Peranan Kompetensi Kepribadian dan Sosial Guru Kecamatan

advertisement
Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper ke-2
“Pengintegrasian Nilai Karakter dalam Pembelajaran Kreatif
di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”
2016
Pencapaian Kompetensi Kepribadian dan Sosial Guru Di Kecamatan
Batuatas Provinsi Sulawesi Tenggara
LA ODE SUGIANTO
Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Ponorogo
ABSTRAK
Kajian ini diambil berdasarkan Studi Kepustakaan dengan membandingkan fakta di
lapangan dengan teori yang ada, karena kadangkala kompetensi tersebut tidak sesuai
dengan amanat Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Metode penelitian ini menggunakan metode analisisdeskriptif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan fakta yang sangat berbeda dengan
teori yang ada mengenai peranan kompetensi kepribadian dan sosial guru seperti masih
banyak guru-guru yang tidak memiliki rasa religiusitas yang tinggi, dan memiliki
kepribadian yang matang. Dan kurangnya komunikasi antara guru dan guru, masyarakat
dengan guru, serta guru belum memiliki pribadi yang jujur, realistis dan terbuka serta
peka dalam setiap perkembangan.
Dengan demikian, perlu adanya pemberian penguatan kepada seluruh guru untuk
bisa tetap mempertahankan nilai-nilai kompetensi kepribadian dan sosial agar dalam
memberikan pendidikan kepada peserta didik bisa lebih bermakna dan berdampak pada
perilaku siswa, dan masyarakat lebih trust bahwa guru adalah para pahalwan tanpa tanda
jasa atau lebih tepatnya sebagai Education Brand (Tut Wuri Handayani).
Kata Kunci: Kompetensi, Keprbadian, Sosial dan Guru
Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat terpenting dalam menjawab
tantangan yang serba moderrn ini. Semakin maju suatu negara maka itu harus didukung
oleh tingkat pendidikan yang sangat tinggi dan baik. Indonesia adalah salah satu negara
yang memiliki beraneka ragam budaya. Jadi, untuk membentuk suatu kekayaan yang
begitu plural maka diterapkan konsep pendidikan Karakter dan KTSP yang disesuaikan
dengan kearifan lokal suatu wilayah atau daerah. Pendidikan akan lebih baik apabila
didukung oleh kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru. Kompetensi adalah
seperangkat pengetahuan, keterampilandan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan
dikuasai olehguru atau dosen dalam melaksanakan tugaskeprofesionalan
(Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen). Ada 4 kompetensi guru
yang harus dimiliki yaitu kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial. Ke
empat kompetensi tersebut harus benar-benar dijewantahkan oleh seorang guru dalam
melakukan proses pendidikan baik dalam satuan pendidikan maupun di masyarakat.
Profesi guru pada saat ini masih banyak diperbincangkan orang, atau masihsaja
diperbincangkan orang, baik di kalangan para pakar pendidikan maupun di luarpakar
pendidikan. Bahkan selama dasawarsa terakhir ini hampir setiap hari, mediamassa
khususnya media massa cetak baik harian maupun mingguan memuat beritatentang guru.
Ironisnya berita-berita tersebut banyak yang cenderung melecehkanprofesi guru, baik
yang sifatnya menyangkut kepentingan umum sampai kepada hal-hal yang sifatnya
sangat pribadi, sedangkan dari pihak guru sendiri nyaris takmampu membela diri
(Usman, 2011:1)
Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper ke-2
“Pengintegrasian Nilai Karakter dalam Pembelajaran Kreatif
di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”
2016
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamamendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih,menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikananak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar,dan pendidikan
menengah(Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen). Kedudukan
guru sebagai tenaga profesional sebagaimanadimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berfungsi
untuk meningkatkanmartabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsiuntuk
meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Kedudukan guru sebagai tenaga profesional bertujuanuntuk melaksanakan sistem
pendidikan nasional danmewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu
berkembangnyapotensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman danbertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
serta menjadi warga negarayang demokratis dan bertanggung jawab.
Kompetensi itu merupakan komponen yang tidak bisa dipisahkan darieksistensi
guru dalam melaksanakan profesinya sebagai guru, karena pekerjaan guruitu tidak
gampang dan tidak sembarang dikerjakan. Dalam penelitian ini penulismemfokuskan
kepada kompetensi kepribadian, yang mana kompetensi kepribadianitu ialah
karakteristik pribadi yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai individuyang mantap,
stabil, dewasa, arif dan berwibawa, serta menjadi teladan bagi pesertadidik, dan
berakhlakul karimah. Setiap guru memiliki ciri-ciri kepribadian, ciri-ciri inilah yang
membedakankepribadian guru yang satu dengan guru yang lainnya. Setiap perkataan,
tindakan,perbuatan dan tingkah laku yang positif akan meningkatkan citra diri
dankepribadian seseorang. Kepribadian memang suatu yang abstrak yang hanya
dapatdilihat dari penampilan, tindakan, ucapan, cara bergaul, cara berpakaian, dan
dalammenghadapi setiap persoalan. Seperti yang dikemukakan Daradjat(Sagala,2009:33)
bahwa:
“Kepribadian disebut sebagai suatu yang abstrak, sukar dilihat secara nyata,
hanyadapat diketahui lewat penampilan, tindakan, dan ucapan ketika
menghadapi suatupersoalan, atau melalui atsarnya saja. Kepribadian
mencakup semua unsur baik fisikmaupun psikis. Sehingga dapat diketahui
bahwa setiap tindakan dan tingkah lakuseseorang merupakan cerminan dari
kepribadian seseorang. Apabila nilai kepribadianseseorang naik, maka akan
naik pula kewibawaan orang tersebut. Tentu dasarnyaadalah ilmu
pengetahuan dan moral yang dimilikinya. Kepribadian akan turutmenentukan
apakah para guru dapat disebut sebagai pendidik yang baik
atausebaliknya,justru menjadi perusak anak didiknya.”
Kualitaspendidikansalahsatunya
dipengaruhi
oleh
guru.
Guru
merupakanfigurmanusiayangmempunyai tugas dan tanggung jawabdalam hal mengajar,
mendidik,
melatihdanmembimbingdalamupayamenciptakan
manusia
yang
memilikibobot pengetahuan, keterampilan dansikap yang menjadi bekal hidupnyakelak
di kemudian hari.
Kecamatan Batuatas adalah salah satu kecamatan yang sangat jauh dari wilayah
daratan pulau Buton. Dimana letak geografisnya berada pada suhu yang sangat panas.
Jumlah penduduk di kecamatan tersebut sekitar 10.000 jiwa. Wilayah ini bisa dikatakan
wilayah yang sangat terpencil, terjauh dan terkebelakang. Kebanyakan penghasilan yang
didapatkan oleh masyarakatnya adalah merantau di luar kampung halaman dan seorang
nelayan. Jumlah guru dalam seluruh satuan pendidikan di Kecamatan Batuatas bisa
dikatakan masih sangat kurang baik ditinjau dari kuantitas maupun dari kualitas. Bukan
hanya itu, dari beberapa jumlah kuantitas guru yang ada di wilayah Kecamatan Batuatas
masih banyak guru yang tidak mencerminkan sebagai guru yang memiliki kepribadian
Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper ke-2
“Pengintegrasian Nilai Karakter dalam Pembelajaran Kreatif
di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”
2016
dan sosial yang baik. Ini bisa dilihat dari perilaku yang dilakukan dalam keseharian
seperti melakukan perjudian, minuman keras dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sehingga dalam penelitian ini, peneliti membatasi pada peran kompetensi kepribadian
dan sosial guru pada wilayah Kecamatan Batuatas Kabupaten Buton Selatan, yang mana
wilayah ini memiliki guru yang sangat memprihatinkan bagi stakeholders sehingga
peneliti tertarik dalam melakukan penelitian ini dengan melihat fenomena gap pada
satuan pendidikan di wilayah tersebut.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang daapt dirumuskan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana peranan kompetensi kepribadian guru di wilayah Kecamatan Batuatas
Kab. Buton Selatan?
2. Bagaimana peranan kompetensi sosial guru wilayah Kecamatan Batuatas Kab.
Buton Selatan?
Tinjauan Pustaka
Kompetensi Guru
Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar, memiliki
karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
pengembangan sumber daya manusia. Kepribadian yang mantap dari sosok seorang
guru akan memberikan teladan yang baik terhadap anak didik maupun masyarakatnya,
sehingga guru akan tampil sebagai sosok yang patut “digugu” (ditaati dan “ditiru” (di
contoh sikap dan perilakunya).Kepribadian guru merupakan faktor terpenting bagi
keberhasilan
belajar
anak
didik.Roestiyahmengartikankompetensikemampuan
ataukesanggupangurudalammelaksanakantugasnya,melaksanakanprosesbelajarmengajar
.Guru adalah orang yangtugasnya terkait dengan upayamencerdaskan kehidupan
bangsadalam semua aspeknya, baik spiritualdan emosional, intelektual, fisikal,maupun
aspek lainnya.
Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian adalahkompetensi yang berkaitan denganperilaku pribadi
guru itu sendiriyang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpancar
dalamperilaku sehari-hari (Usman, 2011). Kompetensi Kepribadian adalah kemampuan
kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan
peserta didik yang dimiliki oleh guru. Ada beberapa indiator dalam kompetensi
tersebut: 1) kewibawaan sebagai pribadi guru, 2) kearifan dalam mengambil
keputusan,3) menjadi contoh dalam berprilaku, 4) kemampuan mengendalikan diri, dan
5) adil dalam memperlakukan peserta didik.
Menurut Djam’an (2007) kompetensikepribadian yang perlu dimiliki guru antara
lain sebagai berikut:
a. Guru sebagai manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa berkewajiban untuk
meningkatkan iman dan ketakwaannya kepada Tuhan, sejalan dengan agama dan
kepercayaan yang dianutnya.
b. Guru perlu untuk mengembangkan sikap tenggang rasa dan toleransi dalam
menyikapi perbedaan yang ditemuinya dalam berinteraksi dengan peserta didik
maupun masyarakat.
c. Guru diharapkan dapat sabar dalam arti tekun dan ulet melaksanakan proses
pendidikan tidak langsung dapat dirasakan saat itu tetapi membutuhkan proses yang
panjang.
Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper ke-2
“Pengintegrasian Nilai Karakter dalam Pembelajaran Kreatif
di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”
d.
e.
2016
Guru mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan pembaharuan, baik dalam
bidang profesinya maupun dalam spesialisasinya.
Guru mampu melakukan perubahan dalam mengembangkan profesinya sebagai
innovator dan kreator.
Kompetensi Sosial
Menurut Hamzah B. Uno (2008) kompetensi sosial artinya guru harusmampu
menunjukkan dan berinteraksi sosial, baik dengan murid-muridnya maupun dengan
sesama guru dan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat luas. Kompetensi sosial
adalah kemampuan dosen untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan
efisien dengan peserta didik. Ada 5 indikator mengenai kompetensi sosial guru yaitu: 1)
kemampuan menyampaikan pendapat, 2) kemampuan menerima kritik, 3) mengenal
dengan baik setiap mahasiswa,4) mudah bergaul di kalangan mahasiswa dan 5) toleransi
terhadap keberagaman mahasiswa.Guru harus mempunyai kompetensi sosial karena
guru adalah penceramah jaman. Menurut Djam’an Satori (2007), kompetensi sosial
adalah sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
Terampil berkomunikasi dengan peserta didik dan orang tua peserta didik
Bersikap simpatik.
Dapat bekerja sama dengan Dewan Pendidikan/Komite Sekolah.
Pandai bergaul dengan kawan sekerja dan mitra pendidikan.
Memahami dunia sekitarnya (lingkungan).
Peranan Kompetensi Kepribadian dan Sosial Guru
Dengan demikian, secara jelasnya bahwa peranan kompetensikepribadian dan
kompetensi sosialguru, yaitu sebagai berikut:
a. Guru memberi rasa tanggung jawab untuk menjadikan peserta didik yang
mempunyai rasa religiusitas yang tinggi, dan memiliki kepribadian yang
matang.
b. Guru membantu siswa dalam mengendalikan emosi yang tinggi dalam
mengatasi permasalahan.
c. Guru memiliki pribadi yang jujur, realistis dan terbuka serta peka dalam setiap
perkembangan.
d. Guru dapat memahami psikologi peserta didik, baik di dalam kelas maupun di
luar kelas.
e. Guru dapat membantu mengelola pembelajaran, memahami bahan materi, dan
teknologi dalam pembelajaran.
f. Guru dapat berkomunikasi dengan baik kepada kepala sekolah, guru,
karyawan, siswa maupun dengan masyarakat.
Metode Penelitian
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang
menggunakan studi atau pendekatan deskriptif kualitatif dan naturalistik yang
menunjukkan bahwa pelaksanaan penelitian terjadi secara alamiah, apa adanya, dalam
situasi normal yang tidak dimanipulasi keadaan dan kondisinya, menekankan pada
deskripsi secara alami (Sugiyono, 2011).
Berdasarkan sifatnya ini maka peneliti dituntut terlibat secara langsung di lapangan
dengan melihat peranan Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Sosial Guru yang ada
di wilayah Kecamatan Batuatas. Dalam hal ini peneliti menggunakan penelitian
Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper ke-2
“Pengintegrasian Nilai Karakter dalam Pembelajaran Kreatif
di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”
2016
kualitatif.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, guru dan siswa/siswi serta masyarakat
yangada di wilayah Kecamatan Batuatas.
Sumber Data
Dalam penelitian ini, data yang diperlukan adalah semua data yang berkaitan
dengan guru pada satuan wilayah Kecamatan Batuatas meliputi sejarah dan latar
belakang, struktur organisasi dan keadaan siswa, guru beserta karyawan. Menurut
Lofland sumber data utama pada penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan tindakan.
Selebihnya data tambahan seperti dokumen dan lain-lainnya12. Sumber data dalam
penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu:
1. Data Primer yaitu sumber data yang digali dalam penelitian yang terdiri dari
sumber data utama yang berupa kata-kata dan tindakan, serta sumber data
tambahan yang berupa dokumen-dokumen. Sumber dan jenis data terdiri dari data
dan tindakan, sumber data tertulis, dan foto. Sumber data utama (primer), yaitu
sumber data yang diambil peneliti melalui wawancara dan observasi.
2. Data Sekunder adalah sumber data tambahan di luar kata-kata dan tindakan yakni
sumber data tertulis yang diperoleh dari dokumen-dokumen resmi, buku harian, dan
sebagainya atau catatan tentang adanya suatu peristiwa atau catatan yang jaraknya
telah jauh dari sumber original. Data sekunder yang peneliti peroleh dalam
penelitian ini adalah data yang diperoleh secara langsung dari pihak yang berkaitan
dan berbagai literatur lain yang relevan dengan pembahasan penelitian
(Moleong,2010).
Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Observasi
Observasi dapat dikatakan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematis
terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki dalam arti yang luas, observasi tidak
terbatas pada pengamatan yang dilakukan baik langsung maupuntidak langsung. Adapun
jenis observasi dalam penelitian ini adalah observasi non partisipan, yaitu peneliti tidak
ikut serta mengamati. Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang sarana dan
prasarana, kondisi umum yang ada di Satuan Pendidikan Kecamatan Batuatas.
2. Wawancara (Interview)\
Menurut Singarimbun, wawancara adalah suatu percakapan yang digunakan untuk
memperoleh data dan informasi dengan bertanyalangsung kepada responden. Sedang
jenis wawancara yangdilakukan adalah wawancara tidak teratur, yaitu pedoman
wawancara hanya memuat secara garis besar apayang akan ditanyakan. Metode ini
digunakan untuk mendapatkan informasi tentang peranan kompetensi kepribadian dan
kompetensi sosial guru Satuan Pendidikan Kecamatan Batuatas.secara langsung dari
responden. serta hasil kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial guru Satuan
Pendidikan Kecamatan Batuatas. Wawancara ini dilakukan kepada kepala sekolah,
gurudan siswa/siswi.
1.
Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper ke-2
“Pengintegrasian Nilai Karakter dalam Pembelajaran Kreatif
di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”
2016
3.
Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan metode pengumpulan data yang sudah
didokumentasikan. Metode ini digunakan peneliti untuk memperoleh data keadaan
siswa, guru, letak geografis atau kebiasaan siswa (Moch.Nazir., 2003).
Analisis Data
Langkah terakhir dari penelitian ini penggunaan analisis data yang tepat dan
relevan dengan pokok permasalahan. Dan analisis data ini dapat digunakan apabila
semua data yang diperlukan sudah terkumpul. Adapun teknik analisis data yang peneliti
gunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif kualitatif yang
bertujuan menggambarkan keadaan atau fenomena yang ada di lapangan yaitu hasil
penelitian dengan dipilah-pilah secara sistematis menurut kategorinya dengan memakai
bahasa yang mudah dipahami (Sugiyono, 2011). Lebih lanjut Moeloeng (2010) juga
menjelaskan bahwa proses analisis data kualitatif adalah sebagai berikut:
a. Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, kemudian diberi kode agar sumber
datanya tetap dapat ditelusuri.
b. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklarifikasi, mensintesiskanmembuat ikhtisar,
dan membuat indeksnya.
c. Berfikir dengan jalan membuat kategori data agar mempunyai makna, mencari dan
menemukan pola dan hubungan-hubungan, dan membuat temuan-temuan umum.
Hasil Penelitian
Peranan Kompetensi Kepribadian Guru
Sesuai dengan definisi kompetensi kepribadian guru yaitu kemampuan kepribadian
yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik
yang dimiliki oleh guru. Peranan kompetensi guru harus benar-benar mencerminkan dan
dilaksanakan dengan penuh kesungguhan sehingga bisa memberian efek kepada peserta
didik secara berkelanjutan. Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa informan
mengatakan bahwa:
“Pada dasarnya masyarakat sangat bangga dengan putra-putra daerah yang
melakukan transformasi ilmu kepada siswa, akan tetapi kebanyakan perilaku
dan tindakan guru yang ada di Batuatas tidak mencerminkan kepribadian
yang positif. Hal ini disebebkan kurangnya kesadaran yang baik bagi
guru-guru seperti perilaku main judi dan sabung ayam. Hal ini menimbulkan
keresahan bagi masyarakat karena guru yang ada disana masih benar-benar
tidak memperhatikan esensi dari kompetensi kepribadian yang utuh.”
Sumber: Alisudarmin (guru), Titi Kurmina (Guru), Jamal Manja (Guru), Wa
Ode Supiani (guru), Muliyanto (Masyarakat), dan Dasmani (Masyarakat)
2013.
Selain itu, hasil pengamatan penelitian ini mengenai guru dalam memberi rasa
tanggung jawab untuk menjadikan peserta didik yang mempunyai rasa religiusitas yang
tinggi, dan memiliki kepribadian yang matang masih jauh dari harapan seluruh
stakeholders. Hal ini berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dari beberapa
informan peneliti yaitu:
“Nilai religiutas guru di Batuatas masih dikatakan sangat kurang karena
masih banyak guru yang tidak melakukan kegiatan-kegiatan religius baik di
sekolah maupun di masayarakat sehingga pengembangan mental religiutas
peserta didik kurang berkembang dengan baik.
Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper ke-2
“Pengintegrasian Nilai Karakter dalam Pembelajaran Kreatif
di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”
2016
Sumber: Herman (Guru SDN1 Wacuala), Alimando (Masyarakat), Hasnia
(guru), La Ati (Masyarakat Desa Wacuala), dan Wa Santi (Kepala Sekolah)
2013.
Dalam pengembangan kepribadian siswa harus juga didukung dengan pengelolaan
kepribadian guru yang baik dan benar sehingga dalam proses pembelajaran di kelas
lebih beretika dan bisa berdampak pada mentalitas siswa. Hal ini bisa terwujud apabila
seorang guru menayadari secara sepenuhnya bahwa di dalam diri mereka ada nilai yang
harus dijunjung tinggi dalam menjalankan profesi sebagai guru. Berdasarkan hasil
wawancara dari beberapa informan mengenai guru membantu siswa dalam
mengendalikan emosi yang tinggi dalam mengatasi permasalahan, guru memiliki
pribadi yang jujur, realistis dan terbuka serta peka dalam setiap perkembangan, guru
dapat memahami psikologi peserta didik, baik di dalam kelas maupun di luar kelas dan
guru dapat membantu mengelola pembelajaran, memahami bahan materi, dan teknologi
dalam pembelajaran menagatakan bahwa:
“Pada dasarnya guru-guru yang di Batuatas masih sangat belum memahami
arti dari tenaga pendidik, ini bisa kita lihat dari tindakan dan perilaku dalam
memberikan transformasi ilmu pengetahuan di dalam kelas. Selain itu, masih
banyak guru belum menyadari arti penting seorang suri teladan karena masih
ada pemahaman tentang bahwa tugas guru itu hanya mengajar di kelas
setelah itu diserahkan ke masing-masing orang tua peserta didik. Mindset ini
selalu kita dengar di kalangan masyrakat sehingga kemampuan siswa untuk
bisa lebih baik kurang dimaksimalkan. Contoh, masih ada perilaku guru yang
belum memahami psikologi peserta didik, kurang keterbukaan kepada siswa,
kurang peka akan keadaan pertumubuhan psikologi siswa.
Sumber: Syarifudin (Sekretaris Komite Sekolah), Aligusmin (Masyarakat), La
Ode Yamani (Ketua Komite Sekolah), dan Alimando (Masyarakat) 2013.
Dengan demikian, kompetensi kepribadian guru di Kecamatan Batuatas belum
memberikan efek yang begitu besar kepada siswa secara baik sehingga perkembangan
karakter siswa kurang berkembang.
Peranan Kompetensi Sosial
Menurut Hamzah B. Uno (2008) kompetensi sosial artinya guru harusmampu
menunjukkan dan berinteraksi sosial, baik dengan murid-muridnya maupun dengan
sesama guru dan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat luas. Kompetensi sosial
adalah kemampuan dosen untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan
efisien dengan peserta didik. Ada 5 indikator mengenai kompetensi sosial guru yaitu: 1)
kemampuan menyampaikan pendapat, 2) kemampuan menerima kritik, 3) mengenal
dengan baik setiap siswa,4) mudah bergaul di kalangan siswa dan 5) toleransi terhadap
keberagamansiswa.
Kompetensi sosial guru sangatlah penting dalam menciptakan kondisi organisasi
yang lebih terbuka dan fleksibel. Apalagi dalam satuan pendidikan ada kumpulan
guru-guru seperti KKG (Kelompok Kerja Guru) dan MGMP (Musyawarah Guru Mata
Pelajaran) sehingga dalam proses kerja dalam proses peningkatan mutu dalam satuan
pendidikan bisa tercapai dengan efektif dan efisien. Berdasarkan hasil wawancara dari
beberapa informan mengatakan bahwa:
“Guru-guru yang ada di wilayah Kecamatan Batuatas masih banyak
mengalami degradasi terutama dalam hal membina hubungan yang baik
antara sesama profesi baik internal sekolah maupun di luar sekoalah. Hal ini
disebabkan kurangnya kesadaran yang dimiliki oleh guru, bukan hanya itu
ada juga guru masih memiliki rasa individualitas dalam menyelesaikan
permasalahan di dalam sekolah baik di ruangan kelas maupun di ruang guru.
Dan ini bisa menghambat kemajuan bagi sekolah terkhususnya bagi siswa.”
Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper ke-2
“Pengintegrasian Nilai Karakter dalam Pembelajaran Kreatif
di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”
2016
Sumber: Syarifudin (Sekretaris Komite Sekolah), Herman (Guru SDN1
Wacuala), La Ati (Masyarakat Desa Wacuala) 2013.
Untuk memajukan mutu atau kualitas pendidikan maka sangatlah diperlukan
kritikan dari semua pihak baik internal maupun eksternal. Mengenai hal ini, guru di
wilayah Satuan Pendidikan wilayah Batuatas masih kurang diterapkann. Ini berdasarkan
hasil wawancara dari beberapa infoman mengatakan bahwa:
“Pada dasaranya kritikan yang bersifat konstruktif itu sangatlah baik karena
kritikan itu bisa memberikan refleksi bagi guru-guru dalam satuan
pendidikan. Akan tetapi guru-guru yang ada di wilayah satuan pendidikan
batuatas masih sangat kurang menyadari hal ini dengan baik disebabkan
mereka masih memiliki mindset yang sangat terisolasi, seperti pemberian
saran dari Komite sekolah mengenai kinerja guru dalam proses
pembelajaran, dan persiapan pembelajaran dalam proses belajar mengajar
harus ada serta fleksibelitas dalam memahami kondisi psikologi peserta didik
itu masih jauh dari harapan masyarakat.”
Sumber: La Dama (Ketua Komite Sekolah), Aligusmin (Masyarakat),
Alibara (Guru) dan Darmani (Tokoh Masyarakat) 2013.
Untuk bisa memahami karakter siswa yang berbeda-beda maka dibutuhkan
keterbukaan dalam proses hubungan yang baik antara siswa dan guru. Dengan demikian,
maka akan meningkatkan nilai-nilai yang positif bagi siswa dan guru. Pergaulan antara
guru dan siswa harus benar-benar terjalin degan bila kita mau merasakan sikap dan
psikologi siswa dengan baik. Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa informan
mengatakan bahwa:
“Guru-guru yang ada di wilayah Satuan pendidikan Kec. Batuatas masih
sangat kurang menerapkan nilai atau konsep relationship dengan baik.
Guru-guru masih ada anggapan bahwa tugas guru itu hanya mengajar.
Pemahaman inilah yang membuat kurang tumbuhnya semangat dalam diri
seorang guru sehingga bisa berdampak negatif pada siswa dan kemajuan
pendidikan di Batuatas.”
Sumber: La Ode Herman (Guru), La Ode Yamani (Ketua Komite Sekolah),
dan Alimanto (Guru SDN Batuatas Timur) 2013.
Selai itu juga, guru harus memiliki rasa toleransi tinggi sehingga mampu
memahami kebergaman karakter sisiwa di dalam satuan pendidikan. Hal ini masih
belum optimal dilakukan oleh guru yang ada di wilayah Kecamatan Batuatas.
Berdasarkan hasil waawancara dari beberapa informan mengatakan bahwa:
“Guru yang ada di wilayah Satuan Pendidikan Kecamatan Batuatas masih
sangat belum memahami keberagaman karakteristik siswa sehingga dalam
proses pembelajaran belum tumbuh rasa kepedulian yang tinggi terhadap
siswa dan ini menyebabkan kurang berkembangnya mentalitas dan psikologi
siswa secara optimal. Bukan hanya itu, terkadang sikap siswa dalam bergaul
dengan teman sejawatnya masih sangat memperihatinkan perilaku dan etika
sehingga nilai yang diterapkan oleh siswa masih jauh dari harapan amanat
Undang-Undang.
Sumber: Amirudin (Masyarakat), Dodi Hasri (Guru), La Bodu (guru), La
Babanca (Masyarakat) dan LA Usaha (Kepala Sekolah SDN 1 Wacuala) 2013.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kompetensi sosial guru yang ada di
wilayah Satuan Pendidikan Kecamatan Batuatas masih jauh dari harapan seluruh
stakeholders. Ini bisa dilihat dari beberapa hasil wawancara yang didapatkan oleh
peneliti dalam penelitian ini.
Secara jelas bahwa kedua komptensi guru tersebut baik kompetemsi kepribadian
maupun kompetensi sosial guru maish sangat belum memadai atau bahkan jauh dari
harapan yang diamanatkan oleh Undang-Undang No. 14 tahun 2005 yang mana
kompetensi kepribadian guru harus benar-benar dimiliki oleh setiap guru dan harus
Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper ke-2
“Pengintegrasian Nilai Karakter dalam Pembelajaran Kreatif
di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”
2016
mampu menerapkan di dalam dunia pendidikan. Dan ini perlu adanya pemberian
penguatan kepada seluruh guru untuk bisa tetap mempertahankan nilai-nilai kompetensi
kepribadian dan sosial agar dalam memberikan pendidikan kepada peserta didik bisa
lebih bermakna dan berdampak pada perilaku siswa, dan masyarakat lebih trust bahwa
guru adalah para pahalwan tanpa tanda jasa atau lebih tepatnya sebagai Education Brand
(Tut Wuri Handayani).
Pembahasan
Kompetensi kepribadian dan sosial guru sangatlah penting untuk dimiliki dan
diterapkan dalam setiap Satuan Pendidikan. Kompetensi kepribadian adalahkompetensi
yang berkaitan denganperilaku pribadi guru itu sendiriyang kelak harus memiliki
nilai-nilai luhur sehingga terpancar dalamperilaku sehari-hari (Usman, 2011). Dalam hal
ini, kompetensi kepribadian guru di Kecamatan Batuatas harus pula ada dan bisa
diterapak secara optimal sehingga bisa memberikan nilai positif bagi siswa. Akan tetapi
kompetensi kepribadian guru yang ada di Kecamatan Batutas belum dilaksanakan secara
baik dan benar, ini bisa dilihat dari beberapa hasil wawancara dari beberapa informan
penelitian, yaitu menyebutkan bahwa masih banyak guru yang ada di Batuatas belum
memiliki peran yang optimal dalam menjalankan kompetensi kepribadian, seperti masih
melakukan perilaku main judi dan sabung ayam, tidak melakukan kegiatan-kegiatan
religius baik di sekolah maupun di masayarakat, serta masih ada perilaku guru yang
belum memahami psikologi peserta didik, kurang keterbukaan kepada siswa, kurang
peka akan keadaan pertumubuhan psikologi siswa.
Kompetensis sosial yaitu guru harusmampu menunjukkan dan berinteraksi sosial,
baik dengan murid-muridnya maupun dengan sesama guru dan kepala sekolah, bahkan
dengan masyarakat luas (Hamzah B. Uno, 2008). Akan tetapi, di wilayah Kecamatan
Batuatas dalam Satuan Pendidikan belum diterapkan secara optimal, hal ini bisa kita
lihat dari hasil wawancara beberapa informan seperti kurangnya kesadaran yang dimiliki
oleh guru, bukan hanya itu ada juga guru masih memiliki rasa individualitas dalam
menyelesaikan permasalahan di dalam sekolah baik di ruangan kelas maupun di ruang
guru, pemberian saran dari Komite sekolah mengenai kinerja guru dalam proses
pembelajaran, dan persiapan pembelajaran dalam proses belajar mengajar harus ada
serta fleksibelitas dalam memahami kondisi psikologi peserta didik itu masih jauh dari
harapan masyarakat, sangat kurang menerapkan nilai atau konsep relationship dengan
baik. Guru-guru masih ada anggapan bahwa tugas guru itu hanya mengajar. Pemahaman
inilah yang membuat kurang tumbuhnya semangat dalam diri seorang guru, serta masih
sangat belum memahami keberagaman karakteristik siswa.
Kesimpulan
Secara umum, kompetensi kepribadian dan sosial guru belum memberikan
peranan secara optimal. Ini berdasarkan dari hasil penelitian yang mana masih banyak
guru yang belum melaksanakan peranan dengan baik seperti eperti kurangnya kesadaran
yang dimiliki oleh guru, bukan hanya itu ada juga guru masih memiliki rasa
individualitas dalam menyelesaikan permasalahan di dalam sekolah baik di ruangan
kelas maupun di ruang guru, pemberian saran dari Komite sekolah mengenai kinerja
guru dalam proses pembelajaran, dan persiapan pembelajaran dalam proses belajar
mengajar harus ada serta fleksibelitas dalam memahami kondisi psikologi peserta didik
itu masih jauh dari harapan masyarakat, sangat kurang menerapkan nilai atau konsep
relationship dengan baik. Guru-guru masih ada anggapan bahwa tugas guru itu hanya
Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper ke-2
“Pengintegrasian Nilai Karakter dalam Pembelajaran Kreatif
di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”
2016
mengajar. Pemahaman inilah yang membuat kurang tumbuhnya semangat dalam diri
seorang guru, serta masih sangat belum memahami keberagaman karakteristik siswa.
Dengan demikian, perlu adanya penguatan secara intensif dari seluruh
stakeholders agar penerapan kompetensi kepribadian dan sosial bisa benar-benar
diterapkan secara sepenuhnya sehingga bisa memberikan implikasi positif bagi siswa
secara terus menerus. Perilaku yang menyangkut hal-hal yang kurang baik harus
benar-benar ditinggalkan seperti main judi, sabung ayam, dan miras. Karena di dalam
tubuh seorang guru terdapat tanggung jawab yang besar yaitu Suri tauladan.
DAFTAR PUSTAKA
Djam’an Satori, dkk, 2007. Profesi Keguruan,. Jakarta: Universitas Terbuka, hlm. 38.
Habibah. Pengaruh Profesionalisme GuruPAI Terhadap Prestasi BelajarPeserta Didik
PadaMata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMPIbnu Aqil Kecamatan
Ciomas Kabupaten Bogor.(Jurnal Teknologi Pendidikan, Program
StudiTeknologi Pendidikan. Volume 2 No. 1 Tahun 2012),hlm. 76.
Hadari, Nawawi. 1994. Penelitian Terapan. Cet. 1.Yogyakarta: Gajah Mada University
Press, hlm. 174.
Halimah Sadiyah, 2014. Peranan Kompetensi Kepribadian Dan Kompetensi Sosial Guru
Akidah Akhlak Terhadap Akhlak Siswa Kelas II Di Madrasah Aliyah
Mu’Allimin Muhammadiyah Surakarta. Naskah Publikasi.
Moch.Nazir, 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Salemba Empat, hlm. 50.
Moleong. 2010. Metodologi Kualitatif. Edisi Revisi.Bandung: Remaja Rosdakarya,
hlm.157.
Muslich, Masnur. 2007. KTSPPembelajaranBerbasis Kompetensi dan Konteksrual:
PanduanBagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah. Jakarta: Bumi
Aksara.
Sagala, S. 2009.Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan.Bandung:
Alfabeta.
Sugiyono, 2011.Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan R & D. Bandung:
Alfabeta,, hlm. 165.
Suparlan,2008. Menjadi Guru yang Efektif.Yogyakarta: Hidayat. hlm.12.
Uno, Hamzah B, 2008. Profesi Kependidikan: Problema, Solusi, dan Reformasi
Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Usman, U., 2011.Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Download