artikel - Portal Garuda

advertisement
ARTIKEL
Judul
IDENTIFIKASI POTENSI PRANGKO SERI KESEJARAHAN SEBAGAI
SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA
Oleh
G.B. SURYA UTAMA
1014021022
JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2014
IDENTIFIKASI POTENSI PRANGKO SERI KESEJARAHAN SEBAGAI SUMBER
BELAJAR SEJARAH DI SMA
G.B. Surya Utama
Jurusan Pendidikan Sejarah
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: {[email protected], [email protected],
[email protected] }@undiksha.ac.id
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Jenis-jenis prangko seri kesejarahan yang
memiliki potensi sebagai sumber belajar sejarah di SMA, (2) Peristiwa yang terkandung di dalam
prangko seri kesejarahan yang memiliki potensi sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian ini
merupakan jenis penelitan deskriptif kualitatif. Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian deskriptif
kualitatif ialah menggunakan pendekatan sosial yaitu: (1) Penentuan Rancangan Penelitian, (2)
Penentuan Lokasi Penelitian, (3) Penentuan Informan, (4) Pengumpulan Data (observasi, wawancara,
studi dokumen) dan (5) Validitas Data yang terdiri dari triangulasi data dan triangulasi metode, (6)
Analisis data.
Hasil penelitian ini adalah (1) Jenis-jenis prangko seri kesejarahan yang memiliki potensi
sebagai sumber belajar sejarah di SMA adalah semua prangko yang diterbitkan oleh suatu negara
untuk memperingati suatu peristiwa kenegaraan. Prangko yang bertemakan seri kesejarahan yang
terkait dengan Kurikulum, Silabus diantaranya adalah prangko seri 100 tahun paleontologi di
Indonesia, seri pahlawan nasional, sampai dengan prangko seri reformasi serta seri kesejarahan
lainnya. (2) Adapun beberapa contoh peristiwa yang terkandung dalam prangko yang bisa dijadikan
sumber belajar sejarah sebagai berikut. Pertama, prangko yang bertema revolusi Pertempuran
Surabaya yang terbit pada tanggal tahun 1964 yang menggambarkan peristiwa perjalanan Bangsa
Indonesia dalam melawan kolonialisme. Kedua, prangko yang bertema pembacaan teks proklamasi
kemerdekaan Republik Indonesia yang terbit pada 17 Agustus 1955 yang menggambarkan peristiwaperistiwa penting atau detik-detik menjelang proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Ketiga,
prangko yang bertema reformasi 1998 yang terbit pada tanggal 28 Oktober 1998 tentang peristiwa
lengsernya Presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun.
Kata-kata Kunci: Prangko Sejarah, Sumber Belajar
ABSTRACT
This study aims to determine (1) The types of stamps series history that has potential as a
source of learning history in high school, (2) events contained in the stamp series history that has
potential as a source of learning history in high school. This research is a descriptive qualitative
research. Steps being taken in a qualitative descriptive study is to use a social approach, namely: (1)
Determination of Design Research, (2) Siting Research, (3) Determination of informants, (4) data
collection (observation, interviews, document study) and (5) the validity of the data consists of data
triangulation and method triangulation, (6) data analysis.
The results of this study were (1) type series history stamps that have potential as a source of
learning history in high school are all stamps issued by a country to commemorate an event. Series
history stamps related to the curriculum, syllabus which includes a series of stamps paleontology 100
years in Indonesia, a national hero, to reform stamp series and other historical series. (2) As for some
examples of events contained in stamps that can be used as a source of learning history as follows.
First, the stamps on the theme of revolution Battle of Surabaya which was published in 1964 that
describes the events of the trip date the Indonesian nation in the fight against colonialism. Secondly,
reading texts themed stamps proclamation of independence of the Republic of Indonesia which was
published on August 17, 1955 depicting important events or seconds before the proclamation of
Indonesian independence. Third, in 1998 the reform-themed stamps issued on October 28, 1998 on
account of the fall of President Suharto, who had ruled for 32 years
Keywords: Historical Stamps, Learning Resources
A.
PENDAHULUAN
Seiring
perkembangan
era
komunikasi, jumlah pengguna prangko
sebagai
kelengkapan
surat-menyurat
lewat pos, kini kian menurun. Teknologi di
bidang komunikasi kini semakin canggih.
Akses menuju Dunia luar bisa ditembus
dalam hitungan detik. Kemajuan teknologi
ini menyisihkan penggunaan sistem
komunikasi
manual
semisal
suratmenyurat melalui kantor pos.
Prangko tak hanya berkaitan dengan
komunikasi. Kertas berukuran mungil itu
juga mengandung unsur sejarah dan
pendidikan. Gambar yang tertuang dalam
prangko merupakan simbol identitas
sebuah negara. Bila diperhatikan, gambar
pada prangko selalu berkaitan dengan
peristiwa-peristiwa nasional dan daerah
atau hal yang berkaitan dengan kehidupan
bernegara. Dengan demikian, bila prangko
dikumpulkan tahun ke tahun, kita akan
melihat
uraian
sejarah
dan
ilmu
pengetahuan.
Direktorat
Jenderal
Pendidikan
Dasar dan menengah (2004) menyatakan,
makna prangko bukan hanya berfungsi
untuk
mengirimkan
surat,
tetapi
merupakan duta bangsa dan sumber
ataupun media untuk menceritakan
tentang sejarah, tokoh nasional, dan lainlain.
Prangko dalam dimensi pendidikan
digunakan sebagai sarana untuk sumber
atau pun media pembelajaran. Tidak
hanya satu bidang studi saja, melainkan
beberapa cakupan bidang studi pun bisa
terepresentasi lewat prangko. Peneliti
mencoba
mengejawantahkan
atau
mengidentifikasi potensi prangko seri
kesejarahan sebagai sumber belajar
sejarah di SMA meskipun edukasi di
dalam prangko tidak hanya sebatas
kepada pelajaran sejarah, namun untuk
saat ini peneliti lebih memfokuskan pada
bidang studi sejarah yang menjadi induk
untuk dikaji. Itulah alasannya mengapa
prangko disebut terkait dengan dunia
pendidikan.
Menurut Syamft (2012) dalam
rangka mewujudkan pembelajaran sejarah
yang ideal diperlukan berbagai perangkat
peraturan seperti kurikulum, siswa yang
memiliki minat tinggi terhadap mata
pelajaran sejarah, guru yang professional
sebagai ujung tombak yang berhubungan
langsung dengan siswa sebagai subjek
dan objek belajar karena dalam proses
pembelajaran, guru adalah salah satu
faktor penting untuk mensukseskan
proses pembelajaran.
Namun apabila ditinjau secara
umum, pembelajaran sejarah yang
dilaksanakan dibeberapa sekolah-sekolah
saat
ini
dirasakan
kering
dan
membosankan. Pembelajaran sejarah
yang selama ini terjadi hanya membawa
siswa untuk berimajinasi terhadap hal-hal
yang diajarkan mengenai peristiwa yang
terjadi
pada
masa
lampau
yang
mengakibatkan adanya kesulitan bagi
para siswa yang daya khayalnya kurang,
apalagi dalam pembelajaran peran
sumber daya manusia yakni guru selalu
menggunakan metode yang sama yaitu
ceramah. Peran pendidik semakin terasa
seperti radio, yang mana dalam proses
belajar mengajar peran guru masih
bersifat klasik. Minimnya sarana dan
prasarana serta pemilihan sumber belajar
yang kurang merangsang siswa untuk
belajar menyebabkan siswa kurang
berminat untuk mengikuti proses belajar
mengajar. Alhasil pembelajaran sejarah
yang ideal masih jauh dari harapan.
Sudah
jelas
ini
menjadi
tanggungjawab para sejarawan pendidik
(tentu juga para sejarawan pada
umumnya) untuk berupaya menemukan
jalan keluar bagi kondisi mata pelajaran
sejarah yang tidak pada tempatnya ini.
Berangkat dari fenomena inilah, maka
diperlukan suatu pemikiran baru sebagai
alternatif pemecahan masalahnya atau
upaya mengatasi situasi yang tidak
menguntungkan posisi pelajaran sejarah
itu. Salah satu pembenahan yang bisa
dilakukan adalah pengayaan terhadap
sumber belajar sejarah. Sebuah inovasi
baru dari pendidik untuk meningkatkan
semangat belajar sejarah, membangkitkan
minat siswa dan bekerja sama dalam
mengkomunikasikan hasil belajarnya.
Sehingga dengan adanya inovasi baru ini
kegiatan proses belajar mengajar menjadi
lebih menarik dan menyenangkan tanpa
mengesampingkan tujuan yang ingin
dicapai.Seperti dipaparkan di awal,
pemilihan prangko sebagai sumber belajar
sejarah karena menyiratkan beberapa hal
penting tentang hakikat dan eksistensi
prangko yang perlu menjadi perhatian kita
semua. Hal-hal penting dimaksud adalah :
Pertama, Keragaman gambar pada
prangko tidak hanya sebatas untuk
digemari dan dikoleksi, namun bisa
membawa manfaat yang lebih, terutama
bagi dunia pendidikan. Kedua, Prangko
dengan bermacam-macam seri (Filateli
Litelatur,
Filateli
Tematik,
Filateli
Tradisional, dsb) ternyata sangat relevan
dijadikan
sumber
belajar.
Ketiga,
Penggunaan prangko sebagai sumber
belajar sejarah secara tidak langsung
merupakan bentuk pengakuan bahwa
prangko mempunyai kapasitas sebagai
salah satu referensi ilmu pengetahuan.
Kajian-kajian tentang sumber belajar
sejarah sebenarnya sudah banyak
dilakukan. Sebagaimana yang dilakukan
oleh Putu Puspa Erlita Suardi (2013) yang
meneliti Monumen Perjuangan Bangsal
Kawasan Pertigaan Gaji-Dalung-Sempidi,
Kabupaten Badung (Studi Tentang
Sejarah dan Fungsi Monumen Sebagai
Sumber Belajar Sejarah dan Media
Pewarisan Nilai Bagi Generasi Muda di
Desa Dalung, Badung. Kemudian oleh I
Gede Ardana (2013) yang meneliti
Monumen Tanah Aron Sebagai Sumber
Belajar Sejarah Bagi Generasi Muda di
Desa
Bhuana
Giri,
Bebandem,
Karangasem, Bali.
Skripsi Isromi Almaidata (2013)
yang berjudul Identifikasi Sejarah Masjid
Kuno Gunung Pujut di Desa Sengkol,
Pujut Lombok Tengah, Nusa Tenggara
Barat, sebagai Bahan Pengembangan
Sumber Belajar Sejarah Lokal, I Wayan
Pardi (2013) dengan judul Eksistensi
Punden Berundak di Pura Candi Desa
Pakraman Selulung, Kintamani, Bangli
(Kajian Tentang Sejarah dan Potensinya
Sebagai Sumber Belajar Sejarah).
Serta penelitian sejenis terkait
dengan kajian tentang prangko seperti
Intan
Sari
Boenarco
(2008)
dari
Universitas Indonesia dengan Judul
"Tanda-tanda informasi fungsi bahasa
dalam perangko Uni Soviet tahun 1951-
1955 : sebuah kajian semiotik”. Skripsi ini
bertujuan untuk menguraikan tanda-tanda
informasi
yang
digunakan
pada
keanekaragaman desain dan warna
perangko Uni Soviet tahun 1951-1955.
Dari penelitian ini menyimpulkan bahwa
Perangko Uni Soviet tidak hanya menjadi
media informasi, tetapi karena digunakan
untuk
kepentingan
tertentu
seperti
propaganda clan menumbuhkan sikap
heroisme. Dengan demikian, secara
intensif
dan
sistematik
perangko
dipergunakan untuk menyatakan sesuatu,
membawa pesan yang jelas. Sederhana
namun pengaruhnya luar biasa.
Dari beberapa kajian di atas dapat
dicari persamaan dan perbedaannya.
Persamaannya
adalah
sama-sama
mengkaji permasalahan pembelajaran
sejarah ditinjau melalui aspek yang
dijadikan sumber belajar sejarah. Adapun
letak perbedaannya adalah dari segi
obyek penelitiannya berupa monumen,
masjid, museum, pura dan prangko. Jadi,
berdasarkan
kajian
pustaka
yang
dilakukan, maka dapat diketahui sudut
pandang yang diambil penulis dalam
masalah ini berbeda dengan karya-karya
yang pernah ada. Perbedaan ini dapat
dilihat dari lebih ditekannya perspektif
pendidikan dalam kajian Prangko ini.
Perspektif pendidikan ini dapat dilihat dari
kajian penulis mengenai prangko sebagai
salah satu alternatif sumber belajar
sejarah.
Salah satu alasan yang dapat
merepresentasikan
bahwa
prangkoprangko seri kesejarahan yang disebutkan
diatas memiliki potensi yang memang
relevan digunakan sebagai sumber belajar
sejarah adalah dengan mengkaitkan
dengan pengelolaan bahan ajar dalam
silabus
dengan
mengacu
kepada
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan
Kurikulum 2013 dari kelas X sampai
dengan kelas XII.
Maka dari itu peneliti meyakini
setelah mengadakan ziarah pustaka dan
pengamatan yang komprehensif serta
sepengetahuan peneiliti belum ada yang
meneliti tentang prangko, meskipun ada
tetapi belum ada yang secara lebih
mendalam meneliti mengenai Identifikasi
Potensi Prangko Seri Kesejarahan
Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA
sehingga
dengan
dillaksanakannya
penelitian ini diharapkan dapat menambah
referensi bagi pemanfaatan sumber
belajar sejarah khususnya dan bisa
sejalan dengan paradigma nasional masa
depan yang berorientasi pada upaya
membangun
manusia
Indonesia
seutuhnya
yang
mampu
mengaktualisasikan dimensi kemanusian
secara optimal. Dimulai dari dimensi
afektif, kognitif, dan psikomotor (Dirjen
PMPTK 2006).
B.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat deskriptif
kualitatif. Sehingga lebih banyak bertujuan
untuk memberikan gambaran secara jelas
kepada
pembaca
terkait
dengan
Identifikasi
Potensi
Prangko
Seri
Kesejarahan Sebagai Sumber Belajar
Sejarah di SMA. Adapun langkah-langkah
penelitian yang akan dilakukan antara lain
sebagai
berikut:
(1)
Penentuan
Rancangan Penelitian, (2) Penentuan
Lokasi Penelitian, (3) Penentuan Informan,
(4)
Pengumpulan
Data
(observasi,
wawancara, studi dokumen) dan (5)
Validitas Data yang terdiri dari triangulasi
data dan triangulasi metode, (6) Analisis
data.
C.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Penelitian ini dilaksanakan di
beberapa tempat yang memungkinkan
untuk memperoleh data yang terkait
dengan prangko sebagai sumber belajar,
diantaranya adalah Gallery Prangko Surya
Stamp di Ketewel, Kabupaten Gianyar, di
Kantor Pos Kota Denpasar jalan raya
Renon, dan di Pelabuhan Benoa Cruise
Terminal yang terdapat di Kota Denpasar,
Provinsi Bali. Untuk mengetahui gambaran
umum tentang prangko maka akan
diuraikan prangko secara khusus. Melalui
uraian ini akan diperoleh karakteristik dan
gambaran umum prangko yang diteliti.
Hobi mengumpulkan prangko yang secara
luas disebut dengan filateli. Prangko
digunakan sebagai sarana sosialisasi atau
suatu peristiwa atau keadaan yang perlu
diketahui oleh masyarakat luas. Misalnya
mengenang
atau
peringatan
suatu
konferensi tingkat dunia, hari lingkungan
hidup, hari guru, hari olahraga nasional,
dan lain-lain. Selain itu ditampilkan pula
benda-benda bersejarah, situs-situs kuno,
dan warisan budaya umat manusia.
Sejarah Prangko dimulai dari
diterbitkannya cetakan pertama yang
merupakan hasil gagasan Sir Rowland Hill
diterbitkan di Inggris pada tanggal 6 Mei
1840, dan merupakan prangko pertama di
dunia yang bergambarkan Ratu Victoria
dengan berisikan tulisan One Penny.
Setelah terbit di Inggris kemudian prangko
berkembang ke negara-negara lain
termasuk Indonesia. Prangko pertama di
Indonesia terbit pada tanggal 1 April 1864
dengan warna merah anggur bergambar
raja Willem III (Penguasa HindiaBelanda/Netherlands Indie) saat itu.
Prangko ini bernominal 1 cent yang
kemudian mendapat julukan The Red
Williem.
Selama ini kita mengenal prangko
berbentuk segi empat, termasuk prangko
yang pertama kali dicetak sesuai dengan
bingkai potret raja (yang dijadikan gambar
prangko) dari negara penerbitnya. Namun
sebenarnya sudah ada beberapa bentuk
prangko selain segi empat. Prangko segi
empat saja bentuknya sangat bervariasi,
ada yang bujur sangkar (sama panjang di
keempat sisinya), meninggi (sisi kanan kiri
jauh lebih panjang dari pada sisi atas
bawah), dan memanjang (sisi atas bawah
lebih panjang daripada sisi kiri dan kanan).
Pembahasan
Jenis-jenis Prangko Seri Kesejarahan
yang Memiliki Potensi Sebagai Sumber
Belajar Sejarah di SMA
Filateli
atau
kegemaran
mengumpulkan prangko terdapat di manamana di seluruh dunia termasuk di
Indonesia. Hanya saja perkembangan
filateli di tanah air masih perlu digalakkan
sehingga lebih memasyarakat. Seperti
dipaparkan sebelumnya bahwa dengan
menekuni hobi filateli dapat memberikan
manfaat-manfaat yang positif. Salah
satunya
prangko
dalam
dimensi
pendidikan yang
tentunya aktivitas
mengumpulkan
secarik
kertas
ini
memberikan kontribusi tersendiri bagi
penggiatnya.
Oleh
karena
itu
tidaklah
mengherankan apabila di suatu negara
terdapat guru-guru yang mempergunakan
prangko sebagai salah satu alat untuk
menjelaskan pelajaran sejarah, ilmu bumi
dan sebagainya kepada murid-muridnya.
Juga tidaklah mengherankan apabila
untuk menanamkan disiplin kepada para
siswanya sebuah pendidikan militer
mengharuskan para siswanya untuk
mengumpulkan prangko.
Berikut adalah beberapa jenis
prangko seri kesejarahan yang memiliki
potensi sebagai sumber belajar sejarah di
SMA dikaitkan dengan pengelolaan bahan
ajar berupa Silabus, yaitu :
1. Prangko Seri : Folk tales (Cerita
Rakyat Malin Kundang)
Tahun Edar
: 02 Februari 1998
2. Prangko Seri :
100
Tahun
Palaeoanthropologi Indonesia 18891989 (Perning 1 Homo Erectus dan
Sangiran 10 Homo Erectus )
Tahun Edar
: 31 Agustus 1989
3. Prangko Seri : Candi Borobudur
Tahun Edar
: 15 Maret 1961
4. Prangko Seri : Keraton Ratu Boko
(Situs Arkeologi)
Tahun Edar
: 20 Februari 2013
5. Prangko Seri : Peta Indonesia
Zaman Portugis
Tahun Edar
: 20 Januari 2008
6. Prangko Seri : Pahlawan Nasional
(Ki Hajar Dewantara dan RA Kartini)
Tahun Edar
: 10 November 1961
7. Prangko Seri : Seri 10 Tahun
Merdeka
Tahun Edar
: 17 Agustus 1955
8. Prangko Seri : 100 Tahun Bung
Karno dan Bung Hatta
Tahun Edar
: 6 Juni 2001
9. Prangko Seri : Revolusi (Bandung
Lautan Api dan Pertempuran
Surabaya)
Tahun Edar
: 1946
10. Prangko Seri : Pemilihan Umum
Pertama dan Monumen Pahlawan
Revolusi
Tahun Edar
: 29 September
1955
dan
17
Agustus 1967
11. Prangko Seri : Akuisisi Irian Barat
dan Konferensi Asia Afrika
Tahun Edar
: 1 Mei 1963 dan 18
April 1955
12. Prangko Seri : Presiden Suharto
dan Ibu Tien Suharto
Tahun Edar
: 17 Agustus 1974
dan 5 Agustus 1966
13. Prangko Seri :
Pembangunan
Lima Tahun (Konstruksi) dan
(Teknologi Penerbangan)
Tahun Edar
: 1 April 1992
14. Prangko Seri :
Presiden
BJ
Habibie
Tahun Edar
: 17 Agustus 1998
dan 28 Oktober
1998
15. Prangko Seri : Muhammad Hatta
dan Abraham Lincoln, Sutan Sjahrir
dan Thomas Jefferson, Presiden
Soekarno dan George Washington
Tahun Edar
: 1948
Peristiwa yang Terkandung di Dalam
Prangko Seri Kesejarahan
yang
Memiliki Potensi Sebagai Sumber
Belajar Sejarah di SMA
Berjuta-juta
prangko
dengan
beraneka ragam lukisan dan bentuknya
setiap tahun diterbitkan oleh berbagai
negara di seluruh dunia. Menarik untuk
dicermati bahwa dari sebuah prangko
yang diterbitkan memiliki pesan yang ingin
disampaikan kepada masyarakat. Gambar
dari sebuah prangko yang bertemakan
kesejarahan biasanya digambarkan pada
sebuah peristiwa yang memiliki pengaruh
luas terhadap kehidupan berbangsa suatu
negara. Sehingga diterbitkan untuk
memperingati kejadian atau peristiwa
tersebut.
Adapun beberapa contoh daripada
peristiwa yang tekandung dalam prangko
yang bisa dijadikan sumber belajar sejarah
sebagai berikut.
Pertama, adalah prangko yang
bergambarkan atau bertema Revolusi.
Contohnya Pertempuran Surabaya yang
terbit pada tanggal tahun 1964. Peristiwa
yang terkandung di dalam prangko
tersebut apabila kita analisis adalah ketika
revolusi di suatu daerah kita bisa melihat
bagaimana masyarakat bereaksi, ada
yang sekelompok masyarakat yang
berperilaku
mendukung
Republik
Indonesia, ada yang mendukung Belanda,
ada
yang
mendukung
kelompok
pemberontak, ada yang langsung ikut
bertempur melawan Belanda, ada yang
menjadi mata-mata pejuang Republik, ada
yang menjadi mata-mata Belanda, ada
penduduk yang membantu pejuang
dengan cara memberi makanan, dan
berbagai bentuk perilaku lainnya.
Kedua, adalah prangko yang
bergambarkan
pembacaan
teks
proklamasi
kemerdekaan
Republik
Indonesia yang terbit pada 17 Agustus
1955. Peristiwa yang terkandung di dalam
prangko tersebut apabila kita analisis
adalah Kolonialisme selama tiga setengah
abad telah menggerogoti kekayaan alam,
mengikis
kepribadian
bangsa
dan
memusnahkan
kekuatan
bangsa,
sehingga menjadi bangsa yang lemah dan
penakut. Dalam percikan permenungan,
Bung Karno menemukan kembali simbolsimbol kepribadian bangsa yang telah
hilang untuk dipertautkan kembali bagi
kelahiran
bangsa
yang
merdeka.
Kekuatan
sosial
ekonomi
rakyat
(Marhaenisme),
bahasa
persatuan
Indonesia
dan
nasionalisme
bila
dipadukan akan menjadi kekuatan rakyat
untuk mengenyahkan penjajahan Belanda.
Bung Karno membangkitkan kekuatan itu
kepada segenap rakyat dalam suatu
gerakan
nasional
dengan
tujuan
“Mencapai
Kemerdekaan
Indonesia
Sepenuhnya”.
Ketiga, adalah prangko yang
menggambarkan tentang reformasi 1998.
Peristiwa yang terkandung di dalam
prangko tersebut apabila kita analisis
adalah Peristiwa Reformasi di Indonesia
pada tahun 1998 dipicu oleh "Tragedi
Semanggi" yaitu tertembaknya empat
orang mahasiswa Trisakti dalam suatu
demonstrasi pada tanggal 12 Mei 1998
dan disusul, oleh "Kerusuhan Mei"
keesokan harinya pada tanggal 13 Mei
1998. Salah satu tuntutan reformasi
adalah lengsernya Presiden Soeharto
yang telah berkuasa selama 32 tahun.
D.
SIMPULAN DAN SARAN
SIMPULAN
Berdasarkan hasil pemaparan
penelitian yang berjudul “Identifikasi
Potensi Prangko Seri Kesejarahan
Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA
ini, penulis dapat menyimpulkan sebagai
berikut.
Sebagai sebuah benda yang
tadinya diperuntukkan sebagai bea
pengiriman
surat
ternyata
dalam
perkembangannya prangko menjadi salah
satu obyek koleksi yang menarik, gambargambar dalam prangko yang beraneka
ragam merupakan simbol pengetahuan
yang patut dipelajari. Prangko dalam
dimensi pendidikan digunakan sebagai
sarana untuk sumber atau pun media
pembelajaran. Tidak hanya satu bidang
studi saja, melainkan beberapa cakupan
bidang studi pun bisa terepresentasi lewat
prangko.
Tentunya
dengan
mengkaitkannya
dengan
pengayaan
sumber belajar sejarah berupa silabus.
Sehingga guru akan lebih mudah
menyampaikan materi pelajaran yang
akan disampaikan kepada siswa. Disis lain
dengan pemanfaatan prangko sebagai
sumber
belajar
ataupun
media
pembelajaran tersebut proses kegiatan
belajar mengajar akan lebih menarik dan
menyenangkan.
Berikut adalah beberapa jenis
prangko seri kesejarahan yang memiliki
potensi sebagai sumber belajar sejarah di
SMA dikaitkan dengan pengelolaan bahan
ajar berupa Silabus, yaitu :
1. Prangko Seri : Folk tales (Cerita
Rakyat Malin Kundang)
Tahun Edar
: 02 Februari 1998
2. Prangko Seri :
100
Tahun
Palaeoanthropologi Indonesia 18891989 (Perning 1 Homo Erectus dan
Sangiran 10 Homo Erectus )
Tahun Edar
: 31 Agustus 1989
3. Prangko Seri : Candi Borobudur
Tahun Edar
: 15 Maret 1961
4. Prangko Seri : Keraton Ratu Boko
(Situs Arkeologi)
Tahun Edar
: 20 Februari 2013
5. Prangko Seri : Peta Indonesia
Zaman Portugis
Tahun Edar
: 20 Januari 2008
6. Prangko Seri : Pahlawan Nasional
(Ki Hajar Dewantara dan RA Kartini)
Tahun Edar
: 10 November 1961
7. Prangko Seri : Seri 10 Tahun
Merdeka
Tahun Edar
: 17 Agustus 1955
8. Prangko Seri : 100 Tahun Bung
Karno dan Bung Hatta
Tahun Edar
: 6 Juni 2001
9. Prangko Seri : Revolusi (Bandung
Lautan Api dan Pertempuran
Surabaya)
Tahun Edar
: 1946
10. Prangko Seri : Pemilihan Umum
Pertama dan Monumen Pahlawan
Revolusi
Tahun Edar
: 29 September
1955
dan
17
Agustus 1967
11. Prangko Seri : Akuisisi Irian Barat
dan Konferensi Asia Afrika
Tahun Edar
: 1 Mei 1963 dan 18
April 1955
12. Prangko Seri : Presiden Suharto
dan Ibu Tien Suharto
Tahun Edar
: 17 Agustus 1974
dan 5 Agustus 1966
13. Prangko Seri :
Pembangunan
Lima Tahun (Konstruksi) dan
(Teknologi Penerbangan)
Tahun Edar
: 1 April 1992
14. Prangko Seri :
Presiden
BJ
Habibie
Tahun Edar
: 17 Agustus 1998
dan 28 Oktober
1998
15. Prangko Seri : Muhammad Hatta
dan Abraham Lincoln, Sutan Sjahrir
dan Thomas Jefferson, Presiden
Soekarno dan George Washington
Tahun Edar
: 1948
Berjuta-juta
prangko
dengan
beraneka ragam lukisan dan bentuknya
setiap tahun diterbitkan oleh berbagai
negara di seluruh dunia. Menarik untuk
dicermati bahwa dari sebuah prangko
yang diterbitkan memiliki pesan yang ingin
disampaikan kepada masyarakat. Gambar
dari sebuah prangko yang bertemakan
kesejarahan biasanya digambarkan pada
sebuah peristiwa yang memiliki pengaruh
luas terhadap kehidupan berbangsa suatu
negara. Sehingga diterbitkan untuk
memperingati kejadian atau peristiwa
tersebut.
Adapun beberapa contoh daripada
peristiwa yang tekandung dalam prangko
yang bisa dijadikan sumber belajar sejarah
sebagai berikut.
Pertama, adalah prangko yang
bergambarkan atau bertema Revolusi.
Contohnya Pertempuran Surabaya yang
terbit pada tanggal tahun 1964. Peristiwa
yang terkandung di dalam prangko
tersebut apabila kita analisis adalah ketika
revolusi di suatu daerah kita bisa melihat
bagaimana masyarakat bereaksi, ada
yang sekelompok masyarakat yang
berperilaku
mendukung
Republik
Indonesia, ada yang mendukung Belanda,
ada
yang
mendukung
kelompok
pemberontak, ada yang langsung ikut
bertempur melawan Belanda, ada yang
menjadi mata-mata pejuang Republik, ada
yang menjadi mata-mata Belanda, ada
penduduk yang membantu pejuang
dengan cara memberi makanan, dan
berbagai bentuk perilaku lainnya.
Kedua, adalah prangko yang
bergambarkan
pembacaan
teks
proklamasi
kemerdekaan
Republik
Indonesia yang terbit pada 17 Agustus
1955. Peristiwa yang terkandung di dalam
prangko tersebut apabila kita analisis
adalah Kolonialisme selama tiga setengah
abad telah menggerogoti kekayaan alam,
mengikis
kepribadian
bangsa
dan
memusnahkan
kekuatan
bangsa,
sehingga menjadi bangsa yang lemah dan
penakut. Dalam percikan permenungan,
Bung Karno menemukan kembali simbolsimbol kepribadian bangsa yang telah
hilang untuk dipertautkan kembali bagi
kelahiran
bangsa
yang
merdeka.
Kekuatan
sosial
ekonomi
rakyat
(Marhaenisme),
bahasa
persatuan
Indonesia
dan
nasionalisme
bila
dipadukan akan menjadi kekuatan rakyat
untuk mengenyahkan penjajahan Belanda.
Bung Karno membangkitkan kekuatan itu
kepada segenap rakyat dalam suatu
gerakan
nasional
dengan
tujuan
“Mencapai
Kemerdekaan
Indonesia
Sepenuhnya”.
Ketiga,
adalah prangko yang
menggambarkan tentang reformasi 1998.
Peristiwa yang terkandung di dalam
prangko tersebut apabila kita analisis
adalah Peristiwa Reformasi di Indonesia
pada tahun 1998 dipicu oleh "Tragedi
Semanggi" yaitu tertembaknya empat
orang mahasiswa Trisakti dalam suatu
demonstrasi pada tanggal 12 Mei 1998
dan disusul, oleh "Kerusuhan Mei"
keesokan harinya pada tanggal 13 Mei
1998. Salah satu tuntutan reformasi
adalah lengsernya Presiden Soeharto
yang telah berkuasa selama 32 tahun.
SARAN
Filateli atau kegemaran untuk
mengumpulkan prangko terdapat di manamana di seluruh dunia termasuk di
Indonesia. Hanya saja perkembangan
filateli di tanah air masih perlu digalakkan
sehingga lebih memasyarakat. Seperti
dipaparkan sebelumnya bahwa dengan
menekuni hobi filateli dapat memberikan
manfaat-manfaat yang positif. Salah
satunya
prangko
dalam
dimensi
pendidikan yang
tentunya aktivitas
mengumpulkan
secarik
kertas
ini
memberikan kontribusi tersendiri bagi
penggiatnya.
Di era globalisasi saat ini kita
sebagai generasi muda sekaligus generasi
pewaris sejarah harus memiliki paradigma
yang baik untuk bisa bersaing di dunia
kerja
dan
bukan
membuat
kita
meninggalkan
‟sesuatu‟,
khususnya
perangko,
dan
tidak
merawatnya.
Seharusnya membuat kita sadar, bahwa
melestarikan wajah dan Negara Indonesia,
bukan hanya menjadi tugas para
„pahlawan bangsa.
Jadi, dari berbagai keunikan yang
dimiliki prangko dapat digunakan sebagai
sebuah sumber belajar atau alat peraga
untuk pembelajaran sejarah karena
prangko sesungguhnya merupakan rekam
jejak sejarah yang memiliki nilai-nilai yang
dapat diwariskan kepada generasi muda
khususnya para peserta didik agar
mengadopsi
nilai-nilai
yang
dapat
membentuk sifat mental yang positif,
antara lain: Giat dan bersemangat, Sabar
dan tekun, Hati-hati dan teliti, Kreatif dan
berseni, Jujur dan saling pengertian,
Bersih dan rapih.
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji syukur di panjatkan kehadapan
Ida Sang Hyang Widi Wasa, karena
berkat
rahmat-Nya,
artikel ini
terselesaikan. Artikel ini disusun guna
memenuhi persyaratan
tugas
akhir
perkuliahan. Dalam penyusunan artikel
ini tentu ada bantuan dari beberapa
pihak
yang
ikut membantu dalam
menyelesaikannya, untuk
itu
di
sampaikan ucapan terima kasih kepada
semua pihak yang terkait. Adapun pihak
yang ikut membantu baik itu dari
dukungan
dan
bimbingan
dalam
penyelesaian artikel ini, yaitu:
1. Ibu Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum
sebagai pembimbing I atas segala
motivasi,
masukan,
dan
kesabarannya dalam membimbing
penulis.
2. Ibu Dr. Tuty Maryati, M.Pd sebagai
pembimbing
II
atas
segala
dorongan,
bimbingan
dan
motivasinya
kepada
penulis
sehingga terselesaikannya artikel
ini.
Untuk semua itu semoga Tuhan
memberikan imbalan yang setinggi-tinggiNya serta melimpahkan
berkah yang
menyertai semua orang yang telah
membantu dalam penyelesaian artikel ini.
DAFTAR PUSTAKA
Artikel.2012.http://syamft.blogspot.com
2012/12/penerapan metode-inquiri
pada.html. Di unduh pada 10 Juni
2014.
Alpen, 2001. Filateli Sekaligus Investasi.
Majalah Bulanan Sahabat No. 361
Jakarta.
Burhan Bungin, 2003. “Analisis Data
Penelitian Kualitatif” Pemahaman
Flosofis dan Metodelogis ke Arah
Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta :
PT Rajagrafindo Persada
Filateli Ditjen Postel. Perangko Sebagai
Media Ajar. 2008. Jakarta:
Departemen Komunikasi dan
Informatika Direktorat Jenderal Pos
dan Telekomunikasi.
Mulyasa. 2010. Implementasi Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan:
Kemandirian Guru dan Kepala
Sekolah. Jakarta : PT Bumi Aksara
Mulyasa, E. 2003, Menjadi Guru
Profesional, Menciptakan
Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan. Bandung; Remaja
Rosdakarya.
Permendiknas No. 21 / Tahun 2006.
Tentang Standar Isi Kurikulum KTSP
Soerjono. 1996. Mengenal Dunia Filateli.
PT.POS Indonesia. Jakarta th.78.
Widja, I Gde. 2002. Menuju Wajah Baru
Pendidikan Sejarah. Yogyakarta:
Lapera Pustaka Utama.
Wina Sanjaya. 2006 Strategi
Pembelajaran, Berorientasi Standar
Proses Pendidikan. Jakarta; Prenada
Media.
Wing Wahyu, Winarno. 2008, Filateli Hobi
Mengoleksi Prangko dan Benda Pos
Lainnya. Yogyakarta; Graha Ilmu
Download