1 AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK BUAH PARE BELUT

advertisement
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK BUAH PARE BELUT
(Trichosanthes anguina L.)
Disusun oleh:
A. RIZAL PERMANA
M0304017
SKRIPSI
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi
sebagian persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Sains Kimia
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009
1
2
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini dibimbing oleh :
Pembimbing I
Pembimbing II
Venty Suryanti, M. Phil.
NIP. 19720817 199702 2001
Ahmad Ainurofiq, MSi., Apt.
NIP. 19550120 198203 2001
Dipertahankan di depan TIM Penguji Skripsi pada :
Hari
: Senin
Tanggal : 6 Juli 2009
Anggota TIM Penguji :
1. Dr. rer. nat. Fajar R. Wibowo, M. Si.
NIP. 19730605 200003 1001
1. ………………………………
2. Nestri Handayani, M. Si., Apt.
NIP.
2. ………………………………
Disahkan oleh
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Ketua Jurusan Kimia,
Drs. Sentot Budi Rahardjo, Ph.D.
NIP. 19560507 198601 1001
ii
3
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi saya yang berjudul
“AKTIVITAS EKSTRAK BUAH PARE BELUT (Trichosanthes anguina L.)"
adalah benar-benar hasil penelitian sendiri dan tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat kerja atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam
naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Surakarta, 06 Agustus 2009
A. RIZAL PERMANA
iii
4
ABSTRAK
A. Rizal Permana. 2009. AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK BUAH
PARE BELUT (Trichosanthes anguina L). Skripsi. Jurusan Kimia. Fakultas
MIPA. Universitas Sebelas Maret.
Telah dilakukan penelitian aktivitas antibakteri ekstrak buah pare belut
(Trichosantes anguina L.) terhadap beberapa bakteri patogen. Pembuatan ekstrak
dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol, kemudian dilanjutkan
dengan ekstraksi menggunakan pelarut organik dengan tingkat kepolaran yang
semakin meningkat yaitu heksana, kloroform, etil asetat, dan butanol. Uji aktivitas
antibakteri ekstrak-ekstrak dilakukan dengan metode difusi. Analisis komponen
kimia ekstrak aktif antibakteri dilakukan dengan penapisan fitokimia. Ekstrak
yang mempunyai aktivitas antibakteri tertinggi ditentukan komponen kimianya
dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Selanjutnya ditentukan Konsentrasi
Hambat Minimum (KHM) dan uji banding terhadap standar ampisilin.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol, kloroform dan etil
asetat buah pare belut mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli,
Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa, tetapi
tidak terhadap Salmonella typhii, Shigella dysentriae, dan Enterobacter
aerogenes. Ekstrak heksana mempunyai aktivitas antibakteri terhadap E. coli dan
B. subtilis, sedangkan ekstrak butanol mempunyai aktivitas antibakteri terhadap E.
coli, B. subtilis dan P. aeruginosa. Ekstrak kloroform mempunyai aktivitas
antibakteri tertinggi terhadap S. aureus dan P. aeruginosa. Hasil penapisan
fitokimia menunjukkan ekstrak-ekstrak aktif mengandung golongan senyawa
alkaloid, tanin, fenolat, flavonoid, dan terpenoid. KLT terhadap ekstrak kloroform
menunjukkan adanya golongan alkaloid, tanin, fenolat, flavonoid, dan terpenoid.
KHM ekstrak kloroform terhadap S. aureus adalah 0,0025 mg/µL dan terhadap P.
aeruginosa sebasar 0,00125 mg/µL. Uji banding ekstrak kloroform terhadap
standar ampisilin menunjukkan bahwa pada konsentrasi 0,01 mg/µL ekstrak setara
dengan 2,789.10-6mg/µL standar ampisilin untuk S. aureus dan 2,958.10-5mg/µL
standar ampisilin untuk P. aeruginosa.
Kata Kunci : Trichosanthes anguina L., antibakteri, penapisan fitokimia,
Kromatografi Lapis Tipis, Konsentrasi Hambat Minimum.
iv
5
ABSTRACT
A. Rizal Permana. 2009. ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF SNAKE GOURD
(Trichosanthes anguina L.) FRUIT EXTRACT. Thesis. Department of Chemistry.
Mathematics and Natural Sciences Faculty. Sebelas Maret University.
The research of antibacterial activity of snake gourd (Trichosanthes
anguina L.) extract against pathogenic bacteria have been done. The extracts of
snake gourd were prepared by maceration using methanol and then continued
using organic solvent with increasing polarity; hexane, chloroform, ethyl acetate,
and buthanol, respectively. The antibacterial activity of extracts were determined
using diffusion method. Compound analysis of active antibacterial extract was
conducted by phytochemical screening. The composition of the highest active
extract was investigated using Thin Layer Chromatography, then the minimum
inhibitory concentration (MIC) and equivalent value were evaluated. The
equivalent value was compared to ampisilin.
The result of this research showed that methanol, chloroform and ethyl
acetate extracts of snake gourd had antibacterial activity against Escherichia coli,
Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus and Pseudomonas aeruginosa, but did
not inhibit Salmonella typhii, Shigella dysentriae, and Enterobacter aerogenes.
Hexane extract gave an inhibition against E. coli and B. subtilis whereas buthanol
extract had antibacterial activity against E. coli, B. subtilis and P. aeruginosa.
Chloroform extract had the highest antibacterial activity against S. aureus and P.
aeruginosa. The phytochemical screenings analysis showed that active extracts
contained alkaloids, tannins, phenolics, flavonoids, and terpenoids compounds.
TLC of chloroform extract showed the presence of alkaloids, saponins, tannins,
phenolics, flavonoids, and terpenoids. MIC of chloroform extract against S.
aureus and P. aeruginosa were 0,0025 mg/µL and 0,00125 mg/µL, respectively.
Activity of 0,01 mg/µL chloroform extract compared to ampisilin standard was
equal to 2,789.10-6mg/µL and 2,958.10-5mg/µL ampisilin for S. aureus and P.
aeruginosa, respectively.
Key word : Trichosanthes anguina L., antibacterial, pyhtochemical screening
Thin Layer Chromatography, Minimum Inhibitory Consentration.
.
v
6
MOTTO
“ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila
kamu telah selesai dari satu urusan, kerjakanlah dengan sungguhsungguh urusan yang lain.”
(QS. Alam Naysrah : 6-7)
Serendah-rendah ilmu adalah yang berhenti di lidah, dan yang paling
tinggi adalah yang tampak di anggota-anggota badan.
(‘Ali bin Abi Thalib)
Bila kau menginginkan pengetahuan sebagaimana kau menginginkan
udara, kau akan mendapatkannya.
(Socrates)
vi
7
PERSEMBAHAN
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT sehingga aku dapat
menyelesaikan karya kecil ini.
Karya kecil ini kupersembahkan untuk :
Orang tuaku terutama ibuku tercinta yang
selalu menyayangiku, selalu sabar, dan selalu
ada untukku
Seluruh keluargaku yang selalu member I
perhatian dan semangat
My little marve, Ria yang selalu memotivasi
dan selalu disampingku
Teman-teman seperjuangan : V3, Retno,
Tika, Rikha, Pakde, Tw, Indah, Maya, Astri
W, Sri, Desi
Teman-teman Sak-sak’e dan Referensi Crew
Teman-teman angk. ’04,’05,’06,’07,’08
semua
vii
8
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada ALLAH SWT atas segala limpahan anugerah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul ’’Aktivitas
Antibakteri Ekstrak Buah Pare Belut (Trichosanthes anguina L.)’’.
Dalam penyusunan skripsi ini banyak sekali bantuan, bimbingan, dan
pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima
kasih kepada:
1. Bapak Drs. Sentot Budi Rahardjo, Ph.D, Ketua Jurusan Kimia Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.
2. Ibu Venty Suryanti, M.Phil, selaku dosen pembimbing I atas bantuan,
arahan dan kesabarannya membimbing selama melakukan penelitian dan
penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Ahmad Ainurofiq, M.Si., Apt., selaku pembimbing II atas bimbingan
dan pengarahan dalam penyusunan skripsi.
4. Bapak Drs. Moedjijono, Ph.D., selaku pembimbing akademik yang selalu
memberikan nasehat.
5. Para laboran di Laboratorium Kimia FMIPA dan Sub Laboratorium Biologi
atas bantuan dan kerjasama yang baik.
6. Semua pihak yang telah membantu, yang tidak bisa penulis sebutkan satupersatu.
Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini.
Oleh
karena
itu,
penulis
mengharapkan
kritik
dan
saran
untuk
menyempurnakannya. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat
bagi pembaca.
Surakarta,24 Juli 2009
A. RIZAL PERMANA
viii
9
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ....................................................................................
i
HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................
ii
HALAMAN PERNYATAAN .....................................................................
iii
ABSTRAK ....................................................................................................
iv
ABSTRACT .................................................................................................
v
MOTTO .......................................................................................................
vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................
vii
KATA PENGANTAR .................................................................................
viii
DAFTAR ISI ................................................................................................
ix
DAFTAR TABEL ........................................................................................
xii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................
xiii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................
xiv
BAB I. PENDAHULUAN ...........................................................................
1
A. Latar Belakang Masalah....................................................................
1
B. Perumusan Masalah ..........................................................................
2
1. Identifikasi Masalah ................................................................
2
2. Batasan Masalah .....................................................................
3
3. Rumusan masalah ...................................................................
4
C. Tujuan Penelitian .............................................................................
4
D. Manfaat Penelitian ...........................................................................
5
BAB II. LANDASAN TEORI ......................................................................
5
A. Tinjauan Pustaka ..............................................................................
5
1. Pare Belut (Trichosanthes anguina L.) ...................................
5
a. Klasifikasi Tanaman ............................................................
6
b. Deskripsi Tanaman ..............................................................
7
c. Manfaat dan Kandungan Tanaman ......................................
8
2. Bakteri dan Klasifikasi Bakteri Uji .........................................
8
3. Antibakteri ..............................................................................
16
4. Ampisilin dan Senyawa-senyawa Antibakteri ........................
18
ix
10
a. Obat Antibakteri Ampisilin .................................................
18
b. Senyawa-Senyawa Antibakteri......................................... ...
19
5. Metode Pengujian Aktivitas Antibakteri .................................
26
1. Metode Difusi ........................................................................
27
a. Metode Silinder ...................................................................
27
b. Metode Lubang (Perforasi) .................................................
27
c. Metode Cakram Kertas ........................................................
27
2. Metode Dilusi.........................................................................
27
a. Metode Pengenceran Tabung...............................................
27
b. Metode Pengenceran Agar...................................................
28
6. Penapisan Fitokimia.................................................................
28
7. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) .............................................
28
8. Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Uji Banding ......
30
B. Kerangka Pemikiran .........................................................................
31
C. Hipotesis ...........................................................................................
32
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ...................................................
33
A. Metode Penelitian ............................................................................
33
B. Tempat dan Waktu Penelitian ..........................................................
33
C. Alat dan Bahan .................................................................................
33
1. Alat- alat yang digunakan .......................................................
33
2. Bahan-bahan yang digunakan ..................................................
34
D. Prosedur Penelitian ..........................................................................
35
1. Identifikasi dan Preparasi Sampel ...........................................
35
2. Ekstraksi Maserasi Serbuk Simplisia dengan Pelarut Metanol
35
3. Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol ..................
35
4. Ekstraksi Bertingkat terhadap Ekstrak Metanol ......................
36
5. Pengujian Aktivitas Antibakteri terhadap Ekstrak-ekstrak Hasil
Ekstraksi Bertingkat .................................................................
37
6. Pengujian Golongan Senyawa yang Bersifat Antibakteri ........
37
7. Penetapan KHM dan Nilai Banding.........................................
39
E. Teknik Analisa dan Pengumpulan Data ...........................................
40
x
11
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................
41
A. Identifikasi Sampel ..........................................................................
41
B. Persiapan dan Ekstraksi Sampel ......................................................
41
C. Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol ...........................
41
D. Ekstraksi Bertingkat Ekstrak Metanol .............................................
45
E. Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak-Ekstrak Hasil Ekstraksi
Bertingkat .........................................................................................
46
F. Pengujian Golongan Senyawa Aktif Antibakteri ............................
48
G. Penetapan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) .........................
52
H. Penetapan Nilai Banding Ekstrak Kloroform ..................................
55
BAB V. PENUTUP ......................................................................................
58
A. Kesimpulan ......................................................................................
58
B. Saran ................................................................................................
58
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................
59
LAMPIRAN LAMPIRAN ...........................................................................
65
xi
12
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Perbedaan Bakteri Gram Positif dan Negatif ...............................
10
Tabel 2. Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak metanol pare belut
(Trichosanthes anguina L.) terhadap 7 bakteri uji .......................
42
Tabel 3. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol terhadap 5
Bakteri Uji ....................................................................................
44
Tabel 4. Hasil Ekstraksi Bertingkat Ekstrak Metanol Pare Belut (Trichosanthes
anguina L.) ...................................................................................
45
Tabel 5. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak metanol dan ekstrak-ekstrak hasil
ekstraksi bertingkat ekstrak metanol terhadap 4 bakteri uji..........
46
Tabel 6. Hasil Pengujian Golongan Senyawa Kimia Ekstrak Buah Pare Belut
(Trichosanthes anguina L.)............................................................
49
Tabel 7. Hasil Uji Penegasan Golongan Senyawa Ekstrak Kloroform dengan
KLT...................................................................................
51
Tabel 8. Hasil Pengujian Penetapan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)
Ampisilin terhadap 4 Bakteri Uji .................................................
53
Tabel 9. Hasil Pengujian Penetapan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)
Ekstrak Kloroform terhadap 4 Bakteri Uji .............................
54
Tabel 10. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kloroform Konsentrasi
0,01 mg/µL terhadap 4 Bakteri Uji .......................................
58
Tabel 11. Hasil Penetapan Nilai Banding Ekstrak Kloroform Untuk Keempat
Bakteri Uji terhadap Ampisilin.............................................
xii
57
13
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Tanaman Pare Belut (Tricosanthes anguina L.) ........................
7
Gambar 2. Anatomi Umum dari Bakteri.......................................................
9
Gambar 3. Ikatan Kovalen antara Ampisilin dengan Enzim Transpeptidase
19
Gambar 4. Senyawa-Senyawa Golongan Tanin ...........................................
20
Gambar 5. Senyawa-senyawa golongan flavonoid ......................................
21
Gambar 6. Senyawa Steroid-Sapogenin........................................................
23
Gambar 7. Senyawa-Senyawa Terpenoid yang Bersifat Antibakteri ...........
24
Gambar 8. Golongan Senyawa Alkaloid…………………………………...
25
Gambar 9. Senyawa-Senyawa Alkaloid yang Bersifat Antibakteri ..............
25
Gambar 10. Senyawa-Senyawa Golongan Fenol.........................................
26
Gambar 11. Reaksi Uji Terpenoid dengan vanillin – H2SO4 .......................
29
Gambar 12. Reaksi Uji KLT Flavonoid dengan AlCl3 ...............................
30
xiii
14
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Diagram Alir Prosedur Penelitian………………………..…… 65
Lampiran 2. Hasil Determinasi Buah Pare Belut .......................................
Lampiran 3. Perhitungan
Rendemen
Ekstrak
Metanol
dan
67
Konversi
Konsentrasi Sampel .............................................................
68
Lampiran 4. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol terhadap 7
Bakteri ..................................................................................
70
Lampiran 5. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol terhadap 5
Bakteri ...................................................................................
72
Lampiran 6. Analisa One Way ANOVA Pengaruh Variasi Bakteri Pada
Masing-Masing Berat Sampel Ekstrak Metanol ..................
Lampiran 7. Analisa One Way ANOVA Pengaruh Variasi Berat
74
Sampel
Ekstrak Metanol Pada Masing-Masing Bakteri.....................
79
Lampiran 8. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak-Ekstrak Hasil
Ekstraksi Bertingkat ..............................................................
83
Lampiran 9. Analisa One Way-ANOVA Pengaruh Variasi Ekstrak pada
Masing-Masing Bakteri pada Uji Aktivitas Antibakteri EkstrakEkstrak Hasil Ekstraksi Bertingkat........................................
84
Lampiran 10. Tabel Hasil KLT Ekstrak Kloroform Pare Belut....................
89
Lampiran 11. Gambar Hasil KLT Ekstrak Kloroform Pare Belut................
90
Lampiran 12. Penentuan KHM Ampisilin ...................................................
91
Lampiran 13. Analisa One Way ANOVA Pengaruh Variasi Konsentrasi
Ampisilin pada Masing-Masing Bakteri pada Uji Aktivitas
Antibakteri Ampisilin .........................................................
92
Lampiran 14. Analisa One Way ANOVA Pengaruh Variasi Bakteri Ampisilin
pada Masing-Masing Konsentrasi pada Uji Aktivitas Antibakteri
Ampisilin ...............................................................................
98
Lampiran 15. Hasil Pengujian Penetapan KHM Ekstrak Kloroform........... 105
xiv
15
Lampiran 16 Analisa One Way ANOVA Pengaruh Variasi Bakteri pada
Masing-Masing Konsentrasi ekstrak
pada Penentuan KHM
Ekstrak Kloroform .................................................................. 107
Lampiran 17. Analisa One Way ANOVA Pengaruh Variasi Konsentrasi ekstrak
pada Masing-Masing Bakteri pada Penentuan KHM
Ekstrak
Kloroform .............................................................................. 110
Lampiran 18. Hasil Pengujian Penentuan Nilai Banding Ekstrak Kloroform
terhadap Ampisilin ................................................................ 113
Lampiran 19. Perhitungan Nilai Banding .................................................... 115
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan yang sangat penting dan
merupakan salah satu penyebab utama penyakit dan kematian pada manusia.
Penyakit infeksi ini disebabkan oleh mikroorganisme salah satunya adalah bakteri
patogen. Selama beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan timbulnya penyakit
infeksi yang disebabkan oleh bakteri seiring dengan bertambahnya populasi
manusia (Swamy and Jayaveera, 2007). Pengobatan terhadap penyakit infeksi
biasanya digunakan antibiotik dan telah banyak dikembangkan. Namun kadang –
kadang antibiotik memberikan efek samping terhadap tubuh yang tidak diinginkan
serta terdapat infeksi yang tidak biasa yang tidak dapat diobati dengan antibiotik,
dimana ini merupakan masalah yang serius. Situasi ini mendorong para ilmuwan
untuk mengembangkan senyawa antibakteri baru yang berasal dari tumbuhan
(Aliero, 2008).
Tumbuhan menghasilkan banyak senyawa untuk pertahanan diri melawan
infeksi mikroba (Oyetayo, 2007). Senyawa – senyawa yang dihasilkan tumbuhan
antara lain adalah senyawa metabolit sekunder dimana banyak senyawa ini yang
bersifat sebagai antibakteri antara lain fenol dan fenolat (Pelczar and Chan, 1988),
terpenoid (Daisy, 2008), flavonoid (Pilewski, 2004), saponin, alkaloid, tanin,
poliasetilen, poliamina, isotiosianat, tiosulfinat, dan glukosida (Cowan, 1999).
Suku Cucurbitaceae merupakan salah satu suku tumbuhan yang telah
banyak diteliti sebagai antibakteri. Penelitian Swamy dan Jayaveera (2007)
menunjukkan ekstrak buah Momordica cymbalaria mempunyai efek antibakteri
terhadap 8 bakteri uji patogen. Ekstrak daun dan batang dari Coccinia grandis L.
mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri Shigella bodii dan Pseudomonas
aeruginosa (Farukh et. al., 2008). Selain itu ekstrak buah Lagenaria breviflora
juga telah diteliti dan menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap 7 bakteri uji
(Saba, 2007). Berdasarkan penelitian-penelitian diatas dapat dikatakan suku
Cucurbitaceae memiliki potensi sebagai tanaman obat yaitu sebagai suatu
1
2
antibakteri.
Pare belut (Trichosanthes anguina L.) merupakan salah satu spesies
Cucurbitaceae yang telah dikenal masyarakat dimana selain digunakan sebagai
sayuran, juga mempunyai manfaat pengobatan. Pare belut dapat berfungsi sebagai
vermifuge (agen yang memaksa agar cacing atau parasit usus keluar), purgative
(obat pencahar, khususnya yang merangsang gerakan peristaltik usus), apertif
(merangsang nafsu makan), emetic (menimbulkan muntah), pengobatan penyakit
tumor, dan bilious (rasa mual, rasa tidak enak perut, nyeri kepala yang disebabkan
sekresi empedu yang berlebihan) (Duke, 2004). Pare belut juga dapat digunakan
untuk pengobatan penyakit sifilis yang disebabkan oleh bakteri. Selain itu
tanaman ini juga dapat berfungsi sebagai hemagglutinant (penggumpal eritrosit)
untuk mengobati penyakit hemolisis yaitu pecahnya membran eritrosit yang
disebabkan oleh bakteri S. aureus. Penelitian Kristinawati (2004) menunjukkan
pare belut mengandung senyawa-senyawa metabolisme sekunder yaitu alkaloid,
tanin, polifenol, saponin, kardenolin/bufadienol dan flavonoid. Beberapa senyawa
dari golongan-golongan senyawa alkaloid, tanin, polifenol, saponin dan flavonoid
secara teori telah dibuktikan dapat menghambat pertumbuhan bakteri, maka
dimungkinkan pare belut mempunyai aktivitas antibakteri.
Pemanfaatan pare belut sebagai tanaman obat belum dilakukan penelitian
secara ilmiah. Maka perlu dilakukan pengujian secara ilmiah senyawa aktif yang
terkandung di dalam pare belut sebagai senyawa antibakteri. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kemungkinan aktivitas antibakteri dari ekstrak dan
golongan senyawa yang terdapat pada buah pare belut. Sehingga golongan
senyawa yang terdapat pada pare belut dapat dibuktikan secara ilmiah sebagai
senyawa antibakteri.
B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Dalam penelitian uji aktivitas antibakteri pada buah pare belut terdapat
beberapa masalah antara lain:
3
1. Isolasi senyawa buah pare belut dapat dilakukan dengan ekstraksi maserasi,
perkolasi, soxhletasi, ekstraksi cair-cair dan destilasi. Pelarut yang
digunakan untuk isolasi perlu diperhatikan sebagai contoh senyawa yang
kurang polar dapat diisolasi dengan menggunakan pelarut heksana,
petroleum eter, benzena dan toluen dan senyawa yang lebih polar dapat
diperoleh dengan pelarut etil asetat, butanol, metanol dan air. Hasil isolasi
dengan pelarut yang berbeda akan menghasilkan ekstrak dengan senyawa
yang berbeda sehingga akan mempengaruhi aktivitas antibakteri dari
ekstrak. Dari hal di atas perlu diperhatikan cara isolasi senyawa buah pare
belut dengan pelarut yang tepat. Senyawa-senyawa antibakteri biasanya
dapat diisolasi dengan pelarut organik polar yaitu metanol atau etanol.
2. Pengujian antibakteri dari suatu senyawa dapat dilakukan dengan metode
difusi (silinder, lubang/perforasi, dan cakram kertas) dan metode dilusi
(pengenceran tabung dan pengenceran agar).
3. Bakteri patogen yang digunakan untuk uji antibakteri dapat digolongkan
menjadi dua jenis yaitu gram positif dan gram negatif.
4. Identifikasi golongan senyawa kimia dalam bahan alam dapat dilakukan
golongan dengan cara kromatografi dan penapisan fitokimia. Golongangolongan senyawa kimia yang dapat diidentifikasi dengan cara penapisan
fitokimia meliputi saponin, fenolat, flavonoid, terpenoid, tanin, alkaloid,
glikosida, asam-asam organik, lemak, karbohidrat, dan asam amino.
2. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka masalah dalam penelitian
ini dibatasi pada :
1. Isolasi kandungan kimia dalam pare belut dilakukan dengan cara ekstraksi
maserasi menggunakan pelarut metanol kemudian dilanjutkan dengan
ekstraksi bertingkat menggunakan pelarut n-heksana, kloroform, etil
asetat, dan butanol.
4
2. Pengujian antibakteri dilakukan dengan metode difusi yaitu lubang
(perforasi).
3. Bakteri yang digunakan untuk pengujian aktivitas antibakteri adalah
Escherichia coli, Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Pseudomonas
aeruginosa, Salmonella typhii, Shigella dysentriae, dan Enterobacter
aerogenes.
4. Identifikasi golongan senyawa kimia dilakukan dengan penapisan
fitokimia meliputi saponin, fenolat, flavonoid, terpenoid, tanin dan
alkaloid dilanjutkan penegasan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
terhadap ekstrak yang mempunyai aktivitas antibakteri tertinggi.
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah diatas, maka perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah ekstrak metanol dan ekstrak hasil ekstraksi bertingkat buah pare
belut mempunyai aktivitas antibakteri ?
2. Golongan senyawa kimia apa sajakah yang terkandung dalam ekstrak
metanol dan ekstrak-ekstrak hasil ekstraksi bertingkat buah pare belut
yang berkhasiat sebagai antibakteri ?
3. Bagaimanakah potensi ekstrak buah pare belut yang mempunyai aktivitas
antibakteri tertinggi dilihat dari konsentrasi hambat minimum dan nilai uji
bandingnya terhadap pembanding ampisilin ?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak metanol dan ekstrak hasil
ekstraksi bertingkat buah pare belut.
2. Mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung dalam ekstrak
metanol dan ekstrak-ekstrak hasil ekstraksi bertingkat buah pare belut
yang berkhasiat sebagai antibakteri.
5
3. Mengetahui potensi ekstrak buah pare belut yang mempunyai aktivitas
antibakteri tertinggi.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Segi praktis, memberikan informasi ilmiah untuk bidang farmasi dan dunia
kesehatan mengenai aktivitas antibakteri dalam ekstrak buah pare belut
berikut golongan senyawanya.
2. Segi teoritis, manfaat bagi ilmu pengetahuan, yaitu mengembangkan
analisis kualitatif golongan senyawa kimia yang terkandung dalam ekstrak
buah pare belut.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Pare Belut
Pare belut adalah suatu jenis tanaman setahun yang dikenal pula dengan
nama Trichosanthes anguina L. Jenis tanaman ini tersebar dari India sampai
Australia. Di Indonesia pare belut digunakan sebagai sayuran (Lembaga Biologi
Nasional-LIPI, 1980). Pare belut termasuk dalam famili Cucurbitaceae. Orang
sudah terbiasa memasukkannya dalam kelompok pare meskipun sebenarnya tidak
termasuk dalam Momordica sp, melainkan tergolong dalam jenis Trichosanthes
(Setiawan, 1995). Nama lain dari tanaman ini adalah Lindung/Paria belut
(Melayu),
Pare
welut
(Jawa),
dan
Patula
ulara
(Sulawesi)
(www.warintek.ristek.go.id/pangan_kesehatan/tanaman_obat).
Pare belut sesuai ditanam di dataran rendah tropis yang lembab.
Temperatur pertumbuhan optimum rata-rata 30-35oC. Penanaman biasanya
dilakukan pada permulaan musim penghujan (Durrance Rd, 1999). Tanaman Pare
belut dapat dilihat pada gambar 1.
a. Klasifikasi Tanaman
Menurut Tjitrosoepomo (1989), klasifikasi pare belut adalah sebagai
berikut:
Divisi
: Spermatophyta
Sub-divisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledonae
Ordo
: Cucurbitales
Famili
: Cucurbitaceae
Genus
: Trichosanthes
Spesies
: Trichosanthes anguina L. (sinonim: T. cucumerina L.)
6
7
Gambar 1. Tanaman Pare Belut (Tricosanthes anguina L.)
b. Deskripsi Tanaman
Pare belut tumbuh merambat dengan akar lekatnya yang panjang. Daunnya
berselingan, berbentuk jorong atau segitiga. Bunganya berkelamin satu berwarna
putih, bunga jantan dan bunga betina terdapat pada satu tanaman. Buah pare belut
berbentuk bulat dengan panjang 30-110 cm dan berdiameter 4-8 cm. Kulit
buahnya berwarna hijau tua, adakalanya bergaris keputihan dan halus. Rasa
daging buahnya tidak pahit.
Perbanyakan dilakukan dengan biji yang langsung disebar di lapangan
yang tanahnya cukup subur. Tidak memerlukan banyak pemeliharaan, kecuali
diperlukan rambatan yang cukup tinggi, atau dirambatkan ke pohon, supaya
buahnya tidak menyentuh tanah. Sementara buahnya tumbuh ujungnya diberati
batu kecil supaya buahnya lurus, tidak menggeliat atau terpuntir. Buahnya
biasanya dihasilkan 3-4 bulan setelah biji disebar, dan dipetik kira-kira 1 bulan
kemudian (Setiawan, 1995; Lembaga Biologi Nasional-LIPI, 1980).
c. Manfaat dan Kandungan Tanaman
Menurut Duke (2004), kegunaan pare belut diantaranya adalah sebagai
vermifuge (agen yang memaksa agar cacing atau parasit usus keluar), purgative
8
(obat pencahar, khususnya yang merangsang gerakan peristaltik usus), apertif
(merangsang nafsu makan), hemagglutinant (penggumpal eritrosit), emetic
(menimbulkan muntah), pengobatan penyakit sifilis,tumor, dan bilious (rasa mual,
rasa tidak enak perut, nyeri kepala yang disebabkan sekresi empedu yang
berlebihan). Selain itu akar dan batang pare belut berkhasiat sebagai pencuci luka
dan antiseptik (www.warintek.ristek.go.id/pangan_kesehatan/tanaman_obat).
Senyawa-senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada buah Pare belut
antara lain alkaloid, tanin,
polifenol, saponin, kardenolin/bufadienol dan
flavonoid (Kristinawati, 2004). Buah Pare belut juga mengandung protein 1,85 %,
serat 0,81 %, lemak 0,83 %, karbohidrat 3.48 % dan air 93,15 %. Vitamin yang
terkandung dalam buahnya adalah vitamin A (347 µg/100mL) dan C
(18,9mg/100mL), serta senyawa non nutrisi lainnya yaitu oksalat (0,58 %), fitat
(0,11%) dan tanin (0,02%) (Ojiako and Igwe, 2008).
2. Bakteri dan Klasifikasi Bakteri Uji
Bakteri merupakan mikrobia prokariotik uniselular,
termasuk klas
Schizomycetes, berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan sel.
Bakteri tidak berklorofil kecuali beberapa yang bersifat fotosintetik. Cara hidup
bakteri ada yang dapat hidup bebas, parasitik, saprofitik, patogen pada
manusia, hewan dan tumbuhan. Habitatnya tersebar luas di alam, dalam
tanah, atmosfer (sampai + 10 km diatas bumi), di dalam lumpur, dan di laut.
Bakteri mempunyai bentuk dasar bulat, batang, dan lengkung. Bentuk bakteri
juga dapat dipengaruhi oleh umur dan syarat pertumbuhan tertentu. Bakteri
dapat mengalami involusi, yaitu perubahan bentuk yang disebabkan faktor
makanan,
suhu, dan
lingkungan yang kurang menguntungkan bagi bakteri.
Selain itu dapat mengalami pleomorfi, yaitu bentuk yang bermacam-macam
dan
teratur
walaupun
ditumbuhkan pada syarat pertumbuhan yang sesuai.
Umumnya bakteri berukuran 0,5-10 µ (Sumarsih, 1993). Anatomi bakteri dapat
dilihat pada Gambar 2.
9
Gambar 2. Anatomi Umum dari Bakteri
Dikutip dari : Microsoft Encarta Reference Library Premium, 2005
Bakteri secara tradisional dibagi dalam dua golongan besar: patogen,
menunjuk pada bakteri penyebab penyakit, dan nonpatogen, menunjuk pada
mereka yang tidak menyebabkan penyakit. Patogen secara klasik diduga memiliki
sifat-sifat tertentu yang memperkuat kemampuan mereka menimbulkan penyakit
(Shulman, 1994). Suatu sifat taksonomi utama bakteri adalah reaksi pewarnaan
Gram. Bakteri dibagi menjadi dua golongan yaitu bakteri Gram positif dan bakteri
Gram negatif. Perbedaan kedua jenis bakteri ini ditunjukkan pada Tabel 1. Bakteri
Gram positif adalah bakteri yang tahan terhadap alkohol tetapi dapat mengikat
warna pertama (kristal violet) sehingga berwarna ungu, sedangkan bakteri Gram
negatif adalah bakteri yang tidak tahan terhadap alkohol sehingga warna petama
yang diberikan luntur dan akan mengikat warna kedua sehingga bakteri berwarna
merah (Jawetz, Melnick, et al., 1986).
10
Tabel 1. Perbedaan bakteri gram positif dan negatif.
Ciri
Perbedaan Relatif
Gram positif
Struktur dinding sel
Komposisi dinding sel
Gram negatif
Tebal (15 - 80 nm)
Tipis (10 - 15 nm)
Berlapis tunggal (mono)
Berlapis tiga (multi)
Kandungan lipid rendah
Kandungan lipid tinggi
(1- 4%)
(11 - 22%)
Peptidoglikan ada
Peptidoglikan ada di
sebagai lapisan tungal;
dalam lapisan kaku
komponen utama
sebelah dalam;
merupakan lebih dari
jumlahnya sedikit;
50% berat kering pada
merupakan sekitar 10%
beberapa sel bakteri.
berat kering
Memiliki asam tekoat
Tidak memiliki asam
tekoat
Kerentanan terhadap
Lebih rentan
Kurang rentan
penisilin
Pertumbuhan dihambat Pertumbuhan dihambat
Pertumbuhan tidak begitu
oleh
dengan nyata
dihambat
Relatif rumit pada banyak
Relatif sederhana
zat-zat
warna dasar, misalnya
ungu kristal
Persyaratan nutrisi
spesies
Resistensi terhadap
gangguan fisik
(Pelczar dan Chan, 1986)
Lebih resisten
Kurang resisten
11
Bakteri dan mikroorganisme lain menyesuaikan diri dengan lingkungan,
termasuk manusia dan binatang, dimana mereka secara normal bertempat tinggal
dan hidup. Dalam bekerja, bakteri meningkatkan kemampuannya untuk bertahan
dan meningkatkan kemungkinan penyebaran. Bagian didalam tubuh, dimana
bakteri harus menempel atau melekat pada sel inang biasanya adalah sel epitel.
Setelah bakteri mempunyai kedudukan yang tetap untuk menginfeksi, mereka
mulai memperbanyak diri dan menyebar secara langsung melalui jaringan atau
lewat sistem limfatik ke aliran darah. Infeksi ini dapat sementara atau menetap
(Jawetz, Melnick, et al., 2005).
Klasifikasi bakteri yang digunakan untuk uji adalah sebagai berikut.
1. Escherichia coli
Klasifikasi
Divisi
: Protophyta
Kelas
: Schizomycetes
Ordo
: Eubacteriales
Familia
: Enterobacteriaceae
Genus
: Escherichia
Spesies
: Escherichia coli
Sumber : Jawetz, Melnick, et al, (1986).
E. coli adalah bakteri Gram negatif yang berbentuk batang lurus dan
bergerak dengan peritrik atau tidak dapat bergerak. Mudah tumbuh pada
pembenihan sederhana, laktosa diragikan dari hampir semua spesies dari genus
ini, spesies ini ditemukan di dalam usus mamalia. Koloni berderet seperti rantai,
dapat memfermentasi glukosa dan laktosa menjadi asam dan gas, serta bersifat
aerob dan anaerob. Biakkan E. coli membentuk koloni bulat konveks halus dan
dengan pinggiran yang nyata (Jawetz et al., 1986).
Tempat yang paling sering terkena infeksi bakteri E. coli adalah saluran
kemih, saluran empedu dan tempat lain di rongga perut. Bakteri ini menghasilkan
enterotoksin penyebab diare. E. coli memproduksi enterotoksin yang tahan panas
yang dapat menyebabkan diare ringan, sedangkan enterotoksin yang tidak tahan
panas dapat menyebabkan sekresi air dan klorida ke dalam lumen usus dan
12
menghambat rabsorbsi Natrium. (Jawetz dkk, 2005).
2.Staphylococcus aureus
Klasifikasi
Divisi
: Protophyta
Kelas
: Schizomycetes
Ordo
: Eubacteriales
Familia
: Micococcaceae
Genus
: Staphylococcus
Spesies
: Staphylococcus aureus (Salle, 1961)
S. aureus termasuk bakteri Gram positif, berbentuk bulat, berdiameter 0.1
– 0.5 µm, satu-satu atau berpasangan, tidak bergerak, dinding sel mengandung dua
komponen utama, peptidaglikon dan asam-asam teikoat. Metabolisme aerob dan
anaerob biasanya peka terhadap panas terutama di permukaan kulit, kelenjar kulit
dan selaput lendir (Jawetz dkk, 1986).
S. aureus mudah tumbuh pada berbagai pembenihan atau metabolisme
yang aktif, meragikan banyak karbohidrat dengan lambat, menghasilkan asam
laktat tetapi tidak menghasilkan gas dan meragikan pigmen yang bervariasi dari
putih sampai kuning tua. Staphylococcus patogen sering menghemolisis darah
dan mengkoagulasi plasma, beberapa diantaranya tergolong flora normal kulit dan
selaput lendir manusia (Jawetz dkk, 1986).
3. Bacillus subtilis
Klasifikasi
Divisi
: Protophyta
Kelas
: Schizophyta
Orde
: Eubacteriales
Familia
: Bacillaceae
Genus
: Bacillus
Spesies
: Bacillus subtilis (Salle, 1961).
Genus bacillus termasuk batang besar, gram positif, aerob, yang
membentuk rantai. Umumnya bergerak, membentuk spora yang terletak ditengah
basil yang tidak bergerak dan tahan panas. Sel-sel khas berukuran 1 x 3,4 µ,
13
diameter sel 0,7-0,8 µ dengan panjang 2-3 µ, sedangkan sporanya berdiameter
0,6-0,9 µ dengan panjang 1-1,5 µ (Salle, 1961).
B. subtilis tidak begitu patogen terhadap manusia, bakteri ini dapat
mengkontaminasi makanan tetapi jarang menyebabkan keracunan makanan. B.
subtilis memproduksi enzim preteolitik Subtilin. Spora B. Subtilis, Spores dapat
bertahan dalam pemanasan tinggi yang digunakan dalam pemasakan makanan
(Anonim, 2007). Kebanyakan anggota genus ini adalah organisme saprofit yang
lazim terdapat dalam tanah, air, udara dan tumbuh-tumbuhan (seperti Bacillus
subtilis). Beberapa diantaranya patogen bagi insekta, yaitu dapat menyebabkan
infeksi saluran usus dan menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan keracunan
makanan (Jawetz et al., 1986).
4. Pseudomonas aeruginosa
Klasifikasi
Divisi
: Protophyta
Kelas
: Schizomycetes
Ordo
: Eubacteriales
Famili
: Pseudomonadaceae
Genus
: Pseudomonas
Spesies
: Pseudomonas aeruginosa (Salle, 1961).
Pseudomonas aeruginosa bergerak dan berbentuk batang, berukuran
sekitar 0,6x 2 µ. Bakteri ini gram negatif dan terlihat sebagai bakteri tunggal,
berpasangan, dan kadang-kadang membentuk rantai yang pendek, tidak
mempunyai spora, tidak mempunyai selubung serta mempunyai flagel monotrika
(flagel tunggal pada kutub) sehingga selalu bergerak (Mayasari, 2005). P.
aeruginosa tumbuh dengan baik pada suhu 37-42°C, pertumbuhannya pada suhu
42°C membantu membedakan spesies ini dari spesies Pseudomonas yang lain.
Bakteri ini oksidase positif dan tidak meragikan karbohidrat. Tetapi
banyak strain mengoksidasi glukosa. Pengenalan biasanya
berdasarkan
morfologi, sifat oksidase positif, adanya pigmen yang khas dan pertumbuhan pada
suhu
42°C. Untuk membedakan P. aeruginosa dari Pseudomonas yang lain
14
berdasarkan aktivitas biokimiawinya dibutuhkan berbagai substrat (Jawetz et al.,
1986).
P. aeruginosa
adalah patogen oportunistik, yaitu memanfaatkan
kerusakan pada mekanisme pertahanan inang untuk memulai suatu infeksi.
Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, infeksi saluran pernapasan,
dermatitis, infeksi jaringan lunak, bakteremia, infeksi tulang dan sendi, infeksi
saluran pencernaan, dan bermacam-macam infeksi sistemik, terutama pada
penderita luka bakar berat, kanker dan penderita AIDS yang mengalami
penurunan system imun (Mayasari, 2005). Penyakit yang serius yang ditimbulkan
adalah komplikasi cystic fibrosis merupakan infeksi saluran pernapasan. Kanker
dan luka bakar pada pasien sering di infeksi dengan serius oleh bakteri ini
(http://www.pseudomonas.com.jsp).
5. Salmonella thypii
Klasifikasi
Divisi
: Protophyta
Kelas
: Schizomycetes
Ordo
: Eubacteriales
Famili
: Enterobacteriaceae
Genus
: Salmonellae
Spesies
: Salmonella thypii (Salle, 1961).
Salmonella thypii merupakan basil gram negatif, berflagel, dan tidak
berspora dan sangat panjang. S. typhi memiliki 3 macam antigen yaitu antigen O
(somatik berupa kompleks polisakarida), antigen H (flagel), dan antigen Vi.
Serum penderita demam tifoid akan terbentuk antibodi terhadap ketiga macam
antigen tersebut. Penyakit yang disebabkan oleh S. typhi adalah demam tifoid,
Demam tifoid (tifus abdominalis, enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang
biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 7
hari, gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran
(Jawetz et al., 1986).
15
6. Shigella dysentriae
Klasifikasi
Divisi
: Protophyta
Kelas
: Schizomycetes
Ordo
: Eubacteriales
Famili
: Enterobacteriaceae
Genus
: Shigella
Spesies
: Shigella dysentriae (Salle, 1961).
Shigella merupakan batang gram-negatif yang tipis, bentuk coccobacilli
terjadi pada perbenihan muda. Koloni shigella cembung, bundar, transparan
dengan diameter sampai kira-kira 2 mm dalam 24 jam (Jawetz, Melnick, et al.,
2005).
Infeksi shigella hampir selalu terbatas pada sistem gastrointestinal,
penyebaran ke dalam aliran darah sangat jarang. Shigella dapat menular, dosis
menular adalah 10³ organisme (biasanya 105-108 untuk salmonellae dan vibrios).
Proses patologik yang penting adalah invasi sel epithelial mukosal (misalnya sel
M) yang didinduksi oleh fagositosis, lolos dari vakuola fagositik, pelipatgandaan
dan pengembangan dalam sel epithelial sitoplasma, dan melintas ke sel yang
berdekatan. Mikroabses di dinding terminal ileum dan intestine yang besar
mengarah pada nekrosis dari membran mukous, ulserasi superfisial, pendarahan,
dan pembentukan pseudomembran di area ulserasi. Hal ini terdiri dari fibrin,
leukosit, sel debris, membran mukous nekrotik, dan bakteria. Saat proses penyakit
reda, jaringan granula akan mengganti borok dan terbentuk jaringan parut (Jawetz,
Melnick, et al., 2005).
7. Enterobacter aerogenes
Klasifikasi
Divisi
: Protophyta
Kelas
: Schizomycetes
Ordo
: Eubacteriales
Famili
: Enterobacteriaceae
Genus
: Entrobacter
16
Spesies
: Enterobacter aerogenes (Salle, 1961).
E. aerogenes biasanya motil, memperlihatkan pertumbuhan mukoid yang
sedikit, mempunyai kapsul kecil, terdapat pada lingkungan luar dan saluran
pencernakan. E. aerogenes merupakan flora normal yang terdapat dalam usus
(Jawetz, Melnick, et al., 2005). tetapi keberadaannya diluar saluran pencernaan
akan menyebabkan beberapa penyakit
antara lain infeksi saluran kemih dan
merupakan penyebab infeksi saluran kemih (Jawetz et al., 1986).
3.Antibakteri
Antibakteri adalah zat yang membunuh atau menekan pertumbuhan atau
reproduksi bakteri (Dorland, 2002). Suatu zat antibakteri yang ideal
harus
memiliki sifat toksisitas selektif, artinya bahwa suatu obat berbahaya terhadap
parasit tetapi tidak membahayakan tuan rumah (Hopses). Zat antibakteri dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan
bakteri
(bakteriostatik)
dan
antibakteri
yang
dapat
membunuh
bakteri
(bakteriosid).
Berdasarkan daya menghambat atau membunuhnya, antibakteri dibedakan
menjadi dua kelompok, yaitu berspektrum sempit (narrow spectrum) dan
berspektrum luas (broad spectrum). Antibakteri yang berspektrum sempit yaitu
antibakteri yang hanya dapat bekerja terhadap bakteri tertentu saja, misalnya
hanya terhadap bakteri gram positif saja atau gram negatif saja. Antibakteri yang
berspektrum luas dapat bekerja baik pada bakteri gram negatif maupun bakteri
gram positif.
Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibakteri dapat dibagi menjadi
empat cara, yaitu :
a. Penghambatan terhadap sintesis dinding sel.
Bakteri mempunyai lapisan luar yang kaku yaitu dinding sel, yang
mengelilingi
secara
lengkap
sitoplasma
membran
sel.
Dinding
ini
mempertahankan bentuk mikroorganisme dan pelindung sel bakteri dari
perbedaan tekanan osmotik didalam dan diluar sel yang tinggi. Dinding sel
bakteri terdiri dari peptidoglikan dan komponen yang lain. Sel yang aktif
secara
konstan
akan
mensintesis
peptidoglikan
yang
baru
dan
17
menempatkannya pada posisi yang tepat pada amplop sel. Antibakteri bereaksi
dengan satu atau banyak enzim yang dibutuhkan pada proses sintesis,
sehingga akan menyebabkan pembentukan dinding sel yang lemah dan akan
menyebabkan pemecahan osmotik, sehingga bakteri akan mati.
b. Penghambatan terhadap fungsi membran sel.
Sitoplasma semua sel hidup dibatasi oleh membran sitoplasma yang
berperan sebagai barrier permeabilitas selektif membawa fungsi transpor aktif
dan kemudian mengontrol komposisi internal sel. Antibakteri akan berikatan
dengan membran fospolipid yang menyebabkan pemecahan protein dan basa
nitrogen sehingga membran bakteri akan pecah yang menyebabkan kematian
bakteri.
c. Penghambatan terhadap sintesis protein (penghambatan translasi dan
transkripsi material genetik).
Kebanyakan obat menghambat translasi atau sintesis protein, bereaksi
dengan ribosom-mRNA. Walaupun manusia mempunyai ribosom, tetapi
ribosom eukariotik berbeda dalam ukuran dan struktur dari prokariotik,
sehingga menyebabkan aksi yang selektif terhadap bakteri, bakteri mempunyai
70S ribosom, sedangkan sel mamalia mempunyai 80S ribosom. Subunit
masing-masing tipe ribosom, komposisi kimianya, dan spesifikasi fungsinya
berbeda, bisa untuk menerangkan mengapa antibakteri dapat menghambat
sintesis protein dalam ribosom bakteri tanpa berpengaruh pada ribosom
mamalia.
d. Penghambatan terhadap sintesis asam nukleat.
Pembentukan
DNA dan RNA bakteri merupakan perjalanan yang
panjang dan membutuhkan enzim di beberapa proses. Penghambatan proses
pembentukan dapat terjadi pada tempat-tempat tertentu. Antibakteri
menginteferensi sintesis asam nukleat dengan menghambat sintesis nukleitida,
menghambat replikasi, atau menghentikan transkripsi. Karena pembentukan
DNA dan RNA sangat penting dan berefek dalam metabolisme protein, obat
akan berikatan sangat kuat pada enzim DNA Dependent RNA Polymerase
bakteri. Jadi ini menghambat sintesis RNA bakteri (Jawetz, Melnick, et al,
18
2005).
4. Ampisilin dan Senyawa-Senyawa Antibakteri
a. Obat Antibakteri Ampisilin
Ampisilin adalah antibiotik dengan spektrum luas, digunakan untuk
pengobatan infeksi pada saluran napas yang disebabkan oleh bakteri P.
aeruginosa dan saluran seni yang disebabkan oleh bakteri P. aeruginosa dan
E. aerogenes. Ampisilin juga sering digunakan untuk pengobatan penyakit
meningitis yang disebabkan oleh bakteri B. subtilis dan infeksi karena S.
typhii., yaitu demam tipoid. Penyakit lain yang dapat diobati dengan ampisilin
adalah gonorrhea dan gastroenteritis. Ampisilin adalah turunan penisilin yang
tahan terhadap asam tetapi tidak tahan terhadap enzim penisilinase
(Siswandono dan Soekardjo, 2000). Ampisilin merupakan jenis antibakteri
bakteriostatik dimana cara kerjanya adalah menghambat pertumbuhan bakteri
dengan cara menghambat pembentukan dinding sel dari bakteri tersebut. Salah
satu contohnya pada bakteri S. aureus, ampisilin dapat menghambat dengan
baik susunan dinding sel bakteri tersebut (Tortora et.al., 1994).
Ampisilin dapat menghambat kerja enzim transpeptidase dengan cara
mengikat enzim melalui ikatan kovalen sehingga mencegah pembentukan
dinding sel bakteri. Pada tingkat molekul, mekanisme kerjanya ditunjukkan
oleh serangan nukleofil dari gugus hidroksil serin enzim transpeptidase pada
karbonil karbon cincin β-laktam yang bermuatan positif, sehingga terjadi
hambatan biosintesis peptidoglikan. Akibatnya dinding sel menjadi lemah dan
karena adanya tekanan turgor dari dalam, dinding sel akan pecah atau lisis
sehingga bakteri mati. Ampisilin dapat diinaktivasi dengan adanya enzim βlaktamase yang dihasilkan bakteri (Siswandono dan Soekardjo, 2000). Ikatan
kovalen antara ampisilin dengan enzim transpeptidase ditunjukkan pada
gambar 3.
19
H
C
NH2
S
CH3
CONH
CH3
C
H
C
NH2
S
CONH
N
O
CH3
CH3
O
C
HN
COOH
O
O
transpeptidase
COOH
transpeptidase
Gambar 3. Ikatan Kovalen antara Ampisilin dengan Enzim Transpeptidase
(Siswandono dan Soekardjo, 2000)
b. Senyawa-senyawa Antibakteri.
Senyawa-senyawa antibakteri dari tumbuhan antara lain tanin, fenolat,
flavonoid, alkaloid, saponin dan terpenoid.
1. Tanin.
Tanin merupakan penggambaran secara umum untuk golongan polimer
fenolat (Cowan, 1999), tanin merupakan bahan yang dapat merubah kulit
mentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuannya menyambung
silangkan protein (Harborne, 1996) dan mengendapkan gelatin dalam larutan
(Cowan, 1999). Berat molekulnya antara 500 sampai 28000 dan ditemukan
pada bagian tanaman kuncup, batang, daun, buah dan akar (Cowan, 1999).
Tanin dibagi menjadi 2 yaitu tanin terkondensasi dengan berat molekul
(1900-28000) tidak mempunyai pusat karbohidrat dan terbentuk dari
oligomer polihidroksi-flavan-3-ol dan polimer dihubungkan oleh ikatan
karbon antara subunit flavonol contohnya epigallocatechin (EGC),
epicatechin (EC), catechin. Tanin terhidrolisa mempunyai berat molekul
rendah (500-3000) dan merupakan poliester dari asam galat (gallotannins)
dan asam hexahidroksi-difenat (ellagitannins) dengan pusat polyol seperti
gula/glukosa dan fenilat seperti cathechin. contohnya (-)-epigallocatechin
gallate
(EGCg) dan (-)-epicatechin gallate (EGg) (Harborne, 1996 dan
Cowan, 1999). Contoh senyawa tanin dapat dilihat pada Gambar 4.
20
OH
OH
OH
OH
HO
HO
O
O
OH
OH
O
OH
OH
OH
C
OH
O
OH
(-) epigallocatechin (EGC)
(-) epicathechin gallate(ECg)
OH
OH
OH
OH
HO
O
HO
O
OH
OH
O
OH
OH
OH
C
OH
O
OH
(-) epicatechin (EC)
(-) epigallocatechin gallate (EGCg)
Gambar 4. Senyawa-Senyawa Golongan Tanin (Shimamura et al., 2007)
Tanin mempunyai aktivitas antibakteri melalui aksi molekulernya yaitu
dengan membentuk kompleks dengan protein melalui ikatan hidrogen dan
ikatan hidrofobik (Cowan, 1999). Sebagai contoh tanin dari daun teh
(Camellia sinesis), (-)-epigallocatechin gallate dan (-)-epicatechin gallate
mempunyai
aktivitas
antibakteri
terhadap
Multidrug-Resistent
Stapylococcus. Aureus (MRSA) karena senyawa tersebut berikatan dengan
kuat peptidoglikan dinding sel bakteri. Jika salah satu dari senyawa tersebut
digabung dengan antibiotik β -Laktam (pinisilin, ampisilin, metisilin)
mempunyai
efek
sinergik
yaitu
bersama-sama
berikatan
dengan
peptidogikan yang menyebabkan bakteri mati dan senyawa EGCg atau EGg
menghambat aktivitas enzim penisilinase yang merupakan enzim perusak
antibiotik β –Laktam sehingga melindungi antibiotik tersebut dalam bekerja
(Shimamura et al., 2007).
2. Flavonoid
Salah satu kelas yang banyak tersebar dari senyawa fenolat adalah
flavonoid. Golongan senyawa ini memberikan warna pada buah dan bunga
dan flavonoid telah banyak dikarakterisasi dan digolongkan berdasarkan
21
struktur kimianya (Pilewski, 2004). Flavonoid
adalah senyawa fenolat
terhidroksilasi (Cowan, 1999) dan merupakan senyawa C6-C3-C6 dimana C6
diganti dengan cincin benzen dan C3 adalah rantai alifatik yang terdiri dari
cincin piran. Flavonoid dibagi menjadi 7 tipe yaitu flavon, flavonol,
flavonon, khalkon, xanton, isoflavon dan biflavon (Pilewski, 2004). Contoh
golongan senyawa flavonoid dapat dilihat pada Gambar 5.
O
O
OH
O
O
flavon
O
flavonol
O
khalkon
O
O
OH
O
O
O
Isoflavon
flavanonol
flavanon
Gambar 5. Senyawa-senyawa golongan flavonoid (Achmad, 1986)
Banyak tanaman obat yang mengandung komponen flavonoid yang
digunakan untuk terapi penyakit sirkulasi, mengurangi tekanan darah dan
anti-alergi. Efek
farmakologi dari flavonoid yang berhubungan dengan
kemampuan flavonoid untuk bekerja sebagai antioksidan yang kuat dan
penangkap radikal bebas, membentuk khelat dengan logam dan berinteraksi
dengan enzim, reseptor adenosin dan biomembran (Pilewski, 2004).
Flavonoid disintesis oleh tanaman sebagai respon terhadap infeksi mikroba,
jadi secara in vitro flavonoid efektif sebagai substansi antimikroba yang
membunuh
banyak
mikroorganisme.
Kemungkinan
dikarenakan kemampuan flavonoid membentuk
aktivitasnya
kompleks dengan
ekstraseluler, protein terlarut dan dinding sel bakteri, semakin
lipofilik
suatu flavonoid semakin merusak membran mikroba (Cowan, 1999).
Flavonoid yang diisolasi dari Artemisia, yaitu 6-methoxylapigenin atau
methoxy-6 trihydroxy-5,7,4’ flavone (6MAPI) dan 6-methoxyluteolin atau
22
methoxy-6 tetrahydroxy-5,7,3’,4’ (6MLU) flavone dapat berinteraksi
dengan enzim dihydrofolate reductase (DHFR) pada E. coli. Enzim DHFR
berperan dalam mensintesis basa nitrogen inti sel bakteri. Hal ini
menyebabkan inti sel bakteri tidak terbentuk sehingga bakteri akan mati
(Bensegueni, et al.).
3. Saponin
Pembentukan busa yang lama pada waktu ekstraksi atau ekstrak tanaman
yang pekat menunjukkan adanya saponin (J.Poither, 2000). Saponin
mempunyai bagian utama berupa turunan triterpen dengan sedikit steroid.
Residu gula dihubungkan oleh satu gugus –OH biasanya C3-OH dari aglikon
(monodesmoside saponin) dan jarang dengan dua gugus OH atau satu gugus
OH dan gugus karboksil (bis-desmiside saponin) (Wagner, 1984).
Triterpenen saponin hanya mempunyai sistem urasane atau dammarane.
Kebanyakan triterpenen saponin bersifat asam dikarenakan adanya satu atau
dua gugus karboksi pada aglikon dan atau gugus gula dan yang lain gugus
yang mempunyai atom oksigen ada pada sapogenin seperti -OH, -CH2OH
atau –CHO. Gugus karbohidrat biasanya terdiri 1-6 monosakarida
kebanyakan glukosa, galaktosa, rhamosa, arabinosa dan xylosa. Saponin dari
Horse chesnut mempunyai modifikasi asam alifatik. Semua triterpen
saponin mempunyai aktivitas haemolitik yang beragam dari yang
kuat
sampai yang lemah tergantung dari tipe substitusinya (Wagner, 1984).
Steroid saponin kebanyakan spirastanol, selama prosedur isolasi turunan
furastanol biasanya dikonversi
menjadi spirastanol. Saponin ini terdiri
banyak gugus karboksil. Steroid saponin mempunyai unit gugus gula yang
sedikit daripada triterpene saponin. Secara kontras saponin monodesmoside,
bis-desmoside furastanol tidak mempunyai aktivitas haemolitik (Wagner,
1984). Saponin mempunyai efek membranolitik yaitu membentuk komplek
dengan kolesterol di membran sel protozoa (P.R. Cheeke, 2000). Contoh
senyawa steroid saponin dapat dilihat pada Gambar 6. Saponin mempunyai
efek antibakteri dan antijamur yang bagus. Saponin mempunyai efek
antijamur yang bagus dari pada sapogenin. Efek antijamur dan antibakteri
23
terganggu dengan adanya gugus monosakarida dan turunannya (P.R.
Cheeke, 2000).
CH2OH
O
O
Nautigenin
HO
Gambar 6. Senyawa Steroid-Sapogenin (Wagner, 1984)
4. Terpenoid
Terpenoid adalah senyawa yang mengandung karbon dan hidrogen, atau
karbon, hidrogen dan oksigen yang tidak bersifat aromatis. Terpenoid
merupakan senyawa-senyawa yang mudah menguap terdiri 10 atom C dan
penyusun minyak atsiri (Achmad, 1986). Terpenoid dengan titik didih yang
lebih tinggi disusun oleh diterpen (C20), triterpen (C30), dan tetraterpen
(C40) dengan penambahan atom oksigen (Achmad, 1986 dan Cowan, 1999).
Mekanisme
dari
terpenoid
sebagai
antibakteri
tidak
begitu
jelas
kemungkinan berhubungan dengan perusakan membran sel oleh senyawa
lipofilik (Cowan, 1999).
Senyawa terpenoid yang terdapat pada cabai Capsaisin mempunyai
banyak aktivitas biologi pada manusia yaitu bekerja pada saraf,
kardiovaskuler dan saluran pencernakan dan digunakan sebagai analgesik.
Capsaisin
mempercepat
pertumbuhan
jamur
C.
albicans,
tetapi
menghambat pertumbuhan beberapa bakteri yang tidak diinginkan (Cowan,
1999). Terpenoid
dari Elephantopus scaber menunjukkan penghambatan
terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus dengan menghambat enzim
autolisin, enzim yang terdapat pada peptidoglikan
dinding sel bakteri.
Autolisin merupakan enzim yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan sel,
peremajaan dinding sel, waktu masak peptidoglikan,
pembelahan sel,
24
pemisahan, motilitas, kemotaksis, kemampuan genetik dan
protein. Terpenoid dapat menghambat aktivitas
pengeluaran
enzim autolisin dengan
membentuk interaksi yang kuat dengan sisi aktif dari residu enzim (Daisy,
2008). Contoh senyawa teerpenoid yang mempunyai aktivitas antibakteri
dapat dilihat pada Gambar 7.
24
O
H3CO
HO
27
CH3
N
H
21
CH3
19
capsaicin
11
3
10
9
8
26
O
20
17
18
1
22
O
16
24
5
6-[1-(10,13-dymethyl-4, 5, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17 dodecahydro-1H-cyclopenta
[alpha] phenan thren-17-yl) ethyl]-3-methyl-3,6-dihidro-2H-2-pyranone. dari tanaman
Elephantopus scaber
Gambar 7. Senyawa-Senyawa Terpenoid yang Bersifat Antibakteri
(Cowan, 1999 dan P. Daisy et al., 2008)
5. Alkaloid
Alkaloid dari tanaman kebanyakan amina tersier dan yang lainnya terdiri
dari nitrogen primer, sekunder, dan quaterner (J. Poither, 2000). Semua
alkaloid mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya
bersifat basa dan dalam sebagian besar atom nitrogen ini merupakan cincin
aromatis (Achmad, 1986). Berdasarkan penyusun asam aminonya alkaloid
dibedakan menjadi alkaloid asiklis yang berasal dari asam amino ornitin dan
lisin. Alkaloid aromatis jenis fenilalanin berasal dari fenilalanin, tirosin dan
3,4-dihidroksifenilalanin. Alkaloid jenis indol yang berasal dari triptofan
(Achmad, 1986). Contoh senyawa alkaloid dapat dilihat pada Gambar 8.
Mekanisme alkaloid menjadi antibakteri berhubungan dengan tingginya
senyawa aromatik quartener dari alkaloid seperti barberine dan harmane
yang mempunyai kontribusi untuk membentuk interkhelat dengan DNA.
Contoh senyawa alkaloid yang mempunyai aktivias antibakteri dapat dilihat
pada Gambar 9.
25
Alkaloid Alisiklis
Alkaloid fenilalanin
H3CO
N
O
N
CH3
CH3
H3CO
CH3
Higrin
Alkaloid Indol
OCH3
Mezkalin
OPO3H2
N
N
H
CH3
CH3
Philosobin
Gambar 8. Golongan Senyawa Alkaloid
O
O
H
N
CH3
N
N+
H3CO
OCH3
harmane
Barberine
Gambar 9. Senyawa-Senyawa Alkaloid yang Bersifat Antibakteri (Cowan, 1999)
6. Fenolat
Bebrapa senyawa tumbuhan yang aktif terdiri dari sebuah cincin fenol
tersubstitusi. Asam sinamat dan asam kafeat biasanya mewakili kelompok
besar dari turunan senyawa fenilpropan yang mempunyai tingkat oksidasi
tinggi. Tumbuhan Terragon dan Thyme keduanya mengandung asam kaffeat
yang efektif membunuh virus, bakteri dan jamur. Catechol dan pyrogallol
keduanya merupakan fenol teroksidasi menunjukkan racun terhadap
mikroorganisme. Catechol mempunyai 2 gugus fungsi –OH dan pyragallol
mempunyai 3 gugus fungsi –OH. Tingkatan dan banyakan gugus fungsi
hidroksil pada golongan fenol berhubungan dengan toksisitas pada
mikroorganisme,
dengan
bukti
bahwa
bertambahnya
hidroksilasi
26
menghasilkan penambahan toksisitas. Semakin tinggi fenol teroksidasi
semakin kuat menghambat pertumbuhan organisme. Mekanisme yang
berhubungan dengan toksisitas fenol terhadap mikroorganisme adalah
penghambatan enzim oleh senyawa teroksidasi kemungkinan lewat reaksi
dengan gugus sulfihidril atau dengan interaksi yang tidak spesifik oleh
protein (Cowan, 1999). Contoh senyawa fenol dapat dilihat pada Gambar.
10.
H
C
HO
CH
COOH
HO
HO
asam kaffeat
H
OH
Catechol
OH
OCH3
CH2
eugenol
Gambar 10. Senyawa-Senyawa Golongan Fenol
Senyawa fenol dapat menyebabkan denaturasi protein melalui proses
adsorpsi yang melibatkan ikatan hidrogen. Pada kadar rendah, terbentuk
kompleks protein-fenol dengan ikatan lemah dan segera mengalami
peruraian, diikuti penetrasi fenol ke dalam sel dan menyebabkan presipitasi
serta denaturasi protein. Pada kadar tinggi, fenol menyebabkan koagulasi
protein dan sel membran mengalami lisis, mengubah permeabilitas membran
bakteri (Siswandono dan Soekardjo, 2000).
5. Metode Pengujian Aktivitas Antibakteri
Pengujian aktivitas antibakteri yang biasanya dilakukan dengan metode
sebagai berikut :
27
1. Metode difusi
a. Metode silinder
Silinder steril diletakkan diatas permukaan agar yang telah diolesi
suspensi bakteri, kemudian zat aktif yang akan diuji dimasukkan ke dalam
silinder tersebut. Diinkubasikan selama 18-24 jam pada suhu 37oC kemudian
diukur diameter hambat dengan menggunakan jangka sorong.
b. Metode lubang (perforasi)
Bakteri uji yang umurnya 18-24 jam disuspensikan ke dalam media agar
pada suhu sekitar 45 oC. Suspensi bakteri dituangkan ke dalam cawan petri
steril. Setelah agar memadat, dibuat lubang-lubang dengan diameter 6-8 mm.
Kedalam lubang tersebut dimasukkan larutan zat yang akan diuji aktivitasnya
sebanyak 20µL, kemudian diinkubasikan pada suhu 37 oC selama 18-24 jam.
Aktivitas antibakteri dapat dilihat dari daerah bening yang mengelilingi lubang
perforasi.
c. Metode cakram kertas
Zat yang akan diuji diserapkan ke dalam cakram kertas dengan cara
meneteskan pada cakram kertas kosong larutan antibakteri sejumlah tertentu
dengan kadar tertentu pula. Cakram kertas diletakkan diatas permukaan agar
padat yang telah diolesi bakteri, diinkubasi selama 18-24 jam pada suhu 37oC.
Aktivitas antibakteri dapat dilihat dari daerah hambat di sekeliling cakram
kertas.
2. Metode Dilusi
a. Metode pengenceran tabung
Antibakteri disuspensikan dalam agar Triptic Soy Broth (TSB) dengan
pH 7,2-7,4 kemudian dilakukan pengenceran dengan menggunakan beberapa
tabung reaksi. Selanjutnya dilakukan inokulasi bakteri uji yang telah
disuspensikan dengan NaCl fisiologis steril atau dengan TSB, yang tiap
milimeternya mengandung kurang lebih 105-106 bakteri. Setelah diinkubasikan
pada suhu 37oC selama 18-24 jam, tabung yang keruh menunjukkan adanya
pertumbuhan bakteri, sedangkan tabung yang bening menunjukkan zat
antibakteri yang bekerja.
28
b. Metode pengenceran agar
Zat antibakteri dicampur sampai homogen pada agar steril yang masih
cair dengan suhu terendah mungkin (±45oC) dengan menggunakan berbagai
konsentrasi aktif, larutan tersebut dituangkan ke dalam cawan petri steril
kemudian setelah memadat dioleskan bakteri uji pada permukaannya. (Yuliani,
2001).
5. Penapisan Fitokimia
Penapisan fitokimia adalah pemerisaan secara kualitatif terhadap senyawasenyawa aktif biologis yang terdapat dalam simplisia tumbuhan (Fransworth,
1996). Adapun tujuan utama dari penapisan fitokimia adalah menganalisis
tumbuhan untuk mengetahui kandungan bioaktif atau kandungan yang berguna
untuk pengobatan (Pedrosa, 1978).
Metode yang digunakan untuk melakukan penapisan fitokimia harus
memenuhi beberapa persyaratan antara lain sederhana, cepat, dapat dilakukan
dengan peralatan minimal, selektif terhadap golongan senyawa yang dipelajari,
semikualitatif dan dapat memberikan keterangan tambahan ada atau tidaknya
senyawa tertentu dari golongan senyawa yang dipelajari (Pedrosa, 1978). Uji
penapisan fitokimia biasanya menggunakan pereaksi antara lain pereaksi Wagner
digunakan untuk alkaloid. Tanin dan polifenol menggunakan larutan gelatin dan
FeCl3. Flavonoid dengan penambahan dengan HCl dan terpenoid dengan vanilinH2SO4.
6. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan pemisahan komponen kimia
berdasarkan prinsip adsorbsi dan partisi, yang ditentukan oleh fase diam
(adsorben) dan fase gerak (eluen), komponen kimia bergerak naik mengikuti fase
gerak karena daya serap adsorben terhadap komponen-komponen kimia tidak
sama sehingga komponen kimia dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda
berdasarkan tingkat kepolarannya, hal inilah yang menyebabkan terjadinya
pemisahan (Rohman, 2007).
Fase diam yang
digunakan dalam KLT berupa zat padat silika atau
alumina yang mempunyai kemampuan mengabsorbsi bahan-bahan yang akan
29
dipisahkan (sebagai absorben). (Kristanti dkk., 2008). Fase gerak yang dipakai
adalah pelarut tunggal atau campuran pelarut dengan perbandingan tertentu.
Pemisahan yang bagus dapat dicari dengan mencoba-coba mengelusi dengan
berbagai perbandingan campuran pelarut. Seperti yang dilakukan pada penelitian
Hayani (2007) menggunakan berbagai perbandingan campuran pelarut untuk
memisahkan komponen yang terdapat pada rimpang temu kunci dan didapatkan
perbandingan campuran pelarut heksana : etil asetat 8,5 : 1,5 memberikan
pemisahan yang bagus ditandai banyaknya noda yang dipisahkan. Pendeteksian
noda dapat dilakukan dengan pengamatan langsung, dibawah sinar UV dan
disemprot dengan reagen spesifik. Reagen spesifik yang dipakai antara lain pada
uji flavonoid menggunakan penyemprot AlCl3 1%, uji fenolat dan tanin
menggunakan penyemprot FeCl3 1%, saponin menggunakan penyemprot SbCl3
20% dalam kloroform dan uji terpenoid menggunakan penyemprot vanillinH2SO4.
Uji
KLT
terpenoid
menggunakan
penyemprot
vanillin-H2SO4
menghasilkan bercak berwarna ungu, biru, biru-ungu, orange ke merah ungu,
merah cokelat (Wagner, 1984). Reaksi uji terpenoid ditunjukkan pada Gambar 11.
OH
CH3
O
C
CH
C
H
OCH3
HO
H
OH
vanilin
OH
CH3
C
CH
OH
HO
H
H3CO
HO
-H2O H
OH
CH3
C
CH
O
H3CO
HO
Gambar 11. Reaksi Uji Terpenoid dengan vanillin – H2SO4
(Jork, Funk, and Fischer, 1990)
30
Uji KLT flavonoid menggunakan penyemprot AlCl3 1% berwarna coklat muda
pada sinar tampak dan biru pada UV 365 nm (Wagner, 1984). flavonoid setelah
disemprot dengan AlCl3 dapat memberikan warna kuning berflouresensi pada
sinar UV 254 nm (Harborne, 1996, Kristanti dkk, 2008) dan kuning pada sinar
tampak (Wagner, 1983) Reaksi uji flavonoid dengan AlCl3 ditunjukkan pada
Gambar 12. Uji KLT fenolat dan tanin menggunakan penyemprot FeCl3 1%.
Fenolat dan tanin akan berwarna warna hijau, merah ungu, biru, hitam (Harborne,
1996).
O
O
+ Al3+
OH
O
-H+
O
O
Al
Gambar 12. Reaksi Uji KLT Flavonoid dengan AlCl3 (Jork et al., 1990)
7. Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Uji Banding
Konsentrasi hambat minimum (KHM) adalah konsentrasi terkecil
(pengenceran terbesar) suatu obat yang masih menghambat pertumbuhan bakteri.
KHM sangat penting untuk menentukan dosis efektif terkecil dari obat dan
memberikan indek perbandingan dengan obat yang lain (Talaro, 2008).
Uji banding suatu sampel (zat antibakteri) bertujuan untuk mengetahui
sejauh mana kekuatan atau daya aktivitas antibakteri sampel tersebut bila
dibandingkan terhadap suatu zat pembanding. Metode yang digunakan adalah
dengan cara membandingkan respon yang dihasilkan oleh zat antibakteri yang
diperiksa terhadap respon suatu zat antibakteri pembanding. Respon tersebut
berupa hambatan terhadap pertumbuhan bakteri uji (Yuliani, 2001).
Uji banding suatu sampel dapat dilakukan dengan cara membuat suatu
grafik atau kurva standart dari zat pembanding, dimana logaritma konsentrasi
diplotkan terhadap sumbu-x dan diameter hambatan diplotkan terhadap sumbu-y.
31
Berdasarkan kurva tersebut dapat diperoleh nilai konsentrasi sampel pada
diameter hambatan yang dihasilkan dan nilai diameter hambatan sampel pada
konsetrasi yang ditetapkan, sehingga dapat ditetapkan nilai uji banding sampel
terhadap zat pembanding, yaitu dengan menggunakan rumus sebagai berikut.
Nilai uji banding =
Konsentrasi sampel dari kurva
x 100 %
Konsentrasi sampel sebenarnya
(Yuliani, 2001)
B. Kerangka Pemikiran
Obat antibakteri bermanfaat untuk mengatasi penyakit infeksi yang
disebabkan oleh bakteri patogen. Penggunaan terus menerus suatu antibakteri
dapat menyebabkan bakteri patogen resisten terhadap obat tersebut, selain efek
samping yang ditimbulkannya. Suatu senyawa aktif baru, yang berasal dari
tumbuhan obat yang berpotensi sebagai antibakteri sangat dibutuhkan sebagai
alternatif baru obat antibakteri.
Pare belut merupakan tumbuhan suku cucurbitaceae yang secara
tradisional telah digunakan sebagai tanaman obat. Senyawa-senyawa metabolit
sekunder yang terkandung dalam pare belut adalah alkaloid, tanin, polifenol,
saponin, kardenolin/bufadienol dan flavonoid. Senyawa-senyawa alkaloid, tanin,
polifenol, saponin dan flavonoid merupakan senyawa yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri. Pemanfaatan buah pare belut sebagai tanaman obat
antibakteri belum dilakukan penelitian secara ilmiah, oleh karena itu perlu
dilakukan penelitian secara ilmiah aktivitas antibakteri ekstrak buah Pare belut.
Tahap penelitian dilakukan dengan mengisolasi senyawa-senyawa dalam
buah pare belut dengan ekstraksi maserasi menggunakan pelarut metanol.
Ekstraksi bertingkat terhadap pelarut metanol dengan pelarut heksana, kloroform,
etil asetat, dan butanol dilakukan untuk memisahkan senyawa-senyawa antibakteri
dalam buah pare belut berdasarkan perbedaan kepolarannya. Metode pengujian
aktivitas antibakteri dapat dilakukan dengan metode lubang terhadap ekstrakekstrak buah pare belut tersebut untuk mengetahui aktivitas antibakteri masing-
32
masing ekstrak, sedangkan untuk mengetahui golongan senyawa antibakteri dalam
ekstrak buah pare belut dapat dilakukan dengan penapisan fitokimia dan KLT.
Ekstrak yang mempunyai aktivitas antibakteri tertinggi dapat berpotensi sebagai
kandidat senyawa awal yang berfungsi sebagai antibakteri, maka untuk
mengetahui potensi antibakterinya dilakukan pengujian KHM dan nilai banding
ekstrak tersebut dengan ampisilin.
C. Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran dapat diajukan beberapa hipotesis
sebagai berikut :
1. Ekstrak metanol buah pare belut dan ekstrak-ekstrak hasil ekstraksi
bertingkatnya yaitu ekstrak heksana, kloroform, etil asetat dan butanol
mempunyai aktivitas antibakteri.
2. Ekstrak metanol, heksana, kloroform, etil asetat dan butanol mengandung
golongan senyawa alkaloid, tanin, polifenol, saponin dan atau flavonoid.
3. Ekstrak aktif antibakteri tertinggi buah pare belut bisa digunakan sebagai
alternatif antibakteri baru.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental murni. Tahap pertama
adalah pembuatan serbuk simplisia sampel. Serbuk simplisia sampel diekstraksi
maserasi menggunakan pelarut metanol. Terhadap ekstrak metanol yang diperoleh
dilakukan pengujian aktivitas antibakteri. Ekstraksi kemudian dilanjutkan
terhadap ekstrak metanol menggunakan pelarut dengan tingkat kepolaran semakin
meningkat, yaitu heksana, kloroform, etil asetat dan butanol.
Ekstrak-ekstrak hasil ekstraksi bertingkat kemudian dilakukan pengujian
antibakteri. Terhadap ekstrak aktif kemudian dilakukan penapisan fitokimia.
Ekstrak aktif yang memiliki aktivitas antibakteri tertinggi kemudian dilakukan uji
penegasan golongan senyawa dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan
penentuan potensi antibakteri dengan mencari nilai Konsentrasi Hambat
Minimum (KHM) ekstrak dan nilai banding ekstrak terhadap standar ampisilin.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas
Sebelas Maret Surakarta, Sub Lab Biologi dan Sub Lab Kimia Laboratorium
Pusat Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret
Surakarta selama 12 bulan dari bulan Januari-Desember 2008.
C. Alat dan Bahan
1. Alat-alat yang digunakan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah oven (Memmert
Model 500), blender (Miyako), neraca timbang (Denver TL603D dan Scout
Proohaus), statif dan klem, perforator diameter 6 mm, penguap vakum
putar(Bibby RE 200B), corong pisah, bejana KLT, hotplate-stirer (RCT) Basic
Labortechnik), pendeteksi UV (PUV/BDH), penangas air, autoklaf(Presoclave 75
P-selecta), botol semprot, hand mixer(Vortec mixer VM 300), pembakar spirtus,
33
34
mikropipet 10-100 µL, jarum ose, cawan petri, laminar air flow(Minihelik II,
dwyer), inkubator (Hotcold M P-selecta), spatula logam, lemari asam, lemari
pendingin dan peralatan gelas.
2. Bahan-bahan yang digunakan
a. Bahan Yang Diteliti
Buah pare belut yang diperoleh dari daerah Sukoharjo yang dibuat
simplisia
b. Bahan Kimia
Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini adalah pelarut organik
yaitu metanol (redestilasi), heksana (redestilasi), dan etil asetat
(redestilasi), butanol (Pro analisis), dan kloroform (Pro analisis), aseton
teknis dan akuades. DMSO, serbuk Mg (E. Merck), vanilin (Pro analisis),
asam asetat anhidrad dan plat KLT silika gel F254 (E. merck). Larutan
pereaksi yang digunakan adalah HCl 2M, larutan amil alkohol, FeCl3 1%
dalam air, H2SO4 pekat, pereaksi Mayer, pereaksi AlCl3 1% dalam etanol,
SbCl3 20% dalam kloroform dan pereaksi vanilin-H2SO4.
c. Bakteri Uji
Bakteri uji yang digunakan adalah E. coli, B. subtilis, S. aureus, P.
aeruginosa, dan S. typhii yang diperoleh dari PAU-UGM, Yogyakarta dan
bakteri E. aerogenes dan S. dysentriae dari LIPI, Bandung.
d. Media Pembenihan
Media pembenihan untuk bakteri adalah Nutrien Agar (E. Merck) dengan
kandungan bahan per liter adalah 5 g pepton, 3 g ekstrak daging dan 12 g
agar.
e. Zat Pembanding Antibakteri
Zat pembanding yang digunakan sebagai standar antibakteri dalam
penelitian ini adalah ampisilin (standar farmasi).
35
D. Prosedur Penelitian
Diagram alir prosedur penelitian dapat dilihat pada lampiran 1.
1. Identifikasi dan Preparasi Sampel
Sampel buah Pare belut diperoleh dari daerah Sukoharjo. Buah pare belut
sebelumnya diidentifikasi oleh Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. Daging buah pare belut dicuci, dikupas kulitnya, dibuang bijinya,
dipotong tipis-tipis kemudian dikeringkan dengan oven suhu 75oC selama 3 hari.
Selanjutnya daging buah kering diblender sampai berbentuk serbuk. Bahan kering
(simplisia) disimpan dalam wadah tertutup.
2. Ekstraksi Maserasi Serbuk Simplisia dengan Pelarut Metanol
Simplisia berbentuk serbuk diekstraksi dengan metode maserasi dengan
pelarut metanol selama 4x24 jam. Ekstrak metanol yang diperoleh kemudian
diuapkan pelarutnya dengan penguap vakum putar dengan suhu 50oC hingga
diperoleh ekstrak metanol kental.
3. Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol
Ekstrak metanol dibuat konsentrasi tertentu dengan pelarut dimetil
sulfoksida (DMSO). Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode
difusi lubang dengan tahap kerja sebagai berikut :
a. Pembuatan Media
Nutrien Agar (NA) ditimbang sebanyak 20 g kemudian dilarutkan dalam 1
L akuades, dipanaskan diatas hot plate-stirer sampai mendidih dan terbentuk
larutan agar yang bening. Larutan tersebut dimasukkan ke dalam tabung reaksi
sebanyak 5 mL untuk agar miring dan ke dalam botol kaca tertutup sebanyak 15
mL untuk pengujian antibakteri. Tabung dan botol yang berisi agar kemudian
disterilkan memakai autoklaf dengan suhu 121oC selama 120 menit.
b. Penyediaan bakteri uji
Bakteri uji dibiakkan dalam agar miring yang telah disiapkan dan
diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam, lalu disuspensikan ke dalam 3 mL
akuades steril.
36
c. Penyediaan Standar Pembanding Ampisilin
Sebanyak 100 mg ampisilin dilarutkan dalam 10 mL DMSO. Larutan ini
merupakan larutan ampisilin 0,01 mg/µL. Larutan tersebut diambil menggunakan
mikropipet dan dengan metode pengenceran dibuat berbagai konsentrasi standar
ampisilin yang diinginkan.
d. Pengujian Aktivitas Antibakteri
Suspensi bakteri sebanyak 100 µL dimasukkan ke dalam cawan petri
steril kemudian dicampur dengan 15 ml media agar steril cair, digoyang supaya
bakteri dan agar tercampur secara homogen kemudian didiamkan sampai agar
memadat. Setelah agar membeku, dibuat lubang dengan menggunakan perforator
berdiameter 6 mm. Tiap lubang diisi dengan 20 µL sampel ekstrak yang
sebelumnya telah dilarutkan dalam larutan DMSO dengan konsentrasi tertentu
(b/v). Langkah ini masing-masing dilakukan 2 kali pengulangan. Cawan
diinkubasikan selama 23 jam pada suhu 37oC, kemudian diukur diameter
hambatan yang diperlihatkan oleh daerah bening di sekeliling lubang yang berisi
sampel dengan jangka sorong.
4. Ekstraksi Bertingkat Terhadap Ekstrak Metanol
Ke dalam ekstrak metanol kental ditambahkan akuades dengan
perbandingan metanol : air = 4 : 1, kemudian dilanjutkan ekstraksi dengan
heksana dengan corong pisah. Lapisan atas dievaporasi diperoleh ekstrak heksana
sedangkan lapisan bawah diekstraksi dengan kloroform. Lapisan bawah hasil
ekstraksi dengan kloroform dievaporasi diperoleh ekstrak kloroform, sedangkan
lapisan atas diekstraksi kembali dengan etil asetat. Lapisan atas hasil ekstraksi
dengan etil asetat dievaporasi diperoleh ekstrak etil asetat dan selanjutnya lapisan
bawah diekstraksi kembali dengan butanol. Lapisan atas hasil ekstraksi dengan
butanol dievaporasi diperoleh ekstrak butanol dan lapisan bawah dievaporasi
diperoleh ekstrak air.
37
5. Pengujian Antibakteri terhadap Ekstrak-ekstrak Hasil Ekstraksi Bertingkat
Ekstrak-ekstrak yang didapat dilakukan pengujian antibakteri
menggunakan tahapan kerja seperti pada pengujian pada ekstrak metanol.
6. Pengujian Golongan Senyawa yang Bersifat Antibakteri
Pengujian kualitatif golongan senyawa dilakukan dengan penapisan
fitokimia dan uji penegasan dengan KLT. Penapisan fitokimia dilakukan
terhadap golongan senyawa alkaloid, saponin, tanin dan polifenol, flavonoid,
terpenoid dan fenolat. Uji penegasan dilakukan terhadap ekstrak yang
mempunyai aktivitas antibakteri tertinggi dengan KLT. Metode penapisan
fitokimia yang digunakan berdasarkan Pedrosa (1978), Farnsworth (1966),
dan Harborne (1996).
A. Pembuatan reagen
1. FeCl3 1%
: FeCl3 sebanyak 1 g dilarutkan dalam 100 ml aquades.
2. Larutan gelatin
: Gelatin sebanyak 1 g dilarutkan ke dalam 100 ml
aquades panas sambil diaduk.
3. NaCl 10%
: NaCl sebanyak 10 g dilarutkan ke dalam 100 ml
aquades.
4. AlCl3 1%
: AlCl3 sebanyak 0,1 g dilarutkan ke dalam 10 ml
etanol 95%.
5. Penyemprot Vanillin–H2SO4 : (i) 5% H2SO4 dalam etanol, (ii) 1% vanilin
dalam etanol dan plat disemprot larutan (i)
kemudian larutan (ii).
6. Pereaksi Wagner : KI sebanyak 2 g dan iodine sebanyak 1,27 g
dilarutkan ke dalam aquades sampai volumenya 100
ml, kemudian disimpan dalam botol gelap.
7. SbCl3 20% dalam kloroform : 2g serbuk SbCl3 dilarutkan dalam 10 mL
kloroform.
38
B. Pengujian golongan senyawa
1. Alkaloid
Ekstrak diambil sebanyak 20mg, ditambah dengan HCl 2M, dipanaskan diatas
penangas air sambil diaduk, kemudian didinginkan hingga suhu ruang. NaCl
serbuk ditambahkan, diaduk dan disaring, kemudian filtrat ditambah HCl 2M
hingga volume tertentu. Filtrat dibagi dalam 2 tabung reaksi, tabung 1
ditambah reagen Wagner dan tabung 2sebagai blangko. Tabung 1 diamati
terbentuknya endapan dan dibandingkan dengan larutan blangko pada tabung
2. Jika tidak terbentuk endapan, bahan tidak mengandung alkaloid dan jika
terbentuk endapan pada bahan terbentuk alkaloid.
2. Saponin
Ekstrak diambil sebanyak 15mg dan dimasukkan dalam tabung reaksi.
Ekstrak ditambah akuades dengan perbandingan 1 g ekstrak : 1mL akuades,
kemudian dikocok dan didiamkan. Jika terbentuk buih yang tidak menghilang
selama 30 menit maka ekstrak mengandung saponin.
3. Flavonoid
Ekstrak sebanyak 20mg dilarutkan dalam etanol 96% dibagi menjadi 2
tabung. Tabung 1 sebagai blangko. Tabung 2 ditambah dengan 2 tetes HCl
pekat, diamati warna yang terjadi dan dibandingkan dengan larutan blangko.
Larutan dihangatkan diatas penangas air selama 15 menit, kemudian diamati
perubahan warna yang terjadi. Terbentuknya warna merah kuat atau violet
menunjukan adanya senyawa leucosantin.
4. Tanin dan Polifenol
Ekstrak sebanyak 25mg ditambah akuades panas, kemudian diaduk dan
didinginkan. Setelah itu 5 tetes NaCl 10% ditambahkan dan disaring. Filtrat
dibagi menjadi 3 filtrat A, B, dan C. Filtrat A sebagai blangko, filtrat B
ditambah pereaksi FeCl3 dan filtrat C ditambah larutan gelatin, kemudian
diamati perubahan warna yang terjadi.. Jika terbentuk warna hijau kehitaman
menunjukkan tanin terhidrolisa, warna hijau kecoklatan menunjukkan tanin
terkondensasi dan warna selain warna diatas menunjukkan adanya polifenol.
Penambahan gelatin pada tanin akan membentuk endapan.
39
5. Terpenoid
Ekstrak sebanyak 10mg ditambah dengan vanilin dan H2SO4 pekat. Terpenoid
positif jika terjadi perubahan warna ungu.
6. Fenolat
Ekstrak sebanyak 10mg ditambah dengan larutan besi (III) klorida 1% dalam
air. Fenolat positif jika terjadi perubahan warna hijau, merah ungu, biru/hitam.
Uji penegasan KLT menggunakan plat KLT silika gel F254 (E. Merck).
Ekstrak ditotolkan pada plat dan dielusi dengan pengembang heksana:kloroform
dengan perbandingan masing-masing 3:7, 1:1, dan 7:3. Hasil pemisahan dideteksi
bercaknya dengan sinar UV 254 nm dan 365 nm dan dicari pengembang yang
memisahkan paling baik. Setelah diperoleh pengembang dengan pemisahan yang
paling baik dilakukan uji kualitatif golongan senyawa dengan pengamatan bercak
pada cahaya tampak, UV 254 nm dan 365 nm setelah penyemprotan reagen
spesifik. Reagen penyemprot yang dipakai adalah AlCl3 untuk senyawa flavonoid,
SbCl3 20% dalam kloroform untuk saponin, Vanilin-H2SO4 untuk terpenoid,
FeCl3 untuk tanin dan fenolat.
7. Penetapan KHM dan Nilai Banding
Penetapan KHM dilakukan untuk mengetahui konsentrasi terendah sampel uji
yang masih dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Penetapan KHM dilakukan
dengan metode perforasi sama seperti pengujian antibakteri, dengan melakukan
variasi konsentrasi sampel. KHM dilakukan terhadap ekstrak hasil ekstraksi
bertingkat yang mempunyai aktivitas antibakteri tertinggi
Sebagai pembanding digunakan baku dengan perlakuan yang sama seperti
sampel uji. Baku yang digunakan adalah ampisilin. Dari hasil yang diperoleh
kemudian dibuat kurva baku antara log konsentrasi (ppm) terhadap diameter
hambatan (mm). Kurva ini digunakan sebagai pembanding bagi sampel yang
memiliki aktivitas antibakteri tertinggi dengan cara menarik garis lurus yang
memotong kurva baku dan diameter hasil pengamatan sehingga diperoleh harga log
konsentrasi dan kemudian dihitung antilognya untuk mendapatkan konsentrasi yang
40
sebenarnya. Nilai banding sampel terhadap baku ampisilin dapat dihitung dengan
persamaan:
Nilai Banding = Konsentrasi Sampel dari Kurva x 100%
Konsentrasi Sampel Sebenarnya
E. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Penelitian ini menghasilkan berbagai data. Uji aktivitas antibakteri pada ekstrak
dan ampisilin didapatkan data diameter hambat pada konsentrasi tertentu. Penapisan
fitokimia didapatkan data golongan senyawa yang terdapat pada ekstrak. Pada tahap
pengujian aktivitas antibakteri ini diketahui ekstrak mana yang menunjukkan
aktivitas antibakteri tertinggi berdasarkan diameter hambat yang dihasilkan. Ekstrak
antibakteri tertinggi tersebut kemudian dianalisis dengan kromatografi lapis tipis
(KLT), uji penentuan konsentrasi hambat minimum (KHM), dan uji banding. Pada
analisis KLT diperoleh data jumlah noda dan harga Rf.. Pada penentuan konsentrasi
hambat minimum didapatkan data nilai KHM. Pada uji banding aktivitas terhadap
standar ampisilin diperoleh data nilai uji banding. Data-data diameter hambat dan
variasi konsentrasi hasil pengujian aktivitas antibakteri dilakukan analisa data dengan
One-Way ANOVA.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Identifikasi Sampel
Identifikasi tanaman pare belut yang diperoleh dari daerah Sukoharjo,
dilakukan di laboratorium Taksonomi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa jenis yang diteliti adalah
Trichosanthes anguina L. dengan nama daerah pare belut atau pare ulo. Hasil
identifikasi dapat dilihat pada Lampiran 2.
B. Persiapan dan Ekstraksi Sampel
Hasil pengeringan dan penghancuran 24,061 kg buah pare belut diperoleh
1,003 kg serbuk kering berwarna hijau kecoklatan. Sampel dihancurkan sampai
berbentuk serbuk untuk memperluas permukaan yang berinteraksi dengan pelarut
sehingga lebih banyak senyawa yang dapat terekstrak.
Sampel yang telah berbentuk serbuk kering kemudian ekstraksi dengan
metode maserasi menggunakan 4,40 L pelarut metanol selama 4 x 24 jam
menghasilkan ekstrak encer berwarna hijau kehitaman sebanyak 2,22 L. Metanol
digunakan sebagai pelarut karena biasanya senyawa-senyawa organik jenuh dan
aromatis yang aktif sebagai antibakteri dapat terambil oleh pelarut metanol
(Cowan, 1999). Selanjutnya ekstrak hasil maserasi diuapkan dengan rotary
evaporator menghasilkan ekstrak metanol kental sebanyak 183,490 g dengan
rendemen 18,30 %. Ekstrak metanol kental ini digunakan sebagai sampel pada
prosedur kerja selanjutnya.
C. Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol
Ekstrak metanol kental yang diperoleh kemudian dilakukan pengujian
aktivitas antibakteri menggunakan 7 macam bakteri uji yaitu E. coli, B. subtilis, P.
aeruginosa, S. aureus, S. typhii, S. dysentriae, dan E. aerogenes dengan metode
difusi agar yang diberi lubang (metode perforasi) dengan diameter lubang 6 mm.
Ekstrak ini sebelumnya dilarutkan dalam larutan dimetil sulfoksida (DMSO)
41
42
dengan variasi konsentrasi 5.105 ppm atau 10 mg/lubang, 7,5.105 ppm atau 15
mg/lubang, dan 1.106 atau 20mg/lubang, dimana setiap lubang dimasukkan
sampel sebesar 20µl. Perhitungan konversi konsentrasi sampel selengkapnya
dapat dilihat pada Lampiran 3. Sampel dilarutkan dalam DMSO karena DMSO
dapat melarutkan secara sempurna ekstrak metanol, selain itu juga sebagai zat
kontrol negatif antibakteri. Pengujian dilakukan untuk mengetahui apakah ekstrak
metanol mempunyai aktivitas antibakteri terhadap semua bakteri uji atau hanya
terhadap bbakteri tertentu saja. Hasil pengujian aktivitas antibakteri ini dapat
dilihat pada Tabel 2, sedangkan hasil pengujian selengkapnya dapat dilihat pada
Lampiran 4.
Tabel 2. Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak metanol pare belut
(Trichosanthes anguina L.) terhadap 7 bakteri uji
Bakteri
Diameter hambat (mm)
Konsentrasi
Konsentrasi
Konsentrasi
10 mg/lubang
15 mg/lubang
20 mg/lubang
E. coli
+
+
+
B. subtilis
+
+
+
P. aeruginosa
+
+
+
S. aureus
+
+
+
S. typhii
*
*
*
S. dysentriae
-
-
-
E. aerogenes
-
-
-
Keterangan : + = positif uji antibakteri
- = negatif uji antibakteri
* = daerah hambat tidak bening (meragukan)
Hasil uji diatas menunjukkan bahwa ekstrak metanol pare belut
menunjukkan hambatan terhadap bakteri E. coli, P. aeruginosa, S. aureus, dan B.
subtilis, serta menunjukkan hambatan yang tidak bening terhadap S. typhii tetapi
tidak menunjukkan hambatan terhadap bakteri S. dysentriae, dan E. aerogenes.
43
Kedua bakteri ini merupakan jenis bakteri gram negatif, dimana secara umum
dinding bakteri gram negatif berbeda dengan bakteri gram positif dan hal ini dapat
menjelaskan bahwa banyak zat antibakteri yang tidak sensitif terhadap bakteri
gram negatif. Pada bakteri gram positif terdapat lapisan peptidoglikan 50-100
lapis dan selebihnya adalah membran dan sitoplasma. Sedangkan bakteri gram
negatif hanya tediri dari 1-2 lapisan peptidoglikan tetapi memiliki lebih banyak
lapisan lain yaitu amplop terluar, membran terluar, ruang periplasma, membran
terdalam, dan sitoplasma. Lapisan membran terluar pada bakteri gram negatif
dapat menghalangi penembusan suatu zat antibakteri pada sasaran (membran
terdalam), sedang pada bakteri gram positif tidak ada membran terluar. Hal ini
yang menyebabkan zat antibakteri tidak dapat menghambat beberapa bakteri gram
negatif (Siswandono dan Soekardjo,2000). Namun pada E. coli, P. aeruginosa
dan S. typhii yang juga merupakan bakteri gram negatif, daerah hambatan yang
bening ditunjukkan terhadap E. coli dan P. aeruginosa, sedangkan terhadap S.
typhii menunjukkan daerah hambatan yang tidak bening. Kemungkinan yang
terjadi terhadap E. coli dan P. aeruginosa adalah zat antibakteri pada ekstrak
mampu menembus membran terluar bakteri dan masuk ke membran terdalam
untuk merusak sel kedua bakteri tersebut, sedangkan terhadap S. typhii zat
antibakteri kemungkinan hanya menghentikan pertumbuhan bakteri, dengan cara
menghambat biosintesis peptidoglikan dan tidak merusak sel bakteri tersebut.
Hisamettin Durmaz, et al. (2006) menyatakan aktif tidaknya suatu antibakteri
yang ditandai perbedaan diameter hambat yang terjadi tergantung pada tipe dari
ekstrak, spesies tanaman dan spesies dari bakteri itu sendiri.
Selanjutnya pengujian aktivitas antibakteri dilakukan kembali terhadap
bakteri uji yang menunjukkan hambatan yaitu bakteri E. coli, P. aeruginosa, S.
aureus, dan B. subtilis untuk mengetahui kekuatan ekstrak metanol dalam
menghambat pertumbuhan bakteri serta terhadap bakteri S. typhii yang hasil
sebelumnya meragukan, dilakukan uji ulang untuk mengetahui apakah ekstrak
metanol benar-benar menghambat pertumbuhan S. typhii. Pengujian dilakukan
dengan konsentrasi ekstrak sebesar 10 mg/lubang dan 15 mg/lubang dengan
metode yang sama dan dilakukan 2 kali ulangan. Hasil pengujian aktivitas
44
antibakteri ini dapat dilihat pada Tabel 3, sedangkan hasil pengujian selengkapnya
terdapat pada Lampiran 5.
Tabel 3. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol terhadap 5
Bakteri Uji
Bakteri
Diameter Hambat Rata-Rata (mm)
Konsentrasi
Konsentrasi
10 mg/lubang
15 mg/lubang
E. coli
11,15 ± 0,76
12,67± 0,22
S. aureus
9,89 ± 0,64
9,69 ± 0,21
B. subtilis
9,51 ± 0,56
10,15 ± 0,18
P. aeruginosa
9,34 ± 0,76
11,38 ± 1,22
S. typhii
6,00 ± 0,00
6 ,00± 0,00
Keterangan : Diameter lubang : 6mm
Hasil
pengujian
menunjukkan
bahwa
ekstrak
metanol
mampu
menghambat pertumbuhan bakteri E. coli, S. aureus, B. subtilis dan P. aeruginosa
dengan diameter hambat rata-rata tertinggi ditunjukkan terhadap E. coli untuk
setiap konsentrasi, sedangkan terhadap bakteri S. typhii hasil pengujian tidak
menunjukkan daerah hambatan. Pengujian selanjutnya hanya dilakukan terhadap 4
bakteri yang dapat dihambat oleh ekstrak metanol saja.
Dari hasil pengujian aktivitas antibakteri terhadap ekstrak metanol
selanjutnya dilakukan analisis data secara statistik untuk mengetahui secara pasti
apakah terdapat perbedaan aktivitas antibakteri yang nyata diantara kedua
konsentrasi ekstrak metanol diatas. Metode analisa yang digunakan adalah metode
One way Anova. Data hasil analisa dapat dilihat pada Lampiran 6. Berdasarkan
hasil analisis statistik dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata
antara konsentrasi 10 mg/lubang dan 15 mg/lubang pada ekstrak metanol.
Selanjutnya untuk mengetahui perbedaan aktivitas antibakteri antar bakteri
dilakukan pengujian lebih lanjut dengan menggunakan metode LSD. Dari data
diperoleh bahwa untuk konsentrasi 10 mg/lubang maupun 15 mg/lubang bakteri
45
E. coli dan S. typhii menunjukkan perbedaan aktivitas yang nyata terhadap semua
bakteri uji yang lain. Sedangkan bakteri S. aureus, B. subtilis dan P. aeruginosa
menunjukkan perbedaan aktivitas antibakteri yang nyata hanya terhadap bakteri E.
coli dan S. typhii saja.
Hasil penelitian yang dilakukan Swamy dan Jayaveera (2007) terhadap
ekstrak buah Momordica cymbalaria (suatu famili Cucurbitaceae) menunjukkan
bahwa ekstrak metanol buah M. cymbalaria yang diisolasi dengan metode
soxhletasi dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. coli, S. aureus, B. subtilis,
dan P. aeruginosa dengan konsentrasi ekstrak 2 mg/ml. Selain keempat bakteri
tersebut ekstrak metanol M. cymbalaria juga dapat menghambat bakteri-bakteri
lain yaitu S. typhii, Shigella shonei, Klebsiella pneumoniae, dan Proteus vulgaris.
Ekstrak metanol kemudian dilakukan ekstraksi bertingkat dengan pelarut
organik yang semakin meningkat kepolarannya. Ekstraksi dilakukan untuk
memisahkan golongan senyawa yang mempunyai kepolaran yang berbeda
sehingga dapat diketahui golongan senyawa yang mempunyai aktivitas
antibakteri.
D. Ekstraksi Bertingkat Ekstrak Metanol
Sebanyak 150 g ekstrak metanol kental dipisahkan dengan cara ekstraksi
cair-cair menggunakan pelarut organik dengan tingkat kepolaran yang semakin
meningkat, sehingga diperoleh hasil seperti dalam Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Ekstraksi Bertingkat Ekstrak Metanol Pare Belut (Trichosanthes
anguina L.)
Pelarut
Berat ekstrak (g)
Persentase (%) *
n-Heksana
4,734
3,156
Kloroform
4,107
2,738
Etil Asetat
3,796
2,530
Butanol
2,962
1,975
Air (residu)
104,697
80,197
Keterangan : * : Dari berat ekstrak metanol kental yang diekstraksi
46
Hasil ekstraksi ini memperlihatkan bahwa ekstrak air (residu) merupakan
ekstrak yang memiliki berat ekstrak paling banyak, sedangkan ekstrak butanol
merupakan ekstrak yang memiliki berat ekstrak paling sedikit. Ekstrak-ekstrak
tersebut kemudian diuji aktivitas antibakterinya masing-masing terhadap bakteri
uji yang dapat dihambat oleh ekstrak metanol. Pengujian dilakukan bertujuan
untuk mengetahui ekstrak yang mempunyai aktivitas antibakteri.
E. Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak-Ekstrak Hasil Ekstraksi
Bertingkat Ekstrak Metanol
Ekstrak-ekstrak kental yang diperoleh kemudian diuji aktivitas
antibakterinya dengan menggunakan 4 macam bakteri uji yang menunjukkan
hambatan pada ekstrak metanol yaitu E. coli, S. aureus, B. subtilis dan P.
aeruginosa. Metode yang digunakan sama seperti yang digunakan pada uji
aktivitas antibakteri pada ekstrak metanol yaitu metode perforasi dengan diameter
lubang 6 mm. Konsentrasi masing-masing ekstrak pada uji aktivitas antibakteri ini
adalah 15 mg/lubang yang dilarutkan dalam DMSO. Hasil pengujian antibakteri
ini dapat dilihat pada tabel 5 dimana pada tabel 5 ini juga ditunjukkan hasil
pengujian ekstrak metanol dengan konsentrasi yang sama sebagai perbandingan,
sedangkan hasil pengujian selengkapnya terdapat pada lampiran 8.
Tabel 5. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak metanol dan ekstrak-ekstrak hasil
ekstraksi bertingkat ekstrak metanol terhadap 4 bakteri uji
Ekstrak
Diameter Hambat Rata-Rata (mm)
(15mg/lubang)
E. coli
S. aureus
B. subtilis
P.aeruginosa
Metanol
12,67±0,22
9,69 ± 0,21
10,15±0,18
11,38 ± 1,22
Heksana
9,46±0,12
6,00 ± 0,00
8,72±0,17
6,00±0,00
Kloroform
14,99±0,01
13,33±0,58
12,85±1,12
13,15 ±0,03
Etil Asetat
14,87±1,29
12,51±0,20
12,76±0,88
12,01±0,40
Butanol
13,40±0,09
6,00±0,00
12,11±0,02
11,60±0,04
Air
6,00± 0,00
6,00±0,00
6,00±0,00
6,00±0,00
Keterangan : diameter lubang = 6mm
47
Hasil pengujian aktivitas antibakteri pada tabel menunjukkan bahwa
ekstrak kloroform memberikan aktivitas antibakteri tertinggi terhadap keempat
bakteri uji diikuti dengan ekstrak etil asetat. Ekstrak heksana dan butanol samasama memberikan aktivitas tertinggi terhadap bakteri E. coli, diikuti dengan
bakteri B. subtilis dan P. aeruginosa tetapi ekstrak heksana tidak memberikan
aktivitas yang nyata terhadap P. aeruginosa. Terhadap bakteri S. aureus, baik
ekstrak heksana maupun butanol tidak menunjukkan aktivitas antibakteri yang
nyata. Ekstrak air dapat dikatakan tidak menunjukkan aktivitas antibakteri yang
nyata terhadap keempat bakteri uji. Dari semua ekstrak-ekstrak tersebut aktivitas
antibakteri tertinggi ditunjukkan oleh ekstrak kloroform yang memberikan
aktivitas tertinggi terhadap 4 bakteri uji diikuti oleh ekstrak etil asetat.
Berdasarkan hasil pengujian aktivitas antibakteri terhadap ekstrak –
ekstrak buah pare belut selanjutnya dilakukan analisis data secara statistik untuk
mengetahui secara pasti apakah terdapat perbedaan aktivitas antibakteri yang
nyata
diantara
masing-masing
ekstrak.
Uji
statistik
dilakukan
dengan
menggunakan metode One-Way Anova. Hasilnya ditunjukkan pada Lampiran 9.
Berdasarkan hasil analisis secara statistik, dapat disimpulkan bahwa untuk
semua ekstrak yaitu ekstrak heksana, kloroform, butanol, etil asetat dan air
terdapat perbedaan aktivitas antibakteri yang nyata terhadap keempat bakteri uji.
Kemudian pengujian lebih lanjut dilakukan untuk mengetahui secara pasti
perbedaan aktivitas antibakteri antar ekstrak. Pengujian dilakukan menggunakan
metode LSD. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata
antara ekstrak kloroform dengan keempat ekstrak yang lain dalam menghambat
pertumbuhan bakteri S. aureus dan P. aeruginosa, sedangkan terhadap bakteri E.
coli dan B. subtilis ekstrak kloroform tidak menunjukkan perbedaan yang nyata
dengan ekstrak etil asetat. Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa
ekstrak kloroform mempunyai aktivitas antibakteri tertinggi dan nyata terhadap
bakteri S. aureus dan P. aeruginosa dibandingkan dengan ekstrak lainnya, tetapi
tidak memberikan pengaruh yang nyata dengan ekstrak etil asetat terhadap
bakteri E. coli dan B. subtilis.
48
Hasil penelitian aktivitas antibakteri pada ekstrak daun Eupatorium
triplinerve Vehl yang diisolasi dengan metode maserasi selama semalam dengan
masing-masing pelarut yaitu petroleum eter, kloroform, etil asetat dan karbon
tetraklorida menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri tertinggi terdapat pada
ekstrak kloroform terhadap hampir di semua bakteri uji yaitu B. subtilis, B
megaterium, B. cereus, S. aureus, E. coli, ENABA ET, S. dysentriae, S. sonnei, S.
typhii, S. paratyphii dan P. aeruginosa. Dari 11 bakteri patogen tersebut, ekstrak
kloroform mempunyai aktivitas tertinggi terhadap 6 bakteri diikuti ekstrak etil
asetat, karbon tetraklorida, dan petroleum eter. Sedangkan 4 bakteri lainnya
menunjukkan aktivitas yang sama dengan ekstrak etil asetat dan 1 bakteri lainnya
ditunjukkan aktivitas tertingginya oleh ekstrak etil asetat (Rahman and Junaid,
2008).
Kemudian setelah dilakukan uji aktivitas antibakteri dari ekstrak-ekstrak
tersebut, selanjutnya adalah dilakukan pengujian golongan senyawa kimia yang
aktif antibakteri terhadap ekstrak-ekstrak yang menunjukkan aktivitas antibakteri.
F. Pengujian Golongan Senyawa Aktif Antibakteri
Pengujian golongan senyawa dilakukan terhadap ekstrak-ekstrak yang
menunjukkan aktivitas antibakteri. Golongan senyawa yang diuji adalah golongan
senyawa yang secara teori telah terbukti aktif sebagai antibakteri yaitu saponin,
fenolat, tanin, alkaloid, flavonoid dan terpenoid. Hasil pengujian beberapa
golongan senyawa kimia dapat dilihat pada Tabel 6.
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa ekstrak metanol mengandung
semua golongan senyawa yang diuji yaitu saponin, fenolat, tanin, alkaloid,
flavonoid dan terpenoid. Semua golongan senyawa tersebut secara teori telah
terbukti aktif sebagai senyawa antibakteri sehingga dimungkinkan ekstrak
metanol mempunyai aktivitas antibakteri yang cukup besar dan tertinggi
dibandingkan ekstrak-ekstrak yang lainnya. Namun dari hasil pengujian
antibakteri menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri ekstrak metanol tidak
memberikan aktivitas antibakteri paling besar dibandingkan ekstrak-ekstrak yang
lain. Dapat disimpulkan bahwa tidak semua golongan senyawa dalam ekstrak
49
metanol mempunyai pengaruh yang besar terhadap aktivitas antibakteri.
Dimungkinkan hanya beberapa golongan senyawa saja yang berkontribusi besar
terhadap aktivitas antibakteri, selebihnya mempunyai pengaruh yang kecil.
Tabel 6. Hasil Pengujian Golongan Senyawa Kimia Ekstrak Buah Pare Belut
(Trichosanthes anguina L.)
Golongan
Ekstrak
Senyawa
Metanol
Heksana
Kloroform
Etil Asetat
Butanol
Saponin
+
-
-
-
-
Fenolat
+
-
+
+
-
Tanin*
+
-
+
+
-
Alkaloid
+
-
+
-
+
Flavonoid
+
-
+
+
+
Terpenoid
+
+
+
-
-
Keterangan : - : Tidak mengandung golongan senyawa yang dimaksud
+ : Mengandung golongan senyawa yang dimaksud
*: tanin terkondensasi
Ekstrak heksana hanya mengandung golongan senyawa terpenoid pada
pengujiannya. Aktivitas antibakteri ekstrak heksana positif terhadap bakteri E. coli
dan B. subtilis saja, sehingga dapat disimpulkan golongan senyawa terpenoid saja
mempunyai kontribusi untuk aktivitas antibakterinya walaupun kecil. Sementara
ekstrak
kloroform
yang mempunyai
aktivitas
antibakteri
paling
tinggi
mengandung golongan senyawa fenolat, tanin, alkaloid, flavonoid dan terpenoid
dimana dapat disimpulkan masing-masing ataupun gabungan dari senyawa ini
mempunyai pengaruh yang besar sehingga mempunyai aktivitas antibakteri yang
besar pula. Untuk ekstrak etil asetat mengandung golongan senyawa fenolat, tanin
dan flavonoid mempunyai aktivitas antibakteri di bawah ekstrak kloroform
terhadap keempat bakteri, sehingga dapat disimpulkan bahwa gabungan maupun
masing-masing dari ketiga golongan senyawa ini mempunyai kontribusi yang
cukup besar untuk aktivitas antibakterinya. Sedangkan ekstrak butanol
50
mengandung golongan senyawa alkaloid dan flavonoid dimana golongan senyawa
ini berkontribusi dalam aktivitas antibakteri terhadap 3 bakteri uji yaitu E. coli, B.
subtilis, dan P. aeruginosa.
Selanjutnya setelah dilakukan pengujian golongan senyawa aktif
antibakteri adalah uji penegasan yang dilakukan terhadap ekstrak kloroform yang
merupakan ekstrak yang mempunyai aktivitas antibakteri tertinggi. Uji penegasan
menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dimana pengujian dilakukan untuk
golongan-golongan senyawa yang positif uji dalam ekstrak kloroform yaitu
fenolat, tanin, alkaloid, flavonoid dan terpenoid.
Uji KLT dilakukan dengan plat silika gel dengan larutan pengembang
heksana-kloroform dengan variasi perbandingan 3:7, 1:1, dan 7:3. Variasi
perbandingan dilakukan untuk mendapatkan pemisahan yang baik. Dari hasil
pengujian diperoleh bahwa pemisahan paling baik ditunjukkan pada perbandingan
heksana:kloroform = 1:1 dan kemudian dilakukan uji terhadap golongan senyawa
fenolat, tanin, alkaloid, flavonoid dan terpenoid. Pengujian dilakukan dengan
disemprot dengan reagen yang spesifik terhadap golongan senyawa yang
dimaksud kemudian hasilnya dilihat pada sinar tampak, sinar UV 254 dan sinar
UV 365.
Uji tanin dan fenolat menggunakan penyemprot FeCl3 1% dalam HCl
memberikan warna hijau, merah-ungu, dan atau biru/hitam (Wagner, 1983). Dari
hasil pengujian diperoleh pada Rf = 0,09 didapatkan warna hijau, sehingga dapat
disimpulkan positif tanin dan fenolat. Untuk uji alkaloid menggunakan
penyemprot Dragendorf yang akan memberikan warna coklat kemerahan pada
sinar tampak (Wagner, 1983). Dari hasil uji diperoleh warna coklat kemerahan
pada Rf = 0,07 dan 0,08 sehingga disimpulkan positif alkaloid. Hasil uji flavonoid
juga menunjukkan positif karena memberikan warna kekuningan pada sinar
tampak pada Rf = 0,36 dan 0,4. Secara teori flavonoid akan memberikan warna
kuning pada sinar tampak dan noda terfluoresensi kuning pada sinar UV 365
setelah disemprot reagen AlCl3 1% (Yuliasari, 2007). Kemudian uji terpenoid
menggunakan penyemprot vanilin-H2SO4 akan menunjukkan warna ungu pada
sinar tampak dan UV 365 (Wagner, 1983). Dari hasil pengujian juga terdapat
51
warna ungu pada sinar tampak dan sinar UV 365 dengan Rf = 0,09 dan 0,14
sehingga dapat disimpulkan positif terpenoid dalam ekstrak kloroform tersebut.
Hasil uji penegasan dengan KLT selengkapnya disajikan pada tabel 7, sedangkan
hasil uji KLT secara keseluruhan serta gambar hasil uji ditunjukkan pada
Lampiran 10 dan Lampiran 11.
Tabel 7. Hasil Uji Penegasan Golongan Senyawa Ekstrak Kloroform dengan
KLT
Uji Penegasan dengan KLT
Pengujian
Golongan
Rf
Senyawa
Tanin
0,09
Sinar Tampak
Teori
Hasil Uji
Teori
Hasil Uji
Senyawa
Hijau,
Hijau(+)
-
Hijau(+)
+
-
Coklat
+
dan
merah-ungu,
Fenolat
biru/hitam**
Alkaloid
0,07
Coklat
Coklat
0,08
kemerahan*
kemerahan(+)
Kuning*
Kekuningan(+)
Flavonoid 0,40
Golongan
UV 365
0,36
kemerahan(+)
Noda
-
+
Ungu(+)
+
Kekuningan(+) berfluoresensi
kuning
Terpenoid 0,09
Ungu*
Ungu(+)
-
0,15
Keterangan : * = Wagner H., 1983
** = Harborne, 1996
+ = mengandung senyawa yang dimaksud
Alkaloid mempunyai aktivitas antibakteri berhubungan dengan tingginya
senyawa aromatik kuartener dari alkaloid yang berkontribusi untuk membentuk
interkhelat dengan DNA bakteri. Flavonoid dapat membentuk kompleks dengan
dinding sel bakteri, semakin lipofilik suatu flavonoid semakin merusak membran
mikroba. Tanin mempunyai aktivitas antibakteri melalui aksi molekulernya yaitu
dengan membentuk kompleks dengan protein melalui ikatan hidrogen dan ikatan
52
hidrofobik (Cowan,1999). Tanin juga dapat menghambat aktivitas enzim βlaktamase yang merupakan enzim perusak antibiotik β-laktam (Shimamura et al.,
2007). Terpenoid mempunyai aktivitas antibakteri berhubungan dengan perusakan
membran sel oleh senyawa lipofilik (Cowan, 1999). Senyawa fenol dapat
menyebabkan denaturasi protein melalui proses adsorpsi dengan melibatkan
ikatan hidrogen. Pada kadar rendah, terbentuk kompleks protein-fenol dengan
ikatan lemah dan segera mengalami peruraian, diikuti penetrasi fenol ke dalam sel
dan menyebabkan presipitasi serta denaturasi protein. Pada kadar tinggi, fenol
menyebabkan koagulasi protein dan membran sel mengalami lisis, mengubah
permeabilitas membran bakteri (Siswandono dan Soekardjo, 2000).
Hasil uji aktivitas antibakteri dan pengujian senyawa menunjukkan ekstrak
kloroform mempunyai aktivitas antibakteri tertinggi terhadap semua bakteri uji
dan positif uji fenolat, tanin, alkaloid, flavonoid dan terpenoid. Selanjutnya
dilakukan uji penetapan konsentrasi hambat minimum (KHM) terhadap ekstrak
kloroform serta nilai bandingnya terhadap obat pembanding ampisilin untuk
mengetahui potensi antibakteri ekstrak kloroform.
G. Penetapan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)
1. Penetapan KHM Baku Ampisilin
Obat pembanding yang digunakan dalam penelitian aktivitas antibakteri
pare belut adalah ampisilin. Ampisilin merupakan antibiotik dengan spektrum luas
dan merupakan turunan penisilin yang tahan asam tetapi tidak tahan terhadap
enzim penisilinase. Penetapan KHM baku ampisilin dilakukan terhadap keempat
bakteri uji.
Penetapan KHM dilakukan dengan variasi konsentrasi
mulai dari
konsentrasi 15 ppm sampai konsentrasi 0,125 ppm (dikonversikan ke dalam
mg/µL) serta konsentrasi 0 ppm sebagai kontrol negatif. Hasil pengujian KHM
ampisilin ditunjukkan pada tabel 8, sedangkan hasil selengkapnya ditunjukkan
pada Lampiran 12.
Berdasarkan data dapat diketahui bahwa nilai KHM ampisilin terhadap
keempat bakteri uji. Nilai KHM ampisilin adalah 0,5 ppm atau 5.10-7 mg/µL
53
terhadap bakteri E. coli dan B. subtilis, 1 ppm atau 10-6 mg/µL terhadap bakteri S.
aureus dan 1,9 ppm atau 1,9.10-6 mg/µL terhadap bakteri P. aeruginosa.
Tabel 8. Hasil Pengujian Penetapan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)
Ampisilin terhadap 4 Bakteri Uji
Konsentrasi
Diameter Hambat Rata-Rata(mm)
ppm
mg/µL
E. coli
S. aureus
B. subtilis
P.aeruginosa
15
1,5 .10-5
13,15±0,20
13,20±0,14
12,25±0,30
13,26±0,33
7,6
7,6.10-6
10,59±0,47
10,12±0,25
10,35±0,27
10,12±0,14
3,8
3,8.10-6
9,90±0,06
8,84±0,28
9,96±0,10
9,30±0,26
1,9
1,9.10-6
8,23±0,21
8,05±0,15
8,84±0,07
7,34±0,25
1
10-6
7,76±0,11
7,24±0,09
7,93±0,20
6,00±0,00
0,5
5.10-7
7,24±0,09
6,00±0,00
7,24±0,06
6,00±0,00
0,25
2,5.10-7
6,00±0,00
6,00±0,00
6,00±0,00
6,00±0,00
6,00±0,00
6,00±0,00
6,00±0,00
6,00±0,00
0,125
-7
1,25.10
Keterangan : Diameter lubang = 6 mm
Dari data yang diperoleh, selanjutnya dilakukan analisis statistik untuk
mengetahui perbedaan secara pasti antara konsentrasi ampisilin dengan bakteri
uji. Metode analisis menggunakan One-Way Anova, hasilnya ditunjukkan pada
Lampiran 13. Berdasarkan analisis dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan
yang nyata untuk semua konsentrasi terhadap keempat bakteri uji kecuali pada
konsentrasi 7,6.10-6 mg/µL tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata.
Kemudian dilakukan uji lebih lanjut menggunakan metode LSD untuk
mengetahui ada tidaknya perbedaan yang nyata antar konsentrasi dan bakteri.
Hasil analisa ditunjukkan pada Lampiran 14. Dari hasil analisis menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan yang tidak nyata yaitu antara konsentrasi 2,5.107
mg/µL dengan 5.10-7 mg/µL pada bakteri S. aureus, konsentrasi 7,6.10-6 mg/µL
dengan 3,8.10-6 mg/µL pada B. subtilis, konsentrasi 10-6 mg/µL dengan 5.10-7 dan
2,5.10-7 mg/µL pada P. aeruginosa serta konsentrasi 1,9.10-6 mg/µL dengan 10-6
mg/µL pada bakteri E. coli.
54
Selanjutnya penetapan KHM dilakukan terhadap ekstrak kloroform yang
mempunyai aktivitas antibakteri tertinggi terhadap S. aureus dan P. aeruginosa.
Namun penetapan KHM tetap dilakukan terhadap keempat bakteri uji dimana
terhadap E. coli dan B. subtilis dilakukan hanya sebagai pengetahuan.
2. Penetapan KHM Ekstrak Kloroform
Ekstrak kloroform dilakukan penetapan KHM terhadap keempat bakteri
uji. Penetapan dilakukan dengan variasi konsentrasi (dimulai dengan konsentrasi
1% sampai dengan 0,0625% yang dikonversikan ke dalam satuan ppm dan
mg/µL). Hasilnya dapat dilihat pada tabel 9, sedangkan hasil pengujian
selengkapnya terdapat pada Lampiran 15.
Tabel 9. Hasil Pengujian Penetapan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)
Ekstrak Kloroform terhadap 4 Bakteri Uji
Konsentrasi
Diameter Hambat Rata-Rata (mm)
ppm
mg/µL
E. coli
S. aureus
B. subtilis
P.aeruginosa
10000
0,01
8,64±0,12
9,34±0,21
8,87±0,19
8,31±0,16
5000
0,005
8,22±0,4
8,01±0,18
8,12±0,54
7,66±0,40
2500
0,0025
7,90±0,28
7,50±0,30
7,74±0,09
7,32±0,09
1250
0,00125
7,24±0,51
6,00±0,00
7,48±0,36
7,24±0,04
625
0,000625
6,00±0,00
6,00±0,00
6,00±0,00
6,00±0,00
Keterangan : Diameter lubang = 6 mm
Berdasarkan data diatas diperoleh bahwa pada konsentrasi 1250 ppm
(0,00125 mg/µL) menunjukkan nilai KHM terhadap bakteri E. coli, B. subtilis,
dan P. aeruginosa. Sedangkan untuk bakteri S. aureus menunjukkan nilai KHM
pada konsentrasi 2500 ppm (0,0025 mg/µL). Dari data dapat disimpulkan bahwa
ekstrak kloroform mempunyai KHM paling rendah untuk bakteri E. coli, B.
subtilis dan P. aeruginosa.
Dari hasil diatas kemudian dilakukan analisis statistik untuk mengetahui
perbedaan secara pasti antara konsentrasi ekstrak dengan bakteri uji. Analisis
55
statistik menggunakan One-Way Anova, hasilnya ditunjukkan pada Lampiran 16.
Berdasarkan analisis statistik dapat diketahui bahwa pada konsentrasi 0,01 mg/µL
dan 0,00125 mg/µL terdapat perbedaan yang nyata. Analisis lebih lanjut
dilakukan untuk mengetahui perbedaan secara pasti antar konsentrasi dengan
menggunakan metode LSD. Hasil analisa ditunjukkan pada Lampiran 17. Hasil
analisis menunjukkan bahwa secara umum terdapat perbedaan yang nyata antara
konsentrasi satu dengan yang lain. Beberapa yang tidak menunjukkan perbedaan
yang nyata adalah antara konsentrasi 0,00125 mg/µL dengan 0,000625 mg/µL
terhadap bakteri S.aureus. Terhadap bakteri B. subtilis terdapat perbedaan yang
tidak nyata pada konsentrasi 0,005 mg/µL dengan 0,01 mg/µL, 0,0025 mg/µL,
dan 0,00125 mg/µL. Sedangkan terhadap P. aeruginosa menunjukkan perbedaan
yang tidak nyata pada konsentrasi 0,005 mg/µL dengan 0,0025 mg/µL dan
0,00125 mg/µL. Kemudian terhadap E. coli, perbedaan yang tidak nyata
ditunjukkan pada konsentrasi 0,0025 mg/µL dengan 0,01 mg/µL, 0,005 mg/µL
dan 0,00125 mg/µL.
Hasil penelitian aktivitas antibakteri terhadap buah M. cymbalaria
(Swamy and Jayaveera, 2007) juga menunjukkan konsentrasi hambat minimum
yang rendah terhadap ekstrak kloroform. Penelitian tersebut menunjukkan
terhadap bakteri S. aureus dan B. subtilis mempunyai konsentrasi hambat
minimum sebesar 2,5 µg/lubang, sedangkan terhadap bakteri E. coli memiliki
KHM sebesar 5 µg/lubang dan terhadap P. aeruginosa memiliki KHM sebesar 15
µg/lubang. Dari hasil ini jika dibandingkan dengan aktivitas antibakteri ekstrak
buah pare belut, maka dapat disimpulkan ekstrak buah pare belut masih memiliki
KHM lebih tinggi daripada M. cymbalaria terhadap keempat bakteri tersebut.
Selanjutnya setelah dilakukan penetapan KHM baik terhadap ampisilin
maupun ekstrak kloroform, dilakukan penetapan nilai banding ekstrak kloroform
terhadap ampisilin.
H. Penetapan Nilai Banding Ekstrak Kloroform
Penetapan nilai banding ekstrak kloroform dilakukan dengan pembanding
ampisilin. Pengujian terhadap ampisilin dilakukan pada variasi konsentrasi sama
56
seperti pada penentuan KHM ampisilin yaitu 1,5 .10-5 mg/µL hingga 1,25.10-7
mg/µL. Konsentrasi ekstrak kloroform yang digunakan adalah 0,01 mg/µL yaitu
merupakan konsentrasi tertinggi yang digunakan untuk penetapan KHM ekstrak
kloroform. Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak kloroform konsentrasi
0,01 mg/µL yang selanjutnya digunakan untuk penetapan nilai banding
ditunjukkan pada Tabel 10, sedangkan hasil selengkapnya ditunjukkan pada
Lampiran 18.
Tabel 10. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kloroform Konsentrasi
0,01 mg/µL terhadap 4 Bakteri Uji
Konsentrasi
Diameter Hambat Rata-Rata (mm)
(mg/µL)
E. coli
S. aureus
B. subtilis
P. aeruginosa
0,01
8,56±0,10
8,97±0,11
8,46±0,35
8,54±0,28
Perhitungan nilai banding dilakukan dengan cara membuat grafik log
konsentrasi ampisilin vs rata-rata diameter daerah hambat ampisilin. Dari grafik
diperoleh persamaan garis linier yang kemudian diplotkan terhadap diameter
hambat rata-rata ekstrak kloroform pada konsentrasi 0,01 mg/µL sehingga
diperoleh konsentrasi ekstrak yang setara dengan ampisilin. Dari data pada tabel 9
diketahui bahwa pada konsentrasi 0,01 mg/µL ekstrak kloroform memberikan
diameter hambat rata-rata untuk bakteri E. coli sebesar 8,56 mm. Kemudian
dengan menggunakan persamaan garis linier dari grafik ampisilin, maka didapat x
= -5,831 dan antilog x = 1,477.10-6 mg/µL. Jadi dapat disimpulkan bahwa pada
konsentrasi 0,01 mg/µL, ekstrak kloroform mempunyai aktivitas antibakteri
terhadap bakteri E. coli yang setara dengan konsentrasi ampisilin 1,477.10-6
mg/µL atau setara dengan 0,015 % ampisilin. Selanjutnya perhitungan yang sama
dilakukan terhadap ketiga bakteri uji yang lain. Penghitungan nilai banding
selengkapnya ditunjukkan pada Lampiran 19. Hasil penetapan nilai banding
ekstrak kloroform untuk keempat bakteri uji terhadap ampisilin dapat dilihat pada
Tabel 11.
57
Tabel 11. Hasil Penetapan Nilai Banding Ekstrak Kloroform Untuk Keempat
Bakteri Uji terhadap Ampisilin
Bakteri
Nilai Banding (%)
E. coli
0,015
S. aureus
0,014
B. subtilis
0,028
P. aeruginosa
0,030
Hasil penetapan uji banding diatas menunjukkan bahwa nilai banding
ekstrak kloroform terhadap bakteri S. aureus adalah 0,014 % dan terhadap P.
aeruginosa adalah 0,030 %. Nilai banding P. aeruginosa ini merupakan yang
tertinggi dari ketiga bakteri uji yang lain dimana nilai banding E. coli dan S.
aureus adalah sebesar 0,015 % dan 0,028 %. Berdasarkan penetapan uji banding
menunjukkan bahwa daya antibakteri ekstrak kloroform masih dibawah ampisilin
tetapi bisa digunakan sebagai alternatif antibakteri baru.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Ekstrak metanol, kloroform, dan etil asetat buah pare belut (Trichosanthes
anguina L.) mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri S. aureus, B.
subtilis, P. aeruginosa dan E. coli. Ekstrak butanol mempunyai aktivitas
antibakteri terhadap E. coli, B. subtilis dan P. aeruginosa sementara ekstrak
heksana mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri
E. coli dan B.
subtilis.
2. Golongan senyawa kimia yang terkandung dalam ekstrak metanol adalah
saponin, fenolat, tanin, alkaloid, flavonoid dan terpenoid. Ekstrak kloroform
mengandung golongan senyawa fenolat, tanin, alkaloid, flavonoid dan
terpenoid sementara ekstrak etil asetat mengandung golongan tanin, fenolat dan
flavonoid. Ekstrak butanol mengandung golongan senyawa alkaloid dan
flavonoid sementara ekstrak heksana hanya mengandung golongan senyawa
terpenoid saja.
3. Ekstrak kloroform buah pare belut mempunyai konsentrasi hambat minimum
(KHM) sebesar 0,0025 mg/µL terhadap bakteri S. aureus dan 0,00125 mg/µL
terhadap P. aeruginosa. Nilai uji banding ekstrak terhadap baku ampisilin
menunjukkan bahwa pada konsentrasi 10000 ppm ekstrak 0,030 % ampisilin
terhadap P. aeruginosa dan 0,014% terhadap S. aureus. Ekstrak kloroform
mempunyai perbandingan yang lebih kecil daripada ampisilin tetapi bisa
digunakan sebagai alternatif antibakteri baru.
B. Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penentuan senyawa yang
terkandung dalam ekstrak kloroform dan pengujian aktivitas antibakteri senyawa
tersebut.
58
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, S.A, 1986, Kimia Organik Bahan Alam, Jakarta, Karnunika.
Aliero, A. A., Aliero, B.L. and Buhari, U, 2008, Preliminary phytochemical and
antibacterial screening of Scadoxus multiflorus, International Journal of
Pure and Applied Sciences. Int. Jor. P. App. Scs. 2(4):13-17.
Anonim,1985, Cara Pembuatan Simplisia, Dirjen POM, Departemen Kesehatan
RI. Jakarta.
Anonim, 2008, Pseudomonas Genome Database V2 Improving Disease Treatment
Through Genome Research. http://www.pseudomonas.com/p_aerug.jsp.
diakses tanggal 10 Januari 2008.
Anonim,
2009,
Trichosanthes
anguina
L.
://www.warintek.ristek.go.id/pangan_kesehatan/tanaman_obat/depkes
http
3-
151.pdf, diakses tanggal 15 Maret 2009.
Bensequeni, A., Abdelouahab C., Mustapha B, Theoretical Study of the
Antibacterial Activity of Flavonoids, Laboratory of Materials Chemistry,
Faculty of Science, Mentouri University Constantine. Algeria. Diakses
tanggal 15 Maret 2009
Bermejo, J. E. H and J. Leon, 1994, Plant Production and Protection Series No.
26. FAO, Rome, Italy.
Cheeke, P. R., Actual and Potential Application of Yucca schidigera and Quillaja
saponaria Saponins in Human and Animal Nutrition, J Anim Sci
2000.77:1-10, Journal of Animal Science.
Cowan, M. M, 1999, Plant Product as Antimicrobial Agents, Clinical
Microbiology Reviews, Page 564-582.
Daisy, P., Mathew, S., Suveena, S., Nirmala, A. R., 2008, A Novel Terpenoid from
Elephantus Scaber-Antibacterial Activity on Stapylococcus Aureus: A
Substantiate Computional Approach, International Journal of Biomedical
Science. Int J Biomed Sci 2008:4(3):196-203.
59
60
Diastuti, H., Sajidah, A., Ratnaningsih, E., 2003, Fraksinasi dan Uji Aktivitas
Antibakteri Ekstrak Akar Piper sarmentosum Roxb. Ex Hunter, Majalah
Ilmiah UNSOED, No 2, edisi Juli 2003.
Dorland, W.A. Newman, 2002, Kamus Kedokteran (29thed.) Hartanto, H., dkk.,
Trans. Jakarta : EGC.
Duke, J. A, 2004, Ethnobotanical Uses. Beltsville Agricultural Research Center,
Beltsville, Maryland. http://www.ars-grin.gov/duke. diakses tanggal
Durrance Rd., N. Ft. Myers, 1999, Snake Gourd, Echo Plant Information Sheet.
USA, http://www.echonet.org.
Farrukh, U., Shreef, H. and Mahmud, S., 2008, Antibacterial Activities of
Coccinia grandis L, Pak. J. Bot. 40(3): 1259-1262,2008.
Fitriani, D., 2006, Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Jarak (Jatropha curas L.),
Daun Ketapang (Cassia alata C.), dan Daun Papaya (Carica papaya L.)
Terhadap Pertumbuhan Bakteri Aeromonas Secara In Vitro, Skripsi,
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Sebelas Maret.
Fransworth, N.R., 1996, Biological and Phytochemical Screening of Plant, J.
Pharm. Sci. Vol. 55.
Harborne, J.B, 1996, Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisa
Tumbuhan, Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro.
Bandung, ITB Press.
Hayani, E., 2007, Pemisahan Komponen Rimpang Temu Kunci secara
Kromatografi Kolom, Buletin Teknik Pertanian Vol. 12 No. 1, 2007.
Jawetz, E., Melnick, J. L., and Adelberg, E. A., 1986, Mikologi untuk Profesi
Kesehatan. Diterjemahkan oleh dr. Bonang, G. Edisi XVI. Jakarta. EGC
Press.
Jawetz, E., Melnick, J. L., dan Adelberg, E. A., 2005, Mikrobiologi Kedokteran,
diterjemahkan Eddy M., dkk., Bandung, Penerbit Salemba Medika, 318320, 372-373, 357-358.
61
Jork, H., Funk, W., and Fischer, W., 1990, Thin Layer Chromatography. vol.1.
New York. VHC Verlagsge Sellschaft, Cambridge.
Kristanti, A. N., Aminah, N. S., dan Kurniadi, B., 2008, Buku Ajar Fitokimia.
Surabaya. Jurusan Kimia-Laboratorium Kimia Organik Fakultas MIPA
Universitas Airlangga.
Kristinawati, D., 2004, Isolasi dan Identifikasi Komponen Kimia Pare Belut
(Trichosanthes anguina L.) dalam Ekstrak Etanol, Skripsi, Jurusan Kimia,
FMIPA, Universitas Sebelas Maret.
Mayasari, dr. E. 2005, Pseudomonas aeruginosa : Karakteristik, Infeksi dan
Penanganan, Medan, Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara Medan.
Ojiako, O. A. and Igwe, C. U., 2008, The Nutritive, Anti Nutritive and
Hepatotoxic Properties of Trichosanthes anguina (Snake Tomato) Fruits
from Nigeria, Department of Biochemistry, Federal University of
Technology, Owerri, Nigeria. Pakistan Journal of Nutrition 7 (1):85-89,
2008. ISSN 1680-5194.
Oyetayo, F. L., Oyetayo V. O., and Ajewole V. 2007. Phytochemical Profile and
Antibacterial Properties of the Seed and Leaf of the Luffa Plant (Luffa
cylindrical). Journal of Pharmacology and Toxicology 2 (6): 586589,207,Academic Journal.
Pambayun, R., Gardjito, M., Sudarmadji, S., dan Kuswanto, K. R.,
2007,
Kandungan Fenol dan Sifat Antibakteri dari Berbagai Jenis Ekstrak
Produk Gambir (Uncaria gambir Roxb.). Majalah Farmasi Indonesia
18(3), 141-146.
Padmawinata, K. dan Sudiro, I., 1987, Metode Fitokimia, Edisi ke-2. Bandung.
ITB. Terjemahan : Phytochemical Methods. Harborne, J.B. 1984. London.
Chapman and Hall Ltd.
62
Pedrosa. C. et al. 1978, Acta Manilana Phytochemical, Microbiological and
Pharmacological screening of Medical Plants, University of Santo
Thomas. Filipina.
Pelczar, M. J. and Chan, E. C. S., 1986, Microbiology, New Delhi. Mc Graw-Hill
Book Company.
Pilewski, PhD., Bylka, W., Matlawska, PhD, N.A, 2004, Natural Flavonoids as
Antimicrobial Agents, Department of Pharmacognosy, K. Marcinkowski
University of Medicinal Sciences 10 Sieroca, 61-771 Poznan, Poland.
JANA Vol 7, No. 2, 2004.
Poither, J., 2000, Natural Product/ Thin Layer (Planar) Chromatography.
Academic Press, University of Tours, Tours.
Rahman, S., and Junaid, M., 2008, Antimicrobial Activity of Leaf Extracts of
Eupatorium triplinerve Vehl Against Some Human Pathogenic Bacteria
and Phytopathogenic Fungi, Bangladesh J. Bot. 37 (1): 89-92, 2008
(June).
Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Cetakan Pertama, Yogyakarta.
Pustaka Pelajar.
Salle, A. J., 1974, Fundamental Principles of Bacteriology, New Delhi, Tata Mc
Graw-Hill Publishing Company Ltd.
Sastrohamidjojo, H., 1996, Sintesis Bahan Alam Hayati, Yogyakarta, Gajah Mada
University Press
Setiawan, A. I., dan Trisnawati, Y., 1995, Pare dan Labu, PT Penebar Swadaya.
Jakarta.
Setiono, L. dan Pudjaatmaka, A. H., 1990, Buku Teks Analisis Anorganik
Kualitatif Makro dan Semimikro, edisi kelima. Jakarta. PT Kalman Media
Pustaka.
Shimamura, T., Wei-Hua, Z., and Zhi-Qing, H., 2007, Mechanism of Action and
Potential for Use of Tea Catechin as Anti-infective Agent, Anti-infective
Agent In Medicinal Chemistry,2007,6,57-62, Bentham Science Publishers
Ltd.
63
Shulman, S. T.,MD., Phair, J. P., MD., Shommers, H. M., MD. Dasar Biologis
dan Klinis Penyakit Infeksi, edisi keempat,Diterjemahkan oleh Prof. Dr. A.
Samik Wahab. Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.
Siswandono dan Bambang Soekardjo, 1995, Kima Medisinal, Surabaya.
Universitas Airlangga Press.
Sumarsih, S., 2003, Diktat Kuliah Mikrobiologi Dasar, Yogyakarta, Jurusan Ilmu
Tanah Fakultas Pertanian UPN “Veteren” Yogyakarta.
Swamy and Jayaveera, 2007, Antimicrobial Properties of Momordica cymbalaria
Hook. F, Pharmacologyonline 3: 505-510.
Syahrurachman, dkk., 1994, Buku Ajar Mikrobiologi kedokterann, Jakarta,
Binarupa Aksara,108, 125-126, 163, 177.
Talaro, K. P., 2008, Foundation in Microbiology: Basic Principles, Sixth Edition.
McGraw Hill, New York.
Tjay, H. T. dan Rahardja, K., 1978, Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan dan
Efek-Efek Sampingnya, Edisi Kelima, Jakarta. PT Elex Media Komputindo
Kelompok Gramedia.
Tjitrosoepomo, G., 1989. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta.
UGM Press.
Tomori, O.A., Saba A. B., and Dada Adegbola H. O., 2007, Antibacterial Activity
of Ethanolic Extract of Whole Fruits of Lagenaria breviflora Robert,
Journal of Animal and Veteinary Advances 6 (5):752-757,2007.
Tortora, G.J., Funke, B.R., Case, C. L., 1994, Microbiology An Introduction, fifth
edition, The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc.
Vibrianti, Y., 2005, Identifikasi dan Isolasi Fraksi Aktif Antijamur dalam
Rimpang Temu Tis (Curcuma purpurascens BI.), Surakarta, Skripsi.
Jurusan Kimia Fakultas MIPA, Universitas Sebelas Maret.
Wagner, H., 1983, Plant Drug Analysis a Thin Layer Chromatography Atlas.
Germany, Springer-Verlag Berlin.
64
Yuliani, Y., 2001, Aktivitas Antibakteri Ekstrak dan Fraksi Ekstrak Rimpang
Temu Putri (Curcuma Petiolata Roxb.), Jurusan Farmasi, FMIPA,
Universitas Padjajaran.
65
Lampiran 1. Diagram Alir Prosedur Penelitian
Daging Buah
Pare belut
1. Diiris tipis-tipis
2. Dikeringkan dalam oven suhu 50°C
selama 72 jam
3. Digiling dengan penggiling
Simplisia serbuk
1. Ekstraksi maserasi dengan metanol 1 Ñ…
48 jam, 2 Ñ… 24 jam dengan metanol
berturut-turut 2,7 L, 1 L, dan 700 mL.
2. Evaporasi pelarut dengan penguap
vacum putar suhu 40°C.
Pengujian aktivitas
antibakteri terhadap
bakteri E. coli, B.
subtilis, S. aureus, P.
aeruginosa, E.
aerogenes, S.
dysentriae dan atau S.
thypii.
Ekstrak metanol
Ditambah 200 mL akuades : metanol
dengan perbandingan 1:4.
Larutan metanol - aquades
1. Ekstraksi bertingkat menggunakan
pelarut heksana, kloroform, etil asetat
dan butanol secara berturut-turut.
2. Dievaporasi pelarutnya dengan
penguap vacum putar suhu 40°C.
Ekstrak
n-heksana
Ekstrak
kloroform
Ekstrak
Etil asetat
Ekstrak
Butanol
Ekstrak
air
Uji antibakteri terhadap bakteri yang
dapat dihambat ekstrak metanol
Ekstrak aktif antibakteri
Penetapan KHM
dan uji banding
Ekstrak aktif tertinggi
Penapisan
fitokimia
Analisis KLT
66
Diagram Alir Ekstraksi Buah Pare Belut dengan Berbagai Pelarut
Simplisia kasar
- maserasi dengan metanol, 4x 24 jam
Ekstrak metanol
- ditambah metanol : air (4:1), diaduk sampai
homogen
Larutan metanol - air
n-heksana
Ekstrak n-heksana,
diuapkan
Lapisan metanol-air
kloroform
Ekstrak kloroform,
diuapkan
Lapisan metanol-air
etil asetat
Ekstrak etil asetat,
diuapkan
Lapisan metanol-air
butanol
Ekstrak
butanol
Lapisan air
(ekstrak air)
67
Diagram Alir Cara Kerja Pengujian Antibakteri
- Penyediaan Bakteri Uji
Bakteri Uji
dibiakkan
Agar miring (2 g NA dalam 100 mL aquades)
diinkubasi
Suhu 37 °C
- Penyediaan Suspensi Bakteri Uji
Bakteri berumur 24 jam
disuspensikan
3 mL aquades steril
68
- Pengujian Aktivitas Antibakteri (Metode Perforasi)
100 µL suspensi
bakteri
15 mL NA steril
cair
Cawan petri
campuran
digoyang-goyang
homogen
didiamkan
Agar membeku
dibuat
diisi
20 µL sampel
Lubang diameter
6 mm
diisi
20 µL DMSO
diinkubasi 20 jam, 37°C
Cawan petri
diukur
Diameter hambat
69
Lampiran 2. Hasil Determinasi Buah Pare Belut
70
Lampiran 3. Perhitungan Rendemen
Konsentrasi Sampel
Ekstrak
Metanol
dan
Konversi
Perhitungan Rendemen Ekstrak Metanol
Berat serbuk Pare belut yang diekstraksi = 1002,596 g
Berat ekstrak metanol yang didapatkan = 183,49 gram
Berat ekstrak
x 100 %
Berat simplisia awal
Rendemen =
=
183,49 g
x 100 %
1002,596 g
= 18,3 %
Perhitungan Konversi Konsentrasi Sampel Uji Aktivitas Antibakteri
Konversi satuan
a. Contoh konversi konsentrasi 100%
100 % =
0,1 g
100 mg 1 mg
=
=
100 mL 100 mL
mL
Dari konsentrasi 1 mg/µL diambil 20 µL untuk dimasukkan ke dalam
lubang, jadi berat sampel per lubang adalah
Berat Sampel per Lubang =
1mg
20 mL
´
= 20mg
Lubang
mL Lubang
71
Tabel 1. Konversi Satuan Konsentrasi
Konsentrasi
Konsentrasi
Berat sampel per
(mg/µL)
lubang (mg/lubang)
100
1
20
75
0,75
15
50
0,5
10
10
0,1
2
1
0,01
0,2
0,5
0,005
0,1
0,25
0,0025
0,05
0,125
0,00125
0,025
0,0625
0,000625
0,0125
(%)
b. Contoh konversi konsentrasi 1,5.10-5 mg/µL
Dari konsentrasi 1,5.10-5 mg/µL diambil 20 µL untuk dimasukkan ke
dalam lubang, jadi berat sampel per lubang adalah
1,5.10 -5 mg
1,5.10 -2 mg
´ 20 mL =
´ 20 mL
mL
mL
= 0,3 mg
Lubang
Berat Sampel per Lubang =
Tabel 2. konversi satuan konsentrasi
Konsentrasi
Berat sampel per
(mg/µL)
lubang (µg/lubang)
-5
0,3
-6
0,152
-6
0,076
-6
0,038
1,5.10
7,6.10
3,8.10
1,9.10
10
-6
5.10
0,02
-7
0,01
-7
2,5.10
1,25.10
-7
0,005
0,025
72
Lampiran 4. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol terhadap 7
Bakteri
Tabel 1. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol dengan Berat
Sampel per Lubang 20 mg/lubang, 15 mg/lubang dan 10 mg/lubang
Bakteri
Diameter Hambat (mm)
Berat
Berat
Berat
Sampel 20
Sampel 15
Sampel 10
mg/lubang
mg/lubang
mg/lubang
Keterangan
11,09
15,44
10,85
S. aureus
Gambar 1
P. aeruginosa
11,60
13,13
12,46
Gambar 2
B. subtilis
12,47
13,48
12,10
Gambar 3
E. coli
12,94
11,90
11,12
Gambar 4
S. dysenteriae
6,00
6,00
6,00
Gambar 5
E. aerogenes
6,00
6,00
6,00
Gambar 6
S. thypi
*
*
*
Gambar 7
Keterangan (+) = Positif antibakteri, (-) = Negatif antibakteri dan (*) = Diameter
hambat tidak begitu bening (meragukan).
Gambar-gambar Salah Satu Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol (Uji Ke-1)
Gambar 1
Gambar 2
73
Gambar 3
Gambar 4
Gambar 5
Gambar 6
Keterangan Gambar :
1. Pada gambar tertera konsentrasi
50% yang sama dengan 0,5 mg/µL
atau 10mg/lubang dan berlaku untuk
semua konsentrasi.
2. Konsentrasi sampel yang
dimasukkan ke dalam lubang
(searah jarum jam) adalah 100%,
Gambar 7
50%, 75% dan 0% (DMSO) yang
setara dengan berat sampel 20
mg/lubang, 10mg/lubang,
15mg/lubang dan 0mg/lubang.
74
Lampiran 5. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol terhadap 5
Bakteri
Tabel
2. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol terhadap 5
bakteri
Bakteri
Diameter Hambat (mm)
Keterangan
Berat sampel 10
Berat sampel 15
mg/lubang
mg/lubang
(gambar merupakan
perwakilan uji )
χ1
χ2
χ1
χ2
B. subtilis
9,91
9,11
10,27
10,02
Gambar 8.
P. aeruginosa
9,89
8,82
12,24
10,52
Gambar 9.
E. coli
10,61
11,68
12,82
12,51
Gambar 10.
S. aureus
10,34
9,43
9,54
9,83
Gambar 11.
S. thypii
6,00
6,00
6,00
6,00
Gambar 12.
Gambar-gambar Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol terhadap 5 Bakteri
Gambar 8
Gambar 9
75
Gambar 10
Gambar 11
Keterangan Gambar :
1. Pada gambar tertera konsentrasi
50% yang sama dengan 0,5 mg/µL
atau 10mg/lubang dan
berlaku
untuk semua konsentrasi).
2. Konsentrasi
dimasukkan
sampel
ke
dalam
yang
lubang
(searah jarum jam) adalah 75%,
Gambar 12
50% dan 0% (DMSO) yang setara
dengan
berat
mg/lubang,
0mg/lubang.
sampel
15
10mg/lubang
dan
76
Lampiran 6. Analisa One Way ANOVA Pengaruh Variasi Bakteri Pada MasingMasing Berat Sampel Ekstrak Metanol.
Analisa One Way ANOVA untuk membandingkan kesamaan dalam
beberapa perlakuan. Analisa menggunakkan program aplikasi komputer SPSS.
Contoh langkah analisa data untuk ekstrak metanol
IN PUT DATA
1. Mendefinisikan variabel sebagai berikut.
Variable View
No Name
1. Bakteri
Type
Numeric 8.2
2.
Numeric 8.2
DH 10
Label variabel
Label value
1,00 = “ S. aureus”
2,00 = “ P. aeruginosa”
3,00 = “ E. coli”
4,00 = “ B. subtilis”
5,00 = “ S. thypi”
None
DH ekstrak methanol 10
mg/lubang
3. DH 15
Numeric 8.2 DH ekstrak methanol 15 None
mg/lubang
Keterangan = DH 10 (diameter Hambat 10 mg/lubang),DH 15 (Diameter
Hambat 15 mg/lubang).
2. Data dari Tabel 2 Lampiran 4 dimasukan seperti dibawah ini
Data View
Bakteri DH10 DH15
1.00
10.34
9.54
1.00
9.43
9.83
2.00
9.89
12.24
2.00
8.82
10.52
3.00
10.61
12.82
3.00
11.68
12.51
4.00
9.91
10.27
4.00
9.11
10.02
5.00
6.00
6.00
5.00
6.00
6.00
3. Klik analyse, compare means, one way anova
4. Masukkan data ke dependent list dan faktor ke faktor.
5. Klik posthoc beritanda pada LSD lalu klik continue
6. Klik option beri tanda pada descriptives
7. Klik OK sehingga akan menghasilkan OUT PUT
77
OUT PUT ANALISA
1. Out Put descriptives menunjukkan gambaran secara umum data yang
dimasukkan dimana N (jumlah data), Mean (nilai rata-rata), Std deviation
(standart deviasi) dan minimum dan maximum merupakan nilai terendah dan
tertinggi data yang dimasukan
Descriptives
N
DH ekstrak metanol
10 mg/lubang
DH ekstrak metanol
15 mg/lubang
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
S.typhii
Total
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
S.typhii
Total
2
2
2
2
2
10
2
2
2
2
2
10
Mean
9.8850
9.3550
11.1450
9.5100
6.0000
9.1790
9.6850
11.3800
12.6650
10.1450
6.0000
9.9750
Std. Deviation
.64347
.75660
.75660
.56569
.00000
1.85889
.20506
1.21622
.21920
.17678
.00000
2.40019
Std. Error
.45500
.53500
.53500
.40000
.00000
.58783
.14500
.86000
.15500
.12500
.00000
.75901
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound
Upper Bound
4.1037
15.6663
2.5572
16.1528
4.3472
17.9428
4.4275
14.5925
6.0000
6.0000
7.8492
10.5088
7.8426
11.5274
.4527
22.3073
10.6955
14.6345
8.5567
11.7333
6.0000
6.0000
8.2580
11.6920
Minimum
9.43
8.82
10.61
9.11
6.00
6.00
9.54
10.52
12.51
10.02
6.00
6.00
Maximum
10.34
9.89
11.68
9.91
6.00
11.68
9.83
12.24
12.82
10.27
6.00
12.82
Contoh pada DH ekstrak metanol 10 mg/lubang bakteri S. aureus data yang
dimasukkan sebanyak 2 dengan rata-rata 9,89, standart deviasi 0,64347 dan
nilai tertinggi 10,34 dan nilai terendah 9,43.
2. Out Put ANOVA menunjukkan analisa secara keseluruhan pengaruh variasi
bakteri (faktor) pada masing-masing berat sampel ekstrak metanol (Dependent
List).
ANOVA
DH ekstrak metanol
10 mg/lubang
DH ekstrak metanol
15 mg/lubang
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Sum of
Squares
29.220
1.879
31.099
50.247
1.601
51.848
df
4
5
9
4
5
9
Mean Square
7.305
.376
F
19.439
Sig.
.003
12.562
.320
39.242
.001
Contoh pengujian ANOVA DH ekstrak metanol 10 mg/lubang (Dependent
List)
Nilai F = 19,439 dengan sig = 0,003
a. Ho : µ1 = µ2 = µ3 = µ4 = µ5 (tidak ada pengaruh variasi bakteri terhadap
penghambatan bakteri uji pada berat sampel 10 mg/lubang)
H1 : µi ¹ µj (ada pengaruh variasi bakteri terhadap penghambatan bakteri
uji pada berat sampel 10 mg/lubang)
78
b. α = 0,05
c. daerah kritis
Ho ditolak jika p< 0,05
d. statisti uji p = 0,000
e. kesimpulan
Karena p < 0,05 maka Ho ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa adanya
pengaruh variasi bakteri terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri uji
pada berat sampel 10 mg/lubang.
3. Out Put Multiple Comparisons: LSD menunjukkan analisa antar bakteri
(faktor) untuk mengetahui antar bakteri mempunyai pengaruh yang sama atau
beda.
79
Multiple Comparisons
LSD
Dependent Variable
DH ekstrak metanol
10 mg/lubang
(I) Bakteri
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
S.typhii
DH ekstrak metanol
15 mg/lubang
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
S.typhii
(J) Bakteri
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
S.typhii
S.aureus
E.coli
B.subtilis
S.typhii
S.aureus
P.aeruginosa
B.subtilis
S.typhii
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
S.typhii
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
S.typhii
S.aureus
E.coli
B.subtilis
S.typhii
S.aureus
P.aeruginosa
B.subtilis
S.typhii
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
S.typhii
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
Mean
Difference
(I-J)
.53000
-1.26000
.37500
3.88500*
-.53000
-1.79000*
-.15500
3.35500*
1.26000
1.79000*
1.63500*
5.14500*
-.37500
.15500
-1.63500*
3.51000*
-3.88500*
-3.35500*
-5.14500*
-3.51000*
-1.69500*
-2.98000*
-.46000
3.68500*
1.69500*
-1.28500
1.23500
5.38000*
2.98000*
1.28500
2.52000*
6.66500*
.46000
-1.23500
-2.52000*
4.14500*
-3.68500*
-5.38000*
-6.66500*
-4.14500*
Std. Error
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.61302
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
.56578
Sig.
.427
.095
.567
.001
.427
.033
.810
.003
.095
.033
.045
.000
.567
.810
.045
.002
.001
.003
.000
.002
.030
.003
.453
.001
.030
.072
.081
.000
.003
.072
.007
.000
.453
.081
.007
.001
.001
.000
.000
.001
95% Confidence Interval
Lower Bound
Upper Bound
-1.0458
2.1058
-2.8358
.3158
-1.2008
1.9508
2.3092
5.4608
-2.1058
1.0458
-3.3658
-.2142
-1.7308
1.4208
1.7792
4.9308
-.3158
2.8358
.2142
3.3658
.0592
3.2108
3.5692
6.7208
-1.9508
1.2008
-1.4208
1.7308
-3.2108
-.0592
1.9342
5.0858
-5.4608
-2.3092
-4.9308
-1.7792
-6.7208
-3.5692
-5.0858
-1.9342
-3.1494
-.2406
-4.4344
-1.5256
-1.9144
.9944
2.2306
5.1394
.2406
3.1494
-2.7394
.1694
-.2194
2.6894
3.9256
6.8344
1.5256
4.4344
-.1694
2.7394
1.0656
3.9744
5.2106
8.1194
-.9944
1.9144
-2.6894
.2194
-3.9744
-1.0656
2.6906
5.5994
-5.1394
-2.2306
-6.8344
-3.9256
-8.1194
-5.2106
-5.5994
-2.6906
*. The mean difference is significant at the .05 level.
4. Contoh pengujian LSD ekstrak metanol berat sampel 10mg/lubang
Antara bakteri S. aureus dengan P. aeruginosa mempunyai sig 0,427 >
0,05, dapat disimpulkan antara bakteri S. aureus dengan P. aeruginosa
mempunyai pengaruh yang sama. Antara bakteri E.coli dengan P. aeruginosa
mempunyai sig 0,033 < 0,05 dan dapat disimpulkan antara bakteri E.coli
dengan P. aeruginosa mempunyai pengaruh yang beda
80
Kesimpulan hasil uji LSD
No.
Bakteri (I)
Bakteri (J)
Kesimpulan
1
S. aureus
P. aeruginosa
mempunyai pengaruh yang sama
E. coli
mempunyai pengaruh yang sama
B. subtilis
mempunyai pengaruh yang sama
S. thypi
mempunyai pengaruh yang beda
S. aureus
mempunyai pengaruh yang sama
E. coli
mempunyai pengaruh yang beda
B. subtilis
mempunyai pengaruh yang sama
S. thypi
mempunyai pengaruh yang beda
......dst......
................dst................................
2.
P. aeruginosa
......dst......
81
Lampiran 7. Analisa One Way ANOVA Pengaruh Variasi Berat Sampel Ekstrak
Metanol Pada Masing-Masing Bakteri.
Langkah-langkah analisa sama seperti pada analisa One Way ANOVA
pengaruh variasi bakteri pada masing-masing berat
sampel ekstrak metanol
(Lampiran 5), tetapi dengan in put data Tabel 2. Lampiran 4. sebagai berikut :
IN PUT DATA
Variable View
No Name
1. Saur
Type
Numeric 8.2
2.
konstr
Numeric 8.2
3.
paru
Numeric 8.2
4.
ecoli
Numeric 8.2
5.
bsubt
Numeric 8.2
6.
sthypii
Numeric 8.2
Label variabel
Diameter hambat bakteri
S. aureus
Diameter hambat bakteri
P. aeruginosa
Diameter hambat bakteri
E. coli
Diameter hambat bakteri
B. subtilis
Diameter hambat bakteri
S. thypi
Data View
No.
1.
2.
3.
4.
Saur
10.34
9.43
9.54
9.83
konstr
1.00
1.00
2.00
2.00
paru
9.89
8.82
12.24
10.52
ecoli
10.61
11.68
12.82
12.51
bsubt
9.91
9.11
10.27
10.02
sthypii
6.00
6.00
6.00
6.00
Label value
None
1,00 = “ Berat sampel
10mg/lubang”
2,00 = “Berat sampel
15 mg/lubang”
None
None
None
None
82
Dari hasil analisa diperoleh out put analisa sebagai berikut :
Descriptives
N
Diameter hambat
bakteri S. aureus
Diameter hambat
bakteri P. aeruginosa
Diameter hambat
bakteri E. coli
Diameter hambat
bakteri B. subtilis
berat sampel
10 mg/lubang
berat sampel
15 mg/lubang
Total
berat sampel
10 mg/lubang
berat sampel
15 mg/lubang
Total
berat sampel
10 mg/lubang
berat sampel
15 mg/lubang
Total
berat sampel
10 mg/lubang
berat sampel
15 mg/lubang
Total
berat sampel
10 mg/lubang
berat sampel
15 mg/lubang
Total
Diameter hambat
bakteri S. typhii
Mean
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound Upper Bound
Std. Deviation
Std. Error
Minimum
Maximum
2
9.8850
.64347
.45500
4.1037
15.6663
9.43
10.34
2
9.6850
.20506
.14500
7.8426
11.5274
9.54
9.83
4
9.7850
.40665
.20333
9.1379
10.4321
9.43
10.34
2
9.3550
.75660
.53500
2.5572
16.1528
8.82
9.89
2
11.3800
1.21622
.86000
.4527
22.3073
10.52
12.24
4
10.3675
1.43205
.71602
8.0888
12.6462
8.82
12.24
2
11.1450
.75660
.53500
4.3472
17.9428
10.61
11.68
2
12.6650
.21920
.15500
10.6955
14.6345
12.51
12.82
4
11.9050
.98842
.49421
10.3322
13.4778
10.61
12.82
2
9.5100
.56569
.40000
4.4275
14.5925
9.11
9.91
2
10.1450
.17678
.12500
8.5567
11.7333
10.02
10.27
4
9.8275
.50149
.25074
9.0295
10.6255
9.11
10.27
2
6.0000
.00000
.00000
6.0000
6.0000
6.00
6.00
2
6.0000
.00000
.00000
6.0000
6.0000
6.00
6.00
4
6.0000
.00000
.00000
6.0000
6.0000
6.00
6.00
ANOVA
Diameter hambat
bakteri S. aureus
Diameter hambat
bakteri P. aeruginosa
Diameter hambat
bakteri E. coli
Diameter hambat
bakteri B. subtilis
Diameter hambat
bakteri S. typhii
Pada
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
analisa
Sum of
Squares
.040
.456
.496
4.101
2.052
6.152
2.310
.621
df
1
2
3
1
2
3
1
2
2.931
3
.403
.351
.754
.000
.000
.000
1
2
3
1
2
3
pengaruh variasi berat
Mean Square
.040
.228
F
.175
Sig.
.716
4.101
1.026
3.997
.184
2.310
.310
7.447
.112
.403
.176
2.296
.269
.000
.000
.
.
sampel pada masing-masing
bakteri tidak dapat dilakukan analisa LSD karena variasi berat sampel hanya 2
variasi.
83
Lampiran 8. Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak-Ekstrak Hasil
Ekstraksi Bertingkat.
Tabel 1. Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak-Ekstrak Hasil Ekstraksi
Bertingkat dengan Berat Sampel ekstrak 15mg/lubang.
Nama
ekstrak
Diameter hambat (mm)
B. subtilis
S. aureus
χ1
χ2
χ1
χ2
8,60
8,84
6,00
6,00
12,06 13,64 12,92 13,74
12,13 13,38 12,65 12,37
12,09 12,12
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
Gambar 1 dan Gambar 3 dan
gambar 2
gambar 4
Keterangan : diameter lubang = 6 mm
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Air
Keterangan
E. coli
P. aeruginosa
χ1
χ2
9,24
8,42
14,98 15,00
13,95 15,78
13,46 13,33
6,00
6,00
Gambar 5 dan
gambar 6
χ1
χ2
6,00
6,00
13,17 13,13
12,29 11,73
11,57 11,62
6,00
6,00
Gambar 7 dan
gambar 8
Gambar Salah Satu Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak-Ekstrak Hasil Ekstraksi
Bertingkat.
a. Bakteri B. subtilis
Gambar 1
Gambar 2
Ekstrak heksana, kloroform, butanol dan etil asetat menghambat pertumbuhan
bakteri, sedangkan ekstrak air tidak menghambat pertumbuhan bakteri B. subtilis
84
b. Bakteri S. aureus
Gambar 4
Gambar 5
Ekstrak kloroform dan etil asetat menghambat pertumbuhan bakteri, sedangkan
ekstrak heksana, butanol dan air tidak menghambat pertumbuhan bakteri S.
aureus
c. Bakteri E. coli
Gambar 5
Gambar 6
Ekstrak heksana, kloroform, butanol dan etil asetat menghambat pertumbuhan
bakteri, sedangkan ekstrak air tidak menghambat pertumbuhan bakteri E. coli
d. Bakteri P. aeruginosa
85
Gambar 7
Gambar 8
Ekstrak, kloroform butanol dan etil asetat menghambat pertumbuhan bakteri,
sedangkan ekstrak heksana dan air tidak menghambat pertumbuhan bakteri
P. aeruginosa.
86
Lampiran 9. Analisa One Way-ANOVA Pengaruh Variasi Ekstrak pada MasingMasing Bakteri pada Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak-Ekstrak Hasil
Ekstraksi Bertingkat
Analisa data dilakukan seperti pada analisa one way ANOVA pengaruh
variasi bakteri pada masing-masing berat sampel ekstrak metanol (Lampiran 6)
dan data dari Tabel 1. Lampiran 8. dimasukan sebagai berikut
IN PUT DATA
Variable View
No Name
1. DhSaureus
2.
3.
4.
5.
Type
Numeric
8.2
DhPaerugin Numeric
8.2
DhEcoli
Numeric
8.2
DhBsubtilis Numeric
8.2
ekstrak
Numeric
8.2
Label variabel
Diameter Hambat
Bakteri S.aureus
Diameter Hambat
Bakteri P.aeruginosa
Diameter Hambat
Bakteri E.coli
Diameter Hambat
Bakteri B.subtilis
Ekstrak
Label value
None
None
None
None
1,00 = “ Heksana ”
2,00 = “ Kloroform”
3,00 = “ Etil asetat”
4,00 = “ Butanol”
5,00 = “ Air”
Data View
DhSaureus
6.00
6.00
12.92
13.74
12.65
12.37
6.00
6.00
6.00
6.00
DhPaerugin
6.00
6.00
13.17
13.13
12.29
11.73
11.57
11.62
6.00
6.00
DhEcoli
9.54
9.37
14.98
15.00
13.95
15.78
13.46
13.33
6.00
6.00
DhBsubtilis
8.60
8.84
12.06
13.64
12.13
13.38
12.09
12.12
6.00
6.00
ekstrak
1.00
1.00
2.00
2.00
3.00
3.00
4.00
4.00
5.00
5.00
87
OUT PUT DATA
Descriptives
N
Diameter hambat
bakteri S. aureus
Diameter hambat
bakteri P. aeruginosa
Diameter hambat
bakteri E. coli
Diameter hambat
bakteri B. subtilis
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Air
Total
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Air
Total
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Air
Total
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Air
Total
2
2
2
2
2
10
2
2
2
2
2
10
2
2
2
2
2
10
2
2
2
2
2
10
Mean
6.0000
13.3300
12.5100
6.0000
6.0000
8.7680
6.0000
13.1500
12.0100
11.5950
6.0000
9.7510
9.4550
14.9900
14.8650
13.3950
6.0000
11.7410
8.7200
12.8500
12.7550
12.1050
6.0000
10.4860
Std. Deviation
.00000
.57983
.19799
.00000
.00000
3.58973
.00000
.02828
.39598
.03536
.00000
3.27536
.12021
.01414
1.29401
.09192
.00000
3.71438
.16971
1.11723
.88388
.02121
.00000
2.89176
Std. Error
.00000
.41000
.14000
.00000
.00000
1.13517
.00000
.02000
.28000
.02500
.00000
1.03576
.08500
.01000
.91500
.06500
.00000
1.17459
.12000
.79000
.62500
.01500
.00000
.91446
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound
Upper Bound
6.0000
6.0000
8.1205
18.5395
10.7311
14.2889
6.0000
6.0000
6.0000
6.0000
6.2001
11.3359
6.0000
6.0000
12.8959
13.4041
8.4523
15.5677
11.2773
11.9127
6.0000
6.0000
7.4079
12.0941
8.3750
10.5350
14.8629
15.1171
3.2388
26.4912
12.5691
14.2209
6.0000
6.0000
9.0839
14.3981
7.1953
10.2447
2.8121
22.8879
4.8136
20.6964
11.9144
12.2956
6.0000
6.0000
8.4174
12.5546
Minimum
6.00
12.92
12.37
6.00
6.00
6.00
6.00
13.13
11.73
11.57
6.00
6.00
9.37
14.98
13.95
13.33
6.00
6.00
8.60
12.06
12.13
12.09
6.00
6.00
Maximum
6.00
13.74
12.65
6.00
6.00
13.74
6.00
13.17
12.29
11.62
6.00
13.17
9.54
15.00
15.78
13.46
6.00
15.78
8.84
13.64
13.38
12.12
6.00
13.64
ANOVA
Diameter hambat
bakteri S. aureus
Diameter hambat
bakteri P. aeruginosa
Diameter hambat
bakteri E. coli
Diameter hambat
bakteri B. subtilis
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Sum of
Squares
115.600
.375
115.975
96.393
.159
96.552
122.472
1.698
df
4
5
9
4
5
9
4
5
124.169
9
73.202
2.059
75.261
4
5
9
Mean Square
28.900
.075
F
384.922
Sig.
.000
24.098
.032
758.524
.000
30.618
.340
90.183
.000
18.300
.412
44.447
.000
88
Multiple Comparisons
LSD
Dependent Variable
Diameter hambat
bakteri S. aureus
(I) ekstrak
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Air
Diameter hambat
bakteri P. aeruginosa
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Air
Diameter hambat
bakteri E. coli
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Air
Diameter hambat
bakteri B. subtilis
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Air
(J) ekstrak
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Air
Heksana
Etil asetat
Butanol
Air
Heksana
Kloroform
Butanol
Air
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Air
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Air
Heksana
Etil asetat
Butanol
Air
Heksana
Kloroform
Butanol
Air
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Air
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Air
Heksana
Etil asetat
Butanol
Air
Heksana
Kloroform
Butanol
Air
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Air
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Kloroform
Etil asetat
Butanol
Air
Heksana
Etil asetat
Butanol
Air
Heksana
Kloroform
Butanol
Air
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Air
Heksana
Kloroform
Etil asetat
Butanol
*. The mean difference is significant at the .05 level.
Mean
Difference
(I-J)
-7.33000*
-6.51000*
.00000
.00000
7.33000*
.82000*
7.33000*
7.33000*
6.51000*
-.82000*
6.51000*
6.51000*
.00000
-7.33000*
-6.51000*
.00000
.00000
-7.33000*
-6.51000*
.00000
-7.15000*
-6.01000*
-5.59500*
.00000
7.15000*
1.14000*
1.55500*
7.15000*
6.01000*
-1.14000*
.41500
6.01000*
5.59500*
-1.55500*
-.41500
5.59500*
.00000
-7.15000*
-6.01000*
-5.59500*
-5.53500*
-5.41000*
-3.94000*
3.45500*
5.53500*
.12500
1.59500*
8.99000*
5.41000*
-.12500
1.47000
8.86500*
3.94000*
-1.59500*
-1.47000
7.39500*
-3.45500*
-8.99000*
-8.86500*
-7.39500*
-4.13000*
-4.03500*
-3.38500*
2.72000*
4.13000*
.09500
.74500
6.85000*
4.03500*
-.09500
.65000
6.75500*
3.38500*
-.74500
-.65000
6.10500*
-2.72000*
-6.85000*
-6.75500*
-6.10500*
Std. Error
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.27401
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.17824
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.58267
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
.64167
Sig.
.000
.000
1.000
1.000
.000
.030
.000
.000
.000
.030
.000
.000
1.000
.000
.000
1.000
1.000
.000
.000
1.000
.000
.000
.000
1.000
.000
.001
.000
.000
.000
.001
.067
.000
.000
.000
.067
.000
1.000
.000
.000
.000
.000
.000
.001
.002
.000
.839
.041
.000
.000
.839
.053
.000
.001
.041
.053
.000
.002
.000
.000
.000
.001
.001
.003
.008
.001
.888
.298
.000
.001
.888
.358
.000
.003
.298
.358
.000
.008
.000
.000
.000
95% Confidence Interval
Lower Bound
Upper Bound
-8.0344
-6.6256
-7.2144
-5.8056
-.7044
.7044
-.7044
.7044
6.6256
8.0344
.1156
1.5244
6.6256
8.0344
6.6256
8.0344
5.8056
7.2144
-1.5244
-.1156
5.8056
7.2144
5.8056
7.2144
-.7044
.7044
-8.0344
-6.6256
-7.2144
-5.8056
-.7044
.7044
-.7044
.7044
-8.0344
-6.6256
-7.2144
-5.8056
-.7044
.7044
-7.6082
-6.6918
-6.4682
-5.5518
-6.0532
-5.1368
-.4582
.4582
6.6918
7.6082
.6818
1.5982
1.0968
2.0132
6.6918
7.6082
5.5518
6.4682
-1.5982
-.6818
-.0432
.8732
5.5518
6.4682
5.1368
6.0532
-2.0132
-1.0968
-.8732
.0432
5.1368
6.0532
-.4582
.4582
-7.6082
-6.6918
-6.4682
-5.5518
-6.0532
-5.1368
-7.0328
-4.0372
-6.9078
-3.9122
-5.4378
-2.4422
1.9572
4.9528
4.0372
7.0328
-1.3728
1.6228
.0972
3.0928
7.4922
10.4878
3.9122
6.9078
-1.6228
1.3728
-.0278
2.9678
7.3672
10.3628
2.4422
5.4378
-3.0928
-.0972
-2.9678
.0278
5.8972
8.8928
-4.9528
-1.9572
-10.4878
-7.4922
-10.3628
-7.3672
-8.8928
-5.8972
-5.7795
-2.4805
-5.6845
-2.3855
-5.0345
-1.7355
1.0705
4.3695
2.4805
5.7795
-1.5545
1.7445
-.9045
2.3945
5.2005
8.4995
2.3855
5.6845
-1.7445
1.5545
-.9995
2.2995
5.1055
8.4045
1.7355
5.0345
-2.3945
.9045
-2.2995
.9995
4.4555
7.7545
-4.3695
-1.0705
-8.4995
-5.2005
-8.4045
-5.1055
-7.7545
-4.4555
89
Lampiran 10. Tabel Hasil KLT Ekstrak Kloroform
Dari hasil pengujian KLT setelah penyemprotan reagen spesifik
didapatkan sejumlah noda dengan nilai Rf dan warna tertentu yang diamati
dibawah sinar tampak dan UV 365 nm. Penampakan sejumlah noda dicocokkan
warnanya dengan dasar teori dan hasil pengamatan KLT sebagai berikut:
Reagen yang
disemprotkan
dan senyawa
yang diuji
Hasil Pengamatan Plat KLT
Sinar Tampak
Rf
Warna
Sinar UV 365 nm
Ket
Rf
0,02
0,04
0,06
0,02
Hijau muda
Hijau
coklat
-
0,22
0,4
Hijau kekuningan
-
0,06
Hijau kekuningan
-
0,02
0,08
0,36
0,4
0,04
0,07
0,08
0,1
0,14
Coklat
Hijau
-
0,02
0,28
0,38
0,08
0,1
Kekuningan
+
Coklat
Coklat kemerahan
Coklat kehijauan
Kekuningan
Hijau
+
-
0,18
0,36
0,5
Hijau kehitaman
-
0,02
Coklat
-
0,04
Coklat muda
-
0,08
0,09
0,1
0,14
0,18
0,04
0,08
0,09
0,16
0,22
0,3
0,42
Hijau muda
Hijau
Kehijauan
+
-
Kecoklatan
-
Coklat
Coklat muda
Ungu
Ungu kecoklatan
Kecoklatan
+
-
Hijau kecoklatan
-
Warna
Ket
Coklat
-
Coklat
-
Coklat muda
Coklat tua
-
0,44
Biru terang
-
0,02
0,08
0,12
Coklat
Coklat kemerahan
Hijau
+
-
0,02
0,18
0,06
0,8
Coklat
-
Kecoklatan
-
hijau
+
0,06
0,1
0,14
0,18
0,2
0,28
0,4
Coklat muda
Coklat kehijauan
Ungu
Coklat kemerahan
Biru terang
+
-
Kemerahan
-
-
Tanpa Reagen
AlCl3
(Flavonoid)
Dragendorf
(Alkaloid)
FeCl3
(Tanin dan
Fenolat)
Terpenoid
Keterangan:
Rf
(-)
: Retardation factor
: Negatif senyawa uji
(+): Positif senyawa uji
90
Lampiran 11. Foto Hasil Uji KLT Ekstrak Kloroform Pare Belut
1. Foto Hasil Uji KLT Ekstrak Kloroform Pare Belut
a. Foto hasil KLT dengan Pengembang Heksana : Kloroform = 1 : 1 sebelum
disemprot
b. Fotohasil KLT dengan Pengembang Heksana : Kloroform = 1 : 1 setelah
disemprot
91
Lampiran 12. Penentuan KHM Ampisilin
Dari Tabel 1. Lampiran 14. didapatkan data sebagai berikut
Tabel 1. Lampiran 14. Uji Aktivitas Antibakteri Ampisilin
Konsentrasi
mg/µL
1,5 .10-5
7,6.10-6
3,8.10-6
1,9.10-6
10-6
5.10-7
2,5.10-7
1,25.10-7
Diameter hambat (mm)
E. coli
B. subtilis
13,01 13,29 12,03 12,46
10,92 10,25 10,16 10,54
9,94 9,86 9,89 10,03
8,08 8,38 8,89 8,75
7,68 7,84 7,79 8,07
7,17 7,30 7,18 7,27
6,00 6,00 6,00 6,00
6,00 6,00 6,00 6,00
S. aureus
13,30
10,30
8,64
7,94
7,17
6,00
6,00
6,00
13,10
9,94
9,03
8,15
7,30
6,00
6,00
6,00
P. aeruginosa
13,49
10,22
9,11
7,51
6,00
6,00
6,00
6,00
13,03
10,02
9,48
7,16
6,00
6,00
6,00
6,00
KHM ditentukan dengan memilih konsentrasi terkecil ekstrak yang
masih menghambat pertumbuhan bakteri uji, contoh pada bakteri B. subtilis
konsentrasi 5.10-7mg/µL merupakan konsentrasi terkecil ampisilin yang masih
dapat menghambat pertumbuhan bakteri ditandai pada konsentrasi dibawahnya
yaitu konsentrasi 2,5.10-7 mg/µL dan 1,25.10-7 mg/µL ampisilin sudah tidak
menghambat pertumbuhan bakteri B. subtilis lagi. Sehingga KHM ampisilin untuk
bakteri B. subtilis adalah 5.10-7mg/µL dan KHM ampisilin untuk semua bakteri
uji sebagai berikut :
Tabel 1. KHM Ampisilin
Bakteri
KHM
E. coli
5.10-7 mg/µL
B. subtilis
5.10-7mg/µL
S. aureus
10-6mg/µL
P. aeruginosa
1,9.10-6mg/µL
92
Lampiran 13. Analisa One Way ANOVA Pengaruh Variasi Konsentrasi Ampisilin
pada Masing-Masing Bakteri pada Uji Aktivitas Antibakteri
Ampisilin.
Analisa data dilakukan seperti pada analisa one way ANOVA pengaruh
variasi bakteri pada masing-masing berat sampel ekstrak metanol (Lampiran 5)
dan data dari tabel 1. Lampiran 12. dimasukan sebagai berikut :
IN PUT DATA
Variable View
No
1.
2.
3.
4.
5.
Name
DHSaur
DHpaeru
DHecol
DHBsubtil
Konsentrasi
Type
Numeric 8.2
Numeric 8.2
Numeric 8.2
Numeric 8.2
Numeric 8.2
Label variabel
DH (S.aureus)
DH (P.aeruginosa)
DH (E.coli)
DH (B.subtilis)
Konsentrasi
Label value
1,00 = “1,5.10^ -5”
2,00 = “7,6.10^ -6”
3,00 = “3,8.10^ -6”
4,00 = “1,9.10^ -6”
5,00 = “10^ -6”
6,00 = “5.10^ -7”
7,00 = “2,5.10^ -7”
8,00 = “1,25.10^ -7”
Data View
DHSaur
13,30
13,10
10,30
9,94
8,64
9,03
7,94
8,15
7,17
7,30
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
DHpaeru
13,49
13,03
10,22
10,03
9,11
9,48
7,16
7,51
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
OUT PUT DATA
DHecol
13,01
13,29
10,92
10,25
9,94
9,86
8,08
8,38
7,68
7,84
7,17
7,30
6,00
6,00
6,00
6,00
DHBsubtil Konsentrasi
12,03
1,00
12,46
1,00
10,16
2,00
10,54
2,00
9,89
3,00
10,03
3,00
8,89
4,00
8,75
4,00
7,79
5,00
8,07
5,00
7,18
6,00
7,27
6,00
6,00
7,00
6,00
7,00
6,00
8,00
6,00
8,00
93
Descriptives
N
DH (S.aureus)
DH (P.aeruginosa)
DH (E.coli)
DH (B.subtilis)
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
Total
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
Total
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
Total
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
Total
2
2
2
2
2
2
2
2
16
2
2
2
2
2
2
2
2
16
2
2
2
2
2
2
2
2
16
2
2
2
2
2
2
2
2
16
Mean
13,2000
10,1200
8,8350
8,0450
7,2350
6,0000
6,0000
6,0000
8,1794
13,2600
10,1250
9,2950
7,3350
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
8,0019
13,1500
10,5850
9,9000
8,2300
7,7600
7,2350
6,0000
6,0000
8,6075
12,2450
10,3500
9,9600
8,8200
7,9300
7,2250
6,0000
6,0000
8,5663
Std. Deviation
,14142
,25456
,27577
,14849
,09192
,00000
,00000
,00000
2,44014
,32527
,13435
,26163
,24749
,00000
,00000
,00000
,00000
2,59305
,19799
,47376
,05657
,21213
,11314
,09192
,00000
,00000
2,38676
,30406
,26870
,09899
,09899
,19799
,06364
,00000
,00000
2,13575
Std. Error
,10000
,18000
,19500
,10500
,06500
,00000
,00000
,00000
,61004
,23000
,09500
,18500
,17500
,00000
,00000
,00000
,00000
,64826
,14000
,33500
,04000
,15000
,08000
,06500
,00000
,00000
,59669
,21500
,19000
,07000
,07000
,14000
,04500
,00000
,00000
,53394
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound Upper Bound
11,9294
14,4706
7,8329
12,4071
6,3573
11,3127
6,7108
9,3792
6,4091
8,0609
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,8791
9,4796
10,3376
16,1824
8,9179
11,3321
6,9444
11,6456
5,1114
9,5586
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,6201
9,3836
11,3711
14,9289
6,3284
14,8416
9,3918
10,4082
6,3241
10,1359
6,7435
8,7765
6,4091
8,0609
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
7,3357
9,8793
9,5132
14,9768
7,9358
12,7642
9,0706
10,8494
7,9306
9,7094
6,1511
9,7089
6,6532
7,7968
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
7,4282
9,7043
Minimum
13,10
9,94
8,64
7,94
7,17
6,00
6,00
6,00
6,00
13,03
10,03
9,11
7,16
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
13,01
10,25
9,86
8,08
7,68
7,17
6,00
6,00
6,00
12,03
10,16
9,89
8,75
7,79
7,18
6,00
6,00
6,00
Maximum
13,30
10,30
9,03
8,15
7,30
6,00
6,00
6,00
13,30
13,49
10,22
9,48
7,51
6,00
6,00
6,00
6,00
13,49
13,29
10,92
9,94
8,38
7,84
7,30
6,00
6,00
13,29
12,46
10,54
10,03
8,89
8,07
7,27
6,00
6,00
12,46
ANOVA
DH (S.aureus)
DH (P.aeruginosa)
DH (E.coli)
DH (B.subtilis)
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Sum of
Squares
89,123
,191
89,314
100,605
,254
100,858
85,116
,333
85,449
68,194
,228
68,421
df
7
8
15
7
8
15
7
8
15
7
8
15
Mean Square
12,732
,024
F
532,296
Sig.
,000
14,372
,032
453,469
,000
12,159
,042
292,031
,000
9,742
,028
342,575
,000
94
Multiple Comparisons
Dependent Variable: DH (S.aureus)
LSD
(I) Konsentrasi
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
(J) Konsentrasi
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
Mean
Difference
(I-J)
3,08000*
4,36500*
5,15500*
5,96500*
7,20000*
7,20000*
7,20000*
-3,08000*
1,28500*
2,07500*
2,88500*
4,12000*
4,12000*
4,12000*
-4,36500*
-1,28500*
,79000*
1,60000*
2,83500*
2,83500*
2,83500*
-5,15500*
-2,07500*
-,79000*
,81000*
2,04500*
2,04500*
2,04500*
-5,96500*
-2,88500*
-1,60000*
-,81000*
1,23500*
1,23500*
1,23500*
-7,20000*
-4,12000*
-2,83500*
-2,04500*
-1,23500*
,00000
,00000
-7,20000*
-4,12000*
-2,83500*
-2,04500*
-1,23500*
,00000
,00000
-7,20000*
-4,12000*
-2,83500*
-2,04500*
-1,23500*
,00000
,00000
*. The mean difference is significant at the .05 level.
Std. Error
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
,15466
Sig.
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,001
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,001
,001
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,001
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
1,000
1,000
,000
,000
,000
,000
,000
1,000
1,000
,000
,000
,000
,000
,000
1,000
1,000
95% Confidence Interval
Lower Bound
Upper Bound
2,7234
3,4366
4,0084
4,7216
4,7984
5,5116
5,6084
6,3216
6,8434
7,5566
6,8434
7,5566
6,8434
7,5566
-3,4366
-2,7234
,9284
1,6416
1,7184
2,4316
2,5284
3,2416
3,7634
4,4766
3,7634
4,4766
3,7634
4,4766
-4,7216
-4,0084
-1,6416
-,9284
,4334
1,1466
1,2434
1,9566
2,4784
3,1916
2,4784
3,1916
2,4784
3,1916
-5,5116
-4,7984
-2,4316
-1,7184
-1,1466
-,4334
,4534
1,1666
1,6884
2,4016
1,6884
2,4016
1,6884
2,4016
-6,3216
-5,6084
-3,2416
-2,5284
-1,9566
-1,2434
-1,1666
-,4534
,8784
1,5916
,8784
1,5916
,8784
1,5916
-7,5566
-6,8434
-4,4766
-3,7634
-3,1916
-2,4784
-2,4016
-1,6884
-1,5916
-,8784
-,3566
,3566
-,3566
,3566
-7,5566
-6,8434
-4,4766
-3,7634
-3,1916
-2,4784
-2,4016
-1,6884
-1,5916
-,8784
-,3566
,3566
-,3566
,3566
-7,5566
-6,8434
-4,4766
-3,7634
-3,1916
-2,4784
-2,4016
-1,6884
-1,5916
-,8784
-,3566
,3566
-,3566
,3566
95
Multiple Comparisons
Dependent Variable: DH (P.aeruginosa)
LSD
(I) Konsentrasi
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
(J) Konsentrasi
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
Mean
Difference
(I-J)
3,13500*
3,96500*
5,92500*
7,26000*
7,26000*
7,26000*
7,26000*
-3,13500*
,83000*
2,79000*
4,12500*
4,12500*
4,12500*
4,12500*
-3,96500*
-,83000*
1,96000*
3,29500*
3,29500*
3,29500*
3,29500*
-5,92500*
-2,79000*
-1,96000*
1,33500*
1,33500*
1,33500*
1,33500*
-7,26000*
-4,12500*
-3,29500*
-1,33500*
,00000
,00000
,00000
-7,26000*
-4,12500*
-3,29500*
-1,33500*
,00000
,00000
,00000
-7,26000*
-4,12500*
-3,29500*
-1,33500*
,00000
,00000
,00000
-7,26000*
-4,12500*
-3,29500*
-1,33500*
,00000
,00000
,00000
*. The mean difference is significant at the .05 level.
Std. Error
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
,17803
Sig.
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,002
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,002
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
1,000
1,000
1,000
,000
,000
,000
,000
1,000
1,000
1,000
,000
,000
,000
,000
1,000
1,000
1,000
,000
,000
,000
,000
1,000
1,000
1,000
95% Confidence Interval
Lower Bound
Upper Bound
2,7245
3,5455
3,5545
4,3755
5,5145
6,3355
6,8495
7,6705
6,8495
7,6705
6,8495
7,6705
6,8495
7,6705
-3,5455
-2,7245
,4195
1,2405
2,3795
3,2005
3,7145
4,5355
3,7145
4,5355
3,7145
4,5355
3,7145
4,5355
-4,3755
-3,5545
-1,2405
-,4195
1,5495
2,3705
2,8845
3,7055
2,8845
3,7055
2,8845
3,7055
2,8845
3,7055
-6,3355
-5,5145
-3,2005
-2,3795
-2,3705
-1,5495
,9245
1,7455
,9245
1,7455
,9245
1,7455
,9245
1,7455
-7,6705
-6,8495
-4,5355
-3,7145
-3,7055
-2,8845
-1,7455
-,9245
-,4105
,4105
-,4105
,4105
-,4105
,4105
-7,6705
-6,8495
-4,5355
-3,7145
-3,7055
-2,8845
-1,7455
-,9245
-,4105
,4105
-,4105
,4105
-,4105
,4105
-7,6705
-6,8495
-4,5355
-3,7145
-3,7055
-2,8845
-1,7455
-,9245
-,4105
,4105
-,4105
,4105
-,4105
,4105
-7,6705
-6,8495
-4,5355
-3,7145
-3,7055
-2,8845
-1,7455
-,9245
-,4105
,4105
-,4105
,4105
-,4105
,4105
96
Multiple Comparisons
Dependent Variable: DH (E.coli)
LSD
(I) Konsentrasi
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
(J) Konsentrasi
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
Mean
Difference
(I-J)
2,56500*
3,25000*
4,92000*
5,39000*
5,91500*
7,15000*
7,15000*
-2,56500*
,68500*
2,35500*
2,82500*
3,35000*
4,58500*
4,58500*
-3,25000*
-,68500*
1,67000*
2,14000*
2,66500*
3,90000*
3,90000*
-4,92000*
-2,35500*
-1,67000*
,47000
,99500*
2,23000*
2,23000*
-5,39000*
-2,82500*
-2,14000*
-,47000
,52500*
1,76000*
1,76000*
-5,91500*
-3,35000*
-2,66500*
-,99500*
-,52500*
1,23500*
1,23500*
-7,15000*
-4,58500*
-3,90000*
-2,23000*
-1,76000*
-1,23500*
,00000
-7,15000*
-4,58500*
-3,90000*
-2,23000*
-1,76000*
-1,23500*
,00000
*. The mean difference is significant at the .05 level.
Std. Error
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
,20405
Sig.
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,010
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,010
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,050
,001
,000
,000
,000
,000
,000
,050
,033
,000
,000
,000
,000
,000
,001
,033
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
1,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
1,000
95% Confidence Interval
Lower Bound
Upper Bound
2,0945
3,0355
2,7795
3,7205
4,4495
5,3905
4,9195
5,8605
5,4445
6,3855
6,6795
7,6205
6,6795
7,6205
-3,0355
-2,0945
,2145
1,1555
1,8845
2,8255
2,3545
3,2955
2,8795
3,8205
4,1145
5,0555
4,1145
5,0555
-3,7205
-2,7795
-1,1555
-,2145
1,1995
2,1405
1,6695
2,6105
2,1945
3,1355
3,4295
4,3705
3,4295
4,3705
-5,3905
-4,4495
-2,8255
-1,8845
-2,1405
-1,1995
-,0005
,9405
,5245
1,4655
1,7595
2,7005
1,7595
2,7005
-5,8605
-4,9195
-3,2955
-2,3545
-2,6105
-1,6695
-,9405
,0005
,0545
,9955
1,2895
2,2305
1,2895
2,2305
-6,3855
-5,4445
-3,8205
-2,8795
-3,1355
-2,1945
-1,4655
-,5245
-,9955
-,0545
,7645
1,7055
,7645
1,7055
-7,6205
-6,6795
-5,0555
-4,1145
-4,3705
-3,4295
-2,7005
-1,7595
-2,2305
-1,2895
-1,7055
-,7645
-,4705
,4705
-7,6205
-6,6795
-5,0555
-4,1145
-4,3705
-3,4295
-2,7005
-1,7595
-2,2305
-1,2895
-1,7055
-,7645
-,4705
,4705
97
Multiple Comparisons
Dependent Variable: DH (B.subtilis)
LSD
(I) Konsentrasi
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
(J) Konsentrasi
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
5.10^-7
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
2,5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
1,25.10^-7
1,5.10^-5
7,9.10^-6
3,6.10^-5
1,9.10^-5
10^-6
5.10^-7
2,5.10^-7
Mean
Difference
(I-J)
1,89500*
2,28500*
3,42500*
4,31500*
5,02000*
6,24500*
6,24500*
-1,89500*
,39000*
1,53000*
2,42000*
3,12500*
4,35000*
4,35000*
-2,28500*
-,39000*
1,14000*
2,03000*
2,73500*
3,96000*
3,96000*
-3,42500*
-1,53000*
-1,14000*
,89000*
1,59500*
2,82000*
2,82000*
-4,31500*
-2,42000*
-2,03000*
-,89000*
,70500*
1,93000*
1,93000*
-5,02000*
-3,12500*
-2,73500*
-1,59500*
-,70500*
1,22500*
1,22500*
-6,24500*
-4,35000*
-3,96000*
-2,82000*
-1,93000*
-1,22500*
,00000
-6,24500*
-4,35000*
-3,96000*
-2,82000*
-1,93000*
-1,22500*
,00000
*. The mean difference is significant at the .05 level.
Std. Error
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
,16863
Sig.
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,049
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,049
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,001
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,001
,003
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,003
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
1,000
,000
,000
,000
,000
,000
,000
1,000
95% Confidence Interval
Lower Bound
Upper Bound
1,5061
2,2839
1,8961
2,6739
3,0361
3,8139
3,9261
4,7039
4,6311
5,4089
5,8561
6,6339
5,8561
6,6339
-2,2839
-1,5061
,0011
,7789
1,1411
1,9189
2,0311
2,8089
2,7361
3,5139
3,9611
4,7389
3,9611
4,7389
-2,6739
-1,8961
-,7789
-,0011
,7511
1,5289
1,6411
2,4189
2,3461
3,1239
3,5711
4,3489
3,5711
4,3489
-3,8139
-3,0361
-1,9189
-1,1411
-1,5289
-,7511
,5011
1,2789
1,2061
1,9839
2,4311
3,2089
2,4311
3,2089
-4,7039
-3,9261
-2,8089
-2,0311
-2,4189
-1,6411
-1,2789
-,5011
,3161
1,0939
1,5411
2,3189
1,5411
2,3189
-5,4089
-4,6311
-3,5139
-2,7361
-3,1239
-2,3461
-1,9839
-1,2061
-1,0939
-,3161
,8361
1,6139
,8361
1,6139
-6,6339
-5,8561
-4,7389
-3,9611
-4,3489
-3,5711
-3,2089
-2,4311
-2,3189
-1,5411
-1,6139
-,8361
-,3889
,3889
-6,6339
-5,8561
-4,7389
-3,9611
-4,3489
-3,5711
-3,2089
-2,4311
-2,3189
-1,5411
-1,6139
-,8361
-,3889
,3889
98
Lampiran 14. Analisa One Way ANOVA Pengaruh Variasi Bakteri Ampisilin
pada Masing-Masing Konsentrasi pada Uji Aktivitas Antibakteri
Ampisilin.
Analisa data dilakukan seperti pada analisa one way ANOVA pengaruh
variasi bakteri pada masing-masing berat sampel ekstrak metanol (Lampiran 5.)
dan data dari tabel 1. Lampiran 14. dimasukan sebagai berikut :
IN PUT DATA
Variable View
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8
Name
ampls15
ampls7.6
ampls3.8
ampls1.9
ampls1
ampls0.5
ampls0.25
Bakteri
Type
Numeric 8.2
Numeric 8.2
Numeric 8.2
Numeric 8.2
Numeric 8.2
Numeric 8.2
Numeric 8.2
Numeric 8.2
Label variabel
DH amp 1,5.10^ -5
DH amp 7,6.10^ -6
DH amp 3,8.10^ -6
DH amp 1,9.10^ -6
DH amp 10^ -6
DH amp 5.10^ -7
DH amp 2,5.10^ -7
Bakteri
.9.
ampls0.125
Numeric 8.2
DH amp 1,25.10^ -7
Label value
None
None
None
None
None
None
None
1,00 = “ S. aureus”
2,00 = “ P. aeruginosa”
3,00 = “ E. coli”
4,00 = “ B. subtilis”
5,00 = “ S. thypi”
Data View
ampls
15
13,01
13,29
12,03
12,46
13,30
13,10
13,49
13,03
ampls
7.6
10,92
10,25
10,16
10,54
10,30
9,94
10,22
10,02
ampls
3.8
9,94
9,86
9,89
10,03
8,64
9,03
9,11
9,48
ampls
1.9
8,08
8,38
8,89
8,75
7,94
8,15
7,51
7,16
ampls
1
8,08
8,38
7,79
8,07
7,17
7,30
6,00
6,00
ampls
0.5
7,17
7,30
7,18
7,27
6,00
6,00
6,00
6,00
ampls
0.25
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
Bakteri Ampls
0.125
3,00
6,00
3,00
6,00
4,00
6,00
4,00
6,00
1,00
6,00
1,00
6,00
2,00
6,00
2,00
6,00
99
OUT PUT DATA
Descriptives
N
DH amp 1,5.10^ -5
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
Total
DH amp 7,6.10^ -6 S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
Total
DH amp 3,8.10^ -6 S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
Total
DH amp 1,9.10^ -6 S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
Total
DH amp 10^ -6
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
Total
DH amp 5.10^ -7
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
Total
DH amp 2,5.10^ -7 S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
Total
DH amp 1,25.10^ -7 S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
Total
2
2
2
2
8
2
2
2
2
8
2
2
2
2
8
2
2
2
2
8
2
2
2
2
8
2
2
2
2
8
2
2
2
2
8
2
2
2
2
8
Mean
13,2000
13,2600
13,1500
12,2450
12,9638
10,1200
10,1200
10,5850
10,3500
10,2938
8,8350
9,2950
9,9000
9,9600
9,4975
8,0450
7,3350
8,2300
8,8200
8,1075
7,2350
6,0000
8,2300
7,9300
7,3488
6,0000
6,0000
7,2350
7,2250
6,6150
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
Std. Deviation
,14142
,32527
,19799
,30406
,48509
,25456
,14142
,47376
,26870
,31126
,27577
,26163
,05657
,09899
,51674
,14849
,24749
,21213
,09899
,58368
,09192
,00000
,21213
,19799
,92472
,00000
,00000
,09192
,06364
,65883
,00000
,00000
,00000
,00000
,00000
,00000
,00000
,00000
,00000
,00000
Std. Error
,10000
,23000
,14000
,21500
,17151
,18000
,10000
,33500
,19000
,11005
,19500
,18500
,04000
,07000
,18270
,10500
,17500
,15000
,07000
,20636
,06500
,00000
,15000
,14000
,32694
,00000
,00000
,06500
,04500
,23293
,00000
,00000
,00000
,00000
,00000
,00000
,00000
,00000
,00000
,00000
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound Upper Bound
11,9294
14,4706
10,3376
16,1824
11,3711
14,9289
9,5132
14,9768
12,5582
13,3693
7,8329
12,4071
8,8494
11,3906
6,3284
14,8416
7,9358
12,7642
10,0335
10,5540
6,3573
11,3127
6,9444
11,6456
9,3918
10,4082
9,0706
10,8494
9,0655
9,9295
6,7108
9,3792
5,1114
9,5586
6,3241
10,1359
7,9306
9,7094
7,6195
8,5955
6,4091
8,0609
6,0000
6,0000
6,3241
10,1359
6,1511
9,7089
6,5757
8,1218
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,4091
8,0609
6,6532
7,7968
6,0642
7,1658
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
6,0000
Minimum
13,10
13,03
13,01
12,03
12,03
9,94
10,02
10,25
10,16
9,94
8,64
9,11
9,86
9,89
8,64
7,94
7,16
8,08
8,75
7,16
7,17
6,00
8,08
7,79
6,00
6,00
6,00
7,17
7,18
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
Maximum
13,30
13,49
13,29
12,46
13,49
10,30
10,22
10,92
10,54
10,92
9,03
9,48
9,94
10,03
10,03
8,15
7,51
8,38
8,89
8,89
7,30
6,00
8,38
8,07
8,38
6,00
6,00
7,30
7,27
7,30
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
100
ANOVA
DH amp 1,5.10^ -5
DH amp 7,6.10^ -6
DH amp 3,8.10^ -6
DH amp 1,9.10^ -6
DH amp 10^ -6
DH amp 5.10^ -7
DH amp 2,5.10^ -7
DH amp 1,25.10^ -7
Sum of
Squares
1,390
,257
1,647
,297
,381
,678
1,712
,157
1,869
2,247
,138
2,385
5,893
,093
5,986
3,026
,012
3,038
,000
,000
,000
,000
,000
,000
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
df
3
4
7
3
4
7
3
4
7
3
4
7
3
4
7
3
4
7
3
4
7
3
4
7
Mean Square
,463
,064
F
7,197
Sig.
,043
,099
,095
1,037
,466
,571
,039
14,490
,013
,749
,035
21,691
,006
1,964
,023
84,807
,000
1,009
,003
322,763
,000
,000
,000
.
.
,000
,000
.
.
Multiple Comparisons
Dependent Variable: DH amp 1,5.10^ -5
LSD
(I) Bakteri
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
(J) Bakteri
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
S.aureus
E.coli
B.subtilis
S.aureus
P.aeruginosa
B.subtilis
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
Mean
Difference
(I-J)
Std. Error
-,06000
,25370
,05000
,25370
,95500*
,25370
,06000
,25370
,11000
,25370
1,01500*
,25370
-,05000
,25370
-,11000
,25370
,90500*
,25370
-,95500*
,25370
-1,01500*
,25370
-,90500*
,25370
*. The mean difference is significant at the .05 level.
Sig.
,825
,853
,020
,825
,687
,016
,853
,687
,023
,020
,016
,023
95% Confidence Interval
Lower Bound Upper Bound
-,7644
,6444
-,6544
,7544
,2506
1,6594
-,6444
,7644
-,5944
,8144
,3106
1,7194
-,7544
,6544
-,8144
,5944
,2006
1,6094
-1,6594
-,2506
-1,7194
-,3106
-1,6094
-,2006
101
Multiple Comparisons
Dependent Variable: DH amp 7,6.10^ -6
LSD
(I) Bakteri
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
(J) Bakteri
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
S.aureus
E.coli
B.subtilis
S.aureus
P.aeruginosa
B.subtilis
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
Mean
Difference
(I-J)
,00000
-,46500
-,23000
,00000
-,46500
-,23000
,46500
,46500
,23500
,23000
,23000
-,23500
Std. Error
,30881
,30881
,30881
,30881
,30881
,30881
,30881
,30881
,30881
,30881
,30881
,30881
Sig.
1,000
,207
,498
1,000
,207
,498
,207
,207
,489
,498
,498
,489
95% Confidence Interval
Lower Bound
Upper Bound
-,8574
,8574
-1,3224
,3924
-1,0874
,6274
-,8574
,8574
-1,3224
,3924
-1,0874
,6274
-,3924
1,3224
-,3924
1,3224
-,6224
1,0924
-,6274
1,0874
-,6274
1,0874
-1,0924
,6224
Multiple Comparisons
Dependent Variable: DH amp 3,8.10^ -6
LSD
(I) Bakteri
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
(J) Bakteri
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
S.aureus
E.coli
B.subtilis
S.aureus
P.aeruginosa
B.subtilis
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
Mean
Difference
(I-J)
Std. Error
-,46000
,19843
-1,06500*
,19843
-1,12500*
,19843
,46000
,19843
-,60500*
,19843
-,66500*
,19843
1,06500*
,19843
,60500*
,19843
-,06000
,19843
1,12500*
,19843
,66500*
,19843
,06000
,19843
*. The mean difference is significant at the .05 level.
Sig.
,081
,006
,005
,081
,038
,029
,006
,038
,777
,005
,029
,777
95% Confidence Interval
Lower Bound Upper Bound
-1,0109
,0909
-1,6159
-,5141
-1,6759
-,5741
-,0909
1,0109
-1,1559
-,0541
-1,2159
-,1141
,5141
1,6159
,0541
1,1559
-,6109
,4909
,5741
1,6759
,1141
1,2159
-,4909
,6109
102
Multiple Comparisons
Dependent Variable: DH amp 1,9.10^ -6
LSD
Mean
Difference
(I) Bakteri
(J) Bakteri
(I-J)
Std. Error
S.aureus
P.aeruginosa
,71000*
,18581
E.coli
-,18500
,18581
B.subtilis
-,77500*
,18581
P.aeruginosa S.aureus
-,71000*
,18581
E.coli
-,89500*
,18581
B.subtilis
-1,48500*
,18581
E.coli
S.aureus
,18500
,18581
P.aeruginosa
,89500*
,18581
B.subtilis
-,59000*
,18581
B.subtilis
S.aureus
,77500*
,18581
P.aeruginosa
1,48500*
,18581
E.coli
,59000*
,18581
Sig.
,019
,376
,014
,019
,009
,001
,376
,009
,034
,014
,001
,034
95% Confidence Interval
Lower Bound Upper Bound
,1941
1,2259
-,7009
,3309
-1,2909
-,2591
-1,2259
-,1941
-1,4109
-,3791
-2,0009
-,9691
-,3309
,7009
,3791
1,4109
-1,1059
-,0741
,2591
1,2909
,9691
2,0009
,0741
1,1059
*. The mean difference is significant at the .05 level.
Multiple Comparisons
Dependent Variable: DH amp 10^ -6
LSD
Mean
Difference
(I) Bakteri
(J) Bakteri
(I-J)
Std. Error
S.aureus
P.aeruginosa
1,23500*
,15219
E.coli
-,99500*
,15219
B.subtilis
-,69500*
,15219
P.aeruginosa S.aureus
-1,23500*
,15219
E.coli
-2,23000*
,15219
B.subtilis
-1,93000*
,15219
E.coli
S.aureus
,99500*
,15219
P.aeruginosa
2,23000*
,15219
B.subtilis
,30000
,15219
B.subtilis
S.aureus
,69500*
,15219
P.aeruginosa
1,93000*
,15219
E.coli
-,30000
,15219
*. The mean difference is significant at the .05 level.
Sig.
,001
,003
,010
,001
,000
,000
,003
,000
,120
,010
,000
,120
95% Confidence Interval
Lower Bound Upper Bound
,8124
1,6576
-1,4176
-,5724
-1,1176
-,2724
-1,6576
-,8124
-2,6526
-1,8074
-2,3526
-1,5074
,5724
1,4176
1,8074
2,6526
-,1226
,7226
,2724
1,1176
1,5074
2,3526
-,7226
,1226
103
Multiple Comparisons
Dependent Variable: DH amp 5.10^ -7
LSD
(I) Bakteri
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
(J) Bakteri
P.aeruginosa
E.coli
B.subtilis
S.aureus
E.coli
B.subtilis
S.aureus
P.aeruginosa
B.subtilis
S.aureus
P.aeruginosa
E.coli
Mean
Difference
(I-J)
Std. Error
,00000
,05590
-1,23500*
,05590
-1,22500*
,05590
,00000
,05590
-1,23500*
,05590
-1,22500*
,05590
1,23500*
,05590
1,23500*
,05590
,01000
,05590
1,22500*
,05590
1,22500*
,05590
-,01000
,05590
*. The mean difference is significant at the .05 level.
Sig.
1,000
,000
,000
1,000
,000
,000
,000
,000
,867
,000
,000
,867
95% Confidence Interval
Lower Bound Upper Bound
-,1552
,1552
-1,3902
-1,0798
-1,3802
-1,0698
-,1552
,1552
-1,3902
-1,0798
-1,3802
-1,0698
1,0798
1,3902
1,0798
1,3902
-,1452
,1652
1,0698
1,3802
1,0698
1,3802
-,1652
,1452
104
Lampiran 15. Hasil Pengujian Penetapan KHM Ekstrak Kloroform
Tabel 1. Hasil Pengujian Penetapan KHM Ekstrak Kloroform
Konsentrasi
mg/µL
Diameter hambat (mm)
E. coli
B. subtilis
χ1
χ2
χ1
χ2
0,01
8,72
8,55
9,00
8,73
0,005
7,93
8,50
7,73
8,50
0,0025
7,70
8,10
7,67
7,80
0,00125
6,68
7,09
7,36
7,14
0,000625
6,00
6,00
6,00
6,00
Keterangan
Gambar 5
Gambar 6
Keterangan : diameter lubang = 6 mm
S. aureus
χ1
χ2
9,19
9,49
7,88
8,14
7,71
7,28
6,00
6,00
6,00
6,00
Gambar 7
P. aeruginosa
χ1
χ2
8,20
8,42
7,38
7,94
7,38
7,25
7,73
7,65
6,00
6,00
Gambar 8
Dari tabel 2. dapat disimpulkan bahwa KHM ekstrak kloroform adalah
0,00125 mg/µL atau berat sampel 0,025 mg/lubang untuk bakteri E. coli, B.
subtilis dan P. aeruginosa, sedangkan terhadap S. aureus ekstrak kloroform
mempunyai KHM 0,0025 mg/µL atau berat sampel 0, 5 mg/lubang.
Gambar Salah Satu Uji KHM Ekstrak Kloroform
(pada gambar tertera konsentrasi 1% yang sama dengan 0,01 mg/µL dan berlaku
untuk semua konsentrasi)
Gambar 5
Gambar 6
105
Gambar 7
Gambar 8
Keterangan Gambar :
Konsentrasi sampel yang dimasukkan ke dalam lubang (searah jarum jam) adalah 1%,
0,0625%, 0,5%, 0,25% dan 0,125% yang setara dengan berat sampel 0,01 mg/µL,
0,000625 mg/µL, 0,005 mg/µL, 0,00025 mg/µL dan 0,00125 mg/µL dan lubang yang
berada di tengah diisi dengan DMSO
106
Lampiran 16. Analisa One Way ANOVA Pengaruh Variasi Bakteri pada MasingMasing Konsentrasi ekstrak
pada Penentuan KHM
Ekstrak
Kloroform.
Analisa data dilakukan seperti pada analisa one way ANOVA pengaruh
variasi bakteri pada masing-masing berat sampel ekstrak metanol (Lampiran 5)
dan data dari tabel 2. Lampiran 10. dimasukan sebagai berikut :
IN PUT DATA
Variable View
No
1.
Name
K 0,01
Type
Numeric
8.2
2.
K 0,005
Numeric
8.2
3.
K 0,0025
Numeric
8.2
4.
K 0,00125
Numeric
8.2
5.
K 0,000625
Numeric
8.2
Bakteri
Numeric
8.2
Label variabel
Diameter hambat
kloroform 1.10-2
mg/mikro L
Diameter hambat
kloroform 5.10-3
mg/mikro L
Diameter hambat
kloroform 2,5.10-3
mg/mikro L
Diameter hambat
kloroform 1,25.10-3
mg/mikro L
Diameter hambat
kloroform 6,25.10-4
mg/mikro L
Bakteri
Data View
K 1.10-2 K 5.10-3 K 2,5.10-3 K
1,25.109.19
9.49
8.20
8.42
8.72
8.55
9.00
8.73
7.88
8.14
7.38
7.94
7.93
8.50
7.73
8.50
7.71
7.28
7.38
7.25
7.70
8.10
7.67
7.80
Label value
None
None
None
None
None
1,00 = “ S. aureus”
2,00 = “ P. aeruginosa”
3,00 = “ E. coli”
4,00 = “ B. subtilis”
K
Bakteri
6,25.10-
3
4
6.00
6.00
7.21
7.26
7.60
6.88
7.22
7.73
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
1.00
1.00
2.00
2.00
3.00
3.00
4.00
4.00
107
OUT PUT DATA
Descriptives
N
Diameter hambat
kloroform 0.01mg/mikroL
Diameter hambat
kloroform 0.
005mg/mikroL
Diameter hambat
kloroform 0.
0025mg/mikroL
Diameter hambat
kloroform 0.
00125mg/mikroL
Diameter hambat
kloroform 0.
000625mg/mikroL
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound Upper Bound
7.4341
11.2459
6.9123
9.7077
7.5550
9.7150
7.1497
10.5803
8.4349
9.1401
6.3582
9.6618
4.1023
11.2177
4.5937
11.8363
3.2231
13.0069
7.6840
8.3160
4.7632
10.2268
6.4891
8.1409
5.3588
10.4412
6.9091
8.5609
7.3687
7.8538
6.0000
6.0000
6.9173
7.5527
2.6658
11.8142
S. aureus
P. aeruginosa
E. coli
B. subtilis
Total
S. aureus
P. aeruginosa
E. coli
B. subtilis
Total
S. aureus
P. aeruginosa
E. coli
B. subtilis
Total
S. aureus
P. aeruginosa
E. coli
B. subtilis
2
2
2
2
8
2
2
2
2
8
2
2
2
2
8
2
2
2
Mean
9.3400
8.3100
8.6350
8.8650
8.7875
8.0100
7.6600
8.2150
8.1150
8.0000
7.4950
7.3150
7.9000
7.7350
7.6113
6.0000
7.2350
7.2400
Std. Deviation
.21213
.15556
.12021
.19092
.42176
.18385
.39598
.40305
.54447
.37793
.30406
.09192
.28284
.09192
.29014
.00000
.03536
.50912
Std. Error
.15000
.11000
.08500
.13500
.14911
.13000
.28000
.28500
.38500
.13362
.21500
.06500
.20000
.06500
.10258
.00000
.02500
.36000
Minimum
9.19
8.20
8.55
8.73
8.20
7.88
7.38
7.93
7.73
7.38
7.28
7.25
7.70
7.67
7.25
6.00
7.21
6.88
Maximum
9.49
8.42
8.72
9.00
9.49
8.14
7.94
8.50
8.50
8.50
7.71
7.38
8.10
7.80
8.10
6.00
7.26
7.60
2
7.4750
.36062
.25500
4.2349
Total
8
6.9875
.66183
.23399
6.4342
10.7151
7.22
7.73
7.5408
6.00
S. aureus
P. aeruginosa
E. coli
B. subtilis
Total
2
2
2
2
6.0000
6.0000
6.0000
6.0000
.00000
.00000
.00000
.00000
.00000
.00000
.00000
.00000
7.73
6.0000
6.0000
6.0000
6.0000
6.0000
6.0000
6.0000
6.0000
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
8
6.0000
.00000
.00000
6.0000
6.0000
6.00
6.00
ANOVA
Diameter hambat
kloroform 0.01mg/mikroL
Diameter hambat
kloroform 0.
005mg/mikroL
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Diameter hambat
kloroform 0.
0025mg/mikroL
Diameter hambat
kloroform 0.
00125mg/mikroL
Diameter hambat
kloroform 0.
000625mg/mikroL
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Sum of
Squares
1.125
.120
1.245
.350
df
3
4
7
3
.650
4
1.000
7
.400
.189
3
4
.589
7
2.676
.391
3.066
.000
.000
.000
3
4
7
3
4
7
Mean Square
.375
.030
F
12.490
Sig.
.017
.117
.719
.591
.133
.047
2.816
.171
.892
.098
9.136
.029
.000
.000
.
.
.162
108
Multiple Comparisons
LSD
Dependent Variable
Diameter hambat
kloroform 0.01mg/mikroL
(I) Bakteri
S. aureus
P. aeruginosa
E. coli
B. subtilis
Diameter hambat
kloroform 0.
005mg/mikroL
S. aureus
P. aeruginosa
E. coli
B. subtilis
Diameter hambat
kloroform 0.
0025mg/mikroL
S. aureus
P. aeruginosa
E. coli
B. subtilis
Diameter hambat
kloroform 0.
00125mg/mikroL
S. aureus
P. aeruginosa
E. coli
B. subtilis
(J) Bakteri
P. aeruginosa
E. coli
B. subtilis
S. aureus
E. coli
B. subtilis
S. aureus
P. aeruginosa
B. subtilis
S. aureus
P. aeruginosa
E. coli
P. aeruginosa
E. coli
B. subtilis
S. aureus
E. coli
B. subtilis
S. aureus
P. aeruginosa
B. subtilis
S. aureus
P. aeruginosa
E. coli
P. aeruginosa
E. coli
B. subtilis
S. aureus
E. coli
B. subtilis
S. aureus
P. aeruginosa
B. subtilis
S. aureus
P. aeruginosa
E. coli
P. aeruginosa
E. coli
B. subtilis
S. aureus
E. coli
B. subtilis
S. aureus
P. aeruginosa
B. subtilis
S. aureus
P. aeruginosa
E. coli
*. The mean difference is significant at the .05 level.
Mean
Difference
(I-J)
Std. Error
1.03000*
.17328
.70500*
.17328
.47500
.17328
-1.03000*
.17328
-.32500
.17328
-.55500*
.17328
-.70500*
.17328
.32500
.17328
-.23000
.17328
-.47500
.17328
.55500*
.17328
.23000
.17328
.35000
.40296
-.20500
.40296
-.10500
.40296
-.35000
.40296
-.55500
.40296
-.45500
.40296
.20500
.40296
.55500
.40296
.10000
.40296
.10500
.40296
.45500
.40296
-.10000
.40296
.18000
.21757
-.40500
.21757
-.24000
.21757
-.18000
.21757
-.58500
.21757
-.42000
.21757
.40500
.21757
.58500
.21757
.16500
.21757
.24000
.21757
.42000
.21757
-.16500
.21757
-1.23500*
.31245
-1.24000*
.31245
-1.47500*
.31245
1.23500*
.31245
-.00500
.31245
-.24000
.31245
1.24000*
.31245
.00500
.31245
-.23500
.31245
1.47500*
.31245
.24000
.31245
.23500
.31245
Sig.
.004
.015
.052
.004
.134
.033
.015
.134
.255
.052
.033
.255
.434
.638
.807
.434
.240
.322
.638
.240
.816
.807
.322
.816
.455
.136
.332
.455
.055
.126
.136
.055
.490
.332
.126
.490
.017
.017
.009
.017
.988
.485
.017
.988
.494
.009
.485
.494
95% Confidence Interval
Lower Bound Upper Bound
.5489
1.5111
.2239
1.1861
-.0061
.9561
-1.5111
-.5489
-.8061
.1561
-1.0361
-.0739
-1.1861
-.2239
-.1561
.8061
-.7111
.2511
-.9561
.0061
.0739
1.0361
-.2511
.7111
-.7688
1.4688
-1.3238
.9138
-1.2238
1.0138
-1.4688
.7688
-1.6738
.5638
-1.5738
.6638
-.9138
1.3238
-.5638
1.6738
-1.0188
1.2188
-1.0138
1.2238
-.6638
1.5738
-1.2188
1.0188
-.4241
.7841
-1.0091
.1991
-.8441
.3641
-.7841
.4241
-1.1891
.0191
-1.0241
.1841
-.1991
1.0091
-.0191
1.1891
-.4391
.7691
-.3641
.8441
-.1841
1.0241
-.7691
.4391
-2.1025
-.3675
-2.1075
-.3725
-2.3425
-.6075
.3675
2.1025
-.8725
.8625
-1.1075
.6275
.3725
2.1075
-.8625
.8725
-1.1025
.6325
.6075
2.3425
-.6275
1.1075
-.6325
1.1025
Lampiran 17. Analisa One Way ANOVA Pengaruh Variasi Konsentrasi ekstrak
pada Masing-Masing Bakteri pada Penentuan KHM
Ekstrak
Kloroform.
Analisa data dilakukan seperti pada analisa one way ANOVA pengaruh
variasi bakteri pada masing-masing berat sampel ekstrak metanol (Lampiran 5)
dan data dari tabel 2. Lampiran 10. dimasukan sebagai berikut :
IN PUT DATA
Variable View
N
o
1.
2.
3.
4.
5.
Name
Type
Label variabel
Label value
Dhsaur
Dhpaeru
Dhecoli
Dhbsubtil
Konsent
Numeric 8.2
Numeric 8.2
Numeric 8.2
Numeric 8.2
Numeric 8.2
DH S.aureus
DH P.aeruginosa
DH E.coli
DH B.subtilis
Konsentrasi
None
None
None
None
1,00 =
2,00 =
3,00 =
4,00 =
5,00 =
Data View
Dhsaur Dhpaeru
9.19
8.20
9.49
8.42
7.88
7.38
8.14
7.94
7.71
7.38
7.28
7.25
6.00
7.21
6.00
7.26
6.00
6.00
6.00
6.00
Dhecoli
8.72
8.55
7.93
8.50
7.70
8.10
7.60
6.88
6.00
6.00
Dhbsubtil
9.00
8.73
7.73
8.50
7.67
7.80
7.22
7.73
6.00
6.00
109
Konsent
1.00
1.00
2.00
2.00
3.00
3.00
4.00
4.00
5.00
5.00
“0,01”
“0,005 ”
“0,0025”
“0,00125”
“0,000625”
110
OUT PUT DATA
Descriptives
N
DH S. aureus
DH P. aeruginosa
DH E. coli
DH B. subtilis
0.01
0.005
0.0025
0.00125
0.000625
Total
0.01
0.005
0.0025
0.00125
0.000625
Total
0.01
0.005
0.0025
0.00125
0.000625
Total
0.01
0.005
0.0025
0.00125
0.000625
Total
2
2
2
2
2
10
2
2
2
2
2
10
2
2
2
2
2
10
2
2
2
2
2
10
Mean
9.3400
8.0100
7.4950
6.0000
6.0000
7.3690
8.3100
7.6600
7.3150
7.2350
6.0000
7.3040
8.6350
8.2150
7.9000
7.2400
6.0000
7.5980
8.8650
8.1150
7.7350
7.4750
6.0000
7.6380
Std. Deviation
.21213
.18385
.30406
.00000
.00000
1.34541
.15556
.39598
.09192
.03536
.00000
.80821
.12021
.40305
.28284
.50912
.00000
.99856
.19092
.54447
.09192
.36062
.00000
1.02065
Std. Error
.15000
.13000
.21500
.00000
.00000
.42546
.11000
.28000
.06500
.02500
.00000
.25558
.08500
.28500
.20000
.36000
.00000
.31577
.13500
.38500
.06500
.25500
.00000
.32276
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound Upper Bound
7.4341
11.2459
6.3582
9.6618
4.7632
10.2268
6.0000
6.0000
6.0000
6.0000
6.4066
8.3314
6.9123
9.7077
4.1023
11.2177
6.4891
8.1409
6.9173
7.5527
6.0000
6.0000
6.7258
7.8822
7.5550
9.7150
4.5937
11.8363
5.3588
10.4412
2.6658
11.8142
6.0000
6.0000
6.8837
8.3123
7.1497
10.5803
3.2231
13.0069
6.9091
8.5609
4.2349
10.7151
6.0000
6.0000
6.9079
8.3681
Minimum
9.19
7.88
7.28
6.00
6.00
6.00
8.20
7.38
7.25
7.21
6.00
6.00
8.55
7.93
7.70
6.88
6.00
6.00
8.73
7.73
7.67
7.22
6.00
6.00
Maximum
9.49
8.14
7.71
6.00
6.00
9.49
8.42
7.94
7.38
7.26
6.00
8.42
8.72
8.50
8.10
7.60
6.00
8.72
9.00
8.50
7.80
7.73
6.00
9.00
ANOVA
DH S. aureus
DH P. aeruginosa
DH E. coli
DH B. subtilis
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Between Groups
Within Groups
Total
Sum of
Squares
16.120
.171
16.291
5.688
.191
5.879
8.458
.516
8.974
8.904
.471
9.376
df
4
5
9
4
5
9
4
5
9
4
5
9
Mean Square
4.030
.034
F
117.663
Sig.
.000
1.422
.038
37.285
.001
2.115
.103
20.486
.003
2.226
.094
23.611
.002
111
Multiple Comparisons
LSD
Dependent Variable
DH S. aureus
(I) Konsentrasi
0.01
0.005
0.0025
0.00125
0.000625
DH P. aeruginosa
0.01
0.005
0.0025
0.00125
0.000625
DH E. coli
0.01
0.005
0.0025
0.00125
0.000625
DH B. subtilis
0.01
0.005
0.0025
0.00125
0.000625
(J) Konsentrasi
0.005
0.0025
0.00125
0.000625
0.01
0.0025
0.00125
0.000625
0.01
0.005
0.00125
0.000625
0.01
0.005
0.0025
0.000625
0.01
0.005
0.0025
0.00125
0.005
0.0025
0.00125
0.000625
0.01
0.0025
0.00125
0.000625
0.01
0.005
0.00125
0.000625
0.01
0.005
0.0025
0.000625
0.01
0.005
0.0025
0.00125
0.005
0.0025
0.00125
0.000625
0.01
0.0025
0.00125
0.000625
0.01
0.005
0.00125
0.000625
0.01
0.005
0.0025
0.000625
0.01
0.005
0.0025
0.00125
0.005
0.0025
0.00125
0.000625
0.01
0.0025
0.00125
0.000625
0.01
0.005
0.00125
0.000625
0.01
0.005
0.0025
0.000625
0.01
0.005
0.0025
0.00125
*. The mean difference is significant at the .05 level.
Mean
Difference
(I-J)
1.33000*
1.84500*
3.34000*
3.34000*
-1.33000*
.51500*
2.01000*
2.01000*
-1.84500*
-.51500*
1.49500*
1.49500*
-3.34000*
-2.01000*
-1.49500*
.00000
-3.34000*
-2.01000*
-1.49500*
.00000
.65000*
.99500*
1.07500*
2.31000*
-.65000*
.34500
.42500
1.66000*
-.99500*
-.34500
.08000
1.31500*
-1.07500*
-.42500
-.08000
1.23500*
-2.31000*
-1.66000*
-1.31500*
-1.23500*
.42000
.73500
1.39500*
2.63500*
-.42000
.31500
.97500*
2.21500*
-.73500
-.31500
.66000
1.90000*
-1.39500*
-.97500*
-.66000
1.24000*
-2.63500*
-2.21500*
-1.90000*
-1.24000*
.75000
1.13000*
1.39000*
2.86500*
-.75000
.38000
.64000
2.11500*
-1.13000*
-.38000
.26000
1.73500*
-1.39000*
-.64000
-.26000
1.47500*
-2.86500*
-2.11500*
-1.73500*
-1.47500*
Std. Error
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.18507
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.19529
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.32128
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
.30705
Sig.
.001
.000
.000
.000
.001
.039
.000
.000
.000
.039
.000
.000
.000
.000
.000
1.000
.000
.000
.000
1.000
.021
.004
.003
.000
.021
.138
.082
.000
.004
.138
.699
.001
.003
.082
.699
.001
.000
.000
.001
.001
.248
.071
.007
.000
.248
.372
.029
.001
.071
.372
.095
.002
.007
.029
.095
.012
.000
.001
.002
.012
.058
.014
.006
.000
.058
.271
.092
.001
.014
.271
.436
.002
.006
.092
.436
.005
.000
.001
.002
.005
95% Confidence Interval
Lower Bound
Upper Bound
.8543
1.8057
1.3693
2.3207
2.8643
3.8157
2.8643
3.8157
-1.8057
-.8543
.0393
.9907
1.5343
2.4857
1.5343
2.4857
-2.3207
-1.3693
-.9907
-.0393
1.0193
1.9707
1.0193
1.9707
-3.8157
-2.8643
-2.4857
-1.5343
-1.9707
-1.0193
-.4757
.4757
-3.8157
-2.8643
-2.4857
-1.5343
-1.9707
-1.0193
-.4757
.4757
.1480
1.1520
.4930
1.4970
.5730
1.5770
1.8080
2.8120
-1.1520
-.1480
-.1570
.8470
-.0770
.9270
1.1580
2.1620
-1.4970
-.4930
-.8470
.1570
-.4220
.5820
.8130
1.8170
-1.5770
-.5730
-.9270
.0770
-.5820
.4220
.7330
1.7370
-2.8120
-1.8080
-2.1620
-1.1580
-1.8170
-.8130
-1.7370
-.7330
-.4059
1.2459
-.0909
1.5609
.5691
2.2209
1.8091
3.4609
-1.2459
.4059
-.5109
1.1409
.1491
1.8009
1.3891
3.0409
-1.5609
.0909
-1.1409
.5109
-.1659
1.4859
1.0741
2.7259
-2.2209
-.5691
-1.8009
-.1491
-1.4859
.1659
.4141
2.0659
-3.4609
-1.8091
-3.0409
-1.3891
-2.7259
-1.0741
-2.0659
-.4141
-.0393
1.5393
.3407
1.9193
.6007
2.1793
2.0757
3.6543
-1.5393
.0393
-.4093
1.1693
-.1493
1.4293
1.3257
2.9043
-1.9193
-.3407
-1.1693
.4093
-.5293
1.0493
.9457
2.5243
-2.1793
-.6007
-1.4293
.1493
-1.0493
.5293
.6857
2.2643
-3.6543
-2.0757
-2.9043
-1.3257
-2.5243
-.9457
-2.2643
-.6857
112
Lampiran 18. Hasil Pengujian Penentuan Nilai Banding
Ekstrak Kloroform
terhadap Ampisilin
Untuk menentukan nilai banding maka dilakukan uji antibakteri
ampisilin dengan berbagai konsentrasi dan hasil uji sebagai berikut :
Tabel 1. Pengujian Aktivitas Antibakteri Ampisilin
Konsentrasi
mg/µL
1,5 .10-5
7,6.10-6
3,8.10-6
1,9.10-6
10-6
5.10-7
2,5.10-7
1,25.10-7
Keterangan
Diameter hambat (mm)
E. coli
B. subtilis
13,01 13,29 12,03 12,46
10,92 10,25 10,16 10,54
9,94 9,86 9,89 10,03
8,08 8,38 8,89 8,75
7,68 7,84 7,79 8,07
7,17 7,30 7,18 7,27
6,00 6,00 6,00 6,00
6,00 6,00 6,00 6,00
Gambar 1
Gambar 3
dan gambar 2 dan gambar 4
S. aureus
P. aeruginosa
13,30
13,10
10,30
9,94
8,64
9,03
7,94
8,15
7,17
7,30
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
Gambar 5 dan
gambar 6
13,49
13,03
10,22
10,02
9,11
9,48
7,51
7,16
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
Gambar 7 dan
gambar 8
Gambar Salah Satu uji Aktivitas antibakteri ampisilin
(pada gambar tertera konsentrasi 15 ppm yang sama dengan 1,5 .10-5 mg/µL dan
berlaku untuk semua konsentrasi)
a. Bakteri E. coli.
Gambar 1
Gambar 2
113
b. Bakteri B. subtilis.
Gambar 3
Gambar 4
c. Bakteri S. auerus.
Gambar 5
Gambar 6
d. Bakteri P. aeruginosa.
Gambar 7
Gambar 8
114
Uji penentuan nilai banding dilakukan bersamaan dengan ekstrak
kloroform dengan konsentrasi 0,01 mg/µL. Hasil pengujian sebagai berikut :
Tabel 2.Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kloroform
Konsentrasi
Ekstrak
Kloroform
0,01 mg/µL
E. coli
8,49
8,62
Diameter hambat (mm)
B. subtilis
S. aureus
8,71
8,21
9,05
8,89
P. aeruginosa
8,73
8,34
115
Lampiran 19. Perhitungan Nilai Banding
Untuk menghitung nilai banding ekstrak terlebih dahulu dilakukan
perhitungan rata-rata diameter hambat dan logaritma konsentrasi sampel dari
pengujian aktivitas antibakteri ampisilin (data dari Tabel 1. Lampiran 14.). Hasil
perhitungan diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Perhitungan Rata-Rata Diameter Hambat dan Logaritma
Konsentrasi Sampel
Bakteri
Logaritma Konsentrasi
Rata-Rata Diameter
(mg/µL)
Hambat (mm)
-4,823908741
-5,119186408
-5,420216403
-5,721246399
-6
-6,301029996
-6,602059991
-4,823908741
B. subtilis
-5,119186408
-5,420216403
-5,721246399
-6
-6,301029996
-6,602059991
-4,823908741
S. aureus
-5,119186408
-5,420216403
-5,721246399
-6
-6,301029996
-4,823908741
P. aeruginosa
-5,119186408
-5,420216403
-5,721246399
-6
Keterangan: data yang diambil pada masing-masing bakteri
E. coli
diameter hambat 6 mm yang pertama.
13,15
10,59
9,91
8,23
7,76
7,24
6
12,25
10,35
9,96
8,82
7,93
7,23
6
13,2
10,12
8,84
8,05
7,24
6
13,26
10,12
9,30
7,34
6
sampai rata-rata
116
Dari tabel 1 dibuat grafik standart konsentrasi ampisilin dengan ratarata diameter hambat untuk masing-masing bakteri dengan cara memplotkan
sumbu-X dengan logaritma konsentrasi Ampisilin dan sumbu-Y dengan rata-rata
diameter hambat, didapatkan grafik standart dan persamaan garis sebagai berikut :
Rata-Rata Diameter Hambat (mm)
Grafik 1. Standart Konsentrasi Ampisilin (mg/µL) dengan Rata-Rata Diameter
hambat (mm) untuk bakteri E. coli
40
35
y = 3,66x + 29,90
2
R = 0,94
30
25
20
15
10
5
0
-8
-6
-4
-2
0
Rata-Rata Diameter Hambat (mm)
Log konsentrasi (mg/mikro L)
Grafik 2. Standart Konsentrasi Ampisilin (mg/µL) dengan Rata-Rata Diameter
hambat (mm) untuk bakteri B. subtilis
35
30
25
y = 3,26x + 27,58
2
R = 0,98
20
15
10
5
0
-8
-6
-4
-2
Log Konse ntrasi (mg/mikro L)
0
Rata-Rata Diameter Hambat (mm)
117
Grafik 3. Standart Konsentrasi Ampisilin (mg/µL) dengan Rata-Rata Diameter
hambat (mm) untuk bakteri S. aureus
40
35
30
y = 4,40x + 33,41
2
R = 0,93
25
20
15
10
5
0
-8
-6
-4
-2
0
2
Log Konsentrasi (mg/mikro L)
Rata-Rata Diameter Hambat
Grafik 4. Standart Konsentrasi Ampisilin (mg/µL) dengan Rata-Rata Diameter
hambat (mm) untuk bakteri P. aeruginosa
45
40
35
(mm)
y = 5,86x + 40,94
2
R = 0,96
30
25
20
15
10
5
0
-8
-6
-4
-2
0
Log Konsentrasi (mg/mikro L)
2
118
Persamaan garis linear yang didapatkan dari grafik standart
untuk
selanjutnya digunakan untuk perhitungan nilai banding dan didapat persamaan
garis untuk masing-masing bakteri sebagai berikut :
Tabel 2. Persamaan garis untuk masing-masing bakteri
Bakteri
Persamaan
garis
E. coli
B. subtilis
S. aureus
P. aeruginosa
y=3,66x+29,90 y=3,26x+27,58 y=4,40x+33,41 y=5,86x+40,94
Dari persamaan garis yang didapat digunakan untuk menghitung
konsentrasi ekstrak kloroform yang setara dengan konsentrasi ampisilin.
Perhitungan dengan memplotkan rata-rata diameter hambat ekstrak kloroform
konsentrasi 0,01 mg/µL ke persamaan garis untuk masing-masing bakteri. Ratarata diameter hambat ekstrak kloroform didapatkan dari data uji banding ekstrak
kloroform (data dari Tabel 2. Lampiran ) yang nilainya sebagai berikut :
Tabel 3. Rata-Rata Diameter Hambat Ekstrak Kloroform Konsentrasi 0,01
mg/µL
Konsentrasi
Diameter hambat (mm)
ekstrak
E.coli
B. subtilis
S. aureus
P. aeruginosa
kloroform
0,01 mg/µL
8,56±0,09
8,46±0,35
8,97±0,11
8,54±0,28
Perhitungan konsentrasi kloroform yang setara
dengan ampisilin
untuk masing-masing bakteri sebagai berikut :
Persamaam garis pada masing-masing bakteri secara umum adalah
y = Bx + A
Keterangan
x: Logaritma konsentrasi ampisilin
y: Rata-rata diameter hambat
Untuk menghitung konsentrasi ekstrak kloroform yang setara dengan
ampisilin yaitu dengan menganti nilai y dengan rata-rata diameter hambat ekstrak
kloroform dan mencari nilai x, setelah nilai x didapatkan dicari antilognya untuk
mendapatkan konsentrasi ekstrak yang setara dengan ampisilin.
119
Contoh perhitungan untuk bakteri E. coli :
Persamaan garis untuk bakteri E. coli. : y = 3,66 x + 29,90
Rata-rata diameter hambat ekstrak kloroform untuk bakteri E. coli : 8,56 mm
Sehingga perhitungannya sebagai berikut :
y = 3,66 x + 29,90
y - 29,90
3,66
8,56 - 29,90
x=
3,66
x = -5,831
x=
anti log x = 1,477.10 -6
Konsentrasi ekstrak kloroform yang setara dengan ampisilin 1,477.10-6 mg/µL.
Konsentrasi ekstrak kloroform yang setara dengan ampisilin untuk
masing-masing bakteri sebagai berikut :
Tabel 4. Konsentrasi Ekstrak Kloroform yang Setara dengan Ampisilin
Konsentrasi ekstrak kloroform yang setara dengan ampisilin
E.coli
B. subtilis
S. aureus
P. aeruginosa
-6
-6
-6
1,477.10
1,364.10
2,789.10
2,958.10-5
mg/µL
mg/µL
mg/µL
mg/µL
Setelah didapatkan konsentrasi ekstrak kloroform yang setara dengan
ampisilin maka dilakukan perhitungan nilai banding dengan rumus :
Nilai Banding =
Konsentrasi ekstrak kloroform yang setara dengan ampisilin
´ 100 %
konsentrasi ekstrak kloroform yang sebenarnya
Contoh perhitungan nilai banding untuk bakteri E. coli :
Konsentrasi ekstrak kloroform yang setara dengan ampisilin = 1,477.10-6 mg/µL
Konsentrasi ekstrak yang sebenarnya = 0,1 mg/µL
Perhitungan :
Nilai banding =
1,477.10 -6 mg
0,01 mg
mL
mL
´ 100 % = 0,015 %
120
Dan Nilai banding ekstrak kloroform terhadap ampisilin untuk bakteri E. coli
adalah 0,015 %.
Hasil perhitungan nilai banding ekstrak kloroform terhadap ampisilin
untuk masing-masing bakteri sebagai berikut :
Tabel 4. Nilai Banding Ekstrak Kloroform terhadap Ampisilin
Nilai banding ekstrak kloroform terhadap ampisilin
E. coli
B. subtilis
S. aureus
P. aeruginosa
0,015 %
0,014 %
0,028 %
0,030 %
Download