BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 TINJAUAN TEORITIS 2.1.1 Konsep

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 TINJAUAN TEORITIS
2.1.1 Konsep Appendicitis
2.1.1.1 Definisi Apendicitis
Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, "buta") dalam istilah
anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian
kolon menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung, dan
beberapa jenis reptil. Sebagian besar herbivora memiliki sekum yang besar,
sedangkan karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil, yang sebagian atau
seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.
Usus buntu dalam bahasa latin disebut sebagai Appendix vermiformis,
Organ ini ditemukan pada manusia, mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil.
Pada awalnya organ ini dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai
fungsi, tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ
imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu
kekebalan tubuh) di mana memiliki/berisi kelenjar limfoid. Seperti organ tubuh
yang lainnya, usus buntu tentu dapat mengalami gangguan dan penyakit tersebut
dikenal sebagai Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis).
2.1.1.2 Klasifikasi
Klasifikasi apendicitis terbagi atas 2 yakni :
1. Apendisitis akut, dibagi atas: Apendicitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu
setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu
sudah bertumpuk nanah.
2. Apendicitis kronis, dibagi atas: Apendicitis kronis fokalis atau parsial, setelah
sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu
appendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua.
2.1.1.3 Anatomi dan Fisiologi
Appendiks merupakan organ yang kecil dan vestigial (organ yang tidak berfungsi)
yang melekat sepertiga jari.
1. Letak apendiks.
Appendiks terletak di ujung sakrum kira-kira 2 cm di bawah anterior ileo
saekum, bermuara di bagian posterior dan medial dari saekum. Pada pertemuan
ketiga taenia yaitu: taenia anterior, medial dan posterior. Secara klinik
appendiks terletak pada daerah Mc. Burney yaitu daerah 1/3 tengah garis yang
menghubungkan sias kanan dengan pusat.
2. Ukuran dan isi apendiks.
Panjang apendiks rata-rata 6 – 9 cm. Lebar 0,3 – 0,7 cm. Isi 0,1 cc, cairan
bersifat basa mengandung amilase dan musin.
3. Posisi apendiks.
Laterosekal: di lateral kolon asendens. Di daerah inguinal: membelok ke arah
di dinding abdomen. Pelvis minor.
2.1.1.4 Etiologi
Apendicitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Berbagai hal
berperan sebagai faktor pencetusnya. Diantaranya adalah obstruksi yang terjadi
pada lumen apendiks. Obstruksi ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan
tinja yang keras (fekalit), hiperplasia jaringan limfoid, tumor apendiks, striktur,
benda asing dalam tubuh, dan cacing askaris dapat pula menyebabkan terjadinya
sumbatan. Namun, diantara penyebab obstruksi lumen yang telah disebutkan di
atas, fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid merupakan penyebab obstruksi yang
paling sering terjadi. Penyebab lain yang diduga menimbulkan apendicitis adalah
ulserasi mukosa apendiks oleh parasit E. histolytica.
Penelitian
epidemiologi
menunjukkan
peranan
kebiasaan
mengkonsumsi makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya
penyakit apendisitis. Tinja yang keras dapat menyebabkan terjadinya konstipasi.
Kemudian konstipasi akan menyebabkan meningkatnya tekanan intrasekal yang
berakibat
timbulnya
sumbatan
fungsional
apendiks
dan
meningkatnya
pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semua ini akan mempermudah timbulnya
apendicitis.
2.1.1.5 Patogenesis
Patologi apendicitis berawal di jaringan mukosa dan kemudian
menyebar ke seluruh lapisan dinding apendiks. Jaringan mukosa pada apendiks
menghasilkan mukus (lendir) setiap harinya. Terjadinya obstruksi menyebabkan
pengaliran mukus dari lumen apendiks ke sekum menjadi terhambat. Makin lama
mukus makin bertambah banyak dan kemudian terbentuklah bendungan mukus di
dalam lumen. Namun, karena keterbatasan elastisitas dinding apendiks, sehingga
hal tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intralumen. Tekanan
yang meningkat tersebut akan menyebabkan terhambatnya aliran limfe, sehingga
mengakibatkan timbulnya edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada
saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri di daerah
epigastrium di sekitar umbilikus.
Jika sekresi mukus terus berlanjut, tekanan intralumen akan terus
meningkat. Hal ini akan menyebabkan terjadinya obstruksi vena, edema
bertambah, dan bakteri akan menembus dinding apendiks. Peradangan yang
timbul pun semakin meluas dan mengenai peritoneum setempat, sehingga
menimbulkan nyeri di daerah perut kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan
apendicitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu, maka akan terjadi infark
dinding apendiks yang disusul dengan terjadinya gangren. Keadaan ini disebut
dengan apendisitis ganggrenosa. Jika dinding apendiks yang telah mengalami
ganggren ini pecah, itu berarti apendicitis berada dalam keadaan perforasi.
Sebenarnya tubuh juga melakukan usaha pertahanan untuk membatasi
proses peradangan ini. Caranya adalah dengan menutup apendiks dengan
omentum, dan usus halus, sehingga terbentuk massa periapendikuler yang secara
salah dikenal dengan istilah infiltrat apendiks. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis
jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Namun, jika tidak
terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi
tenang dan selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.
Pada anak-anak, dengan omentum yang lebih pendek, apendiks yang
lebih panjang, dan dinding apendiks yang lebih tipis, serta daya tahan tubuh yang
masih kurang, memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua,
perforasi mudah terjadi karena adanya gangguan pembuluh darah (Rudi Haryono,
2012).
2.1.1.6 Tanda dan Gejala
1) Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan
2) Mual, muntah
3) Anoreksia, malaise
4) Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney
5) Spasme otot
6) Konstipasi, diare
(Brunner & Suddart, 1997)
2.1.1.7 Komplikasi
Komplikasi utama appendicitis adalah perforasi appendiks yang dapat
berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insidensi perforasi 10-32%. Perforasi
terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu 37,70C
atau lebih tinggi, penampilan toksik dan nyeri abdomen atau nyeri tekan abdomen
yang kontinyu (Rudi Haryono, 2012).
2.1.1.8 Appendictomy
Appendictomy adalah pembedahan untuk mengangkat appendiks yang
telah meradang (Smeltzer S, 2001). Appendictomy merupakan pengobatan yang
paling baik bagi penderita appendicitis. Tekhnik tindakan appendictomy ada 2
macam yaitu open appendictomy dan laparoscopy appendictomy. open
appendictomy yaitu dengan cara mengiris kulit daerah McBurney sampai
menembus peritonium, sedangkan laparoscopy appendictomy adalah tindakan
yang dilakukan dengan menggunakan alat laparoskop yang dimasukkan lewat
lubang kecil di dinding perut. Keuntungan laparoscopy appendictomy adalah luka
dinding perut lebih kecil, lama hari rawat lebih cepat, proses pemulihan lebih
cepat, dan dampak infeksi luka operasi lebih kecil (Schwartz, et al., 1999).
2.1.2 Konsep Penyembuhan Luka
2.1.2.1 Definisi Luka
Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan
ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam dan tumpul, perubahan suhu, zat
kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan (Syamsuhidayat, 2011).
Sedangkan menurut Potter, Patricia A, 2006 luka adalah rusaknya fungsi anatomis
normal akibat proses patologis yang berasal dari internal maupun external dan
mengenai organ tertentu. Dan luka juga dapat digambarkan sebagai gangguan
dalam kontinuitas sel-sel, kemudian diikuti dengan penyembuhan luka yang
merupakan pemulihan kontinuitas tersebut. Ketika terjadi luka, beragam efek
dapat terjadi antara lain : kehilangan segera atau sebagian fungsi organ,
hemorhagia dan pembekuan darah, kontaminasi bakteri serta kematian sel.
Untuk semua jenis luka, penanganan dan perawatan luka dengan
tekhnik asepsis yang cermat adalah faktor paling penting untuk meminimalkan
dan meningkatkan keberhasilan perawatan luka (Smeltzer, suzanne. C, 2002)
2.1.2.2 Klasifikasi luka
Berbagai klasifikasi dapat tumpang tindih satu dengan yang lain. Beberapa
klasifikasi luka antara lain :
1. Berdasarkan penyebab luka
1) Luka insisi
Luka yang dibuat dngan potongan bersih menggunakan instrumen tajam
sebagai contoh, luka yang dibuat oleh ahli bedah dalam setiap prosedur
operasi. Luka bersih (luka yang dibuat secara aseptik) biasanya ditutup
dengan jahitan setelah semua pembuluh yang berdarah diligasi dengan
cermat.
2) Luka kontusi
Luka yang terjadi dengan dorongan tumpul dan ditandai cidera berat bagian
yang lunak, hemorhagi dan pembengkakan.
3) Luka laserasi
Luka dengan bagian tepi jaringan bergerigi, tidak teratur, seperti luka yang
dibuat oleh kaca atau goresan kawat.
4) Luka tusuk
Luka dengan bukaan kecil pada kulit – sebagai contoh, luka yang dibuat
oleh peluru atau tusukan pisau ( Smeltzer, Suzanne. C, 2002)
2. Berdasarkan tingkat kontaminasi
1) Luka bersih
Merupakan luka bedah tidak terinfeksi dimana tidak terdapat inflamasi dari
saluran pernapasan, pencernaan, genital atau saluran kemih yang tidak
terinfeksi, tidak dimasuki. Luka bersih biasanya dijahit tertutup, jika
diperlukan, dengan sistem drainase tertutup dipasangkan. Kemungkinan
relatif dari infeksi luka adalah 1% sampai 5%.
2) Luka kontaminasi-bersih
Adalah luka bedah dimana saluran pernapasan, pencernaan, genital atau
perkemihan dimasuki dibawah kondisi yang terkontrol; tidak terdapat
kontaminasi yang tidak lazim. Kemungkinan relatif dari infeksi luka adalah
3% sampai 11%.
3) Luka terkontaminasi
Mencakup luka terbuka, luka akibat kecelakaan, dan prosedur bedah dengan
pelanggaran dalam tehnik aseptik atau semburan banyak dari saluran
gastrointestinal, termasuk dalam kategori ini adalah insisi dimana terdapat
inflamasi akut, nonpurulen. Kemungkinan relatif dari infeksi luka adalah
10% sampai 17%.
4) Luka kotor atau terinfeksi
Merupakan luka dimana organisme yang menyebabkan infeksi pascaoperatif
terdapat dalam lapang operatif sebelum pembedahan. Hal ini mencakup luka
traumatik yang sudah lama dengan jaringanyang terkelupas tertahan dan
luka melibatkan infeksi klinis yang sudah ada atau visera yang mengalami
perforasi. Kemungkinan relatif nfeksi luka adalah lebih dari 27% (Smeltzer,
suzanne. C, 2002).
2.1.2. 3 Fisiologi penyembuhan luka
Beragam proses seluler yang saling tumpang tindih dan terus menerus
memberikan kontribusi terhadap pemulihan luka: regenerasi sel, proliferasi sel,
dan pembentukan kolagen. Respon jaringan terhadap cedera melewati beberapa
fase: inflamasi, proliferatif, dan maturasi.
1. Fase inflamasi
Respon vaskuler dan seluler terjadi ketika jaringan terpotong atau mengalami
cedera. Vasokonstriksi pembuluh terjadi dan bekuan fibrinoplatelet terbentuk
dalam upaya untuk mengontrol perdarahan. Reaksi ini berlangsung dari 5
menit sampai 10 menit dan diikuti oleh vasodilatasi venula. Mikrosirkulasi
kehilangan kemampuan vasokonstriksinya karena norepinefrin dirusak oleh
enzim
intraseluler.
Juga,
histamin
dilepaskan,
yang
meningkatkan
permeabilitas kapiler.
Ketika mikrosirkulasi mengalami kerusakan, elemen darah seperti antibodi,
plasma protein, elektrolit, komplemen, dan air menembus spasium vaskular
selama 2-3 hari, menyebabkan edema, teraba hangat, kemerahan dan nyeri.
Netrofil adalah leukosit pertama yang bergerak ke dalam jaringan yang rusak.
Monosit
yang
berubah
menjadi
makrofag
menelan
debris
dan
memindahkannya dari area tersebut. Antigen-antibodi juga timbul. Sel-sel
basal pada pinggir luka mengalami mitosis, dan menghasilkan sel-sel anak
yang bermigrasi.
Dengan aktivitas ini, enzim proteolitik disekresikan dan menghancurkan
bagian dasar bekuan darah. Celah antara dua sisi luka secara progresif terisi,
dan sisinya pada akhirnya saling bertemu dalam 24-48 jam. Pada saat ini,
migrasi sel ditingkatkan oleh aktivitas sumsum tulang hiperplastik.
2. Fase proliferatif
Fibroblas memperbanyak diri dan membentuk jaring-jaring untuk sel-sel yang
bermigrasi. Sel-sel epitel membentuk kuncup pada pinggiran luka, kuncup ini
berkembang menjadi kapiler, yang merupakan sumber nutrisi bagi jaringan
granulasi yang baru.
Kolagen adalah komponen utama dari jaringan ikat yang digantikan. Fibroblas
melakukan sintesis kolagen dan mukopolisakarida. Dalam periode 2-4 minggu,
rantai asam amino membentuk serat-serat dengan panjang dan diameter yang
meningkat. Serat-serat ini menjadi kumpulan bundel dengan pola yang tersusun
baik. Sintesis kolagen menyebabkan kapiler untuk menurun jumlahnya. Setelah
itu, sintesis kolagen menurun dalam upaya untuk menyeimbangkan jumlah
kolagen yanng menurun. Sintesis dan lisis seperti ini mengakibatkan
peningkatan kekuatan.
Setelah 2 minggu luka hanya memiliki 3% sampai 5% dari kekuatan kulit
aslinya. Sampai akhir bulan hanya 35% sampai 59% kekuatan luka tercapai.
Tidak akan lebih dari 70% sampai 80% kekuatan dicapai kembali. Banyak
vitamin, terutama vitamin C, membantu dalam proses metabolisme yang
terlibat dalam penyembuhan luka.
3. Fase maturasi
Sekitar 3 minggu setelah cedera, fibroblas mulai meninggalkan luka. Jaringan
parut tampak besar, sampai fibrin kolagen menyusun ke dalam posisi yang
lebih padat. Hal ini, sejalan dengan dehidrasi, mengurangi jaringan parut tetapi
meningkatkan kekuatannya. Maturasi jaringan seperti ini terus berlanjut dan
mencapai kekuatan maksimum dalam 10 atau 12 minggu, tetapi tidak pernah
mencapai kekuatan asalnya dari jaringan sebelum luka.
Luka dikatakan sembuh apabila permukaannya dapat bersatu kembali dan
didapatkan kekuatan jaringan yang mencapai normal. Luka dapat dikatakan
sembuh dengan baik apabila luka kering dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi.
Sedangkan luka dikatakan tidak sembuh apabila luka masih basah dan ada
tanda-tanda infeksi. (Tamher, Sayuti. 2008).
2.1.2.3 Komplikasi penyembuhan luka
Komplikasi penyembuhan luka meliputi infeksi, perdarahan, dehisensi, dan
eviscerasi.
1. Infeksi
Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama pembedahan
atau setelah pembedahan. Gejala dari infeksi sering muncul dalam 2-7 hari
setelah pembedahan. Gejala infeksi adanya purulent, peningkatan drainase,
nyeri, kemerahan dan bengkak disekeliling luka, peningkatan suhu, dan
peningkatan jumlah sel darah putih.
2. Perdarahan
Perdarahan dapat menunjukkan suatu pelepasan jahitan, sulit membeku pada
garis jahitan, infeksi, atau erosi dari pembuluh darah oleh benda asing (seperti
drain). Hipovolemia mungkin tidak cepat ada tanda. Sehingga balutan (dan
luka di bawah balutan) jika mungkin harus sering dilihat selama 48 jam
pertama setelah pembedahan dan tiap 8 jam setelah itu. Jika perdarahan
berlebihan terjadi, penambahan tekanan balutan luka steril mungkin
diperlukan. Pemberian cairan dan intervensi pembedahan mungkin diperlukan.
3. Dehisensi dan eviserasi
Dehisensi dan eviserasi adalah komplikasi operasi yang paling serius.
Dehisensi adalah terbukanya lapisan luka partial atau total. Eviserasi adalah
keluarnya pembuluh melalui daerah irisan. Sejumlah faktor meliputi
kegemukan, kurang nutrisi, multiple trauma, gagal untuk menyatu, batuk yang
berlebihan, muntah dan dehidrasi, mempertinggi resiko klien mengalami
dehisensi luka. Dehisensi luka dapat terjadi 4-5 hari setelah operasi sebelum
kolagen meluas di daerah luka. Ketika dehisensi dan eviserasi terjadi luka
harus segera ditutup dengan balutan steril yang lebar, kompres dengan normal
saline. Klien disiapkan untuk segera dilakukan perbaikan pada daerah luka.
4. Fistula
Fistula adalah suatu lintasan abnormal antara dua permukaan epitel yang
menghubungkan satu viksus dengan viksus lainnya atau menghubungkan satu
viksus dengan kulit. Terdapat banyak penyebab terjadinya
fistula.
Pembentukan fistula dapat iatrogenik, akibat rusaknya anastomosis setelah
pembedahan atau kerusakan yang disebabkan oleh posisi drain luka yang
buruk.
2.1.2.5 Faktor- faktor yang Dapat Mempengaruhi Proses Penyembuhan
Luka Post Appendictomy
Lama hari rawat pasien post operasi apendisitis dirawat antara 5-7
hari. Menurut mansjoer, Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk
tegak ditempat tidur selama 2 x 30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri
dan duduk diluar kamar. Hari ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien
diperbolehkan pulang. (Mansjoer, 2000). Proses mengangkat jahitan pada luka
post operasi bersih 5-7 hari atau sesuai dengan penyembuhan luka yang terjadi.
(Eny Kusnyati, 2006). Namun tekhnik penutupan luka operasi saat ini telah
mengalami perkembangan dimana pada penutupan akhir dinding abdomen yaitu
pada penutupan kulit dengan tekhnik subtikuler dan menggunakan benang yang
dapat di absorbsi. Hal ini tentu akan meningkatkan kenyamanan pasien pasca
bedah.
Faktor-faktor yang dapat menghambat penyembuhan luka pasca
operasi ada 2 faktor yaitu faktor intrinsik : umur, penyakit penyerta, status nutrisi,
oksigenasi dan perfusi jaringan, serta merokok. Kemudian faktor ekstrinsik :
teknik pembedahan buruk, mobilisasi, pengobatan, manajemen luka yang tidak
tepat, psikososial dan infeksi. (Potter and Perry, 2006)
1) Usia
Usia merupakan salah satu faktor menentukan proses penyembuhan
luka. Penuaan dapat mengganggu semua tahap penyembuhan luka karena terjadi
perubahan vaskuler yang mengganggu ke daerah luka, penurunan fungsi hati
mengganggu sintesis faktor pembekuan, respon inflamasi lambat, pembentukan
antibodi dan limfosit menurun, jaringan kolagen kurang lunak dan jaringan parut
kurang elastis (Potter & Perry, 2010). seorang yang mengalami usia menjadi tua
dan masa tua merupakan masa hidup yang terakhir, pada masa ini akan
mengalami kemunduran fisik, mental, dan sosial, sampai tidak dapat melakukan
tugasnya sehari-hari lagi sehingga bagi kebanyakan orang masa tua itu merupakan
masa yang kurang menyenangkan (Haspari, 2008).
Kulit utuh pada dewasa muda yang sehat merupakan suatu barier yang
baik terhadap trauma mekanis dan juga infeksi, begitupun yang berlaku pada
efisiensi sistem imun, sistem kardiovaskuler, dan sistem respirasi yang
memungkinkan penyembuhan luka terjadi lebih cepat. Seiring dengan berjalannya
usia perubahan yang terjadi dikulit yaitu frekuensi penggantian sel epidermis,
respon inflamasi terhadap cedera, persepsi sensoris, proteksi mekanis, dan fungsi
barier kulit. Beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah naiknya
frekusensi gangguan patologis yang berhubungan dengan usia yang dapat
memperlambat penyembuhan luka melalui berbagai mekanisme seperti status
nutrisi yang buruk, defisiensi vitamin dan mineral, anemia, adanya gangguan
pernafasan yang menyebabkan penurunan suplai oksigen sehingga buruknya
suplai darah dan hipoksia disekitar luka, gangguan kardiovaskuler seperti
arteriosklerosis, diabetes, gagal jantung kongestif, selain itu, adanya arthritis
rheumatoid dan uremia (Morison, 2004).
Pada proses penyembuhan luka, semakin tua usia seseorang akan
semakin lama dalam proses penyembuhan luka. Hal ini dipengaruhi oleh adanya
penurunan elastin dalam kulit dan perbedaan penggantian kolagen mempengaruhi
penyembuhan luka. Usia lanjut dapat mengganggu semua tahap penyembuhan
luka. Pada usia lanjut terjadi perubahan sistem vaskuler yang akan mengganggu
sirkulasi ke daerah luka. Respon inflamasi pada luka akan berjalan lambat. Terjadi
penurunan pembentukan antibodi dan limfosit.
2) Nutrisi
Penyembuhan luka secara normal memerlukan nutrisi yang tepat.
Pada dasarnya nutrien yang berguna ialah protein, karbohidrat, lemak, vitamin,
dan mineral.
 Protein. Deplesi protein dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Terjadi
peningkatan kebutuhan akan protein saat terjadinya luka. Peningkatan
kebutuhan
tersebut
diperlukan
untuk
proses
inflamasi,
imun,
dan
perkembangan jaringan granulasi. Protein utama yang disintesis selama fase
penyembuhan luka adalah kolagen. Kekuatan kolagen menentukan kekuatan
kulit luka seusai sembuh. Kekurangan intake protein prabedah, secara
signifikan menunda penyembuhan luka pascabedah.
 Karbohidrat. Selama fase hipermetabolik, kebutuhan akan karbohidrat
meningkat. Segala aktifitas seluler dipengaruhi oleh ATP yang diperoleh dari
glukosa (karbohidrat), sehingga penyediaan energi untuk respons inflamasi
dapat berlangsung. Kekurangan karbohidrat dalam tubuh menyebabkan
penghancuran protein untuk keperluan aktifitas seluler. Dengan kata lain,
sedikitnya karbohidrat berpeluang membuat semakin sedikitnya protein.
 Lemak. Lemak memiliki peran penting dalam struktur dan fungsi membran
sel. Asam lemak esensial tidak bias disintesis oleh tubuh, sehingga harus
didapatkan dari diet keseharian. Peran asam lemak esensial untuk
penyembuhan luka masih belum begitu dimengerti, tetapi diketahui bahwa
lemak berperan untuk sintesis sel baru.Kekurangan lemak tubuh dapat
menunda penyembuhan luka. Omega-3 polyunsaturated fatty acids (PUFAs)
diketahui lebih bermanfaat ketimbang omega-6 PUFAs. Omega-3s merupakan
anti-inflamasi yang berguna untuk penyembuhan luka, tetapi pemakaiannya
dapat menghambat pembekuan darah, sehingga dinilai merugikan.
 Vitamin. Vitamin B kompleks merupakan kofaktor sejumlah fungsi metabolik
termasuk penyembuhan luka. Selain vitamin B, yang berperan dalam
penyembuhan luka ialah vitamin K. Vitamin K merupakan kofaktor enzim
karboksilase yang mengubah residu protein berupa asam glutamat (glu)
menjadi gamma-karboksiglutamat (gla). Gla disebut juga gla-protein. Gla
protein dapat mengikat ion kalsium, yang mana kinerja ini merupakan langkah
yang esensial untuk pembekuan darah. Ion kalsium berguna untuk
mengaktifkan faktor pembekuan. Kekurangan vitamin K menyebabkan faktor
pembekuan
tidak
aktif
(darah
tidak
dapat
menggumpal),
sehingga
menyebabkan perdarahan pada luka (operasi).
 Mineral. Mineral yang diketahui bermanfaat untuk penyembuhan luka ialah
besi dan seng. Besi berfungsi sebagai kofaktor pada sintesis kolagen, sehingga
defisiensi besi membuat penyembuhan luka tertunda. Seng juga berperan
dalam penyembuhan luka. Pembahasan mengenai seng ada pada sub-bab yang
lain.
Penyembuhan luka secara normal memerlukan nutrisi yang tepat,
karena proses fisiologi penyembuhan luka bergantung pada tersedianya protein,
vitamin (terutama vitamin A dan C) dan mineral. Kolagen adalah protein yang
terbentuk dari asam amino yang diperoleh fibroblas dari protein yang dimakan.
Vitamin C dibutuhkan untuk mensintesis kolagen. Vitamin A dapat mengurangi
efek negatif steroid pada penyembuhan luka. Elemen renik zink diperlukan untuk
pembentukan epitel, sintesis kolagen (zink) dan menyatukan serat-serat kolagen.
(Potter, 2005 : 1859). Proses zat gizi dalam penyembuhan luka : protein berfungsi
sebagai pertumbuhan dan pemeliharaan, pembentukan ikatan-ikatan esensial
tubuh, mengatur keseimbangan air, pembentukan antibodi, mengangkat zat-zat
gizi dan sumber energi. Karbohidrat berfungsi sebagai penyedia energi bagi
tubuh. Vitamin A berfungsi sebagai kekebalan pertumbuhan dan vitamin C
berfungsi sebagai sistem kolagen, mencegah infeksi. Dan air (mineral) berfungsi
sebagai bagian penting dari struktur sel dan jaringan. Zat-zat makanan tersebut
dapat mempercepat pembentukan jaringan baru dalam proses penyembuhan luka
(Potter, 2005 : 1859). Hal ini juga sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh
Hamidarsat (2007) bahwa kepercayaan untuk tidak boleh memakan jenis makanan
tertentu, seperti ikan atau udang adalah kurang benar karena jenis makanan ini
banyak mengandung protein, apabila asupan dalam tubuh kurang akan
menyebabkan kegagalan atau lambatnya pembentukan jaringan baru sehingga
luka akan lama menutup dan yang paling buruk kemungkinan akan terjadi infeksi.
Demikian juga dengan kekurangan asupan nutrisi lain seperti karbohidrat dan
berbagai jenis vitamin yang telah banyak diuraikan diatas, akan mempengaruhi
penyembuhan luka.
3) Sirkulasi (hipovolemia) dan oksigenasi
Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka.
Adanya sejumlah besar lemak subktan dan jaringan lemak (yang memiliki sedikit
pembuluh darah). Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka lambat
karena jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi dan lama untuk
sembuh. Aliran darah dapat terganggu pada orang dewasa dan pada orang yang
endrita gangguan pembuluh darah perifer, hipertensi atau diabetes mellitus.
Oksigenasi jaringan menurun pada orang yang menderita anemia atau gangguan
pernapasan kronik pada perokok.
4) Obesitas
Sejumlah kondisi fisik yang dapat mempengaruhi penyembuhan luka.
Misalnya adanya sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang
memiliki sedikit pembuluh darah). Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan
luka lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi, dan
lama untuk sembuh. Jaringan lemak kekurangan persediaan darah yang adekuat
untuk menahan infeksi bakteri dan mengirimkan nutrisi dan elemen-elemen
selular untuk penyembuhan. Apabila jaringan yang rusak tersebut tidak segera
mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan maka proses penyembuhan luka juga akan
terhambat (Gitarja dan Hardian, 2011).
Kegemukan (obesitas) adalah suatu keadaan di mana berat badan
seseorang berada di atas 120 % dari berat badan relatif (BBR) atau berada di atas
27 dari indeks masa tubuh (IMT).
IMT = BB/TB2
Rumus IMT :
Keterangan :
IMT
: Indeks Massa Tubuh (Kg/m2)
BB
: Berat Badan (Kg)
TB
: Tinggi Badan (m2)
Dengan nilai standar :
a.
< 18,5
= maka dapat dikatakan IMT Kurang
b.
18,5 – 25 = maka dapat dikatakan IMT Normal
c.
25 – 27
= maka dapat dikatakan IMT Lebih
d.
> 27
= maka dapat dikatakan sebagai Obesitas atau Kegemukan
(Nurcahyo, 2009).
Pada pasien yang mengalami obesitas, jaringan lemak sangat rentan
terhadap terjadinya infeksi. Selain itu pasien obesitas sering sulit dirawat karena
tambahan berat badan, pasien bernafas tidak optimal saat berbaring miring
sehingga mudah mengalami hipoventilasi dan komplikasi pulmonal pasca operasi.
5) Iskemia
Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai
darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat
terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor
internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.
6) Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan
terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari
serum, fibrin, jaringan sel mati dan leukosit (sel darah merah), yang membentuk
suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah (“pus”).
7) Penyakit kronis
Pada pasien yang menderita penyakit kardiovaskuler, diabetes
mellitus, penyakit paru obstruksi menahun dan insufisiensi ginjal akan
berpengaruh pada proses penyembuhan luka. Hal ini terkait dengan pemakaian
energi kalori untuk penyembuhan primer.
8) Merokok
Pasien dengan riwayat rokok sering mengalami gangguan vaskuler,
terutama terjadi arterosklerosis pembuluh darah. Hal ini mempengaruhi pada
suplai darah ke daerah luka. Merokok akan mengakibatkan oksigenasi jaringan
yang buruk pada jaringan normal. Pada jaringan yang mengalami perlukaan,
misalnya jaringan yang mengalami sayatan operasi, kebutuhan oksigen justru
menjadi lebih tinggi daripada kebutuhan normal. Karena itu sel-sel jaringan pada
luka operasi orang yang merokok akan „tersengal-sengal‟ relatif lebih berat karena
kekurangan oksigen yang diharapkan justru mendapat sediaan kadar oksigen yang
rendah di dalam aliran darah. Oleh karena itu, risiko kematian sel-sel kulit
dan/atau jaringan bawah kulit menjadi lebih serius. Adanya jaringan yang nonvital akan memudahkan tumbuhnya infeksi kuman kulit, dan kedua kondisi
tersebut akan sangat mengancam hasil akhir penyembuhan luka operasi. Kulit
perokok yang biasanya lebih kering dibandingkan kulit normal akan lebih
memperburuk penyembuhan. Kulit yang kering relatif lebih mudah terpecahpecah, sehingga masa penyembuhan luka menjadi sangat memanjang (Fawzy
Ahmad, 2012).
9) Obat-obatan
Penggunaan obat-obatan steroid dapat menyamarkan adanya infeksi
dengan mengganggu respon inflamasi normal dan penggunaan antikoagulan dapat
menyebabkan perdarahan pada luka. Antibiotik, efektif diberikan segera sebelum
pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan
setelah luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi
intravaskuler.
10)
Mobilisasi
Perubahan dalam tingkat mobilisasi fisik dapat mengakibatkan
keterbatasan gerak, dalam bentuk tirah baring, pembatasan gerak fisik selama
penggunaan alat bantu eksternal, pembatasan gerakan volunter dan kehilangan
fungsi motorik (Potter, Patricia. A. 2006).
Dengan mobilisasi dini masa pemulihan untuk mencapai level kondisi seperti pra
pembedahan dapat dipersingkat. Hal ini tentu akan mengurangi waktu rawat inap
di rumah sakit, menekan biaya perawatan dan mengurangi stres psikis (A. Majid,
M. Judha, U. Istianah. 2011).
Smeltzer, suzanne. C (2002) menyebutkan tujuan mobilisasi untuk
mencegah
terjadinya
bronkopneumonia,
kekakuan
sendi,
mencegah
tromboplebitis, atrofi otot, penumpukan sekret, memperlancar sirkulasi darah,
mencegah kontraktur, dekubitus serta memelihara faal kandung kemih agar tetap
berfugsi secara baik dan pasien dapat beraktivitas.
Salah satu faktor yang
mempengaruhi proses penyembuhan luka akibat operasi pembuangan apendiks
(apendektomi) adalah kurangnya/ tidak melakukan mobilisasi dini. Mobilisasi
merupakan faktor yang utama dalam mempercepat pemulihan dan mencegah
terjadinya komplikasi pasca bedah. Mobilisasi sangat penting dalam percepatan
hari rawat dan mengurangi resiko karena tirah baring lama seperti terjadinya
dekubitus, kekakuan atau penegangan otot-otot di seluruh tubuh, gangguan
sirkulasi darah, gangguan pernapasan dan gangguan peristaltik maupun berkemih
(Carpenito, 2000).
Dengan mobilisasi dini, dapat menunjang proses penyembuhan luka
pasien karena dengan menggerakkan anggota badan ini akan mencegah kekauan
otot dan sendi sehingga dapat mengurangi nyeri dan dapat memperlancar
peredaran darah ke bagian yang mengalami perlukaan agar proses penyembuhan
luka cepat. Hal ini sejalan dengan pendapat para ahli bahwa Salah satu faktor
yang mempengaruhi proses penyembuhan luka akibat operasi pembuangan
apendiks (apendektomi) adalah kurangnya/ tidak melakukan mobilisasi dini.
Mobilisasi merupakan faktor yang utama dalam mempercepat pemulihan dan
mencegah terjadinya komplikasi pasca bedah (Carpenito, 2000).
Salah satu faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka
akibat operasi pembuangan apendiks (apendektomi) yang mengalami peradangan
adalah mobilisasi dini. Mobilisasi merupakan faktor yang utama dalam
mempercepat pemulihan, mencegah terjadinya komplikasi pasca bedah dan
mencegah terjadinya trombosis vena (Carpenito, 2000).
Macam macam mobilisasi dini
1. Mobilisasi pasif
Suatu latihan yang dilakukan oleh terapi atau oleh perawat tanpa bantuan dari
pasien. Yang bertujuan untuk mencapai kembali sebanyak mungkin rentang
gerak sendi, dan untuk mempertahankan sirkulasi.
2. Mobilisasi aktif
Suatu latihan yang diterapkan tanpa bantuan terapis atau perawat. Aktivitas
pasien mencakup berbalik dari satu sisi ke sisi yang lain dan tengkurap ke
telentang atau bergerak ke atas dan ke bawah. Mobilisasi dapat dilakukan di
atas tempat tidur. Hal ini bertujuan untuk meningkatkn kekuatan otot.
(smeltzer, suzanne. C, 2002).
2.2 KERANGKA TEORI
Luka sembuh
dengan baik :
1. Luka kering
2. Tidak ada
tanda-tanda
infeksi
Faktor yang mempengaruhi
penyembuhan luka :
1. Nutrisi
2. Usia
3. Sirkulasi dan oksigenasi
4. Obesitas
5. Iskhemia
6. Benda asing
7. Penyakit kronis
8. Kebiasaan Merokok
9. Obat-obatan
10. Mobilisasi
Luka post
appendictomy
Luka tidak sembuh :
1. Luka basah
2. Ada tanda-tanda
infeksi
Perawatan luka operasi
Gambar 2.1. Kerangka Teori (Sumber : Lawrence Green)
2.3
KERANGKA KONSEP
Variabel Independent
1.
2.
3.
4.
5.
Usia
Nutrisi
Obesitas
Mobilisasi
Kebiasaan merokok
Variabel Dependent
Penyembuhan Luka
Faktor Perancu:
1.
2.
3.
4.
5.
Sirkulasi dan oksigenasi
Iskhemia
Benda asing
Penyakit kronis
Obat-obatan
Keterangan :
: variabel yang diteliti
: variabel perancu
Gambar 2.2. Kerangka konsep ( Sumber : Lawrence Green)
2.4
Hipotesis
2.4.1 Hipotesis Penelitian
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Terdapat pengaruh usia terhadap proses penyembuhan luka post
appendiktomy di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo Tahun
2013
2. Terdapat pengaruh obesitas terhadap proses penyembuhan luka post
appendiktomy di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo Tahun
2013
3. Terdapat pengaruh kebiasaan merokok terhadap proses penyembuhan
luka post appendiktomy di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo
Tahun 2013
4. Terdapat pengaruh nutrisi terhadap proses penyembuhan luka post
appendiktomy di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo Tahun
2013
5. Terdapat pengaruh mobilisasi dini terhadap proses penyembuhan luka
post appendiktomy di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo
Tahun 2013
2.4.2 Hipotesis Statistik
1. H0: Tidak terdapat pengaruh usia terhadap proses penyembuhan luka
post appendiktomy di RSUD. Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo
Tahun 2013.
Ha: Terdapat pengaruh usia terhadap proses penyembuhan luka post
appendiktomy di RSUD. Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo Tahun
2013.
2. H0: Tidak terdapat pengaruh obesitas terhadap proses penyembuhan
luka post appendiktomy di RSUD. Prof. Dr. Aloei Saboe Kota
Gorontalo Tahun 2013.
Ha: Terdapat pengaruh obesitas terhadap proses penyembuhan luka post
appendiktomy di RSUD. Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo Tahun
2013.
3. H0: Tidak terdapat pengaruh kebiasaan merokok terhadap proses
penyembuhan luka post appendiktomy di RSUD. Prof. Dr. Aloei Saboe
Kota Gorontalo Tahun 2013.
Ha:
Terdapat
pengaruh
kebiasaan
merokok
terhadap
proses
penyembuhan luka post appendiktomy di RSUD. Prof. Dr. Aloei Saboe
Kota Gorontalo Tahun 2013.
4. H0: Tidak terdapat pengaruh nutrisi terhadap proses penyembuhan luka
post appendiktomy di RSUD. Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo
Tahun 2013.
Ha: Terdapat pengaruh nutrisi terhadap proses penyembuhan luka post
appendiktomy di RSUD. Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo Tahun
2013.
5. H0: Tidak terdapat pengaruh mobilisasi terhadap proses penyembuhan
luka post appendiktomy di RSUD. Prof. Dr. Aloei Saboe Kota
Gorontalo Tahun 2013.
Ha: Terdapat pengaruh mobilisasi terhadap proses penyembuhan luka
post appendiktomy di RSUD. Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo
Tahun 2013.
Download