(kia) di wilayah kerja puskesmas kalibagor

advertisement
ANALISIS PENCAPAIAN INDIKATOR 9 CAKUPAN PROGRAM
KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
KALIBAGOR KECAMATAN KALIBAGOR KABUPATEN BANYUMAS
ANALYSIS ACHIEVE INDICATOR 9 COVERAGE MATERNAL AND
CHILD HEALTH PROGRAMS AT KALIBAGOR PUBLIC HEALTH
CENTER KECAMATAN KALIBAGOR KABUPATEN BANYUMAS
Colti Sistiarani dan Elviera Gamelia
Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman
ABSTRACT
Maternal and Child Health (MCH) program is one of the priority establishment in
Indonesia.
One of the goals this program is reducing morbidity also mortality in
maternal and child. Effort government for maternal and child health to inspect in every
area. Data from Banyumas Health Centers still found the maternal and child mortality at
Kalibagor Public Health Center, in 2009 there is 2 cases maternal mortality and 13 cases
baby mortality. This research aims to analysis 9 coverage maternal and child health
programs. This research was a descriptive study with conducted to achieve the coverage
target. Result of this research are coverage of the first antenatal care (K1) 92,6%,
coverage of the fourth antenatal care (K4) 83,5%, coverage of high risk for maternal
86,2%, coverage of health provider to help delivered baby 82,2%, coverage of maternal
after delivered baby 80,7%, coverage of neonatal service 85,7%, coverage of sick child
under five years service 93,4%. From this data we know that the achieve are good
status. Unfortunately we find achieve coverage status are lack, there is coverage of
obstetric complication 57,4% and coverage of maternal and child health book 65%.
Conclusion needed effort to increasing coverage of obstetric complication and coverage
of maternal and child health book, support was needed from Banyumas Health Centers
especially to monitoring and evaluation maternal and child health programs.
Key words: Coverage, Maternal and Child
Kesmasindo. Volume 5, Nomor 2, Juli 2012, hlm. 95- 120
PENDAHULUAN
global sejak adanya International
Dewasa ini kesehatan reproduksi
Conference
mendapat perhatian khusus secara
Development (ICPD) di Kairo, Mesir
95
on
Population
and
96
Jurnal Kesmasindo. Volume 5, Nomor 2, Juli 2012, hlm. 95- 120
pada tahun 1994. Paradigma yang
utama pembangunan kesehatan di
semula berorientasi pada pengelolaan
Indonesia. Program ini bertanggung
masalah
dan
jawab terhadap pelayanan kesehatan
pengendalian
bagi ibu hamil, ibu melahirkan, dan
populasi dan penurunan fertilitas kini
bayi neonatal. Salah satu tujuan
mulai berubah menjadi pendekatan
program
yang lebih luas yaitu fokus pada
kematian dan kejadian sakit pada ibu
kesehatan reproduksi serta upaya
dan anak, serta untuk mempercepat
pemenuhan
hak-hak
reproduksi.
penurunan angka kematian ibu dan
Pemenuhan
kesehatan
reproduksi
anak adalah dengan meningkatkan
kependudukan
pembangunan
diberikan
dari
bagi
laki-laki
dan
perempuan sepanjang siklus hidup.
Perubahan
juga
terjadi
pendekatan
dalam
mutu
ini
adalah
pelayanan
menurunkan
dan
menjaga
kesinambungan pelayanan kesehatan
ini
penanganan
ibu dan perinatal di tingkat pelayanan
dasar dan pelayanan rujukan primer.
kesehatan ibu dan anak, Keluarga
Keadaan
kesehatan
repro-
Berencana (KB), kesehatan reproduksi
duksi di Indonesia saat ini masih
remaja,
dan
belum seperti yang diharapkan. Angka
menular
Kematian Ibu (AKI) dan Angka
seksual (IMS) termasuk HIV/AIDS
Kematian Bayi (AKB) di Indonesia
serta kesehatan reproduksi usia lanjut.
masih tinggi bila dibandingkan dengan
Upaya untuk meningkatkan kualitas
negara-negara ASEAN lainnya. Saat
manusia seyogyanya harus dimulai
ini AKI di Indonesia yaitu sebesar 259
sejak janin dalam kandungan dan
per
sangat
kepada
sedangkan AKB yaitu sebesar 35 per
kesejahteraan ibu termasuk kesehatan
1000 kelahiran hidup (SDKI 2007).
dan keselamatan reproduksinya. Oleh
Hasil tersebut masih jauh dari target
karena itu upaya meningkatkan status
Indonesia Sehat 2010 yaitu AKI 125
kesehatan ibu dan anak di Indonesia
per
merupakan
sedangkan AKB sebesar 32 per 1000
pencegahan
penanggulangan
infeksi
tergantung
salah
satu
program
prioritas.
Program Kesehatan Ibu Anak
(KIA) merupakan salah satu prioritas
100.000
kelahiran
100.000
kelahiran
kelahiran
hidup.
Pembangunan
Target
Jangka
hidup
hidup,
Rencana
Menengah
Nasional (RPJMN) pada tahun 2009
Colti Sistiarani, Analisis Pencapaian Indikator 9 Cakupan Program KIA
yaitu pencapaian AKI sebesar 226 per
pelayanan
100.000 kelahiran hidup dan AKB
komplikasi
sebesar 26 per 1000 kelahiran hidup.
kesehatan
Tingginya
kesehatan anak balita sakit (Depkes,
AKI
dan
AKB
ini
menunjukkan bahwa derajat kesehatan
di
Indonesia
masih
belum
neonatal,
97
penanganan
neonatal,
anak
pelayanan
balita,
pelayanan
2003)
baik,
Penyajian PWS KIA dapat
khususnya mengenai derajat kesehatan
dipakai sebagai alat motivasi dan
ibu dan anak.
komunikasi
Upaya yang dilakukan untuk
meningkatkan
KIA
salah
satunya
kepada
terkait/stakeholder
terhadap
sektor
yang
berkaitan
pelaksanaan
pelayanan
adalah melalui pemantauan wilayah
kesehatan ibu dan anak. Selain itu juga
setempat kesehatan ibu dan anak
berkaitan langsung dengan masyarakat
(PWS-KIA).
merupakan
setempat, khususnya aparat dalam hal
strategi manajemen program KIA
ini sumber daya masyarakat setempat
untuk memantau pelayanan KIA di
seperti
wilayah kerja secara terus menerus.
masyarakat dan tokoh agama yang
Hal tersebut dimaksudkan agar dapat
berperan
dilakukan tindak lanjut yang cepat dan
penggerakan
sasaran
agar
tepat terhadap wilayah kerja yang
mendapatkan
pelayanan
KIA.
cakupan pelayanan KIA-nya masih
Puskesmas
rendah
pelayanan
Hal
ini
ataupun
wilayah
yang
kader
kesehatan,
dalam
pendataan
merupakan
kesehatan
dasar
tokoh
dan
sarana
yang
membutuhkan penanganan atau tidak
menyelenggarakan kegiatan promosi
lanjut secara khusus.
kesehatan,
Indikator
yang
digunakan
kesehatan
lingkungan,
pelayanan kesehatan ibu dan anak
untuk menilai program KIA antara
termasuk
KB,
perbaikan
gizi,
lain kunjungan ibu hamil pertama
pemberantasan penyakit menular dan
(K1), cakupan kunjungan keempat ibu
pengobatan.
hamil (K4), cakupan buku KIA,
Hasil rekapitulasi PWS KIA
deteksi dini kehamilan berisiko oleh
di tingkat kabupaten dapat dipakai
tenaga kesehatan, persalinan oleh
untuk
tenaga
puskesmas
kesehatan,
penanganan
komplikasi obstetrik, pelayanan nifas,
menentukan
sehingga
mana
wilayah
yang
diharapkan
kerja
rawan,
dapat
98
Jurnal Kesmasindo Volume 5, Nomor 2, Juli 2012, hlm. 95- 120
diidentifikasi wilayah kerja puskesmas
K4
mana yang memerlukan penanganan
pertolongan persalinan oleh tenaga
khusus
kesehatan sebesar 73,97%, cakupan
sehingga
masalah-masalah
tersebut dapat diatasi dengan baik
sehingga
dapat
sebesar
72,06%,
cakupan
nifas 67,93%.
membantu
Berdasarkan profil kesehatan
meningkatkan derajat KIA di wilayah
Puskesmas
tersebut.
didapatkan hasil perhitungan cakupan
Data dari Dinas Kesehatan
Kalibagor
tahun
2008
kunjungan pertama ibu hamil (K1)
Kabupaten Banyumas menunjukkan
yaitu
Angka Kematian Bayi pada tahun
kunjungan keempat ibu hamil (K4)
2006 sebesar 5,65 per 1000 kelahiran
sebesar
hidup dan pada tahun 2007 naik
pertolongan persalinan oleh tenaga
menjadi 9,60 per 1000 kelahiran
kesehatan sebesar 100,12%, cakupan
hidup. Jumlah kematian bayi sampai
ibu hamil yang berisiko tinggi sebesar
dengan
2009
90,43%, cakupan ibu nifas sebesar
sebanyak 166 kasus. Angka Kematian
100,24%, cakupan kunjungan neonatal
Ibu (AKI) pada tahun 2006 sebesar 96
sebesar 101,13%, cakupan pelayanan
per 100.000 kelahiran hidup, AKI
kesehatan balita sebesar 91,44%.
Bulan
September
pada tahun 2007 sebesar 145 per
sebesar
104%,
cakupan
100,82%,
Data
dari
cakupan
Puskesmas
100.000 kelahiran hidup. Data pada
Kalibagor pada tahun 2007 jumlah
tahun 2009 sampai dengan bulan
kematian bayi yang sebanyak 15,
September 2009, jumlah kematian ibu
sedangkan
di Kabupaten Banyumas sabanyak 30
sebanyak 4 orang. Data pada tahun
kasus, AKI masih berada pada kisaran
2008 jumlah kematian bayi sebanyak
145, 82 per 100.000 kelahiran hidup
22, sedangkan jumlah kematian ibu
Data ini menunjukkan bahwa dalam
sebanyak 1 orang. Data terakhir
kurun tahun terakhir terjadi kenaikan
sampai dengan Bulan Oktober 2009
AKI dan AKB. Data program KIA
terdapat kasus kematian bayi yaitu
yang bersumber dari Dinas Kesehatan
sebanyak
Kabupaten Banyumas sampai dengan
kematian ibu sebanyak 2 orang. Data
Bulan September 2009, antara lain
tersebut menunnjukkan masih adanya
cakupan K1 sebesar 78,22%. Cakupan
kasus kematian bayi dan kematian ibu
jumlah
13,
kematian
sedangkan
ibu
kasus
Colti Sistiarani, Analisis Pencapaian Indikator 9 Cakupan Program KIA
yang
terjadi
kerja
kunjungan keempat ibu hamil (K4),
Masih
cakupan ibu hamil yang dideteksi
tingginya angka kematian ibu dan bayi
berisiko tinggi, cakupan pertolongan
di Banyumas, serta masih adanya
persalinan oleh tenaga kesehatan,
kasus kematian ibu dan bayi di
cakupan
wilayah kerja Puskesmas Kalibagor
obstetrik, cakupan pelayanan nifas,
melatarbelakangi penilaian 9 indikator
cakupan kunjungan neonatal (KN),
pencapaian program KIA di wilayah
cakupan penanganan kesehatan anak
kerja Puskesmas Kalibagor Kabupaten
balita sakit, cakupan buku KI
Puskesmas
di
wilayah
99
Kalibagor.
Banyumas.
penanganan
Penelitian
ini
komplikasi
dilakukan
selama 3 bulan mulai bulan AgustusOktober
METODE
Jenis
penelitian
yang
2009.
Lokasi
penelitian
dilakukan di Puskesmas Kalibagor
digunakan adalah studi deskriptif yaitu
Kecamatan
menggambarkan pencapaian indikator
Banyumas.
KIA yang dipilih. Studi deskriptif
untuk
yaitu suatu metode penelitian yang
diperoleh data data sasaran yang
dilakukan dengan tujuan utama untuk
terdiri atas jumlah seluruh ibu hamil,
membuat gambaran/deskripsi tentang
ibu bersalin, jumlah seluruh neonatal
suatu keadaan secara objektif. Studi
(bayi berusia kurang dari 1 bulan),
deskriptif
untuk
jumlah seluruh ibu nifas, jumlah
menjawab
seluruh bayi. Data pelayanan terdiri
permasalahan yang sedang dihadapi
atas jumlah kunjungan pertama ibu
pada situasi sekarang. Penelitian ini
hamil, jumlah kunjungan ibu hamil
dilakukan dengan menempuh langkah-
yang keempat kalinya ke pelayanan
langkah
data,
kesehatan , jumlah ibu hamil berisiko
klasifikasi, pengolahan/analisis data,
yang dideteksi berisiko tinggi oleh
membuat kesimpulan dan laporan
tenaga kesehatan, jumlah ibu nifas,
(Notoatmojo, 2002)
jumlah persalinan, serta jumlah bayi
memecahkan
digunakan
atau
pengumpulan
Kalibagor
Data
menghitung
yang
tiap
Kabupaten
diperlukan
indikator
Pencapaian indikator program
berusia kurang dari 1 bulan yang
KIA antara lain cakupan kunjungan
dilayani, jumlah anak balita yang
pertama ibu hamil (K1), cakupan
dilayani oleh petugas kesehatan.
100
Jurnal Kesmasindo Volume 5, Nomor 2, Juli 2012, hlm. 95- 120
Sumber
pelayanan
dengan grafik yang menggambarkan
laporan
cakupan indikator KIA yang dipilih.
pelayanan kesehatan yang dilakukan
Hasil tersebut kemudian dibandingkan
oleh ibu, bayi dan balita. Data lainnya
dengan target Puskesmas Kalibagor.
yaitu laporan persalinan yang ditolong
Penyajian
oleh tenaga kesehatan di puskesmas,
grafik untuk setiap indikator dengan
data persalinan yang berasal dari
melakukan
bidan/dokter praktik swasta, dukun
pencapaian cakupan per bulan setiap
bayi setempat maupun laporan dari
indikator 9 cakupan program KIA.
umumnya
data
berasal
dari
data
dilakukan
penilaian
dengan
terhadap
fasilitas pelayanan puskesmas yang
berada
di
wilayah
Puskesmas
Kalibagor. Analisis data dilakukan
univariat
yaitu
dilakukan
untuk
melihat besarnya proporsi pada setiap
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Cakupan Kunjungan Pertama Ibu
Hamil (K1) dan Kunjungan
Keempat ibu hamil (K4)
variabel. Penyajian data dilakukan
100
90
% Pencapaian
80
% target
70
60
50
40
30
20
10
0
Januari
Februari
Maret
April Mei
Juni
Juli
AgustusSeptember
Oktober % Pencapaian
Gambar 1 Grafik Pencapaian Cakupan K1
Colti Sistiarani, Analisis Pencapaian Indikator 9 Cakupan Program KIA
% Pencapaian
% Pencapaian
Oktober
September
Agustus
Juli
Juni
Mei
April
Maret
Februari
% target
Januari
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
101
Gambar 2 Grafik Pencapaian Cakupan K4
Grafik diatas menunjukkan
bahwa
pencapaian
kunjungan
dibandingkan
dengan
cakupan
bulan lalu.
pertama ibu hamil (K1) sebesar
Salah satu kegiatan program
92,6%, serta pencapaian cakupan
KIA
keempat ibu hamil (K4) meningkat
pemantauan kesehatan ibu hamil ke
dari Bulan Januari 2009 sampai
tenaga kesehatan salah satunya ke
dengan Bulan Oktober 2009 yaitu
bidan.
pencapaian akhir sebesar 83,5%.
pemantauan ibu hamil dapat dilihat
Target cakupan K1 dan K4 untuk
dari angka cakupan kunjungan
Puskesmas Kalibagor selama satu
pertama
tahun sebesar 90% pada tahun
keempat (K4). Cakupan kunjungan
2009, sehingga target yang harus
pertama (K1) dan keempat (K4)
dicapai
sampai dengan bulan Oktober 2009
sampai
dengan
Bulan
di
puskesmas
Indikator
(K1)
ialah
pelaksanaan
dan
kunjungan
Oktober 2009 harus lebih dari atau
Puskesmas
sama dengan 75%. Penafsiran dari
melampaui target yaitu
cakupan tersebut adalah status baik
K1 sebesar 92,6% dan cakupan K4
yaitu cakupan diatas target yang
sebesar 83,5%. Dari hasil tersebut
telah ditetapkan dan mempunyai
penilaian indikator termasuk status
kecenderungan cakupan bulanan
baik yaitu cakupan telah melampaui
yang meningkat atau tetap jika
Kalibagor
telah
cakupan
102
Jurnal Kesmasindo . Volume 5, Nomor 2, Juli 2012, hlm. 95- 120
target dan kecenderungan cakupan
kesehatan ibu dan tumbuh kembang
yang meningkat setiap bulan.
bayi,
Pencapaian target sebenarnya
kurang
dari
target
yang
meningkatkan
dan
mempertahankan kesehatan fisik,
mental dan sosial ibu dan bayi,
ditetapkan oleh pemerintah yaitu
mengenali
Standar Pelayanan Minimal (SPM)
ketidaknormalan atau komplikasi
yang mengacu pada SK Menkes RI
yang mungkin selama kehamilan,
Nomor 1475/Menkes/SK/IX/2003
termasuk riwayat penyakit secara
tentang
umum, kebidanan dan pembedahan.
Standar
Pelayanan
Mimimal Bidang Kesehatan di
secara
Tenaga
dini
dalam
adanya
pelayanan
Kabupaten/Kota dan SK Gubernur
antenatal yaitu tenaga kesehatan
JawaTengah nomor 71 tahun 2004
professional
tentang Standar Pelayanan Minimal
dokter spesialis kandungan dalam
Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota
melakukan
di Provinsi Jawa Tengah untuk K1
Pelayanan antenatal hanya dapat
dan K4 minimal 95%.
diberikan oleh tenaga kesehatan
Pelayanan antenatal adalah
pelayanan
kesehatan
yang
Pelayanan
kehamilannya
mungkin
sesuai
dengan
dan
oleh
diberikan kepada ibu selama masa
bidan atau
pelayanan
profesional
diberikan
seperti
tidak
dapat
dukun
bayi.
antenatal
lebih
antenatal.
baik
seawal
daripada
standar pelayanan antenatal yang
pelayanan antenatal yang dilakukan
mencakup anamnesis, pemeriksaan
pada akhir kehamilan. Pelayanan
fisik
antenatal yang dilakukan lebih
umum
pemeriksaan
dan
kebidanan,
laboratorium
atas
sering
lebih
baik
daripada
indikasi tertentu serta indikasi dasar
pelayanan antenatal yang jarang
dan khusus. Selain itu aspek yang
dilakukan.
lain yaitu penyuluhan, Komunikasi,
Informasi
dan
Edukasi
(KIE),
motivasi ibu hamil dan rujukan.
Tujuan
adalah
kehamilan
asuhan
memantau
untuk
Cakupan
pelayanan
antenatal dapat dipantau melalui
pelayanan kunjungan ibu hamil K1
antenatal
dan K4. Kunjungan baru ibu hamil
kemajuan
(K1) adalah kontak ibu hamil yang
memastikan
pertama
kali
dengan
petugas
Colti Sistiarani, Analisis Pencapaian Indikator 9 Cakupan Program KIA
kesehatan
untuk
pemeriksaan
mendapatkan
kehamilan
103
target, hal ini dapat terjadi seperti
standar.
dijelaskan dalam McCarthy dan
Kunjungan ibu hamil yang keempat
Maine yang menyatakan bahwa
(K4) atau lebih dengan petugas
konsep
kesehatan
kematian
yaitu
ibu
hamil
yang
melatarbelakangi
ibu
tersebut
adalah
sedikitnya kontak minimal 4 kali
pertama status kesehatan ibu hamil
untuk mendapatkan pemeriksaan
itu sendiri, kedua
kehamilan.
pelayanan kesehatan dan ketiga
Kebijakan
kebijakan
antenatal
program
sesuai
meliputi
perilaku ibu dalam memelihara
pelayanan
kesehatannya. Ketiga konsep itu
standar
yang
ditetapkan, dilakukan minimal 4
kali
selama
akses ke
kehamilan
dipengaruhi oleh faktor ekonomi,
sosial dan budaya.
dengan
Dalam konteks perilaku dan
ketentuan sebagai berikut : minimal
budaya
1 kali pada trimester pertama,
memakan makanan tertentu masih
minimal 1 kali pada trimester
harus
kedua, dan minimal 2 kali pada
melahirkan. Hal ini mengakibatkan
trimester ketiga. Kebijakan teknis
banyak ibu hamil tidak dapat
diantaranya
mengkonsumsi
mengupayakan
tradisi
dijalani
pantang
ibu
dan
hamil
makanan
dan
tinggi
kehamilan yang sehat, melakukan
protein. Dalam konteks sosial dan
deteksi dini komplikasi, melakukan
keluarga,
penatalaksanaan awal serta rujukan
pengambilan keputusan bukan pada
bila
ibu
diperlukan,
persiapan
kekuasaan
misalnya
tentang
dan
seberapa
persalinan yang aman, perencanaan
banyak dan seberapa sering anak
antisipatif dan persiapan dini untuk
yang diinginkan, pada siapa dan
melakukan rujukan jika terjadi
dimana
komplikasi.
Adanya budaya berunding juga
Masih
adanya
kasus
dilakukan
mengakibatkan
persalinan.
sering
terjadi
kematian ibu di wilayah kerja
keterlambatan
Puskesmas
padahal
persalinan yang dapat berakibat
cakupan pelayanan antenatal untuk
fatal bagi ibu dan bayi. (Iskandar et
K1 dan K4 yang telah melampaui
al, 1996)
Kalibagor
pertolongan
104
Jurnal Kesmasindo. Volume 5, Nomor 2, Juli 2012, hlm. 95- 120
Dalam
penelitian
bertugas
bukan
hanya
tenaga
juga
tenaga
Qomariyah di Timika Papua, ada
kebidanan
tema budaya dalam pola makan dan
kesehatan secara keseluruhan.
aktivitas selama kehamilan dan
namun
One
Wakur
dalam
setelah persalinan. Budaya yang
penelitiannya menyatakan bahwa
diskriminatif
menganggap
bidan di desa kadangkala tidak
tugas dan mencari dan mengolah
tinggal di desa tersebut selama 24
bahan makanan adalah tugas ringan
jam karena alasan keluarga, hal
sehingga
pokok
tersebut tidak sesuai dengan konsep
perempuan selain itu perempuan
bidan desa yang dikembangkan
harus
oleh Departemen Kesehatan, karena
yaitu
menjadi
lebih
tugas
mengutamakan
kecukupan makanan untuk laki-
masyarakat
laki.
memanfaatkan pelayanan kesehatan
Adanya
anggapan
bahwa
kehamilan setelah lewat lima bulan,
dapat
memperlancar
persalinan.
dapat
dari bidan desa diluar jam kerja.
jika wanita bekerja keras maka
akan
tidak
Wahyu Zulfansyah dalam
penelitiannya disebutkan percepatan dalam pencarian sasaran ibu
Faktor lain yang mungkin
hamil,
bidan
desa
dapat
menjadi penyebab adalah masih
bekerjasama dengan
kurang meratanya sebaran bidan
yang secara sukarela membantu
desa
Kalibagor.
kegiatan posyandu, yang biasanya
Tugas bidan puskesmas yang cukup
telah dibekali keterampilan melalui
banyak namun jumlah bidan masih
pelatihan
dalam
kurang yaitu sebanyak 4 orang
tugasnya
itu
sebagai
bidan
Penelitian
lain
yaitu
di
Kecamatan
puskesmas,
bidan
desa
menjalankan
kader.
Djaswadi
sebanyak 13 orang dan bidan
didapatkan
swasta 2 orang. Hal ini dapat dilihat
menyatakan pentingnya palayanan
dari
jumlah
seluruh
ibu
di
wilayah
antetanal, hal ini berarti bahwa
Kalibagor
yaitu
banyak ibu telah memahami tujuan
sebanyak 12 desa dan wilayahnya
dan manfaat pelayanan antenatal
yang cukup luas. Keterbatasan
dalam pemantauan kondisi ibu dan
jumlah
janin
Kecamatan
tenaga
desa
hasil
masyarakat
kesehatan
yang
serta
upaya
mendeteksi
Colti Sistiarani, Analisis Pencapaian Indikator 9 Cakupan Program KIA
sedini mungkin risiko kehamilan
105
2. Cakupan Ibu Hamil yang Dideteksi
sehingga diharapkan kondisi ibu
Berisiko Tinggi
dan bayi jika lahir nantinya akan
baik, sehat, dan selamat.
% Pencapaian
% Pencapaian
Oktober
September
Agustus
Juli
Juni
Mei
April
Maret
Februari
% target
Januari
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Gambar 3. Grafik Pencapaian Cakupan Ibu Hamil Dideteksi Berisiko
Grafik diatas menunjukkan
telah ditetapkan dan mempunyai
bahwa cakupan ibu hamil yang
kecenderungan cakupan bulanan
dideteksi berisiko tinggi meningkat
yang meningkat atau tetap jika
dari Bulan Januari 2009 sampai
dibandingkan
dengan Bulan Oktober 2009 yaitu
bulan lalu.
pencapaian akhir sebesar 86,2%.
dengan
cakupan
Pencapaian target sebenar-
Target cakupan ibu hamil yang
nya
dideteksi
untuk
ditetapkan oleh pemerintah yaitu
Puskesmas Kalibagor selama satu
Standar Pelayanan Minimal (SPM)
tahun sebesar 90% pada tahun
yang mengacu pada SK Menkes RI
2009, sehingga target yang harus
Nomor 1475/Menkes/SK/IX/2003
dicapai
tentang
berisiko
sampai
tinggi
dengan
Bulan
kurang
dari
Standar
target
yang
Pelayanan
Oktober 2009 harus lebih dari atau
Mimimal Bidang Kesehatan di
sama dengan 75%. Penafsiran dari
Kabupaten/Kota dan SK Gubernur
cakupan tersebut adalah status baik
JawaTengah nomor 71 tahun 2004
yaitu cakupan diatas target yang
tentang Standar Pelayanan Minimal
106
Jurnal Kesmasindo . Volume 5, Nomor 2, Juli 2012, hlm. 95- 120
Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota
diderita,
selanjutnya diarahkan
di Provinsi Jawa Tengah, untuk
untuk mendapatkan perawatan yang
cakupan ibu hamil yang dideteksi
sesuai
berisiko tinggi minimal 90%. Dari
proses kehamilan.
agar
tidak
mengganggu
hasil tersebut penilaian indikator
Deteksi dini ibu hamil yang
termasuk status baik yaitu cakupan
berisiko perlu ditingkatkan baik di
telah
fasilitas pelayanan KIA maupun di
melampaui
kecenderungan
target
cakupan
dan
yang
meningkat setiap bulan.
masyarakat.
Deteksi
ibu
hamil
berisiko/komplikasi
Penilaian resiko kehamilan
perlu
difokuskan pada keadaan yang
umumnya
dilakukan
pada
menyebabkan kematian ibu. Risiko
kunjungan
pertama
pada
tinggi/komplikasi kebidanan pada
pemeriksaan kehamilan, penilaian
kehamilan
dilakukan dengan mengidentifikasi
penyimpangan dari normal, hal ini
berbagai
dapat
sebab
dan
pengaruh
merupakan
secara
keadaan
langsung
demografi ibu, status kesehatan
menyebabkan
kesakitan
dan
reproduksi ibu, faktor lingkungan
kematian
Semakin
cepat
dan perilaku ibu. Hal tersebut akan
diketahui
dapat diketahui dan digunakan
tinggi/komplikasi semakin cepat
sebagai dasar dalam penentuan
akan
faktor resiko kehamilan, sehingga
yang semestinya.
resiko kehamilan yang berpengaruh
ibu.
adanya
mendapatkan
Faktor
risiko
penanganan
risiko
ibu
hamil
terhadap kesehatan ibu dan bayi
diantaranya kehamilan pertama usia
dapat diantisipasi sedini mungkin.
kurang dari 20 tahun atau lebih dari
Pemantauan yang dilakukan
35 tahun, jumlah anak lebih dari 4,
secara terus menerus bertujuan
jarak
untuk memantau kondisi kehamilan
kehamilan sekarang kurang dari 2
demi keselamatan ibu dan bayi.
tahun, tinggi badan kurang dari 140
Tujuan dari pemantauan adalah
cm, berat badan kurang dari 38 kg
identifikasi
mendeteksi
atau lingkar lengan atas kurang dari
penyimpangan seperti gangguan/
23,5, memiliki kelainan bentuk
komplikasi serta penyakit yang
tubuh
untuk
persalinan
seperti
terakhir
kelainan
dan
tulang
Colti Sistiarani, Analisis Pencapaian Indikator 9 Cakupan Program KIA
107
belakang atau panggul (Manuaba,
dari nilai normal yaitu 11 g/100 ml.
1998).
Kehamilan memerlukan tambahan
Selain faktor risiko tersebut,
zat
besi
untuk
faktor risiko lain yaitu ibu memiliki
jumlah
riwayat penyakit kronis seperti
membentuk sel darah merah janin
hipertensi, tuberculosis, kelainan
dan plasenta. Pengaruh anemia
jantung, ginjal dan diabetes. Selain
terhadap kehamilan yaitu dapat
itu risiko lain yaitu ibu yang
terjadi
memiliki riwayat kehamilan yang
prematur,
buruk seperti keguguran berulang,
kembang
sering
perdarahan
mengalami
terjadi
infeksi
perdarahan,
saat
hamil,
sel
meningkatkan
darah
merah
abortus,
pecah
persalinan
hambatan
janin
tumbuh
dalam
antepartum,
dini.
dan
rahim,
ketuban
Anemia
juga
kehamilan ektopik, ketuban pecah
berpengaruh pada saat persalinan
dini. Riwayat persalinan berisiko
misalnya
juga merupakan faktor risiko bagi
his/kontraksi dan saat kala nifas
ibu,
lain
dapat terjadi subinvolvusi uteri
persalinan dengan bedah cesar
sehingga menimbulkan pedarahan
maupun
postpartum (Manuaba, 1998).
hal
tersebut
ekstraksi
antara
vakum
serta
riwayat nifas yang berisiko bagi ibu
terjadi
gangguan
Faktor risiko lainnya yaitu
seperti perdarahan pasca persalinan
preeklampsia
dan
dan
Preeklampsia
ialah
infeksi
masa
nifas
(Prawirohardjo, 2002).
jika
dengan
eklampsia.
tanda-tanda
penyakit
hipertensi,
Faktor–faktor risiko tersebut
edema dan proteinuria yang timbul
semakin
karena
banyak
yang
kehamilan.
Eklampsia
ditemukan pada seorang ibu hamil,
adalah kelainan akut pada wanita
maka semakin tinggi pula risiko
hamil, dalam persalinan/nifas yang
kehamilan tersebut. Risiko tinggi
ditandai dengan kejang dan koma.
dan komplikasi pada kehamilan
Kondisi
salah satunya anemia pada ibu hamil.
pengaruhi
anemia adalah suatu keadaan yang
karena aliran darah ke plasenta
menunjukkan kadar haemoglobin
menurun sehingga terjadi gangguan
(Hb) di dalam darah lebih rendah
fungsi plasenta (POGI, 1991).
tersebut
plasenta
dapat
mem-
dan
uterus
108
Jurnal Kesmasindo Volume 5, Nomor 2, Juli 2012, hlm. 95- 120
Adanya
kelainan
yang
persalinan
terjadi selama kehamilan seperti
plasenta
previa
yaitu
dengan
implantasi
segmen
bawah
bayi
(Prawirohardjo,
2002).
plasenta
Sebagian besar kematian ibu
di
sekitar
dapat
dicegah
rahim,
solusio
mendapatkan pelayanan adekuat di
plasenta yaitu terlepasnya plasenta
fasilitas
sebelum
Faktor
waktunya
dengan
apabila
pelayanan
waktu
kesehatan.
dan
transportasi
implantasi normal pada kehamilan
merupakan
trimester ketiga juga menyebabkan
menentukan dalam merujuk kasus
kehamilan menjadi berisiko. Faktor
risiko
risiko lain yaitu jumlah janin lebih
deteksi faktor risiko pada ibu baik
dari satu, kelainan besar janin,
oleh tenaga kesehatan maupun
adanya risiko lain seperti persalinan
masyarakat merupakan salah satu
yang
serta
upaya penting dalam mencegah
yaitu
terjadinya kematian pada ibu dan
macet/tidak
maju
retensio
plasenta
terlambatnya
kelahiran
selama
setengah
jam
plasenta
hal
cepat
tinggi.
yang
Oleh
sangat
karenanya
bayi.
setelah
3. Cakupan Pertolongan Persalinan
oleh Tenaga Kesehatan
90
80
70
60
50
40
% Pencapaian
30
% target
20
% Pencapaian
Oktober
September
Agustus
Juli
Juni
Mei
April
Maret
Februari
0
Januari
10
Colti Sistiarani, Analisis Pencapaian Indikator 9 Cakupan Program KIA
Gambar
4.
Grafik
Pencapaian
109
Grafik diatas menunjukkan
Pertolongan Persalinan oleh Tenaga
bahwa
cakupan
pertolongan
Kesehatan
persalinan oleh tenaga kesehatan
meningkat dari Bulan Januari 2009
dukun bayi yang oleh masyarakat
sampai dengan Bulan Oktober 2009
dipercaya
yaitu pencapaian akhir sebesar
persalinan.
82,2%. Target cakupan pertolongan
persalinan
untuk
Kalibagor
selama
Puskesmas
satu
dapat
menolong
Pada prinsipnya pertolongan
persalinan baik yang dilakukan di
tahun
klinik, puskesmas, rumah sakit dan
sebesar 90% pada tahun 2009,
sarana kesehatan lainnya, harus
sehingga target yang harus dicapai
tetap
sampai dengan Bulan Oktober 2009
sebagai
harus lebih dari atau sama dengan
sterilitas/pencegahan
75%.
metode
Penafsiran dari cakupan
memperhatikan
hal-hal
berikut
pertolongan
yaitu
infeksi,
persalinan
tersebut adalah status baik yaitu
yang sesuai standar pelayanan,
cakupan diatas target yang telah
serta mampu merujuk kasus yang
ditetapkan
memerlukan
dan
mempunyai
kecenderungan cakupan bulanan
Cakupan
pertolongan
cakupan
persalinan yang telah melampaui
target
target antara lain dipengaruhi oleh
sebenarnya kurang dari target yang
penyuluhan tenaga kesehatan yang
ditetapkan oleh pemerintah yaitu
sudah cukup baik, walaupun masih
Standar Pelayanan Minimal (SPM),
adanya keterbatasan dari tenaga
untuk pertolongan persalinan oleh
kesehatan yang ada. Namun ada
tenaga kesehatan minimal 90%.
beberapa faktor budaya masyarakat
bulan
lalu.
dengan
pelayanan
yang lebih tinggi.
yang meningkat atau tetap jika
dibandingkan
tingkat
Pencapaian
Pertolongan
persalinan
yang masih menganggap dukun
dilakukan oleh tenaga kesehatan
bayi dapat membantu pertolongan
profesional yaitu dokter spesialis
persalinan.
kandungan, dokter umum, bidan,
pembantu bidan,
perawat bidan.
Meskipun
demikian,
terpencil
masih
di
banyak
daerah
juga
Kemitraan bidan puskesmas
dengan
dukun
bayi
setempat
dengan memberikan pelatihan dan
peningkatan
penolong persalinan yang masih
merujuk
dilakukan oleh masyarakat seperti
mengalami
kemampuan
ibu
untuk
bersalin
yang
permasalahan
dalam
110
Jurnal Kesmas Indonesia. Volume 5, Nomor 2, Juli 2012, hlm. 95- 120
persalinan
ke
desa
koordinator
merupakan alasan meningkatnya
penyediaan
peran
insentif, promosi bidan tidak tetap
tenaga
bidan
kesehatan
dalam
pertolongan persalinan.
secara
sarana,
berkala,
pemberian
menjdi pegawai negeri, sosialisasi
Wahyu Zulfansyah dalam
pemeriksaan
kehamilan
penelitiannnya menyatakan bahwa
pertolongan
persalinan
peningkatan
cakupan
pelayanan
masyarakat
serta
antenatal
dan
pertolongan
monitoring
dan
evaluasi
yang
dari
Dinas
berkesinambungan
peningkatan kemampuan bidan di
Kesehatan setempat.
pertemuan
dengan
kepada
dilakukannya
persalinan salah satunya melalui
desa melalui pelatihan-pelatihan,
dan
4. Cakupan Penanganan Komplikasi
bidan
Obstetrik
80
70
60
50
40
% Pencapaian
30
% target
20
10
Oktober
% Pencapaian
September
Agustus
Juli
Juni
Mei
April
Maret
Februari
Januari
0
Gambar 5 Grafik Pencapaian Penanganan Komplikasi Obstetrik
Grafik diatas menunjukkan
bahwa
komplikasi
cakupan
Puskesmas Kalibagor selama satu
penanganan
tahun sebesar 90% pada tahun
meningkat
2009, sehingga target yang harus
obstetrik
dari Bulan Januari 2009 sampai
dicapai
dengan Bulan Oktober 2009 yaitu
Oktober 2009 harus lebih dari atau
pencapaian akhir sebesar 57,4%.
sama dengan 75%. Penafsiran dari
Target
cakupan
komplikasi
cakupan
penanganan
obstetrik
untuk
sampai
tersebut
dengan
adalah
Bulan
status
kurang baik yaitu cakupan dibawah
target yang telah ditetapkan dan
mempunyai
Pelayanan medis
obstetri
kecenderungan
yang dapat dilakukan di puskesmas
cakupan bulanan yang meningkat
PONED meliputi pencegahan dan
atau tetap jika dibandingkan dengan
penanganan
cakupan
cegahan
bulan
lalu.Pencapaian
perdarahan,
dan
pen-
penanganan
target sebenarnya kurang dari target
eklampsia
yang ditetapkan oleh pemerintah
pencegahan dan penangan infeksi,
yaitu Standar Pelayanan Minimal
penanganan partus lama/ macet,
(SPM)
penanganan
pencegahan da penanganan abortus.
komplikasi obstetrik minimal 90%.
Menurut Wahyu Zulfansyah
untuk
Komplikasi
dan
pre
eklampsia,
kebidanan
dalam penelitiannya pelatihan yang
diperkirakan terjadi pada sekitar
dapat diberikan kepada bidan desa
15-20% ibu hamil. Komplikasi
antara lain yaitu asuhan persalinan
pada
normal,
kehamilan
tidak
dapat
pemantauan
wilayah
pelatihan
kegawat-
diperkirakan/diramalkan
setempat,
sebelumnya. Oleh karenanya semua
daruratan obstetric dan keluarga
persalinan harus ditangani oleh
berencana.
Bidan
tenaga kesehatan agar komplikasi
memahami
komplikasi
kebidanan
segera
yang mungkin dapat terjadi pada
dideteksi/ditangani. Ibu hamil harus
ibu. Kurangnya cakupan dari target
dapat
yang
dapat
menjangkau
Pelayanan
telah
harus
obtetrik
ditentukan
hal
ini
Obstetrik dan Neonatal Emergensi
mungkin
Dasar (PONED). Kebijakan Depkes
keterampilan dari bidan desa dalam
dalam
memperkirakan
penyediaan
puskesmas
disebabkan
dapat
PONED adalah setiap kabupaten
obstetrik
/kota harus mempunyai minimal 4
terjadi pada ibu.
puskesmas yang mampu PONED.
yang
kurangnya
komplikasi
mungkin
5. Cakupan Pelayanan Nifas
dapat
112
Jurnal Kesmasindo . Volume 5, Nomor 2, Juli 2012, hlm. 95- 120
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
% Pencapaian
Oktober
% Pencapaian
September
Agustus
Juli
Juni
Mei
April
Maret
Februari
Januari
% target
Gambar 6. Grafik Pencapaian Cakupan Pelayanan Nifas
Grafik diatas menunjukkan bahwa
sebenarnya kurang dari target yang
cakupan pelayanan nifas meningkat
ditetapkan oleh pemerintah yaitu
dari Bulan Januari 2009 sampai
Standar Pelayanan Minimal (SPM)
dengan Bulan Oktober 2009 yaitu
untuk pelayanan nifas
pencapaian akhir sebesar 80,7%.
90%.
Target cakupan pelayanan nifas
Perawatan
minimal
masa
nifas
untuk Puskesmas Kalibagor selama
adalah perawatan terhadap wanita
satu tahun sebesar 90% pada tahun
hamil yang telah selesai bersalin
2009, sehingga target yang harus
sampai alat-alat kandungan kembali
dicapai
Bulan
seperti sebelum hamil, lamanya
Oktober 2009 harus lebih dari atau
kira-kira 6-8 minggu. Seluruh alat
sama dengan 75%. Penafsiran dari
genetalia baru pulih kembali seperti
cakupan tersebut adalah status baik
sebelum kehamilan dalam waktu 3
yaitu cakupan diatas target yang
bulan.
telah ditetapkan dan mempunyai
dimulai sebenarnya sejak kala uri
kecenderungan cakupan bulanan
dengan
yang meningkat atau tetap jika
kemungkinan
dibandingkan
cakupan
perdarahan postpartum dan infeksi.
target
Bila ada perlukaan jalan lahir/luka
bulan
sampai
dengan
dengan
lalu.Pencapaian
Perawatan
masa
menghindarkan
nifas
adanya
kemungkinan
Colti Sistiarani, Analisis Pencapaian Indikator 9 Cakupan Program KIA
113
lakukan penjahitan dan perawatan
7, kunjungan kedua pada hari ke-8
dengan sebaik-baiknya. Penolong
sampai
persalinan harus tetap waspada
kunjungan ketiga pada hari ke-29
sekurang-kurangnya
sampai dengan hari ke-42.
sesudah
satu
melahirkan,
jam
karena
dengan
Kunjungan
hari
ke-28,
masa
nifas
kemungkinan terjadinya perdarahan
bertujuan untuk mencegah dan
postpartum. (Hanifa, 2005)
mendeteksi perdarahan pada masa
Kunjungan ibu nifas adalah
nifas dan akibat infeksi nifas salah
kontak ibu nifas dengan tenaga
satunya infeksi saluran kencing,
kesehatan minimal 3 kali untuk
infeksi
mendapatkan
dan
payudara, membantu ibu dalam
pemeriksaaan kesehatan ibu nifas
teknik dan cara pemberian ASI
baik di tempat pelayanan kesehatan
awal
maupun di luar tempat pelayanan
konseling pada ibu mengenai hal-
kesehatan (termasuk bidan desa di
hal berkaitan dengan asuhan pada
poskesdes dan kunjungan rumah).
bayi serta memberikan konseling
Ketentuan
untuk penggunaan alat kontrasepsi/
sebagai
pelayanan
pelayanan
berikut
:
adalah
kunjungan
pada
yang
genetalia,
tepat,
memberikan
KB.
pertama pada hari 1 sampai hari ke-
6. Cakupan Kunjungan Neonatal
(KN)
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
% Pencapaian
Oktober
% Pencapaian
September
Agustus
Juli
Juni
Mei
April
Maret
Februari
% target
Januari
infeksi
Gambar 7. Grafik Pencapaian Cakupan KN
114
Jurnal Kesmasindo Volume 5, Nomor 2, Juli 2012, hlm. 95- 120
Grafik diatas menunjukkan bahwa
yang meningkat atau tetap jika
cakupan kunjungan neonatal (KN)
dibandingkan
meningkat dari Bulan Januari 2009
bulan
sampai dengan Bulan Oktober 2009
sebenarnya kurang dari target yang
yaitu pencapaian akhir sebesar
ditetapkan oleh pemerintah yaitu
85,7%. Target cakupan kunjungan
Standar Pelayanan Minimal (SPM)
neonatal
untuk kunjungan neonatal minimal
untuk
Kalibagor
Puskesmas
selama
satu
tahun
lalu.
dengan
cakupan
Pencapaian
target
90%.
sebesar 90% pada tahun 2009,
Pelayanan neonatal meliputi
sehingga target yang harus dicapai
pencegahan
sampai dengan Bulan Oktober 2009
asfiksia,
harus lebih dari atau sama dengan
penanganan
75%.
pencegahan dan penanganan Bayi
Penafsiran
dari
tersebut adalah status
cakupan
Berat
baik yaitu
Lahir
pencegahan
kejang/ikterus
ditetapkan
pencegahan
mempunyai
kecenderungan cakupan bulanan
penanganan
pencegahan
cakupan diatas target yang telah
dan
dan
dan
hipotermia,
Rendah
dan
penanganan
ringandan
(BBLR),
sedang,
penanganan
gangguan minum.
7. Cakupan Penanganan Kesehatan Balita Sakit
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
% Pencapaian
Oktober
% Pencapaian
September
Agustus
Juli
Juni
Mei
April
Maret
Februari
Januari
% target
Gambar 8. Grafik Pencapaian Cakupan Penanganan Balita Sakit
Colti Sistiarani, Analisis Pencapaian Indikator 9 Cakupan Program KIA
115
Grafik diatas menunjukkan
mengukur berat badan anak balita
bahwa cakupan penanganan balita
yang setiap bulan yang tercatat
sakit meningkat dari Bulan Januari
pada buku KIA. Bila berat badan
2009 sampai dengan Bulan Oktober
tidak naik dalam 2 bulan berturut-
2009
akhir
turut atau berat badan balita berada
sebesar 93,4%. Target cakupan
pada dibawah garis merah, maka
penanganan
untuk
harus dirujuk ke sarana pelayanan
Puskesmas Kalibagor selama satu
kesehatan. Suplementasi vitamin A
tahun sebesar 90% pada tahun
juga
2009, sehingga target yang harus
kesehatan bagi balita dan diberikan
dicapai
minimal 2 kali per tahun.
yaitu
pencapaian
balita
sampai
sakit
dengan
Bulan
merupakan
pelayanan
Oktober 2009 harus lebih dari atau
Pelayanan kesehatan juga
sama dengan 75%. Penafsiran dari
meliputi upaya pengobatan yang
cakupan tersebut adalah status baik
diberikan
yaitu cakupan diatas target yang
Penyakit-penyakit yang umumnya
telah ditetapkan dan mempunyai
terjadi pada anak balita antara lain
kecenderungan cakupan bulanan
diare, batuk dan pilek, panas dan
yang meningkat atau tetap jika
demam, serta penyakit infeksi lain
dibandingkan
yang disebabkan oleh virus, bakteri
bulan
lalu.
dengan
Pencapaian
cakupan
target
kepada
anak
balita.
dan parasit sebagai perantara.
sebenarnya kurang dari target yang
Penyakit yang disebabkan
ditetapkan oleh pemerintah untuk
oleh
penanganan kesehatan anak balita
tuberculosis,
sakit minimal 95%.
tetanus, demam tifoid. Penyakit
Pelayanan kesehatan anak
infeksi
bakteri
adalah
difteria,
pertusis,
yang disebabkan oleh infeksi virus
balita adalah pelayanan kesehatan
antara
terhadap anak yang berumur 12 –
campak/morbili,,
59 bulan yang sesuai dengan
poliomielitis,
standar oleh tenaga kesehatan yang
Dengue (DBD), Hepatitis
meliputi
pemantauan
Hepatitis A. Penyakit lain yang
tumbuh kembang setiap bulannya.
diakibatkan oleh parasit seperti
Pemantauan pertumbuhan adalah
malaria
pelayanan
lain
dan
gondongan/mumps,
varisela,
Demam
Berdarah
kecacingan
B dan
juga
116
Jurnal Kesmasindo Volume 5, Nomor 2, Juli 2012, hlm. 95- 120
umumnya sering terjadi pada anak
Hasil tersebut salah satunya
(Rampengan, 2007)
dipengaruhi
Jumlah kematian balita pada
oleh
kurangnya
kebersihan (hygiene) dan sanitasi
profil kesehatan puskesmas tahun
dari
2008 adalah sebesar 16 balita mati.
masyarakat
Diare pada balita ditangani sebesar
sarana
55,65%,
perilaku hidup bersih dan sehat,
pneumonia
balita
individu,
keluarga
dan
melalui
penyediaan
bersih,
kurangnya
air
ditangani sebesar 1,17%, balita gizi
kurangnya
buruk
tumbuh
kelangsungan dan perkembangan
Hasil
dini anak. Selain itu puskesmas
tersebut bertolak belakang dengan
juga mengupayakan pemberantasan
hasil cakupan penanganan balita
penyakit
menular,
peningkatan
sakit
cakupan
imunisasi,
peningkatan
0,51%,
kembang
deteksi
balita
telah
16,51%.
memenuhi
target.
kepedulian
kesehatan
dan
Menurut SKRT 2001 sebab utama
pelayanan
kematian bayi dan anak antara lain
termasuk pelayanan kontrasepsi,
disebabkan oleh Infeksi Saluran
promosi pemberian ASI eksklusif
Pernapasan Akut (ISPA), diare,
dan pemantauan pertumbuhan anak.
tetanus neotarum, saluran cerna,
penyakit syaraf.
8. Cakupan Buku KIA
80
70
60
50
% Pencapaian
40
% target
30
20
10
Oktober
% Pencapaian
September
Agustus
Juli
Juni
Mei
April
Maret
Februari
Januari
0
Gambar 9. Grafik Pencapaian Cakupan Buku KIA
reproduksi
Colti Sistiarani, Analisis Pencapaian Indikator 9 Cakupan Program KIA
Grafik diatas menunjukkan
bahwa
cakupan
buku
KIA
117
Buku KIA dapat menjadi
sarana
yang
efektif
untuk
meningkat dari Bulan Januari 2009
memberikan
sampai dengan Bulan Oktober 2009
baik bagi ibu. Fungsi buku KIA
yaitu pencapaian akhir sebesar
yang lain adalah sebagai pencatatan
65%. Target cakupan buku KIA
medis
untuk Puskesmas Kalibagor selama
permasalahan selama kehamilan,
satu tahun sebesar 90% pada tahun
imunisasi, dan status gizi dapat
2009, sehingga target yang harus
terekam dengan baik dan dapat
dicapai
digunakan sebagai alat pemantau
sampai
dengan
Bulan
pengetahuan
ibu,
sehingga
yang
berbagai
Oktober 2009 harus sama dengan
menuju
cakupan kunjungan pertama ibu
kontak dengan petugas serta status
hamil
kesehatan
(K1)
sebesar
92,6%.
persalinan.
Frekuensi
kehamilan
juga
Penafsiran dari cakupan tersebut
merupakan ruang lingkup kualitas
adalah status kurang baik yaitu
pelayanan antenatal.
cakupan dibawah target yang telah
ditetapkan
dan
mempunyai
Buku
KIA
diberikan
kepada ibu hamil oleh tenaga
kecenderungan cakupan bulanan
kesehatan pada saat
yang meningkat atau tetap jika
antenatal kontak pertama (K1).
dibandingkan
Dengan
dengan
cakupan
bulan lalu.
demikian
pelayanan
besarnya
cakupan buku KIA harus sama
Hasil pencapaian cakupan
dengan cakupan K1. Bila cakupan
K1 sampai dengan Bulan Oktober
buku KIA kurang dari cakupan K1,
2009
92,6%,
petugas harus mendatangi ibu hamil
cakupan
yang sudah K1 tapi belum punya
buku KIA sampai dengan bulan
punya buku KIA dengan melihat
Oktober 2009 hanya sebesar 65%.
catatan pada register kohort ibu.
adalah
sedangkan
sebesar
pencapaian
Dari hasil tersebut maka masih ada
Kualitas
ibu yang melakukan pelayanan
antenatal
antenatal
informasi tentang perilaku sehat,
namun
memperoleh buku KIA.
belum
adalah
pelayanan
mengenai
termasuk kepemilikan buku KIA.
Ibu yang memiliki buku KIA lebih
118
Jurnal Kesmasindo Volume 5, Nomor 2, Juli 2012, hlm. 95- 120
banyak yang melakukan layanan
buku KIA serta kadang kala ibu
antenatal ke bidan atau perawat
lupa dan menghilangkan buku KIA
dibanding ibu yang tidak memiliki
tersebut. Itu sebabnya pada saat
buku KIA. Secara umum lebih
pemberian
banyak ibu yang memiliki buku
kesehatan perlu menginformasikan
KIA menerima layanan antenatal
fungsi penggunaan buku KIA dan
dibanding dengan ibu yang tidak
diharapkan ibu dapat menyimpan
memiliki buku KIA.
dan
Program
Buku
Kesehatan
buku
KIA
membawanya
melakukan
pada
pelayanan
tenga
saat
antenatal
Ibu dan Anak (KIA) di Indonesia
ataupun pada saat penimbangan dan
sudah dimulai tahun 1994 dan pada
pemantauan tumbuh kembang anak.
tahun
2003
penggunaan
buku
Cakupan buku KIA masih
tersebut telah berkembang dengan
kurang hal ini karena masih adanya
pesat dan sudah menjangkau 27
ibu yang belum mendapatkan buku
propinsi. Penggunaan buku KIA
KIA
didukung SK Menteri Kesehatan
melakukan layanan antenatal serta
No 248/Menkes/SK/III/2004. Hal
ada ibu yang baru mendapatkan
tersebut menunjukkan
buku KIA
buku KIA ketika telah memiliki
disahkan secara nasional sebagai
anak dan kadangkala bidan di
satu – satunya sistem pencatatan
posyandu hanya memberikan Kartu
kesehatan ibu hamil dan anak
Menuju Sehat (KMS) bagi ibu
balita. Ibu yang melakukan layanan
hamil dan balita.
antenatal diberikan buku KIA untuk
dapat
dilakukan
pencatatan
pada
saat
pertama
kali
Penelitian Wakur di Papua
menyebutkan
Dinas
Kesehatan
mengenai kondisi kesehatan, selain
tidak menyediakan KMS tersebut,
itu buku KIA berfungsi sebagai alat
sehingga bidan desa bahkan dengan
edukasi dan komunikasi bagi ibu.
terpaksa
Cakupan buku KIA yang
menggandakan
KMS
sendiri bagi ibu dan balita. Progrm
masih kurang dibandingkan dengan
buku
cakupan
satunya
disosialisasikan sejak tahun 1994,
masih
namun kenyataan yang ada masih
kurang meratanya pendistribusian
ada tempat yang belum mendapat
disebabkan
K1
salah
antara
lain
KIA
sendiri
sudah
Colti Sistiarani, Analisis Pencapaian Indikator 9 Cakupan Program KIA
buku KIA. Buku KIA sendiri
kunjungan
digunakan
(KN1),
untuk
pemantauan
kehamilan, kelahiran serta tumbuh
kembang
balita.
sebagai
upaya
Hal
tersebut
pemantauan
cakupan
b. Status
KIA.
lebih merata dan menyeluruh.
baik
yaitu
cakupan penanganan komplikasi
sudah
pendistribusian buku KIA harus
penanganan
kurang
obstetrik
jika
pertama
anak balita sakit.
kesehatan ibu dan anak, sehingga
sewajarnya
neonatal
119
dan cakupan buku
2. Saran
a. Puskesmas Kalibagor diharapkan
dapat
meningkatkan
SIMPULAN DAN SARAN
cakupan penanganan komplikasi
1. Simpulan
obstetrik
a. Status
baik
yaitu
cakupan
kunjungan pertama ibu hamil
(K1),
cakupan
kunjungan
dan cakupan buku
KIA.
b. Dinas
Kesehatan
Banyumas
diharapkan
keempat
ibu
hamil
(K4),
meningkatkan
cakupan
ibu
hamil
yang
monitoring
dideteksi
berisiko
tinggi,
program
Kabupaten
dapat
kegiatan
dan
KIA
evaluasi
sehingga
cakupan pertolongan persalinan
diharapkan cakupan yang belum
oleh tenaga kesehatan, cakupan
mencapai
pelayanan
diperbaiki.
nifas,
cakupan
target
dapat
DAFTAR PUSTAKA
Percepatan Penurunan Angka
Alwi, Qomariyah. 2007. Tema Budaya yang
Kematian Ibu untuk Mencapai
Melatarbelakangi Perilaku Ibuibu
Penduduk
Asli
dalam
Pemeliharaan Kehamilan dan
Persalinan
Mimika.
di
Buletin
Sasaran MDGS, Jakarta
Kabupaten
Penelitian
Dasuki, Djaswadi. 2008. Persepsi Perilaku
Ibu
Hamil
Purworejo.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
2007.
Rancang
Bangun
Masyarakat
terhadap Risiko Kehamilan –
Persalinan
Kesehatan Vol 35 no 3.
dan
di
Kkabupaten
Laboratorium
Penelitian Kesehatan dan Gizi
Masyarakat, Yogyakarta
120
Jurnal Kesmasindo. Volume 5, Nomor 2, Juli 2012, hlm. 95- 120
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
1997.
Akselerasi
Penurunan
Angka Kematian Ibu, Jakarta
Obstetri
dan
Ginekologi.
Fakultas Kedokteran UI, Jakarta
Prawirohardjo,
Sastro.2002.
Pelayanan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Kesehatan
Maternal
2005. Kebijakan dan Strategi
Neonatal.
Yayasan
Nasional Kesehatan Reproduksi
Pustaka, Jakarta
di Indonesia. Jakarta
Pedoman
Manajemen
Umum
Penerapan
Buku
KIA. Jakarta
Petunjuk
Teknis
Penggunaan Buku KIA. Jakarta
Iskandar, et al. 1996. Mengungkap Misteri
Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Syafiq, Ahmad, dkk. 2007. Kepemilikan Buku
dan Pelayanan KIA. FKM-UI,
Jakarta
Wakur, One. 2007. Program Kesehatan Ibu
dan Anak di Puskesmas Studi
Kematian Ibu di Jawa Barat.
Fungsi
Pusat
Keerom Papua. Tesis Magister
Penelitian
Kesehatan
Lembaga Pendidikan UI. Jakarta
Manuaba, Ida B. 1998. Ilmu Kebidanan,
Penyakit
Kandungan
Keluarga
Berencana
Pendidikan
Bidan.
dan
untuk
Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Maine, Mc Cathy. 1992. A Framework for
Analysing the Determinant of
Maternal
Mortality.
WHO.
Geneva
Suatu Pengantar. Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta
Meilani, Niken,
dkk. 2009. Kebidanan
Komunitas.
Fitramaya.
Yogyakarta
Notoatmodjo. 2002. Metodologi Penelitain
Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta
Obstetri
Dinas
Kebijakan
Kesehatan
dan
di
Pelayanan
Kesehatan.UGM, Yogyakarta
Zulfansyah, Wahyu. 2008. Kebijakan dan
Pengelolaan
Antenatal
Care
bagi Bidan Desa di Kotamadya
Banda Aceh. Tesis Magister
Kebijakan
dan
Pelayanan
Kesehatan. UGM, Yogyakarta
World Health Organization. 1994. Perawatan
Ibu dan Bayi : Pedoman Praktis.
McKenzie, dkk. 2007. Kesehatan Masyarakat
Persatuan
Tropik Pada Anak. Penerbit
Kesehatan ibu dan Anak (KIA)
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
2003.
Bina
Rampengan. 2007. Pedoman Penyakit Infeksi
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
2003.
dan
Ginekologi Indonesia.
1991. Standar Pelayanan Medik
Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta
Download