Jurnal Transformasi Administrasi

advertisement
ISSN 2088-5474
Jurnal
Transformasi Administrasi
Pengarah
Kepala PKP2A IV LAN
Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab
Kabid Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara PKP2A IV LAN
Nurul Hidayah, SH, M. Si
Penyunting
Rati Sumanti, S.Sos, Edy Saputra, SH, Ervina Yunita, S.Si,
Heru Syahputra, SE, Yasnifa S.Pd
Desain Grafis
Henri Prianto Sinurat, S.IP
Sekretariat
Said Fadhil, S.IP
Hilma Yuniasti, S.Hi
Mitra Bestari
Dr. M. Saleh Sjafei, SH, M.Si. (Sosiologi Hukum)
Prof. Dr. Syahrizal Abbas, MA. (Hukum dan Syari'at Islam)
Prof. Dr. Faisal A Rany, SH, M.Hum. (Hukum Tata Negara)
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA, APU. (Kebijakan, Administrasi Publik)
Prof. Dr. Husni Jalil, S.H., M.H. (Hukum Tata Negara, Otonomi Daerah)
Prof. Dr. Nasir Azis, SE., MBA. (Ekonomi Manajemen dan Pembangunan)
Prof. Dr. Marlon Sihombing, MA. (Sosial dan Politik, Administrasi Negara)
Prof. Dr. Rusdi Muchtar, MA, APU. (Kebijakan Publik, Sosial Kemasyarakatan)
Saiful Mahdi, S.Si., M.Sc., Ph.D. (Statistik Kepemerintahan, Statistik Sosial, dan Statistik Ekonomi)
Drs. Irhamuddin (Pendidikan dan Perencanaan)
Penerbit
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur IV
Jl. T.P. Nyak Makam 12 Lampineung Banda Aceh
Telp. 0651-7552569 – Fax. 0651-7552568
Email. [email protected]
Akses ke – website. www.lan.go.id
Petunjuk
Penulisan
Artikel
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI merupakan jurnal ilmiah berkala yang diterbitkan oleh Pusat Kajian dan
Pendidikan dan Pelatihan Aparatur IV Lembaga Administrasi Negara–RI (PKP2A IVLAN). Jurnal ini memuat tulisan
ilmiah baik bersifat hasil kajian konseptual atau penelitian empirik pada isu-isu penyelenggaraan dan pembangunan
administrasi negara secara luas. Seperti kinerja pemerintahan dan aparatur, penyelenggaraan kebijakan dan pelayanan
publik, penyelenggaraan otonomi daerah, hukum, sosial, ekonomi dan sebagainya. Tulisan dapat bersifat penemuan
baru, koreksi, pengembangan atau penguatan terhadap paradigma atau teori yang sudah ada. Dan belum pernah
dimuat/dipublikasikan pada media jurnal atau media publikasi lainnya. Tulisan harus didukung oleh referensi /
bibliography yang relevan.
Petunjuk penulisan naskah adalah sebagai berikut:
609
1. Naskah diketik dalam bahasa Indonesia (untuk abstract
dan keywords diketik dalam bahasa Inggris),
mengguna-kan kertas ukuran A4 sepanjang 10-20
halaman, jenis huruf Time New Roman, spasi tunggal
(1), margin 3 cm dari atas dan kiri, serta 2,5 cm dari
kanan dan bawah.
2. Format tulisan/artikel terdiri atas:
a. Judul tulisan (14 pt), ditulis 2 hingga 4 baris, spasi
tunggal;
b. Nama penulis (12 pt), diberikan footnote tentang
identitas penulis. Apabila penulis lebih dari satu
orang maka penulis yang ditulis pertama adalah penulis utama;
c. Abstract (12 pt) merupakan ringkasan dari isi artikel
yang dituangkan secara padat, bukan komentar
atau pengantar penulis, terdiri dari 100200 kata yang
di susun dalam satu paragraf dengan format esei
bukan enumeratif, ditulis dalam bahasa Inggris.
d. Keywords (12 pt), merupakan kata-kata kunci
berkenaan topik tulisan, ditulis dalam bahasa
Inggris.
e. Pendahuluan (12 pt), spasi tunggal (1). Memuat dan
menguraikan informasi-informasi umum, topik dan
substansi yang mampu menarik dan mengundang
rasa keingintahuan (curiousity) pembaca, dengan
memberikan acuan bagi permasalahan yang akan
dibahas, arti pentingnya materi yang ditulis, atau
gagasan baru yang inovatif dan konstruktif. Tulisan
disertai dengan data-data pendukung dan sumber
referensi. Bagian ini terdiri; (a) rumusan masalah;
(b) tujuan; (c) dan deskripsi singkat mengenai
kerangka pemikiran. Apabila tulisan merupakan hasil penelitian empirik maka perlu dicantumkan; (a)
metode penelitian; memuat tentang rancangan
penelitian, populasi dan sampel, uraian singkat
opera sionalisasi variabel, dan teknik analisis; (b)
hasil penelitian; memuat tentang hasil akhir dari
proses analisis data, dapat berupa angka, gambar
dan tabel.
f. Pembahasan (12 pt). Memuat uraian, analisis,
argumentasi, interpretasi penulis terhadap data
3.
4.
5.
6.
berkenaan masalah yang disoroti. Data-data yang
diguna kan disertai sumber referensi yang
mendukung.
g. Penutup (12 pt). Memuat kesimpulan yang menjadi
ringkasan uraian atau jawaban sistimatis dari masalah yang diajukan secara singkat dan diikuti oleh saran-saran atau rencana tindak lanjut.
h. Daftar Pustaka (12 pt). Berupa buku teks, artikel dari
majalah, makalah, perundangundangan dan
dokumen pendukung lainnya, ditulis pada bagian
akhir tulisan dengan mengikuti kaidah-kaidah
penerbitan daftar pustaka dalam publikasi ilmiah.
Penulisan Tabel dan Gambar/Grafik. Judul tabel ditulis
di atas tabel, sedangkan judul gambar/grafik ditulis di
bawah gambar/grafik. Jika tabel atau gambar/grafik
tersebut merupakan kutipan atau modifikasi dari
buku atau sumber tertentu maka wajib menyebutkan
sumber aslinya. Jika tabel tadi merupakan data olahan
terhadap suatu instrumen penelitian, maka harus pula
diberikan keterangan.
Penulisan Kutipan. Penulisan
kutipan dalam
penulisan sumbernya menggunakan format catatan
kaki (footnote).
Penyerahan Tulisan. Tulisan yang diserahkan kepada
Redaksi akan dievaluasi oleh Tim Redaksi Penyunting.
Tim berhak mengubah susunan kalimat, panjang
tulisan dan aspekaspek penulisan lainnya sesuai
dengan visi misi Jurnal Transformasi Administrasi,
tanpa menghilangkan substansi tulisan. Untuk tulisan
yang tidak dimuat, akan dikembalikan kepada penulis,
dan untuk tulisan yang dimuat akan diberikan
honorarium sepantasnya sesuai dengan jumlah
halaman terbitan.
Naskah dapat dikirim ke Redaksi Jurnal “Transformasi
Administrasi” D/A : Kantor PKP2A IV LAN, Cq
Bidang Kajian Aparatur, Jalan T. Panglima Nyak
Makam No. 12, Lampineung Banda Aceh 23125, Telp
06517552569, Fax 0651 7552568 atau melalui email ke:
[email protected] Naskah yang dikirim
dalam bentuk hardcopy agar disertakan softcopy-nya
dalam bentuk Ms Word. n
Jurnal Transformasi Administrasi mengundang Anda mengirimkan
artikel hasil kajian konseptual maupun penelitian empirik bersifat
penemuan baru, koreksi, pengembangan, dan atau penguatan
terhadap paradigma maupun teori yang telah ada.
editorial
Reformasi Birokrasi dan
Perubahan Perilaku Birokrat
K
etika kita menafsirkan Reformasi Birokrasi dari penggalan kata, maka pada
satu sisi reformasi bermakna perubahan dari satu sistem ke sistem yang lain,
sementara birokrasi merupakan sistem pemerintahan yang dijalankan oleh
birokrat pemerintah sesuai dengan hirarki jabatan yang melekat. Sehingga apa yang
dimaksud Reformasi Birokrasi tentunya mengarah kepada upaya perubahan tata
kelola pemerintahan yang lebih baik yang menghasilkan produk berupa layanan
masyarakat.
Kepuasan masyarakat dapat menjadi tolok ukur bekerjanya para birokrat
sebagai pengemban amanat Reformasi Birokrasi. Karenanya, adalah wajar ketika
harapan terhadap terwujudnya Reformasi Birokrasi yang di atas kertas komitmen
negara yang tertuang dalam Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-1014 begitu besar.
Namun, apa yang terjadi dan dirasakan hingga agenda periode pertama akan berakhir
adalah Reformasi Birokrasi yang senyatanya belum mampu merubah wajah birokrasi
kita yang sampai saat ini masih carut marut jika tidak ingin dikatakan gagal. Meski
tidak dipungkiri pula telah adanya perbaikan pada beberapa sasaran area perubahan,
namun berdasarkan Corruption Perception Index 2013, Indonesia menduduki peringkat
114 dari 177, sedangkan menurut laporan Global Innovation Index 2013, kemudahan
berbisnis dan pendidikan hanya menduduki ranking 108 dan 104 dari 142 negara. Data
empiris tersebut menunjukkan kondisi birokrasi Indonesia yang belum menunjukkan
keberpihakan kepada masyarakat sebagai penikmat pelayanan sesungguhnya.
Masyarakat belum merasakan sentuhan nyata dalam memperoleh hak pelayanan
sebagai warga negara yang semestinya dipenuhi. Lantas kepada siapa kita harus
bertanya tentang siapa sesungguhnya aktor dibalik perubahan itu sendiri?.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
iii
 EDITORIAL 
iv
Merujuk pendapat Michael G. Roskin, dalam bukunya; Political Science: An
Introduction, menyebutkan bahwa “birokrasi adalah setiap organisasi yang berskala
besar yang terdiri atas para pejabat yang diangkat, di mana fungsi utamanya adalah
untuk melaksanakan (to implement) kebijakan-kebijakan yang telah diambil oleh para
pengambil keputusan (decision makers)”.
Hal ini dapat kita maknai bahwa birokrasi menjadi sarana dalam memudahkan
penyelesaian administrasi dan memungkinkan adanya pelaksanaan kebijakan publik
yang efektif dan efisien. Namun pada sisi lain, sepenggal kata “birokrasi” lebih sering
dipersepsikan sebagai penghambat dalam menjalankan fungsinya sebagai pelayan
publik karena penerapan aturan yang berbelit-belit, ketidak pastian biaya dan waktu
dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dalam konteks Tata Kelola Pemerintahan, tugas memberikan pelayanan dan
mengatur masyarakat merupakan kewajiban Pemerintah. Tugas memberikan
pelayanan semestinya dititikberatkan pada upaya mendahulukan kepentingan
umum, mempermudah urusan publik dan mempersingkat waktu dalam
menyelesaikan urusan publik. Sedangkan tugas mengatur lebih menekankan kepada
kekuasan atau power yang melekat secara administratif pada posisi jabatan birokrasi.
Namun apa yang kita lihat selama ini, tugas mengatur lebih mendominasi para
birokrat dari pada melayani masyarakat. Sehingga proses birokrasi selalu
dipersepsikan pada serangkaian pekerjaan administrasi yang berisi aturan-aturan
normatif yang mengabaikan tugas pelayanan. Bagi para birokrat, melanggar aturan
lebih berat dampaknya daripada memprioritaskan pelayanan kepada masyarakat
yang sesungguhnya merupakan implementasi dari peraturan itu sendiri.
Perilaku, kekuasaan dan pengaruh situasional seorang birokrat masih memberi
warna yang berbeda dalam birokrasi kita. Masih ditemukan pula aparatur yang
menempatkan diri untuk melayani diri sendiri dalam mengelola birokrasi. Tipikal
yang tentunya akan menjadi cikal bakal terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme yang
lagi-lagi berdampak pada mengabaikan kepentingan masyarakat.
Dalam kondisi di mana masyarakat semakin kritis, berani mengajukan
keinginan, tuntutan, aspirasinya serta melakukan kontrol atas kinerja pemerintah,
birokrat harus mampu melakukan revitalisasi terhadap peran yang awalnya terbiasa
mengatur dan memerintah menjadi melayani. Sehingga apa yang dilakukan tidak
memberi kesan elitis dan membuat masyarakat gerah, kesal dan apatis untuk berharap
akan memperoleh pelayanan yang baik. Seorang birokrat adalah administrator yang
memiliki kepekaan/responsibilitas dalam menjalankan tugasnya. Karenanya,
perubahan perilaku administrator haruslah dimulai dari pemahaman kinerja
birokrasi dengan standar penilaian yang bersifat administratif atau teknis, bukan
politis. Sehingga terbebas dari “belenggu” kepentingan dan intervesi pihak manapun.
Disamping itu, pertanggungjawaban administratif juga menuntut administrator
untuk bertindak dengan landasan moral yang kuat yang ditunjukkan dengan sikap
adil tanpa membedakan masyarakat sebagai client, peka terhadap ketimpangan yang
terjadi dalam masyarakat, atau memegang teguh kode etik sebagai pelayan publik,
sebagaimana pendapat Tjokrowinoto (2001:11) bahwa, “relevansi pemuasan
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 REFORMASI BIROKRASI DAN PERUBAHAN PERILAKU BIROKRAT 
masyarakat atas pelayanan yang disediakan, merupakan perilaku birokrasi yang
perlu diperhitungkan kompetensinya dengan mengacu pada dua hal yaitu: pertama,
birokrasi harus memberikan pelayanan publik dengan adil, menuntut kemampuan
untuk memahami keadaan masyarakat, mengartikulasikan aspirasi dari kebutuhan
masyarakat, lalu merumuskan dalam suatu kebijakan kemudian diimplementasikan;
kedua, birokrasi harus mempunyai kompetensi untuk memberdayakan masyarakat
sipil dengan menciptakan enabling social setting, dari pendekatan top down yang
menguasai dinamika interaksi antara birokrasi dengan masyarakat dapat mengalami
perubahan menjadi hubungan horizontal.
Karenanya, semangat Reformasi Birokrasi haruslah diikuti dengan semangat
perubahan perilaku birokrat yang dalam perannya sebagai administrator publik
harus mampu membangun sinergitas dan interaksi yang harmonis dalam melayani
masyarakat, tidak justru menjadi bayangan buruk dan pesimisme masyarakat
sebagaimana dinyatakan Wachs (1985) bahwa “Administrator publik tidak sematamata berusaha menghindari kesalahan, tetapi juga berusaha mengejar atau mencari
kebenaran”.
Jika kondisi ini dapat kita wujudkan, maka menaruh asa atas birokrasi yang
responsible dan mampu memberikan layanan publik yang baik dan profesional
merupakan keniscayaan.
Nurul Hidayah
v
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
ISSN 2088-5474
daftar isi
Editorial
Reformasi Birokrasi dan Perubahan Perilaku Birokrat
iii
Zarmaili
Peran Pemerintah Adat Terhadap Pemerintah Desa
(Studi Kasus di Desa Tanjung Pauh Mudik Kerinci-Jambi)
609
Suryanto
Pencapaian Target Standar Pelayanan Minimal (SPM) :
Apa yang Terjadi ?
627
Hayat
vi
Implikasi Undang-Undang Aparatur Sipil Negara
Terhadap Peningkatan Kualitas Sumber Daya Aparatur
649
Info Kebijakan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang
Aparatur Sipil Negara
670
Bidang Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara PKP2A IV LAN-Aceh
Kesiapan Penerapan Reformasi Birokrasi di Sumatera
681
Erika Revida
Strategi Peningkatan Daya Saing Pendidikan
Di Era Globalisasi dan Otonomi Daerah
700
Resensi
Pelayanan Publik Baru dari Manajemen Steering
ke Serving
710
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
PERAN
PEMERINTAH ADAT TERHADAP PEMERINTAH DESA
(Studi Kasus di Desa Tanjung Pauh Mudik Kerinci-Jambi) 1
THE ROLE OF INDIGENOUS GOVERNMENT INTO THE VILLAGE
GOVERNMENT
(Case Study on the village of Tanjung Pauh Mudik Kerinci-Jambi)
ZARMAILI
Peneliti pada Balitbangda Provinsi Jambi
Email: [email protected]
ABSTRACT
Indonesia consists of various ethnics and cultures must have the various systems of indigenous
life adopted for generations . Thus, the process of implementing the system of village
government will be faced with the traditional governance system that has long been adhered to
by the people in the village . This study answered how the role of government's indigenous in the
governance of villages ( case study in the village of Tanjung Pauh Mudik Kerinci Jambi ).
Research used qualitative descriptive approach, the data was obtained through interviews and
observations of indigenous stakeholders and community leaders, as well as secondary data
obtained from books or records of indigenous heritage. The result show that the process of
governance in the village of Tanjung Pauh Mudik Kerinci Jambi will not run if it does not
include the indigenous government. Development planning should be based on consideration of
the indigenous government, as the object and regional development in the territorial
government are bound by customary law and local custom values. Furthermore, the
implementation of development programs by the village government should involve indigenous
government in order not to deviate from customary norms. With the involvement of Indigenous
Government, the implementation of rural development programs in more trusted and respected
by the community. People are more obedient to the Indigenous Government, because it is a
customary rule of law and governance systems that have long been attached to the people in the
village and is considered clean and objective.
Keywords : Indigenous Government,Village Government, Society, Norms Indigenous
ABSTRAK
Indonesia terdiri berbagai suku bangsa dan budaya tentunya memiliki berbagai sistem
kehidupan adat yang dianut secara turun temurun. Dengan demikian, proses
pelaksanaan sistem pemerintahan desa akan akan berhadapan dengan sistem
pemerintahan adat yang telah lama dipatuhi oleh masyarakat di desa. Penelitian ini
menjawab bagaimana peran pemerintah adat dalam penyelenggaraan pemerintahan
desa (studi kasus di Desa Tanjung Pauh Mudik Kerinci Jambi). Penelitian
1
Naskah diterima 21 April 2014. Direvisi 2 Juni 2014
609
 ZARMAILI 
menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif, data diperoleh melalui wawancara
dan pengamatan terhadap pemangku adat dan tokoh-tokoh masyarakat, serta data
sekunder diperoleh dari buku-buku atau catatan peninggalan adat. Hasilnya bahwa
proses penyelenggaraan pemerintahan desa di Tanjung Pauh Mudik Kerinci Jambi
tidak akan berjalan jika tidak mengikutsertakan Pemerintah Adat. Perencanaan
pembangunan harus berdasarkan pertimbangan pemerintah adat, karena objek dan
kawasan pembangunan berada dalam teritorial Pemerintah Adat yang terikat dengan
hukum dan nilai-nilai adat setempat. Selanjutnya, implementasi program
pembangunan oleh Pemerintah Desa harus mengikutsertakan pemerintah adat agar
tidak menyimpang dari norma-norma adat. Dengan keterlibatan Pemerintah Adat,
pelaksanaan program pembangunan di desa lebih dipercaya dan dihormati
masyarakat. Masyarakat lebih patuh kepada Pemerintah Adat, hal ini karena
pemerintahan adat merupakan sistem hukum dan pemerintahan yang telah lama
melekat pada masyarakat di desa dan dianggap bersih dan objektif.
Kata Kunci: Pemerintah Adat, Pemerintahan Desa, Masyarakat, Norma Adat
610
PENDAHULUAN
Latar Belakang
rovinsi Jambi pada tahun 2011
terdapat 1223 desa dan 144
Kelurahan, artinya sekitar 90%
lebih penduduk tinggal di desa, sehingga
kalau pemerintah daerah berhasil
membangun desa, berarti 90% lebih
Pemerintah Provinsi Jambi berhasil
membangun Jambi. Jikalau kemakmuran
dan kesejahteraan masyarakat di desa
sudah terwujud, tentunya visi dan misi
Gubernur Jambi berhasil.
Pemerintah telah berjuang
memberikan kekuasan dan kebebasan
kepada desa sebagaimana yang
dituangkan di dalam UU Nomor 32
Tahun 2004 pasal 206 (butir a, b dan d),
mengungkapkan bahwa urusan
pemerintahan yang menjadi
kewenangan desa mencakup urusan
pemerintahan yang sudah ada
berdasarkan hak asal-usul desa dan
urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan kabupaten/kota yang
P
diserahkan pengaturannya kepada desa
serta urusan pemerintahan lainnya yang
oleh peraturan perundang-perundangan
diserahkan kepada desa. Sementara
dalam Permendagri Nomor 66 Tahun
2007 menjelaskan bahwa, proses
pelaksanaan pembangunan desa
berdasarkan pembangunan partisipatif,
yaitu suatu sistem pengelolaan
pembangunan di desa bersama-sama
secara musyawarah, mufakat, dan
gotong royong yang merupakan cara
hidup masyarakat yang telah lama
berakar budaya di wilayah Indonesia.
Kedua dasar tersebut di atas telah
mengembalikan status desa kepada masa
sebelum kemerdekaan Indonesia hingga
masa Orde Lama, di mana desa masih
memiliki kebebasan di dalam mengurus
diri mereka sendiri berdasarkan
kebutuhan dan kemampuan mereka.
Kebebasan yang mereka miliki membuat
desa mampu menyelesaikan berbagai
persoalan pembangunan. Sifat gotong
royong membuat desa lebih cepat maju,
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 PERAN PEMERINTAH ADAT TERHADAP PEMERINTAH DESA 
kesadaran masyarakat berlomba-lomba
untuk menyumbang bagi pembangunan
desa. Masyarakat patuh dan hormat
kepada pimpinan desa dan
mengganggap pimpinan desa adalah
orang yang membawa mereka kepada
kemajuan. Konflik masyarakat dapat
diselesaikan di tingkat desa dan hukum
adat sangat dipatuhi dan dijunjung.
Tidak ada masalah yang tidak bisa
diselesaikan pada tingkat desa. Pada
masa itu, demokrasi berjalan dengan
baik, semua kebijakan desa adalah
berdasarkan untuk kepentingan bersama
bukan kepentingan pribadi, sehingga
kesejahteraan dalam bidang ekonomi
dan pembangunan dimiliki oleh desa.
Aplikasi undang-undang tersebut
di atas menghadapi kendala dengan
pergeseran hukum dan wewenang yang
telah dibentuk oleh Orde Baru, yakni
akibat diberlakukannya Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1979 tentang
Pemerintahan Desa, masyarakat desa
mengalami perubahan sosial, terjadi
pergeseran nilai, penyelenggaraan
pemerintahan desa yang dilaksanakan
berdasarkan hukum adat dan nilai-nilai
tradisi yang asli sudah mulai terkikis
bahkan hilang terutama di wilayah
perkotaan atau yang dekat dengan
perkotaan, hukum adat sudah tidak
dilaksanakan lagi, kecuali di wilayah
tertentu saja. Desa tempat otonomi asli
sudah tidak dikenali lagi, sudah terjadi
perubahan sosial yang diikuti dengan
pergeseran penyelenggaraan pemerintahan. Penyelenggaraan
pemerintahan desa tidak berbasis pada
adat setempat, karena adat sudah pudar.
Menurut Peraturan Pemerintah
Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa
menyebutkan bahwa Desa adalah
kesatuan masyarakat hukum yang
memiliki batas-batas wilayah yang
berwenang untuk mengatur kepentingan
masyarakat setempat, berdasarkan asalusul dan adat istiadat setempat yang
diakui dan dihormati dalam sistem
Pemerintahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Sedangkan
Pemerintah Adat adalah sistem
pemerintahan yang berdasarkan hukum
adat setempat, yaitu peraturan-peraturan
hidup yang dihormati dan ditaati oleh
rakyat yang dianggap sebagai hukum
(Bellefroid,tt). Pemerintah Adat
merupakan sistem yang dibentuk secara
alamiah oleh sekelompok masyarakat
setempat dalam rangka mengatur hidup
dan kehidupan mereka demi
kepentingan bersama. Norma-norma
tersebut dianggap sakral dan wajib
ditaati oleh masyarakat yang hidup di
wilayah mereka.
Widjaya (2003) menjelaskan,
bahwa di daerah-daerah ada hubungan
yang khas antara penerapan adat dan
penyelenggaran pemerintahan desa atau
desa dinas. Di Papua, lembaga adat
sangat dominan sedangkan desa dinas
tidak memiliki pengaruh. Berbeda
dengan di Jawa, sebagian besar Sulawesi,
Kalimantan Timur, dan sebagian
Sumatera, pengaruh adat sangat kecil.
Desa dinas sudah tumbuh kuat. Di
Sumatera Barat terjadi kompromi antara
adat dan desa dinas, karena lembaga adat
dan desa dinas sama kuat.
Selanjutnya dijelaskan, di Bali
termasuk juga di Kalimantan Barat, Aceh,
Nusa Tenggara Timur, dan Maluku,
pengaruh lembaga adat jauh lebih kuat
ketimbang Desa dinas. Bali, terlihat aktif
dalam memperhatikan masyarakat adat
dan untuk itu telah mengeluarkan
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
611
 ZARMAILI 
612
berbagai kebijakan, diantaranya Pemda
Bali mengeluarkan Peraturan Daerah
Nomor 6 Tahun 1986 tentang
Kedudukan, Fungsi, dan Peranan Desa
Adat sebagai Kesatuan Masyarakat
Hukum Adat Dalam Provinsi Bali
(selanjutnya disebut dengan Perda Desa
Adat). Perda Desa Adat ini merupakan
pelaksanaan Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 3 Tahun 1997 tentang
pemberdayaan dan Pelestarian serta
Pengembangan Adat Istiadat, Kebiasaankebiasaan Masyarakat, dan Lembaga
Adat di Daerah. Perda Desa Adat
tersebut untuk menegaskan bahwa desa
adat merupakan kesatuan masyarakat
hukum adat. Akan tetapi di samping
sebagai kesatuan masyarakat hukum
adat, desa adat juga sekaligus merupakan
suatu organisasi pemerintah yang tidak
langsung di bawah camat. Pembinaan
desa adat dilakukan oleh gubernur yang
dibantu oleh Majelis Pembinaan
Lembaga Adat dan Badan Pembinaan
Lembaga Adat.
Dari sejumlah kasus di atas, peran
pemerintah adat di dalam proses
pelaksanaan pemerintahan desa sangat
penting, karena mula lahirnya desa
diatur dengan sistem yang yang
disepakati oleh masyarakat setempat.
Sistem tersebut dianggap sebagai aturan
yang mengatur hidup mereka yang harus
mereka patuhi dan hormati.
Sungguhpun secara konstitsional
terbentuknya pemerintahan di suatu
desa yang merupakan bagian dari
struktur pemerintahan nasional, namun
tidak akan teraplikasi secara efektif bila
tidak sejalan dengan pemerintah adat.
Hal inilah yang diamalkan di Desa
Tanjung Pauh Mudik Kerinci-Jambi, di
mana desa ini merupakan desa adat yang
masih eksis dan berperan penting di
dalam proses pelaksanaan pemerintahan
desa.
Penelitian ini akan menguraikan
sistem pemerintahan adat yang
dijalankan oleh Desa Tanjung Pauh
Mudik Kerinci Jambi dan perannya di
dalam proses pelaksanaan sistem
pemerintahan desa.
LANDASAN TEORI
1. Pemerintahan Desa
Pemerintahan desa adalah
penyelenggara urusan pemerintahan
oleh Pemerintah Desa dan Badan
Permusyawaratan Desa dalam mengatur
dan mengurus kepentingan masyarakat
setempat berdasarkan asal usul dan adat
istiadat setempat yang diakui dan
dihormati dalam sistem Pemerintahan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (PP
No 72 Th 2005, Pasal 1.6).
Secara
struktural pemerintah desa terdiri dari
kepala desa dan perangkat desa sebagai
unsur penyelenggara pemerintahan desa
(PP No 72 Th 2005, Pasal 1.7). Sedangkan
yang dimaksud dengan BPD (Badan
Permusyawaratan Desa) adalah lembaga
yang merupakan perwujudan demokrasi
dalam penyelenggaraan pemerintahan
desa sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan desa. Peraturan
pemerintah menyebutkan pula perihal
Lembaga Kemasyarakatan, yaitu
lembaga yang dibentuk oleh masyarakat
sesuai dengan kebutuhan dan
merupakan mitra pemerintah desa dalam
pemberdayaan masyarakat. Untuk
terselanggaranya sistem pemerintahan
desa maka Pemerintah Desa dan BPD
membuat Anggaran Pendapatan dan
Belanja Desa yang disingkat APB Desa
yang ditetapkan dengan Peraturan Desa
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 PERAN PEMERINTAH ADAT TERHADAP PEMERINTAH DESA 
(PP No 72 Th 2005, Pasal 12). Yang
dimaksud dengan Peraturan Desa adalah
peraturan perundang-undangan yang
dibuat oleh BPD bersama Kepala desa
(PP No 72 Th 2005, Pasal 14).
Pemerintahan Desa adalah
penyelenggaraan urusan pemerintahan
oleh Pemerintah Desa dan Badan
Permusyawaratan Desa dalam mengatur
dan mengurus rumah tangganya sendiri
dan kepentingan masyarakat setempat.
Dari pengertian di atas,
pemerintahan desa memiliki
desentralisasi dalam 3 hal yaitu:
1) Desentralisasi politik (devolusi) yang
membagi kekuasaan dan
kewenangan dari negara kepada
desa.
2) Desentralisasi pembangunan yakni
membagi dan memastikan desa
sebagai entitas lokal yang berwenang
merumuskan perencanaan sendiri
(local self planning), bukan sekedar
bottom up planning.
3) Desentralisasi keuangan, yakni
transfer dana dari negara (bukan
kabupaten/kota) kepada desa untuk
membiayai pengelolaan
pemerintahan dan pembangunan
desa.
Pemerintah desa memiliki peran
yang cukup baik sebagai dinamisator,
katalisator, maupun sebagai pelopor
dalam setiap gerak pembangunan yang
dilaksanakan untuk memperoleh
dukungan (partisipasi) penuh dari
masyarakat. Desa di samping memiliki
kewenangan asli yang diakui seperti
kewenangan mengelola sumber daya
lokal (tanah kas desa, tanah bengkok,
tanah ulayat, hutan adat), kewenangan
membuat dan menjalankan hukum adat
setempat, juga harus memiliki
kewenangan yang didesentralisasikan,
yaitu kewenangan yang diserahkan dari
pemerintah atasnya.
2. Pemerintah Adat
Hukum adat menurut Schmid
(2007) adalah sejumlah peraturan yang
berlaku dalam sebuah masyarakat,
kelompok atau komunitas, yang
mengatur hak, kewajiban, tanggung
jawab, baik sebagai individu maupun
sebagai kelompok. Ostrom (2010)
mengartikan kelembagaan sebagai
aturan yang berlaku dalam masyarakat
yang menentukan siapa yang berhak
membuat keputusan, tindakan apa yang
boleh dan tidak boleh dilakukan, aturan
apa yang berlaku umum di masyarakat,
prosedur apa yang harus diikuti,
informasi apa yang mesti atau tidak boleh
disediakan dan keuntungan apa yang
individu akan terima sebagai buah dari
tindakan yang dilakukannya.
Di Desa Tanjung Pauh Mudik
Kerinci Jambi, Pemerintah Adat
dipimpin oleh seorang Depati beserta
ninik mamak yang berasal dari utusan
rakyat dan dipilih oleh rakyat untuk
mewikili kelompok-kelompok
masyarakat. Dalam sistem ini yang
dikedepankan adalah musyawarah
untuk mufakat, dan dari praktek Depati
ini tercemin bahwa sistem demokrasi
sudah merupakan bagian dari praktis
kehidupan masyarakat adat di Tanjung
Pauh Mudik (Burkan, 2009 ).
Berdasarkan sistem pelaksanaan
pemerintahan adat dan hukum adat yang
berlaku dan dilaksanakan di sejumlah
pemerintah adat, seperti pemerintahan
adat Minang Kabau Sumatera Barat,
Pemerintah Adat Tiga Tungku Irian Jaya,
Gowa, Banten, Bali, Jogjakarta dan
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
613
 ZARMAILI 
614
lainnya, maka Pemerintah Adat adalah
sebuah organisasi kemasyarakatan baik
yang sengaja dibentuk maupun yang
secara wajar telah tumbuh dan
berkembang di dalam sejarah
masyarakat yang bersangkutan atau
dalam suatu masyarakat hukum adat
tertentu dengan wilayah hukum dan hak
atas harta kekayaan di dalam wilayah
hukum adat tersebut, serta berhak dan
berwenang untuk mengatur, mengurus
dan menyelesaikan berbagai
permasalahan kehidupan yang berkaitan
dan mengacu pada adat istiadat dan
hukum adat yang berlaku.
Peran Pemerintah Adat adalah
mengelola keragaman dalam kerangka
tujuan bersama, pemimpin adat
bertindak sebagai seorang pamong
terhadap individu-individu yang
berbeda, berlaku sebagai seorang
negarawan lokal, bersikap sebagai
seorang maha guru, bertutur sebagai
seorang raja untuk melenyapkan gosip
murahan antar ras, bukan memperlebar
jurang perbedaan yang menganga lebar.
Dalam relevansinya dengan hukum itu
sendiri, hukum adat kita butuhkan untuk
menyelesaikan sebagian besar persoalan
yang tak tersentuh menurut hukum
positif. Jadi, peran pemerintah adat
sangat objektif, yakni pengaturan
wilayah adat dan meningkatkan
kesejahteraan rakyat berdasarkan
keinginan bersama.
3. Pemerintah Adat dan Pemerintah
Desa
Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 menyebutkan bahwa desa adalah
kesatuan masyarakat hukum yang
memiliki batas-batas wilayah yang
berwenang untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat
setempat, berdasarkan asal-usul dan adat
istiadat setempat yang diakui dan
dihormati dalam sistem Pemerintahan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagaimana diketahui bahwa, batasbatas wilayah dan hukum yang berlaku
di setiap desa di seluruh daerah adalah
sistem adat. Jadi, jika sistem
pemerintahan desa yang konstitusional
masuk ke suatu desa haruslah
menghormati dan sejalan dengan sistem
pemerintahan adat.
Pemerintah desa merupakan
struktur pemerintahan negara yang
paling dekat dengan masyarakat, sebagai
penyambung pemerintahan pusat di
desa yang bertindak sebagai pembina,
pengayom, dan pelayanan masyarakat
guna mendorong masyarakat untuk
berpartisipasi dalam pembangunan desa.
Penyelenggaraaan pemerintahan desa
merupakan sub sistem dalam
penyelenggaraan sistem Pemerintahan
Nasional, sehingga desa memiliki
kewenangan untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakatnya.
Adapun landasan pemikiran dalam
pengaturan mengenai pemerintahan
desa adalah keanekaragaman,
partisipasi, otonomi asli dan
pemberdayaan masyarakat.
Sedangkan partisipasi dan otonomi
telah dimiliki oleh masyarakat desa sejak
lahirnya struktur pemerintahannya yaitu
sistem pemerintahan adat. Di mana sifat
gotong royong dan keputusan
bermusyawarah telah melekat pada
masyarakat desa. Masyarakat desa lebih
mematuhi dan taat kepada pemimpin
adat yang mereka anggap sakral dan
kuat. Apapun peraturan dan kebijakan
yang dibuat oleh pemimpin adat tetap
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 PERAN PEMERINTAH ADAT TERHADAP PEMERINTAH DESA 
dipatuhi oleh masyarakat desa. Hal ini
sejalan dengan Undang-undang Dasar
Tahun 1945 pasa 18B mengungkapkan
bahwa Negara mengakui dan
menghormati kesatuan-kesatuan
masyarakat hukum adat beserta hak-hak
tradisionalnya sepanjang masih hidup
dan sesuai dengan perkembangan
masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia, yang diatur dalam
undang-undang.
METODE PENELITIAN
Pada riset ini dilakukan analisis
deskriptif dengan menggunakan data
primer dan sekunder yang dilakukan
dengan pendekatan riset kualitatif. Data
primer diperoleh dengan melakukan
wawancara dengan responden dan
pengamatan terhadap prilaku dan
budaya masyarakat Desa Tajung Pauh
Mudik Kerinci Jambi. Data sekunder
diperoleh melalui catatan dan
peninggalan adat Desa Tanjung Pauh
Mudik Kerinci, seperti buku-buku
catatan adat dan catatan orang-orang tua
tentang pemerintahan adat.
Populasi padapenelitian ini adalah
masyarakat dan tokoh-tokoh adat yang
masih menjabat sebagai pemangku adat
(ninik mamak) di Tanjung Pauh Mudik
Kerinci Jambi. Selanjutnya sampel pada
penelitian diambil dengan menggunakan
purposive sampling, dengan kriterianya
adalah tokoh adat, pemuka masyarakat,
orang-orang tua yang dianggap tahu
dengan pemerintahan adat. Penelitian ini
dilaksanakan di Desa Tanjung Pauh
Mudik Kerinci Jambi, selama 5 (lima)
bulan yaitu bulan Pebruari hingga bulan
Juni 2013.
Penelitian ini akan mengungkapkan sistem pemerintahan adat dan
pelaksanaan pemerintahan desa yang
meliputi sebagai berikut:
1) Aspek sejarah; mencakup sejarah
lahirnya Desa Tanjung Pauh
Mudik, asal-usul budaya dan
pemerintahan adat yang masih
berjalan sekarang.
2) Aspek pemerintahan; mencakup
sistem pemerintah adat, struktur
pemerintahan adat, wewenang
dan kekuasaan pemerintahan
adat. Sistem pemerintahan desa,
posisi pemerintahan desa di
dalam pemerintahan adat dan
sebaliknya, struktur
pemerintahan desa, wewenang
dan kekuasaan pemerintahan
desa.
3) A s p e k s o s i a l ; m e n c a k u p
kepatuhan masayarakat terhadap
pemerintahan adat dan
kepatuhan masyarakat terhadap
pemerintahan desa.
4) Hubungan pemerintah desa
dengan pemerintah adat dalam
menjalankan pemerintahan dan
pembangunan desa.
Data yang diperoleh dianalisis
dengan cara deskriptif, yakni dengan
menggambarkan secara terperinci dan
mendalam dari data yang diperoleh di
lapangan. Selain itu, metode hermeneutik
digunakan guna untuk memahami teksteks peraturan adat secara menyeluruh
dan menginterpretasikannya sehingga
dapat dideskriptifkan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Geografis Desa Adat Tanjung Pauh
Mudik
Desa Tanjung Pauh Mudik adalah
salah satu bagian dari daerah Kabupaten
Kerinci yang terletak di kawasan Kerinci
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
615
 ZARMAILI 
616
Tengah, tepatnya pada Kecamatan
Keliling Danau Kerinci. Luas wilayahnya
+ 177 Hektar. Tanah atau lahan yang ada
di Desa Tanjung Pauh Mudik ini
dimanfaatkan warga untuk pemukiman,
perkebunan, dan persawahan. Adapun
batas-batas Desa Tanjung Pauh ini dapat
dirinci sebagai berikut. Sebelah Utara
berbatas dengan Desa Kumun, sebelah
Selatan berbatas dengan Semerap sebelah
Barat berbatas dengan Bukit Barisan,
sebelah Timur berbatas dengan Desa
Debai.
Secara adat wilayah Desa tanjung
Pauh Mudik bersatu dengan wilayah
Desa Tanjung Pauh Hilir, kedua desa ini
masih berada di dalam satu sistem adat
dan adat yang saling terkait. Batas-batas
wilayah adatnya adalah disebut dengan
“Kembo Duo Kembo Tigo” yaitu:
- Di hilir berbatas dengan durian
kecil, (Desa Semerap)
- Di mudik berbatas dengan sialang
berlantak besi (Desa Kumun
disebut Sandaran Galeh)
- Timur berbatas lubuk pelayang
gajah (Desa Debai)
- Utara berbatas dengan lubuk
langkakak (Desa Bunga Tanjung)
2. Penduduk
Berdasarkan data yang didapat
bahwa penduduk Tanjung Pauh Mudik
adalah penduduk asli yang turun
temurun. Masyarakat Tanjung Pauh
Mudik terdiri dari 18 tembo (tumbi).
Masing-masing tembo memiliki jabatan
di dalam pemerintahan adat yang
bersifat turun temurun, berdasarkan
laporan BPS Kerinci jumlah penduduk
desa adat Tanjung Pauh Mudik
berjumlah 8231 jiwa.
Penduduk Desa Tanjung Pauh
Mudik bersifat homogen, sebagian besar
dari mereka merupakan penduduk asli
setempat. Sebagian kecil sebagai
pendatang yang berasal dari luar
wilayah, seperti Batak, Minangkabau,
dan Jawa. Masyarakat Desa Tanjung
Pauh Mudik pada umumnya bermata
pencaharian sebagai petani. Tapi, pada
akhir-akhir ini mata pencaharian pada
masyarakat Desa Tanjung Pauh Mudik
ini telah bervariasi, seperti menjadi guru,
dosen, wiraswasta, dan sebagainya.
3. Asal Usul Orang Kerinci Menurut
Tambo Kerinci
Berbicara tentang asal usul orang
Kerinci, Umar Ali ( 60) Mantan Depati
Atur Bumi mengungkapkan, bermula
dari lembaran sejarah, Iskandar
Zulkarnaen menikah dengan Zailun
melahirkan empat orang anak masingmasing, Maharajo Dipang turun ke
negeri cina, Maharajo Alip, Maharaja
diraja turun ke negeri Sumbar, tepatnya
di negeri perhiangan Padang Panjang.
Empat Indar Jati, orang pertama turun ke
negeri Sumbar dengan menepati
kawasan gunung emas atau Gunung
berapi, Pariaman Padang Panjang. Ia
menikah dengan Indi Jelatang
melahirkan keturunan dua orang di
antaranya, Datuk perpatih nan Sebatang
dan Indarbaya.
Indar Jati dengan anaknya,
Indarbaya, berlayar pula ke luhak Alam
Kerinci. Sedangkan perpatih nan
Sebatang. Karena asik bermain dengan
rekannya, ia tidak ikut serta. Kemudian
dipersiapkan alat untuk berangkat,
pertama Payung Sekaki, Tombak, serta
tongkat nan sebuah, keris nan satu
dibawa pula kambing nan seekor. Dalam
perjalanan menuju luhah alam Kerinci, ia
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 PERAN PEMERINTAH ADAT TERHADAP PEMERINTAH DESA 
kesulitan. Karena medan tempuh rute
laut lepas. Kemudian Allah menurunkan
petunjuk dengan menerbangkan daun
sintuh dengan berlabuh di Gunung
Jelatang.
Tahun berlalu musim berganti, ia
melahirkan anak tiga orang masingmasing indar bersusu tunggal, Indar
bertelawang lidah, Indi Mariam serta
Indar bayo.Kemudian setelah anaknya
dewasa. Indar tunggal dinikahkan
dengan Puti Samaiyah, penghuni
Gunung Jelatang itu melahirkan pula
anak tiga orang diantaranya, Puti Dayang
Indah, Puti Dayang Ramaiyah.
Kemudian Puti Dayang Indah
melahirkan anak lima orang. Yaitu, Dari
Indah, Daristu, Indi Cincin, Mipin, Mas
Jamain. Puti Ramaiyah melahirkan anak
satu orang Yakni, Sibungo Layu. Puti
Dayang Rawani, pernikahan dengan
seorang laki-laki, Abdul Rahman, asal
Jawa Mataram melahirkan keturunan
bertempat di Jambi masing-masing tiga
orang, Karban, Kartan, kalipan.
Sementara di Jawa Mataram
terdapat tiga orang pula. Yaitu, Nahkudo
Kubang, Nahkudo Belang, Gajah Mada.
Dari Indah melahirkan pula Incik
Permato, Intan bermato, Lilo Permato.
Daristu melahirkan pula keturunan tigo
orang, Patimah, Unggu, Mangku Agung.
Sedangkan Indi Cincin melahirkan
keturunan, Jaburiyah, Jabulino. Mipin
melahirkan satu orang, Puti Sepadan.
Mas Jamain suaminya, Sutan Maalim
Hidayah, asal Pagaruyung melahirkan
keturunan Sirujan Angin.
Dituturkan, Indar Jati yang gaib
yang tiada kembali dalam persemadian
di alam gaib. Indar bersusu tunggal, gelar
Depati Batu Hampar, setelah melihat
kehilir dan kemudik air laut telah surut.
Maka dipecahlah pembagian wilayah,
untuk menunggu kawasan negeri yang
dibagi itu masing-masing Incik Permato
menungu latih Koto Pandan, Pondok
Tinggi. Bajina Latih Koto limo Sering,
Sungai Penuh. Ungguk menunggu latih
Koto Beringin, Rawang, Mangku Agung
menunggu Tebat Tinggi, Sungai Tutung.
Sibungo Alam menunggu Talang Banio,
Kemantan.Puti Dayang Ramaiyah,
menunggu kawasan Kemantan Darat.
Dari Pembagian inilah yang disebut Latih
yang enam Luhah Alam Kerinci.
Sementara itu di sebelah hilir,
Sirujan Angin menunggu Tamia,
Mewarisi Depati Muaro langkap, Lilo
permato menungu Pulau Sangkar,
Mewarisi Depati Rencong Telang, Intan
Bermato Sanggaran Agung, mewarisi
Depati Biang sari. Kemudian Indar
Berusu tunggal diangkat pula Sultan
Maalim Hidayah menjadi Depati atur
Bumi. Ini disebut Depati Empat Alam
Kerinci. Kemudian didirikan pula
Kerinci rendah yaitu Karban, mewarisi
Depati Setio Rajo, Bangko. Kartan
mewarisi Depati Setio Nyato, Parentak.
Sedangkan kalipan mewarisi Depati
Setio Putih Limbur tanah Cugguk. Ini
disebut tigo di Baruih.
Sibungo Alam melahirkan
keturunan tiga orang,Cik Rah, Cik Kudo,
Sijago-jago, Hulu baling rajo Siulak.
Datang pula dari Jambi, Bandaro Putih,
dengan sebutan pangeran Temengung
dengan membawa kain kehormatan
diberikan kepada Depati Muaro langkap
di Tamia. Depati Rencong Telang di
Pulau Sangkar. Depati Biang Sari di
Pengasi. Depati Atur Bumi di Hiang.
Oleh Depati Atur Bumi dibagi pula
kain kebesaran olehnya dengan Delapan
bahagian, Depati Serah Bumi di Seleman .
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
617
 ZARMAILI 
Depati Mudo Penawar, Depati Kepalo
Ino, Tanah ampong. Depati Mudo
bertelawang lidah di Rawang. Depati
Sekungkung Putih di Sekungkung.
Depati Kepalo Sembah di Semurup.
Depati Setuo di Kemantan. Depati Atur
Bumi/Depati Atur Bayo di Hiang. Ini
disebut Delapan Helai di Kerinci.
618
4. Sekilas Sejarah Pemerintahan Adat
Kerinci
Idris Ja`far (2003) menuturkan
bahwa diperkirakan sekitar abad ke 6
Masehi di wilayah Alam Kerinci, Jambi,
telah terbentuk negeri-negeri yang secara
terpisah mempunyai pemerintahan
sendiri. Sebuah komunitas masyarakat
sudah barang tentu mencari pemimpin
dari orang-orang yang mempunyai
pengaruh dan disegani dalam
kelompoknya. Biasanya mereka juga
merupakan orang yang diyakini
memiliki kesaktian sehingga diharapkan
dapat melindungi negeri dari berbagai
marabahaya yang ditimbulkan manusia,
alam, binatang, maupun makhluk halus.
Munculnya pemimpin-pemimpin
negeri baru ini diperkiranan seiring
dengan pertumbuhan negeri-negeri di
Alam Kerinci, yaitu sekitar abad ke 6
Masehi. Para pemimpin negeri itu,
dikenal dengan sebutan Sigindo atau
kepala kaum/kelompok dari suatu
komunitas keturunan dari kelompok
masyarakat yang mendiami suatu daerah
tertentu, di mana sekaligus merangkap
sebagai kepala pemerintahan dari suatu
wilayah negeri.
Sebuah negeri Sigindo terdiri atas
beberapa buah dusun, di dalam sebuah
dusun terdapat kelompok kekerabatan
masyarakat seketurunan. Pada
kelompok kekerabatan ini masih
terdapat lagi kelompok yang lebih kecil
yaitu kumpulan dari kelompokkelompok kekeluargaan, sedangkan
strata masyarakat yang paling kecil
adalah keluarga. Masing-masing strata
kekerabatan mulai dari unit yang terkecil
dipimpin oleh seorang kelompok yang
ditunjuk dan dipilih menurut ketentuan
adat yang berlaku.
Dalam perkembangan selanjutnya,
untuk unit keluarga terkecil disebut
dengan Tumbi oleh kepala Tumbi atau
kepala keluarga. Kumpulan dari
beberapa unit keluarga kecil (tumbi)
dalam lingkup kekerabatan seketurunan
disebut dengan istilah Perut, dan
dipimpin oleh Tengganai. Lapisan
berikutnya merupakan dari beberapa
Perut disebut dengan istilah Kelebu dan
dipimpin oleh kepala Kelebu yang lazim
disebut sekarang dengan istilah Ninik
Mamak. Sedangkan kumpulan dari
kekerabatan Kelebu disebut dengan
'luhak; atau lurah yang dipimpin oleh
seorang kepala lurah yang lazim disebut
dengan Depati.
Masing-masing strata di atas
mempunyai tugas dan tanggung jawab
sendiri-sendiri yang pada intinya
menuntun dan membimbing masyarakat
untuk dapat mentaati norma dan
ketentuan adat negeri. Melalui strata
kemasyarakatan di atas, segala bentuk
kebijakan pemerintah negeri disampaikan secara beranting ke bawah. Melalui
alir sistem ini dilakukan pengendalian
terhadap komponen masyarakat atau
warga yang terhimpun dalam sebuah
negeri Sigindo. Masing-masing
pemimpin pada strata masyarakat yang
terbentuk memikul tugas dan tanggung
jawab membina dan mengurus anak
negeri atau kaum kerabatnya.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 PERAN PEMERINTAH ADAT TERHADAP PEMERINTAH DESA 
5. Struktur Pemerintahan Adat
Depati Anum
Hulu Balang
Ninik Mamak
Pemegang dusun dalam
- Rio perang
- Sutan alam
- Datuk
- Depati cayo negeri
- Depati simpan negeri
- Rio malim
- Rio indah
- Qodi maulana
- Alim ulama
- Orang tuo Cerdik
Pemegang kota tuo
- Depati didung
- Depati mudo
- Depati jayo mudo
- Mangku rajo
- Depati kayo
- Depati muko
- Mangku depati
Gambar 1. Struktur Pemerintahan Adat Tanjung Pauh Mudik
Sumber: Burkan Saleh, 2009, Pengetahuan Tentang Hukum Adat Desa Tanjung
Pauh Mudik, catatan sejarah pribadi.
6. T u g a s d a n T a n g g u n g J a w a b
Pemangku Adat
1) Depati Anum
Pemangku pemerintahan adat
Desa Tanjung Pauh Mudik
dipimpin oleh seorang yang
disebut dengan Depati Anum.
Beliau memimpin para
pemangku adat yang disebut
dengan Ninik Mamak. Beliau
adalah salah seorang angggota
ninik mamak yang dianggap
bijak, cerdas, pintar dan
mengayomi, yang dipilih secara
musyawarah oleh anggota ninik
mamak. Depati Anum adalah
pimpinan pemerintahan adat, dia
memiliki wewenang membuat
keputusan dari hasil musyawarah
bersama dengan depati ninik
mamak. Tugasnya turun
langsung memimpin segala
bentuk kegiatan di dalam
masyarakat. Seperti gotong
2)
3)
royong, membuat patok
bangunan, patok jalan, sawah dan
perkebunan.
Ninik Mamak
Secara umum nenek mamak
berperanan langsung dan terlibat
di dalam berbagai kegiatan
kehidupan masyarakat secara
moril. Mereka bertanggung jawab
atas jalan atau tidaknya sesuatu
rencana atau sesuatu peraturan
dalam kehidupan masyarakat.
Qodi Maulana
Petugas yang memutuskan
hukum di dalam masyarakat
adalah Qodi Maulana, terutama
hukum di dalam pelaksanaan
ibadah seperti menentukan hari
puasa, jumlah zakat, pembagian
waris dan ibadah lainnya. Beliau
juga yang memiliki hak wakil di
dalam menikahkan anak jantan
dan anak betino serta
menetapkan perceraian mereka.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
619
 ZARMAILI 
4)
5)
6)
620
Orang Tuo Cerdik Pandai
Tugas Orang Tuo Cerdik Pandai
adalah memberikan pengarahan,
saran dan petunjuk untuk
kemaslahatan masyarakat.
Alim Ulama
Alim Ulama bertugas
memberikan masukan kepada
Qodi maulana di dalam
menentukan halal dan haram di
dalam kegiatan bermasyarakat.
Hulu Balang
Hulu balang adalah kelompok
pemuda yang kuat, berani, tegap
dan kesatria, mereka memiliki
tugas yaitu:
a. Membendung orang yang
masuk dari hilir dan yang
datang dari mudik.
b. B e r p e d a n g h u n u s d a n
berparang tajam.
c. Bermata jelang dan bertelinga
nyaring.
d. Cepat kakinya dan ringan
tangannya.
e. Setapak berpantang mundur
dan sejari berpantang
bergeser.
7. Pemilihan Pemangku Adat
Pemangku adat adalah utusan dari
setiap kelebu yang terdiri dari beberapa
tumbi yang ada di dalam desa Tanjung
Pauh Mudik. Tumbi adalah sekelompok
keluarga terkecil yang memiliki satu
keturunan yang turun temurun sebagai
warga masyarakat asli Desa Tanjung
Pauh Mudik. Setiap sejumlah tumbi
memiliki utusan untuk memegang
jabatan yang ada di dalam depati ninik
mamak, artinya anggota depati ninik
mamak adalah wakil setiap tumbi di
pemerintahan adat. Jabatan dalam
pemerintahan adat melekat pada masingmasing kelebu secara turun-temurun.
Orang luar seperti pedagang dari jauh,
penumpang sementara dan orang yang
tidak seagama dengan agama Islam tidak
dibenarkan menjabat di dalam
pemerintahan adat atau sebagai anggota
depati ninik mamak.
PROSES PELAKSANAAN
PEMERINTAHAN DESA DAN
PEMERINTAHAN ADAT
Berdasarkan Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1979 tentang
Pemerintahan Desa seluruh dusun di
Kabupaten Kerinci dileburkan menjadi
pemerintahan desa, sehingga dusun
dengan sendirinya menjadi hilang.
Pemerintahan desa yang berasal dari
budaya Jawa dipimpin oleh seorang
Kepala Desa. Pada pemerintahan desa,
desa atau kelurahan adalah bagian dari
wilayah kecamatan. Dalam menjalankan
hak, wewenang dan kewajiban pimpinan
pemerintahan desa, Kepala Desa
bertanggung jawab kepada pejabat yang
berwenang mengangkat melalui Camat,
dan memberikan keterangan
pertanggungjawaban tersebut kepada
Lembaga Musyawarah Desa (LMD).
Sejak masa ini sistem pemerintahan
adat di dalam pembangunan dan
pemerintahan desa tidak dipakai, semua
kebijakan dan pembangunan masyarakat
desa berdasarkan kebijakan dan bantuan
dari pemerintah pusat, sehingga pada
masa Orde Baru (ORBA) pemerintahan
adat semakin lama semakin luntur.
Sungguhpun demikian, di dalam
perjalanannya kebijakan pemerintahan
desa yang didasarkan pada kebijakan
pemerintahan pusat tidak mampu
berjalan dengan baik. Oleh karena itu,
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 PERAN PEMERINTAH ADAT TERHADAP PEMERINTAH DESA 
pemerintahan adat harus dilaksanakan
bersamaan dengan pemerintah desa.
Berdasarkan Undang-undang
Nomor 22 Tahun 1999 j.o Undangundang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, maka semua
pemerintahan desa dikembalikan kepada
sistem pemerintahan yang diinginkan
oleh masyarakat setempat. Oleh itu, di
Desa Tanjung Pauh Mudik yang sudah
dimekarkan menjadi lima desa tetap
berada di bawah satu pemerintahan adat.
Dalam proses pelaksanaannya,
pemerintahan desa bertanggungjawab di
dalam menyediakan sarana dan dana,
sedangkan pemerintahan adat bertugas
menetapkan kebijakan pembangunan
dan memutuskannya serta
melaksanakan keputusan. Selanjutnya,
pemerintahan desa melaksanakan
program pembangunan yang telah
diputuskan oleh pemerintahan adat.
Pemerintahan adat melakukan
pengawasan dan penilaian pelaksanaan
program pembangunan.
Melalui Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 72 Tahun 2005 Tentang “Desa”
sebagai bentuk implementasi dari UU
Nomor 32 Tahun 2004 Tentang
“Pemerintahan Daerah” maka
dilegitimasilah kekuasaan pemerintah
desa untuk menyelenggarakan
pemerintahan secara mandiri. Hal ini
ditambah dengan dihargainya faktorfaktor heterogenitas, asal-usul, nilai-nilai
tradisional, dan kearifan lokal terutama
yang sudah terbungkus dalam suatu
sistem pemerintahan yaitu adat desa
setempat.
Satu hal lain yang harus kita
cermati bahwa ternyata meskipun PP
Nomor 72 Tahun 2005 telah memberikan
ruang yang lebih luas kepada Kepala
Desa dan seluruh perangkat desa lain
untuk mengatur masyarakatnya, namun
masih memerlukan penyempurnaan di
beberapa pasal agar tercapai hakekat dari
otonomi desa yang sesungguhnya.
Apalagi di desa yang telah memiliki
sistem pemerintahan tradisional.
Reformasi dan otonomi daerah
sebenarnya adalah harapan baru bagi
pemerintah dan masyarakat desa untuk
membangun desanya sesuai dengan
kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Bagi
sebagian besar aparat pemerintah desa,
otonomi adalah satu peluang baru yang
dapat membuka ruang kreativitas bagi
aparatur desa dalam mengelola desa.
Kalau dulu semua hal yang akan
dilakukan oleh pemerintah desa harus
melalui rute persetujuan kecamatan,
untuk konteks sekarang hal itu sudah
tidak berlaku lagi. Intervensi dari atas
yang dulu sangat kental terasa kini sudah
mulai berkurang. Hal itu jelas membuat
pemerintah desa menjadi semakin
leluasa dalam menentukan program
pembangunan yang akan dilaksanakan,
dan dapat disesuaikan dengan
kebutuhan masyarakat desa.
Sistem pemerintahan adat yang
dijalankan di Desa Adat Tanjung Pauh
Mudik sangat membantu terlaksananya
pemerintahan desa. Realisasi sistem
pemerintahan yang demokratis sangat
didukung oleh pemerintahan adat.
Pemerintahan adat dipangku oleh utusan
atau wakil dari setiap kelebu yang
terpilih dan tersaring dan disegani serta
dihormati oleh kelebunya, wakil yang
diutuskan dapat dipercayakan atau
mampu menyambung aspirasi
kelebunya. Warga kelebu patuh dan taat
kepada wakilnya di pemerintahan adat,
karena kepercayaan mereka sepenuhnya
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
621
 ZARMAILI 
622
diberikan kepada wakil mereka di
pemerintahan adat untuk menyalurkan
aspirasi mereka guna memenuhi hajat
hidup mereka dalam desa. Dengan
demikian, pemerintahan adat sangat
kuat, dihormati dan dipatuhi. Hukum
adat ditaati oleh masyarakat, segala
keputusan pembangunan dan
permasalahan dalam masyarakat dapat
diselesaikan di tingkat pemerintah adat.
Tidak ada masalah yang tidak selesai
pada tingkat pemerintahan adat, apapun
keputusan pemerintah adat itulah
keputusan bersama masyarakat.
Merujuk kepada sistem
pelaksanaan pemerintahan adat tersebut
di atas, menunjukkan bahwa pemerintah
sangat mudah menjalankan roda
pemerintahan di segala bidang. Hal ini
disebabkan adanya keterbukaan dan
partisipasi masyarakat melalui wakilnya
di dalam pemerintahan adat, sehingga
semua keputusan dan kebijakan adalah
berasal dari suara masyarakat.
Pemerintahan seperti ini sangat efektif
untuk menjauhkan penyimpangan bagi
pemimpin adat dan jauh terhindar dari
diskriminasi terhadap suatu kelompok
atau golongan, artinya pemerintahan
terlaksana secara demokratis, adil dan
bijaksana. Pemerintahan adat di dalam
proses pelaksanaan pemerintahan desa
sangat dibutuhkan, karena masyarakat
adat yang sudah kental dan patuh
dengan sistem pemerintahan adat sangat
mudah diatur sebab masyarakat lebih
menghormati dan memepercayai
pemerintahan atau pemangku adat.
1) Sistem Perencanaan
Pasal 63 Peraturan Pemerintah
Desa masih mengikuti jejak UU No. 32 Th
2004, yang menempatkan perencanaan
desa sebagai satu kesatuan dengan sistem
perencanaan pembangunan daerah
kabupaten/kota. Sementara itu, pasal
150 UU No. 32 Th 2004 telah menegaskan
bahwa sistem perencanaan daerah
merupakan satu kesatuan dengan
perencanaan pembangunan nasional.
Apabila ditarik garis lurus untuk
menghubungkan substansi pengaturan
mengenai perencanaan di desa, daerah
dan pusat, terlihat sangat jelas yang
dibangun adalah model perencanaan
terpusat (centralized planning).
Sentralisasi perencanaan semacam itu
sebenarnya justru mengingkari hakekat
otonomi daerah, yang seharusnya terus
mengalir menjadi otonomi desa dan
akhirnya menjadi otonomi rakyat.
Meskipun kini pemerintah
memercusuarkan program bottom up
planning dengan kegiatan Musbangdes
(Musyawarah Pembangunan Desa),
rapat LPM tingkat kecamatan,
Rakorbang tingkat kabupaten dan
provinsi hingga Rakornas tingkat pusat,
namun kenyataannya belum dapat
dilaksanakan secara optimal. Bahkan
kondisi riil di lapangan terkadang
ditemukan usulan yang dirumuskan dari
level bawah, diintervensi oleh kekuasaan
yang berada setingkat di atasnya. Pada
tingkat LPM dan Rakorbang juga
seringkali ditemukan adanya dominasi
sektoral dalam proses bargaining tanpa
melihat dan mempertimbangkan usul
yang muncul dari bawah.
Dalam akhir tulisan ini, penulis
mendapat kesimpulan bahwa dengan
adanya revisi UU 22 Th 1999 menjadi UU
32 Th 2004 belum menjawab tuntas
permasalahan desa, karena tersirat dalam
peraturan perundangan tersebut
pemerintah pusat belum sepenuhnya
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 PERAN PEMERINTAH ADAT TERHADAP PEMERINTAH DESA 
memberikan otonomi. Begitupun
paradigma orde baru masih dipakai
pemerintah pusat saat ini, yang
menganggap desa sebagai perpanjangan
tangan pemerintah pusat.
Sungguhpun sistem perencanaan
desa berdasarkan kepada aturan
Pemerintah yang telah ditetapkan,
namun di Desa Tanjung Pauh Mudik
Kerinci Jambi, perencanaan
pembangunan harus berdasarkan sistem
adat yang telah berlaku, artinya rencana
program pembangunan desa berasal dari
aspirasi setiap tumbi melalui wakil
kelebu mereka. Selanjutnya, perencanaan
pembangunan tidak boleh menyimpang
dari norma adat yang telah lama ada,
seperti pengrusakan hutan adat, sungai
adat dan lubuk ikan adat. Seluruh
wilayah desa adalah wilayah adat yang
sudah memiliki batas-batas hukum adat
yang tidak boleh diganggu guna untuk
kelestarian dan keaslian alam. Selain itu
juga, perencanaan tidak boleh berbau
pengrusakan budaya dan tradisi
masyarakat setempat dan tetap berasas
budaya dan tradisi warisan nenek
moyang mereka. Jadi perencanaan
program pembangunan desa harus
mempertimbangkan hukum adat yang
telah ada.
Keputusan program pembangunan
desa yang akan dilaksanakan adalah
hasil musyawarah antara Kepala Desa
beserta staf dengan para anggota ninik
mamak, keputusan yang diambil adalah
berdasarkan pertimbangan prioritas dan
hal-hal yang mendesak, seperti irigasi,
jembatan, jalan pertanian dan lain
sebagainya. Di dalam pengambilan
keputusan ini tidak ada intervensi dari
pihak manapun dan tetap mengutamakan prinsip keadilan dan merata.
2) Pelaksanaan Program Pembangunan
Setelah perencanaan dibuat dan
disetujui oleh Pemerintah Daerah
Kabupaten, program pembangunan
dilaksanakan dengan sistem pembagian
tugas dan tanggungjawab. Proses
pelaksanaan program tersebut,
pemerintah desa bertanggungjawab
menyiapkan dana dan sarana serta
infrastruktur lainnya, hal ini diperoleh
berdasarkan pengajuan program
pembangunan secara dinas dari
pemerintah desa kepada Bupati melalui
Camat. Jadi, sedikit beban berkurang atas
masyarakat di mana dana dan prsarana
pembangunan desa disediakan oleh
pemerintah daerah, artinya masyarakat
desa tidak harus sibuk mengumpulkan
dana sebagaimana masa pemerintahan
adat, masyarakat wajib mengumpulkan
dana hasil pertanian, jadi setiap habis
panen masyarakat menyisihkan hasil
pertanian mereka untuk program
pembangunan desa sejumlah yang telah
ditetapkan berdasarkan hasil
musyawarah. Namun, kewajiban
tersebut tidak diberlakukan lagi setelah
dibentuknya pemerintahan desa, kecuali
untuk keadaan darurat dan dana
pendamping pelaksanaan
pembangunan.
Selanjutnya, proses pelaksanaan
pembangunan dilaksanakan bersamasama dengan pemerintah adat. Hal ini
dilaksanakan berdasarkan respek
masyarakat terhadap pemerintah adat.
Pemerintah desa menghadapi kesulitan
di dalam melaksanakan program
pembangunan, karena akan berhadapan
dengan masyarakat yang masih kental
dengan pemerintah adat dan mereka
kurang percaya dengan pemerintahan
desa yang dianggap sebagai tangannya
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
623
 ZARMAILI 
pemerintah pusat di daerah, yang telah
mengikiskan budaya dan tradisi hidup
mereka. Penghormatan masyarakat
terhadap pemerintah desa masih sangat
rendah dan mengganggap kinerja
mereka penuh dengan tipuan dan
penyimpangan. Bagi masyarakat,
pemerintah desa hanyalah bonekanya
pemerintah pusat yang penuh dengan
tipu daya, yang bekerja hanyalah
mengejar laporan dan bukan kualitas.
Oleh itu, mereka tidak akan diterima oleh
masyarakat apalagi bila pembangunan
yang dilaksanakan berhubungan
langsung dengan wilayah adat atau
inventaris adat. Mereka dianggap oleh
masyarakat desa pihak yang akan
merusak tatanan tradisi yang telah lama
mereka pelihara dan mereka hormati.
624
3) Pertanggung-jawaban Kepala Desa
Ditinjau dari sudut aliran
pertanggung-jawaban (legalaccountability), penyelenggaraan
pemerintahan desa oleh Kepala Desa
versi Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 maupun Peraturan Pemerintah
Nomor 72 Tahun 2005, terlihat sangat
kentara adanya tarikan ke atas. Pasal 15
ayat (2) PP No. 72 Th 2005 menyebutkan
bahwa Kepala Desa mempunyai
kewajiban untuk memberikan laporan
penyelenggaraan pemerintahan desa
kepada Bupati/Walikota. Tanggung
jawab Kepala Desa kepada BPD hanya
dalam bentuk penyampaian laporan
keterangan pertanggung-jawaban, dan
kepada masyarakat hanya menginformasikan laporan penyelenggaraan
pemerintahan desa.
Rumusan aturan dalam pasal 15
ayat (2) PP desa itu tentu saja terlihat
kontradiktif dengan pasal 35 huruf b PP
desa, yang mengatur kewenangan BPD
untuk melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan peraturan desa dan
peraturan kepala desa. Meskipun pada
pasal 35 huruf c PP Desa BPD diberikan
kewenangan untuk mengusulkan
pengangkatan dan pemberhentian
kepala desa kepada Bupati/walikota,
namun mengacu pada rumusan pasal 15
ayat (2) PP Desa di atas, sangat jelas
terlihat ambiguitas pengaturan
kewenangan pengawasan oleh BPD.
Di Desa Tanjung Pauh Mudik
Kerinci Jambi, pemerintah desa di dalam
pelaksanaan program pembangunan
harus menyiapkan laporan
pertanggungjawaban di samping
menyampaikannya ke Bupati, mereka
wajib menyampaikannya kepada
anggota ninik mamak dalam rapat adat.
Pertanggungjawaban pemerintah desa
bisa diterima dan bisa ditolak, apabila
pelaksanan program pembangunan
menyalahi aturan adat setempat, maka
pemerintah desa harus mendapat
hukuman adat yakni meminta maaf
kepada masyarakat dengan memotong
seekor kerbau dan dibagikan kepada
masyarakat. Selanjutnya, program
pembangunan yang akan mereka
laksanakan akan diawasi dengan sangat
ketat. Jadi, proses pelaksanaan
pembangunan pemerintahan desa
senantiasa berada di dalam pengawasan
dan harus dilaporkan kepada ninik
mamak sebagai wakil masyarakat adat.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
1) Kesimpulan
Proses pelaksanaan pemerintahan
desa di Desa Tanjung Pauh Mudik
Kerinci Jambi telah berjalan bersamaan
dengan sistem pemerintahan adat, yang
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 PERAN PEMERINTAH ADAT TERHADAP PEMERINTAH DESA 
bersifat demokratis, transparan dan
akuntabel. Di mana bentuk pelaksanaan
pemerintahannya adalah sebagai berikut:
1) Bentuk pemerintahan adat di desa
Tanjung Pauh Mudik Kerinci Jambi
menganut sistem demokrasi,
semua pemangku adat atau unsur
pemerintahan berasal dari wakil
setiap keluarga masyarakat, azas
pemerintahan-nya mengutamakan
kepentingan dan kesejahteraan
masyarakat.
2) Pemerintahan adat dipimpin oleh
seorang depati yang disebut
dengan Depati Anum dengan
anggotanya disebut dengan ninik
mamak. Depati Anum berasal dari
salah seorang anggota ninik
mamak yang dipilih oleh anggota
ninik mamak hasil musyawarah.
3) Proses pelaksanaan pemerintahan
desa di tengah masyarakat
penganut sistem pemerintahan
adat di Desa Tanjung Pauh Mudik
berjalan seiring dan saling
mendukung, pemerintah desa
bertanggungjawab dalam
menyediakan dana dan sarana,
sedangkan pemerintah adat
bertanggungjawab di dalam
membuat keputusan dan bersamasama melaksanakannya.
4) Di dalam proses pelaksanaan
pemerintahan desa semua
kebijakan diambil berdasarkan
suara masyarakat melalui ninik
mamak.
5) Pertanggungjawaban pelaksanaan
program pembangunan di
samping diberikan kepada Bupati,
mereka wajib menyampaikannya
kepada anggota ninik mamak
dalam rapat adat.
2) Rekomendasi
1) Untuk meningkatkan peran
pemerintah adat dalam sistem
pemerintahan desa, diperlukan
regulasi yang kuat, sehingga
eksistensi pemerintahan adat yang
sangat demokratis lebih meluas
dan dapat diamalkan oleh daerahdaerah lainnya di seluruh wilayah
Indonesia.
2) Setiap daerah perlu mengeksiskan
pemerintahan adat setempat,
sedangkan desa yang baru
terbentuk dan belum memiliki
pemerintahan adat hendaklah
membentuk pemerintahan adat
berdasarkan hasil kesepakatan
bersama kelompok masyarakat.
3) Pemerintah hendaklah membuat
undang-undang yang mengatur
pembentukan pemerintah adat di
setiap daerah.
KEPUSTAKAAN
Bellefroid, J.H.P., tt, Inleiding Tot De
Rechtswertenschap In Nenderland,
Terjemahan: Hukum yang Positif, Tri
Tunggal, Yokyakarta.
Burkan Saleh, 2009, Pengetahuan Tentang
Hukum Adat Desa Tanjung Pauh
Mudik, catatan sejarah pribadi.
Hendra Mondong, Peran Pemerintah Desa
dalam Meningkatkan Partisipasi
Masyarakat dalam Pembangunan Desa,
, Diakses Tanggal 20 Mei 2014.
Idris Ja`far, 2003, Asal Usul Pemerintahan
Kerinci, Yogyakarta Pers.
Ostrom, 2010,Governing the Commons: The
Evolution of Institutions for Collective
Action (Political Economy of
Institutions and Decisions),
Cambridge University Press.
Schmid, A. Allan (Alfred Allan), 2007,
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
625
 ZARMAILI 
626
Converting land from rural to urban uses,
Johns Hopkins Press, Baltimore.
Widjaya, HAW, 2003, Otonomi Desa:
Merupakan Otonomi yang Asli, Bulat,
Utuh, PT. RajaGrafindon
Persada,Jakarta:
DPRRI, Undang-undang Dasar 1945,
www.dpr.go.id/id/uu-danruu/uud45. Diakses tanggal 12 Mei
2014
__________, Undang-undang Nomor 5
Tahun 1979, /,. Diakses tanggal 12
Mei 2014
Menteri Dalam Negeri RI, Permendagri
Nomor 3 Tahun 1997,
http://ropeg.setjen.kemendagri.go.
id,. Diakses tanggal 12 Mei 2014
__________, Permendagri Nomor 66
Tahun 2007,. http://ropeg.
setjen.kemendagri.go.id,. Diakses
tanggal 12 Mei 2014
Presiden RI, Peraturan Pemerintah
Nomor 76 Tahun 2001,.
www.hukumonline.com/.../pp-no76-tahun-2001-pedoman-umumpeng,. Diakses tanggal 12 Mei 2014
__________, Peraturan Pemerintah
Nomor 72 Tahun 2005,.
www.sanitasi.net/peraturanpemerintah-no-72-tahun-2005tentang-desa...,. Diakses tanggal 12
Mei 2014
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
PENCAPAIAN
TARGET STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM):
APA YANG TERJADI ? 1
TARGET ACHIEVEMENT OF MINIMUM SERVICE STANDARDS (SPM):
WHAT'S GOING ON?
SURYANTO
Peneliti Pusat Kajian Sistem Administrasi Negara dan
Hukum Administrasi Negara – LAN
email: [email protected]
ABSTRACT
Enthusiasm of the various parties to the implementation of the policy of minimum service
standards turned out to be different. Ministry of the Home Affair (MoHA) , as the leading sector
of the successful policy of SPM, is certainly a very active part in voicing that the policy should be
run smoothly as mandated by legislation. But beyond that, many other parties actually give a
different response, ministries / agencies, for example, assume that a SPM's problem is MoHA's
domain so that ministries/agencies does not have to "bother" to pay attention in the
implementation of SPM in the area. Meanwhile, local governments both provincial and district
/ city - especially district / city, assume that the implementation of SPM with outcomes
predetermined considered a burden to the budget so it does not need to be supported to the
maximum, except for the preparation of standard operating procedures ( SOP ) and standards
public services ( SPP ), two terminologies that is often interpreted as an SPM . The debate arises
because of ignorance about the definition of the concept of the SPM itself. If so, how can the
government expect the achievement of the target.
Keywords : Local Government, Public Services, Minimum Service Standards.
ABSTRAK
Antuasiasme berbagai pihak terhadap penerapan kebijakan standar pelayanan
minimal ternyata berbeda-beda. Kementerian Dalam Negeri, sebagai leading sector
terhadap suksesnya penerapan kebijakan SPM, tentu menjadi pihak yang sangat aktif
dalam menyuarakan agar kebijakan tersebut dapat berjalan sesuai amanat peraturan
perundangan. Namun di balik itu, berbagai pihak lain justru memberikan respon
yang berbeda, kementerian/lembaga misalnya, menganggap bahwa persoalan SPM
merupakan domain Kementerian Dalam Negeri sehingga tidak perlu “repot”
memberikan perhatian dalam pelaksanaan SPM di daerah. Sementara itu pemerintah
daerah provinsi, kabupaten, dan kota menganggap bahwa penerapan SPM dengan
capaian-capaian yang telah ditetapkan dianggap membebani anggaran sehingga tidak
perlu didukung secara maksimal, kecuali untuk penyusunan standard operating
1
Naskah diterima 28 April 2014. Direvisi 2 Juni 2014
627
 SURYANTO 
procedures (SOP) dan standar pelayanan publik (SPP), dua terminologi yang sering
dimaknai sama sebagai SPM. Perdebatan mengenai definisi muncul karena
ketidakpahaman terhadap konsep SPM itu sendiri. Jika demikian, bagaimana
mungkin Pemerintah dapat berharap mengenai pencapaian targetnya.
Kata Kunci: Pemerintah Daerah, Pelayanan Publik, Standar Pelayanan Minimal
(SPM)
A. PENDAHULUAN
idak perlu diragukan lagi bahwa
kehadiran pemerintah adalah
untuk melayani warga
negara/rakyatnya. Karena itu tidak
mengherankan bahwa keberadaan
pemerintah hanya akan bermakna
apabila pemerintah tersebut dapat
memberikan manfaat sebesar-besarnya
kepada rakyat dalam bentuk pelayanan
terbaik atau pelayanan prima. Untuk
mewujudkan pelayanan prima
diperlukan dua dimensi yaitu dimensi
prosedur dan dimensi pribadi (Sutopo,
1999).
Pelayanan prima, pada saat itu,
langsung menjadi “mantra” yang sangat
penting untuk memberikan pelayanan
terbaik kepada pelanggannya (excellent
service). Terminologi pembaharuan
pelayanan publik terus bergulir ke arah
yang lebih baik meskipun pada awalnya
masih berkutat pada dimensi pribadi,
seperti keramahan dan kesopanan dalam
pelayanan. Namun, lambat laun hal
tersebut mengarah pada perubahan
pelayanan publik yang semakin
mengarah pada dimensi prosedur terkait
dengan mekanisme/tata cara pelayanan
itu sendiri.
Perkembangan perbaikan ke arah
dimensi prosedur tersebut, sebagaimana
disampaikan Hardi Warsono (2012),
nampak pada upaya Pemerintah dalam
T
628
hal ini Kementerian Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi (PAN dan RB) dengan
menerbitkan berbagai peraturan teknis
dalam upaya peningkatkan kualitas
pelayanan publik. Beberapa peraturan
dimaksud di antaranya Permenpan No.
63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang
Pedoman Umum Penyelenggaraan
Pelayanan Publik, Kepmenpan No.
KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang
Pedoman Umum Penyusunan Indeks
Kepuasan Masyarakat (IKM) Unit
Pelayanan Instansi Pemerintah,
Kempenpan No. KEP/26/M.PAN/2/
2004 tentang Petunjuk Teknis dan
Akuntabilitas dalam Penyelenggaraan
Pelayanan Publik, dan Kepmenpan No.
KEP/118/M.PAN/8/2004 tentang
Pedoman Umum Penanganan
Pengaduan Masyarakat bagi Instansi
Pemerintah.
Setelah diberlakukannya UU No.
25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
telah diterbitkan PP No. 13 Tahun 2009
tentang Pedoman Peningkatan Kualitas
Pelayanan dengan Partisipasi
Masyarakat, PP No. 96 Tahun 2012
tentang Pelaksanaan UU No. 25 Tahun
2009 tentang Pelayanan Publik,
Permenpan dan RB No. 36 Tahun 2012
tentang Petunjuk Teknis Penyusunan,
Penetapan, dan Penerapan Standar
Pelayanan, dan Permenpan dan RB No.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 PENCAPAIAN TARGET STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM): APA YANG TERJADI ? 
38 Tahun 2012 tentang Pedoman
Penilaian Kinerja Unit Pelayanan Publik.
Ketika pemberlakuan kebijakan
desentralisasi dan otonomi daerah 2
berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004, lalu
diterbitkan Peraturan Pemerintah (PP)
No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman
Penyusunan dan Penerapan Standar
Pelayanan Minimal. PP ini merupakan
pelaksanaan amanat Pasal 11 ayat (4) dan
Pasal 14 UU No. 32 Tahun 2004. Standar
Pelayanan Minimal (SPM) adalah
ketentuan tentang jenis dan mutu
pelayanan dasar yang merupakan urusan
wajib daerah yang berhak diperoleh oleh
setiap warga negara secara minimal
(Pasal 1 butir 6 PP No. 65 Tahun 2005).
Dalam perjalanannya, SPM itu
sendiri sering dirancukan dengan Surat
Perintah Membayar, istilah yang biasa
digunakan dalam pengelolaan anggaran.
Sebagai contoh, ketika saya meneliti
penerapan SPM di daerah, beberapa
narasumber mengira bahwa substansi
penelitian berkaitan dengan tugas
bendaharawan, padahal yang dimaksud
bukan Surat Perintah Membayar (saat ini
disebut SP2D = Surat Perintah Pencairan
Dana) tetapi Standar Pelayanan Minimal.
Hal ini terjadi karena selama ini istilah
SPM relatif kurang dikomunikasikan
dengan baik, sehingga publik lebih
mengenal istilah SPM dalam konteks
penganggaran atau keuangan
dibandingkan SPM dalam konteks
kinerja pelayanan. Ditambah lagi,
munculnya dua istilah lain yakni standar
pelayanan publik pelayanan (SPP) dan
standar operating procedures (SOP) yang
ternyata lebih dikenal dengan cukup baik
oleh publik.
2
Fakta tersebut bertentangan
dengan harapan bahwa SPM yang
sedianya direncanakan untuk
menciptakan pelayanan dasar yang
menjadi hak setiap warga negara.
Implementasi SPM masih dihadapkan
pada sejumlah persoalan di daerah,
khususnya terkait pola perencanaan dan
penganggaran. Studi yang dilakukan
LAN (2012 dan 2013) di Kabupaten
Samosir menunjukkan bahwa
implementasi SPM masih menjadi hal
asing bagi pemerintah daerah. Sebagian
besar satuan kerja pemerintah daerah
(SKPD) yang menangani urusan wajib
sebagaimana diamanatkan dalam
peraturan teknis menteri dalam negeri
belum seluruhnya melaksanakan SPM
dengan baik. Dari 15 urusan wajib yang
telah memiliki dasar hukum (sesuai
peraturan menteri teknis), baru sebagian
kecil urusan wajib yang telah
ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah.
Hal tersebut terjadi bukan semata-mata
karena lemahnya perencanaan dan
penganggaran, tetapi juga berkaitan
dengan persoalan substansi SPM itu
sendiri.
Hal ini merujuk pada pandangan
penyusun kebijakan SPM itu sendiri
(kementerian sektoral) bahwa
banyaknya indikator dan tingginya
angka capaian SPM menyebabkan
pemerintah daerah tidak mampu
mencapai target yang ditetapkan secara
nasional dalam kurun waktu tertentu.
Mencermati peliknya pelaksanaan
kebijakan SPM tersebut, penulis mencoba
memberikan salah satu contoh kasus
persoalan SPM bidang kesehatan.
Urusan kesehatan dipilih karena
Menurut Hanif Nurcholis (2005) desentralisasi dan otonomi daerah sesungguhnya memiliki perbedaan
makna, walaupun dalam penggunaannya sering dipertukarkan atau digunakan secara bergantian.
Otonomi daerah “ada” karena adanya asas desentralisasi, sehingga otonomi daerah dapat dikatakan
merupakan turunan (derivate) dari desentralisasi.
629
 SURYANTO 
merupakan pelayanan dasar yang paling
mendasar selain pendidikan dan
pekerjaan umum.
Tulisan ini dimaksudkan untuk
memberikan gambaran tentang: (a)
kerancuan konsep SPM; (b) upaya yang
telah dilakukan untuk mengatasi
kerancuan tersebut, dan (c) hal-hal yang
perlu diperbaiki dalam rangka
meningkatkan capaian target SPM.
Dalam jangka panjang, jika
memungkinkan dapat direplikasi untuk
pencapaian target SPM bidang-bidang
lainnya untuk mendukung implementasi
PP No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman
Penyusunan dan Penerapan SPM,
Permenkes No. 741 Tahun 2008 tentang
SPM Bidang Kesehatan di Kabupaten &
Kota dan SE Mendagri No. 100/676/SJ
Tahun 2011 perihal Percepatan
Penerapan SPM.
630
B. LANDASAN TEORI
Pembahasan teori/konsep
meliputi konsep good governance
(pemerintahan yang baik), pelayanan
publik, dan SPM itu sendiri.
1) Good Governance
Governance menurut UNDP (2000)
adalah tata pemerintahan dalam
penggunaaan wewenang ekonomi,
politik, dan administrasi guna mengelola
urusan negara pada semua tingkat. Tata
pemerintahan mencakup seluruh
mekanisme, proses, dan lembagalembaga dimana warga dan kelompokkelompok masyarakat mengutarakan
kepentingan mereka, menggunakan hak
hukum, memenuhi kewajiban, dan
menjembatani perbedaan-perbedaan di
antara mereka.
Good governance diartikan sebagai
pemerintahan yang baik, lawannya bad
government yaitu pemerintahan yang
buruk. Good governance merupakan
perkembangan dari government
(pemerintah). Menurut Edralin (1977,
dalam Wasistiono, 2010) disebutkan
bahwa perkembangan terakhir mengenai
peran pemerintah yaitu telah terjadi
pergeseran dari government ke governance
: sekedar pemberi pelayanan (provider)
menjadi fasilitator, kepemilikan negara
menjadi kepemilikan rakyat.
Sementara itu, menurut Lalono
Krina (2003), kata governance sering
dirancukan dengan government.
Akibatnya, negara dan pemerintah
menjadi korban utama dari seruan
kolektif ini, bahwa mereka adalah
sasaran nomor satu untuk melakukan
perbaikan-perbaikan. Badan-badan
keuangan internasional mengambil
prioritas untuk memperbaiki birokrasi
pemerintahan di Dunia Ketiga dalam
skema good governance mereka. Aktivitis
dan kaum oposan, dengan bersemangat,
ikut juga dalam aktivitas ini dengan
menambahkan prinsip-prinsip
kebebasan politik sebagai bagian yang
tak terelakkan dari usaha perbaikan
institusi negara. Good governance bahkan
berhasil mendekatkan hubungan antara
badan-badan keuangan multilateral
dengan para aktivis politik, yang
sebelumnya bersikap sinis pada
hubungan antara pemerintah negara
berkembang dengan badan-badan ini.
Maka, jadilah suatu sintesa antara tujuan
ekonomi dengan politik.
Mencermati definisi di atas, maka
dapat diketahui aktor-aktor/pilar yang
menjalankan governance yakni
(1)
government/state, (2) dunia usaha, dan (3)
rakyat yang memiliki posisi sejajar,
memiliki kesamaan, kohesi,
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 PENCAPAIAN TARGET STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM): APA YANG TERJADI ? 
keseimbangan peran serta yang saling
mengontrol. Thoha (2003) menambahkan satu pilar lagi yaitu norma sebagai
pilar utama dan penyeimbang.
Pemberian pelayanan publik
(public service delivery) dalam konteks good
local governance, tidak hanya menjadi
dominasi negara/pemerintah akan tetapi
juga menjadi kewajiban kedua pilar
lainnya yaitu dunia usaha dan
masyarakat madani. Adagium
keberadaan pemerintah hanya untuk
melayani masyarakat masih tetap
relevan, namun saat ini ditambah dengan
dua komponen/pilar sebagaimana
tersebut di atas.
2)
Pelayanan Publik
Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia dinyatakan bahwa pengertian
pelayanan adalah suatu usaha untuk
membantu menyiapkan (mengurus) apa
yang diperlukan orang lain. Sedangkan
pengertian service dalam Oxford (2000)
didefinisikan sebagai “a system that
provides something that the public needs,
organized by the government or a private
company”. Menyimak pengertian
tersebut, maka pelayanan berfungsi
sebagai sebuah sistem yang
menyediakan apa yang dibutuhkan oleh
masyarakat (PKKOD LAN, 2008).
Terkait pengertian “publik” dalam
frase pelayanan publik, Hessel Nogi S.
Tangkilisan berpendapat bahwa istilah
publik diaplikasikan sebagai berikut :
a. Arti kata public sebagai umum,
misalnya public offering (penawaran
umum), public ownership (milik
umum), public switched network
(jaringan telepon umum), public utility
(perusahaan umum).
b. Arti kata public sebagai masyarakat,
misalnya public relation (hubungan
masyarakat), public service (pelayanan
masyarakat), public opinion (pendapat
masyarakat), public interest
(kepentingan masyarakat) dan lainlain.
c. Arti kata public sebagai negara,
misalnya public authorities (otoritas
negara), public building (gedung
negara), public finance (keuangan
negara), publik refenue (penerimaan
negara), public sector (sektor negara)
dan lain-lain. (Tangkilisan, 2003:5)
Berdasarkan pendapat yang
dikemukakan di atas, seolah-olah
terdapat perbedaan antara pelayanan
yang dilakukan oleh pemerintah dengan
swasta. Osborne dan Gaebler,
menekankan bahwa pelaksanaan
pelayanan publik sebenarnya
merupakan rowing (pelaksana) sehingga
cukup hanya dilaksanakan oleh pihak
swasta, sedangkan pemerintah bertindak
sebagai steering (pengarah) saja. Oleh
karena itu, menurut kedua pakar
tersebut, pelayanan publik perlu
diserahkan kepada pihak di luar
pemerintah. Namun demikian,
penyelenggaraan pelayanan publik
dengan model privatisasi di Indonesia
ternyata belum memuaskan. Sebagai
contoh, kepemilikan pemerintah atas
sebuah perusahaan yang menguasai
barang publik (public goods) sekilas
adalah sangat ideal, karena tugas
pemerintah adalah menjamin
keseimbangan antara kepentingan
publik dan swasta. Barang publik
dipercaya tidak akan dikelola
sepenuhnya oleh perusahaan swasta.
Pada perjalanannya, inefektifitas
kepemilikan pemerintahan atas
perusahaan penghasil barang dan jasa
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
631
 SURYANTO 
632
publik malah makin menguat (Kuncoro,
2006).
Dalam literatur manajemen,
terdapat empat lingkup definisi
pelayanan. Pertama, pelayanan/service
menggambarkan berbagai sub sektor
dalam kategorisasi aktivitas ekonomi,
seperti transportasi, finansial,
perdagangan ritel, personal services,
kesehatan, pendidikan, dan layanan
publik lain. Dengan kata lain, lingkupnya
adalah industri. Kedua, pelayanan/service
dipandang sebagai produk intangible
yang hasilnya berupa aktivitas
ketimbang obyek fisik, meskipun dalam
kenyataannya bisa saja produk fisik
dilibatkan (misalnya, makanan dan
minuman di restoran dan pesawat dalam
jasa penerbangan. Ketiga, pelayanan
merefleksikan proses yang mencakup
penyampaian produk utama, interaksi,
personal, kinerja dalam arti luas
(termasuk di dalamnya drama dan
keterampilan), serta pengalaman
layanan. Keempat, pelayanan bisa
dipandang sebagai sebuah system yang
terdiri atas dua komponen utama, yaitu
service operations yang kerapkali tidak
tampak atau tidak diketahui
keberadaannya oleh pelanggan (back
office/backstage) dan service delivery yang
biasanya tampak (visible) atau diketahui
pelanggan (front office/frontstage)
(Sugandi, 2011: 121).
Menurut UU Pelayanan Publik
Nomor 25 Tahun 2009 , pelayanan publik
adalah “kegiatan atau rangkaian kegiatan
dalam rangka pemenuhan kebutuhan
pelayanan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan bagi setiap warga
negara dan penduduk atas barang, jasa,
dan/atau pelayanan administratif yang
disediakan oleh penyelenggara pelayanan
publik”. Dalam Pasal 4 disebutkan bahwa
penyelenggaraan pelayanan publik
berasaskan pada: (a) kepentingan umum;
(b) kepastian hukum; (c) kesamaan hak; (d)
keseimbangan hak dan kewajiban; (e)
keprofesionalan; (f) partisipatif; (g)
persarnaan perlakuan/tidak diskriminatif; (h)
keterbukaan; (i) akuntabilitas; (j) fasilitas dan
perlakuan khusus bagi kelompok rentan; (k)
ketepatan waktu; dan (l) kecepatan,
kemudahan, dan keterjangkauan.
Selanjutnya berdasarkan
Keputusan Menpan No.
63/Kep/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman
Umum Penyelenggaraan Pelayanan
Publik, disebutkan bahwa hakekat
pelayanan publik adalah pemberian
pelayanan prima kepada masyarakat
yang merupakan perwujudan kewajiban
aparatur pemerintah sebagai abdi
masyarakat. Pelayanan publik dilakukan
berdasarkan asas-asas sebagai berikut: 1)
Transparansi. Bersifat terbuka, mudah
dan dapat diakses oleh semua pihak yang
membutuhkan dan disediakan secara
memadai serta mudah dimengerti; 2)
Akuntabilitas. Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan; 3) Kondisional.
Sesuai dengan kondisi dan kemampuan
pemberi dan penerima pelayanan
dengan tetap berpegang pada prinsip
efisiensi dan efektivitas; 4) Partisipatif.
Mendorong peran serta masyarakat
dalam penyelenggaraan pelayanan
publik dengan memperhatikan aspirasi,
kebutuhan dan harapan masyarakat; 5)
Kesamaan Hak. Tidak diskriminatif
dalam arti tidak membedakan suku, ras,
agama, golongan, gender dan status
ekonomi; dan 6) Kesimbangan Hak dan
Kewajiban. Pemberi dan penerima
pelayanan publik harus memenuhi hak
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 PENCAPAIAN TARGET STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM): APA YANG TERJADI ? 
dan kewajiban masing-masing pihak.
Menurut Dwiyanto (2011: 151)
pelayanan publik merupakan salah satu
sosok birokrasi pemerintah masa depan,
yaitu birokrasi yang memiliki
keunggulan dibandingkan dengan
institusi sosial dan politik lainnya.
Keunggulan ini ditunjukkan oleh sikap,
perilaku, dan pelayanan yang
diselenggarakannya. Selanjutnya,
birokrasi harus memperbaiki efisiensi,
daya saing, serta daya tahan pelaku sosial
dan ekonomi yang ada dalam
masyarakat. Untuk itulah birokrasi
publik harus efisien, efektif, profesional,
modern, dan berorientasi pada
pelayanan. Dikatakan efisien dan efektif
apabila keberadaan birokrasi mampu
memberikan pelayanan kepada
warganya secara murah, mudah, dan
terjangkau sehingga mampu
memperbaiki kesejahteraan warganya
(Ibid: 152).
Berbicara pelayanan publik tidak
dapat terlepas dari kualitas pelayanan
publik, yang menyangkut akses
pelayanan (service accessibility) dan
kepuasan pelayanan (service satisfaction).
Akses pelayanan publik, salah satunya
diukur dengan standar pelayanan
minimal, sedangkan kepuasan
pelayanan dapat diukur dengan indeks
kepuasan masyarakat (IKM) dan indeks
kemudahan berusaha (doing business)
untuk sektor privat (PKKOD-LAN, 2013).
Kualitas pelayanan menurut Evans
dan Lindsay (1997) dapat dilihat dari
berbagai sudut. Jika dilihat dari sudut
pandang konsumen, maka kualitas
pelayanan selalu dihubungkan dengan
sesuatu yang baik/prima (excellent). Jika
kualitas pelayanan dipandang dari sudut
”product based”, maka kualitas pelayanan
dapat didefinisikan sebagi suatu fungsi
yang spesifik, dengan variabel
pengukuran yang berbeda-beda dalam
memberikan penilaian kualitas sesuai
dengan karakteristik produk yang
bersangkutan. Kualitas pelayanan jika
dilihat dari sudut “user based”, maka
kualitas pelayanan adalah sesuatu yang
diinginkan oleh pelanggan atau tingkat
kesesuaian dengan keinginan pelanggan.
Sedangkan, jika dilihat dari “value based”,
maka kualitas pelayanan merupakan
keterkaitan antara kegunaan atau
kepuasan dengan harga.
3) Standar Pelayanan Minimal (SPM)
Sesuai amanat UU No. 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah
bahwa penyelenggaraan urusan
pemerintahan yang bersifat wajib
dilaksanakan dengan berpedoman pada
standar pelayanan minimal,
dilaksanakan secara bertahap dan
ditetapkan pemerintah, yaitu PP No. 65
Tahun 2005 tentang Pedoman
Penyusunan dan Penerapan Standar
Pelayanan Minimal. Ketentuan ini telah
dijabarkan dengan Peraturan Menteri
Dalam Negeri No. 6 Tahun 2007 tentang
Petunjuk Teknis Penyusunan dan
Penetapan Standar Pelayanan Minimal
guna melaksanakan amanat Pasal 7 ayat
(2) PP No. 65 Tahun 2005. Selain itu,
untuk melaksanakan amanat Pasal 5 ayat
(3) PP No. 65 Tahun 2005 telah diterbitkan
Keputusan Menteri Dalam Negeri No.
100.05-76 Tahun 2007 tentang
Pembentukan Tim Konsultasi
Penyusunan Standar Pelayanan Minimal.
Petunjuk teknis penyusunan dan
penetapan SPM dimaksudkan untuk
memberikan acuan kepada
Menteri/Pimpinan Lembaga Pemerintah
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
633
 SURYANTO 
634
Non-Departemen (: kini Lembaga
Pemerintah Non Kementerian/LPNK),
dalam menyusun dan menetapkan SPM
sesuai tugas dan fungsinya agar
pedoman SPM yang disusun tersebut
dapat diterapkan Pemerintah Daerah
Provinsi dan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota. Sedangkan ruang
lingkup penyusunan dan penetapan SPM
oleh Menteri/LPND meliputi: a) jenis
pelayanan dasar yang berpedoman pada
SPM, b) indikator dan nilai SPM, c) batas
waktu pencapaian SPM, dan d)
pengorganisasian penyelenggaraan
SPM. Adapun untuk menyukseskan
penyusunan pedoman SPM tersebut
telah dibentuk tim konsultasi yang
diketuai oleh Menteri Dalam Negeri
(Pengarah) dan Dirjen Otda Kemendagri
(Penanggung Jawab).
Dalam konteks otonomi Aceh,
sebagaimana tertuang dalam UU No. 11
Tahun 2006 tentang Pemerintahan
Daerah Aceh Pasal 14 ayat (3) disebutkan
bahwa penyelenggaraan urusan
pemerintahan yang bersifat wajib
dilakukan dengan berpedoman pada
standar pelayanan minimal,
dilaksanakan secara bertahap, dan
ditetapkan oleh Pemerintah. Senada
dengan pemerintah daerah generik
lainnya, pelaksanaan amanat pasal ini
juga berpedoman pada PP No. 65 Tahun
2005 sebagai penjabaran UU No. 32
Tahun 2004.
Namun demikian, dalam otonomi
Aceh terdapat satu pengaturan yang
agak berbeda mengenai urusan wajib
lainnya:
“Urusan wajib lainnya yang
menjadi kewenangan Pemerintahan
Aceh merupakan pelaksanaan
keistimewaan Aceh yang antara lain
meliputi:
a. p e n y e l e n g g a r a a n k e h i d u p a n
beragama dalam bentuk pelaksanaan
syari'at Islam bagi pemeluknya di
Aceh dengan tetap menjaga
kerukunan hidup antar umat
beragama;
b. penyelenggaraan kehidupan adat
yang bersendikan agama Islam;
c. penyelenggaraan pendidikan yang
berkualitas serta menambah materi
muatan lokal sesuai dengan syari'at
Islam;
d. peran ulama dalam penetapan
kebijakan Aceh; dan
e. penyelenggaraan dan pengelolaan
ibadah haji sesuai dengan peraturan
perundang-undangan”(UU No. 11
Tahun 2006, Pasal 16 ayat 2).
Kondisi senada terdapat di Provinsi
DKI Jakarta, Provinsi DIY, Provinsi
Papua dan Provinsi Papua Barat sesuai
dengan “otsus” nya. Urusan (wajib)
seperti ini tidak terdapat pada
pemerintahan daerah lain yang bersifat
umum/generic berdasarkan UU No. 32
Tahun 2004.
SPM didefinisikan sebagai
ketentuan mengenai jenis dan mutu
pelayanan dasar yang
merupakan
urusan wajib daerah yang berhak
diperoleh setiap warga negara secara
minimal (PP No. 65 Tahun 2005, Pasal 1
ayat 6). Dalam pelaksanaannya, SPM
menganut beberapa prinsip, yakni:
a. SPM merupakan standar yang
dikenakan pada urusan wajib,
sedangkan untuk urusan lainnya
pemerintah daerah boleh menetapkan
standar sendiri sesuai dengan kondisi
daerah masing-masing.
b. SPM berlaku secara nasional, yang
berarti harus diberlakukan di seluruh
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 PENCAPAIAN TARGET STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM): APA YANG TERJADI ? 
daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota di
seluruh Indonesia.
c. SPM harus dapat menjamin akses
masyarakat terhadap pelayanan
tertentu yang harus disediakan oleh
pemerintah daerah dalam rangka
penyelenggaraan urusan wajibnya.
d. SPM bersifat dinamis dan perlu dikaji
ulang dan diperbaiki sesuai dengan
perubahan kebutuhan nasional dan
perkembangan kapasitas daerah
secara merata.
e. SPM ditetapkan pada tingkat minimal
yang diharapkan secara nasional
untuk pelayanan jenis tertentu. Yang
dianggap minimal dapat merupakan
rata-rata kondisi daerah-daerah,
merupakan konsensus nasional, dan
lain-lain.
f. S P M h a r u s m e n g a c u p a d a
perencanaan daerah, penganggaran
daerah, pengawasan, pelaporan, dan
merupakan salah satu alat untuk
menilai Laporan Keterangan
Pertanggungjawaban (LKPJ) Kepala
Daerah serta menilai kinerja
penyelenggaraan peemrintahan
daerah (LPPD).
Pencapaian tingkat kesejahteraan
masyarakat salah satunya akan sangat
tergantung pada tingkat pelayanan
publik yang disediakan oleh pemerintah
daerah, sebagai salah satu komponen
pemberi layanan di daerah. SPM sangat
diperlukan oleh pemerintah daerah dan
masyarakat sebagai konsumen
pelayanan itu sendiri. Bagi pemerintah
daerah suatu SPM dapat dijadikan
sebagai tolok ukur (benchmark) dalam
penentuan biaya yang diperlukan untuk
menyediakan pelayanan tertentu.
Sedangkan bagi masyarakat SPM akan
menjadi acuan dalam menilai kinerja
pelayanan publik, yakni kualitas dan
kuantitas suatu pelayanan publik yang
disediakan oleh pemerintah daerah.
Hingga saat ini terdapat 15 (lima
belas) kementerian terkait yang telah
mengeluarkan acuan SPM untuk
diterapkan ke seluruh daerah di
Indonesia. Kelimabelas SPM dimaksud
meliputi:
a. B i d a n g p e r u m a h a n r a k y a t
berdasarkan Peraturan Menteri
Perumahan Rakyat No. 22 Tahun 2008
tentang SPM Bidang Perumahan
Rakyat Daerah Provinsi dan daerah
Kabupaten/Kota;
b. Bidang pemerintahan dalam negeri
berdasarkan Peraturan Menteri
Dalam Negeri No. 62 Tahun 2008
tentang SPM Bidang Pemerintahan
Dalam Negeri di Kabupaten/Kota;
c. Bidang sosial berdasarkan Peraturan
Menteri Sosial Nomor 129 Tahun 2008
tentang SPM Bidang Sosial Daerah
P r o v i n s i d a n D a e r a h
Kabupaten/Kota;
d. Bidang kesehatan berdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan No. 741
tahun 2008 tentang SPM Bidang
Kesehatan di Kabupaten/Kota;
e. B i d a n g p e r e m p u a n d a n a n a k
berdasarkan Peraturan Menteri
Pemberdayaan Perempuan No. 1
Tahun 2009 tentang SPM Terpadu
Bagi Saksi dan/atau Korban Tindak
Pidana Perdagangan Orang dan
Penghapusan Ekploitasi Seksual pada
Anak dan Remaja di Kabupaten/Kota,
dan Peraturan Menteri Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak
No. 1 Tahun 2010 tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Layanan
Terpadu Bagi Perempuan dan Anak
Korban Kekerasan;
635
 SURYANTO 
f.
636
Bidang LH berdasarkan Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup No. 19
Tahun 2010 tentang SPM
Lingkungan Hidup Daerah Provinsi
dan Daerah Kabupaten/Kota;
g. Bidang KB dan KS berdasarkan
Peraturan Kepala BKKBN Nomor
55/HK-010/B5/2010 tentang SPM
Bidang Keluarga Berencana dan
Keluarga Sejahtera di
Kabupaten/Kota;
h. Bidang pendidikan berdasarkan
Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional No. 15 Tahun 2010 tentang
SPM Pendidikan Dasar di
Kabupaten/Kota;
I. Bidang ketenagakerjaan berdasarkan
Peraturan Menteri Ketenagakerjaan
dan Transmigrasi No. PER.
15/MEN/X/2010 tentang SPM
Bidang Ketenagakerjaan.
j. B i d a n g P U d a n T a t a R u a n g
berdasarkan Peraturan Menteri
P e k e r j a a n U m u m N o .
14/PRT/M1/2010 tentang SPM
Bidang Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang;
k. Bidang pertanian berdasarkan
Peraturan Menteri Pertanian No.
65/Permentan/OT.1401121/2010
tentang SPM Bidang Ketahanan
Pangan Provinsi dan Kabupaten/
Kota;
l. B i d a n g K e s e n i a n b e r d a s a r k a n
Peraturan Menteri Kebudayaan dan
Pariwisata No. PM. 106/HK.
501/MKP/2010 tentang SPM Bidang
Kesenian;
m. B i d a n g k o m i n f o b e r d a s a r k a n
Peraturan Menteri Komunikasi dan
lnformatika No. 22 Tahun 2010
tentang SPM Bidang Kominfo di
Kabupaten/Kota (Surat Edaran
Mendagri No. 100/676/SJ tertanggal 7
Maret 2011).
n. Bidang Perhubungan berdasarkan
Peraturan Menteri Perhubungan No.
PM. 81 Tahun 2011 tentang SPM
Bidang Perhubungan Daerah Provinsi
dan Kabupaten/Kota.
o. SPM Bidang Penanaman Modal
berdasarkan Peraturan Kepala BKPM
No. 14 Tahun 2011 tentang SPM
Bidang Penamanam Modal Provinsi
dan Kabupaten/ Kota.
C. TOPIK PEMBAHASAN
1) Memahami Terminologi SOP, SPP
dan SPM
Guna memahami konsep SPM,
terlebih dahulu harus dijelaskan
perbedaan istilah atau terminologi yang
merancukannya, yaitu standar operating
procedures (SOP), standar pelayanan
publik (SPP), dan standar pelayanan
minimal (SPM). Standard Operating
Procedures (SOP) adalah serangkaian
instruksi tertulis yang dibakukan
mengenai berbagai proses
penyelenggaraan administrasi
pemerintahan, bagaimana dan kapan
harus dilakukan, dimana dan oleh siapa
dilakukan.
Manfaat Standard Operating
Procedures dalam lingkup
penyelenggaraan administrasi
pemerintahan meliputi antara lain:
a. Sebagai standarisasi cara yang
dilakukan pegawai dalam
menyelesaikan pekerjaan yang
menjadi tugasnya.
b. Mengurangi tingkat kesalahan dan
kelalaian yang mungkin dilakukan
oleh seorang pegawai dalam
melaksanakan tugas.
c. M e n i n g k a t k a n e f i s i e n s i d a n
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 PENCAPAIAN TARGET STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM): APA YANG TERJADI ? 
efektivitas pelaksanaan tugas dan
tanggung jawab individual pegawai
dan organisasi secara keseluruhan.
d. Membantu pegawai menjadi lebih
mandiri dan tidak tergantung pada
intervensi manajemen, sehingga akan
mengurangi keterlibatan pimpinan
dalam pelaksanaan proses sehari-hari.
e. M e n i n g k a t k a n a k u n t a b i l i t a s
pelaksanaan tugas.
f. Menciptakan ukuran standar kinerja
yang akan memberikan pegawai cara
konkrit untuk memperbaiki kinerja
serta membantu mengevaluasi usaha
yang telah dilakukan.
g. Memastikan pelaksanaan tugas
penyelenggaraan pemerintahan dapat
berlangsung dalam berbagai situasi.
h. Menjamin konsistensi pelayanan
kepada masyarakat, baik dari sisi
mutu, waktu dan prosedur.
i. Memberikan informasi mengenai
kualifikasi kompetensi yang harus
dikuasai oleh pegawai dalam
melaksanakan tugasnya.
j. Memberikan informasi bagi upaya
peningkatan kompetensi pegawai.
k. Memberikan informasi mengenai
beban tugas yang dipikul oleh seorang
pegawai dalam melaksanakan
tugasnya.
l. Sebagai instrumen yang dapat
melindungi pegawai dari
kemungkinan tuntutan hukum karena
tuduhan melakukan penyimpangan.
m. M e n g h i n d a r i t u m p a n g t i n d i h
pelaksanaan tugas.
n. Membantu penelusuran terhadap
kesalahan-kesalahan prosedural
dalam memberikan pelayanan.
o. Membantu memberikan informasi
yang diperlukan dalam penyusunan
standar pelayanan, sehingga sekaligus
dapat memberikan informasi bagi
kinerja pelayanan.
Standar pelayanan publik (LAN,
2006) adalah suatu tolok ukur yang
dipergunakan untuk acuan penilaian
kualitas pelayanan sebagai komitmen
atau janji dari pihak penyedia pelayanan
kepada pelanggan untuk memberikan
pelayanan yang berkualitas. Setiap
pelayanan publik harus memiliki standar
pelayanan dan dipublikasikan sebagai
jaminan adanya kepastian bagi penerima
pelayanan. Standar pelayanan
merupakan ukuran yang dibakukan
dalam penyelenggaraan pelayanan
publik yang wajib ditaati oleh pemberi
dan atau penerima pelayanan.
Komponen standar pelayanan
sekurang-kurangnya meliputi
(Permenpan dan RB No. 36 Tahun 2012
tentang Petunjuk Teknis Penyusunan,
Penetapan, dan Penerapan Standar
Pelayanan ) :
a. Dasar Hukum, adalah peraturan
perundang-undangan yang menjadi
dasar penyelenggaraan pelayanan.
b. Persyaratan, adalah syarat (dokumen
atau hal lain) yang harus dipenuhi
dalam pengurusan suatu jenis
pelayanan, baik persyaratan teknis
maupun administratif.
c. Sistem, mekanisme dan prosedur,
adalah tata cara pelayanan yang
dibakukan bagi pemberi dan
penerima pelayanan , termasuk
pengaduan.
d. Jangka Waktu penyelesaian, adalah
jangka waktu yang diperlukan untuk
menyelesaikan seluruh proses
pelayanan dari setiap jenis pelayanan.
e. Biaya/tarif, adalah ongkos yang
dikenakan kepada penerima layanan
dalam mengurus dan/atau
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
637
 SURYANTO 
f.
g.
h.
I.
638
j.
k.
l.
m.
memperoleh pelayanan dari
penyelenggara yang besarnya
ditetapkan berdasarkan kesepakatan
antara penyelenggara dan pelayanan.
Produk pelayanan, adalah hasil
pelayanan yang diberikan dan
diterima sesuai dengan ketentuan
yang telah ditetapkan.
Sarana, prasarana dan /atau fasilitas,
adalah peralatan dan fasilitas yang
diperlukan dalam penyelenggaraan
pelayanan, termasuk pelayanan dan
fasilitas pelayanan bagi kelompok
rentan.
Kompetensi pelaksana, adalah
kemampuan yang harus dimiliki oleh
pelaksana meliputi pengetahuan,
keahlian, keterampil-an dan
pengalaman.
Pengawasan internal, adalah system
pengendalian intern dan pengawasan
langsung yang dilakukan oleh
pimpinan satuan kerja atau atasan
langsung pelaksana.
Penanganan pengaduan, saran, dan
masukan, adalah tata cara
pelaksanaan penanganan pengaduan
dan tindak lanjut.
Jumlah pelaksana, adalah tersedianya
pelaksana sesuai dengan beban kerja.
Informasi mengenai komposisi atau
jumlah petugas yang melaksanakan
tugas sesuai pembagian dan uraian
tugasnya.
Jaminan pelayanan, adalah
memberikan kepastian pelayanan
yang dilaksanakan sesuai dengan
Standar Pelayanan.
Jaminan keamanan dan keselamatan
pelayanan, adalah dalam bentuk
komitmen untuk memberikan rasa
aman, bebas dari bahaya, resiko, dan
keragu-raguan.
n. Evaluasi kinerja pelaksana, adalah
penilaian untuk mengetahui seberapa
jauh pelaksanaan kegiatan sesuai
dengan standar pelayanan.
Untuk dapat membedakan ketiga
terminologi di atas, akan diuraikan
beberapa deskripsi dan contoh sebagai
berikut. SOP berbicara mengenai
prosedur/mekanisme pelayanan, jadi
bagaimana tahapan-tahapan pelayanan
tersebut dilakukan. Sedangkan SPP
berbicara mengenai ukuran kualitas
pelayanan itu sendiri. Sebuah pelayanan
dikatakan “bagus/prima” misalnya
kalau pelayanan tersebut memenuhi
standar yang telah ditetapkan. Sebagai
contoh, pelayanan KTP standar
waktunya adalah 1 hari, apabila pelayan
publik dapat menyelesaikan pelayanan
tersebut dalam kurun waktu 1 hari maka
dikatakan telah sesuai standar, artinya
pelayanan yang diberikan telah sesuai
dengan standarnya.
Adapun istilah SPM berbicara
mengenai pelaksanaan urusan wajib
yakni urusan pemerintahan dalam
bentuk pelayanan dasar yang harus
dilaksanakan oleh pemerintah provinsi,
kabupaten dan kota, yang meliputi
urusan-urusan wajib seperti pendidikan,
kesehatan, pekerjaan umum dan tata
ruang, dan seterusnya.
2) Kerancuan Konsep dan Kendala
Implementasi SPM
Kebingungan (confuse) akan
pengertian berbagai istilah dalam
pelayanan publik tidak hanya terbatas
pada terminologi sebagaimana tersebut
di atas, namun sebenarnya juga terjadi
pada istilah SPM itu sendiri khususnya
oleh stakeholders di daerah. Hal ini yang
menyebabkan terminologi SPM belum
 PENCAPAIAN TARGET STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM): APA YANG TERJADI ? 
diterapkan di sebagian besar pemerintah
daerah. Persoalannya cukup jelas, yaitu
masih banyaknya aparat pemerintah
daerah khususnya aparat kabupaten dan
kota yang belum memahami kebijakan
SPM secara benar, sehingga timbul
anggapan bahwa kebijakan SPM bukan
merupakan kebijakan yang menjadi
prioritas (Pramusinto, dkk, 2013).
Tim UGM-BPP 3 Kemendagri
mengungkap banyaknya kendala yang
dihadapi pemerintah daerah dalam
melaksankan SPM. Pertama,
ketidakjelasan konsepsi tentang
pelayanan dasar. Kedua, bagi K/L, SPM
diperlakukan sebagai peluang untuk
memasukkan program sektoralnya agar
dapat menjadi program daerah. Idealnya:
SPM untuk menjamin terpenuhinya
kebutuhan pelayanan dasar yang
minimal yang harus dipenuhi oleh
pemerintah daerah, namun beberapa
kasus bergeser menjadi pencapaian
program sektoral melalui pemerintah
daerah. Ketiga, Keterbatasan sumbersumber daya (resources) dalam mencapai
target SPM yang ditetapkan oleh sektoral.
Terkait ketidakjelasan konsep SPM,
saat ini terdapat 15 SPM dengan 60
indikator pelayanan dasar yang harus
dilaksanakan oleh pemda dengan ukuran
pencapaian yang berbeda-beda. Ada
SPM yang menghendaki pencapaian
proses, output dan ada pula yang
outcome. Akibatnya, sebagian K/L
seperti Kementrian Pendidikan Nasional
merumuskan SPM bidang pendidikan
dengan cakupan yang sangat luas
3
meliputi, masukan, proses, dan hasil /
outcome. Kerancuan dalam penentuan
aspek yang diatur dalam SPM
berimplikasi terhadap penerapan SPM
oleh pemerintah daerah.
Bagi pemerintah daerah, terjadi
kebingungan apakah input dan proses,
apa output atau outcome yang ingin
dicapai? Apa ada jaminan mutu
pelayanan? Kalau output atau outcome,
bagaimana strategi untuk mencapainya?
Dengan sumber daya yang terbatas,
pemerintah daerah mengalami kesulitan
ketika mereka harus memenuhi indikator
SPM yang meliputi indikator masukan,
proses, dan hasil/outcome.
Selain persoalan konsepsi, menurut
Pramusinto, dkk (2013), kendala
penerapan SPM di daerah juga
ditunjukkan dalam implementasinya
terutama terkait dengan pembinaan dan
pengawasan. Kemendagri bertugas
melaksanakan binwas, namun karena
kedudukannya yang setara dengan
kementerian sektoral maka peran
tersebut tidak mampu dijalankan secara
optimal. Selain itu, tidak jelas pula apa
yang dimaksudkan dengan istilah
pembinaan umum dan pembinaan
teknis. Logikanya, pembinaan umum
bisa saja dilaksanakan oleh Kemendagri,
tetapi pembinaan teknis? Demikian pula
dengan monev pelaksanaan SPM,
apakah Kemendagri harus melakukan
monev sendiri ataukah cukup
mengandalkan hasil monev yang telah
dilakukan oleh kementerian teknis
terkait?
BPP Kemendagri = Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Dalam Negeri. Penelitian
dimaksud merupakan kerjasama UGM dengan BPP Kemendagri untuk mengkaji kendala-kendala
penerapan SPM di daerah.
4
Focal point (titik pumpun) adalah istilah yang lazim digunakan dalam bidang arsitektur. Contoh definisi
focal point adalah daerah tertentu di dalam ruangan yang pertama kali menarik perhatian mata. Focal
point biasanya berbentuk lukisan, back drop TV dan lain-lain. Kemendagri selain sebagai leading sector
juga disebut sebagai focal point, yaitu pihak yang dianggap mumpuni dalam mengorganisasikan
keberhasilan pelaksanaan kebijakan SPM.
639
 SURYANTO 
640
PP No. 65 Tahun 2005 pada Pasal 5
menyatakan bahwa penyusunan SPM
oleh masing-masing K/L dilakukan
melalui konsultasi yang dikoordinasikan
oleh Kementerian Dalam Negeri. Bahkan,
Tim Konsultasi juga dibentuk dengan SK
Menteri Dalam Negeri. Sebagai focal
point4, Kemendagri bertugas
memfasilitasi dan mengelola proses
konsultasi perumusan SPM.
Persoalannya adalah, fasilitasi dan proses
konsultasi tidak efektif. “Seringkali
pembahasan di DPOD kurang serius,
karena banyak K/L ketika merumuskan
SPM hanya sekedar untuk memenuhi
target kinerja dari UKP4”. DPOD juga
sering tidak memiliki informasi yang
memadai untuk bisa secara rinci
membahas usulan SPM karena
dukungan dari Tim Konsultasi kurang
optimal.
Selain itu, tidak adanya kajian yang
secara substantif me-review usulan draft
SPM dan menilai konsistensinya dengan
PP 65/ 2005 membuat SPM yang
diusulkan oleh masing-masing K/L
memiliki rumusan dan konsepsi yang
berbeda-beda. DPOD tidak didukung
oleh Tim Teknis yang mampu melakukan
analisis kebijakan terhadap setiap isu-isu
kebijakan yang diputuskan dalam
sidang-sidang DPOD. Para pakar yang
dilibatkan dalam keanggotaan DPOD
tidak memiliki kapasitas untuk member
pertimbangan berdasarkan analisis yang
memadai karena tidak adanya kajian
yang menyeluruh terhadap pilihan
kebijakan yang akan diambil dalam
sidang DPOD.
Persoalan implementasi SPM tidak
terkelola dengan baik, sudah dilakukan
tapi tidak disadari sebagai SPM, SPM
bukan sebagai dasar dan standar dalam
penyelenggaraan pelayanan, dan SPM
tidak dipedulikan di dalam
penyelenggaraan pelayanan publik.
Sosialisasi yang telah berjalan terlalu
teknis dan tidak menjangkau
p e r ma sa l a h a n se ca r a u t u h y a n g
menyangkut: a) bagaimana payung
hukumnya di daerah, b) bagaimana
integrasinya dalam perencanaan yang
sudah ada, c) bagaimana perhitungan
pembiayaan, dan
d) bagaimana
penilaian kinerja dalam penerapan SPM.
Terkait kendala penganggaran
(costing), beberapa kendala yang
dihadapi seperti tidak adanya tradisi
dalam men-design penganggaran yang
berbasis kinerja. keterbatasan anggaran
yang tersedia untuk penyelenggaraan
pelayanan, tidak adanya efisiensi dalam
penggunaan anggaran, dan lemahnya
efektivitas dan akuntabilitas penggunaan
DAK dan dana dekonsentrasi.
Selanjutnya, terkait koordinasi
pengelolaan SPM terganggu adanya
dualisme pengorganisasian, yaitu
Bagian/Biro Organisasi : asumsi bahwa
Bagian/Biro Organisasi merupakan
kepanjangan tangan Sekretaris Daerah
(Sekda) tidak memiliki kemampuan
teknis untuk mendukung perencanaan
dan implementasi SPM di daerah karena
PP No. 65/2005 tidak dilengkapi dengan
petunjuk teknis yang memadai dari
pemerintah pusat. Sebagai SKPD,
Bappeda yang memiliki kewenangan
dalam merencanakan dan mengawal
implementasi berbagai program
pembangunan. Bappeda akan lebih
mampu mengkoordinasikan
perencanaan dan penerapan SPM di
daerah.
Kedudukan Kemendagri sebagai
focal point dilemahkan oleh kenyataan
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 PENCAPAIAN TARGET STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM): APA YANG TERJADI ? 
bahwa K/L cenderung menggunakan
SKPD yang dapat menjadi kepanjangan
tangannya di daerah. Terbatasnya PNS
yang memiliki kapasitas yang dituntut
oleh SPM. Kapasitas daerah untuk
menyediakan berbagai infrastruktur
sangat terbatas. Alokasi DAK dalam
bidang pendidikan dan kesehatan
seringkali tidak sesuai dengan
kebutuhan dan problema yang dihadapi
daerah dalam pencapaian target
nasional.
3) Hal-hal Yang Perlu Diperbaiki
dalam Pencapaian Target SPM:
Kasus SPM Kesehatan
Di lingkungan Kementerian
Kesehatan sendiri, keberadaan dokumen
SPM bukanlah merupakan sesuatu yang
baru, karena sejak awal Kementerian
Kesehatan telah memperhatikan
pentingnya pelaksanaan urusan
pemerintahan yang menjadi tanggung
jawabnya. Hal ini ditunjukkan dengan
diterbitkannya Keputusan Menteri
Kesehatan No. 1457/MENKES/SK/
X/2003 tanggal 10 Oktober 2003 tentang
Standar Pelayanan Minimal Bidang
Kesehatan di Kabupaten/Kota. Menurut
kepmen tersebut terdapat 26 jenis
pelayanan dasar (47 indikator) dan 7 jenis
pelayanan sesuai dengan kebutuhan (7
indikator), sehingga total indikator yang
harus dilaksanakan sebanyak 54
indikator.
Pasca terbitnya PP No. 65 Tahun
2005, Kepmen No. 1457/MENKES/SK/
X/2003 dianggap tidak relevan lagi dan
kemudian diganti dengan Peraturan
Menteri Kesehatan No.
741/MENKES/PER/VII/2008 tanggal
29 Juli 2008 tentang SPM Bidang
Kesehatan di Kabupaten/Kota. Dalam
5
peraturan baru ini jumlah pelayanan
dasar yang menjadi kewajiban daerah
disederhanakan hanya menjadi 4 jenis
pelayanan dasar, yang dijabarkan
menjadi 22 indikator. Keempat jenis
pelayanan tersebut meliputi pelayanan
kesehatan dasar (18 Indikator),
pelayanan kesehatan rujukan (2
indikator), penyelidikan epidemiologi &
penanggulangan kejadian luar
biasa/KLB (1 Indikator), dan promosi
kesehatan & pemberdayaan masyarakat
(1 indikator). Artinya, dari sisi jenis
pelayanan dasar dan indikator
kinerjanya sudah lebih 'simpel'
dibandingkan peraturan terdahulu.
Namun demikian, layaknya
sebuah kebijakan selalu menimbulkan
pro dan kontra, senantiasa terdapat
manfaat dan mudharat serta disertai
sejumlah permasalahan yang
dihadapinya. Begitu pun implementasi
SPM bidang kesehatan, manfaat yang
dirasakan oleh seluruh lapisan
masyarakat di perkotaan maupun di
perdesaan sangat besar, akan tetapi
berbagai persoalan juga masih menyertai
dan memerlukan penyelesaian segera. Di
antara permasalahan yang dihadapi
dalam implementasi SPM bidang
kesehatan, meliputi:
(1) M a s i h t e r d a p a t p e r b e d a a n
pemahaman mengenai konsepsi dan
pengukuran SPM bidang kesehatan,
apakah SPM itu akan mengukur
input, proses, output ataukah
outcome. Meskipun persoalan ini
juga dihadapi oleh SPM bidang
lainnya, namun munculnya
kesadaran bahwa hal ini merupakan
masalah krusial dalam penerapan
SPM, kiranya sangat penting bagi
Kementerian Kesehatan guna
Focal point di kementerian sektoral/kementerian teknis masing-masing sesuai urusan pemerintahan.
641
 SURYANTO 
(2)
(3)
642
(4)
(5)
6
menyelesaikan persoalan tersebut
dalam mendukung pelaksanaan di
lapangan;
Belum ada/tidak adanya kejelasan
pola hubungan antara Kemenkes
dengan Kemendagri terkait
pembinaan dan pengawasan
(binwas) penerapan SPM bidang
kesehatan. Hal ini disebabkan tidak
adanya pembagian tugas yang jelas
antara Kementerian Kesehatan
sebagai focal point5 pelaksanaan SPM
sekaligus sebagai pihak yang
melakukan binwas secara sektoral;
Belum dilakukan pengarus-utamaan
(mainstreaming) yang serius dalam
penerapan SPM bidang kesehatan
dalam bentuk sosialisasi kepada
seluruh pemangku kepentingan
(stakeholders) baik Pemerintah,
pemerintah daerah, swasta, dan
NGO.
Tidak adanya insentif dan disinsentif
atau reward and punishment bagi
daerah yang berhasil atau gagal
dalam melaksanakan SPM bidang
kesehatan;
Minimnya SDM yang berkualitas
(dokter, bidan, perawat, dan petugas
paramedis) sehingga menghambat
implementasi program dan kegiatan
SPM bidang kesehatan;
(6) Keterbatasan anggaran untuk
membiayai jenis pelayanan dasar
dan indikator kinerja pelayanan
dasar yang sangat banyak (artinya
penyederhanaan dari 54 indikator
menjadi 22 indikator pun masih
dinilai tidak realistis karena
dianggap terlalu banyak).
(7) Cakupan pelayanan dasar bidang
kesehatan tidak dapat dicapai secara
seragam di tiap daerah karena
perbedaan sumber daya (resources)
yang dimilikinya.
Penerapan SPM bidang kesehatan,
sebagaimana dijelaskan pada bagian
terdahulu, telah dilaksanakan jauh hari
sebelum diterbitkan PP No. 65 Tahun
2005, artinya Kementerian Kesehatan
telah cukup memiliki komitmen untuk
menjalankan amanat peraturan
perundang-undangan. Seiring dengan
perubahan kebijakan dan tuntutan
lingkungan strategis, maka pemenuhan
terhadap SPM kesehatan pun mengalami
perubahan. Oleh karena itu, berdasarkan
Permenkes No. 741/MENKES/PER/
VII/2008, Kementerian Kesehatan telah
memberikan guidance pelaksanaan SPM
di pemerintah kabupaten dan kota.
Target dan capaian kinerja SPM
Bidang Kesehatan secara nasional sampai
tahun 20126 sebagaimana terlihat pada
tabel berikut.
Untuk data capaian SPM Bidang Kesehatan Tahun 2013 belum dapat disajikan dalam tulisan ini karena
menurut informasi yang penulis peroleh dari narasumber (Bpk. KRT dr. Bambang Sardjono, MPH-Staf
Ahli Kemenkes dan Ibu Ira, staf Bpk. Bambang Sardjono) bahwa data tersebut masih diinput oleh biro
yang menangani SPM yakni Biro Hukum dan Organisasi Setjen Kemenkes RI.
 PENCAPAIAN TARGET STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM): APA YANG TERJADI ? 
643
Sumber: Permenkes No. 741/MENKES/PER/VII/2008 dan Paparan Kemenkes di FGD PKKOD-LAN
tanggal 16 Juli 2013.
Berdasarkan tabel di atas dapat
dijelaskan bahwa capaian kinerja SPM
bidang kesehatan menunjukkan kondisi
yang bervariasi, artinya terdapat
indikator pelayanan dasar yang telah
tercapai 100%, seperti indikator cakupan
peserta KB aktif (target 70%, realisasi
76,83%), dan Acute Flacid Paralysis (AFP)
rate per 100.000 penduduk <15 tahun
(target ≥2/100.000 penduduk, realisasi
5.2/100.000 penduduk). Sementara itu,
terdapat sejumlah indikator yang hampir
mencapai target, meliputi indikator
cakupan kunjungan ibu hamil K4 (target
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 SURYANTO 
644
90%, realisasi 85,03%), cakupan
persalinan oleh tenaga kesehatan yang
memiliki kompetensi kebidanan (target
90%, realisasi 87,38%), cakupan
pelayanan nifas (target 90%, realisasi
85,74%), cakupan kunjungan bayi (target
90%, realisasi 85,49%), cakupan
desa/kelurahan UCI (target 100%,
realisasi 89,51%), cakupan penjaringan
kesehatan siswa SD dan setingkat (target
100%, realisasi 83, 19%), dan desa siaga
aktif (target 80%, realisasi 79,09%).
Namun demikian, masih terdapat
beberapa indikator pelayanan dasar yang
jauh dari target seperti cakupan gizi
buruk mendapat perawatan (target 100%,
realisasi 5,12%), persentase penderita
DBD yang ditangani (target 100%,
realisasi 2,96%), cakupan pelayanan
kesehatan rujukan masyarakat miskin
(target 100%, realisasi 7,65%).
Sebagaimana disampaikan para
narasumber dalam FGD di LAN7, dari ke22 indikator tersebut di atas pada
dasarnya telah dilaksanakan dengan
cukup baik, dan bahkan beberapa
indikator tersebut telah mencapai target
yang ditetapkan.
D. KESIMPULAN DAN
REKOMENDASI
1) Kesimpulan
Carut-marut implementasi
kebijakan standar pelayanan minimal
(SPM), bukan semata-mata persoalan
“pelaksanaan” belaka namun terkait pula
dengan masalah “konsepsi” SPM itu
sendiri. Artinya, istilah SPM belum
dipahami sebagaimana mestinya sesuai
amanat peraturan perundangannya.
Menurut PP No. 65 Tahun 2005 SPM
diartikan sebagai ketentuan tentang jenis
dan mutu pelayanan dasar yang
merupakan urusan wajib daerah yang
berhak diperoleh setiap warga secara
minimal. Di lapangan, istilah SPM
terkadang dirancukan dengan istilah
standard operating procedures (SOP) dan
standar pelayanan publik (SPP). Tidak
hanya itu, istilah SPM terkadang pula
disalah artikan dengan “Surat Perintah
Membayar” yaitu sebuah terminologi
yang biasa digunakan dalam konteks
pengelolaan keuangan.
Kerancuan istilah tersebut
menyebabkan kebingungan (confuse)
pemerintah daerah dalam menyusun dan
menetapkan target capaian SPM. Di satu
pihak terdapat pemerintah daerah yang
menetapkan capaian SPM pada level
input dan proses, ada pula yang
menetapkan capaian SPM pada level
output dan bahkan outcome.
Kebingungan ini berimplikasi pada pada
sikap pemerintah daerah yang
memandang kebijakan pencapaian target
SPM sebagai kebijakan yang TIDAK
prioritas.
Khusus dalam implementasi SPM
bidang kesehatan, pada dasarnya
capaian target SPM terlihat cukup baik.
Dari 22 indikator pelayanan kesehatan
dasar hanya sebagian kecil yang masih
sangat jauh dari target (< 10%), di
antaranya pelayanan cakupan gizi buruk
mendapat perawatan (target 100%,
realisasi 5,12%), persentase penderita
DBD yang ditangani (target 100%,
realisasi 2,96%), dan cakupan pelayanan
kesehatan rujukan masyarakat miskin
(target 100%, realisasi 7,65%). Untuk
persentase penemuan pasien baru TB
7
Paparan Staf Ahli Menteri Kesehatan, KRT dr. Bambang Sardjono, MPH di dalam FGD LAN dengan
tema “Kebijakan SPM: Perkembangan, Hambatan, dan Tantangan Ke Depan”, tanggal 16 Juli 2013.
 PENCAPAIAN TARGET STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM): APA YANG TERJADI ? 
BTA Positif Case Detection Rate (CDR)
sebesar 10,44%. Beberapa capaian yang di
bawah 50% antara lain: Cakupan
neonatus dengan komplikasi yg
ditangani sebesar 27, 11%, Cakupan
pemberian makanan pendamping ASI
anak usia 6-24 bulan Gakin sebesar
26,75%, Persentase balita dengan
pneumonia yang ditangani sebesar
20,76%, Persentase penderita diare yang
ditangani sebesar 43,90%, dan cakupan
pelayanan gawat darurat level 1 yang
harus diberikan sarana kesehatan (RS) di
Kabupaten/Kota sebesar 46,14%.
Adapun untuk jenis pelayanan kesehatan
dasar lainnya telah mencapai target di
atas 50%, bahkan ada yang mencapai
target 100%.
2) Rekomendasi
Rekomendasi penulis terkait
pencapaian target SPM dibagi menjadi
dua bagian yakni rekomendasi umum
dan rekomendasi khusus terkait SPM
bidang kesehatan:
a. Umum
1) Perlunya internalisasi istilah SPM
agar tidak rancu dengan istilah
SOP, SPP, dan istilah lainnya di
bidang pelayanan publik. Istilah
SPM harus senantiasa
dikomunikasikan dan
diinternalisasikan oleh segenap
stakeholders. Untuk hal ini,
Kemendagri sebagai focal point
(titik pumpun) bersama dengan
kementerian sektoral atau
kementerian teknis terkait (dalam
hal ini Kementerian Kesehatan)
serta tim monitoring yang
dibentuk oleh Kemendagri dapat
dan harus bekerja keras untuk
melaksanakannya;
2) K e r a n c u a n k o n s e p d a n
implementasi SPM hendaknya
menjadi perhatian terutama bagi
kementerian teknis yang
menerbitkan kebijakan SPM itu
sendiri dalam upaya
menindaklanjuti PP Nomor 65
T a h u n
2 0 0 5 .
Kementerian/Lembaga tidak
dapat bekerja sendirian, oleh
karena itu dalam pelaksanannya
dapat melibatkan berbagai
stakeholders terkait.
3) Hal-hal yang perlu diperbaiki
dalam rangka pencapaian target
SPM nasional perlu terus
diupayakan dan dilaksanakan.
Perbaikan dimaksud dapat saja
dilaksanakan pada lingkup
kerangka regulasinya (PP,
peraturan menteri, petunjuk
pelaksanaan, petunjuk teknis
yang relevan), kerangka
implementasi, dan kerangka
monev-nya. Terkait contoh
capaian target bidang kesehatan
di atas sebenarnya sudah baik
dibandingkan capaian SPM
bidang lainnya. Namun,
perbaikan dan peningkatan
implementasi SPM memerlukan
dukungan sumber daya
(resources) lainnya yang meliputi
kecukupan dana dan SDM.
b. Khusus
Terkait implementasi SPM bidang
kesehatan di kabupaten/kota, beberapa
saran/rekomendasi yang perlu
dilakukan meliputi:
1) Perlunya sosialisasi SPM bidang
kesehatan ke segenap stakeholders.
Hal ini untuk mengurangi
terjadinya kesalahpahaman
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
645
 SURYANTO 
646
dalam menjalankan kebijakan yang telah
ditetapkan oleh Pemerintah, dalam hal
ini pedoman yang telah dikeluarkan oleh
kementerian teknisnya. Sebagai contoh,
sebuah daerah mengklaim telah
menyusun dokumen strategi pencapaian
SPM, namun setelah diteliti ternyata
yang disusun bukan dokumen SPM, akan
tetapi yang disusun adalah SOP atau
dokumen SPP (standar pelayanan
publik).
2) Perlunya pemahaman konsep
dan pengukuran SPM bidang
kesehatan sehingga akan
terbangun suatu kesepahaman di
antara berbagai pemangku
kepentingan dalam mencapai
target kinerja yang ditetapkan.
Disamping itu, perlu perumusan
ulang mengenai jenis pelayanan
dan indikatornya serta targettarget capaian yang rasional.
3) Perlunya peningkatan jumlah
dan kualitas SDM aparatur dalam
pencapaian SPM bidang
kesehatan, menyangkut dokter,
perawat, bidang, mantri, dan
tenaga paramedis lainnya. Tidak
hanya penambahan, hal yang juga
penting dalam hal penataan SDM
kesehatan adalah pendistribusian
SDM ke berbagai wilayah yang
membutuhkan. Pada praktik di
lapangan, banyak tenaga
kesehatan yang tidak bersedia
ditempatkan di daerah
terpencil/perdesaan.
4) Perlunya peningkatan alokasi
anggaran bagi pelaksanaan SPM
bidang kesehatan. Menurut UU
No. 36 Tahun 2009 tentang
8
Kesehatan, anggaran kesehatan
provinsi, kabupaten dan kota
dialokasikan minimal 10% dari
APBD di luar gaji 8 . Alokasi
pembiayaan adalah salah satu
faktor penting yang menentukan
keberhasilan suatu kebijakan.
Selama ini sebagian besar
peraturan SPM yang diatur oleh
K/L belum disertai dengan
pembiayaannya. Sebaiknya setiap
K/L yang membuat peraturan
SPM juga menyertakan petunjuk
teknis yang mengatur tentang
pembiayaan dan sumber
pembiayaan SPM-nya.
5) Perlunya memasukkan SPM ke
dalam dokumen perencanaan
secara terintegrasi. Di dalam
target RPJMD terdapat indikator
SPM namun tidak ditemukan
dalam program. Akibatnya SPM
kesehatan sering dianggap
sebagai “benda asing” yang
mengganggu proses
perencanaan. Memang dalam hal
ini terdapat 4 tipikal kesulitan
memasukkan SPM dalam
dokumen perencanaan meliputi :
1) Dalam target RPJMD
ditemukan indikator SPM namun
tidak ada program, 2) Indikator
kinerja dalam bentuk persentase
belum ditemukan tapi sudah ada
programnya dalam RPJMD, 3)
Target dalam RPJMD sudah
termuat dan sudah ada
programnya, dan 4) Tidak
ditemukan dalam target RPJMD
dan tidak memiliki program.
6) Perlunya kegiatan pembinaan
Untuk besaran anggaran kesehatan Pemerintah dialokasikan minimal 5% dari APBN di luar gaji
(Pasal 171 ayat 1).
 PENCAPAIAN TARGET STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM): APA YANG TERJADI ? 
dan pengawasan (binwas) secara
intensif. Dalam kaitan ini,
kementerian teknis bertugas
mengawal penerapan SPM
kesehatan di daerah sehingga
sesuai dengan NSPK (norma,
standar, prosedur dan kriteria)
yang telah ditetapkan
sebelumnya oleh Kementerian
Kesehatan. Selanjutnya,
Kementerian Kesehatan bersamasama Kementerian Dalam Negeri
(Kemendagri) melakukan binwas
secara berkelanjutan.
7) P e r l u n y a m o n i t o r i n g d a n
evaluasi terhadap penerapan
SPM di lingkup pemerintah
daerah provinsi dan
kabupaten/kota. Monitoring
ditujukan untuk mendiagnosis
penyebab-penyebab belum
tercapainya target SPM
sebagaimana yang diharapkan.
Sedangkan evaluasi ditujukan
untuk menilai jenis pelayanan
dasar dan indikator-indikator
yang pencapaiannya masih
sangat rendah, padahal telah
melampaui target waktu yang
ditetapkan. Monitoring dan
evaluasi dilakukan oleh
Kementerian Kesehatan sebagai
focal point bidang kesehatan dan
Kementerian Dalam Negeri
sebagai leading sector pelaksanaan
SPM.
8) Perlunya memberikan reward and
punishment bagi pemerintah
daerah. Penghargaan atau reward
diberikan kepada pemerintah
daerah atau SKPD yang mampu
mencapai target-target SPM
dengan baik dan berupaya untuk
mewujudkannya semaksimal
mungkin. Sedangkan hukuman
atau punishment diberikan
kepada peemrintah daerah atau
SKPD yang cenderung
mengabaikan pencapaian SPM
tersebut serta tidak ada upaya
konkret untuk mewujudkannya.
9) P e r l u n y a p e n i n g k a t a n
kompetensi pegawai yang
menangani SPM bidang
kesehatan di daerah. Biasanya,
pencapaian target SPM bidang
kesehatan tidak hanya menjadi
domain dinas kesehatan tetapi
juga dilaksanakan oleh rumah
sakit dan puskesmas di lingkup
provinsi, kabupaten atau kota,
sehingga seluruh komponen
SDM pengelola SPM tersebut
perlu memperoleh up-grading
pengetahuan dan keterampilan,
baik berkonsultasi dengan
Kementerian Dalam Negeri
maupun dengan Lembaga
Administrasi Negara (di
lingkungan Pemerintah Provinsi
Aceh, telah dibentuk PKP2A IV
Aceh sehingga pemda di Aceh
dapat melakukan konsultasi
tentang implementasi SPM
tersebut).
KEPUSTAKAAN
Dwiyanto, Agus. (2011). Mengembalikan
Kepercayaan Publik Melalui Reformasi
Birokrasi. (Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama).
Krina, Loina Lalono. (2003). Indikator dan
Alat Ukur, Prinsip Akuntabilitas,
Transparansi, dan Partisipasi,
Sekretariat Good Publik
Governance, Bapennas.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
647
 SURYANTO 
648
Kuncoro, Wahyu. (2006). Studi Evaluasi
Pelayanan Publik dan Kualitas
Pelayanan Publik di RS Dr. Soetomo
(Tesis Program Studi Magister Ilmu
Politik-Undip).
Nurcholis, Hanif. (2005). Teori dan Praktik
Pemerintahan dan Otonomi Daerah.
(Jakarta: PT Gramedia
Mediasarana Indonesia
(GRASINDO)).
Pramusinto, Agus dan Tim BPPKemendagri. (2013). Penerapan
Standar Pelayanan Minimum (SPM):
Kerancuan Konsep dan Kendala
Implementasinya. Disampaikan
pada FGD di PKKOD LAN tanggal
16 Juli 2013.
Sardjono, Bambang. (2013). SPM Bidang
Kesehatan di Kabupaten dan Kota
“Bahan Paparan FGD LAN tentang
Kebijakan SPM: Perkembangan,
Hambatan dan Tantangan Ke
Depan”. Disampaikan pada FGD di
PKKOD LAN tanggal 16 Juli 2013.
Sugandi, Yogi Suprayogi. (2011).
Administrasi Publik: Konsep dan
Perkembanagan Ilmu di Indonesia
(Yogyakarta: Graha Ilmu).
Sutopo dan Adi Suryanto (1999).
Pelayanan Prima-Modul Diklatpim
Tingkat IV, Jakarta: LAN.
Warsono, Hardi. (2012). Peningkatan
Kualitas Pelayanan Publik (Konsep,
Indikator-Indikator Serta Model
Pengukurannya), Disampaikan
pada Diskusi Terbatas Kajian
Penyusunan Indikator
Pembangunan Bidang Aparatur,
Semarang, 20 September 2012.
Wasistiono, Sadu. (2010). Good
Governance: Pemerintahan Yang Baik.
Pusat Kajian Kinerja Otonomi Daerah
Lembaga Administrasi Negara
(PKKODLAN). 2008. Manajemen
Pemerintahan Daerah, (Jakarta: LAN
RI).
Pusat Kajian Kinerja Otonomi Daerah
Lembaga Administrasi Negara
(PKKODLAN). 2003. Kajian
Penyusunan Indikator Pembangunan
Aparatur, (Jakarta: LAN RI).
Pusat Kajian Kinerja Otonomi Daerah
Lembaga Administrasi Negara
(PKKODLAN). 2013. Penyusunan
Strategi Pencapaian Target SPM di
Kabupaten Samosir. (Jakarta: LAN
RI).
Pusat Kajian Manajemen KebiakanLembaga Administrasi Negara
(PKMKLAN), 2006, Strategi
Peningkatan Kualitas Pelayanan
Publik. (Jakarta: LANRI).
Tangkilisan, Hessel Nogi S. (2003).
Kebijakan Publik yang Membumi.
Yogyakarta:Yayasan Pembaruan
Administrasi Publik Indonesia
(YPAPI) dan Lukman Offset.
UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah
UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh
UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan
PP No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman
Penyusunan dan Penerapan
Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Keputusan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara
/25/M.Pan/2/2004 tentang
Pedoman Umum Penyusunan
Indeks Kepuasan Masyarakat Unit
Pelayanan Instansi Pemerintah
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
IMPLIKASI
UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA
TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA
APARATUR 1
IMPLICATIONS OF CIVIL LAW APPARATUS FOR IMPROVING THE
QUALITY OF STATE RESOURCES APPARATUS
HAYAT
Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Islam Malang
Jl. MT. Haryono 193 Malang, 65144
Email: [email protected]
ABSTRACT
Law civilian state apparatus (ASN) is a concrete form of government in creating quality
bureaucracy governing implicit government order professionally and comprehensively to
improve the quality of public services. Professionalism in the Law ASN refers to the quality of
human resources that are reliable and competent in the performance and responsibilities as civil
servants. The quality of human resources, to this day remains a serious problem in the
bureaucratization in Indonesia, namely the lack of competency, performance on the apparatus is
not balanced between performance and responsibility, as well as proporsionallitas where
employees are still experiencing overload, and on the other hand are experiencing shortages very
significant. So the impact on the quality of public services provided to the public. Public services
are the basic needs of people in the livers of nation and state. Therefore, to overcome the low
quality and competency of personnel resources can be performed as set out in the Act ASN,
namely improving the quality of education, training, character development, and application of
ethical standards and moral responsibility in the implementation of the ASN in the
bureaucracy. Quality of service is met, if the State apparatus has the competence and
professional performance and accountability. Sure, it takes a comprehensive collaboration
between stakeholders in the implementation of the reform of the bureaucracy, as the orientation
of good governance for the benefit and welfare of the people. Law Implications of ASN in the
development and peningkatakan quality of human resources is the creation of the quality of
human resources that are reliable, professional, accountable, and competitive. Resource quality
can impact on improving public services. So that people can feel the service that is in line with
expectations, the service good, fair, dignity, equal, and cheap and easy.
Keywords: civil law state apparatus, quality improvement personnel, civilian state apparatus,
bureaucratic reform, public service
1
Naskah Diterima 13 April 2014. Direvisi 2 Juni 2014
649
 HAYAT 
650
ABSTRAK
Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan bentuk konkrit
pemerintah dalam menciptakan kualitas birokrasi secara implisit yang mengatur
tatanan pemerintahan secara professional dan komprehensip untuk meningkatkan
kualitas pelayanan publik. Profesionalitas dalam UU ASN mengacu kepada kualitas
sumber daya manusia aparatur yang handal dan kompeten di dalam kinerja dan
tanggung jawabnya sebagai abdi negara. Kualitas sumber daya manusia aparatur,
sampai hari ini masih menjadi permasalahan yang serius dalam birokratisasi di
Indonesia, yaitu rendahnya kompetensi yang dimiliki, performance aparatur yang
tidak seimbang antara kinerja dan tanggung jawab, serta proporsionallitas
keberadaan pegawai masih mengalami overload, dan disisi lain mengalami
kekurangan yang sangat signifikan. Sehingga berdampak terhadap kualitas
pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat. Pelayanan publik adalah
kebutuhan dasar masyarakat di dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh
karena itu, untuk mengatasi rendahnya kualitas dan kompetensi sumber daya
aparatur dapat dilakukan seperti yang tertuang di dalam UU ASN, yaitu peningkatan
kualitas pendidikan, pelatihan, pembinaan karakter, dan penerapan standar etika dan
moral ASN dalam pelaksanaan tanggungjawab dalam birokrasi. Kualitas pelayanan
terpenuhi, jika aparatur Negara mempunyai kompetensi dan profesional serta
akuntabilitas kinerja. Tentu, dibutuhkan kerjasama yang komprehensif antar
stakeholder dalam pelaksanaan reformasi birokrasi, sebagai orientasi dari tatanan
pemerintahan yang baik untuk kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat. Implikasi dari
UU ASN di dalam pengembangan dan peningkatakan kualitas sumber daya manusia
aparatur adalah terciptanya kualitas sumber daya manusia aparatur yang handal,
professional, akuntabel, dan kompetitif. Kualitas sumber daya dapat berdampak
terhadap peningkatan pelayanan publik. Sehingga masyarakat dapat merasakan
pelayanan yang sesuai dengan harapan, yaitu pelayanan yang baik, adil, wibawa,
setara, dan murah serta mudah.
Kata kunci: undang-undang aparatur sipil negara, peningkatan kualitas aparatur,
aparatur sipil negara, reformasi birokrasi, pelayanan publik.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
enurut Bappenas (2004) dalam
penelitian Pusat Kajian Kinerja
Otonomi Daerah LAN
(2012:22) mengungkapkan bahwa citra
birokrasi Indonesia masih perlu
ditingkatkan. Kondisi birokrasi sejak
orde baru masih kental dalam kultur
aparatur negara hingga saat ini, budaya
M
korupsi, kolusi dan nepotisme hingga
saat ini masih sering dilakukan oleh
aparatur negara, begitu juga dengan
rendahnya pelayanan publik yang
diberikan kepada masyarakat belum
menunjukkan perbaikan yang signifikan,
sehingga masyarakat enggan berurusan
dengan birokrasi. Pun demikian
penyalahgunaan wewenang masih
sering terjadi, rendahnya profesionalitas
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 IMPLIKASI UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA
TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA APARATUR 
aparatur juga menjadi bagian yang
menjadi permasalahan dalam
birokratisasi di Indonesia.
Lebih lanjut, Kajian Pusat Studi
Kependudukan UGM (2002), dalam
Penelitian Pusat Kajian Otonomi Daerah
LAN (2012:23) mengungkapkan bahwa,
faktor yang menimbulkan rendahnya
kualitas pelayanan publik adalah: (1)
ketidakpastian waktu, biaya dan cara
pelayanan; (2) diskriminasi2 ; (3) rantai
birokrasi yang panjang; (4) orientasi
kepentingan; (5) budaya kekuasaan; (6)
adanya distrust; (8) tidak adanya
distribusi kewenangan.
Menurut Hayat (2013:25), bahwa
konsep the right man on the right place di
dalam penempatan PNS masih menjadi
kendala dalam proses pemberian
pelayanan publik. Faktor utamanya
adalah kompetensi yang dimiliki oleh
pegawai tidak sesuai dengan kompetensi
yang dimilikinya. Kompetensi PNS di
dalam kerangka tugas dan tanggung
jawabnya tidak sesuai dengan skill dan
pendidikan yang dimilikinya. Sehingga
berimplikasi terhadap pelayanan yang
diberikan kepada masyarakat. Kondisi
ini, menurut Akbar (2012: 39), diperparah
oleh adanya gesekan kinerja birokrasi
dari level elit hingga street level birocracy.
Pun demikian, ditambah dengan
problematika relasi struktural yang
tumpang tindih yang bersifat konfliktual.
Oleh karena itu, perbaikan dan
peningkatan kualitas PNS harus
ditingkatkan. Pemerintah melalui UU
ASN memberikan konsepsi realistis
tentang perbaikan terhadap sumber daya
aparatur di dalam pelayanan publik.
Menurut Sudarsa (20/12/2013), bahwa
keberadaan UU ASN memperjelas posisi
ASN yang bersifat given, netral,
professional, dan berorientasi kepada
pelayanan publik. Jaminan negara atas
ASN merupakan perlindungan terhadap
intervensi politik atasannya, begitu pula
atas manajemen yang dibangun di dalam
UU ASN yang menerapkan sistem merit
(sistem berdasarkan kompetensi).
Artinya bahwa, setiap ASN mempunyai
kemampuan dan skill yang sesuai dengan
fungsi dan tugasnya. ASN adalah jabatan
professional yang dilakukan melalui
persaingan dalam kompetensi, sehingga
secara otomatis proporsionalitas ASN
bersinergi dengan profesionalitas yang
menjadi tanggung jawab dan tugas dari
ASN itu dan berdampak terhadap kinerja
pelayaan publik yang diberikan kepada
masyarakat secara baik, adil, mudah, dan
berwibawa. http://www.kangagun.com
/konten/317/uu-asn-demi-birokrasiterhormat-dan-pemerintahan-efektif.
Diakses tanggal 04 Juni 2014.
Pelayanan publik sebagai indikator
utama dalam kerangaka menciptakan
pemerintahan yang baik harus sinergi
dengan kualitas sumber daya manusia di
dalamnya. Kualitas sumber daya
manusia yang baik dapat menciptakan
kualitas pelayanan kepada masyarakat
sebagai penerima layanan sesuai dengan
yang diharapkan. Menurut United
Nations Development Programe (UNDP)
(1997) dan Serdamayanti (2004:5), dalam
Ahmadi (2013:4), menjelaskan bahwa,
beberapa prinsip dan karakteristik
2
Diskriminasi yang dimaksud adalah adanya perlakuan yang tidak sama dalam proses pelayanan publik.
Aparatur lebih mementingkan pertemenan, persaudaraan, afiliasi politik, agama dan etnis. Diskriminasi
terhadap proses pelayanan yang dibedakan terhadap pelayanan secara umum, sehingga berdampak
kepada kualitas pelayanan publik dengan yang diterimanya, yaitu ketidakadilan dan ketidaksetaraan.
651
 HAYAT 
652
pemerintahan yang baik dalam kerangka
pelayanan publik adalah: (1) partisipasi3;
(2) rule of law4; (3) transparansi5; (4)
responsiveness6; (5) berorientasi consensus7;
(6) equity8; (7) efektifitas dan efisiensi9; (8)
akuntabilitas10; dan (9) visi strategis11.
Pertumbuhan jumlah PNS semakin
meningkat dalam 10 tahun terakhir.
Badan Kepegawaian Negara (BKN)
mencatat tahun 2003 jumlah keseluruhan
PNS 3.648.005 orang Terdiri dari PNS
wanita 1.475.720 orang dan pria 2.172.285
orang. Pada tahun 2004 jumlah PNS
berkurang karena faktor pensiun menjadi
3.587.337 orang. Tahun 2005, jumlah PNS
meningkat menjadi 3.662.336, sebesar
2,09% dengan komposisi pria masih
mendominasi sebanyak 2.131.674 orang.
Pada tahun 2006 naik sebanyak 3.725.231
atau 1,72%. Kemudian pada tahun 2007
bertambah menjadi 4.067.201 orang atau
naik sebesar 9,18%. Pada tahun 2008,
jumlah PNS semakin meningkat menjadi
4.083.360 orang atau naik sebesar 0,4%.
Sedangkan pada tahun 2009 jumlah PNS
semakin meningkat yaitu dengan
3
kenaikan 10,8% atau mencapai 4.524.205
orang. Tahun 2010, jumlah PNS sebanyak
4.598.100 orang. Sesuai dengan
komposisi jabatan dan jenis kelamin yang
ditandai oleh perempuan sebanyak
2.137.817 (46%) dan jumlah PNS laki-laki
sebanyak 2.460.283 orang (54%). Dari sisi
jabatan, PNS dengan jabatan teknis
sebanyak 2.279.423 orang, jabatan
fungsional sebanyak 2.099.648 orang, dan
jabatan struktural sebanyak 219.029
orang, sedangkan tahun 2011 jumlah PNS
menyusut menjadi 4.570.818 orang. Di
tahun 2012 jumlah PNS semakin
berkurang karena adanya moratorium
penerimaan PNS secara nasional, yaitu
menjadi 4.467.982 orang, atau berkurang
5,1% dari tahun 2011 dengan asumsi PNS
laki-laki sebanyak 2.332.549 orang
(52,21%), sedangkan PNS wanita
sebanyak 2.135.433 orang (47,79%).
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.p
hp?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subye
k=101&notab=3 Diaskses tanggal 03 Juni
2014.
Partisipasi adalah bahwa warga negara mempunyai hak yang sama di dalam proses pengambilan
keputusan negara, secara langsung ataupun tidak (melalui perwakilan pemerintah) sesuai dengan
kebutuhan dan harapan yang diinginkan. Setiap masyarakat mempunyai kewajiban pula berpartisipasi
dalam kebijakan negara, baik politik, sosial, ekonomi, budaya, dan pembangunan bangsa yang lebih
baik.
4
Peraturan perundang-undangan sebagai prinsip ketaatan di dalam berbangsa dan bernegara, baik
sebagai penyelenggara negara maupun masyarakat sebagai obyek dan subyek dari rule of law. Prinsip
keadilan dan kebaikan dalam mematuhi aturan hukum tentunya menjadi kewajiban bersama untuk
mendorong pemerintahan yang baik dan berwibawa.
5
Transparansi menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan. Masyarakat mempunyai
hak untuk mengetahui informasi publik secara benar dan baik. Sehingga diharapkan, dengan adanya
transparansi dapat berimplikasi terhadap peningkatan kualitas pemerintahan yang lebih baik.
6
Pelayanan publik harus mempunyai responsive yang baik dalam menanggapi berbagai kebutuhan
masyarakat dalam penerimaan pelayanan dan diarahkan kepada pihak yang mempunyai kepentingan
yaitu stakeholders.
7
Pemerintahan harus menjadi garis tengah bagi pihak yang berkepentingan dan berbeda pendapat.
Keberadaan pemerintahan bagi masyarakat sebagai konsepsi dalam menjelaskan dan memberikan
pemahaman terhadap setiap perbedaan yang ada dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, untuk
mencapai kesepakatan di dalam perbedaan itu sendiri untuk kebaikan bersama terhadap setiap
kebijakan dan pelaksanaan dalam implementasi kebijakan publik.
 IMPLIKASI UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA
TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA APARATUR 
Data BPS tahun 2012, Jumlah
pegawai negeri sipil di Indonesia
dianggap mengalami overload. Jumlah
PNS secara keseluruhan ada 4.467.982
orang. http://www.bps.go.id
/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&da
ftar=1&id_subyek=101&notab=3.
Diakses tanggal 03 Juni 2014. Jumlah ini
masih kecil dari rasio rata-rata antara
jumlah PNS dan penduduk. Jumlah
penduduk di Indonesia sebanyak 237 juta
orang yang tersebar di 440
kabupaten/Kota. http://www.bps.go.id
/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek
=12. Diakses tanggal 03 Juni 2014. Dari
jumlah total PNS tersebut lebih dari 1,6
juta orang adalah tenaga kependidikan
dan 126.000 orang adalah tenaga
kesehatan, sehingga pelayanan prima
yang diharapkan bersama dalam
reformasi birokrasi untuk menciptakan
tujuan pemerintahan yang baik (good
governance) masih sulit dilakukan.
(Saragih, 2012:18).
Fakta di atas menunjukkan bahwa
rasio jumlah PNS dengan jumlah
penduduk belum seimbang dan sinergi.
Di sisi lain, seperti disebutkan di atas,
keberadaan PNS mengalami overload
seperti pada lembaga pendidikan dan
kesehatan. Sementara pada lembagalembaga lain, rasio jumlah PNS masih
jauh dari harapan. Sehingga,
8
menimbulkan efek pelayanan yang tidak
prima. Jika PNS mengalami overload,
maka komposisi di dalam struktur
menjadi tumpang tindih. Tumpang
tindih terhadap fungsi dan tanggung
jawabnya dapat dilihat dari struktur di
dalam jabatan, dengan jabatan ganda.
Artinya, satu tanggung jawab dapat diisi
oleh 2 PNS, karena overload-nya jumlah
PNS di dalam organisasi pemerintahan.
Pun demikian, kekurangan PNS dapat
dilihat di lembaga pemerintahan yang
berada di perbatasan atau daerah
terpencil dengan jumlah PNS yang
sedikit dan jumlah penduduk yang
cukup banyak. Sehingga pelayanan
dapat menjadi terganggu. Oleh karena
itu, rasio PNS harus seimbang dengan
jumlah penduduk yang disesuaikan
dengan kebutuhan secara profesional
dan proporsional.
Penguatan sistem pelayanan
umum dapat ditunjang oleh sumber daya
manusia PNS yang mempunyai kualitas
yang tinggi. Dari total 4.467.982 orang
PNS, yang mempunyai tingkat
pendidikan sarjana dan pascasarjana S1S3 sebanyak 1.812.961 orang (40,38%),
sedangkan PNS yang mempunyai
tingkat pendidikan DIII 423.299 orang
(9,47%), sementara itu, PNS dengan
tingkat pendidikan DI sampai dengan
DII sebanyak 677.992 orang (15,17%),
Pemerintah sebagai penyelenggara negara dan representasi dari rakyat, seyogyanya memberikan
kesempatan yang sama dan setara dalam aspek kebijakan dan pelayanan publik bagi setiap warga
negara untuk kualitas hidup yang lebih baik, adil dan sejahtera.
9
Efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan negara harus diarahkan ke dalam kerangka peningkatan
profesionalitas dan kualitas kinerja, untuk mendorong kebijakan dan pelayanan sesuai dengan
kebutuhan dan kemanfaatan yang dapat berimplikasi terhadap kebaikan dan kepentingan masyarakat
secara utuh.
10
Proses pengambilan kebijakan, baik pemerintah, swasta dan masyarakat memiliki pertanggung
jawaban terhadap publik di dalam pelaksanaan setiap kebijakan negara yang berkaitan dengan
kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.
11
Pembangunan bangsa dan negara harus di dasarkan kepada kebijakan strategis sebagai langkah konkrit
pemerintah dalam meningkatkan pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia yang
berkelanjutan untuk kesejahteraan bagi masyarakat.
653
 HAYAT 
sedangkan tingkat SLTA sebanyak
1.374.851 orang (30,7%), SLTP 108.348
orang (2,4%), dan SD sebanyak 70.531
orang (1,5%). http://www.bps.go.id
/hasil_publikasi/SI_2013/index3.php?p
ub=Statistik+Indonesia+2013. Diaskses
tanggal 03 Juni 2014.
harapan. Jika seorang PNS, dengan
kompetensi yang dimiliki dan skill yang
diterapkan secara adil dan merata, maka
dapat berpengaruh terhadap kinerja
yang diembannya. Karena secara prinsip,
background pendidikan pegawai
mempunyai pengaruh yang signifikan
Tabel 1
Jumlah PNS Menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin Tahun 2012
Sumber:
Data diolah dari BPS dan BKN. http://www.bps. go.id/hasil_publikasi
/SI_2013/index3.php?pub=Statistik+Indonesia+2013. Diakses tanggal 03 Juni 2014.
654
Perumusan Masalah dan Tujuan
Problematika kompetensi dan
kualitas aparatur sipil negara yang
sebelumnya disebut PNS dan pegawai
kontrak menjadi tugas dan tanggung
jawab pemerintah dalam menempatkan
jabatannya sesuai dengan tugas pokok
dan fungsinya dalam kerangka struktur
birokrasi yang lebih fleksibel dan
kompeten. UU ASN mengklasifikasi
ASN di dalam kerangka UU ASN adalah
Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai
Pemerintah dengan Perjanjian Kerja
(PPPK). Masih banyak ditemukan
pendidikan dan skill ASN yang tidak
sesuai dengan ruang lingkup jabatannya,
sehingga berpengaruh terhadap
pelaksanaan kebijakan-kebijakan
strategis dengan pemahaman dan
penafsiran yang tidak sesuai dengan
terhadap keberlangsungan proses
reformasi birokrasi sebagai langkah
menuju pemerintahan yang baik dan
berkualitas.
Undang-Undang Aparatur Sipil
Negara No. 5 tahun 2014, diharapkan
menjadi penopang kesetaraan distribusi
ASN di berbagai instansi pemerintah,
baik pemerintah pusat atau daerah.
Pemerataan ASN penting segera
dilakukan sebagai arah dan tujuan dari
reformasi birokrasi, dengan didorong
oleh munculnya UU ASN sebagai
pengayom bagi ASN dalam menjalankan
tugas dan fungsinya sebagai aparatur
Negara. Adanya pemerataan, tentu
diharapkan dapat berdampak terhadap
kualitas dan kompetensi ASN.
Berlakunya UU ASN memberikan
implikasi yang signifikan, yaitu sumber
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 IMPLIKASI UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA
TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA APARATUR 
daya aparatur yang berkualitas di dalam
melaksanakan tugas dan fungsi-fungsi
pokok kepegawaian sesuai dengan
kompetensi, profesionalitas dan
akuntabilitas. Pendidikan, pelatihan,
sistem magang antar instansi pemerintah
atau swasta memberikan ruang yang
besar bagi PNS untuk meningkatkan
kualitas kinerjanya, maupun program
diklat yang dikembangkan sesuai
dengan standar kualitas tinggi.
Oleh karena itu, implementasi UU
ASN bertujuan meningkatkan kinerja.
Kualitas layanan akan memberikan
implikasi kepada proses layanan yang
diberikan. Sehingga, penerima layanan
merasa dilayani dengan kualitas yang
diterimanya. Esensinya, jika kompetensi
ASN mumpuni, maka kinerja pelayanan
dapat dilakukan secara profesional. Jika
pelayanan sudah profesional, maka
reformasi birokrasi dapat dikatakan
berhasil yang berorientasi kepada good
governance.
Landasan Teori
Undang-Undang ASN mengatur
tentang kelembagaan dalam manajemen
SDM aparatur. Aturan ini meminimalisir
adanya tumpang tindih dalam
pengambilan kebijakan strategis, baik
dari sisi hukum yang mengatur tentang
kewenangan dan fungsi dari masingmasing kementerian, yaitu antara
Kemenpan RB (Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi) dan Kemendagri
(Kementerian Dalam Negeri). UU ASN
menghapus BAB V tentang Kepegawaian
yang berada pada UU No. 32 Tahun 2004
Tentang Pemerintahan Daerah.
Pengaturan kewenangan secara rapi
diatur sesuai dengan kebutuhan dan
kondisi kementerian atau lembaga
Negara, antara Kemenpan RB, BKN
(Badan Kepegawaian Nasional),
Lembaga Administrasi Negara (LAN)
dan KASN (Komisi Aparatur Sipil
Negara).
Komisi Aparatur Sipil Negara
menurut UU ASN pasal 27 adalah
lembaga nonstruktural yang mandiri dan
bebas dari intervensi politik. Pasal 28
menjelaskan bahwa tujuan KASN adalah:
(1) menjamin terwujudnya sistem merit
dalam kebijakan dan Manajemen ASN;
(2) mewujudkan ASN yang profesional,
berkinerja tinggi, sejahtera, dan berfungsi
sebagai perekat Negara Kesatuan
Republik Indonesia; (3) mendukung
penyelenggaraan pemerintahan negara
yang efektif, efisien dan terbuka, serta
bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan
nepotisme; (4) mewujudkan pegawai
ASN yang netral dan tidak membedakan
masyarakat yang dilayani berdasarkan
suku, agama, ras, dan golongan; (5)
menjamin terbentuknya profesi ASN
yang dihormati pegawainya dan
masyarakat; dan (6) mewujudkan ASN
yang dinamis dan berbudaya pencapaian
kinerja.
Sementara fungsi dan tugas KASN
dijelaskan di dalam pasal 30 dan 31, yaitu
KASN berfungsi dalam mengawasi
pelaksanaan norma dasar, kode etik dan
kode perilaku ASN, serta penerapan
sistem merit dalam kebijakan dan
Manajemen ASN pada Instansi
Pemerintah. Sedangkan tugas KASN
adalah sebagai berikut: (1) menjaga
netralitas Pegawai ASN; (2) melakukan
pengawasan atas pembinaan profesi
ASN; dan (3) melaporkan pengawasan
dan evaluasi pelaksanaan kebijakan
Manajemen ASN kepada Presiden.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
655
 HAYAT 
656
Dalam melakukan tugas sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) KASN dapat: (1)
melakukan penelusuran data dan
informasi terhadap pelaksanaan sistem
merit dalam kebijakan dan Manajemen
ASN pada Instansi Pemerintah; (2)
melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan fungsi Pegawai ASN
sebagai pemersatu bangsa; (3) menerima
laporan terhadap pelanggaran norma
dasar serta kode etik dan kode perilaku
Pegawai ASN; (4) melakukan
penelusuran data dan informasi atas
prakarsa sendiri terhadap dugaan
pelanggaran norma dasar serta kode etik
dan kode perilaku Pegawai ASN; dan (5)
melakukan upaya pencegahan
pelanggaran norma dasar serta kode etik
dan kode perilaku Pegawai ASN.
Sementara itu, dalam pasal 32,
bahwa wewenang KASN adalah sebagai
berikut: (1) mengawasi setiap tahapan
proses pengisian Jabatan Pimpinan
Tinggi mulai dari pembentukan panitia
seleksi instansi, pengumuman lowongan,
pelaksanaan seleksi, pengusulan nama
calon, penetapan, dan pelantikan Pejabat
Pimpinan Tinggi; (2) mengawasi dan
mengevaluasi penerapan asas, nilai dasar
serta kode etik dan kode perilaku
Pegawai ASN; (3) meminta informasi
dari pegawai ASN dan masyarakat
mengenai laporan pelanggaran norma
dasar serta kode etik dan kode perilaku
Pegawai ASN; (4) memeriksa dokumen
terkait pelanggaran norma dasar serta
kode etik dan kode perilaku Pegawai
ASN; dan (5) meminta klarifikasi
dan/atau dokumen yang diperlukan dari
Instansi Pemerintah untuk pemeriksaan
laporan atas pelanggaran norma dasar
serta kode etik dan kode perilaku
Pegawai ASN. Dalam melakukan
pengawasan, KASN berwenang untuk
memutuskan adanya pelanggaran kode
etik dan kode perilaku Pegawai ASN.
Selanjutnya, hasil pengawasan
disampaikan kepada Pejabat Pembina
Kepegawaian dan Pejabat yang
Berwenang untuk ditindaklanjuti.
Sumber daya aparatur masih
dikatagorikan dalam eselonisasi, di mana
dalam UU ASN hanya sampai kepada
eselon II sebagai jabatan tertinggi dalam
jabatan administratif. Untuk eselon III, IV
dan V masuk dalam jajaran tenaga
administrasi, sehingga menimbulkan
berbagai problematika baru dalam
pengalihan eselonisasinya. Hal ini masih
menunggu diterbitkannya Peraturan
Pemerintah sebagai pelaksana dari UU
ASN.
Jabatan ASN dalam UU ASN pasal
13 menjelaskan bahwa terdapat tiga (3)
jabatan yang dimiliki oleh ASN, antara
lain jabatan administrasi, fungsional dan
pimpinan tinggi. Jabatan administrasi
dirinci oleh pasal 14 dan 15 yang
menyebutkan bahwa jabatan
administrasi adalah administrator,
pengawas dan pelaksana. Jabatan
administrasi terkait dengan jabatan
teknik dan operasional bagi ASN dalam
menjalankan tugasnya sebagai abdi
negara. Lebih lanjut, pada ayat (1), (2) dan
(3) pasal 15 dijelaskan bahwa jabatan
administrator bertanggung jawab dalam
memimpin pelaksanaan seluruh kegiatan
pelayanan publik dan administrasi
pemerintahan serta pembangunan.
Sementara itu, jabatan pengawas adalah
bertanggung jawab mengendalikan
kegiatan yang dilakukan oleh pejabat
pelaksana. Sedangkan pada jabatan
pelaksana adalah bertanggung jawab
terhadap pelaksanaan kegiatan
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 IMPLIKASI UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA
TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA APARATUR 
pelayanan publik, administrasi
pemerintahan dan pembangunan.
Untuk jabatan fungsional dalam
UU ASN dijelaskan dalam pasal 18 ayat
(1) bahwa jabatan fungsional terdiri dari
jabatan fungsional keahlian dan jabatan
fungsional keterampilan. Keahlian
meliputan ahli utama, madya, muda dan
pratama. Sedangkan keterampilan
adalah penyelia, mahir, terampil dan
pemula. Sementara jabatan pemimpin
tinggi dijelaskan dalam pasal 19 ayat (1),
(2) dan (3) antara lain jabatan pemimpin
utama, madya, dan pratama.
Pasal 70 ayat 1, 5 dan 6 memberikan
penegasan kepada PNS, bahwa PNS
mempunyai hak dan kesempatan untuk
melakukan pengembangan karir di
berbagai instansi pemerintah ataupun
swasta, baik pusat ataupun daerah.
Menjadi penting bagi PNS dalam rangka
meningkatkan kualitas dirinya terhadap
kinerja yang dikembangkan.
Pasal 77 ayat 6 bahwa alasan kinerja
membuka peluang bagi PNS untuk
diberhentikan. Sedangkan dalam pasal
80 ayat 3 sebagai bentuk
pertanggungjawaban pemerintah
terhadap PNS bahwa semua aspek
penilaian kinerja PNS akan diberikan
tunjangan.. Keberadaan kedua pasal di
atas memberikan sebuah semangat
profesionalisme terhadap PNS dalam
melaksanakan tugasnya dengan
menjunjung tinggi aspek penilain kinerja
sesuai dengan standar yang
diberlakukan sebagai tindakan
pembangunan manajemen PNS yang
lebih berkualitas, terutama dalam
pelayanan publik.
Undang-Undang ASN juga
memberikan kesempatan bagi PNS
dalam meningkatkan kualitasnya
melalui pendidikan dan pelatihan, hal ini
dibutuhkan untuk memberikan efek
inovatif terhadap aparatur sipil Negara
dalam meningkatkan kinerja. Pun
demikian, bagi pemerintah tentunya
dibutuhkan kebijakan-kebijakan
strategis dalam perkembangan
peningkatan kualitas ASN.
Mariana (2006: 247) menambahkan,
seperti pendapat Hendytio dengan
mengkatagorikan tiga tipe pendekatan
yang dapat dilakukan dalam konsep
pembenahan birokrasi, antara lain: (1)
pendekatan komprehensif; (2)
pendekatan inkremental; dan (3)
pendekatan kombinasi. Pendekatan
komprehensif merupakan pendekatan
yang mencakup ruang lingkup yang luas
dan menyeluruh terhadap konsep
pembenahan birokrasi pada sektor
tertentu tanpa adanya prioritas atau
fokus utama. Pendekatan inkremental
merupakan upaya yang berkelanjutan
terhadap pembenahan birokrasi yang
berfokus pada sektor tertentu dan
menjadi prioritas utama di dalam
pembenahannya yang ditunjang oleh
kebijakan-kebijakan strategis yang lebih
khusus. Sedangkan pendekatan
kombinasi adalah menggabungkan
kedua pendekatan di atas (pendekatan
komprehensif dan pendekatan
inkremental) dengan melakukan
peningkatan kemampuan manajemen
bersamaan dengan usaha-usaha
reformasi lainnya secara menyeluruh.
Kaitannya dengan ASN adalah
terletak pada pemecahan permasalahan
yang muncul dalam kerangka penataan
sumber daya aparatur, baik di daerah
maupun dipusat. Setiap kebijakan dalam
implementasinya mempunyai porsi
problematika yang berbeda-beda. Perlu
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
657
 HAYAT 
658
dilakukan antisipasi untuk
menyelesaikan problem-problem yang
muncul di dalam aplikasinya. Sehingga
dalam pelaksanaannya, reformasi
birokrasi dapat
dijalankan secara
maksimal dengan melakukan berbagai
antisipasi terhadap problematika yang
ada.
Sementara Benius (2014),
mengungkapkan bahwa kunci utama
dalam pengembangan aparatur sipil
negara yaitu: (1) political will harus
dominan dan konsisten dalam
perubahan paradigma dan mind set ASN;
(2) kesamaan persepsi terhadap
ketentuan, tugas, wewenang, tanggung
jawab, dan tujuan dengan pola terencana;
(3) pemanfaatan TI harus terus
dikembangkan melalui e-government
dalam penyelenggaraan pemerintahan;
(4) rekonstruksi terhadap tumpang
tindihnya aturan atau ketentuan hukum ;
(5) kemauan dari ASN dalam
meningkatkan pola pikir secara
berkelanjutan; (6) well plan, well organize,
who bring what, well arrangement, dan well
control dapat dilaksanakan dengan baik
serta penerapan terhadap concept,
competence, connections, dan commitment
yang diikuti oleh konsistensi dan
keseriusan dalam implementasi kinerja;
dan (7) memperhatikan well select,
motivate, educate, train, equip, dan pay
dengan menerapkan commitment,
concentration, capabilities, capacity,
collaboration, commercialization, culture
dan community, good public governance,
good corporate governance, dan
pengembangan terhadap birokratisasi.
PEMBAHASAN
Undang-Undang Aparatur Sipil Negara:
Implikasi dan Tantangan
Keberadaan UU ini memberikan
implikasi nyata bagi peningkatan kualias
sumber daya aparatur dan memberikan
nuansa baru bagi ASN dalam
melaksanakan tugas negara. Harapannya
tentu kinerja pelayanan bagi masyarakat
semakin berkualitas dan profesional.
Secara prinsip UU dibentuk untuk
mengikat seluruh komponen yang ada di
dalamnya untuk perubahan yang lebih
baik dan berkualitas. UU ASN
memberikan gambaran manifestasi bagi
governance yang memberikan perluasan
kepada sektor publik atau masyarakat
dan sektor swasta. Secara praktek, di
berbagai lembaga Negara PNS
merupakan bagian terpenting dalam
pelaksanaan secara teknis dan
administratif. Tentunya, UU ASN
memberikan penguatan dalam
pengawasan terhadap kinerja aparatur.
KASN merupakan lembaga pengawasan
terhadap kinerja SDM aparatur untuk
mengontrol dan memberikan
rekomendasi terhadap kebijakankebijakan yang diambil oleh pimpinan
lembaga.
Keberadaan KASN harus lebih
independen dan profesional dalam
rangka menciptakan obyektifitas kinerja
dan kualitas lembaga yang dibangun atas
dasar public service. Secara otomatis,
rakyat sebagi kontrol utama di luar
lembaga. Namun, KASN sebagai
“jembatan” antara civil society dan SDM
dalam rangka menjalankan tugas dan
fungsinya masing-masing perlu
mengedepankan kualitas dan
kompetensi yang dimilikinya.
Undang-Undang ASN
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 IMPLIKASI UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA
TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA APARATUR 
memberikan perhatian penuh terhadap
perbaikan sumber daya aparatur yang
lebih baik, professional dan berkualitas.
Harapannya dampak dari kompetensi
dan kualitas sumber daya aparatur yang
baik dapat berimplikasi terhadap
pelayanan yang berkualitas. Pelayanan
yang baik, akan menciptakan citra dan
kinerja ASN di dalam mengembangkan
dan meningkatkan trust masyarakat
terhadap birokrasi di Indonesia.
Undang-Undang ASN
memberikan kesempatan dan ruang
seluas-luasnya bagi PNS untuk mengisi
Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) sesuai
dengan komposisi dan syarat yang sudah
ditentukan. JPT dimaksud adalah JPT
utama, JPT madya, dan JPT pratama..
Pasal 109 ayat 1 memberikan peluang
kepada non-PNS dalam pengisian JPT
atas persetujuan Presiden. Pasal ini
memberikan kesempatan bagi seluruh
warga Negara dalam baik PNS ataupun
non-PNS terhadap pengisian JPT sebagai
bagian terpenting dalam pelaksanaan
reformasi birokrasi dan peningkatan
kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Secara prinsip, kesuksesan sebuah
l e m b a g a t e r l e t a k p a d a
kepemimpinannya sebagai pemegang
penuh kebijakan strategis bagi
pegawainya. Namun demikian, pada
pasal 111 dikatakan bahwa ada
pengecualian instansi yang disebutkan
dalam pasal 109 ayat 1 yaitu lembaga
pemerintah yang telah menerapkan
sistem merit dalam pembinaan SDM
aparatur PNS dengan persetujuan KASN.
Rozi (2009), mengungkapkan, ada
beberapa strategi yang perlu dilakukan
dalam meningkatkan kualitas pelayanan
dengan melakukan inovasi kebijakan
untuk memberikan paradigma positif
bagi kemampuan dan kapasitas yang
dimiliki oleh birokrat, antara lain: (1)
rekrutmen berdasarkan profesionalisme
dan kompetensi; (2) pemahaman dan
penafsiran substansi dari “pemerintah”
dan “pemerintahan”; (3) menciptakan
tatanan good governance secara
kompetititf; (4) memahami jalan dengan
menunjukkan kepada publik dan ikut
menjalankan bersama publik; (5) aspek
moralitas dan keadilan harus diterapkan
secara maksimal kepada masyarakat
yang dilayani; (6) melakukan terobosan
baru dalam administrasi kependudukan
dengan tranparansi dan akuntabilitas; (7)
peningkatan kualitas penelitian terhadap
pengembangan IPTEK; (8) meningkatkan
akuntabilitas; (9) penerapan penelitian
terhadap kepentingan rakyat; dan (10)
komitmen dan konsistensi pejabat publik
dalam implementasi kebijakan.
http://www.bkn.go.id/attachments/07
7_jurnalvol3juni2009.pdf.
Harapan dari adanya UU ASN
adalah inovasi pengembangan reformasi
melalui kebijakan strategis dan
peningkatan kualitas sumber daya
manusia yang mumpuni dan akuntabel.
Seyogyanya, UU ASN memberikan
ruang yang cukup besar terhadap
peningkatan kualitas dan kompetensi
pegawai dalam rangka meningkatkan
kinerja dalam pelayanan publik.
Aparatur Sipil Negara Menurut UU
ASN
Undang-Undang Nomor 5 Tahun
2014 tentang Aparatur Sipil Negara pasal
6 menerangkan bahwa aparatur sipil
Negara adalah PNS dan PPPK. Pasal 7
ayat (1) PNS adalah pegawai yang
diangkat sebagai pegawai tetap oleh
pejabat yang berwenang dan memiliki
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
659
 HAYAT 
660
nomor induk kepegawaian secara
nasional. Sementara PPPK adalah
pegawai yang diangkat dengan
perjanjian kerja oleh pejabat di atasnya
sesuai dengan kebutuhan instansi
pemerintah dan kompetensi yang
dimiliki dalam isian jabatan negara.
Pegawai Negeri Sipil dan PPPK
tidak ada perbedaan dalam tanggung
jawab dan tugas serta sistem
penggajiannya. Perbedaan yang
mendasar kedua pegawai tersebut
terletak pada status yang melekat di
dalam dirinya dan hak perlindungan
pensiun yang tidak dapat diterima oleh
PPPK, sedangkan PNS mendapatkan
tunjangan pensiun. Artinya bahwa,
jabatan PNS berlaku sampai waktu
pensiun yang ditentukan oleh undangundang. Sementara pegawai PPPK
dibatasi oleh waktu jabatan dengan
ketentuan kerja yang disepakati bersama
dalam mengisi jabatan publik hal ini
dapat diberhentikan dan diangkat sesuai
dengan kebutuhan dan kompetensi yang
dimilik oleh pegawai tersebut.
Aparatur Sipil Negara sebagai
birokrat harus memiliki prinsip etika
yang tinggi dalam melaksankan tugas
negara. Etika menjadi pondasi bagi
aparatur negara dalam membentengi diri
dari kondisi dan situasi birokrasi yang
semakin kompleks. Birokrat yang
beretika akan menjaga harkat dan
martabat bangsa dengan moralnya,
moral yang tinggi memberikan efek
positif dalam kinerja pegawai. Kondisi
birokrat saat ini dipengaruhi oleh
karakter birokrat yang ada didalamnya,
sehingga membutuhkan peningkatan
karakter yang berwibawa dan
berkualitas dalam merubah paradigma
yang berkembang di dalam birokrasi
Indonesia.
Nurdjaman (2002), dalam Mariana
(2006:246),
mengungkapkan bahwa,
kerangka reformasi birokrasi menuntut
ASN agar satu persepsi dan paradigma
dalam memahami makna reformasi
birokrasi untuk tujuan instansi
pemerintah yang lebih baik, akuntabel
dan transparan. Konteks Negara
demokrasi terhadap birokrasi di
Indonesia membutuhkan beberapa
konsep reformasi birokrasi melalui
reformasi etika, kultural, prosedural dan
struktural (kelembagaan).
Reformasi etika adalah konsep
birokrasi yang menyangkut nilai-nilai
moral dan etika bagi aparatur sipil negara
atau birokrat dalam berperilaku,
bersikap dan bertindak sesuai dengan
norma-norma yang telah membudaya
dalam kedaerahan. Etika bersikap bagi
aparat birokrasi harus sesuai dengan
ketentuan dan aturan yang ada dalam
kebijakan birokrasi, baik ketika dalam
menjalankan tugas kenegaraan ataupun
dalam sosial kemasyarakatan. Sikap yang
ditunjukkan oleh pegawai dalam tatanan
etika dan nilai-nilai moral menjadi
penjelmaan pembinaan dan pendidikan
dalam peningkatan kualitas sumber daya
aparatur.
Korelasi dan integrasi antar
instansi diperlukan secara inheren untuk
melakukan perubahan paradigmaa dan
pemikiran dari berbagai aspek
budayanya. Pemimpin dalam birokrasi
harus mampu mengendalikan praktekpraktek patrimonialnya12 kedalam tubuh
birokrasi sebagai acuan bawahan dalam
melaksanakan tugasnya. Sehingga
diharapkan peran pemimpin dapat
mengubah pola pikir pegawai dalam
menempatkan jabatan dan dirinya
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 IMPLIKASI UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA
TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA APARATUR 
sebagai pelayanan masyarakat. Serta
dapat meyakinkan masyarakat bahawa
tujuan reformasi birokrasi untuk
meminimalisir adanya praktek-praktek
KKN di instansi-instansi pemerintah.
Hal itu juga terkait dengan efisiensi
layanan yang masih terbilang mahal
dalam proses layanan publik,
kadangkala memberatkan masyarakat
yang semestinya harus menerima
pelayanan sebaik-baiknya dan semurahmurahnya sesuai dengan tingkat
kebutuhannya. Jika ada yang lebih
mudah, kenapa harus yang susah? Upaya
penyederhanaan terhadap prosedur
birokrasi perlu terus dilakukan dan
dikembangkan sesuai dengan tingkat
keamanan dan geografis serta
demografisnya.
Perampingan organisasi atau
struktur akan berimplikasi kepada
kualitas kinerja dengan kompetensi yang
dimiliki oleh aparatur negara dalam
mengemban amanahnya. Konsep
desentralisasi memberikan otonomi
kepada daerah untuk menyesuaikan
komponen birokrasinya sesuai
kebutuhan, sumber daya manusia, visi,
misi, keuangan daerah, sarana prasarana
yang dimiliki dan strategi pembangunan
daerah dan tujuan sebagai orientasi
peningkatan kesejahteraan bagi
masyarakatnya.
Islamy, pakar administrasi publik
mengungkapkan, bahwa pembangunan
sistem administrasi negara yang
menyangkut pejabat negara dan aparatur
sipil negara dalam konsep reformasi
birokrasi baik di pemerintah pusat
ataupun pemerintah daerah perlu
melakukan sebuah aktualisasi prinsipprinsip dan nilai-nilai utama dalam
tatanan pemerintah yang baik, antara lain
demokrasi dan pemberdayaan,
pelayanan, transparansi, partisipasi,
kemitraan, desentralisasi, serta
konsistensi kebijakan dan kepastian
hukum. (Samin, 2011:174)
Demokrasi secara aplikatif
memberikan ruang terbuka bagi warga
negara untuk mengekspresikan secara
terbuka terhadap hak-hak yang
dimilikinya secara bebas dan terukur.
Pemberdayaan sebagai suatu konsepsi
realistis pemerintah dalam memberikan
penghidupan yang layak bagi seluruh
warga negara dalam meningkatkan
kualitas hidup yang lebih baik dan setara.
Artinya bahwa, kesejahteraan bagi
seluruh rakyat Indonesia adalah
12
Patrimonial berasal dari kata patir secara normatif dan secara genetif berasal ari kata patris yang
mempunyai arti Bapak. Patir atau patris berkembang dengan berbagai persfektif sehingga mempunyai
koherensi dengan tafsiran sebagai warisan. Artinya bahwa, pengertian bapak dalam kata patir atau patris
dapat diterjemahkan secara lebih luas yaitu mempunyai makna warisan bapak. Sedangkan patriominal
merupakan kata sifat dari patris dan patir yang mempunyai makna sistem pewarisan menurut garis
bapak atau nenek moyang. Lihat juga dalam artikel Yayan Rudianto, Pelayanan Publik Pada
Penyelenggaraan Pemerintahan Kecamatan yang diterbitkan oleh Jurnal Madani Edisi II Nopember 2005,
hlm. 33, dikatakan bahwa budaya organisasi penyelenggara negara dan pelayanan publik masih terikat
dengan tradisi politik dan budaya loka yang seringkali tidak kondusif dan melanggar aturan hukum
yang berlaku. Lihat juga artikel Wasisto Raharjo Jati, Kultur Birokrasi Patriomialisme dalam
Pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang diterbitkan oleh Analisa, Jurnal Borneo
Administrator Volume 8 Nomor 2 Tahun 2012, hlm. 147-148, mengatakan bahwa, Patrimonialisme
merujuk pada sentralisasi kekuasaan yang berpusat pada penguasa perseorangan tertentu (kingship
rulerships) yang mengakumulasikan kekuasaan, sedangkan yang lain mengidentifikasi kepentingannya.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
661
 HAYAT 
662
tanggung jawab pemerintah dan rakyat
dalam meningkatkan pembangunan dan
kemajuan suatu bangsa secara bersama
dan transformatif.
Bentuk pelayanan dengan berbagai
konsepsi di atas, harus dimulai dengan
reformasi etika. Reformasi etika
dimaksud adalah sebagai upaya
perbaikan terhadap perilaku
penyelenggara negara atau pegawai
negara. Hal ini sebagai penguatan code of
ethical conduct (pembudayaan etika) yang
dilandasi oleh enabling stategy.
Pembudayaan etika adalah menerapkan
nilai-nilai yang baik dalam
penyelenggaraan pemerintahan, diikuti
oleh penguatan moral, baik dari level top
manajemen sampai kepada bawahan.
Budaya etika yang baik dalam organisasi
pemerintahan, dapat berimplikasi
terhadap nilai-nilai moral yang dapat
dijadikan sebagai parameter dari
penyelenggaraan negara. Artinya bahwa
dukungan lingkungan birokrasi yang
baik dengan perilaku aparatur yang
berkarakter, dapat diterima oleh
masyarakat sesuai dengan karakter local
culture masing-masing daerah.
Aparatur Sipil Negara perlu
meningkatkan pembangunan
akuntabilitas dengan keterbukaan secara
jujur dan adil sebagai upaya mendorong
komponen birokrasi untuk
merealisasikan kehidupan birokrasi yang
bersih, bebas KKN, dan menghindari
prinsip-prinsip patrimonialisme.
Transparansi sebagai konsep reformasi
birokrasi yang terus didorong oleh etika
dan moral bagi penyelenggara
pemerintahan dalam memberikan
pendidikan dan peningkatan kualitas
layanan bagi masyarakat sebagai
konsekuensi pemerintahan yang baik
dan berkeadilan. Tentu, hal ini
membutuhkan peran masyarakat dalam
memonitor kinerja pemerintah dalam hal
ini adalah aparatur sipil negara untuk
berpartisipasi aktif dalam memberikan
masukan dan saran serta rekomendasi
untuk sinergitas kebijakan dan
pelaksanaan tugas masing-masing.
Peran masyarakat dalam
meningkatkan transparansi negara,
harus didukung oleh kemauan
pemerintah dalam menerima dan
mengevaluasi kebijakan yang ada. Hal ini
sebagai bentuk kerjasama dan kemitraan
bagi kepentingan masyarakat secara
profesional dan akuntabel serta
berkelanjutan. Trust masyarakat
terhadap kinerja pegawai harus
ditingkatkan dengan pola pelayanan
yang berorientasi kepada kepentingan
masyarakat. Selain itu, empowering rather
than serving (penguatan kemampuan
masyarakat) dalam memahami dan
berpartisipasi dalam peningkatan
kualitas pelayanan publik harus
dilakukan secara kredibel dan
bertanggungjawab.
Penguasa (pemerintah) harus
bersinergi dengan pengusaha (mitra)
untuk menciptakan iklim produktivitas
dalam menunjang pemberdayaan bagi
warga negara. Integrasi antara
pemerintah dengan mitra usaha perlu
difokuskan kepada tujuan kesejahteraan
rakyat Indonesia seutuhnya sebagai
upaya peningkatan kualitas ekonomi
kerakyatan yang berperan terhadap
peningkatan ekonomi negara.
Pembangunan masyarakat modern
saat ini, menuntut negara berperan aktif
dalam menghidupkan roda ekonomi
kerakyatan. Ekonomi kerakyatan yang
berdasarkan kepada keadilan dan
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 IMPLIKASI UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA
TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA APARATUR 
kebaikan untuk kesejahteraan rakyat.
Perbaikan terhadap kualitas ekonomi
rakyat dapat meningktakan nilai
produktivitas sumber daya alam (SDA)
dan sumber daya manusia (SDM).
Keberadaan SDA dan SDM harus
didukung oleh penguasaan teknologi
dan informasi dengan manajemen
produksi dan pemasaran yang baik.
Peran pemerintah dalam kemitraan
dengan dunia usaha terletak pada
kebijakan dibidang usaha dengan
pelayanan dan perijinan dikelola secara
profesional dan mengarahkan kepada
kepentingan masyarakat dalam
kemanfaatan, tentunya harus mematuhi
etika dan aturan yang dibuat dengan
prinsip-prinsip perundang-undangan
yang berlaku bagi keadilan, kesetaraan
dan keharmonisan antara usaha besar,
menengah dan kecil. Prioritas utama
dalam kebijakan usaha adalah
meningkatkan taraf kehidupan
masyarakat yang sejahtera, adil dan
makmur.
Perwujudan dari kepastian hukum
harus diwujudkan melalui berbagai
kebijakan penyelenggaraan negara
secara baik, jujur, transparan, akuntabel,
dan bertanggung jawab dengan
menghindari dan menghilangkan
praktek-praktek KKN, money politic, dan
patrimonial dalam lingkungan birokrasi.
Serta berbagai ketidak pastian hukum
dalam prinsip-prinsip kebijakan publik.
Perundang-undangan sebagai kerangka
hukum dalam kebijakan negara harus
menegakkan kepastian hukum secara
praktis, konkrit, dan jauh dari multitafsir.
Sehingga akuratisasi dari kebijakan
dapat dipahami dan dijalani dengan
persepsi yang sama dapat diterapkan
secara adil dan bijaksana untuk
menjamin tatanan pemerintahan yang
baik yakni good governance dan good
government.
Aktualisasi birokrasi perlu
koneksivitas dari para stakeholder di
dalamnya, termasuk negara dan aparatur
sipil negara. Tentunya, hal itu juga
didorong oleh kemauan pemangku
kebijakan yakni para pemimpin dan
pegawai dalam merancang,
mengimplementasikan dan
mengevaluasi segala bentuk kebijakan
yang menyangkut pelayanan kepada
masyarakat sesuai dengan kebutuhan
dan kepentingan bersama dalam
menegakkan pilar-pilar keadilan.
Partisipasi dan kemitraan terhadap
peningkatan kualitas sumber daya
aparatur, tentunya harus didukung oleh
kinerja yang profesional dalam
memberikan pelayanan yang transparan
dan akuntabel, sehingga kepercayaan
masyarakat terhadap kinerja pelayanan
publik dapat diukur. Pengukuran kinerja
pelayanan publik melalui partisipasi dan
kemitraan yang dilakukan oleh
pemerintah dengan masyarakat.
Peningkatan kualitas sumber daya
manusia aparatur daerah dengan
berbagai otonomisasi daerah dalam
pengambilan kebijakan dan urusan
rumah tangga daerah, perlu dilakukan
secara adil dan proporsional antara hak
dan kewajibannya bagi seluruh
komponen daerah, termasuk didalamnya
adalah masyarakat daerah dalam
memperoleh kebutuhan dan tanggung
jawabnya dalam melaksanakan fungsi
pengawasan terhadap pemerintah
daearah.
Korelasi ini menjadikan feed back
yang baik terhadap peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan kualitas
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
663
 HAYAT 
pelayanan yang ada di beberapa instansi
pemerintah daerah. Jika integrasi antara
pemberi layanan dan penerima layanan
sudah baik, maka, konsistensi kebijakan
terhadap komitmen reformasi birokrasi
dapat dijalankan dengan baik pula. Oleh
karena itu, tidak ada diskriminasi dalam
lingkungan organisasi, pun demikian,
tidak ada nilai-nilai patrimonial dalam
loyalitas kinerja sumber daya aparatur
negara.
664
Strategi Peningkatan Kualitas Sumber
Daya Aparatur Negara Melalui UU ASN
Kualitas sumber daya aparatur
negara dikatakan profesional jika
mempunyai kinerja yang baik dan
kompetensi yang mumpuni dalam
pekerjaannya. Profesionalisme menjadi
ukuran penilaian kinerja bagi aparat
birokrasi dalam menjalankan fungsi dan
tugas pokoknya sebagai penyelenggara
negara, tentunya harus diimbangi oleh
kemampuan intelektual sebagai
penunjang aparatur sipil negara dengan
berdasarkan pada UU ASN yang baru
saja disahkan oleh DPR sebagai acuan
penyelenggaraan negara.
Haris (2011:17), seperti dalam
konsepnya Johnson dalam Suryono yang
menyebutkan bahwa ada beberapa
karakteristik pelayanan publik yang
dapat dijadikan sebuah
strategi
manajemen birokrasi yang profesional
dan berkualitas, yaitu: (1) penekanan
terhadap pergeseran paradigma
terhadap tujuan kelompok; (2) motivasi
kinerja; (3) penilaian kinerja; (4)
senioritas; (5) penanganan melalui market
test; (6) mengurangi peran pemerintah;
(7) netralitas birokrasi;
dan (8)
kompetensi ASN.
Motivasi aparatur terhadap kinerja
yang diembannya dengan budaya
birokrasi yang konvensional harus
diubah, dari motivasi dilayani menjadi
melayani. Seperti yang diungkapkan
Semil dan Nurham (2005), dalam Hayat
(2013:26). Memberikan ilustrasi bahwa
pelayanan dianggap tidak memuaskan,
jika kinerja lebih rendah dari pada
harapan. Pelayanan dianggap
memuaskan, jika harapan dan kinerja
pegawai sesuai dengan keinginan
masyarakat dalam pemberian layanan.
Sedangkan pelayanan dianggap prima
atau berkualitas, jika kinerja lebih besar
dari harapan yang diinginkan oleh
penerima layanan. Oleh karena itu,
komponen birokrasi harus diarahkan ke
dalam konstruksi realistis, bahwa kinerja
pelayanan lebih penting dari harapan
yang diinginkan.
Penilaian kinerja merupakan
evaluasi terhadap aparatur sipil negara
dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya untuk mengukur
tingkat kualitas dan profesionalitasnya
terhadap peran dan kinerjanya dalam
birokrasi. Penilaian kinerja sebagai
instrumen untuk mengukur sejauhmana
tugas dan tanggung jawab ASN
dilakukan, dan bagaimana pendapat
masyarakat tentang kinerja aparatur,
begitu juga penilaian kinerja sebagai
indikator untuk pemberian reward bagi
ASN yang mempunyai prestasi dan
memberikan sanksi bagi ASN yang
melanggar. Sebagai tujuan dari
organisasi, maka diperlukan sebuah
indikator penilaian kinerja sesuai dengan
standar penilaian yang jelas, adil dan baik
dengan menerapkan ketentuan UU ASN
sebagai pedoman dalam pemberian
reward bagi aparatur yang berprestasi
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 IMPLIKASI UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA
TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA APARATUR 
dan memberikan sanksi bagi yang
melanggarnya sebagai konskuensi dari
sebuah kinerja.
Transformasi birokrasi melalui
senioritas dapat mengarahkan dan
memberikan transformasi positif bagi
pemerintah dengan komitmen politik
yang dimiliki. Transformasi melalui
senioritas merupakan komitmen
pemimpin dalam netralitas terhadap
dinamika politik yang berkembang.
Artinya bahwa, pemimpin harus
memberikan persepsi yang konsisten
terhadap bawahan. ASN adalah netral
dalam berpolitik. Sehingga pencapaian
tujuan birokrasi dan organisasi dapat
dicapai dengan bersikap netral dan non
partisan. Proses ini untuk
menumbuhkembangkan nilai-nilai
perubahan dan pengembangan diri bagi
aparatur yang ada di dalamnya agar
mempunyai koherensi kinerja terhadap
tujuan organisasi, yaitu tatanan
pemerintahan yang baik dengan sumber
daya manusia yang berkualitas, tanpa
adanya intervensi dan doktrin politik.
Aparatur negara sebagai abdi
masyarakat harus menjaga netralitasnya
dalam mengemban amanah rakyat
terhadap perpolitikan. Netralitas sebagai
sebuah penafsiran yang bukan apatis
terhadap politik, akan tetapi seorang
birokrat tidak terlibat langsung dalam
perpolitikan baik dalam proses politik
hingga ke dalam pelaksanaan dan kinerja
politik. Hal ini dilakukan untuk
meningkatkan efisiensi dan efektifitas
kinerja birokrasi dalam menjalankan
tanggung jawabnya secara profesional
dan transparan. Aparatur negara harus
fokus terhadap kinerjanya sebagai
kontribusi bagi negara dalam
menciptakan tatanan birokrasi yang
memberikan konskuensi riil bagi
masyarakat, terutama dalam pelayanan
publik sebagai konsepsi utama dalam
reformasi birokrasi.
Konsep the right man on the right
place dalam birokrasi harus
dipertimbangkan secara adil dan bijak.
Proses rekrutmen pegawai harus
mengacu kepada standar penilaian yang
menjadi dasar diterimanya calon
pegawai. Rekrutmen pegawai menjadi
dasar utama bagi pemerintah untuk
melakukan perbaikan-perbaikan
terhadap sumber daya aparatur negara
u n t u k m e n d u k u n g d a n
mengimplementasikan kinerja
pemerintah dalam birokrasi sebagai
garda terdepan tercapainya good
governance. Begitu juga dalam
penempatan pegawai dimaksimalkan
sesuai dengan kompetensi yang
dimilikinya sesuai dengan kebutuhan
dan kemampuan manajerialnya.
Pusat Kajian Manajemen
Pelayanan, Deputi Bidang Kajian
Manjemen Kebijakan dan Pelayanan
LAN (2009:65-66) menjelaskan aspek
peningkatan kualitas sumber daya
aparatur Negara, antara lain: (1) formasi
kebutuhan ASN dilakukan secara
obyektif; (2) transparansi dalam
rekrutmen; (3) promosi dan mutasi secara
transparan; (4) obyektifitas penilaian
berbasis kinerja; (5) penyusunan
kebijakan standar secara kompeten; (6)
sistem diklat berdasarkan kompetensi
yang dimiliki; (7) hak gaji dan pensiun;
dan (8) revitalisasi penyelenggaraan
diklat.
Obyektivitas dalam penentuan
formasi atau kebutuhan PNS dilakukan
terhadap beban kerja dan kebutuhan
instansi dengan melakukan kajian secara
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
665
 HAYAT 
666
komprehensif tentang peningkatan
pelayanan dalam sebuah instansi. Setiap
instansi mempunyai perbedaan
kepentingan dan kebutuhan dalam
kerangka memberikan pelayanan secara
maksimal terhadap masyarakat,
sehingga diharapkan setiap instansi
pemerintah melaporkan terkait
kebutuhan dan pengurangan dalam
rangka pencapaian reformasi birokrasi.
Pasal 58 UU ASN tentang
pengadaan PNS dalam ayat (2) dijelaskan
bahwa pengadaan PNS dilakukan
berdasarkan penetapan kebutuhan.
Pengadaan PNS dilakukan melalui
perencanaan, pengumuman secara
terbuka melalui lowongan, pelamaran,
seleksi, pengumuman hasil seleksi, masa
calon pegawai atau percobaan terhadap
pegawai yang sudah dinyatakan
diterima, dan pengangkatan menjadi
PNS. Promosi merupakan proses
pemindahan jabatan melalui berbagai
mekanisme dengan prinsip
transaparansi. Artinya bahwa, setiap
pegawai mempunyai hak untuk
dipromosikan ke jabatan yang lebih
tinggi dengan tingkat kompetensi dan
kinerja yang berkualitas serta loyalitas
dan integritas yang tinggi.
Pasal 72 ayat (1) bahwa promosi
PNS dilakukan secara objektif antara
kompetensi, kualifikasi dan ketentuan
yang sebagai prasyarat, prestasi,
kepemimpinan, kerjasama, kreativitas,
pertimbangan dari tim penilai kinerja
dengan tidak memandang jenis kelamin,
agama, suku, ras, dan golongan tertentu.
Promosi tidak boleh dilakukan secara
sepihak oleh pimpinan dengan cara yang
tidak adil dan diskriminasi. Bentuk
promosi yang dilakuakn berdasarkan
ayat (1) akan mempengaruhi kinerja
pegawai dalam meningkatkan kualitas
kinerja sebagai bentuk peningkatan
jabatan yang diharapkan. Oleh karena
itu, setiap pegawai diberi kesempatan
yang sama dalam memperoleh promosi,
bukan karena aspek kekeluargaan,
perkoncoan, atau pertemanan semata,
akan tetapi lebih kepada aspek kinerja
dan prestasi.
Pasal 75 UU ASN menyatakan
bahwa penilaian kinerja adalah untuk
menjamin objektivitas pembinaan PNS
dengan sistem prestasi dan karier.
Sedangkan dalam pasal 76 menyebutkan
bahwa target, capaian, hasil, dan
kemanfaatan pada tingkat organisasi,
unit dan individu sebagai dasar dari
perencanaan kinerja PNS dalam
penilaian kinerja beserta perilakunya,
ayat (1). Hal ini dilakukan secara
transparan, obyektif, partisipatif,
terukur, dan akuntabel, ayat (2).
Strategi peningkatan kualitas ASN
dalam mencapai tujuan pemerintahan
yang baik dapat mendorong reformasi
birokrasi ke arah yang lebih baik dan
berkualitas. Kualitas ASN menjadi
tanggung jawab pemerintah dalam
berbagai kebijakan terhadap
peningkatan itu. Prosojo sebagai
Wamenman dan RB mengungkapkan
bahwa kualitas ASN menjadi perhatian
yang besar dalam UU ASN. Dikatakan,
bahwa negara akan mengurus
pendidikan PNS sesuai dengan
kebutuhan baik dari aspek biaya,
sekolah, dan profesor akan mendapatkan
bimbingan dari negara. Pendidikan PNS
berdasarkan keahlian dan kompetensi
yang dimilikinya, sehingga tingkat
pendidikan PNS yang berniat untuk
meningkatkan kualitas pendidikannya
disesuaikan dengan keahliannya yang
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 IMPLIKASI UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA
TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA APARATUR 
dijamin oleh negara. (Prasojo, 2014).
UU dibuat harus diyakini dan
dilakukan secara proporsional dan
profesional dengan mengedepankan
asas-asas keadilan, kebaikan, kearifan,
dan kebijaksanaan dalam implementasi
kebijakan untuk menghasilkan kualitas
out put yang memadai dan berorientasi
kepada kepentingan Negara secara utuh,
yaitu good governance.
PENUTUP
Implikasi UU ASN menjadi acuan
pemerintah dalam memberikan
penilaian kinerja secara profesional dan
berkesinambungan terhadap aparatur
negara. Reformasi birokrasi dilakukan
untuk meningkatkan kualitas ASN.
Peningkatan kualitas ASN menjadi
harapan dalam pencapain tujuan
reformasi birokrasi. Dalam berbagai
tantangan yang dihadapi dalam
pelaksanaan UU ASN, harus diikuti oleh
peningkatan kualitas dan professional
kinerja yang lebih biak, dengan
mengedepankan karakteristik dan
perilaku yang baik pula. Peningkatan
terhadap reformasi etika dan moral,
sebagai upaya pembudayaan terhadap
etika aparatur negara. Budaya etika yang
baik dengan kualitas dan profesionalitas
ASN, serta didukung oleh kompetensi
yang dimiliki dapat berimplikasi
terhadap kualitas kinerja pelayanan
publik yang berkualitas, transparan,
akuntabel, dan sesuai dengan yang
diharapkan oleh masyarakat.
Konsep yang diterapkan dalam UU
ASN adalah semangat reformasi
birokrasi yang berorientasi kepada
kepentingan bersama, antara pemerintah
dan masyarakat dalam melaksanakan
tugas dan fungsinya masing-masing.
Pemerintah sebagai pemberi layanan,
tentunya bersandar kepada ketentuan
yang mengikat dengan prioritasi utama
adalah kesejahteraan dan kemaslahatan
masyarakat.
Masyarakat sebagai penerima
layanan, harus berpartisipasi aktif dalam
memonitor kinerja aparatur. Artinya,
bahwa partisipasi masyarakat melalui
aspirasi yang dibangun atas dasar
peningkatan dan pembangunan kualitas
birokrasi, harus berorientasi secara
obyektif. Sehingga diharapkan, segala
bentuk korelasi dengan mitra yang setara
antara masyarakat dan pemerintah
memberikan dampak yang positif dalam
peningkatan kualitas kinerja aparatur
negara. Dibutuhkan kerja sama antara
kementerian dan lembaga negara dalam
mengimplementasikan UU sebagai
perwujudan sinkronisasi sebagai upaya
meningkatkan kualitas yang lebih baik.
KEPUSTAKAAN
Ahmadi, Rulam. (2013). Pelayanan Publik
Sebagai Guru Yang Baik Untuk
Mewujudkan Good Governance.
Jurnal Pelopor VII (3), hlm. 1-10.
Akbar, Andi Ali Said. (2012). Mengurai
Hambatan Relasi Struktural
Membangun Kompetensi Birokrasi.
Civil Service. Jurnal Kebijakan dan
Manajemen PNS 6 (2): 38-46.
Badan Kepegawaian Negara Republik
Indonesia. Distribusi Jumlah PNS
dirinci Menurut Tingkat Pendidikan
& Jenis Kelamin Desember 2013.
http://bkn.go.id/in/statistik/
distribusi-jumlah-pns-dirincimenurut-tingkat-pendidikan-danjenis-kelamin.html. Diakses
tanggal 11 April 2014.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
667
 HAYAT 
668
Badan Pusat Statistik. (2013). Statistik
Indonesia, Statistical Yearbook of
Indonesia 2013. http://www.
bps.go.id/hasil_publikasi/SI_2013
/index3.php?pub=Statistik+Indon
esia+2013. Diakses tanggal 03 Juni
2014.
Badan Pusat Statistik. Jumlah Pegawai
Negeri Sipil Menurut Provinsi dan
Jenis Kelamin, 2007-2012.
http://www.bps.go.id/tab_sub/v
iew.php?kat=1&tabel=1&daftar=1
&id_subyek =101&notab=3 .
Diakses tanggal 03 Juni 2014.
Badan Pusat Statistik. Penduduk Indonesia
menurut Provinsi 1971, 1980, 1990,
1995, 2000 dan 2010.
http://www.bps.go.id/tab_sub/v
iew.php?tabel=1&id_subyek=12.
Diakses tanggal 03 Juni 2014.
Benius. (2014). Membangun Aparatur
sebagai Penyelenggara Pelayanan
Publik, Harian Umum Tabengan.
(Online).(http://media.harian
tabengan.com/index/detailo/id/
37414, diakses tanggal 7 Maret
2014).
Haris, Aidil. (2011). Profesionalisme
Aparatur Pemerintah Persfektif
Komunikasi Pemerintah. Jurnal
Communicatio I (1): 15-23.
Hayat. (2013). Profesionalitas dan
Proporsionalitas: Pegawai Tidak Tetap
Dalam Penilaian Kinerja Pelayanan
Publik. Jurnal Kebijakan dan
Manajemen PNS 7 (2): 24-39.
Jati, Wasisto Raharjo. (2012). Kultur
Birokrasi Patriomialisme dalam
Pemerintahan Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta. Analisa, Jurnal
Borneo Administrator 8 (2): 145160.
Mariana, Dede. (2006). Reformasi Birokrasi
Pemerintah Pasca Orde Baru. Jurnal
Sosiohumaniora 8 (3): 240-254.
Prasojo, Eko. (2014). Swasta Bias Jabat
Sekda. (Online). (http://
www.radarjogja.co.id/swastabisa-jabat-sekda/. Jan 17, 2014.
Diakses tanggal 7 Maret 2014).
Pusat Kajian Kinerja Otonomi Daerah.
(2012). Pengukuran Kinerja dan
Evaluasi Kinerja Manajemen PNS di
Daerah. Jurnal Info Kajian Lembaga
Administrasi Negara 6 (1): 22-58.
Pusat Kajian Manajemen Pelayanan,
Deputi II Bidang Kajian
Manajemen Kebijakan dan
Pelayanan Lembaga Administrasi
Negara. (2009). Standar Pelayanan
Publik: Langkah-langkah
Penyusunan. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.
Republik Indonesia, Undang-Undang
Dasar Republik Indonesia Tahun
1945.
Republik Indonesia, Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 Tentang
Pemerintahan Daerah.
Republik Indonesia, Undang-Undang
Nomor 43 tahun 1999 Tentang
Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1974 Tentang
Pokok-Pokok Kepegawaian.
Republik Indonesia, Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 2014 Tentang
Aparatur Sipil Negara.
Rozi, Syafuan. (2009). Netralitas Korporat
dan Birokrasi Inovatif Di Indonesia:
Menanam, Merawat dan Menuai
Kemuliaan Bangsa. Jurnal Kebijakan
dan Manajemen PNS 3 (1)
(http://www.bkn.go.id
/attachments/077_jurnalvol3juni2
009.pdf. Diakses tanggal 16 Maret
2014).
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 IMPLIKASI UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA
TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA APARATUR 
Rudianto, Yayan. (2005). Pelayanan Publik
Pada Penyelenggaraan Pemerintahan
Kecamatan. (online). Jurnal Madani
Edisi II: 32-45. http://www.
ejournal-unisma.net/ojs/
index.php/madani/article/viewFi
le/170/157. Diakses tanggal 04 Juni
2014.
Samin, Rumzi. (2011). Reformasi Birokrasi.
Jurnal FISIP UMRAH 2 (2): 172–182.
Saragih. G, Jopinus. (2012). Reformasi
Aparatur
Negara Untuk
Melaksanakan Tata Kelola
Pemerintahan Yang Baik Dan Benar
(Good Governance). Jurnal Widya 29
(319): 16-21.
Sudarsa, Agun Gunadjar. (2013).
http://www.kangagun.com/kont
en/317/uu-asn-demi-birokrasiterhormat-dan-pemerintahanefektif. Diakses tanggal 04 Juni
2014.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
669
info kebijakan
UNDANG-UNDANG
NOMOR 5 TAHUN 2014
TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA
670
A. LATAR BELAKANG
eformasi birokrasi merupakan
agenda prioritas pembangunan
nasional. Bertujuan melakukan
perubahan mendasar terhadap sistem
penyelenggaraan pemerintahan
terutama mencakup 3 (tiga) elemen dasar
yaitu kelembagaan, ketatalaksanaan dan
sumber daya aparatur. Sumber daya
aparatur berperan sebagai aktor untuk
mencapai reformasi birokrasi. Ada 4,7
juta sumber daya aparatur di Indonesia
dan menduduki posisi penting karena
sangat menentukan penyelenggaraan
pelayanan publik dan pelaksanaan tugastugas pemerintaha dan pembangunan.
Oleh karena itu, tantangan yang harus
dihadapi oleh Indonesia adalah menjaga,
mengembangkan dan menghargai
sumber daya aparatur sebagaimana
mestinya.
Lahirnya Undang-Undang
Aparatur Sipil Negara (UU ASN)
R
merupakan jawaban terhadap tantangan
tersebut karena telah merombak secara
dramatis undang-undang tentang
kepegawaian yang pernah ada. Pada
zaman orde baru (Orba) pernah ada
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974
tentang Pokok-pokok Kepegawaian,
kemudian diperbaharui di masa
reformasi, yaitu Undang-Undang Nomor
43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974
tentang Pokok-Pokok Kepegawaian.
Di zaman Orba sebagus apapun
sistem aparatur sipil, tetap timbul
kritikan, karena undang-undang
kepegawaian pada masa itu didesain
khusus untuk menjadi monoloyalitas
seluruh aparatur yang harus loyal
tunggal kepada pemerintah dan partai
pendukung pemerintah saat itu. Pada
zaman reformasi, undang-undang
tentang pokok-pokok kepegawaian yang
telah dikoreksi juga menuai beberapa
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 INFO KEBIJAKAN 
kelemahan. Dalam pelaksanaannya
undang-undang kepegawaian ini
dianggap belum mampu melahirkan
aparatur negara yang profesional, justru
yang terjadi adalah politisasi birokrasi
yang mengakar sampai ke tingkat
kabupaten/kota dan desa-desa.
Perubahan sumber daya aparatur
memang tidak mudah karena
perubahannya tidak hanya meliputi
sistem, struktur dan manajemen SDM,
tetapi juga perubahan budaya, cetak
pikir, dan perilaku birokrasi itu sendiri.
Ada beberapa masalah dasar dalam SDM
birokrasi Indonesia. Pertama, belum
tertanamnya budaya kinerja dan budaya
pelayanan. Ukuran kinerja pada
umumnya belum terlalu konkret dan
belum terencana dengan baik.
Sedangkan budaya pelayanan yang
harusnya dimiliki oleh setiap aparatur
belum terbentuk karena masih terkotak
pada budaya dilayani. Kedua, menjadi
seorang PNS belum dipandang sebagai
sebuah profesi yang memiliki standar
pelayanan profesi, kode etik profesi dan
pengembangan kompetensi profesi yang
harus dihormati, dijaga dan dijadikan
dasar dalam berbagai kebijakan dan
manajemen SDM. Ketiga, kian besarnya
gejala pengaruh politik, hubungan
kekerabatan, hubungan ekonomi dan
berbagai relasi lain dalam manajemen
SDM. Proses rekrutmen dan
pengisian/promosi jabatan di sebagian
pemerintahan daerah lebih ditentukan
relasi-relasi yang berdimensi politik,
kekeluargaan/kekerabatan, dan
ekonomi. Pengisian jabatan tak
didasarkan pada kompetensi, hasil
kinerja sebelumnya, dan kesesuaian
kualifikasi yang dibutuhkan. Keempat,
adalah sulitnya menegakkan integritas
dan mencegah terjadinya perilaku
menyimpang dalam birokrasi.
Sebenarnya, persoalan utamanya adalah
ketiadaan nilai dasar profesi yang
dijadikan pedoman perilaku. Jika di
beberapa jabatan dan instansi ada, nilai
dasar itu belum terinternalisasi baik
dalam diri PNS
UU ASN menganut paradigma
baru yang mengharuskan perubahan
pengelolaan sumber daya dari perspektif
lama manajemen kepegawaian yang
menekankan hak dan kewajiban
individual pegawai menuju perspektif
baru yang menekankan pada manajemen
pengembangan sumber daya manusia
secara strategis. Sehingga menjadi
harapan besar pengelolaan sumber daya
aparatur di Indonesia ke depan dapat
menjadi lebih efektif, efisien, dan
akuntabel serta memiliki kualifikasi dan
kompetensi yang diperlukan untuk
menghadapi tantangan bangsa ke
depannya. Untuk menghasilan aparatur
tersebut, UU ASN disusun untuk
mengatur ketentuan pokok tentang
pengaturan dan pengelolaan aparatur
sipil negara sebagai profesi bagi para
pegawai negeri sipil yang bekerja pada
semua instansi pemerintah pusat,
sekretariat lembaga negara, sekretariat
lembaga non kementerian, instansi
pemerintah daerah dan perwakilan
Republik Indonesia di luar negeri.
UU ASN disetujui oleh DPR-RI
pada Rapat Paripurna, 19 Desember 2013
kemudian diundangkan pada tanggal 15
Januari 2014 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 6. UU ini
memuat 15 Bab terdiri dari 141 Pasal.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
671
 UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA 
672
B. MUATAN UNDANG-UNDANG
(UU)
Materi muatan UU ASN mencakup
bab-bab:
1. Ketentuan Umum
2. Asas, Prinsip, Nilai Dasar, serta
Kode Etik dan Kode Perilaku
3. Jenis,Status dan Kedudukan
4. Fungsi, Tugas dan Peran
5. Jabatan ASN
6. Hak dan Kewajiban
7. Kelembagaan
8. Manajemen ASN
9. Pengisian Jabatan Pimpinan
Tinggi
10. Pegawai ASN yang Menjadi
Pejabat Negara
11. Organisasi
12. Sistem Informasi ASN
13. Penyelesaian Sengketa
14. Ketentuan Peralihan
15. Ketentuan Penutup
1. Asas, Prinsip, Nilai Dasar, serta Kode
Etik dan Kode Perilaku
Penyelenggaraan kebijakan dan
manajemen ASN berdasarkan pada asas:
a. Kepastian Hukum, bahwa dalam
setiap penyelenggaraan
kebijakan dan manajemen ASN,
mengutamakan landasan
peraturan perundang-undangan,
kepatutan dan keadilan.
b. P r o f e s i o n a l i t a s , b e r a r t i
mengutamakan keahlian yang
berlandaskan kode etik dan
ketentuan peraturan perundangundangan.
c. P r o p o r s i o n a l i t a s , b e r a r t i
mengutamakan keseimbangan
antara hak dan kewajiban
pegawai ASN.
d. K e t e r p a d u a n , b a h w a
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
pengelolaan pegawai ASN
didasarkan pada satu sistem
pengelolaan yang terpadu secara
nasional.
Delegasi, berarti bahwa sebagian
kewenangan pengelolaan
pegawai ASN dapat
didelegasikan pelaksanaannya
kepada kementerian, lembaga
pemerintah non kementerian dan
pemerintah daerah.
Netralitas, bahwa setiap pegawai
ASN tidak berpihak dari segala
bentuk pengaruh manapun dan
tidak memihak kepada
kepentingan siapapun
Akuntabilitas, bahwa setiap
kegiatan dan hasil akhir dari
kegiatan pegawai ASN harus
dapat dipertanggungjawabkan
kepada masyarakat sesuai
dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Efektif dan Efisien, bahwa dalam
penyelenggaraan manajemen
ASN sesuai dengan target atau
tujuan dengan tepat waktu sesuai
dengan perencanaan yang
ditetapkan.
Keterbukaan, bahwa dalam
penyelenggaraan manajemen
ASN bersifat terbuka untuk
publik.
Non diskriminatif, bahwa dalam
penyelenggaraan manajemen
ASN, KASN tidak membedakan
perlakuan berdasarkan gender,
suku, agama, ras dan golongan.
Persatuan dan Kesatuan, bahwa
pegawai ASN sebagai perekat
Negara Kesatuan Republik
Indonesia
Keadilan dan Kesetaraan, bahwa
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 INFO KEBIJAKAN 
pengaturan penyelenggaraan
ASN harus mencerminkan rasa
keadilan dan kesamaan untuk
memperoleh kesempatan akan
fungsi dan peran sebagai pegawai
ASN.
m. K e s e j a h t e r a a n , b a h w a
pengaturan penyelenggaraan
ASN diarahkan untuk
mewujudkan peningkatan
kualitas hidup pegawai ASN.
2. Jenis, Status dan Kedudukan
Berdasarkan jenisnya, pegawai
ASN terdiri dari
a. PNS (Pegawai Negeri Sipil),
berstatus sebagai pegawai tetap
yang diangkat oleh pejabat
pembina kepegawaian dan
memiliki nomor induk pegawai
secara nasional serta menduduki
jabatan pemerintahan.
b. PPPK (Pegawai Pemerintah
dengan Perjanjian Kerja),
merupakan pegawai ASN yang
diangkat sebagai pegawai dengan
perjanjian kerja oleh pejabat
pembina kepegawaian sesuai
dengan kebutuhan instansi
pemerintah dan ketentuan UU
ASN untuk melaksanakann tugas
pemerintahan.
Pegawai ASN berkedudukan
sebagai unsur aparatur negara,
melaksanakan kebijakan yang ditetapkan
oleh pimpinan instansi pemerintah.
Harus bebas dari pengaruh dan
intervensi semua golongan dan partai
politik.
3. Fungsi, Tugas dan Peran
Pegawai ASN berfungsi sebagai
pelaksana kebijakan publik, pelayan
publik, perekat dan pemersatu bangsa.
Sedangkan tugas pegawai ASN adalah
melaksanakan kebijakan publik yang
dibuat oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian, memberikan pelayanan
publik yang profesional dan berkualitas
serta mempererat persatuan dan
kesatuan NKRI. Perannya antara lain
sebagai perencana, pelaksana dan
pengawas penyelenggaraan tugas umum
pemerintahan dan pembangunan
nasional melalui pelaksanaan kebijakan
dan pelayanan publik yang profesional,
bebas dari intervensi politik serta bersih
dari praktik KKN.
4. Jabatan ASN
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
673
 UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA 
5. Hak dan Kewajiban
674
Kewajiban pegawai ASN meliputi:
a. Setia dan taat pada Pancasila, UUD
1945, NKRI dan Pemerintah yang
sah.
b. Menjaga persatuan dan kesatuan
bangsa.
c. Melaksanakan kebijakan yang
dirumuskan pejabat pemerintah
yang berwenang.
d. Menaati ketentuan peraturan
perundang-undangan.
e. Melaksanakan tugas kedinasan
dengan penuh pengabdian,
kejujuran, kesadaran dan
tanggungjawab.
f. Menunjukkan integritas dan
keteladanan dalam sikap, perilaku,
ucapan dan tindakan kepada
setiap orang, baik di dalam
maupun luar kedinasan.
g. Menyimpan rahasia jabatan dan
hanya dapat mengemukakannya
sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
6. Kelembagaan
Presiden selaku pemegang
kekuasaan pemerintahan merupakan
pemegang kekuasaan tertinggi dalam
kebijakan, pembinaan profesi dan
manajemen ASN. Untuk
menyelenggarakan kekuasaannya,
Presiden mendelegasikan sebagian
kekuasaannya kepada Kementerian PAN
dan RB, Komite Aparatur Sipil Negara
(KASN), Lembaga Administrasi Negara
(LAN) dan Badan Kepegawaian Negara
(BKN).
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 INFO KEBIJAKAN 
Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN)
KASN berkedudukan di ibukota
negara. KASN merupakan lembaga non
struktural yang mandiri dan bebas dari
intervensi politik untuk menciptakan
pegawai ASN yang profesional dan
berkinerja, memberikan pelayanan
secara adil dan netral serta menjadi
perekat dan pemersatu bangsa.
KASN dibentuk paling lama 6
(enam) bulan sejak UU ASN
diundangkan. KASN terdiri dari 1 (satu)
orang ketua merangkap anggota, 1 (satu)
orang wakil ketua merangkap anggota
dan 5 (lima) orang anggota. Unsur
keanggotaannya berasal dari unsur
pemerintah dan atau non pemerintah.
Anggota KASN diseleksi dan diusulkan
oleh tim seleksi yang beranggotakan 5
(lima) orang dan dibentuk dan dipimpin
oleh menteri PAN dan RB dan
melakukan tugas selama 3 (tiga) bulan
sejak pengangkatan. Tim seleksi
melakukan proses seleksi anggota KASN
dengan mengumumkan secara terbuka
lowongan tersebut kepada masyarakat
secara luas. Ketua, wakil ketua dan
anggota KASN ditetapkan oleh presiden
untuk masa jabatan 5 (lima) tahun dan
hanya dapat diperpanjang untuk 1 (satu)
kali masa jabatan.
Untuk menjalankan tugasnya
KASN dibantu oleh asisten, pejabat
fungsional keahlian yang dibutuhkan
dan sekretariat. Asisten KASN diangkat
dan diberhentikan oleh ketua KASN
berdasarkan persetujuan rapat KASN.
Asisten bisa berasal dari PNS atau nonPNS yang memiliki kualifikasi akademik
paling rendah S2 di bidang tertentu. Sekretariat dipimpin oleh kepala sekretariat
yang berasal dari PNS, diangkat dan
diberhentikan oleh ketua KASN.
KASN memiliki dan melaksanakan
kode etik dan kode perilaku. Dalam hal
terjadi pelanggaran, maka Presiden
membentuk majelis kehormatan kode
etik dan kode perilaku. Majelis
kehormatan terdiri atas 5 (lima) orang
yang berasal di luar KASN dan memiliki
kompetensi di bidang ASN, rekam jejak
yang baik, memiliki integritas moral dan
netralitas serta berusia paling rendah 55
(lima puluh lima) tahun.
7. Manajemen ASN
Manajemen ASN diselenggara-kan
berdasarkan sistem merit, yaitu
didasarkan pada kualifikasi, kompetensi
dan kinerja secara adil dan wajar tanpa
membedakan latar belakang politik, ras,
warna kulit, agama, asal usul, jenis
kelamin, status pernikahan, umur dan
kondisi kecacatan. Manajemen ASN
meliputi Manajemen PNS dan
Manajemen PPPK.
Presiden selaku pemegang
kekuasaan tertinggi pembinaan ASN
dapat mendelegasikan kewenangan
menetapkan pengangkatan,
pemindahan, dan pemberhentian pejabat
selain pejabat pimpinan tinggi utama dan
madya, dan pejabat fungsional keahlian
utama kepada Pejabat Pembina
Kepegawaian. Pejabat Pembina
Kepegawaian adalah pejabat yang
mempunyai kewenangan menetapkan
pengangkatan, pemindahan dan
pemberhentian pegawai ASN dan
pembinaan manajemen ASN di instansi
pemerintah sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan. Terdiri atas:
- Menteri di kementerian
- Pimpinan lembaga di LPNK
(Lembaga Pemerintahan Non
Kementerian)
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
675
 UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA 
-
Sekretaris jenderal di sekretariat
lembaga negara dan LNS (Lembaga
Non Struktural)
- Gubernur di provinsi
- Bupati/walikota di kabupaten/kota
Selanjutnya, Presiden dapat
mendelegasikan kewenangan
pembinaan manajemen ASN kepada
pejabat yang berwenang di kementerian,
sekretaris jenderal/sekretariat lembaga
negara, sekretariat lembaga non
struktural, sekda provinsi dan
kabupaten/kota.
676
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 INFO KEBIJAKAN 
7.
8.
4.
5.
6.
677
9.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA 
8. Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi
(JPT)
Pengisian JPT dilakukan secara
kompetitif dan terbuka di kalangan PNS.
JPT utama dan madya tertentu dapat
berasal dari non-PNS dengan
persetujuan Presiden secara kompetitif
dan terbuka. JPT dapat diisi oleh prajurit
TNI dan anggota Polri setelah
mengundurkan diri dari dinas aktif
apabila dibutuhkan dan sesuai dengan
kompetensi.
PENGISIAN JPT UTAMA DAN MADYA K/L PUSAT
PRESIDEN
8
7
Laporan
KEPUTUSAN PRESIDEN
JPT TERPILIH
6
KASN
MENYAMPAIKAN 3 CALON
MEMASTIKAN
SISTEM MERIT
2
PENGAWASAN PEMBENTUKAN
PANSEL DAN KEPUTUSAN
MENGIKAT
PIMP K/L/PPK
1
5
KOORDINASI
MEMBENTUK
MENYAMPAIKAN
3 CALON JPT
PANSEL
4
678
PENGAWASAN PELAKSANAAN
SELEKSI DAN KEPUTUSAN
MENGIKAT
3
MENYELEKSI JPT SECARA TERBUKA
MEKANISME SELEKSI JPT PRATAMA K/L PUSAT
PRESIDEN
7
Laporan
8
Pembatalan, Peringatan
dan Teguran
KASN
6
MEMASTIKAN
SISTEM MERIT
PPK
2
PENGAWASAN PEMBENTUKAN
PANSEL DAN KEPUTUSAN
MENGIKAT
1 MEMBENTUK
KOORDINASI
MEMILIH &
MENETAPKAN
5
PyB
MENYAMPAIKAN
3 CALON JPT
PANSEL
4
PENGAWASAN PELAKSANAAN
SELEKSI DAN KEPUTUSAN
MENGIKAT
3
MENYELEKSI JPT SECARA TERBUKA
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 INFO KEBIJAKAN 
MEKANISME SELEKSI JPT MADYA DI DAERAH
PRESIDEN
9
KEPUTUSAN PRESIDEN
JPT TERPILIH
KASN
6
Laporan
MENYAMPAIKAN
3 CALON
8
MENDAGRI
MEMASTIKAN
SISTEM MERIT
PENGAWASAN DAN KEPUTUSAN
7 MENGIKAT
GUBERNUR/ PPK
2
PENGAWASAN PEMBENTUKAN
PANSEL DAN KEPUTUSAN
MENGIKAT
MEMBENTUK
5
1
MENYAMPAIKAN
3 CALON JPT
KOORDINASI
PANSEL
4
PENGAWASAN PELAKSANAAN
SELEKSI DAN KEPUTUSAN
MENGIKAT
3
MENYELEKSI JPT SECARA TERBUKA
MEKANISME SELEKSI JPT PRATAMA DI DAERAH
PRESIDEN
7
LAPORAN
8
679
Pembatalan, Peringatan
dan Teguran
KASN
6
MEMASTIKAN
SISTEM MERIT
GUBERNUR/ PPK
2
PENGAWASAN PEMBENTUKAN
PANSEL DAN KEPUTUSAN
MENGIKAT
1 MEMBENTUK
KOORDINASI
MENETAPKAN JPT
5
PyB
MENYAMPAIKAN
3 CALON JPT
PANSEL
4
PENGAWASAN PELAKSANAAN
SELEKSI DAN KEPUTUSAN
MENGIKAT
JPT hanya dapat diduduki paling
lama 5 (lima) tahun. Pejabat yang habis
masa jabatannya harus mengikuti
seleksi/uji kompetensi kembali untuk
menduduki jabatan yang sama pada
periode berikutnya. Pejabat yang
bersangkutan harus memenuhi target
3
MENYELEKSI JPT SECARA TERBUKA
kinerja yang diperjanjikan dengan
atasan. Pejabat yang tidak memenuhi
kinerja yang diperjanjikan dalam waktu
satu tahun pada suatu jabatan, diberikan
kesempatan 6 (enam) bulan untuk
memperbaiki kinerjanya. Namun jika
pejabat yang bersangkutan tidak
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA 
menunjukkan perbaikan kinerja,
maka harus mengikuti seleksi ulang uji
kompetensi kembali. Dari hasil seleksi
tersebut, pejabat yang bersangkutan
dapat dipindahkan pada jabatan lain
sesuai dengan kompetensi yang dimiliki
atau ditempatkan pada jabatan yang
lebih rendah.
680
9. Pegawai ASN yang Menjadi Pejabat
Negara
Pegawai ASN dapat menjadi
pejabat negara yaitu
a. Presiden, wakil presiden.
b. Ketua, wakil ketua dan anggota
MPR.
c. Ketua, wakil ketua dan anggota
DPR
d. Ketua, wakil ketua dan anggota
Mahkamah Konstitusi
e. Ketua, wakil ketua dan anggota
BPK
f. Ketua, wakil ketua dan anggota
Komisi Yudisial
g. Ketua dan wakil ketua KPK
h. Menteri dan jabatan setingkat
menteri
i. Gubernur dan wakil gubernur
j. Bupati/walikota dan wakil
bupati/wakil walikota
k. Pejabat negara lainnya yang
ditentukan oleh UndangUndang.
Pegawai ASN dari PNS yang
mencalonkan diri atau dicalonkan
sebagai presiden dan wakil presiden,
ketua, wakil ketua dan anggota DPR dan
DPRD, kepala daerah, wajib menyatakan
pengunduran diri secara tertulis sebagai
PNS sejak mendaftar sebagai calon.
Sedangkan PNS yang tidak menjabat lagi
sebagai pejabat negara dapat menduduki
JPT, jabatan administrasi, jabatan
fungsional sepanjang tersedia lowongan
jabatan. Jika tidak tersedia lowongan
jabatan dalam waktu 2 (dua) tahun, maka
PNS yang bersangkutan diberhentikan
dengan hormat.
10. Organisasi ASN
Pegawai ASN berhimpun dalam
wadah korps profesi Pegawai ASN
Republik Indonesia yang bertujuan
menjaga kode etik profesi dan standar
pelayanan profesi ASN serta
mewujudkan jiwa korps ASN sebagai
pemersatu bangsa.
11. Sistem Informasi ASN
Sistem Informasi ASN adalah
rangkaian informasi dan data mengenai
pegawai ASN yang disusun secara
sistematis, menyeluruh dan terintegrasi
dengan berbasis teknologi. Sistem ini
dikelola oleh BKN dan dapat diakses oleh
nstansi terkait baik untuk keperluan
update data maupun untuk pengambilan
keputusan.
12. Penyelesaian Sengketa
Sengketa pegawai ASN
diselesaikan melalui upaya administratif
yang terdiri dari keberatan dan banding.
Keberatan diajukan secara tertulis
kepada atasan pejabat yang berwenang
menghukum, sedangkan banding
administratif diajukan kepada badan
pertimbangan ASN.
13. Ketentuan Peralihan
Pada saat Undang-Undang ini
mulai berlaku, terhadap jabatan PNS
dilakukan penyetaraan sampai dengan
berlakunya peraturan pelaksanaan
mengenai jabatan ASN:
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 INFO KEBIJAKAN 
C. PENUTUP
Undang-undang ini mulai berlaku
saat diundangkan pada 15 Januari 2014
dan Undang-Undang tentang PokokPokok Kepegawaian dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku. Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang ini harus
sudah ditetapkan paling lambat 2 (dua)
tahun sejak Undang-Undang ini
ditetapkan, terdiri dari 19 Peraturan
Pemerintah (PP), 4 Peraturan Presiden
(Perpres) dan 1 Peraturan Menteri
(Permen).
Perubahan birokrasi Indonesia
perlu didukung aparatur yang
profesional, bebas dari intervensi politik,
bersih dari praktek KKN, mampu
menyelenggarakan pelayanan publik
dan mampu menjalankan peran sebagai
perekat persatuan dan kesatuan NKRI.
Semoga UU ASN dapat menjadi fondasi
penting untuk mencapainya. (rati
sumanti)
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
681
KESIAPAN
1
PENERAPAN REFORMASI BIROKRASI DI SUMATERA
THE READINESS FOR IMPLEMENTATION OF BUREAUCRATIC
REFORM IN SUMATERA
Bidang Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara
682
ABSTRACT
This study aims to develop an instrument to measure the readiness of implementation of
bureaucratic reform in Local Governments in Sumatra, also to describe it. The results showed
that six areas are well prepered for reform. First, the commitment of leaders to reform has built
up. Second, the quality of public service has enhanced. It has been proofed by using standard
operating procedures in delivering services. Third, regulations have been adapted to local
priorities; Fourth, organizational structure has been created proporly to the needs of local
affairs, although not fully efficient or effective Fifth, accountability enhancing through
envolving all actors in local governmnets. Sixth, in Apparatus Resource Management, the local
government has set some documents related to the development of competence such as Workload
Analysis of Individual and job competency standards. In other hand, two (areas are required
some attentions beacause iof their resistance of reform. First, management of change. In some
local governments, bureaucratic reform agenda seems to only be the responsibility of specific
actors or units such as Bappeda (not be a common agenda). Second, th use of SOP as a still low.
The research recommends three stategies: (1) conducting a socialization and internalize and
disseminate understanding of bureaucratic reform across the lining of the officers, to build
motivation and a sense of ownership of bureaucratic reform program; (2) Establishing a multistakeholder team Bureaucratic Reform government, universities, civil society, which is
coordinated by the local government in charge of bureaucratic reform program; (3) Preparing
documents that releated to bureaucratic reform such as Road Map of Bureaucratic Reform.
Keywords : Bureaucratic Reform, Local Readiness, Public Service.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menyusun instrumen untuk mengukur kesiapan penerapan
reformasi birokrasi di Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera dan memetakan
kesiapan daerah dalam mengimplementasikan reformasi birokrasi di kabupaten/kota
di Sumatera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 6 (enam) dimensi sudah
menunjukkan kondisi yang mendukung penerapan Reformasi Birokrasi, yaitu
pertama, mulai terbangunnya komitmen dilevel pimpinan daerah; kedua, upaya
kualitas pelayanan publik ditandai dengan tersedianya dokumen standar operasional
prosedur untuk beberapa unit layanan publik; ketiga, penetapan perda telah
disesuaikan dengan prioritas program legislasi daerah; keempat, penataan Struktur
1
Naskah diterima 1 April 2014. Direvisi 1 Mei 2014
 BIDANG KAJIAN KEBIJAKAN DAN INOVASI ADMINISTRASI NEGARA 
organisasi telah disesuaikan dengan urusan kebutuhan daerah walaupun belum
sepenuhnya efisien atau efektif; kelima, penyusunan dan penguatan Akuntabilitas
program kerja daerah melalui pendekatan kesepakatan bersama rapat kerja seluruh
unsur Pemerintahan, penyusunan LAKIP pemerintah daerah tepat waktu dan
melibatkan seluruh unsur pemerintah; keenam, Aspek Penataan Sistem Manajemen
SDM Aparatur, pemerintah daerah telah menetapkan dokumen-dokumen terkait
peningkatan kompetensi dan manajemen SDM, yaitu Analisis Beban Kerja Individu,
standar kompetensi jabatan. Sedangkan 2 (dua) dimensi yang dinilai masih rentan
atau sulit menerima perubahan yaitu pada manajemen perubahan, dibeberapa
kab/kota agenda reformasi birokrasi sepertinya hanya menjadi tanggungjawab
satuan kerja perangkat daerah tertentu yaitu bagian Organisasi, Badan
Kepegawaian dan Diklat Daerah, dan Bappeda, (belum menjadi agenda bersama);
Kemudian aspek Penataan Tatalaksana, yaitu ketersedian Standar Pelayanan Publik
yang minim, kepatuhan terhadap standar prosedur yang telah disepakati masih
rendah. Kajian ini merekomendasikan langkah utama yang harus segera dilakukan
adalah : (1) Menginternalisasi dan menyelanggarakan sosialisasi dan diseminasi
pemahaman reformasi birokrasi diseluruh lapisan aparatur daerah, untuk
membangun motivasi dan rasa kepemilikan program reformasi birokrasi; (2)
Membentuk Tim Reformasi Birokrasi multistakeholder unsur pemerintah,
universitas, civil society, yang dikoordinasikan oleh pemda sebagai penanggung
jawab program reformasi birokrasi; (3) Menyusun dokumen Road Map Reformasi
Birokrasi Daerah sesuai dengan kebutuhan daerah, untuk sebagai acuan dalam
menerapkan reformasi birokrasi di daerah.
Kata Kunci: Reformasi Birokrasi, Kesiapan Daerah, Pelayanan Publik.
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
enyelenggaraan otonomi daerah
merupakan langkah yang
dianggap paling tepat dalam
rangka meningkatkan kemandirian
daerah baik dari segi pengelolaan sumber
daya maupun keuangan daerah.
Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 32 Tahun 2004 Tentang
Pemerintahan Daerah Dan Nomor 33
Tahun 2004 Tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah telah memberikan
kewenangan yang cukup besar bagi
P
daerah untuk mengelola daerahnya.
Kewenangan yang cukup luas ini harus
mampu dioptimalkan dan
dimaksimalkan untuk tercipatanya
tujuan otonomi daerah yang tertuang
dalam UU yaitu terciptanya
penyelenggaraan pemerintahan daerah
yang lebih efisien dan efektif.
Keberhasilan implementasi
otonomi daerah selain sangat bergantung
pada kondisi daerah beserta kesiapan
masyarakat daerah itu sendiri, juga
sangat bergantung pada aparat
pemerintah atau birokrasi
pemerintahnya. Birokrasi pemerintah
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
683
 KESIAPAN PENERAPAN REFORMASI BIROKRASI DI SUMATERA
THE READINESS FOR IMPLEMENTATION OF BUREAUCRATIC REFORM IN SUMATERA 
684
dalam hal ini menjadi prime mover yang
menggerakkan jalannya pembangunan
dengan semangat reformasi melalui
penyelenggaraan otonomi secara luas
dan bertanggung jawab. Sebagai lembaga
sentral, birokrasi diciptakan untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas
organisasi pemerintah yang misi utamya
adalah di bidang pelayanan publik
dengan mendasarkan diri pada konsep
social equity.
Kewenangan Pemerintah Daerah
yang besar akan menjadi “senjata makan
tuan” bagi daerah jika tidak dikuti
dengan kemampuan dalam mengelola
dan menyelenggarakan pemerintah
daerah secara efisien dan efektif.
Undang-undang telah mengamanatkan
kewenangan yang cukup luas bagi
Pemerintah Provinsi dan
Kabupaten/Kota yang dirinci menjadi 15
kewenangan daerah. Salah satu
kewenangan adalah pelayanan publik
dasar seperti kesehatan dan
kependudukan. Pemberian otonomi
daerah diharapkan mampu menciptakan
pelayanan kesehatan dan kependudukan
yang lebih baik dan berorientasi pada
kepuasan masyarakat.
Permasalahan yang timbul bahkan
sudah membudaya di pelayanan publik
adalah mind set para birokrat dalam
memberikan pelayanan. Siapa yang
melayani dan dilayani menjadi terbalik
dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Masyarakat yang seharusnya sebagai
penerima manfaat pelayanan “dipaksa”
harus melayani para birokrat dan
sebaliknya, birokrat “meminta”
pelayanan kepada masyarakat. Hal ini
sangat mudah ditemukan dalam
pelayanan sehari-hari. Alur proses yang
tidak jelas, waktu yang lama, dan biaya
yang tidak jelas merupakan temuan
sehari-hari di pusat pelayanan publik.
Banyaknya penyakit birokrasi
(bureaupathologies) telah menimbulkan
ekonomi biaya tinggi dalam
pembangunan dan pemerintahan. Secara
individual perilaku menyimpang dalam
birokrasi (seperti korupsi, kolusi dan
nepotisme) seringkali dianggap sangat
fungsional untuk mengatasi problem
rendahnya gaji pegawai negeri. Tentu
saja hal ini merupakan pandangan yang
keliru, karena perilaku tersebut dapat
merugikan kepentingan rakyat. Perilaku
menyimpang dalam birokrasi yang
dikenal sebagai maladministrasi pada
akhirnya merupakan prinsip zero sum
game, dimana apabila ada pihak yang
diuntungkan maka selalu ada pihak yang
dirugikan. Biaya yang harus ditanggung
akibat perilaku koruptif birokrat pada
akhirnya merupakan beban pada
masyarakat sebagai pengguna pelayanan
publik. Dalam hal ini masyarakat
menanggung biaya ganda (double cost)
yaitu pembayaran legal dalam bentuk
pajak dan pembayaran ilegal dalam
bentuk pengutan liar dan sogokan yang
merupakan bagian dari perilaku korupsi.
Tuntunan akan reformasi birokrasi sudah
tidak dapat dibendung lagi dan
pemerintah diharapkan serius
menjalankan agenda ini.
Reformasi birokrasi telah menjadi
agenda prioritas pembangunan nasional
pemerintahan. Menerapkan reformasi
birokrasi tidaklah mudah karena
menyangkut perubahan struktural
maupun kultural. Keseriusan
pemerintah dapat dilihat dari telah
dilakukannya RB pada gelombang
pertama. Walaupun baru bersifat
instansional, RB Gelombang I telah
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 BIDANG KAJIAN KEBIJAKAN DAN INOVASI ADMINISTRASI NEGARA 
mampu memberikan gambaran
langsung keinginan perubahan dan
manfaat perubahan pada birokrasi. Pada
tahun 2008, tiga kementerian dan
lembaga telah melakukan RB yaitu
Kementerian Keuangan, Mahkamah
Agung, dan Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK). Pemberian tunjangan kinerja
sebagai wujud penerapan RB juga telah
dilakukan di ketiga instansi tersebut.
Wujud keseriusan pelaksanaan RB dapat
dilihat dari ditetapkannya Grand Desain
Reformasi Birokrasi 2025 telah
ditetapkan Presiden Republik Indonesia
(RI) pada tanggal 21 Desember 2010. Pada
RB gelombang kedua, Presiden telah
menetapkan delapan area perubahan
untuk mewujudkan reformasi birokrasi.
Cakupan perubahan tidak hanya pada
institusional, tetapi juga sudah
merambah nasional.
Untuk mencapai tujuan-tujuan
reformasi birokrasi, dibutuhkan suatu
agenda yang terstruktur dan bertahap
sehingga membentuk lintasan (trajectory)
reformasi. Reformasi administrasi tanpa
lintasan terarah yang jelas bukan saja
akan sangat melelahkan, tetapi juga tidak
akan membuahkan hasil. Pengalaman
menunjukkan bahwa salah satu
penyebab belum optimalnya Indonesia
melakukan reformasi administrasi
adalah ketiadaan lintasan reformasi
administrasi.
Agenda reformasi tidak hanya
diarahkan pada pemerintah pusat, tetapi
juga pemerintah daerah. Pada tahap
awal, tiga kementerian menjadi pilot
project penerapan reformasi birokrasi di
level pemerintah pusat. Hingga tahun
2013, seluruh kementerian diharapkan
telah melaksanakan reformasi birokrasi.
Perbaikan pelayanan, peningkatan
kinerja, dan berkurangnya KKN menjadi
fokus reformasi birokrasi. Pemberian
tunjangan kinerja (renumerasi) menjadi
pelengkap sebagai apresiasi pemerintah
terhadap kementerian yang menjalankan
reformasi birokrasi (RB).
Berbeda dengan kementerian dan
lembaga pusat, pemerintah daerah baru
mulai menerapkan RB pada tahun 2012.
Sebanyak 99 pemerintah daerah yang
terdiri dari 33 provinsi, dan 33 ibu kota
provinsi, dan 33 kab/kota lainnya
ditetapkan menjadi pilot project
pelaksananaa RB di daerah. Daerah yang
dipilih merupakan perwakilan dari
kabupaten/kota yang dianggap telah
benar-benar siap menjalankan RB.
Daerah yang menjadi pilot project tersebut
kemudian akan didampingi proses
menerapkan RB di daerah. Daerah yang
bukan pilot project dapat menerapkan RB
dengan diawali diusulkan oleh provinsi
dan telah mengagendakan RB dalam
Rencana Jangka Menengah Daerah
(RPJMD).
Tuntutan reformasi birokrasi
memiliki tantangan yang berbeda-beda
di setiap daerah. Daerah yang memiliki
catatan baik dalam penyelenggraan
pemerintahan seperti opini BPK,
Kedisiplinan yang tinggi serta inovasi
pelayanan yang baik tidak akan terlalu
sulit dalam menerapkan reformasi
brokrasi. Sedangkan daerah-daerah yang
tidak terbiasa dengan perubahanperubahan dan nilai-nilai good gavernance
akan sulit menerapkan agenda reformasi
birokrasi. Oleh sebab itu, upaya untuk
melakukan pemetaan kondisi awal
pemerintahan menjadi sangat penting.
Hasil pemetaan ini akan memudahkan
pemerintah daerah dalam menetapkan
prioritas kegiatan dalam mencapai
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
685
 KESIAPAN PENERAPAN REFORMASI BIROKRASI DI SUMATERA
THE READINESS FOR IMPLEMENTATION OF BUREAUCRATIC REFORM IN SUMATERA 
tujuan reformasi birokrasi. Untuk
menghasilkan pemetaan yang baik maka
penyusunan instrumen yang valid dan
reliable menjadi fokus awal dalam
kegiatan pemetaan.
686
2. Masalah Penelitian
Reformasi Birokrasi belum
dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh
pemerintah daerah di Indonesia.
Penerapan RB di daerah nantinya akan
menjadi menjadi permasalahan yang
sulit untuk dipecahkan jika tidak segera
dilakukan kegiatan pemetaan awal
kondisi kesiapan daerah. Oleh sebab itu,
permasalahan penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah telah terdapat instrumen
awal untuk mengukur kesiapan
daerah dalam menerapkan reformasi
birokrasi?
2. Bagaimana kesiapan pemerintah
daerah di Sumatera dalam
menerapkan reformasi birokrasi?
3. Apa saja potensi permasalahan yang
akan dihadapi dearah dalam
mengimplementasikan reformasi
birokrasi Pemerintah Daerah di
Sumatera?
3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan:
1. P e n y u s u n a n i n s t r u m e n u n t u k
mengukur kesiapan penerapan
reformasi birokrasi di Pemerintah
Kabupaten/Kota di Sumatera.
2. Memetakan kesiapan Pemerintah
Daearah khususnya sembilan area
perubahan reformasi birokrasi di
Pemerintah Kabupaten/Kota di
Sumatera.
3. M e n g i n d e n t i f i k a s i p o t e n s i
permasalahan yang akan dihadapi
dalam mengimplementasikan
reformasi birokrasi di Pemerintah
Daerah di Sumatera.
B. LANDASAN TEORI
Birokrasi berasal dari kata “bureau”
yang berarti meja atau kantor; dan kata
“kratia” (cratein) yang berarti
pemerintah/rakyat. Pada mulanya,
istilah ini digunakan untuk menunjuk
pada suatu sistematika kegiatan kerja
yang diatur atau diperintah oleh suatu
kantor melalui kegiatan-kegiatan
administrasi. Dalam konsep bahasa
Inggris secara umum, birokrasi disebut
dengan “civil service”. Selain itu juga
sering disebut dengan public sector, public
service atau public administration.
Berbicara soal birokrasi, tidak bisa
lepas dari konsep yang digagas Max
Weber, sosiolog ternama asal Jerman,
dalam karyanya ”The Theory of Economy
and Social Organization”, yang dikenal
melalui ideal type (tipe ideal) birokrasi
modern. Model ini yang sering diadopsi
dalam berbagai rujukan birokrasi
berbagai negara, termasuk di Indonesia,
walaupun dalam penerapan tidak
sepenuhnya bisa dilakukan. Weber
membangun konsep Birokrasi berdasar
teori sistem kewarganegaraan yang
dikembangkannya. Ada tiga jenis
kewenangan yang berbeda, yakni
Pertama, Kewenangan Tradisional
( Traditional Authority ) mendasarkan
legitimasi kewenangan pada tradisi yang
diwariskan antar generasi; Kedua,
Kewenangan Kharismatik (Charismatic
Authority) mempunyai legitimasi
kewenangan dari kualitas pribadi dan
yang tinggi dan bersifat supranatural;
Ketiga, Kewenangan Legal-rasional
( Legalrational Authority ) mempunyai
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 BIDANG KAJIAN KEBIJAKAN DAN INOVASI ADMINISTRASI NEGARA 
legitimasi kewenangan yang bersumber
pada peraturan perundang-undangan.
C. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan
metode deskriptif dengan pendekatan
kualitatif. Metode pengumpulan data
dan lokus penelitian adalah sebagai
berikut:
1. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan instrumen kuesioner
dan dilanjutkan dengan melakukan
wawancara mendalam k epada
narasumber dari pemerintah
kabupetan/kota mengenai isi
kuesioner.
2. Lokasi Penelitian
Kabupaten/kota yang menjadi lokasi
penelitian adalah kabupaten/kota
yang bukan daerah pilot project
penerapan RB di Sumatera. Sebanyak
enam kabupaten/kota dari tiga
provinsi dipilih menjadi sampel
penelitian dan lokasi pengujian
kuesioner, yaitu:
a. Provinsi Aceh: Kota Lhokseumawe
dan Kabupaten Aceh Tamiang.
b. P r o v i n s i S u m a t e r a U t a r a :
Kabupaten Langkat dan Kota Binjai
c. Provinsi Riau: Kota Batam dan
Kabupaten Bintan.
3. Kuesioner
Kuesioner disusun untuk
memudahkan proses pengumpulan
data primer. Kuesioner berisikan
pernyataan-pernyataan yang
b ert ujuan meng uk ur k esiapan
sembilan area perubahan yang telah
ditetapkan dalam Peraturan Presiden
Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand
Design RB 2010-2025.
D. PEMBAHASAN
Penilaian mandiri terhadap
sembilan aspek yang menjadi fokus
penelitian ini dilakukan pada tiga
kabupaten dan 3 kota di Sumatera. Hasil
pengukuran ini sekaligus menjadi uji
kelayakan kuesioner yang telah disusun
di awal penelitian. Interpretasi dari nilai
yang dipilih mengacu pada keterangan
dari kuesioner yang telah ditetapkan.
1. Aspek Manajemen Perubahan
Salah satu program yang
ditargetkan dalam agenda mikro RB
adalah Program Manajemen Perubahan.
Program ini bertujuan untuk mengubah
secara sistematis dan konsisten dari
sistem dan mekanisme kerja organisasi
serta pola pikir dan budaya kerja
individu atau unit kerja di dalamnya
menjadi lebih baik sesuai dengan tujuan
dan sasaran reformasi birokrasi.
Hasil pengukuran kesamaan
persepsi tentang pentingnya RB di
daerah menunjukkan bahwa Kab/kota di
Sumut memiliki nilai 7,3, sedangkan
Aceh dan Kepri memiliki nilai rata-rata
6.5. Hal ini dapat diartikan bahwa
pemahan dasar mengenai agenda RB
telah dimiliki oleh aparatur di Aceh,
Sumut, dan Kepri. Akan tetapi, sosilisasi
belum menyentuh seluruh lapisan
aparatur khususnya aparatur teknis.
Berdasarkan wawancara dengan pejabat
terkait disimpulkan bahwa sosialisasi
baru dilakukan pada level pimpinan
khususnya eselon II dan III, sedangkan
untuk level eselon IV dan staf teknis
belum sepenuhnya mendapat sosialisasi.
Agenda RB juga dibebankan hanya
pada SKPD atau bagian tertentu,
misalnya Bappeda atau Bagian
Organisasi dan Tatalaksana. Agenda RB
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
687
 KESIAPAN PENERAPAN REFORMASI BIROKRASI DI SUMATERA
THE READINESS FOR IMPLEMENTATION OF BUREAUCRATIC REFORM IN SUMATERA 
belum menjadi agenda bersama seluruh
SKPD. Oleh sebab itu, usulan kegiatan
tahun 2013 belum mengarah dan
mendukung sepenuhnya program RB di
daerah. Adapun hasil penilaian mandiri
kab/kota dapat diperhatikan pada
Diagram 1.
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
8,6
6,5
7,3
6,5
8,6
7,5
7
khsusunya yang berkaitan dengan
pelayanan belum maksimal. Sikap ingin
dilayani, bukan melayani, masih terdapat
di sebagian tubuh aparatur. Upayaupaya telah dilakukan tetapi belum
menunjukkan hasil yang maksimal. Oleh
sebab itu, hasil penilaian mandiri yang
7
6,5
6 5,8
6,5
6
6
6,5
ACEH 6,6
Kesamaan
Visi Pemerintah Misi Pemerintah Perbaikan Pola
Persepsi akan
Daerah
Daerah
Pikir Aparatur
pentingnya
Penerapan
Reformasi
Birokrasi di
Daerah
Perbaikan
Budaya Kerja
SUMUT 7,25
KEPRI 6,6
688
1
2
3
4
5
Diagram 1. Penilaian Mandiri Aspek Manajemen Perubahan
Hasil penilaian terhadap Visi dan
Misi di kab/kota di 3 provinsi lokus
berada pada nilai 7 dan 8. Hal ini
bermakna bahwa visi dan misi daerah
telah mampu memberikan motivasi
kepada semua jajaran.Visi dan misitelah
dipublikasikan dalam bentuk dokumen
atau sarana komunikasi lain, dan semua
pelaksana unit kerja memahami. Hasil
wawancara menunjukkan bahwa visi
dan misi telah memuat nilai-nilai
reformasi birokrasi, baik secara tersurat
maupun tersirat. Penilaian terendah
dapat dilihat dari nilai rata-rata terhadap
pernyataan pebaikan pola pikir aparatur.
Hasil wawancara dapat diketahui bahwa
upaya perbaikan pola pikir aparatur
diberikan berada pada nilai 5 dan 6.
2. Aspek Penataan Peraturan dan
Perundang-Undangan
Program ini bertujuan untuk
meningkatkan efektivitas pengelolaan
peraturan perundang-undangan yang
dikeluarkan oleh K/L dan Pemda. Hasil
penilaian mandiri terhadap kondisi
aspek peraturan dan perundangundangan dapat dilihat pada Diagram 2.
Penilaian terhadap pernyataan
penyusunan/penetapan peraturan
daerah secara partisipatif berkisar pada
angka 6 dan 7. Hal ini bermakna bahwa
penyusunan perda diawali dengan
naskah akademik dan dilakukan uji
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 BIDANG KAJIAN KEBIJAKAN DAN INOVASI ADMINISTRASI NEGARA 
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
7,75
7,5
6
6,5
7
6,5
7 6,7 7,5
7,75
7
7,5
6,75 6,4 6,5
ACEH 7,15
Penyusunan/
penetapan
Peraturan
Daerah secara
partisipasitif
Penetapan
Peraturan
Daerah sesuai
dengan skala
prioritas yang
dibutuhkan
daerah
1
2
Peraturan
Tumpah Tindih
Daerah
Peraturan
Ditindaklanjuti
Daerah
dengan
Kebijakan Lebih
Lanjut
3
4
Pemanfaatan
Perda untuk
Kebutuhan
Publik
SUMUT 4,95
KEPRI 7,1
5
Diagram 2. Penilaian Mandiri Aspek Penataan Peraturan dan Perundang-Undangan
publik. Nilai yang tidak jauh berbeda
juga diberikan pada pernyataan
penetapan peraturan daerah sesuai
dengan skala prioritas yang dibutuhkan
daerah yaitu pada kisaran nilai 6 dan 7.
Nilai ini bermakna bahwa penetapan
perda sesuai skala prioritas dalam
prolegda, dan dapat ditetapkan semua
sesuai dengan waktu yang ditentukan.
Penilaian yang lebih tinggi
diberikan pada pernyataan tumpang
tindih perda yaitu bernilai sekitar 7. Nilai
ini bermakna materi perda mengatur satu
bidang terkait dengan jelas dan tegas, dan
sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
daerah. Nilai yang lebih rendah
diberikan pada pernyataan pemanfaatan
perda untuk kebutuhan publik yang
bernilai sekitar 6. Hal ini bermakna
bahwa perda telah berlaku berlaku tetapi
belum sepenuhnya menjawab kebutuhan
publik.
3. Aspek Penataan dan Penguatan
Organisasi
Program ini bertujuan untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas
organisasi K/L dan Pemda secara
proporsional sesuai dengan kebutuhan
pelaksanaan tugas masing-masing,
sehingga organisasi K/L dan Pemda
menjadi tepat fungsi dan tepat ukuran
(right sizing).
Hasil penilaian terhadap tusi SKPD
pada pemerintah kab/kota di Aceh
menunjukkannilai 6,5. Hal ini memiliki
makna bahwa masih adanya tumpah
tinggi tusi antar SKPD. Kab/kota di
Sumut dan Kepri memilih nilai 7 yang
bermakna bahwa tusi SKPD sudah
menunjukkan kejelasan tugas dan
fungsiyang tidak tumpang tindih antar
SKPD. Penilaian terhadap struktur
organisasi di daerah juga terjadi
perbedaan. Kab/kota dan Sumut
memilih nilai 6 dan 6,5 yang bermakna
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
689
 KESIAPAN PENERAPAN REFORMASI BIROKRASI DI SUMATERA
THE READINESS FOR IMPLEMENTATION OF BUREAUCRATIC REFORM IN SUMATERA 
struktur organisasi telah sesuai dengan
kebutuhan daerah akan tetapi belum
sepenuhnya efisien atau efektif.
Kab/kota di Sumut memilih nilai 7 yang
bermakna sudah sesuai dengan
kebutuhan daerah dan telah
menciptakan struktur yang efisien dan
efektif.
Hasil penilaian mandiri perangkat
daerah terhadap aspek penataan dan
penguatan organisasi daerah dapat
dilihat pada Diagram 3.
4. Aspek Penataan Tatalaksana
Program ini bertujuan untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas
sistem, proses, dan prosedur kerja yang
jelas, efektif, efisien, dan terukur pada
masingmasing K/L. Hasil penilaian
mandiri perangkat daerah terhadap
aspek penataan dan penguatan
organisasi daerah dapat dilihat pada
Diagram 4.
Penataan tatalaksana dikukur
dengan dua pertanyaan yaitu
9
7,7
8
7
7,5
7
6,5
6
6,5
6,5
7
6,4
6
5
4
ACEH 6,3
3
SUMUT 5,25
2
690
KEPRI 7
1
0
Tugas Pokok dan Fungsi
SKPD
Struktur Organisasi
Pemerintah Daerah
Kinerja SKPD
1
2
3
Diagram 3. Penilaian Mandiri Aspek Penataan dan Penguatan Organisasi
Penilaian selanjutnya adalah
kinerja SKPD. Struktur SKPD yang
dianggap telah baik diharapkan mampu
memiliki kinerja yang tinggi. Hasil
penilaian mandiri menunjukkan bahwa
kab/kota di Aceh dan Sumut capaian
kinerja SKPD menunjukkan trend positif
tetapi tidak terlalu tinggi, sedangkan
kab/kota di Kepri memberi nilai 7 yang
berarti capaian kinerja menunjukkan
trend positif dengan kenaikan kinerja
yang tinggi setiap tahunnya.
pemanfaatan teknologi informasi dan
pemanfaatan SOP. Hasil penilaian
menunjukkan bahwa pemanfaatan
teknologi di kab/kota lokus penelitian
belum menunjukkan hasil yang
maksimal. Kendala terbesar adalah
ketersedian sarana dan prasarana seperti
ratio jumlah komputer dan pegawai yang
masih sangat rendah. Hasil wawancara
dapat disimpulkan bahwa sebagian
perangkat teknolgi informasi sudah
masuk dalam usia pergantian, akan
tetapi kendala keuangan daerah
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 BIDANG KAJIAN KEBIJAKAN DAN INOVASI ADMINISTRASI NEGARA 
8
7
7
6,5
6,25
6,5
5,75
6
5
4
4
ACEH 6
3
SUMUT 4,12
2
KEPRI 6,5
1
0
Pemanfaatan Teknologi Informasi
Pemanfaatan SOP
1
2
Diagram 4. Penilaian Mandiri Aspek Penataan Tatalaksana
menyebabkan pengadaan perangkat
baru menjadi tersendat.
Ketatalaksanaan masih bernilai
rendah karena ketersedian SOP di SKDP
daerah masih sangat rendah. Kab/kota di
Sumut memberi nilai rata-rata 4 yang
bermakna bahwa SOP tidak
tersediadiseluruh SKPD. SOP belum
menjadi dokumen acuan dalam
penyelanggaraan pemerintahan
termasuk dalam pemberian
pelayanan.Hasil wawancara dengan
beberapa pejabat di lingkungan
pemerintah kab/kota di Sumut didapat
informasi bahwa kemampuan SKPD
dalam menyusun SOP masih sangat
rendah karena pemahan terhadap
dokumen SOP. Hasil temuan di beberapa
SKPD menunjukkanb bahwa SOP yang
disusun belum sesuai dengan pedoman
terbaru yang telah ditetapkan oleh
Kementerian Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi
Republik IndonesiaNomor 35 Tahun
2012 TentangPedoman Penyusunan
Standar Operasional Prosedur
Administrasi Pemerintahan atau
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor
52 Tahun 2011 Tentang Standar
Operasional Prosedur Di Lingkungan
Pemerintah Provinsi Dan
Kabupaten/Kota.
Format SOP yang tidak sesuai
dengan peraturan terbaru juga terdapat
di kab/kota di Aceh. Hal ini disebabkan
oleh penyusunan SOP tidak melibatkan
lembaga negara yang mengerti betul
dengan format SOP yang telah
ditetapkan. Sebagian SKPD dan unit
pelayanan di daerah mendapata
bimbingan penyusunan SOP dari
lembaga non pemerintah sehingga
format yang disusun tidak sesuai dengan
yang telah ditetapkan. Ketidaksesuaian
dan ketidakseragaman format SOP
membuat bingung para penerima
layanan karena standarisasi pelayanan
belum terwujud.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
691
 KESIAPAN PENERAPAN REFORMASI BIROKRASI DI SUMATERA
THE READINESS FOR IMPLEMENTATION OF BUREAUCRATIC REFORM IN SUMATERA 
5. Aspek Penataan Sistem Manajemen
SDM Aparatur
Program ini bertujuan untuk
meningkatkan profesionalisme SDM
aparatur pada masing-masing K/L dan
Pemda, yang didukung oleh sistem
rekrutmen dan promosi aparatur
berbasis kompetensi, transparan, serta
memperoleh gaji dan bentuk jaminan
kesejahteraan yang sepadan.
Penilaian terhadap aspek Penataan
Sistem Manajemen SDM Aparatur
diturunkan ke dalam enam pernyataan.
Adapun penilaian terhadap setiap
pernyataan dapat dperhatikan pada
Diagram 5.
8
7
692
6,6 6,5
7
7,25
7
6,5
penerapannya belum sepenuhnya
berjalan dengan baik. Nilai yang lebih
baik diberikan pada pernyataan
Akuntabilitas Pengelolaan SDM
Aparatur yaitu bernilai rata-rata 7. Hal ini
bermakna bahwan Seluruh kegiatan
dalam rangka pengelolaan SDM dapat
dipertanggungjawabkan. Penilaian
terhadap kedisiplinan pegawai juga tidak
terlalu jauh berbeda antar kab/kota di
Aceh, Sumut, dan Kepri yaitu 6 dan 7.
Hasil penilaian yang menunjukkan
perbedaan terbesar adalah penilaian
terhadap pernyataan Reward dan
Punishment. Kab/kota di Aceh dan Kepri
memberi nilai 6 dan 7 yang memiliki arti
7,5
6,9
6,5
6
6,5
6,5
6,25
5,7
6
4,9
5
4
3
ACEH 6,6
2
SUMUT 4,7
1
KEPRI 6,7
0
Transparansi
Pengelolaan
SDM Aparatur
Akuntabilitas
Pengelolaan
SDM Aparatur
Disiplin SDM
Aparatur
Profesionalis
me SDM
Aparatur
Reward dan
Punishment
1
2
3
4
5
Diagram 5. Penilaian Mandiri Aspek Penataan Sistem Manajemen SDM Aparatur
Penilaian terhadap pernyataan
Transparansi Pengelolaan SDM Aparatur
rata-rata bernilai 6. Hal ini bermakna
bahwa sistem rekrutmen pegawai
instansi sudah memiliki aturan berbasis
kompetensi yang jelaskan tetapi
bahwa pemberian reward dan
punishment telah dilakukan berdasarkan
peraturan yang berlaku. Sedangkan
kab/kota di Sumatera memberi nilai 4.
Hal ini menggambarkan bahwa
pemberian reward dan punishment tidak
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 BIDANG KAJIAN KEBIJAKAN DAN INOVASI ADMINISTRASI NEGARA 
sepenuhnya didasarkan peraturan yang
berlaku dan terkesan tebang pilih.
Pemberian reward lebih sering
mengedepankan hubungan keakraban
dibandingkan profesionalitas. Hal ini
muncul dari wawancara beberapa
pejabat yang menjadi responden
penelitian.
6. Aspek Penguatan Pengawasan
Program ini bertujuan untuk
meningkatkan penyelenggaraan
pemerintahan yang bersih dan bebas
KKN pada masing-masing K/L dan
Pemda. Penilaian terhadap kepatuhan
pengelolaan keuangan dinilai sudah baik
yaitu sudah berada pada angka 7 dan 8
yang memiliki arti bahwa pemerintah
9
8
administratif. Penilaian efektifitas
pengelolaan keuangan daerah dinilai
cukup baik dimana sudah berada pada
nilai 6 dan 7 yang memiliki makna bahwa
serapan periodik dan tahunan cukup
tinggi dan merata di setiap pos belanja.
Adapun hasil penilaian mandiri
aspek penguatan pengawasan dapat
diperhatikan pada Diagram 6.
Respon kabupaten/kota di Aceh,
Sumut, dan Kerpi juga sangat baik
terhadap perbaikan opini BPK setiap
tahunnya. Rata-rata nilai pada
pernyataan ini adalah 7 dan 8 yang mana
memiliki makna bahwa dudah ada
langkah strategis dan rencana aksi yang
jelas untuk memperbaiki opini BPK dan
telah dilaksanakan dengan maksimal.
8,25
7,2
7
7,5
6,9
7
7,5
8
7,3
7,25
6,9
7
693
6,5
6
5
4
ACEH 7,62
3
2
SUMUT 5,37
1
KEPRI 7,12
0
Kepatuhan terhadap
Pengelolaan
Keuangan
Efektivitas
Pengelolaan
Keuangan Negara
Upaya Perbaikan
Opini BPK
Pemanfaatan
Kewenangan
1
2
3
4
Diagram 6. Penilaian Mandiri Aspek Penguatan Pengawasan
daerah telah mengacu terhadap Standar
Keuangan Daerah dan Standar Keuangan
Negara telah sepenuhnya menjadi acuan
dalam mengelola keuangan daerah.
Jumlah temuan pelanggaran juga dinilai
sangat minim dan lebih bersifat
7. Aspek Penguatan Akuntabilitas
Program ini bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas dan
akuntabilitas kinerja K/L dan Pemda.
Hasil penilaian aspek penguatan
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 KESIAPAN PENERAPAN REFORMASI BIROKRASI DI SUMATERA
THE READINESS FOR IMPLEMENTATION OF BUREAUCRATIC REFORM IN SUMATERA 
karena hampir seluruh target tercapai.
Penilaian akuntabilitas
khususnya penyusunan Laporan
Akuntabilitas Instansi Pemerintah
(LAKIP) dinilai sudah cukup baik. Hal ini
dapat diketahui dari pemilihan nilai 6
dan 7 yang memiliki arti penyusunan
LAKIP tepat waktu dan melibatkan
seluruh unsur penyelenggara
pemerintah. Laporan kinerja, hambatan,
dan strategi penyelesaian telah diuraikan
di dalam LAKIP tahunan sehingga
menjadi pedoman perbaikan pada tahun
yang akan datang.
akuntablitas tidak berbeda jauh satu
kab/kota dengan kab/kota lainnya.
Rata-rata nilai berada pada kisaran 6 dan
7.
Penyusunan dokumen rencana
kinerja lima tahun (RPJMD) sudah
melalui proses yang benar yaitu melalui
rapat kerja yang mewakili seluruh unsur
Pemerintahan. Penetapan target capaian
rencana kinerja sangat jelas dan terdapat
rencana aksi mencapai target tersebut.
Hal ini dapat dilihat dari pemberian nilai
sekitar 7. Capaian kinerja juga dianggap
sudah baik dengan pemilihan angka 7
8
7,8
7,75
7,5
7,6
7,4
7,25
7,2
7,2
694
7,5 7,5
7
7
7
6,9
7
7,25
7
6,9
7
6,9
ACEH 7,45
6,8
SUMUT 5,4
6,6
KEPRI 7
6,4
Rencana Kinerja Capaian Kinerja Rencana Kinerja Capaian Kinerja
Lima Tahunan Lima Tahunan
Tahunan
Tahunan
1
2
3
4
Akuntabiltas
Keuangan
Daerah
5
Diagram 7. Penilaian Mandiri Aspek Penguatan Akuntabilitas
yang memiliki makna hampir seluruh
target capaian kinerja di dalam RPJMD
dapat tercapai. Proses penyusunan
dokumen tahunan dan capaian kinerja
dokumen tahunan juga bernilai sama
yaitu sekitar angka7. Hal ini bermakna
bahwa rencana kinerja tahunan telah
dianggap sangat jelas dan terukur serta
merupakan turunan dari RPJMD.
Capaian kinerja juga dinilai telah baik
8. Aspek Peningkatan Pelayanan Publik
Program ini bertujuan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan publik
pada masing-masing K/L dan Pemda
sesuai kebutuhan dan harapan
masyarakat. Kondisi pelayanan publik di
kab/kota lokus berbeda-beda. Hasil
penilaian mandiri kondisi pelayanan
publik bervariasi yaitu berkisar 5 sampai
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 BIDANG KAJIAN KEBIJAKAN DAN INOVASI ADMINISTRASI NEGARA 
7. Hasil penilaian terhadap pernyataan
kecepatan pelayanan publik, kab/kota di
Aceh memiliki nilai tertinggi yaitu 7,75.
Kecepatan pelayanan publik di kab/kota
di Aceh dapat terwujud karena adanya
program perbaikan pelayanan publik
khususnya pelayanan dasar seperti
pendidikan, kesehatan, dan catatan sipil.
Hasil wawancara diperoleh informasi
bahwa beberapa kab/kota memperoleh
bantuan dalam perbaikan pelayanan dari
instansi non pemerintahan Local
Governance and Infrastructure for
Communities in Aceh (LOGICA) yang
telah menjalankan program I dan II.
Beberapa fokus kegiatan LOGICA adalah
peningkatan pelayanan publik melalui
penyusunan SOP, penyusunan inovasi
pelayanan, penyusunan standar
pelayanan dan perubahan mind set
penyelanggara pelayanan.
Kab/kota di Sumut memberi nilai 7
terhadap pernyataan kecepatan
pelayanan yang memiliki makna bahwa
waktu pelayanan sudah sesuai dengan
standar waktu yang telah
9
8
7,75
7
7
6,5
7
7,75
7,3
7,5
7,3
6,5
ditetapkan.Terdapat standar waktu
pelayanan dan dipublikasikan. Penilaian
yang tidak jauh berbeda juga diberikan
oleh kab/kota di Kepri yaitu bernilai 6,5.
Nilai yang tidak jauh berbeda juga
diberikan untuk pernyataan
kenyamanan dan kemudahan akses
pelayanan publik yaitu pada angka 6 dan
7. Hal ini bermakna bahwa ruang tunggu
dan sarana pendukung (kursi, meja, alat
tulis) telah tersedia dengan baik
walaupun belum mempertimbangkan
masyarakat berkebutuhan khusus.
Masyarakat juga tidak terlalu lama
mengantri karena jumlah loket
pelayanan sudah cukup memadai.
Penilaian mandiri terhadap aspek
peningkatan pelayanan publik dapat
diperhatikan pada Diagram 8.
Temuan lain dalam pelayanan
publik adalah pengelolaan pengaduan
masyarakat. Kab/kota di Aceh dan
Sumut menilai proses pengelolaan
pengaduan sudah cukup baik. Sarana
pengaduan telah tersedia dan mudah
untuk dimanfaatkan. Permasalah yang
7
6,5
6,5
7
6,1
5,5
6
5
4
3
ACEH 7,3
2
SUMUT 5,2
1
KEPRI 6,4
0
Kecepatan
Pelayanan
Publik
Kenyamanan
Pelayanan
Publik
1
2
Akses
Pelayanan
Publik
3
Standarisasi
Pelayanan
4
Pengaduan
Pelayanan
Publik
5
Diagram 8. Penilaian Mandiri Aspek Peningkatan Pelayanan Publik
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
695
 KESIAPAN PENERAPAN REFORMASI BIROKRASI DI SUMATERA
THE READINESS FOR IMPLEMENTATION OF BUREAUCRATIC REFORM IN SUMATERA 
muncul adalah proses tindaklanjut
terhadap pengaduan. Beluma adanya
sistem pengelolaan lanjutan terhadap
pengaduan sehingga nilai aspek ini
masih dianggap rendah. Nilai yang
sedikit lebih baik diberikan oleh
kab/kota di Kepri. Telah tersedianya
sarana pengaduan dan upaya tindak
lanjut terhadap setiap pengaduan
sehingga pemerintah daerah berani
memberi nilai 7.
9.
696
Aspek Monitoring, Evaluasi dan
Pelaporan
Program ini bertujuan untuk
menjamin agar pelaksanaan reformasi
birokrasi dijalankan sesuai dengan
ketentuan dan target yang ditetapkan
dalam road map K/L dan Pemda. Hasil
penilaian aspek Aspek Monitoring dan
Evaluasi serta Pelaporan dapat
diperhatikan pada Diagram 9.
Kegiatan monitoring dan evaluasi
kab/kota di Aceh dan Kepri sudah pada
kondisi baik yaitu pada angka 7 dan 8.
Hal ini bermakna bahwa monitoring
periodik (bulan dan triwulan) telah
dilakukan dengan maksimal. SKPD
dianggap telah berperan aktif untuk
mengikuti kegiatan monitoring dan
evaluasi yang dilakukan oleh BAPPEDA
kab/kota. Strategi percepatan realisasi
keuangan dan fisik dirumuskan diakhir
pertemuan dan telah dilaksanakan oleh
seluruh SKPD. Nilai yang lebih rendah
terdapat di kab/kota di Sumut. Hasil
wawancara dengan pejabat di BAPPEDA
diperoleh informasi bahwa keseriusan
SKPD untuk menghadiri rapat
monitoring periodik kurang tinggi dan
keseriusan penyelesaian permasalahan
penyerapan anggaran dan realisasi fisik
tidak cepat.
Kondisi pelaporan dinilai lebih
baik dari kondisi monitoring dan
evaluasi. Pengiriman laporan tahunan
oleh SKPD ke BEPPEDA diangap telah
tepat waktu setiap tahunnya. Walaupun
begitu, laporan bulanan dan triwulan
dinggap masih sering telat sehingga
BAPPEDA harus mengirim beberapa kali
surat permintaan laporan bulanan dan
triwulan.
8,5
8
8
8
7,75
7,6
7,5
7,25
ACEH 7,5
7
SUMUT 5,3
6,7
KEPRI 8
6,5
6
Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Daerah
Pelaporan Kegiatan Daerah
1
2
Diagram 9. Penilaian Mandiri Aspek Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 BIDANG KAJIAN KEBIJAKAN DAN INOVASI ADMINISTRASI NEGARA 
E. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Temuan lapangan menunjukkan,
bahwa meskipun kabupaten dan kota
yang dikaji belum memiliki dokumen
Road Map Reformasi Birokrasi (RMRB).
Namun pada prakteknya, pemerintah
daerah telah mempunyai kebijakankebijakan dan program-program yang
mendukung pencapaian maksud dan
tujuan dari agenda-agenda perubahan
Reformasi Birokrasi yang dikehendaki.
Agenda-agenda pemerintah daerah
tersebut terus berjalan. Hanya saja
pemerintah daerah belum
mendokumenkan agenda-agenda yang
telah dilakukan tersebut dalam sebuah
RMRB.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa beberapa aspek yang dinilai
sudah lebih mendukung pencapaian
tujuan Reformasi Birokrasi pada level
mikro di pemerintah daerah adalah:
1. Aspek Peningkatan Pelayanan Publik,
Pada aspek ini, komitmen dan
kebijakan pemerintah daerah terlihat
dari upaya penyelenggaraan
pelayanan perizinan secara
terintegrasi pada satu lembaga
Pelayanan Terpadu Satu Pintu,
Ketersediaan Dokumen-Dokumen
Standar Pelayanan dan Penetapan
sarana dna mekanisme pengaduan
pada lembaga PTSP. Penerapan dan
penilaian kepuasan masyarakat pada
unit-unit pelayanan dasar, di bidang
Kesehatan, pendidikan, dan Perijinan.
Namun demikian, ketersedian
standar pelayanan dan SOP belum
terdapat diseluruh unit pelayanan. Di
bidang peningkatan kualitas
pelayanan publik, pelayanan publik
khususnya standarisasi pelayanan
dan inovasi pelayanan. Kabupaten
Aceh Tamiang salah satu bukti adanya
adanya inovasi pelayanan publik
dengan dibentuknya PATEN dan
menerapkan standar pelayanan
publik (SPP) di unit-unit pelayanan
dasar di bidang kesehatan,
pendidikan dan kecamatan.
Penyusunan dokumen standar SPP
sudah melibatkan masyarakat dan
civil society. Selain itu pemanfaatan
teknologi informasi dalam
menjalankan roda pemerintahan telah
menjadi agenda pemerintah daerah.
Pemanfaatan aplikasi perkantoran
seperti aplikasi keuangan,
kepegawaian, pelelangan sudah
dilakukan. Ketersedian web site daerah
dan web site SKPD sebagai sumber
informasi bagi masyarakat.
2. Aspek Peraturan dan Perundangundangan, Pada Aspek ini,
pemerintah daerah telah menyusun
dan menetapkan Perda-perda sesuai
dengan kebutuhan daerah.
Kemudian, penetapan perda
disesuaikan dengan prioritas yang
telah ditetapkan dalam program
legislasi daerah. Hanya saja masih
terdapat minimnya pemanfaatan
naskah akademik (secara partisipatif)
dalam penyusunan perda.
3. Aspek Penataan dan Penguatan
Organisasi, pada aspek ini komitmen
pemerintah daerah terlihat dari upaya
penataan kompetensi tugas dan fungsi
setiap kelembagaan. Penataan
Struktur organisasi telah sesuai
dengan kebutuhan daerah akan tetapi
belum sepenuhnya efisien atau efektif.
Namun demikian, masih didapati
tumpang tindih tusi pada beberapa
SKPD.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
697
 KESIAPAN PENERAPAN REFORMASI BIROKRASI DI SUMATERA
THE READINESS FOR IMPLEMENTATION OF BUREAUCRATIC REFORM IN SUMATERA 
698
4. Aspek Penataan Sistem Manajemen
SDM Aparatur, pada aspek ini,
pemerintah daerah telah menetapkan
dokumen-dokumen terkait
peningkatan kompetensi dan
manajemen SDM, yaitu Analisis
Beban Kerja Individu, standar
kompetensi jabatan. Sistem
rekruitmen pegawai instansi sudah
memiliki aturan berbasis kompetensi
yang jelas akan tetapi penerapannya
belum sepenuhnya berjalan dengan
baik. Pemberian reward dan
punisment di Kab/kota belum
menggunakan indikator output kinerja
SDM dan lembaga. Hal ini disebabkan
belum adanya instrumen penilaian
kinerja yang berbasis kinerja.
5. Aspek Penguatan Pengawasan, pada
Aspek ini, upaya pemerintah daerah
adalah prioritas mencapai perbaikan
opini pengelolaan keuangan dari BPK
setiap tahunnya.
6. Aspek Penguatan Akuntabilitas,
untuk mengawali proses tercapainya
penguatan akuntabilitas. Setiap
Pemerintah Daerah, dalam
penyusunan dokumen rencana kinerja
lima tahun (RPJMD) menggunakan
pendekatan kesepakatan bersama
melalui rapat kerja yang mewakili
seluruh unsur Pemerintahan. Agendaagenda RPJMD tersebut, di
implementasikan dalam penetapan
target capaian rencana kinerja dan
rencana aksi. Kemudian dalam
Penilaian akuntabilitas khususnya
penyusunan Laporan Akuntabilitas
Instansi Pemerintah (LAKIP),
pemerintah daerah sudah cukup baik.
Penyusunan LAKIP telah tepat waktu
dan melibatkan seluruh unsur
penyelenggara pemerintah.
7. Kegiatan monitoring, evaluasi dan
Pelaporan, pada kabupaten dan kota
di Aceh dan Kepri, SKPD dianggap
telah berperan aktif untuk mengikuti
kegiatan monitoring dan evaluasi
yang dilakukan oleh Bappeda
kab/kota. Strategi percepatan realisasi
keuangan dan fisik dirumuskan
diakhir pertemuan dan telah
dilaksanakan oleh seluruh SKPD.
Keadaan yang kurang
mengembirakan adalah pada
kab/kota di Sumut, bahwa keseriusan
SKPD untuk menghadiri rapat
monitoring periodik kurang tinggi
dan keseriusan penyelesaian
permasalahan penyerapan
anggarandan realisasi fisik tidak
cepat. Dari segi kualitas hasil
pelaporan dinilai lebih baik dari
kondisi monitoring dan evaluasi.
Proses pengiriman laporan tahunan
oleh SKPD ke Beppeda diangap telah
tepat waktu setiap tahunnya. Hanya
saja laporan bulanan dan triwulan
dianggap masih sering terlambat
sehingga Bappeda harus mengirim
beberapa kali surat permintaan
laporan bulanan dan triwulan.
Hasil penelitian menemukan 2
aspek yang dinilai masih rentan atau sulit
menerima perubahan, yaitu:
1. Aspek Manajemen Perubahan, di
beberapa kab/kota, agenda reformasi
birokrasi sepertinya hanya menjadi
tanggungjawab SKPD tertentu, yaitu
Bagian Organisasi, Badan
Kepegawaian dan Diklat Daerah, dan
Bappeda. Pemahaman aparatur
terhadap tuntutan Reformasi
Birokrasi masih sangat rendah
khusunya pada level teknis atas staf.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 KESIAPAN PENERAPAN REFORMASI BIROKRASI DI SUMATERA
THE READINESS FOR IMPLEMENTATION OF BUREAUCRATIC REFORM IN SUMATERA 
Upaya sosialisasi baik dari pihak
eksternal (kementerian dan lembaga)
maupun internal masih sangat
kurang. Budaya kerja yang juga masih
jauh dari apa yang menjadi tuntutan
reformasi birokrasi. Rendahnya
kedisiplinan dan belum adanya
forum-forum budaya kerja menjadi
indikator bahwa budaya kerja belum
sesuai dengan tuntutan reformasi
birokrasi; dan
2. A s p e k P e n a t a a n T a t a l a k s a n a ,
ketersedian kebijakan Standar
Pelayanan Publik, seperti SOP sebagai
bentuk standarisasi pelayanan masih
sangat minim. Kepatuhan dalam
menjalankan SOP juga masih sangat
rendah. Secara rata-rata, hanya 35-40
% SKPD di kabupaten/kota yang
menjadi sampel telah memiliki
dokumen SOP.
2. Saran
Untuk meningkatkan kesiapan
daerah dalam menjalankan agenda
reformasi birokrasi maka daerah harus
segera mengambil langkah strategis,
yaitu :
1. Langkah utama (harus segera
dilkakukan): (a) Menyelenggarakan
sosialisasi dan diseminasi reformasi
birokrasi di seluruh lapisan aparatur
daerah sehingga pemahaman dan rasa
memiliki reformasi birokrasi; (b)
Membentuk Tim Reformasi Birokrasi
multistakeholder unsur pemerintah,
universitas, civil society, yang
dikoordinasikan oleh pemda sebagai
penanggung jawab program
reformasi birokrasi; (c) Menyusun
dokumen Road Map Reformasi
Birokrasi di Daerah sebagai acuan
dalam menerapkan reformasi
birokrasi di daerah.
2. Langkah lanjutan: (a) Menyusun
dokumen-dokumen yang berkaitan
dengan pelayanan standar pelayanan
publik seperti dokumen Standar
Pelayanan (SP) dan dokumen Standar
Operasional Prosedur (SOP) sebagai
pedoman penataan ketatalaksanaan
birokrasi; (b) Membentuk forumforum budaya kerja dan peningkatan
kedisiplinan aparatur.
KEPUSTAKAAN
Dwiyanto, Agus. 2008.Mewujudkan
Good Governance Melalui
Pelayan Publik. Yogyakarta:
Gadjah Mada Universitas Press.
Dwiyatnto, Agus, dkk. 2006. Reformasi
Birokrasi Publik di Indonesia.
Yogyakarta: Gadjah Mada
Universitas Press.
Lembaga Administrasi Negara. 2006.
Pengukuran dan Evaluasi Kinerja
Daerah. Jakarta: Pusat Kajian
Otonomi Daerah, LAN.
Ratna, Nyoman Kutha. 2010. Metodelogi
Penelitian:Kajian Budaya dan
Ilmu Sosial Humaniora Pada
Umumnya. Yogyakarta:Pustaka
Pelajar
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
699
STRATEGI
PENINGKATAN DAYA SAING PENDIDIKAN DI ERA
1
GLOBALISASI DAN OTONOMI DAERAH
THE STRATEGY FOR ENHANCING THE COMPETITIVENESS
OF EDUCATION IN GLOBALIZATION ERA AND REGIONAL
AUTONOMY
Erika Revida
Guru Besar Ilmu Administrasi Negara FISIP USU
Email : [email protected]
700
ABSTRAK
Pendidikan yang berkualitas merupakan salah satu kunci membangun Sumber Daya
Manusia (SDM) yang berkualitas, bahkan kemajuan suatu negara akan sangat
ditentukan oleh SDM yang berkualitas sebagai subjek/pelaksana dari pembangunan.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan
pembangunan sektor pendidikan terutama di era globalisasi dan otonomi daerah saat
ini. Namun hingga saat ini masih saja terdengar selentingan tentang pelaksanaan
pendidikan yang kurang mendukung tercapainya SDM pendidikan khususnya guru
yang berkualitas dalam rangka meningkatkan daya saing pendidikan. Selain itu,
rendahnya alokasi anggaran pendididikan di berbagai daerah menunjukkan masih
rendahnya komitmen pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk
itu diperlukan beberapa strategi revitalisasi pendidikan melalui peningkatan kualitas
sumber daya manusia guru, dukungan pemerintah, serta partisipasi masyarakat dan
dunia usaha/dunia industri.
Kata Kunci : Strategi Pendidikan, Daya Saing Pendidikan, Kualitas Guru.
ABSTRACT
The Quality of education is one of the key to build advanced Human Resources (HR), even the
progress of a country will be determined by the quality of human resources as a subject of
development. Therefore there is no reason for a country including Indonesia not to increase
education sector. There are many efforts that government already done to improve the education
sector development, especially in the era of globalization and regional autonomy. However, in
fact there is news that the implementing of educational practices does not support the
achievement of qualified human resources, especially for teachers in order to enhance
competitiveness. In other hand, small portion of education budget means low commitment of
1
Naskah diterima 17 April 2014. Direvisi 16 Mei 2014
 ERIKA REVIDA 
government to enchance education quality. It needs some strategies for revitalization education
such as improving the quality of education resources, government support, and participation of
the community and business/industrial world.
Keywords : Education Strategy, Education Competitiveness, Teacher Quality.
1. PENDAHULUAN
istem Pendidikan Nasional di
Indonesia diharapkan mampu
menjamin pemerataan kesempatan
untuk memperoleh pendidikan,
peningkatan mutu serta relevansi dan
efisiensi manajemen pendidikan untuk
menghadapi tantangan global yang
sudah di depan mata sesuai dengan
tuntutan kemajuan zaman dan
perubahan kehidupan lokal, nasional.
Untuk itu perlu tetap dilakukan
pembaharuan dan perubahan sistem
pendidikan ke arah yang lebih baik
secara terencana, ajeg, terarah dan
berkesinambungan.
Tujuan pendidikan di Indonesia
sesuai dengan Undang-Undang Dasar
1945 adalah mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia
Indonesia seutuhnya, yaitu manusia
yang beriman dan bertakwa terhadap
Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi
pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan
keterampilan, kesehatan jasmani dan
rohani, memiliki kepribadian yang
mantap, mandiri serta rasa tanggung
jawab kemasyarakatan dan kebangsaan".
Pendidikan merupakan kebutuhan
primer manusia sejak lahir bahkan sejak
dalam kandungan sekalipun hingga
akhir hayatnya. Setiap manusia
membutuhkan pendidikan, sampai
kapan dan dimanapun ia berada.
Pendidikan sangat penting artinya, sebab
tanpa pendidikan manusia akan stagnan,
S
sulit maju dan berkembang bahkan akan
menjadi orang yang tertinggal dan
terbelakang dalam segala hal.
Sedemikian pentingnya
pendidikan bagi kelangsungan
kehidupan manusia. Namun dalam
prakteknya sistem pendidikan kita masih
kurang mampu mencerdaskan
masyarakat kita, bahkan masih jauh
tertinggal jika dibandingkan negaranegara lain seperti Kuba, Singapura,
Malaysia bahkan Vietnam sekalipun.
Daya saing sistem pendidikan kita masih
relatif terpuruk jika dibandingkan
dengan negara-negara ASEAN lainnya.
Berdasarkan data laporan United National
Development Program (UNDP, 2013), daya
saing negara Indonesia berada pada
peringkat 38 dari 148. Walaupun
mengalami kenaikan dari tahun 2012
peringkat 50, namun Indonesia tidak
perlu terlalu berbangga diri karena masih
menempati peringkat kelima di ASEAN.
Empat negara yang berada di atas
Indonesia ditempati oleh Singapura,
Malaysia, Brunei Darussalam dan
Thailand. Dengan demikian di bidang
pendidikan, negara kita masih relatif
kalah bersaing dengan negara-negara
ASEAN lainnya. Negara kita belum bisa
dikategorikan sebagai macan ASIA
terutama di sektor pendidikan. Tekad
kita untuk membangun bangsa melalui
pendidikan masih belum menunjukkan
realita seperti yang diharapkan.
Sesungguhnya, mendapatkan
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
701
 STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI DAN OTONOMI DAERAH 
702
pendidikan yang berkualitas merupakan
hak asasi setiap manusia Indonesia sesuai
dengan Undang-Undang Dasar 1945
pasal 31 bahwa setiap warga negara
berhak mendapatkan pendidikan.
Pendidikan diarahkan untuk
menghasilkan manusia yang berkualitas
dan mampu bersaing dalam berbagai
segi kehidupan serta memiliki budi
pekerti yang luhur, etika dan moral yang
baik. Oleh karena itu, tugas pemerintah
baik di pusat maupun di daerah adalah
memberikan pendidikan yang
berkualitas kepada masyarakatnya.
Dalam Undang-Undang tentang
pendidikan nasional jelas disebutkan
bahwa Pemerintah wajib
memprioritaskan anggaran pendidikan
sekurang-kurangnya 20% dari Anggaran
Pembangunan dan Belanja Negara
(APBN) maupun Anggaran
Pembangunan dan Belanja Daerah di luar
gaji guru. Namun amanah UU
pendidikan tersebut dalam prakteknya
masih jauh dari yang diharapkan.
Di tingkat daerah sejak otonomi
daerah permasalahan pendidikan lebih
kompleks lagi. Selain masih rendahnya
alokasi anggaran pendidikan, tingkat
pendidikan guru yang masih belum
seluruhnya sarjana (S1) sesuai dengan
amanah Sistem Pendidikan Nasional.
Beberapa strategi yang dilakukan
pemerintah di daerah antara lain adalah
dengan program penyetaraan
pendidikan S1 bagi setiap guru mulai
dari tingkat Taman Kanak-kanak/
PAUD, SD, SLTP hingga SLTA.
Walaupun pemerintah daerah
telah melaksanakan berbagai strategi
peningkatan daya saing pendidikan,
namun dalam prakteknya masih saja
terlihat rendahnya daya saing
pendidikan di daerah. Untuk
mewujudkan sistem pendidikan nasional
yang berkualitas memerlukan berbagai
strategi agar daya saing pendidikan
dapat lebih meningkat. Bagaimana
strategi peningkatan daya saing
pendidikan di era globalisasi dan
otonomi daerah merupakan pertanyaan
yang cukup menarik untuk dikaji dan
dibahas secara seksama.
II. STRATEGI PENINGKATAN DAYA
SAING PENDIDIKAN DI ERA
GLOBALISASI DAN OTONOMI
DAERAH
Di era globalisasi dan otonomi
daerah saat ini dan sesuai dengan
Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008
tentang Perubahan Kedua Atas UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang
Pemerintahan Daerah dinyatakan bahwa
setiap daerah memiliki wewenang yang
besar dan luas dalam mengatur rumah
tangganya sendiri dalam berbagai segi
kehidupan manusia dan masyarakat
termasuk pembangunan bidang
pendidikan dengan memperhitungkan
potensi dan keanekaragaman daerah.
Sesungguhnya kita tidak menutup
mata terhadap kemajuan yang telah
terjadi secara signifikan dan fundamental
dalam sistem pendidikan kita antara lain
perbaikan sistem pendidikan,
kurikulum, kualitas pendidikan guru
yang minimal harus sudah strata 1,
sertifikasi dan insentif guru yang
semakin meningkat serta perbaikan
sarana prasarana pendidikan. Perubahan
sistem pendidikan ini pada dasarnya
mengikuti perubahan sistem pemerintah
yang sentralistik ke desentralistik yang
dikenal dengan istilah otonomi
pendidikan.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 ERIKA REVIDA 
Kebijakan desentralistik yang telah
dicanangkan mempengaruhi sistem
pendidikan Indonesia (Suyanto, 2006).
Sejalan dengan itu sistem pendidikan
Indonesia telah melakukan penyesuaian
dengan model otonomi pendidikan.
Kebijakan otonomi di bidang pendidikan
diharapkan dapat membawa harapan
yang tinggi terhadap perbaikan sistem
pendidikan di Indonesia dalam rangka
meningkatkan daya saing pendidikan
baik di pemerintah pusat maupun
daerah.
Konsep daya saing (competitiveness)
sesungguhnya bukanlah hal yang baru
dalam dunia pendidikan, karena istilah
ini diakui sudah lama muncul dan
bahkan telah dilaksanakan sejak
pendidikan itu ada. Ada beberapa
pendapat para ahli tentang definisi daya
saing antara lain dinyatakan oleh
Sumihardjo (2008), memberikan
penjelasan tentang daya saing yaitu kata
“daya” dalam kalimat daya saing
bermakna kekuatan, dan kata “saing”
berarti mencapai lebih dari yang lain,
atau beda dengan yang lain dari segi
mutu, atau memiliki keunggulan
tertentu. Selain itu Rangkuti (dalam
Kuncoro, 2008) menyatakan bahwa
keunggulan bersaing merupakan
kegiatan spesifik yang dikembangkan
oleh perusahaan agar lebih unggul
dibandingkan dengan pesaingnya.
Dalam Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun
2007 tentang Standar Proses Pendidikan,
dinyatakan bahwa daya saing adalah
kemampuan untuk menunjukkan hasil
lebih baik, lebih cepat atau lebih
bermakna. Dengan demikian dapat
dinyatakan bahwa yang dimaksud
dengan daya saing adalah kemampuan
dari seseorang/organisasi/institusi
untuk menunjukan keunggulan dalam
hal/bidang/aspek tertentu sehingga
menunjukkan hasil yang lebih
baik/unggul, lebih cepat, lebih murah
dibandingkan dengan sebelumnya atau
dengan yang lainnya. Daya saing dapat
bermakna kekuatan untuk berusaha
menjadi unggul dalam hal tertentu yang
dilakukan seseorang, organisasi,
kelompok atau institusi tertentu.
Berdasarkan pengertian di atas maka
pengertian daya saing pendidikan berarti
kemampuan pendidikan dalam
melakukan strategi yang tepat untuk
mencapai tujuannya yaitu mencerdaskan
masyarakat menuju kesejahteraan dan
kemakmuran masyarakat.
Strategi yang dapat dilakukan
pemerintah daerah dalam meningkatkan
daya saing pendidikan antara lain
dengan melakukan perubahan
paradigma pembangunan pendidikan.
Perubahan paradigma pembangunan
pendidikan dimaksudkan untuk
mencapai daya saing yang tinggi yang
memberi makna bahwa peran
pendidikan sangat penting, urgen dan
strategis untuk peningkatan daya saing
pendidikan dan kualitas hidup
masyarakat. Ada beberapa strategi yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan
daya saing pendidikan yaitu (1)
meningkatkan kualitas guru, (2)
dukungan pemerintah, serta (3)
partisipasi masyarakat dan dunia
usaha/dunia industri.
a. Meningkatkan Kualitas Guru
Kualitas guru merupakan unsur
yang sangat penting dalam
meningkatkan daya saing pendidikan.
Tanpa kualitas guru, maka daya saing
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
703
 STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI DAN OTONOMI DAERAH 
704
pendidikan akan merupakan utopia
belaka.
Ada beberapa cara yang
dilakukan untuk meningkatkan kualitas
guru mulai dari meningkatkan
pendidikan guru minimal strata satu
hingga perlunya dilakukan pendidikan
dan pelatihan secara berkesinambungan
(continues improvement) terutama yang
berkaitan langsung dengan bidang studi
masing-masing guru setiap semester atau
minimal setiap tahun. Tanpa
peningkatan kualitas guru
dikhawatirkan mutu pendidikan dan
daya saing pendidikan relatif tidak akan
sampai pada cita-cita mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Dalam Undang-Undang Nomor 14
tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
ditegaskan bahwa profesi guru
merupakan bidang pekerjaan khusus
yang dilaksanakan berdasarkan prinsipprinsip sebagai berikut :
1) memiliki bakat, minat, panggilan
jiwa dan idealisme,
2) m e m i l i k i k o m i t m e n u n t u k
meningkatkan mutu pendidikan,
keimanan, ketakwaan dan akhlak
mulia,
3) memiliki kualifikasi akademik dan
latar belakang pendidikan sesuai
dengan bidang tugas,
4) m e m i l i k i k o m p e t e n s i y a n g
diperlukan sesuai dengan bidang
tugas,
5) memiliki tanggung jawab atas
p e l a k s a n a a n t u g a s
keprofesionalan,
6) memperoleh penghasilan yang
ditentukan sesuai dengan prestasi
kerja,
7) memiliki kesempatan untuk
mengembangkan keprofesionalan
secara berkelanjutan dengan
belajar sepanjang hayat,
8) memiliki jaminan perlindungan
hukum dan melaksanakan tugas
keprofesionalan dan,
9) memiliki organisasi profesi yang
mempunyai kewenangan
mengatur hal-hal yang berkaitan
dengan tugas keprofesionalan
guru.
Sesungguhnya, Undang-undang
Guru dan Dosen (UUGD) merupakan
suatu ketetapan dan keputusan politik
agar pendidik menjadi pekerja
fungsional yang profesional, yang berhak
mendapatkan hak dan kewajiban yang
profesional. Dengan itu diharapkan,
pendidik dapat mengabdikan secara total
pada profesinya dan dapat hidup layak
dari profesi tersebut. Dalam UUGD
tersebut ditentukan pula bahwa seorang
pendidik wajib memiliki kualifikasi
akademik dan kompetensi pendidik
sebagai agen pembelajaran.
Kualifikasi akademik yang dimiliki
oleh seorang guru antara lain yaitu
tingkat pendidikan minimal yang harus
dimiliki oleh seorang pendidik yang saat
ini minimal telah memiliki jenjang
sarjana strata 1 (S1) yang dibuktikan
dengan ijazah dan/atau sertifikat
keahlian yang relevan sesuai ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
Kompetensi pendidik adalah
kompetensi/kemampuan yang harus
dimiliki oleh seorang pendidik yang
meliputi kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi
profesional, dan kompetensi sosial.
Kompetensi pedagogik adalah
kemampuan yang dimiliki oleh seorang
guru dalam memahami karakteristik
atau kemampuan siswa dengan berbagai
cara. Cara yang dapat dilakukan antara
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 ERIKA REVIDA 
lain dengan memahami kemampuan
kognitif, afektif dan psikomotorik yang
dimiliki siswa, merancang pembelajaran
dan pelaksanaan pembelajaran serta
evaluasi hasil belajar sekaligus
pengembangan siswa. Kompetensi
kepribadian adalah kemampuan
personal yang dimiliki oleh guru yang
profesional yang mencerminkan
kepribadian dan sikap yang baik pada
diri sendiri maupun dengan orang lain,
arif dan bersikap bijaksana, dewasa
dalam berfikir dan berwibawa serta
memiliki akhlak yang mulia serta
menjadi contoh/teladan yang baik bagi
orang lain. Sedangkan kompetensi
profesional adalah kemampuan yang
harus dimiliki seorang guru dengan
menguasai berbagai materi pembelajaran
secara luas dan mendalam. Kompetensi
sosial adalah kompetensi yang harus
dimiliki oleh seorang guru dengan cara
melakukan adaptasi dan komunikasi
yang baik dan harmonis dengan murid
dan lingkungannya baik dengan tenaga
kependidikan maupun orang tua/wali
peserta didik dan masyarakat sekitar.
Namun, kelemahan yang ada
dalam setiap upaya meningkatkan daya
saing pendidikan di daerah antara lain
belum terciptanya profesionalisme dan
adanya keterbatasan kemampuan SDM
guru. Guru belum memperoleh hak yang
sepantasnya untuk dapat mengajar
secara profesional dan efektif, Hal itu
tercermin dari kondisi saat ini yang
mencakup jumlah guru yang kurang
sehingga harus bekerja melebihi lingkup
tugasnya, mutu yang belum sesuai
dengan tuntutan, distribusi yang kurang
merata, otonomi dan kebebasan
bertindak akademik yang kurang
otonom dan manajemen SDM guru yang
tidak kondusif. Semua itu merupakan
cerminan adanya pelanggaran hak azasi
guru. Hak azasi guru harus diproteksi
pemerintah melalui undang-undang
yang mengatur pendidikan seperti
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen. Hal ini tentu
tidak boleh dibiarkan berkelanjutan.
Pemerintah daerah harus berupaya
semaksimal mungkin menciptakan iklim
yang kondusif agar profesionalisme dan
meningkatnya kemampuan guru dapat
tercapai dengan baik.
b. Dukungan Pemerintah
Menurut amanat Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pasal 47 tertulis
bahwa sumber pendanaan pendidikan
berasal dari Pemerintah (APBN),
Pemerintah Daerah (APBD) dan
masyarakat (individu, dunia usaha).
Namun anggaran yang disediakan oleh
pemerintah belum sepenuhnya dapat
membantu semua biaya yang diperlukan
untuk operasional pendidikan (sekolah),
sehingga diperlukan tambahan dana dari
pihak lain yang dalam hal ini masyarakat
atau dunia usaha yang diajak
bekerjasama dalam memajukan
pendidikan di daerah.
Anggaran pendidikan dari
pemerintah yang masih belum sesuai
dengan amanah undang-undang yaitu
20% di luar gaji dan honor menjadi salah
satu kendala dalam meningkatkan daya
saing pendidikan. Untuk itu, sangat
diharapkan peran dunia usaha untuk
dapat memberikan bantuan dana
pendidikan dari alokasi Corporate Social
Responsibility (CSR) sebagai wujud
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
705
 STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI DAN OTONOMI DAERAH 
706
tanggung jawab sosialnya pada sekolah
yang ada di lokasi/daerahnya. Demikian
halnya untuk bantuan masyarakat
sebagai wujud dari partisipasi sosial
masyarakat.
Dalam Undang-Undang Dasar
1945 pasal 31 ayat (4) tentang
pembiayaan pendidikan ditegaskan
bahwa ”negara memprioritaskan
anggaran pendidikan sekurangkurangnya dua puluh persen dari
anggaran pendapatan dan belanja negara
serta dari anggaran pendapatan dan
belanja daerah untuk memenuhi
kebutuhan penyelenggaraan pendidikan
nasional”. Selain itu dalam UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional ditegaskan
bahwa Pemerintah dan Pemerintah
Daerah berhak mengarahkan,
membimbing, membantu dan
mengawasi penyelenggaraan
pendidikan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Namun dalam prakteknya, alokasi
anggaran pembiayaan pendidikan
sangat tergantung pada komitmen dan
cara pandang kepala daerah sebagai
eksekutif dan legislatif tentang
pentingnya meningkatkan daya saing
pendidikan. Masalahnya adalah adanya
ketidaksamaan cara pandang, arah, sikap
dan apresiasi para pemimpin di daerah
baik eksekutif maupun legislatif tentang
makna dan pentingnya pendidikan
mengakibatkan pengalokasian anggaran
pendidikan setiap daerah menjadi
bervariasi bahkan cenderung menurun
jumlahnya dari tahun ke tahun dan tidak
sampai 20% dari APBD. Diharapkan
dengan anggaran pendidikan yang 20%
dari APBD di luar gaji dan honor guru,
maka dipastikan sekolah akan lebih
leluasa untuk membangun pendidikan
ke arah yang lebih baik sehingga daya
saing pendidikan pun akan tercapai
dengan baik.
Namun dalam prakteknya
pengalokasian anggaran pendidikan
masih diletakkan pada garda yang
terbelakang. Selain itu, pemerintah
daerah masih lebih banyak
mengutamakan pembangunan yang
bersifat fisik dan proyek-proyek yang
menyangkut kepentingan jangka pendek
dengan alasan ingin menggenjot
pendapatan asli daerah (PAD). Ini semua
sangat tergantung kepada komitmen
pemerintah daerah terhadap sektor
pendidikan. Untuk itu sangat perlu
dipikirkan dengan sungguh-sungguh
bahwa sektor pembangunan pendidikan
dalam meningkatkan daya saing
pendidikan di daerah perlu mendapat
perhatian yang serius dari pemerintah
daerah sehingga diikuti dengan alokasi
anggaran pendidikan yang signifikan
dari tahun ke tahun. Hal ini sangat
penting mengingat bahwa pendidikan
merupakan “human investment” yang
tiada hentinya dan berlangsung terus
sepanjang hayat.
c. Partisipasi Masyarakat dan Dunia
Usaha
Partisipasi masyarakat dalam
berbagai segi kehidupan mulai
mengemuka sejak isu “people centered
government” dikumandangkan tahun
1980-an. Partisipasi masyarakat bukan
saja dilakukan pada saat implementasi
program, akan tetapi lebih luas dari itu
mulai dari tahap perumusan dan pembuatan keputusan, penerapan keputusan, penikmatan hasil dan evaluasi
kegiatan (Cohen dan Uphoff, 1980).
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 ERIKA REVIDA 
Partisipasi adalah proses aktif dan
inisiatif yang muncul dari masyarakat
serta akan terwujud sebagai suatu
kegiatan nyata apabila terpenuhi oleh 3
(tiga) faktor pendukungnya yaitu
adanya kemauan, kemampuan dan
kesempatan untuk berpartisipasi
(Slamet, 1992).
Partisipasi masyarakat dalam
pendidikan bukanlah dimaksudkan
masyarakat sebagai objek pendidikan
akan tetapi sebagai subjek pendidikan
yaitu turut serta dalam menentukan dan
merumuskan, implementasi dan evaluasi
program pendidikan. Perwujudan
partisipasi masyarakat dapat dilakukan,
baik secara sendiri-sendiri atau
individual, berkelompok, spontan
ataupun yang sifatnya terorganisir,
secara berkelanjutan, serta dengan caracara tertentu yang dapat dilakukan.
Dalam Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dinyatakan bahwa masyarakat
berhak berperan serta dalam
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan
dan evaluasi program pendidikan,
penyelenggaraan pendidikan berbasis
masyarakat merupakan perwujudan
prinsip pendidikan yang
diselenggarakan oleh, untuk dan dari
masyarakat yaitu pendidikan yang
diselenggarakan oleh masyarakat
sebagai pemenuhan atas ciri khas yang
berkenaan dengan nilai-nilai sosial dan
kultural masyarakat tertentu.
Peningkatan sektor pendidikan
tidaklah terbatas hanya tanggung jawab
pemerintah belaka, akan tetapi seluruh
stakeholders pendidikan turut
bertanggung jawab terhadap
keberhasilan sektor pendidikan di
daerah. Dalam Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2003 ditegaskan bahwa
Pendidikan diselenggarakan dengan
memberdayakan semua komponen
masyarakat melalui peran serta dalam
penyelenggaraan dan pengendalian
mutu layanan pendidikan. Dengan
demikian, persepsi yang selama ini
menyalahkan pemerintah saja terhadap
rendahnya atau kurangnya prestasi
pendidikan Indonesia tidaklah
sepenuhnya benar.
Peningkatan mutu/kualitas
pendidikan di daerah, merupakan
tanggung jawab semua unsur yang ada
di daerah untuk meningkatkan
pendidikan termasuk partisipasi
masyarakat dan dunia usaha. Pemerintah
daerah sebagai “leading sector”,
seharusnya mampu menjalin kerja sama
yang harmonis dengan semua stakeholder
di daerah yang concern terhadap dunia
pendidikan. Partisipasi masyarakat dari
yang kecil hingga yang besar menjadi
dasar dan keuntungan bagi daerah dalam
hal pembiayaan pendidikan yang
semakin hari semakin mahal harganya.
Anggaran pemerintah yang
terbatas di bidang pendidikan akan dapat
ditanggulangi dengan peran serta
masyarakat dalam pembiayaan
pendidikan untuk mendukung
kelancaran biaya operasional sekolah.
Untuk itu partisipasi masyarakat dalam
pendidikan sangat penting artinya
sekecil apapun peranan yang bisa
diberikan.
Adapun bentuk-bentuk partisipasi
masyarakat dalam peningkatan
pendididkan sesuai dengan UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 antara
lain yaitu :
a). menggunakan jasa sekolah,
b). memberikan kontribusi dana,
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
707
 STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI DAN OTONOMI DAERAH 
708
bahan, dan tenaga,
c). membantu anak belajar di rumah,
d). berkonsultasi masalah pendidikan
anak,
e). terlibat dalam kegiatan ekstra
kurikuler dan
f). pembahasan kebijakan sekolah.
Jika dilihat dari bentuk-bentuk
partisipasi masyarakat ini, maka dapat
disimpulkan bahwa partisipasi
masyarakat dalam pendidikan bukanlah
hanya dalam bentuk dukungan
dana/biaya saja, akan tetapi juga berupa
sumbang pemikiran, masukan, saran,
dukungan moral juga sangat penting
bagi peningkatan pendidikan sekecil
apapun bentuknya. Masyarakat perlu
didorong untuk itu terutama tentang
program dan kebijakan pendidikan yang
dilakukan selama ini.
Selanjutnya komite sekolah adalah
salah satu wujud keterlibatan
masyarakat di sekolah. Komite sekolah
dan sekolah saling bekerjasama dalam
memajukan pendidikan di sekolah.
Komite sekolah turut serta merumuskan,
menetapkan melaksanakan dan
memonitor pelaksanaan kebijakan
sekolah dan pertanggungjawaban yang
terfokus pada kualitas pelayanan
terhadap peserta didik secara
proporsional dan terbuka serta
mewadahi partisipasi masyarakat untuk
turut serta dalam manajamen sekolah
sesuai dengan peran dan fungsinya
berkenaan dengan perencanaan
pelaksanaan evaluasi program sekolah
secara proporsional.
Peran Komite Sekolah dan Dewan
Pendidikan sesungguhnya telah diatur
dalam Keputusan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2
April 2002. Dalam Keputusan Menteri
Pendidikan Nasional tersebut disebutkan
bahwa peran yang harus diemban oleh
dewan pendidikan dan komite sekolah
adalah (1). Pemberi pertimbangan dalam
pengambilan keputusan, (2). fungsi
pengendalian dan akuntabilitas publik,
(3). fungsi pendukungan (support), dan
(4). Mediator antar sekolah dan
masyarakat.
Adapun tugas daripada komite
sekolah adalah menyelenggarakan rapatrapat komite sesuai dengan program
yang ditetapkan bersama-sama sekolah
merumuskan dan menetapkan visi misi,
menyusun standar pembelajaran,
menyusun rencana strategis
pengembangan sekolah, menyusun dan
menetapkan rencana program tahunan
serta mengembangkan potensi ke arah
prestasi unggulan membahas dan
menetapkan pemberian tambahan
kesejahteraan, menghimpun, menggali
dan mengelola sumber dana dan
kontribusi lainnya baik materil maupun
non materil dari masyarakat. Dewan
pendidikan serta komite sekolah harus
bekerja keras untuk bisa meyakinkan
masyarakat akan pentingnya tanggung
jawab bersama terhadap pendidikan.
III. PENUTUP
Pendidikan merupakan faktor
yang sangat strategis terhadap
keberlangsungan kehidupan manusia,
jika kita sungguh-sungguh memahami
hakikat pembangunan nasional sebagai
pembangunan kualitas manusia
Indonesia yang seutuhnya. Guru
merupakan titik sentral penentu
keberhasilan pembangunan pendidikan.
Strategi peningkatan daya saing
pendidikan di era globalisasi dan
otonomi daerah sangat tergantung pada
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
 ERIKA REVIDA 
komitmen dan semangat pemimpin
daerah untuk memajukan sektor
pendidikan pada garda terdepan
pembangunannya dan bukan sebaliknya
serta memiliki kemauan dan komitmen
untuk mengalokasikan anggaran
pendidikan sebesar atau melebihi 20% di
luar gaji guru sesuai amanah UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional.
Sudah saatnya kita berubah ke arah
yang lebih baik khususnya dalam
mengejar ketertinggalan kita dengan
negara lain. Salah satu cara untuk itu
diperlukan strategi pendidikan yang
berkualitas yaitu dimulai dari
peningkatan kualitas guru,
meningkatkan dukungan pemerintah
dan partisipasi masyarakat dan dunia
usaha yang semakin maksimal menuju
peningkatan daya saing pendidikan yang
semakin baik dari hari ke hari. Dengan
pendidikan yang baik, maka kita akan
menjadi bangsa yang maju, berdaulat,
dan berkepribadian.
KEPUSTAKAAN
Cohen, dan Uphoff. 1980. Rural
Development Participation Concept
and Measure for Project Design,
Implementation and Evaluation, New
York : Cornell University.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 41 Tahun 2007 Tentang
Standar Proses. Jakarta.
Slamet, Y. 1992. Pembangunan Masyarakat
Berwawasan Partisipasi. Surakarta :
Sebelas Maret University Press.
Suyanto. 2006. Dinamika Pendidikan
Nasional (Dalam Percaturan Dunia
Global), Jakarta : PSAP
Muhammadiyah.
Undang-Undang Dasar Republik
Indonesia Tahun 1945. Jakarta :
Sekretariat Negara.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Jakarta : Sekretariat
Negara.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen. Jakarta :
Sekretariat Negara.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008
tentang Pemerintah Daerah.
Jakarta : Sekretariat Negara.
United Nation Development Program
Report, 2013.
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 044 Tahun 2002. Tentang
Dewan Pendidikan dan Komite
Sekolah. Jakarta : Kementerian
Pendididkan Nasional.
Kuncoro, Mudrajat. 2008. Strategi
Bagaimana Meraih Keunggulan
Kompetitif. Jakarta : Penerbit
Erlangga.
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
709
resensi
Judul Buku
Pelayanan Publik Baru dari Manajemen
Steering ke Serving
Penulis
Janet V. Denhardt & Robert B. Denhardt
Cetakan
Pertama tahun 2013
Penerbit
Kreasi Wacana
710
Jumlah Halaman
290 halaman
P
emerintah telah menggunakan
struktur manajemen dan
organisasi yang kompleks di
sepanjang sejarah manusia.
Administrasi publik merupakan suatu
bidang studi dan praktik yang secara
umum dianggap telah lahir pada
sekitar pergantian abad ini. Diawali
dengan deskripsi administrasi publik
lama yang merupakan dikotomi
antara politik dan administrasi. Pada
masa ini, pemerintah berperan
memberikan pelayanan. Dalam
prosesnya, masyarakat diberi
kesempatan untuk menyampaikan
secara langsung saran dan kritik
terhadap pelayanan tersebut melalui
lembaga-lembaga pemerintah yang
sudah ada. Namun, para administrator publik sebagai pihak pemberi
layanan memiliki peran yang terbatas
dalam pembuatan kebijakan dan tata
pemerintahan.
Buku ini mengurai juga tentang
manajemen publik baru yang
merupakan koreksi terhadap
administrasi publik lama. Manajemen
publik baru, mendominasi pemikiran
dan tindakan dalam bidang
administrasi public yang didasarkan
pada ide bahwa cara terbaik untuk
memahami perilaku manusia adalah
mengasumsikan bahwa pemerintah
dan aktor lain membuat pilihan-
 RESENSI 
pilihan dalam melaksanakan tindakan
berdasarkan kepentingan diri mereka
sendiri. Menurut pandangan ini,
peran pemerintah ialah membebaskan
kekuatan pasar untuk memfasilitasi
pilihan individual dan mencapai
efisiensi.
Buku ini memuat suatu
argumen yang lebih maju melalui apa
yang disebut dengan layanan publik
baru yang mengusahakan nilai
bersama dan kepentingan umum
melalui dialog yang tersebar luas dan
keterlibatan warga negara.
Kepentingan publik itu sendiri dilihat
sebagai suatu perluasan
kewarganegaraan, dimotivasi oleh
keinginan untuk melayani orang lain
dan mencapai tujuan-tujuan publik.
Seperti yang tercetak di sampul
depan, buku ini mencoba
mengusulkan suatu model layanan
publik baru yang didasarkan pada
kewarganegaraan, demokrasi dan
layanan dalam kepentingan publik
sebagai sebuah alternatif bagi modelmodel yang kini dominan didasarkan
pada teori ekonomi dan kepentingan
diri.
Janet V Denhardt dan Robert
B.Denhardt menyebutkan sejumlah
ide-ide menarik dalam menerapkan
layanan publik baru bagi orang-orang
yang bertugas dalam administrasi
publik.
Pertama, melayani warga
negara, bukan pelanggan.
Kepentingan publik adalah hasil suatu
dialog tentang nilai-nilai bersama
ketimbang kumpulan kepentingan
diri
individual. Oleh karena itu
pelayanan publik tidak hanya
bertanggung jawab kepada tuntutan
“para pelanggan”, tetapi lebih
tepatnya berfokus pada
pembangunan hubungan
kepercayaan dan kolaborasi dengan
dan diantara warga negara.
Kedua, mengusahakan
kepentingan publik. Para
administrator publik harus memberi
sumbangan untuk membangun suatu
gagasan kolektif kepentingan publik
yang dianut bersama. Tujuannya ialah
bukan untuk menemukan solusisolusi yang cepat yang didorong oleh
pilihan- pilihan individual. Lebih
tepatnya, adalah menciptakan
kepentingan-kepentingan bersama
dan tanggung jawab bersama.
Ketiga, menghargai warga
negara melebihi kewirausahaan.
Kepentingan publik lebih baik
dimajukan oleh pelayanan publik dan
warga negara yang bertekad
memberikan sumbangan bermakna
kepada masyarakat ketimbang oleh
manajer usahawan yang bertindak
seakan-akan uang publik itu adalah
milik mereka sendiri.
Keempat, berpikir secara
strategis, bertindak secara demokratis.
Kebijakan dan program memenuhi
kebutuhan publik dapat dicapai
secara paling efektif dan paling
bertanggung jawab melalui usaha
kolektif dan proses kolaboratif.
Kelima, mengakui bahwa
akuntabilitas tidak sederhana.
Pelayanan publik harus lebih
memerhatikan ketimbang pasar,
mereka juga harus mematuhi undang-
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
711
 RESENSI 
712
undang dan hukum konstitusional,
nilai komunitas, norma politik,
standar profesional, dan kepentingan
warga negara.
Keenam, melay ani b uk an
menyetir. Semakin penting bagi para
pelayan publik untuk menggunakan
kepemimpinan berbasis nilai yang
dianut bersama dalam membantu
warga negara mengutarakan dengan
jelas dan memenuhi kepentingan
bersama mereka ketimbang berusaha
mengendalikan atau menyetir
masyarakat dalam arah-arah yang
baru.
Ketujuh menghargai manusia,
bukan sekedar produktivitas.
Organisasi publik dan jaringan tempat
mereka berpartisipasi lebih mungkin
berhasil dalam jangka panjang jika
mereka bekerja melalui proses-proses
kolaborasi dan kepemimpinan
bersama yang didasarkan pada
penghargaan terhadap semua orang.
Poin penting yang perlu
digarisbawahi dari buku ini ada dua
hal, yaitu Kunci pertama untuk
mewujudkan pelayanan publik baru
yang berkualitas terletak pada refleksi
diri sebagai pelayan publik, hanya
refleksi dirilah kita dapat
mengembangkan kapasitas untuk
melayani orang lain. Poin kedua bagi
kita sebagai warga negara, adalah
penting untuk mengakui bahwa
membuat negeri dan komunitas kita
lebih baik memerlukan setidaknya
kerjasama kita dan idealnya
keterlibatan aktif kita. Menurut
definisi, pemerintahan kita adalah
milik dan tanggung jawab kita. Kita
dapat dan harus mempunyai harapan
yang tinggi terhadap pemerintahan,
tetapi agar pemerintah bekerja dengan
baik, diperlukan kewarganegaraan
yang aktif. Kedua poin tersebut saling
berkaitan dan tak terpisahkan.
Terus terang, buku ini memuat
semua yang Anda butuhkan untuk
mewujudkan sebuah layanan publik
baru yang memberikan teknik-teknik
dan nilai-nilai yang berharga dimana
kita dapat membayangkan suatu
layanan publik yang didasarkan pada
dan diintegrasikan sepenuhnya
dengan wacana warga negara dan
kepentingan publik. Terlepas dari
beberapa kesalahan cetak yang agak
mengganggu, buku ini pantas untuk
dijadikan referensi untuk mengupas
model dan manajemen layanan publik
baru. Penjelasan dalam buku,
terstruktur dengan baik ditambah
dengan real case di setiap akhir bab,
serta digabung dengan solusi yang
applicable merupakan nilai tambah
bagi buku ini.
Terakhir, mengutip kalimat
Louis Gawthrop, “Bekerja dalam
layanan demokrasi
adalah mengakui
bahwa semua kita terpanggil, pada derajat
tanggung jawab yang berbeda-beda untuk
menjadi penjaga, pengawal atau nabi
untuk orang lain”. Semoga, kita dapat
menjadikan pekerjaan pelayan publik
adalah pekerjaan kehidupan kita.
Maka ada kesempatan dan kepuasan
besar yang diperoleh dalam bekerja
yang membuat dunia dan komunitas
kita menjadi lebih baik.
Hilma Yuniasti
JURNAL TRANSFORMASI ADMINISTRASI  VOLUME 04  NOMOR 01  TAHUN 2014
Download