intisari hubungan komunikasi verbal dan non verbal

advertisement
INTISARI
HUBUNGAN KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL
PERAWAT DENGAN TINGKAT KEPUASAN
PASIEN DI INSTALASI RAWAT INAP
RSUD KABUPATEN SRAGEN
Dody Purwanto, Titik Anggraeni, Sri Sayekti Heni S
Latar Belakang: Dari studi pendahuluan terhadap pasien yang dilakukan pada tanggal
1 Mei 2009 di instalasi rawat inap RSUD Kabupaten Sragen menunjukkan komunikasi
verbal dan non verbal yang dilakukan perawat masih kurang baik yaitu sebanyak 60% ,
sedangkan kepuasan pasien masih kurang yaitu sebanyak 50 %.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara komunikasi verbal dan non verbal perawat
dengan tingkat kepuasan pasien di instalasi rawat inap RSUD Kabupaten Sragen.
Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional.
Dengan uji statistik korelasi Spearman Rank. Dengan jumlah populasi 945 pasien dan
jumlah sampel 75 pasien.
Hasil: Komunikasi verbal kurang sebanyak 4 responden 5,3%, cukup sebanyak 21
responden (28%) dan baik sebanyak 50 responden (66,7%). Jadi sebagian besar
responden dalam penelitian ini memiliki komunikasi verbal yang baik. Komunikasi non
verbal kurang sebanyak 2 responden (2,7%), cukup sebanyak 25 responden (33,3%) dan
baik sebanyak 48 responden (64%). Jadi sebagian besar responden dalam penelitian ini
memiliki komunikasi non verbal yang baik. Kepuasan kurang sebanyak 11 responden
(14,7%), cukup sebanyak 13 responden (17,3%) dan baik sebanyak 51 responden
(68%). Hubungan antara komunikasi verbal dengan kepuasan pasien dibuktikan dengan
hasil uji statistik r = 0, 846; P = 0,000 dengan kekuatan hubungan sebesar 84,6 %.
Hubungan antara komunikasi non verbal dengan kepuasan pasien dibuktikan dengan
hasil uji statistik r = 0,596;P= 0,000 dengan kekuatan hubungan sebesar 59,6 %.
Simpulan: Ada hubungan antara komunikasi verbal dan komunikasi non verbal dengan
kepuasan pasien yang dibuktikan dengan hasil uji statistik sebesar r=0,705, P = 0,000,
dengan level of significant 5 % (0,000 < 0,05).
Kata Kunci: Komunikasi verbal, komunikasi non verbal, tingkat kepuasan.
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia Vol. 7, No. 2, Juli 2014
1
PENDAHULUAN
saling
mengisi
Latar Belakang Masalah
penyembuhan
dalam
pasien.
rangka
Pelayanan
Dalam menghadapi era globalisasi
keperawatan bertujuan untuk memenuhi
sekarang ini, berbagai tantangan tentu
dasar kebutuhan manusia, sedangkan
akan dihadapi oleh rumah sakit di
pelayanan medis mengutamakan kepada
Indonesia. Hidayat Hardjoprawito dalam
upaya
makalahnya pada Kongres PERSI VII,
pengobatan. (Ali, 2001).
1996 menyatakan bahwa bentuk nyata
Pelayanan
penentuan
diagnosis
dan
perawatan
globalisasi perumahsakitan dapat berupa
diberikan
rumah sakit sebagai bagian dari jaringan
keperawatan, dilakukan melalui proses
atau korporasi global. Rumah sakit akan
pengkajian terhadap penyebab utama
melayani
tidak terpenuhinya kebutuhan manusia,
konsumen
global
atau
dalam
bentuk
yang
konsumen yang telah berselera global,
penentuan
rumah sakit akan banyak mempekerjakan
perencanaan
pekerja global serta rumah sakit sebagai
tindakan, dan pengevaluasian. Seluruh
penjual jasa berbasis pengetahuan dan
proses di atas disebut proses keperawatan.
teknologi tinggi (Aditama, 2003).
Sasaran
Keperawatan sebagai salah satu
sosial
bagian
maupun
dipisahkan
yang
dari
tidak
upaya
dapat
keperawatan,
tindakan,
pengkajian
pelaksanaan
ini
meliputi
kebutuhan dasar biologis, psikologis,
bentuk pelayanan professional merupakan
integral
diagnosis
asuhan
serta
spiritual
sesudah
baik
sebelum
keadaan
sakit.
pelayanan
Pelayanan perawatan tersebut terdapat
kesehatan secara keseluruhan. Selain itu
diseluruh tingkat pelayanan kesehatan
pelayanan keperawatan merupakan salah
baik di tingkat individu, keluarga sampai
satu faktor penentu baik buruknya mutu
dengan masyarakat (Ali, 2001).
dan citra rumah sakit,
kualitas
pelayanan
oleh karenanya
kesehatan
perlu
Masuk abad 21, yang semakin
maju adalah sudah seharusnya bahwa
dipertahankan dan ditingkatkan seoptimal
pendekatan
mungkin. (Ali, 2001).
berorientasi pada kepuasan pelanggan
Pelayanan keperawatan berbeda
dengan
pelayanan
medis,
namun
keduanya merupakan dua sisi “mata
mutu
paripurna
yang
atau pasien menjadi strategi utama bagi
organisasi
pelayanan
kesehatan
di
Indonesia, agar tetap eksis, ditengah
uang” yang saling berhubungan erat dan
2
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia Vol. 7, No. 2, Juli 2014
persaingan global yang semakin ketat
petugas, perasaan pasien terutama saat
(Wiyono, 1999)
pertama kali datang, mutu informasi yang
Pembeli
atau
pengguna
jasa
diterima, seperti apa yang dikerjakan, apa
memutuskan memberikan suatu penilaian
yang dapat diharap, prosedur perjanjian,
terhadap produk atau jasa dan bertindak
waktu tunggu, fasilitas umum yang
atas dasar itu. Apakah pembeli puas
tersedia, fasilitas perhotelan untuk pasien
setelah
seperti mutu makanan, privacy dan
membelanjakan
tergantung
kepada penampilan
yang ditawarkan
dalam hubungannya
dengan harapan
pengaturan
kunjungan,
terapi
dan
perawatan yang diterima (Wiyono, 1999).
pembeli. Philip Kotler dalam bukunya
Untuk
meningkatkan
mutu
“Marketing management”, memberikan
pelayanan perawatan seorang perawat
definisi
pelanggan
perlu memahami teknik komunikasi yang
“Kepuasan
benar (Handayaningsih, 2007). Dalam
adalah tingkat keadaan yang dirasakan
setiap perusahaan, komunikasi memegang
seseorang
tentang
(customer
kepuasan
satisfaction)
yang
membandingkan
:
merupakan
hasil
peranan
penting
penampilan
atau
kelancaran
dalam
segala
menunjang
aktivitasnya.
customer produk yang dirasakan dalam
Komunikasi berfungsi untuk beberapa
hubungannya dengan harapan seseorang”.
tujuan,
Dengan
motivasi,
ekspresi
adalah suatu fungsi dari perbedaan antara
informasi.
Komunikasi
penampilan yang dirasakan dan harapan.
komunikasi
Ada
bila
(Tjiptono, 2000). Komunikasi verbal
harapan,
adalah komunikasi yang menggunakan
demikian
tiga
tingkat
penampilan
kurang
pelanggan
kepuasan
kepuasan,
dari
dipuaskan.
untuk
verbal
pengendalian,
perasaan
bisa
dan
non
dan
berupa
verbal
Bila
bahasa sebagian alat atau komunikasi
penampilan sebanding dengan harapan,
kebahasaan. Komunikasi verbal dapat
pelanggan puas. Apabila penampilan
dijalin
melebihi harapan, pelanggan amat puas.
Komunikasi
Kepuasan pelanggan rumah sakit atau
komunikasi yang tidak menggunakan
organisasi pelayanan kesehatan lain atau
bahasa
kepuasan pasien dipengaruhi banyak
menggunakan
faktor, antara lain yang bersangkutan
tangan), bahasa gambar dan bahasa sikap.
dengan
Komunikasi
:
tidak
tingkat
yaitu
pendekatan
dan
perilaku
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia Vol. 7, No. 2, Juli 2014
secara
lisan
lisan
non
atau
tulisan.
verbal
adalah
atau
tulisan,
tetapi
bahasa
isyarat
(gerak
non
verbal
biasanya
3
dilakukan melalui beberapa cara, seperti
menggali
bagaimana
dan
mengapa
ekspresi wajah, gerakan tubuh tertentu,
fenomena kesehatan itu bisa terjadi.
intonasi suara, serta jarak antar individu
dalam percakapan. Komunikasi dapat
diartikan
sebagai
usaha
untuk
menyampaikan maksud tertentu kepada
orang lain sehingga orang tersebut dapat
memahami maksud yang disampaikan.
Kualitas
ditentukan
suatu
proses
oleh
komunikasi
seberapa
jauh
pemahaman penerimaan terhadap pesan
yang diterimanya (Tjiptono, 2000).
Dari studi pendahuluan dengan
penyebaran kuisioner yang dilakukan
pada tanggal 1 Mei 2009 di
instalasi
rawat inap RSUD Kabupaten Sragen
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi pada penelitian ini adalah
seluruh pasien yang dirawat di instalasi
rawat inap RSUD Kabupaten Sragen.
Berdasarkan catatan Rekam Medik ratarata pasien pada bulan Januari sampai
April 2009 yang menjalani rawat inap
945 pasien.
Sedangkan yang sesuai dengan kriteria
inklusi yang peneliti tetapkan berdasarkan
catatan Rekam Medik rata-rata pada
bulan
Januari
sampai
April
2009
sejumlah 92 pasien.
menunjukkan komunikasi verbal dan non
verbal yang dilakukan perawat masih
kurang baik ( 60% ), sedangkan kepuasan
Analisis Data
Analisis bivariat, digunakan untuk dua
variabel yang diduga berhubungan atau
pasien masih kurang ( 50 % ).
korelasi.
Uji statistik yang digunakan “Korelasi
METODE PENELITIAN
Spearman Rank” adalah bekerja dengan
Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian
deskriptif
kuantitatif
analitik
dengan
pendekatan cross sectional. Penelitian
deskriptif
yaitu
untuk
mendapatkan
gambaran tentang hubungan komunikasi
data ordinal atau berjenjang atau rangking
bebas distribusi.
 = 1-
6 b12
nn 2  1
 = Koefisien korelasi spearman rank
verbal dan non verbal dengan tingkat
kepuasan pasien di instalasi rawat inap
RSUD Kabupaten Sragen. Survey analitik
adalah survey/penelitian yang mencoba
4
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia Vol. 7, No. 2, Juli 2014
Tabel 6. Distribusi Frekuensi
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Komunikasi Non Verbal
No
Keterangan
Distribusi frekuensi komunikasi verbal
1.
Kurang
2
2,7
perawat
2.
Cukup
25
33,3
3.
Baik
48
64,0
75
100
Komunikasi Verbal Perawat
dapat
diklasifikasi
sebagai
berikut.
Total
Tabel 5. Distribusi Frekuensi
Frek Persentase
Sumber: Data primer
Komunikasi Verbal
No Keterangan Frek Persentase
1.
Kurang
4
5,3
Tabel 6 menunjukkan responden yang
2.
Cukup
21
28,0
memiliki komunikasi non verbal kurang
3.
Baik
50
66,7
sebanyak 2 responden (2,7%), cukup
75
100
Total
sebanyak 25 responden (33,3%) dan baik
sebanyak 48 responden (64%). Jadi
Sumber: Data primer
sebagian
besar
responden
dalam
Tabel 5 menunjukkan responden yang
penelitian ini memiliki komunikasi non
memiliki
kurang
verbal yang baik. Klasifikasi tingkat
sebanyak 4 responden 5,3%, cukup
komunikasi non verbal perawat dapat
sebanyak 21 responden (28%) dan baik
dilihat pada bagan di bawah ini.
komunikasi
verbal
sebanyak 50 responden (66,7%). Jadi
sebagian
besar
responden
dalam
Kepuasan Pasien
penelitian ini memiliki komunikasi verbal
Distribusi frekuensi kepuasan pasien
yang baik. Klasifikasi tingkat komunikasi
dapat diklasifikasi sebagai berikut.
verbal perawat dapat dilihat pada bagan
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Kepuasan
di bawah ini.
Pasien
No
Keterangan
1.
Kurang
11
14,7
non
2.
Cukup
13
17,3
verbal perawat dapat diklasifikasi sebagai
3.
Baik
51
68,0
75
100
Komunikasi Non Verbal Perawat
Distribusi
frekuensi
komunikasi
berikut.
Total
Frek Persentase
Sumber: Data primer
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia Vol. 7, No. 2, Juli 2014
5
Tabel 7 menunjukkan responden yang
Tabel 8 menunjukkan bahwa komunikasi
memiliki kepuasan kurang sebanyak 11
verbal berhubungan dengan kepuasan
responden (14,7%), cukup sebanyak 13
pasien ( r = 0, 846; p = 0,000 ) hubungan
responden (17,3%) dan baik sebanyak 51
tersebut sebesar 84,6 %.
responden (68%). Jadi sebagian besar
Hasil analisis dengan program SPSS 11.0
responden dalam penelitian ini memiliki
diperoleh nilai korelasi Spearman Ranks
kepuasan yang baik. Klasifikasi tingkat
antara
kepuasan pasien dapat dilihat pada bagan
kepuasan pasien sebesar 0,846 dengan
di bawah ini.
probabilitas sebesar 0,000. Dilihat dari
komunikasi
verbal
dengan
nilai probabilitas menunjukkan bahwa
Analisis Bivariat
nilai probabilitas lebih kecil dari level of
Analisis data yang digunakan dalam
significant 5 % (0,000 < 0,05), maka
penelitian
dapat disimpulkan bahwa komunikasi
ini
adalah
statistik
non
parametrik teknik bivariat dengan uji
verbal
Spearman
signifikan dengan kepuasan pasien.
Ranks
untuk
mencari
mempunyai
hubungan
yang
hubungan dan menguji hipotesis dua
Tabel 9. Hubungan Antara Komunikasi
variabel. Dalam penelitian ini akan di uji
Non Verbal dengan Kepuasan Pasien.
hubungan
komunikasi
verbal
dan
komunikasi non verbal dengan kepuasan
pasien di Instalasi Rawat Inap RSUD
Kabupaten Sragen.
Tabel 8. Hubungan Antara Komunikasi
Verbal dengan Kepuasan Pasien
Correlations
Komunikasi Komunikasi Kepuasan
Verbal
Non Verbal Pasien
Spearman's rho Komunikasi Verbal
Correlation Coefficient
1.000
.461**
.846**
Sig. (2-tailed)
.
.000
.000
N
75
75
75
Komunikasi Non Verbal Correlation Coefficient
.461**
1.000
.596**
Sig. (2-tailed)
.000
.
.000
N
75
75
75
Kepuasan Pasien
Correlation Coefficient
.846**
.596**
1.000
Sig. (2-tailed)
.000
.000
.
N
75
75
75
Correlations
Komunikasi Komunikasi Kepuasan
Verbal
Non Verbal Pasien
Spearman's rho Komunikasi Verbal Correlation Coefficient
1.000
.461**
.846**
Sig. (2-tailed)
.
.000
.000
N
75
75
75
Komunikasi Non Verbal Correlation Coefficient
.461**
1.000
.596**
Sig. (2-tailed)
.000
.
.000
N
75
75
75
Kepuasan Pasien
Correlation Coefficient
.846**
.596** 1.000
Sig. (2-tailed)
.000
.000
.
N
75
75
75
**. Correlation is signif icant at the .01 level (2-tailed).
Tabel 9 menunjukkan bahwa komunikasi
non verbal berhubungan dengan kepuasan
pasien ( r = 0,596; p = 0,000 ) hubungan
tersebut sebesar 59,6 %.
**. Correlation is signif icant at the .01 level (2-tailed).
6
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia Vol. 7, No. 2, Juli 2014
Tabel 10. Hubungan Antara Komunikasi
Verbal dan Komunikasi Non Verbal
PEMBAHASAN
Karakteristik Responden
Dengan Kepuasan Pasien
Model
1
Jumlah
responden
adalah
75
Variabl es Entered/Removedb
orang, yang diambil dari 10 instalasi
Variables
Entered
Komunika
si Non
Verbal,
Komunika
a
si Verbal
rawat inap RSUD Kabupaten Sragen.
Variables
Remov ed
Method
.
Enter
Responden
sebagian
besar
laki-laki
yang ditunjukkan ada 42 responden ( 56%
) dan perempuan sebanyak 33 responden (
a. All requested v ariables entered.
44 % ). Umur mayoritas responden
b. Dependent Variable: Kepuasan Pasien
menunjukkan angka 41 – 50 tahun ada 34
Model Summary
responden ( 45,3% ). Mayoritas tingkat
Model
1
R
R Square
.845a
.713
Adjusted Std. Error of
R Square the Estimate
.705
.40
a. Predictors: (Constant), Komunikasi Non Verbal,
Komunikasi Verbal
pendidikan responden adalah SMP yang
ditunjukkan ada 25 responden (33,3 % )
karena persepsi dari pada pendidikan di
bawahnya dan SMP maka persepsinyapun
Tabel 10 menunjukkan hubungan antara
akan lebih tinggi. Pekerjaan responden
komunikasi verbal dan komunikasi non
yang terbanyak adalah pegawai swasta
verbal dengan kepuasan pasien ( r =
yang ditunjukkan ada 26 responden
0,705, p = 0,000 )
(34,7 % ).
Hasil analisis dengan program SPSS 11.0
diperoleh nilai korelasi berganda antara
Hubungan Antara Komunikasi Verbal
komunikasi verbal dan komunikasi non
Perawat Dengan Tingkat Kepuasan
verbal dengan kepuasan pasien sebesar
Pasien di Instalasi Rawat Inap RSUD
0,846 dengan probabilitas sebesar 0,000.
Kabupaten Sragen
Dilihat
dari
nilai
probabilitas
Hasil penelitian dari komunikasi
menunjukkan bahwa nilai probabilitas
verbal perawat di instalasi rawat inap
lebih kecil dari level of significant 5 %
RSUD Kabupaten Sragen menunjukkan
(0,000 < 0,05), maka dapat disimpulkan
bahwa
bahwa komunikasi verbal dan komunikasi
komunikasi verbal kurang sebanyak 4
non verbal mempunyai hubungan yang
responden ( 5,3% ), cukup sebanyak 21
signifikan dengan kepuasan pasien.
responden ( 28 % ) dan baik sebanyak 50
responden
yang
memiliki
responden (66,7 %). Jadi sebagian besar
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia Vol. 7, No. 2, Juli 2014
7
responden dalam penelitian ini memiliki
Hubungan Antara Komunikasi Non
komunikasi verbal yang baik.
Verbal
Hasil analisis hubungan antara
komunikasi
verbal
perawat
dengan
RSUD
Tingkat
Inap RSUD Kabupaten Sragen
Hasil penelitian dari komunikasi
Sragen
non verbal perawat di instalasi rawat inap
menunjukkan dengan kepuasan pasien ( r
RSUD Kabupaten Sragen menunjukkan
= 0,846, p = 0,000 ). Hubungan tersebut
bahwa
sebesar 84,6 %.
komunikasi non verbal kurang sebanyak
Menurut
Kabupaten
Dengan
Kepuasan Pasien di Instalasi Rawat
tingkat kepuasan pasien di instalasi rawat
inap
Perawat
Potter
yang
memiliki
Perry
2 responden ( 2,7 % ), cukup sebanyak 25
(Nurjannah, 2005) yaitu ( 1 ) persepsi
responden ( 33,3 % ), baik sebanyak 48
adalah
seseorang
responden (64%). Jadi sebagian besar
terhadap suatu kejadian atau peristiwa.
responden dalam penelitian ini memiliki
Persepsi ini dibentuk oleh harapan atau
komunikasi non verbal yang baik.
pandangan
dan
responden
pribadi
pengalaman. ( 2 ) Emosi, merupakan
perasaan
subjektif
suatu
komunikasi non verbal perawat dengan
kejadian. Emosi seperti marah, sedih,
tingkat kepuasan pasien di instalasi rawat
senang,
inap
akan
terhadap
Hasil analisis hubungan antara
dapat
mempengaruhi
RSUD
Kabupaten
Sragen
perawat dalam berkomunikasi dengan
menunjukkan bahwa komunikasi non
orang lain. ( 3 ) Peran dan hubungan.
verbal berhubungan dengan kepuasan
Gaya komunikasi sesuai dengan peran
pasien ( r = 0,596, p = 0,000 ). Hubungan
dan
tersebut sebesar 59,6%.
hubungan
diantara
orang
yang
berkomunikasi. Cara komunikasi seorang
Sentuhan
merupakan
alat
perawat dengan koleganya dengan cara
komunikasi yang sangat kuat. Sentuhan
berkomunikasi seorang perawat kepada
penting pada situasi emosional. Sentuhan
kien akan berbeda tergantung perannya.
dapat menunjukkan arti “Saya peduli”.
Seperti yang dijelaskan oleh Ellis dan
Meskipun begitu, sangat perlu bagi
nowlis (Nurjannah, 2005 ).
perawat untuk memahami siapa, kapan
dan
mengapa
sentuhan
dilakukan
dikarenakan komunikasi non verbal ini
mempunyai efek yang berlainan pada
setiap
8
individu.
Sentuhan
dapat
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia Vol. 7, No. 2, Juli 2014
diasosiasikan
sebagai
sifat
keibuan,
nyaman atau perhatian (Ellis dalam
Nurjannah, I. 2005 ).
penelitian ini memiliki komunikasi
non verbal yang baik.
3. Jumlah responden yang memiliki
kepuasan
kurang
sebanyak
11
Hubungan Antara Komunikasi Verbal
responden (14,7%), cukup sebanyak
dan Non Verbal Perawat Dengan
13 responden (17,3%) dan baik
Tingkat Kepuasan Pasien di Instalasi
sebanyak 51 responden (68%). Jadi
Rawat Inap RSUD Kabupaten Sragen
sebagian
Hasil analisis hubungan antara
komunikasi
verbal
dan
non
verbal
perawat dengan tingkat kepuasan pasien
besar
responden
dalam
penelitian ini memiliki kepuasan yang
baik.
4. Adanya
hubungan
antara
di instalasi rawat inap RSUD Kabupaten
komunikasi verbal dengan kepuasan
Sragen menunjukkan bahwa nilai korelasi
pasien
beganda dengan kepuasan pasien ( r =
hubungan tersebut sebesar 84,6 %,
0,705, p = 0,000 ).
dengan level of significant 5 % (0,000
( r = 0, 846; p = 0,000 )
< 0,05), maka dapat disimpulkan
SIMPULAN DAN SARAN
bahwa komunikasi verbal mempunyai
A. Simpulan
hubungan yang
1. Jumlah responden yang memiliki
kepuasan pasien.
komunikasi verbal kurang sebanyak 4
responden
(5,3%),
5. Adanya hubungan antara komunikasi
21
non verbal dengan kepuasan pasien (
50
r = 0,596; p = 0,000 ) hubungan
responden (66,7%). Jadi sebagian
tersebut sebesar 59,6 %, dari 5 %
besar responden dalam penelitian ini
(0,000
memiliki komunikasi verbal yang
disimpulkan bahwa komunikasi non
baik.
verbal mempunyai hubungan yang
responden
(28%)
cukup
signifikan dengan
dan
baik
2. Jumlah responden yang memiliki
komunikasi
non
0,05),
maka
dapat
signifikan dengan kepuasan pasien.
kurang
6. Hubungan antara komunikasi verbal
sebanyak 2 responden atau 2,7%,
dan komunikasi non verbal dengan
cukup 25 responden (33,3%) dan baik
kepuasan pasien sebesar ( r = 0,705, p
sebanyak 48 responden (64%). Jadi
= 0,000 ), dari level of significant
sebagian
% (0,000 < 0,05), maka dapat
besar
verbal
<
responden
dalam
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia Vol. 7, No. 2, Juli 2014
5
9
disimpulkan
bahwa
komunikasi
3
Bagi Rumah Sakit Umum Daerah
verbal dan komunikasi non verbal
Kabupaten Sragen
mempunyai hubungan yang signifikan
Sebagai
dengan kepuasan pasien.
peningkatan kualitas sumber daya
masukan
dalam
upaya
manusia bidang keperawatan sebagai
sumber
B. Saran
Berdasarkan
pelaksanaan
dan
pelayanan
kesehatan,
hasil
khususnya sikap dan keterampilan
penelitian, saran yang dapat diberikan
dalam komunikasi verbal dan non
adalah sebagai berikut:
verbal
1 Bagi Pasien yang Dirawat di Intalasi
Bagi
Akademik
dan
Pengajaran
Rawat Inap Rumah Sakit Umum
Universitas Sahid Surakarta
Kabupaten Sragen
Sebagai
Pasien dapat menerima pelayanan
Universitas Sahid Surakarta dalam
keperawatan yang lebih berkualitas,
kegiatan proses
khususnya dalam komunikasi verbal
tentang komunikasi verbal dan non
dan non verbal perawat dalam proses
vebal pada mata kuliah komunikasi
keperawatan.
perawatan.
2 Bagi Perawat di Rumah Sakit Umum
5
bahan
masukan
bagi
belajar mengajar
Bagi Mahasiswa Universitas Sahid
Kabupaten Sragen
Surakarta
Sebagai bahan masukan bagi perawat
Sebagai bahan bacaan dan untuk
agar dapat memberikan pelayanan
menambah
wawasan
mahasiswa
keperawatan
Universitas
Sahid
Surakarta,
secara
professional,
khususnya dalam komunikasi verbal
khususnya yang berkaitan dengan
dan non verbal sehingga kepuasan
hubungan komunikasi verbal dan non
pasien
verbal
terhadap
pelayanan
keperawatan akan meningkat.
10
4
perawat
dengan
tingkat
kepuasan pasien.
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia Vol. 7, No. 2, Juli 2014
Asuhan
DAFTAR RUJUKAN
Tingat
Aditama
Candra
Yoga,
di
Nugroho, Wahyudi, (2008), Keperawatan
Geronik Ed.2. EGC Jakarta
Ali, Zaidin Haji, (2001), Dasar-Dasar
Keperawatan Profesional Widya
Intan Sari Nurjannah Editor; Husna
Yulaningsih,
Medika Jakarta
Komunikasi
dan pengukurannya Edisi Kedua
Perawat
Pustaka Pelajar Yogyakarta
Yogyakarta
Alexander
Mandala
(2002),
(2005),
Keperawatan
:
Dasar-dasar Komunikasi bagi
Azwar MA, (2005), Sikap Manusia Teori
David
Pasien
Bantul Yogyakarta.
Manajemen Administrasi Rumah
Jakarta
Kepuasan
dengan
RSUD Panembahan Senopati
(2003)
Sakit Ed.2. Universitas Indonesia
Keperawatan
Nursalam,
Maco
Medika
Manajemen
(2008),
Analisa Hubungan Komunikasi
Keperawatan : Aplikasi dalam
Verbal dan Non Verbal Perawat
Praktek Keperawatan Profesional
Terhadap
Edisi Pertama Salemba Medika
Tingkat
Kepuasan
Pasien di RSUD Prof. Dr. WZ.
Johannes Kupang NTT.
Handayaningsih,
Jakarta
Potter,
Perry
Tehnik
(2007),
Mundakir,
Komunikasi
(2006),
Keperawatan
Aplikasi
dalam
Pelayanan Edisi Pertama Graha
Ilmu Yogyakarta
Fundamental
Keperawatan : Ed. 4 Penerbit
Komunikasi Keperawatan : Ed. 2
Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
(1993),
Buku Kedokteran
Rahmat J Editor : Tjun Surjaman, (2006),
Psikologi Komunikasi PT remaja
Rosdakarya Bandung
Sugiyono,
(2006),
Statistik
untuk
Penelitian Alfa Beta Bandung
Muninjaya, A A Gde, (2004), Manajemen
Kesehatan Edisi 2 EGC Jakarta
Suharsimi Arikunto S, (2006), Prosedur
Penelitian : Rineka, Jakarta
Nensi Khurontin (2007), Hubungan Sikap
Perawat
dalam
Pemberian
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia Vol. 7, No. 2, Juli 2014
11
Supranto J, (2001), Pengukuran Tingkat
Uripni, Christina Lia, Editor : Monica
Kepuasan Pelanggan : Untuk
Ester,
Menaikkan Pangsa Pasar, PT
Kebidanan EGC
Rineka Cipta Jakarta
(2003),
Komunikasi
Wiyono Djoko Haji, (1999), Manajemen
Tjiptono, Fandy, (2006), Manajemen Jasa
Ed IV Andi Yogyakarta
Mutu
Pelayanan
Kesehatan
Airlangga Press. Surabaya
Tjiptono, Fandy, (2000), Prinsip – Prinsip
Total Quality Servise (TQS) Ed.
2.Cet 1. Andi offset Yogyakarta
12
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia Vol. 7, No. 2, Juli 2014
Download