PAKAN AYAM BURAS

advertisement
PAKAN AYAM BURAS
INSTALASI PENELITIAN DAN PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN
DKI JAKARTA
1996
KATA PENGANTAR
Usahatani ayam buras merupakan salah satu usaha yang telah lama dilakukan oleh
para peternak di DKI Jakarta. Prospek usahatani ini mempunyai masa depan yang cukup
balk, mengingat permintaan ayam buras baik petelur maupun pedaging terus berkembang
sejalan dengan peningkatan pendapatan dan penduduk serta pengetahuan tentang
pemenuhan gizi bagi keluarga.
Pakan ayam buras merupakan salah satu komponen yang terbesar (60-80%) dalam
seluruh biaya yang dikeluarkan dalam usahatani tersebut. Untuk itu informasi mengenai
beberapa alternatif bahan yang dapat dijadikan pakan ayam buras secara ekonomis
menguntungkan sangat diperlukan.
Brosur ini memberikan informasi tentang beberapa alternatif bahan yang dapat
dijadikan pakan ayam buras yang secara ekonomis menguntungkan. Informasi yang ada
dalam brosur ini merupakan kumpulan informasi hasil penelitian yang telah dilakukan oleh
Balai Penelitian Ternak Bogor dan beberapa hasil kajian yang telah dilakukan oleh BIP
DKI Jakarta dalam kegiatan Penelitian Adaptif.
Terimakasih diucapkan kepada semua pihak yang telah membantu hingga
tersusunnya brosur ini. Semoga bermanfaat.
Kepala Instalasi,
Ir. Santoso W.
NIP 080.048.899
I. PENDAHULUAN
Sampai saat ini ayam buras masih mempunyai peranan yang penting dalam
memenuhi kebutuhan daging dan telur. Bagi pemiliknya ayam buras merupakan sumber
penghasilan atau tabungan hidup yang sewaktu-waktu dapat diuangkan. Bagi konsumen,
ayam buras masih banyak dicari karena ciri khas rasa daging dan telurnya sebagai
campuran jamu tradisional yang tidak boleh ditinggalkan. Usahatani ternak ayam buras
banyak dilakukan oleh masyarakat DKI Jakarta, baik yang bersifat sambilan ataupun yang
benar-benar ditekuni sebagai mata pencaharian. Produktivitas lahan dapat dicapai secara
maksimal, karena meskipun lahan sempit tetapi bisa beternak dengan populasi tinggi. Hal
ini dimungkinkan dengan penggunaan kandang baterai (bertingkat) dan pemberian pakan
yang memadai. Pada pemeliharaan dengan sistem ayam dikandangkan (intensif)
penyediaan pakan tergantung pada peternaknya. Ini artinya bahwa peternak menyediakan
seluruh kebutuhan pakan baik jumlah maupun mutunya sehingga mencukupi kebutuhan
gizi ayam buras. Dengan demikian ayam buras akan dapat berproduksi lebih baik.
Dalam usaha ternak ayam buras biaya yang dikeluarkan untuk menyediakan pakan
paling besar yakni (60-80%) dari seluruh komponen biaya produksi yang dikeluarkan.
Untuk menghemat biaya ransum dapat disusun sendiri oleh peternak dari bahan-bahan
pakan yang mudah didapat disekitar kita, murah harganya tetapi memenuhi kebutuhan
gizinya. Bioteknologi yang terus berkembang menghasilkan sejenis probiotik yang berasal
dari mikroba rumen. Probiotik ini berfungsi untuk memecahkan selulosa, hemiselulosa,
lignin protein serta lemak sehingga ransum yang dikonsumsi lebih mudah diserap oleh
usus. Disamping itu bau kotorannya menjadi berkurang. Hal ini cocok dengan kondisi
wilayah DKI Jakarta dimana peternak berlokasi didaerah padat penduduk.
II. PRODUKTIVITAS DAN KEBUTUHAN
ZAT GIZI AYAM BURAS.
A.
Produktivitas
Produktivitas ayam buras sangat rendah bila dibandingkan dengan ayam ras, baik
pertumbuhan maupun produksi telurnya. Keadaan ini antara lain disebabkan oleh
a.
Faktor genetis.
b.
Cara pemeliharaan.
c.
Pemberian pakan yang belum memadai.
Untuk memilih jenis ayam buras yang diharapkan tinggi produksinya dan mengarah
kepada usaha yang efektif, kemampuan produksi ayam buras yang akan dipelihara perlu
diketahui terlebih dahulu.
Berbagai jenis ayam buras yang banyak dipelihara secara intensif mempunyai
kemampuan produksi dan reproduksi yang berbeda. Ada beberapa jenis ayam buras lokal
yang banyak dipelihara antara lain adalah
a.
Ayam Pelting
b.
Ayam Kedu Hitam
c.
Ayam Kedu Putih
d.
Ayam kampung/ayam sayur
e.
Ayam Nunukan
Ayam Pelting dapat dijadikan salah satu ayam yang dapat dikembangkan untuk
produksi daging. Ayam kedu baik yang berwarna hitam maupun yang berwarna putih
mempunyai potensi yang lebih baik untuk dikembangkan sebagai penghasil telur
dibanding dengan ayam buras lainnya. Sementara itu jenis ayam kampung biasa atau
ayam sayur tidak mempunyai karakteristik yang mantap sehingga tidak dapat
dikelompokkan ke dalam galur yang spesifik. Ayam Nunukan adalah ayam lokal yang
berkembang di pulau Tarakan, Kalimantan Timur, ayam ini sangat potensial sebagai
penghasil daging dan telur.
B.
Kebutuhan Gizi Ayam Buras
Pada prinsipnya macam zat gizi yang dibutuhkan ayam buras sama dengan yang
dibutuhkan ayam ras yaitu
a.
Protein
b.
Vitamin
c.
Energi (Karbohidrat dan lemak)
d.
Mineral dan
e.
Air.
Akan tetapi jumlah zat gizi yang dibutuhkan oleh kedua jenis ayam tersebut mungkin
berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan zat gizi untuk ayam buras lebih
rendah dibandingkan dengan kebutuhan ayam ras. Oleh karena itu penggunaan 100%
ransum ayam ras komersial untuk ayam buras merupakan pemborosan karena
pertumbuhan maupun produksi telur masih jauh di bawah pertumbuhan maupun produksi
telur ayam ras. Hal ini dikarenakan keterbatasan kemampuan genetis ayam buras. Banyak
faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi, diantaranya
a.
Jenis ternak
b.
Umur unggas
c.
Lingkungan, terutama cuaca
d.
Tingkat produksi
Berdasarkan hasil-hasil penelitiannya, Balitnak Ciawi menyarankan ransum ayam buras
hendaknya disusun dengan kandungan gizi seperti pada tabel 1.
Tabel 1. Saran Kandungan Gizi Ransum Untuk Ayam Buras.
Zat Gizi Yang
Diperlukan
Umur
(Minggu )
0-12
12-22
>22
Energi metabolisme (kkal)
2600
2400
2400 - 2600
Kalsium (%)
0,9
1,0
3,4
Pospor (%)
0,45
0,45
0,34
Protein (%)
14 -17
14
14
Metionin (%)
0,37
0,21
0,22 - 0,30
Lisin (%)
0,87
0,45
0,68
III. RAGAM BAHAN PAKAN AYAM BURAS
Mengingat kapasitas produksi dan pertumbuhan ayam buras lebih rendah
dibandingkan ayam ras, maka dalam memberi pakan ayam buras sebaiknya dipilih dari
bahan-bahan yang mudah didapat, murah harganya dan nilai gizinya memadai.
A.
Bahan Pakan Nabati
Bahan pakan nabati adalah bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Bahan pakan nabati ini umumnya mempunyai serat kasar tinggi, misalnya dedak dan
daun-daunan yang suka dimakan oleh ayam buras.
Disamping itu bahan pakan nabati banyak pula yang mempunyai kandungan protein tinggi
seperti bungkil kelapa. bungkil kedele dan bahan pakan asal kacang-kacangan. Dan tentu
saja kaya akan energi seperti jagung.
1.
Dedak halus
Dedak sebagai limbah penggilingan padi banyak terdapat di Indonesia karena
Indonesia merupakan negara penghasil padi. Pada saat musim panen, dedak mudah
diperoleh dan murah harganya. Dedak sebagai bahan pakan ternak luas penggunaannya,
dapat digunakan sebagai bahan pakan berbagai jenis dan tipe ternak.
Dedak halus dibedakan antara dedak halus pabrik dan dedak halus kampung. Dedak
halus kampung mengandung lebih banyak serat kasar dibandingkan dedak halus pabrik,
serta kandungan proteinnya hanya 10,1 %, sedangkan dedak halus pabrik mengandung
protein 13,6%. Sedangkan kandungan lemaknya tinggi, sekitar 13%, demikian juga serat
kasarnya kurang lebih 12%. Oleh karena itu penggunaan dedak halus dalam pakan ayam
buras sebaiknya tidak melebihi 45%.
Bila beras yang sudah putih digiling kembali, maka akan didapatkan limbah berupa
bekatul dengan kandungan proteinnya 10,8%, ini dapat juga digunakan sebagai bahan
pakan ayam buras.
2.
Jagung
Jagung sebagai pakan ayam buras sudah sejak lama digunakan. Jagung
mengandung protein agak rendah (sekitar 9,4%), tetapi kandungan energi
metabolismenya tinggi. (3430 kkal/kg). Oleh karena itu jagung merupakan sumber energi
yang baik. Kandungan serat kasarnya rendah (sekitar 2%), sehingga memungkinkan
jagung dapat digunakan dalam tingkat yang lebih tinggi. Jagung kuning mengandung
pigmen karoten yang disebut "xanthophyl". Pigmen ini memberi warna kuning telur yang
bagus dan daging yang menarik, tidak pucat.
3.
Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa merupakan limbah dari pembuatan minyak kelapa dapat digunakan
sebagai pakan lemak. Indonesia kaya akan pohon kelapa dan banyak mendirikan pabrik
minyak goreng, sehingga bungkil kelapa banyak tersedia kandungan protein cukup tinggi
sekitar 21,6% dan energi metabolis sekitar 1540 - 1745 Kkal/Kg. Tetapi bungkil kelapa ini
miskin akan Cysine dan Histidin serta kandungan lemaknya tinggi sekitar 15%. Oleh
karena itu penggunaan dalam menyusun ransum tidak melebihi 20%, sedang kekurangan
Cysine dan Histidin dapat dipenuhi dari tepung itu atau Cysine buatan pabrik.
Secara umum bungkil kelapa berwarna coklat, ada coklat tua ada coklat muda (coklat
terang) sebaiknya dipilih bungkil kelapa yang berwarna coklat muda atau coklat terang
inilah yang kita pilih.
Bungkil Kelapa mudah dirusak oleh jamur dan mudah tengik, sehingga harus
hati-hati dalam menyimpannya.
4.
Singkong/Ketela Pohon
Parutan singkong mentah dapat dijadikan bahan pakan pokok ayam buras yang
dipelihara secara intensif. Singkong dapat diberikan dalam bentuk mentah (segar) ataupun
setelah melalui pengolahan misalnya gaplek atau aci. Penggunaan tepung gaplek dalam
ransum tidak lebih dari 40%. Dalam bentuk mentah, singkong sebaiknya digunakan dalam
tempo 24 jam setelah masa panennya. Lebih dari tempo itu maka nilai gizinya akan
menurun (rusak). Selain umbinya, daun singkong juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan
pakan ayam buras, baik dalam bentuk tepung ataupun dalam bentuk segar (sebagai
hijauan). Tepung daun singkong ini dapat menggantikan kacang hijau dan kedelai sampai
jumlah 8%.
5.
Bungkil kedelai.
Kacang kedelai mentah tidak dianjurkan untuk dipergunakan sebagai pakan ayam
karena kacang kedelai mentah mengandung beberapa trypsin, yang tidak tahan terhadap
panas, karena itu sebaiknya kacang kedelai diolah lebih dahulu.
Bungkil kedelai merupakan limbah pembuatan minyak kedelai, mempunyai
kandungan protein ± 42,7% dengan kandungan energi metabolisme sekitar 2240 Kkal/Kg,
kandungan serat kasar rendah, sekitar 6%. Tetapi kandungan methionisne rendah.
Penggunaan bungkil kedelai dalam ransum ayam dianjurkan tidak melebihi 40%, sedang
kekurangan methionisme dapat dipenuhi demi tepung ikan atau methionisme buatan
pabrik.
6.
Daun lamtoro.
Pemberian daun lamtoro mesti hati-hati karena daun lamtoro mengandung alkoloid
yang beracun dengan nama mimosin. Pemberian tepung daun lamtoro dalam jumlah yang
banyak akan mengakibatkan ayam berhenti bertelur. Karena itu, kendatipun kandungan
protein daun lamtoro cukup tinggi (22,30%), dalam penggunaannya dianjurkan tidak
melebihi dari 5% dalam pakan ayam.
7.
Daun turi.
Tepung daun turi sudah biasa dipergunakan dalam pakan ayam. Daun turi yang
berbunga merah mengandung kadar protein sekitar 31,68%, sedangkan daun turi yang
berbunga putih mengandung kadar protein 40,62%.
B.
Bahan Pakan Hewani.
Bahan pakan asal hewan ini umumnya merupakan limbah industri, sehingga
sifatnya memanfaatkan limbah. Bahan pakan hewani yang biasa digunakan adalah tepung
ikan, tepung tulang, tepung udang dan tepung kerang. Beberapa bahan pakan hewan
yang lain adalah cacing, serangga, ulat dll. Bahan-bahan pakan ini ditemukan ayam yang
dipelihara secara intensif, cacing, serangga dan lain-lain tidak diberikan. Tetapi bekicot
yang banyak didapat di musim hujan, sudah mulai diternakkan, merupakan bahan pakan
alternatif yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein pada ransum ayam.
1.
Tepung Ikan.
Tepung ikan merupakan bahan pakan yang sangat terkenal sebagai sumber protein
yang tinggi. Tetapi perlu diketahui bahwa kandungan gizi tepung ikan ini berbeda, sesuai
dengan jenis ikannya (Tabel 2).
Disamping jenis ikan, proses pengeringan ikan juga mempengaruhi kualitas tepung
ikan tersebut. Ada beberapa macam proses pengeringan, yaitu pengeringan matahari,
pengeringan vacum, pengeringan dengan uap panas dan pengeringan dengan pijar api
sesaat. Pengeringan matahari merupakan proses termudah dan termurah, tetapi juga
rendah kadar proteinnya. Tepung ikan lokal yang bersumber dari sisa industri ikan
kalengan atau limbah tangkapan nelayan dan hanya dijemur dengan panas matahari
mempunyai kandungan protein kasar hanya 51-55%.
Selain sebagai sumber protein dengan asam amino yang baik, tepung ikan juga
merupakan sumber mineral dan vitamin. Dengan kandungan gizi yang sangat baik ini
maka tak heran bila harganyapun mahal. Oleh karena itu, untuk menekan harga ransum,
pengguna tepung ikan dibatasi dibawah 8%.
Di Indonesia, tepung ikan ada beberapa macam b aik produk lokal maupun import
dengan kualitas yang beragam. Dengan kondisi ini peternak disarankan membeli tepung
ikan dari penjual yang terpercaya dan sudah biasa menjual tepung ikan yang baik.
Tabel 2. Komposisi nutrisi tepung ikan alami dari beberapa jenis ikan
Nutrisi
Protein
kasar
Serat
Abu
Calcium
Phospor
Methionine
Tryptophan
Lysine
Jenis Ikan
Herring Menhaden
Merah
Sardine
Tuna
Putih
70,0
60,0
57,0
6,5
62,0
63,0
1,0
12,0
3,0
2,0
2,0
0,9
6,3
1,0
0,0
5,0
3,0
1,8
0,7
5,3
1,0
26,0
7,7
3,8
1,7
0,6
6,5'
1,0
19,0
4,5
2,4
2,0
0,5
5,9
1,0
20,0
4,0
2,5
1,7
0,7
5,2
1,0
22,0
62,0
3,5
1,7
0,6
11 4,3
2.
Tepung Udang
Tepung udang berasal dari limbah industri udang, sehingga kualitas gizinya
tergantung dari bagian yang ikut tergiling.
Apabila bagian kepala dan kaki ikut tergiling tentu kualitasnya lebih baik daripada hanya
kulit udangnya saja. Kandungan protein tepung udang berkisar antara 43 - 47%.
Tepung udang merupakan bahan pakan alternatif sebagai sumber protein, karena tidak
semua tempat tepung udang ini dapat diperoleh.
3.
Tepung Tulang
Tepung tulang digunakan sebagai sumber mineral. Tepung tulang umumnya
mengandung Calcium antara 24 - 25% dan Phospor antara 12-15%. Karena sifatnya
sebagai pelengkap, pemakaian tepung tulang hanya sedikit.
4.
Tepung Kerang
Tepung kerang merupakan sumber Calcium, karena mengandung Calcium hampir
36%. Dengan berkembangnya mineral dan vitamin buatan pabrik, bahan pakan alami
sudah banyak ditinggalkan. Tetapi apabila harganya murah dan kesediaannya terjamin,
peternak dapat memanfaatkan tepung kerang ini sebagai sumber Calcium untuk ransum
ayam burasnya.
5.
Bekicot
Bekicot merupakan bahan pakan yang murah sekali karena kita dapat dengan
mudah memperolehnya disekitar lingkungan hidup dan mudah pula membudidayakannya.
Hampir 95% dari tubuh bekicot dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ayam, yang
terbuang hanyalah kotoran dan lendirnya.
Cara memanfaatkannya adalah sebagai berikut :
- 60 gr bekicot dipuasakan selama 2 hari agar kotorannya habis
- Rendamlah dalam air garam dengan perbandingan 1 liter air dengan 50 gr garam dapur,
kemudian diaduk selama 15 - 20 menit.
- Daging bekicot dicuci kemudian masukkan ke dalam air mendidih selama 10 menit
(sampai masak).
Daging bekicot dapat diberikan sebagai pakan ayam, baik dalam bentuk basah
(segar), kering ataupun, dalam bentuk tepung, dengan kandungan protein untuk
masing-masingnya adalah sebagai berikut :
a.
Dalam bentuk basah (segar)
54,29%
b.
Dalam bentuk kering
64,13 %
c.
Dalam bentuk tepung
24,80%
Meskipun kandungan protein tepung bekicot tinggi, tetapi pemakaiannya tidak
boleh melebihi 10%. Cangkang bekicot dapat digunakan sebagai pakan tambahan
menggantikan tepung kapur dan grit.
6.
Bahan Pakan Pelengkap/Suplemen.
Bahan pakan pelengkap ini merupakan bahan buatan pabrik dan diproduksi untuk
melengkapi zat-zat gizi yang biasanya kurang banyak atau kurang lengkap dikandung oleh
bahan pakan alami.
a. Vitamin, merupakan zat gizi yang berfungsi untuk pembentukan tulang, pertumbuhan
serta memberikan daya tahan tubuh terhadap penyakit atau infeksi.
b. Mineral, merupakan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang tidak
banyak tetapi sangat penting untuk pembentukan alat-alat tubuh antara lain untuk
pembentukan tulang (Ca dan P). darah (zat besi/Fe) dan kerabang telur (Ca dan P).
c. Lysine dan Methionine
Seperti diketahui dalam formula ransum ayam buras, 90% disusun dari bahan pakan
nabati yang umumnya tidak mengandung Asam Amino yang imbang. Biasanya bahan
pakan nabati ini miskin akan Lysine dan Methionine. Biasanva kekurangan Asam
Amino ini dapat diatasi dengan penggunaan tepung ikan pada formula ransum. Tetapi
karena harganya mahal penggunaan tepung ikan ini terbatas. sehingga untuk
mengatasi kekurangan Asam Amino ini digunakan Lysine dan Methionine buatan
pabrik.
Lysine dan Methionine merupakan Asam Amino esensial yang dibutuhkan oleh ternak.
Dewasa ini kedua Asam Amino sudah diproduksi dan dikemas sebagai produk siap
pakai oleh pabrik.
d. Probiotik, adalah koloni kecil bibit mikroba yang berasal dari lambung sapi, yang
dikemas dalam campuran tanah, akar rumput dan daun-daunan atau ranting yang
dibusukkan.
Mikroba-mikroba tersebut berfungsi sebagai penghuni protein, serat kasar dan nitrogen
fiksasi non simbiotik. Dengan menambahkan probiotik tersebut dalam ransum ayam,
maka ransum yang digunakan menjadi lebih efisien dan kadar amonia lebih rendah
sehingga bau menyengat yang biasanya kita cium disekitar kandang menjadi
berkurang karena sifatnya sebagai pengurai.
Penggunaan probiotik ini juga lebih luas, tidak saja sebagai suplemen pada ransum ayam
buras tetapi juga digunakan untuk menjinakkan berbagai limbah (yang berbentuk organik)
seperti bau spesifik dari septitank, limbah rumah potong dan limbah industri.
Seiring dengan perkembangan teknologi, probiotik ini sudah diproduksi secara massal
(pabrik) dengan dikemas dalam bentuk siap pakai sehingga menjadi lebih mudah dalam
penggunaannya. Aturan penggunaan biasanya sudah disertakan pula dalam kemasannya.
Produk ini sudah diperdagangkan dan peternak dapat memperolehnya di Poultry Shop.
Mengenai penggunaan probiotik ini, Balai Informasi Pertanian (BIP) DKI Jakarta
pernah melaksanakan uji adaptif penggunaan suplemen probiotik yang dicampurkan
dalam ransum ayam buras petelur (TA 1995/1996). Dengan menambahkan probiotik
dalam ransum yang biasa digunakan oleh peternak ternyata hasilnya dapat:
-
meningkatkan produksi telur
-
penggunaan pakan lebih efisien
-
kadar air feses (kotoran) lebih rendah dan bau feses
menjadi berkurang.
di
lingkungan
kandang
Secara ekonomis harga probiotik tersebut relatif lebih murah, hanya Rp. 4.000 - Rp. 5.000
per kg. Sedang penggunaannya relatif sedikit, hanya sekitar 25 gr per 1 kg ransum.
IV. TEKNIK MENYUSUN RANSUM DAN
PEMBERIANNYA.
Yang dimaksud dengan ransum adalah susunan dari beberapa bahan pakan dengan
perbandingan tertentu sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak. Jadi dengan
mencampur beberapa jenis bahan pakan diharapkan kandungan gizi ransum sesuai
dengan kebutuhan gizi ayam sehingga ayam dapat berproduksi dengan baik.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menyusun ransum ayam buras adalah
metode coba-coba, metode persamaan simulat, metode matriks dan metode persamaan
linear. Macam-macam metode tersebut pada prinsipnya sama, hanya teknis
penghitungannya yang berbeda.
Persamaan linear yang banyak digunakan dalam program komputer tentunya lebih
mudah dan cepat dalam menyusun ransum. Dengan metode ini banyak pilihan bahan
pakan yang dapat digunakan dalam menyusun ransum sehingga akan didapat kombinasi
bahan pakan yang mudah diperoleh di sekitar tempt tinggal peternak, sesuai kebutuhan
gizinya dan harga yang termurah.
Yang banyak digunakan orang untuk menyusun ransum ayam buras adalah metode
coba-coba. Cara ini relatif mudah bila bahan pakan yang digunakan tidak banyak jenisnya,
tetapi pertimbangan harga minimum sulit dilakukan.
Contoh : untuk menyusun ransum ayam buras petelur dengan kadar protein 14%,
kita menggunakan bekatul, jagung, menir, tepung ikan dan bungkil inti sawit. Berdasarkan
pengalaman, ransum ayam buras bisa terdiri dari 50% bekatul, 20% jagung dan 10%
menir.
Dengan demikian, jumlah protein dari ketiga bahan tersebut adalah:
1.
Bekatul
50% =
50 x 11,2%
=
5,6%
2.
Jagung
20% =
20 x 8,5%
=
1,7%
3.
Menir
10%0 =
10 x 10,2%
=
1,0%
Jumlah
80%
=
8,3%
Kekurangan protein yang harus dicukupi dari tepung ikan dan bungkil inti sawit = 14 8,3% = 5,7%
Jadi campuran tepung ikan dan bungkil inti sawit harus mempunyai kandungan protein
sebesar 5,7 : 0,2 (20%) = 28,5%.
Untuk memperoleh campuran tersebut maka dibuat perhitungan bujur sangkar sbb :
Tepung ikan
55
6,5
28,5
Bungkil inti sawit
22
26,5
Jumlah 33,0
Jadi jumlah tepung ikan dalam ransum
Jumlah bungkil inti sawit
=
6,5/33,0 x 20% = 3,9%
=
26,5/33,0 x 20% = 16,1 %
Tabel 3. Susunan Ransum menurut perhitungan diatas adalah sebagai berikut :
No Nama bahan
Jumlah
Prot
ME(kkal/Kg)
Ca (% )
1.
Bekatul
50
5,6
1050
0.04
2.
Jagung
20
1,7
703
0,01
3.
Menir
10
1,0
309
0,01
4.
Tepung lkan
3,9
2,15
120
0.20
5.
Bungkil
inti sawit
16,1
3,54
3,54
0.03
Jumlah
100
13,99
2474
0,29
Dari susunan diatas dapat dilihat bahwa kandungan protein dan energi ransum
sesuai dengan yang diinginkan akan tetapi, kandungan kapur (Ca) untuk ayam petelur
masih terlalu rendah. Untuk melihat hal ini dapat ditambahkan bahan yang banyak
mengandung Ca seperti tepung kapur, tepung tulang atau tepung kulit kerang.
Selain itu perlu juga ditambahkan campuran vitamin dan mineral-mineral mikro dan
Probiotik sebanyak 25 gram per 1 kg ransum.
2.
Cara Pemberian Pakan
Pemberian pakan harus disesuaikan dengan umur atau periode pertumbuhan.
Pada ayam buras ada tiga tahapan dalam pemberian pakan, yaitu periode untuk anak
ayam umur 0 - 3 bulan membutuhkan pakan 10 gram makanan/ekor/hari, periode dara
umur 3-5 bulan membutuhkan pakan 60 - 70 gram makanan/ekor/hari dan periode dewasa
umur lebih dari 5 bulan membutuhkan makanan 80 - 90 gram/ekor/hari.
Pada periode kutuk pakan disediakan dalam wadah yang mudah dicapai tetapi tidak
mengakibatkan banyak pakan yang tumpah. Pakan yang diberikan adalah ransum ayam
ras starter. Mulai dari umur 7 hari sampai 1 bulan dapat diberikan pakan campuran, yaitu
pakan ayam ras starter dicampur dengan katul dan dedak halus dengan perbandingan 1:1
atau memberikan jagung giling halus ditambah katul dengan perbandingan 2:1 dan
ditambah protein hewani.
Ayam dara umur 3-5 bulan dan seterusnya akan menguntungkan bila pakan
dicampur sendiri dengan formulasi seperti tabel 3 diatas. Makanan diberikan 2 sampai 3
kali sehari, separuhnya diberikan pada pagi hari dan sisanya diberikan pada siang hari.
Download