SKRIPSI EFEK KONSUMSI AIR MINUM PENAMBAH

advertisement
SKRIPSI
EFEK KONSUMSI AIR MINUM PENAMBAH OKSIGEN TERHADAP
PROLIFERASI SEL LIMFOSIT MANUSIA
Oleh :
INDRIA RAMADHANI
F24101084
2009
DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
EFEK KONSUMSI AIR MINUM PENAMBAH OKSIGEN TERHADAP
PROLIFERASI SEL LIMFOSIT MANUSIA
SKRIPSI
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Oleh :
INDRIA RAMADHANI
F24101084
2009
DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
EFEK KONSUMSI AIR MINUM PENAMBAH OKSIGEN TERHADAP
PROLIFERASI SEL LIMFOSIT MANUSIA
SKRIPSI
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Oleh :
INDRIA RAMADHANI
F24101084
Dilahirkan pada tanggal 17 Juni 1983
di Tangerang, Banten
Tanggal Lulus : 11 Februari 2009
Menyetujui,
Bogor, 1 Juni 2009
Prof. Dr. Ir. Fransiska Rungkat Zakaria, M.Sc.
Dosen Pembimbing Akademik
Mengetahui,
Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.
Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
Indria Ramadhani. F24101084. Efek Konsumsi Air Minum Penambah Oksigen
terhadap Proliferasi Sel Limfosit Manusia. Di bawah bimbingan
Prof. Dr. Ir. Fransiska Rungkat Zakaria, M.Sc.
RINGKASAN
Air dan oksigen merupakan dua unsur penting yang merupakan syarat
mutlak adanya kehidupan. Hal tersebut dapat dilihat dari lebih dari 70% tubuh
manusia tersusun atas air dan suplai oksigen sangat vital untuk keberlangsungan
proses metabolisme di dalam tubuh. Oksigen memiliki peran penting sebagai
penangkap elektron pada tahap transport elektron untuk menghasilkan energi bagi
tubuh.
Air minum penambah oksigen merupakan salah satu alternatif yang
ditemukan oleh para ahli teknologi pangan untuk mengatasi masalah kekurangan
oksigen pada manusia. Produk ini merupakan air yang diproses melalui
penyaringan dan reverse osmosis, sterilisasi menggunakan ultraviolet dan
ozonisasi, serta penginjeksian oksigen dengan tekanan tinggi pada suhu rendah.
Oksigen yang larut dalam air dapat diserap oleh sel-sel epitel pada saluran
pencernaan dan masuk ke dalam tubuh.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh konsumsi air
minum penambah oksigen konsentrasi 10, 80, 130 ppm terhadap proliferasi sel
limfosit B dan T manusia. Pengujian dilakukan kepada 25 orang reponden
mahasiswa ITP yang dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan pemberian air minum
penambah oksigen dengan konsentrasi oksigen terlarut 10 ppm (kelompok 1),
80 ppm (kelompok 2), dan 130 ppm (kelompok 3). Intervensi dilakukan 2 kali
sehari, yaitu setelah sarapan dan makan siang selama 12 hari. Analisis pengukuran
proliferasi sel limfosit manusia dilakukan sebelum dan setelah 12 hari intervensi
dengan menggunakan metode pewarnaan MTT [3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5diphenyltetrazolium bromide]. Pengujian pengaruh air minum penambah oksigen
dilakukan pada sel limfosit B yang dikultur dengan mitogen LPS Salmonella
Typhosa dan sel limfosit T yang dikultur dengan mitogen Con A. Pengukuran
proliferasi sel limfosit B dan T manusia dengan cara membandingkan nilai indeks
stimulasi sebelum intervensi dengan nilai indeks stimulasi setelah 12 hari
intervensi.
Hasil penelitian analisis proliferasi sel limfosit B manusia didapatkan
peningkatan nilai IS rata-rata setelah 12 hari intervensi pada kelompok 1, 2, dan 3
masing-masing, yaitu 0.193; 0.084; dan 0.064. Berdasarkan uji statistik Paired
Samples T-Test pada taraf 0.05 (p<0.05) menunjukkan bahwa pada kelompok 1
terjadi kenaikkan proliferasi limfosit B secara signifikan setelah konsumsi.
Sedangkan pada kelompok 2 dan 3 kenaikkan yang terjadi tidak signifikan
(p>0.05) terhadap proliferasi sel limfosit B manusia. Pada analisis proliferasi sel
limfosit T manusia didapatkan peningkatan nilai IS rata-rata setelah 12 hari
intervensi pada kelompok 1, 2, dan 3 berturut-turut adalah sebesar 0.084; 0.008;
dan 0.018. Setelah dilakukan analisis sidik ragam menggunakan Paired Samples
T-Test pada taraf uji 0.05 (p>0.05) memperlihatkan hasil bahwa konsumsi air
minum penambah oksigen dengan konsentrasi oksigen terlarut 10, 80, maupun
130 ppm tidak berpengaruh secara nyata terhadap proliferasi sel limfosit T
manusia. Dengan demikian kesimpulan akhir penelitian ini adalah konsumsi air
minum penambah oksigen secara teratur terbukti tidak menstimulasi proliferasi
sel limfosit dan juga tidak menurunkan jumlah sel hidup sel limfosit B dan T pada
manusia. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa air minum penambah oksigen
aman untuk dikonsumsi.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Tangerang, Banten pada tanggal 17 Juni 1983.
Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan keluarga
Abdurrasjid M. Noor dan Een Sukaedah. Penulis menempuh pendidikan sekolah
dasar selama 6 tahun (1989-1995) di SD Negeri VI Tangerang. Kemudian
meneruskan ke sekolah menengah pertama di SMP Negeri I Tangerang
selama 3 tahun (1995-1998), dan setelahnya melanjutkan studi ke SMU Negeri I
Tangerang sejak tahun 1998-2001. Pada tahun 2001, penulis meneruskan
pendidikan ke tingkat perguruan tinggi dengan diterima sebagai mahasiswa
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur
UMPTN.
Selama mengikuti pendidikan di Institut Pertanian Bogor, penulis cukup
aktif terlibat di berbagai acara yang diselenggarakan oleh Departemen ITP. Salah
satunya, penulis berperan sebagai panitia acara BAUR 2003 dan Lomba Cepat
Tepat Ilmu Pangan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu dan
Teknologi Pangan. Di samping itu, selama menjalani kuliah, penulis juga turut
aktif mengikuti berbagai seminar dan pelatihan, baik yang diadakan di dalam
ataupun di luar lingkungan kampus.
Penulis menyelesaikan tugas akhir dengan melakukan penelitian pada
tahun 2005 yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Teknologi Pertanian di IPB dan membuat skripsi yang berjudul “Mempelajari
Efek Konsumsi Air Minum Penambah Oksigen terhadap Proliferasi Sel Limfosit
Manusia”. Selama periode tahun 2005-2008, penulis pernah bekerja pada salah
satu perusahaan swasta PT. Inmarindotama yang bergerak di bidang produksi
makanan jeli dan puding sebagai staf R&D (Research and Development) dan
auditor halal internal perusahaan tersebut.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga akhirnya penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini. Penyusunan skripsi yang berjudul “Mempelajari Efek
Konsumsi Air Minum Penambah Oksigen terhadap Proliferasi Sel Limfosit
Manusia” ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Teknologi Pertanian dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas
Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor dengan melakukan penelitian
terlebih dahulu.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Ucapan terima kasih tak terhingga penulis sampaikan kepada :
1. Ibu Prof. Dr. Ir. Fransiska Rungkat Zakaria, MSc selaku pembimbing
utama yang telah banyak memberikan bimbingan dan dukungan kepada
penulis di dalam penelitian dan penyelesaian skripsi ini.
2. Ibu Dra. Suliantari, MS dan Bapak Ir. Arif Hartoyo, M.Si selaku dosen
penguji atas kesediannya meluangkan waktu untuk menguji, memberi
arahan, saran dan kritik yang membangun bagi penulis.
3. PT. Royal Kekaltama Beverages, atas dana proyek penelitian yang telah
diberikan.
4. Pimpinan PT. Inmarindotama, beserta rekan-rekan kerja yang selalu
memberikan dukungan dan motivasi bagi penulis untuk menyelesaikan
skripsi ini, terutama untuk Mbak Niken, Mbak Yani, Mbak Inay, Mbak
Santi, Mbak Miko, Mbak Tuti, Pak Chandra, Pak Imron, Pak Syaiful, dan
lain-lain yang tidak disebutkan namanya.
5. Seluruh staf dosen, laboran, teknisi maupun administrasi Departemen ITP
dan Fakultas Kedokteran Hewan atas segala bantuan dan kemudahan yang
diberikan kepada penulis selama melakukan studi di IPB.
6. Mamah dan Bapak yang tidak pernah bosan memberikan doa serta
dukungan moril dan material setiap saat, terutama pada saat penyusunan
skripsi ini sehingga penulis akhirnya mampu menyelesaikan studinya.
i
7. Aa Arif, Teh Dineu, Dhani, Sami, dan keponakanku Hasna yang selalu
memotivasi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
8. My best friend ever, Erwida Maulia, yang selalu ikut mendoakan penulis
untuk selalu mendapatkan yang terbaik di dalam hidupnya. Terima kasih
atas pesahabatan yang indah sampai saat ini.
9. Teman-teman satu bimbingan : Devi, Gesi, Hana, Ade, Gesit atas bantuan
kerja samanya di dalam melakukan penelitian.
10. Teman-teman angkatan 38, beserta kakak dan adik kelas atas jalinan
silaturahmi yang tidak pernah putus sampai kapanpun.
11. Evie, Tyas, Muna, Mia, Dita, Lulu, Wiwik eks. teman kos yang selalu
memberikan semangat bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini
12. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu namanya atas
semua bantuan, semangat, perhatian dan doa kepada penulis. Semoga
Allah SWT membalas seluruh kebaikan kalian. Amin.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan dan masih
banyak kekurangannya. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang membangun
bagi penulis sangat diharapkan. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat
untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan informasi bagi seluruh pihak yang
membutuhkan.
Bogor, Februari 2009
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ........................................................................................
i
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ...............................................................................................
v
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... vii
I. PENDAHULUAN ........................................................................................
A. Latar Belakang ........................................................................................
B. Tujuan Penelitian ....................................................................................
1
1
4
II. TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................................
A. Air ...........................................................................................................
B. Oksigen ...................................................................................................
1. Jalur Transportasi Oksigen melalui Saluran Pernapasan ....................
2. Jalur Transportasi Oksigen melalui Saluran Pencernaan ...................
3. Jalur Transportasi Oksigen melalui Sistem Peredaran Darah ............
4. Proses Katabolisme di dalam Sel........................................................
C. Air Minum Penambah Oksigen...............................................................
D. Radikal Bebas dan Kerusakan Sel...........................................................
1. Radikal Bebas .....................................................................................
2. Stres Oksidatif dan Kerusakan Sel .....................................................
E. Sistem Imun ............................................................................................
1. Limfosit ..............................................................................................
a. Sel Limfosit B ................................................................................
b. Sel Limfosit T ................................................................................
2. Kultur Sel............................................................................................
3. Proliferasi Sel .....................................................................................
F. Metode Pewarnaan MTT (MTT Assay) ..................................................
5
5
7
10
12
16
21
25
31
31
34
35
37
39
40
42
44
45
III. METODOLOGI PENELITIAN ....................................................................
A. Bahan dan Alat ........................................................................................
1. Bahan ..................................................................................................
2. Alat .....................................................................................................
B. Waktu dan Tempat Penelitian .................................................................
C. Metode Penelitian ...................................................................................
1. Pengukuran Kadar Oksigen Terlarut di dalam Botol .........................
2. Pemberian Air Minum Penambah Oksigen kepada Responden .........
3. Proses Pengambilan Darah .................................................................
4. Persiapan Ruang Kerja dan Laminar Flow Cabinet Steril .................
48
48
48
48
49
49
49
49
50
51
iii
5. Pembuatan Larutan Pereaksi dan Media Kultur Sel ...........................
a. Persiapan Media Kultur Sel Limfosit .............................................
b. Pembuatan Larutan MTT 0.5% ......................................................
c. Pembuatan Larutan Phosphate Buffer Saline (PBS) ......................
d. Pembuatan Larutan HCl-isopropanol 0.04 N .................................
e. Pembuatan Larutan Tryphan Blue 0.2% ........................................
6. Pengujian Proliferasi Sel Limfosit ......................................................
a. Isolasi Limfosit ..............................................................................
b. Penghitungan Sel Limfosit .............................................................
c. Proliferasi Sel Limfosit dengan Metode MTT ...............................
7. Analisis Statistik .................................................................................
51
52
52
52
52
53
53
53
53
54
55
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .....................................................................
A. Kadar Oksigen Terlarut di dalam Botol ..................................................
B. Konsumsi Air Minum Penambah Oksigen .............................................
C. Keadaan Umum Responden ....................................................................
D. Analisis Proliferasi Sel Limfosit B dan Limfosit T Manusia..................
1. Proliferasi Sel Limfosit B ...................................................................
2. Nilai Indeks Stimulasi Proliferasi Sel Limfosit B ..............................
3. Proliferasi Sel Limfosit T ...................................................................
4. Nilai Indeks Stimulasi Proliferasi Sel Limfosit T ..............................
56
56
59
60
60
62
64
70
71
V. KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................... 79
A. Kesimpulan ............................................................................................. 79
B. Saran ....................................................................................................... 79
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 80
LAMPIRAN ....................................................................................................... 85
iv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Karekteristik umum oksigen ...............................................................
8
Tabel 2. Komposisi udara dan unsur-unsur penyusunnya ................................
9
Tabel 3. Tekanan parsial oksigen dan karbon dioksida .................................... 16
Tabel 4. Hubungan kelarutan oksigen dalam air terhadap suhu ....................... 26
Tabel 5. Kelompok reactive oxygen spesies (ROS) ......................................... 33
Tabel 6. Komposisi elemen seluler darah manusia .......................................... 38
v
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.
Penampang paru-paru dan alveoli.................................................. 12
Gambar 2.
Penampang usus halus ................................................................... 14
Gambar 3.
Reaksi reduksi pewarna MTT menjadi formazan .......................... 47
Gambar 4.
Grafik konsentrasi oksigen terlarut selama 24 jam ........................ 57
Gambar 5.
Orbisphere analyzer (Oxygen meter) ............................................ 58
Gambar 6.
Histogram hubungan nilai IS proliferasi sel B yang dikultur
dengan LPS S.Typhosa sebelum dan sesudah intervensi
air minum penambah oksigen 10 ppm kelompok 1 ....................... 65
Gambar 7.
Histogram hubungan nilai IS proliferasi sel B yang dikultur
dengan LPS S.Typhosa sebelum dan sesudah intervensi
air minum penambah oksigen 80 ppm kelompok 2 ....................... 66
Gambar 8.
Histogram hubungan nilai IS proliferasi sel B yang dikultur
dengan LPS S.Typhosa sebelum dan sesudah intervensi
air minum penambah oksigen 130 ppm kelompok 3 ..................... 68
Gambar 9.
Histogram hubungan nilai IS proliferasi sel T yang dikultur
dengan Con A sebelum dan sesudah intervensi
air minum penambah oksigen 10 ppm kelompok 1 ....................... 72
Gambar 10. Histogram hubungan nilai IS proliferasi sel T yang dikultur
dengan Con A sebelum dan sesudah intervensi
air minum penambah oksigen 80 ppm kelompok 2 ....................... 73
Gambar 11. Histogram hubungan nilai IS proliferasi sel T yang dikultur
dengan Con A sebelum dan sesudah intervensi
air minum penambah oksigen 130 ppm kelompok 3 ..................... 74
vi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1.
Proses difusi pasif oksigen dan karbon dioksida ......................... 86
Lampiran 2.
Proses katabolisme ...................................................................... 87
Lampiran 3.
Proses glikolisis ........................................................................... 88
Lampiran 4.
Siklus Krebs................................................................................. 89
Lampiran 5.
Transpor elektron......................................................................... 90
Lampiran 6.
Diagram alir produksi air minum penambah oksigen ................. 91
Lampiran 7.
Komposisi media RPMI-1640 ..................................................... 92
Lampiran 8.
Pengukuran kadar oksigen terlarut di dalam botol
selama 24 jam .............................................................................. 93
Lampiran 9.
Skema aktivitas sistem imun ....................................................... 94
Lampiran 10. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit B
kelompok 1 .................................................................................. 95
Lampiran 11. Nilai IS rata-rata proliferasi sel B responden kelompok 1 .......... 96
Lampiran 12. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit B
kelompok 2 .................................................................................. 97
Lampiran 13. Nilai IS rata-rata proliferasi sel B responden kelompok 2 .......... 98
Lampiran 14. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit B
kelompok 3 .................................................................................. 99
Lampiran 15. Nilai IS rata-rata proliferasi sel B responden kelompok 3 .......... 101
Lampiran 16. Hasil analisis paired samples T-Test proliferasi
sel limfosit B kelompok 1............................................................ 102
Lampiran 17. Hasil analisis paired samples T-Test proliferasi
sel limfosit B kelompok 2............................................................ 103
Lampiran 18. Hasil analisis paired samples T-Test proliferasi
sel limfosit B kelompok 3............................................................ 104
Lampiran 19. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit T
kelompok 1 .................................................................................. 105
Lampiran 20. Nilai IS rata-rata proliferasi sel T responden kelompok 1 .......... 106
vii
Lampiran 21. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit T
kelompok 2 .................................................................................. 107
Lampiran 22. Nilai IS rata-rata proliferasi sel T responden kelompok 2 .......... 108
Lampiran 23. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit T
kelompok 3 .................................................................................. 109
Lampiran 24. Nilai IS rata-rata proliferasi sel T responden kelompok 3 .......... 111
Lampiran 25. Hasil analisis paired samples T-Test proliferasi
sel limfosit T kelompok 1 ............................................................ 112
Lampiran 26. Hasil analisis paired samples T-Test proliferasi
sel limfosit T kelompok 2 ............................................................ 113
Lampiran 27. Hasil analisis paired samples T-Test proliferasi
sel limfosit T kelompok 3 ............................................................ 114
viii
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Air dan oksigen merupakan dua unsur penting dalam kehidupan di
antara sekian banyak unsur lainnya. Keberadaan keduanya merupakan syarat
mutlak adanya suatu kehidupan di samping makanan. Air meliputi dua per
tiga bagian permukaan bumi, begitu pula lebih dari 70% tubuh manusia
tersusun atas air. Suplai air dan oksigen sangat diperlukan untuk
keberlangsungan proses metabolisme yang terjadi di dalam tubuh.
Secara alami tubuh mendapatkan suplai oksigen dari udara bebas yang
kemudian masuk melalui saluran pernafasan. Secara umum, kandungan
oksigen di dalam atmosfer adalah 21%. Namun semakin berkembangnya
zaman, peningkatan pencemaran udara dan perubahan cuaca menyebabkan
kandungan oksigen menurun sebanyak 0.02% per tahunnya. Hal ini tentu saja
berpengaruh terhadap penurunan kualitas hidup manusia, di mana asupan
oksigen yang masuk ke dalam tubuh menjadi semakin sedikit. Kondisi
tersebut semakin diperparah dengan pola hidup tidak sehat yang diterapkan
manusia di dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan mengkonsumsi makanan
tidak sehat dan berlemak, kebiasaan merokok dan minum alkohol, maupun
gaya hidup manusia yang cenderung lebih banyak tinggal di ruang tertutup
(ruangan ber-AC) menyebabkan tubuh menjadi kekurangan oksigen.
Salah satu faktor yang sangat penting untuk menunjang tercapainya
metabolisme sel normal adalah ketersediaan oksigen dalam jumlah yang
cukup. Semua makhluk hidup, khususnya manusia dapat hidup tanpa makan
berminggu-minggu dan tanpa air berhari-hari, tetapi tidak dapat hidup lebih
dari empat menit tanpa oksigen. Bahkan sel otak pun akan mati hanya dalam
waktu 15 detik. Oleh karena itu kita sangat membutuhkan oksigen karena
oksigen merupakan sumber kehidupan (Zakaria, et. al, 2005). Kekurangan
oksigen dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada metabolisme sel
manusia. Keadaan tidak normal ini akan memicu timbulnya berbagai penyakit
di dalam tubuh, termasuk penyakit degeneratif ataupun kanker (Roach et al.,
2001).
1
Dengan penggunaan teknologi yang berkembang sampai saat ini,
kalangan industri berusaha untuk mencari solusi alternatif dalam mengatasi
masalah tersebut. Salah satu cara yang dilakukan adalah memproduksi air
minum penambah oksigen. Produk air minum ini diklaim mengandung
oksigen 7-8 kali lebih besar dibandingkan dengan air minum biasa ataupun
air minum dalam kemasan. Produksi air minum jenis ini meliputi proses
filtrasi, reverse osmosis, dan sterilisasi dengan sinar ultraviolet dan ozonisasi,
serta penginjeksian oksigen dengan tekanan tinggi (high pressure) pada suhu
rendah (Purnama, 2004). Dengan adanya teknologi ini diharapkan air minum
penambah oksigen dapat menyuplai oksigen melalui saluran pencernaan
untuk mengatasi masalah kekurangan oksigen sehingga dapat digunakan
untuk membantu reaksi metabolisme dalam tubuh.
Dari hasil penelitian sebelumnya diketahui bahwa pada objek
penelitian kelinci, air minum dengan kandungan oksigen 80 ppm dapat
meningkatkan tekanan O2 pada pembuluh vena porta hepatica sebesar
10 mmHg, yaitu dari 58 mmHg menjadi 68 mmHg (Forth dan Adam, 2001).
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa oksigen yang berasal dari air
minum tersebut berpengaruh terhadap kenaikan kandungan oksigen yang
diserap tubuh. Selain itu penelitian lain menyebutkan konsumsi air minum
beroksigen dapat meningkatkan saturasi hemoglobin sebesar 3% pada
pembuluh darah periferi (Jenkins et al., 2001). Menurut Nestle et al. (2004),
adanya proses penyerapan oksigen yang terjadi di dalam lumen usus halus
dapat diamati.dengan menggunakan teknik MRI (magnetic resonance
imaging).
Kekhawatiran masyarakat terhadap produk air minum penambah
oksigen salah satunya adalah kemungkinan terbentuknya radikal bebas
berlebih di dalam tubuh yang membahayakan bagi sel-sel tubuh. Penelitian
Schoenberg et al. (2002) membuktikan ternyata bahwa jumlah radikal bebas
yang terbentuk dari air minum beroksigen (oxygenated water) tidak
menyebabkan terjadinya kerusakan sel. Konsumsi air minum penambah
oksigen secara teratur dalam jangka panjang tidak meningkatkan kadar
radikal askorbil secara signifikan. Menurut Speit et al. (2002) dengan
2
menggunakan comet assay, oxygenated water terbukti tidak menyebabkan
efek genotoksik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka penulis berusaha
melakukan analisis lanjutan untuk membuktikan keamanan produk air minum
penambah oksigen terhadap sistem imun, yang meliputi aktivitas proliferasi
sel limfosit pada manusia.
Hipotesis dari penelitian ini adalah konsumsi air minum penambah
oksigen yang masuk melalui saluran pencernaan dan diserap oleh tubuh
kemungkinan dapat meningkatkan jumlah radikal bebas di dalam tubuh.
Keberadaan radikal bebas ini mampu merusak sel-sel tubuh, terutama sel
limfosit sebagai salah satu jenis sel imun yang sangat rentan terhadap
senyawa asing yang bersifat toksik. Limfosit berperan sebagai garda utama
yang pertama kali akan berhadapan dengan senyawa asing yang masuk ke
dalam tubuh sehingga gangguan terhadap aktivitas sel limfosit ini dapat
menghambat kinerja sistem imun secara keseluruhan.
Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh merupakan sistem interaktif
kelompok dari berbagai jenis sel imunokompeten yang bekerja sama dalam
proses identifikasi dan eliminasi mikroba patogen dan zat-zat asing yang
berbahaya lainnya yang masuk ke dalam tubuh. Limfosit adalah salah satu
jenis sel yang bertanggung jawab terhadap aktivitas respon imun di dalam
tubuh. Roitt (1971) mengatakan bahwa semakin baik respon imun tubuh
maka semakin baik pula status kesehatan seseorang. Sel limfosit menjalankan
tugas menjaga respon imun spesifik. Respon imun spesifik meliputi respon
imun seluler (limfositik yang berkaitan dengan sel T) dan humoral (berkaitan
dengan antibodi di dalam darah atau sel B).
MTT assay merupakan salah satu metode pewarnaan yang umum
dilakukan untuk mengetahui aktivitas proliferasi sel, termasuk sel limfosit.
Pada metode ini dilakukan pengukuran nilai absorbansi untuk menentukan
indeks stimulasi proliferasi sel limfosit sebelum dan sesudah mengkonsumsi
air minum penambah oksigen.
3
B. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek konsumsi air
minum penambah oksigen terhadap proliferasi sel limfosit manusia. Sel
limfosit yang meliputi sel B dan T diuji dengan menggunakan metode
pewarnaan MTT (MTT Assay).
4
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Air
Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan
manusia dan makhluk hidup lainnya. Fungsi komponen ini tidak akan dapat
digantikan oleh senyawa lainnya. Satu molekul air tersusun atas dua atom
hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen dengan bentuk
V. Molekul air yang satu dengan molekul air lainnya bergabung dengan satu
ikatan hidrogen, yaitu antara atom H molekul air satu dengan atom O dari
molekul air yang lain (Parker, 2003).
Menurut Lehninger (1982), air dan produk ionisasinya (ion H+ dan
OH-) sangat mempengaruhi sifat berbagai komponen penting sel, seperti
enzim, asam nukleat, protein, dan lipid. Meskipun air memiliki sifat stabil
secara kimiawi, senyawa ini juga mempunyai beberapa sifat istimewa.
Keberadaan ikatan hidrogen menyebabkan air mempunyai sifat-sifat istimewa
tersebut, antara lain sebagai pelarut yang sangat baik, memiliki konstanta
dielektrik dan tegangan permukaan paling tinggi di antara cairan murni
lainnya, transparan terhadap cahaya tampak dan sinar yang mempunyai
panjang gelombang lebih besar dari ultraviolet, mempunyai densitas tertinggi
dan sebagainya.
Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada
kondisi standar, yaitu pada suhu 0 °C dan tekanan 1 atm. Air menjadi salah
satu bagian penting dalam kehidupan kita yang selalu bersirkulasi secara
dinamik di lingkungan sekitar, mencakup tanah, udara, dan tumbuhan.
Adapun keberadaan air memiliki berbagai kegunaan di dalam kehidupan
sehari-hari semua makhluk hidup, tidak terkecuali bagi manusia. Setidaknya
50-90% dari total bobot tubuh suatu organisme tersusun atas air. Pada
manusia, air menyusun 45-70% dari bobot tubuh orang dewasa (Lehninger,
1982).
Beberapa peranan air di dalam tubuh, antara lain : 1) pelarut zat-zat
gizi, 2) pembawa zat gizi dan oksigen ke dalam sel, 3) katalisator reaksireaksi kimia yang berlangsung di dalam tubuh, 4) penjaga kestabilan suhu
5
tubuh, 5) penyeimbang elektrolit dalam tubuh, 6) mediator untuk membuang
racun dari dalam tubuh, 7) pelindung organ dan jaringan tubuh vital, 8)
pemelihara volume darah, dan 9) pelumas organ-organ tubuh, seperti sendi,
otot, air mata, mukus, dan saliva (Parker, 2003).
Sebagai pelarut kuat, air mampu melarutkan berbagai zat gizi yang
sifatnya larut dalam air (hidrofilik), seperti monosakarida, asam amino,
lemak, vitamin, dan mineral, termasuk juga oksigen. Kelarutan suatu zat
dalam air ditentukan oleh kemampuan zat dalam mengimbangi kekuatan gaya
tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekul-molekul
air. Jika zat tersebut tidak mampu mengimbangi gaya tarik-menarik antar
molekul air, maka molekul-molekul zat akan menjadi tidak larut dan
mengendap dalam air.
Parker (2003) mengatakan bahwa selain melarutkan, air juga
bertanggung jawab membawa nutrisi, oksigen, dan hormon ke seluruh sel
tubuh yang membutuhkan, serta mengangkut komponen sisa metabolisme
dari dalam sel ke bagian luar tubuh. Pengeluaran tersebut dapat melalui paruparu jika berbentuk gas karbondioksida, kulit (berupa keringat) dan ginjal
(berupa urin), maupun feses. Jika tubuh kekurangan air, maka transportasi
nutrisi, oksigen, dan hormon ke dalam sel akan terhambat sehingga dapat
mengakibatkan daya tahan tubuh akan melemah.
Peranan air yang lain adalah sebagai katalisator di dalam berbagai
reaksi kimia dalam sel. Air juga diperlukan untuk memecah dan
menghidrolisis zat gizi kompleks menjadi bentuk yang lebih sederhana.
Sebagai penjaga kestabilan suhu tubuh, air mempunyai kemampuan
untuk menyalurkan panas, sehingga memegang peranan penting dalam
mendistribusikan panas di dalam tubuh. Sebagian panas yang dihasilkan dari
metabolisme energi diperlukan untuk mempertahankan suhu tubuh sekitar
37oC. Suhu ini merupakan suhu paling efektif untuk bekerjanya enzim-enzim
dalam tubuh. Kelebihan panas yang diperoleh dari metabolisme tubuh perlu
segera dikeluarkan dari dalam tubuh. Sebagian besar pengeluaran suhu ini
melalui penguapan (keringat) sehingga suhu tubuh tetap stabil. Sebagai
6
penyeimbang elektrolit dalam tubuh, air berguna untuk membantu
mengontrol tekanan darah.
Untuk membantu reaksi yang berlangsung di dalam tubuh maka
manusia membutuhkan air minum untuk dikonsumsi. Air minum adalah air
yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Menurut Belitz dan
Grosch (1999), beberapa ketentuan air minum yang harus dipenuhi adalah
bersih, jerih (clear), tidak berwarna (colourless), tidak berbau (odorless),
tidak
berasa
(tasteless),
tidak
mengandung
bakteri
patogen,
tidak
mengandung substansi yang bersifat korosif dan hanya mengandung
komponen terlarut pada jumlah tertentu, serta mineral pada konsentrasi
normal di bawah 1 g/l. Air yang dapat diminum diartikan sebagai air yang
bebas dari bakteri berbahaya dan bebas dari ketidakmurnian secara kimiawi.
Parker (2003) mengelompokkan air minum dalam kemasan dari
sumbernya, air minum yang diperoleh dari sumber mata air (spring water),
mata air pegunungan (mountain water), air tanah atau air sumur yang
disalurkan dengan pipa dan dialiri melalui keran (ground water/artesian
water), ataupun air permukaan (surface water). Adapun berbagai jenis
sumber air tersebut melalui proses lanjutan, termasuk didalamnya filtrasi
sehingga layak untuk memenuhi syarat air minum dalam kemasan. Air
minum yang banyak beredar, antara lain air mineral dan air demineral.
B. Oksigen
Oksigen merupakan elemen paling vital di dunia karena tidak akan
ada kehidupan tanpa keberadaan oksigen. Keberadaan elemen tersebut
memproduksi setidaknya 90% dari energi hidup yang ada. Menurut Thomas
(2005), oksigen ditemukan pertama kali pada awal abad ke-18, tepatnya pada
tahun 1773 oleh ilmuwan kimia berkebangsaan Swedia Karl Scheele dan
Joseph Priestley yang berkebangsaan Inggris. Oksigen memiliki simbol unsur
O dan terletak pada golongan VI A pada sistem periodik bersama dengan
belerang (S), selenium (Se), telurium (Te), dan polonium (Po). Atom ini
termasuk ke dalam unsur non logam dan berwujud gas pada temperatur
7
ruangan. Gas oksigen memiliki sifat tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa pada kondisi normal. Sumber utama oksigen bebas di udara
merupakan hasil dekomposisi uap air oleh pancaran sinar UV pada lapisan
atas atmosfer. Karakteristik oksigen secara umum dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik umum oksigen
No. Karakteristik Umum
Keterangan
1
Nomor atom
8
2
Massa atom relatif
15.9994
3
Bilangan oksidasi
-2
4
Konfigurasi elektron
5
Titik didih
90.168 K
6
Titik lebur
54.8 K
7
Massa jenis
1.429 cm3
8
Elektronegativitas
9
Radius atom
0.65 ǖ
10
Volume atom
14.0 cm3/mol
[He]2s22p4
3.44
Sumber : Harris (2007)
Menurut Oxtoby et. al. (2007) molekul oksigen adalah salah satu dari
komponen utama penyusun udara. Kandungan oksigen di udara atau atmosfer
sekitar 21% yang berbentuk molekul diatomik (O2). Sedangkan jika di atas
lapisan permukaan atmosfer oksigen dapat ditemukan dalam bentuk molekul
monoatomik (O) dan triatomik (O3). Oksigen dihasilkan oleh tanaman selama
proses fotosintesis dan sangat diperlukan untuk pernapasan aerobik pada
hewan dan manusia. Komposisi udara yang menyusun atmosfer bumi dapat
dilihat pada Tabel 2.
8
Tabel 2. Komposisi udara dan unsur-unsur penyusunnya
No. Unsur Penyusun
Jumlah (%)
78.11
1 Nitrogen (N2)
21.00
2 Oksigen (O2)
0.93
3 Argon (Ar)
0.03
4 Karbondioksida (CO2)
1.82 x 10-5
5 Neon (Ne)
5.20 x 10-6
6 Helium (He)
1.50 x 10-6
7 Metana (CH4)
1.10 x 10-6
8 Kripton (Kr)
5.00 x 10-7
9 Hidrogen (H2)
3.00 x 10-7
10 Dinitrogen oksida (N2O)
8.70 10-8
11 Xenon (Xe)
Sumber : Oxtoby et. al. (2007)
Oksigen dibutuhkan manusia terutama dalam proses pernapasan
sehingga dapat menghasilkan energi yang dapat digunakan untuk aktivitas
kerja sel tubuh. Oksigen memegang peranan penting untuk mengoksidasi zatzat gizi makromolekul, seperti karbohidrat, protein, maupun lemak menjadi
molekul-molekul penyusun yang berukuran lebih kecil. Proses tersebut lebih
dikenal dengan proses katabolime atau proses pemecahan. Respirasi atau
pernapasan merupakan salah satu contoh proses katabolisme. Pada dasarnya
oksigen digunakan pada proses katabolisme untuk menghasilkan energi
dengan hasil metabolit sampingan berupa karbondioksida dan air. Energi
tersebut selanjutnya berguna untuk proses metabolisme sel primer maupun
sekunder, seperti sintesis protein dan komponen bioaktif sel (Harris, 2007).
Secara umum oksigen diambil dari udara bebas, kemudian akan
masuk ke dalam sistem pernapasan yang selanjutnya akan diedarkan melalui
pembuluh darah untuk didistribusikan ke seluruh sel yang akan digunakan
untuk proses katabolisme. Oksigen berfungsi sebagai penerima elektron
terakhir pada tahap transport electron yang bertugas penting terhadap sistem
pernapasan aerobic secara keseluruhan untuk menghasilkan energi.
9
1. Jalur Transportasi Oksigen melalui Saluran Pernapasan
Jalur oksigen secara normal berasal dari udara bebas yang
kemudian masuk melalui saluran pernapasan sehingga dapat digunakan
untuk membantu proses metabolisme yang berlangsung di dalam tubuh.
Proses masuknya udara dari luar tubuh sampai ke dalam paru-paru dikenal
dengan proses inspirasi, sedangkan proses keluarnya udara dari saluran
pernapasan ke luar tubuh disebut proses ekspirasi. Proses pernapasan dapat
dibagi menjadi tiga bagian, yaitu pernapasan eksternal, internal, dan
seluler. Pernapasan eksternal adalah pertukaran udara antara darah dan
atmosfer. Pernapasan internal adalah pertukaran udara yang terjadi antara
darah dan sel-sel tubuh. Dan pernapasan seluler merupakan proses kimia
yang terjadi di dalam mitokondria sel-sel tubuh (Rhoades dan Bell, 2009).
Menurut Davies dan Moores (2003), sistem pernapasan pada
manusia memiliki struktur dan fungsi yang sangat kompleks. Sistem
tersebut didukung oleh berbagai organ yang mempunyai bentuk dan fungsi
yang berbeda-beda serta saling menunjang satu sama lain. Proses
pernapasan pada manusia tidak terjadi secara langsung, artinya udara tidak
berdifusi langsung melalui permukaan kulit. Udara masuk ke dalam tubuh
melalui saluran pencernaan.
Secara garis besar, saluran pernapasan terdiri dari rongga hidung,
faring, pangkal tenggorokan (laring), batang tenggorokan (trakea),
bronkus, paru-paru (pulmo), bronkiolus, dan alveolus. Udara pertama kali
mengalir masuk melalui rongga hidung dan kemudian mengalami
penyaringan dari debu dan kotoran yang ikut masuk karena ada bulu-bulu
halus di dalam hidung. Selain berfungsi untuk menyaring kotoran, hidung
juga berfungsi untuk memanaskan dan melembabkan udara dengan
mengatur suhu udara pernapasan yang masuk. Setelah melewati hidung,
udara akan masuk ke faring yang merupakan saluran penghubung antara
rongga hidung dan tenggorokan. Selain itu faring berfungsi sebagai katup
yang memisahkan antara saluran pernapasan (tenggorokan) dan saluran
pencernaan (kerongkongan), jadi pada saat udara masuk katup ini akan
menutup jalur saluran pencernaan (Davies dan Moores, 2003).
10
Udara akan bergerak masuk menuju laring setelah melalui faring.
Pada laring terdapat pita suara sehingga pada saat kita berbicara, bagian ini
akan bergetar. Laring merupakan saluran yang dikelilingi oleh tulang
rawan. Setelah itu, udara akan menuju trakea, yaitu bagian yang tersusun
atas empat lapisan, antara lain lapisan mukosa, lapisan submukosa, lapisan
tulang rawan, dan lapisan adventitia. Trakea ini memiliki panjang
± 11.5 cm dengan diameter 2.4 cm. Trakea bercabang menjadi dua
bronkus yang masing-masing menuju paru-paru kanan dan kiri. Di dalam
paru-paru, bronkus bercabang-cabang lagi menjadi bronkiolus. Pada
ujung-ujung bronkiolus terdapat sekumpulan kantong udara yang disebut
alveolus. Di sekitar alveoulus terdapat kapiler-kapiler pembuluh darah.
Pada bagian ini memungkinkan terjadinya difusi antara udara alveolus dan
udara pada kapiler-kapiler pembuluh darah. Bronkus, bronkiolus, dan
alveolus membentuk satu struktur yang disebut paru-paru (Davies dan
Moores, 2003).
Proses pernapasan merupakan proses pertukaran gas yang berasal
dari makhluk hidup dengan gas yang ada di lingkungannya. Pernapasan
dapat terjadi, baik secara sadar ataupun tidak disadari. Pernapasan secara
sadar terjadi jika kita melakukan pengaturan saat bernapas. Aliran udara
yang masuk dan keluar dari paru-paru dikontrol oleh sistem saraf yang
menjamin pola dan kecepatan pernapasan manusia secara normal. Proses
pernapasan dimulai oleh sekelompok sel saraf pada batang otak yang
bertugas sebagai pusat respirasi. Sel-sel ini akan mengirimkan sinyal pada
otot diafragma dan otot perut untuk memulai pernapasan. Rata-rata
kecepatan pernafasan pada manusia dewasa adalah 12-15 tarikan nafas per
menit. Dari sekitar 500 ml setiap kali bernapas atau kira-kira 7 liter/menit
udara yang masuk ke dalam paru-paru, sejumlah volume oksigen yang
masuk ke dalam tubuh ± 1.47 liter/menit. Oksigen ini yang pada proses
selanjutnya akan didistrubusikan dan digunakan untuk metabolisme sel
tubuh yang jumlahnya mencapai trilyunan (Rhoades dan Bell, 2009).
Penampang melintang paru-paru dan alveoli dapat dilihat pada Gambar 1.
11
Gambar 1. Penampang paru-paru dan alveoli (Rhoades dan Bell, 2009)
2. Jalur Transportasi Oksigen melalui Saluran Pencernaan
Seperti halnya zat-zat makanan, oksigen pun dapat masuk dan
diserap oleh tubuh melalui saluran pencernaan seperti halnya zat makanan.
Selama ini yang umum diketahui, oksigen diserap oleh tubuh melalui
saluran pernapasan. Oksigen yang berasal dari udara maupun dari
makanan dan minuman yang kita konsumsi ikut masuk ke dalam tubuh
dan diserap oleh usus halus, diteruskan melalui sistem peredaran darah
yang pada akhirnya menuju jaringan tubuh. Di dalam jaringan tubuh,
oksigen tersebut akan digunakan untuk menunjang keberlangsungan
proses metabolime di dalam sel, serupa dengan oksigen yang diperoleh
dari sistem pernapasan (Rhoades dan Bell, 2009).
Sistem pencernaan manusia terdiri dari mulut, kerongkongan
(esofagus), lambung, usus halus, usus besar, dan anus (rektum). Serupa
dengan makanan yang masuk melalui mulut, oksigen yang berasal dari air
minum penambah oksigen pun akan melalui mulut dan seterusnya yang
merupakan jalur pencernaan normal. Tempat berikutnya yang dilewati
oksigen adalah bagian kerongkongan (esofagus). Pada bagian esofagus,
lumennya dikelilingi oleh lapisan epitel pipih berlapis banyak yang
merupakan pelindung esofagus dari makanan ataupun cairan yang masuk
melaluinya. Lapisan ini akan melindungi esofagus dari kemungkinan
terluka akibat masuknya berbagai jenis makanan dan minuman. Lapisan
epitel pipih yang berlapis banyak juga membuat peluang terserapnya zat-
12
zat makanan dan oksigen makin kecil. Di samping itu waktu singgah
oksigen yang sangat singkat di bagian ini sehingga membuat oksigen
semakin sulit untuk menembus lumen esofagus tersebut (Zakaria et al.,
2005).
Nestle et al. (2004) mengatakan bahwa dengan menggunakan
teknik MRI (Magneting Resonance Imaging) dapat dilihat pelepasan
oksigen (outgassing) dari rongga mulut sampai ke lambung terjadi secara
lambat. Setelah melalui esofagus, oksigen akan melalui penyerapan di
dalam lambung. Pada saat melalui lambung, waktu singgah oksigen lebih
lama seperti halnya makanan dan minuman yang masuk sehingga beberapa
bagian dapat terserap melalui dinding lambung yang dilapisi oleh lapisan
sel epitel silindris. Lapisan sel ini diselimuti oleh mukus yang bersifat basa
yang menyebabkan sedikitnya oksigen yang dapat menembus sel epitel di
bagian lambung ini.
Penyerapan oksigen secara cepat terjadi di dalam usus. Penelitian
Gurskaya dan Ivanov (1961) membuktikan bahwa terjadi penyerapan
oksigen di dalam usus yang dapat meningkatkan saturasi darah di dalam
aorta dan vena porta hepatica. Percobaan yang menggunakan kelinci dan
kucing sebagai objek penelitian ini menunjukkan hasil ternyata setelah
2 jam penginjeksian udara ke dalam usus terjadi penurunan konsentrasi
oksigen di dalam usus menjadi hanya tinggal 0.5-2.3%. Sedangkan
konsentrasi karbon dioksida meningkat setelah 1 jam injeksi menjadi 5-7%
di dalam lumen usus halus. Hasil tersebut melengkapi penelitian yang
dilakukan oleh McIver et al. (1928) yang telah membuktikan terjadi
absorpsi oksigen oleh sel-sel mukosa usus dengan kecepatan tertentu
melalui usus. Oksigen tersebut kemudian digunakan untuk metabolisme
sel di dalam usus halus.
Zat-zat gizi dan minuman yang telah dicerna di bagian lambung
akan diserap di dalam usus halus dan kemudian siap untuk diedarkan ke
seluruh tubuh. Hal ini juga berlaku terhadap gas oksigen yang ikut diserap
bersamaan dengan nutrisi dan air. Sebagian oksigen digunakan untuk
metabolisme usus secara langsung dan sebagian lainnya diteruskan menuju
13
pembuluh darah kapiler menuju vena porta hepatica yang menjadi muara
pembuluh-pembuluh darah dari saluran pencernaan, meliputi usus,
lambung, pankreas, dan lain-lain (Zakaria et al., 2005). Fakta lain yang
memperkuat penyerapan oksigen melalui saluran cerna adalah adanya
peningkatan kadar oksigen di dalam pembuluh vena porta hepatica.
Setelah pemberian air minum penambah oksigen 80 ppm, terjadi
peningkatan tekanan parsial oksigen di pembuluh darah vena porta
hepatica sebesar 10 mmHg dari 58 mmHg menjadi 68 mmHg (Forth dan
Adam, 2001).
Penyerapan oksigen di dalam usus halus dimungkinkan karena
bagian ini hanya dilapisi oleh sel-sel epitel silindris lapis tunggal. Oksigen
akan masuk dengan cara difusi pasif melalui membran epitel yang
membatasi lumen usus halus. Masuknya oksigen memungkinkan epitel
untuk menggunakannya bagi keperluan metabolisme sel tersebut.
Kelebihan oksigen lainnya akan diteruskan secara difusi menuju jaringan
ikat yang berada di
bawahnya kemudian menembus pembuluh darah
kapiler yang terdapat di dalam jaringan ikat pada vili-vili usus (Zakaria et
al., 2005). Penampang melintang usus halus dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Penampang usus halus (Anonim, 2008a)
Salah satu faktor utama terjadinya proses difusi dari usus menuju
pembuluh darah adalah adanya perbedaan konsentrasi. Proses difusi
merupakan proses perpindahan suatu zat dari yang berkonsentrasi tinggi ke
14
arah zat yang konsentrasinya lebih rendah. Dalam hal ini difusi pasif
oksigen terjadi karena tekanan parsial oksigen di lingkungan jaringan
sekitar usus lebih tinggi dibandingkan tekanan parsial oksigen di
pembuluh darah kapiler. Faktor lain yang mempengaruhi penyerapan
oksigen adalah membran sel usus yang terdiri dari lipid bilayer bersifat
dapat ditembus oleh gas dan senyawa polar tidak bermuatan dengan berat
molekul kecil. Proses difusi pasif gas oksigen dan karbon dioksida dapat
dilihat di Lampiran 1.
Setelah melewati pembuluh kapiler dan pembuluh vena usus,
oksigen akan diteruskan menuju vena porta hepatica menuju organ hati.
Selain vena porta hepatica yang menjadi pembuluh utama gabungan dari
berbagai pembuluh vena saluran pencernaan, terdapat pembuluh arteri
hepatica menuju jantung yang juga didominasi oleh gas oksigen yang
berasal dari bilik kiri jantung. Di dalam organ hati, oksigen dari kedua
pembuluh tersebut akan digunakan untuk proses metabolisme untuk
menghasilkan energi (ATP) untuk efektivitas kerja hati.
Hati merupakan organ penting yang berperan aktif terutama di
dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan asam amino. Hati juga
merupakan
tempat
pembuangan
sisa
hasil
metabolisme,
tempat
penyimpanan vitamin dan mineral, serta tempat detoksifikasi senyawasenyawa beracun yang masuk ke dalam tubuh. Berdasarkan kompleksnya
kerja hati tersebut menyebabkan hati akan membutuhkan banyak energi.
Dengan adanya asupan oksigen tambahan dari air minum penambah
oksigen diharapkan terjadi pula peningkatan efektivitas kerja hati untuk
melakukan fungsinya secara baik dan normal. Oksigen juga dibutuhkan
untuk proses fagositosis di dalam organ hati oleh sel makrofag (sel
Kupffer) untuk menghancurkan sel darah merah yang sudah tua dan
membersihkan darah dengan memusnahkan bahan toksik, bakteri, virus
parasit sel tumor dan partikel asing yang bisa membahayakan tubuh.
Peningkatan ketersediaan oksigen dalam darah yang masuk ke hati ini,
memungkinkan pula untuk peningkatan jumlah ATP yang terbentuk untuk
aktivitas sel-sel Kupffer tersebut (Billiar dan Curran, 1992).
15
Menurut Zakaria et al. (2005), kelebihan oksigen yang tidak
digunakan untuk keperluan kerja organ hati akan diteruskan menuju
serambi kanan jantung melalui pembuluh vena cava inferior yang kaya
akan karbon dioksida. Dari serambi kanan kemudian diteruskan ke bilik
kanan, oksigen akan melalui sistem peredaran pulmonalis kembali seperti
peredaran darah secara normal menuju paru-paru. Di dalam paru-paru
terjadi pertukaran gas di mana karbondioksida dari pembuluh kapiler akan
dilepaskan dan oksigen akan diikat ke dalam pembuluh darah. Pada
kondisi normal kecepatan pertukaran gas di dalam paru-paru harus
seimbang dengan pertukaran gas yang terjadi pada jaringan periferi.
Peningkatan konsentrasi oksigen dalam darah karena konsumsi air
minum penambah oksigen ini dapat membantu proses pertukaran gas yang
terjadi sehingga terjadi kenaikan jumlah oksigen yang dibawa oleh
pembuluh vena pulmonalis menuju jantung untuk dipompakan ke seluruh
tubuh.
3. Jalur Transportasi Oksigen melalui Sistem Peredaran Darah
Terminal proses pernapasan di dalam tubuh terjadi di bagian
alveolus paru-paru. Di bagian ini terjadi pertukaran gas oksigen dan
karbon dioksida yang akan diangkut dari dan ke dalam sel-sel tubuh.
Pertukaran gas tersebut terjadi di dalam paru-paru dan jaringan tubuh
secara difusi pasif karena adanya perbedaan tekanan. Pada dasarnya gas
akan berdifusi dari bagian yag bertekanan parsial tinggi ke bagian yang
bertekanan parsial rendah. Perbandingan tekanan parsial O2 dan CO2 di
atmosfer, alveoli, darah, dan jaringan tubuh dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Tekanan parsial oksigen dan karbondioksida
Tempat
Atmosfer
Alveoli
Darah kaya O2
Darah miskin O2
Jaringan tubuh
Tekanan Parsial O2
(mmHg)
160
104
104
40
40
Tekanan Parsial CO2
(mmHg)
0.2
40
40
45
45
Sumber : Levitzky (2003)
16
Darah yang masuk ke dalam paru-paru memiliki tekanan parsial O2
(PaO2) yang lebih rendah dan tekanan parsial CO2 (PaCO2) yang lebih
tinggi dibandingkan tekanan parsial O2 dan CO2 di dalam alveoli. Ketika
darah berada di pembuluh kapiler, karbon dioksida akan berdifusi dari
darah menuju udara di alveoli. Sebaliknya, oksigen akan berdifusi dari
alveoli ke dalam darah. Pada saat meninggalkan paru-paru, darah yang
kaya O2 memiliki PaO2 yang tinggi dan PaCO2 yang rendah dibandingkan
sebelum masuk paru-paru. Setelah melewati jantung, darah tersebut akan
dipompa melalui peredaran darah sistemik. Di dalam kapiler peredaran
darah sistemik, perbedaan tekanan parsial menyebabkan terjadinya difusi
oksigen dari darah menuju sel tubuh. Pada saat bersamaan, CO2 akan
berdifusi dari sel-sel jaringan menuju darah. Setelah melepas O2 dan
mengangkut CO2, darah akan kembali ke jantung (Levitzky, 2003).
Pada manusia diperlukan suatu mekanisme sistem transportasi
untuk mendistribusikan zat-zat gizi, oksigen, karbon dioksida, zat-zat
buangan, ataupun hormon. Sistem yang menangani proses pendistribusian
tersebut dikenal dengan sistem kardiovaskular atau sirkulasi. Sistem
sirkulasi pada manusia terbagi menjadi dua bagian, yaitu sistem peredaran
darah dan sistem limfatik (getah bening). Sistem sirkulasi darah manusia
termasuk ke dalam sistem peredaran darah tertutup dan ganda. Tertutup
artinya peredaran darah di dalam tubuh selalu berada di dalam pembuluh,
sedangkan ganda berarti darah setiap bersirkulasi ke seluruh tubuh
melewati jantung sebanyak dua kali. Secara garis besar, sistem sirkulasi
darah ganda terbagi menjadi dua jalur, yaitu sistem peredaran darah
pulmonalis dan peredaran darah sistemik. Organ tubuh yang terlibat di
dalam sistem peredaran darah secara umum adalah jantung, pembuluh
darah, dan darah (Rhoades dan Bell, 2009).
Sistem peredaran darah pulmonalis terdiri dari pembuluh nadi
(arteri) dan pembuluh balik (vena) yang mendistribusikan darah dari
jantung ke paru-paru dan berlaku pula sebaliknya. Sistem ini diawali dari
bilik (ventrikel) kanan jantung dan berakhir pada serambi (atrium) kiri
jantung. Darah yang kaya oksigen yang berasal dari proses respirasi di
17
dalam paru-paru akan didistribusikan melalui lintasan pulmonalis oleh
pembuluh vena paru-paru menuju serambi kiri jantung, diteruskan ke bilik
kiri, dan selanjutnya akan memasuki jalur sistemik. Di samping terjadi
distribusi O2, CO2 yang sebelumnya dibawa oleh pembuluh arteri
pulmonalis juga ikut diangkut menuju paru-paru yang selanjutnya akan
dibuang keluar tubuh melalui proses ekspirasi.
Jalur sistemik merupakan kelanjutan dari jalur pulmonalis, di mana
darah yang kaya O2 akan dipompa menuju seluruh organ dan jaringan
tubuh melalui aorta (pembuluh nadi utama), arteri, arteriol, dan pembuluh
darah kapiler. Selanjutnya darah yang telah menyalurkan oksigen ke
seluruh jaringan tubuh, kemudian akan membawa karbon dioksida yang
merupakan hasil sampingan proses metabolisme yang berlangsung di
dalam sel untuk dibuang keluar tubuh. Darah yang kaya CO2 tersebut akan
dibawa melalui pembuluh vena sistemik menuju serambi kanan jantung,
diteruskan ke bilik kanan jantung lalu menuju jalur pulmonalis kembali
(Johnson dan Byrne, 2003).
Dari bilik kanan jantung, darah akan dialirkan menuju paru-paru
melalui pembuluh nadi pulmonalis untuk pertukaran gas, yaitu melepaskan
gas CO2 dan menyerap gas O2. Di samping untuk mendistribusikan gas O2,
sistem peredaran darah juga mengatur pendistribusian zat-zat makanan
serta gas buangan seperti CO2. Darah yang merupakan unit fungsional
seluler pada manusia yang berperan untuk membantu fungsi fisiologis.
Banyaknya volume darah yang beredar di dalam tubuh manusia 8% dari
berat badan secara keseluruhan. Pada pria volume darah berkisar antara
5-6 liter, sedangkan pada wanita volume darah umumnya sekitar 4-5 liter.
Beberapa fungsi darah, antara lain: 1) mengangkut zat-zat makanan dan
oksigen ke seluruh tubuh dan membawa sisa metabolisme menuju organ
yang bertugas untuk pembuangan, 2) mengedarkan hormon-hormon untuk
membantu proses fisiologis, 3) mempertahankan tubuh dari penyakit,
4) menjaga stabilitas suhu tubuh, serta 5) menjaga kesetimbangan asambasa jaringan tubuh untuk menghindari kerusakan (Levitzky, 2003).
18
Bagian
darah
yang
bertanggung
jawab
terhadap
proses
pengangkutan oksigen adalah sel darah merah (eritrosit). Eritrosit manusia
normal berukuran sangat kecil dengan ukuran diameter kira-kira 6-9 μm,
tidak memiliki inti sel, serta berbentuk pipih dan cekung pada bagian
tengahnya (bikonkaf). Jumlah rata-rata sel darah merah orang dewasa
adalah 5.4 juta sel/mm3 pada pria dan 4.8 juta sel/mm3 pada wanita.
Eritrosit dibentuk di sumsum merah tulang dan memiliki sifat
hanya dapat bertahan hidup selama 120 hari di dalam tubuh. Hal tersebut
karena pada saat proses pematangan, sel darah merah kehilangan organel
intraselulernya, seperti nukleus, mitokondria, retikulum endoplasma, dan
organel lainnya sehingga eritrosit tidak mampu melakukan reproduksi atau
aktivitas metabolik lainnya secara intensif. Sel ini tidak menggunakan
oksigen untuk metabolismenya sendiri. ATP yang dibutuhkan oleh eritrosit
dalam jumlah yang relatif kecil, seluruhnya diperoleh dari proses glikolisis
glukosa darah untuk menghasilkan oksigen dari paru-paru ke jaringan dan
membantu mengangkut karbon dioksida dari jaringan ke paru-paru
(Lehninger, 1982).
Sebagian besar sel darah merah didominasi oleh protein
terkonjugasi hemoglobin. Kandungan hemoglobin di dalam sel darah
merah sekitar 35% atau kira-kira 280 juta hemoglobin. Hemoglobin
merupakan protein utama pengangkut oksigen dan karbon dioksida di
dalam sel darah merah. Protein hemoglobin merupakan sebuah molekul
kompleks yang mengandung protein globin dan porfirin (heme).
Kandungan zat besi yang terdapat di dalam hemoglobin membuat darah
menjadi berwarna merah. Kadar normal hemoglobin pada wanita dewasa
adalah 12-16 g/dl dan 14-18 g/dl pada pria dewasa.
Menurut Lehninger (1982), hemoglobin yang telah 100% jenuh
dengan oksigen mampu mengikat 1.34 ml oksigen per gram hemoglobin.
Apabila di dalam 100 ml darah terdapat 15 gram hemoglobin berarti
kandungan oksigen di dalamnya sebesar 20.1 ml/dl darah. Sebagian besar
oksigen yang masuk ke dalam tubuh diangkut dalam bentuk terikat dengan
hemoglobin, yaitu 97% dan hanya sekitar 3% saja yang larut dalam
19
plasma. Pada paru-paru, di mana tekanan parsial oksigen tinggi
(90-100 mmHg) dan pH relatif tinggi sekitar 7.6, hemoglobin cenderung
jenuh maksimum dengan oksigen. Sebaliknya, di dalam pembuluh kapiler
pada jaringan periferi tekanan parsial oksigen hanya sekitar 25-40 mmHg
dengan pH yang relatif rendah juga berkisar 7.2-7.3, terjadi pembebasan
oksigen ke dalam massa jaringan yang melakukan respirasi.
Di dalam pembuluh vena darah yang meninggalkan jaringan,
hemoglobin hanya jenuh sebesar 65%. Oleh karena itu hemoglobin
berdaur di antara kejenuhan oleh oksigen antara 65% dan 97% dalam
sirkuit berulang antara paru-paru dan jaringan periferi. Pada jaringan otot
yang sedang berkontraksi, PaO2 hanya 10-26 mmHg dan saturasi O2 pada
hemoglobin hanya 10% karena sel otot menggunakan oksigen pada waktu
yang relatif singkat sehingga dapat menurunkan konsentrasi oksigen.
Sedangkan hemoglobin jenuh 75% pada sel otot yang sedang relaksasi
dengan tekanan parsial oksigen 40 mmHg. Jadi hemoglobin dapat
membebaskan kandungan oksigennya sangat efektif pada jaringan otot dan
jaringan periferi lainnya (Lehninger,1982).
Sel darah juga berfungsi untuk mengangkut gas CO2 yang
terbentuk sebagai hasil akhir metabolisme dari dalam jaringan menuju ke
luar tubuh. Secara keseluruhan, sekitar dua per tiga total kandungan CO2
berada di dalam plasma dan hanya sepertiganya yang berada di dalam sel
darah merah. Akan tetapi hampir semua CO2 darah harus masuk dan
keluar sel darah merah selama pengangkutan CO2 dari jaringan ke paruparu. Sejumlah 72% karbon dioksida dalam tubuh manusia larut dalam
plasma darah dalam bentuk ion bikarbonat (HCO3-) dan 8% lainnya dalam
bentuk molekul karbondioksida. Sisanya sebesar 20% diikat oleh
hemoglobin dalam bentuk carbaminohemoglobin (Bain, 2006).
Darah di dalam pembuluh vena yang meninggalkan jaringan
mengandung gas CO2 60 ml/100 ml darah. Sedangkan pembuluh arteri
pulmonalis mengandung hanya sekitar 50 ml CO2 per 100 ml darah. Pada
konsentrasi CO2 tinggi, seperti pada jaringan, beberapa bagian CO2 akan
diikat oleh hemoglobin dan daya ikat terhadap oksigen akan menurun
20
sehingga O2 akan dibebaskan. Hal yang sama berlaku kebalikannya di
mana pada saat O2 diikat oleh pembuluh arteri paru-paru, daya ikat
hemoglobin terhadap CO2 pun akan menurun.
4. Proses Katabolisme di dalam Sel
Setelah darah mendistribusikan zat-zat makanan dan oksigen ke
dalam jaringan tubuh, kemudian zat makanan dan oksigen tersebut
diteruskan menuju sel-sel tubuh untuk keperluan proses metabolisme
sehingga dapat menghasilkan energi dalam bentuk ATP dan NADPH.
Proses metabolisme yang berlangsung merupakan proses katabolime atau
proses pemecahan. Proses katabolisme ini terjadi di dalam sitoplasma yang
kemudian diteruskan menuju salah satu organel sel yang berfungsi untuk
melakukan proses respirasi, yaitu bagian mitokondria. Di bawah ini
merupakan skema proses katabolisme secara umum :
Karbohidrat
Lemak
+
Protein
enzim
O2
ATP (energi) + CO2 + H2O
Proses katabolisme dimulai dengan pemecahan makromolekul,
baik berupa karbohidrat, lemak, maupun protein menjadi senyawasenyawa penyusunnya yang lebih sederhana (glukosa, asam lemak dan
gliserol, serta asam amino). Semua reaksi metabolisme tersebut
berlangsung di dalam sel tubuh dengan bantuan enzim sebagai katalisator.
Karbohidrat merupakan bahan bakar utama untuk proses pembentukan di
samping lemak dan protein. Apabila asupan karbohidrat ataupun simpanan
glikogen sangat sedikit di dalam tubuh sehingga tidak mencukupi untuk
produksi energi, maka dilakukan perombakan lemak (trigliserida) dan
protein. Skema proses katabolisme di dalam sel dapat dilihat pada
Lampiran 2.
Secara garis besar reaksi katabolisme pada manusia terbagi
menjadi empat tahapan meliputi proses glikolisis, dekarboksilasi oksidatif,
siklus Krebs, dan transpor elektron. Setelah bentukan polisakarida dan
21
oligosakarida dipecah menjadi bentuk monosakarida, maka tahap
selanjutnya masuk ke dalam proses glikolisis. Proses ini terjadi di dalam
sitosol (cairan sitoplasma) tanpa menggunakan oksigen (anaerob).
Glikolisis merupakan proses perombakan satu monomer glukosa (memiliki
6 atom C) menjadi dua molekul senyawa piruvat (memiliki 3 atom C).
Dari keseluruhan proses glikolisis, selain menghasilkan asam piruvat juga
dihasilkan 2 molekul ATP dan 2 molekul NADH (Nicotinamide Adenine
Dinucleotide). Molekul NADH ini akan melalui proses lanjutan, yaitu
transpor elektron di mana nantinya akan dipecah menjadi molekul ATP.
Proses glikolisis secara singkat dapat dilihat pada Lampiran 3.
Menurut Scheffler (1999), setelah melalui tahap glikolisis, asam
piruvat akan masuk menuju siklus Krebs. Namun sebelum itu, asam
piruvat perlu dioksidasi terlebih dahulu menjadi asetil Ko-A. Proses ini
disebut juga dekarboksilasi oksidatif karena menggunakan oksigen sebagai
oksidatornya (aerob) dan berlangsung di dalam matriks mitokondria.
Tahapan ini merupakan tahap penggabungan asam piruvat (3C) yang
terbentuk dari proses glikolisis dengan koenzim A sehingga terbentuk
asetil ko-A (2C). Hasil akhir dekarboksilasi oksidatif berupa 2 molekul
asetil ko-A dan 2 molekul NADH, serta hasil sampingan
2 molekul CO2.
Asetil Ko-A kemudian masuk ke dalam rangkaian siklus Krebs atau siklus
asam trikarboksilat (TCA cycle). Siklus ini dilalui sebanyak dua kali
karena terdapat 2 molekul asetil ko-A yang masuk melaluinya. Siklus
Krebs atau siklus TCA secara sistematik dapat dilihat di Lampiran 4. Hasil
akhir siklus ini berupa 6 molekul NADH, 2 molekul FADH2, 2 molekul
ATP, dan 4 molekul CO2. Sebagian besar tahap glikolisis dan siklus Krebs
merupakan reaksi redoks di mana terdapat enzim dehidrogenase
mentransfer elektron dari substrat ke NAD+ lalu jadi NADH.
Rantai transpor elektron adalah tahapan terakhir dari reaksi
respirasi sel aerobik yang meliputi proses perpindahan elektron dari
molekul donor (seperti NADH) menuju penerima elektron terakhir, yaitu
oksigen. Proses ini berlangsung pada bagian krista (membran dalam)
mitokondria. Molekul yang berperan penting dalam reaksi ini adalah
22
NADH dan FADH2, yang telah dihasilkan pada reaksi glikolisis,
dekarboksilasi oksidatif, dan siklus Krebs. Di samping itu terdapat
molekul lain yang ikut berperan, yaitu molekul oksigen, koenzim Q
(ubiquinone), sitokrom b, sitokrom c, dan sitokrom a (Scheffler, 1999).
Pertama-tama NADH dan FADH2 mengalami oksidasi, dan
elektron berenergi tinggi yang berasal dari reaksi oksidasi ini ditransfer ke
koenzim Q. Energi yang dihasilkan ketika NADH dan FADH2 melepaskan
elektronnya cukup besar untuk menyatukan ADP dan fosfat anorganik
menjadi ATP. Kemudian koenzim Q dioksidasi oleh sitokrom b. Selain
melepaskan elektron, koenzim Q juga melepaskan 2 ion H+. Setelah itu
sitokrom b dioksidasi oleh sitokrom c. Energi yang dihasilkan dari proses
oksidasi sitokrom b oleh sitokrom c juga menghasilkan cukup energi untuk
menyatukan ADP dan fosfat anorganik menjadi ATP. Kemudian sitokrom
c mereduksi sitokrom a, dan ini merupakan akhir dari rantai transpor
elektron. Sitokrom a ini kemudian akan dioksidasi oleh sebuah atom
oksigen, yang merupakan zat yang paling elektronegatif dalam rantai
tersebut, dan merupakan akseptor terakhir elektron. Setelah menerima
elektron dari sitokrom a, oksigen ini kemudian bergabung dengan ion H+
yang dihasilkan dari oksidasi koenzim Q oleh sitokrom b membentuk air
(H2O). Oksidasi yang terakhir ini akan menghasilkan energi yang cukup
besar untuk dapat menyatukan ADP dan gugus fosfat organik menjadi
ATP. Jadi, secara keseluruhan ada tiga tempat pada transpor elektron yang
menghasilkan ATP (Lehninger, 1982). Skema rantai transpor elektron
pada membrane dalam mitokondria dapat dilihat pada Lampiran 5.
Sejak reaksi glikolisis sampai siklus Krebs, telah dihasilkan NADH
dan FADH2 masing-masing sebanyak 10 dan 2 molekul. Dalam transpor
elektron ini, kesepuluh molekul NADH dan kedua molekul FADH2
tersebut mengalami oksidasi sesuai reaksi berikut.
10 NADH + 5 O2 ĺ 10 NAD+ + 10 H2O
2 FADH2 +
O2 ĺ
2FAD
+ 2H2O
23
Setiap oksidasi NADH menghasilkan kira-kira 3 ATP, sedangkan
oksidasi FADH2 menghasilkan 2 ATP. Jadi di dalam transpor elektron
dihasilkan sebanyak 34 ATP dan H2O. Ditambah dari 4 molekul ATP hasil
glikolisis dan siklus Krebs, maka secara keseluruhan reaksi respirasi
seluler menghasilkan total 38 ATP dari satu molekul glukosa. Akan tetapi,
karena dibutuhkan 2 ATP untuk melakukan transpor aktif, maka hasil
bersih dari setiap respirasi seluler adalah 36 ATP (Lehninger, 1982).
Oksigen yang dibawa ke dalam sel melalui sistem peredaran darah
berperan penting agar proses respirasi selular secara aerobik dapat berjalan
secara normal. Seperti telah disebutkan di atas, molekul ini memegang
peranan penting sebagai penerima elektron terakhir pada tahap transpor
elektron, di mana oksigen akan bereaksi dengan 4 H+ dan menghasilkan
dua molekul H2O. Apabila tidak terdapat molekul oksigen yang
menangkap elektron dari protein kompleks yang terakhir (sitokrom a) pada
sistem, elektron akan tetap berikatan pada protein tersebut. Hal tersebut
menyebabkan molekul NADH tidak dapat mentransfer elektronnya dan
tetap dalam bentuk tereduksi sehingga tidak dapat melepas energinya dan
tidak dapat kembali ke siklus Krebs. Oleh karena itu, siklus Krebs akan
terhenti dan ATP tidak akan diproduksi lagi pada mitokondria.
Ketiadaan oksigen akan menyebabkan respirasi yang seharusnya
berjalan normal secara aerobik akan berlangsung secara anaerobik.
Respirasi anaerob pada manusia hanya terdiri dari 2 tahapan, yaitu proses
glikolisis dan fermentasi asam laktat. Energi hanya diperoleh dari proses
glikolisis yang menghasilkan 2 molekul ATP saja. Jumlah oksigen yang
tidak mencukupi akan mengakibatkan proses oksidasi asam piruvat tidak
berlangsung, begitu pula proses oksidasi pada siklus Krebs dan transpor
elektron. Padahal sistem rantai transpor elektron merupakan kunci utama
untuk menghasilkan energi dalam jumlah yang besar, yaitu 34 ATP, selain
dari proses glikolisis (2 ATP) dan siklus Krebs (2 ATP).
Akibat ketidaktersediaan oksigen, setelah proses glikolisis yang
berlangsung secara anaerobik (tanpa oksigen), asam piruvat sebagai hasil
24
akhir glikolisis akan melalui tahap fermentasi laktat. Berikut merupakan
skema singkat fermentasi asam laktat.
2 C2H3OCOOH + 2 NADH2 ĺ 2 C2H5OCOOH + 2 NAD
As. Piruvat
As. Laktat
Hasil akhir fermentasi ini hanya menghasilkan 2 molekul ATP dari
satu molekul glukosa yang diuraikan. Jumlah ini kecil jika dibandingkan
dengan respirasi aerobik yang menghasilkan 38 ATP. Fermentasi asam
laktat ini terutama pada jaringan otot yang tiba-tiba harus berkontraksi
kuat melebihi kemampuan jantung dan paru-paru untuk mengeluarkan gas
CO2 dari otot.
Dengan persediaan oksigen yang terbatas ditambah dengan
pengeluaran karbondioksida yang terbatas pula akan mengakibatkan asam
laktat yang terbentuk semakin menumpuk. Timbunan ini akan
berpengaruh terhadap penurunan pH otot sehingga kapasitas serat otot
menurun dan akan membuat tubuh semakin lama akan menjadi pegal,
terasa lelah, dan sakit, serta napas pun akan terengah-engah untuk
menebus oksigen yang defisit selama proses anaerobik berlangsung.
Meskipun respirasi anerobik dapat membantu dalam jangka pendek dan
intensitas tinggi untuk bekerja, tetapi tidak dapat bertahan dalam jangka
waktu yang lama pada organisme aerobik yang kompleks, seperti manusia.
Pada manusia, fermentasi asam laktat hanya mampu menyediakan energi
selama 30 detik hingga 2 menit.
C. Air Minum Penambah Oksigen
Air minum penambah oksigen termasuk ke dalam jenis air minum
dalam kemasan (AMDK) yang di dalamnya ditambahkan oksigen terlarut
sehingga mengandung jumlah oksigen yang jumlahnya lebih banyak
dibandingkan dengan air minum biasa. Belum ada ketetapan baku mengenai
jumlah minimum oksigen terlarut dalam air minum penambah oksigen karena
memang belum ada SNI di Indonesia yang mengatur tentang hal tersebut.
Namun dapat ditarik garis besar secara umum, produsen dapat mengklaim air
25
minum penambah oksigen jika produknya mengandung sedikitnya 7-8 kali
jumlah oksigen terlarut air minum biasa. Jumlah oksigen terlarut yang
dikandung oleh air minum biasa umumnya adalah sebesar 7-12 ppm. Oleh
karena itu, konsentrasi minimum oksigen terlarut di dalam produk air minum
penambah oksigen ditetapkan paling sedikit sebesar 80 ppm.
Kelarutan oksigen dalam air sangat rendah, karena oksigen bersifat
nonpolar sedangkan air bersifat polar. Nilai koefisisen solubilitas oksigen di
dalam air juga sangat kecil, yaitu sebesar 0.024 (Guyton dan Hall, 2006). Hal
tersebut yang menyebabkan air bukan merupakan pelarut yang baik bagi
oksigen. Air segar yang berasal dari mata air pegunungan hanya mengandung
10-12 ppm oksigen dan akan semakin menurun menjadi 5-7 ppm pada air
yang telah diolah untuk diminum (Speit et al., 2002). Pada temperatur ruang
(28-32oC) air biasa hanya dapat melarutkan oksigen dari udara sebanyak
10 mg/l atau 10 ppm. Bahkan pada suhu 100 oC, tidak ada lagi oksigen yang
terlarut dalam air. Kelarutan oksigen di dalam air meningkat dapat mencapai
15 ppm pada temperatur rendah. Air minum dalam kulkas yang didinginkan
pada suhu mencapai 4oC bisa mengandung oksigen sebanyak 15 ppm yang
oksigennya berasal dari udara (Zakaria, 2005). Kalau kita perhatikan pada
saat minum air es akan terasa lebih segar dibandingkan minum air hangat
karena air es mempunyai kandungan oksigen lebih tinggi. Hubungan
kelarutan oksigen di dalam air terhadap temperatur dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Hubungan kelarutan oksigen dalam air terhadap suhu
Kelarutan Oksigen dalam Air (ppm)
Suhu (oC)
0
14.2
5
12.4
10
10.9
15
9.8
20
8.8
25
8.1
30
7.5
Sumber : (Eagleson, 2008)
26
Kelarutan oksigen dalam air terjadi akibat molekul-molekul oksigen
yang terjebak di dalam struktur-struktur cincin molekul air. Akibat orientasi
molekul air berfluktuasi sangat cepat sehingga struktur air cenderung tidak
teratur. Oleh karena itu oksigen terlarut mudah lepas, terlebih lagi jika suhu
naik. Pada suhu di atas 4oC, polimer air didominasi oleh bentuk monohidrol
yang merupakan bentuk molekul air yang hanya terdiri dari satu molekul
tunggal. Sedangkan pada suhu di bawah 4oC, polimer air akan berbentuk
trihidrol ataupun tetrahidrol yang merupakan gabungan dari 3-4 molekul air
dengan ciri spesifik ruang kosong di antara molekul-molekul air. Ruang
kosong antara molekul-molekul air tersebut akan memungkinkan sebagai
tempat terikatnya oksigen di antara molekul air tersebut. Ikatan antara
oksigen dan air ini dapat terjaga dengan pemberian tekanan tertentu
(Purnama, 2004).
Menurut Mortimer (1975), molekul gas akan mengubah energi panas
yang diterimanya menjadi energi kinetik. Semakin tinggi energi panas yang
diterima maka akan semakin tinggi pula energi kinetik yang timbul. Molekul
oksigen memiliki energi kinetik yang tinggi sehingga cenderung tidak larut
dalam air. Perlakuan suhu rendah akan menurunkan energi kinetik molekul
oksigen sehingga oksigen menjadi bersifat lebih mudah larut dan terikat
dengan air. Teknologi injeksi oksigen yang ada dengan menggunakan tekanan
tinggi pada suhu rendah memungkinkan semakin meningkatnya kelarutan
oksigen dalam air. Kondisi di atas didukung dengan prinsip Le Chatelier yang
menyebutkan pemberian tekanan pada suatu sistem dalam kesetimbangan
akan mengakibatkan sistem berubah ke arah kesetimbangan baru untuk
mengatasi tekanan tersebut. Dengan demikian tekanan tinggi yang diberikan
pada saat injeksi oksigen akan memaksa oksigen larut dalam air sehingga
tercapai kesetimbangan baru dalam sistem air minum tersebut.
Pada prinsipnya proses produksi air minum penambah oksigen serupa
dengan proses pembuatan air minum dalam kemasan (AMDK) secara umum,
namun ada perbedaan mendasar, yaitu adanya penambahan oksigen terlarut
yang diinjeksi ke dalam botol air minum tersebut. Pada tahap awal pembuatan
dilakukan proses pemurnian air terlebih dahulu. Proses ini menggunakan
27
sistem UFO (Ultraviolet, Filterisasi dan Ozonisasi) yang dikombinasikan
dengan sistem RO (Reverse Osmosis) atau lebih sering disebut sebagai sistem
UFO-RO.
Tahap pemurnian air diawali dengan cara mengalirkan air dari sumber
mata air pegunungan ke tempat penampungan air berbentuk seperti kolam. Di
tempat ini dilakukan proses pra-filterisasi dengan menggunakan silika. Tahap
pra-filterisasi tidak dapat mereduksi logam berat, senyawa nitrit, bakteri,
klorin, maupun endapan, tetapi hanya dapat menghilangkan pasir. Setelah itu
ditambahkan
karbon
aktif
ke
dalam
kolam
penampungan
untuk
menghilangkan bau, rasa, dan senyawa kimia lain yang berbahaya. Air
dilewatkan ke dalam filter mangan (manganese filter) untuk menghilangkan
senyawa organik. Selanjutnya dilakukan proses filterisasi I dengan
menggunakan penyaring (filter) yang diameter pori-porinya berukuran 5 μm.
Filterisasi I dilakukan untuk memisahkan molekul-molekul berukuran besar
sehingga tidak dapat melewati filter tersebut.
Proses
pemurnian
berlanjut
dengan
tahap
reverse
osmosis
yang lebih dikenal ultrafiltrasi (filtrasi tingkat tinggi) merupakan jenis proses
filtrasi yang paling baik. Pada proses ini dilakukan penghilangan partikelpartikel kecil seperti bakteri, garam mineral, lemak, laktosa, dan protein.
Reverse osmosis menggunakan membran semipermeable dengan diameter
pori-pori berukuran 0.001-0.0001 mikron (1-10 ǖ) ditambah dengan
penggunaan tekanan tinggi 30-60 bar sehingga dapat melewatkan pelarut
dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah (Purnama, 2004).
Prinsip kerja reverse osmosis adalah memisahkan zat-zat terlarut yang
memiliki berat molekul rendah, seperti garam mineral dari larutan dengan
menggunakan tekanan tinggi untuk mengatasi tekanan osmotik larutan.
Tahap lanjutan dilakukan dengan menampung air di dalam tangki
untuk menyeimbangkan tingkat keasaman atau pH menjadi 7.2-7.5. Air
mengalami proses filtrasi II untuk mencegah cemaran yang timbul akibat
proses penyeimbangan pH yang dilakukan sebelumnya. Kemudian dilakukan
tahap reverse osmosis lanjutan dengan melewatkan air pada membran filter
menggunakan tekanan tinggi sehingga tercapai efisiensi pemisahan
28
maksimum air dari zat-zat organik lainnya sebesar 100%. Setelah itu air
dimasukkan kembali ke dalam tangki penampungan untuk diproses ozonisasi
menggunakan
sinar
ultraviolet
yang
bertujuan
untuk
membunuh
mikroorganisme yang masih lolos setelah proses reverse osmosis.
Setelah melalui tahap pemurnian maka air siap untuk diisi dengan
oksigen. Air kemudian dimasukkan ke dalam kemasan khusus yang kedap,
seperti botol PET (Polyethylene Terephtalate) yang tebal dengan penutup
berlapis ganda pada bagian dalam. Sebelum diisi air, botol telah terlebih
dahulu disterilisasi menggunakan sinar UV. Kemudian diinjeksikan oksigen
sebanyak 80 mg/l bahkan lebih menggunakan tekanan tinggi lebih dari 1 bar
(760 mmHg) pada suhu rendah. Proses injeksi dilakukan pada kondisi kedap
udara, suhu rendah dan menggunakan tekanan tinggi. Botol air minum
penambah oksigen langsung di-sealing di dalam kondisi kedap udara untuk
mencegah terlepasnya molekul oksigen ke udara bebas (Zakaria, 2005).
Kadar oksigen terlarut air minum penambah oksigen dapat mencapai 80 ppm
karena menggunakan teknologi pengemasan penjaga oksigen (oxygen keeper
technology) yang memaksa oksigen untuk tetap larut sehingga menjamin
pengikatan oksigen oleh molekul air secara sempurna. Skema proses produksi
air minum penambah oksigen secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6.
Begitu banyak klaim produk air minum penambah oksigen yang
menyatakan bahwa produk yang diproduksi dapat meningkatan kesehatan
secara menyeluruh, meningkatkan fungsi otak, meningkatkan energi dan
performance,
meningkatkan
metabolisme
dan
pembuangan
kotoran,
meningkatkan kemampuan tubuh untuk melawan bakteri dan virus, membuat
penyerapan vitamin, mineral dan nutrisi lainnya menjadi lebih baik, serta
membuat kulit agar tampak lebih sehat dan muda. Berbagai klaim tersebut
sebenarnya mengacu kepada kegunaan oksigen bagi tubuh manusia yang
tercantum di berbagai literatur ilmiah yang telah ada. Akan tetapi mengenai
kebenarannya masih banyak yang meragukan karena jangankan untuk
diambil manfaatnya, pembuktian bahwa oksigen yang berasal dari air minum
penambah oksigen dapat diserap tubuh masih banyak disangsikan banyak
orang.
29
Kekurangan oksigen dapat menimbulkan gejala hipoksia yang
mempengaruhi proses metabolisme dalam tubuh menjadi terganggu. Hipoksia
adalah kondisi sindrom kekurangan suplai oksigen pada jaringan tubuh.
Hipoksia
umumnya
disebabkan
oleh
perbedaan
ketinggian,
namun
belakangan ini ditemukan gejala hipoksia yang muncul akibat faktor
eksternal, seperti penurunan kadar oksigen pada kondisi atmosfer normal
(Roach et al., 2001). Kekurangan oksigen atau gejala hipoksia juga dapat
terjadi pada manusia yang melakukan aktivitas berat atau maksimum, seperti
olahragawan pada waktu tertentu. Pada kondisi ini, tekanan parsial oksigen
dalam darah akan menurun dan sebaliknya tekanan parsial CO2 akan
meningkat. Keadaan tersebut akan berdampak pada kurangnya suplai gas
oksigen ke dalam sel untuk menghasilkan energi sehingga menghambat
proses metabolisme sel. Gangguan tersebut akan berkolerasi dengan
timbulnya berbagai gejala penyakit di dalam tubuh, seperti pusing, sesak
nafas, cepat lelah, sakit otot dan sendi, mual, kekurangan energi, penurunan
daya ingat, penurunan sistem imun, bahkan timbul berbagai penyakit
degeneratif, termasuk kanker. Menurut Fife (2001), penyakit kanker timbul
karena adanya perubahan respirasi normal secara aerobik menjadi respirasi
sel anaerobik. Pada kondisi kekurangan oksigen di dalam tubuh dapat
menstimulasi mikroba patogen dan sel kanker berproliferasi (memperbanyak
diri).
Kualitas hidup semakin memburuk ditandai oleh terjadinya polusi dan
perubahan cuaca yang menyebabkan kandungan oksigen menurun 0.02% per
tahunnya. Keadaan seperti ini memiliki efek yang sangat besar terhadap
kehidupan manusia, di mana cara bernapas manusia akan menjadi pendek dan
terengah-engah. Di samping itu juga pola kehidupan yang membuat manusia
sering mengalami stres akan membuat tubuh membutuhkan ekstra oksigen
bagi kegiatan sel secara normal.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wong dan Huang (2004),
kebiasaan tidur dengan menggunakan pendingin ruangan (AC) di dalam
kamar tidur tertutup dan tidak berventilasi dapat meningkatkan kadar CO2 di
dalam ruangan dibandingkan dengan kamar tidur yang berventilasi tanpa
30
menggunakan AC. Kadar CO2 pada kamar ber-AC meningkat sampai
melebihi 1000 ppm, jauh lebih banyak daripada kamar berventilasi yang
berkisar 600 ppm. Kondisi ini dapat dianalogikan dengan kebiasaan hidup
manusia sekarang ini yang lebih banyak melakukan aktivitas di dalam
ruangan ber-AC tanpa ventilasi memadai ataupun berada di dalam mobil
dengan menggunakan AC dan kaca tertutup secara rutin setiap hari. Hasil
penelitian tersebut menunjukkan terjadi efek negatif yang dikenal dengan
gejala SBS (Sick Building Syndrome) yang mirip dengan gejala hipoksia
secara umum seperti gejala influenza yang meliputi pilek, hidung tersumbat,
tenggorokan kering, sesak napas, iritasi mata dan kulit, pusing, serta pegalpegal.
Air minum penambah oksigen merupakan salah satu cara alternatif
yang ditemukan oleh para ilmuwan bersama kalangan industri untuk
mengatasi masalah kecenderungan kekurangan oksigen yang terjadi
belakangan ini. Pencemaran udara, pola hidup yang tidak sehat, seperti
kurang berolahraga, mengkonsumsi makanan berkolesterol dan tidak sehat,
bahkan kebiasaan beraktivitas di ruangan tertutup dapat menyebabkan tubuh
kekurangan oksigen. Padahal oksigen merupakan komponen vital bagi
keberlangsungan metabolisme tubuh agar dapat berjalan secara normal.
D. Radikal Bebas dan Kerusakan Sel
1. Radikal Bebas
Radikal bebas merupakan suatu senyawa atau molekul atau atom
yang kehilangan satu atau lebih pasangan elektron pada orbital luarnya
(Halliwell et al., 1992). Adanya elektron yang tidak berpasangan tersebut
menyebabkan senyawa tersebut menjadi tidak stabil dan bersifat sangat
reaktif. Kondisi reaktif dan tidak stabil akan membuat senyawa radikal
bebas memiliki kecenderungan untuk mencari pasangannya dan dapat
berikatan dengan molekul atau senyawa stabil apapun yang berada di
dekatnya. Kereaktifan senyawa radikal menyebabkan spesifisitas kimianya
rendah sehingga dapat bereaksi dengan berbagai molekul, baik berupa
lemak, protein, karbohidrat, DNA, dan sebagainya.
31
Radikal bebas dapat terbentuk melalui dua cara, yaitu secara
endogen dan secara eksogen. Secara endogen, radikal bebas merupakan
respon normal yang dihasilkan dalam peristiwa biokimia yang terjadi di
dalam tubuh, baik di dalam maupun di luar sel. Contohnya antara lain
proses autooksidasi yang dihasilkan dari proses metabolisme aerobik,
oksidasi
enzimatik,
dan
ledakan
pernapasan
(respiratory
burst).
Sedangkan secara eksogen, radikal bebas diperoleh berasal dari luar tubuh,
seperti terpapar polusi, makanan, obat-obatan, asap rokok, ataupun radiasi
yang masuk melalui melalui jalur pernapasan, pencernaan, injeksi, ataupun
melalui penyerapan kulit dan kemudian akan bereaksi di dalam tubuh
(Supari, 1996).
Beberapa jenis molekul dapat membentuk radikal bebas, seperti
atom hidrogen, logam-logam transisi, ataupun oksigen. Oksigen yang
masuk ke dalam tubuh pada kondisi tertentu mampu memicu timbulnya
reaksi oksidasi yang berlebihan sehingga dapat menghasilkan senyawa
radikal bebas dan pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan sel-sel
tubuh. Dalam rangka mendapatkan stabilitas kimia, radikal bebas tidak
dapat mempertahankan bentuk asli dalam waktu lama dan segera berikatan
dengan materi yang ada di sekitarnya. Radikal bebas akan menyerang
molekul stabil yang terdekat dan mengambil elektron sehingga zat yang
terambil elektronnya akan menjadi radikal bebas juga dan akan memulai
suatu reaksi berantai, yang akhirnya mengakibatkan terjadinya kerusakan
sel tersebut. Berbagai proses metabolisme normal dalam tubuh dapat
menghasilkan radikal bebas dalam jumlah kecil sebagai produk antara. Di
dalam sel hidup, radikal bebas terbentuk pada membran plasma dan
organel-organel sel seperti mitokondria, peroksisom, lisosom, retikulum
endoplasmik, inti sel dan sitosol melalui reaksi-reaksi enzimatik fisiologik
yang berlangsung dalam proses metabolisme. Proses fagositosis oleh selsel fagositik termasuk netrofil, monosit, makrofag dan eosinofil, juga
menghasilkan radikal bebas (Winarsi, 2007).
Secara umum, tahapan reaksi pembentukan senyawa radikal bebas
mirip dengan rancidity oxidative, yaitu melalui 3 tahapan. Tahap pertama
32
adalah inisiasi yang merupakan reaksi awal di mana radikal bebas
terbentuk. Tahap selanjutnya adalah perambatan atau terbentuknya radikal
baru (propagasi), dan tahap terakhir (terminasi) merupakan reaksi
pemusnahan atau pengubahan senyawa radikal menjadi produk-produk
yang stabil dan tidak bersifat reaktif.
Radikal bebas terpenting dalam tubuh adalah radikal derivatif dari
oksigen yang disebut senyawa oksigen reaktif (Reactive Oxygen Species
atau ROS). Teraktivasinya oksigen dapat menyebabkan terbentuknya
radikal bebas oksigen, yang disebut anion superoksida (O2˙). Senyawa
oksigen reaktif dapat terbentuk pada kondisi stres maupun tidak stres.
Pada kondisi tidak stres terdapat keseimbangan antara proses pembentukan
dan pemusnahan senyawa reaktif oksigen. Sementara pada kondisi stres,
pembentukan senyawa oksigen reaktif lebih tinggi dibandingkan
pemusnahannya. Menurut Baskin dan Salem (1997), radikal bebas yang
dapat merugikan tubuh manusia sebagian besar adalah derivat oksigen.
Beberapa derivat oksigen yang berbahaya bagi tubuh, antara lain anion
superoksida (O2˙), hidrogen peroksida, radikal bebas hidroksil, radikal
bebas alkoksil, radikal bebas peroksil, dan ferri (Fe3+). Beberapa contoh
senyawa oksigen reaktif (ROS) yang bersifat radikal dan non radikal dapat
dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Kelompok reactive oxygen spesies (ROS)
Kelompok ROS Radikal
Kelompok ROS Non Radikal
O2˙
(radikal superoksida)
H2O2
(hidrogen peroksida)
˙OH
(radikal hidroksil)
1
(singlet oksigen)
ROO˙
(radikal peroksil)
HOCl
HOO˙
(radikal hidroperoksil)
ONOO (nitrit peroksida)
RO˙
(radikal alkoksil)
ROOH (lipid peroksida)
˙NO
(nitrit oksida)
O3
(ozon)
H˙
(atom hidrogen)
RSH
(tiol)
O2
(asam hipoklorat)
Sumber : Baskin dan Salem (1997)
33
2. Stres Oksidatif dan Kerusakan Sel
Stres atau tekanan oksidatif (oxidative stress) adalah suatu kondisi
di mana tingkat oksigen reaktif intermediate (ROI) yang toksik melebihi
pertahanan antioksidan endogen. Hal ini dapat terjadi jika jumlah
antioksidan tidak mencukupi atau jumlah radikal bebas meningkat
sehingga antioksidan tidak mampu untuk menahan radikal bebas yang
terbentuk. Keadaan ini dapat mengakibatkan kelebihan radikal bebas di
dalam tubuh yang akan bereaksi dengan lemak, protein, asam nukleat
seluler, termasuk karbohidrat sehingga terjadi kerusakan lokal dan
disfungsi organ tertentu. Lemak, terutama asam lemak tidak jenuh
merupakan biomolekul yang sangat rentan terhadap serangan radikal bebas
(Winarsi, 2007).
Kerusakan sel merupakan perubahan atau gangguan yang dapat
mengurangi viabilitas atau fungsi esensial sel. Stres oksidatif dapat
menyebabkan kematian sel secara apoptosis dan nekrosis. Apoptosis
adalah proses kematian sel secara terprogram berupa proses autodestruksi
seluler aktif yang ditandai dengan penyusutan sel, kerusakan membran,
dan fragmentasi DNA inti sel. Sedangkan nekrosis merupakan kematian
sel secara tiba-tiba akibat kerusakan berat yang ditandai kerusakan struktur
seluler secara menyeluruh diikuti dengan lisisnya sel dan inflamasi
jaringan.
Pada kondisi normal di mana jumlah radikal bebas dalam sel
terkontrol.
ROS
mampu
melakukan
peranan
fisiologis
yang
menguntungkan di lam tubuh. Beberapa fungsi fisiologis yang dijalankan,
antara lain melakukan aksi fagositosis pada sel monosit, sintesis protein,
sintesis DNA, membantu sistem NADP oksidase, dan memiliki efek
mitogenik dengan menstimulasi proliferasi beberapa jenis sel. Radikal
bebas dalam jumlah berlebih dapat menyerang sel menimbulkan berbagai
kerusakan pada sel, meliputi kerusakan membran sel, protein, DNA,
terjadinya disfungsi metabolik termasuk peroksidasi membran lipid,
autoimun dengan memproduksi antibodi sendiri, penuaan dini sel, serta
arterosklerosis.
34
Di dalam tubuh pada keadaan normal terdapat keseimbangan antara
radikal bebas (prooksidan) dan komponen antioksidan. Radikal bebas yang
berlebihan
dapat
mengganggu
keseimbangan
tersebut
sehingga
menimbulkan stres oksidatif. Meskipun demikian di dalam tubuh terdapat
sistem pertahanan antioksidan alami yang membantu melindungi tubuh
dari serangan radikal bebas atau stres oksidatif. Sistem antioksidan utama
yang diproduksi tubuh atau lebih dikenal dengan antioksidan endogen
terdiri dari tiga jenis enzim, antara lain enzim superoksida dismutase
(SOD), glutation peroksidase (GSH), dan katalase. Aktivitas ROS yang
tinggi dapat menghancurkan mekanisme pertahanan tubuh sehingga enzim
antioksidan alami pun akan rusak. Dalam situasi ini, kerusakan oksidatif
akan terjadi dan mengenai setiap bagian sel yang terpapar, termasuk
protein sel, lemak (misalnya kolesterol), dan inti sel. Kerusakan ini akan
menjadi lebih parah sehingga menyebabkan kanker, penyumbatan arteri
koroner, dan berbagai penyakit lainnya. Oleh karena itu dibutuhkan asupan
zat gizi, yang terdiri dari protein, vitamin, maupun mineral sebagai bahan
baku pembentukan enzim-enzim antioksidan tersebut (Baskin dan Salem,
1997).
Di samping antioksidan alami, tubuh juga memerlukan antioksidan
eksogen sebagai sistem pertahanan tubuh sekunder. Konsumsi berbagai
sayuran dan buah-buahan yang kaya akan flavonoid, karotenoid, vitamin
E, dan vitamin C berfungsi untuk menghambat rantai propagasi
pembentukan radikal bebas. Sistem pertahanan tersier dilakukan oleh
enzim protease dan transferase yang bertugas untuk memperbaiki
kerusakan membran sel. Konsumsi makanan yang kaya akan zat
antioksidan mampu menangkal radikal bebas berlebih sehingga kerusakan
sel mampu dicegah.
E. Sistem Imun
Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh merupakan sistem interaktif
kelompok dari berbagai jenis sel imunokompeten yang bekerja sama dalam
proses identifikasi dan eliminasi mikroba patogen dan zat-zat asing yang
35
berbahaya lainnya yang masuk ke dalam tubuh (Paul, 2008). Menurut
Wikipedia, sistem kekebalan adalah sistem perlindungan tubuh terhadap
pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu
organisme. Tidak jauh berbeda dengan kesimpulan Weissman et al. (1978)
yang menyatakan bahwa definisi sistem imun ialah sistem pertahanan yang
dimiliki oleh vertebrata yang bertugas untuk melindungi tubuh dari
mikroorganisme penyebab penyakit, seperti bakteri, virus, bahkan sel kanker.
Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan
melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri, virus, maupun cacing parasit
dengan
cara
mendeteksi
kemudian
menghancurkannya,
termasuk
memusnahkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Keberadaan sel
imun tersebut akan senantiasa menjaga sel, jaringan, ataupun organ tubuh
agar dapat berfungsi secara normal. Sebaliknya apabila sistem kekebalan
melemah maka kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga
akan menyebabkan mikroba patogen, termasuk virus dapat berkembang
dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel
tumor, dan terhambatnya sistem ini juga dilaporkan dapat meningkatkan
resiko terkena beberapa jenis kanker.
Suatu cara yang dilakukan oleh tubuh berupa respon atau reaksi yang
timbul akibat adanya zat asing atau patogen tertentu yang masuk ke dalam
tubuh dikenal dengan sebutan respon imun. Respon tersebut meliputi
produksi sel-sel imun atau zat kimia yang berfungsi untuk mempertahankan
tubuh melawan patogen. Semakin baik respon imun tubuh maka semakin baik
pula status kesehatan seseorang.
Ketika antigen memasuki tubuh akan terjadi dua macam reaksi respon
imun yang berbeda, yaitu reson imun spesifik dan nonspesifik. Respon imun
nonspesifik umumnya dikenal sebagai respon imun alamiah atau bawaan
(innate immunity) yang merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam
menghadapi serangan mikroba atau zat-zat asing. Beberapa contoh respon
imun nonspesifik, antara lain proses fagositosis oleh sel neutrofil dan
monosit, barier kimia melalui sekresi internal dan eksternal (lisozim dalam
mukus jaringan, air mata, dan laktoperoksidase dalam kelenjar ludah),
36
produksi protein darah (interferon, sistem kinin, dan komplemen), serta
aktivitas sel natural killer (NK). Respon imun tersebut disebut sebagai respon
nonspesifik karena respon atau reaksi yang timbul tidak ditujukan terhadap
mikroba tertentu dan bersifat efektif untuk semua jenis mikroba (Sompayrac,
2003).
Sedangkan respon imun spesifik merupakan respon imun yang didapat
(adaptive immunity) yang timbul terhadap antigen tertentu, di mana tubuh
pernah terpapar antigen tersebut sebelumnya. Benda asing yang masuk
pertama kali ke dalam tubuh akan segera dikenali oleh sistem imun ini
sehingga terjadi sensitivitas sel-sel imun spesifik dan jika berpapasan kembali
dengan benda asing yang sama atau mirip, benda asing ini akan dikenal lebih
cepat kemudian akan segera dihancurkan. Menurut Weissman et al. (1978),
respon imun spesifik timbul dari dua sistem berbeda yang saling bekerja
sama, yaitu respon imun seluler (limfositik) dan humoral (berkaitan dengan
antibodi di dalam darah). Respon imun seluler memberikan pertahanan
terhadap mikroba intraseluler dan estraseluler melalui sekresi limfokin,
seperti interferon dan interleukin, sedangkan respon imun humoral memberi
pertahanan melalui produksi antibodi terhadap antigen spesifik.
Respon imun spesifik dan nonspesifik selain dibedakan berdasarkan
spesifitasnya, dipengaruhi juga oleh heterogenitas dan kemampuan sistem
memori imun terhadap antigen tertentu. Kedua jenis respon tersebut saling
meningkatkan efektivitas serta interaksi keduanya menghasilkan aktivitas
biologik yang serasi dan berbagai mekanisme di antara keduanya tidak dapat
dipisahkan.
1. Limfosit
Menurut Eurell (2004), di dalam tubuh manusia terdapat tiga jenis
sel darah, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan
keping darah (trombosit). Sel darah merah menyusun sedikitnya 45% dari
total volume darah, sedangkan sel darah putih yang tersusun atas neutrofil,
basofil, eosinofil, limfosit, dan monosit menyusun kurang dari 1% dari
seluruh total volume darah. .
37
Sel darah putih terbagi atas dua kelompok, yaitu granulosit yang
memiliki butir khas dan jelas dalam sitoplasma dan agranulosit yang tidak
memiliki butir khas dalam sitoplasma. Komposisi sel darah putih terdiri
dari 75% sel granulosit dan 25% agranulosit yang terbentuk dari dalam
sumsum tulang belakang (Rhoades dan Bell, 2009). Sel limfosit dan
monosit
termasuk dalam kelompok agranulosit, sedangkan basofil,
neutrofil dan eosinofil termasuk dalam kelompok granulosit. Komponen
seluler darah yang utama adalah monosit dan limfosit. Komposisi darah di
dalam tubuh manusia dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Komposisi elemen seluler darah manusia
Rata-rata
Kisaran
Elemen Seluler
sel/ml
Normal
1. Leukosit
9000
4000-11000
a. Granulosit
- Neutrofil
5400
3000-6000
150-300
- Eosinofil
275
0-100
- Basofil
35
b. Agranulosit
1500-4000
- Limfosit
2750
300-600
- Monosit
540
2. Eritrosit
a. Pria
5.4 x 106
4.8 x 106
b. Wanita
3. Trombosit/platelet
300000
2-5 x 106
Persentase dari
Leukosit Normal
50-70
1-4
0.4
20-40
2-8
Sumber : Ganong (1990)
Limfosit merupakan salah satu bagian dari sel darah putih yang
bersifat agranulosit (tidak memiliki granula). Secara umum ukuran dan
penampilan limfosit bervariasi, serta memiliki inti sel yang relatif lebih
besar yang dikelilingi oleh sejumlah sitoplasma. Sel ini berbentuk bulat,
dan berukuran kecil dengan diameter sel 7-20 μm. Limfosit dibentuk di
kelenjar timus dan sumsum merah tulang umumnya banyak terdapat pada
pembuluh darah dan organ limfoid, seperti limfa, kelenjar limfe, dan timus
(Kimball, 1990).
Limfosit adalah sel yang berfungsi dalam respon imun yang
dibentuk melalui jalur limfoid. Sel limfosit memiliki peranan penting
dalam proses respon imun spesifik karena sel-sel limfosit dapat mengenal
38
setiap jenis antigen, baik antigen intraseluler maupun ekstraseluler, seperti
antigen di dalam darah atau di dalam cairan tubuh lainya. Fungsi utama
limfosit adalah memberikan respon terhadap antigen (benda-benda asing)
dengan membentuk antibodi yang bersirkulasi di dalam darah atau dalam
pengembangan imunitas seluler (Paul, 2008).
Guyton dan Hall (2006) mengatakan bahwa limfosit manusia
berjumlah sekitar 30% dari jumlah normal sel darah putih. Limfosit dapat
membentuk ratusan jenis antibodi dan limfosit sensitif yang berbeda-beda.
Masing-masing jenis sifatnya spesifik untuk suatu antigen yang khusus
dan tiap jenisnya dapat menggandakan diri mencapai jumlah yang sangat
besar (kultur sel) apabila distimulasi oleh antigen spesifik yang jumlahnya
cukup.
Limfosit dibentuk di dalam sumsum tulang belakang dan
berdiferensiasi menjadi sel limfosit T dan limfosit B. Secara umum
limfosit dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu sel B, sel T, dan
sel natural killer (NK).
Sel B dan sel T mempunyai reseptor pada
permukaan yang mampu mengenal antigen tertentu, sedangkan sel NK
tidak memiliki reseptor untuk mengenal antigen. Pada manusia normal, sel
limfosit B berjumlah 5-15% dan sel limfosit T berjumlah sekitar 65-80%
dari jumlah total limfosit dalam tubuh. Kedua sel tersebut berperan respon
spesifik di mana sel B berperan di dalam respon imun humoral dan sel T
berfungsi dalam sistem imun seluler. Sedangkan sel natural killer berperan
dalam respon imun nonspesifik (Harris, 1991).
a. Sel Limfosit B
Sel limfosit B adalah sel limfosit yang berasal dari sel
hematopoetik di sumsum tulang belakang dan berdiferensiasi di dalam
jaringan ekuivalen bursa, seperti di dalam hati atau limfa pada mamalia
dan organ limfoid dekat kloaka pada unggas. Sel B menyusun sekitar
5-15% dari jumlah total limfosit dalam tubuh yang banyak terdat pada
pembuluh darah periferi, sumsum tulang, jaringan limfoid periferi, dan
tonsil.
39
Di dalam menjalankan fungsi kekebalan humoral, sel B bersifat
spesifik terhadap antigen (senyawa asing) dan akan membesar
membentuk limfoblast. Beberapa di antaranya membentuk plasmoblast
yang kemudian membentuk banyak sel plasma. Sel plasma inilah yang
mensintesis antibodi. Antibodi tersebut kemudian disekresikan ke
dalam limfa dan menuju ke sistem sirkulasi. Antibodi ini akan
bersirkulasi sebagai protein Ȗ-globulin yang bebas di dalam plasma.
Demikian halnya yang terjadi pada limfosit B yang baru dibentuk dari
limfoblast sehingga jumlah antibodi yang lebih banyak dapat terbentuk
yang dihadapkan pada antigen yang sama.
Setelah menerima rangsangan dari antigen atau mitogen, sel
limfosit B akan mengalami proses perkembangan melalui dua jalur,
antara lain 1) berdiferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan
imunoglobulin, dan 2) membelah lalu kembali dalam keadaan istirahat
sebagai sel limfosit B memori. Rangsangan berikutnya pada sel limfosit
B memori ini menyebabkan sel limfosit B berproliferasi menjadi sel
plasma yang mensekresikan imunoglobulin spesifik (Roitt, 1971).
Sel limfosit B mampu mengenal antigen yang berkadar sangat
rendah. Hal ini dikarenakan sel B dewasa memiliki imunoglobulin
permukaan (surface Ig atau sIg) yang berperan sebagai reseptor.
Dengan proses endositosis, antigen yang ditangkap sIg akan masuk ke
dalam sitoplasma, kemudian akan diproses membentuk fragmenfragmen. Selanjutnya melalui proses eksositosis, fragmen antigen ini
akan dipresentasikan lagi pada permukaan membran bersama major
histocompatibility complex kelas II (MHC II) pada sel limfosit T
sehingga sel B dapat berfungsi juga sebagai antigen presenting cell
(APC).
b. Sel Limfosit T
Kekebalan seluler (limfositik) terbentuk apabila suatu antigen
menyentuh dan merangsang limfosit T. Sel T merupakan sel darah putih
yang bersifat nonfagositik yang terbentuk di sumsum tulang belakang
40
dan kemudian berkembang di bagian timus limfosit yang berfungsi
untuk mengenal antigen pada reaksi imun seluler. Secara kasat mata, sel
limfosit T tidak dapat dibedakan bentuk dan ukurannya dengan sel B.
Sel ini menyusun 65-85% dari semua limfosit dalam sirkulasi dan
banyak terdapat di sekitar pembuluh periferi dan limfa (Kimball, 1990).
Sel limfosit T tidak mampu berdiferensiasi menjadi sel plasma,
tetapi tumbuh menjadi sel yang mampu menghasilkan faktor yang
merangsang reaksi perusakan seluler. Faktor-faktor tersebut adalah
faktor penghambat migrasi (MIF atau Migration Inhibiting Factor),
faktor sitotaktik (mencederai berbagai jenis sel), faktor interferon, serta
faktor lainnya, seperti interleukin. Zat-zat ini sebagian akan dilepas
pada interaksi antara limfosit tersensitisasi dengan antigen spesifik yang
sesuai untuk menghancurkan sel asing.
Di dalam proses pendewasaannya, sel T berdiferensiasi menjadi
tiga populasi yang berbeda, yaitu sel Thelper (Th), sel Tsupresor (Ts), dan sel
Tcytotoxic (Tc). Sel Th berfungsi untuk membantu sel B membentuk
antibodi, sel Ts berfungsi untuk menekan aktivitas sel T yang lain dan
sel B dalam pembentukan antibodi, sedangkan sel Tc berperan untuk
menghancurkan sel alogenik dan sel sasaran yang mengandung virus
secara spesifik (Roitt, 1971).
Sel Ts dan Tc merupakan sel T yang kehilangan antigen CD4,
tetapi tetap menunjukkan antigen CD8 sehingga sel Ts dan Tc dikenal
sebagai CD8+. Sebaliknya sel Th merupakan sel T yang kehilangan
antigen CD8, tetapi menunjukkan CD4 sehingga dikenal sebagai CD4+.
Sel T memiliki molekul T-cell antigen reseptor (TCR) yang dapat
mengenali epitop suatu antigen melalui kerjasama dengan molekul
protein permukaan pada APC (Antigen Presenting Cell), yaitu MHC.
Sel T teraktivasi oleh antigen spesifik sehingga terstimulasi untuk
berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel T memori dan berbagai
sel T efektor yang mensekresi berbagai limfokin. Limfokin ini akan
berpengaruh terhadap aktivasi sel B, sel Tc, sel NK, dan sel-sel fagositik
yang terlibat di dalam respon imun.
41
Molekul CD4 pada sel Th merupakan molekul glikoprotein
yang memiliki situs pengikatan khusus mengenali fragmen antigen
yang dipresentasikan oleh APC dengan molekul MHC II misalnya oleh
sel limfosit B. Interaksi seluler kompleks antigen-MHC II bersama
interleukin-1 (IL-1), yang disekresi oleh makrofag, akan mengaktifkan
protein G dan serangkaian proses hidrolisis fosfolipase C dan
mengaktivasi kerja enzim protein kinase C yang berperan mensitesis
IL-2. IL-2 terikat pada molekul reseptor yang baru sehingga terjadi
autostimulasi proliferasi sel Th. Sel Th yang teraktivasi akan
mensekresi interleukin-2, -4, dan -6 serta interferon gamma (IFN-Ȗ)
yang bertugas di dalam proses aktivasi sel B, meliputi proses
pembelahan
dan
diferensiasi.
IL-2
dan
IFN-Ȗ
juga
mampu
meningkatkan aktivitas fagositik dan kemampuan membunuh patogen
pada sel makrofag (Delves et al., 2006).
2. Kultur Sel
Kultur sel merupakan teknik umum yang biasa digunakan untuk
mengembangbiakkan sel secara in vitro (di luar tubuh). Teknik ini berguna
untuk mempelajari atau mengamati sifat-sifat sel di luar tubuh sehingga
mudah untuk dilakukan pengujian terhadapnya. Lingkungan dan bahan
makanan untuk pertumbuhan sel limfosit di luar tubuh ini diusahakan agar
menyerupai keadaan sel di dalam tubuh (in vivo). Oleh karena itu
dibutuhkan komponen-komponen berupa asam amino, glukosa, vitamin,
mineral, garam anorganik dan serum untuk menunjang perkembangan dan
kehidupan sel yang dikultur di luar tubuh (Malole, 1990).
Menurut Freshney (1994), faktor pendukung pertumbuhan sel di
dalam kultur, yaitu media pertumbuhan, serum janin sapi, dan kondisi
lingkungan. Media pertumbuhan mengandung asam amino, glukosa, lipid,
vitamin, mineral, garam, hormon, serta suplemen organik seperti protein,
peptida, dan nukleosida. Media pertumbuhan yang digunakan disesuaikan
dengan jenis sel yang akan ditumbuhkan seperti media RPMI-1640 yang
paling banyak digunakan untuk mengkultur sel limfosit yang merupakan
42
media sintetis yang kaya nutrisi. Kandungan RPMI-1640 secara lengkap
dapat dilihat pada Lampiran 7. Sel membutuhkan media penumbuh yang
dapat
membuat
sel
tersebut
bertahan
hidup,
berkembang,
dan
berdiferensiasi. Fungsi utama media kultur sel adalah mempertahankan pH
dan osmolalitas esensial untuk viabilitas sel, dan juga menyediakan nutrisi
dan energi yang dibutuhkan untuk multiplikasi dan pertumbuhan sel.
Serum janin sapi merupakan serum yang mampu menstimulasi
pertumbuhan sel. Serum janin sapi yang ditambahkan dalam kultur
berkisar antara 5-20% dari jumlah total media kultur. Penambahan serum
ini berfungsi sebagai protein pembawa hormon untuk menstimulasi
pertumbuhan sel serta sebagai faktor yang membantu proses pelekatan sel
dari jaringan atau cairan tubuh. Selain dari sapi, serum yang digunakan
untuk kultur sel limfosit manusia dapat berasal dari kuda ataupun manusia.
Serum yang umum digunakan adalah FBS (Fetal Bovine Serum) yang
merupakan serum janin sapi yang mengandung protein albumin, transferin,
fibronektin, fetuin, polipeptida dan faktor pertumbuhan, lipida, hormon,
metabolit asam amino, piruvat, dan poliamin, serta mineral-mineral.
Pertumbuhan
sel
memerlukan
kondisi
lingkungan
yang
o
mendukung, seperti pH lingkungan 7.4, temperatur 37 C, konsentrasi
oksigen 95%, serta konsentrasi karbon dioksida 5%. Pengaturan pH
lingkungan yang stabil dilakukan dengan penambahan sodium bikarbonat.
Media yang mengandung buffer bikarbonat akan membutuhkan fase gas
yang mengandung CO2 untuk mempertahankan kondisi pH tersebut.
Sedangkan oksigen tetap menjadi faktor utama yang dibutuhkan sel agar
dapat berkembang biak secara normal pada kondisi aerob. Pengaturan
suhu, konsentrasi gas oksigen dan karbon dioksida tersebut untuk
menyamakan kondisi media kultur seperti kondisi di dalam tubuh.
Di samping ketiga faktor yang telah disebutkan di atas,
penambahan antibiotik juga tak kalah penting mempengaruhi kultur sel
limfosit. Antibiotik digunakan untuk mencegah kontaminasi mikroba yang
mungkin terjadi yang dapat menghambat pertumbuhan sel. Beberapa jenis
antibiotik yang umum digunakan adalah gentamisin dan penisilin-
43
streptomisin. Gentamisin merupakan antimikroba untuk bakteri Gram
positif, negatif, dan mikroplasma, penisilin untuk bakteri Gram positif,
sedangkan streptomisin untuk bakteri Gram positif dan negatif.
Gentamisin termasuk ke dalam jenis antibiotika derivat aminoglikosida
dengan spektrum yang luas dan aktif untuk melawan organisme Gram
positif dan Gram negatif. Pemberian jangka pendek gentamisin 0.3-1.0%
secara tunggal tanpa kombinasi di samping biayanya lebih murah juga
sangat efektif untuk melawan organisme berspektrum luas.
3. Proliferasi Sel
Proliferasi adalah proses perbanyakan sel melalui pembelahan sel
(mitosis) dan diferensiasi sebagai respon terhadap antigen atau mitogen.
Pada proses proliferasi dihasilkan sel-sel efektor aktif yang berperan pada
respon spesifik dan atau respon nonspesifik untuk mengeliminasi mikroba
patogen dan zat-zat asing lainnya. Sel limfosit termasuk sel tunggal yang
bertahan baik saat dikultur pada media sederhana dan secara konsisten
tetap dalam tahap diam dan tidak membelah sampai ditambahkan mitogen
ke dalamnya. Proliferasi merupakan fungsi dasar biologis limfosit dan
respon proliferatif secara in vitro yang dapat menggambarkan fungsi
limfosit serta status imun suatu individu.
Kemampuan limfosit untuk berproliferasi atau membentuk klon
menunjukkan secara tidak langsung kemampuan respon imunologik atau
tingkat kekebalan. Jika sel limfosit dikultur dengan penambahan mitogen,
maka limfosit akan akan memberikan respon dengan cara berproliferasi
(memperbanyak diri).
Mitogen adalah agen yang mampu menginduksi pembelahan sel,
baik sel B maupun sel T dalam persentase yang tinggi. Sel limfosit B dan
T mampu berproliferasi seiring stimulasi mitogen ke dalam kultur sel.
Sejumlah mitogen umumnya berasal dari lektin (protein) tumbuhan dan
gula terikat. Lektin mengenali perbedaan glikoprotein pada permukaan
setiap sel, termasuk sel limfosit (Harris, 1991).
44
Beberapa jenis mitogen yang digunakan untuk menstimulir
aktivitas
proliferasi
sel
limfosit
adalah
pokeweed
(PWM),
fitohemoglutinin (PHA), concanavalin A (Con A), dan lipopolisakarida
(LPS) bakteri Garam negatif. Terdapat sejumlah mitogen yang hanya dapat
mengaktivasi sel limfosit B atau sel limfosit T saja, dan ada pula yang
dapat mengaktivasi populasi keduanya. Pokeweed merupakan jenis
mitogen yang mampu mengaktivasi kedua jenis sel limfosit B dan T.
Mitogen PHA dan Con A dapat merangsang transformasi blast
subpopulasi sel T. Sementara LPS akan bereaksi dengan membran plasma
sel B dan menghasilkan aktivitas seluler.
F. Metode Pewarnaan MTT (MTT Assay)
MTT assay merupakan salah satu metode kolorimetri (pewarnaan)
menggunakan pewarna MTT dengan mengukur konsentrasi warna (nilai
absorbansi) produk akhir yang terbentuk menggunakan spektrofotometer.
MTT
yang
memiliki
nama
kimia
[3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-
diphenyltetrazolium bromide] merupakan garam tetrazolium yang dapat
bereaksi secara in vitro dengan enzim suksinat dehidrogenase yang dihasilkan
oleh sel hidup (Mosmann, 1983).
Enzim suksinat dehidrogenase adalah salah satu enzim yang berperan
aktif selama proses respirasi seluler secara aerobik. Enzim suksinat
dehidrogenase merupakan flavoprotein yang mengandung protein dengan
ikatan Fe (besi) dan S (belerang). Enzim ini terikat pada bagian membran
mitokondria yang berfungsi sebagai reduktor selama tahapan siklus Krebs
dan transpor elektron. Pada siklus Krebs, enzim ini menerima hidrogen dari
suksinat dan bertugas menghidrogenasi suksinat menjadi fumarat serta
menghasilkan FADH2. FADH2 yang dibentuk akan mengalami reoksidasi
pada rantai transpor elektron yang berkaitan erat dengan pembentukan energi
(ATP) dalam proses fosforilasi oksidatif (Lehninger, 1982).
Prinsip
metode
pewarnaan
MTT
adalah
mereduksi
garam
monotetrazolium yang berwarna kuning dan larut dalam air oleh enzim
suksinat dehidrogenase yang diproduksi oleh sel hidup menjadi produk akhir
45
kristal biru formazan yang tidak larut air yang kemudian diukur kepekatan
warna biru yang terbentuk dengan menggunakan microplate reader.
Pemecahan MTT menjadi formazan dilakukan oleh enzim suksinat
dehidrogenase di bagian mitokondria sel yang hidup. Absorbansi yang
dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi kristal formazan yang
terbentuk. Nilai absorbansi tersebut memiliki korelasi positif terhadap jumlah
sel yang hidup (Liu et al., 1997).
Menurut Freimoser et al. (1999), MTT assay merupakan metode uji
viabilitas sel kuantitatif yang lebih praktis, cepat, dan efisien dengan hasil
yang cukup akurat dibandingkan dengan menggunakan metode pewarnaan
tryphan blue yang dilakukan secara manual pada pengujian sel fungi. Reduksi
garam
tetrazolium
merupakan
cara
yang
dapat
dipercaya
untuk
mendeterminasi proliferasi sel limfosit. Garam tetrazolium MTT yang
berwana kuning berkurang sebagai akibat proses metabolisme sel, terutama
karena aktivitas kerja enzim suksinat dehidrogenase. Kristal formazan tidak
larut air berwarna biru tua yang terbentuk dapat dilarutkan dengan pelarut
organik, seperti isopropanol, etil asetat, dietil eter, atau n-butanol, dan
kemudian diukur dengan alat spektrofotometer.
Perubahan MTT yang awalnya berwarna kuning menjadi warna biru
tua menandakan adanya sel hidup yang mengeluarkan enzim suksinat
dehidrogenase dan mereduksi pewarna MTT tersebut. Pada sel mati yang
seluruh proses metabolismenya terhenti dan tidak dapat memproduksi enzim
yang dapat mereduksi pewarna MTT, tidak menghasilkan produk akhir
formazan sehingga tidak merubah warna kuning garam tetrazolium.
Perubahan warna yang terjadi kemudian diukur absorbansinya menggunakan
alat microplate reader pada panjang gelombang 570 nm. Reaksi reduksi
pewarna MTT oleh enzim suksinat dehidrogenase yang dihasilkan sel hidup
dapat dilihat pada Gambar 3.
46
Gambar 3. Reaksi reduksi pewarna MTT menjadi formazan (Prosecus, 2006)
Kandungan enzim suksinat dehidrogenase relatif konstan di antara
berbagai sel dengan tipe spesifik sehingga jumlah formazan yang dihasilkan
dapat dipercaya berbanding lurus terhadap jumlah sel. Pengujian jumlah
proliferasi sel limfosit manusia menggunakan MTT assay dengan mengukur
nilai absorbansi yang akan digunakan untuk mendapatkan nilai indeks
stimulasi (IS). Metode ini sering digunakan untuk mengukur proliferasi sel
dan toksisitas sel. Semakin tinggi absorbansi maka semakin tinggi pula nilai
indeks stimulasi yang menandakan semakin banyak jumlah sel limfosit yang
hidup. Sebaliknya, semakin rendah absorbansi maka semakin rendah indeks
stimulasi yang berarti semakin banyak sel limfosit yang mati.
47
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Bahan dan Alat
1. Bahan
Bahan utama yang digunakan di dalam penelitian ini adalah air
minum penambah oksigen. Sampel air minum penambah oksigen yang
digunakan terdiri dari tiga konsentrasi, yaitu 0, 80, dan 130 ppm. Sampel
air minum penambah oksigen 10 ppm sama dengan air minum biasa. Air
minum penambah oksigen berasal dari PT. Royal Kekaltama Beverages
(R&K Beverages), Sukabumi.
Bahan-bahan kimia yang digunakan untuk isolasi dan proliferasi
sel limfosit manusia adalah EDTA 1%, alkohol 70%, histopaque
(SIGMA), media RPMI-1640 (SIGMA) yang telah mengandung
L-glutamin, NaHCO3, Phosphat Buffer Saline (SIGMA), antibiotik
gentamisin (SIGMA), Concanavalin A (SIGMA), lipopolisakarida
Salmonella Typhosa (SIGMA), Fetal Bovine Serum (GIBCO), tryphan
blue, HCl-isopropanol, aquabidest, aquadest, dan garam MTT [3-(4,5dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium bromide] (SIGMA).
Bahan utama yang digunakan adalah sel limfosit manusia yang
diisolasi dan berasal dari darah sukarelawan (responden). Responden
tersebut terdiri dari 25 mahasiswa Departemen Ilmu dan Teknologi
Pangan, Institut Pertanian Bogor.
2. Alat
Alat-alat yang digunakan di dalam penelitian, antara lain oxygen
meter (dari laboratorium QC R&K Beverages), syringe 20 ml (Terumo),
pipet pasteur steril, pipet serological (Falcon), tabung sentrifuse steril
15 ml dan 50 ml (Falcon), mikropipet, tabung vial kecil, mikrotip,
microplate steril dengan 96 sumur (Nunc), membran filter steril 0.2 μm
(Sartorius), pipet Mohr steril 5 dan 10 ml, sentrifuse, laminar flow cabinet,
hemasitometer (Superior), cell counter, mikroskop, inkubator (kondisi
CO2 5%, RH 95%, dan suhu 37oC), dan microplate reader (Bio-Rad).
48
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan sejak bulan Februari sampai dengan bulan
April 2005. Tempat penelitian adalah Laboratorium Biokimia Pangan
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, Laboratorium Terpadu
Fakultas Kedokteran Hewan IPB, dan Laboratorium Klinik Caritas, Bogor.
C. Metode Penelitian
1. Pengukuran Kadar Oksigen Terlarut di dalam Botol
Pengukuran kadar oksigen terlarut di dalam botol dilakukan oleh
bagian Quality Control produsen R&K Beverages. Pengukuran dilakukan
dengan menggunakan alat Orbhiphene Analyzer atau lebih dikenal dengan
Oxygen Meter yang menggunakan sistem komputerisasi. Perlakuan botol
yang diukur kadar oksigen terlarutnya, antara lain pada posisi dibuka
terus-menerus, dimiringkan, dan dibuka lalu ditutup kembali. Pengukuran
dilakukan nonstop secara otomatis setiap 2 jam selama 24 jam.
2. Pemberian Air Minum Penambah Oksigen kepada Responden
Objek penelitian utama ini adalah air minum biasa dan air minum
penambah oksigen. Sedangkan subjek penelitian adalah manusia yang
merupakan mahasiswa Departemen ITP, IPB (dalam hal ini sel darah
manusia). Responden tersebut berjumlah 25 orang, yang terdiri dari
15 orang laki-laki dan 10 orang perempuan berusia antara 21-23 tahun.
Responden tersebut kemudian dibagi menjadi 3 kelompok dengan
perlakuan yang berbeda-beda. Kelompok 1 yang terdiri dari 8 orang,
mengkonsumsi air minum penambah oksigen 10 ppm. Kelompok 2 terdiri
dari 7 orang yang mengkonsumsi air minum penambah oksigen 80 ppm.
Dan yang terakhir kelompok 3 terdiri dari 10 orang, mengkonsumsi air
minum penambah oksigen 130 ppm.
Sebelum
pelaksanaan
intervensi,
masing-masing
mahasiswa
diperiksa kesehatannya terlebih dahulu secara klinis oleh dokter umum.
Setelah dipastikan sehat dan bebas infeksi, mahasiswa tersebut
diperbolehkan menjadi responden untuk penelitian ini. Responden diminta
49
untuk menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) yang
menyatakan bahwa responden bersedia melakukan kewajiban yang
diminta selama penelitian berlangsung. Beberapa hal yang tercantum
dalam MoU tersebut, antara lain jaminan keamanan air minum sebagai
objek penelitian utama. Di samping itu juga berisi pernyataan kesediaan
responden untuk melaksanakan segala ketentuan yang diberlakukan
kepada responden sampai dengan proses pengambilan darah setelah
intervensi selesai, yaitu selama 12 hari.
Intervensi sampel dilakukan kepada semua responden pada masingmasing kelompok. Intervensi dilakukan dengan cara mengkonsumsi
sampel air minum penambah oksigen sebanyak dua kali sehari, yaitu
setelah sarapan dan makan siang selama 12 hari. Setiap konsumsi,
responden diharuskan untuk menghabiskan satu botol sampel air minum
penambah oksigen yang berisi sebanyak 385 ml. Responden penelitian ini
merupakan mahasiswa Departemen ITP yang sedang melakukan penelitian
sebagai tugas akhir di kampus IPB, oleh karena itu pelaksanaan intervensi
sampel air minum penambah oksigen untuk masing-masing kelompok
dilakukan di lingkungan kampus. Sampel air minum diberi kode tertentu
sehingga tiap-tiap responden tidak mengetahui jenis sampel yang
diminumnya (blind sample). Air minum tersebut harus dihabiskan
sekaligus pada waktu itu juga tanpa bersisa sedikitpun untuk memastikan
oksigen terlarut yang masuk bersamaan dengan air minum.
3. Proses Pengambilan Darah
Pengambilan darah dilakukan dua kali, yaitu sebelum dan sesudah
intervensi (pemberian sampel air minum). Proses tersebut dilaksanakan di
laboratorium klinik Caritas, Bogor oleh tenaga medis yang ahli dan
berpengalaman.
Darah diambil secara steril dari masing-masing responden dengan
menggunakan syringe 20 ml yang telah mengandung larutan EDTA 1%
yang berfungsi sebagai antikoagulan. Kemudian darah tersebut digunakan
50
untuk penelitian lebih lanjut, yaitu isolasi dan proliferasi limfosit dengan
menggunakan metode pewarnaan MTT.
4. Persiapan Ruang Kerja dan Laminar Flow Cabinet Steril
Sebelum melakukan kerja steril, ruangan dan laminar flow cabinet
disterilkan terlebih dahulu. Ruang kerja disterilkan dengan proses
pengasapan KMNO4. Sebelum dilakukan pengasapan, dipastikan ruangan
tertutup rapat dan tidak ada celah yang kontak langsung dengan udara luar.
Ruangan diasapi dengan menggunakan KMNO4 bubuk sebanyak
167 gram dan larutan formaldehida 40% sebanyak 1000 ml yang
ditempatkan ke dalam wadah lalu dipanaskan sampai terbentuk asap dan
didiamkan selama 3 hari tanpa dimasuki oleh siapapun. Proses ini
dilakukan untuk mengilangkan kontaminan bakteri dan virus yang berada
di udara dalam ruangan yang dapat mengkontaminasi aktivitas penanganan
sel limfosit di dalam ruang kerja.
Pensterilan laminar flow cabinet dilakukan dengan cara penyinaran
sinar UV selama 15 menit setiap akan digunakan dan juga penyemprotan
alkohol 70% pada permukaan meja laminar flow cabinet. Hal tersebut juga
berlaku untuk peralatan yang akan digunakan selama pengerjaan isolasi
dan proliferasi limfosit di dalam laminar flow cabinet. Cara menjaga
kesterilan laminar flow cabinet adalah dengan mengaliri udara laminar di
dalamnya untuk mencegah kontaminasi dengan udara luar.
5. Pembuatan Larutan Pereaksi dan Media Kultur Sel (Mosmann, 1983)
Pembuatan media dan tahap-tahap selanjutnya dalam analisis
limfosit dilakukan di dalam laminar flow cabinet yang steril dan dialiri
oleh udara laminar. Sebelum digunakan, ruangan dan peralatan disinari
terlebih dahulu dengan sinar UV selama 15 menit.
a. Persiapan Media Kultur Sel Limfosit
Media yang digunakan untuk kultur dan pemeliharaan sel
limfosit berupa 10.42 gram RPMI-1640 bubuk yang telah mengandung
51
L-glutamin. Bubuk tersebut dilarutkan dengan aquabidest steril
sehingga diperoleh 1 liter larutan RPMI-1640. Kemudian ditambahkan
2 gram NaHCO3 dan 1% antibiotik gentamisin. Larutan yang sudah
bercampur disterilisasi dengan membran filter 0.2 μm steril, maka
didapatkan larutan RPMI-1640 steril yang digunakan untuk isolasi sel
limfosit. Untuk media pertumbuhan dan pemeliharaan sel limfosit
digunakan media larutan RPMI-1640 di atas dengan penambahan fetal
bovine serum (FBS) 10% steril.
b. Pembuatan Larutan MTT 0.5 %
Sebesar 0.05 gram garam MTT bubuk dicampurkan dengan PBS
sebanyak 10 ml. Kemudian larutan pewarna liquid yang telah homogen
tersebut disterilkan dengan melewatkan larutan MTT ke dalam
membran fiter steril berukuran 0.2 μm.
c. Pembuatan Larutan Phosphate Buffer Saline (PBS)
Satu sachet PBS bubuk dengan pH 7.4 dilarutkan dalam 1 liter
aquabidest. Setelah itu, larutan PBS dilewatkan melalui membran steril
berukuran 0.2 μm sehingga didapatkan larutan yang steril. Komposisi
PBS terdiri dari NaCl, KCl, KH2PO4, Na2HPO4, serta Na2HPO4.2H2O.
d. Pembuatan Larutan HCl-Isopropanol 0.04 N
Sebanyak 23.4 μm HCl pekat (37% p.a) dipipet dan
ditambahkan dengan isopropanol p.a 8.9766 ml. Setelah itu larutan
diaduk sampai homogen dan siap digunakan. Larutan ini baru dibuat
jika akan digunakan saja dan tidak dapat disimpan.
e. Pembuatan Larutan Tryphan Blue 0.2%
52
Pewarna tryphan blue bubuk sebanyak 0.05 gram dilarutkan
dengan 20 ml PBS. Setelah diaduk sampai homogen, larutan pewarna
tersebut dilewatkan melalui membran filter steril 0.2 μm.
6. Pengujian Proliferasi Sel Limfosit
a. Isolasi Limfosit (Fisher et al., 1998)
Darah dari dalam syringe dipindahkan ke dalam tabung
sentrifuse steril kemudian disentrifuse dengan kecepatan 1500 rpm
selama 10 menit. Bagian tengah (lapisan buffycoat) yang berisi sel-sel
limfosit diambil perlahan-lahan dengan pipet pasteur kemudian
ditambahkan 3 ml media RPMI-1640.
Histopaque dimasukkan ke dalam tabung sentrifuse, kemudian
diletakkan perlahan-lahan campuran lapisan buffycoat dan media
RPMI-1640 di atasnya dengan perbandingan 1:1. Selanjutnya
disentrifuse dengan kecepatan 2500 rpm selama 30 menit. Hasil
sentrifuse didapatkan lapisan putih seperti cincin antara histopaque dan
RPMI-1640.
Lapisan putih diambil dengan pipet pasteur ke dalam tabung
ssntrifuse dan ditambahkan 5 ml RPMI-1640, kemudian disentrifuse
dengan kecepatan 1000 rpm selama 10 menit. Supernatan dibuang, lalu
pada bagian pelet ditambahkan RPMI-1640 dan disentrifuse kembali
dengan kecepatan 1000 rpm selama 10 menit. Pencucian limfosit ini
dilakukan dua kali sehingga diperoleh kemurnian suspensi sel limfosit
yang tinggi.
b. Penghitungan Sel Limfosit (Fisher et al., 1998)
Sebelum dilakukan kultur sel limfosit, terlebih dahulu dilakukan
penghitungan sel limfosit secara manual dengan menggunakan pewarna
tryphan blue. Sebanyak 50 μl suspensi sel limfosit ditempatkan ke
dalam sumur microplate dan ditambahkan 50 μl tryphan blue ke
dalamnya. Penghitungan sel limfosit dilakukan dengan menggunakan
hemasitometer di bawah mikroskop dengan perbesaran 400 kali.
53
Jumlah sel limfosit yang dapat dihitung harus lebih besar dari
95% berupa sel limfosit hidup yang berwarna terang. Limfosit yang
diperoleh akan digunakan untuk analisis proliferasi sel B dan sel T.
Penghitungan sel limfosit dengan hemasitometer dapat dilakukan
dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
N = A x FP x 104 sel/ml
Keterangan : N = jumlah sel limfosit/ml
A = jumlah sel hidup rata-rata per kotak 0.1 mm3
FP = faktor pengenceran
c. Proliferasi Sel Limfosit dengan Metode MTT (Mosmann, 1983)
Jumlah sel limfosit dari masing-masing responden ditepatkan
menjadi 2 x 106 sel/ml dengan media sintetik RPMI-1640. Ke dalam
tiap sumur microplate dimasukkan 100 μl suspensi sel dari masingmasing responden. Kemudian ditambahkan masing-masing ke dalam
sumur, 80 μl larutan mitogen Concanavalin A 25 μg/ml untuk
pengujian proliferasi sel T atau 80 μl larutan mitogen LPS Salmonella
Typhosa 25 μg/ml untuk pengujian proliferasi sel B, sehingga diperoleh
konsentrasi dalam kultur 10 μg/ml konsentrasi Con A dan LPS di tiaptiap sumur. Sebagai kontrol hanya ditambahkan 80 μl media RPMI1640, tanpa penambahan mitogen. Selanjutnya ditambahkan ke masingmasing sumur 20 μl FBS sehingga volume total tiap sumur berisi 200 μl
kultur. Kultur diinkubasi selama 48 jam dalam inkubator bersuhu 37oC
dengan kandungan atmosfer yang mengandung 5% CO2 dan RH 95%.
Pengujian aktivitas proliferasi sel limfosit ini dilakukan dengan
menggunakan metode MTT. Sebelum masa inkubasi berakhir, 6 jam
sebelumnya, ke dalam masing-masing sumur ditambahkan 10 μl MTT
dengan konsentrasi 0.5% dan diinkubasi kembali pada kondisi yang
sama selama 6 jam. Pada akhir masa inkubasi, ditambahkan 80 μl HClisopropanol 0.04 N, setelah itu dilakukan pembacaan sel dengan alat
54
microplate reader pada panjang gelombang 570 nm. Nilai indeks
stimulasi (IS) dapat dihitung dengan persamaan seperti berikut ini :
IS =
OD sel perlakuan mitogen
OD sel kontrol
7. Analisis Statistik
Pengujian penelitian konsumsi air minum penambah oksigen ini
dilakukan dengan membandingkan nilai indeks stimulasi (IS) proliferasi
sel limfosit B dan T setelah intervensi (IS akhir) dan sebelum intervensi
(IS awal). Pengujian ini dilakukan pada responden kelompok 1 (10 ppm),
2 (80 ppm), dan kelompok 3 (130 ppm). Pengukuran nilai IS awal adalah
sebelum intervensi dan pengukuran nilai IS akhir 12 hari setelah intervensi
pada responden manusia. Analisis statistik terhadap nilai IS sebelum dan
sesudah menggunakan analisis sidik ragam Paired Sample T-Test untuk
menentukan perbedaan nyata pada taraf uji 5%.
55
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kadar Oksigen Terlarut di dalam Botol
Kandungan standar oksigen terlarut di dalam botol air minum
penambah oksigen adalah 80 ppm. Pada penelitian ini dilakukan pengujian air
minum penambah oksigen 10 ppm, 80 ppm dan 130 ppm untuk mengetahui
pengaruh yang ditimbulkan terhadap proliferasi sel limfosit manusia. Di
dalam penelitian ini dilakukan pula pengujian terhadap air minum penambah
oksigen dengan kadar oksigen terlarut 130
ppm selama 24 jam dengan
beberapa perlakuan. Pengujian tersebut dilakukan untuk mengetahui
penurunan kadar oksigen terlarut selama masa penyimpanan. Dengan
demikian pihak produsen berupaya untuk menjamin klaim produk air minum
penambah oksigen yang mengandung tidak kurang dari 80 ppm oksigen
terlarut di dalam kemasannya.
Selama masa penyimpanan terdapat beberapa faktor yang dapat
menyebabkan terjadinya penurunan oksigen terlarut. Kemungkinan botol
kemasan yang terpapar sinar matahari secara langsung akan menyebabkan
oksigen akan mudah menguap. Kemungkinan lain terjadi benturan atau
goncangan di dalam botol yang dapat menurunkan konsentrasi oksigen di
dalam air. Penanganan produk pada saat di tangan konsumen juga ikut
berpengaruh terhadap kadar oksigen terlarut dalam botol. Ada berbagai
macam cara yang dilakukan konsumen selama mengkonsumsi air minum
penambah oksigen ini yang menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut,
seperti membuka tutup botol terlalu lama sebelum meminum produk,
mengkonsumsi produk tidak langsung habis tetapi dilakukan berkali-kali,
serta meminum produk langsung ke mulut dengan posisi miring.
Pengukuran kadar oksigen terlarut dilakukan untuk mengetahui
kestabilan jumlah oksigen terlarut yang terkandung di dalam botol air minum
penambah oksigen pada selang waktu dan keadaan tertentu. Adapun hasil
pengukuran menunjukkan bahwa kadar oksigen terlarut cenderung menurun
dari waktu ke waktu dengan beberapa jenis perlakuan, yaitu dimiringkan,
dibuka lalu ditutup, dan yang dibiarkan terbuka. Hasil pengukuran kadar
56
oksigen terlarut di dalam botol air minum penambah oksigen disajikan secara
lengkap pada Lampiran 8. Grafik penurunan kadar oksigen terlarut di dalam
botol yang berlangsung selama 24 jam dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Grafik kadar oksigen terlarut di dalam botol selama 24 jam
Berdasarkan data lengkap pada Lampiran 8 dan grafik pada Gambar 4
dapat dilihat penurunan kadar oksigen terlarut dalam botol pada perlakuan
posisi botol dimiringkan, yaitu pada selang waktu 2 jam setelah botol dibuka
dan dilakukan pengukuran kadar oksigen pertama kali. Kadar oksigen terlarut
turun menjadi 84.3 ppm dari kondisi awal dua jam sebelumnya 135.0 ppm,
berarti terjadi penurunan sebanyak 50.7 ppm. Sedangkan pada posisi dibuka
terus-menerus dan dibuka lalu ditutup, penurunan jumlah oksigen terlarut
setelah dua jam hanya sedikit, masing-masing 19 dan 18 ppm.
Pada kondisi botol yang dibuka secara terus-menerus, jumlah oksigen
mencapai > 80 ppm lebih tepatnya 80.4 ppm setelah 14 jam sejak botol
dibuka pertama kali. Pada posisi botol dimiringkan, kadar oksigen terlarut
dalam botol air minum mencapai > 80 ppm hanya sampai dua jam setelah
botol dibuka. Setelah
empat jam botol dibuka, kandungannya menurun
drastis menjadi 44.4 ppm. Sedangkan pada kondisi botol yang dibuka dan
ditutup selama 24 jam penurunan yang terjadi maksimum hanya 55.5 ppm
dari jumlah awal oksigen terlarut. Bahkan setelah 24 jam tersebut, kandungan
57
oksigen terlarut masih berada di atas 80 ppm yang merupakan klaim
kandungan minimum produk air minum penambah oksigen yang diuji.
Pengukuran kadar oksigen terlarut di dalam botol air minum
penambah oksigen dilakukan oleh Quality Control produsen R&K Beverages
dengan menggunakan alat Orbisphere Analyzer (Oxygen meter) dengan
sistem komputerisasi. Alat yang digunakan untuk mengukur kadar oksigen
terlarut dalam botol dapat dilihat pada pada Gambar 5.
Gambar 5. Orbisphere Analyzer (Oxygen meter) (R&K Beverages)
Penurunan jumlah oksigen terlarut tersebut merupakan hal yang wajar
karena seperti diketahui bahwa oksigen berwujud gas yang sifatnya mudah
menguap. Di samping itu adanya perbedaan sifat antara air dan oksigen, di
mana molekul air yang bersifat polar, sedangkan oksigen yang bersifat non
polar sehingga ikatan antara keduanya tidak cukup kuat yang mengakibatkan
molekul oksigen mudah terurai dan menguap (Thomas, 2005). Meskipun
oksigen bersifat non polar, namun oksigen dapat berikatan dengan air yang
bersifat polar karena oksigen membentuk momen dipol listrik. Akan tetapi
tetap saja ikatan yang terbentuk merupakan ikatan lemah sehingga oksigen
mudah lepas.
Dengan demikian untuk mengatasi oksigen yang tidak terserap dengan
baik maka didapatkan cara mengkonsumsi air minum penambah oksigen ini
dengan menggunakan sedotan dan diminum sekaligus sampai habis saat itu
58
juga. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan jumlah oksigen terlarut yang
masuk ke dalam tubuh sehingga dapat dilakukan penelitian lanjutan mengenai
pengaruh oksigen tersebut terhadap jumlah limfosit manusia yang
berpengaruh kepada keamanan mengkonsumsi air minum penambah oksigen
bagi manusia.
B. Konsumsi Air Minum Penambah Oksigen
Selama perlakuan berlangsung terhadap semua responden mahasiswa
Ilmu dan Teknologi Pangan, diberikan asupan makanan dan air minum
penambah oksigen masing-masing dua botol (1 botol berisi 385 ml) setiap
hari selama 12 hari. Penyeragaman terhadap responden dilakukan semaksimal
mungkin untuk menghindari terjadinya bias antara responden yang satu
dengan yang lainnya selama perlakuan. Sebelum dilakukan intervensi, semua
responden dikumpulkan terlebih dahulu dan diberikan pengarahan mengenai
segala hal yang berkaitan dengan penelitian ini, termasuk yang boleh dan
tidak boleh dilakukan oleh responden.
Konsumsi makanan berusaha untuk diseragamkan pada saat sarapan
dan makan siang yang dilakukan di lingkungan kampus diikuti dengan proses
intervensi blind sample air minum penambah oksigen. Mengingat subjek
penelitian merupakan mahasiswa yang tidak tinggal pada tempat yang sama,
sehingga untuk makan malam diberikan kebebasan dengan tidak menetapkan
jenis makanan yang sama untuk responden.
Pembatasan juga diberlakukan terhadap aktivitas harian masingmasing responden. Mereka diperbolehkan untuk melakukan aktivitas sesuai
dengan
kepentingan
dan
kewajiban
masing-masing,
namun
tidak
diperkenankan untuk merokok, minum alkohol, melakukan aktivitas fisik
terlalu berat atau maksimal, ataupun berjaga tidak tidur sampai larut malam
(begadang). Oleh karena seluruh responden merupakan mahasiswa, maka
aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan didominasi oleh kegiatan di
kampus yang secara umum tergolong pada pekerjaan ringan sampai
menengah yang tidak terlalu mengeluarkan banyak energi.
59
Berbagai ketentuan tersebut sesuai dengan isi surat perjanjian atau
MoU (Memorandum of Understanding) yang telah disepakati oleh kedua
belah pihak, yaitu penulis selaku peneliti dan pihak responden sebagai subjek
penelitian ini. Dengan adanya surat perjanjian, maka responden memiliki
kewajiban untuk memenuhi dan mengikuti prosedur yang ditetapkan selama
intervensi berlangsung, yaitu selama 12 hari.
C. Keadaan Umum Responden
Jumlah responden secara keseluruhan adalah 25 orang. Mereka terdiri
15 orang pria dan 10 orang wanita dengan usia antara 21-24 tahun. Semua
responden merupakan mahasiswa Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan,
IPB yang sedang menyelesaikan tugas akhir pada tahun 2005. Para responden
tersebut dibagi ke dalam tiga kelompok perlakuan, yaitu kelompok 1 sebagai
kontrol yang mengkonsumsi air minum penambah oksigen dengan
konsentrasi oksigen terlarut 10 ppm, kelompok 2 yang mengkonsumsi air
minum penambah oksigen 80 ppm, dan kelompok 3 yang mengkonsumsi air
minum penambah oksigen 130 ppm.
Sebelum dilakukan intervensi sampel uji, terlebih dahulu dilakukan
pemeriksaan klinis serta pengukuran antropometri oleh seorang dokter umum
terhadap masing-masing responden. Pemeriksaan klinis yang dilakukan
meliputi pemeriksaan kesehatan fisik organ luar, seperti mata, lidah, telinga,
dan denyut jantung, pemeriksaan laju pernafasan, pengukuran tekanan darah,
pengukuran suhu tubuh, serta wawancara riwayat kesehatan masing-masing
responden. Dari pemeriksaan tersebut didapatkan hasil bahwa secara
keseluruhan responden dalam kondisi sehat jasmani dan tidak menderita
penyakit apapun.
D. Analisis Proliferasi Sel Limfosit B dan Limfosit T Manusia
Limfosit merupakan salah satu sel imun dari kelompok sel darah putih
yang bertanggung jawab terhadap pertahanan tubuh manusia untuk melawan
penyakit. Aktivitas sel imun secara umum dapat dilihat pada Lampiran 9. Sel
limfosit memiliki peranan penting dalam proses respon imun spesifik karena
60
dapat mengenal setiap jenis antigen, baik antigen intraseluler maupun
ekstraseluler, seperti antigen di dalam darah atau di dalam cairan tubuh
lainya. Fungsi utama limfosit adalah memberikan respon terhadap antigen
(benda-benda asing) dengan membentuk antibodi yang bersirkulasi di dalam
darah atau dalam pengembangan imunitas seluler (Paul, 2008).
Proliferasi merupakan salah satu bentuk aktivitas sel hidup. Pada sel
limfosit, proliferasi merupakan fungsi dasar biologis limfosit dan respon
proliferatif secara in vitro yang dapat menggambarkan fungsi limfosit serta
status imun suatu individu. Kemampuan limfosit untuk berproliferasi atau
membentuk klon menunjukkan secara tidak langsung kemampuan respon
imunologik atau tingkat kekebalan. Jika sel limfosit dikultur dengan
penambahan mitogen, maka limfosit akan akan memberikan respon dengan
cara berproliferasi (memperbanyak diri).
Pengukuran jumlah proliferasi sel limfosit manusia yang dilakukan di
dalam penelitian ini untuk mengetahui kemungkinan radikal bebas yang
terbentuk oleh oksigen dari air minum penambah oksigen dapat menghambat
proses proliferasi sel limfosit B dan T manusia. Jika proliferasi limfosit
terhambat maka jumlah sel limfosit di dalam tubuh akan menurun. Hal
tersebut akan menyebabkan terganggunya respon imun spesifik, yang
dilakukan oleh sel limfosit B dan T sehingga akan mempengaruhi
keseimbangan fungsi kerja sistem imun secara keseluruhan. Gangguan sistem
imun dapat mempengaruhi status kesehatan seseorang di mana tubuh akan
menjadi sangat rentan terhadap penyakit dan bahkan dapat menyebabkan
kematian (Harris, 1991).
Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat kemungkinan dampak
negatif yang timbul dari konsumsi air minum penambah oksigen secara
teratur terhadap sel limfosit B dan T yang berperan dalam respon imun
spesifik. Pengukuran proliferasi dilakukan dengan metode kolorometri MTT
yang menggunakan indeks stimulasi sebagai indikator jumlah sel hidup.
Metode ini sudah banyak digunakan untuk mengukur proliferasi sel, termasuk
sel limfosit. Menurut Freimoser et al., (1999), metode ini cukup akurat
dibandingkan metode konvensional yang menggunakan pewarna tryphan blue
61
untuk mengukur proliferasi sel limfosit. Prinsip metode ini adalah dengan
mengukur produk akhir biru formazan akibat adanya aktivitas enzim suksinat
dehidrogenase yang mereduksi MTT (garam tetrazolium) yang berwarna
kuning.
a. Proliferasi Sel Limfosit B
Limfosit B yang berperan sebagai mediator imunitas humoral,
mengalami transformasi menjadi sel plasma dan memproduksi antibodi.
Antibodi yang dihasilkan digunakan untuk melawan antigen (senyawa
asing), berupa bakteri dan senyawa toksin yang masuk ke dalam tubuh.
Sel limfosit B dapat berproliferasi secara in vitro dengan baik dengan
adanya mitogen lipopolisakarida (LPS) bakteri Gram negatif atau mitogen
pokeweed (PWM). Mitogen ini merupakan substansi kimia yang secara
umum dapat berupa protein atau lektin yang dapat menstimulasi
pembelahan sel secara mitosis. Menurut Harris (1991), LPS merupakan
mitogen yang spesifik mampu menstimulasi sel B saja tetapi tidak bersifat
mitogenik pada sel T, sedangkan PWM dapat digunakan untuk
menstimulasi sel B maupun sel T. Di dalam penelitian ini digunakan
mitogen LPS Salmonella Typhosa untuk menstimulasi aktivitas proliferasi
sel limfosit B.
Pada umumnya beberapa jenis lipopolisakarida bakteri Gram
negatif dapat digunakan untuk menstimulir proliferasi sel limfosit B,
seperti LPS E. coli, LPS S. Typhi, dan LPS S. Typhosa. Mitogen LPS
memiliki efek imunogenik yang mampu menstimulasi aktivitas proliferasi
sel limfosit B meskipun dalam dosis yang kecil (Snow, 1991). LPS atau
lipopolisakarida merupakan komponen penyusun dinding sel bakteri Gram
negatif yang mampu menginduksi aktivitas proliferasi sel makrofag dan
sel B. Prinsip kerja mitogen adalah menginduksi sintesis DNA sel limfosit
B, merangsang aktivitas perbanyakan diri, serta menstimulir sintesis
antibodi yang dihasilkan oleh sel B
Setelah sel B limfosit terpapar oleh mitogen LPS, maka terjadi
perkembangan menjadi dua jalur. Jalur pertama, limfosit akan langsung
62
berdiferensiasi menjadi sel plasma dan membentuk antibodi (Ig) yang
berfungsi sebagai respon imun, kemudian sel akan membelah lalu kembali
dalam keadaan istirahat menjadi sel B memori. Jalur berikutnya,
rangsangan mitogen akan membuat sel B memori yang sedang beristirahat
menjadi aktif yang menandakan sel B melakukan respon proliferasi
menjadi sel plasma dan mensekresikan Ig spesifik (Harris, 1991)
Pada penelitian konsentrasi mitogen LPS Salmonella Typhosa
yang digunakan 25 μg/ml yang ditambahkan sebanyak 80 μl ke dalam
kultur sel yang berarti setiap kultur sel mengandung 10 μg/ml. Hal tersebut
berdasarkan yang dikatakan oleh Snow (1991) bahwa penggunaan mitogen
LPS Salmonella Typhosa sebanyak 10 μg/ml dapat menunjukkan aktivitas
proliferasi sel limfosit B enam kali lebih banyak daripada sel limfosit
normal. Jadi konsentrasi tersebut cukup untuk melihat aktivitas proliferasi
sel B. Penggunaan konsentrasi mitogen yang lebih tinggi akan semakin
meningkatkan aktivitas proliferasi sel B. Oleh karena itu konsentrasi
mitogen sebanyak 10 μg/ml kultur sel banyak digunakan dalam berbagai
penelitian untuk menguji pengaruh suatu zat atau bahan (seperti zat yang
bersifat antioksidan) terhadap aktivitas proliferasi sel limfosit B, baik pada
hewan percobaan atau pada manusia.
Pengujian proliferasi sel limfosit B ini dilakukan untuk mengetahui
pengaruh yang dapat timbul dari konsumsi air minum penambah oksigen
secara teratur terhadap sistem imun spesifik, terutama respon imun
humoral yang dijalankan oleh sel B. Di samping itu untuk membuktikan
kemungkinan radikal bebas yang dapat terbentuk karena konsumsi air
minum penambah oksigen yang dapat merusak atau tidak sel-sel tubuh,
termasuk di dalamnya sel limfosit yang berperan sebagai garda utama
sistem imun manusia. Kemungkinan kerusakan sel limfosit akan
mempengaruhi status imun seseorang sehingga tubuh menjadi sangat
rentan terhadap penyakit.
63
b. Nilai Indeks Simulasi Proliferasi Sel Limfosit B
Analisis proliferasi limfosit sel B dilakukan dengan menggunakan
metode pewarnaan MTT. Semua sel hidup termasuk sel limfosit memiliki
enzim suksinat dehidrogenase yang dapat bereaksi dengan senyawa MTT
untuk menghasilkan kristal formazan yang berwarna biru. Kristal
formazan ini merupakan indikator jumlah sel hidup, dalam hal ini sel
limfosit hidup. Pengukuran kristal formazan dilakukan menggunakan
microplate reader dengan mengukur nilai absorbansinya. Semakin tinggi
nilai absorbansi maka semakin tinggi pula nilai indeks stimulasinya yang
menandakan jumlah sel hidup limfosit pun semakin banyak dan semakin
tinggi aktivitasnya (Liu et al., 1997).
Indeks stimulasi dengan metode MTT merupakan rasio atau
perbandingan antara banyaknya jumlah formazan yang diserap oleh sel
yang dikultur dengan media pertumbuhan sel yang berisi mitogen atau
antigen terhadap jumlah formazan yang diserap oleh sel yang dikultur
dengan media pertumbuhan saja. Dari nilai IS proliferasi sel limfosit B
sebelum dan sesudah intervensi air minum penambah oksigen terlihat
bahwa semua perlakuan, baik kelompok 1 (10 ppm), kelompok 2
(80 ppm), serta kelompok 3 (130 ppm) menunjukkan peningkatan nilai IS.
Data lengkap nilai IS proliferasi sel B kelompok 1 dapat dilihat pada
Lampiran 10, sedangkan nilai IS rata-ratanya dapat dilihat pada
Lampiran 11.
Nilai IS proliferasi sel B awal sebelum intervensi pada responden
kelompok 1 (konsumsi air minum penambah oksigen 10 ppm) berkisar
antara 0.834-1.145, sedangkan setelah intervensi nilai IS akhir proliferasi
sel B berkisar antara 0.943-1.432. Hubungan nilai indeks stimulasi
proliferasi sel B sebelum dan sesudah intervensi pada responden kelompok
1 dapat dilihat pada Gambar 6.
64
Gambar 6. Histogram hubungan nilai IS proliferasi sel B yang dikultur
dengan LPS S. Typhosa sebelum dan sesudah intervensi air
minum penambah oksigen 10 ppm kelompok 1
Berdasarkan uji statistik menggunakan Paired Samples T-Test
dengan membandingkan nilai IS awal dan akhir responden kelompok 1
yang mengkonsumsi air minum penambah oksigen 10 ppm menunjukkan
nilai IS awal rata-rata proliferasi sel B kelompok 1 sebesar 0.986 dan nilai
IS akhir rata-rata setelah intervensi meningkat secara nyata (p<0.05)
menjadi 1.179. Selisih nilai indeks rata-rata awal dan akhir intervensi
sebesar
0.193.
Hasil
statistiknya
disajikan
lebih
lengkap
pada
Lampiran 16.
Peningkatan jumlah proliferasi sel B responden kelompok 1 pada
akhir intervensi memiliki arti bahwa konsumsi air minum penambah
oksigen 10 ppm ini signifikan dalam meningkatkan jumlah proliferasi sel
limfosit B. Aktivitas proliferasi sel limfosit B yang meningkat tersebut
merupakan hal yang wajar di mana responden kelompok 1 mengkonsumsi
air minum penambah oksigen 10 ppm yang tidak lain adalah air minum
biasa. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya air minum biasa sama
halnya seperti air minum dalam kemasan pada suhu ruang memiliki
kandungan oksigen sekitar 7-12 mg/l. Peningkatan proliferasi yang terjadi
lebih dipengaruhi oleh status kesehatan responden. Pada kondisi normal, di
65
mana asupan makanan dan minuman seimbang, baik dari segi kualitas dan
kuantitas, serta kondisi tubuh yang fit dan sehat, proliferasi sel limfosit
akan berjalan dengan baik dan normal. Responden yang menjalankan pola
makan yang sehat, contohnya mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan
yang mengandung antioksidan dalam jumlah yang cukup, dapat
menstimulasi proliferasi sel limfosit. Di samping itu, kegiatan dan
kebiasaan responden sehari-hari pun akan berpengaruh terhadap proliferasi
limfosit. Misalkan responden yang melakukan aktivitas fisik yang berat
serta pola hidup yang tidak sehat cenderung akan menghasilkan radikal
bebas yang dapat merusak sel-sel tubuh, termasuk sel limfosit.
Pada responden kelompok 2 (konsumsi air minum penambah
oksigen 80 ppm), di dapatkan hasil bahwa nilai IS proliferasi sel B awal
sebelum intervensi berkisar antara 0.712-1.155. Sedangkan nilai IS akhir
proliferasi sel B setelah intervensi berkisar antara 0.936-1.147. Histogram
nilai indeks stimulasi proliferasi sel B sebelum dan sesudah intervensi
pada responden kelompok 2 dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Histogram hubungan nilai IS proliferasi sel B yang dikultur
dengan LPS S. Typhosa sebelum dan sesudah intervensi air
minum penambah oksigen 80 ppm kelompok 2
66
Nilai IS awal rata-rata proliferasi sel limfosit B pada responden
kelompok 2 yang mengkonsumsi air minum penambah oksigen 80 ppm
adalah 0.954 dan meningkat menjadi 1.038 setelah intervensi. Dari hasil
tersebut didapatkan nilai IS akhir rata-rata lebih tinggi dari nilai IS ratarata awal dan terdapat selisih sebesar 0.084. Data lengkap nilai IS
proliferasi sel B kelompok 2 sebelum dan setelah intervensi dapat dilihat
pada Lampiran 12, sedangkan nilai IS rata-ratanya dapat dilihat pada
Lampiran 13.
Uji
sidik
ragam
menggunakan
Paired
Samples
T-Test
menunjukkan hasil bahwa nilai IS rata-rata pada responden kelompok 2
yang mengkonsumsi air minum penambah oksigen 80 ppm tidak
signifikan (p>0.05) antara sebelum dan sesudah intervensi. Hal tersebut
menandakan bahwa jumlah proliferasi sel limfosit B antara sebelum
perlakuan dan sesudah mengalami perlakuan tidak berbeda nyata. Keadaan
ini dapat diartikan bahwa mengkonsumsi air minum penambah oksigen
dengan konsentrasi oksigen terlarut 80 ppm tidak menurunkan proliferasi
sel limfosit. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa air minum
penambah oksigen 80 ppm aman untuk dikonsumsi secara teratur dan tidak
terbukti menurukan jumlah sel limfosit B sebagai salah satu sel imun
manusia. Untuk hasil uji sidik ragam lebih lengkap dapat dilihat pada
Lampiran 17.
Hasil analisis ini melengkapi penelitian yang dilakukan oleh
Fitriany (2005) yang menyatakan bahwa konsumsi air minum penambah
oksigen tidak menyebabkan terjadinya kerusakan DNA pada sel limfosit
manusia dan tikus. Begitu juga dengan hasil penelitian Speit et al. (2002)
yang mengatakan bahwa oxygenated water tidak menyebabkan efek
genotoksik pada sel V79 Chinese hamster yang diuji menggunakan metode
alkaline comet assay (single cell gel electrophoresis).
Perlakuan pada kelompok 3 menggambarkan bahwa responden
mengkonsumsi air minum penambah oksigen pada konsentrasi oksigen
terlarut cukup tinggi, yaitu 130 ppm sebanyak dua kali sehari selama
12 hari. Hasil pengukuran menggunakan metode MTT didapatkan bahwa
67
terjadi peningkatan nilai IS sesudah intervensi dibandingkan dengan nilai
IS sebelum intervensi. Nilai IS proliferasi sel B awal sebelum intervensi
pada responden kelompok 3 (konsumsi air minum penambah oksigen
130 ppm) berkisar antara 0.899-1.240, sedangkan setelah intervensi nilai
IS akhir proliferasi sel B berkisar antara 0.954-1.274. Data lengkap nilai IS
serta nilai IS rata-rata proliferasi sel B responden kelompok 3 sebelum dan
sesudah intervensi dapat dilihat pada Lampiran 14 dan Lampiran 15.
Sedangkan histogram hubungan nilai indeks stimulasi proliferasi sel B
sebelum dan sesudah intervensi pada responden kelompok 3 dapat dilihat
pada Gambar 8.
Gambar 8. Histogram hubungan nilai IS proliferasi sel B yang dikultur
dengan LPS S. Typhosa sebelum dan sesudah intervensi air
minum penambah oksigen 130 ppm kelompok 3
Berdasarkan uji statistik menggunakan Paired Samples T-Test
dengan membandingkan nilai IS awal dan akhir responden kelompok 3
yang mengkonsumsi air minum penambah oksigen 130 ppm menunjukkan
nilai IS awal rata-rata proliferasi sel B kelompok 1 sebesar 1.030 dan nilai
IS akhir rata-rata setelah intervensi meningkat secara tidak nyata (p>0.05)
menjadi 1.094. Selisih nilai indeks rata-rata awal dan akhir intervensi
kelompok 3 sebesar 0.064. Hasil statistiknya disajikan lebih lengkap pada
68
Lampiran 18. Hasil analisis ini membuktikan bahwa pada air minum
penambah oksigen yang mengandung konsentrasi tinggi, yaitu 130 ppm
yang dikonsumsi selama 12 hari kepada 10 orang responden tidak
menghambat aktivitas proliferasi sel limfosit B manusia secara signifikan.
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para
ahli menunjukkan bahwa konsumsi air minum penambah oksigen
(oxygenated
water)
terbukti
secara
nyata
mampu
meningkatkan
konsentrasi oksigen terlarut dalam darah. Forth dan Adam (2001) yang
melakukan percobaan terhadap kelinci membuktikan bahwa terjadi
peningkatan tekanan parsial oksigen sebesar 10 mmHg pada pembuluh
vena porta hepatica setelah mengkonsumsi oxygenated water 80 ppm.
Kesimpulan lain yang didapat yaitu konsumsi air beroksigen dapat
meningkatkan saturasi oksigen oleh hemoglobin sebesar 3% pada
pembuluh periferi manusia (Jenkins et al., 2001). Penelitian lain juga
menyebutkan bahwa oksigen dalam air minum yang masuk melalui
saluran pencernaan mampu diserap oleh usus sehingga dapat menambah
suplai oksigen bagi aktivitas sel (Nestle et al., 2004).
Berbagai penelitian tersebut semakin menguatkan fakta terhadap
oxygenated water bahwa oksigen yang berasal dari air minum dan melalui
saluran pencernaan dapat diserap oleh tubuh. Oksigen ini kemudian akan
digunakan untuk proses metabolisme sel lebih lanjut dalam hal sintesis
energi (ATP). Namun masih saja ada keraguan dari masyarakat umum
mengenai keamanan konsumsi air minum penambah oksigen secara
teratur. Kekhawatiran yang timbul di mana oksigen dengan kadar berlebih
di dalam tubuh malah akan merusak sel dan membahayakan bagi
kesehatan manusia.
Berdasarkan dari ketiga jenis perlakuan yang menggunakan sampel
air minum penambah oksigen 10, 80, dan 130 ppm didapatkan hasil bahwa
konsumsi air minum penambah oksigen ini tidak berpengaruh nyata
menghambat atau menurunkan aktivitas proliferasi sel limfosit B manusia.
Bahkan secara umum ketiga kelompok perlakuan tersebut menunjukkan
adanya kecenderungan peningkatan jumlah proliferasi sel limfosit B
69
manusia setelah intervensi yang ditandai dengan nilai IS rata-rata setelah
konsumsi lebih tinggi dibandingkan nilai IS rata-rata sebelum konsumsi.
Namun setelah diuji secara statistik kenaikan nilai IS tersebut ternyata
tidak signifikan yang artinya konsumsi air minum penambah oksigen
dengan konsentrasi oksigen terlarut 80 dan 130 ppm tidak berbeda dengan
air minum biasa (konsentrasi oksigen terlarut 10 ppm) dalam hal
menstimulasi proliferasi sel limfosit B.
Hasil ini semakin memperkuat jawaban atas semua keraguan dan
ketakutan terhadap kemungkinan oksigen yang dikonsumsi akan merusak
sel imun, terutama sel limfosit. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa konsumsi air minum penambah oksigen 80 dan 130 ppm secara
teratur terbukti tidak mengganggu aktivitas proliferasi sel limfosit B dan
sistem kekebalan humoral manusia di dalam tubuh, mengingat sel limfosit
B berperan dalam memproduksi antibodi yang digunakan untuk untuk
menjaga sistem imun humoral di dalam tubuh (Cambier, 1987).
c. Proliferasi Sel Limfosit T
Limfosit T mengambil peran dalam pengenalan antigen pada
imunitas seluler dan mengalami diferensiasi fungsi yang berbeda sebagai
subpopulasi.
Respon
imun
seluler
diperlukan
untuk
melawan
mikroorganisme intraseluler maupun ekstraseluler yang tidak dapat
dijangkau oleh antibodi yang dihasilkan oleh sel B.
Pada prinsipnya sel limfosit T bertugas untuk membantu aktivitas
sel B untuk menjaga sistem imun di dalam tubuh. Sel limfosit T tidak
mampu berdiferensiasi menjadi sel plasma seperti sel B, tetapi tumbuh
menjadi sel yang mampu menghasilkan faktor yang merangsang reaksi
perusakan seluler. Faktor-faktor tersebut adalah faktor penghambat migrasi
(MIF atau Migration Inhibiting Factor), faktor sitotaktik (mencederai
berbagai jenis sel), faktor interferon, serta faktor lainnya, seperti
interleukin. Zat-zat ini sebagian akan dilepas pada saat terjadi interaksi
antara limfosit T dengan antigen spesifik untuk menghancurkan sel asing
(Harris, 1991).
70
Seperti halnya pada sel B, sel limfosit T pun dapat berproliferasi
secara in vitro karena adanya interaksi dengan mitogen. Menurut Snow
(1991), terdapat beberapa jenis mitogen yang mampu menstimulai
pembelahan sel T, yaitu pokeweed (PWM), fitohemaglutinin (PHA), dan
concanavalin A (Con A). Pada penelitian ini digunakan mitogen Con A
untuk mengetahui efek konsumsi air minum penambah oksigen terhadap
proliferasi sel T manusia. Mitogen ini dapat merangsang terjadinya
transformasi blast subpopulasi sel limfosit T. Apabila suatu mitogen
menyentuh dan merangsang aktifitas limfosit T maka akan terbentuk
kekebalan seluler di dalam tubuh.
d. Nilai Indeks Simulasi Proliferasi Sel Limfosit T
Aktivitas sel T dalam berproliferasi (berkembang biak), seperti
halnya aktivitas sel B pun dapat diukur dengan menggunakan indeks
stimulasi (SI). Indikasi aktivitas proliferasi sel T dapat diukur dengan
menggunakan metode pewarnaan MTT dengan membandingkan nilai
absorbansi kultur sel yang diberi mitogen dengan kultur sel yang hanya
berisi media pertumbuhan saja. Dari nilai tersebut dapat diketahui
pengaruh konsumsi air minum penambah oksigen terhadap proliferasi sel
limfosit T dengan mengukur nilai indeks stimulasi sebelum dan sesudah
intervensi.
Berdasarkan
hasil
pengukuran
terhadap
sel
limfosit
T
menggunakan mitogen Con A, nilai IS proliferasi sel T awal sebelum
intervensi pada responden kelompok 1 (konsumsi air minum penambah
oksigen 10 ppm) berkisar antara 0.886-1.223, sedangkan setelah intervensi
nilai IS akhir proliferasi sel T berkisar antara 0.873-1.308. Data lengkap
nilai IS dan nilai IS rata-rata proliferasi sel T responden kelompok 1
sebelum dan sesudah intervensi dapat dilihat pada Lampiran 19 dan
Lampiran 20. Hubungan nilai indeks stimulasi proliferasi sel limfosit T
sebelum dan sesudah intervensi pada responden kelompok 1 dapat dilihat
pada Gambar 9.
71
Gambar 9. Histogram hubungan nilai IS proliferasi sel T yang dikultur
dengan Con A sebelum dan sesudah intervensi air minum
penambah oksigen 10 ppm kelompok 1
Analisis sidik ragam menggunakan Paired Samples T-Test
menunjukkan bahwa nilai IS awal rata-rata proliferasi sel limfosit T
kelompok 1 sebesar 1.002 dan nilai IS akhir rata-rata setelah intervensi
meningkat secara tidak nyata (p>0.05) menjadi 1.086. Berdasarkan hasil
tersebut didapatkan selisih nilai indeks rata-rata awal dan akhir intervensi
sebesar 0.084. Kenaikan nilai IS rata-rata yang diukur memiliki arti bahwa
aktivitas proliferasi sel limfosit T berjalan secara normal. Seperti telah
dijelaskan sebelumnya bahwa pada kondisi kesehatan tubuh yang normal,
sistem imun manusia akan bekerja dengan normal pula. Hasil uji sidik
ragam secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 25.
Pada responden kelompok 2 yang mengkonsumsi air minum
penambah oksigen 80 ppm didapatkan nilai IS proliferasi sel T awal
sebelum intervensi berkisar antara 0.778-1.339, sedangkan setelah
intervensi nilai IS akhir proliferasi sel T berkisar antara 0.937-1.057.
Histogram hubungan nilai indeks stimulasi proliferasi sel limfosit T
sebelum dan sesudah intervensi pada responden kelompok 2 dapat dilihat
pada Gambar 10.
72
Gambar 10.Histogram hubungan nilai IS proliferasi sel T yang dikultur
dengan Con A sebelum dan sesudah intervensi air minum
penambah oksigen 80 ppm kelompok 2
Nilai IS awal rata-rata proliferasi sel limfosit T pada responden
kelompok 2 yang mengkonsumsi air minum penambah oksigen 80 ppm
adalah 0.996 dan meningkat menjadi 1.004 setelah intervensi. Dari hasil
tersebut didapatkan nilai IS akhir rata-rata lebih tinggi dari nilai IS ratarata awal dan terdapat selisih sebesar 0.008. Data lengkap nilai IS
proliferasi sel T kelompok 2 sebelum dan setelah intervensi dapat dilihat
pada Lampiran 21, sedangkan nilai IS rata-ratanya dapat dilihat pada
Lampiran 22.
Berdasarkan uji statistik menggunakan T-Test paired sample
didapatkan hasil bahwa nilai indeks stimulasi proliferasi sel limfosit T
reponden kelompok 2 yang diukur setelah 12 hari intervensi tidak berbeda
nyata (p>0.05) terhadap nilai indeks stimulasi sebelum intervensi. Hasil
tersebut menegaskan bahwa konsumsi air minum penambah oksigen
konsentrasi 80 ppm tidak menghambat aktivitas proliferasi sel limfosit T
pada responden manusia. Hasil uji statistik secara lengkap dapat dilihat
pada Lampiran 26.
Pada responden kelompok 3 yang mengkonsumsi air minum
penambah oksigen 130 ppm didapatkan nilai IS proliferasi sel T awal
73
sebelum intervensi berkisar antara 0.778-1.339, sedangkan setelah
intervensi nilai IS akhir proliferasi sel T berkisar antara 0.937-1.057.
Histogram hubungan nilai indeks stimulasi proliferasi sel limfosit T
sebelum dan sesudah intervensi pada responden kelompok 3 dapat dilihat
pada Gambar 11.
Gambar 11.Histogram hubungan nilai IS proliferasi sel T yang dikultur
dengan Con A sebelum dan sesudah intervensi air minum
penambah oksigen 130 ppm kelompok 3
Hasil penghitungan nilai indeks stimulasi rata-rata proliferasi sel
limfosit T pada responden kelompok 3 sebelum dan setelah intervensi
adalah 1.008 dan 1.026. Terdapat sedikit peningkatan nilai IS rata-rata
setelah intervensi dibandingkan sebelum intervesi sebesar 0.018. Data
yang menyajikan nilai IS sebelum dan sesudah intervensi beserta rata-rata
IS proliferasi sel T pada konsumsi air minum penambah oksigen
konsentrasi 130 ppm, berturut-turut dapat dilihat pada Lampiran 23. dan
Lampiran 24.
Uji statistik dengan T-Test paired sample menunjukkan hasil
bahwa tidak terlihat adanya perbedaan yang nyata antara nilai indeks
stimulasi sel limfosit T yang diukur setelah 12 hari intervensi dengan nilai
indeks stimulasi sebelum intervensi pada responden kelompok 3. Hal ini
74
semakin menegaskan bahwa mengkonsumsi air minum penambah oksigen
konsentrasi tinggi 130 ppm tidak menghambat aktivitas proliferasi sel
limfosit T pada manusia. Seperti pada pengukuran yang dilakukan
sebelumnya terhadap kontrol air minum biasa yang mengandung 10 ppm
oksigen terlarut dan air minum penambah oksigen 80 ppm, ternyata
konsumsi air minum penambah oksigen 130 ppm dengan konsentrasi
oksigen terlarut tinggi pun terbukti tidak mengganggu reaksi proliferasi sel
limfosit T manusia. Hasil analisis Paired Samples T-Test proliferasi sel
limfosit T kelompok 3 ini dapat dilihat pada Lampiran 27.
Dari pengujian terhadap ketiga perlakuan air minum penambah
oksigen konsentrasi 10, 80, dan 130 ppm didapatkan hasil positif yang
semakin meyakinkan bahwa ternyata mengkonsumsi air minum penambah
oksigen layak dan aman, serta tidak perlu dikhawatirkan dapat merusak
sel-sel tubuh, terutama sel limfosit yang berperan menjaga sistem imun
pada manusia.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dampak negatif yang
dapat timbul seiring dengan konsumsi air minum penambah oksigen
secara teratur. Konsumsi air minum penambah oksigen dikhawatirkan
dapat mengganggu kerja sistem kekebalan tubuh seluler, termasuk di
dalamnya aktivitas proliferasi sel limfosit T. Oksigen yang masuk melalui
saluran pencernaan ditengarai mampu membentuk radikal bebas yang
sifatnya radikal sehingga dapat merusak sel-sel limfosit yang berfungsi
sebagai sistem pertahanan utama tubuh terhadap penyakit.
Oksigen yang dikhawatirkan menjadi radikal bebas yang dapat
merusak sel limfosit B dan T tidak terbukti. Hal ini dijelaskan dalam
penelitian
yang
dilakukan
Schoenberg
et
al.
(2002)
mengenai
terbentuknya radikal oksigen setelah mengkonsumsi air minum beroksigen
secara teratur selama 21 hari atau 3 minggu. Schoenberg et al. (2002)
mengatakan setelah konsumsi air minum beroksigen 30 ppm dapat
dideteksi adanya pembentukan senyawa askorbil. Pada konsentrasi
oksigen yang lebih tinggi ternyata tidak meningkatkan pembentukan
radikal askorbil tersebut secara signifikan. Pembentukan radikal askorbil
75
tertinggi terjadi pada 30-60 menit setelah konsumsi. Setelah 1 jam,
konsentrasi radikal askorbil akan menurun kembali menjadi normal.
Konsumsi 3 kali sehari air minum beroksigen dengan konsentrasi oksigen
terlarut 59.5 ± 5.1 ppm sebanyak 300 ml selama 21 hari (3 minggu) dapat
menaikkan radikal askorbil basal. Akan tetapi peningkatan radikal askoril
yang terjadi tidak signifikan setelah 30 menit konsumsi.
Selama 21 hari mengkonsumsi air minum beroksigen, ternyata
tidak meningkatkan pembentukan radikal askorbil sebagai senyawa radikal
bebas yang dapat merusak sel tubuh. Hal ini kemungkinan dapat
disebabkan karena selama mengkonsumsi air beroksigen secara teratur,
tubuh akan secara otomatis beradaptasi terhadap senyawa radikal yang
terbentuk. Salah satu proses adaptasi yang dilakukan tubuh adalah dengan
keberadaan sistem pertahanan tubuh alami berupa produksi enzim-enzim
antioksidan, seperti enzim superoksida dismutase (SOD), glutation
peroksidase (GSH), dan katalase yang berperan untuk menangkal atau
menetralisir radikal bebas di dalam tubuh.
Pada kondisi stress oksidatif, di mana jumlah radikal bebas yang
terbentuk lebih banyak dibandingkan dengan antioksidan primer, maka
dibutuhkan antioksidan eksogen yang disuplai dari makanan sehari-hari
yang membantu aktivitas kerja enzim antioksidan. Peranan makanan yang
kaya akan zat-zat antioksidan, meliputi flavonoid, karotenoid, vitamin E,
vitamin C, selenium, seng, dan glutation sangat mempengaruhi proliferasi
sel limfosit B dan T dalam tubuh. Hal ini disebabkan kemungkinan
terbentuknya radikal bebas dari oksigen terlarut yang masuk ke dalam
tubuh yang dapat mengganggu bahkan merusak sel limfosit akan
dinetralisir oleh antioksidan tersebut (Winarsi, 2007).
Kemungkinan lain, seperti penggunaan oksigen secara langsung
sehingga dapat digunakan untuk membantu proses metabolisme yang
berlangsung di dalam tubuh. Hal tersebut dipengaruhi oleh aktivitas yang
sedang dilakukan oleh masing-masing responden, semakin banyak dan
semakin berat aktivitas yang dilakukan maka akan semakin banyak pula
energi yang dibutuhkan. Oksigen merupakan salah satu unsur penting
76
dalam proses metabolisme tubuh sehingga oksigen yang masuk akan
langsung digunakan oleh tubuh untuk menghasilkan energi. Dengan
kondisi tersebut semakin sedikit kemungkinan keberadaan oksigen yang
dapat menjadi radikal bebas sehingga mampu merusak sel limfosit.
Penelitian yang dilakukan oleh Yoseph (2005) menunjukkan
bahwa air minum beroksigen tinggi tidak meningkatkan kadar
malonaldehida dalam darah pada tikus karena tidak memicu terjadinya
oksidasi lipida tubuh sehingga air minum ini aman untuk dikonsumsi.
Hasil penelitian lain yang mendukung keamanan air minum penambah
oksigen ini adalah tidak terjadi migrasi atau kerusakan DNA secara
signifikan pada sel limfosit manusia dan tikus yang diberi perlakuan
konsumsi air minum penambah oksigen (Fitriany, 2005).
Gruber et al. (2005) pada penelitiannya mendapatkan hasil positif
terhadap manfaat air minum beroksigen di mana ternyata konsumsi
oxygenated water dalam jangka panjang tidak menimbulkan efek yang
berbahaya terhadap jumlah darah secara keseluruhan (hemoglobin dan
hematokrit), enzim-enzim yang bekerja di dalam hati, dan terhadap sistem
imun. Pengujian terhadap sistem imun menunjukkan bahwa oxygenated
water mampu meningkatkan produksi reseptor IL-2, CD4+ yang berperan
dalam aktivasi proses pembelahan dan diferensiasi sel B, aktivitas sitolitik
sel NK, aktivitas fagositik pada makrofag, serta aktivasi sel Th untuk
membantu kerja sel B memproduksi antibodi. Dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa ternyata oxygenated water mampu menstimulir sistem
imun di dalam tubuh. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Jenkins et al.
(2001) yang menyatakan bahwa air beroksigen dapat meningkatkan
saturasi oksigen oleh hemoglobin sebesar 3% pada pembuluh darah
periferi responden yang mengkonsumsinya.
Hasil penelitian terhadap proliferasi sel limfosit ini semakin
menegaskan bahwa mengkonsumsi air minum penambah oksigen secara
teratur tidak menyebabkan terbentuknya radikal bebas berbahaya yang
dapat merusak sel tubuh, termasuk sel imun yang meliputi sel limfosit B
dan sel limfosit T. Produk air minum penambah oksigen dengan
77
konsentrasi oksigen 80 dan 130 ppm ternyata memberikan hasil yang sama
dengan air minum biasa, yaitu aman untuk dikonsumsi. Keamanan
tersebut dapat dilihat dari aktivitas proliferasi sel limfosit B dan T pada
manusia yang berjalan secara normal dan tidak menghambat sistem imun
spesifik tubuh secara umum.
78
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Hasil penelitian analisis proliferasi sel limfosit B manusia
menunjukkan bahwa pada responden kelompok 1 (10 ppm), kelompok 2
(80 ppm), dan kelompok 3 (130 ppm) terlihat peningkatan nilai IS rata-rata
setelah 12 hari intervensi, yaitu masing-masing 0.193; 0.084, dan 0.064. Uji
statistik pada taraf 0.05 (p<0.05) menggunakan Paired Samples T-Test
menunjukkan bahwa pada kelompok 1 terjadi kenaikkan secara signifikan
dari nilai IS sebelum dan sesudah konsumsi. Sedangkan pada kelompok 2 dan
3 kenaikkan yang terjadi antara nilai IS sebelum dan sesudah intervensi tidak
signifikan (p>0.05) terhadap proliferasi sel limfosit B manusia berdasarkan
uji sidik ragam Paired Samples T-Test.
Pada analisis proliferasi sel limfosit T, nilai IS rata-rata setelah 12 hari
intervensi kelompok 1, 2, dan 3 menunjukkan peningkatan masing-masing
sebesar 0.084; 0.008; dan 0.018. Uji sidik ragam menggunakan Paired
Samples T-Test pada taraf uji 0.05 (p>0.05) memperlihatkan hasil, yaitu
konsumsi air minum penambah oksigen konsentrasi 10, 80, dan 130 ppm
tidak berpengaruh secara nyata terhadap proliferasi sel limfosit T manusia.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsumsi air minum
penambah oksigen tidak menstimulasi proliferasi serta tidak menurunkan
jumlah sel hidup limfosit B dan limfosit T manusia. Hal ini memperkuat fakta
bahwa air minum penambah oksigen aman untuk dikonsumsi secara teratur.
B. Saran
Untuk melengkapi hasil penelitian yang telah ada, perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut dan terperinci mengenai analisis pengukuran radikal
bebas yang terbentuk akibat konsumsi air minum penambah oksigen secara
teratur. Di samping itu, perlu juga dilakukan kajian lebih lanjut terutama
terhadap manusia yang mengalami gangguan pernapasan mengenai
efektivitas konsumsi oxygenated water sebagai cara alternatif untuk
mengatasi gejala kekurangan oksigen atau hipoksia.
79
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Glycolysis and Krebs Cycle. http://www.vincentimbe.files.
wordpress.com/2007/11/krebs-cycle.jpg. [12 Juli 2008].
______2008a. Human Physiology: Digestive System. http://www.colorado.edu/
intphys/Class/IPHY3430200/020digestion.htm. [12 Juli 2008].
______. 2008b. Cellular Processes: Cellular Respiration Overview.
http://www.library.thinkquest.org/C004535/respiration_overview.html.
[24 Agustus 2008].
______. 2008c. Human Immune System. http://www.library.thinkquest.org/03oct/
01254/images/immune_system.jpg. [4 Desember 2008].
Bain, B.J. 2006. Haemoglobinopathy Diagnosis, 2nd Edition. Blackwell Publishing
Inc., Massachusetts.
Baskin, S.I. dan Salem, H. 1997. Oxidants, Antioxidants, and Free Radicals.
Taylor and Francis, Washington.
Belitz, H.D. dan Grosch, W. 1999. Food Chemistry, 2nd Edition. Springer-Verlag,
Berlin.
Billiar, T.R. dan Curran R.D. 1992. Hepatocyte and Kupffer Cell Interactions.
CRC Press Inc., Florida.
Cambier, J.C. 1987. B-Lymphocyte Differentiation. CRC Press, Inc. Boca Raton.
Florida.
Congdon, L. 2006. Biochemistry : Cytochrome C Oxidase. http://www.biochem.
arizona.edu/classes/bioc462/462bh2008/462bhonorsprojects/462bhonors
2006/congdonl/Website/f_j13electtrans.jpg. [12 Juli 2008].
Davies, A. dan Moores, C. 2003. The Respiratory System. Elsevier Science Ltd.,
London.
Delves, P.J., Roitt, I.M., Martin, S.J., dan Burton D. 2006. Roitt’s Essential
Immunology. Blackwell Publishing Inc., Massachusetts.
Eagleson, M. 2008. Concise Encyclopedia Chemistry. Walter de Gruyter, Berlin
and New York.
Eurell, J.A.C. 2004. Veterinary Histology. Teton NewMedia, Wyoming.
Fisher, D., Francis, G.E., dan Rickwood, D. 1998. Cell Separation : A Practical
Approach. Oxford University Press, Inc., New York.
80
Fitriany, G. 2005. Konsumsi Air Minum Penambah Oksigen Tidak Menyebabkan
Kerusakan DNA pada Sel Limfosit Tikus dan Manusia. Skripsi.
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan. Fakultas Teknologi Pertanian.
IPB, Bogor.
Five, B. 2001. The Detox Book, 2nd Edition. Piccadilly Books Ltd., Colorado.
Forth, W. dan Adam, O. 2001. Uptake of Oxygen from the Intestine Experiments
with Rabbits. European Journal of Medical Research Vol. 6: 488-492.
Freimoser, F.M., Jakob, C.A., Aebi, M., dan Tuor, U. 1999. The MTT [3-(4,5Dimethylthiazol-2-yl)-2,5-Diphenyltetrazolium Bromide] Assay is a Fast
and Reliable Method for Colorimetric Determination of Fungal Cell
Densities. Applied and Environmental Microbiology vol. 65 (8): 37273729.
Freshney, I.R. 1994. Culture of Animal Cell, 3rd Edition. John Willey and Sons
Company, New York.
Ganong, W. F. 1990. Fisiologi Kedokteran. Terjemahan. Penerbit EGC, Jakarta.
Gruber, R., Axmann S., dan Schoenberg M.H. 2005. The Influence of Oxygenated
Water on The Immune Status, Liver Enzymes, and The Generation of
Oxygen Radicals: A Prospective, Randomised, Blinded Clinical Study.
Journal Clinical Nutrition vol. 24 (3): 407-414.
Gurskaya, N.V. dan Ivanov, K.P. 1961. Gaseous Equilibrium between Blood and
the Lumen of the Intestine. Bulletin of Experimental Biology and
Medicine vol. 50 (3):910-912.
Guyton, A.C. dan Hall, J.E. 2006. Textbook of Medical Physiology, 10th Edition.
W. B. Saunders Company, London.
Halliwell, B., Gutteride, J.M.C., dan Cross, C.E. 1992. Free Radicals,
Antioxidants and Human Disease: Where are We Now. Journal Laboratory
Clinical Medical vol. 119 (6): 598-620.
Harris, D. 2007. Ensiklopedi Unsur-Unsur Kimia. Edisi Kedua. Penerbit Kawan
Pustaka, Jakarta.
Harris, J. R. 1991. Blood Cell Biochemistry Volume 3 : Lymphocytes and
Granulocytes. Plenum Press, New York.
Jenkins, A., Moreland, M., Waddell, T.B., dan Fernhall, B. 2001. Effect of
Oxygenized Water on Percent Oxygen Saturation and Performance during
Exercise. Medicine and Science in Sports and Exercise vol. 33 (5): S167.
81
Johnson, L.R. dan Byrne, J.H. 2003. Essential Medical Physiology. Academic
Press, California.
Kimball, J.W. 1990. Introduction to Immunology, 3rd Edition. Macmillan
Publishing Company, Inc., New York.
Kirchner, G. 2001. Self-Instructional on Glycolysis and Respiration:
The Production of ATP from Glucose. http://www.vincentimbe.files.
wordpress.com/2007/11/krebs-cycle.jpg. [12 Juli 2008].
Lehninger, A. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Terjemahan : Maggy Thenawijaya.
Penerbit Erlangga, Jakarta.
Levitzky, M.G. 2003. Pulmonary Physiology, 6th Edition. McGraw-Hill
Companies Inc., Indiana.
Liu, Y., Peterson, D.A., Kimura, H., dan Schubert, D. 1997. Mechanism of
Cellular 3-(4,5-Dimethylthiazol-2-yl)-2,5-Diphenyltetrazolium Bromide
(MTT) Reduction. Journal of Neurochemistry vol. 69 (2): 581-593.
Malole, M.B.M. 1990. Kultur Sel dan Jaringan Hewan. Pusat Antar Universitas
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
McIver, M.A., Redfields, A.C. dan Benedict, E.B. 1928. Gaseous Exchange
between the Blood and the Lumen of the Stomach and Intestines.
American Journal Physiology vol. 76: 92-111.
Mortimer, C.E.1975. Chemistry: A Conceptual Approach, 3rd Edition. D. Van
Nostrand Co., New York.
Mosmann, T. 1983. Rapid Colorimetric Assay for Cellular Growth and Survival:
Application to Proliferation and Cytotoxicity Assays. Journal Immunology
Methods vol. 65 (1-2): 55-63.
Muskopf, S. 2006. The Biology Corner: Membrane Structure and Function.
http://www.biologycorner.com/resources/simpdiff.jpg. [4 Agustus 2008].
Nestle, E., Wunderlich, A., dan Muessle-Kuegele, K. 2004. In vivo Observation
of Oxygen Supersaturated Water in Human Mouth and Stomach. Magnetic
Resonance Imaging vol. 22 (4): 551-556.
Oxtoby, D.W., Gillis, H.P., Nachtrieb N.H., dan Campio, A. 2007. Principles of
Modern Chemistry. Thomson Brooks/Cole Publisher, California.
Parker, R. 2003. Introduction to Food Science. Delmar, Thomson Learnig, Inc.,
New York.
82
Paul, W.E. 2008. Fundamental Immunology. Lippincott Williams & Wilkins,
Philadelphia.
Prosecus. 2006. Biosynth : Chemistry and Biology. http://www.biosynth.com/
index.asp?topic_id=214&g=19&m=285. [17 Desember 2008].
Purnama, L. 2004. Teknologi Produksi Air Beroksigen. Materi Presentasi dalam
Diskusi Ilmiah Air Minum Penambah Oksigen. R&K Health Living dan
FATETA IPB, Bogor.
Rhoades, R.A. dan Bell, D.R. 2009. Medical Physiology. Lippincott Williams &
Wilkins, Maryland.
Roach, R.C., Wagner, P.D., dan Hackett, P.H. 2001. Hypoxia: From Genes to the
Bedside. Plenum Publisher, New York.
Roitt, I.M. 1971. Essential Immunology. Blackwell Scientific Publications. Osney
Mead, Oxford, London.
Scheffler, I.E. 1999. Mitochondria. John Wiley and Sons Inc., New York.
Schoenberg, M.H., Hierl, T.C., Zhao, J., Wohlgemuth, N., dan Nilsson, U.A.
2002. The Generation of Oxygen Radicals after Drinking of Oxygenated
Water. European Journal Medical Research vol. 7: 109-116.
Snow, E.C. 1991. T-Cell Dependent and Independent B-Cell Activation. CRC
Press Inc., Florida.
Sompayrac, L. 2003. How the Immune System Works. Blackwell Publishing,
Massachusetts.
Speit, G., P. Schutz, K. Trenz, dan A. Rothfuss. 2002. Oxygenated Water Does
Not Induce Genotoxic Effects in the Comet Assay. Toxicology Letters vol.
133: 203-210.
Srigandono, B dan K. Praseno. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Terjemahan.
Edisi Keempat. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Supari, F. 1996. Radikal Bebas dan Patofisiologi Beberapa Penyakit. Prosiding
Seminar Radikal Bebas dan Sistem Pangan, Reaksi Biomolekuler,
Dampak terhadap Kesehatan dan Penangkalannya. Kerjasama Pusat Studi
Pangan dan Gizi IPB dengan Kedutaan Besar Perancis, Jakarta.
Thomas, M. 2005. Understanding the Element of the Periodic Table Oxygen. The
Rosen Publishing Group Inc., New York.
Weissman, I.L., Hood L.E., dan Wood, W.B. 1978. Essential Concepts in
Immunology. The Benjamin Cummings Publishing Co. Inc., California.
83
Winarsi, H. 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Penerbit Kanisius,
Yogyakarta.
Wong, N.H. dan Huang, B. 2004. Comparative Study of the Indoor Air Quality of
Naturally Ventilated and Air-Conditioned Bedrooms of Residential
Buildings in Singapore. Builing and Environment 39: 1115-1123.
Yoseph, H.T. 2005. Kajian Keamanan dan Manfaat Air Minum Beroksigen
Tinggi Ditinjau dari Profil Sel Darah Merah dan Tekanan Parsial Gas
Darah. Skripsi. Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan. Fakultas
Teknologi Pertanian. IPB, Bogor.
Zakaria, F. R., Tan, M. I., dan Kadarsyah. 2005. Penyerapan Oksigen melalui
Sistem Pencernaan dan Keamanannya. Departemen Teknologi Pangan dan
Gizi. FATETA. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Zakaria, F. R. 2005. Air Minum Beroksigen Tinggi Aman untuk Dikonsumsi.
Tulisan Ilmiah. R&K Beverages, Bogor.
84
85
Lampiran 1. Proses difusi pasif oksigen dan karbondioksida
Sumber : Muskopf (2008)
86
Lampiran 2. Proses katabolisme
Sumber: Anonim (2008b)
87
Lampiran 3. Proses glikolisis
Sumber: Kirchner (2001)
88
Lampiran 4. Siklus Krebs
Sumber: Anonim (2007)
89
Sumber: Congdon (2006)
Lampiran 5. Transpor elektron
90
Lampiran 6. Diagram alir produksi air minum penambah oksigen
Air
Ļ
Reservoir
Ļ
Sand Filter
Ļ
Karbon aktif
Ļ
Manganese Filter
Ļ
Filtrasi I
Ļ
Resesrve Osmosis 1
Ļ
Tangki intermediate
Ļ
Filtrasi II
Ļ
Reserve Osmosis II
Ļ
Tangki Penampungan
Ļ
Oxygen Injection
Ļ
Pengisian (Filling)
Ļ
Air Minum Penambah Oksigen 80 ppm
Sumber: Quality Control R&K Beverages
91
Lampiran 7. Komposisi media RPMI-1640
Komponen
Asam Amino
Arginin
Asparagin
Asam aspartat
Sistin
Asam glutamat
Glutamin
Glisin
Histidin
Hidroksiprolin
Isoleusin
Leusin
Lisin HCl
Metionin
Fenilalanin
Prolin
Serin
Threonin
Triptofan
Tirosin
Valin
Vitamin
D-Biotin
D-Ca pantotenat
Kolin klorida
Asam folat
I-inositol
Nikotinamid
Riboflavin
Tiamin HCl
Vitamin B12
Piridoksal HCl
Asam p-aminobenzoat
Garam Anorganik
KCl
MgSO4.7H2O
NaCl
NaHCO3
Na2HPO4 anhidrat
Ca(NO3) 2.4H2O
Lain-lain
D-glukosa
Fenol merah
Glutation tereduksi
Konsentrasi (mg/l)
200
56.82
20
50
20
300
10
15
20
50
50
40
15
15
20
30
20
5
20
20
0.20
0.25
3
1
35
1
0.20
1
0.005
1
1
400
100
6000
2000
800
100
2000
5.30
1
92
Lampiran 8. Pengukuran kadar oksigen terlarut di dalam botol selama 24 jam
Waktu
Kadar Oksigen Terlarut pada Perlakuan (ppm)
(jam)
Dibuka
Dimiringkan
Dibuka dan Ditutup
0
136.0
135.0
136.0
2
117.0
84.3
118.0
4
106.0
44.4
107.0
6
95.3
44.1
100.0
8
88.0
38.8
94.7
10
86.9
38.6
94.2
12
83.5
36.4
92.7
14
80.4
33.6
92.4
16
78.8
33.2
90.6
18
72.5
30.8
89.5
20
71.3
29.8
86.3
22
69.8
22.0
84.6
24
67.5
20.3
80.5
Sumber : Data sekunder Quality Control R&K Beverages
93
Lampiran 9. Skema aktivitas sistem imun
Sumber: Anonim (2008c)
94
1
Kel.
006
005
004
003
002
001
Kode
Responden
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
Jenis Sampel
Absorbansi
Rata-Rata
Awal
Absorbansi Awal
2.623
2.692
2.555
2.489
2.483
3.365
2.964
2.937
2.874
2.974
2.721
1.892
2.270
2.227
2.690
2.401
2.269
2.305
2.600
2.047
2.542
2.295
2.383
2.587
2.268
2.203
2.938
2.523
2.419
2.212
1.145
0.937
0.960
0.834
0.873
0.974
IS Awal
Lampiran 10. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit B kelompok 1
Absorbansi
Akhir
2.362
3.435
2.997
2.566
2.316
2.515
2.489
2.456
2.108
2.935
2.938
2.840
2.184
2.407
2.380
2.524
2.542
2.623
2.436
2.612
2.203
2.970
2.619
2.445
2.678
2.557
2.437
2.904
2.487
2.999
Rata-Rata
Absorbansi Akhir
1.216
1.006
1.116
1.378
1.074
1.270
95
IS Akhir
008
007
Kode
Responden
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
Jenis Sampel
Absorbansi
Rata-Rata
Awal
Absorbansi Awal
1.980
2.279
2.133
1.968
2.152
2.816
2.636
3.072
3.166
3.414
Kode Responden
001
002
003
004
005
006
007
008
Rata-rata
Nilai IS Awal
0.974
0.873
0.834
0.960
0.937
1.145
1.077
1.091
0.986
Nilai IS Akhir
1.270
1.074
1.378
1.116
1.006
1.216
1.432
0.943
1.179
Lampiran 11. Nilai IS rata-rata proliferasi sel B responden kelompok 1
1
Kel.
1.091
1.077
IS Awal
Lanjutan Lampiran 10. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit B kelompok 1
Absorbansi
Akhir
1.980
2.767
2.884
2.854
2.816
3.051
2.372
2.546
2.656
2.835
Rata-Rata
Absorbansi Akhir
0.943
1.432
96
IS Akhir
2
Kel.
017
016
015
014
013
012
011
Kode
Responden
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
Jenis Sampel
Absorbansi
Rata-Rata
Awal
Absorbansi Awal
2.984
2.318
2.330
2.386
2.285
2.109
2.540
2.383
2.263
2.347
3.129
3.221
2.947
2.862
2.759
2.417
2.852
2.792
2.912
2.612
3.362
2.632
2.799
3.061
2.703
3.138
2.280
2.233
2.168
2.251
2.382
2.511
2.640
2.658
2.750
1.108
0.712
0.832
1.155
0.942
1.130
0.781
IS Awal
Lampiran 12. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit B kelompok 2
Absorbansi
Akhir
2.987
3.329
3.337
2.816
2.778
2.640
2.826
3.103
2.868
3.500
3.294
3.077
2.586
2.399
2.362
2.502
2.311
2.739
2.537
2.443
3.151
3.249
3.525
3.129
3.201
3.120
2.940
2.937
2.999
3.201
2.573
2.421
3.290
2.856
3.161
Rata-Rata
Absorbansi Akhir
0.937
1.048
1.113
0.936
1.147
1.028
1.058
97
IS Akhir
Kode Responden
011
012
013
014
015
016
017
Rata-rata
Nilai IS Awal
0.781
1.130
0.942
1.155
0.832
0.712
1.108
0.954
Nilai IS Akhir
1.058
1.028
1.147
0.936
1.113
1.048
0.937
1.038
Lampiran 13. Nilai IS rata-rata proliferasi sel B responden kelompok 2
98
3
Kel.
116
115
114
113
112
111
Kode
Responden
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
Jenis Sampel
Absorbansi
Rata-Rata
Awal
Absorbansi Awal
3.103
2.502
2.791
2.522
3.349
1.957
2.456
2.426
2.428
2.405
2.555
2.440
2.924
3.182
3.150
2.219
2.410
2.328
2.573
2.000
2.473
2.312
2.335
2.382
2.311
2.063
2.202
2.033
1.974
1.923
0.986
0.944
1.049
1.144
1.240
0.899
IS Awal
Lampiran 14. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit B kelompok 3
Absorbansi
Akhir
2.687
2.666
3.105
2.888
2.378
2.510
2.505
2.873
2.113
2.826
2.493
2.757
2.514
2.406
2.638
2.386
2.388
2.814
2.528
2.678
2.938
2.531
2.892
2.989
2.904
2.673
2.477
2.692
2.629
2.886
Rata-Rata
Absorbansi Akhir
0.954
1.119
0.985
1.274
1.106
1.074
99
IS Akhir
3
Kel.
120
119
118
117
Kode
Responden
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
LPS S.Typhosa
Kontrol
Jenis Sampel
Absorbansi
Rata-Rata
Awal
Absorbansi Awal
2.178
2.061
1.969
1.861
1.985
2.376
2.998
2.451
2.210
2.144
2.614
2.621
2.755
2.901
2.743
2.606
2.681
2.738
2.605
2.929
1.051
1.054
1.031
0.904
IS Awal
Lanjutan Lampiran 14. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit B kelompok 3
Absorbansi
Akhir
2.324
2.490
2.517
2.502
3.138
3.224
3.038
3.167
2.334
2.989
2.668
2.535
2.370
2.855
2.694
2.681
2.743
2.731
3.143
2.503
Rata-Rata
Absorbansi Akhir
100
1.158
1.170
1.002
1.077
IS Akhir
Kode Responden
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
Rata-rata
Nilai IS Awal
0.899
1.240
1.144
1.049
0.944
0.986
0.904
1.031
1.054
1.051
1.030
Nilai IS Akhir
1.074
1.106
1.274
0.985
1.119
0.954
1.077
1.022
1.170
1.158
1.094
Lampiran 15. Nilai IS rata-rata proliferasi sel B responden kelompok 3
101
Mean
.20977
.07417
-.36837
95% CI for mean difference: (-0.368373, -0.017627)
T-Test of mean difference = 0 (vs not = 0): T-Value = -2.60 P-Value = 0.035
N
Mean StDev SE Mean
Awal_1
8 0.98638 0.10934 0.03866
Akhir_1 8 1.17938 0.17480 0.06180
Difference 8 -0.193000 0.209771 0.074165
Paired T for Nilai Awal_1 - Akhir_1
Paired Samples Test
-.01763
Paired Differences
95% Confidence Interval
Std.
Std. Error
of the Difference
Deviation
Mean
Lower
Upper
Paired T-Test and CI: Awal_1, Akhir_1
Pair 1 Nilai IS awal - akhir -.19300
T-TEST
Lampiran 16. Hasil analisis paired samples T-Test proliferasi sel limfosit B kelompok 1
-2.602
t
7
df
.035
Sig. (2-tailed)
102
Mean
.23770
.08984
-.30398
95% CI for mean difference: (-0.303979, 0.135693)
T-Test of mean difference = 0 (vs not = 0): T-Value = -0.94 P-Value = 0.385
N
Mean StDev SE Mean
Awal_2
7 0.95400 0.17922 0.06774
Akhir_2 7 1.03814 0.08032 0.03036
Difference 7 -0.084143 0.237700 0.089842
Paired T for Awal_2 - Akhir_2
Paired Samples Test
.13569
Paired Differences
95% Confidence Interval
Std.
Std. Error
of the Difference
Deviation
Mean
Lower
Upper
Paired T-Test and CI: Awal_2, Akhir_2
Pair 1 Nilai IS awal - akhir -.08414
T-TEST
Lampiran 17. Hasil analisis paired samples T-Test proliferasi sel limfosit B kelompok 2
-.937
t
6
df
.385
Sig. (2-tailed)
103
Mean
.11332
.03583
-.14476
95% CI for mean difference: (-0.144761, 0.017361)
T-Test of mean difference = 0 (vs not = 0): T-Value = -1.78 P-Value = 0.109
N
Mean StDev SE Mean
Awal_3
10 1.03020 0.10585 0.03347
Akhir_3 10 1.09390 0.09451 0.02989
Difference 10 -0.063700 0.113316 0.035834
Paired T for Awal_3 - Akhir_3
Paired Samples Test
.01736
Paired Differences
95% Confidence Interval
Std.
Std. Error
of the Difference
Deviation
Mean
Lower
Upper
Paired T-Test and CI: Awal_3, Akhir_3
Pair 1 Nilai IS awal - akhir -.06370
T-TEST
Lampiran 18. Hasil analisis paired samples T-Test proliferasi sel limfosit B kelompok 3
-1.778
t
9
df
.109
Sig. (2-tailed)
104
1
Kel.
006
005
004
003
002
001
Kode
Responden
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Jenis Sampel
Absorbansi
Rata-Rata
Awal
Absorbansi Awal
2.623
2.378
2.481
2.395
2.670
3.365
3.135
2.981
2.924
2.885
2.721
2.489
2.472
2.536
2.392
2.401
2.188
2.396
2.569
2.432
2.542
2.632
2.515
2.511
2.403
2.203
3.001
2.695
2.831
2.253
1.223
0.990
0.998
0.909
0.886
0.946
IS Awal
Lampiran 19. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit T kelompok 1
Absorbansi
Akhir
2.362
2.736
2.604
2.438
2.316
2.567
2.320
2.234
2.108
2.833
2.635
2.482
2.184
2.480
2.329
2.339
2.542
2.457
2.315
2.378
2.203
2.376
2.509
2.350
2.412
2.383
2.383
2.650
2.374
2.593
Rata-Rata
Absorbansi Akhir
105
1.095
0.938
1.091
1.257
1.025
1.098
IS Akhir
008
007
Kode
Responden
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Jenis Sampel
Absorbansi
Rata-Rata
Awal
Absorbansi Awal
1.980
2.504
2.205
1.931
2.181
2.816
2.820
2.687
2.738
2.502
Lampiran 20. Nilai IS rata-rata proliferasi sel T responden kelompok 1
Kode Responden
Nilai IS Awal
Nilai IS Akhir
001
0.946
1.098
002
0.886
1.025
003
0.909
1.257
004
0.998
1.091
005
0.989
0.938
006
1.223
1.095
007
1.114
1.308
008
0.954
0.873
Rata-rata
1.002
1.086
1
Kel.
0.954
1.114
IS Awal
Lanjutan Lampiran 19. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit T kelompok 1
Absorbansi
Akhir
1.980
2.668
2.648
2.453
2.816
2.509
2.513
2.350
2.457
2.590
Rata-Rata
Absorbansi Akhir
106
0.873
1.308
IS Akhir
2
Kel.
017
016
015
014
013
012
011
Kode
Responden
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Jenis Sampel
Absorbansi
Rata-Rata
Awal
Absorbansi Awal
2.984
2.602
2.607
2.615
2.604
2.109
2.461
2.218
2.030
2.163
3.129
2.787
2.860
2.799
2.995
2.417
2.747
2.716
2.713
2.687
3.362
3.141
3.088
3.012
3.111
3.138
2.380
2.443
2.407
2.541
2.382
3.426
3.188
3.128
3.011
1.339
0.778
0.919
1.124
0.914
1.052
0.874
IS Awal
Lampiran 21. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit T kelompok 2
Absorbansi
Akhir
2.987
3.142
2.994
3.336
2.778
2.934
2.741
2.734
2.868
3.297
2.971
2.830
2.586
2.412
2.479
2.428
2.311
2.261
2.628
2.306
3.151
3.075
3.028
3.213
3.201
3.038
3.077
2.884
3.000
3.105
2.398
2.440
3.033
2.803
3.157
Rata-Rata
Absorbansi Akhir
107
0.937
0.986
1.038
0.943
1.057
1.009
1.057
IS Akhir
Kode Responden
011
012
013
014
015
016
017
Rata-rata
Nilai IS Awal
0.843
1.052
0.914
1.124
0.919
0.778
1.339
0.996
Nilai IS Akhir
1.057
1.009
1.057
0.943
1.038
0.986
0.937
1.004
Lampiran 22. Nilai IS rata-rata proliferasi sel T responden kelompok 2
108
3
Kel.
116
115
114
113
112
111
Kode
Responden
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Jenis Sampel
Absorbansi
Rata-Rata
Awal
Absorbansi Awal
3.103
2.650
2.946
3.211
2.976
1.957
2.284
2.128
2.043
2.056
2.555
2.518
2.568
2.355
2.832
2.219
2.624
2.533
2.378
2.596
2.473
2.497
2.504
2.353
2.661
2.063
2.059
2.051
2.012
2.081
0.994
1.012
1.141
1.005
1.087
0.949
IS Awal
Lampiran 23. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit T kelompok 3
Absorbansi
Akhir
2.687
2.732
2.632
2.832
2.378
2.451
2.469
2.266
2.113
2.059
2.330
2.213
2.514
2.600
2.687
2.510
2.388
2.489
2.729
2.327
2.938
3.007
2.818
2.747
2.857
2.515
2.599
2.201
2.395
2.732
Rata-Rata
Absorbansi Akhir
109
0.973
1.053
1.034
1.041
1.007
1.017
IS Akhir
3
Kel.
120
119
118
117
Kode
Responden
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Concanavalin A
Kontrol
Jenis Sampel
Absorbansi
Rata-Rata
Awal
Absorbansi Awal
2.178
1.981
1.991
2.199
1.794
2.376
2.162
2.304
1.992
1.948
2.614
2.930
2.953
3.156
2.772
2.606
2.752
2.579
2.478
2.506
0.990
1.130
0.856
0.914
IS Awal
Lanjutan Lampiran 23. Hasil penghitungan nilai IS proliferasi sel limfosit T kelompok 3
Absorbansi
Akhir
2.324
2.530
2.347
2.418
3.138
3.695
3.096
2.929
2.334
2.518
2.191
2.314
2.370
2.596
2.370
2.535
2.500
2.341
3.240
2.432
Rata-Rata
Absorbansi Akhir
110
1.055
1.003
1.033
1.046
IS Akhir
Kode Responden
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
Rata-rata
Nilai IS Awal
0.949
1.087
1.005
1.141
1.012
0.994
0.914
0.856
1.130
0.990
1.008
Nilai IS Akhir
1.017
1.007
1.041
1.034
1.053
0.973
1.046
1.033
1.003
1.055
1.026
Lampiran 24. Nilai IS rata-rata proliferasi sel T responden kelompok 3
111
Mean
.16032
.05668
-.21728
95% CI for mean difference: (-0.217280, 0.050780)
T-Test of mean difference = 0 (vs not = 0): T-Value = -1.47 P-Value = 0.185
N
Mean StDev SE Mean
Awal_1
8 1.00238 0.11283 0.03989
Akhir_1 8 1.08563 0.14627 0.05171
Difference 8 -0.083250 0.160319 0.056681
Paired T for Awal_1 - Akhir_1
Paired Samples Test
.05078
Paired Differences
95% Confidence Interval
Std.
Std. Error
of the Difference
Deviation
Mean
Lower
Upper
Paired T-Test and CI: Awal_1, Akhir_1
Pair 1 Nilai IS awal - akhir -.08325
T-TEST
Lampiran 25. Hasil analisis paired samples T-Test proliferasi sel limfosit T kelompok 1
-1.469
t
7
df
.185
Sig. (2-tailed)
112
Mean
.23072
.08721
-.22167
95% CI for mean difference: (-0.221671, 0.205099)
T-Test of mean difference = 0 (vs not = 0): T-Value = -0.10 P-Value = 0.927
N
Mean StDev SE Mean
Awal_2
7 0.99557 0.19181 0.07250
Akhir_2 7 1.00386 0.05055 0.01911
Difference 7 -0.008286 0.230725 0.087206
Paired T for Awal_2 - Akhir_2
Paired Samples Test
.20510
Paired Differences
95% Confidence Interval
Std.
Std. Error
of the Difference
Deviation
Mean
Lower
Upper
Paired T-Test and CI: Awal_2, Akhir_2
Pair 1 Nilai IS awal - akhir -.00829
T-TEST
Lampiran 26. Hasil analisis paired samples T-Test proliferasi sel limfosit T kelompok 2
-.095
t
6
df
.927
Sig. (2-tailed)
113
Mean
.10089
.03190
-.09057
95% CI for mean difference: (-0.090574, 0.053774)
T-Test of mean difference = 0 (vs not = 0): T-Value = -0.58 P-Value = 0.578
N
Mean StDev SE Mean
Awal_3
10 1.00780 0.09115 0.02883
Akhir_3 10 1.02620 0.02601 0.00822
Difference 10 -0.018400 0.100892 0.031905
Paired T for Awal_3 - Akhir_3
Paired Samples Test
.05377
Paired Differences
95% Confidence Interval
Std.
Std. Error
of the Difference
Deviation
Mean
Lower
Upper
Paired T-Test and CI: Awal_3, Akhir_3
Pair 1 Nilai IS awal - akhir -.01840
T-TEST
Lampiran 27. Hasil analisis paired samples T-Test proliferasi sel limfosit T kelompok 3
-.577
t
9
df
.578
Sig. (2-tailed)
114
Download