jurnal - FIS UM - Universitas Negeri Malang

advertisement
Dari Desentralisasi Hingga Good governance: Antara Harapan dan Realitas
Abd Mu’id Aris Shofa (Universitas Gadjah Mada)
Pelaksanaan Desentralisasi Asimetris dalam Tata Kelola Pemerintahan Daerah di Era Demokrasi
Andhika Yudha Pratama (Universitas Gadjah Mada)
Model Perlindungan Hak Perempuan Korban Tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga
Arbaiyah Prantiasih, M. Yuhdi , Siti Awaliyah (Universitas Negeri Malang)
Model Pembelajaran Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Multikultural
dalam Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi
A. Rosyid Al Atok, Suparlan Al Hakim, Sri Untari, Margono (Universitas Negeri Malang)
Bhinnekha Tunggal Ika: Khasanah Multikultural Indonesia di Tengah Kehidupan Sara
Gina Lestari (Universitas Gadjah Mada)
Strategi Penyelesaian Konflik Tanah Perkebunan
Ktut Diara Astawa (Universitas Negeri Malang)
Strategi Pembelajaran Model Inkuiri Jurisprudensi untuk Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan di Sekolah Menengah Atas
Sumarno (SMK Negeri 5 Kota Malang)
Revolusi Paradigma Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia
Sutoyo (Universitas Negeri Malang)
Pengembangan Alternasi Pembelajaran PPKn melalui
Modul Berbasis Kecakapan Sosial (Social Skills)
Zulis Mariastutik (Universitas Negeri Malang)
JPPK
Nomor 1
Halaman
1-75
Malang
Pebruari 2015
ISSN 0215-9902
JURNAL
PENDIDIKAN PANCASILA
DAN
KEWARGANEGARAAN
ISSN 0215-9902
Tahun 28, Nomor 1 Pebruari 2015
Terbit dua kali setahun, bulan Pebruari dan Agustus, ISSN 0215-9902 berisi tulisan ilmiah
tentang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan berupa artikel hasil penelitian, kajian
teori, dan penerapanya. Artikel-artikel dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing.
Ketua Penyuting
Siti Awaliyah
Anggota Penyunting
Sri Untari
A. Rosyid Al Atok
Nuruddin Hady
Rani Prita Prabawangi
Pelaksana Tata Usaha
Desinta Dwi Rapita
Sudirman
Muhammad Mujtaba Habibi
Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan diterbitkan oleh jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang bekerjasama dengan Asosiasi Profesi Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KNI).
Alamat Penyuting dan Tata Usaha: Laboraturium HKn, FIS, Universitas Negeri Malang Jl.
Semarang 5 Malang gedung I-1 Tlp.(0341) 551-312 (4 saluran), Pesawat 287 Fax.(0341) 566962. Langganan 2 nomor setahun Rp. 80.000,- Uang langganan dapat dikirim melalui wesel
pos ke alamat tata usaha.
Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan diterbitkan dalam Laboratorium Jurusan
HKn FIS Universitas Negeri Malang. Dekan: Sumarmi, Ketua Jurusan: Suparlan Al Hakim.
Sekretaris Jurusan: Margono. Kepala Laboratorium: Nur Wahyu Rochmadi. Terbit pertama
kali pada tahun 1988 dengan judul CIVICUS.
Penyuting menerima tulisan yang belum pernah diterbitkan dalam media cetak lain. Naskah
diketik dengan spasi rangkap pada kertas kwarto, panjang 10-20 halaman sebanyak 2 eksemplar
(selanjutnya silahkan membaca petunjuk bagi penulis pada sampul dalam belakang). Naskah yang
masuk dievaluasi oleh Penyunting ahli/peninjau ahli. Penyuting dapat melakukan perubahan pada
tulisan yang dimuat untuk keseragaman format, tanpa mengubah maksud dan isinya.
Berkala ini diterbitkan di bawah tim pengembangan Jurnal dan berkala Universitas Negeri
Malang. Pembina: Ach. Rofi’udin (Rektor), Ketua: Ali Saukah, Anggota: Suhadi Ibnu, Amat
Mukhadis, M. Guntur, Waseso, Margono.
JURNAL
PENDIDIKAN PANCASILA
DAN
KEWARGANEGARAAN
ISSN 0215-9902
Tahun 28, Nomor 1, Pebruari 2015
DAFTAR ISI
Dari Desentralisasi Hingga Good governance: Antara Harapan dan Realitas
Abd Mu’id Aris Shofa (Universitas Gadjah Mada)
Pelaksanaan Desentralisasi Asimetris dalam Tata Kelola Pemerintahan Daerah
di Era Demokrasi
Andhika Yudha Pratama (Universitas Gadjah Mada)
1-6
7-14
Model Perlindungan Hak Perempuan Korban Tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga
Arbaiyah Prantiasih, M. Yuhdi , Siti Awaliyah (Universitas Negeri Malang)
15-19
Model Pembelajaran Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Multikultural dalam
Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi
A. Rosyid Al Atok, Suparlan Al Hakim, Sri Untari, Margono
(Universitas Negeri Malang)
20-30
Bhinnekha Tunggal Ika: Khasanah Multikultural Indonesia di Tengah Kehidupan Sara
Gina Lestari (Universitas Gadjah Mada)
31-37
Strategi Penyelesaian Konflik Tanah Perkebunan
Ktut Diara Astawa (Universitas Negeri Malang)
38-49
Strategi Pembelajaran Model Inkuiri Jurisprudensi untuk Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan di Sekolah Menengah Atas
Sumarno (SMK Negeri 5 Kota Malang)
50-55
Revolusi Paradigma Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia
Sutoyo (Universitas Negeri Malang)
56-66
Pengembangan Alternasi Pembelajaran PPKn melalui Modul Berbasis
Kecakapan Sosial (Social Skills)
Zulis Mariastutik (Universitas Negeri Malang)
67-75
DARI DESENTRALISASI HINGGA GOOD GOVERNANCE:
ANTARA HARAPAN DAN REALITAS
Abd Mu’id Aris Shofa
Program studi Ketahanan Nasional, Universitas Gadjah Mada
Jl. Bulak Sumur Yogyakarta
email: [email protected]
Abstract: The decentralization in Indonesia has existed since colonial era with the enactment of
legislation ‘desentralizatie wet’ in 1903. Decentralization was expected to deliver good governance in
Indonesia government system. But even reformation has been running nearly 16 years, problems
such as corruption, mal-administration, and abuse of power still exist in Indonesia government.
These problems can be solved with stategic manner, such as preparation of the legal framework of
bureaucratic management by making changes to employment laws, bureaucracy should be managed
professionally and separate with political party, positioning adapted to the each potential employee
or technical capabilities, there should be prohibition against the politicization of the bureaucracy by
political authorities both at central and regional levels, and the last one there must be political will
from the government or society.
Key word: decentalization, good governace, bureaucratic reform
Abstrak: Desentralisasi yang ada di Indonesia sudah ada sejak jaman kolonial dengan
diberlakukannya undang-undang desentralizatie wet pada tahun 1903. Dengan diterapkannya
desentralisasi diharapkanakan melahirkan good governance dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Akan tetapi era reformasi yang berjalan hampir 16 tahun ini masih terjadi permasalahanpermasalahan, seperti korupsi, mal-administrasi dan penyalahgunaan kekuasaandalam pemerintahan
Indonesia. Permasalahan-permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan cara strategis seperti
penyusunan kerangka hukum manajemen birokrasi dengan mengadakan perubahan terhadap undangundang kepegawaian, birokrasi harus dikelola secara profesional dan tidak terikat dengan suatu
partai politik, penempatan posisi pegawai yang disesuaikan dengan potensi atau kemampuan teknis
masing-masing, harus ada larangan terhadap politisasi birokrasi oleh pejabat politik baik di pusat
maupun di daerah, dan yang terakhir harus ada political will dari pemerintah ataupun masyarakat.
Kata Kunci: desentralisasi, good governance, reformasi birokrasi
Keberadaan pemerintah oleh manusia modern
diperlukan untuk mencegah terjadinya kekuasaan
yang sentralistik dan otoriter seperti dalam sistem
monarkhi. Selain itu, keberadaan pemerintah juga
memiliki fokus utamauntuk menghapuskan
terjadinya “homo homini lupus bellum omnium
contra omnes”, yaitu mencegah manusia menjadi
serigala bagi manusia lainnya dan mencegah agar
yang kuat tidak sampai menguasai yang lemah.
Saat ini kebijakan pemerintah melalui
kebijakan desentralisasi menjadi salah satu aspek
yang mendapat perhatian khusus. Sejarah
desentraliasi di Indonesia telah mengalami masa
yang cukup panjang. Sebelum bangsa Indonesia
merdeka, dalam masa pemerintahan kolonial
Belanda telah memberlakukan Desentralizatie
Wet 1903 yang berlangsung cukup lama.
Sementara itu, dalam sejarah penyelenggaraan
pemerintahan daerah di Indonesia setelah
merdeka tercatat ada beberapa aturan atau
undang-undang mengenai penyelenggaraan
pemerintahan daerah yang pernah berlaku, antara
lain: UU No. 1 Tahun 1945, UU No. 22 Tahun
1948, UU No. 1 Tahun 1957, UU No. 18 Tahun
1965, UU No. 5 tahun 1974, UU No. 22 Tahun
1999, UU No. 32 Tahun 2004 dan yang
terakhiradalah UU No. 23 Tahun 2014. Dari setiap
peraturan yang berlaku, secara substansial
1
2 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
merupakan penjabaran dari amanat UUD 1945
Pasal 18,Pasal 18A dan 18B. Esensi dari peraturan
perundang-undangan tersebut tentunya
dilatarbelakangi oleh kondisi ekonomi dan sosial
politik yang sedang berkembang di masyarakat,
oleh karena itu penyelenggaraan pemerintahan
daerah di Indonesia berjalan amat dinamis untuk
mewakili semangat perbaikan dalam setiap
zamannya.
Langkah-langkah sistem desentralisasi yang
pernah dijalankan oleh pemerintah kolonial
Belanda berakhir seiring dengan kemenangan
pasukan Jepang atas pasukan Belanda dalam
perang Pasifik. Kekalahan tersebut menyebabkan
sistem pemerintahan yang dibangun oleh kolonial
Belanda berubah menjadi sistem pemerintahan
yang diciptakan oleh Jepang. Pemerintah
pendudukan Jepang menjalankan sistem
pemerintahan yang bersifat sentralistik dan hirarkis
komando. Permasalahan paling potensial yang akan
muncul jika menggunakan pendekatan sistem
sentralistik adalah godaan akan kekuasaan. Lord
Acton dalam (Oentarto dkk, 2004:5) mengatakan
bahwa “power tends to coorupt and absolute
power corrupt absolutely” yaitu, kekuasaan
akan cenderung pada praktik korupsi dan
kekuasaan yang absolut akan menimbulkan
kecenderungan korupsi secara absolut juga. Elit
penguasa akan menjadi rawan atas godaan
kekuasaan tersebut. Semakin banyak kroni yang
dilibatkan, maka akan rawan pula terjadi
penyalahgunaan kekuasaan, karena setiap kroni
akan meminta ongkos yang tinggi atas dukungan
yang telah diberikan kepada elit penguasa.
REFORMASI BIROKRASI DAN KORUPSI
Proses implementasi otonomi daerah yang
sudah berjalan sejak lama, tentu tidak selalu
berjalan sesuai dengan tujuan dan rel yang
seharusnya dilewati. Awal reformasi yang
disambut dengan suka cita dan euphoria oleh
masyarakat, diharapakan mampu terbit fajar baru
untuk membawa masyarakat kepada kondisi sosial,
ekonomi, politik dan moral yang lebih baik. Akan
tetapi pembentukan pemerintahan baru yang lebih
baik dan demokratis, bersifat terbuka atau
transparan kepada masyarakat, yang pada
akhirnya melahirkan suatu sistem good governance, demi tercapainya tujuan masyarakat adil
dan makmur, ternyata hingga kini masih menjadi
sebatas isu nasional dan harapan semu yang sulit
untuk diwujudkan. Pertanyaannya adalah
mengapa hal itu bisa terjadi, padahal dengan
munculnya reformasi, sistem demokrasi kita
semakin baik dengan adanya pemilihan presiden
dan kepala daerah (gubernur, bupati dan walikota)
secara langsung oleh rakyat.
Era reformasi dan kebijakan otonomi daerah
yang secara massif telah mendesentralisasikan
pengelolaan aparat birokrasi kepada pemerintah
daerah, ternyata bukan membuat pelayanan publik
di daerah menjadi lebih baik dan berkualitas,
melainkan sebaliknya, yaitu pelayanan publik
semakin rumit dan membuat rakyat semakin
sengsara. Salah satu penyebab terjadinya hal
tersebut adalah dengan semakin banyak prilaku
korup yang dilakukan oleh penyelenggara negara.
Praktik korupsi yang dulu hanya dilakukan oleh
pejabat tinggi di pusat, sekarang sudah menjangkiti
hampir semua pejabat daerah (provinsi, kabupaten
dan kota), baik korupsi yang dilakukan oleh
gubernur, bupati, walikota sampai dengan korupsi
yang dilakukan oleh para pegawai. Sehingga
masyarakat sipil juga sudah tidak asing dan bahkan
ikut dalam tindakan korupsi.
Dalam hal pelayanan birokrasi publik, justru
di era reformasi saat ini kondisinya semakin
terpuruk. Hal ini ditandai dengan adanya
penyerahan kewenangan manajemen kepegawaian kepada pembina kepegawaian pada setiap
daerah. Namun yang lebih menakutkan lagi apabila
para pembina kepegawaian adalah pejabat politik
yang menghendaki dukungan politik langsung untuk
melanggengkan jabatan politik. Modus yang
dipakai adalah mutasi, promosi jabatan besarbesaran, dan penempatan posisi seseorang yang
tidak berdasarkan atas kemampuan dan kualitas
pejabat tersebut. Sehingga yang terjadi kemudian
adalah sistem like or dislike dan bisa juga
mengarah pada tindakan penyalahgunaan
kekuasaan (abuse of power) yang pada akhirnya
akan melahirkan tindakan korupsi.
Prof. Dr. Miftah Thoha (2012:120)
menjelaskan bahwa di era otonomi daerah telah
melahirkan “raja-raja kecil” yaitu pejabat politik
sebagai pemimpin tertinggi dari birokrasi di daerah.
Maka tidak mengherankan jika kondisi bangsa kita
saat ini terjadi krisis kepemimpinan, krisis
keteladanan dan semakin masifnya tindakan
korupsi yang terjadi di daerah-daerah. Kekuasaan
yang seharusnya adalah untuk pengabdian, justru
yang terjadi adalah untuk pengumpulan pundipundi uang dan harta sebanyak-banyaknya dengan
Shofa, Dari Desentralisasi Hingga Goodgovernance: Antara Harapan dan Realitas
menghalalkan segala cara. Fenomena ini hampir
relevan dengan apa yang pernah disampaiakan oleh
Dipo Alam (2012) bahwa sepanjang Oktober 2004
sampai September 2012 ada 176 permohonan izin
pemeriksaan kepala daerah yang diajukan penegak
hukum kepada presiden.
Secara normatif praktik korupsi merupakan
realitas mal-administrasi, di mana birokrasi menjadi
tidak terkendali dan pada akhirnya organisasi
birokrasi sulit diukur pelayanannya. RoseAckermen (2006: 35) mengkategorikan korupsi ke
dalam tiga dimensi, yaitu: ekonomi, budaya dan
politik. Pertama, korupsi dalam dimensi ekonomi
berpangkal dari gejala yang salah dalam manjemen
negara, di mana institusi-institusi yang dirancang
untuk mengatur hubungan antara negara dengan
penduduk justru digunakan untuk memperkaya diri
dan mendapat tambahan keuntungan bagi yang
korup. Kedua, korupsi dalam dimensi budaya,
yang mana dalam hal ini korupsi digambarkan
sebagai tradisi memberi suap, gratifikasi dan
pemberian yang lain. Ketiga, korupsi dalam
dimensi politik, korupsi digambarkan sebagai
prilaku korup para aktor dalam menjalani hubungan
antara negara dengan sektor swasta atau antara
aktor politik dengan lembaga negara. Meski sudah
banyak regulasi dan lembaga yang dibentuk untuk
memberantas korupsi di sektor pelayanan publik
serta tindakan mal-administrasi lainnya, tetapi
tindakan korup dan penyalahgunaan kekuasaan
(abuse of power) masih lazim terlihat di
masyarakat hingga sekarang.
GOOD GOVERNANCE SEBAGAI SOLUSI
Konsep governance menjadi sangat penting
dan banyak di perbincangkan ketika konsep government dianggap kurang bisa menjadi leader
dalam mengikuti perubahan yang begitu cepat
dalam ranah pelayanan publik. Perubahan yang
dimaksud adalah bertambahnya kompleksitas
dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dalam
penye-lenggaraan pemerintahan sekarang ini
diperlukan pihak luar pemerintahan yang bisa
mendukung kinerja dari pemerintah dalam rangka
mewujudkan pelayanan publik yang lebih baik. Ada
3 hal yang menjadikan governance menjadi
konsep yang perlu dikembangkan: Pertama, governance adalah suatu sistem administrasi yang
melibatkan banyak pelaku dari pemerintah dan
unsur-unsur non pemerintahan. Governance
bukanlah sebagai pengganti government tetapi
3
lebih kepada pelengkap dari sebuah pemerintahan.
Kebijakan tidak lagi dikembangkan dengan
semata-mata
mempertimbangkan aspek
konstitusional legal formal saja, tetapi juga
mmpertimbangkan aspek nilai yang berkembang
dalam masyarakat. Kedua, Governance atau tata
kelola pemerintahan sengaja di kembangkan untuk
merespon masalah dan kepentingan publik.
Konsentrasi dari tata kelola pemerintahan adalah
kepentingan publik secara kolektif dan bukan pada
kepentingan warga negara sebagai individu.
Ketiga, Struktur yang dikembangkan bukanlah
struktur yang formal, rigid dan kaku, melainkan
struktur yang informal, lentur dan longgar.
Governance adalah mekanisme pengelolaan
sumber daya ekonomi dan sosial yang melibatkan
pengaruh sektor negara dan sektor non pemerintah
dalam suatu kegiatan kolektif. Pinto dalam Widodo
(2008:107) mengatakan bahwa governace adalah
praktik penyelenggaraan kekuasaan dan
kewenangan oleh pemerintah dalam pengelolaan
urusan pemerintahan secara umum dan
pembangunan ekonomi pada khususnya. Lembaga
Administrasi Negara (2000:1) mengartikan governance sebagai proses penyelenggaraan
kekuasaan negara dalam melaksanakan
penyediaan public goods and services.
Governace dapat ditinjau dari apakah pemerintah
telah berfungsi secara efektif dan efisien dalam
upaya mencapai tujuan yang telah digariskan atau
sebaliknya. UNDP (1997:9) governance diartikan
sebagai pelaksanaan kewenangan politik, ekonomi,
dan administrasi untuk me-manage urusan-urusan
bangsa dan negara.
Untuk mencapai cita-cita ideal governance
maka harus ada 3 hal yang harus dicapai: pertama,
Economic governance: yang mencakup proses
pembuatan keputusan yang mempengaruhi
aktivitas ekonomi negara atau berhubungan
dengan ekonomi lainnya baik secara langsung atau
tidak langsung. Karena itu economic governance
memiliki pengaruh atau implikasi terhadap equity,
poverty, dan quality of life. Kedua, political governance merujuk pada proses pembuatan
keputusan dan implementasi kebijakan suatu
negara yang legitimate dan authoritative.Karena
itu negara harusnya terdiri atas tiga cabang
pemerintahan yang terpisah yaitu eksekutif,
legislatif dan yudikatif, yang bisa mewakili
kepentingan politik yang pluralis. Ketiga, Administrative governance, yakni sistem implementasi
kebijakan yang melaksanakan sektor publik secara
4 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
efisien, tidak memihak, akuntabel dan terbuka.
Governance berlaku dan berlangsung di
semua tingkatan, baik nasional maupun lokal.
Sementara itu Good governance dipahami
sebagai tata kelola pemerintahan yang baik
dengan memenuhi prinsip akuntabilitas,
transparansi, responsivitas, kesamaan dan
keadilan, efektivitas dan efisien, kepastian hukum,
partisipatif dan representatif. Hal tersebut dalam
(UNESCAP 2011) dapat dijabarkan sebagai
berikut.
“(1) Akuntabilitas: prinsip ini mengandung arti bahwa tata kelola pemerintahan
adalah suatu sistem penyelenggaraan
yang melibatkan kerjasama multistakeholder baik masyarakat sipil maupun
sektor swasta. Relasi ini bersifat saling
mendukung dan melengkapi dalam
memenuhi kebutuhan publik.
(2) Transparansi: prinsip ini mengandung
arti bahwa pembuatan kebijakan
pemerintahan dan pelaksana-annya telah
sesuai dengan aturan yang berlaku. Hal
ini juga mengandung artian bahwa
terdapat ketersediaan dan keterbukaan
akses informasi yang dapat di lihat oleh
semua masyarakat.Sehingga seluruh
masyarkat mampu melakukan mekanisme kontrol terhadap penyeleng-garaan
pemerintahan.
(3) Responsivitas: prinsip ini mengandung
arti bahwa tata kelola pemerintahan
melalui struktur kelembagaannya di
kembangkan untuk tanggap menyikapi
tantangan dan mengatasi permasalahan
yang dihadapi seluruh elemen
masyarakat.
(4) Kesamaan dan keadilan: prinsip ini
mengandung arti bahwa tata kelola
pemerintahan yang baik harus
memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya. Hal iniberhubungan dengan
bagaimana menciptakan tata kelola
pelayanan kepada masyarakat tanpa ada
pengecualian dan harus didasarkan atas
azas keadilan. Sehingga masyarakat akan
merasa di hargai dan dilayani sebagaimana hak masyarakat sebagai
warganegara.
(5) Efektivitas dan efisiensi: prinsip ini
mengandung arti bahwa penyelengga-
raan pemerintahan dapat menghasilkan
pembangunan yang memenuhi kebutuhan masyarakat dengan pengelolaan
pelayanan terbaik. Konsep efisiensi
dalam konteks good governance juga
mencakup pemanfaatan berkelanjutan
sumber daya alam dan kelestarian
lingkungan hidup.
(6) Kepastian hukum: prinsip ini
mengandung arti bahwa tata pemerintahan yang baik harus menjunjung tinggi
azas kepastian hukum. Penyelenggaraan
pemerintahan harus menjalankan prinsip
persamaan semua orang di depan hukum
tanpa melihat status sosial, ekonomi,
politik ataupun kekuasaan.
(7) Partisipatif: prinsip ini mengandung
arti bahwa seluruh elemen masyarakat
harus terlibat aktif dan menjadi
pertimbangan dalam pembuatan kebijakan pemerintah/negara. Mayarakat
dapat menggunakan hak politiknya untuk
dipilih ataupun memilih melalui
pemilu.Selain itu juga masyarakat bebas
dalam menyampaikan aspirasinya melalui
akses media informasi dan organisasiorganisasi.
(8) Representative: prinsip ini mengandung arti bahwa tata pemerintahan yang
baik memiliki strategi untuk mengakomodasi kepentingan-kepentingan yang
berbeda dalam masyarakat. Terkait
pemahaman hal ini sangat di perlukan
pemahaman dalam konteks historis,
budaya, dan sosial dari kondisi
masyarakat.”
IMPLEMENTASI DI INDONESIA
Semangat reformasi yang bergulir tahun 1998
menjadi tonggak penting bagi kehidupan demokrasi
Indonesia. Selain bergantinya rezim kekuasaan
yang otoriter, gerakan reformasi juga menyuarakan pemberantasan korupsi, kolusi dan
nepotisme (KKN). Selama rentang waktu 16
tahun perjuangan untuk menghapuskan KKN
dengan cara reformasi birokrasi belum mencapai
hasil yang maksimal. Sehingga pencapaian good
governance belum mampu memenuhi hasrat dari
semangat perjuangan awal reformasi.
Parameter pengukuran dari kurang
maksimalnya dalam mewujudkan good gover-
Shofa, Dari Desentralisasi Hingga Goodgovernance: Antara Harapan dan Realitas
nance tersebut tidak bisa dilepaskan dari kinerja
birokrasi yang kurang profesional dan maraknya
kasus korupsi. Selain itu Siti Zuhro (2010:1) melihat
birokrasi di Indonesia juga masih tidak rasional,
gemuk (kaya struktur miskin fungsi), tidak netral
dan tidak transparan. Selain itu implementasi good
governance di Indonesia masih belum maksimal
dan cenderung stagnan karena para birokrat kita
belum mampu memisahkan antara jabatan politik
dengan jabatan birokrasi (Azhari, 2011:52).
Terwujudnya good governance di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari berhasil tidaknya
kinerja birokrasi. Keduanya mempunyai hubungan
yang positif, dalam arti saling mempengaruhi.
Kinerja birokrasi dan pemberdayaan masyarakat
yang semakin bagus dan intensif akan berpengaruh
positif terhadap pembangunan bangsa dan negara.
Hubungan yang bersinergi antara pemerintah dan
masyarakat, akan menghasilkan suatu pemerintahan yang kuat dan didukung oleh masyarakat.
Dibutuhkan keberanian melakukan perubahan
atau reformasi birokrasi untuk mewujudkan
pelayanan tata kelola pemerintahan yang lebih baik.
Strategi yang dilakukan dapat dimulai dari proses
rekrutmen sumber daya manusia yang profesional.
Birokrasi harus melakukan seleksi fit and proper
test dan menjauhkan dari sikap kolusi dan nepotisme,
birokrasi perlu memberikan penghargaan dan imbalan
gaji sesuai dengan pencapaian prestasi (reward merit
system) bukan hubungan kerja yang kolutif,
diskriminatif, dan kurang mendidik (spoil system),
yang paling penting juga adalah mengedepankan pola
reward and punishment yang mungkin selama ini
kurang berjalan. Birokrasi pemerintah harus netral
dan bisa membedakan antara jabatan publik dan
jabatan politik, sehingga tidak memanfaatkan fasilitas
negara untuk kepentingan pribadi, golongan,
kelompok atau partai politik.
5
Strategi lain untuk bisa membenahi birokrasi
dapat dilakukan mencakup empat aspek penting
sebagai berikut: Pertama, penyusunan kerangka
hukum manajemen birokrasi dengan mengadakan
perubahan terhadap undang-undang kepegawaian.
Kedua, birokrasi harus di kelola secara professional
dan tidak terikat dengan suatu partai politik.Ketiga,
penempatan posisi pegawai yang disesuaiakn
dengan potensi atau kemampuan teknis masingmasing. Keempat, harus ada larangan terhadap
politisasi birokrasi oleh pejabat politik baik di pusat
maupun di daerah (Azhari, 2011:317-318)
SIMPULAN
Membangun budaya birokrasi dalam sistem
pemerintahan yang ideal adalah membangun sikap
dan perilaku sistem yang harus diikuti secara
konsisten oleh pelakunya untuk menciptakan tata
pemerintahan yang baik dan amanah. Menjawab
permasalahan bangsa sekarang ini tentang carut
marutnya sistem birokrasi, tidakan korupsi yang
semakin massif dan sudah menjadi kebudayaan dari
masyarakat Indonesia mengakibatkan tidak
terwujudya good governance di masyarakat.
Untuk menjawab semua permasalahan yang sedang
dihadapi dan keinginan untuk mewujudkan tujuan
nasional bangsa Indonesia yang berdaulat adil dan
makmur, maka harus ada keberanian atau political will dari semua pihak untuk mau mewujudkan
dan mengimplementasikan peraturan-peraturan
yang sudah ada secara konsekuen. Selain itu juga
harus ada tindakan konkrit dalam upaya reformasi
birokrasi demi terwujudnya pemerintahan yang
bersih dan akuntabel (good governance). Usulan
tersebut cukup realistis dan penting untuk
ditindaklanjuti oleh semua pihak, baik masyarakat
maupun para pemimpin demi terwujudnya good
governance.
DAFTAR RUJUKAN
Azhari. 2011. Mereformasi Birokrasi Publik Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Lembaga Administrasi Negara dan Badan
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.
2000. Akuntabilitas dan Good Governance. Jakarta: LAN dan BPKP.
Oentarto, dkk. 2004. Menggagas Format
Otonomi Daerah Masa Depan. Jakarta:
Samitra Media Utama.
Rose-ackerman, Susan, 2006. Korupsi dan
Pemerintahan: Sebab, Akibat dan
Reformasi. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
Thoha, Miftah. 2005. Birokrasi dan Politik di
Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.
Widodo, Joko. 2005. Membangun Birokrasi
Berbasis Kinerja. Bayumedia Publishing:
Malang.
Zuhro, R. Siti. 2010. Good Governance dan
Reformasi Birokrasi di Indonesia. Jurnal
Penelitian Politik LIPI, Vol 7, No. 1.
PELAKSANAAN DESENTRALISASI ASIMETRIS DALAM TATA
KELOLA PEMERINTAHAN DAERAH DI ERA DEMOKRASI
Andhika Yudha Pratama
Program Studi Pertahanan Nasional, Universitas Gadjah Mada
Jl. Bulak Sumur Yogyakarta
email: [email protected]
Abstract: after the fallen of Soeharto centralistic government, there’s revolution wave in Indonesia.
Changing in government system was one of cange wanted by people. Centralistic immedietly replaced with Decentralistic.This decentralistic system later creates new variant : asymetrical decentralization. Asymemetrical decentralization are given to special province in order to create public
welfare and maintain the unity of NKRI. This paper hopes to give alternative view of asymetrical
decentralization in Indonesia.
Keywords : asymetrical decentralization, democratic government system
Abstrak: pasca runtuhnya pemerintahan sentralistik Soeharto, gelombang perubahan yang terjadi
di Indonesia semakin marak. Dari segi perubahan dalam hal tata kelola pemerintahan adalah salah
satu tuntutan utama dari masyarakat pasca lengsernya Soeharto sebagai Presiden.
Pemerintahansentralistik yang tidak ideal langsung diganti dengan pemerintahan yang desentralistik.
Pelaksanaan pemerintahan yang desentralistik kemudian diwujudkan melalui mekanisme otonomi
daerah yang merupakan pemberian kewenangan otonomi dari pemerintah pusat kepada daerah otonom.
Kewenangan yang dimaksud adalah kemandirian daerah untuk serta-merta mengurus dan mengatur
urusan daerah itu sendiri. Ternyata dalam dinamika pelaksanaan desentralisasi ini melahirkan varian
baru yang berupa desentralisasi asimetris.
Kata Kunci: desentralisasi asimetris, tata kelola pemerintahan, demokrasi
Berangkat dari sebuah konsensus besar yang telah
disepakati oleh seluruh elemen negeri ini, pemilihan
sistem demokrasi sebagai sistem politik Indonesia
adalah sesuatu keniscayaan. Kuantitas demografi
yang menunjukkan angka yang teramat besar,
ditunjang pula dengan aspek geografis yang
berjarak serta kondisi sosio-kulutural yang
beragam, memang menuntut perlakuan yang sama
dalam berbagai segi kehidupan. Wajar jika hal
tersebut menjadi pertimbangan dalam hal pemilihan
sistem demokrasi sebagai konsensus sistem politik
di Indonesia. Kesetaraan dalam partisipasi setiap
warga negara yang memang menjadi salah satu
aspek yang dibawa oleh sistem demokrasi
membuat sistem ini layak dipandang ideal.Belum
lagi jika dikaitkan dengan aspek historis yang
terjadi di tahun 1998,pecahnya reformasi dengan
tuntutan demokratisasi yang kuat dipandang telah
membawa era baru dalam dinamika pemerintahan
Indonesia.
Era sentralistik yang berlangsung hampir 32
tahun sangat dirasakan banyak kalangan telah
“mengebiri” jiwa dan semangat berdemokrasi bagi
seluruh elemen warga negara.Dengan hanya
bertitik fokus pada pusaran kekuasaan di
pemerintah pusat yang begitu tertutup, dipandang
telah menjauhkan aspek good governance (tata
kelola pemerintahan yang baik) di Indonesia.
Menguatkan fakta tersebut, desertasi doktoral dari
Kuntjara Jakti dalam Wignosoebroto, dkk (2005:
123-124) mengungkapkan,
Dalam pemerintahan orde baru kita
dihadapkan adanya kenyataan adanya
ketimpangan antar daerah yang sangat
besar. Kebobrokan orde Soeharto yang
banyak disoroti dari merebaknya praktik
KKN, ketidakmerataan pendapatan dan
pembangunan yang kesemuanya hanya
membentuk jurang disparitas diantara
6
Pratama, Pelaksanaan Desentralisasi Asimetris dalam Tata Kelola Pemerintah Daerah di Era Demokrasi
kehidupan sosial masyarakat.Sistem
“komando” yang dijalankan tidak mampu
menggerakan unit-unit di daerah untuk
dapat berkembang secara mandiri dalam
hal pengolahan dan pemanfaatan
berbagai potensi sumber daya yang ada.
Selain itu apa yang dituliskan oleh Huda
(2014:4) juga menyumbang alasan bahwa
dominasi pemerintah pusat atas urusan-urusan
pemerintahan telah mengakibatkan hubungan
antara pemerintah pusat dan daerah dalam
negara kesatuan menjadi tidak harmonis.
Fenomena tersebut dapat dikategorikan sebagai
fenomena yang masif karena pemerintah mampu
untuk menutupi “borok-borok” rezim.Dengan
cara pencitraan penguasa yang dengan begitu
luwes bermain dengan angka pertumbuhan
ekonomi, stabilitas politik, swasembada pangan
dan jaminan-jaminan lainnya, membawa banyak
orang “ter-nina bobokan” dengan hal tersbut.
Padahal berapa triliun uang negara menjadi
bancakan para elit, praktik KKN yang semakin
memperburuk kinerja birokrasi,serta berapa
banyak aset negara yang dijual ke pihak
asing.Pada intinya pola statis pada pemerintahan
sentralistik yang terjadi kala itu gagal membawa
Indonesia untuk menjadi negara yang berdaulat
adil dan makmur.
Oleh karena itu, sebagai bentuk perubahan
dalam upaya pembenahan tata pemerintahan
yang baik dan adil dar i konteks yur idis
dicetuskanlah UU No.22 Tahun 1999 tentang
desentralisasi dan otonomi daerah. Langkah
strategis ini menuai respon positif, salah satunya
dari apa yang dikemukakan oleh Tjiptoherijanto
(2009:317), bahwa kejatuhan pemerintahan orde
baru di tahun 1998 dan pengimplementasian UU
No.22 Tahun 1999 Tentang Desentralisasi dan
Otonomi Daerah, merupakan momentum yang
telah membuka peluang bagi ter ciptanya
reformasi birokrasi di Indonesia. Selain itu respon
positif pun muncul dari Thoha (2012: 123) yang
mengatakan UU No.22 Tahun 1999 merupakan
tonggak dilaksanakannya reformasi terhadap
pelaksanaan pemerintahan di daerah yang
demokratis.Di antara kedua argumen tersebut,
dapat disimpulkan bahwa salah satu yang
terpenting dari keruntuhan rezim Soeharto adalah
berakhirnya pemerintahan sentralisitik yang
dipandang tidak ideal dan efektif. Pelaksanaan
otonomi daerah yang ber dasar kan asas
7
desentralisitik yang menjadi titik tekan dalam
mengarungi bahtera demokrasi di Indonesia.
DESENTRALISASI DAN DESENTRALISASI ASIMETRIS DI INDONESIA
Istilah desentralisasi seketika menjadi begitu
populer pasca kerjatuhan rezim presiden Soeharto.
Dapat pula dikatakan bahwa desentralisasi yang
kemudian dijadikan asas penyelenggaraan
pemerintahan daerah merupakan antitesa dari
pelaksanaan pemerintahan sentralistik yang ketika
itu dijalankan oleh pemerintahan Soeharto.Begitu
populernya istilah ini dalam wacana dan kajian
yang hampir pasti muncul ketika melakukan
pembahasan mengenai pemerintahan daerah dan
otonomi daerah di Indonesia. Dari segi definisi
desentralisasi merupakan bentuk pemberian
kewenangan dari pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah untuk melakukan menajerial
terhadap urusan di daerahnya yang dapat pula
menyangkut pengelolaan, pengolahan dan
pemanfaatan potensi daerah. Berdasarkan UU
No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah
Pasal 1 ayat 8, desentralisasi adalah penyerahan
urusan pemerintahan oleh pemerintah pusat
kepada daerah otonom berdasarkan asas otonomi.
Sedangkan menurut Joeniarto dalam Huda (2014:
37) menyatakan bahwa desentralisasi adalah
wewenang dari pemerintah negara kepada
pemerintah lokal untuk mengatur dan mengurus
urusan tertentu sebagai urusan rumah tangganya
sendiri. Dalam pelaksanaan desentralisasi ini
pemerintah daerah mendapat begitu besar
kewenangan untuk mengurusi segala urusan yang
menyangkut hal-hal didaerah kekuasaannya
kecuali lima urusan yang tetap menjadi urusan
pemerintah pusat. Selain berkenaan dengan
urusan moneter dan fiskal, peradilan, pertahanan
dan keamanan, politik luar negeri dan agama
pemerintah daerah dapat leluasa berdinamika.
Pelaksanaan desentralisasi di Indonesia
sebenarnya bukan menjadi sesuatu yang baru.
Tercatat pembahasan desntralisasi ini mulai
diperbincangkan di tahun 1950-an seiring
pembaharuan-pembaharuan terhadap sistem
demokrasi di negara-negara berkembang. Agenda
besar pelaksanaan desentralisasi, termasuk di Indonesia, adalah sebagai upaya penguatan peran
pemerintah dalam menyelenggarakan negara
melalui pendayagunaan pemerintah lokal. Dalam
perkembangannya desentralisasi tidak begitu saja
8 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
berdiri tunggal. Ada dan dimunculkan varian lain
dari pelaksanaan desentralisasi, yaitu desentralisasi
asimetris (asymmetric decentralization). Istilah
desentralisasi asimetris menjadi hal yang menarik
karena memang istilah ini tidak begitu jamak
digunakan dalam berbagai wacana dan kajian.
Dimensi terminologinya menjelaskan jika
desentralisasi asimetris dapat diartikan sebagai
transfer kewenangan khusus yang hanya diberikan
kepada daerah tertentu dalam rangka menjaga
eksistensi daerah dalam NKRI. Djohermansyah
Djohan dalam Huda (2014:63) lebih komprehensif
dalam memberikan pemahaman terkait
desentralisasi asimetris.
Desentralisasi asimetris (asymmetric decentralization) bukanlah pelimpahan
kewenangan biasa yang berbentuk transfer kewenangan khusus yang hanya
diberikan kepada daerah-daerah tertentu.
Secara empirik merupakan strategi
komprehensif pemerintah pusat guna
merangkul kembali daerah-daerah yang
hendak memisahkan diri dari pangkuan
ibu pertiwi. Dia mencoba mengakomodasi
tuntutan dan identitas lokal ke dalam
sistem pemerintah lokal yang khas.
Dengan begitu diharapkan perlawanan
terhaap pemerintahan nasional dan
keinginan untuk merdeka dapat dieliminasi
lewat sistem pemerintahan lokal yang
spesifik seperti yang dipraktikkan di
beberapa negara antara lain wilayah
Quebeq di Kanada, Mindanao di Filipina,
Bougainville di Papua New Gunie, dan
Bosque di Spanyol. Mereka misalnya,
boleh punya bendera, bahasa, partai politik
lokal dan bagi hasil sumber-sumber
pendapatan yang lebih besar.
Sedangkan cara pemberiannya berbedabeda tergantung tendensi masing-masing daerah.
Lebih lanjut disebutkan Mandasari (2014:2-3), yaitu
Pertama, melalui carasoft, misalnya untuk Daerah
Istimewa Yogyakarta dan DKI Jakarta; Kedua,
melalui cara hard, misalnya Aceh dan Papua yang
tekanan sparatis dan konfliknya tinggi. Ada
beberapa hal yang patut digaris bawahi dari
pemaknaan dari desentralisasi asimetris ini.
Desentralisasi asimetris diberikan sebagai jalan
tengah dari potensi negatif (konflik SARA,
spartisme, kesenjangan sosial, masalah
pemerataan pembangunan) yang berkembang di
dalam sosio-kultural masyarakat setempat.
Pola pelaksanaan pemerintahan lokal ini yang
sedikit tidak mainstream, terbungkus dalam
penggunaan istilah daerah khusus, otonomi khusus
dan daerah istimewa, istilah tersebut yang jamak
digunakan. Desentralisasi asimetris muncul
sebagai solusi atas kenyataan bahwa penerapan
desentralisasi di masing-masing daerah ternyata
tidak dapat dilaksanakan secara merata diseluruh
Propinsi di Indonesia. Desentralisasi asimetris
menjadi alternatif dari konsep desentralisasi yang
salah satunya diterapkan di Daerah Khusus
Ibukota Jakarta (DKI Jakarta), Otonomi Khusus
(Otsus) Papua, Daerah Istimewa Yogyakarta
(DIY), dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
DKI JAKARTA IBUKOTA REPUBLIK
INDONESIA
Pemberian status khusus kepada Daerah
Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) lebih
ditekankan pada aspek historisnya. Keberadaan
DKI Jakarta dalam sejarah perjuangan
kemerdekaan bangsa Indonesia tidak bisa lepas
dari dipilihnya Jakarta sebagai tempat
diselenggarakan peristiwa-peristiwa besar bangsa
Indonesia. Selain pernah dikenal sebagai Batavia,
Jakarta juga menjadi tempat pusat pergerakan
seperti lahirnya Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda,
hingga Proklamasi kemerdekaan 1945.
Konsentrasi pemerintahanan kekuasaan inilah
yang kemudian menjadikan Jakarta sebagai
Ibukota negara.
Dalam perkembangannya, pemberian status
keistimewaan Jakarta ini telah ada melalui
Penetapan Presiden No.2 Tahun 1961 tentang
Pemerintahan Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Raya oleh presiden Soekarno. Huda (2014:168)
mengungkapkan lebih lanjut bahwa dasar
pemberian ini adalah:
1) Jakarta sebagai ibukota negara patut
dijadikan indoktrinasi, kota teladan dan
kota cita-cita bagi seluruh bangsa Indonesia; 2) sebagai ibukota negara, daerah
Jakarta Raya perlu memenuhi syaratsyarat minimun dari kota internasional
dalam waktu yang sesingkat-singkatnya;
3) untuk menciptakan tujuan tersebut di
atas, maka Jakarta Raya harus diberikan
kedudukan yang khusus sebagai daerah
Pratama, Pelaksanaan Desentralisasi Asimetris dalam Tata Kelola Pemerintah Daerah di Era Demokrasi
yang langsung dikuasai oleh Presiden/
Pemimpin Besar Revolusi.
Aturan yang dikeluarkan ini maksud besarnya
adalah Jakarta diberikan kewenangan khusus yang
langsung berada di bawah Presiden. Memasuki
pemerintahan Soeharto, keistimewaan yang
diberikan pemerintah pusat kepada DKI Jakarta
berupa gubernur yang didampingi oleh 5 orang
wakil gubernur.
Pasca runtuhnya pemerintahan yang
sentralisitik dan kemudian berhembusnya angin
bercorak desentralistik yang menghinggapi
pemerintahan daerah di Indonesia, DKI Jakarta
turut pula mengalami perubahan. Ada hal yang
khusus didapatkan oleh DKI Jakarta, seperti yang
telah disebutkan oleh Bukhari (2014: 2-3), mimpi
besar presiden Soekarno tentang grand design
DKI Jakarta sebagai kota internaional membuat
pembanguanan di Jakarta begitu intens. Selain
Gubernur dilibatkan dalam rapat kabinet presiden
yang menyangkut urusan tata kelola ruang di
Ibukota, DKI Jakarta tidak perlu melakukan
pemilihan kepada daerah tingkat kota. Pemilihan
walikota di DKI Jakarta dipilih oleh Gubernur atas
pertimbangan DPRD Provinsi dari pegawai negeri
sipil yang memenuhi syarat.Dengan sistem
sedemikian rupa, maka Walikota bertanggung
jawab kepada Gubernur dengan olah wewenang
berupa garis komando.
Pelaksanaan desentralisasi asimetris di
DKI Jakarta dalam konteks evaluasi sungguh
berbeda dengan daerah lainnya, khususnya Papua
dan Aceh yang juga menerima status “istimewa”.
Menjadi pertimbangan besar dalam pemberian
keistimewaan kepada DKI Jakarta adalah lebih
kepada aspek historis.Dari segi kesejahteraan dan
keutuhan wilayah NKRI, DKI Jakarta dipandang
tidak memiliki potensi yang mengkhawatirkan
sehingga alasan-alasan tersebut dapat disisihkan
dari pembahasan.
MUTIARA HITAM PAPUA DAN PAPUA
BARAT
Pemberian Otonomi Khusus (Otsus) Papua
diatur dalam UU No. 21 Tahun 2001 dan mulai
diberlakukan pada 1 Januari 2002. Dasar
kebijakan Otsus berangkat dari fakta bahwa
berbagai bentuk disparitas serta ketimpangan
berbagai sektor di Papua. Ketimpangan ini dapat
dilihat dari tingkat kesejahteraan yang rendah,
9
pelayanan publik yang buruk, jaringan infrastruktur
yang masih memprihatinkan, hingga persoalan
rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM).
Belum lagi secara aspek geografis, Papua yang
termasuk daerah fountier yang didalamnya ada
gerakan sparatisme membuat tingkat kerentanan
lepas dari NKRI menjadi tinggi. Berbagai
problematika inilah yang menjadi alasan mayor
pemberian Otonomi Khusus (Otsus) bagi
Papua.Lebih lanjut Rahab (2010:103) menyatakan
bahwa pemberian Otsus Papua dianggap sebagai
upaya solutif terhadap berbagai masalah serta
tawaran bagi masyarakat Papua untuk tetap
bersatu dalam pangkuan NKRI.
Perbedaan kewenangan Papua muncul
sebagai jawaban atas keinginan masyarakat untuk
terlibat dalam mewujudkan keadilan, penegakan
hukum, penghormatan HAM, menyelenggarakan
pemerintahan dan pembangunan untuk
kesejahteraan rakyat dan diakuinya hak-hak dasar
penduduk Papua. Hosio (2007:3) mengemukakan
bahwa:
“tujuan dari UU No. 21 Tahun 2001
setidaknya memuat beberapa hal yaitu:
(1) mengurangi kesenjangan antara
provinsi Papua dengan provinsi lain, (2)
Meningkatkan taraf hidup masyarakat di
provinsi papua, (3) memberikan
kesempatan kepada penduduk asli
Papua. Dari latar belakang dan tujuan
dibentuknya Otsus Provinsi Papua, tujuan
mendasarnya diharapkan Otsus Papua
mampu menyelesaikan akar masalah
sesuai dengan aspirasi masyarakatnya”.
Titik berat Otsus Papua terdiri atas
perlindungan dan penghargaan terhadap moral dan
etika, memperhatikan hak-hak dasar penduduk
Papua, ditegakkannya supremasi hukum,
perlindungan HAM, serta mengutamakan
persamaan kedudukan sebagai warga negara. UU
No 21 Tahun 2001 sebagai landasan yuridis Otsus
Papua mengatur kewenangan antara Pemerintah
Pusat dengan Pemerintah Papua yang dilakukan
dengan kekhususan yang tercermin pada Pasal 5
ayat (2) bahwa “dalam rangka penyelenggaraan
Otsus di Papua dibentuk Majelis Rakyat Papua
sebagai representasi kultural orang Papua yang
memiliki kewenangan atas hak-hak orang Papua.
Selain itu, Otsus Papua memungkinkan terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang baik
10 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
dengan bercirikan partisipasi rakyat dalam
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan
pemerintahan dan pembangunan untuk sebesarbesarnya kebutuhan masyarakat”Pelaksanaan
Otsus ini dianggap tidak dapat menyelesaikan
permasalahan di Papua. Sehingga, muncul
wacana perbaikan dan penyempurnaan dengan
adanya Rancangan Undang-Undang Otsus Papua.
Pelaksanaan Otsus Papua tidak serta-merta
dapat memenuhi indikator tujuan. Terhitung sudah
13 tahun pelaksanaan Otsus Papua sejak
dikeluarkannya UU No. 21 Tahun 2001. Widjojo
dan Aisyah Putri Budiarti (2012:78) mengatakan
bahwa “Otsus Papua dapat dikatakan cenderung
gagal menjadijalan tengah” bagi konflik Papua
yang melingkar sejak 1960-an. Pelaksanaan Otsus
Papua dapat ditaksir dari dua hal, yaitu berkenaan
dengan pembangunan ekonomi dan penyelesaian
gerakan separatis”. Papua yang hingga sekarang
ini dikucuri dana Otsus hingga 40 triliun dan
kecenderungan tiap tahun meningkat, masih saja
menempatkan Papua sebagai kawasan tertinggal.
Pernyataan tersebut didasarkan atas Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) di Papua yang
masih rendah dibandingkan dengan provinsi
lainnya. Berdasarkan data yang disajikan BPS
dalam jurnal penelitian politik LIPI tahun 2012,
IPM di provinsi Papua tahun 2009 sebesar 68,58
(terendah di Indonesia) untuk Papua dan 64,53
(terendah ke-4 di Indonesia) untuk Papua Barat.
Data demikian cukup wajar dengan
membandingkan tingkat kemiskinan di Papua.
Masih merujuk pada sumber yang sama data BPS
(dalam Widjojo dan Aisyah Putri Budiarti, 2012:
71-75), data jumlah penduduk miskin di Papua
masih menunjukkan prosentase yang cukup besar,
yaitu 761,6 (per 1000 orang) di tahun 2010. Dari
data tingkat pendidikan tak kalah mengejutkan, dari
tahun 2008 hingga 2010, lebih dari 70% penduduk
usia sekolah tidak pernah mengenyam pendidikan
atau tidak lagi bersekolah. Dari segi kesehatan,
dana Otsus belum mampu memenuhi kebutuhan
pelayanan kesehatan di Papua. Hal ini terlihat dari
rasio perbandingan antara jumlah dokter dan
jumlah penduduk, yaitu rasionya 1 dokter
berbanding 3800 penduduk. Berkaitan dengan
kesempatan kerja, dana Otsus masih belum bisa
menjamin ketersediaan lapangan pekerjaan. Tahun
2010 dari jumlah pencari kerja sebesar 158.813
hanya tersedia 5.373 kesempatan kerja. Fakta
tersebut membuktikan rendahnya keterserapan
dana Otsus bagi pembangunan masyarakat Papua
selain praktik korupsi. Hal ini sejalan dengan
pandangan P.M. Laksono, dkk(2005:67) “keadaan
sosial politik di Papua cukup rumit, sehingga
penting untuk memahami sejumlah unsur yang ikut
berperan dalam menciptakan kondisi sosial politik
sebagai usaha untuk pembangunan masyarakat”.
Selain persoalan ekonomi, pelaksanaan Otsus
masih dihadapkan pada gerakan separatis yang
terus berlangsung. Meminjam pernyataan Kaisiepo
dalam Ikrar Nusa Bhakti dan Pigay (2012:12-14)
bahwa Papua yang kaya sejak dulu telah menjadi
“Pasar Kekerasan”. Cukup wajar jika disparitas
ekonomi yang terjadi ditanah yang kaya akan
sumber daya alam menimbulkan gejolak separatis.
Dalam kurun waktu antara 2000-2009, pemerintah
pusat menerima uang sebesar US$7.996.392.017
dari Freeport. Pada kurun yang sama, pemerintah
hanya memberikan 20 triliun kepada Papua
dimana nilai tersebut tidak besar untuk Papua. Hal
tersebut yang menjadi motif gerakan separatis
masih langgeng yang disisi lain juga menciptakan
ketidakpercayaan kepada pemerintah pusat.
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
(DIY)
Pemberian status keistimewaan kepada
Yogyakarta ada sedikit kemiripan dengan
pemberian status istimewa kepada DKI Jakarta.
Aspek historislah yang menjadi pertimbangan yang
vital bagi pemberian status keistimewaan kepada
Yogyakarta. Sebelum kemerdekaan RI,
Yogyakarta sudah memiliki kedaulatan penuh
sebagai kerajaan yang dipimpin Sri Sultan
Hamengkubowono IX (HB IX) dan Sri Paku
Alaman XIII (PA XIII) sehingga berdirinya NKRI
tidak bisa dilepaskan dengan berdirinya DIY.
Secara de facto, status keistimewaannya
dinyatakan oleh amanat HB IX dan amanat PA
XIII pada 5 September 1945 yang secara masingmasing menyatakan daerah Kasultanan dan
Pakualaman sebagai daerah istimewa. Selanjutnya
pada 30 Oktober 1945 terbit amanat yang isinya
hanya ada satu daerah istimewa di NKRI yaitu
Yogyakarta.HB IX dan PA XIII beserta seluruh
masyarakat Yogyakarta meresponnya melalui
serangkaian perjuangan yang heroik untuk
merebut kembali kemerdekaan RI. Yogyakarta
dipercaya jadi Ibukota Indonesia karena situasi
yang darurat di Jakarta saat itu.Secara yuridis,
pengakuan sebagai Daerah Istimewa lahir 3 Maret
1950 dengan dikeluarkannya UU No. 3 Tahun
Pratama, Pelaksanaan Desentralisasi Asimetris dalam Tata Kelola Pemerintah Daerah di Era Demokrasi
1950. Hal ini merupakan bentuk pengakuan dan
legalisasi secara de jure atas keistimewaan
Yogyakarta. Kemudian lebih lanjut, keistimewaan
DIY diakui oleh UUD 1945 dan diatur dengan
UU No.13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan di
DIY
Keistimewaan DIY bertujuan untuk
mewujudkan tata pemerintahan yang baik dan
demokratis. Perwujudan tata pemerintahan yang
baik ini diupayakan dengan cara melembagakan
peran dan tanggung jawab Kasultanan dan
Kadipaten dalam menjaga dan mengembangkan
budaya Yogyakarta sebagai warisan budaya
bangsa. Berdasarkan UU No. 13 Tahun 2012,
kewenangan istimewa meliputi tata cara pengisian
jabatan, kedudukan, tugas, dan wewenang
Gubernur dan Wakil Gubernur, kelembagaan
Pemerintah Daerah DIY, kebudayaan, pertanahan, dan tata ruang. Kewenangan inilah yang
kemudian menjadi ciri khusus dan membedakan
pengelolaan pemerintah DIY dengan pengelolaan
pemerintah di daerah lainya.
Keistimewaan DIY dalam penyusunan
penyelenggara pemerintahan dapat ditilik dari
Pasal 28 ayat (1) hingga ayat (8). Dalam pasal
tersebut diatur mengenai mekanisme penetapan
Sultan Hamengkubuwono sebagai gubernur DIY,
serta Adipati Paku Alam sebagai wakil gubernur
DIY. Inilah yang membedakan kewenangan DIY
dengan daerah lain. Jika di daerah lain penentuan
jabatan gubernur dilakukan dengan pemilihan,
maka di DIY dilakukan dengan penetapan. Secara
otomatis, pemangku jabatan Sultan Hamengkubuwono dan Adipati Paku Alam akan diangkat
menjadi gubernur dan wakil gubernur.Selain itu,
UU No. 13 Tahun 2012 juga memberikan
kewenangan khusus bagi Kesultanan dan
Kadipaten di DIY untuk mengelola tanah dan tata
ruang. Keistimewaan dalam mengatur perihal
pertanahan dan tata ruang di DIY diatur pada
Pasal 32, 33, 34 dan 35 dalam Undang-Undang
tersebut. Diantara kewenangan yang diatur dalam
pasal-pasal di atas, yang membedakan kewenangan DIY dibanding daerah lain adalah soal
perizinan pemakaian tanah dan pengaturan tata
ruang. Pasal 33 Ayat (4), diatur bahwa
pemanfaatan atau penggunaan tanah di DIY harus
mendapatkan izin dari pihak Kesultanan dan
Kadipaten. Hal ini berhubungan dengan Pasal 32
ayat (1) dan (2) bahwa pihak Kesultanan dan
Kadipaten adalah lembaga hukum yang sah
sebagai pemilik hak atas pemakaian dan
11
kepemilikan tanah di DIY. Tentu saja pemakaian
hak kepemilikan dan penggunaan tanah ini harus
didasarkan pada tujuan pengembangan
kebudayaan, kepentingan sosial, dan kesejahteraan
masyarakat.
Sebelum disahkannya UU No. 13 Tahun
2012 tentang Keistimewaan DIY, masyarakat
Yogyakarta gelisah tentang nasib Sultan dan Paku
Alam yang dikhawatirkan tidak akan lagi menjabat
sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur yang
terbatas pada periodesasi masa jabatan
kepemimpinan. Hal itu membuat rakyat
Yogyakarta turun kejalan untuk menuntut referendum, jika Sultan dan Paku Alam tidak ditetapkan
sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur, sekalian
Yogyakarta memilih merdeka dari NKRI. Setelah
disahkannya UU No. 13 Tahun 2012, protes
masyarakat terkait status Sultan dan Paku Alam
sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY sudah
tidak terjadi lagi. Berbeda dengan daerah lain yang
menerapkan pemilihan gubernur secara langsung,
dengan diterapkannya Sultan dan Paku Alam
menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur yang
ditetapkan oleh DPRD, maka penghematan
terhadap anggaran negara dapat dilakukan. Selain
itu, implikasi lain yang timbul dari pemberlakuan
penetapani Gubernur dan Wakil Gubernur DIY
oleh DPRD adalah tidak terjadinya konflik antara
massa pendukung seperti yang marak terjadi
didaerah-daerah lain ketika Gubernur dan Wakil
Gubernur dipilih secara langsung dengan sistem
kompetitif.
Segala sesuatu yang menyangkut Sultan dan
Paku Alam, dianggap juga menyangkut dengan
eksistensi keberadaan Yogyakarta itu sendiri.
Sehingga, apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai
lokal masih digalakkan. Yogyakarta dianggap sebagai
poros kebudayaan Indonesia yang dapat menarik
pengunjungdomestik maupun luar negeri, sehingga
mendatangkan nilai ekonomis bagi pendapatan
daerah yang dapat digunakan untuk kesejahteraan
masyarakat. Kasus lain dengan ditetapkannya UU
No. 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY, hak
Sultan atas tanah semakin memperoleh kekuatan
hukum yang kuat. Akibatnya, tanah yang dianggap
sebagai milik sultan (Sultan Ground), sekalipun
sudah ditempati oleh masyarakat bertahun-tahun,
akan tetapi kapanpun juga dapat diambil. Situasi
seperti ini, biasanya akan membuat masyarakat
menjadi vis a vis dengan Sultan. Contoh dalam kasus
ini adalah inisiatif pembangunan bandara dan
persoalan pertambangan pasir besi di Kulon Progo.
12 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
Masyarakat merasa hak mereka telah diambil oleh
pemerintah, yang notabenenya Sultan dan Paku Alam
adalah bagian dari Institusi tersebut. Padahal, pada
Pasal 7 ayat (3) menyatakan bahwa penyelenggaraan kewenangan dalam urusan Keistimewaan
didasarkan pada nilai-nilai kearifan lokal dan
keberpihakan kepada rakyat.
SERAMBI REPUBLIK
ACEH DARUSSALAM
luhur kehidupan masyarakat Aceh,
memfungsikan secara optimal DPRD
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
dalam memajukan penyelenggaraan
pemerintah di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam dan mengaplikasikan syariat
Islam dalam kehidupan bermasyarakat
(Huda, 2014:238-239)
NANGGROE
Dalam perspekstif historis, Aceh yang
dikenal pula dengan sebutan Serambi Mekah
mempunyai catatan yang kurang begitu harmonis
dengan NKRI. Bukti historis tersebut dapat
disebutkan dalam beberapa konflik yang telah
terjadi di Aceh sejak sebelum 1949 oleh Daud
Bereuh, kemudian Kartosuwiryo dengan Negara
Islamnya hingga yang terakhir dengan Gerakan
Aceh Merdeka (GAM). Tuntutan untuk
menegakkan syariat Islam di atas hukum dan
konsensus nasional, bahkan dibeberapa sisi
cenderung berdampak distruktif seiring munculnya
disintegrasi didalamnya. Berbagai upaya deliberatif
atau menggunakan soft power dengan cara
diplomasi hingga operasi militer melalui penetapan
Daerah Operasi Militer (DOM) telah ditempuh
untuk meredam konflik serta guna menjaga
keutuhan NKRI. Setidaknya pergolakan di Aceh
dengan sparatismenya menjadi potensi besar bagi
perpecahan NKRI dan yang pastinya melelahkan
bagi pemerintah pusat dalam upaya holistiknya.
Terlepas dari perihal konflik yang melekat selama
ini, eksistensi Aceh memang harus tetap dijaga
dengan cara apapun.
Secara yuridis perihal keistimewaan Aceh
diatur melalui UU RI No.8 Tahun 2001 tentang
Otonomi Khusus Bagi Provinsi Daerah Istimewa
Aceh Sebagai Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam.
Hal yang medasar dari UU ini adalah
pemberian kesempatan yang lebih luas
untuk mengatur dan mengurus rumah
tangga sendiri termasuk sumber-sumber
ekonomi, menggali dan memberdayakan
sumber daya alam dan sumber daya
manusia, menumbuhkembangkan
prakarsa, kreativitas dan demokrasi,
meningkatkan peran serta masyarakat,
menggali dan mengimplementasikan tata
bermasyarakat yang sesuai dengan nilai
Selain yang telah disebutkan di atas, sebagai
penunjang pelaksanaan otonomi daerah di Aceh
dibentuklah Wali Naggroe dan Tuha Nanggroe yang
merupakan lembaga adat yang mengiringi kehidupan
adat di Aceh. Sebagai penguat dari UU No.8 Tahun
2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah
Istimewa Aceh Sebagai Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam maka dikeluarkanlah UU No.11 Tahun
2006. Namun ada hal menarik yang terjadi dalam
sejarah Aceh hingga mendapatkan identitas
kesitimewaan yang diberikan oleh pemerintah pusat.
Presiden Soekarno pernah menyebutkan Aceh
sebagai “Daerah Modal” bagi perjuangan mencapai
kemerdekaan Indonesia. Kenapa demikian, perihal
tersebut berkenaan dengan sumbangan Aceh sebagai
pengembang dalam bidang bahasa dan budaya yang
ketika itu memang efektif untuk membangun
intergrasi nasional. Mengutip pernyataan seorang
sastrawan Indonesia, Nurcholis Majid dalam
Ni’matul Huda (2014:226), mengungkapkan fakta
yang menarik bahwa “keAcehan” itu berkembang
menjadi bibit “keIndonesiaan”. Lingua Franca
(bahasa pemersatu) dari bangsa Indonesia yang
ketika itu masih dalam kondisi baby state yang
berupa bahasa melayu banyak dikembangkan oleh
sastrawan-sastrawan melayu di Aceh dan bisa
dikatakan Aceh merupakan pusat pengembangannya. Kemudian yang berkenaan dengan budaya, Aceh
dengan adatnya yang kuat menjadi sesuatu yang
patut untuk diperhatiakan dalam kacamata keBhinnekaan.
Dengan akulturasi tata adat setempat dengan
syariat Islam yang begitu kental dari awal republik
ini berdiri hingga sekarang, Aceh adalah provinsi
satu-satunya di Indonesia yang menjalankan
syariat Islam sebagai norma masyarakat secara
penuh. Setidaknya otoritas serta kewenangan
inilah yang secara spesifik tertuang dalam UU No.
11 Tahun 2006.Lebih lanjut dan spesifik, Bukhari
(2014:7), menyebutkan ada beberapa aspek
kehidupan yang didasarkan atas syariat Islam,
antara lain partai politik lokal, penerapan syariat
Islam di bidang ibadah, muamalah, ahwal
Pratama, Pelaksanaan Desentralisasi Asimetris dalam Tata Kelola Pemerintah Daerah di Era Demokrasi
aslsyakshiyah, jinayah, qadha’, dan dakwah.
Selain itu, melalui UU No.11 Tahun 2006
dinyatakan bahwa pemerintah pusat tidak dapat
leluasa memberikan kebijakan administratif
berkaitan dengan Aceh tanpa konsultasi dan
persetujuan kepala pemerintahan Aceh. Hal ini
yang dianggap oleh pengkaji Aceh sebagai
penanda meningkatnya baragining position
Aceh dimata pemerintah pusat.
SIMPULAN
Pelaksanaan desentralisasi sebagai asas
pelaksanaan otonomi daerah adalah sebuah
konsekuensi logis dari penerapan demokrasi di Indonesia yang selalu menuntut perubahan kearah
bentuk yang dianggap selalu ideal. Kenyataan
tersebut semakin menjadi ketika dikomparasikan
dengan tragedi runtuhnya rezim Soeharto yang
sentralistik. Desentralistik datang dengan bentuknya
sebagai penjawab dari tuntutan perubahan
tersebut.Pemerintah yang begitu tertutup serta
dipandang buruk dan ketika itu berakhir, maka sharing of authority (berbagi kewenangan) yang
digadang sebagai bentuk ideal dari itu. Berbagi
kewenangan inilah yang harapannya menjadi upaya
penguatan pemerintahan lokal yang juga dapat
memperkuat pemerintah pusat.
Dalam realita bangsa ini, ternyata masingmasing daerah berdinamika dengan potensinya
masing-masing. Jika hal tersebut mengarah kedalam
sebuah pola positif maka tidak akan menjadi sesuatu
yang perlu dikhawatirkan secara serius. Namun,
jika dinamika tersebut mengarah terhadap konflik
dan disintegrasi nasional maka harus diperlakukan
dengan tidak biasa. Desentralisasi asimetris yang
datang dengan bentuk yang “istimewa” memberikan
sebuah sistem berbagai kewenangan dengan
pemerintah pusat yang bertujuan untuk menjaga
eksistensi daerah tersebut. DKI Jakarta, DIY
(Yogyakarta), NAD (Aceh), dan Papua yang
diberikan “keistimewaan” memang dirasa perlu juga
tidak lepas dari kekurangan dalam pelaksanaannya.
DKI Jakarta dengan impian kota bertaraf
13
internasionalnya sehingga pembangunan begitu
intens ternyata telah menciptakan kepadatan
penduduk yang luar biasa sebagai dampak dari
harapan besar kebanyakan orang untuk mencari
kesejahteraan di Jakarta. Kemudian selanjutnya bisa
sangat mudah diterka, mulai dari kemacetan,
kesemerawutan tata ruang kota, kriminalitas, dan
disparitas sosial tumplek blek di Jakarta.
Kecuali DKI Jakarta, Aceh dan Papua
diberikan lebih pada pertimbangan peredaman atas
konflik yang terjadi. Aceh dengan begitu menjunjung
tinggi pelaksanaan syariat Islam hingga banyak
muncul pergolakan dari oknum masyarakat yang
berusaha lepas dari NKRI. Meskipun akhirnya pada
tahun 2005 konflik tersebut dapat terselesaikan
dengan perjanjian Helinski. Di Papua, salah satu
diantara empat daerah yang diberikan status
“khusus” yang masih bergejolak secara serius
hingga saat ini. Pelaksanaan desentralisasi asimetris
di Papua melalui otsusnya harus memang benarbenar di evaluasi secara serius. Terakhir adalah
Yogyakarta yang disematkan sebagai daerah
istimewa karena selain Yogyakarta adalah kerajaan
yang masih eksis juga berbagai perannya untuk
membantu Republik Indonesia dalam rangka
membentuk pemerintahan darurat. Namun, dalam
hal pelaksanaannya meskipun dana keistimewaan
yang digelontor begitu besar, tingkat kemiskinan di
Yogyakarta masih menjadi permasalahan. Dari
semua maksud dan tujuan desentralisasi asimetris
di Indonesia hingga pelaksanaannya sekarang,
menunjukkan kondisi yang mengharu biru.
Desentralisasi yang diraih dengan bayaran heroik
untuk menurunkan pemerintahan yang sentralisitik,
disisi lain bermaksud positif namun disisi lain juga
berdampak kurang baik, disatu daerah dapat menuai
hasil yang baik sedangkan di daerah lain masih
belum mampu membawa perubahan positif, disatu
sisi membawa kesejahteraan namun disisi lain juga
berpotensi memelihara konflik. Inilah pelaksanaan
desentralisasi asimetris dengan segala dampaknya
sebagai sistem yang selalu membawa tujuan
integrasi bangsa.
DAFTAR RUJUKAN
Bhakti, Ikrar Nusa dan Natalius Pigay. 2012.
Menemukan Akar Masalah Dan Solusi
Atas Konflik Papua: Supenkah?.Jurnal
Penelitian Politik LIPI, Vol 9 No. 1.
Halaman 1-18.
Huda, Ni’matul. 2014. Desentralisasi Asimetris
Dalam NKRI, Kajian Terhadap Daerah
Istimewa, Daerah Khusus, dan Otsus.
Bandung: Nusa Media.
14 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
Laksono, P.M, dkk. 2005. Kekayaan, Agama, dan
Kekuasaan: Identitas Konflik di Indonesia (Timur Modern). Yogyakarta:
Kanisius.
Thoha, Miftah. 2012. Birokrasi Pemerintah Dan
Kekuasaan Di Indonesia.Yogyakarta:
Matapena Institute.
Widjojo, Muridan S dan Aisah Putri Budiarti. 2012.
UU Otsus Bagi Papua: Masalah
Legitimasi Dan Kemauan Politik. Jurnal
Penelitian Politik LIPI, Vol 9 No.1. Halaman
59-80.
Wignosoebroto, Soetandyo, dkk. 2005. Pasang
Surut Otonomi Daerah: Sketsa
Perjalanan 100 tahun. Jakarta: Institue
for Local Development Yayasan TIFA.
Undang-Undang dan makalah
Bukhari, Fitrah. 2014. Memandang Indonesia
Dari Daerah Secara Kritis. Makalah ini
disampaikan dalam Bedah Buku
“Desentralisasi Asimetris dalam NKRI:
Kajian terhadap Daerah Istimewa, Daerah
Khusus dan Otonomi Khusus”. UII
Yogyakarta.18 Oktober 2014.
Mandasari, Zayati. 2014. Desentralisasi
Asimetris Dalam NKRI (Kajian Terhadap
Daerah Istimewa Yogyakarta dan
Surakarta). Makalah ini disampaikan
dalam Bedah Buku “Desentralisasi
Asimetris dalam NKRI: Kajian terhadap
Daerah Istimewa, Daerah Khusus dan
Otonomi Khusus”. UII Yogyakarta.18
Oktober 2014.
Undang-Undang No. 13 tahun 2012 tentang
Keistimewaan
Daerah
Istimewa
Yogyakarta
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang Undang No. 21 Tahun 2001 tentang Otsus
bagi Propinsi Papua.
MODEL PERLINDUNGAN HAK PEREMPUAN
KORBAN TINDAK KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
Arbaiyah Prantiasih
M. Yuhdi
Siti Awaliyah
Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No.5 Malang
email: [email protected]
Abstract: Violence against women in the quantitative household has increased significantly and is
accompanied by an increase in intensity and quality. The purpose of this study was: (1) describe the
forms of violence that occur in women in the household, (2) describe the causes of women experiencing domestic violence, (3) describe the form of the rights of women who experience violence, (4)
describe the form of protection of the rights of women who experience domestic violence. This study
using a design research. These results can be explained that: (1) forms of violence against women in
the household is physical violence, psychological violence and neglect, (2) the causes of occurrence of physical violence because the husband is not working; husband husband’s job is erratic
and temperamental, (3) the form of the rights of women subjected to violence to obtain protection
from KPPA, obtain an integrated service, get a guarantee of their rights whose status as a wife, as a
mother or as a child in the household, but it is not optimal to get, get assistance psychologically,
medically, (4) the form of the protection of women victims of domestic violence, is providing assistance, providing services, provide a safe home means a temporary shelter for victims.
Key words: violence, household, women
Abstrak: Kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga secara kuantitatif mengalami
peningkatan yang signifikan dan disertai dengan peningkatan intensitas serta kualitasnya. Artikel
ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) bentuk tindak kekerasan yang terjadi pada perempuan
dalam rumah tangga, (2) faktor penyebab perempuan mengalami tindak kekerasan dalam rumah
tangga, (3) bentuk hak-hak perempuan yang mengalami tindak kekerasan, (4) bentuk perlindungan
hak perempuan yang mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga. Kajian penulisan menggunakan
teknik survey. Hasil penelitian ini dapat dijelaskan bahwa: (1) bentuk kekerasan terhadap perempuan
dalam rumah tangga adalah kekerasan fisik, kekerasan psikis dan penelantaran, (2) faktor penyebab
kekerasan adalah suami tidak bekerja, pekerjaan yang tidak menentu, dan temperamental, (3) hak
perempuan yang mengalami KDRT adalah perlindungan dari KPPA, mendapatkan pelayanan secara
terpadu, jaminan atas hak-haknya sebagai istri, sebagai ibu atau anak, pendampingan secara psikologis
dan secara medis, (4) perlindungan terhadap korban KDRT dilakukan dengan memberikan
pendampingan, memberikan pelayanan, menyediakan rumah aman artinya tempat tinggal sementara
bagi korban.
Kata Kunci: kekerasan, rumah tangga, perempuan
Fenomena kekerasan terhadap perempuan
dewasa ini tidak semakin mereda, akan tetapi
secara kuantitatif mengalami peningkatan
signifikan yang disertai pula dengan meningkatkya intensitas dan kualitas kekerasan terhadap
perempuan yang terjadi di masyarakat. Sejumlah
kasus-kasus kekerasan berbasis gender ini telah
bermunculan di sejumlah media elektronik
maupun cetak yang setiap saat selalu bermunculan. Kasus kekerasan terhadap perempuan
sulit untuk dihitung karena terus menerus
bertambah.
15
16 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
Fakta kekerasan terhadap perempuan terjadi
pada semua tingkat ekonomi, pendidikan dan status sosial lainnya. Kekerasan yang menimpa
perempuan akan menimbulkan berbagai macam
persoalan psikologis, keadilan hukum dan
pengabaian hak-hak kemanusiaan. Mereka
dilingkupi rasa takut, trauma yang berkepanjangan,
bisu dalam penderitaan yang ditanggung sendiri,
sementara yang lain menyeruak penuh euforia
demokrasi. Ironisnya mereka juga luput dari
pengamatan, bahkan dianggap ikhlas menerima
tindak kekerasan tersebut.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas
maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut: (1) Bagaimanakah bentuk tindak
kekerasan yang terjadi pada perempuan dalam
rumah tangga, (2) Bagaimanakah faktor penyebab
perempuan mengalami tindak kekerasan dalam
rumah tangga, (3) Bagaimanakah bentuk hak-hak
perempuan yang mengalami tindak kekerasan
dalam rumah tangga, (4) Bagaimanakah bentuk
perlindungan hak perempuan yang mengalami
tindak kekerasan dalam rumah tangga.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan (1) Bentuk tindak kekerasan yang
terjadi pada perempuan dalam rumah tangga, (2)
Faktor penyebab perempuan yang mengalami
tindak kekerasan dalam rumah tangga, (3) Hakhak perempuan yang mengalami tindak kekerasan,
(4) Bentuk perlindungan hak perempuan yang
mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga.
METODE
Desain penelitian dirancang dengan
menggunakan pendekatan secara deskriptif
kualitatif dan survey untuk mengidentifikasi kasuskasus yang terjadi dan menimpa perempuan
korban tindak kekerasan dalam rumah tangga.
Penelitian deskriptif kualitatif dan survey dilakukan
untuk mengetahui: bentuk tindak kekerasan yang
terjadi pada perempuan dalam rumah tangga,
faktor-faktor penyebab perempuan mengalami
tindak kekerasan dalam rumah tangga, bentuk hakhak perempuan yang mengalami tindak kekerasan,
serta bentuk perlindungan hak perempuan yang
mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga.
Para perempuan korban tindak kekerasan akan
diberikan daftar pertanyaan termasuk orang
terdekatnya (orang tuanya/Bapak atau ibunya)
atau pihak tetangganya yang terdekat. Kemudian
ditindaklanjuti dengan wawancara mendalam.
Subyek penelitian tahap pertama adalah
perempuan korban tindak kekerasan dalam rumah
tangga di wilayah Jawa Timur yaitu Kabupaten
Malang, Kabupaten Blitar dan Kabupaten
Probolinggo.
Variabel Penelitian
Variabel penelitian yang akan diukur dalam
tahap pertama penelitian ini meliputi: (1) bentuk
tindak kekerasan yang terjadi pada perempuan
dalam rumah tangga, (2) faktor-faktor penyebab
perempuan mengalami tindak kekerasan dalam
rumah tangga, (3) hak-hak perempuan yang
mengalami tindak kekerasan, (4) bentuk
perlindungan hak perempuan yang mengalami
tindak kekerasan dalam rumah tangga.
Instrumen Penelitian
Intrumen yang digunakan dalam penelitian
tahap pertama ini adalah lembar observasi dan
pedoman wawancara. Wawancara dipergunakan
untuk mengetahui: (1) bentuk tindak kekerasan
yang terjadi pada perempuan dalam rumah tangga,
(2) faktor-faktor penyebab perempuan mengalami
tindak kekerasan dalam rumah tangga, (3) bentuk
hak-hak perempuan yang mengalami tindak
kekerasan, (4) bentuk perlindungan hak perempuan
yang mengalami tindak kekerasan dalam rumah
tangga.
Analisis Data
Data dianalisis dengan teknik analisis model
interaktif dari Miles dan Huberman. Teknik analisis
penelitian dipergunakan untuk menganalisa data
yang diperoleh dari wawancara dengan subyek
penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan pada paparan data sebelumnya
dapat dijelaskan bahwa bentuk tindak kekerasan
terhadap perempuan meliputi (1) kekerasan phisik,
(2) kekerasan psikis, dan (3) kekerasan
penelantaran rumah tangga.
Latar belakang penyebab tindak kekerasan
terhadap perempuan meliputi: (1) kekerasan
phisik, faktor yang melatar belakangi terjadinya
kekerasan phisik terhadap perempuan disebabkan
karena: (a) suami tidak bekerja, (b) suami
pekerjaannya tidak menentu artinya kadangkadang bekerja, kadang-kadang tidak, (c) suami
temperamental artinya perilakunya kasar, sering
Prantiasih dkk, Model Perlindungan Hak Perempuan Korban Tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga
marah, dan mudah emosional; (2) kekerasan
psikis, latar belakang penyebab terjadinya
kekerasan psikis dalam rumah tangga tidak dapat
dipisahkan juga dengan faktor penyebab terjadinya
kekerasan phisik, sebab kekerasan psikis yang
dapat mengakibatkan ketakutan, rasa tidak
berdaya, penderitaan psikis berat pada korban,
disebabkan juga karena suami, ibu, dalam rumah
tangga yang temperamental artinya perilakunya
sering marah dan mudah emosional. Selain itu juga
karena pihak suami tidak mempunyai pekerjaan
sehingga menyebabkan mudah emosional atau
mudah marah; (3) kekerasan penelantaran
dalam rumah tangga, berdasarkan kasus yang
ada, kekerasan dalam bentuk ini disebabkan juga
karena faktor suami yang tidak bekerja atau
pekerjaan yang tidak menentu, sehingga pihak istri
dan anak selalu mengharapkan pertanggung
jawaban dari pihak suami. Hal ini diperkuat lagi
bila istri tidak bekerja dan selalu menggantungkan
atau mengakibatkan ketergantungan ekonomi pada
pihak suami. Akan tetapi sebaliknya apabila istri
bekerja, maka istri tidak selalu menggantungkan
diri pada suaminya meskipun di dalam rumah
tangganya ada masalah.
Berdasarkan kasus-kasus yang ditemukan
dari hasil penelitian kekerasan phisik maupun psikis
terhadap perempun, maka tindakan tersebut
merupakan tindakan yang melawan hukum.
Sebagaimana dijelaskan dalam ketentuan UndangUndang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
pada Bab 1 pasal 1, bahwa kekerasan dalam
rumah tangga adalah perbuatan terhadap
perempuan yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan secara phisik,
psikologis termasuk ancaman untuk melakukan
perbuatan, pemaksaan atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam
lingkup rumah tangga. Demikian juga ketentuan
pada pasal 6 UU Nomor 23 Tahun 2004 bahwa
kekerasan phisik merupakan perbuatan yang
mengakibatkan rasa sakit, jatuh atau luka berat.
Sedangkan pada pasa 7 UU Nomor 23 Tahun 2004
bahwa kekerasan psikis merupakan perbuatan
yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa
percaya diri, hilangnya kemampuan untuk
bertindak, rasa tidak berdaya serta penderitaan
psikis berat pada seseorang.
Bertolak dari pemaparan kasus-kasus hasil
penelitian serta berdasarkan ketentuan pada UU
Nomor 23 Tahun 2004 pada Bab 1 pasal 1, pasal
17
6 maupun pada pasal 7, peneliti berpendapat bahwa
kekerasan dalam rumah tangga merupakan
pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan
terhadap martabat kemanusiaan, serta merupakan
bentuk diskriminasi yang harus segera dihapuskan.
Korban kekerasan dalam rumah tangga
kebanyakan adalah perempuan, oleh sebab itu
perempuan harus mendapatkan perlindungan dari
semua pihak dengan maksud agar terhindar dan
terbebas dari kekerasan maupun ancaman
kekerasan, penyiksaan dan perlakuan yang
merendahkan derajat dan martabat pertempuan.
Berdasarkan hasil penelitian faktor penyebab
terjadinya kekerasan phisik disebabkan karena: (a)
suami tidak bekerja, (b) suami tidak menentu
pekerjaannya artinya kadang-kadang bekerja,
kadang-kadang tidak, (c) suami temperamental
artinya perilakunya kasar, sering marah, gampang
emosional. Sedangkan kekerasan psikis, latar
belakang penyebab terjadinya kekerasan masih ada
kesamaan dengan penyebab terjadinya kekerasan
phisik, sebab kekerasan psikis yang dapat
mengakibatkan ketakutan, rasa tidak berdaya dan
megakibatkan penderitaan psikis berat pada
korban, disebabkan juga karena suami, ibu dalam
rumah tangga yang temperamental sehingga
perilakunya seringkali marah dan mudah
emosional. Faktor lain yang menjadi penyebab
tindak kekerasan terhadap perempuan karena
pihak suami tidak mempunyai pekerjaan sehingga
mudah emosional dan mudah marah.
Berdasarkan kasus-kasus kekerasan dalam
rumah tangga tersebut dapat dijelaskan bahwa
secara sosiologis kriminologis memandang
bahwa suatu perilaku ditentukan oleh nilai dan
norma yang berkembang di masyarakat dan suatu
tindakan dinyatakan menyimpang tergantung dari
reaksi sosial di masyarakat. Contohnya terhadap
kekerasan domestik, masyarakat justru sering
menyudutkan posisi korban bahkan menyalahkannya. Oleh sebab itu konsekuensinya adalah
kasus tindakan destruktif di ranah rumah tangga
tetap menjadi rahasia keluarga, kadang-kadang
tidak dilaporkan dan kasus-kasus ini oleh
pengadilan sering hanya sampai pada tingkat
kepolisisan. Mengingat juga banyak kasus rumah
tangga yang sempat diadukan ke pengadilan
pidana dicabut kembali sebelum diproses atau
ditunda tuntutannya dan batal dilaporkan, karena
peradilan pidana menganggap korban ikut
bertanggung jawab atas kekerasan yang
menimpanya.
18 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
Disamping itu dalam sejarah budaya pariarkhi
telah mendominasi peradaban manusia dengan
terindikasinya berbagai perilaku yang tidak fair dan
mencerminkan nilai-nilai kekerasan. Dalam
konteks inilah laki-laki potensial menggunakan
cara-cara kekerasan untuk menata kehidupan
perempuan. Oleh sebab itulah gender equality
perlu terus dibangun melalui penyadaran dengan
sosialisasi. Sebab kekerasan merupakan kejahatan
dan pelanggaran atas hak hidup manusia dan tindak
kekerasan tidak dibenarkan dengan mengatasnamakan apapun dan dimanapun dalam
kehidupan bermasyarakat.
Bertolak dari kasus kekerasan penelantaran
rumah tangga dapat dijelaskan bahwa kasus
kekerasan dalam rumah tangga sering ditoleransi
oleh perempuan dan pada saat yang sama
sejatinya mereka telah mengesampingkan hakhak dan otonomi mereka sebagai individu demi
keutuhan keluarga dan masa depan anak-anak.
Ketergantungan ekonomi seringkali membuat
perempuan dihadapkan pada keadaan yang
sangat dilematis dalam mengambil keputusan.
Pelabelan-pelabelan sosial justru dilekatkan pada
perempuan yang dianggap tidak mampu menata
kehidupan keluarganya. Pendapat yang sama
dikemukakan oleh (Kate Millet, 1987:33) bahwa
tradisi patriarki memposisikan ayah (suami)
sebagai pemilik (ownership) penuh atas istri dan
anak-anaknya. Oleh karena itu ayah memiliki
kekuasaan penuh atas diri mereka, hal inilah yang
mengakibatkan sering terjadinya penyiksaan,
penjualan istri, kekerasan terhadap istri dan anakanak dalam rumah tangga.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat
dijelaskan peneliti bahwa sejarah budaya patriarki
telah mendominasi peradaban manusia dengan
terindikasinya berbagai perilaku yang tidak fair dan
mencerminkan nilai-nilai kekerasan. Didalam
konteks inilah laki-laki potensial dapat
menggunakan cara-cara kekerasan untuk menata
kehidupan perempuan, meskipun diakui masih
banyak laki-laki yang tidak mengambil jalan
kekerasan untuk menata kehidupan keluarganya.
Oleh sebab itu peneliti berpendapat bahwa
persoalan kekerasan apapun bentuknya yang
ditujukan pada siapapun, menjadi persoalan semua
orang dan semua pihak. Akan tetapi sulit rasanya
bila persoalan ini hanya ditanggung oleh mereka
yang menjadi korban. Hal ini yang seringkali terjadi
adalah persoalan kekerasan terhadap perempuan
terisolasi seakan hanya menjadi urusan
perempuan. Sejatinya penyadaran akan
kesetaraan hubungan gender, penghaargaan atas
hak-hak individu menjadi sangat penting bagi
semua pihak.
SIMPULAN
Bentuk tindak-tindak kekerasan terhadap
perempuan dalam rumah tangga meliputi: (a)
Kekerasan phisik, (b) Kekerasan psikis, dan (c)
Kekerasan penelantaran rumah tangga. Faktor
penyebab kekerasan fisik, adalah suami tidak
bekerja, suami pekerjaannya tidak menentu artinya
kadang-kadang bekerja kadang-kadang tidak,
suami temperamental artinya perilaku kasar, sering
marah dan mudah emosional. Faktor penyebab
tindak kekerasan psikis hampir sama dengan
kekerasan fisik. Kekerasan psikis dapat
mengakibatkan ketakutan, rasa tidak berdaya dari
korban. Penderitaan psikis berat pada korban
disebabkan juga karena suami, ibu, dalam rumah
tangga yang temperamental dan juga pihak suami
yang tidak mempunyai pekerjaan sehingga
menyebabkan mudah emosional atau mudah
marah. kekerasan penelantaran rumah tangga,
disebabkan oleh faktor suami yang tidak bekerja
atau pekerjaan yang tidak menentu, sedangkan
pihak istri memiliki ketergantungan ekonomi pada
suami.
Bentuk hak-hak perempuan yang mengalami
tindak kekerasan dalam rumah tangga adalah, (1)
mendapatkan perlindungan dari KPPA, (2)
mendapatkan informasi tentang keberadaan
tempat pengaduan, (3) mendapatkan pelayanan
secara terpadu, (4) mendapatkan jaminan atas
hak-haknya sebagai istri, sebagai ibu atau sebagai
anak dalam rumah tangga, (5) mendapatkan
pendampingan secara psikologis, medis dan
hukum, (6) mendapatkan penanganan yang
berkelanjutan sampai tahap rehabilitasi. Bentuk
perlindungan terhadap hak perempuan yang
mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga
ialah (1) memberikan pendampingan korban
kekerasan dalam rumah tangga, (2) memberikan
pelayanan, (3) menyediakan rumah aman artinya
tempat tinggal sementara bagi korban.
Prantiasih dkk, Model Perlindungan Hak Perempuan Korban Tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga
19
DAFTAR RUJUKAN
Millet, Kate, 1987. Sexual Politics. London: Virago Press
Undang-Undang No 23 tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah
Tangga, Yogyakarta; Pustaka Widya Tama
KEPPRES No 81 Tahun 1998 Tentang Komnas
Anti Kekerasan Terhadap Perempuan,
Yogyakarta: Pustaka Widya Tama
MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KARAKTER
DENGAN PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
DI PERGURUAN TINGGI
A. Rosyid Al Atok
Suparlan Al Hakim
Sri Untari
Margono
Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No.5 Malang
email:[email protected]
Abstract: This research aims to develop a learning model character education with a multicultural
approach used in Civic Education. The resulting learning model is poured in the form of modules and
visualized in the form of instructional videos. Framework of a prototype model of learning by taking
into account the competence of the subjects that must be owned by the students, faculty competence in multicultural approach, the cultural background of students, and the characteristics of
learning the nuances of multicultural material. Strategies that can be used, among others: strategies
and learning activities are combined with the concept attainment strategy, the strategy value analysis, and strategies of social analysis. Drafting of the learning can be done through five main stages,
namely content analysis, the analysis of cultural background, mapping materials, organizing materials, and then poured in Civic Education learning format. In the implementation of character education
learning model with a multicultural approach can be done through the following phases: Exploration
Studies, Presentations, Peer Group Analysis, Expert Opinion, and Reflections and Recommendations.
Keywords: character education, multicultural, and civic education
Abstrak: penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pendidikan karakter menggunakan
pendekatan multikultural untuk Pendidikan Kewarganegaraan. Hasil model pembelajaran adalah modul
dan gambar dalam bentuk video pembelajaran. Model prototipe pembelajaran mengacu pada
kompetensi diri yang dimiliki oleh mahasiswa, kompetensi dosen dalam pendekatan multikultural,
latar belakang budaya mahasiswa, dan karakteristik materi pembelajaran yang bernuansa materi
multikultural. Strategi yang dapat digunakan diantaranya:strategi dan aktivitas belajar yang
dikombinasikan dengan strategi konsep, strategi analisis nilai, dan strategi analisis sosial.
Pembelajaran dapat menggunakan lima langkah utama, yaitu analisis isi, analisis latar belakang budaya,
peta materi, pengorganisasian materi, dan format pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
Implementasi model pendidikan karakter dengan pendekatan multikultural dapat dilakukan melalui
beberapa fase, yaitu: studi eksplorasi, presentasi, analsis teman sejawat, pendapat ahli, refleksi dan
rekomendasi.
Kata kunci: pendidikan karakter, multikultural, pendidikan kewarganegaraan
Bangsa Indonesia dewasa ini tengah mengalami
semacam split personality (Jalaludin, 2012).
Wacana pendidikan karakter pada akhir-akhir ini
memperoleh perhatian yang cukup intens dari
pemerhati pendidikan maupun pemerintah
(Soesetijo, 2010). Dalam Naskah Grand Design
Karakter Nasional (2010), dijelaskan ada beberapa
alasan mendasar yang melatari pentingnya
pembangunan karakter bangsa, baik secara
filosofis, ideologis, normatif, historis maupun
20
Atok dkk, Model Pembelajaran Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Multikultural dalam PKn di PT
sosiokultural. Dalam kaitan itu, pendidikan
karakter di Indonesia harus memiliki orientasi yang
jelas. Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional Tahun 2005–2025 (Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007),
menegaskan bahwa pembangunan karakter
bangsa dikonsentrasikan pada terwujudnya
karakter bangsa yang tangguh, kompetitif,
berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan
Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan prilaku
manusia dan masyarakat Indonesia yang
beragam, beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran,
bergotongroyong, berjiwa patriotik, berkembang
dinamis, dan berorientasi ipteks. Pembangunan
karakter bangsa akan mengerucut pada tiga
tataran besar, yaitu (1) untuk menumbuhkan dan
memperkuat jati diri bangsa, (2) untuk menjaga
keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI), dan (3) untuk membentuk manusia dan
masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia dan
bangsa yang bermartabat (Kebijakan Pembangunan Karakter 2005-2025). Secara demikian
pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai
pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan
moral, pendidikan watak. Bidang-bidang garapan
pendidikan karakter yang mengarah pada perilaku
berkarakter terfokus pada kemampuan olah pikir,
olah hati, olah raga dan olah rasa/karsa.
Pendekatan multikultural (multicultural approach) diangkat dari munculnya gagasan
perlunya pendidikan multi kultural (multicultural
education) bagi kehidupan manusia dan
keragaman bangsa di dunia. Dalam kaitan ini,
Skeel (1995), menegaskan bahwa keanekaragaman manusia, telah melahirkan gagasan mengenai
pendidikan multi kultural. Menurutnya, konsep
pendidikan multi kultural adalah suatu sikap dalam
memandang keunikan manusia dalam interaksi
sosial dengan tanpa membedakan ras, kultur,
kebiasaan seks, kondisi jasmaniah, atau status
ekonomi seseorang.
Tujuan pendidikan multikultural, antara lain
telah diidentifikasi oleh J.A. Banks (1993) yaitu:
(1) untuk memfungsikan peranan sekolah dalam
memandang keberadaan siswa yang beraneka
ragam; (2) untuk membantu semua peserta didik
dalam membangun perlakuan yang positip
terhadap perbedaan kultural, ras, etnik, kelompok
keagamaan; (3) memberikan ketahanan peserta
didik dengan cara mengajar mereka dalam
mengambil keputusan dan ketrampilan sosialnya;
21
(4) untuk membantu peserta didik dalam
membangun sikap ketergantungan lintas budaya
dan memberi gambaran kepada mereka mengenai
perspektif perbedaan kelompok.
Dalam kaitan itu, Wiriaatmadja (1996),
menganjurkan beberapa strategi yang perlu
digunakan oleh guru (yang relevan juga dengan
dosen), dalam menerapkan pendekatan
multikultural. Beberapa anjuran yang disampaikan,
meliputi: (1) guru sebaiknya menggunakan metode
mengajar yang efektif, dengan mengingat referensi
budaya beragam di kelas; (2) guru perlu mengamati
dan menyimak keadaan kelasnya, sebelum
mengambil keputusan tentang kelas dengan
orientasi budaya beragam; (3) diskusi yang relevan
dengan pesan-pesan multikultural, juga perlu
pengarahan dan bimbingan guru dengan
menunjukkan bagaimana penyelenggaraannya
agar tidak berkembang menjadi konflik.
Dalam kaitan itu, perkuliah pendidikan
kewarganegaraan dengan pendekatan multikultural, dosen perlu menyadari bahwa cara-cara
yang dicontohkan di atas harus diartikan sebagai
upaya menolong mahasiswa yang membutuhkan
bantuan dengan “bridging program”, agar
mahasiswa mampu mengembangkan cara berpikir
dan cara hidup yang baru dan wajar, sehingga
kesadaran akan wawasan kebangsaan bisa
tumbuh dengan sendirinya dan terekspresikan
dalam perilaku sehari-hari, tanpa paksaan atau
indoktrinasi. Oleh karena itu, materi perkulihan
harus diseleksi, dikemas dan disajikan sedemikian
rupa sehingga mahasiswa mampu mencapai tujuan
perkuliahan.
Pilihan materi perkuliahan yang relevan
dengan upaya membangun wawasan kebangsaan
mahasiswa, hendaknya mengandung berbagai
aspek ragam budaya bangsa, yang dikemas dengan
pendekatan multi kultural. Beberapa topik
perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan yang
relevan dengan pendekatan multi kultural antara lain
adalah: (1) Terbentuknya Identitas Kebangsaan
Indonesia; (2) Identitas dan integritas kebangsaan
Indonesia di Era Global; (3) Sikap yang diperlukan
dalam mengembangkan martabat dan harga diri
sebagai bangsa Indonesia; (4) Pluralis-multikultural
dalam masyarakat Indonesia; (5) eksistensi SARA
dalam masyarakat pluralitas-multikultural; (6)
Masyarakat pluralis-multikultural dan integrasi
nasional; (7) Cara pandang lokal dalam konteks
wawasan nasional; (8) Budaya Indonesia dalam
perspektif global, dan topik-topik lainnya.
22 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
METODE
Sesuai dengan tujuan, pengembangan ini
dilaksanakan dalam waktu tiga tahun dengan
menggunakan desain pengembangan pengembangan (research and development) sebagaimana disarankan oleh Borg & Gall (1982). Pada
penelitian tahun pertama (2013), dilakukan tiga
tahap, yaitu tahap eksplorasi, tahap perumusan
prototype model dan penyusunan desain
pembelajaran, dan tahap penyusunan draft modul
pembelajaran.
Tahap eksplorasi dilakukan identifikasi
ketersediaan daya dukung pergiuruan tinggi dalam
mengembangkan model pendidikan karakter
dengan pendekatan multicultural dalam
pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
Ketersediaan daya dukung perguruan tinggi yang
dimaksudkan meliputi: (a) kurikulum, deskripsi,
dan silabus matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan; (b) kualifikasi dosen pembina matakuliahn
Pendidikan Kewarganegaraan; (c) karakteristik
kultural mahasiswa; (d) karakteristik belajar
mahasiswa; dan (e) ketersediaan media serta
sarana pembelajaran. Penggalian data tentang
ketersediaan daya dukung dilakukan melalui
wawancara terstruktur.
Pada tahap perumusan prototype model dan
penyusunan desain pembelajaran dilakukan
dengan teknik Focus Group Discussion (FGD)
dengan menghadirkan para ahli dan praktisi atau
dosen pembina matakuliah PKn dari beberapa
perguruan tinggi dengan langkah-langkah sebagai
berikut: (a) identifikasi nilai-nilai pendidikan
karakter yang terdapat dalam deskripsi dan silabus
matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan; (b)
analisis pengembangan materi, pemilihan metode,
dan pengembangan media serta sumber belajar
dalam rancangan pembelajaran.
Hasil FGD ini selanjutnya dijadikan bahan
dalam menyusun desain pembelajaran pendidikan
karakter dengan pendekatan multicultural dalam
Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan tinggi.
Penyusunan desain pembelajaran dilakukan oleh
Tim Peneliti dengan dibantu oleh tim teknis.
Pada tahap penyusunan draft modul
pembelajaran pendidikan karakter dengan
pendidikan multicultural dalam PKn di perguruan
tinggi dilakukan berdasarkan prototype model dan
desain pembelajaran yang dihasilkan dari FGD.
Penyusunan modul pembelajaran dilakukan oleh
Tim Peneliti dengan dibantu tim teknis.
Pada tahun kedua (2014), penelitian
dirancang untuk menguji coba model pembelajaran
pendidikan karakter dalam PKn dengan
pendekatan multikultural di perguruan tinggi yang
telah dihasilkan pada tahun pertama. Uji coba
dilakukan dengan 3 (tiga) tahap, yaitu tahap
persiapan, tahap pelaksanaan, tahap refleksi, dan
tahap perbaikan model. Tahap persiapan
dilaksanakan dengan mempersiapkan segala
sesuatu yang diperlukan untuk mendukung
pelaksanaan uji coba, seperti penyiapan dosen
model, media, bahan, alat evaluasi, dan peralatan
pembelajaran yang diperlukan.
Tahap pelaksanaan uji coba dilakukan
sebanyak 3 (tiga) kali pembelajaran di beberapa
perguruan tinggi yang berbeda. Dalam pelaksanaan uji coba dilakukan pengamatan secara intensif
tentang pelaksanaan pembelajaran, penggalian
umpan balik dan respon dari mahasiswa melalui
angket. Hasil pengamatan dan umpan balik
tersebut selanjutnya dijadikan bahan refleksi yang
dilaksanakan pada tahap ketiga.
Pada penelitian tahun ketiga (2015)
dilakukan dalam dua tahap, yaitu: tahap perbaikan
desain dan draft modul pembelajaran, dan tahap
diseminasi atau penyebarluasan model ke
beberapa perguruan tinggi. Perbaikan desain dan
modul pembelajaran dilakukan berdasarkan hasil
refleksi yang dilakukan pada tahun kedua.
Perbaikan dilakukan oleh Tim Peneliti dengan
dibantu oleh tim teknis.
Diseminasi atau penyebarluasan dilakukan
dalam bentuk pelatihan yang diikuti oleh dosendosen pembina matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dari sejumlah perguruan tinggi.
Dalam kegiatan pelatihan ini juga dilakukan praktek
pembelajaran yang dilakukan oleh dosen model
yang disertai dengan observasi dan refleksi.
Selama prkatek pembelajaran juga dilakukan
pendokumentasian melalui audio visual. Kegiatan
diseminasi atau penyebarluasan model ini sekaligus
merupakan kegiatan pengabdian pada masyarakat
dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
Penelitian ini dilakukan di beberapa
perguruan tinggi yang ada di Jawa Timur, yaitu di:
(1) Universitas Negeri Malang di Malang; (2)
Institut Agama Islam Sunan Ampel Surabaya; (3)
Universitas Negeri Jember, di Jember; (4) Universitas Darul Ulum, Jombang; (5) Universitas
Nusantara PGRI Kediri di Kediri; (6) Universitas
Merdeka Pasuruan di Pasuruan; (7) IKIP PGRI
Madiun di Madiun. Sumber data penelitian adalah:
Atok dkk, Model Pembelajaran Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Multikultural dalam PKn di PT
(1) dosen pembina matakuliah Pendidikan
Kewarganegaraan di beberapa perguruan tinggi
lokasi penelitian; dan (2) mahasiswa dari
perguruan tinggi lokasi panelitian yang; (a) sedang
mengikuti matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan; (3) sudah lulus matakuliah Pendidikan
Kewarganegaraan.
Teknik pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian adalah: (1) wawancara terbimbing
untuk tahap eksplorasi daya dukung perguruan
tinggi; (2) curah pendapat dan diskusi untuk
perumusan prototype dan penyusuan desain
pembelajaran; (3) observasi (pengamatan) dan
angket untuk uji coba model. Sedang analisis data
dilakukan secara kualitatif-induktif.
Pelaksanaan pengumpulan data dilakukan
secara serentak dalam rentang waktu antara
tangggal 22 s.d 26 Oktober 2013 di 7 (tujuh)
perguruan perguruan tinggi lokasi penelitian, yaitu:
(1) Universitas Negeri Malang; (2) Universitas
Negeri Jember; (3) Universitas Merdeka
Surabaya; (4) Institut Agama Islam Negeri Sunan
Ampel Surabaya; (5) Universitas Pesantren Darul
Ulum Jombang; (6) Universitas Nusantara PGRI
Kediri; (7) IKIP PGRI Madiun.
Pada tahap awal pengumpulan data
dilakukan melalui wawancara dengan nara
sumber koordinator matakuliah PKn di perguruan
tinggi setempat. Data yang digali melalui
wawancara ini berkaitan dengan ketersediaan daya
dukung perguruan tinggi yang bersangkutan dalam
pengembangan model pembelajaran pendidikan
karakter dengan pendekatan multicultural dalam
Pendidikan Kewarganegaraan. Ada beberapa
pertanyaan yang dijadikan acuan dalam
wawancara tersebut, misalnya apakah di PT yang
bersangkutan disajikan matakuliah PKn? Jika
disajikan, untuk program studi apa saja, berapa
SKS, disajikan semester berapa. Jika tidak
disajikan alasannya apa? Apakah sudah tersedia
kurikulum, deskripsi, atau silabus silabus
matakuliah PKn? Jika belum tersedia apa
sebabnya? Berapa jumlah dosen pembina
matakuliah PKn? Bagaimana status dosen
tersebut: PNS, dosen tetap yayasan, dosen tidak
tetap? Berapa jumlah masing-masing? Jika ada
dosen tidak tetap dari mana asal instansi dosen
yang bersangkutan? Bagaimana kualifikasi dosen
PKn yang ada: latar belakang pendidikan,
tingkat pendidikan, sertifikasi yang diperoleh,
masa kerja, pangkat/golongan/jabatan
fungsional? Bagimana karakteristik sosial
23
buadaya mahasiswa PT yang bersangkutan:
keragaman asal daerah, keragaman etnis/
suku, keragaman agama? Bagaimana karakteristik belajar mahasiswa: tingkat dan frekuensi
kehadiran kuliah, kemampuan berdiskusi,
kebiasaan membaca buku, dan kesungguhan
mengerjakan tugas? Bagaimana ketersediaan
media dan sarana pembelajaran: ketersediaan
buku PKn di perpustakaan, ketersedian video
atau film mukltikultural, ketersediaan gambar
contoh keaneragaman suku, budaya, dan
agama, ketersediaan peralatan audio visual
(LCD), ketersediaan internet (teknologi
informasi)?
Pada tahap awal pengumpulan data
dilakukan melalui Fokus Grup Diskusi yang diikuti
oleh 2 (dua) dosen pembina matakuliah PKn, 3
(tiga) mahasiswa yang sedang menempuh
matakuliah PKn, dan 3 (tiga) mahasiswa yang
sudah lulus matakuliah PKn. FGD dipimpin oleh
anggota Tim Peneliti dengan langkah-langkah (1)
Menyampaikan informasi singkat mengenai
maksud dan tujuan FGD, (2) Memberikan
kesempatan kepada masing-masing mahasiswa
untuk menceritakan pengalaman dan kesan-kesan
mereka pada saat mengikuti matakuliah PKn, (3)
Memberikan kesempatan kepada masing-masing
dosen untuk menyampaikan pengalaman dan
kesan-kesan mereka pada saat membina
matakuliah PKn, dan (4) Menyimpulkan secara
singkat hasil penyampaian pengalaman mereka.
Langkah selanjutnya adalah memberikan
kesempatan kepada masing-masing dosen dan
mahasiswa untuk menganalisis dan menyampaikan
pendapat mereka mengenai nilai-nilai pendidikan
karakter yang terdapat dalam deskripsi dan silabus
matakuliah PKn, dan materi, metode, media, dan
sumber belajar yang efektif dan perlu
dikembangkan dalam pengemangan model
pendidikan karakter dengan pendekatan
multikultural dalam pembelajaran PKn di
perguruan tinggi. Kegiatan selanjutnya adalah
memberikan kesempatan kepada masing-masing
peserta (dosen dan mahasiswa) untuk saling
menanggapi dan melengkapi pendapat mereka,
merumuskan hasil FGD tersebut secara singkat
dan lengkap dalm bentuk pointers yang
menggambarkan prototype model pendidikan
karakter dengan pendekatan multikultural dalam
pembelajaran PKN di perguruan tinggi, dan
terakhir, menyampaikan hasil rumusan tersebut
kepada peserta untuk mendapatkan persetujuan
24 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
bersama. Hasil FGD berupa pointers yang
menggambarkan prototype model pendidikan
karakter dengan pendekatan multikultural dalam
pembelajaran PKN di perguruan tinggi dan akan
menjadi bahan utama dalam penyusunan desain
pembelajaran.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Daya Dukung Perguruan Tinggi
Ketersediaan daya dukung perguruan tinggi
menyangkut penyajikan matakuliah PKn,
kurikulum dan perangkat pembelajaran, tenaga
dosen, dan perangkat pembelajaran. Matakuliah
PKn disajikan di semua perguruan tinggi lokasi
penelitian sebagai matakuliah yang wajib ditempuh
oleh semua mahasiswa yang disajikan pada semester-semester awal antara semester ke 1 s.d
4. Hampir di semua perguruan tinggi disajikan
dalam 2 SKS/JS. Hanya di Prodi Kesehatan Universitas Nusantara PGRI Kediri yang disajikan
dalam 3 SKS/JS. Di semua perguruan tinggi lokasi
sudah tersedia kurikulum dalam bentuk deskripsi,
silabus, atau RPS untuk matakuliah PKn yang
disusun secara bersama-sama di antara Tim
Dosen PKn.
Dilihat dari ketersediaan dosen matakuliah
PKn, semua perguruan tinggi mempunyai dosen
PKn dalam jumlah yang cukup dan kualifikasi yang
baik. Di Universitas Negeri Malang 2 (dua) orang dari 22 (dua puluh dua) orang dosen PKn
berpendidikan S2. Hampir semuanya penah
mengikuti Suscadoswar dan Pentaloka dengan
berstatus sebagai dosen tetap. Hanya 1 (satu)
orang kolonel yang berasal dari instansi ABRI.
Latar belakang pendidikan mereka beraneka
ragam, mulai dari Sarjana atau Magister
Pendidikan, Hukum, dan Sosial Politik. Di Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel
Surabaya setiap program stusi mempunyai 1 (satu)
atau 2 (dua) dosen PKn yang pada umumnya
berpendidikan S2. Diantara mereka telah
mengkoordinasikan dengan bergabung dalam
NCCE dengan anggota 17 (tujuh belas) orang
dosen. Di Universitas Pesantren Darul Ulum
Jombang mempunyai 7 (tujuh) dosen PKn yang
semuanya berpendidikan S2 dan tergabung dalam
Konsorsium PKn di bawah Wakil Rektor I. Di
Universitas Merdeka Pasuruan ada 4 (empat)
orang dosen PKn dengan latar belakang
pendidikan bidang hukum dan ekonomi. Di Universitas Nusantara PGRI Kediri, dari 8 (delapan)
orang dosen PKn, 7 (tujuh) orang berpendidikan
S2 dan 1 (satu) orang S3 dengan latar belakang
pendidikan bidang hukum, PPKn, dan sospol.
Sedang di IKIP PGRI Madiun dari 5 (lima) dosen
PKn, 2 (dua) orang berpendidikan S3 dan 3 (tiga)
orang Magister dari bidang Pendidikan dan
manajemen.
Di lihat dari segi karakteristik sosial budaya
mahasiswa, ternyata di semua perguruan tingggi
lokasi penelitian mahasiswanya cukup homogin.
Sebagian besar berasal dari etnis/suku Jawa dan
Madura. Namun demikian ada juga sebagian kecil
yang berasal dari etnis/suku luar Jawa, seperti
NTT, Papua, Kalimantan dan sebagainya. Dilihat
dari karakteristik belajarnya, mereka mempunyai
disiplin yang cukup tinggi untuk hadir mengikuti
perkuliahan, sebab di hampir semua perguruan
tinggi lokasi penelitian mensyaratkan kehadiran
mahasiswa dalam prosesntase tertentu. Berdiskusi
dan mencari sendiri bahan materi kuliah melalui
berbagai sumber merupakan karakteristik belajar
mereka. Tugas membuat makalah atau bentuk
lainnya untuk didiskusikan sudah menjadi tradisi
yang dilakukan oleh mahasiswa dengan sungguhsungguh di hampir semua perguruan tinggi lokasi
penelitian.
Di hampir semua perguruan tinggi lokasi
penelitian telah mempunyai produk bahan ajar
PKn, baik dalam bentuk buku yang diterbitkan
secara umum atau internal, hand out, maupun
dalam bentuk lain. Internet adalah teknologi
informasi yang sudah tersedia dan dapat diakses
secara bebas di semua perguruan tinggi lokasi
penelitian. Hanya saja ketersediaan media
pembelajaran dalam bentuk film, video, gambar,
poster dan sejenisnya yang masih sangat kurang
di semua perguruan tinggi lokasi penelitian. Namun
demikian, para dosen biasanya mempunyai
beberapa jenis media sendiri secara pribadi untuk
mendukung efektifitas pembelajaran.
Dari deskripsi data di atas dapat disimpulkan
bahwa ketersediaan daya dukung di semua
perguruan tinggi lokasi penelitian cukup baik.
Jumlah dosen PKn yang cukup dengan kualifikasi
yang baik dan ketersediaan deskripsi/silabus/RPS
merupakan daya dukung utama untuk
mengembangkan model pembelajaran pendidikan
karakter. Ketersediaan bahan ajar dan sarana
teknologi informasi yang cukup baik akan
memudahkan mahasiswa dalam mengerjakan
tugas-tugas perkuliahan. Begitu pula kebiasaan
mahasiswa menggali sendiri informasi atau materi
Atok dkk, Model Pembelajaran Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Multikultural dalam PKn di PT
kuliah dan berdiskusi juga menjadi factor
pendukung yang sangat berarti. Memang
dukungan yang media pembelajaran dalam bentuk
film, video, gambar, atau poster sangat kurang,
namun hal ini bisa diatasi dengan kreativitas dosen
untuk menyediakannya secara mandiri.
Persepsi dan Saran tentang Perkuliahan PKn
Hasil penggalian gagasan dan pemikiran dari
para dosen PKn dan mahasiswa yang sudah dan
sedang mengikuti perkuliahan PKn di semua
perguruan tinggi lokasi melalui Fokus Grup Diskusi
(FGD) dapat disimpulkan sebagai berikut.
Berdasarkan pengalamannya, sebagian besar
mahasiswa menyatakan cukup senang mengikuti
matakuliah PKn. Melalui kuliah PKn mereka dapat
memahami masalah-masalah kebangsaan,
kenegaraan dan kemasyarakatan secara lebih
mendalam. Materinya sangat bermanfaat untuk
pembentrukan karakter. Kalau dulu pada waktu
di SMA mereka hanya mendapatkan materi
pelajaran PKn secara normatif dan teoritik yang
disampaikan oleh guru melalui ceramah yang
monoton, pada saat mengikuti kkuliah PKn di
perguruan tinggi sangat berbeda. Materinya
ternyata cukup menantang karena berkaitan
dengan isu-isu aktual yang kontroversial. Apalagi
perkuliahan dilakukan melalui sistem diskusi yang
mendorong mereka harus aktif dalam menggali
informasi dan mempresentasikan di hadapan
teman-teman mahasiswa dan dosen. Tugas-tugas
individual yang diberikan oleh dosen menjadikan
mereka lebih banyak bekerja daripada berbicara.
Memang masih terdapat beberapa dosen yang
memberikan kuliah dengan lebih sering
menggunakan metode ceramah. Menurut mereka,
sebetulnya metode ceramah tidak apa-apa dan
memang masih diperlukan sepanjang berkaitan
dengan pendalaman konsep tertentu yang memang
memerlukan penegasan dan penjelasan dari dosen.
Dalam pandangan para dosen PKn, selama
ini mahasiswa cukup aktif dan serius dalam
mengikuti perkuliahan PKn. Mahasiswa cukup
antusias untuk mendiskusikan masalah-masalah
aktual yang berkembang dalam masyarakat.
Bahkan banyak pemikiran-pemikiran dan gagasan
mereka yang cukup brilliant. Biasanya mereka
menyampaikan pendapat dan pemikiran secara
lugas dan apa adanya. Dalam perkuliahan PKn,
sebagian besar dosen selalu mengaitkan materi
kulaih dengan masalah-masalah yang hangat,
kasus-kasus baru, dan isu-isu kontroversial yang
25
sedang menjadi sorotan dan pembicaraan
masyarakat.
Kebanyakan mahasiswa berharap agar
materi perkuliahan PKn lebih dikembangkan lagi
pada studi dan aksi-aksi sosial yang nyata dengan
mengembangkan kegiatan perkuliahan di luar
kelas, langsung terjun ke masyarakat, di samping
lebih mengintensifkan diskusi dan metode-metode
lain yang lebih menarik, seperti bermain peran dan
sosio darama untuk lebih menumbuhkan
penghayatan.
Sedang para dosen semua sepakat jika setiap
materi PKn selalu dikaitkan dengan nilai-nilai dan
aturan moral dan agama. Mereka memandang
perlu untuk menidentiifikasi nilai-nilai karakter
tertentu terlebih dahulu secara tegas dalam
pnyusunan rencana perkuliahan PKn. Nilai-nilai
tersebut di antaranya yang berkaitan dengan
karakter sebagai individu, seperti kejujuran dan
tanggung jawab, nilai-nilai karakter sosial seperti
kepedulian dan kebersamaan, nilai-nilai karakter
kebangsaaan seperti cinta tanah air dan patriotism, serta nilai-nilai karakter seabagai warga
negara seprti demokratis, partisipasi, dan
kepatuhan pada hukum. Materi perkuliahan perlu
dikaitkan dengan kasus-kasus baru. Untuk itu
diperlukan kepekaan dosen untuk memilih isu-isu
kontroversial yang tepat dan bermanfaat, sebab
tidak semua isu baru dan kontroversial akan dapat
mendukung pembentukan karakter secara positif.
Ada pun yang berkaitan dengan model dan metode
pembelajaran, mereka sepakat untuk menggunakan model atau metode yang lebih memberikan
kesempatan kepada mahasiswa untuk beraktualisasi dan mengembangkan potensi diri. Diskusi
yang dilakukan oleh mahasiswa pun tidak harus
diakhiri dengan konklusi, sebab mahasiswa juga
perlu diberi kesempatan utnuk mengambil
kesimpulan sendiri yang mungkinn berbeda antara
mahasiswa satu dengan lainnya.
Prototipe Model Pembelajaran
Berdasarkan beberapa pemikiran yang
berkembang dalam FGD tersebut, maka prototype
model pembelajaran pendidikan karakter dengan
pendekatan multicultural dalam PKn di perguruan
tinggi dapat dideskripsikan sebagai berikut. Ada
beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam
pembelajaran kerakter dengan pendekatan
multikultural. Dosen yang akan menerapkan
pembelajaran dengan pendekatan multikultural
hendaknya telah memiliki jiwa yang multicultural.
26 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
Mahasiswa yang belajar di kelas pembelajaran
dengan pendekatan multikultural, seyogyanya
diperlakukan secara multikulturalistis. Kelas
pembelajaran berbasis multikultural hendaknya
mencerminkan praktik keadilan, keterbukaan,
kejujuran, manusiawi dan religius yang serta
menggambarkan iklim kelas sebagai laboratorium
demokrasi dan sosial-budaya.
Di samping itu ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam mengembangkan pembelajaran dengan pendekatan multikultral di antaranya
adalah kompetensi matakuliah yang harus dimiliki
oleh mahasiswa setelah mengikuti perkuliahan,
yang meliputi kompetensi kognitif atau pengetahuan
(knowledge), keterampilan (skills), dan sikap,
etika atau karakter (attitude, ethic atau disposition). Kompetensi dosen dalam menerapkan
pendekatan multikultural; apakah dosen juga sudah
menampilkan perilaku dan sikap yang
mencerminkan jiwa multicultural. Latar kultural
mahasiswa; mahasiswa sudah bisa dipastikan
memiliki pilihan menarik terhadap potensi budaya
yang ada di daerah masing-masing yang harus
menjadi pertimbangan dalam mengembangkan
model pembelajaran.
Beberapa strategi yang dapat dipilih dan
digunakan dalam mengembangkan pembelajaraan
dengan pendekatan multikultural, antara lain:
strategi kegiatan belajar bersama-sama (Cooperative Learning), yang dipadukan dengan
strategi pencapaian konsep (Concept Attainment)
dan strategi analisis nilai (Value Analysis); strategi
analisis sosial (Social Investigation). Beberapa
strategi ini dilaksanakan secara simultan, dan
harus tergambar dalam langkah-langkah model
pembelajaran. Namun demikian, masing-masing
strategi pembelajaran secara fungsional memiliki
tekanan yang berbeda.
Strategi Pencapaian Konsep, digunakan
untuk memfasilitasi mahasiswa dalam melakukan
kegiatan eksplorasi budaya lokal untuk
menemukan konsep budaya apa yang dianggap
menarik bagi dirinya dari budaya daerah masingmasing, dan selanjutnya menggali nilai-nilai yang
terkandung dalam budaya daerah asal tersebut.
Strategi cooperative learning, digunakan untuk
menandai adanya perkembangan kemampuan
mahasiswa dalam belajar bersama-sama
mensosialisasikan konsep dan nilai budaya lokal
dari daerahnya dalam komunitas belajar bersama
teman. Dalam tataran belajar dengan pendekatan
multikultural, penggunaan strategi cooperative
learning, diharapkan mampu meningkatkan kadar
partisipasi mahasiswa dalam melakukan
rekomendasi nilai-nilai lokal serta membangun cara
pandang kebangsaan.
Dari kemampuan ini, mahasiswa memiliki
keterampilan mengembangkan kecakapan hidup
dalam menghormati budaya lain, toleransi terhadap
perbedaan, akomodatif, terbuka dan jujur dalam
berinteraksi dengan teman (orang lain) yang
berbeda suku, agama etnis dan budayanya,
memiliki empati yang tinggi terhadap perbedaan
budaya lain, dan mampu mengelola konflik dengan
tanpa kekerasan (conflict non violent). Selain
itu, penggunaan strategi cooperative learning
dalam pembelajaran dapat meningkatkan kualitas
dan efektivitas proses belajar mahasiswa, suasana
belajar yang kondusif, membangun interaksi aktif
antara mahasiswa dengan guru, dan mahasiswa
dengan mahasiswa dalam pembelajaran.
Sedangkan strategi analisis nilai, difokuskan untuk
melatih kemampuan mahasiswa berpikir secara
induktif, dari setting ekspresi dan komitmen nilainilai budaya lokal (cara pandang lokal) menuju
kerangka dan bangunan tata pikir atau cara
pandang yang lebih luas dalam lingkup nasional
(cara pandang kebangsaan).
Bertolak dari keempat strategi pembelajaran
di atas, pola pembelajaran dengan pendekatan
multikultural dilakukan untuk meningkatkan
kesadaran diri mahasiswa terhadap nilai-nilai
keberbedaan dan keberagaman yang melekat
pada kehidupan siswa lokal sebagai faktor yang
sangat potensial dalam membangun cara pandang
kebangsaan. Dengan kesadaran diri mahasiswa
terhadap nilai-nilai lokal, mahasiswa di samping
memiliki ketegaran dan ketangguhan secara
pribadi, juga mampu melakukan pilihan-pilihan
rasional (rational choice) ketika berhadapan
dengan isu-isu lokal, nasional dan global.
Mahasiswa mampu menatap perspektif global
sebagai suatu realitas yang tidak selalu dimaknai
secara emosional, akan tetapi juga rasional serta
tetap sadar akan jati diri bangsa dan negaranya.
Kemampuan akademik tersebut, salah satu
indikasinya ditampakkan oleh mahasiswa dalam
perolehan hasil pembelajaran yang dialami.
Kriteria yang dapat digunakan untuk
mengetahui keberhasilan kegiatan belajar
mahasiswa adalah laporan kerja (makalah), unjuk
kerja dan partisipasi yang ditampilkan oleh
mahasiswa dalam pembelajaran dengan cara
diskusi dan curah pendapat, yang meliputi rasional
Atok dkk, Model Pembelajaran Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Multikultural dalam PKn di PT
berpendapat, toleransi dan empati terhadap
menatap nilai-nilai budaya daerah asal teman, serta
perkembangan prestasi belajar mahasiswa setelah
mengikuti tes di akhir pembelajaran. Selain itu,
kriteria lain yang dapat digunakan adalah unjuk
kerja yang ditampilkan oleh dosen di dalam
melaksanakan pendekatan multikultural dalam
pembelajarannya. Dosen yang bersangkutan
selalu terlibat dalam setiap fase kegiatan
pembelajaran, baik dalam kegiatan diskusi dan
refleksi hasil temuan awal, penyusunan rencana
tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan
dalam pelaksaan tindakan, diskusi dan refleksi
hasil pelaksanaan tindakan, dan penentuan/
penyususunan rencana tindakan selanjutnya
dalam pencapain tujuan pembelajaran.
Penyusunan rancangan pembelajaran PKn
dengan pendekatan multikultural dapat dilakukan
melalui lima tahapan utama, yaitu: (1) analisis isi
(content analysis); (2) analisis latar kultural (setting analysis); (3) pemetaan materi (maping
contents); (4) pengorganisasian materi (contents
organizing) pembelajaran PKn. Tahapan proses
dalam merumuskan rancangan pembelajaran PKn
tersebut adalah pertama, analisis isi, yaitu proses
untuk melakukan identifikasi, seleksi, dan
penetapan materi pembelajaran PKn. Proses ini
bisa ditempuh dengan berpedoman atau
menggunakan rambu-rambu materi yang terdapat
dalam Silabus Matakuliah, antara lain mengenai
materi standar minimal, urutan (sequence) dan
keluasan (scope) materi, kompetensi dasar yang
dimiliki, serta ketrampilan yang dikembangkan. Di
samping itu, dalam menganalisis materi guru
hendaknya juga menggunakan pendekatan nilaimoral, yang karakteristiknya meliputi pengetahuan
moral, pengenalan moral, pembiasaan moral dan
pelakonan moral.
Kedua, analisis latar kultural, yang
dikembangkan dari pendekatan kultural dan siklus
kehidupan (life clycle), yang di dalamnya
mengandung dua konsep, yaitu konsep wilayah
atau lingkungan (lokal, regional, nasional dan global); dan konsep manusia beserta aktivitasnya
yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Selain
itu, analisis latar juga mempertimbangkan nilai-nilai
kultural yang tumbuh dan berkembang serta
dijunjung tinggi oleh suatu masyarakat serta
kemungkinan kemanfaatannya bagi kehidupan
siswa.
Ketiga, pemetaan materi pembelajaran yang
berkaitan erat dengan prinsip yang harus
27
dikembangkan dalam mengajarkan nilai dan moral,
yaitu prinsip: dari yang mudah ke sukar; dari yang
sederhana ke sulit; dari konkrit ke abstraks; dari
lingkungan sempit/dekat menuju lingkungan yang
meluas.
Pengorganisasian materi, dengan pendekatan
multikultural yang dilakukan dengan memperhatikan prinsip “4 W dan 1 H”, yaitu: What (apa),
Why (mengapa), When (kapan), Where (di mana)
dan How (bagaimana). Dalam rancangan
pembelajaran, kelima prinsip ini, harus diwarnai
oleh ciri-ciri pembelajaran dengan multikultural,
dalam menuju pelakonan (experiences) nilaimoral yang berlandaskan pada asas empatisitas
tinggi dan kejujuran serta saling menghargai
keunggulan masing-masing. Selain itu,
pengorganisasian materi pembelajaran perlu
memperhatikan beberapa dimensi yang mampu
menggambarkan karakteristik kerja multikultural,
antara lain dimensi isi/materi (content integration), dimensi konstruksi pengetahuan
(konwledge construction), dimensi pengurangan
prasangka (prejudice reduction); dimensi
pendidikan yang sama/adil (eguitable pedagogy),
dan dimensi pemberdayaan budaya sekolah dan
sruktur sosial (empawering school culture and
social structure). Kesemuanya dilakukan dengan
memberdayakan metode pembelajaran yang
memungkinkan siswa untuk bermultikultural.
Pelaksanaan pembelajaran pendidikan
karakter dengan pendekatan multicultural dalam
PKn dikemukakan dalam Tabel 1. Berdasarkan
prototype di atas maka kerangka modul
pembelajaran yang hendak dikembangkan terdiri
dari judul, identitas, tujuan pembelajaran, nilai
karakter, petunjuk penggunaan modul, kegiatan
pembelajaran hingga lima langkah, dan evaluasi.
Judul berisikan tema, topik, atau kompetensi yang
akan dipelajari. Identitas berisi deskripsi nama dan
kode matakuliah (PKn), tema/topik/kompetensi
yang dipelajari, identitas prodi/jurusan/fakultas/
perguruan tinggi, waktu yang diperlukan, dan dosen
pembina. Tujuan Pembelajaran berisi tentang
deskripsi tujuan pembejalaran yang hendak dicapai
untuk setiap kegiatan pembelajaran. Nilai karakter
berisi tentang deskripsi nilai-nilai karakter yang
akan dikembangkan selama proses pembelajaran.
Petunjuk penggunaan modul berisi tentang
deskripsi petunjuk mengenai apa yang harus
dilakukan oleh mahasiswa dalam menggunakan
modul pembelajaran. Kegiatan belajar satu tentang
studi eksplorasi berisi tentang deskripsi mengenai
28 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
Tabel 1: Tahapan Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Multikultural
dalam PKn
No. Tahap Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
1. Orientasi
Dosen memberikan penjelasan singkat tentang kompetensi dan materi yang akan dipelajari
yang berkaitan yang mengandung unsur multikultral. Dosen juga menjelaskan urgensi
atau manfaat dari mempelajari kompetensi atau materi tersebut. Selanjutnya dosen
menyampaikan tugas yang harus dikerjakan mahasiswa dan memberikan kesempatan
kepada mahasiswa untuk menyamakan persepsi dan pemahaman terhadap tugas yang
harus mereka kerjakan.
2. Studi eksplorasi
Menugaskan kepada mahasiswa untuk melakukan eksplorasi terhadap materi pembelajaran
yang mengandung unsur multikultural yang berasal dari daerah asalnya masing-masing
(lokal), baik yang berkaitan dengan diri sendiri maupun lingkungan sosial-budaya (daerah
asal), dengan ketentuan: (a) memilih masalah yang menarik bagi mereka, bisa masalah
stereotipe, suku, agama, ras/etnis, bahasa daerah, adat-kebiasaan, kesenian dan organisasi
sosial setempat; (b) menggambarkan bagaimana ekspresinya (perangkat dan tampilan);
(c) menggali nilai-nilai dan landasan filosofik yang digunakan oleh masyarakat asal siswa;
dan (d) memproyeksikan prospek nilai-nilai dan filosofi dari masalah terpilih dalam konteks
kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dan bernegara.
3. Presentasi
Mahasiswa mempresentasikan hasil eksplorasi (bisa individual atau kelompok) terhadap
masalah lokal yang menarik bagi dirinya, di hadapan teman atau kelompok lain.
4. Peer group
analysis
Mahasiswa atau kelompok lain diminta untuk mengalisis dan memberi komentar terhadap
presentasi hasil eksplorasi masalah terpilih. Secara bergiliran masing-masing mahasiswa
atau kelompok menyajikan hasil analisisnya. Mahasiswa dan dosen merekam pemikiran,
komentar, tanggapan, dan masukan yang muncul di antara mereka.
5. Expert opinion
Dosen memberikan komentar dan analisis mengenai hasil eksplorasi yang dipresentasikan
dan beberapa komentar atau tanggapan yang muncul dari mahasiswa. Kepada mahasiswa
juga diberi kesempatan untuk memberikan masukan atau saran berkaitan dengan tampilan
atau penyajian mahasiswa lainnya.
6. Refleksi dan
rekomendasi
Dosen bersama mahasiswa melakukan refleksi dan memberikan rekomendasi terhadap
masalah yang dikaji.
kegiatan eksplorasi apa yang harus dilakukan oleh
mahasiswa berkaitan dengan materi pembelajaran
yang mengandung unsur multikultural yang berasal
dari daerah asalnya masing-masing (lokal), baik
yang berkaitan dengan diri sendiri maupun
lingkungan sosial-budaya (daerah asal). Kegiatan
belajar dua tentang presentasi berisi tentang
deskripsi tugas presentasi yang harus dilakukan
oleh mahasiswa, dan bagaimana presentasi harus
dilakukan. Kegiatan belajar tiga Peer Group
Analysis berisi tentang deskripsi mengenai tugas
mahasiswa atau kelompok selain penyaji untuk
mengalisis dan memberi komentar terhadap
presentasi hasil eksplorasi masalah terpilih.
Bagaimana analisi harus dilakukan oleh oleh
masing-masing mahasiswa atau kelompok serta
peran dosen dalam analisis tersebut. Kegiatan
belajar empat Expert Opinion, berisikan tentang
deskripsi tentang bagaimana dosen dalam
memberikan komentar dan analisis mengenai hasil
eksplorasi yang dipresentasikan dan beberapa
komentar atau tanggapan yang muncul dari
mahasiswa, dan pemberian kesempatan kepada
mahasiswa untuk memberikan masukan atau saran berkaitan dengan tampilan atau penyajian
mahasiswa lainnya. Kegiatan belajar lima tentang
Refleksi dan Rekomendasi, berisikan tentang
deskripsi bagaimana dosen bersama mahasiswa
melakukan refleksi dan memberikan rekomendasi
terhadap masalah yang dikaji. Evaluasi berisi
tentang deskripsi proses, tata cara, teknik, dan
waktu pelaksanaan evaluasi hasil pembelajaran.
SIMPULAN
Ketersediaan daya dukung perguruan tinggi
untuk mengembangkan model pembelajaran
pendidikan karakter dengan pendekatan
multikultural dalam PKn cukup tersedia dengan
baik, baik dilihat dari jumlah dan kualifikasi dosen,
Atok dkk, Model Pembelajaran Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Multikultural dalam PKn di PT
ketersediaan kruikulum/silabus, sarana teknologi
informatika, maupun kultur belajar mahasiswa.
Satu-satunya daya dukung yang kurang tersedia
adalah ketersediaan media pembelajaran berupa
film, video, gambar, poster, dan sejenisnya.
Persepsi dan kesan dosen dan mahasiswa
terhadap perkuliahan PKn cukup positif dan
merasakan bahawa matakuliah PKn cukup
bermanfaat untuk membentuk karakter
mahasiswa dan memahami masalah-masalah
kebangsaaan, kenegaraan, dan kemasyarakatan
yang aktual. Matakuliah PKn akan semakin
menarik dan bermanfaat jika ditekankan pada
penanaman nilai dan dikembangkan dalam bentuk
studi dan aksi sosial dengan pembelajaran di luar
kelas.
Kerangka pikir dari prototipe model
pembelajaran pendidikan karakter dengan
pendekatan multikultural dalam PKn perlu
dikembangkan dengan memperhatikan kompetensi
matakuliah yang harus dimiliki oleh mahasiswa,
kompetensi dosen dalam menerapkan pendekatan
multicultural, latar kultural mahasiswa, dan
karakteristik materi pembelajaran yang bernuansa
multikultural. Sedang strategi yang dapat dipilih
dan digunakan antara lain: strategi kegiatan belajar
bersama-sama (Cooperative Learning), yang
dipadukan dengan strategi pencapaian konsep
29
(Concept Attainment) dan strategi analisis nilai
(Value Analysis); strategi analisis sosial (Social
Investigation) yang dilaksanakan secara simultan.
Adapun penyusunan rancangan pembelajarannya dapat dilakukan melalui lima tahapan
utama, yaitu: (1) analisis isi (content analysis);
(2) analisis latar kultural (setting analysis); (3)
pemetaan materi (maping contents); (4)
pengorganisasian materi (contents organizing)
pembelajaran PKn; dan (5) menuangkan dalam
format pembelajaran. Dalam pelaksanaannya
model pembelajaran pendidikan karakter dengan
pendekatan multikultural dalam PKn dapat
dilakukan melalui tahapan: Studi Eksplorasi,
Presentasi, Peer Group Analysis, Expert Opinion,
dan Refleksi dan Rekomendasi.
Secara umum respon mahasiswa terhadap
model pembelajaran yang dikembangkan dalam
penelitian ini dapat dikategorikan sangat baik. Dari
10 (sepuluh) aspek yang dinilai, ada 7 (tujuh) aspek
yang mendapatkan penilaian sangat baik, dan 3
(tiga) aspek yang mendapatkan penilaian baik.
Tidak ada aspek yang dinilai kurang atau tidak baik.
Dengan demikian maka menurut penilaian
mahasiswa model pembelajaran yang dikembangkan sangat baik dan sangat layak untuk dijadikan
sebagai model pendidikan karakter dalam
pembelajaran PKn.
DAFTAR RUJUKAN
Al-Hakim, S. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Konteks Indonesia.
Malang. UM Press.
Ali, M. 2003. Teologi Pluralis-Multikultural:
Menghargai Kemajemukan Menjalin
Kebersamaan. Jakarta. PT Kompas Media Nusantara.
Banks, J.A. 1993. “Multicultural Educatian: Historical Development, Dimentions and
Practrice” In Review of Research in Education, vol. 19, edited by L. DarlingHammond. Washington, D.C.: American
Educational Research Association.
Banks, J.A. 1994-a. Multiethnic Education:
Theory and Practice, 3rd ed. Boston: Allyn
and Boston.
Jalaludin, 2012. Membangun SDM Bangsa
Melalui Pendidikan Karakter. Jurnal
Penelitian Pendidikan. UPI. Vol 13
(2):134-149.
Puskur, 2011. Pedoman Pengembangan
Pendidikan Budaya dan Karakter
Bangsa. Jakarta.
Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.
Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 17
Tahun 2007 tentang RPJPN 2005-2025.
Republik Indonesia. 2010. Grand Design
Karakter Nasional. Kementerian
Pendidikan Nasional.
Republik Indonesia., 2010. Kebijakan Nasional
Pembangunan Karakter Bangsa Tahun
2010-2025. Jakarta. Kementerian
Pendidikan Nasional.
avage, TV., & Armstrong. 1996. Effective Teaching in Elementery Social Studies:
Chalanges for Tomorrow’s Wolds. Philadelphia. Harcourt Brace College Publishers.
30 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
Soesetijo. 2010. Identifikasi Psikologis Siswa
Sekolah Dasar Yang Berpotensi untuk
Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jurnal
Pendidikan. Uniro. Vol 2 (2): 458-268.
Wiriatmadja. 2009. Perspektif Multikultural dalam
Pengajaran Sejarah. Jurnal Pendidikan.
Vol 15 (4): 368-382.
BHINNEKHA TUNGGAL IKA: KHASANAH MULTIKULTURAL
INDONESIA DI TENGAH KEHIDUPAN SARA
Gina Lestari
Program Studi Ketahanan Nasional Universitas Gadjah Mada
Jl. Bulak Sumur Yogyakarta
email: [email protected]
Abstract: High degree of diversity in Indonesia is an axis that easily burned by confrontation of
identity (tribes, religion, and race). That’s why comprehensive understanding regarding Indonesian
diversity is needed. Study about culture diversitynot only gives us comprehensive picture but more
to that, it can raise dialogue about Indonesia unity in diversity. Multiculturalism was given, but
Bhinneka Tunggal Ika (unity in diversity) was heritage that need to be preserved.
Keywords : Bhinneka Tunggal Ika, multicultural
Abstrak:Tingkat keragaman bangsa Indonesia yang tinggi merupakan sumbu yang mudah tersulut
oleh konfrontasi- konfrontasi SARA. Oleh karena itu, butuh sebuah penelaan konfrehensif berkaitan
dengan ciri kebhinekaan Indonesia. Suatu kajian tentang keanekaragaman budaya bukan hanya
memberikan gambaran komprehensif namun lebih dari itu,dapat menumbuhkan dialog persepsi
kerukunan SARA ditengah kehidupan berbangsa. Multikulturalisme merupakan given dari Tuhan,
namun Bhineka Tunggal Ika merupakan titipan dari nenek moyang kita yang harus di jaga dan
dilestarikan.
Kata Kunci: Bhineka Tunggal Ika, Multikultural
Negara Indonesia adalah salah satu negara
multikultur terbesar di dunia, hal ini dapat terlihat
dari kondisi sosiokultural maupun geografis Indonesia yang begitu kompleks, beragam, dan luas.
“Indonesia terdiri atas sejumlah besar kelompok
etnis, budaya, agama, dan lain-lain yang masingmasing plural (jamak) dan sekaligus juga heterogen
“aneka ragam” (Kusumohamidjojo, 2000:45)”.
Sebagai negara yang plural dan heterogen, Indonesia memiliki potensi kekayaan multi etnis, multi
kultur, dan multi agama yang kesemuanya
merupakan potensi untuk membangun negara
multikultur yang besar “multikultural nationstate”. Keragaman masyarakat multikultural
sebagai kekayaan bangsa di sisi lain sangat rawan
memicu konflik dan perpecahan. Sebagaimana
yang dikemukakan oleh Nasikun (2007: 33) bahwa
kemajemukan masyarakat Indonesia paling tidak
dapat dilihat dari dua cirinya yang unik, pertama
secara horizontal, ia ditandai oleh kenyataan
adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan
perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta
perbedaan kedaerahan, dan kedua secara vertikal
ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal
antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup
tajam.
Pluralitas dan heterogenitas yang tercermin
pada masyarakat Indonesia diikat dalam prinsip
persatuan dan kesatuan bangsa yang kita kenal
dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”,
yang mengandung makna meskipun Indonesia
berbhinneka, tetapi terintegrasi dalam kesatuan.
Hal ini merupakan sebuah keunikan tersendiri bagi
bangsa Indonesia yang bersatu dalam suatu
kekuatan dan kerukunan beragama, berbangsa
dan bernegara yang harus diinsafi secara sadar.
Namun, kemajemukan terkadang membawa
berbagai persoalan dan potensi konflik yang
berujung pada perpecahan. Hal ini menggambarkan bahwa pada dasarnya, tidak mudah
mempersatukan suatu keragaman tanpa didukung
oleh kesadaran masyarakat multikultural.Terlebih,
kondisi masyarakat Indonesia adalah masyarakat
yang paling majemuk di dunia, selain Amerika
31
32 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
Serikat dan India. Sejalan dengan hal tersebut,
Geertz (dalam Hardiman, 2002: 4) mengemukakan
bahwa Indonesia ini sedemikian kompleksnya,
sehingga sulit melukiskan anatominya secara
persis. Negeri ini bukan hanya multietnis (Jawa,
Batak, Bugis, Aceh, Flores, Bali, dan seterusnya),
melainkan juga menjadi arena pengaruh
multimental (India, Cina, Belanda, Portugis,
Hindhuisme, Buddhisme, Konfusianisme, Islam,
Kristen, Kapitalis, dan seterusnya).
Negara yang memiliki keunikan multientis
dan multimental seperti Indonesia dihadapkan pada
dilematisme tersendiri, di satu sisi membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar sebagai
multicultural nation-state, tetapi di sisi lain
merupakan suatu ancaman. Maka bukan hal yang
berlebihan bila ada ungkapan bahwa kondisi
multikultural diibaratkanseperti bara dalam sekam
yang mudah tersulut dan memanas sewaktuwaktu. Kondisi ini merupakan suatu kewajaran
sejauh perbedaan disadari dan dihayati
keberadaannya sebagai sesuatu yang harus
disikapi dengan toleransi. Namun, ketika perbedaan
tersebut mengemuka dan menjadi sebuah
ancaman untuk kerukunan hidup, hal ini dapat
menjadi masalah yang harus diselesaikan dengan
sikap yang penuh toleransi. Menyoal tentang
rawan terjadi konflik pada masyarakat multikultur
seperti Indonesia, memiliki potensi yang besar
terjadinya konflik antarkelompok, etnis, agama, dan
suku bangsa. Salah satu indikasinya yaitu mulai
tumbuh suburnya berbagai organisasi
kemasyarakatan, profesi, agama, dan organisasi
atau golongan yang berjuang dan bertindak atas
nama kepentingan kelompok yang mengarah pada
konflik SARA (suku, agama, ras dan antar
golongan).
INDONESIA: MULTICULTURAL NATION
STATE
Indonesia adalah suatu negara multikultural
yang memiliki keragaman budaya, ras, suku, agama
dan golongan yang kesemuanya merupakan
kekayaan tak ternilai yang dimiliki bangsa Indonesia. Selo Soemardjan (Alfian, 1991: 173)
mengemukakan bahwa pada waktu disiapkannya
Republik Indonesia yang didasarkan atas Pancasila
tampaknya para pemimpin kita menyadari realitas
bahwa ditanah air kita ada aneka ragam
kebudayaan yang masing-masing terwadahkan di
dalam suatu suku. Realitas ini tidak dapat
diabaikan dan secara rasional harus diakui adanya.
Founding Father bangsa menyadari bahwa
keragaman yang dimiliki bangsa merupakan realitas
yang harus dijaga eksistensinya dalam persatuan dan
kesatuan bangsa. Keragaman merupakan suatu
kewajaran sejauh disadari dan dihayati
keberadaannya sebagai sesuatu yang harus disikapi
dengan toleransi. Kemajemukan ini tumbuh dan
berkembang ratusan tahun lamanya sebagai warisan
dari nenek moyang bangsa Indonesia. Hefner (dalam
Mahfud, 2009: 83) memaparkan bahwa:Pluralisme
kultural di Asia Tenggara, khususnya Indonesia,
Malaysia, dan Singapura sangatlah mencolok, terdapat
hanya beberapa wilayah lain di dunia yang memiliki
pluralisme kultural seperti itu. Karena itulah dalam
teori politik Barat dasawarsa 1930-an dan 1940-an,
wilayah ini, khususnya Indonesia dipandang sebagai
“lokus klasik” bagi konsep masyarakat majemuk/
plural (plural society) yang diperkenalkan ke dunia
Barat oleh JS Furnivall.
Pandangan Hefner yang mengatakan bahwa
Indonesia merupakan “lokus klasik” (tempat
terbaik/ rujukan) bagi konsep masyarakat
majemuk bukan sesuatu yang berlebihan. Hal ini
terlihat dari keberagaman yang dimiliki Indonesia
sebagai bangsa yang unik dimana hanya beberapa
wilayah saja di dunia yang dianugrahi keistimewaan ini. Telaah mengenai keberagaman sebuah
bangsa kemudian dikenal dengan konsep
multikultural. Banyak ahli mengemukakan bahwa
konsep multikultural pada dasarnya merupakan
konsepharmoni dalam keragaman budaya yang
tumbuh seiring dengan kesederajatan diatara
budaya yang berbeda.Harmoni ini menuntut setiap
individu untuk memiliki penghargaan terhadap
kebudayaan individu lain yang hidup dalam
komunitasnya. Dalam masyarakat multikultur,
setiap individu maupun masyarakat memiliki
kebutuhan untuk diakui (politics of recognition)
yang menuntut terciptanya penghargaan tertentu
secara sosial. Multikultural dapat diartikan sebagai
keragaman atau perbedaan terhadap suatu
kebudayaan dengan kebudayaan yang lain.
Menurut Bhiku Parekh (dalam Azra 2006: 62)
mengatakan bahwa Masyarakat multikultural
adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa
macam komunitas budaya dengan segala
kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi
mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk
organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Musa
Asy’arie (dalam Mahfud, 2005: 103) mengatakan
Lestari dkk, Bhinnekha Tunggal Ika: Khasanah Multikultural Indonesia di Tengah Kehidupan Sara
bahwa “multikulturalisme adalah kearifan untuk
melihat keanekaragaman budaya sebagai realitas
fundamental dalam kehidupan bermasyarakat”.
Kearifan akan tumbuh jika seseorang membuka
diri untuk menjalani kehidupan bersama dengan
melihat realitas plural sebagai kepastian hidup yang
kodrati.Kearifan dapat tumbuh baik dalam
kehidupan diri sebagai individu yang multidimensional maupun dalam kehidupan masyarakat yang
lebih kompleks. Dengan demikian, muncul suatu
kesadaran bahwa keanekaragaman dalam realitas
dinamika kehidupan adalah suatu keniscayaan yang
tidak bisa ditolak, diingkari, apalagi dimusnahkan.
“Multikulturalisme adalah landasan budaya
yang terkait dengan pencapaian civility (keadaban),
yang amat esensial bagi terwujudnya demokrasi
yang berkeadaban, dan keadaban yang demokratis
(Azra, 2004)”. Kedalam atau civility yang
dikemukakan oleh Azra sejalan dengan pendapat
yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara (Tilaar,
2007: 33) yang menyatakan bahwa “kebudayaan
Indonesia merupakan puncak-puncak budaya dari
masing-masing suku bangsa. Puncak-puncak
kebudayaan dari suatu suku bangsa merupakan
unsur-unsur budaya lokal yang dapat memperkuat
solidaritas nasional”. Solidaritas nasional terbentuk
dari keadaban yang tumbuh dan berkembang dalam
kehidupan masyarakat.
Dengan pencapaian civility (keadaban) di
masyarakat, maka akan terbentuk suatu kekuatan
solidaritas nasional. Pengembangan wawasan
multikultural sebagaimana telah dipaparkan di atas
mutlak harus dibentuk dan ditanamkan dalam suatu
kehidupan masyarakat yang majemuk. Jika hal
tersebut tidak ditanamkan dalam suatu masyarakat
yang majemuk, maka kemajemukan akan
membawa pada perpecahan dan konflik. Indonesia sebagai bangsa yang multikultural harus
mengembangkan wawasan multikultural tersebut
dalam semua tatanan kehidupan yang harmonis.
Menurut Djaka Soetapa (Sopates dkk, 1998: 108)
“...kemajemukan itu juga dapat menjadi bencana
bagi bangsa Indonesia, karena kemajemukan dapat
menjadi sumber dan potensi konflik yang dapat
mengganggu dan bahkan mengancam kesatuan dan
persatuan bangsa”.
DILEMA MULTIKULTURAL BANGSA
INDONESIA
Keadaan Indonesia yang multikultur akan
sangat bergantung pada bagaimana masyarakat
33
Indonesia membawanya. Keadaan ini bisa dibawa
pada jalur yang menjadikannya suatu kekayaan
dan kekuatan bangsa, namun bisa pula dibawa
pada jalur yang akan menjadi pemecah belah dan
penyulut konflik di masyarakat. Banyak para pakar
yang tertarik untuk mengamati kemajemukan
bangsa Indonesia, sehingga muncul berbagai
pandangan yang beragam dalam menyikapi
identitas Indonesia dan keadaannya yang
multikultur. Penulis mencoba memaparkan
berbagai pandangan para ahli yang membahas
tentang konsep Indonesia sebagai bangsa yang
multikultur. Berkaitan dengan hal tersebut,
Amirsyah (2012: 51) memandang bahwa
kemajemukan masyarakat sebagaimana yang ada
di Indonesia adalah suatu keniscayaan yang tidak
mungkin disangkal. Tidak ada cara lain bagi bangsa
ini kecuali dengan berkomitmen kuat merawat
keragaman menjadi sebuah kemungkin dan tidak
mentolelir segala bentuk tindakan yang dapat
menghancurkan tatanan masyarakat majemuk.
Kemungkinan munculnya benih-benih
percekcokan pada masyarakat multikultur sangat
rawan terjadi jika masyarakat multikultur
menyikapi perbedaan sebagai suatu pemisah dan
menimbulkan sifat ke-kita-an (yang lain bukan
bagian dari kita). Masyarakat yang hidup ribuan
tahun dalam keadaan yang multikultur tidak berarti
telah immune terhadap kemungkinan-kemungkinan gesekan konflik etnis, budaya, agama, sosial,
politik dan ekonomi. Pengalaman lama hidup
dalam perbedaan ternyata tidak cukup untuk
menanamkan rasa bangga akan perbedaan dan
memandangnya sebagai suatu kekayaan bangsa.
Menyikapi hal tersebut, Azyumardi Azra (dalam
Budimansyah dan Suryadi, 2008: 31) memandang
bahwa pembentukan masyarakat multikultural
Indonesia yang sehat tidak bisa secara taken for
granted atau trial and error. Harus diupayakan
secara sistematis, programatis, integrated dan
berkesinambungan. Salah satu strategi penting itu
adalah pendidikan multikultural yang dapat
berlangsung dalam setting pendidikan formal atau
informal, langsung atau tidak langsung.
Keragaman sebagai rahmat dari Tuhan tidak
lepas dari tantangan yang sering kali muncul di
tengah kehidupan masyarakat. Menyikapi
perbedaan dengan intoleransi, memperdebatkan
perbedaan-berbedaan, mempertentangkan orang
lain yang tidak sama dengan dia, dan bahkan
melakukan tindakan-tindakan kekerasan yang
memicu konflik masal. Hal ini sangat rentan terjadi
34 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
pada masyarakat Indonesia yang dihadapkan pada
perubahan dan kebebasan era globalisasi. Will
Kymlicka (2002:289) memandang bahwa “suatu
masyarakat yang dilandasi keragaman yang sangat
luas sulit untuk tetap bersatu kecuali apabila
anggota masyarakat itu menghargai keragaman
itu sendiri, dan ingin hidup di sebuah negeri dengan
beragam bentuk keanggotan budaya dan politik”.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Wingarta
(2012:28) memaparkan bahwa munculnya konflik
horisontal yang diwarnai SARA sebagaimana
terjadi di Ambon, Poso, Sampit merupakan cermin
dari bopeng-bopengnya pemaknaan dari Sasanti
Bhineka Tunggal Ika. Para pendiri bangsa
(founding fathers) saat itu sadar betul, bahwa
kemerdekaan Indonesia dibangun di atas
beragamnya suku bangsa, agama, adat-istiadat,
sosial budaya, bahasa serta kebiasaan yang sangat
multikultur.
Konflik bernuansa SARA akhir-akhir ini
banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia.
Kebanyakan kasus yang terjadi dipicu oleh
tindakan seorang atau kelompok tertentu yang
intoleran yang kemudian dibawa pada kelompoknya yang lebih luas dengan mengatasnamakan
latar belakang ras, suku, agama, dan budaya. Haris
(2012:52) mengatakan bahwa “akibat lebih jauh
terjadinya konflik horisontal yang dipicu oleh
kecemburuan sosial, ego daerah, ego suku, ego
agama, dan lainnya. Kesadaran untuk hidup
bersama secara damai sesuai makna Bhineka
Tunggal Ika mulai luntur”. Akibat ego seorang
atau segelintir orang kemudian dibawa menjadi ego
kelompok dan golongan tertentu muncul konflik
besar yang membawa bencana bagi semua pihak
termasuk pihak yang tidak terlibat. Namun
demikian, tantangan keragaman yang dimiliki
bangsa Indonesia memiliki optimisme tersendiri
untuk menjadi sebuah potensi bukan bibit konflik.
Sejalan dengan hal tersebut, Sujanto (2009: 4)
memandang bahwa tentang keragaman dan
keberbedaan (kemajemukan) ini. Tuhan pun telah
menggambarkan pada diri manusia dengan lima
jari tangan yang saling berbeda, yang kalau boleh
saya sebut ‘sebagai falsafah lima jari’. Fitrah
keragaman jari itupun diciptakan dengan masingmasing ciri, fungsi dan peran dari tiap-tiap jari.
Apabila kelima jari itu disatukan (bersatu) akan
terbangun suatu kekuatan yang sangat luar biasa
yang dapat menyelesaikan semua pekerjaan
seberat apapun yang ada di muka bumi ini.
Falsafah lima jari merupakan contoh
sederhana optimisme perbedaan yang bisa menjadi
potensi besar untuk melakukan pekerjaan seberat
apapun. Bahkan diharapkan bisa merubah suatu
tantangan menjadi sebuah peluang. Untuk
mewujudkan hal tersebut, masyarakat harus
memiliki pandangan yang kuat tentang persatuan
dan kesatuan-Raya. Kaelan (dalam Bestari,
2012:71) mengemukakan bahwa “pandangan hidup
Pancasila bagi bangsa Indonesia yang Bhineka
Tunggal Ika harus merupakan asas bangsa
sehingga tidak boleh mematikan keanekaragaman”.Sejalan dengan hal tersebut, Winataputra
(2012: 6) mengemukakan bahwa “Pilar-pilar
kehidupan berbangsa dan bernegara kebangsaan
Indonesia, yaitu Pancasila, UUD NRI Tahun 1945,
Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI (Kemko Kesra:
2010) perlu ditransformasikan secara fungsional
dalam berbagai ranah kehidupan bermasyarakat
dan bernegara”. Untuk mentransformasikan
Empat pilar kebangsaan tersebut, dibutuhkan
kesadaran dari masyarakat dan didukung oleh
kebijakan pemerintah yang mendukung terciptanya
Bhineka Tunggal Ika. Aeni (2012: 87)
memaparkan bahwa kebijakan yang ditempuh
adalah menbangun kesejahteraan berbangsa dan
bernegara di atas ke-Bhinneka Tunggal Ika-an
dalam rangka mewujudkan kehidupan rakyat yang
sejahtera, rukun, aman, damai, saling menghormati,
demokrasi dalam menghadapi globalisasi yang
mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa
demi terwujudnya stabilitas nasional yang mantap
dan tangguh.
Peran kebijakan harus didukung dengan
kesadaran sehingga kesejahteraan berbangsa dan
bernegara dapat terwujud. Jika hal ini sudah
disadari bersama, maka gesekan-gesekan konflik
yang bernuansa SARA di masyarakat akan bisa
diatasi dan bahkan mengubah kemungkinan konflik
tersebut menjadi suatu peluang untuk hidup saling
melindungi dalam kerukunan. Dalam modul
Konsep Wasantara Lemhannas RI (Winataputra,
2012:2) dikemukakan bahwa Persinggungan
unsur-unsur SARA secara positif diharapkan juga
dapat meningkatkan mutu kehidupan masingmasing unsur, bermanfaat bagi masing-masing
pihak baik secara individu maupun kelompok.
Selain itu, masing-masing pihak memiliki
keunggulan dalam hal tertentu dari pihak yang lain,
sehingga dengan berinteraksi akan terjadi hubungan
yang saling menguntungkan.
Lestari dkk, Bhinnekha Tunggal Ika: Khasanah Multikultural Indonesia di Tengah Kehidupan Sara
BHINNEKA TUNGGAL IKA CIRI MULTIKULTURALISME BANGSA
Keberagaman budaya Indonesia dilengkapi
oleh keragaman lain yang ada pada tatanan hidup
masyarakat baik perbedaan ras, agama, bahasa,
dan golongan politik yang terhimpun dalam suatu
ideologi bersama yaitu Pancasila dan Bhineka
Tunggal Ika. Kansil dan C. Kansil (2006: 25)
mengemukakan bahwa “persatuan dikembangkan
atas dasar Bhinneka Tunggal Ika, dengan
memajukan pergaulan demi kesatuan dan
persatuan bangsa”. Sehingga Sasanti Bhineka
Tunggal Ika bukan hanya suatu selogan tetapi
merupakan pemersatu bangsa Indonesia.
Keberagaman bangsa berlangsung selama
berabad-abad lamanya, sehingga Indonesia
tumbuh dalam suatu keragaman yang komplek.
Mahfud (2009:10) berpandangan bahwa pada
hakikatnya sejak awal para founding fathers
bangsa Indonesia telah menyadari akan
keragaman bahasa, budaya, agama, suku dan etnis
kita. Singkatnya bangsa Indonesia adalah bangsa
multikultural, maka bangsa Indonesia menganut
semangat Bhinneka Tunggal Ika, hal ini
dimaksudkan untuk mewujudkan persatuan yang
menjadi obsesi rakyat kebanyakan. Kunci yang
sekaligus menjadi mediasi untuk mewujudkan citacita itu adalah toleransi.
Bhinneka Tunggal Ika sebagai kunci dan
pemersatu keragaman bangsa Indonesia
merupakan ciri persatuan bangsa Indonesia
sebagai negara multikultur. Sujanto (2009:28)
memaparkan bahwa “lahirnya Sesanti Bhineka
Tunggal Ika, berangkat dari kesadaran adanya
kemajemukan tersebut. Bahkan kesadaran perlu
adanya persatuan dari keragaman itu terkristalisasi
kedalam ‘Soempah Pemoeda’ tahun 1928 dengan
keIndonesiaannya yang sangat kokoh”. Untuk
memahami konsep Bhinneka Tunggal Ika yang
tercetus pada Kongres Sumpah Pemuda, penting
kiranya penulis memaparkan konsep Bhinneka
Tunggal Ika terlebih dahulu. Sujanto (2009: 9)
memaparkan bahwa Sesanti Bhineka Tunggal
Ika, Sesanti artinya kelimat bijak (wise-word)
yang dipelihara dan digunakan sebagai pedoman
atau sumber kajian di masyarakat. Bhinneka
Tunggal Ika adalah kalimat (sesanti) yang tertulis
dipita lambang negara Garuda Pancasila, yang
berarti berbagai keragaman etnis, agama, adatistiadat, bahasa daerah, budaya dan lainya yang
mewujud menjadi satu kesatuan tanah air, satu
bangsa dan satu bahasa Indonesia.
35
Sebagai kalimat bijak, Bhinneka Tunggal
Ika memiliki kekuatan besar untuk mempersatukan
perbedaan. Namun, hal ini harus didukung oleh
kesadaran kita sebagai masyarakat Indonesia yang
mampu mewujudkan kalimat bijak tersebut dalam
bingkai kesatuan tanah air dalam pangkuan Ibu
Pertiwi. Dibagian pertama modul Wasantara
Lemhannas RI 2007 (Sujanto, 2009:1)
menjelaskan bahwa: “Bhinneka Tunggal Ika
adalah semboyan pada lembaga negara Republik
Indoneisa yang ditetapkan berdasarkan PP No.
66 Tahun 1951 yang mengandung arti walaupun
berbeda-beda tetap satu”. Berkaitan dengan hal
tersebut, Sujanto (2009:9) memandang bahwa
“bangunan wawasan ke-Indonesia-an adalah
perwujudan dari keinginan bersama untuk dapat
mewujudkan kesatuan/ keesaan, manunggalnya
keberagaman menjadi satu-kesatuan yang
disepakati yaitu Indonesia”. Sumber asal Sesanti
Bhinneka Tunggal Ika sebagai kalimat bijak
diambil dari Kitab Sutasoma yang ditulis oleh
Empu Tantular pada abad keempat belas.
Analisis historis di atas menggambarkan
bahwa masyarakat Indonesia telah menyadari
kemajemukan, multietnik dan multi-agamanya
sejak dulu. Kesadaran akan kebhinekaan ini
kemudian dibangkitkan kembali pada masa
perjuangan kemerdekaan untuk menggali
semangat persatuan bangsa Indonesia yang ketika
itu sedang menanggung penjajahan kolonial.
Penjajahan kolonial memberikan rasa senasib
sepenanggungan akan keadaan bangsa yang
penuh dengan keterbelakangan.Muncul gagasan
dan gerakan-gerakan perlawanan hingga kongres
Sumpah Pemuda pun terlaksana sebagai inisiatif
pemuda Indonesia ketika itu. “Sasanti Bhinneka
Tunggal Ika yang tertulis pada lambang negara
Garuda Pancasila, harus teraktualisasi ke dalam
kehidupan nyata di masyarakat Indonesia dengan
lebih baik”.
Peristilahan Bhinneka Tunggl Ika dalam
bahasa Jawa dapat dimaknai bahwa walaupun kita
berbeda-beda, memiliki latar belakang budaya
yang berbeda, berbeda ras, etnis, agama, budaya
namun kita adalah saudara yang diikat oleh
kedekatan persaudaraan dengan rasa saling
memiliki, menghargai, dan saling menjaga. Dalam
Bhinneka Tunggal Ika tersurat petuah bijak untuk
bersatu dalam keberagaman tanpa mempermasalahkan keberagaman, karena dalam keberagaman
ditemukan suatu nilai persatuan yang menyatukan
semua perbedaan. Tarmizi Taher (Syaefullah,
2007: 193)berpandangan bahwa semboyan
36 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
Bhinneka Tunggal Ika, memberikan pelajaran
agar semua penduduk Indonesia menghayati diri
mereka sebagai suatu bangsa, satu tanah air, satu
bahasa dan satu tujuan nasional yaitu terciptanya
sebuah masyarakat adil dan makmur berdasarkan
Pancasila sebagai satu-satunya asas dan pedoman
utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kesadaran akan perbedaan harus disikapi
seperti tubuh manusia yang ketika salah satu
bagiannya sakit yang lainnya akan ikut merasakan.
Sebagaimana dikemukakan oleh Richard Falk
(dalam Kymlicka, 2002:183) yang memandang
bahwa “keragaman masyarakat meningkatkan
mutu hidup, dengan memperkaya pengalaman kita,
memperluas sumber daya budaya”. Sejalan
dengan hal tersebut, “Bagi Bung Karno
keragaman etnis masyarakat Indonesia adalah
suatu given. Hal ini bisa dimengerti karena ia
sangat dipengaruhi oleh semangat Sumpah
Pemuda, yang dengan ikrar itu menyatakan
persatuan masyarakat Indonesia” (G. Tan,
2008:44). Keragaman sebagai given (pemberian)
yang dapat bermakna bahwa keragaman
merupakan rahmat yang diberikan Tuhan kepada
bangsa Indonesia untuk dijadikan sebagai modal
yang oleh Falk dianggap sebagai sarana untuk
meningkatkan mutu hidup. Sujanto (2009:90)
berpandangan bahwa Sasanti Bhinneka Tunggal
Ika yang bermakna persaudaraan atau
perseduluran harus disosialisasikan kepada
seluruh rakyat, melalui lembaga-lembaga yang
sudah ada seperti lembaga pemerintah, swasta,
lembaga sosial kemasyarakatan, lembaga
keagamaan, lembaga kepemudaan, agar terbangun
hidup yang rukun, damai, aman, toleran, saling
menghormati, bekerjasama dan bergotong-royong
dalam rangka persatuan dan kesatuan bangsa.
SIMPULAN
Keragaman dalam masyarakat majemuk
merupakan sesuatu yang alami yang harus
dipandang sebagai suatu fitrah. Hal tersebut dapat
dianalogikan seperti halnya jari tangan manusia
yang terdiri atas lima jari yang berbeda, akan
tetapi kesemuanya memiliki fungsi dan maksud
tersendiri, sehingga jika semuanya disatukan akan
mampu mengerjakan tugas seberat apapun. Untuk
menyadari hal tersebut, Bhinneka Tunggal Ika
memiliki peran yang sangat penting. Pengembangan multikulturalisme mutlak harus dibentuk
dan ditanamkan dalam suatu kehidupan
masyarakat yang majemuk. Jika hal tersebut tidak
ditanamkan dalam suatu masyarakat yang
majemuk, agar kemajemukan tidak membawa
pada perpecahan dan konflik. Indonesia sebagai
bangsa yang multikultural harus mengembangkan
wawasan multikultural tersebut dalam semua
tatanan kehidupan yang bernafaskan nilainilaikebhinekaan. Membangun masyarakat
multikultur Indonesia harus diawali dengan
keyakinan bahwa dengan bersatu kita memiliki
kekuatan yang lebih besar.
DAFTAR RUJUKAN
Azra, A. (2002). Konflik Baru Antar
Peradaban: Globalisasi, Radikalisme
dan Pluralitas. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Azra, A. (2006). “Pancasila dan Identitas
Nasional
Indonesia:
Perspektif
Multikulturalisme”. Dalam Restorasi
Pancasila: Mendamaikan Politik
Identitas dan Modernitas. Bogor:
Brighten Press. Jakarta: Rineka Cipta.
Aeni, K. (2012). “Peran PKn dalam Pengembangan
Pendidikan Karakter dan Pengelolaan Model
Sosial di Sekolah” dalam Transformasi
Empat Pilar Kebangsaan dalam
Mengatasi Fenomena Konflik dan
Kekerasan: Peran Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: Laboratorium
Pendidikan Kewarganegaraan Universitas
Pendidikan Indonesia.
Bestari, P. (2012). “Mengapa Harus Empat Pilar?”
dalam Transformasi Empat Pilar
Kebangsaan dalam Mengatasi Fenomena
Konflik dan Kekerasan: Peran
Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung:
Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan
Universitas Pendidikan Indonesia.
Budimansyah, D. dan Suryadi, K. (2008). PKn
dan
Masyarakan
Multikultural.
Bandung: Program Studi Pendidikan
Kewarganegaraan Sekolah Pascasarjana
Universitas Pendidikan Indonesia.
Lestari dkk, Bhinnekha Tunggal Ika: Khasanah Multikultural Indonesia di Tengah Kehidupan Sara
Hardiman, F. B. (2002). Belajar dari Politik
Multikulturalisme. Pengantar dalam
Kimlicka. (2002). Kewargaan Multikultur: Teori Liberal Mengenal Hal-Hak
Minoritas. Terjemahan oleh Edlina Efmini
Eddin dari Jurnal Multicultural Citizenship:
A Liberal Theory of Minority. Jakarta:
LP3ES.
Haris, H. (2012). “Revitalisasi dan Reinterpretasi
Pendidikan Pancasila: Upaya Mengatasi
Fenomena Konflik Kekerasan Melalui
Sektor Pendidikan” dalam Transformasi
Empat Pilar Kebangsaan dalam
Mengatasi Fenomena Konflik dan
Kekerasan:
Peran
Pendidikan
Kewarganegaraan. Bandung: Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia.
Hardiman, F. B. (2002). Belajar dari Politik
Multikulturalisme. Pengantar dalam
Kimlicka. (2002). Kewargaan Multikultur: Teori Liberal Mengenal Hal-Hak
Minoritas. Terjemahan oleh Edlina Efmini
Eddin dari Jurnal Multicultural Citizenship:
A Liberal Theory of Minority. Jakarta:
LP3ES.
Kusumohamidjojo, B. (2000). Kebhinnekaan
Masyarakat Indonesia: Suatu Problematik Filsafat Kebudayaan. Jakarta:
Grasindo.
Mahfud, C. (2005). Pendidikan Multikultural.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nasikun. (2007). Sistem Sosial Indonesia.
Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Tilaar, H. A. R. (2007). Mengindonesiakan
Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
37
Wingarta. (2012). “Transformasi (Nilai-Nilai
Kebangsaan) Empat Pilar Kebangsaan
dalam Mengatasi Fenomena Konflik dan
Kekerasan: Peran PKn (Perspektif
Kewaspadaan Nasional)” dalam Transformasi Empat Pilar Kebangsaan dalam
Mengatasi Fenomena Konflik dan
Kekerasan:
Peran
Pendidikan
Kewarganegaraan. Bandung: Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia.
Sujanto, B. (2009) Pemahaman Kembali Makna
Bhineka Tunggal Ika (Persaudaraan
dalam kemajemukan. Jakarta: Sagung
Seto.
Winataputra, U. S. (2012). “Transformasi Nilai-Nilai
Kebangsaan untuk Memperkokoh Jatidiri
Bangsa Indonesia: Suatu Pendekatan
Pendidikan Kewarganegaraan” dalam
Transformasi Empat Pilar Kebangsaan
dalam Mengatasi Fenomena Konflik dan
Kekerasan: Peran Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: Laboratorium
Pendidikan Kewarganegaraan Universitas
Pendidikan Indonesia.
Kansil, C.S.T. dan S.T Kansil, C. (2006). Modul
Pancasila dan Kewarganegaraan.
Jakarta: PT. Pradnya Paramita.
Syaefullah, A. (2007). Merukunkan Umat
Beragama. Jakarta: Penerbit Grafindo
Khazanah Ilmu.
Tan, M. G. (2008). Etnis Tionghoa di Indonesia
(Kumpulan tulisan). Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia.
STRATEGI PENYELESAIAN KONFLIK TANAH PERKEBUNAN
Ktut Diara Astawa
Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No.5 Malang
email:[email protected]
Abstract: Land has important position and function for everyone, especially to achieve life prosperity. Claiming rights over a land usually go with different perception of more than one party involved
which cause conflict. This research tries to reveal and describe factors of the conflict, parties that
involve, strategy to solve the conflict, and the solution. Research shows us that there are so many
factors, so many ways to solve the conflict, and big state role in conflict resolution making process.
Keywords : conflict, state role, plantation
Abstrak: Tanah mempunyai kedudukan dan fungsi penting bagi setiap orang, terutama sebagai
ajang untuk mewujudkan kesejahteraan hidup. Dalam proses penguasaan atas tanah ini sering terjadi
perbedaan persepsi dan kepentingan para pihak dalam masyarakat yang menyebabkan terjadinya
konflik. Penelitian ini berusaha untuk mengungkap dan bertujuan untuk mendeskripsikan faktorfaktor yang menjadi sumber penyebab konflik, pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, strategi yang
digunakan oleh para pihak dalam proses konflik, cara penyelesaian konflik. Hasil penelitian
menunjukan banyak faktor yang menjadi sumber penyebab konflik, ada banyak carayang dilakukan
para pihak untuk penyelesaian konflik, dan peran negara yang sangat besar dalam proses penyelesaian
konflik.
Kata kunci: konflik, peran negara, tanah perkebunan
Konflik tanah perkebunan di samping merupakan
warisan Orde Baru juga banyak muncul
disebabkan oleh kebijaksanaan pembangunan yang
“lapar tanah”, baik untuk fasilitas pemerintahan,
proyek besar, proyek konsumtif, maupun
pengembangan perkebunan. Dalam proses ambilalih tanah yang “dikuasai” rakyat inilah terjadi
konflik kepentingan dan perbedaan persepsi antara
petani sebagai pemilik tanah dengan PTPN XII
atau pemerintah. Konflik kepentingan ini muncul
dalam bentuk perlawanan dan gerakan protes,
karena kepentingan petani seringkali dikalahkan.
Perlawananpetani sebagai upaya mempertahankan hak-haknya diwujudkan dalam berbagai
bentuk mulai dari protes bisu hingga dalam bentuk
kekerasan melawan kekerasan. Perlawanan
petani dalam bentuk kekerasan ini bisa dimaklumi,
karena tingkat kekecewaan mereka yang sudah
sangat tinggi dan mendalam seperti bara api dalam
sekam. Kekecewaan itu mereka salurkan setelah
berbagai saluran formal tidak lagi memberikan
harapan.Karena itu kekerasan yang dilakukan
dalam memperjuangkan hak-haknya seharusnya
tidak dipandang negatif, kekerasan merupakan
satu-satunya senjata yang tersisa bagi masyarakat
yang tidak pernah didengar keresahannya atas
intervensi, represi dan ketidakadilan yang
dilakukan baik oleh pejabat yang berwenang
maupun para pemilik modal.Petani senantiasa
berusaha dengan segala upaya untuk
menggagalkan sampai para petani merasa yakin
bahwa subsistensi mereka terjamin (Scott,
1989).Selanjutnya Scott (1985) menjelaskan,
bahwa akibat meluasnya peranan negara di dalam
proses transformasi pedesaan, telah mengubah
lapisan masyarakat petani kaya, dimana yang kaya
menjadi semakin kaya sedangkan yang miskin
tetap tinggal miskin bahkan menjadi lebih miskin.
Proses perubahan sedemikian inilah yang
melahirkan konflik dan resistensi petani miskin
menghadapi hegemoni pemilik modal maupun
negara.Protes petani hanyalah respon atas kondisi
kurang adil yang tidak memuaskan mereka
(Landsberger dan Alexsandrov, 1984), yang
38
Astawa, Strategi Penyelesaian Konflik Tanah Perkebunan
formatnya amat ditentukan oleh kepada pihak
siapa ketidakpuasan itu tertuju dan dalam tingkat
bagaimana ketidakpuasan itu dirasakan.Dalam
kondisi tertekan sekian lama yang ambang
subsistensi ekonomi petani senantiasa terancam,
maka bentuk perlawanan dan protes petani seharihari bisa berubah menjadi aksi radikal kolektif.
Dengan latar seperti itulah konflik dalam
bentuk perlawanan dan aksi protes petani di awal
reformasi merebak ke permukaan dengan
intensitas konflik pertanahan khususnya tanah
perkebunan yang semakin tinggi, kompleks dan
bervariasi.Perlawanan
petani
untuk
mempertahankan hak atas tanah garapan juga
dilakukan dalam bentuk aksi pendudukan tanah
dan penjarahan hasil produksi perkebunan. Siahaan
(dalam Susilo, 1997) menyatakan, salah satu aspek
yang paling menarik tentang gerakan-gerakan
sosial di Jawa adalah merupakan ekspresi akan
protes terhadap keadaan-keadaan sosial yang tidak
adil atau berbagai kekacauan termasuk pemerasan
dan penindasan oleh mereka yang menggunakan
kekuasaan. Selanjutnya Siahaan menyatakan,
para petani biasanya bersedia mengambil resiko
dengan mengadakan konfrontasi langsung apabila
mereka menganggap ketidakadilan tidak lagi dapat
ditoleransi, dan apabila tuntutan akan kebutuhan
mereka melonjak tiba-tiba dan institusi lokal dan
nasional serta kondisi kultural cenderung meminta
mereka untuk menggunakan jubah kolektif.
Hubungan petani dengan tanah sudah demikian
eratnya, karena petani merupakan produsen
pertanian dengan penguasaan efektif pada tanah,
maka mengganggu tanah berarti mengusik
statusnya sebagai produsen pertanian,sebagai
tulang punggung hidupnya.
Memperhatikan fenomena konflik tanah
khususnya tanah perkebunan, di samping banyak
merupakan masalah yang baru, juga banyak
merupakan masalah lama yang bersifat laten
muncul kembali. Memang harus diakui bahwa
konflik tanah sifatnya sangat mendasar, kompleks
dan variatif, karena menyangkut ekonomi, politik,
sosial dan kultural.Bagaimanapun peliknya
masalah konflik tanah, khususnya konflik tanah
perkebunan perlu diakomodasi dan dicarikan
solusinya yang menguntungkan semua pihak
terutama masyarakat petani lapisan bawah yang
bermukim di sekitar wilayah perkebunan.
Fenomena ini sangat menarik untuk diteliti dengan
maksud agar diperoleh suatu deskripsi utuh
tentang cara penyelesaian konflik tanah
39
perkebunan. Hasil penelitian ini diharapkan bisa
dijadikan acuan penyelesaian konflik pertanahan
yang terjadi di daerah lain atau di waktu yang akan
datang, dengan melihat fenomena konflik tanah
tidak hanya terjadi di wilayah Malang, tetapi juga
banyak terjadi di daerah lain.
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk
mendeskripsikan faktor-faktor yang menjadi
sumber penyebab konflik, pihak-pihak terlibat
dalam konflik, strategi yang digunakan oleh para
pihak yang terlibat dalam konflik, cara yang
digunakan pihak-pihak yang berkonflik dalam
penyelesaian konflik, dan peran negara
(pemerintah) dalam proses penyelesaian konflik
tanah perkebunan.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatifdengan beberapa dasar pemikiran antara
lain:akan diperoleh informasi dari latar yang
alamiah, data atau informasi yang didapat dari
subyek maupun informan bersifat rinci, mendalam
dan utuh. Sedangkan rancangan penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini, adalah studi kasus,
karena lebih menekankan pada proses, serta cara
penyelesaian konflik tanah perkebunan.
Subyek penelitian dan informan kunci
ditentukan dengan teknik snowball yang dapat
melengkapi informasi sesuai dengan tujuan
penelitian. Subyek penelitian adalah:kelompok
masyarakat petani yang mempunyai hubungan
kepemilikan atau penguasaan tanah yang dikuasai
oleh pihak Kebun Kalibakar, pihak penguasa
PTPN XII meliputi administratur perkebunan dan
pegawainya,pihak aparat keamanan (polisi dan
tentara) yang diberikan tugas menangani dan
mengawasi konflik,aparat pemerintah daerah yang
memiliki hubungan secara langsung dalam konflik
tanah perkebunan.
Instrumen penelitian ini adalah orang
(peneliti) yang bersangkutan. Untuk
mempermudah pengumpulan atau perekaman data
danagar proses pengumpulan data tidak bias, maka
dalampengumpulan atau perekaman data
digunakan pedoman wawancara dan pedoman
observasi. Pengumpulan data dilaksanakan melalui
tiga tahap kegiatan yang mencakup: proses
memasuki lokasi penelitian (getting in), berada di
lokasi penelitian (getting along) dan proses
pengumpulan data (logging the data).Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah
40 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
wawancara mendalam, Observasi, dokumentasi,
pengecekan keabsahan data dilakukan dengan
teknik triangulasi, yaitu pengecekan secara
berganda terhadap subyek atau sumber data,
metode, dan waktu atau tempat.Pelaksanaan
teknik pemeriksaan keabsahan data didasarkan
pada sifat kriteria yang digunakan yaitu derajat
kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), ketergantungan (dependability) dan
kepastian (conformability).
Data yang telah dikumpulkan dianalisis
secara deskriptif, kemudian dilakukan dalam dua
tahap, yaitu: tahap pertama, analisis data pada
waktu proses pengumpulan data yang dilakukan
dengan digunakan metode interaktif, yang
dilakukan melalui tiga kegiatan, yaitu pengumpulan
data, reduksi data, dan analisis data, dan tahap
kedua, analisis data dilakukan setelah proses
pengumpulan data selesai seluruhnya. Untuk
menganalisis data ini digunakan teknik analisis
kualitatif dengan penerapan analisis domain dan
analisis taksonomi. Analisis domain dilakukan untuk
memperoleh gambaran atau pengertian yang
bersifat umum dan menyeluruh tentang
karakteristik cara menyelesaiakan konflik yang
digunakan oleh pihak-pihak yang berkonflik.
Sedangkan analisis taksonomi, digunakan untuk
memperoleh pengertian yang lebih rinci dan
mendalam tentang suatu kategori (domain). Pada
analisis taksonomi, fokus penelitian ditetapkan
terbatas pada domain tertentu yang berguna untuk
mendeskripsikan dan menjelaskan fenomena yang
menjadi sasaran utama penelitian.
HASIL
Beberapa faktor yang menjadi sumber
penyebab konflik adalah: Pertama, Pelaksanaan
program landreform. Fenomena konflik dalam
hubungan petani dengan pihak perkebunan sudah
nampak sejak awal tahun 1951, ketika tanah
perkebunan yang telah diduduki oleh rakyat
diminta kembali oleh pemiliknya. Pelaksanaan program landreform tahun 1964 yang dikeluarkan
oleh pemerintah untuk mengatasi kelangkaan
tanah dengan membagikan sebagian tanah
perkebunan kepada para petani mengandung
konflik laten yang sampai sekarang belum tuntas;
Kedua, Diterbitkannya izin perpanjangan
HGU No. 1 dan 2 tahun 1992 untuk PTPN XII
Kebun Kalibakar, memancing keresahan
petani.Para petani memprotes dikeluarkannya izin
perpanjangan HGU Kebun Kalibakar oleh
Pemerintah, dan meminta agar tanah Kebun
Kalibakar dikembalikan kepada petani. Alasannya,
karena tanah Kebun Kalibakar dulu pernah digarap
oleh nenek moyangnya atas izin pemerintah Jepang
tahun 1942, karena perkebunan diterlantarkan oleh
pemiliknya;
Ketiga, Aksi pendudukan tanah perkebunan
yang dilakukan oleh warga yang terkenal dengan
sebutan Hutan TT- seluas 22,5 hekta izin Kepala
Desa. Dengan alasan bahwa Hutan TT tersebut
adalah tanah bandha desa atau tanah titisara
yang dipinjam oleh PTPNXII sejak tahun 1960.
Karena klaim tanah Hutan TT sebagai tanah
bengkok Desa mengalami kegagalan, kemudian,
Pihak LSM Kosgoro dan tokoh-tokoh masyarakat
Simojayan menyatakan: terdapat kelebihan tanah
seluas 579,2830 hektar yang sebagian besar masih
dikuasai oleh PTPN XII sampai sekarang. Isu
kelebihan tanah yang dikuasai oleh PTPN XII ini
menimbulkan kemarahan warga dengan
membabat dan menguasai tanah perkebunan;
Keempat, Perbedaan persepsi mengenai status hak atas tanah antara para petani dan PTPN
XII. Para petani berkeyakinan bahwa tanah
perkebunan itu adalah tanah warisan nenek
moyangnya, karena nenek moyang mereka
menggarap atas ijin pemerintah Jepang. Sementara
itu, PTPN XII, menyatakan secara yuridis,
pendudukan tanah tidak menghapus hak atas
tanah.Hak atas tanah hapus apabila masa
berlakunya sudah habis, diserahkan kepada negara
atau dicabut oleh negara;
Kelima, Rekrutmen tenaga kerja PTPN
XII.Rekutmen tenaga kerja (buruh) yang dilakukan
oleh pihak PTPN XII dinilai oleh para petani
bersifat diskriminatif dan cenderung eksploitatif.
Dalam rekrutmen tenaga kerja (buruh), tindakan
PTPN XII mengambil tenaga kerja (buruh) dari
luar desa, dirasakan para petani sangat merugikan,
di samping menimbulkan pengangguran juga
menimbulkan kemiskinan, karena sumber daya
ekonomi desa dikuras dan sebagian besar dibawa
ke luar dari desa;
Keenam Pengangguran, tunawisma dan
kecemburuan sosial. Dari struktur demografis
menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang
menghuni desa sangat padat dan keterampilannya
hanya terbatas dalam bidang pertanian.Tidak
meratanya kesempatan dalam memperoleh
lapangan kerja sektor pertanian, mengakibatkan
Astawa, Strategi Penyelesaian Konflik Tanah Perkebunan
terjadi pengangguran.Perkembangan penduduk
yang semakin meningkat dapat mengakibatkan
terjadinya fragmentasi pemilikan tanah, bahkan
meningkatkan jumlah penduduk tuna kisma dan
menyempitnya tanah pertanian.Kecemburuan
sosial ini semakin menguat karena tanah yang
dikuasai hasil produksi perkebunan yang melimpah
mengalir ke luar desa dan warga desa tidak dapat
menikmati.Sementara itu pihak PTPXII dirasakan
tidak peduli dengan dengan kondisi kemiskinan
warga masyarakat di sekitarnya.Kondisi
kesenjangan hubungan sosial ini menimbukan
kecemburuan sosial dan menjadi salah satu
penyebab terjadinya konflik;
Ketujuh, Struktur Sosial Ekonomi Masyarakat, terutama masalah sempitnya penguasaan
lahan pertanian, masalah permodalan, masalah
pemasaran dan harga hasil pertanian yang
cenderung berfluktuasi.Sempitnya penguasaan
tanah bagi rumah tangga ini tidak hanya disebabkan
oleh redistribusi tanah, tetapi juga oleh kebijakan
hasil musyawarah desa untuk mengambil tanah
warga yang menguasai tanah lebih dari satu hektar
untuk digunakan sebagai tanah kas desa, yang
disebut tanah guntingan. Pada kenyataannya,
sekarang jni rata-rata rumah tangga petani
menguasai tanah sekitar 0,2 hektar. Penguasaan
tanah yang sempit sudah tentu sangat berpengaruh
terhadap rendahnya pendapatan petani dan
pemupukan modal. Terbatasnya kemampuan
permodalan (uang) petani mengaki-batkan petani
sangat bergantung kepada rentenir (petani kaya),
karena petani kecil tidak mempunyai akses
terhadap fasilitas kredit yang disediakan
pemerintah melalui bank, dan
Kedelapan, Tidak ada saluran institusi sosial
yang representatif untuk dapat mengakomodasikan
nilai, aspirasi dan kepentingan yang bertentangan,
sekaligus mampu meredusir konflik menuju ke
kesepakatan bersama (konsensus).
Aktor utama pihak-pihak yang terlibat konflik
tanah perkebunan, adalah pihak masyarakat petani
dan pihak PTPN XII. Para pendukung petani
berasal dari kelompok kepentingan(interest
groups) yang terlibat secara intesif dalam konflik
yang terjadi. Kelompok kepentingan pendukung
petani ini dibagi menjadi tiga, yaitu: (1) kelompok
advokasi yang diwakili oleh LBH Kosgoro dan.
LBH. (2) kelompok organisasi politik yang diwakili
oleh PPP dan Golkar. (3) kelompok organisasi
sosial yang diwakili oleh Forkotmas (Forum
Komunikasi Petani Malang Selatan) dan Papanjati
41
(Paguyuban Petani Jawa Timur). Kelompok
advokasi (LBH) terlibat secara intensif atas
permintaan para petani untuk memberikan bantuan
hukum bagi petani dalam memperjuangkan hak
atas tanah yang dikuasai oleh PTPN XII Kebun
Kalibakar. Para pendukung PTPN XII terdiri dari,
yaitu: (a) kelompok Karyawan (Staf dan nonstaf,
buruh, mandor dan centeng); (b) lembaga advokasi
yang diwakili oleh BKBH Unibraw Malang, dan
(c) komitra (Komite Untuk Warga Miskin dan
Penyelamatan Tanah Negara). Dukungan mereka
terhadap pihak PTPN XIIdengan alasan untuk
menandingi aksi-aksi kekerasan para petani yang
terlibat dalam konflik. Bagi para petani, tujuan
konflik adalah mendapatkan sumber daya tanah
yang sangat penting bagi kelangsungan hidup
keluarganya, sedangkan bagi PTPN XII, tujuan
konflik adalah mempertahankan tanah yang telah
dikuasai secara sah berdasarkan Sertifikat HGU
Nomor 1 dan 2 tahun 1992 yang telah dikeluarkan
oleh pemerintah. Bagi kedua belah pihak, terutama
para petani, tanah tidak hanya mempunyai fungsi
ekonomi, tetapi juga mempunyai fungsi sosial dan
kultural, sebagai ajang aktivitas dan hubungan
kultural.
Dalam proses konflik kedua belah pihak
terorganisasikan dan dikendalikan dengan baik
sehingga cenderung konflik tidak mengandung
kekerasan, terutama pengendalian dari elit informal dan LBH Surabaya Perwakilan Malang
sebagai kuasa hukum para petani. Dari aspek
stratifikasi sosial ekonomi, kemampuan elit informal memobilisasi para petani terutama petani kecil
dan buruh tani, mengakibatkan konflik semakin
meluas dengan intensitas tinggi. Mereka yakin
bahwa dengan cara mobilisasi massa, protes
mereka akan didengar oleh penguasa dan akan
lebih efektif menguasai tanah untuk dapat
mengangkat status sosial ekonominya. Secara internal, warga masyarakat petani memandang dan
menilai tanah begitu besar artinya bagi diri maupun
kelangsungan hidup keluarganya. Ketika tanah
perkebunan yang diharapkan dapat diraih oleh
petani ternyata dikuasai kembali pihak PTPN XII,
para petani menjadi kecewa dan marah. Para
petani menilai penguasaan kembali tanah oleh
PTPN XII sebagai ancaman permanen terhadap
subsistensi mereka, dan mereka merasa memiliki
otoritas moral untuk melakukan protes.
Para tokoh masyarakat petani sempat
mengalami perpecahan mengenai status tanah
perkebunan dan cara memperjuangkan hak atas
42 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
tanahuntuk mewujudkan keinginan memperoleh
akses tanah perkebunan. Perpecahan para tokoh
petani tersebut, melahirkan dua kelompok, yaitu:
(1) kelompok yang mendukung keberadaan PTPN
XII, karena tanah perkebunan adalah tanah negara
yang pengelolaannya diserahkan kepada PTPN
XII; (2) kelompok yang mengakui bahwa tanah
yang dikuasai PTPN XII adalah tanah garapan
nenek moyangnya yang dikuasai dan harus
diserahkan kepada warga setelah habis masa
berlaku HGU-nya. Dalam menentukan cara
memperoleh hak kembali atas tanah perkebunan,
kelompok yang kedua tersebut pecah menjadi dua
kelompok, yaitu: kelompok yang setuju
menggunakan cara kekerasan dan kelompok yang
tidak setuju menggunakan cara kekerasan atau
menempuh cara damai (musyawarah). Pertentangan pada kelompok kedua di atas diakhiri
dengan “kesepakatan” menempuh cara damai, dan
apabila cara damai tidak berhasil, akan ditempuh
cara kekerasan dengan melakukan pembabatan
dan pendudukan tanah perkebunan.
Pihak petani maupun pihak PTPN XII
menggunakan strategi yang berbeda dan sangat
tergantung pada perkembangan yang terjadi pada
proses konflik. Maksudnya, jika ditemukan halhal baru mengenai keadaan pihak yang satu, maka
strategi yang digunakan akan berubah sesuai
dengan perkembangan dalam proses konflik.
Strategi perjuangan para petani untuk mendapatkan tanah, menunjukkan variasi dari cara
pendudukan sampai cara mengunakan otoritas
pemerintah.Pada awalnya para petani
menggunakan cara damai, yaitu meminta kepada
PTPN XII untuk mengembalikan tanah
perkebunan kepada mereka, sesuai dengan
perianjian lisan sekitar tahun 1951. Teryata cara
damai tersebut tidak memperoleh tanggapan yang
memuaskan bagi petani. Karenanya, para petani
bersama tokoh-tokohnya mengubah strategi damai
menjadi strategi konfrontasi langsung dengan cara
okupasi tanah perkebunan. Cara pendudukan
tanah ini dapat dilihat dari klaim para tokoh
masyarakat bahwa tanah hutan TT dan sebagian
dari tanah Afdeling Petung Ombo sebagai tanah
titisara, tanah bengkok desa. Mendapatkan tanah
dengan cara okupasi tersebut, nampaknya tidak
hanya dipengaruhi oleh hukum adat, tetapi juga
dipengaruhi oleh keberhasilan para petani
terdahulu memperoleh tanah perkebunan menjadi
hak milik melalui cara pendudukan pada zaman
pemerintahan Jepang di Indonesia.
Para tokoh petani menyadari bahwa
pendudukan tanah perkebunan dahulu mendapat
izin dan bahkan atas peritah dan pemeritah Jepang,
sedangkan pendudukan tanah perkebunan
sekarang ini tidak mendapat izin dari pemerintah.
Akibatnya, dengan pendudukan tanah sekarang
ini, para petani mengalami kesulitan memperoleh
legalitas formal dari pemerintah. Untuk mengatasi
kesulitan ini, para tokoh petani mengembangkan
beberapa cara, yaitu; (a) mencari kelemahan
PTPN XII dalam prosedur memperoleh izin
perpajangan HGU tanah Kebun Kalibakar. Para
tokoh petani menemukan banyak kejanggalan
dalam prosedur memperoleh izin perpanjangan
HGU, karena itu, mereka menganggap izi
perpanjangan HGU tidak sah secara hukum, (b)
meminta dukungan Bupati dan DPRD dalam
perjuangan memperoleh hak atas tanah Kebun
Kalibakar; (c) meminta bantuan LBH sebagai
kuasa hukumnya dalam menghadapi reaksi dari
pihak PTPN XII. (d) melakukan unjuk rasa ke
BPN dan PTPN XII untuk meminta bukti-bukti
tentang prosedur perpanjangan izin HGU yang
telah dikelurakan oleh pemerintah (BPN). Dalam
pertemuan para tokoh petani dengan Pimpinan
DPRD II, Pihak Pimpinan DPRD II Malang
menyatakan kesediaannya membantu para petani
dan menyarankan agar para petani dalam
memperjuangkan haknya atas tanah perkebunan
mengajukan permohonan sesuai dengan prosedur
yang berlaku ke Pemerintah Pusat (Menteri
Pertanian dan Agraria/Kepala BPN).Interaksi
antara para tokoh petani dengan berbagai institusi
di atas mengakibatkan terjadinya perubahan
dalam strategi para petani dalam memperjuangkan
haknya atas tanah, baik perubahan prosedural
maupun substansialnya. Dalam perjuangan
lanjutan ini, para tokoh petani menenmpuh
beberapa cara, yaitu: (a) menolak segala bentuk
kerjasama dan bantuan material yang ditawarkan
oleh PTPN XII; (b) membentuk Panitia
Permohonan Hak Atas Tanah dan melengkapi
administrasi permohonan hak atas tanah; (c)
meningkatkan kohesi sosial dengan desa-desa lain
untuk memperjuangkan hak atas tanah di bawah
koordinasi LBH; (d) membentuk jaringan sosial
para petani yang mempunyai masalah petanahan
dengan PTPN XII dalam wadah Forum
Komunikasi Petani (Forkotmas) dan bergabung
dengan Paguyuban Petani Jawa Timur (Papanjati)
di bawah koordinasi LBH; (e) mengajukan
permohonan hak atas tanah kepada Menteri
Astawa, Strategi Penyelesaian Konflik Tanah Perkebunan
Agraria/ Kepaia BPN yang tembusannya
disampaikam kepada DPR-RI.
Strategi PTPN XII dalam mempertahankan
lahan Perkebunan yang diklaim oleh para petani
sangat bervariansi dan berhubungan secara
signifikan dengan strategi yang ditempuh oleh para
petani. Dalam usaha mencegah meluasnya
pembabatan dan pendudukan tanah perkebunan
oleh para petani, pihak PTPN XII menempuh
beberapa cara, yaitu: (a) meminta bantuan aparat
keamanan (polisi dan militer) untuk menjaga
keamanan dan mencegah semakin meluasnya
pembabatan dan pendudukan tanah perkebunan;
(b) menawarkan sebagian tanah perkebunan (Blok
KA) kepada para petani untuk ditanami jagung
dan singkong dan membagikan sembako kepada
sebagian petani miskin, tetapi semua usaha ini
ditolak oleh para petani; (c) menyerahkan tanah
hutan TT yang telah diduduki para petani di bawah
pengawasan Kodim dan mengusir para petani
(okupator) melalui program ABRI masuk desa
(AMD) dengan melaksanakan reboisasi; (d)
menekan para perangkat desa yang terlibat,
melalui aparat pernerintah daerah; (e) menekan
kuasa hukum petani (LBH Surabaya Perwakilan
Malang dan LBH Kosgoro) melalui Ketua
Pengadilan Negeri dan Ketua DPD Golkar Jawa
Timur; (f) meminta kepada Bupati dan BPN untuk
memberikan legitimasi bahwa semua tanah yang
diklaim para petani secara sah nnilik PTPN XII.
Realitasnya, semua usaha itu tidak membuahkan
hasil yang memuaskan bagi PTPN XII, karena
semakin menguatnya keinginan petani untuk
memperjuangkan haknya atas tanah perkebunan.
Para petani tetap melakukan pembabatan dan
pendudukan tanah, membagi-bagikan tanah dan
menanami tanaman jagung dan singkong.
Memahami semakin menguatnya perjuangan
dan tuntutan para petani tersebut, pihak PTPN
XII melakukan perubahan strategi, yaitu: (a)
menujuk BKBH Unibraw sebagai kuasa
hukumnya dalam menghadapi tuntutan para petani
dan bekerjasama dengan Komitra untuk
melemahkan keinginan petani menguasai tanah
perkebunan; (b) menawarkan program kerjasama
usaha tani (KUT) yang didukung oleh
Bakorstranasda, yang akhirnya ditolak oleh para
petani; (c) mengklasifikasikan kasus pembabatan
dan pendudukan tanah menjadi perbuatan perdata
dan perbuatan pidana yang memungkinakan para
tokoh petani yang dianggap sebagai penggerak
(provokator) petani untuk dituntut melalui
43
pengadilan; (d) melaporkan para penggerak petani
(provokator) ke Polres agar diproses sesuai hukum
yang berlaku. Tetapi semua usaha dalam rangkaian
strategi ini tidak membuahkan hasil, bahkan dapat
dikatan menemui kegagalan. Hal ini disebabkan,
tidak saja karena para petani menolak program
KUT yang ditawarkan oleh PTPN XII, tetapi juga
kegagalan aparat penegak hukum (Kepolisian dan
Kejaksaan) untuk menyeret para tokoh petani yang
dianggap sebagai provokator ke pengadilan.
Berangkat dari semua kegagalan tersebut di
atas, kemudian PTPN XII mengubah strateginya
dengan menggunakan jalur kelembagaan formal.
Melalui kuasa hukumnya (BKBH Unibraw),
PTPN XII mengirim surat kepada Menteri
Petanian dan Agraria/Kepala BPN untuk
menegaskan status kepemilikan tanah perkebunan
atas nama PTPN XII Kebun Kalibakar dan
menawarkan kerja sama dengan petani dalam
bentuk Program Kemitraan. Jalur kelembagaan
ini digunakan, dengan alasan bahwa secara
struktural-vertikal yang berwenang menyelesaikan
konflik tanah perkebunan adalah Pemerintah
Pusat.
Paling sedikit ada 5 (lima) strategi konflik
yang diterapkan dalam proses konflik tanah
perkebunan yaitu: bersaing, berkolaborasi,
menghindar, mengakomodasi, dan berkompromi.
Strategi bersaing, merupakan usaha memenuhi
kelompok sendiri, tidak perduli dampaknya
terhadap pihak lawan. Akibatnya, konflik semakin
tajam, destruktif bahkan menimbulkan kekerasan
dan penindasan terhadap lawannya. Kondisi ini
terjadi, karena kedua belah pihak mempunyai
persepsi, kepentingan dan tujuan yang berbeda,
sehingga orientasi mereka masing-masing berbeda
dan sukar mencapai konsensus (kebersamaan).
Strategi kolaborasi, merupakan upaya dan masingmasing pihak yang berkonflik untuk dapat
memuaskan kepentingan semua pihak. Dalam hal
ini, kelompok petani dan PTPN XII mencari hasii
yang bermanfaat secara timbal balik sehingga
melahirkan bentuk kerjasama Usaha Tani. Upaya
ini mengalami kegagalan karena adanya tckanan
dan sebagian tokoh petani terhadap petani lainnya
agar menolak bentuk kerjasama itu.Strategi
menghindar, adalah upaya dari pihak yang
berkonflik untuk menarik diri dan mengabaikan
konflik, menghindari setiap tawaran dari pihak
lawan. Strategi ini, terutama diterapkan oleh pihak
petani dengan taktik, berpura-pura patuh, mengutus
orang yang tidak terlibat konflik untuk menghadiri
44 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
pertemuan dengan pihak lawan dan sebagainya.
Strategi menghindar ini, dilakukan tidak lepas dari
adanya “iming-iming”, janji-janji dari pihak luar
yang sanggup memperjuangkan kepentingan
mereka untuk memiliki tanah perkebunan sampai
bersertifikat. Bahkan ada pesan dari pihak luar
agar para petani yang terlibat dalam konflik tidak
melayani tawaran dari pihak PTPN XII termasuk
dari pendukungnya.Strategi mengakomodasi,
merupakan kesediaan dari salah satu pihak yang
berkonflik untuk menaruh kepentingan lawan di
atas kepentingannya. Strategi ini diterapkan oleh
pihak PTPN XII dengan cara menawarkan
bantuan, yaitu: (a) berupa tempat untuk bercocok
tanam tanaman pangan di Afdeling Petung Ombo
untuk mengatasi krisis pangan bagi petani; (b)
berupa bantuan paket sembako yang dibagikan
kepada para petani miskin. Tetapi semua tawaran
ini ditolak, dengan alasan para petani membutuhkan
tanah garapan, bukan sembako.Strategi
berkompromi, merupakan upaya untuk
mempertemukan kepentingan kedua belah pihak
yang berkonflik dengan melakukan sharing untuk
memcapai kesepakatan. Strategi ini dilakukan atas
inisiatif Bakorstanasda Jawa Timur dengan
melakukan pertemuan di Makorem yang
menghasilkan kesepakatan untuk menyelamatkan
perkebunan sebagai aset negara, menghentikan
pembabatan dan pendudukan tanah, melaksanakan program KUT untuk membatu meningkatkan
kesejahteraan para petani. Tetapi semua hasil
kesepakatan ini akhirnya ditolak oleh tokoh-tokoh
petani tententu, karena kepentingan mereka
dirugikan.
Dalam kaitannya dengan cara penyelesaian
konflik, paling sedikit ada tiga cara yang digunakan
yaitu konsiliasi, mediasi dan arbitrasi dengan
perantaraan pihak ketiga. Cara pengendalian
konflik dengan konsiliasi, diwujudkan melalui
lembaga-lembaga yang memungkinkan tumbuhnya
pola pengambilan keputusan di antara pihak-pihak
yang berlawanan melalui cara musyawarah. Cara
konsiliasi ini bermula dari tawaran direksi PTPN
XII, tentang rencana Program Kerjasama Usaha
Tani (KUT). Kerjasama ini semula sudah
disepakati oleh petani yang akan ditandatangi
bersama pada tanggal 12 Oktober 1998 di areal
Gunung Kitiran Afdeling Sumbertlogo. Konsiliasi
yang melibatkan DPRD II ini, ternyata gagal
ditanda tangani karena dipicu oleh kesalah
pahaman warga petani tentang isi perjanjian
kerjasama yang dinilai sangat merugikan petani,
terutama berkaitan dengan klausul masa
berlakunya perjanjian hanya dua tahun. Atas
kegagalan itu, DPRD melakukan inisiatif dan
menyarankan petemuan digelar kembali, namun
warga petani meminta penandatanganan perjanian
dilakukan di kantor DPRD II Malang 21 Okober
1998. Upaya kedua ini juga mendapat penolakan
dari warga, dengan alasan: (1) warga ingin
memiliki hak atas tanah; (2) warga menilai KUT
tidak menguntungkan karena tetap berada di
bawah bayang-bayang PTPN; dan (3) keinginan
warga untuk memperoleh hak atas tanah sudah
bulat. Sementara itu, penyelesaian konflik dengan
mediasi ada banyak lembaga yang merasa
terpanggil dan berwenang bertindak sebagai pihak
ketiga, yaitu: Bakorstranasda Jawa Timur, LSM
(LBH Kosgoro, LBH, BKBH Unibraw).
Bakorstranasda Jatim banyak berperan dalam
mempertemukan kedua belah pihak pada tanggal
9 Pebruari 1999 di makorem 083. Dalam
pertemuan tersebut pihak-pihak berkonflik sepakat
membentuk Tim Satgas Terpadu, terutama yang
bertugas dalam pendataan tanah, sosialisasi hukum
dan membantu menyelesaikan sengketa sesuai
dengan prosedur hukum. LBH Kosgoro dan LBH
lebih banyak bertindak sebagai kuasa hukum
petani, sedangkan BKBH Unibraw bertindak
sebagai kuasa hukum PTPN XII. Sedangkan
penyelesaian konflik dengan cara arbitrasi
melibatkan pihak Kepolisian dan Pengadilan
Negeri. Kedua lembaga ini banyak berperan
dalam menyelesaikan konflik tanah sesuai dengan
prosedur hukum yang berlaku. Dengan cara
arbitrasi ini, maka para petani yang melakukan
pendudukan tanah perkebunan dengan aksi
pembabatan, penjarahan, pencurian dan perbuatan
brutal melawan aparat dikategorikan sebagai
perbuatan kriminal.
Jika dilihat dari perspektif hukum (normatif),
penyelesaian konflik tanah yang dilakukan oleh
para petani dan pendukungnya, cenderung
menempuh cara non-ligitasi dan menghindari cara
ligitasi. Alasannya, jika para petani memilih cara
penyelesaian melalui proses hukum untuk
membuktikan siapa yang paling berhak atas tanah
tersebut sudah diperkirakan para petani akan
kalah, karena para petani tidak mempunyai bukti
yuridis kepemilikan hak atas tanah, akibatnya para
petani dapat diusir dari tanah yang telah
didudukinya. Para petani memilih cara non-ligitasi,
baik dengan mediasi melalui musyawarah maupun
mengajukan permohonan hak atas tanah akan lebih
Astawa, Strategi Penyelesaian Konflik Tanah Perkebunan
menguntungkan. Jika permohonan para petani
untuk memiliki hak atas tanah ditolak oleh
pemerintah, maka para petani masih dapat
menguasai tanah dengan cara musyawarah,
artinya minimal para petani akan dapat menguasai
tanah dalam status sebagai penggarap dengan
sistem bagi hasil. Cara mediasi melalui
musyawarah yang dipilih oleh para petani
sebenamya hanyalah bersifat formalitas untuk
memberikan kesan umum bahwa mereka bersedia
diajak berbicara, berdialog, atau kompromi.
Kenyataannya, setiap tawaran dari pihak PTPN
XII maupun Pemerintah Daerah selalu ditolak.
Karena maksud dan tujuan para petani secara
maksimal adalah menguasai tanah dengan status
hak milik. Hal ini berarti para petani dan
pendukungnya menggunakan strategi menangkalah (win-lose strategy), mendapatkan
semuanya, sedangkan yang lain tidak mendapatkannya. Sementara itu, PTPN XII dan
pendukungnya, dalam menyelesaikan konflik
menggunakan dua cara di atas (ligitasi dan nonligitasi). Cara ligitasi (jalur hukum) yang digunakan
oleh PTPN XI dengan melaporkan kasus ini
kepada aparat penegak hukum supaya diproses
sesuai dengan hukum yang berlaku. Sedangkan
cara non-ligitasi ditempuh oleh PTPN XII dalam
bentuk, yaitu: (a) mediasi, dan (b) intervensi
otoritatif. Bentuk Mediasi melalui musyawarah
ditempuh dengan meminta Bakorstranasda
mengambil insiatif mengadakan pertemuan sebagai
sarana dialog untuk mencapai kesepakatan.
Peran negara (Pemerintah) dalam masalah
tanah sangat besar, karena secara normatif negara
(pemerintah) bahwa seluruh bumi, air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh negara dan digunakan sebesarbesarnya bagi kemakmuran rakyat. Dikuasai
negara dalam arti negara berhak mengatur dan
mendistribusikan tanah sesuai dengan peruntukkannya dalam pembangunan. Dalam kebijakan
pengembangan subsektor perkebunan, pemerintah
berwenang dan banyak menerbitkan Hak Guna
Usaha kepada pengusaha perkebunan untuk
meningkatkan devisa negara. Tetapi intervensi
Perusahaan Perkebunan ke pedesaan secara
normatif tidak hanya untuk meningkatkan devisa
negara, tetapi juga harus meningkatkan
kesejahteraan warga masyarakat di sekitarnya.
Kenyataannya, kehadiran PTPN XII ditentang
oleh warga masyarakat sekitarnya, karena
dirasakan oleh warga masyarakat tidak
menguntungkan bagi kelangsungan hidup
45
keluarganya sehingga melahirkan konflik antara
para petani dan PTPN XII memperebutkan tanah.
Dalam mengatasi konflik tersebut, baik
Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah
sangat besar pengaruhnya dalam menengahi
konflik untuk mencari titik temu antara
kepentingan para petani dan PTPNXII.
Pemerintah Daerah berusaha menengahi konflik
dengan mempertemukan kedua belak pihak dan
berhasil membentuk Tim Satgas Terpadu. Tim
Satgas Terpadu yang dibentuk mempunyai tugas
membantu menyelesaikan sengketa tanah sesuai
dengan prosedur hukum yang berlaku. Akan tetapi,
segala upaya yang dilakukan oleh Pemerintah
Daerah untuk menyelesaiakan konflik mengalami
kegagalan yang disebabkan oleh: (a) para wakil
petani menilai Pemerintah Daerah tidak netral,
terlalu memihak kepada PTPN XII; (b) adanya
pihak tertentu yang menekan para petani agar
menolak dan membatalkan kesepakatan yang telah
dicapai dengan PTPXII; (c) adanya tawaran,
“iming-iming” pihak tertentu yang siap membantu
para petani untuk memperoleh tanah sampai
memperoleh sertifikat hak milik.
Pihak petani dan PTPN XII mengirim surat
kepada Menteri Pertanian dan Agraria/Kepala
BPN untuk menyelesaiakan konflik. Pihak petani
memohon kepada Menteri untuk mencabut izin
HGU dan membagian tanah kepada para petni
dengan status hak milik. Sedangkan pihak PTPN
XII menyatakan akan merehabilitasi perkebunan
dan menawarkan kerjasama dengan pola
kemitraan untuk membantu kesejahteraan para
petani. Sebagai jawaban atas permohonan para
petani, Menteri melalui Surat No 540.1-1956
tanggal 11 Met 1999, menolak membagikan tanah
tanah kepada para petani dan menawarkan pola
kemitraan kepada para petani. Keputusan Menteri
ini mendapat dukungan dari DPR-RI Komisi 11
dan Pemerintah Daerah. DPR-RI melalui Surat
No. PW.06/5061/DPR-RI/2000, mendukung
PTPN XII melakukan rehabilitasi kebun melalui
pola kemitraan dengan warga, dan menolak warga
masyarakat memperoleh hak atas tanah dengan
pola kekerasan. Karena menurut mereka, tindakan
warga masyarakat dalam bentuk penjarahan dan
pembabatan tanaman coklat milik PTPN XII itu
sudah merupakan tindakan anarkhis, sehingga tidak
boleh dibiarkan. Bila tindakan memperoleh hak
dengan cara kekerasan dibiarkan akan
menimbulkan preseden buruk di kalangan
masyarakat.
46 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
PEMBAHASAN
Hasil temuan penelitian mengenai faktorfaktor penyebab konflik di atas, sesuai dengan
pandangan Hodge dan Anthony (1991:536) bahwa
penyebab konflik adalah: (1) role conflict
(perbedaan persepsi terhadap peran); (2) change
in delegation (perubahan kewenangan); (3)
change in status (perubahan status menjadi naik
atau turun); (4) change in goals (perbedaan
tujuan atau prioritas pencapaian tujuan); (5) organization overlap (tumpangsuh dalam
pelaksanaan tugas); (6) resource competition
(kompetisi dalam memperoleh sumber daya yang
terbatas), dan (7) culture conflict (konflik karena
adanya perbedaan nilai, norma atau pola perilaku).
Tetapi dari hasil temuan menunjukkan ada faktorfaktor dari luar yang mendorong terjadinya konflik
yang sangat besar pengaruhnya, yaitu krisis
ekonomi dan moneter yang berkepanjangan,
intervensi organisasi politik dan massa serta
pandangan elit politik, misalnya pandangan Gus
Dur pada waktu menjadi Presiden menyatakan
PTP nyolong tanah rakyat.
Dalam perspektif otoritas moral, terjadinya
konflik ditentukan oleh kemampuan dari kekuasaan
dan sistem sosial untuk memenuhi imperatifimperatif moral yang sudah ada sebelumnya.
Moore (1978:14) menjelaskan, problem mengenai
ketidakadilan sosial yang telah menyebabkan
terjadinya banyak gerakan perlawanan.
Ketidakadilan sosial adalah suatu derivasi
pengertian dari keberangan moral yang
dipengaruhi oleh tiga elemen penting dalam setiap
sistem sosial: koordinasi sosial atau kekuasaan
pembagian kerja, dan distribusi barang,koordinasi
sosial dan kekuasaan sebagai sebuah keharusan
bagi masyarakat, selalu dinilai kemampuannya
untuk memberikan perlindungan kepada
warganya, memelihara perdamaian dan ketertiban
di dalam masyarakat. Para anggota masyarakat,
sebaliknya, mempunyai tanggungjawab dan tunduk
pada kekuasaan. Dengan demikian, perlawanan
terhadap kekuasaan terjadi, karena masyarakat
merasa bahwa kekuasaan tidak lagi memenuhi
kewajiban-kewajiban moralnya yang mendasar.
Kesenjangan sosial yang terjadi di lokasi
penelitian dapat memicu terjadinya konflik tanah
Kebun Kalibakar. Hal ini selaras dengan
pandangan kesenjangan sosial Moore (1978:32),
yang menegaskan bahwa kesenjangan sosial
adalah inhern dalam setiap masyarakat.
Pertanyaannya adalah sejauh mana kesenjangan
itu bisa dibenarkan atau tidak secara moral.
Kegagalan untuk menangani kesenjangan sosial,
menurut Moore, akan mengakibatan keberangan
moral yang mengambil bentuk pengutukan atau
protes secara terang-terangan maupun
terselubung. Dengan demikian, berarti pemenuhan
hak-hak sosial menjadi penting dalam rangka
memelihara kohesi sosial dan apabila dilanggar
akan mengakibatkan keberangan moral. Bagi
Moore, dalam konteks pembagian kerja,
perlindungan terhadap hak milik adalah salah satu
di antara masalah yang paling penting, karena ia
menentukan apakah pembagian kerja yang sudah
ada dalam masyarakat dapat dibenarkan atau tidak
secara moral. Di samping kekuasaan dan
pembagian kerja, distribusi barang dan jasa di
dalam masyarakat memainkan peranan untuk
mengimbangi kontradiksi antara kesenjangan sosial
dan perlindungan terhadap hak-hak. Distribusi
barang ini mengandung gagasan persamaan
sebagai ukuran kewajiban moral yang dapat
ditafsirkan sebagai keadilan distributif atau tidak.
Menurut Moore, persamaan memainkan peranan
“sebagai suatu bentuk jaminan sosial”, karena
anggota masyarakat selalu dihadapkan pada
sumber-sumber yang terbatas. Kegagalan anggota
masyarakat untuk memenuhi kewajiban ini akan
mengakibatkan kekecewaan dan keberangan
moral.
Aksi komunitas petani menduduki dan
menguasai tanah perkebunan yang dilakukan
dengan cara pembabatan, pendudukan paksa,
penjarahan, pencurian, pembakaran, brutalisme,
menggambarkan bahwa konflik di daerah
peneltian bukan lagi menjadi konflik tertutup,
melainkan sudah meluas menjadi konflik terbuka.
Namun demikian konflik tanah Kebun Kalibakar,
sampai dengan sekarang masih merupakan konflik
yang bersifat laten. Sifat latensi konflik tersebut
disebabkan oleh sikap pihak PTPN XII yang
mengabaikan etika subsistensi setempat, suatu
faham yang tidak dapat membiarkan keadaan di
mana beberapa orang menimbun kekayaan,
sementara orang-orang lain menderita kelaparan.
Sikap pihak PTPN XII tersebut tidak hanya
memancing kemarahan orang-orang yang
kelaparan tetapi juga mengakibatkan ketersinggungan tokoh-tokoh masyarakat. Realitas tersebut
sesuai dengan pandangan Scott (1994:219) bahwa
aksi para petani digerakkan secara langsung oleh
anggapan bahwa orang-orang kaya dan orang-
Astawa, Strategi Penyelesaian Konflik Tanah Perkebunan
orang yang memegang kekuasaan mempunyai
kewajiban untuk membagi kekayaan mereka
dengan kaum miskin di waktu kekurangan jika
tidak, maka orang-orang miskin berhak mengambil
apa yang mereka butuhkan dengan kekerasan.
Karena itu, menunrt Scott, dari segi norma-norma
moral dan etika subsistensi, tidaklah dapat
dikatakan bahwa kaum tani telah main hakim
sendiri.
Dalam perspektif struktural, pihak-pihak yang
berkonflik berserta realitasnya dalam konflik tanah
Kebun Kalibakar diwarnai oleh distribusi
kekuasaan dan wewenang atas sumber daya
tanah yang tidak merata di dalam masyarakat.
Kekuasaan dan wewenang senantiasa menempatkan individu pada posisi atas dan posisi bawah
dalam struktur sosial. Karena kekuasaan
senantiasa memisahkan dengan tegas antara
penguasa dan yang dikuasai, maka dalam
masyarakat selalu terdapat dua golongan yang
saling bertentangan. Pertentangan terjadi dalam
situasi di mana golongan yang berkuasa berusaha
mempertahankan kekuasaannya, sedangkan yang
dikuasai berusaha mengadakan perubahanperubahan. Individu (kelompok) yang mempunyai
powertermasuk penguasaan resources,
kesempatan dan peluang yang lebih besar
mengendalikan dan mengontrol kehidupan sosial
ekonomi dalam masyarakat. Akibatnya, terjadi
ketimpangan dan distribusi yang tidak merata
antara individu (kelompok) yang lebih menguasai
power, resources, kesempatan dan peluang,
dibanding individu (kelompok) yang lainnya.
Kenyataan tersebut sesuai dengan pandangan
Parriello (1987:29), yang menegaskan bahwa
dalam sebuah pertarungan, pihak yang lebih
berkuasa cenderung mempertahankan status quo
dalam rangka mempertahankan posisi dan
kepentingannya. Kondisi ketimpangan dalam
penguasaan atas power, resources, kesempatan
dan peluang (akses) ini menimbukan masalahmasalah sosial yang menjadi sumber penyebab
terjadi konflik di dalam masyarakat.
Pada dasarnya setiap individu mempunyai
dan merasakan adanya beberapa kebutuhan dasar
(basic needs) yang harus dipenuhinya dalam
proses hidup bermasyarakat. Tetapi dalam proses
pemenuhan kebutuhan dasar (basic neeeds)
tersebut individu(terutama yang tidak memiliki
power, resources, kesempatan dan peluang)
mengalami hambatan struktural, karena kondisi
struktur sosial yang timpang. Karena itu,
47
berdasarkan perspektif struktural, masalahmasalah sosial yang timbul (seperti sempitnya
penguasaan tanah, hubungan kerja yang
eksploitatif, ketidakadilan, fluktuasi harga dan
pendapatan, kesempatan dan peluang) lebih
disebabkan oleh ketimpangan dalam distribusi
kekuasaan dan wewenang.
Strategi dan cara penyelesaian konflik yang
digunakan oleh para pihak yang berkonflik dalam
kasus tanah Kebun Kalibakar dengan konsiliasi,
mediasi dan arbitrasi, pada dasarnya selaras
dengan pandangan Ralf Dahrendorf, sebagaimana
dikutip oleh Nasikun (1993:22-25). Dengan
mencermati peran berbagai pihak dalam
penyelesaian konflik, nampak dimensi konflik
menunjukkan terjadinya pergeseran dari konflik
berdimensi ekonomi bergeser menjadi konflik
politik, karena melibatkan pemerintah. Secara
substansial, tuntutan petani juga berubah, dari
perjuangan memperoleh tanah garapan ke
perjuangan memperoleh hak milik atas tanah
perkebunan.
Dilihat dari level konflik, bahwa konflik tanah
Kebun Kalibakar nampak bergeser dari konflik
dalam tingkat lokal menjadi konflik berlevel
nasional. Hal ini selaras dengan pandangan Cobb
dan Elder (1972) mengungkapkan adanya tiga
dimensi penting dalam konflik politik: (1) luas
konflik; (2) intensitas konflik; dan (3) ketampakan
konflik. Luas konflik, menunjuk pada jumlah
perorangan atau kelompok yang terlibat dalam
konflik, dan menunjuk pula pada skala konflik yang
terjadi (misalnya: konflik lokal, konflik nasional).
Intensitas konflik adalah luas-sempitnya komitmen
sosial yang bisa terbangun akibat sebuah konflik.
Konflik yang intensitasnya tinggi adalah konflik
yang bisa membangun komitmen sosial yang luas,
sehingga luas konflik pun mengembang. Adapun
ketampakan konflik adalah tingkatan kesadaran
dan pengetahuan masyarakat (di luar pihak-pihak
yang berkonflik) tentang peristiwa konflik yang
terjadi. Sebuah konflik dikatakan memiliki
ketampakan yang tinggi manakala peristiwa
konflik itu disadari dan diketahui detail
keberadaannya oleh masyarakat secara luas.
Sebaliknya, sebuah konflik memiliki ketampakan
rendah manakala konflik itu terselimuti oleh
berbagai hal sehingga tingkat kesadaran dan
pengetahuan masyarakat luas terhadap konflik itu
sangat terbatas.
Sampai sekarang penyelesaian konflik masih
mengalami kegagalan. Paling sedikit ada dua
48 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
fenomena yang tampak dari kegagalan upaya
penyelesaian pada tingkat lokal, yaitu menurunnya
legitimasi sosial PTPN XII dan aparat Pemerintan
Daerah, dan menguatnya posisi para petani.
Menguatnya posisi petani dapat dilihat dari segi
sosial, ekonomi dan politik. Dari segi sosial mereka
mempunyai basis sosial yang kuat. Dari segi
ekonomi, para petani sudah dapat menikmati
hasilnya atas pendudukan dan penguasaan tanah
perkebunan untuk memenuhi kebutuhan
subsistensinya. Sedangkan dari segi politik, para
petani secara de facto sudah menguasai seluruh
tanah perkebunan. Posisi ini ada kecenderungan
akan dipertahankan, apabila pemerintah tidak
menggunakan cara yang tepat untuk menyelesaikannya. Karena para petani, masih mempunyai
keyakinan bahwa memperoleh tanah dengan cara
pendudukan ini sangat efektif. Buktinya, dari tahun
1942 sampai dengan tahun 1986 tanah PTPN XII
seluas 4826,8442 hektar berdasarkan Keputusan
Mendagri Nomor 49/HGU/DA/88, seluas
2776,3369 hektar (53%) harus dikeluarkan dari
HGU karena telah dikuasai penduduk, sehingga
masih tersisa seluas 2050,5073 hektar (47%).
Tanah perkebunan seluas 2050,5073 hektar (47%)
pada awal Pebruari 1999 seluruhnya sudah
diduduki kembali oleh warga masyarakat petani
sekitar perkebunan. Jadi secara de jure, PTPN
XII bisa menang dalam konflik tanah kebun
Kalibakar, tetapi secara de facto kalah, karena
tanah dikuasai penduduk. Karena itu pilihan PTPN
XII untuk melanjutkan pengembangan usaha
perkebunan dengan menjalin kerjasama dengan
penduduk sekitar perkebunan dalam bentuk
kemitraan, kiranya tidak cukup hanya dengan
menggunakan instrumen hukum dan menawarkan
program kemitraan, karena caraini hanya mampu
mengobati gejalanya saja dan belum menyentuh
akar masalah yang dihadapi para petani dalam
mempertahankan hidupnya.
SIMPULAN
Beberapa faktor yang menjadi sumber dan
penyebab konflik tanah perkebunan adalah:
pelaksanaan program landreform,
izin
perpanjangan Hak Guna Usaha (HGU), aksi
warga masyarakat menduduki tanah hutan TT,
perbedaan persepsi mengenai status tanah
perkebunan, sistem rekrutmen tenaga kerja PTPN
XII yang tidak adil, pengangguran, tunakisma
dan kecemburuan sosial, kesenjangan sosial
ekonomi antara komunitas kebun Kalibakar dan
komunitas petani di sekitar kebun Kalibakar, dan
tidak ada saluran institusi sosial yang mampu
mengakomodasikan nilai, aspirasi dan kepentingan
komunitas petani dalam proses pengelolaan kebun
Kalibakar. Dalam proses konflik banyak aktor yang
terlibat, aktor utama dari pihak-pihak yang terlibat
konflik tanah perkebunan, adalah pihak petani dan
pihak PTPN XII. Jumlah warga petani yang
terlibat dalam konflik sangat besar yang tersebar
di tiga Kecamatan, yaitu Desa Tirtoyudo (1291
KK), Desa Tlogosari (791 KK), Desa Kepatihan
(690 KK), Desa Sumber Tangkil (1196 KK),
Kecamatan Tirtoyudo, Desa Simojayan (789 KK)
Kecamatan Ampelgading, Desa Bumirejo (690
KK) dan Desa Baturetno (824 KK) Kecamatan
Dampit..
Strategi berkonflik yang diterapkan oleh para
pihak dalam proses konflik tanah kebun Kalibakar,
meliputi: strategi bersaing, berkolaborasi,
menghindar, mengakomodasi, dan berkompromi.
Strategi bersaing, merupakan usaha memenuhi
kelompok sendiri, tidak perduli dampaknya
terhadap pihak lawan. Strategi berkolaborasi,
merupakan upaya dan masing-masing pihak yang
berkonflik untuk dapat memuaskan kepentingan
semua pihak. Dalam hal ini, kelompok petani dan
PTPN XII mencari hasil yang bermanfaat secara
timbal balik sehingga melahirkan bentuk kerjasama
Usaha Tani. Strategi menghindar, adalah upaya
dari pihak kelompok masyarakat petani untuk
menarik diri dan menghindari setiap tawaran dari
pihak lawan. Strategi menghindar ini, dilakukan
tidak lepas dari adanya “iming-iming”, janji-janji
dari pihak luar yang sanggup memperjuangkan
kepentingan mereka untuk memiliki tanah
perkebunan. Strategi mengakomodasi, merupakan
kesediaan dari pihak PTPN XII untuk menaruh
kepentingan lawan di atas kepentingannya.
Strategi berkompromi, merupakan upaya untuk
mempertemukan kepentingan kedua belah pihak
yang berkonflik dengan melakukan sharing untuk
memcapai kesepakatan kedua belah pihak yang
berkonflik.
Dalam kaitannya dengan cara penyelesaian
konflik, ada tiga cara yang digunakan yaitu
konsiliasi, mediasi dan arbitrasi dengan perantaraan
pihak ketiga. Cara penyelesaiian konflik dengan
konsiliasi, diwujudkan melalui lembaga legislatif
yang memungkinkan tumbuhnya pola pengambilan
keputusan bagi pihak-pihak yang berlawanan
dengan cara musyawarah. Sementara itu,
Astawa, Strategi Penyelesaian Konflik Tanah Perkebunan
penyelesaian konflik dengan mediasi ada banyak
lembaga yang merasa terpanggil dan berwenang
bertindak sebagai pihak ketiga, yaitu:
Bakorstranasda, LSM (LBH Kosgoro, LBH,
BKBH Unibraw). Sedangkan penyelesaian
konflik dengan cara arbitrasi melibatkan pihak
Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan Negeri
Malang.
Peranan negara (pemerintah) dalam
penyelesaian konflik tanah perkebunan, meliputi:
(1) mengatur dan mendistribusikan tanah sesuai
dengan peruntukannya dalam pembangunan; (2)
mengelola sumber daya ekonomi secara langsung,
antara lain berbentuk Badan Usaha Milik Negara
49
(BUMN) yang sebagian direpresentasikan melalui
PTPN XII; (3) Melalui peraturan hukum, negara
(pemerintah) sebagai badan penguasa
menentukan semua tanah baik yang sudah ada
haknya maupun yang belum dikuasai oleh negara;
(4) Dalam kebijakan pengembangan subsektor
perkebunan, pemerintah berwenang menerbitkan
sertifikat atas tanah, termasuk menerbitkan
sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) kepada
pengusaha perkebunan; (5) Dalam penyelesaian
konflik, Pemerintah (Pusat dan Daerah)
berkewajiban menengahi konflik untuk mencari
titik temu antara kepentingan para petani dan
PTPNXII.
PUSTAKA RUJUKAN
Moore Jr, Bamngton, 1996. Social Origins Of
Dictatorship And Democracy; Lord And
Peasant In The Making Of The Modern
World.Boston: Beacon Press.
Scott, James C. 1985. Weapons Of The Weak;
Everyday Form Of Peasant Resistence.
New Haven: Yaleuniversity
Scott, James C. 1993. Perlawanan Kaum
Tani.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Scott, James C.I 994. Moral Ekonomi Petani:
Pergolakan Dan Subsistensi Di Asia
Tengggara.Jakarta: LP3ES.
STRATEGI PEMBELAJARAN MODEL INKUIRI JURISPRUDENSI
UNTUK PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
Sumarno
SMK Negeri 5 Kota Malang, Jl.Ikan Piranha Atas Kota Malang
email: [email protected]
Abstrac:Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan in secondary education aimed at developing
the potential of learners in all dimensions of citizenship, which include: civic confidence, civic
commitment, and civic responsibility. These objectives can be realized by implementing a learning
strategy JurisprudentialInquiry model. JurisprudentialInquiry model is a design study that was created and developed by Donald P. Oliver and James Shaver to help students learn to think critically
systematic, tolerant, caring and able to determine the position of the various controversies attitudes
toward contemporary issues of public policy that is going on in the life society and state. The results
showed that students’ academic achievement group that learned with a higher inquiry strategy with
that learned with conventional learning.
Keywords: civic education and the jurisprudential inquiry model
Abstrak:Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan pada jenjang pendidikan menengah bertujuan
mengembangkan potensi peserta didik dalam seluruh dimensi kewarganegaraan, yakni meliputi :
civic confidence, civic commitment, dan civic responsibility. Tujuan tersebut dapat diwujudkan
dengan menerapkan strategi pembelajaran model inkuiri jurisprudensi. Model inkuiri jurisprudensi
adalah rancangan pembelajaran yang diciptakan dan dikembangkan oleh Donald Oliver dan James
Shaver P. untuk membantu peserta didik belajar berpikir kritis sistematis, bersikap toleran, peduli dan
mampu menentukan posisi sikap terhadap berbagai kontroversi isu-isu kontemporer kebijakan publik
yang sedang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hasil penelitian menunjukanbahwa
prestasi akademik kelompok siswa yang dibelajarkan dengan strategi inkuiri lebih tinggi dengan
yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional.
Kata kunci: pendidikan kewarganegaraan, model inkuiri jurisprudensi
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
(PPKn) pada jenjang pendidikan menengah atas
dalam Permendikbud Nomor 18A tahun 2013
dinyatakan sebagai mata pelajaran wajib yang
bertujuan mengembangkan potensi peserta didik
dalam seluruh dimensi kewarganegaraan,
mencakup: (1) sikap kewarganegaraan yaitu
meliputi keteguhan rasa percaya diri, komitmen
dan tanggung jawab kewarganegaraan (civic confidence, civic committment, and civic responsibility); (2) pengetahuan kewarganegaraan (civic
knowledge); (3) keterampilan kewarganegaraan
berupa kecakapan partisipasi kewarganegaraan
(civic competence and civic responsibility).
Pertanyaannya adalah, strategi pembelajaran
apakah untuk mencapai atau mewujudkan tujuan
PPKn tersebut? Berdasarkan kajian teoritis dan
hasil riset, salah satu strategi yang perlu
diujicobakan adalah pembelajaran model Inkuiri
Jurisprudensi (Jurisprudential Inquiry Model).
Artikel ini merupakan kajian pustaka dan hasil
penelitian penggunaan strategi pembelajaran model
Inkuiri Jurisprudensi (Jurisprudential Inqury) untuk
pendidikan kewarganegaraan. Inkuiri jurisprudensi
(Jurisprudential Inqury Model) merupakan model
pembelajaran yang diciptakan dan dikembangkan
oleh Donald Oliver dan James T Shaver (Joice, B.
2003:109). Model Inkuiri Jurisprudensial dirancang
untuk membantu peserta didik belajar meneliti isuisu kontemporer berkaitan dengan kebijakan dan
kepentingan publik secara sistematis. Peserta didik
belajar merumuskan pertanyaan-pertanyaan kritis
50
Sumarno, Strategi Pembelajaran Model Inkuiri Jurisprudensi untuk PPKn di SMA
tentang kebijakan publik dan menganalisis posisiposisi alternatif sikap sebagai warga negara
terhadap kebijakan publik itu.
Secara beurutan dalam artikel ini akan
diuraikan: (1) asumsi model inkuiri jurisprudensi;
(2)sintaksis dan operasional pembelajaran model
inkuiri jurisprudensi; (3) efek penggunaan strategi
pembelajaran model inkuiri jurisprudensi; (4) hasil
penelitian penggunaan model inkuiri jurisprudensi
dalam pembelajaran dan diakhiri dengan
rangkuman sebagai kesimpulan.
ASUMSI PEMBELAJARAN MODEL
INKUIRI JURISPRUDENSI
Model Inkuiri Jurisprudensi didasarkan pada
konsepsi masyarakat dimana setiap orang memiliki
pandangan dan prioritas yang berbeda-beda dan
nilai-nilai sosial seringkali berbenturan satu dengan
lainnya. Untuk mengatasi isu-isu kompleks dan
kontroversial dalam konteks masyarakat yang
produktif mengharuskan setiap warga negara
memiliki kemampuan untuk saling berdiskusi dan
menegosiasikan perbedaan mereka.
Setiap warga negara seharusnya mampu
menganalisis dan mengambil posisi tertentu
terhadap isu-isu kontroversial berkaitan dengan
kepentingan publik. Posisi yang diambil setiap
warga negara haruslah merefleksikan konsepkonsep keadilan dan martabat manusia, dimana
kedua hal itu merupakan nilai-nilai yang fundamental dalam masyarakat yang demokratis.
Peserta didik sebagai warga negara diminta
membayangkan seperti hakim pengadilan tinggi
yang sedang mengadakan dengar pendapat
tentang sebuah kasus. Tugas hakim adalah
menyimak bukti yang disajikan, menganalisis posisi
legal yang diambil oleh kedua belah pihak yang
berperkara, menimbang posisi dan bukti kedua
belah pihak, menilai makna dan ketentuan hukum,
dan terakhir, membuat keputusan terbaik. Ini
adalah peran yang ingin diambil oleh para peserta
didik ketika membahas isu-isu publik.
Untuk mampu memainkan peran tersebut,
ada tiga jenis kompetensi yang harus dikuasai
peserta didik sebagai warga negara. Pertama
adalah kompetensi pemahaman terhadap nilai-nilai
dasar negara yaitu Pancasila, seperti yang
terjabarkan dalam konstitusi negara UUD 1945.
Nilai-nilai dasar tersebut menjadi dasar kerangka
kerja nilai dan sebagai acuan utama untuk menilai
isu-isu publik serta untuk membuat keputusan
51
hukum. Jika kebijakan yang diambil didasarkan
pada pertimbangan etika, maka warga negara
harus menyadari dan memahami nilai-nilai kunci
yang menjadi inti dari system etika masyarakat.
Kompetensi kedua adalah seperangkat
keterampilanuntuk mengklarifikasi dan mengatasi
isu-isu yang ada. Secara umum,isu kontroversi
terjadi karena ada dua nilai yang berbenturan atau
karena kebijakan publik tidak sesuai dengan nilainilai inti dalam masyarakat. Jika muncul konflik
nilai menurut Oliver dan Shaver (dalam Joice, B.
2003: 113 ), maka ada tiga masalah yang akan
muncul, yaitu: (1) masalah nilai, peserta didik
berusaha untuk mengklarifikasi nilai-nilai atau
prinsip hukum mana yang bertentangan, dan
kemudian memilih satu diantaranya; (2) masalah
fakta, berusaha untuk mengklarifikasi fakta
seputar konflik yang terjadi; (3) masalah definisi,
yaitu masalah yang terkait dengan klarifikasi makna
kata-kata yang kontroversi. Proses klarifikasi dan
mengatasi konflik juga terkait dengan usaha untuk
mengklarifikasi definisi, menetapkan fakta dan
mengidentifikasi nilai-nilai yang penting untuk
masing-masing isu publik.
Kompetensi ketiga adalah pengetahuan
tentang isu-isu publik dan politik kontemporer,
yang mengharuskan siswa untuk mengetahui
masalah politik, sosial dan ekonomi yang dihadapi
masyarakat. Peserta didik menggali isu-isu yang
ada dalam kaitannya dengan kasus hukum tertentu
dan tidak membahas nilai-nilai secara umum.
SINTAKSIS DAN OPERASIONAL MODEL
INKUIRI JURISPRUDENSI
Strategi pembelajaran model inkuiri
jurisprudensi terdiri enam tahapan (Joyce, B.
2003.74) yaitu : (1) orientasi kasus; (2)
mengidentifikasi isu dalam kasus ; (3) mengambil
posisi terhadap kasus; (4) menjelajahi argumen
yang mendasari posisi yang diambil; (5)
menetapkan posisi pilihan dan kualifikasi; serta (6)
pengujian argumen dengan fakta-fakta, definisi,
dan konsekuensi.
Pada tahap kesatu, guru memperkenalkan
siswa suatu kasus sebagai bahan ajar dengan
membaca cerita atau narasi sejarah, menonton
insiden yang difilmkan dan menggambarkan
kontroversi nilai, kebijakan, undang-undang, atau
mendiskusikan insiden kontroversi dalam
kehidupan para siswa, sekolah, atau masyarakat.
Ruang lingkup materi yang relevan dibelajarkan
52 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
dengan strategi ini, yaitu: konflik antar kelompok
etnik, konflik agama dengan ideologi, jaminan
keamanan indivindu, konflik antar kelompok
ekonomi, kesejahteraan dan keamanan negara
(Joyce,B. 2003.116).
Pada tahap kedua, orientasi kegiatan siswa
adalah meninjau fakta-fakta dengan menguraikan
peristiwa dalam kasus, menganalisis siapa yang
melakukan apa dan mengapa bertindak kontroversi. Pada tahap kedua, para siswa mensintesis
fakta dari kasus dan nilai-nilai yang terlibat
(misalnya, kebebasan berbicara, melindungi
kesejahteraan umum, otonomi daerah, atau
kesempatan yang sama), dan mengidentifikasi
konflik antar nilai-nilai. Pada dua tahap pertama,
para siswa belum diminta untuk mengekspresikan
pendapat mereka atau mengambil sikap.
Pada tahap ketiga, mereka diminta untuk
mengambil posisi terhadap masalah atau kasus dan
menyatakan argumen posisi mereka. Dalam kasus
ketidakadilan, misalnya, pebelajar mungkin
mengambil posisi bahwa pemerintah pusat tidak
boleh mengatur semua bidang pembangunan di
daerah, karena ini merupakan suatu pelanggaran
yang tidak dapat diterima prinsip otonomi daerah.
Pada tahap keempat, mengeksplorasi posisi.
Guru menggunakan gaya konfrontatif menguji
posisi pebelajar. Guru berperan seperti Socrates,
guru dapat menggunakan salah satu dari empat
pola argumentasi: (1) meminta pebelajar untuk
mengidentifikasi titik di mana nilai yang dilanggar;
(2) klarifikasi konflik nilai melalui analogi; (3)
meminta pebelajar untuk membuktikan konsekuensi yang diinginkan atau tidak diinginkan dari
posisi; (4) meminta pebelajar untuk menetapkan
prioritas nilai; (5) menegaskan prioritas satu nilai
atas yang lain dan menunjukkan pelanggaran berat
terhadap suatu nilai.
Pada tahap kelima, siswa melakukan
kegiatan memilih posisi. Tahap ini sering mengalir
secara alami dari dialog dalam tahap empat, tapi
kadang-kadang guru mungkin perlu meminta siswa
untuk menyatakan kembali posisi mereka.
Sementara tahap kelima menjelaskan alasan
dalam posisi nilai, pada tahap enam dilanjutkan
menguji posisi dengan mengidentifikasi asumsi
faktual di balik itu dan memeriksa dengan hatihati. Guru membantu siswa memeriksa apakah
posisi mereka terus di bawah kondisi yang paling
ekstrim.
Strategi pembelajaran inkuiri jurisprudensi
dengan enam tahapan tersebut dapat dikategorikan
menjadi dua tahapan pokok, yaitu tahapan analisis
(fase satu, dua, dan tiga) dan tahapan argumentasi
(fase empat, lima, dan enam). Kegiatan analisis,
pembahasan nilai dan isu-isu, mempersiapkan
argumentasi dilakukan secara hati-hati dalam
eksplorasi. Strategi situasi konfrontasi digunakan
untuk menghasilkan sikap yang terkuat.
Sintaksis pembelajaran model inkuiri
jurisprudensi sebagaimana diuraikan di atas dapat
diiktisarkan seperti tabel 1.
EFEK PEMBELAJARAN MODEL INKUIRI JURISPRUDENSI
Efek lansung strategi pembelajaran model
inkuiri jurisprudensi yaitu peserta didik menguasai
kemampuan menganalisa masalah, kemampuan
untuk melakukan dialog intensif dengan orang lain,
memotivasi untuk terlibat kegiatan sosial dan
membangkitkan keinginan melakukan aksi sosial.
Memelihara nilai-nilai pluralisme dan penghormatan terhadap sudut pandang orang lain dan juga
mendukung penggunaan emosi dalam merespon
kebijakan sosial.
Peserta didik menguasai keterampilan dalam
mengidentifikasi permasalahan kebijakan,
penerapan nilai-nilai sosial, penggunaan analogi
untuk mengeksplorasi isu-isu, dan kemampuan
untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan
masalah faktual dan nilai. Hal ini dapat
meningkatkan respon emosi pebelajar dalam hal
kebijakan sosial, meskipun strategi ini membawa
ke dalam bermacam-macam tanggapan emosional
siswa .
Strategi pembelajaran model inkuiri
jurisprudensijuga mengondisikan peserta didik
memahami nilai-nilai yang dipelajari dan membuat
keputusan posisi sikap yang diambil terhadap suatu
kontoversi nilai. Peseta didik belajar mengasah
kemampuan menafsirkan, mencontohkan,
mengklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan,
membandingkan, dan menjelaskan konsep-konsep
konkret atau abtrak kemudian belajar membuat
keputusan sikap terhadap nilai-nilai yang
dibicarakan. Sebagai contoh siswa dihadapkan
pada persoalan larangan di sekolah membawa alat
komunikasi handphone, pebelajar berhadapan
dengan konflik nilai-nilai yaitu kedisiplinan,
efektifitas dan efisiensi, aktualisasi diri, dan
kepedulian.
Hasil belajar lain yang juga ingin dicapai
adalah kemampuan untuk melakukan dialog
Sumarno, Strategi Pembelajaran Model Inkuiri Jurisprudensi untuk PPKn di SMA
53
Tabel 1. Sintaks model pembelajaran inkuiri jurisprudensi (diadaptasi dari : Joyce ,B. Weil, M. 2003.
Models of Teching)
Tahap Satu: Orientation to the Case
Tahap Dua:Identifying the Issues
 Guru memperkenalkan bahan ajar berbagai fakta
 Siswa mensintesa fakta masalah kebijakan publik .
kasus kebijakan yang kontroversi.
 Siswa memilih salah satu isu kebijakanuntuk materi
 Guru menyampaikan ulasan fakta secara garis besar.
diskusi.
 Siswa mengidentifikasi nilai-nilai dan nilai-nilai
yang konflik.
 Siswa menyusun pertanyaan-pertanyaan faktual
dan definisi
Tahap 3:Taking Positions
 Siswa mengartikulasikan atau mengambil posisi
terhadap isu yang didiskusikan.
 Siswa menentukan posisiawal terhadap isu-isu
sosial ataukonsekuensi dari keputusan tersebut.
Tahap Lima:Refining and Qualifying the Positions
 Siswa menyatakan posisi dan alasan untuk posisi
dalam sejumlah situasi yang sama.
 Siswa memenuhi persyaratan posisi yang diambil.
dengan orang lain. Kemampuan tersebut akan
mengembangkan kemampuan keterlibatan sosial
dan memunculkan hasrat untuk melakukan
tindakan sosial, mengembangkan nilai-nilai
pluralisme dan penghargaan pada sudut pandang
orang lain. Model inkuiri jurisprudensi juga
mendorong penggunaan nalar dan bukan emosi
dalam menanggapi kontroversi kebijakan sosial,
walaupun strategi itu sendiri memunculkan respons
emosional siswa. Efek pebelajar dan dampak
pengiring: model inkuiri juridprudensial dapat
digambarkan berikut 1.
PENELITIAN PENGGUNAAN MODEL
INKUIRI JURISPRUDENSI
Penelitian penerapan model ini dilakukan
Gopal dan SS.Patil (2015), dengan judul “ Effectiveness of Juriprudential Inquiry Model of
Teachhing on The Academic Achievement of
Social Science Among secondary School Student”. Bagaimanakah pengaruh penggunaan
strategi pembelajaran model inkuiri jurisprudensi
terhadap prestasi akademik pengetahuan sosial di
sekolah lanjutan atas. Hasil penelitian menunjukan
Tahap 4:Exploring the Stance(s),Patterns of
Argumentation
 Menetapkan titik letak pelanggaran nilai (faktual).
 Membuktikan posisi nilai yang diinginkan atau
tidak diinginkan.
 Memperjelas konflik nilai dengan analogi
 Menegaskan prioritas satunilai di atas yang lain
dan menunjukkan dukungannya.
Tahap Enam:Testing Factual AssumptionsBehind
Qualified Positions
 Mengidentifikasi asumsi faktual menentukan
apakah mereka relevan.
 Menentukan konsekuensi dan memeriksa validitas
faktual yang akan benar-benar terjadi?.
Framework for
Analyzing Social
Issues
Jurisprudential
Inquiry
Model
Ability to Assume
Role of the
“Other”
Competence in
Social Dialogue
Empathy/Pluralism
Facts about
Social Problems
Capacity for Social
Involvement for
Social Action
Gambar 1. Bagan Efek Pembelajaran Strategi
Inkuiri Juriprudensi (Diadaptasi dari:
Joyce B. Weil, M. 2003. Models of
Teching, New Delhi: Prentice-Hall of
India Private Limited.
bahwa prestasi akademik kelompok siswa yang
dibelajarkan dengan strategi inkuiri lebih tinggi
dengan yang dibelajarkan dengan pembelajaran
tradisional.
Penelitian lain dilakukan oleh Nwafor C.E
(2014) dengan judul, “ Use of Jurisprudential
54 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
Innovative Approach in teaching Basic Science: An alternative to Lecture Methode”.
Penggunaan strategi pembelajaran model inkuiri
Jurisprudensi untuk pembelajaran pengetahuan
dasar, hasil penelitian menunjukan bahwa
pendekatan ini meningkatkan kemampuan guru
dalam membantu kesulitan belajar individu,
memfasilitasi proses belajar dan memberikan
dukungan serta dorongan yang diperlukan peserta
didik.
Veer Pal Singh (2010)juga melakukan
penelitian berjudul, “Effectiveness of Jurisprudential Inquiry Model of Teaching on Value Inclination of School Students”. Veer Pal Singh meneliti
efektivitas strategi pembelajaran model inkuiri
jurisprudensi untuk pengajaran nilai pada siswa
sekolah menengah yang memiliki perbedaan
kecerdasan dan status sosial ekonomi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa strategi inkuiri
jurisprudensi lebih efektif dibandingkan metode
konvensional dalam mengembangkan kemampuan
mengidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan
nilai. Faktor kecerdasan dan sosial ekonomi
berpengaruh signifikan dalam pembelajaran kasus
nilai-nilai kewarganegaraan.
Berdasarkan kajian konseptual operasional
dan hasil penelitian sebagaimana diuraikan di atas
maka strategi pembelajaran model inkuiri
jurisprudensi perlu dan layak diujicobakan dalam
pembelajaran PPKn dalam konteks yang lebih luas
sebagai upaya inovasi pembelajaran PPKn di
sekolah menengah atas.
SIMPULAN
Strategi pembelajaran model Inkuiri
Jurisprudensi adalah rancangan atau desain
pembelajaran yang diciptakan dan dikembangkan
oleh Donald Oliver dan James Shaver P. (1966/
1974) untuk membantu peserta didik belajar
berpikir kritis sistematis dan mampu menentukan
sikap posisi terhadap kontroversi isu-isu
kontemporer kebijakan publik yang sedang terjadi
dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Strategi pembelajaran ini meliputi enam tahap
kegiatan yaitu : (1) orientasi kasus; (2)
mengidentifikasi isu; (3) mengambil posisi; (4)
menjelajahi sikap yang mendasari posisi yang
diambil; (5) posisi pilihan dan kualifikasi; serta (6)
pengujian asumsi tentang fakta-fakta, definisi, dan
konsekuensi.
Efek lansung strategi pembelajaran model
inkuiri jurisprudensi adalah penguasaan
kemampuan menganalisa masalah, kemampuan
untuk melakukan dialog intensif dengan orang lain,
memotivasi untuk terlibat kegiatan sosial dan
membangkitkan keinginan melakukan aksi sosial.
Memelihara nilai-nilai pluralisme dan
penghormatan terhadap sudut pandang orang lain
dan juga mendukung penggunaan emosi dalam
merespon kebijakan sosial. Peserna didik
menguasai keterampilan mengidentifikasi
permasalahan kebijakan; penerapan nilai-nilai
sosial; penggunaan analogi untuk mengeksplorasi
isu-isu; dan kemampuan untuk mengidentifikasi
dan menyelesaikan masalah faktual dan nilai.
Hal ini dapat meningkatkan respon emosi peserta
didik dalam hal kebijakan sosial, meskipun strategi
ini membawa ke dalam bermacam-macam
tanggapan emosional peserta didik.
Strategi pembelajaran model inkuiri
jurisprudensi mengondisikan peserta didik
memahami nilai-nilai dan membuat keputusan
posisi sikap yang diambil terhadap suatu
kontroversi nilai yang dipelajari. Peserta didik
belajar mengasah kemampuan menafsirkan,
mencontohkan, mengklasifikasikan, merangkum,
menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan
konsep-konsep konkret atau abtrak kemudian
belajar membuat keputusan sikap terhadap nilainilai yang dibicarakan. Hasil beberapa penelitian
menunjukkan penggunaan strategi pembelajaran
model Inkuiri Jurisprudensi dapat meningkatkan
hasil belajar peserta didik.
DAFTAR RUJUKAN
Gopal and Patil, S.S. 2015.Effectiveness of
Juriprudential Inquiry Model of Teachhing
on The Academic Achievement of Social
Science Among secondary School Student.
International Multidciplinary Research
Journal, (Online), Vol. 4. Nomor.12 Hal.15, (https://www.google.co.id/?gws_rd=ssl#
q=.Effectiveness+of+Juriprudential+
I n qu i r y+ M od el+ o f + Tea c hhi ng+ on
+ T h e+ Aca demic + Achi evement +
of+ Socia l+ S cience+ Among+
secondary+School+Student
isrj.org/Article.aspx?ArticleID=5886), diakses 10
April 2015.
Sumarno, Strategi Pembelajaran Model Inkuiri Jurisprudensi untuk PPKn di SMA
Huda, M. 2014. Model-Model Pengajaran dan
Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Joice, B. 2003. Models of Teaching. New Delhi:
Pretice-Hall of India.
Nwafor,C.E. 2014. Use of Jurisprudential Innovative Approach in teaching Basic Science:
An alternative to Lecture Methode. International researchers, (Online), Vol.
3.Nomor.1.Hal. 62-67, (http://iresearcher.
o r g / C u r r en t % 2 0 I s s u e% 2 0 Vo l u me
%20No.3%20Issue% 20No.1.html),
diakses 9 April 2015.
55
Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran
Inovatif. Jakarta Timur: PT. Bumi Aksara.
Veer Pal, Singh. 2010. Effectiveness of Jurisprudential Inquiry Model of Teaching on Value
Inclination of School Students, Journal of
Educational Research.,(Online), Volume
47 Number 2, Hal. 45-71, (https:/www.
google.com/search?q=Veer+Pal%2C+
Singh.+2010. Journal+of+Educational+
R e s e a r c h . % 2 C + Vo l u m e + 4 7
++Number+2%2C++Hal.+45-71.&ie=utf8&oe=utf-8), diakses 17 April 2015.
REVOLUSI PARADIGMA PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP DI INDONESIA
Sutoyo
Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No.5 Malang
email:[email protected]
Abstract: The occurrence of manyenvironmental casesinIndonesia, can not be seenfromthe technical aspectsorjuridicalper se,but itis necessary to studyaspects of theunderlying. The occurrence of
manyenvironmental cases, both national and local, mostlysourced fromhuman behaviorirresponsible,
do notcare about the environmentandselfish. It is strongly associatedwith theworldview(paradigm)
stakeholders, whichon averageis afollowerAnthropocentrismparadigmthat putsthe
environmentsimplyas a meansto meet human needs(shallowecologicalmovement).
theAnthropocentrismparadigmmust berevolutionized, ashas beenproven to havedamaged power
environment is veryhigh.Religiousparadigmaccording to religious teachingsembraced byeverycitizen,
is expected tobe asolution to thesharedenvironmental problemshappened. Withthereligiousparadigm
ofprotection effortsandenvironmental managementis an obligation thatmust be carried outbased
onthe beliefoncommandments of the Lord.
Key word: revolution, anthropocentrism paradigm, religious paradigm.
Abstrak: Terjadinya berbagai kasus lingkungan hidup di Indonesia, tidak dapat dipandang dari
aspek teknis atau yuridis semata, tetapi perlu dikaji aspek yang melatarbelakanginya. Terjadinya
berbagai kasus lingkungan hidup baik nasional maupun lokal, sebagian besar bersumber dari perilaku
manusia yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli terhadap lingkungan dan hanya mementingkan
diri sendiri. Hal ini sangat terkait dengan cara pandang (paradigma) para pemangku kepentingan
(stake holder), yang rata-rata merupakan penganut Paradigma Antroposentrisme yang menempatkan
lingkungan hidup hanya sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan manusia (shallow ecological
movement). Paradigma Antroposentrisme tersebut harus segera direvolusi, karena telah terbukti
memiliki daya rusak lingkungan yang sangat tinggi. Paradigma religi sesuai ajaran agama yang
dianut oleh setiap WNI, diharapkan dapat menjadi solusi atas berbagi permasalahan lingkungan
hidup yang terjadi. Dengan paradigma religi maka upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan
merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan berdasarkan keyakinan atas perintah Tuhan.
Kata Kunci: revolusi, paradigma antroposentrisme, paradigma religi
Upaya perlindungan lingkungan hidup merupakan
suatu kewaijiban yang harus dilakukan, mengingat
lingkungan hidup adalah sumber kehidupan.
Terjadinya berbagai kasus lingkungan hidup di Indonesia, tidak dapat dipandang dari aspek teknis
atau yuridis semata, tetapi perlu dikaji aspek yang
melatarbelakanginya. Sumber terjadinya
kerusakan lingkungan adalah perilaku manusia
yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli
terhadap lingkungan dan hanya mementingkan diri
sendiri. Hal ini sangat terkait dengan cara pandang
(paradigma) para pemangku kepentingan (stake
holder), yang rata-rata merupakan penganut
Paradigma
Antroposentrisme
dengan
menempatkan lingkungan hidup hanya sebagai alat
untuk memenuhi kebutuhan manusia (shallow
ecological movement). Paradigma Antroposentrisme tersebut harus segera direvolusi, karena
telah terbukti memiliki daya rusak lingkungan yang
sangat tinggi.
Solusi yang penulis tawarkan untuk merevolusi
paradigma Antroposentrisme dalam perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia
adalah: dengan menggunakan paradigma yang
56
Sutoyo, Revolusi Paradigma Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia
mendasarkan pada keyakinan agama yang dianut
oleh masing-masing warga Negara Indonesia.
Paradigma ini disebut sebagai paradigma religi.
Bangsa Indonesia memiliki falsafah hidup dan
sekaligus merupakan dasar Negara berupa
Pancasila. Sila pertama Pancasila menyatakan:
“Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sila ini menegaskan
bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berTuhan, yang menyatakan kepercayaan dan
ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Bangsa Indonesia percaya dan meyakini bahwa
seluruh kehidupan yang ada di alam semesta ini
adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang harus
dijaga kelestariannya.
Seluruh ajaran agama yang dianut oleh
bangsa Indonesia mengajarkan tentang perintah
untuk menjaga dan melindungi lingkungan hidup
serta memanfaatkanya dengan cara yang
bijaksana. Seluruh ajaran agama melarang adanya
perusakan lingkungan hidup. Apabila upaya
perlindungan lingkungan dapat dilakukan
berdasarkan keyakinan atas dasar perintah Tuhan,
maka upaya ini akan dapat mencapai hasil yang
sempurna. Karena keyakinan akan menuntun
setiap orang untuk menjalankan semua perintah
dan menjahui semua yang dilarang.
Jika Arne Naes dengan Deep ecologynyatelah berhasil menjadikan gerakan perlindungan
lingkungan sebagai gaya hidup (life style), maka
tentunya jika upaya perlindungan lingkungan yang
didasarkan atas keyakinan bangsa Indonesia
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, akan dapat
memberikan hasil yang lebih efektif dari pada
sekedar gaya hidup/life style. Keyakinan tersebut
akan menjadi kekuatan moral (morall force) yang
menuntun semua stake holder (Pemerintah,
pengusaha, masyarakat) untuk mewujudkan upaya
perlindungan lingkungan dalam kehidupan seharihari, apapun halangan yang dihadapi.
PARADIGMA PERLINDUNGAN DAN
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
MENURUT BERBAGAI AJARAN AGAMA
YANG DIANUT OLEH WARGA NEGARA
INDONESIA
Bangsa Indonesia adalah bangsa besar, dengan
penduduk lebih dari dua ratus lima puluh juta jiwa.
Bangsa Indonesia memiliki keyakinan yang teguh
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ada enam agama
yang secara resmi hidup di Indonesia, yang dipeluk
oleh para pengikutnya, yaitu: Agama Islam, Kristen,
Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.
57
Uraian berikut ini akan mengaji paradigma
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
menurut berbagai ajaran agama yang ada di Indonesia, yang dianut oleh para pemeluknya.
Paradigma Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Menurut Ajaran Agama Islam
Islam sebagai salah satu agama yang dianut
oleh mayoritas bangsa Indonesia, mempunyai
ajaran yang berisi paradigma perlindungan dan
pengelolaan lingkungan lingkungan hidup.
Kebenaran ajaran Islam, telah banyak teruji dan
sejalan dengan hasil penelitian ilmu pengetahuan
dan teknologi modern.
Dalam pandangan Islam, bahwa dimensi
alam semesta secara makro berpusat pada dua
tempat, yakni langit dan bumi. Langit sangatlah
luas, karena keterbatasan akal dan kemampuan
manusia, manusia tidak dapat mengetahui seluruh
isi langit, melainkan hanya sebagian kecil. Allah
SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hadid
ayat 4, yang artinya:
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi
dalam enam masa. Kemudian Dia
bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui
apa yang masuk ke dalam bumi dan apa
yang keluar dari padanya. Dan Dia
bersama kamu di mana saja kamu berada.
Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan” {Q.S. Al-Hadid (57):4}.
Allah S.W.T. telah menciptakan alam
semesta dengan perhitungan yang sangat cermat
dan tepat, sehingga menjadi ekosistem yang benarbenar sempurna bagi seluruh makluk yang ada di
dalamnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam
Al-Qur’an:
“Dan tidaklah Kami bermain-main
menciptakan langit dan bumi dan apa
yang ada diantara keduanya. Tidaklah
Kami menciptakan keduanya melainkan
dengan haq (benar), tetapi kebanyakan
mereka tidak mengetahui. {Q.S. AdDukhan (44): 38,39}
“Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak sekali-kali melihat pada ciptaan
Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak
seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah
kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ?” {Q.S.
Al-Mulk (67): 3}
58 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
“DIA menciptakan langit tanpa tiang
sebagaimana kamu melihatnya, dan DIA
meletakkan gunung-gunung (di permukaan)
bumi agar bumi tidak menggoyangkan
kamu; dan memperkembangbiakkan
segala macam jenis makluk bergerak yang
bernyawa di bumi. Dan Kami turunkan air
hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan
padanya segala macam tumbuh-tumbuhan
yang baik” {Q.S. Luqman (31): 10}
Kesempurnaan alam semesta ciptaan Allah
SWT, disertai dengan hukum-hukum yang berlaku
di dalamnya, yang disebut dengan
SUNNATULLAH atau hukum alam (natural of
law). ALLAH S.W.T. selalu mendorong manusia
agar menggunakan akal fikirannya untuk
mempelajari ciptaan-Nya.
Banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang
berisi perintah agar manusia selalu berfikir dan
berusaha meningkatkan kemampuannya. Bahkan
dalam ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad S.A.W. (Q.S. Al-Alaq) berisi perintah
agar manusia “membaca” (Iqro’). Hanya dengan
berfikir, maka manusia akan dapat mengenal ALLAH S.W.T. dengan penuh kesadaran, karena
mampu membuktikan kebenaran ajaran Agama
Islam. ALLAH S.W.T. murka kepada orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya {(Q.S.
Yunus (10): 100}.
ALLAH S.W.T. berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit
dan bumi, silih bergantinya malam dan
siang, bahtera yang berlayar di laut
membawa apa yang berguna bagi
manusia, dan apa yang ALLAH S.W.T.
turunkan dari langit berupa air, lalu
dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah
mati (kering)- dan Dia sebarkan di bumi
segala jenis hewan, dan pengisaran angin
dan awan yang dikendalikan antara langit
dan bumi; sungguh (terdapat) tandatanda (keesaan dan kebesaran ALLAH
S.W.T.) bagi kaum yang memikirkan.”
{Q.S. Al-Baqoroh (2):164}
“Dan pada penciptaan dirimu dan pada
makluk yang bergerak yang bernyawa
yang bertebaran (di bumi) terdapat
tanda-tanda (kebesaran ALLAH
S.W.T.) untuk kaum yang meyakini”
{Q.S. Al-Jasiyah (45): 4}
Setelah ALLAH S.W.T. menciptakan langit
dan bumi, maka dicarilah makluk yang sanggup
mengemban amanah untuk menjaga ciptaan
tersebut. Manusia sebagai makluk yang sempurna,
yang telah dianugerahi akal pikiran dan hati, yang
dapat membedakan perbuatan yang baik dan
buruk, menyatakan kesanggupannya untuk
mengemban amanah tersebut. ALLAH S.W.T.
berfiman:
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan
amanat kepada langit, bumi dan gununggunung, tetapi semuanya enggan untuk
memikul amanat itu dan mereka khawatir
akan menghianatinya, dan dipikullah
amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya
manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”
{Q.S. Al-Ahzab (33): 72).
Kesanggupan manusia untuk memegang
amanah tersebut, disertai dengan peringatan dan
perintah agar manusia tidak membuat kerusakan
di bumi dan mampu menciptakan keadilan. ALLAH S.W.T. telah menggariskan suatu aklaq
bahwa perbuatan pemaksaan dan kecurangan
terhadap alam sangat dicela, perbuatan tersebut
akan membawa mala petaka bagi manusia.
Kenikmatan dunia dan akherat dapat dikejar
secara seimbang, tanpa meninggalkan perbuatan
baik dan menghindarkan kerusakan di muka bumi.
Tuhan mengingatkan bahwa masa manusia untuk
tinggal dan beriteraksi dengan lingkunganya di
bumi, dalam relung waktu yang terbatas. Firman
ALLAH S.W.T. yang terkait dengan hal tersebut
antara lain:
“… dan bagimu ada tempat kediaman di bumi,
kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”
{Q.S. Al-Baqarah (2): 36}
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi
setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah
kepada-NYA dengan rasa takut dan penuh harap.
Sesungguhnya rahmat ALLAH S.W.T. sangat
dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.”
{Q.S. Al-A’raf (7): 56}
“Dan carilah (pahala) negeri akherat dengan apa
yang telah dianugerahkan ALLAH S.W.T.
kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan
bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana ALLAH S.W.T. telah
berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu
sekalian berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya
ALLAH S.W.T. tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan.” {Q.S. Al-Qasas (28):77}
Sutoyo, Revolusi Paradigma Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia
“Dan janganlah menuruti perintah orang-orang
yang melampaui batas, yang berbuat kerusakan
di bumi dan tidak mengadakan perbaikan” {Q.S.
Asy-Syu’ara (26): 151-152}
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena peruatan tangan manusia;
ALLAH S.W.T. menghendaki agar mereka
merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang
benar)” {Q.S. Ar-Ruum (30): 41}
“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa
bayak generasi sebelum mereka yang telah kami
binasakan, padahal (generasi itu), telah Kami
teguhkan kedudukannya di bumi, yaitu keteguhan
yang belum pernah kami berikan kepadamu. Kami
curahkan hujan yang lebat untuk mereka dan Kami
jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka,
kemudian Kami binasakan mereka karena dosadosa mereka sendiri, dan kami ciptakan generasi
yang lain setelah generasi mereka” {Q.S. AlAn’am (6):6}
“Sesungguhnya ALLAH S.W.T. menyuruhmu
menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya. Dan apabila kamu menetapkan
hukum dianatara manusia hendaknya kamu
menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya ALLAH S.W.T. memberi pengajaran yang sebaikbaiknya kepadamu. Sesungguhnya ALLAH
S.W.T. Maha Mendengar lagi Maha Melihat”
{Q.S. An-Nisa’ (4):58}
“Wahai Dawud ! Sesungguhnya engkau Kami
jadikan khalifah di bumi, maka berilah keputusan
(perkara) di antara manusia dengan adil dan
janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena
akan menyesatkan engkau dari jalan ALLAH
S.W.T.. Sesungguhnya orang-orang yang sesat
dari jalan ALLAH S.W.T. akan mendapat azab
yang berat, karena mereka melupakan hari
perhitungan” {Q.S. Shaad (38): 26}
Islam merupakan agama yang sangat
memperhatikan upaya perlindungan lingkungan.
Begitu banyaknya ayat-ayat dalam Al-Qur’an,
Sabda Nabi Muhammad S.A.W., Ijma dan Qiyas
para ulama yang berisi perintah agar manusia
(khusunya umat Islam), menjaga dan memelihara
keseimbangan lingkungan.
Islam diturunkan ke dunia adalah sebagai
rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).
Karena kesempurnaan ajaran Agama Islam akan
menuntun manusia dapat menciptakan kehidupan
yang adil, serasi, selaras, seimbang bagi manusia,
alam dan seluruh makluk yang ada di alam
semesta.
59
Paradigma Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Menurut Ajaran Agama Kristen
Ajaran
agama
Kristen
sangat
memperhatikan aspek perlindungan dan
kelestaraian lingkungan. Alam semesta
merefleksikan penciptaan Tuhan yang sangat
sempurna. Sabda Tuhan dalam Injil:
“Kemuliaan Tuhan dalam pekerjaan tanganNya dan dalam Taurat-Nya. Langit menceritakan
Kemuliaan Allah, dan Cakrawala memberitakan
pekerjaan tangan-Nya”(Mazmur 19:I-2)”
Terdapat dua aspek penting mengenai
lingkungan dalam Kristen yaitu kepemilikan Allah
dan kepelayanan manusia. Allah sebagai sang
pencipta menempatkan manusia sebagai ciptaan
Tuhan yang hidup bersama makhluk ciptaannya
yang lain (lingkungan sekeliling manusia). Manusia
mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan
dengan alam semesta. Manusia berhubungan
dengan hewan. Tuhan telah meciptakan suatu
lingkungan hidup yang terdiri dari manusia dan
segala disekelilingnya, baik selain manusia dengan
manusia untuk membentuk suatu komunitas
makhluk ciptaannya, dan di dalam komunitas ini
manusia bertanggung jawab. Tuhan berfirman
dalam Kitab Kejadian 2:19-20 yang berbunyi:
“Lalu Tuhan Allah membentuk dari tanah segala
binatang hutan dan segala burung di udara. Di
bawanyalah semuanya kepada manusia untuk
melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti
nama yang di berikan manusia itu kepada tiaptiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama
makhluk itu.”
Firman Tuhan dalam Kitab Kejadian 2:15 yang
berbunyi:
“Tuhan Allah mengambil manusia itu dan
menempatkanya dalam taman Eden untuk
mengusahakan dan memelihara taman itu”.
Mengusahakan di sini berarti memanfaatkan
alam untuk kebutuhan dan kesejahteraan manusia.
Memelihara berarti menjaga alam agar tidak
hancur dan tetap lestari. Untuk itu manusia
diperintahkan agar menggunakan akal budinya
dengan penyerahan dan ketekunan sepenuhnya.
Dalam Matius 22: 37 tertulis Tuhan berfirman:
“Hendaklah engkau mengasihi Allah Tuhanmu
dengan sebulat-bulat hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan sepenuh akal budimu”
Bumi adalah taman Allah dan manusia adalah
penjaganya. Manusia dan lingkungan hidup adalah
sesama ciptaan yang telah dipulihkan hubungannya
oleh Tuhan Yesus Kristus, maka manusia,
khususnya manusia baru dalam Kristus (2 Kor.
60 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
5:7), seharusnya membangun hubungan solider
dengan alam. Hubungan solider berarti
memperlakukan alam dengan penuh belas kasihan.
Manusia harus merasakan penderitaan alam
sebagai penderitaannya dan kerusakan alam
sebagai kerusakannya juga.
Seluruh makhluk dan lingkungan sekitar tidak
boleh diperlakukan semena- mena, tidak dirusak,
tidak dicemari dan semua isinya tidak dibiarkan
musnah atau punah. Manusia tidak boleh bersikap
kejam terhadap alam, khususnya terhadap sesama
makhluk. Manusia dan alam harus secara bersama
menjaga dan memelihara ekosistem.Tuhan
berfirman kepada Ayub yang berbunyi:
“Siapakah yang menghadapi aku, yang aku biarkan
tetap selamat? Apa yang ada di seluruh kolong
langit, adalah kepunyaanku” (Ayub 41:2)
Perlakuan manusia yang buruk terhadap alam
terungkap dalam istilah seperti: “tanah yang
terkutuk”, “susah payah kerja”, dan “semak duri
dan rumput duri yang akan dihasilkan bumi” (Kitab
Kejadian 3:17-19). Dengan perlakuan tersebut,
maka manusia selalu dibayangi oleh rasa kuatir
akan hari esok yang mendorongnya cenderung
rakus dan materialistik (baca Matius 6:19-25 par.).
Menurut pandangan Kristen bahwa akar
kerusakan lingkungan alam dewasa ini terletak
dalam sikap rakus manusia yang dirumuskan oleh
John Stott sebagai “economic gain by environmental loss”. Manusia berdosa memandang alam
tidak hanya untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi
lebih untuk memenuhi keserakahannya. Manusia
berdosa adalah manusia yang hakikatnya berubah
dari “a needy being” menjadi “a greedy
being”(Sabda, 2012).
Kerusakan lingkungan merupakan kegagalan
manusia dalam melaksanakan tugas
kepemimpinan atas alam. Pada hakekatnya
kegagalan tersebut bersumber dari kegagalan
dalam mengendalikan dirinya, khususnya
keinginan- keinginannya (keserakahannya).
Paradigma Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Menurut Ajaran Agama Katolik
Manusia melakukan perenungan untuk lebih
mengerti lingkungannya dan mencoba untuk lebih
memahami dengan segenap akal budi dan
nuraninya, mengahayati bahwa lingkungan telah
memberikan manfaat yang besar bagi
kehidupanya. Dengan perenungan dan
penghayatan tersebut, manusia menemukan
kesadaran hakiki yang mampu melihat hubungan
keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan antara
manusia dengan lingkungan hidupnya.
Moral lingkungan hidup pada dasarnya
bermula dari kesadaran hakiki manusia dalam
menghadapi situasi hidup dan lingkungannya.
Dalam ajaran Agama Katolik, sebagaimana
termuat dalam Kitab Perjanjian Lama (PL), bahwa
kosmos dipandang sebagai yang berbeda dari
Tuhan. Dunia dilukiskan sebagai keadaan
keindahan yang tidak sanggup diungkapkan secara
penuh oleh gaya sastra, mazmur-mazmur dan
kebijaksanaan. Kosmos dan segala kandungannya
diciptakan oleh sabda Tuhan.
Bukan faham filosofis yang diterima, karena
peristiwa penciptaan disingkapkan kepada
pemikiran manusia. Gagasan ini adalah ajaran iman
yang keberadaannya terus menerus diperteguh
pada waktu berhadapan dengan percobaanpercobaan baru.
Tradisi Yahwista (Y) melukiskan: kosmos
sebagai peristiwa yang tertuju pada Yahweh
sebagai tempat kehadiran Tuhan bagi
manusia. Manusia mempunyai hubungan yang tak
terpisahkan dengan alam semesta. Manusia hidup
berdekatan dengan hewan (Kitab Kejadian 2:1920).
Tradisi Priester (P) (Kitab Kejadian 1:1;
2:4a), menitik beratkan pada tiga peristiwa
penciptaan dunia, yaitu: tatanan, waktu dan hidup.
Sorotan atas Kejadian 1-11 sebenarnya bukan
gagasan Creatio Ex Nihilo, melainkan tindakan
keteraturan Yahweh. Sekarang tatanan kosmos
dikaitkan dengan tatanan moral dan sosial;
ketidakteraturan moral; kekerasan, air bah.
Selanjutnya dalam Mazmur 19:2-5b, berisi
tentang kosmos sebagai buah tangan Tuhan.
Kosmos bukan hanya undangan untuk percaya
kepada Allah sebagai pencipta, melainkan desakan
untuk terus menerus memuji dan memuliakan
Tuhan melalui doa-doa. Kosmos bukan hanya
mengungkapkan kebesaran Tuhan tetapi
mendorong manusia untuk beriman dan memuji
Tuhan. Sedangkan dalam Kitab Perjanjian Baru,
tidak menggambarkan konsep kosmologis khusus
sebagai bagian pewartaan integral dari injil.
Gambaran tentang kosmos dalam Perjanjian Baru
di pandang sebagai sarana untuk mewartakan
Injil. Perjanjian Baru tidak berbicara tentang
kosmos dirinya, sebagai benda belaka, namun
pembicaraan tentang kosmos dikaitkan dengan
dunia manusia, tempat Tuhan bertindak dan
Sutoyo, Revolusi Paradigma Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia
manusia melakukan sesuatu secara bertanggung
jawab.
Dunia dan sejarah selalu berada di bawah
kuasa tindakan penciptaan dan penyelamatan
Illahi. Kodrat dan kebebasan manusia kembali
memasuki tingkat penciptaan Illahi yang
menyelamatkan. Pengakuan iman akan penciptaan
langit dan bumi oleh Tuhan (Kisah 17:24; 4:24).
Penciptaan berdimensi Kristosentris (Kolose 1:1517), tidak ada unsur satu pun di atas permukaan
bumi yang dapat terpisah dari kuasa Kristus.
Tuhan telah menciptakan dunia dalam Kristus
sebagai titik tolak keteguhan, dasar primordial dan
kekal awal dan akhir (Wahyu 1:18). Kalau begitu
dunia tidak bisa dipandang lepas dari Tuhan dalam
Yesus Kristus. Dunia kita terus menerus dilalui
dan diresapi kekuatan Illahi yang selalu menang.
Semua yang diciptakan dikuduskan oleh
Firman Allah dan doa adalah baik, maka harus
diterima dengan syukur. Tanggung jawab orang
Kristen secara khusus dihadapan dunia terutama
melihat apa yang dikehendaki Allah. Dengan
demikian orang Kristen mengubah bentuk dunia
dari dalam, menghadapi semua keadaan di dunia
oleh Roh Allah. Untuk mengubah membebaskan
dunia, umat Allah harus melakukan tindak
pembaharuan hati dan dengan tingkah laku sesuai
dengan kehendak Allah.
Dalam surat- Nya kepada Jemaat di Roma
8:18-27, Paulus menyoroti dunia yang diciptakan
Tuhan sebagai suatu keseluruhan. Pandangan dan
sikap manusia terhadap alam semesta berdimensi
Antroposentrik, tetapi bukanlah Antroposentrik
Subyektif yang hanya memandang alam semesta
memiliki nilai sejauh menjamin keuntungan
manusia. Tempat kita dalam tatanan penciptaan
ditentukan oleh dan hubungan manusia dengan
segala ciptaan dalam keterkaitannya dengan
Tuhan.
Kita seharusnya memandang segala sesuatu
di atas permukaan bumi sebagai sarana untuk
menemukan tujuan tertinggi untuk memuji dan
memuliakan Tuhan bukan untuk manusia. Seluruh
peristiwa penciptaan ditandai dengan awal yang
menggembirakan. Sejak semula Tuhan telah
menyatakan keindahan ciptaan-Nya. Jagad raya
terang, lautan, tumbuhan, hewan, semua
diciptakan-Nya dalam keadaan baik (bdk Kej 1).
Semua unsur dalam alam saling terkait dalam
hubungan secara organik.1
1
61
Paradigma Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Menurut Ajaran Agama Hindu
Paradigma perlindungan dan pengelolaan
lingkungan menurut ajaran Agama Hindu pada
dasarnya berpangkal pada kitab suci Weda, dan
kerangka dasar dari agama Hindu yaitu,
Tattwa,Susila dan Upacara.
Ajaran Tattwa memberikan petunjuk filosofis
yang mendalam menge­nai pokok­pokok
keyakinan maupun mengenai konsepsi ketuhanan,
sedangkan ajaran susila merupakan kerangka
untuk bertingkah laku yang baik sesuai dengan
dharma, dan upacara yang merupakan kerangka
untuk menghubungkan diri dengan Tuhan dalam
bentuk persembahan.
Esensi dari upacara pada dasarnya adalah
yadnya korban suci dengan hati tulus ikhlas, serta
dasar hukum dari yandnya adalah “Rna” (Dewa
Rna, Rsi Rna dan Pitra Rna).Konsep dasar
agama Hindu mengenai hubungan timbal balik
antara manusia dan lingkungan hidup dimulai dari
konsep “Rta” dan “ Yadnya”.
Rta, manusia merupakan bagian imanen (tak
terpisahkan) dari alam yang setiap tahap dalam
kehidupannya dikuasai oleh fenomena dan hukum
alam. Semua yang ada ini tunduk pada alam
semesta, tidak ada sesuatu apapun yang luput dari
hukum yang berlaku dalam dirinya. Matahari terbit
di timur dan tengelam di barat, air mengalir
ketempat yang lebih rendah, api membakar, angin
berhem­bus, manusia lapar, haus dan akhirnya
mati, karena memang demiki­anlah hukum yang
berlaku pada dirinya.
Umat Hindu memikul kewajiban untuk menjaga
lingkungan agar tetap dalam keadaan harmoni. Hal
ini sebagaimana ditegaskan dalam Kitab
Atharwaweda (XII:1):
‘satyam brhad rtam nram diksha tapa brahma
yajna prthirviam dharayanti’
satya, rta, diksa, tapa, brahma dan yajna inilah yang
menegakkan bumi, satya adalah kebenaran, yang
diwujudkan dengan berbuat kebajikan, rta adalah
hukum yang sepatutnya secara sadar haruslah
ditaati, diksa adalah kesucian yang diwujudkan
dengan trikaya parisudha (berpikir, berkata dan
berbuat diatas kebenaran), yajna adalah
persembahan (korban suci), brahma adalah
brahman yang tiada lain adalah Tuhan / Sanghyang
Widhi sendiri (widhi tattwa), tapa adalah
pengendalian yang selalu mampu mewujudkan
) http://forest4betterlife.blogspot.com/2013/07/perspektif agama-katolik-terhadap.html
62 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
kebenaran berdasarkan dharma sehingga dari
satya mewujudkan siwam, dari siwam
mewujudkan sundaram (kebenaran, kesucian,
keindahan).
Yadnya, hubungan antara manusia dengan alam
pada hakekatnya adalah untuk menciptakan
keadaan yang harmonis, seimbang antara unsurunsur yang ada pada alam dan unsur-unsur yang
dimiliki oleh manusia. Keseimban­gan inilah yang
harus selalu dijaga, dan salah satu cara yang
ditempuh adalah dengan melakukan yadnya.
Untuk menjaga kontek hubungan yang baik
antara manusia dengan lingkungannya,
masyarakat Bali misalnya, melakukan upacara
Tumpek Bubuh dan Tumpek Kandang. Dasar
filosofis upacara Tumpek Bubuh adalah konsepsi
/ sikap untuk memberi sebelum menikmati, dalam
konteks dengan pelestarian sumber daya hayati,
sebelum manusia menikmati dan menggunakan
tumbuh-tumbuhan sebagai bagian menu makanan
haruslah diawali dengan proses penanaman dan
pemeliharaan, misalnya seorang petani sebelum
menikmati nasi, ia terlebih dahulu menanam padi.
Sedangkan upacara Tumpek Kandang,
secara filosofis mendorong agar manusia selalu
mencintai segala jenis satwa, dan berpegang pada
ajaran bahwa manusia dengan ling­kungan ibarat
singa dengan hutan, singa adalah penjaga hutan
dan hutanpun menjaga singa. Dalam Kitab Suci
Bhagawadgita, III:10, dinyatakan:
‘sahayajnah prajah srstva, puro’vaca
prajapatih, anena prosavisyadhvam, esa vo’stv
istakamadhuk’
Dahulu kala Tuhan menciptakan manusia dengan
yajna dan berkata : ‘dengan yajna pulalah
hendaknya engkau berkembang, dan biarlah ini
(bumi) menjadi sapi perahanmu, dengan maksud
bahwa bumi / alam / lingkungan ini menjadi sapi
perahanmu untuk dapat memenuhi keinginan
manusia untuk dapat hidup yang layak dan
harmoni, selalu dipelihara dengan baik dan
diusahakan seoptimal mungkin bagi kemakmuran
bersama. ‘annad bhavanti bhutani, parjanyad
annasambhawah,yajna bhavati parjanyo,
yajnah karma samudbhawah’
Karena makanan mahluk hidup, karena hujan
makanan tumbuh, karena yajna persembahan
hujan turun, dan dari persembahan melahirkan
karma perbuatan.
Manusia sebagai komponen sentral dalam sistem
lingkungan ini sudah sepantasnya selalu menjaga
keseimbangan diantara komponen-komponen
lingkungan yang lainnya. Dalam Kitab
Bhagawadgita ada disebutkan:
‘Istan bhogan hi vo deva, desvante yadnya
bhavitah, Tair dattan aoradayai bhyo, yo blunte
stena eva sah’
Dipelihara oleh yadnya, para dewa akan memberi
kesenangan yang kami ingini, ia yang menikmati
ini tanpa memberikan balasan kepadanya adalah
pencuri.
Apabila manusia hanya ingin mencari
kesenangan tanpa terlebih dahulu memberi
kesenangan terhadap makhluk lain adalah pencuri.
Manusia yang semena-mena menjadikan sumber
hidupnya sebagai obyek kesenangan tidak disertai
tindakan memelihara sama dengan perila­ku
pencuri. Mengambil tanpa sebelumnya memberi,
menikmati dengan tidak memberi, menggunakan
tanpa sikap memelihara, sama dengan perilaku
pencuri.
Hubungan timbal balik antara manusia dan
alam harus selalu dija­ga, salah satu cara yang
dipakai untuk menjaga hubungan timbal balik ini
adalah dengan upacara (caru). Ada beberapa jenis
dan tingkatan caru tersebut yaitu, ekasatha,
pancasatha,
pancakelud,
rsighana,
baliksumpah, labuh gentuh, pancawalikrama
dan tawur ekadasarudra(ibgiwiyana, 2012).
Paradigma Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Menurut Ajaran Agama Budha
Paradigma perlindungan dan pengelolaan
lingkungan menurut ajaran Agama Budha
tercermin dari ayat suci ini:
“Bagai seekor lebah yang tidak merusak kuntum
bunga, baik warna maupun baunya, pergi setelah
memperoleh madu, begitulah hendaknya orang
bijaksana mengembara dari desa ke desa” (Dhp.
49).
Dalam ekosistem, lebah tidak hanya mengambil
keuntungan dari bunga, tetapi juga sekaligus
membayarnya dengan membantu penyerbukan.
Perilaku lebah memberi inspirasi, bagaimana
seharusnya menggunakan sumber daya alam yang
terbatas.
Membedakan sesuatu yang hidup dari benda
mati, tetapi menurut prinsip saling bergantungan
pada kehidupan mengandung unsur-unsur yang
tidak hidup. Apabila meneliti ke dalam diri sendiri,
akan melihat bahwa manusia memerlukan dan
memiliki mineral atau unsur anorganik lainnya.
Ujar Thich Nhat Hanh (Wijaya-Mukti, 2004:419),
Sutoyo, Revolusi Paradigma Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia
jangan berpikir benda-benda ini tidak hidup. Atom
selalu bergerak, elektron pun bergerak.
Manusia adalah bagian integral dari
keseluruhan masyarakat dan alam semesta.
Muncul dari alam, dipelihara oleh alam, dan kembali
ke alam. Thich mengatakan dalam kehidupan
lampau adalah tumbuh-tumbuhan, dan bahkan
dalam kehidupan ini terus menjadi pohon-pohon.
Tanpa pohon-pohon, tidak dapat punya orang, oleh
karena itu, pohon-pohon dan orang-orang berada
dalam tali-temali. Manusia bagaikan pohon dan
udara, belukar dan awan. Bila pepohonan tidak
dapat hidup, manusia tidak dapat hidup pula.
Terdapat kontinuitas dari dunia dalam dan
dunia luar, dan dunia adalah “diri-luas” (largeself). Manusia harus menjadi “diri-luas” tersebut
dan peduli terhadapnya. Memandang sehelai
kertas, melihat hal-hal lain pula, awan, hutan,
penebang kayu. Saya ada, maka itu Anda ada.
Anda ada, maka itu saya ada. Manusia saling talitemali, itulah tatanan antar makhluk.
Agganna-sutta meriwayatkan hubungan
timbal-balik antara perilaku manusia dan evolusi
perkembangan tumbuh-tumbuhan. Jenis padi
(sali) yang pertama dikenal berupa butiran yang
bersih tanpa sekam. Padi dipetik pada sore hari,
berbuah kembali keesokan harinya. Dipetik pagipagi, berbutir masak kembali di sore hari. Semula
manu­sia mengumpulkan padi secukupnya untuk
sekali makan. Kemudian timbul dalam pikiran
manusia, bukankah lebih baik mengumpulkan padi
yang cukup untuk makan siang dan makan malam
sekaligus? Pikiran berikutnya yang timbul mudah
diterka lebih baik lagi kalau dikumpulkan untuk
dua hari, empat hari, delapan hari, dan seterusnya.
Sejak itu manusia mulai menimbun padi. Padi yang
telah dituai tidak tumbuh kembali. Maka, akibat
keserakahannya, manusia harus menanam dan
menunggu cukup lama hingga padi yang
ditanamnya berbuah. Batang-batang padi mulai
tumbuh berumpun. Lalu butir-butir padi pun berkulit
sekam (D. III. 88-90).
Sikap yang terpusat pada diri manusia dan
anggapan bahwa dunia ini disediakan untuknya saja,
tidak membuat hidup manusia menjadi lebih baik.
Individualisme dan kapitalisme ataupun lawannya
sosialisme dan komunisme membayar kemajuan
duniawi dengan permasalahan lingkungan.
Lingkungan hidup menjadi tidak terpelihara rusak dan
justru mengancam kehidupan manusia sendiri. Hal
itu terjadi karena kehidupan non-materi atau kemajuan
rohani tidak memperoleh tempat yang wajar.
63
Falsafah hidup Buddhis menghendaki
keseimbangan antara pemenuhan kepentingan
materi dan spiritual. Keseimbangan hidup
semacam itu, menurut Cakkavatti-sihanadasutta, sekalipun kepadatan penduduk bertambah
karena tingkat kematian menurun atau harapan
hidup manusia meningkat, manusia masih dapat
cukup makan (D.Ill.75).
Buddha mendekati lingkungan alam dan
hubungan manusia yang alami dilukiskan dalam
kitab suci berguna untuk menciptakan suatu
atmosfir menyenangkan dalam kehidupan di atas
bumi. Buddhisme menunjukkan cara pemecahan
masalah krisis lingkungan. Sehubungan dengan
pengamatan ekologis Buddhis memperkuat sikap
ramah kepada alam dan meneliti hubungan
tumbuh-tumbuhan, orang, dan binatang satu sama
lain dari sudut persahabatan dan keselarasan.
Tiga peristiwa utama menyangkut kehidupan
Buddha, kelahiran, penerangan, dan kematian,
mengambil tempat di bawah pohon terbuka. Buddha menasehatkan kepada biarawan untuk
mencari-cari tempat yang luas di tengah hutan dan
kaki pohon untuk praktek meditasi. Udara
menyenangkan, tenang dalam suatu lingkungan
alami dipertimbangkan sebagai sarana untuk
pertumbuhan spiritual.
Perhatian Buddha untuk hutan dan pohon
digarisbawahi dalam Vanaropa Sutta (S.I.32), di
mana konon penanaman kebun (aramaropa) dan
hutan (vanaropa) adalah tindakan yang berjasa,
menganugerahkan jasa siang malam sebagai
penolong. Dengan jelas Buddha menimbang rasa
bagi aspek hutan dan pohon yang bermanfaat.
‘Vana’ atau hutan dalam Dhammapada
digunakan oleh Buddha sebagai perumpamaan
kata-kata penuh arti diberlakukan bagi konteks
dunia saat ini: tebanglah hutan (nafsu) sampai
habis, jangan tinggalkan satu pohon pun. Dari hutan
itulah tumbuh rasa takut (Dhp.283).
Dalam Vinaya Buddha menetapkan bahwa
seorang bhikkhu yang menyebabkan kerusakan
pada tanaman dinyatakan bersalah. Ajaran Buddha mengenai sikap menghormati dan tanpa
kekerasan, tidak hanya berlaku terhadap semua
makhluk hidup, tetapi juga terhadap tumbuhtumbuhan. Buddha Gotama dan siswa-Nya tidak
merusak biji-bijian yang masih dapat tumbuh dan
tidak akan merusak tumbuh-tumbuhan. (D.I.5).
Di musim hujan (Vassa) para bhikkhu melakukan
“rakatan dan tidak melakukan perjalanan
menghindari kemungkinan dan menginjak tunas-
64 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
tunas tanaman atau mengganggu kehidupan
“binatang-binatang kecil yang muncul setelah hujan
(Vin.I.137).
Peradaban menghendaki hidup ini
memanfaatkan sumber alam yang tersedia. Namun
karena hidup manusia bukan benalu, maka ia
seharusnya berusaha memulihkan sumber alam
yang telah dipakainya.Orang yang pandai dan
bijaksana akan berusaha meningkatkan
kesejahteraan atau mencapai sukses yang sebesarbesamya hanya dengan menggunakan sumber daya
yang mi­nimal, seperti ia meniupkan napasnya
membuat api kecil menjadi besar(Ja.I.123).
Buddhisme menekankan manusia untuk hidup
selaras dengan lingkungan, yang berarti bahwa
manusia adalah bagian dari alam dan hidup di alam.
Oleh karena itu manusia ditekankan untuk tidak
merusak alam dan berusaha menjaga kelestarian
alam.2
Paradigma Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Menurut Ajaran Agama
Konghucu
Manusia wajib menggunakan kecerdasaanya
itu untuk menempuh jalan hidupnya sendiri dan
dapat menyelamatkan kelestarian kehidupan di
dunia. Hubungan antara manusia bergantung
pada berkembangnya sifat cinta kasih, kebajikan
atau ren ( ), dan sifat keadilan atau yi ( ) pada
anggota masyarakat. Dua sifat ini telah diberikan
Tuhan kepada manusia, tetapi manusia harus
belajar untuk memperkuat dan melaksanakannya.
Apabila sekelompok manusia telah berkembang
sifat kebajikan dan keadilan, mereka dapat bekerja
sama dan hidup rukun. Apabila sifat kebajikan dan
keadilan ini belum berkembang dalam masyarakat,
tidak ada kerukunan dan kedamaian dalam
masyarakat itu.
Manusia hidup dalam alam, mendapat makan
dari alam, hubungan manusia dengan alam
bergantung pada pemahaman manusia terhadap
gejala alam dan hukum alam, yang disebut
pengetahuan alam. Manusia yang mempunyai
pengetahuan alam yang banyak dan mendalam
dapat memanfaatkan sumber daya alam untuk
mencukupi kebutuhan hidupnya. Masyarakat yang
kurang pengetahuan alamnya hanya dapat
memanfaatkan sedikit saja sumber daya alam.
San Cai, atau Tiga Entitas Utama merupakan
ontologi dari filsafat dan agama Khonghucu, bukan
1
bersifat fisik, tetapi bersifat abstrak. Ajaran
Khonghucu mengakui bahwa Tuhan sebagai asalusul alam semesta dan juga mengendalikan sistem
pergerakan alam. Manusia mempunyai kehendak
bebas untuk menentukan pilihan dan juga
mempunyai tanggungjawab atas perbuatannya
sendiri. Dengan ontologi San Cai itu, agama
Khonghucu menekankan pada tanggungjawab
manusia kepada Tuhan, Sang Pencipta, tanggung
jawab kepada sesama manusia, dan kepada bumi
tempat hidupnya. Konsep ini dikenal dengan
ungkapan Tian Ren He Yi (
)
atau Tuhan dan Manusia bersatu.
Guna menjelaskan pengertian San Cai, lebih
mudah dimulai dari Di Dao atau hubungan manusia
dengan alam, dilanjutkan hubungan manusia
dengan manusia atau Ren Dao, dan hubungan
manusia dengan Tuhan atau Tian Dao.
Di Dao (Hubungan manusia dengan alam)
Alam dan bumi adalah tempat hidup manusia
dan makhluk hidup lain. Tubuh manusia berasal
dari unsur-unsur kimiawi yang berasal dari bumi.
Dengan perkataan lain, tubuh manusia berasal dari
bumi dan mendapatkan makanan dari bumi,
sedangkan roh manusia diperoleh dari Tuhan.
Manusia mempunyai roh dan raga, oleh karena
itu, manusia wajib menjaga kelestarian alam agar
sumber kehidupannya tidak habis.
Dalam kepercayaan orang Tionghua zaman
purba, bumi dijaga oleh Malaikat Bumi, disebut
Fu De Zheng Shen (
), artinya dewa
yang memberi rejeki dan menjaga perilaku
kebajikan manusia. Pemujaan terhadap Malaikat
Bumi ini tetap dilestarikan oleh agama Khonghucu.
Mitos Malaikat Bumi ini menyangkut dua
kepentingan yaitu menjaga kelestarian alam dan
menjaga perilaku manusia. Sampai sekarang
banyak kelenteng dibuat oleh masyarakat penganut
agama Khonghucu untuk menghormati Malaikat
Bumi.
Agama Khonghucu mengajarkan agar
masyarakat mempelajari sifat-sifat benda yang
berada di bumi, dan dapat memanfaatkannya untuk
meringankan beban hidup. Agama Khonghucu
mengajarkan sebagai berikut “Karena manusia
sudah dapat membuat perahu maka tidak perlu
menyeberangi sungai dengan berenang. Orang
melakukan perjalanan jauh tidak perlu berjalan kaki
) http://sukhawardhana.blogspot.com/2012/10/pengembangan-kesadaran-lingkungan.html
Sutoyo, Revolusi Paradigma Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia
karena sudah ada kereta yang ditarik kuda”.. Itu
artinya agama Khonghucu sangat menghargai
teknologi karena dapat meringankan pekerjaan
manusia. Teknologi berkaitan dengan ilmu
pengetahuan alam, yaitu memanfaatkan sumber
daya alam, air, angin, dan hasil tambang untuik
meringankan hidup manusia.
Dalam usaha menyejahterakan hidup
manusia, pemanfaatan sumber daya alam adalah
usaha yang sangat penting. Menurut van Peursen
(1976), teknologi adalah memperbesar fungsi
anggota badan manusia, misalnya, kapak
membantu fungsi tangan. Kereta membantu
fungsi kaki. Kaca mata membantu fungsi mata.
Ren Dao (Hubungan Kemanusiaan)
Hubungan antar-manusia adalah hubungan
yang sangat penting. Hubungan itu perlu dijaga
keselarasannya supaya semua bisa bekerja sama
dengan baik. Manusia dalam berinteraksi perlu
memperhatikan kedudukan dan kehormatan orang lain. Hubungan antar-manusia perlu dilandasi
kebajikan atau cinta kasih dan keadilan.
Tian Dao (Hubungan manusia dengan Tuhan)
Adanya pengakuan terhadap sifat-sifat
Tuhan membuktikan bahwa agama Khonghucu
mengakui adanya kesadaran transenden. Orang
yang beriman menyadari bahwa ketaatannya
kepada hukum Tuhan ikut menentukan posisi orang tersebut dalam kehidupan duniawi. Artinya,
orang yang beriman kepada Tuhan diyakini akan
mendapat kedudukan baik di dunia ini. Kepatuhan
dan rasa hormat kepada Tuhan akan membimbing
perilaku manusia, dan perilaku itu berpengaruh
langsung kepada nasib manusia, sebaliknya, orang yang tidak beriman perilakunya hanya
mengikuti emosi dan ambisinya.
Peran agama terhadap kehidupan manusia
amat penting. Agama tidak hanya memberikan
harapan kepada manusia, tetapi juga menyalurkan
emosi manusia yang tersumbat. Dalam hidupnya,
manusia mengalami banyak maalah yang tidak
dapat diatasi.. Apabila menghadapi masalah seperti
itu, untuk mencari jawabannya manusia dapat
masuk ke dunia yang lebih tinggi yaitu dunia
transenden, atau Tian Dao.(
). Dalam dunia
transenden semua masalah yang ruwet diberi
makna sendiri. Tuhan memiliki sifat-sifat sebagai
berikut.
1) Kekuasaan Tuhan itu mutlak, atau Tian Zhi
(
), tidak terpengaruh oleh apa pun.Tidak
2)
3)
4)
5)
6)
7)
65
ada yang dapat menggugat keputusan Tuhan.
Tuhan sebenarnya sudah berlaku adil, semua
makhluk hidup disediakan makanan, tetapi
mereka harus mengambilnya sendiri dengan
bekerja, yang malas tidak mendapat rejeki.
Tuhan Yang Maha Pencipta, atau Tian Gong
(
). Tuhan telah menciptakan alam dan
isinya, manusia sebagai makhluk paling cerdas
selayaknya dapat memelihara alam ini karena
menjadi sumber hidupnya. Kenyataanya, tidak
semua manusia dapat menjaga kelestarian
alam. Manusia yang sudah berbudaya tinggi
dan menguasai ilmu pengetahuan tentang
lingkungan hidup dapat melestarikan alam
karena mereka telah mempunyai cukup
pengetahuan tentang fungsi dan manfaat alam
dan isinya.
Tuhan memberi manusia pancaindra dan
memfungsikannya agar manusia dapat
mengenal dunia luar, dan memanfaatkan
fasilitas yang ada di alam ini untuk meringankan
hidupnya, sifat ini disebut Tian Jun (
).
Akan tetapi, manusia juga perlu pengetahuan,
perlu belajar, agar dapat memanfaatkan
pancaindra secara optimal. Manusia tidak
hanya mampu memahami benda-benda, tetapi
juga dapat menciptakan simbol dan huruf
sehingga dapat menyimpan pengalaman dan
memindahkannya kepada orang lain yang
berada di ruang dan waktu yang berbeda.
Tuhan memberi manusia organ tubuh dan
mengatur fungsinya agar manusia selalu sehat
dan bahagia, sifat itu disebut Tian Guan
(
). Manusia wajib belajar menjaga
tubuhnya sendiri agar selalu sehat. Untuk itu,
manusia perlu pengetahuan tentang kesehatan.
Tuhan memberi manusia perasaan agar dapat
membedakan antara penderitaan dan
kesenangan, sifat itu disebut Tian Qing (
).
Setiap manusia dapat merasakan penderitaan
dan kesenangan, tetapi untuk mengendalikan
diri agar tidak jatuh dalam penderitaan dan bisa
memperoleh kesenangan yang benar, perlu
belajar dalam waktu lama.
Tuhan memberi manusia makanan agar dapat
hidup dan berumur panjang, sifat itu disebut
Tian Yang (
). Namun, manusia harus
belajar memilih makanan yang menyehatkan,
bukan hanya makanan yang enak dan membuat
perut kenyang.
Tuhan memberi manusia alam semesta yang tertib
66 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
dan manusia juga harus membuat masyarakat
yang tertib. Tuhan memberikan ketertiban di alam
semesta ini, Ketertiban dari Tuhan itu disebut Tian
Zheng (
). Manusia diperintah agar
menjaga kelestarian alam, menjadikan alam ini
sebagai tempat yang aman dan nyaman, tetapi
manusia perlu belajar hidup tertib. Dalam
masyarakat yang kurang berbudaya, orangorangnya belum mampu menertibkan hidupnya
sendiri, belum mandiri, dan tidak dapat menjaga
kelestarian lingkungan alam maupun lingkungan
sosial (spocjournal, 2010).
Seluruh agama yang berkembang dan diyakini
oleh masyarakat Indonesia memiliki paradigma
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang
dituangkan dalam ajaran-ajarannya. Paradigma
tersebut seharusnya dapat menuntun para pemeluknya
untuk senantiasa menjaga dan melestarikan lingkungan,
agar kehidupan yang baik tetap dapat terjaga
kelangsungannya sepanjang masa.
SIMPULAN
Bangsa Indonesia memiliki falsafah hidup dan
sekaligus merupakan dasar Negara berupa
Pancasila. Sila pertama Pancasila menyatakan:
“Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sila ini menegaskan
bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berTuhan, yang menyatakan kepercayaan dan
ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Bangsa Indonesia percaya dan meyakini bahwa
seluruh kehidupan yang ada di alam semesta ini
adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang harus
dijaga kelestariannya.
Seluruh ajaran agama yang dianut oleh
bangsa Indonesia mengajarkan tentang perintah
untuk menjaga dan melindungi lingkungan hidup
serta memanfaatkanya dengan cara yang
bijaksana. Seluruh ajaran agama melarang adanya
perusakan lingkungan hidup.
Apabila upaya
perlindungan lingkungan dapat dilakukan
berdasarkan keyakinan atas dasar perintah Tuhan,
maka upaya ini akan dapat mencapai hasil yang
sempurna. Karena keyakinan akan menuntun
setiap orang untuk menjalankan semua perintah
dan menjahui semua yang dilarang.
Jika Arne Naes dengan Deep ecologynyatelah berhasil menjadikan gerakan perlindungan
lingkungan sebagai gaya hidup (life style), maka
tentunya jika upaya perlindungan lingkungan yang
didasarkan atas keyakinan bangsa Indonesia
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, akan dapat
memberikan hasil yang lebih efektif dari pada
sekedar gaya hidup/life style. Keyakinan tersebut
akan menjadi kekuatan moral (morall force) yang
menuntun semua stake holder (Pemerintah,
pengusaha, masyarakat) untuk mewujudkan upaya
perlindungan lingkungan dalam kehidupan seharihari, apapun halangan yang dihadapi
Daftar Rujukan
http://www.sabda.org/reformed/etika_lingkungan_hidup_dari_perspektif_teologi_kristen
http://forest4betterlife.blogspot.com/2013/07/
perspektif-agama-katolik-terhadap.html
http://ibgwiyana.wordpress.com/2012/04/05/
konsep-konsep-ajaran-agama-hindu-dalampengelolaan-lingkungan-hidup-wana-kertih2/
http://sukhawardhana.blogspot.com/2012/10/
pengembangan-kesadaran-lingkungan.html
http://www.spocjournal.com/filsafat/193-san-caitiga-entitas-utama-ontologi-dari-filsafatdan-agama-khonghucu.html
http://forest4betterlife.blogspot.com/2013/07/
perspektif-agama-katolik-terhadap.html
http://sukhawardhana.blogspot.com/2012/10/
pengembangan-kesadaran-lingkungan.html
PENGEMBANGAN ALTERNASI PEMBELAJARAN PPKn
MELALUI MODUL BERBASIS KECAKAPAN SOSIAL
(SOCIAL SKILLS)
Zulis Mariastutik
Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No 5 Malang
email:[email protected]
Abstract: In order to improve the quality and increase the understanding of material behavior as the
impact of learning on the Civic. More action to obtaining maximum result that is innovative teaching
materials. Efforts to develop teaching materials made using this procedure Borg and Gall Research
and development. Product development is a substance produced by alternations Civics learning
modules based social skills (social skills), the material used is a matter of social norms , the character
that was instilled religious values , living with others, honesty, discipline, and responsibility. Results
of the study of social skills-based module products in design validation matter experts showed 84.37
% and 97.91 % of the media show, both validators of creative and media experts show valid with the
revised of product design. After the product have been revision, Product quality testing small
groups of students, 89.58 % of the test group 89.84 % and a total of 89.7%. In interest of student
learning trial on small groups of students 87 %, the big group total 89.4 % and all total 88.8%. Test the
quality of the product is also done on the 97.5 % of the teacher. Based on the advice given by the
material, the material produced using the curriculum in 2013.
Keywords:
Abstrak: Peningkatan kualitas pemahaman materi dan perbaikan perilaku sebagai dampak
pembelajaran pada mata pelajaran PPKn, diperlukan tindakan untuk memperoleh hasil yang maksimal
dengan cara inovasi bahan ajar. Salah satu upaya dalam mengembangkan bahan ajar dapat dilakukan
dengan menggunakan prosedur penelitian Borg and Gall Research and development. Produk
pengembangan yang dihasilkan adalah bahan alternasi pembelajaran PPKn melalui modul berbasis
kecakapan sosial (social skills), materi yang digunakan adalah materi norma sosial, nilai karakter
yang ditanamkan adalah nilai religious, hidup bersama orang lain, jujur, disiplin, dan tanggung
jawab. Hasil penelitian produk modul berbasis kecakapan sosial pada validasi desain ahli materi
menunjukkan 84,37% dan ahli media menunjukkan 97,91% , kedua validator dari ahli materi dan media
menujukkan desain produk valid dengan revisi. Setelah itu dilakukan revisi produk. Pada kualitas
produk uji coba kelompok kecil pada siswa 89,58%, uji coba kelompok besar 89,84% dan total
keseluruhan 89,7%. Pada minat belajar siswa uji coba kelompok kecil pada siswa 87%, kelompok
besar 89,4% dan total keseluruhan 88,8%. Uji kualitas produk juga dilakukan pada guru yaitu 97,5%.
Berdasarkan saran yang diberikan oleh ahli materi, bahan ajar yang dihasilkan menggunakan kurikulum
2013.
Kata Kunci: pembelajaran PPkn, modul berbasis kecakapan sosial
Sebagai upaya meningkatkan kualitas manusia,
pendidikan menempatkan pilihan utama dan faktor
dominan untuk mewujudkannya. Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan mengacu pada
pasal 1 UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa
“Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang
berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan
nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan
perubahan zaman”. Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan mengembangkan pola-pola
interaksi dengan didasarkan perkembangan zaman
dan wawasan yang luas serta mendalam tanpa
67
68 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
meninggalkan nilai-nilai perilaku yang telah ada.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
(PPKn) mempunyai tujuan dalam membekali
siswa diantaranya, (1) Dapat memahami dan
mampu melaksanakan hak dan kewajiban sacara
santun, jujur, dan demokratis serta ikhlas sebagai
warganegara terdidik dalam kehidupannya selaku
warganegara Republik Indonesia yang
bertanggung jawab; (2) Mengetahui dan paham
tentang berbagai masalah dasar kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta
mampu mengatasi dengan menerapkan pemikiran
yang berlandaskan Pancasila, Wawasan
Nusantara dan Ketahanan Nasional secara kritis
dan bertanggung jawab; (3) Memupuk sikap dan
perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kejuangan
serta patriotisme yang cinta tanah air, rela
berkorban bagi nusa dan bangsa
PPKn merupakan mata pelajaran yang
mengajarkan bagaimana bentuk perilaku yang baik
untuk diterapkan oleh siswa di masyarakat.
Sehingga pemahaman tentang materi menjadi
faktor keberhasilan utama pembelajaran PPKn,
sedangkan lingkungan masyarakat menjadi tempat
ukuran keberhasilan pembelajaran PPKn.
Dalam proses pemahaman mata pelajaran
PPKn, siswa sering mengalami kebingungan dalam
pemahaman materi norma pelajaran PPKn.
Kerasnya kehidupan yang siswa alami, serta
kurang tegasnya aturan-aturan masyarakat dalam
pergaulan membuat siswa mengalami
kebingungan, sehingga mereka membuat suatu
solusi perilaku sendiri yang dianggap itu benar.
Salah satu upaya dalam meningkatkan
pemahaman materi pada pelajaran PPKn yaitu
dengan adanya bahan ajar yang dapat mendukung
ketercapaian pembelajaran PPKn. Disamping ada
buku bahan ajar inti diperlukan pula alternasi
inovasi bahan ajar. Alternasi pembelajaran yang
dihasilkan adalah modul berbasis kecakapan sosial
(social skills).
Bahan ajar ini diharapkan dapat (1)
meningkatkan pemahaman siswa terhadap hakikat
norma, macam-macam norma, perilaku yang
sesuai norma, (2) menghayati dan mengaplikasi
perilaku yang sesuai dengan norma, (3)
berkembang secara positif dengan karakter
masyarakat Indonesia, (4) mampu berinteraksi
dengan baik dan bersikap positif terhadap
perubahan yang terjadi pada masyarakat, (5)
mengembangakan nilai-nilai perilaku sesuai norma
sosial kepada masyarakat.
Alternasi bahan ajar yang diajar mengenai
materi norma sosial yang tumbuh dan berkembang
di masyarakat secara universal. Materi norma
menjadi sorotan dalam penerapannya di
masyarakat. Guru PPKn sebagai agen perubahan
dalam sektor pendidikan dan penanaman nilai
secara universal menjadikan guru memiliki
tuntutan untuk melaksanakan tugas mengajarkan
norma kepada siswa. Alternasi bahan ajar juga
perlu digunakan oleh guru untuk membantu dan
mempermudah dalam melaksanakan dan
mensosialisasikan norma sosial kepada siswa.
Karena pada dasarnya bahan ajar merupakan
komponen penting dalam pembelajaran.
Penguatan tentang norma sosial harus lebih
ditekankan, walaupun materi norma telah ada dan
diterapkan pada pembelajaran di sekolah. Norma
dapat pula dikembangkan dan dikuatkan pada
siswa. Penguatan ini dilakukan untuk
mengembangkan sikap dan perilaku yang sesuai
dengan norma sosial yang berlaku dimasyarakat.
dengan menuntut siswa untuk cakap dalam
berinteraksi dengan masyarakat yang heterogen
atau homogen pada masa sekarang dan masa
depan.
Disisi lain bahan ajar berbasis kecakapan
sosial (sosial skills) ini mencakup kecakapan
komunikasi dengan empati dan kecakapan bekerja
sama yang dapat membantu pembentukkan
karakter pada siswa.
Bahan ajar ini menggunakan konsep
kurikulum 2013 dengan proses pembelajaran
langsung dan tidak langsung. Proses pembelajaran
tidak langsung, yang diuraikan oleh kemendikbud
(2013:16) merupakan proses pendidikan yang
terjadi selama proses pembelajaran langsung tetapi
tidak dirancang dalam kegiatan khusus, berkenaan
dengan pengembangan nilai dan sikap. Proses
pembelajaran tidak langsung adalah proses yang
dilakukan selama proses pembelajaran langsung
dan tidak bersentuhan langsung dengan sumber
belajar, akan tetapi lebih bersifat mengembangkan
nilai dan sikap.
Dalam proses pembelajaran langsung sesuai
dengan Kompetensi Inti 1). Menghargai dan
menghayati ajaran agama yang dianutnya, 2).
Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin,
tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong),
santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam
jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
Kompetnsi Dasar yang digunakan 1.1 Menghargai
Mariastutik, Perkembangan Alternasi Pembelajaran PPKn melaui Modul Berbasis Kecakapan Sosial
perilaku beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan
YME dan berakhlak mulia dalam kehidupan di
sekolah dan masyarakat. 2.2 Menunjukkan
perilaku sesuai norma-norma dalam berinteraksi
dengan kelompok sebaya dan masyarakat.
Dalam proses pembelajaran tidak langsung
Kompetensi Inti yang digunakan sebagai berikut
3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual,
dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya
tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya,
terkait fenomena dan kejadian tampak mata. 4.
Mencoba, mengolah, dan menyajikan dalam ranah
konkret (menggunakan, menguraikan, merangkai,
memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak
(menulis, membaca, menghitung, menggambar,
dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di
sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut
pandang/teori. Kompetensi Inti yang digunakan
sebagai berikut 3.4 Memahami norma-norma yang
berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara. 4.4 Menyajikan hasil pengamatan
tentang norma-norma yang berlaku dalam
kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Norma merupakan materi yang membahas
tentang aturan-aturan yang berlaku dimasyarakat.
Norma dapat mengakibatkan seseorang (individu)
atau masyarakat patuh terhadap aturan,
mewujudkan masyarakat yang selaras serasi dan
seimbang. Norma menjadi materi pembelajaran
yang bermanfaat bagi siswa dalam pembentukan
pribadi berperilaku baik di lingkungan keluarga,
sekolah, dan masyarakat. Hal ini disesuaikan
dengan perkembangan zaman yang semakin pesat
dengan perubahan masyarakat yang terjadi secara
nyata. Perubahan dimasyarakat haruslah sesuai
dan tidak melanggar peraturan-peraturan yang
berlaku dimasyarakat.
Norma sosial
adalah norma yang
berkembang dalam suatu kehidupan sosial
masyarakat tertentu. Penguatan tentang norma
sosial harus lebih ditekankan, walaupun materi
norma telah ada dan diterapkan pada pembelajaran
di sekolah. Penguatan ini dilakukan untuk
mengembangkan sikap dan perilaku yang sesuai
dengan norma sosial yang berlaku dimasyarakat
yang heterogen dan homogen. Pada teori
pembelajaran berbasis sosial (social learning)
menurut Bandura dalam (Saefullah, 2012:216)
menyatakan bahwa.
“Prinsip dasar belajar pada teori ini
adalah yang dipelajari individu terutama
69
dalam belajar sosial dan moral terjadi
melalui peniruan (imitation) dan
penyajian contoh perilaku (modeling).
Serta pentingnya conditioning dengan
melalui pemberian reward dan punishment, seseorang individu akan berpikir
dan memutuskan perilaku sosial yang
perlu dilakukan”.
Alternasi pembelajaran mata pelajaran
PPKn melalui Modul berbasis kecakapan social,
secara garis besar mempelajari pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa
dalam rangka mencapai standar kompetensi yang
telah ditentukan berdasarkan kurikulum. Hal yang
perlu diperhatikan dalam modul haruslah
disesuaikan dengan perkembangan zaman, ilmu
pengetahuan, dan teknologi, dengan tidak
mengesampingkan ketentuan-ketentuan bahan
ajar yang disesuaikan dengan kebutuhan (siswa
dan guru).
Dari berbagai penjelasan tersebut. Bahan
ajar yang dihasilkan adalah modul berbasis
kecakapan sosial sebagai alternasi pembelajaran
PPKn. Modul yang dirancang dengan
memperhatikan kriteria modul sebagai bahan
alternasi pembelajaran PPKn. Dengan asumsi
bahwa modul itu tidak hanya bisa sebagai bahan
ajar pendukung bahkan juga bisa menjadi bahan
ajar utama terutama materi norma.
Modul yang dirancang pada mata pelajaran
PPKn memuat materi dengan informasi tentang
tata cara menjadi warga negara yang baik, menjadi
individu yang bermoral, selain itu mendorong siswa
untuk menjadi individu yang mudah bersosialisasi,
mencintai tanah air, menjaga dan mengembangkan
budaya nusantara.
METODE
Model pengembangan modul berbasis
kecakapan sosial (sosial skills) dengan materi
norma sosial sebagai bahan alternasi pelajaran
PPKn dalam mengoptimalkan potensi siswa SMP
menggunakan model pengembangan prosedural.
Pengembangan prosedural adalah model yang
bersifat deskriptif yaitu menggariskan langkahlangkah yang harus diikuti untuk menghasilkan
produk.
Model pengembangan prosedural yang
digunakan dalam penelitian ini mengikuti metode
penelitian dan pengembangan (Research and
70 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
Development/R&D). Metode Penelitian dan
pengembangan adalah metode yang digunakan
untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji
keefektifan produk tersebut. Dalam konteks
produk yang dihasilkan adalah modul sebagai
bahan alternasi pembelajaran. Adapun langkahlangkah penelitian pengembangan yang
digunakan sebagai berikut, 1) Potensi dan
masalah, ini dengan melihat bentuk potensi yang
ada dan masalah yang sedang terjadi. (dilakukan
oleh peneliti), 2) Melakukan pengumpulan data
dari berbagai informasi, analisa data dai potensi
dan masalah, analisa dan kajian pustaka
(dilakukan oleh peneliti), 3) desain produk ini
dilakukan untuk membuat rancangan produk awal
dengan penyusunan materi yang sesuai dengan
potensi, masalah dan analisa data yang telah
ditemukan (rancangan dibuat oleh peneliti), 4)
validasi desain ini dilakukan oleh 2 validator yang
terdiri dari 1 validator materi dan 1 validator
media, 5) revisi desain dilakukan setelah
mendapat validator dari ahli materi dan media.
Hal ini dilakukan untuk mendapatkan produk
yang sesuai, 6) uji coba produk dilakukan pada
kelompok kecil siswa (10 siswa), 7) revisi produk,
setelah uji coba produk pada kelompok kecil yang
mendapatkan sampel produk dan untuk mengukur
tingkat kualitas dari produk, 8) uji coba
pemakaian dilakukan untuk mendapatkan
penilaian akhir dari uji coba produk, dengan
malibatkan kelompok besar siswa kelas VII , 9)
revisi produk dilakukan setalah uji coba produk
yang terakhir pada kelompok besar siswa kelas
VII, 10) produk hasil, produk terakhir yang akan
digunakan untuk pembelajaran dengan melalui
berbagai tahapan.
Analisis data yang digunakan adalah dengan
teknik presentase. Rumus yang digunakan adalah
Keterangan:
P
= Persen skor
= Jumlah jawaban tiap responden dari tiap
item pertanyaan
= Total skor jawaban jika seluruh responden
menjawab benar
Tabel I: Kriteria Validitas Analisis Persentase
Persentase
(dalam persen)
Kriteria Validitas
85-100
70-84
55-69
50-54
0-49
Sangat valid, tidak perlu revisi
Valid, tidak perlu revisi
Cukup valis, tidak perlu revisi
Kurang valid, perlu revisi
Tidak valid, revisi total
Kriteria validitas analisis presentase
mengadopsi pada bentuk penilaian skala penilaian.
Hal ini dilakukan untuk mengukur kevalidan
produk yang akan dikembangkan. Data yang
diperoleh dari angket akan di ukur dengan kriteria
validitas analisis diatas. Pada analisis data angket
ahli materi berkaitan dengan kualitas modul
berbasis kecakapan sosial memperoleh nilai
84,37%. Analisis data angket ahli media berkaitan
dengan kualitas modul berbasis kecakapan sosial
memperoleh nilai 97,91%. Analisis data angket
siswa berkaitan dengan kualitas modul berbasis
kecakapan sosial pada kelompok kecil
memperoleh nilai 89,58% dan kelompok besar
memperoleh nilai 89,84% dengan nilai total 89,7%.
Analisis data angket siswa berkaitan minat belajar
PPKn dengan menggunakan modul berbasis
kecakapan sosial pada kelompok kecil
memperoleh nilai 87% dan kelompok besar
memperoleh nilai 89,4% dengan nilai total 88,8%.
Kriteria kualitas isi modul berbasis kecakapan
sosial oleh ahli materi dapat diuraikan sebagai
berikut: (1) Bahasa yang digunakan dalam
mengidentifikasi materi norma sosial mudah
dipahami, (2) Bahasa yang digunakan dalam
menjelaskan, menguraikan perilaku sesuai norma
mudah dipahami, (3) Gambar dalam modul
berbasis kecakapan sosial jelas dan mudah
dipahami, (4) Kesesuaian gambar dengan
penjelasan materi, (5) Penjelasan pengertian materi
norma sosial mudah dipahami, (6) Contoh-contoh
kasus pelanggaran norma digambarkan dengan
jelas, (7) Akibat pelanggaran norma digambarkan
dengan jelas, (8) Penjelasan perilaku sesuai norma
sosial digambarkan dengan jelas, (9) Penggambaran contoh perilaku sesuai norma sosial, (10)
Video sesuai dengan penggambaran contoh
perilaku norma sosial, (11) Bentuk evaluasi sesuai
dengan materi norma sosial, (12) Urutan materi
yang digambarkan pada modul berbasis kecakapan
sosial mudah diikuti, (13) Materi dalam modul
Mariastutik, Perkembangan Alternasi Pembelajaran PPKn melaui Modul Berbasis Kecakapan Sosial
berbasis kecakapan sosial sesuai dengan kurikulum
yang berlaku, (14) Materi dalam modul berbasis
kecakapan sosial sesuai dengan kompetensi inti,
(15) Materi dalam modul berbasis kecakapan
sosial sesuai dengan kompetensi dasar, (16) Materi
dalam modul berbasis kecakapan sosial sesuai
dengan semua indikator yang ditetapkan.
Kriteria penilaian yang dilakukan oleh ahli
media terbagi menjadi 3 bagian, (1) Penilaian pada
tampilan cover pada butir ini terbagi menjadi empat
poin dapat diuraikan sebagai berikut: (a)
Kesesuaian gambar cover dengan konsep, (b)
Kelengkapan identitas pengembangan, (c)
Kelengkapan informasi tentang materi, (d)
Kemenarikan warna pada cover; (2) Kualitas
tampilan modul berbasis kecakapan sosial (social
skills). Pada point ini terbagi menjadi sebelas point,
antara lain: (a) Penyusunan gambar cuku jelas,
(b) Pengaturan gambar satu dengan gambar yang
lain yang rapi dan tidak tumpang tindih, (c) Gambar
sesuai materi, (d) Gambar pada modul dapat
membuat siswa tertarik untuk membaca modul
berulang-ulang, (e) Frame modul tersusun secara
rapi, (f) Bentuk ukuran modul memberikan
kemudahan dalam membaca, (g) Keterbacaan
huruf atau kalimat dalam teks, (h) Karakteristik
kata mutiara menarik, (i) Tampilan berwarna
menarik, (j) Video sebagai bentuk gambaran
contoh dapat menyampaikan pesan materi, (k)
Tampilan video menarik.
Penilaian kesesuaian isi dengan materi. Pada
point ini terbagi menjadi sembilan bagian, antara
lain: (1) Cover sesuai dengan materi, (2) Petunjuk
penggunaan modul berbasis kecakapan sosial
disajikan secara jelas, (3) Bahasa yang digunakan
mudah dipahami, (4) Kesesuaian video dengan
materi norma, (5) Kesesuaian modul berbasis
kecakapan sosial dengan kompetensi inti, (6)
Kesesuaian modul berbasis kecakapan sosial
dengan kompetensi dasar, (7) Kesesuaian modul
berbasis kecakapan sosial dengan indikator, (8)
Materi yang disampaikan dapat dijangkau oleh
siswa, (9) Materi norma sosial digambarkan
secara rinci dan jelas dalam modul berbasis
kecakapan sosial.
Kualitas modul berbasis kecakapan sosial
pada kelompok kecil dan kelompok besar, yaitu
(1) kualitas modul berbasis kecakapan sosial, (a)
Bahasa yang digunakan dalam modul berbasis
kecakapan sosial untuk menjelaskan materi norma
sosial, (b) Gambar dalam modul berbasis
kecakapan sosial jelas dan dapat dipahami dengan
71
baik, (c) Gambaran macam-macam norma sosial
disampaikan dengan jelas, (d) Contoh pelanggaran
norma sosial digambarkan dengan jelas, (e)
Penjelasan tentang perilaku sesuai norma sosial
disampaikan dengan jelas, (f) Contoh perilaku
dsampaikan dengan jelas, (g) Gambar pada modul
berbasis kecakapan sosial membuat saya tertarik
membaca modul, (h) Gambar dengan materi tidak
tumpang tindih, (i) Gambar dengan gambar yang
lain tidak tumpang tindih, (j) Urutan materi yang
digambarkan pada modul berbasis kecakapan
sosial mudah diikuti, (k) Tampilan modul berbasis
kecakapan sosial tersusun rapi, (l) Cover modul
berbasis kecakapan sosial menarik, (m) Video
sebagai contoh norma, ditampilkan dengan jelas,
(n) Tampilan video memudahkan pemahaman
materi “Norma Sosial”.
Penilaian minat belajar PPKn dengan
menggunakan modul berbasis kecakapan sosial,
yang dilakukan pada uji coba kelompok kecil dan
kelompok besar antara lain (a) Saya tertarik
mengikuti pembelajaran PPKn dengan media
modul berbasis kecakapan sosial, (b) Penyajian
modul berbasis kecakapan sosial dalam bentuk
yang kreatif dan inovatif menumbuhkan
ketertarikan saya pada pelajaran PPKn, terutama
materi “Norma Sosial” mudah dipahami, (c) Saya
lebih senang belajar PPKn dengan menggunakan
modul berbasis kecakapan sosial dari pada hanya
dengan buku teks/modul inti saja, (d) Penjelasan
materi “Norma Sosial” melalui modul berbasis
kecakapan sosial lebih menyenangkan, (e)
Penjelasan materi “Norma Sosial” melalui modul
berbasis kecakapan sosial lebih luas materinya,
(f) Pembelajaran PPKn dengan menggunakan
modul berbasis kecakapan sosial membuat saya
lebih bersemangat untuk mempelajari PPKn lebih
dalam, (g) Contoh norma dalam bentuk video
membuat saya lebih bersemangat memahami
PPKn khususnya materi “Norma Sosial”, (h) Saya
tidak bosan belajar PPKn dengan menggunakan
modul berbasis kecakapan sosial pada materi
“Norma Sosial”, (i) Pembelajaran PPKn dengan
menggunakan modul berbasis kecakapan sosial
membuat saya lebih memperhatikan pelajaran
PPKn di kelas, (j) Saya bersungguh-sungguh
memperhatikan pelajaran PPKn yang disampaikan
pada modul berbasis kecakapan sosial, (k)
Pembelajaran yang disampaikan dengan
menggunakan modul berbasis kecakapan sosial
membuat saya lebih mudah untuk memahami
materi yang disampaikan.
72 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisa yang dilakukan berdasarkan kriteria
validitas diketahui bahwa produk yang diuji pada
ahli materi, ahli media, guru, dan siswa
menyatakan bahwa produk dinyatakan valid.
Dinyatakan valid dengan alasan (1) Nilai yang
diperoleh pada uji validasi materi 84,37%, (2)
media memperoleh nilai 97,91%, (3) uji coba
kualitas pada kelompok kecil 89,58%, (4) uji coba
kualitas pada kelompok besar 89,84%, (5)
mengukur minat belajar dengan produk yang
dihasilkan pada kelompok kecil 87%, (6)
mengukur minat belajar dengan produk yang
dihasilkan pada kelompok besar 89,4%.
Berdasarkan pada tabel 1 kriteria penilaian
valid dari produk, apabila nilai pada rentangan 84100 dapat dinyatakan bahwa produk yang
dihasilkan termasuk kriteria sangat valid. Sisi lain
yaitu dapat diproduksi secara masal dan dapat
digunakan dalam pembelajaran PPKn.
Produk yang dihasilkan adalah berupa modul
berbasis kecakapan sosial pada materi norma sosial
dengan spesifikasi sebagai berikut :
1. Materi tentang norma sosial, gambar contoh
norma sosial, bentuk evaluasi, dan CD yang
berisi video yang mencerminkan perilaku
norma sosial yang ringan dan nyata.
2. Modul berbasis kecakapan sosial memiliki
komponen : a.Kompetensi Inti, b. Kompetensi
dasar, c. Materi, d. Indikator, e.Latihan soal, f.
Gambar animasi maupun gambar faktual, g.
Video.
Modul pembelajaran bersifat menarik
menyerupai buku cerita atau komik yang atraktif.
Modul pembelajaran dapat digunakan oleh siswa
untuk alternatif belajar mandiri, sedangkan bagi
guru dapat digunakan sebagai alternatif atau pilihan
lain sebagai bahan ajar.
Ahli media dan materi tidak hanya mengisi
angket penilaian produk, saran yang diberikan oleh
ahli media sebagai berikut, secara umum modul
memperoleh nilai valid. Perlu dilakukan inovasi
pasca cetak (penjilidan, cetak cover, wadah kid)
dan materi cermati apa LKS sudah sesuai dengan
KD pada kurikulum 2013 yang berkaitan dengan
norma. Berdasarkan saran yang diberikan oleh ahli
materi dan media dilakukan perbaikan media,
menurut ahli media menyesuaikan LKS dengan
KD pada kurikulum 2013 yang berkaitan dengan
norma.
Hasil pengembangan modul berbasis
kecakapan sosial (Social skills) yang
dikembangkan dalam bentuk buku dilengkapi CD
yang berisi video contoh perilaku. Dalam
penggunaannya modul berbasis kecakapan sosial
ini tidak jauh beda dengan sumber belajar utama
atau buku pembelajaran yang berisi materi norma.
Namun ada sedikit pembeda, hal ini dikarenakan
produk yang dihasilkan adalah modul berbasis
kecakapan sosial sebagai alternasi atau pilihan lain
selain pilihan utama. Tentunya materi yang
dikembangkan mendalam, meluas dan mudah
menyesuaikan dengan karakter individu (siswa)
dan proses pembelajaran.
Ada beberapa hal yang menjadi dasar
pertimbangan pembuatan modul berbasis
kecakapan sosial. Fakta kondisi masyarakat
dengan segudang persolan dan menjadi
penghambat pembentukan norma sosial. Fakta
tersebut
memotivasi
pengembang
mengembangkan kondisi yang baik yang tertuang
dalam modul berbasis kecakapan sosial.
Pertimbangan berdasar pada kurikulum 2013
agar modul dapat diterapkan pada kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang
membangun nilai dan sikap individu. Maka
kurikulum 2013 dianggap relevan dengan karakter
yang akan dibangun dalam pembelajaran.
Karakter modul harus bisa menyesuaikan
karakter siswa dan kemampuan guru. Apabila
modul dapat disesuaikan dengan karakter siswa,
diharapkan mampu menyampaikan informasi
materi kepada siswa. kemampuan menjadi dasar
pertimbangan pembuatan modul. Materi norma
dan bahasa yang digunakan harus mampu
membantu guru dalam pemahaman konsep materi
dalam modul.
Kondisi kelas dan letak sekolah yang
merupakan kondisi dengan penuh konflik
masyarakat. Modul yang dihasilkan diharapkan
mampu menjadi modul yang dapat menyesuaikan
dan memberikan penerangan konsep tentang
bermasyarakat yang baik dengan memahami
norma yang berlaku dimasyarakat.
Pengembangan modul berbasis kecakapan
sosial diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai
moral yang baik dalam pembelajaran dan kehidupan
di masyarakat. Mampu merubah pola pikir dan
kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat
sekitar lingkungan sekolah SMP Negeri 2 Sumobito.
Modul ini juga diharapkan mampu menjadi bahan
ajar di lingkungan pendidikan lain.
Mariastutik, Perkembangan Alternasi Pembelajaran PPKn melaui Modul Berbasis Kecakapan Sosial
Modul berbasis kecakapan sosial ini memiliki
misi dalam pendidikan. Misi tersebut adalah
menjadikan individu yang memiliki nilai dan sikap
yang baik. Membantu siswa hidup mandiri.
Memberikan kemampuan untuk menyesuaikan diri
pada lingkungan masyarakat homogen atau
heterogen. Memudahkan individu diterima
dilingkungan manapun. Menjadikan individu
memiliki jiwa kepemimpinan, tanggung jawab,
disiplin, santun, dan sportif.
Pengembangan produk modul berbasis
kecakapan sosial yang dihasilkan diuraikan dalam
poin berikut. (a) Modul berbasis kecakapan sosial,
modul berbasis kecakapan sosial yang digunakan
oleh siswa dengan ciri utama lengkap dan mandiri
mendorong pemahaman kesadaran diri, percaya diri,
komunikasi, tenggang rasa & kepedulian, hubungan
antar personal, pemahaman dan pemecahan
masalah, menemukan& mengembangkan kebiasaan
positif, kemandirian, kepemimpinan terhadap
lingkungan sosial (Keluarga, Sekolah, Masyarakat).
Modul memiliki karakter sebagai berikut (1).
Self Intruction yaitu siswa mampu membelajarkan
diri sendiri, tidak tergantung pada pihak/media lain,
(2). Self Contained yaitu seluruh materi
pembelajaran dari suatu unit kompetisi atau sub
kompetensi yang dipelajari terdapat dalam salah satu
modul sacara utuh, (3). Stand Alone yaitu modul
yang dikembangkan tidak tergantung pada media lain
atau tidak harus digunakan bersama media lain, (4).
Adaptive yaitu modul hendknya memiliki daya adaptif
yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan
teknologi, (5). User Friendly yaitu modul hendaknya
bersahabat dengan pemakainya.
Selain itu modul berbasis kecakapan sosial
dibuat untuk dijadikan pembelajaran yang mandiri,
mudah digunakan, serta merangsang siswa untuk
inovatif, kreatif dan berfikir mendalam serta
mampu memecahkan masalah dalam menghadapi
masalah atau menyesuaikan diri dengan
lingkungan yang heterogen dan homogen.
Siswa dikatakan berhasil dalam pendidikan
apabila siswa dapat menempatkan diri sendiri
terhadap orang lain. Penilaian masyarakat menjadi
tolak ukur penilaian terhadap siswa dan sekolah
sebagai lingkungan pendidikan yang berprestasi.
Maka dari itu kebutuhan pemahaman mengenai
lingkungan sosial sangatlah penting untuk siswa
dan lingkungan pendidikan.
Spesifik produk yang dihasilkan setelah
melalui proses validasidari validator, produk yang
dihasilkan adalah modul berbasis kecakapan sosial
73
sebagai alternasi pembelajaran PPKn. Modul
berbasis kecakapan sosial merupakan bahan ajar
yang dikombinasikan dan menunjukan kecakapan
sosial. Modul yang dihasilkan diharapkan mampu
membangun kecakapan dalam berinteraksi,
menyesuaikan diri, maupun mengendalikan diri
dalam lingkungan sosial. Jika setiap siswa bisa
melakukan hal tersebut, maka tugas guru PPKn
telah terpenuhi dengan baik untuk mambangun dan
mendidik moral anak bangsa.
Modul yang dihasilkan dapat menjadi
alternatif bahan pembelajaran PPKn, artinya modul
ini bisa menjadi bahan ajar utama dalam
pembelajaran, maupun bahan ajar pendamping
dalam proses pembelajaran. Modul didesain
fleksibel, yang mampu menyesuaikan dengan
metode pembelajaran yang beragam, kondisi siswa
dan kemampuan guru. Berikut uraian materi yang
digunakan pada modul berbasis kecakapan sosial.
Banyak keuntungan jika setiap individu dapat
menjadi solusi setiap masalah yang dihadapinya.
Konflik sosial dapat ditekan, kenakalan remaja
dapat ditekan, serta dapat memunculkan generasi
bangsa yang memiliki tanggung jawab, disiplin, dan
mampu bersosialisasi dengan orang lain diluar
dirinya dan keluarga.
Dalam modul spesifikasi produk yang dihasilkan
meliputi komponen (1) Materi norma yang digunakan,
Kesesuaian antara kecakapan sosial dengan materi
norma yang digunakan menjadi pertimbangan khusus
bagi peneliti. Materi yang disesuaikan dengan
kecakapan sosial adalah materi norma sub materi
norma sosial. Norma sosial merupakan suatu aturan
dasar yang bersifat universal atau umum menjadi
patokan mengenai tingkah laku sikap individu pada
suatu anggota kelompok dalam batasan wilayah
tertentu. Norma sosial sebagai patokan perilaku yang
seharusnya dilakukan dalam berinteraksi dengan
orang lain. Alasan menggunakan materi norma
karena norma merupakan penanaman nilai dan sikap
pada individu. Norma mampu membuat individu patuh
terhadap nilai dan sikap yang ada. Nilai dan sikap
dikembangkan secara langsung dan tidak langsung
mampu membentuk karakter individu yang baik sesuai
niali-nilai luhur pancasila. (2) Kompetensi yang
digunakan dalam modul berbasis kecakapan sosial.
Kurikulum yang digunakan sebagai acuan
pengembangan modul berbasis kecakapan sosial
adalah kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang
mengembangkan nilai dan sikap terhadap individu.
Kompetensi yang digunakan dalam pembelajaran
74 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 1, Pebruari 2015
yang tidak langsung yaitu kompeten inti 1.)
Menghargai dan menghayati ajaran agama yang
dianutnya, 2.) Menghargai dan menghayati perilaku
jujur, disipli, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong
royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam
dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
Kompetensi Dasar yang digunakan 1.1 Menghargai
perilaku beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan YME
dan berakhlak mulia dalam kehidupan di sekolah dan
masyarakat. 2.2 Menunjukkan perilaku sesuai normanorma dalam berinteraksi dengan kelompok sebaya
dan masyarakat. Proses pembelajaran tidak langsung
menggunakan kompetensi inti dan kompetansi dasar.
Berikut kompetensi yang digunakan yaitu kompetensi
Inti yang digunakan sebagai berikut 3. Memahami
pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural)
berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, terkait
fenomena dan kejadian tampak mata. 4. Mencoba,
mengolah, dan menyajikan dalam ranah konkret
(menggunakan, menguraikan, merangkai,
memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak
(menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan
mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah
dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/
teori. Kompetensi Inti yang digunakan sebagai
berikut 3.4 Memahami norma-norma yang berlaku
dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 4.4
Menyajikan hasil pengamatan tentang norma-norma
yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan
berbangsa.
Komponen spesifikasi produk selanjutnya yaitu
komponen cara penggunaan. Langkah yang dapat
dilakukan oleh guru dalam penggunaan modul
berbasis kecakapan sosial ini sebagai berikut: (1)
Modul diberikan kepada siswa secara berkelompok.
Karena modul sebagai alternasi sumber belajar jadi
sifatnya menyesuaikan dengan materi yang diajar,
kondisi kelas, siswa dan kemampuan guru, (2)
Mintalah siswa untuk membaca modul tersebut dan
berikan waktu yang cukup, (3) Lakukan kegiatan
pembelajaran sesuai RPP yang telah disediakan, (4)
Berikan evaluasi yang telah disediakan pada modul.
Jika siswa telah mengerjakan soal evaluasi atau uji
pemahaman konsep, minta siswa untuk
mengumpulkannya, (5) Koreksi hasil evaluasi siswa,
(6) Jangan lupa memberikan penghargaan pada siswa
berupa penghargaan, hadiah ataupun yang lainnya.
SIMPULAN
Pengembangan alternasi pembelajaran
PPKn yaitu melalui modul berbasis kecakapan
sosial (social skills). Pengembangan produk yang
dilakukan yaitu membuat bahan ajar modul
alternasi pembelajaran PPKn berbasis kecakapan
sosial (social skills). Produk yang dihasilkan
berdasarkan dari penilaian ahli materi, ahli media,
uji coba produk pada kelompok kecil dan kelompok
besar, dan uji kualitas produk pada guru. Penilaian
dan revisi dari validator membuat kesempurnaan
dalam produk modul yang dihasilkan.
Produk yang dirancang dapat membantu
siswa dalam belajar bersama dengan guru atau
belajar secara mandiri. Modul berbasis kecakapan
sosial (social skills). Menempatkan norma sosial
sebagai materi pembelajaran. Materi norma sosial
merupakan aturan yang ada pada masyarakat
tertentu berlaku universal dan berasal dari
kebiasaan masyarakat. Dengan adanya modul
berbasis kecakapan sosial (social skills) mampu
mendorong siswa untuk berperilaku sesuai dengan
norma sosial yang berlaku. Karena perilaku siswa
yang telah berada di masyarakat menjadi tolak
ukur keberhasilan guru dalam pembelajaran.
Selain itu, modul yang dibuat mampu membantu
guru dalam sosialisasi pembelajaran PPKn
khususnya materi norma.
Dalam rangka upaya peningkatan moralitas
masyarakat Indonesia, lingkungan pendidikan
harus bisa maksimal dalam proses belajar
mengajar. Lingkungan pendidikan terdiri dari 3
lingkungan pendidikan antara lain, (1) lingkungan
keluarga, (2) lingkungan sekolah, (3) lingkungan
masyarakat. Lingkungan keluarga sebagai
tonggak utama keberhasilan pendidikan di sekolah,
hendaknya lebih maksimal lagi dalam penanganan
pendidikan. Disamping itu diperlukan pula
pendidikan untuk keluarga (orang tua), agar
mampu mensosialisasikan teori moralitas yang
telah diberikan di sekolah.
DAFTAR RUJUKAN
Depdiknas. 2006. Pengembangan Bahan Ajar.
(online). (http.//depdiknas.go.id), diakses 4
Mei 2013.
Saefullah, K.H. U., 2012. Psikologi Perkembangan dan Pendidikan. Bandung: CV
Pustaka Setia.
Mariastutik, Perkembangan Alternasi Pembelajaran PPKn melaui Modul Berbasis Kecakapan Sosial
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidikan Nasional. 2012.
Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas
& Peraturan Pemerintah R.I Tahun
2010
tentang
Penyelenggaraan
Pendidikan serta Wajib Belajar.
Bandung: Citra Umbara.
5
Permendiknas No. 34 Tahun 2006 Tentang
Pembinaan Prestasi Peserta Didik Yang
Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau
bakat Istimewa. Kopertis12. (Online).
(http:// www. Kopertis12.or.id), diakses 15
Mei 2013.
Petunjuk Bagi Penulis
1. Naskah belum pernah diterbitkan dalam media cetak lain, diketik dengan spasi rangkap
pada kertas kuarto. Panjang 10-20 halaman dan diserahkan paling lambat 3 bulan sebelum
penerbitan dalam bentuk ketikan diatas kertas kuarto sebanyak 2 eks, dan disket. Berkas
naskah disimpan pada disket yang ditulis/diketik dengan menggunakan pengolah kata
Word Perfect, MS Word.
2. Artikel yang dimuat dalam jurnal ini meliputi tulisan tentang hasil penelitian, gagasan
konseptual, kajian dan aplikasi teori, tinjauan kepustakaan dan resensi buku baru.
3. Semua karangan ditulis dalam bentuk esai, disertai judul sub-bab ( heading) masingmasing bagian sajian tanpa judul sub-bab. Peringkat judul sub-bab dinyatakan dengan
huruf yang berbeda (semua huruf dicetak tebal/bold). Cetak miring dan letaknya pada
halaman, bukan dengan angka, sebagai berikut:
PERINGKAT 1 (huruf besar semua tebal rata tepi kiri)
Peringkat 2 (huruf besar-kecil tebal rata tepi kiri)
Peringkat 3 (huruf besar-kecil dengan cetak miring/tebal rata tepi kiri)
4. Setiap karangan harus disertai (a) abstrak (50-75 kata), (b) kata-kata kunci, (c) identitas
pengarang (tanpa gelar akademik), (d) pendahuluan (tanpa judul sub-bab) yang berisi latar
belakang dan tujuan ruang lingkup tulisan, dan daftar rujukan. Hasil penelitian disajikan
dengan sistematika sebagai berikut: (a) judul, (b) nama peneliti, (c) abstrak (50-75 kata),
(d) kata-kata kunci, (e) pendahuluan (tanpa judul sub-bab) yang berisi pembahasan
kepustakaan dan tujuan penelitian, (f) metode penelitian, (g) hasil, (h) pembahasan, (i)
kesimpulan dan saran, (j) daftar rujukan.
5. Daftar rujukan disajikan mengikuti tata cara seperti contoh berikut dan diurutkan secara
alpabetis dan kronologis.
Cornel, L. dan Weeks, K. 1985. Planning Career Leaders: Lesson from the States, Atlanta.
GA: Career leader Clearing House.
Kanafi, A. 1989. Partisipasi dalam Siaran Pedesaan dan Adopsi Inovasi. Forum Penelitian. (1):33-47
6. Tata cara penyajian kutipan, rujukan, tabel, dan gambar mengikuti ketentuan dalam
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Artikel, dan Makalah (Universitas Negeri
Malang, 2010). Naskah diketik dengan memperhatikan aturan tentang penggunaan tanda
baca dan ejaan yang dimuat dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang
Disempurnakan.
Download