BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Dijaman yang modern ini

advertisement
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dijaman yang modern ini banyak sekali wanita karier, 60% pekerja wanita dan jumlah ini
diperkirakan akan mencapai 67% pada peningkatan tenaga kerja dekade mendatang (Rix, 2007).
Saat ini masa emansipasi wanita dan peran wanita bergeser dari tradisional menjadi modern,
peran tradisional yaitu untuk melahirkan anak (reproduksi) dan mengurus rumah tangga, saat ini
wanita memiliki peran sosial dimana dapat berkarier dalam bidang kesehatan, ekonomi, sosial
maupun politik, dengan didukung tingkat pendidikan yang tinggi, secara tradisional peran wanita
dibatasi dan ditempatkan diposisi pasif yaitu wanita hanya pendukung karier suami. Peran
wanita yang terbatas hanya peran reproduksi dan peran rumah tangga membuat wanita identik
dengan pengabdian kepada suami dan anak sementara wanita modern dituntut untuk
berpendidikan tinggi, berperan aktif dan kritis ialah yang disebut dengan wanita karier (Health
Woman, 2008).
Wanita karier yang melakukan aktivitas diluar kodratnya sebagai wanita ibu rumah tangga,
diluar rumah wanita karier menghabiskan waktu untuk melakukan aktivitas yang lebih dari pada
waktu mereka di rumah dan banyak wanita karier yang melakukan penyapihan lebih dini dengan
alasan karena ketidaktahuan dan kurangnya minat untuk menyusui bayinya, agar lebih mudah
beraktivitas, mencukupi kebutuhan ekonominya, kurangnya waktu di rumah, dan yang lebih
gampang bisa menggunakan susu formula untuk pengganti ASI dan menganggap susu formula
sama baiknya dengan ASI (Health Woman, 2008).
Keberhasilan atau kegagalan pemberian ASI dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat
mempengaruhi penggunan ASI antara lain perubahan sosial budaya (Ibu bekerja, meniru teman),
faktor biologis (takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita), faktor fisik ibu (Ibu sakit),
dan jarak kelahiran karena kegagalan kontrasepsi. (Soetjiningsih, 2007).
Berdasarkan
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
450/Menkes/SK/IV/2004 bahwa ASI adalah makanan terbaik bagi bayi karena mengandung zat
gizi yang paling sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. ASI perlu diberikan secara
eksklusif sampai umur 6 bulan dan dapat dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun (Sulistyawati,
2009).
Agama islam menganjurkan untuk menyempurnakan penyusuan sampai umur 2 tahun
dalam QS: Al-Baqarah ayat 233 wanita dianjurkan untuk memberikan ASI dua tahun penuh, jika
dia bermaksud untuk menyempurnakan secara penuh, ” Para ibu menyusukan anak-anak mereka
dua tahun sempurna, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” (Nirwana, 2008). Pemberian
ASI dapat membantu bayi memulai kehidupannya dengan baik. Kolostrum, atau susu pertama
mengandung antibody yang kuat untuk mencegah infeksi dan membuat bayi menjadi kuat.
Karena didalam ASI mengandung gizi diantaranya, protein, lemak, vitamin, zat besi, zat anti
infeksi, laktoferin (Sulistyawati, 2009).
ASI yang didapat bayi selama proses menyusui akan memenuhi kebutuhan nutrisi bayi
sehingga dapat menunjang perkembangan kognitifnya. Perkembangan otak paling pesat terjadi
pada usia 0 - 2 atau 3 tahun, dimana volume otak akan mencapai 80%. Karenanya, pemberian
ASI sangat dibutuhkan pada usia 0 – 2 atau 3 tahun (Sulistyawati, 2009). Saat menginjak tahun
kedua, kemampuan bayi berkembang, seperti merangkak atau belajar berjalan dan memasukkan
segala sesuatu ke mulutnya. Akibatnya, bayi akan mudah mengalami infeksi penyakit.
Disarankan ibu tetap menyusui bayi hingga usia 2 tahun untuk mempertahankan kekebalan
tubuhnya terhadap serangan virus dan bakteri penyebab penyakit.(Sulistyawati, 2009). Badan
organisasi dunia melalui WHO dan UNICEF juga sangat mendukung pemberian ASI sampai
umur 2 tahun.
Berdasakan latar belakang peneliti tertarik untuk mencari kejelasan tentang faktor-faktor
yang mempengaruhi wanita karier melakukan penyapihan pada anak di Desa Petanahan
Kecamatan Petanahan, sebagian besar pekerjaan didaerah Petanahan PNS, Pegawai swasta, dan
Pedagang, sehingga kemungkinan waktu bersama anak dirumah berkurang dan waktu
penyapihan cenderung lebih dini.
Dari hasil pendahuluan pada bulan april 2012 salah satu faktor yang mempengaruhi ibu
melakukan penyapihan anaknya adalah ibu yang bekerja, di Desa Petanahan terdiri dari 14 RT
dan 3 RW merupakan bagian dari Desa yang berada di Kecamatan Petanahan Kabupaten
Kebumen. Di Desa Petanahan terdapat 5 Posyandu yang tersebar di 5 lingkungan, jumlah Bidan
desa yang ada 1 orang dan jumlah kader 26 orang, berdasarkan studi pendahuluan yang
dilakukan di lokasi diperoleh data bahwa terdapat 224 balita di desa tersebut, jumlah ibu yang
masih menyusui 90 orang, jumlah ibu yang sudah menyapih 134orang, yang terdiri dari jumlah
wanita karier yang menyapih 37 orang dan ibu rumah tangga 97 orang.
Pemberiaan ASI lebih pendek sering terjadi di desa Petanahan dikarenakan ibu yang sudah
malas menyusui dan terutama ibu yang bekerja. Menurut kader Posyandu desa Petanahan
didapatkan data 40% ibu yang masih memberikan ASI atau yang sedang menyusui, 60% ibu
yang sudah menyapih yang diantaranya ada 37 wanita karier yang sudah melakukan penyapihan,
dari data tersebut penulis belum mengetahui umur yang mereka butuhkan untuk menyapih
anaknya danfaktor-faktor apa saja yang mempengaruhi wanita karier melakukan penyapihanpada
anak di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan masalah yang akan
diteliti yaitu: Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi wanita karier melakukan penyapihan
pada anak di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi wanita karier
melakukan penyapihan pada anak di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui faktor pengaruh pekerjaan terhadap wanita karier yang melakukan
penyapihan pada anak di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan.
b. Untuk mengetahui faktor pengaruh pengetahuan terhadap wanita karier yang melakukan
penyapihan pada anak di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan.
c. Untuk mengetahui faktor pengaruh jarak kelahiran terhadap wanita karier yang
melakukan penyapihan pada anak di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan.
d. Untuk mengetahui faktorpengaruh kondisi fisik ibu terhadap wanita karier yang
melakukan penyapihan pada anak di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan.
e. Untuk mengetahui faktor yang paling dominan yang mempengaruhi penyapihan pada
anak di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan.
D. Manfaat
1. Bagi Masyarakat
Diharapkan dapat menjadi informasi dan bahan masukan bagi masyarakat khususnya
wanita karier yang sedang menyusui di Desa Petanahan dalam meningkatkan program
penyapihan anak sampai umur 2 tahun.
2. Bagi Puskesmas (petugas kesehatan)
Penelitian ini dapat digunakan sebagai perhitungan dalam menangani kasus
penyapihan. Puskesmas ikut memotivasi dan memberikan pendidikan kesehatan kepada
wanita karier dan keluarga untuk dapat mengerti tentang pentingnya melakukan
penyapihan sampai umur 2 tahun, khususnya di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan.
3. Bagi Wanita karier
Diharapkan dapat menjadi informasi dan dapat menambah wawasan serta pengetahuan
bagi wanita kerier khususnya yang menyusui mengenai pemberian ASI sampai dengan
umur 2 tahun di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan.
4. Bagi penulis
Merupakan persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan S1 Keperawatan sekaligus
menambah wawasan ilmu pengetahuan dalam mempersiapkan pengumpulan , mengelola,
menganalisa, dan menginformasikan data temuan. Menerapkan pengetahuan dan
ketrampilan dalam melakukan penelitian dan menambah pengetahuan penulis tentang
pentingnya melakukan penyapihan sampai umur dari 2 tahun.
5. Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai informasi dan acuan untuk melaksanakan penelitian- penelitian selanjutnya,
khususnya yang menyangkut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penyapihan.
E. Keaslian Penelitian
Sejauh ini, penulis belum menemukan atau membaca penelitian tentang faktor-faktor
yang mempengaruhi wanita karier melakukan penyapihan anak kurang dari 2 tahun.
Adapun penelitian yang terkait yaitu:
1. Penelitian oleh Agus (1994) “ Hubungan antara Umur Penyapihan Dengan Kejadian
Diare pada anak 6-24 bulan di Puskesmas Ngombol dan Puskesmas Purwodadi “.
Jenis penelitian ini eksplanatory menggunakan metode case control. Hasil penelitian
menunjukan bahwa anak umur 6-24 bulan yang disapih anak kurang dari 12 bulan
mempunyai resiko terjadi diare 2 kali lebih besar dibanding dengan anak yang disapih
umur lebih dari atau sama dengan 12 bulan (QR=2,26 P=0,01).
Perbedaan dari penelitian diatas dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis
yaitu populasi dalam penelitian ini adalah wanita karier yang memiliki anak yang
sudah disapih di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan. Penelitian ini bersifat
deskripif analitik, dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui faktor-faktor
yang mempengaruhi wanita karier melakukan penyapihan pada anak.Lokasi
penelitian ini dilakukan di Desa Petanahan.
2. Penelitian oleh Eka Nurhidayati Harumningtyas(2011) “ faktor-faktor yang
mempengaruhi penyapihan pada anak usia 0-2 tahun di Desa Pabean kecamatan
Sedati Kabupaten Sidoarjo “.Desain dalam penelitian ini menggunakan desain
deskriptif. Populasinya adalah semua ibu yang melakukan penyapihan pada anak
usia 0-2 tahun di Desa Pabean Sedati Sidoarjo, sebesar 35 orang. Sampelnya diambil
secara total sampling sebesar 35 responden. Variabel pada penelitian ini adalah
faktor-faktor yang memepengaruhi penyapihan pada anak usia 0-2 tahun. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruhnya (88,6%) ibu melakukan
penyapihan pada usia anak <6 bulan. Faktor terbesar dalam melakukan penyapihan
sebagian besar (68,5%) terdapat pada faktor ibu. Dari penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa faktor terbesar yang mempengaruhi penyapihan pada anak usia 02 tahun adalah dari faktor ibu, dan usia penyapihan terbanyak pada anak usia 0-2
tahun adalah pada usia <6 bulan.
Perbedaan dari penelitian diatas dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis
yaitu populasi dalam penelitian ini adalah wanita karier yang memiliki anak yang
sudah disapih di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan. Penelitian ini bersifat
deskripif analitik, dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui faktor-faktor
yang mempengaruhi wanita karier melakukan penyapihan pada anak.Lokasi
penelitian ini dilakukan di Desa Petanahan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. TINJAUAN PUSTAKA
1. Wanita Karier
a. Pengertian wanita karier
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002 wanita adalah (orang)
perempuan (lebih halus), kaum-kaum putri, sedangkan perempuan adalah sebagai
lawan laki-laki, kata wanita berasal dari bahasa sansekerta artinya “yang
diinginkan,”yang dipuji”. Sedangkan secara etimologis, kata perempuan berasal
dari “empu” suatu gelar kehormatan yang berarti tuan juga berarti orang yang
ahli.
wanita karier adalah wanita yang memperoleh atau mengalami perkembangan
dan kemajuan dalam pekerjaan, jabatan, dan lain-lain. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia, 2002 Karier adalah kemajuan dalam kehidupan perkembangan
dan
kemajuan
dalam
pekerjaan,
jabatan,
dan
sebagainya.
Karier
(karya,kerja,amal)menunjuk pada sesuatu yang dilakukan adalah seluruh anggota
tubuh, fisik maupun psikis, jadi tidak statis tetapi dinamis, dan bergerak menuju
kemajuan.
Karier dalam arti umum adalah pekerjaan yang memberikan harapan untuk
maju, dan wanita karier menerima gaji atau penghargaan lain, untuk dinikmati
oleh dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat asalkan pekerjaan tersebut
mendatangkan kemajuan.Hanya yang kurang tepat, semua wanita yang bekerja di
kantor, lebih-lebih sebagai pegawai negri yang cenderung disebut wanita karier.
Sebenarnya bekerja apa saja asal mendatangkan kemajuan dalam kehidupan yaitu
disebut karier.
Keuntungan yang dinikmati wanita karier yang berkembang ,pada umumnya
keuntungan yang didapat adalah:
1). Bertambahnya sumber financial.
2). Meluasnya network jaringan hubungan.
3). Tersediannya kesempatan untuk menyalurkan bakat dan hobi.
4). Terbukanya kesempatan untuk mewujudkan citra diri yang positif(Aida
Vitalaya, 2005).
2. Alasan wanita Indonesia bekerja
Keadaan perekonomian rumah tangga sering kali mengharuskan wanita ikut
mencari nafkah di luar rumah.Wanita yang bekerja menyebabkan adanya
perubahan baik dalam kehidupan keluarganya maupun kehidupan pribadi wanita
tersebut.Secara ekonomi pasangan suami istri yang bekerja, atau biasanya disebut
dengan istilah two workers family,menyebabkan peningkatan kesejahteraan hidup
keluarga. Wanita yang bekerja di luar rumah mengemban peran ganda, peran
sebagai ibu rumah tangga dan peran sebagai pekerja (karyawan, pengusaha, atau
professional) ( Aida Vitalaya, 2005).
3. Tuntutan wanita karier dalam rumah tangga.
Wanita dituntut untuk bertanggung jawab lebih besar dalam kegiatan rumah
tangga dibanding laki-laki.Adanya anggapan tradisional yang menuntut wanita
harus sempurna dalam semua peran (bahkan tuntutan ini sering kali tidak berasal
dari suami, melainkan keluarga besar, kerabat dan lingkungan tempat tinggal),
misalnya kurang berhasilnya pendidikan anak atau anak yang kurang sehat, yang
disalahkan adalah ibunya bukan bapaknya.Wanita bekerja sering kali merasa
bersalah karena waktu untuk memperhatikan keluarga, terutama perkembangan
anak pasti sedikit banyak berkurang, terbagi dengan waktu bekerja.Sebagai wanita
berperan ganda, tentu saja memiliki keinginan untuk menjalani kedua peran
sebaik-baiknya. Tetapi menjalani sebaik-baiknya tidak berarti harus menjadi
sempurna( Sudrajat, 2006).
4. Air Susu Ibu (ASI)
a. Pengertian ASI
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein,
laktosa, dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua buah kelenjar
payudara ibu, sebagai makanan utama bayi (Soetjhiningsih, 2007 ).Air Susu
Ibu makanan utama untuk bayi. Menyusui memberi banyak keuntungan:
nutrisi, imunologi dan psikologis.
b. Komposisi Gizi dalam ASI
1). Protein
Dibandingkan dengan komposisi mamalia lain, protein ASI paling
rendah, berkisar 1,3 g/ml pada bulan pertama dengan rata-rata 1,15
g/100ml. ASI mengandung whey protein dan casein. Casein adalah protein
yang sukar dicerna dan Whey protein adalah protein yang membantu
menyebabkan isi pencernaan bayi bisa menjadi lebih lembut atau mudah
dicerna oleh usus bayi.Rasio whey-casein yang tinggi pada ASI membantu
pencernaan bayi dengan pembentukan hasil akhir pencernaan bayi yang
lebih lembut dan mengurangi waktu pengosongan gaster bayi. Rasio
casein: whey pada ASI adalah 60:40, sedangkan pada susu sapi dan susu
formula adalah 20:80 dan 18:82. Di sini tampak bahwa casein dalam ASI
hanya separuh dari susu sapi(Sulistyawati, 2009).
2). Lemak
Lemak ASI terdiri dari trigliserid (98-99%) yang dengan enzim lipase
akan terurai menjadi trigliserol dan asam lemak. Enzim lipase tidak hanya
terdapat pada sistem pencernaan bayi, tapi juga dalam ASI.Lemak ASI
lebih mudah dicerna karena sudah dalam bentuk emulsi. Salah satu
keunggulan lemak ASI adalah kandungan asam lemak esensial,
docosahexaenoic acid (DHA) dan Aracnoid acid(AA) yang berperan
penting dalam pertumbuhan otak sejak trisemester 1 kehamilan sampai 1
tahun usia anak, yang merupakan asam lemak esensial sebenarnya adalah
kelompok Omega-3 yang dapat diubah menjadi DHA dan Omega-6 yang
dapat diubah menjadi AA. Kelebihan ASI dapat terjadi karena ASI selain
mengandung n-3 dan n-6 juga mengandung DHA dan AA. Konsentrasi
lemak meningkat dari 2.0 g/100ml pada kolostrum menjadi sekitar 4-4,5
g/100ml pada 14 hari setelah persalinan. Dalam ASI asam lemak terdiri
dari 42% asam lemak jenuh dan 57% asam lemak tak jenuh, termasuk
DHA dan AA yang sangat dibutuhakn untuk perkembangan otak bayi dan
anak kecil(sulistyawati, 2009).
3). Vitamin
a). Vitamin yang larut dalam lemak
Vitamin A adalah salah satu vitamin penting yang tinggi kadarnya
dalam kolostrum dan menurun pada ASI bias.ASI adalah sumber
vitamin A yang baik dengan konsentrasi sekitar 200 IU /dl. Vitamin
yang larut dalam lemak lainnya adalah vitamin D,E dan K. Konsentrasi
vitamin D dan K sedikit dalam ASI.
b). Vitamin yuang larut dalam air vitamin C, asam nicotinic, B12, B1
(tiamin), B2 (riboflavin), B6 (Pirodoksin) sangat dipengaruhi oleh
makanan ibu namun untuk ibu dengan status gizi normal tidak perlu
diberi suplemen (Sulistyawati,2009).
4). Zat besi
Maskipun ASI mengandung sedikit zat besi (0,5-1,0 mg/liter), numun
bayi yang menyusui jarang terkena anemia. Bayi lahir dengan cadangan zat
besi dan zat besi dari ASI diserap dengan baik (>70%) dibandingkan
dengan penyerapan 30% dari susu sapi dan 10% dari susu formula
(Sulistyawati,2009).
5). Zat anti infeksi
ASI mengandung anti infeksi terhadap berbagai macam penyakit, seperti
penyakit
saluran
pernafasan
atas,
diare,
dan
penyakit
saluran
pencernaan.ASI sering disebut juga “darah putih” yang mengandung
enzim, imunoglobin, dan leukosit.Leukosit terdiri atas fagosit 90% dan
limfosit 10%, yang meskipun sedikit tetap dapat memberikan efek protektif
yang signifikan terhadap bayi. Immunoglobin merupakan protein yang
dihasilkan oleh sel plasma sebagai respon oleh adanya immunogen atau
antigen (zat yang menstimulasi tubuh untuk memproduksi antibodi)
(Sulistyawati,2009).
6). Laktoferin
Laktoferin banyak dalam ASI 91-6mg/ml, tapi tidak terdapat dalam susu
sapi, laktoferin bekerja sama dengan IgA untuk menyerap zat besi dari
pencernaan sehingga menyebabkan terhindarnya suplai zat besi dari
pencernaan sehingga menyebabkan terhindarnya suplai zat besi yang
dibutuhkan organisme patogenik, seperti Eshercia Coli (E.Coli) dan
Candida Albikans (Sulistyawati,2009).
7). Faktor bifidus
Faktor bifidus dalam ASI meningkatkan pertumbuhan bakteri baik
dalam usus bayi (Lactobacillus Biffidus) yang melawan pertumbuhan
bakteri patogen (seperti Shigella, Salmonela, E.Coli) yang ditandai dengan
ph rendah (5-6) bersifat asam dari tinja bayi (Sulistyawati,2009).
8). Lisozim
Lisozim termasuk whey protein yang bersifat bakteriosidal, anti
inflamasi dan mempunyai kekuatan beberapa ribu kali lebih tinggi dari
pada sapi. Lisozim dapat melawan serangan E.Coli dan Salmonela serta
lebih unik dibanding antibodi lain karena jika yang lain menurun maka
kadar lisozim akan meningkat di ASI setelah bayi berumur diatas 6 bulan
sampai saat bayi sudah mulai diberikan makanan pendamping ASI, oleh
karena
itu,
kemungkinan
terkena
infeksi
semakin
tinggi
(Sulistyawati,2009).
9). Taurin
Taurin adalah asam amino dalam ASI yang terbanyak kedua dan tidak
terdapat dalam susu sapi. Berfungsi sebagai neurotransmitter dan berperan
penting dalam maturasi otak bayi. Karena itu susu formula bayi
kebanyakan
berusaha
menambah
taurin
di
dalam
formulanya
(Sulistyawati,2009).
c. Manfaat Pemberian ASI
1). Bagi bayi
Pemberian ASI dapat membantu bayi memulai kehidupannya dengan
baik. Kolostrum atau susu pertama mengandung antibodi yang kuat untuk
mencegah infeksi dan membuat bayi menjadi kuat. Penting sekali bagi bayi
untuk segera minum ASI dalam jam pertama sesudah lahir, kemudian
setidaknya setiap 2-3 jam.ASI mengandung campuran berbagai bahan
makanan yang tepat bagi bayi.ASI mudah dicerna oleh bayi. ASI saja tanpa
bahan makanan lain merupakan cara terbaik untuk memberi makanan bayi
dalam waktu 4-6 bulan pertama. Pemberian ASI pada umumnya harus
disarankan selama 1 tahun pertama kehidupan anak sampai berumur 2
tahun (Sulistyawati,2009).
2). Bagi Ibu
Pemberian ASI membantu ibu untuk memulihkan diri dari proses
persalinannya. Pemberian ASI selama beberapa hari pertama membuat
rahim berkontraksi dengan cepat dan memperlambat perdarahan (hisapan
pada putting susu merangsang dikeluarkannya hormon oksitosin alami
yang akan membantu kontraksi rahim).(Sulistyawati,2009).
a). Wanita yang menyusui bayinya akan lebih cepat pulih/turun berat
badannya dari berat badan yang bertambah selama kehamilan
(Sulistyawati,2009).
b). Ibu yang menyusui yang menstruasinya belum muncul kembali akan
kecil kemungkinannya untuk menjadi hamil (kadar prolaktin yang
tinggi akan menenkan hormon FSH dan ovulasi).(Sulistyawati,2009).
c). Pemberian ASI adalah cara terbaik bagi ibu untuk mencurahkan kasih
sayangnya kepada buah hatinya (Sulistyawati,2009).
3). Bagi semua orang
a). ASI selalu bersih dan bebas hama yang tidak dapat menyebabkan
infeksi (Sulistyawati,2009).
b). Pemberian
ASI
tidak
memerlukan
persiapan
khusus
(Sulistyawati,2009).
c). ASI selalu tersedia dan gratis (Sulistyawati,2009).
d). Bila ibu memberikan ASI kepada bayinya sewaktu-waktu ketika
bayinya meminta (on demand)maka kecil kemungkinannya bagi ibu
untuk
hamil
dalam
(Sulistyawati,2009).
6
bulan
pertama
sesudah
melahirkan
e). Ibu yang menyusui yang siklus menstruasinya belum pulih kembali
akan memperoleh perlindungan sepenuhnya dari kemungkinan hamil.
(Sulistyawati,2009).
5. Penyapihan
a. Pengertian Penyapihan
Pengertian penyapihan yang dikemukakan para ahli diantaranya menurut
anna fitria,2007.Menyapih adalah suatu proses berhentinya masa menyusui
secara berangsur angsur atau sekaligus. Merry E.Beck,2000.Mengatakan
menyapih dapat berarti penghentian pemberian ASI menjadi makanan
campuran yang biasanya dilakukan pada waktu bayi berusia 1 tahun dan 2
tahun.World Health Organization (WHO) merekomendasikan penyapihan
dilakukan setelah bayi berusia 2 tahun. Pada usia ini anak sudah mempunyai
pondasi kuat bagi perkembangan selanjutnya. Penyapihan anak 2 tahun
dilakukan demi perkembangan maupun psikologis anaknya,seperti:
1). Mengembangkan pengenalan aneka ragam rasa dan teksturmakanan. Hal
ini berpengaruh pada perkembangan intelektualitasnya karena daya
ingatnya akan menyimpan informasi mengenai berbagai rasa dan tekstur
makanan.
2). Memperbanyak latihan mengunyah makanan padat agar gigidanrahangnya
berkembang optimal
3). Anak dilatih untuk mandiri karena tidak bergantung pada ASI setiap kali
anak lapar atau haus.
Pada saat penyapihan yang terpenting adalah pemberian ASI
masih terus diberikan yang dapat diteruskan sampai umur anak 2 tahun, selain
anak diuntungkan oleh pemberian susu terbaiknya, sekaligus sebagai salah satu
cara ikut keluarga berencana, karena selama masih tetap menyusui bayi, sel
telur tidak mudah terbentuk (Samsudin, 2000).
b. Prinsip Penyapihan
1). Gantikan diri ibu dengan orang lain, bukan dengan benda. Peran ayah
dalam proses penyapihan ini akan sangat membantu.
2). Sapilah secara perlahan dan bertahappelepasan kedekatan emosional yang
terbentuk dariproses menyusui secara mendadak akan mengakibatkan stress
berlebihan bagi si kecil.
3). Umumnya padausia 18 bulan-2 tahun, anak memiliki dorongan menyusui
yang sangat kuat. Hal ini disebabkan pada umur tersebut, anak semakin
bersemangat untuk menjelajahi dunia yang baru dikenalnya.Tapi anak
masih membutuhkan sesuatu yang membuat bayi merasa nyaman yaitu
menyusui ibunya.
4). Katakana “tidak” bila perlu dengan cara kreatif yang membuat anak tidak
merasa ditolak.
5). Kembangkan alternatif kreatif untuk penyapihan. Untuk menghindari anak
menyusui sebelum tidur, ciptakan rutinitas baru sebelum tidur, seperti
cerita sebelum tidur, dll.
c. Cara penyapihan
Metode paling baik untuk menyapih bayi adalah dengan proses perlahanlahan. Menghentikan proses menyusui secara tiba-tiba bisa menjadi traumatis
untuk bayi. Beberapa metode untuk melakukan penyapihan bayi antara lain:
1). Mengurangi frekuensi menyusui
Gantikan ASI dengan susu formula untuk bayi, mengurangi frekwensi
menyusui perlahan-lahan memberikan bayi waktu untuk beradaptasi
terhadap hilangnya waktu menyusui. Suplai ASI juga akan berkurang
secara bertahap, sehingga payudara ibu tidak membengkak.
2). Perpendek durasi menyusui
Pengganti waktu menyusui yang terpotong, berikan cemilan sehat untuk
bayi seperti susu formula atau buah-buahan.
3). Tunda atau alihkan perhatian
Metode ini hanya bisa dilakukan pada balita yang sudah bisa
berkomunikasi dan menangkap maksud ibu. Apabila bayi meminta untuk
menyusu, tunda keinginannya dengan cara mengalihkan perhatiannya.
d. Waktu penyapihan
Tidak ada batasan kapan seharusnya bayi dihentikan menyusu atau disapih,
akan tetapi tidak berarti bayi harus disusukan ibunya selama mungkin. Dalam
surat Albaqarah ayat 223 disebutkan bahwa “ Para ibu hendaklah menyusukan
anak-anaknya selama 2 tahun penuh, yaitu yang ingin menyempurnakan
penyusuan (Nirwana,2011).
Anjuran menyusui selama 2 tahun itu bukanlah semata-mata karena ASI
merupakan sumber gizi bagi bayi, ASI juga mengandung aneka zat protektif
yang melindungi bayi dari berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh virus,
bakteri atau lainnya, akan tetapi semakin banyak anak yang diberi ASI semakin
berbedalah anak tersebut. Perkembangan psikologis dan kognitifnya juga
berbeda jika dibanding dengan bayi yang memperoleh dari susu formula.
Disamping itu pemberian ASI akan memperkokoh hubungan batin antara ibu
dan anak.Bayi yang berada dalam dekapan ibu, bukan saja hanya merasakan
kehangatan kulit yang lembut, tetapi juga kehangatan rangkulan dan suara
detak jantung ibu (Nirwana, 2011).
Kasih sayang yang dicurahkan kepada bayi diawal kehidupan bertujuan
untuk memberinya perasaan hangat, aman dan nyaman.Bayi yang masih sangat
kecil mengkomunikasikan kasih sayangnya dengan menangis, tertawa,
melakukan kontak mata, dan dengan bersuara. Orang tua akan mendorong
terjadinya komunikasi melalui kata-kata, pelukan, menirukan suara bayidan
pemberian ASI. Sudah menjadi keharusan bagi seorang ibu untuk memberikan
ASI, karena ini adalah bukti cinta kasih ibu terhadap anaknya (Nirwana,2011).
6. Faktor-Faktor yang dapat mempengaruhi wanita karier melakukan penyapihan
kurang dari 2 tahun.
a. Pekerjaan
Pekerjaan adalah segala aktivitas sehari-hari yang dilakukan sehingga
menghasilkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Faktor
ekonomi sering memaksa ibu untuk mencari nafkah di luar rumah dan bayi
ditinggalkan dengan anggota keluarga lain di rumah, ASI terpaksa diganti susu
formula lebih awal(Moehji, 2005). Seringkali alasan pekerjaan (PNS, pegawai
swasta, pedagang, petani dan lain-lain), membuat seorang ibu merasa kesulitan
untuk memberikan ASI, banyak diantaranya karena ketidaktahuan dan
kurangnya minat untuk menyusui bayinya.Walaupun ibu bekerja sebaiknya
terus menyusui bayinya, untuk mencegah penurunan produksi ASI dan
penyapihan yang terlalu dini (Soetjiningsih,2007).
b. Pengetahuan tentang ASI
Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap objek tertentu (Notoatmodjo, 2002).Salah satu faktor
keengganan ibu menyusui bayinya yaitu karena kurangnya informasi tentang
manfaat dan keunggulan ASI, kurang pengetahuan ibu tentang upaya
mempertahankan
kualitas
dan
kuantitas
ASI
selama
periode
menyusui(Widjaja,2004).Pengetahuan tentang manfaat ASI sangat penting
bagi seorang ibu, ibu yang tahu tentang manfaat ASI secara menyeluruh
diharapakan mempunyai motivasi yang kuat dalam menyusui sampai waktu
penyapihan yaitu lebih dari 2 tahun (widjaja,2004).
c. Jarak Kelahiran
Jarak kelahiran adalah jarak antara anak terakhir dengan anak
sebelumnya.Idealnya jarak kehamilan pertama dengan kehamilan berikutnya
adalah 24-60 bulan, dengan memberikan jarak yang cukup pada kehamilan
berikutnya dapat menjaga kesehatan ibu dan bayinya. Psikologi keluarga
menjadi lebihsehat dan jarak kelahiran 2 tahun atau lebih paling ideal untuk
kecerdasan anak (kasey Bucles, 2011).
Pengaturan jarak kehamilan dalam program KB sering hanya dilihat
sebagai upaya membatasi jumlah anak, dalam hubungnnya dengan kemampuan
menyediakan makanan yang bermutu dalam jumlah yang sesuai dengan
kebutuhan (Moehji,2005).Jarak kelahiran yang begitu dekat memungkinkan
berhentinya menyusui pada bayi.Seringkali anak tidak mau menyusu dengan
sendirinya kalau ibu hamil hal ini karena adanya perubahan hormonal pada ibu
hamil yang menyebabkan menurunnya produksi ASI dan putting susulebih
lunak. Penyapihan juga bisa datang dari ibunya, karena adanya perasaan yang
kurang
nyaman,
mual
atau
muntah,
kelelahan
pada
ibunya
(Soetjhiningsih,2007).
d. Kondisi fisik ibu
Kondisi fisik ibu yang tidak bisa menyusui anaknya dikarenakan ibu sakit
(seperti jantung, DM, TBC aktif, Hepatitis, HIV aids, kanker payudara dll), ibu
yang menggunakan pil kontrasepsi atau alat kontrasepsi lain yang mengandung
hormon, ibu menyusui yang hamil lagi, peminum alkohol, perokok, dan
kondisi fisik ibu lainnya yaitu, keadaan payudara ibu mempunyai peran yang
mementukan keberhasilan atau kegagalan menyusui (Soetjhiningsih,2007).
1). Puting susu datar atau terbenam.
2). Payudara bengkak.
Biasanya pada hari ke-3 atau ke-4 setelah melahirkan, payudara terasa
membengkak dan disertai rasa nyeri.Hal ini terjadi karena ASI yang
dihasilkan lebih banyak daripada yang dihisap (Sulistyawati,2009).
3). Puting lecet
Biasanya hal ini disebabkan karena posisi menyusui atau cara menghisap
yang salah (Sulistyawati,2009).
4). Peradangan payudara
Biasanya terjadi pada 1-3 minggu setelah melahirkan, tanda-tandanya
adalah:
-
Kulit payudara tampak lebih merah
-
Payudara mengeras
-
Payudara nyeri dan benjol-benjol
(Sulistyawati,2009).
5). Kelainan anatomis pada putting susu (inverted fiat nipple).
Kesulitan dapat timbul ketika ibu berada dalam kondisi tidak sehat
atau merasa nyeri.Pemberian ASI merupakan kontra indikasi pada ibu yang
menderita penyakit tuberkolosis aktif, diabetes tidak stabil yang tergantung
pada insulin, penyakit terminal atau berat, ketergantungan obat dan
kelainan psikiatrik tertentu (farrer,2001).Keadaan paling sering yang
dialami ibu adalah terjadinya bendungan ASI yang mengakibatkan ibu
merasa sakit sewaktu menyusui bayinya.Luka-luka diputing sering
menyebabkan rasa nyeri.Dalam keadaan ini memang bayi sebaiknya tidak
menyusui (Moehji, 2005).
e. Kondisi fisik bayi
Anak yang lahir sebelum waktunya (premature) atau lahir dengan berat
badan yang sangat rendah mungkin masih terlalu lemah apabila harus
menghisap ASI dari buah dada ibunya. Pada waktu anak sakit juga akan terjadi
kesukaran karena anak menolak untuk menyusu. Berbagai macam cacat bibir
juga dapat menimbulkan kesukaran bayi untuk menyusui (Moehji, 2005).
f. Status ekonomi keluarga
Ibu yang bekerja sebagian besar bukan karena mereka ingin bekerja, tetapi
untuk
membantu
kebutuhan
ekonomi
keluarga.Perasaan
bersalah
meninggalkan anak yang diasuh oleh oranglain tetaplah ada.Namun, ibu juga
tidak dapat menutup mata dengan kenyataan bahwa biaya hidup zaman
sekarang sangatlah tinggi.Ini kenyataan yang sering dihadapi oleh para ibu
sebagai pengelola keuangan dalam keluarga.Ibu memilih kembali bekerja
setelah melahirkan anak mereka.
(Ninik handayani, 2010).
g. Iklan susu formula
Iklan susu formula banyak sekali dijaman sekarang ini, dengan berbagai
iklan yang menarik, sehingga ibu banyak yang memilih dan tertarik dengan
susu formula untuk pengganti ASI padahal ASI lebih unggul manfaatnya
dibanding dengan susu formula.
Keunggulan Air Susu Ibu (ASI) dibandingkan dengan Susu Formula:
1. Kandungan gizi seimbang pada ASI, membantu tumbuh kembang anak
2. ASI juga mengandung zat kekebalan untuk mencegah bayi dari berbagai
macam penyakit.
3. ASI sangat terjamin kebersihannya dan sangat aman dikonsumsi bagi sang
buah hati
4. Kebanyakkan anak yang diberikan ASI eksklusif, mempunyai IQ dan
kemampuan intelektual yang tinggi.
Di berbagai penelitian ditemukan bahwa ASI mencegah 40% resiko
asma pada anak. ASI juga memperkuat struktur tulang bayi menjadai lebih
kuat dan seimbang. ASI juga memperkuat enzim gigi anak, dan mencegah
gigi berlubang.
5. Bayi yang mengkonsumsi susu formula tidak pada waktunya, lebih
cenderung akan terserang demam, bronkhitis, pneumonia dan gangguan
pernafasan lainnya, lalu juga bayi akan mengalami sakit diare.
Hal ini karena susu formula mengandung phosphate yang tinggi yang juga
bisa mengakibatkan bayi menderita kejang, swan, dan ayan. Di berbagai
macam survey yang telah dilakukan oleh banyak peneliti, susu formula juga
mengakibatkan bayi calon dewasa kelak terkena penyakit diabetes.
Susu formula juga dikatakan oleh banyak peneliti sebagai salah satu
penyebab anak menderita keterlambatan dalam berbicara, kesulitan belajar
pada bayi, dan membuat anak menderita autis.
6. Asam amino pada ASI membantu perkembangan otak sedangkan Asam
amino pada susu formula (susu sapi) hanya membantu pertumbuhan otot
dan jaringannya.
(Amanda Tasya, 2011).
B. KERANGKA TEORI
Berdasarkan uraian diatas dapat dibuat kerangka teori sebagai berikut:
Faktor-faktor yang
mempengaruhi wanita karier
melakukan penyapihan anak:
 Pekerjaan (PNS,
pegawai swasta,
pedagang, dan lainlain).
 Pengetahuan tentang
ASI (mengetahui dan
tidak mengetahui
tentang pentingnya
ASI)
 Jarak kelahiran (<2th,
≥2th).
 Kondisi fisik ibu
{sehat, sakit (putting
susu datar atau
terbenam, peradangan
payudara, kelainan
anatomis pada putting
susu dan juga
penyakit tertentu) }.
 Kondisi fisik bayi
 Status ekonomi.
keluarga.
 Iklan susu formula
Penyapihan pada anak
Gambar 2.1
kerangka teori faktor-faktor yang mempengaruhi wanita karier melakukan penyapihan
pada anak.
(Moehji,2005, Soetjiningsih,2007, Sulistyawati,2009).
C. KERANGKA KONSEP PENELITIAN
Berdasarkan kerangka teori diatas dapat dibuat kerangka konsep penelitian sebagai
berikut:
Variabel bebas
Pekerjaan
Variable terikat
Pengetahuan
tentang ASI
Penyapihanpada anak
Jarak kelahiran
Kondisi fisik ibu
Keterangan:
= Diteliti
--------------- = Tidak diteliti
Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian
D. Hipotesis Penelitian
Faktor pengganggu:
 Kondisi fisik bayi
 Status ekonomi
keluarga
 Iklan susu
formula
Ha: Ada pengaruh antara pekerjaan dengan penyapihan pada anak di Desa Petanahan
Kecamatan Petanahan.
Ha: Ada pengaruh antara pengatahuan dengan penyapihan pada anak di Desa Petanahan
Kecamatan Petanahan.
Ha:
Ada pengaruh antara jarak kelahiran dengan penyapihan pada anak di Desa
Petanahan Kecamatan Petanahan.
Ha:
Ada pengaruh antara kondisi fisik ibu dengan penyapihan pada anak di Desa
Petanahan Kecamatan Petanahan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Metode penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik. Dengan
menggunakan pendekatan cross sectional. Data cross sectional adalah data yang
menunjukan titik waktu tertentu atau pengambilannya dilakukan dalam waktu bersamaan
(Riwidikdo, 2007).
B.
Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2011).
Populasi dalam penelitian ini adalah wanita karier yang melakukan penyapihan
pada anak di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan.Populasi dalam penelitian ini
sebanyak 37 responden.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi.Tekhnik pengambilan sampel dilakukan dengan non probability samplingsampling jenuh (total sampling). Dalam hal ini peneliti mengambil semua
populasi.Besar sampel dalam penelitian ini adalah 100% dari jumlah populasi
(Sugiyono, 2011).
Sampel dari penelitian ini adalah keseluruhan obyek yang diteliti atau yang dianggap
mewakili seluruh populasi dengan kriteria:
a. Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu
populasi target yang diteliti. Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah:
a). Semua Wanita karier yang bersedia menjadi responden
b). Wanita karier yang Bertempat tinggal di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan
c).Wanita karier yang mempunyai anak yang sudah disapih
d). Dapat membaca dan menulis
b. Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subyek yang
memenuhi kriteria inklusi. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:
1). Wanita karier yang tidak ada pada saat peengambilan data.
C. Tempat dan waktu penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan di Desa Petanahan Kecamatan Petanahan. Waktu
penelitian bulan Oktober 2012.
D. Variable Penelitian
Variable Penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian
ditarik kesimpulan (Sugiyono,2011). Dalam penelitian ini ada dua variable yaitu variable
bebas atau variabel independent dan variabel terikat atau variabel dependent.
1). Variabel bebas (independent).
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab
perubahannya atau timbulnya variabel dependent (terikat).(Sugiyono, 2011). Varabel
bebas dalam penelitian ini adalah wanita karier yang melakukan penyapihan,
meliputi: pekerjaan, pengetahuan tentang ASI, jarak kelehiran, kondisi fisik ibu.
2). Variabel terikat (dependent).
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat,
karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2011).Variabel terikat dalam penelitian ini
adalah penyapihan anak.
E. Definisi operasional
Tabel 3.1: Definisi Operasional wanita karier melakukan penyapihan kurang dari 2
tahun di desa Petanahan kecamatan Petanahan
No
Variabel
Definisi
Alat ukur
Hasil ukur
Skala
1.
Pekerjaan
Pekerjaan
adalah
Pengukuran
segala pekerjaan
dalam
aktivitas
penelitian
ini
sehari-hari
diukur
yang
a. PNS
Nomin
b. Pegaw
al
ai
swasta
ibu menggunakan
lakukan
kuesioner
sehingga
dari
c. Pedag
terdiri
ang
soal
d. Dan
menghasilkan
pertanyaan tertutup,
lain-
pendapatan
dengan alternative
lain
untuk
jawaban
memenuhi
choice.
1
multiple
kebutuhan
sehari-hari.
2.
Pengetahu Pengetahuan
an ASI
Pengukuran
Hasil ukur Ordinal
tentang
ASI pengetahuan dalam diperoleh
adalah
hasil penelitian
tahu
atau diukur
sejauh
ibu
minimal
mana menggunakan
0
dan
mengerti kuesioner sebanyak maksimal
tentang
dan
ini nilai
ASI 13
soal
dengan 13,
yang alternative jawaban Nilai
berhubungan
multiple
choice, kemudian
dengan ASI.
bila jawaban benar dikategorik
diberi skor 1. bila an:
salah skor 0.
Baik: 10-13
Cukup:5-9
Kurang:0-4
Baik
bila
nilai
responden
> dari 75%
Cukup bila
nilai
responden
60-75%
Kurang
bilai
nilai
responden
< 60%
(Arikunto,
2002).
3.
Jarak lahir Jarak kelahiran Jarak
kelahiran
adalah
jarak diukur
antara
anak kuesioner sebanyak
terakhir dengan 1
1. < 2 Nomin
dengan
soal
bersifat
anak
tertutup,
dengan
sebelumnya
alternative jawaban
multiple
tahun
al
2. ≥ 2
tahun
choice,
bila jawaban benar
diberi skor 1. bila
salah skor 0.
4.
Kondisi
Kondisi
fisik
ibu
fisik Kuesioner
dengan
0. tidak
adalah menggunakan skala
sehat
yang
Ordinal
keadaan
fisik Guttman
1. sehat
ibu
yang terdiri dari 10 soal Hasil ukur
mempengaruhi
pertanyaan tertutup, diperoleh
penyusuan
dengan alternative nilai
pada
bayi jawaban
multiple minimal
sehingga
choice,
bila dan
dilakukan
jawaban
penyapihan.
diberi skor 1. bila 10,
benar maksimal
0
salah skor 0.
Nilai
kemudian
dikategorik
an:
Baik: 7-10
Cukup: 4-6
Kurang: 0-3
Baik
bila
nilai
responden
> dari 75%
Cukup bila
nilai
responden
60%- 75%
kurang bila
nilai
responden
<60%
(Arikunto,
2002).
5.
Melakuk
Melakukan
Pengukuran
an
penyapihan
menggunakan
penyapih
adalah
an
tindakan yang 1 soal dengan

suatu kuosioner sebanyak
>2
Nomin
tahu
al
n

<2
dilakukan oleh alternative jawaban
tahu
ibu
n
untuk multiple choice,
menyapih
bila jawaban benar
anaknya.
diberi skor 1. bila
salah skor 0.
F.
Tekhnik pengumpulan data
1.
Data Primer
Menurut Saryono (2008), data primer adalah data yang
diperoleh
langsung dari subyek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau
pengambilan data langsung pada subyek sebagai sumber informasi yang dicari.
Data primer yang ingin diketahui adalah wanita karier yang melakukan
penyapihan dengan menggunakan angket atau kuesioner yang dibagikan kepada
responden.
2.
Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, tidak langsung
diperoleh oleh peneliti dari subyek penelitanya (Saryono, 2008). Data sekunder
yang diambil untuk mengetahui wanita karier melakukan penyapihan dengan
menggunakan lembar observasi menggunakan sekala guttman dengan alternative
jawaban ya atau tidak berdasarkan catatan kader Posyandu desa Petanahan.
2.
Instrumen penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan untuk
penelitian dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan
hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cepat, lengkap dan sistematis sehingga lebih
mudah diolah (Arikunto, 2002).
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan
kuesioner. Pertanyaan yang diberikan berupa pertanyaan tertutup dan dijawab
langsung oleh reponden tanpa diwakilkan kepada orang lain. Kuesioner dibuat
sendiri oleh peneliti sehingga perlu adanya uji validitas dan uji reabilitas.
Kuesioner terdiri dari beberapa pertanyaan, meliputi:
1. Data umum: nama ibu, dan anak, umur ibu dan anak, alamat, pendidikan.
2. Data khusus:
a). pekerjaan sebanyak 1 soal
b). pengetahuan tentang ASI sebanyak 13 soal
c). jarak kelahiran 1 soal
d). kondisi fisik ibu sebanyak 10 soal
e). melakukan penyapihan
Table 3.1 Kisi-kisi instrument penelitian
No.
1.
Parameter
Pertanyaan
No soal
Identitas
No responden, nama ibu, A: 1,2,3,4,5,6,7
responden
nama bayi, umur ibu,
umur
bayi,
alamat,
pendidikan ibu
2.
Pekerjaan
Jenis pekerjaan
B: 1
3.
4.
Pengetahuan
Manfaat ASI, Kandungan C: 1,2,3,4,5,6,7,8,
tentang ASI
ASI, penyapihan ASI.
Jarak kelahiran
Jarak antara anak terakhir D: 1
9,10,11,12,13
dengan anak sebelumnya
5.
Kondisi fisik Ibu
Alasan
ibu
menyapih E:1,2,3,4,5,6,7,8,9,10
karena keadaan fisik ibu.
6.
Melakukan
Umur anak saat disapih
F: 1
penyapihan
7.
Wanita Karier
Apakah
ibu
sebagai G: 1
wanita karier
Setiap jawaban yang benar diberi skor 1 dan jawaban salah diberi skor 0. Menghitung
prosentase jawaban skor tertinggi dengan rumus:
Skor
: nilai yang diperoleh x 100
Skor maksimal
Menentukan kedudukan prosentase jawaban dengan kategori menurut Arikunto (2006)
dengan kriteria :
a. 76-100%
: baik
b. 60-75%
: cukup
c. < 60
: kurang
B. Pengolahan dan Tekhnik analisa data
1. Pengolahan data
a. Editing
Yaitu memeriksa data yang terkumpul tentang kelengkapan isian, sehingga bila
ternyata ada yang belum lengkap bias diulang keresponden yang bersangkutan.
b. Coding
Yaitu pemberian kode-kode tertentu pada masing-masing jawaban menurut
macamnya untuk memudahkan dalam tahap pengolahan data yaitu dengan cara
memberikan kode angka.
c. Entering
Memasukan data yang telah diedit dan dikoding dengan menggunan fasilitas
komputer.
d. Tabulating
Yaitu mengelompokkan data ke dalam tabel yang dibuat sesuai dengan maksud
dan tujuan penelitian ( A.Hidayat, 2008).
2. Analisa Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian dianalisa dengan
menggunakan komputer dan manual, analisa data meliputi:
a). Analisa univariat
Teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini dengan mengunakan uji
univariat deskriptif yaitu disajikan dengan mendiskripsikan semua variabel
sebagai bahan informasi dengan mengunakan tabel distribusi frekuensi untuk
mengetahui penyapihan pada anak di desa Petanahan kecamatan Petanahan.
1). Menghitung atau mengecek kembali jumlah angket yang terkumpul.
2). Memeriksa kelengkapan jawaban responden.
3). Memberi skor pada item soal/ instrumen yaitu memberi skor pada item soal
jawaban apabila jawaban benar dinilai 1 sedangkan jawaban salah dinilai 0.
4). Untuk menentukan skor pada variabel dengan jumlah 10 soal, skor yang akan
digunakan sebagai berikut :
a)
76-100% baik
b)
60-75% cukup
c)
<60% kurang
b). Analisa bivariat
Dilakukan uji statistik pada variabel yang saling berhubungan, statistik
korelasi yang digunakan adalah korelasi chi square korelasi chi square digunakan
untuk data diskrit nominal dan ordinal.
Rumus:
x2  
 f o  f h 2
fh
Keterangan:
χ² :chi square
fo : frekuensi yang diperoleh dari hasil pengamatan sampel.
Fh: frekuensi yang diharapkan dalam sampel sebagai penceminan dan frekuensi
yang diharapkan dari populasi.
Untuk melihat seberapa besar hubungan dengan memakai rumus koefisiensi
kontingensi
Rumus:
C=
X²
x² + N
Keterangan:
C :Koefisiensi kontingensi
N : Jumlaah populasi
χ² :Chi square
(Arikunto, 2006).
Dari hasil perhitungan didapatkan, jika p>0,05 berarti Ho diterima yang
artinya tidak ada hubungan antara salah satu faktor yang mempengaruhi
melakukan penyapihan pada anak dan menolak Ha, sedangkan jika p< 0,05 berarti
Ho ditolak yang artinya ada hubungan.
c). Analisa multivariate
Analisis yang dilakukan terhadap 2 atau lebih dari dua variabel, biasanya
hubungan antara satu variabel terikat dengan beberapa variabel bebas. Dalam
penelitian ini untuk mengetahui faktor diantara variabel bebas yang akan
mempengaruhi variabel terikat yaitu melakukan penyapihan pada anak di desa
Petanahan kecamatan Petanahan.
Analisis ini menggunakan regresi logistic, digunakan pada data yang
dependennya berbentuk katagorik yang dikotom
F(z)= 1
1+e
-z
F(z) merupakan probabilitas kejadian, nilai berkisar 0 dan 1 berapapun nilai Z
kisaran pada regresi logistic ini berarti cocok/ sesuai digunakan untuk model
hubungan yang variabel dependen nya dikotom.
C. Uji validitas dan uji reliabilitas
Sebuah penelitian uji validitas dan reabilitas instrument digunakan dengan tujuan
untuk meyakinkan instrumen atau kuesioner yang disusun adalah benar-benar baik dalam
mengukur dan menghasilkan data yang valid (Riwidikdo, 2007).
1. Uji validitas
Validitas adalah sejumlah cermat suatu tes melakukan fungsi ukurannya atau
dapat didefinisikan sebagai ukuran yang menunjukkan sejauh mana instrument
mampu mengukur apa yang diukur (Riwdikdo, 2007).
Uji validitas instrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rumus
Pearson Product Momen (Notoatmodjo, 2005) yaitu:
N ( ∑ XY ) – ( ∑X∑Y )
R=
√ { N∑X²- (∑X)² } { N∑Y²- (∑Y)² }
Keterangan:
X: sebagai data-data dari variabel bebas (independen)
Y: sebagai data-data dari variabel terikat (dependen)
R: koefisiensi korelasi
N: jumlah skor
Uji validitas diujikan kepada 20 responden wanita karier yang melakukan
penyapihan pada anak di desa Grogol Penatus Kecamatan Petanahan.Uji tersebut
diberikan dengan menggunakan kuesioner sebanyak pertanyaan pada variabel bebas
dan variabel terikat setelah data terkumpul, data tersebut dilakukan pengujian
validitas untuk mengetahui apakah kuesioner tersebut valid untuk dilakukan
penelitian atau tidak.
2. Uji Reliabilitas
Relibialitas merupakan instrumen yang cukup dapat dipercaya untuk digunakan
sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik.Reliable menunjuk
pada tingkat keterandalan sesuatu (Arikunto, 2006). Uji reliabilitas instrumen
melakukan penyapihan pada anak dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach
yaitu:
Keterangan:
r 1 = koefisiensi reabilitas instrument
k = banyak item pertanyaan
Si= simpangan baku Sx = simpangan baku dari keseluruhan system.
Koefisiensi reabilitas dapat dikategorikan dalam tiga kreteria yaitu: rendah apabila
nilai a diantara 0,40 samapi 0,75 dan tinggi apabila a> 0,75.
D. Mekanisme penelitian
Mekanisme penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
a. Membuat proposal untuk rencana penelitian
b. Melakukan perijinan untuk melaksakan penelitian
2. Tahap penatalaksanaan
a. Melakukan pengumpulan data primer dengan memberikan kuesioner kepada
responden
b. Melakukan pengolahan data dan analisa data secara manual.
3. Tahap penyelesaian
Tahap penyelesaian adalah penyusunana skripsi dan dilanjutkan seminar hasil
penelitian.
E. Etika penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, masalah etika keperawatan merupakan masalah yang
sangat penting mengingat keperawatan akan berhubungan langsung dengan manusia,
maka peneliti menjamin hak asasi responden. Dalam penelitian ini etika dalam penelitian
keperawatan meliputi:
1. Informed Consent
Tujuannya agar repsonden mengetahui maksud dan tujuan penelitian serta dampak
yang diteliti selama pengumpulan data.Jika subyek bersedia menjadi responden, maka
harus menandatanagni lembar persetujuan menjadi responden. Jika subyek menolak
menjadi responden maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati
haknya.
2. Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak akan member nama
responden kepada lembar pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh responden.
Lembar tersebut hanya diberi kode tertentu.
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Peneliti menjamin kerahasiaan dari hasil penelitian baik informasi maupun masalahmasalah lainnya, semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya
oleh peneliti (A. Hidayat, 2008).
Download