Investasi Bodong - Adiwarman Karim

advertisement
Investasi Bodong
Written by Administrator
Wednesday, 27 March 2013 13:48 - Last Updated Wednesday, 27 March 2013 13:54
Republika | Senin, 18 Maret 2013
Investasi selalu mengandung risiko untung dan risiko rugi. Perusahaan yang menjual produk
investasi harus diawasi dengan ketat oleh otoritas untuk menghindari berbagai jenis penipuan. Di seluruh dunia, otoritas yang mengawasi perusahaan yang menjual produk investasi selalu
mengatur paling tidak tiga aspek. Aspek pertama pada tataran korporasi. Aspek ini paling tidak
terdiri dari tiga hal. Pertama, kecukupan modal minimum. Kedua, batasan portofolio investasi. Ketiga, pemisahan rekening perusahaan dan rekening nasabah. Pengaturan aspek ini
dimaksudkan untuk mencegah kejahatan korporasi (corporate crime).
Aspek kedua pada tataran pengelola perusahaan. Aspek ini paling tidak terdiri dari tiga hal
juga. Pertama, kompetensi manajemen berupa pengalaman dan keahlian. Kedua, integritas
pengurus berupa jejak rekam yang tidak tercela. Ketiga, tata kelola pengelolaan yang baik dan
transparan. Pengaturan aspek ini dimaksudkan untuk mencegah kejahatan pimpinan
perusahaan (white collar crime).
Aspek ketiga pada tataran pelaksana lapangan perusahaan. Aspek ini terdiri dari tiga hal. Pertama, pengenalan selera risiko nasabah (risk appetite). Kedua, pengetahuan tenaga
penjual akan produk investasi yang dijualnya. Ketiga, transparansi dalam menjelaskan risiko
investasi. Pengaturan aspek ini dimaksudkan untuk mencegah kejahatan tenaga pelaksana
(blue collar crime).
Persoalan mulai muncul ketika produk-produk investasi berkembang demikian cepat dan
mencari celah-celah regulasi sehingga produk-produk tersebut tidak berada dalam yurisdiksi
otoritas-otoritas yang selama ini bertugas mengawasi perusahaan yang menjual produk
investasi. Contoh yang paling anyar adalah kasus investasi emas bodong.
Tahun lalu Malaysia dan Singapura dikejutkan dengan skandal besar investasi emas bodong. The Gold Guarantee Malaysia (TGG-M) dan Asia Pacific Bullion yang berbasis di Singapura
dikejutkan dengan kaburnya pemimin perusahaan itu, Lee Song Teck. Geneva Singapura juga
melakukan hal yang sama, pemimpinnya, Leow Wee Khong, tidak diketahui keberadaanya.
Bank Sentral Singapura memasukkan tiga perusahaan itu dalam Daftar Waspada Investasi
Perusahaan Tidak Berijin.
1/4
Investasi Bodong
Written by Administrator
Wednesday, 27 March 2013 13:48 - Last Updated Wednesday, 27 March 2013 13:54
Bank Sentral Malaysia melakukan hal yang sama untuk Geneva Malaysia, Pageantry Gold,
Caesar Gold, Worldwide Far East dan Bestino. Sebagai taktik pemasarannya, salah satu
perusahaan itu malah mengaku model penjualan emasnya telah disetujui oleh Bank Sentral,
sesuai dengan prinsip syariah dan mempunyai Dewan Pengawas Syariah, bahkan
menampilkan foto mantan Perdana Menteri Malaysia untuk meyakinkan calon nasabahnya. Tiga pemimpin Geneva, Marcus Yee Yuen Seng, Ng Poh Weng, Chin Wai Leong disangkakan
telah melakukan praktek bank gelap, pencucian uang dan penghindaran pajak oleh Bank
Sentral Malaysia. Tiga orang ini juga menjadi pemimpin Geneva Singapura.
Perusahaan-perusahaan investasi emas bodong ini bersembunyi di celah regulasi yang belum
mengatur penjualan produk investasi emas berkedok penjualan emas. Mekanisme bisnis
mereka adalah menjual emas dengan harga 20-25% diatas harga pasar. Katakan saja harga
pasar Rp 500 ribu puriah per gram, dijual Rp 600 ribu per gram. Nasabah mendapat dua hal
untuk kelebihan harga itu. Pertama, nasabah dapat diskon harga 2,5% per bulan dari harga
beli emas. Kedua, pada akhir periode kontrak nasabah dapat jaminan pembelian kembali emas
seharga harga belinya.
Selisih harga emas itulah yang menyebabkan perusahaan sejenis ini tidak dapat dikategorikan
sebagai perusahaan penjual emas, tapi masuk dalam kategori perusahaan yang menjual
produk investasi. Selisih harga emas itulah yang berpotensi menjadi money game atau dikenal
luas sebagai sistem ponzi. Itu pula yang dijadikan alasan Bank Sentral Malaysia mengenakan
sangkaan “penghimpunan dana masyarakat secara ilegal”. Dalam prakteknya, bahkan
sebagian besar transaksi tidak terjadi penyerahan fisik emas, atau hanya sebagian kecil emas
yang diserahkan fisiknya, atau terjadi selisih waktu antara penyerahan uang dengan
penyerahan fisik emas.
Model bisnis yang persis sama kemudian ditawarkan di Indonesia. Salah satu perusahaan
bahkan menggunakan taktik pemasaran yang persis sama. Dengan menyalah-gunakan
rekomendasi Dewan Syariah Nasional MUI yang seharusnya digunakan untuk mengurus
kelengkapan ijin legalitas dari otoritas yang berwenang, namun digunakan untuk kepentingan
pemasaran mengelabui calon nasabah. Juga menampilkan foto Ketua DPR dan Ketua MUI
untuk tujuan yang sama. Setelah itu, giliran Indonesia dikejutkan dengan skandal yang sama,
kaburnya pemilik PT GTIS warga negara Malaysia, Michael Han Cun Ong, Edward C.H. Ho,
sedangkan Dato Zahari Sulaiman sebagai komisarisnya.
Kesadaran otoritas keuangan akan adanya celah regulasi ini, terlihat dari munculnya berbagai
2/4
Investasi Bodong
Written by Administrator
Wednesday, 27 March 2013 13:48 - Last Updated Wednesday, 27 March 2013 13:54
regulasi di beberapa negara tentang investasi emas. Cina bahkan sejak tahun 1949 melarang
penjualan produk investasi emas oleh swasta, baru sejak tahun 2002 diijinkan bertahap dengan
aturan yang ketat. Amerika Serikat juga telah melarang semua produk investasi emas dalam
bentuk produk derivatif emas dan perak kepada investor ritel. Bank Sentral India juga membuat
regulasi tentang hal yang sama. Otoritas Malaysia dan Singapura memasukkannya kedalam
yurisdiksi mereka sebagai kegiatan shadow banking.
Itu sebabnya ketika GTIS meminta rekomendasi DSN MUI untuk kelengkapan dokumen
mengurus legalitas ijin, DSN MUI memberikan sederet ketentuan dan syarat yang harus
dipenuhi. Diantara yang terpenting adalah harusnya adanya penyerahan uang dan fisik emas
secara tunai pada saat yang bersamaan. Memahami adanya perbedaan harga pembelian emas
dengan harga pasar, yang memasukkan perusahaan ini sebagai perusahaan yang menjual
produk investasi, DSN MUI mengarahkan perusahaan ini mengurus legalitas ijinnya ke Badan
Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). OJK tidak menjadi pilihan karena
yurisdiksinya tidak mencakup produk investasi berbasis komoditi.
Ada dua alasan DSN MUI mengarahkannya ke Bappebti. Pertama, UU No.10 tahun 2011
tentang Perdagangan Berjangka Komoditi telah mengakomodir produk syariah. Kedua, DSN
MUI telah bekerjasama dengan Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) untuk produk syariah
berdasarkan Fatwa DSN No. 82 tahun 2011. Hal ini sangat penting karena model bisnis seperti
yang ditawarkan GTIS ini memang belum dikenal dalam yurisdiksi Bappebti, BBJ, dan berbeda
dengan yang digariskan dalam Fatwa No. 82.
GTIS bermain di celah regulasi yang ada. Tidak masuk yurisdiksi Bank Indonesia, OJK,
maupun Bappebti. Yurisdiksi penjualan fisik emas juga tidak karena adanya perbedaan harga
beli emas dengan harga pasar, ada diskon bulanan, ada kontrak, ada buy back guarantee. DSN MUI jelas bukan otoritas yang memiliki yurisdiksi. DSN MUI diberi wewenang oleh UU
Perseroan Terbatas untuk memberikan rekomendasi syariah yang diperlukan dalam mengurus
ijin usaha bagi perusahaan yang akan menawarkan produk berbasis syariah.
Bank Indonesia sebagai otoritas yang mengatur micro-prudential khususnya bidang perbankan,
memang tidak memiliki wewenang untuk mengatur perusahaan non-bank seperti GTIS. Namun
bila GTIS melakukan kegiatan shadow banking tentu masuk dalam ranah BI. Sebagai otoritas
macro-prudential yang mencakup otoritas moneter dan sistem pembayaran, jelas
berkepentingan dengan cadangan emas dan cadangan devisa, dan tentunya perdagangan
emas dan valas.
3/4
Investasi Bodong
Written by Administrator
Wednesday, 27 March 2013 13:48 - Last Updated Wednesday, 27 March 2013 13:54
Oleh : Adiwarman A. Karim
4/4
Download