makalah ridho sistem politik UMUM - mejikubirubiru

advertisement
Makalah Kapita Selekta Ilmu Sosial
Sistem Politik
Penyusun:
Ridho Azlam Ambo Asse
44111010143
Universitas Mercu Buana
Fakultas Ilmu komunikasi
Jakarta
2012
1
Kata Pengantar
Bismillahirohmanirrohim.
Assalamualaikum Waromatullohi Wabarokatuh.
Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Besar, Yang Maha Pemberi Petunjuk,
Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Dengan karunia, petunjuk, hidayah,
bantuan, dan izin-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik,
sistematis, dan tepat waktu.
Makalah ini merupakan bentuk tugas akhir yang diberikan oleh dosen pengajar
mata kuliah “Kapita Ilmu Sosial” jurusan Broadcasting Universitas Mercu Buana.
Makalah yang terdiri lebih dari 30 lembar halaman ini berisikan materi-materi
yang saya rangkum dalam pelajaran ilmu politik yang diajarkan oleh dosen di
kelas. Saya memilih judul “Sistem Politik” karena saya merasa topik ini lebih
cocok untuk di jabarkan dalam pandangan seorang mahasiswa fakultas
komunikasi seperti saya. Dan membuktikan bahwa sistem politik Indonesia
sendiri itu tidak salah, dan memiliki aturan main. Sehingga bila dalam prosesnya
terdapat pelanggaran politik seperti kasus korupsi, nepotisme, dan lainnya
khususnya yang dilakukan oleh lembaga eksekutifnya. Hal tersebut telah
bertentangan dengan sistem politik yang dianut.
Melalui kesempatan ini, saya mengucapkan terimakasih yang sebanyakbanyaknya kepada kedua Orang Tua saya, Tim Pengajar (dosen kapita selekta
ilmu sosial), Guru SMA ITCI PPU, rekan Mahasiswa yang telah memberikan
dukungan terhadap saya, serta masih banyak lagi yang tak dapat saya ucapkan
satu persatu disini.
Saya menyadari, bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan. Semua terjadi
karena kodrat saya sebagai manusia biasa. Untuk itu saya memohon kritik dan
saran yang membangun ilmu pengetahuan saya tentang politik.
Jakarta, 20 Januari 2012
Ridho Azlam Ambo Asse
44111010143
2
Daftar Isi
Sampul Depan ............................................................................................... 1
Kata Pengantar ............................................................................................. 2
Daftar Isi ........................................................................................................ 3
Bab I – Pendahuluan ..................................................................................... 4
Latar Belakang ..................................................................................... 4
Rumusan Masalah ................................................................................ 5
Bab II – Landasan Konseptual .................................................................... 6
Teori Sistem Politik ............................................................................. 6
Lembaga Eksekutif .............................................................................. 14
Bab III – Pembahasan .................................................................................. 16
Perkembangan Sistem Politik Indonesia sejak era orde
lama hingga pasca reformasi ............................................................... 16
Perkembangan Lembaga Eksekutif Indonesia sejak era
orde lama hingga pasca reformasi ....................................................... 21
Perbandingan Sistem Politik Indonesia sejak era orde lama
Hingga pasca reformasi ....................................................................... 24
Bab IV – Analisis ........................................................................................... 27
Sistem Politik Orde Lama ................................................................... 27
Sistem Politik Orde Baru ..................................................................... 27
Sistem Politik Masa Pasca Reformasi ..................................................28
Bab V – Kesimpulan ..................................................................................... 29
Daftar Pustaka ..................................................................................... 31
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam Trias Politica menyatakan adanya pembagian kekuasaan
menjadi 3 bagian, yakni lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Ketiga lembaga ini bekerja secara sinergis untuk
menjalankan roda
pemerintahan suatu negara, sehingga ketiga lembaga ini terlibat dalam
suatu sistem politik yang terdapat di negara tersebut. Pada garis besarnya,
lembaga eksekutif bergerak dalam menjalankan pemerintahan, lembaga
legislatif bergerak dalam bidang pembuatan undang-undang, melakukan
fungsi pengawasan, dan juga melakukan fungsi pembuatan anggaran
(RAPBN), sedangkan lembaga yudikatif bergerak dalam bidang
peradilan.
Kekuasaan eksekutif dalam suatu negara ialah merupakan
kekuasaan dimana dijalankannya segala kebijakan-kebijakan yang telah
ditetapkan badan legislatif dan menyelenggarakan undang-undang yang
telah
diciptakan
oleh
badan
legislatif.
Akan
tetapi,
dalam
perkembangannya pada masa negara modern seperti saat ini kekuasaan
badan eksekutif jauh lebih luas karena kekuasaannya dapat pula
mengajukan rancangan undang-undang pada lembaga legislatif. Ini
menunjukkan bahwa peran lembaga eksekutif pada masa negara modern
sudah mengalami peningkatan didalam menjalankan kekuasaan.
Dalam sejarahnya, Indonesia telah mengalami rotasi pergantian
kekuasaan. Ini ditandai dengan adanya masa kekuasaan yang dikenal
dengan 3 masa, yaitu masa Orde Lama, masa Orde Baru, dan masa Orde
Reformasi. Disetiap masa memiliki ciri khas kekuasaan yang berbedabeda. Dari perbedaan setiap masa, dapat dilihat cara dalam menerapkan
kekuasaannya terhadap lembaga-lembaga yang terdapat pada masa itu.
4
Apabila kita membahas tentang eksekutif, kita dapat juga melihat
bagaimana pemimpin tersebut dalam memimpin lembaga eksekutifnya.
Disetiap masa yang berbeda, Indonesia mengalami beberapa kali
pergantian pemimpin. Dimulai dari Orde Lama yaitu pada saat di bawah
pimpinan Presiden Soekarno, di mana masa Orde Lama itu sendiri terbagi
atas 2 masa, yaitu masa Demokrasi Parlementer dan masa Demokrasi
Terpimpin, yang dilanjutkan dengan masa Orde Baru di bawah
pemerintahan Presiden Soeharto selama 32 tahun, dan masa Reformasi
yang telah mengalami beberapa kali pergantian Presiden hingga sekarang
ini.
Oleh karena itu, penulis mencoba menyajikan suatu makalah yang
memiliki konten seperti yang telah disebutkan di atas, dengan judul
makalah “Fungsi Lembaga Eksekutif dalam Sistem Politik Indonesia dari
Masa Orde Baru hingga Masa Reformasi.”
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, maka penulis dapat mengambil
suatu rumusan masalah yaitu “Bagaimanakah fungsi lembaga Eksekutif
dalam menjalankan sistem politik Indonesia dari masa Orde Lama hingga
Masa Pasca Reformasi?”.
5
BAB II
LANDASAN KONSEPTUAL
A. TEORI SISTEM POLITIK
a. Analisis Sistem Politik Menurut David Easton
Pendekatan sistem politik pada mulanya terbentuk dengan mengacu pada
pendekatan yang terdapat dalam ilmu eksakta. Adapun untuk membedakan
sistem politik dengan sistem yang lain maka dapat dilihat dari definisi politik itu
sendiri. Sebagai suatu sistem, sistem politik memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu:
a. Ciri-ciri identifikasi, yaitu dengan menggambarkan unit-unit dasar dan
membuat garis batas yang memisahkan unit-unit tersebut dengan
lingkunga luarnya.
1. Unit-unit sistem politik, yaitu unsur-unsur yang mmbentuk sistem
2. Perbatasan (garis batas).
Yang termasuk sistem politik kurang lebih yang berkaitan dengan
pembuatan keputusan-keputusan yang mengikat masyarakat.
b. Input dan Output
Agar supaya sistem bekerja dengan baik, dibutuhkan input-input
yang mengalir secara konstan. Input akan membuat suatu sistem itu dapat
berfungsi; dan dengan output kita dapat mengidentifikasi pekerjaan yang
dikerjakan oleh sistem itu.
Apa yang terjadi di dalam suatu sistem merupakan akibat dari
upaya angggota-anggota sistem yang menanggapi lingkungan yang selalu
berubah-ubah.
6
c. Diferensiasi dalam suatu sistem.
Anggota-anggota dari suatu sistem paling tidak mengenal
pembagian kerja minimal yang memberikan suatu struktur tempat
berlangusungnya kegiatan-kegiatan itu.
d. Integrasi dalam suatu sistem sosial.
Suatu sistem harus memiliki mekanisme yang bisa mengintegrasi
atau memaksa anggota-anggotanya untuk bekerjasama walaupun dalam
keadaan minimal sehingga mereka dapat membuat keputusan-keputusan
yang otoritatif.
Perbedaan pendapat mulai muncul ketika harus menentukan batas antara
sistem politik dengan sistem lain yang terdapat dalam lingkungan sistem politik.
Namun demikian, batas akan dapat dilihat apabila kita dapat memahami tindakan
politik sebagai sebuah tindakan yang ingin berkaitan dengan pembuatan
keputusan yang menyangkut publik.
Pada awal abad 1950-an David Easton mengembangkan kerangka kerja
untuk menjelaskan kehidupan politik dan bagaimana penerapan secara universal.
Kerangka kerja ini disebut sebagai pendekatan sistem politik. Menurut David
Easton, kehidupan politik dilihat sebagai sebuah sistem. Kita harus memahami
fungsi secara keseluruhan tidak hanya satu bagian fungsi saja. Ini merupakan
jantung dari analisis kehidupan politik dari David Easton. Pendekatan sistem
politik ini tidak hanya untuk telaah perbandingan politik tapi juga dapat
menjelaskan kehidupan politik suatu Negara.
Perbedaan sistem politik dengan sistem yang lain, tidak menjadikan jurang
pemisah antara sistem politik dengan sistem yang lain. Telah kita ketahui bahwa
sistem politik merupakan suatu sistem yang terpenting dalam sebuah Negara dan
merupakan pengatur input dan output sebuah sistem dalam sebuah tata Negara.
Sebuah sistem politik dapat menjadi input bagi sistem yang lainnya.
7
Dalam sistem politik terdapat pembagian kerja antar anggotanya.
Pembagian kerja yang ada tidak akan menghancurkan sistem politik karena ada
fungsi integratif dalam sistem politik.
 Input
Input dalam sistem politik dibedakan menjadi dua, yaitu kebutuhan dan
dukungan. Input yang berupa kebutuhan muncul sebagai konsekuensi dari
kelangkaan atas berbagai sumber-sumber yang langka dalam masyarakat.
Input tidak akan sampai (masuk) secara baik dalam sistem politik jika
tidak terorganisir secara baik. Oleh sebab itu komunikasi politik menjadi
bagian penting dalam hal ini. Terdapat perbedaan tipe komunikasi politik
di negara yang demokratis dengan negara yang nondemokratis. Tipe
komunikasi politik ini pula yang nantinya akan membedakan besarnya
peranan dari organisasi politik.
Ada dua jenis pokok input, yang memberikan enerji dan bahan informasi
yang akan diproses oleh sistem tersebut dalam suatu sistem politik, yaitu:
1. Tuntutan. Tuntutan-tuntutan (bersal dari orang-orang atau kelompokkelompok dalam masyarakat) disalurkan dengan suatu usaha yang
diorganisasikan secara khusus dalam masyarakat yang kemudian menjadi
input dalam sistem politik. Tuntutan ini terbagi dua, yaitu tuntutan
eksternal (luar sistem) dan tuntutan internal (dalam sistem)
2.
Dukungan. Input dukungan (support) menjadi enerji untuk menjaga
keberlangusungan fungsi sistem politik itu sendiri, yaitu berupa bentuk
tindakan atau pandangan yang memajukan dan merintangi suatu sistem
politik, tuntutan-tuntutan di dalamnya, dan keputusan-keputusan yang
dihasilkannya.
a. Wilayah dukungan, yaitu mengarah pada tiga sasaran: komunitas,
rejim, dan pemerintah.
8
b. Kuantitas dan Ruang-lingkup Dukungan. Jumlah dukungan tidak mesti
seimbang dengan luas ruang lingkupnya.
 Output
Output merupakan keputusan otoritatif (yang mengikat) dalam
menjawab dan memenuhi input yang masuk. Output sering dimanfaatkan
sebagai mekanisme dukungan dalam rangka memenuhi tuntutan-tuntutan
yang muncul.
Output (keputusan) dari suatu sistem politik merupakan pendorong
khas bagi anggota-anggota dari suatu sistem untuk mendukung sistem itu.
Dorongan dapat bersifat positif maupun negatif. Dalam hal ini,
pemerintah memiliki tanggung jawab tertinggi untuk menyesuaikan atau
menyeimbangkan output berupa keputusan dengan input berupa tuntutan.
 Politisiasi sebagai Mekanisme Dukungan
Cadangan-cadangan yang telah diakumulasikan sebagai akibat
dari keputusan-keputusan yang lalu bisa ditingkatkan dengan suatu
metode rumit untuk menghasilkan dukungan secara tetap melalui proses
yang disebut politisiasi. Politisiasi sendiri memiliki pengertian sebagai
cara-cara yang ditempuh anggota masyarakat dalam mempelajari polapola politik.
 Lingkungan
Lingkungan mempunyai peranan penting berupa input, baik
kebutuhan ataupun dukungan. Kemampuan anggota sistem politik dalam
mengelola dan menanggapi desakan ataupun pengaruh lingkungan
bergantung pada pengenalannya pada lingkungan itu sendiri. Lingkungan
9
merupakan semua sistem lain yang tidak termasuk dalam sistem politik.
Secara garis besar, lingkungan dibagi menjadi dua, yaitu lingkungan
dalam (intra societal) dan lingkungan luar (extra societal).
Setidaknya ada dua kritik yang dilontarkan atas gagasan Easton,
yaitu adanya anggapan bahwa pemikiran Easton terlalu teoretis sehingga
sulit untuk diaplikasikan secara nyata. Selain terlalu teoretis, pemikiran
Easton dianggap tidak netral karena hanya mengedepankan nilai-nilai
liberal Barat dengan tanpa memperhatikan kondisi pada masyarakat yang
sedang berkembang.
b. Pendekatan Struktural Fungsional Gabriel Almond
Pendekatan struktural fungsional merupakan alat analisis dalam
mempelajari sistem politik, pada awalnya adalah pengembangan dari teori
struktural fungsional dalam sosiologi. Dalam pendekatan ini, sistem
politik
merupakan
kumpulan
dari
peranan-peranan
yang
saling
berinteraksi. Menurut Almond, sistem politik adalah sistem interaksi yang
terdapat dalam semua masyarakat yang bebas dan merdeka yang
melaksanakan
fungsi-fungsi
integrasi
dan
adaptasi
(baik
dalam
masyarakat ataupun berhadap-hadapan dengan masyarakat lainnya).
Semua sistem politik memiliki persamaan karena sifat universalitas dari
struktur dan fungsi politik. Mengenai fungsi politik ini, Almond
membaginya dalam dua jenis, fungsi input dan output.
Almond
menggunakan
pendekatan
perbandingan
dalam
menganalisa jenis sistem politik, yang mana harus melalui tiga tahap,
yaitu:
 Tahap mencari informasi tentang sobjek. Ahli ilmu politik memiliki
perhatian yang fokus kepada sistem politik secara keseluruhan,
10
termasuk
bagian-bagian
(unit-unit),
seperti
badan
legislatif,
birokrasi, partai, dan lembaga-lembaga politik lain.
 Memilah-milah informasi yang didapat pada tahap satu berdasarkan
klasifikasi tertentu. Dengan begitu dapat diketahui perbedaan suatu
sistem politik yang satu dengan sistem politik yang lain.
 Dengan menganalisa hasil pengklasifikasian itu dapat dilihat
keteraturan (regularities) dan ubungan-hubungan di antara berbagai
variabel dalam masing-masing sistem politik.
Terkait dengan hubungannya dengan lingkungan, perspektif yang
digunakan adalah ekologis. Keuntungan dari perspektif ekologis ini
adalah dapat mengarahkan perhatian kita pada isu politik yang lebih luas.
Agar dapat membuat penilaian yang objektif maka kita harus
menempatkan sistem politik dalam lingkungannya. Hal ini dilakukan guna
mengetahui bagaimana lingkungan-lingkungan membatasi atau membantu
dilakukannya sebuah pilihan politik. Sifat saling bergantung bukan hanya
dalam hubungan antara kebijaksanaan dengan sarana-sarana institusional
saja, namun lembaga-lembaga atau bagian dari sistem politik tersebut
juga saling bergantung. Untuk dapat mengatasi pengaruh lingkungan,
Almond menyebutkan enam kategori kapabilitas sistem politik, yaitu
kapabilitas ekstraktif, kapabilitas regulatif, kapabilitas distributif,
kapabilitas simbolik, kapabilitas responsif, kapabilitas domestik dan
internasional.
Ciri sistem politik menurut Gabriel A. Almond:

Semua sistem politik mempunyai sturukut politik

Semua sistem politik, baik yang modern maupun primitif,
menjalankan fungsi yang sama walaupun frekuensinya berbeda yang
disebabkan oleh perbedaan struktur. Kemudian sistem politik ini
strukturnya dapat diperbandingkan, bagaimana fungsi-fungsi dari
11
sistem-sistem politik itu dijalankan dan bagaimana pula cara/gaya
melaksanakannya.

Semua struktur politik mempunyai sifat multi-fungsional, betapapun
terspesialisasinya sistem itu.

Semua sistem politik adalah merupakan sistem campuran apabila
dipandang dari pengertian kebudayaan.
c. Analisis Struktural Fungsional dalam Sistem Politik
Menurut Gabriel Almond, dalam setiap sistem politik terdapat
enam struktur atau lembaga politik, yaitu kelompok kepentingan, partai
politik, badan legislatif, badan eksekutif, birokrasi, dan badan peradilan.
Dengan melihat keenam struktur dalam setiap sistem politik, kita dapat
membandingkan suatu sistem politik dengan sistem politik yang lain.
Hanya saja, perbandingan keenam struktur tersebut tidak terlalu
membantu kita apabila tidak disertai dengan penelusuran dan pemahaman
yang lebih jauh dari bekerjanya sistem politik tersebut.
Suatu analisis struktur menunjukkan jumlah partai politik, dewan
yang terdapat dalam parlemen, sistem pemerintahan terpusat atau federal,
bagaimana eksekutif, legislatif, dan yudikatif diorganisir dan secara
formal dihubungkan satu dengan yang lain. Adapun analisis fungsional
menunjukkan bagaimana lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi
tersebut berinteraksi untuk menghasilkan dan melaksanakan suatu
kebijakan.
Input yang masuk dalam sistem politik disalurkan oleh lembaga
politik, kemudian akan menghasilkan output, berupa keputusan yang sah
dan mengikat yang sebelumnya melalui proses konversi. Dalam konversi
terjadi interaksi antara faktor-faktor politik, baik yang bersifat individu,
kelompok ataupun organisasi. Fungsi input, meliputi sosialisasi politik
dan rekruitmen politik, artikulasi kepentingan, agregasi kepentingan, dan
12
komunikasi politik. Sedangkan fungsi output, antara lain pembuatan
kebijakan, penerapan kebijakan, dan penghakiman kebijakan.
Keunggulan dari kedua ragam pendekatan yang dikembangkan
oleh Easton dan Almond antara lain adalah:

Dalam membuat analisis politik, Easton dan Almond selalu peka
akan kompleksitas antara sistem politik dengan sistem sosial yang
lebih besar, yang mana sistem politik adalah sub-sistemnya.

Kesederhanaan pendekatan. Konsep ini dapat dipakai untuk
menganalisis berbagai macam sistem politik, demokratis atau
otoriter, tradisional atau modern, dan sebagainya. Konsep Easton
dan Almon berasumsi bahwa semua sitem memproses komponenkomponen yang sama sehingga kedua pendekatan itu bermanfaat
dalam upaya mencari metode analisis dan pembandingan sistem
politik yang seragam.

Konsep yang diajukan oleh Almond memberi arahan untuk mencari
data baru yang dapat meluaskan cakrawala perhatian ke masyarakat
non-Barat dan non-”modern”.
Kelemahan dari konsep atau pendekatan yang dikembangkan oleh
Easton dan Almond:

Analisis yang dikemukakan (baik sistem maupun strukturalfungsional) tidak memberikan rumusan yang terbukti secara empirik
(tidak menghasilkan teori).

Tidak menjelaskan hubungan sebab-akibat. Kedua pendekatan itu
lebih mentitikberatkan pada penjelasan analisis.

Analisis
struktural-fungsional
Almond
memiliki
masalah
ketidakjelasan konsep tentang fungsi. Almond tidak menjelaskan
garis-garis yang membatasi fungsi-fungsi dalam masyarakat politik.
13

Kedua pendekatan itu dikritik karena sangat dipengaruhi oleh
ideologi demokrasi-liberal Barat. Terlihat jelas pada asumsi Almond
yang mengatakan bahwa fungsi-fungsi yang ada di sistem politik di
Barat pasti juga ada di sistem non-Barat.

Kedua pendekatan itu juga dikritik kecenderungan ideologisnya
karena cara memandang masyarakat yang terlalu organismik. Easton
dan Almond menyamakan masyarakat dengan organisme, yang
selalu terlibat dalam proses diferensiasi dan koordinasi. Selain itu
mereka juga memandang masyarakat sebagai makhluk biologis yang
selalu mencari keseimbangan dan keselarasan.
Obsesi Almond tentang ekuilibrum dan kestabilan telah
membuatnya keliru tentang manfaat yang mungkin terdapat dalam disekuilibrum, seperti revolusi atau perang kemerdekaan. Dis-ekuilibrum
bisa dipakai untuk mencniptakan keadilan sosial, ketika cara-cara
konvensional tidak mungkin dilakukan. Contohnya perang kemerdekaan
melawan penjajah atau pemberontakan melawan kediktatoran.
B. LEMBAGA EKSEKUTIF
Lembaga Eksekutif adalah Lembaga Penyelenggara Kekuasaan
Negara yang berfungsi menjalankan undang-undang. Di negara-negara
demokratis, secara sempit lembaga eksekutif diartikan sebagai kekuasaan
yang dipegang oleh raja atau presiden, beserta menteri-menterinya
(kabinetnya). Dalam arti luas, lembaga eksekutif juga mencakup para
pegawai negeri sipil dan militer. Oleh karenanya sebutan mudah bagi
lembaga eksekutif adalah pemerintah. Lembaga eksekutif dijalankan oleh
Presiden dan dibantu oleh para menteri. Jumlah anggota eksekutif jauh
lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah anggota legislatif, hal ini bisa
dimaknai karena eksekutif berfungsi hanya menjalankan undang-undang
14
yang dibuat oleh legislatif. Pelaksanaan undang-undang ini tetap masih
diawasi oleh legislatif.
Kekuasaan eksekutif biasanya dipegang oleh badan eksekutif. Di
negara-negara demokratis badan eksekutif biasanya terdiri atas kepala
negara seperti raja atau presiden, beserta menteri-menterinya. Badan
eksekutif dalam arti luas juga mencakup para pegawai negeri sipil dan
militer.
Jumlah anggota badan eksekutif jauh lebih kecil daripada jumlah
anggota badan legislatif, biasanya 20 atau 30 orang. Sedangkan badan
legislatif ada yang anggotanya sampai 1.000 oranglebih. Badan eksekutif
yang kecil dapat bertindak cepat dan memberi pimpinan yang tepat serta
efektif, dalam hal ini ia berbeda dengan badan legislatif yang biasanya
terlalu
besar
untuk
mengambil
keputusan
dengan
cepat.(Miriam,295:2008)
Badan Eksekutif Indonesia terletak pada Presiden yang
mempunyai 2 kedudukan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.
Tugas-tugas lembaga eksekutif :

Administratif, yaitu kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang
dan perundangan lainnya dan menyelenggarakan administrasi negara.

Legislatif,
yaitu
membuat
rancangan
undang-undang
dan
membimbingnya dalam badan perwakilan rakyat sampai menjadi
undang-undang.

Keamanan, artinya kekuasaan untuk mengatur polisi dan angkatan
bersenjata, menyelenggarakan perang, pertahanan negara, serta
keamanan dalam negeri.

Yudikatif, yaitu memberi grasi, amnesti dan sebagainya.

Diplomatik, yaitu kekuasaan untuk menyelenggarakan hubungan
diplomatik dengan negara-negara lain. (Miriam, 2008:296)
15
BAB III
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Sistem Politik Indonesia dari Masa Orde Lama hingga
pasca Masa Reformasi
a. Sistem Politik pada Masa Orde Lama
Pada zaman orde lama di bawah kepemimpinan Bung Karno, saat
itu Indonesia baru menunjukkan eksistensinya sebagai negara yang
merdeka, negara yang berdaulat, dan negara yang baru saja merasakan
nikmatnya sebuah kebebasan. Dengan semangat kemerdekaan itulah
Indonesia setapak demi setapak namun pasti menuju ke arah kemajuan.
Pada masa Orde Lama terdapat 2 sistem pemerintahan, yaitu:
1. Masa Demokrasi Parlementer
Pada massa Demokarasi Parlementer, Presiden hanya sebagai
Kepala Negara, sedangkan Kepala Pemerintahannya dipegang oleh
Perdana Menteri. Parlemen bertanggung jawab kepada Parlemen dan
dapat menjatuhkan kabinet dengan mosi tidak percaya. Hal ini terjadi
karena keanggotaannya di dominasi anggota partai sehingga sering
tetrjadi pergantian kabinet. Dan hal itu sering terjadi pada masa
demokrasi parlementer yang mengakibatkan jatuh bangunnya kabinet
yang dipimpin oleh Perdana Menteri. Akibatnya, pemerintahan tidak
stabil dan program-program pemerintahan yang dilaksanakan lembaga
eksekutif tidak bisa terealisasi, begitu juga dengan rancangan undangundang yang dibuat oleh lembaga legislatif yang sering disebut dengan
Dewan Konstituante tidak bisa diselesaikan. Sebagai akhir dari masa
demokrasi Parlementer adalah dikeluarkannya Dekrit Presiden pada
tanggal 5 Juli tahun 1959.
16
2. Masa Demokrasi Terpimpin
Presiden mempunyai kekuasaan mutlak dan dijadikannya alat
untuk melenyapkan kekuasaan-kekuasaan yang menghalanginya
sehingga nasib parpol ditentukan oleh presiden (10 parpol yang
diakui). Pada masa ini presiden merupakan kepala negara sekaligus
kepala pemerintahan. Tidak ada kebebasan mengeluarkan pendapat
karena sistem kepemimpinan dalam pemerintahan dibawah komando
presiden dan komunikasi satu arah. Semua lembaga yang pernah ada
dibubarkan oleh presiden dan diganti dengan orang-orang pilihan
presiden sendiri. Presiden pula yang menetapkan seluruh anggota
parlemen dan anggota lembaga eksekutif yang membantu presiden
dalam menjalankan kekuasaan. Presiden Soekarno mendeklarasikan
diri sebagai presiden seumur hidup, berkembangnya ideologi partaipartai yang beraliran NASAKOM (Nasionalis, Agama dan Komunis),
dan Indonesia keluar dari organisasi dunia yaitu PBB. Sebagai akhir
dari masa demokrasi terpimpin adalah dengan adanya pemberontakan
PKI pada tahun 1965.
b. Sistem Politik pada Masa Orde Baru
Sistem politik pada masa ini juga menganut sistem pemerintahan
Presidensiil, di mana Presiden merupakan center of power. Dengan
demikian Orde Baru telah menjadi kekuatan kontrol Pemerintah yang
terlegitimasi (secara formal-yuridis) dan tidak merefleksikan konsep
keadilan, asas-asas moral dan wawasan kearifan yang tidak hidup dalam
masyarakat awam, hal ini terlihat gerakan-gerakan dari bawah untuk
menuntut hak-hak asasi, yang justru lebih kuat dan terjadi dimasa
kejayaannya ide hukum revolusi diawal tahun 1960-an.
Hubungan dan kedudukan antara eksekutif (Presiden) dan
legislatif (DPR) dalam sistem UUD 1945 sebenarnya telah diatur. Dimana
kedudukan dua lembaga ini (Presiden dan DPR) adalah sama karena
17
kedua lembaga ini adalah merupakan lembaga tinggi negara (Tap MPR
No.III/MPR/1978). Namun dalam praktik ketatanegaraan dan proses
jalannya pemerintahan pada masa rezim Orde Baru, kekuasaan eksekutif
begitu dominan terhadap semua aspek kehidupan kepemerintahan dalam
negara kita, terhadap kekuasaan legislatif maupun terhadap kekuasaan
yudikatif.
Keadaan
ini
tidak
dapat
sepenuhnya
disalahkan,
karena
pengaturan yang terdapat di dalam UUD 1945 memungkinkan terjadinya
hal ini. Oleh sebab itu, tidak salah pula apabila terdapat pandangan yang
menyatakan bahwa UUD 1945 menganut supremasi eksekutif.
Selama Orde Baru tak bisa dilepaskan dari doktrin dwifungsi
ABRI. Sebagai salah satu kekuatan yang tersisa setelah Partai Komunis
Indonesia hancur, ABRI mau tidak mau menambah perannya tidak
sekedar kekuatan pertahanan dan keamanan tetapi juga kekuatan sosial
dan politik. Hal ini didasarkan pada konsep bahwa stabilitas politik bisa
tercipta kalau ada campur tangan ABRI dalam politik. Untuk itu ABRI
mencari pembenaran campur tangan dalam politik.
Walaupun demikian, sebenarnya pada masa Orde Baru, kalau
dilihat dari segi fisik, Indonesia sangat berkembang dan maju. Di berbagai
tempat -terutama di kota-kota besar- bangunan-bangunan besar dan
mewah didirikan. Tapi kalau ditinjau dari segi politik, semakin menurun.
Karena ‘trias politika’ sebagai lembaga-lembaga tertinggi negara, yang
berfungsi hanya lembaga eksekutif saja, sementara dua lembaga lainnya,
baik itu lembaga legistatif dan yudikatif kurang atau bahkan tidak
berfungsi sama sekali. Kedua lembaga ini tunduk di bawah lembaga
eksekutif. Keduanya tak lebih hanyalah sebagai ‘robot’ yang gerakgeriknya diatur oleh lembaga eksekutif. Demikian juga dari segi ekonomi,
selama orde baru berkuasa, kurang berkembang, bahkan mengalami krisis
yang berkepanjangan.
18
Orde Baru yang telah ditinggalkan bangsa Indonesia telah
meninggalkan banyak warisan. Di bidang politik, dominasi eksekutif yang
berakhir dengan dominasi lembaga kepresidenan telah menyebabkan
banyak kerancuan. Presiden menjadi sangat berkuasa tidak hanya dalam
konteks kelembagaan bahkan jabatan presiden telah berubah jadi
personifikasi Soeharto.
Jatuhnya kekuasaan pada masa Orde Baru diawali dengan
serangkaian unjuk rasa mahasiswa terhadap pemerintahan. Mahasiswa
menganggap
pada
masa
itu
pemerintah
tidak
berhasil
dalam
mengendalikan stabilitas politik dan ekonomi. Akhirnya presiden
Soeharto lengser karena dianggap semua yang terjadi adalah karena
tanggungjawabnya yang memberikan persetujuan akan kebijakan yang
merugikan rakyat.
c. Sistem Politik Masa Pasca Reformasi
Setelah rezim Orde Baru jatuh dan presiden Suharto lengser, maka
presiden Suharto memberikan mandat kepada wakil presiden Habibie.
Pemerintahan yang dipegang oleh Habibie hanya beberapa bulan saja. Ini
dikarenakan adanya tekanan untuk mengadakan pemilu yang demokratis.
Hingga pada tahun 1999 dilaksanakanlah agenda pemilu yang pertama
kali di Indonesia.
Indonesia memulai kehidupan barunya dengan melaksanakan
pemilu secara jurdil dan demokratis. Masa ini cukup dikenal sebagai
"orde reformasi". Sebuah orde di mana saat itu dilakukan reformasi secara
total dengan agenda-agenda yang sejak lama direncanakan dan terjadi
perombakan dalam segala bidang secara bertahap diawali dengan
pergantian presiden dan kabinet di dalam pemerintahan
19
Pada
masa
ini,
system
pemerintahan
Indonesia
mulai
menggunakan sistem pemerintahan presidensiil. Ini ditandai dengan
berjalannya kekuasaan penuh oleh presiden sebagai kepala Negara dan
kepala pemerintahan dengan tetap diawasi oleh badan legislatif. Presiden
bertanggung jawab penuh atas jalannya pemerintahan kepada MPR.
Kemudian adanya UUD 1945 yang menetapkan fungsi sistem pemisahan
kekuasaan sebagai adanya mekanisme kontrol antara Presiden dan MPR.
Kemudian adanya pengakuan HAM (Hak Azasi Manusia) dan
kebebasan pers pada masa reformasi. Setelah sekian lama pada masa Orde
Baru terdapat banyak pelanggaran HAM, maka pada masa ini masyarakat
Indonesia mendesak agar pemerintah membuat suatu kebijakan dengan
memberikan suatu pengakuan terhadap adanya HAM. Lalu dibuatlah
suatu Undang-Undang tentang HAM dan dibentuk suatu lembaga yang
bernama KOMNAS HAM. Kebebasan pers yang pada saat Orde Baru
sangat diatur dan dikendalikan oleh pemerintah, kini mulai bebas dalam
memberikan informasi kepada seluruh masyarakat.
Era
pemerintahan
orde
reformasi
yang
ketika
dibawah
kepemimpinan Gus Dur berusaha mencoba menampilkan strategi
demokratisasi yang khas yang dikenal sebagai “demokrasi bawah”, yaitu
suatu demokrasi dan upaya demokratisasi Negara yang memprioritaskan
upaya pemberdayaan dan keberdayaan masyarakat. Menurut Gus Dur
upaya
menciptakan
demokrasi
hampir
identik
dengan
upaya
pembangunan civil society, melalui saluran komunikasi yang dimilikinya,
ia mencoba memberikan satu kerangka kerja bagi petani, buruh, pedagang
kecil, bahkan pegawai pemerintah untuk menyalurkan dan menata diri
mereka masing-masing.
20
B. Perkembangan Lembaga Eksekutif dari Masa Orde Lama hingga Masa
Pasca Reformasi
a. Masa Orde Lama
 Demokrasi Parlementer
Kedudukan lembaga eksekutif sangat dipengaruhi oleh
lembaga legislatif. Hal ini terjadi karena lembaga eksekutif
bertanggung jawab kepada lembaga legislatif. Dengan demikian,
lembaga legislatif memiliki kedudukan yang kuat dalam mengontrol
dan mengawasi fungsi dan peranan lembaga eksekutif. Dalam
pertanggungjawaban yang diberikan lembaga eksekutif maka para
anggota parlemen dapat mengajukan mosi tidak percaya kepada
eksekutif jika tidak melaksanakan kebijakan dengan baik. Apabila
mosi tidak percaya diterima parlemen maka lembaga eksekutif harus
menyerahkan mandat kepada Presiden.
 Demokrasi Terpimpin
Peranan lembaga eksekutif jauh lebih kuat bila dibandingkan
dengan peranannya di masa sebelumnya. Peranan dominan lembaga
eksekutif tersentralisasi di tangan Presiden Soekarno. Lembaga
eksekutif mendominasi sistem politik, dalam arti mendominasi
lembaga-lembaga
tinggi
negara
lainnya
maupun
melakukan
pembatasan atas kehidupan politik. Eksekutif bisa membuat undangundang dan seolah-olah semua terpusat pada lembaga ini. Dalam
eksekutif terjadi kesenjangan dimana antara presiden dan jajarannya
yang seharusnya memiliki kedudukan yang sejajar, tetapi seolah
presiden yang paling memegang kendali. Contoh: pengangkatan
presiden seumur hidup.
21
Eksekutif juga mengontrol lembaga peradilan, yang dibuktikan
dengan peraturan yang intinya berbunyi bahwa ketika hakim sudah
tidak mampu lagi untuk memutuskan suatu perkara maka kewenangan
itu di ambil alih oleh presiden.
b. Masa Orde Baru
Kedudukan
lembaga
eksekutif
tetap
dominan.
Dominasi
kedudukan eksekutif ini pada awalnya ditujukan untuk kelancaran proses
pembangunan ekonomi. Untuk berhasilnya program pem-bangunan
tersebut diperlukan stabilitas politik. Eksekutif memiliki kedudukan yang
lebih kuat dibandingkan dengan kedudukan lembaga legislatif maupun
yudikatif.
Pembatasan
masyarakat
ditujukan
jumlah
untuk
partai
politik
menopang
maupun
stabilitas
partisipasi
politik
untuk
pembangunan dan kuatnya kedudukan lembaga eksekutif di bawah
Presiden Soeharto.
Kontrol
eksekutif
tampak
lebih
menonjol
manakala
memperhatikan keleluasaan eksekutif dalam hal membuat regulatory laws
sekalipun hanya bertaraf peraturan pelaksanaan, alasan kedua adalah
dimana perkembangan politik pada era Orde Baru, kekuatan politik yang
berkuasa di jajaran eksekutif ternyata mampu bermanouver dan
mendominasi DPR dan MPR, dengan kompromi politik sebagai hasil
trade-offs antara berbagai kekuatan polotik. Terlihat dari Pemilihan
Umum tahun 1973, dimana 100 dari 360 anggota Dewan adalah anggota
yang diangkat dan ditunjuk oleh eksekutif yaitu fraksi ABRI ditunjuk dan
diangkat
sebagai
konsesi
tidak
ikutnya
anggota
ABRI
dalam
menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum. Konstelasi dan
kontruksi tersebut dalam abad ke 20 secara sempurna menjadi
Government Social Control dan fungsi sebagai Tool of Social
Engineering.
22
Adanya pendayagunaan wewenang konstitusional badan eksekutif
yang melibatkan diri dalam pernacangan dan pembuatan undang-undang,
karena dikusainya sumber daya yang ratif berlebihan akan menyebabkan
eksekutif mampu lebih banyak berprakasa, yang seharusnya alih ide dan
kebijakan diperakasai oleh lembaga perwakilan akan tetapi pada
kenyataannya justru ide dan prakasa eksekutif yang lebih banyak merintis
dan mengontrol perkembangan.
Presiden
juga
memiliki
kewenangan
untuk
menentukan
keanggotaan MPR (pasal 1 ayat 4 huruf c UU No.16 Tahun 1969 jo UU
No.2 Tahun 1985). Suatu hal yang sangat tidak pantas dan tidak pas
dengan logika demokrasi. Sistem kepartaian yang menguntungkan
Golkar, eksistensi ABRI yang lebih sebagai alat penguasa daripada alat
negara,
DPR
dan
pemerintah
yang
dikuasai
partai
mayoritas
menyebabkan DPR menjadi tersubordinasi terhadap pemerintah. Hal ini
pula yang menyebabkan fungsi pengawasan terhadap pemerintah
(Eksekutif) yang seharusnya dilaksanakan oleh DPR/MPR (legislatif)
menjadi tidak efektif.
c. Masa Reformasi
Di masa Reformasi yang dimulai dari tumbangnya rezim
autoritarian yang dipimpin oleh Soeharto, kedudukan lembaga eksekutif
setara dengan lembaga pemerintahan yang lain, yaitu lembaga legislatif
dan lembaga yudikatif. Dalam perkembangannya, lembaga eksekutif yang
dipimpin oleh presiden tidak menjadi lembaga paling kuat dalam
pemerintahan, karena lembaga eksekutif diawasi oleh lembaga legislatif,
masyarakat (terutama mahasiswa, ormas, LSM, dan media massa) dalam
menjalankan pemerintahan, serta akan ditindaklanjuti oleh lembaga
yudikatif jika terjadi pelanggaran, sesuai dengan Undang-Undang. Justru
pada masa Reformasi hingga detik ini, lembaga eksekutif selalu bertindak
23
hati-hati dalam menjalankan pemerintahan, jika tidak hati-hati dalam
mengambil dan melaksanakan kebijakan, maka lembaga eksekutif akan
mendapatkan tekanan dari segala kalangan, baik itu dari lembaga
pemerintahan lain maupun kelompok-kelompok kepentingan (NGO), dan
terutama dari mahasiswa yang semakin menyadari perannya sebagai
agent of control. Rekruitmen anggota lembaga eksekutif ditetapkan
berdasarkan hasil pemilu, perjanjian dengan partai koalisi maupun dengan
ditunjuk oleh Presiden.
C. Tabel Perbandingan Sistem Politik di Indonesia dari Masa Orde Lama
sampai Masa Pasca Reformasi
JENIS
PERBANDI
NGAN
ORDE LAMA
DEMOKRASI
DEMOKRASI
PARLEMENTER
TERPIMPIN
SISTEM
POLITIK
 Menggunakan
sistem
pemerintahan
parlementer.
 Presiden hanyalah
sebagai kepala
Negara.
 Kepala
pemerintahan
dipimpin oleh
seorang Perdana
Menteri.
 Perdana menteri
bertanggung jawab
kepada Parlemen.
 Parlemen bisa
menjatuhkan
kabinet dengan
mosi tidak
percaya.
 Sering terjadi
pergantian kabinet
yang dikarenakan
pergeseran koalisi
antar partai.
 Pemerintahan
tidak stabil.
 Program-program
pemerintahan yang
 Menggunakan sistem
pemerintahan
Presidensiil
 Presiden merupakan
kepala negara
sekaligus kepala
pemerintahan
 Kepemimpinan berada
di bawah komando
Presiden secara
langsung
 Peran lembagalembaga pemerintahan
saat itu lumpuh
 Presiden Soekarno
mendeklarasikan diri
sebagai presiden
seumur hidup
 Meluasnya peranan
militer sebagai unsur
sosial politik.
 Partai politik dibatasi
dengan hanya
memberi peluang
berkembangnya
partai-partai
berideologi
NASAKOM.
 Akhir dari masa
ORDE BARU
PASCA
REFORMASI
 Sistem politik
pada masa ini
menganut sistem
pemerintahan
Presidensiil
 Presiden
merupakan center
of power
 Lembaga
eksekutif saat itu
merupakan
lembaga yang
paling kuat
dibandingkan
lembaga-lembaga
lain
 kinerja lembaga
legislatif berada
di bawah tekanan
Presiden
 Lembaga
yudikatif yang
tidak bisa
menegakkan
supremasi hukum
yang
disebabkan karena
lembaga yudikatif
merupakan
 Menggunakan
sistem
pemerintahan
presidensiil
 Terjadi
perombakan dalam
segala bidang
secara bertahap
diawali dengan
pergantian
presiden dan
kabinet di dalam
pemerintahan
 Pengadaan
pengakuan HAM
dan kebebasan
pers
 Sistem
presidensiil
bercampur baur
dengan
elemen-elemen
sistem
parlementer
 Pertanggung
jawaban Presiden
kepada MPR
 UUD 1945
menetapkan
24
PERAN
LEMBAGA
EKSEKUTIF
DALAM
SISTEM
POLITIK
INDONESIA
(GABRIEL
ALMOND)
dilaksanakan
lembaga eksekutif
tidak bisa
terealisasi.
 Akhir dari masa
demokrasi
Parlementer
adalah
dikeluarkannya
Dekrit Presiden
pada tanggal 5 Juli
tahun 1959.
demokrasi terpimpin
adalah dengan adanya
pemberontakan PKI
pada tahun 1965.
 Rekruitmen
politik: penetapan
anggota lembaga
legislatif dan
perdana menteri
dilakukan oleh
parlemen.
 Sosialisasi politik:
karena jatuh
bangunnya
parlemen
menyebabkan
proses sosialisasi
politik yang
berupa sosialisasi
dan penerapan
program
pemerintah
terhambat.
 Komunikasi
politik: banyak
didominasi oleh
parlemen karena
lembaga eksekutif
berada di bawah
pengaruh
parlemen.
 Hubungan dengan
eksekutif: karena
pada masa
demokrasi
perlementer
kabinet sering
bergonta-ganti
 Rekruitmen politik:
pemilihan anggota
lembaga legislatif
dilakukan oleh
Presiden secara
langsung.
 Sosialisasi politik:
dilakukan oleh
Presiden, di mana
program pemerintahan
disosialisasikan secara
paksa (harus
dilaksanakan oleh
birokrasi dan
jajarannya serta oleh
rakyat).
 Komunikasi politik:
didominasi oleh
Presiden, karena
sistem
pemerintahannya
terpimpin.
 Eksekutif bisa
membuat undangundang dan seolaholah semua terpusat
pada lembaga ini.
 Dalam eksekutif
terjadi kesenjangan
dimana antara
presiden dan
jajarannya yang
seharusnya memiliki
kedudukan yang
lembaga yang
berada di bawah
naungan Menteri
Kehakiman yang
notabene
merupakan
pejabat eksekutif
 Tidak ada
pengawasan atau
check and
balance terhadap
kinerja lembaga
eksekutif
 Tidak ada yang
berani menentang
Presiden
 Presiden
mengontrol
rekruitmen
lembaga tinggi
Negara.
 Rekruitmen
politik: pemilihan
anggota eksekutif
ditentukan oleh
Presiden dengan
menempatkan
orang-orang
kepercayaannya,
kerabat, dan
ABRI, sehingga
Presiden
mempunyai
kekuasaan penuh
untuk mengontrol
lembaga-lembaga
pemerintahan
tersebut.
rekruitmen politik
juga berdasarkan
hasil Pemilu yang
dilakukan saat
itu.
 Sosialisasi
politik:
dipaksakan (harus
dilaksanakan)
tanpa protes, jika
ada yang
melawan akan
berhadapan
dengan
pemerintah,
sehingga tidak
ada yang berani
adanya fungsi
sistem pemisahan
kekuasaan sebagai
adanya
mekanisme
kontrol antara
Presiden dan MPR
 Lebih mengarah
kepada proses
demokratisasi.
 Rekruitmen
politik:
penetapan
anggota eksekutif
berdasarkan hasil
Pemilu (Presiden
dan Wakil
Presiden),
sedangkan
jajaran kabinet
ditetapkan
berdasarkan hasil
Pemilu,
kesepakatan
dengan partai
koalisi, dan
ditunjuk oleh
Presiden.
 Sosialisasi
politik:
diapksakan
(harus
dilaksanakan),
namun diawasi
oleh rakyat,
sehingga jika ada
program
pemerintah yang
dianggap
menyimpang
atau merugikan
rakyat akan
mendapatkan
perlawanan
25
mengakibatkan
peran eksekutif
manjadi mandul
yang dikarenakan
program kerja dari
tiap-tiap kabinet
yang berbeda-beda
serta terlalu
banyak padahal
masa baktinya
sangat pendek.
 Keadaan birokrasi
pada masa itu
sangat politis
sekali karena pada
jabatan menteri
seringnya dikuasai
oleh partai politik
sehingga
mengakibatkan
semua bawahan
dari para mentri
itu kebanyakan
didominasi dari
pihak partai politik
dan bisa dipastikan
mereka juga
membawa
kepentingan
golongan maupun
partai politik
tersebut.
 Keadaan birokrasi
berikutnya:
dikarenakan
terlalu tingginya
semangat
kepentingan dari
kelompokkelompok/partai
politik
mengakibatkan
terjadi kerjasama
yang tidak sehat
antara eksekutif
dengan para
pengusaha untuk
memperlancar
usaha mereka.
sejajar, tetapi seolah
presiden yang paling
memegang kendali.
Ex: pengangkatan
presiden seumur
hidup.
 Eksekutif juga
mengontrol lembaga
peradilan, yang
dibuktikan dengan
peraturan yang intinya
berbunyi bahwa
ketika hakim sudah
tidak mampu lagi
untuk memutuskan
suatu perkara maka
kewenangan itu di
ambil alih oleh
presiden.
menentang
Presiden dan
kroni-kroninya,
mewujudkan
budaya “yes man
person” di
kalangan rakyat.
 Komunikasi
politik: berjalan
satu arah, hanya
dari pihak
pemerintah,
rakyat dibungkam
aspirasinya. Jika
yang dibicarakan
rakyat bukanlah
hal-hal yang baik
tentang
pemerintahan,
rakyat tidak boleh
bicara selain hal
itu.
rakyat.
 Komunikasi
politik:
komunikasi 2
arah antara
pemerintah
dengan rakyat
(adanya proses
timbal balik
dalam
komunikasi
politik)
26
BAB IV
ANALISIS
1. Orde Lama
a. Demokrasi Parlementer
Parlemen bisa menjatuhkan kabinet dengan mosi tidak percaya
karena lebih berperannya lembaga legislatife daripada eksekutif. Perdana
menteri bertanggung jawab kepada Parlemen
Presiden hanyalah sebagai kepala Negara kepala pemerintahan
dipimpin oleh seorang Perdana Menteri. Semua yang diprogramkan oleh
lembaga eksekutif tidak terealisasikan karena sering terjadi pergantian
kabinet
b. Demokrasi Terpimpin
Pada masa Demokrasi Terpimpin pemerintahan berpusat kepada
presiden. Sehingga semua berada dibawah kendali presiden. Sehingga
terjadi banyak penyimpangan yang terjadi pada masa ini. Pemerintahan
ini cenderung otoriter kerena Presiden mendeklarasikan diri sebagai
Presiden seumur hidup. Menggunakan politik berdikari yang menolak
semua investor asing menanamkan modal di Indonesia sehingga
kehidupan ekonomi rakyat Indonesia semakin terpuruk.
2. Orde Baru
Pada masa orde baru menggunakan sistem Presidensiil. Awal masa
ini presiden membentuk kabinet pembangunan dan sistem desentralisasi
tetapi realitasnya semua itu hanya janji – janji yang tidak pernah
diwujudkan.
Pemerintahan ini cenderung otoriter karena semua semua kebijakan
harus dengan persetujuan Presiden. pada masa ini banyak terjadi
27
penyimpangan – penyimpangan. Banyak investor yang menanamkan
modalnya di Indonesia dengan persetujuan presiden tetapi semua diluar
dugaan. Para investor malah melarikan uang rakyat sehingga negara harus
menanggung kerugian. Menurut rakyat semua ini kesalahan presiden
sehingga menimbulkan KKN.
3. Masa Pasca Reformasi
Setelah masa orde baru tumbang maka munculah masa reformasi.
Pada masa ini menggunakan sistem presidensiil. Presiden bertanggung
jawab pada MPR. Pada masa ini terjadi perombakan disegala bidang dawali
dengan pergantian presiden dan kabinet. Penegakan sangat diakui dan
dihargai oleh semua lapisan masyarakat. Pres sangat di bebas dalam
mengemukakan pendapat. Pada masa reformasi lebih mengarah pada masa
demokrasi. UUD 1945 menetapkan adanya fungsi sistem pemisahan
kekuasaan sebagai adanya mekanisme kontrol antara Presiden dan MPR.
Sistem presidensiil bercampur baur dengan elemen-elemen sistem
parlementer.
Pelaksanaan demokrasi pancasila pada era reformasi telah banyak
memberikan ruang gerak pada parpol maupun DPR untuk mengawasi
pemerintah secara kritis dan dibenarkan untuk unjuk rasa.
Pada masa ini kedudukan lembaga eksekutif sejajar dengan lembaga
legislatif dan yudikatif. Sehingga peran ketiga tersebut saling melengkapi
satu sama lain. Peran eksekutif menjalankan fungsinya sesuai dengan
undang – undang.
28
BAB V
KESIMPULAN

Sistem politik pada masa orde lama dibagi menjadi dua yaitu:
a. Demokrasi Parlementer
Pada masa ini peran lembaga eksekutif tidak efektif karena lebih
mendominasinya peran legislative. Perdana Mentri pertanggung jawab
pada parlemen.
Presiden hanya sebagai kepala Negara dan hanya
merupakan symbol pemerintahan. Program dari lembaga eksekutif tidak
direalisasikan.
b. Demokrasi Terpimpin
Pada masa ini peran lembaga eksekutif cenderung otoriter
dikarenakan peran presiden sangat mendominasi. Eksekutif dapat
membuat
undang
–
undang
dan
Presiden
Soekarno
saat
itu
mendeklarasikan dirinya sebagai Presiden seumur hidup. Semua lembaga
dikontrol oleh eksekutif. Dalam eksekutif
terjadi kesenjangn dimana
antara president dan jajaranya yang seharusnya memiliki kedudukan yang
sejajar, tetapi seolah presiden yang paling memegang kendali.

Sistem Politik pada masa Orde baru
Peran lembaga eksekutif pada masa inipun mengarah pada sistem
yang otoriter. Semua kebijakan yang diajukan harus mendapatkan
persetujuan presiden. Lembaga – lembaga yang lain serasa lumpuh karena
semua berpusat pada presiden sebagai lembaga eksekutif.

Sistem Politik pada masa Pasca Reformasi
Terjadi perombakan dalam segala bidang secara bertahap diawali
dengan pergantian presiden dan kabinet di dalam pemerintahan
karena
adanya keinginan rakyat memilik pemerintahan yang bersih tanpa adanya
29
lembaga – lembaga yang lebih mendominasi. Pada masa ini peran eksekutif
sejajar dengan lembaga yang lainnya. Lembaga eksekutif menjalankan
fungsinya sebagai mana mestinya.
30
DAFTAR PUSTAKA
Budiardjo,Miriam.2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik.Jakarta : Gramedia.
http://manshurzikri.wordpress.com/2010/02/09/review-konsep-sistempolitik/untitled2/
www.google.com
http://izzahluvgreen.wordpress.com/2008/06/08/hubungan-kerja-lembaga-eksekutif-danyudikatif/
http://www.legalitas.org/?q=Konfigurasi+Politik+pada+Era+Orde+Lama+dan+Orde+Ba
ru%3A+Suatu+Telaahan+dalam+Partai+Politik
31
Download