BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan Nasional

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan
Nasional
yang
sedang
dilaksanakan
bertujuan
untuk
mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata dan materil dan
spiritual berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Guna mencapai hal tersebut, maka
pembangunan dilaksanakan disegala bidang antara lain: politik, ekonomi, sosial,
budaya, pertahanan dan keamanan, dengan memerlukan kerja sama disemua pihak,
bukan hanya pemerintah sebagai pelaksana, melainkan juga semua lapisan
masyarakat.
Sistem hukum di Indonesia banyak dipengaruhi oleh Belanda yang telah
menancapkan pilar-pilar ketentuan yang mengikat antara masyarakat dengan
penguasa maupun masyarakat dengan masyarakat sendiri. Sistem hukum yang
dimaksud adalah sistem hukum Eropa atau disebut juga sistem hukum Romawi
Jerman.
Subekti mengemukakan bahwa suatu sistem adalah suatu susunan atau catatan
yang teratur, suatu keseluruhan yang terdiri atas bagian-bagian yang berkaitan satu
sama lain, tersusun menurut suatu rencana atau pola hasil suatu pemikiran untuk
mencapai suatu tujuan. Dalam suatu sistem yang baik, tidak boleh terjadi suatu
Universitas Sumatera Utara
duplikasi atau tumpang tindih (overlapping). Belleffoid mengatakan pula bahwa
“sistem hukum adalah keseluruhan aturan hukum yang disusun secara terpadu
berdasarkan asas-asas tertentu”.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sistem adalah kumpulan asas-asas
yang terpadu, yang merupakan landasan, dimana dibangun tertib hukum. Asas-asas
ini diperoleh melalui konstruksi yuridis, yaitu dengan menganalisis (mengolah) datadata yang sifatnya nyata (konkrit) untuk kemudian mengambil sifat-sifat yang umum
(kolektif) atau abstrak. Proses ini dapat juga dikatakan mengabstraksi. Asas-asas ini
mempunyai tingkatan jika dilihat dari gradasi sifatnya yang abstrak. Perbedaan antara
berbagai asas ini tidak prinsipil, tetapi gradual. Aturan-aturan hukum membentuk
dirinya dalam sistem hukum dan merupakan suatu “pohon hukum” (Science tree),
yang mempunyai akar, batang, cabang, dahan, ranting, daun, bunga, dan sebagainya.
Sistem hukum dapat dijabarkan dalam sub-sub sistem, seperti hukum nasional dapat
dijabarkan dalam hukum perdata, hukum pidana, hukum tata negara, hukum ekonomi
dan sebagainya. Sub sistem hukum ini dijabarkan lagi secara rinci dalam bagianbagian yang lebih kecil misalnya dari sub sistem hukum perdata, dijabarkan dalam
sub sistem hukum kontrak, hukum kontrak internasional, hukum perkreditan dan
sebagainya. Dilihat dari sistem hukum nasional, maka hukum perjanjian adalah sub
sistem hukum perdata.
Universitas Sumatera Utara
Demikianlah suatu sistem hukum dalam suatu negara tertentu dapat
seterusnya dibagi-bagi kedalam beberapa bagian. Seluruh sub sistem ini satu sama
lain berkaitan dalam hubungan yang harmonis dan serasi, seimbang, tidak tumpang
tindih, tidak berbenturan karena asas-asas yang terpadu. Asas-asas yang terdapat
didalam hukum perdata harus senada, seirama dengan asas-asas yang terdapat dalam
hukum nasional. Demikian juga asas-asas hukum perjanjian harus selaras dengan
asas-asas hukum perdata.
Dalam Burgerlijk Wetboek (BW) yang kemudian diterjemahkan oleh Prof. R.
Subekti, SH dan R. Tjitrosudibio menjadi Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(KUH Perdata) bahwa mengenai hukum perjanjian diatur dalam Buku III tentang
Perikatan, dimana hal tersebut mengatur dan memuat tentang hukum kekayaan yang
mengenai hak-hak dan kewajiban yang berlaku terhadap orang-orang atau pihakpihak tertentu.1 Sedangkan menurut teori ilmu hukum, hukum perjanjian digolongkan
kedalam Hukum tentang diri seseorang dan Hukum Kekayaan karena hal ini
merupakan perpaduan antara kecakapan seseorang untuk bertindak serta berhubungan
dengan hal-hal yang diatur dalam suatu perjanjian yang dapat berupa sesuatu yang
dinilai dengan uang. Keberadaan suatu perjanjian atau yang saat ini lazim dikenal
sebagai kontrak, tidak terlepas dari terpenuhinya syarat-syarat mengenai sahnya suatu
1
R. Subekti, dan R. Tjitrosudibio, “Kitab Undang-undang Hukum Perdata=Burgerlijk
Wetboek (terjemahan),” Cet. 28, PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1996, hal. 323.
Universitas Sumatera Utara
perjanjian/kontrak seperti yang tercantum dalam Pasal 1320 KUH Perdata, antara lain
sebagai berikut:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan
3. Suatu hal tertentu
4. Suatu sebab yang halal
Dengan dipenuhinya empat syarat sahnya perjanjian tersebut, maka suatu
perjanjian menjadi sah dan mengikat secara hukum bagi para pihak yang
membuatnya.
Pada dasarnya perjanjian dibuat berdasarkan kesepakatan bebas antara dua
belah pihak yang cakap untuk bertindak demi hukum (pemenuhan syarat subjektif)
untuk melaksanakan suatu prestasi yang tidak bertentangan dengan aturan hukum
yang berlaku, kepatutan, kesusilaan, ketertiban umum, serta kebiasaan yang berlaku
dalam masyarakat luas (pemenuhan syarat objektif). Namun adakalanya “kedudukan”
dari kedua belah pihak dalam suatu negosiasi tidak seimbang, yang pada akhirnya
melahirkan suatu perjanjian yang “tidak terlalu menguntungkan” bagi salah satu
pihak.2
Dalam praktek dunia usaha juga menunjukkan bahwa “keuntungan”
kedudukan tersebut sering diterjemahkan dengan pembuatan perjanjian baku dan/atau
2
Gunawan Widjaja, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta, 2003, hal. 53.
Universitas Sumatera Utara
klausula baku dalam setiap dokumen atau perjanjian yang dibuat oleh salah satu
pihak yang “lebih dominan” dari pihak lainnya. Dikatakan bersifat “baku” karena,
baik perjanjian baku maupun klausula tersebut, tidak dapat dan tidak mungkin
dinegosiasikan atau ditawar-tawar oleh pihak lainnya.3 Latar belakang tumbuhnya
perjanjian baku karena keadaan sosial ekonomi. Perusahaan pemerintah mengadakan
kerjasama dalam suatu organisasi dan untuk kepentingan mereka, ditentukan syaratsyarat secara sepihak. Pihak lawannya (wederpartij) pada umumnya mempunyai
kedudukan (ekonomi) lemah baik karena posisinya maupun karena ketidaktahuannya,
hanya menerima apa yang disodorkan.4
Tujuan semula diadakannya perjanjian baku yakni alasan efisiensi dan praktis.
Sebagai contoh dapat ditemukan perjanjian baku seperti dalam perjanjian: kredit
perbankan,
perjanjian
asuransi,
perjanjian
penitipan
barang,
perjanjian
konsumen/pelanggan dan PT. Telkom, perjanjian konsumen/pelanggan dan PDAM.
Kemudian perjanjian antara pemilik hotel dan konsumen, perjanjian konsumen
dengan perusahaan chemical laundry, dan sebagainya. Kesemuanya pada dasarnya
selalu membuat perjanjian tersebut tidak mengikutsertakan pelanggan/konsumen
didalam menyusun pasal-pasal didalam isi perjanjian tersebut, sehingga bisa
dikatakan bahwa perjanjian tersebut selalu menguntungkan kepentingan pihak
3
4
Ibid, hal. 9.
Ningrum Natasya Sirait, Intisari Perkuliahan Azas Kebebasan Berkontrak dan Perjanjian
Baku, 2008.
Universitas Sumatera Utara
perusahaan (pembuat perjanjian) tersebut dibanding kepentingan pelanggan. Hal ini
juga terdapat pada sanksi/hukuman yang ada di dalam perjanjian baku tersebut.
Dalam tesis ini lebih meneliti kepada perjanjian berlangganan alat
telekomunikasi pada “TELKOMFlexi” yang dalam hal ini sebagai operator alat
telekomunikasi yang merupakan anak perusahaan PT. Telkom Indonesia, Tbk.
Adapun perjanjian ini teliti dikarenakan dalam kenyatannya sarana telekomunikasi
seperti telepon merupakan sarana yang sangat penting dan sudah menjadi kebutuhan
masyarakat. Disini dapat dilihat bahwa kedudukan masyarakat sebagai pelanggan,
apalagi “TELKOMFlexi” dalam melakukan penawaran berlangganan kepada
masyarakat menggunakan system take it or leave it (ambil atau tinggalkan), jadi
walaupun calon pelanggan memilih untuk menolak kontrak yang ditawarkan, hal itu
tidak akan mempengaruhi penawaran kepada masyarakat secara umum, karena
kebutuhan masyarakat akan telepon masih tetap tinggi. Pada asasnya isi perjanjian
yang dibakukan adalah tetap dan tidak dapat diadakan perundingan lagi.
PT. Telkom sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa
telekomunikasi harus memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat yang
menggunakan jasanya. Berbagai cara telah digunakan PT. Telkom agar dapat
memberikan yang terbaik untuk konsumen pengguna jasanya. Salah satunya adalah
dengan mengusahakan peningkatan jasa telekomunikasi, sehingga diharapkan dapat
menjangkau konsumen pengguna jasanya sampai keseluruh pelosok tanah air,
Universitas Sumatera Utara
sehingga pemerataan informasi dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat di
Indonesia. Baik buruknya suatu perusahaan khususnya perusahaan yang bergerak di
bidang jasa akan berhubungan secara langsung dengan masyarakat, demikian juga
dengan PT. Telkom.
Dalam
penelitian
ini
yang
menjadi
sasaran
pembahasan
adalah
“TELKOMFlexi”, yaitu produk dari PT. Telkom yang dapat dimanfaatkan sebagai
fixed wireless digital yang digunakan sebagai telepon rumah (fixed phone) dan
telepon bergerak (mobility), dengan menawarkan fasilitas sekelas seluler, tetapi
dengan tarif pulsa telepon rumah. Untuk saat ini sudah tersedia dua layanan
unggulan, yaitu Pra Bayar (FlexiTrendy) dan Pasca Bayar (FlexyClassy).5
Hubungan antara PT. Telkom dengan pelanggan “TELKOMFlexi” Pasca
Bayar (flexiClassy) terbentuk melalui sebuah perjanjian atau kontrak berlangganan.
Perjanjian yang digunakan sebagai alat bukti perikatan antara PT. Telkom dengan
pelanggannya
berupa
Kontrak
Berlangganan
Sambungan
Telekomunikasi
“TELKOMFlexi”. Dalam perjanjian tersebut terdapat dua pihak yang mengikatkan
dirinya, yaitu PT. Telkom sebagai supplier jasa sambungan telepon atau disebut
sebagai penyelenggara pelayanan (survive provider), dan pelanggan. Perjanjian
Berlangganan Sambungan Telekomunikasi “TELKOMFlexi” yang dibuat oleh PT.
Telkom berupa kontrak berlangganan yang dibuat oleh PT. Telkom berupa kontrak
berlangganan yang dibuat dalam bentuk baku (Standart Contract), yaitu suatu bentuk
5
http://www.telkomflexi.com, Corporate, Company Profile, diakses tanggal 3 Mei 2010.
Universitas Sumatera Utara
perjanjian dimana didalamnya telah terdapat syarat-syarat tertentu yang dibuat oleh
salah satu pihak dalam hal ini adalah PT. Telkom dan pihak lain tinggal
menyetujuinya. Bentuk perjanjian semacam ini menimbulkan ketidakadilan bagi
pelanggan, karena semua isi perjanjian ditentukan oleh satu pihak saja yaitu PT.
Telkom, sedangkan pihak lain tidak diberi kesempatan untuk ikut mengutarakan
kehendaknya dalam membuat isi perjanjian. Hal ini berarti telah melanggar asas
kebebasan berkontrak yang merupakan salah satu syarat sahnya perjanjian.
Calon pelanggan sebelum mengikatkan diri dalam kontrak berlangganan
dengan PT. Telkom, masih merupakan pihak yang bebas, artinya sebelum adanya
kesepakatan berlangganan dengan PT. Telkom maka kedudukannya belum berubah
menjadi pelanggan sehingga masih tetap mempunyai pilihan untuk menerima tawaran
dari PT. Telkom untuk berlangganan atau tidak. Apabila calon pelanggan menolak
tawaran yang diberikan PT. Telkom karena merasa keberatan dengan isi perjanjian
atau kontrak yang ditawarkan, calon pelanggan tidak dapat melakukan tawar
menawar untuk merubah isi kontrak yang berakibat perjanjian tidak jadi dibuat
karena tidak ada kesepakatan antara kedua belah pihak.
Dalam kenyataannya sarana telekomunikasi seperti telepon merupakan sarana
yang sangat penting dan sudah menjadi suatu kebutuhan masyarakat. Disini dapat
dilihat bahwa kedudukan PT. Telkom sebagai penyedia jasa lebih kuat dibandingkan
kedudukan masyarakat sebagai pelanggan, apalagi PT. Telkom dalam melakukan
Universitas Sumatera Utara
penawaran berlangganan kepada masyarakat menggunakan sistem take it or leave it
(ambil atau tinggalkan), jadi walaupun calon pelanggan memilih untuk menolak
kontrak yang ditawarkan, hal itu tidak akan mempengaruhi penawaran kepada
masyarakat secara umum, karena kebutuhan masyarakat akan telepon masih tetap
tinggi. Pada asasnya isi perjanjian yang dibakukan adalah tetap dan tidak dapat
diadakan perundingan lagi.
Penerapan perjanjian baku semacam ini dapat menimbulkan kerugian pada
masyarakat sebagai konsumen pengguna jasa telepon, karena pihaknya sama sekali
tidak diberi kesempatan untuk mengutarakan keinginan dan kebebasannya dalam
menentukan isi perjanjian. Pihak yang membuat isi perjanjian bebas dalam membuat
dan menentukan isi perjanjian sehingga dapat sedemikian rupa menempatkan pihak
lain di bawah kekuasaannya, sehingga kedudukan pihak lain tersebut menjadi lemah.
Jenis perjanjian semacam ini akan memberikan keuntungan bagi pihak pembuat
perjanjian, karena untuk semua pelanggan diberlakukan ketentuan dan syarat-syarat
yang sama dan semuanya itu di bawah kekuasaan pihak pembuat isi perjanjian. Bagi
pelanggan penerapan perjanjian yang demikian menimbulkan rasa ketidakadilan,
karena hanya satu pihak saja yang membuat dan menentukan isi dari perjanjian
sedangkan pihak lain hanya tinggal menyetujui saja.
Prinsip kebebasan berkontrak, adalah begitu essensial dalam membuat suatu
perjanjian. Kebebasan berkontrak berkaitan erat dengan isi perjanjian, yaitu
Universitas Sumatera Utara
kebebasan mengenai “apa” dan “dengan siapa” perjanjian itu diadakan. Bilamana
antara para pihak telah diadakan sebuah persetujuan, maka diakui bahwa ada
kebebasan kehendak para pihak tersebut. Bahkan di dalam prinsip kebebasan
berkontrak, dipersangkakan adanya suatu kesetaraan kedudukan antara para pihak.
Dalam perjanjian baku, seringkali tidak ada kesetaraan kedudukan secara ekonomis
antara para pihak, keadaan yang demikian ini dimanfaatkan pihak yang mempunyai
kedudukan ekonomi yang lebih tinggi, untuk membuat ketentuan-ketentuan yang
menguntungkan pihaknya. Dengan ketidakadaan kesetaraan para pihak dalam
membuat perjanjian, maka nampaknya tidak ada pula kebebasan untuk mengadakan
kontrak.6
Dalam Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata disebutkan, bahwa semua perjanjian
harus dilaksanakan dengan itikad baik. Menurut Pitlo dalam Purwahid Patrik, pasal
ini berarti bahwa kita harus menafsirkan perjanjian itu menurut kepatutan dan
keadilan. Menafsirkan, berarti menetapkan akibat-akibat dari perjanjian tersebut.
Dengan mengacu pada itikad baik ini, maka para pihak pembuat perjanjian dapat
merubah atau melengkapi perjanjian di luar kata-kata aslinya.7
Ketentuan-ketentuan yang memberatkan pihak konsumen dalam perjanjian
baku, dapat berupa pencantuman syarat yang membatasi atau bahkan meniadakan
6
Soedjono Dirdjosisworo, Misteri Dibalik Kontrak Bermasalah, Mandar Maju, Bandung,
2002, hal 23.
7
Purwahid Patrik, Peranan Perjanjian Baku dalam Masyarakat, Seminar Masalah Standar
Kontrak dalam Perjanjian Kredit, IKADIN Surabaya, Garden Palace Hotel, 11 Desember 1993,
hal. 11.
Universitas Sumatera Utara
tanggung jawab sepihak, yaitu pihak pembuat perjanjian (kreditur atau produsen).
Dicantumkan klausula yang membatasi, mengecualikan atau bahkan meniadakan
tanggung jawab produsen menyebabkan perjanjian baku sering dituding sebagai
perjanjian yang tidak adil. Klausula yang membatasi atau meniadakan tanggung
jawab kreditur atau produsen atas resiko-resiko tertentu yang mungkin timbul
dikemudian hari. Biasa disebut dengan klausula eksonerasi atau exemption clause.8
Keberadaan klausula eksonerasi dalam kontrak standar dinilai bertentangan
dengan asas itikad baik, karena pihak penyusun kontrak dapat memasukkan
ketentuan-ketentuan yang menguntungkan pihaknya untuk membatasi tanggung
jawabnya, apabila terjadi wanprestasi atau muncul masalah-masalah yang
menimbulkan kerugian baik salah satu pihak maupun kedua belah pihak, dengan cara
mengalihkan tanggung jawab atas masalah tersebut kepada pihak konsumen. Hal ini
akan sangat merugikan pihak konsumen, apabila ternyata masalah yang timbul terjadi
di luar kemampuan dan kekuasaan dari pihaknya.
Adapun di dalam perjanjian antara kedua belah pihak yaitu PT. Telkom
dengan Pelanggan, harus memperhatikan kepentingan Pelanggan di dalam perjanjian
tersebut karena di dalam penerapan perjanjian tersebut antara PT. Telkom dengan
Pelanggan harus bisa lebih menjamin kepentingan Pelanggan, sehingga di dalam
perjanjian antara PT. Telkom dengan Pelanggan harus memperhatikan juga upaya
8
Johannes Gunawan, Penggunaan Perjanjian Standar dan Implementasinya pada Asas
Kebebasan Berkontrak, Majalah Pro Justitia, Universitas Katholik Parahyangan, Bandung, 1987,
hal. 71.
Universitas Sumatera Utara
perlindungan konsumen yang didasarkan pada sejumlah asas dan tujuan yang telah
diyakini bisa memberikan arahan dalam implementasinya di tingkat praktis. Dengan
adanya asas dan tujuan yang jelas, hukum perlindungan konsumen memilki dasar
pijakan yang benar-benar kuat. Asas-asas yang terkandung di dalam perlindungan
konsumen sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen, yaitu :
1. Asas Manfaat.
Maksud asas ini adalah untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam
penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesarbesarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha itu sendiri secara
keseluruhan.
2. Asas Keadilan.
Asas ini dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat bisa diwujudkan secara
maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk
memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil.
3. Asas Keseimbangan.
Asas ini dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan
konsumen, pelaku usaha, dan Pemerintah dalam arti material atau spiritual.
4. Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen.
Universitas Sumatera Utara
Asas ini dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan
kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang/jasa
yang dikonsumsi atau digunakan.
5. Asas Kepastian Hukum.
Asas ini dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum
dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta
negara menjamin kepastian hukum.9
Maka dari itulah penulis terdorong untuk menguji dan meneliti permasalahan
tersebut dengan memberikan judul “TINJAUAN YURIDIS TERHADAP
PENERAPAN ASAS ITIKAD BAIK DALAM PERJANJIAN (Studi Pada
Perjanjian Berlangganan Sambungan Telekomunikasi Telkom Flexi)”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik pokok permasalahan yang akan
menjadi dasar dalam penyusunan tesis ini. Perumusan masalah dalam suatu penelitian
sangat penting keberadaannya karena akan diteliti. Adapun pokok permasalahan yang
dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana penerapan asas kebebasan berkontrak dalam perjanjian Berlangganan
Sambungan Telekomunikasi ”TELKOMFlexi”?
9
Happy Susanto, Hak-Hak Konsumen Jika Dirugikan, Visi Media, Jakarta, 2008,
hal. 17-18.
Universitas Sumatera Utara
2. Bagaimana penerapan asas itikad baik dalam pembuatan dan pelaksanaan
perjanjian
pada
perjanjian
Berlangganan
Sambungan
Telekomunikasi
”TELKOMFlexi” dengan Pelanggan?
3. Bagaimana
pertanggungjawaban
pelaku
usaha
jasa
telekomunikasi
“TELKOMFlexi” terhadap penerapan asas itikad baik dengan adanya klausula
baku?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian yang terdapat pada perumusan masalah di atas maka yang
menjadi tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana penerapan asas kebebasan berkontrak dalam
perjanjian Berlangganan Sambungan Telekomunikasi ”TELKOMFlexi”.
2. Untuk mengetahui bagaimana penerapan asas itikad baik dalam pembuatan dan
pelaksanaan perjanjian pada perjanjian Berlangganan Sambungan Telekomunikasi
”TELKOMFlexi” dengan Pelanggan.
3. Untuk
mengetahui
bagaimana
pertanggungjawaban
pelaku
usaha
jasa
telekomunikasi “TELKOMFlexi” terhadap penerapan asas itikad baik dengan
adanya klausula baku.
Universitas Sumatera Utara
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian merupakan penentu apakah penelitian itu berguna atau
tidak, mempunyai nilai atau tidak. Bertitik tolak dari hal tersebut di atas, maka
diharapkan manfaat penelitian sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu hukum pada
umumnya, dan hukum perdata pada khususnya.
b. Dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan yang sedang diteliti.
c. Dapat digunakan untuk menambah referensi sebagai bahan acuan bagi
penelitian yang akan datang apabila sama bidang penelitiannya dengan yang
penyusun teliti.
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan sumbangan pemikiran bagi para pihak yang berkepentingan dalam
penelitian ini.
b. Untuk melengkapi syarat akademis guna mencapai jenjang Magister
Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
c. Untuk melatih penyusun dalam mengungkapkan permasalahan tertentu secara
sistematis dan berusaha menemukan jawaban yang ada tersebut dengan metode
ilmiah sehingga menunjang pengembangan ilmu pengetahuan yang pernah
penyusun terima selama masa perkuliahaan.
Universitas Sumatera Utara
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian dan penelusuran yang telah dilakukan, baik
terhadap hasil-hasil penelitian yang sudah ada, maupun yang sedang dilakukan,
khususnya pada Sekolah Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara,
belum ada penelitian yang menyangkut masalah, “TINJAUAN YURIDIS
TERHADAP PENERAPAN ASAS ITIKAD BAIK DALAM PERJANJIAN
(Studi Pada Perjanjian Berlangganan Sambungan Telekomunikasi Telkom
Flexi)”, belum pernah ditemukan judul atau penelitian tentang judul penelitian diatas
sebelumnya. Akan tetapi terdapat suatu penelitian tesis yang hampir sama, dilakukan
oleh:
1. Asmadi Lubis, Mahasiswa Program Magister Kenotariatan, Sekolah Pasca Sarjana
Universitas Sumatera Utara pada Tahun 2008 dengan judul ”Penerapan Asas
Itikad Baik dalam Penyelesaian Klaim Asuransi Jiwa.”
Dimana
permasalahan
dalam
penelitian
tersebut
berbeda
dengan
permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini. Dengan demikian penelitian ini
adalah asli, untuk itu penulis dapat mempertanggungjawabkan kebenarannya secara
ilmiah.
Universitas Sumatera Utara
F. Kerangka Teori dan Konsepsional
1. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori
tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan yang menjadi bahan perbandingan
atau pegangan teoritis dalam penelitian.10 Suatu kerangka teori bertujuan untuk
menyajikan
cara-cara
untuk
bagaimana
mengorganisasikan
dan
mengimplementasikan hasil-hasil penelitian dan menghubungkannya dengan hasilhasil terdahulu.11 Sedang dalam kerangka konsepsional diungkapkan beberapa
konsepsi atau pengertian yang akan dipergunakan sebagai dasar penelitian
hukum.12
Dalam sebuah penelitian ilmiah, teori digunakan sebagai landasan berpikir
dan mengukur sesuatu berdasarkan variabel yang tersedia. Sebelum peneliti
mengetahui kegunaan dari kerangka teori, maka peneliti perlu mengetahui terlebih
dahulu mengenai arti teori. Teori merupakan generalisasi yang dicapai setelah
mengadakan pengujian yang hasilnya menyangkut ruang lingkup dan fakta yang
luas.13
10
M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Cet ke I, Bandar Maju, Bandung, 1994,
11
Burhan Ashsofa, Metode Penelitian Hukum, Cet ke II, Rineka Cipta, Jakarta, 2003,
hal. 80.
hal. 23.
12
Soerjono Soekanto, dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat,
Edisi I Cet ke VII, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hal. 7.
13
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, 1986, hal. 126.
Universitas Sumatera Utara
Dalam hal ini menurut Bintaro Tjokroamidjojo dan Mustafa Adidjoyo teori
diartikan sebagai ungkapan mengenai hubungan kasual yang logis di antara
perubahan (variabel) dalam bidang tertentu, sehingga dapat digunakan sebagai
kerangka berpikir (frame of thinking) dalam memahami serta menangani
permasalahan yang timbul di dalam bidang tersebut.14
Teori dipergunakan sebagai landasan atau alasan mengenai suatu variabel
bebas tertentu yang dimasukkan dalam penelitian, karena berdasarkan teori
tersebut variabel yang bersangkutan memang bisa mempengaruhi variabel tak
bebas atau merupakan salah satu penyebab.15
Dari beberapa pengertian teori tersebut di atas maka dapat disimpulkan
bahwa kerangka teori adalah pengetahuan yang diperoleh dari tulisan dan
dokumen serta pengetahuan yang diperoleh dari tulisan dan dokumen serta
pengetahuan kita sendiri yang merupakan kerangka dari pemikiran dan sebagai
lanjutan dari teori yang bersangkutan, sehingga teori penelitian dapat digunakan
dalam proses penyusunan maupun penjelasan serta meramalkan kemungkinan
adanya gejala-gejala yang timbul. Menurut M.Solly Lubis, kerangka teori adalah
kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus
14
Bintaro Tjokroamidjojo dan Mustafa Adidjoyo, Teori dan Strategis Pembangunan
Nasional, Rineka Cipta, Jakarta, 1988, hal. 12.
15
J. Supranto, Metode Penelitian Hukum dan Statistik, Rineka Cipta, Jakarta, 2003,
hal. 192-193.
Universitas Sumatera Utara
atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan atau pegangan
teoritis.16
Teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah perubahan masyarakat harus
diikuti dengan perubahan hukum.17 Hukum berkembang sesuai dengan
perkembangan kebutuhan masyarakat. Perubahan masyarakat dibidang hukum
perlindungan konsumen harus berjalan dengan teratur dan diikuti dengan
pembentukan norma-norma sehingga dapat berlangsung secara harmonis.18
Dalam teori perlindungan konsumen yang menjadi pedoman dalam
penulisan ini adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk
memberi perlindungan kepada konsumen.19 Segala upaya yang menjamin adanya
kepastian hukum adalah benteng untuk menghalangi kesewenang-wenangan yang
akan mengakibatkan ketidakpastian hukum.
Oleh karena itu agar segala upaya memberikan jaminan akan kepastian
hukum,
ukurannya
secara
kualitatif
ditentukan
dalam
Undang-Undang
Perlindungan Konsumen dan undang-undang lainnya yang juga dimaksudkan dan
masih berlaku untuk memberikan perlindungan hukum bagi konsumen, baik dalam
16
M. Solly Lubis, op.cit., hal. 13.
Satjipto Rahardjo, Hukum dan Masyarakat, Angkasa, Bandung, 1984, hal. 102.
18
Tan Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia, Suatu Kebutuhan yang Didambakan , Alumni,
Bandung, 2006, hal. 18.
19
Ibid.
17
Universitas Sumatera Utara
bidang hukum privat (Perdata), maupun hukum publik (Hukum Pidana dan
Hukum Administrasi Negara).20
Selanjutnya asas-asas hukum perlindungan konsumen harus bersumber dari
Pancasila, sebagai asas idiil (filosofis), UUD 1945 sebagai asas konstitusional
(struktural),
Ketetapan
Majelis
Permusyawaratan
Rakyat
sebagai
asas
konsepsional (politis) dan undang-undang sebagai asas operasional (teknis).
Dalam hal ini Mariam Darus Badrulzaman mengatakan bahwa suatu sistem adalah
kumpulan asas-asas yang terpadu, yang merupakan landasan, di atas mana
dibangun tertib hukum. Asas-asas tersebut mempunyai tingkat-tingkat dilihat dari
gradasi sifatnya yang abstrak.21
Dalam Pancasila, Hukum perlindungan konsumen memperoleh landasan
idiil (filosafis) hukumnya pada sila kelima yaitu: ”Keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia”. Pengertian keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, di dalamnya
terkandung suatu “Hak” seluruh rakyat Indonesia untuk diperlakukan sama
(equality) di depan hukum. Hak adalah suatu kekuatan hukum, yakni hukum
dalam pengertian subyektif yang merupakan kekuatan kehendak yang diberikan
oleh tatanan hukum. Oleh karena hak dilindungi oleh tatanan hukum, maka
20
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 2007, hal. 1-2.
21
Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, Alumni, Bandung, 1994, hal. 18-19.
Universitas Sumatera Utara
pemilik
hak
memiliki
kekuatan
untuk
mempertahankan
haknya
dari
gangguan/ancaman dari pihak manapun juga.22
Apabila pihak lain melanggar hak tersebut, maka akan menimbulkan
gugatan hukum dari si pemilik hak, yang diajukan ke hadapan aparat penegak
hukum.23 Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa seluruh rakyat Indonesia
berhak memperoleh keadilan, yang dalam konteks hukum perlindungan konsumen
terbagi menjadi dua kelompok yakni keadilan sebagai pelaku usaha disatu sisi dan
keadilan sebagai konsumen di sisi lain.
Bagi konsumen sebagai pribadi, penggunaan produk dan/atau jasa itu,
adalah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, keluarga atau rumah tangganya
(kepentingan non komersial), dimana penggunaan produk tersebut harus
bermanfaat bagi kesehatan/keselamatan tubuh, keamanan jiwa dan harta benda,
diri, keluarga dan/atau rumah tangganya (tidak membahayakan atau merugikan),
dan juga membantu mempermudah aktifitas kehidupan konsumen sehari-hari.
Perbedaan prinsipil dari kepentingan-kepentingan dalam penggunaan
produk/jasa dan pelaksanaan kegiatan antara pelaku usaha dan konsumen, dengan
sendirinya memerlukan jenis pengaturan perlindungan dan dukungan yang berbeda
pula.
22
Hans Kelsen, Teori Hukum Murni, (Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif), Terjemahan
Raisul Muttaqien, Nusamedia dan Nuansa, Bandung, 2006, hal. 152.
23
Ibid.
Universitas Sumatera Utara
Bagi kalangan pelaku usaha perlindungan itu adalah untuk kepentingan
komersial mereka dalam menjalankan kegiatan usaha, seperti bagaimana
mendapatkan
bahan
baku,
bahan
tambahan
dan
penolong,
bagaimana
memproduksinya, mengangkut dan memasarkannya, termasuk di dalamnya
bagaimana menghadapi persaingan usaha. Harus ada peraturan perundangundangan yang mengatur tentang usaha dan mekanisme persaingan usaha itu.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, dinyatakan persaingan haruslah
berjalan secara wajar dan tidak terjadi kecurangan-kecurangan, sehingga
mengakibatkan
kalangan
pelaku
usaha
tidak
saja
tidak
meningkatkan
pendapatannya, bahkan dapat mati usahanya. Sekalipun diakui bahwa persaingan
merupakan suatu yang biasa dalam dunia usaha, tetapi persaingan antar kalangan
pelaku usaha itu haruslah sehat dan terkendali.
Bagi konsumen kepentingan tidak komersial mereka yang harus
diperhatikan adalah akibat-akibat kegiatan usaha dan persaingan di kalangan
pelaku usaha terhadap keselamatan jiwa, tubuh atau kerugian harta benda mereka
dalam keadaan bagaimanapun, dengan tetap harus menjaga keselarasan, keserasian
dan keseimbangan diantara keduanya.
Pasal 1233 KUH Perdata mengatakan, perikatan itu dapat muncul dari
perjanjian atau karena undang-undang. Dua pengertian ini sangat mempengaruhi
Universitas Sumatera Utara
perlindungan dan penyelesaian sengketa hukum yang melibatkan kepentingan
konsumen di dalamnya.24
Jika seseorang sebagai konsumen mempunyai hubungan hukum berupa
perjanjian dengan pihak lain, dan pihak lain itu melanggar perjanjian yang
disepakati bersama, maka konsumen berhak menggugat lawannya berdasarkan
dalih melakukan wanprestasi (cidera/ingkar janji). Jika sebelumnya tidak ada
perjanjian, konsumen tetap saja memiliki hak untuk menuntut secara perdata,
yakni melalui ketentuan perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad). Dalam
konsepsi perbuatan melawan hukum, seseorang diberi kesempatan untuk
menggugat, sepanjang dipenuhi tiga unsur yaitu, adanya unsur kesalahan
(dilakukan pihak lain/tergugat), ada kerugian (diderita si penggugat), dan ada
hubungan kausalitas antara kesalahan dan kerugian itu.25 Selain ditinjau dari
bidang-bidang hukum yang mengatur perihal perlindungan konsumen dan dua
macam kebijakan umum yang dapat ditempuh, juga terdapat prinsip-prinsip
pengaturan di bidang perlindungan konsumen.
Dalam penjelasan Pasal 2 UUPK menyebutkan lima prinsip pengaturan
yang dikaitkan dengan asas-asas pembangunan nasional, yaitu :
1. Asas Manfaat, dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam
menyelenggarakan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesarbesarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.
24
25
Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta, 1987, hal. 1.
Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Grasindo, Jakarta, 2000, hal. 59.
Universitas Sumatera Utara
2. Asas Keadilan, Asas ini dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat bisa
diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan
pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara
adil.
3. Asas Keseimbangan, Asas ini dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan
antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan Pemerintah dalam arti material
atau spiritual.
4. Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen, Asas ini dimaksudkan untuk
memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam
penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang/jasa yang dikonsumsi atau
digunakan.
5. Asas Kepastian Hukum, Asas ini dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun
konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan
perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.26
Memperhatikan substansi Pasal 2 UUPK, demikian pula penjelasannya,
tampak bahwa perumusannya mengacu pada filosofi pembangunan nasional yaitu
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang berlandaskan pada falsafah negara
kesatuan Republik Indonesia yaitu Pancasila.
Kelima asas yang disebutkan dalam pasal tersebut, bila diperhatikan
substansinya dapat dibagi menjadi 3 (tiga) asas yaitu :
1. Asas kemanfaatan yang di dalamnya meliputi asas keamanan dan keselamatan
konsumen,
2. Asas keadilan yang di dalamnya meliputi asas keseimbangan, dan
3. Asas kepastian hukum.27
26
27
Happy Susanto, Op Cit, hal.17-18.
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Op Cit, hal. 26.
Universitas Sumatera Utara
BPHN Departemen Kehakiman, Januari 1989 maka disepakati sejumlah asas
dalam hukum kontrak antara lain:
1. Asas Konsensualisme : asas ini dapat ditemukan dalam pasal 1320 KUH Perdata
didalamnya ditemukan istilah ”semua”. Kata-kata ”semua” menunjukkan bahwa
setiap orang diberi kesempatan untuk menyatakan keingininnya, yang rasanya
baik untuk menciptakan perjanjian. Asas ini sangat erat hubungannya dengan asas
kebebasan mengadakan perjanjian.
2. Asas Kepercayaan: seorang yang mengadakan perjanjian dengan pihak lain,
harus dapat menumbuhkan kepercayaan diantara kedua belah pihak bahwa satu
sama lain akan memenuhi prestasinya dikemudian hari. Tanpa adanya
kepercayaan maka perjanjian itu tidak mungkin akan diadakan oleh para pihak.
3. Asas Kekuatan Mengikat : demikian seterusnya dapat ditarik kesimpulan bahwa
didalam perjanjian tercantum suatu asas kekuatan mengikat. Terikatnya para
pihak pada apa yang diperjanjikan yang juga terhadap beberapa unsur lain
sepanjang dikehendaki kebiasaan dan kepatuhan, dan kebiasaan akan mengikat
para pihak.
4. Asas Persamaan Hak : asas ini menempatkan para pihak didalam persamaan
derajat, tidak ada perbedaan, walaupun ada perbedaan kulit, bangsa, kepercayaan,
kekuaasan, jabatan, dan lain-lain. Masing-masing pihak wajib melihat adanya
persamaan ini dan mengharuskan kedua pihak untuk menghormati satu sama lain
sebagai manusia ciptaan tuhan.
5. Asas Keseimbangan : asas ini menghendaki kedua pihak untuk memenuhi dan
melaksanakan perjanjian itu. Asas keseimbangan ini merupakan kelanjutan dari
asas persamaan. Kreditur mempunyai kekuatan untuk menunjuk pelunasan
prestasi, melalui kekayaan debitur, namun kreditur memikul pula beban untuk
melaksanakan perjanjian itu dengan itikad baik. Dapat dilihat disini bahwa
kedudukan kreditur yang kuat diimbangi dengan kewajibannya untuk
memperhatikan itikad baik, sehingga kedudukan kreditur dan debitur seimbang.
6. Asas Moral : asas ini terlihat dalam perikatan wajar, dimana suatu perbuatan
sukarela dari seseorang tidak menimbulkan hak baginya untuk menggugat
kontraprestasi dari pihak debitur. Juga hal ini terlihat didalam zaakwaarneming,
dimana seseorang yang melakukan suatu perbuatan dengan sukarela (moral) yang
bersangkutan mempunyai kewajiban (hukum) untuk meneruskan dan
menyelesaiakan perbuatannya, asas ini terdapatnya dalam pasal 1339
KUHPerdata.
7. Asas Kepatuhan : asas ini dituangkan dalam pasal 1339 KUHPerdata. Asas
kepatuhan disini berkaitan dengan ketentuan mengenai isi perjanjian. asas
Universitas Sumatera Utara
kepatuhan ini harus dipertahankan, karena melalui asas ini ukuran tentang
hubungan ditentukan juga oleh rasa keadilan dalam masyarakat.
8. Asas Kebiasaan : asas ini diatur dalam pasal 1339 Jo 1347 KUHPerdata, yang
dipandang sebagai bagian dari perjanjian. Suatu perjanjian tidak hanya mengikat
untuk hal-hal yang diatur dalam keadaan yang diikuti.
9. Asas Kepastian Hukum : Perjanjian sebagai suatu figur hukum harus mengandung
kepastian hukum. Kepastian ini terungkap dari kekuatan mengikat perjanjian itu,
yaitu sebagai undang-undang para pihak.28
Pada perjanjian berlangganan jasa telekomunikasi TELKOMFlexi, antara
pelaku usaha dan konsumen telah terjadi suatu perikatan yang lahir dari butir-butir
perjanjian yang telah tertulis pada blanko perjanjian yang telah disediakan secara
sepihak oleh pelaku usaha. Dalam hal ini konsumen hanya menandatangani atau tidak
sebagai bentuk persetujuan atas berbagai klausul yang termuat dalam perjanjian.
Dengan adanya perjanjian yang terdapat pada blanko perjanjian tersebut,
mengikat pelaku usaha dan konsumen, bukan hanya pada saat transaksi berlangsung
tetapi juga pada pasca transaksi, sampai jangka waktu perjanjian berakhir atau dengan
kata lain salah satu pihak memutuskan perjanjian.
Mengenai aspek perlindungan konsumen bagi konsumen jasa berlangganan
telekomunikasi “TELKOMFlexi” yang juga menggunakan perjanjian baku (standar)
yang memuat klausul baku dapat ditinjau dari Undang-Undang nomor 8 Tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen.
Tujuan dibuatnya perjanjian standar untuk memberikan kemudahan
(kepraktisan) bagi para pihak yang bersangkutan. Oleh karena itu, bertolak dari tujuan
28
Ningrum Natasya Sirait, Op Cit, 2009.
Universitas Sumatera Utara
itu, Mariam Darus Badrulzaman lalu mendefinisikan perjanjian standar sebagai
perjanjian yang isinya dibakukan dan dituangkan dalam bentuk formulir.29
Pasal 1338 alinea 1 KUH Perdata, menentukan bahwa ”semua perjanjian yang
dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.
Ketentuan ini merupakan dasar hukum disahkannya perjanjian dalam bentuk apapun
yang dibuat secara sah, sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya.
Dengan demikian perjanjian yang telah menjelma menjadi undang-undang bagi
mereka yang membuatnya wajib dipatuhi oleh kedua belah pihak dengan itikad baik
(Pact Sunt Servanda). Pasal 1338 alinea pertama ini merupakan suatu tuntutan
kepastian hukum.30
Tidak dipatuhinya perjanjian yang telah dibuat oleh para pihak tersebut akan
menimbulkan tuntutan/gugatan dari pihak yang merasa dirugikan. Kemungkinan
campur tangan pihak ketiga, dalam hal ini negara melalui hakim menjadi terbuka bila
salah satu pihak tidak melaksanakan perjanjian tersebut dengan itikad baik. Disini
hakim diberikan kekuasaan untuk mengawasi pelaksanaan suatu perjanjian, jangan
sampai pelaksanaan perjanjian tersebut melanggar kepatutan atau keadilan. Pasal
1338 alinea 3 mengatakan: ”suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik.”
Kalau Pasal 1338 alinea pertama dipandang sebagai suatu tuntutan kepastian hukum,
29
Mariam Darus Badrulzaman, Perlindungan Terhadap Konsumen Dilihat dari Perjanjian
Baku (standar), Bina Cipta, 1986, hal. 58 dalam Sidharta, hal. 119.
30
Subekti, Pembinaan Hukum Nasional, Alumni, Bandung, 1981, hal. 67.
Universitas Sumatera Utara
maka Pasal 1338 alinea ketiga sebagaimana tersebut di atas harus dipandang sebagai
suatu tuntutan keadilan bagi pihak yang dirugikan.31
Memperhatikan uraian tentang asas-asas hukum perlindungan konsumen
tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum perlindungan konsumen
berada dalam lingkup kajian hukum ekonomi. Hukum ekonomi yang dimaksud,
mengakomodasikan dua aspek hukum sekaligus, yaitu aspek hukum publik dan aspek
hukum privat, dalam hubungan ini, maka hukum ekonomi mengandung berbagai asas
hukum yang bersumber dari kedua aspek hukum dimaksud di atas.
Di dalam asas hukum tersebut mengandung nilai-nilai untuk melindungi
berbagai aspek kehidupan kemanusiaan di dalam kegiatan ekonomi. Asas-asas utama
dari hukum ekonomi yang bersumber dari asas-asas hukum publik antara lain; asas
keseimbangan kepentingan, asas pengawasan publik, dan asas campur tangan negara
terhadap kegiatan ekonomi. Sedangkan asas-asas hukum yang bersumber dari hukum
perdata dan/atau hukum dagang yaitu khusus mengenai hubungan hukum para pihak
di dalam suatu kegiatan atau perjanjian tertentu atau perbuatan hukum tertentu
dimana harus menghormati ”hak dan kepentingan pihak lain”.32
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan dilaksanakannya
perlindungan konsumen sesuai dengan Pasal 3 UUPK, adalah sebagai berikut:
31
Ibid
Sri Redjeki Hartono, Menyongsong Sistem Hukum Ekonomi Yang Berwawasan Asas
Keseimbangan, dalam Kapita Selekta Hukum Ekonomi, Mandar Maju, Bandung, 2000, hal. 71-72.
32
Universitas Sumatera Utara
a. Meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk
melindungi diri;
b. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari
ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa;
c. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan
menuntut hak-haknya sebagai konsumen;
d. Menciptakan sistem perlindungan yang mengandung unsur kepastian hukum dan
keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;
e. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan
konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam
berusaha;
f. Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha
produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan
keselamatan konsumen.
2. Konsepsi
Agar tidak menjadi perbedaan pengertian tentang konsep-konsep yang
dipergunakan dalam penelitian ini maka perlu diuraikan pengertian-pengertian
konsep yang dipakai, yaitu sebagai berikut :
1. Asas itikad baik: Asas itikad baik ini dapat dibedakan atas itikad baik yang
subyektif dan itikad baik yang obyektif. Itikad baik dalam pengertian yang
subyektif dapat diartikan sebagai kejujuran seseorang atas dalam melakukan suatu
perbuatan hukum, yaitu apa yang terletak pada sikap batin seseorang pada saat
diadakan suatu perbuatan hukum. Sedang itikad baik dalam pengertian yang
obyektif dimaksudkan adalah pelaksanaan suatu perjanjian yang harus didasarkan
pada norma kepatutan atau apa yang dirasakan patut dalam suatu masyarakat.
Itikad baik secara subyektif menunjuk pada sikap batin atau unsur yang ada dalam
Universitas Sumatera Utara
diri pembuat, sedangkan itikad baik dalam arti obyektif lebih pada hal-hal diluar
diri pelaku. Mengenai pengertian itikad baik secara subyektif dan obyektif,
dinyatakan oleh Muhammad Faiz bahwa "Itikad baik subyektif, yaitu apakah yang
bersangkutan sendiri menyadari bahwa tindakannya bertentangan dengan itikad
baik, sedangkan itikad baik obyektif adalah kalau pendapat umum menganggap
tindakan yang demikian adalah bertentangan dengan itikad baik".33
2. Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada orang lain,
atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal, yang
menimbulkan hubungan hukum yang dinamakan perikatan antara dua orang yang
membuatnya dan bentuknya berupa rangkaian perkataan yang mengandung janjijanji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis.34
3. Perjanjian Berlangganan Sambungan telekomunikasi adalah kontrak antara PT.
TELKOM dengan PELANGGAN yang mengatur tentang ketentuan-ketentuan
berlangganan sambungan telekomunikasi yang tertuang dalam perjanjian,
permohonan, dan prosedur yang disampaikan PT. TELKOM pada PELANGGAN
yang merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan dari perjanjian.
4. Telkom Flexi adalah layanan jasa telekomunikasi berupa suara dan data yang
berbasis akses tanpa kabel dengan teknologi Code Devision Multiple Access
(CDMA).
33
Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Seimbang bagi Para
Pihak dalam Perjanjian Kredit di Indonesia, Institut Bankir Indonesia, Jakarta, 1993, hal. 112.
34
R. Subekti, Hukum Perjanjian, Intermassa, Jakarta, 1996, hal. 1.
Universitas Sumatera Utara
Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, menyatakan bahwa semua kontrak
(perjanjian) yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya. Kata “semua” dalam pasal tersebut mengindikasikan bahwa orang
dapat membuat perjanjian apa saja, tidak terbatas pada jenis perjanjian yang diatur
dalam KUH Perdata, dan perjanjian tersebut akan mengikat para pihak yang
membuatnya. Pasal 1338 KUH Perdata itu sendiri juga menggunakan kalimat “yang
dibuat secara sah”, hal ini berarti bahwa apa yang disepakati antara para pihak,
berlaku sebagai undang-undang selama apa yang disepakati itu adalah sah. Artinya
tidak bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum, dan kesusilaan. Dalam
hal suatu kontrak ternyata bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum,
dan kesusilaan, kontrak tersebut batal demi hukum.35 Secara historis kebebasan
berkontrak mengandung makna adanya 5 (lima) macam kebebasan, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
Kebebasan bagi para pihak untuk menutup atau tidak menutup kontrak;
Kebebasan untuk menentukan dengan siapa para pihak akan menutup kontrak;
Kebebasan bagi para pihak untuk menentukan bentuk kontrak;
Kebebasan bagi para pihak untuk menentukan isi kontrak;
Kebebasan bagi para pihak untuk menentukan cara pembuatan kontrak.36
35
Setiawan, Menurunnya Supremasi Azas Kebebasan Berkontrak, PPH Newsletter, 2003,
hal. 1.
36
Johannes Gunawan, dalam Bernadette M. Waluyo, Hukum Perjanjian sebagai Ius
Constituendum (Lege Ferenda)” dalam Aspek Hukum dari Perdagangan Bebas : Menelaah Kesiapan
Hukum Indonesia dalam Melaksanakan Perdagangan Bebas, diedit oleh Ida Susanti dan Bayu Seto,
Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, hal. 60-61.
Universitas Sumatera Utara
Berlakunya asas konsensualisme menurut hukum perjanjian Indonesia
memantapkan adanya asas kebebasan berkontrak. Tanpa sepakat dari salah satu pihak
yang membuat perjanjian, maka perjanjian yang dibuat dapat dibatalkan. Orang tidak
dapat dipaksa untuk memberikan sepakatnya, sepakat yang diberikan dengan paksa
adalah Contradictio Interminis. Adanya paksaan menunjukkan tidak adanya sepakat
yang mungkin dilakukan oleh pihak lain adalah untuk memberikan pilihan
kepadanya, yaitu untuk setuju mengikatkan diri pada perjanjian yang dimaksud, atau
menolak mengikatkan diri pada perjanjian dengan akibat transaksi yang diinginkan
tidak terlaksana take it or leave it (ambil atau tinggalkan). Menurut hukum perjanjian
Indonesia, seseorang bebas untuk membuat perjanjian dengan pihak manapun yang
dikehendakinya.
Pembatasan terhadap asas kebebasan berkontrak juga dapat disimpulkan
melalui Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata yang menyatakan bahwa suatu perjanjian
hanya dilaksanakan dengan itikad baik. Itikad baik merupakan salah satu asas yang
terkandung di dalam suatu hukum perjanjian. Asas ini merupakan asas bahwa para
pihak, yaitu pihak kreditur dan debitur harus melaksanakan substansi kontrak
berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang teguh maupun kemauan baik dari para
pihak. Asas itikad baik terbagi menjadi dua macam, yakni itikad baik nisbi dan itikad
baik mutlak. Pada itikad yang pertama, seseorang memperhatikan sikap dan tingkah
laku yang nyata dari subjek. Pada itikad yang kedua, penilaian terletak pada akal
Universitas Sumatera Utara
sehat dan keadilan serta dibuat ukuran yang obyektif untuk menilai keadaan
(penilaian tidak memihak) menurut norma-norma yang objektif.
Itikad baik bukanlah istilah atau unsur yang dikenal dalam Kitab Undangundang Hukum Pidana Indonesia (KUHP), untuk menggambarkan adanya
kesengajaan dalam suatu delik, KUHP lebih sering menggunakan istilah-istilah selain
itikad baik, antara lain: “dengan sengaja”, “mengetahui bahwa”, “tahu tentang”, dan
“dengan maksud”. Mengenai “itikad baik” dikenal dalam tindak pidana yang tersebar
di luar KUHP dan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata).
Mengenai itikad baik dalam KUH Perdata Pasal 1338 ayat 3 dinyatakan bahwa: "…
Suatu perjanjian hanya dilaksanakan dengan itikad baik", selain tentang itikad baik
dalam Pasal 531 KUH Perdata dinyatakan sebagai berikut: “Kedudukan itu beritikad
baik, manakala si yang memegangnya memperoleh kebendaan tadi dengan cara
memperoleh hak milik, dalam mana tak tahulah dia akan cacat cela yang terkandung
dalamnya”. Dalam perjanjian dikenal asas itikad baik, yang artinya setiap orang yang
membuat perjanjian harus dilakukan dengan itikad baik.
Itikad baik dalam sebuah penjanjian harus ada sejak perjanjian baru akan
disepakati, artinya itikad baik ada pada saat negosiasi prakesepakatan perjanjian,
dinyatakan oleh Ridwana Khairandy bahwa: " Itikad baik sudah harus ada sejak fase
prakontrak dimana para pihak mulai melakukan negosiasi hingga mencapai
kesepakatan dan fase pelaksanaan kontrak". Itikad baik seharusnya dimiliki oleh
Universitas Sumatera Utara
setiap individu sebagai bagian dari makhluk sosial yang tidak dapat saling
melepaskan diri dari ketergantungan sosial terhadap individu lain untuk saling
bekerjasama, saling menghormati dan menciptakan suasana tenteram bersama-sama.
Melepaskan diri dari keharusan adanya itikad baik dalam setiap hubungan dengan
masyarakat adalah pengingkaran dari kebutuhannya sendiri, kebutuhan akan hidup
bersama, saling menghormati dan saling memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial.
Keberadaan itikad baik dalam setiap hubungan dengan masyarakat memberi arti
penting bagi ketertiban masyarakat, itikad baik sebagai sikap batin untuk tidak
melukai hak orang lain menjadi jaminan bagi hubungan masyarakat yang lebih tertib.
Ketiadaan itikad baik dalam hubungan masyarakat mengarah pada perbuatan yang
secara umum dicela oleh masyarakat, celaan datang dari sikap batin pembuat yang
tidak memiliki itikad baik, sikap batin di sini mengarah pada “kesengajaan sebagai
bentuk kesalahan” pembuat yang secara psikologis menyadari perbuatannya serta
akibat yang melekat atau mungkin timbul dari pada perbuatan tersebut.
Seperti yang telah diuraikan, pada dasarnya perjanjian dibuat berdasarkan
kesepakatan bebas antara dua pihak yang cakap untuk bertindak demi hukum
(pemenuhan syarat subjektif) untuk melaksanakan suatu prestasi yang tidak
bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku, kepatutan, kesusilaan, ketertiban
umum, serta kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat luas (pemenuhan syarat
objektif). Namun adakalanya “kedudukan” dari kedua belah pihak dalam suatu
Universitas Sumatera Utara
negosiasi tidak seimbang, yang pada akhirnya melahirkan suatu perjanjian yang
“tidak terlalu menguntungkan” bagi salah satu pihak.
Dalam praktek dunia usaha juga menunjukkan bahwa “keuntungan”
kedudukan tersebut sering diterjemahkan dengan pembuatan perjanjian baku dan/atau
klausula baku. Perjanjian baku berasal dari terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu
standart contract. Standart contract merupakan perjanjian yang telah ditentukan dan
telah dituangkan dalam bentuk formulir. Kontrak ini telah ditentukan dan telah
dituangkan dalam bentuk formulir. Kontrak ini telah ditentukan secara sepihak oleh
salah satu pihak, terutama pihak ekonomi kuat terhadap ekonomi lemah. Agar
perjanjian standar dapat memberikan pelayanan yang cepat, isi dan syarat perjanjian
standar harus diterapkan terlebih dahulu secara tertulis dalam bentuk formulir,
kemudian digandakan dalam jumlah tertentu sesuai dengan kebutuhan. Formulirformulir tersebut kemudian ditawarkan kepada para konsumen secara massal, tanpa
memperhatikan perbedaan kondisi mereka satu dengan yang lain.
Dikatakan bersifat ”baku” karena, baik perjanjian maupun klausula tersebut,
tidak dapat dan tidak mungkin dinegosiasikan atau ditawar-tawar oleh pihak lainnya.
Take it or leave it. Tidak adanya pilihan bagi salah satu pihak dalam perjanjian ini,
cenderung merugikan pihak yang ”kurang dominan” tersebut. Terlebih lagi dengan
sistem pembuktian yang berlaku di negara Indonesia saat ini, jelas tidaklah mudah
bagi pihak yang cenderung dirugikan tersebut untuk membuktikan tidak adanya
Universitas Sumatera Utara
kesepakatan pada saat dibuatnya perjanjian baku tersebut, atau atas klausula baku
yang termuat dalam perjanjian yang ada.37
Mariam Darus Badrulzaman mengemukakan standart contract merupakan
perjanjian yang telah dibakukan, yang ciri-cirinya adalah sebagai berikut :
1. Isinya ditetapkan secara sepihak oleh pihak yang posisi (ekonomisnya) kuat.
2. Masyarakat (debitur) sama sekali tidak ikut bersama-sama menentukan isi
perjanjian.
3. Terdorong oleh kebutuhan debitur terpaksa menerima perjanjian itu.
4. Bentuk tertentu (tertulis)
5. Dipersiapkan secara massal dan kolektif.38
Unsur-unsur kontrak baku, yaitu :
1. Diatur oleh kreditur atau ekonomi kuat.
2. Dalam bentuk sebuah formulir
3. Adanya klausul-klausul eksonerasi/pengecualian.39
Dengan melihat kenyataan bahwa bargaining position konsumen pada
prakteknya jauh di bawah para pelaku usaha, maka Undang-Undang tentang
Perlindungan Konsumen merasakan perlunya pengaturan mengenai ketentuan
perjanjian baku dan/atau pencantuman klausula baku dalam setiap dokumen atau
37
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Op Cit, hal. 53.
Mariam Darus Badrulzaman, Kompilasi Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti, Bandung,
2001, hal. 285.
39
Salim HS, Perkembangan Hukum Kontrak Diluar KUH Perdata, Sinar Grafika, Jakarta,
2005, hal. 147.
38
Universitas Sumatera Utara
perjanjian yang dibuat oleh pelaku usaha. Undang-Undang tentang Perlindungan
Konsumen tidak memberikan definisi tentang perjanjian baku, tetapi merumuskan
klausula baku sebagai :
”Setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan
ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam
suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh
konsumen.”40
Dalam Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen ketentuan mengenai
klausula baku ini diatur dalam Bab V tentang Ketentuan Pencantuman Klausula Baku
yang hanya terdiri dari satu pasal, yaitu Pasal 18. Pasal 18 tersebut, secara prinsip
mengatur dua macam larangan yang diberlakukan bagi para pelaku usaha yang
membuat perjanjian baku dan/atau mencantumkan klausula baku dalam perjanjian
yang dibuat olehnya. Pasal 18 ayat (1) mengatur larangan pencantuman klausula baku
dan Pasal 18 ayat (2) mengatur ”bentuk” atau format, serta penulisan perjanjian baku
yang dilarang.
Dalam ketentuan Pasal 18 ayat (1) dikatakan bahwa para pelaku usaha dalam
menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang
membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian
di mana klausula baku tersebut akan mengakibatkan :
a. Pengalihan tanggung jawab pelaku usaha;
40
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Op Cit, hal. 54.
Universitas Sumatera Utara
b. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang
yang dibeli konsumen;
c. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang
dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen;
d. Menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha, baik secara
langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang
berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran;
e. Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan
jasa yang dibeli oleh konsumen;
f. Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau
mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi objek jual beli jasa;
g. Menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru,
tambahan, lanjutan, dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku
usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya;
h. Menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk
pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang
dibeli oleh konsumen secara angsuran.
Selanjutnya, dalam Pasal 18 ayat (2) dijelaskan bahwa pelaku usaha dilarang
mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat
dibaca secara jelas, atau yang pengungkapannya sulit dimengerti.
Universitas Sumatera Utara
Sebagai konsekuensi atas pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 18 ayat (1)
dan ayat (2) tersebut, Pasal 18 ayat (3) Undang-Undang tentang Perlindungan
Konsumen menyatakan batal demi hukum setiap klausula baku yang telah ditetapkan
oleh pelaku usaha pada dokumen atau perjanjian yang memuat ketentuan yang
dilarang dalam Pasal 18 ayat (1) maupun perjanjian baku atau klausula baku yang
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 18 ayat (2). Hal ini
merupakan penegasan kembali akan sifat kebebasan berkontrak yang diatur dalam
Pasal 1320 KUH Perdata jo. Pasal 1337 KUH Perdata. Ini berarti perjanjian yang
memuat ketentuan mengenai klausula baku yang dilarang dalam Pasal 18 ayat (1)
atau yang memiliki format sebagaimana dilarang dalam Pasal 18 ayat (2) dianggap
tidak pernah ada dan mengikat para pihak, pelaku usaha, dan konsumen yang
melaksanakan transaksi perdagangan barang dan/atau jasa tersebut.
Atas kebatalan demi hukum dari klausula sebagaimana disebutkan dalam
Pasal 18 ayat (3), Pasal 18 ayat (4) Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen
selanjutnya mewajibkan para pelaku usaha untuk menyesuaikan klausula baku yang
bertentangan dengan Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen ini.41
“TELKOMFlexi” adalah layanan jasa telekomunikasi suara dan data berbasis
akses tanpa kabel dengan teknologi CDMA yang sangat hemat karena biaya
pemakaiannya mengacu pada tarif telepon rumah (PSTN TELKOM). Hemat pula
bagi yang melakukan panggilan ke “TELKOMFlexi”, karena layaknya telepon
41
Ibid, hal. 55-56.
Universitas Sumatera Utara
rumah, pelanggan tidak dikenakan biaya airtime. Didukung teknologi terkini CDMA2000 (IX), membuat “TELKOMFlexi” memiliki kualitas suara yang sangat jernih dan
radiasi yang rendah. Jenis terminalnya juga beragam, pelanggan bebas memilih untuk
menggunakan terminal mobile atau fixed.
G. Metode Penelitian
1. Jenis Peneiltian
Penelitian adalah pencarian atas sesuatu (incquiry) secara sistematis dengan
penekanan bahwa pencarian ini dilakukan terhadap masalah-masalah yang dapat
dipecahkan.42 Penelitian hukum pada dasarnya merupakan suatu kegiatan ilmiah yang
didasarkan pada metode, sistimatika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk
mempelajari
satu
atau
beberapa
gejala
hukum
tertentu
dengan
jalan
menganalisanya.43
Rancangan penelitian tesis ini merupakan penelitian yang menggunakan
penelitian deskriptif analitis, yang menguraikan/memaparkan sekaligus menganalisis
tentang hak-hak konsumen atas pengguna jasa berlangganan telekomunikasi
“TELKOMFlexi” dilihat dari hukum positif secara umum dan UUPK, dan unsurunsur keperdataan serta akibat hukum yang timbul apabila klausula baku yang dimuat
dalam perjanjian merugikan konsumen.
42
43
Mohamad Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1998, hal. 13.
Soejono Soekanto, Op Cit, hal. 43.
Universitas Sumatera Utara
Jenis penelitian yang diterapkan adalah memakai penelitian dengan metode
penulisan dengan pendekatan yuridis normatif (penelitian hukum normatif), yaitu
penelitian yang mengacu kepada norma-norma hukum, yang terdapat dalam peraturan
perundang-undangan yang berlaku sebagai pijakan normatif, yang berawal dari
premis umum kemudian berakhir pada kesimpulan khusus. Hal ini dimaksudkan
untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru (suatu tesis) dan kebenaran-kebenaran
induk (teoritis).
Pendekatan yuridis normatif disebut demikian karena penelitian ini
merupakan penelitian kepustakaan atau penelitian dokumen yang ditujukan atau
dilakukan hanya pada peraturan perundang-undangan yang relevan dengan
permasalahan yang diteliti atau dengan perkataan lain melihat hukum dari aspek
normatif.
Selain itu, dalam penelitian ini juga dilakukan pendekatan yuridis sosiologis,
dengan meneliti keberlakuan hukum itu dalam aspek kenyataan. Hal ini diperlakukan
dengan pertimbangan bahwa efektif tidaknya berlaku suatu aturan hukum sangat
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti perubahan pemikiran masyarakat.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kandatel Medan PT.Telkom Indonesia, Jalan Prof.
HM.Yamin No.13 Medan.
Universitas Sumatera Utara
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui
penelitian kepustakaan (library research) untuk mendapatkan konsepsi teori atau
doktrin, pendapat atau pemikiran konseptual dan penelitian pendahulu yang
berhubungan dengan objek telaah penelitian ini, yang dapat berupa peraturan
perundang-undangan, dan karya ilmiah lainnya.
Sebagai data penunjang dalam penelitian ini juga didukung dengan penelitian
lapangan (field research) guna akurasi terhadap hasil penelitian yang dipaparkan,
yang dapat berupa wawancara langsung dengan konsumen pengguna jasa
telekomunikasi “TELKOMFlexi”, pimpinan dan staf operator jasa telekomunikasi
“TELKOMFlexi”, yang dalam penelitian ini dipilih sebagai informan dan
narasumber.
4. Sumber Data Penelitian
Sumber data yang berupa bahan hasil penelitian kepustakaan diperoleh dari :
1. Bahan hukum primer, yang terdiri dari ;
a. Norma atau kaidah dasar
b. Peraturan dasar
c. Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan perlindungan konsumen.
Universitas Sumatera Utara
d. Kontrak atau perjanjian berlangganan jasa telekomunikasi TELKOMFlexi yang
memuat klausul baku.
2. Bahan hukum sekunder, seperti hasil-hasil penelitian, laporan-laporan, artikel,
hasil-hasil seminar atau pertemuan ilmiah lainnya yang relevan dengan penelitian
ini.
3. Bahan hukum tersier atau bahan hukum penunjang yang mencakup bahan yang
memberi petunjuk maupun penjelasan terhadap hukum primer dan skunder, seperti
kamus umum, kamus hukum, majalah, dan jurnal ilmiah, serta bahan-bahan
primer, sekunder dan tersier (penunjang) di luar bidang hukum, misalnya yang
berasal dari bidang teknologi informasi dan komunikasi, ekonomi, filsafat dan
ilmu pengetahuan lainnya yang dapat dipergunakan untuk melengkapi atau sebagai
data penunjang dari penelitian ini.
5. Alat Pengumpulan Data
Adapun alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa:
a. Studi Dokumen, yaitu dengan meneliti dokumen-dokemen yaitu tentang
perjanjian dan klausula baku dalam perjanjian. Dokumen ini merupakan sumber
informasi yang penting yang merupakan dasar dilakukannya penelitian baik
dari ketentuan norma dan perundang-undangan maupun kontrak atau perjanjian
yang dibuat para pihak.
Universitas Sumatera Utara
b. Wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara (interview quide).
Wawancara dilakukan terhadap narasumber dengan menggunakan pedoman
wawancara yang telah dipersiapkan sebelumnya baik secara terarah maupun
wawancara bebas dan mendalam (depth interview).
6. Analisis Data
Di dalam penelitian hukum normatif, maka analisis data pada hakekatnya
berarti kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum
tertulis. Sistematisasi dilakukan untuk memudahkan pekerjaan analisis dan mengatur
urutan data dan mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan kesatuan.
Setelah data sekunder diperoleh kemudian disusun secara berturut-turut dan
sistematis. Selanjutnya dilakukan analisis secara kualitatif, yaitu dengan cara
penguraian,
menghubungkannya
dengan
peraturan-peraturan
yang
berlaku
menghubungkannya dengan pendapat para pakar hukum. Dengan menggunakan
metode deduktif dan induktif. Metode deduktif dilakukan dengan membaca,
menafsirkan dan membandingkan sedangkan metode induktif dilakukan dengan
menterjemahkan berbagai sumber yang berhubungan dengan permasalahan yang
dibahas dalam tesis ini sehingga diperoleh kesimpulan sesuai dengan tujuan yang
telah dirumuskan.
Universitas Sumatera Utara
Download