIT mempunyai jawaban untuk itu. Faktor eksternal berikutnya adalah
dukungan pihak luar, baik masyarakat sekitar maupun pemilik modal yang mau
membantu menciptakan suasana yang kondusif dan bahkan dukungan finansial
yang memadai untuk membangun gedung yang diperlukan untuk sekolah tersebut.
Mengingat keberadaanya yang cukup fenomental, baik secara akademis
maupun non akademis, sangat menarik untuk diteliti bagaimana sekolah tersebut
mewujudkan eksistensinya. Diantara sekian banyak yang bisa diteliti adalah
2|Page
bagaimana sekolah tersebut mengintegrasikan nilai karakter yang menjadi pesan
dalam pendidikan di SMP dengan mata pelajaran. Oleh karena itu peneliti terusik
untuk melihat, memahami dan mengungkapkan bagaimana guru memahami nilai
karakter dan mengimplementasikan dalam pembelajaran khususnya untuk mata
pelaran bahasa Inggris yang menjadi brand market dari sekolah tersebut.
Dari beberapa kali kunjungan ke sekolah tersebut, peneliti mengamati ada
perlakuan yang lebih untuk bahasa Inggris. Pada setiap pergantian sesi belajar,
pengumuman-pengumuman tertertu dan panggilan terhadap siswa, bahasa Inggris
menjadi bahasa pengantarnya. Banner
yang menghiasi seputar sekolah dan
asrama, kebanyakannya juga ditulis dalam bahasa Inggris. Mading yang menjadi
unjuk kebolehan dan ungkapan perasaan siswa juga banyak terlihat dalam bahasa
Inggris. Tentu hal ini sejalan dengan brand market yang coba ditawarkan ke
publik bahwa bahasa Inggris hidup di sekolah ini. Peneliti juga mendapati adanya
tugas tambahan kepada siswa ketika sedang masa liburan untuk menghafal kosa
kata yang sudah dipelajari dan kosa kata yakan dipelajari pada pelajaran yang
akan datang. Ada beberapa kosa kata diantaranya yang sifatnya umum, dan ada
juga yang bersifat khusus keagamaan.
Apa yang mengemuka sebagaimana dijelaskan diatas merupakan output
dari sebuah proses pembelajaran baik yang terjadi di dalam kelas maupun diluar
kelas. Natijah tersebut muncul karena adanya nilai-nilai yang diyakini
kebenarnnya oleh para guru dan juga siswa, termasuk orang-orang yang terlibat
didalamnya. Oleh karena itu agar kebaikan tersebut bisa dipahami dan nantinya
bisa dibagi dengan pihak lain yang berkepentingan, baik untuk kepentingan
pendidikan maupun kepentingan penelitian, sangat perlu untuk diteliti nilai
karakter apa yang ditanamkan kepada siswa dalam belajar bahasa Inggris,
bagaimana karakter itu diajarkan baik didalam kelas maupun diluar kelas,
bagaimana interkoneksi karakter tersebut dengan mata pelajaran yang lainnya dan
bagaimana nilai-nilai itu dipelihara sedemikian rupa sehingga menjadi budaya
disekolah tersebut.
3|Page
B. Perumusan Masalah dan Batasan Masalah
Berdasarkan penjelasan diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Nilai karakter apa saja yang dikembangkan oleh guru dalam
mengajarkan bahasa Ingris?
2. Bagaimana nilai-nilai itu diajarkan oleh guru bahasa Inggris dalam
proses pembelajaran di kelas?
3. Bagaimana nilai-nilai tersebut dipelihara dan dikuatkan diluar kelas?
Mengingat bahwa pendidikan bahasa Inggris diberikan disetiap jenjang kelas,
penelitian ini dibatasi pada pendidikan bahasa Inggris yang diajarkan pada kelas
tujuh (IV) dengan pertimbangan bahwa mereka adalah kelompok pembelajar yang
secara mental sangat siap untuk mengalami atau mengikuti perubahan. Mereka
adalah juga kelompok pembelajar yang diberlakukan kurikulum 2013 yang
menekankan tumbuh kembangnya nilai kharakter dalam pembelajaran.
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengungkapkan nilai karakter apa yang ditumbuh kembangkan di SMPIT
Insan Cendikia Payakumbuh
2. Mengungkapkan bagaimana nilai karakter tersebut disemaikan didalam
proses pembelajaran bahasa Inggris
3. Mengetahui bagaimana nilai karater tersebut dikuatkan diluar kelas.
D. Definisi Operasional
Terdapat beberapa kata kunci yang akan digunakan dalam penelitian ini
sebagaimana dijelaskan berikut:
Pembelajaran bahasa Inggris, yaitu proses pembelajaran yang melibatkan
aktifitas guru dalam mengajar dan aktifitas siswa dalam belajar. Guru dalam
penelitian ini adalah guru kelas VII SMPIT Insan Cendikia Payakumbuh
Karakter adalah sejumlah nilai-nilai sikap yang dikembangkan oleh guru
sesuai dengan kurikulum 2013. Nilai-nilai sikap tersebut meliputi sikap
4|Page
religiusitas, jujur, peduli, kerja sama, santun, percaya diri, disiplin, dan cinta
damai.
E. Kontribusi Penelitian
“Mengambil contoh ka nan sudah, mengambil pituah ka nan menang” adalah
pepatah yang senantiasa di pakai oleh orang Minang dalam rangka mencari
model dan menginspirasi kesuksesan. Dengan mengetahui bagaimana guru
dan semua pihak yang ada di SMPIT Insan Cendikia, khususnya guru bahasa
Inggris dalam memperkenalkan dan mempertahankan nilai-nilai karakter
kepada siswa sehingga mampu menjadi siswa yang berkarakter, pola
pembelajaran yang demikian boleh jadi akan menjadi rujukan bagi guru-guru
lain dan sekolah-sekolah lain.
5|Page
BAB II.
KAJIAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Pendidikan kharakter.
Pendidikan karakter bisa didifinisikan dengan bahasa yang berbeda
tapi memiliki kemiripan makna. Direktorat Pembinan Sekolah Menengah
Pertama (2013), mendefiniskan pendidikan karakter sebagai ‘upaya
terencana untuk memfasilitasi peserta didik mengenal, peduli dan
menginternalisasi nilai-nilai karakter secara terintegrasi dalam proses
pembelajaran semua mata pelajaran, kegiatan pembinaan kesiswaan, dan
pengelolaan sekolah untuk semua urusan’. Wynne dalam Darmiyati
Zuchdi (2009: 10), menjelaskan bahwa karakter diambil dari bahasa
Yunani yang berarti ‘to mark” (menandai). Istilah ini lebih difokuskan
pada bagaimana upaya pengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk
tindakan atau tingkah laku. Lebih lanjut, Wynne mengatakan ada dua
pengertian tentang karakter, yakni pertama, ia menunjukkan bagaimana
seseorang bertingkah laku, dan kedua, istilah karakter erat kaitannya
dengan personality. Samsuri (2010: 2) memberikan terminologi “karakter”
itu sendiri sedikitnya memuat dua hal: values (nilai-nilai) dan kepribadian.
Suatu karakter merupakan cerminan dari nilai apa yang melekat dalam
sebuah entitas. “Karakter yang baik” pada gilirannya adalah sebuah
penampakkan dari nilai yang baik pula, yang dimiliki oleh orang atau
sesuatu, di luar persoalan apakah ‘baik’ sebagai sesuatu yang “asli”
apakah sekadar kamuflase. Dari hal ini, maka kajian pendidikan karakter
akan bersentuhan dengan wilayah filsafat moral atau etika yang bersifat
universal, seperti kejujuran.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah upaya sadar
yang harus dilakukan oleh seorang guru dan semua pihak yang
berkepentingan
dalam
menanamkan
nilai-nilai
kebaikan
dalam
pendidikan. Guru harus memahamkan nilai-nilai tersebut dalam proses
6|Page
pembelajaran dan pihak yang terkait bersama guru memelihara dan
menguatkan nilai-nilai tersebut dalam keshidupan sehari-hari.
2. Model Pendidikan berkarakter
Ada beberapa model pendidikan karakter yang pernah ada dan dilakukan
di beberapa tempat sesuai dengan paradigma relasi nilai karakter dan
bidang ilmu. Model pendidikan karakter yang pertama adalah model
pendidikan komplementer (Hasan Zaini, 2013, Alwan Khairi 2013).
Model ini berpijak pada paradigma bahwa nilai karakter dan bidang ilmu
merupakan dua entitas yang berbeda tapi salaing melengkapi bagi
kebutuhan manusia. Implementasi dari paradigma ini melahirkan model
pendidikan dimana pendidikan karakter dikonstruksikan dalam bidang
studi Pendidikan Agama, PKn dan bahasa Indonesia (Direktorat Pembinan
Sekolah Menengah Pertama, 2013).
Model pendidikan karakter selanjutnya adalah model integrasi, yaitu
mengintegrasikan/ memadukan nilai karakter ke bidang ilmu/mata
pelajaran Munculnya model ini sebagai respon terhadap kekurangan yang
ada dari model yang sebelumnya dengan melakukan pembenahan sebagai
berikut:
a. Pendidikan karakter dilakukan secara terintegrasi ke
dalam semua mata pelajaran. Integrasi yang dimaksud
meliputi pemuatan nilai-nilai ke dalam substansi pada
semua mata pelajaran dan pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar yang memfasilitasi dipraktikkannya nilainilai dalam setiap aktivitas pembelajaran di dalam dan
di luar kelas pada semua mata pelajaran.
b. Pendidikan karakter juga diintegrasikan ke dalam
pelaksanaan kegiatan pembinaan kesiswaan.
c. Selain itu, pengembangan karakter dilaksanakan
melalui kegiatan pengelolaan semua bidang urusan di
sekolah yang melibatkan semua warga sekolah
(Direktorat Pembinan Sekolah Menengah Pertama,
2013))
7|Page
Model yang ketiga adalah model integrasi-interkoneksi. Model ini tidak
hanya mengakui adanya integrasi nilai karaketer dalam satu disiplin ilmu,
tapi juga adanya interkoneksi nilai tersebut dengan mata pelajaran yang
lainnya (Amin Abdullah, 2013). Model ini memungkinkan adanya satu
sinergi semua unsur yang terlibat dalam satu entitas pendidikan dalam
mewujudkan
nilai
tersebut
dalam
kehidupan
sehari-hari.
Dalam
implementasinya, guru harus bekerja sama dengan guru lintas bidang studi
dalam mengembangkan bahan ajar yang juga melibatkan bidang-bidang
lain.
3. Nilai-nilai Karakter
Terdapat banyak nilai-nailai karakter yang harus diperhatikan dalam
pendidikan. Nilai-nilai tersebut sebenarnya merupakan nilai bawaan yang
sudah ada semenjak dilahirkan namun perlu terus diarahkan dan
dikuatkan. Nilai-nilai tersebut sebagaiman dijelaskan oleh Direktorat
Pembinan Sekolah Menengah Pertama (2013) meliputi:
a. Kereligiusan; Pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang
yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai
Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya.
b. Kejujuran; Perilaku yang didasarkan pada upaya
menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat
dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik
terhadap diri dan pihak lain.
c. Kecerdasan; Kemampuan seseorang dalam melakukan
suatu tugas secara cermat, tepat, dan cepat.
d. Tanggung jawab; Sikap dan perilaku seseorang untuk
melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang
seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat,
lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara dan Tuhan
YME.
e.
8|Page
Kebersihan dan kesehatan; Segala upaya untuk
menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup
yang bersih dan sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk
yang dapat mengganggu kesehatan.
f. Kedisiplinan; Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib
dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
g. Tolong-menolong ;Sikap
berupaya menolong orang.
dan
tindakan
yang
selalu
h. Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif: Berpikir dan
melakukan sesuatu berdasarkan kenyataan dan/atau nalar
untuk menghasilkan cara dan/atau produk baru atau
termutakhir.
i. Kesantunan; Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang
tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang.
j. Ketangguhan; Sikap dan perilaku pantang menyerah atau
tidak pernah putus asa ketika menghadapi berbagai
kesulitan dalam melaksanakan kegiatan atau tugas sehingga
mampu mengatasi kesulitan tersebut dalam mencapai
tujuan.
k. Kedemokratisan; Cara berfikir, bersikap, dan bertindak
yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang
lain.
l. Kemandirian; Sikap dan perilaku yang tidak mudah
tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugastugas.
m.
Keberanian mengambil risiko; Kesiapan menerima
risiko/akibat yang mungkin timbul dari tindakan nyata.
n. Berorientasi pada tindakan;Kemampuan untuk mewujudkan
gagasan menjadi tindakan nyata.
o. Berjiwa kepemimpinan; Kemampuan mengarahkan dan
mengajak individu atau kelompok untuk mencapai tujuan
dengan berpegang pada asas-asas kepemimpinan berbasis
budaya bangsa.
p. Kerja keras ;Perilaku yang menunjukkan upaya sungguhsungguh dalam mengatasi berbagai hambatan
guna
menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaikbaiknya.
q. Percaya diri; Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri
terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan
harapannya.
9|Page
r. Keingintahuan; Sikap dan tindakan yang selalu berupaya
untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa
yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
s. Cinta ilmu; Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang
menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan
yang tinggi terhadap pengetahuan.
t. Kesadaran akan hak dan kewajiban diri dan orang lain;
Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang
menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta
tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain.
u. Kepatuhan terhadap aturan-aturan sosial; Sikap menurut
dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan
masyarakat dan kepentingan umum.
v. Menghargai karya dan prestasi orang lain; Sikap dan
tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan
sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan
menghormati keberhasilan orang lain.
w. Kepedulian terhadap lingkungan; Sikap dan tindakan yang
selalu
berupaya
mencegah
dan
memperbaiki
penyimpangan dan kerusakan (manusia, alam, dan tatanan)
di sekitar dirinya.
x. Nasionalisme; Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang
menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan
yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial,
budaya, ekonomi, dan politik bangsanya.
y.
Menghargai
keberagaman;
Sikap
memberikan
respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang
berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama.
Di antara butir-butir nilai tersebut di atas, delapan butir dipilih sebagai
nilai-nilai pokok sebagai pangkal tolak pengembangan karakter, yaitu:
kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, tanggung jawab, kebersihan dan
kesehatan, kedisiplinan, tolong-menolong, berpikir logis, kritis, kreatif, dan
inovatif. Kedelapan butir nilai tersebut ditanamkan melalui semua mata
pelajaran dengan intensitas penanaman lebih dibandingkan penanaman nilainilai lainnya.
10 | P a g e
4. Ukuran Nilai Karakter
Direktorat Pembinan Sekolah Menengah Pertama (2013) menjelaskan
bahwa muncul tidaknya nilai karakter bisa dievaluasi sepanjang proses
pembelajaran. Nilai karakter peserta didik dinyatakan secara kualitatif.
Nilai peserta didik menggambarkan perkembangan karakter yang
bersangkutan pada saat penilaian dilakukan. Nilai tersebut merupakan
dasar bagi guru untuk memberikan pembinaan lebih lanjut agar peserta
didik yang bersangkutan mengembangkan karakternya hingga optimal.
Berikut adalah contoh sebutan-sebutan nilai yang merupakan representasi
perkembangan karakter peserta didik:
MK/A
=
Membudaya
(apabila
peserta
didik
terus
menerus
memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator
secara konsisten)
MB/B = Mulai Berkembang (apabila peserta didik sudah memperlihatkan
berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan
mulai konsisten)
MT/C = Mulai
Terlihat
(apabila
peserta
didik
sudah
mulai
memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang
dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten)
BT/D =
Belum Terlihat (apabila peserta didik belum memperlihatkan
tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator).
5. Pendidikan Karakter di SMP
Meskipun terdapat sekian banyak karakter yang hendak ditumbuh
kembangkan pada anak usia SMP/MTs, prioritas pengembangan karakter
mereka hanya mencakup secara ekplisit pada beberapa karakter saja.
Karakter tersebut meliputi; sikap religius, santun, peduli, jujur, disiplin,
percaya diri, bertanggung jawab, kerjasama dan cinta damai (Lampiran
Permendikbud no 68, 2013).
11 | P a g e
Pencapaian karater tersebut dilakukan melalui berbagai cara
sebagaimana dijelaskan oleh Direktorat Pembinaan SMP (2011), yaitu:
a. Pendidikan karakter dilakukan secara terintegrasi ke dalam semua
mata pelajaran. Integrasi yang dimaksud meliputi pemuatan nilai-nilai
ke dalam substansi pada semua mata pelajaran dan pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar yang memfasilitasi dipraktikkannya nilainilai dalam setiap aktivitas pembelajaran di dalam dan di luar kelas
pada semua mata pelajaran.
b. Pendidikan karakter juga diintegrasikan ke dalam pelaksanaan
kegiatan pembinaan kesiswaan.
c. Selain itu, pengembangan karakter dilaksanakan melalui kegiatan
pengelolaan semua bidang urusan di sekolah yang melibatkan semua
warga sekolah.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa semua pihak yang
menjadi warga di suatu sekolah mulai dari pimpinan hingga penjaga
sekolah terlibat dalam proses pembinaan karakter. Pihak pimpinan perlu
membuat kebijakan yang menekankan bagi terlaksananya pendidikan
karakter di sekolah. Para guru perlu menumbuhkan kesadaran bagi
tersemainya sejumlah karakter pada mata pelajaran yang diampunya, dan
bersinergi dengan mata pelajaran lain bagi tumbuh kembangnya karakter
yang diharapkan. Para pembina kesiswaan juga harus berperan aktif dalam
dalam mengembangkan minat dan bakat siswa serta memasukkan nilainilai karakter dalam pembinaan kesiswaan.
6. Pendidian Karakter Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris
Nilai karakter yang ingin dikembangkan dalam bahasa Inggris
tidaklah berbeda sebagaimana dijelaskan sebelumnya, karena nilai tersebut
bisa masuk ke dalam semua mata pelajaran. Yang mungkin berbeda adalah
dalam tahap implementasi pembelajarannya.
Gde Raka (2011) menjelaskan bahwa paling tidak terdapat
beberapa strategy yang bisa dilakukan guru bahasa Inggris dalam
menanamkan nilai tersebut ke dalam mata pelajaran. Strategi tersebut
berlangsung mulai dari perencaan pembelajaran, tahap-tahap pembelajaran
dan pasca pembelajaran. Dalam perencaan, guru perlu memastikan nilai
karakter apa yang ingin dikembangkan dalam pembelajarab bahasa Inggris
12 | P a g e
dan memasukkan nilai karakter tersebut dalam RPP yang dibuatnya. Mulai
dari bahan ajar yang disiapkannya, langkah-langkah pembelajaran yang
direncanakannya dan tahap evaluasi yang akan dilakukannya harus
memperhitungkan nilai-nlai yang ingin disemaikan kepada anak didiknya.
Dalam tahap pembelajaran dikelas, guru harus menyediakan ruang
dengan
tehnik
yang
memungkinkan
nilai-nilai
karakter
tersebut
berkembang, seperti tehnik kolaborasi, diskusi, zig-zag show dan lain
sebagainya (Silberman, 1996; Brown, 2000; Richard, 2000; Harmer, 2007)
.Untuk pasca pembelajaran, guru perlu memastikan kepada siswa bahwa
mereka sudah belajar tidak hanya konten pelajaran tapi juga nilai-nilai
yang sudah mereka pelajari dalam mendapatkan konten tersebut. Siswa
juga perlu mendapatkan kesempatan untuk unjuk kerja dan mendapatkan
penghargaan dari capainnya.
13 | P a g e
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Yang coba diungkap dalam penelitian ini adalah deskripsi tentang apa nilai
karakter yang ditumbuh kembangkan dan dipelihara dalam bidang studi bahasa
Inggris, bagaimana bagaimana guru mengembangkan nilai tersebut dalam
pembelajaran dan bagimana nilai-nilai karakter itu dipelihara dan dikuatkan diluar
kelas oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu jenis penelitian ini
adalah penelitian deskriptif kualitatif.
B. Subyek dan Obyek Penelitian
Yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah guru bidang studi bahasa
Inggris yang mengajar di kelas VII SMPIT Insan Cendikia dan siswanya.
Terdapat 3 (tiga) guru yang mengajar bahasa Inggris di kelas VII, namun karena
suatu hal hanya 2 (dua) guru yang berhasil diamati dalam proses mengajarnya.
Mereka pada saat diobservasi sedang mengajarkan tentang nama-nama binatang,
jumlahnya. Siswa yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas
VII SMPIT Insan Cendikia Payakumbuh. Pada saat observasi dilaksanakan, siswa
yang diobservasi adalah kelas VII.2 putra dan kelas VII.3 putri
Sedangkan yang menjadi obyek penelitian ini adalah sejumlah karakter yang
disemaikan oleh guru tersebut kepada siswanya dalam pembelajaran bahasa
Inggris. Karakter tersebut ada yang dinyatakan secara jelas sebelum kegiatan inti
berlangsung, ada yang tidak secara explisit dijelaskan tapi muncul secaa inheren
dalam proses pembelajaran berlangsung. Ada yang menjadi karakter utama
sebagaimana disebutkan dalam kurikulum, ada yang merupakan karakter
pengaya/pendukung, namun keberadaanya juga sangat penting bagi keseluruhan
karakter baik yang diharapkan.
C. Kancah Penelitian
Penelitian ini berlangsung di SMPIT Insan Cendikia Payakumbuh, sebuah
SMP swasta yang dikelola secara Islami dan bersistem asrama. Terdapat dua
lokasi kampus sekolah tersebut, yaitu, Lampasi dan Padang Kaduduk, kecamatan
14 | P a g e
Payakumbuh Utara. Kampus Lampasi khusus untuk asrama dan ruang kelas siswa
putri sementara kampus Padang Kaduduk untuk asrama dan ruang kelas putra.
Sebagai sekolah yang menerapkan sistem pendidikan berasrama (boarding
school), seluruh siswanya tinggal dan menjalani pembinaan di asrama bersama
guru-guru asrama yang mereka panggil ustadz. Mereka mendapatkan pembinaan
secara intensif kecerdasan spiritual, sosial dan interpersonalnya diasrama.
Sedangkan kecerdasan intelektualnya dibina di ruang-ruang kelas melalui mata
pelajaran yang mereka pelajari. Sinergi pembinaan asrama dan ruang kelas inilah
aganya yang menjadikan sekolah ini bernilai lebih dalam hal implementasi
pendidikan berkarater.
D. Instrument
Sebagai instrument utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Dalam
mengumpulkan
data,
peneliti
melakukan
pengamatan
terhadap
proses
pembelajaran baik secara langsung maupun dengan study dokumen dari rekaman
video
pembelajaran
tersebut.
Dalam
melakukan
pengamatan,
peneliti
menggunakan lembar observasi mengajar (lampiran 1), dimana peneliti
mengamati langkah kegiatan pembelajaran, apa aktifitas dan bahasa yang
digunakan guru, apa aktifitas dan bahasa yang digunakan oleh siswa dan nilai
karakter apa yang dikembangkan pada saat pembelajaran tersebut. Disamping itu
peneliti juga menggunakan lembar observasi video (lampiran 2)
Peneliti juga melakukan studi dokumentasi berupa RPP yang dipakai oleh
guru yang menjadi informan dalam penelitian ini (lampiran 3.a dan 3.b).
Disamping itu, peneliti juga melakukan wawancara terhadap informan penelitian
ini terhadap hal-hal yang dianggap perlu untuk menguatkan data penelitian ini.
Tak lupa, peneliti juga melakukan pengamatan lingkungan terhadap perangkat
pendukung pembelajaran bahasa Inggris berupa banner yang terpasang secara
tematis di berbagai lokasi.
E. Prosedur Penelitian
Untuk melakukan penelitian ini, peneliti melakukan studi pendahuluan dengan
cara melakukan pengamatan lingkungan dan mendapatkan kesan bahwa sekolah
15 | P a g e
tersebut menjadi kancah yang bagus untuk penelitian. Berikutnya, peneliti
melakukan pendekatan personal dengan pimpinan sekolah untuk bisa melakukan
penelitian disekolah tersebut.
Setelah melalui proses pembuatan proposal dan penyeminaran proposal,
peneliti melakukan langkah prosedural dengan mendapatkan izin formal dari P3M
dan pihak sekolah untuk melakukan langkah pengambilan data. penelitian.
Peneliti terlebih dahulu melakukan penjajagan dan kesepahaman dengan guru
yang menjadi infoman penelitian ini. Dan sesuai dengan kesepakatan, peneliti
masuk kedalam kelas untuk mengamati dan mengabadikan kegiatan belajar
tesebut dalam video. Tak lupa pula, peneliti juga memohon diberikan dokumen
RPP yang mereka pakai serta mengamati kegiatan diluar ruangan kelas.
Setelah data diperoleh, peneliti dengan bantuan seorang peneliti melakukan
analisis terhadap data yang diperoleh untuk mendapatkan simpulan dari penelitian
ini.
F. Trianggulasi Data
Triangulasi data adalah upaya untuk mendapatkan keshahihan data penelitian
dengan melakukan berbagai cara antara lain, cek silang lintas instrument, cek
silang lintas informan atau dengan kajian mendalam terhadap data yang diperoleh.
Cek silang lintas instrumen dilakukan dengan membandingkan data yang
diperoleh dari pengamatan misalnya dengan dokumen yang tersedia, atau dengan
hasil wawancara. Ketika konsisten data yang diperoleh, maka peneliti bisa
menyatakan bahwa datanya bisa dipercaya. Cek silang lintas informan bisa
dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh satu informan dan
dibandingkan dengan data yang diperoleh dari informan lain untuk satu topic yang
sama. Ketika tidak ada pertentangan data, maka bisa dikataan datanya
meyakinkan. Sementara kajian yang mendalam bisa dilakukan dengan melakukan
berulang-ulang pengamatan dan membandingkan data dari satu pengamatan
dengan yang sebelumnya, atau dengan membandingkannya dengan teori yang
tesedia.
Untuk menjamin keshahihan data yang diperoleh dalam penelitian ini, peneliti
melakukan trianggulasi data dengan cara melakukan yang pertama dan ketiga
yaitu cek silang dengan instrumen yang tesedia dan kajian yang mendalam.
16 | P a g e
Peneliti membandingkan data yang diperoleh dari pengamatan kelas dan video
dan studi dokument serta mengkonfirmasikannya lagi dengan informan yang ada.
Disamping itu, data juga didalami beberapa kali dan disesuaikan dengan teori
sehingga data yang dihasilkan meyakinkan.
G. Analisis Data
Terdapat tiga jenis sumber data dalam penelitian ini, yaitu data dari
pengamatan langsung dan video, data dari dokumen RPP yang dipakai oleh
guru, dan data dari wawancara. Data dari pengamatan langsung dianalisis
dengan mengelompokkan aktivitas guru dan siswa dan membuat relasi antara
kelompok aktifitas dan nilai karakter yang dikembangkan. Data dari vidoe
setelah diamati beberapa kali, ditranskrip, direduksi dan dimasukkan kedalam
kelompok aktivitas baik aktifitas guru maupun siswa dan relasinya dengan
nilai sikap yang dikembangkan. Data dari dokumen RPP guru dianalisis
dengan memasukkan kedalam tabel aktivitas guru dan siswa dan
diinterpretasikan nilai karakter yang mungkin dikembangkan oleh guru.
Setelah data dari masing-masing sumber data dianalisis sebagaimana tersebut
diatas, data kemudian dikomparasikan dan diinterpretasikan sebagai hasil
penelitian.
17 | P a g e
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Temuan Penelitian
Penelitian ini mencakup 3 hal penting sebagaimana dalam pertanyaan
penelitian, yaitu jenis karakter yang dikembangkan, bagaimana karakter tersebut
disemaikan dalam pembelajaran bahasa Inggris, dan bagaimana karakter tersebut
dikuatkan di luar kelas. Oleh karena itu temuan penelitian ini akan dipaparkan
sesuai dengan ketiga cakupan diatas.
1. Karakter dalam Pembelajaran Bahasa Inggris
Bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran yang diharapkan mampu
berkontribusi
dan
bersinergi
dengan
mata
pelajaran
lain
dalam
mengembangkan karakter positif bagi peserta didik. Sebagaimana disebutkan
dalam kurikulum 2013 (Kemendikbud, 2013) terdapat 9 karakter utama yang
hendak dikembangkan pada siswa tingkat SMP/MTs yaitu; bersikap religius,
santun, peduli, jujur, displin, percaya diri, bertanggung jawab, kerjasama dan
cinta damai.
Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh guru 1 dalam
wawancara dengan guru tesebut ketika menjawab pertanyaan peneliti
mengenai karakter apa yang diajarkan di SMP, khususnya kelas VII:
Ya, kurikulum 2013 memang terdapat karakter-karakter yang harus
diperhatikan antara lain riligius, disiplin, percaya diri, santun, peduli,
kerjasama, bertanggung jawab dsb......(lampiran.....)
Sejumlah karakter tersebut juga beliau ungkapkan ketika dibagian
pendahuluan pembelajaran bahasa Inggris guru 1 menampilkan sejumlah
karakter yang harus dikuasi oleh siswa dalam power point yaitu sikap
religiusitas dengan indikatornya semangat dalam mengikuti pelajaran dan
serius dalam mengikuti pelajaran, sementara untuk sikap/karakter lainnya
adalah jujur, disiplin, pecaya diri dan bertanggung jawab (lampiran ...)
Secara lebih rinci, kesembilan karakter yang hendak ditumbuh
kembangkan oleh kedua informan penelitian tersebut terdapat pada RPP yang
18 | P a g e
mereka persiapkan. Keduanya mengutip secara langsung karakter yang ada
dikurikulum 2013 sebagaimana terlampir pada lampiran .... dan ......
2. Cara Menanamkan Karakter dalam Pembelajaran Bahasa Inggris di
dalam Kelas
Meskipun terdapat 9 karakter pokok yang harus ditumbuh-kembangkan
dalam setiap mata pelajaran, sebagaimana juga dalam mata pelajaran bahasa
Inggris, penyemaiannya dilakukan melalui berbagai cara. Penelitian ini
mengungkapkan cara yang unik yang dilakukan oleh guru bahasa Inggris di
kelas VII SMPIT Insan Cendikia Payakumbuh. Cara itu antara lain:
a. Dilakukan dengan cara berangsur
Dari RPP yang dipersiapkan oleh guru, meskipun terdapat nilai
karakter yang lengkap pada Kompetensi Dasarnya, namun dalam
pelaksanaanya guru memberikan penekanan yang berbeda untuk setiap
pertemuannya. Dari pengamatan langsung kedalam lokal dan melihat
berulang dalam video pembelajarannya, guru 1 mengatakan bahwa
minggu kemarin siswa sudah dinilai karakternya untuk sikap disiplin
dan percaya diri, sementara pada pertemuan tersebut mereka akan
dinilai dalam hal sikap kejujuran dan bertanggung jawab dengan
indikatornya antara lain; tidak menyontek karya teman, melaksanakan
pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, menerima resiko dari
tindakan yang dilakukan dan sebagainya.
Pengangsuran terhadap prioritas karakter yang akan dikembangkan
secara bertahap juga bisa dilihat dari RPP yang disiapkan untuk sub
tema materi pelajaran tersebut. Baik RPP dari guru 1 maupun guru 2,
keduanya mencantumkan sebagaian karakter yang akan diperhatikan
dalam pertemuan tersebut dan pertemuan berikutnya yang masih
membahas masalah tema yang sama; nama-nama binatang, jumlahnya,
dan juga nama obyek lainnya.
Penekanan terhadap beberapa karakter tertentu juga terlihat selama
dalam proses pembelajaran. Meskipun pada saat yang sama terdapat
sejumlah karakter yang muncul yang bukan menjadi titik tekan pada
19 | P a g e
saat pertemuan tersebut, seperti kerja sama, disiplin, percaya diri dan
lain sebagainya, karakter yang menjadi perhatian guru adalah sikap
jujur dan tanggung jawab (guru 1). Hal yang sama juga dilakukan oleh
guru 2 yang menekankan pentingnya semangat, kerja sama, disiplin
dan percaya diri selama dalam proses pembelajaran.
b. Pemilihan materi ajar yang kontekstual
Cara berikutnya yang bisa kemukakan dalam penelitian ini adalah
materi ajar yang dipilih oleh kedua guru tersebut untuk topic namanama binatang dan jumlahnya. Guru 1 memilih kebun binatang sebagai
materi yang ajarnya dan diturunkan kedalam beberapa lembar kerja
siswa yang berkaitan dengan topic tersebut. Guru 2 memilih binatang
yang ada di pekarangan rumah di kampung sebagai materi ajarnya.
Materi tersebut selanjutnya dikembangkan kedalam lembar keja siswa
yang dikerjakan secara berkelompok.
Dengan materi yang sudah diakrabi oleh siswa yang tersimpan
dalam long term memory mereka, dan materi baru tentang
pengungkapan nama berikut jumlahnya dalam bahasa Inggris,
pembelajaran
menjadi
hidup
dan
siswa
bersemangat
dalam
mengikutinya. Materi tersebutnya juga memunculkan karakter
kerjasama, percaya diri, betanggung jawab dan disiplin selama
mengikuti proses pembelajaran. Singkatnya, materi yang dipilih bisa
menumbuhkan karakter yang diharapkan dari proses pembelajaran
tersebut.
c. Pemakaian media yang memadai
Daya dukung keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh
media apa yang dipakai oleh guru dalam mengajar. Media
memfasilitasi keterlibatan siswa dalam proses belajar yang pada
akhinya nanti akan mempengaruhi keterlibatan mereka secara kognitif,
afektif dan psikomotor. Ketika siswa terlibat secara visual atau secara
auditory, secara kinestetik atau ketiganya terlibat secara bersama
20 | P a g e
dalam proses belajar, maka minat, semangat, dan sikap-sikap positif
lainnya bisa ditumbuh kembangkan.
Dari hasil pengamatan dikelas dan studi dokumentasi terhadap RPP
yang disiapkan oleh guru, baik guru 1 maupun guru 2 menggunakan
sejumlah media pembelajaran dalam menumbuhkan minat dan
semangat siswa dalam belajar. Media tersebut meliputi laptop dan
infocus
dalam
menciptakan
efek
visual
dan
audio
bagi
terakomadasinya keterlibatan secara visual dan auditory, serta
whiteboard dan worksheet yang memungkinkan keterlibatan siswa
secara kinestetik. Ketika pikiran, perasaan dan gerak siswa terlibat
dalam belajar maka siswa enjoy dalam belajar, dan karakter yang
diharapkanpun bermunculan. Dalam pengamatan peneliti, siswa
menunjukkan semangatnya dalam belajar, bertanggung jawab terhadap
kerja yang diberikan, disiplin dalam melaksanakan kerja dan percaya
diri dalam menampilkan unjuk kerjanya.
d. Penggunaan strategy mengajar yang mendukung
Pemilihan strategi mengajar oleh guru dalam melaksanakan
pembelajaran
memegang peranan penting dalam penyemaian
sejumlah karakter yang diharapkan. Ada sejumlah sikap yang bisa
ditumbuhkan secara individual seperti jujur, percaya diri dan disiplin.
Sebaliknya, ada sejumlah karakter yang penumbuhannya harus
melibatkan orang lain, misalnya sikap kerjasama, santun, peduli,
bahkan ada juga karakter yang dikembangkan melalui kerja baik secara
individu maupun secara bersama seperti tanggung jawab dan
kepedulian atas kerja pribadi maupun kerja bersama. Oleh karena itu
pemilihan strategi mengajar yang tepat akan menghasilkan karakter
siswa yang baik pula.
Dari pengamatan yang peneliti lakukan, baik guru 1 maupun guru
2
memilih sejumlah strategi mengajar yang variatif. Ada metode
ceramah dalam rangka menjelaskan suatu permasalahan tertentu atau
memberikan arahan/istruksi terhadap siswa, tanya jawab untuk
21 | P a g e
memastikan adanya sikap kepedulian, tanggung jawab, santun dan
percaya diri serta tugas individu untuk melatih siswa bertanggung
jawab dan disiplin (guru 1). Disamping itu juga terdapat metode
diskusi kelompok untuk menyemai sikap kerjasama, peduli, tanggung
jawab dan disiplin (guru 2).
e. Manajemen kelas dan rapport yang baik
Pengelolaan kelas juga memegang peranan yang penting bagi
tumbuh
kembangnya
karakter
yang
diharapkan.
Aspek
ini
memungkinkan siswa mendapatkan perhatian yang sama, distribusi
kerja yang merata, dan menujukkan kemampuan yang sama dengan
siswa lain. Ketika mereka diperlakukan dengan cara yang sama, sikapsikap positif yang diharapkan seperti, peduli, santun, kerja sama dan
tanggung jawab, akan muncul pada diri siswa.
Dari hasil pengamatan, meneliti menemukan bahwa baik guru 1
maupun guru 2 menunjukkan perhatian yang menyeluruh kepada
siswanya. Guru memberi kesempatan yang sama kepada siswa dalam
menjawab atau menyampaikan gagasannya, bahkan ketika beberapa
siswa mendominasi, guru memberi kesempatan kepada yang belum
berpartisipasi. Guru memanggil siswa dengan nama mereka masingmasing, memberikan penguatan terhadap jawaban yang benar,
memberikan apresiasi terhadap jawaban yang belum benar dan
memberikan peringatan terhadap siswa yang mulai menyimpang dari
proses belajar.
Disamping itu ada hal yang menarik dalam menghidupkan kelas,
yaitu bernyanyi dan meneriakkan yel-yel (guru 2). Guru mengajak
siswa bernyanyi tentang topic yang mereka pelajari diawal dan akhir
pelajaran (an Old Mack Donald had a farm), meneriakkan chanting;
double this double that sambil berdiri berpasangan dan meneriakkan
yel-yel “We are ready miss, yes-yes Allahu Akbar. Suasana yang
bervariatif tersebut tentu sangat mempengaruhi keterlibatan siswa
dalam menunjukkan karakter positif yang diharapkan.
22 | P a g e
3. Pembinaan karakter di luar Kelas
Karakter dikembangkan melalui sinergis antar mata pelajaran, pembinaan
kesiswaan dan segenap proses manajerial sekolah. Semua komponen sekolah
bertanggung jawab terhadap tumbuh kembangnya sembilan karakter
sebagaimana tertera dalam kurikulum 2013.
Dalam rangka menguatkan nilai karakter yang ada didalam kelas, pihak
sekolah
sudah
menyediakan
berbagai
fasilitas
yang
memungkinkan
terpeliharanya nilai-nilai karakter tersebut. Diasrama, mereka berlatih untuk
bertanggung jawab terhadap tugas-tugas individual dan bekerja dalam
kelompok yang berkaitan dengan asrama pada umumnya dan berkaitan
dengan bahasa Inggris pada khususnya. Mereka juga mendapatkan penguatan
dengan banner yang berisi kosa kata yang berkaitan dengan tema keasramaan.
Di kantin, mereka juga mendapatkan penguatan untuk mengaplikasikan nilai
karakter seperti jujur, santun dan bertanggung jawab serta mendapatkan
penguatan sejumlah kosa kata yang berkaitan dengan kantin.
Di kantor mereka juga berlatih mengaplikasikan sikap santun, peduli, jujur
dan bertanggung jawab dalam berurusan dengan guru atau staf tata usaha.
Terdapat kosakata bahasa Inggris yang bisa menjadi referensi mereka dalam
berkomunikasi di kantor. Di masjid dan mushala, mereka ditempa untuk
senantiasa menunjukkan sikap religiusitas dengan bersyukur dan bersemangat
dalam belajar, termasuk belajar bahasa Inggris. Pendeknya semua tempat,
semua kesempatan dan semua orang berpartisipasi dalam penumbuhkembangan dan pemeliharaan 9 karakter yang hendak diwujudkan pada siswa
tingkat SMP tersebut.
B. Pembahasan
Hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa nilai karakter yang ingin
dikembangkan di SMPIT Insan Cendikia sejalan dengan karakter yang
terdapat dalam kurikulum 2013 Kemendikbud, yaitu perilaku religius, santun,
peduli, jujur, displin, percaya diri, bertanggung jawab, kerjasama dan cinta
damai. Namun dalam implemetasi di kelas maupun, terdapat penekanan
23 | P a g e
terhadap beberapa karakter saja yang secara bertahap keseluruhan karakter
tersebut akan dicapai sepanjang proses belajar di tingkat pendidikan tersebut.
Penelitian ini juga mengungkapkan berbagai cara bagaimana guru
mencoba melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris berbasis pada karakter.
Cara tersebut dimulai dari perencanaan guru dalam memilih dan
mengembangkan materi ajar, menentukan langkah pembelajaran, memilih
media untuk mengajar serta dalam pengelolaan kelas yang memberikan
kesempatan yang sama dan hubungan interpersonal yang baik antara guru
dengan siswa, dan dengan sesama siswa. Mengingat masing-masing guru
memiliki keunikan tersendiri, penelitian ini juga menunjukkan ada guru yang
dalam menunjukkan keunggulan diberbagai aspek dan guru lain lebih
menonjol diaspek yang lain.
Penelitian ini juga menunjukkan langkah pengkondisian dan partisipatif
dari berbagai pihak dan berbagai tempat di sekolah tersebut. Langkah
pengkondisian dan penguatan karakter tersebut terjadi diasrama oleh wali
kamar dan segenap penghuni asrama, di kantor oleh guru dan tata usaha, di
kantin oleh penjaga kantin dan siswa yang bersangkutan bahkan juga
dilapangan saat siswa bermain dan berolah raga.
Melihat apa dan bagaimana karakter disemai dan dikembangkan disekolah
tersebut hal itu sejalan dengan panduan pendidikan karakter yang dikeluarkan
oleh Direktorat Pendidikan SMP/MTs (2011), bahwa dalam pelaksanaan
pendidikan karakter perlu melibatkan berbagai pihak baik di dalam kelas
maupun diluar kelas. Pendidikan karakter juga melibatkan semua mata
pelajaran yang saling bersinergi dalam menumbuh-kembangkan karakter yang
harus dikuasai oleh siswa SMP.
24 | P a g e
BAB V.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Penelitian ini sampai pada suatu kesimpulan bahwa:
1. Karakter
yang
ingin
dikembangkan
di
SMPIT
Insan
Cendikia
Payakumbuh dalam pembelajaran bahasa Inggris sejalan dengan karakter
yang terdapat pada kurikulum 2013.
2. Dalam implementasi pembelajaran bahasa Inggris berbasis karakter,
terdapat penekanan terhadap beberapa tertentu yang secara bertahap akan
berlaku terhadap karakter-karakter lain.
3. Dalam mengimplementasikan pembelajaran bahasa Inggris berbasis
karakter, guru mewujudkannya mulai dari tahap perencanaan dalam
bentuk pemilihan materi, penentuan media dan penggunaan strategi
mengajar. Guru juga memperhatikan implementasi karakter tersebut dalam
langkah pembelajaran dan dalam mengelola kelas dengan semangat
kesetaraan dan keakraban.
4. Semua pihak terlibat dalam proses penumbuh-kembangan karakter baik
yang di asrama, di kantor, di kantin, di mushala/masjid dan di lapangan.
B. Rekomendasi
Penelitian ini mengungkapkan bahwa guru sudah menampilkan yang
terbaik dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris
berbasis karakter. Namun ada aspek yang menurut pengamatan peneliti belum
terlihat, yaitu aspek evaluasi terhadap sejumlah karakter yang menjadi titik
tekannya. Ada baiknya guru mengalokasikan waktu untuk melakukan
penilaian dan pengamatan sepanjang pelajaran terhadap nilai yang mau
diamati.
Penelitian ini juga memberi ruang kepada peneliti lain untuk mengakaji
aspek lain yang belum dibahas dalam topik ini seperti pada karakter lain yang
belum jadi titik tekan atau aspek evaluasi dari topik ini.
25 | P a g e
Daftar Pustaka
Alwan Khoiri, ‘Tantangan Integrasi ilmu dan Agama di Perguruan Tinggi Islam’
paper dalam seminar Integration of Theology and General Scince” Di
Auditorium STAIN Batusangkar , 06 s/d 07 Desember 2012
Amin Abdullah, ‘Membangun Tradisi Akademik Di PTA: Integrasi-Interkoneksi
Keilmuan revisited atau reinforced ? disampaikan dalam Focus Group
Discussion (FGD) Integrasi-Interkoneksi (Paradigma Keilmuan Uin Sunan
Kalijaga) Hotel Galuh, Prambanan, 25 Juni 2012
Brown, H.D, ‘English Language Teaching in the Post Method Era: Toward Better
Dagnosis, Treatment and Assessment’, dalam Methodology in Language
Teaching; An Anthology of Current Practice oleh Richard, J.C dan
Renandya, W.A editor, New York: Cambridge University Press, 2002
Burns, R.B, Introduction to Research Methods, Melbourne, Longman Australia
Pty Ltd, 1994
Darmiyati Zuchdi. 2009. Pendidikan karakter. Yogyakarta: UNY Press
Dedi Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Penerbit PT Remaja
Rosdakarya, 2004
Gay, L.R dan Airasian, P, Educational Research; Competencies for Analysis dan
Application, New Jersey, Prentice Hall, Inc, 2000
Harmer,J, How to Teach English, Essex: Person Education Limited, 2007
Hasan Zaini, ‘Perspektif al-Qur’an tentang Integrasi Ilmu Agama dan Sains’,
paper dalam seminar Integration of Theology and General Scince” Di
Auditorium STAIN Batusangkar , 06 s/d 07 Desember 2012
Kemendikbud, Kurikulum 2013, Jakarta, Kemendikbud, 2013
Kemendikbud, Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter SMP, Jakarta:
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, 2011
Kemendikbud, Kompetensi Dasar SMP/Madrasah Tsanawiyah, Jakarta,
Kemendikbud, 2013
26 | P a g e
Lexi J.Moleong, Metodology Penelitian Kualitatif, edidi revisi. Bandung: Penerbit
PT Remaja Rosdakarya, 2010
Richards, J.C, Theories of Teaching in Language Teaching dalam Methodology in
Language Teaching; An Anthology of Current Practice oleh Richard, J.C
dan Renandya, W.A editor, New York: Cambridge University Press, 2002
Samiaji Sarosa, Penelitian Kualitati; Dasar-Dasar, Jakarta: PT Indeks, 2012
Silberman, M, Active Learning; 101 Strategies to Teach Any Subject,
Massachusetts: Allyn and Bacon, 1996
Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, Jakata: Rineka Cipta, 2009
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2013
27 | P a g e
Download