Dampak Pemberlakuan Cept Pada Perkembangan

advertisement
TINJAUAN PUSTAKA
Perdagangan Internasional
Perdagangan Internasional secara teori membahas hubungan ekonomi antar
negara di dunia yang merupakan refleksi dari munculnya saling ketergantungan
(interdependence) antara satu negara dengan negara laimya karena adanya perbedaan
dalam memiliki dan mengakses faktor-faktor produltsi (resources) yang dibutuhkan.
Suatu negara mungkin memiliki sumber daya alan yang melimpah tetapi tidak
memiliki teknologi dan modal untuk memprosesnya, sebaliknya negara lainnya
miskin SDA tetapi memiliki teknologi yang manpu menjadikan SDA tersebut lebih
dekat pada penggunaan akhir dan memiliki nilai guna yang lebih tinggi (Salvatore,
et.al., 1990).
Perdagangan internasional secara prinsip seharusnya mendatangkan manfaat
dan keuntungan (mutual gaining) bagi semua pihak yang melakukan pertukaran.
Prinsip ini pula yang melatarbelakangi mengapa suatu negara melakukan
perdagangan dengan negara lain. Walaupun kedua pihak memperoleh keuntungan,
tetapi persoalannya adalah pihak mana yang paling diuntungkan (who is gaining the
most from the trade). Teori-teori perdagangan hampir seluruhnya memusatkan
perhatian pada persoalan pola perdagangan internasional yang dapat berbeda dan
bergeser karena perbedaan dalam memiliki dan mengakses faktor-faktor produksi.
Masalah ini pula yang menjadi agenda pembahasan terpenting pada organisasi
perdagangan dunia WTO, yang menyangkut rasa keadilan Cfairness) terutama antara
negara-negara maju dan negara-negara berkembang dalam ha1 kepemilikan faktor
produksi.
Teori perdagangan internasional sesungguhnya bisa pula diterapkan untuk
perdagangan antar daerah, lebih-lebih pada era otonomi daerah sekarang ini. Namun
dalam prakteknya, masalah yang dihadapi lebih kompleks karena menyangkut pula
adanya ~erbedaantingkat kebebasan berdagang dibanding perdagangan antar negara.
Dalam perdagangan antar daerah, sering terjadi intervensi karena adanya alasan
kepentingan nasional yang tinggi, adanya perizinan yang masih dikuasai oleh
Pemerintah Pusat, serta hambatan-hambatan lainnya.
Pada awalnya, perdagangan intemasional terjadi karena masing-masing negara
berkepentingan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduknya dengan mengambil
keuntungan sebesar-besamya dari hubungan perdagangan tersebut. Pandangan
Merkantilis yang populer pada abad 16-18 di Eropa Barat, menyatakan bahwa yang
terpenting bagi suatu negara adalah upaya untuk menjadi kaya dan berkuasa dengan
mendorong ekspor sebesar-besarnya dan mengimpor sekecil-kecilnya, melalui
proteksi setiap produk dalam negeri. Keuntungan (surplus) perdagangan yang besar
dipakai untuk menguasai emas dan logam mulia lainnya sebagai simbol kekuasaan.
Dalam hukum perdagangan, setiap negara yang menikmati surplus perdagangan
(net-ekspor) tentu diperoleh melalui pengorbanan negara lain (net-impor). Bila
prinsip ini yang dipahami oleh setiap negara, tentu tidak akan ada perdagangan antar
negara, karena siapapun tidak mau dirugikan.
Di lain pihak, negara-negara yang cenderung selalu mengimpor (importing
country) akan dihadapkan pada suatu pertanyaan, apakah sudah waktunya
memproduksi sendiri untuk barang-barang yang selama ini diimpor. Diyakini bahwa
dengan memproduksi sendiri, akan tercipta kegiatan ekonomi dan lapangan kerja di
dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan impor. Persoalannya adalah bila
suatu negara tidak memiliki faktor produksi (endowmenij yang dibutuhkan, upaya
memproduksi sendiri suatu barang hanya menyebabkan pergeseran ketergantungan
luar negeri dari barang jadi ke bahan baku dan teknologi. Ini banyak dialami oleh
negara-negara
berkembang
seperti juga
kasus
Indonesia
ketika
memulai
industrialisasinya melalui kebijakan substitusi impor. Dengan kata lain, tidak ada
kemajuan berarti yang dicapai oleh negara-negara berkembang dalam menghadapi
dominasi ekonomi negara-negara maju.
Perdagangan internasional tidak sekadar berarti pertukaran barang dari suatu
negara ke negara lainnya. Akan banyak faktor dan variabel yang terlibat dalam
pertukaran ini seperti mata uang dan nilai tukarnya, tarr& transportasi, selera dan
image, bahkan terkait dengan kebijakan investasi (seperti PMA dan PMDN) yang
dilakukan sebelumnya. Masing-masing variabel ini berpeluang dapat mendorong dan
menghambat volume perdagangan intemasional, tergantung kebijakan yang
dijalankan oleh negara bersangkutan. Analisis perdagangan intemasional akan
berhubungan dengan variabel-variabel diatas, baik secara individual maupun
simultan. Khusus dalam kajian ini akan dibahas hubungan antara kebijakan tariff
dengan volume perdagangan antara Indonesia dengan negara-negara ASEAN lainnya
dalam kerangka agenda perdagangan bebas kawasan ASEAN (AFTA).
Dalam perkembangannya sekarang ini, perdagangan intemasional tidak saja
terkait dengan ekspor dan impor barang, tetapi lebih luas lagi menyangkut masalah
investasi, ekspor d m impor jasa, dan pariwisata. Jadi perdagangan internasional
mendiskusikan pula berbagai aspek dalam hubungan ekonomi antar negara (bilateral
dan multilateral), sehingga disebut juga ekonomi intemasional, yang tentunya akan
melibatkan variabel-variabel yang semakin banyak dan beragam.
Semangat dalam menciptakan perdagangan dunia yang sehat dalam nuansa
pasar bebas, mulai dikotori oleh kepentingan-kepentingan non-ekonomi sepcrti
kepentingan politik, isu mengenai hak azasi manusia (HAM), lingkungan hidup,
bahkan masalah non-ekonomi tersebut seringkali lebih menonjol daripada
ekonominya sendiri. Negara-negara yang kuat ekonominya seperti Amerika Serikat
selalu memberikan kemudahan ekspor pada negara-negara yang mempunyai
pandangan politik yang sama. Sebaliknya negara yang rentan seperti Indonesia malah
sering mengalami kesulitan ekspor karena dihadang persoalan-persoalan lingkungan
hidup, HAM, eksploitasi buruh, sekalipun memiliki pandangan politik yang tidak
bertentangan dengan negara adidaya tersebut. Kedepan, prospek perdagangan suatu
negara dalam era perdagangan bebas akan lebih sulit dikaji karena terlalu banyakrrya
faktor-faktor non ekonomi yang terlibat atau dilibatkan dan sesungguhnya memiliki
"
uncertainty " yang tinggi.
Kcunggulan Absolut, Keunggulan Komparatif dan Teori Hccltscher-Ohlin
(H-0)
Kcunggulan Absolut dan Manfaat Perdagangan Internasional
David Ricardo, pada awal abad ke-19 mempunyai pelnikiran bahwa
perdagangan internasional hams memberi manfaat dan keuntungan bagi kedua negara
bempa peningkatan kesejahteraan masing-masing. Ini merupakan koreksi atas
pemikiran
kelompok Merkantilis pada abad
16-18 di Eropa Barat yang
mengutamakan tercapainya dominasi suatu negara terhadap negara lain dengan
memaksimalkan ekspor dan meminimalkan impor. Ricardo bukan orang pertama
yang menentang keortodokan kaum Merkantilis. Dalam bukunya Wealth of Nations
(1 776). Adam Smith mengemukakan bahwa suatu negara dapat mengkonsentrasikan
untuk menghasilkan suatu barang saja, dan menjual sebagiannya untuk memperoleh
barang lainnya, dan tidak perlu ada kekhawatiran atas perdagangan yang mereka
lakukan.
Manfaat dari adanya perdagangan internasional, akan berkaitan dengan
keunggulan absolut yang dimiliki oleh masing-masing negara. Dalam pemahaman
umum, keunggulan absolut suatu negara terjadi apabila untuk satu unit (kombinasi)
masukan yang sama, negara tersebut dapat menghasilkan suatu barang dalam jumlah
yang lebih banyak. Gambar 1 berikut ini mengilustrasikan terdapatnya keunggulan
absolut pada dua negara.
Q-Furniture
I
INDONESIA
Q-Furniture
MALAYSIA
Gambar 1. Keunggulan Absolut Dua Negara dan Manfaat Perdagangan
Pada awalnya, untuk setiap satu satuan masukan, Indonesia dapat menghasilkan
50 set furniture atau 25 unit mobil atau kombinasi keduanya disepanjang garis
produksi, sedangkan Malaysia dapat menghasilkan 40 set furniture atau 100 unit
mobil atau juga kornbinasi keduanya. Dengan demikian perbandingan relatif kedua
barang tersebut di Indonesia adalah % mobil untuk setiap furniture dan di Malaysia
2% mobil untuk setiap furniture. Ini berarti Indonesia mempunyai keunggulan absolut
dalam menghasilkan furniture dan Malaysia dalam menghasilkan mobil.
Sebelurn ada perdagangan antara kedua negara, tingkat konsumsi di Indonesia
adalah 20 fumiture dan 15 mobil (titik So) dan di Malaysia 12 furniture dan 70 mobil,
yang tentunya dibatasi oleh kemampuan kedua negara dalam menghasilkan
kombinasi kedua barang tersebut. Apabila biaya transport antara kedua negara sangat
rendah (katakan 0), eksportir Indonesia cenderung ingin rnengapalkan sebagian
furniture ke Malaysia karena akan memperoleh jumlah mobil yang lebih banyak.
Artinya dengan mengekspor furniture ke Malaysia akan ada peluang penambahan
konsumsi mobil di Indonesia. Sebaliknya, Malaysia akan mempunyai pemikiran yang
sanla untuk mengekspor mobilnya, karena akan memperoleh jumlah furniture
Indonesia yang lebih banyak.
Dengan memperhatikan
rasio perdagangan harga di kedua negara antara
fumiture dan mobil maka range harga fumiture akan berada antara % dan 2% harga
mobil. Apabila terjadi perdagangan antara kedua negara dan harga keseimbangan
intemasional yang tercapai adalah harga satu furniture sama dengan harga satu mobil,
maka ada kecenderungan kedua negara akan menamball konsumsinya'. Dengan
demikian maka keunggulan absolut masing-masing negara akan memberi rangsangan
pada
penambahan
konsumsi bila dapat dimanfaatkan melalui perdagangan
intemasional.
Manfaat kedua dari perdagangan internasional adalah baik Indonesia maupun
Malaysia dapat mengkhususkan diri untuk rnemproduksi satu barang saja yang
mempunyai keunggulan absolut, dan rnengekspor kelebihan barang yang tidak
dikonsumsi. Sedangkan kebutuhan barang yang tidak diproduksi sendiri seluruhnya
dipenuhi dari impor. Dalam ha1 ini, Indonesia hanya memproduksi furniture (50 set)
dan Malaysia hanya memproduksi mobil (100 unit), sedangkan kebutuhan mobil
untuk Indonesia dan furniture untuk Malaysia dipenuhi seluruhnya dari irnpor.
Bila kebijakan ini terjadi di kedua negara, maka konsumsi di kedua negara akan
'
Harga keseimbangan internasional untuk fimiture akan berada antara % dan 2% harga mobil.
Apabila harga furniture di bawah % harga mobil, Indonesia tentu tidak akan melepas furniturenya
untuk memperoleh mobil dari Malaysia karena harganya lebih mahal dibanding harga domestik.
Demikian juga bila harga furniture diatas 2% harga mobil, Malaysia tentu juga akan berkeberatatr.
bergerak naik menuju titik C. Konsumsi furniture di Indonesia naik lnenjadi 30 set
dan mengekspor ke Malaysia sisanya untuk memperoleh 20 unit mobil. Sedangkan
konsumsi mobil di Malaysia naik menjadi 80 unit dan mengekspor sisanya ke
Indonesia untuk memperoleh 20 set furniture. Dari uraian di atas, jelas babwa
perdagangan intemasional (bilateral) bila dilakukan secara adil dengan dukungan
informasi yang memadai akan memberi keuntungan dan manfaat bagi kedua negara.
Negara yang kurang menguasai informasi dari dinamika pasar intemasional akan
kehilangan peluang dalam memperluas pasar ekspornya dan mudah dicurigai oleh
pesaingnya ataupun negara mitra dagangnya.
Keunggulan Komparatif dan Manfaat Perdagangan Internasional
Berdasarkan pemahaman mengenai Keunggulan Absolut, kemudian Ricardo
mengembangkan pemikiran barn mengenai Keunggulan Komparatif. Dasar pemikiran
tersebut adalah bahwa perdagangan intemasional tetap akan memberikan manfaat
pada suatu negara, sekalipun negara bersangkutan tidak memiliki keunggulan absolut
apapun, sepanjang masih ada perbedaan rasio harga antara dua barang di negaranegara yang berdagang. Dengan demikian suatu "Hukum Keunggulan Komparatif"
menyatakan bahwa setiap negara memiliki keunggulan komparatif dalam suatu
barang dan akan memperolell manfaat dengan memperdagangkannya untuk ditukar
dengan barang lain2.
Keunggulan komparatif hanya dapat terjadi bila ada kemampuan untuk menemukan barang-barang
yang diproduksi pada tingkat ketidakunggulan relatif lebih rendah daripada barang-barang lainnya,
sebelurn dimulainya perdagangan antara dua negara.
Penjelasan mengenai manfaat keunggulan komparatif, selanjutnya diberikan
pada Gambar 2. Katakan, Malaysia dengan berbagai upaya mampu meningkatkan
produksi furniture per satu satuan masukan menjadi 67 set (sebelumnya hanya 40 set,
Gambar I), sehingga untuk jenis barang ini Malaysia merebut keunggulan absolut
yang sebelumnya dimiliki Indonesia. Dalam ha1 ini Indonesia tetap hanya mampu
memproduksi 50 set furniture. Konsumsi awal di Indonesia (sebelum ada
perdagangan internasional) tetap tidak berubah yaitu 20 set furniture dan 15 unit
mobil, sedangkan di Malaysia dengan adanya perbaikan produksi meningkat menjadi
16 set furniture dan 76 unit mobil.
-- .
MALAYSIA
~ e f ~ a t u arnasukan
n
Per saluan rnasukd:
Gambar 2. Keunggulan Komparatif Dua Negara dan Manfaat Perdagangan
Walaupun Indonesia tidak memiliki satupun keunggulan absolut terhadap
Malaysia, tetapi sebenarnya memiliki keunggulan komparatif untuk furniture. Ini
ditunjukkan oleh rasio perbandingan harga furniture di Indonesia sebesar % harga
mobil, sedangkan di Malaysia 1% harga mobil. Bila terjadi perdagangan
internasional, Indonesia tetap dapat n~engambilmanfaat dengan mengekspor furniture
yang memiliki keunggulan komparatif dan mengimpor mobil yang tidak memiliki
keunggulan komparatif, dengan harga relatif internasional, katakan, 1 set furniture =
1 unit mobi13.
Keunggulan komparatif juga masih dapat digunakan sebagai alasan bkgi
masing-masing negara untuk mengkhususkan diri dalam memproduksi satu jenis
barang saja. Indonesia hanya memproduksi furniture 50 set dan Malaysia hanya
memproduksi mobil 100 unit masing-masing pada titik SI. Dengan terjadinya
perdagangan intemasional dan harga relatif internasional seperti disebutkan diatas,
kedua negara masih dapat mengambil manfaat yang ditunjukkan oleh peningkatan
konsumsi di Indonesia menjadi 30 set furniture dan 20 unit mobil dan di Malaysia
menjadi 20 set furniture dan 80 unit rnobil. Kondisi peningkatan konsumsi ini sama
dengan kondisi ketika kedua negara masing-masing mempunyai keunggulan absolut
pada
barang yang
berbeda.
Dengan demikian,
perdagangan
internasional
sesungguhnya tidak mengenal adanya kelompok negara superior yang mendominasi
perekonomian negara-negara inferior.
Teori Heckscher-Ohlin (H-0) dalam Konteks Perdagangan Internasional
Dasar teori ini adalah (I) adanya perbedaan antar negara dalam ha1 memiliki
faktor produksi--suatu negara memiliki suatu faktor produksi yang melimpah
Ricardo juga memberikan contoh lain mengenai manfaat perdagangan intemasional dalam konteks
keunggulan komparatif dengan menggunakan instmmen uang sebagai alat transaksi intemasional,
disamping ilustrasi pertukaran barang secara langsung.
19
sedangkan negara lainnya langka dan (2) adanya perbedaan biaya kotnparatif dalam
penggunaan faktor produksi-negara yang memiliki faktor produksi melimpah
cenderung memiliki biaya relatif lebih kecil untuk faktor produksi tersebut4. Dengan
demikian, komoditi-komoditi yang dalam produksinya memerlukan kombinasi faktor
produksi melimpah lebih banyak (dalam proporsi) dibanding faktor produksi langka,
sebaiknya diekspor untuk ditukar dengan komoditi impor yang memiliki kombinasi
sebaliknya. Dengan kata lain, suatu negara sebaiknya mengekspor komoditi yang
menggunakan faktor produksi melimpah dan mengimpor komoditi lain yang
menggunakan faktor produksi langka5. Namun demikian, ekspor maupun impor
untuk komoditi-komoditi tersebut hanya dapat dilakukan bila penggunaan faktor
produksi telab dilakukan secara intensif. Lebih lanjut, perbedaan dalam memiliki
faktor-faktor produksi ini telah membentuk pola perdagangan intemasional yang
berlangsung hingga kini.
Dalam kasus Indonesia, ada dua faktor produksi yang dapat dikatakan
melimpah yaitu sumber daya alam seperti minyak bumi, gas alam, pertambangan
lainnya, perikanan dan kehutanan serta tenaga kerja. Dalam kaitan ini, Indonesia
mencatat memiliki intensifikasi tinggi dalam memproduksi LNG berbasis sumber
daya alam dan tekstil & elektronika yang berbasis tenaga kerja. Dibandingkan
Malaysia misalnya, Indonesia memiliki intensitas faktor produksi lebih tinggi untuk
LNG, tetapi tidak lebih tinggi untuk elektronika dan seharusnya medorong
Teori ini dikembangkan oleh Eli Heckscher, seorang ahli sejarah ekonomi herkebangsaan Swedia,
1919 yang kemudian disempurnakan oleh anak didiknya sendiri, Bertil Ohlin, 1930 (Kindleberger,
International Economics, 1986, Eighth edition).
Teori Heckscher-Ohlin dalam kesempatan lain juga dapat diterapkan dalam perdagangan antar
daerah, terutama pada daerah-daerah yang memiliki karunia sumber daya alam (endowment)
berbeda-beda (Bressler & King, Markets, Prices and Interregional Trade, 1970).
spesialisasi produksi yang berbeda di kedua negara seperti ditunjukkan pada
Gambar 3. Dalam ha1 ini, Indonesia lebih berpeluang mengekspor LNGnya (secara
relatif diband~ngelektronika) karena intensitasnya lebih tinggi, sedangkan Malaysia
lebih berpeluang mengekspor produk elektronikanya. Garisfkurva kemungkinan
produksi yang berbeda antara Indonesia dan Malaysia menunjukkan adanya skala
ekonomi yang berbeda antara kedua negara, serta adanya pola intensitas penggunaan
faktor produksi yang berbeda pula.
Keraguan terhadap teori Heckscher-Ohlin mulai muncul dengan terjadlnya pola
perdagangan yang bergeser secara signifikan, terutama pasca perang dunia kedua.
Paling tidak ada dua fenomena empiris yang menunjukkan keraguan ini :
1. Semakin tinggi dan meningkatnya pangsa perdagangan internasional yang terjadi
antar negara-negara maju berpenghasilan tinggi, terutama antar negara di Eropa
Barat dan Amerika Utara. Sebelum perang, perdagangan antara negara-negara
berkembang yang kaya sumber daya alam dengan negara-negara maju yang
memiliki modal dan teknologi lebih mendominasi perdagangan intemasional,
sesuai teori H-0.
2. Semakin tinggi dan meningkatnya pangsa perdagangan intemasional untuk
barang-barang sejenis dalam perdagangan dua arah. Artinya dua negara samasama mengekspor dan mengimpor jenis barang yang sama. Untuk perdagangan
intra-ASEAN misalnya, setiap negara melakukan ekspor dan impor produk
elektronika dalam pangsa yang besar (lihat pembahasan kasus ini pada bagian
berikutnya dalam tesis ini).
-
(Per satuan masukan)
Gambar 3.
Kurva Kemungkinan Produksi Dua Negara dengan Intensitas
Faktor Produksi Berbeda
Keraguan terhadap teori Heckscher-Ohlin semakin tampak bila dibandingkan
dengan teori-teori lain berlatarbelakang perdagangan intemasional, baik yang ada
pada zamannya rnaupun yang muncul seteiah itu. Leontief Paradox merupakan salah
satu bukti kuat yang mernatahkan keyakinan terhadap teori ini. Amerika Serikat,
menurut Leontief, bukan merupakan negara eksportir barang-barang padat modal,
tetapi juga bukan negara importir barang-barang padat tenaga kerja. Model Ricardian
menunjukkan bahwa pola perdagangan intemasional lebih banyak dipengaruhi ole11
perbedaan internasional pada teknologi daripada perbedaan kekayaan sumber daya
Teori-teori altematif mengenai perdagangan intemasional dibahas oleh Hemanto Siregar dalam
tulisan berjudul : Alternative Theories of inlernational Trade and Their Empirical
Manfaat Perdagangan Internasional Dalam Konteks Kurva Penawaran dan
Permintaan
Pemikiran awal terjadinya perdagangan internasional adalah karena adanya
perbedaan harga komoditi di masing-masing negara. Perbedaan harga ini disebabkan
Pasar Kain
Amerika
14arga
Pasar Kain
ln~ernasional
Harp
(USSI
(US$)
Gambar 4.
Pasar Kain
Indonesia
I-lnrga
(US$)
Manfaat Perdagangan Internasional dan Kurva Penawaran &
Permintaan Dua Negara
oleh adanya perbedaan pada faktor-faktor pembentuk harga didalam negeri seperti
tingkat biaya produksi, jumlah produksi dan konsumsi. Negara-negara yang memiliki
tingkat harga komoditi lebih rendah dibanding di negara lain serta memiliki ekses
Support/Rejection :Is the Comparative Advantage Theory Obselete?, dalam Mimbar Sosek, IPB,
Desember 2000. Kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa tidak ada satupun teori yang mampu
menjelaskan semua isu perdagangan. Masing-masing teori hanya mampu menjelaskan satu-dua isu
berdasarkan sejumlah asumsi.
produksi
(produksi>konsumsi) akan berpeluang mengekspor barangnya dan
mengambil manfaat dari perdagangan internasional. Demikian juga negara yang
tingkat harganya lebih tinggi dan memiliki ekses konsumsi cenderung akan
mengimpor barang tersebut dan juga mengambil manfaat dari perdagangan ini.
Gambar 4 mengilustrasikan manfaat perdagangan internasional bagi dua negara
dikaitkan dengan kuwa penawaran dan permintaaan masing-masing negara, dengan
mengarnbil contoh Amerika Serikat dan Indonesia.
Sebelum berlangsung perdagangan internasional, keseimbangan penawaran dan
pemintaan kain di Arnerika Serikat terjadi pada tingkat harga 2 US$ dan tingkat
konsumsi
=
produksi
= 40.
Sedangkan di Indonesia terjadi pada tingkat harga yang
lebih rendah sebesar 0,8 US$ dan tingkat konsumsi
= produksi =
60. Kondisi harga
di kedua negara yang berbeda menyebabkan tejadinya dorongan bagi Indonesia
untuk mengekspor kain ke Amerika Serikat dan dorongan bagi Amerika untuk
mengimpornya. Katakan harga kain intemasional yang terbentuk adalah 1 US$'.
Karena harga kain domestik di Arnerika lebih tinggi dari harga intemasional, maka
Amerika cenderung mengimpor kain dan menggeser pola produksi maupun
konsumsinya. Dengan perdagangan intemasional, Amerika menambah konsumsi
menjadi 60 dan mengurangi produksi menjadi 20, dan selisihnya dipenuhi dari impor
sebesar 40. Untuk Indonesia, karena harga domestik lebih rendah dari harga
intemasional, berpeluang untuk mengekspor kainnya. Indonesia mengurangi
'
Seperti telah disinggung sebelumnya harga intemasional akan terbentuk diantara harga terendah
(0,s US$) dan harga tertinggi (2,O US$). Diluar range kedua barga tersebut tidak akan terjadi
perdagangan intemasional. Berapa tepatnya tingkat harga intemasional akan dipengaruhi oleh
seberapa besar kekuatan ekspor dan impor yang terjadi pada pasar intemasional.
konsumsinya menjadi 40 dan menambah produksi menjadi 80, dan kelebihan
produksi sebesar 40 diekspor ke Amerika.
2.
Ada dua aspek yang perlu diungkapkan dari berlangsungnya perdagangan
internasional antara Amerika Serikat dan Indonesia, yaitu : (1) tercapainya
keseimbangan pada pasar intemasional, dengan tingkat harga sebesar 1 US$ dan
tingkat ekspor Indonesia
=
impor Amerika = 40, dan (2) bagi negara pengimpor,
manfaat perdagangan akan diterima oleh konsumen karena harga yang dibayar lebih
rendah sehingga dapat menambah konsumsi, sebaliknya untuk produsen akan
memperoleh kemgian karena hams menjual dengan harga lebih rendah sehingga
hams mengurangi produksi. Bagi negara pengekspor berlaku efek yang sebaliknya.
Masalah Tarif Dalam Perdagangan Internasional
Ada dua variabel yang sering menjadi momok dalarn kegiatan perdagangan
intemasional, khususnya bagi negara yang ingin memperluas pasar ekspomya, (1)
t a r 8 yang berhubungan dengan pengenaan pajak dan bea masuk pada barang yang
diimpor dan (2) nun-tar&
berhubungan dengan pembatasan impor melalui
instrumen-instrumen non-ekonomi seperti masalah politik, HAM, lingkungan hidup
dan sejenisnya. Dalam era perdagangan bebas sekarang ini, hampir semua negara
mempunyai komitmen untuk bersama-sama menurunkan tarzff sekaligus membuka
pasar dalam negerinya, namun sekaitan dengan itu persoalan nun-tarzff semakin besar
dan menonjol, sehingga pada akhimya praktek proteksi produk sendiri tems
berlangsung melalui kebijakan non-tarzff
25
Kebijakan tariff yang dipraktekkan oleh sejumlah negara secara umum akan
merugikan dan ITIenuruIIkan kesejahteraan baik negara bersangkutan maupun negara
mitra dagangnya. Pada hampir semua kasus perdagangan bcbas. kebijakan tarifpada
akhimya selalu menurunkan aktivitas ekonomi dan kesejahteraan dan ini berlaku baik
pada konsumen, produsen bahkan pada penerimaan negara sendiri. Sebaliknya
kebijakan penghapusan (pengurangan) tariff pada barang impor akan memberi
peluang lebih besar pada konsumen untuk memperoleh surplus (surplus konsumen).
Berikut ini adalah suatu analisis mengenai efek pengurangan tariff pada
konsumen, produsen dan penerimaan negara, seperti diilustrasikan pada Gambar 5.
Gambar 5.
a.
Dampak Penurunan Tariff Pada Konsumen, Produsen dan
Penerimaan Negara
Pada tingkat harga dunia (Po), produsen hanya dapat menyediakan barang
sebesar Qo karena harga terlalu murah, sementara kebutuhan konsurnen sangat
tinggi sebesar Qs, sehingga diperlukan impor sebesar Qs-Qo.
b.
Untuk melindungi produsen dalam negeri serta meningkatkan pendapatan
negara dari rarzff (bea masuk), maka terhadap barang impor dikenakan ~arfff
sebesar r %, sehingga harga dalam negeri meningkat menjadi PI. I'ada tingkat
harga ini, konsumen terpaksa mengurangi konsumsinya menjadi Q j (berkurang
Qs-Q3) sedangkan produsen mampu menambah produksinya menjadi Q2
(bertambah Q2-Qo)dan impor yang diperlukan berkurang menjadi Q3-Q2.
c.
Selanjutnya pada tingkat harga P I diatas, temyata konsumen sangat dirugikan
(kehilangan surplus) sebesar luas bidang a
+ b + c + d + e + f + g + 11 + i + j,
produsen memperoleh surplus sebesar bidang b + f
+
g dan pemerintah
memperoleh pendapatan sebesar c + h. Dengan demikian suatu kebijakan rarrff
telah menciptakan efek pada kemgian total sebesar a + d + e + i + j.
d.
Untuk
memenuhi
komitmen
terhadap
perdagangan
bebas
dengan
menghilangkan tariff secara bertahap, pemerintah kemudian menumnkan
tingkat tarzff dari r % menjadi %r % sehingga harga turun menjadi P2. Pada
tingkat harga ini, konsumen kembali bergairah menambah konsumsinya
menjadi Q4 (bertambah Q4-Q3), sedangkan produsen terpaksa mengurangi
produksinya menjadi QI (berkurang Q2-Ql) dan impor bertambah menjadi Q4QI.
e.
Selanjutnya pada tingkat harga
sebesar luas bidang a
P2
diatas, konsumen memperoleh surplus
+ b + c + d, sebaliknya produsen dirugikan sebesar b.
Adapun untuk pendapatan pemerintah terjadi pergeseran dari c + h menjadi g +
h
+ i,
artinya pemerintah kehilangan pendapatan sebesar c akibat penurunan
targff tetapi memperoleh tambahan sebesar g
+i
akibat jumlah yang diimpor
bertambah. Apakah pendapatan pemerintah bertambah akibat penurunan [email protected]
ini, akan tergantung pada besaran c dibanding
g
+ i.
Secara keselumhan.
kebijakan penurunan tarzfJ telah menciptakan surplus total bagi konsumen,
produsen dan pemerintah sebesar a + d + g + i.
f.
Berdasarkan analisis teori diatas, maka kebijakan penurunan targf bagi barangbarang impor dalam semangat perdagangan bebas akan memberi manfaat total
bagi kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan ini pula kemudian dikembangkan
asumsi-asumsi yang mendasari penerapan metodologi dalam studi ini.
Disamping masalah tariff yang mempengaruhi intensitas perdagangan
intemasional, sebenarnya ada pula faktor lain yang patut diperhitungkan yaitu biaya
transportasi (transportation cost)*. Faktor jarak antara dua negara dan biaya
transportasi yang ditimbulkan sebenarnya tidak saja menentukan/mempengaruhi
volume perdagangan tetapi juga pola perdagangan, struktur industri berorientasi
ekspor, harga-harga faktor produksi, serta tingkat kedekatan hubungan perdagangan.
Dalam banyak kasus, suatu negara yang memiliki keunggulan komparatif bahkan
keunggulan absolut atas suatu barang tetap tidak mampu melakukan ekspomya secara
kompetitif karena biaya transportasi yang tinggi dan dukungan infra-struktur transpor
yang kurang memadai9. Biaya transpor yang dikeluarkan oleh banyak negara
9
Teori ini mengenai transportasi dalam konteks ruang dapat dikaitkan dengan Von Thunen Model of
Landrent. Biaya transportasi yang rendah akan meningkatkan aksesibilitas komoditi suatu negara
memasuki kawasan negara lain dan menjadikan mobilitas komoditi tersebut dalam ruang negara
lain menjadi semakin luas. Dalam pembahasan tesis ini, faktor transportasi hanya disinggung secara
kualitatif.
Masalah ini dibahas secara khusus oleh Anthony J. Venables dan Nuno Lilnao dalam paper,
Geographrcal Disadvantage : A Hecksclier-Ohlin-Yon Thunen Model of International
Specialisation, 1999.
berkembang untuk mengekspor produknya dapat berlipat kali dibanding biaya
transpor untuk produk sejenis di negara-negara maju. Contoh lain, negara-negara
yang tidak memiliki batas laut (landlocked countries) mempunyai biaya transpor
lebih tinggi dibanding negara-negara yang memiliki pelabuhan laut (coastal
countries).
Dalam kasus Indonesia, biaya transpor (shipping cost) juga menjadi masalah
serius yang berpotensi pada penurunan daya saing produk yang diekspor serta
berimplikasi pada semakin meningkatnya ekspor Indonesia melalui negara ketiga.
Pada awalnya, ha1 ini terjadi karena volume ekspor Indonesia untuk sejumiah
komoditi tertentu terutama ke Eropa Barat kurang efisien untuk diangkut satu kapal
besar dan menyebabkan satuan biaya shipping menjadi mahal. Untuk tetap dapat
mengekspor, terpaksa ekspor dilakukan melalui negara ketiga, yaitu Singapura
sebagai economic center. Di Singapura, barang-barang Indonesia (mungkin bersarnasama dengan barang-barang dari negara lainnya) dikemas kembali untuk dikapalkan
(transhipment) ke negara tujuan akhir. Jadi Singapura banyak mengambil keuntungan
dari jasa perdagangan akibat persoalan biaya shipping yang dihadapi Indonesia dalam
mengekspor barangnya.
Dari penjelasan di atas, dapat dibuktikan kembali bahwa Teori I-Ieckscher-Ohlin
mengenai faktor endowment dan intensitas faktor produksi belum cukup memadai
untuk memprediksi pola perdagangan suatu negara, karena akan tergantung pula pada
lokasi negara bersangkutan terhadap economic center-nya serta intensitas transportasi
untuk barang-barang yang diperdagangkan.
Konsep Ekspor dan Impor Barang
Berdasarkan konsep dan definisi mengenai international merchandise trade
statistics (United Nations, 1998), pemahaman ekspor dan impor barang dan praktek
penyediaan informasinya yang berlaku umum diselumh dunia adalah sebagai berikut:
a.
Ekspor Barang
Adalah seluruh barang yang dibawa keluar dari wilayah suatu negara, baik
bersifat komersial maupun bukan komersial (barang hibah, sumbangan, hadiah),
termasuk barang bergerak seperti : kapal laut, pesawat udara, satelit, serta
barang yang akan diolah di luar negeri yang hasilnya dimasukkan kembali ke
negara ini. Tidak termasuk dalam catatan ekspor adalah : (1) pakaian, barang
pribadi dan perhiasan milik penurnpang yang bepergian ke luar negeri, (2)
barang-barang yang dikirim untuk perwakilan negara tersebut di luar negeri, (3)
barang untuk eksibisilpameran, (4) peti kemas untuk diisi kembali, (5) uang dan
surat-surat berharga, (6) barang-barang contohlsampel, dan (7) barang-barang
yang dikirim ke luar negeri untuk diperbaiki.
b.
Impor Barang
Adalah seluruh barang yang masuk ke dalam wilayah suatu negara
(custonz area), baik bersifat komersial maupun bukan komersial, termasuk
barang-barang bergerak seperti telah disebutkan diatas. Seperti pada ekspor,
impor juga tidak mencakup 7 kategori barang seperti disebutkan diatas.
c.
Sistem Pencatatan Barang
Untuk ekspor, diberlakukan sistem perdagangan umum (general trade
system), artinya semua barang yang keluar dari wilayah suatu negara dicatat
sebagai ekspor tanpa kecuali. Sedangkan untuk impor, menggunakan sistem
perdagangan khusus (special frade system), dimana barang-barang yang
diimpor untuk
diolah lanjut pada kawasan khusus (kawasan berikat dan
kawasan bebas-?ee frade zone) tidak dimasukkan. Akibat perbedaan perlakuan
ini, pencatatan impor menjadi kerendahan (understated).
d.
Klasifikasi Jenis Barang
Penggolongan barang di dalam statistik ekspor dan impor menggunakan
Klasifikasi Tarzff Indonesia 1989 yang didasarkan atas klasifikasi HS
(Harmonized System) yang kemudian diperbaharui untuk tahun 1991, 1993 dan
terakhir 1996. Versi yang terakhir ini mengalami perubahan yang relatif besar
dibanding sistem pengkodean tahun sebelumnya. Kode HS yang paling rinci
terdiri dari 9 digit, dimana 6 digit pertama merupakan standar intenlasional,
sedangkan 3 digit terakhir hanya berlaku untuk negara bersangkutan dalam
menentukan [email protected] Disamping menggunakan HS (terkait dengan tarzfJ),
penggolongan barang juga menggunakan SITC (Standard International Trade
Class~$cation) yang digunakan secara luas oleh banyak negara di dunia untuk
berbagai keperluan analisis. Kode SITC yang paling rinci terdiri 8 digit dengan
agregasinya menjadi 3 digit, 2 digit dan 1 digit.
e.
Periode Referensi dan Penilaian
Periode waktu penentuan ekspor adalah tanggal diberikannya izin muat
barang (custom declaration) oleh petugas bea dan cukai. Di Indonesia diberikan
oleh Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC). Sedangkan penentuan impor
adalah tanggal diberikannya izin barang tersebut masuk ke wilayah suatu negara
(keluar dari custom area).
Ekspor dinilai pada harga FOB (free on board) yaitu harga sampai di
pelabuhan muat sebelum barang dimuat ke kapal, sedangkan impor dinilai pada
harga CIF (cost, insurance andfreight), yaitu harga sampai dipelabuhan tujuan
sehingga telah termasuk ongkos kapal dan asuransi.
Ekspor dan Impor Dalam Kerangka Neraca Pembayaran
a.
Pemahaman Neraca Pembayaran
Sebagai langkah antisipasi dalam menghadapi arus perdagangan bebas
yang makin meningkat baik dalam frekuensi maupun jenis transaksi dan seiring
pula dengan berkurangnya berbagai jenis hambatan tar~ffdan non tariff (tariff
and non tarzff barrier), maka diperlukan suatu sistem pencatatan administrasi
transaksi antar negara yang rapi, sistematis dan akurat. Suatu sistem pencatatan
yang diharapkan dapat merekam semua
jenis transaksi antar negara ini
selanjutnya disebut sebagai Sistem Neraca Pembayaran (SNP) atau Balance of
Payments
(BOP).
Secara konsepsi, SNP ini merupakan suatu sistem
pencatatan statistik mengenai transaksi ekonomi yang dilakukan antara
penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain dalam suatu periode waktu
tertentu.
Atau dengan kata lain, SNP merupakan suatu gambaran kuantitatif
secara menyeluruh mengenai hubungan ekonomi suatu negara dengan negara
lain.
Secara teknis, proses pencatatan data di dalam SNP ini disusun dengan
menggunakan kaidah akuntansi. Dengan cara ini semua jenis transaksi
dikelompokkan ke dalam jenis transaksi debit dan transaksi kredit.
Suatu
transaksi dikategorikan sebagai transaksi debit jika transaksi tersebut
menciptakan atau mengakibatkan bertambahnya kewajiban bagi penduduk suatu
negara untuk membayar atau memenuhi kewajiban kepada penduduk negara
lain. Atau dapat diartikan pula sebagai jenis transaksi yang berdampak terhadap
berkurangnya hak penduduk suatu negara untuk menerima pembayaran dari
penduduk negara lain. Sedangkan suatu transaksi dikategorikan sebagai
transaksi kredit, jika transaksi tersebut menciptakan atau mengakibatkan
bertambahnya hak bagi penduduk suatu negara untuk menerima pembayaran
dari penduduk negara lain. Atau dengan kata lain transaksi kredit adalah jenis
transaksi yang berdampak terhadap berkurangnya kewajiban bagi penduduk
suatu negara terhadap negara lain.
b.
Kerangka Dasar Neraca Pembayaran
Secara sederhana kerangka SNP terdiri dari dua komponen utama yaitu
neraca transaksi berjalan (current accounts) dan neraca modal dan keuangan
(capital and jnancial accounts). Selain dua komponen utama tersebut, dua
komponen lain dalam SNP adalah cadangan (reserves) dan catatan lain yang
belum tercakup (Net Errors and Ommisions).
Dalam neraca transaksi berjalan tercakup komponen ekspor dan impor
barang yang biasa dikenal dengan istilah neraca perdagangan (trade accounts).
Komponen lain dalam neraca transaksi berjalan adalah neraca pendapatan
(income accounts) dan transfer berjalan (current transfers). Sedangkan dalam
neraca modal dan keuangan tercakup komponen neraca modal (capital
accounts) dan neraca keuangan @nuncia1 accounts). Selanjutnya dalam neraca
keuangan tercakup semua komponen yang terdiri dari investasi langsung (direct
investment), investasi portofolio (portfolio investment) dan jenis investasi lain
(other investment) yang kesemuanya tidak termasuk komponen cadangan yang
dimiliki oleh bank sentral (reserves).
Di Indonesia, implementasi SNP mengacu pada rekomendasi IMF yang
saat ini lebih dikenal dengan Indonesia Balance Of Payments Based On IMF
(BOPM V ) . Format yang digunakan merupakan perbaikan dari format-format
sebelumnya dan merupakan format standar yang digunakan oleh sebagian besar
negara di dunia. Secara sederhana, format BOPM V dapat ditunjukkan sebagai
berikut :
I.
Current Accounts
A. Goods and Services
Credit
Debit
a. Goods
Credit
Debit
b. Services
Credit
Debit
B. Income
Credit
Debit
C. Current Transfers
Credit
Debit
II. Capital and Financial Accounts
-
A. Capital Account
Credit
Debit
B. Financial Account
Financial Acc, Exl. Reserves
a. Direct Investment
Portfolio Investment
c. Other Investment
b.
Reserve Assets
III. Net Errors and Ommisions
CEPT, AFTA dan ASEAN
a.
ASEAN dan Masalahnya
Sebagaimana dipahami secara m u m , ASEAN adalah suatu organisasil
perkumpulan negara-negara Asia Tenggara yang dibentuk untuk memperkuat
dan meningkatkan saling pengertian dan kerjasama dengan titik berat di bidang
ekonomi dan perdagangan. Dalarn perjalanannya, organisasi ini selalu
menghindari diri dari persoalan-persoalan politik yang terjadi di masing-masing
negara apalagi yang melibatkan antar negara ASEAN. Jadi ASEAN dibentuk
semata-mata untuk kepentingan ekonomi, dan terlepas dari persoalan non
ekonomi. Pada awalnya, negara anggota ASEAN terdiri dari Indonesia,
Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Brunei, kemudian mulai tahun
1998 masuk 4 anggota baru, Burma, Laos, Vietnam dan Kamboja, sehingga
sekarang seluruhnya berjumlah 10 negara.
Kemajuan ekonomi melalui kerjasama ASEAN ini memang belum banyak
dicapai. Secara struktural limpahan (endowment) faktor-faktor produksi dan
sumber daya diantara negara-negara ASEAN hampir mirip, sehingga struktur
ekonomi yang ada di negara-negara tersebut juga mirip. Untuk produk
pertambangan (migas), ada 3 negara yang sama-sama mengekspor (Indonesia,
Brunei dan Malaysia), bahkan Singapura juga mengekspor produk minyak
karena memiliki kapasitas kilang yang sangat besar. Untuk karet, Malaysia,
Indonesia dan Thailand memiliki pangsa pasar ekspor yang sama-sama kuat,
demikian juga untuk CPO. Untuk produk manufaktur, hampir semua negara
ASEAN menempatkan tekstil dan produk tekstil, serta elektronik sebagai
andalan ekspomya. Masih banyak kemiripan potensi ekonomi yang dimiliki
oleh negara-negara tersebut.
Akibat kondisi diatas, perdagangan antar negara (intra) ASEAN lebih
mempunyai ekses substitusi ketimbang ekses komplementer. Artinya apabila
perdagangan intra ASEAN ditingkatkan akan lebih berpotensi mematikan
produksi dalam negeri masing-masing yang sejenis. Dengan kata lain, impor
suatu negara dari negara ASEAN lainnya tidak banyak mendukung industri
dalam negerinya, karena kesamaan produk yang dihasilkan.
b.
AFTA, Suatu Semangat Barn Meningkatkan Kerjasama ASEAN
Pada pertemuan keempat para Kepala Pemerintahan Negara-Negara
ASEAN di Singapura pada Januari 1992, disepakati dibentuknya ASEAN Free
Trade Area (AFTA)
yang akan diberlakukan efektif mulai tahun 2003.
Banyak pengamat menyangsikan bahwa AFTA akan berjalan mulus dan
signifikan terhadap perkembangan perdagangan intra ASEAN. Namun
pemerintahan
masing-masing negara
lebih
optimis
dengan
beberapa
pertimbangan : (1) masing-masing negara telah berpengalaman dan terbiasa
dengan deregulasi dan liberalisasi ekonomi negaranya, (2) walaupun ada
hambatan struktural, masing-masing negara tetap bertekad saling mengisi dan
bahu membahu membentuk suatu simfoni yang merdu dengan komitmen yang
tinggi, (3) sebelum tahun 1977 negara-negara ASEAN telah memiliki ASEAN
Preferential Trading Arrangement (PTA) yang mengatur tercapainya marketsharing antar negara, dan (4) dengan trade regionalization dipercaya dapat
memperkuat negara-negara anggota dalam menghadapi perang dagang dengan
negara-negara kuat atau dengan kawasan regional lainnya.
c.
CEPT, Suatu Instrumen AFTA
Common Effective Preferential Tariff (CEPT) adalah suatu instrumen
yang digunakan untuk mencapai kinerja AFTA yang lebih efektif. Pada
dasarnya CEPT merupakan fasilitas atau konsesi yang diberikan secara seragam
oleh masing-masing negara ASEAN kepada para eksportir ASEAN berupa
keringanan bea masukltarzff bila memasukkan barang di negara ASEAN
lainnya. Artinya seorang eksportir dari negara ASEAN akan dikenakan bea
mas& yang lebih rendah (bahkan sampai 0 persen) dibanding eksportir dari
negara non ASEAN. Namun demikian, penurundkeringanan tarzffhanya dapat
diberikan jika produk yang diekspor ke negara-negara ASEAN mempunyai
kandungan bahan baku ASEAN minimal 30 persen.
Secara matematis, tentu saja ekspor produk-produk ASEAN akan lebih
kompetitif di pasar intra ASEAN dibanding produk-produk non ASEAN. CEPT
baru akan berjalan baik, bila ada jaminan (a reciprocal basis) dari semua
anggota ASEAN.
Secara politik, upaya penurunan tariff sebenarnya sudah masuk pada
wilayahpolitical economy dalam arti kebijakan yang diambil tidak semata-mata
kepentingan ekonomi, tetapi juga kepentingan ketahanan nasional.
Sebagian besar produk pertambangan dan industri dimasukkan dalam
skema CEPT, sebaliknya untuk produk pertanian hanya sebagian kecil saja. Ini
bisa dimaklumi sebab pada umumnya produk pertanian sangat sensitif seita
melibatkan jumlah petani yang besar. Sebagai contoh, beras tidak termasuk
dalam skema CEPT dan ini sangat menguntungkan Indonesia untuk melindungi
para petaninya, karena harga beras dunia saat ini lebih rendah dibanding harga
domestiknya.
Kesepakatan penurunan tariff atas sejumlah produk dalam skema CEPT
dibagi dalam dua jalur, (1) jalur cepat Vast track), yaitu produk yang memiliki
tariff diatas 20 persen, dikurangi menjadi 0-5 persen pada 1 Januari 2000, (2)
jalur normal (normal track) yaitu produk yang memiliki tarzffdi atas 20 persen,
akan dikurangi menjadi 0-5 persen pada 1 Januari 2003. Mengenai jenis-jenis
produk (product-line) yang masuk dalam skema CEPT dan yang akan dic&up
dalam penelitian ini akan dibahas lebih lanjut pada bab metodologi.
Download