bab i pendahuluan - Fakultas Hukum UNSOED

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Lembaga Pemasyarakatan
(LAPAS) merupakan suatu tempat untuk
melakukan pembinaan terhadap narapidana di Indonesia. Sebelum dikenal istilah
LAPAS di Indonesia, tempat tersebut di sebut dengan istilah penjara. Sistem
kepenjaraan kita yang sebelumnya berdasarkan Gestichten reglement S.1917 no 708
yang jelas-jelas tidak sesuai dengan konstitusi Negara Indonesia yaitu UUD 1945,
telah berangsur-angsur dirubah dan diperbaiki. Sistem pemenjaraan yang sangat
menekankan pada unsur balas dendam dan penjeraan telah dihapus dan diubah
dengan konsep rehabilitasi dan reintegrasi sosial. dimana sistem pembinaan bagi
Narapidana telah berubah dari sistem kepenjaraan menjadi sistem pemasyarakatan.
Perubahan dari Rumah Panjara menjadi Lembaga Pemasyarakatan, bukan sematamata hanya secara fisik merubah atau mendirikan bangunannya saja, melainkan yang
lebih penting menerapkan konsep pemasyarakatan. Pemikiran mengenai fungsi
hukuman penjara dicetuskan oleh Sahardjo pada tahun 1962 kemudian ditetapkan
oleh Presiden Soekarno pada tanggal 27 April 1964 yang tercermin didalam Undangundang Nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. 1
1
www. hukumonline.com Esensi lembaga pemasyarakatan sebagai wadah pembinaan narapidana
http://hmibecak.wordpress.com//diakses 29 mei 2007.
2
Dalam penjelasan Undang-Undang
Nomor 12 tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan (yang selanjutnya disingkat dengan UU No.12 Th 1995) telah
dijelaskan bahwa sistem pemasyarakatan merupakan satu kesatuan penegakan hukum
pidana, oleh karena itu pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan dari pengembangan
konsepsi umum pemidanaan. Sayangnya masalah pemidanaan merupakan masalah
yang kurang mendapat perhatian dalam perjalanan hukumnya, bahkan ada yang
menyatakan sebagai anak tiri. Padahal hal tersebut berkaitan dengan syarat-syarat
yang harus dipenuhi untuk memungkinkan dapat dijatuhkannya pidana, maka
masalah pemidanaan dan pidana merupakan masalah yang sama sekali tidak boleh
dilupakan. Bagian yang terpenting suatu kitab Undang-Undang Hukum Pidana adalah
stelsel pidananya. Stelsel pidana yang terdapat dalam KUHP tersebut dapat dijadikan
ukuran sampai seberapa jauh tingkat peradaban suatu bangsa yang bersangkutan.
Stelsel pidana tersebut memuat aturan-aturan tentang jenis-jenis pidana dan juga
memuat aturan tentang ukuran dan pelaksanaan pidana itu. Dari jenis, ukuran dan
cara pelaksanaannya itu dapat dinilai bagaimana sikap bangsa itu melalui
pembentukan undang-undangnya dan pemerintahannya terhadap warga negara
masyarakatnya sendiri atau terhadap orang asing yang telah melakukan pelanggaran
terhadap peraturan perundang-undangan pidana.2
UU No.12 Th 1995 merupakan induk dari sistem pelaksanaan pidana penjara
dengan sistem pemasyarakatan, kemudian pengaturan khusus dalam pembinaan dan
pembinaan narapidana yang selanjutnya disebut dengan (Napi) merupakan bagian
2
Sudarto, 1981, Hukum dan Hukum Pidana, Bandung, Alumni, hal 2.
3
dari warga binaan pemasyarakatan diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 31
Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan
serta Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara
Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.
Pasal 1 angka 2 UU No.12 Th 1995 memberikan penjelasan mengenai sistem
pemasyarakatan yaitu sebagai berikut :
Sistem Pemasyarakatan adalah suatu tatanan mengenai arah dan batas serta
cara pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang
dilaksanakan secara terpadu antara pembina, yang dibina, dan masyarakat untuk
meningkatkan kualitas Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan,
memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima
kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan
dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggungjawab.
Fungsi LAPAS adalah membina narapidana agar menjadi manusia yang
berkualitas, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif,
terampil, berdisiplin, yang memiliki kesadaran beragama, bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara, memiliki kemampuan intelektual dan kesadaran hukum. Sebagai
lembaga pembangunan, LAPAS bertugas membentuk narapidana sebagai manusia
pembangunan yang produktif, baik selama didalam LAPAS maupun setelah berada
kembali dimasyarakat.
Namun demikian dengan berjalannya waktu tampak jelas bahwa tujuan
pembianaan napi ini banyak menghadapi hambatan dan berimplikasi pada kurang
4
optimalnya bahkan dapat dikatakan dapat menuju pada kegagalan fungsi sebagai
lembaga pemasyarakatan.3
Perkembangan masyarakat yang semakin komplek ini juga diiringi dengan
munculnya berbagai bentuk tindak pidana baru dan juga semakin meningkatnya baik
kualitas maupun kuantitas tindak pidana, yang pada muaranya nanti juga akan
berimbas kepada semakin bertambahnya jumlah warga masyarakat yang akan
menjadi penghuni Lembaga Pemasyarakatan. Lembaga Pemasyarakatan yang
seharusnya sebagai wadah atau tempat untuk melakukan pembinaan kepada warga
binaan tentunya tidak akan bisa menjalankan fungsinya secara maksimal yang
disebabkan oleh kelebihan penghuni.
Dengan semakin banyaknya napi yang berada di lembaga pemasyarakatan
pada akhirnya juga akan mengakibatkan lembaga pemasyarakatan menjadi penuh dan
dapat mengalami “over capacity” (kelebihan kapasitas). Kondisi lembaga
pemasyarakatan kelas IIA di Purwokerto saat ini masih mengalami kelebihan
kapasitas atau kelebihan hunian, karena kapasitas di lembaga pemasyarakatan kelas
IIA Purwokerto hanya 200 tahanan dan napi sedangkan jumlah napi dan tahanannya
mencapai 360 orang, sehingga kondisi di Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto
3
Angkasa. 2010. Over Capacity Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan. Jurnal Dinamika
Hukum; Unsoed. hal 212.
5
sangat memprihatinkan. Daya tampung yang tersedia sudah over capacity (melebihi
kapasitas). Narapidana yang menghuni kamar LAPAS terpaksa berdesak-desakan.4
Peningkatan jumlah penghuni lembaga pemasyarakatan ini tidak diiringi
dengan peningkatan kapasitas LAPAS. Persoalan kelebihan kapasitas di hampir
seluruh lembaga pemasyarakatan di Indonesia tentunya mengundang keprihatinan
dan kritikan dari berbagai pihak. Dimana persoalan kelebihan kapasitas ini dapat
mempengaruhi efektifitas pembinaan terhadap narapidana didalam lembaga
pemasyarakatan.
Atas dasar uraian di atas penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian lebih jauh
tentang “PEMBINAAN NARAPIDANA PADA LEMBAGA
PEMASYARAKATAN YANG MELEBIHI KAPASITAS” (Studi Kasus di
Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto).
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pembinaan narapidana pada lembaga pemasyarakatan yang
melebihi kapasitas di Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto?
2. Bagaimanakah efektivitas Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto dalam
upaya memaksimalkan pembinaan narapidana?
4
Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto Segera Dipindah.http://www.suaramerdeka.com.online
diakses 27 april 2009
6
C. TUJUAN PENELITIAN
Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan skripsi ini adalah sebagai
berikut:
1. Untuk mengetaui bagaimanakah pembinaan narapidana pada Lembaga
Pemasyarakatan Purwokerto yang melebihi kapasitas.
2. Untuk mengetahui efektivitas lembaga pemasyarakatan dalam upaya
memaksimalkan pembinaan narapidana
di Lembaga Pemasyarakatan
Purwokerto.
D. KEGUNAAN PENELITIAN
Adapun kegunaan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Kegunaan Teoritis
a. Untuk memberikan informasi kepada masyarakat dan kita semua tentang
pentingnya
mengetahui
pembinaan
narapidana
pada
lembaga
pemasyarakatan yang melebihi kapasitas (over capacity).
b. Untuk memberikan informasi kepada kita semua, bahwa Lembaga
Pemasyarakatan yang melebihi kapasitas (over capacity) akan menimbulkan
dampak yang negatif bagi narapidana dalam pelaksanaan pembinaannya.
2. Kegunaan Praktis
7
a. Untuk memberikan masukan dan sumbangan pikiran yang berguna bagi
civitas akademika maupun masyarakat mengenai pembinaan narapidana
pada lembaga pemasyarakatan yang over capacity.
b. Untuk memberikan masukan kepada para penegak hukum, khususnya para
petugas lembaga pemasyarakatan (LAPAS) agar dapat membimbing dan
membina para narapidana dengan layak dan sesuai aturan yang berlaku.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Pemidanaan, Tujuan Pemidanaan, dan Teori-teori Pemidanaan
a. Definisi Pemidanaan
Pemidanaan adalah suatu upaya terakhir dalam pemberian sanksi
terhadap pelaku kejahatan. Baiknya pemidanaan hanya dialkukan apabila
norma
yang
bersangkutan
begitu
penting
bagi
kehidupan
dan
kemerdekaan anggota masyarakat lainnya. Suatu pidana dijatuhkan oleh
hakim, tidak terlepas dari tujuan dijatuhkannya pidana tersebut bagi
narapidana yang bersangkutan. Dalam perkembangan hukum pidana,
tujuan pidana pada dasarnya dapat dilihat dari tiga kategori, yaitu: 5
1. Teori Absolut atau teori pembalasan
Teori absolut adalah teori tertua dan telah berlangsung beberapa
abad. Menurut teori ini, pidana dipandang sebagai pembalasan
terhadap orang yang telah melakukan tindak pidana. Dalam hal ini
pembalasan harus dilihat sebagai suatu reaksi keras, yang bersifat
emosional dan irrasional.
Nigel Walker member tiga pengertian mengenai pembalasan
(retribution), yaitu retaliatory retribution (berarti dengan sengaja
5
Masruchin rubai, 1997, Mengenal Pidana Dan Pemidanaa, Malang, IKIP, hal. 5.
9
membebankan suatu penderitaan yang pantas diderita oleh seseorang
penjahat dan yang mampu menyadari bahwa beban penderitaan itu
akibat kejahatan yang dilakukannya), distributive retribution (berarti
pembatasan terhadap bentuk-bentuk pidana yang dibebankan dengan
sengaja terhadap mereka yang telah melakukan kejahatan) dan
quantitative retribution ( berarti pembatasan terhadap bentuk-bentuk
pidana yang mempunyai tujuan lain dari pembalasan, sehingga
bentuk-bentuk pidana itu tidak melampaui tingkat kekejaman yang
dianggap pantas untuk kejahatan yang dilakukan)
2. Teori Relatif atau teori tujuan
Teori relatif berusaha mencari pembenar dari suatu pidana,
semata-mata pada suatu tujuan tertentu. Para pengajar teori relatif ini
tidak melihat pidana itu sebagai pembalasan, dank arena itu diketahui
bahwa pemidanaan itu adalah suatu cara untuk mencapai tujuan yang
lain dari pada pemidanaan itu sendiri. Dasar pembenar adanya pidana
menurut teori ini adalah terletak pada tujuannya. Pidana dijatuhkan
bukan “quia peccatum est” (karena orang berbuat jahat) melainkan
“ne peccetur” (supaya orang jangan melakukan kejahatan. 6
Menurut teori ini, hukum pidana bertujuan untuk mencegah dan
mengurangi tingkah laku penjahat. Pidana dimaksudkan untuk
6
Muladi dan Barda Nawawi Arief, 1992, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, Bandung , Alumni,
hal 16.
10
mengubah tingkah laku penjahat dan orang lain yang melakukan
kejahatan.
3. Teori Pembinaan
Menurut teori pembinaan tujuan pidana adalah untuk merubah
tingkah laku atau kepribadian narapidana agar meninggalkan
kebiasaan jelek yang bertentangan dengan norma-norma hukum serta
norma-norma yang lain dan agar supaya ia lebih cenderung untuk
mematuhi norma-norma yang berlaku
b. Tujuan Pemidanaan
Efektivitas pidana penjara dapat ditinjau dari dua aspek pokok
tujuan pemidanaan, yaitu aspek perlindungan masyarakat, meliputi
mencegah,
mengurangi
atau
mengendalikan
tindak
pidana
dan
memulihkan keseimbangan masyarakat (antara lain menyelesaikan
konflik, mendatangkan rasa aman, memperbaiki kerugian/kerusakan,
menghilangkan noda-noda, memperkuat kembali nilai-nilai yang hidup di
dalam masyarakat) dan aspek perbaikan dari pelaku, meliputi berbagai
tujuan, antara lain melakukan rehabilitasi dan memasyarakatkan kembali
pelaku dan melindunginya dari perlakuan sewenang-wenang di luar
hukum. 7.
7
Barda Nawawi Arief, 2002, Bunga Rpampai Kebijakan Hukum Pidana, Bandung , Citra Aditya
Bakti, hal. 224.
11
Ada 3 (tiga) pokok pikiran tentang tujuan yang akan dicapai
dengan adanya suatu pemidanaan, yaitu:
1). Untuk memperbaiki dari kejahatannya pelaku itu sendiri;
2). Untuk membuat orang menjadi jera untuk melakukan suatu tindak
kejahatan;
3). Untuk membuat penjahat-penjahat tertentu menjadi tidak mampu
untuk melakukan kejahatan-kejahatan lain, yakni penjahat-penjahat
dengan cara-cara yang lain sudah tidak dapat diperbaiki lagi.
c. Teori Pemidanaan
Menurut Satochid Kartanegara dan pendapat-pendapat para ahli
hukum terkemuka dalam hukum pidana, mengemukakan teori pemidanaan
atau penghukuman dalam hukum pidana dikenal ada tiga aliran yaitu:
1. Absolute atau vergeldings theorieen (vergelden/imbalan)
Aliran ini mengajarkan dasar daripada pemidanaan harus dicari pada
kejahatan itu sendiri untuk menunjukkan kejahatan itu sebagai dasar
hubungan yang dianggap sebagai pembalasan, imbalan (velgelding)
terhadap orang yang melakukan perbuatan jahat. Oleh karena
kejahatan itu menimbulkan penderitaan bagi si korban.
2. Relative atau doel theorieen (doel/maksud, tujuan)
Dalam ajaran ini yang dianggap sebagai dasar hukum dari pemidanaan
adalah bukan velgelding, akan tetapi tujuan (doel) dari pidana itu. Jadi
aliran ini menyandarkan hukuman pada maksud dan tujuan
12
pemidanaan itu, artinya teori ini mencari mamfaat daripada
pemidanaan (nut van de straf)
3. Vereningings theorieen (teori gabungan)
Teori ini sebagai reaksi dari teori sebelumnnya yang kurang dapat
memuaskan menjawab mengenai hakikat dari tujuan pemidanaan.
Menurut ajaran teori ini dasar hukum dari pemidanaan adalah terletak
pada kejahatan itu sendiri, yaitu pembalasan atau siksaan, akan tetapi
di samping itu diakuinya pula sebagai dasar pemidanaan itu adalah
tujuan daripada hukum. 8
2.
Pengertian Pembinaan Narapidana, Sistem Pemasyarakatan dan Fungsi
Pemasyarakatan
a. Pengertian Pembinaan Narapidana
Pengertian narapidana adalah seseorang yang melakukan tindak
kejahatan dan telah menjalani persidangan, telah divonis hukuman pidana
serta ditempatkan dalam suatu bangunan yang disebut lembaga
pemasyarakatan9
Pembinaan ialah segala upaya dan usaha yang dilakukan untuk
memberi dan meningkatkan keahlian atau keterampilan, pengetahuan,
sikap mental dan dedikasi. Sehingga mereka yang dibina dapat
menjalankan dan memahami apa yang diberikan. Pembinaan sendiri dapat
8
Satochid Kartanegara, 2001, Hukum Pidana Bagian Satu, Jakarta, Balai Lektur Mahasiswa, hal.
9
www.psychologymania.com. Pengertian narapidana diakses oktober 2012
56.
13
dilakukan melalui beberapa cara misalkan pengarahan, bimbingan,
pengembangan, dorongan dan kontrol untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Pembinaan dapat dilakukan baik melalui pendidikan formalinformal, pelatihan dan kursus. Meningkatkan keahlian atau keterampilan
dan ilmu agar tercapai suatu pribadi yang tangguh pada spesialisasi usaha
dan pekerjaannya. Sebagai suatu negara yang menganut hukum sebagai
alat mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara maka pembinaan
terhadap masyarakat akan pentingnya mentaati segala peraturan hukum
yang berlaku perlu diberikan.
b. Pelaksanaan Pemasyarakatan
Sistem Kepenjaraan adalah tujuan dari pidana penjara, dan
tujuan dari pidana penjara maksudnya adalah untuk melindungi
masyarakat dari segala bentuk kejahatan10. Namun demikian, dalam
kenyataanya bekas narapidana yang sudah habis massa perlakuannya,
kemudian kembali ke masyarakat, masih ada yang mengulangi
perbuatannya, maka dari itu sistem Kepenjaraan diubah menjadi
sistem
Pemasyarakatan.
membantu
proses
Disamping
perubahan
memelihara
masyarakat
guna
ketertiban
mencapai
yang
tujuan
masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945 yang lebih menghormati azas kemanusiaan.
10
A. Widiana Gunakaya, 1988, Sejarah dan Konsepsi Pemasyarakatan, Bandung, CV Armico,
hal. 43.
14
Menurut Pasal 1 angka 1 : Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk
melakukan pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan sistem,
kelembagaan dan cara pembinaan yang merupakan bagian akhir dari
sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana. 11
c. Fungsi Pemasyarakatan
Dalam Pasal 3 Kepmenkeh. RI. Nomor M-01-Pr-07-03 Tahun 1985
tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemasyarakatan Lembaga
pemasyarakatan dalam menjalankan tugasnya lembaga pemasyarakatn
tersebut memiliki fungsi, yaitu :
1)
melakukan pembinaan narapidana/anak didik;
2)
memberikan bimbingan, mempersiapkan sarana dan mengelola hasil
kerja;
3)
melakukan bimbingan sosial/kerokhaniaan narapidana/anak didik;
4)
melakukan pemeliharaan keamanan dan tata tertib Lembaga
Pemasyarakatan;
5)
melakukan urusan tata usaha dan rumah tangga
Berdasarkan ketentuan umum undang-undang No.12 Tahun 1995
tentang
pemasyarakatan
bahwa
pembinaan
para
Pemasyarakatan harus dilaksanakan berdasarkan azas:
a) pengayoman;
b) persamaan perlakuan dan pelayanan
11
UU Nomor 12 Tahun 1992 tentang Pemasyarakatan
warga
binaan
15
c) pendidikan;
d) pembinaan;
e) penghormatan harkat dan martabat manusia;
f) kehilangan kemerdekaan merupakan penderitaan satu-satunya;
g) terjaminnya hak untuk berhubungan dengan keluarga dan orangorang tertentu.
3.
Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan
Lembaga Pemasyarakatan mempunyai fungsi strategis dan potensial
untuk memperbaiki pelanggaran hukum atau narapidana melalui pembinaan.
Lembaga Pemasyarakatan bukan saja tempat untuk semata-mata untuk
memidana orang melainkan juga sebagai tempat untuk membina dan
mendidik orang-orang terpidana agar mereka setelah menjalankan pidananya,
mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di luar
Lembaga Pemasyarakatan sebagai warga Negara yang baik dan taat kepada
hukum yang berlaku.
Pada dasarnya Pelaksanaan pembinaan pemasyarakatan didasarkan
atas prinsip-prinsip sistem pemasyarakatan untuk merawat, membina,
mendidik dan membimbing warga binaan dengan tujuan agar menjadi warga
yang baik dan berguna. 12 Dalam proses pembinaan narapidana di Lembaga
12
Penjelasan PP No.32 tahun 1999 tentang Syarat Dan Tatacara Pelaksanaan Hak Waga Binaan
Pemasyarakatan
16
Pemasyarakatan dibutuhkan sarana dan prasarana pedukung guna mencapai
keberhasilan yang ingin dicapai,yaitu:
a. Gedung Pemasyarakatan merupakan representasi keadaan penghuni di
dalamnya. Keadaan gedung yang layak dan ruangan yang cukup guna
menampung para narapidana sehingga dapat
mendukung proses
pembinaan yang sesuai harapan. Dengan adanya contoh tentang keadaan
sarana
gedung
Lembaga
Pemasyarakatan
tepatnya
di
Lembaga
Pemasyarakatan Purwokerto ini yang melebihi kapasitas dimana Lembaga
Pemasyarakatan yang idealnya terisi 200 orang kini dihuni 360
narapidana. Hal ini akan mengakibatkan hak-hak narapidana kurang
terpenuhi, karena hak-hak narapidana dilindungi oleh UU No. 12 Tahun
1995, dimana dalam Pasal 14 Undang-Undang tersebut mengatur tentang
hak-hak yang dimiliki oleh narapidana. Adapun hak-hak tersebut yaitu:
a. melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya;
b. mendapat perawatan, baik perawatan rohani maupun jasmani;
c. mendapatkan pendidikan dan pengajaran;
d. mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak;
e. menyampaikan keluhan;
f. mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya
yang tidak dilarang;
g. mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan;
h. menerima kunjungan keluarga, penasihat hukum, atau orang tertentu
lainnya;
17
i.
mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi);
j.
mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi
keluarga;
k. mendapatkan pembebasan bersyarat;
l.
mendapatkan cuti menjelang bebas dan;
m. mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. 13
b. Berkenaan dengan masalah petugas pelaksanaan pembinaan di Lembaga
Pemasyarakatan, ternyata dapat dikatakan belum sepenuhnya dapat
menunjang tercapainya tujuan dari pembinaan itu sendiri, mengingat
jumlah petugas dan penghuni di Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto
tidak lah seimbang.
Dari apa yang telah dijelaskan diatas bahwa untuk dapat
mengurangi narapidana mengulangi kejahatannya itu peran petugas dalam
Lembaga Pemasyarakatan dibutuhkan guna melakukan pembinaan
terhadap narapidana, namun bukan hanya petugas saja yang menjadi
faktor pendorong terciptanya pembinaan narapidana, gedung juga menjadi
faktor penting pembinaan narapidana. Keadaan gedung yang layak dapat
mendukung proses pembinaan yang sesuai harapan.
13
Pasal 12 UU No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan
18
BAB III
METODE PENELITIAN
1. Metode Pendekatan
Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan
analisis yuridis sosiologis (social legal approach), dimaksudkan sebagai
pemaparan dan pengkajian hubungan aspek hukum dengan aspek non hukum
dalam bekerjanya hukum di dalam kenyataan. Pendekatan analisis yuridis
sosiologis adalah pendekatan dengan menganalisis mengenai pembinaan
narapidana dilembaga pemasyarakatan yang melebihi kapasitas.
Dalam penelitian ini, peneliti akan terfokus pada pelaksanaan
pembinaan narapidana pada lembaga pemasyarakatan yang melebihi kapasitas
di lembaga pemasyarakatan Purwokerto. Dilakukannya penelitian ini
bertujuan untuk memperoleh kejelasan mengenai efektivitas pelaksanaan
pembinaan pada lembaga pemasyarakatan yang melebihi kapasitas yang
dilakukan oleh aparat penegak hukum di lembaga pemasyarakatan
Purwokerto.
2. Metode Penelitian
Penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian yang berdasarkan
pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah
manusia. Dalam penelitian kualitatif diperoleh data deskriptif berupa kata-kata
tertulis maupun lisan dari informan atau orang-orang dan perilaku yang
19
diamati. Data tertulis dari informan dan perilakunya dalam hal ini adalah
berkaitan dengan bagaimana dan sejauh mana pembinaan narapidana
dilembaga pemasyarakatan yang melebihi kapasitas.
3. Spesifikasi Penelitian
Deskriptif disini adalah penelitian yang bertujuan untuk melukiskan
tentang sesuatu hal di daerah tertentu dan pada saat tertentu. Biasanya dalam
penelitian ini, peneliti sudah mendapatkan/mempunyai gambaran yang berupa
data awal tentang permasalahan yang akan diteliti. 14 Penelitian ini bertujuan
untuk menggambarkan keadaan dari objek atau masalah yang diteliti tanpa
bermaksud untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan yang bersifat umum.
Seperti yang diungkapkan oleh Soerjono Soekanto15 bahwa penelitian
deskriptif bukan semata-mata untuk mengungkapkan atau menggambarkan
kesesuaian perundang-undangan dalam realita kehidupan masyarakat belaka,
akan tetapi juga untuk memahami pelaksanaan peraturan perundang-undangan
tersebut berlandaskan pada peraturan hukum dan memahami apa yang
menjadi latar belakang dari pelaksanaan tersebut.
Dalam
hal
ini
peneliti
akan
menggambarkan
bagaimanakah
pelaksanaan pembebasan bersyarat di lembaga pemasyarakatan Purwokerto,
14
Bambang Waluyo, 2002, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Jakarta, Sinar Grafika, hal. 8.
Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, Penerbit Universitas Indonesia,
hal. 250.
15
20
faktor-faktor yang mempengaruhinya, hambatan-hambatan yang ada,serta
bagaimana cara memecahkan hambatan-hambatan tersebut.
4. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada lembaga yang terkait, yaitu di
wilayah Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto, karena pada dasarnya
Lembaga Pemasyarakat di Purwokerto telah melebihi kapasitas (over
capacity) misalnya tempat hunian, sarana dan prasrana serta pembinaannya
yang kurang maksimal, hal ini akan digunakan sebagai bekal setelah
narapidana bebas dan kembali lagi dalam kehidupan di masyarakat .
5. Informasi dan Penelitian
Untuk melaksanakan penelitian tersebut ditentukan Informan
Penelitian sebagai data primer kualitatif. Informan penelitian yang menjadi
sumber data adalah :
1. Petugas LAPAS Purwokerto
2. Narapidana LAPAS Purwokerto
6. Metode Pengumpulan Data
a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari lokasi
penelitian yaitu di Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto, dengan
menggunakan metode:
1. Interview (Wawancara) Bebas Terpimpin
21
Wawancara adalah Suatu cara yang dipergunakan untuk tujuan tertentu
guna mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seorang
responden, dengan bercakap-cakap berhadap muka dengan orang
tersebut.16
Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara bebas namun
terpimpin dengan mempersiapkan terlebih dahulu pertanyaanpertanyaan tetapi masih di mungkinkan adanya variasi pertanyaan yang
disesuaikan dengan situasi ketika wawancara. 17
2. Observasi (Pengamatan)
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara
sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. 18
Selain menggunakan wawancara, pengumpulan data primer juga dapat
dilakukan dengan cara observasi. Teknik observasi merupakan metode
pengumpulan data dengan mengamati langsung dilapangan. Mengamati
bukan hanya melihat, tetapi juga merekam, menghitung, mengukur dan
mencatat kejadian.
b. Data Sekunder, Data yang diperoleh dengan cara melakukan studi pustaka
terhadap
16
peraturan
perundang-undangan,
buku-buku
literatur
dan
Koentjoroningrat, 1986, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta, Gramedia, hal. 129.
Ronny Hanitijo Soemitro, op. cit, hal. 107
18
Hadari Nawawi, 1995, Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta, Gadjah Mada University
Press, hal. 100.
17
22
dokumen-dokumen lainnya yang berkaitan dengan obyek atau materi
penelitian.
7. Jenis dan Sumber Data
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan dua sumber data,
yaitu :
a. Sumber data primer
Data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari informan penelitian,
data yang berupa keterangan atau hasil wawancara dengan pihak lembaga
pemasyarakatan
Purwokerto
yang
berhubungan
dengan
pokok
permasalahan yang diteliti untuk data sekunder. Data yang berupa
keterangan atau hasil wawancara tersebut akan diolah menjadi ringkas dan
sistematis dengan cara menuliskan hasil wawancara, atau rekaman,
mengedit, mengklarifikasi, mereduksi, dan menyajikan. 19
b. Sumber data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui bahan-bahan
kepustakaan. Data sekunder yang digunakan dalm penelitian ini yaitu
bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.
Bambang Sunggono membedakan ketiga data tersebut yaitu:20
1) Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang bersifat
mengikat, yang terdiri dari perundang-undangan, bahan hukum yang
19
20
Noeng Muhadjir, 1996, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta, Rake Sarasin, hal. 29
Bambang Waluyo, 2002. Op. Cit., hal.113.
23
tidak dikodifikasikan, yurisprudensi, traktat, serta bahan hukum dari
zaman penjajahan yang hingga kini masih berlaku.
Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Nomor 12 Tahun
1995 tentang Pemasyarakatan, Keputusan Menteri Kehakiman. RI.
Nomor M-01-Pr-07-03 Tahun 1985 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Lembaga Pemasyarakatan.
2) Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang memberikan
penjelasan mengenai bahan hukum primer. Bahan-bahan hukum
sekunder terdiri dari pustaka di bidang ilmu hukum, rancangan
peraturan perundang-undangan, artikel-artikel ilmiah, baik dari media
massa maupun internet.
3) Bahan hukum tersier, yaitu bahan yang memberikan petunjuk atau
penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum
sekunder, misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan
Kamus Hukum.
8. Metode Penyajian Data
Hasil penelitian disajikan dalam bentuk uraian-uraian yang tersusun
secara sistematis, artinya data yang diperoleh akan dihubungkan satu dengan
yang lain disesuaikan dengan permasalahan yang diteliti, sehingga secara
keseluruhan merupakan satu kesatuan yang utuh sesuai dengan kebutuhan
penelitian.
24
9. Metode Analisa Data
Data yang diperoleh di analisis dengan model analisis kualitatif. Hal
ini dimaksudkan analisis data yang bertitik tolak pada usaha-usaha penemuan
asas-asas dan informasi-informasi yang bersifat ungkapan monografis dari
responden.21
10. Metode Pengambilan Sampel
Sampel yang diambil menggunakan puerpostve sampling, karena di
lembaga pemasyarakatan purwokerto terdapat narapidana dan pegawai yang
menurut penulis dapat memberikan data yang dibutuhkan.
Sampel yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a. Pegawai Lembaga Pemasyarakatan : Kepala Lembaga Pemasyarakatan,
Kasubag Tata Usaha, Ka. Urusan Kepeg dan Keu, Ka. Urusan Umum,
Kasi
Binadik, Kasubsi Registrasi, Kasubsi Bimaswat, Kasi Kegiatan
Kerja, Kasubsi Kegiatan Kerj, Kasubsi Sarana Kerja, Kasi Adm. Kamtib,
Kasubsi Pelaporan dan Tertib, Kasubsi Keamanan, Ka. KPLP.
b. Narapidana dalam hal ini adalah 4 orang narapidana.
21
Ronny Hanitijo Soemitro, 1986, Metode Penelitian Hukum, Jakarta, UI Perss, hal. 89.
25
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Keadaan Umum Lembaga Pemasyarakataan Purwokerto
Lembaga
Pemasyarakatan
Purwokerto
adalah
Lembaga
Pemasyarakatan kelas IIA dengan kapasitas 80-120 narapidana yang terdiri
dari 5 (lima) orang KASI dan ditambah dengan 2 (dua) orang SUBSI
(Subseksi) yang pada awal berdirinya Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto
adalah Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA yang hanya berkapasitas 120
narapidana. Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto diresmikan pada tahun
1968 dengan luas tanah 6250 m2 dan luas bangunan 5000m2 . Sedangkan luas
kamar untuk narapidana di dalam LAPAS Purwokerto berukuran 10 x 9,5
meter dihuni sekitar 40 narapidana untuk satu ruangan. Hal ini bisa dikatakan
kelebihan kapasitas karena untuk idealnya kamar yang berukuran 10 x 9,5
meter tersebut untuk dihuni antara 10-15 orang narapidana.
Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto berlokasi di pusat kota
adminitrasi Purwokerto yaitu di desa Sokanegara Kecamatan Purwokerto
Timur, Jalan Jenderal Soedirman No. 104 dengan batas-batasnya adalah :
a. Sebelah utara
: Jalan Jenderal Soedirman.
b. Sebalah Selatan
: Bangunan Rumah Penduduk.
c. Sebelah barat
: Komplek Pertokoan.
26
d. Sebelah timur
: Jalan Penjara.
Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto menjalankan fungsinya sebagai
unit pelaksanaan teknis pemasyarakatan yang menampung, merawat dan
membina narapidana yang berada dibawah naungan Kementerian Hukum dan
Hak Asasi Manusia.
Bapak Waluyo Tri Surianto selaku Ka. Urusan Umum menambahkan
bahwa :
“ Pada tahun 2001 Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto melakukan
pemugaran sehingga kondisi Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto saat ini
sudah dalam kondisi yang baik meskipun masih ada kekurangan. Dengan
adanya pemugaran tentunya Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto memiliki
fasilitas-fasilitan yang baru untuk menunjang pelaksanaan pembinaan. Salah
satunya adalah mesjid sebagai tempat beribadah dan kegiatan rohani
khususnya bagi narapidana yang beragama muslim. Untuk narapidana non
muslim sementara kegiatan rohani dan beribadahnya dilakukan di aula karena
keterbatasan lahan dan biaya sehingga Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto
belum dapat menyediakan tempat beribadah untuk agama lainnya. Bangunan
Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto dikelilingi dengan tembok tinggi dan
terdiri dari terdapat gerbang berlapis untuk mencegah kemungkinan
narapidana yang kabur dan dilengkapi pos penjagaan disetiap bloknya.” 22
Lembaga pemasyarakatan sendiri terdapat tiga (3) kelas, yang masingmasing memiliki klasifikasi yang berbeda. Klasifikasi tersebut berdasarkan
pada kapasitas, tempat kedudukan dan kegiatan kerja dari masing-masing
lembaga pemasyarakatan. Menurut Pasal 4 Kepmenkeh. RI. Nomor M-01-Pr07-03
Tahun 1985
tentang
Organisasi
dan Tata
Kerja
Pemasyarakatan, lembaga pemasyarakatan di bagi 3 kelas, yaitu :
1. Lembaga Pemasyarakatan Kelas I. Teridiri dari :
22
Wawancara dengan Bapak Waluyo Tri Surianto selaku Ka. Urusan Umum
Lembaga
27
a) Bagian Tata Usaha;
b) Bidang Pembinaan Narapidana;
c) Bidang Kegiatan Kerja;
d) Bidang Administrasi Keamanan dan Tata Tertib;
e) Kesatuan Pengamanan LAPAS.
2. Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA. Terdiri dari :
a) Sub Bagian Tata Usaha;
b) Seksi Bimbingan Narapidana/ Anak Didik;
c) Seksi Kegiatan Kerja;
d) Seksi Administrasi Keamanan dan Tata Tertib;
e) Kesatuan Pengamanan LAPAS.
3. Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB. Terdiri dari :
a) Sub Bagian Tata Usaha;
b) Seksi Bimbingan Narapidana/ Anak Didik dan Kegiatan Kerja;
c) Seksi Administrasi Keamanan dan Tata Tertib;
d) Kesatuan Pengamanan LAPAS.
Pengklasifikasian kelas di lembaga pemasyarakatan purwokerto
berdasarkan Daya tampung Lembaga Pemasyarakatan tersebut. yang tadinya
Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB naik menjadi Lembaga Pemasyarakatan
Kelas IIA berdasarkan peraturan menteri hukum dan hak asasi manusia
tentang perubahan atas keputusan menteri kehakiman nomor m.01-pr.07.03
tahun 1985 tentang organisasi dan tata kerja lembaga pemasyarakatan . Yang
28
tadinya daya tampung LAPAS Purwokerto 40-70 narapidana menjadi 80-120
narapidana. Pada waktu penulis melakukan penelitian pada tanggal 25
Februari tahun 2013, total jumlah penghuni yang ada sebanyak 345 dibagi
antara 224 narapidana dan 101 tahanan dengan jumlah pegawai Lembaga
Pemasyarakatan Purwokerto 102 orang yang terdiri dari 85 pegawai Laki-laki
dan 17 pegawai Wanita. Jumlah narapidana dan tahanan hampir berimbang
tidak sesuai lagi dengan fungsi LAPAS sebagai sarana atau tempat untuk
pembinaan. 23
Namun sebagai mana telah di ketahui di atas walaupun LAPAS
purwokerto sudah mengalami kelebihan kapasitas namun proses pembinaan
terhadap warga binaan Pemasyarakatan dapat dilaksanakan dengan lancar,
tertib dan mencapai tujuan yang diharapkan, maka diperlukan sarana
prasarana yamg menunjang, baik fisik maupun non fisik. Sarana fisik
diantaranya adalah gedung bangunan Lembaga Pemasyarakatan berserta
komponen-komponen serta sarana penunjang yang berupa peralatan untuk
pembinaan, sedangkan non fisiknya berupa kinerja pegawai Lembaga
Pemasyarakatan sendiri yang harus menaati tata tertib pegawai dan juga
menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik.
Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto juga memiliki sebuah klinik
yang dilengkapi dengan peralatan medis sederhana sehingga kurang
mendukung kelancaran dalam melakukan pelayanan medis pasien, tenaga
23
Wawancara dengan bapak M. Junaidi,A.Md.IP, S.Sos selaku kasubsi registrasi
29
medis yang ada hanya berjumlah 1 orang perawat Lembaga Pemasyarakatan
yang dibantu oleh staff kesehatan.
Menurut penuturan Bapak Efendi Wahyudi selaku Kasi Binadik :
“Selain kurang memadai perawatan medis, stok obat-obatan yang ada
pun sangat terbatas, sehingga sangat kurang membantu proses
penyembubuhan narapidana atau tahanan yang sakit. Bilamana ada narapida
atau tahanan yang sakit dideritanya tergolong serius dan harus segera
mendapatkan tindak lebih lanjut maka pihak petuga Lembaga Pemasyarakatan
dengan persetujuan dokter Lembaga Pemasyarakatan pasien tersebut dibawa
ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.” 24
Menurut Penunturan Bapak Enuch Siswanto sebagai Kasi Kegiatan Kerja
“Fasilitas Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto lainnya adalah berupa
bengkel kerja dan sarana olah raga. Bengkel kerja sendiri sudah secara
maksimal dimanfaatkan dan berjalan dengan baik karena telah tersedia tenaga
ahli dan mesin-mesin besar yang dapat digunakan narapidana untuk
menghasilkan sesuatu. Adapun yang telah dihasilkan bengkel kerja Lembaga
Pemasyarakatan Purwokerto adalah sapu glagan, keset, mebelair, souvenir,
kolam ikan dan alat-alat pertanian.”25
1. Keadaan Umum Responden
Kata lembaga pemasyarakatan pertama kali muncul tahun 1963, dan
kata tersebut dimaksudkan untuk menggantikan “kata Penjara” yang berfungsi
sebagai wadah pembinaan narapidana. Istilah pemasyarakatan pertama kali
dicetuskan oleh Sahardjo pada saat beliau berpidato ketika menerima gelar
doctor honoris causa dari universitas Indonesia pada tahun 5 juli 1963. Dalam
pidatonya beliau mengatakan antara lain: tujuan pidana penjara adalah
pemasyarakatan. Pada waktu itu yang menjadikan dasar untuk pembinaan
24
25
Wawancara dengan Bapak Efendi Wahyudi, selaku Kasi Binadik.
Wawancara dengan Enuch Siswanto sebagai Kasi Kegiatan Kerja
30
narapidana dan anak didik adalah Gestichten Reglement (Reglemen
Kepenjaraan) STB 1917 Nomor 708 dan kemudian diganti dengan Undangundang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Adapun mengenai
jumlah pegawai di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto adalah
sebagaiman dibarkan berikut ini.
Tabel 1. Jumlah Pegawai Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto
No.
1.
2.
Jenis Kelamin
Pria
Wanita
Jumlah
Sumber : Data primer diolah
Frekuensi
83
15
98
Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa jumlah Pengawai
Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto 98 orang yang terdiri dari 83 Pegawai
laki-laki dan 15 pegawai perempuan.
Tabel 2. Pendidikan Pegawai Lembaga Pemasyrakatan Purwokerto
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Pendidikan Terakhir
SD
SLTP
SLTA
D3
S1
S2
Jumlah
Frekuensi
1
2
64
3
26
2
102
Prosentase
1%
2%
64%
4%
26%
3%
100%
Sumber : Data primer diolah
Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa pada umumnya
Pendidikan pegawai Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto adalah tamatan
31
SLTA yaitu 64 orang pegawai dengan prosentase 64 %, 26 orang
berpendidikan S1 dengan prosentase 26 %, D3 ada 3 orang dengan prosentase
4 % , SLTP ada 2 orang dengan prosentase 2 %, S2 ada 2 orang dengan
prosentase 3 % dan 1 orang tamatan SD dengan prosentase 1 %.
Adapun struktur organisasi Lembaga Pemasyarakatan kelas IIA
Purwokerto berdasarkan Pasal 25 Surat Keputusan Menteri Kehakiman
Republik Indonesia Nomor : M.01.PR.07.03 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Lembaga Pemasyarakatan adalah sebagai berikut :
LAPAS Kelas IIA terdiri dari:
a.
b.
c.
d.
e.
Sub Bagian Tata Usaha;
Seksi Bimbingan Narapidana/ Anak Didik;
Seksi Kegiatan Kerja;
Seksi Administrasi Keamanan dan Tata Tertib;
Kesatuan Pengamanan LAPAS.
32
33
Sedangkan Struktur Organisasi Lembaga Pemasyarakatan kelas IIA
Purwokerto berdasarkan Pasal 25 Surat Keputusan Menteri Kehakiman
Republik Indonesia Nomor : M.01.PR.07.03 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Lembaga Pemasyarakatan adalah sebagai berikut :26
1. Kepala Lembaga Pemasyarakatan
2. Kasubag Tata Usaha
a. Ka. Urusan Kepeg dan Keu
b. Ka. Urusan Umum
3. Kasi Binadik
a. Kasubsi Registrasi
b. Kasubsi Bimaswat
4. Kasi Kegiatan Kerja
a. Kasubsi Kegiatan Kerja
b. Kasubsi Sarana Kerja
5. Kasi Adm. Kamtib
a. Kasubsi Pelaporan dan Tertib
b. Kasubsi Keamanan
6. Ka. KPLP
: Drs. Liberti Sitinjak,M.M., M,Si
: Suranto, S.Sos. M. Si.
: Mudi Artati.
: Waluyo Tri Surianto, SH.
: Efendi Wahyudi, A.Md. IP. S.Sos.
: M. Junaidi, A.Md. IP. S.Sos.
: Aris Supriyadi, A.Md. IP. SH.
: Enuch Siswanto, A. Ks.
: Suroto.
: Arnold Tambunan.
: Setya Adi Hernowo, SH.
: Prihadianto.
: Budi Ripto Nugroho, SE.
: Agus Nugroho, SH.
Masing-masing Kasi mempunyai fungsi dan tugas masing-masing dan
di bantu oleh 2 orang Kasubsi untuk melakukan tugas dan fungsinya dan
bertanggung jawab kepada Kepala Lembaga Pemasyarakatan (KALAPAS).
Tabel 3. Usia Responden Narapidana
No.
1.
2.
3.
Usia Responden
28 Tahun
40 Tahun
50 Tahun
Jumlah
Frekuensi
2
1
1
4
Sumber : Data primer diolah
26
Wawancara dengan Bapak Suranto sebagai Kasubag Tata Usaha
Prosentase
60%
20%
20%
100%
34
Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui usia responden dari narapidana
adalah yang berusia 28 tahun 2 orang dengan prosentase 60 %, berusia 40
tahun 1 orang dengan prosentase 20 %, yang berusia 50 tahun 1 orang dengan
porsentase 20%.
Tabel 4. Pendidikan terakhir Responden Narapidana
No.
1.
3.
Pendidikan Responden
SMP
STM
Jumlah
Frekuensi
2
2
4
Prosentase
50%
50%
100%
Sumber : Data primer diolah
Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa pendidikan terakhir dari
narapidana yang menjadi responden adalah 2 orang narpidana berpendidikan
SMK dengan prosentase 70 % dan 1 orang narapidana berpendidikan STM
dengan prosentase 20 %.
Tabel 5. Pekerjaan Terakhir Responden Narapidana
No.
1.
2.
3.
Pekerjaan Responden
Seniman
Dagang
Pegawai Swasta
Jumlah
Frekuensi
1
2
1
4
Prosentase
20%
60%
20%
100%
Sumber : Data primer diolah
Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa pekerjaan terakhir dari
narapidana yang menjadi responden adalah 1 orang berkerja menjadi seniman
dengan prosentase 20 %, 2 orang dagang dengan prosentase 60 % dan 1 orang
bekerja sebagai karyawan swasta dengan prosentase 20 %.
35
Tabel 6. Jenis Tindak Pidana yang Dilakukan Responden
No.
1.
2.
Nama Responden
Mal praktek
Kesusilaan
Jumlah
Frekuensi
1
3
4
Prosentase
20%
80%
100%
Sumber : data primer diolah
Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa jenis tindak pidana yang
dilakukan responden adalah sebagai berikut : jenis tindak pidana Mal praktek
dilakukan oleh 1 orang dengan prosentase 20 %, jenis
tindak pidana
kesusilaan ada 3 orang dengan prosentase 80 %.
Tabel 7. Lama Pidana Responden
No.
1.
3.
Lama Pidana
0-2 tahun
1-3 tahun
Jumlah
Frekuensi
1
3
4
Prosentase
20%
80%
100%
Sumber : Data primer diolah
Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa lama pidana yang dijalani
responden adalah sebagai berikut : 0-2 tahun ada 1 orang dengan prosentase
20 %, 1-3 tahun ada 3 orang dengan prosentase 80 %.
Tabel 8. Responden Mengetahui tentang kelebihan kapasitas di dalam
LAPAS
No.
1.
2.
3.
4.
Nama Responden
Agung
Soleh
Dwi
Leo
Prosentase
Sumber : data primer diolah
Mengetahui




100%
Tidak mengetahui




0%
36
Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa responden yang
mengetahui bahwa di dalam lembaga pemasyarakatan terjadi kelebihan
kapasitas adalah 4 orang atau dengan prosentase 100 %.
2. Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto
Proses pembinaan narapidana bertujuan agar nantinya narapidana
setelah bebas dapat diterima dalam masyrakat lagi namun tujuan utama atau
pokok dari pembinaan narapidana adalah, yaitu : 27
a. Untuk memperbaiki pribadi dari narapidana itu sendiri;
b. Untuk membuat narapidana bahagia dunia akhirat;
c. Untuk membuat narapidana berpartisipasi aktif dan positif dalam
masyarakat dalam pembangunan;
d. Untuk membuat narapidana dapat memiliki keterampilan khusus
agar tidak melakukan tindak pidana lagi.
Untuk mencapai tujuan dari proses pembinaan maka diperlukan
tahap-tahapan
pembinaan
yang
harus
dilakukan
oleh
Lembaga
Pemasyarakatan, adapun proses pembinaan narapidana yang dilakukan
melalui 3 tahapan yaitu :
a. Tahap Awal (Maximum Security) ±1/3 masa pidana.
1) Admisi dan Oriental
Masa Pengenalan dan Penelitian Lingkungan (max 1 bulan)
27
Wawancara dengan Bapak Aris Supriyadi selaku Kasubsi Bimaswat
37
2) Pembinaan Kepribadian
a) Pembinaan kesadaran beragama;
b) Pembinaan Bangsa dan Negara;
c) Pembinaan Intelektual;
d) Pembinaan Kesadaran Hukum.
b. Tahap Lanjutan (Medium Security) ±1/3 -1/2 masa pidana.
1) Pembinaan kepribadian lanjutan.
Program pembinaan ini merupakan kelanjuatan pembinaan
kepribadian tahap awal.
2) Pembinaan kepribadian.
a) Keterampilan untuk mendukung usaha-usaha mandiri;
b) Keterampilan untuk mendukung usaha industry kecil;
c) Keterampilan yang dikembangkan sesuai bakat masingmasing;
d) Keterampilan untuk mendukung usaha-usaha industri/
pertanian dan teknologi tinggi/ madya.
3) Asimilasi dalam Lembaga Pemasyarakatan terbuka (open
camp) dan Lembaga Pemasyarakatan tertutup (Half way
hause/work) ±1/2 -2/3 masa pidana
c. Tahap Akhir (Minimum Security) ±2/3 masa pidana bebas.
1) Integrasi;
2) Pembebasan Bersyarat;
38
3) Cuti menjelang Bebas;
4) Bebas sebenarnya;
5) Kembali ke dalam masyarakat.
Ketiga tahap di atas harus
melalui sidang Tim Pengamat
Pemasyarakatan (TPP) karena sidang TPP ini merupakan dewan tertinggi
dalam proses pemasyarakatan. Sidang TPP ini menentukan tahap pembinaan
yang akan dijalani oleh narapidana.
Ketentuan Sidang TPP tersebut didasarkan pada Keputusan Menteri
Kehakiman tanggal 8 Februari 1997 No. K.P.10.13/3/1 dijelaskan sebagai
berikut:
“Yang dimaksud dengan pemasyarakatan adalah suatu proses dimana
narapidana pada waktu masuk lembaga pemasyarakatan berada pada
keadaan tidak harmonis dengan masyarakat, sejak itu lalu narapidana
mengalami pembinaan yang tidak lepas dari dan bersama dengan unsurunsur lain dalam masyarakat yang bersangkutan tersebut, sehingga pada
akhimya narapidana dengan masyarakat sekelilingnya merupakan suatu
keutuhan dan keserasian (keharmonisan) hidup dan penghidupan, sehingga
tersembuhlah dari segi-segi yang merugikan (negatif).”
Berdasarkan petunjuk teknis bidang pembinaan dalam lembaga
pemasyarakatan tahun 1986 telah menentukan wujud pembinaan yang
disesuaikan dengan tahap-tahap pembinaan itu. Adapun wujud pembinaannya;
a) Pendidikan umum;
b) Pendidikan mental atau spiritual;
c) Pendidikan ketrampilan;
d) Kegiatan sosial;
39
e) Kegiatan rekreasi.
Di dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan/Bina Tuna
Warga Nomor KP. 10.13/3/31 Tentang Pemasyarakatan sebagai proses, maka
hendaknya disalurkan tahap demi tahap guna menghindari kegagalan dari
akibat-akibat lain yang tidak diinginkan. Pentahapannya dapat sebagai
berikut;
1. Hendaknya narapidana pada waktu datang di Lembaga Pemasyarakatan
dikenal dan diketahui dahulu apa kekurangan atau kelebihannya. Sebabsebab sampai ia melakukan pelanggaran, dan lain-lain hal ikhwal tentang
dirinya. Dengan bahan-bahan tersebut dapat direncanakan dan lalu
dilakukan usaha-usaha pembinaan terhadapnya (terutama usaha-usaha
pendidikan).
2. Jika pembinaan narapidana dan hubungan dengan masyarakat telah berjalan
selaras selama 1/3 dari masa pidana yang sebenarnya dan menurut
pendapat Dewan Pembinaan Pemasyarakatan sudah dicapai cukup
kemajuan dalam proses (antara lain narapidana cukup lancar dan telah
menunjukkan perbaikan dalam kelakuan, kecakapan, dan sebagainya),
maka dipindah dari lembaga pemasyarakatan biasa ke Lembaga
Pemasyarakatan Terbuka (minimum security). Di tempat baru ini
narapidana diberi tanggung jawab yang lebih besar, lebih-lebih dalam
tanggung jawab terhadap masyarakat luar, bersamaan itu pula untuk rasa
40
harga diri, sehingga masyarakat luar memiliki kepercayaan terhadap
narapidana.
3. Jika sudah dijalani kurang lebih setengah masa pidana yang sebenarnya dan
menurut Dewan Pembinaan Pemasyarakatan proses pemasyarakatan telah
mencapai kemajuan yang lebih, baik mengenai narapidana maupun unsurunsur masyarakat, maka wadah proses diperluas, ialah dimulai dengan
usaha asimilasi narapidana pada kehidupan masyarakat luar, seperti
mengikutkan pada sekolah umum, beribadah dan berolahraga dengan
umum, bekerja pada swasta atau instansi lain, berpariwisata dan
sebagainya. Segala sesuatu masih dalam pengawasan dan bimbingan
petugas-petugas pemasyarakatan.
4. Apabila sudah dijalani 2/3 dari masa pidana yang sebenarnya, sedikitdikitnya 9 bulan dapat diberikan pelepasan bersyarat, kalau proses berjalan
lancar dengan baik. Pada tahap ini wadah proses pemasyarakatan berupa
masyarakat luar yang luas, sedang pengawasan dan bimbingan menjadi
lebih kurang, sehingga akhirnya narapidana tersebut dapat hidup dalam
keadaan harmonis dengan masyarakat luas di atas kaki sendiri. Tujuan
pemidanaan dalam Sistem Pemasyarakatan adalah mengembalikan
narapidana ke tengah masyarakat agar menjadi warga negara yang baik,
berguna dan bertanggung jawab. Pembinaan yang dipilih sesuai dengan
kebijakan penghukuman ini adalah segala jenis program treatment
(pembinaan) bagi narapidana dimana selagi mereka menjalani sisa
41
pidananya, mereka telah diberi kesempatan untuk kembali ke tengah
masyarakat dengan pengawasan tertentu.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 Tentang
pembinaan dan pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan disebutkan
bahwa pembinaan dibagi atas dua bagian yaitu:
1. Pembinaan Kepribadian
2. Pembinaan Kemandirian
Dalam proses pembinaan Lembaga Pemasyarakatan berkerja sama
dengan beberapa instansi antara lain instansi penegakan hukum seperti
POLRI; Kejaksaan Negeri; Pengadilan Negeri. Instansi lainnya adalah
DEPKES; DEPNAKES; DEPERINDAG; DEPAG; DEPDIKNAS; PEMDA,
dan juga dengan instansi swasta seperti Perseroan; kelompok; LSM dan
perusahaan.
Berpedoman pada ketentuan tersebut, maka Program Pembinaan di
Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto berdasarkan hasil penelitian
yaitu:
1. Pembinaan Spiritual
Pembinaan ini bertujuan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada
Tuhan YME, melalui pembinaan kesadaran beragama. Usaha ini
diperlukan agar dapat diteguhkan keimanan Narapidana terutama
memberikan pengertian agar narapidana dapat menyadari akibat dari
perbuatan yang telah dilakukannya. Pembinaannya berupa pengajian dari
42
petugas Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purbwokerto dan Departemen
Agama, sholat jumat berjamaah dan kunjungan dari ormas Islam serta
masyarakat yang dilaksanakan di masjid LAPAS, dan untuk yang
beragama Kristen dilakukan siraman rohani oleh pendeta di seluruh
Kabupaten Banyumas.
2. Pembinaan Kesadaran Berbangsa Dan Bernegara
Usaha ini dilaksanakan melalui pemahaman wawasan kebangsaan,
termasuk menyadarkan narapidana agar dapat berbakti menjadi warga
negara yang baik dan berbakti pada nusa dan bangsa. Pembinaannya dapat
berupa penyuluhan hukum dari Polres Purwokerto, penyuluhan hukum
oleh petugas Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto dan
pengarahan saat apel oleh petugas Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA
Purwokerto.
3. Pembinaan Kemandirian
Merupakan kegiatan pembinaan yang bertujuan meningkatkan kemampuan
Narapidana melalui program kerja. Pembinaannya berupa pemberian
keterampilan hanya bagi yang mempunyai minat. Pemberian keterampilan
yang biasa dilakukan yaitu membuat sapu dan keterampilan kayu.
Sedangkan keterampilan yang lain yaitu membuat baju batik, kesed serta
membuat tralis dari mesin bubut.
4. Pembinaan Olahraga dan Kesenian
43
Kegiatan ini dimaksudkan untuk membentuk jiwa yang sehat serta
mengembangkan kemampuan di bidang olahraga yang dimiliki masingmasing narapidana antara lain bulutangkis, serta tenis meja dan
kemampuan dalam bermain musik seperti kemampuan memainkan alat
musik seperti gitar, drum, bas, ataupun keyboard, dan juga mengasah
kemampuan dalam vokal.
5. Pembinaan Mengintegrasikan Diri dengan Masyarakat
Bertujuan untuk memperbaiki hubungan antara narapidana dengan
masyarakat dengan memberikan kesempatan mengembangkan aspek-aspek
pribadinya, memberikan keleluasaan yang lebih besar untuk berintegrasi
dengan masyarakat dalam kegiatan kemasyarakatan, bekerja pada pihak
ketiga, melanjutkan pendidikan umum, dan beribadah bersama masyarakat.
3. Faktor-Faktor
Pendorong
dan
Penghambat
Dalam
Pelaksanaan
Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA
Purwokerto
Data primer ini diperoleh oleh penulis melalui wawancara dengan para
responden. Responden yang dimaksud adalah:
a.
Petugas Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto yang diwakili
oleh Effendi Wahyudi, Amd, IP, S.Sos. selaku Kasi BIM. NAPI/ANAK
DIDIK.
b.
Narapidana pidana yang berjumlah 4 orang.
44
Tabel 9. Hasil Wawancara Dengan Petugas Tentang Faktor
Penghambat dan Pendorong Pelaksanaan Pembinaan Narapidana di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto
Kode Informan
Effendi Wahyudi,
Amd, IP, S.Sos. (Kasi
Binadik)
Hasil Wawancara
-Faktor
pendorong
pembinaan
narapidana
adanya dukungan dari
pihak
ketiga
seperti
masyarakat, ormas-ormas,
dan instansi pemerintah
ikut
antusias
dalam
pelaksanaan pembinaan,
para
narapidana
pun
menyambut dan merima
dengan baik.
-Faktor penghambat untuk
pembinaan
kepribadian
tidak ada. Kalau untuk
pembinaan keterampilan
hambatannya tempat yang
kurang
memadai,
perlengkapan
alat-alat
untuk kerajinan kurang
serta kurang dana.
Sumber: Data primer yang sudah diolah.
Substansi
Tema
Tujuan
-Dalam
pelaksanaana
pembinaan
narapidana di
LAPAS
Purwokerto
ada bebebrapa
faktor
pendorong dan
penghambat.
-Faktorfaktor yang
mendorong
dan
menghambat
pelaksanaan
pembinaan
narapidana di
LAPAS
Purwokerto.
-Dapat
mengantisipasi
hambatan dan
meningkatkan
faktor
pendorong
untuk
kelancaran
pelaksanaan
pembinaan
narapidana di
LAPAS
Purwokerto.
45
Tabel 10: Hasil Wawancara Dengan Narapidana Tentang Faktor
Penghambat dan Pendorong Pelaksanaan Pembinaan Narapidana di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto
Kode Informan
Hasil Wawancara
Anwar
(bukan -Faktor
pendorong,
nama sebenarnya). pelaksanaan pembinaan sangat
berarti. Khususnya pembinaan
spiritual, memberikan bekal
rochani
bagi
kehidupan
dengan adanya pengajianpengajian, kunjungan dari
ormas
Islam,
sholat
berjamaah.
-Faktor penghambat Tidak ada
hambatan dalam pembinaan,
karena dalam menjalaninya
dengan nyaman, hubungan
dengan petugaspun baik-baik
saja.
Tukijo
(bukan -Faktor
pendorong,
jadi
nama sebenaranya). banyak kegiatan, yang dapat
diikui oleh narapidana seperti
membuat sapu, kesed, bersihbersih. Jadinya tidak bosen di
bingker
karena
diselingi
banyak kegiatan. Pembinaan
spiritualnya
juga
lancar,
dibina oleh petugas dan
kadang-kadang ada pengajian
dari
Depag
sehingga
mendekatkan kita pada Yang
Maha
Kuasa.
Hubungan
antara narapidana di LAPAS
Purwokerto
baik,
dengan
petugas pun juga baik.
-Faktor penghambat secara
pribadi
tidurnya
kurang
nyaman
karena
jumlah
narapidananya terlalu banyak.
Substansi
Implikasi
-Tidak
adanya
faktor
yang
menghambat dalam
pelaksanaan
pembinaan
narapidana
walaupun
jumlah
petugas dengan napi
tidak seimbang di
LAPAS Purwokerto.
Dimana
ditekankan
agar
narapidana
mengetahui
cara
pembinaan yang baik
dan
benar,
melaksanakan
pembinaan
keterampilan
serta
mengetahui
manfaat
dari
pelaksanaan
pembinaan.
-Pelaksanaan
pembinaan
narapidana
dapat
menjadi
kegiatan
yang positif, dan
agar ruangan kamar
dan
tempat
keterampilan
diperluas lagi.
Dapat menjadikan suatu
pembinaan
yang
berguna bagi kehidupan
narapidana di kemudian
hari.
46
Paijo (bukan nama -Faktor
pendorong,
sebenarnya).
pembinaannya
baik
serta
bermakna bagi kehidupan
sehari-hari, menjadikan serta
menyadarkan
kita
akan
pentingnya
kehidupan.
Pelaksanaan pembinaan dapat
mendekatkan
diri
kepada
ALLAH SWT.
-Faktor penghambat, secara
pribadi penghambatnya saat
pembinaan
khusus
ke
rochanian cara penyampaian
ceramahennya
kurang
menaraik sehingga membuat
ngantuk.
Parman
(bukan -faktor pendorong secara
nama sebenarnya). umum, pemberi pembinaan
menyampaikan pembinaannya
dengan baik dan jelas sehingga
membuat narapidana antusias
dan
tertarik
mengikuti
pelaksanaan pembinaan di
LAPAS Purwokerto. Dan juga
pelaksanaan
pembinaan
narapidana terjadwal dengan
baik.
-Fator penghamba, selama
menjalani hukuman di LAPAS
Purwokerto
ada hambatan
yaitu mengenai ruangan yang
agak sempit sehingga agak
susah untuk tidur.
Sumber: Data primer yang sudah diolah
-Menerima
pembinaan
secara
positif. Masih ada
faktor penghambat
dalam penyampaian
pembinaan.
Adanya
pembenahan
dalam
penyampaian
pembinaan
kepada
narapidana di LAPAS
Purwokerto.
Karena
pelaksanaan
pembinaan
sudah
terjadwal
maka
pelaksanaan
pembinaan
di
LAPAS Purwokerto
dapat
berjalan
dengan lancar.
Pelaksanaan pembinaan
yang sudah berjalan
dengan baik untuk tetap
dipertahankan dan di
tingkatkan
lagi
di
kemudian hari serta
LAPAS
purwokerto
untuk diperluas lagi
ruangan karena tindak
kejahatan
terlalu
banyak tapi ruangan
dalam
LAPAS
Purwokerto tetap.
Penempatan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan menjadi masalah
bagi petugas LAPAS Purwokerto dalam menyiapkan narapidana kembali
menjadi manusia Indonesia seutuhnya karena tugas pokok dan fungsi LAPAS
adalah pembinaan narapidana sesuai dengan Undang-undang No. 12 Tahun
47
1995 . Dengan keberadaan tahanan di LAPAS Purwokerto, berarti juga bahwa
LAPAS Purwokeerto harus melakukan pembinaan terhadap tahanan untuk
mencapai tujuan Pemasyarakatan. LAPAS Purwokerto dapat melakukan
pembinaan dalam kemandirian dan pembinaan kepribadian.
LAPAS
Purwokerto memiliki fasilitas atau ruangan-ruangan yang mendukung
pembinaan seperti masjid atau ruang ibadah, aula, ruangan bimbingan latihati
kerja, perpustakaan, ruangan kunjungan, ruang kesehatan serta ruangan
hunian yang memadai termasuk ruang isolasi dan sebagainya.
Permasalahannya adalah di dalam LAPAS Purwokerto dihuni oleh dua
pelanggar hukum yang mempunyai status yang berbeda yaitu tahanan dan
narapidana. Percampuran antara tahanan dan narapidana dapat mengakibatkan
dampak negatif bagi tahanan, narapidana dan petugas LAPAS. Hal ini hampir
berimbang tidak sesuai fungsi LAPAS sebagai tempat pembinaan. Apalagi
jika memperhatikan fasilitas LAPAS yang serba kekurangan, kemungkinan
hal itu dapat terjadi sangat besar oleh karena itu petugas harus dapat
mencegah atau mengatasi masalah yang timbul terutama mengenai masalah
penempatan penghuni di LAPAS Purwokerto.
48
B. Pembahasan
1.
Pelaksanaan Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan
Kelas IIA Purwokerto.
a. Pengertian Pembinaan Narapidana
Pembinaan ialah segala upaya dan usaha yang dilakukan untuk
memberi dan meningkatkan keahlian atau keterampilan, pengetahuan,
sikap mental dan dedikasi. Sehingga mereka yang dibina dapat
menjalankan dan memahami apa yang diberikan. Pembinaan sendiri dapat
dilakukan melalui beberapa cara misalkan pengarahan, bimbingan,
pengembangan, dorongan dan kontrol untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
Pembinaan dalam pemasyarakatan mengandung pengertian bahwa
memperlakukan seseorang yang berstatus narapidana untuk dibangun
agar bangkit menjadi seseorang yang baik. Sasaran yang perlu dibina
adalah pribadi dan budi pekerti narapidana yang didorong untuk
membangkllkan rasa harga diri pada diri sendiri dan pada orang lain serta
mengembangkan rasa tanggung jawab untuk menyesuaikan diri dengan
kehidupan yang tenteram dan sejahtera dalam masyarakat dan selanjutnya
berpotensi utnuk menjadi manusia yang berpribadi luhur dan bermoral
tinggi28. Pembinaan dapat dilakukan baik melalui pendidikan formal-
28
Bambang Poernomo, 1986, Pelaksanaan Pidana Penjara Dengan Sistem Pemasyarakatan,
Yogyakarta, Liberty, hal. 187.
49
informal, pelatihan dan kursus. Meningkatkan keahlian atau keterampilan
dan ilmu agar tercapai suatu pribadi yang tangguh pada spesialisasi usaha
dan pekerjaannya. Sebagai suatu negara yang menganut hukum sebagai
alat mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara maka pembinaan
terhadap masyarakat akan pentingnya mentaati segala peraturan hukum
yang berlaku perlu diberikan. Dimana tujuan pembinaan terhadap
narapidana untuk membentuk narapidana seperti yang diamanatkan Pasal
2 UU No 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan sebagai berikut:
“Sistem pemasyarakatan diselenggarakan dalam rangka membentuk
Warga Binaan Pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya,
menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak
pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat,
dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar
sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.”
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999
Tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan,
dalam Pasal 2 ayat (l) menyatakan:
“Program pembinaan dan pembimbingan meliputi kegiatan pembinaan
dan pembimbingan kepribadian dan kemandirian.”
Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pembinaan dan Pembimbingan
Warga Binaan Pemasyarakatan, maka pelaksanaan pembinaan narapidana
di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Puwokerto yaitu diberikan
pembinaan kepribadian dan kemandirian. Pembinaan kemandirian yang
dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Puwokerto, meliputi
50
pembinaan mengenai keterampilan seperti rak sepatu, teralis, sangkar
burung, membuat kerajinan tangan. Sarana dan prasaran keterampilan rak
sepatu, teralis, sangkar burung semuanya disediakan oleh pihak LAPAS
Puwokerto, untuk tenaga ahli yang dapat mendampingi narapidana dalam
pembinaan keterampilan adalah Petugas Bimker dan PHK, pembinaan
kepribadian yang dilaksanakan meliputi:
a. Penyuluhan hukum
Diadakan
penyuluhan
hukum
baik
dari
petugas
Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Puwokerto maupun dari Humas Polres
Puwokerto. Pembinaan ini menanamkan pemahaman bagi narapidana
terhadap norma dan kaidah hukum agar tidak melanggar hukum.
Kesadaran hukum ini membawa keinginan bagi narapidana untuk
tidak lagi melanggar hukum yang berlaku karena ini akan sangat
merugikan diri mereka sendiri maupun orang lain. Selama kehilangan
kemerdekaan
bergerak,
narapidana
harus
dikenalkan
kepada
masyarakat dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat. Hal ini sesuai
dengan kodratnya sebagai manusia yang tidak lepas dari masyarakat.
b. Pengajian
Pengajian dilaksanakan setiap hari Senin, Rabu dan Sabtu, dibimbing
oleh petugas bimpas dan pada hari tertentu penceramah/da’i pengajian
didatangkan dari Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, pondok
pesantren Ubay bin Kaab Purwokerto, STAIN Purwokerto, Univ.
51
Muhammadiyah Purwokerto dan dari yayasan Al Irsyad al Islamiyah
Purwokerto serta mubaligh sekitar LAPAS Purwokerto. Hal ini
dilaksanakan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan melalui
kesadaran beragama. Usaha ini diperlukan untuk memberi pengertian
agar narapidana dapat menyadari akibat dari perbuatan yang telah
dilakukannya selama ini termasuk menyadarkan narapidana agar
menjadi warga negara yang dapat memberikan sumbangsihnya kepada
bangsa dan negara.
c. Sholat berjamaah
Dilakukan sholat bersama 5 (lima) waktu serta sholat jumat dengan
petugas Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Puwokerto di Masjid
yang ada di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA
Puwokerto. Bagi yang beragama Kristen diadakan kegiatan kebaktian
yang dilaksanakan pada hari Senin dan rabu yang bertempat di aula
lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Puwokerto yang dibimbing dari
Dewan Gereja Indonesia Purwokerto.
Rasa tobat tidaklah dapat dicapai dengan menyiksa melainkan dengan
bimbingan, maka terhadap narapidana ditanamkan norma-norma hidup
dan kehidupan serta diberi kesempatan untuk merenungkan perbuatan
salah yang pernah diperbuat. Narapidana dapat diikutsertakan dalam
kegiatan-kegiatan
kemasyarakatannya.
sosial
untuk
Tiap
orang
menumbuhkan
adalah
manusia
rasa
dan
hidup
harus
52
diperlakukan sebagai manusia meskipun ia tersesat. Tidak boleh
ditunjukkan kepada narapidana bahwa ia itu penjahat. Narapidana
harus diperlakukan sebagai manusia, segala bentuk label yang negatif
yang
melekat
pada
narapidana
hendaknya
sedapat
mungkin
dihapuskan.
d. Kunjungan-kunjungan
Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Puwokerto mempunyai hubungan
yang baik dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kabupaten
Banyumas. Hal ini berdampak positif dengan adanya kunjungankunjungan dari ormas Islam di Kabupaten Banyumas.
e. Mengikuti senam pagi
Untuk lebih meningkatkan kesehatan jasmani narapidana LAPAS
Purwokerto, maka diadakan Senam pagi yang dilaksanakan setiap hari
Selas dan Kamis dilakukan secara bergantian antara narapidana dan
tahanan dengan mendatangkan instruktur senam dari luar LAPAS
Purwokerto.
f. Olahraga
Olahraga yang ada yaitu, bulutangkis, tennis meja dengan sarana dan
prasarana yang telah ada di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan
Kelas IIA Puwokerto.
g. Pelayanan kesehatan
53
LAPAS Purwokerto sampai saat ini memiliki tenaga paramedi
(perawat)
sebanyak
tiga
orang.
Jadwal
berobat
narapidana
dilaksanakan setiap hari kerja.
h. Kebersihan lingkungan
Dilaksanakan di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA
Puwokerto seperti mencabuti rumput, bersih-bersih dan menyapu
ruangan.
54
55
Berdasar Tabel 11 dapat diketahui pembinaan kepribadian dan
pembinaan kemandirian dapat bermanfaat bagi narapidana setelah masa
hukuman selesai.
Serta
pembinaan kepribadian dan pembinaan
kemandirian tersebut dapat diterapkan di lingkungan masyarakat hal ini
sesuai dengan tujuan pembinaan itu sendiri. Pembinaan di dalam LAPAS
purwokerto sudah baik namun belum tentu masyarakat dapat menerima
mereka dengan baik di lingkungan masyarakat itu sendiri. 29
Pembinaan di Lembaga Pemasyarakata Kelas IIA Purwokerto
berdasarkan pada teori relatif atau teori tujuan dan teori pembinaan
menurut Muladi dan Barda Nawawi Arief dalam bukunya teori-teori
dan kebijakan pidana,bahwa proses pembinaan bukan tempat pembalasan
melainkan sebagai tujuan untuk mengubah tingkah laku untuk tidak
berbuata jahat kembali.
b. Pelaksanaan Pemasyarakatan di LAPAS Kelas IIA Purwokerto
Sistem Kepenjaraan adalah tujuan dari pidana penjara, dan
tujuan dari pidana penjara maksudnya adalah untuk melindungi
masyarakat
dari
segala
bentuk kejahatan30. Pentahapan proses
pemasyarakatan dan upaya pembinaannya secara operasional berusaha
untuk menjauhkan narapidana secara bertahap dari lingkungan buruk
tembok penjara dan mendekatkan narapidana pada hakekat hidup manusia
29
Wawancara dengan para responden
A. Widiana Gunakaya, 1988, Sejarah dan Konsepsi Pemasyarakatan. Bandung, CV Armico,
hal. 43.
30
56
dalam kehidupan bermasyarakat. Sistem pemasyarakatan merupakan
suatu perubahan dalam pelaksanaan pidana penjara yang kaitannya
deagan perlakuan terhadap narapidana berdasarkan paham humanisme
dan berdasar filsafat Pancasila sebagai dasar dalam membina narapidana.
Pihak keluarga dan masyarakat juga diberi kesempatan untuk ikut
membina
sehingga
narapidana
metasa bahwa dia tetap diakui
eksistensinya sebagai anggota masyarakat.
Pelaksanaan pembinaan terhadap
narapidana
di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto dilaksanakan berdasarkan Pasal 2
UU No 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan. Peraturan Pemerintah
No 31 tahun 1999 Tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan
Pemasyarakatan
dimana
pada
prakteknya
diberikan
pembinaan
kepribadian dan pembinaan kemandirian. Berdasarkan Pasal 2 UU No 12
Tahun
1995
Tentang
Pemasyarakatan,
pelaksanaan
pembinaan
kepribadiaan di LAPAS Purwokerto yang meliputi penyuluhan hukum,
pengajian, sholat berjamaah, kunjungan-kunjungan, mengikuti senam
pagi, olahraga dan kebersihan lingkungan dalam rangka untuk
membentuk warga binaan pemasyarakatan agar menjadi manusia
seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi
tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan
masyarakat. Pembinaan kemandirian yang dilaksanakan di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto, meliputi pembinaan mengenai
57
keterampilan seperti membuat sapu, membuat tralis, membuat kesed, dan
membuat kerajinan tangan, dalam rangka narapidana dapat berperan aktif
dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang
baik dan bertanggung jawab. Narapidana yang menjadi responden di
LAPAS Purwokerto ada 4 (empat) orang dan semuanya telah menerima
pembinaan baik pembinaan kepribadian maupun kemandirian. 31
Pentahapan proses pemasyarakatan dan upaya pembinaannya
secara operasional berusaha untuk menjauhkan narapidana secara
bertahap dari lingkungan buruk tembok penjara dan mendekatkan
narapidana pada hakekat hidup manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
Sistem pemasyarakatan merupakan suatu perubahan dalam pelaksanaan
pidana penjara yang kaitannya deagan perlakuan terhadap narapidana
berdasarkan paham humanisme dan berdasar filsafat Pancasila sebagai
dasar dalam membina narapidana. Pihak keluarga dan masyarakat juga
diberi kesempatan untuk ikut membina sehingga narapidana metasa
bahwa dia tetap diakui eksistensinya sebagai anggota masyarakat.
Pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian narapidana di
Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Puwokerto berdasarkan hasil
penelitian dalam prakteknya telah sesuai dengan Pasal 3 Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang
31
Berdasarkan hasil wawancara dengan suroto selaku Kasubsi BIKER dan PHK di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto pada tanggal 23 februari 2013.
58
Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan. Dimana
dalam Pasal 3 menyatakan bahwa Pembinaan dan pembimbingan
kepribadian dan kemandirian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
meliputi hal-hal yang berkaitan dengan:
a. ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa;
Narapidana mendapatkan pembinaan keagamaan menurut dengan
kepercayaannya. Pembinaan yang diterima seperti sholat lima waktu
dan sholat jum’at, membaca Al’Quran serta buku-buku keagaman
yang disediakan oleh pihak LAPAS Purwokerto, pengajian rutin
setiap minggu dilaksanakan, penyuluhan dari Depag dan STAIN
Purwokerto yang dilaksanakan di masjid yang berada didalam
LAPAS Purwokerto, serta bagi yang beragama non muslim dapat
menjalankan ibadahnya dengan diantar ketempat peribadahannya.
b. kesadaran berbangsa dan bernegara;
Mengikuti upacara bendera, memperingati serta merayakan hari besar
nasional serpeti memperingati hari pahlawan, kesaktian pancasila, dan
kebangkitan nasional.
c. intelektual;
Petugas LAPAS Puwokerto menyediakan buku-buku bacaan koran,
majalah, serta buku-buku lain dimana agar narapidana dapat
berkembang dan memiliki wawasan yang luas.
d. sikap dan perilaku;
59
Pembinaan
mengenai
karakter
narapidana
serta
kesempatan
mengembangkan aspek-aspek kepribadian dan kemandirian. Yang
dilakuakan oleh petugas LAPAS Puwokerto dan dilaksanakan oleh
narapidana.
e. kesehatan jasmani dan rohani;
Adanya fasilitas olahraga untuk kebugaran jasmani dan tersedianya
fasilitas kesehatan bagi narapidana yang sakit. Keagamaan, hiburanhiburan serta adanya waktu besuk kunjungan bertemu keluarga di
LAPAS Puwokerto.
f. kesadaran hukum;
Adanya pembinaan tentang penyuluhan hukum oleh pihak Polres
Puwokerto dan petugas
LAPAS Puwokerto. Pembinaan tersebut
bertujuan meningkatkan kesadaran hukum narapidana agar pada saat
narapidana tersebut berbaur dengan mayarakat dapat diterima dengan
baik.
g. reintegrasi sehat dengan masyarakat;
Meningkatkan kesadaran serta dapat lebih menghargai diri sendiri dan
menghargai orang lain serta masyarakat.
h. keterampilan kerja; dan
Adanya pelaksanaan pembinaan kemandirian. Seperti menjait
membuat kerajinan kristik.
i.
latihan kerja dan produksi.
60
Berkerjasama dengan pihak ketiga (masyarakat) seperti perusahaan
mebeler. Untuk memproduksi barang mentah yang kemudian diolah
menjadi barang siap jual.
Hak-hak narapidana diatur dalam Pasal 14 ayat (1) UU No. 12
Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan yang pelaksanaannya diatur dengan
Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1999 Tentang Syarat Dan Tata Cara
Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. Dimana dalam
prakteknya berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Puwokerto hak-hak yang telah didapatkan
antara lain:
a. Melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya:
Bagi yang beragama muslim disediakan mushola untuk tempat
beribadah, sedangkan yang beragama non muslim pihak LAPAS
Puwokerto dapat mengantarkan ke tempat peribadahannya.
b. Mendapat perawatan, baik perawatan rohani maupun jasmani:
Perawatan rohani dapat diterima melalui ibadah sesuai agama dan
kepercayaan, sedangkan perawatan jasmani dengan adanya fasilitas
olahraga yang disediakan oleh pihak LAPAS Puwokerto.
c. Mendapatkan pendidikan dan pengajaran:
Narapidana mendapat pendidikan serta pengajaran seperti membuat
kerajinan tangan dan penyuluhan sebagai bekal narapidana.
61
d. Mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak:
Bagi narapidana yang sakit mendapatkan pengobatan gratis dari pihak
LAPAS Puwokerto serta makan-makanan yang layak dan bergizi.
e. Menyampaikan keluhan:
Narapidana dapat menyampaikan keluhan-keluhan kepada petugas
LAPAS Puwokerto apabila ada permasalahan.
f. Mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa
lainnya yang tidak dilarang:
Narapidana mendapatkan bimbingan serta hiburan melalui buku dan
media massa yang telah disediakan oleh pihak LAPAS Puwokerto.
g. Mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan:
Apabila narapidana dalam membuat kerajinan tangan dan dapat dijual
maka hasil dari penjualan barang tersebut narapidananjuga dapat
memperoleh keuntungannya.
h. Menerima kunjungan keluarga, penasihat hukum, atau orang tertentu
lainnya:
Adanya izin dari pihak LAPAS apabiala narapidana mendapatkan
kunjungan.
i.
Mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi):
Dapat diperoleh apabila perilaku narapidana tergolong baik.
62
j.
Mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi
keluarga:
Hal ini dapat diperoleh narapidana apabila narapidana akan bebas dari
hukuman.
k. Mendapatkan pembebasan bersyarat:
Pembebasan ini diperoleh narapidana dengan adanya ketentuan yang
harus dijalani terlebih dahulu.
l.
Mendapatkan cuti menjelang bebas dan:
Apabila narapidana sudah tinggal sebentar masa tahanannya.
m. mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.
n. Mendapatkan remisi (pengurangan masa hukuman), remisi dapat
diberikan kepada narapidana apabila:
1) Narapidana tersebut berkelakuan baik
2) Sudah menjalani pidananya minimal 6 bulan
3) Berbuat jasa kepada Negara
Untuk remisi biasanya diberikan pada hari raya besar agama dan hari
kemerdekaan Republik Indonesia, adapun ketentuan besarnya remisi:
1) Telah menjalani pidana selama enam bulan sampai dua belas
bulan, memperoleh remisi 1 bulan.
2) Telah menjalani pidana lebih pada pada tahun pertama,
memperoleh remisi 2 bulan.
63
3) Telah menjalani pidana lebih pada tahun kedua, memperoleh
remisi 3 bulan
4) Telah menjalani pidana lebih pada tahun ketiga, memperoleh
remisi 4 bulan. 32
Sistem atau model pembinaan yang dilaksanakan oleh Lembaga
Pemasyarakata Kelas IIA Puwokerto ini cukup baik. Dengan berbagai
jenis keterampilan serta pembimbingan dari para petugas Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Puwokerto membuat mereka banyak
memperoleh manfaat yang baik. Upaya pembinaan dan bimbingan yang
demikian itu telah sesuai pula dengan dasar pembaharuan pidana yang
mengandung aspek menempuh upaya baru terhadap narapidana.
Narapidana sebagai manusia yang dibina harus bisa dikembangkan rasa
tanggung jawabnya untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan yang
tenteram dan sejahtera dalam masyarakat agar selanjutnya berpotensi
untuk menjadi manusia yang berpribadi luhur dan bermoral tinggi.
Dengan demikian sasaran pembinaan tertuju pada pribadi dan budi
pekerti narapidana tersebut.
c. Fungsi Pemasyarakatan
Dalam Pasal 3 Kepmenkeh. RI. Nomor M-01-Pr-07-03 Tahun
1985 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemasyarakatan
32
Undang-undang nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan
64
Lembaga
pemasyarakatan dalam
menjalankan tugasnya
lembaga
pemasyarakatn tersebut memiliki fungsi, yaitu :
1) Melakukan pembinaan narapidana/anak didik;
2) Memberikan bimbingan, mempersiapkan sarana dan mengelola hasil
kerja;
3) Melakukan bimbingan sosial/kerokhaniaan narapidana/anak didik;
4) Melakukan pemeliharaan keamanan dan tata tertib Lembaga
Pemasyarakatan;
5) Melakukan urusan tata usaha dan rumah tangga.
Berdasarkan ketentuan umum undang-undang No.12 Tahun 1995
tentang pemasyarakatan bahwa pembinaan para warga binaan
a. Pengayoman;
Yang dimaksud dengan pengayoman adalah perlakuan terhadap warga
binaan pemasyarakatan dalam rangka melindungi masyarakat dari
kemungkinan
diulanginya
tindak
pidana
oleh
warga
binaan
Pemasyarakatan,juga memberikan bekal hidup kepada Warga Binaan
Pemasyarakatan
agar
menjadi
warga
yang
berguna
di
dalammasyarakat.
b. Persamaan perlakuan dan pelajaran;
Adanya perlakuan dan pemberian materi yang sama terhadap
narapidana di LAPAS Purwokerto tanpa membedakan latar belakang,
pendidikan, usia, jabatan dari narapidana.
65
c. Pendidikan;
Pendidikan yang diterima narapidana sesuai dengan pancasila
misalnya keagamanan, ketersmpilan, kenegaraan, kemasyarakatan.
d. Pembimbingan;
Adanya suatu bimbingan untuk meningkatkan jiwa kekeluargaan, dan
menunaikan ibadah.
e. Penghormatan harkat dan martabat manusia;
Yang dimaksud dengan penghormatan harkat dan martabat manusia
adalah
bahwa
sebagai
orang
yang
tersesat
warga
binaan
pemasyarakatan harus tetap diperlakukan sebagai manusia.
f. Kehilangan kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan;
Yang dimaksud dengan kehilangan kemerdekaan merupakan satusatunya penderitaan adalah warga binaan pemasyarakatan harus berada
dalam LAPAS untuk jangka waktu tertentu, sehingga negara
mempunyai kesempatan penuh untuk memperbaikinya menjadi lebih
baik.
g. Terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orangorang tertentu.
Yang dimaksud dengan terjaminnya hak untuk tetap berhubungan
dengan keluarga dan orang-orang tertentu adalah bahwa walaupun
warga binaan pemasyarakatan berada di LAPAS, tetapi harus tetap
didekatkan dan dikenalkan dengan masyarakat dan tidak boleh
66
diasingkan dari masyarakat, antara lain berhubungan dengan
masyarakat dalam bentuk kunjungan, hiburan ke dalam LAPAS dari
anggota masyarakat yang bebas, dan kesempatan berkumpul bersama
sahabat dan keluarga seperti program cuti mengunjungi keluarga.
Didalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Puwokerto asasasas tersebut sudah diterapkan serta berjalan dengan baik dimana sesuai
dengan harapan para petugas yang melaksanakan pembinaan. Karena
pada dasarnya narapidana juga mempunyai hak-hak seperti manusia pada
umumnya, seperti yang ditegaskan DR. Sahardjo SH, tiap orang adalah
manusia dan harus diperlakukan sebagai manusia, meskipun ia telah
tersesat, tidak boleh ditunjukkan pada narapidana bahwa ia itu penjahat.
Sebaliknya ia harus selalu merasa bahwa ia dipandang dan diperlakukan
sebagai manusia.
Berdasarkan pembahasan diatas Lembaga Pemasyarakatan Kelas
IIA Puwokerto telah melakukan pelaksanaan pembinaan narapidana
sudah sesuai dengan apa yang diamanatkan dalam UU No 12 Tahun 1995
Tentang Pemasyarakatan, Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999
Tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan,
dan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Syarat Dan
Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.
Peran masyarakat dalam pembinaan narapidana sangat diperlukan
guna mensukseskan fungsi dari pemasayarakatan itu sendiri. Angapan
67
bahwa narapidana adalah orang-orang yang harus dicurigai ternyata
diungkapkan oleh Harry Elmer Barnes dan Negley K. Teeters dalam
bukunya C. Djisman Samosir sebagai berikut:
The presioner or the ex-presioner is marked man-a human dog to
whom a bad name has been given. He is called a “convict” or ex
convict.33
Tindakan masyarakat yang membuat jarak terhadap narapidana
dengan mencurigai dan mengasingkan mereka dari pergaulan sosial sudah
barang tentu dapat menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan,
misalnya munculnya rasa dendam dari narapidana yang bersangkutan
terhadap masyarakat. Sikap masyarakat yang demikian tidak saja
menghambat proses sosialisasi tetapi juga merupakan faktor kriminogen.
Kejahatan
umumnya
masyarakat
menempatkan
narapidana
sebagai obyek, padahal di dalam penjelasan Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan secara tegas
disebutkan bahwa narapidana bukan saja sebagai obyek melainkan juga
sebagai subyek yang tidak berbeda dari manusia lainnya yang sewaktuwaktu dapat melakukan kekhilafan yang dapat dikenakan pidana sehingga
tidak harus diberantas. Dalam suatu kehidupan masyarakat yang semakin
canggih, sudah barang tentu kejahatan pun semakin meningkat sesuai
33
Samosir C. Djisman, 2012, Sekelumit Tentang Penologi dan Pemasyarakata, Bandung, Nuansa
Aulia, hal. 105.
68
dengan kondisi masyarakat yang bersangkutan. Dengan kata lain,
kejahatan yang terjadi dewasa ini tidak terbatas lagi dengan kejahatan
konvensional seperti: white collar crime dan kolusi. Kesemuanya itu
terjadi akibat berbagai hal sebagaimana diungkapkan oleh Kartini
Kartono sebagai berikut:
Kondisi lingkungan dengan perubahan-perubahan yang cepat,
norma-norma dan sanksi sosial yang semakin longgar serta macammacam subkultur dan kebudayaan asing yang saling berkonflik, semua
faktor itu memberikan pengaruh yang mengacu dan memunculkan
disorganisasi dalam masyarakat, dapat memunculkan banyaknya tindak
kejahatan.34
Sungguh merupakan hal yang tidak menguntungkan bagi petugas
Lembaga Pemasyarakatan yang begitu giat dan sungguh-sungguh
membina narapidana agar kembali kejalan yang benar,akan tetapi ternyata
masyarakat mesih memberikan “stigma” (noda atau cap) terhadap
narapidana sebagai orang jahat. Stigma (noda atau cap) yang dialami
narapidana, sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari suatu
pemidanaan yang telah ada sejak dulu kala. Dengan stigma tersebut,
narapidana tidak bebas mengadakan kontak sosial dengan masyarakat
lainnya. Mereka merasa terasing dan terpojok dengan sikap masyarakat
yang sinis dan tidak mau tahu, hal mana mengakibatkan penderitaan
34
Samosir C. Djisman. Opcit. Hal 157
69
psikis bagi narapidana yang bersangkutan. Kondisi narapidana yang
demikian yang demikian memerlukan perhatian, tidak saja dari
pemerintah melalui petugasnya akan tetapi dari masyarakat secara
keseluruhan.35
2.
Faktor-Faktor Pendorong dan
Penghambat
dalam Pelaksanaan
Pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) Kelas II
A Puwokerto.
Hukum didalam negara berkembang dapat berperan untuk mengubah
pola pemikiran masyarakat dari pola pemikiran yang tradisional ke dalam
pola pemikiran yang rasional dan modern, dalam hal ini hukum berfungsi
sebagai sarana pembaharuan masyarakat. Konsepsi ini membawa suatu
konsekuensi bahwa perubahan yang diinginkan berjalan dengan teratur dan
terencana. Hukum di sini mungkin dapat mempunyai pengaruh langsung
maupun tidak langsung di dalam mendorong terjadinya perubahan sosial. 36
Bekerjanya hukum merupakan proses yang kompleks, bukan hanya
sekedar menegakkan aturan yang telah ditetapkan akan tetapi para penegak
hukum dihadapkan pada kualitas dari aturan itu sendiri, sarana dan prasarana
yang digunakan, kualitas penegak hukum dan kepentingan institusinya serta
masyarakat yang memiliki latar belakang sosial budaya yang berbeda-beda.
Bekerjanya hukum tidak dapat dilihat sebagai sesuatu yang linier dan
35
36
Samosir C. Djisman. Ibid. Hal 157
Soerjono Soekanto, 1988, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Jakarta, Rajawali Press, hal. 100.
70
deterministik seperti pandangan kaum positivistik, sebab di sana akan
terlihat berbagai pertentangan kepentingan yang masing-masing ingin
didahulukan.
Pelaksanaan pembinaan narapidana merupakan masalah penegakan
hukum. Sehubungan dengan masalah penegakan hukum ini, Soerjono
Soekanto berpendapat bahwa masalah pokok daripada penegakan hukum
sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya.
Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral sehingga dampak positif
atau negatifnya terletak pada isi faktor-laktor tersebut. Faktor-faktor tersebut
adalah sebagai berikut 37:
a) Faktor hukumnya sendiri dalam hal undang-undang.
Hukum yang dibahas ini akan dibatasi pada undang-undangnya saja.
Gangguan terhadap penegakan hukum yang berasal dari undang-undang
kemungkinan disebabkan oleh:
1. Tidak
diikutinya
asas-asas
berlakunya
undang-undang
yang
mengakibatkan tidak adanya kepastian hukum.
2. Belum adanya peraturan pelaksana yang sangat dibutuhkan untuk
menempatkan undang-undang.
37
Soerjono Soekanto, 1990, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegukan Hukum, Jakarta, Raja
Grafindo Persada, hal. 9.
71
3. Ketidak
jelasan
mengakibatkan
arti
kata-kata
kesimpangsiuran
dalam
di
undang-undang
dalam
penafsiran
yang
serta
penerapannya.
4. Faktor penegak hukum yakni pihak-pihak yang membentuk maupun
yang menerapkan.
Yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum.
Secara sosiologis, maka setiap penegakan hukum mempunyai
kedudukan (status) dan peranan (role). Permasalahan yang timbul dari
faktor penegakan hukum yaitu penerapan peran penegakan hukum.
Halangan yang memerlukan penanggulangan tersebut adalah antara
lain:
1. Keterbatasan kemampuan untuk menempatkan diri dalam peranan
pihak lain dengan siapa dia berinteraksi;
2. Tingkat aspirasi yang relatif belum tinggi;
3. Kegairahan yang sangat terbatas untuk memikirkan masa depan,
sehingga sangat sulit untuk membuat suatu proyeksi;
4. Belum adanya kemampuan untuk menunda pemuasan suatu
kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan material;
5. Kurangnya daya inovatif yang sebenarnya merupakan pasangan
konservatisme.
5. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum.
72
Sarana atau fasilitas mempunyai peranan yang sangat penting dalam
penegakan hukum. Tanpa adanya sarana atau fasilitas tertentu, maka
tidak mungkin penegakan akan berlangsung dengan lancar dan
mencapai tujuan. Sarana dan fasilitas tersebut antara lain mencakup
tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, organisasi yang
baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup.
6. Faktor masyarakat yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku
atau diterapkan.
Yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan.
Pendapat masyarakat mengenai hukum ikut mempengaruhi penegakan
hukum dengan kepatuhan hukum. Salah satu pendapat masyarakat
yaitu mengenai arti hukum yang dianggap identik dengan petugas
(penegak sebagai pribadi). Pendapat tersebut menyebabkan masyarakat
akan mematuhi hukum jika ada petugas
7. Faktor kebudayaan yakni sebagai hasil karya, cita dan rasa yang
didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.
Yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa
manusiadi dalam pergaulan hidup. Hukum harus dibuat sesuai dengan
kondisi masyarakat dan tidak boleh bertentangan dengan kebudayaan
yang hidup di masyarakat. Kebudayaan yang berkembang di Indonesia
sangat beragam. Setiap daerah terdiri dari suku bangsa dengan bahasa
dan adat istiadat yang berbeda dengan suku bangsa di daerah lain.
73
Kemajemukan ini berpengaruh terhadap usaha penegakan hukum di
Indonesia. Ketentuan yang diatur dalam suatu peraturan perundangundangan dapat berlaku bagi suatu daerah tapi belum tentu bisa
dilaksanakan di daerah lain.
Berdasarkan faktor-faktor di atas, maka terdapat beberapa faktor
yang penghambat dalam pelaksanaan pembinaan narapidana baik itu faktor
intern maupun faktor ekstern. Faktor-faktor intern yang menghambat
berjalannya proses pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA
Puwokerto adalah faktor penegak hukum, sarana gedung yang kurang
memadai dan sarana fasilitas pembinaan. Petugas LAPAS sebagai salah satu
penegak hukum, dalam hal ini harus ditunjang dengan mutu dan kualitas
pegawai atau personil lembaga pemasyarakatan khususnya LAPAS Kelas
IIA Purwokerto. Bangunan sebagai tempat dalam proses pembinaan juga
harus ada perluasan guna mengantisipasi adanya kelebihan kapasitas,
ruangan tang harusnya diisi empat orang menjadi sepuluh orang. Sarana
fasilitas proses pembinaan seperti alat-alat untuk kerajinan yang tergolong
sedikit dan harganya yang relatife mahal menjadikan para narapidana tidak
seluruhnya dapat ikut serta dalam proses pembinaan keterampilan. Kondisi
ruangan yang demikian LAPAS sudah tidak pada eksistensinya lagi namun
mengarah kepada budaya penjara. Munculnya budaya penjara karena adanya
keterbatasan-keterbatasan
dan
deprisasi
dalam
penjara
(pain
of
74
imprisonment)38. Selain itu factor ekstern yang menghambat berjalannya
pembinaan narapidana di LAPAS Purwokerto adalah factor ekonomi yang
diikuti dengan minimnya lapangan kerja yang ada atau tersedia setelah
narapidana itu bebas, dan faktor pendidikan bagi narapidana yang minim
baik pendidikan formal maupun non formal.
Faktor pendorong pelaksanaan pembinaan narapidana di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Puwokerto yaitu pembinaan narapidana sebagian
besar berasal dari Puwokerto, sehingga memudahkan untuk menyampaikan
pelaksanaan pembinaan. Serta adanya dukungan dari pihak ketiga seperti
masyarakat, ormas-ormas, dan instansi pemerintah ikut antusias dalam
pelaksanaan pembinaan, para narapidana menyambut dan merima dengan
baik.
Narapidana adalah manusia yang memiliki spesifikasi tertentu, secara
umum narapidana adalah manusia biasa seperti manusia-manusia lainnya,
namun kita tidak dapat begitu saja menyamakan, sehingga tidak harus
diberantas. Bagaimanapun juga narapidana adalah manusia yang memiliki
potensi yang dapat dikembangkan untuk menjadi lebih produktif.
Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Puwokerto menyambut
dengan baik pelaksanaan pembinaan narapidana khususnya mengenai
pelaksanaan pembinaan tentang jasmani dan kerochanian yang dapat
38
Josias A. Simon R, 2012, Budaya Penjara Pemahaman dan Implementasi, Bandung, Karya Putra
Darwati, hal. 7.
75
mendekatkan diri kepada Allah Swt menjadiakan kepribadian yang lebih
baik. Pelaksanaan pembinaan keterampilan yang diterima oleh narapidana
sangatlah bermanfaat sebagai kegiatan yang positif dan meningkatkan
kemandirian. Pelaksanaan pembinaan dapat berjalan dengan baik dan lancar
karena sudah terjadwal. Faktot-faktor tersebut sangat penting karena dapat
berfungsi sebagai faktor pendorong terlaksananya pembinaan di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Puwokerto dengan baik.
Pembinaan kemandirian yang diberikan kepada narapidana misalnya
membuat meja, lemari, sapu, tralis, rak sepatu. Petugas LAPAS Kelas IIA
Puwokerto sudah berusaha mencoba kerjasama dengan bengkel las/bubut
atau perusahaan pengrajin kayu di Kabupaten Banyumas untuk menyiapkan
bahan mentah agar dapat dikerjakan oleh narapidana. Tetapi masih
mengalami hambatan karena respon dan kepedulian mereka terhadap
narapidara masih kurang. Bengkel las/bubut atau perusahaan yang akan
diajak kerjasama masih memperhatikan untung ruginya karena mereka takut
kalau nantinya narapidana membuat kesalahan-kesalahan dalam proses
produksi. Selain itu masalah pendanaan pelaksanaan pembinaan kemandirian
serta mengenai keterampilan itu hanya bersifat sementara kadang kala ada
narapidana yang bebas dan petugas serta narapidana yang sudah agak
terampil harus melatih narapidana yang masih baru, sehingga menjadi suatu
kendala serta menjadi faktor penghambat pelaksanaan pembinaan di
Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Puwokerto.
76
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan
bahwa:
1) Pelaksanaan pembinaan terhadap narapidana di Lembaga Pemasyarakatan
Kelas IIA Purwokerto yaitu pelaksanaan pembinaan kepribadian dan
kemandiriaan.
Narapidana
Lembaga
Pemasyarakatan
Kelas
IIA
Purwokerto yang berjumlah 345 orang yang dibagi antara narapidana dan
tahanan. Yang semuanya telah menerima pembinaan kepribadian dan
kemandirian, walaupun telah terjadi kelebihan kapasitas.
Mengenai Pembinaan Kepribadian tersebut yaitu meliputi:
a) Penyuluhan hukum;
b) Pengajian;
c) Sholat berjamaah;
d) Kunjungan-kunjungan;
e) Mengikuti senam pagi;
f) Olahraga;
g) Kebersihan lingkungan.
Mengenai Pembinaan Kemandirian yang dilaksanakan di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto, meliputi pembinaan mengenai
77
keterampilan seperti membuat meja, lemari, sapu, tralis, rak sepatu.
Pelaksanaan pembinaan kemndiriaan berguna untuk narapidana setelah
keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto.
2) Berkaitan dengan efektivitas Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA
Purwokerto untuk memaksimalkan pembinaan narapidana adalah dengan
cara pembangunan Lembaga Pemasyarakatan yang baru yang bisa
menampung narapidana lebih dari 500 orang narapidana serta
meningkatkan kelas lembaga pemasyarakatan menjadi kelas I berdasarkan
pasal 4 Kepmenkeh RI Nomor M-01-Pr-07-03 Tahun 1985 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Lemabaga Pemasyarakatan.
B. SARAN
1. Mengenai sarana dan prasarana, diharapkan pemerintah pusat untuk
menambah fasilitas-fasilitas yang ada di Lembaga Pemasyarakatan
yang ada di seluruh wilayah Republik Indonesia pada umumnya dan
pada
khusus
untuk
Lembaga
Pemasyarakatan Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto.
2. Meningkatkan Sumber Daya Manusia bagi para petugas/pegawai
Lembaga Pemasyarakatan tersebut dengan berbagai macam pelatihanpelatihan yang ada, program dan ragam pembinaan terutama dalam
program kemandirian terhadap Narapidana hendaknya dilaksanakan
secara efektif dan kreatif serta berdaya guna untuk pengembangan
78
kepribadian serta peningkatan ketrampilan bagi Narapidana yang akan
memberikan dampak yang cukup besar bagi para Narapidana.
79
DAFTAR PUSTAKA
Angkasa. 2010. Over Capacity Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan. Unsoed.
Jurnal Dinamika Hukum;
Arief Barda Nawawi, 2002. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Citra Aditya
Bakti, Bandung;
________________dan Muladi, 1992. Teori-teori dan Kebijakan Pidana. Bandung.
Alumni;
Gunakaya A. Widiana. 1988. Sejarah dan Konsepsi Pemasyarakatan. Bandung.
Armico;
Hadari, Nawawi.1995. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press;
Hanitijo Soemitro Ronny. 1986. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: UI-Press;
Josias A. Simon R. 2012. Budaya Penjara Pemahaman dan Implementasi. Bandung.
Karya Putra Darwati;
Kartanegara Satochid. 2001. Hukum Pidana Bagian Satu. Jakarta. Balai Lektur
Mahasiswa;
Koentjoroningrat. 1986. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia;
Muhadjir Noeng. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta. Rake Sarasin;
Rubai Masruchin. 1997. Mengenal Pidana Dan Pemidanaan. Malang. IKIP;
Samosir C. Djisman. 2012. Sekelumit Tentang Penologi dan Pemasyarakatan. Bandung.
Nuansa Aulia;
Soekanto Soerjono. 1986. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta. Universitas
Indonesia;
________________. 1990. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegukan Hukum.
Jakarta. Raja Grafindo Persada;
_______________. 2007. Penelitian Hukum Normatif. Jakarta. Raja Grafindo
Persada;
Waluyo Bambang. 2002. Penelitian Hukum Dalam Praktek, Jakarta: Sinar Grafika.
80
Peratuan Perundang-undangan
Undang-undang No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.
PP No.32 tahun 1999 tentang Syarat Dan Tatacara Pelaksanaan Hak Waga Binaan
Pemasyarakatan
PP No.31 tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan
Pemasyarakatan
Internet
Lembaga
Pemasyarakatan
Purwokerto
Segera
Dipindah.
http://www.suaramerdeka.com.online diakses pada tanggal 27 april 2009;
www. hukumonline. com Esensi lembaga pemasyarakatan sebagai wadah pembinaan
narapidana http://hmibecak.wordpress.com// diakses 29 mei 2007
www.psychologymania.com. Pengertian narapidana diakses oktober 2012
Download