CINTA YANG MEMBERI HIDUP DALAM PERKAWINAN KRISTIANI

advertisement
KAJIAN KATEKETIK
CINTA YANG MEMBERI HIDUP
DALAM PERKAWINAN KRISTIANI
TINJAUAN TERHADAP BUKU LIFE-GIVING LOVE JILID I
Karya Kimberly Hahn
Karya ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan
dalam menempuh ujian dan memperoleh gelar S.Pd.
Oleh
Agnes Natalia
NIM: 2008-033-012
PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN TEOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA
2012
LEMBAR PERSETUJUAN
PEMBIMBING KAJIAN KATEKETIK
CINTA YANG MEMBERI HIDUP
DALAM PERKAWINAN KRISTIANI
TINJAUAN TERHADAP BUKU LIFE-GIVING LOVE JILID I
Karya Kimberly Hahn
Oleh
Agnes Natalia
NIM 2008-033-012
Karya ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan
dalam menempuh ujian dan memperoleh gelar S.Pd.
Pembimbing
Dr. Yap Fu Lan
06 September 2012
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah Trinitaris atas penyertaanNya selama proses
pembuatan kajian ini. Kajian berjudul “CINTA YANG MEMBERI HIDUP
DALAM PERKAWINAN KRISTIANI” ini disusun sebagai salah satu syarat
dalam usaha penulis untuk mencapai gelar Sarjana Strata Satu pada Program Studi
Ilmu Pendidikan Teologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas
Katolik Indonesia Atma Jaya.
Proses penulisan kajian ini mengalami berbagai kendala dan hambatan,
tetapi berkat bimbingan Allah Trinitaris dan bantuan dari berbagai pihak, kajian
ini dapat terselesaikan dengan baik. Oleh sebab itu, penulis hendak
menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang
telah membantu penulis dalam pembuatan kajian ini baik secara langsung maupun
tidak langsung, di antaranya:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Komisi Kateketik KAJ, yang memberikan beasiswa kepada penulis untuk
menempuh pendidikan di Universitas ini.
Dr. Yap Fu Lan, selaku pembimbing kajian, yang telah membimbing
penulis dengan penuh kesabaran, kesetiaan, dan cinta yang tulus sampai
proses kajian ini selesai.
Drs. Matheus Beny Mite, M.Hum., Lic.Th., selaku Ketua Jurusan IP
Teologi, C. Iman Sukmana, S.Pd., M.Hum., Lic.Th., selaku Pembimbing
Akademik 2008, Dra. Liria Tjahaja, M.Si., Drs. V. Felisianus Kama,
M.Hum., dan semua dosen Prodi IP. Teologi. Terimakasih atas bimbingan
dan ilmu yang diberikan selama perkuliahan di Universitas ini.
Elisabet Listiawati (Mami), Alm. Oendra Rahayu (Emak), dan Alm. Pater.
JB. Martosudjito, SJ. Terima kasih atas cinta dan teladan yang diberikan
kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan kajian ini.
Pater C. Hardosuyatno, MSF dan tim SKK Paroki-Paroki Dekenat JakSel,
yang telah memberi dukungan kepada penulis untuk menulis tentang KPP
Dekenat Jakarta Selatan.
Ibu Lestari Sandjojo, Ibu Rahma Paramitha, Miss A.W. Marlin Hana, Miss
Desri Mutiara, Miss Sally, rekan-rekan guru, dan semua malaikat kecil
penulis di Cikal, yang telah mendukung proses pembelajaran di Universitas
ini.
Pater J. Sudrijanta, SJ, Bapak Leo Soekamto, Sdri. Dena Sukito, semua
sahabat katekis, dan semua pembimbing bina iman anak di Paroki Sta.
Perawan Maria Ratu, Blok Q yang telah mendukung proses pembelajaran di
Universitas ini.
Para sahabat: Bapak Martinus Hasan, Martha Ully Safitri, Rosa Lujeng
Duiri, Viony Fonda, Fr. Hugo Bayu, SJ, Laurentius Jimmy, Bapak Bambang
Putut, Ibu Anin Bandono, Sdri. Asthaningroem, Sr. Engelina Diah
Wulandari, PK, Pater Antonius Suniwarno, SMM, Pater Yohanes Agus
Setiyono, SJ, Pater Antonius Sumarwan, SJ, Pater B.S. Mardiatmadja, SJ,
Pater A. Djita Pandrija, SJ, dan Pater Alexander Erwin Santoso, MSF yang
iii
9.
10.
telah mau berefleksi bersama dengan penulis terutama saat penulisan kajian
ini.
Rekan-rekan perkuliahan dari angkatan 2008: Eveline Pandojo, Indah
Suzana Aulia Putri, Derry, Robeka Revika, Sr. Twenthy Novenna, PBHK,
Ibu Anggit Riesyanti, Ibu Agnes Yunawati, Ibu Fransiska Waniyati, Bapak
Oey Djie Siem, Tuhombowo Wau, Aditya Nugroho, Ancella Lioktriani
Rante, Cornelius Syahroni, dan F.X. Budi Prasetyo yang telah memberikan
motivasi, dukungan semangat, perhatian, dan bantuan dengan tulus selama
ini.
Rekan-rekan perkuliahan 2009-2011, teristimewa Sr. Dorothea, FSGM yang
telah memberikan tempat untuk berefleksi, Sdri. E. Yesi Manik, dan Sdri.
Risnawati Nainggolan yang senantiasa memberikan semangat.
Penulis berharap tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca. Namun,
menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna, penulis juga mengharapkan
kritik dan saran dari berbagai pihak untuk memperbaiki dan mengembangkan
karya ini.
Jakarta, 4 September 2012
Penulis
iv
DAFTAR ISI
Halaman Judul …………………………………………………………...
i
Halaman Pengesahan …………………………………………....………
ii
KATA PENGANTAR …………………....……………………………...
iii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………..
v
RINGKASAN BUKU LIFE-GIVING LOVE JILID 1
KARYA KIMBERLY HAHN .................................................
1
1.
KEINDAHAN RANCANGAN TUHAN: KETURUNAN
DAN KESATUAN ……….........................……………….
2
2.
BUDAYA KEHIDUPAN MELAWAN BUDAYA
KEMATIAN .......................................................................
5
3.
BAGAIMANA
KITA
BISA
HIDUP
DALAM
RANCANGAN INDAH INI? MEMELUK TUBUH
KRISTUS ...........................................................................
11
POKOK-POKOK PIKIRAN DAN TANGGAPAN KRITIS
UNTUK BUKU LIFE GIVING LOVE JILID I KARYA
KIMBERLY HAHN ..................................................................
16
POKOK-POKOK PIKIRAN DALAM LIFE-GIVING
LOVE JILID 1.......................................................................
16
a.
Cinta yang Memberi Hidup ....................................
16
b.
Rancangan Indah Allah bagi Sebuah Perkawinan ..
19
TINJAUAN KRITIS ..........................................................
21
CINTA YANG MEMBERI HIDUP .......................................
24
BAB I
BAB II
1.
2.
BAB III
1.
CINTA, KEBUTUHAN DASAR MANUSIA....................
24
2.
CINTA YANG MEMBERI HIDUP ..................................
25
3.
UNSUR-UNSUR CINTA YANG MEMBERI HIDUP.......
25
4.
SUMBER DAN TELADAN CINTA YANG MEMBERI
HIDUP...................................................................................
30
v
BAB IV
5.
CINTA
YANG
MEMBERI
HIDUP
DALAM
PERKAWINAN .................................................................
30
6.
TANTANGAN
CINTA
YANG
MEMBERI
HIDUP...................................................................................
34
GAGASAN PASTORAL KATEKESE CINTA YANG
MEMBERI HIDUP .................................................................
38
LATAR BELAKANG..........................................................
38
1.
a.
Kursus Persiapan Perkawinan (KPP): Sejarah dan
Perkembangannya di KAJ .....................................
38
b.
KPP Dekenat JakSel ...............................................
40
c.
Keprihatinan: KPP Hanya Sebagai Syarat .............
42
2.
TUJUAN PROGRAM KATEKESE ...................................
43
3.
PROGRAM KATEKESE ....................................................
43
4.
a.
Pemikiran Dasar Program Katekese ......................
43
b.
Peserta Katekese ....................................................
46
c.
Organisasi Katekese ..............................................
46
CONTOH KATEKESE: Sesi Ke 2: Cinta yang Memberi
Hidup ................................................................................
55
a.
Gagasan Pokok .....................................................
55
b.
Tujuan ..................................................................
56
c.
Sumber .................................................................
56
d.
Metode .................................................................
56
e.
Sarana ..................................................................
56
f.
Pokok Pikiran ......................................................
57
g.
Proses ..................................................................
57
vi
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................
62
DAFTAR LAMPIRAN ..........................................................................
66
vii
BAB I
RINGKASAN BUKU LIFE-GIVING LOVE JILID 11
KARYA KIMBERLY HAHN
Kimberly Hahn adalah seorang ibu rumah tangga dengan enam orang
anak. Ia menikah dengan Scott Hahn pada tahun 1979. Mereka bertempat tinggal
di Steubenville, Ohio, Amerika. Hahn berasal dari keluarga Presbiterian.
Pengalaman hidup di kemudian hari mengantar Hahn pada tradisi iman Katolik.
Pada malam Paskah 1990, Hahn diterima dalam Gereja Katolik, menyusul
suaminya yang telah diterima dalam Gereja Katolik pada malam Paskah 1986. 2
Hahn berlatar belakang pendidikan komunikasi dan teologi. Ia meraih
gelar Bachelors of Arts di bidang seni komunikasi dari Grove City College di
Grove City, Pennsylvania dan Master of Arts dalam bidang teologi dari GordonConwell Theological Seminary. Bersama suaminya, Hahn menulis buku Rome
Sweet Home yang mengangkat pengalaman mereka masuk ke dalam Gereja
Katolik. Bersama Maria Hasson, ia menulis sebuah buku tentang pendidikan di
rumah secara Katolik yang berjudul Catholic Education - Homeward Bound: A
Guide to Home Schooling. Selain itu, Hahn sendiri menulis Biblical Wisdom for
Your Marriage dan Life-Giving Love: Embracing God’s Beautiful Design for
Marriage. Ia juga memberikan kontribusi beberapa tulisan tentang keluarga di
Catholic for A Reason.3
1
Seluruh BAB I adalah ringkasan dari Kimberly Hahn, Life-Giving Love (Malang:Dioma,
2007).
2
Scott & Kimberly Hahn, Rome Sweet Home:Our Journey to Catholism, 270, 158.
3
St. Paul center for biblical Theology. “Kimberly Hahn.” diakses tanggal 8 Maret 2012,
http://www.salvationhistory.com
1
Kimberly Hahn menulis Life-Giving Love untuk membantu pembaca
mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam dan lebih menghargai rancangan
Tuhan mengenai perjanjian perkawinan dan perannya dalam panggilan manusia
menuju kekudusan.4 Berdasarkan harapan tersebut, Hahn mengawali tulisannya
dengan sebuah kesaksian, dilanjutkan dengan pembahasan tentang Tritunggal,
serta pembahasan mengenai budaya kehidupan melawan budaya kematian.
Akhirnya, ia menutup tulisannya dengan sebuah refleksi yang menghasilkan suatu
sikap yang mendukung budaya kehidupan.
1.
KEINDAHAN RANCANGAN TUHAN: KETURUNAN DAN
KESATUAN
Mengawali Life-Giving Love, Hahn menuturkan pengalamannya yang
terkait dengan penggunaan alat kontrasepsi. Hahn pernah mengalami dampak dari
Mini-Pil yang direkomendasikan oleh dokter kandungannya. Kemudian, Hahn
juga mendapatkan informasi bahwa Mini-Pil bersifat menggugurkan kandungan.
Akhirnya, pengalaman dan informasi tersebut membuatnya beralih menggunakan
program Keluarga Berencana (selanjutnya: KB) alami menurut ajaran Gereja
Katolik.5
4
Hahn, Life-Giving Love, 14.
Keluarga Berencana (KB) adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan
sejahtera dengan membatasi kelahiran. Hasan Alwi dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi
Ketiga, 536.
5
2
Keputusan yang diambil oleh pasangan suami istri (selanjutnya: pasutri)
Hahn didasari oleh ensiklik Humanae Vitae.6 Mengenai keputusan ini, Hahn
menulis,
Kami percaya bahwa rancangan Tuhan bagi cinta dalam perkawinan pada
hakikatnya berupa perkawinan yang tidak dibebani oleh alat atau rancangan yang
egois. Pemberian cinta diri haruslah meneladani pengorbanan diri Allah secara
total.7
Ia menemukan bahwa banyak keluarga Katolik yang tidak menaati ajaran
ensiklik Humanae Vitae.
Penyebab ketidaktaatan itu antara lain: adanya
pandangan dari orangtua untuk memiliki sedikit anak, dan minimnya pengetahuan
akan ajaran Gereja. Ketidaktaatan tersebut bisa disebabkan oleh banyaknya
pengaruh-pengaruh negatif, seperti tekanan dari teman-teman, kurang berdoa, dan
lain sebagainya. Mengenai hal-hal ini, Hahn mengatakan, ―Pengaruh-pengaruh
negatif tersebut harus dilawan dengan pengembangan iman dan pengetahuan akan
iman.‖8
Selain itu, Hahn menemukan juga bahwa ketaatan terhadap ajaran Gereja
Katolik membuat orang lebih menghargai kehidupan dan menyadari kekudusan
perkawinan mereka. Menyadari kekudusan perkawinan berarti pasrah terhadap
kehendak Tuhan yang menjadi sumber kebahagiaan dalam kehidupan perkawinan.
Setelah mengisahkan pengalamannya, Hahn memberikan pemahaman
tentang Allah Trinitaris.9 Menurut Hahn, ―Tiap Pribadi dari [ke]-Allah-an
6
Bapa Suci Paulus VI, Surat Ensiklik Humanae Vitae (Hidup Insani): Mengenai Pengaturan
Kelahiran, tanpa penerbit, tahun 1968.
7
Hahn, Life-Giving Love, 22.
8
Hahn, Life-Giving Love, 32.
9
Istilah yang sekarang dipakai adalah Allah Trinitaris. Hahn sendiri masih memakai istilah
lama ialah Tritunggal.
3
sepenuhnya adalah Allah: suci, bijaksana, adil, benar, penuh kasih.‖10 Hahn juga
berpendapat,
Kita bisa membedakan Bapa, Putra, dan Roh Kudus dari hubungan ketiganya.
Dari seluruh keabadian, Bapa menjadi bapak bagi sang Putra dalam cinta yang
penuh pengorbanan diri. Putra, meniru Bapa, mengembalikan diri-Nya kepada
Bapa dalam cinta yang penuh pengorbanan diri. Dan ikatan di antara mereka
adalah lebih dari sekedar semangat cinta; ikatan itu membentuk Pribadi Roh
Kudus.11
Selanjutnya, ketiga Pribadi menciptakan pria dan wanita sesuai dengan
gambar kesatuan Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Tidak hanya diciptakan, mereka
juga diberkati dan diberi tugas untuk beranak cucu. Melihat kenyataan bahwa
manusia diberi tugas untuk beranak cucu, Hahn berpendapat,
Tuhan tidak menciptakan pria dan wanita karena Ia kesepian, karena ―Tuhan
dalam misteri-Nya yang paling dalam tidaklah ‗sendirian‘, tetapi merupakan
sebuah keluarga, karena dalam Diri-Nya Ia memiliki unsur kebapaan, keputraan,
dan hakikat keluarga yaitu cinta kasih.‖[Paus Yohanes Paulus II] Lebih-lebih,
sebagai ungkapan cinta yang memberi hidup, Allah [Trinitaris] menciptakan kita
karena memang Tuhan menghendaki demikian dan membuat kita sebagai
kekasih-kekasih yang memberi hidup sebagaimana Diri-Nya.12
Hahn menyadari bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang terbaik dari
seluruh ciptaan. Hahn juga menunjukkan bahwa tidak sekali Tuhan meminta
manusia untuk beranak cucu. Ada banyak cerita di Alkitab yang menunjukkan
bahwa Tuhan ingin manusia beranak cucu. Oleh karena itu, Hahn berpendapat
bahwa ―perkawinan adalah ide dari Tuhan.‖ 13
Berdasarkan cerita-cerita Alkitab yang ia temukan, Hahn mengambil
kesimpulan bahwa ―perkawinan Kristiani adalah penyerahan total dari pribadi
10
Hahn, Life-Giving Love, 39.
Hahn, Life-Giving Love, 39.
12
Hahn, Life-Giving Love, 40-41.
13
Hahn, Life-Giving Love, 42.
11
4
yang satu ke pribadi yang lainnya, dan dari keduanya kepada Kristus.‖ 14 Menurut
Hahn, penyerahan total dari pribadi yang satu ke pribadi yang lainnya terwujud
pada saat pasutri melakukan sanggama yang memungkinkan lahirnya manusia
baru.15 Penyerahan diri suami istri kepada Kristus berarti membiarkan Tuhan yang
merencanakan yang terbaik dalam sebuah perkawinan, terutama mengenai
keturunan.16 Kesadaran untuk membiarkan Tuhan bekerja dalam perkawinan
mereka membuat pasutri Hahn menyadari bahwa alat kontrasepsi merupakan
budaya kematian dan harus dilawan dengan budaya kehidupan. 17
2.
BUDAYA KEHIDUPAN MELAWAN BUDAYA KEMATIAN
Hahn menyadari ―adanya perang budaya, yaitu budaya kehidupan
melawan budaya kematian.‖18 Kesadaran itu membuat Hahn mengajak para
pembaca bukunya untuk ―memilih hidup.‖ 19 Budaya hidup itu yang seharusnya
diperjuangkan terutama dalam hal keputusan memiliki anak.
Tapi, sayangnya, hasil penelitian dan wawancara Hahn dengan beberapa
narasumber menunjukkan bahwa banyak pasutri saat ini memutuskan untuk
memiliki seorang anak berdasarkan perhitungan matematis, dan juga berdasarkan
kebutuhan. Anak tidak lagi dipandang sebagai anugerah dari Tuhan, sehingga
mereka tidak menyadari betapa penting dan berharganya seorang anak. 20
14
Hahn, Life-Giving Love, 48.
Hahn, Life-Giving Love, 48-50.
16
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 54-59.
17
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 63.
18
Hahn, Life-Giving Love, 67.
19
Hahn, Life-Giving Love, 68.
20
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 68-72.
15
5
Melihat kenyataan tersebut, Hahn menunjukkan bahwa anak itu berharga
dengan mengatakan, ―Anak-anak memiliki nilai, bukan karena kita memberikan nilai
tersebut kepada mereka. Anak-anak mempunyai nilai pada diri mereka sendiri karena
mereka diciptakan Tuhan dalam gambaran-Nya. Anak-anak adalah murni suatu hadiah.‖21
Oleh karena itu, orangtua harus menerima kehadiran seorang anak dengan penuh
rasa syukur dan tidak menganggapnya sebagai beban. Anak sungguh bernilai.
Bertolak dari isi pernyataan Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Pastoral
tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini, Gaudium et Spes (selanjutnya: GS) art. 48,
Hahn mengakui bahwa, ―Anak-anak memberi kita peluang untuk menjadi suci,
dengan menjalani hidup penuh pengorbanan kepada Tuhan dan kepada anak-anak
tersebut.‖22 Hahn yakin bahwa kelahiran seorang anak dapat mempererat
hubungan pasutri, membuat pasutri lebih menghargai kedua orangtua mereka, dan
adanya penerimaan dari kedua orangtua mereka. Ketiga hal itu yang mempererat
hubungan seluruh anggota keluarga. 23
Seorang anak bukan saja bernilai bagi kedua orangtuanya, tetapi juga bagi
saudara-saudaranya. Keberadaan anak-anak dalam keluarga, membuat seorang
anak belajar tentang apa artinya berbagi dan memiliki cinta sehingga ia dapat
tumbuh menjadi pribadi yang penuh dengan cinta.24
Hahn juga memberi perhatian terhadap pasangan yang masih menunggu
kehadiran seorang anak walaupun mereka sudah lama berkeluarga. Ia mengatakan
bahwa sewajarnya sepasang suami-istri berdoa memohon seorang anak kepada
21
Hahn, Life-Giving Love, 72-73.
Hahn, Life-Giving Love, 76.
23
Hahn, Life-Giving Love, 79.
24
Hahn, Life-Giving Love, 83-85.
22
6
Tuhan. Untuk dapat memahami alasan Tuhan belum memberikan seorang anak,
pasutri harus membuka hati terhadap kehendak Tuhan. Keterbukaan hati dapat
membangun kesadaran bahwa memiliki anak tidak harus dengan mengandung dan
melahirkan, tetapi dapat dengan mengadopsi anak-anak yang tidak mendapatkan
kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya. 25
Kenyataan yang dipaparkan oleh Hahn mengenai budaya kehidupan
berlawanan dengan budaya yang berkembang saat ini, yaitu budaya kematian.
Salah satu tanda berkembangnya budaya kematian adalah maraknya penyebaran
alat kontrasepsi. Hahn menjelaskan pengertian kontrasepsi sebagai ―suatu
tindakan yang dengan sengaja menghalangi kodrat memberi hidup dari
sanggama.‖26 Untuk menunjukkan bahwa sejak lama Tuhan menentang
penggunaan alat kontrasepsi, Hahn menceritakan kisah dari Kitab Kejadian 38:810, tentang Tuhan yang menghukum mati Onan yang dengan sengaja membiarkan
air maninya terbuang.
Penggunaan alat kontrasepsi27 juga merupakan perbuatan yang tidak
menghargai martabat manusia.
Hahn mempertegas pernyataan ini dengan
menuliskan,
[K]ontrasepsi bertentangan dengan martabat manusia dan membatasi kebebasan
manusia dengan menganggap bahwa seorang suami dan istri tidak bisa dan tidak
mampu mengendalikan diri sendiri atau membuat keputusan yang bertanggung
jawab.28
25
Hahn, Life-Giving Love, 85-87.
Hahn, Life-Giving Love, 89.
27
Secara umum metode kontrasepsi terbagi atas dua jenis yaitu barrier (pembatas/penghalang),
yakni: kondom, female condom, spermisida, diafragma, cap serviks, dan kontrasepsi sponge; dan
hormon, yakni: pil, depo provera, lunelle, nuva ring/cincin,ortho evra patch, dan IUD (spiral).
Terdapat juga beberapa jenis kontrasepsi yang lain yaitu sterilisasi, KB alami dan abstinence.
Sumber dari http://www.seksualitas.net/jenis-jenis-alat-kontrasepsi.htm diakses pada hari Rabu, 5
September 2012.
28
Hahn, Life-Giving Love, 99.
26
7
Dari sharing pengalaman orang-orang yang melakukan pengguguran
kandungan, Hahn menemukan bahwa ―beberapa alat kontrasepsi bersifat
menggugurkan‖29
dan ―memicu pertumbuhan beberapa
jenis
kanker.‖30
Penemuan ini membuat Hahn berani mengakui sikap tegas Gereja Katolik
menolak pemakaian alat kontrasepsi demi mempertahankan budaya kehidupan.
Untuk memahami dan mematuhi ajaran Gereja Katolik tentang budaya kehidupan
itu, setiap orang hendaknya membentuk suara hatinya menurut kebenaran dan
mengikuti suara hatinya itu.31
Hahn berpendapat bahwa alat kontrasepsi berlawanan dengan budaya
kehidupan, berlawanan dengan kodrat wanita, dan juga berlawanan dengan cinta.
Alat kontrasepsi berlawanan dengan budaya kehidupan karena alat ini
mengarahkan seseorang kepada mentalitas pengguguran kandungan yang
merupakan budaya kematian. Alat kontrasepsi berlawanan dengan kodrat wanita
karena menurut Hahn, ―setiap wanita adalah pembawa kehidupan yang suci.‖ 32
Alat kontrasepsi berlawanan dengan cinta karena manusia diciptakan oleh Tuhan
dalam cinta, dan Tuhan menginginkan manusia juga meniru-Nya dalam hal
mencinta. Maka, dengan menggunakan alat kontrasepsi, manusia menghancurkan
cinta Tuhan tersebut.
Hahn mengungkapkan bahwa cinta Tuhan itu nampak dalam penyerahan
diri. Penyerahan diri yang paling besar adalah penyerahan diri yang dilakukan
oleh Yesus dalam Sakramen Ekaristi. Perayaan Ekaristi membuat umat Tuhan
29
Hahn, Life-Giving Love, 104.
Hahn, Life-Giving Love, 106.
31
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 111-113.
32
Hahn, Life-Giving Love, 115.
30
8
menjadi satu keluarga. Hubungan kekeluargaan ini makin diperkuat dalam
Sakramen Perkawinan. 33
Di dalam Sakramen Perkawinan pasutri saling menyerahkan diri. Pasutri
menerima pasangan mereka sebagai hadiah. Proses penyerahan diri ini membuat
pasutri menjadi saluran karunia satu sama lain. 34 Hahn memberi makna terhadap
penyerahan diri suami-istri dalam perkawinan dengan pernyataan ini:
Pemberian seorang suami dan istri dalam perkawinan—hubungan intim dalam
perkawinan—menjadi suatu pernyataan cinta kita yang lebih berarti, sembari
cinta kita menjadi lebih matang. Kita menjadi saling mengenal dengan lebih baik
dengan berjalannya waktu. Kita tidak ―melakukan seks‖; kita saling memberikan
diri kita masing-masing. Dan makin banyak kita berbagi—pengalaman,
tantangan, kebahagiaan, dan penderitaan—kita menjadi makin saling mengerti
dan saling mencintai. Kita hidup menurut cara Alkitab bahwa untuk mengenal
seseorang adalah dengan masuk ke dalam perkawinan. 35
Hubungan badan antara suami-istri adalah bagian dari penyerahan diri
pasutri dalam perkawinan. Sama seperti seorang imam yang tidak boleh
mempersembahkan misa sebelum ditahbiskan, maka hubungan badan tidaklah
layak dilakukan sebelum perkawinan. Kesediaan pasangan untuk menunggu saat
yang tepat untuk melakukan hubungan badan akan memperkuat hubungan suamiistri yang memberikan modal spiritual bagi kehidupan perkawinan mereka. 36
Penyerahan diri juga berarti pengorbanan. Di dalam Sakramen Ekaristi,
pengorbanan yang tampak adalah pengorbanan Yesus Kristus yang memberikan
Tubuh dan Darah-Nya. Sedangkan di dalam Sakramen Perkawinan, pengorbanan
33
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 125.
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 120.
35
Hahn, Life-Giving Love, 121-122.
36
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 126-127.
34
9
antara suami-istri nampak mulai dari persiapan sebelum perkawinan sampai maut
memisahkan mereka. 37
Pengorbanan seringkali diiringi dengan penderitaan. Penderitaan akan
bermakna, apabila penderitaan itu diserahkan sebagai persembahan kepada Tuhan.
Bagi Hahn, persembahan dirinya kepada Tuhan ialah saat ia melahirkan anakanaknya. Berbagai pengalaman yang dialami saat ia melahirkan menyadarkan
Hahn bahwa penderitaan adalah kebahagiaan yang tertunda. Setelah penderitaan
berlalu, ada kebahagiaan yang menanti. 38 Kesadaran ini yang membuat orang
mampu bersyukur di dalam penderitaan. Hahn juga menyebutkan peran Roh
Kudus di dalam pengalaman korban dan syukur. Roh Kudus menanamkan dan
memperkuat cinta di dalam hati manusia. Roh Kudus adalah buah dari kedekatan
manusia dengan Kristus.39
Komunikasi juga merupakan bagian dari hubungan intim dalam sebuah
perkawinan. Ada dua komunikasi yang membawa keharmonisan dalam
perkawinan, yaitu komunikasi yang penuh cinta antara pasutri, dan komunikasi
pasutri dengan Tuhan. 40
Hahn menutup bagian ini dengan mengajak pembacanya untuk menyadari
bahwa ―cinta diberikan dan diterima sebagai suatu hadiah, dan tidak melupakan
cinta pertama pasutri, yaitu Yesus.‖ 41 Hahn berharap bahwa dengan merenungkan
perbandingan paralel antara Sakramen Ekaristi dan Sakramen Perkawinan, pasutri
dapat melihat keindahan rancangan Tuhan dalam perkawinan mereka.
37
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 127-129.
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 132-140.
39
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 140-145.
40
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 154.
41
Hahn, Life-Giving-Love, 158-159.
38
10
3.
BAGAIMANA KITA BISA HIDUP DALAM RANCANGAN INDAH
INI? MEMELUK TUBUH KRISTUS
Tuhan memiliki rencana dan rancangan sendiri dalam setiap perkawinan.
Rencana dan rancangan itu bertujuan untuk memperkuat hubungan antara suami
dan istri dengan berkah-Nya yang melimpah. Melalui Sakramen Tobat dan
Sakramen Ekaristi, Tuhan memperbarui manusia. Melalui kesulitan dan
penderitaan, Tuhan menempa manusia dan memperkuat niat manusia untuk secara
terus menerus pasrah terhadap penyelenggaraan Tuhan. 42
Pengalaman sebagai seorang ibu mendasari pendapat Hahn berikut ini,
―Begitu kita menyerahkan hati kita kepada Tuhan, kita juga perlu menyerahkan tubuh
kita kepada-Nya. Dengan menyerahkan tubuh kita sebagai ―korban hidup‖, kita
mengalami menjadi spiritual dari sisi fisik.‖43 Korban hidup yang dimaksud Hahn
adalah pengorbanan seorang isteri saat ia hamil, melahirkan, dan memelihara
anak-anak yang dipercayakan oleh Tuhan. Pengorbanan yang dilakukan seorang
istri dapat membuat pasutri saling mencintai dan terbuka terhadap hidup. 44
Banyak orang berpikir bahwa ibadah berarti mengikuti Perayaan Ekaristi.
Tetapi Hahn berpendapat
bahwa ―ibadah adalah mencintai Tuhan dengan
segalanya, termasuk tubuh kita, termasuk kesuburan kita.‖45 Dengan kata lain,
menjaga tubuh dan memelihara kesuburan adalah juga suatu ibadah. Kesadaran
untuk menjaga tubuh sebagai suatu bentuk ibadah muncul seiring dengan
perubahan cara berpikir manusia mengikuti cara berpikir Allah. Manusia diajak
42
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 164.
Hahn, Life-Giving Love, 164.
44
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 165.
45
Hahn, Life-Giving Love, 168.
43
11
untuk menyerahkan hati dan pikirannya kepada kebenaran ajaran Gereja dan
Kitab Suci. 46 Kehendak Tuhan dapat terwujud dalam hidup manusia kalau
manusia mau melaksanakan kehendak Tuhan bukan kemauan duniawi dalam
hidupnya. 47
Dokter adalah orang yang diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk
mengusahakan kesembuhan dan kesehatan tubuh manusia. Karena itu, seorang
dokter diharapkan untuk selalu menyatakan kebenaran terutama mengenai alat
kontrasepsi kepada para pasiennya.48Apabila
ada seorang dokter yang
memberikan resep kontrasepsi, alangkah baiknya apabila ada pasien, yang
mengetahui kebenaran ajaran Gereja Katolik, memberitahukan kepada dokter
tersebut tentang kebenaran ajaran Gereja.
Manusia tidak cukup hanya sehat tubuh saja, tetapi juga memerlukan jiwa
yang sehat. Jiwa manusia yang sehat dapat membawa manusia dekat dengan
Tuhan, yang berarti membawanya kepada keselamatan. Membantu manusia
menjaga kesehatan jiwa adalah salah satu tugas Gereja Katolik, yang diwakilkan
oleh pastor. Para pastor hendaknya menyadari perannya sebagai bapa spiritual,
sehingga selalu berusaha membawa umat-Nya ke jalan Tuhan dengan
mengajarkan ajaran yang Tuhan sampaikan lewat ajaran Gereja Katolik.
Seorang pastor harus berani dengan tegas dalam mengajarkan ajaran
Gereja Katolik, yaitu membela budaya kehidupan dengan menentang alat
kontrasepsi. Keberanian seorang pastor untuk berbicara mengenai kebenaran
dapat membuat sebuah keluarga diselamatkan. Atas kesadaran bahwa Gereja
46
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 168.
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 171-173.
48
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 173-175.
47
12
Katolik dipanggil untuk mengupayakan keselamatan manusia, maka Gereja
Katolik menawarkan peluang untuk pemulihan sebuah keluarga yang telah
terlanjur memakai alat kontrasepsi melalui pengakuan dosa kepada pastor.49
Umat Katolik diharapkan menerima kebenaran ajaran Gereja Katolik
mengenai keterbukaan terhadap hidup dan setia menjalankannya. Di dalam
Alkitab, ada banyak ajaran tentang menerima kebenaran dalam cinta. Santo
Paulus mengajak kita menyadari nilai-nilai Kristiani yang perlu manusia hidupi
sebagai pengikut Kristus, yaitu iman, harapan, dan kasih. Hahn menyadari bahwa
nilai-nilai Kristiani itu tidak hanya penting bagi kehidupan manusia secara pribadi
melainkan penting pula diterapkan oleh para pasutri dalam hidup perkawinan
mereka. 50
Hahn juga melihat adanya peranan doa dalam sebuah keluarga yang
mengikat hubungan manusia dengan Tuhan dan para orang kudus, dengan
mengatakan,
Doa dalam keluarga, bagi keluarga, dan oleh keluarga memperkokoh hubungan
cinta kita: dari Tuhan Bapa, melalui generasi yang setia, sampai keluarga yang
ada sekarang, dengan tujuan akhir adalah kembalinya kita kepada Bapa. Eratnya
hubungan suami istri menuju komunitas cinta dalam keluarga. Eratnya hubungan
antarmanusia menjadi eratnya hubungan para orang kudus. 51
Oleh karena itu, dalam sebuah keluarga diperlukan cinta. Cinta pasutri, yang
tampak dalam penyerahan diri antara suami dan istri, membuat mereka dapat
menemukan jati diri masing-masing. Mereka juga diminta untuk mengikuti
Kristus dengan memberi kesaksian dalam hidup perkawinan mereka.
49
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 187-188.
Lih. Hahn, Life-Giving Love, 193-202.
51
Hahn, Life-Giving Love, 200.
50
13
Tuhan menginginkan manusia berbagi kebenaran dengan penuh cinta
kepada orang lain. Hal ini telah dilakukan oleh Bunda Maria saat ia mengunjungi
Elisabet (Luk 1:39-45). Ia mau melayani Elisabet, walaupun saat itu ia juga
sedang mengandung. Bagi Hahn, kunjungan Bunda Maria ke rumah Elisabet
memberikan inspirasi tentang pentingnya memberikan bantuan kepada calon ibu
muda. Perbuatan Bunda Maria membawa kegembiraan kepada Elisabet dan janin
dalam rahimnya. Demikian juga bantuan-bantuan yang diberikan kepada calon ibu
muda akan menggembirakan banyak orang.52
Hahn juga mengajak umat Katolik untuk meneladani kata-kata Santo
Paulus dalam Surat kepada Titus (2:4-5) yang berisi himbauan untuk mendidik
perempuan-perempuan muda supaya mereka mengasihi suami dan anak-anak
mereka. Pendidikan ini merupakan tugas para wanita yang lebih tua. Mereka
menjalankan tugas ini dengan mengajarkan kebijaksanaan hidup, memberi
dukungan emosional, dan membangun persahabatan dengan para wanita muda.
Tindakan ini bukan hanya untuk anggota keluarga saja, melainkan juga untuk
semua orang yang menjadi keluarga di dalam Kristus. Tindakan ini membawa
semangat persaudaraan dan persatuan di dalam keluarga Kristus.53
Akhirnya, Hahn menyimpulkan bahwa keibuan adalah ―tugas yang
mulia.‖54 Ia mengajak para ibu untuk meneladan Bunda Maria yang
memperlakukan Putra-nya dengan hormat. Hahn mengajak para ibu untuk
mencintai dan meluangkan waktu untuk anak-anak yang telah Tuhan berikan
kepada mereka, dan juga meluangkan waktu untuk merenungkan pengalamannya
52
Hahn, life-Giving Love, 202-207.
Hahn, Life-Giving Love, 208-216.
54
Hahn, Life-Giving Love, 216.
53
14
sebagai seorang ibu. Kesadaran bahwa peran sebagai ibu adalah sebuah karunia
dari Tuhan dapat membuat seorang ibu menjalankan perannya dengan baik.
Kesadaran itu juga dapat membuat seorang ibu menyadari bahwa Tuhan bekerja
dalam diri anak-anak yang dipercayakan kepada mereka.55
55
Hahn, Life-Giving Love, 219-220.
15
BAB II
POKOK-POKOK PIKIRAN DAN TANGGAPAN KRITIS
UNTUK BUKU LIFE-GIVING LOVE JILID 1
KARYA KIMBERLY HAHN
Pada Bab I telah disajikan ringkasan buku Life-Giving Love jilid 1 yang
menjadi sumber penulisan kajian kateketik ini. Pada Bab II ini penulis 56
menyajikan pokok-pokok pikiran yang penulis dapatkan setelah meringkas buku
Life-Giving Love jilid 1 dan tanggapan kritis penulis mengenai buku Life-Giving
Love jilid 1.
1.
POKOK-POKOK PIKIRAN DALAM LIFE-GIVING LOVE JILID 1
Pokok-pokok pikiran yang ditemukan oleh penulis dalam buku Life-Giving
Love jilid 1 adalah sebagai berikut:
a.
Cinta yang Memberi Hidup
Semasa hidupnya manusia tidak pernah bisa lepas dari kata cinta. Manusia
senantiasa membutuhkan cinta. Cinta menjadi salah satu kebutuhan dasar
manusia. T. Krispurwana Cahyadi, SJ menuliskan, dalam bukunya yang berjudul
Jalan Pelayanan Ibu Teresa, bahwa,
Ibu Teresa mengatakan bahwa yang menghancurkan dunia kehidupan ini bukanlah
bom atom ataupun nuklir, senjata biologis atau kimia, tetapi tiadanya kasih.
Penyakit yang paling mengancam kehidupan dewasa ini bukanlah penyakit kanker
atau jantung, tetapi kerinduan akan cinta. Bila demikian, yang paling dibutuhkan
saat ini adalah cinta.57
Hal ini yang menyebabkan manusia berlomba-lomba dalam mendapatkan dan
memberikan cinta.
56
Kata penulis dalam bab ini dan bab selanjutnya merujuk pada penulis kajian kateketik ini:
Agnes Natalia.
57
T. Krispurwana Cahyadi, SJ, Jalan Pelayanan Ibu Teresa,(Jakarta: Penerbit OBOR, 2003),
138.
16
Cinta adalah kebutuhan manusia bahkan juga merupakan dasar dari segala
perbuatan manusia terutama dalam berhubungan dengan sesamanya. Tapi, cinta
yang bagaimana yang mendasari perbuatan manusia sehingga perbuatan manusia
dapat membawa kehidupan bagi sesamanya? Cinta yang memberi hidup untuk
sesamanya. Cinta yang memberi hidup adalah cinta yang membuat manusia
menjadi hidup dan berharga; cinta yang memanusiakan manusia.
Di dalam cinta yang memberi hidup ada unsur pengorbanan, yakni:
pengorbanan untuk memberikan diri dan hidup untuk orang-orang yang dicintai;
pengorbanan yang membuat orang lain merasa berharga dan memiliki nilai.
Unsur lain dari cinta yang memberi hidup adalah ketaatan menerima dan
menjalankan ajaran Gereja Katolik mengenai keterbukaan terhadap hidup. Buah
dari ketaatan adalah keberanian, yakni keberanian untuk dengan tegas
mengajarkan ajaran Gereja Katolik tersebut dan untuk menentang segala tindakan
yang mendukung budaya kematian.
Kesadaran bahwa pada saat manusia menghadirkan kehidupan berarti
menghadirkan Allah, kiranya membuat manusia menyadari sumber dari segala
kehidupan. Penulis Kitab Kejadian (1:1–2:7) menceritakan bahwa Allah-lah yang
menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Ini menunjukkan bahwa Allah yang
menghadirkan kehidupan di dunia ini dan Allah adalah sumber kehidupan. Allah
melakukan semua itu karena Allah mencintai semua ciptaan-Nya dan Allah adalah
cinta (bdk. 1Yoh. 4:17-21). Allah ingin manusia juga memiliki cinta seperti Dia.
Yesus adalah teladan manusia dalam mencintai Allah dan manusia. Yesus
menyerahkan diri-Nya secara total. Menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya untuk
17
dijadikan santapan keselamatan jiwa manusia. Cinta kasih yang total adalah
pemberian diri
bagi kehidupan.58
Pengorbanan Yesus tidaklah sia-sia.
Pengorbanan-Nya membawa kehidupan kepada semua orang yang percaya
kepada-Nya dan membuat semua orang yang percaya kepada-Nya dapat
terselamatkan.
Ketika pasutri menyadari bahwa Allah yang mengadakan perkawinan
mereka dan menyerahkan kehidupan perkawinan di dalam rencana Allah, cinta
yang memberi hidup tampak dalam perkawinan mereka. Penyerahan diri terhadap
penyelenggaraan Allah terwujud di dalam segala hal dalam perkawinan mereka,
termasuk saat mereka bersanggama dan menghasilkan kehidupan baru. Sikap
penyerahan diri yang dilakukan oleh pasutri Tobia dan Sara membawa kehidupan
(Tob. 8:1-21). Penyerahan diri secara total membuat pasutri bergantung pada
Allah dan meletakkan doa sebagai salah satu dasar perkawinan mereka. Dasar
perkawinan yang lain adalah memahami bahasa kasih pasangannya.
Ada banyak tantangan untuk mewujudkan cinta yang memberi hidup.
Para pasutri menghadapi budaya yang berkembang saat ini, yaitu budaya
kematian. Budaya kematian adalah budaya yang menolak cinta. Penggunaan alat
kontrasepsi adalah salah satu contoh budaya kematian. Banyak pasutri, yang
memakai alat kontrasepsi, tidak menyadari bahwa dengan memakai alat
kontrasepsi mereka mendukung budaya kematian.
Tantangan lain dalam memperjuangkan cinta yang memberi hidup untuk
zaman sekarang adalah merebaknya kebiasaan melakukan hubungan badan
58
Maurice Eminyan, SJ, Teologi Keluarga, (Yogyakarta:Kanisius, 2001), 28.
18
sebelum menikah. Kenyataan ini disebabkan oleh kekeliruan pandangan
kebanyakan kaum muda zaman sekarang tentang kekudusan perkawinan.
Kekeliruan itu disebabkan oleh adanya banyak informasi dari media cetak dan
elektronik yang berkembang saat ini, tapi kurangnya pendampingan dari orang
yang tepat untuk menyikapi informasi-informasi tersebut.
Kenyataan budaya kematian yang sedang berkembang dapat dilawan
dengan kesadaran untuk membangun budaya kehidupan. Termasuk di dalam
kesadaran
akan
budaya
kehidupan
ini
ialah
kesadaran
untuk
tidak
mempergunakan alat kontrasepsi dan tidak melakukan hubungan badan sebelum
perkawinan. Pasutri diajak untuk membiarkan rencana Tuhan bekerja dalam
sebuah hidup perkawinan dengan mencintai pasangan dan semua anak yang
dipercayakan oleh Tuhan kepada mereka.
b.
Rancangan Indah Allah bagi Sebuah Perkawinan
Sejak awal penciptaan manusia, Allah telah mempersatukan pria dan wanita
dalam sebuah perkawinan (lih. Kej. 2:24). Allah memiliki suatu rancangan indah
saat mempersatukan seorang pria dan seorang wanita dalam sebuah ikatan
perkawinan. Maurice Eminyan, SJ, dalam bukunya yang berjudul Teologi
Keluarga, berpendapat bahwa ―keluarga dibangun atas cinta yang tidak
mementingkan diri sendiri dan sekaligus merupakan perwujudan cinta Allah.
Keluarga itu sendiri merupakan gambar dan citra Allah.‖ 59 Eminyan juga
mengatakan bahwa dengan perintah beranak cucu, Allah hendak menyertakan
59
Eminyan, SJ, Teologi Keluarga, 28.
19
pasutri menjadi prokreator, “pencipta bersama Allah.‖ Pasutri dijadikan rekan
sekerja Allah. 60
Para Bapa Konsili Vatikan II juga mengakui bahwa perkawinan diciptakan
oleh Allah. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa nilai perkawinan sangat
berharga sebab ia berasal dari Allah. Perkawinan membawa misi dari Allah yakni
kebahagiaan pasutri. 61
Buah kebahagiaan pasutri tampak pada hadirnya seorang anak dalam sebuah
perkawinan. Anak adalah sebuah anugerah, tanda cinta yang dihadirkan oleh
Allah. Tapi Gereja Katolik menyadari bahwa tugas pasutri tidak berhenti pada
saat memiliki anak. 62 Memiliki seorang anak tidak hanya dapat melahirkan dan
membesarkannya saja, tetapi juga harus memperhatikan pendidikannya sehingga
anak tersebut dapat menjadi manusia yang utuh. Oleh karena itu, pendidikan anak
adalah sebuah hal yang penting, sebagai tanda syukur atas anugerah Allah.
Pendidikan yang dimaksud di sini bukan hanya pendidikan mengenai baca dan
tulis melainkan juga pendidikan menjadi insan yang dapat berguna bagi sesama
dan alam sekitarnya.
Penyerahan diri pasutri terhadap penyelenggaraan Allah dalam hidup
perkawinan mereka membuat pasutri dapat memahami rancangan indah Allah
dalam perkawinan mereka. Pasutri memahami rancangan indah Allah dalam
perkawinan mereka dengan pasrah terhadap kehendak Allah. Kepasrahan adalah
buah dari doa yang menjadi sumber berkat dan pemersatu dalam hidup sebuah
60
Eminyan, SJ, Teologi Keluarga, 29.
Bapa Konsili Vatikan II, Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini: Gaudium
Et Spes, art. 48.
62
Bapa Konsili Vatikan II, Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini: Gaudium
Et Spes, art. 48.
61
20
perkawinan. Kepasrahan itu membuahkan sikap hormat terhadap hidup manusia
yang terwujud dalam penerimaan rencana Allah dalam hidup perkawinan mereka
dan sikap saling menghormati di antara pasutri. 63 Suami menghormati dan
menyayangi istrinya sebagai anugerah dari Tuhan dan bagian dari dirinya. Begitu
juga istri menghormati dan menyayangi suaminya. Perkawinan menjadi tempat
pengejawantahan cinta Allah yang suci dan tulus.
2.
TINJAUAN KRITIS
Di dalam Life-Giving Love, Hahn memulai tulisannya dengan merefleksikan
pengalaman pribadinya dalam terang pengetahuan akan Alkitab dan ajaran Gereja
Katolik. Hahn membahas tentang Trinitaris sebagai dasar dari refleksi atas
pengalaman pribadinya. Pengalaman dan refleksi dipakai oleh Hahn untuk
membawa pembaca kepada topik utama buku ini yaitu pembahasan mengenai
budaya kehidupan melawan budaya kematian. Isu-isu yang diangkat oleh Hahn
adalah sex, cinta, perkawinan, dan keluarga. Hahn berusaha menjelaskan ajaran
Gereja Katolik yang berkaitan dengan isu-isu tersebut. Akhirnya, ia menutup
tulisannya dengan sebuah refleksi yang menghasilkan suatu sikap yang
mendukung budaya kehidupan. Sistematika tulisan yang dipakai oleh Hahn sangat
mudah untuk dimengerti oleh pembacanya karena ia memakai alur pemikiran
yang jelas dan mudah diikuti. Nilai lebih lainnya ialah adanya lampiran yang
berisikan ide-ide untuk memberikan bantuan bagi para Ibu.
63
Lihat ringkasan Bab 1 hlm. 9.
21
Buku ini sangat bermanfaat bagi keluarga-keluarga Katolik di Indonesia
terutama mengenai pemahaman tentang ajaran Gereja Katolik tentang KB alami.
Namun disayangkan, penulis menemukan adanya ketidaksesuaian kata dalam
penerjemahan, misalnya kata berkembang biak pada halaman 40. Kata
berkembang biak lazimnya digunakan untuk binatang, bukan manusia. Penulis
juga menemukan kesalahan dalam pengutipan dokumen Gereja. Contoh: pada
halaman 76 dikatakan kutipan dari GS art. 50, padahal yang benar adalah art. 48.
Walaupun begitu, ketidaksesuaian kata dan kesalahan pengutipan tidaklah
mengurangi nilai penting dari buku ini sebagai buku acuan pelayanan bagi
keluarga-keluarga katolik untuk mengajak mereka berpihak pada budaya
kehidupan, antara lain: melalui penggunaan KB alami dan sikap menghargai
kehadiran anak.
Saat membaca dan meringkas buku Hahn ini, penulis mendapatkan sebuah
pencerahan terutama mengenai kekudusan perkawinan, arti seorang anak, dan
kesadaran akan pentingnya menjaga kesucian sebelum perkawinan. Menurut
penulis, pencerahan ini berguna untuk mendampingi orang-orang yang sedang
mengalami masalah perkawinan, terutama mereka yang mengalami dilema
mengenai pemakaian alat kontrasepsi dan mengenai kehadiran anak, dan juga
kawula muda yang menghadapi budaya hedonisme dewasa ini. Secara
keseluruhan isi dari buku Hahn memberikan sumbangan yang besar bagi
pelayanan pastoral keluarga, terutama untuk pembinaan orang-orang muda yang
mempersiapkan diri untuk kehidupan berkeluarga. Isi dari buku Hahn ini dapat
menjadi acuan untuk modul Kursus Persiapan Perkawinan (selanjutnya: KPP),
22
khususnya KPP Dekenat Jakarta Selatan untuk materi Seksualitas dan Keluarga
Berencana, Pendidikan Menjadi Orangtua, Teologi Moral Perkawinan Katolik,
dan Komunikasi Suami-Istri.64
Ada satu kekurangan lagi yang penulis temukan dalam uraian Hahn di buku
ini. Hahn banyak membahas tentang peran dan pengorbanan seorang istri/ibu
dalam hidup perkawinan, tapi ia tidak membahas peran dan pengorbanan seorang
suami/ayah. Padahal ketika memulai buku ini, Hahn menceritakan pergumulannya
bersama suaminya, Scott, dalam menghadapi dilema menggunakan alat
kontrasepsi. Penulis berpendapat, di dalam sebuah perkawinan, peran suami/ayah
juga penting. Sebuah rumah tangga tidak akan berjalan lancar dan mencapai
tujuan dari perkawinan kalau tidak ada kerja sama antara suami dan istri.
64
KPP di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) biasanya dilakukan di dekenat-dekenat. Dekenatdekenat yang menyelenggarakan KPP adalah: dekenat utara, dekenat barat 1, dekenat barat 2,
dekenat pusat, dekenat bekasi, dekenat timur, dekenat tangerang dan dekenat selatan.. Penulis
adalah aktivis yang membantu di KPP dekenat selatan. KPP dekenat selatan meliputi 6 paroki
yaitu: paroki Blok B, paroki Blok Q, paroki Cilandak, paroki Jagakarsa, paroki Pasar Minggu, dan
paroki Tebet. Materi-materi yang diberikan di dalam KPP di dekenat selatan mengikuti modul
yang diberikan oleh Komisi Kerasulan Keluarga KAJ. Materi-materi tersebut adalah: Teologi
Moral dan Hukum Perkawinan Katolik, Spiritualitas Perkawinan Katolik, Liturgi Perkawinan
Katolik, Ekonomi Rumah Tangga, Seksualitas dan Keluarga Berencana, Komunikasi Suami-Istri,
Peranan dan Tanggungjawab Suami-Istri dalam Pendidikan Anak/Pendidikan Menjadi Orangtua,
dan Sharing Kelompok.
23
BAB III
CINTA YANG MEMBERI HIDUP
Penulis sudah menguraikan dua pokok pikiran yang penulis temukan
dalam karya Hahn. Berdasarkan penemuan tersebut, penulis memutuskan untuk
memilih satu pokok pikiran yang akan dikembangkan pada bab ini. Pokok pikiran
tersebut adalah: cinta yang memberi hidup.
1.
CINTA, KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
Setiap manusia merindukan untuk dicintai dan mencintai, karena dengan
mencintai dan dicintai, manusia dapat merasakan kebahagiaan dan menjadikan
hidupnya lebih berarti, Beata Teresa menguatkan kenyataan bahwa cinta sangat
dibutuhkan oleh manusia terutama di zaman sekarang: ―Penyakit terbesar di dunia
Barat pada zaman ini bukanlah TBC atau lepra, melainkan tidak dibutuhkan oleh
orang lain, tidak dicintai, dan tidak dipedulikan.‖ 65
Cinta dapat membuat hidup manusia menjadi berarti. Paulus, dalam
suratnya yang kedua kepada umat di Korintus, pernah mengatakan bahwa
sekalipun manusia memiliki segalanya tapi tidak memiliki cinta tidak ada gunanya
sama sekali (bdk. 1Kor. 13:1-3). Kalau direfleksikan secara mendalam, dapat
dikatakan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa cinta.
Berbagai macam bentuk cinta ada di dalam hidup manusia, seperti cinta di
antara orangtua dan anak, cinta antar saudara, cinta antar teman, cinta sepasang
kekasih, dan cinta antar suami istri. Banyak bentuk cinta yang mewarnai dan
sekaligus mempengaruhi hidup manusia. Diharapkan dengan adanya cinta dalam
65
Lucinda Vardey, Ibu Teresa: A Simple Path, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1997),
49.
24
kehidupan seseorang, ia berkembang menjadi manusia yang utuh. Hal itu
disebabkan karena cinta melengkapi hidup manusia. Tapi ternyata tidak semua
cinta dapat mempengaruhi dan mengubah hidup manusia menjadi lebih baik.
Hanya cinta yang memberi hidup yang memungkinkan hal itu terjadi.
2.
CINTA YANG MEMBERI HIDUP
Cinta yang memberi hidup adalah cinta yang menghargai kehidupan dan
yang menempatkan kehidupan sebagai prioritas nomor satu dalam segala tindakan
manusia. Cinta yang memberi hidup adalah cinta yang menghargai martabat
pribadi manusia yang diciptakan sebagai citra Allah. Sebagai citra Allah, manusia
sudah selayaknya menunjukkan cinta yang menghidupkan di dalam hidupnya.
Manusia hendaknya mencintai sesamanya seperti ia mencintai dirinya sendiri
sesuai dengan ajaran yang diberikan oleh Yesus dalam perumpamaan orang
Samaria yang murah hati (Luk. 10:25-37). Untuk dapat melakukan ini, manusia
perlu menyadari unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah cinta sehingga cinta
tersebut menjadi cinta yang menghidupkan.
3.
UNSUR-UNSUR CINTA YANG MEMBERI HIDUP
Tidak semua cinta dapat dikatakan cinta yang memberi hidup. Pius Pandor,
CP, di dalam bukunya Ex Latina Claritas, berpendapat bahwa ―cinta itu aktif, ia
selalu memberi bukan menerima.‖66
Selanjutnya, Pandor menjelaskan, ―cinta
66
Pius Pandor, CP, Ex Latina Claritas: Dari Bahasa Latin Muncul Kejernihan, (Jakarta:
Penerbit OBOR, 2010), 70-71.
25
yang aktif memiliki empat unsur, yaitu perhatian, tanggung jawab, rasa
hormat/penerimaan, dan pemahaman akan pribadi pasangan.‖ 67
Selain unsur-unsur yang disebutkan oleh Pandor, penulis menemukan unsurunsur lain dari cinta yang menghidupkan, yakni: penerimaan diri dan cinta
terhadap diri sendiri, pengorbanan/penyerahan diri, kesetiaan dan ketaatan,
kejujuran dan kepercayaan, pelayanan, dan pengampunan.
Unsur pertama adalah penerimaan diri dan cinta terhadap diri sendiri.
Penerimaan diri berarti menerima diri dan mencintai diri apa adanya serta berani
untuk menunjukkan siapa dirinya. Menerima diri berarti menerima segala
kekuatan dan kelemahan dirinya serta menjadikan kelemahannya sebagai
kekuatannya menghadapi segala persoalan hidup. Nick Vujicic (dibaca Voy-achich) menuliskan pendapatnya: “Rasa cinta terhadap diri [kita] haruslah
menggambarkan cinta Tuhan dan bahwa [kita] adalah [pribadi-pribadi] yang
dihadirkan di dunia ini untuk memberikan kontribusi khusus.‖68
Banyak penyandang cacat (selanjutnya penca) dan non penca yang tidak
dapat menerima keadaannya sehingga ia tidak dapat memaksimalkan potensi
dirinya dan memberikan cinta kepada orang lain. Yesus pernah berkata bahwa di
dalam diri seorang penca ada rencana Tuhan dan pekerjaan-pekerjan Tuhan (bdk.
Yoh. 9:3). Sudah sepatutnya manusia dapat menerima kondisi dirinya dan
mengembangkan potensi yang ada sehingga hidupnya memancarkan cinta kepada
67
Pandor, CP, Ex Latina Claritas, 70-71.
Nick Vujicic, Life Without Limits: Tanpa Lengan dan Tungkai Aku bisa menaklukkan dunia,
(Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012), 87. Vujicic adalah seorang penyandang
cacat. Ia tidak memiliki tangan dan hanya memiliki kaki kiri yang mungil.
68
26
semua orang. Louis Braille 69, Helen Keller70, dan Nick Vujicic adalah contohcontoh orang yang memiliki keterbatasan fisik tetapi dapat menerima keadaan
mereka. Penerimaan mereka terhadap diri mereka sendiri membawa cinta kepada
semua orang yang mengenal mereka.
Unsur kedua adalah pengorbanan. Cinta membuat orang mampu
memberikan dirinya dan hidupnya untuk orang-orang yang dicintainya. Banyak
contoh kisah pengorbanan untuk orang yang dicintai di Alkitab, antara lain: kisah
anak perempuan Yefta yang mengorbankan dirinya untuk dapat memenuhi nazar
ayahnya (Hak. 11:29-40); Rut yang mengorbankan diri dan hidupnya untuk
menemani Naomi, mertuanya (Rut. 1-4); pengorbanan Ratu Ester untuk
keselamatan orang Yahudi (Est. 4:15-17); pengorbanan Tobia untuk menikahi
Sara yang akhirnya menyembuhkan Sara (Tob. 3:8a; 8:1-21); dan pengorbanan
Yusuf untuk menikahi Maria (Mat. 1:18-25). Selain itu juga ada contoh dari
orang-orang kudus yang mengorbankan hidupnya untuk orang lain, seperti Santa
Monika yang tidak pernah berhenti berdoa untuk pertobatan Agustinus, anaknya
dan Patricius, suaminya; Santo Damian yang mengabdikan dirinya untuk para
penderita kusta di Pulau Molokai; dan Beata Teresa yang mengorbankan hidupnya
untuk melayani orang-orang yang sakit dan menderita di Calcutta.
69
Louis Braille (1809-1852) adalah pencipta huruf Braille, huruf yang dgunakan oleh tuna
netra untuk menulis dan membaca. Sumber: Nurmiadi, Louis Braille: Pencipta Tulisan Braille
bagi para Tuna Netra, (Jakarta:PT. Elex Media Komputindo, 2010).
70
Helen Keller (1880-1968) adalah seorang perempuan tuna netra dan bisu tuli yang
mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan hak-hak penca. Sumber: Fiona Macdonald, Helen
Keller:Perempuan tuna netra dan bisu tuli yang mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan
hak-hak penderita cacat, (Jakarta:Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1996).
27
Unsur ketiga adalah kesetiaan dan ketaatan. Kesetiaan adalah unsur yang
membuat seseorang selalu mencintai orang-orang yang dicintai dalam keadaan
apapun. Kesetiaan biasanya diikuti juga dengan ketaatan. Di dalam Kitab Suci
terdapat cerita tentang tokoh-tokoh teladan kesetiaan dan ketaatan bagi orangorang beriman, seperti Nuh yang taat ketika diminta oleh Yahwe untuk membuat
bahtera (Kej. 6:9–9:29), Abraham yang mau mengorbankan anak tunggalnya (Kej.
12-23), Yusuf, yang tetap percaya kepada Yahwe walaupun ia sudah dibuang ke
Mesir (Kej. 39-41), Ayub, yang tetap percaya kepada Yahwe walaupun ia sudah
kehilangan anak-anak dan hartanya (Ayb. 1:21–2:10), Daniel yang tetap setia
walaupun dimasukkan ke dalam gua singa (Dan. 6:1-29), Tobit yang tetap setia
kepada Yahwe walaupun ia buta dan berada di tempat pembuangan (Tob. 1-14),
seorang ibu dan tujuh orang anaknya (2Mak. 7:1-42), Pasutri Yusuf-Maria yang
mau menerima tugas dari Yahwe, menjadi orangtua Yesus (Mat. 1:18-25; Luk.
1:26-38), dan Stefanus yang siap untuk mati dirajam demi kepercayaannya kepada
Yesus (Kis. 6:8–7:60).
Unsur yang keempat adalah kejujuran dan kepercayaan. Kejujuran
biasanya diikuti dengan kepercayaan. Kejujuran dan kepercayaan saling berkaitan
satu sama lain. Kejujuran berarti jujur terhadap Tuhan, diri sendiri, dan sesama.
Berani mencintai orang lain berarti berani untuk jujur kepada orang-orang yang
dicintai. Kepercayaan membuahkan mukjizat seperti yang ditunjukkan oleh
Bunda Maria, kepercayaannya membuat ada mukjizat di Kana (Yoh. 2:1-11),
perempuan Siro-Fenisia (Mrk. 7:24-30), perempuan yang sakit pendarahan (Mrk.
5:25-34), seorang perwira di Kapernaum (Mat. 7:1-10), dan Bartimeus
28
(Mrk.10:46-52). Saat manusia jujur dan pasrah, penyelenggaraan ilahi datang dan
mengubah hidup manusia.
Unsur yang kelima adalah pelayanan. Mencintai orang lain berarti mau
melayani dan memberikan yang terbaik untuk orang yang dicintainya. Teladan
utama dari unsur ini adalah Yesus sendiri yang selalu siap melayani siapa saja
yang datang minta pelayanan terutama penca, orang sakit, dan juga anak-anak.
Beata Teresa dari Calcutta dan Santo Damian dari Molokai adalah teladan orangorang kudus untuk pelayanan. Beata Teresa mengatakan ―buah cinta adalah
pelayanan.‖71
Unsur
yang terakhir adalah pengampunan. Manusia mempunyai
kecenderungan: mudah menyakiti, sulit mengampuni. Pengalaman tidak diampuni
dan tidak bisa mengampuni adalah pengalaman yang tidak menyenangkan.
Pengampunan dapat menyembuhkan seseorang dari sakit dan dapat membuat
seseorang hidup dalam rasa penerimaan yang diikuti oleh rasa damai, seperti yang
dirasakan oleh kakak-kakak laki-laki Yusuf72 (Kej. 45:1-28), Zakheus (Luk. 19:110), dan si anak bungsu dalam perumpamaan anak yang hilang (Luk. 15:11-32).
Rasa penerimaan dan damai juga dialami oleh Dave Pelzer ketika ia mengampuni
ibunya. 73
71
Vardey, Ibu Teresa: A Simple Path, 49.
Yusuf adalah anak Yakub yang ke 12 dari 13 bersaudara. Ia memiliki 10 orang kakak lakilaki, satu orang kakak perempuan, dan satu orang adik laki-laki. Nama kakak perempuan Yusuf
adalah Dina. Dina di Alkitab hanya disebutkan sebanyak dua kali di Kej. 30:21 dan Kej. 34:1-31.
Pada saat Yusuf dijual, tidak dikisahkan bahwa Dina ikut berperan. Dina juga tidak ikut pada
waktu kakak laki-laki Yusuf pergi ke Mesir mencari makanan.
73
Dave Pelzer adalah anak ketiga dari lima bersaudara yang mengalami penyiksaan dari ibu
kandungnya, tapi ia berhasil selamat sehingga ia akhirnya menjadi anak di bawah asuhan negara
Amerika. Cerita pengalaman dan pergumulannya sebagai korban “child abuse”, ia tulis dalam
72
29
4.
SUMBER DAN TELADAN CINTA YANG MEMBERI HIDUP
Penulis berpendapat bahwa unsur-unsur cinta yang memberi hidup dapat
dipahami dan dilaksanakan kalau manusia menyadari dan mengerti sumber cinta
yang hidup. Allah yang menciptakan cinta dan Allah itu adalah cinta (bdk. 1Yoh.
4:8). Atas dasar cinta, Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya.
Walaupun akhirnya manusia berdosa dan menjauhi Allah, Allah tetap mencintai
manusia. Bukti cinta-Nya yang besar adalah dengan mengaruniakan Putra-Nya
yang tunggal, Yesus (lih. Yoh. 3:16).
Yesus datang ke dunia sebagai wujud Allah yang memberikan hidup-Nya
untuk manusia. Ia mengorbankan nyawa-Nya dengan mati di kayu salib. Ia
memilih mati dengan cara yang paling hina untuk menyelamatkan manusia. Ia
menunjukkan bahwa cinta yang besar adalah pemberian diri seutuhnya untuk
orang-orang yang dicintai. Cinta yang menghidupkan yang ditunjukkan oleh
Yesus adalah cinta yang penuh dengan pengorbanan. Yesus menginginkan semua
manusia meneladan cinta-Nya dalam hidupnya, dalam segala hal. Lalu, apakah
cinta yang menghidupkan dapat juga diwujudkan dalam hidup perkawinan?
5.
CINTA YANG MEMBERI HIDUP DALAM PERKAWINAN
Perkawinan adalah sesuatu yang indah dan kudus, karena yang mengadakan
perkawinan adalah Allah (lih. Kej. 2:24). Atas dasar itu, Gereja Katolik
menjadikan perkawinan sebagai sakramen. Dr. C. Groenen, OFM mengatakan
trilogi bukunya yang berjudul: Child Called It (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007), The
Lost Boy (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002), dan A Man Named Dave (Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama, 2003).
30
bahwa, ―dengan mengembalikan perkawinan kepada Allah Pencipta, tradisi dan
Konsili Vatikan menilai perkawinan sebagai sesuatu yang pada prinsipnya baik
dan termasuk ke dalam tata penciptaan sebagaimana dikehendaki Allah
Pencipta.‖74 Dengan kata lain, perkawinan membuat pasutri menjadi rekan kerja
Allah dalam penciptaan manusia.
Perkawinan adalah tempat pasutri menampilkan cinta yang meneladan cinta
Allah, cinta yang menghidupkan. Berdasarkan kesadaran ini, hendaknya pasutri
menampilkan unsur-unsur cinta yang menghidupkan dalam perkawinan, yakni:
perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, pengenalan diri sendiri dan diri pasangan,
pengorbanan/penyerahan diri, kesetiaan dan ketaatan, kejujuran dan kepercayaan,
pelayanan, dan pengampunan.
Lewat doa bersama dalam keluarga, pasutri dapat menunjukkan unsur-unsur
cinta yang menghidupkan sehingga perkawinan mereka dapat
menjadi
pengejawantahan cinta Allah. Doa juga dapat membantu pasutri dalam
menghadapi segala permasalahan dalam keluarganya dan juga membawa
kehidupan seperti yang dilakukan oleh pasutri Tobia-Sara (Tob. 7-8).75
Menurut Gary Chapman, penulis buku Esensi dari Lima Bahasa Kasih76,
manusia dapat menunjukkan cintanya kepada orang lain kalau ia mengetahui
bahasa cinta yang dimiliki oleh sesamanya. Setiap orang memiliki bahasa
74
Dr. C. Groenen, OFM, Perkawinan Sakramental: Anthropologi dan Sejarah Teologi,
Sistematik, Spiritualitas, Pastoral, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), 303.
75
Tobia adalah anak laki-laki Tobit. Ia menikahi Sara. Sara telah diperistri oleh tujuh orang
laki-laki, namun sebelum melakukan persetubuhan, suami-suami Sara meninggal dibunuh oleh
setan jahat yang bernama Asmodeus. Tapi tidak demikian dengan Tobia. Tobia tetap hidup,
dikarenakan Tobia menuruti nasehat yang diberikan oleh teman seperjalanannya yang bernama
Azarya. Azarya adalah malaikat Rafael yang sedang menyamar. Tobia mengajak Sara untuk
berdoa pada malam pertama dan menaruh hati dan jantung seekor ikan besar di atas bara
pendupaan.
76
Gary Chapman, Esensi dari Lima Bahasa Kasih, (Jakarta: Light Publishing, Juni 2009).
31
cintanya masing-masing. Chapman mendefinisikan lima bahasa cinta, yaitu: katakata penguatan, waktu yang berkualitas, menerima hadiah, tindakan melayani, dan
sentuhan fisik.77 Pengetahuan akan bahasa cinta ini hendaknya membantu pasutri
untuk senantiasa mengupayakan dan merasakan kedekatan satu dengan yang lain,
dan kedekatan itu membuat pasutri dapat mencintai Tuhan lewat perkawinan
mereka.
Komunikasi memiliki peranan penting dalam sebuah perkawinan.
Ketidakadaan dan ketidakberesan komunikasi dapat menghambat terwujudnya
cinta yang menghidupkan dalam sebuah perkawinan bahkan menimbulkan
perpecahan dalam sebuah perkawinan. Komunikasi tidak mudah untuk dilakukan
kalau tidak ada kesadaran untuk mendengarkan dari semua pihak yang terlibat.
Untuk bisa mendengarkan dengan baik, diperlukan adanya keheningan. Dalam
pesannya untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-46 yang dirayakan pada
Minggu, 20 Mei, 2012, Paus Benediktus XVI mengatakan,
Keheningan adalah unsur integral dari komunikasi; tanpa keheningan, maka tiada
kata yang kaya dalam isinya. Dalam keheningan, kita lebih mampu mendengar dan
memahami diri kita sendiri, gagasan-gagasan muncul dan bermakna mendalam;
kita memahami dengan lebih jelas apa yang ingin kita katakan dan apa yang kita
harapkan dan orang lain; dan kita memilih cara untuk mengungkapkan diri. Dengan
keheningan, kita menyilakan orang lain berbicara dan mengungkapkan dirinya; kita
terhindar dari keterikatan pada kata-kata dan gagasan kita sendiri tanpa teruji
secara memadai. Dengan cara ini, ruang diciptakan untuk saling mendengar dan
hubungan manusiawi yang lebih mendalam menjadi mungkin.
Seringkali dalam keheningan, misalnya kita melihat komunikasi yang paling
otentik terwujud antara orang yang sedang jatuh cinta: gerak tubuh, ekspresi wajah,
dan bahasa tubuh adalah tanda-tanda mereka saling mengungkapkan dirinya.
Kegembiraan, kecemasan, dan penderitaan dapat diungkapkan semuanya dalam
keheningan. 78
77
Chapman, Esensi dari Lima Bahasa Kasih, 14-52.
Paus Benediktus XVI, Keheningan dan Kata: Jalan Evangelisasi, Majalah Hidup, 20 Mei
2012, 14.
78
32
Oleh karena itu pasutri hendaknya menyadari bahwa keheningan sangatlah
penting dalam komunikasi, sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan baik.
Pembicaraan mengenai perkawinan tidak bisa tidak menyinggung hal
hubungan intim antara suami dan istri. Hubungan intim sering diartikan sempit
sebagai hubungan badan. Hubungan badan atau persetubuhan adalah bagian kecil
dari hubungan intim pasutri. Hubungan intim tampak dalam kedekatan suami-istri
dalam menjalani kehidupan berumah tangga, seperti sentuhan, ciuman, kata-kata
yang romantis, hubungan badan, dan lain sebagainya. Pernyataan Ign.
Wignyasumarta, MSF, dkk dalam buku Panduan Rekoleksi Keluarga memperkuat
pendapat tentang arti cinta suami istri yang sesungguhnya, dengan mengatakan
bahwa, ―cinta lebih daripada suatu reaksi ketertarikan secara seksual kepada yang
lain. [Cinta] menyangkut seluruh pribadi manusia, termasuk juga menyangkut
segi-rohani-spiritualnya. Cinta suami-istri adalah total, setia, dan eksklusif.‖79
Cinta suami istri diharapkan terus berkembang dalam hidup perkawinan yang
akhirnya mencapai cinta suami-istri yang dewasa yaitu “cinta agape”, cinta yang
memberikan diri seutuhnya kepada orang lain, dalam hal ini pasangan hidup. 80
Persetubuhan yang berada dalam sebuah perkawinan adalah kudus, karena
sudah diberkati oleh Allah sendiri. Pada saat persetubuhan, ada perayaan antara
Kristus dan Gereja-Nya. Persetubuhan adalah sebuah pewartaan akan penyerahan
diri Allah dan menunjuk pada kenyataan ilahi bahwa tubuh manusia adalah
79
Ign. Wignyasumarta, MSF, dkk, Panduan Rekoleksi Keluarga, (Yogyakarta: Penerbit
Kanisius, 2000), 43.
80
lih. Wignyasumarta, MSF, dkk, Panduan Rekoleksi Keluarga, 44.
33
gambar dan rupa Allah sendiri. 81 Hal ini menunjukkan bahwa dengan melakukan
persetubuhan, pasutri telah menjadi rekan Allah dalam penciptaan dan
mewartakan Allah yang Maha Cinta.
6.
TANTANGAN CINTA YANG MEMBERI HIDUP
Mewujudkan cinta yang memberi hidup berarti berpihak pada budaya
kehidupan. Melaksanakan budaya kehidupan di saat hedonisme berkembang
dengan pesat bukanlah hal yang mudah. Ada banyak tantangannya. Seiring
dengan perkembangan zaman, budaya kematian juga berkembang dengan pesat.
Bentuk budaya kematian yang menjadi tantangan bagi hidup perkawinan antara
lain pemakaian alat kontrasepsi dan praktik kekerasan dalam rumah tangga
(selanjutnya: KDRT).
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa pemakaian alat kontrasepsi
sama saja dengan melakukan aborsi. Melakukan aborsi berarti berusaha melawan
kehendak Allah yang menginginkan manusia untuk beranak cucu. Menurut
William Chang, OFM Cap,
Aborsi tergolong tindak pembunuhan keji yang merenggut nyawa manusia dan
melanggar perintah Allah yang kelima [Jangan membunuh-Sepuluh Perintah Allah
Katolik]. Manusia bukan tuan atau pemilik hidup, melainkan penerima anugerah
hidup yang diberikan oleh Sang Pencipta. Pencabutan hidup manusia menentang
dan melawan (kehendak) Sang Pencipta.82
Adanya alat kontrasepsi menimbulkan permasalahan baru, antara lain
pelecehan seksual dan hubungan badan sebelum menikah. Pelecehan seksual
81
Lih. Deshi Ramadhani, SJ, Lihatlah Tubuhku: Membebaskan Seks Bersama Yohanes Paulus
II, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius:2009), 176.
82
William Chang, OFM Cap., Bioetika Sebuah Pengantar, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius,
2009), 46.
34
mengubah makna esensi sesungguhnya dari tubuh serta mengaburkan maksud dan
tujuan Tuhan ketika menciptakan manusia. 83 Kebiasaan melakukan hubungan
badan sebelum menikah adalah hal yang dianggap wajar saat ini. Kesadaran akan
pentingnya menjaga keperawanan sebelum pernikahan mulai surut.
Beato Yohanes Paulus II menyadari kenyataan berkembangnya budaya
hedonisme yang menyelewengkan arti dari seks yang sesungguhnya di kalangan
muda Katolik dan kesadaran itu membuat beliau menyampaikan sebanyak 129
ceramah yang khusus membahas hal-hal relasi antara pria dan wanita, seksualitas,
dan cinta. Kumpulan tulisan beliau itu kemudian dikenal dengan istilah theology
of the body (Teologi Tubuh).84 Lewat teologi tubuh, Beato Yohanes Paulus II
mengajak semua orang akan pentingnya memahami seks yang benar dan menjaga
kekudusan perkawinan serta berani untuk berkata ―tidak― terhadap budaya
hedonisme yang mengarah kepada budaya kematian.
Tujuan-tujuan perkawinan katolik menurut Kitab Hukum Kanonik
(selanjutnya: KHK) adalah kesejahteraan suami-istri, kelahiran anak, dan
pendidikan. 85 Berdasarkan tujuan-tujuan tersebut, idealnya, setiap pribadi yang
masuk ke dalam sebuah perkawinan saling membantu untuk mengembangkan diri
pribadi, bukan mematikan salah satu pribadi.
Di zaman yang penuh dengan kemajuan teknologi ternyata juga ada banyak
cerita tentang KDRT. Pelaku dan korban adalah anggota-anggota keluarga itu
83
Berdasarkan pendapat Yurika Agustina dalam tulisannya yang berjudul Deal or No Deal.
Tulisan ini adalah bagian dari sembilan tulisan yang ada dalam buku You Deserve The Truth,
Editor: Deshi Ramadhani, SJ, (Jakarta: Penerbit FLAMMA, 2011), 13.
84
Agustina, Deal or No Deal, 12.
85
Gereja Katolik, Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici) Ed. Resmi Bahasa Indonesia,
(Jakarta: Konferensi Waligereja Indonesia, 2009), kan. 1055.
35
sendiri. Siapa saja bisa menjadi pelaku dan korban kekerasan dalam rumah
tangga: suami, istri, bahkan juga anak, buah hati mereka. Kisah Dave Pelzer
adalah fenomena nyata tentang kekerasan seorang ibu terhadap anak kandungnya,
sementara sang ayah tidak dapat berbuat apa-apa.
Menurut undang-undang no. 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan
dalam rumah tangga,
Macam-macam kekerasan dalam rumah tangga, yakni: 1. kekerasan fisik; 2.
kekerasan psikis; 3. Kekerasan seksual, atau 4. penelantaran rumah tangga.86
Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau
luka berat.87 Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan,
hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak
berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. 88 Kekerasan seksual
meliputi: pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang
menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut dan pemaksaan hubungan seksual
terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk
tujuan komersil dan/atau tujuan tertentu. 89 Penelantaran rumah tangga yang
dimaksud adalah perbuatan seseorang yang menelantarkan orang dalam lingkup
rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena
persetujuan atau perjanjian, ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau
pemeliharaan kepada orang tersebut dan perbuatan seseorang yang mengakibatkan
ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja
yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali
orang tersebut.90
Jadi, kekerasan dalam rumah tangga adalah perbuatan-perbuatan yang tidak
memanusiakan salah satu atau banyak anggota keluarga. Perbuatan-perbuatan
86
Presiden Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004
Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, 2004, pasal 5. Undang-undang ini
diambil dari www.komnasperempuan.or.id pada hari Minggu, 08 Juli 2012 pk. 23:55.
87
Presiden Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004
Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, pasal 6.
88
Presiden Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004
Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, 2004, pasal 7.
89
Presiden Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004
Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, 2004, pasal 8.
90
Presiden Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004
Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, 2004, pasal 9.
36
tersebut membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak merasakan cinta
yang memberi hidup.
Tanpa disadari kebudayaan kematian menjadi sesuatu yang biasa dan
lumrah saat ini. Kesadaran akan pentingnya memelihara budaya kehidupan dan
menghilangkan budaya kematian harus terus digalakkan dalam situasi dunia saat
ini. Pengenalan akan budaya kehidupan sejak masa kecil diharapkan dapat
menyadarkan manusia akan budaya kehidupan. Pendidikan dalam keluarga adalah
dasar pertama seorang anak menyadari akan pentingnya memelihara budaya
kehidupan. Dasar kedua adalah sekolah tempat pertukaran ilmu, dan dasar ketiga
adalah masyarakat tempat pertukaran pengalaman. Oleh karena itu pengenalan
akan budaya kehidupan dan usaha memerangi budaya kematian menjadi tugas
semua orang.
37
BAB IV
GAGASAN PASTORAL KATEKESE
“CINTA YANG MEMBERI HIDUP”
Uraian ―Cinta yang Memberi Hidup‖ yang telah penulis sajikan dalam Bab
III akan penulis olah menjadi isi pastoral katekese dalam bab ini. Penulis
bermaksud mengusulkan gagasan pastoral katekese ini untuk menjadi bagian dari
Kursus Persiapan Perkawinan di Dekenat Jakarta Selatan (selanjutnya Dekenat
JakSel). Usulan ini merupakan sumbangan penulis sebagai anggota pengurus
kursus persiapan perkawinan Dekenat JakSel sejak tahun 2002.
1.
LATAR BELAKANG
a.
Kursus Persiapan Perkawinan (KPP): Sejarah dan Perkembangannya
di KAJ
KPP di KAJ bermula dari dikeluarkannya anjuran dari MAWI (dalam
sidang tanggal 11-21 November 1974) supaya di paroki-paroki diadakan kursuskursus persiapan perkawinan yang sedapat mungkin ditangani oleh tim. 91
Menindaklanjuti anjuran tersebut, Pusat Kehidupan Keluarga (PKK) KAJ, yang
didirikan oleh Mgr. Leo Soekoto, SJ, mengadakan persiapan perkawinan. 92 PKK
KAJ didirikan untuk membantu uskup dalam karya pastoral keluarga. Programprogram yang dijalankan oleh PKK waktu itu adalah persiapan perkawinan,
pendidikan kehidupan keluarga di sekolah (SD, SMTP, dan SMTA), konsultasi
91
MAWI, Perkawinan Campur, Kontak No. 12/Desember 1974, Jakarta: Sekretariat
Keuskupan Agung Jakarta, 9. MAWI adalah nama sebelumnya untuk Konferensi Waligereja
Indonesia (KWI).
92
PKK KAJ, Apa itu, PKK KAJ?, Kontak KAJ No. 5 Tahun XV/Mei 1985, Jakarta: Sekretariat
Keuskupan Agung Jakarta, 9.
38
psikologi, dan konsultasi KBA. 93 PKK KAJ mengadakan KPP yang bertujuan
memberikan sedikit bekal bagi kedua mempelai untuk mereka menjalani
kehidupan berkeluarga.94
Pada tahun 1995, tanggung jawab menyelenggarakan KPP diserahkan
kepada Dekenat-Dekenat. Materi-materi yang diberikan secara umum sama, yaitu
terdiri dari 6 topik: moral perkawinan, hukum perkawinan gereja, komunikasi
suami istri, pendidikan anak, seksualitas dan KBA, dan ekonomi rumah tangga. 95
Melihat perkembangan zaman, maka komisi keluarga KAJ membuat revisi modul
KPP pada tahun 2008. Di dalam revisi tersebut, materi-materi KPP adalah: hukum
dan moral perkawinan, panggilan menjadi orangtua, ekonomi rumah tangga,
seksualitas dan KBA, komunikasi suami-istri, dan spiritualitas perkawinan.96
Saat ini, menurut informasi dari Pastor Alexander Erwin Santoso, MSF,
Ketua Komisi Kerasulan Keluarga KAJ, setiap Dekenat sudah mengadakan
KPP.97 Komisi Kerasulan Keluarga KAJ mengadakan KPP dengan tujuan sebagai
berikut: memberi kepada muda-mudi bekal dalam hidup keluarga katolik,
menambah wawasan dan pengetahuan mereka mengenai perkawinan dan hidup
berkeluarga dari sudut pandang teologi, psikologi, moral, seksualitas, kesehatan,
ekonomi, gender, dll., dan memberikan pegangan kepada mereka untuk
92
PKK KAJ, Apa itu, PKK KAJ?, Kontak KAJ No. 5 Tahun XV/Mei 1985, 9.
PKK KAJ, Pastoral Keluarga Muda, Kontak KAJ No. 9 Tahun XVI/September 1986,
Jakarta: Sekretariat Keuskupan Agung Jakarta, 24.
95
Notulen rapat Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta per tanggal 01 Juli
1997.
96
Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta, Modul Kursus Persiapan
Perkawinan, (Jakarta: Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta, 2008), iv.
97
Karena ketebatasan waktu dan kesulitan untuk membuat janji bertemu dengan P. Alexander
Erwin Santoso, MSF, maka penulis mengadakan wawancara melalui telepon. Wawancara
diadakan pada hari Rabu, 27 Juni 2012 pk. 08:30.
94
39
mengambil tindakan dan mengatur hidupnya sendiri menurut azas moral
kristiani. 98
b.
KPP Dekenat JakSel
KPP Dekenat JakSel bermula dari penugasan Pastor J.B. Martosudjito, SJ,
selaku Pastor Kepala Paroki Blok Q kepada Pastor P. Gunawan Tjahja, Pr. untuk
menangani pembinaan para calon pasutri. Pastor Gunawan lalu memberikan
kursus secara pribadi kepada para calon pasutri sebelum melakukan penyelidikan
kanonik. Pastor Gunawan kemudian meminta bantuan pasutri F. X Bandono –
Monica Anindiati (selanjutnya Bandono-Anin) untuk membantunya memberikan
kursus kepada para calon pasutri. Pada waktu itu, kursus diadakan di pastoran.
Pasutri Bandono-Anin memberikan materi-materi yang menjadi cikal bakal
materi-materi KPP Dekenat JakSel sekarang. Bahan-bahannya diambil dari
bahan-bahan yang diberikan oleh KAJ. Peserta yang diberi kursus waktu itu
belum banyak, hanya dua pasang. Metode yang dipakai lebih banyak
menggunakan metode sharing.99 Dalam perkembangan kemudian, Pastor
Martosudjito dengan bantuan Ketua SKK Blok Q, pasutri Antonius Simandjuntak,
SH- Dra. Ericca Nainggolan, SH., membentuk KPP Dekenat JakSel menggunakan
materi-materi yang diberikan oleh Keuskupan.100 Materi-materi tersebut kemudian
dipergunakan sampai sekarang di KPP Dekenat JakSel. Materi-materi yang
98
Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta, “Penjelasan KPP”, diakses tanggal
3 Juli 2012, http://www.kaj.or.id.
99
Wawancara dengan Ibu Anin Bandono pada hari Selasa, 26 Juni 2012 pk. 09:00.
100
Wawancara penulis dengan Sr. Engelina Diah Wulandari, PK (biasa dipanggil Sr. Ina) lewat
telepon dikarenakan saat ini Sr. Ina sedang bertugas di Kediri. Sr. Ina adalah mantan sekretariat
pertama Paroki Blok Q, pada hari Kamis, 12 Juli 2012 pk. 20:04.
40
diberikan diambil dari materi-materi yang ditetapkan oleh KAJ, yaitu: teologi
moral perkawinan katolik, hukum perkawinan katolik, ekonomi rumah tangga,
panggilan dan tanggungjawab suami-istri dalam pendidikan anak/panggilan
menjadi orangtua, komunikasi suami-istri, seksualitas dan keluarga berencana,
liturgi perkawinan, dan spritualitas perkawinan. Tujuan dari KPP ini adalah
membantu para calon pasutri membangun keluarga katolik yang bahagia dan
sejahtera.101
Para peserta KPP Dekenat JakSel beraneka ragam. Pendataan statistik
semester I tahun 2012 menunjukkan bahwa peserta KPP Dekenat JakSel berasal
dari paroki-paroki di Dekenat JakSel (39%), paroki luar Dekenat JakSel (42%),
dan dari paroki luar Jakarta/Indonesia (19%).102 Hal ini disebabkan beberapa
paroki di Dekenat JakSel (Blok B, Blok Q dan Cilandak), berada di lokasi yang
strategis, mudah dicapai terutama dari tempat kerja para peserta. Setiap bulan,
rata-rata peserta KPP yang terdaftar melebihi 30 pasang. Untuk paroki Blok B,
Blok Q, dan Cilandak biasanya peserta mencapai lebih dari 50 pasang. 103
Peserta KPP di Dekenat JakSel berasal dari golongan usia yang berbeda.
Statistik KPP Dekenat JakSel membuat pemetaan usia yakni, usia <=20, usia 2125, usia 26-30, dan usia >30. Statistik KPP Dekenat JakSel Semester I Tahun
2012 menunjukkan bahwa mayoritas usia peserta yang mengikuti KPP adalah di
101
Penulis mengambil sumber tujuan KPP dari Formulir Pendaftaran KPP Dekenat JakSel
yang dicetak oleh pengurus KPP Dekenat JakSel.
102
Kursus Persiapan Perkawinan Dekenat Jakarta Selatan, Statistik KPP 2012 Terbaru,
Jakarta, dibuat pada tgl. 19 Juni 2012.
103
Kursus Persiapan Perkawinan Dekenat Jakarta Selatan, Statistik KPP 2012 Terbaru,
Jakarta, dibuat pada tgl. 19 Juni 2012.
41
range usia >30. 104 Selain itu, terdapat juga keanekaragaman peserta dalam hal
latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Keanekaragaman merupakan salah satu
tantangan dalam penyelenggaraan KPP Dekenat JakSel.
c.
Keprihatinan: KPP Hanya Sebagai Syarat
Selain keanekaragaman peserta, penulis juga mendapatkan informasi bahwa
ada keprihatinan-keprihatinan di dalam pelaksanaan KPP Dekenat Jaksel. Tetapi,
dalam tulisan ini penulis berusaha untuk fokus hanya kepada satu hal yaitu:
keprihatinan terhadap materi KPP. Hasil wawancara penulis dengan tiga orang
peserta KPP menunjukkan bahwa pada awalnya mereka mengikuti KPP hanya
sebagai syarat administratif dari persiapan perkawinan katolik. 105
Seorang
pengajar KPP juga menyadari keadaan ini dan mengatakan,
Peserta KPP mengikuti KPP hanya sebagai syarat. Hal itu terlihat dari suasana dan
respon para peserta dalam menanggapi materi-materi di KPP. Mereka kurang
antusias dalam menjawab pertanyaan dari Fasilitator KPP. Komunikasi yang terjadi
hanya satu arah.106
Menurut penulis, motivasi awal peserta ‗hanya untuk mendapatkan sertifikat‘
dapat berubah kalau peserta dapat merasakan bahwa materi-materi KPP menarik
dan bermanfaat. Berdasarkan pendapat ini, penulis hendak menawarkan program
katekese yang baru, dengan tema ‖Cinta yang Memberi Hidup.‖
104
Kursus Persiapan Perkawinan Dekenat Jakarta Selatan, Statistik KPP 2012 Terbaru,
Jakarta, dibuat pada tgl. 19 Juni 2012.
105
Wawancara penulis dengan Sdri. Rosa Lujeng Duiri, mantan peserta KPP lewat telepon,
pada hari Senin, 02 Juli 2012 pk. 15:30. Sdri. Rosa menikah pada tahun 2010. Wawancara penulis
dengan salah satu mantan peserta KPP tahun 2008, tapi ia minta untuk tidak disebutkan namanya
lewat telepon, pada hari Senin, 02 Juli 2012 pk. 16:07. Penulis memanggilnya dengan nama
samaran Nina. Wawancara penulis dengan Sdri. Martha Ully Safitri, peserta KPP lewat telepon,
pada hari Selasa, 03 Juli 2012 pk. 10:30. Sdri. Ully menikah pada tahun 2002.
106
Wawancara penulis dengan Bpk. Alfonsus Koeswardiyono, Fasilitator materi ekonomi
rumah tangga untuk KPP paroki Blok Q pada hari Minggu, 01 Juli 2012 pk. 20:00.
42
2.
TUJUAN PROGRAM KATEKESE
Tujuan program katekese yang penulis tawarkan ini adalah para peserta
KPP memahami dan menyadari arti dan unsur-unsur cinta yang memberi hidup,
dan menerapkan cinta yang menghidupkan di dalam kehidupan sehari-hari,
khususnya di dalam perkawinan yang akan mereka bangun. Dengan program
katekese ini, penulis tidak mengubah materi-materi KPP yang sudah ada, karena
penulis menyadari bahwa materi-materi KPP yang sudah ada juga penting dan
merupakan tantangan-tantangan perkawinan. Program katekese ―Cinta yang
Memberi Hidup‖ melengkapi materi-materi tersebut dengan muatan spiritualitas
yang lebih mendalam.
3.
PROGRAM KATEKESE
a.
Pemikiran Dasar Program Katekese
Beata Teresa pernah mengatakan, ―Penyakit terbesar di dunia Barat pada
zaman ini bukanlah TBC atau lepra, melainkan tidak dibutuhkan oleh orang lain,
tidak dicintai, dan tidak dipedulikan.‖ 107 Perkataan Beata Teresa tersebut adalah
benar. Cinta dapat membuat manusia merasa bahagia. Hal ini menunjukkan
bahwa, cinta merupakan kebutuhan dasar manusia.
Tetapi, apakah semua cinta dapat membuat manusia merasa bahagia? Hanya
cinta yang memberi hidup yang dapat membuat manusia bahagia. Cinta yang
memberi hidup adalah cinta yang menghargai kehidupan dan menempatkan
kehidupan sebagai prioritas nomor satu dalam segala tindakan manusia. Manusia
107
Vardey, Ibu Teresa: A Simple Path, 49.
43
dapat memberikan cinta yang memberi hidup kepada orang lain kalau ia
menyadari unsur-unsur dari cinta yang memberi hidup, yaitu: penerimaan diri dan
cinta terhadap diri sendiri, pengorbanan, kesetiaan dan ketaatan, kejujuran dan
kepercayaan, pelayanan, dan pengampunan. Untuk itu manusia dapat belajar dari
sumber dan teladan utama dari cinta yang memberi hidup. Sumber cinta yang
memberi hidup adalah Allah sendiri, dan Yesuslah teladan utama manusia dalam
menerapkan cinta Allah yang memberi hidup.
Cinta seperti ini hendaknya ada di semua lapisan kehidupan, terutama di
dalam sebuah perkawinan. Hal itu tampak dalam hubungan pasutri dengan Tuhan,
antara pasutri itu sendiri, dan anak yang menjadi buah perkawinan mereka. Tetapi,
sayangnya, perkembangan zaman menimbulkan berbagai tantangan terhadap cinta
yang memberi hidup dalam sebuah perkawinan. Tantangan-tantangan tersebut
meliputi segala aspek dalam kehidupan perkawinan seperti dalam hal ekonomi
rumah tangga, pendidikan anak, komunikasi suami istri, dan hubungan intim di
antara pasutri. Pemakaian alat kontrasepsi yang berarti juga aborsi dan kekerasan
dalam rumah tangga (KDRT) adalah contoh-contoh tantangan yang serius.
Praktek pemakaian alat kontrasepsi, aborsi, dan KDRT membuat usaha
mewujudkan cinta yang memberi hidup menjadi tidak mudah tetapi bukan
mustahil. Usaha untuk terus memberikan cinta yang memberi hidup haruslah terus
diupayakan.
Cinta yang memberi hidup bukanlah ajaran yang baru. Penginjil Matius
(22:39) menuliskan ajaran Yesus: manusia hendaknya mencintai sesamanya
seperti ia mencintai dirinya sendiri. St. Paulus sendiri dalam suratnya yang
44
pertama kepada umat di Korintus (13:3) menyatakan bahwa kalau manusia tidak
memiliki cinta, tidak ada gunanya. Di dalam Alkitab juga ada banyak cerita
tentang tokoh-tokoh yang menjadi teladan cinta yang memberi kehidupan, seperti
kisah anak perempuan Yefta yang mengorbankan dirinya untuk dapat memenuhi
nazar ayahnya (Hak. 11:29-40), kisah pengorbanan Tobia untuk menikahi Sara
yang akhirnya menyembuhkan Sara (Tob. 3:8a; 8:1-21), dan kisah perempuan
Siro-Fenisia (Mrk. 7:24-30).
Pengertian tentang arti, unsur, dan tantangan cinta yang hidup hendaknya
diajarkan sehingga semua orang terutama para calon pasutri dan pasutri dapat
memahami arti dari cinta yang memberi hidup. Pemahaman akan arti cinta yang
memberi hidup membuat peserta katekese menyadari unsur-unsur cinta yang
memberi hidup. Unsur-unsur cinta yang memberi hidup itu hendaknya membantu
peserta dalam berhubungan dengan Tuhan, pasangan, dan anak mereka dalam
perkawinan. Selanjutnya, mereka diajak menyadari bahwa ada banyak tantangan
dalam menjalankan cinta yang memberi hidup di dalam perkawinan. Untuk dapat
mencapai tujuan-tujuan tersebut, maka penulis menawarkan program katekese
yang memiliki delapan tema, yakni:
1. Cinta adalah Kebutuhan Dasar Manusia,
2. Cinta yang Memberi Hidup,
3. Unsur-Unsur Cinta yang Memberi Hidup,
4. Sumber dan Teladan Utama Cinta yang Memberi Hidup,
5. Cinta yang Memberi Hidup dalam Hubungan antara Pasutri dengan
Tuhan,
45
6. Cinta yang Memberi Hidup dalam Hubungan antara Pasutri,
7. Cinta yang Memberi Hidup dalam Hubungan antara Pasutri dengan
Anak,
8. Tantangan Cinta yang Memberi hidup dalam Perkawinan.
b.
Peserta Katekese
Peserta katekese adalah para pasangan yang akan menikah dalam waktu satu
– enam bulan ke depan. Rentang usia mereka ialah antara 20 tahun hingga 40
tahun. Mereka berasal dari berbagai paroki di Dekenat JakSel dan luar Dekenat
Jaksel. Penulis memperkirakan jumlah mereka adalah 60 pasang.
c.
Organisasi Katekese
Pastoral katekese ini akan diadakan dalam bentuk rekoleksi selama dua hari,
yaitu Sabtu-Minggu, bertempat di Wisma Puspanita di Ciawi. Rekoleksi KPP
akan diadakan mulai hari Sabtu, pk. 09:00, dan berakhir pada hari Minggu, pk.
20:00. Panitia penyelenggara adalah SKK paroki-paroki Dekenat JakSel. Para
Fasilitator adalah pasutri yang sudah mengikuti kursus dari Komisi Kerasulan
Keluarga KAJ, pasutri yang telah mengikuti Marriage Encounter (ME) dan
katekis.
46
Program Pastoral Katekese “Mewujudkan Cinta yang Memberi Hidup dalam Perkawinan Kristiani”
Sesi
Ke
1.
Tema
Tujuan
Pokok- Pokok Iman
Cinta
adalah
Kebutuha
n Dasar
Manusia
1. Peserta
menyadari bahwa
cinta adalah
kebutuhan dasar
manusia.
2. Peserta
memahami arti
cinta menurut St.
Paulus dalam 1
Kor. 13:1-3.
3. Peserta
menyatakan
kebutuhannya
akan cinta kepada
pasangannya.
1. Manusia membutuhkan cinta
di dalam hidupnya.
2. St. Paulus pernah
mengatakan bahwa
sekalipun manusia memiliki
segalanya, tapi tidak
memiliki cinta, tidak ada
gunanya sama sekali.
3. Cinta yang paling
dibutuhkan oleh manusia
adalah cinta dari
pasangannya.
Metode
 Diskusi
Kelompok
 Ceramah
 Sharing
Sumber Bahan
Sarana Katekese
 Canfield, Jack dan
Mark Victor,
Chicken Soup for
the Soul Graphic
Novel: Hadiah
terindah dan
kisah-kisah nyata
menyentuh
lainnya, Jakarta:
PT. Gramedia
Pustaka Utama,
2010
 1 Kor. 13:1-3
 Cerita bergambar yang
berjudul ―Tindakan
Kebaikan untuk Hati
yang Luka‖
 Alkitab
 Slide powerpoint
tentang penjelasan
 Kertas untuk diskusi
dan sharing
 Lagu ―Arti
Kehidupan‖ – Doel
Sumbang
 Lagu ―Karena Cinta‖
– Joy Tobing
47
Sesi
Ke
2.
3.
Tema
Tujuan
Pokok- Pokok Iman
Cinta
yang
Memberi
Hidup
1. Peserta
memahami arti
cinta yang
memberi hidup.
2. Peserta
memahami
teladan ajaran
cinta dari Yesus
sesuai Luk.
10:25-37.
3. Peserta
merefleksikan
cinta yang
memberi hidup
dalam hidup
mereka.
1. Peserta
menyadari unsurunsur cinta yang
memberi hidup
yang tampak
dalam kehidupan
sehari-hari.
2. Peserta
memahami
unsur-unsur cinta
yang memberi
hidup
berdasarkan salah
1. Cinta yang bermakna
menurut pengalaman
manusia (Mae Toi) adalah
cinta yang memberi hidup.
2. Yesus dalam Injil Lukas
mengatakan bahwa manusia
hendaknya mencintai
sesamanya seperti ia
mencintai dirinya sendiri.
3. Cinta yang memberi hidup
menurut peserta berdasarkan
refleksi Injil Matius.
 Menonton
film
 Diskusi
Kelompok
 Ceramah
1. Manusia diharapkan
menyadari unsur-unsur cinta
yang memberi hidup,
sehingga ia dapat
mewujudkan cinta yang
menghidupkan dalam
hidupnya.
2. Di dalam Alkitab terdapat
banyak cerita yang
menceritakan tentang unsurunsur cinta yang memberi
hidup.
 Menonton
film
 Diskusi
 Ceramah
Unsurunsur
Cinta
yang
Memberi
Hidup
Metode
Sumber Bahan
 www.youtube.co
m/watch?v=Unn
J1sPCVEg
 Luk. 10:25-37
Sarana Katekese
 Film ―Mae Toi
(Official English
Subtitle) TVC Thai
Life Insurance.flv‖
 Kertas untuk diskusi
dan membuat surat
untuk pasangan
 Alkitab
 Buku ―Life-Giving
Love‖ hlm. 132-139
 Teks Doa Kasih (1).
 http://www.yout
ube.com/watch?
v=DeTMVq6k
QZI
 Hak. 11:29-40
 Film “No arms.., No
legs.., No worries! –
Nick Vujicic (HK)”
 Kertas untuk diskusi
 Alkitab
Kertas berbentuk love
untuk menuliskan
niat-niat
48
satu kisah dalam
Alkitab.
3.
Unsurunsur
Cinta
yang
Memberi
Hidup
4.
Sumber
dan
Teladan
Utama
Cinta
yang
Memberi
Hidup
3. Peserta memiliki
keinginan untuk
mewujudkan
unsur-unsur cinta
yang memberi
hidup dalam
hidup mereka.
1. Peserta
menunjukkan
orang-orang di
sekitar mereka
yang menjadi
teladan cinta
yang memberi
hidup.
2. Peserta
menyadari
sumber dan
teladan utama
cinta yang
memberi hidup
berdasarkan
1Yoh. 4:7-16.
3. Peserta
meneladan sang
teladan cinta
yang memberi
hidup.
3. Unsur-unsur cinta yang
memberi hidup akan menjadi
nyata saat diwujudkan dalam
perbuatan.
 Cinta yang memberi hidup
akan tampak dalam
perbuatan nyata sehari-hari
dan setiap orang dapat
menjadi teladan cinta yang
memberi hidup.
 Allah adalah sumber dari
cinta yang memberi hidup
dan Yesus adalah teladan
utama untuk sosok yang
mewujudkan cinta yang
memberi hidup kepada
sesamanya.
 Manusia dapat menunjukkan
cinta yang memberi hidup
saat ia mau bersandar dan
meneladan sang teladan cinta
yang memberi hidup.
 Refleksi
Pribadi
 Diskusi
Kelompok
 Ceramah
 Pengalaman
pribadi tiap
peserta
 1Yoh. 4:7-16
 Hahn,
Kimberly, LifeGiving Love
jilid
1,Malang:Diom
a, 2007, 39-40
 CD
Instrumental
Romantic Music
 Kertas untuk refleksi
pribadi dan diskusi
kelompok
 Slide power point
yang menunjukkan
gambar orang-orang
yang menjadi
teladan cinta di masa
kini
 Video Klip
―Instrumetal
Romantic Music‖
untuk mengiringi
saat peserta menulis
refleksi pribadi.
 Teks dari 1 Yoh.
4:7-16.
 Slide powerpoint
yang berisikan
penjelasan
49
5.
Cinta
yang
Memberi
Hidup
Dalam
Hubunga
n antara
Pasutri
dengan
Tuhan
6.
Cinta
yang
Memberi
Hidup
dalam
1. Peserta
menyadari doa
sebagai sarana
hubungan antara
pasutri dengan
Tuhan.
2. Peserta
menyadari
hubungan baik
dengan Tuhan
mengakibatkan
mukjizat dalam
perkawinan
mereka
berdasarkan kisah
Tobia dan Sara.
3. Peserta
menyadari bahwa
doa dan kurban
dalam perayaan
ekaristi
membawa berkat
dalam
perkawinan
mereka.
1. Peserta
menyadari
pentingnya
kehadiran satu
sama lain.
2. Peserta
 Lewat berdoa bersama, pasutri
dapat saling merasakan cinta
dan kebahagiaan satu sama
lain termasuk anak-anak
mereka.
 Buah dari doa bersama adalah
mukjizat dan mukjizat itu
terjadi setiap saat.
 Perayaan Ekaristi adalah
sarana penyaluran berkat
Tuhan kepada pasutri.
 Menonton
film
 Diskusi
berdua
 Diskusi
kelompok
 Refleksi
pribadi
 Ceramah
 http://www.yout
ube.com/watch?
v=QjmrUHvn6
AA
 Tob. 3:8a; 8:121
 Hahn,
Kimberly, LifeGiving Love
jilid
1,Malang:Diom
a, 2007, 39-40,
119-159
 http://www.yout
ube.com/watch?
v=E8rpQNEJ6
Y8
 Film “Mereka Masih
Bisa Bersyukur
Walaupun Makan
Sisa-Sisa”
 Teks kisah TobiaSara dari Tob. 3:8a;
8:1-21
 Slide powerpoint
yang berisikan
penjelasan
 Video Klip Lagu
―Doa Mengubah
Segala Sesuatu‖
 Cinta dan kehadiran pasangan
sangat berarti dalam menjalani
kehidupan.
 Keheningan dapat membuat
proses komunikasi berjalan
dengan lancar.
 Mendengark
an lagu
 Sharing
 Kuis Bahasa
Kasih.
 Pesan dari lagu
―Ada Dunia
Baru‖
 Paus
Benediktus
XVI,
 Teks lagu ―Ada
Dunia Baru‖
 Lagu ―Ada Dunia
Baru‖ dalam bentuk
format MP3
50
Hubunga
n antara
Pasutri
3.
7.
Cinta
yang
Memberi
Hidup
Dalam
Hubunga
n antara
Pasutri
dengan
Anak
1.
2.
3.
menyadari
pentingnya
keheningan
dalam sebuah
komunikasi
sesuai dengan
pesan Bapa Paus
Benediktus XVI.
Peserta
mengetahui dan
memahami
bahasa kasihnya
sendiri dan
pasangannya
Peserta
menyadari betapa
berartinya
peranan orangtua
bagi anaknya.
Peserta
menyadari bahwa
kasih sayang
yang tulus dari
orangtua
mengakibatkan
mukjizat seperti
pada kisah
perempuan SiroFenisia (Mrk.
7:24-30).
Peserta
 Pengetahuan akan bahasa
kasih pasangannya dapat
membuat pasutri merasa
bahwa diri mereka dimengerti
dan dicintai oleh pasangannya.
 Ceramah.
Keheningan dan
Kata:Jalan
Evangelisasi,
Majalah Hidup,
20 Mei 2012,
14
 http://www.5lov
elanguages.com
/assessments/pe
rsonalprofiles/?profile
type=singles
 Teks Pesan Bapa
Paus Benediktus
pada hari Minggu
Komunikasi Sedunia
 Lembar Kuis untuk
mengetahui bahasa
cinta masing-masing
orang
 Kertas untuk
menulis niat
 Slide powerpoint
yang berisikan
penjelasan
 Orangtua yang baik adalah
orangtua yang rela berkorban
agar anaknya dapat bertumbuh
dengan baik dan penuh dengan
kasih sayang.
 Pengorbanan orangtua dapat
membawa mukjizat untuk
kehidupan anaknya.
 Seorang anak meniru semua
tingkah laku orangtuanya.
 Menonton
film
 Diskusi
Kelompok
 Sharing
 Ceramah
 http://www.yout
ube.com/watch?
v=YiuLAOauIF
Q
 Hahn,
Kimberly, LifeGiving Love
jilid
1,Malang:Diom
a, 2007, 39-40,
67-86.
 Mrk. 7:24-30
 Film “The Real Iron
Man”
 Teks bacaan dari
Mrk. 7:24-30
 Kertas untuk diskusi
 Kertas untuk
membuat surat cinta
kepada calon anak
 Slide powerpoint
yang berisikan
penjelasan
51
menyadari bahwa
orangtua harus
memberikan
teladan yang baik
kepada anak.
52
Sesi
Ke
8.
Tema
Tujuan
Pokok- Pokok Iman
Tantanga
n Cinta
yang
Memberi
Hidup
dalam
Perkawin
an
1. Peserta
menyebutkan
macam-macam
tantangan cinta
yang memberi
hidup dalam
perkawinan.
2. Peserta
menyebutkan
akibat dari
perbuatan aborsi
yang dilakukan
oleh Onan dalam
Kitab Kej. 38:810.
3. Peserta
menemukan caracara menghindari
tantangan cinta
yang memberi
hidup dalam
perkawinan.
 Ada banyak tantangan cinta
yang memberi hidup dalam
perkawinan di zaman
sekarang.
 Perbuatan aborsi hanya
mengakibatkan
berkembangnya budaya
kematian.
 Kesadaran akan pentingnya
budaya kehidupan dapat
membuat pasutri menghindari
tantangan cinta yang memberi
hidup dalam perkawinan.
Metode
 Diskusi
Kelompok
 Sharing
 Membaca
Alkitab
 Ceramah
Sumber Bahan
Sarana Katekese
 Pelzer, Dave,
Child Called It,
Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka
Utama, 2007, 313
 Kej. 38:8-10
 Hahn, Kimberly,
Life-Giving Love
jilid
1,Malang:Dioma,
2007, 39-40, 89118
 Teks kisah Dave
mengalami
kekerasan dari
ibunya
 Teks Kisah Onan di
Kej. 38:8-10
 Kertas untuk diskusi
 Kertas untuk
menulis niat.
 Slide powerpoint
yang berisikan
penjelasan
53
Tabel Acara Rekoleksi Kursus Persiapan Perkawinan
Waktu
09:00-10:00
10:00-10:30
10:30-11:00
11:00-12:00
12:00-13:00
13:00-14:30
14:30-17:30
17:30-18:00
18:00-19:00
19:00-20:30
20:30-22:00
22:00-22:30
22:30-05:00
05:00-06:00
06:00-07:00
07:00-08:00
08:00-09.30
09:30-10:00
10:00-11:30
11:30-13:00
13:00-14:00
14:00-15:30
15:30-16:30
16:30-18:00
18:00-19:00
19:00-20:00
20:00
Acara
Keterangan
Sabtu
Registrasi dan pembagian kamar
Mamiri (Makan Minum Ringan)
Perkenalan dan pembagian kelompok
Misa pembukaan rekoleksi
Mabes (Makan Besar)
Sesi 1: Cinta adalah Kebutuhan Lihat Tabel 1: Tema 1
Dasar Manusia
Mamiri, istirahat, dan mandi
Ibadat sore: Ibadat Taize
Mabes
Sesi 2: Cinta yang Memberi Hidup
Lihat Tabel 1: Tema 2
Sesi 3: Unsur-Unsur Cinta yang
Memberi Hidup
Ibadat malam
Tidur malam
Minggu
Bangun, mandi dan olahraga
Ibadat pagi: Ibadat di alam
Mabes
Sesi 4: Sumber dan Teladan Utama
Cinta yang Memberi Hidup
Mamiri
Sesi 5: Cinta yang Memberi Hidup
dalam Hubungan antara Pasutri
dengan Tuhan
Sesi 6: Cinta yang Memberi Hidup
dalam Hubungan antara Pasutri
Mabes
Sesi 7: Cinta yang Memberi Hidup
dalam Hubungan antara Pasutri
dengan Anak
Mamiri dan beres-beres
Sesi 8: Tantangan Cinta yang
Memberi Hidup dalam Perkawinan
Misa Penutupan
Mabes
Sayonara, pulang ke rumah masingmasing
Lihat Tabel 1: Tema 3.
Lihat Tabel 1: Tema 4.
Lihat Tabel 1: Tema 5.
Lihat Tabel 1: Tema 6.
Lihat Tabel 1: Tema 7.
54
4.
CONTOH KATEKESE: Sesi Ke 2: Cinta Yang Memberi Hidup
a.
Gagasan Pokok
Manusia dapat membuat orang lain bahagia dengan memberikan cinta.
Cinta akan membawa kehidupan bagi orang di sekitarnya. Cinta tersebut adalah
cinta yang memberi hidup. Seorang Ibu di Thailand yang bernama Toi (biasa
dipanggil ―Mae Toi‖) ditinggalkan oleh suaminya dan divonis menderita kanker.
Mae Toi diperkirakan hanya mampu bertahan hidup dua tahun. Ini tidak
membuatnya terpuruk. Ia malahan bersemangat untuk berbuat sesuatu di sisa
waktu hidupnya. Ia mengambil dan memelihara anak-anak terlantar. Ia berusaha
memberikan kebahagiaan kepada mereka. Pembawaannya yang riang dan selalu
optimis membuat orang lain bahagia, termasuk saat ia dirawat di rumah sakit.
Yesus mengajarkan bahwa manusia juga seharusnya saling mencintai satu
sama lain dengan mendasarkan cintanya seperti cinta terhadap dirinya sendiri
lewat perumpamaan orang Samaria yang murah hati (Luk. 10:25-37). Perintah ini
sebenarnya adalah pengulangan dari perintah yang ada di dalam Kitab Imamat
(19:18). Kitab Imamat merupakan satu dari lima Kitab Taurat Musa, dan Taurat
Musa adalah yang menjadi pedoman bagi orang Yahudi. Yesus menegaskan
perintah ini untuk mengingatkan bahwa ini adalah perintah yang utama. Yesus
menyadari bahwa tidak ada manusia yang tidak mencintai dirinya sendiri dan oleh
karena itu Yesus ingin manusia juga mengasihi sesama manusianya sama seperti
ia memperlakukan dirinya sendiri. Kalau manusia tidak ingin orang lain berbuat
jahat kepadanya, hendaknya ia juga berlaku yang sama kepada orang lain (bdk.
55
Luk. 10:27b). Kesadaran itu akan membuat orang mewujudkan cinta yang
memberi hidup kepada sesamanya di dalam hidupnya.
Proses katekese ini bertujuan agar peserta KPP memahami arti cinta yang
memberi hidup, memahami teladan ajaran cinta Yesus dalam cerita perumpamaan
orang Samaria yang murah hati (Luk. 10: 25-37), dan merefleksikan cinta yang
menghidupkan dalam hidup mereka.
b.
Tujuan : 1. Peserta memahami arti cinta yang memberi hidup.
2. Peserta memahami teladan ajaran cinta Yesus sesuai Luk.
10:25-37.
3. Peserta merefleksikan cinta yang memberi hidup dalam hidup
mereka.
c.
Sumber : 1. www.youtube.com/watch?v=UnnJ1sPCVEg
2. Luk. 10:25-37
3. PS. No. 23: Doa Kasih (1)
d.
Metode : Menonton film, diskusi kelompok, dan ceramah
e.
Sarana : 1.Film ―Mae Toi (Official English Subtitle) TVC Thai Life
Insurance.flv”
2. Kertas untuk diskusi dan permainan membuat surat untuk
pasangan.
3. Alkitab
56
4. Teks Doa Kasih (1)
5. Buku ―Life-Giving Love‖ hlm. 132-139.
f. Pokok Pikiran : 1. Cinta yang bermakna menurut pengalaman manusia (Mae
Toi) adalah cinta yang memberi hidup.
2. Yesus mengajarkan bahwa manusia juga seharusnya
saling mencintai
satu sama lain dengan mendasarkan
cintanya seperti cinta terhadap dirinya sendiri lewat
perumpamaan orang Samaria yang murah hati (Luk.
10:25-37).
3. Cinta yang memberi hidup menurut peserta berdasarkan
refleksi Injil Lukas.
g.
Proses:
Pembukaan (10 menit):
-
Doa pembuka dipimpin oleh seorang peserta KPP.
-
Pembagian kelompok oleh panitia. Peserta dibagi menjadi beberapa
kelompok dan setiap kelompok berisi maksimal 5 pasangan (10 orang).
Pembagian diatur berdasarkan nomor presensi. Pembagian kelompok untuk
diskusi kelompok yang akan diadakan pada langkah pertama.
57
Langkah Pertama: Menemukan arti cinta yang memberi hidup berdasarkan
pengalaman manusia (40 menit)
1.
Fasilitator menayangkan film “Mae Toi (Official English Subtitle) TVC Thai
Life Insurance.flv.”
2.
Peserta diajak secara berkelompok untuk menemukan makna dari film yang
sudah ditonton dengan pertanyaan panduan sebagai berikut:

Menurut Anda, mengapa Mae Toi mau merawat anak-anak yang
terlantar itu?

Apa yang dialami oleh orang-orang di sekitar Mae Toi?

Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda menjadi Mae Toi yang
divonis menderita kanker? Berikan alasan Anda!

Menurut Anda, apakah ada orang di sekitar Anda seperti Mae Toi?
Tolong ceritakan!
3.
Fasilitator mengadakan pleno dan merangkum jawaban dari peserta dengan
memperhatikan hal-hal pokok ini:

Setiap manusia membutuhkan cinta. Perbuatan yang dilakukan oleh
Mae Toi adalah perbuatan yang didasarkan oleh cinta.

Perbuatan yang didasarkan oleh cinta dapat menimbulkan kebahagiaan
bagi orang-orang di sekitarnya.

Cinta yang mendasari perbuatan yang dapat membawa kebahagiaan
untuk orang lain adalah cinta yang memberi hidup.

Kalau dicermati dan direfleksikan dengan baik ada banyak orang yang
berbuat seperti Mae Toi.
58
Langkah Kedua: Belajar dari Sabda Yesus (20 menit)
1.
Peserta diajak untuk membaca perumpamaan orang Samaria yang murah hati
dari Injil Lukas 10:25-37 secara bergantian. Ayat-ayat ganjil dibacakan oleh
peserta pria dan ayat-ayat genap dibacakan oleh peserta wanita.
2.
Menemukan makna dari bacaan Lukas 10:25-37 dengan pertanyaan panduan
sebagai berikut:

Apakah yang dimaksud oleh Yesus ketika ia membenarkan jawaban
ahli Taurat yang bertanya kepadanya (lihat Luk. 10:28)?

Mengapa orang Samaria mau memberi pertolongan kepada orang yang
dirampok dalam kisah tersebut?

Apakah cinta yang diberikan oleh Mae Toi sesuai dengan teladan
perumpamaan yang dikisahkan oleh Yesus?
3.
Fasilitator mengadakan pleno dan merangkum jawaban dari peserta dengan
memperhatikan hal-hal pokok ini:

Yesus ingin mempertegas hukum kasih yang sudah diajarkan di dalam
kitab Imamat.

Orang Samaria memiliki cinta di dalam hatinya sehingga ia mudah
merasa iba dan tergerak untuk menolong orang yang sedang menderita.

Cinta yang diberikan oleh Mae Toi adalah cinta yang memberi hidup
dan hal itu sesuai dengan teladan yang diberikan oleh Yesus.
59
Langkah Ketiga: Merefleksikan Cinta yang Memberi Hidup (15 menit)
1.
Peserta diajak untuk berefleksi dan membuat surat cinta kepada calon
suami/istrinya dengan panduan pertanyaan sebagai berikut:

Apakah selama ini aku pernah memberikan cinta yang memberi hidup
kepada calon suami/istriku?

Apakah selama ini aku pernah merasakan cinta yang memberi hidup
kepada calon suami/istriku?
2. Setelah selesai menulis surat, Peserta diminta untuk memberikan suratnya
kepada pasangannya. Kemudian, peserta diberi kesempatan untuk membaca
surat dari pasangannya masing-masing.
Penutup (5 menit)
Peserta diajak mendoakan Doa Kasih (1) dari PS. No. 23. Peserta saling
bergenggaman tangan dengan pasangan selama mendoakan doa ini.
Doa Kasih (1)
Allah, sumber segala kasih, Engkau mengutus Putra-Mu, Yesus Kristus,
agar kasih-Mu menjadi nyata dalam hidupku, dan semakin dikenal oleh banyak
orang. Santo Yohanes telah mengajarku, ―Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak
mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.‖
Semoga karena karunia kasih-Mu itu, aku mampu mengasihi Engkau lebih
dari segala sesuatu, dengan segenap hati, segenap jiwa, dengan segenap akal budi,
dan dengan segenap kekuatan.
60
Karena mengasihi Engkau, semoga aku pun mengasihi orang lain
sebagaimana aku mengasihi diriku sendiri. Ya Allah, kobarkanlah selalu kasihku.
(Amin.)
61
DAFTAR PUSTAKA
ARSIP:
Notulen rapat Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta per tanggal
1 Juli 1997.
Kursus Persiapan Perkawinan Dekenat Jakarta Selatan.
Terbaru. Jakarta, dibuat pada tgl. 19 Juni 2012.
Statistik KPP 2012
BUKU:
Agustina, Yurika. “Deal or No Deal” dalam You Deserve The Truth, Editor:
Deshi Ramadhani, SJ. Jakarta: Penerbit FLAMMA, 2011.
Alkitab (Deuterokanonika), terj., Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2010.
Alwi, Hasan, dkk. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai
Pustaka, 2005.
Cahyadi, T. Krispurwana. Jalan Pelayanan Ibu Teresa. Jakarta: Penerbit OBOR,
2003.
Canfield, Jack dan Mark Victor. Chicken Soup for the Soul Graphic Novel:
Hadiah terindah dan kisah-kisah nyata menyentuh lainnya. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama, 2010.
Chang, William, OFM Cap. Bioetika Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius, 2009.
Chapman, Gary. Esensi dari Lima Bahasa Kasih. Jakarta: Light Publishing, 2009.
Eminyan, Maurice, SJ. Teologi Keluarga. Yogyakarta: Kanisius, 2001.
Gereja Katolik. Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici) Ed. Resmi Bahasa
Indonesia, terj. Tim Revisi Terjemahan KHK koord. R. Rubiyatmoko.
Jakarta: Konferensi Waligereja Indonesia, 2009.
Groenen, Dr. C., OFM. Perkawinan Sakramental: Anthropologi dan Sejarah
Teologi, Sistematik, Spiritualitas, Pastoral. Yogyakarta: Kanisius, 1993.
Hahn, Kimberly. Life-Giving Love. Malang: Dioma, 2007.
62
Hahn, Scott & Kimberly. Rome Sweet Home: Our Journey to Catholism. Malang:
Dioma, 2009 (Cetakan XIII).
Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta. Modul Kursus Persiapan
Perkawinan. Jakarta: Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung
Jakarta, 2008.
Komisi Liturgi KWI. Puji Syukur. Jakarta: Penerbit OBOR, 1992.
Konsili Vatikan II. Konstitusi Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana,
SJ. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2008
(Cetakan IX).
Macdonald, Fiona. Helen Keller: Perempuan tuna netra dan bisu tuli yang
mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan hak-hak penderita cacat.
Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1996.
Nurmiadi. Louis Braille: Pencipta Tulisan Braille bagi para Tuna Netra. Jakarta:
PT. Elex Media Komputindo, 2010.
Pandor, Pius, CP. Ex Latina Claritas: Dari Bahasa Latin Muncul Kejernihan.
Jakarta: Penerbit OBOR, 2010.
Paulus VI, Bapa Suci. Surat Ensiklik Humanae Vitae (Hidup Insani): Mengenai
Pengaturan Kelahiran. tanpa penerbit, 1968.
Pelzer, Dave. Child Called It. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007
(Cetakan X).
__________. The Lost Boy. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002 (Cetakan
III).
__________. A Man Named Dave. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003
(Cetakan III).
Ramadhani, Deshi, SJ. Lihatlah Tubuhku: Membebaskan Seks Bersama Yohanes
Paulus II. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2009.
Vardey, Lucinda. Ibu Teresa: A Simple Path, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama, 1997.
Vujicic, Nick. Life Without Limits: Tanpa Lengan dan Tungkai Aku bisa
menaklukkan dunia. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012
(Cetakan VI).
63
Wignyasumarta. Ign., MSF, dkk. Panduan Rekoleksi Keluarga, Yogyakarta:
Penerbit Kanisius, 2000.
INTERNET:
Film “Mae Toi (Official English Subtitle) TVC Thai Life Insurance.flv,”
didownload
tanggal
12
Januari
2012,
http://www.youtube.com/watch?v=UnnJ1sPCVEg
Film “Mereka Masih Bisa Bersyukur Walaupun Makan Sisa-Sisa”, didownload
tanggal 22 Juli 2012, http://www.youtube.com/watch?v=QjmrUHvn6AA
Film “No arms.., No legs.., No worries! – Nick Vujicic (HK)”, didownload
tanggal 22 Juli 2012, http://www.youtube.com/watch?v=DeTMVq6kQZI
Film “The Real Iron Man”, didownload tanggal 23 Juli 2012,
http://www.youtube.com/watch?v=YiuLAOauIFQ
Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta, “Penjelasan KPP”,
diakses tanggal 3 Juli 2012, http://www.kaj.or.id
Majalah Online Kesehatan Seks, Jenis-Jenis Alat Kontrasepsi, diakses tanggal 5
September
2012,
http://www.seksualitas.net/jenis-jenis-alatkontrasepsi.htm
Presiden Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23
Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga,
2004,
pasal
5,
diakses
tanggal
8
Juli
2012,
http://www.komnasperempuan.or.id
St. Paul center for biblical Theology, “Kimberly Hahn”, diakses tanggal 8 Maret
2012, http://www.salvationhistory.com
Teks
“Kuis 5 Bahasa Kasih”, diakses tanggal 23
http://www.5lovelanguages.com/assessments/personalprofiles/?profiletype=singles
Juli
2012,
Video Klip Lagu “Doa Mengubah Segala Sesuatu”, didownload tanggal 7
Agustus 2012, http://www.youtube.com/watch?v=E8rpQNEJ6Y8
64
MAJALAH:
MAWI, Perkawinan Campur, Kontak No. 12/Desember 1974, Jakarta: Sekretariat
Keuskupan Agung Jakarta, 1974.
PKK KAJ, Apa itu, PKK KAJ?, Kontak KAJ No. 5 Tahun XV/Mei 1985,
Jakarta:Sekretariat Keuskupan Agung Jakarta, 1985.
PKK KAJ, Pastoral Keluarga Muda, Kontak KAJ No. 9 Tahun XVI/September
1986, Jakarta: Sekretariat Keuskupan Agung Jakarta, 1986.
Benediktus XVI, Paus, Keheningan dan Kata:Jalan Evangelisasi, Majalah Hidup,
Edisi No. 21 Tahun ke-66, 20 Mei 2012.
65
DAFTAR LAMPIRAN
1. Formulir pendaftaran KPP Dekenat JakSel
2. Statistik KPP Dekenat JakSel Semester I Tahun 2012
3. Teks Injil Luk.10:25-37
4. Verbatim wawancara dengan Bpk. Alfonsus Koeswardiyono
5. Verbatim wawancara dengan Ibu Martha Ully Safitri
6. Verbatim wawancara dengan Ibu Rosa Lujeng Duiri
7. Verbatim wawancara dengan Nina
66
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1: Fomulir Pendaftaran KPP Dekenat JakSel
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
1. Statistik Peserta KPP Berdasarkan Jenis Kelamin
JANUARI
59
60
119
PRIA
WANITA
Jumlah
FEBRUARI
47
45
92
MARET
51
53
104
APRIL
31
29
60
MEI
82
85
167
JUNI
45
43
88
JANUARI - JUNI
315
315
630
STATISTIK PESERTA KPP BERDASARKAN JENIS KELAMIN
BULAN JANUARI -JUNI 2012
200
167
150
PRIA
119
104
92
100
59 60
47 45
88
82 85
60
51 53
Jumlah
45 43
31 29
50
WANITA
0
JANUARI
FEBRUARI
MARET
APRIL
MEI
Statistik KPP 2012 Terbaru
JUNI
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
2. Statistik Peserta KPP Berdasarkan Jenis Pendaftaran
JANUARI
59
1
PASANGAN
SINGLE
FEBRUARI
45
2
MARET
51
2
APRIL
29
2
MEI
81
5
JUNI
42
4
JANUARI - JUNI
307
16
STATISTIK PESERTA KPP BERDASARKAN JENIS PENDAFTARAN
BULAN JANUARI -JUNI 2012
100
81
80
PASANGAN
59
60
51
45
29
40
20
SINGLE
42
1
2
2
JANUARI
FEBRUARI
MARET
5
2
4
0
APRIL
MEI
JUNI
Statistik KPP 2012 Terbaru
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
3. Statistik Peserta KPP Berdasarkan Agama Peserta
JANUARI
94
1
15
5
4
0
0
119
KATOLIK
KATEKUMEN
KRISTEN
ISLAM
BUDHA
HINDU
SIMPATISAN KATOLIK
JUMLAH
FEBRUARI
76
1
11
4
0
0
0
92
MARET
88
3
7
2
3
1
0
104
APRIL
47
1
9
3
0
0
0
60
STATISTIK PESERTA KPP BERDASARKAN AGAMA PESERTA
BULAN JANUARI - JUNI 2012
100
94
76
88
JUNI
77
1
7
0
3
0
0
88
JANUARI - JUNI
515
12
67
17
17
2
0
630
JANUARI
133
150
MEI
133
5
18
3
7
1
0
167
FEBRUARI
MARET
77
APRIL
47
50
MEI
1 1 3 1 5 1
18
15 11
7 9
7
5 4 2 3 3 0
4 0 3 0 7 3
0 0 1 0 1 0
0 0 0 0 0 0
KATEKUMEN
KRISTEN
ISLAM
BUDHA
HINDU
SIMPATISAN
KATOLIK
JUNI
0
KATOLIK
Statistik KPP 2012 Terbaru
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
STATISTIK REKAPITULASI JUMLAH PESERTA KPP BERDASARKAN
AGAMA PESERTA
JANUARI - JUNI 2012
KATEKUMEN
12
2%
KRISTEN
67
10%
ISLAM
17
3%
SIMPATISAN
BUDHA
KATOLIK
HINDU
17
0
2
3%
0%
0%
KATOLIK
KATEKUMEN
KATOLIK
515
82%
KRISTEN
ISLAM
BUDHA
HINDU
SIMPATISAN KATOLIK
Statistik KPP 2012 Terbaru
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
4. Statistik Peserta KPP Pasangan Berdasarkan Agama Pasangan
JANUARI
34
1
15
5
4
0
0
59
Katolik >< Katolik
Katolik >< Katekumen
Katolik >< Kristen
Katolik >< Islam
Katolik >< Budha
Katolik >< Hindu
Katolik >< Simpatisan Katolik
Jumlah
MARET
35
3
7
2
3
1
0
51
APRIL
17
0
9
3
0
0
0
29
35
34
JUNI
31
1
7
0
3
0
0
42
JANUARI - JUNI
194
10
67
17
17
2
0
307
JANUARI
31
29
FEBRUARI
30
20
MEI
48
4
18
3
7
1
0
81
48
50
40
FEBRUARI
29
1
11
4
0
0
0
45
17
10
15
4
1 1 3 0
1
18
11
7 9
MARET
7
5 4
2 3 3 0
4
0
3
7
0
3
0 0 1 0 1 0
0 0 0 0 0 0
0
APRIL
MEI
Katolik ><
Katolik
Katolik ><
Katekumen
Katolik ><
Kristen
Katolik ><
Islam
Katolik ><
Budha
Katolik ><
Hindu
Statistik KPP 2012 Terbaru
Katolik ><
Simpatisan
Katolik
JUNI
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
Katolik ><
Hindu
2
1%
STATISTIK REKAPITULASI JUMLAH
PESERTA
KPP PASANGAN BERDASARKAN AGAMA PASANGAN
Katolik
>< Katolik
194
JANUARI - JUNI 2012
Katolik >< Budha
17
6%
Katolik >< Islam
17
5%
Katolik >< Simpatisan Katolik
0
0%
63%
Katolik >< Katolik
Katolik >< Katekumen
Katolik >< Kristen
Katolik >< Islam
Katolik >< Budha
Katolik >< Hindu
Katolik >< Simpatisan Katolik
Katolik >< Kristen
67
22%
Katolik >< Katekumen
10
3%
Statistik KPP 2012 Terbaru
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
5a. Statistik Peserta KPP Berdasarkan Paroki/Agama
Bulan Januari - Maret 2012
JANUARI
KATOLIK
NON KATOLIK
FEBRUARI
MARET
PRIA
WANITA
PRIA
WANITA
PRIA
WANITA
BLOK B
6
4
4
5
1
2
BLOK Q
0
0
2
1
1
2
CILANDAK
2
4
1
4
7
16
JAGAKARSA
4
2
3
3
3
2
PASAR MINGGU
3
5
2
1
1
3
TEBET
5
3
1
1
2
0
TOTAL PESERTA DARI DEKENAT SELATAN
20
18
13
15
15
25
PAROKI LUAR DEKENAT
19
13
18
11
18
13
PAROKI LUAR JAKARTA
10
14
6
8
12
5
TOTAL PESERTA KATOLIK
49
45
37
34
45
43
KRISTEN
5
10
8
8
2
5
ISLAM
2
3
2
2
1
1
BUDHA
3
1
0
0
2
1
HINDU
0
0
0
0
1
0
AGAMA/KEPERCAYAAN LAIN
0
0
0
0
0
0
KATEKUMEN
1
0
0
1
0
3
SIMPATISAN KATOLIK
0
0
0
0
0
0
TOTAL PESERTA NON KATOLIK
11
14
10
11
6
10
TOTAL PESERTA
60
59
47
45
51
53
Statistik KPP 2012 Terbaru
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
5b. Statistik Peserta KPP Berdasarkan Paroki/Agama
Bulan April - Juni 2012
APRIL
KATOLIK
NON KATOLIK
MEI
JUNI
PRIA
WANITA
PRIA
WANITA
PRIA
WANITA
BLOK B
0
1
7
4
6
12
BLOK Q
2
0
2
1
1
0
CILANDAK
2
4
5
10
1
2
JAGAKARSA
3
2
4
6
1
0
PASAR MINGGU
3
2
3
4
0
0
TEBET
5
6
2
2
1
1
TOTAL PESERTA DARI DEKENAT SELATAN
15
15
23
27
10
15
PAROKI LUAR DEKENAT
6
4
29
31
21
20
PAROKI LUAR JAKARTA
4
3
13
10
7
3
TOTAL PESERTA KATOLIK
25
22
65
68
38
38
KRISTEN
4
5
8
10
4
4
ISLAM
1
2
2
1
0
0
BUDHA
0
0
4
3
2
1
HINDU
0
0
1
0
0
0
AGAMA/KEPERCAYAAN LAIN
0
0
0
0
0
0
KATEKUMEN
1
0
2
3
1
0
SIMPATISAN KATOLIK
0
0
0
0
0
0
TOTAL PESERTA NON KATOLIK
6
7
17
17
7
5
TOTAL PESERTA
31
29
82
85
45
43
Statistik KPP 2012 Terbaru
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
5c. Statistik Peserta KPP Berdasarkan Paroki/Agama
Jumlah Keseluruhan
JANUARI - JUNI
KATOLIK
NON KATOLIK
JANUARI - JUNI
PRIA
WANITA
JUMLAH
KESELURUHAN
BLOK B
24
28
52
BLOK Q
8
4
12
CILANDAK
18
40
58
JAGAKARSA
18
15
33
PASAR MINGGU
12
15
27
TEBET
16
13
29
TOTAL PESERTA DARI DEKENAT SELATAN
96
115
211
PAROKI LUAR DEKENAT
111
92
203
PAROKI LUAR JAKARTA
52
43
95
TOTAL PESERTA KATOLIK
259
250
509
KRISTEN
31
42
73
ISLAM
8
9
17
BUDHA
11
6
17
HINDU
2
0
2
AGAMA/KEPERCAYAAN LAIN
0
0
0
KATEKUMEN
5
7
12
SIMPATISAN KATOLIK
0
0
0
TOTAL PESERTA NON KATOLIK
57
64
121
TOTAL PESERTA
316
314
630
Statistik KPP 2012 Terbaru
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
5d. Statistik Peserta KPP Berdasarkan Paroki/Agama
Bulan Januari - Juni 2012
Peserta dari
Paroki Luar
Jakarta
50
20%
STATISTIK REKAPITULASI PESERTA PRIA
KATOLIK
JANUARI - JUNI 2012
Peserta
dari
Dekenat
Jakarta
Selatan
94
37%
Peserta dari Dekenat
Jakarta Selatan
Peserta dari Paroki Luar
Dekenat
Peserta dari
Paroki Luar
Dekenat
109
43%
STATISTIK REKAPITULASI PESERTA WANITA KATOLIK
JANUARI - JUNI 2012
Peserta dari Paroki Luar
Jakarta
43
17%
Peserta dari Paroki Luar
Dekenat
92
37%
Peserta dari Dekenat
Jakarta Selatan
115
46%
Peserta dari Dekenat Jakarta
Selatan
Peserta dari Paroki Luar Dekenat
Peserta dari Paroki Luar Jakarta
Peserta dari Paroki Luar
Jakarta
Statistik KPP 2012 Terbaru
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
5e. Statistik Peserta KPP Berdasarkan Paroki/Agama
Bulan Januari - Juni 2012
STATISTIK REKAPITULASI PESERTA PRIA
BERDASARKAN AGAMA
JANUARI - JUNI 2012
Islam
8
2%
Budha Agama/Keper
cayaan Lain Katekumen
11
3% Hindu 0
5
2 0%
2%
Kristen
1%
31
10%
Simpatisan
Katolik
0
0%
Katolik
STATISTIK REKAPITULASI PESERTA PRIA
BERDASARKAN AGAMA
Hindu
0
JANUARI - JUNI 2012
Islam Budha 0%
6
9
Katekumen
Simpatisan Katolik
Agama/Kepercayaan
2%
3%
7
0
Lain
2%
0%
0
Kristen
0%
42
13%
Kristen
Kristen
Islam
Islam
Katolik
259
82%
Katolik
Katolik
250
80%
Budha
Budha
Hindu
Agama/Kepercayaan Lain
Katekumen
Hindu
Simpatisan Katolik
Agama/Kepercayaan
Lain
Statistik KPP 2012 Terbaru
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
5f. Statistik Peserta KPP Berdasarkan Paroki/Agama
Bulan Januari - Juni 2012
STATISTIK REKAPITULASI PESERTA KPP
BERDASARKAN PAROKI PESERTA
JANUARI - JUNI 2012
Peserta dari Luar
Jakarta/Negeri
93
19%
STATISTIK REKAPITULASI PESERTA KPP
BERDASARKAN AGAMA PESERTA
JANUARI - JUNI 2012
Peserta dari Dekenat
Jakarta Selatan
186
39%
Peserta dari Dekenat
Jakarta Selatan
Peserta dari Luar Dekenat
Jakarta Selatan
Budha
17 Hindu
Agama/Kepercaya
2
3%
an Lain
0%
Katekumen
0
12
0%
2%
Simpatisan
Islam
0
Kristen
17
0%
73
3%
11%
Katolik
Kristen
Islam
Budha
Peserta dari Luar
Jakarta/Negeri
Hindu
Katolik
509
81%
Peserta dari Luar
Dekenat Jakarta
Selatan
201
42%
Statistik KPP 2012 Terbaru
Agama/Kepercayaan Lain
Katekumen
Simpatisan
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
6a. Statistik Peserta KPP Berdasarkan Usia Peserta
USIA
<=20
21-25
26-30
>30
Total
Total Peserta Keseluruhan
USIA
<=20
21-25
26-30
>30
Total
Total Peserta Keseluruhan
USIA
<=20
21-25
26-30
>30
Total
Total Peserta Keseluruhan
JANUARI
Pria
0
2
33
24
59
FEBRUARI
Wanita
1
6
41
12
60
Pria
0
3
22
22
47
119
60
Pria
0
6
51
25
82
Wanita
3
51
184
77
315
JUNI
Wanita
0
14
48
23
85
167
Wanita
0
8
34
11
53
104
MEI
Wanita
0
7
13
9
29
JANUARI - JUNI
Pria
0
23
166
126
315
630
Pria
0
6
25
20
51
92
APRIL
Pria
0
3
11
17
31
MARET
Wanita
0
10
26
9
45
Pria
0
3
24
18
45
Wanita
2
6
22
13
43
88
JANUARI - JUNI
JUMLAH KESELURUHAN
3
74
77
203
630
Statistik KPP 2012 Terbaru
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
6b. Statistik Peserta KPP Berdasarkan Usia Peserta
STATISTIK PESERTA BERDASARKAN USIA
PESERTA PRIA
JANUARI - JUNI 2012
Usia <=20
3
1%
STATISTIK PESERTA BERDASARKAN USIA
PESERTA WANITA
JANUARI - JUNI 2012
Usia 21-25
23
7%
Usia <=20
0
0%
Usia >30
77
25%
Usia >30
126
40%
Usia 26-30
166
53%
Usia 21-25
51
16%
<=20
<=20
21-25
21-25
26-30
Usia 26-30
184
58%
>30
Statistik KPP 2012 Terbaru
26-30
>30
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 2
KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN - DEKENAT JAKARTA SELATAN
(Paroki Blok B, Blok Q, Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet)
Sekretariat: Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa
Jl. Sirsak No. 14, RT. 0012/RW. 007, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telepon: (021) 786-4570; Fax: (021) 786-3845
STATISTIK KPP DEKENAT JAKARTA SELATAN
JANUARI - JUNI 2012
6c. Statistik Peserta KPP Berdasarkan Usia Peserta
Usia <=20
3
1%
STATISTIK REKAPITULASI PESERTA KPP
BERDASARKAN USIA PESERTA
JANUARI - JUNI 2012
Usia 21-25
74
21%
<=20
Usia >30
203
57%
Usia 26-30
77
21%
21-25
26-30
>30
Statistik KPP 2012 Terbaru
Jakarta, 18 Juni 2012
Lampiran 3
Teks Luk. 10:25-37
10:25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus,
katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang
kekal?"
10:26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa
yang kaubaca di sana?"
10:27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan
segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri."
10:28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka
engkau akan hidup."
10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan
siapakah sesamaku manusia?"
10:30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia
jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya
habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi
meninggalkannya setengah mati.
10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu,
tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
10:32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang
itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
10:33
Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat
itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
10:34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya
dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas
keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan
dan merawatnya.
10:35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan
itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan
menggantinya, waktu aku kembali.
10:36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama
manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"
10:37 Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan
kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"
Lampiran 4
VERBATIM WAWANCARA DENGAN BAPAK ALFONSUS KOESWARDIYONO
A: Agnes
Y: Bpk. Alfonsus Koeswardiyono
A:
Selamat malam, Mas. Saya mau minta waktu Mas untuk wawancara. Saya sedang
mencari data untuk tugas akhir kuliah saya. Saya membuat tugas akhir yang
berhubungan dengan KPP. Nah, Mas dan Mbak khan pembicara di KPP di Blok Q
materi Ekonomi Rumah Tangga. oleh karena itu saya ingin mewawancarai Mas.
Boleh saya tahu nama lengkap Mas dan istri dan kapan Mas menikah?
Y:
Nama lengkap saya: Alfonsus Koeswardiyono. Istri saya namanya Lucia Noviana
Purwainingrum. Kami menikah pada tanggal 16 Mei 1996 di Paroki Blok Q.
A:
Apakah waktu itu Mas mengikuti KPP sebelum menikah?
Y:
Iya, kami mengikuti KPP di Paroki Blok B sekitar akhir tahun 1995, atau awal tahun
1996 ya? Saya lupa. Tapi saya ingatnya saya ikut KPP. Kami ikut KPP 3 kali
pertemuan setiap hari Sabtu dari jam 09:00-15:00.
A:
Apakah materi-materi di KPP yang Mas ikuti waktu itu sama dengan materi-materi di
KPP yang sekarang?
Y:
Seingat saya, materinya hampir sama. Yang saya ingat: Seksualitas, Komunikasi dan
Ekonomi.
A:
Apakah menurut Mas, materi-materi KPP waktu itu berguna?
Y:
Menurut saya berguna. Di masa awal perkawinan kami, bukan hal yang indah tetapi
didera masalah, karena kami berdua “jobless”. Bagaimana mengatasi itu? Yang
timbul adalah pengertian. Anak pertama lahir. Di keluargaku adalah penerus keluarga.
Komunikasi kami tidak berbicara tentang komitmen tetapi secara langsung
menjalankan komitmen. Kami merasa KPP sangat berpengaruh sekali.
A:
Apakah ada perbedaan antara KPP dulu dengan KPP sekarang?
Y:
Ada, dulu KPP nya lama sehingga komitmen betul-betul dituntut.Jadwal KPP sangat
berpengaruh. KPP yang sekarang ada nuansa “meragukan”.
A:
Nah, Mas khan pembicara KPP materi Ekonomi Rumah Tangga. Apa sajakah yang
Mas berikan saat mengajar ekonomi rumah tangga?
Y:
Nilai-nilai dalam ekonomi rumah tangga, yaitu:
-
Hubungan antara keinginan dan kebutuhan.
Membangun sikap memilah dan meletakkan nilai.
Keutamaan-keutamaan yang perlu dibangun, yaitu kejujuran dan keterbukaan.
A:
Apakah menurut Mas, materi-materi KPP itu masih berguna tidak?
Y:
Masih berguna, tapi yang perlu dipikirkan adalah penerimanya. Saya melihat masih
ada keprihatinan bahwa peserta mengikuti KPP hanya sebagai syarat.
A:
Mengapakah Mas berpendapat bahwa peserta KPP mengikuti KPP hanya sebagai
syarat?
Y:
Yang paling gampang kelihatan dari suasana dan respon mereka dalam mengikuti
KPP. Saat saya membawakan materi, ternyata masih terlihat komunikasi yang terjadi
adalah komunikasi satu arah. Menurut saya, seperti ekonomi, saya merasa bahwa
pengetahuan ekonomi tidak perlu banyak diberikan karena mereka pun sudah tahu
tetapi perlu pendalaman materi. Hal itu dipengaruhi oleh kreativitas para pembicara
untuk membuat peserta dapat merasakan bergunanya materi KPP dan pemahaman
lebih mendalam, dalam arti refleksi. Hal itu disebabkan karena pendidikan
(intelektual) peserta yang beragam dan pengetahuan iman mereka juga beragam.
Kenyataan bahwa di dalam lingkungan kita sendiri ada degradasi iman dan moral,
maka perlu adanya pendalaman materi KPP. Saya prihatin pendidikan sakramen
imamat bisa lama 15 tahun tetapi pendidikan untuk sakramen perkawinan hanya dua
hari, padahalkan kedua sakramen ini sama-sama panggilan hidup yang akan
berlangsung seumur hidup.
A:
Ok, Mas, untuk sementara segitu saja. Terima kasih banyak atas waktu dan kesediaan
Mas. Selamat malam.
Lampiran 5
VERBATIM WAWANCARA DENGAN IBU MARTHA ULLY SAFITRI
A: Agnes
U: Ully
A:
Siang, Li. Boleh gue minta waktu elo untuk wawancara untuk tugas akhir kuliah gw?
gue mau tanya soal pendapat elo tentang materi KPP. Sebelumnya, Li, elo ikut KPP
tahun berapa ya?
U:
Gue ikut KPP tahun 2002 di Paroki Kampung Sawah, jadi 10 tahun yang lalu.
A:
Waktu itu elo ikut KPP alasannya kenapa?
U:
Alasannya ada dua, satu karena sayarat wajib untuk bisa nikah, dan gue berpikir untuk
dapat bekal ilmu.
A:
Nah, setelah 10 tahun menikah, apakah elo merasa materi-materi KPP saat itu
berguna?
U:
Berguna banget, Nes. Terutama soal pengaturan uang, dan pendidikan anak. Hanya
gue merasa materinya kurang mendalam, hanya luar-luarnya saja. Gue ada saran nih.
Gimana kalau di KPP materi ditambah tentang teknologi secara saat ini khan masa
teknologi komputer.
A:
Ok deh, Li. Nanti saran elo gue sampaikan ke panitia KPP. Tx ya, Li.
U:
Sama-sama, Nes.
Lampiran 6
VERBATIM WAWANCARA DENGAN IBU ROSA LUJENG DUIRI
A:
Agnes
L:
Lujeng
A:
Siang, Jeng. Ganggu nggak? Gue mau mewawancarai elo soal materi KPP untuk
tugas akhir kuliah gue. Elo KPP tahun berapa?
L:
Tahun 2010 di Paroki Tebet. Nikah tahun 2010 juga.
A:
Elo ikut KPP motivasinya apa?
L:
Untuk dapat sertifikat. Gue sudah dengar dari Viony sebelumnya, sebenarnya bagus
untuk persiapan, tetapi terlalu singkat, kurang mendalam, sebenarnya tema menarik,
tapi karena terlalu singkat dan orang datang hanya karena ingin sertifikat jadi tidak
terlalu berkesan sehingga mudah dilupakan sama orang. Waktunya juga terlalu
singkat.
A:
Materi KPP apa saja yang elo ingat?
L:
Komunikasi suami-istri, seksualitas, ekonomi rumah tangga, lainnya lupa.
A:
Setelah elo menikah, berguna nggak sih materi itu?
L:
Berguna, contohnya materi komunikasi dan ekonomi rumah tangga.
A:
Untuk sementara itu saja. Tx ya, Jeng...
L:
Your welcome.
Lampiran 7
VERBATIM WAWANCARA DENGAN NINA
Narasumber mengiginkan namanya tidak disebut, sehingga oleh penulis ditulis dengan nama
samaran Nina
A:
Agnes
N:
Nina
A:
Halo Nin... Apa kabar?
N:
Kabar gue baik.
A:
Nin, gue mau minta bantuan, mau mewawancarai elo untuk tugas akhir kuliah gue.
Bolehkan?
N:
Boleh, tapi nama gue tolong disamarin ya.
A:
Ok, nggak masalah. Nin, elo pernah ikut KPP khan?
N:
Iya, tahun 2008, khan elo yang ngurusin.
A:
Waktu itu elo ikut KPP kenapa?
N:
Gue ikut KPP sebagai syarat untuk menikah. Tapi setelah ikut gue ngerasa ada
gunanya juga, membuka wawasan gue.
A:
Wawasan bagaimana?
N:
Contohnya: di KPP diajarin kalau ada masalah ngadu jangan sama nyokap tetapi sama
mertua karena kalau sama nyokap sendiri pasti nyokap belain kita dan masalah jadi
panjang. Terus kalau mau kasih duit ke mertua harus menantu bukan anaknya dan gue
ngerasain itu benar.
A:
Nah, bagaimana pendapat elo soal materi KPP?
N:
Materi-materinya sebenarnya pas Cuma kurang personal pendekatan. Yang gue rasa
pendekatannya personal adalah Discovery. Menurut gue jumlah personal juga
mempengaruhi, di KPP harusnya jumlah peserta dibatasi.
A:
Ok, tx, ya, Nin. Untuk sementara ini dulu. Selamat siang. Tuhan memberkati.
N:
Tuhan memberkati juga, sukses buat tugas akhir elo ya.
Download