01 Cover.rtf - Perpustakaan UNISBA

advertisement
PERINGATAN !!!
Bismillaahirrahmaanirraahiim
Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
1. Skripsi digital ini hanya digunakan sebagai bahan
referensi
2. Cantumkanlah sumber referensi secara lengkap bila
Anda mengutip dari Dokumen ini
3. Plagiarisme dalam bentuk apapun merupakan
pelanggaran keras terhadap etika moral penyusunan
karya ilmiah
4. Patuhilah etika penulisan karya ilmiah
Selamat membaca !!!
Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
UPT PERPUSTAKAAN UNISBA
REPRESENTASI MASKULINITAS LOGO SENI ILMU OLAHRAGA
BELADIRI TARUNG DERAJAT
Studi Semiotika terhadap Logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri Tarung Derajat
menggunakan Pendekatan Semiotika Roland Barthes
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi
Disusun oleh :
Bagus Nurcahya
NPM : 10080007165
BIDANG KAJIAN JURNALISTIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
2012
REPRESENTATION MASCULINITY OF ARTS SPORT SCIENCE
TARUNG DERAJAT LOGO
Semiotics study of Sports Martial Arts Science Tarung Derajat Logo
Using Roland Barthes Semiotics Approach
THESIS
Proposed to get one of the requirements for obtaining
Bachelor degree in Communication Studies
Complied by:
Bagus Nurcahya
NPM: 10080007165
JOURNALISM STUDIES
BANDUNG ISLAMIC UNIVERSITY
FACULTY OF COMMUNICATION
2012
LEMBAR PENGESAHAN
Judul
: REPRESENTASI MASKULINITAS LOGO SENI ILMU
OLAHRAGA BELADIRI TARUNG DERAJAT
Sub Judul
: Studi Semiotika terhadap Logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri
Tarung Derajat menggunakan Pendekatan Semiotika Roland
Barthes
Nama
: Bagus Nurcahya
NPM
: 10080007165
Bidang Kajian : Jurnalistik
Bandung, April 2012
Menyetujui,
Pembimbing
Santi Indra Astuti, S.Sos., M.Si.
Mengetahui,
Ketua Bidang Kajian Jurnalistik
Dr. H. Aziz Taufik Hirzi, Drs., M.Si.
Motto :
‫ن ا ّّ ّوا‬
ّ‫ا‬
”Sesungguhya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum
mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (Q.S. Ar Ra’d : 11)
ABSTRAK
Seni bela diri bukan hanya suatu seni. Ini juga merupakan produk dari proses
ideologis. Konsep maskulinitas sebagai bagian dari ideologi dominan dalam dunia
seni bela diri yang ada di bawah gerakan, aturan permainan, sumber daya, dan
bahkan logo yang mewakili ide sebuah organisasi seni bela diri. Penelitian ini
bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisa Logo Seni Bela Diri Tarung
Derajat, dan berusaha untuk mengungkapkan mitos maskulinitas belakang logo.
Tarung Derajat adalah seni bela diri terkenal dikembangkan pertama di Bandung.
Saat ini, Tarung Derajat telah membentuk posisinya di antara daftar puncak
organisasi seni bela diri di tingkat nasional.
Mengerjakan menggunakan pendekatan semiotik Roland Barthes Model dari
denotasi, konotasi, dan mitos, penelitian ini menghasilkan beberapa temuan: (1)
Maskulinitas dalam logo telah terwujud dalam bentuk lingkaran, tangan (dalam
posisi 'siap' untuk memukul), warna, goresan kuas, dan penempatan mereka
'tanda'. (2) maskulinitas juga muncul dalam tingkat konotatif mewakili kekuasaan,
subordinasi, kekuatan, dan lain-lain. (3) Ini tidak membedakan mitos maskulinitas
hanya berdasarkan satu logo. Tapi, satu hal yang pasti, Logo Tarung Derajat
memiliki memberikan arti baru untuk maskulinitas. Alih-alih menggunakan mitos
tua maskulinitas difokuskan pada kekuatan, kekerasan, dan keberanian, di sini,
maskulinitas dianggap sebagai merawat, mengasuh, lembut, dan lunak.
i
ABSTRACT
Martial arts is not just an art. It is also a product of ideological process. The
concept of masculinity as part of dominant ideology in the world of martial art lies
beneath the movement, the rules of the game, the source of power, and even the
logo representing the idea of a martial art organization. This research is aimed to
illustrate and analyze the logo of Tarung Derajat Martial Arts, and seek to reveal
the myth of masculinity behind the logo. Tarung Derajat is a famous martial art
developed first in Bandung. Nowadays, Tarung Derajat has established its
position among the top list of martial art organization in national level.
Employing semiotic approach using Roland Barthes model of denotation,
connotation, and myth, this research resulted in some findings: (1) Masculinity in
the logo has manifested itself in the form of circle, hand (in the position of 'ready'
to hit), the color, stroke of brush, and the placement of those 'signs'. (2)
masculinity also appears in the connotative level representing power,
subordination, strength, etc. (3) It's hardly to discern the myth of masculinity
solely based on one logo. But, one thing for sure, logo Tarung Drajat has give a
new meaning for masculinity. Instead of using the old myth of masculinity
focused on strength, violence, and bravery, here, masculinity is interpreted as
caring, nurturing, gentle, and tender.
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan pada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya
kepada kita para khalifah di muka bumi ini. Shalawat dan salam juga kita limpahkan
pada baginda Nabi Terakhir, Muhammad SAW. Kepada keluarganya, sahabatnya,
para pengikut setianya, hingga kepada kita umatnya di akhir zaman.
Rasa bersyukur itulah yang tidak bisa dilepaskan oleh penulis saat menjalani
proses pengerjaan skripsi berjudul “Representasi Maskulinitas Logo Seni Ilmu
Olahraga Beladiri Tarung Derajat”. Pengalaman yang dihadapi penulis begitu dinamis
dan tidak bisa dilukiskan dengan mudah. Kebuntuan, penyesalan, dan kepuasan
pernah menjadi suatu kombinasi menarik yang pernah dirasakan penulis. Sampai
pada akhirnya semua itu bisa terbayar lunas saat rampungnya penelitian ini. Tidak
akan pernah suatu pekerjaan berhasil jika tanpa ada dukungan dari orang-orang di
sekeliling. Peran mereka yang disebut di sini sangat besar tanpa mengecilkan pihak
lain yang tidak disebut. Oleh karena itu, penulis menghaturkan terima kasih kepada:
1. Dr. Oji Kurniadi, Drs., M.Si. dan Adventiningsih, orang tua dari penulis atas
semua doa, dukungan, dan restunya.
iii
2. Santi Indra Astuti, S.Sos., M.Si, selaku dosen pembimbing penulis selama
mengerjakan skripsi. Terima kasih atas kesediaannya meluangkan waktu
untuk terus bertukar pikiran.
3. Dr. H. Aziz Taufik Hirzi, Drs., M.Si, selaku Ketua Bidang Kajian Jurnalistik,
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung. Terima kasih atas
inspirasi dan ide-ide cemerlangnya.
4. Dr. Dedeh Fardiah, Dra., M.Si, selaku dosen wali penulis yang selalu
memberikan masukan-masukan dalam perjalanan mulai semester pertama
hingga akhirnya menempuh tahap terakhir dalam perkuliahan yaitu skripsi.
5. Seluruh dosen-dosen Universitas Islam Bandung, terutama yang pernah
mengisi hari-hari penulis di ruang kuliah.
6. Muhammad Iqbal Tawakal dan Rahmat Darmawan yang sering memberikan
bantuan dan respon terhadap skripsi ini. Kalian adalah sosok rekan, sahabat
dan kawan kreatif yang patut menjadi panutan semua mahasiswa.
7. Ghea Khaerunnisaa yang selalu memberikan semangat dalam mengerjakan
skripsi dengan membuat penulis bisa tetap tenang walaupun kondisi penulis
sedang tertekan.
8. Seluruh teman main selama kuliah, nama kalian tidak akan disebutkan di sini
karena khawatir ada yang terlewat.
9. Keluarga Besar Tarung Derajat, yang telah melancarkan penelitian penulis
mengenai ”Representasi Maskulinitas Logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri
Tarung Derajat”.
iv
Penulis sadar betul masih banyak kekurangan dalam skripsi ini. Biarlah itu itu
menjadi introspeksi untuk melangkah dengan lebih baik lagi. Karena tanpa adanya
evaluasi dari semua praktik yang dilakukan, tidak akan pernah manusia belajar untuk
menghasilkan sebuah teori. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis
harapkan, guna terciptanya laporan yang komprehensif, ideal, dan juga berguna.
Bandung 2012
Penulis
v
DAFTAR ISI
ABSTRAK ………………………………………………………………..
ABSTRACT ………………………………………………………………
KATA PENGANTAR .…………………………………………………..
DAFTAR ISI .…………………………………………………………….
DAFTAR TABEL ……………………………………………………….
DAFTAR GAMBAR …………………………………………………….
BAB I
BAB II
i
i
iii
vi
viii
ix
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…………………………………………..
1.2 Rumusan Masalah……………………………………….
1.3 Identifikasi Masalah……………………………………..
1.4 Tujuan Penelitian………………………………………...
1.5 Manfaat Penelitian……………………………………….
1.6 Pembatasan Penelitian……………………………………
1.7 Metode Penelitian………………………………………...
1.7.1 Teknik Pengumpulan Data …………………….
1.7.2 Teknik Analisis…………………………………
1.7.3 Objek Penelitian………………………………...
1.7.4 Uji Validitas dan Reliabilitas…………………….
1.8 Kerangka pemukiran……………………………………...
1
3
3
4
4
5
6
8
9
10
11
12
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komunikasi………………………………………………..
2.2 Komunikasi Visual………………………………………..
2.2.1 Simbol…………………………………………...
2.2.2 Logotype………………………………………...
2.2.3 Warna……………………………………………
2.3 Logo Sebagai Penyampai Pesan…………………………...
2.4 Maskulinitas………………………………………………..
2.5 Tinjauan Semiotika…………………………………………
2.5.1 Semiotika Roland Barthes………………………..
2.5.2 Ciri Khas Roland Barthes………………………...
19
24
25
26
26
27
28
32
33
35
vi
BAB III
BAB IV
BAB V
METODELOGI DAN OBJEK PENELITIAN
3.1 Penelitian Kualitatif………………………………………....
3.2 Semiotika Sebagai Metode………………………………….
3.3 Teknik Pengumpulan Data………………………………….
3.4 Uji Validitas…………………………………………………
3.5 Objek Penelitian……………………………………………..
37
40
42
51
55
PEMBAHASAN
4.1 Temuan Penelitian…………………………………………...
4.1.1 Tarung Derajat……………………………………..
4.1.2 Logo Tarung Derajat……………………………….
4.2 Analisis……………………………………………………….
4.2.1 Semiologi Logo Tarung Derajat…………………...
4.2.2 Analisis Denotasi dan Konotasi…………………...
4.2.3 Mitologi Logo Tarung Derajat…………………….
58
58
60
64
64
65
69
PENUTUP
5.1 Kesimpulan…………………………………………………..
5.2 Saran…………………………………………………………
76
77
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Bagian-Bagian Logo Seni Beladiri Tarung Derajat…………………….. 56
Tabel 4.1 Denotasi dan Konotasi Logo Beladiri Tarung Derajat……………..
65
viii
DAFTAR GAMBAR
Tabel 1.1 Peta Tanda Roland Barthes ……………………..………………..
Tabel 1.2 Logo Tarung Derajat ………………………………..……………
Tabel 2.1 Ruang Lingkup, Pengertian, dan Unsur Komunikasi……………..
ix
8
11
21
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Bandung terdapat banyak beladiri mulai dari beladiri luar negeri sampai
beladiri dalam negeri. Mulai gerakan-gerakan dinamis mulai gerakan bertarung.
Seperti Taekwondo, Karate, Aikido, Pencak Silat, dan lain-lain. Beladiri tercipta
karena sering adanya kekerasan yang terjadi di banyak tempat. Karena beladiri
diciptakan untuk melindungi diri dari kejahatan yang akan terjadi menimpa kita.
Beladiri pun memiliki logo sebagai tanda untuk identitasnya dengan filosofi
tertentu yang dimasukkan oleh pendiri beladiri tersebut. Salah satunya adalah
beladiri Tarung Derajat. Seni Ilmu Olahraga Beladiri Tarung Derajat
dideklarasikan kelahirannya di bumi persada Indonesia tercinta, di Bandung 18
Juli 1972 oleh peciptanya seorang putra bangsa yaitu Guru Haji Achmad Dradjat
yang memiliki nama julukan dengan panggilan Aa Boxer. Nama panggilan Aa
Boxer diterapkan dan melekat pada diri Achmad Dradjat, setelah dirinya mampu
dan berhasil menggunakan dan menerapkannya seni pembelaan diri karya
ciptanya didalam berbagai bentuk perkelahian, dimana butuh dan harus berkelahi
atau bertarung dalam rangka berjuang untuk mempertahankan kelangsungan
hidup, menegakan kehormatan dan membela kemanusiaan dalam kehidupan
sehari-hari selaras dengan kodrat hidupnya.
Beladiri ini memang sedang mengembangkan dirinya dengan memperbaiki
mulai dari pengamanan dalam pertarungan. Beladiri ini memang tergolong keras,
1
2
karena selalu mengolah kekuatan fisik dan mental. Selama perkembangannya
beladiri Tarung Derajat ini berbenah diri dan memperbaiki segala sesuatunya
untuk bisa diterima di masyarakat. Dengan bertahap beladiri Tarung Derajat ini
mulai meluas di Indonesia, karena beladiri Tarung Derajat adalah asli Indonesia
dan beladiri modern yang berhasil diciptakan. Tarung Derajat ini sekarang sudah
mulai go international. Tapi di balik semua itu beladiri ini mempunyai logo
sebagai identitas Tarung Derajat.
Di dalam logo pasti memiliki arti atau filosifi yang memiliki arti tertentu.
Seperti halnya logo Tarung Derajar, yang memiliki filosofi atau arti tersendiri.
Logo juga merupakan bagian komunikasi, karena logo merupakan pesan
komunikasi nonverbal. Lebih lanjut, logo juga merupakan identitas organisasi
atau lembaga. Logo tidak semata-mata hanya dijadikan hiasan atau gambar.
Tetapi, logo dijadikan alat komunikasi, begitu juga dengan Tarung Derajat. Hal
ini dapat dilihat dari simbol-simbol yang muncul dalam logo tersebut yang identik
dengan karakter kelaki-lakian. Seperti halnya gambar kepalan tangan, itu
melambangkan laki-laki yang kuat. Melihat logo ini harus memberikan informasi
yang sesuai dengan keadaan organisasinya sehingga publik dapat mencerna
dengan baik makna yang ada di balik logo Tarung Derajat ini.
Peneliti tertarik karena, logo ini memiliki komposisi berupa gambar, warna
dan unsur maskulinitas, yang mengandung makna tertentu. Peneliti mencoba
meneliti dengan cara memahami dahulu arti yang terkandung didalam logo
tersebut, kemudian melihat pesan yang ingin disampaikan didalam logo tersebut
dengan menggunakan berbagai literatur dan menggunakan metode penelitian serta
3
menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian ini akan
mengungkap makna-makna di balik Logo Keluarga Olahraga Beladiri Tarung
Derajat. Mulai dari makna konotasi yang berdasarkan referensi-referensi yang
ada, makna denotasi menurut pencipta logo tersebut, hingga mitos. Ketiga elemen
tersebut dapat ditemukan nilai-nilai filosofis yang terkandung dibaliknya.
Penelitian ini juga akan melihat karakter Tarung Derajat melalui Logo-nya yang
menonjolkan maskulinitas atau identik dengan kaum pria. Peneliti berharap
dengan penelitian ini, para pembuat logo atau yang akan membuat logo dapat
memperhatikan segala sesuatunya, karena apa yang digambarkan logo akan
menggambarkan organisasinya atau perusahaannya.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai
berikut: ”Bagaimana Representasi Maskulinitas Logo Seni Ilmu Olahraga
Beladiri Tarung Derajat?”
1.3 Identifikasi Masalah
Agar lebih terarah dalam melakukan penelitian ini, maka penulis menfokuskan
penelitian pada aspek:
1. Bagaimana Representasi Maskulinitas Logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri
Tarung Derajat ditinjau dari aspek denotasi?
2. Bagaimana Representasi Maskulinitas Logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri
Tarung Derajat ditinjau dari aspek konotasi?
4
3. Bagaimana Representasi Maskulinitas Logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri
Tarung Derajat ditinjau dari aspek mitos?
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui Representasi Maskulinitas Logo Seni Ilmu Olahraga
Beladiri Tarung Derajat yang ditinjau dari aspek denotasi.
2. Untuk mengetahui Representasi Maskulinitas Logo Seni Ilmu Olahraga
Beladiri Tarung Derajat yang ditinjau dari aspek konotasi.
3. Untuk mengetahui Representasi Maskulinitas Logo Seni Ilmu Olahraga
Beladiri Tarung Derajat yang ditinjau dari aspek mitos.
1.5 Manfaat Penelitian
Merujuk pada tujuan penulis di atas, maka penulis ini sekurang-kurangnya
diharapkan dapat memberikan dua kegunaan, yaitu :
•
Manfaat teoritis, dapat memperkaya konsep atau teori yang menyokong
perkembangan ilmu Komunikasi, khususnya yang terkait dengan logo
Tarung Derajat.
•
Manfaat praktis, khususnya dapat memberikan masukan kepada Beladiri
Tarung Derajat dalam pemaknaan logo Tarung Derajat tersebut, dan pada
umumnya dapat menjadi pertimbangan dalam pembuatan logo perusahaan
atau organisasi lainnya.
5
1.6 Pembatasan Penelitian
Agar ruang lingkup pembatasan masalah penelitian menjadi jelas dan terarah,
maka perlu diadakan pembatasan masalah. Untuk itu penulis membatasi masalah
sebagai berikut:
1. Objek yang diteliti adalah Logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri Tarung
Derajat.
2. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan
pendekatan semiotika Roland Barthes.
3. Penulis menggunakan semiotika Roland Barthes dan membatasinya pada:
•
Makna Denotasi
Denotasi atau makna denotatif pada dasarnya meliputi hal-hal yang
ditunjuk oleh kata-kata (yang disebut sebagai makna referensial).
Makna denotatif suatu kata ialah makna yang biasa kita temukan
dalam kamus.
•
Makna Konotasi
Konotatsi atau makna konotatif disebut juga makna konotasional,
makna emotif, atau makna evaluatif (Keraf, 1994:29). Makna
konotatif, seperti itu disinggung, adalah suatu jenis makna yang mana
stimulus respons mengandung nilai-nilai emosional.
•
Mitos
Mitos adalah kebutuhan manusia. Itulah sebabnya mitos dieksploitasi
sebagai media komunikasi, sebagaimana dikatakan Roland Barthes
dalam bukunya Mythologies (1993). Ia mengatakan bahwa sebagai
6
bentuk simbol dalam komunikasi, mitos bukan hanya diciptakan dalam
bentuk diskursus tertulis, melainkan sebagai produk sinema, fotografi,
advertensi, olah raga, dan televisi
1.7 Metode Penelitian
Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang
berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan
masalah manusia. Pada pendekatan ini, penulis membuat suatu gambaran
kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan
melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bogdan dan Taylor
(Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis
maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Sepanjang sejarah penelitian kualitatif selalu mendefinisikan karya mereka
dilihat dari sudut harapan dan nilai-nilai, keyakinan agama, ideologi okupasional
dan profesionalisasi. Penelitian kualitatif (seperti halnya semua penelitian) selalu
dinilai berdasarkan atas “standar apakah karya tersebut mengkomunikasikan atau
mengatakan sesuatu mengenai diri kita?” berdasarkan atas bagaimana kita
mengkonseptualisasikan realita dan gambaran kita mengenai dunia.
Untuk mengetahui makna logo yang diteliti, maka harus dipakai teori dan
analisis berbagai tanda dan pemaknaan, yaitu semiotika. Semiotik atau ada yang
menyebut dengan semiotika berasal dari kata Yunani semeion yang berarti
“tanda”. Istilah semeion tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik atau
7
asklepiadik dengan perhatiannya pada simtomatologi dan diagnostik inferensial
(Sobur, 2004:95). Tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang
menunjuk pada adanya hal lain. Secara terminologis, semiotik adalah cabang ilmu
yang berurusan dengan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang
berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi
tanda. Ini berlaku untuk logo yang akan diteliti.
Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang tokoh semiotik yang getol
memperaktikkan model linguistik dan semiologi Saussurean. Bertens (2001: 206)
menyebutnya sebagai tokoh yang memainkan peran sentral dalam strukturalisme
tahun 1960-an dan 1970-an. Ia mengajukan pandangan bahwa bahasa adalah
sebuah sisten tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat
tertentu dalam waktu tertentu.
Semiologi Barthes berada pada kerangka strukturalisme semacam ini.
Semiologi adalah instrumen pembuka rahasia teks dan penandaan. Semiologi
berawal dari kritik atas asumsi logosentris bahwa konsep-konsep muncul
mendahului dan bebas dari ekspresinya. Saussure dan para pengikutnya justru
menekankan bahwa bentuk dan konsep tidak muncul bebas satu sama lain, tetapi
bahwa tanda itu memuat kesatuan dari signifier (penanda) dan signified (petanda).
Semiologi Barthes tersusun atas tingkatan-tingkatan sistem bahasa. Umumnya
Barthes membuatnya dalam dua tingkatan bahasa, bahasa tingkat pertama adalah
bahasa sebagai objek, dan bahasa tingkat dua disebut sebagai metabahasa. Bahasa
ini merupakan suatu sistem tanda yang memuat penanda dan petanda. Sistem
tanda kedua terbangun dengan menjadikan penanda dan petanda tingkat pertama
8
sebagai petanda baru yang kemudian memiliki penanda baru sendiri dalam suatu
sistem tanda baru pada taraf yang lebih tinggi. Sistem tanda pertama kadang
disebutnya dengan istilah denotasi atau sistem terminologis, sedangkan sistem
tanda pada tingkat kedua disebutnya sebagai konotasi atau sistem retoris atau
mitologi. Fokus Barthes terletak pada sistem tanda tingkat kedua atau metabahasa.
Barthes menciptakan peta tentang bagaimana tanda bekerja sebagaimana dapat
dilihat pada gambar berikut:
1. Signifier (Penanda 2. Signified
(petanda)
3. Denotative sign (tanda
denotative)
4. CONNOTATIVE SIGNFIER
5. CONNOTATIVE SIGNIFIED
(PENANDA KONOTATIF)
(PETANDA KONOTATIF)
6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)
Sumber: Paul Cobley & Litza Jansz, 1999, Introducing Semiotic, N.Y.
Totem Books, hal. 51 (Sobur, 2003:69)
Gambar 1.1
Peta Tanda Roland Barthes
1.7.1 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti berupa:
1) Analisis Teks
Mengumpulkan
data
dengan
menafsirkan
teks
berdasarkan
berdasarkan kode-kode yang tepat dan telah tersedia. Karena teks dapat
diartikan sebagai “seperangkat tanda yang ditransmisikan dari seorang
9
pengirim kepada seorang penerima melalui medium tertentu dan dengan
kode-kode tertentu” (Budiman, 1999:115-116)
2) Wawancara
Wawancara adalah cara pengumpulan data dalam pelaksanaannya
mengadakan tanya jawab terhadap orang-orang yang erat kaitannya
dengan permasalahan, baik secara tertulis maupun lisan guna memperoleh
keterangan atas masalah yang diteliti dari H. Ahmad Derajat dan M. Fuad
anggota Tarung Derajat Unisba.
1.7.2 Teknik Analisis
Suatu kegiatan yang mengacu pada penelaahan atau pengujian yang
sistematik mengenai suatu hal dalam rangka mengetahui bagian-bagian,
hubungan diantara bagian, dan hubungan bagian dengan keseluruhan.
Maka teknik analisis ini menggunakan semiotika Roland Barthes. Dengan
menungkap makna denotasi, konotasi, dan mitos.
•
Makna Denotasi
Denotasi atau makna denotatif pada dasarnya meliputi hal-hal yang
ditunjuk oleh kata-kata (yang disebut sebagai makna referensial). Makna
denotatif suatu kata ialah makna yang biasa kita temukan dalam kamus.
•
Makna Konotasi
Konotatsi atau makna konotatif disebut juga makna konotasional,
makna emotif, atau makna evaluatif (Keraf, 1994:29). Makna konotatif,
10
seperti itu disinggung, adalah suatu jenis makna yang mana stimulus
respons mengandung nilai-nilai emosional.
•
Mitos
Mitos adalah kebutuhan manusia. Itulah sebabnya mitos dieksploitasi
sebagai media komunikasi, sebagaimana dikatakan Roland Barthes dalam
bukunya Mythologies (1993). Ia mengatakan bahwa sebagai bentuk simbol
dalam komunikasi, mitos bukan hanya diciptakan dalam bentuk diskursus
tertulis, melainkan sebagai produk sinema, fotografi, advertensi, olah raga,
dan televisi.
1.7.3 Objek Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2009:29), objek penelitian adalah
variabel penelitian, yaitu sesuatu yang merupakan inti dari problematika
penelitian.
Sedangkan benda, hal atau orang tempat data untuk variabel penelitian
melekat dan yang dipermasalahkan disebut objek (Suharsimi Arikunto,
200:116).
Dari pengertian di atas, maka objek dari penelitian ini adalah Logo
Seni Ilmu Olahraga Beladiri Tarung Derajat
11
Gambar 1.2
Logo Tarung Derajat
1.7.4 Uji Validitas dan Reliabilitas
•
Triangulasi
Teknik ini merujuk pada pengumpulan informasi atau data dari
individu dan latar dengan menggunakan berbagai metode. Triangulasi juga
berfungsi untuk mengurangi bias dalam metode yang dilakukan dalam
penelitian dan memudahkan melihat keluasan yang peneliti kemukakan.
Yang perlu dicermati adalah bahwa triangulasi tidak menjamin bebasnya
ancaman terhadap validitas. Maka penelitian ini harus menghindari dua
hal: (1) jangan menggunakan metode yang memiliki bias yang sama, dan
(2) jangan menggunakan metode yang berbeda dengan tujuan untuk
mendukung kesimpulan anda (Alwasilah,1991). Triangulasi ini dicapai
dengan cara observasi, teori atau literatur, dan wawancara ahli.
•
Member Checks
Ada masukan atau feedback yang sangat penting dan tinggi harganya,
yakni memasukan yang diberikan oleh individu yang menjadi responden
12
kita. Nampaknya ini teknik yang paling ampuh untuk: (1) menghindari
salah tafsir terhadap jawaban responden sewaktu di wawancara, (2)
menghindari salah tafsir terhadap perilaku responden sewaktu di observasi,
dan (3) mengkonfirmasi perspektif emik responden terhadap suatu proses
yang sedang berlangsung. Perlu diingat bahwa apa yang dikatakan
responden belum tentu benar. Yang jelas adalah bahwa jawaban mereka
adalah bukti atau alat validitas kebenaran dari pernyataan yang peneliti
ungkapkan.
1.8 Kerangka Pemikiran
Komunikasi mempunyai beberapa pengertian dan fungsi dilihat dari sudut
pandang yang berbeda. Kegiatan komunikasi akan terjadi proses interaksi antar
manusia yang terlibat di dalamnya. Komunikasi adalah proses kegiatan manusia
yang diungkapkan melalui bahsa lisan dan tulisan, gambar-gambar, isyarat, bunyibunyian dan bentuk kode lain yang mengandung arti dan dimengerti oleh pihak
lain.
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata
latin communicatio dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama
disini maksudnya adalah sama makna.(Effendy, 1997:9)
Menurut Harold Laswell dalam karyanya dikutip oleh Onong Uchyana
Effendy (1986:29), mengatakan bahwa “Komunikasi adalah proses penyampaian
informasi, pesan, message, ide, sikap atau gagasan dari komunikator untuk
megubah serta membentuk perilaku komunikan ke pola dan pemahaman yang
13
dikehendaki komunikator. Jadi proses penyampaian informasi ini berdaya guna
bagi komunikan atau komunikator”.
Merujuk kepada pengertian di atas komunikasi tidak lepas dari pesan atau
message. Seperti yang kita ketahui pesan sarat dengan simbol atau lambang.
Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu
lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata
(pesan verbal), perilaku non-verbal, dan objek yang maknanya disepakati
bersama. Lambang adalah salah satu kategori tanda. Hubungan antara tanda
dengan objek dapat juga direpresentasikan oleh ikon dan indeks, namun ikon dan
indeks tidak memerlukan kesepakatan. Ikon adalah benda fisik (dua/tiga dimensi)
yang menyerupai apa yang dipresentasikan. Representasi ini ditandai dengan
kemiripan.
Komunikasi juga merupakan proses personal karena makna atau pemahaman
yang kita peroleh pada dasarnya bersifat pribadi. Penafsiran anda atas perilaku
verbal dan nonverbal orang lain yang anda kemukakan kepadanya juga mengubah
penafsiran orang lain tersebut atas pesan-pesan anda, dadan pada gilirannya,
mengubah penafsiran anda atas pesan-pesannya, begitu seterusnya. Menggunakan
pandangan ini, tampak bahwa komunikasi bersifat dinamis. Pandangan inilah
yang disebut komunikasi sebagai transaksi, yang lebih sesuai untuk komunikasi
tatap-muka yang memungkinkan pesan atau respon verbal dan non verbal bisa di
ketahui secara langsung.
Bahwa komunikasi tersebut tidak membatasi kita pada komunikasi yang
disengaja atau respon yang dapat diamati. Artinya, komunikasi terjadi apakah para
14
perilakunya sengaja atau tidak, dan bahkan meskipun menghasilkan respon yang
tidak dapat diamati. Gaya pakaian dan rambut anda, ekspresi wajah anda, jarak
fisik antara anda dengan orang lain, nada suara anda, kata-kata yang anda
gunakan-semua itu mengkomunikasikan sikap, kebutuhan, perasaan dan penilaian
anda.
Lebih jauh lagi, pakaian bahkan dapat menunjukkan apakah pemakainya
seorang yang berkarakter formal, santai, modis, kurang percaya diri, berjiwa
muda, dan sebagainya. Demikian juga dengan logo. Logo yang baik akan mampu
mencerminkan jenis usaha yang dikelola pemilik logo tersebut berdasarkan idiomidiom grafis yang telah dikenal publik. Pada prinsipnya, logo merupakan simbol
yang mewakili sosok, wajah, dan eksistensi suatu perusahaan atau produk
perusahaan.
Logo juga sering kali dipergunakan untuk membangun spirit secara internal di
antara komponen yang ada dalam perusahaan. Sebuah logo yang baik dan berhasil
akan menimbulkan sugesti yang kuat, membangun kepercayaan, rasa memiliki,
dan menjaga image perusahaan pemilik logo itu. Selanjutnya logo bahkan dapat
menjalin kesatuan dan solidaritas di antara anggota keluarga besar perusahaan itu
yang akhirnya mampu meningkatkan presentasi dan meraih sukses demi kemajuan
perusahaan.
Secara visualisasi, logo adalah suatu gambar. Gambar itu bisa berupa berbagai
unsur bentuk dan warna. Oleh karena sifat dari apa yang diwakili oleh logo
berbeda satu sama lain, maka seyogyanya logo itu memiliki bentuk yang berbeda
15
pula. Bentuk logo yang berbeda dapat meliputi bentuk fisik, warna, maupun
dimensi.
Begitu pula dengan unsur maskulinitas yang terkandung dalam logo
perusahaan atau organisasi. Karena logo bisa diidentikkan oleh karakter tertentu.
Maskulinitas adalah bentuk identitas yakni sebuah bentuk pemahaman diri yang
menstruktur sikap dan perilaku seseorang; dilihat sebagai ideologi: seperangkat
idealisasi-idealisasi kultural yang menentukan peran-peran, nilai, pengharapan
sebagai kepantasan laki-laki (Leach dalam Yulianti, 2007:9).
Nancy Elisabeth Dowd menyatakan bahwa “core elements of masculinity
norms are negative ones: not definingwhat masculinity is, but what it is not. The
two key negatives to being a man are notbeing a girl or woman, and not being
gay”(Dowd, 2008:14). Berdasarkan pendapatnya tersebut, dapat dikatakan bahwa
norma maskulinitas adalah larangan bagi pria untuk berperilaku seperti
perempuan dan kaum gay.
Masih ada lagi tuntutan bahwa logo seyogyanya mengandung filosofi, makna
logo, atau setidaknya dasar pemikiran bentuk logo itu. Untuk mengetahuinya,
maka kita perlu sebuah ilmu yang mampu membedah semua itu. Ilmu yang paling
komprehensif untuk mengungkapkan semua itu dengan menggunakan semiotika.
Teori semiotika dalam desain komunikasi visual, mengacu pada Roland
Barthes sebagai panduan berkomunikasi secara visual melalui semiologi.
Semilogi atau semiotik selain dipakai sebagai alat komunikasi secara visual yang
dipahami oleh masyarakat. Maka, desain komunikasi visual bisa dikatakan
sebagai
seni
menyampaikan
pesan
(arts
of
commmunication)
dengan
16
menggunakan bahasa rupa (visual language) yang disampaikan melalui media
berupa desain yang bertujuan menginformasikan, mempengaruhi hingga merubah
perilaku target audience sesuai dengan tujuan yang ingin diwujudkan. Sedang
Bahasa rupa yang dipakai berbentuk grafis, tanda, simbol, ilustrasi gambar/foto,
tipografi/huruf dan sebagainya yang disusun berdasarkan kaidah bahasa visual
yang khas berdasar ilmu tata rupa. Isi pesan diungkapkan secara kreatif dan
komunikatif serta mengandung solusi untuk permasalahan yang hendak
disampaikan (baik sosial maupun komersial ataupun berupa informasi, identifikasi
maupun persuasi).
Semiotika adalah teori dan analisis berbagai tanda dan pemaknaan. Semiotik
atau ada yang menyebut dengan semiotika berasal dari kata Yunani semeion yang
berarti “tanda”. Istilah semeion tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik
atau asklepiadik dengan perhatiannya pada simtomatologi dan diagnostik
inferensial (Sobur, 2004:95). Tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal
yang menunjuk pada adanya hal lain. Secara terminologis, semiotik adalah cabang
ilmu yang berurusan dengan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang
berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi
tanda.
Jika ditelusuri dalam buku-buku semiotik yang ada, hampir sebagian besar
menyebutkan bahwa ilmu semiotik bermula dari ilmu linguistik dengan tokohnya
Ferdinand de de Saussure (1857 - 1913). De Saussure tidak hanya dikenal sebagai
Bapak Linguistik tetapi juga banyak dirujuk sebagai tokoh semiotik dalam
bukunya Course in General Linguistics (1916).
17
Salah satu keuntungan kunci analisis semiotik adalah ia menuntut sumber
daya yang relatif sedikit. Dimungkinkan untuk melakukan analisis semiotik hanya
pada sebuah teks atau citra. Karena metodenya bersifat interpretatif, dalam arti
dapat diterapkan dalam sejumlah teks. Faktor esensial dalam analisis semiotik
adalah bahwa Anda harus memiliki level pengetahuan yang tinggi mengenai objek
analisis pilihan.
Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang getol
memperaktikkan model linguistik dan semiologi Saussurean. Bertens (2001: 206)
menyebutnya sebagai tokoh yang memainkan peran sentral dalam strukturalisme
tahun 1960-an dan 1970-an. Ia mengajukan pandangan bahwa bahasa adalah
sebuah sisten tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat
tertentu dalam waktu tertentu.
Semiologi adalah instrumen pembuka rahasia teks dan penandaan. Semiologi
berawal dari kritik atas asumsi logosentris bahwa konsep-konsep muncul
mendahului dan bebas dari ekspresinya. Saussure dan para pengikutnya justru
menekankan bahwa bentuk dan konsep tidak muncul bebas satu sama lain, tetapi
bahwa tanda itu memuat kesatuan dari signifier (penanda) dan signified (petanda).
Umumnya Barthes membuatnya dalam dua tingkatan bahasa, bahasa tingkat
pertama adalah bahasa sebagai objek, dan bahasa tingkat dua disebut sebagai
metabahasa. Bahasa ini merupakan suatu sistem tanda yang memuat penanda dan
petanda. Sistem tanda kedua terbangun dengan menjadikan penanda dan petanda
tingkat pertama sebagai petanda baru yang kemudian memiliki penanda baru
sendiri dalam suatu sistem tanda baru pada taraf yang lebih tinggi. Sistem tanda
18
pertama kadang disebutnya dengan istilah denotasi atau sistem terminologis,
sedangkan sistem tanda pada tingkat kedua disebutnya sebagai konotasi atau
sistem retoris atau mitologi. Fokus Barthes terletak pada sistem tanda tingkat
kedua atau metabahasa.
Sementara pada bagian mitos, akan diperoleh setelah menginterpretasikan
denotasi menjadi makna konotatif. Karena semua hasilnya merupakan interpretasi
lanjutan dari temuan denotasi dan konotasi yang disesuaikan dengan kondisi dan
kebudayaan dalam masyarakat.
Sebuah mitos adalah narasi yang karakter-karakter utamanya adalah para
dewa, para pahlawan, dan makhluk mistis, plotnya berputar di sekitar asal-muasal
benda-benda atau sekitar makna benda-benda dan settingnya adalah dunia
metafisika yang dilawankan dengan dunia nyata. Pada tahap awal, mitos berfungsi
sebagai teori asli mengenai dunia. Seluruh kebudayaan telah menciptakan kisahkisah semacam itu untuk menjelaskan asal-usul mereka. Dengan mempelajari
mitos, kita dapat mempelajari bagaimana masyarakat yang berbeda menjawab
pertanyaan-pertanyaan dasar tentang dunia dan tempat bagi manusia didalamnya.
Meneliti mitos untuk mempelajari bagaimana orang-orang mengembangkan suatu
sistem sosial khusus dengan banyaknya adat istiadat dan cara hidup, dan juga
memahami secara lebih baik nilai-nilai yang mengikat para anggota masyarakat
untuk menjadi satu kelompok. Mitos dapat dibandingkan untuk mengetahui
bagaimana kebudayaan dapat saling berbeda atau menyerupai satu sama lain, dan
mengapa orang bertingkah laku seperti itu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komunikasi
Pengertian komunikasi secara umum dapat dilihat dari dilihat dua segi, yaitu :
1. Pengertian Komunikasi Secara Etimologis
Secara etimologis (asal katanya), komunikasi berasal dari bahasa Latin
yaitu communication, bersumber dari kata communis yang berarti sama, dalam
hal ini berarti membuat kebersamaan makna dalam suatu hal antara dua orang
atau lebih.
Jadi komunikasi berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat
dalam proses komunikasi itu terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal
yang dikomunikasikan. Jelasnya jika seseorang mengerti tentang sesuatu yang
dinyatakan orang lain kepadanya, maka komunikasi sudah berlangsung.
Namun jika seseorang tidak mengerti tentang sesuatu yang dinyatakan orang
lain kepadanya, maka hal tersebut bukanlah suatu komunikasi.
2. Pengertian Komunikasi Secara Terminologis
Secara terminologis komunikasi berarti proses penyampaian suatu
pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Pengertian tersebut menjelaskan
bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, dimana seseorang menyatakan
seseuatu kepada orang lain.
19
20
Onong Uchyana dalam bukunya Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek,
mengatakan komunikasi pada hakekatnya adalah proses penyampaian pikiran
atau perasaan oleh komunikator kepada komunikan.
Komunikasi mempunyai beberapa pengertian dan fungsi dilihat dari sudut
pandang yang berbeda. Kegiatan komunikasi akan terjadi proses interaksi antar
manusia yang terlibat di dalamnya. Komunikasi adalah proses kegiatan manusia yang
diungkapkan melalui bahsa lisan dan tulisan, gambar-gambar, isyarat, bunyi-bunyian
dan bentuk kode lain yang mengandung arti dan dimengerti oleh pihak lain.
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata
latin communicatio dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama
disini maksudnya adalah sama makna (Effendy, 1997:9). Menurut Harold Laswell
dalam karyanya dikutip oleh Onong Uchyana Effendy (1986:29), mengatakan bahwa
“Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, pesan, message, ide, sikap atau
gagasan dari komnikator untuk megubah serta membentuk perilaku komunikan ke
pola dan pemahaman yang dikehendaki komunikator. Jadi proses penyampaian
informasi ini berdaya guna bagi komunikan atau komunikator”. Everett M. Rogers
memberikan definisi komunikasi khususnya dalam hal penyebaran inovasi. Rogers
mengatakan komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber
kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku
mereka. Sedangkan Shannon dan Weaver mengemukakan bahwa komunikasi adalah
bentuk interaksi manusia saling mempengaruhhi satu sama lainnya sengaja atau tidak
disengaja (Cangara, 2004 :19).
21
Berdasarkan definisi-definisi, secara umum komunikasi dapat diartikan sebagai
proses pertukaran informasi antara satu orang dan lebih untuk mengubah tingkah laku
orang lain baik secara sengaja maupun tidak.
Dari pengertian komunikasi yang telah dikemukakan diatas, maka jelas bahwa
komunikasi dapat terjadi apabila ada seseorang yang menyampaikan pesan kepada
orang lain dengan tujuan tertentu, artinya komunikasi hanya bisa terjadi kalau
didukung oleh adanya sumber, pesan, media, penerima, dan efek.
Gambar 2.1
Ruang Lingkup, Pengertian, dan Unsur Komunikasi
(Sumber : Cangara, 1998:23)
1. Sumber, semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai
pembuat atau pengirim informasi.
2. Pesan, adalah suatu informasi yang disampaikan pengirim kepada si
penerima.
3. Media, adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber
kepada penerima.
4. Penerima, adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh
sumber.
22
5. Efek, adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan
oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan.
6. Umpan Balik, adalah respon terhadap pesan yang dikirimkan kepada pengirim
pesan.
7. Lingkungan, adalah faktor-faktor tertentu yang dapat mempengaruhi jalannya
komunikasi.
Pada dasarnya komunikasi dapat dilihat dari berbagai dimensi, yakni komunikasi
sebagai proses, komunikasi sebagai sistem, komunikasi sebagai proses interaksi dan
transaksi, dan komunikasi yang terjadi secara sengaja maupun tidak disengaja.
1. Komunikasi adalah suatu proses karena merupakan suatu kegiatan yang terus
menerus dimana tidak mempunyai permulaan atau akhir dan selalu berubahubah.
2. Komunikasi adalah sistem dimana antara satu komponen dengan konponen
yang saling berkaitan dan bila terdapat gangguan pada satu komponen akan
berpengaruh pada proses komunikasi secara keseluruhan.
3. Komunikasi bersifat interaksi dan transaksi yakni saling bertukar komunikasi
serta menginterpretasi pesan yang diterima.
4. Komunikasi dapat terjadi baik secara disengaja maupun tidak disengaja, hal
ini tergantung pada maksud dengan kondisi terjadinya proses komunikasi.
Definisi lain mengatakan bahwa ”Komunikasi adalah suatu transaksi, proses
simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan (1)
membangun hubungan antar sesama manusia (2) melalui pertukaran informasi (3)
23
untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain (4) serta berusaha mengubah
sikap dan tingkah laku itu.” (Cangara, 2002 : 19)
Merujuk kepada pengertian di atas komunikasi tidak lepas dari pesan atau
message. Seperti yang kita ketahui pesan sarat dengan simbol atau lambang.
Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu
lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata
(pesan verbal), perilaku non-verbal, dan objek yang maknanya disepakati bersama.
Lambang adalah salah satu kategori tanda. Hubungan antara tanda dengan objek
dapat juga direpresentasikan oleh ikon dan indeks, namun ikon dan indeks tidak
memerlukan kesepakatan. Ikon adalah benda fisik (dua/tiga dimensi) yang
menyerupai apa yang dipresentasikan. Representasi ini ditandai dengan kemiripan.
Dalam komunikasi transaksional, komunikasi dianggap telah berlangsung jika
seseorang telah menafsirkan perilaku orang lain, baik perilaku verbal maupun
perilaku nonverbal. Istilah transaksi mengisyaratkan bahwa pihak-pihak yang
berkomunikasi berada dalam keadaan timbal balik; eksistensi satu pihak ditentukan
oleh eksistensi pihak lainnya. Pendekatan transaksi menyarankan bahwa semua unsur
dalam proses komunikasi atas orang lain bergantung pada persepsi orang lain
terhadapnya, dan bahkan bergantung pula pada persepsinya terhadap lingkungan
sekitarnya.
24
2.2 Komunikasi Visual
Komunikasi visual adalah komunikasi melalui penglihatan. Komunikasi visual
merupakan sebuah rangkaian proses penyampaian kehendak atau maksud tertentu
kepada pihak lain dengan penggunaan media penggambaran yang hanya terbaca oleh
indera penglihatan. Komunikasi visual mengkombinasikan seni, lambang, tipografi,
gambar, desain grafis, ilustrasi, dan warna dalam penyampaiannya.
Komunikasi visual memiliki beberapa fungsi, diantaranya sebagai sarana
informasi dan instruksi, bertujuan menunjukkan hubungan antara suatu hal dengan
hal yang lain dalam petunjuk, arah, posisi dan skala, contohnya peta, diagram, simbol
dan penunjuk arah. Informasi akan berguna apabila dikomunikasikan kepada orang
yang tepat, pada waktu dan tempat yang tepat, dalam bentuk yang dapat dimengerti,
dan dipresentasikan secara logis dan konsisten. Sebagai sarana presentasi dan
promosi untuk menyampaikan pesan, mendapatkan perhatian (atensi) dari mata
(secara visual) dan membuat pesan tersebut dapat diingat.
Komunikasi visual merupakan payung dari berbagai kegiatan komunikasi yang
menggunakan unsur rupa (visual) pada berbagai media: percetakan/grafika, luar
ruang (marka grafis, papan reklame), televisi, film/video, internet, dua dimensi
maupun tiga dimensi, baik yang statis maupun bergerak (time based).
Sejak jaman pra-sejarah manusia telah mengenal dan mempraktekkan komunikasi
visual. Bentuk komunikasi visual pada jaman ini antara lain adalah piktogram yang
digunakan untuk menceritakan kejadian sehari-hari pada Jaman Gua (Cave Age),
bentuk lain adalah hieroglyphics yang digunakan oleh bangsa Mesir. Kemudian
25
seiring dengan kemajuan jaman dan keahlian manusia, bentuk-bentuk ini beralih ke
tulisan, contohnya prasasti, buku, dan lain-lain. Dengan perkembangan kreatifitas
manusia, bentuk tulisan ini berkembang lagi menjadi bentuk-bentuk yang lebih
menarik dan komunikatif, contohnya seni panggung dan drama; seperti sendratari
Ramayana, seni pewayangan yang masih menjadi alat komunikasi yang sangat efektif
hingga sekarang.
Sebagai suatu profesi, desain komunikasi visual baru berkembang sekitar tahun
1950-an. Sebelum itu, jika seseorang hendak menyampaikan atau mempromosikan
sesuatu secara visual, maka ia harus menggunakan jasa dari bermacam-macam
“seniman spesialis”. Spesialis-spesialis ini antara lain adalah visualizers (seniman
visualisasi); typographers (penata huruf), yang merencanakan dan mengerjakan teks
secara detil dan memberi instruksi kepada percetakan; illustrators, yang memproduksi
diagram dan sketsa dan lain-lain.
Dalam perkembangannya, desain komunikasi visual telah melengkapi pekerjaan
dari agen periklanan dan tidak hanya mencakup periklanan, tetapi juga desain
majalah dan surat kabar yang menampilkan iklan tersebut.Desainer komunikasi visual
telah menjadi bagian dari kelompok dalam industri komunikasi-dunia periklanan,
penerbitan majalah dan surat kabar, pemasaran dan hubungan masyarakat (public
relations).
2.2.1 Simbol
Simbol adalah lambang yang mewakili nilai-nilai tertentu. Meskipun simbol
bukanlah nilai itu sendiri namun simbol sangatlah dibutuhkan untuk kepentingan
26
penghayatan akan nilai-nilai yang diwakilinya. Simbol juga merupakan tanda
yang merepresentasikan suatu sumber acuan melalui kesepakatan kultural. Simbol
dapat digunakan untuk keperluan apa saja. Seperti halnya ilmu pengetahuan,
kehidupan sosial juga keagamaan. Bentuk simbol tak hanya berupa benda kasat
mata namun juga melaui gerakan dan ucapan. Simbol juga dijadikan sebagai salah
satu infrastruktur bahasa yang dikenal dengan bahasa simbol.
Simbol
sangat
efektif
digunakan
sebagai
sarana
informasi
untuk
menjembatani perbedaan bahasa yang digunakan karena sifatnya yang universal
dibanding kata-kata atau bahasa. Bentuk yang lebihh kompleks dari simbol adalah
logo. Logo merupakan identifikasi dari sebuah perusahaan karena logo harus
mampu mencerminkan citra, tujuan, jenis, serta objektivitasnya agar berbeda dari
yang lainnya. Farbey (1997:91) mengatakan bahwa banyak iklan memiliki
elemen-elemen grafis yang tidak hanya terdapat ilustrasi, tetapi juga terdapat
muatan grafis yang penting seperti logo perusahaan atau logo merek, simbol
perusahaan, atau ilustrasi produk.
2.2.2 Logotype
Jika logo adalah tanda gambar (picture mark), maka logotype adalah gambar
nama (word mark). Oleh karena itu, logotype berbentuk tulisan khas yang
mengidentifikasikan suatu nama atau merk.
2.2.3 Warna
Secara visual, warna memiliki kekuatan yang mampu mempengaruhi citra
orang yang melihatnya. Warna menurut psikologis, Warna-warna itu bukanlah
27
suatu gejala yang hanya dapat diamati saja, warna itu mempengaruhi kelakuan,
memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka
tidaknya kita akan bermacam-macam benda. Dari pemahaman diatas dapat
dijelaskan bahwa warna, selain hanya dapat dilihat dengan mata ternyata mampu
mempengaruhi perilaku seseorang, mempengaruhi penilaian estetis dan turut
menentukan suka tidaknya seseorang pada suatu benda.
Warna juga merupakan elemen penting yang dapat mempengaruhi sebuah
desain. Pemilihan warna dan pengolahan atau penggabungan satu dengan lainnya
akan dapat memberikan suatu kesan atau image yang khas dan memiliki karakter
yang unik, karena setiap warna memiliki sifat yang berbeda-beda. Danger
(1992:51) menyatakan bahwa warna adalah salah satu dari dua unsur yang
menghasilkan daya tarik visual, dan kenyataannya warna lebih berdaya tarik pada
emosi daripada akal.
2.3 Logo Sebagai Penyampai Pesan
Logo atau tanda gambar (picture mark) merupakan identitas yang dipergunakan
untuk menggambarkan citra dan karakter su atu lembaga atau perusahaan maupun
organisasi. Logo ibarat sebuah pakaian. Identitas seseorang dapat dilihat dari unsur
pakaian yang dikenakannya. Apakah ia seorang manajer, eksekutif, salesman, kasir
bank, seniman, atau seorang office boy.
Lebih jauh lagi, pakaian bahkan dapat menunjukkan apakah pemakainya seorang
yang berkarakter formal, santai, modis, kurang percaya diri, berjiwa muda, dan
28
sebagainya. Demikian juga dengan logo. Logo yang baik akan mampu mencerminkan
jenis usaha yang dikelola pemilik logo tersebut berdasarkan idiom-idiom grafis yang
telah dikenal publik. Pada prinsipnya, logo merupakan simbol yang mewakili sosok,
wajah, dan eksistensi suatu perusahaan atau produk perusahaan.
Selain membangun citra perusahaan, logo juga sering kali dipergunakan untuk
membangun spirit secara internal di antara komponen yang ada dalam perusahaan
tersebut. Sebuah logo yang baik dan berhasil akan menimbulkan sugesti yang kuat,
membangun kepercayaan, rasa memiliki, dan menjaga image perusahaan pemilik
logo itu. Selanjutnya logo bahkan dapat menjalin kesatuan dan solidaritas di antara
anggota keluarga besar perusahaan itu yang akhirnya mampu meningkatkan
presentasi dan meraih sukses demi kemajuan perusahaan.
Secara visualisasi, logo adalah suatu gambar. Gambar itu bisa berupa berbagai
unsur bentuk dan warna. Oleh karena sifat dari apa yang diwakili oleh logo berbeda
satu sama lain, maka seyogyanya logo itu memiliki bentuk yang berbeda pula. Bentuk
logo yang berbeda dapat meliputi bentuk fisik, warna, maupun dimensi.
Hingga kini masih ada tuntutan bahwa logo seyogyanya mengandung filosofi,
makna logo, atau setidaknya dasar pemikiran bentuk logo itu.
2.4 Maskulinitas
Terminologi maskulin sama halnya jika berbicara mengenai feminin. Maskulin
merupakan sebuah bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki. Laki-laki tidak
dilahiran begitu saja dengan sifat maskulinnya secara alami, maskulinitas dibentuk
29
oleh kebudayaan. Hal yang menentukan sifat perempuan dan laki-laki adalah
kebudayaan (Barker, dalam Nasir, 2007:1). Secara umum, maskulinitas tradisional
menganggap tinggi nilai-nilai, antara lain kekuatan, kekuasaan, ketabahan, aksi,
kendali, kemandirian, kepuasan diri, kesetiakawanan laki-laki, dan kerja. Di antara
yang dipandang rendah adalah hubungan interpersonal, kemampuan verbal,
kehidupan domestik, kelembutan, komunikasi, perempuan, dan anak-anak (Barker,
Nasir, 2007: l).
Sifat kelelakian berbeda-beda dalam setiap kebudayaan. Maskulinitas itu sendiri
dikonstruksi oleh kebudayaan. Konsep maskulinitas dalam budaya Timur seperti di
Indonesia dipengaruhi oleh faktor kebudayaan. Ketika seorang anak laki-laki lahir ke
dunia, maka telah dibebankan beragam norma, kewajiban dan setumpuk harapan
keluarga terhadapnya. Berbagai aturan dan atribut budaya telah diterima melalui
beragam media yaitu ritual adat, teks agama, pola asuh, jenis permainan, tayangan
televisi, buku bacaan, petuah dan filosofi hidup. Hal-hal yang seperti ini terjadi
sehari-hari selama berpuluh tahun yang bersumber dari norma-norma budaya telah
membentuk suatu pencitraan diri dalam kehidupan seorang laki-laki. Kondisi ini
dapat dilihat dari selera dan cara berpakaian, penampilan, bentuk aktivitas, cara
bergaul, cara penyelesaian permasalahan, ekspresi verbal maupun non verbal hingga
jenis aksesoris tubuh yang dipakai (Vigorito & Curry, 1998: 1).
Pencitraan diri tersebut telah diturunkan dari generasi ke generasi, melalui
mekanisme pewarisan budaya hingga menjadi suatu kewajiban yang harus dijalani
jika ingin dianggap sebagai laki-laki sejati. Aturan umum yang tidak tertulis yang
30
mengatakan bahwa laki-laki sejati pantang untuk menangis, harus tampak tegar, kuat,
pemberani, garang serta berotot. Laki-laki hebat adalah yang mampu menaklukkan
hati banyak perempuan hingga adanya dorongan berpoligami. Ada pula pendapat
yang mengatakan bahwa laki-laki harus menjadi figur pelindung atau pengayom
ataupun yang mengatakan bahwa laki-laki akan sangat laki-laki apabila identik
dengan rokok, alkohol dan kekerasan (Donaldson, 1993: 1).
Terlihat juga maskulinitas dari sudut pandang yang negatif, banyak laki-laki yang
kemudian sering terlibat perkelahian baik secara individu maupun antar kelompok
ketika sudah tidak menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi,
biasanya menyangkut permasalahan harga diri. Juga kasus kekerasan terhadap
perempuan yang umumnya dilakukan oleh laki-laki, tindak kriminalitas, kerusuhan
etnik yang sebagian besar dilakukan oleh kaum laki-laki, termasuk kasus tawuran.
Dalam penelitian awal tentang stereotip dalam media, gender dianggap sebagai
kategori yang cukup stabil untuk membedakan antara karakteristik dan gambaran
perempuan dan laki-laki (Zoonen dalam Littlejohn 2009:433). Laki-laki misalnya,
digambarkan dalam peran-peran yang lebih kuat dan dominan.
Beynon (Nasir, 2007) mengemukakan sifat-sifat maskulinitas seperti berikut:
1. No Sissy Stuff: Seorang laki-laki sejati harus menghindari perilaku atau
karakteristik yang berasosiasi dengan perempuan.
2. Be a Big Wheel: Maskulinitas dapat diukur dari kesuksesan, kekuasaan, dan
pengaguman dari orang lain. Seseorang harus mempunyai kekayaan,
ketenaran, dan status yang sangat lelaki. Atau dalam masyarakat Jawa:
31
seorang laki-laki dikatakan sukses jika berhasil memiliki garwo (istri), bondo
(harta), turonggo (kendaraan), kukiro (burung peliharaan), dan pusoko (senjata
atau kesaktian).
3. Be a Sturdy Oak: kelelakian membutuhkan rasionalitas, kekuatan, dan
kemandirian. Seorang laki-laki harus tetap bertindak kalem dalam berbagai
situasi, tidak menunjukkan emosi, dan tidak memunjukkan kelemahannya.
4. Give em Hell: Laki-laki harus mempunyai aura keberanian dan agresi, serta
harus mampu mengambil risiko walaupun alasan dan rasa takut menginginkan
sebaliknya.
5. New man as nurturer: Laki-laki mempunyai kelembutan sebagai seorang
bapak, misalnya, untuk mengurus anak, melibatkan peran penuh laki-laki
dalam arena domestik.
6. New man as narcissist: laki-laki menunjukkan maskulinitasnya dengan gaya
hidup yuppies yang flamboyan dan perlente, laki-laki semakin suka
memanjakan dirinya dengan produk-produk komersial properti, mobil,
pakaian atau artefak personal yang membuatnya tampak sukses.
7. Sifat kelaki-lakian yang macho, kekerasan, dan hooliganism, laki-laki
membangun kehidupannya di sekitar football atau sepak bola dan dunia
minum-minum,
juga
sex
dan
hubungan
dengan
para
perempuan,
mementingkan leisure time, bersenang-senang, menikmati hidup bebas seperti
apa adanya bersama teman-temannya, bersenang-senang, menyumpah,
32
menonton sepak bola, minum bir, dan membuat lelucon-lelucon yang diangap
merendahkan perempuan.
8. Laki-laki metroseksual mengagungkan fashion, mungkin mirip dengan tipe
maskulin yang ada di tahun 1980-an, bahkan mungkin sama Laki-laki
metroseksual adalah orang-orang yang peduli dengan gaya hidup yang teratur,
menyukai detail, dan cenderung perfeksionis.
2.5 Tinjauan Semiotika
Semiotika adalah teori dan analisis berbagai tanda dan pemaknaan. Semiotik atau
ada yang menyebut dengan semiotika berasal dari kata Yunani semeion yang berarti
“tanda”. Istilah semeion tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik atau
asklepiadik dengan perhatiannya pada simtomatologi dan diagnostik inferensial
(Sobur, 2004:95). Tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk
pada adanya hal lain. Secara terminologis, semiotik adalah cabang ilmu yang
berurusan dengan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan
dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda (van Zoest,
1993:1).
Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek,
peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Ahli sastra Teew (1984:6)
mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian
disempurnakannya menjadi model sastra yang memper-tanggungjawabkan semua
faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi
33
yang khas di dalam masyarakat mana pun. Semiotik merupakan cabang ilmu yang
relatif masih baru. Penggunaan tanda dan segala sesuatu yang berhubungan
dengannya dipelajari secara lebih sistematis pada abad kedua puluh.
Kalau kita telusuri dalam buku-buku semiotik yang ada, hampir sebagian besar
menyebutkan bahwa ilmu semiotik bermula dari ilmu linguistik dengan tokohnya
Ferdinand de de Saussure (1857 - 1913). De Saussure tidak hanya dikenal sebagai
Bapak Linguistik tetapi juga banyak dirujuk sebagai tokoh semiotik dalam bukunya
Course in General Linguistics (1916).
Salah satu keuntungan kunci analisis semiotik adalah ia menuntut sumber daya
yang relatif sedikit. Dimungkinkan untuk melakukan analisis semiotik hanya pada
sebuah teks atau citra. Karena metodenya bersifat interpretatif, tidak perlu reliable,
dalam arti dapat diterapkan dalam sejumlah teks. Faktor esensial dalam analisis
semiotik adalah bahwa Anda harus memiliki level pengetahuan yang tinggi mengenai
objek analisis pilihan.
2.5 1 Semiotika Roland Barthes
Aliran semiotik konotasi pertama kali dipelopori oleh Roland Barthes (19151980), dimana pada waktu menelaah sistem tanda tidak berpegang pada makna
primer, tetapi mereka berusaha mendapatkannya melalui makna konotasi. Barthes
menyatakan bahwa ada dua sistem pemaknaan tanda: denotasi dan konotasi.
Semiotika Barthes dinamakan semiotik konotasi ialah untuk membedakan
semiotik linguistik yang dirintis oleh mentornya, Saussure.
34
Dalam konsep Roland Barthes, tanda konotatif tidak sekadar memiliki makna
tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi
keberadaannya. Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam
pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dipahami oleh Barthes.
Di dalam semiologi Barthes, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat
pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi
justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sebagai reaksi untuk
melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba
menyingkirkan dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi.
Dalam kerangka Roland Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi,
yang disebutnya sebagai ‘mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan
memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu
periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda,
petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh
suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos
adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua. Di dalam mitos pula sebuah
petanda dapat memiliki beberapa penanda.
Roland Barthes menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman
personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan
konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini
dikenal dengan “order of signification”, mencakup denotasi (makna sebenarnya
35
sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural
dan personal).
2.5.2 Ciri Khas Roland Barthes
Semiologi Barthes mengacu pada Saussure dengan menyelidiki hubungan
penanda dan petanda pada sebuah tanda. Hubungan penanda dan petanda ini
bukanlah kesamaan (equality), tetapi ekuivalen. Bukannya yang satu kemudian
membawa pada yang lain, tetapi korelasilah yang menyatukan keduanya
(Hawkes, 1977:130)
Barthes mencontohkan dengan seikat mawar (Hawkes 1977:131). Seikat
mawar dapat digunakan untuk menandai gairah (passion), maka seikat bungan itu
menjadi penanda dan gairan petanda. Hubungan keduanya menghasilkan istilah
ketiga: seikat bunga sebagai sebuah tanda. Sebagai sebuah tanda, adalah penting
dipahami bahwa seikat bunga itu sungguh-sungguh berbeda dari seikat bungan
sebagai penanda yang adalah entitas tanaman biasa. Sebagai penanda, seikat
bunga adalah kosong, sedang sebagai tanda, seikat bunga itu penuh.
Barthes tak sebatas itu memahami proses penandaan, dia juga melihat aspek
lain dari penanda, yaitu “mitos” yang menandai suatu masyarakat. “Mitos” ini
tidak dipahami sebagaimana pengertian klasiknya, tetapi lebih diletakkan dalam
proses penandaan itu sendiri. Artinya tetap dalam diskursus semiologinya itu.
Mitos menurut Barthes terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah
terbentuk sistem tanda-penanda-petanda; tanda tersebut akan menjadi penanda
baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru.
36
Konstruksi penandaan pertama adalah bahasa, sedangkan konstruksi penandaan
kedua merupakan mitos. Kontruksi penandaan tingkat kedua ini dipahami Barthes
sebagai metabahasa (metalanguage).
Perspektif Barthes tentang mitos ini menjadi salah satu cirri khas
semiologinya yang membuka ranah baru semiologi, yakni penggalian lebih jauh
dari penandaan untuk mencapai mitos yang bekerja dalam realitas keseharian
masyarakat. Dalam bentuk praksisnya, Barthes mencoba membongkar mitosmitos modern msyarakat melalui berbagai kajian kebudayaannya, seperti sabun,
fotografi, mobil ciroen, fashion, musik, dan sebagainya. Perkembangan pemikiran
demikian inilah yang hendak kita kaji lebih jauh konsep dasarnya dalam struktur
semilogi Barthes dan berbagai implikasinya, terutama dalam memahami
kebudayaan kita yang termanifestasikan dalam kehidupan keseharian kita yang
justru adalah ladang subur pengkajian semiologi.
BAB III
METODE PENELITIAN DAN OBJEK PENELITIAN
3.1 Penelitian Kualitatif
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metodologi penelitian kualitatif.
Pada dasarnya penelitian ini meletakkan penekanan pada subjektifitas untuk
melakukan interpretasi terhadap suatu persoalan yang dikajinya. Ini berarti seperti
yang ditegaskan Dedy Mulyana penelitian ini mencari respon subjektif individual.
Metode ini juga seperti yang diungkapkan oleh Bogdan dan Taylor, (dalam
Moleong 1996:3) Metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang
atau perilaku yang diamati.
Peneliti menggunakan
metode
penelitian kualitatif
karena
bertujuan
mempertahankan bentuk dan isi perilaku manusia dan menganalisis kualitaskualitasnya, alih-alih mengubahnya menjadi data kuantitatif. Selain itu,
selayaknya penelitian kualitatif, penelitian ini tidak mengandalkan bukti-bukti
berdasarkan logika matematis. Penelitian ini justru lebih menekankan kepada
banyaknya data-data yang diperoleh dengan penalaran peneliti menjadikan datadata itu menjadi sutau rangkaian kata-kata ilmiah yang sebelumnya dianalisis
terlebih dahulu, kata kuncinya adalah analisis lebih mendalam pada objek yang
akan diteliti itu lah kualitatif. Kelebihan kualitatif adalah peneliti dapat
mengembangkan pemikirannya sehingga dapat menemukan sesuatu yang baru
dirana sosial. Walaupun pada dasarnya suatu prespektif realitas itu tidak benar-
37
38
benar hadir sempurna pada manusia. Sehingga dalam penelitian ini prespektif
hanyalah mendekatkan pada suatu kenyataan. Bila mengutip pernyataan populer
Stuart Hall (Nugraha, 2009:27) ”Kenyataan atau kebenaran itu merupakan
representasi dari teks-teks yang kita baca, pelajari kemudian kita terjemahkan
lagi.”
Sepanjang sejarah penelitian kualitatif selalu mendefinisikan karya mereka
dilihat dari sudut harapan dan nilai-nilai, keyakinan agama, ideologi okupasional
dan profesionalisasi. Penelitian kualitatif (seperti halnya semua penelitian) selalu
dinilai berdasarkan atas “standar apakah karya tersebut mengkomunikasikan atau
mengatakan sesuatu mengenai diri kita?” berdasarkan atas bagaimana kita
mengkonseptualisasikan realita dan gambaran kita mengenai dunia.
Di kutip dari buku Bogdan, Robert C. dan Biklen, Knopp S. 1998. Qualitative
Research in Education: An Introduction to Theory and Methods. Boston: Allyn
and Bacon, Inc. Penelitian kualitatif digunakan sebagai istilah payung strategi
penelitian dengan karakteristik berikut:
•
Data penelitian merupakan data lunak (soft data), yakni data yang kaya
akan deskripsi orang, benda, tempat, dan percakapan atau tuturan.
•
Masalah penelitian dirumuskan dalam wujud fokus penelitian yang
menggambarkan
kompleksitas
masalah
penelitian
sesuai
dengan
konteksnya (bukan dalam wujud variabel, pertanyaan, atau hipotesis).
•
Data dikumpulkan dari dan dalam latar alamiah, yakni latar nyata dan
sebagaimana adanya.
Teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah:
39
•
observasi partisipatif, yakni peneliti sebagai pengamat sekaligus sebagai
partisipan penelitian; dan
•
wawancara mendalam, yakni peneliti menggali informasi secara utuh,
menyeluruh, dan mendalam untuk memperoleh pandangan, pemikiran, dan
keyakinan subjek, responden, atau informan serta untuk memperoleh
sistem yang berlaku dalam pranata suatu komunitas yang diteliti.
Nama lain penelitian kualitatif adalah (1) penelitian lapangan atau field work
(dalam bidang antropologi); (2) penelitian naturalistik atau alamiah (dalam
bidang pendidikan); dan penelitian etnografi (dalam bidang antropologi).
Karakteristik penelitian kualitatif dapat dikemukakan berikut ini:
•
Penelitian kualitatif bersifat alamiah (naturalistic), yakni latar langsung
sebagai sumber data dan peneliti sebagai instrumen kunci (key instrument).
•
Data penelitian kualitatif bersifat deskriptif, yakni data berupa kata-kata
dan gambar yang diperoleh dari transkripsi wawancara, catatan lapangan,
foto, videotape, dokumen pribadi, dokumen resmi, memo, dan dokumendokumen lainnya.
•
Di samping hasil, penelitian kualitatif menekankan proses, yakni proses
yang terjadi dan berlangsung pada sumber data (subjek/informan, objek,
dan responden) beserta keseluruhan konteks yang melingkupinya, di
samping data yang dihasilnyannya.
•
Analisis data penelitian kualitatif cenderung secara induktif untuk
memperoleh abstraksi dari keseluruhan data yang diperoleh.
40
•
Penelitian kualitatif menggali makna kehidupan berdasarkan perspektif
partisipan, yakni berdasarkan proses subjek mengkonstruk atau menyusun
makna dan berdasarkan proses mendeskrispsikan makna yang disusn
subjek.
Sebagai catatan tambahan, sumber data penelitian kualitatif dapat dibedakan
atas (1) subjek penelitian, yakni sumber data, misalnya orang, yang aktif sebagai
penghasil data (siswa, guru, pegawai kantor pos, camat, buruh pabrik, misalnya);
(2) objek penelitian, yakni sumber data, misalnya benda, yang berisi data (candi,
novel, kumpulan puisi, surat pribadi, otobiografi, misalnya); dan (3) responden,
yakni orang yang merespon atau menjawab kuesioner atau angket yang diberikan
peneliti saat mengumpulkan data. Dalam bidang linguistik struktural, sumber data
ini lazim disebut sebagai informan, yakni penutur atau pemakai bahasa sebagai
sumber korpus data bahasa.
3.2 Semiotika Sebagai Metode
Semiotika atau semiologi berasal dari studi klasik dan skolastik atas seni
logika, retorika, dan poetika. Akar namanya sendiri adalah “semeion”, yang
diturunkan dari kedokteran hipokratik atau asklepiadik dengan perhatiannya pada
simptomatologi dan diagnostik inferensial. “Tanda pada masa itu masih bermakna
sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Contohnya asap menandai
adanya api” (Kurniawan, 2001:49). Manusia hanya dapat berkomunikasi dengan
sarana tanda. Dalam hal ini tanda yang dimaksud adalah semua hal yang
41
diciptakan manusia dalam upaya saling berbagi informasi dan komunikasi antar
sesamanya.
Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.
Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari
jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia.
Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak
mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal (things).
Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak sama dengan mengkomunikasikan (to
communicate) (Barthes dalam Sobur 2004:15).
Teknik analisis Semiotika dipilih karena penelitian Representasi Maskulinitas
Logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri Tarung Derajat ini pada dasarnya ingin
mengetahui bagaimana pesan mengenai maskulinitas ditampilkan oleh Logo
dalam bentuk tanda-tanda. Semiotika adalah salah satu metode yang paling
interpretatif dalam menganilisis teks dan keberhasilan maupun kegagalanya
sebagai sebuah metode, bersandar pada seberapa baik peneliti dalam
menartikulasikan kasus yang mereka kaji. Semiotika memillki keuntungan dalam
menghasilkan apa yang disebut Clifford Geertz (Triwikromo,2003:78) sebagai
”deskripsi-deskripsi tebal (thick descriptions)” yang bertekstur serta analisisanalisis yang kompleks. Karena sangat subjektif, semiotika tidak reliable dalam
konteks pemahaman ilmu pengetahuan sosial traditional peneliti lain yang
mempelajari teks yang sama dapat saja mengeluarkan sebuah makna yang
berbeda. Namun hal ini tidak mengurangi nilai semiotika karena semiotika adalah
42
tentang memperkaya dan mengembangkan suatu interpretasi peneliti terhadap
teks. Oleh karena itu semiotika bersifat interpretatif dan sangat subjektif.
Pemahaman akan struktur semiosis menjadi dasar yang tidak bisa ditiadakan
bagi penafsir dalam upaya mengembangkan pragmatisme. Seorang penafsir
adalah yang bekedudukan sebagai peneliti, pengamat, dan pengkaji objek yang
dipahaminya.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Data dapat didefenisikan sebagai deskripsi dari suatu dan kejadian yang kita
hadapi (Al-Bahra Bin Ladjamudin, 2005, Hal:8). Data dapat berupa catatancatatan dalam kertas, buku, atau tersimpan sebagai file dalam database. Data akan
menjadi bahan dalam suatu proses pengolahan data. Oleh karena itu, suatu data
belum dapat berbicara banyak sebelum diolah lebih lanjut.
Penelitian kualitatif pada dasarnya merupakan suatu proses penyelidikan, yang
mirip dengan pekerjaan detektif (Miles, 1992). Dari sebuah penyelidikan akan
dihimpun data-data utama dan sekaligus data tambahannya. Sumber data utama
dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan. Sedangkan data tertulis,
foto, dan statistik adalah data tambahan (Moleong, 2007:157).
Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada kondisi yang
alamiah (natural setting), sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih
banyak pada observasi partisipan atau responden (participant observation),
wawancara mendalam, dan dokumentasi. Berikut beberapa teknik pengumpulan
data kualitatif.
43
1. Wawancara
Teknik wawancara dipakai sebagai pengumpulan data jika penelitian ingin
melakukan sebuah studi pendahuluan untuk menemukan masalah yang akan
diteliti. Selain itu, teknik ini juga bisa dilakukan apabila peneliti ingin tahu
suatu hal secara mendalam responden. Teknik wawancara ini didasarkan pada
laporan pribadi atau setidaknya memuat pengetahuan dan keyakinan pribadi.
Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengmbilan data
dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah
dengan bercakap-cakap secara tatap muka.
Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan
pedoman wawancara. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) dalam proses
wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini, interview
dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan isuisu yang harus diliput tampa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin
tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit.
Pedoman
wawancara
digunakan
untuk
mengingatkan
interviewer
mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek
(check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan.
Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana
pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya,
sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara
berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998).
44
Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang menjadi kekuatan
metode wawancara :
a. Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang
diajukan. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer
dengan memberikan penjelasan.
b. Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing
individu.
c. Menjadi stu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah
tidak dapat dilakukan.
Menurut Yin (2003) disamping kekuatan, metode wawancara juga
memiliki kelemahan, yaitu :
a. Mudah terpengaruh terhadap bias yang ditimbulkan oleh kontruksi
pertanyaan yang penyusunanya kurang baik.
b. Mudah terpengaruh terhadap terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon
yang kurang sesuai.
c. Probling yang kurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang
akurat.
d. Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin didengar
oleh interviwer.
Dalam
digabungkan
penelitian
dengan
kualitatif,
teknik
teknik
observasi.
wawancara
Karena,
mendalam
selama
sering
pengamatan
berlangsung, penelitian pun melakukan wawancara dengan responden. Hasil
45
wawancara harus segera dicatat setelah selesai melakukan wawancara. Hal ini
dilakukan untuk menghindari data yang hilang karena lupa tidak tercatat.
2. Observasi
Disamping wawancara, penelitian ini juga melakukan metode observasi.
Menurut Nawawi & Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan
pencatatan secara sistimatik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu
gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian.
Menurut Nasution (1988) observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan.
Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai
dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Dalam penelitian kualitatif,
teknik pengumpulan data dapat dilakukan melalui observasi, sehingga akan
mengetahui fakta dan memahami gejala sosial yang sedang terjadi.
Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memehami proses
terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya.
Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku
subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peneliti dan hal-hal yang
dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil
wawancara.
Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) tujuan observasi adalah
mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung,
orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian di lihat dari
perpektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang diamati tersebut.
46
Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) salah satu hal yang penting,
namun sering dilupakan dalam observasi adalah mengamati hal yang tidak
terjadi. Dengan demikian Patton menyatakan bahwa hasil observasi menjadi
data penting karena :
a. Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam
hal yang diteliti akan atau terjadi.
b. Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi
pada penemuan dari pada pembuktiaan dan mempertahankan pilihan untuk
mendekati masalah secara induktif.
c. Observasi memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh subjek
penelitian sendiri kurang disadari.
d. Observasi memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang
karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara
terbuka dalam wawancara.
e. Observasi memungkinkan peneliti merefleksikan dan bersikap introspektif
terhadap penelitian yang dilakukan. Impresi dan perasan pengamatan akan
menjadi bagian dari data yang pada giliranya dapat dimanfaatkan untuk
memahami fenomena yang diteliti.
Teknik observasi ini sangat bermanfaat dalam penelitian kualitatif. Dengan
teknik ini, peneliti dapat menemukan suatu hal yang tidak terungkap oleh
partisipan, sehingga peneliti memperoleh gambaran secara komprehensif.
3. Dokumen
47
Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk
dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat,
catatan harian, cenderamata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat
utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang
kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam.
Secara detail bahan dokumenter terbagi beberapa macam, yaitu otobiografi,
surat-surat pribadi, buku atau catatan harian, memorial, klipping, dokumen
pemerintah atau swasta, data di server dan flashdisk, data tersimpan di
website, dan lain-lain.
Untuk mendapatkan data-data ynga dibutuhkan, maka peneliti melakukan
wawancara, observasi dan melihat literatur untuk memperkaya data-data di
penelitian yang peneliti lakukan.
Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti berupa analisis teks.
Analisis teks adalah mengumpulkan data dengan menafsirkan teks berdasarkan
berdasarkan kode-kode yang tepat dan telah tersedia. Karena teks dapat diartikan
sebagai “seperangkat tanda yang ditransmisikan dari seorang pengirim kepada
seorang penerima melalui medium tertentu dan dengan kode-kode tertentu”
(Budiman, 1999:115-116)
Ada tiga yang menjadi metode dalam analisis teks ini, yaitu :
1. Analisis Wacana
Istilah wacana (discourse) yang berasal dari Bahasa Latin, discursus, telah
digunakan baik dalam arti terbatas maupun luas. Secara terbatas, istilah ini
menunjuk pada aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang mendasari
48
penggunaan bahasa baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Secara lebih
luas, istilah wacana menunjuk pada bahasa dalam tindakan serta pola-pola
yang menjadi ciri jenis-jenis bahasa dalam tindakan.
Menurut Michael Foucault (1972), wacana kadang kala sebagai bidang
dari semua pernyataan (statement), kadang kala sebagai sebuah individualisasi
kelompok pernyataan, dan kadang kala sebagai praktik regulatif yang dilihat
dari sejumlah pernyataan.Wacana adalah kata yang sering dipakai oleh
masyarakat dewasa ini. Banyak pengertian yang merungkai kata wacana ini.
Dalam lapangan sosiologi, wacana menunjuk terutama dalam hubungan
konteks sosial dari pemakaian bahasa. Dalam pengertian linguistik, wacana
adalah unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat. Menurut Eriyanto
(Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media), Analisis Wacana dalam
pengajaran linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang
lebih memperhatikan pada unit kata, frasa, atau kalimat semata-mata tanpa
melihat hubung kait di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah
kebalikan dari linguistik formal, kerana memusatkan perhatian pada tahap di
atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada tahap yang
lebih besar dari kalimat.
Manakala maksud analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial pula
diertikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip
dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya.
Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian
49
subjek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah
yang dipelajari dalam analisis wacana.
Ada tiga pandangan mengenai bahasa dalam bahasa. Pandangan pertama
diwakili kaum positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana
menggambarkan hubungan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana
diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis
dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara
gramatikal).
2. Analisis Framing
Analisis Framing adalah bagian dari analisis isi yang melakukan penilaian
tentang wacana persaingan antarkelompok yang muncul atau tampak di media.
Dikenal konsep bingkai, yaitu gagasan sentral yang terorganisasi, dan dapat
dianalisis melalui dua turunannya, yaitu simbol berupa framing device dan
reasoning device. Framing device menunjuk pada penyebutan istilah tertentu
yang menunjukkan “julukan” pada satu wacana, sedangkan reasoning device
menunjuk pada analisis sebab-akibat. Di dalamnya terdapat beberapa
‘turunan’, yaitu metafora, perumpamaan atau pengandaian. Catchphrases
merupakan slogan-slogan yang harus dikerjakan. Exemplar mengaitkan
bingkai dengan contoh, teori atau pengalaman masa silam. Depiction adalah
“musuh yang harus dilawan bersama”, dan visual image adalah gambargambar yang mendukung bingkai secara keseluruhan. Pada instrumen
penalaran, Roots memperlihatkan analisis sebab-akibat, Appeals to principles
50
merupakan premis atau klaim moral, dan Consequences merupakan
kesimpulan logika penalaran.
3. Analisis Semiotika
Menganalisis sajak adalah usaha menangkap dan memberi makna kepada
teks sajak. Karya sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang
mempergunakan medium bahasa. Bahasa sebagai medium karya sastra sudah
merupakan sistem semiotik atau ketandaan , yaitu sistem ketandaan yang
mempunyai arti.
Dalam lapangan semiotik, yang penting yaitu lapangan sistem tanda,
adalah pengertian tanda itu sendiri. Dalam pengertian tanda ada dua prinsip,
yaitu penanda (signifier) atau yang menandai, yang merupakan bentuk tanda,
dan petanda (signified) atau yang ditandai, yang merupakan arti tanda.
Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, ada tiga jenis tanda pokok
yaitu ikon, indeks dan simbol. Hubungan antara ketiga tanda ini bersifat
arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Sebuah sistem tanda yang
menggunakan lambang adalah bahasa.
Karya sastra merupakan sistem tanda yang berdasarkan konvensi sastra.
Karena sastra merupakan sistem tanda tingkat kedua. Dalam sastra konvensi
bahasa disesuaikan dengan konvensi sastra.dalam karya sastra kata-kata
ditentukan oleh konvensi sastra, sehingga timbul arti baru yaitu arti sastra.
Jadi arti sastra itu merupakan arti dari arti, untuk membedakan arti bahasa
sebagai sistem tanda tingkat pertamadsisebut meaning dan arti sastra disebut
makna (significance).
51
Makna sajak bukan semata-mata arti bahasanya, melainkan arti bahasa dan
suasana, perasaan, intensitas arti, arti tambahan, daya liris, pengertian yang
timbul oleh konvensi sastra, misalnya tipografi, enjabement, sajak, barik sajak,
ulangan, dan lainnya lagi.
Makna sajak adalah arti yang timbul oleh bahasa yang disusun
berdasarkan struktur sastra menurut konvensinya, yaitu arti yang bukan
semata arti bahasa, melainkan berisi arti tambahan berdasarkan konvensisastra
yang bersangkutan. Memberi makna sajak berarti mencari tanda-tanda yang
memungkinkan timbulnya makna sajak, maka menganalisis sajak itu tidak lain
adalah memburu tanda-tanda, dikemukakan oleh Culler dalam The Pursuit of
Sign (1981).
Studi semiotik sastra adalah usaha untuk menganalisis sebuah sistem
tanda-tanda dan karena itu menentukan konvensi-konvensi apa yang
memungkinkan karya sastra mempunyai arti (Preminger, 1974: 981). Maka
dalam menganalisis sajak terutama dicari tanda-tanda yang lain yang
merupakan konvensi tambahan dalam puisi.
3.4 Uji Validitas
Validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen
bersangkutan yang mampu mengukur apa yang akan diukur (Arikunto, 1995).
Menurut ahli lain juga validitas merupakan tingkat keandalah dan kesahihan
alat ukur yang digunakan. Intrumen dikatakan valid berarti menunjukkan alat
ukur yang dipergunakan untuk mendapatkan data itu valid atau dapat
52
digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya di ukur (Sugiyono,
2004:137). Dengan demikian, instrumen yang valid merupakan instrumen
yang benar-benar tepat untuk mengukur apa yang hendak di ukur.
Beberapa teknik yang digunakan dalam uji validitas sebagai berikut:
1. Pendekatan Modus Operandi (MO)
Teknik ini dipinjam dari dunia detektif dalam menelusuri sebuah
kejadian. Seorang detektif akan sangat cermat datang di tempat kejadian
perkara (TKP), lalu berupaya menemukan siapa yang terlibat sebagai saksi
dan pelaku kejahatan. Dalam penelitian kualitatif, ada sejumlah ancaman
yang sejauh tertentu dapat dianganggap sebagai variabel yang harus di
control. Dalam metode MO peneliti menganggap ancaman itu sebagai
kejadian dan mencermatinya apa benar-benar terjadi dalam fenomena yang
sedang diteliti. Masalah utama dalam mengaplikasikan MO ini adalah
sulitnya mengidentifikasi penjelasan atau interpretasi alternatif yang
kemudian satu demi satu disingkirkan. Ini semua bermula dari kenyataan
bahwa segala penjelasan atau interpretasi alternative itu sangat bergantung
pada teori (theory-dependent) (Maxwell, 1996).
2. Triangulasi
Teknik ini merujuk pada pengumpulan informasi atau data dari
individu dan latar dengan menggunakan berbagai metode. Triangulasi juga
berfungsi untuk mengurangi bias dalam metode yang melekat pada sebuah
metode dan memudahkan melihat keluasan yang peneliti kemukakan.
Yang perlu dicermati adalah bahwa triangulasi tidak menjamin bebasnya
53
ancaman terhadap validitas. Maka penelitian ini harus menghindari dua
hal: (1) jangan menggunakan metode yang memiliki bias yang sama, dan
(2) jangan menggunakan metode yang berbeda dengan tujuan untuk
mendukung kesimpulan anda (Alwasilah,1991). Triangulasi ini dicapai
dengan cara observasi, teori atau literatur, dan wawancara ahli.
Peneliti menggunakan triangulasi sebagai teknik untuk mengecek
keabsahan data. Dimana dalam pengertiannya triangulasi adalah teknik
pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam
membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moloeng,
2004:330)
Triangulasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda
(Nasution, 2003:115) yaitu wawancara, observasi dan dokumen.
Triangulasi ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data juga
dilakukan untuk memperkaya data. Menurut Nasution, selain itu
triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti
terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif.
Denzin (dalam Moloeng, 2004), membedakan empat macam
triangulasi diantaranya dengan memanfaatkan penggunaan sumber,
metode, penyidik dan teori. Pada penelitian ini, dari keempat macam
triangulasi tersebut, peneliti hanya menggunakan teknik pemeriksaan
dengan memanfaatkan sumber.
Triangulasi dengan sumber artinya membandingkan dan mengecek
balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu
54
dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Patton,1987:331).
Adapun untuk mencapai kepercayaan itu, maka ditempuh langkah sebagai
berikut :
•
Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
•
Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa
yang dikatakan secara pribadi.
•
Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi
penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
•
Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai
pendapat dan pandangan masyarakat dari berbagai kelas.
•
Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang
berkaitan.
3. Member checks
Ada masukan atau feedback yang sangat penting dan tinggi harganya,
yakni memasukan yang diberikan oleh individu yang menjadi responden
kita. Nampaknya ini teknik yang paling ampuh untuk: (1) menghindari
salah tafsir terhadap jawaban responden sewaktu di wawancara, (2)
menghindari salah tafsir terhadap perilaku responden sewaktu di observasi,
dan (3) mengkonfirmasi perspektif emik responden terhadap suatu proses
yang sedang berlangsung. Perlu diingat bahwa apa yang dikatakan
responden belum tentu benar. Yang jelas adalah bahwa jawaban mereka
adalah bukti atau alat validitas kebenaran dari pernyataan yang peneliti
ungkapkan. Peneliti juga harus berbagi pengalaman penelitian dengan
55
responden, sehingga responden dapat (1) menverifikasi bahwa peneliti
telah merefleksikan perspektif emik, (2) memberi tahu peneliti bagian
mana dari laporan penelitian yang mungkin menimbulkan masalah politik
atau etis manakala dipublikasikan, dan (3) membantu peneliti menemukan
interpretasi baru (Hammerskey & Atkinson, 1993; Maxwell, 1996; Guba
& Lincoln, 1989; Glesne & Peshkin, 1992).
Dari beberapa teknik untuk menguji validitas di atas, maka peneliti
menggunakan dua teknik dalam penelitian, yaitu teknik triangulasi dan teknik
mengecek ulang (member check).
3.5 Objek Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2009:29), objek penelitian adalah variabel
penelitian, yaitu sesuatu yang merupakan inti dari problematika penelitian.
Sedangkan benda, hal atau orang tempat data untuk variabel penelitian
melekat dan yang dipermasalahkan disebut objek (Suharsimi Arikunto, 200:116).
Menurut Sugiono menyatakan bahwa, definisi objek penelitian adalah sebagai
berikut: “Objek penelitian merupakan Suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang,
objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk di pelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya” (2009:38). Berdasarkan
definisi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa objek penelitian merupakan
sesuatu hal yang akan diteliti dengan mendapatkan data untuk tujuan tertentu dan
kemudian dapat ditarik kesimpulan.
56
Dari pengertian di atas, maka objek dari penelitian ini adalah Logo Seni Ilmu
Olahraga Beladiri Tarung Derajat
Logo Tarung Derajat
Berikut bagian-bagian dari Logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri Tarung Derajat:
Tabel 3.1
Bagian-bagian Logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri Tarung Derajat
No
Nama
1
Kepalan Tangan
2
Tapal Kuda dan 5
kotak didalamnya
Simbol
57
3
Petir
4
Warna kuning
5
Warna Merah
6
Warna Hitam
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Temuan Penelitian
4.1.1 Tarung Derajat
Seni Ilmu Olahraga Beladiri Tarung Derajat dideklarasikan kelahirannya
di bumi persada Indonesia tercinta, di Bandung 18 Juli 1972 oleh peciptanya
seorang putra bangsa yaitu Guru Haji Achmad Dradjat yang memiliki nama
julukan dengan panggilan Aa Boxer. Nama panggilan Aa Boxer diterapkan
dan melekat pada diri Achmad Dradjat, setelah dirinya mampu dan berhasil
menggunakan dan menerapkannya Seni Pembelaan Diri karya ciptanya di
dalam berbagai bentuk perkelahian, dimana butuh dan harus berkelahi atau
bertarung dalam rangka berjuang untuk mempertahankan kelangsungan hidup,
menegakan kehormatan dan membela kemanusiaan dalam kehidupan seharihari selaras dengan kodrat hidupnyanya.
Guru Haji Achmad Dradjat menciptakan dan melahirkan ilmu beladiri
secara alami, mandiri, dan tersendiri serta kejadian-kejadian hidup yang
terjadi selalu dinikmati dengan totalitas berserah diri kepada Tuhan YME
dengan tindakan-tindakan yang Realistis dan Rasional, dari hasil perjuangan
hidup pribadi seperti itu, mencuat sebuah nama untuk diterapkan pada Seni
Ilmu Olah Raga Bela Diri Karya Ciptanya, yaitu : "TARUNG DERAJAT"
58
59
(Tarung, Bertarung adalah Berjuang dan Derajat adalah Harkat martabat
kemanusiaan)
Tarung Derajat itu adalah Ilmu Olahraga Seni Pembelaan Diri yang
memanfaatkan Senyawa Daya Gerak Otot, Otak serta Nurani secara Realistis
dan Rasional, didalam proses pembelajaran dan pemberlatihan gerakangerakan seluruh anggota dan organ tubuh serta bagian-bagian penting
lainnnya, dalam rangka memiliki dan menerapkan 5 (lima) unsur daya moral,
antara lain yaitu : Kekuatan - Kecepatan - Ketepatan - Keberanian dan
Keuletan, yang melekat dengan Dinamis dan Agresif dalam suatu Sistem
Ketahanan / Pertahanan diri serta Pola Teknik, Taktik dan Strategi Bertahan
menyerang yang Praktis dan Efektif bagi suatu Pembelaan Diri. Untuk
digunakan terutama pada upaya Pemeliharaan Keselamatan, Kesehatan dan
Kesempatan Hidup sebagai Manusia yang berhakekat, seperti mampu
menghindari dan menjauhkan sikap hidup permusuhan dan kesombongan,
pencegahan dan pemulihan penyakit fisik dan mental, serta mampu
mensyukuri kehidupan dan berbuat amal kebaikan bermanfaat bagi
kemanusiaan.
Tarung Derajat itu adalah logika dan tindakan moral yang memanfaatkan
senyawa daya gerak otot, otak serta nurani berasal dan diperoleh dari proses
Fikiran Rasa dan Keyakinan atas dan tentang berbagai macam sifat, motif dan
bentuk serta cara datang kemudian menerima dan menyikapi serta menjawab
peristiwa-peristiwa terjadinya suatu kejadian hidup yang dialami dan teralami
60
sendiri di dalam menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan bidang
garapan hidup yang ditekuni secara realistis dan rasional pada setiap tatanan
ruang lingkup, tataran dan tingkatan kehidupan yang diganti selaras dengan
adab-adabnya dalam rangka berinteraksi hidup keluarga, masyarakat, hingga
bernegara dan berketuhanan YME.
Rangkaian dari suatu proses pengalaman hidup tersebut ditata dalam
bentuk paduan imajinasi yang sarat dengan hasrat perjuangan dan kerja keras
untuk merubah nasib, tertata dalam bentuk paduan kreativitas. Paduan
imajinasi menyatu dengan paduan kreativitas melahirkan suatu tindakan hidup
yang praktis dan efektif. Dan tindakan moral yang dilakukan dengan
konsisten pada setiap menghadapi tantangan dan tuntutan hidup, merefleksi
dalam paduan Keberanian Moral.
4.1.2 Logo Tarung Derajat
Dalam Kamus Komunikasi yang disusun oleh Prof. Dr. Onong Uchyana
Effendy, MA. diperoleh pengertian, bahwa logo adalah : ”Huruf tunggal atau
gabungan huruf atau gambar yang dilukis secara khusus yang mengandung
makna tertentu sebagai lambang perusahaan, lembaga, badan, atau organisasi
lainnya (Effendy, 1989:210).
Logo sebagai identitas perusahan merupakan salah satu konsep
komunikasi perusahaan yang dapat dievaluasi maknanya, agar dapat diketahui
sampai seberapa besar pemirsa memperhatikan, memahami, dan menerima
pesan logo sebagai pesan nirverbal (nirverbal symbol).
61
Melalui logo yang dapat peneliti kategorikan sebagai simbol, terdapat
pesan komunikasi sarat dengan makna, baik yang terlihat jelas maupun
tersembunyi, ide-ide dan pikiran yang terdapat di dalam logo. Secara
sederhana dapat peneliti katakan bahwa simbol tersebut mewakili pemikiran
tersembunyi yang hendak disampaikan oleh komunikator atau pembuat logo.
Demikian halnya dengan logo yang ditampilkan oleh Logo Seni Ilmu
Olahraga Beladiri Tarung Derajat. Logo berupa kepalan tangan dengan diapit
oleh petir di sisi kiri dan kananya serta tapal di belakang kepalan tangannya
yang mengandung makna tersendiri. Maka dari itu penulis mencoba untuk
menggali makna tersembunyi yang terkandung didalam logo tersebut melalui
sebuah penelitian.
Dalam menginterpretasikan logo tersebut, peneliti menggunakan kerangka
analisis semiotika Roland Barthes. Hal ini sesuai dengan identifikasi masalah
yang mempertanyakan tentang makna denotasi, konotasi, serta mitos yang
terkandung dalam Logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri Tarung Derajat.
Untuk menemukan dan menjelaskan makna yang ada dalam Logo Seni
Ilmu Olahraga Beladiri Tarung Derajat tersebut, peneliti mengelompokkannya
menjadi beberapa pembahasan sebagai berikut:
•
Memisahkan tanda-tanda dalam logo. Seperti gambar atau bentuk visual
dan warna. Dengan memisahkaan tanda-tanda yang terdapat dalam logo
tersebut
memudahkan
peneliti
dalam
menganalisis
makna
dan
62
menafsirkan pesan dari masing-masing tanda tersebut. Dimana pada
masing-masing tanda tersebut terdapat pesan di dalamnya.
•
Menganalisis tanda-tanda tersebut, dimana akan diuraikan berdasarkan
strukturnya, yaitu penanda dan petanda. Pada tingkat pemaknaan denotasi,
pesan dikategorikan sebagai penanda dan petanda sehingga dapat
dihasilkan makna literatur atau makna eksplisit.
•
Kemudian pada langkah analisis selanjutnya, makna denotasi yang telah
diperoleh pada tahap pemaknaan pertama menjadi penanda pada tahap
dua. Dengan penanda tersebut dapat dilakukan tahap pemaknaan
konotatif. Dari sini dapat juga kita lihat titik konotasi dengan tujuan
menemukan
suatu
ideologi
dalam
merekonstruksi
suatu
sistem
signifikansi secara bertingkat sehingga terlihat keterkaitan antara tanda di
dalam bentuk visual logo.
•
Mengungkap atau membongkar mitos pada tanda di dalam teks dan
bentuk visual logo dan slogan yang diteliti.
Berdasarkan data yang diperoleh dan melihat dari logo yang ditampilkan,
ada beberapa tanda yang terdapat dalam logo tersebut. Seni Ilmu Olahraga
Beladiri Tarung Derajat memiliki lambang perguruan yang menjadi simbol
utama Tarung Derajat yang disebut juga PRIBADI MANDIRI.
63
Logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri Tarung Derajat yaitu logo yang berdiri
bebas yang biasanya tidak memuat nama produk atau perusahaan, tetapi
memiliki asosiasi langsung dengan nama, produk atau wilayah aktifitasnya.
Hal ini dapat kita lihat dari tanda-tanda yang terdapat didalamnya, yaitu:
•
Gambar yang berbentuk Kepalan Tangan Dua Buah Lingkaran. Bentuk
visualnya ditunjukkan pada bagian tengah logo depan Seni Ilmu Olahraga
Beladiri Tarung Derajat.
•
Lingkaran tebal ¾ Lima rongga putih dalam tapal. Bentuk visualnya
ditunjukkan pada bagian belakang kepalan tangan Seni Ilmu Olahraga
Beladiri Tarung Derajat.
•
Gambar yang berbentuk petir. Bentuk visualnya ditunjukkan pada kedua
sisi Logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri Tarung Derajat.
64
•
Warna kuning, hitam, dan merah. Dalam Logo Seni Ilmu Olahraga
Beladiri Tarung Derajat warna yang digunakan adalah warna kuning,
hitam, dan merah.
4.2 Analisis
4.2.1 Semiologi Logo Tarung Derajat
Roland Barthes mengembangkan semiotika menjadi dua tingkatan pertandaan,
yaitu tingkat denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang
menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna
eksplisit, langsung, dan pasti. Konotasi adalah tingkat pertandaan yang
menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna
yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti.
Kemudian ranah penting lainnya yang tidak bisa dilepaskan adalah mitos.
Menurut Molinowski, mitos adalah ”suatu pertanyaan purba tentang realitas yang
lebih relevan”. Dalam nada yang sama, Langer menilai bahwa mitos sebagai
”pandangan yang serius jauh ke muka tentang kebenaran yang paling mendasar.”
Sementara dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi,
yang disebutnya mitos dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan
pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu.
Barthes berbicara tentang konotasi sebagai suatu ekspresi budaya. Dan
65
mewujudkan dirinya dalam bentuk yang bermacam-macam. Salah satu bentuk
itulah yang menjadi mitos dalam kehidupan bermasyarakat.
4.2.2 Analis Denotasi dan Konotasi
Makna denotatif bersifat langsung, yaitu khusus yang terdapat dalam sebuah
tanda, dan pada intinya dapat disebut sebagai gambaran sebuah petanda
(Berger,2000b:55). Konotasi atau makna konotatif disebut juga makna
konotasional, makna emotif, atau makna evaluatif (Keraf, 1994:29). Makna
konotatif, seperti itu disinggung, adalah suatu jenis makna yang mana stimulus
respons mengandung nilai-nilai emosional. Makna konotstif sebuat kata
dipengaruhi dan ditentukan oleh lingkungan, yaitu tekstual dan lingkungan
budaya (Sumardjo & Saini,1994:126).
Berikut makna denotasi dan konotasi yang terdapat di dalam logo Seni Ilmu
Olahraga Beladiri Tarung Derajat :
Tabel 4.1
Denotasi dan Konotasi logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri Tarung Derajat
No
Nama
1.
Kepalan Tangan
Denotasi
Konotasi
1. Kepalan tangan adalah
lambang gerakangerakan bela diri.
2. Dua buah lingkaran
1. Kepalan Tangan
2. Dua Buah Lingkaran
bermakna bahwa
66
3. Tangan Memukul ke Depan
gerakan-gerakan
4. Warna Kuning
Tarung Derajat
didasarkan pada
kemampuan otok dan
otak.
3. Tangan memukul ke
depan melambangkan
bahwa tarung derajat
senantiasa menuju ke
masa depan yang
lebih baik.
4. Warna kuning adalah
simbol angin.
2.
Tapal Kuda dan 5
1. Lingkaran tebal 3/4
kotak didalamnya
ini melambangkan
wadah/ tempat untuk
pembinaan diri.
2. Lima kotak putih
1. Lingkaran tebal 3/4
melambangkan
2. Lima rongga putih dalam
Penggodokan/pembin
tapal
aan yang dilakukan
67
3. Warna hitam
berdasarkan atas lima
4. Warna Putih
unsur daya gerak
yaitu kekuatan,
kecepatan, ketepatan,
keberanian dan
keuletan.
3. Warna hitam adalah
simbol tanah. Lima
unsur tersebut
disimpulkan oleh lima
kotak putih.
4. warna putih adalah
lambang air.
3.
Petir
1. Petir melambangkan
suatu cita-cita yang
luhur serta tekad yang
membara didukung
1. Petir
oleh semangat yang
2. Warna merah
tinggi.
2. Warna merah adalah
simbol api.
68
Logo ini mengingatkan kepada super hero yang bernama flash. logo ini jika
dilihat sekilas mungkin berkaitan dengan super hero yang bernama flash atau
bicara tentang olah raga yang berkaitan dengan tapal kuda. Tangan memegang
kilat itu akan menghubungkan pengetahuan kita kepada gambar tangan
memegang kilat seperti zeus, bicara kekuasaan, keagungan, dan hal yang tinggitinggi. Disitu juga ada seperti gambar tapal kuda, ini bisa dikaitkan dengan sifatsifat kuda seperti bekerja keras, kekuatan, mobil bergerak 1000 tenaga kuda.
Temuan denotasi seperti pada tabel di atas memiliki pemaknaan bermacammacam. Pemaknaan tersebut dijelaskan dalam konotasi. Pertama adalah kepalan
tangan yang berwarna kuning ke arah depan. Lambang kepalan tangan ini
merupakan gerakan-gerakan bela diri. Dua buah lingkaran bermakna memiliki arti
gerakan-gerakan Tarung Derajat didasarkan pada kemampuan otok dan otak.
Tangan memukul ke arah depan merupakan lambang tarung derajat senantiasa
menuju ke masa depan yang lebih baik. Warna kuning adalah simbol angin yang
mengartikan kekuatan. Kedua adalah Lingkaran tebal 3/4 warna hitam dengan
lima kotak putih. Lambang Lingkaran tebal 3/4 warna hitam dengan lima kotak
putih atau yang lebih terlihat seperti tapal kuda ini mengandung makna berupa
wadah atau tempat untuk pembinaan diri. Warna hitam adalah simbol tanah.
Penggodokan atau pembinaan yang dilakukan berdasarkan atas lima unsur daya
gerak yaitu kekuatan, kecepatan, ketepatan, keberanian dan keuletan. Lima unsur
tersebut disimpulkan oleh lima kotak putih. Sedangkan warna putih adalah
69
lambang air yang mengandung arti hati nurani dan cita-cita yang luhur. Ketiga
adalah Sepasang kilat warna merah. Sepasang kilat warna merah melambangkan
suatu cita-cita yang luhur serta tekad yang membara didukung oleh semangat
yang tinggi. Warna merah adalah simbol api yang mengartikan keberanian.
4.2.3 Mitologi Logo Tarung Derajat
Perspektif Barthes tentang mitos ini menjadi salah satu ciri khas semiologinya
sekaligus juga membuka ranah baru dalam analisis semiotik, yakni penggalian
lebih jauh dari penandaan untuk mencapai mitos yang bekerja dalam realitas
keseharian masyarakat. Dalam bentuk praktisnya, Barthes mencoba membongkar
mitos-mitos modern masyarakat melalui berbagai kajian kebudayaannya, seperti
fotografi, fashion, musik, film, pertunjukkan, bahkan olahraga dan makanan
(Kurniawan, 2001:23).
Barthes dalam bukunya Mythologies, menekankan tugas penting para ahli
semiotik untuk membuat demitifikasi atas apa yang terkatakan dan tak terkatakan
dalam representasi budaya populer. Ini dilakukan dengan menyingkap bias mitos
yang diciptakan atau diperkuat ketika subjek kebudayaan itu sendiri mengenakan
bentuk tekstual sistem-sistem tanda dan kode-kode. Seperti diutarakan Barthes,
kebenaran mitos mencirikan “apa-yang-berlangsung-tanpa-perkataan”. Logika
kultural yang dikembangkan lewat mitologi berupaya mereduksi pelbagai
perbedaan tafsir dan membatasi kelimpah-ruahan makna. Mitologi menghidupkan
realitas,
menerjemahkan
dan
menaturalisasikannya
bagi
kita,
dengan
70
menyuntikkan taraf-taraf signifikansi ideologis terhadap realitas itu (Trifonas,
2003:7-9).
Mitos adalah kebutuhan manusia. Itulah sebabnya mitos dieksploitasi sebagai
media komunikasi, sebagaimana juga dikatakan Roland Barthes dalam bukunya
Mythologies (1993). Dalam buku tersebut ia mengatakan bahwa sebagai bentuk
simbol dalam komunikasi, mitos bukan hanya diciptakan dalam bentuk diskursus
tertulis, melainkan sebagai produk sinema, fotografi, advertensi, olah raga, dan
televisi. Dikatakan oleh Roland Barthes mitos pun diciptakan dalam olahraga.
Seperti halnya dalam olahraga beladiri Tarung Derajat. Logo Seni Ilmu Olahraga
Beladiri Tarung Derajat memiliki mitos yang tersembunyi.
Seperti yang digambarkan dalam logo Tarung Derajat ini. Pertama dilihat dari
warna hitam, warna merah, dan warna kuning yang terdapat di dalam logo. Warna
merah itu action, mencerminkan kemarahan, keberanian. Warna merah juga dapat
menimbulkan kesan bahwa gambar halilintar ada di kepalan tangan, dan di
kepalan tangan ada dua lingkaran. Kebiasaan ini yang peneliti mengetahui bahwa
ini melambangkan semacam salah satu bentuk kekerasan.
Melihat tangan yang mengepal bisa dikaitkan dengan unsur kekerasan, karena
mengepal menunjukkan aksi, menonjok dan sebagainya. Mulai dari bulatan dua
yang ada di kepalan tangan yang merupakan satu kesatuan, kekerasan itu muncul
karena menandakan bahwa beladiri ini akan melalui suatu proses latihan push up
secara terus-terusan yang menyebabkan timbul bekas dua tonjolan atau ketika
memukul samsak. Dua bulatan ini posisinya lebih depan dan lebih keras, sehingga
71
disamping push up dan suka memukul dalam proses latihan, maka yang kemudian
dapat dilihat kepalan kemudian ada tonjolan dua bahwa itu mengesankan
semacam bentuk kekerasan, tetapi kekerasan yang dapat dikatakan sebagai
sistemisasi bahwa kekerasan itu bisa dengan lambang tangan seperti ini bisa
kekerasan itu menakutkan.
Pertama Maskulinitas muncul dari paduan merah dan hitam selain warna
kuning dalam logo ini memang sudah menggambarkan maskulinitas, walaupun
kesan ini dapat terbantahkan, tapi jika peneliti memposisikan sebagai laki-laki
sudah bisa terwakili oleh semua. Melihat nama boxer atau tarung derajat ada
tarung dan ada boxer itu sudah ada jarak secara psikologis. Kalau dunia ini adalah
dunia yang penuh kekerasan kalaupun ada sebagian wanita yang masuk ikuti ke
dalam beladiri ini mungkin juga punya jiwa maskulinitas. Kedua dari pengamatan
ini menandakan bahwa gambar ¾ lingkaran warna hitam dengan lima kotak putih
ini seperti sepatu kuda (tapal kuda), ini merupakan alat untuk melindungi kaki,
tapi kaki kuda, kaki kuda itu identik dengan tendangan. Tapal kuda bisa
mencerminkan maskulinitas karena kuda berbicara kejantanan, jenis tangan yang
kaku. Tendangan kuda ini representasi dari sebuah gerakan atau semacam
gerakan-gerakan kaki atau tendangan, dan tendangan itu selalu identik dengan
kaki, kaki yang menendang itu identik dengan laki-laki. Tetapi warna kuning
memiliki kesan lembut, ada warna soft dan mungkin karena bukan tanpa
pertimbangan, mungkin lihat lagi di AD/RT ada makna lambang-lambang kenapa
pilih kuning, tapi kalau kemudian kuning ini ada dari segi tinjauan-tinjauan
72
sekilas ini hanya untuk memadukan komposisi warna saja, bahwa kuning ini ada
merah ada hitam akan masuk sebagaimana warna hitam dan merah itu merupakan
kombinasi yang sesuai. Bahwa halilintar bisa digambarkan tidak seperti ini
misalnya blur atau memakai gradasi, tapi ini digambarkan berbentuk sudut yang
tajam, itu memberikan semacam ketegasan bahwa halilintar ini diikat atau
dibatasi dengan sesuatu yang tegas atau batas. Katakanlah ini merupakan percikan
api, kalau dikaitkan dengan dunia laki-laki disini digambarkan bahwa laki-laki itu
walaupun mengeluarkan semacam gerakan, kemudian gerakan itu dilukiskan
pukulan atau tendangan, pukulan ini tangan dan tapal kuda ini kaki, ini
menggambarkan perpaduan adalah bahwa kaki memiliki tendangan yang
menggelegar dan jika tangan, bertangan besar menggelegar seperti halilintar, jadi
itu mulukiskan kekuatan, dan kekuatan itu selalu hadir identik dengan laki-laki.
Disini sebenarnya ada semacam bahasa tubuh, ini merupakan gambaran bagianbagian tubuh walaupun tidak langsung menggambarkan tubuh. Jadi intinya bahwa
beladiri ini diwakili oleh tangan dan kaki, dan kaki ini ditandai dengan tapal kuda
ini. Sebagaimana sebuat teks atau tulisan sebetulnya ketika lambang ini sudah
dipublikasikan semua masyarakat bebas untuk menilai apa saja, pembuat logo
tidak bisa (penolakan), karena bebas untuk menafsirkan sesuai apa yang
masyarakat ketahui.
Aturan umum yang tidak tertulis yang mengatakan bahwa laki-laki sejati
pantang untuk menangis, harus tampak tegar, kuat, pemberani, garang serta
berotot. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa laki-laki harus menjadi figur
73
pelindung atau pengayom ataupun yang mengatakan bahwa laki-laki akan sangat
laki-laki apabila identik dengan rokok, alkohol dan kekerasan (Donaldson, 1993:
1).
Melihat asal usul terbentuknya Tarung Derajat dimulai dengan kesan
kekerasan atau pertarungan antar geng. Dari bentuk lambang dapat memiliki
makna ketika dikonvensikan, konvensi yang tidak eksplisit atau konvensi yang
tidak tertulis. Sering kali dapat di gambarkan berupa bentuk pukulan, atau juga
bentuk kekerasan. Bahwa kekerasan dalam olah raga ini sebenarnya ada bentuk
atau lambang-lambang kekerasan (dalam pengertian netral) bukan kekerasan
untuk mukul bahwa ini sebuah senjata tangan kosong, di tangan ini ada lambang
merah berarti halilintar berarti gledek, berarti menggelegar, kalau di pukul berarti
sama dengan pukulan gledek. Kemudian lingkaran ¾ warna hitam dengan lima
kotak putih di dalamnya atu tapal kuda, tapal kuda ini bersifat maskulinitas jika
dapat dilihat dari iklan-iklan rokok Marlboro maka yang akan muncul maskulin
dengan penggambaran melalui tambang, topi koboy, kuda. Kuda itu jika berlari
selalu menggunakan tapal kuda, secara tidak langsung bahwa disana ada celana
jeans, tambang, tapal kuda, dan kayu, semua biasanya diasosiasikan dengan dunia
laki-laki. Artinya lambang maskulinitas itu bisa muncul meskipun kuda betina
juga memakai tapal kuda.
Kesan maskulinitas ini bisa muncul dari bentuk tangan yang kaku dan kotak,
dan di kedua petir yang memiliki sisi-sisi tajam. Coba jika melihat majalah
femina, dari segi huruf harus mengesankan feminisme, kesan feminisme nya
74
harus muncul, jarang misalnya logo-logo itu muncul dengan keras, jadi pilihan
huruf, warna huruf, kenapa harus warna pink. Itu merupakan kesepakatankesepakatan tidak tertulis.
Sebenarnya ada dua yang mencerminkan maskulinitas, yang pertama adalah
dua lingkaran di tangan dan yang kedua adalah tapal kuda. Jadi lingkaran ini tidak
dapat dipecah dan merupakan satu kesatuan dengan tangan warna kuning.
Persepsi merupakan inti komunikasi, dan inti persepsi itu sendiri adalah
interpretasi. Aku ramah bukan berarti takut, aku tunduk bukan berarti takluk,
tetapi filosofi ini tidak keluar dalam logo ini. Ini terkesan menyerang bukan
bertahan, tetapi di sini tidak ada gambar perisai. Ketika tangan lawan sudah
tertangkap maka lawan akan mati dan tidak bisa berbuat apa-apa. Perpaduan 3
lambang (kepalan tangan, petir, dan tapal kuda), itu semua menunjukkan
kekerasan.
Semua menganggap gambar lingkaran ¾ berwarna hitam ini adalah tapal
kuda, tapi ini di modifikasi. Disini terjadi benturan, ini merupakan sepatu, yang
berfungsi menahan benturan, dengan demikian dapat mengkonotasikan ini
merupakan perisai secara tidak langsung, perisai untuk melindungi kuku-kuku
kuda. Tapi ini tidak dapat menggambarkan perisai seperti tameng secara
langsung, ini lebih menggambarkan menyerang, tapi perisai yang diciptakan oleh
gerakan itu sendiri, dalam kata lain dia (kuda) melangkah, berlari, melompat. Dari
melompat itu harus menempel ke jalan, dan tempelan ini yang akan menyebabkan
kekuatan.
75
Perempuan juga bisa masuk ke dunia bela diri, perempuan ingin menunjukkan
kekuatan untuk akrab dengan dunia bela diri, karena sebagian perempuan dari
kepribadiannya yang keras sehingga bisa masuk kedunia seperti ini. Kalaupun ini
dianggap dunia maskulinitas, bahwa wanita bisa bersikap dan berperilaku
sebagaimana laki-laki, karena tidak ada larangan untuk mereka.
Setelah peneliti melakukan penelitian terhadap logo ini, muncul beberapa sifat
maskulinitas yang dikemukakan oleh Beynon (Nasir, 2007). Pertama No Sissy
Stuff: seorang laki-laki sejati harus menghindari perilaku atau karakteristik yang
berasosiasi dengan perempuan. Kedua Be a Sturdy Oak: kelelakian membutuhkan
rasionalitas, kekuatan, dan kemandirian. Seorang laki-laki harus tetap bertindak
kalem dalam berbagai situasi, tidak menunjukkan emosi, dan tidak memunjukkan
kelemahannya. Ketiga Give em Hell: Laki-laki harus mempunyai aura keberanian
dan agresi, serta harus mampu mengambil risiko walaupun alasan dan rasa takut
menginginkan sebaliknya. Keempat adalah sifat kelaki-lakian yang macho,
kekerasan, dan hooliganism.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melalui serangkaian pembahasan yang mendalam mengenai
representasi maskulinitas pada Logo Seni Ilmu Olahraga Beladiri Tarung Derajat,
maka peneliti akan menarik kesimpulan berdasarkan identifikasi yang telah
dijelaskan pada bab pertama, yakni sebagai berikut:
1. Makna Denotasi yang terdapat dalam Logo Tarung Derajat dilihat dari
Kepalan tangan yang berwarna kuning ke arah depan. Lambang kepalan
tangan ini merupakan gerakan-gerakan bela diri. Dua buah lingkaran
bermakna memiliki arti gerakan-gerakan Tarung Derajat didasarkan pada
kemampuan otot dan otak.
2. Makna Konotasi yang terdapat dalam Logo Tarung Derajat dilihat dari
Lingkaran tebal 3/4 warna hitam dengan lima kotak putih. Lambang
Lingkaran tebal 3/4 warna hitam dengan lima kotak putih atau yang lebih
terlihat seperti tapal kuda ini mengandung makna berupa wadah atau tempat
untuk pembinaan diri. Penggodokan atau pembinaan yang dilakukan
berdasarkan atas lima unsur daya gerak yaitu kekuatan, kecepatan, ketepatan,
keberanian dan keuletan. Sepasang kilat warna merah melambangkan suatu
cita-cita yang luhur serta tekad yang membara didukung oleh semangat yang
tinggi.
76
77
3. Kemudian aspek mitos, yang terdapat di dalam gambar Logo Tarung Derajat
ini maskulinitas muncul dari warna logo, gambar kepalan tangan, tapal kuda,
dan petir. Semua gambar yang terdapat dalam Logo Tarung Derajat ini
melambangkan kekerasan. Tetapi, setelah melakukan penelitian ini, dapat
disimpulkan maskulinitas tidak selalu identik dengan kekerasan, tetapi muncul
hal yang baru seperti kelembutan yang dapat dilihat dari 5 aspek kekuatan,
kecepatan, ketepatan, keberanian dan keuletan.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil analisis mengenai Representasi Maskulinitas Logo Seni
Ilmu Olahraga Beladiri Tarung Derajat, paka peneliti dapat memberikan saran
serta masukan-masukan yang ditujukan untuk Tarung Derajat, yakni sebagai
berikut:
1) Agar elemen desain dalam logo Tarung Derajat tetap dipertahankan karena
menempati posisi yang tidak kalah penting, mengingat logo bisa merupakan
simbol yang membawa nilai emosional tertentu, karena pada bentuk atau rupa
logo mempunyai muatan pesan dan kesan yang kasat mata.
2) Agar pemakaian elemen desain seperti warna telah baik sehingga dapat
menyandang citra yang diinginkan dan menunjukkan keadaan sebenarnya.
3) Peneliti menyarankan agar penelitian mengenai makna yang terkandung
dalam logo Tarung Derajat ini diteliti dan dilanjutkan. Karena makna yang
terkandung didalamnya perlu digali lebih dalam dan membutuhkan penelitian
lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyana, Deddy. 2008. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT.
Remaja Rosda Karya
Moleong, Lexy, J. 2001. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: PT. Rineka Cipta
Effendy, Onong Uchjana. 1989, Kamus Komunikasi. Bandung: CV Mandar Maju
Cangara, H. Hafied. 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo
Littlejohn, Stephen W. & Foss, Karen A. 2009. Teori Komunikasi: Theories of
Human Communication. Jakarta: Salemba Humanika
Cresswell. John W. 1998. Qualitative Inquiry and Research. London: SAGE
Sobur, Alex. 2006. Analisis Teks Media: Suatu pengantar Untuk Analisis
Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: PT. Remaja
Rosadakarya
Sobru, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosadakarya
Tinarbuko, Sumbo. 2008. Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta: Jalasutra
Kurniawan. 2001. Semiologi Roland Barthes. Magelang: Yayasan Indonesiatera
Alwasilah, A. Chaedar. 2002. Pokoknya Kualitatif: Dasar-Dasar Merancang dan
Melakukan Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya
Miles, M.B. dan Hur,am A.M. 1992. Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber
Tentang Metode-Metode Baru. Jakarta: UIPress
Effendi, Onong Uchjana. 1993. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung:
PT.Citra Aditya bakri
Al-Bahra bin Ladjamudin. 2005. Analisis dan Desain Sistem Informasi.
Yogyakarta : Graha Ilmu.
Renzetti, Claire M. & Curran, Daniel J. 1989. Woman, Men, and Society: The
Sociology og Gender. Boston: Allyn and Bacon
Danesi, Marcel. 2010. Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta: Jalasutra
Kusrianto, Adi. 2009. Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: CV.
Andi Offset
Darmaprawira, Sulaswi.2002. Warna: Teori dan Kreativitas Penggunaannya.
Bandung: ITB
Sumber lain
http://anaksastra.blogspot.com/2009/05/analisis-semiotik.html
http://www.ahlidesain.com/semiotika-dalam-desain-komunikasi-visual.html
http://www.tarungderajat-aaboxer.com
Download