pembelajaran membaca pemahaman wacana argumentasi dengan

advertisement
PEMBELAJARAN MEMBACA PEMAHAMAN WACANA ARGUMENTASI DENGAN
DENGGUNAKAN TEKNIK SEQUENCING (BAGIAN-BAGIAN)
DI KELAS IX SMPN 1 SUKAWENING KABUPATEN GARUT
TAHUN AJARAN 2011/2012
MAKALAH
Oleh :
NUR ANALIS
10.21.0413
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) SILIWANGI BANDUNG
2012
PEMBELAJARAN MEMBACA PEMAHAMAN WACANA ARGUMENTASI DENGAN
MENGGUNAKAN TEKNIK SEQUENCING (BAGIAN-BAGIAN)
DI KELAS IX SMPN 1 SUKAWENING KABUPATEN GARUT
TAHUN AJARAN 2011/2012
Oleh :
NUR ANALIS
10.21.0413
Jurusan Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia
Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
(STKIP) Siliwangi Bandung
2012
ABSTRAK
Keterampilan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sangat penting. Latihan berbahasa ini, bermaksud untuk
mengembangkan potensi pribadi siswa dan meningkatkan daya nalar pemikirannya. Keempat keterampilan berbahasa inilah
yang diajarkan di sekolah. Dengan banyak membaca yang intensif, siswa akan memperoleh pengetahuan tentang bagaimana
caranya dalam menguasai struktur dan kosa kata yang jelas.
Sehubungan dengan uraian di atas, penulis mengetengahkan salah satu teknik mengajar membaca, khususnya
membaca pemahaman wacana argumentasi, yaitu teknik "sequencing". Syamsuddin (1992: 124) mengatakan bahwa: "Teknik
sequencing adalah teknik pengajaran membaca wacana dengan cara menyusun bagian-bagian wacana tersebut sedemikian
rupa, sehingga mempunyai urutan yang memberi pengertian yang utuh secara keseluruhan seperti susunan/urutan aslinya".
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Metode eksperimen ditempuh dengan
cara melakukan percobaan mengajarkan tentang membaca pemahaman dengan menggunakan teknik "sequencing". Langkahlangkah yang akan ditempuh yaitu membuat persiapan mengajar, melaksanakan uji coba proses belajar mengajar di depan
kelas, dan menilai keberhasilan proses belajar mengajar dengan pretes dan postes.
Tingkat keberhasilan pengajaran membaca pemahaman wacana argumentasi pada siswa di kelas eksperimen IX C,
berhasil dengan baik. Hal ini terbukti adanya perbedaan nilai antara sebeium diberi perlakuan dengan seielah diberi perlakuan
dengan mcriggunakap. rnetode kerja kelompok dan teknik 'sequencing’. Untuk membuktikannya adalah bahwa t uji sebesar
3,680 dan t tabel sebesar 2, 021 pada taraf signiflkansi 0,05, maka t uji lebih besar dibandingkan dengan t tabel. dalam
pengajaran membaca pemahaman wacana argumentasi yang menggunakan teknik 'sequencing',lebih sedikit, dalam waktu
kurang dari lima belas menit semua siswa dapat menyelesaikan soal tes objektif. Hal ini menggambarkan keberhasilan siswa
dalam proses belajar mengajar.
Kata Kunci : Membaca, sequencing
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara,
antara lain berfungsi sebagai bahasa pengantar dalam
dunia
pendidikan,
pengajaran,
penghubung
kebudayaan dan alat pengembang pengetahuan.
Mengingat pentingnya bahasa Indonesia, maka
pemerintah menetapkan bahasa Indonesia, sebagai
bahasa pengantar dalam bidang pengajaran yang
diajarkan di sekolah-sekolah mulai dari sekolah dasar
sampai perguruan tinggi . Kongres bahasa Indonesia
yang ke lima pun sangat mendukung perlunya
pengajaran bahasa Indonesia bahwa, Pendidikan dan
pengajaran bahasa Indonesia periu ditingkatkan dan
diperluas (Depdikbud, 1988: 3).
Dari uraian di atas, penulis mengetengahkan
adanya pokok permasalahan tentang membaca
pemahaman wacana yang saat ini kurang mendapat
perhatian. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor
yaitu bahan pengajaran dan proses belajar mengajar
yang kurang efektif sehingga hasil yang dicapai
kurang memuaskan.
Keterampilan berbahasa Indonesia dengan
baik dan benar sangat penting. Latihan berbahasa ini,
bermaksud untuk mengembangkan potensi pribadi
siswa dan meningkatkan daya nalar pemikirannya.
Keempat keterampilan berbahasa inilah yang
diajarkan di sekolah. Dengan banyak membaca yang
intensif, siswa akan memperoleh pengetahuan
tentang bagaimana caranya dalam menguasai struktur
dan kosa kata yang jelas.
Sehubungan dengan uraian di atas, penulis
mengetengahkan salah satu teknik mengajar
membaca, khususnya membaca pemahaman wacana
argumentasi, yaitu teknik "sequencing". Syamsuddin
(1992: 124) mengatakan bahwa: "Teknik sequencing
adalah teknik pengajaran membaca wacana dengan
cara menyusun bagian-bagian wacana tersebut
sedemikian rupa, sehingga mempunyai urutan yang
memberi pengertian yang utuh secara keseluruhan
seperti susunan /urutan aslinya".
Teknik ini akan mengarahkan proses belajar
mengajar siswa yanq dilakukan dalam suasana
belajar yang aktif. Siswa dituntut untuk mempunyai
minat dalam membaca. sehubungan dengan uraian di
atas penulis akan memberikan sebuah wacana dengan
menyusun kalimat secara acak, dengan cara itu siswa
disuruh menyusun kembali kalimat yang baik dan
dapat menarik ide pokok dari penggalan-penggalan
wacana yang mengurutkan kalimat itu seperti semula.
Dengan demikian diharapkan pemahaman siswa
terhadap bacaan dapat ditingkatkan dalam suasana
belajar yang tidak monoton. Di atas telah disinggung
adanya konsep proses belajar mengajar, dengan
maksud siswa adalah sebagai subyek pendidikan
sedangakan guru berfungsi sebagai fasilitator atau
pemberi kemudahan belajar bagi siswa.
KAJIAN TEORI DAN METODE
Pengertian Membaca
Membaca merupakan faktor yang sangat
penting dalam kehidupan kita. Melalui media cetak
kita dapat menyerap berbagai informasi yang di
perlukan dalam kehidupan sehari-hari. Membaca
merupakan kemampuan yang kompleks artinya
dalam proses membaca bukanlah kegiatan
memandangi lambang-lambang tertulis semata-mata,
tetapi
bermacam-macam
kemampuan
yang
dikerahkan oleh seorang pembaca agar mampu
memahami materi yang dibacanya. Pembaca
berupaya agar lambang-lambang yang dilihatnya itu
menjadi lambang yang bermakna baginya.
Disamping itu pula membaca merupakan interaksi
antara pembaca dan penulis harus dapat memahami,
menerima, menolak, membandingkan, dan meyakini
pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh si
pengarang.
Tarigan, (2004: 7) mengemukakan bahwa,
"Membaca adalah suatu proses penyandian kembali
dan pembacaan sandi (a recording and decoding
process), berlainan dengan berbicara dan menulis
yang justru melibatkan penyandian (encoding), yaitu
penyandian secara lisan". Suatu proses yang
dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk
memperoleh pengarang dan memberikan respon
kepada pembaca dalam memahami bahan bacaan.
Pengertian Wacana
Poerwadarminta dalam Syamsudin (1988: 4)
mengemukakan bahwa, 'Wacana itu dapat berupa
tulisan, tetapi persyaratannya harus dalam satu
rangkaian dan dibentuk oleh lebih dari sebuah
kalimat". Bahasa atau ungkapan yang terdapat di
dalam wacana itu bersifat koheren (terjalin erat
antara satu dengan yang lain) disusun secara teratur
dan sistematis di dalam rangkaian yang
mengemukakan sesuatu hal, baik dalam bentuk tulis
maupun lisan.
Rusyana
(1986:2.32)
menyatakan
bahwa,"Wacana merupakan satuan pengutaraan
tertulis yang lengkap isi dan maksudnya sehingga
dari segi kelengkapan, wacana dapat dianggap
mandiri".Dalam pengutaraan itu terkandung isi dan
maksud yang disampaikan penulis kepada pembaca
yang saling berhubungan sesuai dengan kelengkapan
wacananya.
Abdul Chaer (1988:421) menyatakan bahwa,
"Wacana adalah kalimat atau hal-hal yang
merupakan satu kesatuan yang digunakan untuk
menyampaikan suatu amanat". Amanat ini dapat
berupa sebuah gagasan yang luas dan sangat
kompleks, berisi berbagai pikiran yang saling
berkaitan.
Dari ketiga pernyataan tersebut, wacana
adalah satuan unsur bahasa atau komponen yang
terluas,
terlengkap,
sistematis,
dan
saling
berhubungan yang disampaikan melalui lisan dan
tulis.
Pengertian Wacana Argumentasi
Ada beberapa pendapat yang mengemukakan
tentang pengertian karangan argumentasi, yaitu
wacana atau karangan yang mengemukakan alasan,
bukti, dan contoh yang kuat serta meyakinkan
pembaca sehingga pembaca merasa terpengaruh dan
membenarkan pendapat orang lain dan akhirnya ia
akan berbuat sesuatu dengan kehendaknya.
Untuk
lebih
jelas
lagi,
penulis
mengemukakan beberapa pendapat dari para ahli
bahasa mengenai pengertian karangan argumentasi.
Keraf (1989: 3) menyatakan bahwa, "Wacana
argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang
berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat
orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya
bertindak sesuai dengan apa yang dimiliki oleh
penulis dan pembaca".
Rusyana (1982: 3) memandang bahwa,
"Wacana argumentasi sebagai alasan dalam
memberikan isi atau makud akan kebenaran atau
ketidak benaran sesuatu, dengan maksud agar
pembaca atau pendengar dapat meyakinkan sehingga
kemudian terdorong untuk melakukan sesuatu".
Karangan yang mengutarakan alasan-alasan untuk
membuktikan sesuatu, guna mempertahankan atau
menyanggahnya, dengan maksud meyakinkan
pembaca tentang hal itu. Alasan dikemukakan
berdasarkan penalaran pendapat dan fakta.
Pengertian Teknik
Dalam penggunaan teknik pengajaran
hendaknya menarik perhatian terhadap siswa dan
berfungsi untuk mengefektifkan pengajaran itu
sediri.sehingga siswa memahami bahan / materi
pembelajaran yang akan disajikan.
Penulis akan mengemukakan beberapa
pendapat dari para ahli bahasa mengenai pengertian
tentang teknik, sebagai berikut: Hidayat (1995: 60)
mengemukakan, "Teknik adalah daya upaya, usahausaha, atau cara-cara yang digunakan guru dalam
mencapai tujuan langsung dalam pelaksanaan
pengajaran pada waktu itu".
Misdan (1986:6.9) berpendapat bahwa,
"Teknik merupakan daya upaya, muslihat, atau
usaha-usaha tertentu yang digunakan guru dalam
mencari tujuan langsung yang paling dekat.
Dari dua pendapat di atas, dapat disimpulkan
bahwa teknik merupakan tata cara atau usaha-usaha
tertentu yang digunakan oleh guru pada saat
melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Teknik "Sequencing"
Penulis
akan
menggunakan
teknik
"sequencing"
dalam
mengajarkan
membaca
pemahaman wacana. Untuk lebih jelas, penulis
mengemukakan beberapa pendapat dari para ahli
bahasa mengenai pengertian tentang tsknik
"sequencing", sebagai berikut: "Harimurti (1984 :
257 ) memandang "Istilah 'sequencing berasal dari
bahasa Inggris yang artinya urutan, deretan,
rangkaian, dan rentetan". 'Sequencing' adalah
penderetan atau urutan dalam kalimat yang diubah
menjadi kalimat yang utuh.
Abdul Chaer (1988: 428) menyatakan bahwa,
"Sequencing adalah mengatur kembali urutan kalimat
pada teks-teks berikut sehingga setiap teks tersebut
menjadi sebuah tuturan yang benar". Tiap-tiap
kalimat itu urutannya diacak lalu diatur kembali
sesuai dengan urutan yang benar.
Tarigan (1984:135) mengemukakan bahwa,
"Kalimat urutan (Sequence Sentence) adalah kalimat
sempurna yang mengandung konjungsi yang
menyatakan bahwa kalimat itu merupakan bagian
dari kalimat yang lain". Kalimat yang satu dengan
kalimat yang lain saling menyambung dalam suatu
pembicaraan tanpa pergantian pembicara. Tarigan
(1986:199) menyatakan bahwa, "Teknik 'sequencing'
adalah suatu karangan yang telah disusun oleh guru
dikacau urutannya". Karangan yang kacau urutannya
diberikan kepada siswa untuk disusun kembali agar
susunannya baik seperti semula.
Metode Penelitian
Metode yang akan digunakan dalam
penelitian ini adalah metode eksperimen. Metode
eksperimen ditempuh dengan cara melakukan
percobaan
mengajarkan
tentang
membaca
pemahaman
dengan
menggunakan
teknik
"sequencing". Langkah-langkah yang akan ditempuh
yaitu membuat persiapan mengajar, melaksanakan uji
coba proses belajar mengajar di depan kelas, dan
menilai keberhasilan proses belajar mengajar dengan
pretes dan postes.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada uraian ini, penulis akan menyajikan
hasil penelitian yang berkenaan dengan proses belajar
mengajar di kelas IX SMPN 1 Sukawening. Penulis
akan menganalisis dan membahas tentang
kemampuan siswa dalam belajar di kelas IX C
sebagai kelas eksperimen.
Adapun ketentuan penilaian yang penulis
gunakan adalah dengan standar 10. Soal yang penulis
berikan dalam bentuk tes objektif sebanyak 10 soal
dengan bobot tiap soal 2 maka skor totalnya adalah
20.
Pengukuran yang paling baik untuk
mengetahui keberhasilan proses beiajar mengajar
adalah dengan mengadakan penilaian. Penilaian yang
penulis telah laksanakan terdiri atas dua jenis, yaitu
pre-tes dan post-tes. Pre-tes untuk mengetahui
kemampuan siswa sebelum materi dusajikan dan
postes untuk mengukur keberhasilan setelah proses
beiajar mengajar berlangsung.
Penilatan merupakan langkah terakhir dalam
kegiatsn beiajar mengajar. Butir-butir soal harus
relevan dengan rumusan Kompetensi dasar. Hasil
penilaian akan menggambarkan keberhasilan dari
proses belajar mengajar walaupun tes yang penulis
laksanakan bukan satu-satunya untuk menentukan
keberhasilan pengajaran, tetapi dapat dijadikan
sebagai tolok ukur keberhasilan bagi siswa dan guru.
Analisis Pretes
Dalam analisis pelaksanaan pengajaran
membaca pemahaman wacana argumentasi pada
siswa kelas eksperimen IX C yang menggunakan
metode kerja kelompok dan teknik 'sequencing',
penulis terlebih dahulu memberikan suatu kegiatan
yaitu pre-tes kepada siswa maksudnya adalah untuk
mengetahui sejauh mana kemampuan siswa terhadap
materi yang akan disajikan. Ternyata setelah
dianalisis hasil kegiatan pre-tes di kelas eksperimen
IX C ada beberapa orang siswa yang belum
memahami materi.
Dari data yang diperoleh penulis dapat
mendeskripsikan nilai pretes tiga dari nilai tertinggi,
tiga dari nilai sedang dan tiga dari nilai terendah
sebagai berikut:
Yang mendapat nilai tertinggi yaitu : Aay 9, Dewi
Adiyani 9, Maudi Dwi K 9.
Yang mendapat nilai sedang yaitu : Wulansari 7,
Yandi 8, Sri Rezeki 8.
Yang mendapat nilai terendah yaitu : Andri Mulyadi
4, Faiziah 5, Lina H 4.
Analisis Postes
Dari gambaran yang dikemukakan di atas,
penulis mencoba untuk mengadakan postes,
tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan siswa dalam menerima pelajaran dengan
menggunakan metode kerja kelompok dan teknik
'sequencing', yang telah diberikan kepada siswa.
Setelah dianalisis dari hasil postes tersebut, penulis
beranggapan bahwa metode tersebut dalam proses
belajar mengajar, ternyata hampir semua siswa
berhasil dalam menjawab soal tes objektif.
Dari data yang diperoleh penulis dapat
mendiskripsikan nilai Postes tiga dari nilai tertinggi,
tiga dari nilai sedang dan tiga dari nilai terendah
sebagai berikut:
Yang mendapat nilai tertinggi yaitu : Aay 9, Dewi
Adiyani 9, pian Sopian 9.
Yang mendapat nilai sedang yaitu : Selly 7, Yandi 8,
Sri Rezeki 8.
Yang mendapat nilai terendah yaitu : Hendi
Lesmayadi 6, Lucyana W 6, Rosy Mega R 7.
Uji Normalitas Data
Pretes
Dari perhitungan di atas diperoleh x hitung =
13,94 dengan db=41. Hasil perhitungan tersebut
dikonsultasikan ke dalam tabel chi kuadrat dengan
tarap kepercayaan 99%= 53,7 dan 95%= 55,8,
ternyata x hitung 13,9 <x tabel = 53,7 (0,99)(41) dan
55,8 (0,95)(41). Maka dapat disimpulkan bahwa
penyebaran skor pada pretes dinyatakan normal pada
tahap kepercayaan 99% dan 95% dengan db= 41.
Postes
Dari
perhitungan di atas, diperoleh
x
hitung
sebesar
12,16 dengan db=41. Hasil
perhitungan tersebut dikonsultasikan ke datam tabel
chi kuadrat dengan tarap kepercayaan 99% = 53,7
dan 95% = 55,8, ternyata x hitung =12,16 < x tabel
53,7 (0,99)(41). Maka dapat disimpulkan bahwa
penyebaran skor pada postes dinyatakan normal pada
kepercayaan 99% dan 95% dengan db = 41.
Pengujian Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini
adalah: Proses
belajar
mengajar membaca
pemahaman
dengan
menggunakan
teknik
'sequencing”, akan berhasil jika dipersiapkan dan
dilaksanakan secara baik dan benar.
Dengan harga t uji =3,680 dengan d.b. = 41
dapat dixhat pada lampiran tabel t kritik pada taraf
signifikansi 0,05 = 2,021 maka t uji 3,680 > f tabel
2,021. Dengan demikian dapat disimpuikan terdapat
perbedaan yang signifikan antara hasil pretes dan
postes, ini sesuai dengan pendapat Burns dalam
bukunya Introduction to Research Methods:
"If t the same as or greater than the resuet
table entry then the t is significant at the level of
significant". (Burns, 2004: 141)
Jika harga t uji lebih besar atau sarna dengan
t tabel, maka t uji signifikan pada tingkat
signifikansinya.
Atas dasar penelitian tersebut, maka hipotesis di atas
diterima.
SIMPULAN
Kesimpulan
Setelah
melaksanakan
eksperimen
pengajaran
membaca
pemahaman
wacana
argumentasi di kejas IX C SMPN 1 Sukawening
dengan menggunakan metode kerja kelompok dan
teknik 'sequencing', penulis dapat menarik
kesimpulan, sebagai berikut:
1). Bentuk persiapan untuk mengajarkan membaca
pemahaman dengan menggunakan teknik
'sequencing’ yang dituangkan dalam satuan
pelajaran dapat dilaksanakan dengan baik. Materi
pembelajaran yang digunakan sesuai dengan
Kurikulum.
Dengan
demikian
materi
pembelajaran yang telah diberikan dalam
eksperimen ini sudah memadai kebutuhan.
2). Kegiatan belajar mengajar berlangsung sesuai
dengan apa yang diprogramkan dalam rencana
pengajaran. Efesiensi waktu yang digunakan
daiam pengajaran membaca pemahaman wacana
argumentasi
yang
menggunakan
teknik
'sequencing' sedikit. Dalam waktu kurang dari
lima belas menit semua siswa dapat
menyelesaikan soal tes objektif. Hal ini
menggambarkan keberhasilan siswa dalam
kegiatan belajar mengajar.
3). Tingkat keberhasilan pengajaran membaca
pemahaman wacana argumentasi pada siswa di
kelas eksperimen IX C, berhasil dengan baik. Hal
ini terbukti adanya perbedaan nilai antara
sebeium diberi perlakuan dengan seielah diberi
perlakuan dengan mcriggunakap. rnetode kerja
kelompok dan teknik 'sequencing’. Untuk
membuktikannya adalah bahwa t uji sebesar
3,680 dan t tabel sebesar 2, 021 pada taraf
signiflkansi 0,05, maka t uji lebih besar
dibandingkan dengan t tabel. dalam pengajaran
membaca pemahaman wacana argumentasi yang
menggunakan teknik 'sequencing',lebih sedikit,
dalam waktu kurang dari lima belas menit semua
siswa dapat menyelesaikan soal tes objektif. Hal
ini menggambarkan keberhasilan siswa dalam
proses belajar mengajar.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,
S. (1986 ). Dasar-dasar Evaluasi
Pendidikan. Jakarta : Bina Aksara.
Arikunto. S. (1993). Prosedur Peneiitian. Jakarta :
Rineka Cipta Baradja, M.F (1990 ) . Kapita
Selekta Penqajaran Bahasa. Malang : IKIP
Malang.
Burns. (1994). Introduction To Research Methods.
Melbourne : Longmen Dahlan, M.D.
(1990). Model-model Mengajar. Bandung :
Diponogoro
Depdikbud.
(1993
).
Kurikulum SLIP GBPP Mata Pelajaran
Bahasa
Indonesia. Jakarta : Depdikbud. Halim, A. (1982).
Uiian Bahasa. Jakarta : Nurwirabhakti.
Hidayat,
K.
(1990).
Perencanaan
Pengajaran Bahasa Indonesia.Bandung:
Bina Cipta
Karsana, A . (1985 ). Materi Pokok Menulis ( modul
UT). Jakarta : Karunik Keraf, G. (1989 ).
Komposisi. Jakarta : Nusa Indah.
Kridalaksana. (1984). Kamus Linguistik . edisi
kedua. Jakarta : Gramedia. Kordinator,
BBJJ. ( 1996 ). Latihan Intensif EBTANAS
SLIP. Yogyakarta :Gema Exacta.
Misdan, U. (1986 ) Strategi Belajar Menqaiar Bahasa
Indonesia . Bandung: Bina Cipta. "
Misdan U. (1986) Telaah Buku Teks dan Kurikulum
( modul UT) .Jakarta : Karunika.
Mukayat. ( 1985 ) . Penulisan Karangan llmiah.
Yogyakarta : Akademi Pressido.
Nasution. (19986). Asas-asas Kurikulum. Bandung :
Jemmars.
Nurhadi. (1987). Membaca Cepat dan Efektif.
Bandung : Sinar Baru. Nurhadi. ( 1989 ) .
Bagaimana Menihgkatkan Kemampuan
Membaca. Bandung dan Malang : Sinar
baru dan YA3.
Nurhadi. (1987). Membaca Cepat dan Efektif.
Bandung : Sinar Baru. Nurhadi. (1989) .
Bagaimana Meningkatkan Kemampuan
Membaca. Bandung dan Maiang : Sinar
baru dan YA3.
Oemar, H. (1986). Strategi Belajar mengajar.
Bandung :
Martiana. Poerwadarminta, W.J.S. , ( 1987 ) . Kamus
Umum Bahasa Indonesia .Jakarta : Balai
Pustaka.
Rusyana, Y. (1986 ). Materi Pokok Keterampiian
Menulis ( modul UT ).
Jakarta : Karunika. Slamet, A. (1988). Membaca
Untuk Guru. Bandung
: Depdikbud
Direktorat Menengah Umum
Surakhmad, W. (1990). Pengantar Penelitian llmiah.
Bandung : Tarsito. Sutrisno, H. (1986 ).
Metodologi Research. Jilid 1. Yogyakarta :
Universitas Gajah Mada.
Sutrisno H. (1986) Metodologi Research. Jilid 4.
Yogyakarta : Universitas Gajah Mada.
Syukur, G, A. (1987). Kapita Selekta Kalian Bahasa.
Bandung : Tarsito.
Sujana. (1986 ) Metoda Statistika edisi ke empat.
Bandung : Tarsito.
Syamsiddin, A.R (1989). Studi Wacana Teori
Analisis Pengajaran,
(Diktat) FPBS IKIP Bandung. Tampubolon. ( 1987 ).
Teknik Membaca Efektif dan Efesien.
Bandung :Angkasa
Download