TINDAK IMPERATIF DALAM WACANA PEMBELAJARAN DI SMKN I

advertisement
TINDAK IMPERATIF DALAM WACANA PEMBELAJARAN
DI SMKN I BANGIL
Mudzakir
Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsi representasi wujud,
fungsi, dan strategi tindak imperatif dalam wacana pembelajaran di
SMKN I Bangil. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
kualitatif. Subjek penelitian ini adalah guru mata pelajaran produktif.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara merekam tindak tutur guru
dalam proses pembelajaran. Temuan penelitian ini menunjukkan
representasi wujud tindak imperatif dalam wacana pembelajaran di
SMKN I Bangil meliputi wujud formal dan wujud pragmatik.
Representasi fungsi tindak imperatif meliputi fungsi (1) memerintah
(2) meminta, (3) melarang, (4) mengizinkan, (5) mengharapkan, (6)
mengajak, (7) memberi saran, (8 phatik.
Representasi strategi
meliputi yaitu (1) langsung lateral, (2) langsung tidak lateral, (3) tidak
langsung lateral dan (4) tidak langsung tidak lateral.
Kata kunci : tindak imperatif, wacana pembelajaran, SMK
Tindak tutur imperatif, yang
selanjutnya disebut dengan tindak
imperatif,
memiliki peran penting
dalam proses pembelajaran. Tindak
imperatif yang merupakan bagian dari
tindak tutur guru itu mewarnai dinamika
dari awal sampai dengan akhir
pembelajaran.
Keberadaan
tindak
imperatif itu seiring dengan representasi
tugas guru secara profesional. Usman
(2010:8) mengkalisifikasi tugas guru
menjadi tiga macam, yaitu tugas profesi,
kemanusiaan, dan kemasyarakatan.
Secara profesional, guru memiliki tugas
utama mendidik, mengajar, dan melatih
peserta didik. Banyaknya tugas dan
peran guru dalam pembelajaran
berimplikasi pada penggunaan tindak
tutur guru sesuai dengan tugas dan peran
yang diembanmya. Hal itu berimplikasi
pula pada variasi penggunaan tindak
imperatif
guru
dalam
proses
pembelajaran.
Guru menyadari kedudukan dan
perannya dalam peristiwa pembelajaran
itu, kesadaran yang akan menuntun guru
dalam hal apa dan bagaimana guru
mengelola
pembelajaran
yang
dilaksanakannya.
Kesadaran
itu
dipengaruhi beberapa faktor, yaitu
persepsi terhadap kedudukan guru di
hadapan siswa, materi atau topik
bahasan, tempat, dan situasi yang
dialami guru. Berbagai latar belakang
yang berkaitan dengan kesadaran guru
itu akan melahirkan cara dan gaya
bahasa guru dalam proses pembelajaran.
Adanya penekanan pada kegiatan
praktik di SMK yang mengharuskan
guru
mata
pelajaran
produktif
menyediakan sarana pembelajaran yang
memandu siswa melaksanakan kegiatan
praktik di laboratorium atau di bengkel,
sesuai dengan program keahlian siswa.
Sarana pembelajaran yang dimaksud
berupa jobsheet (lembar kerja siswa),
petunjuk penggunaan alat praktik, dan
tata tertib di bengkel atau di
laboratorium.
Dari sudut pandang pragmatik,
wacana pembelajaran yang telah
diciptakan guru dapat dipandang sebagai
NOSI Volume 2, Nomor 7, Agustus 2014___________________________________Halaman | 716
peristiwa tutur. Wacana-wacana itu,
menghadirkan fungsi bahasa sebagai
sarana komunikasi. Melalui wacana itu,
guru berupaya berinteraksi dengan
siswa. Dalam berinteraksi, penutur dan
mitra tutur menggunakan berbagai
bentuk kalimat untuk menyampaikan
gagasan atau maksudnya, misalnya
bentuk pertanyaan, perintah, penolakan,
atau memberi informasi. Bentuk-bentuk
tindak
tutur
secara
simultan
menghadirkan pula fungsi tindak tutur
dan strategi tindak tutur. Fungsi dan
strategi tindak tutur itu dapat dipahami
melalui interpretasi terhadap wujud
tuturan dalam wacana pembelajaran.
Tinjauan
secara
pragmatik
menempatkan bentuk-bentuk perintah
dan larangan, yang secara tekstual
berupa kalimat perintah itu, dapat
dipandang
sebagai
tindak
tutur.
Sedangkan tuturan atau kalimat yang
mengandung maksud memerintah atau
meminta agar mitra tutur atau pembaca
melakukan sesuatu sebagaimana yang
diinginkan si penutur disebut kalimat
imperatif (Rahardi, 2010:79).
Tindak tutur guru baik secara lisan
maupun tulis menghendaki wujud
kalimat imperatif dengan pesan yang
jelas dan mudah ditangkap oleh sisawa,
misalnya menual praktik di bengkel baik
yang ada di jobsheet maupun cara
penggunaan alat dan bahan praktik. Hal
ini mengisyaratkan adanya beberapa
bentuk penggunaan tindak imperatif
dalam pembelajaran di sekolah, yang
selanjutnya
secara
simultan
memunculkan adanya fungsi dan strategi
dalam penggunaan tindak imperatif pada
kegiatan pembelajaran di sekolah.
Penelitian ini mengkaji penggunaan
tindak imperatif guru dalam wacana
pembelajaran di SMKN 1 Bangil.
Tindak imperatif guru yang dimaksud
dalam penelitian ini adalah tindak tutur
guru mata pelajaran produktif baik lisan
maupun
tulis. Sedangkan yang
dimaksud dengan wacana pembelajaran
adalah segala upaya guru dalam
mengelola
pembelajaran
yang
menyebabkan guru terlibat langsung
dalam perencanaan dan pelaksanaan
pembelajaran.
Kajian
ini memiliki kegunaan
teoritis dan praktis.Secara teoritis,
penelitian
ini
diharapkan
dapat
bermanfaat sebagai (1) pengembangan
penelitian
di
bidang
linguistik,
khususnya pragmatik yang yang
berkaitan dengan pengembangan tindak
imperatif; (2) mengembangkan pola
penggunaan imperatif dalam proses
pembelajaran produktif di SMK,
khususnya wacana
pembelajaran
produktif. Sedangkan secara praktis
dapat digunakan sebagai (1) masukan
dan pertimbangan dalam penyusunan
jobsheet atau sarana pembelajaran
lainnya, (2) mendeskripsikan wujud,
fungsi, serta strategi tindak imperatif
pada wacana-wacana pembelajaran,
sehingga dapat dilakukan penyusunan
kembali wacana pembelajaran secara
lebih efektif, (3) sebagai panduan untuk
merumuskan kembali wacana-wacana
pembelajaran yang tepat terutama dalam
penyusunan kalimat imperatif dengan
memperhatikan wujud, fungsi, dan
strategi.
METODE
Penelitian Tindak Imperatif dalam
Wacana Pembelajaran di SMKN I
Bangil ini merupakan jenis penelitian
deskriptif
kualitatif.
Berdasarkan
pendapat Seville (dalam Miles, 1992:1620) bahwa penelitian deskriptif kualitatif
pada tuturan imperatif pada wacana
pembelajaran di SMKN I Bangil ini
menganalisis data yang diperoleh dari
peristiwa pembelajaran yang bersifat
alami. Penelitian ini mengungkap fakta
atau fenomena penggunaan bahasa,
khususnya pada tindak imperatif yang
secara empiris digunakan guru dam
proses pembelajaran.
Dalam analisis data, penelitian ini
menggunakan pendekatan pragmatik.
Pendekatan ini digunakan untuk
NOSI Volume 2, Nomor 7, Agustus 2014___________________________________Halaman | 717
mengungkap fungsi dan strategi
penggunaan tindak imperatif dalam
pembelajaran. Wacana pembelajaran
yang dihasilkan guru tersebut dapat
dipandang sebagai bentuk tindak tutur,
yang tidak bisa dilepaskan dari
konteksnya. Oleh karena itu, data
diperoleh dangan cara perekaman dan
pengamatan langsung oleh peneliti ke
lokasi data berada dengan melakukan
pencatatan data lapangan dan konteks
tindak tutur.
Wawancara kepada
narasumber
terkait
dengan
data
dilakukan
untuk
memperoleh
penjelasan maksud dan tujuan wacana.
Rahardi (2010:50) menambahkan
bahwa pengertian pragmatik mengkaji
maksud penutur dalam menuturkan
sebuah satuan lingual tertentu dalam
sebuah bahasa. Dalam proses analisis,
data
penelitian didekati dengan
ancangan
pragmatik
agar
dapat
ditemukan maksud tindak tutur yang
dianalisis,
sehingga
dapat
dideskripsikan wujud, fungsi, dan
strategi tindak imperatif dalam wacana
yang dimaksud.
Dalam penelitian kualitatif, data
biasanya berwujud kata, beberapa kata,
kalimat, alenia, dan urutan alenia
daripada sekedar berwujud angka
(Bafadhal dalam Bakri, 2002 : 174).
Penelitian ini memanfaatkan dua data
utama yang berupa (1) data tindak tutur,
(2) data catatan lapangan. Data tindak
tutur berisi (1) wujud tindak imperatif
dalam wacana pembelajaran, (2) fungsi
tindak imperatif dalam dalam wacana
pembelajaran, (3) strategi penggunaan
tindak
imperatif
dalam
wacana
pembelajaran.
Sesuai dengan tujuan dengan tujuan,
penelitian ini membutuhkan data
penelitian yang berupa tuturan dan atau
kalimat yang mengandung maksud
imperatif dalam wacana pembelajaran,
khususnya pada mata pelajaran kejuruan
atau keahlian.
Sumber data penelitian ini adalah
tindak tutur guru yang terdapat pada
wacana-wacana pembelajaran itu baik
tuturan lisan maupun tuturan tulis yang
ada di dalam kelas, bengkel, dan tempattempat pembelajaran lainnya dalam
kegiatan pembelajaran di SMKN 1
Bangil.
Penelitian tergolong dalam penelitian
kualitatif. Miles (1992 : 16) menjelaskan
analisis data dalam penelitian kualitatif
terdiri dari tiga alur yang terjadi secara
bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian
data, penarikan kesimpulan/verifikasi.
Berdasarkan diagram alir di
atas, ada 4 (empat) kegiatan yang
berkaitan dengan proses analisis data.
Proses analisis data dimulai dengan
kegiatan (1) pengumpulan data, (2)
reduksi data, yang yang berisi kegiatan
penyeleksian,
pengategorian,
dan
pengodean, (3) penyajian data yang
terklasifikasi dalam tiga jenis data
penelitian yaitu wujud tindak imperatif,
fungsi tindak imperatif, dan strategi
penggunaan tindak imperatif dalam
wacana pembelajaran di SMKN I
Bangil, dan (4) verifikasi dan
penyimpulan.
HASIL DAN PEMAHASAN
Representasi Wujud tindak imperatif
dalam wacana pembelajaran di SMKN I
Bangil meliputi wujud formal dan wujud
pragmatik. Dalam wujud formal, wujud
tindak imperatif meliputi penggunaan
tindak imperatif aktif intransitif, tindak
imperatif aktif transitif, dan tindak
imperatif pasif. Dalam wujud pragmatik,
tindak imperatif meliputi perintah,
suruhan, permintaan, desakan, imbauan,
persilaan, ajakan, mengizinkan, ucapan
selamat, saran, dan larangan.
Representasi fungsi tindak imperatif
dalam wacana pembelajaran di SMKN I
Bangil meliputi yaitu (1) fungsi
memerintah yang meliputi penggunaan
fungsi perintah di awal pembelajaran,
inti
pembelajaran,
dan
akhir
pembelajaran, (2) fungsi meminta yang
meliputi meminta perhatian, meminta
melakukan
kegiatan
atau
NOSI Volume 2, Nomor 7, Agustus 2014___________________________________Halaman | 718
tindakan,meminta melanjutkan tugas
atau pekerjaan, meminta konfirmasi, (3)
fungsi melarang yang meliputi larangan
tujuan penertiban, larangan tujuan
korektif,
dan
larangan
tujuan
pencegahan
bahaya,
(4)
fungsi
mengizinkan, (5) fungsi mengharapkan,
(6) fungsi mengajak, (7) fungsi memberi
saran, (8) fungsi phatik, yang meliputi
sapaan, ucapan salam pembuka,
pertanyaan kabar, ucapan terima kasih,
permohonan maaf, dan salam penutup.
Representasi strategi tindak imperatif
dalam wacana pembelajaran di SMKN I
Bangil meliputi yaitu (1) langsung
lateral, (2) langsung tidak lateral, (3)
tidak langsung lateral yang meliputi
tidak langsung lateral dengan modus
deklaratif dan tidak langsung lateral
dengan modus interogatif, dan (4) tidak
langsung tidak lateral.
Pembahasan Hasil Penelitian
Deskripsi jawaban atas rumusan
masalah
yang
pertama
dapat
dikategorikan ke dalam dua wujud, yaitu
wujud formal dan wujud pragmatik.
Wacana pembelajaran di SMKN I
Bangil, dilihat dari wujud formal
digunakan (1) tindak imperatif aktif
intransitif, (2) tindak imperatif aktif
transitif, dan (3) tindak imperatif pasif.
Dalam konstruksi deklaratif, kalimat
intransitif adalah kalimat yang tidak
berobjek dan tidak berpelengkap, hanya
memiliki dua unsur wajib, yaitu subjek
dan predikat (Putrayasa, 2007:26).
Sedangkan dalam konstruksi imperatif,
Rahardi (2010:88) menjelaskan bahwa
imperatif aktif tidak transitif dapat
dibentuk dari tuturan deklaratif, yakni
dengan menerapkan ketentuan (1)
menghilangkan
subjek,
(2)
mempertahankan bentuk verba yang
dipakai dalam kalimat deklaratif seperti
apa adanya, (3) menambahkan partikel
–lah pada bagian tertentu untuk
memperhalus maksud imperatif. Ada
hal yang berbeda dengan penjelasan di
atas, bahwa ditemukan penggunaan
imperatif aktif intransitif dengan
mengahdirkan subjek sebagaimana
berikut.
1) “Ayo, pean mbak ojo melongo,
Mbak! “ (Ayo kamu jangan
diam, Mbak!
Hal itu dapat dijelaskan bahwa tindak
imperatif aktif intransitif tersebut
digunakan guru yang ditujukan pada
salah satu siswa. Dengan memunculkan
fungsi subjek pada imperatif intransitif
tersebut mitra tutur penerima imperatif
itu menjadi jelas. Penambahan ungkapan
ayo sebelum subjek memperkuat tujuan
imperatif pada tuturan tersebut.
Penggunaan tindak imperatif pasif
dapat dideskripsikan sebagai (a)
imperatif pasif dengan predikat berupa
verba berawalan di- tanpa akhiran, (b)
imperatif pasif dengan predikat berupa
verba berawalan di- dan akhiran –kan,
(c) imperatif pasif dengan predikat
berupa verba berawalan di- akhiran –i
atau –in, dan -en, (d) imperatif pasif
dengan verba didahului kata ganti
persona.
Putrayasa
(2006:10),
menjelaskan bahwa pemasifan dalam
bahasa Indonesia dilakukan dengan dua
cara, yaitu (1) menggunakan verba
dengan berprefiks di- dan (2)
menggunakan verba tanpa prefiks di-.
Penggunaan akhiran –kan dan –i
mempertegas konstruksi imperatif pada
tuturan tersebut.
Penggunaan imperatif pasif dalam
komunikasi berbahasa memberi nuansa
kadar perintah atau suruhan yang
dikandung di dalamnya cenderung
menjadi
rendah.
Imperatif
pasif
digunakan penutur dalam nuansa
menyelamatkan muka mitra tutur,
karena maksud tuturan imperatif pasif
itu tidak secara langsung tertuju kepada
orang yang bersangkutan (Rahardi,
2010:91).
Penggunaan
kesantunan
imperatif
pasif
dalam
wacana
pembelajaran dapat merepresentasikan
penghargaan guru kepada sikap baik
dalam mengikuti pembelajaran. Dengan
tindak imperatif pasif itu, guru “turun
dari singgasana’ menghampiri siswa
NOSI Volume 2, Nomor 7, Agustus 2014___________________________________Halaman | 719
sehingga tercipta suasana kesejajaran,
guru adalah mitra siswa.
Wujud pragmatik tindak imperatif
guru dalam wacana pembelajaran di
SMKN I Bangil dapat dideskripsikan
sebagai berkut (1) imperatif perintah, (2)
imperatif suruhan, (3) imperatif
permintaan, (4) imperatif desakan, (5)
imperatif imbauan, (6) imperatif
persilaan, (7) imperatif ajakan, (8)
imperatif mengizinkan, (9) imperatif
ucapan selamat, (10) imperatif saran,
(11) imperatif larangan. Rahardi
(2010:93) menjelaskan bahwa yang
dimaksud dengan wujud pragmatik
imperatif adalah realisasi maksud
imperatif tindak imperatif guru bila
dikaitkan dengan konteks situasi tutur
yang
melatarbelakanginya.
Makna
pragmatik imperatif tuturan yang
demikian
itu
ditentukan
oleh
konteksnya. Konteks yang dimaksud
dapat bersifat ekstralinguistik dan dapat
pula bersifat intralinguistik.
Sebagaimana yang telah disebutkan
sebelumnya bahwa ditemukan sebelas
macam wujud pragmatik imperatif yang
digunakan
guru
dalam
wacana
pembelajaran. Hal ini mengisyaratkan
adanya
dinamika
dalam
proses
pembelajaran mata pelajaran produktif
di SMKN I Bangil. Tuturan dengan
makna pragmatik imperatif yang
cenderung tegas seperti perintah,
suruhan, desakan, bahkan larangan
digunakan dalam berbagai keperluan. Di
awal pembelajaran tatap muka guru
menggunakannya untuk menciptakan
suasana kondusif dalam pembelajaran.
Misalnya, menyuruh siswa menyiapkan
diri, mendisplinkan siswa,
atau
meminta siswa fokus pada pelajaran,
sehingga muncul imperatif larangan
melakukan sesuatu yang tidak ada
hubungannya dengan kegiatan belajar.
Akan tetapi, pada awal pembelajaran
guru juga menggunakan tindak imperatif
yang lebih halus jika suasana kelas
kondusif.
Misalnya
menggunakan
imperatif persilaan dengan ungkapan
“Oke, Silakan disiapkan anak-anak !”
Di tengah-tengah pembelajaran, tindak
imperatif yang tegas ini digunakan guru
untuk mengistruksikan tugas-tugas
pembelajaran
sebagai
wujud
pembelajaran praktik pada mata
pelajaran produktif di SMK. Ciri
imperatif yang tegas ini dibutuhkan agar
siswa memberikan perhatian dan dapat
memahami apa yang harus dikerjakan.
Pada akhir pembelajaran, tindak
imperatif dengan makna pragmatik
perintah, suruhan, desakan, atau
larangan
juga
digunakan
dalam
memberikan instruksi untuk segera
menyelesaikan pekerajaan atau perintah
untuk mengumpulkan tugas-tugas siswa.
Tindak imperatif ini dapat ditujukan
secara umum kepada seluruh siswa
karena materi disampaikan melalui
tindak imperatif itu bersifat umum dan
mengikat
semua
siswa.
Dalam
kesempatan tertentu, misalnya ketika
guru memberi arahan secara individu,
mengoreksi pekerjaan siswa, atau
mengingatkan hal-hal yang belum
dilakukan siswa, guru pun sering
menggunakan tindak imperatif perintah,
suruhan, desakan, atau larangan.
Variasi yang terjadi pada tindak
imperatif guru berupa penggunaan dari
imperatif yang mengandung perintah
tegas sampai dengan perintah halus. Hal
sejalan dengan pengertian imperatif
sebagaimana
yang
dikemukakan
Rahardi (2010:79) yang menyatakan
bahwa kalimat imperatif mengadung
maksud memerintah atau meminta agar
mitra
tutur
melakukan
suatu
sebagaimana dinginkan si penutur.
Kalimat imperatif
dalam bahasa
Indonesia dapat berkisar antara suruhan
yang sangat keras atau kasar sampai
dengan permohonan yang sangat halus
atau santun. Kalimat imperatif dapat
pula berkisar antara suruhan untuk
melakukan sesuatu sampai dengan
larangan untuk melakukan sesuatu.”
Penggunaan
variasi/modifikasi
tuturan menciptakan harmonisasi dalam
NOSI Volume 2, Nomor 7, Agustus 2014___________________________________Halaman | 720
pembelajaran. Hal ini sesuai dengan
yang dinyatakan Grice (dalam Karim,
2008: 44) bahwa secara umum
berkomunikasi merupakan proses kerja
sama antara penutur dan mitra tutur
dengan
medium
bahasa
untuk
menciptakan makna. Berdasarkan hal
tersebut, dapat juga dikatakan bahwa
komunikasi dengan bahasa merupakan
sebuah interaksi antara penutur dengan
mitra tutur dengan tujuan sosial tertentu.
Di samping itu, penggunaan variasi
atau modifikasi tindak imperatif pada
tuturan
guru
dengan
tetap
memperhatikan prinsip keberterimaan
(kecermatan dalam mengomunikasikan
perbincangan sesuai latar, topik,
koherensi, kreasi, hubungan sosial, serta
hubungan psikologis siswa) dan prinsip
kesesuaian (ketepatan guru dalam
memilih dan menggunakan jenis tindak
tertentu) di satu sisi berpengaruh pada
kualitas, kuantitas, relevansi, dan
kejelasan pesan yang disampaikan, di
sisi lain sangat menentukan tingkat
komunikatifnya
sebuah
wacana
pembelajaran secara keseluruhan. Berlo
dan Nunan (dalam Arief, 1999:338)
mengungkapkan pandangan tentang hal
ini bahwa penggunaan tindak tutur yang
segar,
dinamis,
sesuai
dengan
karakteristik siswa akan memudahkan
proses pembelajaran (penguasaan) dan
proses
pemerolehan
(pemahaman)
siswa.
Deskripsi jawaban atas rumusan
masalah yang kedua penelitian ini
menunjukkan
bahwa
wacana
pembelajaran di SMKN I Bangil
menggunakan delapan macam fungsi
tindak
imperatif,
yaitu
fungsi
memerintah,
meminta,
melarang,
mengizinkan, mengharapkan, mengajak,
memberi saran, dan phatik. Fungsi
secara umum tindak imperatif adalah
memerintah.
Deskripsi fungsi imperatif dalam
wacana
pembelajaran
tersebut
merepresentasikan
beberapa
hal.
Pertama, adanya keragaman maksud dan
tujuan yang melahirkan keragaman
wujud tuturan. Kedua, adanya beberapa
fungsi mencerminkan dinamika sikap
guru terhadap siswa dan sebaliknya.
Ketiga, fungsi-fungsi yang terdeskripsi
menggambarkan perubahan kedudukan
guru di hadapan siswa, guru sering
mendekat
kepada
siswa
dengan
kesantunan
imperatif.
Fungsi
memerintah dari delapan fungsi pada
temuan penelitian ini merupakan fungsi
yang menggambarkan makna tegas,
keras, memaksa, dan kurang santun.
Fungsi memerintah muncul dalam
tindak tutur guru ketika di awal
pembelajaran
dalam
rangka
mengondisikan siswa yang masih gaduh
dan belum tertib. Di samping itu, fungsi
memerintah ini digunakan pada saat
guru
menyampaikan
tugas-tugas
pembelajaran baik yang disampaikan
secara langsung melalaui tuturan lisan
maupun yang tertulis dalam jobsheet.
Penyampaian perintah kerja kepada para
siswa membutuhkan kalimat yang jelas
dan tegas agar siswa memberikan
perhatian pada tugas itu. Dalam kegiatan
praktik di bengkel, selain perintah kerja,
juga ada larangan. Larangan pun harus
disampaikan dengan tuturan yang tegas
dan jelas karena berhubungan dengan
keselamatan dan keamanan kerja.
Misalnya, larangan menggunankan alat
dengan
sembarangan,
larangan
bergurau dalam ruang praktik, larangan
berbuat gaduh. Fungsi memerintah dan
larangan ini digunakan guru pada saat
kelas
membutuhkan
dalam
pendisiplinan, perhatian siswa, fokus
pada proses pembelajaran, penciptaan
suasana belajar yang aman dan nyaman.
Selanjutnya, fungsi imperatif berupa
permintaan, pengizinan, persilaan, saran,
harapan, dan ajakan yang disampaikan
dengan tuturan imperatif langsung, serta
yang disampaikan secara deklaratif
maupun interogatif merepresentasikan
tingkat kesantunan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan fungsi perintah
atau larangan. Fungsi sapaan yang
NOSI Volume 2, Nomor 7, Agustus 2014___________________________________Halaman | 721
diwujudkan dengan ucapan salam, di
awal pembelajaran maupun di akhir
pembelajaran
merupakan
fungsi
imperatif yang bersifat phatik. Fungsi
pathik sering diartikan sebagai ‘basa
basi’, tetapi dalam konteks interaksi
berbahasa,
dan
dalam
konteks
keindonesiaan, bahasa phatik ini tidak
bisa ditinggalkan, karena berkaitan
dengan sopan santun berbahasa.
Dijelaskan Rahardi (2013:65) berkaitan
dengan kelas kata, bahwa kategori fatis
adalah kata dalam sebuah kalimat yang
bertugas
untuk
memulai,
mempertahankan, dan mengukuhkan
komunikasi. Lazimnya, bentuk fatis
digunakan dalam ragam lisan. Dalam
ragam tulis, bentuk fatis itu memang
jumlahnya terbatas, misalnya ‘dengan
hormat’atau ‘hormat kami’ dalam surat.
Sedangkan secara lisan dapat ditemukan
penggnaan bentuk ‘selamat pagi’,
selamat malam, ‘apa kabar’, dan lainlain. Dalam konteks pembelajaran,
penggunaan tindak imperatif dengan
fungsi
phatik
adalah
sebuah
keniscayaan. Ucapan salam dalam
rangka mengawali pembelajaran dan
ucapan salam di akhir pembelajaran
wajib dilakukan guru, tanpa ucapan
salam pembelajaran tidak memiliki
tanda pembuka dan tanda penutup.
Deskripsi jawaban atas rumusan
masalah yang ketiga penelitian ini
menunjukkan
bahwa
wacana
pembelajaran di SMKN I Bangil
menggunakan empat macam strategi
tindak imperatif, yaitu langsung lateral,
langsung tidak lateral, tidak langsung
lateral, dan tidak langsung tidak lateral.
Strategi penggunaan tindak tutur adalah
cara-cara yang digunakan partisipan
tutur dalam menyampaikan tindak tutur
atau
fungsi-fungsi
tindak
tutur
menggunakan tindak tutur tertentu. Pada
umumnya strategi yang digunakan untuk
mengekspresikan tindak imperatifnya,
dilihat dari modus imperatif dapat
diklasifikasi menjadi dua strategi, yaitu
(1) strategi langsung dan (2) strategi
tidak langsung. Cara lain untuk
mengukur langsung atau tidak langsung
strategi bertutur adalah sebagaimana
yang dijelaskan Gunarwan (dalam
Karim, 2008:225) bahwa derajat
kelangsungan suatu tuturan dapat diukur
dari jarak tempuh yang diperlukan, yaitu
dari titik ilokusi yang ada pada pikiran
penutur ke titik tujuan ilokusi, yaitu
yang ada pada pikiran mitra tutur. Hal
itu, terkait dengan penggunaan pilihan
kata dan pilihan makna yang mengisi
maksud dari tuturan itu. Jika sebuah
tuturan dibangun dari pilihan kata yang
struktur dan makna jelas atau
menggunakan makna lateral maka pada
tuturan itu digunakan strategi langsung.
Sebaliknya,
jika
sebuah
tuturan
dibangun dengan pilihan kata-kata yang
makna lateralnya berjarak dengan
maksud tuturan, maka tuturan tersebut
tidak lateral, pada tuturan itu digunakan
strategi tidak
langsung.
Berdasarkan analisis data tuturan
imperatif dapat disekripsikan strategi
tindak imperatif guru dalam wacana
pembelajaran di SMKN I Bangil, yaitu
strategi langsung lateral, strategi
langsung tidak lateral, strategi tidak
langsung lateral, dan strategi tidak
langsung tidak lateral. Penggunaan
keempat strategi tersebut selaras dengan
tujuan tutur atau keperluan guru dan
siswa
dalam
berbagai
konteks
pembelajaran di kelas atau bengkel,
seperti pada awal pembelajaran, proses
pembelajaran, dan akhir pembelajaran.
Dalam pengertian bahwa dalam berbagai
konteks kegiatan pembelajaran di kelas
atau bengkel, penggunaan keempat
strategi itu selaras dengan tujuan tutur
yang hendak dicapai guru, yaitu untuk
menyampaikan
pemahaman
dan
penguasaan kompetensi yang tela
ditentukan secara kurikuler.
Tahapan
tertentu
dalam
pembelajaran, guru menggunakan tindak
imperatif dengan strategi langsung tidak
lateral. Strategi ini digunakan guru
NOSI Volume 2, Nomor 7, Agustus 2014___________________________________Halaman | 722
dalam rangka memberi teguran kepada
siswa yang tidak fokus pada proses
pembelajaran. meskipun menggunakan
tuturan imperatif, tetapi dengan pilihan
kata dengan makna yang tidak lateral,
maka teguran itu terasa lebih santun
dibanding
dengan
teguran
yang
disampaikan dengan strategi langsung
lateral. Hal ini menggambarkan
kesantunan guru kepada siswa. Guru
tidak semena-mena menegur dengan
kasar dan langsung sehingga diharapkan
siswa masih memiliki ‘muka’ dihadapan
teman-temannya.
Dalam kegiatan kelas, guru
kadang-kadang menggunakan tindak
imperatif dengan strategi tidak langsung
lateral.
Hal
ini
berarti
guru
menggunakan tuturan dengan konstruksi
nonimperatif dengan maksud imperatif,
menggunakan pilihan kata dengan
makna dan maksud yang sama. Strategi
tidak langsung lateral ini diwujudkan
dengan
tindak
imperatif
modus
deklaratif dan tindak imperatif modus
memberi kesan guru menurunkan derajat
perintah menjadi permintaan atau
ajakan. Contohnya:
2) “Nanti kita cek materinya, ada
nggak di situ.”
3) “Hari ini kita coba menggunakan
gelap terang dari pensil 2B atau
4B tersebut.”
Pada contoh tuturan di atas guru dapat
menggunakan
imperatif
langsung
dengan modifikasi tuturan itu menjadi
“Cek materinya, ada nggak di situ!”.
Guru menempatkan siswa bukan sebagai
bawahan, tetapi kawan belajar bagi
guru.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Representasi Wujud tindak imperatif
dalam wacana pembelajaran di SMKN I
Bangil meliputi wujud formal dan wujud
pragmatik. Dalam wujud formal, wujud
tindak imperatif meliputi penggunaan
tindak imperatif aktif intransitif, tindak
imperatif aktif transitif, dan tindak
imperatif pasif.
Representasi fungsi tindak imperatif
dalam wacana pembelajaran di SMKN I
Bangil meliputi yaitu (1) fungsi
memerintah yang meliputi penggunaan
fungsi perintah di awal pembelajaran,
inti
pembelajaran,
dan
akhir
pembelajaran, (2) fungsi meminta, (3)
fungsi
melarang,
(4)
fungsi
mengizinkan, (5) fungsi mengharapkan,
(6) fungsi mengajak, (7) fungsi memberi
saran, (8) fungsi phatik.
Representasi strategi tindak imperatif
dalam wacana pembelajaran di SMKN I
Bangil meliputi yaitu (1) langsung
lateral, (2) langsung tidak lateral, (3)
tidak langsung lateral yang meliputi
tidak langsung lateral dengan modus
deklaratif dan tidak langsung lateral
dengan modus interogatif, dan (4) tidak
langsung tidak lateral.
Saran
Berkaitan dengan variasi/modifikasi
dan retorik interpersonal tindak tutur
yang telah dilakukan guru disarankan
beberapa
hal
antara
lain
(a)
mempertahankan dan mengembangkan
lebih lanjut variasi berbagai wujud,
fungsi, dan strategi tindak imperatif
dengan tetap berlandaskan pada prinsip
keberterimaan dan kebersesuaian, (b)
selalu mempertimbangkan realisasi
tindak imperatif yang digunakan baik
berupa kata/frasa, pernyataan, ataupun
pertanyaan berdasarkan alternatif wujud,
fungsi, dan strategi sehingga tujuan
tindak imperatif tercapai lebih efektif
dan
efisien,
(c)
meningkatkan
kemampuan
pemahaman
terhadap
berbagai pilihan retorik interpersonal
dam kaitannya pembelajaran di kelas,
dengan mempertimbangkan diksi pada
tindak imperatif serta nilai kesantunan
sehingga interaksi verbal guru-siswa
dapat
berlangsung
lebih
wajar,
informatif,
relevan,
dan
berkesinambungan.
NOSI Volume 2, Nomor 7, Agustus 2014___________________________________Halaman | 723
Disarankan
untuk
mempertimbangkan
sebagai
bahan
acuan pengembangan baik secara teoritis
maupun praktis
berbagai
tindak
imperatif baik dari segi wujud, fungsi
dan strategi imperatif, terutama sebagai
alternatif dan pengembangan materi
yang berkaitan dengan kalimat imperatif
dalam bahasa Indonesia
Disarankan
untuk
mempertimbangkan
sebagai
bahan
acuan pengembangan baik secara teoritis
maupun praktis
berbagai
tindak
imperatif baik dari segi wujud, fungsi
dan strategi imperatif, terutama sebagai
alternatif dan pengembangan materi
pembelajaran
Bahasa
Indonesia
Peminatan pada kelas XII semester
genap dengan materi pokok “Prinsip
Kesantunan Berbahasa” pada Kurikulum
2013.
Penelitian
ini
telah
berusaha
mengkaji secara mendalam representasi
tindak tutur dalam wacana pembelajaran
di SMKN I Bangil. penelitian ini
didasarkan pada beberapa teori yang
berkaitan dengan pragmatik, analisis
wacana, dan teori tindak tutur
sebagaimana yang telah dipaparkan pada
bab II. Dengan mencermati beberapa
landasan teoritis itu, dengan kerendahan
hati peneliti menyadari masih banyak
ruang-ruang masalah peneletian yang
perlu dikaji lebih lanjut. Oleh karena itu
disarankan kepada para peneliti lain
untuk (1) mengembangkan lebih lanjut
ruang lingkup masalah penelitian, (2)
mengkaitkan dengan prestasi belajar
siswa untuk mengetahui tingkat
efektivitas tindak imperatif yang
digunakan guru dalam pembelajaran, (3)
menambah dan memperluas landasan
konseptual
yang
diambil
dari
teori/penelitian/pengamatan terbaru.
DAFTAR RUJUKAN
Arief, N.F. 1999. Tindak Tutur Guru
dalam Interaksi Belajar-Mengajar
Bahasa Indonesia di SMUN 3
Kotamadya Malang. Tesis tidak
diterbitkan.
Malang:
Program
Pascasarjana IKIP Malang.
Bakri, Masykuri (ed). 2002. Metodologi
Penelitian Kualitatif Tinjauan
Teoritis dan Praktis. Malang :
Lembaga Penelitian Universitas
Islam Malang.
Chaer,
Abdul
dan
Agustina
Leoni. 2010. Sosiolinguistik:
Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka
Cipta.
Chaer,A. 2010. Tatabahasa
Praktis
Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka
Cipta.
Djajasudarma, F. 2012. Wacana dan
Pragmatik.
Bandung:
Refika
Aditama.
Gunarwan,
A. 1994. Kesantunan
Negatif
di
Kalangan
Dwibahasawan Indonesia-Jawa di
Jakarta : Kajian sosiopragmatik.
PELLBA. 13 : 1-29. Jakarta:
Lemabaga Unika Atmajaya.
Karim, A. 2008. Penggunaan Tindak
Imperatif dalam Wacana Kelas
(Kajian Etnografi Komunikasi di
Madrasah Aliyah Al Khairaat
Palu). Desertasi tidak diterbitkan.
Malang: Program Pascasarjana
Universitas Negeri Malang.
Lubis, H.A. Hamid Hasan. 1991.
Analisis
Wacana
Pragmatik.
Bandung: Angkasa
Mahsun.
2005. Metode
Penelitian
Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana
University Press.
Miles, Matthew B. & A. Michel
Huberman. 1992. Analisis Data
Kualitatif. Terjemahan Tjetjep
Rohendi
Rohidi.
Jakarta
:
Universitas Indonesia
Mulyasa.
2011.
Menjadi
Guru
Profesional
Menciptakan
Pembelajaran
Kreatif
dan
Menyenangkan.
Bandung:
Rosdakarya.
Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 69 Tahun 2013 tentang
NOSI Volume 2, Nomor 7, Agustus 2014___________________________________Halaman | 724
Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah
Atas/Madrasah Aliyah. Jakarta :
Kementerian
Pendidikan
dan
Kebudayaan Republik Indonesia.
Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 70 Tahun 2013 tentang
Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah
Kejuruan/Madrasah
Aliyah
Kejuruan. Jakarta : Kementerian
Pendidikan
dan
Kebudayaan
Republik Indonesia.
Rahardi. R.K. 2010. Pragmatik :
Kesantunan Imperatif Bahasa
Indonesia. Jakarta: Erlangga
Rahardi, R.K. 2013. Bahasa Indonesia
untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:
Erlangga
Rani, A. Bustanul Arifin, Martutik.
2013. Analsisi Wacana: Tinjauan
Deskriptif. Malang: Surya Pena
Gemilang.
Roni. 2005. “Jenis makna Dasar
Pragmatik
Imperatif
Dalam
Imperatif
Bahasa
Indonesia”.
Surabaya: Verba, Vol. 7, No.1 74 –
90.
Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian
Kualitatif. Bandung : CV Alfabeta.
Sumarlam (De). 2003. Teori dan Praktik
Analisis
Wacana.
Surakarta:
Pustaka Cakra.
Usman, M. U. 2010. Menjadi Guru
Profesional. Bandung : Remaja
Rosdakarya.
Wijana. I. D. P.1996. Dasar-dasar
Pragmatik. Yogyakarta : Andi
Ofset.
Yule, G. 2006. Pargmatik. Terjemahan
Indah Fajar Wahyuni. Yogyakarta :
Putaka Pelajar
NOSI Volume 2, Nomor 7, Agustus 2014___________________________________Halaman | 725
Download