respon sosial dan kemampuan sosialisasi pasien isolasi sosial

advertisement
91
Media Ilmu Kesehatan Vol. 6, No. 2, Agustus 2017
RESPON SOSIAL DAN KEMAMPUAN SOSIALISASI PASIEN ISOLASI SOSIAL
MELALUI MANAJEMEN KASUS SPESIALIS KEPERAWATAN JIWA
1
2
3
Fajriyati Nur Azizah *, Achir Yani S. Hamid , Ice Yulia Wardani
1
* Program Studi Ners Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta, Jl. Ringroad Barat, Ambarketawang,
Gamping, Sleman, Yogyakarta. Telp. (0274) 4342000. Email: [email protected],
2,3
Program Studi Pendidikan Spesialis Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia,
Pondok Cina, beji, Kota Depok, Jawa Barat, 16424.
ABSTRACT
Background: Social isolation is a condition of loneliness felt by the individual being unable to
make contact with other people. Social isolation can result in further on the issue of fulfillment of
basic needs, so it would appear hallucinations that endanger themselves and others.
Objective: The purpose of writing scientific papers to describe social changes, and socialization
capabilities in social isolation’s patients using nursing care management of psychiatric specialist.
Methods: Nursing orders given to 22 clients using nurses action, Social Skills Training (SST), and
Cognitive-Behavioral and Social Skills Training (CBSST).
Result: Results obtained reduction in social symptoms of social isolation mark that includes
withdraw behaviour, interaction difficulties, refuse to communicate with others, fail to interact with
others nearby, disabillity to participate in social activities, ignoring the environtment, and mistrust
with others. The result also shown the improvement of socialization patient ability.
Conclusion: : There were reduction in symptoms of social isolation obviously showed on social
aspects as well as an increase in the client's ability to socialize. Recommendations of this study
was to use a combination of measures such as nurses and specialist nurses Social Skills Training
and Cognitive-Behavioral and Social Skills Training on clients with social isolation.
Key Words : Social Skills Training, Cognitive-Behavioral and Social Skills Training
PENDAHULUAN
skizofrenia. Skizofrenia dialami lebih dari 21
Gangguan jiwa merupakan pola perilaku
atau
psikologis
yang
terjadi pada laki-laki (12 juta jiwa), sedangkan
dan
pada wanita sekitar 9 juta jiwa.4 Skizofrenia
penurunan kualitas hidup.1 Tahun 2009,
atau gangguan jiwa yang menunjukkan tanda
WHO memperkirakan 450 juta jiwa di dunia
gejala serupa skizofrenia dialami oleh 2-4 juta
mengalami gangguan jiwa, 10% di antaranya
jiwa atau sekitar 1,1% dari total populasi
berusia
penduduk dunia.5
menyebabkan
seseorang
juta jiwa di dunia dan umumnya banyak
distres,
dewasa,
25%
disfungsi,
akan
mengalami
gangguan jiwa pada usia tertentu selama
Kurang motivasi dan adanya penurunan
hidupnya, dan akan terus berkembang sekitar
kemampuan
25% hingga tahun 2030.2Data Riskesdas
menyebabkan isolasi sosial banyak dialami
(2013)
prevalensi
oleh pasien dengan skizofrenia. Isolasi sosial
gangguan jiwa berat pada penduduk di
adalah kesepian yang dialami oleh individu
menyebutkan
bahwa
Indonesia mencapai angka 1,7 per mil.
3
Gangguan jiwa berat salah satunya adalah
dan
bersosialisasi
dirasakan
keberadaan
orang
saat
lain
didorong
dan
yang
oleh
sebagai
92
Media Ilmu Kesehatan Vol. 6, No. 2, Agustus 2017
pernyataan negatif atau mengancam.Batasan
jiwa yang dialami pasien, dan kemampuan
karakteristiknya
pasien
antara
lain
tidak
beradaptasi
dengan
8
menganggap penting dukungan dari orang
lingkungannya. Hal ini disebabkan karena
lain, afek tumpul, adanya bukti cacat (fisik
kemampuan
atau mental), sakit, tindakan yang tidak
dalam
berarti, tidak ada kontak mata, dipenuhi oleh
menciptakan situasi interpersonal yang positif
pikiran sendiri, menunjukkan permusuhan,
dengan orang lain dan untuk menyelesaikan
tindakan berulang, sedih, senang sendiri,
masalah hubungan interpersonal. Pasien
tidak komunikatif dan menarik diri. Selain itu
dengan gangguan jiwa bertahan dengan
data subyektif yang didapat antara lain
ketergantungannya
mengungkapkan perasaan sendiri, tujuan
kemampuan bersosialisasi yang berdampak
hidup yang tidak adekuat, tidak mampu
pula
memenuhi
lainnya.7Lebih
harapan
orang
lain,
merasa
komunikasi
kehidupan,
pada
sangat
penting
diantaranya
terhadap
penurunan
lanjutnya,
untuk
penurunan
kemampuan
isolasi
sosial
berbeda dari orang lain, tidak percaya diri
menyebabkan lamanya waktu rawat pasien di
saat berada di hadapan orang lain. Pasien
rumah
dengan
hospitalisasi,pengabaian
penurunan
kemampuan
sakit
yang
berdampak
pasien
pada
terhadap
bersosialisasi menunjukkan adanya masalah
kebutuhan dasarnya seperti makan, minum,
berkomunikasi dengan orang lain, ketakutan
kebersihan diri dan eliminasi, dan pada
akan lingkungan sosial, masalah dengan
akhirnya
aktivitas
sehingga
membahayakan diri sendiri, orang lain, dan
6
lingkungannya.9 Pada saat pasien diterima
Penurunan kemampuan untuk bersosialisasi
oleh keluarga, kondisi ini akan menjadi beban
lainnya yang terjadi adalah ketidakmampuan
bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.10
kehidupan
membutuhkan
sehari-hari
latihan
bersosialisasi.
pasien untuk berkomunikasi secara efektif
dengan
orang
mengungkapkan
lain,
terutama
dan
untuk
mengonfirmasi
muncul
halusinasi
yang
Social Skills Training (SST) dan Cognitive
Behavioral
and
Social
Skills
Training
(CBSST) merupakan psikoterapi yang dapat
perasaan negatif dan positif yang dialaminya,
dilakukan
untuk meminta atau menolak permintaan
sosialisasi pada pasien isolasi sosial.Social
orang lain yang tidak rasional dan untuk
Skills Training (SST) memiliki efek yang
memahami
positif pada masalah kesulitan melakukan
hambatan-hambatan
dalam
berhubungan interpersonal. 7
Rajkumar dan Thara, 1989; Johnstone at
untuk
hubungan
mengatasi
interpersonal,
masalah
konsep
7
masalah
depresi,
dan
diri
pada
pasien
Sedangkan
untuk
CBSST,
al, 1990; Perlick et al, 1992 menjelaskan
skizofrenia.
bahwa kondisi gangguan interaksi sosial
menunjukkan
sejalan dengan perkembangan gangguan
CBSST pada klien isolasi sosial di rumah
bahwa
dengan
pemberian
93
Media Ilmu Kesehatan Vol. 6, No. 2, Agustus 2017
sakit
dapat
kognitif,
Peneliti mengukur variabel tersebut pada
besar
waktu yang bersamaan. Populasi dalam
daripada klien yang tidak diberikan terapi
penelitian ini adalah pasien dengan diagnosa
tersebut.11 Penelitian lainnya menunjukkan
keperawatan isolasi sosial yang dirawat di
bahwa CBSST meningkatkan fungsi kognitif
Ruang Utari Rumah Sakit Prof. DR. Marzoeki
dan perilaku sosial klien serta menurunkan
Mahdi
tanda dan gejala klien yang mengalami
penelitian ini berjumlah 22 orang yang
halusinasi dan isolasi sosial.12
memenuhi
afektif,
dan
Pada
menurunkan
perilaku
penelitian
gejala
klien
lebih
sebelumnya,
SST
dilakukan sebagai terapi individu. Namun,
(RSMM)
Bogor.
kriteria
Subyek
inklusi
yang
dalam
telah
ditentukan oleh peneliti.
Kriteria inklusi yang
ditetapkan oleh
pada manajemen asuhan keperawatan yang
peneliti adalah pasien yang sedang dirawat di
dilakukan pada pasien isolasi sosial ini,
Ruang Utari Rumah Sakit Prof. DR. Marzoeki
peneliti menggunakan kelompok
Mahdi Bogor, pasien yang memiliki diagnosa
sebagai
salah satu media terapi untuk SST. Kelompok
keperawatan
merupakan wahana untuk mencoba dan
mendapatkan rekomendasi oleh dokter untuk
menemukan hubungan interpersonal yang
mengikuti rehabilitasi, pasien yang telah
baik, serta mempermudah individu untuk
mendapatkan tindakan ners generalis (terapi
mengembangkan
individu untuk pasien isolasi sosial dan Terapi
perilaku
yang
isolasi
sosial
dan
telah
adaptif.13Berdasarkan hal tersebut, peneliti
Aktivitas
tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang
ruangan,
perubahan tanda dan gejala isolasi sosial
(bersedia mengikuti proses terapi hingga
pada
selesai).
aspek
sosial
dan
kemampuan
Kelompok
dan
Sosialisasi/TAKS)
pasien
Pengambilan
yang
di
kooperatif
sampel
diambil
sosialisasi pada pasien isolasi sosial sebelum
dengan teknik purposive sampling yang
dan sesudah dilakukan manajemen asuhan
berjumlah 22 orang. Pada kelompok pertama,
keperawatan spesialis (SST dan CBSST).
11 orang pasien diberikan tindakan ners
generalis dan SST, sedangkan kelompok
BAHAN DAN CARA PENELITIAN
Jenis
penelitian
ini
adalah
kedua yang berjumlah 11 pasien diberikan
deskriptif
eksploratif menggunakan rancangan desain
quasi experiment with non-equivalent control
groupdan
dan SST).
Seluruh
responden
diberikan
terapi
kuantitatif
individu untuk pasien isolasi sosial dan TAKS
crossectional. Variabel yang diteliti oleh
oleh perawat ruangan, mahasiswa praktik,
peneliti adalah tanda dan gejala isolasi sosial
dan dibantu peneliti. Sebelum dilakukan
pada
tindakan,
aspek
pendekatan
tindakan ners generalis dan CBSST (CBT
sosial
dan
kemampuan
sosialisasi pasien dengan isolasi sosial.
peneliti
melakukan
pengkajian
untuk mengidentifikasi tanda dan gejala
94
Media Ilmu Kesehatan Vol. 6, No. 2, Agustus 2017
isolasi sosial terutama pada aspek sosial
yang meliputi perilaku menarik diri, sulit
HASIL DAN PEMBAHASAN
berinteraksi, enggan berkomunikasi dengan
1.
orang lain, gagal berinteraksi dengan orang
lain
yang
ada
di
sebelahnya,
ketidakmampuan
berpartisipasi
kegiatan
tidak
Karakteristik Responden
Penelitian menunjukkan semua pasien di
Ruang Utari berjenis kelamin perempuan
dalam
(100%). Ruang Utari merupakan ruangan
dengan
yang dikhususkan untuk pasien perempuan
lingkungan, dan curiga terhadap orang lain.
kelas III. Jenis kelamin tidak memengaruhi
Tanda
secara
sosial,
dan
gejala
peduli
tersebut
disesuaikan
signifikan
terjadinya
gangguan
14
dengan ceklis/kuesioner yang telah dibuat
jiwa. Wanita lebih cenderung mengalami
berdasarkan modul praktik keperawatan jiwa
gejala yang lebih ringan dibandingkan pria.
Program
Jiwa
Sejumlah 72,73% pasien perempuan tersebut
Universitas
berusia dewasa (25-60 tahun) dan masuk
Fakultas
Magister
Ilmu
Indonesia
Keperawatan
Keperawatan
tahun
mengidentifikasi
2015.
Peneliti
pada
tahap
perkembangan
psikososial
15
sosialisasi
intimasi. Tahap psikososial yang penting di
pasien sebelum dilakukan tindakan ners
usia ini adalah mampu membina hubungan
generalis dan ners spesialis.
baik dengan masyarakat, hubungan kerja,
di
kemampuan
juga
Terapi ners generalis dan CBT dilakukan
dan hubungan yang intim dengan orang lain.
ruangan,
Jika tidaktercapai, individu akan terisolasi dan
berkelompok
sedangkan
di
unit
SST
dilakukan
rehabilitasi
3
kali
sulit
hubungan.14,16Berkaitan
membina
seminggu hingga sesi SST selesai. SST
dengan tahap psikososial ini sebagian besar
terdiri dari empat sesi. Sesi pertama adalah
responden
latihan bersosialisasi, sesi kedua latihan
berstatus menikah (45,46%).Pekerjaan erat
menjalin persahabatan, sesi ketiga latihan
kaitannya dengan status ekonomi klien.
bekerjasama dalam kelompok, dan sesi
Pekerjaan dapat menjadi sumber masalah
keempat latihan menghadapi situasi yang
pada sebagian orang jika tidak segera diatasi
sulit. Sedangkan CBSST terdiri dari enam
dan
sesi. Sesi pertama latihan merubah pikiran
termasuk terjadinya skizofrenia.17,18Hal lain
negatif pertama, sesi kedua latihan merubah
yang
pikiran negatif kedua, sesi ketiga adalah
skizofrenia
latihan bersosialisasi, sesi keempat latihan
Durkheim mengatakan bahwa pernikahan
menjalin persahabatan, sesi kelima latihan
dapat
bekerjasama dalam kelompok, dan sesi
perasaan
keenam latihan menghadapi situasi yang
pasangan hidup membuat ikatan batin secara
sulit.
finansial, fisiologis, dan psikologis antar
pada
tidak
bekerja
akhirnya
berkontribusi
adalah
mengurangi
kesepian.
(36,36%)
menyebabkan
terhadap
status
isolasi
dan
sakit
kejadian
pernikahan.
sosial
dan
Perlindungan
dari
95
Media Ilmu Kesehatan Vol. 6, No. 2, Agustus 2017
pasangan meskipun tidak semua pasangan
keputusan dan responsnya terhadap sumber
dapat menyediakan perlindungan. Seseorang
stress.1
yang jarang berkomunikasi dan membina
2. Perubahan Aspek Sosial Tanda dan
hubungan yang suportif cenderung semakin
Gejala Isolasi Sosial
merasa kesepian.19Sedangkan untuk status
pendidikan,
sebagian
berpendidikan
besar
isolasi
sosial. Pada tabel 1 dan 2 terlihat
(27,30%).Pendidikan rendah dapat menjadi
bahwa
hasil
penyebab
psikologis.
pertama yang mendapatkan tindakan ners
Individu dengan pendidikan rendah akan
generalis dan SST menunjukkan penurunan
kesulitan dalam menyampaikan ide, gagasan
tanda dan gejala isolasi sosial 74,32%.
atau pendapatnya, sehingga memengaruhi
Sedangkan, pada kelompok kedua yang
cara
mendapatkan tindakan ners generalis dan
terjadinya
berhubungan
menyelesaikan
dan
tanda dan gejala sosial pada pasien dengan
SMA
No
SMP
responden
SST dan CBSST dapat menurunkan
masalah
dengan
masalah,
orang
lain,
membuat
Tabel 1. Tanda Gejala Sosial Sebelum dan Sesudah
Tindakan Ners Generalis dan SST(n=11)
Frekuensi
Tanda dan Gejala Sosial
Pre
%
Post
%
Menarik diri
Sulit berinteraksi
Enggan berkomunikasi dengan orang lain
Kegagalan berinteraksi dengan orang lain yang
ada didekatnya
5
Ketidakmampuan berpartisipasi dalam kegiatan
sosial
6
Tidak peduli dengan lingkungan
7
Curiga terhadap orang lain
Rerata
Ruang Utari RSMM Bogor, 2016
1
2
3
4
5
6
7
pada
7
4
4
9
63.64
36.36
36.36
81.82
0
0
0
2
0
0
0
18,18
Penurunan
(%)
100
100
100
77,78
8
72.73
5
45,45
37,49
10
4
6,57
90.91
36.36
59,74
7
1
2,14
63,64
9,09
19,48
30
75
74,32
Tabel 2. Tanda Gejala Sosial Sebelum dan Sesudah
Tindakan Ners Generalis dan CBSST(n=11)
Frekuensi
Tanda dan Gejala
Pre
%
Post
%
Menarik diri
Sulit berinteraksi
Enggan berkomunikasi dengan orang lain
Kegagalan berinteraksi dengan orang lain
yang ada didekatnya
Ketidakmampuan berpartisipasi dalam
kegiatan sosial
Tidak peduli dengan lingkungan
Curiga terhadap orang lain
kelompok
CBSST menunjukkan penurunan 64,05%.
1
2
3
4
No
penelitian
5
5
4
45,45
45,45
36,36
0
0
1
0
0
9,09
Penurunan
(%)
100
100
75
10
90,91
2
18,18
80
9
10
4
81,82
90,91
36,36
6
9
2
54,55
81,82
18,18
33,33
10
50
96
Media Ilmu Kesehatan Vol. 6, No. 2, Agustus 2017
Frekuensi
No
Tanda dan Gejala
Rerata
Ruang Utari RSMM Bogor, 2016
Penurunan tanda dan gejala sosial pada
Pre
%
Post
%
6,71
61,04
2,86
25,97
pada
latihan
dan
Penurunan
(%)
64,05
kegiatan
yang
kelompok yang memperoleh SST lebih besar
menggunakan aktivitas fisik. Berbeda dengan
dibandingkan kelompok yang memperoleh
CBSST. Perubahan tanda dan gejala pasien
CBSST. SST adalah terapi yang berorientasi
isolasi sosial dengan CBSST cukup signifikan
pada tugas dan membentuk perilaku baru.
pada
SST digunakan untuk meningkatkan dan
kognitif yang ada pada CBSST menguji efek
membentuk
fleksibel
pikiran maladaptif pada pasien gangguan jiwa
sehingga klien mampu berespons dengan
terhadap afek dan perilaku, karena ketiganya
baik terhadap situasi yang beragam. Peran
memiliki hubungan saling memengaruhi pada
perawat disini adalah memberikan penguatan
perilaku isolasi sosial khususnya.16
positif, menjadi role model, tolok ukur,
3. Perubahan Kemampuan Sosialisasi
terapis,
dan
komunikasi
yang
membentuk
pola
perilaku
aspek
Hasil
kognitif,
penelitian
dan
afektif.Terapi
menunjukkan
bahwa
sosialisasi klien yang diharapkan.7 Selain itu,
kemampuan bersosialisasi pasien dengan
SST
asertif,
isolasi sosial meningkat setelah diberikan
kemampuan pasien untuk mengekspresikan
SST dan CBSST. Pada tabel 3 dan 4 terlihat
perasaannya,
bahwa kelompok pertama yang mendapatkan
meningkatkan
emosi,
perilaku
kebutuhan,
dan
pendapat pribadi dengan jelas dan efektif
tindakan
tanpa
menunjukkan
ada
rasa
cemas,
takut,
20
ners
generalis
peningkatan
SST
kemampuan
ketidaknyamanan dan agresif. SST tidak
sosialisasi
banyak memberikan perubahan pada aspek
kelompok kedua yang mendapatkan tindakan
kognitif
pada
ners generalis dan CBSST menunjukkan
kemampuan pasien untuk merubah pikiran
peningkatan kemampuan sosialisasi 93.54%.
karena
tidak
difokuskan
87,65%.
dan
Sedangkan,
pada
terkait sosialisasi. Pasien banyak berfokus
Tabel 3. Kemampuan Sosialisasi Sebelum dan Sesudah
Tindakan Ners Generalis dan SST(n=11)
Frekuensi
No
Kemampuan
Pre
%
Post
%
1
Bersosialisasi
4
18,18
11
100
2
Menjalin persahabatan
3
13,64
10
90,91
3
Bekerja sama dalam
1
4,55
7
63,64
kelompok
4
Menghadapi situasi sulit
0
0
10
90,91
Rerata
2
9,09
9.5
86,37
Ruang Utari RSMM Bogor, 2016
Peningkatan
(%)
81,82
85
92,85
90,91
87,65
97
Media Ilmu Kesehatan Vol. 6, No. 2, Agustus 2017
Tabel 4. Kemampuan Sosialisasi Sebelum dan Sesudah
Tindakan Ners Generalis dan CBSST(n=11)
No
1
2
3
4
Merubah pikiran negatif 1
Merubah pikiran negatif 2
Bersosialisasi
Menjalin persahabatan
Bekerja sama dalam
kelompok
Menghadapi situasi sulit
Rerata
5
6
Pre
%
Post
%
Peningkatan
(%)
0
0
4
3
1
0
0
18,18
13,64
4,55
11
8
11
10
9
100
72,73
100
90,91
81,82
100
100
81,82
85
94,44
0
1,33
0
6,06
11
10
100
90,91
100
93,54
Kemampuan
Ruang Utari RSMM Bogor, 2016
Pasien
mendapatkan
ners
Pengulangan tiap sesi dilakukan di ruangan
generalis yaitu latihan berkenalan secara
masing-masing. Pasien terus dimotivasi untuk
bertahap untuk melatih ketrampilan sosial
mau bekerja sama dalam kegiatan-kegiatan
pasien sehingga merasa nyaman dalam situasi
harian
di
sosial dan dapat melakukan interaksi sosial
tempat
tidur
dengan orang lain serta lingkungannya. Tujuan
menyiapkan makan.SST yang ditujukan untuk
yang diharapkan setelah dilakukan tindakan
memandirikan pasien dalam bersosialisasi,
ners
membina
kemampuannya dapat diukur tiap bulan hingga
hubungan saling percaya dengan orang lain,
tahunan. Pasien harus memiliki kesempatan
menyadari penyebab isolasi sosial dan mampu
untuk mempraktikkan ketrampilannya dalam
berinteraksi
kehidupan
generalis,
bertahap.
pasien
dengan
tindakan
mampu
orang
lain
secara
21
ruangan
dan
nyata
seperti
membereskan
mengatur
untuk
piket
untuk
digunakan
masyarakat sekembalinya dari perawatan.
di
22
Pada tindakan SST yang terlihat pada
Keberhasilan SST dalam merubah tanda
tabel 3, peningkatan kemampuan lebih banyak
gejala dan kemampuan pasien tertuang dalam
pada kemampuan pasien untuk bekerja sama
beberapa
dalam
kelompok
dikombinasikan
Yalom
(1996)
(92,85%).
Ballinger
menjelaskan
bahwa
dan
peran
karya
tulis
ilmiah.
dengan
SST
yang
Family
Psychoeducation (FPE) dapat menurunkan
terapeutik kelompok bersifat here and now.
tanda
Kelompok mengajarkan bagaimana individu
kemampuan pasien dengan halusinasi dan
berinteraksi
dengan
untuk
isolasi sosial.23 Sedangkan pada penelitian
membantu
memenuhi
dan
lainnya menunjukkan bahwa dengan SST yang
mendiskusikan caranya, mengarahkan pada
dilakukan dengan pendekatan teori Peplau dan
perubahan
Henderson dapat memudahkan perawat dalam
perilaku,
orang
lain
kebutuhannya
pikiran
dan
spiritual.Hasilnya akan efektif jika perilaku
tersebut
dilakukan
berulang-ulang.22
dan
gejala
serta
meningkatkan
berinteraksi dengan pasien isolasi sosial.10
98
Media Ilmu Kesehatan Vol. 6, No. 2, Agustus 2017
CBSST pada tabel 4 menunjukkan bahwa
pasien
yang
mendapatkan tindakan
ners
peningkatan kemampuan pasien terbanyak
generalis dan CBSST dibandingkan SST.
adalah
Hasilnya
pada
kemampuan
pasien
dalam
dapat
menjadi
dasar
untuk
merubah pikiran negatif terkait penyebab
penyediaan Standar Asuhan Keperawatan
perilaku
(SAK)
isolasi
menghadapi
kognitif
sosial
situasi
yang
dan
sulit
kemampuan
(100%).
menjadi
bagian
sebagai
acuan
perawat
dalam
Terapi
melakukan manajemen asuhan keperawatan
CBSST
pada pasien dengan isolasi sosial secara
membantu pasien memperbaiki distorsi kognitif
berkesinambungan
yang dialaminya. Distorsi kognitif yang banyak
perawat
muncul pada pasien isolasi sosial diantaranya
melibatkan semua unsur penyedia layanan
adalah
asuhan keperawatan termasuk mahasiswa
junk
to
the
conclusion,
decathastripizing.CBSST
pada
dan
pasien
dalam
dengan
generalis
membangun
dan
melibatkan
spesialis,
hubungan
serta
kolaboratif.
skizofrenia yang diberikan selama 9 bulan dan
Menetapkan kebijakan yang jelas terkait uraian
36 sesi pada pasien usia 26-55 tahun
tugas yang disahkan dalam surat keputusan
sebanyak
direktur diimbangi dengan sistem pengawasan
213
orang
menunjukkan
peningkatan ketrampilan fungsi sosial dan
fungsi kognitif.
24
Senada dengan penelitian
yang
komprehensif
sehingga
dapat
mempertahankan sustainability pelaksanaan
Jumaini (2010) yang menunjukkan bahwa
Model
CBSST
(MPKP) sehingga dapat meningkatkan mutu
dapat
kognitif
80,35%.
pasien
meningkatkan
isolasi
kemampuan
sosial
sebanyak
Praktek
Keperawatan
Profesional
layanan rumah sakit dan tingkat kepuasan.
25
KEPUSTAKAAN
KESIMPULAN
1.
Hasil pengkajian pada pasien isolasi sosial
di Ruang Utari didapatkan semua pasien
berjenis kelamin perempuan, berusia dewasa,
2.
tingkat pendidikan adalah tamat SMP dan
SMA, tidak bekerja, dan menikah. Penurunan
3.
tanda dan gejala pada aspek sosial lebih
banyak terlihat pada kelompok pasien yang
mendapatkan tindakan ners generalis dan SST
dibandingkan
CBSST.
4.
Sedangkan,
kemampuan sosialisasi pasien lebih banyak
mengalami
peningkatakn
pada
kelompok
5.
Stuart, G.W.
Prinsip dan Praktik
Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart. Edisi
Indonesia. Buku 1. Elseiver: Singapura.
2015.
WHO. Improving Health System and
Service for Mental Health: WHO library
cataloguing in publication data. 2009.
Riskesdas. Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas
2013).
Jakarta:
Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI Tahun 2013.
2013.
WHO. Skizophrenia. Diakses pada 25 Mei
2016
di
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/
fs397/en/. 2016.
Shives LR. Basic Concept of PsychiatricMental Health Nursing. 8th edition.
Lippincott William & Wilkins. 2012.
Media Ilmu Kesehatan Vol. 6, No. 2, Agustus 2017
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
NANDA. Diagnosis Keperawatan: Definisi
dan Klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC.
2015.
Malky, M.I., Attia, M.M., & Alam, F.H. The
effectiveness of social skill training on
depressive symptoms, self-esteem and
interpersonal
difficulties
among
schizophrenic patiens. International journal
of advanced nursing studies. Doi:
10.14419/ijans.v511.5386. Diakses pada
tanggal
23
Maret
2016
di
www.Sciencepubco.com/index.php/LIANS.
2016.
Bellido, Zanin, G., Perez-San-Gregorio,
M., Martin-Rodriguez., et al. Social
Functioning as a Predictor of Use of
Mental Health Resources in Patiens with
Severe Mental Disorder. Psychiatric
research. 230. 0.189-193. Diakses pada
tanggal
12
Maret
2016di
http://dx.doi.org/10.1016/j.psychres.2015.0
8.037. 2015.
Raudino, A., Carr, V.J., Bush, R., Saw, S.,
Burgess, P., Morgan, V.A., 2014. Patterns
ofservice utilisation in psychosis: findings
of the 2010 Australian national survey of
psychosis. Aust. N. Z. J. Psychiatry 48,
341–351 . Diakses pada tanggal 16 Maret
2016.
Putri,
D.E.
Penerapan
asuhan
keperawatan pada pasien isolasi sosisl
dengan pendekatan model konseptual
Hildegard E. Peplau dan Virginia
Henderson. Ners Jurnal Keperawatan.
2012. Vol. 8. No.1.
Kirana, S.A.C., Keliat, BA., &Mustikasari.
Pengaruh Cognitive Behavioral Social
Skills Training terhadap Gejala Klien
Halusinasi dan Isolasi Sosial di Rumah
Sakit. Tesis FIK UI. Tidak Dipublikasikan.
2015.
Syukri,M., Keliat, BA., & Mustikasari.
Penerapan Cognitive-Behavior Social
Skills Training pada Klien Halusinasi dan
Isolasi Sosial dengan Pendekatan Model
Hubungan Interpersonal Peplau di RS dr.
Marzoeki Mahdi Bogor. Karya Ilmiah Akhir.
FIK UI. Tidak Dipublikasikan. 2014.
Keliat,
B.A.,&Prawirowiyono,
A.
Keperawatan Jiwa: Terapi Aktifitas
Kelompok. EGC: Jakarta. 2016.
99
14. Fortinash., Worret H. Psychiatric Mental
Health Nursing. (5th edition). Philadelphia:
Elseiver. 2012.
15. Gierveld, Jong J. de, Tilburg, T. Van &
Dykstra, P.A. Loneliness and Social
Isolation In: Vangelisti, A. & Perlman, D.,
The Cambridge handbook of personal
relationships. New York p. 485-500. 2006.
16. Sinaga, B.R. Skizofrenia & Diagnosis
Banding.
Balai
Penerbit,
Fakultas
Kodokteran-Universitas
Indonesia,
Jakarta. 2007.
17. Sharf, R.S. Theories of psychotherapy and
counseling: concept and cases. (5th
edition). Maerica: Brooks/cole cengage
learning. 2012.
18. Hawari, D. Pendekatan Holistik Pada
Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta: FIK
UI. 2007.
19. Townsend, MC Psychiatric Mental Health
Nursing Concepts of Care in EvidenceBased Practice. 6th edition. Davis Plus
Company: Philadelphia. 2014.
20. Gierveld, Jong J. de, Tilburg, T. van &
Dykstra, P.A. Loneliness and Social
Isolation In: Vangelisti, A. & Perlman, D.,
The Cambridge handbook of personal
relationships. New York p. 485-500. 2005.
21. Bucci, P., Piegari, G., Mucci, A., Merlotti,
E., Chieffi, M., De Riso, F., De Angelis, M.,
Di Munzio, W., & Galderisi, S.
Neurocognitive Individual Training vs
Social Skills Individualized Training: A
Randomize Trial in Patients with
Schizophrenia. Schizophrenia research.
Diakses pada tanggal 25 Mei 2016 di
http://dx.doi.org/10.1016/j.schres.2013.07.
053. 2013.
22. Keliat, B.A. Keperawatan Kesehatan Jiwa
Komunitas: CMHN (Basic Course). EGC:
Jakarta. 2011.
23. Fontaine, K.L. Mental health Nursing. 6th
edition. Pearson Education: New Jersey.
2009.
24. Sukaesti, D., Hamid, AYS,. & Wardani, IY.
Manajemen
Asuhan
keperawatan
Spesialis Jiwa pada Klien Isolasi Sosial
dan
Risiko
Perilaku
Kekerasan
menggunakan Pendekatan Hubungan
Interpersonal Peplau dan Stuart di Ruang
Gatotkaca RSMM. Karya Ilmiah Akhir. FIK
UI. Tidak Dipublikasikan. 2015.
100
Media Ilmu Kesehatan Vol. 6, No. 2, Agustus 2017
25. Granholm, E., Ben-Zeef, D., dan Link,
P,C,. Social Disinterest Attitudes an Group
Cognitive Behavioral Social Skills Training
for Functional Disability in Schizophrenia.
Shizophrenia Bulletin, 35(5), 874-883.
2009.
26. Jumaini., Keliat, BA., & Daulima, NH.
Pengaruh Cognitive Behavioral Social
Skills
Training
(CBSST)
terhadap
Kemampuan Bersosialisasi Klien isolasi
Sosial di BLU RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi
Bogor. Tesis FIK UI. Tidak Dipublikasikan.
2010.
Download