nilai-nilai pendidikan karakter surat al-an`am ayat

advertisement
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER
SURAT AL-AN’AM AYAT 151-153
DAN PENERAPANNYA DALAM PAI
SKRIPSI
Diajukan Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
ZAHRA RIDHO HASANAH
NIM : 111 12 128
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
2016
I
Dra. Urifatun Anis, M.Pd.I
Dosen IAIN Salatiga
NOTA PEMBIMBING
Lamp
: 4 eksemplar
Hal
: Pegajuan Naskah Skripsi
Saudara Zahra Ridho Hasanah
Kepada Yth.
Dekan FTIK
Ditempat
Assalamu‟alaikum.Wr.Wb.
Setelah kami meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, maka
bersama ini kami kirimkan naskah skripsi saudara:
Nama
: Zahra Ridho Hasanah
NIM
: 111-12-128
Jurusan
: Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Program Studi
: Pendidikan Agama Islam
Judul
: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER SURAT ALAN‟AM AYAT 151-153 DAN PENERAPANNYA
DALAM PAI
Demikian ini kami mohon skripsi saudara tersebut di atas supaya segera di
munaqosyahkan. Demikian agar menjadi perhatian.
Wassalamu‟alaikum. Wr.Wb.
II
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda angan dibawah ini
:
Nama
: Zahra Ridho Hasanah
NIM
: 111-12-128
Jurusan
: Tarbiyah
Program Studi
: Pendidikan Agama Islam
Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya
saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain. Pendapat atau temuan orang
lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik
ilmiah.
III
KEMENTERIAN AGAMA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
Jalan Lingkar Salatiga Km. 2 Telepon: (0298) 6031364 Salatiga 50716
Website: tarbiyah.iainsalatiga.ac.id Email:[email protected]
--------------------------------------------------------------------------------------------------SKRIPSI
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER
SURAT AL-AN’AM AYAT 151-153 DAN PENERAPANNYA DALAM PAI
Disusun oleh
ZAHRA RIDHO HASANAH
NIM: 111-12-128
Telah dipertahankan di depan Panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan Pendidikan
Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Salatiga, pada tanggal 7 Oktober 2016 dan telah dinyatakan
memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan.
IV
MOTO
‫ ِإ َّن َم َع ْالعُس ِْر يُس ًْرا‬,‫فَإ ِ َّن َم َع ْالعُس ِْر يُس ًْرا‬
Maka sesungguhnya disamping ada kesukaran terdapat pula
kemudahan, sesungguhnya didalam kesukaran itu terdapat
kemudahan.
(QS. Al- Insyroh: 5-6)
V
PERSEMBAHAN
Yang utama dari segalanya .....
Sembah sujud serta syukur kepada Allah SWT. Taburan cinta dan
kasih
sayang-Mu telah memberikanku kekuatan, membekaliku dengan
ilmu
serta memperkenalkanku dengan cinta. Atas karunia serta
kemudahan
yang Engkau berikan akhirnya skripsi yang sederhana ini dapat
terselesaikan. Sholawat dan salam selalu terlimpahkan keharibaan
Rasulullah Muhammad SAW.
Kupersembahkan karya sederhana ini kepada orang yang sangat
kukasihi dan kusayangi.
Suamiku Tercinta ....
Belahan jiwaku yang selalu menemaniku dalam keadaan suka
maupun
duka, dan penyemangatiku, dan yang selalu mendukungku hingga
tugas akhir ini selesai.
Ibunda dan Ayahanda Tercinta ....
Sebagai tanda bakti, hormat, dan rasa terima kasih yang tiada
terhingga kupersembahkan karya karya kecil ini kepada ibu dan
ayah yang telah memberikan, kasih sayang serta dukungan, dan
cinta kasih yang tiada terhingga yang tiada mungkin dapat
kubalas hanya dengan selembar kertas yang bertuliskan kata cinta
dan persembahan. Semoga ini menjadi langkah awal untuk
membuat ibu dan ayah bahagia karna kusadar, selama ini bisa
berbuat lebih. Untuk ibu dan ayah yang selalu menyirami kasih
sayang, selalu mendoakan, selalu menasehatiku menjadi lebih baik.
Buat temanku ....
Buat temanku terima kasih atas bantuan, doa, dan nasehat, tak
ada yang bisa kuucapkan kecuali kata terima kasih. Mereka
temanku yang
termanis dan tersayang Ibu Sri Muftiah, adik Amik, Nurul
Robikah, Isnina dan Tri Oktaviani
VI
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan
rahmat,
hidayah
dan
taufiqnya,
sehingga
penulis
dapat
menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Sholawat serta salam penulis haturkan
kepada junjungan Nabi Agung Muhammad SAW yang telah menuntut umatnya
kejalan kebenaran dan keadilan.
Skripsi ini penulis susun dalam rangka memenuhi tugas dan melengkapi
syarat guna untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan. Adapun judul skripsi ini
adalah “NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER SURAT AL-AN‟AM AYAT
151-153 DAN PENERAPANNYA DALAM PAI ”.
Penulis skripsi ini dapat selesai tidak lepas dari berbagai pihak yang telah
memberikan dukungan moril maupun materiil. Dengan penuh kerendahan hati,
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bpk. Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. Selaku Rektor IAIN Salatiga yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu pengetahuan
2. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag. Selaku ketua jurusan Tarbiyah yang telah
memberikan kesempatan yang luas untuk menyelesaikan studi.
3. Ibu Dra. Urifatun Anis, M.Pd.I Selaku pembimbing yang telah dengan
ikhlas dan sabar mencurahkan pikiran dan tenaganya serta pengorbanan
waktunya dalam membimbing penyelesaian dalam penulisan skripsi ini.
4. Segenap Bapak dan Ibu Dosen serta karyawan IAIN Saltiga yang telah
memberikan bekal ilmu dan pelayanan hingga studi ini selesai.
VII
5. Ayah dan ibuku yang selalu mendo‟akan dalam hidupku.
6. Suamiku yang selalu memotivasi dalam penyelesaian skripsi.
7. Saudara-saudaraku dan sahabat-sahabatku semua yang telah membantu
memberikan dukungan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Semoga amal mereka diterima sebagai amal ibadah oleh Allah SWT serta
mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Amin
Penulis menyadari dan mengakui bahwa penulis skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan,
semua
ini
dikarenakan
keterbatasan
kemampuan
serta
pengetahuan penulis. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun
sangat penulis harapkan dalam kesempurnaan skripsi ini.
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini memberikan sumbangan
bagi pengembangan dunia pendidikan khususnya pendididikan agama Islam.
Amin-amin ya robbal‟alamin
VIII
ABSTRAK
Hasanah, Zahra Ridho. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Surat Al-An‟am Ayat
151-153 Dan Penerapannya Dalam PAI. Skripsi. Fakultas Tarbiyah
dan Ilmu Keguruan. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Institut
Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dra. Urifatun Anis,
M.Pd.I.
Kata Kunci: Nilai Pendidikan Karakter , QS. Al-An‟am ayat 151-153, Penerapan
dalam PAI.
Krisis karakter dan watak anak saat ini mengalami dekadensi moral,
dengan semakin jauhnya pendidik dan peserta didik, orang tua dan anak dari
pendidikan yang berlandaskan Al-Qur‟an. Melihat carut-marutnya kondisi moral
bangsa, pendidikan karakter menjadi alternatif utama untuk mengatasi
permasalahan tersebut. Dengan begitu pendidikan karakter menjadi sebuah tema
yang urgen pelaksanannya bagi pembangunan bangsa sebab karakter menjadi
tolok ukur keberhasilan suatu bangsa.
Berdasarkan latar belakang tersebut rumusan masalah penelitian ini adalah
1) Apa saja nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam Q.S AlAnām
ayat 151-153?, 2) Bagaimana menerapkan nilai-nilai pendidikan karakter tersebut
dalam Pendidikan Agama Islam?.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang menggunakan
pendekatan maudlu‟i. Pengumpulan datanya menggunakan metode dokumentasi.
Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi dan analisis semiotik.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat nilai-nilai pendidikan karakter
dalam Q.S. Al-An‟am ayat 151-153. Nilai-nilai tersebut adalah: 1) takwa, kasih
sayang, tanggung jawab, cinta damai, peduli sosial, dan adil. Nilai takwa yang
terdapat pada karakter religius merupakan karakter yang kompleks. Tidak hanya
sebatas penyembahan terhadap Allah, tetapi juga berimplikasi pada karakter yang
lain. 2) Nilai-nilai pendidikan karakter tersebut dapat diterapkan tidak hanya
dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas, tetapi juga lewat
lingkungan pendidikannya yaitu sekolah, serta pendidiknya. Dalam pendidikan
karakter beberapa model yang dapat dipakai antara lain model tadzkirah,
istiqomah, iqra-fikir-dzikir dan refleksi.
IX
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ......................................................................................... I
PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................................................... II
PENGESAHAN KELULUSAN......................................................................... III
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .......................................................... IV
MOTTO ............................................................................................................. V
PERSEMBAHAN.............................................................................................. VI
KATA PENGANTAR ...................................................................................... VII
ABSTRAK ..................................................................................................... VIII
DAFTAR ISI ..................................................................................................... IX
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.....................................................................1
B. Rumusan Masalah…...........................................................................5
C. Tujuan Penelitian……………………................................................5
D. Kegunaan Penelitian ..........................................................................6
E. Metode Penelitian ...............................................................................6
F. Penegasan Istilah.................................................................................8
G. Sistematika Penulisan.......................................................................12
BAB II: KAJIAN PUSTAKA
A. Nilai Pendidikan Karakter...............................................................15
B. Tinjauan Tentang PAI.....................................................................19
C. Nilai-nilai pendidikan karakter Surat Al-An‟am ayat 151-153
dan Penerapannya dalam PAI.........................................................20
BAB III : DESKRIPSI PEMIKIRAN
A. Tafsir Surat Al-An‟am secara umum..............................................26
B. Pandangan Mufassir tentang surat Al-An‟am Ayat 151-153.........32
BAB VI: PEMBAHASAN
A. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Surat Al- An‟am
ayat 151-153...................................................................................54
B. Penerapan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Surat Al-An‟am
X
ayat 151-153 dalam Pendidikan Agama Islam..............................73
BAB V:
PENUTUP
A. Kesimpulan..............................................................................86
B. Saran.........................................................................................86
C. Penutup ....................................................................................87
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................89
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
LAMPIRAN
XI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan karakter sedang gencar-gencarnya dilaksanakan dalam
program pendidikan nasional belakangan ini. Pembangunan karakter (character
building) melalui pendidikan karakter (character education) dipercaya sebagai
suatu keharusan apabila Indonesia ingin bermetamorfosa menjadi bangsa yang
mampu berkompetisi dengan bangsa lain di dunia.
Pendidikan karakter bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta
didik agar peserta didik mampu mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai
sehingga mampu berperilaku sebagai insan kamil (Muchlas Samani dan
Hariyanto, 2011: 46). Dengan begitu pendidikan karakter menjadi sebuah upaya
untuk mengubah manusia menjadi lebih baik dalam pengetahuan, sikap dan
keterampilan.
Terkait dengan pendidikan karakter Salah satu bapak pendiri bangsa,
presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, menegaskan: “Bangsa ini
harus di bangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character
building) karena dengan pendidikan karakter inilah yang akan membuat Indonesia
menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya, serta bermartabat” (Muchlas Samani
dan Hariyanto, 2013:1). Di dalam sejarah Islam, Rasulullah Muhammad SAW,
juga menegaskan bahwa misi utamanya dalam mendidik manusia adalah untuk
mengupayakan pembentukan karakter yang baik (good character) (Abdul Majid,
2013: 30).
1
Akan tetapi dalam prakteknya, pendidikan lebih banyak diorientasikan
untuk mengasah otak yang menghasilkan lulusan yang pintar, padahal sisi lain
yang harus mendapat perhatian penuh adalah mencerahkan dan menyucikan hati,
sehingga dapat menjadi individu yang baik.
Dalam Konsep pendidikan karakter yang telah dikembangkan di Indonesia
sebagai respon terhadap kondisi masyarakat yang menggambarkan bahwa hasil
pendidikan nasional belum mengarah, bahkan makin jauh dari tujuan yang telah
dirumuskan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 (pasal 3), (Darmiyati Zuchdi, 20011
:80). Seperti Saat ini di Indonesia peran pendidikan dalam membentuk manusia
yang bertakwa masih jauh dari harapan. Dan upaya pemerintah belum mampu
mengatasi problem moral anak bangsa. Berbagai macam psikotropika dan
narkotika begitu banyak beredar dikalangan anak sekolah. Lebih mengerikan,
penjual dan pembeli juga adalah orang-orang yang berstatus siswa. Mereka
menjadi pengedar dan sekaligus juga pengguna. Kehidupan yang rusak seperti ini
kerap kali disertai dengan berbagai pesta yang berujung pada tindakan moral di
kalangan remaja. Anak-anak remaja ini tidak lagi mempertimbangkan rasa takut
untuk hidup rusak, merusak nama baik keluarga dan masyarakat.
Berbagai tawuran anak sekolah juga telah membuat resah masyarakat di
berbagai tempat di beberapa kota besar di Indonesia. Bahkan, kejadian-kejadian
sejenis sering kali sulit diatasi oleh pihak sekolah sendiri, sampai-sampai
melibatkan aparat kepolisian dan berujung dengan pemenjaraan, karena
merupakan tindakan kriminal yang bisa merenggut nyawa. Dan disamping itu etos
kerja yang buruk, rendahnya disiplin diri dan kurangnya semangat untuk bekerja
2
keras, keinginan untuk memperoleh hidup yang mudah tanpa kerja keras, nilai
materialism menjadi gejala yang umum dalam masyarakat. Daftar ini masih bisa
diperpanjang dengan berbagai kasus lainnya, seperti pemerasan siswa terhadap
siswa lainnya, kecurangan dalam ujian, dan berbagi tindakan yang tidak
mencerminkan moral yang baik (Abdul Majid, 2013: 4)..
Melihat carut-marutnya kondisi moral bangsa,
pendidikan karakter
menjadi alternatif utama untuk mengatasi permasalah tersebut. Dengan begitu
pendidikan karakter menjadi sebuah tema yang urgen pelaksanannya bagi
pembangunan bangsa sebab karakter menjadi tolok ukur keberhasilan suatu
bangsa.
Pendidikan
karakter
menjadi
program
pendidikan
yang
wajib
dilaksanakan oleh bangsa Indonesia.
Pendidikan karakter dalam mata pelajaran di sekolah terlebih lagi
Pendidikan Agama Islam sebagai mata pelajaran agama, harus mengusahakan
agar nilai-nilai karakter yang diajarkan mampu mengkristal dalam diri peserta
didik dan menyentuh pengalaman dalam kehidupan nyata. Pendidikan karakter
harus mampu mengolah pengalaman peserta didik ketika melihat maraknya
kekejian moral yang terjadi, seperti kasus korupsi, suap-menyuap, bahkan saling
membunuh hanya untuk mendapatkan suatu jabatan ataupun harta, padahal dalam
Q.S Al-Anām ayat 151 ditekankan adanya keharusan manusia untuk menghindari
kebejatan moral, baik terhadap Allah maupun sesama manusia (M. Quraish
Shihab, 2011: 733).
Al-Qur‟an turun sedikit demi sedikit. Ayat-ayatnya berinteraksi dengan
budaya dan masyarakat yang dijumpainya. Kendati demikian, nilai-nilai yang
3
diamanatkannya dapat diterapkan pada setiap situasi dan kondisi. Nilai-nilai itu
sejalan dengan perkembangan masyarakat sehingga Al-Qur‟an dapat benar-benar
menjadi petunjuk, pemisah antara yang hak dan batil, serta jalan bagi setiap
problem kehidupan yang dihadapi (M. Quraish Shihab, 2002: xviii).
Al-Qur‟an sebagai sumber ajaran Islam, juga membawa cerita masa lalu
seperti kisah para nabi. Dalam Q.S. Al-Anām ayat 151-153 memiliki kandungan
sepuluh wasiat Allah yang diwasiatkan kepada nabi Musa (M. Quraish Shihab,
2011: 745). Adanya persamaan tersebut semakin menekankan pentingnya
pengkajian terhadap tiga ayat ini. Mengingat terjadinya pertikaian di masyarakat
yang dilatar belakangi oleh adanya perbedaan agama, seperti yang terjadi dalam
kasus Ambon.
Sepuluh wasiat Allah dalam Q.S. Al-Anām ayat 151-153 tertulis dalam
bentuk larangan. Dalam kajian Islam larangan memiliki cakupan luas, dimana
larangan itu bisa bersifat terbatas atau tak terbatas. Dalam pembahasan akhlak
kalimat-kalimat larangan yang dijumpai dalam nash lebih bersifat tak terbatas,
artinya larangan tersebut berlaku tanpa dibatasi waktu. Dalam hal ini penulis
melihat bahwa dalam surat Al-Anām ayat 151-153 terkandung nilai-nilai karakter
yang juga layak untuk dikaji seiring dengan perkembangan zaman.
Maka dari itu diharapkan pendidik dan orang tua mencontoh serta dapat
mengaplikasikan dalam mendidik anak. Apalah arti seorang anak pintar dan
cerdas tapi tidak memiliki hati nurani, angkuh, sombong, tidak mensyukuri
nikmat Allah, durhaka kepada kedua orang tua dan menganggap orang lain tidak
4
ada apa-apanya. Pendidik dan orang tua diharapkan mampu untuk mencontoh
pendidikan karakter yang terdapat dalam Al-Qur‟an surat Al-an‟am ayat 151-153.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan
penelitian dengan judul Nilai Pendidikan Karakter Surat Al-Anām Ayat 151153 dan Penerapannya dalam PAI.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah:
1.
Apa saja nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam Q.S AlAnām
ayat 151-153?
2.
Bagaimana penerapannya nilai-nilai pendidikan karakter tersebut dalam
Pendidikan Agama Islam?
C. Tujuan Manfaat Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini
diantaranya sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui dan mendeskripsikan lebih dalam nilai pendidikan
karakter yang terkandung dalam Q.S Al-Anām ayat 151-153.
2.
Untuk menjelaskan bagaimana cara menerapkan nilai-nilai pendidikan
karakter tersebut dalam Pendidikan Agama Islam.
5
D. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat secara teoritis dan praktis.
1. Manfaat Teoritis
Menambah khasanah keilmuan tentang pendidikan karakter yang sesuai
dengan Al-Qur‟an, khususnya nilai-nilai pendidikan karakter dalam Q.S. AlAnām ayat 151-153.
2. Manfaat Praktis
a.
Sebagai sumbangan pemikiran bagi pelaksanaan pendidikan karakter pada
umumnya dan Pendidikan Agama Islam pada khususnya.
b.
Dapat memberikan masukan bagi pendidik, peserta didik dan pihak-pihak
yang berperan dalam proses pendidikan.
c.
Memperkaya wawasan peneliti dan pembaca dalam memahami ayat AlQur‟an.
E. Metode Penelitian
Dalam metode penelitian ini akan dijelaskan tentang jenis penelitian,
pendekatan penelitian, objek penelitian, metode pengumpulan data, dan analisis
data.
1.
Jenis Penelitian
Penelitian
ini
merupakan
penelitian
kepustakaan
(library
research), yaitu suatu cara kerja tertentu yang bermanfaat untuk
mengetahui pengetahuan ilmiah dari suatu dokumen yang dikemukaan
oleh ilmuan masa lalu maupun sekarang (Kaelan, 2005: 250) Jenis
penelitian ini adalah penelitian kualitatif sehingga menghasilkan data
6
deskriptif berupa kata-kata, catatan yang berhubungan dengan makna, nilai
dan pengertian. Dalam skripsi ini Peneliti menganalisis muatan isi dari
objek penelitian yang berupa dokumen yaitu teks tafsir Q.S. Al-an‟am ayat
151-153.
2.
Pendekatan Penelitian
Skripsi ini menggunakan pendekatan Maudlu‟i. Mawdhu‟i atau
metode tafsir al-mawdhu‟i adalah menafsirkan ayat-ayat al-Qur‟an dengan
menghimpun ayat-ayat al-Qur‟an yang mempunyai maksud yang sama
dalam arti sama-sama membicarakan satu topik dan menyusunnya
berdasarkan kronologi dan sebab turunnya ayat-ayat tersebut (Budihardjo,
2012: 50). Dalam hal ini yang diungkap adalah pendidikan karakter dalam
tafsir Q.S Al-Anām ayat 151-153.
3. Objek Penelitian.
Pada skripsi ini yang menjadi objek penelitian adalah
penafsiran Q.S Al-Anām ayat 151-153. Sedangkan sumber datanya
peneliti membaginya dalam 2 jenis antara lain:
a. Primer
1) Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab terbitan Lentera Hati
cetakan ke V tahun 2012.
2) Tafsir Ibnu kasir.
b. Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini adalah karya-karya penulis
lain yang membahas tentang pendidikan karakter, baik dalam bentuk
7
buku, jurnal, artikel, maupun karya ilmiah lainnya. Beberapa sumber
yang penulis gunakan sebagai data sekunder antara lain: buku, jurnal,
artikel dan sumber lain yang relevan dengan penelitian.
4. Metode Pengumpulan Data
Penulis menggunakan metode dokumentasi dalam melakukan
pengumpulan data. Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data melalui
dokumen. Dokumen disini bisa berupa buku, surat kabar, majalah, jurnal,
atau pun internet yang relevan dengan tema penelitian ini (Nyoman Kutha
Ratna, 2010:235)
5. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul dalam penelitian selanjutnya dianalisis
dengan menggunakan teknik analisis data (content analisis), yaitu analisis
tekstual dalam studi pustaka melalui interpretasi terhadap isi pesan suatu
komunikasi.
sebagaimana
terungkap dalam literatur-literatur yang
memiliki relevansi dengan tema penelitian.
F. Penegasan Istilah
Berangkat dari urgensi penegasan judul sebuah penelitian maka penulis
mempunyai kepentingan untuk mempertegas judul dengan harapan tidak ada
kesalah pahaman dalam proses penelitian tersebut.
Dalam hal ini yang menjadi objek penelitian adalah nilai-nilai pendidikan
karakter Surat Al-An‟am ayat 151-152 dan aplikasi dalam PAI. Adapun istilahistilah yang digunakan dalam judul tersebut antara lain:
8
1. Nilai
Nilai
adalah
suatu
kualitas
yang
dibedakan
menurut:
kemampuannya untuk berlipat ganda atau bertambah meskipun sering
diberikan kepada orang lain dan kenyataan atau hukuman bahwa makin
banyak nilai diberikan kepada orang lain, makin banyak pula nilai serupa
yang dikembalikan dan diterima oleh orang lain (Abdul Majid, 2013: 42).
Richard mengelompokan nilai-nilai universal kedalam dua
kategori, yaitu nilai nurani dan nilai memberi. Nilai nurani adalah nilai
yang ada dalam diri manusia kemudian berkembang menjadi perilaku serta
cara kita memperlakukan orang lain, nilai-nilai nurani seperti kejujuran,
keberanian, cinta damai, keandalan diri, potensi, kesucian, dll. Sedangkan
nilai memberi adalah nilai yang perlu dipraktikan atau diberikan yang
kemudian akan diterima sebanyak yang diberikan, nilai-nilai memberi
seperti: setia, dapat dipercaya, hormat, sopan, cinta, kasih sayang, peka,
tidak egois, ramah, baik hati, adil, dll.
2. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu proses penyesuaian secara timbal balik dari
seseorang dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik (termasuk manusia)
maupun lingkungan sosial dan alam sekitar sehingga terjadi perubahan
pada potensi manusia tersebut. Menurut A.Marimba, pendidikan adalah
sebagai bimbingan atau pimpinan secara sadar yang dilakukan oleh
pendidik terhadap peserta didik dalam mengembangkan jasmani dan
ruhaniyah (Fatah Yasin, 2008:17). Pendidikan adalah sebagai usaha yang
9
dilakukan oleh seseorang (pendidikan) terhadap seseorang (anak didik) agar
tercapai perkembangan maksimal yang positif (Ahmad Tafsir, 2008: 28).
3. Krakter
Secara bahasa, karakter berasal dari bahasa Yunani, charassein, yang artinya
„mengukir‟(Abdul Munir, 2010: 2). Dalam kamus besar bahasa Indonesia,
karakter diartikan sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlak,atau budi pekerti
(Darmiyati 2011: 27).
Dalam pandangan Islam Karakter sama dengan akhlak (Abdul Majid, 2013:
iv). Karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem,
yang melandasi pemikiran,sikap dan perilaku yang ditampilkan. Menuru
Imam Ghozali menganggap bahwa karakter lebih dekat akhlak yaitu
spontanitas manusia dalam diri manusia sehingga sehingga ketika muncul
tidak perlu dipikirkan lagi (Muslih, 2011: 70)
“Karakter “ dalam bahasa Yunani dan latin, Character berasal dari
kata Charassein yang artinya „mengukir corak yang tetap dan tidak
terhapus. karakter adalah cara berfikir dan berperilaku yang menjadi ciri
khas tiap individu untuk hidup bekerja sama, baik dalam keluarga,
masyarakat, bangsa dan negara (Daryanto, 2013: 9).
4. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah hal positif apa saja yang dilakukan guru
dan berpengaruh kepada karakter siswa yang diajarkan. Pendidikan karakter
adalah suatu proses pembelajaran yang memberdayakan siswa dan orang
dewasa didalam komunitas sekolah untuk memahami, peduli tantang, dan
10
perbuatan berdasarkan nilai-nilai etik seperti respek, keadilan, kebajikan
warga (civic virtue) dan kewarganegaraan (zitizenship),dan bertanggung
jawab terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain.(Muchlas Samani,
2013: 43-44)
Pendidikan karakter dapat dimaknai dengan pendidikan moral,
pendidikan watak, atau pendidikan budi pekerti yang memiliki tujuan untuk
mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan
baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam
kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
Hermawan Kertajaya dalam bukunya Abdul Majid, mendefinisikan
Pendidikan karakter adalah “ciri khas” yang dimiliki oleh suatu benda atau
individu. Ciri khas tersebut adalah “asli” dan mengakar pada kepribadian
benda atau individu tersebut dan merupakan „mesin‟ mendorong bagaimana
seorang bertindak bersikap, berujar, dan merespons sesuatu. Karakter sama
dengan akhlak dalam pandangan Islam.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran,
atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut baik
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama lingkungan maupun
kebangsaan sehingga menjadi insan kamil (Rohmat Mulyono, 2004: 46).
5.
Tinjauan Tentang PAI
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam
menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga
11
mengimani, bertakwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran
agama Islam dari sumber utamanya dari Al-Qur‟an dan Hadis, melalui
kegiatan
bimbingan,
pengajaran,
latihan,
serta
penggunaan
pengalaman.(Abdul Majid, 2014:11)
Pendidikan Agama Islam ialah upaya sadar dan terencana dalam
menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga
mengimani ajaran agama Islam disertai dengan tuntunan untuk menghormati
penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat
beragama hingga terwujud kesatuan, dan persatuan bangsa (Abdul Majid,
2011: 20)
Menurut Zakiah Darajat Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha
untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat
memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang
pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagi
pandangan hidup (Abdul Majid, 2005 :130
Kesimpulannya adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu
sistem yang melandasi pemikiran, sikap, perilaku dan upaya sadar dan
terencana
dalam
menyiapkan
peserta
didik
untuk
mengenal,
memahami,bertakwa dan berakhlak mulia dan mengamalkan ajaran Islam
dari sumber al-qur‟an dan hadist.
G. Sistematika Penulisan
Skripsi yang berjudul Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Q.S. AlAnām ayat 151-153 dan aplikasi dalam PAI ini dibagi dalam tiga bagian, yaitu
12
bagian awal, bagian inti dan bagian akhir. Bagian awal terdiri dari halaman
judul, halaman Surat Pernyataan, halaman Persetujuan Pembimbing, halaman
pengesahan, halaman motto, halaman Persembahan, kata pengantar, abstrak,
daftar isi, dan daftar lampiran.
Bagian tengah berisi uraian penelitian mulai dari bagian pendahuluan
sampai bagian penutup yang tertuang dalam bentuk bab-bab sebagai satu
kesatuan. Pada skripsi ini penulis menuangkan hasil penelitian dalam empat
bab. Pada tiap bab terdapat sub-sub bab yang menjelaskan pokok-pokok
bahasan dari bab yang bersangkutan.
Bab I berisi gambaran umum penulisan skripsi yang meliputi latar
belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian,
metode penelitian, penegasan istilah dan sistematika pembahasan.
Bab II yaitu kajian pustaka yang akan membahas pengertian nilainilai pendidikan karakter, tinjauan tentang PAI dan nilai-nilai pendidikan
karakter Qs. Al-An‟am ayat 151-153 dan penerapan dalam PAI.
Bab III, penulis menguraikan gambaran umum surat Al-Anām ayat
151-153, meliputi tampilan surat dan terjemahannya, dan pandangan mufasir
tentang Qs. Al-An‟am 151-153.
Bab IV yaitu pembahasan yang membahas tentang
Nilai-Nilai
Pendidikan Karakter dalam Q.S Al- An‟am ayat 151-153 dan aplikasi NilaiNilai Pendidikan Karakter dalam Q.S Al-An‟am ayat 151-153 dalam
Pendidikan Agama Islam.
13
Bab V, adalah penutup yang berisi kesimpulan dari hasil penelitian,
saran dan kata penutup. Selanjutnya dibagian akhir skripsi ini terdiri atas daftar
pustaka dan lampiran-lampiran lain yang terkait dengan penelitian.
14
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Nilai-nilai Pendidikan Karakter
1. Nilai
Nilai
adalah
suatu
kualitas
yang
dibedakan
menurut:
kemampuannya untuk berlipat ganda atau bertambah meskipun sering
diberikan kepada orang lain dan kenyataan atau hukuman bahwa
makin banyak nilai diberikan kepada orang lain, makin banyak pula
nilai serupa yang dikembalikan dan diterima oleh orang lain (Abdul
Majid, 2013: 42).
Nilai diartikan sebagai seperangkat moralitas yang paling
abstrak dan seperangkat keyakinan atau perasaan yang diyakini
sebagai suatu idealitas dan memberikan corak khusus pada pola
pemikiran, perasaan, dan perilaku. Misalnya nilai ketuhanan, nilai
kemanusiaan, nilai keadilan, nilai moral, baik itu kebaikan maupun
kejelekan (Muslim Nurdin, 2008: 209)
Richard mengelompokan nilai-nilai universal kedalam dua
kategori, yaitu nilai nurani dan nilai memberi. Nilai nurani adalah nilai
yang ada dalam diri manusia kemudian berkembang menjadi perilaku
serta cara kita memperlakukan orang lain, nilai-nilai nurani seperti
kejujuran, keberanian, cinta damai, keandalan diri, potensi, kesucian,
dll. Sedangkan nilai memberi adalah nilai yang perlu dipraktikan atau
15
diberikan yang kemudian akan diterima sebanyak yang diberikan,
nilai-nilai memberi seperti: setia, dapat dipercaya, hormat, sopan,
cinta, kasih sayang, peka, tidak egois, ramah, baik hati, adil, dll.
2. Pendidikan Karakter
a. Pengertian Karakter
Menurut Darmiyati Zuchdi (2011 : 27) dalam bukunya yang
berjudul “Pendidikan Karakter” disebutkan bahwa karakter dalam
kamus Inggris-Indonesia berasal dari character yang berarti watak,
karakter atau sifat. Dalam kamus besar Indonesia, karakter
diartikan sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti”
“Karakter “ dalam bahasa Yunani dan latin, Character
berasal dari kata Charassein yang artinya „mengukir corak yang
tetap dan tidak terhapus. karakter adalah cara berfikir dan
berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup
bekerja sama, baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan negara
(Daryanto, 2013: 9).
Secara etimologi, akar kata karakter dapat dilacak dari
bahasa Inggris: character; Yunani: character, dari charassein yang
berarti membuat tajam, membuat dalam (Lorens Bagus, 392: 392)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dimana karakter diartikan
sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yg
membedakan seseorang dengan yang lain. Karakter
juga bisa
diartikan tabiat, yaitu perangai atau perbuatan yang selalu
16
dilakukan atau kebiasaan.Karakter juga diartikan watak, yaitu sifat
batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah
laku atau kepribadian (Poerwadarminta, 1997: 20)
Pengertian Pendidikan Karakter menurut Muchlas Samani
dan Hariyanto (2013 : 43) dalam bukunya yang berjudul
”Pendidikan Karakter”, yaitu: Pendidikan karakter adalah proses
pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia
seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikiran, raga, serta
rasa dan karsa. Pendidikan karakter juga dapat dimaknai sebagai
pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral,
pendidikan watak.
Pendidikan karakter dapat dimaknai dengan pendidikan
moral, pendidikan watak, atau pendidikan budi pekerti yang
memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik
untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang
baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari
dengan sepenuh hati (Rohmat Mulyani, 2004: 34).
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilainilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen
pengetahuan, kesadaran, atau kemauan dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai tersebut baik terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, diri sendiri, sesama lingkungan maupun kebangsaan
sehingga menjadi insan kamil (Rohmat Mulyono, 2004: 46).
17
Secara akademis, pendidikan karakter dimaknai sebagai
pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral,
pendidikan watak, atau pendidikan akhlak yang tujuannya
mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan
keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan
mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan
sepenuh hati. Karena itu, muatan pendidikan karakter secara
psikologis mencakup dimensi moral reasoning, moral feeling,
dan moral behavior (Masnur Muslich, 2011:36-37)
Kesimpulannya adalah kumpulan tata nilai yang menuju
pada suatu sistem yang melandasi pemikiran, sikap, perilaku dan
upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk
mengenal,
memahami,bertakwa
dan
berakhlak
mulia
dan
mengamalkan ajaran Islam dari sumber al-qur‟an dan hadist.
b. Tujuan pendidikan Karakter
Tujuan Pendidikan Karakter menurut Daryanto (2013 : 45)
dalam bukunya yang berjudul ”Implementasi Pendidikan Karakter
di Sekolah”, yaitu:
1) Membentuk bangsa yang teguh, kompetitif, berakhlak mulia,
bermoral, bertoleransi, bergotong royong, berjiwa patriotik,
berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan
teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada
Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
18
2) Untuk
meningkatkan mutu
penyelenggaraan dan
hasil
pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian
pecapaian pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta
didik secara utuh, terpadu dan seimbang sesuai standar
kompetensi kelulusan.
c. Fungsi Pendidikan Karakter
Menurut Daryanto (2013: 45) dalam bukunya yang berjudul
”Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah”, fungsi pendidikan
karakter antara lain:
1)
Mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran
baik, dan berperilaku baik.
2)
Memperkuat
dan
membangun
perilaku
bangsa
yang
multikultural.
3)
Meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam
pergaulan dunia.
3.
Tinjauan Tentang PAI
a. Pengertian PAI
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana
dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami,
menghayati, hingga mengimani, bertakwa dan berakhlak mulia dalam
mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya dari AlQur‟an dan Hadis, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan,
serta penggunaan pengalaman.(Abdul Majid, 2014:11)
19
Pendidikan Agama Islam ialah upaya sadar dan terencana
dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami,
menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam disertai dengan
tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya
dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan, dan
persatuan bangsa (Abdul Majid, 2011: 20)
Kesimpulannya Menurut Zakiah Darajat Pendidikan Agama
Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik
agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu
menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta
menjadikan Islam sebagi pandangan hidup (Abdul Majid, 2005 :130)
B. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam QS. Al-An’am ayat 151-153 dan
Aplikasi dalam PAI.
1.
Nilai-nilai pendidikan karakter dalam Qs. Al-An’am ayat 151-153.
‫عبًَب‬
َ ِّ ‫عهَ ْي ُك ْى أ َ ََّّل ت ُ ْش ِس ُكٕا ِث‬
َ ‫لُ ْم ت َ َعبنَ ْٕا أَتْهُ ُٕ َيب َح َّس َو َزثُّ ُك ْى‬
َ ‫ش ْيئًب َٔ ِث ْبن َٕا ِندَي ٍِْ ِإ ْح‬
‫ش‬
ِ َٕ َ‫ق َ َْح ٍُ َ َْس ُشلُ ُك ْى َٔ ِإيَّب ُْ ْى َٔ ََّل ت َ ْم َسثُٕا ْانف‬
ٍ ‫َٔ ََّل ت َ ْمتُهُٕا أ َ ْٔ ََّلدَ ُك ْى ِي ٍْ ِإ ْي ََل‬
َ ‫اح‬
َ ‫ظ َٓ َس ِي ُْ َٓب َٔ َيب َث‬
َ ‫َيب‬
َّ ‫ط انَّ ِتي َح َّس َو‬
‫ك ذَ ِن ُك ْى‬
َ ‫طٍَ َٔ ََّل ت َ ْمتُهُٕا انَُّ ْف‬
ِ ّ ‫اَّللُ ِإ ََّّل ِث ْبن َح‬
‫ي‬
َّ َٔ
َ ِْ ‫) َٔ ََّل ت َ ْم َسثُٕا َيب َل ْان َيتِ ِيى ِإ ََّّل ثِبنَّ ِتي‬151( ٌَُٕ‫صب ُك ْى ثِ ِّ نَعَهَّ ُك ْى تَ ْع ِمه‬
ُ َ ‫ع ٍُ َحتَّى يَ ْجهُ َغ أ‬
‫عب ِإ ََّّل‬
ِ ‫شدَُِّ َٔأَ ْٔفُٕا ْان َك ْي َم َٔ ْان ًِيصَ اٌَ ِث ْبن ِمع‬
ً ‫ف ََ ْف‬
ُ ّ‫ْظ ََّل َُ َك ِه‬
َ ‫أ َ ْح‬
َّ ‫ُٔ ْظ َع َٓب َٔ ِإذَا لُ ْهت ُ ْى فَب ْع ِدنُٕا َٔنَ ْٕ َكبٌَ ذَا لُ ْسثَى َٔ ِث َع ْٓ ِد‬
‫اَّللِ أ َ ْٔفُٕا ذَ ِن ُك ْى‬
ِ ‫ص َس‬
َّ َٔ
ُ ُِٕ‫اطي ُي ْعت َ ِمي ًًب فَبت َّ ِجع‬
ِ ‫) َٔأ َ ٌَّ َْرَا‬151( ٌَٔ‫صب ُك ْى ِث ِّ نَ َعهَّ ُك ْى تَرَ َّك ُس‬
20
ٌَُٕ‫صب ُك ْى ِث ِّ نَ َعهَّ ُك ْى تَتَّم‬
ُّ ‫َٔ ََّل تَت َّ ِجعُٕا ان‬
َّ َٔ ‫ظ ِجي ِه ِّ ذَ ِن ُك ْى‬
َ ‫عجُ َم فَت َ َف َّسقَ ِث ُك ْى‬
َ ٍْ ‫ع‬
)151(
(151) “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu
oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan
Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu
membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi
rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati
perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun
yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”.
Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu
memahami (nya).
(152) Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang
lebih bermanfa`at, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah
takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban
kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu
berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah
kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan
Allah kepadamu agar kamu ingat,
(153) Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus,
maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.
Menurut Quraish Shihab (2002 : 725-744) dalam tafsirnya AlMisbah, pendidikan karakter yang di jelaskan dalam al-qur‟an surat AlAn‟am ayat 151-153 terdapat 10 wasiat antara lain:
a.
Larangan Berbuat syirik.
b.
Agar Birrul walidain (Berbuat baik kepada orang tua).
c.
Larangan membunuh anak.
d.
Larangan mendekati perbuatan keji.
e.
Larangan membunuh jiwa yang di haramkan.
f.
Tidak mencaplok harta anak yatim.
g.
Tidak curang dalam menakar dan menimbang.
21
2.
h.
Agar berkata yang jujur.
i.
Menetapi perjanjian terhadap Allah.
j.
Hanya menempuh jalan Allah yang lurus.
Aplikasi dalam Pendidikan Agama Islam
Kemajuan suatu bangsa dipengaruhi oleh karakter bangsanya,
bangsa yang menjunjung tinggi dan mebiasakan nilai-nilai budaya di ikuti
penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang tinggi. Untuk
mencapai hal itu, pemerintah merencanakan pendidikan karakter yang
nilai-nilai karakternya diintegrasikan ke dalam setiap pembelajaran.
secara historis maupun filosofis telah ikut mewarnai dan menjadi
landasan moral, dan etik dalam proses pembentukan jati diri bangsa.
Pendidikan merupakan variabel yang tidak dapat diabaikan dalam
mentransformasi ilmu pengetahuan, keahlian dan nilai-nilai akhlak. Hal
tersebut sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan sebagaimana yang
tercantum dalam UU No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional tahun
2003 dinyatakan pada pasal 3 yaitu:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar manjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab (Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional, 2003: 8. )
Pendidikan karakter yang diintegrasikan dalam pembelajaran dapat
memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa karena mereka
22
memahami, menginternalisasi dan mengaktualisasikannya melalui proses
pembelajaran. Dengan demikian, nilai tersebut dapat terserap secara alami
lewat kegiatan sehari-hari. Apabila nilai-nilai tersebut juga dikembangkan
melalui kultur sekolah, maka kemungkinan besar pendidikan karakter lebih
efektif. Pembentukan karakter harus menjadi prioritas utama karena sudah
terbukti bahwa dalam kehidupan masyarakat sangat banyak masalah yang
ditimbulkan oleh karakter yang tidak baik.
Pengembangan nilai-nilai karakter bangsa di integrasikan ke dalam
setiap pokok bahasan dari setiap pembelajaran. Nilai tersebut dicantumkan
ke dalam silabus dan RPP melalui berbagai cara antara lain mengkaji SK
dan KD pada Standar Isi untuk menentukan apakah nilai-nilai karakter
yang tercantum sudah tercakup di dalamnya, mengembangkan proses
pembelajaran peserta didik secara aktif yang memungkinkan peserta didik
memiliki kesempatan melakukan internalisasi nilai dan menunjukkannya
dalam perilaku yang sesuai (Nazarudin, 2007 :17)
Kurikulum merupakan salah satu alat untuk membina dan
mengembangkan siswa menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Kurikulum diperlukan pada semua jenis mata
pelajaran begitu pula untuk mata pelajaran pendidikan agama Islam.
Pendidikan agama merupakan bagian integral dari pendidikan nasional, hal
tersebut dijelaskan dalam UU tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal
37 ayat 1 hal 29 bahwa "kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib
23
memuat antara lain pendidikan agama termasuk salah satunya pendidikan
agama Islam”
Pendidikan agama Islam dilaksanakan untuk mengembangkan
potensi keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah serta
berakhlak mulia. Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan
terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami,
menghayati hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam
mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci AlQuran dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta
penggunaan pengalaman.
Dibarengi
tuntunan untuk
menghormati
penganut agama lain dalam hubunganya dengan kerukunan antar ummat
beragama dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan
bangsa (Departemen Pendidikan Nasional, 2003: 7)
Dengan demikian pendidikan agama di sekolah merupakan salah
satu
wadah
untuk
mengembangkan
kemampuan
siswa
dalam
meningkatkan pemahaman keagamaan, yakni meningkatkan keimanan dan
ketaqwaan terhadap Allah serta kemuliaan akhlak. Pengajaran agama
Islam diberikan pada sekolah umum dan sekolah agama, baik negeri atau
swasta. Seluruh pengajaran yang diberikan di sekolah atau madarasah
diorganisasikan dalam bentuk kelompok-kelompok mata pelajaran yang
disebut bidang studi dan dilaksanakan melalui sistem kelas. Dalam
struktur program sekolah umum, ruang lingkup pengajaran agama Islam
24
(kurikulum KTSP) terfokus pada aspek Al-qur‟an, Hadits, Fiqh, Tauhid
dan Tarikh.
Hubungan antara pendidikan karakter dengan Pendidikan Agama
Islam dapat dilihat dalam dua sisi, yakni materi dan proses pembelajaran.
Sedangkan dalam proses pembelajaran, guru dalam mengajar
Pendidikan Agama Islam ke peserta didik memuat pendidikan karakter.
Bahkan guru dalam pelaksanaan pendidikan karakter dimulai sejak guru
membuat rencana pembelajaran (RPP).
Ruang lingkup ini merupakan perwujudan dari keserasian,
keselarasan, dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah,
hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia
dengan alam (selain manusia) dan lingkungan. Berdasarkan penjelasan di
atas maka dapat dikatakan bahwa kurikulum pendidikan agama Islam
khususnya SMP adalah seperangkat rencana kegiatan dan pengaturan
mengenai isi dan bahan pelajaran PAI serta cara yang digunakan dan
segenap kegiatan yang dilakukan oleh guru agama untuk membantu siswa
dalam memahami.
25
BAB III
DESKRIPSI PEMIKIRAN
A. Tafsir surat Al-An’am secara umum
1. Tafsir surat Al-An’am secara umum
‫عبًَب‬
َ ِّ ‫عهَ ْي ُك ْى أ َ ََّّل ت ُ ْش ِس ُكٕا ِث‬
َ ‫لُ ْم تَعَبنَ ْٕا أَتْ ُم َيب َح َّس َو َزثُّ ُك ْى‬
َ ‫ش ْيئًب َٔثِ ْبن َٕا ِندَي ٍِْ إِ ْح‬
‫ش َيب‬
ِ َٕ َ‫ق َ َْح ٍُ َ َْس ُشلُ ُك ْى َٔ ِإيَّب ُْ ْى َٔ ََّل ت َ ْم َسثُٕا ْانف‬
ٍ ‫َٔ ََّل ت َ ْمتُهُٕا أ َ ْٔ ََّلدَ ُك ْى ِي ٍْ ِإ ْي ََل‬
َ ‫اح‬
َ ‫ظ َٓ َس ِي ُْ َٓب َٔ َيب َث‬
َ
َّ ‫ط انَّ ِتي َح َّس َو‬
‫صب ُك ْى‬
َّ َٔ ‫ك ذَ ِن ُك ْى‬
َ ‫طٍَ َٔ ََّل ت َ ْمتُهُٕا انَُّ ْف‬
ِ ّ ‫اَّللُ ِإ ََّّل ِث ْبن َح‬
‫ع ٍُ َحتَّى‬
َ ‫ي أ َ ْح‬
َ ِْ ‫) َٔ ََّل ت َ ْم َسثُٕا َيب َل ْان َي ِت ِيى ِإ ََّّل ِثبنَّ ِتي‬151( ٌَُٕ‫ِث ِّ َن َعهَّ ُك ْى تَ ْع ِمه‬
ُ َ ‫يَ ْجهُ َغ أ‬
‫عب إِ ََّّل ُٔ ْظ َع َٓب َٔإِذَا لُ ْهت ُ ْى‬
ِ ‫شدَُِّ َٔأَ ْٔفُٕا ْان َك ْي َم َٔ ْان ًِيصَ اٌَ ثِ ْبن ِمع‬
ً ‫ف ََ ْف‬
ُ ّ‫ْظ ََّل َُ َك ِه‬
ٌَٔ‫صب ُك ْى ثِ ِّ نَعَهَّ ُك ْى تَرَ َّك ُس‬
َّ َٔ ‫اَّلل أ َ ْٔفُٕا ذَ ِن ُك ْى‬
ِ َّ ‫فَب ْع ِدنُٕا َٔنَ ْٕ َكبٌَ ذَا لُ ْس َثى َٔ ِث َع ْٓ ِد‬
‫عجُ َم َفتَفَ َّسقَ ِث ُك ْى‬
ُّ ‫اطي ُي ْعت َ ِمي ًًب فَبت َّ ِجعُُِٕ َٔ ََّل تَت َّ ِجعُٕا ان‬
ِ ‫ص َس‬
ِ ‫) َٔأ َ ٌَّ َْرَا‬151(
)151( ٌَُٕ‫صب ُك ْى ِث ِّ نَ َعهَّ ُك ْى تَتَّم‬
َّ َٔ ‫ظ ِجي ِه ِّ ذَ ِن ُك ْى‬
َ
َ ٍْ ‫ع‬
(151) “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas
kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu
dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan
janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.
Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah
kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di
antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh
jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu
(sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu
kepadamu supaya kamu memahami (nya).
(152) Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara
yang lebih bermanfa`at, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah
takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban
26
kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu
berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah
kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan
Allah kepadamu agar kamu ingat,
(153) Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus,
maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.
Dalam tafsir al-misbah (Quraish Shihab, 2002: 313) Surah alAn`am adalah surah Makkiyah. Secara redaksional, penamaan itu
tampaknya disebabkan kata al-an‟am ditemukan dalam surah ini sebanyak
enam kali. Nama ini adalah satu-satunya nama untuknya yang dikenal
pada masa Rasul saw. Menurut sejumlah riwayat, keseluruhan ayatnya
turun sekaligus. bahwa surah ini diantar oleh tujuh pulah ribu malaikat
dengan alunan tasbih.
Ibnu kasir mengambil dari Imam Hakim di dalam kitab
Mustadraknya dan mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami
Abu Abdullah Muhammad ibnu Ya 'qub Al-Hafiz dan Abul Fadl, yaitu AlHasan ibnu Ya'qub A-Adl; keduanya mengatakan, telah menceritakan
kepada
kami
Muhammad
ibnu
Abdul
Wahhab
Al-Abdi,
telah
menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Aun, telah menceritakan kepada
kami Ismail ibnu Abdur Rahman As-Saddi, telah menceritakan kepada
kami Muhammad ibnu Munkadir, dari Jabir yang mengatakan bahwa
ketika surat Al An'am diturunkan, Rasulullah Saw.membaca tasbih,
kemudian bersabda:
27
ْ َ‫َُ ِص ن‬
‫ظبدَّ َيبب َثبيٍَْ ا ن َبب‬
ُ ُ ‫ظ ْٕ َزح‬
ُ ‫ت‬
َ ‫ظ ْٕ َزح ُ اْآلَ َْ َعب ِو َي َع َٓب َي ْٕ ِكبت ِيبٍَ اْن ًَبَلَ َِ َكب ِخ‬
‫ض ثِ ِٓ ْى ت َ ْس ت َ ُّج‬
ُ ‫فِمَي ٍِْ نَ ُٓ ْى شَ ْجم ثِب نت َّ ْعجِيْحِ َٔاْآل ْز‬
Sesungguhnya surat ini diiringi oleh para malaikat (yang jumlahnya)
menutupi cakrawala langit.
Sedangkan Rasulullah Saw. sendiri mengucapkan:
‫ظ ْج َحب ٌَ هللا ان َع ِظي ِْى‬
ُ ‫ظ ْج َحب ٌَ هللا اْن َع ِظي ِْى‬
ُ
Mahasuci Allah Yang Mahaagung, Mahasuci Allah Yang Mahaagung.
Kemudian Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari Imam Tabrani, dari
Ibrahim ibnu Nailah, dari Ismail ibnu Umar , dari Yusuf ibnu Atiyyah, dari
Ibnu Aun, dari Nafi' , dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah
Saw. telah bersabda:
ْ َ‫َُ ِص ن‬
‫ظب ْجعُ ٌَْٕ ا َ ْنفًبب ِيبٍَ اْن ًَبَلَ َِ َكب ِخ‬
َ َٔ ً ‫احدَح‬
ِ َٔ ً‫ظ ْٕ َزح ُ اْآلَ َْعَب ِو ُج ًْهَخ‬
ُ ‫ي‬
َ ‫ت‬
َ ‫شيَّعَ َٓب‬
َّ َ‫عه‬
‫نَ ُٓ ْى شَ ْجم ِثب نت َّ ْع ِجيْحِ َٔانت َّ ْح ًِ ْي ِد‬
Surat Al-An'am diturunkan kepadaku sekaligus, dan diiringi oleh tujuh
puluh ribu malaikat, dari mereka terdengar suara gemuruh karena bacaan
tasbih dan tahmid.
Sementara ulama mengecualikan beberapa ayat- sekitar enam ayat
yang menurut mereka turun setelah Nabi saw. Berhijrah ke Madinah, yaitu
ayat 90 s/d 93 dan 150 s/d 153, kendati ada riwayat yang hanya menyebut
dua ayat, yaitu ayat 90 dan 91. Riwayat lain bahkan menyatakan hanya
satu ayat, yaitu ayat 90. Tetapi yang di riwayat-riwayat itu mengandung
kelemahan-kelemahan, apalagi, seperti tulis pakar tafsir dan hadits, Sayyid
Muhammad Rasyid Ridha,”banyak riwayat yang menyatakan bahwa
28
seluruh ayat surah ini turun sekaligus, padahal persoalan yang
diinformasikan riwayat itu bukan persoalan ijtihad atau nalar tetapi
sejarah, bukan juga persoalan yang berhubungan dengan hawa nafsu yang
dapat mengantar kepada penolakannya, atau persoalan redaksi yang bisa
menjadikannya memiliki kelemahan, karena itu riwayat-riwayat tentang
turunnya seluruh ayat surah ini sekaligus pastilah mempunyai dasar yang
dapat dipertanggung jawabkan.”
Disisi lain, riwayat pengecualian beberapa ayat yang dikemukakan
dinilai oleh sekian banyak ulama memiliki kelemahan-kelemahan sehingga
tidak wajar riwayat-riwayat itu dijadikan dasar untuk menolak riwayat
yang demikian banyak tentang turunnya surah ini sekaligus karena riwayat
yang banyak, kendati lemah, dapat saling memperkuat.
Tidak ada surah panjang lain yang yang turun sekaligus kecuali
surah al-An`am ini. Untuk membuktikan bahwa Allah mampu
menurunkannya sekaligus tanpa berbeda mutu. Tetapi, dia tidak
menurunkan semua ayatnya demikian karena kemaslahatan menuntut
diturunkannya sedikit demi sedikit.
Bahwa keseluruhan ayat surah ini turun sekaligus, tidak mejadikan
riwayat sebab nuzul beberapa ayatnya harus ditolak. Karena, seperti
diketahui apa yang dinamai sebab nuzul tiidak harus dipahami dalam arti
peristiwa yang terjadi menjelang turunnya ayat, tetapi juga dipahami
dalam arti peristiwa-peristiwa yang petunjuk atau hukumnya dikandung
oleh ayat yang bersangkutan selama peristiwa yang dinyatakan sebagai
29
sebab nuzul itu terjadi pada periode turunya Al-Qur`an, baik terjadi
sebelum maupun sesudah turunya ayat dimaksud.
Dalam tafsir al misbah, Imam as-Suyuthi menyebut riwayat yang
menginformasikan bahwa surah ini turun diwaktu malam, dan bahwa bumi
berguncang menyambut kehadirannya. Riwayat-riwayat yang disinggung
diatas oleh sementara ulama dinilai-dinilai sebagai riwayat-riwayat yang
dha`if (lemah).kendati demikian, tidak ada halangan untuk mengakui
turunya surah ini sekaligus. Apalagi, seperti tulis al-Biqa`i, tujuan utama
surah ini adalah memantapkan tauhid dan ushuluddin/prinsip-prinsip
ajaran Islam.
Ajaran tauhid menggambarkan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya.
Allah swt. Yang mewujudkan dan mematikan, dan dia juga yang
membangkitan dari kematian. Disamping persoalan keesaan Allah dan
keniscayaan Hari Kiamat, ayat-ayat surah ini mengandung penegasan
tentang hal-hal yang diharamkan-Nya sambil membatalkan apa yang
diharamkan manusia atas dirinya karena hanya Dia sendiri yang
berwenang menetapkan hukum dan membatalkan apa yang ditetapkan
manusia, seperti yang dilakukan oleh kaum musyrikin menyangkut
binatang dan sebagainya. Inilah yang diisyaratkan oleh namanya, yakni alan`am.
Dalam tafsir al-misbah (Quraish Shihab, 2002:315), Sayyid
Quthub memulai tafsirnya tentang surah ini dengan menguraikan ciri-ciri
surah Makkiyah, di mana surah al-An`am merupakan salah satu di
30
antaranya. Pakar ini menulis bahwa surah-surah Makkiyah berkisar pada
uraian tentang wujud manusia di alam raya dan kesudahannya, tentang
hubungannya dengan alam dan makhluk hidup lainnya, serta hubungannya
dengan Pencipta alam dan kehidupan. Uraian surah ini tulisannya tidak
berbeda dengan tema tersebut. Di sini, ayat-ayatnya berbicara tentang soal
ketuhanan dan penghambaan diri makhluk kepada-Nya, baik di langit
maupun di bumi.
Sebagaimana halnya dalam tafsir al misbah
al-Biqa`i, Sayyid
Quthub juga menggaris bawahi nama surah ini, yakni al-An`am. Oleh
pakar ini, penamaannya dikembalikan kepada kenyataan yang hidup
ditengah masyarakat ketika itu dalam hal kaitannya dengan hakikat
hubungan manusia dengan Allah swt. Masyarakat jahiliyah ketika itu
memberi hak kepada diri mereka untuk menghalalkan dan mengharamkan
sembelihan, makanan, serta aneka ibadah yang berkaitan dengan binatang,
buah-buahan, bahkan anak-anak. Nah, ayat-ayat al-An`am bermaksud
membatalkan pandangan Jahiliyah itu agar di dalam hati setiap manusia
tertanam hakikat yang diajarkan oleh agama ini; yaitu bahwa hak
menghalalkan dan mengharamkan hanyalah wewenang Allah, dan bahwa
setiap bagian terkecil dalam kehidupan manusia harus sepenuhnya tunduk
kepada ketentuan hukum-hukum Allah swt saja. Dengan demikian, pada
hakikatnya, surah ini bertujuan memantabkan tauhud dan ushuludin, dan
sekaligus memantapkan kewenangan Allah swt. Dalam segala persoalan.
Dari sini pula maka wajar jika ia turun sekaligus, tidak bertahap.
31
Memang, prinsip-prinsip ajaran agama tidak ditetapkan Allah swt.
Secara bertahap, berbeda dengan tuntunan yang berkaitan dengan hukum.
Hukum pada dasarnya, menuntut pelaksanaan dengan melakukan yang
diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang. Jika hukum-hukum yang
beraneka ragam dan mencangkup banyak hal turun sekaligus, tentulah
yang dituntut melaksanakannya akan mengalami banyak kesulitan, lebihlebih jika ketetapan yang dituntut itu tidak sejalan dengan kebiasaan
selama ini. Itulah sebabnya, dalam bidang hukum Al-Qur`an sering kali
menempuh
cara
bertahap seperti
yang terlihat
dalam
tuntunan
meninggalkan minuman keras. (quraish shihab, 2002: 313-316)
B. Pandangan Mufassir tentang surat Al-An’am ayat 151-153.
1.
Penafsiran Surat Al-An’am ayat 151-153 menurut Tafsir Al-Misbah.
Pertama dan yang paling utama adalah janganlah kamu
mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, sesuatu dan sedikit persekutuan
pun.
Kedua, setelah menyebut causa prima, penyebab dari segala sebab
wujud, dan sumber segala nikmat, disebutkanya penyebab perantara yang
berperanan dalam kelahiran manusia, sekaligus yang ajib disyukuri,
yakni ibu bapak. Karena itu, di usulkan dan dirangkaikannya perintah
pertama itu dengan perintah ini, dalam makna larangan mendurhakai
mereka. Larangan demikian tegasnya sehingga dikemukakan dalam
bentuk perintah berbakti, yakni dan berbuat baiklah secara dekat dan
melekat kepada kedua orang ibu bapak secara khusus dan istemewa
32
dengan berbuat kebaktian yang banyak lagi mantap atas dorongan rasa
kasih kepada mereka.
Ketiga, setelah menyebut sebab perantara keberadaan manusia
dipentas
bumi,
dilanjutkan-Nya
dengan
pesan
berupa
larangan
menghilangkan keberadaan itu yakni, dan jangan kamu membunuh anakanak kamu karena kamu ditimpa dengan kemiskinan dan mengakibatkan
kamu menduga bahwa bila mereka lahir kamu akan memikul beban
tambahan. Jangan khawatir atas diri kamu. Bukan kamu sumber rezeki,
tetapi kami-lah sumbernya. Kami akan memberi, yakni menyiapkan
sarana rezeki kepada kamu sejak saat ini dan juga kami akan siapkan
kepada mereka; yang penting adalah kamu berusaha mendapatkannya.
Selanjutnya setelah melarang kekejian yang besar setelah syirik, durhaka
kepada kedua orang tua dan membunuh, kini dilarangnya secra umum
segala macam kekejian.
Ini merupakan pengajaran keempat, yaitu dan jangan kamu
mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, seperti membunuh dan
berzina, baik yang tampak diantranya, yakni yang kamu lakukan secara
terang-terangan, maupun yang tersembunyi, seperti memiliki pasangan
“simpanan” tanpa diikat oleh akad nikah yang sah.
Kelima disebut secara khusus satu contoh yang amat buruk dari
kekejian itu, yakni dan jangan kamu membunuh jiwa yang memang
diharamkan Allah membunuhnya kecuali berdasarkan suatu sebab yang
benar, yakni berdasarkan ketetapan hukum yang jelas. Demikian itu yang
33
diperintahkan-Nya, yakni oleh tuhan dan nalar yang sehat kepada kamu
supaya kamu memahami dan menghindari larangan-larangan itu.
Kata ( ‫ ) تعب نٕا‬ta`alau telah dijelaskan maknanya sebelum ini ketika
menguraikan makna ( ‫ )ْه ّى‬halumma pada ayat yang lalu. Perlu
ditambahkan disini bahwa ajakan ayat ini pada mulanya ditujukkan
kepada kaum musrikin, seakan-akan ayat ini berkata kepada mereka: kini
kalian berada disatu tempat yang sangat rendah akibat kepercayaan
kalian yang sangat buruk itu. Datang dan dengar apayang sebenarnya
diharamkan
Allah
agar
kalian
mengetahui
betapa
jauh
jarak
perbedaannya.
Kata ) ٕ‫ ( أته‬atlu terambildari kata ( ‫ ) تَل ٔح‬tilawah, yang pada
mulanya berarti mengikuti. Seorang yang membaca adalah seseorang
yang hati atau lidahnya mengikuti apa yang terhidang dari lambanglambang bacaan huruf demi huruf, bagian demi bagian, dari apa yang
dibacanya.
Ayat
diatas
memulai
wasiat
pertama
dengan
larangan
mempersekutukan Allah. Walaupun larangan ini mengandung perintah
mengesakan-Nya, karena menghindari keburukan lebih utama dari
melakukan kebajikan, redaksi itulah yang dipilih. Demikian al-Biqa`i. Ini
sejalan juga dengan kalimat syahadat yang dimulai dengan menolak
terlebih dahulu segala yang dipertuhan dan tidak wajar disembah, baru
segaera menetapkan Allah sebagai satunya Tuhan Penguasa alam raya
yang wajib disembah. Bukankah kita berkata: ( ‫ ) َّلإنّ إَّلّ هللا‬la llaha illa
34
Allah/ tidak ada tuhan selain Allah? Disamping itu, ayat ini disampaikan
dalam konteks uraian terhadap kaum musyrikin, yang mempersekutukan
Allah, yang pada awal ayat ini dijanjikan untuk disampaikan kepada
mereka apa yang diharamkan Allah swt.
Awal ayat ini menjanjikan untuk menyampaikan apa yang
diharamkan Allah, tetapi ketika berbicara tentang kedua orang tua,
redaksi yang digunakannya adalah redaksi perintah berbakti dan tentu
saja berbakti, tidak termasuk yang diharamkan Allah.
Ketika menafsirkan QS. An-Nisa` : 36, Quraish Shihab telah
memerinci kandungan makna firman-Nya: ( ‫عبًَب‬
َ ْ‫ ) َٔثِ ْبن َٕا ِندَي ٍِْ إِح‬wa bi alwalidaini ihsanan. Disana antara lain penulis kemukakan bahwa alQur‟an mengunakan kata ( ‫عبًَب‬
َ ْ‫ ) ِإح‬ihsanan, untuk dua hal. Pertama,
memberi nikmat kepada pihak lain, dan kedua perbuatan baik. Karena itu
kata ihsan lebih luas dari sekedar “memberi nikmat atau nafkah”.
Maknanya lebih tinggi dan dalam dari kandungan makna “adil” karena
adil adalah “memperlakukan orang lain sama dengan perlakuaanya
kepada anda”, sedang ihsan,” memperlakukannya lebih baik dari
perlakuaanya terhadap anda”. Adil adalah mengambil semua hak anda
atau memberi semua hak orang lain, sedang ihsan adalah memberi lebih
banyak daripada yang harus anda beri dan mengambil lebih sedikit dari
yang seharusnya anda ambil. Karena itu pula, rasul saw. Berperan kepada
seseorang:”engkau dan hartamu adalah untuk (milik) ayahmu” (HR. Abu
Daud).
35
Quraish Shihab juga kemukakan bahwa al-Qur‟an menggunakan
kata penghubung bi ketika berbicara tentang bakti kepada ibu dan bapak
(‫عبًَب‬
َ ْ‫)ٔ ِث ْبن َٕا ِندَي ٍِْ ِإح‬
َ wa bi al-walidain ihsanan, padahal bahasa membenarkan
penggunaan (‫ )ل‬li yang berati untuk dan (‫ )إنى‬ila berarti kepada untuk
penghubung kata itu.
Qurais shihab mengambil dari Syaikh Muhammad Thahir Ibn
`Asyur mempunyai pandangan lain. Menurutnya kata Ihsan bila
menggunakan idiom ba (bi), yang dimaksud adalah penghormatan dan
pengagungan yang berkaitan dengan pribadi seperti dalam firmanya-Nya
mengabdian ucapan Yusuf as. Dalam Qs Yusuf: 100 yang menyatakan: (
ٍ‫ ) ٔلدأ حعٍ ثي إذأخسجُى يٍ انعّج‬wa qad ahsana biidz akhrajani min as-aijn/
dia (Allah) telah berbuat baik kepadaku ketika Dia membebaskan aku
dari penjara, sedang bila yang dimaksud dengan memberi manfaat
material, idiom yang digunakan adalah li dan, dengan demikian, ayat ini
lebih menekankan kebaktian pada penghormatan dan pengagungan pribdi
kedua orang tua.
betapa pun berbeda, pada akhirnya harus dipahami bahwa ihsan
(bakti) kepada keduorangtuanya yang diperintahkan agama Islam adalah
bersikap sopan kepada keduanya dalam ucapan dan perbuatan sesuai
dengan adat kebiasaan masyarakat sehingga mereka merasa senang
terhadap kita serta mencukupi kebutuhan-kebutuhan mereka yang sah
dan wajar sesuai kemampuan kita (sebagai anak).
36
Firman-Nya: janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena
kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepada kamu dan kepada mereka
sedikit berbeda redaksinya dengan ayat Qs.al-Isra`:3 yang menyatakan:
“dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut
kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan
juga kepada kamu.”
Motivasi pembunuhan yang dibicarakan oleh ayat al-an`am ini
adalah kemiskinan yang sedang dialami oleh ayah kekhawatirannya akan
semakin terpuruk dalam kesulitan hidup akibat lahirnya anak. Karena itu,
di sini Allah segera memberi jaminan kepada sang ayah dengan
menyatakan bahwa kami akan memberi rezeki kepada kamu, baru
kemudian dilanjutkan dengan jaminan ketersediaan rezeki untuk anak yang
dilahirkan, yakni melalui lanjutan ayat itu dan kepada mereka, yakni anakanak mereka. Adapun dalam surah al-Isra`:31, kemiskinan belum terjadi,
baru dalam bentuk kekhawatiran. Karena itu dalam ayat tersebut ada
penambahan kata khasyat, yakni takut. Kemiskinan yang dikhawatirkan itu
adalah kemiskinan yang boleh jadi akan dialami oleh anak. Maka, untuk
menyingkirkan kekhawatiran sang ayah,ayat itu segera menyampaikan
bahwa kami-lah yang akan memberi rezeki kepada mereka, yakni anakanak yang kamu khawatirkan jika dibiarkan hidup akan mengalami
kemiskinan. Setelah jaminan ketersediaan rezeki itu, barulah disusulkan
jaminaan serupa kepada ayah dengan adanya kalimat dan juga kepada
kamu.
37
Penggalan ayat diatas dapat juga dipahami sebagai sanggahan buat
mereka yang menjdikan kemiskinan apa pun sebabnya sebagai dalih untuk
membunuh anak. Apakah merencanakan keluarga dengan alasan tersebut
termasuk dalam larangan ini atau tidak merupakan salah satu diskusi antar
ulama. Bukan di sini tempatnya diuraikan.
Larangan membunuh jiwa oleh ayat di atas dibarengi dengan kata-kata
ّ
( ‫نحك‬
‫حسو هللا إَّلّ ثب‬
ّ ‫ ) انتّى‬allati harrama Allahu illa bi al-haqq yang
diterjemahkan dengan yang diharamkan Allah kecuali berdasar sesuai yang
benar. Terjemahan ini terpijak pada kata harrama yang dipahami dalam arti
diharamkan atau dilarang. Kalimat ini berfungsi menjelaskan bahwa
larangan membunuh bukan sesuatu yang baru, tetapi telah merupakan
syariat seluruh agama sejak kelahiran manusia dipentas bumi ini. Dapat juga
kata harrama, yang dikaitkan dengan jiwa manusia oleh ayat diatas,
dipahami dalam arti yang dijadikan terhormat oleh Allah. Penggalan ayat ini
seakan-akan menyatakan: janganlah membunuh jiwa karena jiwa manusia
telah dianugrahi Allah kehormatan sehingga tidak boleh disentuh
kehormatan itu dalam bentuk apa pun. Pemahaman semacam ini
mendukung nilai-nilai hak asasi manusia yang juga merupakan salah satu
prinsip kehidupan yang ditegakkan al-Qur‟an melalui sekian ayat.
Ayat ini dan ayat-ayat berikut menyebutkan aneka hal yang haram
tanpa menyebutkan sesuatu yang berkaitan dengan makanan. Hal tersebut
agaknya untuk mengisyaratkan bahwa menghindari kebejatan moral
terhadap Allah dan terhadap manusia jauh lebih penting daripada diskusi
38
berkepanjangan menyangkut hukum halal dan haram, dan bahwa
mengamalkan halal atau menghindari yang haram harus dilandasi oleh
kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa dan membuahkan penghormatan
kepada hak-hak asasi manusia.
Dalam ayat ini terdapat tiga kali larangan membunuh. Pertama,
larangan membunuh anak, kedua larangan melakukan kekejian seperti
berzina dan membunuh, dan ketiga larangan membunuh kecuali dengan
haq.
Quraish Shihab menyimpulkan bahwa ayat di atas mengandung
tuntunan umum menyangkut prinsip dasar kehidupan yang bersendikan
kepercayaan akan keesaan Allah swt. Hubungan antara sesama berdasarkan
hak asasi, penghormatan, serta kejauhan dari segala bentuk kekejian
moral.(Quraish Shihab, 2002:734)
Ayat yang lalu telah menyebut lima wasiat Allah yang merupakan
larangan-larangan mutlak. Ayat ini melanjutkan dengan larangan yang
berkaitan dengan harta setelah sebelumnya pada larangan kelima disebut
tentang nyawa. Ini karena harta adalah sesuatu yang nilainya sesudah nilai
nyawa.
Larangan yang menyangkut harta dimulai dengan larangan
mendekati harta kaum lemah, yakni anak-anak yatim. Ini sangat wajar
karena mereka tidak dapat melindungi diri dari penganiayaan akibat
kelemahannya. Dan karena itu pula, larangan ini tidak sekedar melarang
memakan atau menggunakan, tetapi juga mendekati.
39
Ayat ini dimulai dengan larangan ke enam yang mengatakan: dan
janganlah kamu dekati apalagi menggunakan secara tidak sah harta anak
yatim, kecuali dengan cara yang terbaik shingga dapat menjamin
keberadaan, bahkan pengembangan harta itu, dan hendaklah pemeliharaan
secara baik itu berlanjut hingga ia, yakni anak yatim itu, mencapai
kedewasaannya dan menerima dari kamu harta mereka untuk mereka
kelola sendiri.
Selanjutnya, larangan kedelapan menyangkut ucapan, karena
ucapan
berkaitan
dengan
penetapan
hukum,
termasuk
dalam
menyampaikan hasil ukuran dan timbangan. Lebih-lebih lagi karena
manusia seringkali bersifat egois dan memihak kepada keluarganya. Untuk
itu, dinyatakan bahwa dan apabila kamu berucap, dalam menetapkan
hukum, atau persaksian, atau menyampaikan berita, janganlah kamu
curang atau berbohong. Berlaku adil lah tantap mempertimbangkan
hubungan kedekatan atau kekerabatan, kendati pun dia yang menerima
dampak ucapanmu yang baik atau yang buruk adalah kerabat –mu sendiri.
Wasiat yang kesembilan, mencakup ucapan dan perbuatan, yaitu
jangan melanggar janji yang kamu ikat dengan dirimu, orang lain, atau
denga Allah. Penuhilah janji Allah itu karena kesemuanya disaksikan
oleh-Nya, dan yang demikian itu di perintahkan-Nya kepada kaum agar
kamu terus-menerus ingat bahwa itulah yang terbaik untuk kamu semua.
Dalam pengamatan sejumlah ulama al-Qur‟an, ayat-ayat yang
menggunakan kata jangan mendekati seperti ayat diatas biasanya
40
merupakan larangan mendekati sesuatu yang dapat merangsang jiwa atau
nafsu untuk melakukannya. Dengan demikian, larangan mendekati
mengandung makna larangan untuk tidak terjerumus dalam rayuan
sesuatu, yang berpotensi mengantar kepada langkah melakukannya.
Hubungan seks seperti perzinaan maupun keika istri sedang haid, demikian
pula perolehan harta secara batil, memiliki rangsangan yang sangat kuat
sehingga al-Qur‟an melarang mendekatinya. Memang, siapa yang berada
disekeliling satu jurang, ia dikhawatirkan terjerumus kedalamnya.
Adapaun langgaran yang tidak memiliki rangsangan yang kuat, biasanya
larangan langsung tertuju kepada perbuatan itu, bukan larangan
mendekatinya.
Ayat diatas menggunakan bentuk perintah- bukan larangan –
menyangkut takaran dan timbangan (‫ْبظ‬
ِ ‫)ٔأ َ ْٔفُبٕا ْان َكيْب َم َٔ ْان ًِيبصَ اٌَ ِث ْبن ِمع‬
َ wa aufu alkaila waal-mizana bi al-qisthl dan sempurnakanlah takaran dan
timbangan dengan adil.
Kata (‫ )انمعبظ‬al-qisth mengandung makna rasa senang kedua pihak
yang bertransaksi .karena itu ,ia bukan sekadar berarti adil,apabila jika ada
keadilan yang tidak dapat menyenangkan salah satu pihak. Yang
menganiaya tidak akan senang menerima,walau sanksi yang adil. Qisth
bukan hanya adil,tetapi sekaligus menjadikan kedua belah pihak senang
dan rela. Timbangan dan takaran harus menyenagkan kedua pihak
sehingga ayat di atas di samping memerintahkan untuk menyempurnakan
takaran dan timbangan, juga memerintahkan menyempurnaan itu bi al-
41
qisth, bukan sekedar bi al-`adll dengan adil. Memang diatas penulis
menerjemahkan kata al-qisth, sebagaimana sekian banyak terjemahan,
dengan adil. Ini karena sangat sulit bagi penulis menemukan padanan kata
yang tepat untuk kata qisth itu dalam bahasa indonesia atau bahasa asing.
Perintah menyempurnakan takaran disusul dengan kalimat: kami
tidak
memikulkan
beban
kepada
seorang
melainkan
sesuai
kemampuannya. Ini kemukakan untuk mengingatkan bahwa memang
dalam kehidupan sehari-hari tidak mudah mengukur, apabila menimbang,
yang benar-benar mencapai kadar adil yang pasti, tetapi kendati demikian,
penimbang dan penakar hendaknya berhati-hati senantiasa melakukan
penimbangan dan penakaran itu semampu mungkin. Kalimat singkat ini di
susun dalam bentuk redaksi personal pertama, dalam hal ini adalah Allah
swt, padahal ayat-ayat sebelumnya dalam redaksi orang ketiga. Hal ini,
disamping untuk mengisyaratkan bahwa ketentuan tersebut langsung dri
Allah swt. sebagai anugrah, juga untuk menunjukkan bahwa apa yang
disampaikan oleh nabi Muhammad saw. Ini benar-benar bersumber dari
Allah swt. Bahwa ayat ini merupakan perintah kepada penjual atau
pemberi barang karena pembeli atau penerima tidak selalu awas, apabila
saat disertai keinginan yang besar untuk memperoleh barang itu. Juga
karena takaran ada timbangan itu biasanya berada di tangan pemberi
barang bukan penerima atau pembelinya.
Perintah-Nya kedelapan berbunyi:dan apabila kamu berucap,
maka berlaku adillah. Ucaplah,berdiri dari tiga kemungkinan; pertama,
42
benar, dan itu bisa saja bermakna positif atau negatif, serius atau canda:
kedua, salah dan ini ada yang disengaja (bohong) ada juga yang tidak
disengaja (keliru); dan ketiga, omong kosong. Ini ada yang dimengerti
tetapi tidak berfaidah dan ada juga yang tidak dimengerti sama sekali.
Perintah berucap oleh ayat ini kaitkan dengan kata (‫ )إذا‬idzal
apabila, yakni apabila kamu berucap, maka berlaku adillah. Penyebutan
apabila dalam ayat ini mengisyaratkan bahwa ada kemampuan dalam diri
manusia untuk diam dan tidak mengucapkan sesuatu apabila dia takut
mengucapkan kebenaran. Dengan kata lain, adalah wajib berdiam diri
tidak berucap sepatah pun kalau ucapan itu tidak benar dan tidak adil. “
siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaknya dia
mengucapkan kata-kata yang baik atau diam saja” (HR. Bukhori dan
Muslim melalui Abu Hurairah).
Penggalan ayat yang menyangkut ucapan ini menggunakan juga
bentuk redaksi perintah bukan larangan, padahal yang di janjikan pada
ayat yang lalu adalah yang di haramkan Allah swt. Yakni yang dilarang
oleh-Nya. Ini untuk mengisyaratkan bahwa yang disukai Allah adalah
menampakkan sesuatu yang haq, tetapi dalam saat yang sama ia adil, dan
bahwa sebaiknya seseorang tidak berdiam diri dalam dalam menghadapi
kebenaran. Seandainya ayat ini menyatakan jangan berbohong, perintah
tersebut telah dinilai terlaksana walau yang bersangkutan diam tidak
berbicara, padahal diam menyangkut kebenaran baru dianjurkan bila
dampak negatif pembicara lebih besar daripada dampak diam.
43
Ayat ini ditutup dengan wasiat kesembilan, yaitu perintah
memenuhi (‫` ) عٓد هللا‬ahd Allah/janji Allah. Rangkaian kedua kata ini dapat
berarti apa yang ditetapkan Allah atas kamu menyangkut perjanjian, yang
dalam hal ini adalah syariat agama; bisa juga dalam arti apa yang telah
kamu janjikan kepada Allah untuk melakukannya dan yang telah kamu
akui, atau bisa jadi juga ia berarti perjanjian yang Allah perintahkan untuk
dipelihara dan dipenuhi. Kesemua makna ini benar lagi diperintahkan
Allah swt. Dan juga dapat ditampung oleh redaksi tersebut. Bahwa ia
dinamai perjanjian Allah karena perjanjian itu disaksikan oleh Allah lagi
biasanya disepakati atas nama Allah swt.
Quraish Shihab menyimpulkan bahwa ayat ini mengandung
tuntunan dengan sistem pergaulan antar sesama yang berintikan
penyerahan hak-hak kaum lemah telah mereka peroleh, otomatis hak-hak
yang kuat akan diperolehnya pula. (Quraish Shihab, 2002: 739)
Wasiat terakhir, yakni yang kesepuluh mencangup apa yang belum
disebut oleh kedua ayat sebelumnya, yaitu dan bahwa ini, yakni
kandungan wasiat-wasiat yang disebut di atas atau ajaran agama Islam
secara keseluruhan adalah jalan-Ku yang lapang lagi lurus, maka ikutilah
ia dengan penug kesengguhan, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan
yang lain yang bertentangan dengan jalan-Ku ini karena jalan-jalan itu
adalah jalan-jalan yang sesat sehingga bila kamu mengikutinya ia
menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya yang lurus lagi lapan itu. Yang
demikian, yakni wasiat-wasiat yang sungguh tinggi nilainya itu
44
diwasiatkan kepada kamu agar kamu bertaqwa sehingga terhindar dari
segala macam bencana.
Kata ( ‫صبساط‬
ّ ‫ ) ان‬ash-shirat terambil dari kata ( ‫ ) ظبسط‬saratha, dan
karena huruf (‫ ) ض‬sin dalam kata ini bergandengan dengan huruf (‫) ز‬,
huruf (‫ ) ض‬sin terucapkan (‫ ) ص‬shad (‫ ) صبساط‬shirat atau ( ‫ )ش‬zai (‫) شزاط‬
zirat asal katanya sendiri bermakna menelan. Jalan yang lebar dinamai
sirath karena sedemikian lebarnya sehingga ia bagaikan menelan si
pejalan.
Ketika menguraikan tafsir surah al-Fatihah, penulis telah
kemukakan perbedaan antara kata (‫ )صبساط‬shirath dan (‫ )ظبجيم‬sabil, antara
lain adalah yang pertama mengandung makna jalan luas dan lebar serta
selalu benar. Ia adalah jalan tol yang mengantar penelusuranya sampai
ketujuan. Sedang sabil adalah jalan kecil atau lorong. Sabil ada yang
bertemu dengan shirath, ada juga yang tidak sehingga perjalan tidak
mencapai )‫ (انصساط انًعتميى‬ash-shirathal-mustaqim.
Kalau jalan kecil itu mengantar kepada kebaiakan dan kedamaian,
ia dinamai sabilillah dijamak oleh al-Qur‟an dan disifati dengan nama
subul as-salam. Sabilillah banyak bermacam-macam, sebanyak tuntunan
agama Islam. Gabungannya dinamai ash-shirat al-mustaqim. Haji adalah
sabilillah, puasa, berjhad, belajar dan mengaja, dan ilmu yang bermanfaat,
kegiatan sosial yang berguna, dan lain-lain kebajikan, jika ditinjau secara
berdiri sendiri, ia adalah sabilillah. Karena itu, semua apa yang dinamai
sabilillah, yakni subul as-salam, bermuara ke shirath al-mustaqim.
45
Semua jalan Allah, baik yang dinamai Shirath maupun yang
dinamai sabil, tentu direstui-Nya. Tetapi ingat! Ada jalan-jalan, atau dalam
istilah ayat di atas subul, yang bertentangan dengan jalan Allah. Semua
jalan itu bukan saja kecil bagian lorong-lorong, tetapi ia juga menyesatkan.
Ayat ini mengingatkan bahwa jangan menelusuri lorong-lorong sempit
yang menyesatkan karena jalan itu bukan saja menyesatkan dari shirathi
(jalan-ku), yakni jalan Allah swt. Yang luas, lebar lagi lurus itu, tetapi
bahkan menyesatkan dari sabilihi, yakni jalan-Nya yang kecil pun. Kalau
lorong yang anda telusuri adalah lorong yang benar (sabilillah),
kemungkinan sampai ke ash-shirath tetap terbuka, walau belum
merupakan jaminan. Tetapi, jika jalan itu adalah jalan sempit yang
menyesatkan, maka pasti anda tidak akan sampai ke tujuan. Kalau anda
hanya berpuasa, atau hanya berhaji, ia sabilillah, tetapi kalau hanya itu
yang anda lakukan, ketahuilah bahwa itu bukan jaminan sampai ke ashshirath al-mustaqim. Ia belum berarti anda telah melaksanakan ajaran
Islam secara penuh. Itu sebabnya yang dimohonkan dalam al-Fatihah
adalah petunjuk yang dapat mengantar ke ash-shirat al-mustaqim, bukan
petunjuk menuju sabilillah.
Kata (ّ‫ )ظببجيه‬sabilihi/jalan-Nya menggunakan personal ketiga,
sedang (‫ )صبببساطي‬shirathi/jalan-Ku menggunakan personal pertama.
Pengalihan dari personal ke personal yang lain bertujuan mengundang
pergatian pendengar atau pembaca kepada pesan yang dikandung oleh
kalimat itu.
46
Ketiga ayat diatas menekankan bahwa kesepuluh tuntunan Allah
itu merupakan wasiat-Nya. Wasiat adalah perintah yang baik dan
bermanfaat walau diluar kehadiran yang memerintahkan-Nya. Ini
mengandung penekanan tentang betapa pentingnya perintah itu. Allah
menghargai bagi seluruh makhluk sehingga banyak perintah Allah yang di
sampaikan dengan kata tersebut.
Melaksanakan
satu
perintah
tanpa
kehadiran
yang
memerintahkannya merupakan bukti kesadaran pelakunya tentang
pelaksanaan perintah itu serta bukti keikhlasan melakukannya.
Ayat di atas dapat disimpulkan sebagai prinsip umum yang
mencakup segala tuntunan kebajikan, yaitu mengikuti jalan kedamaian,
jalan Islam, dan memperingatkan agar tidak mencari jalan kebahagiaan
yang menimpang dari jalan Allah itu.
Di atas, telah dikemukakan salah satu pendapat tentang hubungan
yang serasi antar-perurutan wasiat demi wasiat. Masalah ini cukup banyak
menyita perhatian para ulama. Quraish Shihab mengambil dari Sayyid
Quthub mengemukakan hubungan yang sangat menarik mengenai ayat
pertama dari rangkaian ayat ini, yang dimulai dengan larangan syirik
(mempersekutukan Allah) karena inilah landasan utama yang harus
ditegakkan guna tegaknya semua hal yang di haramkan Allah bagi siapa
saja yang bermaksud berserah diri kepada-Nya dan memeluk agama Islam.
Kemudian, Sayyid Quthub menghimpun kewajibab berbakti kepada orang
tua, dengan larangan membunuh anak, atas dasar bahwa keduanya adalah
47
hubungan kekeluargaan antar generasi sepanjang masa, dan ini berada
pada peringkat sesudah hubungan dalam keyakinan tentang keesaan Allah
dan kesatuan arah kepada-Nya. Selanjutnya, setelah wasiat menyangkut
kehidupan keluarga, Allah mewasiatkan landasan pokok yang atas
dasarnya tegak kehidupan keluarga dan masyarakat, yakni landasan
kebersihan, kesucian, dan pemeliharaan diri, dan untuk ini dilarang-Nya
segala macam kekejian dan dosa yang nyata dan tersembunyi. Sayyid
Quthub memahami kata fahisyah/perbuatan keji dalam arti perzinaan,
kemudian menyatukannya dengan larangan membunuh dan menyatakan
kejahatan”pembunuhan”.
Pembunuhan fitrah kesucian manusia, mencabut nyawa seorang
secara tidak sah sama dengan membunuh jamaah karena membunuh
seorang sama dengan membunuh semua orang sebagaimana bunyi QS. AlMaidah (5):32, dan zina adalah pembunuhan satu jiwa. Demikian terlihat
wasiat-wasiat ini mendukung solidaritas sosial, dan atas dasar ini wajar
jika wasiat berikutnya menyangkut anak yatim. Adapun perintah untuk
mengucapkan yang adil, Quraish Shihab mengambil pendapat dari
pandangan Sayyid Quthub, ini adalah upaya meningkatkan nurani manusia
ketempatnya yang wajar, apabila perintah tersebut dikatakan dengan
menegakkan keadilan walau terhadap keluarga. Memang hubungan
kekerabatan dapat menjadi jalah satu faktor kelemahan dan ketergelinciran
manusia, apabila dalam kondisi menjadi saksi terhadap mereka. Dalam
situasi kemungkinan terjerumus dalam ketergelinciran itu, wasiat
48
berikutnya datang membimbing manusia agar mengucapkan kebenaran
atas dasar keteguhan berpegang pada tali Allah dan, karena itu, wasiat
tersebut adalah perintah untuk memenuhi perjanjian yang dijalan atas
nama Allah dan disaksikan oleh-Nya.
Akhirnya, terbaca dengan sangat jelas bahwa masing-masing dari
ketiga ayat di atas memiliki penutup yang berbeda. Lima wasiat pertama
ditutup dengan firmanya: ( ٌَٕ‫ )نَعَهَّ ُكب ْى تَ ْع ِمهُب‬la`allakum ta`qilun/supaya kamu
memahami.
Quraish Shihab mengambil dari Pakar tafsir, Fakhrur ar-razi, yang
digelari dengan”Al-Imam”, di ikuti dan dikembangkan pendapatnya oleh
banyak musyafir lebih kurang menyatakan bahwa ayat 151 mengandung
pesan menyangkut perintah dan larangan yang sangat jelas dan terang.
Manusia dapat mengetahui betapa buruknya hal-hal tersebut dengan
mudah. Siapa yang menggunakan akalnya, dia pasti mengetahui betapa
buruknya mempersekutukan Allah, durhaka pada orangtua, membunuh,
dan lain-lain kekejian yang disebut disana. Manusia yang di anugerahi akal
tidak akan melangkahkan kaki ke arah sana, kecuali jika telah dipengaruhi
oleh hawa nafsunya. Karena itu, ayat ini menekankan bahwa cukup dengan
menggunakan
akal
yang
sehat
manusia
akan
terdorong
untuk
menghindarinya. Atau, kesemuanya harus dipahami baik dengan
menggunakan akal yang sehat. Karena itu, ayat tersebut ditutup dengan
agar kamu memahami. pesan-pesan ayat itu sangat agung lagi mulia,
sehingga ia ditutup dengan menyebut akal yang merupakan sesuatu yang
49
paling agung dan mulia pada diri manusia, sejalan dengan agung dan
mulianya kelima persoalan yang diuraikan ayat tersebut.
Ayat 152 ditutup dengan ( ٌَٔ‫ )نَ َعهَّ ُكب ْى تَبرَ َّك ُس‬la`llakum tadzakkarun/ agar
kamu mengingat. Menurut al-Iskafi dalam tafsir al misbah , karena
larangan-larangan disana lebih banyak berkaitan dengan harta, untuk itu
ayat ini megundang manusia mengingat bagaimana jika hal tersebut terjadi
pada diri dan anak-anak mereka. Sedang, menurut Thabathaba`i, yang
mengembangkan pendapat ar-Razi, bahwa 4 persoalan yang dirangkum
oleh ayat itu adalah hal-hal yang sulit dan memerlukan penalaran sehingga
diperlukan pemikiran dan ingatan untuk mempertimbangkan kemaslahatan
dan mudharat yang di akibatkannya dalam berkehidupan bermasyarakat.
Apalagi yang dapat tersisa dari kebajikan satu masyarakat bila yang kuat
atau besar tidak lagi menyayangi yang lemah atau kecil, bila terjadi
kecurangan dalam timbangan dan takaran, atau bila tidak ada lagi
kepastian dan keadilan hukum? Karena itu, ayat ini ditutup dengan kalimat
agar kamu mengingat. An-Naisaburi menilai bahwa melanggar keempat
wasiat yang dikandung ayat 152 adalah amat buruk. Pesan ayat itu
mengandung peringatan keras dan tuntunan, karena itu, ia ditutup dengan
kata yang menunjuk kepada peringatan itu.
Ayat 153 ditutup dengan ( ٌَٕ‫ )نَعَهَّ ُكب ْى تَتَّمُب‬la`allakum tattaqun/agar
kamu bertakwa/menghindari dari bencana dan siksa oleh al-Iskafi dinilai
mengandung tuntunan bahwa agama yang disyariatkan Allah swt.
Merupakan jalan menuju kebahagiaan abadi. Karena itu ayat ini
50
menelusuri jalan itu dan tidak menoleh ke jalan-jalan lain sehingga dapat
menghindari kedurhakaan sekaligus dapat bertaqwa, yakni menghindari
bencana dan siksa-Nya.
Dapat juga dikatakan bahwa kebanyakan wasiat ayat pertam
menggunakan bentuk redaksi larangan, yakni mencegah, sehingga sangat
wajar jika ia ditutup dengan kata yang mengandung makna pencegahaan,
yaitu ta`qilun, karena akal adalah “tali” yang mengikat sesuatu sehingga
mencegah
kebebasannya. Akal pada manusia adalah sesuatu yang
menghalangi dan mencegah seseorang terjerumus dalam kesalahan.
Adapun ayat 152, kebanyakan wasiatnya disampaikan dalam bentuk
perintah,
sementara
larangan
yang
dikandungnya
tidak
secara
eksplisit/jelas dan nyata. Untuk mengindahkan wasiat-wasiat itu,
diperlukan daya ingat terus-menerus. Oleh karena itu, ia ditutup dengan
kalimat agar kamu mengingat secara terus-menerus.
Quraish Shihab menilai bahwa perurutan penutup ketiga ayat di
atas, yakni berakal, mengingat, dan bertaqwa, menunjukkan hubungan
sebab dan akibat. Hasil penggunaan akal adalah terus menerus awas dan
ingat, sedang mereka yang terus awas dan ingat akan terhindar dari
bencana dan siksa, dan itulah makna serta hasil akhir yang diharapkan atau
dengan kata lain itulah takwa. (Quraish Shihab, 2002:744).
2.
Penafsiran Surat Al-An’am ayat 151-153 menurut Tafsir Muyassar
Katakanlah-wahai
Muhammad-kepada
orang-orang
musyrik
itu:”marilah kujelaskan kepada kalian apa saja yang Allah swt haramkan
51
bagi kalian berdasarkan dalil, bukan yang kalian haramkan berdasarkan
kebodohan dan kesesatan.
Pertama: Allah swt mengharamkan perbuatan syirik terhadap-Nya,
ini adalah dosa besar.
Kedua: Dia mewajibkan kalian untuk berbakti kepada kedua
orangtua. Dengan demikian, hak kedua orang tua mengiringi hak-Nya swt.
Ketiga: Dia mengharamkan kalian membunuh anak-anak karena
takut tertimpa kemiskinan. Allah-lah Yang memberi rezeki kepada kalian
dan juga mereka, sedangkan kalian tidak bisa memberi rezeki kepada
mereka.
Keempat jauhilah dosa-dosa besar, baik yang tampak maupun yang
tersembunyi.
Kelima: janganlah membunuh jiwa yang diharamkan untuk
dibunuh, kecuali yang dilegalkan berdasarkan syariat-Nya swt yaitu
penjatuhan hukuman mati terhadap orang murtad, pezina yang sudah
menikah, dan pembunuh.
Ini yang diwajibkan oleh Allah swt bagi kalian, semoga kalian
merenungkan hukum-Nya dan memahami perintah serta larangan-Nya,
agar kalian bertakwa kepada Allah swt. Berdasarkan ilmu pengetahuan.
Inilah syariat ar-rahman, bukan kepalsuan berhala.
Keenam: janganlah kalian memakan harta anak-anak yatim,
kecuali sekedar mengembangkan harta itu dan memperbaiki kondisinya
untuk kebaikan anak-anak yatim itu sendiri. Hendaknya hal itu dilakukan
52
dengan sebaik-baiknya, tanpa merusak sedikitpun. Ketika mereka telah
mencapai usia balig berperilaku baik, berikanlah semua harta itu kepada
mereka.
Ketujuh: kalian harus menyempurnakan takaran dan timbangan
jangan sampai kalian mengurangi takaran dan timbangan, karena hal itu
diharamkan. Apabila kalian telah bersungguh-sungguh memperbaiki
takaran dan timbangan, lalu terjadi kekurangan tanpa sengaja maka hal ini
dimaafkan, karena hal itu terjadi diluar kemampuan.
Kedelapan: bertakwalah kepada Allah swt. Dalam ucapan kalian,
sehingga ucapan kalian senantiasa adil, tidak zalim dan tidak mengandung
kebohongan ataupun dosa. Baik dalam berita, hukum, persaksian, cerita
maupun pembelaan. Meski hukuman dan persaksian itu bisa memberatkan
salah seorang karib kerabat kalian sekalipun, karena tidak ada nepotisme
dalam kebenaran.
Kesembilan: sempurnakanlah perjanjian antara kalian Allah swt,
juga antara kalian dan sesama manusia, karena tidak ada pembatalan
ataupun perubahan janji.
Semua ini adalah pesan-pesan bermanfaat dari Allah swt yang di
wahyukan kepada Rasul-Nya, agar menjadi syariat yang kuat. Semoga
kalian mengambil pelajaran dari nasihat-nasihat ini dan merenungkan
kesudahan segala perkara, supaya kondisi kalian tetap baik dan ucapan
kalian selalu benar.
53
Kesepuluh : pesan yang terakhir adalah meniti jalan yang lurus,
yaitu Agama Allah swt yang lurus. Maka ikutilah agama itu, karena
mengandung keselamatan dan keberuntungan. Itulah jalan yang dijelaskan
oleh Allah swt dan ditunjukkan oleh Rasulullah saw. Tujuannya adalah
kebenaran, penuntunnya adalah kejujuran. Waspadailah jalan-jalan yang
lain, agar kalian tidak binasa dalam kegelapan. (`Aidh al-Qarni, 2008: 649652).
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Q.S Al- An’am ayat 151-153.
‫عبًَب َٔ ََّل‬
َ ِّ ‫ع َه ْي ُك ْى أ َ ََّّل ت ُ ْش ِس ُكٕا ِث‬
َ ‫لُ ْم ت َ َعبنَ ْٕا أَتْ ُم َيب َح َّس َو َزثُّ ُك ْى‬
َ ‫ش ْيئًب َٔ ِث ْبن َٕا ِندَي ٍِْ ِإ ْح‬
َ ‫ش َيب‬
‫ظ َٓ َس‬
ِ َٕ َ‫ق َ َْح ٍُ َ َْس ُشلُ ُك ْى َٔ ِإيَّب ُْ ْى َٔ ََّل ت َ ْم َسثُٕا ْانف‬
ٍ ‫ت َ ْمتُهُٕا أ َ ْٔ ََّلدَ ُك ْى ِي ٍْ ِإ ْي ََل‬
َ ‫اح‬
َ ‫ِي ُْ َٓب َٔ َيب َث‬
َّ ‫ط انَّ ِتي َح َّس َو‬
‫صب ُك ْى ِث ِّ نَ َعهَّ ُك ْى‬
َّ َٔ ‫ك ذَ ِن ُك ْى‬
َ ‫طٍَ َٔ ََّل ت َ ْمتُهُٕا انَُّ ْف‬
ِ ّ ‫اَّللُ ِإ ََّّل ِث ْبن َح‬
)151( ٌَُٕ‫ت َ ْع ِمه‬
(151) “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh
Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,
berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu
membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi
rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati
perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun
yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”.
Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu
memahami (nya).
Nilai-nilai yang terkandung dalam surat al-an‟am ayat 151 adalah:
54
1. Larangan Berbuat syirik
syirik adalah Syirik adalah sebesar-besar dosa yang seorang hamba
lakukan terhadap Zat Yang telah menciptakan dan mengaruniakannya
berbagai macam nikmat yang tiada terhinga. Allah ta‟ala berfirman:
‫ش ْيئًب‬
َ ِّ ‫أ َ ََّّل ت ُ ْش ِس ُكٕا ِث‬
janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia
Betapa besarnya kedzaliman seorang hamba yang berlaku syirik,
maka Allah telah menetapkan beberapa konsukwensi logis yang akan
diterima oleh orang tersebut sebagai hukuman atas kejehatan terbesar yang
telah diperbuat, sanksi di dunia dan di akhirat.
Saikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,” syirik ada dua macam,
pertama syirik dalam rububiyyah, yaitu menjadikan sekutu selain Allah
yang mengatur alam semesta. kedua, syirik dalam uluhiyah, yaitu
beribadah ( berdo‟a) kepada selain Allah baik dalam bentuk do‟a ibadah
maupun doa masalah.”
Umumnya yang dilakukan manusia adalah menyekutukan dalam
uluhiyah Allah, yaitu dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi
Allah, seprti berdo‟a kepada selain Allah di samping berdoa kepada Allah,
atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih kurban,
bernadzar, berdo‟a, dan sebagainya kepada selain Allah.
Karena itu, barang siapa menyembah dan berdo‟a kepada selain
Allah berarti ia meletakan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikan
kepada yang tidak berhak, dan itu merupakan kedzaliman yang palig
55
besar. Syirik di katakan dosa yang paling besar dan kedzaliman yang
paling besar karena ia menyamakan makhluk dengan khaliq (pencipta)
(Yazid Bin Abdul Qadir Jawas, 2009: 170-172).
Berdasarkan klasifikasi secara umum , syirik dibagi menjadi 4 jenis
yaitu sebagai berikut:
a. Syirkul „ilm, inilah syirik yang umumnya terjadi pada ilmuan.
Mereka mengagungkan ilmu sebagai segalanya. Mereka tidak
mempercayai pengetahuan yang diwahyukan Allah. Sebagai contoh
, mereka mengatakan bahwa manusia berasal dari kera, mereka
juga percaya bahwa ilmu pengetahuan akhirnya akan dapat
menemukan
formula
agar
manusia
tidak
perlu
mengalami kematian.
b. Syirkut-tasyaruf, syirik jenis ini pada prinsipnya disadari atau tidak
oleh pelakunya menentang bahwa Allah Maha Kuasa dan segala
kendali atas penghidupan manusia berada di tangan-Nya. Mereka
percaya adanya perantara itu mempunyai kekuasaan. Contohnya,
kepercayaan bahwa Nabi Isa a.s anak Tuhan, percaya pada dukun,
tukang sihir atau sejenisnya.
c. Syirkul-„Ibadah, ini adalah syirik yang menuhankan pikiran,ideide, dan fantasi. Mereka hanya percaya pada fakta-fakta konkret
yang berasal pada pengalaman lahiriyah. Misalnya seorang ateis
memuja ide pengingkaran terhadap Tuhan dalam berbagai bentuk
kegiatan.
56
d. Syirkul-addah, ini adalah percaya pada tahayul. Sebagai contoh,
percaya bahwa angka 13 itu adalah angka sial sehingga tidak mau
menggunakan angka tersebut, menghubungkan kucing hitam
dengan kejahatan (Roli Abdul Rahman, 2009: 36).
Di lihat dari sifat dan tingkat sanksinya syirik dapat dibagi menjadi
dua, yaitu:
a. Syirik Besar (asy-syirku al-akbar)
Syirik besar adalah menjadikan bagi Allah sekutu (niddan) dia
berdoa kepadanya seperti berdoa kepada Allah. Ia takut, harap, dan
cinta kepadanya seperti ibadah kepada Allah. Seperti berdo‟a
kepada selain Allah atau mendekatkan diri kepadanya dengan
menyembelih kurban atau bernadzar untuk selain Allah, baik untuk
kuburan, jin atau syaitan, dan lainnya.
b. Syirik Kecil (asy-syirku al-asgar)
Syirik kecil adalah semua perkataan dan perbuatan yang akan
membawa seseorang kepada kemusyrikan. Syirik kecil termasuk
perbuatan dosa yang di khawatirkan akan menghantarkan
pelakunya kepada syirik besar (Roli Abdul rahman,2009: 35)
Dapat disimpulkan, syirik adalah seorang hamba menjadikan selain
Allah
sebagai
sekutu
bagi-Nya,
menyamakannya
dengan
Tuhan,
mencintainya seperti mencinta Allah, takut kepadanya seperti takut kepada
Allah,
bersandar
kepadanya,
berdoa
kepadanya,
takut
kepadanya,
mengharap darinya, bertawakal kepadanya, meminta pertolongan padanya
57
dan sebagainya dan larangan berbuat syirik adalah awal wasiat yang
terdapat dalam surat Al-An'am ini.
2. Agar Birrul walidain (Berbuat baik kepada orang tua).
Salah satu ayat tentang keharusan taat kepada orang tua dalam surat AlAn'am merupakan wasiat Allah SWT kepada hamba-Nya. Allah
berfirman:
‫عبًَب‬
َ ‫َٔ ِث ْبن َٕا ِندَي ٍِْ ِإ ْح‬
berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa ( QS.Al-An‟am ayat 151)
Quraish Shihab berkata: Ihsan ke-pada orang tua adalah berbuat baik dan
menjaga mereka, melaksanakan perintah mereka, dan menjauhkan
kesulitan dari mereka dan tidak menguasai ke-duanya.
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: "Oleh karena itu, birrul walidain (berbuat
baik kepada kedua orang tua) disertai dengan ibadah kepada Allah SWT,
maka Dia berfirman: ‫عبًَب‬
َ ْ‫ َٔثِ ْبن َٕا ِندَي ٍِْ إِح‬yakni dan hendaknya kemu berbuat
baik kepada kedua orang tua. Demikian pula firman Allah SWT pada ayat
lain:
‫عا َمي ِْن أ َ ِن‬
َّ ‫َو َو‬
َ ‫صالُهُ فِي‬
َ ‫سانَ بِ َوا ِلدَ ْي ِه َح َملَتْهُ أ ُ ُّمهُ َو ْهنًا‬
َ ‫َااإل ْن‬
َ ِ‫علَي َو ْه ٍن َوف‬
ِ ‫ص ْين‬
‫صي ُْر‬
ِ ‫ي ال َم‬
َّ َ‫ا ْش ُك ْر ِلي َو ِل َوا ِلدَي َْك إِل‬
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu (QS.Luqman:14)
58
3. Larangan membunuh anak.
Susungguhnya kasih sayang orang tua terhadap anaknya adalah fitrah yang
diberikan Allah SWT kepada manusia, kecuali mereka yang berlebihlebihan, menetapkan pada hati dan jiwa orang tua rasa kasih dan sayang
terhadap anak-anak mereka dan merasa sedih apbila berpisah dengannya.
Sebagaimana Allah berfirman dalam surat al-an‟am ayat 151 yang
berbunyi:
‫ق َ َْح ٍُ َ َْس ُشلُ ُك ْى َٔإِيَّب ُْ ْى‬
ٍ ‫َٔ ََّل ت َ ْمتُهُٕا أ َ ْٔ ََّلدَ ُك ْى ِي ٍْ ِإ ْي ََل‬
dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.
Larangan Allah SWT merupakan keharaman membunuh anak-anak karena
takut kelaparan dan Allah SWT juga menjelaskan bahwa hal itu merupakan kesalahan (dosa) yang besar. Dia berfirman:
‫عببًَب َٔ ََّل‬
َ ‫لُ ْم تَعَبنَ ْٕا أَتْ ُم َيب َح َّس َو َزثُّ ُكب ْى‬
َ ‫عهَب ْي ُك ْى أ َ ََّّل ت ُ ْش ِبس ُكٕا ثِب ِّ شَب ْيئًب َٔثِ ْبن َٕا ِنبدَي ٍِْ إِ ْح‬
َ ‫ش َيبب‬
‫ظ َٓ َبس‬
ِ َٕ َ‫ق َ َْح ٍُ َ َْس ُشلُ ُك ْى َٔإِيَّب ُْ ْى َٔ ََّل ت َ ْم َسثُٕا ْانف‬
ٍ ‫ت َ ْمتُهُٕا أ َ ْٔ ََّلدَ ُك ْى ِي ٍْ إِ ْي ََل‬
َ ‫اح‬
ْ ‫اَّللُ ِإ ََّّل ِث‬
َ ‫ِي ُْ َٓب َٔ َيبب َث‬
َّ ‫ط انَّتِبي َح َّبس َو‬
ِّ ‫صبب ُك ْى ِثب‬
َّ َٔ ‫ك ذَ ِن ُكب ْى‬
َ ‫طبٍَ َٔ ََّل ت َ ْمتُهُبٕا انبَُّ ْف‬
ِ ّ ‫ببن َح‬
)151( ٌَٕ‫نَ َعهَّ ُكبببببببببببب ْى ت َ ْع ِمهُبببببببببببب‬
Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diha-ramkan atas kamu oleh
Tuhanmu, yaitu: jangan-lah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,
ber-buat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu
membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi
rezeki kepadamu dan kepada mereka. (QS. Al-An'am: 151)
59
Karena itu, larangan membunuh anak-anak merupakan salah satu wasiat
yang dikandung ayat mulia ini. Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: "Orang
tua dan kakek sama memiliki kebaikan dan kasih sayang terhadap anakanak dan cucu.
Adanya larangan ini karena mereka (orang Arab jahiliyah)
telah membunuh anak-anak mereka, lalu akibat digoda setan, mereka
mengubur anak perem-puan hidup-hidup karena khawatir cela, dan
barang-kali mereka juga membunuh sebagian anak laki-laki karena
takut kemiskinan.
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: "Ayat yang mulia ini
menunjukkan bahwa Allah SWT mengasihi hamba-Nya melalui kasih
orang tua terhadap anak-nya, karena Dia melarang membunuh anakanak se-bagaimana Dia juga berwasiat kepada orang tua un-tuk
memberi harta waris bagi anak-anaknya, di mana orang-orang Arab
jahiliyah biasa mengubur anak perempuan hidup-hidup, bahkan salah
seorang dari mereka berangkali membunuh anak perempuan-nya
hanya agar tidak mendapat cela (aib), maka Allah melarang hal itu
dengan firman-Nya: "Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu
karena takut kemis-kinan." Yakni takut kefakiran. Ini ditunjukkan
dengan didahulukannya perhatian terhadap kemiskinan se-perti dalam
firman-Nya: "Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan
juga kepadamu." Lalu firman-Nya: "Sesungguhnya membunuh
mereka ada-lah suatu dosa yang besar.
60
Kesimpulannya adalah janganlah membunuh anak karena haram
hukumnya dan.jangan takut miskin karena anak karena Allah lah yang
akan memberi rezeki kepada kita semua.
4.
Larangan mendekati perbuatan keji.
Fahisyah (perbuatan keji) bisa berarti buruk dalam perkataan atau
perbuatan. Kata jamaknya fawa-hisy. Sedangkan dalam istilah syara
adalah segala sesuatu yang sangat keburuk dan keji berupa dosa atau
maksiat.
perbuatan yang keji” yaitu dosa-dosa besar yang buruk
(ٍ‫“ )يبظٓس يُٓب ٔيب ثط‬baik yang nampak diantaranya maupun yang
sembunyi”
Maksudnya, janganlah kamu mendekati perbuatan keji yang
menampak darinya yang samar atau yang yang berkaitan dengan lahir
dan yang batin. Larangan mendekati perbuatan keji adalah lebih
madalam dari pada larangan melakukannya karena ia meliputi
larangan terhadappengantarnya dan sarananya yang menjadi jembatan
kepadanya.
Terdapat
beberapa
penafsiran
tentang
makna”Al-
Faahisyah” (perbuatan keji), sebagaimana disebut dalam ayat ini.
Namun terlepas dari perbedaan tersebut. Hal yang pasti bahwa seluruh
jenis kemaksiatan adalah perbuatan keji dan dzalim, karena perbuatan
itu adalah bentuk pengingkaran kepada Allah, bahkan sekecil apapun
jenis kemaksiatan itu.
61
Al Qur‟an Al Karim telah menyebutkan tentang haramnya
perbuatan-perbuatan keji secara berulang-ulang baik yang nampak
ataupun tersembunyi. Allah Ta‟ala berfirman:
َ ‫ظ َٓ َس ِي ُْ َٓب َٔ َيب َث‬
َ ‫ش َيب‬
‫ي ِث َغي ِْس‬
ِ َٕ َ‫ي ْانف‬
َ ‫اح‬
ِ ْ َٔ ٍَ‫ط‬
َ ‫اْلثْ َى َٔ ْان َج ْغ‬
َ ّ‫لُ ْم ِإََّ ًَب َح َّس َو َز ِث‬
َ ‫ظ ْه‬
َّ ‫ك َٔأ َ ٌْ ت ُ ْش ِس ُكٕا ِث‬
َّ ‫ع َهى‬
ِّ ‫بَّللِ َيب نَ ْى يُُ ِ َّص ْل ِث‬
ُ
َ ‫طبًَب َٔأ َ ٌْ تَمُٕنُٕا‬
ِ ّ ‫اَّللِ َيب ََّل ْان َح‬
ًٌَُٕ َ‫ت َ ْعه‬
“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji,
baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa,
melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan)
mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan
hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap
Allah apa yang tidak kamu ketahui.”(QS. Al A‟rof: 33)
Dapat disimpulkan, fahisyah adalah segala sesuatu yang sangat buruk
dan keji dan orang yang melakukan fahisyah akan dibenci oleh Allah.
5.
Larangan membunuh jiwa yang diharamkan
Tidak diragukan lagi bahwa kedudukan manusia di sisi Allah SWT
mempunyai posisi yang agung di mana Dia berfirman yang berbunyi:
ِ
ِ ‫ولََق ى ْ َرْمناَىىِن ى ِىم وَم و ََ ْلاَىىِناْ َِ ِّلَْ ى ِىم وِّلََْ ى ِم وم ِْىاَى‬
‫ِنا ْْ َعلَ ى‬
ُ َ‫ىِنا ْْ نى َىو ِّلَََِّّْْىىِن َوَ ْ ى ْلا‬
ُ ََ َ ْ َ َ ّ َ ْ ُ َ َ َ َ َ ْ
َ
ِ
‫َرثِ ٍري ِم ْْو َخلَ ْقاَِن تَى ْف ِ ًْل‬
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami
angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari
yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS.
Al-Isra: 70)
Oleh sebab itu, ditetapkan pada Bani Israil bah-wasanya barangsiapa
membunuh satu jiwa manusia seolah-olah ia membunuh manusia
seluruhnya dan sebaliknya
62
Dalam surat Al-An'am, Allah SWT berfirman:
ۖ ً ‫ُِى ْ تَى َاىىِنلَ ْوِّ أَتْى ُ َنىىِن َحىْمَم َمي ُْى ْىْ َعلَى ْىْ ُْ ْْ ۖ أَّْل تُ ْشى ِمُروِّ ِى ِ َشىْْىاًِن ۖ َوِِبلْ َوِّلِى َ نْ ِو إِ ْح َسىىِن‬
ِ ‫وَّل تَى ْقتُىلُىوِّ أَوَّلَ ُرىىْ ِنىو إِنى َىل ٍ ۖ ََْنىو نَىىم ُِ ُْْ وإِ َّْياىْ ۖ وَّل تَى ْقم ىوِّ ِّلْ َفىو‬
‫ِّح َ َنىىِن ظَ َهى َىم‬
ْ ْ ْ ْ
َ
َ َُ َ ْ ُ َ ْ ُ ْ ُ
ِ
ْ‫صىِن ُر ْْ ِى ِ لَ َالْ ُْ ْى‬
ْ ‫س ِّلِْت َحْمَم‬
ْ ‫ِّّللُ إِّْل ِِب ْْلَ ِّق ۖ ذَلِ ُْ ْْ َو‬
َ ‫نْاى َهِن َوَنِن َََّ َو ۖ َوَّل تَى ْقتُىلُوِّ ِّلاْى ْف‬
‫تَى ْا ِقلُو َن‬
Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diha-ramkan Allah
(membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar".
Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya
kamu memahami (nya).(QS. Al-An'am: 151)
Quraish Sihab berkata dalam firman Allah: janganlah kamu
membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan. Kami akan memberi
rizki kepada kamu dan kepada mereka.
Menurutku, Allah SWT telah mengharamkan pe-numpahan darah dan
pelenyapan ruh dengan keha-raman yang sangat kecuali yang memang
dikecua-likan oleh syariat. Jenis manusia di sini termasuk manusia
muslim, kafir, kafir dalam perjanjian, kafir yang minta perlindungan,
dan ahli dzimah.
Allah telah menjaga jiwa manusia sehingga tidak boleh
seorang melenyapkan nyawa orang lain tanpa ada kebolehan dari
syariat Allah.
63
Sungguh agama Islam sangat keras tentang larangan
membunuh jiwa tanpa hak, pelaku pembunuhan menurut islam
merupakan kejahatan yang luar biasa jahatnya.
Dapat disimpulkan, bahwa haram hukumnya membunuh
jiwa yang diharamkan baik laki-laki atau perempuan, besar atau
kecil.
ُ َ ‫ع ٍُ َحتَّى يَ ْجهُ َغ أ‬
‫شدَُِّ َٔأ َ ْٔفُٕا ْان َك ْي َم‬
َ ‫ي أ َ ْح‬
َ ِْ ‫َٔ ََّل تَ ْم َسثُٕا َيب َل ْانيَ ِت ِيى ِإ ََّّل ِثبنَّتِي‬
‫عب ِإ ََّّل ُٔ ْظ َع َٓب َٔ ِإذَا لُ ْهت ُ ْى فَب ْع ِدنُٕا َٔنَ ْٕ َكبٌَ ذَا‬
ِ ‫َٔ ْان ًِيصَ اٌَ ِث ْبن ِمع‬
ً ‫ف ََ ْف‬
ُ ّ‫ْظ ََّل َُ َك ِه‬
)151( ‫صب ُك ْى ِث ِّ نَ َعهَّ ُك ْى‬
َّ َٔ ‫َّلل أ َ ْٔفُٕا ذَ ِن ُك ْى‬
ِ َّ ‫لُ ْس َثى َٔ ِث َع ْٓ ِد تَرَ َّك ُسٌَٔ ا‬
(152) Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara
yang lebih bermanfa`at, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah
takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban
kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu
berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah
kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan
Allah kepadamu agar kamu ingat,
Nilai-nilai yang terdapat dalam surat al-an-am ayat 152 adalah:
1. ‫يى‬
ِ ِ‫ْان َيت‬
‫َٔ ََّل ت َ ْم َسثُٕا َيب َل‬
Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim
Yatim menurut bahasa berarti tidak punya ayah. Kata jamak dari
yatim adalah aitam atau yatama. Dalam istilah syariat, kata Al-Jauhari,
64
yatim itu ketia-daan orang tua dari pihak ayah sedangkan dalam binatang
dari pihak ibu.
Dalam surat al-An‟am ayat 152, Allah memberikan wasiat agar
manusia memelihara yatim dan menjaga hartanya. Qurais Shihab berkata:
dan janganlah kamu dekati apalagi menggunakan secara tidak sah harta
anak yatim, kecuali dengan cara yang terbaik shingga dapat menjamin
keberadaan, bahkan pengembangan harta itu, dan hendaklah pemeliharaan
secara baik itu berlanjut hingga ia, yakni anak yatim itu, mencapai
kedewasaannya dan menerima dari kamu harta mereka untuk mereka
kelola sendiri.
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: "Allah SWT menyuruh menyerahkan
harta anak yatim kepada mereka secara keseluruhan dan melarang
memakannya atau mencampurnya dengan harta kalian, karena itu Dia
berfirman: "jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk," dan
firman-Nya: "dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu."
Ayat diatas tentang larangan memakan harta anak yatim.
Perkataan yang digunakan adalah „janganlah kamu dekati‟. Ini bermaksud
jangan dekati untuk mengurus pun harta itu. Kalau kita rasa kita tidak
dapat beramanah dengan harta itu, atau tidak berkemampuan untuk
mengurus harta itu, maka jangan coba-coba untuk mengurus harta itu
Sebagai contoh, kalau kita ini jenis orang yang memang sibuk dengan
kerja lain, maka tentunya kita tidak mampu untuk menjadi pengurus untuk
65
harta itu. Maka lebih baik untuk kita berikan kepada orang lain yang dapat
menguruskannya.
Allah melarang kita dekati harta anak yatim kerana bila kita hampir
dengan harta itu akan jadi mudah untuk kita mencurinya, atau termakan
harta itu. Islam amat berhati-hati dalam hal ini.
Anak yatim adalah anak yang kematian ayah sebelum dia baligh.
Dia dalam keadaan yang lemah. Seorang anak yang kecil dan belum baligh
tidak diberikan untuk pegang harta peninggalan ayahnya. Kalau dia yang
pegang di takutkan ada yang mencuri, terkena tipu dan sebagainya. Maka,
sepatutnya ada orang yang dewasa yang menjaga hartanya baagi pihaknya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa memakan harta anak yatim
hukumnya haram dan tidak boleh memelihara dan menjaga harta anak
yatim kecuali orang yang dapat menjaga hukum Allah SWT, yang akan
mengawasinya.
2. Tidak curang dalam menakar dan menimbang.
Allah SWT menyuruh mencukupkan (menyem-purnakan) timbangan dan
perintah
atas
sesuatu
ber-arti
melarang
atas
lawannya.
Lawan
mencukupkan adalah mengurangi. Allah SWT berfirman:
ِ ‫َٔأ َ ْٔفُٕا ْان َك ْي َم َٔ ْان ًِيصَ اٌَ ثِ ْبن ِمع‬
ََّ‫عب إِ ََّّل ُٔ ْظع‬
ً ‫ف ََ ْف‬
ُ ّ‫ْظ ََّل َُ َك ِه‬
Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan de-ngan adil. Kami tidak
memikulkan
beban
kepada
seseorang
melainkan
sekedar
kesanggupannya. (QS. Al-An‟am;152)
Dalil lain yang menunjukkan hal diatas adalah firman Allah SWT:
ِ
ِ
ِ ََّ‫َوأ َْوُوِّ ِّلْ َْْْ إِذَِّ رِْلتُ ْْ َوِنُوِّ ِِبلْ ِق ْس‬
‫َح َس ُو ََتْ ِو ًنل‬
َ ‫ِنس ِّلْ ُم ْستَقْ ِْ ۖ ذَل‬
ْ ‫ك َخْْىم َوأ‬
َ
66
Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu me-nakar dan timbanglah
dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan
lebih baik akibatnya. (QS. Al Isra‟:35)
Ibnu
Katsir
Rahimahullah
berkata:
"Sempurna-kanlah
timbangan
apabila kalian menimbang yakni dengan tidak menguranginya."
Apabila digunakan perkataan ٌَ‫ ْان َكيْب َم َٔ ْان ًِيبصَ ا‬bermaksud setiap cara
timbangan dan sukatan dimasukkan ke dalamnya. Kerana mungkin zaman
sekarang, cara ukuran sudah semakin canggih, maka apapun cara
timbangan, kita perlu memastikan timbangan itu tepat.
Ini adalah peringatan kepada peniaga-peniaga kita yang ada di
kalangan mereka yang mengurangkan timbangan yang diberikan kepada
pelanggan-pelanggan mereka. Macam-macam cara mereka gunakan untuk
mengurangkan timbangan itu. Mungkin mereka kurangkan sedikit sahaja
setiap kali, tapi kalau dicampur semua, maka lama kelamaan banyak juga
habuan untuk mereka. Dengan keuntungan lebihan mereka yang sedikit
itulah yang akan memasukkan mereka ke dalam neraka.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa segala yang sudah
dijelaskan dalam al-Qur‟an maka kita semua wajib menjalaninya dan
khususnya bagi orang yang berdagang harus mengetahui hukum-hukum
yang berkaitan dengan berdagang.
3. Agar Berkata Jujur
Allah berfirman:
‫َٔ ِإذَا لُ ْهت ُ ْى فَب ْع ِدنُٕا َٔنَ ْٕ َكبٌَ ذَا لُ ْس َثى‬
67
“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun
dia adalah kerabat (mu),”(QS. Al An‟am: 152)
Qurais Shihab berkata: Allah SWT memperhatikan keadilan dengan firmanNya "dan apabila kamu berkata maka hendaklah berlaku adil." Yakni
apabila kalian memutuskan suatu perkara di antara manusia maka kalian
berbicara, katakanlah yang benar di antara mereka dan berlaku adillah dan
janganlah melampaui batas meskipun orang yang menghadapi kebenaran
dan hukum itu kerabatmu. Dan janganlah sampai kerabat dekat dan teman
dekat yang kamu adili dengan orang lain melalaikan kamu dari
mengatakan yang benar dalam apa yang kamu tetapkan terhadap mereka.
Ibnu Katsir berkata: Allah SWT menyuruh ber-laku adil dalam perbuatan dan
perkataan baik terha-dap terhadap kerabat maupun bukan kerabat dan
Allah SWT juga menyuruh berlaku adil terhadap setiap orang disetiap
waktu dan keadaan.
Seorang hakim atau wakilnya atau orang yang melakukan
perbaikan (islah) antara manusia harus cenderung dan bersikap jeli dalam
menetapkan kepu-tusan antara lawan, maka ia melihat dengan saksama
dan tidak bergesa-gesa dalam memutuskan suatu hukum sehinga tidak
menyesal dikemidian hari. Oleh karena itu Allah SWT berfirman:
ِْ
ٍ ِ
ِ
ِ
‫صَِ َُوِّ َعلَ َنِن‬
ْ ُ‫نو َوناُوِّ إِ ْن َجِنءَ ُر ْْ َِنسق ِاَىٍََإ َىتَىََىْىاُوِّ أَ ْن تُصَُْوِّ َِى ْوًنِن ِبَ َهِنلَة َىت‬
َ ‫ََّي أَنىي َهِن ِّلذ‬
ِِ
‫ي‬
َ ‫َى َا ْلتُ ْْ َ َن‬
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepa-damu orang fasik
membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu
tidak menim-pakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa
68
mengetahui keadaannya yang menyebabkan ka-mu menyesal atas
perbuatanmu.(QS.Al-Hjurat:6)
Ibnu Katsir berkata: Allah SWT menyuruh agar tsabat (mengklarifikasi)
berita orang fasik dan agar berhati-hati darinya sehingga tidak menetapkan
hu-kum berdasarkan berita itu yang pada hakikatnya merupakan suatu
kedustaan atau kesalahan.
Maksudnya adalah: Apabila kalian mengatakan suatu perkataan
yang sifatnya memutuskan atau menghukumi atau suatu persaksian atau
meluruskan suatu perkara maka hendaknya ucapan kalian itu bersumber
dari kebenaran dan keadilan, tanpa cenderung kepada hawa nafsu atau
menyimpang karena suatu manfaat tertentu. Yang demikian karena
kebenaran lebih berhak untuk diikuti.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Pada wasiat ini Allah
meminta dari kita agar kita selalu bersama kejujuran dalam segala ucapan,
seperti apapun hubungan kita dengan orang yang kita bersaksi untuknya
atau kita hukumi atasnya.
4.
Menetapi perjanjian terhadap Allah.
Menepati atau memenuhi janji berarti melaksanakan apa yang
diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya, menjauhi apa yang dilarang
Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT telah menyuruh kita untuk
menepati janji dalam surat Al-An'am, yang artinya:
Dan penuhilah janji Allah. (QS.Al-An‟am:152)
69
Imam Al-Qurthubi berkata: "dan penuhilah janji Allah," adalah
bersifat umum terhadap semua apa yang dijanjikan Allah kepada hambaNya dan mungkin bermaksud semua apa diakadkan antara dua insan dan
akad atau janji itu dinisbatkan kepada Allah SWT dari segi keharusan
menjaga dan memenuhinya.
Adapun dalil dan argumentasi yang menunjuk-kan atas hal tersebut adalah
firman Allah Azza wa Jalla:
ِ
ِ
ِ َ ‫وَّل تَى ْقم وِّ ن‬
َ ‫َش ْهُ ۖ َوأ َْوُوِّ ِِبلْ َا ْه ۖ إِ ْن ِّلْ َا ْه‬
ُ ‫َح َس ُو َح َّْت نىََْىلُ َغ أ‬
ْ ‫ِنل ِّلَْْتْ ِْ إِّْل ِِبلِْت ا َي أ‬
َ َُ َ
‫َرِن َن َن ْساُ ًوّل‬
Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan
jawabnya. (Yakni manu-sia diminta pertanggung jawabannya).(QS. AlIsra: 34)
Tidak diragukan lagi bahwa semua janji adalah benar-benar penting,
bagaimana tidak padahal Allah SWT berfirman:
ِ
ِ
ِ َ ‫ََّل تَى ْقم وِّ ن‬
َ ‫َش ْهُ ۖ َوأ َْوُوِّ ِِبلْ َا ْه ۖ إِ ْن ِّلْ َا ْه‬
ُ ‫َح َس ُو َح َّْت نىََْىلُ َغ أ‬
ْ ‫ِنل ِّلَْْتْ ِْ إِّْل ِِبلِْت ا َي أ‬
َ َُ َ
‫َرِن َن َن ْساُ ًوّل‬
Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung-an jawabnya (QS.
Al-Isra:34)
Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan bahwa firman Allah
SWT: "dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu,
sesudah meneguhkannya," adalah larangan membatalkan janji apabila
70
telah diteguhkan karena sumpah yang dimaksud juga termasuk dalam
kategori perjanjian dan janji itu harus ditepati dan dipenuhi.
Dalam pembahasan diatas dapat disimpulkan siapa saja yang
berjanji harus ditepati dan dipenuhi karena berjanji adalah hutang dan
orang yang tidak menepati janjinya tanda-tanda orang munafik.
ْ ‫عب‬
ٍ‫ب‬
ُّ ‫اطي ُي ْعبت َ ِمي ًًب فَبببت َّ ِجعُُِٕ َٔ ََّل تَت َّ ِجعُببٕا ان‬
ِ ‫صب َبس‬
َ ‫عبجُ َم فَتَفَب َّبسقَ ِث ُكب ْى‬
ِ ‫َٔأ َ ٌَّ َْبرَا‬
)151( ٌَٕ‫صببببببببببببب ُك ْى ِثبببببببببببب ِّ نَ َعهَّ ُكبببببببببببب ْى تَتَّمُبببببببببببب‬
َّ َٔ ‫ظبببببببببببب ِجي ِه ِّ ذَ ِن ُكبببببببببببب ْى‬
َ
(153) Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang
lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan
(yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari
jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar
kamu bertakwa.
Nilai yang tekandung dalam surat al-an‟am ayat 153 adalah:
1. Hanya menempuh jalan Allah yang lurus.
Arti shirat al-mustaqim adalah Al-Quran Al-Karim dan Sunnah yang
suci, atau Islam yang bijak, atau syariat yang lurus, atau agama yang
lurus (hanif). Semuanya adalah satu makna. Dalilnya adalah firman
Allah SWT dalam surat Al-An‟am:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus,
maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang
lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.
Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu
bertakwa. (QS. Al-An'am: 153)
71
Qurais Shihab mengatakan bahwa yang dimaksud dengan jalan-Nya
adalah jalan dan agama-Nya yang Dia ridhai untuk hamba-Nya. Mustaqiman (lurus) artinya lurus dan tidak ada kebeng-kokan dari
kebenaran. Kemudian Qurais Shihab juga berkata: Shirat artinya jalan
yang dimiliki Islam dan lurus tegak tidak ada kebengkokan di
dalamnya. Karena itu kita diperintah untuk mengikuti jalan yang
ditempuh di atas lisan Nabi-Nya dan syariat-Nya sehingga akhirnya
adalah surga.
Jadi dapat disimpulkan, yang dimaksud dengan berjalan di atas shirat
al-mustaqim adalah menjadikan Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya
sebagai jalan kehidupan (way of life) serta pemahaman generasi salaf
terdahulu, baik akidah, ilmu pengetahuan, amal, maupun cara dan gaya
hidup.
Dalil yang menguatkan makna ini. Allah SWT berfirman:
َ ‫ص َسا‬
َ ‫انص َسا‬
‫ة‬
ُ ‫عهَ ْي ِٓ ْى َغي ِْس ْان ًَ ْغ‬
َ ًْ ‫ط انَّرِيٍَ أ َ َْ َع‬
ّ ِ ‫ا ْْ ِدََب‬
ِ ٕ‫ض‬
َ ‫ت‬
ِ .‫يى‬
َ ‫ط ْان ًُ ْعت َ ِم‬
ٍَ‫عهَ ْي ِٓ ْى َٔ ََّل انضَّب ِنّي‬
َ
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang
telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan)
mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS.
Al-Fatihah: 6-7)
72
B. Aplikasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Q.S Al-An’am ayat 151153 dalam Pendidikan Agama Islam.
1. Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Agama Islam
Hubungan antara pendidikan karakter dengan Pendidikan Agama
Islam dapat dilihat dalam dua sisi, yakni materi dan proses pembelajaran.
Dari segi materi Pendidikan Agama Islam dapat tercakup nilai
pendidikan karakter.
Sedangkan dalam proses pembelajaran, guru dalam mengajar
Pendidikan Agama Islam ke peserta didik memuat pendidikan karakter.
Bahkan guru dalam pelaksanaan pendidikan karakter dimulai sejak guru
membuat rencana pembelajaran (RPP).
2. Pelaksanaan Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Agama
Islam
Pelaksanaan Pendidikan Karakter dalam PAI menggunakan dua
cara, yakni intrakulikuler dan ekstrakulikuler. Adapun pelaksanaan
Pendidikan Karakter dalam PAI adalah memasukkan delapan belas nilai
karakter dalam semua materi pembelajaran PAI. Secara umum aspek
materi yang disampaikan dalam PAI adalah: al-Quran Hadis, Akidah,
Akhlak, Fiqh, Tarikh dan Kebudayaan Islam.
Dari kelima aspek materi dalam PAI ini dapat dimasukkan delapan
belas nilai karakter, yaitu:
a. Religius
73
Merupakan sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran
agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama
lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
b. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai
orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan
pekerjaan
c. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis,
pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dengan dirinya.
d. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai
ketentuan dan peraturan.
e. Kerja keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi
berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas
dengan sebaik-baiknya.
f. Kreatif
dalam melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari
sesuatu yang telah dimiliki.
g. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung pada orang lain
dalam menyelesaikan tugas-tugas.
74
h. Demokratis
Cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan
kewajiban dirinya dan orang lain.
i. Rasa ingin tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih
mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan
didengar.
j. Semangat kebangsaan
Cara berpikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan
kepentingan bangsa dan Negara diatas kepentingan diri dan
kelompoknya.
k. Cinta tanah air
Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan,
kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan
fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik dan bangsa.
l. Menghargai prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan
sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui serta
menghormati keberhasilan orang lain.
m. Bersahabat/komunikatif
indakan yang memperlihatkan senang berbicara, bergaul, dan bekerja
sama dengan orang lain.
75
n. Cinta damai
Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa
senang dan aman atas kehadiran dirinya.
o. Gemar membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang
memberikan kebajikan bagi dirinya.
p. Peduli lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu ingin berupaya mencegah kerusakan
pada lingkungan alam disekitarnya, dan mengembangkan upayaupaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
q. Peduli sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan kepada orang
lain dan masyarakat yang membutuhkan.
r. Tanggung jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan
kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan terhadap diri sendiri,
masyarakat, lingkungan (alam,sosial, dan budaya), Negara dan Tuhan
Yang Maha Esa ( Muchlas Samani, 2011 : 52)
3. Perencanaan Pembelajaran
a. Pengembangan Silabus yang Mengintegrasikan Nilai/Karakter
Pendidikan karakter membutuhkan proses internalisasi nilai-nilai. Untuk itu
diperlukan pembiasaan diri untuk menanamkannya ke dalam hati
sehingga tumbuh dari dalam. Nilai-nilai karakter seperti jujur,
76
menghargai orang lain, disiplin, amanah, sabar dan lain sebagainya
dapat diintegrasikan dan diinternalisasikan ke dalam seluruh kegiatan
sekolah baik melalui kegiatan intrakulikuler maupun ekstrakulikuler.
Langkah pengintegrasian pendidikan karakter dapat dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Mendeskripsikan kompetensi dasar tiap pembelajaran
2) Mengidentifikasi aspek-aspek atau materi-materi pendidikan karakter
yang diintegrasikan ke dalam pembelajaran
3) Mengintegrasikan butir-butir karakter/nilai ke dalam kompetensi dasar
(materi pembelajaran) yang dipandang relevan atau ada kaitannya.
4) Melaksanakan pembelajaran
5) Menentukan metode pembelajaran
6) Menentukan evaluasi pembelajaran
7) Menentukan sumber belajar (Chumi Zahrotun, 2011: 19)
b. Model Penyusunan RPP yang Mengintegrasikan Nilai/Karakter
I. Identitas Rencana Pembelajaran
Mata Pelajaran : …………………………………….
Materi Pokok : ……………………………………..
Kelas/Smt : ……………………………………........
Pertemuan : …………………………………………
Waktu : ……………………………………………...
II.Kemampuan Dasar/Tujuan
Standar Kompetensi
: ………………………..
77
Kompetensi Dasar
: ………………………..
Indikator
: ………………………..
III. Prosedur dan Materi
Riview :
Overview :
Presentasion,
Tabel 2.1
No.
Kegiatan Belajar
1
Telling/ Moral Knowing:
Waktu
(menit)
Aspek Karakter/ Nilai yang
dikembangkan
Contoh:
- Amanah (dipercaya)
- Disiplin
2
Showing/ Moral Loving:
- Amanah (dipercaya)
- Disiplin
3
Doing/ Moral Doing:
- Amanah (dipercaya)
- Disiplin
- Menghargai orang lain
78
IV. Bahan/Media/Alat
V. Assessment, (Instrumen dan prosedur yang digunakan unutk
menilai pencapaian belajar misalnya: tes tulis, kinerja produk dll).
4.
Pelaksanaan Proses Pembelajaran
Dalam proses pemebelajaran pendidikan karakter, setidaknya ada tiga
tahapan strategi yang harus dilalui, yaitu:
1. Moral Knowing/ Learning to know
Tahapan ini merupakan langkah pertama dalam pendidikan karakter. Dalam
tahapan ini tujuan dorientasikan pada penguasan pengetahuan tentang
nilai-nilai. Siswa harus mampu: a) membedakan nilai-nilai akhlak mulia
dan akhlak tercela serta nilai-nilai unuversal; b) memahami secara logis
dan rasional (bukan secara dogmatif dan doktriner) pentingnya akhlak
mulia dan bahaya akhlak tercela dalam kehidupan; c) mengenal sosok
Nabi Muhammad SAW. Sebagai figur teladan akhlak mulia melalui
hadits-hadits dan sunahnya.
2. Moral Loving/ Moral Feeling
mencintai dengan melayani orang lain. Belajar mencintai dengan cinta
tanpa syarat. Tahapan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa cinta
dan rasa butuh terhadap nilai-nilai akhlak mulia. Dalam tahapan ini
yang menjadi sasaran guru adalah dimensi emosional siswa, hati, atau
jiwa, bukan bagi akal, rasio dan logika. Guru menyentuh emosi siswa
sehingga tumbuh kesadaran, keinginan dan kebutuhan sehingga siswa
mampu berkata kepada dirinya sendiri, “Iya, saya harus seperti ini...”
79
atau “Saya perlu mempraktikkan akhlak ini...” untuk mencapai tahapan
ini guru bisa memasukinya dengan kisah-kisah yang menyentuh hati,
modelling. Melalui tahapan ini pun siswa diharapkan mampu menilai
dirinya (muhasabah), semakin tahu kekurangan-kekurangannya.
3. Moral Doing/ Learning to do
Inilah puncak keberhasilan mata pelajaran akhlak, siswa mempraktikkan
nilai-nilai akhlak mulia itu dalam perilakunya sehari-hari. Siswa
menjadi semakin sopan, ramah, hormat, penyayang, jujur, disiplin,
cinta, dan kasih sayang, adil serta murah hati dan seterusnya. Selama
perubahan akhlak belum terlihat dalam perilaku anak walaupun sedikit,
selama itu pula kita memiliki setumpuk pertanyaan yang harus selalu
dicari jawabannya. Contoh atau teladan adalah guru yang paling baik
dalam menanamkan nilai. Siapa kita dan apa yang kita berikan.
Tindakan selanjutnya adalah pembiasaan dan pemotivasian. (Abdul
Majid, 2013: 112-115)
menurut Abdul Majid (2013: 112-144) dalam bukunya yang
berjudul ”Pendidikan Karakter perspektif Islam”,Selain Strategi, juga
diperlukan model pembelajaran untuk menunjang maksimalnya proses
pembelajaran, yaitu:
1) Model Tadzkirah
Diharapkan mampu menghantarkan murid agar senantiasa memupuk,
memelihara dan menumbuhkan rasa keimanan kepada Allah yang
dibingkai dengan ibadah yang ikhlas. Tadzkirah mempunyai makna:
80
a) T: Tunjukkan teladan
b) A: Arahkan (berikan bimbingan);
c) D: Dorongan (berikan motovasi/reinforcement);
d) Z: Zakiyah (murni/bersih-tanamkan niat yang tulus);
e) K: Kontinuitas (sebuah proses pembiasaan untuk belajar, bersikap
dan berbuat)
f) I: Ingatkan
g) R: Repetisi (pengulangan);
h) A (O): Organisasikan;
i) H: Heart – hati (sentuhlah hatinya) .
2) Model Istiqomah
Model ini diadopsi dari tulisan B.S Wibowo dalam buku Tarbiyah
menjawab tantangan. Adapun modelnya, yaitu:
a.
I:
Imagination.
Guru
harus
mampu
mengajar
dengan
membangkitkan imajinasi jauh ke depan, baik itu manfaat ilmu,
mapun menciptakan teknologi dari yang tidak ada menjadi ada
guna kemakmuran bersama.
b.
S: Student centre. Guru mengajar dengan cara inquiri, yakni
membantu peserta belajar untuk berperan aktif dalam belajar.
81
c.
T: Teknologi. Guru memanfaatkan teknologi belajar multi indrawi
sehingga membuat anak senang dalam belajar dan informasi dapat
dengan mudah dipanggil kembali.
d.
I: Intervention. Guru mendesain proses intervensi terstruktur pada
peserta belajar, atau mampu mengkritisi pengalaman belajar
siswanya, sperti: study kasus, game, simulasi, outing atau
outbond.
e.
Q: Question and Answers. Guru hendaknya mampu mengajar
dengan cara mendorong rasa ingin tahu, merumuskan pertanyaan
rasa ingin tahu (hipotesa), merancang cara menjawab rasa ingin
tahu dan menemukan jawaban. Jawaban akhir adalah ilmu,
perbendaharaan dan kosa kata yang dimiliki.
f.
O: Organiation. Guru yang baling siap mengajar adalah yang
paling siap materi. Maka guru sebaiknya turut mengontrol pola
pengorganisasian ilmu yang telah diperoleh oleh peserta didik.
g.
M: Motivation. Untuk dapat memberikan motivasi, seorang guru
harus memiliki motivasi yang lebih. Motivasi sangat dipengaruhi
oleh aspek emosi. Sebelum belajar, maka tentukanlah guru
memilii kemampuan untuk menguasai tekhnik presentasi yang
optimal dan menjadi quantum guru.
h.
A: Application. Guru hendaknya mampu memvisualisasikan ilmu
pengetahuan pada dunia praktis atau mampu berfikir lateral untuk
82
mengembangkan aplikasi ilmu tersebut dalam berbagai bidang
kehidupan.
i.
H: Heart, Hepar, Jantung, Hati, Spiritual. Guru harus mampu
mendidik dengan turut menyertakan nilai-nilai spiritual, karena
ini merupakan faktor paling mendasar untuk kesuksesan jangka
panjang. Guru harus mampu membangkitkan kekuatan spiritual
muridnya.
3) Model Iqra-Fikir-Dzikir
Model dengan cara iqra learning dikutip dari tulisan B.S Wibowo,
yakni: I: Inquiry (penyelidikan), Q: Question (bertanya), R: Repeat
(mengulang, A: Action (amal). Langkah selanjutnya adalah menerapkan
FIKIR sebagai makna dari amal. FIKIR dalam hal ini mengandung
pengertian sebagai berikut:
a) F = Fun: yaitu belajar unutk mengaktualisasikan diri sebagai individu
dengan kepribadian yang memiliki timbangan dan bertanggung jawab
pribadi. Terciptanya pembelajaran yang menyenangkan, tidak
tertekan, gembira, flow dan enjoy.
b) I = Ijtihad. Kita akan berada di puncak belajar ketika mampu
melakukan sintesa atas seluruh kerangka pemikiran yang telah kita
miliki, kemudian muncul ide baru yang unik.
c) K = Konsep. Belajar mengkumpulkan konsep, rumusan, model, pola
dan teknik sebagai dasar untuk mengembangkannya dalam konteks
yang lebih luas.
83
d) I = Imajinasi. Belajar membangun imajinasi untuk menciptakan
sesuatu yang benar-benar baru.
e) R = Rapi. Guru harus mampu mendorong siswa untuk memiliki
catatan yang rapi, lengkap dan baik.
DZIKIR.
Menerapkan dzikir; yang merupakan makna dari fikir, Dzikir
dalam hal ini diartikan sebagai do‟a, Ziarah, iman, komitmen, ikrar,
dan realitas.
4) Model Reflektif
Adalah model pembelajaran pendidikan karakter yang diarahkan
pada pemahaman terhadap makna dan nilai yang terkandung di balik
teori, fakta, fenomena, informasi atau benda yang menjadi bahan ajar
dalam suatu mata pelajaran.
5
Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi merupakan upaya untuk mengetahui keadaan suatu obyek
dengan menggunakan alat (instrument) tertentu dan membandingkan
hasilnya dengan standar tertentu untuk memperoleh kesimpulan (Dharma,
2007: 119). Dalam pendidikan karakter, evaluasi dilakukan untuk mengukur
apakah anak sudah memiliki satu atau sekelompok karakter yang ditetapkan
oleh sekolah dalam kurun waktu tertentu. Karena itu, substansi evaluasi
dalam konteks pendidikan karakter adalah upaya membandingkan perilaku
anak dengan standar (indikator) karakter yang ditetapkan oleh guru atau
sekolah.
84
Evaluasi pendidikan karakter ditujukan untuk (Dharma Kesuma, 2007: 138):
a. Mengetahui kemajuan hasil belajar dalam bentuk kepemilikan sejumlah
indikator karakter tertentu pada anak dalam kurun waktu tertentu.
b. Mengetahui kekurangan dan kelebihan desain pembelajaran yang dibuat
oleh guru dan Mengetahui tingkat efektifitas proses pembelajaran yang
dialami oleh anak, baik pada setting kelas, sekolah, maupun rumah.
Hasil evaluasi tidak akan memiliki dampak yang baik jika tidak
difungsikan semestinya. Ada tiga hal penting yang menjadi evaluasi
pendidikan karakter ( Dharma Kesuma,2007:138 ) yaitu:
1) Berfungsi untuk mengidentifikasi dan mengembangkan sistem
pengajaran yang di desain oleh guru.
2)
Berfungsi untuk menjadi alat kendali dalam konteks manajemen
sekolah.
3) Berfungsi untuk menjadi bahan pembinaan lebih lanjut bagi guru.
85
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan sumber-sumber yang telah peneliti kumpulkan dan analisis
tentang nilai-nilai pendidikan karakter dalam Q.S Al-An‟ām ayat 151-153,
maka ada beberapa hal yang dapat disimpulkan antara lain:
1.
Nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam Q.S. Al-An‟ām ayat
151-154 adalah: nilai takwa, kasih sayang, tanggung jawab, cinta damai,
peduli sosial, dan adil.
2.
Aplikasi nilai-nilai pendidikan karakter tersebut dalam PAI dapat
diaplikasikan melalui pembelajaran dikelas, guru sebagai model dari
karakter yang diajarkan dan pembentukan lingkungan sekolah yang
berkarakter. Dalam proses pembelajaran pendidikan karakter ada tiga
tahapan strategi yang harus dilalui yaitu moral knowing, moral loving dan
moral doing. Adapun model-model yang digunakan yang cocok dengan
nilai-nilai karakter yang penulis teliti, yaitu model tadzkirah, model
Istiqomah, model iqra-fikir-dzikir dan refleksi.
86
B. Saran-Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, kiranya penulis akan memberikan sedikit saran
yang dapat menjadi bahan masukan bagi pelaksanaan pendidikan karakter
untuk peningkatan kualitas pendidikan. Beberapa saran yang dapat penulis
sampaikan antara lain:
1.
Bagi pendidik
Pendidik menempati posisi utama dalam pendidikan karakter sebab
pendidik merupakan model dari nilai karakter yang diajarkannya. Selain
pendidik, faktor lingkungan pendidikan juga sangat mempengaruhi
keberhasilan
pendidikan
karakter,
serta
mendukung
terwujudnya
internalisasi nilai-nilai karakter dalam diri peserta didik. Maka dari itu
pendidik harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk menjadi
model dari nilai-nilai karakter yang diajarkan,
2.
Bagi Sekolah
Sekolah sebagai lingkungan pendidikan harus dibentuk seideal
mungkin bagi internalisasi nilai-nilai karakter dalam diri peserta didik.
Pembentukaan lingkungan sekolah yang ideal dapat dilakukan dengan
menerapkan tata tertib yang tidak hanya berlaku bagi peserta didik, tetapi
juga berlaku bagi semua warga sekolah.
C. Kata Penutup
Mengucap syukur Alkhamdulilah kehadirat Allah SWT, atas rahmat,
hidayah dan inayah-Nya. Hanya dengan pertolongan, serta kekuatan yang
87
diberikan oleh- Nya lah akhirnya penulis mampu menyelesaikan penulisan
skripsi ini.
Penulisan skripsi ini sebagai bentuk pengabdian, rasa syukur, serta
keprihatinan penulis terhadap keadaan moral kaum muda zaman sekarang,
yang
pandai
dalam
pengetahuan
namun kurang bisa
mengamalkan
pengetahuannya. Dalam penulisan skripsi ini penulis telah berusaha
semaksimal mungkin, akan tetapi penulis menyadari kelemahan manusia, oleh
karena itu masih banyak terdapat kekurangan serta kesalahan disana sini, baik
dari segi redaksi maupun isi. semoga penulisan skripsi ini dapat memberikan
manfaat serta mendapatkan ridha Allah SWT. Amin.
88
DAFTAR PUSTAKA
Bagus, Lorens., Kamus Filsafat Jakarta: Gramedia, 2000
Budihardjo. 2012. Pembahasan Ilmu-ilmu Al-Qur‟an. Yogyakarta: Lokus.
Darmiyatun, Suryatri dan Daryanto, Implementasi Pendidikan Karakter di
Sekolah, Yogyakarta: Gava Media, 2013
Jawaz. Yazid Bin Abdul Qadir.2009. Syarah dan „Aqidah Ahlus Sunah
Wal Jama‟ah. Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi‟i
Majid, Abdul dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi
(Konsep Dan Implementasi Kurikulum 2004), Bandung: Remaja Rosyda
Karya, 2011.
_______, Pendidikan Karakter perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosyda Karya,
2013.
Margiono.2011. Akidah Akhlak. Jakarta:yudhistira
Muhaimin, “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam”, Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 2007.
_______, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan
Agama Islam di Sekolah, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002
Mulyana, Rohmat, Mengartikulasik an Pendidikan Nilai, Bandung: Alfabeta,
2004.
Munir, Abdullah. 2010. Pendidikan Karakter Membangun Karakter Anak Sejak
dari Rumah. Yogyakarta: PT Bintang Pustaka Abadi.
Muslich, Mansur. 2011.Pendidikan Karakter Menjawab tantangan Krisis
Multidimensional.
Nazarudin., Manajemen Pembelajaran: Implementasi Konsep, Karakteristik dan
Metodologi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum, Yogyakarta:
Teras, 2007.
Nurdin, Muslim dkk, Moral dan Kognisi Islam, Bandung: Alfabeta, 2008.
Poerwadarminta., Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta: Balai Pustaka, 1997
Rahman ,Roli Abdul. 2009. Menjaga Akidah dan Akhlak. Solo: Tiga Serangkai
Pustaka Mandiri
89
Samani, Muchlas & Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter,
Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011.
Sanjaya, Wina., Teori dan Perkembangan anak. Jakarta: Gramedia Citra, 2008
Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur‟an, Bandung: PT. Mizan Pustaka,
2007.
_______, Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, Bandung: Mizan, 1994.
_______,Membumikan Al-Qur‟an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan
Masyarakat, Bandung: Mizan, 1994.
_______,Tafsir Al Misbah, Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur‟an vol 1-15,
Jakarta: Lentera Hati, 2011.
_______,Wawasan Al Qur‟an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat,
Bandung: Mizan Pustaka, 2007.
Sulistyowati, Endah, Implementasi Kurikulum Pendidikan Karakter, Yogyakarta:
Citra Aji Parama, 2012.
Syafri, Ulil Amri, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur‟an, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2012.
Zuchdi, Darmiyati. 2009. Pendidikan Karakter grand Design dan Nilai-nilai
Target. Yogyakarta: UNY Press.
_______, 2011. Pendidikan Karakter dalam Perspektif Teori dan Praktik.
Yogyakarta: UNY Press.
Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
_______,Metodik Khusus Pendidikan Agama, Surabaya: Usaha Nasional, 1977.
90
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DATA PRIBADI
1.
Nama Lengkap
: Zahra Ridho Hasanah
2.
NIM
: 111-12-128
3.
Tempat, Tanggal Lahir
: Kab. Semarang, 2 Januari 1995
4.
Alamat
: Mendiro 04/07, Kalongan, Ungaran Timur
5.
Jenis Kelamin
: Perempuan
6.
Agama
: Islam
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
2006 Lulus MI Mendiro
2.
2009 Lulus MTs. Diponegoro Mendiro
3.
2012 Lulus MA AL-Manar Bener, Salatiga
Lokasi kerja
1.
Guru RA Mendiro, kec. Ungaran Timur, Kab. Semarang.
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
NAMA KEGIATAN
OPAK STAIN Salatiga 2012
dengan tema “Progresifitas
Kaum Muda, Kunci
Perubahan Indonesia”
Orientasi Pengenalan
Akademik dan
Kemahasiswaan (OPAK)
Jurusan Tarbiyah STAIN
Salatiga “mewujudkan
gerakan mahasiswa tarbiyah
sebagai tonggak kebangkitan
pendidikan indonesia”
Orientasi Dasar Keislaman
(ODK)”membangun
karakter keislaman bertaraf
internasional di era
globalisasi bahasa”
Entrepreneurship dan
perkoprasian 2012
Achicvment Motivation
Training “bangun karakter
raih prestasi”
Library User Education
(pendidikan pemakai
perpustakaan)
Dalam Acara IslamicPublic
Speaking Training
Dialog Pubik dan
Silaturahim
Nasional”kemanakah arah
kebijakan BBM?
Mendorong subsidi BBM
untuk rakyat”
Tabligh Akbar”tafsir tematik
dalam upaya menjawab
persoalan israel dan
palestina landasan QS. AlFath: 26-27”
Seminar Nasional
“HIV/AIDS Bukan Kutukan
dari Tuhan
Kegiatan Public Hearing
“Optimalisasi Kinerja
Lembaga Melalui Kritik dan
Saran Mahasiswa
Seminar Nasional “
Ahlussunnah Waljamaah
PELAKSANAAN
05-07 September
2012
SEBAGAI
PESERTA
NILAI
3
09 September 2012
PESERTA
3
10 September 2012
PESERTA
2
11 September 2012
PESERTA
2
12 September 2012
PESERTA
2
13 September 2012
PESERTA
2
25 Oktober 2012
PESERTA
2
10 November 2012
PANITIA
8
01 Desember 2012
PESERTA
2
13 Maret 2013
PESERTA
8
25 Maret 2013
PESERTA
2
26 Maret 2013
PANITIA
8
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
dalam Perspektif Islam
Indonesia”
Acara Bedah Buku
“Berhenti Kerja Semakin
Kaya”
Seminar Pendidikan HMJ
Tarbiyah STAIN Salatiga
“Menimbang Mutu dan
Kualitas Pendidikan di
Indonesia”
Seminar Nasional
Entrepreneurship
“Menumbuhkan Jiwa
Entrepreneur Generasi
Muda”
Piagam Penghargaan Lomba
Menyambung Surat Pendek
Piagam Penghargaan Lomba
Membaca Kitab
Piagam penghargaan Lomba
Cerdas Cermat Ilmu Agama
Tahun 2013
Piagam Kegiatan Jalan Sehat
santri Al- Manar dan
Masyarakat Desa Bener
Sertifikat Lomba Qiroatul
Kutub antar Pesantren SeKabupaten Semarang
Piagam Kegiatan Kilatan
Ramadhan PON-PES AlManar
Sertifikat Lomba Qiroatul
Kutub antar Pesantren SeKabupaten Semarang
Piagam Penghargaan Lomba
Menyambung Surat Pendek
Piagam penghargaan Lomba
Cerdas Cermat Ilmu Agama
Tahun 2014
Piagam Pendidikan
binnadzor di Pondok
Pesantren Al-Manar
SK Guru Ra Mendiro Tahun
Ajaran 2015
Piagam Kegiatan Kilatan
Ramadhan PON-PES AlManar
Piagam penghargaan Lomba
05 April 2013
PESERTA
2
02 Mei 2013
PESERTA
2
27 Mei 2013
PESERTA
8
1 Juni 2013
PESERTA
2
15 Juni 2013
PESERTA
3
16 Juni 2013
PESERTA
Juara 3
2
20 Juli 2013
PESERTA
Juara 2
2
23 Juli 2013
PESERTA
Juara 2
2
10 Agustus 2013
PESERTA
2
9 Februari 2014
PESERTA
2
1 Juni 2014
PESERTA
2
10 Juni 2014
PESERTA
3
14 Juni 2014
PESERTA
2
1 Juli 2014
GURU
7
09 Juli 2015
PESERTA
2
10 Juni 2014
PESERTA
3
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
Cerdas Cermat Ilmu Agama
Tahun 2014
Piagam Pendidikan
binnadzor di Pondok
Pesantren Al-Manar
SK Guru Ra Mendiro Tahun
Ajaran 2015
Piagam Kegiatan Kilatan
Ramadhan PON-PES AlManar
Piagam Kegiatan Jalan Sehat
santri Al- Manar dan
Masyarakat Desa Bener
Panitia Kirab Memperingati
hari Kartini RA Mendiro
dan PAUD Mendiro
Piagam Kegiatan Jalan Sehat
santri Al- Manar dan
Masyarakat Desa Bener
Piagam penghargaan Lomba
Cerdas Cermat Ilmu Agama
Tahun 2015
Piagam Penghargaan Lomba
Membaca Kitab
Piagam Penghargaan Lomba
Menyambung Surat Pendek
Panitia Penerimaan Peserta
didik Baru RA Mendiro
tahun Ajaran 2015/2016
SK Guru Ra Mendiro Tahun
Ajaran 2016
TOTAL
14 Juni 2014
PESERTA
2
1 Juli 2014
GURU
7
11 Juli 2014
PESERTA
2
28 Juli 2014
PESERTA
2
26 April 2015
PANITIA
3
20 Mei 2015
PESERTA
2
23 Mei 2015
PESERTA
4
4 Juni 2015
PESERTA
3
13 Juni 2015
PESERTA
2
29 Juni 2015
PANITIA
3
1 Juli 2015
GURU
7
123
Download