tesis program penyadaran kepatuhan cuci tangan dapat

advertisement
87
TESIS
PROGRAM PENYADARAN KEPATUHAN CUCI TANGAN DAPAT
MENINGKATKAN PENGETAHUAN CUCI TANGAN, MENURUNKAN
JUMLAH KOLONI DAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS PADA
TANGAN CO ASS FKG UNMAS DENPASAR
I GUSTI AGUNG GDE OKA ARDANA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016
88
TESIS
PROGRAM PENYADARAN KEPATUHAN CUCI TANGAN DAPAT
MENINGKATKAN PENGETAHUAN CUCI TANGAN, MENURUNKAN
JUMLAH KOLONI DAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS PADA
TANGAN CO ASS FKG UNMAS DENPASAR
I GUSTI AGUNG GDE OKA ARDANA
NIM 1390761032
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016
89
PROGRAM PENYADARAN KEPATUHAN CUCI TANGAN DAPAT
MENINGKATKAN PENGETAHUAN CUCI TANGAN, MENURUNKAN
JUMLAH KOLONI DAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS PADA
TANGAN CO ASS FKG UNMAS DENPASAR
Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister
pada Program Magister, Program Studi Ilmu Biomedik,
Program Pascasarjana Universitas Udayana
I GUSTI AGUNG GDE OKA ARDANA
NIM : 1390761032
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016
90
Lembar Pengesahan
TESIS INI TELAH DISETUJUI
TANGGAL 16 Juni 2016
Pembimbing I,
Dr. dr. I Dewa Made Sukrama, Msi., Sp.MK(K)
NIP. 196404171996011001
Pembimbing II,
Prof.Dr.dr. I Putu Gede Adiatmika, M.Kes.
NIP. 196603091998021003
Mengetahui
Ketua Program Studi Ilmu Biomedik
Program Pascasarjana
Universitas Udayana
Direktur
Program Pascasarjana
Universitas Udayana
Dr.dr.Gde Ngurah Indraguna Pinatih, M.Sc., Sp.G(K)
Prof.Dr.dr. A.A. Raka Sudewi, Sp. S(K)
NIP. 195805211985031002
NIP. 195902151985102001
Tesis Ini Telah Diuji
Pada tanggal
PanitiaPenguji Tesis Berdasarkan SK. Rektor
91
UniversitasUdayana, No.; 2710/UN 14.4 / HK / 2016
Tanggal ; 10 Juni 2016
Ketua
: Dr.dr. I Dewa Made Sukrama, Msi., Sp.MK(K)
Sekretaris
: Prof.Dr.dr.I Putu Gede Adiatmika, M.Kes.
Anggota
: 1. Prof.dr. Ketut Tirtayasa, MS, AIF
2. Prof. Dr. dr. Alex Pangkahila, M.Sc, Sp.And.
3. Dr. dr. I Wayan Putu SutirtaYasa, M.Si
92
93
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Waca, Tuhan Yang
Maha Esa karena atas berkatNYA penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul Program
Penyadaran Kepatuhan Cuci Tangan
dapat Meningkatkan Pengetahuan Cuci Tangan,
Menurunkan Jumlah Koloni dan Bakteri Staphylococcus aureus pada Tangan Co Ass FKG
UNMAS Denpasar. Tesis ini dibuat sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan yang
ditempuh di Program Magister, Program Studi Ilmu Biomedik Universitas Udayana Denpasar.
Terimakasih yang sebesar-besarnya, penulis ingin sampaikan kepada pembimbing satu
yaitu, Dr. dr. I Dewa Made Sukrama, Msi., Sp.MK(K), yang telah penuh perhatian dan kesabaran
memberikan pengarahan, bimbingan, saran, serta waktunya kepada penulis selama tesis ini
dibuat sampai dengan selesai. Terimakasih pula penulis sampaikan kepada Prof. Dr. dr I Putu
Gede Adiatmika, M.Kes. selaku pembimbing kedua yang menyempatkan diri untuk memberikan
pengarahan, bimbingan, dorongan, waktunya serta kritikan dalam pembuatan tesis ini.
Terimakasih juga kepada Co Ass dan RSGM FKG UNMAS Denpasar sebagai subjek / tempat
penelitian dalam menyelesaikan tesis ini.
Ucapan terimakasih dan penghargaan juga penulis sampaikan kepada:
Rektor Universitas Udayana Denpasar Prof. Dr. dr. I Ketut Suastika, Sp.PD (KEMD) atas
kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti pendidikaan Program Magister di
Universitas Udayana, Direktur Pasca Sarjana Universitas Udayana Denpasar, Prof. Dr. dr. A.A.
Raka Sudewi, Sp. S(K) yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas yang diberikan untuk
mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister Universitas Udayana Denpasar.
Ketua Program Studi Ilmu Biomedik Program Pascasarjana Universitas Udayana
Denpasar, Dr.dr.Gde Ngurah Indraguna Pinatih, M.Sc., Sp.G(K) atas kesempatan dan fasilitas
94
yang diberikan untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister Universitas
Udayana Denpasar, seluruh penguji yaitu, Prof.dr. Ketut Tirtayasa, MS, AIF., Prof. Dr. dr.
Alex Pangkahila, MSc, Sp. And., Dr. dr. I Dewa Made Sukrama, Msi., Sp.MK(K), Prof. Dr.dr. I
Putu Gede Adiatmika, M.Kes, dan Dr. dr. Wayan Putu Sutirta Yasa, M.Si., atas masukan dan
kritiknya kepada penulis sehingga dalam penulisan tesis ini dapat menjadi lebih baik.
Seluruh dosen dan pengelola Program Studi Ilmu Biomedik Program Pascasarjana
Universitas Udayana Denpasar, dan Seluruh Dosen yang telah mendidik, mengarahkan serta
membantu penulis selama menempuh pendidikan.
Rektor Universitas Mahasaraswati Denpasar, Dekan FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar,
Direktur RSGM Universitas Mahasaraswati Denpasar, dan Kepala Laboratorium Mikrobiologi
Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana atas kesempatan yang diberikan untuk
menggunakan Labnya selama penelitian ini dilakukan.
Direktur Utama beserta jajarannya dan teman-teman di SMF Gigi dan Mulut RSUP
Sanglah Denpasar yang telah memberikan kesempatan dan dukungan pada saat menempuh
pendidikan. Seluruh teman-teman mahasiswa Program Studi Ilmu Biomedik angkatan 2013
khususnya Ilmu Kedokteran Dasar yang telah bersama-sama menemani baik dalam keadaan
suka maupun duka dalam menempuh masa pendidikan.
Kepada istri tercinta dan terkasih Anak Agung Ayu Rukmasari SE, MSi., yang telah
berkorban dan menemani semenjak awal sampai akhir perkuliahan sudah menjadi teman yang
selalu memberikan inspirasi, motivasi sehingga memberikan rasa optimis dalam menyelesaikan
pendidikan dan tesis ini. Kepada putra-putri dan menantu tersayang, drg. I Gusti Agung Istri
Dentarika, SKG, dr. I Gusti Agung Gde Dendyningrat, S.Ked beserta istri
95
dr.I Gusti Agung Ayu Sri Wulandari Pramana S.Ked. dan I Gusti Agung Gde Dennyningrat
yang telah membuat penulis merasa terhibur dan semangat dalam menyelesaikan pendidikan dan
tesis ini. Kepada cucu manisku yang tersayang dan terkasih I Gusti Agung Mas Luna Atalya dan
Anak Agung Ayu Kaesra dengan kelucuan dan kepolosannya telah membuat penulis merasa
terhibur dan semangat dalam menyelesaikan pendidikan dan tesis ini serta semua pihak yang
belum tersebutkan, yang telah membantu dan memberikan dukungan samapai selesainya tesis
ini.
Penulis sadar bahwa tesis ini tidak sempurna, sehingga masukan dan kritik untuk
perbaikan kearah yang lebih baik sangat diharapkan. Akhir kata penulis berharap, tesis ini dapat
membawa manfaat untuk para pembaca, khususnya para individu yang bergerak dalam bidang
kedokteran / kedokteran gigi.
Denpasar, Mei 2016
Penulis
ABSTRAK
PROGRAM PENYADARAN KEPATUHAN CUCI TANGAN DAPAT MENINGKAT
PENGETAHUAN CUCI TANGAN, MENURUNKAN JUMLAH KOLONI BAKTERI
DAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS PADA TANGAN CO ASS FKG UNMAS
DENPASAR.
Presentase data infeksi nosokomial di Indonesia masih cukup tinggi yaitu sebesar 6-16 %
dengan rata-rata 9,8%. Untuk menurunkan angka infeksi nosokomial dapat dilakukan dengan
program penyadaran
kepatuhan cuci tangan dengan cara meningkatkan pengetahuan cuci
tangan. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan cuci tangan sehingga dapat
menurunkan jumlah koloni bakteri dan bakteri Staphylococcus aureus pada tangan.
Rancangan penelitian ini pre-post test control group design, dengan jumlah sampel 28
orang Co Ass FKG UNMAS yang terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok kontrol melakukan
cuci tangan sesuai prosedur tetap, kelompok perlakuan melakukan cuci tangan dengan program
penyadaran kepatuhan cuci tangan dan rerata perbedaan hasil diuji secara statistik.
Hasil analisis data pengetahuan sebelum perlakuan dengan uji t-independent, t = 0,141
dan nilai p = 0,889, artinya skor pengetahuan sebelum perlakuan kedua kelompok tidak berbeda
96
(p>0,05). Sedangkan sesudah perlakuan, skor pengetahuan dengan uji t-independent, t = 3,89 dan
nilai p = 0,001, artinya skor pengetahuan sesudah perlakuan pada kedua kelompok berbeda
secara bermakna (p<0.05). Hasil analisis data koloni bakteri sebelum perlakuan dengan uji
Mann-Whitney, p = 0,110, artinya median koloni bakteri sebelum perlakuan pada kedua
kelompok tidak berbeda (p>0,05). Sedangkan sesudah perlakuan, p = 0,139, artinya median
koloni bakteri sesudah perlakuan pada kedua kelompok tidak berbeda secara bermakna (p>0,05).
Hasil analisis data koloni bakteri Staphylococcus aureus sebelum perlakuan, dengan uji MannWhitney, p = 0,180, artinya median koloni bakteri Staphylococcus aureus sebelum perlakuan
pada kedua kelompok tidak berbeda (p>0,05). Sedangkan sesudah perlakuan, p = 0,100, artinya
median koloni bakteri Staphylococcus aureus sesudah perlakuan pada kedua kelompok tidak
berbeda secara bermakna (p>0,05).
Simpulan bahwa program penyadaran
kepatuhan cuci tangan dapat meningkatkan
pengetahuan cuci tangan, tidak dapat menurunkan jumlah koloni bakteri dan bakteri
Staphylococcus aureus pada tangan Co Ass FKG UNMAS Denpasar
Kata kunci : program penyadaran kepatuhan cuci tangan, pengetahuan cuci
tangan, jumlah koloni bakteri dan bakteri Staphylococcus
aureus.
97
ABSTRACT
HAND WASHING COMPLIANCE AWARENESS PROGRAM ABLE TO IMPROVE
KNOWLEDGE OF HAND WASHING, TO REDUCE NUMBER OF COLONIES AND
BACTERIA STAPHYLOCOCCUS AUREUS ON HAND OF CO ASS FKG UNMAS DENPASAR
The percentage of nosocomial infections in Indonesia ws still high enough at 6-16% with mean of
9,8%. To reduce number of nosocomial infections can be conducted by hand washing compliance
awareness program by improve the knowledge of hand washing. Aim to increase awareness and
compliance with hand washing so as to reduce the number of bacterial colonies and bacteria
Staphylococcus aureus on hand.
This study was conducted with pre-post test control group design, by number of sample was 28
students of Co Ass of FKG UNMAS they were divided into two groups, that were the control group who
they was washed their hands according to the permanent procedure and the treatment group who was
handwashing with hand washing compliance awareness programs and mean differences were statistically
tested result.
The results of data analysis of knowledge at pre-test with independent t-test, t = 0.141 and p =
0.889, its meaning the knowledge score before treatment at both groups did not signficant (p> 0,05).
While after treatment, the score of knowledge by t-independent, t = 3,89 and p = 0,001, its meaning the
knowledge score after treatment in both groups differed significantly (p <0,05). The results of the data
analysis of bacterial colonies pre-test with the Mann-Whitney test, p = 0,110, its meaning that the median
of bacterial colonies before treatment in both groups did not significant (p > 0,05). Whereas after
treatment, p = 0,139, its means theat median of bacterial colonies after treatment in both groups did not
significant (p > 0,05). The results of the data analysis of bacteria Staphylococcus aureus before
treatment, with the Mann-Whitney test, p = 0,180, its means that median of bacteria Staphylococcus
aureus before treatment in both groups did not significant (p > 0,05). Whereas after treatment, p = 0,100,
its meaning median of bacteria Staphylococcus aureus after treatment in both groups did not significant
(p > 0,05).
The conclusion that hand washing compliance awareness program can improve knowledge of
hand washing, , but did not reduce the number of bacterial colonies and the bacteria Staphylococcus
aureus on hands Co Ass of FKG UNMAS Denpasar
Keywords : hand washing compliance awareness programs, knowledge of hand
washing, number of bacterial colonies and bacteria Staphylococcus
aureus
DAFTAR ISI
98
SAMPUL DEPAN
…………………………………………………
i
PRASYARAT GELAR
…………………………………………………….
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
…………………………………………………….
iii
PENETAPAN PANITIA
PENGUJI
……………………………………………………
iv
UCAPAN TERIMA KASIH ……………………………………………………
v
ABSTRAK
…………………………………………………
ix
ABSTRACT
…………………………………………………
x
DAFTAR ISI
…………………………………………………..
xi
DAFTAR TABEL
…………………………………………………
xvi
DAFTAR GAMBAR
…………………………………………………….
xvii
DAFTAR SINGKATAN
…………………………………………………….
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
…………………………………………………
xix
BAB I
PENDAHULUAN …………………………………………….
1
1.1
Latar belakang ………………………………………
1
1.2
Rumusan masalah …………………………………...
9
1.3
Tujuan ………………………………………………
9
1.4
1.3.1.
Tujuan umum ………………………….....
9
1.3.2.
Tujuan khusus ……………………………
9
Manfaat penelitian ………………………………….
1.4.1.
Manfaat akademis ……………………….
10
10
99
1.4.2.
BAB II
Manfaat praktis …………………………..
KAJIAN PUSTAKA ……………………………………….....
10
11
2.1
Infeksi nosokomial………………………………….
11
2.2
Bakteri ………………………………………………
12
2.2.1.
Bakteri pada tangan manusia………………
15
2.2.2.
Bakteri penyebab infeksi nosokomial…….
15
2.3
Pencegahan infeksi nosokomial…………………….
16
2.4
Hand hygiene………………………………………....
18
2.4.1
Ruang lingkup hand hygiene……………..
19
2.4.2
Tata laksana hand hygiene…………………….
20
2.4.3
Enam (6) langkah cuci tangan …………….
21
2.4.4
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam cuci
23
tangan………………………………………
2.4.5
Hambatan untuk cuci tangan ………………
23
2.4.6
Langkah-langkah untuk meningkatkan kepatuhan
24
cuci tangan ……………………..
2.4.7
2.5
Tujuh fakta cuci tangan pakai sabun…..……
24
Program penyadaran (Awareness program)……………..
25
2.5.1
Tujuan program penyadaran …………………...
25
2.5.2
Faktor-fakor yang mempengaruhi perilaku cuci
tangan ……………………………………………
26
100
BAB III
KERANGKA
BERPIKIR,
KONSEP,
DAN
HIPOTESIS
PENELITIAN ………………………………………………..
BAB IV
28
3.1
Kerangka berpikir ………………………………….
28
3.2
Konsep penelitian ………………………………….
30
3.3
Hipotesis penelitian………………………………...
30
METODE PENELITIAN …………………………………….
32
4.1
Rancangan penelitian ………………………………
32
4.2
Tempat dan waktu penelitian ……………………..
33
4.3
Penentuan sumber data……………………………
33
4.3.1
Populasi penelitian ……………………….
33
4.3.2
Sampel penelitian………………………..
33
4.3.3.
Kriteria eligibilitas………………………..
34
4.3.4.
Besar sampel………………………………
35
4.3.5.
Tehnik pengambilan sampel………………
35
4.4.
Variabel penelitian ………………………………..
36
4.5.
Hubungan antar variabel ………………………..
37
4.6.
Definisi operasional variabel …………………….
37
4.7.
Bahan dan alat penelitian………………
39
4.7.1.
Bahan……………………………………….
39
4.7.2.
Alat ………………………………………
39
101
4.8.
Prosedur penelitian ……………………………….
40
4.8.1.
Tahap persiapan………………………….
40
4.8.2.
Tahap pemilihan dan penentuan sampel
40
4.8.3.
Tahap pelaksanaan penelitian …………..
41
4.8.4.
Alur penelitian ……………………………
44
4.8.5.
Analisis data ………………………………
44
HASIL DAN PEMBAHASAN………………
46
Hasil ……………………………………………
46
BAB V
5.1
5.1.1
Pengetahuan Cuci Tangan ……………………... 46
5.1.2
Jumlah Koloni Bakteri …………………………
48
5.1.3
Jumlah Bakteri Staphylococcus aureus …….
52
Pembahasan…………………………………….
55
5.2.1
Pengetahuan Cuci Tangan……………………..
55
5.2.2
Jumlah Koloni Bakteri…………………………
59
5.2.3
Jumlah Bakteri Staphylococcus aureus …….
69
SIMPULAN DAN SARAN…………………….
77
6.1
Simpulan ……………………………………….
77
6.2
Saran……………………………………………
77
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………………………..
79
LAMPIRAN………………………………………………………………………
87
5.2
BAB VI
102
DAFTAR TABEL
5.1
Hasil Uji Normalitas Data Pengetahuan ……………….…...…………..
46
5.2
Homogenitas Pengetahuan antar Kelompok Perlakuan …………………
47
5.3
Perbedaan Rerata Skor Pengetahuan antar Kelompok Sebelum Program
Penyadaran Kepatuhan Cuci Tangan ……….……………...……………
47
Perbedaan Rerata Skor Pengetahuan antar Kelompok Sesudah Program
Penyadaran Kepatuhan Cuci Tangan.........................................................
48
5.4
5.5
Jenis dan Rerata Jumlah Koloni Bakteri yang di Isolasi dari Swab
Telapak Tangan Sampel pada Kelompok Kontrol dan Perlakuan
(n=14)……………………………………………………………………
49
5.6
Hasil Uji Normalitas Data Jumlah Koloni Bakteri ………………………
50
5.7
Rerata Jumlah Koloni Bakteri yang di Isolasi dari Swab Telapak Tangan
Sampel pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan Sebelum dan
Sesudah Cuci Tangan……………………………………………….....…
50
Rerata Jumlah Koloni Bakteri yang di Isolasi dari Swab Telapak Tangan
Sampel pada Kelompok Kontrol antara Sebelum dengan Sesudah
Perlakuan…………………………………………………………………
51
Jenis dan Rerata Jumlah Koloni Bakteri Staphylococcus aureus yang di
Isolasi dari Swab Telapak Tangan Sampel pada Kelompok Kontrol dan
Perlakuan (n=14)………………………………………………………….
53
5.8
5.9
5.10
Rerata Jumlah Koloni Bakteri Staphylococcus aureus yang di Isolasi dari
Swab Telapak Tangan Sampel pada Kelompok Kontrol dan Kelompok
Perlakuan Sebelum dan Sesudah Cuci Tangan …………………………... 54
5.11
Rerata Jumlah Koloni Bakteri Staphylococcus aureus yang di Isolasi dari
Swab Telapak Tangan Sampel pada Kelompok Kontrol dan Kelompok
Perlakuan antara Sebelum dengan Sesudah Perlakuan…………………... 54
103
DAFTAR GAMBAR
2.1
Lima waktu ( momen ) cuci tangan (WHO, 2009)………………………………….
21
2.2
Lima langkah cuci tangan pakai sabun (WHO, 2009)…………………….................
22
3.1
Konsep penelitian…………………………………………………………………….
30
4.1
Rancangan penelitian……………………………………………………...................
32
4.2
Hubungan antara variabel……………………………………………………………. 37
4.3
Alur penelitian……………………………………………………………………….. 44
5.1
Jenis dan jumlah koloni bakteri sebelum perlakuan pada media Plate Count
Agar……………………………………………………………………….................. 48
5.2
Jenis dan jumlah koloni bakteri sesudah perlakuan pada media Plate Count
Agar…………………………………...……………………………………............... 49
5.3
Identifikasi bakteri Staphylococcus aureus dengan API 20 E Biomeriux dengan
sistim perubahan warna ……………………………………………………………... 52
5.4
Identifikasi
bakteri Staphylococcus aureus pada mikroskop Olympus dengan
pembesaran 1000 X……………………….………………..……………………….. 52
104
DAFTAR LAMPIRAN
1.
Lampiran 1
Jawaban Permohonan Data Infeksi dan Kepatuhan Kebersihan Tangan
87
2.
3.
4.
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
Data infeksi dan kepatuhan kebersihan tangan………………………….
Penyerahan Ethical Clearence ………………………………………….
Keterangan Kelaikan Etik……………………………………………….
88
89
90
5.
Lampiran5
Amandemen Perubahan Judul Penelitian ………………………………. 91
6
Lampiran 6 D
Data Pengisian Responden………………………………………………
7
Lampiran 7
Lembar Kuesioner………………………………………………………. 93
8
Lampiran 8
Informed Consent………………………………………………………..
96
9
Lampiran 9
Jumlah Kolon Bakteri…………………………………………………...
97
10
Lampiran 10
11
Lampiran 11
12
Lampiran 12
Uji Normalitas Data Pengetahuan Baik Sebelum dan Sesudah
Perlakuan………………………………………………………………. 98
Uji t-independent Data Pengetahuan antar Kelompok Sebelum dan
Sesudah Perlakuan……………………………………………………… 98
Uji Normalitas Data Jumlah Koloni Bakteri……………………………. 99
13
Lampiran 13
Uji Mann-Whitney Jumlah Koloni Bakteri Sebelum Perlakuan dan
Sesudah Perlakuan antar Kelompok Perlakuan………………………. 99
14
Lampiran 14
Uji Wilcoxon Jumlah Koloni Bakteri antara Sebelum dengan Sesudah
Perlakuan pada Kelompok Kontrol……………………………………. 100
15
Lampiran 15
Uji Wilcoxon Jumlah Koloni Bakteri antara Sebelum dengan Sesudah
Perlakuan pada Kelompok Perlakuan………………………………….. 101
16
Lampiran 16
Uji Mann-Whitney Jumlah Koloni Bakteri Staphylococcus aureus
Sebelum Perlakuan……………………………………………………… 102
17
Lampiran 17
Uji Mann-Whitney Jumlah Koloni Bakteri Staphylococcus aureus
Sesudah Perlakuan……………………………………………………… 103
18
Lampiran 18
Uji Mann-Whitney Jumlah Koloni Bakteri Staphylococcus aureus
antara Sebelum dan Sesudah perlakua pada kelompok kontrol……… 104
19
Lampiran 19
Uji Mann-Whitney Jumlah Koloni Bakteri Staphylococcus aureus
antara Sebelum dengan Sesudah Perlakuan pada Kelompok
Perlakuan……………………………………………………………….. 104
92
105
DAFTAR SINGKATAN
AIDS
: Aquired Immunodeficiency Syndrom
APIC
: Association for Professionals in Infection Control
CDC
: Centers for Disease Control and Prevention
CFU
: Coloni Forming Unit
Co Ass
: Co Asisten
CTPS
: Cuci tangan pakai sabun
Depkes
: Departemen Kesehatan
DKI
: Daerah Khusus Ibukota
EMBA
: Eosin Methylen Blue Agar
FKG
: Fakultas Kedokteran Gigi
HAIs
: Health-care Associated Infection
HBV
: Hepatitis B virus
HIV
: Human immunodeficiency virus
ISPA
: Infeksi Saluran Pernafasan Atas
Kemenkes
: Kementerian Kesehatan
LOS
: Length of stay
ml
: mili liter
PCA
: Plate Count Agar
RI
: Republik Indonesia
RSGM
: Rumah Sakit Gigi dn Mulut
RSU
: Rumah Sakit Umum
RSUD
: Rumah Sakit Umum Daerah
RSUP
: Rumah Sakit Umum Pusat
TSBA
: Tryptic Soy Broth Agar
UNMAS
: Universitas Mahasaraswati
VP
: Voges Proskauer
WHO
: World Health Organization
106
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Infeksi dapat terjadi pada semua orang yang kontak dengan pasien termasuk di dalamnya
Co Ass ( mahasiswa program pendidikan profesi dokter gigi )
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Mahasaraswati Denpasar, karena mereka tidak terlepas dari kemungkinan untuk
berkontak secara langsung ataupun tidak langsung dengan mikroorganisme dalam saliva dan
darah pasien.
Penyebaran infeksi dapat terjadi melalui transmisi mikroorganisme dari serum dan dari
tangan yang tidak bersih. Hal ini dapat menyebabkan pelayanan dalam praktek kedokteran gigi
menempatkan mahasiswa program pendidikan profesi kedokteran gigi berisiko tinggi terutama
terhadap penyakit menular / infeksi nosokomial berbahaya yang disebabkan oleh bakteri dan
virus dari pasien dan sebaliknya pada waktu menjalankan proses pendidikan profesinya di
Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM).
Presentase data infeksi nosokomial di rumah sakit dunia mencapai 9% (WHO) variasi 3
– 21% atau lebih dari 1,4 juta pasien rawat inap di rumah sakit seluruh dunia mendapatkan
infeksi nosokomial. Penelitian lain yang dilakukan oleh World Health Organization
menunjukkan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa,
Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik menunjukkan adanya infeksi nosokomial, dan untuk
Asia Tenggara sebanyak 10,0% (WHO, 2002).
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang angka infeksi nosokomialnya masih
cukup tinggi, data kejadian infeksi nosokomial di Indonesia dapat dilihat dari data surveilans
107
yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI pada tahun 1987 di sepuluh (10) RSU
Pendidikan diperoleh angka infeksi nosokomial sebesar 6-16 % dengan rata-rata 9,8 %, dan
penelitian yang pernah dilakukan di 11 rumah sakit di DKI Jakarta pada 2004 menunjukkan
bahwa 9,8 % pasien rawat inap mendapat infeksi yang baru selama dirawat (Balaguris, 2009).
Dari beberapa rumah sakit lain dilaporkan
hasil penelitian angka kejadian infeksi
nosokomial tahun 2005 adalah di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta sebesar 7,94%, Rumah Sakit
Dr.Sutomo Surabaya sebesar 14,60%, Rumah Sakit Bekasi sebesar 5,06%, Rumah Sakit Hasan
Sadikin Bandung sebesar 4,60%, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta sebesar 4,60%
(Bady et al., 2007).
Infeksi terjadi karena adanya interaksi segitiga epidemiologi yang sering dikenal dengan
istilah trias epidemiologi yaitu ; host (tuan rumah / penjamu), environment ( lingkungan ) dan
agent ( mikro organisme / bakteri ) (Maryani dan Muliani, 2010). Semua mikro organisme
termasuk bakteri, virus, jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi ini
dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain atau disebabkan oleh flora
normal dari pasien itu sendiri.
Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit lebih disebabkan karena faktor eksternal,
yaitu penyakit yang penyebaran mikro organismenya melalui benda atau bahan-bahan yang tidak
steril,
termasuk
dari
tangan
petugas
kesehatan
yang
kurang
bersih
akibat
tidak
mengimplementasikan panduan kebersihan tangan secara baik dan benar (WHO,2009).
Sejak ditemukan mikroskop oleh Antony van Leeuwenhoek pada tahun 1683 (Gupte,
1990), dapat diketahui ternyata kuman ada di mana-mana, di air, tanah, udara, benda-benda,
bahkan di tubuh setiap orang misalnya pada telapak tangan, ujung jari dan di bawah kuku seperti
108
E.coli, Salmonella sp, Shigela sp, Clostridium perfringens, Giardia lamblia, virus Norwalk dan
virus hepatitis A (Synder, 1988).
Flora tetap tidak bersifat patogen yang sering dijumpai pada kulit seperti Staphylococcus
epidermis, Staphylococcus koagulase, Corynebaterium (Trampuz & Widmer, 2004), sedangkan
flora tetap yang patogen adalah Staphylococcus aureus (Synder, 2001). Keberadaan kumankuman yang tidak kasat mata tersebut seringkali membuat kita tidak sadar akan bahaya berbagai
penyakit yang dapat ditimbulkan (Rachmawati dan Triyana,2008).
Bakteri patogen penyebab infeksi nosokomial yang paling umum adalah Staphylococcus
aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter spp, dan Klebsiella pneumonia
(Tennant dan Harding, 2005 ; Prabhu et al., 2006). Berdasarkan data, penyebab infeksi
nosokomial yang paling sering adalah Escherichia coli dan Staphylococcus aureus (Zulkarnain,
2009 ; Bereketet al., 2012).
Peningkatan insiden infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan virus hepatitis B
(HBV)
menyebabkan
peningkatan
kewaspadaan
terhadap
infeksi
silang
semakin
meningkat.Tingkat disiplin pada pengendalian infeksi telah meningkat selama 10 tahun terakhir.
Hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan insidensi AIDS yang lebih beresiko mengenai
tenaga medis kedokteran gigi. Pasien dan tenaga medis di kedokteran gigi beresiko untuk tertular
mikro- organisme patogen yang menginfeksi rongga mulut. Penyakit infeksi dapat menyebar di
tempat praktek melalui kontak secara langsung antara manusia dengan manusia, atau secara
kontak tidak langsung dari alat, bahan dan tempat pelayanan dengan manusia (Wibowo et al.,
2009).
Kegiatan pencegahan dan pengedalian infeksi di rumah sakit dan fasilitas pelayanan
kesehatan lainnya merupakan suatu standar mutu pelayanan dan penting bagi pasien, petugas
109
kesehatan maupun pengunjung rumah sakit. Pengendalian infeksi harus dilaksanakan oleh semua
rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya untuk melindungi pasien, petugas kesehatan dan
pengunjung dari kejadian infeksi.
Untuk itu Departemen Kesehatan menetapkan lima rumah sakit sebagai pusat pelatihan
regional pencegahan dan pengendalian infeksi, yaitu RSUP Adam Malik Medan, RSUP Dr
Hasan Sadikin Bandung, RSUP Dr SardjitoYogyakarta, RSUD Dr Soetomo Surabaya, dan RSUP
Sanglah Denpasar (Depkes.RI., 2007).
Pencegahan dan pengendalian infeksi mutlak harus dilakukan oleh perawat, dokter/dokter
gigi termasuk calon dokter gigi dan seluruh orang yang terlibat dalam perawatan pasien.Salah
satu cara/ usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah terjdinya infeksi nosokomial adalah
dengan dekontaminasi tangan dimana transmisi penyakit melalui tangan dapat diminimalisasi
dengan menjaga kebersihan tangan dengan cara cuci tangan (Depkes.RI., 2007). Cuci tangan
menjadi salah satu langkah yang efektif untuk memutuskan rantai transmisi infeksi, sehingga
insidensi nosokomial dapat berkurang.
Salah satu komponen standar kewaspadaan dan usaha menurunkan infeksi nosokomial
adalah menggunakan
panduan kebersihan tangan (hand hygiene)
yang benar dan
mengimplementasikan secara benar dan efektif (WHO, 2002). Kebiasaan cuci tangan tidak
timbul begitu saja, tetapi harus dibiasakan sejak kecil.Anak-anak merupakan agen perubahan
untuk memberikan edukasi baik untuk diri sendiri dan lingkungannya sekaligus mengajarkan
pola hidup bersih dan sehat.Anak-anak juga cukup efektif dalam memberikan contoh terhadap
orang yang lebih tua khususnya mencuci tangan yang selama ini dianggap remeh (Batanoa,
2008).
110
Peran tangan sebagai sarana transmisi kuman patogen telah disadari sejak tahun 1840an,
dengan cuci tangan diharapkan akan mencegah penyebaran kuman patogen melalui tangan .Sejak
itu banyak penelitian yang memastikan bahwa dokter yang membersihkan tangannya dari kuman
sebelum dan sesudah memeriksa pasien dapat mengurangi angka infeksi rumah sakit (Teare,
1999).Cuci tangan merupakan suatu hal yang sederhana yang biasa kita lakukan tapi sangat besar
manfaatnya. Aktivitas cuci tangan menyebabkan hilangnya kotoran di tangan secara mekanis
(tanah, bahan-bahan organik) dan flora yang melekat di tangan sehingga cuci tangan dapat
menurunkan jumlah kuman di tangan (Girou et al., 2002).
Perilaku cuci tangan pakai sabun merupakan intervensi kesehatan yang paling murah dan
efektif dibandingkan dengan hasil intervensi kesehatan dengan cara lainnya dalam mengurangi
risiko penularan berbagai penyakit (Fewtrell et al., 2005). Oleh karena itu kebersihan tangan
dengan mencuci tangan perlu mendapat prioritas yang tinggi, karena cuci tangan dengan sabun
sebagai pembersih, penggosokan, dan pembilasan dengan air mengalir akan menghanyutkan
partikel kotoran yang banyak mengandung mikroorganisme (Fatonah, 2005).
Tangan adalah salah satu penghantar utama masuknya kuman penyakit ke tubuh manusia,
cuci tangan dengan sabun dapat menghambat masuknya kuman penyakit ke tubuh manusia
melalui perantaraan tangan, hampir semua orang mengerti pentingnya cuci tangan pakai sabun
namun tidak membiasakan diri untuk melakukannya dengan benar (Depkes.RI., 2010).
Kebersihan tangan merupakan salah satu cara yang paling penting untuk mencegah penyebaran
infeksi.
Penyedia layanan kesehatan harus berlatih dan membiasakan dengan kebersihan tangan
pada titik-titik kunci sebelum kontak dengan pasien, setelah kontak dengan cairan tubuh atau
darah atau permukaan yang terkontaminasi, sebelum prosedur invasif, dan setelah melepas
111
handscoens, karena mencuci tangan merupakan salah satu unsur pencegahan penularan infeksi
(CDC, 2012).
Cuci tangan merupakan salah satu cara yang mudah untuk pencegahan dan pengendalian
infeksi nosokomial, tetapi pada kenyataannya cuci tangan ini tidak dilakukan karena banyaknya
alasan seperti kurangnya sarana-prasarana, alergi sabun pencuci tangan, sedikitnya pengetahuan
mengenai pentingnya cuci tangan, dan waktu mencuci tangan yang lama (Lankford et al., 2003).
Hasil Studi Formatif Perilaku Higienitas yang digelar Water and Sanitation Program
menunjukkan, perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) belum menjadi praktik yang umum
ataupun norma sosial (USAID, 2006) dan angka prevalensi nasional berperilaku benar dalam
cuci tangan adalah 23,2% (Depkes. RI, 2008a). Kebiasaan masyarakat Indonesia dalam mencuci
tangan pakai sabun hingga kini masih tergolong rendah, indikasinya dapat terlihat dengan
tingginya prevalensi penyakit diare (Depkes. R.I. 2008) dan
tercatat rata-rata hanya 12%
masyarakat yang melakukan cuci tangan pakai sabun (Kemenkes. RI., 2010).
Dari 99,6% mahasiswa kedokteran mengetahui prosedur cuci tangan yang benar, namum
dalam kenyataannya hanya 52,9% dari mereka menganggap itu sebagai tindakan preventif yang
paling penting untuk mengontrol infeksi (Huang et al., 2013). Cuci tangan adalah tindakan
sederhana, tetapi kurangnya kepatuhan diantara penyedia layanan kesehatan adalah masalah di
seluruh dunia (WHO, 2009).
Penelitian lain yang mengamati tingkat kepatuhan cuci tangan petugas kesehatan di unit
perawatan intensif Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara hasilnya menunjukkan bahwa
tingkat kepatuhan cuci tangan paling tinggi adalah perawat 43%, dokter 19% dan tenaga
kesehatan lainnya 28% (Jamaluddin et al., 2012), sedangkan hasil penelitian perbedaan angka
kepatuhan cuci tangan petugas kesehatan di RSUP Kariadi Semarang hasilnya adalah angka
112
kepatuhan cuci tangan perawat 31,31%, residen 21,22% dan Co Ass 21,69% (Suryoputri,
2011).
Tingkat kepatuhan cuci tangan dikalangan mahasiswa program pendidikan profesi
kedokteran Fakultas Kedokteran Univesitas Udayana Denpasar juga masih rendah, terbukti dari
data RSUP Sanglah Denpasar menunjukkan tingkat kepatuhan cuci tangan periode April – Juni
2014 adalah 24,32 % , periode Juli – September 2014 adalah 44,83 % (RSUP Sanglah, 2015).
Data-data tersebut diatas menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan cuci tangan masih
rendah, masih berada dibawah standar WHO yang mewajibkan kepatuhan cuci tangan harus
lebih dari 50%. Kebiasaan cuci tangan wajib dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran
Gigi (FKG) termasuk Co Ass FKG UNMAS, namun sampai saat ini datanya belum dijumpai
sehingga perlu dilakukan penelitian.
Analisis penyebab ketidak patuhan akibat kurangnya pengetahuan dan informasi yang
ilmiah tentang hand hygiene sehinggaa menjadi penghambat atau kurangnya motivasi untuk taat
dalam melakukan cuci tangan sesuai dengan rekomendasi (Pitted, 2001 ; WHO 2002), faktor
ketidak mengertian akan tekhnik hand hygiene atau standar hand hygiene (Burke, 2003),
kurangnya pengetahuan terhadap standar (Lankfordet al.,2003), kurangnya pendidikan cuci
tangan (WHO, 2005), kurangnya sosialisasi cuci tangan yang baik dan benar (Jamaluddin et al.,
2012), oleh karenanya diperlukan Program penyadaran (Awareness program).
Dengan adanya permasalahan tersebut di atas mendorong peneliti untuk melakukan
penelitian tentang program penyadaran (Awareness program) dengan judul program penyadaran
kepatuhan cuci tangan dapat meningkatkan pengetahuan cuci tangan, dapat menurunkan jumlah
koloni bakteri dan jumlah bakteri
Staphylococcus aureus pada tangan
Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar.
Co Ass Fakultas
113
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang diuraikan di atas , maka dapat disusun
rumusan masalah sebagai berikut ;
1 Apakah program penyadaran kepatuhan cuci tangan dapat meningkatkan
pengetahuan cuci tangan Co Ass FKG UNMAS Denpasar ?
2 Apakah program penyadaran kepatuhan cuci tangan dapat
menurunkan
jumlah koloni bakteri pada tangan Co Ass FKG UNMAS Denpasar ?
3 Apakah program penyadaran kepatuhan cuci tangan dapat menurunkan
jumlah bakteri Staphylococcus aureus pada tangan Co Ass FKG UNMAS
Denpasar ?
1.3 Tujuan
1 Tujuan umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa program penyadaran
kepatuhan cuci tangan dapat meningkatkan pengetahuan cuci tangan, menurunkan jumlah koloni
bakteri dan jumlah bakteri Staphylococcus aureus pada tangan Co Ass FKG UNMAS Denpasar
2 Tujuan khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
1. Untuk membuktikan
bahwa program penyadaran kepatuhan cuci
tangan dapat meningkatkan pengetahuan cuci tangan Co Ass FKG
UNMAS Denpasar.
2. Untuk membuktikan bahwa program penyadaran kepatuhan cuci
tangan dapat menurunkan jumlah koloni bakteri pada tangan Co
Ass FKG UNMAS.
114
3. Untuk membuktikan bahwa program penyadaran kepatuhan cuci tangan dapat menurunkan jumlah bakteri Staphylococcus aureus pada
tangan Co Ass FKG UNMAS
1.4 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1 Manfaat akademis ;
Penelitian ini dapat dipakai acuan dalam panduan kebersihan tangan
yang sangat penting untuk pencegahan terjadinya infeksi nosokomial.
2 Manfaat praktis ;
1. Pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial dapat dilakukan
dengan program penyadaran kepatuhan cuci tangan.
2. Kalau program penyadaran kepatuhan cuci tangan
terbukti dapat
meningkatkan pengetahuan cuci tangan, dapat menurunkan jumlah
kolon bakteri dan jumlah bakteri Staphylococcus aureus pada tangan
maka program penyadaran kepatuhan cuci tangan dapat disosialisasikan ke peserta didik khususnya dilingkungan Co Ass Fakultas Kedok
teran Gigi dan profesi kesehatan lainnya.
115
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Infeksi nosokomial.
Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroba patogen dan bersifat
sangat dinamis.Salah satu penyakit infeksi yang merupakan penyebab meningkatnya angka
kesakitan (morbidity) dan angka kematian (mortality) di rumah sakit adalah infeksi nosokomial,
yang dikenal pertama kali pada tahun 1847 oleh Semmelweis dan sampai sekarang tetap menjadi
masalah yang cukup menyita perhatian rumah sakit (Darmadi, 2008). Infeksi ini menyebabkan
1,4 juta kematian setiap hari di seluruh dunia (WHO, 2002).
Nosokomial berasal dari bahasa Yunani,dari kata nosos yang artinya penyakit dan komeo
yang artinya merawat. Nosokomion berarti tempat untuk merawat atau rumah sakit. Jadi infeksi
nosokomial dapat diartikan sebagai infeksi yang terjadi di rumah sakit dan menyerang penderitapenderita yang sedang dalam proses pelayanan rumah sakit (Darmadi, 2008), dan infeksi
nosokomial terjadi lebih dari 48 jam setelah pasien masuk rumah sakit (Prabu et al., 2006).
Sedangkan menurut WHO infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat di rumah sakit
dan fasilitas kesehatan lainnya, yang terjadi 48 jam setelah masuk rumah sakit, 3 hari setelah
pulang dari rumah sakit, sampai 30 hari setelah operasi, ketika pasien dirawat untuk penyakit
non
infeksi . Infeksi nosokomial atau yang sekarang disebut juga sebagai infeksi yang
berhubungan dengan pelayanan kesehatan atau Health-care Associated Infection (HAIs) dapat
juga didefinisikan sebagai infeksi yang didapat oleh pasien selama perawatan di rumah sakit
atau pelayanan kesehatan lainnya setelah pasien masuk rumah sakit dalam kurun waktu 48 – 72
11
jam , pada saat itulah penularan saling silang itu bisa terjadi. Infeksi ini tidak hanya terjadi
116
kepada pasien, tetapi dapat juga terjadi pada semua tenaga kesehatan yang bekerja didalamnya
serta pengunjung rumah sakit (WHO, 2002).
Proses terjadinya penyakit infeksi adalah akibat adanya interaksi segitiga epidemiologi,
sering dikenal dengan istilah trias epidemiologi dan merupakan konsep dasar yang memberikan
gambaran tentang hubungan antara tiga faktor utama yang berperan dalam terjadinya penyakit
dan masalah kesehatan lainnya, yaitu host (penjamu), environment (lingkungan), dan
agent
(bakteri) (Maryani dan Mulyani, 2010).
Infeksi nosokomial disebabkan oleh patogen yang mudah menyebar ke seluruh tubuh,
terutama pada pasien rumah sakit dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah , sehingga
mereka kurang mampu untuk melawan infeksi. Dalam beberapa kasus, pasien mengalami infeksi
karena kondisi / atau fasilitas kesehatan di rumah sakit yang buruk, atau karena staf rumah sakit
tidak mengikuti prosedur yang tepat seperti cuci tangan yang baik dan benar (WHO,2009).
2.2 Bakteri.
Penemuan mikroskop oleh Antony van Leeuwenhoek pada tahun 1683 (Gupte, 1990),
telah membuka tabir ternyata kuman/mikroorganisme berada di mana-mana, di air, tanah, udara,
benda-benda, bahkan di tubuh manusia, termasuk pada telapak tangan. Keberadaan kumankuman yang tidak kasat mata tersebut seringkali membuat kita tidak sadar akan bahaya yang
dapat ditimbulkan. Tubuh manusia secara terus menerus terpapar berbagai mikroorganisme yang
sebagian besar merupakan bakteri, namun ada juga jamur dan mikroorganisme lain.
Keberadan
mikrorganisme tersebut dibuktikan dengan adanya berbagai penelitian,
bahkan salah satu penelitian membuktikan bahwa sabun yang digunakan untuk mencuci tangan
dapat terkontaminasi oleh bakteri, padahal penggunaan sabun dimaksudkan untuk mengurangi
jumlah bakteri yang ada di tubuh kita termasuk pada telapak tangan (Gal et al., 2004).Pada
117
keadaan normal dan sehat, organisme tersebut tidak berbahaya bahkan dapat bermanfaat bagi
manusia yang dapat dikenal sebagai flora normal atau komensal.
Flora normal adalah mikroorganisme yang menempati suatu daerah tanpa menimbulkan
penyakit pada inang yang ditempati.Tempat paling umum dijumpai flora normal adalah tempat
yang terpapar dengan dunia luar yaitu kulit, mata, mulut, saluran pernafasan atas, saluran
pencernaan dan saluran urogenital.Kulit normal biasanya ditempati bakteria sekitar 10.2–10.6
CFU/cm2 (Trampuz & Widmer, 2004).Flora normal yang menempati kulit terdiri dari dua jenis
yaitu
flora
normal
atau
mikroorganisme
sementara
(transient
microorganism)
dan
mikroorganisme tetap (resident microorganism).
Flora transien terdiri atas mikroorganisme non patogen atau potensial patogen yang
tinggal di kulit atau mukosa selama kurun waktu tertentu (jam, hari atau minggu), berasal dari
lingkungan yang terkontaminasi atau dari pasien.Flora ini pada umumnya tidak menimbulkan
penyakit (mempunyai patogenisitas lebih rendah) dan jumlahnya lebih sedikit dibandingkan flora
tetap. Pada kondisi terjadi perubahan keseimbangan, flora transien dapat menimbulkan penyakit
(Trampuz & Widmer, 2004; Jawetz et al., 2005).
The Association for Professionals in Infection Control (APIC) memberi- kan pedoman
bahwa mikroorganisme transien adalah mikroorganisme yang dapat diisolasi dari kulit, tetapi
tidak selalu ada atau menetap di kulit. Mikroorganisme transien, yang terdiri atas bakteri, jamur,
ragi, virus dan parasit, terdapat dalam berbagai bentuk, yang dapat terjadi kontak dengan kulit.
Biasanya mikro-organisme ini dapat ditemukan di telapak tangan, ujung jari dan di bawah kuku.
Kuman patogen yang mungkin dijumpai di kulit sebagai mikroorganisme transien adalah
Escherichia coli, Salmonella sp, Shigella sp, Clostridium perfringens, Giardia lamblia,virus
Norwalk dan virus hepatitis A (Synder, 1988).
118
Flora tetap adalah flora yang menetap di kulit pada sebagian besar orang sehat yang
ditemukan di lapisan epidermis dan di celah kulit (Synder, 1988). Flora tetap terdiri atas
mikroorganisme jenis tertentu yang biasanya dijumpai pada bagian tubuh tertentu dan pada usia
tertentu pula, jika terjadi perubahan lingkungan mereka akan segera dapat kembali seperti
semula(Jawetz et al., 2005). Flora tetap yang paling sering dijumpai adalah Staphylococcus
epidermidis dan stafilokokkus koagulase negatif lainnya, Corynebaterium dengan densitas
populasi antara 10.2-10.3 CFU (Coloni Forming Unit)/cm2 (Trampuz & Widmer, 2004).
Flora tetap tidak bersifat patogen, kecuali Staphylococcus aureus, bakteri ini dapat
menyebabkan penyakit jika telah mencapai jumlah 1.000.000 atau 10.6 per gram, suatu jumlah
yang cukup untuk memproduksi toksin (Synder, 2001). Jenis dan jumlah mikroorganisme tetap
bervariasi dari satu individu ke individu lainnya dan berbeda di antara regio tubuh. Sebagian
besar mikroorganisme tetap tidak berbahaya (Synder, 1988; dan Strohl et al., 2001). Flora
transien akan mati atau dapat dihilangkan dengan dicuci , sedangkan flora tetap yang sering
dijumpai di bawah kuku, sulit dihilangkan. Flora tetap akan selalu ada dan bertahan hidup
apalagi tempat tersebut menyediakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mikroba.
2.2.1. Bakteri pada tangan manusia.
Bakteri yang ditemukan pada tangan tenaga medis dan paramedis adalah Staphylococcus
epidermidis, Staphylococcus saprophyticus, Staphylococcus aureus, Serratia liquefacients,
Serratia marcescens, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter aerogenes, Citrobacter freundii,
Salmonella sp, Basillus cereus, dan Neisserria mucosa. (Pratami et al., 2013).
2.2.2. Bakteri penyebab infeksi nosokomial.
Sebagian besar mikroorganisme yang bertanggung jawab untuk infeksi rumah sakit dan
mikroba yang memiliki kapasitas / kemampuan untuk menyebabkan infeksi pada pasien yang
119
dirawat di rumah sakit adalah 90% disebabkan oleh bakteri, sedangkan sisanya disebabkan
mikobakteri, virus, jamur atau protozoa. Bakteri yang sering menyebabkan infeksi nosokomial
adalah ; Staphylococcus aureus, Streptococcus spp., Bacillus cereus, Acineto-bacter spp.,
Enterococci, Pseudomonas aeruginosa, Legionella dan Escherichia coli, Proteus mirabilis,
Salmonella spp., Serratia marcescens, Kleb-Siella pneumoniae. Yang umumnya dilaporkan
adalah E.coli, Staphylococcus aureus, enterococci dan P.aeruginosa, tapi berdasarkan data,
Escherichia coli dan Staphylococcus aureus adalah yang paling sering / paling banyak sebagai
penyebab infeksi nosokomial (Zulkarnain, 2009 ; Bereket et al., 2012).
2.3 Pencegahan infeksi nosokomial.
Mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu upaya pencegahan penyakit. Hal ini
dilakukan karena tangan seringkali menjadi agen yang membawa kuman dan menyebabkan
patogen berpindah dari satu orang ke orang lain baik dengan kontak langsung ataupun kontak
tidak langsung .Tangan yang bersentuhan langsung dengan kotoran manusia dan binatang,
ataupun cairan tubuh lain (seperti air ludah, ingus) dan makanan/minuman yang terkontaminasi
saat tidak dicuci dengan sabun dapat memindahkan bakteri, virus, dan parasit pada orang lain
yang tidak sadar bahwa dirinya sedang ditulari (WHO. 2009).
Diperkirakan 40 persen infeksi nosokomial disebabkan oleh kebersihan tangan yang
buruk. Petugas rumah sakit dapat secara signifikan mengurangi jumlah kasus dengan mencuci
tangan secara teratur. Pencegahan infeksi noso- komial adalah tanggung jawab semua individu
dan pemberi layanan kesehatan, banyak penekanan telah dilakukan pada prosedur terkait staf,
terutama tentang kebersihan tangan karena dengan
mencuci tangan merupakan intervensi
penting dalam pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial disamping sarung tangan,
baju, dan masker .WHO telah mencanangkan setiap tanggal 15 Oktober sebagai Hari Mencuci
120
Tangan Pakai Sabun Sedunia, yang diikuti oleh 20 negara di dunia, salah satu diantaranya adalah
Indonesia (WHO, 2009).
Pentingnya membudayakan cuci tangan pakai sabun secara baik dan benar juga didukung
oleh World Health Organization (WHO). Data WHO menunjukkan setiap tahun rata-rata 100
ribu anak di Indonesia meninggal dunia karena diare. Kajian WHO menyatakan cuci tangan
memakai sabun dapat mengurangi angka diare hingga 47%. Data dari Subdit diare Kemenkes
juga menunjukkan sekitar 300 orang diantara 1000 penduduk masih terjangkit diare sepanjang
tahun. Penyebab utama diare adalah kurangnya perilaku hidup sehat di masyarakat, salah satunya
kurangnya pemahaman mengenai cara cuci tangan dengan sabun secara baik dan benar
menggunakan air bersih yang mengalir (Kemenkes.RI., 2010).
Sebuah penelitian menemukan bahwa mencuci tangan dengan sabun secara teratur dan
menggunakan masker, sarung tangan, dan pelindung, lebih efektif untuk menahan penyebaran
virus ISPA seperti flu dan SARS. Penelitian ini menyatakan bahwa mencuci tangan dengan air
dan sabun adalah cara yang sederhana dan efektif untuk menahan virus ISPA, mulai dari virus
flu sehari-hari hingga virus pandemik yang mematikan (Isaa & Cairncross, 2007). Penelitian
lain menyatakan bahwa perbandingan bayi yang dirawat oleh petugas kesehatan yang tidak
mencuci tangan dengan sabun lebih signifikan, lebih sering, dan lebih cepat terkena patogen S.
aureus dibandingan dengan bayi yang dirawat oleh petugas kesehatan yang mencuci tangan
dengan sabun (Paul et al., 2011).
Mencuci tangan adalah
tindakan yang sangat
sederhana, namun efektif dalam
pencegahan dan pengendalian infeksi karena secara statistik telah membuktikan bahwa mencuci
tangan adalah langkah yang paling penting dalam pencegahan dan pengendalian infeksi. Pusat
Pencegahan Infeksi dan Pengendalian Penyakit jelas mengamanatkan bahwa semua personil
121
kesehatan harus melakukan dekontaminasi tangan saat merawat pasien. Membersihkan tangan
merupakan pilar dan indikator mutu dalam mencegah dan mengendalikan infeksi, sehingga wajib
dilakukan oleh setiap petugas rumah sakit. Membersihkan tangan dapat dilakukan dengan
mencuci tangan dengan air mengalir atau menggunakan antiseptik berbasis alkohol (Hernandes,
2014).
2.4 Hand hygiene.
Hand hygiene merupakan istilah umum yang berlaku baik untuk mencuci tangan, cuci
tangan dengan antiseptik, maupun hand rub antiseptik. Pada tahun 1988 dan 1995, pedoman
mencuci tangan dan antisepsis tangan diterbitkan oleh Association for Professionals in Infection
Controls (APIC) (Boyce dan Pitted, 2002). Pada tahun 2009, WHO mencetuskan global patient
safety challenge dengan clean care is safe care, yaitu merumuskan inovasi strategi penerapan
hand hygiene untuk petugas kesehatan dengan My five moments for hand hygiene (WHO, 2009).
Hand hygiene adalah suatu upaya atau tindakan membersihkan tangan, baik dengan
menggunakan sabun antiseptik di bawah air mengalir (hand washing) atau dengan menggunakan
handrub berbasis alkohol (hand rubbing) dengan langkah-langkah yang sistematik sesuai urutan,
sehingga dapat mengurangi jumlah bakteri yang berada pada tangan (WHO, 2009)
Hand washing (mencuci tangan) adalah proses menggosok kedua permukaan tangan
dengan kuat secara bersamaan menggunakan zat pembersih yang sesuai dan dibilas dengan air
mengalir dengan tujuan menghilangkan mikroorganisme sebanyak mungkin (Keevil, 2011).
Hand rubbing adalah tindakan menggosok tangan dengan berbahan dasar alkohol tanpa
air (Widmer,2000), penggosokkan tangan ini dilakukan dengan menggunakan senyawa berbahan
dasar alkohol (misalnya, etanol, n-propanol atau isopropanol) yang digunakan dengan cara bilas
(rinse) dan gosok (rub) untuk tangan (Keevil, 2011).
122
2.4.1 Ruang lingkup hand hygiene
WHO menyarankan untuk setiap orang atau petugas yang tersebut dibawah ini untuk
selalu mematuhi prosedur hand hygiene, yaitu :
1. Setiap orang yang kontak langsung dengan pasien seperti dokter/ perawat dan petugas
kesehatan lainnya.
2. Setiap orang yang kontak tidak langsung dengan pasien, seperti : ahli
gizi, farmasi.
3. Setiap personil yang berkontribusi dengan prosedur yang dilakukan
terhadap pasien.
4.
Setiap orang yang bekerja di lingkungan rumah sakit.
2.4.2 Tata laksana hand hygiene.
WHO (World Health Organization) mensyaratkan five moment of hand hygien (5 waktu
hand hygiene), yang merupakan petunjuk waktu kapan petugas harus melakukan cuci tangan ,
yaitu :
1. Sebelum kontak dengan pasien.
Cuci tangan sebelum menyentuh pasien , untuk melindungi pasien dari
bakteri patogen yang ada pada tangan petugas.
2. Sebelum melakukan tindakan aseptik.
Cuci tangan segera sebelum melakukan tindakan aseptik , untuk melindungi pasien dari bakteri patogen , termasuk yang berasal dari permukaan
tubuh pasien sendiri.
123
3. Setelah kontak dengan cairan tubuh pasien.
Cuci tangan setelah kontak atau resiko kontak dengan cairan tubuh pasien
(dan setelah melepas sarung tangan), untuk melindungi petugas kesehatan
dari bakteri patogen yang berasal dari pasien.
4. Setelah kontak dengan pasien .
Cuci tangan setelah menyentuh pasien, untuk melindungi para petugas
kesehatan dari bakteri patogen yang berasal dari pasien.
5. Setelah kontak dengan area sekitar pasien .
Cuci tangan setelah menyentuh objek yang ada di sekitar pasien pada saat
meninggalkan pasien walaupun tidak menyentuh pasien, untuk melindungi
petugas kesehatan dan area sekelilingnya bebas dari bakteri patogen yang
berasal dari pasien.
Lima (5) waktu cuci tangan ( five moment of hand hygien ) dapat dilihat pada
Gambar 2.1.
124
Gambar 2.1.
Lima waktu ( momen ) cuci tangan (WHO, 2009)
2.4.3 Enam ( 6 ) langkah cuci tangan:
Pelaksanaan hand hygiene dengan mencuci tangan efektif membutuhkan waktu sekitar
40-60 detik ( WHO ), yang dimulai dengan membuka kran dan basahi kedua telapak tangan,
tuangkan sabun cair dan gosokkan pada kedua telapak tangan dengan urutan TE-PUNG –
SELA-CI- PU-PUT yaitu TELAPAK, PUNGGUNG, SELA-SELA,
KUNCI, PUTAR-
PUTAR sebagai berikut :
1. Telapak tangan; gosok kedua telapak tangan
2. Punggung tangan; gosok punggung dan sela-sela jari sisi luar tangan kiri dan
sebaliknya.
3. Sela-sela jari, gosok telapak tangan dan sela-sela jari sisi dalam
125
4. KunCi; jari jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci
5. Putar; gosok ibu jari tangan kiri dan berputar dalam genggaman tangan kanan dan
lakukan sebaliknya
6. Putar; rapatkan ujung jari tangan kanan dan gosokkan pada telapak tangan kiri dengan
cara memutar mutar terbalik arah jarum jam, lakukan pada ujung jari tangan
sebaliknya.
Ambil kertas tisu atau kain lap sekali pakai, keringkan kedua tangan dan
tutup kran dengan siku atau bekas kertas tisu yang masih di tangan.
Enam ( 6) langkah cuci tangan dapat dilihat pada Gambar 2.2.
Gambar 2.2.
Enam langkah cuci tangan pakai sabun (WHO, 2009)
2.4.4 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam cuci tangan ;
126
Sebelum dan sesudah melakukan hand hygiene, ada hal-hal yang harus diperhatikan agar
tujuan hand hygiene dapat tercapai, diantaranya adalah :
1. Kuku tangan.
Kuku tangan harus dalam keadaan bersih dan pendek, karena kuku yang
panjang dapat menimbulkan potensi akumulasi bakteri
patogen
yang terdapat di bawah kuku.
2. Perhiasan dan aksesoris.
Tidak diperkenankan memakai perhiasan seperti cincin pada jari,
karena ada resiko akumulasi bakteri patogen .
3. Kosmetik.
Kosmetik seperti cat kuku tidak diperkenankan, karena dapat menyimpan bakteri patogen.
4. Penggunaan tisu.
Pengeringan tangan sebaiknya memakai tisu sekali pakai, hasilnya
lebih kering dan dapat dipakai sebagai pelindung waktu menutup kran.
2.4.5 Hambatan-hambatan pada cuci tangan
Ada berbagai alasan mengapa petugas kesehatan tidak melakukan cuci tangan yang
diperlukan untuk melindungi pasien (Kampf, 2009):
1. Kurangnya pengetahuan ,
2. Kurangnya fasilitas,
3. Kurangnya waktu,
4. Iritasi kulit/ masalah kulit
2.4.6 Meningkatkan kepatuhan cuci tangan.
127
Langkah-langkah meningkatkan kepatuhan cuci tangan (Kampf, 2009)
1. Pelatihan staf berkaitan dengan indikasi klinis tentang cuci tangan
2. Pencantuman tujuan yang jelas dalam program pelatihan
3. Disinfeksi cuci tangan harus tersedia luas
4. Pengurangan cuci tangan yang tidak perlu
5. Anggota staf senior medis harus member contoh / panutan dan bertindak sesuai pedoman.
2.4.7 Fakta cuci tangan pakai sabun (CTPS) :
Ada 7 fakta cuci tangan pakai sabun (Depkes.RI., 2008b) ;
1. Mencuci tangan dengan air saja tidak cukup.
2. Mencuci tangan pakai sabun bisa mencegah penyakit yang menyebab
kan kesakitan / kematian jutaan anak-anak setiap tahunnya.
3. Waktu-waktu kritis CTPS yang paling penting adalah setelah ke
jamban dan sebelum menyentuh makanan (mempersiapkan/ memasak/
menyaji- kan dan makan).
4. Perilaku CTPS adalah intervensi kesehatan yang “cost-effective” .
5. Untuk meningkatkan CTPS memerlukan pendekatan pemasaran sosial
yang berfokus pada pelaku CTPS dan motivasi masing-masing yang
menyadarkannya untuk mempraktikkan perilaku CTPS.
6. Perilaku CTPS sudah merupakan pengetahuan umum bagi masyarakat
tetapi tidak diikuti oleh perilaku yang berkesinambungan karena tidak tersedianya sarana CTPS di dekat mereka.
7. Saat ini CTPS sudah merupakan agenda Nasional yang tertuang dalam
128
Stategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat..
2.5 Program penyadaran (Awareness program).
Awareness adalah pengetahuan atau persepsi dari situasi atau fakta, sadar menyiratkan
pengetahuan yang didapat melalui persepsi sendiri atau dengan bantuan sarana informasi dari
luar dan program penyadaran adalah sebuah program yang dirancang untuk meningkatkan
kesadaran sesuatu (Anonim, 2015). Tingkat pengetahuan
profesi
mahasiswa program pendidikan
dipengaruhi oleh sumber belajar seperti kuliah formal, pengalaman waktu bertugas,
hospital guidelines, fasilitas dan artikel sains (Huang et al., 2013).
Jadi program penyadaran (Awareness program) yang dimaksud disini adalah program
untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan cuci tangan yang pada akhirnya diharapkan
dapat meningkatkan kepatuhan cuci tangan sehingga dapat menurunkan jumlah koloni bakteri
dan jumlah bakteri Staphylococcus aureus pada tangan Co Ass Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Mahasaraswati Denpasar, dengan proses sosialisasi cuci tangan yang baik dan benar
melalui proses pendidikan (ceramah) untuk meningkatkan pengetahuan serta melalui latihan
(peragaan dan praktek) untuk meningkatkan ketrampilan cuci tangan.
2.5.1 Tujuan program penyadaran adalah ;
1. Meningkatkan pengetahuan hand hygiene
2. Meningkatkan budaya hand hygiene
3. Meningkatkan kepatuhan cuci tangan
4. Menurunkan resiko infeksi .
5. Meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit
Faktor
kunci keberhasilan program penyadaran adalah monitoring dan evaluasi terus
menerus secara berkelanjutan, setiap tahun kegiatan program dievaluasi pada tingkat kesadaran
129
serta
perubahan perilaku pada
kepatuhan cuci tangan/kebersihan tangan
yang terjadi.
Perbaikan dapat dibuat sehingga program dapat lebih efektif dalam mencapai tujuan untuk tahun
berikutnya (WHO, 2008).
2.5.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku cuci tangan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku cuci tangan pakai sabun adalah
(Kushartanti, 2012) ;
1. Citra diri
2. Status sosial ekonomi
3. Pengetahuan
4. Kebiasaan
5. Sikap
6. Motivasi
7. Pola Asuh Orang Tua (lingkungan, tingkat sosial ekonomi )
8. Peran guru/dosen.
9. Ketersediaan sarana sanitasi ;
1. Air /wastafel,
2. Sabun (Senyawa Iodine Heksaklorofen, Iodofor, Triclosan / Irgasan).
3. Tisu
4. Ketersediaan media pendidikan/informasi
1. Alat bantu melihat (visual aids) ;slide, film, gambar, poster.
2. Alat bantu dengar (audio aids) radio,
3. Alat bantu lihat-dengar seperti televisi dan video
130
131
BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka berpikir.
Infeksi nosokomial masih menjadi masalah utama dunia, karena kejadian infeksi ini
menyebabkan lama perawatan /length of stay (LOS) bertambah panjang,
sehingga angka
kematian dan biaya untuk pelayanan kesehatan menjadi semakin meningkat. Pada infeksi
nasokomial transmisi bakteri dapat melalui 3 cara, yaitu flora transien dan residen dari kulit
pasien , flora dari petugas kesehatan ke pasien khususnya melalui tangan dan flora dari
lingkungan rumah sakit.
Orang yang berkecimpung dalam bidang
kesehatan
termasuk Co Ass Fakultas
Kedokteran Gigi mempunyai peran besar dalam rantai transmisi infeksi di Rumah Sakit. Rumah
Sakit Gigi dan Mulut tempat menjalani pendidikan profesi merupakan sarana dan tempat ideal
yang memungkinkan terjadinya penularan penyakit dari pasien ke pasien, dari pasien ke
pengunjung yang lain dan dari pasien ke Co Ass dan sebaliknya dari Co Ass ke pasien ,
sehingga diperlukan kewaspadaan adanya penularan penyakit.
Oleh karena itu pada waktu memberikan pelayanan/perawatan kepada semua pasien,
maka
Co Ass FKG UNMAS
Denpasar diwajibkan
untuk melakukan perlindungan diri
diantaranya dengan cara cuci tangan sebelum dan setelah melayani pasien, karena cara ini
merupakan salah satu langkah yang efektif untuk memutus rantai transmisi infeksi sehingga
insiden infeksi nosokomial dapat dicegah dan dikendalikan .
Dengan cuci tangan diharapkan akan mencegah penyebaran kuman patogen melalui
tangan, karena peran tangan sangat penting sebagai sarana transmisi kuman patogen dan telah
132
terbukti bahwa dokter yang membersihkan tangannya dengan cara cuci tangan sebelum dan
sesudah melayani pasien dapat mengurangi angka infeksi di rumah sakit.
Yang masih menjadi masalah adalah bahwa masih rendahnya tingkat kepatuhan cuci
tangan
tenaga kesehatan maupun calon tenaga kesehatan khususnya mahasiswa program
pendidikan profesi kedokteran
yakni masih berada dibawah standar WHO (50%), yang
disebabkan masih kurangnya pengetahuan dan ketrampilan cuci tangan.
Untuk mengatasi masalah ini maka perlu dilakukan usaha maupun upaya agar
pengetahuan
serta
kepatuhan
cuci
tangan
meningkat
dengan
meningkatkan
pengetahuan/ketrampilan cuci tangan yang dapat dimulai dari para mahasiswa khususnya dan
para petugas kesehatan umumnya sehingga dampak yang ditimbulkan seperti masih adanya
penyakit infeksi yang mengakibatkan tingginya angka kematian dan biaya kesehatan dapat
dicegah.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta
kepatuhan cuci tangan adalah dengan “awareness programm” atau “program penyadaran”, yaitu
suatu program yang dapat menggugah kesadaran dan kebiasaan untuk selalu meningkatkan pola
hidup sehat dengan cara meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta kepatuhan
cuci
tangan sehingga dapat menurunkan jumlah koloni bakteri dan bakteri Staphylococcus aureus
yang pada akhirnya dapat mencegah dan mengendalikan kejadian infeksi nosokomial.
3.2 Konsep Penelitian
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka dapat disusun kerangka konsep berdasarkan
hubungan antar variabel yang ada.
Faktor Internal
Pengetahuan
Sikap/perilaku
Lingkungan
Program Penyadaran
Kepatuhan Cuci Tangan
Faktor Eksternal
Air mengalir
Kran
Sabun
Waktu
Tisu
133
Peningkatan pengetahuan cuci tangan.
Penurunan Jumlah koloni bakteri.
Penurunan Jumlah bakteri
Staphylococcus aureus
Gambar 3.1.
Konsep Penelitian
3.3. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Program penyadaran kepatuhan cuci tangan dapat meningkatkan pengetahuan cuci
tangan Co Ass FKG UNMAS Denpasar.
2. Program penyadaran kepatuhan cuci tangan dapat menurunkan jumlah
koloni bakteri pada tangan Co Ass FKG UNMAS Denpasar.
3. Program penyadaran kepatuhan cuci tangan
dapat menurunkan jumlah bakteri
Staphylococcus aureus pada tangan Co Ass FKG UNMAS Denpasar.
134
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan penelitian
Rancangan penelitian ini adalah eksperimental dengan pre-post test control group
design. Adapun skema penelitian ini digambarkan sebagai `berikut (Pocock, 2008) :
O1
S
P
K
O2
RA
O3
P1
O4
Gambar 4.1.
Rancangan Penelitian
Keterangan:
P = Populasi, S = Sampel, K = Kelompok Kontrol, P 1 = Kelompok Perlakuan
RA = Random Alokasi
O1= Observasi K sebelum perlakuan thd.pengetahuan, jumlah koloni dan jumlah bakteri patogen
O2= Observasi K setelah perlakuan thd.pengetahuan, jumlah koloni dan jumlah bakteri patogen
O3= Observasi P1 sebelum perlakuan thd.pengetahuan, jumlah koloni dan jumlah bakteri patogen
O4= Observasi P1 setelah perlakuan thd.pengetahuan, jumlah koloni dan jumlah bakteri patogen
4.2 Tempat dan waktu penelitian
1. Tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di poliklinik Gigi dan Mulut RSGM
Denpasar.
FKG UNMAS
135
2. Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksakan pada bulan Mei 2015.
4.3 Penentuan Sumber Data
4.3.1 Populasi penelitian
1. Populasi target
Dalam penelitin ini populasi target adalah Co Ass yang praktek di poliklinik Gigi dan
Mulut RSGM FKG UNMAS Denpasar.
2. Populasi terjangkau
Dalam penelitian ini sebagai populasi terjangkau adalah Co Ass yang
praktek di
poliklinik Gigi dan Mulut RSGM FKG UNMAS Denpasar dan bersedia menjadi sampel
4.3.2. Sampel penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah jumlah sampel yang diambil dari populasi
terjangkau, disesuaikan dengan kriteria inklusi yang dibahas dalam kreteria eligibilitas.
4.3.3. Kriteria eligibilitas.
Kreteria pemilihan yang membatasi karakteristik populasi terjangkau adalah:
1. Kriteria Inklusi
Pemilihan sampel berdasarkan kriteria inklusi adalah Co Ass yang ;
1. Sehat jasmani dan rohani.
136
2. Jenis kelamin pria atau wanita
3. Sedang praktek di poliklinik Gigi dan Mulut RSGM FKG UNMAS.
4. Bersedia menjadi sampel dengan mengisi formulir Informed consent.
2. Kriteria eksklusi.
Kriteria eksklusi adalah sampel yang memenuhi kriteria inklusi, tapi karena sesuatu
keadaan dikeluarkan dari sampel antara lain:
1. Ada riwayat baru sembuh dari luka pada telapak tangan
2. Ada riwayat alergi terhadap bahan pembersih tangan
3. Ada fraktur pada tangan.
4. Ada cacat pada tangan
3. Kriteria penggugur (Drop out)
1. Mengundurkan diri saat penelitian berlangsung
2. Datangnya sampel tidak sesuai dengan waktu penelitian.
4.3.4 Besar sampel
Besar sampel yang diperlukan dalam penelitian ini berdasarkan rumus Pocock
(2008) berikut ini:
Keterangan :
n
= jumlah sampel
137
σ
= nilai standar deviasi
μ1
= rerata jumlah kumansebelum perlakuan
μ2
= rerata jumlah kumansetelah perlakuan
α
= tingkat kesalahan tipe I (0,05)
β
= tingkat kesalahan tipe II (0,1)
f (α,β) = nilai yang ada pada tabel (10,5).
Berdasarkan hasil penelitian dari Rachmawati dan Triyana (2008), penghitungan sampel
dengan data rerata penurunan koloni bakteri sebesar 25,42 dan standar deviasi 19,5 diperoleh
hasil besar sampel 12,36 ditambah 10% menjadi 13,59 dan dibulatkan menjdi 14 sampel setiap
kelompok, sehingga jumlah keseluruhan sampel pada kedua kelompok menjadi 28 sampel.
4.3.5. Tehnik pengambilan sampel
Tehnik pengambilan sampel dengan cara sebagai berikut:
1. Melakukan pemilihan sejumlah Co Ass yang praktek di poliklinik Gigi dan Mulut
RSGM FKG UNMAS Denpasar berdasarkan kriteria inklusi.
2. Jumlah sampel yang terpilih diseleksi lagi berdasarkan kriteria eksklusi.
3.
Mengadakan pemilihan besar sampel
sebanyak 28 responden secara random
sederhana dari subyek yang terpilih.
4. Melakukan pembagian kelompok menjadi 2(dua) kelompok masing- masing
kelompok berjumlah 14 responden.
Pembagian kelompok dilakukan dengan cara acak sederhana, selanjutnya kelompok 1
akan dipakai sebagai kontrol, melakukan cuci tangan sesuai prosedur tetap dan kelompok 2
mendapat perlakuaan sosialisasi program penyadaran kepatuhan cuci tangan, melakukan cuci
tangan sesuai dengan program penyadaran kepatuhan cuci tangan.
138
4.4. Variabel penelitian
Variabel dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi 3(tiga), yaitu ;
1. Variabel bebas adalah program penyadaran kepatuhan cuci tangan.
2. Variabel tergantung adalah pengetahuan cuci tangan, jumlah
koloni bakteri dan
jumlah bakteri Staphylococcus aureus.
3. Variabel kendali adalah air mengalir, jenis kran, sabun antiseptik, waktu cuci tangan,
tisu pengering.
4.5 Hubungan Antar Variabel
Variabel bebas
Program penyadaran
kepatuhan cuci tangan
Variabel Kendali
Air mengalir, jenis kran,
sabun antiseptik, waktu cuci
tangan, tisu pengering.
Variabel Tergantung
Pengetahuan cuci tangan,
jumlah koloni bakteri / P
bakteri Staphylococcus aureus
139
Gambar 4.2.
Hubungan Antar Variabel
4.6. Definisi operasional variabel.
1. Program penyadaran kepatuhan cuci tangan adalah suatu program yang
dilakukan dengan cara sosialisasi tentang cuci tangan yang baik dan benar
melalui;
1. Pendidikan / Ceramah tentang cuci tangan sesuai standar WHO.
Ceramah diberikan selama 60 (enam puluh) menit oleh seorang dokter gigi senior
RSUP Sanglah Denpasar sesuai jadwal di salah satu ruang kuliah FKG UNMAS
Denpasar.
2. Peragaan cuci tangan sesuai standar WHO
3. Latihan / praktek cuci tangan sesuai standar WHO.
Peragaan dan praktek cuci tangan diberikan selama 60 (enam puluh) menit oleh
seorang dokter gigi senior RSUP Sanglah Denpasar setelah selesai pendidikan /
ceramah yang dilakukan di salah satu poliklinik RSGM FKG UNMAS Denpasar.
2. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) adalah membersihkan telapak dan jari-jemari tangan
menggunakan sabun dan air mengalir agar menjadi bersih dengan enam langkah dan
dengan urutan/singkatan Te-Pung-Sela-Ci-Pu-Put (WHO,2009)
3. Air mengalir adalah aliran air kran bawah tanah untuk pembilasan setelah pelaksanaan
cuci tangan.
4 Jenis kran adalah kran standar yang dibuka dan ditutup dengan memakai tangan.
140
5. Sabun antiseptik adalah sabun cuci tangan cair (liquid hand soap) komersial yang
mengandung triclosan.
6. Waktu adalah waktu yang dibutuhkan selama kegiatan cuci tangan yaitu selama 60
(enam puluh) detik..
7. Tisu pengering adalah kertas tisu lembaran untuk tangan (hand towels) komersial yang
dipakai sebagai pengering dan menutup kran setelah cuci tangan.
8. Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu melalui mata dan telinga.
9. Sikap adalah penilaian seseorang terhadap stimulus dan objek tertentu (dalam hal ini
adalah tentang cuci tangan).
10. Lingkumgan adalah faktor-faktor yang berpengaruh pada perilaku, seperti lingkungan
fisik, biologis, sosial, ekonomi dan budaya.
11. Jumlah koloni bakteri adalah jumlah bakteri yang tumbuh di dalam cawan petri yang
dihitung secara manual dengan satuan Colony Forming Unit (CFU) / ml
12. Bakteri Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif, yang diidentifikasi dengan
media agar, pengecatan Gram, uji biokimia dan reagen Manitol.
13. Co Ass adalah mahasiswa program pendidikan profesi dokter gigi.
4.7. Bahan dan alat penelitian
4.7.1. Bahan penelitian ;
1. Sabun antiseptik
2. Air mengalir
3. Kertas tisu
141
4. Media ; Plate Count Agar (PCA), Eosin Methylen Blue Agar (EMBA)
Tryptic
Soy Broth Agar (TSBA), Media agar darah Mc. Conkey, Gula-gula dan media
Biokimia.
5. Reagen Serologi, reagen pengecatan Gram.
4.7.2 Alat penelitian ;
1. Sarana cuci tangan ( wastafel , kran air ).
2. Tempat sampah tertutup
3. Inkubator
4. Bunsen
5. Jarum ose
6. Petri dish
7. Tabung ulir
8. Swab lidi kapas steril
9. Rak pengecatan
10. Mikroskop
11. Autoclave.
4.8. Prosedur penelitian
Prosedur penelitian terdiri dari tahap-tahap sebagai berikut :
4.8.1 Tahap persiapan
1. Studi kepustakaan dari buku, jurnal, internet dan lain-lain yang sesuai dengan
topik penelitian
2. Mengurus surat-surat administrasi penelitian
3. Membuat jadwal pelaksanaan
142
4. Melakukan pelatihan pengukuran
5. Menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan penelitian.
4.8.2. Tahap pemilihan dan penentuan sampel
1. Semua Co Ass FKG UNMAS Denpasar yang memenuhi kriteria
sebagai sampel diberikan nomor urut yang berbeda.
2. Sampel dipilih secara acak dengan menggunakan tehnik undian
nomor urut 1,2,3 dan seterusnya dengan jumlah yang sesuai.
3. Melakukan pembagian kelompok secara acak sederhana, dengan tehnik undian
sebanyak 2 (dua) kelompok masing-masing 14 orang.
4.8.3. Tahap pelaksanaan penelitian.
Secara garis besar langkah-langkah yang dilakukan dalam
pelaksanaan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Sebelum penelitian responden diberikan penjelasan tentang tujuan dan manfaat
penelitian, jadwal dan tempat penelitian, tata laksana penelitian dan hak-hak
subyek dalam pelaksanaan penelitian.
2. Dilakukan kegiatan cuci tangan sesuai dengan prosedur tetap RSGM FKG
UNMAS Denpasar pada kelompok kontrol
3. Dilakukan kegiatan cuci tangan sesuai dengan sosialisasi program penyadaran
kepatuhan cuci tangan. pada kelompok perlakuan
4. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode swab tangan dan
dikultur pada media Plate Count Agar untuk hitung jumlah bakteri, sedangkan
untuk keperluan identifikasi, bakteri dikultur pada media agar darah Mc.
Conkey, uji gula-gula dan uji biokimia.
143
5. Dalam penelitian ini bakteri didapatkan dari hasil swab(usapan) pada telapak
tangan dan sela-sela-jari tangan . Jumlah bakteri didapatkan secara visual
berupa angka dalam koloni (Coloni Forming Unit) / ml (BPOM, 2007).
6. Tehnik Pengambilan Swab.
Pengambilan sampel swab tangan dilakukan oleh seorang tenaga analis
Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan
langkah-langkah modifikasi sebagai berikut (Lennette, 1985) ;
Kapas lidi steril dicelupkan ke dalam kaldu, kemudian kapas lidi tersebut
digunakan untuk men-swab seluruh permukaan tangan dan sela-sela jari
tangan. Swab tangan hanya dilakukan dua kali saja untuk masing-masing
probandus, yaitu setelah melakukan cuci tangan sebelum mendapat perlakuan
dan setelah mendapat perlakuan pada kelompok kontrol maupun kelompok
perlakuan.
7 . Identifikasi bakteri .
Pemeriksaan laboratorium untuk identifikasi bakteri dilakukan di Laboratorium
Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan langkahlangkah sebagai berikut (Pohan, “t.t.”. dan Sherris, 1984) ;
1. Kaldu TSB yang telah berisi sampel swab diambil 1(satu) sengkelit
(diameter = 3-5 mm) masing-masing ditanam pada medium Agar Darah,
kaldu, dan EMB agar. kemudian diinkubasi pada suhu 35 derajat C selama
18-24 jam. Simpan cawan dengan posisi upside-down dalam incubator,
kemudian dilihat ada / tidaknya pertumbuhan.
144
2. Selanjutnya dilakukan pengecatan Gram terhadap koloni yang tumbuh
dengan menggunakan reagen Gentian ungu (1-3 menit), Lugol (1/2-1
menit), Alkohol (1/4-1/2
menit), dan Fukhsin air (1-3 menit) secara
bergantian dengan setiap langkah dicuci dengan air mengalir. Bila pada
akhir pencucian didapatkan warna merah maka terdapat kuman Gram
Negatif dan bila didapatkan warna biru maka terdapat kuman Gram Positif.
3. Identifikasi jenis Staphylococcus dilakukan dengan cara tes katalase,
koagulase dan Manitol. Jika katalase positif, koagulase positif, Manitol
positif maka bakteri tersebut adalah Staphylococcus aureus.
8. Penghitungan angka kuman.
Penghitungan angka kuman dapat dilakukan dengan membiakkan kuman
yang akan dihitung pada media agar darah karena agar darah merupakan media
kaya yang dapat digunakan untuk pertumbuhan kuman baik kuman gram positif
maupun gram negatif. Kuman dihitung berdasar jumlah koloni dengan satuan
Coloni Forming Unit (CFU) / ml. Pada penghitungan angka kuman ini tidak
dibedakan jenis koloni, tiap koloni yang berasal dari 1 (satu) bakteri dianggap 1
(satu) jenis bakteri.
4.9. Alur Penelitian.
Populasi
Kriteria Inklusi
0,5 ml
Sampel
0,5 ml
Simple Random Sampling
Kuesioner / Cuci tangan
Kelompok Kontrol
Cuci tangan sesuai
Kelompok Perlakuan
Cuci tangan sesuai
145
Gambar 4.3.
Alur penelitian
4.10. Analisis data.
Data dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut (Santosa, 2010) :
1. Analisis deskriptif.
Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui karasteristik data yang dimiliki
dengan program SPSS. Pemilihan penyajian data terdiri dari rerata, standar deviasi,
minimum dan
maksimum. Variabel yang dianalisis adalah pengetahuan cuci tangan,
jumlah koloni bakteri dan bakteri. Staphylococcus aureus.
2. Uji Normalitas.
Uji normalitas memakai Saphiro-Wilk Test, bertujuan untuk mengetahui distribusi
data. Variabel yang dianalisis adalah rerata pengetahuan cuci tangan, jumlah koloni bakteri
dan bakteri Staphylococcus aureus dengan batas kemaknaan yang digunakan adalah p >
0,05.
146
3. Uji homogenitas.
Dengan memakai Levene’s test, bertujuan untuk mengetahui variasi nilai rerata
pengetahuan cuci tangan, jumlah koloni bakteri dan bakteri Staphylococcus aureus
.sebelum dan sesudah perlakuan pada kedua kelompok, dengan batas kemaknaan yang
digunakan adalah p > 0,05.
4. Uji komparasi.
Jika data berdistribusi normal maka digunakan uji parametrik t-test, jika data tidak
berdistribusi normal maka digunakan uji non parametrik Wilcoxon dan Mann Whitney.
Data yang dianalisis adalah rerata pengetahuan cuci tangan, jumlah koloni bakteri dan
baketri. Staphylococcus aureus.
147
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. HASIL.
Penelitian eksperimental dengan rancangan pre-post test control group design, dilaksanakan
pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober 2015 dengan melibatkan 28 orang Co Ass yang praktek di
poliklinik Gigi dan Mulut RSGM FKG UNMAS Denpasar sebagai sampel yang terbagi menjadi 2 (dua)
kelompok, kelompok kontrol melakukan cuci tangan sesuai prosedur tetap dan kelompok perlakuan
cuci tangan sesuai dengan program penyadaran kepatuhan cuci tangan.
5.1.1 PENGETAHUAN CUCI TANGAN
1. Uji Normalitas Data
Data pengetahuan diuji normalitasnya dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk. Hasilnya
menunjukkan bahwa data pengetahuan berdistribusi normal (p>0,05), disajikan pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1
Hasil Uji Normalitas Data Pengetahuan
Kelompok Subjek
n
p
0,602
Ket.
Pengetahuan kontrol pre
Pengetahuan perlakuan pre
Pengetahuan kontrol post
Pengetahuan perlakuan post
14
14
14
14
0,065
Normal
Normal
Normal
Normal
0,253
0,135
148
2. Uji Homogenitas Data
Data pengetahuan diuji homogenitasnya dengan menggunakan uji Levene’s test. Hasilnya
menunjukkan bahwa data sebelum perlakuan tidak homogen (p<0,05), sedangkan sesudah perlakuan
data pengetahuan homogen (p>0,05), disajikan pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2
Homogenitas Pengetahuan antar Kelompok Perlakuan
Variabel
Pengetahuan pre
Pengetahuan post
F
p
5,37
0,029
0,206
0,654
Keterangan
Tidak Homogen
Homogen
3. Uji komparabilitas
Analisis komparabilitas diuji berdasarkan rerata skor pengetahuan antar kelompok sebelum
perlakuan berupa program penyadaran kepatuhan cuci tangan. Hasil analisis kemaknaan dengan uji tindependent disajikan pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3.
Perbedaan Rerata Skor Pengetahuan antar Kelompok Sebelum Program Penyadaran Kepatuhan Cuci
Tangan
n
Rerata Skor
Pengetahuan
SB
t
p
Kontrol
14
12,50
1,70
0,141
0,889
Perlakuan
14
Kelompok Subjek
149
12,43
0,85
Berdasarkan Tabel 5.3 didapatkan bahwa dengan uji t-indepedent menunjukkan nilai t = 0,141
dan nilai p = 0,889. Hal ini berarti bahwa rerata skor pengetahuan sebelum perlakuan pada kedua
kelompok tidak berbeda (p>0,05).
4. Uji efek program penyadaran kepatuhan cuci tangan
Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan rerata skor pengetahuan antar kelompok sesudah
perlakuan berupa program penyadaran kepatuhan cuci tangan. Hasil analisis kemaknaan dengan uji tindependent disajikan pada Tabel 5.4.
Tabel 5.4
Perbedaan Rerata Skor Pengetahuan antar Kelompok Sesudah Program Penyadaran Kepatuhan Cuci
Tangan
Kelompok Subjek
n
Rerata Skor
Pengetahuan
SB
Kontrol
14
12,71
1,27
Perlakuan
14
14,50
1,16
t
3,89
p
0,001
Berdasarkan Tabel 5.4 didapatkan bahwa dengan uji t-indepedent menunjukkan nilai t = 3,89
dan nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa rerata skor pengetahuan sesudah perlakuan pada kedua
kelompok berbeda secara bermakna (p<0,05).
150
5.1.2. JUMLAH KOLONI BAKTERI
Penurunan jumlah koloni bakteri antara sebelum dan setelah perlakuan pada kelompok kontrol
maupun pada kelompok perlakuan, dapat dilihat pada Gambar 5.1, 5.2.
Koloni
bakteri
10-1
10-2
10-3
Gambar 5.1.
Jumlah koloni bakteri sebelum perlakuan
pada media Plate Count Agar
Koloni
bakteri
151
10-3
10-2
10-1
Gambar5.2.
Jumlah koloni bakteri setelah perlakuan
pada media Plate Count Agar
Jenis dan rerata jumlah koloni bakteri pada kelompok kontrol dan perlakuan antara sebelum dan
sestelah perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5.5.
Tabel 5.5
Jenis dan Rerata Jumlah Koloni Bakteri yang di Isolasi dari Swab Telapak Tangan Sampel pada
Kelompok Kontrol dan Perlakuan(n=14)
No
1.
2.
3.
Jenis Bakteri
Pseudomonas
stutzeri
Jumlah Koloni
kelompok Kontrol
Jumlah Koloni
kelompok Perlakuan
Sebelum
Setelah
Sebelum
15.031
1.289
10.041
1.156
8.500
681
4.578
921
1.353
0
915
98
24.885
1.970
15.535
2.176
Setelah
Ralstonia picketti
Staphylococcus
aureus
Jumlah
Berdasarkaan Tabel 5.5
didapatkan bahwa jumlah koloni bakteri pada kelompok kontrol
adalah 24.885 CFU / ml sebelum perlakuan dan menjadi 1.970 CFU / ml dan pada kelompok perlakuan
152
adalah 15.535 CFU / ml sebelum perlakuan dan menjadi 2.176 CFU / ml sesudah perlakuan. Artinya
terjadi penurunan jumlah koloni bakteri antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok kontrol
dan kelompok perlakuan.
1. Uji Normalitas Data
Data jumlah koloni bakteri diuji normalitasnya dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk, hasilnya
disajikan pada Tabel 5.6
Tabel 5.6
Hasil Uji Normalitas Data Jumlah Koloni Bakteri
Kelompok Subjek
Jumlah koloni kontrol pre
Jumlah koloni perlakuan pre
Jumlah koloni kontrol post
Jumlah koloni perlakuan post
n
p
0,000
Ket.
14
14
14
14
0,000
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
Tidak Normal
0,000
0,000
Berdasarkaan Tabel 5.6
didapatkan bahwa data jumlah koloni bakteri tidak berdistribusi
normal (p<0,05),
2. Uji komparabilitas
Analisis komparabilitas diuji berdasarkan rerata koloni bakteri antar kelompok sebelum
perlakuan berupa cuci tangan. Hasil analisis kemaknaan dengan uji Mann-Whitney disajikan pada Tabel
5.7.
Tabel 5.7
153
Rerata Jumlah Koloni Bakteri yang di Isolasi dari Swab Telapak Tangan Sampel pada Kelompok Kontrol
dan Kelompok Perlakuan Sebelum dan Sesudah Cuci Tangan
Kondisi
Rerata Koloni
Rerata Koloni
P
Kelompok Kontrol
Kelompok Perlakuan
Sebelum Perlakuan
24885,00±53386,02
15535,00±25224,34
0,327
Sesudah Perlakuan
1212,50± 2241,52
2176,43±5217,58
0,165
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan uji Mann-Whitney didapatkan bahwa tidak ada
perbedaan rerata jumlah koloni bakteri antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan sebelum
maupun sesudah diberikan perlakuan (p>0,05).
3. Uji efek program penyadaran kepatuhan cuci tangan
Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan rerata koloni bakteri antar kelompok sesudah
perlakuan berupa cuci tangan. Hasil analisis kemaknaan dengan uji Mann-Whitney disajikan pada Tabel
5.8.
Tabel 5.8
Rerata Jumlah Koloni Bakteri yang di Isolasi dari Swab Telapak Tangan Sampel pada Kelompok
Kontrol antara Sebelum dengan Sesudah Perlakuan
Kelompok Perlakuan
Rerata Koloni
Sebelum Perlakuan
Rerata Koloni
P
Sesudah Perlakuan
Kontrol
24885,00±53386,02
1212,50± 2241,52
0,110
Perlakuan
15535,00±25224,34
2176,43±5217,58
0,139
154
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan uji Wilcoxon didapatkan bahwa tidak ada
perbedaan rerata jumlah koloni bakteri antara sebelum dengan sesudah perlakuan pada kelompok
kontrol maupun pada kelompok perlakuan (p>0,05).
Bertdasarkan Tabel 5.5, 5.7 dan 5.8 didapatkan hasil bahwa walaupun terjadi penurunan jumlah
koloni bakteri pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan antara sebelum dan sesudah perlakuan
akan tetapi penurunannya tidak bermakna / tidak signifikan.
5.1.3. JUMLAH BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS
Identifikasi jenis bakteri Staphylococcus aureus yang diketemukan dapat dilihat pada Gambar 5.3,
5.4.
Perubahan warna
Gambar 5.3.
Identifikasi bakteri Staphylococcus aureus
dengan API 20 E Biomerioux dengan sistim perubahan warna.
155
Bakteri Staphylococcus aureus
Gambar 5.4
Identifikasi
bakteri
Staphylococcus aureus pada mikroskop Olympus
dengan pembesaran 1000 X
Rerata jumlah bakteri Staphylococcus aureus pada kelompok kontrol dan perlakuan antara
sebelum dan setelah perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5.9.
Tabel 5.9
Rerata Jumlah Koloni Bakteri Staphylococcus aureus yang Diisolasi dari Swab Telapak Tangan Sampel
pada Kelompok Kontrol dan Perlakuan(n=14)
Jumlah Koloni bakteri
Staphylococcus aureus
kelompok Kontrol
No
Jenis Bakteri
Jumlah Koloni bakteri
Staphylococcus aureus
kelompok Perlakuan
Sebelum
Sesudah
Sebelum
Sesudah
156
1
Staphylococcus
aureus
1.353
0
Jumlah
1.353
0
915
915
98
98
Berdasarkan Tabel 5.9 didapatkan bahwa hasil rerata jumlah bakteri Staphylococcus aureus
pada kelompok kontrol adalah 1.353 CFU/ ml sebelum perlakuan dan menjadi nol sesudah perlakuan
sedangkan pada kelompok perlakuan didapatkan 915 CFU / ml sebelum perlakuan dan menjadi 98 CFU
/ ml sesudah perlakuan. Artinya telah terjadi penurunan jumlah koloni bakteri Staphylococcus aureus
pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan antara sebelum dan sesudah perlakuan
1. Uji komparabilitas
Analisis komparabilitas diuji berdasarkan rerata koloni bakteri Staphylococcus aureus antar
kelompok sebelum perlakuan berupa cuci tangan. Hasil analisis kemaknaan dengan uji Mann-Whitney
disajikan pada Tabel 5.10.
Tabel 5.10
Rerata Jumlah Koloni Bakteri Staphylococcus aureus yang di Isolasi dari Swab Telapak Tangan Sampel
pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan Sebelum dan Sesudah Cuci Tangan
Kondisi
Sebelum Cuci Tangan
Rerata Koloni
Rerata Koloni Kelompok
Kelompok Kontrol
Perlakuan
18950,00±0,0
4270,00±3896,63
P
0,180
157
Sesudah Cuci Tangan
0,0±0,0
690,00±56,57
1,000
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan uji Mann-Whitney didapatkan bahwa tidak ada
perbedaan rerata jumlah koloni bakteri Staphylococcus aureus antara kelompok kontrol dengan
kelompok perlakuan sebelum maupun sesudah diberikan perlakuan (p>0,05).
2. Uji efek program penyadaran kepatuhan cuci tangan
Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan rerata koloni bakteri Staphylococcus aureus antar
kelompok sesudah perlakuan berupa cuci tangan. Hasil analisis kemaknaan dengan uji Mann-Whitney
disajikan pada Tabel 5.11
Tabel 5.11
Rerata Jumlah Koloni Bakteri Staphylococcus aureus yang di Isolasi dari Swab Telapak Tangan Sampel
pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan antara Sebelum dengan Sesudah Perlakuan
Kelompok
Rerata Koloni
Sebelum Perlakuan
Rerata Koloni Sesudah
P
Perlakuan
Kontrol
18950,00±0,0
0,0±0,0
Perlakuan
4270,00±3896,63
690,00±56,57
0,564
Hasil analisis dengan menggunakan uji Mann-Whitney didapatkan bahwa tidak ada perbedaan
rerata jumlah koloni bakteri Staphylococcus aureus antara sebelum dengan sesudah perlakuan pada
kelompok kontrol maupun pada kelompok perlakuan (p>0,05).
158
Berdasarkan Tabel 5.9, 5.10 dan 5.11 didapatkan hasil bahwa walaupun terjadi penurunan
jumlah koloni bakteri Staphylococcus aureus pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan antara
sebelum dan sesudah perlakuan tetapi penurunannya tidak bermakna / tidak signifikan.
5. 2. PEMBAHASAN.
Untuk menguji efek program penyadaran kepatuhan cuci tangan terhadap pengetahuan, jumlah
koloni bakteri dan jumlah bakteri Staphylococcus aureus maka dilakukan penelitian eksperimental
dengan rancangan pretest-post test control group design, yang dilaksanakan pada bulan Mei sampai
dengan bulan Oktober 2015 dengan melibatkan 28 orang Co Ass yang praktek di poliklinik Gigi dan
Mulut RSGM FKG UNMAS Denpasar sebagai sampel, yang terbagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu
kelompok kontrol yang melakukan cuci tangan sesuai prosedur tetap dan kelompok perlakuan cuci
tangan dengan program penyadaran kepatuhan cuci tangan.
5.2.1 PENGETAHUAN CUCI TANGAN
1. Distribusi Data Hasil Penelitian
Data hasil penelitian berupa pengetahuan sebelum dianalisis lebih lanjut, terlebih dahulu diuji
distribusi. Untuk uji distribusi digunakan uji Shapiro-Wilk, yaitu untuk mengetahui normalitas data.
Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa data skor pengetahuan berdistribusi normal (p> 0,05)
2. Pengaruh Program Penyadaran Kepatuhan Cuci Tangan
Uji perbandingan pengetahuan cuci tangan antara kedua kelompok sebelum dan sesudah
perlakuan berupa program penyadaran kepatuhan cuci tangan. Berdasarkan hasil analisis pada data
pengetahuan sebelum perlakuan dengan uji t-indepedent menunjukkan bahwa nilai t = 0,141 dan nilai
p = 0,889
159
Hal ini berarti bahwa rerata skor pengetahuan sebelum perlakuan pada kedua kelompok tidak
berbeda (p>0,05). Sedangkan sesudah perlakuan, perbedaan rerata skor pengetahuan dengan uji tindepedent menunjukkan bahwa nilai t = 3,89 dan nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa rerata skor
pengetahuan sesudah perlakuan pada kedua kelompok berbeda secara bermakna (p<0,05).
Dengan demikian didapatkan bahwa program penyadaran kepatuhan cuci tangan dapat
meningkatkan pengetahuan cuci tangan Co Ass FKG UNMAS Denpasar.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Jamaluddin, et al (2012) bahwa pemberian
sosialisasi cuci tangan melalui ceramah dan diskusi dapat meningkatkan pengetahuan cuci tangan dan
dapat meningkatkan kepatuhan cuci tangan, penelitian Desianto (2013) bahwa dengan pendidikan
kesehatan yang diberikan khususnya tentang cuci tangan menyebabkan terjadinya peningkatan
pengetahuan yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya peningkatan kepatuhan cuci tangan. Jadi
kesamaan hasil penelitian ini dengan ketiga penelitian di atas adalah bahwa dengan pemberian
pendidikan kesehatan cuci tangan dapat meningkatkan pengetahuan cuci tangan.
Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan pelaksanaan hand
hygiene. Tingkat pengetahuan tentang hand hygiene tidak hanya sebatas pentingnya pelaksanaannya,
namun juga harus mencakup indikasi dan tehnik pelaksanaannya. Pengetahuan merupakan unsur pokok
dalam perubahan perilaku bagi setiap individu. Pengetahuan juga dikatakan sebagai suatu pembentukan
secara terus menerus oleh seseorang dan setiap saat mengalami reorganisasi karena ada pemahamanpemahaman baru. Seseorang yang dipaparkan oleh pengetahuan yang terus menerus tentunya akan
memberikan pengaruh terhadap perilakunya. Menurut Notoadmojo (2007) perilaku yang didasarkan
pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Dengan terjadinya peningkatan pengetahuan cuci tangan diharapkan dapat meningkatkan
kepatuhan cuci tangan.Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa penelitian diantaranya adalah dengan
160
meningkatnya pengetahuan cuci tangan maka dapat meningkatkan kepatuhan cuci tangan (Pitted et al.,
2000), bahwa untuk meningkatkan ketaatan petugas kesehatan dalam melakukan cuci tangan adalah
dengan menggunakan strategi pendidikan, kurangnya pengetahuan dan informasi yang ilmiah tentang
hand hygiene dapat menjadi penghambat atau kurangnya motivasi bagi petugas kesehatan untuk taat
dalam melakukan cuci tangan sesuai dengan rekomendasi (WHO 2002).
Penelitian lainnya
menyatakan bahwa beberapa faktor yang dapat menghambat petugas
kesehatan untuk melakukan hand hygiene adalah faktor ketidak mengertian akan tekhnik hand hygiene
atau standar hand hygiene (Burke, 2003), faktor kurangnya pengetahuan terhadap standar (Lankford et
al., 2003) dan menurut WHO (2005) untuk meningkatkan ketaatan dalam melakukan hand hygiene
diperlukan multidimensi strategi pendekatan diantaranya adalah dengan pendidikan. Suliha (2007)
menyatakan bahwa pengetahuan dapat diubah dengan strategi persuasi yaitu memberikan informasi
kepada orang lain dengan pendidikan kesehatan yang dilakukan dengan berbagai metode salah satunya
metode demonstrasi.
Penelitian lainnya juga menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat
pengetahuan tentang cuci tangan dengan tingkat kepatuhan cuci tangan (Arfianti, 2010), ada hubungan
antara pengetahuan dengan perilaku / sikap mencuci tangan (Zuraidah, 2013) dan
Asfan, 2013),
terdapat hubungan antara pengetahuan terhadap motivasi Dokter Gigi Muda dalam kontrol infeksi
(Shara et al., 2014), dan terdapat perbedaan tingkat kepatuhan mahasiswa praktek cuci tangan antara
sebelum dan sesudah diberi pendidikan cuci tangan sehingga didapatkan ada pengaruh pendidikan
kesehatan terhadap kepatuhan cuci tangan (Murdyaningsih, 2015).
Dengan pemberian sosialisasi cuci tangan melalui ceramah / diskusi, peragaan dan latihan
ketrampilan cuci tangan dapat meningkatkan pengetahuan / ketrampilan cuci tangan, meningkatnya
pengetahuan / ketrampilan cuci tangan dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kepatuhan cuci
161
tangan dan meningkatnya kepatuhan cuci tangan diharapkan dapat menurunkan jumlah koloni bakteri
dan jumlah bakteri Staphylococcus aureus
5.2.2 JUMLAH KOLONI BAKTERI
1. Distribusi Data Hasil Penelitian
Data hasil penelitian berupa koloni bakteri sebelum dianalisis lebih lanjut, terlebih dahulu diuji
distribusi. Untuk uji distribusi digunakan uji Shapiro-Wilk, yaitu untuk mengetahui normalitas data.
Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa data skor koloni bakteri tidak berdistribusi normal (p<
0,05)
2. Pengaruh Program Penyadaran Kepatuhan Cuci Tangan
Untuk data koloni bakteri sebelum perlakuan, dengan uji Mann-Whitney didapatkan bahwa nilai
p = 0,110 Hal ini berarti bahwa median koloni bakteri sebelum perlakuan pada kedua kelompok tidak
berbeda (p>0,05). Sedangkan sesudah perlakuan, didapatkan bahwa nilai p = 0,139. Hal ini berarti
bahwa median koloni bakteri sesudah perlakuan pada kedua kelompok tidak berbeda (p>0,05).
Walaupun terjadi penurunan jumlah koloni bakteri pada kelompok kontrol dan kelompok
perlakuan antara sebelum dan sesudah perlakuan
akan
tetapi hasilnya tidak bermakna / tidak
signifikan, dengan demikian dapat dinyatakan bahwa program penyadaran kepatuhan cuci tangan tidak
dapat menurunkan jumlah koloni bakteri pada tangan Co Ass FKG UNMAS Denpasar.
Hal ini dapat terjadi karena ada beberapa faktor yang berhubungan dengan jumlah koloni
bakteri pada telapak tangan yaitu ; cara dan waktu / momen cuci tangan, lama waktu / durasi cuci
tangan, efektifitas bahan/jenis antimikroba , mutu air, material pengering yang digunakan, pemakaian
162
/ sarung tangan, kondisi bangsal / ruangan, aktivitas yang dilakukan, sarana prasarana seperti wastafel,
kran air wastafel dan tingkat pengetahuan serta tingkat kepatuhan cuci tangan.
Disamping itu banyaknya jumlah bakteri pada tangan tergantung juga dari waktu sejak terakhir
cuci tangan, karena hal ini dapat mempengeruhi komunitas bakteri di tangan, juga derajat kontaminasi
sesuai dengan kontak karena semakin banyak melakukan kontak baik dengan pasien, dengan petugas
medis lain, maupun kontak dengan alat-alat medis, berarti derajat kontaminasinya semakin tinggi dan
jumlah mikroorganisme juga semakin banyak, serta derajat kerentanan seseorang terhadap
mikroorganisme, karena semakin tinggi derajat kerentanan seseorang terhadap mikroorganisme maka
akan semakin banyak jumlah mikroorganisme yang singgah (Fierer, 2008).
Bahan dan sarana prasarana yang dipakai dalam penelitian ini adalah ; air sumur/air tanah,
sabun komersial yang mengandung triclosan, tisu pengering komersial, kran dan wastafel standar. Jika
dilihat dari sarana wastafel dan kran air wastafel maka untuk mendapatkan hasil cuci tangan yang lebih
baik untuk kedepannya perlu mendapat perhatian pada penempatan maupun pengadaannya.
Untuk wastafel sebaiknya dipilih model, ukuran dan kedalaman yang cukup memadai,
demikian juga dengan pengaturan penempatan dan jarak wastafel dengan kran air wastafel, supaya
tangan yang sudah bersih setelah cuci tangan tidak menyentuh dinding wastafel dan mulut kran air
wastafel. Untuk kran sebaiknya dipilih dan dipakai kran air wastafel model yang dapat dibuka dan
ditutup dengan siku sehingga telapak tangan yang sudah bersih setelah cuci tangan tidak terkontaminasi
karena tangan tidak lagi menyentuh kran.
Jika dilihat dari sabun yang dipakai dalam penelitin ini yakni sabun komersial yang mengandung
triclosan maka hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian lainnya bahwa tidak terdapat
perbedaan jumlah kuman yang bermakna sebelum dan sesudah cuci tangan dengan menggunakan
antiseptik triclosan (Abduh, 2014).
163
Tetapi hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Rachmawati dan Triyana (2008) yang
hasilnya bahwa setelah cuci tangan dengan sabun triclosan menunjukkan penurunan angka / jumlah
kuman dan
penelitian Desianto (2013) dengan hasil bahwa adanya efektivitas mencuci tangan
menggunakan cairan pembersih tangan antiseptik (hand sanitizer) terhadap jumlah angka kuman.
Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain ;
1. Pengetahuan .
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Menurut Notoadmojo (2003) pengetahuan terdiri 6
tingkatan yaitu:
a. Tahu
Tahu artinya mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalaman
pengetahuan, tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan
yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b.Memahami
Memahami artinya sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek
yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c.Aplikasi
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi atau kondisi sebenarnya.
d.Analisa
164
Analisa adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam
komponen komponen tetapi masih di dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu dengan
yang lain.
e.Sintesis
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian bagian di dalam keseluruhan yang baru.
f.Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap
suatu materi.Sebagian besar pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam
pembentukan tindakan seseorang (Notoadmojo, 2003).
Dari uraian di atas dapat dinyatakan bahwa ceramah / diskusi tentang cuci tangan yang
diberikan baru sebatas tahap tahu(recall), belum sampai pada tahap evaluasi yang tercermin dari
perilaku cuci tangan.
2. Perilaku cuci tangan
Perilaku adalah tindakan atau aktifitas manusia yang mempunyai bentangan yang sangat luas
antara lain berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya.
Dari uraian diatas dapat dinyatakan bahwa perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktifitas
manusia, baik yang diamati langsung maupun yang tidak diamati oleh pihak luar (Notoadmojo, 2003).
Menurut teori Green dalam Notoadmojo (2003) menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan
dimana kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yaitu faktor perilaku (Behavior Causes)
dan faktor diluar perilaku (Non Behavior Causes).
165
Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor, yaitu faktor-faktor
predisposisi (Predisposing factors) yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan,
nilai-nilai. Kemudian faktor-faktor pendukung (Enabling Factors) yang terwujud dalam lingkungan fisik,
tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan misalnya fasilitas untuk
cuci tangan ; dan faktor-faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan perilaku
petugas kesehatan atau petugas lain yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
Perubahan perilaku individu baru menjadi dapat optimal jika perubahan tersebut terjadi melalui proses
internalisasi dimana perilaku yang baru itu dianggap bernilai positif dan diintegrasikan dengan nilai-nilai
lain dari hidupnya.
3. Kemauan
Kemauan adalah dorongan dasar dari dalam diri yang lebih tinggi daripada insting, refleks,
automatisme, nafsu keinginan, kebiasaan, kecenderungan dan hawa nafsu, dan kemauan adalah
dorongan dari alam sadar berdasarkan pertimbangan fikir dan perasaan serta seluruh pribadi seseorang
yang menimbulkan kegiatan yang terarah pada tercapainya tujuan tertentu yang berhubungan dengan
kebutuhan hidup pribadinya (Prawira, 2010).
Tingkat pengetahuan tahap evaluasi, kemauan dan perilaku inilah yang mungkin masih kurang
dimiliki oleh mahasiswa program pendidikan profesi kedokteran gigi FKG UNMAS Denpasar, sehingga
walaupun tingkat pengetahuannya sudah baik oleh karena pengaruh program penyadaran kepatuhan
cuci tangan tetapi apabila tingkat pengetahuannya hanya baru sebatas mengingat kembali (recall), tidak
ada kemauan/ perilaku yang baik disamping karena faktor-faktor lainnya maka tingkat kepatuhan cuci
tangan masih rendah sehingga tidak melakukan semua prosedur cuci tangan yang baik dan benar dan
hasil akhirnya penurunan jumlah koloni bakteri belum signifikan.
4. Air dan kran air wastafel
166
Air yang dipakai dalam penelitian ini adalah air bawah tanah / air sumur sehingga tidak dapat
terkontrol kandungan kumannya dan kran air wastafel yang dipakai adalah jenis standar yang harus
dibuka dan ditutup dengan tangan sehingga ada kemungkinan tangan terkontaminasi bakteri lagi
setelah cuci tangan pada waktu menutup kran air
5. Langkah langkah cuci tangan.
Cuci tangan yang benar ada 6 langkah, bila ada salah satu langkah saja yang dilewatkan / tidak
dilakukan maka ada kemungkinan masih ada bakteri yang tersisa pada telapak tangan.
6. Wastafel .
Wastafel
yang
ada
di
ruang
pelayanan
pasien
adalah
wastafel
standar
yang
cekungan/lubangnya kurang dalam sehingga ada kemungkinan telapak tangan yang sudah bersih setelah
dicuci bisa terkontaminasi kuman lagi karena menyentuh dinding dalam wastafel.
7. Tisu pengering.
Tisu yang dipakai adalah tisu pengering komersial sehingga tidak bisa dijamin bebas dari
kuman/bakteri .
8. Sarung tangan.
Begitu juga dengan pemakaian sarung tangan komersial yang juga belum tentu bebas dari
kuman/bakteri.
9. Waktu/durasi cuci tangan.
Lama waktu cuci tangan yang benar adalah 60 detik, bila waktu cuci tangan dilakukan kurang
dari 60 detik maka tidak semua kuman/bakteri hilang dari telapak tangan.
167
10. Aktivitas.
Contoh aktivitas yang behubungan dengan keberadaan bakteri pada telapak tangan adalah
aktivitas yang bersentuhan dengan
handphone dan dompet penyimpan
uang karena setelah
pemakaian handphone dan mengambil uang dari dompet maka telapak tangan dapat terkontaminasi
bakteri yang terdapat pada uang dan handphone.
11. Sabun komersial.
Sabun yang dipakai dalam penelitin ini adalah sabun komersial yang mengandung triclosan.
Sudah terbukti bahwa tidak terdapat perbedaan jumlah kuman yang bermakna sebelum dan sesudah
cuci tangan dengan menggunakan antiseptik triclosan (Abduh, 2014) .
12. Kondisi ruangan / lingkungan.
Kondisi ruangan/lingkungan tempat penelitian juga sangat berpengaruh terhadap hasil
penelitian seperti suhu dan kelembaban udara, dan ternyata sesuai dengan hasil penelitian bahwa
bakteri yang banyak ditemukan adalah bakteri/ kuman lingkungan seperti pseudomonas stutzeri dan
ralstonia picketti.
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa program penyadaran kepatuhan cuci tangan tidak
dapat menurunkan jumlah koloni bakteri, ini dapat terjadi karena beberapa alasan ;
1. Dilihat dari pengetahuan walaupun sudah terjadi peningkatan akan tetapi mungkin masih
pada tahapan mengingat kembali (recall), dan belum sampai pada tahapan perilaku.
168
2. Perilaku dan kemauan cuci tangan masih rendah sehingga tingkat kepatuhan masih kurang.
3. Ketrampilan cuci tangan masih kurang, hal ini dapat terjadi karena latihan praktek cuci
tangan hanya dilakukan baru satu kali saja sehingga belum menjadi kebiasaan / belum menjadi budaya
yang baik dan benar dalam praktek cuci tangan.
4. Walaupun tingkat pengetahuan sudah baik , ketrampilan cuci tangan dan kemauan sudah
baik, tapi kalau faktor-faktor sarana prasarana dan lingkungan belum mendukung maka dapat
mempengaruhi tingkat kepatuhan cuci tangan sehingga hasilnya belum sesuai dengan harapan yaitu
belum secara signifikan dapat menurunkan jumlah koloni bakteri.
5. Ternyata tingkat pengetahuan cuci tangan saja tidak menjamin perilaku / kepatuhan cuci
tangan, karena selain pengetahuan cuci tangan masih banyak faktor lainnya yang berpengaruh
(Wartonah, 2006), yaitu ;
1. Lingkungan (Environment)
Lingkungan sosial atau ekonomi: orang tua, pengasuh, guru, teman-teman, pengetahuan,
agama, kekayaan atau kemiskinan, adat kebiasaan.
2. Gambaran tubuh (body Image)
Gambaran tubuh adalah konsep subyektif seseorang dalam penampilan fisiknya. Gambaran
tubuh ini sering berubah dan berpengaruh terhadap cara individu menjaga kebersihan diri / tangan.
3. Pengetahuan (knowlegde)
169
Pengetahuan tentang pentingnya kebersihan diri / tangan dan implikasinya secara baik dapat
mempengaruhi praktek kebersihan diri / tangan. Pengetahuan saja tidak cukup, perlu ada motivasi dari
individu dan latihan perawatan kebersihan diri / tangan.
4. Variabel budaya (Curtural Variables).
Kepercayaan budaya dan nilai pribadi individu mempengaruhi perawatan kebersihan diri /
tangan. Individu dari bermacam-macam latar belakang budaya mengikuti cara kebersiahan diri / tangan
yang berbeda-beda.
5. Cara sosial (Sosial Practices)
Kelompok sosial dimana individu sering berhubungan dapat mempengaruhi pelaksanaan
kebersihan diri / tangan.
6. Status sosial ekonomi (Sosio Economic Status)
Sumber ekonomi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan dan alat untuk
kebersihan diri / kebersihan tangan. Contoh memilih alat-alat mandi / bahan cuci tangan (shampoo,
pasta gigi, sabun mandi, sabun cuci tangan) tentu berbeda tiap individu.
Perlu diketahui bahwa walaupun terjadinya penurunan jumlah koloni bakteri
secara statistik
belum bermakna / belum signifikan akan tetapi bila dilihat dari bidang mikrobiologi maka hasil ini sudah
sangat penting dan sangat berpengaruh oleh karena
setiap koloni bakteri adalah sebagai penyebab
terjadinya infeksi nosokomial dan bila kejadiannya masih cukup tinggi maka akan sangat berpengaruh
terhadap penilaian akreditasi rumah sakit.
5.2.3 JUMLAH BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS
Pengaruh Program Penyadaran Kepatuhan Cuci Tangan
170
Bakteri Staphylococcus aureus pada kelompok perlakuan didapatkan
perlakuan menjadi 98 CFU/ml sesudah perlakuan. Artinya telah terjadi
915 CFU/ml sebelum
penurunan jumlah bakteri
Staphylococcus aureus sebagai efek dari program penyadaran kepatuhan cuci tangan.
Dengan uji Mann-Whitney dari data koloni bakteri Staphylococcus aureus pada kelompok
perlakuan sebelum perlakuan, didapatkan bahwa nilai p = 0.180. Hal ini berarti bahwa median koloni
bakteri Staphylococcus aureus sebelum perlakuan pada kedua kelompok tidak berbeda (p>0,05).
Sedangkan sesudah perlakuan, didapatkan bahwa nilai p = 1.000 Hal ini berarti bahwa median koloni
bakteri Staphylococcus aureus sesudah perlakuan pada kedua kelompok tidak berbeda (p>0,05).
Dari uraian di atas didapatkan bahwa walaupun terjadi penurunan jumlah koloni bakteri
Staphylococcus aureus pada kelompok perlakuan antara sebelum dan sesudah perlakuan tetapi hasilnya
tidak bermakna / tidak signifikan, dengan demikian dapat dinyatakan bahwa program penyadaran
kepatuhan cuci tangan tidak dapat menurunkan jumlah koloni bakteri Staphylococcus aureus pada
tangan Co Ass FKG UNMAS Denpasar.
Hal ini dapat terjadi karena ada beberapa faktor yang berhubungan dengan jumlah koloni
bakteri Staphylococcus aureus pada telapak tangan yaitu ; bahwa selain cara, langkah-langkah, waktu /
momen,
lama waktu / durasi cuci tangan, efektifitas bahan/jenis antimikroba , mutu air, bahan
pengering yang digunakan dan pemakaian sarung tangan, kondisi bangsal / ruangan, aktivitas yang
dilakukan, sarana prasarana seperti wastafel, kran air wastafel dan tingkat pengetahuan serta tingkat
kepatuhan cuci tangan, justru yang tidak kalah penting adalah kewajiban pemakaian masker untuk
menutup mulut dan hidung oleh karena bakteri Staphylococcus aureus banyak terdapat pada hidung.
Bahan dan sarana prasarana yang dipakai dalam penelitian ini adalah ; air sumur/air tanah,
sabun komersial yang mengandung triclosan, tisu pengering komersial, kran dan wastafel standar. Jika
dilihat dari sabun yang dipakai dalam penelitin ini yakni sabun komersial yang mengandung triclosan
171
maka hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian lain bahwa tidak terdapat perbedaan jumlah
kuman yang bermakna sebelum dan sesudah cuci tangan dengan menggunakan antiseptik triclosan
(Abduh, 2014).
Demikian juga hasil ini sama dengan hasil penelitian lainnya bahwa ada hubungan yang
signifikan antara tingkat pengetahuan hand hygiene dengan kepatuhan pelaksanaan hand hygiene, dan
ternyata rata-rata tingkat kepatuhan pelaksanaa hand hygiene Co Ass adalah kurang (Widyanita dan
Listiowati, 2014). Ada kemungkinan kondisi ini sama dengan kondisi pada Co Ass FKG UNMAS Denpasar.
Tetapi hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian lain bahwa triclosan adalah salah satu
antiseptik yang banyak digunakan karena efektif terhadap berbagai kuman Gram positif dan Gram
negatif (Loho dan Utami, 2007). Jugat tidak sesuai dengan penelitian yang mendapatkan bahwa sabun
antibakteri triclosan mengandung zat antiseptik yang dapat mengahambat pertumbuhan / membunuh
kuman Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes (Susilowati, 2013).
Dari uraian tersebut diatas maka dapat dinyatakan bahwa peningkatkan pengtahuan cuci tangan
belum menjamin meningkatkan kepatuhan cuci tangan karena teori jauh lebih mudah bila dibandingkan
dengan praktek / ketrampilan, apalagi dalam penelitian ini peragaan dan latihan ketrampilan praktek
cuci tangan dilakukan hanya satu kali saja sehingga ketrampilan cuci tangan yang diharapkan belum
tercapai sehingga dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan cuci tangan .
Disamping itu bila dilihat dari hasil penelitian bahwa telah terjadi peningkatan pengetahuan
secara signifikan dan telah terjadi penurunan jumlah koloni kuman / bakteri tapi belum signifikan dan
koloni bakteri yang banyak ditemukan adalah jenis kuman lingkungan dengan demikian selain dengan
meningkatkan pengetahuan melalui pendidikan / ceramah maka yang juga tidak kalah penting adalah
peragaan dan latihan / praktek cuci tangan untuk meningkatkan
ketrampilan dan faktor-faktor
172
lingkungan yang dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan cuci tangan sehingga pelaksanaan praktek cuci
tangan dapat menghilangkan bakteri pada telapak tangan.
Keberadaan bakteri Staphylococcus aureus pada telapak tangan
dipengaruhi oleh tingkat
kepatuhan cuci tangan dan kepatuhan cuci tangan tergantung dari pengetahuan, ketrampilan, sikap,
kemauan, perilaku dan faktor lingkungan seperti keberadaan air bersih, kran, wastafel, sabun
pembersih, tisu pengering dan lain-lainnya. Yang salah satunya adalah pemakaian masker untuk
menutup mulut dan hidung, mengingat pemakaian masker dapat memperkecil kemungkinan
kontaminasi Staphylococcus aureus dari hidung.
Dari uraian diatas dapat dinyatakan bahwa yang masih menjadi kendala / masalah yang sangat
berpengaruh terhadap kepatuhan cuci tangan (hand washing) adalah lebih banyak pada faktor-faktor
lingkungan, oleh karenanya perlu mendapat pertimbangan bahwa dalam pemilihan pelaksanaan hand
hygiene dapat dilakukan dengan hand rubbing karena hand rubbing lebih
banyak kelebihannya
dibandingkan dengan hand washing
Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut ;
Tangan merupakan perantara yang paling sering menularkan mikroorganisme patogen
penyebab infeksi nosokomial dan salah satu cara mengontrol dan mencegah infeksi nosokomial adalah
dengan menjaga kebersihan tangan. Kurangnya kepatuhan tenaga medis dalam pelaksanaan menjaga
kebersihan tangan adalah masalah yang dihadapi oleh rumah sakit di seluruh dunia. Kurangnya fasilitas
seperti westafel dan akses terhadap air bersih, sabun serta tisu pada titik pelayanan kesehatan
merupakan kendala yang mempengaruhi kepatuhan mencuci tangan. Salah satu solusi terhadap hal ini
yaitu hand hygiene dengan hand rubbing (alcohol –based handrubs).
173
Mencuci tangan dengan alcohol –based handrubs tidak membutuhkan air bersih, wastafel, kran
air , sabun serta tisu pengering dan dapat digunakan langsung dititik tempat bekerja. WHO telah
memformulasikan alcohol-based handrub yang dapat diproduksi secara lokal. WHO merekomendasikan
digunakannya cairan pencuci tangan formula WHO sebagai cairan pencuci tangan alternatif jika cairan
pencuci tangan komersial sulit didapatkan ataupun harganya terlalu mahal.
Terdapat dua jenis handrub formulasi WHO. Formulasi pertama memiliki komposisi yang
terdiri dari ethanol, glycerol dan hydrogen peroxide. Sedangkan formulasi kedua terdiri dari isopropyl
alcohol, glycerol, dan hydrogen peroxide.Formula ini memiliki spektrum luas aktivitas antimikroba
dengan risiko minimal terhadap resistensi. Efektivitas antimikroba cairan pencuci tangan formula WHO
telah lolos uji European Standards. Cairan pencuci tangan formula WHO memiliki bahan aktif etanol
80%. Etanol, isopropil alcohol / isopropanol / n-propanol atau kembinasi keduanya sering digunakan
sebagai alcohol based handrub dengan konsentrasi paling efektif 60-80%. Konsentrasi alkohol yang
lebih tinggi kurang efektif karena denaturasi protein membutuhkan air.
Hasil penelitian lain telah membuktikan
bahwa menggosok tangan menggunakan cairan
berbahan dasar alkohol lebih efektif dibandingkan metode kebersihan yang standar mencuci tangan
menggunakan air dan sabun (Girou, et al 2002). Peneliti lain mendapatkan bahwa cuci tangan dengan
alkohol hanya membutuhkan waktu 20-30 detik untuk pengeringan, sedangkan penggunaan sabun
membutuhkan waktu 60-90 detik. Tangan yang basah dapat menumbuhkan dan menyebarkan mikroorganisme dibandingkan dengan tangan yang kering (Mathai, et al 2010).
Penggunaan alkohol untuk cuci tangan memiliki beberapa kelebihan, yaitu sangat banyak
mengurangi jumlah kuman di kulit, kerjanya cepat dan lebih sedikit menyebabkan iritasi (gatal-gatal)
dibandingkan dengan berkali-kali memakai air dan sabun (New South Wales Health, Indonesian March
2006). Pembersihnya menguap tanpa bekas, dan juga mengandung zat pelembab yang menjaga agar
174
kulit tetap dalam keadaan baik. Peneliti yang lain menyatakan bahwa cairan alkohol lebih efektif
penggunaannya dalam mencuci tangan, sebab waktu kering cairan alkohol lebih cepat (yaitu sekitar 2030 detik) dibandingkan mencuci tangan memakai sabun dan setelah kering tidak akan membuat kuman
berkembang biak (Karabay, et al 2004)
Adapun kelemahan menggunakan alkohol adalah :
1. Pembersih tangan berbahan dasar alkohol tidak berhasil baik jika kulit tampak nyata kotornya
karena pembersih itu tidak melunturkan dan membasuh kotoran seperti dilakukan oleh sabun
dan air (New South Wales Health, Indonesian March 2006)
2. Biaya untuk mendapatkan alkohol cenderung lebih mahal dibandingkan sabun pencuci tangan.
Sedangkan kelebihan menggunakan sabun adalah :
1. Cuci Tangan Pakai Sabun adalah satu-satunya intervensi kesehatan yang paling cost-effective
(Kementrian Kesehatan, 2010).
2. Jika sabun digunakan dalam mencuci tangan akan menghapus sebagian besar bakteri transien
(Synder, 1988)
Adapun kelemahan menggunakan sabun adalah :
1. Memakan waktu yang lebih lama dibandingkan menggunakan alkohol (Mathai et al., 2010)
2. Terjadi kasus iritasi dan kekeringan pada kulit, kesulitan mengakses perlengkapan cuci tangan,
peningkatan kesibukan karena mencuci tangan cukup memakan waktu (Boyce, 2002., ; Kampf,
2003).
Manfaat yang didapatkan dari penelitian ini adalah bahwa untuk Co Ass yang akan memasuki
pendidikan klinik di rumah sakit atau pusat-pusat layanan kesehatan yang lain maka sebelum masuk
pendidikan klinik , perlu dibekali materi pengetahuaan dan ketrampilan serta waktu yang cukup untuk
pendidikan tentang hand hygiene dan dilakukan secara berkesinambungan serta dilakukan monitor dan
175
evaluasi secara berkala sehingga pengetahuan / ketrampilan dan kepatuhan cuci tangan terus dapat
ditingkatkan yang pada akhirnya telapak tangan bebas dari bakteri Staphylococcus aureus.
Yang dapat dipetik dari hasil penelitian ini adalah ;
1. Flora mikroorganisme baik normal maupun patogen terdapat pada seluruh permukaan dan
lingkungan, oleh karena itu maka pada saat melakukan tindakan yang berhubungan dengan pasien
wajib selalu memakai masker dan cuci tangan yang baik dan benar.
2. Kepatuhan cuci tangan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan koloni bakteri yang
banyak diketemukan adalah bakteri jenis lingkungan, dengan demikian kendala pada faktor lingkungan
harus lebih diperhatikan. Bila dalam pelaksanaan kebersihan tangan dengan cuci tangan masih banyak
kendala yang sulit diatasi maka dapat dipertimbangakn alternatif pelaksanaan kebersihan tangan
memakai alcohol-based handrub / hand rubbing.
3. Walaupun terjadi penurunan jumlah koloni bakteri Staphylococcus aureus yang secara
statistik belum bermakna akan tetapi bila dilihat dari bidang mikrobiologi maka hasil ini sudah sangat
penting karena bakteri Staphylococcus aureus sebagai penyebab terbesar terjadinya infeksi nosokomial
yang
akhir-akhir ini sudah mengalami multi drugs resistant (MDR) dan yang paling menyulitkan
penanggulangannya bila sampai muncul kejadiaan MRSA (Methicillin Resistant Staphylococcus aureus).
4. Untuk meningkatkan kepatuhan cuci tangan ternyata tidak cukup hanya dengan peningkatan
pengetahuan saja, harus diikuti dengan peningkatan sikap dan prilaku, sehingga dengan demikian dapat
disarankan bahwa diperlukan adanya sosialisasi, advokasi, kebijakan dan penegakan aturan.
176
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
6.1. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan simpulan sebagai berikut:
1. Program penyadaran kepatuhan cuci tangan dapat meningkatkan pengetahuan cuci tangan
Co Ass FKG UNMAS Denpasar.
2. Program penyadaran kepatuhan cuci tangan tidak dapat menurunkan
jumlah koloni
bakteri pada tangan Co Ass FKG UNMAS Denpasar.
3. Program penyadaran kepatuhan cuci tangan tidak dapat menurunkan jumlah bakteri
Staphylococcus aureus pada tangan Co Ass FKG UNMAS Denpasar
6.2. Saran
Sebagai saran dalam penelitian ini adalah:
1. Bagi Co Ass.
Selalu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta kepatuhan cuci tangan 5
(lima) momen dan 6 (enam) langkah, karena pelaksanaan hand hygiene yang baik dan benar
sangat penting untuk pencegahan infeksi nosokomial.
2. Bagi RSGM FKG UNMAS Denpasar
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bahwa sebelum praktek di rumah sakit
kepada Co Ass wajib diberikan sosialisasi (pendidikan, peragaan dan latihan praktek) cucit tangan
dengan waktu yang cukup dan melakukan monitor dan evaluasi secara berkala dan berkelanjutan
177
pada peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan kepatuhan
cuci tangan,
disamping itu
melakukan evaluasi terhadap prosedur tetap, bahan dan sarana prasarana, pemakaian masker
dan poster pengingat cuci tangan.
3. Bagi institusai di luar RSGM FKG UNMAS Denpasar.
Hasil penelitian ini dapat menjadi rekomendasi dalam memilih model / cara
pelaksanaan kebersihan tangan di tempat masing-masing, khususnya jika dalam
pelaksanaannya mengalami kendala pada sarana prasarana seperti jenis air, kran air, sabun
/ bahan pengering cuci tangan, tempat sampah serta pintu ruang cuci tangan sehingga
dalam pelaksanaan hand hygiene tidak memilih cara dengan hand washing akan tetapi
memilih cara dengan hand rub.
4. Bagi Peneliti lain
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan penelitian lebih lanjut, dengan perhatian lebih
besar pada faktor-faktor di luar pengetahuan seperti air untuk cuci tangan, jenis / ukuran
dan kedalaman wastafel, cara
dan bahan pengering yang dipakai, lama waktu dan
langkah-langkah cuci tangan yang sangat berpengaruh terhadap hasil pelaksanaan hand
hygiene.
5. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan dan keyakinan peneliti bahwa cuci
tangan 5 (lima) momen dan 6 (enam) langkah merupakan hal yang wajib dipatuhi karena sangat
bermanfaat bagi peneliti sendiri sebagai seorang dokter gigi, serta mengajak teman sejawat
untuk menjadi panutan dalam kepatuhan cuci tangan karena secara tidak langsung membantu
178
penurunan infeksi nosokomial serta meningkatkan dan mempercepat proses penyembuhan
pasien .
179
DAFTAR PUSTAKA
Abduh, M.S., Nugroho, R.B., Fasitasari, M. 2010. Jurnal Sains Medika, 2(2):163-
169.
Anonim. 2015. Data infeksi dan data kepatuhan kebersihan tangan .Tim PPI (Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi). Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar.
Anonim. “t.t.”. Awareness - definition of awareness by The Free Dictionary . Available
at ; www. thefreedictionary.com/awareness diakses Mei 2015
Arfianti, D., R. 2010. Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kepatuhan cuci tangan
perawat di RSI. Sultan Agung Semarang. Available from ; http://digilib.unimus.ac.id
diakses 18 Juni 2016.
Asfan, E. 2013. Hubungan antara pengetahuan, sikap dan pelaksanaan cuci tangan perawat five
moment for hand hygiene di ruang instalasi rawat inap RSUD Dr. H. Moh Anwar
Kabupaten Sumenep. Program Pasca Sarjana: UNS
Bady, A. M., Kusnanto, H., Handono, D. 2007. Analisis Kinerja Perawat dalam
Pengendalian Infeksi Nosokomial di Ruang IRNA 1 RSUP. Dr. Sardjito,
Yogyakarta. Available from: http://www.docstoc.com/ docs/ 38906036/
diakses 24 Maret 2015
Balaguris. 2009. Infeksi nosokomial. Available from : http://infeks-noskomial. html. Diakses
pada tanggal 20 Maret 2015
Batanoa, J. 2008. Kebiasaan cuci tangan dengan kejadian diare. Available from : http//222.
124.164.132/web/detail.php?sid=162887&actmenu=46 . diakses 29 Januari 2015
Bereket, W., Hemalatha, K., Getenet, B., Wondwossen, T., Solomon, A., Zeynudin, A., &
Kannan, S. 2012. Update On Bacterial Nosocomial Infections. European Review for
Medical and Pharmacological Sciences. 16, 1039-1044.
Boyce, J. M. 2008. Hand hygiene compliance monitoring: current perspectives
from the USA. Journal of Hospital Infection, 70 (S1): 2-7.
Boyce, J. M. dan Pittet, D. 2002. Morbidity and Mortality Weekly Report. Guideline for Hand
Hygiene in Health-Care Settings: Recommendations of the Health Care Infection Control
Practices Advisory Committee and the HICPAC/SHEA/APIC/IDSA Hand hygiene Task
Force. CDC Morbidity and Mortality, Vol.51 (RR-16)
180
BPOM. 2007. Pengujian Mikrobiologi Pangan. Available at ; http:// perpustakaan
pom.go.id/KoleksiLainnya/InfoPOM/0207.pdf. Diakses pada tanggal 10
Mei 2015
Burton, M., Cobb, E., Donachie, P., Judah, G., Curtis, V., and Schmidt, W.P. 2011. The effect of
handwashing with water or soap on bacterial contamination of hands. Int. J. Environ. Res.
Public Health.; (8):97-104.
Centers For Disease Control and Prevention (CDC) 2002. Guideline For Hand hygiene in
Health-Care Settings : Recommendations of the Health Care Infection Control Practices
Advisory Committee and the Hicpac/Shea/Apic/Idsa Hand hygiene Task Force.Morbidity
And Mortality Weekly Report, 51 (RR16).
Centers for Disease Control and Prevention 2012. Hand hygiene in Health
care Settings.
Centers for Disease Control and Prevention. Available at
http://www.cdc.gov/handhygiene/Basics.html. diakses pada 08 April
2015
Darmadi. 2008. Infeksi Nosokomial, Problematika dan Pengendaliannya. Edisi Pertama.,
Penerbit Salemba Medika, Jakarta
Depkes. RI. 2007. .Pedoman Manajerial Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi
Di Rumah Sakit Dan Fasilitas Kesehatan Lainnya, Jakarta. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia;
Depkes. RI. 2008a. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2007. Jakarta
Depkes. RI. 2008b. Pedoman Umum Pengelolaan Kegiatan Peningkatan Perilaku Cuci Tangan
Pakai Sabun (CTPS): Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Depkes. RI. 2009. Panduan Penyelenggaraan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia, Jakarta
: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Depkes. RI. 2010. Pedoman Pelaksanaan Kewaspadaan Universal di Pelayanan
Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Desianto. 2013. Efektivitas Mencuci Tangan Menggunakan Cairan Pembersih Tangan Antiseptik
(Hand Sanitizer) Terhadap Jumlah Angka Kuman Kesmas, Vol.7, No.2, September 2013,
ISSN: 1978-0575
Enggar, 2012. Check List (V) Pada Kotak Jawaban Yang Dipilih.
Available from:
http://digilib.mercubuana.ac.id/manager/[email protected]_ebook/Isi293049737758.pdf. Diakses
18 Juni 2016
Fatonah, S. 2005. Hygiene dan Sanitasi makanan, Semarang: Universitas Negeri
181
Semarang Press.
Fewtrell, L., Kaufmann, R.B., Kay, D., Enanoria, W., Haller, L., Colford, J.M. 2005. Water,
sanitation, and hygiene interventions to reduce diarrhoea in less developed countries: a
systematic review and meta-analysis.The Lancet Infectious Diseases.5(1):42–52.
Fierer N,Costello EK, Lauber CL, Hamady M., Gordon JI, 2009. Bacterial variation in human
body
habitats
across
space
and
time.
Science
326:
1694–1697.
doi:10.1126/science.1177486
Gal, D., Mayo, M., Vaughan, H.S., Dasari, P., Mckinnon, M., Jacups, S. P., Urquhart, A.I.,
Hassell, M., Currie, B..J. 2004. Contamination of Hand Wash Detergent Linked to
Occupationally Acquired Melioidosis, Am. J. Trop. Med. p. 360-62
Girou, E., Loyeau, S., Legrand, P., Oppein, F., Buisson, C.B. 2002. Efficacy of Hand rubbing
with an Alcohol Based Solution versus Standard Handwashing with Antiseptic Soap
randomized clinical trial.BMJ 325:362-5.
Gupte, S. 1990. Mikrobiologi Dasar, Alih bahasa oleh Suryawidjaya, J.E. Penerbit Binarupa
Aksara, Jakarta.
Hendrawan, N. 2009. Resep Mudah Tetap Sehat. Jakarta: Penerbit Buku Kompas;. halaman 51
Hernandes, X. E. 2014. Hand-Hygiene. Available from : https://ml.scribd. com/doc/ 226085989/
Hand-Hygiene. diakses 13 April 2015
Hidayat. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika
Huang, Y., Xie, W., Zeng, J. 2013. Limited knowledge and practice of Chinese
medical students regarding health-care associated infections. J Infect
Dev Ctries, 7(2):144-151
Isaa C., Cairncross F.S. 2007. How often do you wash your hands? A review of
studies of hand-washing practices in the community during and after the
SARS outbreak in 2003. International Journal of Enviromental Health
Research. 17(3):161-83.
Jamaluddin, J., Sugeng, S., Wahyu, I., dan Sondang, M. 2012. Kepatuhan cuci tangan 5 momen
di Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara.
182
Jawetz, E. J., Melnick, E., Adelberg. 2005. Mikrobiologi Kedokteran , Alih bahasa oleh
Mudihardi, E., Kuntaman, Wasito, E.B., Mertaniasih, N.M., Harsono, S., dan
Alimsardjono, L., Penerbit Salemba Medika, Jakarta.
Johson, A. G., Ziegler, R., Fitzgerald, T.J., Lukasewycz, O., Hawley, L. 1994. Mikrobiologi dan
Imunologi, Alih bahasa olehYulius E.S., Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta.
Kampf, G. 2009. Hand hygiene for the Prevention of Nosocomial .Available
from:http://www.rki.de/DE/Content/Infekt/Krankenhaushygiene/Haendehygiene/
Artikel_Hyg.pdf?__ diakses 13 April 2015.
Karabay, O., Sencan, I., Sahra, I., Alpteker, H., Ozcan, A., Oksux, S. 2004.
Compliance and Efficacy of Hand rubbing during in Hospital Practice
Available from ; http: // mainemedicalpartners.org/
workfiles/ mh_ pro
fessional/ IPCC/ Article Improved Standards Practice.pdf. diakses tanggal
20 Mei 2016
Karen, C.B.K., Rimer, A.K.V. 2008. Health behavior and health education : theory, research, and
practice.San Fransisco: Jossey-Bass;.
Keevil, B. 2011. Reducing HAIs in ICUs with copper touch surfaces. University of Southampton
Kemenkes. RI. 2010. Pedoman Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Jakarta: Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia;
Kemenkes. RI. 2011. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Perilaku Sederhana yang Berdampak
Luar Biasa. Available at : http://depkes.go.id /index. php/berita/ press-release/2086cuci-tangan-pakai- sabun- ctps perilaku-sederhana-yang-berdampak-luar-biasa ; diakses
12 Januari 2015
Kushartanti, R. 2012. Beberpa Faktor Yang Mmpengaruhi Perilaku... Available from :
https://www.google.com/search?q=
%28Kushartanti%2C
+
2012%29
+cuci
+tangan&ie=utf-8&oe=utf-8 diakses 2 April 2015
Lahiri S.C. 2003. Sanitation and hygiene : a situation analysis paper for Lao PDR. International
Journal of Enviromental Health Research; 13(6):107-14
Lankford, M. G., Zembower, T. R., Trick, W. E., Hacek, D. M., Noskin, G. A. dan Peterson, L. R.
2003. Influence of Role Models and Hospital design on the Hand hygiene of Health-Care
Workers.
Emerging
Infectious
Disease,
217-223.
Available
from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc /articles/PMC2901948/#!po=76.3158 Diakses 14
Maret 2015
183
Lawrence, G. 2000. Health Promotion Planning, An Educational and Environment Approach.
2nd Edition. London: Mayfield Publishing Company
Lennette, E.H. 1985. Manual of Clinical Microbiology. American Society for Microbiology
Association Publ. Washington
Loho, T. dan Utami, L. 2007. Uji Efektivitas Antiseptik Triclosan 1%
Terhadap Staphylococcus aureu, Escheria coli, Enterococcus faecalis dan
Pseudomonas aeruginosa, Majaalah kedokteran indo, vol:57(6).
Maryani, L. dan Muliani, R. 2010. Epidemiologi Kesehatan, Edisi Pertama. Graha Ilmu,
Yogyakarta
Mathai, E., Allegranzi, B., Kilpatrick, C., Pittet D. 2010. Prevention and Control of helath care
associated infection through improved hand hygiene.Indiana Journal of Medical
Microbiology., vol.28(2):1006. Available from: http: //www.ijmm.org/ article. asp?issn
= 0255 0857;year=2010; volume= 28; issue=2; spage=100; epage= 106; aulast=
Mathai diunduh pada tanggal 8 Mei 2016
Murdyaningsih, R. 2015. Pengaruh pendidikan kesehatan cuci tangan terhadap
kepatuhan mahasiswa praktek di ruang ICU RSUD Dr. Moewardi
Musadad, A. dan Lubis, A. 1992. Kejadian infeksi nosokomial saluran pencernaan di rumah sakit di DKI Jakarta. Bul. Penelitian Kesehatan 20 (2)
Mwambete, K.D. dan Lyombe, F. 2011. Antimicrobial activity of medicated soaps commonly
used by dar es salaam residents in Tanzania. Indian Journal of Pharmaceutical Sciences.;
73(1): 92-8.
Nadesul, H. 2006. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jakarta: FKU
Notoadmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta :
halaman 133-202
Rineka Cipta; 2007.
Nurbaiti. 2004. Ilmu Perilaku dan Tingkat Kepatuhan. Available from:
www.alnurses.com: Jakarta
http: //
Paul, R., Das, N.K., Dutta, R., Bandyopadhyay, R. 2011. Bacterial contaminant of hands of
doctors. Indian Journal of Dermatology. ; 77(3):307-13.
Pittet, D. 2001. Compliancewith hand disinfection and its impact on hospitalacquiredinfections. Journal of Hospital Infection, 48(Suppl A), S40-S46.
184
Pocock, S.J. 2008. Clinical Trials : A Practical Approach. John Wiley & Sons. New York.
p.128
Pohan, A. “t.t.”. Mikrobiologi Kedokteran Versi 2.0 Volume 1
Potter, P.A., & Perry, A.G. 2009. Fundamental Of Nursing (Fundamental Keperawatan). Buku 1
Edisi 7.Jakarta : Salemba Medika
Prabhu, N., Sangeetha, M., Chinnaswamy, P., and Joseph, P. L. 2006. A Rapid Method of
Evaluating Microbial Load in Health Care Industry and Application of Alcohol to
Reduce Noso- comial Infection.Journal of the Academy of Hospital
Administration.Vol.18,No.1,P.1-12
Pratami, H.A., Apriliana, E., dan Rukmono, P. 2013. Identifikasi Mikroorganisme Pada Tangan
Tenaga Medis dan Paramedis di Unit Perinatologi Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar
Lampung.: Universitas Lampung. Medical Journal of Lampung University. Available
from:http://eprints.undip. ac.id/42527/1/Bab_I-IV.pdf diakses 5 April 2015
Prawira, A. 2010. Hubungan antara motivasi belajar dan disiplin belajar siswa SMA dengan
prestasi belajar Ekonomi siswa SMA Negeri 1 Wonogiri tahun 2008 / 2009. Yogyakarta ;
Skripsi S1 FPTK IKIP Yogyaakarta.
Rachmawati, F.J. & Triyana, S.Y. 2008. Perbandingan Angka Kuman pada Cuci Tangan
dengan Berbagai Bahan Sebagai Standarisasi Kerja di Laboratorium Mikrobiologi
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
Santosa, S. 2010. Statistik Parametrik dan Non Parametrik, Konsep dan Aplikasi dengan SPSS.
Penerbit PT. Elex Media Komputindo. Jakarta
Shara, A. C., Aditya, G., Benyamin, B. 2014. Hubungan antara pengetahuan
terhadap motivai dokter gigi muda dalam kontrol infeksi. Di Rumah Sakit
Islam Gigi dan Mulut Sultan Agung Semarang
Sherris, J.C. 1984. Medical Microbiology. An Introduction to Infectious Diseases. New York:
Elsevier
Synder, P. O. 1988. Safe Hands Wash Program for Retail Food Operations,
Hospitaly Institute of Technology and Management. St. Paul, MN.
Synder, P. O. 2001. Why Gloves are not The Solution to The Fingertip Washing
Problem,Hospitaly Institute of Technology and Management. St. Paul, MN
Strohl, W. A., Rouse, H., Fisher, B. D. 2001. Lippincott’s Illustrated Reviews: Microbiology ,
Williams & Wilkins, Pennsylvania
Lippincott
185
Suliha. 2007. Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan, Penerbit Buku Kedok –
teran. Jakarta: EGC.
Supeni, M. dan Inayati, H. 2009. Hubungan antara perilaku cuci tangan perawat dengan
pertumbuhan bakteri aerob penyebab infeksi nosokomial. Publikasi UMY Vol
8no9.Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadyah Yogyakarta.
Suryoputri, A.D. 2011. Perbedaan Angka Kepatuhan cuci tangan petugas kesehatan di RSUP
DR. Kariadi Semarang.
Susilowati, R. 2013. Efektivitas Berbagai Merk Sabun Mandi Terhadap bakteri
Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes
Teare, L. 1999. Hand Washing. British Medical Journal, 318: 686.
Tennant, I. & Harding, H. 2005. Microbial Isolates from Patients in An Intensive Care Unit,and
Associated Risk Factors. West Indian Medical Journal.Vol.54,No.4.
Trampuz, A. and Widmer, A. F. 2004. Hand hygiene: A Frequently Missed Livesaving
Opportunity During Patient Care, Mayo Clinic Proceedings, 79:109-116.
USAID. 2006. Formative Research Report Hygiene and Health. Jakarta: USAID Indonesia.
Wartonah, T. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : Salemba Medika
Wibowo, T. Parisihni, K. dan Haryanto, D. 2009. Proteksi Dokter Gigi Sebagai Pemutus Rantai
Infeksi Silang. Jurnal PDGI, 58 (2): 6-9.
Widmer, A.F. 2000. Replace Hand Washing with Use of a Waterless Alcohol Hand Rub?, Clinical Infectious
Disease , 31:136-143
Widyanita, A. dan Listiowati, E. 2014. Hubungan tingkat pengetahuan hand hygiene dengan
kepatuhan pelaksanaan hand hygiene pada peserta pro- gram pendidikan profesi dokter
World Health Organization. 2002. Prevention of hospital-acquired infections: A Practical guide
2nd Edition. Available at : http: //www. who. int/csr/resources/publications/
whocdscsreph200212.pdf, diakses 12 Desember 2015.
World Health Organization. 2007. Global Burden of Diseases in 2002. Geneva: WHO Global
Infobase. Alih Bahasa Yenny Saraswati
World Health Organization. 2008. Global Handwashing Day - A Planner's Guide
Available
at
http://www.who.int/gpsc/events/2008/
Global_
washing_Day_Planners_Guide.pdf . diakses 2 April 2015.
World.
Hand
186
World Health Organization. 2009. WHO Guidelines on Hand hygiene in Health Care. First
Global Patient Safety Challenge Clean Care is Safer Care Available at : http: //apps. who
int/iris/bitstream/10665/ 44102/1/ 9789241 597906_eng.pdf, diakses 10 Pebruari 2015
Zulkarnain. 2009. Infeksi Nosokomial. Jakarta: Interna Publishing
Zuraidah, 2013. Hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku mencuci tangan dengan benar
pada siswa kelas V SD AN-NIDA Kota Lubuklinggau. Fakultas Keperawatan. Politeknik
Kesehatan Palembang
.
187
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Jawaban permohonan data infeksi dan kepatuhaan kebersihan tangan
188
Lampiran 2
Data infeksi dan kepatuhan kebersihan tangan di RSUP Sanglah Denpasar periode April-Juni
2014 dan Juli – September 2014
189
Lampiran 3
Penyerahan Ethical Clearence
190
Lampiran 4
Keterangan Kelaikan Etik
191
Lampiran 5
Amandemen Perubahan Judul Penelitian
192
Lampiran 6
Data Pengisian Responden
LEMBAR PENGISIAN DATA RESPONDEN
Data Responden
Nomer :………
Nama responden :...................................
Alamat
:....................................
No. telp
:....................................
Umur/ Tanggal lahir :....................................
Jenis kelamin
:
Laki-laki
Perempuan
Paraf Responden :
….................................
193
Lampiran 7
Lembar Kuesioner
LEMBAR KUESIONER
___________________________________________________________________
No
:…………………….
Tanggal :…………………….
KUESIONER
Program penyadaran kepatuhan cuci tangan mahasiswa program pendidikan profesi FKG
UNMAS.
Petunjuk pengisian :
a.Jawab pertanyaan dengan sebenar-benarnya dan sesuai dengan yang anda
ketahui.
b.Untuk jawaban, berilah tanda (√) pada kotak yang disediakan.
Petunjuk Pengisian:
1.Saudara diharapkan mengisi semua pernyataan yang ada dengan
sebenarnya sesuai dengan yang saudara lakukan selama ini.
2.Bacalah dengan cermat setiap pertanyaan yang ada.
3.Berilah tanda (V) pada kolom jawaban yang tersedia sesuai jawaban yang
saudara pilih atau telah lakukan sebelumnya.
PENGETAHUAN.( BETUL SALAH )
1. Cuci tangan merupakan satu-satunya cara untuk mencegah infeksi di Rumah
2.Cuci tangan berfungsi mengurangi kuman sementara di tangan.
3.Cuci tangan dilakukan segera setelah tiba di tempat kerja.
4.Cuci tangan sebelum ke pasien untuk melindungi pasien dari kuman yang dibawa
tangan anda.
5.Cuci tangan sebelum melakukan tindakan aseptic untuk melindungi pasien dari
kuman yang masuk ke tubuh pasien
6.Cuci tangan setelah terpapar cairan tubuh pasien yang beresiko untuk melindungi
diri dan lingkungan sekitar dari kuman berbahaya dari tubuh pasien.
194
7.Cuci tangan setelah ke pasien untuk melindungi pasien dari kuman yang dibawa
tangan anda
8.Cuci tangan sebelum menyentuh benda-benda di sekitar pasien untuk
melindungi diri.
9.Cuci tangan dengan hand rub selama 20-30 detik.
10.Cuci tangan dengan sabun dan air selama 40-60 detik.
11.Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
12.Cuci tangan menggunakan sabun antiseptic (Chlorhexidine 2%) setelah
melakukan tindakan aseptik.
13.Permukaan lingkungan dekat pasien terkontaminasi gram positif-cocci.
14.Petugas kesehatan paling banyak menularkan mikro-orgsnisme
patogen.
15.WHO menggunakan 5 momen untuk cuci tangan.
16.Flora transien adalah mikro-organisme yang berada dalam lapisan
kulit.
17.Flora residen tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, bahkan
dengan pencucian dan pembilasan dengan sabun dan air bersih..
18.Staphylococus epidermidis merupakan flora residen.
19.Staphylococus Aureus merupakan flora transien
FASILITAS CUCI TANGAN ( Selalu Ada, Ada, Tidak Ada)
Pernyataan ;
1.Wastafel dan air mengalir
2.Kertas tissue sekali pakai
3.Sabun cuci tangan
4.Sabun anti-septik
5.Alkohol hand rub
6.Tempat sampah untuk tissue
7.Tempat cuci tangan terjangkau
8.Poster cuci tangan
9.Leaflet bergambar tentang proses cuci tangan yang baik dan benar.
KEPATUHAN (SL= SLALU, S = SERING ,J = JARANG , TP = TIDAK PERNAH)
Pernyataan ;
1.Melakukan cuci tangan sebelum menyentuh pasien.
2.Melakukan cuci tangan sebelum melakukan tindakan aseptik.
3.Melakukan cuci tangan setelah terpapar cairan tubuh pasien yang beresiko.
4.Malakukan cuci tangan setelah menyentuh pasien.
5.Melakukan cuci tangan setelah menyentuh benda di sekeliling pasien.
6.Mencuci tangan dengan mengoleskan handrub/sabun cuci tangan ke seluruh
permukaan tangan.
7.Mencuci tangan dengan menggosokkan antar telapak tangan.
8. Mencuci tangan dengan telapak tangan disilangkan ke punggung tangan kiri
begitu juga sebaliknya.
9.Telapak tangan dengan telapak tangan saling terkait.
195
10.Punggung jari dan telapak tangan saling mengunci.
11.Jempol tangan kanan di gosok memutar oleh telapak tangan kiri dan sebaliknya.
12.Jari kiri menguncup, gosok memutar pada telapak tangan, begitu juga
sebaliknya.
13.Mengeringkan tangan dengan tissue sekali pakai.
14.Menggunakan siku untuk menutup kran.
15.Mengeringkan tangan dengan handuk yang dipakai bersama.
16.Membuka pintu dengan tisu yang masih di tangan.
17.Menutup kran air dengan tangan yang dilindungi tisu pembersih tangan.
18.Cuci tangan tidak memakai cara WHO.
19.Mengeringkan tangan dengan hand dryer, kemudian membuka pintu dengan tangan.
20.Mengeringkan tangan dengan tisu, kemudian membuka pintu dengan tangan.
EFEK SAMPING PENGGUNAAN JENIS ANTI-MIKROBA
( SELALU, SERING, KADANG, TIDAK PERNAH)
PERNYATAAN ;
1.Cuci tangan menggunakan alkohol hand rub.
2.Setiap kali menggunakan Alkohol hand rub tangan menjadi kering.
3.Setiap kali menggunakan Alkohol hand rub tangan menjadi gatal.
4.Setiap kali menggunakan Alkohol hand rub tangan menjadi merah.
5.Setiap kali menggunakan Alkohol hand rub kulit tangan menjadi
terkelupas.
6.Setiap kali menggunakan Alkohol hand rub kulit tangan terasa lengket
196
Lampiran 8
Informed Consent
INFORMED CONSENT
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
: ................................................................................................
Umur
: ................................................................................................
Jenis Kelamin
: ................................................................................................
Alamat
: ................................................................................................
No KTP
: ................................................................................................
Setelah mendapatkan penjelasan secukupnya serta memahami dan menyadari manfaat
dan risiko penelitian yang berjudul:
PROGRAM PENYADARAN KEPATUHAN CUCI TANGAN
MAHASISWA PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI FKG UNMAS
DENPASAR DAPAT MENINGKATKAN PENGETAHUAN,
MENURUNKAN JUMLAH KOLONI DAN BAKTERI PATOGEN PADA
TANGAN.
Saya dengan sukarela menyetujui diikutsertakan dalam penelitian serta mematuhi segala
ketentuan-ketentuan penelitian yang sudah saya pahami, dengan catatan apabila pada saat
penelitian merasa dirugikan dalam bentuk apapun berhak membatalkan persetujuan ini.
Denpasar, ....................................
Mengetahui,
Peneliti,
Menyetujui,
Peserta Penelitian
Drg. I Gusti Agung Gde Oka Ardana
(………………........................................)
97
Lampiran 9
Perhitungan Jumlah Koloni Bakteri
Kode
Sampel
Pre
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Jumlah Koloni
10
-1
55
>300
>300
153
>300
>300
>300
>300
>300
>300
>300
>300
>300
>300
>300
6
>300
>300
10
16
90
>300
>300
>300
>300
>300
>300
>300
>300
>300
10
-2
3
150
>300
23
>300
>300
>300
>300
>300
>300
>300
>300
82
159
116
0
>300
>300
1
7
0
34
56
>300
>300
181
124
>300
125
>300
10
-3
0
25
175
0
>300
>300
>300
>300
>300
>300
>300
119
18
22
0
0
>300
76
0
0
0
0
0
5
64
55
23
>300
3
>300
Jumlah Koloni
Dalam CFU/mL
Jenis Bakteri
425
20000
175000
1915
TNTC
TNTC
TNTC
TNTC
TNTC
TNTC
TNTC
119000
13100
18950
11600
60
TNTC
76000
100
430
900
3400
5600
5000
64000
36550
17700
TNTC
7750
TNTC
Pseudomonas stutzeri
Pseudomonas stutzeri
Pseudomonas stutzeri
Pseudomonas stutzeri
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
Ralstonia picketti
Pseudomonas stutzeri
Staphylococcus aureus
Pseudomonas stutzeri
Staphylococcus aureus
(-)
Pseudomonas stutzeri
Ralstonia picketti
Pseudomonas stutzeri
Pseudomonas stutzeri
Pseudomonas stutzeri
Pseudomonas stutzeri
Staphylococcus aureus
Ralstonia picketti
Pseudomonas stutzeri
Pseudomonas stutzeri
(-)
Staphylococcus aureus
(-)
TNTC : Too numerous to count
TFTC : Too few to count
Kode
Sampel
Post
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Jumlah Koloni
10
-1
38
120
25
10
0
>300
37
>300
36
>300
4
>300
98
>300
77
0
0
5
0
0
0
5
8
0
50
0
66
>300
>300
30
10
-2
2
16
2
2
0
>300
2
>300
2
44
0
>300
8
102
2
0
0
0
0
0
0
0
3
0
2
0
8
178
148
0
10
-3
0
1
0
1
0
>300
0
>300
0
4
0
8
2
12
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
14
11
0
Jumlah Koloni
Dalam CFU/mL
Jenis Bakteri
10-1
290
1400
225
150
0
TNTC
285
TNTC
280
4200
400
8000
1260
11100
485
0
0
50
0
0
0
50
190
0
650
0
730
15900
12900
300
Pseudomonas stutzeri
Pseudomonas stutzeri
Pseudomonas stutzeri
Pseudomonas stutzeri
(-)
(-)
Pseudomonas stutzeri
(-)
Ralstonia picketti
Pseudomonas stutzeri
Pseudomonas stutzeri
Ralstonia picketti
Ralstonia picketti
Pseudomonas stutzeri
Ralstonia picketti
(-)
(-)
Pseudomonas stutzeri
(-)
(-)
(-)
Pseudomonas stutzeri
Pseudomonas stutzeri
(-)
Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus
Pseudomonas stutzeri
Ralstonia picketti
Staphylococcus aureus
98
Lampiran 10
Uji Normalitas Data Pengetahuan Baik Sebelum dan Sesudah Perlakuan
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova
Kelompok
Statistic
Pengetahuan_pre
df
Shapiro-Wilk
Sig.
Statistic
df
Sig.
*
.953
14
.602
Kontrol
.117
14
.200
Perlakuan
Kontrol
.249
.161
14
14
.019
.200*
.883
.924
14
14
.065
.253
Perlakuan
.190
a. Lilliefors Significance Correction
14
.181
.909
14
.153
Pengetahuan_pos
t
*. This is a lower bound of the true significance.
Lampiran 11
Uji t-independent Data Pengetahuan antar Kelompok Sebelum dan sesudah
Perlakuan
Group Statistics
Kelompok
N
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean
Pengetahuan_pre
Kontrol
14
12.50
1.698
.454
Pengetahuan_post
Perlakuan
Kontrol
14
14
12.43
12.71
.852
1.267
.228
.339
Perlakuan
14
14.50
1.160
.310
Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of
Variances
F
Sig.
Pengetahu
an_pre
Pengetahu
an_post
Equal
variances
assumed
Equal
variances not
assumed
Equal
variances
assumed
Equal
5.372
.206
.029
.654
t-test for Equality of Means
t
df
Sig.
(2tailed)
Mean
Differ
ence
Std.
Error
Differ
ence
95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower
Upper
.141
26
.889
.071
.508
-.972
1.115
.141
19.1
4
.890
.071
.508
-.991
1.134
3.89
0
-
26
.001
-1.786
.459
-2.729
-.842
25.8
.001
-1.786
.459
-2.730
-.842
99
variances not
assumed
3.89
0
02
Lampiran 12
Uji Normalitas Data Jumlah Koloni Bakteri
Tests of Normality
Kelompok
Kolmogorov-Smirnova
Shapiro-Wilk
Statisti
c
.394
df
Sig.
Statistic
df
Sig.
14
.000
.540
14
.000
.335
.342
14
14
.000
.000
.672
.585
14
14
.000
.000
Perlakuan
.466
a. Lilliefors Significance Correction
14
.000
.474
14
.000
Jumlah_koloni_pre
Kontrol
Jumlah_koloni_post
Perlakuan
Kontrol
Lampiran 13
Uji Mann-Whitney Jumlah Koloni Bakteri Sebelum Perlakuan dan Sesudah
Perlakuan
antar Kelompok Perlakuan
Group Statistics
Kelompok
N
Mean
Std. Deviation
Jumlah_koloni_pre
Kontrol
14
24885.00
53386.022
Std. Error
Mean
14268.014
Jumlah_koloni_post
Perlakuan
Kontrol
14
14
15535.00
1212.50
25224.342
2241.522
6741.489
599.072
Perlakuan
14
2176.43
5217.579
1394.457
Kelompok
Ranks
N
Mean Rank
Sum of Ranks
Jumlah_koloni_pre
Kontrol
14
13.00
182.00
14
28
14
16.00
224.00
Jumlah_koloni_post
Perlakuan
Total
Kontrol
16.61
232.50
Perlakuan
Total
14
28
12.39
173.50
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Test Statisticsb
Jumlah_koloni_pre
77.000
182.000
-.981
.327
Jumlah_koloni_post
68.500
173.500
-1.387
.165
100
.352a
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Kelompok
.178a
Lampiran 14
Uji Wilcoxon Jumlah Koloni Bakteri antara Sebelum dengan Sesudah Perlakuan
pada Kelompok Kontrol
Paired Samples Statisticsa
Pair 1
Mean
N
Std. Deviation
Std. Error Mean
Jumlah_koloni_pre
24885.00
14
53386.022
14268.014
Jumlah_koloni_post
1212.50
14
2241.522
599.072
a. Kelompok = Kontrol
Ranksd
Jumlah_koloni_post Jumlah_koloni_pre
Negative Ranks
Positive Ranks
Ties
Total
a. Jumlah_koloni_post < Jumlah_koloni_pre
b. Jumlah_koloni_post > Jumlah_koloni_pre
c. Jumlah_koloni_post = Jumlah_koloni_pre
d. Kelompok = Kontrol
Z
Asymp. Sig. (2tailed)
Test Statisticsb,c
Jumlah_koloni_post - Jumlah_koloni_pre
-1.600a
.110
a. Based on positive ranks.
b. Kelompok = Kontrol
c. Wilcoxon Signed Ranks Test
N
7a
4b
3c
14
Mean Rank
7.29
3.75
Sum of Ranks
51.00
15.00
101
Lampiran 15
Uji Wilcoxon Jumlah Koloni Bakteri antara Sebelum dengan Sesudah Perlakuan
pada Kelompok Perlakuan
Paired Samples Statisticsa
Pair 1
Mean
N
Std. Deviation
Jumlah_koloni_pre
15535.00
14
25224.342
Std. Error
Mean
6741.489
Jumlah_koloni_post
2176.43
14
5217.579
1394.457
Mean Rank
Sum of Ranks
6.82
75.00
8.00
16.00
a. Kelompok = Perlakuan
Ranksd
N
Jumlah_koloni_post Jumlah_koloni_pre
Negative Ranks
Positive Ranks
Ties
Total
11
a
b
2
1c
14
a. Jumlah_koloni_post < Jumlah_koloni_pre
b. Jumlah_koloni_post > Jumlah_koloni_pre
c. Jumlah_koloni_post = Jumlah_koloni_pre
d. Kelompok = Perlakuan
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
a. Based on positive ranks.
b. Kelompok = Perlakuan
c. Wilcoxon Signed Ranks Test
Test Statisticsb,c
Jumlah_koloni_post - Jumlah_koloni_pre
-1.062a
.139
102
Lampiran16
Uji Mann-Whitney Jumlah Koloni Bakteri Patogen Sebelum Perlakuan
Group Statisticsa
Jumlah_koloni_pre
Kelompok
N
Mean
Std. Deviation
Kontrol
1
18950.00
.
Std. Error
Mean
.
Perlakuan
3
4270.00
3896.627
2249.719
a. Jenis_bakteri_pre = Staphylococcus
Jumlah_koloni_pre
Kelompok
Kontrol
Perlakuan
Total
Ranksa
N
1
3
4
Mean Rank
4.00
2.00
Sum of Ranks
4.00
6.00
a. Jenis_bakteri_pre = Staphylococcus
Test Statisticsb,c
Jumlah_koloni_pre
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Jenis_bakteri_pre = Staphylococcus
c. Grouping Variable: Kelompok
.000
6.000
-1.342
.180
.500a
103
Lampiran 17
Uji Mann-Whitney Jumlah Koloni Bakteri Patogen Sesudah Perlakuan
Kelompok
Jumlah_koloni_post
Kontrol
Perlakuan
Group Statisticsb
N
Mean
0a
2
Std. Deviation
.
690.00
Std. Error
Mean
.
40.000
.
56.569
a. t cannot be computed because at least one of the groups is empty.
b. Jenis_bakteri_post = Staphylococcus
Jumlah_koloni_post
Kelompok
Kontrol
Perlakuan
Total
Ranksa
N
3
7
10
Mean Rank
5.50
5.50
Sum of Ranks
16.50
38.50
a. Jenis_bakteri_post = Negatif
Test Statisticsb,c
Jumlah_koloni_post
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]
a. Not corrected for ties.
b. Jenis_bakteri_post = Negatif
c. Grouping Variable: Kelompok
10.500
38.500
.000
1.000
1.000a
104
Lampiran 18
Uji Mann-Whitney Jumlah Koloni Bakteri Patogen antara Sebelum dengan
Sesudah Perlakuan pada Kelompok Kontrol
Kelompok2
Jumlah_koloni
Group Statisticsb
N
Mean
Sebelumperlakuan
SesudahPerlakuan
1
0a
Std.
Deviation
18950.00
.
Std. Error
Mean
.
.
.
.
a. t cannot be computed because at least one of the groups is empty.
b. Jenis_bakteri_pre = Staphylococcus
Lampiran 19
Uji Mann-Whitney Jumlah Koloni Bakteri Patogen antara Sebelum dengan
Sesudah Perlakuan pada Kelompok Perlakuan
Kelompok2
Jumlah_koloni
Group Statisticsb
N
Mean
Sebelumperlakuan
SesudahPerlakuan
3
2
4270.00
690.00
Std.
Deviation
3896.632
56.573
Std. Error
Mean
.
.
a. t cannot be computed because at least one of the groups is empty.
b. Jenis_bakteri_pre = Staphylococcus
Ranksa
Kelompok2
N
Mean Rank
Sum of Ranks
Sebelumperlakuan
3
3.33
10.00
SesudahPerlakuan
Total
a. Jenis_bakteri_pre = Staphylococcus
2
5
2.50
5.00
Jumlah_koloni_pre
Test Statisticsb,c
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Jumlah_koloni_pre
2.000
5.000
105
Z
-.577
Asymp. Sig. (2-tailed)
.564
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]
.800a
a. Not corrected for ties.
b. Jenis_bakteri_pre = Staphylococcus
c. Grouping Variable: Kelompok2
Download