View/Open - Repository | UNHAS

advertisement
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah
‫ﺴﺑﺤﻧﺎﻩ ﻮ ﺘﻋﺎﻟﻰ‬
atas segala
rahmat dan hidayah yang telah dilimpahkan-Nya serta Kemuliaan Abadi untuk Junjunganku
Baginda Rasululah SAW, sehingga penulis dapat merampungkan skripsi ini guna memenuhi
salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan di Program Studi Ilmu Hubungan
Internasional, Jurusan Politik Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, penulisan skripsi ini tentunya tidak
akan terselesaikan. Oleh karena itu, skripsi ini kupersembahkan kepada kedua orang tuaku,
Ayahanda Abdul Halil Machmud dan Ibunda Siti Nuraeni, yang telah menuntunku untuk
mengerti akan arti sebuah perjuangan hidup. Serta kepada kedua saudaraku tersayang, Eva Mina
Ufa dan Alan Ridha Al-Husni kalian bagian dari hidupku. Penulis juga menyampaikan ucapan
terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada pihak yang memberikan bantuan dan dukungan :
1. Bapak Prof.Dr.dr.Idrus A.Paturusi,sp.B.,Sp,BO selaku Rektor Universitas Hasanuddin
yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimbah ilmu di Universitas
Hasanuddin.
2. Dekan dan para pembantu dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ketua Jurusan
dan Sekretaris Jurusan Antropologi, segenap dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik, Universitas Hasanuddin yang telah banyak melakukan transformasi ilmu serta
bimbingan bagi penulis dan tidak lupa pada segenap pegawai administrasi di lingkungan
Universitas Hasanuddin.
3. DR. Tasrifin Tahara. S.Sos., M.Si selaku pembimbing I dan Muh. Neil S.Sos,. M.Si
selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan
mengarahkan sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
4. Para keluarga dan rekan-rekan yang selama ini setia menemani dalam berbagai suka dan
duka, dan terima kasih atas semua bantuan dan dukungannya bagi penulis.
5. Para responden dan informan yang penuh keikhlasan memberikan informasi dan datadata yang sesuai dengan objek penelitian.
6. Kepada seluruh kerabat Antropologi tanpa terkecuali, terkhusus untuk angkatan 2005.
7. Kepada seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.
Pada akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan semoga dapat berguna dan bermanfaat bagi
semua pihak yang terkait terutama bagi penulis Insya Allah semoga Tuhan Yang Maha Kuasa
memberikan pahala yang setimpal kepada Bapak, Ibu serta Saudara (i) atas segala bantuannya
kepada penulis, Amien Ya Rabbal Alamin.
Makassar, 30 Juli 2013.
Penulis.
ABSTRAK
Firman, E 511 050 32 dengan judul skripsi “Karaoke Keluarga, Studi
Tentang Gaya Hidup di Perkotaan” dengan pembimbing DR. Tasrifin Tahara
S.Sos., M.Si dan Muh. Neil S.Sos., M.Si selaku konsultan I dan II.
Penelitian ini mengkaji tentang gaya hidup masyarakat perkotaan di terhadap
Karaoke Keluarga. Berlokasi di E-club jalan Boulevard, kota Makassar. Kajian ini
membahas permasalahan mengenai persepsi masyarakat perkotaan tentang karaoke,
situasi sosial di tempat hiburan karaoke, dan manfaat yang diperoleh dengan karaoke.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat perkotaan
tentang karaoke, untuk mengetahui situasi sosial di tempat hiburan karaoke, dan untuk
mengetahui manfaat yang diperoleh dengan karaoke. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif.
Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan observasi partisipasi, observasi tanpa
partisipasi, dan wawancara kepada 15 informan. Observasi dilengkapi dengan kamera
foto. Wawancara yang digunakan adalah wawancara mendalam (indepth interview)
dengan berpedoman pada interview guide yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Perlengkapan yang digunakan pada saat wawancara adalah catatan tertulis (filed note)
dan tape recorder. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
data kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karaoke sebagai suatu gaya hidup
masyarakat perkotaan karena dengan karaoke mereka memperoleh kepuasan dan
kesenangan yang mampu menghilangkan beban pikiran yang mereka rasakan.
Berkumpul dan bercanda dengan teman-teman di dalam ruangan karaoke dianggap
sebagian masyarakat perkotaan sebagai salah satu cara yang ampuh untuk menghibur
diri dan menghilangkan stres.
DAFTAR ISI
Halaman Judul …………………………………………………………………
Halaman Pengesahan Pembimbing ……………………………………………
Halaman Penerimaan Tim Evaluasi ……………………………………………
Kata Pengantar …………………………………………………………………
Abstrak …………………………………………………………………………
Daftar Isi ………………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN …………………………………………...
A. Latar Belakang ……………………………………………..
B. Rumusan Masalah …………………………………………
C. Lokasi Penelitian …………………………………………..
D. Tujuan Penelitian ………………………….........................
E. Manfaat Penelitian…………………………………………
F. Kerangka Konseptual ………………………………………
G. Metode Penelitian …………………………………………..
A.
Jenis Penelitian ……………………………………..
B.
Teknik Pengumpulan Data .......................................
1. Data Primer…………………………………
- Wawancara …………………………….
- Observasi ……………………………….
2. Data Sekunder ……………………………...
C.
Narasumber …………………………………………
- Informan ………………………………..
- Key Informan …………………………..
D.
Teknik Analisis Data ……………………………….
E.
Teknik Keabsahan Data ……………………………
H. Sistimatika Penulisan ………………………………………..
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………....
A. Life Style: Sebuah Fenomena Kebudayaan Masyarakat
Perkotaan …………………………………………………...
B. Karaoke: Sejarah Perkembangannya ………………………
C. Karaoke dan Rekonstruksi Sosial ………………………….
D. Karaoke dan Bentuk Makna Lembaga Keluarga
di Indonesia …………………………………………………
E. Sekilas Profil E-club Karaoke Keluarga ……………………
i
ii
iii
iv
vi
vii
1
1
3
4
4
5
5
13
13
14
15
15
16
16
16
16
17
18
19
21
22
22
31
35
38
39
viii
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ……………
A. Gambaran Umum Kota Makassar ……………………....
a. Pendidikan Penduduk ……………………………………
b. Agama Pendidikan ………………………………………
c. Sarana Dan Prasarana ……………………………………
B. Profil Informan ……………………………………………..
BAB IV
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN …………………….
A. Karaoke dan Masyarakat Perkotaan ………………………...
a. Alasan Gengsi …………………………………………...
b. Ajakan Teman ……………………………………………
c. Alasan Hiburan …………………………………………
B. Pandangan Masyarakat Terhadap Karaoke …………………
C. Manfaat Karaoke ……………………………………………
BAB V
PENUTUP ……………………………………………………...
A. Kesimpulan …………………………………………………..
B. Saran-Saran ………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….
LAMPIRAN
BAB III
42
42
44
45
46
46
49
49
49
52
53
57
59
61
61
63
65
viii
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah ‫ﺘﻋﺎﻟﻰ‬
‫ﺴﺑﺤﻧﺎﻩ ﻮ‬
atas segala rahmat
dan hidayah yang telah dilimpahkan-Nya serta Kemuliaan Abadi untuk Junjunganku Baginda Rasululah
SAW, sehingga penulis dapat merampungkan skripsi ini guna memenuhi salah satu syarat dalam
menyelesaikan pendidikan di Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Jurusan Politik
Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, penulisan skripsi ini tentunya tidak akan
terselesaikan. Oleh karena itu, skripsi ini kupersembahkan kepada kedua orang tuaku, Ayahanda
Abdul Halil Machmud dan Ibunda Siti Nuraeni, yang telah menuntunku untuk mengerti akan arti
sebuah perjuangan hidup. Serta kepada kedua saudaraku tersayang, Eva Mina Ufa dan Alan Ridha AlHusni kalian bagian dari hidupku. Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalamdalamnya kepada pihak yang memberikan bantuan dan dukungan :
1. Bapak Prof.Dr.dr.Idrus A.Paturusi,sp.B.,Sp,BO selaku Rektor Universitas Hasanuddin yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimbah ilmu di Universitas Hasanuddin.
2. Dekan dan para pembantu dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ketua Jurusan
dan Sekretaris Jurusan Antropologi, segenap dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik, Universitas Hasanuddin yang telah banyak melakukan transformasi ilmu serta
bimbingan bagi penulis dan tidak lupa pada segenap pegawai administrasi di
lingkungan Universitas Hasanuddin.
3. DR. Tasrifin Tahara. S.Sos., M.Si selaku pembimbing I dan Muh. Neil S.Sos,. M.Si
selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan
mengarahkan sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
4. Para keluarga dan rekan-rekan yang selama ini setia menemani dalam berbagai suka
dan duka, dan terima kasih atas semua bantuan dan dukungannya bagi penulis.
5. Para responden dan informan yang penuh keikhlasan memberikan informasi dan datadata yang sesuai dengan objek penelitian.
6. Kepada seluruh kerabat Antropologi tanpa terkecuali, terkhusus untuk angkatan 2005.
7. Kepada seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.
Pada akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan semoga dapat berguna dan bermanfaat bagi
semua pihak yang terkait terutama bagi penulis Insya Allah semoga Tuhan Yang Maha Kuasa
memberikan pahala yang setimpal kepada Bapak, Ibu serta Saudara (i) atas segala bantuannya kepada
penulis, Amien Ya Rabbal Alamin.
Makassar, 30 Juli 2013.
Penulis.
ABSTRAK
Firman, E 511 050 32 dengan judul skripsi “Karaoke Keluarga, Studi
Tentang Gaya Hidup di Perkotaan” dengan pembimbing DR. Tasrifin Tahara
S.Sos., M.Si dan Muh. Neil S.Sos., M.Si selaku konsultan I dan II.
Penelitian ini mengkaji tentang gaya hidup masyarakat perkotaan di terhadap
Karaoke Keluarga. Berlokasi di E-club jalan Boulevard, kota Makassar. Kajian ini
membahas permasalahan mengenai persepsi masyarakat perkotaan tentang karaoke,
situasi sosial di tempat hiburan karaoke, dan manfaat yang diperoleh dengan karaoke.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat perkotaan
tentang karaoke, untuk mengetahui situasi sosial di tempat hiburan karaoke, dan untuk
mengetahui manfaat yang diperoleh dengan karaoke. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif.
Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan observasi partisipasi, observasi
tanpa partisipasi, dan wawancara kepada 15 informan. Observasi dilengkapi dengan
kamera foto. Wawancara yang digunakan adalah wawancara mendalam (indepth
interview) dengan berpedoman pada interview guide yang telah dipersiapkan
sebelumnya. Perlengkapan yang digunakan pada saat wawancara adalah catatan
tertulis (filed note) dan tape recorder. Analisis data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah analisis data kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karaoke sebagai suatu gaya hidup
masyarakat perkotaan karena dengan karaoke mereka memperoleh kepuasan dan
kesenangan yang mampu menghilangkan beban pikiran yang mereka rasakan.
Berkumpul dan bercanda dengan teman-teman di dalam ruangan karaoke dianggap
sebagian masyarakat perkotaan sebagai salah satu cara yang ampuh untuk menghibur
diri dan menghilangkan stres.
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Skripsi
: Karaoke (Studi Tentang Kegiatan Karaoke di Happy Puppy pada
Mahasiswa FISIP UNHAS)
Nama
: Firman
NIM
: E 511 05 032
Jurusan
: Antropologi
Program Studi
: Antropologi Sosial
Telah Diperiksa dan Disetujui Untuk Diajukan Pada Ujian Proposal
Menyetujui:
Penasehat Akademik
Muhammad Neil, S.Sos, M.Si
NIP. 19720605 200501 1 001
Mengetahui:
Ketua Jurusan
Antropologi Fisip Unhas
Dr. Munsi Lampe, MA
NIP.19561221 198612 1 001
Sekretaris Jurusan
Antropologi Fisip Unhas
Drs. Yahya, MA
NIP. 19621231 200012 1 001
DAFTAR ISI
Halaman Judul …………………………………………………………………
Halaman Pengesahan Pembimbing ……………………………………………
Halaman Penerimaan Tim Evaluasi ……………………………………………
Kata Pengantar …………………………………………………………………
Abstrak …………………………………………………………………………
Daftar Isi ………………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN …………………………………………...
A. Latar Belakang ……………………………………………..
B. Rumusan Masalah …………………………………………
C. Lokasi Penelitian …………………………………………..
D. Tujuan Penelitian ………………………….........................
E. Manfaat Penelitian…………………………………………
F. Kerangka Konseptual ………………………………………
G. Metode Penelitian …………………………………………..
A. Jenis Penelitian ……………………………………..13
B. Teknik Pengumpulan Data ....................................... 14
1. Data Primer…………………………………
- Wawancara …………………………….
- Observasi ……………………………….
2. Data Sekunder ……………………………...
C. Narasumber …………………………………………
- Informan ………………………………..
- Key Informan …………………………..
D. Teknik Analisis Data ……………………………….18
E. Teknik Keabsahan Data …………………………… 19
H. Sistimatika Penulisan ………………………………………..
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………....
A. Life Style: Sebuah Fenomena Kebudayaan Masyarakat
Perkotaan …………………………………………………...
B. Karaoke: Sejarah Perkembangannya ………………………
C. Karaoke dan Rekonstruksi Sosial ………………………….
D. Karaoke dan Bentuk Makna Lembaga Keluarga
di Indonesia …………………………………………………
E. Sekilas Profil E-club Karaoke Keluarga ……………………
i
ii
iii
iv
vi
vii
1
1
3
4
4
5
5
13
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ……………
A. Gambaran Umum Kota Makassar ……………………....
a. Pendidikan Penduduk ……………………………………
b. Agama Pendidikan ………………………………………
c. Sarana Dan Prasarana ……………………………………
B. Profil Informan ……………………………………………..
42
42
44
45
46
46
BAB III
15
15
16
16
16
16
17
21
22
22
31
35
38
39
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN …………………….
A. Karaoke dan Masyarakat Perkotaan ………………………...
a. Alasan Gengsi …………………………………………...
b. Ajakan Teman ……………………………………………
c. Alasan Hiburan …………………………………………
B. Pandangan Masyarakat Terhadap Karaoke …………………
C. Manfaat Karaoke ……………………………………………
BAB V
PENUTUP ……………………………………………………...
A. Kesimpulan …………………………………………………..
B. Saran-Saran ………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….
LAMPIRAN
BAB IV
49
49
49
52
53
57
59
61
61
63
65
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu sektor industri yang berkembang pesat di Indonesia saat ini adalah
pada sektor industri hiburan. Berbagai tempat-tempat hiburan di daerah perkotaan
terus bertambah, mulai dari tempat hiburan yang hanya dinikmati oleh golongangolongan tertentu, hingga tempat hiburan yang dapat dinikmati semua golongan.
Setiap tempat hiburan memiliki daya tarik tersendiri dan memiliki penikmatnya
masing-masing. Kemajuan teknologi merupakan salah satu faktor pendukung
berkembangnya tempat-tempat hiburan di daerah perkotaan dan salah satu tempat
hiburan yang sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi adalah tempat karaoke.
Memang sampai saat ini tidak ada data yang benar-benar valid kapan dan di
mana karaoke pertama kali didirikan di Indonesia. Namun, berdasarkan data yang ada
karaoke pada awalnya dianggap sebagai hiburan yang mahal dan dipandang sebagai
hiburan malam yang berkonotasi negatif oleh sebagian masyarakat Indonesia. Seiring
dengan berjalannya waktu, pandangan negatif ini semakin lama semakin menipis,
bahkan telah hilang sama sekali pada masa sekarang. Menjamurnya karaoke-karaoke
yang mengklasifikasikan dirinya sebagai karaoke keluarga di kota-kota besar, bahkan
sudah pula masuk ke kota-kota kabupaten. Ini merupakan sebuah bukti yang jelas
bahwa karaoke sudah dianggap sebagai sebuah bentuk hiburan yang dibutuhkan dan
diinginkan oleh masyarakat Indonesia.
Karaoke berasal dari bahasa Jepang yaitu kara dari kata karappo yang
berarti kosong dan oke dari kata okesutura atau orkestra. Karaoke berarti sebuah
musik orkestra yang kosong atau tidak dilengkapi dengan suara vokal. Meski
awalnya hanya sekedar hiburan untuk melepas kepenatan, kini karaoke telah
menjelma menjadi salah satu bagian yang dianggap mempunyai andil dalam
perkembangan dunia musik. Bagaimana tidak, dengan karaoke setiap orang tanpa
harus mempunyai suara bagus bisa langsung merasakan menjadi penyanyi
sungguhan karena mereka menyanyi diiringi musik yang sama dengan yang
dinyanyikan oleh penyanyi aslinya
Oleh karena konotasi karaoke di Indonesia sudah demikian identiknya
dengan hiburan malam, maka ditambahlah kata keluarga setelah kata karaoke
sebagai upaya penekanan bahwa hiburan yang disediakan adalah hiburan yang
baik untuk keluarga atau hiburan untuk orang yang baik-baik.
Karaoke keluarga adalah tempat hiburan keluarga di mana pengunjung
dapat bernyanyi bersama keluarga, teman-teman, teman kerja, relasi kerja
dalam suasana kekeluargaan dan bersih serta jauh dari kesan maksiat. Saat ini
E-club Karaoke Keluarga di Kota Makassar merupakan salah satu tempat
hiburan yang banyak dipilih oleh sebagian masyarakat Kota Makassar sebagai
tempat mereka menghabiskan sebagian waktu mereka untuk bernyanyi.
Segudang aktivitas yang dilalui masyarakat perkotaan akhir-akhir ini memaksa
mereka untuk menetralisasikan kepenatan mereka dengan berkaraoke sebagai
pelampiasannya. Disadari ataupun tidak, karaoke telah mengubah gaya hidup
mereka.
Idealnya gaya hidup masyarakat perkotaan,
seperti halnya pelajar
seharusnya membaca buku, diskusi ataupun mengerjakan tugas, pegawai
kantoran yang seharusnya sibuk penyelesaikan kerja kantoran, dan lainnya ,
akan tetapi kenyataannya sekarang karaoke telah dijadikan masyarakat
perkotaan itu sebagai gaya hidup mereka. Bahkan, yang lebih mengherankannya
lagi mereka sampai lupa waktu bila berada di tempat karaoke. Inilah yang
membuat penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
gaya
hidup
masyarakat perkotaan di E-club Karaoke Keluarga di Kota
Makassar.
Kedewasaan manusia tidak terlepas dan dipisahkan dari latar belakang
sosial budaya tempat seseorang dibesarkan, karena kebudayaan adalah pedoman
bertingkah laku, cara seseorang membawa diri, dan menjadi bagian
masyarakatnya. Kebudayaan diciptakan manusia dan menciptakan manusia
yang selalu berhadapan dengan berbagai kemungkinan perubahan yang terjadi
karena kemajuan teknologi. Walaupun setiap masyarakat dan kebudayaan
berbeda dalam cara mempersiapkan seseorang atau anggotanya, untuk
menghadapinya,
namun kesamaannya adalah memberikan kematangan,
kemandirian, pengetahuan, ketegasan untuk mengadakan pemilihan terhadap
hal-hal yang dihadapi (Hans J. Daeng:2000).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang
menjadi permasalahan adalah bagaimana gaya hidup masyarakat perkotaan di Eclub Karaoke Keluarga di Kota Makassar ?.
Permasalahan ini akan diuraikan ke dalam pertanyaan-pertanyaan
penelitian yaitu :
1. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap karaoke keluarga ?
2. Bagaimana situasi sosial di tempat hiburan karaoke keluarga ?
3. Apa manfaat yang diperoleh masyarakat perkotaan dengan karaoke ?
C. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Jalan Boulevard, tepatnya di E-club
Karaoke Keluarga, Kota Makassar. Alasan penulis memilih lokasi ini adalah
berdasarkan hasil observasi awal yang menunjukkan bahwa di E-club Karaoke
Keluarga ini lebih sering dikunjungi oleh masyarakat, karena letaknya di salah
satu centrum keramaian kota Makassar. Dalam proses observasi awal penulis
mencoba mengidentifikasi infoman dengan cara memperhatikan proses
pengunjung untuk reservasi. Sebelum masuk ke tempat karaoke para
pengunjung yang datang ke E-club Karaoke Keluarga harus reservation terlebih
dahulu, lalu resepsionis akan menanyakan “atas nama siapa”, “pekerjaannya
apa”, “pilih ruangan yang mana”, dan melalui resepsionis ini penulis
memperoleh informasi tentang identitas pengunjung
yang datang dan
pekerjaannya untuk kemudian penulis gunakan untuk kepentingan penelitian.
D. Tujuan Penelitian
Setiap
penelitian
membutuhkan
tujuan
agar
penelitian
yang
dilakukan nantinya dapat berjalan dengan baik, adapun tujuan dari penelitian ini
adalah :
1. Untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang karaoke.
2. Untuk mengetahui situasi sosial di tempat hiburan karaoke keluarga.
3. Untuk mengetahui manfaat yang diperoleh masyarakat perkotaan dengan
karaoke.
E. Manfaat Penelitian
Suatu
penelitian selain
memiliki tujuan
sebagai
dasar
dalam proses kegiatannya juga dapat memberikan manfaat, adapun manfaat
dari penelitian ini adalah :
1. Diharapkan dapat memberikan gambaran yang utuh mengenai
gaya hidup masyarakat perkotaan pada saat ini.
2. Dapat dijadikan bahan bacaan bagi mahasiswa yang hendak
melakukan penelitian yang terkait dengan masalah yang penulis
teliti.
F. Kerangka Konseptual
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia
dengan belajar. Hal tersebut berarti bahwa hampir seluruh tindakan manusia adalah
kebudayaan, karena hanya sangat sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan
masyarakat yang tidak perlu dibiasakan dengan belajar yaitu hanya beberapa
tindakannaluri, beberapa refleks, beberapa tindakan akibat proses fisiologi, atau
kelakuan apabila ia sedang membabi buta. Bahkan, berbagai tindakan manusia yang
merupakan kemampuan naluri yang terbawa oleh makhluk manusia dalam gennya
bersama kelahirannya (seperti misalnya makan, minum, atau berjalan dengan kedua
kakinya),
juga
dirombak
olehnya
menjadi
tindakan
berkebudayaan
(Koentjaraningrat, 2002:180).
Suatu golongan sosial merupakan suatu kesatuan manusia yang ditandai oleh
suatu ciri tertentu, bahkan seringkali ciri itu juga dikenakan kepada mereka oleh
pihak luar kalangan mereka sendiri. Walaupun demikian, suatu kesatuan manusia
yang kita sebut golongan sosial itu mempunyai ikatan identitas sosial. Hal ini dapat
disebabkan karena kesadaran identitas itu tumbuh sebagai respon atau reaksi
terhadap caranya pihak luar memandang golongan sosial tadi, atau mungkin juga
karena golongan itu memang terikat oleh suatu sistem nilai, sistem norma, dan adat
istiadat tertentu (Koentjaraningrat, 2002:150-151).
Golongan sosial dapat terjadi karena manusia-manusia yang diklaskan
kedalamnya mempunyai suatu gaya hidup yang khas, dan karena berdasarkan hal itu
mereka dipandang oleh orang lain sebagai manusia yang menduduki suatu lapisan
tertentu dalam masyarakat. Lapisan itu dapat dianggap lebih tinggi atau lebih rendah
tergantung dari sudut orang yang memandang tadi. Karena warganya mempunyai
gaya hidup khas yang sama, maka suatu lapisan atau klas sosial tentu dapat juga
dianggap mempunyai suatu sistem norma yang sama, dan karena itu juga suatu rasa
identitas golongan (Koentjaraningrat, 2002:153).
Menurut Winarno (1980:85), gaya hidup dapat diasumsikan sebagai cara-cara
bertindak yang sering disebut mekanisme penyesuaian yakni cara-cara itu menjadi
cara-cara bertindak yang bersifat kebiasaan. Cara-cara itu pada kenyataannya
didasarkan pada pengalaman-pengalaman seseorang dalam kehidupannya. Dengan
kata lain, gaya hidup seseorang itu merupakan gambaran dari watak, status, perilaku,
dan peranannya dalam masyarakat.
Berbeda dengan Kartodirdjo (1987:53), gaya hidup merupakan suatu produk dari
stratifikasi sosial sehingga faktor status, kedudukan, dan kekayaan dapat membentuk
struktur gaya hidup. Gaya hidup ini pada hakekatnya akan membentuk suatu
eksklusifme yang tidak lain bertujuan hendak membedakan status antara golongan
yang satu dengan golongan yang lainnya dalam suatu stratifikasi sosial.
Robert Redfield, seorang antropolog yang pernah melihat tentang gaya hidup
petani desa sebagaimana dikutip oleh Danandjaja (1994:47) menyatakan bahwa gaya
hidup petani desa sebenarnya adalah semacam human type atau tipe manusia yang
dapat dikenal dengan segera, agak tersebar di mana-mana, bersifat tahan lama, dan
timbul sebagai akibat peradaban (civilization). Gaya hidup semacam ini mungkin
dikembangkan sebagai akibat adanya adaptasi dari sifat masyarakat folk dalam
rangka memenuhi kebutuhan hidup baru yang diakibatkan oleh timbulnya kota.
Selain itu, Robert Redfield sebagaimana dikutip oleh Menno (1994:44-45) juga
mengemukakan bahwa komunitas kota lebih berorientasi kepada hal-hal yang
bersifat material dan rasional, sehingga hubungan-hubungan menjadi impersonal dan
sekunder,
bukan
lagi
relation
oriented
seperti
yang
terdapat
dalam
komunitaspedesaan yang mengandalkan hubungan-hubungan yang emosional dan
primer, di mana orang saling mengenal secara pribadi dan dalam hampir semua
aspek kehidupan. Di kota orang saling mengenal hanya dalam hubungan dengan
aspek-aspek tertentu saja yang berdasarkan perhatian dan kepentingan. Akibat
banyaknya dan bervariasinya tuntutan dalam bertingkah laku dan bertindak sebagai
anggota masyarakat yang berorientasi kepada sasaran (goal) dan pencapaian
(achievement), maka gaya hidup masyarakat kota lebih diarahkan kepada penampilan
fisik dan kualitas fisik sehingga tampak civilized.
Salah satu faktor utama yang mendorong munculnya gaya hidup adalah pola
konsumsi. Pola konsumsi masyarakat perkotaan telah menjadikan barang-barang
ataupun jasa sebagai identitas mereka. Barang dan jasa dikonsumsi bukan
dikarenakan kebutuhan mereka, melainkan hanya sebatas memenuhi keinginan dan
penunjuk identitas sosial mereka. Pola konsumsi masyarakat perkotaan ini telah
mengubah nilai suatu produk yang awalnya memiliki nilai fungsional menjadi
memiliki nilai simbolis. Proses konsumsi simbolis merupakan tanda penting dari
pembentukan gaya hidup, di mana nilai-nilai simbolis dari suatu produk dan praktek
telah mendapat penekanan yang besar dibandingkan dengan nilai-nilai fungsional.
Hal ini paling tidak dapat dijelaskan dengan tiga cara. Pertama, kelas sosial telah
membedakan proses konsumsi, di mana setiap kelas menunjukkan proses identifikasi
yang berbeda. Secara umum memang memperlihatkan bahwa pilihan-pilihan
dilakukan sesuai dengan kelas, di mana integrasi ke dalam satu tatanan umum tidak
terbentuk
sepenuhnya.
Nilai
simbolis
dalam
konsumsi
tampak
diinterpretasikansecara berbeda oleh kelompok yang berbeda. Kedua, barang yang
dikonsumsi kemudian menjadi wakil dari kehadiran. Hal ini berhubungan dengan
aspek-aspek psikologis, di mana konsumsi suatu produk berkaitan dengan perasaan
atau rasa percaya diri yang menunjukkan bahwa itu bukan hanya sekedar aksesoris,
akan tetapi barang-barang merupakan isi dari kehadiran seseorang karena dengan
cara itu ia berkomunikasi (Goffman, 1951). Ketiga, berdasarkan proses konsumsi
dapat dilihat bahwa konsumsi citra (image) di satu pihak telah menjadi proses
konsumsi yang penting, di mana citra yang dipancarkan oleh suatu produk dan
praktek (seperti pakaian atau makanan) merupakan alat ekspresi diri bagi kelompok.
Bagi golongan kelas menengah atas citra yang melekat pada suatu produk merupakan
instrumen modernitas yang mampu menegaskan keberadaannya dan identitasnya.
Proses identifikasi yang terwujud melalui proses konsumsi merupakan proses aktif di
dalam konsumsi citra yang menyebabkan intensifikasi kesadaran kelas (Irwan
Abdullah, 2006:33-34).
Dalam mengkonsumsi atau dalam memilih produk mana yang akan dikonsumsi,
konsumen sebenarnya memiliki kebebasan penuh untuk memilihnya, walaupun
kebebasan itu sendiri dalam beberapa kasus agak rancu atau apa yang oleh Zukin dan
Maguire (2004:177) disebut sebagai “Democratized desire”. Democratizeddesire
adalah demokrasi yang didikte, konsumen seolah-olah memiliki kebebasan memilih
padahal pilihan-pilihan tersebut diatur sepenuhnya oleh produsen, misalnya melalui
iklan, sehingga kegiatan konsumsi cenderung lebih sebagai keharusan daripada
sebuah pilihan. Kebebasan mengkonsumsi seharusnya adalah setiap manusiadapat
mengkonsumsi apapun yang ia suka, asal ia mempunyai akses untuk itu, namun
pemilihan ini juga tidak sepenuhnya atas kemauan konsumen tersebut, tetapi juga
bisa dipengaruhi oleh norma di masyarakat tempat ia tinggal. Ungkapan “you are
what you drive” adalah gambaran bahwa produk apapun yang kita konsumsi akan
menunjukkan “siapa” diri kita atau “posisi” kita di masyarakat, oleh karena itu dalam
pemilihan produk yang akan dikonsumsi seseorang cenderung akan memperhatikan
nilai atau makna dalam produk itu (Sopingi, 1995). Hal hampir senada juga
diungkapkan oleh David Chaney (1996) yang menyatakan bahwa dalam dunia
modern gaya hidup kita membantu mendefinisikan sikap, nilai-nilai, dan kekayaan,
serta posisi sosial kita.
Pada akhir abad ke-20 perkembangan teknologi khususnya dalam bidang
komunikasi berlangsung dengan sangat pesat. Munculnya radio, televisi, dan internet
menyebabkan batas ruang antara satu negara dengan negara lainnya menjadi tidak
ada (Piliang, 1998:81). Keadaan ini membuat transfer kebudayaan menjadi sangat
cepat. Salah satu akibat dari perpindahan budaya dari satu wilayah ke wilayah yang
lainnya ialah munculnya berbagai gaya hidup yang dipengaruhi oleh kegiatan
konsumsi terhadap barang, jasa, dan aktivitas-aktivitas waktu luang. Kegiatan
konsumsi tersebut memunculkan apa yang disebut budaya konsumen, di mana proses
konsumsi dilihat sebagai perilaku manusia yang mengubah benda-benda untuk tujuan
mereka sendiri (Lury, 1998:3). Oleh Lury budaya konsumen diartikan sebagai
“bentuk budaya materi” yakni budaya pemanfaatan benda-benda dalam masyarakat
Eropa-Amerika kontemporer. Kini, apa yang dinikmati oleh masyarakat EropaAmerikakontemporer tersebut yang notabene adalah negara kaya ditiru oleh
masyarakat dunia lain, termasuk kita.
Budaya konsumen dicirikan dengan peningkatan gaya hidup (life style).
Justruvmenurut Lury (1998), proses pembentukan gaya hiduplah yang merupakan
hal terbaik yang mendefinisikan budaya konsumen. Dalam budaya konsumen
kontemporer, istilah itu bermakna individualitas, pernyataan diri, dan kesadaran diri.
Dalam hal ini, tubuh, pakaian, waktu senggang, pilihan makanan dan minuman,
rumah, mobil, pilihan liburan, dan lain-lain menjadi indikator cita rasa individualitas
dan gaya hidup seseorang. Gaya hidup merupakan ciri sebuah dunia modern. Orang
tidak lagi berkomunikasi secara verbal dengan kata-kata, melainkan dengan bentuk
komunikasi yang baru yang tidak mengharuskan setiap individu harus saling
mengenal untuk mengetahui siapa mereka. Bentuk komunikasi inilah yang sepertinya
akhir-akhir ini menjadi trend sebagai ciri masyarakat modern itu tadi.
Selera dalam pemilihan barang-barang konsumsi menjadi sedemikian penting
karena ini akan berkaitan dengan siapa saja seseorang itu akan diterima bergaul,
karena terdapat kecenderungan bahwa individu hanya akan “diterima” oleh orang
dengan kelas sosial yang sama. Fenomena ini tentu paling ketara ada di lingkungan
masyarakat golongan kelas menengah atas yaitu mereka yang sudah terpenuhi
kebutuhan primernya. Sebenarnya gejala seperti ini walaupun sedikit juga terjadi
digolongan bawah, namun gejala tersebut sukar diamati karena kadarnya sangat kecil
(Fernando, 2006:114-115).
Sekarang ini adalah era di mana orang membeli barang bukan karena nilai
kemanfaatannya namun karena gaya hidup, demi sebuah citra yang diarahkan dan
dibentuk oleh iklan dan mode lewat televisi, tayangan sinetron, acara infotainment,
ajang kompetisi para calon bintang, gaya hidup selebriti, dan sebagainya. Yang
ditawarkan iklan bukanlah nilai guna suatu barang, akan tetapi citra dan gaya bagi
pemakainya. Tidak penting apakah barang itu berguna atau tidak, diperlukan atau
tidak oleh konsumen. Karena itu yang kita konsumsi adalah makna yang dilekatkan
pada barang itu sehingga kita tidak pernah mampu memenuhi kebutuhan kita.
Seakan-akan terpuaskan padahal kekurangan, seakan-akan makmur padahal miskin
(Baudrillard, 2004).
Dalam perilaku konsumen secara samar orang membedakan pengertian kelas
sosial dengan pengertian status sosial. Lebih lanjut dijelaskan Max Weber bahwa
kelas sosial mengacu kepada pendapatan atau daya beli, sementara status sosial lebih
mengarah pada prinsip-prinsip konsumsi yang berkaitan dengan gaya hidup. Banyak
definisi yang disodorkan mengenai gaya hidup. Gaya hidup adalah frame of
reference yang dipakai seseorang dalam bertingkah laku dan konsekuensinya akan
membentuk pola perilaku tertentu. Terutama bagaimana ia ingin dipersepsikan oleh
orang lain, sehingga gaya hidup sangat berkaitan dengan bagaimana ia membentuk
image dimata orang lain berkaitan dengan status sosial yang diproyeksikannya.
Untuk merefleksikan image inilah dibutuhkan simbol-simbol status tertentu yang
sangat berperan dalam mempengaruhi perilaku konsumsinya. Perilaku konsumsi
yang didorong oleh orientasi diri memiliki tiga kategori yaitu prinsip, status,
danaction. Bagi orang yang orientasi dirinya bertumpu pada prinsip, dalam
mengambil keputusan pembelian berdasarkan keyakinannya, sehingga keputusannya
untuk membeli bukan hanya karena ikut-ikutan atau sekedar untuk mengejar gengsi.
Bisa dikatakan tipe ini lebih rasional. Sedangkan yang bertumpu pada status,
keputusannya dalam mengkonsumsi didominasi oleh apa kata orang. Produk-produk
branded menjadi pilihannya. Bagi yang gaya hidupnya bertumpu kepada action,
keputusan dalam berkonsumsi didasari oleh keinginannya untuk beraktivitas sosial
maupun fisik, mendapatkan selingan atau menghadapi resiko. Sehingga demikian
dapatlah dikatakan bahwa gaya hidup berkaitan dengan bagaimana seseorang
memanfaatkan resourcesyang dimilikinya untuk merefleksikan dirinya berdasarkan
nilai, orientasi, minat, pendapat yang berkaitan dengan status sosialnya
(http://www.jakartaconsulting.com/art-01-35.htm).
Weber
mengemukakan
bahwa
persamaan
kehormatan
status
terutama
dinyatakan melalui persamaan gaya hidup (style of life). Di bidang pergaulan, gaya
hidup ini dapat berwujud pembatasan terhadap pergaulan erat dengan orang yang
statusnya lebih rendah. Selain adanya pembatasan dalam pergaulan, menurut Weber
kelompok status ditandai pula oleh adanya berbagai hak istimewa dan monopoli atas
barang dan kesempatan ideal maupun material, kelompok status dibeda-bedakan atas
dasar gaya hidup yang tercermin dalam gaya konsumsi. Weber mengemukakan
bahwa kelompok status merupakan pendukung adat yang menciptakan dan
melestarikan semua adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat (Kamanto Sunarto,
1993:93).
Gaya hidup bisa merupakan identitas kelompok. Gaya hidup setiap kelompok
akan mempunyai ciri-ciri unit tersendiri. Gaya hidup secara luas diidentifikasikan
oleh bagaimana orang menghabiskan waktu (aktivitas), apa yang mereka anggap
penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang
diri mereka sendiri dan juga dunia disekitarnya (pendapat). Gaya hidup pada
prinsipnya adalah bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya. Ada
orang yang senang mencari hiburan bersama teman-temannya, ada yang senang
menyendiri, ada yang berpergian bersama keluarga, berbelanja, melakukan aktivitas
yang dinamis, dan ada pula yang memiliki waktu luang dan uang berlebih untuk
kegiatan sosial keagamaan. Gaya hidup dapat mempengaruhi perilaku seseorang dan
akhirnya
menentukan
pilihan-pilihan
konsumsi
seseorang
(http://frommarketing.blogspot.com/2009/08/definisi-gayahidup.html).
Status sosial seseorang atau sekelompok warga terungkap dari gaya hidupnya.
Gaya hidup merupakan tindakan dan interaksi sosial yang dilembagakan. Gaya hidup
tertentu menjadi lambang suatu status sosial. Artinya, gaya hidup tersebut sudah
menjadi ciri yang melekat pada status sosial tertentu (M. Sitorus, 2000:101).
Munculnya kelas-kelas sosial dalam masyarakat perkotaan ditandai dengan adanya
perbedaan-perbedaan gaya hidup dan cara hidup (style of life dan way of life), baik
dalam hal pengalaman, pengetahuan, sikap, dan perilaku maupun pandangan
mengenai dunia sekitarnya (M. Sitorus, 2003:93).
Menurut Parsudi Suparlan (1996), setiap makhluk sosial memiliki kemampuan
untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan danpengalamannya. Dan itu
dijadikan kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong suatu perilaku.
Pernyataan yang dilontarkan oleh Suparlan tadi tentunya dapat digunakan sebagai
acuan untuk melihat perilaku tiap-tiap individu ketika melakukan interaksi yang
efektif. Semua itu ditujukan untuk mewujudkan sikap, pikiran, dan perasaan
sehingga dapat tergambarkan perilaku yang khas pada masyarakat tersebut.
G. Metode Penelitian
A. Jenis Penelitian
Penelitian kualitatif adalah suatu strategi yang dipilih oleh penulis untuk
mengamati suatu fenomena, mengumpulkan informasi dan menyajikan hasil
penelitian pada penelitian ini.
Menurut Moeleong (2006:6) menjelaskan bahwa:
“Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksud untuk
memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek
penelitian secara holistik dengan cara deskriptif dalam bentuk katakata dan bahasa pada suatu konteks, khususnya yang alamiah
dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah”
Sedangkan menurut David Williams (dalam Moleong, 2006:5)
menyatakan bahwa: “Penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada
suatu latar ilmiah dengan menggunakan metode ilmiah dan dilakukan oleh orang
atau peneliti yang tertarik secara ilmiah”.
Pada penelitian ini penulis menggunakan penelitian kualitatif
deskriptif. Penelitian deskripstif ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi
aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada, mengindetifikasikan
masalah atau memeriksa kondisi dan praktik-praktik yang berlaku.
Dalam metode deskriptif digunakan untuk melukiskan secara
sistematis fakta atau bidang tertentu. Menetapkan apa yang dilakukan orang
lain dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman
mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang
mendatang. Jadi kualitatif deskriptif merupakan penelitian jenis penelitian
yang digunakan untuk membuat deskriptif, gambaran atau sistematis, faktual
dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat- sifat situasi, kondisi atau fenomena
dengan menggunakan data berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orangorang dan objek yang diamati secara utuh. Berkaitan dengan penelitian ini,
maka penulis ingin memaparkan secara deskriptif tentang gaya hidup masyarakat
perkotaan, dalam fenomena Karaoke Keluarga di E-club.
B. Teknik Pengumpulan Data
Dalam Bungin ( 2007:107 ), metode pengumpulan data kualitatif yang
paling independen terhadap semua metode pengumpulan data dan teknik
analisi data adalah wawancara secara mendalam, observasi partisipasi, bahan
dokumenter, serta metode-metode baru seperti metode bahan visual dan
metode penelusuran bahan internet.
Data biasanya dicatat dalam tulisan atau direkam melalui tape casset
atau video tape recorder untuk pengambilan suara dan gambar. Data tidak
sebagai apa yang diberikan oleh alam, tetapi merupakan hasil interaksi penulis
dengan sumber data. Hasil penelitian kualitatif lebih menghendaki agar
pengertian dan hasil interpretasi yang diperoleh dirundingkan dan disepakati
oleh manusia yang dijadikan sebagai sumber data. Sugiyono (2007:137) juga
mengemukakan sumber data dapat menggunakan dua (2) sumber, yaitu:
1) Data Primer
Adalah Sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data.
Untuk mendapatkan hasil data primer penulis menggunakan beberapa teknik
pengumpulan data, seperti:

Wawancara :
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian
dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara
dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa
menggunakan pedoman (guide) wawancara, dimana pewawancara dan
informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama (dalam Bungin,
2007:108). Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara
(interviewer) yang mengajukan
pertanyaan dan
yang diwawancarai
(interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut ( Moleong,
2006:186 ).
Pada penelitian ini penulis melakukan wawancara tidak terstruktur, dimana
peneliti bebas mewawancara dan tidak menggunakan pedoman wawancara
yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan
datanya (dalam Sugiyono, 2008:140).

Observasi
Bungin ( 2007:115 ) mengemukakan bahwa:
“observasi adalah kegiatan keseharian manusia dengan
menggunakan pancaindera mata sebagai alat bantu utamanya selain
pancaindera lainnya seperti telinga, penciuman, mulut dan kulit”,
Observasi yang dilakukan penulis dalam mengumpulkan data-data sebagai
penunjang penelitiannya, menggunakan observasi analisis kondisi di sekitar
lokasi penelitian, di untukkan mengidentifikasi informan dan mekanisme
yang diterapkan E-club dalam melayani konsumennya.
2) Data Sekunder
Adalah
sumber
data
yang
tidak
langsung
memberikan
data
kepada
pengumpul data misalnya melalui orang lain atau dokumen, dan data-data
sekunder didapat penulis melalui:
a. Company profile E-club Karaoke Keluarga.
b. Daftar reservation (buku-buku referensi).
c. Draft petunjuk pelaksanaan teknis E-club dalam proses pemenuhan
kebutuhan konsumen.
C. Narasumber
Pada
penelitian
ini
penulis
menggunakan
narasumber
untuk
mendapatkan data. Dalam penelitian ini penulis menggunakan Informan dan
Key Informan. Untuk melakukan penelitian diperlukan adanya informan dan key
informan untuk mendapatkan data yang diperlukan.

Informan
Menurut Moleong (2006:132), informan adalah orang yang dimanfaatkan
untuk memberi informasi tentang suatu
situasi
dan kondisi
latar
penelitian. Seorang informan adalah sumber data yang dibutuhkan oleh
penulis dalam sebuah penelitian. Sedangkan menurut Bungin ( 2007:108 ),
informan adalah:
“orang yang diperkirakan menguasai dan memahami data,
informasi ataupun fakta dari suatu objek penelitian”.
Untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan penelitian,
dimana terlebih dahulu penulis menetapkan siapa saja informannya dan
kemudian mendelegasikan tugas dibidangnya yang sesuai dengan tema
penelitian.
Dalam penelitian ini, penentuan informan dan key informan diperoleh dari
kantor E-clb yang bertempat di jalan boulevard key informan dipilih
berdasarkan kesesuaian dengan penulis yang akan teliti. Teknis yang
digunakan dalam meneliti yaitu dengan mengggunakan wawancara
mendalam (indepth interview). Adapun sumber informasi yang digunakan
dalam penelitian ini terdiri dari informan yaitu:
1. Dalam proses penelitian ini, yang menjadi pedoman penulis untuk
memilih sebagai informan yaitu masyarakat perkotaan baik yang memilih
karaoke sebagai sebuah gaya hidup.
2. Yang tidak
kalah
pentingnya
penulis
memilih
sebagai
informan
berikutnya adalah para staff yang bekerja di E-club, penentuan informan ini
dikaitkan dengan pola pelayanan di tempat tersebut.

Key Informan
Key informan merupakan kunci informasi yang memiliki pengetahuan yang
lebih luas dan mendalam untuk bisa menjawab permasalahn yang diteliti
oleh penulis. Dalam menentukan key informan haruslah memilih
pertimbangan-pertimbangan diantaranya adalah sebagai berikut (Bungin,
2001:101):
1. Orang yang bersangkutan memiliki pengalaman pribadi sesuai
dengan permasalahan yang diteliti;
2. Orang yang bersangkutan sehat jasmani dan rohani;
3. Orang yang bersangkutan bersifat netral dan tidak memihak
kemanapun;
4. Usia orang yang bersangkutan telah dewasa;
5. Orang yang bersangkutan memiliki pengetahuan yang luas
mengenai permasalahan yang sedang diteliti.
Adapun sumber informasi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini dari
key informan. Dalam proses penelitian ini, yang menjadi pedoman
penulis untuk memilih sebagai key informan yaitu Anina selaku PD
(Programme Director) di E-club.
Pemilihan beliau sebagai narasumber dalam penelitian ini adalah karena
beliau yang memegang penuh seluruh program-program teknis di E-club.
Beliau dapat memberikan keterangan dan informasi yang akurat yang
dibutuhkan oleh peneliti dalam penelitian ini.
D. Teknik Analisis Data
Analisis data kualitatif adalah analisis data yang digunakan oleh penulis
dalam penelitian ini. Penulis pada penelitian ini menggunakam teknik analisis
data Model Miles dan Huberman. Analisis dilakukan pada saat pengumpulan dta
berlangsung dan setelah selesai pengumpulan
Selanjutnya
data
periode
tertentu.
melakukan teknik analisis data guna mencari, menata, dan
merumuskan kesimpulan secara sistematis dari catatan hasil wawancara
informan dan key informan, serta observasi langsung.
Analisis data kualitatif merupakan bentuk analisis yang tidak
menggunakan matematik, statistik dan ekonomi ataupun bentuk-bentuk
lainnya.
Analisis
data
yang dilakukan terbatas pada teknik pengolahan
datanya yang kemudian penulis melakukan uraian dan penafsiran.
Menurut
Bogdan dan Biklen ( dalam
Moleong, 2006:248 )
mengemukakan bahwa:
“Analisis Data Kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan
data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan
yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan
pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan
memutuskan apa yang didapat diceritakan kepada orang lain.
Dari penjelasan diatas, penulis memahami bahwa analisis data
merupakan tahap tahap selanjutnya yang dilakukan peneliti guna mencari,
menata, dan merumuskan hipotesis rumusan secara sistematis dari observasi
langsung dan lain lain untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus
yang ditelitinya.
Dari hasil wawancara secara mendalam dan observasi serta
didukung dari data lainnya, maka penulis akan mendapatkan
jawaban dari rumusan masalah penelitian yang ada tersebut, yaitu
karaoke keluarga sebagai sebuah gaya hidup masyarakat perkotaan.
E. Teknik Keabsahan Data
Penilaian keabsahan penelitian kualitatif terjadi pada waktu proses
pengumpulan data, dan untuk menentukan keabsahan data diperlukan teknik
pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah criteria
tertentu dan dalam memeriksa keabsahan data yang diperoleh maka penulis
menggunakan teknik triangulasi data.
Dalam Moleong (2005:330),
“triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan yang lain. Peneliti menyimpulkan bahwa dalam
meneliti dibutuhkan keabsahan agar penelitian tersebut dapat
dipercaya kredibilitasnya”.
Dalam hal ini peneliti menggunakan triangulasi teknik. Menurut
Sugiyono (2007:274, triangulasi teknik adalah menguji kredibilitas data
dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik
yang berbeda. Dimana penulis menggunakan wawancara lalu dicek dengan
observasi, atau dokumenter.
Dalam Sugiyono (2007:274), teknik triangulasi terdapat 3 macam
teknik triangulasi, yaitu: triangulasi sumber, triangulasi teknik,
dan triangulasi waktu. Kredibilitas pada penelitian kualitatif
dapat menentukan proses dan hasil akhir sehingga dapat
diterima dan dipercaya
H. Sistematika Penulisan
Bab I
: Berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang rumusan
masalah, kerangka konseptual, tujuan dan kegunaan penelitian,
metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II
: Berisi tentang studi pustaka/tinjauan pustaka.
Bab III
: Berisi tentang gambaran umum lokasi penelitian, Dalam Bab
ini secara umum digambarkan letak geografis dan keadaan
alam lokasi penelitian, keadaan penduduk atau demografi,
mata pencaharian, serta sistem kepercayaan
Bab IV
: Berisi tentang hasil dan pembahasan, yang diperoleh peneliti
berdasarkan data di lapangan.
Bab V
:Berisi tentang penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Life Style: Sebuah Fenomena Kebudayaan Masyarakat Perkotaan
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia
dengan belajar. Hal tersebut berarti bahwa hampir seluruh tindakan manusia adalah
kebudayaan, karena hanya sangat sedikit tindakan manusia dalam rangka
kehidupan masyarakat yang tidak perlu dibiasakan dengan belajar yaitu hanya
beberapa tindakan naluri, beberapa refleks, beberapa tindakan akibat proses
fisiologi, atau kelakuan apabila ia sedang membabi
buta. Bahkan, berbagai
tindakan manusia yang merupakan kemampuan naluri yang terbawa oleh makhluk
manusia dalam gennya bersama kelahirannya (seperti misalnya makan, minum,
atau berjalan dengan kedua kakinya), juga dirombak olehnya menjadi tindakan
berkebudayaan (Koentjaraningrat, 2002:180).
Suatu golongan sosial merupakan suatu kesatuan manusia yang ditandai
oleh suatu ciri tertentu, bahkan seringkali ciri itu juga dikenakan kepada mereka
oleh pihak luar kalangan mereka sendiri. Walaupun demikian, suatu kesatuan
manusia yang kita sebut golongan sosial itu mempunyai ikatan identitas sosial. Hal
ini dapat disebabkan karena kesadaran identitas itu tumbuh sebagai respon atau
reaksi terhadap caranya pihak luar memandang golongan sosial tadi, atau mungkin
juga karena golongan itu memang terikat oleh suatu sistem nilai, sistem norma, dan
adat istiadat tertentu (Koentjaraningrat, 2002:150-151).
Golongan sosial dapat terjadi karena manusia-manusia secara claster
mempunyai suatu gaya hidup yang khas, dan karena berdasarkan hal itu mereka
dipandang oleh orang lain sebagai manusia yang menduduki suatu lapisan tertentu
dalam masyarakat. Lapisan itu dapat dianggap lebih tinggi atau lebih rendah
tergantung dari sudut orang yang memandang tadi. Karena warganya mempunyai
gaya hidup khas yang sama, maka suatu lapisan atau klas sosial tentu dapat juga
dianggap mempunyai suatu sistem norma yang sama, dan karena itu juga suatu rasa
identitas golongan (Koentjaraningrat, 2002:153).
Menurut Winarno (1980:85), gaya hidup dapat diasumsikan sebagai caracara bertindak yang sering disebut mekanisme penyesuaian yakni cara-cara itu
menjadi cara-cara bertindak yang bersifat kebiasaan. Cara-cara itu pada
kenyataannya
didasarkan pada
pengalaman-pengalaman seseorang dalam
kehidupannya. Dengan kata lain, gaya hidup seseorang itu merupakan gambaran
dari watak, status, perilaku, dan peranannya dalam masyarakat.
Berbeda dengan Kartodirdjo (1987:53), gaya hidup merupakan suatu
produk dari stratifikasi sosial sehingga faktor status, kedudukan, dan kekayaan
dapat membentuk struktur gaya hidup. Gaya hidup ini pada hakekatnya akan
membentuk suatu eksklusifme yang tidak lain bertujuan hendak membedakan
status antara golongan yang satu dengan golongan yang lainnya dalam suatu
stratifikasi sosial.
Robert Redfield, seorang antropolog yang pernah melihat tentang gaya
hidup petani desa sebagaimana dikutip oleh James Danandjaja (1994:47)
menyatakan bahwa gaya hidup petani desa sebenarnya adalah semacam human
type atau tipe manusia yang dapat dikenal dengan segera, agak tersebar di
mana-mana, bersifat tahan lama, dan timbul sebagai akibat peradaban
(civilization). Gaya hidup semacam ini
mungkin dikembangkan sebagai
akibat adanya adaptasi dari sifat masyarakat folk dalam rangka memenuhi
kebutuhan hidup baru yang diakibatkan oleh timbulnya kota.
Selain itu, Robert Redfield sebagaimana dikutip oleh Menno (1994:4445) juga mengemukakan bahwa komunitas kota lebih berorientasi kepada hal-hal
yang bersifat material dan rasional, sehingga hubungan-hubungan menjadi
impersonal dan sekunder, bukan lagi relation oriented seperti yang terdapat
dalam komunitas pedesaan yang mengandalkan hubungan-hubungan yang
emosional dan primer, di mana orang saling mengenal secara pribadi dan
dalam hampir semua aspek kehidupan. Di kota orang saling mengenal hanya
dalam hubungan dengan aspek- aspek tertentu saja yang berdasarkan perhatian
dan kepentingan. Akibat banyaknya dan bervariasinya tuntutan
dalam
bertingkah laku dan bertindak sebagai anggota masyarakat yang berorientasi
kepada sasaran (goal) dan pencapaian (achievement), maka gaya hidup
masyarakat kota lebih diarahkan kepada penampilan fisik dan kualitas fisik
sehingga tampak civilized.
Salah satu faktor utama yang mendorong munculnya gaya hidup adalah
pola konsumsi. Pola konsumsi masyarakat perkotaan telah menjadikan barangbarang ataupun jasa sebagai identitas mereka. Barang dan jasa dikonsumsi
bukan dikarenakan kebutuhan mereka, melainkan hanya sebatas memenuhi
keinginan dan penunjuk identitas sosial mereka. Pola konsumsi masyarakat
perkotaan ini telah mengubah nilai suatu produk yang awalnya memiliki nilai
fungsional menjadi memiliki nilai simbolis.
Proses konsumsi simbolis
merupakan tanda penting dari pembentukan gaya hidup, di mana nilai-nilai
simbolis dari suatu produk dan praktek telah mendapat penekanan yang besar
dibandingkan dengan nilai-nilai fungsional. Hal ini paling tidak dapat
dijelaskan dengan tiga cara. Pertama, kelas sosial telah membedakan proses
konsumsi, di mana setiap kelas menunjukkan proses identifikasi yang berbeda.
Secara umum memang memperlihatkan bahwa pilihan-pilihan dilakukan sesuai
dengan kelas, di mana integrasi ke dalam satu tatanan umum tidak terbentuk
sepenuhnya. Nilai simbolis dalam konsumsi tampak diinterpretasikan secara
berbeda oleh kelompok yang berbeda. Kedua, barang yang dikonsumsi
kemudian menjadi wakil dari kehadiran.
Hal ini berhubungan dengan aspek-aspek psikologis, di
mana
konsumsi suatu produk berkaitan dengan perasaan atau rasa percaya diri yang
menunjukkan bahwa itu bukan hanya sekedar aksesoris, akan tetapi barangbarang merupakan isi dari kehadiran seseorang karena dengan cara itu ia
berkomunikasi (Goffman, 1951). Ketiga, berdasarkan proses konsumsi dapat
dilihat bahwa konsumsi citra (image) di satu pihak telah menjadi proses
konsumsi yang penting, di mana citra yang dipancarkan oleh suatu produk
dan praktek (seperti pakaian atau makanan) merupakan alat ekspresi diri bagi
kelompok. Bagi golongan kelas menengah atas citra yang melekat pada suatu
produk
merupakan
instrumen
modernitas
yang
mampu
menegaskan
keberadaannya dan identitasnya. Proses identifikasi yang terwujud melalui
proses konsumsi merupakan proses aktif di dalam konsumsi citra yang
menyebabkan intensifikasi kesadaran kelas (Irwan Abdullah, 2006:3334).
Dalam mengkonsumsi atau dalam memilih produk mana yang akan
dikonsumsi, konsumen sebenarnya memiliki
kebebasan
penuh
untuk
memilihnya, walaupun kebebasan itu sendiri dalam beberapa kasus agak rancu
atau apa yang oleh Zukin dan Maguire (2004:177) disebut sebagai
“Democratized desire”. Democratized desire adalah demokrasi yang didikte,
konsumen seolah-olah memiliki kebebasan memilih padahal pilihan-pilihan
tersebut diatur sepenuhnya oleh produsen, misalnya melalui iklan, sehingga
kegiatan konsumsi cenderung lebih sebagai keharusan daripada sebuah pilihan.
Kebebasan
mengkonsumsi
seharusnya
adalah
setiap
manusia
dapat
mengkonsumsi apapun yang ia suka, asal ia mempunyai akses untuk itu, namun
pemilihan ini juga tidak sepenuhnya atas kemauan konsumen tersebut,
tetapi juga bisa dipengaruhi oleh norma di masyarakat tempat ia tinggal.
Ungkapan “you are what you drive” adalah gambaran bahwa produk apapun
yang kita konsumsi akan menunjukkan “siapa” diri kita atau “posisi” kita di
masyarakat, oleh karena itu dalam pemilihan produk yang akan dikonsumsi
seseorang cenderung akan memperhatikan nilai atau makna dalam produk itu
(Sopingi, 1995). Hal hampir senada juga diungkapkan oleh David Chaney
(1996)
yang
menyatakan bahwa dalam dunia modern gaya hidup kita
membantu mendefinisikan sikap, nilai-nilai, dan kekayaan, serta posisi sosial
kita.
Pada akhir abad ke-20 perkembangan teknologi khususnya dalam
bidang komunikasi berlangsung dengan sangat pesat. Munculnya radio, televisi,
dan internet menyebabkan batas ruang antara satu negara dengan negara lainnya
menjadi tidak ada (Piliang, 1998:81). Keadaan ini membuat transfer
kebudayaan menjadi sangat cepat. Salah satu akibat dari perpindahan budaya
dari satu wilayah ke wilayah yang lainnya ialah munculnya berbagai gaya
hidup yang dipengaruhi oleh kegiatan konsumsi terhadap barang, jasa, dan
aktivitas-aktivitas waktu luang. Kegiatan konsumsi tersebut memunculkan apa
yang disebut budaya konsumen, di mana proses konsumsi dilihat sebagai
perilaku manusia yang mengubah benda-benda untuk tujuan mereka sendiri
(Lury, 1998:3). Oleh Lury budaya konsumen diartikan sebagai “bentuk
budaya materi” yakni budaya pemanfaatan benda-benda dalam masyarakat
Eropa-Amerika kontemporer. Kini, apa yang dinikmati oleh masyarakat
Eropa-Amerika kontemporer tersebut yang notabene adalah negara kaya ditiru
oleh masyarakat dunia lain, termasuk kita.
Budaya konsumen dicirikan dengan peningkatan gaya hidup (life style).
Justru menurut Lury (1998), proses pembentukan gaya hiduplah yang
merupakan hal terbaik yang
budaya
konsumen
mendefinisikan
budaya
konsumen.
Dalam
kontemporer, istilah itu bermakna individualitas,
pernyataan diri, dan kesadaran diri. Dalam hal ini, tubuh, pakaian, waktu
senggang, pilihan makanan dan minuman, rumah, mobil, pilihan liburan, dan
lain-lain menjadi indikator cita rasa individualitas dan gaya hidup seseorang.
Gaya hidup merupakan ciri sebuah dunia modern. Orang tidak lagi
berkomunikasi secara verbal dengan kata-kata, melainkan dengan bentuk
komunikasi yang baru yang tidak mengharuskan setiap individu harus saling
mengenal untuk mengetahui siapa mereka. Bentuk komunikasi inilah yang
sepertinya akhir-akhir ini menjadi trend sebagai ciri masyarakat modern itu tadi.
Selera dalam pemilihan barang-barang konsumsi menjadi sedemikian
penting karena ini akan berkaitan dengan siapa saja seseorang itu akan
diterima bergaul, karena terdapat kecenderungan bahwa individu hanya akan
“diterima” oleh orang dengan kelas sosial yang sama. Fenomena ini tentu
paling ketara ada di lingkungan masyarakat golongan kelas menengah atas
yaitu mereka yang sudah terpenuhi kebutuhan primernya. Sebenarnya gejala
seperti ini walaupun sedikit juga terjadi di golongan bawah, namun gejala
tersebut sukar diamati karena kadarnya sangat kecil (Fernando, 2006:114-115).
Sekarang ini adalah era di mana orang membeli barang bukan karena nilai
kemanfaatannya namun karena gaya hidup, demi sebuah citra yang diarahkan
dan dibentuk oleh iklan dan mode lewat televisi, tayangan sinetron, acara
infotainment, ajang kompetisi para calon bintang, gaya hidup selebriti, dan
sebagainya, yang ditawarkan iklan bukanlah nilai guna suatu barang, akan
tetapi citra dan gaya bagi pemakainya. Tidak penting apakah barang itu
berguna atau tidak, diperlukan atau tidak oleh konsumen. Karena itu yang
kita konsumsi adalah makna yang dilekatkan pada barang itu sehingga kita
tidak pernah mampu memenuhi
kebutuhan kita. Seakan-akan terpuaskan
padahal kekurangan, seakan-akan makmur padahal miskin (Baudrillard, 2004).
Dalam perilaku konsumen secara samar orang membedakan pengertian
kelas sosial dengan pengertian status sosial. Lebih lanjut dijelaskan Max
Weber bahwa kelas sosial mengacu kepada pendapatan atau daya beli,
sementara status sosial lebih mengarah pada prinsip-prinsip konsumsi yang
berkaitan dengan gaya hidup. Banyak definisi yang disodorkan mengenai gaya
hidup. Gaya hidup adalah frame of reference yang dipakai seseorang dalam
bertingkah laku dan konsekuensinya akan membentuk pola perilaku tertentu.
Terutama bagaimana ia ingin dipersepsikan oleh orang lain, sehingga gaya
hidup sangat berkaitan dengan bagaimana ia membentuk image di mata
orang lain berkaitan dengan status sosial yang diproyeksikannya.
Untuk merefleksikan image inilah dibutuhkan simbol-simbol status
tertentu yang sangat berperan dalam mempengaruhi perilaku konsumsinya.
Perilaku konsumsi yang didorong oleh orientasi diri memiliki tiga kategori
yaitu prinsip, status, dan action. Bagi orang yang orientasi dirinya bertumpu
pada
prinsip,
dalam
mengambil
keputusan
pembelian
berdasarkan
keyakinannya, sehingga keputusannya untuk membeli bukan hanya karena ikutikutan atau sekedar untuk mengejar gengsi. Bisa dikatakan tipe ini lebih
rasional. Sedangkan yang bertumpu pada status, keputusannya dalam
mengkonsumsi didominasi oleh apa kata orang. Produk-produk branded
menjadi pilihannya. Bagi yang gaya hidupnya bertumpu kepada action,
keputusan dalam
berkonsumsi
didasari oleh
keinginannya
untuk
beraktivitas sosial maupun fisik, mendapatkan selingan atau menghadapi
resiko. Sehingga demikian dapatlah dikatakan bahwa gaya hidup berkaitan
dengan bagaimana seseorang memanfaatkan resources yang dimilikinya untuk
merefleksikan dirinya berdasarkan nilai, orientasi, minat, pendapat yang
berkaitan dengan status sosialnya (http://www.jakartaconsulting.com/art-0135.htm).
Weber mengemukakan bahwa persamaan kehormatan status terutama
dinyatakan melalui persamaan gaya hidup (style of life). Di bidang pergaulan,
gaya hidup ini dapat berwujud pembatasan terhadap pergaulan erat dengan
orang yang statusnya lebih rendah. Selain adanya pembatasan dalam pergaulan,
menurut Weber kelompok status ditandai pula oleh adanya berbagai hak
istimewa dan monopoli atas barang dan kesempatan ideal maupun material,
kelompok status dibeda-bedakan atas dasar
gaya
hidup
dalam gaya konsumsi. Weber mengemukakan bahwa
yang tercermin
kelompok status
merupakan pendukung adat yang menciptakan dan melestarikan semua adat
istiadat yang berlaku dalam masyarakat (Kamanto Sunarto, 1993:93).
Gaya hidup bisa merupakan identitas kelompok. Gaya hidup setiap
kelompok akan mempunyai ciri-ciri unit tersendiri. Gaya hidup secara luas
diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu (aktivitas),
apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan
apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia
disekitarnya (pendapat).
Gaya
hidup
pada
prinsipnya
adalah
bagaimana
seseorang
menghabiskan waktu dan uangnya. Ada orang yang senang mencari hiburan
bersama teman-temannya, ada yang senang menyendiri, ada yang berpergian
bersama keluarga, berbelanja, melakukan aktivitas yang dinamis, dan ada pula
yang memiliki waktu luang dan uang berlebih untuk kegiatan sosial
keagamaan. Gaya hidup dapat mempengaruhi perilaku seseorang dan akhirnya
menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang.
Status sosial seseorang atau sekelompok warga terungkap dari gaya
hidupnya. Gaya hidup merupakan tindakan dan interaksi sosial yang
dilembagakan. Gaya hidup tertentu menjadi lambang suatu status sosial.
Artinya, gaya hidup tersebut sudah menjadi ciri yang melekat pada status
sosial tertentu (M. Sitorus, 2000:101). Munculnya kelas-kelas sosial dalam
masyarakat perkotaan ditandai dengan adanya perbedaan-perbedaan gaya hidup
dan cara hidup (style of life dan way of life), baik dalam hal pengalaman,
pengetahuan,
sikap, dan perilaku maupun pandangan mengenai dunia
sekitarnya (M. Sitorus, 2003:93).
Menurut Parsudi Suparlan (1996), setiap makhluk sosial memiliki
kemampuan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan
pengalamannya. Dan itu dijadikan kerangka landasan untuk mewujudkan dan
mendorong suatu perilaku. Pernyataan yang dilontarkan oleh Suparlan tadi
tentunya dapat digunakan sebagai acuan untuk melihat perilaku tiap-tiap
individu ketika melakukan interaksi yang efektif. Semua itu ditujukan untuk
mewujudkan sikap, pikiran, dan perasaan sehingga dapat tergambarkan
perilaku yang khas pada masyarakat tersebut.
B. Karaoke: Sejarah Perkembangannya
Sejarah karaoke pada awalnya berasal dari jepang. Secara etimologi
karaoke berasal dari bahasa jepang, yaitu kata kara yang merupakan
singkatan dari karappo yang berarti kosong, dan oke singkatan dari
okesutora yang berarti orkestra. Jadi secara harafiah karaoke berarti melodi
yang tidak ada vokalnya.
Karaoke tidak hanya menyebar di seluruh Jepang namun juga di
Korea, China, Asia Tenggara, bahkan Amerika Serikat. Oleh karena itu
tidak
mengherankan jika istilah karaoke ini tidak hanya
tertera dalam
kamus bahasa Jepang, namun juga Kamus Bahasa Inggris Oxford.
Pengertian karaoke menurut Kamus Bahasa Inggris Oxford adalah:
“A type of entertainment in which a machine plays only the
music of popular songs so that people can sing the words
themselves.”
Terjemahan:
Sebuah jenis hiburan dimana sebuah mesin memainkan
hanya musik dari lagu-lagu popular sehingga orang-orang dapat
menyanyikan lirik lagu tersebut sendiri.
Dari beberapa pengertian karaoke di atas dapat diartikan bahwa
karaoke adalah melodi yang hanya terdiri dari musik tanpa vokal, dan
vokalnya dinyanyikan oleh seseorang bernyanyi sambil mengikuti melodi
tersebut mendendangkan lirik yang ditampilkan di layar televisi atau buku.
Karaoke muncul pertama kali di kota Kobe, sebuah daerah di
wilayah Kansai. Kemunculan karaoke tidak lepas dari peranan utagoe kissa,
atau dalam bahasa Inggris disebut song-coffee shop. Utagoe kissa telah
menjadi kegemaran di Jepang sejak pemerintahan Taisho (1912-1926) dan
semakin meluas antara tahun 1950 hingga tahun 1960. Utagoe kissa adalah
bar tradisional yang dilengkapi dengan piano atau gitar, yang sejak dulu
telah menjadi pusat hiburan bagi pelaku bisnis Jepang sebagai sarana
pelepas stres. Ada empat versi mengenai sejarah kemunculan karaoke
yang penulis dapatkan. Keempat versi tersebut menyebutkan bahwa karaoke
berasal dari sebuah utagoe kissa di kota Kobe sekitar tahun 1970an. Versi
pertama dari sejarah kemunculan karaoke adalah ketika suatu hari pemain
gitar di salah satu utagoe kissa di Kobe tidak bisa datang karena sakit.
Pemilik utagoe kissa tersebut kemudian menyiapkan alat perekam beserta
rekaman dari permainan sang gitaris, dan sang vokalis bernyanyi dengan
diiringi rekaman tersebut. Kejadian itu dianggap sebagai asal terciptanya
karaoke.Semenjak itu karaoke berkembang dan dikomersialisasikan di
seluruh Jepang.
Versi kedua menyebutkan bahwa karaoke berasal dari salah satu
utagoe kissa di Kobe, dimana manajemen utagoe kissa tersebut merekam
sebuah
rekaman yang digunakan dalam sesi latihan para penyanyi
profesional. Pada tahun 1976, sebuah perusahaan elektronik menjual sebuah
mesin bernama “Karaoke 8”, yang terdiri dari delapan pita rekaman berisi
empat buah lagu. Mesin ini kemudian berkembang dengan teknologi laserdisk, VHD, CD, dan sebagainya, sehingga peralatan ini menjadi sebuah
standar hiburan para sarariman.
Versi ketiga menyebutkan bahwa penemu karaoke adalah Kisaburo
Takashiro, yang merupakan seorang pemilik dari sebuah toko rekaman di Kobe
pada tahun 1970an. Takashiro mengetahui bahwa sebuah utagoe kissa di dekat
toko rekaman miliknya menyewa seorang pianis untuk mengiringi seorang
penyanyi dengan bayaran 500 hingga 1000 yen untuk setiap lagunya. Takashiro
kemudian menciptakan sebuah mesin yang terdiri dari 400 rekaman lagu,
memasangnya di utagoe kissa tersebut, dan memberi harga 100 yen untuk setiap
lagunya. Mesin tersebut semakin populer diantara Versi terakhir mengenai
sejarah kemunculan karaoke adalah ketika sekitar tahun 1970an, seorang pemain
drum dan penyanyi bernama Inoue Daisuke yang selalu tampil di sebuah utagoe
kissa, diminta oleh tamu utagoe kissa tersebut untuk merekam permainannya
sehingga tamu tersebut dapat menyanyi bersama dalam piknik perusahaan.
Selanjutnya Inoue selalu dibanjiri pesanan untuk meminjamkan rekaman
permainannya. Menyadari potensi yang menguntungkan ini, Inoue kemudian
menciptakan alat perekam yang dapat memainkan sebuah musik dengan
memasukkan koin 100 yen. Pada awal kemunculannya karaoke dikritik karena
kurangnya suasana hidup (live atmosphere) dari sebuah penampilan. Selain itu,
karaoke juga dianggap mahal karena pada tahun 1970an 100 yen bisa digunakan
untuk membeli dua buah paket makan siang.
Namun lama kelamaan penemuan ini dianggap sebagai sebuah alat
menghibur, dan karena semakin populer, mesin karaoke ini kemudian banyak
ditempatkan di berbagai tempat, seperti restoran, kamar hotel, hingga akhirnya
muncul karaoke box. Atas penemuannya ini, Inoue dianugerahi penghargaan
Nobel tahun 2004.
Dari keempat versi sejarah kemunculan karaoke tersebut, keempatnya
menyebutkan kemajuan teknologi karaoke yang semakin berkembang. Karaoke
yang awalnya hanya berupa sebuah alat perekam dengan rekaman musik lagulagu terkenal, semakin berkembang dengan menjadi piringan cakram (compact
disc) yang dapat mencari awal lagu dengan segera. Perkembangan ini juga
memungkinkan penambahan gambar video untuk menciptakan suasana yang
sesuai dengan tiap lagu. Gambar video tersebut ditampilkan di layar televisi
bersamaan dengan lirik lagu tersebut.
Dengan inovasi teknologi seperti video disk, laser disk, CD bergambar,
karaoke telah berkembang menjadi sebuah hiburan yang besar. Beragamnya
teknologi karaoke keluarga membuat banyak keluarga dapat menikmati karaoke
di rumah. Namun hal ini mendapat rintangan karena rumah-rumah di Jepang
kebanyakan terletak berdekatan dan masih banyak yang terbuat dari kayu,
sehingga akan mengganggu tetangga jika menggunakan pengeras suara di malam
hari. Mencari peluang dari kegagalan tersebut, akhirnya diciptakan karaoke box,
sebuah fasilitas di pinggir jalan dengan banyak ruang dan pintu tertutup.
Karaoke box pertama muncul tahun 1984 di sebuah daerah di pinggiran
perfektur Okayama, sebelah barat wilayah Kansai, terbuat dari mobil box yang
dimodifikasi. Semenjak itu, karaoke box telah dibangun di seluruh Jepang,
lengkap dengan peralatan kedap suara dan dengan teknologi yang semakin maju.
Kehadiran karaoke ini disambut baik oleh keluarga-keluarga Jepang
karena dengan mengunjungi karaoke box mereka bisa menghabiskan waktu
bersama dengan keluarga. Hubungan antar anggota keluarga menjadi kian erat
dan harmonis dengan seringnya mereka menghabiskan waktu bersama. Namun,
di lain pihak tidak urung kehadiran karaoke box juga menuai hujan kritik.
Ruangan tertutup yang tidak begitu luas ini disinyalir dapat digunakan untuk
berbuat maksiat, terutama oleh anak-anak muda. Karaoke box lalu menyebar ke
negara-negara Asia lainnya, terutama di negara Asia Timur dan Asia Tenggara.
Di setiap negara, karaoke box mempunyai sebutan yang berbeda-beda. Di
Cina, termasuk Taiwan, sebutan karaoke box adalah KTV alias Karaoke
Television, merujuk pada MTV yaitu Music Television. Di Filipina, karaoke
box terkenal dengan sebutan Videoke, sedangkan di Korea Selatan sebutan
yang dipakai adalah Noraebang. Istilah karaoke box selain di Jepang juga
dipakai di Hongkong.
Di beberapa negara seperti di Taiwan dan Cina kehadiran KTV
nyatanya bukan hanya berkisar pada masalah hiburan, akan tetapi juga
menyangkut urusan bisnis. Para pelaku usaha banyak menggunakan KTV
sebagai tempat untuk melakukan kesepakatan bisnis. Di Hongkong lain lagi,
di restoran-restoran tradisional Cina mereka menyediakan ruang karaoke yang
disebut mahjong karaoke, di mana di ruangan tersebut juga terdapat tempat
untuk bermain mahjong, sehingga saat para orang tua asyik bermain mahjong
anak-anak mereka dapat berkaraoke tanpa mengganggu orang tua mereka.
Selain sebagai hiburan, karaoke juga digunakan untuk proses belajar.
Dengan menyanyikan lagu terutama lagu yang berbahasa Inggris yang
disertai teks dapat memperlancar kemampuan berbahasa Inggris mereka.
C. Karaoke dan Rekonstruksi Sosial
Bagi yang hobinya bernyanyi, karaoke memang menjadi media yang
pas sebagai pelampiasan. Belakangan ini karaoke selalu diidentikkan dengan
alkohol, hostess, bahkan drug, maka untuk melenyapkan stereotipe ini
muncullah yang namanya karaoke keluarga. Di Makassar sendiri, karaoke
dengan konsep keluarga sudah muncul sejak tahun 2006 lalu dengan
kehadiran NAV di Jalan Boulevard. Ternyata kehadirannya cukup mendapat
respon yang lumayan positif. Sejak itu hadir pula karaoke keluarga yang
menawarkan kelebihannya masing-masing. Diantaranya NAV di Boulevard,
Happy Puppy di Panakukang, Inul Vista di Panakukang, dan E-club di Jalan
Boulevard. Namun yang pasti bila menyebut karaoke keluarga, pastilah
terbebas dari alkohol, hostess, dan drug. Itulah sebenarnya arti karaoke
dengan konsep keluarga. Jadi, kalau misalnya ada tempat karaoke yang masih
menyediakan alkohol di atas 5%, itu namanya bukan karaoke keluarga. Selain
itu, karaoke keluarga juga tidak menyediakan pendamping wanita untuk
menemani saat berkaraoke. Setiap ruangan karaoke keluarga tidak boleh
dikunci. Pada pintunya juga diberi kaca transparan gunanya untuk memastikan
bahwa pengunjung tidak berpotensi melakukan hal yang tidak-tidak.
Dunia karaoke saat ini sudah mengalami pergeseran yang signifikan.
Karaoke kini menjelma menjadi sarana hiburan yang sehat bagi keluarga.
Bahkan, keberadaan club-club karaoke bertema karaoke keluarga ini sedikit
demi sedikit mengikis citra negatif karaoke yang acapkali dihakimi sebagai
sarang kemaksiatan. Harus diakui bagi sebagian orang terutama perempuan
apalagi anak-anak, mengunjungi club karaoke adalah satu hal yang
menakutkan. Di samping stempel negatif yang sudah terlanjur menempel pada
eksistensi club karaoke, ada pendapat
yang
menyatakan bahwa tempat
karaoke umumnya lebih banyak dikunjungi oleh laki-laki dewasa. Alhasil,
muncul cap negatif untuk perempuan yang berkunjung ke tempat karaoke.
Menyiasati kenyataan seperti itu, beberapa pengusaha tempat karaoke
mengubah penampilan tempat karaoke yang mereka kelolah dan hadir dalam
bentuk yang lebih bersahabat. Tidak cuma berusaha memperbaiki citra karaoke,
tempat-tempat karaoke jenis ini juga mengincar pasar yang lebih luas, tidak
tersegmentasi pada laki-laki dewasa.
Berbagai perubahan yang menyangkut bangunan, sarana fisik, dan
layanan dilakukan untuk mengubah atmosfir tempat karaoke dalam wujud yang
lebih bersahabat. Umumnya karaoke keluarga bisa dikenali dengan ruangan-
ruangan karaoke yang terang dengan pintu yang tidak terkunci dan dipasangi
kaca sehingga lebih bisa diawasi. Tidak hanya tampil dengan koleksi yang
lengkap dan fasilitas karaoke yang modern dan canggih, aksesoris desain
interiorpun dibuat penuh warna. Lebih penting lagi, pengelola karaoke juga
jelas-jelas melarang pengunjungnya untuk aktivitas prostitusi dan minuman
keras. Gantinya, pengelola karaoke keluarga umumnya menyediakan makanan
ataupun minuman yang
penampilan seperti
terbatas pada minuman ringan dan jus. Dengan
ini, bernyanyi
di karaoke keluarga menjadi alternatif
pelepas jenuh sekaligus pengisi waktu luang yang aman dan nyaman bagi
perempuan, apalagi bila berkunjung bersama suami dan anak-anak.
Menyadari pangsa pasar yang mencakup rentang usia yang lebih luas,
koleksi lagu yang tersedia di karaoke keluarga umumnya lebih lengkap dan
bervariasi, meliputi lagu lama dan lagu baru dengan berbagai jenis musik dalam
playlist di tiap mesin karaoke mereka. Inilah yang menjadi alasan anak-anak
muda dan orang tua bersama anak-anak mereka berkunjung ke karaoke
keluarga. Namun, persaingan bisnis ini tidak urung membuat beberapa
tempat
karaoke
keluarga
berkompetisi secara tidak sehat. Tidak jarang
pengusaha karaoke memasang embel-embel karaoke keluarga. Meskipun
kenyataannya tempat karaoke tersebut menjual minuman beralkohol dan
bahkan menyediakan layanan “plus-plus”. Konsep karaoke keluarga di Indonesia
sebenarnya sudah mulai diterapkan oleh E-club Karaoke Keluarga pada tahun 1992
di Surabaya. Meski mendapat tantangan dan cibiran dari sesama pengelola karaoke
pada awalnya, konsep karaoke keluarga justru berkembang dan diikuti pengusaha
karaoke lainnya yang akhirnya beralih. Kehadiran tempat-tempat karaoke keluarga
sedikit banyaknya memperbaiki image bisnis karaoke. Harus diakui juga karaoke
adalah hiburan yang bisa dinikmati oleh siapa saja, mulai anak-anak hingga orang
tua.
D. Karaoke dan Bentuk Makna Lembaga Keluarga di Indonesia
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat religious yang gemar
bernyanyi, berhak untuk mendapatkan sarana hiburan bernyanyi yang bebas
dari simbol-simbol hiburan malam. Pasar inilah yang kemudian ditangkap
dengan jeli oleh wirausahawan Santoso Setyadji. Konsep karaoke keluarga
untuk pertama kalinya diperkenalkan di Indonesia oleh Santoso Setyadji
dengan didirikannya E-club Family Karaoke Box pada tanggal 14 November
1992 di Surabaya.
Pada awalnya pelayanan E-club adalah self-service karena mengadopsi
cara-cara di Jepang dan Korea. Pengunjung membayar sewa ruangan karaoke
terlebih dahulu, membeli makanan dan minuman dengan datang sendiri ke
meja
penjualan,
demikian
juga
memainkan
lagu
sendiri
dengan
mempergunakan automatic disc changer machine. Konsep di E-club selalu
diperbaiki seiring perkembangan zaman. Masyarakat Indonesia tidak terbiasa
dengan konsep swalayan dan lebih memilih dilayani. Menggunakan sistem
komputer untuk memilih lagu dan memainkan lagu. Karaoke keluarga mendapat
sambutan yang baik dari masyarakat Indonesia. Dari Surabaya, Santoso
Setyadji mengembangkan jaringan karaoke keluarga ke Jakarta, Semarang,
Samarinda,
Balikpapan,
Makassar,
Yogyakarta,
Pontianak,
Manado,
Banjarmasin, Malang, Bandung, Medan, Palembang, Batam, Cibubur, Jember,
Serpong, Salatiga, dan Papua. Pada Januari 2004, Santoso Setyadji dan Eclub Karaoke Keluarga dianugerahi sertifikat Museum Rekor Indonesia
(MURI) sebagai pelopor karaoke keluarga di Indonesia.
E. Sekilas Profil E-club Karaoke Keluarga
Meski karaoke telah dikenal sejak puluhan tahun yang lalu, namun
teknologi audio visual yang memungkinkan semua orang dapat bernyanyi
dengan lirik yang akurat terus mengalami perkembangan. Di E-club deretan
lagu atau playlist favorit dapat di browsing pada sebuah layar komputer yang
menyatu dengan meja dengan menggunakan mouse dan keyboard, sedangkan
remote biasanya digunakan untuk memperkecil dan memperbesar volume
suara. Di E-club juga dapat ditemui lebih kurang 50.000 lagu dengan format
DVD dan VCD yang kualitas gambarnya sangat memuaskan. Semua klip dan
lagu dapat dinikmati dan dinyanyikan lewat layar LCD yang menyatu dengan
dinding ruangan yang ukurannya minimal 34 inchi. Dari sisi sound system Eclub patut diacungi jempol, biasanya di tempat lain suara laudspeakernya agak
pecah, akan tetapi di E-club ini tidak terjadi walaupun dari ukuran ruangan
tetap sama dengan yang lain.
E-club tidak hanya mampu memuaskan pengunjung dengan peralatan
teknologi yang mutakhir, namun ditunjang
pula
desain
interior
keren
dan memanjakan mata. Mulai dari lobby, pengunjung sudah menemui ruang
tunggu dengan sofa yang empuk dan suguhan video klip di layar LCD.
Beranjak dari situ, ada dua pilihan cara menuju ke lantai 1 dan 2, melalui
tangga atau lift. Memasuki lantai 2 dan 3, pengunjung akan menemui lorong
penuh warna dengan desain penerangan yang low, namun tidak bernuansa
mesum melainkan lebih bernuansa modern.
Untuk ruangan juga mendapat perhatian khusus, dengan decoration
ruangan yang modern yang ditawarkan menjadikan E-club Karaoke Keluarga
menjadi tempat bernyanyi yang tercantik. Agar pengunjung tidak bosan, pihak
E-club menawarkan decoration yang berbeda-beda pada room-room karaoke.
Ada tema White, di mana pengunjung akan merasakan dinginnya kutub utara.
Tema Sea World yaitu seperti di bawah kapal laut. Tema Green, pengunjung
akan dibawa ke dalam hijaunya buah apel. Tema Japan, akan membuat
pengunjung merasakan keindahan ornamen Jepang. Tema Egypt, membuat
pengunjung bernyanyi dalam suasana kemewahan kerajaan mesir. Tema Royal
Suite Room sendiri pengunjung akan dibawa ke dalam suasana silaunya Las
Vegas, serta tentunya berbagai tema room lainnya yang akan membuat
pengalaman berkaraoke pengunjung menjadi lebih menarik. E-club sebagai
salah satu pemegang prinsip karaoke keluarga yang bersih, mempunyai slogan
NO Whisky, NO Hostess, and NO Drug.
Saat ini jumlah ruangan karaoke di E-club Karaoke Keluarga di Kota
Makassar sebanyak 26 ruangan. Semua ruangan juga dilengkapi dengan jendela
besar tembus pandang dengan rancangan yang unik. Ruangan karaoke di Eclub memiliki tingkat privacy yang terbatas. Jendela besar tembus pandang
secara tidak langsung membatasi privacy pengunjung. Untuk mempertahankan
citra E-club sebagai karaoke keluarga, E-club tidak bisa memberikan privacy
yang terlalu bebas. Selain decoration ruangan yang berbeda-beda, E-club juga
menawarkan fasilitas karaoke yang terbilang mewah. Layar LCD 34-43 inchi
akan menayangkan klip dan teks lagu yang di request. Di dalam ruangan juga
disediakan sofa empuk dan peralatan musik seperti ketipung. Dengan koleksi
puluhan ribu lagu, mulai
lagu
Indonesia,
Barat,
maupun
Mandarin
pengunjung di jamin tidak akan bosan. Konsep karaoke keluarga yang
diusung E-club tentu akan membuat pengunjung merasa nyaman berkaraoke
bersama keluarga ataupun teman-teman. Apalagi ada diskon sebesar 50%
yang diberikan kepada setiap pengunjung yang datang dari pukul 12.0018.00 dan pukul 23.01-tutup pada hari minggu-kamis.
Diskon yang diberikan tersebut adalah sebagai program promo yang
disebut Happy Hour. Happy Hour adalah jam-jam tertentu di mana harga
sewa ruangan diberi diskon yang sangat menarik. Selain itu, E-club juga
mempunyai program membership yang dinamakan Puppy Club. Puppy Club
adalah program keanggotaan dari E-club Karaoke Keluarga. Anggota Puppy
Club akan mendapat diskon semua transaksi di luar program promosi sebesar
10%. Selain itu, Puppy Club memberikan berbagai penawaran dan fasilitas
menarik bagi para anggotanya. Puppy Club berlaku disemua outlet E-club dan
Suka-Suka Karaoke Keluarga. Untuk mendaftar menjadi anggota cukup dengan
mengeluarkan biaya sebesar Rp 100.000,-. E-club sendiri setiap hari buka dari
pukul 12.00-03.00 pagi. Setiap pengunjung yang ingin berkaraoke di E-club
akan dikenakan pajak 10% dan service charge 5% dari harga sewa ruangan,
begitu juga apabila memesan makanan ataupun minuman dikenakan pajak 10%
dan service charge 5% dari harga makanan ataupun minuman yang di pesan.
BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Gambaran Umum Kota Makassar
Kota Makassar merupakan kota terbesar di kawasan timur Indonesia.
Sejak abad ke-16 kota ini sudah dikenal sebagai pusat pemerintahan
khususnya
daerah Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Secara administratif
kota makassar adalah Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan, sekaligus sebagai
pusat pemerintahan Kota Makassar.
Kota Makassar dengan luas wilayah 175,77 km², terletak di pantai
barat semenanjung Selatan pulau Sulawesi berbatasan dengan:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Pangkajene
dan Kepulauan (Pangkep),
2. Sebelah Selatan dengan wilayah Kabupaten Gowa,
3. Sebelah Timur dengan wilayah Kabupaten Maros, dan
4. Sebelah Barat dengan pesisir pantai Selat Makassar.
Kota Makassar (Macassar, Mangkasar, Ujung Pandang (19711999)) adalah salah satu kota metropolitan di Indonesia dan sekaligus sebagai
ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Kota Makassar merupakan kota terbesar
keempat di Indonesia dan terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Sebagai pusat
pelayanan di Kawasan Timur Indonesia (KTI), Kota Makassar berperan sebagai
pusat perdagangan dan jasa, pusat kegiatan industri, pusat kegiatan
pemerintahan, simpul jasa angkutan barang dan penumpang baik darat, laut
maupun udara dan pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan.
Kota Makassar terletak antara 119°24‟17‟38” Bujur Timur dan
5°8‟6‟19” Lintang Selatan yang berbatasan sebelahutara dengan Kabupaten
49
Maros, sebelah timur Kabupaten Gowa dan sebelah barat adalah Selat
Makassar. Ketinggian Kota Makassar bervariasi antara 0 - 25 meter dari
permukaan laut, dengan suhu udara antara 20° C sampai dengan 32° C. Kota
Makassar diapit dua buah sungai yaitu: Sungai Tallo yang bermuara disebelah
utara kota dan Sungai Jeneberang bermuara pada bagian selatan kota. Luas
wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km persegi yang meliputi 14 kecamatan,
143 kelurahan, 971 RW dan 4789 RT. Penduduk kota Makassar tahun 2009
tercatat sebagai 1.272.349 jiwa yang terdiri dari 610.270 laki-laki dan
662.079 perempuan. Sementara itu jumlah penduduk kota Makassar tahun 2008
tercatat sebanyak 1.253.656 jiwa. Untuk jumlah penduduk
kota Makassar
pada tahun 2010 tercatat sebanyak 1.339.374 jiwa yang terdiri dari 661.379
laki-laki dan 677.995 perempuan. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin
dapat ditunjukkan dengan rasio. jenis kelamin penduduk kota Makassar yaitu
sekitar 97,55 persen, yang berarti setiap 100 penduduk wanita terdapat 98
penduduk laki-laki.
Penyebaran penduduk kota Makassar dirinci menurut kecamatan,
menunjukkan bahwa penduduk masih terkonsentrasi di wilayah kecamatan
Tamalate, yaitu sebanyak 170.878 atau sekitar 12,76 persen dari total
penduduk, disusul kecamatan Biringkanaya sebanyak 167,741 jiwa atau 12,52
persen. Kecamatan Rappocini sebanyak 151.091 jiwa (11,28 persen) dan
yang terendah adalah kecamatan Ujung Pandang sebanyak 26.904 jiwa (2,01
persen).
50
Tabel
Distribusi Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin
JUMLAH
PENDUDUK
170.878 jiwa
KECAMATAN
Tamalate
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
84.474
86.404
Rappocini
151.091 jiwa
73.377
77.714
Panakukang
141.382 jiwa
69.996
71.386
Ujung Pandang
26.904 jiwa
12.684
14.220
Makassar
81.700 jiwa
40.233
41.467
Mariso
55.875 jiwa
27.836
28.039
Bontoala
54.197 jiwa
26.432
27.764
Wajo
29.359 jiwa
14.279
15.080
Tamalanrea
103.192 jiwa
50.976
52.216
Manggala
117.075 jiwa
58.451
58.624
Ujung Tanah
46.688 jiwa
23.380
23.380
Biringkanaya
167.741 jiwa
83.203
84.538
Tallo
134.294 jiwa
67.247
67.047
58.998 jiwa
28.811
30.187
661.379
677.995
Mamajang
JUMLAH
1.339.374 jiwa
Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Makassar Tahun 2011
a. Pendidikan Penduduk
Pembangunan bidang pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa. Pembangunan sumber daya manusia suatua Negara akan
menentukan ekonomi dan sosial, karena manusia pelaku aktif dari seluruh
kegiatan
tersebut.
Pada
tahun
2010/2011
di
kota
Makassar, jumlah
Sekolah Dasar sebanyak 452 unit dengan jumlah guru sebanyak 6.033 orang
dan jumlah murid sebanyak 144.499 orang. Jumlah SLTP sebanyak 179 unit
dengan guru sebanyak 4.268 orang dan murid mencapai 61.107 orang. Jumlah
SLTA 116 unit dengan jumlah guru sebanyak 5.595 orang dengan jumlah murid
sebanyak 35.567 orang.
51
b. Agama Penduduk
Mayoritas penduduk Makassar adalah pemeluk agama Islam, terdapat
banyak bangunan Masjid sebagai sarana peribadatan bagi umat Muslim. Pada
tahun 2010 masing-masing berjumlah 923 buah dan mushalla 48 buah. Tempat
peribadatan Kristen berupa gereja masing-masing 137 buah gereja protestan dan 8
buah gereja katholik. Tempat peribadatan untuk agama Buddha dan Hindu
masing-masing berjumlah 26 buah dan 3 buah. Disamping itu juga terdapat
berbagai upacara-upacara adat yang berhubungan dengan nilai keagamaan,
misalnya saja setiap anak yang
lahir
dilangsungkan acara-acara
yang
berhubungan dengan keagamaan, dimana dalam beberapa hari sesudah bayi
dilahirkan, dilakukan upacara member nama yang dikenal dengan „aqikah‟
yakni penyembelihan hewan oleh Orang Tua sang bayi. Makassar sebagai salah
satu Kota besar yang memiliki sifat penduduk yang heterogen baik dari segi
agama, suku, dan budaya, adanya sifat heterogenitas ini pula yang dapat
memungkinkan timbulnya banyak masalah-masalah sosial, untuk itu selalu
dibutuhkan toleransi, saling menghormati, dan saling menghargai antar umat
beragama agar terciptanya suasana masyarakat yang integratif.
Penataan kehidupan beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa yang tercermin dalam meningkatnya keimanan dan ketakwaan, makin
meningkatnya kerukunan hidup beragama dan penganut kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa. Perkembangan pembangunan dibidang spiritual dapat
dilihat dari banyaknya sarana peribadatan, tingkat, keimanan dan ketakwaan
masing-masing pemeluk agama, serta sikap toleransi antar umat beragama yang
menggambarkan kerukunan antar pemeluk agama dan senantiasa menciptakan
suasana yang selalu aman serta kondusif.
52
c. Sarana dan Prasarana
Kota Makassar bisa dikategorikan sebagai kota dengan pertumbuhan
ekonomi yang pesat. Sebab Makassar memiliki banyak sarana perekonomian
yang terbuka tiap harinya. Yakni Shopping Mall, Supermarket dalam ukuran
besar maupun kecil, berbagai industri, took- toko, dan juga termasuk pasar serta
pedangang kecil-kecilan.
Sarana Jalan di sepanjang kota Makassar tengah dilakukan upaya
alternatif jalan dengan melakukan pelebaran badan jalan dan penambahan
jembatan laying atau flyover yang dibangun untuk meretas kemacetan yang
hampir terjadi tiap harinya. Sedangkan untuk saran komunikasi, penduduk kota
Makassar telah difasilitasi dengan beragam pemancar untuk jaringan telivisi,
radio dan telepon.
B. Profil Informan
Dalam rangka untuk mendapatkan data yang akurat dan dijamin
kualitasnya maka sebelum menentukan subjek/informan penelitian akan
dilakukan overview atau penjajakan terhadap informan yang dianggap
representatif memberikan informasi dengan mengajukan beberapa pertanyaan
yang terkait dengan permasalahan yang diteliti. Selanjutnya barulah ditentukan
subjek/informan. Informan awal dipih orang yang dapat membuka jalan untuk
menentukan informan berikutnya dan berhenti apabila data yang dibutuhkan
sudah cukup. Penelitian ini akan dilakukan dengan cara dipih secara sengaja
yaitu orang yang dianggap dapat memberikan informasi terhadap masalah,
melalui wawancara mendalam (indept interview). Informan yang dipilih berasal
dari berbagai kalangan masyarakat perkotaan yang terdapat di E-club Kota
Makassar. Berikut profil informan;
53
Daftar Nama Informan
1. Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
2. Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
3. Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
4. Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
5. Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
6. Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
7. Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
8. Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
9. Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
10. Nama
Umur
Pekerjaaan
Agama
11. Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
12. Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
: Aisyah Chadijah
: 23 Tahun
: Mahasiswa
: Islam
: Rismayanti
: 28 Tahun
: Pegawai Swasta
: Kristen Protestan
: Wawan Rahmadi
: 17 Tahun
: Pelajar (SMA)
: Islam
: Hannum Sekar Sari
: 24 Tahun
: Mahasiswi
: Islam
: Maya Ayu Setianingsi
: 29 Tahun
: Pegawai Negeri Sipil
: Islam
: Lina Mawardi
: 18 Tahun
: Pelajar (SMA)
: Islam
: Gunadi Syukur
: 53 Tahun
: Pegawai Swasta
: Islam
: Hanatri Putri
: 26 Tahun
: Mahasiswi (Pascasarjana)
: Islam
: Sella Hardita
: 29 Tahun
: SPG (Sales Promotion Girl)
: Islam
: Rahmadi Setiawan
: 34 Tahun
: Mahasiswa (Pascasarjana)
: Islam
: Agus Hendarto
: 18 Tahun
: Mahasiswa (Pascasarjana)
: Islam
: Erwin Eka Saputra
: 23 Tahun
: Pegawai Swasta
: Islam
54
13. Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
14. Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
15. Nama
Umur
Pekerjaan
Agama
: Akbar Septa
: 23 Tahun
: Pegawai Negeri Sipil
: Islam
: Indah Mayland Sari
: 19 Tahun
: Mahasiswi
: Islam
: Uly Dyaningsih Sari
: 29 Tahun
: Pegawai Swasta
: Islam
55
BAB IV
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Karaoke dan Masyarakat Perkotaan
Saat ini E-club Karaoke Keluarga di Kota Makassar merupakan salah
satu tempat hiburan yang banyak dipilih oleh sebagian masyarakat sebagai
tempat mereka menghabiskan sebagian waktu mereka untuk bernyanyi. Para
masyarakat ini biasanya berangkat dengan berbagai alasan masing-masing
tentang mengapa mereka memilih karaoke sebagai gaya hidup. Berikut adalah
beberapa alasan yang mendorong masyarakat berkaraoke;
a. Alasan Gengsi
Perkembangan yang bisa dianggap menonjol dalam pergeseran gaya
hidup yang melanda kalangan anak muda Indonesia adalah gaya hidup mereka
yang secara umum cenderung dipengaruhi oleh gaya hidup Barat. Saat ini
gaya
hidup
yang berasal dari Barat dianggap oleh sebagian masyarakat
perkotaan memiliki nilai lebih. Beberapa masyarakat perkotaan yang memiliki
gaya hidup “kebarat-baratan” menganggap bahwa mereka itu berasal dari
kalangan yang lebih baik bila dibandingkan dengan masyarakat yang masih
memegang gaya hidup “ketimur-timuran”.
Diserapnya ornamen-ornamen gaya
hidup
masyarakat
di Barat
merupakan sebuah cara yang dipakai oleh suatu kelompok masyarakat di
Indonesia untuk membedakan dirinya dari kelompok lain. Perbedaan tersebut
bertujuan untuk menyadarkan mereka yang tidak mampu “membarat” bahwa
mereka berkekurangan, tertinggal, dan terbelakang (Budiman, 2002:250).
Secara tidak sadar sebagian Masyarakat Perkotaan telah melakukan perbedaan-
56
perbedaan antara diri mereka dengan masyarakat umum.
Selain
itu,
dalam pergaulannya
sebagian masyarakat perkotaan
cenderung bergaul dengan individu-individu yang memiliki kesamaan gaya
hidup dengan mereka. Bagi sebagian masyarakat perkotaan bergaul dengan
orang yang memiliki gaya hidup yang berbeda tentu akan menemukan banyak
ketidaksamaan dalam berbagai hal. Sebagian masyarakat perkotaan memang
akan lebih merasa nyaman apabila memiliki teman dengan gaya hidup yang
sama dengan mereka, namun bukan berarti mereka menutup diri untuk tidak
bergaul dengan orang yang berbeda gaya hidup dengan mereka.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia budaya ataupun gaya hidup Barat
mampu menyatakan sebuah keunggulan (Budiman, 2002:249). Lebih lanjut
dijelaskan Budiman, hal ini sangat dimungkinkan berakar pada dua hal; (a)
sindrom yang diderita masyarakat-masyarakat bekas jajahan yang cenderung
melihat bekas penjajahnya sebagai wakil dari keberhasilan dalam segala hal;
(b) orientasi pembangunan yang diberlakukan oleh rezim Orde Baru yang
sejak awal jelas-jelas menjadikan negara-negara maju di Barat sebagai model
yang harus ditiru.
Karaoke merupakan salah satu gaya hidup yang berasal dari negara
Jepang. Di mata sebagian masyarakat perkotaan kegiatan karaoke itu memiliki
nilai prestige. Adanya anggapan bahwa orang-orang yang melakukan kegiatan
karaoke adalah orang-orang yang berasal dari golongan kelas menengah atas
yang memiliki uang lebih untuk dihambur-hamburkan telah mendorong
sebagia masyarakat perkotaan untuk melakukan hal yang sama agar dianggap
berasal dari golongan kelas menengah atas juga. Seperti yang diungkapkan
oleh Aisyah Chadijah, mahasiswi swasta semester sepuluh :
57
“Orang-orang yang karaokean di E-club kebanyakan orangorang yang tajir, kalau saya karaokean di E-club saya dianggap
tajir juga dong, jadi aku gak harus capek lagi ngumpulin duit
banyak biar dikatain tajir. Betul gak?”
Namun, pada kenyataannya sebagian masyarakat yang melakukan
kegiatan karaoke bukanlah berasal dari golongan kelas menengah atas. Seperti
yang diungkapkan oleh Rismayanti, Pegawai di salah satu perusahaan swasta :
“Memang banyak orang yang tajir berkaraoke di E-club, tapi
lebih banyak lagi yang gak tajir tapi pada sok tajir. Aku
bukannya anak tajir, cuma aku pengen aja rasain gimana rasanya
karaokean di sini. Akupun datang karaokean ke sini kalau tidak
ditraktir teman. Kalau patung-patungan dengan teman biaya yang
aku keluarkan gak besar, trus aku uda bisa karaokean
sepuasnya.”
Selain itu, dalam berpakaianpun mereka berusaha untuk tampil berbeda
dengan yang lainnya. Sebisa mungkin gayanya khas dan orang lain tidak
mampu menirunya, walaupun dari segi materi sama sekali tidak mendukung
keberadaan kelasnya. Seperti yang diungkapkan oleh Wawan Rahmadi, pelajar
SMA Negeri :
“Kalau mau karaoke, aku dan teman-teman ku berusaha tampil
semenarik mungkin dengan memakai pakaian yang bagus-bagus
tentunya, sebab dengan berpenampilan menarik orang pasti
mengira kalau kami itu anak tajir, padahal nyatanya ngak”.
Selain berpenampilan menarik, sebagian masyarakat perkotaan juga
memperhatikan berbagai aksesoris lainnya yang dapat mendukung keberadaan
kelasnya yaitu dengan memiliki handphone yang bermerek, laptop, i-phone,
dan berbagai alat-alat canggih lainnya.
Kegiatan karaoke yang dianggap sebagai gaya hidup masyarakat
modern telah membuat sebagian masyarakat Kota Makassar terutama
masyarakat perkotaan berusaha untuk bisa melakuan kegiatan tersebut. Mereka
melakukan kegiatan karaoke karena tidak ingin dikatakan ketinggalan zaman.
58
Seperti yang diungkapkan oleh Hannum Sekar Sari, mahasiswi negeri semester
enam :
“Kalau gak karaoke gak gaullah, aku dulu sering dikatain temanteman kuper (kurang pergaulan) karna gak pernah mau diajakin
karaokean, trus daripada aku dibilang kuper ya uda aku coba
ikutan karaokean dengan teman-teman ku, setelah aku coba
sekali, eh… aku malah ketagihan.”
Alasan gengsi dan rasa tidak ingin ketinggalan ternyata mampu membuat
seseorang mengubah gaya hidupnya. Siapapun orangnya berhak untuk memiliki
gaya hidup yang dirasakan nyaman dan sesuai dengan dirinya. Awalnya tujuan
masyarakat perkotaan berkaraoke adalah untuk menetralisasikan kepenatannya
setelah seharian beraktivitas di kampus ataupun sekedar untuk bersenang-senang
mengisi waktu luang. Seiring berjalannya waktu maka terjadilah perubahan.
Masyarakat
perkotaan
melakukan
kegitan
karaoke
bukan
lagi
untuk
menetralisasikan kepenatannya ataupun sekedar untuk bersenang- senang, akan
tetapi untuk menunjukkan keberadaan kelas ataupun statusnya dihadapan
masyarakat umum.
b. Ajakan Teman
Adanya ajakan dari teman-teman dekat juga menjadi alasan sebagian
masyarakat perkotaan melakukan kegiatan karaoke. Banyak orang yang ikut
melakukan suatu kegiatan dikarenakan temannya melakukan kegiatan tersebut,
walaupun pada awalnya mereka sama sekali tidak merasa tertarik untuk
mencobanya. Menurut Mutmainah, anak muda memang tidak bisa dilepaskan dari
kehidupan berkomunitas, anak muda paling senang nongkrong bersama kelompok
dan teman-teman sebayanya (http://patricktts.blog.friendster.com/ketika-dugemdijadikan-salah-satu ukuran-gaul/).
Dijelaskan lebih lanjut bahwa dalam bergaul selalu ada tekanan dari dalam
59
diri seorang individu untuk melakukan hal yang sama dengan teman satu
kelompoknya.
Bagi sebagian orang,
berkaraoke memang memerlukan
adanya teman. Berkaraoke tidak akan terasa ramai dan asyik tanpa adanya
teman-teman.
c. Alasan Hiburan
Setiap manusia pasti pernah merasakan kejenuhan dalam hidupnya dan
akan membutuhkan hiburan guna menghilangkan kejenuhan tersebut. Hal ini
jugalah yang terjadi pada sebagian masyarakat perkotaan yang melakukan
kegiatan karaoke. Segudang aktivitas yang dilalui masyarakat perkotaan memaksa
mereka untuk menetralisasikan kepenatan mereka dengan berkaraoke sebagai
pelampiasannya. Seperti yang diungkapkan oleh Maya Ayu Setianingsi, Pegawai
Negeri Sipil :
“Aku biasanya mau diajak karaokean sama teman-teman ku
kalau aku lagi suntuk memikirkan banyaknya tugas dari atasan.
Kalau sudah berada di ruangan karaoke, seketika pikiran ku
tentang tugas- tugas dari atasan itu hilang dengan sekejap. Tapi
kalau uda sampe di rumah, aku kembali kepikiran dengan tugastugas ku tadi.”
Gaya hidup yang dianut oleh sebagian masyarakat Kota Makassar
terutama masyarakat perkotaan pada saat ini cenderung hanya mengikuti trend
yang berlaku. Dengan kata lain, tindakan yang dilakukan seorang individu
bukanlah murni tindakan objektifnya, akan tetapi termotivasi oleh unsur-unsur
yang ada di luar individu sehingga apa yang sedang berlaku umum disekitarnya
itulah yang menjadi dasar tindakannya.
Bagi masyarakat perkotaan yang ingin berkaraoke harus reservation
terlebih dahulu, lalu resepsionis akan menanyakan “pilih ruangan yang mana”
dan “atas nama siapa”. Ruangan ditentukan dari jumlah orang yang ingin
berkaraoke, misalnya yang ingin berkaraoke sebanyak enam orang, maka
60
ruangan yang dipilih adalah small 6. Setelah selesai reservation, masyarakat
perkotaan akan diantar ke dalam ruangan oleh salah seorang petugas yang
ditunjuk oleh resepsionis sebagai penunjuk jalan. Biasanya komsumen
(masyarakat) akan diantar dengan menggunakan lift. Setelah sampai di
dalam ruangan, petugas yang mengantar tadi akan menyalakan lampu, AC,
dan TV, serta tidak lupa memakaikan sarung mikropon. Untuk selanjutnya
petugas tersebut akan menanyakan kepada komsumen, “mau pesan apa”. Orang
yang berkaraoke di E-club wajib memesan makanan ataupun minuman, dan
sebaliknya tidak diperbolehkan membawa makanan ataupun minuman dari
luar. Untuk alasan khusus makanan ataupun minuman dari luar dapat
dikonsumsi di E-club dengan biaya khusus. Apabila kedapatan membawa
makanan ataupun minuman dari luar, maka akan dikenakan charge yaitu
membayar makanan ataupun minuman yang dibawa kepada pihak E-club sesuai
dengan harga yang telah ditetapkan oleh pihak E-club.
Akan tetapi, tidak semua komsumen mahir menggunakan audio visual
yang di fasilitasi oleh pihak E-club. Menurut pengakuan salah seorang
Pelajar (SMA), namanya Lina Mawardi :
“Jujur, awalnya aku dan teman-teman ku sama sekali gak tau
gimana cara menggunakan komputernya. Mau bertanya sama
petugasnya gengsilah, ntar di pikir cantik-cantik eh... ternyata
gaptek (gagap teknologi), kan gak lucu aja, akhirnya gak jadi deh
kami tanya. Jalan satu-satunya ya uda kami otak-atik aja
komputernya sampai bisa, eh… ternyata bisa. Setelah musiknya
jalan, kamipun tertawalah, dan mulai deh nyanyi.”
Untuk membuat suasana bernyanyi menjadi lebih seru, diantara
komsumen akan bertanding suara siapa yang lebih bagus dengan mengaktifkan
reset score dari layar komputer dan sehabis menyanyikan sebuah lagu scorenya
akan muncul di layar LCD. Komsumen yang scorenya tinggi akan bangga
61
dengan kualitas suaranya, sedangkan komsumen yang scorenya kecil akan
sedikit kecewa dengan kualitas suaranya. Untuk komsumen yang scorenya
tinggi akan mendapat tepukan tangan dari teman-temannya, sedangkan
komsumen yang scorenya kecil akan mendapat ejekan dari teman-temannya.
Berbagai macam kegiatan yang dilakukan masyarakat ketika sudah
berada di ruangan karaoke, mengambil mikropon dan langsung menyanyikan
lagu yang sedang dimainkan. Menurut pengakuan Gunadi Syukur, pegawai di
salah satu perusahaan swasta :
“Kita bisa jadi orang lain begitu memasuki ruangan karaoke
ini. Awalnya suasana agak kaku dan sering lupa nada lagu
termasuk malu-malu, tapi lama kelamaan suasana memanas
begitu dengar iringan musik mimpi manisnya Dewi Persik,
jangankan jempol, pinggulpun ikut bergoyang”.
Sewaktu bernyanyi masyarakat juga bisa menggunakan peralatan musik
berupa ketipung untuk mengiringi lagu yang dinyanyikan. Apabila ketipung
dipukul akan memancarkan cahay yang berwarna-warni yang membuat
masyarakat semakin bersemangat untuk bernyanyi. Di ruangan karaoke
masyarakat bukan hanya bernyanyi,
akan tetapi juga pacaran.
Biasanya
komsumen yang pacaran ini akan menyanyikan lagu yang bertema percintaan
dan kalau bisa lagu tersebut yang khusus untuk diduetkan. Satu hal yang perlu
diketahui bahwa di E-club Karaoke Keluarga sangat tidak dimungkinkan untuk
berbuat mesum, sebab saat bernyanyi pengunjung sudah diawasi dari luar oleh
petugas E-club. Para petugas E-club akan memantau pengunjung lewat pintu
yang dipasangi kaca besar tembus pandang. Untuk mempertahankan citra Eclub sebagai karaoke keluarga, E-club tidak bisa memberikan privacy yang
terlalu bebas.
Selain itu, di ruangan karaoke ada juga komsumen yang sama sekali
62
tidak mau bernyanyi dengan alasan suaranya tidak bagus. Konsumen dalam
hal ini masyarakat perkotaan yang cenderung tidakmau bernyanyi ini
biasanya akan membuka facebook dari handphonenya. Setelah facebookfacebookan, masyarakat ini akan memfoto-foto teman-temannya yang lagi asyik
bernyanyi dan berjoget dari kamera handphonenya.
Masyarakat bernyanyi disesuaikan dengan suasana hatinya, kalau
suasana hatinya lagi sedih ia menyanyikan lagu yang sedih, kalau suasana
hatinya lagi gembira ia menyanyikan lagu yang gembira. Berbagai macam jenis
musik yang dibawakan oleh masyarakat di E-club yang berkaraoke, mulai dari
musik pop, R&B, jazz, rock, hingga dangdut. Musik dangdut merupakan jenis
musik yang paling sering dibawakan oleh masyarakat, sebab dengan musik
dangdut mereka dapat menetralisasikan kepenatan mereka dengan berjoget.
Konsumen yang berjoget di depan akan memancing teman-temannya
untuk berjoget juga ke depan, kalau diantara temannya ada yang tidak mau
berjoget ke depan, maka salah satu konsumen yang berjoget di depan akan
menarik tangan temannya tersebut. Berada di ruangan karaoke membuat
konsumen menjadi lupa waktu. Seperti yang dipaparkan oleh Hanatri Putri,
mahasiswi pascasarjan di salah satu universitas negeri di Makassar :
“Aku dan teman-teman biasa karaoke selama satu jam, tapi
satu jam itu terasa sangat cepat, jadi terkadang kalau waktunya
sudah mau habis kami perpanjang lagi deh waktunya, perpanjang
waktunya gak harus reservation lagi, sebab di layar komputer
uda ada tertulis mau perpanjang waktu atau gak.”
Pembayaran sewa ruangan, makanan ataupun minuman dibayar ketika
konsumen sudah ada setengah jam berkaraoke. Itupun pembayarannya
diambil ke dalam ruangan oleh seorang petugas yang ditunjuk oleh pihak Eclub. Berkaraoke di E-club terasa seperti berada di rumah sendiri, apalagi
63
pelayanan dari petugasnya terbilang sangat
memuaskan. Setelah selesai
berkaraoke, di layar LCD konsumen akan diingatkan untuk melihat barangbarang bawaannya mana tahu ada barang yang ketinggalan. Konsumen yang
selesai berkaraoke akan diantarkan oleh seorang petugas sampai ke ruang
tunggu dan petugas tersebut akan mengatakan “terima kasih atas kunjungannya
dan selamat datang kembali”.
B. Pandangan Masyarakat terhadap Karaoke
Beragam pendapat yang dikemukakan oleh mahasiswa di lapangan
mengenai pandangan mereka tentang karaoke, adapun pendapat-pendapat
tersebut adalah sebagai berikut :
Sella Hardita, SPG (Sales Promotion Girl) di salah satu toko di Makassar:
“Dulunya aku berpandangan bahwa karaoke itu adalah tempat
para kaum lelaki bersenang-senang didampingi wanita penghibur
sambil minum-minuman keras. Akan tetapi, setelah aku coba
karaokean di sini, ternyata karaoke itu tidak seperti yang aku
bayangkan dulu. Karaoke kini telah menjadi tempat hiburan yang
baik buatku dan juga buat teman-temanku. Aku merasa senang
bisa karaokean di sini.”
Rahmadi Setiawan, mahasiswa (Pascasarjana) :
“Trend gaya hidup orang perkotaan tidak hanya melulu shopping
atau sekedar jalan-jalan di mall untuk menghabiskan waktu
luangnya. Jika dulunya anak-anak muda, khususnya anak-anak
muda di Kota Makassar suka nongkrong di cafe berjam-jam, atau
ngeceng di mall untuk menghabiskan waktu luangnya, kini
perlahan mulai bergeser. Anak-anak muda kini sering
memanfaatkan waktu luangnya dengan hal yang positif, salah
satunya dengan karaoke. Karaoke merupakan sarana rekreasi
untuk melepas penat dan sekarang telah menjadi trend pada
anak-anak muda.”
Agus Hendarto, mahasiswi (Pascasarjana) :
“Karaoke itu sudah seperti kebutuhan, setiap satu kali dalam
sebulan wajib karaoke, selain sehat juga untuk mengisi waktu
luang, sekalian berkumpul dengan teman-teman.Karaoke selain
sebagai tempat hiburan pelepas stres juga sebagai media
64
penyalur hobi bernyanyiku”
Erwin Eka Saputra, Pegawai Swasta di salah satu perusahaan di Makassar :
“Kalau dulunya aku berpandangan bahwa karaoke itu adalah tempat
hiburan orang-orang yang ekonominya mapan. Akan tetapi, kenyataannya
sekarang karaoke itu sudah menjadi tempat hiburan yang dapat dinikmati
oleh kalangan manapun. Mau dia ekonominya mapan atau ngak, tetap saja bisa
menikmati tempat hiburan ini. Lagian karaokean di sini ngak mahal-mahal
kalinya, masih dalam kategori terjangkaulah.”
65
C. Manfaat Berkaraoke
Tidak peduli itu suara fals, sumbang, ataupun merdu, ada banyak
manfaat berkaraoke. Pastinya, aktivitas tersebut bisa menghilangkan stres,
menumbuhkan suasana akrab dengan teman-teman, bisa tertawa dengan lepas,
meningkatkan rasa percaya diri, dan dijadikan sarana latihan vokal. Menurut
Akbar Septa, Pegawai Negeri Sipil :
“Awalnya kami mulai karaokean di NAV yang terletak di depan
MP (Mall Panakukang), lalu seiring munculnya tempat karaoke
lain, kamipun coba-coba di E-club. Karaoke bukan hiburan
biasa, tapi karaoke berpotensi menjadi terapi hidup. Di tengah
ruwetnya problematika kehidupan sosial, sebagian orang
menganggap karaoke sebagai terapi. Tidak penting apakah kita
butuh atau tidak, yang jelas dengan berkaraoke kita memahami
alasan manusia butuh aktualisasi gaya hidup tersebut. Satu hal
yang harus kita ingat bahwa karaoke itu lebih sehat ketimbang
diskotik.”
Berbeda dengan yang diungkapkan oleh Indah Mayland Sari, mahasiswi
negeri semester dua :
“Berkaraoke merupakan obat yang paling mujarab untuk
mengurangi rasa penat setelah seharian menjalani rutinitas
perkuliahan. Berkaraoke bukanlah hobi yang mahal, paling tidak
aku cukup menyiapkan uang sebesar Rp 20.000,- untuk dapat
berkaraoke dengan lima orang teman ku selama satu jam.”
Lain lagi dengan yang diungkapkan oleh Uly Dyaningsih Sari, Pegawai
Swasta di perusahaan provider:
“Kalau yang aku dapatkan manfaat dari berkaraoke ini adalah
timbulnya semangat baru, pikiran jadi segar, dan wajah menjadi
ceria.”
Bagi orang yang hobinya berkaraoke pasti merasakan manfaat
bahwa
menyanyi
menyenangkan,
mendatangkan
energi
positif,
dan
menghilangkan ketegangan. Selain itu, berkaraoke merupakan salah satu resep
66
paling murah untuk menjaga kesehatan. Sewaktu bernyanyi secara tidak
langsung seseorang akan mengatur nafasnya dengan teratur, hal itu ternyata
akan memperbaiki syaraf-syaraf yang tegang. Tidak hanya sampai di situ,
ketika selesai
bernyanyi
biasanya
ada tepukan tangan yang diperoleh,
tepukan tangan itu juga ternyata memiliki manfaat bagi kehidupan. Tepukan
tangan dari keluarga ataupun teman-teman adalah bentuk dari dukungan sosial
yang bisa meningkatkan kepuasan serta rasa percaya diri seseorang.
“Dengan berkaraoke dapat membawa manfaat dalam
mengakrabkan hubungan kedekatan dengan keluarga ataupun
teman-teman. Karaoke keluarga saat ini menjadi tempat hiburan
yang sangat diminati oleh sebagian masyarakat Kota Makassar.
Banyak sekali keluarga ataupun sekelompok anak muda yang
sengaja menyediakan waktu luang untuk sekedar berkaraoke
bersama. Keadaan ini membuat tempat karaoke selalu
dipenuhi penggemarnya. Bahkan, banyak orang yang memesan
tempat karaoke terlebih dahulu sebelum menuju ke tempat
karaoke.”
67
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan dan saran sangat penting pada akhir penelitian, karena kedua hal
tersebut mempengaruhi kondisi penelitian. Kesimpulan memuat hal-hal apa saja
yang menjadi kata akhir dalam penelitian ini, sedangkan saran merupakan kumpulan
masukan maupun kritikan terhadap fokus penulisan yang dapat membangun dan
memperbaiki fokus penulisan sejenis dikemudian hari.
A. Kesimpulan
Berbagai tempat-tempat hiburan di daerah perkotaan terus bertambah.
Setiap tempat hiburan memiliki daya tarik tersendiri dan memiliki penikmatnya
masing- masing. Kemajuan teknologi merupakan salah satu faktor pendukung
berkembangnya tempat-tempat hiburan di daerah perkotaan dan salah satu tempat
hiburan yang sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi adalah tempat karaoke.
Dari hasil penelitian yang diuraikan di atas telah menjawab ketiga
pertanyaan penelitian yang diajukan dalam permasalahan. Pertanyaan pertama
dapat
dijawab bahwa pandangan masyarakat perkotaan tentang karaoke adalah
dulunya karaoke dipandang sebagai tempat para kaum lelaki bersenang-senang
dengan minum-minuman keras sambil didampingi wanita penghibur. Namun,
dengan munculnya karaoke yang bertema karaoke keluarga telah
mengubah
pandangan miring mereka selama ini. Karaoke kini telah menjadi trend bagi
anak-anak muda. Kalau dulunya anak-anak muda suka nongkrong di cafe berjamjam atau sekedar jalan-jalan di mall untuk menghabiskan waktu luangnya, kini
perlahan mulai bergeser. Mereka kini sering memanfaatkan waktu luangnya yaitu
dengan berkaraoke ria. Selain itu, karaoke juga telah mereka anggap sebagai suatu
kebutuhan yaitu sebagai tempat hiburan pelepas stres juga sekaligus sebagai media
68
penyalur hobi bernyanyi mereka. Karaoke bukan hanya tempat hiburan buat
orang-orang yang ekonominya mapan. Akan tetapi, karaoke sudah menjadi
tempat hiburan yang dapat dinikmati oleh kalangan manapun.
Pertanyaan kedua dapat dijawab bahwa yang pertama sekali yang dilakukan
masyarakat saat karaoke adalah memesan tempat. Memesan tempat ditentukan dari
jumlah orang yang ingin berkaraoke. Setelah memesan tempat, masyarakat akan
diantar ke dalam ruangan oleh salah seorang petugas yang ditunjuk oleh
resepsionis sebagai penunjuk jalan. Setelah berada di dalam ruangan yang
dilakukan masyarakat selanjutnya adalah memilih-milih lagu yang akan
dimainkan. Untuk mempermudah pencarian lagu yang akan dimainkan,
masyarakat dalam hal ini konsumen karokean tinggal mengetik judul lagu atau
nama penyanyinya dari keyboard dan dengan seketika di layar komputer akan
muncul judul lagu yang dicari beserta dengan nama penyanyinya. Agar membuat
suasana bernyanyi menjadi lebih seru, diantara mereka akan bertanding suara siapa
yang lebih bagus dengan mengaktifkan reset score dari layar komputer dan sehabis
menyanyikan sebuah lagu scorenya akan muncul di layar LCD. Di dalam ruangan
karaoke mahasiswa bukan hanya bernyanyi, akan tetapi juga pacaran. Komsumen
yang pacaran akan menyanyikan lagu yang bertema percintaan dan kalau bisa lagu
itu yang khusus untuk diduetkan. Selain itu, kegiatan lainnya yang dilakukan
konsumen adalah membuka facebook dari handphonenya, memfoto-foto temantemannya yang lagi asyik bernyanyi dan berjoget. Biasanya ini dilakukan oleh
konsumen yang sama sekali tidak mau bernyanyi dengan alasan suaranya tidak
bagus.
Pertanyaan ketiga dapat dijawab bahwa manfaat yang diperoleh masyarakat
dengan karaoke adalah karaoke berpotensi menjadi terapi hidup. Karaoke
69
merupakan obat yang paling mujarab untuk mengurangi rasa penat setelah seharian
menjalani rutinitas. Dengan berkaraoke dapat menimbulkan semangat baru, pikiran
menjadi segar, dan wajah menjadi ceria.
Berdasarkan jawaban-jawaban tersebut diatas maka dapatlah disimpulkan
bahwa karaoke sebagai suatu gaya hidup masyarakat perkotaan karena dengan
karaoke
mereka
memperoleh
kepuasan
dan
kesenangan
yang
mampu
menghilangkan beban pikiran yang mereka rasakan. Berkumpul dan bercanda
dengan teman-teman di dalam ruangan karaoke dianggap sebagian masyarakat
perkotaan sebagai salah satu cara yang ampuh untuk menghibur diri dan
menghilangkan stres.
B. Saran
Dengan mengkonsumsi suatu gaya hidup tertentu, sebagian mahasiswa telah
merasa bahwa mereka sudah menjadi kelompok masyarakat perkotaan yang
modern. Perbedaan pendapat tentang bentuk kemajuan sebuah peradaban
tidak terlepas dari perbedaan nilai-nilai budaya yang ada di tengah masyarakat kita
dengan nilai-nilai budaya di Barat yang dianut oleh sebagian kalangan di perkotaan.
Sebuah kemajuan memang tidak harus menghilangkan nilai-nilai budaya
yang ada, namun tidak juga harus menolak nilai-nilai baru yang mampu
memberikan perubahan kearah kemajuan. Karaoke sebagai sebuah gaya hidup
memang memiliki nilai-nilai tentang kemajuan, namun karaoke juga memiliki nilainilai budaya yang mampu mengubah dan menghilangkan nilai-nilai budaya Timur
yang dimiliki masyarakat kita.
Dewasa ini perkembangan konstalasi dunia ditentukan oleh kekuatankekuatan negara-negara yang telah mencapai kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi
serta bidang lainnya. Negara-negara tersebut terutama berada di Eropa Barat,
70
Amerika Utara, Jepang, China dan sebagainya. Unsur-unsur dari luar yang
menunjang kemajuan kita serap. Unsur-unsur dari luar itu misalnya ilmu
pengetahuan yang bermutu tinggi, teknologi industri yang canggih, dan kerjasama
di bidang ekonomi. Dengan kata lain, kemajuan modernisasi dari luar kita terima
guna menyesuaikan diri dengan perkembangan konstelasi dunia. Namun, perlu
kita pahami bahwa dalam proses modernisasi, Indonesia tidak hanya menyerap
dan menerapkan hasil kebudayaan luar terutama yang berasal dari Barat bagi
kepentingan masyarakat Indonesia. Untuk menerima
kemajuan tersebut, bangsa
Indonesia harus bisa melakukan filterisasi atau penyaringan untuk menentukan
unsur mana yang akan diterima dan unsur mana yang akan ditolak
71
Daftar Pustaka
Literatur Buku :
Abdullah, Irwan
2006
Baudrillard, Jean. P
2004
Budiman, Hikmat
2002
Chaney, David
1996
Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Masyarakat Konsumsi. Yogyakarta: Kreasi Wacana
Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius
Life Style: Sebuah Pengantar Komprehensif.
Yogyakarta: Jala Sutra
Daeng, Hans J
2000
Manusia, Kebudayaan, dan Lingkungan.Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
FEUI Danandjaja, James
1994
Antropologi Psikologi Teori, Metode, dan Sejarah
Perkembangannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Kartodirdjo, Sartono
1987
Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah.
Yogyakarta: UGM Press
Koentjaraningrat
2002
Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta
Liyansyah, Muhammad
2009
Dugem:
Gaya
Hidup
Para
Clubbers
(Studi
Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retrospective).
Medan: tidak diterbitkan
Lury, Celia
1998
Budaya Konsumen. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Mirza, Rafika
2010
Musik R&B (Kajian Tentang Gaya Hidup Pemain Musik
R&B di Kota Medan). Medan: tidak
Mustamin, Menno
1994
Antropologi Perkotaan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Piliang, Yazraf Amir
1998
Dunia yang dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas
Kebudayaan. Bandung: Mizran
Satria, Fernando Eka
2006
Sepeda Sebagai Gaya Hidup Masyarakat Freiburg
dalam Judith Schlehe dan Pande Made Kutanegara (ed)
Budaya Barat dalam Kacamata Timur. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Sitorus, M
2000
Berkenalan dengan Sosiologi. Bandar Lampung: Erlangga
72
Sunarto, Kamanto
1993
Suparlan, Parsudi
1996
Winarno, Thomas
1980
Pengantar Sosiologi. Jakarta: LPManusia, Kebudayaan, dan Lingkungannya. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada
Pengembangan
Gaya
Hidup
dan
Mekanisme
Penyesuaian dalam Perkembangan Pribadi dan
Keseimbangan Mental. Bandung: Jemnas
Literatur Internet
http://frommarketing.blogspot.com/2009/08/definisi-gaya-hidup.html
http://www.jakartaconsulting.com/art-01-35.htm
http://soranalala.multiply.com/journal/item/5
http://id.88db.com/id/Knowledge/Knowledge_Detail.page/Club
Asosiasi- Komunitas/?kid=22781
http://leisure.id.finroll.com/karoke/13-karaoke/3101-contentproducer.html
http://patricktts.blog.friendster.com/2008/09/ketika-dugem-dijadikan-salah
satu- ukuran-gaul/
http://www.pemkomedan.go.id/selayang_informasi.php
http://www.pemkomedan.go.id/mdnpet.php
http://www.scbdp.net/webhelp/scr/Kota%20Medan.htm
http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybertainment/detail.aspx?x=Hot+Topic&y=cy
ertainment|0|0|2|195
http://www.medantalk.com/karaoke-keluarga-itu-apa-sih/
Literatur Artikel :
Artikel Modul Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif dikompilasi oleh Zulkifli
Lubis, 2007.
73
LAMPIRAN
74
75
76
77
LAMPIRAN
Download