bab ii landasan teori

advertisement
 BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Alat Ukur
Alat ukur adalah alat yang digunakan untuk mendapatkan/mengetahui nilai
suatu besaran. Mengukur dapat didefinisikan sebagai suatu cara untuk menyatakan
salah satu sifat atau keadaan dari suatu benda atau zat dalam bentuk suatu besaran,
dengan cara membandingkannya dengan alat ukur standar atau alat ukur yang sudah
dikalibrasi. Selain menghasilkan suatu nilai besaran listrik ataupun mekanik, alat ukur
juga menunjukkan indikasi benar atau tidaknya suatu rangkaian/sirkit, alat seperti ini
disebut dengan indikator.
Berikut ini beberapa syarat-syarat alat ukur listrik :
•
Tidak boleh membebani rangkaian yang diukur.
•
Mempunyai keseksamaan yang tinggi (accuracy error dan precision error yang
rendah)
•
Mempunyai kepekaan (sensitivity) yang tinggi.
•
Mempunyai stabilitas yang tinggi.
•
Kemampuan baca (readibility) yang baik.
•
Kemantapan (reliability) alat yang tinggi.
Berikut ini beberapa kesalahan yang sering terjadi di dalam pengukuran:
1. Kesalahan sistem (systematic error), kesalahan sistem ini meliputi:

Kesalahan kalibrasi.

Kesalahan manusia (human error).

Experimental error.

Kesalahan teknik (error of technique).

Kesalahan statistik (random error).
6
7
2. Kesalahan karena salah (illegitimate error)
 Blunder
 Computational error
 Chaotic error
Berikut ini macam-macam alat ukur berdasarkan jenis arus dan tipenya:
1. Berdasarkan
Jenis Arus :
o
Arus
searah (DC)
o
Arus bolak-balik (AC)
o
Arus Searah dan arus bolak-balik (AC/ DC)
2. Berdasarkan tipe :
o
Tipe Jarum Petunjuk (analog)
o
Tipe Perekam (Recorder)
o
Tipe Integrasi (Integrator)
o
Digital
2.1.1
Prinsip Kerja Alat Ukur Listrik
2.1.1.1 Alat Ukur Azas Kumparan Putar (Permanent Magnet Moving Coil)
Alat ukur Azas Kumparan Putar (Permanent Magnet Moving Coil) atau
sering disingkat sebagai PMMC merupakan alat pengukur yang berkerja atas dasar
prinsip dari adanya suatu kumparan listrik, yang ditempatkan pada medan magnit,
yang berasal dari suatu magnet permanen. Seperti yang terlihat pada gambar 2.1 arus
yang di alirkan melalui kumparan akan menyebabkan kumparan tersebut berputar.
Alat ukur kumparan putar adalah alat ukur penting yang dipakai untuk bermacam
arus. Tidak hanya untuk arus searah tapi dengan pertolongan alat-alat lainnya dapat
digunakan untuk mengukur arus bolak-balik. Prinsip kerja alat ini menggunakan
magnit yang permanent, yang mempunyai kutub-kutub, dan di antara kutub-kutub
tersebut di tempatkan suatu silinder inti besi, di celah udara antara kedua kutub
8
magnet, dan silinder inti besi akan terbentuk medan magnit yang rata, yang masuk
melalui celah kutub udara ini di tempatkan kumparan putar, yang dapat berputar
melalui sumbu. Bila arus searah yang tidak ketahui besarnya mengalir melalui
kumparan tersebut, maka suatu gaya elektro magnetis f yang mempunyai arah tertentu
akan di kenakan pada kumparan putar, sebagai hasil interaksi atara arus dan medan
magnit. Arah dari gaya f dapat di tentukan menurut ketentuan tangan dari Fleming.
Besar dari
gaya ini akan dapat di turunkan dengan mudah. Nyatakan besar medan
magnit dalam celah udara sebagai B, panjang kumparan sebagai a, dan lebar
kumparan sebagai b, momen putar Tp dapat dinyatakan sebagai:
T=B×A×I×N
........................................................................
(2.1)
T = Torsi (Nm)
B = kerapatan fluk magnet (Wb/m
A = luas efektif koil (m2)
I = arus ke kumparan putar (A)
N= jumlah belitan (N menyatakan banyaknya jumlah lilitan dari kumparan putar)
Karakteristik Alat Ukur Kumparan Putar :
 Pembagian skala uniform
 Pemakaian daya rendah
 Ketelitian tinggi
 Tahan terhadap medan magnet
 Untuk pengukuran besaran AC diperlukan penyearah (rectifier)
 Pegas dialiri arus yang diukur.
9
Gambar 2.1 Konstruksi Alat Ukur Azas Kumparan Putar
2.1.2
Macam-macam Alat Ukur Listrik
2.1.2.1 Voltmeter
Voltmeter adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengukur tegangan listrik.
Gaya magnetik akan timbul dari interaksi antar medan magnet dan kuat arus. Gaya
magnetik tersebut akan mampu membuat jarum alat pengukur voltmeter bergerak saat
ada arus listrik. Semakin besar arus listrik yang mengalir maka semakin besar
penyimpangan jarum yang terjadi, Voltmeter mengukur beda potensial (atau
10
tegangan) dari sebuah komponen listrik dengan menempatkannya secara paralel
dengan komponen tersebut seperti terlihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 2.2 Penempatan Voltmeter dengan Beban
Berikut ini jenis-jenis dari voltmeter:
1. Voltmeter Analog
Gambar 2.3 Bentuk Fisik Voltmeter Analog
Gambar diatas merupakan bentuk fisik dari voltmeter analog dimana prinsip kerja
voltmeter ini hampir sama dengan Amperemeter karena desainnya juga terdiri dari
11
galvanometer dan hambatan seri atau multiplier. Galvanometer menggunakan prinsip
hukum Lorentz, dimana interaksi antara medan magnet dan kuat arus akan
menimbulkan gaya magnetik. Gaya magnetik inilah yang menggerakan jarum
penunjuk sehingga menyimpang saat dilewati oleh arus yang melewati kumparan.
Makin besar kuat arus akan makin besar penyimpangannya. Gambar dibawah ini
menjelaskan bagaiman prinsip kerja dari voltmeter analog.
Gambar 2.4 Prinsip Kerja Prinsip Kerja Voltmeter Analog
Desain penyusunan galvanometer dengan hambatan multiplier menjadi voltmeter
dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Rm
Rm
Gambar 2.5 Desain penyusunan galvanometer
Fungsi dari multiplier adalah menahan arus agar tegangan yang terjadi pada
galvanometer tidak melebihi kapasitas maksimumnya, sehingga sebagian tegangan
12
akan berkumpul pada multiplier. Dengan demikian kemampuan mengukurnya
menjadi lebih besar.
Jika kemampuannya ingin ditingkatkan menjadi n kali maka dapat ditentukan
berapa besar hambatan multiplier yang diperlukan.
n=V/V
G
.............................................................................
(2.2)
Rm
= (n-1). RG
V = tegangan yang akan diukur
VG = Tegangan maksimum galvanometer
RG = Hambatan galvanometer
Rm = Hambatan multiplier
Untuk mengukur tegangan kita harus menggunakan voltmeter yang dipasang
paralel terhadap komponen yang kita ukur beda potensialnya. Jadi tidak perlu
dilakukan pemutusan penghantar seperti pada amperemeter. Pada rangkaian arus
searah pemasangan kutub-kutub voltmeter harus sesuai. Kutub positif dengan
potensial tinggi dan kutub negatif dengan potensial rendah. Bila pemasangan terbalik
akan terlihat penyimpangan yang arahnya ke kiri. Sedangkan pada rangkaian arus
bolak balik tidak menjadi masalah.
2. Voltmeter Digital
Pada dasarnya prinsip kerja voltmeter digital dan analog itu sama, hanya
data/informasi yang akan diukur bersifat analog. Blok diagram alat ukur digital terdiri
komponen
sensor,
penguat
sinyal
analog,
analog
to
digital
converter,
microprosessor, alat cetak, dan display digital. Bentuk fisik dari voltmeter digital
dapat dilihat pada gambar 2.6.
13
Gambar 2.6 Bentuk Fisik Voltmeter Digital
Gambar 2.7 Blok Diagram Alat Ukur Digital
Gambar diatas merupakan blok diagram alat ukur digital dimana sensor mengubah
besaran listrik dan non elektrik menjadi tegangan, karena tegangan masih dalam orde
mV maka perlu diperkuat oleh penguat input. Sinyal input analog yang sudah
diperkuat kemudian diubah menjadi sinyal digital dengan (ADC) analog to digital
yang kemudian akan diolah oleh perangkat PC atau microprosessor dengan program
tertentu dan hasil pengolahan disimpan dalam sistem memori digital. Setelah itu
informasi digital dicetak dengan mesin cetak dan kemudian hasilnya ditampilkan
dalam display yang berbentuk 7 segmen.
Display digital akan menampilkan angka diskrit dari 0 sampai angka 9 ada tiga
jenis, yaitu 7-segmen, 14-segmen dan dot matrik 5 x 7. Sinyal digital terdiri atas 0
14
dan 1, ketika sinyal 0 tidak bertegangan atau OFF, ketika sinyal 1 bertegangan atau
ON. Gambar
dibawah ini merupakan macam-macam dari display digital.
Gambar 2.8 Macam-Macam Display Digital
Voltmeter digital (DVMs) sekarang instrumen yang lebih disukai untuk
pengukuran ac dan dc disemua tingkat akurasi dan di semua tegangan sampai dengan
1 kV. Dasarnya adalah voltmeter digital terdiri dari referensi tegangan, biasanya
diberikan oleh dioda Zener, sebuah converter analog ke digital dan sistem tampilan
digital, dan catu daya, yang mungkin berasal baik dari listrik atau baterai.
2.1.2.2 Amperemeter
Amperemeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kuat arus listrik.
Amperemeter dapat dibuat atas susunan microamperemeter dan shunt yang berfungsi
untuk deteksi arus pada rangkaian baik arus yang kecil maupun arus yang besar,
sedangkan untuk arus yang besar ditambahkan dengan hambatan shunt. Amperemeter
bekerja sesuai dengan gaya lorentz gaya magnetis. Arus yang mengalir pada
kumparan yang diselimuti medan magnet akan menimbulkan gaya lorentz yang dapat
menggerakkan jarum amperemeter. Semakin besar arus yang mengalir maka semakin
besar pula simpangannya. Untuk menggunakan alat ini adalah dengan cara
memutuskan aliran pada sirkuit dan menyelipkan amperemeter pada tempat yang
telah terputus tadi. Penempatan amperemeter dengan beban dapat dilihat pada gambar
di bawah ini.
15
Gambar 2.9 Penempatan Amperemeter dengan Beban
Amperemeter menurut jenisnya mempunyai dua jenis yaitu:
1. Amperemeter analog
Gambar 2.10 Bentuk Fisik Amperemeter Analog
Gambar 2.10 merupakan bentuk fisik dari amperemeter analog. Seperti terlihat
pada gambar 2.11 amperemeter analog bekerja berdasarkan prinsip gaya magnetik
(Gaya Lorentz). Yaitu ketika arus mengalir melalui kumparan yang dilingkupi oleh
medan magnet timbul gaya lorentz yang menggerakan jarum penunjuk menyimpang.
Apabila arus yang melewati kumparan besar, maka gaya yang timbul juga akan
16
membesar sedemikian sehingga penyimpangan jarum penunjuk juga akan lebih besar.
Demikian
sebaliknya, ketika kuat arus tidak ada maka jarum penunjuk akan
dikembalikan ke posisi semula oleh pegas. Besar gaya yang dimaksud sesuai dengan
Prinsip Gaya Lorentz
F = B.I. L .......................................................................................................
(2.3)
Dimana:
F = Gaya elektromagnetis
B = Rapat fluksi
I = Arus yang mengalir
L = Panjang Kumparan
Gambar 2.11 Prinsip Kerja Amperemeter Analog
Kemampuan amperemeter dapat ditingkatkan dengan memasang hambatan shunt
secara parallel terhadap amperemeter seperti terlihat pada gambar 2.12. Besar
hambatan shunt tergantung pada berapa kali kemampuannya akan ditingkatkan.
Misalnya mula-mula arus maksimumnya adalah 1, akan ditingkatkan menjadi 1' = n.l,
maka besar hambatan shunt:
17
Rsh = RG
( n -1 )
.....................................................................................
(2.4)
Dimana:
RG = Hambatan galvanometer mula-mula
Contoh: Sebuah amperemeter dengan hambatan RG = 100 Ω dapat mengukur kuat arus
maksimum 100 mA. Berapa besar hambatan shunt yang diperlukan agar dapat
mengukur kuat arus sebesar 10 A.
Penyelesaian:
n = 10 A : 100 mA =100
Rsh = RG/(n-1) = 100/99 = 1,01 Ω
Rsh
RG
Gambar 2.12 Pemasangan Hambatan Shunt Terhadap Amperemeter
Amperemeter analog terdiri dari beberapa bagian antara lain :

Jarum penunjuk skala (pada amperemeter analog)
Jarum ini terpasang pada kumparan yang bergerak (moving coil) sehingga dapat
bergerak berdasarkan peredaran arus yang masuk dalam moving coil. Jarum
18
tersebut mempunyai fungsi penunjuk besaran arus yang terukur dimana akan
bergerak
dan berhenti pada skala yang sesuai dengan besaran yang diukur.

Probe
Berfungsi untuk menentukan polaritas amperemeter. Selain itu probe juga
digunakan untuk menentukan kutub positif amperemeter.

Kalibrator
Berfungsi
untuk menentukan kalibrasi atau penunjukan skala pada angka nol (0)
tepat,segaris dengan jarum penunjuk skala.
dengan

Ground
Berfungsi untuk menentukan kutub negatif dari amperemeter.

Cermin pemantul
Berada pada papan skala yang ditunjukan sebagai panduan untuk ketepatan
pembacaan skala.
Prosedur pengukuran pada amperemeter antara lain sebagai berikut :

Pastikan bahwa jarum penunjuk skala berada tepat satu garis dengan angka nol
(0) pada skala (pada amperemeter analog).

Memasang seri ampermeter dengan hambatan

Memasang kabel negatif (berwarna hitam) di ground ampermeter, dan kabel
positif (berwarna merah) pada probe amperemeter.

Membaca penunjukkan arus pada papan skala arus sesuai dengan posisi jarum
penunjuk skala.

Pembacaan skala dilakukan tegak lurus dimana bayangan jarum pada cermin
harus satu garis dengan jarum penunjuk, maksudnya agar tidak terjadi
penyimpangan dalam membaca.
2. Digital
Amperemeter digital merupakan jenis amperemeter yang cara penggunaanya
cukup sederhana. Pada amperemeter digital kita sudah tidak perlu lagi melakukan
19
penghitungan, cukup dengan melihat angka hasil pengukuran yang akan tertera pada
layar lcd.
Hal ini disebabkan adanya sebuah alat yang akan mengkonfersikan hasil
nilai pengukuran ke dalam layar 7 segmen yang langsung dapat dinilai hasil
pengukuranya tanpa harus menghitungnya.
Gambar 2.13 Bentuk Fisik Amperemeter Digital
Pada gambar diatas terlihat bentuk fisik dari amperemeter digital. Amperemeter
digital tipe SX72 memerlukan supply AC 220 volt untuk menghidupkan layar LCD
yang merupakan rangkaian 7 segmen. Pada dasarnya prinsip kerja amperemeter
digital sama dengan prinsip kerja pada amperemeter analog, hanya pada amperemeter
digital sinyal analog itu di convert ke sinyal digital oleh suatu program yang disebut
analog to digital (ADC). Setelah sinyal itu diubah menjadi sinyal digital kemudian
sinyal digital itu diolah oleh microprosessor dengan menggunakan program tertentu
untuk dikirim ke alat cetak yang nanti hasilnya akan ditampilkan ke display digital
yang berbentuk 7 segmen tadi.
Display digital akan menampilkan angka diskrit dari 0 sampai angka 9. Sinyal
digital terdiri atas 0 dan 1, ketika sinyal 0 tidak bertegangan atau OFF dan ketika
sinyal 1 bertegangan atau ON.
20
2.1.2.3 Frekuensi Meter
Frekuensi meter merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengetahui
banyaknya getaran listrik dengan kesatuan Herzt dari sumber pembangkit tenaga
listrik. Mengapa getaran ini perlu diketahui, hal ini menyangkut permasalahan dari
alat yang dipergunakan, dalam hal ini adalah alat-alat listrik karena alat-alat tersebut
sudah mempunyai spesifikasi tertentu untuk getaranya. Biasanya yang dipakai rata rata berkisar
45 Hz sampai dengan 55 Hz. Kecuali getaran-getaran dari komponen
elektronika.
Perlu diingat pada teori dasar dari generator listrik, tertera rumus:
Frekuensi (F) = n.p ....................................................................................
120
(2.5)
Frekuensi meter bekerja atas dasar azas getaran listrik atau getaran secara
mekanis. Frekunsi dengan azas resonansi (getaran) listrik jarang temukan, mengingat
pembuatannya sangat mahal dan rumit dan disebabkan ruang lingkup penunjukkan
jarum penunjuk sangat-sangat sempit hanya berkisar 48 Hz sampai 52 Hz, tetapi yang
banyak dipakai adalah frekuensi meter dengan azas mekanik mudah merakitnya.
Penyambungan frekuensi meter sama halnya dengan penyambungan alat ukur
voltmeter.
Jadi
disambung secara pararel
terhadap jaringan listrik,
penyambungannya adalah sebagai berikut:
Gambar 2.14 Pemasangan Frekuensi Meter Pada Beban
Cara
21
 Frekuensi meter Tipe Elektro Dinamis
Gambar 2.15 Bentuk Fisik Frekuensi Meter Analog Tipe Elektro Dinamis
Gambar diatas merupakan alat ukur frekuensi dengan skala penunjukkan atau sering
dibuat sebagai alat ukur rasio (elektro dinamis). Pada gambar 2.16 kita bisa melihat
bahwa arus yang mengalir melalui kumparan M1 dan M2 adalah I1 dan I2 .
Konstanta-konstanta dipilih sedemikian rupa, sehingga menyebabkan arus-arus
mempunyai resonansi pada masing-masing 42 Hz. Maka rasio dari I1 dan I2 akan
berubah secara monoton dengan frekuensi-frekuensi yang berubah diatas, atau
dibawah 50 Hz. Maka petunjuk akan bergetar sesuai dengan rasio tersebut, dan
frekuensi yang akan diukur dapat diketahui pada skala petunjuk.
Gambar 2.16 Prinsip Kerja Frekuensi Meter Tipe Elektro Dinamis
22
 Frekuensi meter Lidah Bergetar
Gambar 2.17 Bentuk Fisik Frekuensi Meter Lidah Bergetar
48
49
50
51
52
Gambar 2.18 Prinsip Kerja Suatu Frekuensi Meter Jenis Batang Bergetar
Pada gambar diatas menunjukkan sistem kerja suatu frekuensi meter jenis batang
bergetar. Sejumlah kepingan plat baja yang tipis membentuk lidah-lidah bergetar,
masing-masing memiliki perbedaan frekuensinya, relatif tidak berjauhan satu sama
lain dalam barisnya,dan mendapatkan arus medan magnet dari arus bolak -balik, salah
satu lidah akan timbul getaran dan beresonansi, memberikan defleksi yang besar
sesuai frekuensi yang ditimbulkan oleh arus bolak -balik.
23
Dalam perencanaan susunan lidah-lidah bergetar, telah ditetapkan bahwa
amplitudo
dari defleksinya akan menurun sampai kira-kira 60%, bila jarak dari
perbedaan frekuensinya 0, 25 Hz dari frekuensinya. Getaran dapat dilihat pada tipe
lidah bergetar.
2.1.2.4 Cosφ Meter
Dalam pengertian sehari-hari disebut pengukur Cosinus phi (φ ). Tujuan
pengukuran
Cosφ atau pengukur nilai cosinus sudut phasa adalah, memberikan
penunjukan secara langsung dari selisih phasa yang timbul antara arus dan tegangan.
Kita menghendaki bukan penunjukan sudut phasa melainkan penunjukan cosinus phi.
Untuk menghitung Cos φ dapat menggunakan rumus:
Cosφ = P ...........................................................................................................................................
(2.6)
V.I
Keterangan:
P = daya dalam satuan watt
V = tegangan dalam satuan volt
I = arus listrik dalam satuan ampere
Cara penyambungan cosφ meter tidak berbeda dengan watt meter sebagaiman gambar
dibawah ini :
24
Gambar 2.19 Cara Penyambungan Cosφ Meter
Berikut ini jenis-jenis dari Cosφ meter:
1. Cosφ Meter Analog
Gambar 2.20 Bentuk Fisik Cosφ Meter Analog
25

Prinsip Kerja Cosφ meter
Pengukuran
Cosφ berdasarkan pada dasar-dasar gerak listrik dapat dianggap
sebagai Pengukuran kumparan silang. Kumparan didalamnya terdiri dari
kumparan arus dan kumparan tegangan, prinsip seperti pengukur Watt.
Dalam proses pengukuran Cosφ, prinsip pengukuran bukanlah dituntut hasil yang
persis. Menurut petunjuk-petunjuk dari pembuat atau yang memproduksi alat
kesalahan yang diizinkan adalah dua derajat, sudut skala penunjukan.
ukur,
Gambar 2.21 Kopel yang Ditimbulkan Alat Ukur Cosφ Meter
Pada gambar diatas terlihat bahwa dengan jarum yang dihubungkan dengan
kumparan-kumparan yang dapat bergerak dan yang sikapnya selalu sesuai dengan
kumparan S2, maka penunjukan langsung berbanding lurus dengan φ. Kalau arus
mendahului, gambar diatas, kopel ditimbulkan oleh gaya I2 dari I3 karena itu kedua
gaya kopel bekerja bersama–sama, dimana kumparan S2 dengan jarumnya berhenti di
muka sudut negatif φ berarti di sebelah kiri dari garis tengah yang tegak.
26
2.1.2.5 Wattmeter
Wattmeter adalah instrumen pengukur daya listrik nyata yang pembacaannya
dalam satuan Watt. Wattmeter digunakan untuk mengukur daya listrik pada beban
beban yang sedang beroperasi dalam suatu sistem kelistrikan dengan beberapa
kondisi beban seperti : beban dc, beban AC satu phase serta beban AC tiga phase.
Daya listrik dalam pengertiannya dapat dikelompokkan dalam dua kelompok
sesuai dengan
catu tenaga listriknya, yaitu : daya listrik DC dan daya listrik AC. Daya
dirumuskan sebagai :
listrik DC
P = V . I .......................................................................................................
(2.7)
dimana :
P
= daya (Watt)
V
= tegangan (Volt)
I
= arus (Ampere)
Daya listrik AC ada 2 macam yaitu: daya untuk satu fasa dan daya untuk tiga
fasa, dimana dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Pada sistem satu fasa:
P = V.I. cosφ ................................................................
(2.8)
dimana :
V
= tegangan kerja (Volt)
I
= Arus yang mengalir ke beban (Ampere)
Cosφ = faktor daya
2. Pada sistem tiga fasa :
P = 3 V.I. cosφ .............................................................
dimana :
V
= tegangan fasa netral (volt)
I
= arus yang mengalir kebeban (Ampere)
Cosφ = faktor daya
(2.9)
27
Gambar 2.22 Cara Penyambungan Wattmeter
Pemasangan
wattmeter dengan notasi terminal 1,2,3 dan 5. Terminal 1-3 terhubung
ke belitan arus wattmeter, terhubung seri dengan beban. Terminal 2-5 terhubung ke
belitan tegangan wattmeter. Terminal 1-2 dikopel untuk mendapatkan catu tegangan
suply tegangan seperti terlihat pada gambar 2.22.
Pemasangan terminal meter tidak boleh tertukar, karena akibatnya meter tidak
berfungsi. Untuk pengukuran daya besar, dimana arus beban besar dapat digunakan
trafo CT untuk menurunkan arus yang mengalir ke belitan arus wattmeter.
Berikut ini tipe dari wattmeter:
a. Wattmeter tipe elektrodinamometer
Wattmeter tipe elektrodinamik memiliki dua jenis belitan kawat, yaitu belitan
kawat arus yang dipasang diam dua buah pada magnet permanen, dan belitan kawat
tegangan sebagai kumparan putar terhubung dengan poros dan jarum penunjuk.
Interaksi medan magnet belitan arus dan belitan tegangan menghasilkan sudut
penyimpangan jarum penunjuk sebanding dengan daya yang dipakai beban
persamaan 2.8.
Gambar 2.23 Konstruksi wattmeter elektrodinamometer
28
Pada gambar 2.23 kumparan arus dari Wattmeter dihubungkan secara seri dengan
rangkaian
(beban), dan kumparan tegangan dihubungkan parallel dengan line. Jika
arus line mengalir melewati kumparan arus dari wattmeter, maka akan
membangkitkan medan disekitar kumparan. Kuat medan ini sebanding dengan
besarnya arus line kumparan tegangan dari wattmeter dipasang seri dengan resistor
yang mempunyai nilai resistansi sangat tinggi. Tujuannya adalah untuk membuat
kumparan tegangan dari meter mempunyai ketelitian tinggi. Jika tegangan
rangkaian
dipasangkan
kekumparan tegangan, arus akan sebanding dengan tegangan line
2.2 Trafo Arus (Current Transformer)
Trafo arus/current transformer (CT) adalah suatu peralatan listrik yang dapat
memperkecil arus besar menjadi arus kecil, yang dipergunakan dalam rangkaian arus
bolak-balik. Fungsi CT adalah untuk memperoleh arus yang sebanding dengan arus
yang hendak diukur (sisi sekunder 5 A atau 1 A) dan untuk memisahkan sirkuit dari
sistem yang arusnya hendak diukur (yang selanjutnya disebut sirkuit primer) terhadap
sirkuit dimana instrument tersambung (yang selanjutnya disebut sirkuit sekunder).
Berbeda dari transformator tenaga yang arusnya tergantung beban disisi sekunder,
tetapi pada trafo arus seperti halnya ampere meter yang disisipkan ke dalam sirkuit
primer, arusnya tidak tergantung beban disisi sekunder, melainkan semata-mata
tergantung pada arus disisi primernya. Berikut ini gambar bentuk fisik dari trafo arus.
Gambar 2.24 Bentuk Fisik Trafo Arus
29
CT umumnya terdiri dari sebuah inti besi yang dililiti oleh konduktor beberapa
ratus kali.
Output dari sekunder biasanya adalah 1 atau 5 ampere, ini ditunjukan
dengan ratio yang dimiliki oleh CT tersebut. Misal 100:1, berarti sekunder CT akan
mengeluarkan output 1 ampere jika sisi primer dilalui arus 100 Ampere. Jika 10:5,
berarti sekunder CT akan mengeluarkan output 5 ampere jika sisi primer dilalui arus
10 Ampere. Dari kedua macam output tersebut yang paling banyak ditemui,
dipergunakan
dan lebih murah adalah yang 5 ampere. Perbandingan antara belitan
primer dan
sekunder pada trafo arus dapat dijelaskan menurut persamaan:
..................................................................................
(2.10)
Trafo arus/Current Transformers terdiri dari belitan primer, belitan sekunder dan
inti magnetik. Jika arus primer yang masuk ke CT ke teminal P1/K dan arus yang
mengalir ke sekunder dinamakan terminal S1/k, seperti terlihat pada gambar 2.25
(lihat arah arus sekunder IS yang masuk ke ampere meter). Selanjutnya terdapat
terminal kedua pada CT disisi primer yaitu P2/L adalah terminal yang arusnya
diperoleh dari P1/K yang dialirkan ke beban dan S2/l sisi sekunder adalah terminal yang
arusnya diperoleh dari S1/k
Gambar 2.25 Rangkaian Equivalen CT
30
Dalam hal ini, polaritas sisi sekunder harus disesuaikan dengan datangnya arus di
terminal sisi primer (tidak boleh terbalik). Secara normal yang sesuai standar IEC
terminal S2/l harus ditanahkan sebagai pengamanan sekunder CT terhadap tegangan
tinggi akibat kopling kapasitif, sehingga sudut antara arus primer dan sekunder = nol,
kalau S1/k yang ditanahkan maka sudut arus antara primer dan sekunder
menjadi=1800. Pada gambar 2.25 terlihat arus yang masuk ke sekunder (IS) diperoleh
primer (IP), yang diasumsikan arus dari primer tidak ada error (kesalahan)
dari arus
seperti terlihat
pada persamaan 2.10.
Gambar 2.26 Grafik Burden CT
Pada CT tertulis class dan burden yang grafiknya dapat dilihat pada gambar di
atas, dimana masing masing mewakili parameter yang dimiliki oleh CT tersebut.
Class menunjukan tingkat akurasi CT, misalnya class 1.0 berarti CT tersebut
mempunyai tingkat kesalahan 1%. Burden menunjukkan kemampuan CT untuk
menerima sampai batas impedansi tertentu. CT standart IEC menyebutkan burden 1.5
VA (volt ampere), 3 VA, 5 VA dst. Burden ini berhubungan dengan penentuan besar
kabel dan jarak pengukuran (lihat table).
Aplikasi CT dapat disambungkan dengan alat meter seperti ampere meter, KW meter
Cos Phi meter, dll.
31
2.3 Selector Switch
Selector
Switch atau rotary switch adalah switch yang dioperasikan oleh rotasi.
Ini sering dipilih ketika lebih dari 2 posisi yang dibutuhkan, seperti untuk memilih
besaran tegangan, arus atau frekuensi yang akan diukur, dll. Sebuah rotary switch
terdiri dari spindel atau "rotor" yang memiliki lengan kontak yang permukaannya
seperti cam. Ini memiliki berbagai terminal, tersusun dalam suatu lingkaran di sekitar
rotor, yang
masing-masing berfungsi sebagai kontak untuk "spoke" di mana salah
sejumlah sirkuit listrik yang berbeda dapat dihubungkan ke rotor. Saklar ini
satu dari
berlapis-lapis untuk memungkinkan penggunaan beberapa kutub, setiap lapisan
adalah setara dengan satu tiang. Biasanya seperti switch memiliki mekanisme detent
jadi "klik" dari satu posisi aktif yang lain daripada warung di posisi menengah. Jadi
rotary switch menyediakan tiang besar dan membuang kemampuan dari switch
sederhana lakukan. Rotary switch ada beberapa macam yang mempunyai fungsi dan
kegunaan masing-masing, seperti :
1. Voltmeter Switches
Gambar 2.27 Bentuk Fisik Voltmeter Switches
32
Voltmeter switches merupakan sebuah selektor yang digunakan untuk memilih
parameter
tegangan yang kita inginkan. Voltmeter switches ini bisa mengukur enam
parameter tegangan seperti tegangan antar fasa R-S, S-T, R-T dan juga mengukur
tegangan fasa dengan netral yaitu R-N, S-N, dan T-N.
Gambar 2.28 Connection Diagram Voltmeter Switches
Gambar diatas merupakan gambar connection diagram dari voltmeter switches,
dimana fungsi dari connection diagram adalah untuk mempermudah kita dalam
pemasangannya. Berikut ini merupakan gambar wirring diagram dari gambar
connection diagram di atas :
Gambar 2.29 Wirring Diagram Voltmeter Switches
33
Dari gambar connection diagram di atas apabila tuas voltmeter switches
dipindahkan
ke posisi:

R-S, maka kontak 8 & 7 dan R & 9 menutup.

S-T, maka kontak 4 & V1 dan S & 5 menutup.

R-T, maka kontak 4 & V1 dan R & 9 menutup.

R-N, maka kontak R & 9 dan N & 11 menutup.

maka kontak S & 5 dan N & 11 menutup.
S-N,

maka kontak T & V2 dan N & 11 menutup.
T-N,
2. Amperemeter Switches
Gambar 2.30 Bentuk Fisik Amperemeter Switches
Amperemeter switches merupakan sebuah selector yang digunakan untuk memilih
parameter arus yang kita inginkan. Amperemeter switches ini bisa mengukur tiga
parameter arus seperti arus IR, IS, dan IT.
34
Gambar 2.31 Connection Diagram Amperemeter Switches
Gambar diatas merupakan gambar connection diagram dari amperemeter switches,
dimana fungsi dari connection diagram adalah untuk mempermudah kita dalam
pemasangannya. Berikut ini merupakan gambar wiring digram dari gambar
connection diagram di atas :
Gambar 2.32 Wirring Diagram Amperemeter Switches
35
Dari gambar connection diagram di atas apabila tuas amperemeter switches
dipindahkan
ke posisi:

R, maka kontak 4 & A2, R & 5, dan N & 12 menutup.

S, maka kontak 2 & 1, 4 & A2 dan S & A1 menutup.

T, maka kontak 2 & 1, T & 7 dan 12 & N menutup.

OFF, maka kontak 2 & 1, 4 & A2 dan 12 & N menutup.
3. Frekuensi
Meter Switches
Gambar 2.33 Bentuk Fisik Frekuensi meter Switches
Frekuensi Meter switches merupakan sebuah selektor yang digunakan untuk
memilih parameter frekuensi yang kita inginkan. Frekuensi Meter switches ini bisa
mengukur tiga parameter frekuensi seperti frekuensi pada fasa R, S, dan T.
Gambar 2.34 Connection Diagram Frekuensi Meter switches
36
Gambar diatas merupakan gambar connection diagram dari Frekuensi Meter
switches,
dimana fungsi dari connection diagram adalah untuk mempermudah kita
dalam pemasangannya. Berikut ini merupakan gambar wiring digram dari gambar
connecrion diagram diatas :
Gambar 2.35 Wirring Diagram Frekuensi Meter Switches
Dari gambar connection diagram di atas apabila tuas frekuensi meter switches
dipindahkan ke posisi:

FR, maka kontak 2 & 1 menutup.

FS, maka kontak 4 & 3 menutup.

FT, maka kontak 6 & 5 menutup.
4. Cosφ meter & Wattmeter Current Switch
Gambar 2.36 Bentuk Fisik Cosφ meter & Wattmeter Current Switch
37
Cosφ meter & Wattmeter Current Switch merupakan sebuah selektor yang
digunakan
untuk menghidupkan dan mematikan kumparan arus dari cosφ meter dan
wattmeter. Apabila kita ingin menghidupkan kumparan arus dari kedua alat tersebut
kita tinggal memindahkan tuas selektor itu ke posisi ON dan apabila kita ingin
mematikannya kita tinggal memindahkan tuas selektor itu ke posisi OFF.
Gambar 2.37 Connection Diagram Cosφ meter & Wattmeter Current Switch
Gambar diatas merupakan gambar connection diagram dari Cosφ meter &
Wattmeter Current Switch, dimana fungsi dari connection diagram adalah untuk
mempermudah kita dalam pemasangannya. Berikut ini merupakan gambar wiring
digram dari gambar connecrion diagram di atas :
Gambar 2.38 Wirring Diagram Cosφ & Watt Current Switches
38
Dari gambar connection diagram di atas apabila tuas Cosφ meter & Wattmeter
Current Switch dipindahkan ke posisi:

ON, maka kontak 1&2, 3&4, 5&6, 7&8, 9&10, 11&12 menutup.

OFF, maka kontak 1&2, 3&4, 5&6, 7&8, 9&10, 11&12 membuka.
5. Cosφ meter & Wattmeter Voltage Switch
Gambar 2.39 Bentuk Fisik Cosφ meter & Wattmeter Voltage Switch
Cosφ meter & Wattmeter Voltage Switch merupakan sebuah selektor yang
digunakan untuk menghidupkan dan mematikan kumparan tegangan dari cosφ meter
dan wattmeter. Apabila kita ingin menghidupkan kumparan tegangan dari kedua alat
tersebut kita tinggal memindahkan tuas selektor itu ke posisi ON dan apabila kita
ingin mematikannya kita tinggal memindahkan tuas selektor itu ke posisi OFF.
Gambar 2.40 Connection Diagram Cosφ meter & Wattmeter Voltage Switch
39
Gambar diatas merupakan gambar connection diagram dari Cosφ meter &
Wattmeter
Voltage Switch, dimana fungsi dari connection diagram adalah untuk
mempermudah kita dalam pemasangannya. Berikut ini merupakan gambar wiring
digram dari gambar connecrion diagram diatas :
Gambar 2.41 Wirring Diagram Cosφ meter & Watmetert Voltage Switches
Dari gambar connection diagram di atas apabila tuas Cosφ meter & Wattmeter
Voltage Switch dipindahkan ke posisi:

ON, maka kontak 1&2, 5&6, 9&10, 13&14 menutup.

OFF, maka kontak 3&4, 7&8, 11&12, 15&16 membuka.
2.4 MCB 3 Fasa
MCB adalah sebuah alat yang di pakai untuk instalasi listrik.yang terdiri dari 1
fasa dan 3 fasa, tergantung dari pemakaian. Biasanya MCB di pakai untuk
sekering/fuse/pengaman untuk instalasi listrik di rumah maupun digedung, panel.
pabrik dan lain sebagainya. Kapasitas MCB menggunakan satuan Ampere (A),
Kapasitas MCB mulai dari 1A, 2A, 4A, 6A, 10A, 16A, 20A, 25A, 32A, dll.
40
Berdasarkan konstruksinya, maka MCB memiliki dua cara pemutusan yaitu
pemutusan
berdasarkan panas dan berdasarkan elektromagnetik.
Gambar 2.42 Konstruksi Dalam MCB
Pemutusan berdasarkan panas dilakukan oleh batang bimetal, yaitu perpaduan
dua buah logam yang berbeda koefisien muai logamnya. Jika terjadi arus lebih akibat
beban lebih, maka bimetal akan melengkung akibat panas dan akan mendorong tuas
pemutus tersebut untuk melepas kunci mekanisnya. Pemutusan berdasarkan
elektromagnetik dilakukan oleh koil, jika terjadi hubung singkat maka koil akan
terinduksi dan daerah sekitarnya akan terdapat medan magnet sehingga akan menarik
poros dan mengoperasikan tuas pemutus. Untuk menghindari dari efek lebur, maka
panas yang tinggi dapat terjadi bunga api yang pada saat pemutusan akan diredam
oleh pemadam busur api (arc-shute) dan bunga api yang timbul akan masuk melalui
bilah-bilah arc-shute tersebut.
Berikut beberapa kegunaan MCB :
1. Membatasi Penggunaan Listrik.
2. Mematikan listrik apabila terjadi hubungan singkat.
3. Mengamankan Instalasi Listrik.
41
4. Membagi rumah menjadi beberapa bagian listrik, sehingga lebih mudah untuk
mendeteksikerusakan
instalasi listrik.
a. Karakteristik
MCB
Karakteristik sekering dan MCB dinilai dalam amps. Secara normal disebut
sebagai rated current atau nominal current atau dalam bahasa indonesia dikenal
dengan istilah arus nominal. Seringkali kita berfikir bahwa jika arus melebihi arus
nominal, peralatan ini akan bekerja (trip) dengan segera. Misalnya dengan rating 15
amps, maka jika arus sistem 15.00001 amps maka peralatan tersebut akan bekerja
akan tetapi pada kenyataannya hal ini tidaklah sepenuhnya benar. Karena MCB
didesain untuk mengamankan kabel dalam rangkaian listrik, dan arus 15.00001 amps
tidaklah membahayakan. Gambar 2.43 akan menjelaskan bagaimana MCB bekerja
dalam mengamankan peralatan atau sistem dari arus lebih dan hubung singkat.
Gambar 2.43 Kurva Karakteristik MCB
Axis horizontal menunjukkan arus yang mengalir pada MCB pada suatu
rangkaian yang diproteksi, sedangkan axis vertical menujukkan lamanya waktu
diaman peralatan tersebut tetap dialiri arus sebelum bekerja (trip). Baik sekering atau
MCB, meskipun mereka memiliki arus nominal yang sama, akan tetapi memiliki cara
ekrja yang berbeda. Sebagai contoh, untuk bekerja dengan kecepatan 0.1 s, MCB
membutuhkan arus 128 amps.
42
2.5 Sistem Jaringan Pada SUTM
Jaringan Radial
2.5.1 Sistem
Sistem jaringan radial adalah sistem jaringan yang paling sederhana, paling
banyak dipakai, dan murah biaya pembangunannya. Jaringan yang keluar dari gardu
induk disebut penyulang utama, sedangkan cabang dari penyulang utama disebut
penyulang cabang. Arus yang paling besar mengalir pada jaringan yang paling dekat
dengan gardu induk distribusi dan akan semakin berkurang dengan semakin jauhnya
dari gardu
induk distribusi. Mengecilnya arus tersebut memungkinkan ukuran
konduktor diperkecil.
Struktur jaringan ini dalam menyalurkan energi listrik keandalannya kurang.
Suatu gangguan pada penyulang dapat mengakibatkan gangguan pada penyaluran
energi listrik ke pelanggan yang berada di belakang titik gangguan. Struktur jaringan
radial dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.44 Stuktur jaringan radial
Download