Transplantation of giant goramy testicular cells in Nile tilapia (PDF

advertisement
TRANSPLANTASI SEL TESTIKULAR IKAN GURAME
PADA IKAN NILA
DARMAWAN SETIA BUDI
SKRIPSI
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI
DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:
TRANSPLANTASI SEL TESTIKULAR IKAN GURAME PADA IKAN
NILA
adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apa pun
kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan
dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar
Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Februari 2011
DARMAWAN SETIA BUDI
C.14063519
ii
ABSTRAK
DARMAWAN SETIA BUDI. Transplantasi sel testikular ikan gurame pada ikan
nila. Dibimbing oleh Alimuddin dan Odang Carman.
Salah satu kendala dalam membudidayakan ikan gurame adalah kurangnya
ketersediaan benih, sehingga diperlukan pengembangan teknologi rekayasa
produksi benih untuk mengatasi permasalahan ini. Teknologi rekayasa produksi
benih ikan melalui induk semang yang dihasilkan menggunakan teknik
transplantasi sel testikular telah dikembangkan pada ikan salmonid. Teknologi
transplantasi sel testikular membutuhkan ikan resipien yang cocok dan dapat
menerima serta mendukung perkembangan sel spermatogonia ikan donor.
Penelitian ini menguji potensi ikan nila sebagai resipien dengan mengamati
kolonisasi sel donor dari ikan gurame pada gonad ikan nila. Ikan donor yang
digunakan dalam penelitian ini berukuran 598,82 gram dengan Gonado Somatic
Index (GSI) sebesar 0,013% dan persentase sel spermatogonia sebesar 28,22%.
Sel testikular diinjeksikan pada larva ikan nila yang berumur sekitar 4 hari setelah
menetas dengan dosis sebesar 20.000 sel/0,5 µl PBS. Analisis keberhasilan
transplantasi dan kolonisasi sel donor dilakukan menggunakan metode PCR,
masing-masing dengan cetakan DNA yang diekstraksi dari larva ikan nila umur 1
hari setelah injeksi dan gonad ikan nila umur sekitar 2 bulan. PCR dilakukan
menggunakan primer spesifik bagi gen penyandi hormon pertumbuhan ikan
gurame dan β-aktin ikan nila sebagai kontrol internal loading DNA. Hasil PCR
menunjukkan bahwa ikan nila hasil transplantasi mempunyai pita DNA dengan
ukuran yang sama pada ikan gurame, dan tidak ada pada ikan nila kontrol bukan
hasil transplantasi. Persentase keberhasilan transplantasi pada larva adalah sebesar
100% (5/5) dan persentase individu resipien yang mengandung sel donor dalam
gonadnya adalah 60% (3/5). Hal ini menunjukkan bahwa sel donor dari ikan
gurame berhasil diinjeksikan dan dapat terkolonisasi dalam gonad ikan nila,
sehingga ikan nila berpotensi digunakan sebagai resipien dalam transplantasi sel
testikular ikan gurame. Analisis lebih lanjut perlu dilakukan untuk melihat
kemampuan sel spermatogonia berkembang menjadi sperma dan telur dalam
gonad ikan nila resipien.
Kata kunci: ikan gurame, ikan nila, sel testikular, transplantasi, kolonisasi
iii
ABSTRACT
DARMAWAN SETIA BUDI. Transplantation of giant gouramy testicular cells
in Nile tilapia. Supervised by Alimuddin and Odang Carman.
One of the constraints in the cultivation of giant gouramy is the lack of fry
availability, necessitating the development of fry production engineering
technology to address these issues. Engineering technology of fry production
through the surrogate broodstock generated by testicular cells transplantation
technique has been developed in salmonid. Testicular cells transplantation
technology requires a suitable recipient that can accept and support the
development of spermatogonia donor cell. This study examined the potential of
Nile tilapia as a recipient for donor giant gouramy cells by observing its
colonization in the gonads of Nile tilapia. Fish donor of 598,82 grams body
weight with Gonado Somatic Index (GSI) of 0,013% and spermatogonial cells
percentage of 28,22% was used. Testicular cells in amount of 20.000 cells/0,5 µl
PBS were injected into peritoneal cavity of 4-day-old tilapia larvae. The success
of transplantation and donor cell colonization were analyzed using PCR method
with DNA template that have been extracted from tilapia larvae of 1 day post
injection and the gonad of 2 months old fish. PCR was performed using a set of
specific primer for the giant gouramy growth hormone gene and tilapia β-actin as
an internal control of DNA loading. PCR results showed that the transplanted
tilapia has a DNA band in the same size with giant gouramy, and not in
untransplanted control. The success rate of transplantation in larvae was 100%
(5/5) and the percentage of individual recipients containing donor cells in their
gonad was 60% (3/5). This indicates that donor cells from giant gouramy was
successfully injected and can be colonized in the gonads of Nile tilapia, so the
Nile tilapia potentially be used as recipient for giant gouramy testicular cells
transplantation. Further analysis needs to be conducted to observe the ability of
spermatogonial cells develop into sperm and eggs in the gonad of tilapia recipient.
Key words:
giant gouramy, Nile tilapia, testicular cells, transplantation,
colonization
iv
TRANSPLANTASI SEL TESTIKULAR IKAN GURAME
PADA IKAN NILA
DARMAWAN SETIA BUDI
SKRIPSI
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada
Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya
Departemen Budidaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
v
Judul Skripsi : Transplantasi sel testikular ikan gurame pada ikan nila
Nama
: Darmawan Setia Budi
NRP
: C.14063519
Menyetujui,
Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. Alimuddin, S.Pi, M.Sc
NIP. 19700103 199512 1 001
Dr. Ir. Odang Carman, M.Sc
NIP. 19591222 198601 1 001
Mengetahui,
Ketua Departemen Budidaya Perairan
Dr. Ir. Odang Carman, M. Sc.
NIP. 19591222 198601 1 001
Tanggal Pengesahan : ………………
vi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan
rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi yang berjudul ”Transplantasi Sel
Testikular Ikan Gurame pada Ikan Nila” ini berhasil diselesaikan. Skripsi ini
bersumber pada hasil penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2010
sampai Agustus 2010 bertempat di Laboratorium Reproduksi dan Genetika
Organisme Akuatik, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Penulis menyadari bahwa selesainya skripsi ini tidak lepas dari segala
bantuan dan dukungan berbagai pihak, baik ide, pemikiran, tenaga, moril maupun
materil. Oleh karena itu penulis menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam
kepada:
1. Dr. Alimuddin dan Dr. Odang Carman selaku dosen pembimbing skripsi;
2. Dr. Mia Setiawati selaku dosen pembimbing akademik dan Dr. Munti Yuhana
sebagai dosen penguji tamu;
3. Mama, Bapak, mbak Nia, dan dek Ajeng atas do’a, kasih sayang, dukungan
moril, maupun materil selama ini;
4. Anna Octavera, S.Pi., yang banyak membantu dalam penelitian dan penyusunan
serta penulisan skripsi ini;
5. Rekan-rekan kerja dan sebimbingan (Jasmadi, Yuli, Gilang, Thami, Sekar, ka
Fuad, ka Ade, bu Irma Wati, bu Yulintin, bu Helen, mas Demin, dan bang
Indra) dan teman-teman kosan (Age, Dwi, Misbah, Tajuddin, dan Faris), serta
rekan-rekan BDP angkatan 43, 44, dan 45 yang sabar membantu dan
memberikan nasehat serta motivasi dalam penyelesaian skripsi ini;
6. Serta berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas segala
bantuan yang diberikan selama ini.
Akhir kata, semoga karya ilmiah ini bermanfaat untuk kemajuan ilmu
pengetahuan umumnya dan perikanan khususnya.
Bogor, Januari 2011
Darmawan Setia Budi
i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Lumajang tanggal 18 September 1988 dari ayah
Sudarmasto dan ibu Titin Sukowati. Penulis merupakan anak kedua dari 3
bersaudara. Pendidikan formal yang pernah dilalui penulis adalah SDN 1
Rogotrunan IV (lulus tahun 2000), SMPN 1 Lumajang (lulus tahun 2003), dan
SMAN 1 Lumajang (lulus tahun 2006). Penulis lulus seleksi masuk IPB melalui
jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) 2006. Setelah satu tahun
melalui program Tingkat Persiapan Bersama (TPB), penulis masuk program studi
Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya pada Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan.
Selama kuliah di IPB, penulis aktif pada organisasi kemahasiswaan, di
antaranya adalah Himpunan Mahasiswa Akuakultur (HIMAKUA) sebagai staf
divisi kewirausahaan pada periode 2008 dan Forum Keluarga Muslim FPIK
(FKM-C) sebagai kepala divisi coorporation pada periode 2009. Penulis juga
aktif menjadi asisten praktikum beberapa mata kuliah, di antaranya Dasar-dasar
Akuakultur (2008/2009), Fisiologi Hewan Air (2008/2009 dan 2009/2010),
Manajemen Kualitas Air (2009/2010), serta Dasar-dasar Genetika Ikan
(2009/2010).
Penulis pernah mendapatkan pendanaan DIKTI pada Program Kreativitas
Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-P) pada tahun 2009.
Pada tahun 2010,
penulis menjadi salah satu delegasi IPB pada Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS)
XXIII yang dilaksanakan di Universitas Mahasaraswati Denpasar Bali, melalui
Program Kreativitas Mahasiswa bidang Gagasan Tertulis (PKM-GT) dengan judul
artikel ”Pengembangan Manipulasi Fish Germ Cells: Peningkatan Produksi dan
Pelestarian Diversitas Sumberdaya Ikan di Indonesia”, dan berhasil meraih
penghargaan setara perak.
Pada tahun 2009, penulis melaksanakan praktek kerja lapang (PKL)
dengan judul laporan “Pembenihan Abalon Haliotis asinina di Balai Besar
Riset Pengembangan Budidaya Laut Gondol, Buleleng, Bali”. Tugas akhir
dalam pendidikan tinggi diselesaikan dengan menulis skripsi yang berjudul
“Transplantasi Sel Testikular Ikan Gurame pada Ikan Nila”.
ii
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ............................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... v
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... vi
I.
PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
II. BAHAN DAN METODE ............................................................................ 3
2.1. Produksi Ikan Resipien ........................................................................... 3
2.1.1. Pemeliharaan Induk Ikan Nila ...................................................... 3
2.1.2. Pemijahan Semi Buatan ................................................................ 3
2.1.3. Inkubasi Telur ............................................................................... 4
2.2. Persiapan Sel Donor ................................................................................ 4
2.2.1. Pemilihan Ikan Donor ................................................................... 4
2.2.2. Disosiasi Sel Donor....................................................................... 5
2.3. Transplantasi Sel Donor .......................................................................... 5
2.3.1. Persiapan Mikroinjeksi dan Loading Sel Donor ........................... 5
2.3.2. Pelaksanaan Transplantasi Sel Donor ........................................... 6
2.4. Pemeliharaan Ikan Resipien .................................................................... 6
2.5. Analisis Keberhasilan Transplantasi dan Deteksi Kolonisasi
Sel Donor ................................................................................................ 6
2.5.1. Ekstraksi DNA .............................................................................. 7
2.5.2. Amplifikasi DNA dengan PCR ..................................................... 8
III. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................... 9
3.1. Hasil ....................................................................................................... 9
3.1.1. Sel Testikular Donor ..................................................................... 9
3.1.2. Konfirmasi Keberhasilan Transplantasi ........................................ 9
3.1.3. Deteksi Kolonisasi Sel Donor pada Gonad Resipien .................... 10
3.2. Pembahasan ............................................................................................ 12
IV. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 17
4.1. Kesimpulan ............................................................................................. 17
4.2. Saran ....................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 18
LAMPIRAN ......................................................................................................... 20
iii
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Program PCR (Polymerase Chain Reaction)
yang digunakan (Achmad, 2009) ..................................................................... 8
2. Donor yang digunakan pada kegiatan transplantasi ......................................... 9
3. Kuantifikasi DNA hasil ekstraksi gonad ikan nila resipien ............................. 11
iv
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Sel testikular ikan gurame hasil disosiasi ......................................................... 9
2. Deteksi keberhasilan injeksi sel donor dalam rongga peritonial
larva ikan nila umur 1 hari setelah penyuntikan dengan
menggunakan metode PCR .............................................................................. 10
3. Visualisasi DNA genom ikan nila resipien umur 2 bulan ................................ 10
4. Deteksi kolonisasi sel donor ikan gurame pada gonad
ikan nila resipien umur 2 bulan ........................................................................ 11
v
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Proses penyiapan larva ikan nila resipien......................................................... 21
2. Penyiapan ikan donor gurame .......................................................................... 22
3. Prosedur disosiasi testis ikan gurame (Mauluddin, 2009) ................................ 23
4. Contoh perhitungan dan penentuan dosis sel donor ......................................... 24
5. Transplantasi sel donor ..................................................................................... 25
6. Perbandingan variabel kerja reproduksi ikan gurame dan ikan nila ................ 26
vi
I. PENDAHULUAN
Ikan gurame (Osphronemus gouramy) merupakan salah satu komoditas
yang menjadi target Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk ditingkatkan
produksinya hingga tahun 2014 (KKP, 2010). Salah satu kendala dalam
membudidayakan ikan gurame adalah kurangnya ketersediaan benih. Sebagai
gambaran terhadap permintaan benih ikan gurame, menurut BBI dan Dinas
Peternakan Kabupaten Banyumas, permintaan telur ikan gurame di Kabupaten
Banyumas untuk daerah Jawa Timur dan Yogyakarta mencapai 1 juta butir per
minggu (BI, 2010). Ikan gurame membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai
matang kelamin (2-3 tahun) (Badan Standardisasi Nasional, 2000) dan siklus
pemijahannya tergantung pada musim, akibatnya kontinyuitas benih kurang
terjamin. Sementara itu, teknologi pemijahan buatan ikan gurame sampai saat ini
belum dapat dikuasai dengan sempurna, sehingga produksi benihnya masih sangat
tergantung pada musim pemijahan tersebut. Dengan demikian, teknologi rekayasa
produksi benih ikan gurame perlu dikembangkan untuk mengatasi permasalahan
ini.
Teknologi rekayasa produksi benih ikan melalui teknik transplantasi sel
gonad telah banyak dikembangkan. Okutsu et al. (2006a), melalui transplantasi sel
testikular telah berhasil memproduksi benih ikan rainbow trout (Oncorhynchus
mykiss) melalui induk “semang” (surrogate broodstock) ikan salmon masu
(Oncorhynchus masou). Sel testikular (yang mengandung sel stem spermatogonia)
ikan target yang ditransplantasikan pada ikan resipien memiliki kemampuan
memperbanyak diri (self-renewal) dan dapat berkembang menjadi sperma dan
telur ikan target (Okutsu et al., 2006a). Transplantasi sel spermatogonia juga telah
dilakukan pada tikus (Brinster & Zimmermann, 1994). Transplantasi sel hidup,
jaringan, ataupun organ dari satu spesies ke spesies lain disebut xenotransplantasi
(Wikipedia, 2010). Sejak tahun 1960-an teknologi xenotransplantasi telah
diterapkan meliputi transplantasi sel, jaringan, dan organ pada beberapa spesies
vertebrata tingkat tinggi seperti babi, sapi, simpanse, kera dan babon (Nicolle,
1999). Pengembangan dan penerapan teknologi xenotransplantasi sel testikular
diharapkan dapat menjadi solusi terhadap masalah perbenihan ikan gurame.
1
Teknologi transplantasi sel testikular membutuhkan ikan resipien yang
cocok dan dapat menerima serta mendukung perkembangan sel spermatogonia
ikan donor. Ikan resipien harus memiliki keunggulan seperti kemampuan untuk
tumbuh dan matang gonad yang relatif cepat dan teknologi pemijahannya pun
relatif lebih mudah. Salah satu kandidat ikan resipien yang dapat digunakan
sebagai induk semang ikan gurame adalah ikan nila (Oreochromis niloticus). Ikan
nila memiliki karakteristik morfologi telur yang mirip dengan ikan gurame,
sehingga diduga dapat mendukung perkembangan sel gonad ikan gurame di dalam
tubuhnya. Ikan nila memiliki waktu matang gonad relatif cepat dan dapat
dipijahkan dengan mudah di dalam wadah yang terkontrol, sehingga akan
mendukung kegiatan rekayasa genetik di masa mendatang (Alimuddin et al.,
2009). Transplantasi sel gonad (intraspesies) yang menggunakan ikan nila sebagai
model telah dilakukan oleh Lacerda et al. (2006, 2008, 2010).
Potensi ikan nila sebagai induk semang (surrogate broodstock) dari ikan
gurame dapat diketahui dengan mengamati perkembangan sel testikular ikan
gurame pada ikan nila. Penelitian ini bertujuan untuk menguji bahwa ikan nila
berpotensi digunakan sebagai resipien dengan mengamati kolonisasi sel donor
dari ikan gurame pada gonad ikan nila.
2
II. BAHAN DAN METODE
2.1. Produksi Ikan Resipien
Ikan resipien yang digunakan dalam penelitian ini adalah larva ikan nila
(Oreochromis niloticus) yang berumur sekitar 4 hari setelah menetas. Tahapan
penyiapan larva ikan nila resipien meliputi pemeliharaan induk nila, pemijahan
semi buatan dan inkubasi telur (Lampiran 1).
2.1.1. Pemeliharaan Induk Ikan Nila
Penelitian ini menggunakan 5 pasang induk ikan nila (jantan dan betina)
dengan ciri-ciri induk jantan memiliki 2 lubang pengeluaran (anus dan urogenital)
dan induk betina memiliki 3 lubang pengeluaran (anus, urinary, dan oviduct).
Induk yang digunakan berukuran sekitar 400-500 g/ekor. Induk dipelihara secara
terpisah pada 10 buah akuarium berukuran 60x60x60 cm yang dilengkapi dengan
aerasi untuk menjaga ketersediaan oksigen terlarut. Induk diberi pakan 3 kali
sehari (pagi, siang, dan sore) secara at satiation (pemberian pakan sampai
kenyang). Pakan yang diberikan adalah pakan komersil dengan kadar protein
±42% dengan tujuan mengoptimalkan pematangan gonad induk. Setiap hari
dilakukan penyifonan dan pergantian air sebanyak ±60% untuk menjaga kualitas
media pemeliharaan.
2.1.2. Pemijahan Semi Buatan
Pemijahan semi buatan yaitu dengan melakukan fertilisasi buatan antara
telur dan sperma yang dikeluarkan tanpa melalui rangsangan hormonal
sebelumnya. Ikan yang siap memijah ditandai dengan lubang genital yang
menonjol dan berwarna merah. Induk jantan dan betina yang siap memijah
disatukan dalam akuarium berukuran 60x60x60 cm yang dilengkapi dengan
aerasi. Induk ikan nila yang akan memijah ditandai dengan kedua induk
membersihkan dasar akuarium menggunakan mulut (Lampiran 1a). Apabila hal
ini tidak terjadi dan kedua induk saling menyerang, maka induk jantan yang
digunakan tidak cocok dengan induk betina sehingga harus diganti dengan
pejantan lain yang cocok.
3
Setelah induk betina mengeluarkan telur 1-2 kali, kedua induk ikan nila
diambil dari akuarium dan dimasukkan ke wadah terpisah. Stripping (pengurutan)
dilakukan dengan mengurut bagian perut ke arah lubang genital untuk
mengeluarkan telur dan sperma. Telur yang keluar ditampung dalam mangkok
yang berisi larutan fisiologis (NaCl 0,9%), sedangkan sperma yang keluar disedot
menggunakan syringe (Lampiran 1b). Telur dan sperma dicampur dalam
mangkuk/cawan petri dan dihomogenkan menggunakan bulu ayam (Lampiran 1c).
Pada cawan petri tersebut ditambahkan air secukupnya untuk mengaktifkan
sperma agar dapat bergerak membuahi telur. Air pada cawan petri dibuang setelah
2-3 menit dan telur yang telah dibuahi diletakkan di atas saringan santan dalam
media air bersuhu 28oC.
2.1.3. Inkubasi Telur
Telur yang telah dibuahi diinkubasi dalam saringan santan (berdiameter 20
cm) di permukaan air dalam akuarium berukuran 60x60x60 cm dengan suhu air
28oC yang distabilkan menggunakan termostat. Pencegahan serangan jamur pada
telur dilakukan dengan pemberian methylene blue pada media inkubasi. Aerasi
kuat diberikan untuk menjaga agar telur teraduk pelan dan menjaga ketersediaan
oksigen terlarut pada media inkubasi (Lampiran 1d). Inkubasi dilakukan hingga
telur menetas sampai larva siap digunakan untuk transplantasi, yaitu sekitar 7 hari
setelah pembuahan (Lampiran 1e).
2.2. Persiapan Sel Donor
2.2.1. Pemilihan Ikan Donor
Ikan donor yang digunakan adalah ikan gurame (Osphronemus gouramy)
jantan berukuran sekitar 600 g/ekor. Ciri-ciri ikan gurame jantan adalah
melengkung jika diangkat dan pangkal sirip dada berwarna putih, sedangkan
gurame betina tidak melengkung jika diangkat dan pangkal sirip dada berwarna
hitam. Sebelum dibedah ikan donor ditimbang terlebih dahulu, testis ikan donor
juga ditimbang sebelum didisosiasi (Lampiran 2). Ikan donor gurame diperoleh
dari pengumpul di daerah Kayu Manis, Bogor.
4
2.2.2. Disosiasi Sel Donor
Prosedur disosiasi testis menggunakan larutan 0,5% tripsin dalam PBS
sesuai dengan Mauluddin (2009) (Lampiran 3). Sel yang telah didisosiasi diamati
untuk mengetahui komposisi sel testikular (spermatogonia, spermatosit, dan
spermatid) donor dan jumlah dihitung menggunakan haemocytometer untuk
menentukan konsentrasi suspensi sel sehingga sesuai dengan dosis yang
digunakan (Lampiran 4). Pengamatan dan penghitungan sel testikular dilakukan di
bawah mikroskop Olympus BH2-RFCA. Sel testikular disuspensikan pada larutan
PBS dan dapat disimpan dalam jangka waktu 1-2 jam pada suhu 4oC sebelum
digunakan.
2.3. Transplantasi Sel Donor
2.3.1. Persiapan Mikroinjeksi dan Loading Sel Donor
Alat mikroinjeksi didukung dengan mikroskop 3 dimensi (Stemi DV4,
Zeiss) (Lampiran 5a). Proses loading sel (Lampiran 5b) atau memasukkan sel ke
dalam jarum mikroinjeksi merupakan salah satu bagian penting, sehingga
diperlukan kehati-hatian dan keterampilan khusus. Suspensi sel donor dalam
larutan PBS terdiri dari sel spermatogonia, spermatosit, spermatid, dan sel
somatik lainnya. Suspensi sel sebanyak 0,5 µl (berdasarkan dosis 0,5 µl suspensi
sel per resipien) diambil menggunakan mikropipet dan diteteskan pada kertas
parafilm. Suspensi sel disedot ke dalam jarum mikroinjeksi hingga tidak tersisa
dengan memutar mikroinjektor ke arah dalam. Jarum mikroinjeksi terpasang pada
needle holder yang dipegang dengan tangan kiri, sementara tangan kanan
memutar mikroinjektor. Selanjutnya transplantasi siap dilakukan setelah needle
holder kembali dipasang pada mikromanipulator. Ukuran lubang jarum
mikroinjeksi sebesar 30 µm disesuaikan dengan ukuran sel spermatogonia donor
ikan gurame yang berukuran 5-15 µm (Mauluddin, 2009)
Modifikasi dapat dilakukan dengan memasukkan lebih dari 0,5 µl suspensi
sel hingga 2 µl untuk ditransplantasikan pada 4 ekor larva resipien (0,5 µl/ekor).
Modifikasi sangat bergantung pada keahlian dan keterampilan pada saat
melakukan transplantasi. Ikan resipien ditransplantasi dengan dosis sekitar 20.000
5
sel
donor/0,5µl/ekor,
modifikasi
dari
Okutsu
et
al.
(2006a)
yang
mentransplantasikan sekitar 10.000 sel testikular pada larva ikan rainbow trout.
2.3.2. Pelaksanaan Transplantasi Sel Donor
Larva resipien diletakkan berjajar pada cekungan gel agarosa dalam cawan
petri plastik (Lampiran 5c) dan selanjutnya diletakkan di bawah mikroskop. Sel
diinjeksikan pada rongga peritonial (peritoneal cavity) larva di antara kuning telur
dan tulang belakang menggunakan jarum mikroinjeksi (Lampiran 5d) yang
digerakkan secara manual dengan mikromanipulator. Ikan nila hasil transplantasi
dipelihara dalam akuarium hingga berumur 2 bulan setelah transplantasi.
2.4. Pemeliharaan Ikan Resipien
Ikan resipien hasil transplantasi dipelihara dalam akuarium berukuran
15x15x25 cm dan diberi makan cacing sutera secara ad libitum (pakan selalu
tersedia) hingga berumur 2 minggu setelah transplantasi. Selanjutnya ikan resipien
dipindahkan pada akuarium berukuran 60x60x60 cm dan diberi pakan pellet
terapung dengan kadar protein ±38% secara at satiation (pemberian pakan
sekenyangnya), 3 kali sehari (pagi, siang, dan sore) hingga berumur 2 bulan untuk
kemudian dianalisis. Media pemeliharaan dijaga kualitasnya dengan melakukan
penyifonan 1 kali sehari pada pagi hari.
2.5. Analisis Keberhasilan Transplantasi dan Deteksi Kolonisasi Sel Donor
Analisis keberhasilan transplantasi dan deteksi kolonisasi sel donor
dilakukan dengan menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction)
seperti yang telah dikembangkan oleh Achmad (2009). Analisis keberhasilan
transplantasi dilakukan sehari setelah pelaksanaan transplantasi sel donor, dengan
tujuan untuk memastikan bahwa sel donor benar-benar masuk ke dalam rongga
peritonial larva resipien. Deteksi kolonisasi sel donor dalam gonad resipien ikan
nila dilakukan 2 bulan setelah transplantasi. Tahapan prosedur analisis
keberhasilan transplantasi dan deteksi kolonisasi sel donor meliputi ekstraksi
DNA, amplifikasi DNA menggunakan PCR, dan visualisasi produk PCR melalui
elektroforesis.
6
2.5.1. Ekstraksi DNA
DNA diekstraksi dari larva resipien umur 1 hari dan dari gonad resipien
umur 2 bulan setelah transplantasi. Ekstraksi DNA yang dilakukan meliputi 3
tahapan yaitu cell lysis, RNase treatment, protein precipitation, dan DNA
precipitation.
Pada tahap cell lysis, jaringan (5-20 mg) dilisis menggunakan 200 μl Cell
Lysis Solution (Gentra, Minneapolis, USA) dan 1,5 μl Proteinase K (20 mg/ml)
dalam Eppendorf 1,5 ml. Inkubasi dilakukan pada suhu 55°C selama semalam
atau hingga sel terlisis sempurna.
RNase treatment dilakukan setelah sel terlisis sempurna. Setelah inkubasi
sampel didiamkan hingga suhu ruang dan kemudian ditambahkan 1,5 μl RNase (4
mg/ml). Larutan sampel diaduk dengan cara membolak-balik (inverting)
Eppendorf sebanyak 30 kali. Selanjutnya sampel diinkubasi pada suhu 37oC
selama 60 menit. Setelah inkubasi sampel didiamkan kembali hingga suhu ruang.
Tahap protein precipitation. Ke dalam tabung sampel ditambahkan 50 μl
Protein Precipitation Solution (Gentra, Minneapolis, USA) dan di-vortex kencang
30 detik untuk mencampur larutan dalam Eppendorf. Sampel kemudian diinkubasi
pada es (ice bath) selama 10-15 menit. Setelah itu, sampel disentrifugasi dengan
kecepatan 12.000 rpm selama 10 menit.
Tahap DNA precipitation. Supernatan dipindahkan ke dalam Eppendorf
yang telah diisi 300 μl isopropanol, sampel dibolak-balik 50 kali. Selanjutnya
disentrifugasi dengan kecepatan 12.000 rpm selama 10 menit. Supernatan
dibuang, kemudian ditambahkan 300 μl etanol 70% dingin (stok disimpan dalam
lemari es -20oC) ke dalam Eppendorf berisi pellet DNA, sampel dibolak-balik
beberapa kali untuk mencuci pellet DNA. Sampel disentrifugasi kembali dengan
kecepatan 12.000 rpm selama 10 menit. Supernatan dibuang, pellet DNA
dikeringudarakan dan ditambahkan 30 μl IEW (Ion Exchange Water). Larutan
DNA disimpan dalam freezer suhu -20oC hingga akan digunakan.
Analisis kemurnian dan kandungan DNA dilakukan melalui dua cara yaitu
secara
kuantitatif
dengan
spektrofotometer
GeneQuant
dan
kualitatif
menggunakan elektroforesis.
7
2.5.2. Amplifikasi DNA dengan PCR
Amplifikasi DNA hasil ekstraksi dilakukan dengan PCR (Polymerase Chain
Reaction) menggunakan primer F1GH (5’-TGTTCTCTGACGGCGTGGTT-3’)
dan R1GH (5’-GCAACAAAAAACCACCAGAA-AGAG-3’) (Achmad, 2009).
Total volume untuk pereaksi PCR yaitu 10 µl; mengandung 1 µl primer F1GH; 1
µl primer R1GH 1 µl; 1 µl dNTPs mix; 1 µl MgCl2; 1 µl La Taq buffer; dan 0,05
µl Ex Taq polimerase (Takara Bio, Shiga, Japan); 1 µl DNA template; sisanya
adalah IEW. Kontrol internal loading DNA dilakukan menggunakan primer
forward β-aktin nila (5'-GTGCCCATCTACGAGGGTTA-3') dan reverse (5'TTTGATGTCACGCACGATTT-3'). Program PCR yang digunakan dapat dilihat
pada Tabel 1. Jumlah siklus PCR yang digunakan adalah 45 siklus untuk
pasangan primer GH ikan gurame dan 35 siklus untuk pasangan primer β-aktin
nila. Visualisasi hasil amplifikasi PCR dilakukan dengan elektroforesis
menggunakan gel agarosa 1% dengan tegangan 150 Volt dan kuat arus 70 mA.
Tabel 1. Program PCR (Polymerase Chain Reaction) yang digunakan (Achmad,
2009).
Pre Denaturasi
Denaturasi
Annealing
Extention
Final
Extention
Primer
Suhu
(oC)
Waktu
(detik)
Suhu
(oC)
Waktu
(detik)
Suhu
(oC)
Waktu
(detik)
Suhu
(oC)
Waktu
(detik)
Suhu
(oC)
Waktu
(detik)
GH
94
180
94
30
58
45
72
45
72
180
β-aktin
94
180
94
30
61
30
72
30
72
180
8
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
3.1.1 Sel Testikular Donor
Hasil disosiasi sel testikular gonad yang digunakan dalam penelitian ini
dapat dilihat pada Tabel 2. Donor yang digunakan memiliki GSI (Gonado Somatic
Index) sebesar 0,0132% dengan persentase sel spermatogonia sebesar 28,22%.
Seperti ditunjukkan pada Gambar 1, sel spermatogonia memiliki ukuran paling
besar (5-15 µm), diikuti spermatosit (3-5 µm), serta spermatid dan sel somatik
(1,5-2,5 µm).
Tabel 2. Donor yang digunakan pada kegiatan transplantasi.
Bobot Tubuh
(g)
598,82
Bobot Gonad
(g)
0,0791
GSI
(%)
0,0132
∑ Sel Testikular
65.200.000
∑
Spermatogonia
18.400.000
%
Spermatogonia
28,22
Keterangan: tanda panah menunjukkan sel spermatogonia
Gambar 1. Sel testikular ikan gurame hasil disosiasi.
3.1.2. Konfirmasi Keberhasilan Transplantasi
DNA yang diekstraksi dari ikan resipien yang berumur 1 hari setelah
penyuntikan dan kemudian dianalisis menggunakan metode PCR memiliki produk
PCR dengan ukuran pita yang sama dengan kontrol positif DNA ikan gurame dan
tidak ditemukan pada sampel ikan nila bukan transplantasi (Gambar 2,
ditunjukkan dengan tanda panah). Hal ini menunjukkan bahwa sel yang
diinjeksikan berhasil masuk ke dalam larva ikan nila resipien. Dari lima sampel
9
yang dianalisis, semuanya menunjukkan pita yang sama dengan kontrol positif.
Artinya bahwa keberhasilan injeksi sebesar 100% dari kelima sampel yang
dianalisa.
Keterangan: M = marker; 1-5 = produk PCR DNA larva resipien; C+ = produk PCR
DNA ikan gurame; N = produk PCR DNA ikan nila non transplan; C- =
kontrol reagen.
Gambar 2. Deteksi keberhasilan injeksi sel donor dalam rongga peritonial larva
ikan nila umur 1 hari setelah penyuntikan dengan menggunakan
metode PCR.
3.1.3. Deteksi Kolonisasi Sel Donor pada Gonad Resipien
DNA dari gonad ikan nila resipien yang telah berumur sekitar 2 bulan
setelah transplantasi berhasil diekstraksi. Hasil visualisasi pada gel elektroforesis
diperoleh DNA genom berukuran lebih besar dari 10 kb (Gambar 3, ditunjukkan
dengan panah). Kuantifikasi DNA hasil ekstraksi dapat dilihat pada Tabel 3.
Keterangan: M = marker; 1-5 = DNA gonad ikan nila resipien.
Gambar 3. Visualisasi DNA genom gonad ikan nila resipien umur 2 bulan.
10
Tabel 3. Kuantifikasi DNA hasil ekstraksi gonad ikan nila resipien.
Sampel DNA
Rasio
(absorbansi 260/280 nm)
DNA (ng/μl)
1
1,829
1788
2
1,861
156
3
1,871
300
4
1,830
548
5
1,794
1532
Berdasarkan Tabel 3, konsentrasi DNA tertinggi dari gonad ikan nila
resipien sebesar 1788 ng/µl sedangkan yang terendah sebesar 156 ng/µl. Nilai
rasio yang didapat berkisar antara 1,784-1,871. Brown (2010) menyebutkan rasio
absorbansi 260 nm dan 280 nm yang kurang dari 1,8 menunjukkan bahwa hasil
ekstraksi telah terkontaminasi oleh protein atau fenol.
Visualisasi produk PCR dari DNA gonad ikan nila resipien tersebut
menunjukkan ukuran pita DNA yang sama dengan DNA ikan gurame (Gambar 4,
ditunjukkan dengan tanda panah). Hal tersebut menunjukkan bahwa sel donor
terkolonisasi pada gonad ikan resipien yang berumur 2 bulan setelah transplantasi.
Produk PCR menggunakan primer β-aktin nila menunjukkan bahwa DNA gonad
ikan nila juga teramplifikasi. Hasil yang diperoleh, sel donor terkolonisasi pada 3
dari 5 sampel ikan resipien yang diperiksa (sampel 2, 3, dan 4) dengan tingkat
keberhasilan kolonisasi 60% dari total resipien yang diperiksa.
Keterangan: M = marker; 1-5 = produk PCR DNA gonad resipien; C+ = produk PCR
DNA gurame; N = produk PCR DNA nila non transplan; C- = kontrol
reagen.
Gambar 4. Deteksi kolonisasi sel donor ikan gurame pada gonad ikan nila
resipien umur 2 bulan.
11
Ketebalan pita DNA hasil amplifikasi PCR berbeda pada masing-masing
sampel. Pada sampel 4, pita DNA yang muncul sangat tipis dan tidak terlihat
jelas. Sedangkan pada sampel 2 dan 3, pita DNA produk PCR yang muncul
terlihat cukup jelas. Jika dibandingkan dengan produk PCR β-aktin nila, maka
tingkat ketebalan pita produk PCR GH gurame menunjukkan jumlah DNA sel
donor yang terdeteksi pada DNA gonad ikan nila resipien. Semakin tipis pita
DNA yang muncul, maka semakin sedikit DNA sel donor yang terdeteksi dalam
gonad ikan nila.
3.2. Pembahasan
Transplantasi sel germinal pada ikan pertama kali dilakukan menggunakan
sel bakal gonad (Primordial Germ Cell/PGC) (Takeuchi et al., 2003). Jumlah
PGC terbatas (rata-rata 90 PGC per larva ikan rainbow trout yang baru menetas)
dan hanya ada pada larva sebelum terjadinya diferensiasi seksual. Hal ini
menyebabkan PGC sulit diperoleh sehingga kemudian digunakan sel stem
spermatogonia yang belum terdiferensiasi dalam transplantasi sel germinal pada
ikan (Okutsu et al., 2006b).
PGC merupakan sel yang belum terdiferensiasi menjadi spermatogonia
ataupun oogonia. Spermatogonia digolongkan menjadi dua jenis, yaitu sel stem
spermatogonia yang belum terdiferensiasi dan sel spermatogonia terdiferensiasi.
Sel stem spermatogonia yang belum terdiferensiasi memiliki kemampuan
memperbarui diri (self-renewal) sepanjang hidup organisme tersebut dan
menghasilkan sel spermatogonia terdiferensiasi yang akan mengalami proliferasi
(pembelahan) mitosis dan meiosis hingga menjadi spermatozoa. Transplantasi sel
testikular yang mengandung sel stem spermatogonia telah dilakukan, berhasil
terkolonisasi pada gonad ikan resipien, serta dapat berkembang menjadi telur dan
sperma yang fungsional (Okutsu et al., 2006a).
Studi mengenai morfologi dan komposisi sel testikular ikan gurame telah
dilakukan. Proporsi sel spermatogonia tertinggi terdapat pada kelas ikan muda
(800-1000 g), daripada kelas ikan dewasa (1100-1300 g) dan ikan matang gonad
(2250-3200 g) (Mauluddin, 2009). Pada penelitian ini digunakan ikan gurame
berukuran sekitar 600 g, di bawah kelas ikan muda dengan tujuan memperoleh
12
jumlah sel spermatogonia yang lebih banyak untuk optimalisasi proses
transplantasi.
Hasil disosiasi sel gonad ikan donor gurame, menunjukkan jumlah sel
testikular sebesar 65.200.000 sel/gonad dengan persentase sel spermatogonia
sebesar 28,22% (Tabel 1). Jika dibandingkan dengan hasil penelitian Mauluddin
(2009), jumlah sel testikular yang diperoleh adalah sangat besar namun persentase
sel spermatogonia pada penelitian ini sangat kecil. Mauluddin (2009) memperoleh
jumlah sel testikular sebesar 432.000 sel/gonad dengan persentase spermatogonia
sebesar 80,56% dari hasil disosiasi sel testikular gonad ikan gurame muda
menggunakan larutan tripsin 0,5% dalam PBS (Phosphate Buffer Saline).
Perbedaan ini terjadi karena bobot ikan gurame yang digunakan pada penelitian
ini lebih kecil (598,82 g) dengan bobot gonad yang lebih besar yaitu 0,0791 g,
sedangkan Mauluddin (2009) menggunakan gurame berbobot 800 g dengan berat
gonad rata-rata sebesar 0,06895 g. Hal ini kemungkinan disebabkan umur ikan
gurame dan status kematangan gonad yang berbeda. Takeuchi et al. (2009),
memperoleh jumlah spermatogonia yang lebih besar pada ikan nibe croaker
(Nibea mitsukurii) muda umur 3 bulan, daripada ikan nibe berumur 6 bulan dan
16 bulan. Ukuran sel spermatogonia ikan gurame hasil disosiasi berkisar 5-15 µm,
spermatosit 3-5 µm, dan spermatid serta sel somatik lebih kecil dari 2,5 µm
(Gambar 1), sesuai dengan Mauluddin (2009).
Transplantasi sel germinal ikan dilakukan dengan injeksi sel donor pada
rongga peritonial (peritoneal cavity) larva ikan salmon masu (Takeuchi et al.,
2003), larva ikan nibe croaker (Takeuchi et al., 2009), dan larva ikan chub
mackerel (Yazawa et al., 2010) yang baru menetas. Dosis sel testikular donor ikan
gurame yang diinjeksikan sekitar 20.000 sel testikular per larva resipien ikan nila.
Hermawan (2010) menyatakan bahwa dosis injeksi sel testikular gurame sekitar
1.250-80.000 sel per larva dapat terdeteksi sehari setelah injeksi menggunakan
mikroskop fluoresen. Okutsu et al. (2006b) menginjeksikan sekitar 10.000 sel
testikular pada larva resipien. Volume suspensi sel yang diinjeksikan pada rongga
peritonial larva resipien ikan nila sebesar 0,5 µl. Volume suspensi sel yang
diinjeksikan bergantung pada ukuran larva resipien, 20-30 nl suspensi sel
diinjeksikan pada transplantasi sel germinal larva ikan rainbow trout (Yoshizaki,
13
2010a), sedangkan 15 nl suspensi sel diinjeksikan pada transplantasi sel germinal
larva ikan chub mackerel (Yazawa et al, 2010) yang ukuran larvanya lebih kecil
dari pada larva ikan rainbow trout. Kombinasi dosis dan suspensi sel dalam
penelitian ini masih perlu dioptimalkan lagi untuk meningkatkan efisiensi,
efektivitas, serta keberhasilan transplantasi.
Umur resipien berpengaruh pada tingkat kolonisasi sel donor terkait dengan
kondisi lingkungan (microenvironments) dalam tubuh resipien yang dapat
mendukung migrasi sel donor ke daerah genital (genital ridges) (Takeuchi et al.,
2003). Keberadaan sistem imunorejeksi dan kemoatraktan sangat berpengaruh
pada keberhasilan kolonisasi sel donor (Takeuchi et al., 2003; Okutsu et al.,
2006b). Untuk mengatasi imunorejeksi, maka digunakan larva yang baru menetas
sebagai resipien yang sistem imunorejeksinya relatif belum berkembang
(immature) di mana pada stadia ini jenis kelamin larva belum terdiferensiasi
(Okutsu et al., 2006b). Molekul atraktan yang dapat mendukung migrasi sel donor
juga ditemukan dalam genital ridges pada larva yang baru menetas, molekul ini
akan berkurang seiring dengan perkembangan gonad (Takeuchi et al., 2003). Pada
penelitian ini digunakan larva ikan nila yang baru menetas (4 hari setelah
menetas) sebagai resipien. Resipien yang digunakan pada penelitian ini perlu
dioptimalkan lebih lanjut dengan mengobservasi umur terbaik yang dapat
mendukung kolonisasi sel donor.
Keberhasilan proses transplantasi ditunjukkan dengan adanya sel donor
yang masuk dan berada pada rongga peritonial resipien. Metode deteksi
keberadaan sel donor gurame dalam rongga peritonial larva nila resipien
menggunakan metode PCR marka molekuler deteksi gen GH/Growth Hormone
ikan gurame dan pewarnaan sel donor (PKH-26) telah dikembangkan (Achmad,
2009; Hermawan, 2009). Konfirmasi keberhasilan proses transplantasi pada
penelitian ini menggunakan metode PCR. Hasil yang didapat 100% (5/5) sel
donor yang diinjeksikan berhasil masuk dan berada pada larva resipien (Gambar
3). Sel testikular donor ikan gurame (sekitar 20.000 sel/0,5µl) berhasil masuk dan
dapat dideteksi menggunakan metode PCR dengan marka molekuler gen GH ikan
gurame, berbeda dengan Hermawan (2010) dimana dosis yang berhasil masuk dan
dapat dideteksi sebesar 40.000 dan 80.000 sel per larva resipien dari perlakuan
14
dosis 1.250-80.000 sel per larva resipien. Perbedaan ini terjadi karena jumlah
siklus yang digunakan dalam program PCR berbeda yaitu 35 siklus, sedangkan
dalam penelitian ini jumlah siklus PCR yang digunakan adalah 45 siklus.
Keberhasilan transplantasi sel testikular juga sangat dipengaruhi oleh proses dan
teknis penyuntikan sel donor pada rongga peritonial larva sehingga dibutuhkan
keterampilan khusus, proses yang salah dapat menyebabkan sel yang
ditransplantasikan kembali keluar atau bahkan tidak masuk sama sekali sehingga
tidak terdeteksi menggunakan PCR.
Achmad (2009), menggunakan primer GH gurame untuk mendeteksi DNA
gurame dengan metode PCR dalam pengembangan marka molekuler untuk
deteksi kolonisasi sel donor ikan gurame dalam gonad resipien ikan nila. Primer
yang digunakan dapat mendeteksi 1 sel gurame di dalam 104 sel nila. DNA
gurame yang didapat berukuran sekitar 340 pasang basa.
Distribusi sel donor pada rongga peritonial ikan resipien setelah
transplantasi telah diketahui. Sebelum terinkorporasi dengan daerah genital
(genital ridges) resipien, sel donor tersebar pada rongga peritonial dan kemudian
menempel pada dinding peritonial resipien (Takeuchi et al., 2003). Sel donor
menggunakan pseudopodia untuk bergerak ke arah genital ridges. Setelah
terinkorporasi/terkolonisasi dalam genital ridges, selanjutnya sel donor akan
berproliferasi dan berdiferensiasi hingga menjadi telur atau spermatozoa
(Takeuchi et al., 2003; Okutsu et al., 2006a; Yoshizaki et al., 2010b).
Deteksi kolonisasi pada penelitian ini dilakukan 2 bulan setelah
transplantasi, di mana gonad ikan nila resipien telah berkembang dan lebih mudah
diambil. DNA genom dari gonad ikan nila resipien berhasil didapat melalui
prosedur ekstraksi DNA (Gambar 4 dan Tabel 3). Deteksi kolonisasi
menggunakan PCR menunjukkan bahwa sel donor terkolonisasi pada 3 dari 5
sampel ikan resipien yang diperiksa dengan tingkat keberhasilan kolonisasi 60%
dari total resipien yang diperiksa (Gambar 5). Hasil deteksi yang diperoleh
menunjukkan bahwa ikan nila berpotensi digunakan sebagai resipien dalam
transplantasi sel testikular ikan gurame. Apabila ikan nila dapat digunakan sebagai
induk semang dalam produksi benih ikan gurame, maka efisiensi produksi benih
ikan gurame akan dapat ditingkatkan. Efisiensi ini meliputi produksi induk yang
15
lebih cepat, wadah pemeliharaan induk yang tidak terlalu besar, fekunditas yang
lebih tinggi, serta siklus pemijahan yang lebih sering (Lampiran 6). Sehingga,
kebutuhan terhadap benih gurame akan terpenuhi dengan peningkatan
kontinyuitas ketersediaan benih gurame.
16
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Sel spermatogonia ikan gurame dapat terkolonisasi pada gonad ikan nila
yang berumur 2 bulan.
4.2. Saran
Penelitian lanjutan mengenai karakterisasi perkembangan gonad ikan nila
resipien yang positif membawa sel donor perlu dilakukan untuk mengetahui
bahwa sel donor dapat berproliferasi dan berdiferensiasi dalam gonad resipien
sehingga memungkinkan ikan nila dapat digunakan sebagai induk semang untuk
menghasilkan ikan gurame.
17
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, M., 2009. Pengembangan marka molekuler DNA dalam identifikasi sel
gonad ikan gurame Osphronemus gouramy dan ikan nila Oreochromis
niloticus menggunakan PCR. [Tesis]. Departemen Budidaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor
Alimuddin, Junior, M.Z., Arfah, H., 2009. Teknologi transplantasi sel testikular
dalam rekayasa produksi benih ikan gurame (Osphronemus gouramy).
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 32 p.
Badan Standardisasi Nasional, 2000. Induk ikan gurame (Osphronemus gouramy,
Lac) kelas induk pokok (Parent Stock). SNI : 01-6485.1-2000.
BI, 2010. Sistem informasi pola pembiayaan lending model usaha kecil.
http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=40201&idrb=43601 [7 Oktober
2010].
Brinster, R.L., Zimmermann, J.W., 1994. Spermatogenesis following male germ
cell transplantation. Proc Nat Acad Sci USA 91, 11298-11302.
Brown, T.A., 2010. Gene cloning and DNA analysis: an introduction, sixth ed.
Willey-Balckwell, UK.
Hermawan, A., 2009. Deteksi sel donor ikan gurame Osphronemus gouramy pada
larva ikan nila Oreochromis niloticus. [Skripsi]. Departemen Budidaya
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
KKP, 2010. Rencana strategis kementrian perikanan dan kelautan 2010-2014.
Kementrian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
Lacerda, S.M.S.N., Batlouni, S.R., Silva, S.B.G., Homem, C.S.P., Franca L.R.,
2006. Germ cells transplantation in fish: the Nile-tilapia model. Anim
Reprod 146-159.
Lacerda, S.M.S.N., Batlouni, S.R., Assis, L.H., Resende, F.M., Campos-Silva,
S.M., Campos-Silva, R., Segatelli, T.M., Franca, L.R., 2008. Germ cell
transplantation in tilapia (Oreochromis niloticus). Cybium 32(2), 115-118.
Lacerda, S.M.S.N., Batlouni, S.R,, Costa G.M.J., Segatelli T.M., Bruno R., 2010.
A new and fast technique to generate offspring after germ cells
transplantation in adult fish: the Nile tilapia (Oreochromis niloticus)
model. PLoS ONE 5(5), e10740.
Majhi, S.K., Hattori, R.S., Yokota, M., Watanabe, S., Stru¨ssmann, C.A., 2009.
Germ cell transplantation using sexually competent fish: an approach for
rapid propagation of endangered and valuable germline. PLoS ONE 4(7),
e6132.
Mauluddin, 2009. Studi mengenai morfologi dan komposisi sel testikular ikan
gurame Osphronemus gouramy Lac. [Skripsi]. Departemen Budidaya
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
18
Nicolle, L.E., 1999. Xenotransplantation: an animal future?. Canadian Medical
Association. NOV 161 (10).
Okutsu, T., Suzuki, K., Takeuchi, Y., Takeuchi, T., Yoshizaki, G., 2006a.
Testicular germ cells can colonize sexually undifferentiated embryonic
gonad and produce functional egg in fish. Proc Natl Acad Sci USA 103,
2725-2729.
Okutsu, T., Yano, A., Nagasawa, K., Shikina, S., Kobayashi, T., Takeuchi, K.,
Yoshizaki, G., 2006b. Manipulation of fish germ cells: visualization,
cryopreservation and transplantation. J Reprod Dev 52, 685.
Takeuchi, Y., Yoshizaki, G., Takeuchi, T., 2003. Generation of live fry from
intraperitonially transplantation primordial germ cells in rainbow trout.
Biol Reprod 6, 1142-1149.
Takeuchi, Y., Yoshizaki, G., Takeuchi, T., 2004. Surrogate broodstock produces
salmonids. Nature 430, 629-630.
Takeuchi, Y., Higuchi, K., Yatabe, T., Miwa, M., Yoshizaki, G., 2009.
Development of spermatogonial cell transplantation in nibe croaker, Nibea
mitsukurii (Perciformes, Sciaenidae). BOR Papers in Press
DOI:10.1095/biolreprod.109.077701.
Wikipedia,
2010.
Xenotransplantation.
Available
http://www.wikipedia.com/xenotransplantation.html. [2 Mei 2010].
at
Yazawa, R., Takeuchi, Y., Higuchi, K., Yatabe, T., Kabeya, N., Yoshizaki, G.,
2010. Chub mackerel gonads support colonization, survival, and
proliferation of intraperitoneally transplanted xenogenic germ cells. BOR
Papers in Press DOI:10.1095/biolreprod.109.081281.
Yoshizaki, G., Ichikawa, M., Hayashi, M., Iwasaki, Y., Miwa, M., Shikina, S.,
Okutsu, T., 2010a. Sexual plasticity of ovarian germ cells in rainbow trout.
Development 137, 1227-1230.
Yoshizaki, G., Okutsu, T., Ichikawa, M., Hayashi, M., Takeuchi, Y., 2010b.
Sexual plasticity of rainbow trout germ cells. Anim Reprod 187-196.
19
20
Lampiran 1. Proses penyiapan larva nila resipien
a. Tingkah laku pemijahan induk
nila (mating)
b. Pengurutan (stripping) induk nila
betina dan jantan
c. Fertilisasi buatan
d. Inkubasi telur
e. Larva ikan nila siap ditransplantasi
21
Lampiran 2. Penyiapan ikan donor gurame
a. Ikan donor gurame jantan
b. Penimbangan ikan donor
c. Pembedahan ikan donor
d. Gonad ikan donor
22
Lampiran 3. Prosedur disosiasi testis ikan gurame (Mauluddin, 2009)
Ikan donor ditimbang
Ikan dibedah dan testis diambil
Testis ditimbang
Testis dicacah
1.5 mL larutan tripsin 0,5% dalam PBS dicampurkan pada cacahan testis
Testis dicacah kembali
Dipipet (pipetting) 3-5 menit sampai berbuih
Disaring menggunakan saringan sel ke dalam tabung Eppendorf 1,5 ml
Disentrifugasi 10 menit, 1200 rpm
Supernatan dibuang, endapan disuspensi kembali dengan PBS
Suspensi sel diamati dan dihitung menggunakan haemacytometer di bawah
mikroskop
Sel testikular donor siap ditransplantasikan
23
Lampiran 4. Contoh perhitungan dan penentuan dosis sel donor
Perhitungan
sel
testikular
ikan
donor
dengan
haemocytometer
menggunakan rumus sebagai berikut :
Misalkan volume suspensi sel awal (larutan induk) adalah 200 µl, dilakukan
pengenceran 20 kali (10 µl biang dalam 200 µl suspensi baru) agar sel tidak
terlalu padat untuk
diamati. A, B, C, D, dan E merupakan titik
pengambilan/penghitungan sel testikular. Di titik A terhitung sebanyak 20 sel
testikular, B = 23 sel, C = 26 sel, D = 24 sel, dan E = 25 sel. Jadi jumlah sel/µl
dapat dihitung sebagai berikut :
(dalam haemocytometer)
∑ sel = 5900 sel/µl x 200 µl = 1.180.000 sel (dalam pengenceran 20x)
∑ sel = 1.180.000 sel/µl x 20 = 23.600.000 sel (dalam larutan induk 200 µl)
Jadi konsentrasi sel testikular dalam larutan induk adalah:
∑ sel = 23.600.000 sel/200 µl = 118.000 sel/µl
Penentuan dosis dan pengenceran :
Dosis yang digunakan adalah 20.000 sel/0,5µl/ekor resipien = 40.000 sel/µl/ekor
resipien. Maka pengenceran yang perlu dilakukan adalah 118.000/40.000 = 2,95
kali. Misalkan volume total suspensi sel dengan konsentrasi 40.000 sel/µl (M2)
yang akan digunakan adalah 200 µl (V2), maka volume larutan induk dengan
konsentrasi 118.000 sel/µl (M1) yang diambil (V1) adalah :
V1 x M1 = V2 x M2
Jadi dilakukan pengenceran dengan pengambilan larutan induk sebanyak 67,8 µl
ditambahkan PBS hingga 200 µl yang dapat digunakan untuk transplantasi 400
ekor larva resipien.
24
Lampiran 5. Transplantasi sel donor
a. Set alat mikroinjeksi
b. Proses loading sel
c. Larva resipien pada cekungan
gel agarosa
d. Proses transplantasi sel
25
Lampiran 6. Perbandingan variabel kinerja reproduksi ikan gurame dan
ikan nila
Variabel (satuan)
Ikan Gurame
Ikan Nila
Keterangan
Produksi induk (bulan)
24-36
6-14
Produksi induk nila 3-4 kali lebih
cepat
Bobot induk (kg/ekor)
1,5-2,5
0,3-0,6
Wadah pemeliharaan induk nila 4-5
kali lebih efisien
3.000-12.500
1.000-2.000
750-1.000
3.333
Produksi benih nila 3 kali lebih
banyak
8-12
2-3
Frekuensi produksi benih nila 4 kali
lebih sering
Fekunditas (butir/ekor)
Fekunditas (butir/kg)
Siklus pemijahan
(minggu)
Asumsi: Tidak ada perubahan sifat reproduksi ikan nila resipien
Sifat reproduksi ikan gurame berdasarkan SNI: 01-6485.1-2000 dan sifat
reproduksi ikan nila berdasarkan SNI: 01-6138-1999.
26
Download