Analisis isi pesan sosial dalam film ALNI (jadi)

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Media massa, dalam disiplin ilmu komunikasi adalah sebuah alat
untuk menyampaikan pesan atau untuk berkomunikasi. Dalam konteks
masyarakat modern, merupakan instrument dengan apa berbagai bentuk
komunikasi dilangsungkan. (Budiman, 2005:57). Media massa merupakan
sebuah bentuk dari adanya komunikasi massa, misalnya melalui surat
kabar, majalah, televis, radio, maupun film. Media massa sebagai sarana
komunikasi massa yang mulai tumbuh dan berkembang sangat pesat,
merupakan salah satu bentuk komunikasi sosial dengan bersifat khusus,
yaitu antara komunikator dan komunikan tidak saling mengenal.
Komunikan merupakan khalayak yang luas, heterogen dan anonim.
Komunikasi
merupakan
kebutuhan
yang
penting
bagi
kelangsungan hidup manusia. Dikatakan demikian karena dalam
kehidupan manusia, komunikasi menjadi alat yang membantu dalam
segala kegiatan yang ada. Begitu cepatnya perkembangan
teknologi
komunikasi dewasa ini, yang tanpa disadari dapat membawa perubahan
sosial yang sangat besar terhadap kehidupan umat manusia. Media massa
adalah salah satunya. Media massa seperti internet, film, radio, televisi dan
lain-lain telah menjadi kebutuhan dan mempunyai peran yang sangat
penting bagi kehidupan masyarakat dewasa ini. Selain menjadi sumber
1
dominan bagi
masyarakat
dan kelompok secara kolektif untuk
memperoleh gambaran dan citra relitas, media massa juga memberikan
segala informasi dan hiburan guna memenuhi kebutuhan masyarakat.
Demikian pentingnya media massa bagi masyarakat (McQuail, 1996:3).
Dalam pandangan Dennis McQuail (1996:13), film berperan
sebagai sarana baru yang digunakan untuk menyebarkan hiburan yang
menyajikan cerita, peristiwa, musik, drama, humor dan sajian teknis
lainnya. Film sebagai salah satu media massa merupakan media hiburan
yang sangat berpengaruh dibandingkan dengan keberadaan radio dan surat
kabar. Hal ini dikarenakan kekuatan audio visual dalam film dapat
mempengaruhi emosi penonton seperti menangis, tertawa, marah, sedih
dan lain-lain.
Bersama radio dan televisi, film termasuk kategori media massa
periodik. Artinya, kehadirannya tidak secara terus menerus tetapi
berpriode dan termasuk media elektronik, yakni media yang dalam
penyajiannya sangat tergantung dengan adanya sumber energi listrik.
Sebagai media massa elektronik dan adanya unsur kesenian yang lain, film
memerlukan proses lama dan mahal dalam proses produksinya. Seni film
sangat mengandalkan teknologi, baik sebagai bahan produksi maupun
penyajian terhadap penonton. Film merupakan penjelmaan keterpaduan
antara berbagai unsur sastra, teater, seni rupa, teknologi, dan sarana
publikasi (Baksin, 2003:2).
Dalam perkembangannya, film berperan sebagai sarana hiburan
yang menawarkan berbagai aspek kejadian dan peristiwa kepada penonton.
2
Karena itu selama menonton film, penonton diletakkan pada pusat segala
kejadian dan peristiwa yang seolah-olah penonton ikut merasakan dan
menjadi bagian didalamnya. Karena film adalah bagian dari kehidupan
sehari-hari kita dalam banyak hal. Bahkan cara kita bicara sangat
dipengaruhi oleh metefora film. Dalam sebuah majalah di Amerika News
Yorker, 2010 menggunakan metafora ini dalam edisi khusus tentang film:
“ skenario pribadi kita terentang dalam urusan flashback, percakapan, dan
peran. Kita mendekat, memilah-milah, lalu menghilang” (Vivian,
2008:160).
Film sendiri notabennya adalah sebuah sekenario yang dijalankan
oleh para pelaku dan pembuat film tersebut, yang memang terkadang para
penulis naskah atau skenario mengambil ide-ide tulisannya dari sebuah
kehidupan yang benar-benar nyata yang dialaminya sendiri ataupun
melihat dari kehidupan orang lain, atau kadang juga hanya sebuah hayalan
yang mungkin akan bisa terwujud di suatu saat nanti, sehingga
menimbulkan perasaan yang begitu mendalam bagi para penikmatnya,
tentu sesuai dengan sudut pandang apa yang akan diangkat dalam sebuah
produksi film tersebut.
Karena unsur-unsur yang sama dalam kehidupan sebenarnya itulah
seakan-akan para penikmat film menganggap bahwa film yang mereka
lihat adalah nyata dan dapat dirasakan sesuai dengan keadaan mereka saat
itu. Artinya film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat
berdasarkan muatan pesan (Message) dibaliknya tanpa pernah berlaku
sebaliknya (Sobur, 2003:127).
3
Maka dari inilah, sebuah film dapat berpengaruh terhadap prilaku
sosial dalam masyarakat dari para penikmatnya, tentunya sesuai dengan
pesan apa yang di dapat dari sebuah film yang mereka nikmati. Pesan
disini adalah pesan yang disampaikan dari pembuat film (sineas) kepada
masyarakat luas.
Karena sebuah film, paling tidak memiliki sebuah pesan tertentu
dalam pembuatanya, baik pesan tersebut bersifat verbal maupun non
verbal sesuai dengan jenis film yang di ciptakan oleh para pembuatnya
(sineas). Film juga mempunyai segmen dalam pengambilan dan
penyampaian pesan terhadap khalayak yang melihatnya, yakni para
pembuat sebuah film sudah memperkirakan pesan apa yang harus di dapat
bagi para penonton setelah melihat film tersebut, sesuai dengan keinginan
dan kepentingan para sineas dalam memproduksi filmnya, seperti: unsur
tentang budaya, sosial, politik, psikologi dan lain sebagainya, yang
menarik atau dapat merangsang imajinasi penonton, meskipun terkadang
pesan yang diharapkan tidak sesuai atau hanya mendekati sesuai keinginan
para sineas film dalam penyampaianya terhadap penonton. Karena dalam
salah satu teori Melvin D. Defleur tentang teori perbedaan individu
menyatakan, “bahwa manusia sangat bervariasi dalam organisasi
psikologinya secara pribadi. Respon individu terhadap pesan yang
diterima di ubah oleh tatanan psikologinya. Jadi efek dari pesan media
massa itu menjadikan tidak seragam, tetapi menjadi beragam”. Jika film
itu di teliti secara mendalam, mengenai pesan apa yang sebenarnya di
4
inginkan para sineas film terhadap khalayak, maka pesan itu akan dapat
dipahami baik secara teoritis maupun bukti ilmiahnya.
Yang memungkinkan bagi para pelaku dan para penikmat film
memilki tujuan dan harapan yang sama atas pesan apa yang sebenarnya di
lihat dan dinikmati dalam sebuah film, sehingga dapat merubah sedikitnya
pada perilaku atau pada kehidupan sosial yang sangat beragam sesuai
dengan yang dikehendaki para sineas film tersebut.
Baru-baru ini, kita telah di suguhi salah satu dari sekian banyak
film yang telah diproduksi di Indonesia, yang mendapatkan perhatian
lebih, baik dari para menikmat film, maupun dari media massa, yakni
sebuah film garapan sutradara Deddy Mizwar yang berjudul “Alangkah
Lucunya (Negeri Ini)”. Film yang bertema pendidikan dengan sebuah
konsep bergenre komedi yang memiliki unsur-unsur sosial didalamnya
memilki nilai seni tinggi tentang pesan sosial yang ada dalam sebuah alur
ceritanya, yakni film yang bercerita tentang pemeran utama bernama
Muluk seorang lulusan sarjana menejemen, belum juga mendapatkkan
pekerjaan selama kurang lebih 2 tahun dan akhirnya bertemu dengan
sekelompok anak-anak pencopet, yang kemudian menjadikan sebuah
peluang untuk mendapatkan pekerjaan bagi muluk dengan mengatur
keuangan mereka serta didasari niat muluk untuk merubah kehidupan
anak-anak yang berprofesi sebagai pencopet itu menjadi orang-orang yang
yang berpendidikan dan bekerja bukan lagi menjadi pencopet tetapi
menjadi penjual asongan yang tentunya lebih baik dari sebelumnya.
5
Disinilah sisi menarik dari film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”
untuk diteliti tentang isi pesan sosial yang ada didalamnya, Guna
mendapatkan sesuatu yang dapat di buktikan secarah ilmiah dari pesan
yang di inginkan oleh para sineasnya. Yang dapat menjurus pada prilaku
sosial dan berbagai aspek-aspek sosial lainnya, bagi para khalayak
penikmat film tersebut. Karena dalam film ini banyak menceritakan
prilaku-prilaku sosial serta sarat akan pesan-pesan sosial yang dilakukan
oleh karakter-karakter didalamnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan
yang ingin diungkap peneliti adalah “Seberapa besar prosentase
kemunculan pesan sosial dalam film Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”.
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan di adakannya penelitian ini adalah untuk
menganalisis seberapa besar prosentase kemunculan pesan sosial dalam
film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” dengan menggunakan analisis isi.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini antara lain :
1. Manfaat teoritis
6
a) Memperluas pengetahuan peneliti dalam hal isi pesan yang
terdapat pada sebuah film, khususnya film “Alangkah Lucunya
(Negeri Ini)”.
b) Memberikan gambaran tentang teori-teori pesan sosial.
c) Memberi sumbangan dan penelitian dalam bidang film, khususnya
pada pesan-pesan sosial di dalam sebuah film.
2. Manfaat Praktis
a) Dapat di gunakan para insan perfilman untuk mengukur bukti
secara ilmiah tentang isi pesan sosial dalam pembuatan sebuah
film.
b) Bagi kalangan akademis, dapat menambah bidang penelitian
terutama dalam bidang perfilman, dalam hal ini tentang pesanpesan sosial dalam sebuah film dan juga dapat dijadikan dasar
kebiijaksanaan dalam menindaklanjuti hal tersebut.
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Komunikasi Massa
a. Definisi Komunikasi Massa
Komunikasi
massa
mempunyai
banyak
definisi
yang
telah
dikemukakan para ahli komunikasi.
Menurut Josep A Devito, pertama, komunikasi massa adalah
komunikasi yang ditujukan pada massa, kepada khalayak yang luar biasa
banyaknya. Kedua, komunikasi massa adalah kominikasi yang disalurkan
oleh pemancar-pemancar yang audio dan atau visual (Marhaeni,
2008:225).
Menurut Jay Black dan Frederick C. Whitney (1988) disebutkan,
bahwa komunikasi massa adalah sebuah proses dimana pesan-pesan yang
diproduksi secara massal/tidak sedikit itu disebarkan kepada massa
penerima pesan yang luas, anonim dam heterogen.
Sedangkan definisi komunikasi massa yang di kemukakan Michael
W Gamble dan Teori Kwal Gamble, berpendapat sesuatu yang dapat di
definisikan sebagai komunikasi massa jika mencakup;
1. Komunikator
dalam
komunikasi
massa
mengandalkan
peralatan modern untuk menyebarkan atau memancarkan pesan
secara cepat kepada khalayak yang luas dan tersebar. Pesan itu
8
disebarkan melalui media modern pula antara lain surat kabar,
televisi, film, internet atau gabungan diantara media tersebut.
2. Komunikator dalam komunikasi massa dalam menyebarkan
pesan-pesannya bermaksud mencoba berbagai pengertian
dengan jutaan orang yang tidak saling kenal atau mengetahui
satu sama lain. Anonimitas audience dalam komunikasi massa
inilah yang membedakan pula dengan jenis komunikasi yang
lain. Bahkan pengirim dan penerima pesan tidak mengenal satu
sama lain.
3. Pesan adalah publik. Artinya bahwa pesan-pesan ini bisa
didapatkan dan diterimah oleh banyak orang. Karena itu,
diartikan milik publik.
4. Sebagai sumber, komunikator massa biasanya organisasi
formal seperti jaringan, ikatan atau perkumpulan. Dengan kata
lain komukatornya tidak berasal dari seseorang, tetapi lembaga.
Lembaga ini pun biasanya berorientasi pada keuntungan bukan
organsasi suka rela atau nirlaba.
5. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper (pentapis
informasi).
Artinya,
pesan-pesan
yang disebarkan
atau
dipancarkan dikontrol oleh sejumlah individu dalam lembaga
tersebut sebelum disiarkan lewat media massa. Ini berbeda
dengan komunikasi antar pribadi, kelompok atau publik,
dimana yang mengontrol tidak oleh sejumlah individu.
Beberapa individu dalam komunikasi massa itu ikut berperan
9
dalam membatasi, memperluas pesan yang disiarkan. Contoh
adalah seorang reporter, editor film, penjaga rublik dan
lembaga sensor lain dalam media itu bisa berfungsi sebagai
gatekeeper.
6. Umpan balik dalam komunikasi massa sifatnya tertunda. Kalau
dalam jenis komunikai lain, umpan balik bisa bersifat langsung.
Misalnya, dalam komunikasi antar personal. Dalm komunikasi
ini umpan balik langsung dilakukan, tetapi komunikasi yang
dilakukan lewat surat kabar, televisi, film dan lainnya tidak
bisa langsung dilakukan alias tertunda (delayed).
Dengan demikian, media massa adalah alat-alat dalam komunikasi
massa yang bisa menyebarkan pesan secara serempak, cepat kepada
audien yang luas dan heterogen.(Nurudin, 2003:6-7).
Banyak ragam dan titik tekan yang di kemukakan para ahli
komunikasi. Tetapi dari sekian banyak definisi itu ada benang merah
kesamaan definisi satu sama lain. Pada dasarnya komunikasi massa adalah
komunikasi melalui media massa (media cetak dan elektronik). Sebab,
awal perkembangannya saja, komunikasi massa berasal dari media of mass
communication (media komuniksai massa). Media massa (atau saluran)
yang dihasilkan oleh teknologi modern yang di sampaikan kepada massa
yang luas, anonim dan heterogen.
Agar tidak terjadi kerancauan dan perbedaan persepsi tentang
massa, ada baiknya kita membedakan arti massa dalam komunikasi massa
dengan massa dalam arti umum. Massa dalam arti komunkasi massa lebih
10
merujuk pada penerima pesan yang berkaitan dengan media massa.
Dengan kata lain, massa yang dalam sikap dan prilakunya berkaitan
dengan media massa. Oleh karena itu, massa dalam komunikasi massa
menunjuk pada khalayak, audien, penonton, pemirsa atau pembaca.
b. Ruang Lingkup Komunikasi Massa
Studi komunikasi itu tak lain adalah human communication
(komunikasi manusia). Dengan kata lain dalam studi komunikasi harus
selalu
melibatkan
manusia
baik
sebagai
komunikator
maupun
komunikan. Dengan demikian pula ketika kita melihat seseorang sedang
berkomunikasi dengan binatang di arena sirkus itu bukan termasuk dalam
studi komunikasi. Memang benar terjadi proses komunikasi tetapi
melibatkan binatang.
Dari sini jelas bahwa yang dimaksud dalam studi komunikasi itu
melibatkan manusia sebagai subyek dan obyeknya. Itu pula kenapa,
bidang studi dalam komunikasi jarang atau bahkan tidak pernah
membahas komunikasi dalam dunia binatang. Bahkan bidang-bidang
komunikasi kita dewasa ini pun melibatkan manusia sebagai sumber dan
penerima pesan. Televisi sebagai sumber institusi juga tak lain dari hasil
manusia berfikir dan audiennya juga manusia. “Organisasi” televisi itu
tak lain kumpulan orang-orang yang bekerja sama satu sama lain untuk
memproduksi siaran.
Ada beberapa bentuk atau pola komunikasi yang kita kenal anatara
lain, komunikasi dengan diri sendiri (intrapersonal comunicatiaon),
komunikasi antar personal (interpersonal comunication), komunikasi
11
kelompok (small group comunication) dan komunikasi massa (mass
comunication). Jadi komunikasi massa kedudukannya sejajar dengan
pola komunikasi lain.
Secara ringkas, komunikasi itu melibatkan komunikator sebagai
penyampai pesan dan komunikan sebagai penerimanya. Kemudian dua
unsur ini di kembangkan lebih lanjut dengan melibatkan saluran
(channel), umpan balik (feedback). Perbedaan unsur-unsur yang ada
dalam komunikasi ini sangat tergantung pada pola komunikasi mana
yang sedang dibahas.
A
B
C
Intrapersonal communication
A
B
C
Group communication
A
B
C
Interpersonal communication
A
B
C
Mass communication
(Sumber: Hiebert, Ungurait dan bohn,1985).
Dari bagan tersebut terlihat batapa kompleksnya pesan-pesan
komunikasi massa yang disebarkan sehingga pesan yang diterima
komunikan tidak sebanding dengan apa yang diinginkan komunikatornya.
Sementara irisan yang paling besar pada komunikasi dengan diri sendiri.
Alasannya, kerena hanya melibatkann satu orang, peluang pesan yang
12
diterima satu orang itu lebih besar. Meskipun, tidak menutup kemungkinan
apa yang di kemukakan oleh komunikator (diri sendiri), tidak selamanya
bisa dipahami atau terjawab oleh komunikan (diri sendiri) (Nurudin,
2003:15-16).
Proses penerimaan pesan itu semakin menyempit sejalan dengan
peningkatann jumlah orang yang terlibat dalam proses komunikasi
tersebut. Proses komunikasi dengan dua orang punya peluang perbedan
persepsi dan tangkapan pesan karena melibatkan orang yang berbeda
status, jenjang pendidikan, pengalaman hidup, warisan budaya keluarga
dan lain-lain. Dalam komunikasi kelompok semakin mengecil tafsiran
pertemuan
atau
persamaan
antara
pesan
yang
disebarkan
dan
penerimaannya. Sedangkan dalam komunikasi massa, arsiran semakin
mengecil karena melibatkan orang yang lebih banyak dan heterogen dalam
proses komunikasi.
B. Film Sebagai Realitas Sosial
Pengertian film adalah suatu karya cipta seni dan budaya yang
merupakan media komunikasi massa pandang dengar yang dibuat
berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita
video, dan atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala
bentuk, jenis dan ukuran, melalui proses kimiawi, proses elektronika, atau
proses lainnya dengan atau tanpa suara yang dapat dipertunjukkan dan
13
atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik dan atau
lainnya (Baksin, 2003:6).
Seperti kita ketahui bahwa film merupakan sebuah alat untuk
menyampaikan pesan yang efektif dalam mempengaruhi khalayak dengan
pesan-pesan
yang
disampaikan.
Film
selalu
mempengaruhi
dan
membentuk masyarakat melalui muatan pesan-pesannya (massage) Alex
Sobur (2003:127). Tema-tema yang diangkat didalam film menghasilkan
sebuah nilai-nilai yang biasanya didapatkan dalam sebuah pencarian yang
panjang tentang pengalaman hidup, realitas sosial, serta daya karya
imajinatif dari sang pembuatnya dengan tujuan dalam rangka memasuki
ruang kosong khalayak tentang sesuatu yang belum diketahuinya sama
sekali sehingga tujuan yang ingin dicapainyapun sangat tergantung pada
seberapa antusias khalayak terhadap tema-tema yang diangkat didalam
film tersebut.
Tema-tema yang diangkat biasanya tidak lepas dari masalah yang
memang selama ini telah menjadi sebuah relita didalam kehidupan seperti
tema cinta, keluarga, perjalanan hidup serta hal-hal yang memang selama
ini menjadi daya kreatif, imajinatif sang pembuat film, seperti film kartun,
animasi, dan sebagainya. Film umumnya dibangun dengan banyak tanda,
tanda-tanda ini termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan
baik dalam upaya mencapai efek yang diharapkan. Yang paling penting
didalam film adalah gambar dan suara; kata yang diucapkan ditambah
dengan suara-suara lain yang serentak mengiringi gambar-gambar dan
musik film.
14
C. Film Sebagai Media Komunikasi Massa
Komunikasi adalah suatu kegiatan yang baik sadar ataupun tidak
disadari, setiap orang mengetahui dan melakukan kegiatan tersebut.
Komunikasi massa merupakan salah satu bentuk dalam komunikasi.
Komunikasi yang proses penyebaran pesan melalui media massa, salah
satunya melalui film. Media film bisa menjadi pesan yang akan
disampaikan pada khalayak luas sebagai suatu bentuk komunikasi massa.
Para teoritikus menyatakan bahwa film dewasa ini merupakan
perkembangan produksi film yang dianggap sebagai kerja kolaboratif,
yaitu melibatkan sejumlah tenaga kreatif seperti sutradara, penulis
skenario, penata kamera, penyunting, penata artistik dan pemeran. Unsurunsur kreatif ini saling mendukung dan mengisi untuk membentuk totalitas
film (Sumarno, 1996:107).
Film sangat berbeda dengan seni sastra, seni rupa, seni suara, seni
musik, dan arsitektur yang muncul sebelumnya. Seni film menganndalkan
teknologi, baik sebagai bahan baku produksi maupun dalam hal
penyampaian terhadap penontonya. Film merupakan penjelmaan terpadu
antara berbagai unsur yakni sastra, teater, seni rupa, dengan teknologi
canggih dan modern serta sarana publikasi (Baksin 2003:3). Menurut
Baksi, pesan-pesan komunikasi film juga dikelompokkan dalam proses
pembuatan dan penyampainnya, yang biasa disebut dengan genre.
15
C.1 Genre Dalam Film
a. Definisi genre
Istilah genre berasal dari bahasa prancis yang bermakna
“bentuk” atau “tipe”. Kata genre sendiri mengacu pada istilah
biologi yakni, genus, sebuah klasifikasi flora dan fauna yang
tingkatannya berada di atas spesies dan di bawah family. Genus
mengelompokkan beberapa spesies yang memiliki kesamaan ciriciri tertentu. Dalam film, genre dapat didefinisikan sebagai jenis
atau klasifikasi dari sekelompok film yang memiliki karakter atau
pola yang sama (khas) seperti setting, isi dan subyek cerita, tema,
struktur cerita, aksi atau peristiwa, periode, gaya, situasi, ikon,
mood, serta karakter (Himawan, 2008:11). Klasifikasi tersebut
yang akhirnya melahirkan genre-genre tertentu.
b. Klasifikasi genre
Klasifikasi genre yang berada dalam film jumlahnya sangat
banyak, mencapai puluhan jenis genre. Tetapi untuk memudahkan
dalam memahami maka genre dibagi berdasarkan pengaruh dan
sejarah perkembangannya. Genre tersebut dibagi menjadi atas dua
kelompok, yakni genre induk primer dan genre induk sekunder
(Himawan, 2008:12).
a. Genre induk primer
Genre induk primer merupakan genre-genre pokok yang
telah ada dan populer sejak awal perkembangan sinema era 1900an hingga 1930-an. Bisa kita katakan bahwa setiap film
16
mengandung setidaknya satu unsur genre induk primer namun
lazimnya sebuah film adalah kombinasi dari beberapa genre induk
sekaligus. Yang termasuk dalam kategori genre induk primer
antara lain; genre (1) aksi (yakni film-film yang berhubungan
dengan adegan-adegan aksi fisik seru, menegangkan, berbahaya,
nonstop dengan tempo cerita yang cepat), (2) drama (film-film
yang umumnya berhubungan dengan tema, cerita, settting,
karakter, serta suasana yang memotret kehidupan nyata), (3) epik
sejarah (genre ini umumnya mengambil tema periode masa silam
(sejarah) dengan latar sebuah kerajaan, peristiwa atau tokoh besar
yang menjadi mitos, legenda atau kisah perjuangan), (4) fantasi
(genre fantasi berhubungan dengan tempat, peristiwa, serta,
karakter yang tidak nyata, serta yang biasanya berhubungan dengan
unsur magis, mitos, negeri dongeng, imajinasi, halusinasi, serta
alam mimpi), (5) fiksi-ilmiah (yakni yang berhubungan dengan
masa depan, perjalanan luar angkasa, percobaan ilmiah, penjelajah
waktu, invasi, atau kehancuran bumi. Fiksi ilmiah sering kali
berhubungan dengan teknologi serta kekuatan yang berada di luar
jangkauan teknologi masa kini), (6) horror (film horor bertujuan
untuk memberikan efek rasa takut, kejutan, serta terror yang
mendalam bagi penontonnya), (7) komedi (adalah jenis genre film
yang tujuan utamanya memancing tawa penontonnya), (8) kriminal
dan gangster (genre ini berhubungan dengan aksi-aksi kriminal
seperti, perampokan bank, pencurian, pembunuhan, dan lain-lain,
17
sering kali film ini mengambil kisah kehidupan tokoh kriminal
besar yang diambil dari kisah nyata), (9) musikal (genre ini yang
mengkombinasikan unsur musik, lagu, tari, serta gerak. Lagu-lagu
dan tarian biasanya mendominasi sepanjang film dan biasanya
menyatu dalam cerita), (10) petualangan (film ini umumnya
bercerita tentang perjalanan, eksplorasi, atau ekspedisi kesuatu
wilayah asing yang belum pernah tertentu), (11) perang (genre
perang mengangkat tema kengerian teror yang timbul oleh aksiaksi perang) serta (12) western (adalah genre orisinil milik
amerika. Tema film ini umumnya seputar konflik antar pihak baik
dan jahat).
b. Genre induk sekunder
Genre induk sekunder adalah genre-genre besar dan popular
yang merupakan pengembangan atau turunan dari genre induk
primer. Genre induk sekunder memiliki ciri-ciri karakter yang lebih
khusus dibandingkan denga genre induk primer. Yang termasuk
dalam kategori genre induk skunder, antara lain; (1) bencana
(yakni film-film yang berhubungan dengan tragedi atau musibah
baik skala besar maupun kecil yang mengancam jiwa banyak
manusia, baik bentuknya bencana alam maupun bencana akibat
buatan manusia), (2) biografi (genre biografi menceritakan
penggalan kisah nyata atau kisah hidup seseorang tokoh yang
berpengaruh dimasa lalu maupun kini, genre ini merupakan
pengembangan dari genre drama dan epik sejarah), (3) detektif (inti
18
ceritanya berkisar pada sebuah kasus kriminal pelik yang belum
terselesaikan. Sang tokoh biasanya seorang detektif atau polisi
yang menulusuri kembali jejak kasus tersebut), (4) melodrama
(melodrama
umumnya
menggunakan
cerita
yang
mampu
menggugah emosi penontonnya secar mendalam dengan dukungan
unsur “melodi” (ilustrasi musik). Pengembangan dari genre
drama), (5) olahraga (mengambil kisah seputar aktifitas olahraga,
baik atlet, pelatih, agen maupun ajang kompetisi itu sendiri), (6)
perjalanan (genre ini umumnya mengisahkan perjalanan darat jarak
jauh dari satu tempat ke tempat lain dengan atau tanpa tujuan
tertentu), (7) roman (pengembangan dari genre drama. Film roman
lebih memusatkan cerita pada masalah cinta, baik kisah
percintaannya sendiri maupun pencarian cinta sebagai tujuan
utamanya), (8) superhero (film superhero adalah kisah klasik
perseteruan antara sisi baik dan jahat, yakni kisah kepahlawanan
sang tokoh super dalam membasmi tokoh-tokoh jahat), (9)
supernatural (film-film yang berhubungan dengan mahluk-mahluk
ghaib seperti hantu, roh halus, keajaiban, serta kekuatan mental
seperti membaca pikiran, masa depan, masa lalu, dan lainnya), (10)
spionase (atau agen rahasia, biasanya berlatar pada cerita periode
perang dingin atau intrik internasional antar Negara. Tema
biasanya berurusan dengan senjata pemusnah masal, seperti nuklir,
senjata biologis, teknologi, atau informasi penting yang dapat
mengganggu keamanan nasional Negara atau dunia).
19
D. Unsur-Unsur Pembentukan Film
Film, secara umum dapat dibagi atas dua unsur pembentuk yakni,
unsur naratif dan unsur sinematik. Dua unsur tersebut saling
berinteraksi dan berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk
sebuah film. Masing-masing unsur tersebut tidak akan dapat
membentuk film jika hanya terdiri sendiri. Bisa kita katakan bahwa
unsur naratif adalah bahan (materi) yang akan di olah, sementara
unsur sinematika adalah cara (gaya) untuk mengolahnya. Dalam
sebuah film cerita, unsur naratif adalah perlakuan terhadap cerita
filmnya. Sementara unsur sinematik atau juga sering diistilahkan gaya
sinematik
merupakan
aspek-aspek
teknis
pembentukan
film
berinteraksi
dan
(Himawan, 2008:1).
Elemen
sinematik
tersebut
juga
saling
berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk gaya sinematik
secara utuh.
FILM
Unsur Naratif
Unsur Sinematik
Mise en scene
Sinematografi
Editing
Suara
20
Unsur naratif berhubungan dengan aspek cerita atau tema film.
Setiap film cerita tidak mungkin lepas dari unsur naratif. Setiap cerita
pasti memiliki unsur-unsur seperti tokoh, masalah, konflik, lokasi,
waktu, serta lainnya. Seluruh elemen tersebut membentuk unsur
naratif secara keseluruhan. Elemen-elemen tersebut saling berinteraksi
serta berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk sebuah
jalinan peristiwa yang memiliki maksud dan tujuan. Seluruh jalinan
peristiwa tersebut terikat oleh sebuah aturan yakni, hukum kausalitas
(logika sebab-akibat). Aspek kausalitas bersama unsur ruang dan
waktu adalah elemen-elemen pokok pembentuk naratif.
Unsur senematik merupakan aspek-aspek teknis dalam produksi
sebuah film. Mise-en-scene adalah segalah hal yang berada di depan
kamera. Mise-en-scene memiliki empat elemen pokok yakni, setting
atau latar, tata cahaya, kostum dan make-up, serta akting dan
pergerakan pemain. Sinematografi adalah perlakuan terhadap kamera
dan film serta hubungan kamera dengan obyek yang diambil. Editing
adalah transisi sebuah gambar (shot) ke gambar lainnya. Sedangkan
suara adalah segala hal dalam film yang mampu kita tangkap melalui
indera pendengaran. Seluruh unsur senematik tersebut saling terkait,
mengisi, serta berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk
unsur sinematik secara keseluruhan. Dalam beberapa kasus, sebuah
film bisa saja tanpa menggunakan unsur suara sama sekali seperti
dalam film era bisu, namun hal seperti ini lebih disebabkan oleh
keterbatasan teknologi dan bukan akibat penyelesaian sinematik
21
(kesenjangan). Beberapa film juga terbukti telah mampu sangat minim
atau bahkan meniadakan teknik editing namun jumlahnya masih
sangat terbatas.
E. Jenis-Jenis Film
Secara umum film dapat dibagi menjadi tiga jenis, yakni:
dokumenter, fiksi, dan eksperimental. Pembagian ini didasarkan atas cara
bertuturnya yakni, naratif (cerita) dan non-naratif (non cerita). Film fiksi
memiliki sruktur naratif yang jelas sementara film dokumenter dan
eksperimental tidak memiliki struktur naratif (Himawan, dalam bukunya
Memahami Film, 2008). Film dokumenter yang memiliki konsep realisme
(nyata) berada di kutub yang berlawanan dengan film eksperimental yang
memiliki konsep formalisme (abstrak). Sementara film fiksi berada persis
di tengah-tengah dua kutub terrsebut.
Dokumenter
Fiksi
Eksperimental
(nyata)
(rekaan)
(abstrak)
a. Film Dokumenter
Kunci utama dari film dokumenter adalah penyajian fakta. Film
dokumenter berhubungan dengan orang-orang, tokoh, peristiwa, dan
lokasi yang nyata. Film dokumenter tidak menciptakan suatu peristiwa
atau kejadian namun merekam peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi
atau otentik. Tidak seperti film fiksi, film dokumenter tidak memiliki
plot namun memiliki struktur yang umumnya didasarkan oleh tema atau
22
argumen dari seorang sineasnya. Film dokumenter juga tidak memiliki
tokoh protagonis dan antagonis, konflik, serta penyelesaian seperti
halnya film fiksi. Struktur bertutur film dokumenter umumnya
sederhana dengan tujuan agar memudahkan penonton untuk memahami
dan mempercayai fakta-fakta yang disajikan. Film dokumenter juga
dapat digunakan untuk berbagai macam maksud dan tujuan seperti
informasi atau berita, biografi, pengetahuan, pendidikan, sosial,
ekonomi, politik (propaganda), dan lain sebagainya, tergantung
kebutuhan para pembuatnya.
Film dokumenter memiliki beberapa karakter teknis yang khas
yang tujuan utamanya untuk mendapatkan kemudahan, kecepatan,
fleksibilitas, efektifitas, serta otentitas peristiwa yang akan direkam.
Umumnya film dokumenter memiliki bentuk sederhana dan jarang
sekali menggunakan efek visual. Jenis kamera umumnya ringan
(kamera tangan) serta menggunakan lensa zoom, stok film cepat
(seneitif cahaya), serta perekam suara portable (mudah
dibawah)
sehingga memungkinkan untuk pengambilan gambar dengan kru yang
minim. Efek suara serta ilustrasi musik juga jarang digunakan. Dalam
memberikan informasi pada penontonnya sering menggunakan narator
untuk membawakan narasi atau dapat pula menggunakan metode
interview (wawancara).
Teknik-teknik tersebut juga sering digunakan untuk produksi film
fiksi. Namun terdapat perbedaan yang mendasar yakni, para pembuat
film fiksi umumnya menggunakan teknik tersebut sebagai pendekatan
23
estetik (gaya), sementara pembuat film dokumenter lebih terfokus untuk
mendukung subyeknya (isi atau tema).
b. Film Fiksi
Film fiksi biasanya terikat oleh plot. Dari sisi cerita, film fiksi
sering menggunakan cerita rekaan di luar kejadian nyata serta
mengkonsep mengadeganan yang telah dirancang sejak awal. Stuktur
cerita film juga terikat hukum kausalitas. Dari segi cerita biasanya juga
memiliki karakter protagonis dan antagonis, masalah dan konflik,
penutupan, serta pola penembangan cerita yang jelas. Di sisi
produksinya, film fiksi relatif lebih kompleks ketimbang dengan dua
jenis film lainnya, baik masa pra-produksi, produksi, maupun pasca
produksi.
Film fiksi yang berada ditengah-tengah dua kutub, nyata dan
abstrak, sering kali memilki tendensi ke salah satu kutubnya, baik
secara naratif maupun sinematik. di sisi lain terkadang film fiksi
menggunakan teknik dari gaya dokumenter. Karena tak sedikit pula
cerita film fiksi yang diambil dari kejadian nyata, penting, atau
peristiwa bersejarah, yang pengambilan produksinya cenderung pada
teknik gaya film dokumenter. Sementara di kutub lainnya, film fiksi
juga terkadang menggunakan cerita dan latar abstrak dalam produksi
filmnya. Latar atau setting abstrak sering kali digunakan untuk
mendukung adegan mimpi atau halusinasi. Tetapi, terkadang dalam
beberapa kasus film fiksi, hubungan kausalitas cerita dapat sedikit
longgar serta membingungkan karena tidak jelasnya hubungan antara
24
satu adegan dengan adegan lainnya dalam pemakaian latar atau setting
abstraknya. Namun ada juga film fiksi-abstrak yang berhasil sukses
dalam pembuatan produksinya, salah satu contoh film fiksi-abstrak
terbaik adalah “the seventh seal” karya sineas Wild Strawberries, yang
memakai teknis fiktif-abstrak dalam adegan ksatria bermain catur
dengan malaikat pencabut nyawa untuk mengulur waktu kematiannya.
c. Film Eksperimental
Film eksperimental merupakan film yang sangat berbeda dengan
dua jenis film lainnya. Para pembuat film eksperimental umumnya
bekerja diluar industri film utama (mainstream) dan bekerja pada studio
independen atau perorangan. Film eksperimental tidak memiliki plot
namun tetap memiliki struktur. Strukturnya sangat dipengaruhi oleh
insting subyektif para pembuatnya seperti gagasan, ide, emosi, serta
pengalaman batin mereka. Film eksperimental juga umumnya tidak
bercerita tentang apapun bahkan kadang menentang kausalitas, hal ini
disebabkan karena mereka mengunakan simbol-simbol personal yang
mereka ciptakan sendiri dalam dalam pembuatan filmnya.
Dalam film terdapat unsur-unsur yang mempengaruhi suatu film,
yaitu audio dan visual. Pengertian masing-masing unsur tersebut adalah
sebagai berikut:
a) Shot. adalah gambar atau adegan dengan angle yang sudah
ditentukan sebelumnya.
25
b) Audio, meliputi dialog, musik, sound effect.
Dialog berisi kata-kata. Kata-kata komunikasi yang paling
penting antara orang dengan sesamanya. Menurut Costance
Nash
Virginia,
dialog
berfungsi
untuk
mengemukakan
pandapat secara langsung, menjelaskan perihal tokoh atau
peran, menggerakkan plot dan membuka fakta. (Hamzah,
1985:116).
Sound effect merupakan efek suara yang memberikan warna
dan kesan dramatis dalam suatu alur cerita. Misalnya suatu
jeritan, suara mobil, suara ledakan, tiupan angin dan
sebagainya.
c) Visual; meliputi angel, lighting, gesture, kostume, visual effect.
Yang dimaksud dengan engel adalah sudut pengambilan
gambar oleh kamera dalam sebuah film. Angel kamera
dibedakan menurut karakteristik dan gambar yang dihasilkan,
yaitu: (1) straight angel, yaitu sudut pengambilan gambar yang
normal, biasanya ketinggihan kamera setinggi dada dan sering
digunakan pada acara yang gambarnya tetap. Mengesankan
situasi yang normal. (2) low angel, yaitu sudut pengambilan
gambar dari yang letaknya lebih rendah dari obyek. (3) Hight
angel, yaitu sudut pengambilan gambar dari tempat yang lebih
tinggi dari obyek.
Lighting, merupakan pencahayaan dalam film.
26
Gesture adalah komunikasi tubuh yang mana sebagian besar
dilakukan dengan lengan dan gerakan tangan serta sedikit
sekali menggunakan kepala. Hayes menyatakan bahwa gesture
adalah “semua gerakan tubuh kecuali unsur vokalisasi, jelas
maupun tidak jelas untuk mengkomunikasikan suatu maksud
baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain.
Kostum adalah tata pakaian dalam film yang mana dalam
kostum ini dapat memberikan kesan terhadap para pemain yang
berkaitan dengan alur cerita dalam film.
Visual effect merupakan efek visual yang mana memberikan
kesan dramatis dalam suatu scene, misalnya animasi, ledakan,
dan sebagainya.
F. Definisi Konseptual
a. Pesan
Pesan adalah perintah. Nasehat, permintaan, amanat yang
disampaikan lewat orang lain (KBBI). Pesan adalah seperangkat
lambang bermakna yang disampaikan oleh komunikator (Effendy,
2005:18).
Pesan yakni apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada
penerima. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal atau non verbal
yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud sumber tadi.
(Deddy M, 2005:63).
27
Pesan mempunyai tiga komponen; makna, simbol yang digunakan
untuk menyampaikan makna, dan bentuk atau organisasi pesan.
Simbol
terpenting
adalah
kata-kata
(bahasa),
yang
dapat
mempresentasikan obyek (benda), gagasan, dan perasaan, baik ucapan
(percakapan, wawancara, diskusi, ceramah, dan sebagainya). Pesan
juga dapat dirumuskan secara nonverbal, seperti melalui tindakan atau
isyarat anggota tubuh (acungan jempol, anggukan kepala, senyuman,
tatap muka, dan sebagainya), juga melalui musik, lukisan, patung,
tarian, film, dan sebagainya.
Menurut widjaja (2003:32) pesan adalah keseluruhan dari apa yang
disampaikan oleh komunikator. Pesan ini mempunyai arti pesan (tema)
yang sebenarnya menjadi pengaruh didalam usaha mencoba mengubah
sikap dan prilaku komunikan. Pesan dapat secara panjang lebar
mengupas berbagai segi, namun inti pesan dari komunikan akan selalu
mengarah pada tujuan akhir komunikasi itu. Penyampaian pesan dapat
melalui lisan, tatap muka, langsung atau menggunakan media/saluran.
Adapun bentuk-bentuk pesan itu sendiri diantaranya bersifat:
a. Informaif
Memberikan keterangan-keterangan dan kemudian dapat
mengambil kesimpulan sendiri. Dalam situasi tertentu pesan
informatif lebih berhasil dari pada pesan persuasif.
b. Persuasif
Berisi bujukan, rayuan yakni membangkitkan pengertian dan
kesadaran manusia bahwa apa yang kita sampaikan akan
28
memberikan perubahan sikap tetapi perubahan ini atas
kehendak sendiri.
c. Koersif
Yaitu memaksa dengan menggunakan saksi, bentuk yang
terkenal dari penyampaian pesan koersif adalah agitasi, yakni
dengan penekanan-penekanan yang menimbulkan penekanan
batin dan ketakutan diantara sesame kalangan publik. Koersif
dapat berbentuk perintah, intruksi dan sebagainya.
Pesan merupakan unsur komunikasi yang perlu dibahas dalam
penelitian ini. Dimana dalam penyampaian pesan merupakan salah satu
indikator bagi keberhasilan komunikasi itu sendiri. Dalam perspektif
komunikasi
massa
film
dimaknai
sebagai
pesan-pesan
yang
disampaikan dalam komunikasi film yang memahami hakekat, fungsi
dan efeknya. Dalam hal ini film dijadikan sebagai media untuk
menyampaikan pesan yang diharapkan nanti pengaruhnya dalam
pembentukan pola pikir, sikap, dan tingkah laku disamping menambah
pengetahuan dan memperluas wawasan masyarakat bisa terpenuhi.
Sementara menurut Dennis McQuail (1994:14) terdapat tiga
tema pesan dalam sejarah perkembangan film yang sangat penting.
Tema yang pertama adalah pemanfaatan tema film sebagai alat
propaganda. Upaya membaurkan pengembangan pesan dengan hiburan
memang sudah lama diterapkan dalam sastra dan drama. Tema yang
kedua adalah unsur-unsur ideologi yang terselubung dan tersirat dalam
29
banyak film hiburan umum. Sedangkan tema terakhir adalah
pendidikan, dimana film memilki kemampuan mengantar pesan secara
unik.
Kita semua dapat merasakan bahwa suasana digedung bioskop
telah membuat pikiran dan perasaan kita larut dalam cerita yang
disajikan karena pengamatan yang mendalam, seringkali secara tidak
sadar kita menyamakan (mengidentifikasi) pribadi kita dengan salah
satu pemeran film tersebut. Sehingga seolah-olah kitalah yang sedang
berperan. Hal ini adalah salah satu contoh kuatnya pesan film yang
dapat mempengaruhi kita secara psikologis (Effendy, 2002:192).
b. Pemahaman Tentang Pesan Sosial
Istilah sosial (social) pada ilmu sosial menunjuk pada obyeknya,
yaitu masyarakat. Sedangkan sosialisme adalah suatu ideologi yang
berpokok pada prinsip pemilihan umum (Soekanto, 2005:14)
Etika secara sosial merupakan hal yang menyangkut hubungan
manusia, baik secara langsung maupun bentuk kelembagaan (keluarga,
masyarakat, negara) sikap kritis terhadap pandangan-pandangan dunia dan
ideologi-ideologi maupun kewajiban/tanggung jawab sebagai anggota
umat manusia terhadap lingkungan hidup (Suseno, 1997:7). Obyek sosial
adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antar manusia dan
proses yang timbul dari hubungan manusia didalam masyarakat. Adapun
unsur masyarakat adalah sebagai berikut :
1. Menentukan jumlah manusia. Dalam ilmu sosial tidak ada
ukuran yang mutlak ataupun menentukan jumlah manusia.
30
Secara teoritis, angka minimumnya adalah dua orang manusia
yang hidup bersama.
2. Bercampur untuk waktu yang cukup lama. Kumpulan manusia
tidaklah sama dengan kumpulan benda mati. Oleh karenanya
berkumpulnya manusia, akan memunculkan manusia-manusia
baru. Sehingga timbullah sistem komunikasi dan peraturanperaturan yang mengatur hubungan antar manusia dalam
kelompok tersebut.
3. Mereka sadar bahwa mereka suatu kesatuan.
4. Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem hidup
bersama menimbulkan kebudayaan, oleh karena itu setiap
anggota kelompok merasa dirinya terikat satu sama lain
(Soekanto, 1987:51)
Adapun yang dapat dijadikan dalam kategori pesan sosial adalah
sebagai berikut:
1. Keharmonisan
Keharmonisan secara etimologi berasal dari “harmoni”
yang bermakna keselarasan yang terdapat dalam diri seseorang
dan dari keberadaan individu sebagai bagian dari masyarakat.
Ciri masyarakat harmonis dapat diuraikan sebagai berikut:
Pertama, menunjukkan persamaan atas hak masing-masing
individu, akan tetapi pada sisi lain sampai pada batas tertentu,
menghilangkan atau mengurangi hak-hak sebagai individu. Ini
berarti bahwa untuk menciptakan masyarakat yang harmonis,
31
individu harus merelakan sebagian kepentingannya, Kedua,
adanya tanggung jawab bersama dari peran dan fungsi masingmasing anggota sesuai dengan kemampuannya untuk menjalin
hubungan yang saling menguntungkan. Ketiga, adanya
keterbukaan untuk menerima keberadaan anggota masyarakat
lainnya,
baik
kekurangan
maupun
kelebihan.
Dalam
kehidupannya harus ditandai sikap yang saling menghormati,
menghargai, memahami, mengerti dan mengasihi. Keempat,
adanya keadilan yang dimaknai upaya memberikan kepada
semua yang berhak atas haknya, baik pemilik hak itu sebagai
individu atau kelompok, tanpa melebihi atau mengurangi.
Kelima, mencerminkan kebebasan yang menunjukkan bahwa
kehidupan harus bebas dari tekanan, intimidasi, kediktatora,
manipulasi, dan segala bentuk penjajahan (Subardi, 2001:4041).
Keharmonisan dapat tercipta jika dilandasi oleh rasa kasih
sayang, seperti yang dijelaskan bahwa manusia dalam menjalin
hubungan antara yang satu dengan yang lain, terwujud jika
saling mengerti dan menghormati. Dengan kata lain manusia
hanya berhasil mewujudkan kehidupan bersama secara
harmonis
dalam
suasana
yang
saling
mengasihi
dan
menyayangi. Dari berbagai pengertian diatas dapat disimpulkan
bahwa keharmonisan adalah yang terdapat pada diri seseorang
32
sebagai individu maupun keberadaan individu yang selaras
dengan orang lain sebagai bagian dari anggota masyarakat.
2. Kehormatan
Kehormatan
kelompok
merupakan
untuk
ukuran
menduduki
bagi
lapisan
seorang
tertinggi
atau
dalam
masyarakat. Orang yang paling disegani dan dihormati akan
mendapatkan tempat yang teratas, mereka biasanya adalah
golongan
yang
pernah
berjasa
besar
bagi
kehidupan
masyarakat. Dalam kehiduupan sosial, seseorang yang sangat
dihormati akan memperoleh kedudukan didalam masyarakat.
Kedudukan sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam
masyarakat sehubungan dengan orang lain, dalam artian
pergaulannya,
prestasinya,
hak-hak
serta
kewajibannnya
(Soekanto, 1987:215-216).
Sedangkan menurut Nawawi lebih menekankan bahwa
kehormatan
merupakan
hak
asasi
berupa
harkat
dan
kehormatan individu sebagai pribadi tidak ada jika manusia
tidak hidup bermasyarakat. Hak asasi itu justru duperlukan
karena manusia hidup bersama yang saling berinteraksi dan
saling membutuhkan satu dengan
yang lain. Nawawi
menjelaskan bahwa kehormatan mutlak dimiliki oleh individu
didalam masyarakat terkait dengan keberadaan dan eksistensi
serta partisipasinya yang harus dihormati, dihargai dan diakui.
33
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kehormatan
adalah ukuran bagi seseorang atau kelompok untuk menduduki
lapisan dalam masyarakat berkat jasanya dan merupakan harkat
individu sebagai anggota masyarakat.
3. Persahabatan
Manusia merindukan persahabatan agar ia memperoleh
individu-individu yang mendukungnya, meringankan kesulitankesulitannya serta untuk berbagi suka dan duka. Para sahabat
seharusnya saling mengekspresikan ungkapan kasih sayang dan
persaudaraan agar hubungan persahabatan mereka semakin
kokoh. Jika kecenderungan seperti itu memudar, maka
hubungan persahabatan akan melemah (Mahdi, 2003:125).
Menurut Mahdi, persahabatan lebih menekankan pada fungsi
hubungan antara individu tersebut dan persahabatan akan
melemah jika fungsinya ikut memudar.
Sedangkan menurut Gandhi (1988), persahabatan memiliki
makna yang lebih dalam antar individu untuk saling memberi
kebaikan dan mengingatkan dalam kesalahan. Persahabatan
yang sejati ialah saling mengenal jiwa, sesuatu yang jarang
terdapat di dunia ini. Dan hanya antar watak-watak yang sama
dapat menjalin persahabatan dan bertahan lama. Dalam
persahabatan
orang
saling
memberi
sambutan.
Jadi
persahabatan adalah hubungan antara satu individu dengan
individu lainnya yang merupakan sel-sel pembentukan suatu
34
masyarakat dalam menyatukan berbagai kepentingan, rasa
bersatu dan solidaritas untuk mengikat satu dengan yang lain.
G. Analisis Isi Kuantitatif
Menurut Berelson & Kerlinger, analisis isi merupakan suatu
metode untuk
mempelajari dan
menganalisis
komunikasi
secara
sistematik, obyektif, dan kuantitatif terhadap pesan yang tampak (Wimmer
& Dominick, 2000:135). Sedangkan menurut Budd (1967), analisis isi
adalah suatu teknik sistematis untuk menganalisis isi pesan dan mengolah
pesan atau suatu alat untuk mengobservasi dan menganalisis isi perilaku
komunikasi yang terbuka dari komunikator yang dipilih.
Prinsip analisis isi berdasarkan definisi tersebut :
1. Prinsip sistematik
Ada perlakuan prosedur yang sama pada semua isi yang dianalisis.
Peneliti tidak dibenarkan menganalisis hanya pada isi yang sesuai
dengan perhatian dan minatnya, tetapi harus pada keseluruhan isi yang
telah ditetapkan untuk diteliti.
2. Prinsip objektif
Hasil analisis tergantung pada prosedur penelitian bukan pada
orangnya. Kategori yang sama bila digunakan untuk isi yang sama
dengan prosedur yang sama, maka hasilnya harus sama, walaupun
penelitiannya berbeda.
35
3. Prinsip kuantitatif
Mencatat nilai-nilai bilangan atau frekuansi untuk melukiskan berbagai
jenis
isi
yang didefinisikan.
Diartikan
juga
sebagai
prinsip
digunakannya metode deduktif.
4. Prinsip isi yang nyata
Yang diteliti dan dianalisis adalah isi yang tersurat (tampak) bukan
makna yang dirasakan peneliti. Perkara hasil akhir dari analisis nanti
menunjukkan adanya sesuatu yang tersembunyi, hal itu sah-sah saja.
Namun semuanya bermula dari analisis terhadap isi yang tampak.
Dalam hal ini analisis isi yang menjadi obyek penelitian adalah
analisis isi pesan dalam sebuah film tentang pesan-pesan sosial yang
terdapat didalam film yang akan dijadikan obyek penelitian, dan
pendekatannya dengan menggunakan analisis isi pesan kuantitatif yang
mengarah pada isi pesan sosial dengan memprosentasekan kemunculan
pesan sosial dalam film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”. Analisis isi
kuantitatif
memiliki
definisi
dan
prinsip
yang
mendekati
pada
operasioanisasi konsep yang akan dijadikan obyek penelitian, maka
analisis isi dipakai untuk meneliti penelitian tentang film ini.
Meskipun
terasa
sulit
untuk
membuat
klasifikasi
dan
mengkategorikan berbagai macam dan perbedaan penelitian yang
menggunakan analisis isi, pembatasan tentang tujuan tersebut akan
memberi gambaran tentang beberapa cara, sehingga dapat dipilih teknik
36
yang mana dapat diaplikasikan. Lima tujuan yang dimaksud adalah
sebagai berikut:
1. Mengurai isi komunikasi
2. Hipotesis uji atas karakteristik pesan
3. Pembandingan isi media dengan dunia nyata
4. Sebagai kesan kelompok khusus dalam masyarakat
5. Sebagai langkah awal batu studi tentang efek media
Secara umum metode analisis isi dilaksanakan dalam tahapan-tahaban
sebagai berikut:
1. Merumuskan pertanyaan penelitian atau hipotesis
2. Menetapkan dan mendefinisikan populasi
3. Menentukan sampel atau populasi
4. Memilih dan menentukan unit analisis
5. Membuat kategori isi yang akan dianalisis
6. Menetapkan sistem penghitungan
7. Melatih petugas koding dan bila perlu melakukan pra studi
8. Peng-kode-an sesuai dengan definisi yang telah ditentukan
9. Menganalisis data yang telah terkumpul
10. Membuat kesimpulan dan membuat indikator
Sedangkan jantung dari metode analisis isi adalah sistem kategorisasi yang
digunakan untuk mengklasifikasi isi media. Ketepatan dalam kategori ini
akan memperjelas gambaran tentang topik penelitian. (R Dominick,
2003:149).
37
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
A. Metode Dan Pendekatan Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif
deskriptif dengan pendekatan analisis isi. Alasannya menggunakan analisis
isi karena akan memperoleh suatu hasil atau pemahaman terhadap isi
pesan komunikasi yang disampaikan oleh media massa atau sumber
informasi yang lain secara obyektif dan sistematis. Dalam hal ini peneliti
ingin mengetahui seberapa besar prosentase kemunculan pesan sosial
dalam film “Alangkah Lucunya (Negeri ini)”.
Stone dalam Klaus Krippendorf (1991) mengemukakan analisis isi
adalah sebuah teknik penelitian untuk membuat inferensi dengan
mengidentifikasikan secara sistematik dan obyektif, karakteristik khusus
dalam
sebuah
teks.
Selanjutnya
meyakini
karakteristik
inferensi
pengkodean unit-unit teks.
Analisis isi diartikan sebagai metode untuk menganalisis semua
bentuk komunikasi; surat kabar, buku puisi, lagu, cerita rakyat, lukisan,
pidato, surat, undang-undang, musik, teater dan sebagainya (Rahmat,
2002:89).
B. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini yang termasuk didalam ruang lingkup
penelitian adalah film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”. Untuk penelitian
38
ini unit analisis yang digunakan adalah keseluruan scene yang diteliti,
yang mana berkaitan dengan bentuk-bentuk penyampaian pesan sosial.
Untuk memudahkan penelitian, maka penulis disini juga menetapkan unit
analisis, satuan ukur peneliti dan struktur kategorisasi.
1. Unit Analisis
Unit analisis penelitian disini adalah scene dalam film “Alangkah
Lucunya (Negeri Ini)”. Disini penulis akan meneliti keseluruhan scene
yang ada dalam film tersebut yang mengandung pesan-pesan sosial
dalam
film
“Alangkah
Lucunya
(Negeri
Ini)”
sebagaimana
diungkapkan dalam kategorisasi.
2. Satuan Ukur
Satuan ukur penelitian disini adalah frekuensi dari penyampaian pesanpesan sosial lewat scene film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” yaitu
seberapa banyak pesan-pesan yang disampaikan dalam film “Alangkah
Lucunya (Negeri Ini)”.
3. Struktur Kategori
Struktur kategori digunakan untuk memudahkan penelitian analisis
data dalam film “Alangkah Lucuny (Negeri Ini)”. Kemudian kategori
ini akan dimasukkan dalam coding sheet untuk dianalisis, dengan unit
analisis berupa semua scene dalam film. Dalam hal ini kategorisasi
untuk film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini) adalah sebagai berikut:
1. Persahabatan, yaitu suatu hubungan antar pribadi yang akrab atau
intim, yang melibatkan setiap individu sebagai suatu kesatuan.
Dengan indikator:
39
a) Tempat berkeluh kesah atau saling mencurahkan masalah,
saling memberi nasihat, saran dan anjuran kepada sahabat
(curhat).
b) Memiliki solidaritas, yaitu sifat satu rasa (senasib), perasaan
setia kawan atau senasib sepenanggungan. Saling menolong
jika salah satu diantaranya membutuhkan pertolongan.
2. Kehormatan, yaitu tindakan penghargaan dan pernyataan hormat
kepada orang atau pihak lain, atas nama baik dan harga diri yang
lebih tinggi. Dengan indikator:
a) Saling memberi sanjungan yang berisi perkataan untuk
menyatakan kebaikan secara berlebihan kepada orang yang
sangat di segani. Atau menyebutkan nama marga pada sebuah
keluarga terpandang ditengah masyarakat.
b) Adanya
perbuatan
mengabdi
serta
sikap
dan
salam
penghormatan pada seseorang yang sangat dihormati karena
statusnya yang lebih tinggi; seperti anak kepada ayahnya, calon
menantu kepada calon mertuanya dan sebagainya, orang yang
memiliki status rendah kepada orang yang berstatus tinggi.
3. Keharmonisan, yaitu hal atau keadaan yang mencapai keserasian
dan keselarasan dalam hubungan seseorang dan orang lain di
masyarakat. Dengan indikator:
a) Saling bersimpati pada orang lain (simpati yaitu perasaan
terhadap orang lain yang berpatokan pada diri sendiri). Dan
saling bertegur sapa dalam kehidupan sehari-hari.
40
b) Kerjasama satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan yang
menguntungkan bersama. Menjaga sopan santun untuk
mempertahankan
kerukunan
masyarakat.
Seperti
saling
membantu, menghormati dan menghargai; seperti kerukukan
yang terjaga diantara sesama orang yang pada umumnya
mempunyai status sama.
Hasil dari kategori ini kemudian dimasukkan ke tabel sebagai berikut:
Tabel I
Lembar kerja koding
Ketegori
Unit
Persahabatan
Kehormatan
Keharmonisan
analisis
Curhat
Solidaritas Sanjungan Mengabdi Simpati
Kerjasama
Durasi
Scene
Data diolah oleh peneliti
Tabel diatas di isi dengan tanda:
 : Menyatakan ada unsur pesan sosial
-
: Menyatakan tidak ada unsur pesan sosial
41
C. Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh langsung
dengan dokumentasi berupa VCD (Video Compect Disk) film “Alangkah
Lucunya (Negeri Ini)”, scene yang dianggap memuat penyampaian pesan
sosial.
D. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah
menggunakan teknis analisis distribusi frekuensi. Teknis analisis ini
digunakan dengan tujuan untuk mengetahui frekuensi kemunculan
masing-masing kategori. Dalam penerapannya, setiap pesan sosial yang
terdapat dalam film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” dimasukkan
kedalam kategori yang telah ditetapkan. Data tersebut kemudian dianalisis
menggunakan alat distribusi frekuensi untuk mengetahui frekuensi
kemunculan dari setiap kategori tema penelitian. Distribusi frekuensi
tersebut disajikan dalam table prosentase.
E. Uji Reliabilitas dan Validitas
Dalam uji reliabilitas kategori, penulis menggunakan sistem
koding, dimana penulis dibantu oleh orang lain yang ditunjuk untuk
menjadi pembanding atau hakim guna mengukur ketepatan penilaian
penulis terhadap bentuk-bentuk pesan sosial dalam scene film “Alangkah
Lucunya (Negeri Ini)”.
42
Sistem ini dirasa penulis paling tepat karena untuk melakukan
sebuah analisis dalam scene film, diperlukan pemikiran subyektif, dan
untuk menyamakan perspektif subyektif tersebut, diperlukan sebuah
pembanding. Dengan hasil pemikiran penulis dibandingkan dengan
pemikiran orang lain yang ditunjuk oleh penulis sebagai pembanding atau
hakim. Uji ini dikenal dengan uji antar kode. Yang kemudian hasil
pengokodingan dibandingkandengan rumus Hosty, yaitu:
2M
CR =
N1+N2
Keterangan:
CR
M
: Coeficient Reliability
: Jumlah pernyataan yang disetujui oleh pengkoding (hakim)
dan periset
N1,N2
:Jumlah peryataan yang diberi kode oleh pengkoding
(hakim) dan periset
Ambang penerimaan yang sering dipakai untuk uji reabilitas
kategorisasi adalah 0,75. Jika persetujuan antara pengkoding (periset dan
hakim) tidak mencapai 0,75, maka kategorisasi operasional mungkin perlu
dirumuskan lebih spesifik lagi. Artinya kategorisasi yang dibuat belum
mencapai tingkat keterandalan atau keterpercayaan (Rahmat, 2008:238).
Penyempurnaan untuk memperkuat relibilitas yaitu dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
43
(% observed agreement- % expected agreement)
Pi =
(1- % expected agreement)
Keterangan :
Pi
: Nilai keterhandalan (validitas)
Observed agreement : Jumlah yang disetujui oleh pengkode yaitu C.R
Expected agreement :Persetujuan
yang
diharapkan
dalam
suatu
kategorisasi, dinyatakan dalam jumlah hasil pengukuran dari proporsi
keseluruhan, yaitu proporsi dari jumlah pesan yang dikuadratkan.
44
BAB IV
GAMBARAN FILM “ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)”
A. Data Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Judul
: Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Pemain
: - Reza rahardian
Sutradara
- Tio Pakusadewo
- Tika Bravani
- Jaja Mihardja
- Asrul Dahlan
- Rina Hassim
- Deddy Mizwar
- Sakura Ginting
- Slamet Raharjo
- Moh. Irfan Siagian.
: Deddy Mizwar
Sutradara pendamping : Aria Kusumadewa
Produser Eksekutif
: Giselawati Wiranegara
Produser
: Zairin Zain
Penulis Naskah
: Musfar yasin
Tahun
: 2010 (April)
Genre
: Drama komedi
Rumah Produksi
: Citra Sinema
45
B. Latar Belakang Produksi Film
Beredarnya film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (untuk selanjutnya
disebut ALNI) menandai 12 tahun kerjasama duo Deddy Mizwar-Musfar
Yasin sebagai sutradara-penulis skenario, yang sekaligus menjadi film ke4 dari kolaborasi mereka setelah Kiamat Sudah Dekat, Ketika, dan
Nagabonar Jadi 2.
ALNI berpusat pada satu fragmen kehidupan Muluk (Reza
Rahadian), seorang sarjana manajemen yang sejak lulus dari kampusnya
dua tahun silam masih belum mendapatkan pekerjaan. Satu ketika di
sebuah pasar yang padat, Muluk melihat seorang pencopet cilik beraksi.
Muluk mengikuti copet itu, dan membekuknya di sebuah tempat. Peristiwa
ini mengantarkan Muluk ke komunitas pencopet anak-anak dan remaja
yang bekerja untuk bos copet Bang Jarot (Tio Pakusadewo), serta lahirnya
sebuah ide unik: penerapan manajemen copet.
Dalam
kerjasama
ini,
Muluk
menjadi
”konsultan”
yang
mendapatkan 10 % “management fee” dari penghasilan para copet cilik
itu. Sisa pendapatan bersih dikelola Muluk dalam bentuk tabungan dan
usaha lain yang lebih halal. Namun alih-alih hanya sebuah kerjasama
ekonomi, interaksi Muluk dengan para begundal cilik itu juga berubah
menjadi sebuah upaya meretas kondisi illiteracy (buta huruf) yang dialami
para copet. Muluk mengajak serta kawan-kawannya seperti Samsul (Asrul
Dahlan), seorang sarjana pendidikan yang juga masih menganggur dan
lebih suka menghabiskan waktunya di gardu hansip untuk bermain gaple,
46
serta Pipit (Tika Bravani) yang kerjaannya mengikuti kuis-kuis TV untuk
dapat hadiah, sebagai guru agama bagi anak-anak itu.
Awalnya, proses pendidikan ”indie” ala Muluk dan kawan-kawan
berjalan lancar. Para copet cilik itu pun terlihat menikmati interaksi
mereka dengan trio pendidik mereka. Tapi ayah Muluk, Pak Makbul
(Deddy Mizwar), yang merupakan sahabat Haji Rahmat (Slamet
Raharjo)/Abahnya Pipit dan Haji Sarbini (Jaja Miharja)/Calon mertua
Muluk, merasa ada sesuatu yang ”kurang beres” dengan profesi
”pengembangan sumber daya manusia” yang dijalani Muluk. Ketiganya
memaksa Pipit untuk mengantarkan mereka ke tempat komunitas copet
cilik itu.
Ending film ini menjadi klimaks yang sangat layak ditonton,
karena merupakan potret kontemporer dari kondisi bangsa Indonesia.
Gagasan awal ALNI mulai berkelebat di kepala Musfar Yasin sejak 9
tahun silam. Selain menyeimbangkan proporsi kisah sebagai sebuah cerita,
yang sesungguhnya serius, karena merupakan mimesis dari kondisi
bangsa, takaran unsur pendidikan dan hiburan yang renyah, membuat film
ini memiliki pesan moral yang sangat menyentuh bagi setiap warga
Indonesia yang masih memiliki kepedulian terhadap kondisi masyarakat
akar rumput, khususnya anak-anak dan pemuda, yang terpinggirkan dalam
sistem pembangunan Indonesia yang bertumpu pada pertumbuhan
ekonomi.
47
Film ini juga menandai fase baru cara kerja Deddy Mizwar yang
lebih mengoptimalkan sutradara pendamping (co-director) yang kali ini
dipercayakan kepada Aria Kusumadewa (Sutradara terbaik FFI 2009 –
Identitas).
C. Sinopsis Film
Muluk, seorang sarjana manajemen tak pernah putus asa mencari
kerja meski selalu gagal untuk mendapatkannya. Muluk tak pernah bosan
masuk kantor/perusahaan untuk melamar dengan semangatnya, meski
keluar dengan membawah kekecewaan. Kekecewaan itu menjadi
kekesalan si Muluk ketika memergoki seorang anak remaja tanggung yang
seenaknya mencopet seorang laki-laki tua. Muluk menyergap pencopet itu
sambil mengancam akan melaporkannya kepolisi.
Akan tetapi pertemuan dengan pencopet bernama Komet itu,
ternyata membuka peluang pekerjaan bagi Muluk. Komet membawah
Muluk ke markasnya, dan berkenalan dengan bos pencopet yang bernama
Jarot. Di sana ternyata berkumpul anak-anak seusia Komet, yang kerjanya
hanya mencopet. Mereka terbagi atas tiga kelompok; copet mall, copet
pasar, copet angkot.
Karena Muluk lulusan sarjana managemen, maka Muluk memutar
otak untuk menjadikan peluang tersebut sebagai bentuk pedulinya
terhadap nasib pencopet agar mereka tidak menjadi pencopet untuk
selamaanya. Muluk menawarkan ilmu menejemen yang dikuasainya untuk
48
mengelola keuangan para pencopet, dan meminta imbalan 10% dari hasil
nyopet anak-anak itu. Dengan uang yang dikelolanya, Muluk membuat
program untuk mendidik para pencopet agar kelak tidak lagi mencopet.
Muluk pun meminta bantuan kepada dua rekannya yang juga
memilki nasib yang sama sebagai pengangguran, yaitu Samsul (sarjana
pendidikan) yang kerjanya cuma main gaple di pos ronda dan Pipit (juga
sarjana/D3) yang kerjanya cuma mengikuti kuis di stasiun TV yang tidak
pernah membuahkan hasil. Mereka memberikan pelajaran tentang agama,
budi pekerti, dan kewarganegaraan kepada para pencopet dengan imbalan
uang hasil 10% dari yang Muluk dapatkan dari para pencopet itu.
Ayah Muluk, Pak Makbul senang melihat anaknya sudah
mendapatkan pekerjaan. Apalagi, seperti pengakuan Muluk kepadanya,
bekerja dibagian SDM (Sumber Daya Manusia) untuk urusan pengentasan
kemiskinan. Saking senangnya, Pak Makbul memberitahukan kepada Haji
Sarbini, ayah Rahma calon besannya. Demikian juga yang dialami Haji
Rahmat, ayah Pipit, senang pula melihat anaknya sudah dapat pekerjaan
dan tidak lagi hanya mengharapkan imbalan dari kuis di TV yang tidak
jelas.
Suatu saat, Pak Makbul, Haji Sarbini dan Haji Rahmat ingin sekali
melihat tempat anak-anaknya bekerja dengan memaksa Pipit untuk bisa
mengajak mereka ketempat kerjanya bersama Muluk dan Samsul,
alangkah terkejutnya ketika mereka mengetahui bahwa anak-anaknya
selama ini telah mendapat gaji dari hasil mencopet buka dari hasil kerja di
49
bagian SDM yang diutarakan Muluk pada saat itu. Mereka sangat kecewa,
serta sedih dengan apa yang telah dilakukan oleh anak-anaknya selama ini,
mereka menangis di mushola tempat mereka berkumpul dengan memohon
ampun kepada Tuhan atas kesalahan yang di perbuat oleh anak-anaknya.
Akhirnya sejak kejadian itu, Muluk, Pipit dan Samsul memutuskan
untuk menghentikan pekerjaan yang sudah dilakukannya tersebut, dengan
menyerahkan sepenuhnya kepada para pencopet untuk memilih nasib
kehidupan mana yang mereka semua akan jalani, tetap menjadi pencopet
seperti dulu atau menjadi pengasong dari modal yang kini sudah ada,
untuk merubah kehidupan mereka agar lebih baik dari sebelumnya. Para
penncopet pun terbagi menjadi dua bagian yakni, ada yang tetap memilih
menjadi pencopet seperti sebelumnya, dan ada juga yang menjadi
pengasong sesuai dengan yang diharapkan oleh Muluk, Pipit dan Samsul.
D. Profil Pendukung Film
1. Sutradara
a) Deddy Mizwar
Deddy Mizwar adalah seorang aktor, sutradara, dan
produser film. Ia banyak terjun dalam perfilm-an Indonesia
baik secara langsung sebagai aktor ataupun tidak langsung
sebagai sutradara dan produser. Film-film yang ia garap banyak
bernuansa da'wah dengan pesan moral dan agama yang ringan
50
dan menghibur. Deddy Mizwar, lahir di Jakarta, 5 Maret 1955.
Ia pertama kali terjun ke dunia film pada 1976, dengan
membintangi film Cinta Abadi arahan sutradara Wahyu
Sihombing.
Aktor senior pemenang 4 piala Citra (untuk film) dan 2
piala Vidya (untuk sinetron) ini sudah berpengalaman membuat
sejumlah sinetron bermuatan dakwah dari serial Pengembara,
Mat Angin sampai Lorong Waktu. Kecintaan aktor asli Betawi
ini pada dunia seni tidak terbantahkan lagi. Buktinya, selepas
sekolah, ia sempat berstatus pegawai negeri pada Dinas
Kesehatan DKI Jakarta. Namun ayah dari 2 anak ini hanya
betah 2 tahun saja sebagai pegawai, karena ia lebih gandrung
main teater. Ia bergabung di Teater Remaja Jakarta.
Selebihnya, jalan hidupnya banyak ia baktikan pada dunia seni,
lebih tepatnya seni peran.
Darah seni itu rupanya mengalir deras dari ibunya, Ny.
Sun'ah yang pernah memimpin sangar seni Betawi. Akhirnya,
ia dan ibunya kerap mengadakan kegiatan seni di kampung
sekitarnya.
Kecintaannya pada dunia teater telah mengubah jalan
hidupnya. Beranjak dewasa, sekitar tahun 1973, Deddy mulai
aktif di Teater Remaja Jakarta. Dan lewat teater inilah bakat
akting Deddy mulai terasah. Deddy pernah terpilih sebagai
51
Aktor Terbaik Festival Teater Remaja di Taman Ismail
Marzuki. Tidak sekedar mengandalkan bakat alam, Deddy
kemudian kuliah di LPKJ, tapi cuma dua tahun.
Memulai karier di film pada 1976, Deddy bekerja keras dan
mencurahkan kemampuan aktingnya, di berbagai film yang
dibintangi. Pertama kali main film, dalam Cinta Abadi (1976)
yang disutradarai Wahyu Sihombing, dosennya di LPKJ, dia
langsung mendapat peran utama. Puncaknya, perannya di film
Naga
Bonar
kian
mendekatkannya
pada
popularitas.
Kepiawaiannya berakting membuahkan hasil dengan meraih 4
Piala Citra sekaligus dalam FFI 1986 dan 1987 diantaranya:
Aktor Terbaik FFI dalam Arie Hanggara (1986), Pemeran
Pembantu Terbaik FFI dalam Opera Jakarta (1986), Aktor
Terbaik FFI dalam Naga Bonar (1987), dan Pemeran Pembantu
Terbaik FFI dalam Kuberikan Segalanya (1987).
Di awal tahun 90-an, karir Deddy Mizwar mencapai
puncak. Melalui kekuatan aktingnya yang mengagumkan,
popularitas ada dalam genggamannya. Meski namanya semakin
populer, Deddy merasa hampa. Di tengah rasa hampa,
pikirannya membawanya kembali pada masa kecilnya. Lahir di
Jakarta 5 Maret 1955, ia tumbuh di tengah nuansa religius etnis
Betawi. Ia terkenang suasana pengajian di surau yang tenang
dan sejuk. Jiwanya ingin kembali mencicipi suasana teduh di
masa kecil itu. Pergolakan batinnya akhirnya berakhir setelah ia
52
meyakini bahwa hidup ini semata-mata beribadah kepada
Allah. Sejak itu, Deddy belajar agama secara intens. Kini
segala hal harus bernilai ibadah bagi Deddy. Termasuk pada
bidang yang digelutinya yakni dunia perfilman dan sinetron.
Suami dari Giselawati ini kemudian memutuskan untuk
terjun langsung memproduksi sinetron dan film bertemakan
religius sebagai wujud ibadahnya kepada Allah. Didirikanlah
PT Demi Gisela Citra Sinema tahun 1996. Tekadnya sudah
bulat kendati pada perkembangan berikutnya banyak rintangan
dan hambatan ditemui. Ketika itu sinetron religius Islam masih
menjadi barang langka dan kurang bisa diterima pihak stasiun
televisi. Kondisi ini tidak menyurutkan langkahnya. Maka
dibuatlah sinetron Hikayat Pengembara yang tayang di bulan
Ramadhan. Usahanya berbuah hasil. Rating sinetron ini cukup
menggembirakan. Setelah itu hampir semua stasiun televisi
menayangkan sinetron religius bulan Ramadhan. Hingga
akhirnya berbagai produksi lainnya diciptakan dari tangan
seorang Deddy wizwar serta dalam setiap kesempatan sering
juga merangkap menjadi pemain, produser dan sutradara dalam
pembuatan film lainnya.
Adapun catatan sinematografi Deddy Mizwar adalah sebagai
berikut:
Film
53
1) Cinta Abadi (1976)
2) Ach Yang Benerrr... (1979)
3) Bukan Impian Semusim (1982)
4) Sunan Kalijaga (1984) – Raden Mas Sahid/ Sunan Kalijaga
5) Hati yang Perawan (1984)
6) Hatiku Bukan Pualam (1985)
7) Sunan Kalijaga & Syech Siti Jenar (1985) - Sunan Kalijaga
8) Saat-Saat Kau Berbaring Di Dadaku (1985)
9) Menumpas Teroris (1986)
10) Opera Jakarta (1986)
11) Arie Hanggara (1986)
12) Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986)
13) Kuberikan Segalanya (1987)
14) Naga Bonar (1987) - Jenderal Naga Bonar
15) Kerikil-Kerikil Tajam (1987)
16) Cintaku di Rumah Susun (1987)
17) Bilur-Bilur Penyesalan (1987)
18) Ayahku (1987)
19) Irisan-Irisan Hati (1988)
20) Bayi Tabung (1988)
21) Putihnya Duka Kelabunya Bahagia (1989)
22) Jangan Renggut Cintaku (1990)
54
23) Satu Mawar Tiga Duri (1990)
24) Jual Tampang (1990)
25) Gema Kampus 66 (1991)
26) Nada dan Dakwah (1991) - KH. Murad
27) Ketika (2005)* - Tajir Saldono
28) Kiamat Sudah Dekat (2003)* - H. Romli
29) Naga Bonar (Jadi) 2 (2007)* - Nagar Bonar
30) Ketika Cinta Bertasbih (2009) - KH. Luthfi Hakim
31) Ketika Cinta Bertasbih 2 (2009) - KH. Luthfi Hakim
32) Cinta 2 Hati (2010)
33) Bebek Belur (2010)
34) Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010)*
35) Pengantin Cinta (2010)
36) Fana : The Forbidden Love (2010) - Teuku Uzman
Catatan : * juga sebagai sutradara
Sinetron
1) Hikayat Pengembara (serial TV setiap sahur pada Bulan
Ramadhan)
2) Lorong Waktu 1-6 (H. Husain)
3) Demi Masa
4) Kiamat Sudah Dekat (H. Romli)
55
5) Para Pencari Tuhan seri 1-4 (2007-2010) * - Bang Jack (H.
Ahmad Zakaria)
Catatan : * juga sebagai sutradara
Iklan
1) Yamaha
2) Warta Kota
3) Antangin JRG
4) Promag
5) Air Minum Club
6) Atlas
7) Sozziz
Prestasi
Juara :
1) Pemeran Pria Terbaik FFI dalam Arie Hanggara (1986)
2) Pemeran Pembantu Pria Terbaik FFI dalam Opera Jakarta
(1986)
3) Pemeran Pria Terbaik FFI dalam Naga Bonar (1987)
4) Pemeran Pembantu Pria Terbaik FFI dalam Kuberikan
Segalanya (1987)
5) Pemeran Pembantu Pria Piala Terbaik Piala Vidia FSI
dalam Vonis Kepagian (1996)
56
6) Pemeran Pria Terbaik dan Sutradara Terbaik sekaligus
Sinetron Terbaik FSI dalam Mat Angin (1999)
7) Pemeran Pria Terbaik FFI dalam Naga Bonar Jadi 2 (2007)
Nominasi FFI :
1) Bukan Impian Semusim FFI 1982
2) Sunan Kalijaga FFI 1984
3) Saat-saat Kau Berbaring Di dadaku FFI 1985
4) Kerikil-kerikil Tajam FFI 1985
5) Kejarlah Daku Kau Kutangkap FFI 1986
6) Ayahku FFI 1988
7) Putihnya Duka Kelabunya Bahagia FFI 1989
8) Dua Dari Tiga Lelaki FFI 1990
9) Jangan Renggut Cintaku FFI 1990
Penampilan lain
1) Adzan Subuh di SCTV (2010)
2) Adzan Maghrib di SCTV (khusus untuk penayangan SCTV
di wilayah Jakarta dan sekitarnya) (2010)
57
2. Pemeran Utama
a) Reza Rahardian
Reza Rahadian lahir di Jakarta, 5 Maret 1987, Menjadi
aktor sudah menjadi cita-cita Reza Rahadian sejak ia masih
kecil. Makanya tak heran bila ia lantas aktif berkegiatan teater,
pada saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Selain itu, anak pertama dari dua bersaudara ini juga rajin
mendaftarkan diri di berbagai ajang pemilihan model yang
diadakan oleh sejumlah majalah remaja tingkat nasional. Jerih
payahnya tidak sia-sia. Reza berhasil menyabet juara Favorit
Top Guest majalah Aneka Yess!! Tahun 2004. Kemenangannya
tersebut semakin membulatkan tekadnya untuk mewujudkan
cita-cita masa kecilnya tersebut. Ia sering mendatangi berbagai
casting sinetron serta film. Namun, jalan yang harus ditempuh
Reza sangatlah tidak mudah. Reza harus menunggu selama satu
tahun sebelum akhirnya mendapat sebuah peran pertamanya di
sinetron produksi Rapi Film yang berjudul “Culunnya Pacarku”
ditahun 2005.
Kesempatan yang datang tersebut dimanfaatkan Reza
dengan sebaik-baiknya. Ia berusaha mengerahkan seluruh
kemampuan akting yang ia miliki. Terbukti, ia kembali
dipercaya pihak Rapi Film untuk bermain dalam sinetron
58
produksi mereka. Sebut saja sinetron Inikah Rasanya, Mutiara
Hati, Cinta SMU 2, ABG dan Aku Hamil.
Aktor Pengagum Deddy Mizwar ini mengaku senang
karena akhirnya cita-cita masa kecil bisa terwujud. Apalagi
karena lewat honor yang diperolehnya tersebut, ia dapat
menghidupi mama dan adik perempuan semata wayangnya
sebagai tulang punggung keluarga.
Kini, usaha keras Reza menjadi yang terbaik di dunia
hiburan mulai membuahkan hasil. Setidaknya bisa diliat
sejumlah judul film dan sinetron yang ia bintangi. Bahkan
dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) yang sudah diadakan
beberapa kali, nama Reza Rahardian masuk dalam deretan
nominasi sebagai aktor dan pemeran pembantu terbaik berkat
akingnya dalam berbagai judul film seperti; "Emak Naik Haji”
(2009), “Perempuan Berkalung Sorban” (2009). Dan baru bisa
mewujudkan menjadi juara FFI di tahun 2010 sebagai aktor
pemeran utama terbaik dengan sebuah film berjudul “3 hati, 2
dunia, 1 cinta”. Setelah mengungguli nominasi terbanyak
sebagai aktor pemeran utama terbaik dengan judul film lainnya
yakni “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”.
Adapun catatan sinematografi Reza Rahardian adalah sebagai
berikut:
59
Film
1) Film Horor (2007)
2) Pulau Hantu 2 (2008)
3) Perempuan Berkalung Sorban (2009)
4) Kirun + Adul (2009)
5) Queen Bee (2009)
6) Perjaka Terakhir (2009)
7) Emak Ingin Naik Haji (2009)
8) Hari Untuk Amanda (2010)
9) Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010)
10) 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta (2010)
Sinetron
1) Inikah Rasanya
2) Culunnya Pacarku
3) Idola
4) Cinta SMU 2
5) Habibi dan Habibah
6) ABG
7) Isabella (sinetron)
8) Cewek Penakluk
60
Prestasi
Juara :
1) Top Guest Aneka yess!! (2004)
2) Pemeran Pria Terbaik FFI dalam 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta
(2010)
Nominasi FFI:
1) Emak Naik Haji FFI (2009)
2) Perempuan Berkalung Sorban FFI (2009)
3) Alangkah Lucunya (Negeri Ini) FFI (2010)
b) Ratu Tika Bravani
Wajahnya masih asing di dunia perfilman Indonesia. Film
pertamanya adalah film garapan Deddy Mizwar, alangkah
lucunya (negeri ini), ia menunjukan kualitas aktingnya di depan
para pemain senior seperti reza rahardian, Deddy Mizwar,
Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja, Tio Pakusadewo. Ratu Tika
Bravani, yang kelahiran Denpasar, 17 Februari 1990 tersebut
berhasil meyakinkan para pendukung film ALNI meskipun
film itu adalah kali pertama ia berakting di dunia film. Dengan
berperan sebagai Pipit yang merupakan anak dari haji Rachmat
(Slamet Raharjo), ia berhasil meyakinkan bahwa meskipun ini
61
film
pertamanya
namun
ia
dapat
berakting
dengan
mengaggumkan.
Namun kepiawaiannya dalam berakting tidak ia dapat
begitu saja, gadis yang akrab disapa Tika itu awalnya
menggeluti dunia akting lewat teater. Dan juga pernah
menggeluti beladiri Jiujitsu. Meskipun semenjak kuliah ia
meninggalkan dunia teater, bakat tersebut nampaknya tidak
bisa lepas dari dirinya. Terbukti dengan lolosnya Tika ketika
casting untuk berakting dalam film alangkah lucunya (negeri
ini).
Tidak hanya berkat bakat aktingnya yang mampu
membawa dirinya ke dunia film, tapi karena sebelumnya ia
pernah ikut Abang None Jakarta Barat (Juara I) dan Abang
None Jakarta Pusat (Finalis) (2009). Berangkat dari ajang
tersebut, kesempatan untuk berkecimpung di dunia hiburan pun
terbuka lebar. Ia tidak menyia-nyiakannya saat ditawari casting
untuk film produksi Citra Sinema ini.
Adapun catatan sinematografi Ratu Tika Bravani adalah
sebagai berikut:
Film
1) Alangkah Lucunya (Negeri ini) (2010).
62
c) Asrul Dahlan
Aktor yang melejit lewat sinetron Para Pencari Tuhan ini,
memulai bakat teaternya karena sering nongkrong di teater
Taman Ismail Marzuki yang tidak sengaja di ajak oleh
saudaranya. Awalnya Asrul adalah penggila sepak bola,
terbukti pria kelahiran Sumatera, 15 Februari 1971 ini pernah
menjadi pemain di inti di PSMS junior Medan Sumatera Utara
saat duduk di Sekolah Menengah Pertama, tapi sayang baru dua
bulan berjalan menjadi pemain sepak bola, dia harus pindah
kejakarta untuk mengikuti keinginan orang tuanya.
Dari sinilah Asrul pindah ketertarikan dari pemain bola ke
dunia seni peran, yang akhirnya memutuskan untuk menimba
ilmu seni di Institut Kesenian Jakarta. Terbukti dia dapat
mengawali karirnya sebagai pemain figuran dalam sinetron
yang di produseri oleh Deddy Mizwar, yang akhirnya
membuka jalan untuk Asrul terjun ke barbagai judul film
lainnya.
Adapun catatan sinematografi Asrul Dahlan adalah sebagai
berikut:
Film
1) Doa Yang Mengancam (2008)
2) King (2009)
63
3) Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010)
4) Tanah Air Beta (2010)
5) Jakarta Magrib (2011)
Sinetron
1) Lorong Waktu
2) Para Pencari Tuhan 1-4
64
BAB V
SAJIAN DATA DAN ANALISIS FILM
A. Review Data Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Berikut ini penulis menyajikan ulasan per-scene dari film
“Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” disertai review tiap scene. Untuk lebih
jelasnya, data penulis disajikan dalam bentuk tabel dengan ulasan yang
memudahkan untuk di telaah.
Review per-scene film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”
Scene
Waktu
Review
Disc 01 “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”
Into
00:00 - 00:09
1
00:10 – 01:39
Opening title
Perjalanan Muluk
memulai aktifitas untuk
mencari pekerjaan hingga
sampai di sebuh pasar
tumpah (sambil
mengamati berbagai
aktifitas pedagang dan
aktifitas orang lainnya)
65
2
01:40 – 03:21
Pengamatan Muluk
kepada aktifitas para
mencopet yang sedang
beraksi diipasar tersebut
(hingga bertemunya
Muluk dengan pencopet
bernama Komet)
3
03:22 – 04:21
Muluk melamar pekerjaan
di perusahaan yang sedang
bangkrut (dialog tentang
menejement dengan
pimpinan perusahaan)
4
04:22 – 04:42
Perdebatan 2 sahabat H.
Makbul dan H. Sarbini
tentang arti penting
pendidikan serta Muluk
yang masih belum bekerja
(di Musholla)
5
04:43 – 05:03
Aktifitas Muluk mencari
pekerjaan di PJTKI tapi
tetap belum mendapatkan
hasil
66
6
05:04 – 05:33
Perdebatan H. Makbul dan
H. Sarbini mengenai
Muluk (di Musholla)
7
05:34 – 05:50
Perjalanan Muluk
menghampiri info
lowongan kerja di koran
yang ternyata
perusahaannya sudah
pindah ke Vietnam
8
05:51 – 06:08
Melanjutkan perdebatan di
luar Musholla (2 sahabat
H. Sarbini&Makbul)
9
06:09 – 07:29
Aktifitas warga yang
sedang berebut
mendapatkan sembako
gratis (serta perdebatan
pentingnya pendidikan
dari 2 sahabat yang masih
berlanjut)
10
07:30 – 08:26
Perjalanan pulang 3
sahabat dari Musholla dan
masih diselingi perdebatan
67
ringan mengenai Muluk
dan Pendidikan
11
07:27 – 09:03
Perbincangan antara H.
Makbul dan Muluk
mengenai rencana Muluk
untuk berternak cacing
12
09:04 – 10:14
Muluk memintak pendapat
kepada H. Rahmat tentang
rencananya untuk
berternak cacing (Pipit
memberikan saran untuk
berternak jangkrik)
13
10:15 – 10:51
Kunjungan Muluk
kerumah calon mertuanya
(H. Sarbini)
14
10:52 – 11:29
Gambaran aktifitas Pipit
yang juga pengangguran
putri H. Rahmat setiap
hari (mengikuti berbagai
undian dan kuis yang
diadakan oleh berbagai
produk di media)
68
15
11:30 – 11:51
Muluk memulai
aktifitasnya lagi untuk
mencari kerja (bertemu
temannya Samsul sarjana
pendidikan yang juga
pengangguran)
16
11:52 – 13:14
Aktifitas Muluk berusaha
mencari kerja &
bertemunya Muluk dengan
Komet sang pencopet cilik
di warung makan
17
13:15 – 14:01
Perbincangan H. Sarbini
& H. Makbul tentang
tawaran untuk si Muluk
agar berdagang dengan
anaknya
18
14:02 – 16:07
Berkunjungnya Muluk ke
markas para pencopet
tinggal bersama komet,
dan bertemu dengan bang
Jarot (sang pimpinan)
untuk melakukan
69
penawaran kerjasama
19
16:08 – 17:27
Aktifitas Pipiit mengikuti
acara kuis yang diadakan
di televisi tetapi tidak
pernah mendapatkan hasil
20
17:28 – 18:41
Penjelasan tawaran
kerjasama Muluk untuk
mengelolah keuangan para
pencopet dengan imbalan
10% dari hasil mencopet
(bersama bang Jarot dan
seluruh pencopet)
21
18:42 – 19:04
Perbincangan ringan para
pencopet mengenai bentuk
kerjasama yang
ditawarkan Muluk (
gambaran pro & kontra
mengenai keputusan bang
Jarot untuk menerima
kerjasama tersebut)
22
19:05 – 20:48
Perbincangan Muluk dan
H. Makbul mengenai
70
Muluk yang telah
mendapatkan pekerjaan
sebagai staf bagian
pengentasan kemiskinan
di pengembangan SDM
(yang pada intinya Muluk
belum berkata jujur
tentang kerjasamanya
bersama para pencopet)
23
20:49 – 22:06
Niatan H. Makbul untuk
memberitahu kepada H.
Sarbini sahabatnya tentang
berita bahagia, si Muluk
telah mendapatkan
pekerjaan (batal karena H.
Sarbini sedang ada tamu si
Jupri calon anggota DPR
yang ingin melamar
Rahma)
24
22:07 – 26:53
Pengenalan si Muluk
dengan para anggota
pencopet satu persatu dan
pengarahan serta
71
penjelasan proyek
kerjasama yang akan
dilakukan bersama dengan
dia
25
26:54 – 28:27
Aktifitas masing-masing
kelompok pencopet di
wilayah yang telah
ditentukkan (copet mall,
pasar, dan angkot)
26
28:28 – 30:59
Penghitungan hasil nyopet
hari ini dan setoran hasil
nyopet kepada pengelolah
keuangan (dari sini Muluk
mula tahu bahwa tak
seorang pun dari para
pencopet ini yang bisa
baca tulis)
27
31:00 – 32:07
Aktifitas para pencopet di
markas pada malam hari
serta pengumuman dari
bang Jarot untuk selalu
waspada dan hati-hati
dengan Muluk agar tidak
72
ditipu
28
32:08 – 33:12
Aktifitas harian para
pencopet seperti biasa
(copet mall, pasar, dan
angkot) serta proses
penyetoran uang hasil
nyopet hari itu kepada
pengelolah keuangan si
Muluk
29
33:13 – 33:28
Pak H. Mabrur menyuruh
Muluk mengantarkan
sedikit kue yang di bawah
Muluk sepulang dari
tempat kerja kepada H.
Sarbini sahabatnya (agar
dia bisa membuktikan
bahwa pendidikan yang
selalu didebatkan mereka
berdua sifatnya penting)
30
33:29 – 33:57
Kunjungan Muluk ke
rumah calon mertuanya H.
Sarbini serta bincangbincang ringan mengenai
73
pekerjaannya saat ini
31
33:58 – 34:29
Aktifitas harian para
pencopet dan setoran
kepada Muluk
32
34:30 – 35:22
Kunjungan Muluk Ke H.
Rahmat sahabat ayahnya
untuk bersilaturrohmi
(bincang-bincang masalah
pekerjaan Muluk)
33
35:23 – 38:27
Aktifitas di markas
pencopet serta tawaran
dan penjelasan Muluk
kepada para pencopet
untuk memulai hidup baru
mereka yakni menjadi
pengasong (tetapi para
pencopet masih belum
mau mennjadi pengasong)
34
38:28 – 40:47
Muluk menjelaskan
niatnya untuk menjadikan
sebagian dari para
pencopet sebagai
74
pengasong dan
memberikan pendidikan
kepada mereka disela-sela
aktifitas yang dijalani,
kepada bos para pencopet
itu (bang Jarot)
35
40:48 – 41:32
Muluk menawarkkan
pekerjaan kepada
sahabatnya Samsul
pengangguran sarjana
pendidikan untuk ikut
bekerjasama dengan
proyek yang dijalaninya
saat ini
36
41:33 – 46:47
Pengenalan bang Samsul
kepada para pencopet
untuk menjadi pengajar di
kelas bebas untuk
mengenal pendidikan bagi
para pencopet agar mereka
dapat menjadi orang yang
lebih baik
75
37
46:48 – 47:31
Kunjungan Muluk ke
rumah calon mertua H.
Sarbini (ngobrol tentang
kapan Muluk akan segera
melamar Rahma anaknya)
38
47:32 – 48:03
Protesnya Glan pimpinan
copet mall kepada bang
Jarot mengenai rencana
Muluk untuk mengadakan
kelas bebas untuk
pendidikan para pencopet
tetapi bang Jarot tidak
menyetujuinya
Scene
Waktu
Review
Disc 02 “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”
39
00:00 – 00:19
Lanjutan dari scene di disc
2 tentang protesnya Glan
atas rencana Muluk
mengadakan kelas bebas
untuk pendidikan
pencopet
76
40
00:20 – 01:38
Hari pertama bang Samsul
mengajar di kelas bebas
untuk pendidikan para
pencopet yang
mempunyai kendala
teentang cara menulis
abjad
41
01:39 – 02:01
Curhatnya Samsul kepada
Muluk tentang hari
pertama mengajar anakanak pencopet yang tidak
tahu aturan
42
02:02 – 03:10
Samsul Mengajar hari
berikutnya di kelas para
pencopet tentang abjad
huruf A
43
03:11 – 03:54
Perbincangan Muluk
dengan H. Rahmat untuk
bisa mengajak Pipit
anaknya dapat bekerja
dengan Muluk (lokasi
Musholla setelah sholat)
77
44
03:55 – 08:56
Perjalanan dan hari
pertama Pipit diajak
Muluk untuk ikut bekerja
dengan dia di markas para
pencopet, serta perkenalan
Pipit dengan para
pencopet sebagai guru
agama yang akan
mengajar di kelas bebas
45
08:57 – 09:27
Scene perjalan Pipit dan
Muluk pulang disertai
dialog tentang honor yang
didapatkan dari hasil
nyopet
46
09:28 – 09:38
Aktifitas hari pertama
Pipit masuk kelas bebas
yakni mengajar kalimat
syahadad kepada para
pencopet
47
09:39 – 11:10
Memulai kegiatan mandi
agar selalu bersih dan
membiasakan para
pencopet untuk mandi
78
setiap hari (rangkaian
kegiatan pengajaran Pipit
tentang ilmu agama
mengenai kebersihan)
48
11:11 – 13:13
Berbagai kegiatan belajar
mengajar yang diadakan
di kelas bebas para
pencopet (dari mulai
berhitung, mengenal
sholat, mengenal gedunggedung DPR dll)
49
13:14 – 16:04
Aktifitas lain dari
rangkaian kegiatan belajar
mengajar di kelas para
pencopet yakni praktikum
sholat berjamaah,
permainan (out bound),
upacara bendera dll.
50
16:05 – 16:57
Rumah H. Sarbini calon
mertua Muluk yang
kedatangan tamu si Jupri
calon anggota DPR yang
juga suka dengan Rahma
79
(anak H. Sarbini)
51
16:58 – 17:54
Pipit panik karena
abahnya dan H. Makbul
(ayah Muluk) mau ikut ke
tempat mereka bekerja
saat ini yakni markas para
pencopet
52
17:55 – 18:58
Samsul dan Muluk
mengadakan acara
peresmian pengalihan
profesi dari pencopet ke
profesi pengasong
53
18:59 – 20:03
Perjalanan Pipit dan
rombongan ayahnya
ketempat markas para
pencopet untuk
mengetahui aktifitas
mereka
54
20:04 – 29:57
Peresmian pemindahan
profesi yang dihadiri oleh
orang tua Pipit dan Muluk
membuat suasana serba
80
salah, dan akhirnya
mereka mengetahui bahwa
anak-anaknya selama ini
bekerja mendapatkan upah
dari hasil mencopet yang
mereka berinama
pemberdayaan SDM
55
29:58 – 30:43
Perjalanan pulang ayah
mereka (Muluk & Pipit)
sambil membicarakan
anak-anak mereka yang
mendapatkan upah dari
hasil mencopet tersebut
56
30:45 – 34:10
Suasana di rumah Pipit
dan Muluk setelah
kejadian tadi pagi yakni
mengertinya ayah mereka
dengan pekerjaan yang
dilakukan anak-anaknya
(perasaan bersalah
membimbing anakanaknya)
81
57
34:11 – 35:43
Muluk dan Pipit sedih atas
apa yang telah mereka
lakukan terhadap ayahnya
saat ini (serta bang Samsul
yang terus berkeinginan
untuk mengajar di tempat
para pencopet karena dia
tak mau lagi menjadi
pengangguran seperti
dulu)
58
35:44 – 36:49
Suasana kesedihan ayah
mereka yang ditumpahkan
dengan berdoa di
musholla tempat ngumpul
untuk berdoa
bersama(serta kesedihan
Muluk & Pipit saat
melihat ayah mereka
menangis karena
perbuatan mereka)
59
36:50 – 38:59
Suasana perdebatan
Samsul dan 2 sahabatnya
(Muluk & Pipit) untuk
82
terus menjalankan
aktifitas sebagai pengajar
di kelas pencopet karena
Samsul menganggap
hidupnya sangat berarti di
situ
60
39:00 – 41:34
Kembalinya Muluk, Pipit,
dan Samsul ke markas
pencopet untuk
memutuskan pamit dari
kegiatan yang sudah
mereka lakukan dan
menyerahkan semua
keputusan pada para
pencopet dan bang jarot
sang pimpinan copet
untuk terus melanjutkan
berbagai aktifitas yang
sudah mereka pilih,
dengan memberikan
semua hasil yang sudah
dikelolah mereka selama
ini
83
61
41:35 – 43:19
Kemarahan bang jarot
kepada para pencopet
karena mereka sudah
ditinggal oleh Muluk dan
tak lagi diajarkan berbagai
kegiatan yang bermanfaat
selain mencopet, dengan
memberikan kebebasan
kepada mereka untuk
memilih menjadi
pengasong atau pencopet
selamanya
62
43:20 – 43:32
Setelah Muluk tak lagi
bekerja sebagai
pengelolah keuangan para
pencopet pak H. Makbul
ayahnya memberikan
saran agar dia belajar les
mengendarai mobil untuk
menunjang pekerjaan
yang akan dia cari setelah
ini, karena di yakini skill
ini dapat membantu
84
63
43:33 – 44:50
Kembalinya aktifitas yang
dijalani oleh Pipit dan
bang Samsul seperti
semula (yakni ikutan kuis
yang diadakan di TV dan
bermain gaplek di pos
ronda) serta berfikirnya
Komet untuk berkeinginan
sebagai pengasong
64
44:51 – 45:32
Jupri sebagai calon
anggota DPR
berkampanye dengan
memasang berbagai
posternya di sudut-sudut
desa
65
45:33 – 46:23
Keputusan komet dan
teman-temannya copet
pasar sudah diambil yakni
menjadi seorang
pengasong bukan lagi
pencopet, tetapi Gland an
yang lain tetap ingin
menjadi pencopet
85
66
46:24 – 48:43
Aktifitas Comet sebagai
pengasong dan Glan yang
dikejar-kejar massa karena
ketahuan mencopet
67
48:48 – 51:23
Perdebatan antara Muluk
dan Satpol PP yang ingin
membelah para pengasong
(Komet dan kawankawan) dan akhirnya
Muluk yang harus
bertanggungjawab karena
menyuruh mereka lari
68
51:24 – 55:16
Title closing film
Alangkah Lucunya (negeri
ini) dengan tulisan
penutup pasal 34 ayat (1)
UUD 45 dan nama-nama
kru
Dari review per-scene diatas, kita dapat memahami adegan demi adegan
yang terjadi dalam film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”, hal ini
dijadikan dasar untuk pembahasan berikutnya.
86
B. Uji Reliabilitas
Berikut ini penulis menyajikan keterangan dari ulasan pada tabel
hasil dari 2 koder setelah menyaksikan film “Alangkah Lucunya (Negeri
Ini)”
Pn
: Peneliti
K
: Koder (1 dan 2)
M
: Kesepakatan dua koder
CR
: Coefisien Reliability
N1,N2 : Jumlah item yang dikoding
Rumus Holsty untuk menghitung kesepakatan dari hasil penelitian
2 koder :
2M
CR =
N1 + N2
2(335)
CR =
408+408
670
CR =
= 0,82
816
Untuk selanjutnya, nilai juga disebut OA (Observed Agreement).
Berikut untuk hasil uji dengan menggunakan rumus Scoot Pi untuk
mendapatkan nilai keterhandalan, maka dipergunakan hitungan sebagai
berikut :
87
Struktur kategori
F
X
X2
Persahabatan
112
0,33
0,10
Kehormatan
114
0,34
0,11
Keharmonisan
109
0,32
0,10
Jumlah
335
EO =
0,31
(% Observed Agreement - % Expected Agreement )
Pi =
(1- % Expected Agreement)
% OA - % EA
Pi =
1- % EA
0,82 – 0,31
Pi =
0, 69
0,51
Pi =
= 0,73
0, 69
Dengan demikian maka diperoleh nilai keterhandalan untuk pengamatan
diatas adalah 0,73
C. Analisis Data
Penelitian disini akan menguraikan dan menganalisis kandungan
pesan sosial dalam film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” yang telah
didokumentasi sehingga dapat diperoleh jawaban atas rumusan masalah
tersebut. Data yang telah diperoleh dianalisis dengan menggunakan
metode analisis isi dan unit analisis yang digunakan adalah scene dari film
88
“Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”. Sedangkan untuk satuan ukur peneliti
menggunakan teknik frekuensi kemunculan kesepakatan ketegori yang
telah dibuat indikator kesepakatannya dalam struktur kategori.
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode analisis isi
dengan unit analisisnya per-scene. Satuan ukur yang digunakan dalam
penelitian ini frekuensi kemunculan kesepakatan kategori tema yang telah
ditetapkan dalam struktur kategori. Kategori dalam tulisan disini adalah
berkaitan dengan pesan sosial, yaitu persahabatan, kehormatan, dan
keharmonisan.
Analisi dilakukan dengan cara mengelompokkan kandungan pesan
sosial pada setiap scene dalam film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”
bersama koder. Dengan perincian 68 scene yang mana dikelompokkan ke
dalam tiga kategori. Selanjutnya unit analisis tersebut dikumpulkan dalam
lembar kerja (coding sheet) bersama dua koder yang telah ditunjuk.
Pengkodingan dilakukan dengan cara menonton keseluruhan film dan
kemudian dari film tersebut dimasukan dalam kategori, guna mengetahui
kecenderungan tema.
Dari 68 scene tersebut dilakukan pengkodingan ke dalam tiga
kategori yang dungkap diatas. Dari pengkodingan antar penelliti, koder I
dan koder II yang ditentukan, didapatkan CR 0,82 atau 82% dan di
presentasikan dalam nilai keterandalan formula scott adalah sebesar 0,73
atau 73%. Berdasarkan hasil uji reabilitas tersebut dapat diketahui
kesepakatan para juri. Nilai kesepakatan yang dianggap reliabel menurut
89
laswell, kesepakatan para juri 70% - 80% sudah cukup handal (Ritonga,
2004:87). Maka kategori yang ditentukan yaitu persahabatan, kehormatan,
dan keharmonisan sudah memenuhi syarat relibilitas dalam penelitian.
Hasil pengkodingan kemudian dimasukkan dalam tabel induk
untuk memudahkan melaporkan hasil laporan. Dari tabel induk tersebut,
kemudian dibuat tabel frekuensi untuk mengetahui frekuensi kandungan
pesan sosial dalam film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”.
Berikut ini disajikan analisis per-scene dari tiap-tiap kategori:
a. Kategori Persahabatan
Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis menggunakan
analisis isi. Untuk kategori persahabatan dapat dilihat pada tabel
dibawah ini;
Kategori Persahabatan
Indikator
Frekuensi
Prosentase (%)
Curhat
24
43%
Solidaritas
33
57%
Total
57
100%
(Data diolah peneliti)
Dari tabel diatas dapat disimpulkan, bahwa untuk kategori
persahabatan indikattor curhat muncul 24 kali atau 44% dari 68 scene,
sedangkan indikator solidaritas muncul 33 kali atau 56% dari 68 scene
90
dalam keseluruhan scene yang ada di film “Alangkah Lucunya (Negeri
Ini)”.
Berikut
ini
penulis
mengulas
contoh
scene
yang
dapat
dikategorikan terdapat persahabatan.
a) Scene 6 : Tentang perbincangan dan berdebatan ringan antara H.
sarbini dan H. Makbul mengenai Muluk dan Pendidikan yang
dialkukan mereka di dalam musholla tempat mereka berkumpul.
b) Scene 9 : Dialog H. Makkbul dan H. Sarbini di luar musholla
sambil melihat aktifitas warga.
H. Makbul : “si mulukkan bentar lagikan jadi mantunya haji
sarbini, ya didoakan donk”.
H. Sarbini
: ”ya saya doain semoga cepat dapat pekerjaan”.
c) Scene 15 : Gambaran rasa solidaritas Muluk yang diberikan kepada
Samsul sahabatnya tentang nasib Samsul yang juga lulusan S1
masih pengangguran.
d) Scene 35 : Dialog Muluk dengan Samsul mengenai penawaran
kerjasama.
Muluk : “Sul, sini sul gue punya ada proyek?”
Samsul : “Gue lagi main nie?Proyek apa’an se?”
Muluk : “Udah ayo…”
91
b. Kategori kehormatan
Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis menggunakan
analisis isi. Untuk kategori kehormatan dapat dilihat pada tabel di
bawah ini;
Kategori kehormatan
Indikator
Frekuensi
Prosentase (%)
Sanjungan
28
64%
Mengabdi
16
36%
Total
44
100%
(Data diolah peneliti)
Dari tabel di atas dapat disimpulkan, bahwa untuk kategori
kehormatan indikator sanjungan muncul 28 kali atau 64% dari 68
scene, sedangkan indikator mengabdi muncul 16 kali atau 36% dari 68
scene dalam keseluruhan scene yang ada di film “Alangkah Lucunya
(Negeri Ini)“.
Berikut ini penulis mengulas contoh scene-scene yang dapat
dikategorikan terdapat kehormatan.
a) Scene 11 : Saat Muluk berkunjung kerumah H. Rahman,
mengutarakan niatnya untuk berternak cacing, dia berkata dengan
sopan terhadap orang yang jadi panutan masyarakat soal agama.
92
Hal ini menunjukkan kalau orang yang statusnya lebih tinggi
dihormati oleh orang yang statusnya lebih rendah.
b) Scene 22 : Dialog antar H. Makbul (ayah Muluk) dengan Muluk
soal pekerjaan yang sudah di dapatkan Muluk
H. Makbul : “Kamu sudah dapat Kerja? Terus jabatanmu apa?”
Muluk
: “Sudah pak di Pengentasan kemiskinan, saya di bagian
pengembangan sumberdaya manusia”.
c) Scene 43 : Perbincangan Muluk dengan H. Rahmad, untuk
mengajak Pipiit anaknya agar bias bekerja dengan dia, Muluk
menunjukkan sifat hormat kepada H. Rahmat sebagai sahabat
ayahnya sekaligus orang yang disegani.
c. Kategori keharmonisan
Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis menggunakan
analisis isi. Untuk kategori keharmonisan dapat dilihat pada tabel di
bawah ini;
Kategori keharmonisan
Indikator
Frekuensi
Prosentase (%)
Simpati
26
52%
Kerjasama
24
48%
93
Total
50
100%
(Data diolah peneliti)
Dari tabel di atas dapat disimpulkan, bahwa untuk kategori
keharmonisan indikator simpati muncul 26 kali atau 52% dari 68
scene, sedangkan indikator kerjasama muncul 24 kali atau 48% dari 68
scene dalam keseluruhan scene yang ada di film “Alangkah Lucunya
(Negeri Ini)“.
Berikut ini penulis mengulas contoh scene-scene yang dapat
dikategorikan terdapat keharmonisan.
a) Scene 48 : Gambaran keharmonisan dapat dilihat dari bagaimana
Muluk, Samsul dan Pipit berjuang mencari solusi untuk anak-anak
pencopet agar tidak lagi menjadi pencopet. Dengan berbagai cara
seperti mengajar abjad, out bond, menyisakan uang untuk mulai
berani mmengasong dan lain-lain.
b) Scene 34 : Dialog Muluk dan Bang Jarot (Pimpinan pencopet)
untuk mennjadikan sebagian dari para pencopet mennjadi
pengasong.
c) Bang Jarot : “Saya terima kasih abang sudah mau mendidik
mereka? Apalagi untuk masa depan anak agar lebih jelas, gak
papalah pendapatan saya berkurang”
94
d) Scene 26 : Dialog Muluk terhadap para pencopet saat perhitungan
hasil nyopet dan Muluk baru tahu bahwa mereka tidak ada yang
bisa menulis sama sekali (rasa simpati).
Muluk
: “Ada yang bisa nulis gak?”
Bang jarot : “Mereka tidak ada yang sekolah bang? jadi tidak ada
yang bisa nulis”.
95
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Film merupakan salah satu media komunikasi massa yang sangat
komplek yang ada saat ini dalam penyajiannya kepada khalayak, baik dari
cara penyampaian, alur cerita, setting dan latar belakang pembuatannya.
Film memiliki ciri khas yang unik dan menarik dalam memanjakan
penikamatnya dalam setiap sentuhan yang di bawah oleh setiap adegan
yang ada dalam film tersebut, disamping itu film juga mempunyai peran
penting dalam mempengaruhi khalayak banyak baik dari segi informasi
maupun hal lain yang akan disampaikan kepada khalayak.
Film juga mempunyai peranan dalam mempengaruhi kehidupan
sosial masyarakat dari berbagai aspek kehidupan masyarakat sesuai
dengan bidikan dari sineasnya dalam memproduksi sebuah film, karena
tidak jarang sebuah film di ambil dari berbagai kehidupan nyata yang ada
di sekitar kita atau bisa juga sebuah kreatifitas khayalan masa depan yang
akan terwujud nantinya.
Dari sini film yang bertema kehiduan sosial memiliki pengaruh
yang sangat besar kepada para penikmat film untuk sebuah pesan yang
sebenarnya terkandung di dalam fim tersebut, seperti film yang telah di
teliti oleh penulis yakni film berjudul “Alangkkah Lucunya (Negeri Ini)”
yang selanjutnya di sebut ALNI yang memiliki pesan-pesan sosial sesuai
96
dengan tujuan dari para pembuatnya dalam hal ini sutradara Deddy
Mizwar.
Film ALNI telah di teliti oleh peneliti dengan mengambil sebuah
rumusan masalah frekuensi kemunculan pesan sosial yang terkandung
dalam film tersebut, dan sesuai dengan kategorisasi yang telah di tentukan
dan disepakati. Dari hal itu peneliti mengetahui berapa persen isi pesan
sosial yang ada dalam film ALNI tersebut yakni sebesar 73 % dari semua
scene yang telah di teliti, yang kesemuanya sangat berpengaruh dalam
penyampaian kepada khalayak penikmat film serta dalam menentukan dan
mencapai tujuan dari segi pembuatan film tersebut.
Dari peniltian ini penulis telah membuktikan berapa kandungan isi
pesan sosial dalam film ALNI yang telah di teliti bersama dua hakim yang
di tunjuk oleh peneliti, serta penulis mendapatkan kajian-kajian yang
banyak didapatkan mengenai berbagai hal yang ada kaitannya dengan
analisis yang dilakukan peneliti yakni berkaitan dengan analisis isi pesan
sosial dalam sebuah film selama proses penelitian ini, yang nantinya di
harapkan
dapat
menjadi
tolak
ukur
dalam
melanjutkan
dan
mengembanngkan penelitian-penelitian berikutnya dengan latar sebuah
film.
Sehingga dari penelitian tentang sebuah film diharapkan film tak
hanya menjadi sebuah wahana hiburan semata melainkan menjadi sebuah
kajian yang menarik yang dapat dikembangkkan dalam ilmu pengetahuan
dan disiplin ilmu yang lain. Yang tentunya memiliki tujuan positif untuk
97
mengembangkan berbagai aspek kehidupan sosial yang di inginkan
bersama.
B. Saran
Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti, dalam hal
ini menganalisis kandungan isi pesan sosial dalam film ALNI. Peneliti
sadar akan adanya kekurangan maupun kelebihan yang ada didalamnya,
maka peneliti berharap penelitian tersebut mendapatkan sebuah kritik dan
saran yang membangun dari berbagai aspek yang lebih perkompeten di
dalamnya untuk kemajuan penelitian berikutnya.
Serta peneliti juga mengharapkan agar penelitian ini dapat terus
dikembangkan dan di lanjutkan ke aspek-aspek lainnya yang lebih
sempurna dan menjadikan penelitian-penelitian selanjutnya sebagai acuan
dalam mengembangkan penelitian tentang ilmu pengetahuan, baik dari
segi film maupun komunikasi massa lainnya.
Yang terakhir harapannya penelitian ini dapat berguna untuk
pengembangan ilmu pengetahuan tentang bidang ilmu komunikasi di
kampus Universitas Yudharta Pasuruan agar lebih bervariasi dalam
berbagai sajian dan penelitian mahasiswa.
98
DAFTAR RUJUKAN
Askurifai, Baksin. 2003. Membuat Film Indie Itu Gampang. Bandung : Kataris.
Effendy, Heru. 2002. Mari Membuat Film; Panduan Menjadi Produser.
Yogyakarta: Yayasan Konfiden.
Efendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung:
Citra Aditya Bakti.
Fajar, Marhaeni. 2008. Ilmu Komunikasi Teori & Praktik. Jakarta: Graha Ilmu.
Kriyantono, Rahmat. 2008. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
McQuail, Dennis. 1987. Teori Komunikasi Massa; Suatu Pengantar, Jakarta:
Erlangga.
Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Nuruddin. 2003. Komunikasi Massa. Malang: Cespur.
Pratista, Himawan. 2008. Memahami Film. Jakarta: Homerian Pustaka
Rahmat, Jalaludin. 2002. Metodelogi Penelitian Komunikasi, Bandung: Remaja
Rosda Karya.
Rahmat, Jalaludin. 2001. Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosda Karya.
Sobur, Alex. 2003. Analisis Teks Media suatu Pengantar. Bandung: Rosda Karya.
99
Suseno, Magni. 1997. Etika Dasar Masalah Pokok Filsafat Moral. Jakarta:
Pustaka Filsafat
Soekanto, Soerjono. 1987. Sosiologi; Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.
Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Widjaja, HAW. 2000. Ilmu Komunikasi Pengantar Studi. Jakarta: Rineka Cipta.
Non Buku
http://cheerfulhome.blogdetik.com/alangkah-lucunya-negeri-ini-sinopsis-film/
(diakses, 21 Januari 2011).
http://meriam-sijagur.com/index.php/movies/531-alangkah-lucunya-negeri-inireview.html/ (diakses, 07 Februari 2011).
http://www.facebook.com/notes/alangkah-lucunya-negeri-ini/behind-alangkahlucunya-negeri-ini/ (diakses, 28 Februari 2011).
http://www.gbiografi.com/2010/10/biografi-deddy-mizwar.html (diakses, 25
Februari 2011).
http://www.gbiografi.com/2010/10/biografi-reza-rahardian.html (diakses, 25
Februari 2011).
http://www.movietei.com/celeb-Ratu-Tika-Bravani (di akses, 28 Februari 2011).
http://www.21cineplex.com/star/ratu-tika-bravani,1132.html (di akses, 28
Februari 2011).
100
http://id.wikipedia.org/wiki/Asrul_Dahlan.html (di akses, 28 Februari 2011)
101
Download