BAB II KEWENANGAN JAKSA DALAM SISTEM PERADILAN DI

advertisement
BAB II
KEWENANGAN JAKSA DALAM SISTEM PERADILAN DI INDONESIA
1. Wewenang Jaksa menurut KUHAP
Terlepas dari apakah kedudukan dan fungsi Kejaksaan Republik Indonesia
diatur secara eksplisit atau implisit dalam Undang-undang Dasar 1945, yang pasti
adalah Kejaksaan Republik Indonesia menjadi subsistem dari sistem ketatanegaraan
Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-undang Dasar 1945.
Defenisi Jaksa dan Penuntut Umum, berdasarkan Undang-undang No. 08 Tahun
1981 tentang Hukum Acara Pidana yaitu:
1. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk
bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang
telah memperoleh kekuatann hukum tetap.
2. Penuntut Umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-undang ini
untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.
Oleh karena kedudukannya tersebut maka dalam melakukan penuntutan, ia
wajib mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
1. Menerima dan memeriksa berkas
2. Mengadakan prapenuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan segera
mengembalikan berkas pada penyidik dengan memberikan petunjuk-petunjuk
untuk kesempurnaan ;
Universitas Sumatera Utara
3. Memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan, atau penahanan
lanjutan dan atau mengubah status tahanan setelah perkaranya dilimpahkan oleh
penyidik ;
4. Membuat surat dakwaan ;
5. Melimpahkan perkara ke pengadilan ;
6. Menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan persidangan
dengan disertai panggilan, kepada terdakwa maupun saksi-saksi ;
7. Melakukan penuntutan ;
8. Menutup perkara demi kepentingan hukum ;
9. Melakukan tindakan lain dalam ruang lingkup dan tanggung jawab sebagai
penuntut umum;
10. Melaksanakan penetapan hakim.
Pasal 284 ayat (2) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang
menyatakan :
“Dengan pengecualian untuk sementara mengenai ketentuan khusus acara pidana
sebagaimana tersebut pada undang-undang tertentu, sampai ada perubahan dan atau
dinyatakan tidak berlaku lagi”.
Pasal 17 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang pelaksanaan
Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana yang menyatakan :
“Penyidikan menurut ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada
Undang-undang tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 284 ayat (2) Kitab
Undang-undang Hukum Acara Pidana dilaksanakan oleh penyidik, jaksa dan pejabat
penyidik yang berwenang lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan”.
Universitas Sumatera Utara
Maka berdasarkan ketentuan ini menjadi jelas kiranya bahwa dalam Kitab
Undang-undang Hukum Acara Pidana sendiri terdapat dasar hukum tentang
kedudukan Jaksa sebagai penyidik untuk tindak pidana yang bersifat khusus (lex
specialis).
Ketentuan yang bersifat khusus ini sejalan dengan Pasal 26 Undang-undang
Nomor 31 tahun 1999 sebagimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun
2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang menyatakan :
“Penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak
pidana korupsi, dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang berlaku, kecuali
ditentukan lain dalam undang-undang ini”.
Berdasarkan uraian tersebut maka Kejaksaan berkedudukan sebagai penyelidik
dan penyidik dalam tindak pidana korupsi dan penuntut umum sesuatu perkara di
muka persidangan. Dalam KUHAP tidak memberi pengaturan yang lebih lanjut,
mengenai kedudukan Kejaksaan apakah sebagai perpanjangan tangan penguasa atau
tidak, hanya menjelaskan Jaksa yang melaksanakan fungsi yudikatif.
2. Wewenang Jaksa menurut Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Kejaksaan Republik Indonesia
Jaksa menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Kejaksaan Republik Indonesia adalah
Universitas Sumatera Utara
“Pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak
sebagai penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap, serta wewenang lain berdasarkan undang-undang”.
Mencermati isi Pasal 1 ayat (1) Undang-undang No. 16 Tahun 2004 ini, maka
jaksa mempunyai beberapa wewenang penting yaitu:
1. Sebagai penuntut umum
2. Sebagai pelaksana putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap
3. Serta adanya wewenang penting yang dijabarkan lebih lanjut di dalam Pasal 30
undang-undang tersebut.
Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 mengatur secara tegas bahwa Kejaksaan
memiliki kemerdekaan dan kemandirian dalam melakukan kekuasaan Negara dalam
bidang penuntutan. Kedudukan Kejaksaan sebagai suatu lembaga pemerintahan yang
melakukan kekusaan negara di bidang penuntutan, bila dilihat dari sudut kedudukan
mengandung makna bahwa Kejaksaan merupakan suatu lembaga yang berada di
bawah kekuasaan eksekutif. Sementara itu, bila dilihat dari sisi kewenangan
kejaksaan dalam melakukan penuntutan berarti Kejaksaan menjalankan kekuasaan
yudikatif.
Sehubungan dengan makna kekuasaan Kejaksaan dalam melakukan kekuasaan
Negara di bidang penuntutan secara merdeka. Kejaksaan dalam melaksanakan fungsi,
tugas dan wewenangnya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah, dan pengaruh
kekuasaan lainnya. Hal ini berarti bahwa negara akan menjamin Jaksa di dalam
Universitas Sumatera Utara
menjalankan profesinya tanpa intimidasi, gangguan, godaan, campur tangan yang
tidak tepat atau pembeberan yang belum teruji kebenarannya, baik terhadap
pertanggung jawaban perdata, pidana, maupun lainnya.
Kedudukan Kejaksaan dalam peradilan pidana bersifat menentukan karena
merupakan jembatan yang menghubungkan tahap penyidikan dengan tahap
pemeriksaan di sidang pengadilan. Berdasarkan doktrin hukum yang berlaku suatu
asas bahwa Penuntut Umum mempunyai monopoli penuntutan, artinya setiap orang
baru bisa diadili jika ada tuntutan pidana dari Penuntut Umum, yaitu lembaga
kejaksaan karena hanya Penuntut Umum yang berwenang mengajukan seseorang
tersangka pelaku tindak pidana ke muka sidang pengadilan. 16
Pada tahun 2004 dengan keluarnya Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004,
kedudukan jaksa semakin mempertegas posisi Jaksa sebagai pejabat fungsional yang
diberi wewenang oleh Undang-undang untuk bertindak sebagai Penuntut Umum dan
Pelaksana Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dan
wewenang lain berdasarkan Undang-undang.
3.Wewenang Jaksa dalam Tindak Pidana Korupsi
Ketentuan dalam Pasal 30 Undang-undang No. 16 Tahun 2004 tentang
Kejaksaan Republik Indonesia menyatakan bahwa:
16
Yudi Kristiana, Independensi Kejaksaan dalam Penyidikan Korupsi, PT Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2006, hal. 52
Universitas Sumatera Utara
“Salah satu tugas dan kewenangan Kejaksaan di bidang pidana adalah melakukan
penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang-undang”.
Penjelasan Pasal ini menyatakan bahwa, kewenangan dalam ketentuan ini
adalah kewenangan sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 31 tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan
Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 jo. Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Kewenangan Jaksa selaku penyidik tindak
pidana korupsi dimaksudkan untuk menampung beberapa ketentuan Undang-undang
tersebut. Rumusan mengenai kewenangan menyidik di dalam Undang-undang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Undang-undang Kejaksaan Republik
Indonesia tersebut menyebutkan bahwa penyidik untuk tindak pidana korupsi adalah
Kejaksaan yang mempunyai hak privilege yakni hak khusus untuk dapat melakukan
tindakan penyidikan terhadap Tindak Pidana Korupsi.
Istilah penyidikan merupakan padanan kata yang berasal dari bahasa Belanda
yakni opsporing, dari bahasa Inggris yakni investigation. 17
Menurut Pasal 1 angka 2 KUHAP, yang dimaksud dengan
“Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang
diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang
dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna
menemukan tersangkanya”.
17
Ibid, hal. 55
Universitas Sumatera Utara
Menurut Andi Hamzah, bagian-bagian hukum acara pidana yang berkaitan
dengan penyidikan adalah :
18
1. Ketentuan tentang alat-alat penyidik.
2. Ketentuan tentang diketahui terjadinya delik.
3. Pemeriksaan di tempat kejadian.
4. Pemanggilan tersangka atau terdakwa.
5. Penahanan semantara.
6. Penggeledahan.
7. Pemeriksaan atau Interogasi.
8. Berita acara (Penggeledahan, interogasi dan pemeriksaan di tempat).
9. Penyitaan.
10. Penyampingan perkara.
11. Pelimpahan perkara kepada penuntut umum dan pengembaliannya kepada
penyidik untuk disempurnakan.
Terhadap tindak pidana korupsi, sebelum lahirnya Undang-undang No. 31
Tahun 1999, penyidikan terhadap tindak pidana korupsi dilakukan oleh Kejaksaan,
tetapi setelah lahirnya Undang-undang No. 31 Tahun 1999, yaitu Pasca Agustus
1999, penanganan terhadap tindak pidana korupsi memiliki berbagai pemahaman.
Ada pandangan yang mengatakan bahwa pihak kepolisian yang berhak melakukan
18
Andi Hamzah, Pengertian Hukum Acara Pidana, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta,
1984, hal. 122
Universitas Sumatera Utara
penyidikan terhadap tindak pidana korupsi, namun ada pandangan lain yang
mengatakan dengan bertitik tolak dari ide bahwa materi tindak pidana korupsi sebagai
bagian dari hukum pidana khusus (ius specia, ius singular/ bijzonder strafrecht),
sebenarnya Kejaksaan berhak melakukan penyidikan terhadap tindak pidana
korupsi. 19
Sehubungan dengan ketidakjelasan ini, muncullah argumen-argumen yang
mendasari bahwa Kejaksaan berwenang menangani penyidikan tindak pidana korupsi
yaitu : 20
a. Bahwa ketentuan hukum pidana dapat dikategorikan menjadi hukum pidana
umum (ius commune) dan hukum pidana khusus (ius special, ius singular/
bijzonder strafrecht). Ketentuan hukum pidana umum dimaksudkan untuk
berlaku secara umum, sedangkan yang dimaksud dengan ketentuan hukum
pidana khusus diartikan sebagai ketentuan hukum pidana yang mengatur
kekhususan subjek dan perbuatan yang khusus (bijzonder lijk feiten). Tindak
pidana korupsi sebagai bagian dari tindak
pidana khusus juga memiliki
kekhususan dalam hukum acara.
b. Berdasarkan Keppres Nomor 228 Tahun 1967 tanggal 2 Desember 1967 tentang
Pembentukkan Tim Pemberantasan Korupsi yang menentukan bahwa ketua
timnya adalah Jaksa Agung, sesuai dengan Pasal 5 yang berbunyi:
19
20
Yudi Kristiana, Opcit, hal. 80
Ibid, hal. 80-88
Universitas Sumatera Utara
“Ketua Tim Pemberantasan Korupsi adalah Jaksa Agung, yang dalam melakukan
tugasnya bertanggung jawab kepada Presiden”.
Sedangkan tugas dan fungsinya sebagai koordinator penyidik diatur dalam Pasal
3, yang berbunyi :
“Tim Pemberantasan Korupsi mempunyai fungsi memimpin, mengordinir dan
mengawasi semua alat-alat penegak hukum yang berwenang, baik sipil maupun
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dalam melakukan penyelidikan,
penyidikan dan penuntutan perkara-perkara korupsi, baik yang dilakukan oleh
oknum sipil maupun Angkatan Bersenjata Republik Indonesia”.
c. Berdasarkan ketentuan Pasal 284 ayat (2) yang berbunyi :
“Dalam waktu 2 tahun setelah undang-undang ini diundangkan, maka terhadap
semua perkara diberlakukan ketentuan undang-undang ini, dengan pengecualian
untuk sementara mengenai ketentuan khusus acara pidana sebagaimana
disebutkan pada undang-undang tertentu, sampai ada perubahan dan dinyatakan
tidak berlaku lagi”.
Penjelasan dari Pasal 284 ini terdapat dalam Pasal 17 Peraturan Pemerintah
Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan KUHAP yang berbunyi :
“Penyidikan menurut ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada
undang-undang tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 284 ayat (2)
KUHAP dilaksanakan oleh penyidik, jaksa dan pejabat penyidik yang berwenang
lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan”.
Ketentuan yang menyatakan bahwa jaksa dapat menyidik tindak pidana tertentu,
terdapat dalam Pasal 32 huruf b Undang-undang No. 5 Tahun 1991, yang
menyatakan bahwa :
“Jaksa Agung mengordinasikan penanganan perkara pidana tertentu dengan
instansi terkait berdasarkan undang-undang yang pelaksanaan koordinasinya
ditetapkan oleh Presiden”.
d. Instruksi Presiden Nomor 15 Tahun 1983 dan Keputusan Presiden Nomor 15
Tahun 1991 yang menyatakan bahwa dalam pedoman pelaksanaan pengawasan,
Universitas Sumatera Utara
para menteri / pemimpin lembaga pemerintah non departemen/pemimpin instansi
lainnya setelah menerima laporan adanya suatu perbuatan tindak pidana, maka
pemimpin melakukan pengaduan tindak pidana dengan menyerahkan kepada
Kepala Kejaksaan Republik Indonesia dalam hal terdapat indikasi tindak pidana
khusus yakni tindak pidana korupsi.
e. Ketentuan pasal 39 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 yang menyatakan
bahwa :
“Jaksa Agung mengordinasikan dan mengendalikan penyelidikan, penyidikan
dan penuntutan tindak pidana korupsi yang dilakukan bersama-sama oleh orang
yang tunduk pada peradilan umum dan peradilan militer”.
f. Keppres Nomor 86 Tahun 1999 tentang susunan Organisasi dan Tata Kerja
Kejaksaan Republik Indonesia, dalam Pasal 16 menyebutkan bahwa:
“Jaksa Agung Tindak Pidana Khusus adalah unsur pembantu pimpinan dalam
melaksanakan sebagian tugas dan wewenang serta fungsi kejaksaan di bidang
yustisial mengenai tindak pidana khusus yang bertanggung jawab langsung
kepada jaksa agung”.
g. Undang-undang Kejaksaan Nomor 5 Tahun 1991 jo. Undang-undang Nomor 16
Tahun 2004. Di dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1991 diatur tidak secara
tegas mengenai kewenangan Kejaksaan dalam penyidikan tindak pidana korupsi.
Namun demikian, terdapat ketentuan yang secara tidak langsung mengakui
eksistensi kejaksaan untuk menyidik tindak pidana korupsi.
Pasal 29 menyatakan bahwa disamping tugas dan wewenang melakukan
penyidikan dalam Undang-undang Kejaksaan, Kejaksaan dapat diserahi tugas
dan wewenang lain yang berkaitan dengan KUHAP Pasal 284 ayat (2), Undang-
Universitas Sumatera Utara
undang No. 03 Tahun 1971 jo. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi, dan
Undang-undang lain.
Dalam berkembangnya Undang-undang Kejaksaan yang baru yakni Undangundang Nomor 16 Tahun Tahun 2004 diatur secara jelas mengenai penyidikan
yakni dalam Pasal 30 ayat (1) huruf d yang menyebutkan :
“Dibidang pidana, kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang melakukan
penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang-undang”.
h. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi, dalam Pasal 33 dinyatakan bahwa :
“Dalam hal tersangka meninggal dunia pada saat
sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan
segera menyerahkan berkas perkara hasil penyidikan
Pengacara Negara atau diserahkan kepada instansi
dilakukan gugatan perdata terhadap ahli warisnya”.
dilakukan penyidikan,
negara, maka penyidik
tersebut kepada Jaksa
yang dirugikan untuk
Dan ketentuan dalam Pasal 34 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juga menyatakan :
“Dalam hal terdakwa meninggal dunia pada saat dilakukan pemeriksaan di
sidang pengadilan, sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara,
maka penuntut umum segera menyerahkan salinan berkas berita acara sidang
tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara atau diserahkan kepada instansi yang
dirugikan untuk dilakukan gugatan perdata terhadap ahli warisnya”.
B. Perbandingan Kewenangan Jaksa sebagai Pengacara Negara dan Jaksa
sebagai Penuntut Umum
Kedudukan Kejaksaan dalam peradilan pidana di Indonesia mengalami
pergeseran sejalan dengan pergeseran tugas
dan kewenangan yang dimilikinya.
Universitas Sumatera Utara
Dalam kaitannya dengan peradilan pidana, tugas dan kewenangan Kejaksaan diatur
dalam hukum acara pidana, yaitu Undang-undang No. 08 Tahun 1981 yag kita kenal
sebagai KUHAP sementara dalam kaitannya dengan kelembagaannya sendiri diatur
dalam Undang-undang No. 05 Tahun 1991 sebagaimana telah diubah dengan
Undang-undang No. 16 Tahun 2004. 21
Fungsi utama Kejaksaan dalam peradilan pidana adalah sebagai Penuntut
Umum dan Pelaksana Putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum
tetap, sebagaimana disebut dalam Pasal 1 butir 1, 2, 3 juga Pasal 2 ayat (1), dan (2)
Undang-undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.
Dalam Pasal 1 ayat (6) huruf A Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP) juga menyatakan bahwa :
“Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak
sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap”.
Dan Pasal 1 ayat (6) huruf B KUHAP tersebut juga menyebutkan bahwa :
“Penuntut Umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-undang ini untuk
melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim”. 22
Bila kita uraikan wewenang Kejaksaan sebagai Penuntut Umum, yang
terdapat dalam KUHAP adalah sebagai berikut ini :
1. Menerima pemberitahuan dari penyidik dalam hal penyidik telah mulai
melakukan penyidikan suatu peristiwa yang merupakan tindak pidana (Pasal
21
Ibid, hal. 51
M. Karjadi dan R. Soesilo, Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana dengan Penjelasan
Resmi dan Komentar, Politeia, Bogor, 1988, hal. 3.
22
Universitas Sumatera Utara
109 ayat (1)) dan pemberitahuan baik dari penyidik maupun penyidik PNS
yang dimaksudkan oleh Pasal 6 ayat (1) huruf b mengenai penyidikan
dihentikan demi hukum;
2. Menerima berkas perkara dari penyidik dalam tahap pertama dan kedua
sebagaimana dimaksud oleh Pasal 8 ayat (3) huruf a dan b dalam hal acara
pemeriksaan singkat menerima berkas perkara langsung dari penyidik
pembantu (Pasal 12);
3. Mengadakan pra penuntutan (Pasal 14 huruf b) dengan memperhatikan
ketentuan materi Pasal 110 ayat (3) dan (4) dan Pasal 138 ayat (1) dan (2)
4. Memberikan perpanjangan penahanan (Pasal 124 ayat (20)), melakukan
penahanan dan penahanan lanjutan (Pasal 20 ayat (2)), Pasal 21 ayat (2), Pasal
25 dan Pasal 26), melakukan penahanan rumah (Pasal 22 ayat (2), penahanan
kota (Pasal 22 ayat (3)), serta mengalihkan jenis penahanan.
5. Atas permintaan tersangka atau terdakwa mengadakan penangguhan
penahanan
serta dapat mencabut penangguhan penahanan dalam hal
tersangka atau terdakwa melanggar syarat yang ditentukan (Pasal 31).
6. Mengadakan penjualan lelang benda sitaan yang lekas rusak atau
membahayakan karena tidak mungkin disimpan sampai putusan pengadilan
pada perkara tersebut untuk memperoleh putusan pengadilan yang tetap atau
mengamankannya dengan disaksikan tersangka atau kuasanya (Pasal 45 ayat
(1)).
Universitas Sumatera Utara
7. Melarang atau membatasi kebebasan hubungan antara Penasehat Hukum
dengan tersangka akibat disalahgunakan haknya (Pasal 70 ayat (4)),
mengawasi hubungan antara penasehat hukum dengan tersangka tanpa
mendengar isi pembicaraan antara mereka (Pasal 71 ayat (1)), dan dalam
kejahatan terhadap keamanan negara maka Jaksa dapat ikut mendengarkan isi
pembicaraan penasehat hukum dengan tersangka (Pasal 71 ayat (2).
Pengurangan kebebasan hubungan antara penasehat hukum dengan tersangka
tersebut dilarang apabila perkara telah dilimpahkan Penuntut Umum ke
Pengadilan Negeri untuk disidangkan (Pasal 74).
8. Meminta dilakukan pra peradilan kepada ketua pengadilan negeri untuk
memeriksa sah atau tidaknya suatu penghentian penyidikan oleh penyidik
(Pasal 80). Maksud Pasal 80 ini adalah untuk menegakkan hukum, keadilan
dan kebenaran melalui sarana pengawasan secara horizontal.
9. Dalam perkara koneksitas, karena perkara pidana itu harus diadili oleh
pengadilan dalam lingkungan peradilan umum, maka penuntut umum
menerima penyerahan perkara dari oditur militer dan selanjutnya dijadikan
dasar untuk mengajukan perkara tersebut kepada pengadilan yang berwenang
(Pasal 91 ayat (1)).
10. Menentukan sikap apakah suatu berkas perkara telah memenuhi persyaratan
atau tidak dilimpahkan ke pengadilan (Pasal 139).
11. Mengadakan “tindakan lain” dalam lingkup tugas dan tanggung jawab selaku
Penuntut Umum (Pasal 14 huruf (i)).
Universitas Sumatera Utara
12. Apabila Penuntut Umum berpendapat bahwa dari hasil penyidikan dapat
dilakukan penuntutan, maka dalam waktu secepatnya ia membuat surat
dakwaan (pasal 140 ayat(1)).
13. Membuat surat penetapan penghentian penuntutan (Pasal 140 ayat (2) huruf
a), dikarenakan :
a. Tidak terdapat cukup bukti
b. Peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana
c. Perkara ditutup demi kepentingan umum
14. Melakukan penuntutan terhadap tersangka yang dihentikan penuntutan
dikarenakan adanya alasan baru (Pasal 140 ayat (2) huruf d).
15. Mengadakan penggabungan perkara dan membuatnya dalam satu surat
dakwaan (Pasal 141).
16. Mengadakan pemecahan penuntutan terhadap satu berkas perkara yang
memuat beberapa tindak pidana yang dilakukan beberapa orang tersangka
(Pasal 142).
17. Melimpahkan perkara ke pengadilan negeri dengan disertai surat dakwaan
(Pasal 143)
18. Membuat surat dakwaan (Pasal 143 ayat (2))
19. Untuk maksud penyempurnaan atau untuk tidak melanjutkan penuntutan,
Penuntut Umum dapat mengubah surat dakwaan sebelum pengadilan
menetapkan hari sidang atau selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum
sidang dimulai (Pasal 144).
Universitas Sumatera Utara
Yang menjadi perhatian kita atau yang menjadi sorotan kita dalam
perbandingan Kejaksaan sebagai Penuntut Umum dan Kejaksaan sebagai Pengacara
Negara adalah bahwa Kejaksaan itu adalah een en ondeelbaar.23
Asas ini terlihat dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 16 Tahun 2004
tentang Kejaksaan Republik Indonesia, bahwa Kejaksaan Republik Indonesia yang
selanjutnya dalam Undang-undang ini disebut Kejaksaan adalah lembaga pemerintah
yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain
berdasarkan undang-undang. Selanjutnya dalam Pasal 2 ayat (3) Undang-undang No.
16 Tahun 2004 tersebut lebih dipertegas bahwa Kejaksaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) adalah satu dan terpisahkan. Hal tersebut juga diperkuat dengan Pasal 8
ayat (2) yaitu dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, Jaksa bertindak untuk
dan atas nama negara serta bertanggung jawab menurut saluran hierarki. Sehingga
bila kita perhatikan betapa sulitnya dipisahkan kewenangan Kejaksaan sebagai
Penuntut Umum dan Kejaksaan sebagai Pengacara Negara. Karena seorang Jaksa
sebagai Pengacara Negara tidak terlepas dari fungsinya sebagai Penuntut Umum.
Kedudukan seorang Jaksa yang pertanggung jawabannya secara hierarkis juga
menyulitkan Jaksa dalam bertindak sebagai Pengacara Negara. Dalam hal ini bisa
saja Jaksa mempunyai pandangan yang berbeda dengan atasannya mengenai
kedudukan suatu perkara dimana ia bertindak sebagai Pengacara Negara. Jaksa
sebagai Pengacara Negara tersebut akan sulit mengambil tindakan yang berbeda
23
Asas pengorganisasian kejaksaan yang menjadi dasar pelaksanaan tugas di bidang
penuntutan, yaitu kejaksaan adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan dalam melakukan penuntutan.
Universitas Sumatera Utara
karena bagaimanapun juga ia harus mempertanggungjawabkan secara hierarkis ke
atasannya. Dari hal tersebut dapat kita ketahui bahwa sulit untuk seorang Jaksa untuk
bisa independen dalam bertindak sebagai Pengacara Negara. 24
Belum lagi ditambah bagi Kejaksaan dihadapkan pada satu sisi sebagai
Pengacara Negara, misalnya sebagai Pengacara Negara dari suatu bank milik
pemerintah yang digugat di Pengadilan Tata Usaha Negara , disisi lain Kejaksaan
juga bertindak pada subjek yang sama, yaitu Pejabat Bank Milik Negara yang digugat
di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) sebagai Penuntut Umum dalam tindak
pidana korupsi. Tentu sulit bagi Kejaksaan, karena di satu sisi sebagai Pengacara
Negara Kejaksaan melakukan pembelaan pada satu pihak tetapi di sisi lain Kejaksaan
bertindak sebagai Penuntut Umum yang sama.
25
24
http://www.kejari-jaksel.go.id/staticpage.php?page=organisasi-datun, diakses tanggal 01
Desember 2010.
25
http://www.kejari-jaksel.go.id/staticpage.php?page=organisasi-datun, diakses tanggal 01
Desember 2010.
Universitas Sumatera Utara
Download