Dampak Stock Split Terhadap Return Saham dan Trading Volume

advertisement
Dampak Stock Split Terhadap Return Saham
dan Trading Volume Activity Pada Perusahaan yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2007 –
2011
(Yudha Wismoyojati, Evi Steelyana)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perisitiwa stock split terhadap
return dan trading volume activity. Dengan melihat pengaruh, korelasi, dan tingkat
perbedaan return stock split terhadap return sebelum dan sesudah stock split dan trading
volume activity terhadap trading volume activity sebelum dan sesudah stock split. sampel
yang digunakan 31 perusahaan dari periode 2007 sampai dengan 2011. Metode penelitian
yang digunakan adalah metode kuantitatif komparatif, menggunakan analisis deksriptif, uji
asumsi klasik dengan menggunakan metode uji normalitas, uji regresi sederhana dengan uji t,
uji korelasi pearson, dan uji paired sample t tets. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa
terdapat pengaruh dan korelasi stock split terhadap trading volume activity secara signifikan,
tetapi tidak ada perbedaan yang siginifikan dalam perolehan rata-rata trading volume activity
sebelum stock split, pada saat stock split, dan sesudah stock split. Kesimpulan dari seluruhnya
bahwa peristiwa stock split berpengaruh dan berkorelasi cukup signifikan terhadap trading
volume activity, tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata trading volume activity
sebelum stock split, pada saat stock split dan sesudah stock split. Dalam hasil penelitian untuk
perisitiwa stock split terhadap return harian, dijelaskan bahwa tidak terdapat pengaruh,
korelasi, dan perbedaan yang signifikan pada saat sebelum stock split, pada saat stock split,
dan dan pada saat sesudah stock split.Saran bagi investor hasil penelitian ini bisa dijadikan
referensi untuk pengambilan keputusan dan saran bagi perusahaan penelitian ini bisa
dijadikan masukan bagi perusahaan yang akan melakukan stock split.
Kata kunci : Stock split, Return, Trading Volume Activity
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Penelitian
Pada awalnya berdiri perusahaan tentunya pemilik perusahaan mempunyai harapan
untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan (going concern) dan
memperoleh laba sebanyak-banyaknya. Dengan perekonomian di Indonesia yang belum
stabil membuat banyak investor berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk melakukan
investasi. Dalam melakukan investasi diperlukan informasi yang sesuai fakta. Informasi
tersebut berguna karena diharapkan dapat mengurangi atau meminimalisir ketidakpastian
yang terjadi, sehingga keputusan yang diambil investor sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai yaitu keuntungan.
Menurut Darmadji dan Fakhrudin (2011:1-2) pasar modal memainkan peranan
penting dalam perekonomian di Indonesia, karena pasar modal berperan besar bagi
perekonomian suatu negara karena menjalankan dua fungsi sekaligus: ekonomi dan keuangan
. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena pasar menyediakan fasilitas atau
wahana yang mempertemukan dua kepentingan, yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana
(investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer). Dengan adanya pasar modal, pihak
yang memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dan tersebut dengan harapan
memperoleh imbalan (return), sedangkan pihak issuer (dalam hal ini perusahaan) dapat
memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus menunggu tersedianya
dana dari operasi perusahaan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan karena
memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana
sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.Pada dasarnya, pasar modal merupakan
tempat diperjualbelikannya berbagai instrumen keuangan jangka panjang, seperti utang,
ekuitas (saham), instrumen derivatif, dan instrumen lainnya. Dengan demikian,
kesimpulannya pasar modal memfasilitasi saran dan prasarana kegiatan jual beli dan
kegiatan terkait lainnya. Dengan adanya pasar modal aktivitas perekonomian diharapkan
meningkat karena pasar modal merupakan alternatif pendanaan bagi perusahaan, sehingga
perusahaan dapat beroperasi dengan skala yang lebih besar dan selanjutnya akan
meningkatkan pendapatan perusahaan dan kemakmuran masyarakat luas.
Penawaran umum sering disebut dengan istilah go public. Menurut Pandji dan Piji
(2006:46), go public merupakan penawaran saham dan obligasi untuk pertama kalinya.
Pertama kali di sini berarti bahwa pihak penerbit pertama kaliya melakukan penjualan saham
atau obligasi.Dengan demikian, perusahaan itu dikatakan sedang go public, dan sahamnya
ditawarkan melalui mekanisme yang disebut Initial Public Offering (IPO). Setelah go public
perusahaan melanjutkan dengan proses listing (pencatatan) di bursa. Setelah listing di bursa,
barulah saham perusahaan publik tersebut dapat diperjualbelikan.
Tingginya harga saham akan mengurangi kemampuan para investor untuk membeli
saham tersebut.Dewasa ini beberapa perusahaan yang melakukan aksi korporasi yaitu
melakukan pemecahan saham (stock split). Menurut Jogiyanto (2011:561) stock split adalah
memecah lembar selembar saham menjadi n lembar saham. Tujuan dari pemecahan saham
adalah meningkatkan daya jual saham dengan cara menurunkan nilai pasar saham per
lembarnya. Nilai pasar yang lebih rendah juga akan memudahkan perusahaan untuk
menerbitkan saham tambahan. Hal ini akan sangat efektif jika dilakukan terhadap sahamsaham yang harganya sudah cukup tinggi, Darmadji dan Fakhrudin (2011:144). Perusahaan
yang melakukan stock split pada umumnya merupakan perusahaan yang mempunyai kinerja
keuangan yang baik. Sesuai dengan yang dikemukan oleh Copeland (1979) dalam tulisan
Harjum dan Hanung (2008) menyatakan bahwa stock split mengandung biaya yang harus
ditanggung maka hanya perusahaan yang mempunyai prospek bagus saja yang mampu
menanggung biaya tersebut dan sebagai akibatnya pasar bereaksi positif terhadapnya. Tujuan
dari stock split secara umum adalah menurunkan harga saham dan agar saham menjadi lebih
likuid.
Menurut berita dari viva news yang diakses tanggal 27 april 2011, pemegang
saham PT Astra International Tbk menyetujui pemecahan nilai nominal saham atau stock
split dengan perhitungan 1:10. Dari berita diatas dijadikan salah satu alasan peneliti ingin
melakukan penelitian atas perisitiwa stock split terhadap return dan trading volume activity.
Penulis tertarik mengangkat judul “Dampak stock split terhadap return dan trading
volume activity pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2007
sampai dengan 2011”
I.2 Ruang Lingkup Penelitian
Agar penulisan skripsi ini lebih terarah dan jelas sehingga tidak terjadi penyimpangan
dan penyampaian dan agar terciptanya efektifitas dan efisiennya dari tema penelitian. Maka
penulis fokus terhadap peristiwa stock split terhadap return dan trading volume activity.
Dengan mengacu pada latar belakang penelitian di atas, dapat dirumuskan masalah penelitian
ini sebagai berikut:
-
Apakah terdapat pengaruh yang signifikan atas peristiwa stock split terhadap
return harian saham dan trading volume activity
Apakah terdapat korelasi yang signifikan atas peristiwa stock split terhadap
return harian dan trading volume activity
Apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada perolehan rata-rata return
harian saham dan jumlah rata-rata trading volume activity sebelum dan sesudah
stock split ?
I.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan ruang lingkup di atas maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai
berikut:
-
-
-
Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan atas peristiwa stock
split terhadap return harian saham dan trading volume activity sebelum dan
sesudah stock split.
Untuk mengetahui apakah terdapat korelasi yang signifikan atas peristiwa stock
split terhadap return harian saham dan trading volume activity sebelum dan
sesudah stock split.
Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada perolehan
rata-rata return dan rata-rata trading volume activity sebelum dan sesudah stock
split.
I.4 Stock Split
I.4.1 Pengertian Stock Split
Menurut Basir dan Fakhrudin (2005:119) dan Darmadji (2011:144) stock split adalah
pemecahan nilai nominal saham menjadi pecahan yang lebih kecil, misalnya dari Rp 1000
per saham menjadi Rp 500 per lembar saham atau dari Rp 500 per lembar saham menjadi Rp
1000 per lembar saham. Menurut Jogiyanto (2011:561) stock split adalah memecah lembar
selembar saham menjadi n lembar saham. Harga per lembar saham baru setelah stock split
adalah sebesar 1/n harga sebelumnya.
I.4.2 Tujuan Stock Split
Pemecahan saham bertujuan agar perdagangan saham menjadi lebih likuid, karena
jumlah saham yang beredar menjadi lebih banyak dan harganya menjadi lebih murah,
menurut Darmadji dan Fakhrudin (2011:144). Hal ini akan sangat efektif jika dilakukan
terhadap saham-saham yang harganya sudah cuku tinggi.
Menurut Weygandt, Kieso, dan Kimmel stock split bertujuan meningkatkan daya jual
saham dengan cara menurunkan nilai pasar per lembarnya. Pada hakikatnya stock split
mengubah nilai nominal per saham tetapi tidak mempengaruhi saldo ekuitas pemegang
saham. Saham yang lebih likuid akan menarik investor untuk membeli saham tersebut,
karena lebih mudah untuk memperjualbelikannya. Stock split dilakukan untuk menjaga
harga pasar saham agar tidak terlalu tinggi sehingga sahamnya lebih memasyarakat dan lebih
banyak diperdagangkan, menurut Halim (2005:97). Sedangkan menurut Irham dan Yovi
(2006) dalam ekonomi.kabo.biz menyatakan bahwa ada beberapa tujuan suatu perusahaan
yang melakukan stock split, yaitu:
1. Untuk menghindari harga saham yang terlalu tinggi sehingga memberatkan publik
untuk membeli/memiliki saham tersebut.
2. Mempertahankan tingkat likuiditas saham.
3. Menarik investor kecil untuk memiliki saham tersebut karena jika terlalu mahal maka
kepemilikan dana dari investor kecil tidak akan terjangkau.
4. Menambah jumlah saham yang beredar.
Kesimpulan dari beberapa alasan dilakukannya stock split yang telah dipaparkan di atas
mempunyai tujuan, antara lain:
-
Menurunkan harga saham agar menarik investor baru untuk membeli saham tersebut.
Meningkatkan jumlah pemegang saham.
Saham agar menjadi likuid.
I.4.3 Manfaat Stock Split
Dalam melakukan stock split, para emiten mempunyai tujuan dan alasan dalam
melakukan stock split. Beberapa pelaku pasar khususnya emiten berpendapat bahwa
aktivitas split dapat memberikan manfaat bagi perusahaan.
Ika dan Purwaningsih (2008) mengemukakan bahwa manfaat yang pada umumnya
diperoleh dari stock split yaitu:
1. Menurunkan harga saham yang kemudian akan membantu menigkatkan daya tarik
investor.
2. Membuat saham lebih likuid untuk diperdagangkan.
3. Mengubah para investor odd lot (investor yang membeli saham dibawah 1 lot/500
lembar) menjadi investor round lot (investor yang membeli minimal 1 lot/ 500
lembar).
Selain bagi perusahaan, stock split juga dipercaya beberapa pihak membawa keuntungan
bagi investor, karena calon investor yang belum mampu membeli saham tersebut, dengan
adanya stock split yang mengakibatkan saham menjadi lebih murah, sehingga calon investor
mampu membelinya.
I.4.4 Jenis dan Teori Stock Split
Stock split (pemecahan saham) adalah perubahan nilai nominal per lembar saham dan
perubahan jumlah saham yang beredar sesuai dengan faktor pemecahan. Menurut Ika dan
Purwaningsih (2008) Pada dasarnya terdapat dua jenis stock split, yaitu:
-
Split up adalah penurunan nilai nominal per lembar saham yang mengakibatkan
penambahan jumlah saham yang beredar .
Split down adalah meningkatkan nilai nominal per lebar saham dan mengurangi
jumlah saham yang beredar.
Dua teori utama yang mendominasi literatur stock split adalah trading range theory dan
signaling theory (sukardi,2003) dalam Ika dan Purwaningsih (2008):
1. Trading range theory
Manajemen melakukan stock split dalam upaya untuk mengarahkan harga saham
pada interval tertentu yang tidak terlalu mahal atau tidak terlalu tinggi untuk saham
perusahaan. Menurut teori ini, harga saham yang dinilai terlalu tinggi menyebabkan
saham tersebut kurang aktif untuk diperdagangkan. Keputusan stock split
menyebabkan harga saham menjadi tidak terlalu tinggi, sehingga akan semakin
banyak investor yang mampu bertransaksi yang kemudian meningkatkan likuiditas
perdangan saham
2. Signaling theory
Perusahaan melakukan stock split karena harga saham sudah melebihi harga optimal
dimana harga saham sudah tidak dapat meningkat seusai dengan kenaikan kinerja
perusahaan. Saham perlu dipecah agar harga saham menjadi lebih kecil dan kemudian
harga saham akan meningkat sesuai dengan kenaikan kinerja perusahaan. Oleh karena
itu,menurut signaling theory, stock split hanya dilakukan perusahaan yang memiliki
prospek kinerja yang baik dimana perusahaan yakin bahwa harga saham telah dipecah
akan naik sesuai dengan kinerja perusahaan di masa depan.
I.4.5 Syarat-Syarat Stock Split
Menurut Saleh dan Fakhrudin (2005:122), beberapa hal yang harus dipenuhi oleh emiten
yang akan melakukan stock split di antaranya adalah:
1. Harus mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
(RUPSLB).
2. Perubahan AD/ART yang mengubah nilai nominal saham telah disahkan oleh
Departemen kehakiman & HAM dan telah mendapatkan TDP dari Departemen
Perindustrian dan Perdagangan
3. Peraturan BEJ Nomor I-A butir V.3. tentang pencatatan saham tambahan yang
berasal pemecahan saham:
- Saham yang baru dikeluarkan tersebut merupakan saham yang memiliki klasifikasi
yang sama dengan saham induknya.
- Harga teoritis saham hasil tindakan penerbitan saham baru sekurang-kurangnya RP
100,- Harga teoritis saham dihitung berdasarkan dihitung berdasarkan rata-rata harga
penutupan saham perusahaan yang bersangkutan selama 25 (dua puluh lima) hari
bursa berturut-turut di pasar reguler sebelum perusahaan tercatat melakukan iklan
pengumuman mengenai akan dilakukaknya pemanggilan Rapat Umum Pemegang
Saham, perusahaan tercatat yang mengagendakan pemecahan saham.
I.5 Return saham
Pengembalian (return) investasi merupakan hasil yang diperoleh dari suatu investasi,
Didit Herlianto (2010:65). Menurut Jogiyanto (2010:253-254), return saham dibedakan
menjadi dua yaitu return realisasi (realized return) dan return ekspetasi (expected return).
Menurut Didit Herlianto (2010:65-66), return realisasi merupakan return yang sudah
terjadi yang dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi ini penting dalam mengukur
kinerja perusahaan dan sebagai dasar penentuan return dan resiko dimasa mendatang.
Return ekspetasi merupakan return yang diharapkan di masa mendatang dan masih
bersifat tidak pasti. Dalam melakukan investasi investor dihadapkan pada ketidakpastian
(uncertainty) antara retun yang akan diperoleh dengan risko yang akan dihadapi. Semakin
besar return yang diharapkan akan diperoleh dengan risiko yang akan dihadapinya. Semakin
besar pula risikonya, sehingga dikatakan bahwa return ekspetasi memiliki hubungan postif
dengan risiko. Risiko yang lebih tinggi biasa dikolerasikan dengan peluang untuk
mendapatkan return yang lebih tinggi pula (high risk high retun, low risk lo return). Tetapi
return yang tinggi tidak selalu harus disertai dengan investasi yang berisiko.
Return yang diterima investor di pasar modal dibedakan menjadi dua jenis yaitu
current income (pendapatan lancar) contohnya deviden dan capital gain /capital loss
(keuntungan selisih harga).
I.6 Likuiditas Saham
Likuiditas saham merupakan suatu indikator dan reaksi pasar terhadap suatu
pengumuman yang diukur salah satunya dengan trading volume activity (TVA). Pengukuran
trading volume activity merupakan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat
reaksi pasar modal dari sisi likuiditas saham terhadap suatu informasi dengan parameter
penggerakan aktivitas volume perdagangan atau trading volume activity, Beaver (1968)
dalam Budiarto (1999) dalam Ediningsih (2004) dalam Harjum dan Hanung (2008).
Tujuan stock split terhadap likuiditas saham agar membuat saham perusahaan
menjadi lebih likuid. Likuiditas saham yang dimaksud adalah kemudahan untuk
memperjualbelikan saham dan lebih sering diperdagangkan di bursa. Ketidaklikuidan saham
disebabkan oleh dua sebab, yaitu harga saham yang tinggi dan jumlah saham yang beredar
terlalu rendah.
I.7 Hubungan Stock split Terhadap Harga Saham
Harga saham yang tinggi membuat investor enggan investasi ke saham tersebut.
Perusahaan melakukan stock split bertujuan agar menurunkan harga saham. Dengan harga
saham yang turun membuat investor tertarik untuk membelinya.
I.8 Market Capitalization
Menurut Didit Herlianto (2010:127), market capitalization adalah nilai dari suatu
perusahaan, dari hasil kali harga saham dengan jumlah saham yang beredar. Junaidi
(2008:105). Kapitalisasi pasar dibagi atas tiga kelompok yaitu big cap, mid cap dan small
cap. Saham yang masuk dalam kelompok big cap atau perusahaan blue chip memiliki
prestasi dalam earnings, dividen dan risiko yang juga dibarengen dengan risiko yang tinggi.
Harga saham small cap relatif lebih labil dibanding big cap dan mid cap.
Kiyoshi dan james (1985) dalam Junaidi (2008:105), yang meneliti pada Tokyo Stock
Exchange dengan kesimpulan bahwa perusahaan kecil memiliki rate of return yang lebih
besar disbanding dengan perusahaan besar. Simpulan ini didukung oleh hasil penelitian
Elton dab Breda (2000) yang juga meneliti pasar modal di Jepang yang menyimpulkan ada
perbedaan return saham perusahaan small cap dibanding big cap.
METODE PENELITIAN
III.2.1 Jenis dan Sumber Data
Sumber data penelitian diperoleh dari:
-
PRPM (pusat refrensi pasar modal)
Indonesia Stock Exchange tahun 2007-2011
Literatur-literatur terkait dengan penelitian stock split (jurnal ilmiah, skripsi, buku,
berita, dll)
Yahoo finace
www.duniainvestasi.
III.2.2 Penentuan Jumlah Sampel
Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari publikasi Bursa Efek Indonesia
yang diperoleh melalui PRPM (Pusat Refrensi Pasar Modal). Penelitian ini dilakukan
terhadap populasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (go public) yang melakukan stock
split. Sampel diambil dengan menggunakan metode purposive sampling yakni pengambilan
sampel secara sengaja sesuai dengan persyaratan sample yang diperlukan. Pemilihan sampel
berdasarkan kriteria tertentu diharapkan dapat menunjang hasil penelitian. Kriteria yang
digunakan dalam pengambilan sampel penelitian ini adalah:
a. Perusahaan yang go public dan terdaftar di BEI, juga sahamnya masih aktif
diperdagangkan sejak tahun 2007-2011.
b. Perusahaan tersebut hanya melakukan kebijakan stock split (pemecahan saham).
Selama periode tahun 2007-2011, peneliti menggunakan data perusahaan yang
melakukan kebijakan stock split dari tahun 2007-2011 karena data tersebut sangat
update atau terkini untuk diteliti.
c. Perusahaan yang datanya tersedia secara lengkap untuk kebutuhan analisis.
d. Perusahaan tidak dilikuidasi.
Dengan adanya pembatasan tersebut, maka diharapkan hasil yang diperoleh penelitian ini
adalah perusahaan yang murni melakukan stock split dan tidak dipengaruhi kebijakan lain.
Dalam proses pengambilan sampel maka hanya terdapat 31 perusahaan yang digunakan
sebagai sampel penelitian. Berikut ini adalah nama-nama perusahaan yang dijadikan sampel
pada penelitian ini:
III.2.4 Metode Analisis Data
1. Return
Setelah mendapatkan data harga saham pembukaan dan penutupan harian , lalu
dilakukan perhitungan return. Pengembalian (return) investasi merupakan hasil yang
diperoleh dari suatu investasi. Menurut Jogiyanto (2010:253), return saham dibedakan
menjadi dua yaitu return realisasi (realized return) dan return ekspetasi (expected return).
Didit (2010:65-66) mengemukakan, return realisasi merupakan return yang sudah terjadi
yang dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi ini penting dalam mengukur kinerja
perusahaan dan sebagai dasar penentuan return dan resiko dimasa mendatang. Return
ekspetasi merupakan return yang diharapkan di masa mendatang dan masih bersifat tidak
pasti. Dalam melakukan investasi investor dihadapkan pada ketidakpastian (uncertainty)
antara return yang akan diperoleh dengan risiko yang akan dihadapi. Return dari saham dapat
berupa capital gain maupun deviden yang dibagikan oleh emiten kepada investor atau
pemegang saham. Menghitung return saham harian dengan menggunakan rumus :
Ri, t=
dimana :
Rit
= return suatu saham
Pit
= harga saham penutupan t
Pit-1
= harga saham penutupan t-1
Pada saat stock split rumus return harian dalam Thomas, Rosdaliza, dan Albertus (2008;31),
disesuaikan menjadi :
Ri, t=
dimana :
Rit
= return suatu saham
Pit
= harga saham penutupan
Pit-1
= harga saham pembukaan
2. Likuiditas
Untuk menganalisis perbedaan likuiditas saham pada saat sebelum dan sesudah
pemecahan, digunakan volume perdagangan saham (trading volume activity). Dengan rumus
:
TVA :
III.2.5 Uji Statistik dan Uji Hipotesis
Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
-
-
Statistik Deskriptif
Analisis deskriptif bertujuan mengubah kumpulan data mentah menjadi mudah
dipahami dalam bentuk infomrasi yang lebih ringkas. Statistic deskriptif merupakan
bidang ilmu statistika yang mempelajari cara-cara pengumpulan, penyusunan, dan
penyajian data suatu penelitian. Dalam peneltian ini studi deskriptif akan membahas
mean, minimum dan maksimum.
Uji hipotesis
Uji hipotesis bertujuan untuk mengetahui jawaban sementara terhadap masalah masih
paraduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya sesuai dengan pendapat
sementara yang diutarakan peneliti.
Dalam pengujian hipotesis peneleti menggunakan metode regresi sederhana
dengan uji t, korelasi sederhana, dan uji paired sample t test. Sebelum melakukan
pengujian hipotesis, peneliti melakukan uji normalitas, agar pengujian lebih valid.
Hipotesis dan Pengembangan
-
Return
• Uji regresi ( uji T)
Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan atas peristiwa stock split
terhadap perolehan return harian portofolio.
Ha : terdapat pengaruh yang signifikan atas peristiwa stock split terhadap
perolehan return harian portofolio.
• Uji korelasi (Pearson correlation dan nilai signifikansi)
Ho: tidak terdapat korelasi yang signifikan atas peristiwa stock split terhadap
perolehan return harian portofolio
Ha: terdapat korelasi yang signifikan atas peristiwa stock split terhadap
perolehan return harian portofolio.
• Uji paired sample t tets
Ho:tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada perolehan rata-rata
return harian portofolio sebelum dan sesudah peristiwa stock split.
Ha: terdapat perbedaan yang signifikan pada perolehan rata-rata
return harian portofolio sebelum dan sesudah peristiwa stock split.
-
Trading volume activity
• Uji regresi (uji T)
Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan atas peristiwa stock split
terhadap trading volume activity.
Ha : terdapat pengaruh yang signifikan atas peristiwa stock split terhadap
trading volume activity.
• Uji korelasi
Ho: tidak terdapat korelasi yang signifikan atas peristiwa stock split
terhadap trading volume activity.
Ha: terdapat korelasi yang signifikan atas peristiwa stock split terhadap
trading volume activity.
• Uji paired sample t tets
Ho: tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada trading volume
activity sebelum dan sesudah peristiwa stock split.
Ha: terdapat perbedaan yang signifikan pada trading volume activity
sebelum dan sesudah peristiwa stock split.
HASIL DAN BAHASAN
Setelah melalui serangkaian tahapan penelitian, berikut ringkasan uji hipotesis yang telah
dilakukan sebelumnya:
- Uji Regresi ( uji t)
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui variabel independen manakah yang
berpengaruh terhadap variabel dependen secara signifikan. Berdasarkan hasil uji t
yang dilakukan maka variabel independent yang berpengaruh terhadap variable
dependen secara signifikan adalah trading volume activity stock split terhadap
trading volume activity sebelum dan sesudah stock split dan trading volume
activity sebelum stock split terhadap trading volume activity sesudah stock split
dengan nilai sigifikansi masing-masing sebesar 0.001, 0.000, dan 0.000. Dua
variabel lain tidak berpengaruh secara signifikan terhadap return stock split
adalah variabel return harian portofolio sebelum stock split dan variabel return
harian portofolio sesudah stock split dan juga return sebelum stock split terhadap
return sesudah stock split.
- Uji Korelasi Pearson
Pengujian ini dilakukan untuk mengatuhi seberapa kuat variabel independen
terhadap variabel dependent. Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson maka didapat
hasil atau nilai signifkansi kekuatan trading volume stock split terhadap trading
volume activity sebelum dan sesudah stock split dan juga trading volume activity
sebelum stock split terhadap trading volume activity sesudah stock split masingmasing sebesar 0.001, 0.000, dan 0.000yang artinya korelasi cukup kuat dan
signifikan. Dua variabel lainnya korelasinya lemah dan tidak signifkan terhadap
return stock split adalah variabel return harian portofolio sebelum stock split dan
variabel return harian portofolio sesudah stock split dan juga return sebelum stock
split terhadap return sesudah stock split.
- Uji Paired Sample t test
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan sinifikan
pada perolehan return harian sebelum stock split, pada saat stock split dan
sesudah peristiwa stock split dan juga untuk mengetahui apakah terdapat
perbedaan perolehan trading volume activity sebelum stock split, pada saat stock
split dan sesudah peristiwa stock split. Hasilnya adalah semua variabel tidak
terdapat perbedaan yang signifikan.
SIMPULAN DAN SARAN
1.
2.
3.
4.
Untuk return
Uji t dari return portofolio stock split terhadap return portofolio harian sebelum stock
split maka Ho diterima yaitu tidak terdapat pengaruh yang signifikan atas peristiwa
stock split terhadap return harian portofolio.
Uji t dari return harian portofolio stock split terhadap return portofolio harian sesudah
stock split maka Ho diterima yaitu tidak terdapat pengaruh yang signifikan atas
peristiwa stock split terhadap return harian portofolio.
Uji t dari return harian portofolio sebelum stock split terhadap return portofolio
harian sesudah stock split maka Ho diterima yaitu tidak terdapat pengaruh yang
signifikan atas peristiwa stock split terhadap return harian portofolio.
Uji korelasi dari return harian portofolio stock split terhadap return harian portofolio
sebelum stock split, maka Ho diterima yaitu tidak ada korelasi yang signifikan atas
peristiwa stock split terhadap perolehan return harian portofolio.
5.
6.
7.
8.
9.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Uji korelasi dari return harian portofolio stock split terhadap return harian sesudah
stock split portofolio, maka Ho diterima yaitu tidak ada korelasi yang signifikan atas
peristiwa stock split terhadap perolehan return harian portofolio.
Uji korelasi dari return harian portofolio sebelum stock split terhadap return harian
sesudah stock split portofolio, maka Ho diterima yaitu tidak ada korelasi yang
signifikan atas peristiwa stock split terhadap perolehan return harian portofolio.
Uji paired sample t test dari return harian portofolio stock split terhadap return
harian portofolio sebelum stock split, maka Ho diterima tidak terdapat perbedaan
yang signifikan pada perolehan return harian portofolio sebelum dan sesudah
peristiwa stock split.
Uji paired sample t test dari return portofolio stock split terhadap return portofolio
sesudah stock split, maka Ho diterima tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada
perolehan return harian portofolio sebelum dan sesudah peristiwa stock split.
Uji paired sample t test dari return portofolio sebelum stock split terhadap return
portofolio sesudah stock split, maka Ho diterima tidak terdapat perbedaan yang
signifikan pada perolehan return harian portofolio sebelum dan sesudah peristiwa
stock split.
Untuk Trading Volume Activity
Uji t dari dari trading volume activity stock split terhadap trading volume activity
sebelum stock split maka, Ha diterima terdapat pengaruh yang signifikan atas
peristiwa stock split terhadap trading volume activity.
Uji t dari dari trading volume activity stock split terhadap trading volume activity
sesudah stock split maka, Ha diterima, terdapat pengaruh yang signifikan atas
peristiwa stock split terhadap trading volume activity.
Uji t dari dari trading volume activity stock split sebelum stock split terhadap trading
volume activity sesudah stock split maka, Ha diterima terdapat pengaruh yang
signifikan atas peristiwa stock split terhadap trading volume activity.
Uji korelasi dari trading volume activity stock split terhadap trading volume activity
sebelum stock split, maka Ha diterima terdapat korelasi yang signifikan atas peristiwa
stock split terhadap trading volume activity.
Uji korelasi dari trading volume activity stock split sebelum stock split terhadap
trading volume activity sebelum stock split, maka Ha diterima terdapat korelasi yang
signifikan atas peristiwa stock split terhadap trading volume activity.
Uji korelasi dari trading volume activity sebelum stock split terhadap trading volume
activity sesudah stock split, maka Ha diterima ada korelasi yang signifikan atas
peristiwa stock split terhadap trading volume activity.
Uji paired sample t test dari trading volume activity stock split terhadap trading
volume activity sebelum stock split, maka Ho diterima tidak terdapat perbedaan yang
signifikan pada trading volume activity sebelum dan sesudah peristiwa stock split.
Uji paired sample t test dari trading volume activity stock split terhadap trading
volume activity sesudah stock split maka Ho diterima tidak terdapat perbedaan yang
signifikan pada trading volume activity sebelum dan sesudah peristiwa stock split.
Uji paired sample t test dari trading volume activity sebelum stock split terhadap
trading volume activity sesudah stock split maka Ho diterima tidak terdapat perbedaan
yang signifikan pada trading volume activity sebelum dan sesudah peristiwa stock
split.
Kesimpulan dari seluruhnya bahwa peristiwa stock split berpengaruh dan berkorelasi
cukup signifikan terhadap trading volume activity, tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan
rata-rata trading volume activity sebelum stock split, pada saat stock split dan sesudah stock
split. Dalam hasil penelitian untuk perisitiwa stock split terhadap return harian, dijelaskan
bahwa tidak terdapat pengaruh, korelasi, dan perbedaan yang signifikan pada saat sebelum
stock split, pada saat stock split, dan dan pada saat sesudah stock split.
V.3 Keterbatasan
Penelitian ini mempunyai keterbatasan, yaitu:
1. Dalam penelitian ini rentang waktu pengamatan sangat pendek hanya lima hari
sebelum dan sesudah peristiwa stock split, sehingga efek dari stock split belum dapat
terlihat dengan jangka waktu yang sangat pendek.
2. Dalam penelitian ini hanya fokus perisitiwa stock split terhadap return dan trading
volume activity.
V.4 Saran
1. Bagi Investor
- Hasil penelitian ini bisa dijadikan suatu refrensi dalam pengambilan keputusan
untuk investasi.
2. Bagi perusahaan
- Hasil penelitian ini bisa menjadi masukan bagi perusahaan yang akan melakukan
kebijkan stock split.
3. Bagi Penelitian Selanjutnya
- Bagi penelitian selanjutnya diharapkan menambah rentang waktu pengamatan
lebih dari lima hari sebelum dan sesudah perisitiwa stock split agar efek dari
perisitiwa stock split bisa terlihat dan akan lebih baik bila menambah variabel
seperti abnormal return dan deviden.
- Untuk penelitian selanjutnya akan lebih baik jika penelitian tersebut
membandingkan perusahaan yang melakukan kebijakan stock split dengan
perusahaan yang tidak melakukan stock split.
DAFTAR ACUAN
Anoraga, P. Pakarti, P (2006). Pengantar pasar modal. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta
Basir, S. Fakhrudin, M, H (2005). Aksi korporasi (strategi untuk meningkatkan nilai saham
melalui aksi korporasi). Jakarta:Penerbit Salemba Empat.
C, Trihendradi (2011). Langkah mudah melakukan analisis statistic menggunakan spss 19.
Yogyakarta : Penerbit Andi
Darmadji, T,. Fakhrudin, M, H (2011). Pasar modal di Indonesia (edisi 3). Jakarta: Penerbit
Salemba Empat.
Dominic, H, T (2008). Berinvestasi di bursa saham. Jakarta: Penerbit Elex media
komputindo
Hartono, J (2010). Teori portofolio dan analisis investasi (edisi 7). Yogyakarta : Penerbit
BPFE Yogyakarta.
Herlianto, D (2010). Seluk beluk investasi di pasar modal Indonesia. Yogyakarta: Penerbit
Goysen Publishing.
Ika, W, A,. Purwaningsih A (2008). Reaksi pasar terhadap pengumuman stock split: studi
empiris pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Telaah
manajemen Vol 3, 2008
Junaidi (2008). Pengaruh perubahan earning, market capitalization dan price to book value
terhadap dividend policy. Jurnal NeO-Bis volume 2 nomer 2 Desember 2008.
Kieso, D. R. E,. Weygandt, J. J, & Warfield, T. D. Alih bahasa oleh Herman Wibowo (2007).
Akuntansi Intermediate jilid 2 (edisi 12). Jakarta : Penerbit Erlangga.
Kuncoro, D. (2003). Metode riset untuk bisnis dan ekonomi. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Harjum, M. Hanung, S (2008). Analisis perbedaan liquiditas saham, kinerja keuangan, dan
return saham di sekitar pengumuman stock split. The winners volume 09 nomor 1
maret 2008.
Pavabutr, P. Sirodom, K (2008). The impact of stock split on price and liquidity on the stock
exchange Thailand. International research journal of finance and economics.
Supranto, J (2000). Statistik teori dan aplikasinya. Jakarta : Erlangga.
Thomas, N. K., Rosdaliza, & Albertus, H. A. N(2008). Analisis Pengaruh dan Hubungan
Return on Equity dan Economic Value Added Terhadap Return Saham Pada
Perusahaan – Perusahaan Yang Termasuk Dalam Kelompok LQ45. Tesis S2 Tidak
Dipublikasikan, Universitas Bina Nusantara, Jakarta.
Utami, N. T. Idrus, S. Maski, G. (2004). Dampak pengumuman stock split terhadap return,
variabilitas tingkat keungtungan dan volume perdagangan saham (studi pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ tahun 1997-1999). Jurnal aplikasi
manajemen volume 2, nomor 3, Desember 2004.
www.accounting.web.id. Diakses tanggal 20 april 2012
www. http://ekonomi.kabo.biz/2011/01/tujuan-stock-split.html. Diakses tanggal 15 April
2012
www.duniainvestasi.com. Diakses tanggal 15 april 2012
www.finance.yahoo.com . Diakses tanggal 16 april 2012
www.idx.co.id . Diakses tanggal 5 maret 2012
RIWAYAT PENULIS
NAMA
: yudha wismoyojati
TANGGAL DAN LAHIR
: cilacap, 9 november 1990
Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara pada bidang akuntansi
pada tahun 2012
Download