PUTUSAN No. 207 K/Pid/2007 DEMI KEADILAN BERDASARKAN

advertisement
PUTUSAN
No. 207 K/Pid/2007
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
MAHKAMAH
AGUNG
memeriksa perkara pidana Tindak Pidana Korupsi dalam tingkat kasasi telah
memutuskan sebagai berikut dalam perkara Terdakwa :
Nama
;
Ir. I S H A K.
tempat lahir
:
M e d a n.
umur / tanggal lahir :
44 tahun/10-Oktober-1961.
jenis kelamin
:
Laki-laki.
kebangsaan
:
Indonesia.
tempat tinggal
:
Jln. Camar XX Pondok Betung, Pondok
Aren, Tangerang.
agama
:
Islam.
pekerjaan
:
Swasta.
Terdakwa berada di dalam tahanan :
1.
Penyidik sejak tanggal 22 Oktober 2005 sampai dengan 10 Nopember
2005;
2.
Perpanjangan oleh Penuntut Umum sejak tanggal 10 Nopember 2005
sampai dengan tanggal 19 Desember 2005;
3.
Perpanjangan oleh Ketua Pengadilan Negeri sejak tanggal 20 Desember
2005 sampai dengan tanggal 18 Januari 2006 dan tanggal 19 Januari 2005
sampai dengan tanggal 17 Februari 2006;
4.
Penuntut Umum sejak tanggal 16 Februari 2006 sampai dengan tanggal 7
Maret 2006;
5.
Perpanjangan oleh Ketua Pengadilan Negeri sejak tanggal 8 Maret 2006
sampai dengan tanggal 6 April 2006 dan tanggal 7 April 2006 sampai
dengan tanggal 6 Mei 2006
6.
Hakim Pengadilan Negeri sejak tanggal 1 Mei 2006 sampai dengan
tanggal 30 Mei 2006;
7.
Perpanjangan oleh Ketua Pengadilan Negeri sejak
tanggal 31 Mei 2006
sampai dengan tanggal 29 Juli 2006;
8.
Perpanjangan Ketua Pengadilan Tinggi sejak tanggal 30 Juli 2006 sampai
dengan tanggal 28 Agustus 2006 dan tanggal 29 Agustus 2006 sampai
dengan 27 September 2006;
Hal. 1 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
9.
Hakim Pengadilan Tinggi sejak tanggal
26 September 2006 sampai
dengan tanggal 25 Oktober 2006;
10. Perpanjangan
oleh
Wakil
Ketua
Pengadilan
Tinggi
sejak
tanggal 26 Oktober 2006 sampai dengan tanggal 24 Desember 2006 ;
11. Berdasarkan
Penetapan Wakil
Ketua
Mahkamah
Agung
Republik
Indonesia
No. 143/2007/207 K/PP/2007/MA tanggal 2 Februari 2007
Terdakwa
diperintahkan untuk ditahan selama 50
(lima puluh) hari,
terhitung sejak tanggal 8 Januari 2007;
12. Perpanjangan berdasarkan Penetapan Wakil Ketua Mahkamah Agung RI
No.144/2007/207K/PP/2007/MA
tanggal
27
Terdakwa diperintahkan untuk ditahan selama 60
Februari
2007
(enam puluh ) hari,
terhitung sejak tanggal 27 Februari 2007;
Yang diajukan dimuka persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena
didakwa :
PERTAMA :
Bahwa ia terdakwa Ir. ISHAK pada sekitar bulan Oktober 2003 sampai
dengan bulan Desember 2003 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu sekitar
tahun 2003 , bertempat di Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Jl
Trunojoyo No. 3 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, di Showroom Dealer Nissan
Auto Mall Mobil Jl. Sudirman Kav. 52-52 lantai dasar G 19 lot 6 Jakarta Selatan,
atau setidak-tidaknya pada suatu tempat lain dalam wilayah hukum Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan berwenang memeriksa dan mengadili perkaranya, telah
melakukan beberapa perbuatan yang berhubungan sedemikian rupa sehingga
harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut,
secara melawan hukum
melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain, atau suatu
korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara,
yang dilakukan oleh terdakwa dengan cara sebagai berikut :
-
Bahwa sekira bulan Oktober 2003 pada saat Bareskrim Mabes Polri
melakukan penyidikan kasus Tindak Pidana Korupsi, Pencucian Uang,
Perbankan, Penipuan dan Pemalsuan yang diduga dilakukan oleh
KOESANDIYUWONO (Mantan Pimpinan Cabang Kebayoran Baru), EDY
SANTOSO (Pimpinan Bidang Pelayanan Nasabah Bidang Luar Negeri
Cabang Kebayoran), APRILA WIDHARTA (Dirut PT. Pan Kipros), IR. OLAH
ABDULLAH AGAM (Direktur Utama PT. Gramarindo Mega Indonesia), Ir.
JEFFREY BASO (Dirut PT. Triranu Caraka Pacific) Dr. TITIK PRISTIWANTI
Hal. 2 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
(Direktur Utama Bhinekatama Pacific), ADRIAN PENDELAKI LUMOWA
(Direktur PT. Magnetique Usaha Esa Indonesia), Ny. JUDI BASO (Dir. PT.
Basomasindo), RICHARD KOUNTUL (Direktur Utama PT. Metrantara), dan
ADRIAN PENDELAKI (Dirut PT. Ferry Masterindo, ADRIAN HERLING
WAWORUNTU dan PAULIENE MARIA LUMOWA, berdasarkan Surat
Perintah Penyidikan No. Pol : 86/X/2003/Dit II Eksus tanggal 7 Oktober 2003
yang ditanda tangani oleh Brigadir Jenderal Polisi Drs. Samuel Ismoko.
-
Terdakwa yang telah mengenal dan menjadi teman Adrian Herling
Waworuntu sejak tahun 2000, sejak bulan Oktober 2003 mengetahui bahwa
Adrian Herling Waworuntu menjadi tersangka sebagaimana Surat Perintah
Penyidikan No. Pol : 86/X/2003/Dit II Eksus tanggal 7 Oktober 2003,
mengadakan pertemuan dengan Adrian Herling Waworuntu di Hotel Hilton
Jakarta Pusat, untuk membicarakan tentang keterkaitan Adrian Herling
Waworuntu dalam pencairan L/C Gramarindo Group di PT. BNI Kebayoran
Baru Jakarta Selatan dan terdakwa bersama-sama Adrian Herling
Waworuntu
mempersiapkan
bahan-bahan
menyangkut
peran
bisnis,
masalah investasi dan masalah lain sebelum dilakukannya pemeriksaan atas
Adrian Herling Waworuntu oleh Penyidik.
-
Bahwa terdakwa yang mengaku mengenal dekat pejabat kepolisian yaitu
Drs. Samuel Ismoko (Direktur II Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri) dan
Drs. Suyitno Landung (Kabareskrim Polri), selanjutnya meminta uang
kepada Adrian Herling Waworuntu sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar
rupiah) yang menurut terdakwa untuk mengurus Adrian Herling Waworuntu
terlepas dari penyidikan yang dilakukan dan atas maksud terdakwa tersebut
Adrian Herling Waworuntu berjanji akan mencarikannya terlebih dahulu.
Pada saat Adrian Herling Waworuntu ditahan oleh Penyidik, terdakwa yang
belum mendapatkan uang yang dimintanya dari Adrian Herling Waworuntu,
datang ketahanan Bareskrim Mabes Polri menemui Adrian Herling
Waworuntu untuk meminta uang sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar
rupiah) yang pada saat itu ada Jeffrey Baso (Direktur Utama PT. Triranu
Caraka Pasifik) yang juga telah ditahan oleh Penyidik dalam perkara yang
sama dengan Adrian Herling Waworuntu, pada saat pertemuan di Bareskrim
tersebut terdakwa kembali meminta uang yang dijanjikan Adrian Herling
Waworuntu sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) dan atas
permintaan tersebut Adrian Herling Waworuntu meminta Jeffrey Baso untuk
meminjamkan uang kepada Adrian Herling Waworuntu dan atas permintaan
Hal. 3 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Adrian Herling Waworuntu, Jeffrey
Baso menyerahkan 1 (satu) lembar
Cheque mundur Bank Mandiri miliknya sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima
milyar rupiah) kepada terdakwa.
Pada saat terdakwa mencairkan cheque yang diserahkan oleh Jeffrey Baso
ternyata dalam rekening Jeffrey Baso tidak terdapat dana yang cukup dan
selanjutnya menemui Adrian Herling Waworuntu dan Jeffrey Baso yang
mengatakan bahwa Cheque yang diberikan tidak dapat diuangkan dan
terdakwa meminta kepada Adrian untuk mengganti cheque yang telah ada
pada terdakwa.
Bahwa Untuk mengganti cheque yang tidak dapat diuangkan oleh terdakwa,
Adrian Herling Waworuntu menghubungi Dicky Iskandardinata (Direktur
Utama PT. Brocolyn Internasional) untuk menyiapkan uang yang diminta
oleh terdakwa, dengan menanyakan tentang penjualan Perkebunan karet
PT. Hasfam Utama Estate di Kalimantan dan PT. Perkebunan Ladongi, di
Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara, yang telah disisihkan dan tidak
dijadikan disita dan dijadikan barang bukti dari hasil kesepakatannya
dilakukan pada bulan Oktober 2003 bertempat diruang kerja Drs. Samuel
Ismoko di Bareskrim Mabes Polri, yang pada saat pertemuan penyisihan 3
(tiga)
perkebunan
PT.
Brocolyn
Internasional
yang
diperoleh
dari
pendiskontoaan L/C fiktif Gramarindo Group di BNI 46 Kebayoran Baru
Jakarta Selatan, yang diikuti oleh terdakwa, Dicky Iskandardinata, Adrian
Herling Waworuntu, Drs. Samuel Ismoko dan Drs. Irman Santoso.
Karena dua perkebunan yang tidak disita belum terjual, selanjutnya Adrian
Herling Waworuntu meminta Dicky Iskandardinata untuk mencari Ferry
Imandaris (Direktur PT. Magna Graha Agung) untuk mengembalikan dana
L/C fiktif BNI 46 yang ditransfer PT. Bhinekatama Pasifik dan PT. Baso
Masindo kepada PT. Magna Graha Agung sebesar Rp. 25.000.000.000,(dua puluh lima milyar rupiah), yang tidak jadi digunakan dalam mengikuti
Program Penjualan Asset Investasi di BPPN, untuk dibawa ke Mabes Polri
dan dihadapkan kepada Penyidik Drs. Irman Santoso, guna memperoleh
uang yang diminta oleh terdakwa.
Dalam pertemuan yang diadakan di Mabes Polri, Ferry Imandaris
menyanggupi untuk mengembalikan uang yang berasal dari dari Adrian
Herling Waworuntu yang ditransfer PT. Bhinekatama Pasifik dan PT. Baso
Masindo sebesar Rp. 25.000.000.000,- (dua puluh lima milyar) secara
bertahap karena uang tersebut telah diinvestasikan oleh Ferry Imandaris,
Hal. 4 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
dengan menyerahkan 1 (satu) lembar Cheque Bank Central Asia atas nama
Sadeni H / Sulistio sebesar Rp. 3.200.000.000,- (tiga milyar dua ratus juta
rupiah) dan saham Perusahaan Negara GAS (PN.GAS) dan saham BRI
dengan nilai Rp. 4.000.000.000,- (empat milyar rupiah) yang diserahkan
Ferry Imandaris kepada Dicky Iskandardinata.
Dicky Iskandardinata yang menerima 1 (satu) lembar Cheque Bank Central
Asia atas nama Sadeni H / Sulistio sebesar Rp. 3.200.000.000,- (tiga milyar
dua ratus juta rupiah) dan saham Perusahaan Negara GAS (PN.GAS),
karena kebutuhan Adrian Herling Waworuntu untuk menyediakan uang
sesuai dengan permintaan terdakwa selanjutnya menjual saham PN. GAS
dan Saham BRI dengan nilai Rp. 4.000.000.000,- (empat milyar rupiah) pada
PT. Mesana Investama Utama (Perusahaan Securitas) yang dibayar dengan
harga Rp. 1.800.000.000,- (satu milyar delapan ratus juta rupiah) dalam
bentuk Cheque Bank Permata Cabang Imperium No. 36354 atas nama PT.
Mesana Investama Utama, dan selanjutnya 2 (dua) lembar cheque dengan
nilai seluruhnya Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) diserahkan oleh
Dicky Iskandardinata kepada Adrian Herling Waworuntu pada tanggal 21
Desember 2003, 2 (dua) lembar cheqeu dengan nilai Rp. 5.000.000.000,diserahkan oleh Dicky Iskandardinata kepada Adrian Herling Waworuntu dan
oleh Adrian Herling Waworuntu pada hari itu juga diserahkan kepada
terdakwa oleh Adrian Herling Waworuntu melalui tangan Jeffrey Baso,
karena Jeffrey Baso mempunyai kepentingan untuk menarik kembali Cheque
kosong senilai Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) yang masih berada
pada terdakwa.
-
Bahwa uang yang berasal dari Adrian Herling Waworuntu sebesar Rp.
5.000.000.000,- (lima milyar rupiah), dalam bentuk 2 (dua) lembar cheque
sebagaimana tersebut, selanjutnya terdakwa cairkan sendiri yaitu :
-
Pada tanggal 23 Desember 2003, Cheque Bank Permata atas nama PT.
Mesana Investama Utama sebesar Rp. 1.800.000.000,- (satu milyar
delapan ratus juta rupiah) terdakwa tarik tunai dan ditranfer dengan
RTGS (Real Time Gross Setlement) ke rekening PT. Citra Muda Raksa di
Bank Artha Graha Cabang Sudirman dengan nomor rekening 008 1
27215 8, sesuai dengan Aplikasi Transfer Bank Permata Cabang Menara
Imperium No. Reff. 0028767 tanggal 23 Desember 2003.
-
Pada tanggal 23 Desember 2003, Cheque Bank Central Asia atas nama
Sadeni H / Sulistio sebesar Rp. 3.200.000.000,- (tiga milyar dua ratus juta
Hal. 5 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
rupiah) terdakwa tarik tunai dan ditranfer ke rekening PT. Citra Muda
Raksa di Bank Artha Graha Cabang Sudirman dengan nomor rekening
008 1 27215 8, sesuai dengan Voucer Permohonan Pengiriman uang
BCA Capem Pondok Indah tanggal 23 Desember 2003.
Setelah uang sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) masuk
kerekening PT. Citra Muda Raksa di Bank Artha Graha Cabang Sudirman
dengan nomor rekening 008 1 27215 8, terdakwa gunakan untuk kepentingan
terdakwa yaitu :
-
Tanggal 24 Desember 2003 penarikan melalui kliring dengan Cheque No.
CC 735905 sebesar Rp. 18.237.500,-
-
Tanggal 24 Desember 2003 penarikan melalui kliring dengan Cheque No.
CC 735906 sebesar Rp. 290.000,-
-
Tanggal 27 Desember 2003 penarikan melalui tunai dengan Cheque No. CC
735903 sebesar Rp. 8.000.000,-
-
Tanggal 27 Desember 2003 penarikan melalui tunai dengan Cheque No. CC
735906 sebesar Rp. 10.000.000,-
-
Tanggal 29 Desember 2003 penarikan melalui tunai dengan Cheque No. CC
735911 sebesar Rp. 40.000.000,-
-
Tanggal 29 Desember 2003 penarikan melalui tunai dengan Cheque No. CC
735909 sebesar Rp. 100.000.000,-
-
Tanggal 29 Desember 2003 penarikan melalui tunai dengan Cheque No. CC
735910 sebesar Rp. 4.796.162.544,- dan ditempatkan dalam Deposito
Berjangka di Bank Artha Graha Cabang Sudirman atas nama Ir. Ishak
(terdakwa) yang sesuai dengan Deposito Berjangka No. DB008H005 tanggal
29 Desember 2003 sebesar Rp. 6.800.000.000,- (uang sebesar Rp.
4.796.162.544,- ditambahkan didalam deposito yang telah ada sebelumnya
sehingga berjumlah sebesar Rp. 6.800.000.000,-)
-
Tanggal 19 Januari 2004 terdakwa mencairkan sebagian Deposito Berjangka No. No. DB008H005 sebesar Rp. 6.500.000.000,- (sisa Rp.
300.000.000,-) di Bank Artha Graha Cabang Sudirman dan memindahkan
uang tersebut dalam Rekening terdakwa (Ir. ISHAK) / PT. Citra Muda
Bersama Rekening No. 008 3 30078 7 di Bank Artha Graha Cabang
Sudirman, yang aktifitas rekening terdakwa diketahui :
-
Tanggal 30 Januari 2004 tarik tunai sebesar
Rp.
40.000.000,-
Hal. 6 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
-
Tanggal 4 Pebruari 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 150.000.000,-
-
Tanggal 9 Pebruari 2004 tarik tunai sebesar
Rp.
50.000.000,-
-
Tanggal 24 Pebruari 2004 tarik tunai sebesar
Rp.
69.000.000,-
-
Tanggal 1 Maret 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 215.000.000,-
-
Tanggal 3 Maret 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 100.000.000,-
-
Tanggal 12 Maret 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 100.000.000,-
-
Tanggal 15 Maret 2004 tarik tunai sebesar
Rp.
45.000.000,-
-
Tanggal 25 Maret 2004 tarik tunai sebesar
Rp.
5.000.000,-
-
Tanggal 6 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 70.000.000,-
-
Tanggal 7 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 10.000.000,-
-
Tanggal 12 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 150.000.000,-
-
Tanggal 14 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp.
-
Tanggal 16 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 60.000.000,-
-
Tanggal 19 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp.
-
Tanggal 20 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 25.000.000,-
-
Tanggal 21 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp.5.010.030.000,-
4.000.000,-
5.000.000,-
dan terdakwa tranfer ke Rekening PT. Citra Muda Bersama No. 8005752-262 di Citibank
Landmark dengan RTGS sebesar Rp.
5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) dan terdakwa gunakan antara lain
untuk :
-
Tanggal 22 April 2004 uang sebesar Rp. 4.422.600.000,- digunakan
terdakwa untuk membuka Deposito Berjangka di Citibank Landmark;
-
Tanggal 05 Mei 2004 Deposito Berjangka sebesar Rp. Rp.
4.422.600.000,- terdakwa cairkan dan memasukkan uangnya ke
Rekening PT. Citra Muda Bersama No. 8-005752 262 di Citibank
Landmark pada tanggal 05 Mei 2004 sebesar Rp. 4.459.476.534,(pokok + bunga);
-
Tanggal 17 Mei 2004 uang yang terdakwa tempatkan di Rekening
PT. Citra Muda Bersama No. 8-005752 262 di Citibank Landmark,
terdakwa gunakan untuk membeli
mobil Toyota Harier 3.0 di PT.
Simprug Mobil dengan harga Rp. 637.600.000,- (enam ratus tiga
puluh juta juta rupiah) yang dicatatkan kepemilikannya atas nama
Hal. 7 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Amy (isteri terdakwa) dengan Nomor Polisi B-1719-XC. Mobil tersebut
telah dijual kembali pada bulan Nopember 2005 oleh Ny. Ami (isteri
terdakwa) kepada City Car Alteri Pondok Indah Jl. Sultan Iskandar
Muda No. 17 Jakarta Selatan dengan harga Rp. 420.000.000,- dan
uangnya digunakan untuk kepentingan terdakwa dan keluarganya.
-
Uang yang masuk dan ditempatkan di Rekening PT. Citra Muda
Bersama No. 8- 005752 262 di Citibank Landmark, digunakan pula
oleh terdakwa dengan cara ditarik tunai, membeli Reksadana dan
kepentingan lainnya.
- Bahwa setelah terdakwa menerima uang sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima
milyar rupiah) dari Adrian Herling Waworuntu pada tanggal 21 Desember
2003, pada tanggal 30 Desember 2003 terdakwa memesan mobil Nissan XTrail untuk Drs. Suyitno Landung yang terdakwa ketahui menjabat sebagai
Kabareskrim Mabes Polri yang merupakan atasan langsung dari Drs. Samuel
Ismoko, SH. selaku Direktur Eksus II Bareskrim Mabes Polri, dengan tujuan
untuk dapat membantu Adrian Herling Waworuntu terlepas dari perkara yang
sedang dilakukan penyidikan, dengan cara terdakwa datang ke Showroom
Dealer Nissan Auto Mall Mobil Jl. Sudirman Kav. 52-52 lantai dasar G 19 lot 6
Jakarta Pusat, dan dilayani oleh pegawai Dealer Nissan bernama Kuswanti
dan kepada Kuswanti terdakwa
memesan mobil Nissan Xtrail Type ST
(standar) dengan harga sebesar Rp. 247.000.000 (dua ratus empat puluh
tujuh juta rupiah), dengan meminta Kuswanti untuk menulis dalam Surat
Pesanan Mobil Nissan X-Trail Tipe ST atas nama Drs. Suyitno Landung
sebagaimana Surat Pesanan Nomor : 00512 Tanggal 30 Desember 2003
dengan harga Rp. 247.000.000,- (dua ratus empat puluh tujuh juta rupiah).
Mobil Nissan X-Trail yang dipesan selanjutnya di konfirmasi oleh Kuswanti
kepada Drs. Suyitno Landung melalui nomor telepon yang diserahkan oleh
terdakwa dan pesanan mobil yang dilakukan oleh terdakwa dibenarkan oleh
Drs. Suyitno Landung, dan untuk itu Kuswanti meminta Drs Suyitno Landung
untuk mengirimkan fax Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan berdasarkan fak
yang masuk dari Wadankorserse Polri, telpon nomor 739794, tanggal 30
Desember 2003, jam 10:49, Drs. Suyitno Landung meminta Kuswanti untuk
mendaftarkan mobil Nissan X-Trail atas nama foto copy KTP yang dikirimkan
bernama Joko Pradigdo, jenis kelamin laki-laki, tempat tanggal lahir di Malang
tanggal 17 Desember 1948, agama Islam, pekerjaan Wiraswasta, alamat
Jl.Kerja Bakti RT/RW 07/02 Kelurahan Makasar Kec. Makasar Kotamadya
Hal. 8 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Jakarta Timur, untuk pengurusan STNK dan BPKB mobil Nissan X-Trail yang
dipesan oleh terdakwa untuk Drs. Suyitno Landung.
Bahwa untuk pembayaran mobil Nissan X-trail pesanan oleh terdakwa untuk
Drs. Suyitno Landung, Kuswanti menanyakan kepada terdakwa tentang cara
pembayaran mobil tersebut dan terdakwa mengatakan bahwa pembayarannya
akan diurus oleh Anna (saksi Anastasia Suzanna Pramudio / Sekretaris Adrian
Herling Waworuntu) dengan memberikan nomor telepon Anna kepada
Kuswanti.
Setelah menghubungi Kuswanti menghubungi Anna dan membenarkan
adanya mobil Nissan X-Trail yang dipesan oleh terdakwa, selanjutnya
Kuswanti
mengirimkan fax pemesanan mobil atas nama Ishak (terdakwa)
kepada Anna dan selanjutnya uang pembayaran mobil sejumlah Rp.
247.000.000 (dua ratus empat puluh tujuh juta rupiah) ditranfer ke rekening
Indo Mobil di BCA Cabang Suryo Pranoto.
Bahwa pada tanggal 6 Januari 2004, Kuswanti menghubungi terdakwa untuk
memberitahukan mobil Nissan X-Trail warna hitam Nomor Polisi B-8920-AP
atas nama Joko Pradigdo yang dipesan oleh terdakwa sudah bisa diambil dan
untuk itu terdakwa meminta Kuswanti untuk menghubungi Suyitno Landung
dan pada hari tersebut sekitar jam 16.00 sore mobil Nissan X-Trail diambil
sendiri oleh Suyitno Landung di Dealer Nissan Auto Mall Mobil Jl. Sudirman
Jakarta Selatan.
Rangkaian perbuatan terdakwa menerima uang dari Adrian Herling Waworuntu
sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) pada tanggal 21 Desember
2003 dan memesankan mobil untuk Drs. Suyitno Landung pada tanggal 30
Desember 2003 dengan harga sebesar Rp. 247.000.000 (dua ratus empat puluh
tujuh juta rupiah) yang sumber keuangannya berasal dari Adrian Herling
Waworuntu yang pada saat itu berstatus sebagai tersangka dalam kasus
pendiskontoan L/C fiktif Gramarindo Group di BNI 46 Kebayoran Baru Jakarta
Selatan dan terdakwa mengetahui atau harus dapat menduga uang yang
terdakwa terima dari Adrian Herling Waworuntu sebesar Rp. 5.000.000.000,(lima milyar rupiah) berasal dari pendiskontoan L/C fiktif Gramarindo Group di
BNI 46 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, mengakibatkan timbulnya kerugian
negara sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) dalam hal ini PT. BNI
46 Kebayoran Baru Jakarta selatan sebesar atau setidak tidaknya dalam jumlah
tersebut.
Hal. 9 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam pasal 2 ayat (1) jo.
Pasal 18 Undang-Undang No. 31 tahun 1999 jo. Undang-Undang No. 20 tahun
2001 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.
ATAU :
KEDUA :
Bahwa ia terdakwa Ir. ISHAK selaku Konsultan bisnis dan Direktur
Utama PT. Citra Muda Raksa dan PT. Citra Muda Bersama pada sekitar bulan
Desember 2003 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu sekitar tahun 2003,
bertempat di Plaza Senayan Jakarta Selatan dan Markas Besar Kepolisian
Republik Indonesia Jl Trunojoyo No. 3 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, atau
setidak-tidaknya pada suatu tempat lain dalam wilayah hukum Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan berwenang memeriksa dan mengadili perkaranya, telah
melakukan percobaan memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai
negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau
penyelenggara negara berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya,
yang bertentangan dengan kewajibannya, yang dilakukan yang dilakukan
dengan cara-cara sebagai berikut :
-
Bahwa sekira bulan Oktober 2003 pada saat Bareskrim Mabes Polri
melakukan penyidikan kasus Tindak Pidana Korupsi dan Pencucian Uang
dan Perbankan dan Penipuan dan Pemalsuan yang diduga dilakukan oleh
KOESANDIYUWONO (Mantan Pimpinan Cabang Kebayoran Baru) EDY
SANTOSO (Pimpinan Bidang Pelayanan Nasabah Bidang Luar Negeri
Cabang Kebayoran) APRILA WIDHARTA (Dirut PT. Pan Kipros) IR. OLAH
ABDULLAH AGAM (Direktur Utama PT. Gramarindo Mega Indonesia) Ir.
JEFFREY BASO (Dirut PT. Triranu Caraka Pacific) Dr. TITIK PRISTIWANTI
(Direktur Utama Bhinekatama Pacific), ADRIAN PENDELAKI LUMOWA
(Direktur PT. Magnetique Usaha Esa Indonesia), Ny. JUDI BASO (Dir. PT.
Basomasindo), RICHARD KOUNTUL (Direktur Utama PT. Metrantara), dan
ADRIAN PENDELAKI (Dirut PT. Ferry Masterindo, ADRIAN HERLING
WAWORUNTU dan PAULIENE MARIA LUMOWA, berdasarkan Surat
Perintah Penyidikan No. Pol : 86/X/2003/Dit II Eksus tanggal 7 Oktober 2003
yang ditanda tangani oleh Brigadir Jenderal Polisi Drs. Samuel Ismoko.
- Terdakwa yang telah mengenal dan menjadi teman Adrian Herling Waworuntu
sejak tahun 2000, sejak bulan Oktober 2003 mengetahui bahwa Adrian
Herling
Waworuntu
menjadi
tersangka
sebagaimana
Surat
Perintah
Hal. 10 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Penyidikan No. Pol : 86/X/2003/Dit II Eksus tanggal 7 Oktober 2003, mengadakan pertemuan dengan Adrian Herling Waworuntu di Hotel Hilton Jakarta
Pusat, untuk membicarakan tentang keterkaitan Adrian Herling Waworuntu
dalam pencairan L/C Gramarindo Group di PT. BNI Kebayoran Baru Jakarta
Selatan dan terdakwa bersama-sama Adrian Herling Waworuntu mempersiapkan bahan-bahan menyangkut peran bisnis, masalah investasi dan
masalah lain sebelum dilakukannya pemeriksaan atas Adrian Herling
Waworuntu oleh Penyidik.
- Bahwa pada bulan Desember 2003 bertempat di Plaza Senayan, terdakwa
yang telah mengenal Drs. Samuel Ismoko, mengadakan pertemuan dengan
Drs. Samuel Ismoko untuk membicarakan penanganan perkara atas nama
Adrian Herling Waworuntu, dimana dalam pertemuan tersebut Drs. Samuel
Ismoko diperkenalkan seseorang bernama Pieter (Pemilik Property Garuda
Wisnu Kencana di Jimbaran Bali) kepada terdakwa, dan Drs. Samuel Ismoko
mengatakan bahwa ia membutuhkan dana sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima
milyar rupiah) untuk investasi tanah di Bali dengan prospek pengembalian
yang baik, atas permintaan Drs. Samuel Ismoko tersebut terdakwa
menjanjikan akan mengusahakan dana yang diminta Drs. Samuel Ismoko.
Dari pertemuan terdakwa dengan Drs. Samuel Ismoko, terdakwa langsung
mendatangi Adrian Herling Waworuntu yang pada saat itu sudah di tahan
Penyidik bersama Jeffrey Baso, untuk segera menyediakan uang sebesar Rp.
5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) untuk diserahkan kepada Drs. Samuel
Ismoko kalau ingin segera dibebaskan dengan mengatakan “menurut Bapak
Ismoko perkara ini dapat diperdatakan dan kalau mau cepat bebas supaya
menyiapkan uang sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah).
Untuk memenuhi permintaan terdakwa, selanjutnya Adrian Herling Waworuntu
meminta Jeffrey Baso meminjamkan uang sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima
milyar rupiah) untuk diserahkan kepada terdakwa, dan atas permintaan Adrian
Herling Waworuntu, Jeffrey Baso menyerahkan chequenya mundur Bank
Mandiri miliknya sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) kepada
terdakwa dan pada saat cheque diserahkan, terdakwa mengatakan kalau
cheque itu cair akan segera dibebaskan.
Bahwa pada saat terdakwa mencairkan Cheque yang diserahkan oleh Jeffrey
Baso ternyata tidak terdapat dana dalam rekening Jeffrey Baso dan terdakwa
kembali menemui Adrian Herling Waworuntu dan Jeffrey Baso di tahanan
Bareskrim Mabes Polri, untuk mempertanyakan cheque dari Jeffrey Baso yang
Hal. 11 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
tidak dapat dicairkan dan meminta Adrian Herling Waworuntu untuk mengganti
cheque yang telah diserahkan untuk segera terdakwa diserahkan kepada Drs
Samuel Ismoko untuk mengurus Adrian Herling Waworuntu dan Jeffrey Baso
lepas dari penyidikan perkara korupsi dan dijadikan perkara perdata dan dapat
segera dibebaskan.
Untuk mengganti cheque yang telah diserahkan kepada terdakwa, Adrian
Herling Waworuntu menghubungi Dicky Iskandardinata untuk mencari uang
yang akan diserahkan kepada terdakwa karena ada komitmen dengan Drs.
Samuel Ismoko melalui terdakwa, dan karena Dicky Iskandardinata tidak
mempunyai uang, Adrian Herling Waworuntu meminta Dicky Iskandardinata
untuk mencari Ferry Imandaris (Direktur PT. Magna Graha Agung) yang telah
menerima uang Adrian Herling Waworuntu yang berasal dari pendiskontoan
L/C fiktif PT. Bhinekatama Pasifik dan PT. Baso Masindo di BNI 46 Kebayoran
Baru Jakarta Selatan yang ditransfer kepada PT. Magna Graha Agung
sebesar Rp. 25.000.000.000,- (dua puluh lima milyar rupiah) untuk
dikembalikan karena gagal memenangkan pelelangan di BPPN dalam
program Penjualan Asset Investasi di BPPN yaitu PT. Pangan Asri dan PT.
Bali Dinasti serta PT. Modern Line, untuk dibawa ke Mabes Polri dan
dihadapkan kepada Drs. Irman Santoso.
Dalam pertemuan yang diadakan di Mabes Polri antara Irman Santoso, Adrian
Herling Woworuntu, Jeffrey Baso, Ferry Imandaris dan Dicky Iskandardinata.
Ferry Imandaris menyanggupi mengembalikan dana yang dipergunakan
secara bertahap dan untuk itu Ferry Imandaris menyerahkan Cheque Bank
Central Asia atas nama Sadeni H / Sulistio sebesar Rp. 3.200.000.000,- (tiga
milyar dua ratus juta rupiah) dan saham perusahaan Negara GAS (PN.GAS)
dan saham BRI senilai Rp. 4.000.000.000,- (empat milyar rupiah) kepada
Dicky Iskandardinata dan oleh Dicky Iskandardinata
menjual saham yang
diserahkan oleh Ferry Imandaris kepada perusahaan securitas PT. Mesana
Investama Utama, yang mendapat uang sebesar Rp. 1.800.000.000,- (satu
milyar delapan ratus juta rupiah) dalam bentuk cheque Bank Permata Cabang
Imperium atas nama PT. Mesana Investama Utama.
Bahwa pada tanggal 21 Desember 2003 hasil penjualan saham dalam bentuk
Cheque Bank Permata Cabang Imperium No. 36354 atas nama PT. Mesana
Investama Utama dengan nilai Rp. 1.800.000.000,- (satu milyar delapan ratus
juta rupiah) dan Cheque Bank Central Asia atas nama Sadeni H / Sulistio
sebesar Rp. 3.200.000.000,- (tiga milyar dua ratus juta rupiah), diserahkan
Hal. 12 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
oleh Dicky Iskandardinata kepada Adrian Herling Waworuntu dan selanjutnya
kedua cheque dengan nilai seluruhnya sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima
milyar rupiah) diserahkan oleh Adrian Herling Waworuntu melalui tangan
Jeffrey Baso, yang mempunyai kepentingan untuk menarik cheque kosong
yang masih ada pada terdakwa.
Bahwa setelah terdakwa menerima 2 (dua) lembar Cheque dengan nilai
sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah), selanjutnya terdakwa
mencairkan sendiri Cheque yang terdakwa terima yaitu :
-
Pada tanggal 23 Desember 2003, Cheque Bank Permata atas nama PT.
Mesana Investama Utama sebesar Rp. 1.800.000.000,- (satu milyar
delapan ratus juta rupiah) terdakwa tarik tunai dan ditranfer dengan RTGS
(Real Time Gross Setlement) ke rekening PT. Citra Muda Raksa di Bank
Artha Graha Cabang Sudirman dengan nomor rekening 008 1 27215 8,
sesuai dengan Aplikasi Transfer Bank Permata Cabang Menara Imperium
No. Reff. 0028767 tanggal 23 Desember 2003.
-
Pada tanggal 23 Desember 2003, Cheque Bank Central Asia atas nama
Sadeni H / Sulistio sebesar Rp. 3.200.000.000,- (tiga milyar dua ratus juta
rupiah) terdakwa tarik tunai dan ditranfer ke rekening PT. Citra Muda
Raksa di Bank Artha Graha Cabang Sudirman dengan nomor rekening 008
1 27215 8, sesuai dengan Voucer Permohonan Pengiriman uang BCA
Capem Pondok Indah tanggal 23 Desember 2003.
- Bahwa setelah uang sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) masuk
kerekening persahaan terdakwa, selanjutnya terdakwa menemui Drs. Samuel
Ismoko di ruang kerjanya di Bareskrim Mabes Polri untuk melaporkan bahwa
uang yang terdakwa janjikan untuk investasi tanah telah ada dan siap untuk
diserahkan kepada Drs. Samuel Ismoko, akan tetapi Drs. Samuel Ismoko tidak
memberikan jawaban dan hanya diam saja dan selanjutnya meninggalkan
terdakwa, dan setelah itu terdakwa masih menanyakan tentang penyerahan
uang Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) kepada Drs. Samuel Ismoko
akan tetapi tidak ada jawaban dari Drs. Samuel Ismoko dan selanjutnya uang
yang terdakwa
terima
dari Adrian
Herling Waworuntu
sebesar Rp.
5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) terdakwa gunakan untuk kepentingan
terdakwa sendiri.
- Bahwa maksud terdakwa menyerahkan uang sebesar Rp. 5.000.000.000,(lima milyar rupiah) kepada Drs. Samuel Ismoko yang terdakwa ketahui
Hal. 13 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
menjabat sebagai Direktur II Ekonomi dan Khusus (Dir. Eksus II) Bareskrim
Mabes Polri, merupakan pejabat yang mempunyai tugas dan kewenangan
dalam penyidikan kasus pendiskontoan L/C fiktif Gramarindo Group di BNI 46
Kebayoran Baru Jakarta Selatan dan sebagai pejabat yang menanda tangani
Surat Perintah Penyidikan No. Pol : 86/X/2003/Dit II Eksus tanggal 7 Oktober
2003, dengan maksud agar Adrian Herling Waworuntu dapat dibebaskan dan
perkara pidana yang sedang disidik dapat dijadikan perkara perdata.
Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam pasal 15 jo. Pasal 5
ayat (1) sub a Undang-Undang No. 31 tahun 1999 jo. Undang-Undang No. 20
tahun 2001.
A T A U :
KETIGA :
Bahwa ia terdakwa Ir. ISHAK selaku Direktur Utama PT. Citra Muda
Raksa dan PT. Citra Muda Bersama pada sekira bulan Desember 2003 sampai
dengan bulan Mei 2004 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu pada tahun
2003 sampai dengan tahun 2004, bertempat di Bank Permata Cabang Menara
Imperium Jakarta Selatan, Bank Central Asia Cabang Pembantu Pondok Indah,
Bank Artha Graha Cabang Sudirman dan City Bank Cabang Landmark Jakarta
Selatan atau setidak-tidaknya pada suatu tempat lain dalam wilayah hukum
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan berwenang memeriksa dan mengadili
perkaranya, dengan sengaja menempatkan harta kekayaan yang diketahuinya
atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana kedalam penyedia jasa
keuangan, baik atas nama sendiri atau atas nama pihak lain, mentrasfer harta
kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak
pidana, dari penyedia jasa keuangan ke penyedia jasa keuangan yang lain, baik
atas nama sendiri atau atas nama pihak lain, membayar atau membelanjakan
harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak
pidana, baik perbuatan itu atas nama sendiri maupun atas nama pihak lain,
yang dilakukan dengan cara sebagai berikut :
-
Bahwa sekira bulan Oktober 2003 pada saat Bareskrim Mabes Polri
melakukan penyidikan kasus Tindak Pidana Korupsi dan Pencucian Uang
dan Perbankan dan Penipuan dan Pemalsuan yang diduga dilakukan oleh
KOESANDIYUWONO (Mantan Pimpinan Cabang Kebayoran Baru) EDY
SANTOSO (Pimpinan Bidang Pelayanan Nasabah Bidang Luar Negeri
Hal. 14 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Cabang Kebayoran) APRILA WIDHARTA (Dirut PT. Pan Kipros) IR. OLAH
ABDULLAH AGAM (Direktur Utama PT. Gramarindo Mega Indonesia) Ir.
JEFFREY BASO (Dirut PT. Triranu Caraka Pacific) Dr. TITIK PRISTIWANTI
(Direktur Utama Bhinekatama Pacific), ADRIAN PENDELAKI LUMOWA
(Direktur PT. Magnetique Usaha Esa Indonesia), Ny. JUDI BASO (Dir. PT.
Basomasindo), RICHARD KOUNTUL (Direktur Utama PT. Metrantara), dan
ADRIAN PENDELAKI (Dirut PT. Ferry Masterindo, ADRIAN HERLING
WAWORUNTU dan PAULIENE MARIA LUMOWA, berdasarkan Surat
Perintah Penyidikan No. Pol : 86/X/2003/Dit II Eksus tanggal 7 Oktober 2003
yang ditanda tangani oleh Brigadir Jenderal Polisi Drs. Samuel Ismoko.
-
Terdakwa yang telah mengenal dan menjadi teman Adrian Herling
Waworuntu sejak tahun 2000, sejak bulan Oktober 2003 mengetahui bahwa
Adrian Herling Waworuntu menjadi tersangka sebagaimana Surat Perintah
Penyidikan No. Pol : 86/X/2003/Dit II Eksus tanggal 7 Oktober 2003,
mengadakan pertemuan dengan Adrian Herling Waworuntu di Hotel Hilton
Jakarta Pusat, untuk membicarakan tentang keterkaitan Adrian Herling
Waworuntu dalam pencairan L/C Gramarindo Group di PT. BNI Kebayoran
Baru Jakarta Selatan dan terdakwa bersama-sama Adrian Herling
Waworuntu
mempersiapkan
bahan-bahan
menyangkut
peran
bisnis,
masalah investasi dan masalah lain sebelum dilakukannya pemeriksaan atas
Adrian Herling Waworuntu oleh Penyidik.
-
Bahwa atas pemintaan terdakwa kepada Adrian Herling Waworuntu sejak
bulan Oktober 2003, pada tanggal 21 Desember 2003 bertempat di Tahanan
Bareskrim
Mabes
Polri,
terdakwa
menerima
uang
sebesar
Rp.
5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) yang terdakwa minta dari Adrian Herling
Waworuntu yang pada saat itu terdakwa ketahui berstatus sebagai
tersangka dalam kasus L/C fiktif Gramarindo Group di BNI 46 Kebayoran
Baru Jakarta Selatan, dalam bentuk 2 (dua) lembar cheque masing Cheque
Bank Permata Cabang Imperium No. 36354 atas nama PT. Mesana
Investama Utama dengan nilai Rp. 1.800.000.000,- (satu milyar delapan
ratus juta rupiah) dan Cheque Bank Central Asia atas nama Sadeni H /
Sulistio sebesar Rp. 3.200.000.000,- (tiga milyar dua ratus juta rupiah).
-
Bahwa 2 (dua) lembar cheque yang terdakwa terima dari Adrian Herling
Waworuntu, selanjutnya terdakwa cairkan sendiri dan menempatkannya ke
rekening perusahaan milik terdakwa di Bank Artha Graha Cabang Sudirman
Hal. 15 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
dengan nomor rekening 008 1 27215 8 atas nama PT. Citra Muda Raksa,
yaitu :
-
Pada tanggal 23 Desember 2003, Cheque Bank Permata atas nama PT.
Mesana Investama Utama sebesar Rp. 1.800.000.000,- (satu milyar
delapan ratus juta rupiah) terdakwa tarik tunai dan ditranfer dengan
RTGS (Real Time Gross Setlement) ke rekening PT. Citra Muda Raksa di
Bank Artha Graha Cabang Sudirman dengan nomor rekening 008 1
27215 8, sesuai dengan Aplikasi Transfer Bank Permata Cabang Menara
Imperium No. Reff. 0028767 tanggal 23 Desember 2003.
-
Pada tanggal 23 Desember 2003, Cheque Bank Central Asia atas nama
Sadeni H / Sulistio sebesar Rp. 3.200.000.000,- (tiga milyar dua ratus juta
rupiah) terdakwa tarik tunai dan ditranfer ke rekening PT. Citra Muda
Raksa di Bank Artha Graha Cabang Sudirman dengan nomor rekening
008 1 27215 8, sesuai dengan Voucer Permohonan Pengiriman uang
BCA Capem Pondok Indah tanggal 23 Desember 2003.
-
Bahwa
setelah uang sebesar Rp. 5.000.000.000,-
(lima milyar rupiah)
berada dalam rekening PT. Citra Muda Raksa di Bank Artha Graha Cabang
Sudirman Nomor rekening 008 1272 158 selanjutnya gunakan oleh
terdakwa, sebagai berikut :
-
Tanggal 24 Desember 2003 penarikan melalui kliring dengan Cheque No.
CC 735905 sebesar Rp. 18.237.500,-
-
Tanggal 24 Desember 2003 penarikan melalui kliring dengan Cheque No.
CC 735906 sebesar Rp. 290.000,-
-
Tanggal 27 Desember 2003 penarikan melalui tunai dengan Cheque No.
CC 735903 sebesar Rp. 8.000.000,-
-
Tanggal 27 Desember 2003 penarikan melalui tunai dengan Cheque No.
CC 735906 sebesar Rp. 10.000.000,-
-
Tanggal 29 Desember 2003 penarikan melalui tunai dengan Cheque No.
CC 735911 sebesar Rp. 40.000.000,-
-
Tanggal 29 Desember 2003 penarikan melalui tunai dengan Cheque No.
CC 735910 sebesar Rp. 4.796.162.544,-
-
Tanggal 29 Desember 2003 penarikan melalui tunai dengan Cheque No.
CC 735909 sebesar Rp. 100.000.000,-
Hal. 16 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
-
Bahwa pada tanggal 29 Desember 2003, terdakwa menempatkan uang yang
ditarik secara tunai dengan Cheque No. CC 735910 sebesar Rp.
4.796.162.544,- dalam Deposito Berjangka pada Bank Artha Graha Cabang
Sudirman atas nama Ir. Ishak (terdakwa) yang sesuai dengan aplikasi
deposito berjangka No. 256675 tanggal 29 Desember 2003 sebesar Rp.
6.800.000.000,- (enam milyar delapan ratus juta rupiah) dimana uang
sebesar Rp. 4.796.162.544,- ditambahkan didalam deposito yang sebelumnya telah dimiliki oleh terdakwa pada Bank tersebut.
-
Bahwa pada tanggal 19 Januari 2004 terdakwa mencairkan sebagian
Deposito Berjangka No. No. DB008H005 sebesar Rp. 6.500.000.000,- pada
Bank Artha Graha Cabang Sudirman dan memasukkan uang tersebut dalam
Rekening ISHAK Ir / PT. Citra Muda Bersama No. 008 3 30078 7 di Bank
Artha Graha Cabang Sudirman, yang dari alur uang diketahui :
-
Tanggal 30 Januari 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 40.000.000,-
-
Tanggal 4 Pebruari 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 150.000.000,-
-
Tanggal 9 Pebruari 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 50.000.000,-
-
Tanggal 24 Pebruari 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 69.000.000,-
-
Tanggal 1 Maret 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 215.000.000,-
-
Tanggal 3 Maret 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 100.000.000,-
-
Tanggal 12 Maret 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 100.000.000,-
-
Tanggal 15 Maret 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 45.000.000,-
-
Tanggal 25 Maret 2004 tarik tunai sebesar
Rp.
-
Tanggal 6 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 70.000.000,-
-
Tanggal 7 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 10.000.000,-
-
Tanggal 12 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 150.000.000,-
-
Tanggal 14 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp.
-
Tanggal 16 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 60.000.000,-
-
Tanggal 19 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp.
-
Tanggal 20 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp. 25.000.000,-
-
Tanggal 21 April 2004 tarik tunai sebesar
Rp.5.010.030.000,-
5.000.000,-
4.000.000,-
5.000.000,-
Hal. 17 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
-
Bahwa pada tanggal 21 April 2004 uang yang terdakwa tarik tunai sebesar
Rp. 5.010.030.000,- dari Rekening Ishak Ir. (terdakwa) di Bank Artha Graha
Cabang Sudirman Nomor Rekening No. 008 3 30078 7 di sebesar Rp.
5.010.030.000,- terdakwa tranfer ke Rekening PT. Citramuda Bersama No.
8-005752-262 di Citibank
Landmark dengan RTGS sebesar Rp.
5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) terdakwa gunakan antara lain untuk :
-
Tanggal 22 April 2004 sebesar Rp. 4.422.600.000,- digunakan terdakwa
untuk membuka Deposito Berjangka dan terdakwa cairkan dengan
memasukkan kembali pada Rekening PT. Citra Muda Bersama No. 8005752 262 di Citibank Landmark pada tanggal 05 Mei 2004 sebesar
Rp. 4.459.476.534,-
-
Tanggal 17 Mei 2004 terdakwa gunakan untum membei mobil Toyota
Harier 3.0 di PT. Simprug Mobil dengan harga Rp. 637.600.000,- (enam
ratus tiga puluh juta juta rupiah) dan mobil tersebut dicatatkan
kepemilikannya atas nama Amy (isteri terdakwa) dengan Nomor Polisi B1719-XC dan oleh Amy, mobil tersebut telah dijual kembali pada bulan
Nopember 2005 oleh Ny. Ami (isteri terdakwa) kepada City Car Alteri
Pondok Indah Jl. Sultan Iskandar Muda No. 17 Jakarta Selatan dengan
harga Rp. 420.000.000,- dan uangnya digunakan untuk kepentingan isteri
terdakwa.
-
dan kepentingan lainnya sebagaimana secara jelas tergambar dalam alur
penggunaan uang yang terdapat dalam rekening PT. Citra Muda
Bersama No. 8-005752 262 di Citibank Landmark.
Bahwa perbuatan terdakwa yang menempatkan, mentranfer, membayar dan
membelanjakan uang sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) yang
terdakwa terima dari Adrian Herling Waworuntu pada tanggal 21 Desember
2003 yang pada saat itu berstatus sebagai tersangka dan berada dalam
tahanan Bareskrim Mabes Polri,
dalam penyidikan perkara pidana kasus
pendiskontoan L/C fiktif Gramarindo Group di BNI Cabang Kebayoran Baru
Jakarta Selatan atau setidak tidaknya terdakwa mengetahui bahwa uang yang
terdakwa terima dari Adrian Herling Waworuntu berasal hasil pendiskontoan L/C
fiktif PT. Bhinekatama Pasifik. Perbuatan terdakwa mengakibatkan kerugian
bagi masyarakat, negara dalam hal ini PT. Bank BNI (Persero) Cabang
Kebayoran Baru Jakarta Selatan sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar
rupiah) atau setidak-tidaknya sekitar jumlah tersebut.
Hal. 18 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam pasal 3 ayat (1)
sub a,b,c Undang-Undang No. 15 tahun 2002 jo. Undang-Undang No. 25 tahun
2003.
Mahkamah Agung tersebut ;
Membaca tuntutan pidana Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri
Jakarta Selatan tertanggal 5 September 2006, yang pada pokoknya
berpendapat:
1. Menyatakan terdakwa Ir ISHAK telah terbukti secara sah dan meyakinkan
bersalah melakukan tindak pidana “korupsi” yang diatur dan diancam
Pidana dalam pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18 UU No.31 Tahun 1999
sebagaimana telah diatur diubah dengan Undang-Undang No.20 tahun
2001 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP sebagai dakwaan pertama,
2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Ir. Ishak dengan pidana penjara
selama 4 (empat) tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan
dan denda sebesar Rp.250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah)
Subsidair kurungan selama 6 (enam) bulan kurungan;
3. Menghukum terdakwa Ir. Ishak untuk membayar uang pengganti sebesar
Rp3.600.000.000,- (tiga milyar enam ratus juta rupiah) dan jika uang
pengganti tersebut tidak dibayar dalam waktu 1 (satu) bulan setelah
putusan memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta benda milik
terdakwa akan disita dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut,
dan jika terdakwa tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk
membayar uang penggantinya, maka diganti dengan pidana penjara selama
1 (satu) tahun;
4. Menyatakan barang bukti :
1.
2 (dua) lembar Aplication For Funds transfer City Bank ;
2.
1 (satu) lembar City Bank Customer Transaction Details ;
3.
4 (empat) lembar Rekening Koran KCP Bursa Efek Jakarta
No.Rek.4583006021 a.n ISHAK ;
4.
1 (satu) lembar Current/Saving Account Transaction Actifity tanggal
24-Juni-200 a.n ISHAK No.Account 8005752262 ;
5.
1 (satu) lembar Purchase Order No.003724 a.n Ibu ISHAK ;
6.
4 (empat) Rekening Giro Perusahaan PT. Citra Muda Raksa
No.Rek.0081272158 ;
7.
1 (satu) lembar Rekening Kartu Kredit Ir. ISHAK No.Customer
5932351 tanggal jatuh tempo 17-Pebruari-2004 ;
Hal. 19 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
8.
1 (satu) lembar transaksi rekening a.n PT. Citra Muda Raksa
No.Rek.081272158 periode 1-Nopember-2003 s/d
31-Desember-
2003;
9.
1 (satu) lembar Aplikasi Transfer dalam Negeri No.935330 a.n Ir.
ISHAK;
10. 1 (satu) lembar Aplikasi Deposito Berjangka No.256675 a.n Ir. ISHAK;
11. 1 (satu) lembar Aplikasi Transfer Bank Permata No.0028767 ke PT.
Citra Muda Raksa ;
12. 1 (satu) lembar formulir setoran dan pembayaran City Bank tanggal
10-Juni-2004 No.CC 787919 ;
13. 1 (satu) lembar permohonan pengiriman uang ke PT. Citra Muda
Raksa tanggal 23-Desember-2003 ;
14. 1 (satu) bundel rekening koran a.n PT. Citra Muda Raksa, dan a.n Ir.
ISHAK dan PT. Citra Muda Bersama ;
15. 11 (sebelas) lembar bukti setoran Bank Artha Graha Nomor : 552080,
552093, 552141, 552102,
552130,
566178,
551574,
658430,
566198, 552115, 553858 ;
16. 2 (dua) lembar untuk formulir setoran dan pembayaran City Bank
tanggal 28-Mei-2004 dan tanggal 6-Juni-2004 a.n Ir. ISHAK ;
17. 8 (delapan) lembar slip transfer Bank City Bank Nomor rekening
8005752262 (Land Mark) 0.4180.10002 (City Bank IPB Singapur),
3000402675 (City Bank), 0.418010-002 (City Bank IPB Singapur),
8005752279 (City Bank Land Mark), 291-3019008 (BCA Cabang
Arteri), 3000402678 (City Bank Land Mark), 3000402678 (City Bank
Land Mark), 3000402678 (City Bank Land Mark) ;
18. 2 (dua) lembar perintah penerusan Bank Mandiri a.n Ir. ISHAK ;
19. 2 (dua) lembar Aplikasi transfer Bank Mandiri a/n Ir. ISHAK tanggal
15- September-2004 ;
20. 4 (empat) lembar bukti setoran Bank BCA a.n Ir. ISHAK tanggal 22Juni-2004, 2 (dua)
lembar tanggal 20-Juli-2004 serta tanggal 24-
September-2004 ;
21. 14 (empat belas) lembar slip penarikan tunai City Bank Land Mark a.n
Ir. ISHAK ;
22. 4 (empat) lembar rekening Koran a.n Ir. ISHAK No.4583006021,
periode April s/d Juni-2004 ;
23. 1 (satu) lembar rekening kartu kredit Bank BCA a.n Ir. ISHAK No.
Customer 5932351 tanggal jatuh tempo 18-September-2005 ;
Hal. 20 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
24. 5 (lima) lembar slip penarikan Bank Mandiri a.n Ir. ISHAK tanggal
10-September-2004,
24-September-2004,
7-September-2004,
9-
September-2004, dan 13-September-2004 ;
25. 1 (satu) lembar formulir pemindah bukuan Bank Mandiri tanggal 3September-2004 an. Ir. ISHAK ;
26. 4 (empat) lembar Aplikasi transfer Bank Artha Graha a.n Ir. ISHAK
tanggal 6-Januari-2004, tanggal 6-April-2004, tanggal 27-April-2004
dan tanggal 31-Maret-2004 ;
27. 1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1Oktober-2003 s/d 31-Desember-2003 ;
28. 1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1Januari-2004 s/d 30-Nopember-2004 ;
29. 1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1Nopember-2004 s/d 31-Maret-2005 ;
30. 1 (satu) bundel Rekening Koran Bank Artha Graha a.n Ir. ISHAK PT.
Citra Muda Bersama periode 1-September-2005 s/d 31-Desember2005;
31. 1 (satu) bundel Rekening Koran Bankrtha Graha a.n PT. Citra Muda
Raksa periode 1-September-2005 s/d 31-Desember-2005 ;
32. 1 (satu) lembar aplikasi transfer Bank Artha Graha ;
33. 1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1Oktober-2003 s/d 31-Desember-2003 ;
34. 1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1Januari-2004 s/d 30-Nopember-2004 ;
35. 1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank A.n ISHAK periode 1Nopember-2004 s/d 31-Maret-2005 ;
Tetap terlampir dalam berkas perkara ;
5. Membebankan biaya perkara sebesar Rp.5.000,- (lima ribu rupia)
dibebankan kepada terdakwa;
Membaca putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tanggal 21
September 2006 No. 884/Pid.B/2006/PN.Jak.Sel. yang amar selengkapnya
berbunyi sebagai berikut :
1. Menyatakan terdakwa Ir. ISHAK, telah terbukti secara sah dan meyakinkan
menurut Hukum bersalah melakukan Tindak Pidana Korupsi secara
berlanjut sebagaimana diatur dan diancam Pidana dalam Pasal 2 ayat (1)
Hal. 21 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
jo. Pasal 18 Undang-Undang No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi jo. UU No.20 Tahun 2001 tentang perubahan atas
UU No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo.
Pasal 64 ayat (1) KUHP. ;
2. Menjatuhkan Pidana oleh karenanya terhadap terdakwa tersebut dengan
Pidana
Penjara
selama
:
4
(empat)
tahun,
dan
denda
sebesar
Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah), dengan ketentuan apabila denda
tidak dibayar diganti dengan kurungan selama 3 (tiga) bulan ;
3. Menetapkan lamanya terdakwa berada dalam tahanan akan dikurangkan
seluruhnya dari Pidana yang dijatuhkan tersebut ;
4. Menghukum pula terdakwa untuk membayar uang pengganti sebesar
Rp.3.600.000.000,- (tiga milyar enam ratus juta rupiah) dalam tempo 1 (satu)
bulan setelah Putusan ini berkekuatan Hukum tetap ;
5. Memerintahkan agar terdakwa tetap ditahan ;
6. Menetapkan agar terhadap barang-barang bukti berupa :
-
2 (dua) lembar Aplication For Funds transfer City Bank ;
-
1 (satu) lembar City Bank Customer Transaction Details ;
-
4
(empat)
lembar
Rekening
Koran
KCP
Bursa
Efek
Jakarta
No.Rek.4583006021 a.n ISHAK ;
-
1 (satu) lembar Current/Saving Account Transaction Actifity tanggal 24Juni-200 a.n ISHAK No.Account 8005752262 ;
-
1 (satu) lembar Purchase Order No.003724 a.n Ibu ISHAK ;
-
4
(empat)
Rekening
Giro
Perusahaan
PT.
Citra
Muda
Raksa
No.Rek.0081272158 ;
-
1 (satu) lembar Rekening Kartu Kredit Ir. ISHAK No.Customer 5932351
tanggal jatuh tempo 17-Pebruari-2004 ;
-
1 (satu) lembar transaksi rekening a.n PT. Citra Muda Raksa
No.Rek.081272158 periode 1-Nopember-2003 s/d 31-Desember-2003 ;
-
1 (satu) lembar Aplikasi Transfer dalam Negeri No.935330 a.n Ir. ISHAK;
-
1 (satu) lembar Aplikasi Deposito Berjangka No.256675 a.n Ir. ISHAK;
-
1 (satu) lembar Aplikasi Transfer Bank Permata No.0028767 ke PT. Citra
Muda Raksa ;
-
1 (satu) lembar formulir setoran dan pembayaran City Bank tanggal 10Juni-2004 No.CC 787919 ;
-
1 (satu) lembar permohonan pengiriman uang ke PT. Citra Muda Raksa
tanggal 23-Desember-2003 ;
Hal. 22 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
-
1 (satu) bundel rekening koran a.n PT. Citra Muda Raksa, dan a.n Ir.
ISHAK dan PT. Citra Muda Bersama ;
-
11 (sebelas) lembar bukti setoran Bank Artha Graha Nomor : 552080,
552093, 552141, 552102,
552130,
566178,
551574,
658430,
566198, 552115, 553858 ;
-
2 (dua) lembar untuk formulir setoran dan pembayaran City Bank tanggal
28-Mei-2004 dan tanggal 6-Juni-2004 a.n Ir. ISHAK ;
-
8 (delapan)
lembar
slip transfer Bank City Bank Nomor rekening
8005752262 (Land Mark) 0.4180.10002 (City Bank IPB Singapur),
3000402675 (City Bank), 0.418010-002 (City Bank IPB Singapur),
8005752279 (City Bank Land Mark), 291-3019008 (BCA Cabang Arteri),
3000402678 (City Bank Land Mark), 3000402678 (City Bank Land Mark),
3000402678 (City Bank Land Mark) ;
-
2 (dua) lembar perintah penerusan Bank Mandiri a.n Ir. ISHAK ;
-
2 (dua) lembar Aplikasi transfer Bank Mandiri a/n Ir. ISHAK tanggal 15September-2004 ;
-
4 (empat) lembar bukti setoran Bank BCA a.n Ir. ISHAK tanggal 22-Juni2004, 2 (dua) lembar tanggal 20-Juli-2004 serta tanggal 24-September2004 ;
-
14 (empat belas) lembar slip penarikan tunai City Bank Land Mark a.n Ir.
ISHAK ;
-
4 (empat) lembar rekening Koran a.n Ir. ISHAK No.4583006021, periode
April s/d Juni-2004 ;
-
1 (satu) lembar rekening kartu kredit Bank BCA a.n Ir. ISHAK No.
Customer 5932351 tanggal jatuh tempo 18-September-2005 ;
-
5 (lima) lembar slip penarikan Bank Mandiri a.n Ir. ISHAK tanggal 10September-2004, 24-September-2004, 7-September-2004, 9-September2004, dan 13-September-2004 ;
-
1 (satu)
lembar
formulir pemindah bukuan Bank Mandiri tanggal 3-
September-2004 an. Ir. ISHAK ;
-
4 (empat) lembar Aplikasi transfer Bank Artha Graha a.n Ir. ISHAK
tanggal 6-Januari-2004, tanggal 6-April-2004, tanggal 27-April-2004 dan
tanggal 31-Maret-2004 ;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1-Oktober2003 s/d 31-Desember-2003 ;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1-Januari2004 s/d 30-Nopember-2004 ;
Hal. 23 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
-
1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1Nopember-2004 s/d 31-Maret-2005 ;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran Bank Artha Graha a.n Ir. ISHAK PT.
Citra Muda Bersama periode 1-September-2005 s/d 31-Desember-2005;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran Bankrtha Graha a.n PT. Citra Muda
Raksa periode 1-September-2005 s/d 31-Desember-2005 ;
-
1 (satu) lembar aplikasi transfer Bank Artha Graha ;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1-Oktober2003 s/d 31-Desember-2003 ;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1-Januari2004 s/d 30-Nopember-2004 ;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank A.n ISHAK periode 1Nopember-2004 s/d 31-Maret-2005 ;
Tetap terlampir dalam berkas perkara ;
7. Membebankan biaya perkara kepada terdakwa sebesar Rp.5.000,- (lima ribu
rupiah) ;
Membaca putusan Pengadilan Tinggi
Jakarta tanggal 12 Desember
2006 No. 254/PID/2006/PT.DKI. yang amar selengkapnya berbunyi sebagai
berikut :
-
Menerima permintaan banding Penuntut Umum dan terdakwa;
-
Menguatkan putusan Pengadilan Negeri jakarta Selatan tanggal 21
September 2006 Nomor : 884/Pid.B/2006/PN.Jak.Sel, yang diajukan
permintaan banding tersebut;
-
Menetapkan agar terdakwa tetap ditahan;
-
Membebankan biaya perkara kepada terdakwa pada kedua tingkat
peradilan, yang dalam tingkat banding sebesar Rp.5.000,- (lima ribu
rupiah);
Mengingat
akan
akta
tentang
permohonan
kasasi
No.
01/Akta
Pid/2007/PN.Jak.Sel. yang dibuat oleh : H. SUTARNO, SH, MH Wakil Panitera
pada
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menerangkan, bahwa pada
tanggal 8 Januari 2007, Terdakwa mengajukan permohonan kasasi terhadap
putusan
Pengadilan
Tinggi
Jakarta
tanggal
12
Desember
2006
No.
254/PID/2006/PT.DKI tersebut ;
Hal. 24 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Memperhatikan memori kasasi tanggal 19 Januari 2007 dari Terdakwa
sebagai Pemohon Kasasi yang diterima di kepaniteraan Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan pada tanggal 19 Januari 2007;
Membaca surat-surat yang bersangkutan ;
Menimbang,
bahwa
putusan
Pengadilan
Tinggi
tersebut
telah
diberitahukan kepada Terdakwa pada tanggal 28 Desember 2006 dan
Terdakwa mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 8 Januari 2007 serta
memori kasasinya telah diterima di kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan pada tanggal 19 Januari 2007, dengan demikian permohonan kasasi
beserta dengan alasan-alasannya telah diajukan dalam tenggang waktu dan
dengan cara menurut undang-undang, oleh karena itu permohonan kasasi
tersebut formal dapat diterima ;
Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi
pada pokoknya sebagai berikut :
I.
Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No.254/Pid/2006/PT.DKI tanggal
12 Desember 2006 jo Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
No.884/Pid.B/2006/PN.Jak.Sel tanggal 21 September 2006, Peraturan
Hukum Tidak Diterapkan Atau Diterapkan Tidak Sebagaimana Mestinya
atau salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku;
1. Tentang tidak diterapkannya Penyebutan Penuntut Umum Yang diganti
dengan Jaksa Penuntut Umum merupakan kesalahan penerapan atau
melanggar hukum yang berlaku:
- Merupakan fakta hukum bahwa dalam :
a. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No.884/Pid.B/2006/
PN.Jak.Sel tanggal 1 September 2006, pada halaman :
- 2 alinea ke 2 dan ke 3
- 3 alinea ke 2
- 19 alinea ke 3,4,5
- 71 alinea ke 3, 4, 5
- 84 alinea terakhir
-85 baris pertama
- 92 alinea ke 1,2
- 109 alinea ke 2
- 111 alinea ke 4
Menggunakan istilah atau penyebutan “Jaksa Penuntut Umum”
Sedang pada halaman :
- 92 alinea b
Hal. 25 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
- 111 alinea ke 1 baris ke 2
Digunakan istilah atau menyebut ”Penuntut Umum”
-
Penggunaan istilah ”Jaksa Penuntut Umum” lebih kurang 13 (tiga
belas) kali dalam 9 (sembilan) halaman. Hal ini berarti Pengadilan
Jakarta Selatan dalam putusannya a quo, dengan penuh kesadaran
dan kehendak menggunakan istilah ”Jaksa Penuntut Umum”;
-
Kesadaran dan kehendak tersebut dibenarkan dan dikuatkan oleh
Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dalam putusannya No.254/Pid/2006/
PT.DKI tanggal 12 Desember 2006, pada halaman 28 dan 29 sebagaimana telah Pemohon Kasasi kutip dimuka.
-
Bahwa berdasar Undang-undang No.8 tahun 1981 (KUHAP) menegaskan:
- Pasal 1 angka 6 :
a. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh Undangundang ini untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap;
b. Penuntut Umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh
Undang-undang ini untuk
melakukan penuntutan dan me-
laksanakan penetapan hakim (lihat pula Undang-undang No.16
tahun 2004 tentang Kejaksaan RI pasal 1 angka 1 dan 2);
- Pasal 14 :
Penuntut umum mempunyai wewenang :
a. Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dari
penyidik atau penyidik pembantu
b. Mengadakan prapenuntutan apabila ada kekurangan pada
penyidikan dengan memperhatikan ketentuan pasal 110 ayat (3)
dan ayat (4), dengan memberi petunjuk dalam rangka penyempurnaan penyidikan dari penyidik;
c. Memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahaan
atau penahanan lanjutan dan atau mengubah status tahanan
setelah perkaranya dilimpahkan oleh penyidik;
d. Membuat surat dakwaan;
e. Melimpahkan perkara ke Pengadilan;
f.
Menyampaikan
pemberitahuan kepada terdakwa tentang
ketentuan hari dan waktu perkara disidangkan yang disertai
Hal. 26 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
surat panggilan baik kepada terdakwa maupun kepada saksi
untuk darang pada sidang yang telah ditentukan;
g. Melakukan penuntutan;
h. Menutup perkara demi kepentingan hukum;
i.
Mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung
jawab sebagai penuntut umum menurut ketentuan Undangundang ini;
j.
Melaksanakan penetapan Hakim;
- Undang-undang No.8 tahun 1981 (KUHAP) Bab-XV (Penuntutan)
pasal 137 s/d 144 tidak dikenal istilah ”Jaksa Penuntut Umum”
Demikian pula pasal-pasal 146, 147, 148 ayat (2), 149 ayat (1) (3) 154
ayat (7), 155 ayat (2) huruf a,b, 156 ayat (1) (3), 174 ayat (2) (3), 182
ayat (1) huruf a, b,, 203 ayat (1) (2) (3) huruf a.1, b, 205 ayat (2), 220
ayat (2), 230 ayat (2) (3) huruf a, c, 232 ayat (1) 233 ayat (1) (5), 237,
238 ayat (4), 243 ayat (2), 244, 245 ayat (3);
-
Didalam Undang-undang No.8 Tahun 1981 (KUHAP) istilah ”Jaksa”
hanya disebut dalam pasal 1 angka 6 huruf a dan pasal 270 kaitannya
dengan ”pelaksanaan putusan Pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap”;
- Undang-undang No.4 tahun 2004 pasal 17 ayat (4) menegaskan:
”dalam perkara pidana wajib hadir pula seorang penuntut umum,
kecuali undang-undang menentukan lain”:
-
Dengan dasar peraturan perundang-undangan tersebut, dengan
digunakannya
istilah
”Jaksa
Penuntut
Umum”
dalam
putusan
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No.884/Pid.B/2006/PN.Jak.Sel
tanggal 21 September 2006, yang diambil alih dan dikuatkan oleh
putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No.254/Pid/2006/PT.DKI
tanggal 12 Desember 2006 (putusan halaman 28, 29) telah tidak
menerapkan hukum atau menerapkan hukum tidak sebagaimana
mestinya atau salah menerapkan atua melanggar hukum yang berlaku
(pasal 253 ayat (1) huruf a Undang-undang No.8 tahun 1981 (KUHAP)
jo pasal 30 ayat (1) huruf b, Undang-undang No.5 tahun 2004 jo
Undang-undang No.14 tahun 1985);
Oleh karena itu cukup dasar dan sangat beralasan untuk membatalkan
putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta jo putusan Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan a quo;
Hal. 27 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
2. Tidak Diterapkannya Pasal 143 Ayat (2) huruf b Undang-undang No.8
Tahun 1981 (KUHAP) Tentang perumusan surat dakwaan yang tidak
cermat, tidak jelas dan atau tidak lengkap;
-
Dalam pembuatan dan merumuskan surat dakwaan Undang-undang
No.8 tahun 1981 (KUHAP) telah menggariskan yang harus ditetapkan,
ditaati dan dipatuhi oleh Penuntut Umum, yaitu dalam :
Pasal 143 ayat (2) huruf b KUHAP menegaskan :
”Penuntut Umum membuat surat dakwaan yang berisi tanggal dan
ditandatangani serta berisi, uraian secara cermat, jelas dan lengkap
mengenai tindak pidana yang didakwaan dengan menyebutkan waktu
dan tempat tindak pidana itu dilakukan ”;
Apa dasar pemikiran surat dakwaan harus cermat, jelas dan lengkap?
Dilihat dari sisi kepentingan terdakwa, adalah adanya prinsip hukum
yang harus ditegakkan yaitu :
-
Perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia;
-
Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, didakwa, dituntut
dan atau dihadapkan dipersidangan pengadilan wajib dianggap
tidak bersalah sampai adanya putusan Pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap;
-
Hak-hak terdakwa untuk melakukan pembelaan;
Dilihat dari sisii Hakim yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara, surat dakwaan merupakan dasar dan landasan dalam pemeriksaan dimuka persidangan Pengadilan;
-
Dilihat dari sisi Penuntut Umum, merupakan batas-batasan hal-hal yang
harus dibuktikan, karena beban pembuktian pada penuntut umum.
Sesuai dengan asas yang dianut KUHAP, yaitu judex ne procedat ex
officio, artinya hakim itu bersikaf pasif dalam proses penuntutan dan
asas tersebut merupakan jaminan bagi terdakwa bahwa terdakwa akan
diperlakukan secara adil dan Hakim tidak boleh memihak kepada
penuntut umum;
-
Akan tetapi dalam Undang-undang No.8 tahun 1981 (KUHAP) dan
dalam penjelasannyapun tidak memberikan arti dan menjelaskan apa
arti surat dakwaan dan bagaimana cara merumuskannya, agar dapat
digolongkan atau dinyatakan sebagai surat dakwaan yang cermat, jelas
lengkap dan sempurna;
Hal. 28 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
-
Untuk menjelaskan hal tersebut, ijinkan Pemohon Kasasi mengutip
pendapat para ahli, arrest-arrest Hoge Raad dan putusan-putusan
Mahkamah Agung :
-
A.Karim Nasution (masalah surat tuduhan dalam proses pidana),
antara lain menyatakan :
”Surat tuduhan (acte van beschuldiging) adalah dasar pemeriksaan
di persidangan (halaman 27)”;
”Tuduhan adalah suatu surat atau acte yang memuat suatu
perumusan dari tindak pidana yang dituduhkan, yang sementara
dapat disimpulkan dari surat-surat pemeriksaan pendahuluan yang
merupakan dasar bagi Hakim untuk melakukan pemeriksaan, yang
bila ternyata cukup terbukti terdakwa dapat dijatuhi hukuman”
(halaman 75);
”kepentingan
surat tuduhan bagi terdakwa
ialah
bahwa
ia
mengetahui setepat-tepatnya dan setelitinya apa yang dituduhkan
kepadanya sehingga ia sampai pada
hal yang sekecil-kecilnya
dengan mempersiapkan pembelaan terhadap tuduhan tersebut
(hal.78);
Ia harus merupakan dasar yang lengkap dan jelas bagi Hakim
dalam memeriksa dan menilai perbuatan yang dituduhkan (halaman
97) (bandingkan pasal 51 huruf b KUHAP)
-
DR. Andi Hamzah, SH. (pengantar hukum acara pidana Indonesia,
penerbit Ghalia Indonesia, cetakan pertama 1984); dengan mengambil pendapat : E-BONN-SOSRODANUKUSUMO, menyatakan:
”Dakwaan merupakan dasar hukum acara pidana, karena berdasar
dakwaan itulah pemeriksaan dipersidangan dilakukan Hakim tidak
dapat menjatuhkan pidana diluar batas-batas dakwaan” (halaman
167);
Dengam mengambil pendapat J.E. Jonkers, DR. Andi Hamzah, SH.
menyatakan :
”surat dakwaan harus membuat, selain dari perbuatan yang
sungguh-sungguh dilakukan yang bertentangan dengan hukum
pidana, juga harus memuat unsur-unsur yuridis kejahatan yang bersangkutan ” (halaman 169);
-
M. Yahya Harahap, SH. (Pembahasan, Permasalahan Dan
Penerapan KUHAP jilid-I penerbit Pustaka Kartini, tanpa tahun)
antara lain menyatakan :
Hal. 29 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
”surat dakwaan diartikan sebagai :
-
surat akte,
-
yang memuat rumusan tindak pidana yang didakwakan kepada
terdakwa;
-
perumusan mana ditarik dan disimpulkan dari hasil pemeriksaan
penyidikan dihubungkan dengan rumusan pasal tindak pidana
yang dilanggar dan didakwakan pada terdakwa;
-
dan surat dakwaan tersebutlah yang menjadi dasar pemeriksaan
bagi hakim dalam sidang pengadilan.
Atau surat dakwaan adalah surat atau akte yang memuat
rumusan tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa yang
disimpulkan dan ditarik dari hasil pemeriksaan penyidikan, dan
merupakan dasar serta landasan bagi hakim dalam pemeriksaan
dimuka sidang pengadilan (halaman 414-415);
-
selanjutnya,
bagaimana
cara
merumuskan
tindak
pidana
yang
didakwakan oleh Penuntut Umum dalam surat dakwaan, ijinkan
Pemohon Kasasi mengutip beberapa sumber hukum:
1. M. Yahya Harahap, SH. (op-cit):
“surat dakwaan yang tidak memenuhi syarat yaitu :
c. Surat dakwaan tidak terang adalah kalau unsur-unsur tindak
pidana yang didakwakan tidak dijelaskan secara keseluruhan,
berarti terdapat kekaburan dalam surat dakwaan.
Surat dakwaan yang tidak jelas dan tidak terang, sudah pasti
merugikan kepentingan terdakwa mempersiapkan pembelaannya. Oleh karena itu, setiap surat dakwaan yang jelas-jelas
merugikan kepentingan terdakwa untuk melakukan pembelaan
dianggap batal demi hukum;
Akibat dari ketidak tegasan surat dakwaan, mengakibatkan
terdakwa
tidak
dapat
mempersiapkan
pembelaan
dirinya
(halaman 421);
d. Surat dakwaan yang berisi pertentangan antara satu dengan
yang lain:
Pertentangan isi dalam surat dakwaan akan menimbulkan
”keraguan” bagi terdakwa tentang perbuatan atau tindakan mana
yang didakwakan kepadanya;
Oleh karena itu surat dakwaan yang berisi perumusan yang bertentangan isinya, dan yang jelas-jelas menimbulkan keraguan
Hal. 30 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
terutama bagi siterdakwa, surat dakwaan yang demikian harus
dinyatakan batal demi hukum. Setiap surat dakwaan tidak boleh
kabur atau ”obscuurlibel”. Surat dakwaan harus jelas memuat
semua unsur tindak pidana yang didakwakan (voldoende en
duidelijke opgave van het feit). Disamping itu surt dakwaan harus
memerinci secara jelas :
-
Bagaimana cara tindak pidana itu dilakukan terdakwa, tidak
hanya menguraikan secara umum. Tetapi harus diperinci
dengan jelas bagaimana terdakwa melakukan tindak pidana;
-
Juga menyebut dengan terang saat atau waktu dan tempat
tindak pidana dilakukan (tempus delicti dan locus delicti)
(halaman 422-423);
2. A. Karim Nasution, SH. (Op-cit) antara lain menyatakan :
”dalam surat tuduhan harus disebut perbuatan-perbuatan yang
dituduhkan, serta waktu dan tempat perbuatan itu dilakukan. Yang
dituduhkan tersebut haruslah merupakan tindak pidana” (hal.107);
”surat tuduhan
disamping harus berisi uraian yang sebenar-
benarnya dari perbuatan yang bertentangan dengan hukum pidana
seperti yang telah terjadi, juga memuat unsur-unsur yuridis dari
kejahatan yang bersangkutan.
Tindak pidana yang dituduhkan harus digambarkan sejelas mungkin
dengan menyebut tempat, waktu dan cara terjadinya”. (halaman
108) (lihat pula Mr. J.E. Jonkers, Het Vooronderzoek en de
tenlastelegging in het Landraad Strafproces, halaman 61-62);
3. Beberapa Arrest Hoge Raad, abstrak hukumnya menyatakan :
-
Menurut H.R. 9 Nopember 1948, N.J. 1949 No.37, dengan
catatan dari W.P., ”semua unsur dari tindak pidana yang
didakwakan terhadap terdakwa itu harus dicantumkan di dalam
surat dakwaan”;
-
Menurut H.R. 16 Januari 1939, N.J. 1939 No.386, suatu surat
dakwaan yang hanya berisi uraian, bahwa terdakwa telah
merintangi beberapa pegawai negeri melakukan pekerjaan
adalah tidak jelas, karena didalamnya tidak dijelaskan mengenai
pekerjaan yang mana yang telah dimaksud oleh penuntut umum;
-
Hoge Raad dengan arrestnya tanggal 6 Desember 1943, N.J.
1944 No.243 telah menguatkan putusan Rechtbank dan Hof di
’sGravanhage yang telah menyakan surat dakwaan dari
Hal. 31 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
penuntut umum sebagai batal, karena uriaan mengenai tindak
pidana yang didakwakan terhadap terdakwa, yakni memberi
keternagan palsu dibawah sumpah, dianggap tidak lengkap.
Dalam surat dakwaan itu penuntut umum telah mendakwa
terdakwa memberikan dua keterangan yang saling bertentangan
sebagai saksi, tanpa menjelaskan lebih lanjut tentang keterangan yang mana adalah yang palsu;
-
Menurut pendapat lama, Hoge Raad dalam arrestnya tanggal 27
Juni 1854, w. 1667 berpendapat, suatu surat dakwaan yang
tidak memuat uraian mengenai suatu tindak pidana atau tidak
memuat unsur-unsur dari tindak pidana yang didakwakan
terhadap terdakwa itu harus dinyatakan batal dan pengadilan
tidak boleh memutuskan pelepasan dari segala tuntutan hukum;’
-
Menurut pendapat Hoge Raad dalam arrestnya tanggal 1
Oktober 1839, adalah tidak cukup apabila di dalam surat
dakwaan
hanya disebutkan secara umum tentang undang-
undang atau peraturan-peraturan yang telah dilanggar oleh
terdakwa, tanpa sesuatu uraian mengenai tindak pidana tertentu
yang telah dilakukan oleh terdakwa;
4. Beberapa putusan Mahkamah Agung RI abstrak hukumnya antara
lain :
-
No.492 K/Kr/1983 tanggal 31 Januari 1983 (Y.I. Th. 1983 jilid I,
halaman 41-45);
“dakwaan tidak cermat, jelas dan lengkap sehingga harus
dinyatakan batal demi hukum”
-
N0.808 K/Pid/1984 tanggal 29 Juni 1985 (Y.I Th.1985 jilid- I
halaman 74-81);
”dakwaan tidak cermat, jelas dan lengkap sehingga harus
dinyatakan batal demi hukum”;
(lihat pula):
-
No.33 K/Mil/1985 tanggal 15 Februari 1986, (Y.I Th. 1985, jilid II,
halaman 28-32);
-
No.5 K/Mil/1985 tanggal 29 Agustus 1985 ; (Varia Peradilan
No.15 Desember 1986 halaman 77-82);
-
No.162 K/Pid/1986 tanggal 26 September 1987 (Varia Peradilan
No.31 April 1988, halaman 67-77);
Hal. 32 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
-
No.130 K/Pid/1986 tanggal 31 Januari 1989 (Varia Peradilan
No.55 April 1990, halaman 62-72);
-
Dalam surat dakwaan penuntut umum No. Reg. Perkara : PDS-07/JKTSL/Ft.1/04/2006 tanggal 27 april 2006, pada dakwaan “alternative”
pertama dikaitkan dengan pasal 64 ayat (1) KUHP, sebagai bagian dari
ajaran gabungan tindak pidana atau samentoopvan srafbare feiten,
yaitu tentang tindakan yang berlanjut atau voortgezette handeling;
-
Sebelum Pemohon Kasasi, mengurai bagaimana merumuskan tindak
pidana berlanjut (voortgezette handeling) ijinkan Pemohon Kasasi,
mengutip memorie van toelichting (voortgezette liandeling);
-
Dalam pasal 64 ayat (1) KUHP (pasal 56 ayat (1)-WVS) dirumuskan
sebagai berikut :
“apabila
antara beberapa perilaku itu terdapat hubungan yang
sedemikian rupa, sehingga perilaku-perilaku tersebut harus dianggap
sebagai suatu tindakan yang berlanjut, walaupun tiap-tiap perilaku itu
masing-masing
merupakan
kejahatan
atau
pelanggaran,
maka
diberlakukanlah hanya satu ketentuan pidana saja, dan apabila
terdapat perbedaan, maka yang diberlakukan adalah ketentuan pidana
yang mempunyai ancama hukuman pokok yang terberat”; (Drs. P.A.F
Lamintang, SH. dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, penerbit Sinar
Baru, Bandung, 1984, halaman 678);
-
Memorie van Toelichting (MVT) mengenai pasal 56 ayat (1) WVS
(pasal 64 ayat (1) KUHP menjelaskan :
“mengenai pembentukan pasal 64 ayat 1 KUHP itu antara lain telah
dikatakan, bahwa suatu voortgezet misdrijf itu hanya dapat terjadi
apabila disitu terdapat sekumpulan tindak pidana yang sejenis”;
“berbagai tindak pidana yang dilakukan itu merupakan pernyataan dari
suat rencana yang tidak diijinkan dan hanya dapat terjadi dari
sekumpulan tindak pidana yang sejenis”;
-
Mengenai pasal 64 (1) KUHP (pasal 56 ayat (1) WVS) beberapa ahli
menyatakan sebagai berikut :
1. Prof.Mr.TJ. Noyon, Prof.Mr.GE. Langemeyer (Het WerBoek van
strafrecht I, G. Goude Quit, D. Brouwer en Zoom, Arnhem 1954,
halaman 376) menyatakan :
“berbeda dengan kenyataan yang terdapat di dalam memori van
toelichting, dimana pembentuk undang-undang telah berbicara
mengenai apa yang disebut voorgezet misdrijf dan
voortgezette
Hal. 33 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
overtrading, maka didalam rumusan ketentuan pidana menurut
pasal 64 ayat 1 KUHP di atas, pembentuk undang-undang telah berbicara mengenai beberpa perilaku yang seolah-olah berdiri sendirisendiri, akan tetapi yang karena terdapat suatu hubungan
yang
demikian rupa, maka perilaku-perilaku tersebut harus dianggap
sebagai satu tindakan yang berlanjut;
Ini berarti bahwa tiap-tiap perilaku itu harus dituduhkan secara
sendiri-sendiri dan harus dibuktikan pula secara sendiri-sendiri;
Tiap-tiap perilaku itu dapat mempunyai locus delictinya sendiri,
tempus delicttinya sendiri dan dapat mempunyai verjaringsterminjnnya sendiri;
Beberapa orang penulis berpendapat, bahwa didalam perilakuperilaku seperti dimaksud di atas bukan tidak mungkin dapat terjadi
adanya suatu deelneming atau suatu keturutsertaan;
Didalam arrest-arrestnya masing-masing tanggal 1 Juni 1894,
W.6515 dan tanggal 19 Oktober 1931 halaman 1319, W.1290 Hoge
Raad antara lain telah mengatakan :
”untuk adanya suatu tindakan yang berlanjut itu tidaklah cukup jika
beberapa tindak pidana itu merupakan tindak-tindak pidana yang
sejenis, akan tetapi tindak-tindak pidana itu haruslah pula
merupakan pelaksanaan satu maksud yang sama yang terlarang
menurut Undang-undang”;
Sedang didalam arrestnya tanggal 26 Juni 1905, W.8255, Hoge
Raad mengatakan antara lain:
”tindak-tindak pidana yang sejenis saja tidak mencukup, apabila dua
tindak pidana itu telah dipisahkan oleh suatu jangka waktu empat
hari, dan tidak ternyata bahwa tertuduh pada waktu melakukan
tindak pidananya yang pertama itu juga telah memutuskan apa yang
akan dilakukannya kemudian, maka disitu tidak terapat suatu
tindakan yang berlanjut”;
Di dalam putusan kasasinya tanggal 5 Maret 1963 No.162
K/Kr/1962, Mahkamah Agung Republik Indonesia telah memutuskan
antara lain:
”penghinaan-penghinaan ringan yang telah dilakukan terhadap lima
orang pada hari-hari yang berlainan, tidaklah mungkin didasarkan
pada satu keputusan kehendak (wilsbesluit), maka perbuatan itu
tidak dapat dipandang sebagai satu perbuatan dan tidak dapat
Hal. 34 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
semua
perkaranya
itu
diberikan
satu
putusan”
(Drs.PA.F.
Lamintang, SH. ibid, halaman 680-681);
”Menurut criteria di atas, orang hanya dapat mengatakan bahwa
beberapa perilaku
itu secara bersama-sama merupakan suatu
voortgezette handeling atau suatu tindakan yang berlanjut yaitu :
a. apabila
perilaku-perilaku
seorang tertuduh
itu merupakan
pelaksanaan satu keputusan yang terlarang;
b. Apabila perilaku-perilaku seorang tertuduh itu telah menyebabkan terjadinya beberapa tindak pidana yang sejenis dan
c. Apabila pelaksanaan tindak pidana yang satu dengan tindak
pidana yang lain itu tidak dipisahkan oleh suatu jangka waktu
yang relatif cukup lama”
(Drs.P.A.F. Lamintang, SH. Ibid, halaman 680);
-
Setelah Pemohon Kasassi mengutip beberapa sumber hukum sebagaimana tersebut di atas, bagaimana cara merumuskan tindak pidana berlanjut dalam surat dakwaan;
-
M. Yahya Harahap, SH. (Pembahasan Permasalahan dan Penerapan
KUHAP, penerbit Pustaka Kartini, tanpa tahun, halaman 445-446) menyatakan :
”berdasar pengalaman, terdapat dua cara bentuk dakwaan dalam
kasus peristiwa pidana yang berlanjut :
a. dirumuskan dalam satu dakwaan secara umum dan alternatif.
Begitulah
cara
yang
pertama.
Semua
rangkaian
perbuatan
dirumuskan dalam satu dakwaan saja. Cara penyusunan dan penguraiannya dilakukan secara umum. Misalnya, terdakwa telah
melakukan persetubuhan berulangkali sekurang-kurangnya lebih
dari satu kali dengan perempuan yang bukan isterinya. Perbuatan
itu dilakukan ditempat kediamannya sendiri sekitar antara bulan
Januari sampai Agustus 1984;
Dalam contoh ini penguraian surat dakwaan diajukan dalam satu
surat dakwaan secara umum dan alternartif. Cara ini dilakukan
apabila sulit baginya untuk menentukan secara pasti tempat-tempat
dan tanggal-tanggal terntant perbuatan dilakukan;
b. Dakwaan dirumuskan secara berlanjut diuraikan satu-persatu
secara kronologis dengan menyebut tempat dan tanggal yang pasti
maupun menyebut waktu dan tempat secara alternatif dari setiap
perbuatan
dilakukan
bentuk
dakwaan
voorgezette
handeling
Hal. 35 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
(perbuatan berlanjut) yang demikian dapat dirumuskan secara
kumulatif yang bersifat perbarengan dalam aturan pidana yang
sama. Cara penguraian dimaksud dilakukan dengan cara mengurut
secara kronologis setiap perbuatan yang dilakukan. Dengan
demikian jelas dapat terbaca dalam surat dakwaan setiap perbuatan
dilakukan. Sehingga memudahkan bagi terdakwa untuk memahami
isi surat dakwaan dan sekaligus memudahkan bagi hakim melakukan pemeriksaan di persidangan. Cara penyusunan dakwaan dimaksud dapat dilakukan dalam bentuk sistematika:
•
Pada bagian atas merupakan penguraian syarat formil berupa
uraian identitas terdakwa;
•
Kemudian
menyusul
penguraian
syarat
materii
berupa
pencatuman yang lengkap unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan;
•
Selanjutnya baru menyusul secara kronologis tempat dan waktu
perbuatan dilakukan serta sekaligus dalam setiap uraian
kronologis itu dijelaskan secara terperinci bagaimana cara
terdakwa melakukan perbuatan tindak pidana yang bersangkutan;
Bentuk susunan dakwaan yang beginilah yang paling baik dilakukan.
Jangan hendaknya dakwaan disusun secara umum saja. Cara
penyusunan yang umum, seolah-olah berupa isyarat bagi yang membacanya bahwa penuntut umum yang bersangkutan masih kurang
matang ketrampilan teknis yustisialnya;
Disamping itu ada
lagi sesuatu hal yang perlu diperhatikan
sehubungan pembuatan surat dakwaan dalam perkara tindak pidana
yang terjadi ialah satu perbuatan yang berbarengan dengan tiga atura
tindak pidana. Yakni concoursus idealis antara penghinaan (pasal 310
KUHP), Penganiyaan (pasal 351 KUHP) serta perusakan barang (pasal
406 KUHP);
Perbuatan-perbuatan yang seolah-olah berlanjut itu tidak mengenai
tindak pidana yang serupa;
Dalam penyusunan surat dakwaan jangan semata-mata terpengaruh
dari segi faktor keberlanjutan perbuatannya saja. Akan tetapi harus
menguji keberlanutan perbuatan tersebut dengan tindak pidana yang
dilanggar oleh terdakwa dalam setiap perbuatan yang dilakukannya”;
Hal. 36 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
-
Berpedoman pada sumber-sumber hukum tersebut, terlihat bahwa
dalam menyusun dan merumuskan dakwaan alternatif pertama,
penuntut umum, sama sekali tidak memerinci secara kronologis tempat
dan waktu perbuatan dilakukan dan bagaimana cara terdakwa Ir. Ishak
melakukan tindak pidana yang didakwakan;
-
Dengan demikian sesuai dengan sumber-sumber hukum pasal 143
ayat (2) huruf b Undang-undang No.8 thaun 1982 (KUHAP), arrestarrest Hoge Raad, putusan-putusan Mahkamah Agung RI dan
pendapat para ahli sebagaimana tersebut di atas, dakwaan alternatif
pertama a quo adalah merupakan dakwaan yang tidak cermat, tidak
jelas dan tidak lengkap atua obscuur libel. Oleh karena itu harus
dinyatakan batal demi hukum;
-
Oleh karena dakwaan batal demi hukum, maka putusan pengadilan
Tinggi DKI Jakarta jo putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan a
quo, harus dinyatakan batal demi hukum dan terdakwa Ir. Ishak harus
dinyatakan dibebaskan dari segala dakwaan (jo putuan Mahkamah
Agung RI No.2436 K/Pid/1988 tanggal 30 Mei 1990);
3. Tentang tidak diterapkannya penyusunan bentuk surat dakwaan
-
Bahwa Pemohon Kasasi sependapat dengan pertimbangan hukum
dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan a quo pada halaman
92 alinea kedua yang menyatakan bahwa surat dakwaan penuntut
umum No.Reg. Perkara: PDS-07/Jkt.Sl/Ft.1/042006 tanggal 27 April
2006 adalah dakwaan dalam bentuk ”dakwaan alternatif”;
-
DR. Andi Hamzah, SH. (pengantar hukum acara pidana Indonesia,
penerbit Ghalia Indonesia, cetakan pertama,
1984, halaman 186)
pidana yang dilakukan secara berlanjut. Adapun mengenai hal yang
perlu mendapat perhatian dimaksud;
Jangan lupa mencatumkan hal yang memberatkan dalam surat dakwaan;
Hal ini penting untuk dicantumkan sehubungan dengan masalah
penerapan penjatuhan hukuman yang diatur dalam pasal 64 ayat 1 KUHP.
Menurut ketentuan ini, dalam tindak pidana yang dilakukan secara berlanjut, yang dikenakan kepada terdakwa ialah ancaman hukuman pokok
yang paling berat. Mari kita ambil contoh. Terdakwa telah berulang kali
melakukan persetubuhan dengan seorang wanita yang masih berumur di
bawah umur dibawah 15 tahun. Berarti terdakwa melakukan tindak pidana
berlanjut sebagaimana yang diancam pasal 287 KUHP. Ternyata akibat
Hal. 37 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
dari perbuatan yang berlanjut tadi wanita tersebut mengalami luka berat.
Maka sesuai dengan ketentuan pasal 291 ayat 1 KUHP.
Akibat itu
dianggap sebagai hal yang memberatkan, dan ancaman hukuman yang
dapat dijatuhkan kepada terdakwa telah berubah dari 9 tahun menjadi 12
tahun;
Jangan sampai salah menerapkan concursus idealis atau realis menjadi
voorgezette handeling;
Hal ini perlu diperingatkan. Karena akibatnya sangat fatal. Kesalahan yang
demikian bisa berakibat, mungkin dakwaan batal demi hukum atau lebih
jauh lagi
apa yang didakwakan dianggap tidak terbukti. Kemungkinan
ketergelinciran menyusun dakwaan dari tindak pidana yang bersifat
concorsus menjadi voorgezette handeling (yang berlanjut) apabila penuntut
umum kurang teliti merangkaikan hal yang memberatkan dalam tindak
pidana yang bersangkutan. Sebab kadang-kadang sifat dan keadaan yang
memberatkan dalam satu tindak pidana:
- telah mengakibatkan tindakan atau perbuatan itu berbarengan dengan
aturan pidana yang lain;
Apabila keadaan yang memberatkan itu telah mengakibatkan perbarengan
dengan aturan pidana yang lain, maka yang terjadi dalam konkreto bukan
lagi voorgezette handeling (perbuatan berlanjut). Tetapi yang terjadi dalam
konkreto sudah berubah menjadi perbarengan aturan pidana atau
concoursus idealis. Misal yang agak teoritis;
Terdakwa telah berulang kali menghina korban. Dan pada suatu saat sedemikian rupa memuncaknya kemarahan terdakwa, sambil menghina
terdakwa telah menikam serta merusak mobil korban. Dalam kasus ini,
sepintas lalu peristiwa yang terjadi adalah perbuatan penghinaan yang berlanjut. Padahal secara konkreto dengan mengambil pendapat Prof.Mr. J.M.
Van Bemmelen, menyatakan:
”dakwaan alternative adalah masing-masing dakwaan tersebut saling mengecualikan satu sama lain. Hakim dapat mengadakan pilihan dakwaan
mana yang telah terbukti dan bebas untuk menyatakan bahwa dakwaan
kedua yang telah terbukti tanpa memutuskan terlebih dahulu tentang
dakwaan pertama (lihat pula M. Yahya Harahap, SH. op-cit. Hal. 429, A.
Karim Nasution, SH.
masalah surat tuduhan dalam proses pidana
penerbit, PT. Percetakan Negara, Jakarta tanpa tahun, halaman 188);
Hal. 38 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
- A. Soetomo, SH. (pedoman dasar pembuatan surat dakwaan dan
suplemen, penerbit PT. Pradnya Paramita, cetakan pertama, 1989,
halaman 21), antara lain menyatakan :
”dakwaan yang disusun secara alternative ini unsur pasalnya saling menghapuskan satu sama lain dalam arti apabila unsur tertentu telah terbukti
unsur yang lain pasti tidak terbukti, demikian pula sebaliknya”;
- Bahwa surat dakwaan penuntut umum No. Reg. Perkara: PDS07/JKTSL/Ft.1/04/2006 tanggal 27 April 2006 benar disusun dalam bentuk
alternative, yaitu :
Pertama:
terdakwa didakwa telah melakukan tindak pidana sebagaimana
diatur dan diancam pidana dalam pasal 2 ayat (1) jo pasal 18
Undang-undang No.31 tahun 1999 jo Undang-undang No.20
tahun 2001 jo pasal 64 ayat (1) KUHP;
Kedua :
terdakwa didakwa telah melakukan tindak pidana sebagaimana
diatur dan diancam pidana dalam pasal 15 jo pasal 5 ayat (1)
sub. a Undang-undang No.31 tahun 1999 jo Undang-undang
No.20 tahun 2001;
Ketiga :
terdakwa didakwa telah melakukan tindak pidana sebagaimana
diatur dan diancam sebagaimana diatur dan diancam pidana
dalam pasal 3 ayat (1) sub a, b, c, Undang-undang No.15
tahun 2002 jo Undang-undang No.25 tahun 2003;
- Guna mencermati dan meneliti, apakah surat dakwaan yang disusun
secara ”alternatif” atau keuzetenlaste legging (dakwaan pilihan) tersebut
sudah benar dan tepat sebagaimana dimaksud pendapat para ahli, yang
dengan demikian pasal 143 ayat (2) huruf b Undang-undang No.8 tahun
1981 telah diterapkan secara benar, kiranya perlu Pemohon kasasi kutip
secara
lengkap
pasal-pasal
pokok
sebagai
tindak
pidana
yang
didakwakan:
Undang-undang No.31 tahun 1999 jo Undang-undang No.20 tahun 2001
Pasal -2
(1) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang
dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara,
dipidana dengan pidana –penjara seumur hidup atau pidana penjara
paling singkat 4 (empat) tahun dan paling 20 (dua puluh) tahun dan
denda paling sedikit Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp.1.000.000.000,- (satu milyar rupiah);
Hal. 39 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Pasal 15
Setiap
orang
yang
melakukan
percobaan,
pembantuan
atau
permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi, dengan
pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam pasal 2, pasal 3,
pasal 5 sampai pasal 14;
Pasal 5
(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan
paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit
Rp.50.000.000,-
(lima
puluh
juta
rupiah)
dan
paling
banyak
Rp.250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang yang:
a. Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau
penyelenggara negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau
penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu
dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya atau :
Undang-undang No.15 tahun 2002 jo Undang-undang No.25 tahun
2003
Pasal 3
(1) Setiap orang yang dengan sengaja:
a. Menempatkan Harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana kedalam penyedia jasa
keuangan, baik atas nama sendiri atau atas nama pihak lain;
b. Mentransfer harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana
dari suatu penyedia jasa
keuangan ke penyedia jasa keuangan yang lain, baik atas nama
sendiri maupaun atas nama pihak lain;
c. Membayarkan atau membelanjakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana, perbuatan
itu atas namanya sendiri maupun nama pihak lain;
Pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun dan denda paling sedikit Rp.100.000.000,- (seratus juta
rupiah) dan paling banyak Rp.15.000.000.000,- (lima belas milyar rupiah);
- Membaca
meneliti dan
mencermati
unsur-unsur
pasal-pasal
yang
didakwakan tersebut di atas, nyata dan jelas bahwa dakwaan pertama
(pasal 2 ayat (1) Undang-undang No.31 tahun 1999 jo Undang-undang
No.20 tahun 2001), tidak ditemukan dan tidak ada unsur yang saling
mengecualikan atau saling menghapuskan satu sama lain dengan
dakwaan alternative kedua dan ketiga, atau sebaliknya;
Hal. 40 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
- Bahkan apabila diteliti dan dicermati antara dakwaan alternative pertama
dengan alternative kedua, seharusnya disusun dalam bentuk subsidair
dengan susunan;
Primair : Pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 Undang-undang No.31 tahun 1999 jo
Undang-undang No.20 tahun 2001;’
Subsidair: Pasal
15 jo pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-undang No.20
tahun 2001 jo undang-undang No.31 tahun 1999;
- Dakwaan subsidair adalah dalam lingkup suatu perbuatan yang pararel
atau satu jurusan yang dalam dakwaan disusun berdasar pada urutan
berat ringannya perbuatan yang tentu akan berbeda tentang berat ringan
ancaman pidananya (A. Soetomo, SH. op-cit, halaman 22);
- M. Yahya Harahap, SH. (op-cit halaman 432 antara lain menyatakan :
”bentuk surat dakwaan subsidair ialah bentuk dakwaan yang terdiri dari
dua atau beberpa dakwaan yang disusun dan dijejerkan secara berurutan
mulai dari dakwaan tindak pidana yang terberat sampai kepada dakwaan
tindak pidana yanbg teringan (lihat dan bandingkan dengan putusan
Mahkamah Agung R.I. No.779 K/Pid/1990 tanggal 22 Agustus 1990, varia
peradilan No.70 Juli 1991, halaman 79-92);
- Apabila dakwaan alternatif pertama dan kedua yang merupakan tindak
pidana korupsi, dibandingkan dengan dakwaan alternatif ketiga (tindak
pidana pencucian uang) terlihat dengan jelas dan nyata bahwa tidak ada
atau tidak ditermukan adanya unsur-unsur tindak pidana yang saling mengecualikan atau saling menghapuskan satu sama lain;
- Apabila dicermati pasal 2 Undang-undang No.25 tahun 2003 jo Undangundang No.16 tahun 2002, tindak pidana pencucian uang merupakan
tindak pidana tersendiri yang terpisah dengan tindak pidana Korupsi
bahkan dapat dinyatakan tindak pidana korupsi sebagai sebab atau salah
satu awal dari adanya tindak pidana pencucian uang;
Dengan demikian, yang benar dan tepat surat dakwaan dalam perkara
aquo, surat dakwaan yang disusun dalam bentuk komulatif subsidair dan
alternatif;
KESATU:
Primair : Pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 Undang-undang No.31 tahun 1999 jo
Undang-undang No.20 tahun 2001;
Subsidair: Pasal 15 jo pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-undang No.20 tahun
2001 jo Undang-undang No.31 tahun 1999;
Hal. 41 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
KEDUA: Pasal 3 ayat (1) huruf a Undang-undang No.25 tahun 2003 jo
Undang-undang No.15 2002
Atau
Pasal 3 ayat (1) huruf b Undang-undang No.25 tahun 2003 jo
Undang-undang No.15 2002
Atau
Pasal 3 ayat (1) huruf c Undang-undang No.25 tahun 2003 jo
Undang-undang No.15 2002
- Dengan dasar peraturan perundang-undangan, putusan Mahkamah Agung
dan pendapat para ahli (doktrin) sebagai sumber hukum terurai di atas,
dapat dinyatakan bahwa cara penyusunan bentuk surat dakwaan dalam
perkara ini tidak menerapkan hukum atau salah menerapkan atau
melanggar hukum yang berlaku yaitu tidak menerapakan pasal 143 ayat
(2) huruf b Undang-undang No.8 tahun 1981 (KUHAP). Akibat dari tidak
diterapkannya pasal 143 ayat (2) huruf b Undang-undang No.8 tahun 1981
(KUHAP), surat dakwaan Penuntut Umum No.reg. perkara : PDS07/JKTSL/Ft.I/04/2006 tanggal 27 April 2003, menjadi tidak cermat, tidak
jelas dan tidak lengkap atau obscuur libel;
Oleh karena surat dakwaan obscuur libel berdasar:
•
Pasal 143 ayat (3) Undang-undang No.8 tahun 1981 (KUHAP);
•
Putusan-putusan Mahkamah Agung R.I.
a. No.492 K/Kr/1983 tanggal 31 Januari 1983 (Y.I.Th.1983 ) Jilid-1,
halaman 41-45);
“ dakwaan tidak cermat, jelas dan lengkap sehingga harus
dinyatakan batal demi hukum”;
b. No.808 K/Pid/1984 tanggal 29 Juni 1985 (Y.I Th. 1985, jilid I,
halaman 74-81);
“dakwaan tidak cermat, jelas dan lengkap sehingga harus dinyatakan
batal demi hukum”;
(lihat pula):
•
No.33 K/MIL/1985 tanggal 15 Februari 1986 (Y.I. Tahun 1985, jilidII, halaman 28-32);
•
No.5 K/MIL/1985 tanggal 29 Agustus 1985 (varia peradilan NO.15
Desember 1986, halaman 77-82);
•
No.162 K/Pid/1986 tanggal 26 September 1987, (varia peradilan
No.31 April 1988 halaman 67-77);
Hal. 42 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
•
No.130 K/piD/1986 tanggal 31 Januari 1989, (varia peradilan No.55
April 1990, halaman 62-72);
Harus dinyatakan “batal demi hukum”
- Dengan demikian putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No.254/Pid/
2006/PT.DKI tanggal 12 Desember 2006 jo putusan Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan No.884/Pid.B/2006/PN.Jak.Sel tanggal 21 September
2006 harus dinyatakan batal demi hukum dan membebaskan terdakwa Ir.
Ishak dari segala dakwaan;
II. Tentang Tidak Diterapkannya Hukum Pembuktian
- bahwa dalam Undang-undang No.31 tahun 1999 jo Undang-undang No.20
tahun 2001 antara lain menegaskan:
Pasal 26
Penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan disidang pengadilan terhadap
tindak pidana korupsi, dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang
berlaku, kecuali ditentukan lain dalam Undang-undang ini;
- dari ketentuan tersebut, hukum pembuktian dalam perkara a quo, harus
berdasar Undang-undang No.8 tahun 1981 (KUHAP) pasal 183 s/d pasal
189, kecuali ditentukan lain dalam Undang-undang No.31 tahun 1991 jo
Undang-undang No.20 tahun 2001
- bahwa oleh karena dalam pertimbangan hukum putusan Pengadilan Tinggi
DKI Jakarta a quo (halaman 28 dan 29), pada pokoknya menyatakan:
•
sependapat dengan pertimbangan hukum Hakim tingkat pertama;
•
pertimbangan hukum hakim tingkat pertama diambil alih sebagai pertimbangan hukum Pengadilan Tinggi dalam mengadili perkara in casu
ditingkat banding;
maka untuk meneleaah dan mengkaji penerapan hukum pembuktian,
ijinkan Pemohon Kasasi untuk mencermati dan mengkaji hukum
pembuktian yang diterapkan dalam putusan Pengadilan Negerii Jakarta
Selatan a quo;
- Telaahan dan kajian pemohon kasasi tersebut tidak dan bukan dalam arti
”penilaian atas hasil pembuktian, tetapi apakah hukum pembuktian dalam
perkara a quo, telah diterapkan sebagaimana mestinya;
1. Tentang unsur setiap orang
Dalam Undang-undang No.31 tahun 1999 pasal 1 angka 3 jo Undangundang No.20 tahun 2001 ditegaskan:
”setiap orang adalah perseorangan atau termasuk korporasi;
Hal. 43 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Pasal 20
(1)
Dalam hal tindak pidana korupsi dilakukan oleh atau atas nama
suatu korporasi, maka tuntutan dan penjatuhan pidana dapat
dilakukan terhadap korporasi dan atau pengurusnya;
(2)
Tindak pidana korupsi dilakukan oleh korporasi apabila tindak
pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan
hubungan kerja maupun berdasarkan hubungan lain, bertindak
dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-sama
(3)
Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap suatu korporasi,
maka korporasi tersebut diwakili oleh pengurus;
(4)
Pengurus yang mewakili korporasi sebagaimana dimaksud dalam
ayat (3) dapat diwakili oleh orang lain;
(5)
Hakim dapat memerintahkan supaya pengurus korporasi menghadap sendiri di Pengadilan dan dapat pula memerintahkan
supaya pengurus tersebut di bawa ke sidang pengadilan;
(6)
Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi, maka
pengadilan untuk menghadap dan penyerahan surat panggilan
tersebut disampaikan kepada pengurus di tempat tinggal pengurus
atau ditempat pengurus berkantor;
(7)
Pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi hanya
pidana denda, dengan ketentuan maksimum pidana ditambah 1/3
(satu pertiga)
-
Penjelasan umum Undang-undang No.31 tahun 1999 (T.L.N.
No.3874 tahun 1999) alinea ke 7 (tujuh) menegaskan:
“perkembangan baru yang diatur dalam Undang-undang ini adalah
korporasi sebagai subyek tindak pidana korupsi yang dapat
dikenakan sanksi. Hal ini tidak diatur dalam Undang-undang No.3
tahun 1971”
Dengan dasar hukum tersebut di atas berarti dalam tindak pidana
korupsi (Undang-undang No.31 tahun 1999 jo Undang-undang
No.20 tahun 2001) disamping subyek hukum atau orang atau
manusia, juga dikenal subyek hukum korporasi atau badan hukum;
-
Akan tetapi dalam pertimbangan hukum pada putusan Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan a quo (halaman 93-94), pada pokoknya
Hal. 44 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
hanya mengakui subyek hukum dalam perkara ini hanya manusia
atau orang yang bernama Ir. Ishak dengan segala identitasnya;
-
Bahwa Majelis Hakim yang memeriksa, mengadilai dan memutus
perkara ini dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
No.884/ Pid.B/2006/PN.Jak.Sel tanggal 21 September 2006, oleh
Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dalam putusannya a quo fakta-fakta
pokok, juga telah diambil alih
-
Kaitannya dengan fakta-fakta hukum tersebut dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan antara lain, dinyatakan:
•
Terdakwa Ir. Ishak selaku pengusaha yang sukseS dan pemilik
dari perusahaan PT. Citra Muda Raksa dan PT.Citra Muda
Bersama yang bergerak dibidang usaha Property, Real Estate
dan General Trading (putusan,halaman 86);
•
Cheque Bank BCA atas nama Sadeni H./Sulistio sebesar
Rp.3.200.000.000,- ditransfer ke rekening PT. Citra Muda Raksa
di Bank Artha Graha cabang Sudirman, dengan nomor rekening:
008 1 27215 8
•
Cheque Bank Pertama atas nama PT. Mesana Ivestama Utama
sebesar
Rp.1.800.000.000,- ditransfer ke rekening PT. Citra
Muda Raksa di Bank Artha Graha cabang Sudirman dengan
nomor rekening : 008 1 27215 8 (putusan halaman 89);
-
Dari
fakta
hukum
tersebut,
berarti
uang
sejumlah
Rp.5.000.000.000,- tersebut tidak masuk ke dalam rekening pribadi
manusia atau orang yang bernama Ir. Ishak tetapi masuk dan
dikuasai oleh suatu korporasi atau badan hukum yang bernama PT.
Citra Muda Raksa;
Oleh karena masuk kedalam rekening korporasi atau badan hukum
per-tanggung jawaban hukumnya termasuk pertanggungjawaban
dalam hukum pidana adalah tanggung jawab korporasi atau badan
hukum PT. Citra Muda Raksa, bukan terdakwa Ir. Ishak sebagai
pribadi denga segala identitasnya;
-
Sesuai dengan pasal l angka 3, pasal 20 Undang-undang No.31
tahun
1999
jo
Undang-undang
No.20
tahun
2001,
pertanggungjawabann hukum pidana dalam perkara ini adalah
korporasi yang bernama PT. Citra Muda Raksa;
-
Dari uraian dengan dasar peraturan perundang-undangan tersebut,
nyata dan jelas bahwa hukum pembuktian dalam putusan
Hal. 45 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Pengadilan tinggi DKI Jakarta jo putusan
Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan a quo, tidak diterapkan atau diterapkan tidak
sebagaimana mestinya atau salah menerapkan atau melanggar
hukum yang berlaku;
-
Dengan demikian cukup
dasar dan sangat
beralasan untuk
menyatakan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta jo putusan
Pengadilan
Negeri Jakarta
Selatan
a
quo,
dibatalkan
dan
membebaskan terdakwa Ir. Ishak dari segala dakwaan
2. Tidak diterapkannya Hukum Pembuktian Tentang Perbuatan melawan
hukum (Wederrechtelijkheid)
-
Bahwa dalam pasal 2 ayat (1) Undang-undang No.31 tahun 1999 jo
Undang-undang No.20 tahun 2001, yang tersebut dalam dakwaan
alternatif pertama yang dinyatakam terbukti secara sah dan
meyakinkan dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan a
quo, yang pertim-bangan hukumnya diambil alih dan dikuatkan
dalam putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta a quo, setelah unsur
setiap orang, secara tegas dinyatakan pada unsur kedua dengan
kalimat ” yang secara melawan hukum”;
-
Kaitannya dengan ”unsur perbuatan melawan hukum” tersebut,
ijinkan pemohon kasasi mengutip pendapat dari beberapa ahli
sebagai acuan;
-
Prof. Mr.W.P.J. Pompe (Hand boek van ket Negerlandse Strat
Techt, penerbit N.V Uitgevers Maatschap pij. W.EJ, Tjeenk Willink, Z
Wolle 1959 halaman 41 antara lain menegaskan:
”Wederrechthelijheid atau perbuatan melawan hukum dan Schuld
atau kesalahan itu merupakan unsur-unsur yang selalu melekat
pada setiap straf baar feit atau perbuatanyang dapat dihukum;
-
Prof.Mr. D. Simons (Leeboek van het Nederlande Straf Recht,
penerbit: P. Noordhoff NV. Groningen, Batavia, 1937 halaman 122)
antara lain menjelaskan:
”Straf baar feit itu sebagai suatu tindakan melanggar hukum yang
telah dilakukan dengan sengaja atau tidak dengan sengaja oleh
seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya
dan yang oleh Undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu
tindakan yang dapat dihukum”;
-
Prof.Dr.D. Schaffmeister, Prof. Dr.N. Keijzer, Mr. E.P.H. Sutoroius)
terjemahan Prof. Dr. JE Sahetapy, SH.MA, Hukum Pidana, penerbit
Hal. 46 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Liberty Yogyakarta, Edisi pertama cetakan ke 1, 1995, halaman 39
dan 43) menjelaskan :
”sifat melawan hukum diartikan sebagai syarat umum untuk dapat
dipidana yang tersebut dalam urusan pengertian perbuatan pidana.
Perbuatan pidana adalah kelakuan manusia yang termasuk dalam
rumusan delik, bersifa melawan hukum dan dapat dicela”;
”Dengan sifat melawan hukum umum diartikan sifat melawan hukum
sebagai syarat tak tertulis untuk dapat dipidana. Untuk dapat
dipidananya suatu perbuatan, dengan sendirinya berlaku syarat
bahwa perbuatan itu bersifat melawan hukum, yang dalam hal ini
bertentangan dengan hukum, tidak adil”;
-
Mr.J.M. Van Bemmelen (terjemahan Hasnan Hukum Pidana I,,
Hukum Pidana Material Bagian Umum, penerbit Bina Cipta, cetakan
pertama, 1984, halaman 99);
Antara lain menjelaskan :
•
Perbuatan itu dapat dipertanggungjawabkan pada si pelaku atau
sipelaku mampu bertanggung jawab perbuatan itu dapat
disesalkan pada si pelaku;
•
Perbuatan itu dilakukan secara melawan hukum;
Mahkamah Konstitusi dalam
putusannya No.003/PUU-IV/2006
tanggal 25 Juli 2006, dalam pertimbangan hukumnya halaman 73
s/d 76 sebagai berikut :
”Tentang Unsur melawan hukum (Wederrechtlijkheid) ”
Menimbang, bahwa selanjutnya yang perlu mendapat perhatian dan
di-pertimbangkan
secara
mendalam
adalah
kalimat
pertama
penjelasan pasal 2 ayat (1) Undang-undang PTPK yang juga
dimohonkan pengujian oleh Pemohon sebagaimana tertulis dalam
petitum permohonannya meskipun pemohon tidak memfokuskan
argumentasinya secara khusus terhadap bagian tersebut. Pasal 2
ayat (1) tersebut memperluas kategori unsur “melawan hukum”
dalam
hukum
pidana,
wederrechtelijkheid
tidak
melainkan
lagi
juga
hanya
dalam
sebagai
arti
formele
materiele
wederrechtelijkheid. Penjelasan pasal 2 ayat (1) kalimat bagian
pertama tersebut berbunyi, “yang dimaksud dengan secara
melawan hukum dalam pasal ini mencakup perbuatan melawan
hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil, yakni meskipun
perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-
Hal. 47 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
undangan, namun apabila perbuatan tersebut dianggpa tercela
karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma
kehidupan social dalam masyarakat, maka perbuatan ter-sebut
dapat dipidana”;
Menimbang, bahwa dengan bunyi penjelasan yang demikian maka
meskipun
perbuatan
tersebut
tidak
diatur
dalam
peraturan
perundang-undangan secara formil, yaitu dalam pengertian yang
bersifat onvermatig, namun apabila menurut ukuran yang dianut
dalam masyarakat, yaitu norma-norma sosial yang memandang
satu perbuatan sebagai perbuatan tercela menurut norma sosial
tersebut, dimana perbuatan tersebut dipandang telah melanggar
kepatutan,
kehati-hatian
dan
keharusan
yang
dianut
dalam
hubungan orang perorangan dalam masyarakat maka dipandang
bahwa perbuatan tersebut memenuhi unsur melawan hukum
(wederrechtelijk). Ukuran yang dipergunakan dalam hal ini adalah
hukum atau peraturan tidak tertulis. Rasa keadilan (rechtsgeveoel),
norma kesusilaan atau etik, dan norma-norma moral yang berlaku
dimasyarakat telah cukup untuk menjadi kriteria satu perbuatan
tersebut merupakan tindakan yang melawan hukum, meskipun
hanya dilihat secara materiil. Penjelasan dari pembuat undangundang ini sesungguhnya bukan hanya menjelaskan pasal 2 ayat
(1) tentang unsur melawan hukum, melainkan telah melahirkan
norma baru, yang memuat digunakannya ukuran-ukuran yang tidak
tertulis dalam undang-undang secara formal untuk menentukan
perbuatan yang dapat dipidana. Penjelasan yang demikian telah
menyebabkan criteria perbuatan melawan hukum pasal 1365
KUHPerdata)
yang
dikenal
dalam
hukum
perdata
yang
dikembangkan sebagai jurisprudensi mengenai perbuatan melawan
hukum (onrechtmatigedaad), seolah-olah telah diterima menjadi
satu
ukuran
melawan
hukum
dalam
hukum
pidana
(wederrechtlijkheid). Oleh karena itu, apa patut dan yang memenuhi
syarat moralitas dan rasa keadilan yang diakui dalam masyarakat,
yang berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain, akan
mengakibatkan bahwa apa yang di satu daerah merupakan
perbuatan yang melawan hukum, di daerah lain boleh jadi bukan
merupakan perbuatan yang melawan hukum;
Hal. 48 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Menimbang, bahwa berkaitan dengan pertimbangan di atas,
Mahkamah
dalam
putusan
No.005/PUU-III/2005
telah
pula
menguraikan bahwa sesuai dengan kebiasaan yang berlaku dalam
praktik pembentukan per-undanga-undangan yang baik, yang juga
diakui mengikat
secara
hukum,
penjelasan
berfungsi
untuk
menjelaskan substansi norma yang terdapat dalam pasal dan tidak
menambahkan norma baru, apalagi memuat substansi yang sama
sekali bertentangan dengan norma yang dijelaskan. Kebiasaan ini
ternyata telah pula dikuatkan dalam butir E Lampiran yang tak
terpisahkan dari Undang-undang Republik Indonesia No.10 tahun
2004 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan antara
lain menentukan :
a. Penjelasan
berfungsi
sebagai
tafsiran
resmi
pembentuk
peraturan perundang-undagan atas norma tertentu dalam batang
tubuh. Oleh karena itu penjelasan hanya memuat uraian atau
jabaran lebih lanjut norma yang diatur dalam batang tubuh.
Dengan demikian penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas
norma batang tubuh, tidak boleh mengakibatkan terjadinya
ketidakjelasan norma yang dijelaskan;
b. Penjelasan tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk
membuat peraturan lebih lanjut;
c. Dalam penjelasan dihindari rumusan yang isinya memuat
perubahan
terselubung
terhadap
ketentuan
perundang-
undangan yang bersangkutan (garis bawah Pemohon Kasasi);
-
Menimbang bahwa dengan demikian Mahkamah menilai memang
terdapat
persoalan
konstitusionalitas
dalam
kalimat
pertama
penjelasan pasal 2 ayat (1) Undang-undang PTPK sehingga
Mahkamah perlu mem-pertimbangkan lebih lanjut hal-hal sebagai
berikut:
i.
Pasal
28
D
ayat
(1)
mengakui
dan
melindungi
hak
konstitusional warga negara untuk memperole jaminan dan
perlindungan hukum yang pasti, dengan mana dalam bidang
hukum pidana diterjemahkan sebagai asas legalitas yang
dimuat dalam pasal 1 ayat (1) KUHP, bahwa asas tersebut
merupakan satu tuntutan akan kepastian hukum dimana orang
hanya dapat dituntut dan diadili atas dasar suatu per-aturan
Hal. 49 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
perundang-undangan yang tertulis (lex scripta) yang telah lebih
dahulu ada.
ii.
Hal demikian menuntut bahwa suatu tindak pidana memiliki
unsur melawan hukum, yang harus secara tertulis lebih dahulu
telah berlaku, yang merumuskan perbuatan atap atau akibat
apa dari perbuatan manusia secara jelas dan ketat yang
dilarang sehingga karenany daoat dituntut dan dipidana, sesuai
dengan prinsip nullum crimen sine lege stricta;
iii.
Konsep melawan hukum yang secara formil tertulis (formele
wederrechtelijk), yang mewajibkan pembuat Undang-undang
untuk merumuskan secermat dan serinci mungkin (vide Jan
Remmelink, Hukum Pidana, 2003: 358) merupakan syarat
untuk menjamin kepastian hukum (lex certa) atau yang dikenal
juga dengan istilah Bestimmheitsgebet;
Menimbang, bahwa berdasarkan urian di atas, konsep melawan
hukum materiil (materiele wederrechtelijk), yang menunjuk pada
hukum tidak tertulis dalam ukuran kepatutan, kehatia-hatian dan
kecermatan yang hidup dalam masyarakat, sebagai satu norma
keadilan, adalah merupakan ukuran yang tidak pasti dan berbedabeda dari satu lingkungan masyarakat tertentu kelingkungan
masyarakat lainnya, sehingga apa yang melawan hukum disatu
tempat mungkin ditempat lain diterima dan diakui sebagai sesuatu
yang sah dan tidak melawan hukum, menurut ukuran yang dikenal
dalam
kehidupan
masyarakat
setempat,
sebagaimana
yang
disampaikan ahli Prof.Dr. Andi Hamzah, SH. dalam persidangan ;
Menimbang bahwa oleh karenanya penjelasan pasal 2 ayat (1) UU
PPTK kalimat pertama tersebut, merupakan hal yang tidak sesuai
dengan per-lindungan dan jaminan kepastian hukum yang adil yang
dimuat dalam pasal 28 D ayat (1) UU
1945. dengan demikian,
penjelasan pasal 2 ayat (1) UU PPTK sepanjanga mengenai frasa
”yang dimaksud dengan secara melawan hukum dalam pasal ini
mencakup
perbuatan-perbuatan
melawan
hukum
dalam
arti
perbuatan tersebut tidak diatur dalam per-aturan perundangundangan, namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela
karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma
kehidupan social dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat
Hal. 50 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
dipidana:”. Harus dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 (garis
bawah, Pemohon Kasasi);
-
Berpijak dengan landasan pendapat para hali dan putusan
Mahkamah Konstitusi tersebut dapat dijadikan landasan apakah
hukum pembuktian kaitannya dengan perbuatan melawan hukum
atau wederrechtelijk”, dalam pasal 2 ayat (1) UU No.31 tahun 1999
jo UU No.20 tahun 2001 yang tersebut dalam dakwaan alternatif
pertama, yang menjadi dasar pemeriksaan dan putusan Pengadilan
Tinggi DKI Jakarta jo putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan a
quo diterapkan sebagaimana mestinyaa?
-
Dalam pertimbangan hukum putusan Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan a quo (hal.95 s/d 101) yang diambil alih oleh Pengadilan
Tinggi DKI Jakarta aquo, yang bunyi selengkapnya sebagai berikut :
-
Unsur secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi;
Menimbang, bahwa dari rumusan unsur ke 2 tersebut di atas terdapat
dua
unsur
hukum
yakni
”melawan
hukum”
dan
perbuatan
memperkaya diri sendiri atau oranglain atau suatu korporasi”;
Menimbang, bahwa dalam halnya anasir ke dua ”perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lainn atau suatu korporasi” dari
rumusannya sudah jelas bahwa anasir tersebut mengandung makna
alternative, dimana salah satu saja dari ketiga perbuatan yang
tersebut dalam rumusan pasal tersebut terbukti maka anasir kedua
harus dinyatakan telah terbukti maka anasir ke dua harus dinyatakan
telah terbukti dan terpenuhi oleh perbuatan terdakwa;
Menimbang, bahwa perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang
lain atau suatu korporasi jika dihubungkan dengan fakta yang telah
terungkap dipersidangan antara lain sebagai berikut:
Bahwa benar terdakwa Ir. Ishak pada bulan Oktober 2003 telah bertindak sebagai konsultan bisnis untuk Adrian Herling Waworuntu,
dimana pada saat itu Adrian Herling Waworuntu sedang dilakukan
penyidikan oleh Bareskrim Mabes Polri yaitu dalam kasus ”tindak
pidana korupsi” berkaitan dengan pendiskotoan L/C di BNI 46 cabang
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dimana pada waktu itu terdakwa
meminta
uang
kepada
Adrian
Herling
Waworuntu
sebesar
Rp.5.000.000.000,- (lima milyar rupiah), yang akan digunakan
menolong Adrian Herling Waworuntu agar terlepas dari penyidikan
Hal. 51 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
pidana tersebut dan diusahakan untuk menjadi kasus perdata, namun
pada kesempatan pertama itu Adrian Herling Waworuntu mengatakan
tidak mempunyai uang sebanyak itu maka kemudian Adrian Herling
Waworuntu mencari pinjamsan kepada Jeffrey Baso, permintaan
uang sebesar Rp.5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) dari terdakwa
tersebut juga berkaitan dengan pertemuan antara terdakwa dengan
Samuel Ismoko di Plaza Indonesia, dimana dalam pertemuan tersebut
Samuel Ismoko mengenalkan terdakwa dengan saudara Pitter yaitu
sebagai pemilik PT. Garuda Wisnu Kencana, dan oleh Samuel
Ismoko meminta kepada terdakwa untuk menyediakan uang sebesar
Rp.5.000.000.000,- (lima milyar rupiah)
dengan alasan untuk
investasi tanah di Jimbaran Bali, dan hal inilah yang menjadi alasan
terdakwa bahwa untuk meminta uang sebesar Rp.5.000.000.000,(lima milyar rupiah) kepada Adrian Herling Waworuntu untuk
digunakan terdakwa dalam mendekati Drs. Samuel Ismoko;
Bahwa karena Adrian Herling Waworuntu dan Jeffrey Baso tidak
mempunyai dana sebesar Rp.5.000.000.000,- (lima milyar rupiah),
mak auntuk selanjutnya Adrian Herling Waworuntu meminta tolong
kepada Dicky Iskandardinata supaya mendari dan menemui Ferry
Imandaris Direktur PT. Magna Graha Agung, yang pernah menerima
dana sebesar Rp.25.000.000.000,- (dua puluh lima milyar rupiah) dari
PT. Baso Masindo dan PT. Bhinekatama Pasific untuk mengikuti
pelelangan di BPPN akan tetapi tidak jadi digunakan karena kalah
dlaam pelalangan tersebut, selanjutnya
Dicky Iskandardinata
mengajak Ferry Imandaris ke Bareskrim Mabes Polri untuk bertemu
dengan Adrian Herling Waworuntu, dan hail dari pertemuan itu Ferry
Imandaris bersedia
mengembalikan secara bertahap atas uang
sebesar Rp.25.000.000.000,- (dua puluh lima milyar rupiah) itu
kepada Adrian Herling Waworuntu;
Bahwa selanjutnya Ferry Imandaris mengembalikan dana sebesar
Rp.3.200.000.000,- (tiga milyar dua ratus juta rupiah) dalam bentuk I
(satu) lembar cheque Bank BCA atas nama Sadeni H. Sulistio dan
pengembalian lainnya dalam bentuk Saham PN. Gas dan BRI yang
diserahkan
melalui
Dicky
Iskandardinata,
dan
oleh
Dicky
Iskandardinata saham PN Gas dan BRI tersebut dijual kepada
Perusahaan Securitas PT. Mesana Investama Utama yang dari hasil
penjualannya dipecah dalam bentuk 2 (dua) lembar cheque Bank
Hal. 52 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Pertama sebesar Rp.1.800.000.000,- (satu milyar delapan ratus juta
rupiah) dan Rp.2.000.000.000,- (dua milyar rupiah), yang selanjutnya
oleh Dicky Iskandardinata uang tersebut diserahkan kepada Adrian
Herling Waworuntu selanjutnya diserahkan kepada terdakwa melalui
Jeffrey Baso, dan oleh terdakwa dana sebesar Rp.5.000.000.000,(lima milyar rupiah) tersebut dicairkan sendiri pada tanggal 23
Desember 2003 dimana atas cheque Bank BCA atas nama Sadeni
H/Sulistio sebesar Rp.3.200.000.000,- (tiga milyar dua ratus juta
rupiah) terdakwa tarik tunai dan ditransfer ke rekening PT. Citra Muda
Raksa di Bank Artha Graha cabang Sudirman dengan nomor rekening
: 008 1 27215 8, sesuai
dengan voucer permohonan pengiriman
uang BCA capem Pondok Indah tanggal 23 Desember 2003, dan
cheque Bank Permata atas nama PT. Mesana Investama Utama
sebesar Rp.1.800.000.000,- (satu milyar delapan ratus juta rupiah)
terdakwa tarik tunai dan ditransfer dengan RTGS ke rekening PT.
Citra Muda Raksa di Bank Artha Graha cabang Sudirman dengan
nomor rekening : 008 1 27215 8, sesuai dengan aplikasi transfer Bank
Permata cabang Menara Imperium tanggal 23 Desember 2003
Bahwa lebih lanjut telah ternyata pula bahwa penyediaan dana
sebesar Rp.5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) yang diserahkan
kepada terdakwa dari Adrian Herling Waworuntu melalui Dicky
Iskandardinata dan dengan perantaraan Jeffrey Baso tersebut adalah
untuk mengurus komitmen Adrian Herling Waworuntu kepada Drs.
Samuel Ismoko melalui terdakwa, akan tetapi oleh terdakwa dana
tersebut tidak pernah diserahkan atau disampaikan kepada Drs.
Samuel Ismoko dan uangnya digunakan untuk kepentingan terdakwa
sendiri dimana setelah uang sebesar Rp.5.000.000.000,- (lima milyar
rupiah) masuk kerekening terdakwa, selanjutnya oleh terdakwa dana
tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi terdakwa, dengan
memindah-mindahkah uang tersebut kebeberapa rekening milik
terdakwa di Bank Artha Graha, Citibank atas nama PT. Citra Muda
Bersama;
Bahwa dipersidangan dengan telah terungkap fakta dan diakui oleh
terdakwa bahwa uang sebesar Rp.5.000.000.000,- (lima milyar
rupiah) tersebut pada tanggal 6 Oktober 2005 sebagian uangnya
sudah dikembalikan oleh terdakwa kepada Jeffrey Baso sebesar
Rp.1.400.000.000,- (satu milyar empat ratus juta rupiah) sebagaimana
Hal. 53 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
bukti copy tanda terima yang ditunjukkan di persidangan oleh
terdakwa, sedangkan sisanya Rp.3.600.000.000,- (tiga milyar enam
ratus juta rupiah) pada tanggal 30 Desember 2003 terdakwa telah
memesan Mobil Nissan X- Trail type ST (standar) di Showroom
Dealer Nisaan Auto Mall Mobil Jl. Sudirman Kav.52 Lantai Dasar G19 Lot 6, Jakarta Pusat, untuk Drs. Suyitno Landung sebagaimana
yang telah diterangkan oleh saksi Kuswanti sebagai salesnya membenarkan bahwa terdakwa yang datang sebagai pemesan mobil
tersebut di atas dengan harga Rp.247.000.000,- (dua ratus empat
puluh tujuh juta rupiah) dimana saksi Kuswanti diminta oleh terdakwa
untuk menuliskan dalam surat pemesanan mobil itu atas nama Drs.
Suyitno Landung dan berdasarkan fax dari Wadankoserse Polri, yang
meminta Kuswanti untuk mendaftarkan mobil Nissan X Trail tersebut
atas nama Joko Pradigdo, sedangkan pembayarannya diurus oleh
saksi Anatasia Suzana Pramudio (sebagai sekretaris Adrian Herling
Waworuntu);
Bahwa lebih lanjut dipersidangan telah terungkap fakta bahwasanya
dana sebesar sebesar Rp.5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) yang
telah diterima oleh terdakwa Ir. Ishak tersebut berasal dari Adrian
Herling Waworuntu yang merupakan bagian dari hasil pendiskotoan
L/C fiktif di BNI 46 cabang Kebayoran Baru, jakarta Selatan yang
dicairkan oleh PT. Baso Masindo dan PT. Bhinekatama Pasific
termasuk dana Rp.25.000.000.000,- (dua puluh lima milyar rupiah)
yang batal untuk membeli pelelangan yang diadakan BPPN, dan uang
sebesar Rp.5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) tersebut merupakan
bagian dari kerugian negara sebesar Rp.162.338.729,89 dan Euro
54.078.192,50 atau setara dengan Rp.1.923.877.511.544.37 sebagaimana laporan hasil perhitungan kerugian Keuangan Negara pada PT.
BNI Tbk. Cabang Kebayoran Baru, Jakarta Selatan atas kasus
penyimpangan dalam pembelian wesel eksport tanggal 1 Maret 2004;
Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta sebagaimana diuraikan
di atas, tentu saja telah terjadi aliran atau lalu lintas uang atau
keuangan yang berpindah Adrian Herling Waworuntu atau Dcky
Iskandardinata dan/atau Ferry Imandaris dan/atau Jeffrey Baso
sampai dengan terdakwa, dengan mana telah terjadi perubahan
situasi keuangan atau kekayaan yang mempunyai nilai ekonomis
artinya bahwa penyerahan uang sebesar Rp.5.000.000.000,- (lima
Hal. 54 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
milyar rupiah) tersebut merupakan suatu bentuk nyata dari usaha
memperkaya diri terdakwa atau bagi pihak yang terkait yang
mendapat aliran dana tersebut;
Menimbang,
bahwa
permasalahannya
adalah
apakah
benar
perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi itu adalah merupakan perbuatan melawan hukum sehingga
dapat memenuhi unsur ke 2 dari delik yang didakwakan dalam
dakwaan primair lebih lanjut majelis mempertimbangkannya sebagai
berikut :
Menimbang, bahwa ”melawan hukum” dalam lapangan Ilmu hukum
pidana
secara
umum
dipandang
dan
diartikan
sebagai
Wederechttelijkheid dan onrechtmatige;
Menimbang, bahwa sesuai perkembangan dan pergeseran nilai-nilai
budanya (social Change) dalam masyarakata secara sosiologis, yang
juga dianut dalam berbagai yurisprudensi Hogeraad dan juga
Mahkamah Agung R.I., melawan hukum diartikan sebagai suatu perbuatan yang bertentangan dengan Undang-undang saja melainkan
juga termasuk perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan
kewajiban hukum si Pelaku, perbuatan yang bertentangan atau
melanggar hak orang lain, atau perbuatan yang bertentangan dengan
sifat baik dan perilaku terpuji serta rasa keadialan dalam masyarakat
karena bertentangan dengan norma-norma kehidupan sosial kemasyarakatan;
Menimbang, bahwa dalam hal ini perbuatan melawan hukum tidak
terlepas dari kesengajaan, hal mana tidak dijelaskan secara rinci di
dalam memori van toelichting, maupun penjelasan undang-undang
khususnya undang-undang tentang pemberantasan tindak pidana
korupsi,
namun
dalam
berbagai
Doktrin
Ilmu
Hukum
telah
berkembang arti kata dari sengaja atau kesengajaan yang ditinjau dari
dua teori yakni teori kehendak dan teori pengetahuan;
Menimbang,
bahwa
menurut
teori
kehendak,
sengaja
atau
kesengajaaan dalam perwujudannya dapat berbentuk kehendak untuk
melakukan suatu perbuatan yang didasari sepenuhnya akan akibat
yang dikehendaki ata perbuatannya itu;
Bahwa menurut teori ini, suatu perbuatan
dikatakatan memenuhi
unsur sengaja atau kesengajaan apabila perbuatan itu benar-benar
disadari oleh pelaku untuk melakukan dengan maksud untuk
Hal. 55 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
mencapai sesuatu tujuan tertentu yang pasti atau patut diduga bakal
tercapai dengan dilakukannya perbuatan termaksud artinya pelaku
benar-benar menyadari dan menghendaki akibat yang ditimbulkannya
oleh perbuatannya;
Menimbang, bahwa sedangkan dalam teori pengetahuan, bisa jadi
pelaku sadar untuk melakukan suatu perbuatan, nanum tidak secara
nyata menghendaki akibat yang bakal timbul dari perbuatanya itu,
namun pelaku setidaknya patut mengetahui bahwa dari apa yang
diperbuat/dilakukannya
itu
dapat
saja
menimbulkan
beberapa
kemungkinan sebagai akibat dari perbuatan yang dilakukannya itu;
Menimbang, bahwa sengaja atau kesengajaaan biasanya dikaitkan
dengan unsur opzet (kehendak) yang didalam perkembangannya
dalam kehidupan sehari-hari dibedakan antara kehendak dengan
kesengajaaan (Dolus) dan kehendak karena kealpaan (Culpa);
Menimbang, bahwa kesengajaan dimaksud disini adalah ditujukan
untuk maksud memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi;
Menimbang, bahwa dalam hubungan ini, undang-undang tentang
pemberantasan tindak pidana korupsi telah mengadopsi pemahananpemahaman yang berkembang di dalam pembangunan hukum dan
pergeseran nilai-nilai budaya (social change) dalam masyarakat,
dengan tujuan agar pemberantasan tindak pidana korupsi dapat
dilalkukan semaksimal mungkin untuk tujuan pembangunan nasional
dan pencapaian cita-cita luhur kemerdekaan yakni mencapati
masyarakat yang adil dan makmur, sejahtera yang merata baik moril
maupun spritual, yakni dengan menekan semaksimal mungkin atas
kemungkinan-kemungkinan
terjadinya
tindak
pidana
korupsi
termaksud;
Menimbang, bahwa dalam hubungan ini pengertian penerapan azas
materiele Wederrechtelijkheids) melalui fungsi positif dalam tindak
pidana korupsi
yang bersifat kasuistis dikembangkan guna
memudahkan aparat penegak hukum untuk pelaksanaan tugas
pemberantasan tindak pidana yang sangat merugikan keuangan
negara dan perekonomian negara yang pada akhirnya sangat menghambat laju pembangunan dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan;
Menimbang, bahwa di atas telah dikemukakan bahwa unsur memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi telah terbukti
Hal. 56 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
dan terpenuhi oleh perbuatan terdakwa yang telah menerima uang
sebesar
Rp.5.000.000.000,-
(lima
milyar
rupiah)
dari
Adrian
Waworuntu melalui Dicky Iskandardinata dan/atau Ferry Imandaris
dan/atau Jeffrey Baso ternyata adalah berhubungann dengan
kesepakatan yang telah dibuat dengan Drs. Samuel Ismoko, yang
hendak berinvestasi dalam pengembangan usaha adalah pejabat
Kepolisian pada Bareskrim Mabes Polri yang tengah menangan
pemeriksaan kasus tindak pidana korupsi yang dipersangkakan
kepada Adrian Herling Waworuntu berkenaan dengan pencairan L/C
fiktif pada Bank BNI 46 cabang Kebayoran Baru, jakarta Selatan;
Menimbang, bahwa walaupun benar kedatangan terdakwa dan upaya
terdakwa menemui para pejabat Kepolisian termaksud adalah dalam
kedudukannya selaku Konsultan bisnis pada MR & Partners Law
Firm, adalah merupakan hak terdakwa yang dilandasai otoritasnya
selaku Konsultan bisnis dan juga Penasehat Hukum, namun ternyata
dalam kenyataannya perbuatan terdakwa telah melanggar hukum,
karena bertentangan dengan sifat baik dan perilaku terpuji serta rasa
keadilan dalam masyarakat karena bertentangan dengan normanorma kehidupan sosial kemasyarakatan;
Menimbang, bahwa dalam hubungan ini, majelis tidak sependapat
dengan terdakwa dan/atau Penasehat hukumnya yang berpegang
pada tidak adanya larangan oleh peraturan perundang-undangan
baginya untuk mengupayakan secara maksimal dalam memberikan
bantuan hukum bagi kliennya in cassu Adrian Herling Waworuntu
yang tengah disidik oleh Bareskrim Mabes Polri berkenaan dengan
persangkakan tindak pidana korupsi berkenaan dengan pencairan/
pendiskontoan L/C fiktif pada Bank BNI 46 cabang Kebayoran Baru,
Jakarta Selatan;
Menimbang,
bahwa
mencermati
hal-hal
yang
terungkap
dipersidangan maka sesuai dengan tujuan diundangkannya undangundang tentang tindak pidana korupsi, perbuatan terdakwa tersebut
sudah dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang melanggar hukum
dalam tindak pidana korupsi, karenanya unsur ke 2 dari dakwaan
primair telah terbukti dan terpenuhi oleh perbuatan terdakwa tersebut;
Dalam pertimbangan hukum dalam putusan Pengadilan Negeri
jakarta Selatan jo putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Selatan a
quo yang menyatakan ” perbuatan terdakwa telah melanggar hukum,
Hal. 57 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
karena bertentangan dengan sifat baik, dan perilaku terpuji serta rasa
keadailan dalam masyarakat karena bertentangan dengan normanorma kehidupan sosial kemasyarakatan (putusan Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan a quo, halaman 101), jelas sangat bertentangan
dengan putusan Mahkamah Konstitusi No.003/P-UU-IV/2006 tanggal
25 Juli 2006 atau dengan kata lain ”penerapan hukum pembuktian”
kaitannya dengan unsur perbuatan melawan hukum ”tidak diterapkan
atau diterapkan tidak sebagaimana mestinya atau salah menerapkan
atau melanggar hukum yang berlaku”;
Apabila pertimbangan hukum dalam putusan Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan jo putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta a quo,
dikaitkan dengan :
1. Pasal 197 ayat (1) huruf d UU No.8 tahun 1981 (KUHAP) yang
menyatakan :
”surat putusan pemidanaan memuat, pertimbangan yang disusun
secara ringkas mengenai fakta dan keadaan beserta alat
pembuktian yang diperoleh dari pemeriksaan disidang yang
menjadi dasar penentuan kesalahan terdakwa;
2. Pasal 25 ayat (1) UU No.4 tahun 2004 tentang Kekuasaan
Kehakiman, yang menyatakan :
”segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan
dasar putusan tersebut, memuat pula pasal tertentu dari peraturan
perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak
tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili
3. Putusan-putusan Mahkamah Agung RI:
•
No.148 K/Kr/1969 tanggal 23 Desember 1970 (Y.J. th.1971,
halaman 12-16);
•
No.458 K/Pid/1985 tanggal 2 Agustus 1985 (varia peradilan
No.9 Juni 1986, halaman 56-62);
•
No.1545 K/Pid/1985 tanggal 26 Februari 1986 (varia peradialan
No.20 Mei 1987, halaman 88-97);
•
No.612 K/Pid/1985 tanggal 9 April 1987 (varia peradilan No.24
September 1987, halaman 72-83);
•
No.511 K/Pid/1988 tanggal 25 April 1988 (varia peradialan
No.37 Oktober 1988, halaman 56-69);
Yang
abstrak
hukumnya
pada
pokoknya
menyatakan,
pertimbangan yang tidak cukup atau kurang beralasan atau
Hal. 58 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
kurang cukup atau onvoldoende gemotiveerd, harus dinyatakan
batall demi hukum ( jo pasal 197 ayat (2) UU No.8 tahun 1981
(KUHAP);
Berpedoman pada peraturan perundang-undangan dan putusanputusan Mahkamah Agung RI
tersebut, sangat mendasar dan
sangat beralasan untuk menyatakan putusan Pengadilan Tinggi
DKI Jakarta jo putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan a quo
“batal demi hukum”
Oleh karena
putusan ”batal demi hukum”, maka terhadap
terdakwa Ir. Ishak beralasan untuk membebaskan dari segala
dakwaan;
3. Tentang tidak diterapkannya Hukum Pembuktian Unsur Memperkaya diri
sendiri atau orang lain atau suatu Korporasi;
-
Bahwa mengenai unsur ini, yang sebenarnya merupakan unsur
yang terpisah dengan unsur melawan hukum dalam pertimbangan
hukum putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (hal.95 ) a quo,
yang diambil alih menjadi pertimbangan dalam putusan Pengadilan
Tinggi DKI Jakarta a quo;
-
Penggabungan unsur yang terpisah, yang demikian itu, jelas
merupakan kesalahan atau pelanggaran hukum pembuktian, yang
akan
berakibat
pertimbangan
hukum
menjadi
tidak
cukp
(onvoldoende gemotiveerd);
-
Berdasar putusan-putusan Mahkamah Agung R.I;
-
No.148 K/Kr/1969 tanggal 23 Desember 1970 (Y.J. th.1971,
halaman 12-16);
-
No.458 K/Pid/1985 tanggal 2 Agustus 1985 (varia peradilan
No.9 Juni 1986, halaman 56-62);
-
No.1545 K/Pid/1985 tanggal 26 Februari 1986 (varia peradialan
No.20 Mei 1987, halaman 88-97);
-
No.612 K/Pid/1985 tanggal 9 April 1987 (varia peradilan No.24
September 1987, halaman 72-83);
-
No.511 K/Pid/1988 tanggal 25 April 1988 (varia peradialan
No.37 Oktober 1988, halaman 56-69);
Putusan-putusan yang pertimbangan hukumnya kurang beralasan
atau kurang cukup (onvoldoende gemotiveerd) adalah batal demi
hukum;
Hal. 59 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
-
Bahwa dalam pertimbangan hukum dalam putusan a quo (halaman
95 s/d 98 ) pada pokoknya hanya menceritakan tentang:
-
Terdakwa Ishak pada bulan Oktober 2003 bertindak sebagai
Konsultan bisnis Andrian Herling Waworuntu meminta uang
Rp.5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) kepada Andrian Herling
Woworuntu, tetapi Andrian herling Waworuntu meminjam kepada
Jeffrey Baso dan ternyata Jeffrey Baso juga tidak punya uang;
-
Andrian
Herling
Wowaruntu
minta
tolong
kepada
Dicky
Iskandardinata;
-
Dicky Iskandardinata menyerahkan :
-
1 (satu ) lembar Cheque Bank BCA
atas nama Sadeni
H/Silistio senilai Rp.3.200.000.000,-;
-
2
(dua)
lembar
cheque
Bank
Permata
senilai
Rp.1.800.000.000,- dan Rp.2.000.000.000,- ;
-
Cheque Bank BCA atas nama Sadeni H/Sulistio senilai
Rp.3.200.000.000,- ditransfer ke rekening PT. Citra Muda Raksa
di Bank Artha Graha cabang Sudirman dalam rekening No.008 1
27225 8 dan cheque Bank Permata senilai Rp.1.800.000.000,juga ditranfer ke rekening yang sama tanggal 23 Desember
2003, sehingga seluruhnya berjumlah Rp.5.000.000.000,-
-
Dari uang pinjaman Rp.5.000.000.000,- tersebut oleh terdakwa
Ir. Ishak, sejumlah Rp.1.400.000.000,- telah dikembalikan
kepada Jeffrey Baso
-
Uang Rp.5.000.000.000,- merupakan bagian dari kerugian
negara sebesar Rp.162.338.729.89 dan Euro 54,078,192.50
atau Rp.1.923.877.511.544.37 sebagai hasil pendiskotoan L/C
fiktif di Bank BNI 46 cabang Kebayoran Baru Jakarta Selatan;
-
Dari pertimbangan hukum tersebut, yang perlu diteliti dan dicermati
adalah alat-alat bukti apa yang digunakan dan diterapkan bahwa
uang Rp.5.000.000.000,- tersebut merupakan bagian dari hasil
pendiskontoan fiktif di PT. Bank BNI 46 (Persero) Tbk Cabang
Kebayoran Baru Jakarta Selatan dan apakah benar L/C-L/C
kaitannya dengan PT. Bank BNI 46 (Persero) Tbk tersebut fiktif/
-
Dari penelitian dan pencermatan pemohon kasasi atas Putusan
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan aquo, yang sama sekali tidak
ada bukti, baik keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk
Hal. 60 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
dan atau terdakwa (pasal 184 s/d 189 UU No.8 th. 1981 (KUHAP)
yang menerangkan dan menjelaskan hal tersebut.
-
Masalah
L/C fiktif, uang Rp.5.000.000.000,- tersebut merupakan
bagian dari pendiskontoan L/C fiktif dan juga merupakan bagai dari
kerugian
negara
EURO.54.078.192.50
sebesar
atau
Rp.162.338.728.89
Rp.1.923.877.511.544.37,
dan
secara
hukum, bukan dan tidak merupakan notoir feiten atau hal yang
secara umum sudah diketahui (pasal 184 ayat (2) UU No. 8 th.1981
(KUHAP). Oleh karena itu harus dibuktikan dalam persidangan dan
pertimbangan dalam Putusan Pengadilan (pasal 197 ayat (1) huruf d
UU No.8 th 1981 (KUHAP) jo pasal 25 UU No.4 th. 2004).
-
Hal-hal tersebut diatas, ternyata tidak didukung dengan alat-alat
bukti atau dengan kata lain hukum pembuktian tidak diterapkan
sebagaimana mestinya atau salah menerapkan atau melanggar
hukum yang berlaku (pasal 25 ayat (1) huruf a UU No.8 th.1981 jo
pasal 30 ayat (1) huruf b UU No.5 th.2004 jo UU No.14 th.1985)
-
Dari uraian tersebut diatas, jelas putusan Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan aquo, yang diambil alih dalam putusan Pengadilan Tinggi
DKI Jakarta aquo, telah tidak menerapkan hukum pembuktian
sebagaimana mestinya dan dalam pertimbangan hukumnya sangat
tidak cukup (onvoldoende gemotiveerd).
-
Oleh karena itu, demi hukum putusan Pengadilan Tinggi DKI
Jakarta aquo jo putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan aquo
harus dinyatakan ”batal demi hukum” dan terdakwa Ir ISHAK harus
dibebaskan dari segala dakwaan.
-
Persoalan penerapan hukum pembuktian tersebut, kaitannya
dengan PT. Bank BNI 46 (Persero) Tbk, masih harus dibuktikan,
pula apakah uang yang dikelola oleh PT. Bank BNI 46 (Persero)
yang sudah merupakan badan hukum perseroan terbatas yang
terbuka, masih dapat disebut sebagai ”uang negara” mengingat
pengertian Perseroan Terbatas dalam UU No. 1 th. 1995.
-
UU No.19 th 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara, Bab-II,
Persero :
Pasal 11 menegaskan :
”Terhadap persero berlaku segala ketentuan dan prisip-prinsipyang
berlaku bagi perseroan sebagaimana diatur dalam UU No.1 th.1995
tentang Perseroan Terbatas;
Hal. 61 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Pasal 34 : Bagi perseroan terbuka berlaku ketentuan UndangUndang ini dan UU No.1 th.1995 sepanjang tidak diatur lain dalam
peraturan perundang-undangan dibidang pasar modal”.
-
Dari sekilas cuplikan UU No.19 th 2003 tersebut, harus dibuktikan
segala aset yang dimiliki, dikuasai dan dikelola oleh PT. Bank BNI
46 (Persero) Tbk, termasuk cabang-cabangnya adalah uang
negara.
-
Ternyata dalam pertimbangan hukum dalam putusan Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan jo putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta
aquo, tidak dipertimbangkan dan tidak dibuktikan.
-
Dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan aquo (halaman
104) hanya mengutip penjelasan UU No.31 th 1999 alinea 4 huruf a
dan sebagian huruf b.
-
Pertimbangan hukum yang demikian termasuk pertimbangan hukum
yang onvoldoende gemotiveerd, yang berdasarkan yurisprudensi
tetap Mahkamah Agung RI, harus dinyatakan batal demi hukum.
-
Dengan dasar peraturan Perundang-undangan dan putusanputusan Mahkamah Agung RI sebagaimana tersebut diatas, cukup
dasar dan alasan untuk menyatakan putusan Pengadilan Tinggi DKI
Jakarta aquo jo Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan aquo,
”batal demi hukum”, dan menyatakan membebaskan terdakwa Ir.
ISHAK bebas dari segala dakwaan”.
4. Tentang Tidak Diterapkannya Hukum Pembuktian Unsur Dapat
Merugikan Keuangan Negara atau Perekonomian Negara :
-
Salah satu asas yang terkandung dalam pasal 1 ayat (1) KUHP
adalah asas legalitas .
Ada tujuh aspek yang dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Tidak dapat dipiana kecuali berdasarkan ketentuan pidana
menurut Undang-Undang.
2. Tidak ada penerapan Undang-Undang pidana berdasarkan
analogi.
3. Tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan.
4. Tidak boleh ada perumusan delik yang kurang jelas (syarat lex
certa).
5. Tidak ada kekuatan surut dari ketentuan pidana.
6. tidak ada pidana lain kecuali yang ditentukan Undang-Undang.
Hal. 62 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
7. Penuntutan pidana hanya menurut cara yang ditentkan
Undang-Undang.
(Prof. Dr. Scaffmeister, Prof.Dr. N. Keijzer, Mr E.P.PH. Sutorius,
terjemahan Prof. Dr. JE. Sahetapy, SH, MA, Hukum Pidana,
penerbit LIBERTY, Yogyakarta, edisi pertama, cetakan ke 1, 1995,
halaman 6, 7).
-
Drs.Soejatna Soenoesoebrata, Ak, dalam keterangannya sebagai
ahli pada Putusan Mahkamah Konstitusi No.003/PU-IV/2006 tgl 25
Juli 2006, halaman 67 menegaskan :
”Kerugian Negara harus secara benar dan tepat, karana berbagai
jenis perusahaan mempunyai sistim akutansi yang berbeda-beda
didalam perhitungan kerugian”.
-
Berpedoman pada pasal 1 ayat (1) KUHP dan pendapat ahli
tersebut, dalam Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan aquo
jo putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta aquo, harus secara
jelas, tegas dan pasti, dipertimbangkan dan diterapkan berapa
kerugian Negara sebagai akibat dari perbuatan Terdakwa Ir
ISHAK.
-
Dalam Pertimbangan hukum Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
aquo (halaman 101 s/d 105), yang pertimbangan hukumnya
diambil oleh dlam putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta,
kaitannya dengan unsur ini, dinyatakan pada halaman 103 s/d
105, yang pada pokoknya :
•
Dana sebesar Rp.5.000.000.000,- yang diterima terdakwa Ir
ISHAK dari Andrian Herling Woworuntu, merupakan kerugian
bagian dari kerugian Negara sebesar Rp. Rp.162.338.728.89
dan
EURO.54.078.192.50
Rp.1.923.877.511.544.37
atau
sebagaimana
setara
dengan
laporan
hasil
perhitungan Kerugian Keuangan Negara pada Pt. BNI 46
(Persero) Tbk Cabang Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
-
Mencermati putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan aquo
yang diambil alih dalam putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta
aquo, hal yang perlu dipertimbangkan adalah alat bukti keterangan
ahli (pasal 184 ayat (1) huruf b jo pasal 186 UU No.8 th 1981
(KUHAP).
-
Pada pemeriksaan dipersidangan Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan, dihadirkan 2 (dua) orang ahli ialah :
Hal. 63 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
•
Sudiro. Ak dan
•
Prof. DR. H. Tan Kamelo, SH. MS. :
a. Keterangan Sudiro, Ak, sebagai ahli pada pokoknya
menerangkan sebagai berikut :
•
Ahli dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
•
Ahli dimintai pendapat adanya kerugian Negara yang telah
dibuat
oleh
Tim
dari
BPKP,
berupa
laporan
hasil
Perhitungan Kerugian Negara pada BNI 46 Cabang
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan atas kasus penyimpangan
dalam pembelian ekspor, yang antara lain menyatakan :
•
** Kerugian maksimal
Rp.1,9 trilyun
** sudah dikembalikan
Rp.700 juta
** sisa tertinggal
Rp.1,2 trilyun
Bahwa cheque senilai Rp.1,8 milyar dan Rp.3,2 milyar tidak
ada dalam laporan Hasil Perhitungan Kerugian Keuangan
Negara yang dibuat Tim BPKP.
•
Uang senilai Rp.5 milyar yang diterima terdakwa Ir ISHAK
adalah diluar diskontoan L/C : jadi uang Rp.5 milyar
tersebut diluar dari uang Rp.1,2 sebagai kerugian Bank BNI
46 Cabang Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
b. Keterangan Prof. DR. H.Tan Kamelo, SH, MS, sebagai ahli
pada pokoknya sebagai berikut :
•
L/C adalah tidak termasuk dalam surat berharga dan bukan
alat pembayaran, sehingga tidak dikenal dengan istilah
”didiskonto”.
•
Terdakwa Ir ISHAK menerima dana dari Jeffrey Baso, dan
selang beberapa waktu diaktualisasikan dalam bentuk
perjanjian.
•
Berdasarkan
pasal
1313-1320
dan
pasal
1338
KUHPerdata, perjanjian tersebut sah karena kedua belah
pihak percaya dengan itikad baik bersepakat.
•
Dalam KUHPerdata tidak ada dijelaskan, bahwa dalam
membuat perjanjian itu baik berada dalam status tersangka
atau tidak, yang penting adalah kesepakatan kedua belah
pihak.
Hal. 64 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
•
Pengertian dalam hal pasal 1320 KUHPerdata tidak terkait
dengan status seseorang baru dilakukan penyidikan atau
sebagai tersangka atau halal dan todak berkaitan dengan
sudah ditahan sebagai tersangka atau belum.
•
Pasal 1338 jo pasal 1320 KUHPerdata merupakan asas
kebebasan dalam berkontrak, sepanjang tidak menyalahi
Undang-Undang.
•
Itikad baik dan kejujuran merupakan landasan penting dari
perjanjian.
•
Perjanjian yang dibuat antara terdakwa Ir ISHAK dengan
Jeffrey Baso tidak dapat dibenarkan oleh pihak lain tanpa
persetujuan dan sepengetahuan kedua belah pihak.
•
Ahli berpendapat, perjanjian antara terdakwa Ir ISHAK
dengan Jeffrer Baso adalah sah dan tidak melanggar
hukum serta bukan perbuatan melawan hukum.
-
Berdasarkan pasal 184 ayat (1) huruf b jo pasal 186 UU No.8
th.1981 (KUHAP), alat bukti keterangan ahli sebagai alat bukti
yang sah, harus menjadi bagian yang tidak boleh dibuang dalam
proses pemeriksaan perkara ini dan hal tersebut merupakan
bagian daru pasal 197 ayat (1) huruf d UU No.8 th. 1981 (KUHAP)
jo pasal 25 UU No.4 th 2004.
-
Pemohon kasasi mengemukakan hal tersebut bukan dalam arti
pemberi penilaian atau penghargaan terhadap pembuktian, tetapi
ingin mengutarakan bahwa dalam proses peradilan yang dilakukan
oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Jo Pengadilan Tinggi DKI
Jakarta,
terbukti
dengan
jelas
dan
nyata
bahwa
hukum
pembuktian tidak diterapkan sebagaimana mestinya yaitu tidak
dipertimbangkannya alat bukti keterangan ahli antara lain :
1) Kerugian nPT. Bank BNI 46 (Persero) Tbk Cabang Jakarta
Selatan,
bukan
dan
EURO.54.078.192.50
tidak
atau
Rp.162.338.728.89
setara
dan
dengan
Rp.1.923.877.511.544.37, tetapi Rp.1.200.000.000,2) Dana yang diterima Ir ISHAK sebesar Rp.5.000.000.000,adalah diluar kerugian PT. Bank BNI 46 (Persero) Tbk Cabang
Kebayoran Baru Jakarta Selatan;
Istilah ”diskonto” tidak dikenal dalam lalu lintas L/C karena L/C
bukan surat berharga dan bukan alat pembayaran.
Hal. 65 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
-
Akan tetapi dalam pertimbangan hukum pada putusan Pengadilan
Negeri Jakarta Selata jo putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta
aquo alat bukti keterangan ahli sebagai alat bukti yan g sah
menurut peraturan hukum yang berlaku tersebut, disampingi, tidak
diterapkan atau dilanggar.
-
Hal tersebut terbukti dari pertimbangan hukum dalam putusan
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan jo putusan Pengadilan Tinggi
DKI Jakarta aquo masih dinyatakan dan dipertimbangkan antara
lain :
1) Halaman 98 menyatakan :
” Bahwa lebih lanjut dipersidangan telah terungkap fakta
bahwasannya dana sebesar Rp.5.000.000.000,- yang telah
diterima terdakwa Ir ISHAK tersebut berasal dari Adrian
Herling woworuntu yang merupakan bagian dari hasil
pendiskontoan L/C fiktif di BNI 46 Cabang Kebayoran Baru
Jakarta Selatan, yang dicairkan oleh PT. Baso Masindo dan
PT.Bhineka Pasific, termasuk dana Rp.25.000.000.000,-(dua
puluh lima milyar rupiah) yang batal untuk membeli pelelangan
yang diadakan BPPN, dana uang sebesar Rp.5.000.000.000,tersebut merupakan bagian dari kerugian keuangan negara
sebesar Rp.162.338.728.89 dan EURO.54.078.192.50 atau
Rp.1.923.877.511.544.37
sebagaimana
laporan
hasil
perhitungan kerugian keuangan negara pada PT. BNI Tbk.
Cabang
Kebayoran
Baru,
Jakarta
Selatan
atas
kasus
penyimpangan dalam pembelian wesel eksport tanggal 1 Maret
2004. (garis bawah Pemohon Kasasi)
2) Halaman 104 menyatakan :
Menimbang, bahwa sebagaimana fakta yang telah terungkap
dipersidangan, yang antara lain diuraikan diatas, menurut
hemet Majelis telah ternyata bahwa aliran dana dari Adrian
Herling
Woworuntu
hingga
sampai
pada
terdakwa
merupakan serangkaian mengalirnya dana yang berasal
dari pendiskontoan L/C Fiktif di BNI 46 Cabang Kebayoran
Baru Jakarta Selatan, dan merupakan bagian dari Kerugian
Negara
sebesar
EURO.54.078.192.50
Rp.162.338.728.89
atau
setara
dan
dengan
Rp.1.923.877.511.544.37 sebagaimana laporan perhitungan
Hal. 66 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
kerugian Keuangan Negara pada Pt BNI Tbk Cabang
Kebayoran Baru Jakarta Selatan atas kasus penyimpangan
dalam pembelian wesel eksport tanggal 1 Maret 2004,
terhadap hal tersebut Adrian Herling Woworuntu telah dijatuhi
pidana dan dinyatakan bersalah nelakukan Tindak Pidana
Korupsi, karena telah merugikan Negara atau Perekonomian
Negara. (garis bawah, Pemohon Kasasi).
-
Dari uraian tersebut diatas dan nyata, putusan Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan jo putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta aquo,
tidak menerapkan hukum pembuktian atau dengan kata lain salah
menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku (pasal 253 ayat
(1) huruf a UU No.8 1981 (KUHAP) jo pasal 30 ayat (1) huruf b UU
NO.5 th 2004.
-
Oleh karena itu cukup dasar dan alasan untuk menyatakan
putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta jo putusan Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan aquo ”batal demi hukum” dan menyatakan
terdakwa Ir ISHAK dibebaskan dari segala dakwaan.
5. Tentang Tidak Diterapkannya Hukum Pembuktian Perbuatan Berlanjut
(Voortgezette Handeling (Pasal 64 ayat (1) KUHP) :
-
Orang hanya dapat mengatakan bahwa beberapa perilaku itu
secara bersama-sama merupakan suatu voorgezette handeling
atau suatu tindakan yang berlanjut yaitu :
a. Apabila perilaku-perilaku seorang tertuduh itu merupakan
pelaksanaan satu keputusan yang terlarang.
b. Apabila
perilaku-perilaku
seorang
tertuduh
itu
telah
menyebabkan terjadinya beberapa tindak pidana yang sejenis
dan
c. Apabila pelaksanaan tindak pidana yang satu dengan tindak
pidana yang lain itu tidak dipisahkan oleh satu jangka waktu
yang relatif cukup lama.
-
Prof DR. D. Schaffmeisfer dkk (opcit, halaman 194) menyatakan :
Perbuatan berlanjut
Voortgezette Handeling
KRITERIA : 1. PERSAMAAN SIFAT
2. SATU PUTUSAN KEHENDAK
3. JANGKA WAKTU RELATIF SINGKAT
Hal. 67 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
-
Arrest Hoge Raad tgl.11 Juni 1894 W.6515 tgl.19 Oktober 1931
No. : N.J.1932-1319.W.1290 abstrak hukumnya menyatakan :
” Untuk suatu tindakan yang dilanjutkan atau voortgezette
handeling itu tidaklah cukup jika beberapa perbuatan itu
merupakan
haruslah
perbuatan-perbuatan
yang
perbuatan-perbuatan
sejenis,
tersebut
juga
akan
tetapi
merupakan
pelaksanaan dari satu maksud yang sama yang dilarang oleh
Undang-Undang”.
-
Berpedoman
pada
sumber-sumber
hukum
diatas,
dalam
penerapan hukum pembuktian pada putusan, Pengadilan harus
dibuktikan dengan alat-alat bukti yang sah menurut pasal 183 s/d
189 UU No.8 th.1981 (KUHP), kaitannya dengan kriteria perbuatan
berlanjut (voortgezette handeling) sebagaimana tersebut diatas.
-
Setelah pemohon kasasi baca dan cermati pertimbangan hukum
putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (halaman 105 s/d 108)
jo putusan Pengadilan Tunggi DKI Jakarta aquo, pada pokoknya
sama, bahkan kalimatnya sama dengan :
-
•
halaman 95 s/d 98;
•
halaman 102 s/d 105.
Dari pertimbangan hukum tersebut, sama sekali tidak terlihat dan
tidak ada alat-alat bukti apa, yang mana, kapan dan bagaimana :
a. perilaku-perilaku
terdakwa
Ir
ISHAK
merupakan
satu
keputusan kehendak yang terlarang.
b. Apakah tindakan-tindakan terdakwa Ir ISHAK tersebut dapat
diklarifikasikan sebaga beberapa tindak pidana yang sejenis.
c. Tidak jelas, apakah pelaksanaan tindakan dari terdakwa Ir
ISHAK dapat disebut sebagai suatu tindak pidana dan tindank
pidana yang satu dengan yang lain dipisahkan oleh suatu
jangka waktu yang cukup lama atau relatif singkat.
-
Hal-hal tersebut sama sekali tidak terlihat dan tidak dinyatakan
dalam pertimbangn hukum putusan-putusan aquo yang berarti
hukum pembuktian tidak ditera[kan sebagaimana mestinya atau
salah menerapkan atau
melanggar hukum pembuktian yang
berlaku.
-
Dengan demikian cukup dasar dan beralasan Yth, Majelis Haki
Agung Yang Mulia, yang memeriksa pada tingkat kasasi perkara
Hal. 68 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
ini untuk menyatakan ”batal demi hukum” Putusan Pengadilan
Tinggi DKI Jakarta N0.254/PID/2006/PT.DKI tgl 12 Desember
2006
jo
putusan
Pengadilan
Negeri
Jakarta
Selatan
No.884/Pid.B/2006/PN.Jak.Sel tgl 21 September 2006.
-
Oleh karena itu
cukup dasar dan alasan untuk menyatakan
terdakwa Ir ISHAK dibebaskan dari segala dakwaan.
-
Dengan dasar perauran Perundang-undangan arrest-arrest Hoge
Raad, putusan-putusan Mahkamah Agung RI dan pendapat para
ahli, dalam putusan-putusan aquo (Putusan Pengadilan Tinggi DKI
Jakarta No.254/PID/2006/PT.DKI. tgl 12 Desember 2006 jo
putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No.884?pid,B/2006/
PN.Jak.Sel tgl 21 September 2006), ternyata tidak menerapkan
atau
menerapkan
tidak
sebagaimana
mesti
atau
salah
menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku (pasal 253 ayat
(1) huruf a UU No.8 th 1981 (KUHAP) jo pasal 30 ayat (1) huruf b
UU No.5 th 2004 Jo UU No.14 th 1985) tentang hukum
pembuktian.
Menimbang, bahwa terhadap keberatan-keberatan yang diajukan oleh
Pemohon Kasasi / kuasa hukum terdakwa tersebut, Mahkamah Agung pada
pokoknya adalah berpendapat sebagai berikut :
mengenai keberatan ad. I
bahwa keberatan ini tidak dapat dibenarkan, karena judex facti tidak salah
menerapkan hukum, berdasarkan alasan-alasan yang pokoknya sebagai
berikut:
1. bahwa penyebutan Jaksa Penuntut Umum berdasarkan praktek peradilan
selama ini dapat dibenarkan, selain itu penyebutan a quo adalah untuk lebih
memberikan penegasan bahwa ”Penuntut Umum” yang diberi wewenang
oleh Undang-Undang ini untuk melakukan penunututan dan melaksanakan
penetapan hakim (Pasal 6 huruf b KUHAP);
2. bahwa surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum, menurut pendapat Mahkamah
Agung telah memenuhi syarat surat dakwaan harus cermat, jelas dan
lengkap menguraikan mengenai tindak pidana yang didakwakan, karena
dalam surat telah diuraikan secara lengkap dan jelas hal-hal sebagai berikut:
a. semua unsur tindak pidana yang dirumuskan dalam pasal pidana yang
didakwakan dengan disebutkan satu persatu;
Hal. 69 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
b. menyebutkan dengan cermat, lengkap dan jelas ”cara” tindak pidana
dilakukan;
c. menyebut keadaan-keadaan yang melekat pada tindak pidana yang
didakwakan;
3. bahwa bentuk dakwaan alternatif dari Jaksa Penuntut Umum sudah benar
dimana dakwaan tersebut dari beberapa tindak pidana yang didakwakan
yang antara tindak pidana pidana yang satu dengan yang lain bersifat saling
mengucapkan. Mahkamah Agung berpendapat yang menjadi alasan
dipilihkannya bentuk dakwaan alternatif, karena Jaksa Penuntut Umum
belum yakin benar tentang kualifikasi atau pasal yang tepat untuk diterapkan
pada tindak pidana tersebut, maka untuk memperkecil peluang lolosnya
terdakwa dari dakwaan harus digunakan bentuk dakwaan tersebut, selain itu
karena
bentuk
dakwaan
tersebut
mengandung
segi
positif,
yaitu
pembuktiannya sederhana, karena dakwaan tidak perlu dibuktikan secara
berurut tetapi dilakukan langsung kepada dakwaan yang dipandang terbukti,
sehingga dengan demikian, akan memberikan kelonggaran kepada hakim
untuk memilih dakwaan mana yang menurut pendapat dan keyakinannya
yang dipandang telah terbukti;
mengenai keberatan ad. II
bahwa keberatan
ini tidak dapat dibenarkan, karena judex facti tidak
salah menerapkan hukum dan keberatan tersebut tidak dapat pula dibenarkan,
karena mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang
suatu kenyataan, keberatan semacam itu tidak dapat dipertimbangkan dalam
pemeriksaan dalam tingkat kasasi, karena pemeriksaan dalam tingkat kasasi
hanya berkenan dengan tidak diterapkannya suatu perbuatan hukum atau
peraturan hukum tidak diterapkan sebagaimana mestinya atau apakah cara
mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan Undang-Undang, dan apakah
Pengadilan telah melampaui batas wewenangnya, sebagaimana yang dimaksud
dalam Pasal 253 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Undang-Undang
No.8 Tahun1981);
bahwa sehubungan dengan hal tersebut diatas, Mahkamah Agung perlu
mengemukakan pendiriannya tentang makna ”perbuatan melawan hukum” yang
dimaksud dalam Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang N0.31 tahun 1999, setelah
terbitnya putusan Mahkamah Konstitusi tanggal 25 Juli 2006, No.003/PUUIV/2006 yang menyatakan penjelasan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang No.20
tahun 2001 jo Undang-Undang No.31 tahun 1999 ”akan bertentangan dengan
Hal. 70 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dan telah pula
dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat”. Bahwa in casu
Mahkamah Agung tetap memberi makna ”perbuatan melawan hukum” yang
dimaksud dalam Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang N0.31 tahun 1999, baik dalam
arti formil maupun dalam arti materil, mengingat alasan-alasan sebagai berikut :
1. bahwa dengan dinyatakannya penjelasan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang
No.20 tahun 2001 jo Undang-Undang No.31 tahun 1999 sebagai
bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun
1945 dan telah dinyatakan pula tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat,
maka yang dimaksud dengan unsur ”melawan hukum” dalam Pasal 2 ayat 1
Undang-Undang tersebut menjadi tidak jelas rumusannya, oleh karena itu
berdasarkan doctrine ”Sens-Clair (la doctrine du senclair) hakim harus
melakukan penemuan hukum dengan memperhatikan :
a.
bahwa Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang No.4 Tahun 2004 yang
menentukan ”Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilainilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”, karena
menurut pasal 16 ayat 1 Undang-Undang No.4 tahun 2004,
”Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan
memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak
ada atau kurang jelas, melainkan wajib memeriksa dan mengadilinya”;
b.
bahwa Hakim dalam mencari makna ”melawan hukum” seharusnya
mencari dan menemukan kehendak public yang bersifat unsur pada
saat ketentuan tersebut diberlakukan pada kasus konkrit (bandingkan
M. Yahya Harahap, SH., Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan
KUHAP, Edisi Kedua, halaman 120);
c.
bahwa Hamaker dalam keterangannya Het recht en de maatschappij
dan juga Recht, Wet en Rechter antara lain berpendapat bahwa hakim
seyogianya mendasarkan putusannya sesuai dengan kesadaran hukum
dan penerapan hukum yang sedang hidup didalam masyarakat ketika
putusan itu dijatuhkan. Dan bagi I.H. Hymans (dalam keterangannya :
Het recht der werkelijkheid), hanya putusan hukum yang sesuai dengan
kesadaran hukum dan kebutuhan hukum warga masyarakatnya yang
merupakan
”hukum
dan
makna
sebenarnya”
(Het
recht
der
werkelijkheid) (lihat Prof. Dr. Achmad Ali. SH. MH. Menguak tabir
Hal. 71 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
hukum (suatu kajian Filosofis dan Sosiologis). Cetakan ke.II (kedua),
2002, hal.140);
d.
bahwa ”apabila kita memperhatikan Undang-Undang,
kita,
bahwa
Undang-Undang
tidak
saja
ternyata bagi
menunjukan
banyak
kekurangan-kakurangan, tapi seringkali juga tidak jelas. Walaupun
demikian hakim harus melakukan peradilan. Teranglah, bahwa dalam
hal sedemikian Undang-Undang memberi kuasa kapada hakim untuk
menetapkan sendiri maknanya ketentuan Undang-Undang itu atau
artinya suatu kata yang tidak jelas dalam suatu ketentuan UndangUndang. Dan hakim boleh menafsir suatu ketentuan Undang-Undang
secara gramatikal atau histories baik ”recht maupun wetshistoris” (Lie
Oen Hok, Jusprudensi sebagai Sumber Hukum, Pidato diucapkan pada
waktu peresmian Pemangkuan Jabatan Guru Basar Luar Biasa dalam
Ilmu Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia pada Fakultas
Hukum dan Pengetahuan Masyarakat di Universitas Indonesia di
Jakarta, pada tanggal 19 September 1959, hlm.11.)
e.
bahwa Mahkamah Agung dalam hubungan dengan perkara ini adalah
akan mengadopsi ajaran prioritas baku dari Gustav Radbruch yang
berpendapat tujuan hukum berdasarkan prioritas adalah keadilan,
manfaat baru kepastian hukum;
2. bahwa memperhatikan butir 1 tersebut, maka Mahkamah Agung dalam
memberi makna unsur ”secara melawan hukum” dalam Pasal 2 ayat 1
Undang-Undang No.31 Tahun 1999 jo Undang-Undang No.20 Tahun 2001
akan memperhatikan doktrin dan Yurisprudensi Mahkamh Agung yang
berpendapat bahwa unsur ”secara melawan hukum” dengan tindak pidana
korupsi adalah mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil
maupun materil dan mengenai perbuatan melawan hukum dalam arti materil
yang meliputi fungsi positif dan negatifnya, yang pengertiannya Mahkamah
Agung berpedoman pada :
a.
bahwa ”Tujuan diperluasnya unsur ”perbuatan melawan hukum”, yang
tidak lagi dalam pengertian formil, namun meliputi perbuatan melawan
hukum secara materil, adalah untuk mempermudah pembuktiannya
dipersidangan,
sehingga
suatu
perbuatan
yang
pandang
oleh
masyarakat sebagai melawan hukum seara materil atau tercela
perbuatan nya, dapatlah pelaku dihukum melakukan tindak pidana
Hal. 72 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
korupsi, meskipun perbuatannya itu tidak melawan hukum secara formil
(Dr.Indriyanto Seno Adji. SH. MH., Korupsi dan Hukum Pidana, Edisi
Pertama, hlm.14);
b.
bahwa pengertian melawan hukum menurut Pasal 1 ayat (1) sub a
Undang-Undang No.3 Tahun 1971, tidak hanya melanggar peraturan
yang ada sanksinyamelainkan mencakup pula perbuatan yang
bertentangan dengan keharusan atau kepatutan dalam pergaulan
mesyarakatatau dipandang tercela oleh masyarakat;
c.
bahwa dari butir 2 Surat Menteri Kehakiman RI. Tanggal 11 Juli 1970
sebagai pengantar diajukannya RUU No. 3 Tahun 1971 dapat
disimpulkan pengertian perbuatan melawan hukum secara materil
adalah dititik beratkan pada pengertian yang diperoleh dari hukum tidak
tertulis, hal ini disirat dari surat tersebut yang pada pokoknya berbunyi
”maka untuk mencakup perbuatan-perbuatan yang sesungguhnya
bersifat koruptif akan tetapi sukar dipidana, karena tidak didahului suatu
kejahatan atau pelanggaran-pelanggaran dalam RUU ini dikemukakan
sarana ”melawan hukum dalam rumusan tindak pidana korupsi, yang
pengertiannya juga meliputi perbuatan-perbuatan yang bertentangan
dengan norma-norma yang lazim atau bertentngan dengan keharusan
dalam pergaulan hidup untuk bertindak cermat terhadap orang lain,
barang maupun haknya;
d.
bahwa sejalan dengan politik hukum untuk memberantas korupsi dalam
Putusan Mahkamah Agung RI tanggal 28 Desember 1983 No.275
K/Pid/1983, untuk pertama kalinya dinyatakan secara tegas bahwa
korupsi secara materil melawan hukum, karena perbuatan tersebut
adalah perbuatan yang tidak patut, tercela dan menusuk perasaan hati
masyarakat banyak, dengan memakai tolak ukur asas-asas hukum
yang bersifat umum menurut kepatutan dalam masyarakat;
3. bahwa Yurisprudensi dan doktrin merupakan sumber hukum formil selain
Undang-Undang dan kebiasaan serta trakat yang tepat digunakan oleh
Mahkamah Agung dalam kasus konkrit yang dihadapinya, Yurisprudensi
tentang makna perbuatan melawan hukum dalam arti formil dan dalam arti
materil harus tetap dijadikan pedoman untuk terbinanya konsisten
penerapannya dalam perkara-perkara tindak pidan korupsi, karena sudah
sesuai dengan kesadaran hukum dan perasaan hukum yang sedang hidup
Hal. 73 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
dalam masyarakat, kebutuhan hukum warga masyarakat, nilai-nilai hukum
dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat;
Menimbang,
bahwa
terlepas
dari
keberatan-keberatan
tersebut,
Mahkamah Agung berpendapat judex facti telah salah menerapkan hukum,
karena tidak menetapkan pidana penjara pengganti untuk pidana tambahan
untuk membayar uang pengganti, padahal Pasal 18 ayat 3 Undang-Undang
No.31 Tahun 1999 jo Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 menentukan ”Dalam
hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar
uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, maka dipidana
dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari
pidana pokoknya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang dan lamanya
pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan”. Dalam hubungan
ini perlu dikemukakan bahwa pidana penjara sebagai pengganti pidana
tambahan tersebut adalah sangat urgent dan baru effektif setelah Jaksa sebagai
eksekutor walaupun telah mengusahakan semaksimal mungkin tetapi tetap
tidak menemukan lagi harta benda milik terpidana untuk membayar uang
pengganti tersebut atau karena memang terpidana tidak mempunyai lagi harta
benda. Karena itu in casu Mahkamah Agung berpendapat tidak seperti halnya
dalam ketentuan mengenai pidana kurungan pengganti pidana denda yang
secara langsung dapat dipilih oleh terpidana apabila tidak menghendaki untuk
membayar denda, mengenai pidana penjara sebagai pidana pengganti dalam
hal apabila terpidana tidak mau membayar uang pengganti, terpidana tidak
dapat secara langsung memilih untuk melaksanakan pidana penjara sebagai
pengganti pembayaran kerugian keuangan negara tersebut, karena pidana
penjara pengganti tersebut hanya dapat dilakukan dalam hal Jaksa selaku
eksekutor setelah berusaha secara maksimal tetap tidak dapat menemukan
harta benda terpidana untuk dilelang agar dapat membayar uang pengganti
tersebut, karena memang terpidana sudah tidak memiliki harta benda lagi.
Tetapi in casu adalah merupakan syarat mutlak harus dijatuhkan pidana penjara
pengganti yang setimpal dan berat, asal lamanya tidak melebihi ancaman
maksimum dari pidana pokoknya, sehingga dapat dicegah adanya usaha dari
terpidana untuk memilih melaksanakan pidana penjara pengganti dengan cara
menyembunyikan harta bendanya. Tidak berkelebihan untuk dikemukakan
bahwa ketentuan pasal 18 ayat 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 yang menentukan adanya pidana
penjara pengganti dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang
Hal. 74 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
cukup untuk membayar uang pengganti, menurut pendapat Mahkamah Agung
adalah merupakan revisi/penyempurnaan atas ketentuan dalam pasal 34 huruf c
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971, yang bersifat imperatif dan harus
difungsikan
dalam
rangka
mencegah
adanya
usaha
terpidana
untuk
menyembunyikan hartanya agar terhindar dari eksekusi dan secara umum
dapat menjadi suatu sarana hukum untuk menimbulkan effect jera;
Menimbang, bahwa selain hal tersebut, Mahkamah Agung berpendapat
amar tentang kwalifikasi masih kurang tepat, karena seharusnya tidak
mencantumkan lagi dakwaan;
Menimbang, bahwa berdasarkan alasan-alasan yang diuraikan diatas lagi
pula tidak ternyata bahwa putusan judex facti dalam perkara ini bertentangan
dengan hukum dan / atau Undang-Undang, maka permohonan kasasi tersebut
harus ditolak dengan memperbaiki amar putusan Pengadilan Tinggi Jakarta
tanggal 12 Desember 2006 No.254/PID/2006.PT,DKI yang telah menguatkan
putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tanggal 21 September 2006
No.884/Pid.B/2006/PN.JAKSEL;
Menimbang, bahwa karena permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi /
Jaksa ditolak dan terdakwa tetap dinyatakan bersalah serta dijatuhkan
hukuman, maka biaya perkara dalam semua tingkat peradilan dibebankan
kepada terdakwa
Memperhatikan Undang-Undang Nomor : 31 Tahun 1999 sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor : 20 tahun 2001, Undang-Undang
No.4 tahun 2004, Undang-Undang No.8 tahun 1981 dan Undang-Undang No.14
tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5
tahun 2004 dan peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan :
MENGADILI
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi/Terdakwa: Ir. ISHAK
tersebut ;
Memperbaiki Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta tanggal 12 Desember
20006 No. 254/PID/2006/PT.DKI yang telah menguatkan putusan Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan tanggal 21 September 2006 No. 884 / Pid.B
Hal. 75 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
/2006/PN.JKT.SEL, sehingga amar selengkapnya menjadi berbunyi sebagai
berikut :
"
Menyatakan terdakwa : Ir ISHAK tersebut terbukti secara sah dan
meyakinkan telah bersalah melakukan tindak pidana ---”KORUPSI YANG
DILAKUKAN DALAM BENTUK PERBUATAN BERLANJUT”;
"
”Menghukum oleh karena itu terdakwa dengan pidana penjara selama 4
(empat) tahun dan pidana denda sebesar Rp.200.000.000,-(dua ratus juta
rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar akan diganti
dengan pidana hukuman selama 3 (tiga) bulan;
"
Menghukum pula terdakwa tersebut untuk membayar uang pengganti
sebesar Rp.3.600.000.000,- (tiga milyar enam ratus juta rupiah) paling
lambat 1 (satu) bulan setelah putusan ini berkekuatan hukum tetap, apabila
setelah lewat 1 (satu) bulan Terdakwa tidak membayar uang pengganti
maka harta kekayaan Terdakwa dapat disita oleh Jaksa dan dilelang untuk
membayar uang pengganti dan dengan ketentuan dalam hal terpidana tidak
mempunyai harta mencukupi akan diganti dengan pidana penjara selama 3
(tiga) tahun;
"
Menetapkan
masa
penahanan
yang
telah
dijalani
Terdakwa
akan
dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan kepada terdakwa;
"
Memerintahkan supaya Terdakwa tetap ditahan;
"
Menetapkan barang-barang bukti berupa :
-
2 (dua) lembar Aplication For Funds transfer City Bank ;
-
1 (satu) lembar City Bank Customer Transaction Details ;
-
4
(empat)
lembar
Rekening
Koran
KCP
Bursa
Efek
Jakarta
No.Rek.4583006021 a.n ISHAK ;
-
1 (satu) lembar Current/Saving Account Transaction Actifity tanggal 24Juni-200 a.n ISHAK No.Account 8005752262 ;
-
1 (satu) lembar Purchase Order No.003724 a.n Ibu ISHAK ;
-
4
(empat)
Rekening
Giro
Perusahaan
PT.
Citra
Muda
Raksa
No.Rek.0081272158 ;
-
1 (satu) lembar Rekening Kartu Kredit Ir. ISHAK No.Customer 5932351
tanggal jatuh tempo 17-Pebruari-2004 ;
-
1 (satu) lembar transaksi rekening a.n PT. Citra Muda Raksa
No.Rek.081272158 periode 1-Nopember-2003 s/d 31-Desember-2003 ;
-
1 (satu) lembar Aplikasi Transfer dalam Negeri No.935330 a.n Ir. ISHAK;
-
1 (satu) lembar Aplikasi Deposito Berjangka No.256675 a.n Ir. ISHAK;
Hal. 76 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
-
1 (satu) lembar Aplikasi Transfer Bank Permata No.0028767 ke PT. Citra
Muda Raksa ;
-
1 (satu) lembar formulir setoran dan pembayaran City Bank tanggal 10Juni-2004 No.CC 787919 ;
-
1 (satu) lembar permohonan pengiriman uang ke PT. Citra Muda Raksa
tanggal 23-Desember-2003 ;
-
1 (satu) bundel rekening koran a.n PT. Citra Muda Raksa, dan a.n Ir.
ISHAK dan PT. Citra Muda Bersama ;
-
11 (sebelas) lembar bukti setoran Bank Artha Graha Nomor : 552080,
552093, 552141, 552102,
552130,
566178,
551574,
658430,
566198, 552115, 553858 ;
-
2 (dua) lembar untuk formulir setoran dan pembayaran City Bank tanggal
28-Mei-2004 dan tanggal 6-Juni-2004 a.n Ir. ISHAK ;
-
8 (delapan)
lembar
slip transfer Bank City Bank Nomor rekening
8005752262 (Land Mark) 0.4180.10002 (City Bank IPB Singapur),
3000402675 (City Bank), 0.418010-002 (City Bank IPB Singapur),
8005752279 (City Bank Land Mark), 291-3019008 (BCA Cabang Arteri),
3000402678 (City Bank Land Mark), 3000402678 (City Bank Land Mark),
3000402678 (City Bank Land Mark) ;
-
2 (dua) lembar perintah penerusan Bank Mandiri a.n Ir. ISHAK ;
-
2 (dua) lembar Aplikasi transfer Bank Mandiri a/n Ir. ISHAK tanggal 15September-2004 ;
-
4 (empat) lembar bukti setoran Bank BCA a.n Ir. ISHAK tanggal 22-Juni2004, 2 (dua) lembar tanggal 20-Juli-2004 serta tanggal 24-September2004 ;
-
14 (empat belas) lembar slip penarikan tunai City Bank Land Mark a.n Ir.
ISHAK ;
-
4 (empat) lembar rekening Koran a.n Ir. ISHAK No.4583006021, periode
April s/d Juni-2004 ;
-
1 (satu) lembar rekening kartu kredit Bank BCA a.n Ir. ISHAK No.
Customer 5932351 tanggal jatuh tempo 18-September-2005 ;
-
5 (lima) lembar slip penarikan Bank Mandiri a.n Ir. ISHAK tanggal 10September-2004, 24-September-2004, 7-September-2004, 9-September2004, dan 13-September-2004 ;
-
1 (satu)
lembar
formulir pemindah bukuan Bank Mandiri tanggal 3-
September-2004 an. Ir. ISHAK ;
Hal. 77 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
-
4 (empat) lembar Aplikasi transfer Bank Artha Graha a.n Ir. ISHAK
tanggal 6-Januari-2004, tanggal 6-April-2004, tanggal 27-April-2004 dan
tanggal 31-Maret-2004 ;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1-Oktober2003 s/d 31-Desember-2003 ;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1-Januari2004 s/d 30-Nopember-2004 ;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1Nopember-2004 s/d 31-Maret-2005 ;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran Bank Artha Graha a.n Ir. ISHAK PT.
Citra Muda Bersama periode 1-September-2005 s/d 31-Desember-2005;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran Bankrtha Graha a.n PT. Citra Muda
Raksa periode 1-September-2005 s/d 31-Desember-2005 ;
-
1 (satu) lembar aplikasi transfer Bank Artha Graha ;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1-Oktober2003 s/d 31-Desember-2003 ;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank a.n ISHAK periode 1-Januari2004 s/d 30-Nopember-2004 ;
-
1 (satu) bundel Rekening Koran City Bank A.n ISHAK periode 1Nopember-2004 s/d 31-Maret-2005 ;
Tetap terlampir dalam berkas perkara ;
Membebankan kepada terdakwa biaya perkara ini dalam semua
tingkatan peradilan, yang dalam tingkat kasasi sebesar Rp.2.500,- (dua ribu lima
ratus rupiah) ;
Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah
Agung pada hari RABU tanggal 28 Pebruari 2007 oleh Dr. H. PARMAN
SOEPARMAN, SH.MH. Ketua Muda yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah
Agung sebagai Ketua Majelis, ARTIDJO ALKOSTAR, SH.LLM dan H.R. IMAM
HARYADI, SH. Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota, dan diucapkan dalam
sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta
ARTIDJO ALKOSTAR, SH.LLM dan H.R. IMAM HARYADI, SH. Hakim-Hakim
Hal. 78 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
anggota tersebut, dan dibantu oleh
TOROWA DAELI, SH.MH. Panitera
Pengganti dan tidak dihadiri oleh Pemohon Kasasi : Terdakwa dan
Jaksa/Penuntut Umum.
Hakim-Hakim Anggota
Ketua
ttd./
ttd./
ARTIDJO ALKOSTAR, SH.LLM
Dr. H. PARMAN SOEPARMAN, SH.MH.
ttd./
H.R. IMAM HARYADI, SH.
Panitera Pengganti
ttd./
TOROWA DAELI, SH.MH.
Untuk Salinan
Mahkamah Agung R.I.
a.n. Panitera,
Plt. Panitera Muda Perkara Pidana
ZAROF RICAR, S.H.,S.Sos,M.Hum
NIP. 220 001 202
Hal. 79 dari 79 hal. Put. No. 207 K/Pid/2007
Download