1 Hubungan pengetahuan dan sikap perawat tentang kualitas

advertisement
Hubungan pengetahuan dan sikap perawat tentang kualitas perawatan dower
catheter dengan perilaku pencegahan infeksi nosokomial saluran kemih pada pasien
stroke di ruang inap RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen
Agnes Triwijaya K1), Atiek Murhayati 2), Galih Priambodo3)
Abstrak
Penyakit Stroke memerlukan perawatan yang cukup serius, salah satunya
pemasangan DC.Tindakan ini perlu perawatan rutin dan perlu pengetahuan dan sikap
yang baik sehingga akan berpengaruh pada perilaku pencegahan ISK. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap perawat tentang kualitas
perawatan DC dengan perilaku pencegahan infeksi nosokomial saluran kemih pada
pasien stroke di ruang inap RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.
Desain penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross
sectional. Sampel berjumlah 50 orang perawat diruang inap penyakit syaraf. Uji analisa
data yang dipakai adalah uji Chi Square. Instrument penelitian menggunakan kuesioner.
Hasil penelitian menunjukkan variabel pengetahuan ditemukan nilai x² hitung >
x² tabel (7,890 > 3,841) dan nilai p= 0,005, maka H0 ditolak yang artinya ada hubungan
pengetahuan perawat tentang kualitas perawatan DC terhadap perilaku pencegahan
infeksi nosokomial saluran kemih. Sedangkan variabel sikap ditemukan nilai x² hitung >
x² tabel (4,608 > 3,841) dan nilai p= 0,032 sehingga H0 ditolak. Yang artinya ada
hubungan sikap perawat tentang kualitas perawatan DC dengan perilaku pencegahan
infeksi nosokomial saluran kemih.
Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan pengetahuan dan sikap
perawat tentang kualitas perawatan DC dengan perilaku pencegahan infeksi nosokomial
saluran kemih pada pasien Stroke diruang inap RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.
Kata kunci: pengetahuan, sikap, perilaku, perawatan DC, infeksi nosokomial saluran
kemih stroke
Daftar pustaka: 24 (2000-2015)
1
tahun angka kematian akibat stroke
PENDAHULUAN
Stroke
merupakan
salah
satu
masalah kesehatan yang cukup serius
didalam beberapa tahun terakhir ini.
sebesar 15,9% (di daerah perkotaan) dan
11,5% (di daerah pedesaan) (Sjahrir,
2009).
Jumlah total penderita stroke di
Perawatan dan penyembuhan penyakit
ini membutuhkan waktu yang cukup
lama, sehingga menyebabkan timbulnya
berbagai masalah seperti beban keluarga
dan
dapat
menyebabkan
kecacatan
jangka panjang atau bahkan kematian
pada penderita dengan penyakit stroke
Berdasarkan data WHO (2010),
setiap tahunnya terdapat 15 juta orang
diseluruh dunia menderita stroke dengan
jumlah kematian sebanyak lima juta
orang dan lima juta orang lainnya
mengalami kecacatan yang permanen.
Penyakit stroke telah menjadi masalah
kesehatan yang menjadi penyebab utama
merupakan
pada
salah
ribu orang meninggal dunia dan sisanya
cacat ringan maupun berat (Menkes RI,
2009). Kasus stroke di rumah sakit
sebagian besar membutuhkan perawatan
yang cukup lama. Kelemahan atau
kelumpuhan
(Fatmawati, 2010 ).
kecacatan
Indonesia, sekitar 2,5 persen atau 250
usia
dewasa
satu
dan
penyebab
terbanyak di dunia (Xu, et al, 2010).
Prevalensi kejadian stroke di Amerika
diperkirakan sekitar dua juta penderita
pasca stroke di tahun 2008. Insiden
stroke di India diperkirakan sekitar 203
pasien per 100.000 penduduk, dan di
China insiden stroke sekitar 219 per
pembunuh
nomor
tiga.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2007 pada usia 45-54
rumah
masih
sakit.
Keluarga
perlu
mempertimbangkan tingkat kemandirian
atau
tingkat
ketergantungan
pasien
terhadap orang lain dalam melakukan
aktifitas kehidupan sehari-hari (AKS)
Mulyatsih (2008). Aktivitas kehidupan
sehari-hari / ADL (activity daily living)
adalah fungsi dan aktivitas individu
yang
normalnya
dilakukan
tanpa
bantuan orang lain (Wallace dalam
Triswandari, 2008). Penelitian Haqhqoo
et al, (2013) menemukan sekitar 65,5%
penderita stroke ketergantungan dan
membutuhkan bantuan orang lain dalam
memenuhi
kebutuhan
aktivitas
kehidupan sehari-hari (AKS).
Penderita
stroke
biasa
memerlukan pemasangan alat bantu
BAK yang biasa di kenal dengan selang
kencing (dower catheter). Pemasangan
DC
2
seringkali
dialami pasien sewaktu keluar dari
100.000 penduduk. Di Indonesia stroke
merupakan
juga
bertujuan
untuk
memberikan
kenyamanan bagi pasien, disamping itu
Tingkat
pengetahuan
dan
juga memudahkan perawat / dokter
pemahaman masing masing perawat
untuk memantau output cairan penderita.
berbeda beda, begitu pula dengan sikap
Terdapat sisi keuntungan dan kegunaan
dan perilaku perawat yang tidak sama
pemasangan
segi
menjadi salah satu faktor penyebab
resikonya juga yaitu resiko terjadinya
kualitas perawatan DC. Hasil penelitian
infeksi nosokomial khususnya di saluran
yang dilakukan oleh Tri Kesuma Dewi,
kemih. Resiko infeksi nosokomial ini
2009
terjadi dikarenakan kurangnya perhatian
perawat tentang perawatan kateter urin
dan perawatan dari perawat dalam
di RS PKU Muhamadiyah Yogyakarta
memasang DC. Berdasarkan penelitian
menunjukkan
yang dilakukan oleh Afsah (2008) di RS
pengetahuan
PKU
Yogyakarta
perawatan DC secara keseluruhan dalam
didapatkan angka kejadian ISK pada
kriteria baik 20% dan dalam kriteria
pasien
cukup sebanyak 80%. Penelitian oleh
DC,
tetapi
Muhammadiyah
yang
ada
dipasang kateter
urin
sebanyak 20 % dari 30 pasien.
adalah
bahwa
perawat
tentang
tingkat
SOP
Kasmad, 2007 tentang hubungan antara
Indikator perawatan DC yang
berkualitas
tentang Tingkat pengetahuan
kualitas
perawatan
kateter
dengan
berdasarkan
kejadian infeksi nosokomial saluran
pengetahuan dan sikap perawat terhadap
kemih” menjelaskan bahwa terdapat
standar operasional prosedur (SOP)
hubungan antara kualitas perawatan
rumah sakit tentang perawatan DC.
kateter
Penelitian yang dilakukan oleh Widya
nosokomial saluran kemih.
Sepalanita
(2012)
pengaruh
perawatan
kejadian
infeksi
judul
Hasil studi pendahuluan di RSUD
urin
Dr Soehadi Prijonegoro Sragen yaitu
indwelling model AACN (American
didapatkan jumlah pasien stroke di
association of critical care nurses)
RSUD Dr Soehadi Prijonegoro Sragen
terhadap bakteriuria di RSU Raden
dari bulan Januari sampai bulan April
Mattaher Jambi yang menunjukkan hasil
2015 berjumlah 180 pasien. Berdasarkan
uji
bahwa
data dari Tim PPI RSUD Dr Soehadi
perawatan kateter urin indwelling model
Prijonegoro Sragen, rata rata pasien
AACN
menurunkan
stroke tersebut terpasang DC yaitu
kelompok
sekitar 65% dari total penderita stroke
bivariat
bakteriuria
kontrol.
dengan
dengan
kateter
menunjukkan
signifikan
dibandingkan
yang dirawat di rumah sakit tersebut.
Hasil wawancara dari 10 orang perawat
3
di rumah sakit tersebut, enam orang
%. Kejadian INOS yang sering terjadi
perawat
adalah
tersebut
mengatakan
tidak
decubitus
dan
plebitis.
pernah melakukan perawatan DC pada
Sedangkan untuk kasus pemasangan DC
pasien yang terpasang DC dan empat
belum menjadi perhatian oleh Tim PPI
orang
dirumah sakit tersebut.
perawat
mengatakan
rutin
melakukan perawatan DC meskipun
Berdasarkan uraian latar belakang
belum begitu menguasai bagaimana
diatas, peneliti tertarik untuk melakukan
SOP perawatan DC yang benar. Di
penelitian
ruang syaraf kelas tiga sebagian besar
pengetahuan dan sikap perawat tentang
perawat yang jaga mengatakan tidak
kualitas
paham bagaimana SOP perawatan DC
dengan perilaku
yang benar dan tidak pernah melakukan
nosokomial saluran kemih pada pasien
perawatan DC tersebut. Angka kejadian
stroke di ruang Inap RSUD Dr Soehadi
INOS di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro
Prijonegoro Sragen.
yang
berjudul
perawatan
hubungan
dower
catheter
pencegahan infeksi
Sragen menurut Tim PPI sebanyak 0,6
menggunakan uji khai kuadrat (chi
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian
ini
dilaksanakan
square). Dimana bila nilai x² hitung > x²
diruang inap penyakit syaraf RSUD dr.
tabel maka H0 ditolak, yang artinya ada
Soehadi Prijonegoro Sragen pada bulan
hubungan antara variabel dependen
Desember 2015 sampai dengan Januari
dengan variabel independen penelitian.
2016.
Peneliti menggunakan lembar observasi
Penelitian
ini
menggunakan
metode penelitian deskriptif kuantitatif
frekuensi
dengan
penelitian.
pendekatan
cross
sectional.
urin
sebagai
instrumen
Populasi dalam penelitian ini adalah
HASIL DAN PEMBAHASAN
perawat ruang inap penyakit syaraf di
Analisa Univariat
RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.
Karakteristik Responden
Teknik sampel yang digunakan adalah
Tabel 1. Karakteristik responden
total sampling. Sampel yang digunakan
berdasarkan umur
berjumlah 50 orang. Analisa univariat
penelitian
demografi
kelamin,
ini
meliputi
responden
lama
kerja
karakteristik
(umur,
dan
jenis
tingkat
pendidikan), pengetahuan, sikap dan
perilaku responden. Uji analisa statistik
4
No
1
2
3
Umur Jumlah Persentase
26-35
25
50%
tahun
36-45
19
38%
tahun
46-55
6
12%
tahun
Jumlah
50
100%
Berdasarkan tabel diatas dapat
dijelaskan
bahwa
dari
responden
didapatkan
50
orang
perempuan yaitu sebanyak 32 responden
(64%).
Peneliti
memiliki
argumen
data
bahwa
berkenaan dengan hasil temuan ini,
berusia
26-35
bahwa terkadang sangat mudah dilihat
tahun yaitu sebanyak 25 orang (50%).
perbedaan antar kaum laki-laki dengan
Peneliti
berpendapat
seperti
kaum perempuan. Dimana mayoritas
kondisi
dilahan
memang
kaum perempuan lebih cenderung rajin
benar mayoritas dari responden ialah
dan juga ulet dalam beerja ataupun
mereka yang masih berumur dewasa
melakukan rutinitas mereka sehari-hari.
awal, dimana mereka masih memiliki
Sedangkan kaum laki-laki biasanya
fisik yang kuat, semangat yang cukup
lebih malas dan juga lebih cuek dalam
tinggi dan juga kemampuan daya ingat
melakukan
dan daya serap ketika diberikan ilmu
pernyataan yang dikemukakan oleh
atau ketrampilan baru, mereka lebih
Sunaryo (2004), bahwa salah satu faktor
mudah menguasai dari pada responden
yang
yang berusia lebih tua.
seseorang adalah jenis kelamin. Sebagai
mayoritas
responden
bahwa
penelitian
Hal ini sejalan dengan teori yang
telah
dikemukakan
bahwa
dapat
pekerjaannya.
Seperti
mempengaruhi
perilaku
contohnya adalah perbedaan perilaku
tingkat
antara pria dan wanita dapat dilihat dari
pengetahuan seseorang salah satu faktor
cara berpakaian atau cara melakukan
yang mempengaruhinya adalah dari
pekerjaannya sehari-hari.
semakin
Tabel 3. Karakteristik responden
bertambah umur pengetahuan semakin
berdasarkan tingkat pendidikan
faktor
umur.
meningkat,
Dimana
semakin
tua
(umur)
pengetahuan akan mengalami degenerasi
No
1
(Notoadmojo, 2010).
Tabel 2. Karakteristik responden
2
berdasarkan jenis kelamin
No
1
2
Jenis
Jumlah Persentase
kelamin
Laki-laki
18 36%
Perempuan
32
64%
Jumlah
50
100%
Berdasarkan tabel 2. dapat
diketahui bahwa mayoritas dari jumlah
responden
5
adalah
berjenis
kelamin
3
Tingkat
pendidikan
D3
Keperawata
n
S1
keperawata
n
Lain-lain
Jumlah
Berdasarkan
Jumlah
Persentase
27
54%
21
42%
2
50
tabel
3.
4%
100%
dapat
diketahui bahwa mayoritas dari jumlah
responden
adalah
memiliki
pendidikan
D3
keperawatan
tingkat
yaitu
sebanyak 27 responden (54%). Menurut
pendapat peneliti berkenaan dengan
(46%). Lama masa kerja disini tentu saja
tingkat pendidikan responden dalam
berkaitan
penelitian ini bahwa memang benar
dimana responden yang sudah memiliki
kamampuan responden dalam menerima
umur yang lebih tua tentu saja akan
atau
pengalaman
memiliki pengalaman dan juga masa
diberikan
kerja yang lebih dibandingkan dengan
ketrampilan baru terlihat perbedaan
responden dengan umur yang lebih
yang cukup jelas. Dimana responden
muda. Hal ini pun sesuai dengan konsep
dengan
tingkat
teori
mereka
lebih
memahami
ataupun
setiap
ketika
mereka
pendidikan
mudah
Sarjana
dengan
bahwa
umur
tingkat
responden,
pengetahuan
diberikan
seseorang dipengaruhi juga oleh tingkat
ketrampilan baru dibandingkan dengan
pengalaman dalam bekerja (lama masa
responden dengan tingkat pendidikan
kerja). Tingkat pendidikan seeorang
yang lebih rendah. Hal ini sangat
yang semakin tinggi maka pengalaman
mendukung pernyataan bahwa semakin
akan semakin luas, sedangkan semakin
tinggi tingkat pendidikan seseorang
tua umur seseorang, maka pengalaman
maka semakin mudah pula seseorang
semakin banyak (Notoadmojo, 2010).
tersebut menyerap ilmu / hal hal baru
ataupun lebih mudah menyesuaikan
dengan
hal
hal
baru
tersebut
(Notoadmojo, 2010).
berdasarkan lama kerja
1
2
Lama
kerja
5-10
tahun
11-15
tahun
3
>15
tahun
Jumlah
Berdasarkan
Jumlah Persentase
23
46%
19
38%
8
16%
50
tabel
100%
4. dapat
1
2
Kategori
Jumlah Persentase
pengetahuan
Tinggi
33
66%
Rendah
17
34%
Jumlah
50
100%
Berdasarkan tabel 5. dapat
diketahui
bahwa
pengetahuan
mayoritas
responden
tingkat
tentang
perawatan DC adalah tinggi yaitu
sebanyak
33
responden
(66%).
Berdasarkan temuan hasil penelitian
diatas perbedaan tingkat pengetahuan
diketahui bahwa mayoritas dari jumlah
responden memiliki masa kerja selama
5-10 tahun yaitu sebanyak 23 responden
6
tentang perawatan DC
No
Tabel 4. Karakteristik responden
No
Tabel 5. Tingkat pengetahuan responden
responden baik tinggi maupun rendah
kemungkinan adalah dipengaruhi oleh
umur, tempat tinggal, sosial ekonomi,
kultur, pendidikan, pengalaman, dan
sumber
informasi
yang
diperoleh
penelitian
(Notoadmojo, 2010).
Tabel 6. Sikap responden tentang
perawatan DC
No
1
2
Sikap
Jumlah
responden
Positif
32
Negatif
18
Jumlah
50
Berdasarkan
diketahui
responden yang dapat diamati ditempat
Persentase
tabel
64%
36%
100%
6.
dapat
bahwa mayoritas
sikap
responden tentang perawatan DC adalah
positif yaitu sebanyak 32 responden
(64%). Seperti kutipan dari teori yang
menerangkan bahwa perubahan sikap
seseorang dapat terjadi dikarenakan
beberapa hal, diantaranya hasil dari
proses belajar, proses sosialisasi, arus
informasi, pengaruh kebudayaan dan
adanya pengalaman-pengalaman baru
yang dialami oleh individu (Davidoff
adalah
kemungkinan
dipengaruhi oleh beberapa alasan yaitu
perbedaan
tingkat
mayoritas
masih
pendidikan
D3
yang
Keperawatan,
terlalu sedikitnya pengalaman bekerja
dari sebagian besar responden yang
mana mayoritas responden memiliki
lama masa kerja kurang dari 10 tahun
dan juga perbedaan sikap responden
yang masih memiliki sikap negatif
misalnya malas dalam berperilaku.
Hal
ini
pun
sejalan
dengan
penjelasan teori bahwa yaitu perilaku
yang baik dan perilaku yang buruk
kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa
faktor,
diantaranya
adalah
faktor
endogen (jenis ras, jenis kelamin, sifat
kepribadian,
bakat
pembawaan,
intelegensi dan usia) dan juga faktor
eksogen (faktor lingkungan, pendidikan,
dalam Zaim Elmubarok, 2008).
agama, sosial ekonomi dan kebudayaan)
Tabel 7. Perilaku pencegahan Inos
No
1
2
Perilaku Jumlah Persentase
responden
Baik
26
52%
Buruk
24
48%
Jumlah
50
100%
Berdasarkan tabel 7. dapat
diketahui bahwa mayoritas perilaku
responden tentang pencegahan infeksi
nosokomial saluran kemih adalah baik
yaitu sebanyak 26 responden
(52%).
7
Perbedaan
tingkat
perilaku
(Sunaryo, 2004).
mempermudah
Analisa Bivariat
Hubungan
pengetahuan
perawat
serap
dan
kemampuan belajar responden ketika
DC
mereka diberikan pengetahuan ataupun
dengan perilaku pencegahan infeksi
ketrampilan baru khususnya ketrampilan
nosokomial saluran kemih
perawatan
tentang
kualitas
perawatan
DC
yang
berkualitas.
Tabel 8.
Sehingga pola perilaku pencegahan
Hubungan pengetahuan perawat tentang
infeksi nosokomial respondenpun juga
kualitas perawatan DC dengan perilaku
akan berubah lebih baik.
pencegahan Inos
Perilaku
Baik
Pengetah
uan
daya
Perilak
u
Buruk
Penelitian
Total
21
12
33
Rendah
Jumlah
10
31
24
36
34
67
x²
7,890
Asymp.sig
(2-sided)/
p
0,005
terdapat
hubungan
pengetahuan
nosokomial
x² hitung (pearson chi square) adalah
7,890 dan dengan tingkat keyakinan
95%, alpha = 5%, df 1(jumlah baris-1) x
(jumlah kolom-1) = (2-1) x (2-1) = 1 x 1
= 1, hasil untuk x² tabel sebesar 3,841.
Karena x² hitung > x² tabel (7,890 >
3,841) dan nilai p: 0,005, maka H0
ditolak, jadi ada hubungan pengetahuan
tentang kualitas perawatan DC dengan
perilaku pencegahan infeksi nosokomial
saluran
kemih
pada
pasien
diruang
inap
RSUD
dr.
Soehadi
dengan
tingkat
Prijonegoro Sragen,
2013 yang menemukan hasil bahwa
dan
antara
tingkat
motivasi
perawat
dengan perilaku pencegahan infeksi
Berdasarkan tabel 8. didapat nilai
stroke
Berdasarkan hasil penelitian ini
RSUD
Sukoharjo.
Dimana tingkat pengetahuan dan juga
motivasi perawat yang baik tentunya
akan berpengaruh terhadap perilaku
yang baik pula dalam pencegahan
infeksi nosokomial. Hal ini dikarenakan
perilaku seseorang itu dibagi menjadi
beberapa tiga domain, yaitu cognitive
domain,
affective
domain
dan
psychomotor domain (Bloom, 1990
dikutip
oleh
Notoadmodjo,
1997).
Cognitive domain biasa diukur / dilihat
dari tingkat pengetahuan seseorang.
Perilaku yang didasari pengetahuan
umumnya
bersifat
langsung
Hubungan sikap perawat tentang
pengetahuan responden yang mayoritas
kualitas
masih
perilaku
tentunya
di
(Sunaryo,2004).
kelemahan sebesar p: 0,005.
akan
perawatan
DC
pencegahan
nosokomial saluran kemih
8
yang
dilakukan oleh Evie Wulan Ningsih,
Tinggi
tinggi
sebelumnya
dengan
infeksi
Tabel 9.
penelitian yang menunjukkan bahwa
Hubungan sikap perawat tentang
ada
hubungan
pengetahuan
kualitas perawatan DC dengan perilaku
perawat tentang kontrol infeksi terhadap
pencegahan Inos
pencegahan infeksi nosokomial di RS
peril
aku
Baik
sikap
tidak
Positif
negatif
Jumlah
perila
ku
Buru
k
13
13
26
19
5
24
Islam Sultan Agung Semarang (p < 0,05,
Tot
al
32
18
50
x²
4,608
Asym
p.sig
(2sided)
/p
0,032
dimana p = 0,308). Sedangkan ada
hubungan antara sikap perawat tentang
kontrol infeksi terhadap pencegahan
infeksi nosokomial di RS Islam Sultan
Agung Semarang (p < 0,05, dimana p =
0,019).
Berdasarkan tabel 9. didapat nilai
Perilaku seseorang dapat dibentuk
x² hitung (pearson chi square) adalah
oleh sikap seseorang, karena sikap
4,608 dan dengan tingkat keyakinan
merupakan
95%, alpha = 5%, df 1(jumlah baris-1) x
perilaku
(jumlah kolom-1) = (2-1) x (2-1) = 1 x 1
affective domain (Bloom, 1990 dikutip
= 1, hasil untuk x² tabel sebesar 3,841.
oleh
Karena x² hitung > x² tabel (4,608 >
merupakan suatu bentuk reaksi atau
3,841) dan nilai p: 0,032, maka H0
reaksi perasaan (Azwar, 2007). Sikap
ditolak, jadi ada hubungan sikap tentang
mempunyai
kualitas perawatan DC dengan perilaku
intensitas yaitu terdiri dari: menerima,
pencegahan infeksi nosokomial saluran
menanggapi, menghargai, bertanggung
kemih pada pasien stroke diruang inap
jawab (Notoadmodjo, 2005). Sikap juga
RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen,
dapat dibentuk melalui pengalaman
dengan tingkat kelemahan sebesar p:
pribadi, pengaruh orang lain yang
0,032
dianggap penting, pengaruh kebudayaan,
Hasil penelitian ini konsisten
dengan penelitian yang dilakukan oleh
Sukardjo
dkk
tentang
Hubungan
pengetahuan dan sikap perawat tentang
kontrol infeksi nosokomial di RS Islam
Sultan Agung Semarang. Dengan hasil
SIMPULAN
1. Karakteristik responden berdasarkan:
9
cara
untuk
seseorang
yaitu
Notoadmodjo,
tingkat
mengukur
dari
1997).
segi
Sikap
berdasarkan
media massa, lembaga pendidikan dan
agama, dan pengaruh faktor emosional.
a. Umur
adalah
dari
50
orang
responden sebagian besar dari
responden berusia 26-35 tahun
adalah positif yaitu sebanyak 32
responden (64%).
4. Perilaku
pencegahan
infeksi
yaitu sebanyak 25 responden
nosokomial saluran kemih adalah
(50%).
dari
b. Jenis kelamin adalah dari jumlah
50 orang responden
dapat
diketahui bahwa mayoritas perilaku
responden sebanyak 50 orang
responden
didapatkan data bahwa mayoritas
infeksi nosokomial saluran kemih
responden adalah
adalah baik
perempuan
yaitu sebanyak 32 responden
tentang
yaitu sebanyak 26
responden (52%).
5. Hubungan
(64%).
pengetahuan
c. Tingkat pendidikan adalah dari 50
kualitas
orang responden diperoleh hasil
perilaku
bahwa
nosokomial
mayoritas
responden
pencegahan
perawatan
tentang
DC
dengan
pencegahan
infeksi
saluran
kemih
D3
didapatkan nilai x² hitung (pearson
keperawatan yaitu sebanyak 27
chi square) adalah 7,890 dan dengan
responden (54%).
tingkat keyakinan 95%, alpha = 5%,
memiliki
pendidikan
d. Lama masa kerja adalah dari 50
df
1(jumlah
baris-1)
x (jumlah
orang responden didapatkan data
kolom-1) = (2-1) x (2-1) = 1 x 1 = 1,
bahwa sebagian besar responden
hasil untuk x² tabel sebesar 3,841.
memiliki masa kerja selama 5-10
Karena x² hitung > x² tabel (7,890 >
tahun
3,841) dan nilai p: 0,005, maka H0
yaitu
sebanyak
23
responden (46%)
ditolak,
2. Pengetahuan tentang perawatan DC
jadi
pengetahuan
ada
hubungan
tentang
kualitas
adalah dari 50 orang responden dapat
perawatan
diketahui bahwa mayoritas tingkat
pencegahan
pengetahuan
tentang
saluran kemih pada pasien stroke
perawatan DC adalah tinggi yaitu
diruang inap RSUD dr. Soehadi
sebanyak 33 responden (66%).
Prijonegoro Sragen, dengan tingkat
responden
3. Sikap tentang perawatan DC adalah
dari
50 orang responden
dapat
DC
dengan
infeksi
perilaku
nosokomial
kelemahan sebesar p: 0,005.
6. Hubungan sikap tentang kualitas
diketahui bahwa mayoritas sikap
perawatan
responden tentang perawatan DC
pencegahan
DC
dengan
infeksi
perilaku
nosokomial
saluran kemih didapatkan nilai x²
10
hitung (pearson chi square) adalah
2. Bagi masyarakat
4,608 dan dengan tingkat keyakinan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
95%, alpha = 5%, df 1(jumlah baris-
memberikan
1) x (jumlah kolom-1) = (2-1) x (2-1)
terhadap kualitas perawatan DC pada
= 1 x 1 = 1, hasil untuk x² tabel
masyarakat dalam hal ini pasien guna
sebesar 3,841. Karena x² hitung > x²
mengurangi
tabel (4,608 > 3,841) dan nilai p:
nosokomial saluran kemih.
0,032, maka H0 ditolak, jadi ada
dampak
yang
kejadian
baik
infeksi
3. Bagi penelitian lain.
hubungan
sikap
tentang
kualitas
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
perawatan
DC
dengan
perilaku
menjadi
pencegahan
infeksi
sumber
acuan
dalam
nosokomial
pembuatan penelitian lain berikutnya
saluran kemih pada pasien stroke
dan diharapkan penelitian berikutnya
diruang inap RSUD dr. Soehadi
lebih menekankan pada perubahan
Prijonegoro Sragen, dengan tingkat
perilaku responden tidak hanya dari
kelemahan sebesar p: 0,032.
segi
kognitifnya
saja.
Sehingga
Saran
penelitian tidak hanya dilakukan
Berdasarkan simpulan diatas, maka ada
sekali waktu saja.
beberapa saran yang harus diperhatikan
4. Bagi institusi pendidikan.
adalah sebagai berikut:
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
1. Bagi rumah sakit
menambah
Hasil
penelitian
mampu
menjadi
ini
diharapkan
dasar
dalam
pembuatan dan diterapkannya SOP
perawatan
DC yang benar
berkualitas
sehingga
dan
wawasan
tentang
pembuatan SOP perawatan DC dan
juga menambah referensi tentang
infeksi nosokomial saluran kemih.
5. Bagi peneliti.
dapat
Hasil penelitian ini dapat dijadikan
menambah pengetahuan dan merubah
sebagai pengalaman dan wawasan
pola perilaku perawat / tenaga medis
serta menambah pengetahuan bagi
lain
peneliti
dalam mengurangi
kejadian
infeksi nosokomial saluran kemih.
Arikunto,S.(2006). Prosedur Penelitian
Pendekatan
Jakarta: Rineka Cipta
11
membuat
sebuah
penelitian
Brunner, L & Suddart, D. (2002). Buku
DAFTAR PUSTAKA
Suatu
dalam
Praktek.
Ajar Keperawatan Medikal Bedah
(H.Kuncoro, A.Hartono, M. Ester,
Y. Asih, terjemahan). Edisi 8 vol
1. Jakarta: EGC
Nur Kayati. (2005). Stroke jangan
Data RSUD Dr Soehadi Prijonegoro
Sragen Tahun 2014-2015
Fatmawati,Baiq
Gambaran
Rulli.
(2010).
Beban
Keluarga
Kerja
Stroke
Puskesmas
Bantul
di
wilayah
Kasihan
Yogyakarta.
publikasi.umy.ac.id
Lagi jadikan Hantu: Awasi gejala
sejak dini dan cara menolong
dengan Anggota keluarga yang
Menderita
Mangoenprasodjo, A. Setiono, dan Fitri
II
www.
diakses
27
penderita
Think
Fresh.
Yogyakarta
Martini, Santi dan Lucia, Y. Hendrati.
(2006). Usia Merokok Pertama
Kali
merupakan
faktor
yang
meningkatkan Resiko Kejadian
Hipertensi: Besar resiko kejadian
Desember 2010. 19.20 wib
Hipertensi menurut pola merokok.
Habni, Yulia. (2009). Perilaku Perawat
Jurnal kedokteran Yarsi .14 (3).
dalam
Pencegahan
Infeksi
Nosokomial di Ruang Rindu A,
Rindu B, ICU, IGD,Rawat jalan
di RSUP H Adam Malik Medan
Hakim, Irfan. (2004). Kegemukan dan
masalahnya, Suara pembaharuan,
posting
2004.
pertama:
22
C.
(2007).
Metodologi
penelitian . Jakarta: Bumi Aksara
Noer, H.M. Sjaifoellah. (2000). Ilmu
penyakit dalam jilid 1. Jakarta:
Balai penerbit FKUI
Notoadmodjo, S. (2003). Pendidikan
www.pembaruan.com.
dan Perilaku kesehatan. Jakarta:
(2003).
Kapita
PT Rieka Cipta
Selekta
Notoadmodjo, S. (2005). Metodologi
Neurologi. Gajahmada University
Penelitian kesehatan. Jakarta: PT
Press. Yogyakarta
Rineka Cipta
Jenny. (2005). Perawatan Pasca Stroke
di Rumah. Sahabat Setia. Yogyakarta
Kelana Dharma, K. (2011). Metodologi
Penelitian Keperawatan. Jakarta
S.J.
(2010).
Buku
Ajar
Keperawatan Fundamental ( Esty
Wahyunigsih
Jakarta: EGC
Notoadmodjo,
S.
(2007).
Promosi
Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
Jakarta: PT Rineka Cipta
Notoadmodjo, S. (2010). Metodologi
Kozier, B, Erb. G,Berman A. Synder ,
12
Narbuko,
Agustus
diakses 5 januari 2011, 21.15 wib
Harsono.
191-198
penerjemah).
Penelitian Kesehatan Edisi Revisi.
Jakarta: penerbit Rineka Cipta
Jakarta
Nursalam.
(2003).
Konsep
dan
penerapan metodologi Penelitian
Ilmu
Keperawatan.
Jakarta:
Salemba Medika
Potter, P. A. & Perry, A.G. (2005). Buku
Ajar keperawatan Fundamental
(vol 1-2). Jakarta: EGC
Sheldon G. Sheps.(2005). Mayo clinic
Hipertension. Terjemahan Meita
Tjandrasa. Jakarta: PT intisari
Mediatama
Sopiyudin Dahlan, M.(2010). Statistik
untuk Kedokteran dan Kesehatan
edisi 5. Jakarta
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian
Pendidikan. Bandung: Alfa Beta
Sunaryo.
(2004).
Psikologi
keperawatan. Jakarta: EGC
13
untuk
Download