AGRIPLUS, Volume 20 Nomor : 03 September 2010, ISSN 0854-0128

advertisement
213
INVESTASI CACING DAN PERTAMBAHAN BOBOT TERNAK DOMBA MELALUI
PEMBERIAN Effective Microorganisms (EM 4) DI PADANG PENGGEMBALAAN
Oleh: La Malesi 1)
ABSTRACT
The main problems of tropical pasture for grazing animals is low production and quality of herbage,
and high infestation of nematode. One of various methods to improve herbage productivity and quality, and to
minimize harmful effects due to parasites infestation was introduced the Effective Microorganism (EM 4) in
to the pasture. Forty eight female sheep was herded rotationally on Brachiaria humidicola pasture. The
experiment was obyective to know the effect of EM 4 on grass production and consumption, sheep body
weight gain and nematode eggs number. This experiment was arranged in split plot design replicated in time
consisted of 2 factors. The stocking rates was the main plot consisted of three levels: 2 sheep, 4 sheep, and 6
sheep/paddock. The EM 4 concentrations as the sub plot consisted of four levels: 0 ml (without EM 4), 10 ml,
20 ml and 30 ml EM 4/1 water. The results were 1) The body weight gain (BWG) increase significantly at the
rainy season compared to the early rainy season and ay dry season. 2) The highest number of nematode eggs
significantly occurred in the beginning of rainy season and in the grazing area untreated with EM 4.
Key words: Grazing, Effective Microorganisms, Brachiaria humidicola, Nematodes.
PENDAHULUAN
Padang penggembalaan merupakan
wilayah luas yang ditumbuhi oleh rumput
alami atau rumput unggul yang dibudidayakan
dan digembalai ternak.
Pada umumnya
kesuburan tanahnya rendah, dan curah hujan
rendah. Padang penggembalaan daerah tropis
yang aktif digembalai khususnya di Indonesia
memeliki berbagai permasalahan, dan masalah
yang paling utama adalah produksi rumput
yang rendah dan banyaknya investasi parasit
cacing. Padang penggembalaan yang telah
terinvestasi parasit cacing dapat menimbulkan
masalah yang berkaitan dengan produktivitas
domba yang digembalakan di atasnya. Bila
tidak diatasi dapat menimbulkan kerugian
dalam jangka panjang.
Cacing yang biasa mengganggu
kesehatan domba adalah dari kelas Nematoda,
dan jenis yang paling berbahaya adalah
Haemonchus contortus (cacing pita) yang
tinggal dalam abomasum domba dan hidup
sebagai penghisap darah. Untuk meningkatkan
produktivitas padang penggembalaan dan
mengurangi investasi cacing perlu diupayakan
berbagai cara, antara lain dengan penggunaan
Effective Microorganisms (EM 4).
Pemanfaatan EM 4 dengan tujuan
untuk mengatasi investasi parasit cacing dan
meningkatkan
produktivitas
padang
penggembalaan di Indonesia belum banyak
dipelajari. Untuk melihat manfaat EM 4
dalam pengelolaan padang penggembalaan
perlu adanya suatu penelitian terhadap
penggunaan
EM
4
pada
padang
penggembalaan yang aktif digembalai ternak
domba.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui tingkat investasi cacing dan
pertambahan bobot badan ternak domba yang
diberi berbagai tingkat konsentrasi EM 4 dan
tingkat tekanan penggembalaan. Kegunaan
penelitian adalah (1) Merekomendasikan
tingkat konsentrasi EM 4 yang baik yang
dapat digunakan dalam pertambahan bobot
hidup ternak domba, (2) sebagai bahan
informasi
dan
bahan
acuan
dalam
pengembangan ternak domba di padang
penggembalaan. Hipotesisi penelitian bahwa
penambahan EM 4 dapat dan menurunkan
tingkat investasi cacing dan meningkatkan
1
) Staf Pengajar Pada Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo, Kendari.
AGRIPLUS, Volume 20 Nomor : 03 September 2010, ISSN 0854-0128
213
214
bobot badan ternak domba pada tekanan
penggembalaan yang berbeda.
METODE PENELITIAN
Bahan dan Alat
Penelitian ini menggunakan padang
penggembalaan rumput budidaya Brachiaria
humidicola seluas 1 hektar, Effective
Microorganisms (EM 4), 48 ekor domba
betina lokal berumur sekitar 8 - 10 bulan
dengan bobot badan 12 - 17 kg (rataan 14.37 ±
2.5 kg).
Perlengkapan lain yang digunakan
adalah penakar hujan type observation untuk
mengukur curah hujan harian, ember plastik
sebagai tempat air minum yang ditempatkan di
dekat pagar pada setiap petak padang
penggembalaan sebanyak 12 buah, timbangan
untuk menimbang ternak domba kapasitas 25
kg (skala terkecil 200 g).
Padang penggembalaan ukuran 80 m
x 60 m dibagi menjadi 3 petak besar sebagai
petak utama, masing-masing seluas 80 m x 20
= 1600 m2 atau 0.16 ha. Selanjutnya masingmasing petak utama dibagi menjadi 4 petak
sebagai anak petak, masing-masing seluas 20
m x 20 m = 400 m2 atau 0.004 ha. Tiap-tiap
anak petak dibagi menjadi 4 petak rotasi
penggembalaan dengan luas 10 m x 10 m =
100 m2 atau 0.01 ha, sehingga totalnya 3 x 4 x
4 = 48 petak rotasi penggembalaan. Setiap
anak petak dipagari dengan kawat harmonika
yang dapat dipasang atau dilepas.
Ternak domba betina sebanyak 48
ekor yang berumur sekitar 8 - 10 bulan dengan
bobot badan 12 - 17 kg (rataan 14.37 ± 2.5 kg)
dimasukkan dalam setiap petak rotasi
penggembalaan setelah ditimbang untuk setiap
perlakuan sesuai dengan rancangan percobaan
yang digunakan, air minum disediakan pada
ember plastik yang ditempatkan di pinggir
pagar setiap petak yang digunakan.
Penggembalaan diatur dengan sistem
penggembalaan bergilir dengan masa tinggal
(stay period) selama 7 hari dan domba tetap
berada di lapangan selama 7 x 24 jam, dengan
masa istirahat (rest period) 21 hari. Dengan
demikian diperlukan 4 petak rotasi (21/7 + 1).
Petak
rotasi
penggembalaan
akan
digembalai kembali setelah masa istirahat 21
hari.
Selang waktu tersebut untuk
memberikan kesempatan kepada rumput untuk
tumbuh kembali.
Penyemprotan EM 4 dilakukan
sebelum ternak dimasukkan ke padang
penggembalaan dan ketika ternak akan digilir
pada petak rotasi penggembalaan kedua dan
seterusnya sampai berakhir ulangan pertama.
Penyemprotan konsentrasi EM 4/l air untuk
setiap empat rotasi penggembalaan sebanyak
10 liter. Penyemprotan EM 4 dilakukan
sampai rata membasahi daun dan dilakukan
pada pukul 17.00 waktu setempat.
Rancangan Percobaan
Percobaan
ini
menggunakan
Rancangan Petak Terpisah (Split Plot Design)
dengan dasar Rancangan Acak Kelompok.
Petak utama dalam penelitian ini adalah
tekanan penggembalaan yang semakin
meningkat terdiri dari 3 macam perlakuan
yaitu: (1) Tekanan penggembalaan dengan
jumlah ternak 2 ekor domba per petak rotasi
penggembalaan, (2) Tekanan penggembalaan
dengan jumlah ternak 4 ekor domba per petak
rotasi penggembalaan dan (3) Tekanan
penggembalaan dengan jumlah ternak 6 ekor
domba per petak rotasi penggembalaan.
Sebagai anak petak adalah konsentrasi EM 4
yang terdiri dari 4 taraf yaitu : kontrol [tanpa
EM 4 (M0), 10 ml EM 4 l air-1 (M1), 20 ml
EM 4 l air-1 (M2), dan 30 ml EM 4 l air-1
(M3)], dengan 3 ulangan dalam waktu yaitu :
1) Akhir musim hujan (bulan Juni dan Juli), 2)
musim kemarau (bulan September dan
Oktober), dan 3) Awal musim hujan (bulan
Desember dan Januari). Setiap petak rotasi
penggembalaan disemprot EM 4 sebanyak 2,5
liter.
Ternak domba dipakai selama 42
hari/ulangan, setelah itu ternak diistrahatkan
selama 30 hari kemudian dipakai kembali dan
diacak untuk ulangan berikutnya. Kapasitas
tampung padang penggembalaan diukur
kembali
sebelum
memasuki
ulangan
berikutnya.
Untuk mengetahui adanya pengaruh
perlakuan dan ulangan (musim), pertambahan
AGRIPLUS, Volume 20 Nomor : 03 September 2010, ISSN 0854-0128
215
bobot badan ternak domba dan jumlah
investasi cacing dilakukan analisa ragam
(anova). Selanjutnya jika terdapat pengaruh
nyata dari perlakuan serta interaksinya akan
dilakukan uji Polynomial Orthogonal (Steell
and Torrie, 1993).
Parameter yang Diukur
Investasi cacing parasit
Untuk menghitung infestasi cacing
dalam feses domba digunakan metode Hansen
dan Perry (1994). Sampel feses diambil pada
semua ternak untuk tiap perlakuan sebanyak
10% dari total feses setelah dikompositkan.
Telur
cacing
diambil
pada
akhir
penggembalaan setiap petak (pada hari ke 7
ketika domba akan digilir pada petak
selanjutnya). Telur cacing dihitung dengan
alat penghitung telur cacing modifikasi dari
McMaster, yaitu metode simple McMaster
technique, yang terdiri dari empat kamar
hitung, masing-masing mempunyai volume
0,15 ml. Cara kerjanya yaitu sampel feses
diambil 4 gram, ditaruh dalam mortar,
ditambah 56 ml larutan NaCl dan dilumatkan
sampai membentuk suspensi feses. Suspensi
feses kemudian dipindahkan ke dalam
Erlenmeyer berskala melalui saringan teh.
Mortar dicuci dengan larutan garam jenuh dan
ditungkan lagi melalui saringan yang sama
kedalam Erlenmeyer yang sama pula.
Selanjutnya suspensi feses diencerkan dengan
larutan NaCl hingga menjadi 60 ml.
Erlenmeyer dikocok sambil diaduk dengan
pengaduk gelas, suspensi feses dipipet ke
dalam kamar hitung McMaster pertama.
Erlenmeyer dikocok lagi, dipipet kedalam
kamar hitung kedua. Setelah dibiarkan 3
menit, telur yang terapung dalam daerah 1.0
mm2 dari tiap kamar dihitung. Total
banyaknya telur per gram tinja/feses (Ttgt) :
Ttgt =
Jumlah telur yg diamati Total volume laru tan
x
Berat feses ( g )
Volume kamar hitung
Pertambahan bobot badan ternak
Pertambahan bobot hidup domba
diukur dengan cara : Ternak domba ditimbang
sebelum digembalakan dan setelah akan digilir
pada setiap petak rotasi penggembalaan.
Ternak domba dikeluarkan dari padang
penggembalaan dan ditempatkan di kandang
untuk dipuasakan selama 12 jam sebelum
ditimbang. Penimbangan terakhir dilakukan
setelah selesai penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah Investasi Telur Nematoda
Jenis parasit yang ditemukan pada
ternak domba selama penelitian dan yang
dominan adalah jenis yang pertama yaitu
nematoda yang diketahui berdasarkan bentuk
telur. Tabel 1, menunjukkan bahwa rataan
jumlah telur nematoda pada akhir musim
hujan (126.58 ttgt per minggu) dan musim
kemarau (122.83 ttgt per minggu) sangat nyata
(P<0.01) lebih rendah dibandingkan awal
musim hujan (303.58 ttgt per minggu). Hal ini
disebabkan karena pada akhir musim hujan,
hari panas dan intensitas penyinaran matahari
berangsur tinggi, artinya terjadi peralihan ke
musim kemarau. Meningkatnya intensitas
penyinaran matahari maka investasi nematoda
menurun karena populasi larva cacing di
padang rumput tergantung pada iklim
lingkungan terutama suhu dan curah hujan
serta kelembaban. Jumlah investasi telur
nematoda menurun pada musim kemarau
karena suhu yang tinggi, dimana larva
cacing
yang baru menetas tidak dapat
bertahan hidup pada suhu tinggi. Pelet tinja
domba cepat kering dan sulit hancur pada
musim kemarau sehingga bila ada telur
cacing menetas maka larva sulit keluar dari
pelet tinja. Kemungkinan lain karena pada
musim kemarau air embun pada rumput cepat
menguap, sehingga larva tidak leluasa naik ke
pucuk rumput (Kusumamihardja, 1982).
AGRIPLUS, Volume 20 Nomor : 03 September 2010, ISSN 0854-0128
216
Tabel 1. Rataan telur nematoda ternak domba total telur tiap gram tinja pada tingkat konsentrasi
EM 4 dan tekanan penggembalaan yang berbeda
Jumlah
telur
nematoda
akan
meningkat pada awal musim hujan karena
larva cacing mampu hidup dan berkembang
pada suhu rendah, rumput basah karena air
hujan dapat memudahkan larva cacing parasit
naik ke pucuk-pucuk rumput (Donald, et.,al.,
1978). Selanjutnya dinyatakan bahwa suhu
optimum penetasan telur dan pertumbuhan
larva di lapangan penggembalaan terutama
untuk cacing pita adalah 20 – 27oC. Menurut
Ogunsusi (1980) pada musim hujan dengan
rataan curah hujan 192.6 mm tiap bulan justru
banyak domba yang mati karena investasi
nematoda tinggi.
Rataan
jumlah
investasi
telur
nematoda pada perlakuan penambahan EM 4
sangat nyata (P<0.01) lebih rendah
dibandingkan dengan perlakuan kontrol (M0
231.44). Hal ini kemungkinan EM 4 secara
tidak langsung mampu menghambat laju larva
cacing tidak dimakan oleh domba ketika
merumput. Rotasi penggembalaan dengan
masa istirahat selama 21 hari merupakan salah
satu penyebab rendahnya jumlah telur cacing.
Larva cacing terutama cacing pita dan
strongyloides yang telah menetas, infektif
masa hidupnya di lapangan maksimal 14 hari,
setelah itu mati (Whittier, et.al., 2003).
Jumlah Infestasi Telur Cacing (ttgt)
Ulangan (Bulan)
SepDesKonsentrasi EM 4 (ml) per l Air
Jun-Jul
Tekanan
Okt
Jan
Rataan
Total Rataan
penggemb
Akhir
Musim Awal
alaan (TP) musim
kemamusim
M0
M1
M2
M3
hujan
rau
hujan
… ttgt/minggu ...
... ttgt/minggu ...
TP Ringan 116.75
118.5
283.75
240.33 151.67 138.67 161.33
692
173a
173a
TP Optimum 123.75
129.75
319.5
224.67 197.33 178.33 163.67
764
191a
191a
TP Berat
139.25 120.25
307.5
229.33 175.33 169.67 181.67
756
189a
189a
Total
379.75
368.5
910.75
553
694.33 524.33 486.67 506.67
2212
553
Rataan
126.58B 122.83B 303.58A 184.33 231.44A 174.77B 162.22B 168.89B 737.33 184.33
Keterangan : Angka-angka pada kolom yang diikuti oleh huruf yang sama, tidak berbeda nyata pada taraf 5%
TP : Tekanan penggembalaan; M0 : Kontrol (tanpa EM 4); M1 : 10 ml EM 4 per liter air; M2 : 20 ml EM 4 per
liter air; M3 : 30 ml EM 4 per liter air.
350
303,58
300
250
200
150
122,83
126,58
100
50
0
X
10.26 mm
60.13 mm
370.5 mm
Curah Hujan
Gambar 1. Histogram rataan jumlah investasi
telur cacing parasit dengan curah hujan
berbeda
Uji polynomial orthogonal menunjukkan bahwa hubungan antara musim (x) dengan
jumlah investasi telur nematoda (y) meningkat
secara linear dengan persamaan Y = 107 +
0.526 x, r = 98.8%. Hubungan antara
penambahan EM 4 (x) dengan jumlah telur
nematoda (y) pada tekanan penggembalaan
yang berbeda menurun secara linear dengan
persamaan TP 2 ekor domba Y = 210 - 2.50 X,
r2 = 49.6%; TP 4 ekor domba Y = 235 - 2.62
X, r2 = 92.1%; TP 6 ekor domba Y = 211 1.49 X, r2 = 49.3%.
AGRIPLUS, Volume 20 Nomor : 03 September 2010, ISSN 0854-0128
Jumlah Infestasi Telur Nematoda
(ttgt)
217
250
TP 6 ekor
200
TP 4 ekor
150
TP 2 ekor
100
50
0
0
10
20
30
Konsentrasi EM 4 (ml/l air)
Gambar 2. Grafik hubungan rataan jumlah infestasi telur nematoda pada feses domba
dengan penambahan konsentrasi EM 4 yang berbeda
Pertambahan Bobot Hidup Domba
Tabel 2 menunjukkan bahwa rataan
pertambahan bobot hidup domba pada akhir
musim hujan (83.83 g ekor-1 hari-1) sangat
nyata (P<0.01) lebih tinggi dibanding musim
kemarau (-70.90 g ekor-1 hari-1) dan awal
musim hujan (-178.06 g ekor-1 minggu-1).
Rataan penurunan bobot hidup domba berbeda
karena domba pada dasarnya di dalam
tubuhnya terjadi serangkaian proses fisiologis
sebagai pengaruh lingkungan yang senantiasa
berubah sesuai dengan waktu dan tempat
yakni faktor iklim, makanan atau nutrisi serta
manajemen. Dalam hal ini domba sebagai
hewan homeostatis akan selalu mempertahankan temperatur tubuhnya pada kisaran
yang konstan melalui proses biokimia dan
fisiologis sebagai reaksi dari perubahan
kondisi lingkungan. Sukarsa (1978), suhu
lingkungan agar domba tetap bertahan hidup
adalah 38-40oC dengan rataan 39oC. Batas
temperatur yang dapat mematikan domba
adalah 45oC dengan kelembaban 65%. Pada
temperatur udara 35oC akan mengakibatkan
mekanisme heat regulation control tidak akan
mampu mempertahankan keseimbangan panas
(Melvin, 1975). Sebagai usaha dalam
pelepasan panas pada temperatur tinggi adalah
dengan pengaturan sirkulasi dibantu oleh
penguapan air seperti berkeringan dan
bernapas terengah-engah. Penguapan air ini
akan berjalan lancar pada kondisi panas dan
terhambat pada kondisi dingin (Soeharsono
dan Sukarsa, 1978).
Tabel 2. Rataan pertambahan bobot hidup domba pada tingkat konsentrasi EM 4 dan tekanan
penggembalaan yang berbeda
Ulangan (Bulan)
Tekanan
penggemb
alaan (TP)
Jun-Jul
Sep-Okt Des-Jan
Akhir
musim
hujan
Musim
kemarau
Awal
musim
hujan
Konsentrasi EM 4 (ml) per liter air
Total
Rataan
M0
M1
M2
Rataan
M3
... g ekor-1 minggu-1 ...
... g ekor-1 minggu-1 ...
TP 2 ekor
88.75
20
-146.25 -12.5a 23.34
11.67 -53.34 -31.67
-50
-12.5a
TP 4 ekor
83.13
-126.88
-155 -66.25a -113.33
-90
-35.83 -25.83 -265 -66.25a
TP 6 ekor
79.58
-105.83 -232.92 -86.39a -103.35 -67.78
-85
-89.45 -345.56 -86.39a
Total
251.46
-212.71 -534.17 -165.14 -193.34 -146.11 -174.17 -146.95 -660.57 -165.14
Rataan
83.83A -70.90B -178.06C -55.047 -64.45a -48.70a -58.06a -48.98a -220.19 -55.047
Keterangan : Angka-angka pada kolom yang diikuti oleh huruf yang sama, tidak berbeda nyata pada taraf 5%
TP : Tekanan Penggembalaan; M0 : Kontrol (tanpa EM 4); M1 : 10 ml EM 4 per liter air; M2 : 20 ml EM 4per
liter air; M3 : 30 ml EM 4 per liter air.
AGRIPLUS, Volume 20 Nomor : 03 September 2010, ISSN 0854-0128
218
Pada akhir musim hujan bobot badan
domba tidak menurun (83.83g ekor-1minggu-1)
dibandingkan dengan musim kemarau dan
awal musim hujan. Hal ini kemungkinan
disebabkan seimbangnya kondisi iklim di
lapangan terutama curah hujan, suhu dan
kelembaban. Penyebab lain adalah domba
yang digunakan kondisi badannya sehat.
Bobot badan semakin menurun untuk ulangan
selanjutnya karena kesehatan domba semakin
menurun. Uji polynomial orthogonal pengaruh
musim (x) terhadap penurunan bobot hidup
domba (y) menurun secara linear dengan
persamaan Y = 23.6 - 0.662 X; r2 = 57.2%.
KESIMPULAN
Hasil penelitian mengenai investasi
cacing dan pertambahan bobot hidup ternak
domba dengan pemberian EM 4 di padang
penggembalaan, maka disimpulkan: (1) Awal
musim hujan rataan investasi jumlah telur
nematoda (cacing) sangat nyata lebih tinggi
dibandingkan musim kemarau dan akhir
musim hujan. (2) Penambahan EM 4 (10, 20,
30 ml per liter air), rataan investasi jumlah
telur nematoda sangat nyata lebih rendah
dibandingkan dengan tanpa EM 4. (3)
Pertambahan bobot hidup domba pada akhir
musim hujan sangat nyata lebih tinggi
dibanding musim kemarau dan awal musim
hujan.
DAFTAR PUSTAKA
Donald, A.D., F.W. Morley, P.J. Wallet, A.Axelon
and J.R. Donnelly. 1978. Availability to
grazing
sheep
of
gastrointestinal
nematode infection arising from summer
contamination of pasture. Austral. J.
Agric. Res. 29 : 189-204
Hansen, J. and B. Perry. 1994. The Epidemiology,
Diagnosis And Control of Helminth
Parasites of Ruminant.
Inernational
Livestock Centre for Africa Addis Ababa,
Ethiopia.
Higa, T.
1993. EM and The Role in Kyusei
Nature
Farming
and
Sustainable
Agriculture.
First
International
Conference
(EM) on
Proceeding
University.
of Effective mikroorganisms
Kyusei Nature Farming.
of Conference at Khon Kaen
Thailand : hal. 1 - 6
Ho I.H. and J.H. Kim. 2000. The Study on the
Plant Growth Hormones in EM-A Case
Study. Institute of Experimental Biology,
Academy of Sciences, Korea
Kusumamihardja, S. 1982. Pengaruh Musim,
Umur dan Waktu Penggembalaan pada
Derajat Infestasi Nematoda Saluran
Pencernaan Domba (Ovis Aries Linn) di
Bogor. Disertasi Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Loveless, A.R. 1991. Prinsi-Prinsip Biologi
Tumbuhan Untuk Daerah Tropik 1. PT.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
McIlroy, R.J. 1972. An Introduction to Tropical
Grassland Husbandry. Second Edition,
Oxford University Press. London
Melvin J., 1975. Duke’s Physiology of Domestic
Animal. Swenson Comstock Publishing
Associates Cornell University Press.,
Ithaca and London.
Ogunsusi, R.A. 1980.
Observation on
epidemiological and clinical aspecct of
gastrointestinal helminthiasis of sheep in
northern Nigeria during rainy season Res.
Vet. Sci., 28 : 58 -62
Soeharsono dan D. Sukarsa. 1978. Daya Tahan
Panas
Domba
Priangan
Selama
Penjemuran dan Pengaruh Pencukuran.
Seminar Ruminansia. Direktorat Jenderal
Peternakan dan P4. Bogor dan Fakultas
Peternakan IPB. Bogor
Sukarsa, H. D. 1978 Pengaruh Pencukuran dan
Umur Terhadap Daya Tahan Panas
Ternak Domba Priangan. Tesis Fakultas
Peternakan Unpad. Bandung
Steel, R.G.D and J.H. Torrie. 1993. Prinsip dan
Prosedur Statistika. Suatu Pendekatan
Biometrik. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Whittier, W.D., A. Zajac, and S.H. Umberger.
2003. Control of Internal Parasites in
Sheep. Virginia Cooperation Extension .
Virginia State University. Publication
Number 410 : 027.
AGRIPLUS, Volume 20 Nomor : 03 September 2010, ISSN 0854-0128
Download