hubungan pola asuh orang tua dengan motivasi

advertisement
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN
MOTIVASI BELAJAR ANAK
SUDIRMAN ANWAR
[email protected]
Dosen STIT Ar-Risalah Inhil – Riau
Abstrak
Orang Tua memegang peranan utama dan pertama bagi pendidikan anak, mengasuh,
membesarkan dan mendidik anak.Motivasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan
aktivitas manusia karena motivasi merupakan hal yang dapat menyebabkan,
menyalurkan dan mendukung perilaku manusia supaya mau bekerja giat dan antusias
untuk mencapai hasil yang optimal. Atas dasar pemahaman ini maka secara psikologis
pola pikir, mental dan sikap anak dalam tataran proses pendewasaan masih sangat
memerlukan bantuan orang lain dan bersifat sensitivitas terhadap perilaku orang-orang
terdekatnya. Maka orangtua perlu melakukan pendekatan dengan pola asuh yang benarbenar sesuai terhadap anak dalam mendidiknya menjadi manusia yang sempurna.
Kata Kunci : Pola Asuh, Orang Tua, Motivasi, Anak
LATAR BELAKANG
Keluarga
merupakan
wadah
pendidikan yang sangat besar pengaruhnya
dalam perkembangan motivasi belajar anak,
oleh karena itu pendidikan anak tidak dapat
dipisahkan dari keluarganya,
karena
keluarga merupakan tempat pertama kali
anak belajar menyatakan diri sebagai
mahkluk sosial dalam berinteraksi dengan
kelompoknya. Orang tua yaitu ayah dan ibu
merupakan orang yang bertanggung jawab
pada seluruh keluarga. Orang tua juga
menentukan kemana keluarga akan dibawa
dan apa yang harus diberikan sebelum anakanak dapat bertanggung jawab pada dirinya
sendiri, ia masih tergantung dan sangat
memerlukan bekal pada orang tuanya
sehingga orang tua harus mampu memberi
bekal kepada anaknya tersebut.
Tujuan dalam membina kehidupan
keluarga adalah agar dapat melahirkan
generasi baru sebagai penerus perjuangan
hidup orang tua.Untuk itulah orang tua
mempunyai tanggung jawab dan kewajiban
dalam pendidikan anak-anaknya.
Perhatian orang tua memiliki
pengaruh psikologis yang besar terhadap
kegiatan belajar anak. Dengan adanya
perhatian dari orang tua, anak akan lebih giat
dan lebih bersemangat dalam belajar karena
ia tahu bahwa bukan dirinya sendiri saja yang
berkeinginan untuk maju, akan tetapi orang
tuanya pun demikian. Sebab baik buruknya
prestasi yang dicapai anak akan memberikan
pengaruh kepadanya dalam perkembangan
pendidikan selanjutnya.
Totalitas sikap orang tua dalam
memperhatikan segala aktivitas anak selama
menjalani rutinitasnya sebagai pelajar sangat
diperlukan agar si anak mudah dalam
mentransfer ilmu selama menjalani proses
belajar, di samping itu juga agar ia dapat
mencapai prestasi belajar yang maksimal.
Perhatian orang tua dapat berupa pemberian
bimbingan dan nasihat, pengawasan terhadap
belajar,
pemberian
motivasi
dan
penghargaan, serta pemenuhan fasilitas
belajar. Pemberian bimbingan dan nasihat
menjadikan anak memiliki idealisme,
pemberian pengawasan terhadap belajarnya
adalah untuk melatih anak memiliki
kedisiplinan, pemberian motivasi dan
penghargaan agar anak terdorong untuk
belajar
dan
berprestasi,
sedangkan
pemenuhan fasilitas yang dibutuhkan dalam
belajar adalah agar anak semakin teguh
pendiriannya pada suatu idealisme yang ingin
dicapai dengan memanfaatkan fasilitas yang
ada.
PEMBAHASAN
A. Konsep Tentang Orang Tua
1. Hakekat Orang Tua
Orang tua adalah perantara bagi kehadiran
kita di muka bumi ini. Yang pertama sekali
mengasuh, mengajar dan mendidik anak(A.
Mudjad Mahali, 1994:19). Apabila anakanak mereka terlibat dalam kegiatan yang
bodoh, mereka harus menghentikan anakanak mereka dengan cara memberikan
penjelasan tentang bahaya yang bisa terjadi.
Dengan cara ini, anak-anak akan belajar dari
pengalaman lampau orang tua mereka. Tentu
saja, keterlibatan orang tua tidak boleh
merusak kepribadian anak-anak mereka
sendiri atau pada pembangunan rasa percaya
diri mereka. Hal ini menjadi tanggung jawab
bagi setiap orang tua dalam mendidik
anaknya(Mohammad Taqi Hakim, tt:101).
Sedangkan Pengertian orang tua yang
dikemukakan oleh Hery Noer Aly (1999:88),
adalah ibu dan ayah dan masing-masing
mempunyai tanggung jawab yang sama
dalam pendidikan anak. Hadist Nabi SAW,
yang menyatakan bahwa “Ibu adalah
pengembala di rumah tangga suaminya dan
bertanggung jawab atas gembalaannya”
Sesungguhnya mengisyaratkan kerja sama
ibu dan ayah dalam pendidikan anak hanya
saja ayah lebih banyak berada di luar rumah
untuk mencari nafkah dan ibu lebih banyak
di rumah, untuk mengatur urusan rumah,
pengaruh pendidikan yang diberikan ibu
lebih besar. Hal ini karena anak dalam proses
tumbuh kembangnya sampai menjadi
manusia yang mampu memikul kewajiban
banyak dekat dengan ibunya.
Dari kedua definisi di atas maka penulis
menyimpulkan bahwa orang tua adalah ayah
dan ibu yang merupakan tempat atau
perantara kehadiran kita dimuka bumi ini,
keduanya mempunyai rasa cinta dan kasih
sayang terhadap anaknya, perasaan inilah
yang membuat orang tua mampu bersabar
dalam memelihara, mengasuh, mendidik, dan
memperhatikan segala kemaslahatannya.
Ibu merupakan orang tua pertama di mata
anak-anaknya, tetapi bukan berarti fungsi
ayah menjadi skunder.Fungsi ayah tetap
primer untuk kelangsungan hidup anak.
Tetapi ibu adalah orang pertama yang
dikenal oleh anaknya sejak ia mulai
mengandung telah terjadi hubungan antara
anak dalam kandungan dengan ibunya. Juga
proses pertumbuhan anak dalam kandungan
salah satunya ditentukan oleh bagaimana
pelayanan
ibu
yang
sedang
mengandung.Ibulah yang meletakan fondasi
dasar atas prilaku dan karakter anak.Karena
melalui air susunya dia memberikan
makanan untuk tubuh, melalui ajarannya.Dia
memperkuat
jiwanya.Akibatnya
anak
tersebut mewarisi prilaku, kebiasaan, dan
karakter lain ibunya.Para ayah tidak hanya
bertanggung
jawab
menjamin
pada
tanggungan mereka dengan berbagai
kebutuhan keuangan, tapi mereka juga
diharuskan untuk memberikan pendidikan,
disiplin, moral, serta tuntunan.Mereka harus
menanamkan
sifat-sifat
luhur
serta
meluruskan tindakan buruk anak-anak
mereka. Menurut Bagir Sharif al Qarashi di
dalam Imam Zainal (tt:55) berkata, “Hak
anakmu ialah bahwa engkau harus menyadari
keberadaan mereka menjadi bagian dari
dirimu dan merekat padamu dalam kebaikan
dan keburukan, engkau bertanggung jawab
memberikan sifat sifat mulia, mengenalkan
mereka kepada Allah, serta mendorong
mereka agar dengan ikhlas menyembah-Nya
bersamamu.Selanjutnuya menurut Langeveld
yang termasuk faktor pendidik itu bukan dari
orang tua saja tetapi orang dewasa lain yang
bertanggung jawab terhadap kedewasaan
seorang anak, misalnya guru dan wakil-wakil
dari orang tua yang diserahi mengasuh atau
mendidik anak (M. Alisif Sabri, 1999:8).
2. Peran Orang Tua dalam Mendidikan
Anak
Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam
kehidupan manusia sangatlah penting dan
fundamental, keluarga pada hakikatnya
merupakan wadah pembentukan masingmasing anggotanya, terutama anak-anak yang
masih berada dalam bimbingan tanggung
jawab orang tuanya.Perkembangan anak pada
umumnya meliputi keadaan fisik, emosional
sosial dan intelektual.Bila semuanya berjalan
secara baik maka dapat dikatakan bahwa
anak tersebut dalam keadaan sehat jiwanya.
Dalam perkembangan jiwa terdapat periodeperiode kritis yang berarti bahwa bila
periode-periode ini tidak dapat dilalui dengan
baik, maka akan timbul gejala-gejala yang
menunjukan
misalnya
keterlambatan,
ketegangan, kesulitan penyesuaian diri dan
kepribadian yang terganggu. Lebih jauh lagi
bahkan tugas sebagai makhluk sosial untuk
mengadakan hubungan antar manusia yang
memuaskan baik untuk diri sendiri maupun
untuk orang di lingkungannya akan gagal
sama sekali.
Peran orang tua dalam hal pendidikan anak
sudah seharusnya berada pada urutan
pertama, para orang tualah yang paling
mengerti benar akan sifat-sifat baik dan
buruk anak-anaknya, apa saja yang mereka
sukai dan apa saja yang mereka tidak sukai.
Para orang tua adalah yang pertama kali tahu
bagaimana perubahan dan perkembangan
karakter dan kepribadian anak-anaknya, halhal apa saja yang membuat anaknya malu
dan hal-hal apa saja yang membuat anaknya
takut. Para orang tualah yang nantinya akan
menjadikan anak-anak mereka seorang yang
memiliki kepribadian baik ataukah buruk.
Anak-anak pada masa peralihan lebih banyak
membutuhkan perhatian dan kasih sayang,
maka para orang tua tidak dapat
menyerahkan
kepercayaan
seluruhnya
kepada guru di sekolah, artinya orang tua
harus banyak berkomunikasi dengan gurunya
di sekolah begitu juga sebaliknya, hal penting
dalam pendidikan adalah mendidik jiwa
anak.Jiwa yang masih rapuh dan labil,
kurangnya perhatian dan kasih sayang orang
tua dapat mengakibatkan pengaruh lebih
buruk lagi bagi jiwa anak. Banyaknya
tindakan kriminal yang dilakukan generasi
muda saat ini tidak terlepas dari kelengahan
bahkan ketidak pedulian para orang tua
dalam mendidik anak-anaknya (Denny
Setiawan, 2009:1)
Orang tua dan sekolah merupakan dua unsur
yang saling berkaitan dan memiliki
keterkaitan yang kuat satu sama lain.
Terlepas
dari
beragamnya
asumsi
masyarakat, ungkapan “Buah tak akan
pernah jauh jatuh dari pohonnya” adalah
sebuah gambaran bahwa betapa kuatnya
pengaruh orang tua terhadap perkembangan
anaknya.Supaya orang tua dan sekolah tidak
salah dalam mendidik anak, oleh karena itu
harus terjalin kerjasama yang baik diantara
kedua belah pihak. Orang tua mendidik
anaknya di rumah, dan di sekolah untuk
mendidik anak diserahkan kepada pihak
sekolah atau guru, agar berjalan dengan baik
kerja sama di antara orang tua dan sekolah
maka harus ada dalam suatu rel yang sama
supaya bisa seiring seirama dalam
memperlakukan anak, baik di rumah ataupun
di sekolah, sesuai dengan kesepahaman yang
telah disepakati oleh kedua belah pihak
dalam memperlakukan anak. Kalau saja
dalam mendidik anak berdasarkan kemauan
salah satu pihak saja misalnya pihak keluarga
saja taupun pihak sekolah saja yang
mendidik anak, hal ini berdasarkan beberapa
pengalaman tidak akan berjalan dengan baik
atau dengan kata lain usaha yang dilakukan
oleh orang tua atau sekolah akan mentah
lagi-mentah lagi karena ada dua rel yang
harus dilalui oleh anak dan akibatnya si anak
menjadi pusing mana yang harus diturut,
bahkan lebih jauhnya lagi dikhawatirkan
akan membentuk anak berkarakter ganda.
a. Fungsi dan Peranan Orang Tua.
Setiap orang tua mempunyai bermacammacam peran dalam hidupnya, Misalnya
seorang wanita yang bekerja penuh di
kantor akan berbeda dengan perannya
sebagai ibu daripada seorang wanita yang
dapat mencurahkan perhatian sepenuhnya
terhadap urusan rumah tangga dan
keluarganya. Seorang istri diharapkan
dapat mengurus rumah tangganya dan
merawat suami serta anak-anaknya
dengan baik di samping menjadi
pendamping suaminya.Peran seorang
suami terutama sebagai kepala keluarga
dan sebagai pencari nafkah, disamping
itu juga bertanggung jawab terhadap
pendidikan
anak-anaknya.Kebudayaan
telah menentukan peran-peran tertentu
bagi seorang suami atau ayah dan
seorang istri atau ibu.
Ibu dengan segala kelembutannya dan
bapak
dengan
kepemimpinannya,
berpacu dengan tiada kenal lelah
membimbing anak secara bertahap tetapi
utuh. Mereka berdua bertanggung jawab
demi masa depan anak mereka.
Bagaimana bentuk dan corak pendidikan
yang diberikan orang tua, sangat
dipengaruhi oleh warna dan tarap
kemampuan
pengendali
keluarga
tersebut. Ayah dan ibu adalah dua
makhluk tetapi satu dalam mengarahkan
bahtera kehidupan keluarga. Kemampuan
yang telah mereka miliki, pendidikan
yang telah mereka nikmati, materi dan
biaya hidup yang menopang dan tersedia,
keadaan perumahan, kesehatan dan lain
sebagainya, akan menentukan pola
bertindak yang akan diambilnya dalam
mengarahkan pendidikan anak untuk
masa depan.
b. Kewajiban Orang Tua dalam Pendidikan
Anak
Setiap
orang
tua
berkewajiban
memberikan bimbingan kepada anakanaknya. Bimbingan itulah yang akan
memberikan pengaruh positif bahkan
sebagai penentu bagi kepribadian anak
dikemudian hari. Semua potensi yang
terpendam dalam diri anak akan dapat
diungkapkan,
itu
semua
menjadi
tanggung jawab orang tua dalam
membimbing dan mendidik mereka.
Namun demikian banyak orang tua yang
beranggapan jika anak mereka telah
diserahkan kepada guru di sekolah
lepaslah kewajiban untuk memberikan
pendidikan pada mereka,
semua
tanggung jawabnya telah beralih kepada
guru di sekolah. Apakah anak itu akan
menjadi seorang yang pintar, pendiam,
pemberani, berbudi pekerti luhur, bahkan
menjadi penjahat, semuanya menjadi
urusan guru. Pandangan orang tua seperti
ini
sungguh
keliru.Mereka
tidak
menyadari sampai di mana kewajiban dan
tanggung jawab mereka sebagai orang
tua.
Dalam melaksanakan tanggung jawab
terhadap anak-anaknya menurut Zakia
Dradjat orang tua berkewajiban:
1) Memelihara
dan
membesarkan anak. Ini
adalah bentuk yang paling
sederhana dari tanggung
jawab setiap orang tua dan
merupakan dorongan alami
untuk
mempertahankan
kelangsungan
hidup
mereka.
2) Memberi pengajaran dalam
arti yang luas sehingga
anak memperoleh peluang
untuk
memiliki
pengetahuan
dan
kecakapan
seluas
dan
setinggi mungkin yang
dapat dicapainya.
3) Melindungi dan menjamin
keselamatan,
baik
jasmaniah
maupun
rohaniah, dari berbagai
gangguan penyakit dan dari
penyelewengan kehidupan
dari tujuan hidup yang
sesuai dengan falsafat
hidup dan agama yang
dianutnya (Herry Noer Ali,
:90).
B. Konsep Tentang Pola Asuh Otoriter
dan Demokratis
1. Pengertian Pola Asuh Orang Tua
Pendidikan dalam keluarga
merupakan
bagian
dari pendidikan informal, yakni
pendidikan pertama bagi anak. Sebagai
pendidikan pertama, maka orang tua
mempunyai tugas yang mendasar dalam
mempersiapkan peranannya di masa depan.
Anak adalah sambungan hidup dari kedua
orang tua, untuk melanjutkan cita-citanya
yang tidak mungkin lagi dapat dicapai
selama hidupnya.Demikian pula kepercayaan
yang dianut dan budi pekerti yang luhur,
sangat diharapkan mereka juga menganut dan
memiliki sifat itu di kemudian hari. Hal ini
sesuai dengan pendidikan Luqman kepada
anaknya, yaitu dengan menanamkan agama
yang benar dan budi pekerti luhur. Cara
Luqman menyampaikan pesan itu wajib di
contoh oleh setiap orang tua yang mengaku
dirinya Islam.. Quraish Shihab dalam Tafsir
Al-Misbah (2003:124), menyebutkan tentang
firman Allah dalam Surat luqman ayat 13
yaitu:





)

(:
Artinya:“Dan (ingatlah) ketika Luqman
berkata kepada anaknya, di waktu iamemberi
pelajaran
kepadanya:
"Hai
anakku,
janganlah kamu mempersekutukan Allah,
sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kezaliman yang besar."
(QS. Luqman: 13).
Pendidikan yang ditanamkan orang tua tetap
meninggalkan dasar yang paling dalam bagi
kepribadiannya.Hal ini menunjukan bahwa
tanggung jawab yang dipikul orang tua
memerlukan pemikiran dan perhatian yang
besar.Selain anak menjadi pewaris cita-cita
orang tua di masa yang akan datang, mereka
juga harus memperhatikan pendidikan yang
diberikan orang tua terutama pendidikan
agama Islam, tuntunan pendidikan agama
Islam yang menjadi pelita, mana yang baik
dan mana yang buruk. Pembentukan
kepribadian ini tidak terlepas dari pengaruh
lingkungan
keluarga,
sehingga
perkembangannya mulai pada masa bayi dan
kanak-kanak, remaja, dewasa, bahkan sampai
mereka meninggal. Peran orang tua sangat
penting dalam menentukan
proses
pembentukan
kepribadian
mereka
selanjutnya.
Dalam pandangan di atas tergambar bahwa
peranan orang tua sangat penting terhadap
perkembangan pendidikan anak. Kesibukan
orang tua terkadang dapat melalaikan
kewajiban mereka dalam mendidik anak.
Kelalaian ibu dan ayah ini akan
menimbulkan masalah pada anak. Anak
meskipun mempunyai orang tua, akan
tumbuh seperti layaknya anak yatim yang
tanpa
perhatian
bisa
hidup
dalam
penyimpangan.
Keluarga merupakan tempat untuk pertama
kalinya
seorang
anak
memperoleh
pendidikan dan mengenal nilai-nilai maupun
peraturan-peraturan yang harus diikutinya
yang mendasari anak untuk melakukan
hubungan sosial dengan lingkungan yang
lebih luas. Namun dengan adanya perbedaan
latar belakang, pengalaman, pendidikan dan
kepentingan dari orang tua maka terjadilah
cara mendidik anak.
Menurut Chabib Thoha (1996:109) yang
mengemukakan bahwa pola asuh orang tua
adalah suatu cara terbaik yang dapat
ditempuh orang tua dalam mendidik anak
sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab
kepada anak. Peran keluarga menjadi penting
untuk mendidik anak baik dalam sudut
tinjauan
agama,
tinjauan
sosial
kemasyarakatan
maupun
tinjauan
individu.Jika pendidikan keluarga dapat
berlangsung dengan baik maka mampu
menumbuhkan perkembangan kepribadian
anak menjadi manusia dewasa yang memiliki
sikap positif terhadap agama, kepribadian
yang kuat dan mandiri, potensi jasmani dan
rohani serta intelektual yang berkembang
secara optimal.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan
bahwa pola asuh orang tua adalah cara
mengasuh dan metode disiplin orang tua
dalam berhubungan dengan anaknya dengan
tujuan membentuk watak, kepribadian, dan
memberikan nilainilai bagi anak untuk dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan
sekitar. Dalam memberikan aturan-aturan
atau nilai terhadap anak-anaknya tiap orang
tua akan memberikan bentuk pola asuh yang
berbeda
berdasarkan
latar
belakang
pengasuhan orang tua sendiri sehingga akan
menghasilkan bermacam-macam polaasuh
yang berbeda dari orang tua yang berbeda
pula.
2. Pola Asuh Authoritarian (Otoriter)
Pada pola pengasuhan ini, orang tua
menuntut anak untuk mematuhi standar
mutlak yang ditentukan oleh orang
tua.Kebanyakan anak-anak dari pola
pengasuhan otoriter ini memiliki kompetensi
dan cukup bertanggung jawab, namun
kebanyakan cenderung menarik diri secara
sosial, kurang spontan dan tampak kurang
percaya diri.Pola asuh ini ditandai dengan
adanya aturan-aturan yang kaku dari orang
tua.Kebebasan anak sangat dibatasi dan
orang tua memaksa anak untuk berperilaku
seperti yang diinginkan. Bila aturan-aturan
ini dilanggar, orang tua akan menghukum
anak dengan hukuman yang biasanya bersifat
fisik. Tapi bila anak patuh maka orang tua
tidak memberikan hadiah karena sudah
dianggap sewajarnya bila anak menuruti
kehendak orang tua.
Perilaku orang tua dalam berinteraksi dengan
anak bercirikan tegas, suka menghukum,
anak dipaksa untuk patuh terhadap aturanaturan yang diberikan oleh orang tua tanpa
merasa perlu menjelaskan kepada anak apa
guna dan alas an dibalik aturan tersebut, serta
cenderung mengekang keinginan anak. Pola
asuh otoriter dapat berdampak buruk pada
anak, yaitu anak merasa tidak bahagia,
ketakutan, tidak terlatih untuk berinisiatif
(kurang
berinisiatif),
selalu
tegang,
cenderung ragu, tidak mampu menyelesaikan
masalah, kemampuan komunikasinya buruk
serta mudah gugup, akibat seringnya
mendapat hukuman dari orang tua. Dengan
pola asuh seperti ini, anak diharuskan untuk
berdisiplin karena semua keputusan dan
peraturan ada di tangan orang tua.
Menurut Hourlock dalam Chabib Thoha
(1996:111-112) mengemukakan bahwa Pola
asuh Authoritarian (otoriter) ditandai dengan
cara mengasuh anak dengan aturan-aturan
yang ketat, seringkali memaksa anak untuk
berperilaku seperti dirinya (orang tua),
kebebasan untuk bertindak atas nama diri
sendiri dibatasi. Anak jarang diajak
berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan
orang tua, orang tua menganggap bahwa
semua sikapnya sudah benar sehingga tidak
perlu dipertimbangkan dengan anak. Pola
asuh yang bersifat otoriter juga ditandai
dengan penggunaan hukuman yang keras,
lebih banyak menggunakan hukuman badan,
anak juga diatur segala keperluan dengan
aturan yang ketat dan masih tetap
diberlakukan meskipun sudah menginjak usia
dewasa. Anak yang dibesarkan dalam
suasana semacam ini akan besar dengan sifat
yang ragu-ragu, lemah kepribadian dan tidak
sanggup mengambil keputusan tentang apa
saja.
Ciri-cri dari pola asuh ini, menekankan
segala aturan orang tua harus ditaati oleh
anak.Orang tua bertindak semena-mena,
tanpa dapat dikontrol oleh anak. Anak harus
menurut dan tidak boleh membantah
terhadap apa yang diperintahkan oleh orang
tua. Dalam hal ini, anak seolah-olah mejadi
“robot”, sehingga ia kurang inisiatif, merasa
takut tidak percaya diri, pencemas, rendah
diri, minder dalam pergaulan tetapi disisi
lain, anak bisa memberontak, nakal, atau
melarikan diri dari kenyataan, misalnya
dengan menggunakan narkoba. Dari segi
positifnya, anak yang dididik dalam pola
asuh ini, cenderung akan menjadi disiplin
yakni mentaati peraturan. Akan tetapi bisa
jadi, ia hanya mau menunjukkan kedisiplinan
di hadapan orang tua, padahal dalam hatinya
berbicara lain, sehingga ketika di belakang
orang tua, anak bersikap dan bertindak lain.
Hal itu tujuannya semata hanya untuk
menyenangkan hati orang tua.Jadi anak
cenderung memiliki kedisiplinan dan
kepatuhan yang semu.
Orang tua dengan pola asuh ini menilai tinggi
sifat kepatuhan dan konformitas. Mereka
cenderung lebih suka menggunakan perilaku
yang bersifat punitif, absolut, dan memaksa
dalam membangun disiplin anak. Orang tua
dengan tipe pola asuh ini akan menuntut
tanggung jawab anak tanpa melihat
kemampuan dan kebutuhan anak. Anak
dipaksa untuk menerima segala keputusan
orang tua tanpa kompromi, tidak melibatkan
anak dalam pembuatan keputusan, dan orang
tua memegang kontrol penuh atas kehidupan
si anak. Orang tua dengan tipe ini membatasi
kebebasan dan kreativitas anak, dan
memaksakan pandangan mereka terhadap
anak.
Dampak
pola
asuh
ini
terhadap
perkembangan anak adalah anak akan :
a. Menjadi pribadi yang selalu tergantung
pada orang lain, pasif
b. Sulit untuk berinteraksi dengan orang
lain, tidak ramah, kasar
c. Kurang rasa ingin tahu
d. Penakut
e. Rentan terhadap stres
3. Pola Asuh Authoritative (Demokratis)
Pola asuh demokratik ditandai dengan
adanya sikap terbuka antara orang tua dengan
anaknya.Mereka membuat aturan-aturan
yang disetujui bersama. Anak diberi
kebebasan untuk mengemukakan pendapat,
perasaan dan keinginannya serta belajar
untuk dapat menanggapi pendapat orang lain.
Orang tua bersikap sebagai pemberi pendapat
dan pertimbangan terhadap aktivitas anak.
Dengan pola asuhan ini, anak akan mampu
mengembangkan
kontrol
terhadap
perilakunya sendiri dengan hal-hal yang
dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini akan
mendorong anak untuk mampu berdiri
sendiri, bertanggung jawab dan yakin
terhadap diri sendiri. Daya kreativitasnya
berkembang dengan baik karena orang tua
selalu merangsang anaknya untuk mampu
berinisiatif.
Menurut Shochib (dalam Yuniyati, 2003),
orang tua menerapkan pola asuh demokratis
dengan banyak memberikan kesempatan
kepada anak untuk berbuat keputusan secara
bebas, berkomunikasi dengan lebih baik,
mendukung anak untuk memiliki kebebasan
sehingga anak mempunyai kepuasan sedikit
menggunakan hukuman badan untuk
mengembangkan
disiplin.Pola
asuh
authoritative dihubungkan dengan tingkah
laku anak-anak yang memperlihatkan
emosional positif, sosial, dan pengembangan
kognitif.
Pada umumnya pola pengasuhan ini hampir
sama dengan bentuk pola asuh demokratis
oleh Agoes Dariyo (2004) dan Chabib Thoha
(1996) namun hal yang membedakan pola
asuh ini yaitu adanya tambahan mengenai
pemahaman bahwa masa depan anak harus
dilandasi oleh tindakan-tindakan masa kini.
Orang tua memprioritaskan kepentingan anak
dibandingkan dengan kepentingan dirinya,
tidak ragu-ragu mengendalikan anak, berani
menegur apabila anak berperilaku buruk.
Orang tua juga mengarahkan perilaku anak
sesuai dengan kebutuhan anak agar memiliki
sikap, pengetahuan dan ketrampilanketrampilan yang akan mendasari anak untuk
mengarungi hidup dan kehidupan di masa
mendatang.
Kedudukan antara orang tua dan anak
sejajar.Suatu keputusan diambil bersama
dengan mempertimbangkan kedua belah
pihak. Anak diberi kebebasan yang
bertanggung jawab, artinya apa yang
dilakukan oleh anak tetap harus dibawah
pengawasan
orang
tua
dan
dapat
dipertanggung jawabkan secara moral.Orang
tua dan anak tidak dapat berbuat semenamena. Anak diberi kepercayaan dan dilatih
untuk mempertanggung jawabkan segala
tindakannya. Akibat positif dari pola asuh
ini, anak akan menjadi seorang individu yang
mempercayai orang lain, bertanggung jawab
terhadap
tindakan-tindakannya,
tidak
munafik, jujur.
Namun akibat negatif, anak akan cenderung
merongrong kewibawaan otoritas orang tua,
kalau segala sesuatu harus dipertimbangkan
anak dan orang tua. Pola asuh demokratis
ditandai dengan adanya pengakuan orang tua
terhadap kemampuan anak, anak diberi
kesempatan untuk tidak selalu tergantung
pada orang tua. Orang tua sedikit memberi
kebebasan kepada anak untuk memilih apa
yang terbaik bagi dirinya, anak didengarkan
pendapatnya, dilibatkan dalam pembicaraan
terutama
yang
menyangkut
dengan
kehidupan anak itu sendiri. Anak diberi
kesempatan untuk mengembangkan kontrol
internalnya sehingga sedikit demi sedikit
berlatih untuk bertanggung jawab kepada diri
sendiri.Anak
dilibatkan
dan
diberi
kesempatan untuk berpartisipasi dalam
mengatur hidupnya.
Orang tua dengan pola asuh ini menunjukkan
kehangatan namun tidak lepas tangan dalam
mengontrol anak. Orang tua akan
menetapkan tuntutan standard yang masuk
akal mengenai tanggung jawab anak sesuai
dengan kebutuhan dan kemampuan anak.
Mereka menilai tinggi perkembangan
autonomy dan self-direction anak, tetapi tetap
bertanggung jawab atas perilaku anaknya.
Orang tua juga akan lebih terbuka dan akan
melibatkan anak dalam pembuatan suatu
keputusan. Mereka juga menghadapi anak
dengan perilaku yang rasional dan sesuai
dengan masalah yang sedang dihadapi pada
saat itu.
Dampak
pola
asuh
ini
terhadap
perkembangan anak adalah anak akan :
a. Lebih bertanggung jawab dan mampu
mengontrol dirinya
b. Lebih percaya diri
c. Lebih bersahabat, adaptif, dan periang
d. Lebih termotivasi untuk berprestasi
e. Jarang mengalami stres
4. Pola Asuh Permisif Indifferent (Tidak
Peduli)
Pada pola pengasuhan ini, orang tua kurang
atau bahkan sama sekali tidak mempedulikan
perkembangan psikis anak. Anak dibiarkan
berkembang sendiri, orang tua juga lebih
memprioritaskan kepentingannya sendiri dari
pada kepentingan anak. Kepentingan
perkembangan kepribadian anak terabaikan,
banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan
kegiatannya sendiri dengan berbagai macam
alasan .Anak-anak terlantar ini merupakan
anak-anak yang paling potensial terlibat
penggunaan obat-obatan terlarang (narkoba)
dan tindakan-tindakan kriminal lainnya. Hal
tersebut dikarenakan orang tua sering
mengabaikan keadaan anak dimana ia sering
tidak peduli atau tidak tahu dimana anakanaknya berada, dengan siapa anak-anak
mereka bergaul, sedang apa anak tersebut.
Dengan bentuk pola asuh penelantar tersebut
anak merasa tidak diperhatikan oleh orang
tua, sehingga ia melakukan segala sesuatu
atas apa yang diinginkannya.
Pola asuh ini ditandai dengan adanya
kebebasan tanpa batas pada anaknya untuk
berperilaku sesuai dengan keinginannya
sendiri.Orang tua tidak pernah memberi
aturan dan pengarahan kepada anak.Semua
keputusan diserahkan kepada anak tanpa
pertimbangan dari orang tua.Anak tidak tahu
apakah perilakunya benar atau salah karena
orang tua tidak pernah membenarkan atau
menyalahkan anak. Akibatnya anak akan
berperilaku sesuai dengan keinginannya
sendiri, tidak peduli apakah hal itu sesuai
dengan norma masyarakat atau tidak.
Dengan pola asuh seperti ini, anak
mendapatkan kebebasan sebanyak mungkin
dari orang tua.Pola asuh permisif memuat
hubungan antara anak-anak dan orang tua
penuh dengan kasih sayang, tapi menjadikan
anak agresif dan suka menurutkan kata
hatinya.Secara lebih luas, kelemahan orang
tua dan tidak konsistennya disiplin yang
diterapkan membuat anak-anak tidak
terkendali, tidak patuh, dan tingkah laku
agresif di luar lingkungan keluarga.
Orang tua dengan tipe pola asuh ini akan
melakukan apapun yang dibutuhkan untuk
meminimalisir waktu dan energi yang
diperlukan untuk berinteraksi dengan anak.
Dalam kasus yang ekstrim, orangtua dengan
pola asuh indifferent juga bersifat neglectful.
Mereka
kurang
menunjukkan
sikap
menerima terhadap anak, tidak perduli pada
apa yang telah, sedang, atau akan dilakukan
si anak. Mereka bahkan hanya mengetahui
sedikit sekali mengenai perihal anak mereka.
Mereka juga jarang berkomunikasi dengan
anaknya. Kasarnya, orang tua dengan tipe ini
menelantarkan anaknya sendiri. Mereka tidak
membesarkan anak mereka dengan melihat
hal-hal apa yang baik bagi perkembangan
anaknya, tetapi lebih bersifat “parentcentered”, dimana mereka membangun
kehidupan rumah mereka untuk memenuhi
kebutuhan mereka sendiri saja.
Dampak
pola
asuh
ini
terhadap
perkembangan anak adalah anak akan :
a. Mudah terjerat pergaulan yang salah
b. Tidak matang dan tidak bertanggung
jawab
c. Kurang percaya diri
d. Agresi, tidak menurut, dan impulsif
e. Kurang termotivasi untuk berprestasi
5. Pola Asuh Permisif Indulgent
(Memanjakan)
Pola pengasuhan ini, orang tua tidak
mengendalikan perilaku anak sesuai dengan
kebutuhan perkembangan kepribadian anak,
tidak pernah menegur atau tidak berani
menegur anak. Anak-anak dengan pola
pengasuhan ini cenderung lebih energik dan
responsif dibandingkan anak-anak dengan
pola pengasuhan otoriter, namun mereka
tampak kurang matang secara sosial (manja),
impulsif, mementingkan diri sendiri dan
kurang percaya diri (cengeng).
Orang tua dengan tipe pola asuh ini
menunjukkan
rasa
sayang
dan
penerimaannya terhadap anak namun amat
pasif dalam masalah disiplin. Mereka
memberikan tuntutan yang rendah terhadap
perilaku anaknya, sehingga mereka memiliki
tingkat kebebasan yang tinggi untuk
melakukan tindakan yang diinginkannya.
Orang tua dengan tipe seperti ini biasanya
percaya bahwa kontrol terhadap anak hanya
akan membatasi kebebasan dan kreativitas
anak dan akan mengganggu perkembangan
anak yang semestinya. Dengan kata lain,
orang tua tidak pernah menuntut tanggung
jawab anak dan bahkan mungkin tidak
pernah menghukum anak saat anak berbuat
salah. Orangtua dengan pola asuh seperti ini
tidak secara aktif membentuk perilaku
anaknya, tetapi mereka lebih melihat diri
mereka sebagai suatu sumber daya yang
boleh (tidak wajib) digunakan oleh anak
mereka.
Dampak
pola
asuh
ini
terhadap
perkembangan anak adalah anak akan :
a. Menjadi tidak matang, emosi mudah
berubah, dan kurang bertanggung jawab
b. Kurang percaya diri
c. Kurang motivasi untuk berprestasi
d. Pemberontak
e. Manja dan ingin mendominasi
6. Faktor–Faktor Yang Mempengaruhi
Pola Asuh Orangtua
Banyak pemikiran yang melahirkan sikap
yang mengakui otoritas orang tua hanya
karena rasa takut dan anggapan bahwa
orangtua
adalah
bagian
dari
kehidupannya.Akibatnya,
tidak
ada
konformitas dan transaksional antara orang
tua dengan anak sebagai panutan untuk
mengembangkan
nilai-nilai
yang
diharapkan.Menurut Nelson (Shochib, 1997),
orangtua yang tidak dapat melakukan
hubungan intim dan penuh keterbukaan akan
melahirkan kepadaman pengakuan anak
terhadap otoritasnya. Karena adanya
pemikiran yang demikian, maka orangtua
memberikan gagasan yang sulit untuk
diterima oleh anak-anaknya dan sulit untuk
dihilangkan,
bahwa
orangtua
harus
menggunakan kekuasaan dalam menghadapi
anak-anaknya, penggunaan pola asuh seperti
ini merupakan penghalang bagi terciptanya
keharmonisan keluarga.
Selanjutnya menurut Shochib (1997), secara
khusus perlakuan orangtua terhadap anakanaknya sangat dipengaruhi oleh faktorfaktor sebagai berikut :
a. Pengalaman masa lalu, perlakuan
orangtua
terhadap
anak-anaknya
mencerminkan perlakuan mereka terima
waktu kecil dulu. Bila perlakuan yang
mereka terima keras dan kejam, maka
perlakuan terhadap anak-anaknya juga
keras seperti itu.
b. Kepribadian
orangtua,
kepribadian
orangtua dapat mempengaruhi cara
mengasuhnya.
Orangtua
yang
berkepribadian tertutup dan konservatif
cenderung memperlakukan anaknya
dengan ketat dan otoriter.
c. Nilai-nilai yang dianut orangtua, ada
sebagian orangtua yang menganut faham
aqualitarian yaitu kedudukan anak sama
dengan kedudukan orangtua, ini di negara
barat sedangkan di negara timur
nampaknya orangtua masih cenderung
menghargai keputusan anak.
Generasi tua hidup di dalam kerangka
kebijaksanaan prakmatis dan berdasarkan
pengalaman di masa lalu, generasi remaja
bertindak-tanduk selaras dengan idealisme
yang romantis namun dinamis, keduanya
dipertemukan pada realita yang sama, yaitu
kebutuhan untuk hidup berdampingan, bukan
sebagai orang asing yang bertentangan, tetapi
sebagai
pribadi-pribadi
yang
saling
mengindahkan
memperdulikan
dan
memperhatikan. Dari generasi ke generasi
berikutnya jelas ada perubahan dalam
hubungan orangtua dan anak.Seseorang yang
telah menjadi bapak dan ibu dari anaknya,
menyadari bahwa pola hubungan antara dia
dan anaknya berbeda dengan pola yang dia
miliki dalam hubungan dengan arangtuanya.
Perubahan-perubahan pola asuh ini Faktorfaktor yang mempengaruhi perubahan pola
asuh orangtua menurut Brouwer (1982),
sebagai berikut : (a) keadaan masyarakat di
mana keluarga itu hidup, (b) kesempatan
yang diberikan oleh orangtua, (c) persepsi
timbal balik antara orangtua dan anak.
Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat
disimpulkan
faktor-faktor
yang
mempengaruhi pola asuh orangtua yaitu :
pengalaman masa lalu, kepribadian orangtua,
nilai-nilai yang dianut orangtua, tempat
tinggal, kesempatan yang diberikan oleh
orangtua, dan persepsi timbal balik antara
orangtua dan anak.
C. Konsep Tentang Motivasi dan Belajar
1. Pengertian Motivasi
Motivasi dipandang sebagai dorongan mental
yang menggerakkan dan mengarahkan
perilaku manusia, termasuk perilaku belajar
(Dimyati, 1994:75).Thomas L. Good dan
Jere B. Brophy dalam Elida Prayitno
(1989:8), mendefinisikan motivasi sebagai
suatu energi penggerak, pengarah dan
memperkuat tingkah laku. Menurut Hasibuan
(2003:95), motivasi adalah pemberian daya
penggerak yang menciptakan kegairahan
belajar seseorang, agar mau bekerja sama,
belajar efektif dan terintegrasi.
Sedangkan menurut Mc Donald dalam
Kurikulum dan Pembelajaran (Oemar
Hamalik, 1995:106) menyatakan motivasi
adalah suatu perubahan energi dalam diri
seseorang yang ditandai dengan timbulnya
perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat
disimpulkan, bahwa motivasi adalah suatu
dorongan yang diberikan dan yang timbul
pada diri seseorang, dalam hal ini siswa
untuk melakukan kegiatan belajar guna
mencapai tujuan yang berupa prestasi belajar.
2. Fungsi Motivasi
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa
motivasi mendorong timbulnya tingkah laku
dan mempengaruhi serta mengubah tingkah
laku. Menurut Oemar Hamalik (1995:108),
fungsi motivasi adalah:
a. Mendorong timbulnya tingkah laku atau
perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan
timbul suatu perbuatan misalnya belajar.
b. Motivasi berfungsi sebagai pengarah,
artinya mengarahkan perbuatan untuk
mencapai tujuan yang diinginkan.
c. Motivasi berfungsi sebagai penggerak,
artinya menggerakkan tingkah laku
seseorang. Besar kecilnya motivasi akan
menentukan cepat atau lambatnya suatu
pekerjaan.
3. Ciri Motivasi
Motivasi yang ada pada diri setiap orang itu
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja
terus-menerus dalam waktu yang lama,
tidak pernah berhenti sebelum selesai).
b. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas
putus asa). Tidak memerlukan dorongan
dari luar untuk berprestasi sebaik
mungkin (tidak cepat puas dengan
prestasi yang telah dicapainya).
c. Menunjukkan minat terhadap bermacammacam masalah.
d. Lebih senang bekerja mandiri.
e. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin
(hal-hal yang bersifat mekanis, berulangulang begitu saja, sehingga kurang
kreatif).
f. Dapat mempertahankan pendapatnya
(kalau sudah yakin akan sesuatu).
g. Tidak mudah melepaskan hal yang
diyakini itu.
h. Senang mencari dan memecahkan
masalah soal-soal.
Apabila seseorang memiliki ciri-ciri seperti
di atas, berarti seseorang itu selalu memiliki
motivasi yang cukup kuat. Ciri-ciri motivasi
seperti itu akan sangat penting dalam
kegiatan belajar mengajar (Sardiman,
2001:81-82).
4. Prinsip-Prinsip Motivasi
Menurut Djamarah (2002:118-121), ada
beberapa prinsip motivasidalam belajar,
antara lain sebagai berikut :
a. Motivasi sebagai dasar penggerak yang
mendorong aktivitas belajar.
Seseorang melakukan aktivitas belajar
karena
ada
yang
mendorongnya.Motivasilah sebagai dasar
penggeraknya yang mendorong seseorang
untuk belajar. Bila seseorang sudah
termotivasi belajar, maka dia akan
melakukan aktivitas belajar dalam
rentangan waktu tertentu.
b. Motivasi intrinsik lebih utama daripada
motivasi ekstrinsik dalam belajar.
Anak didik yang belajar berdasarkan
motivasi
intrinsik
sangat
sedikit
terpengaruh
dari
luar.Semangat
belajarnya sangat kuat. Dia belajar karena
ingin memperoleh ilmu sebanyakbanyaknya, bukan ingin mendapatkan
nilai tinggi, mengharapkan pujian orang
lain ataumengharapkan hadiah berupa
benda.
c. Motivasi berupa pujian lebih baik
daripada hukuman.
Meski hukuman tetap diberlakukan
dalam memicu semangat belajar anak
didik,
tetapi
masih
lebih
baik
penghargaan berupa pujian.
d. Motivasi berhubungan erat dengan
kebutuhan belajar.
Kebutuhan
anak
didik
adalah
keinginannya untuk menguasai dan
mendapatkan ilmu pengetahuan.Belajar
adalah santapan utamanya.Perhatian,
ketenaran,
status,
martabat
dan
sebagainya merupakan kebutuhan yang
wajar bagi anak didik dan dapat
memberikan motivasi dalam belajar.
e. Motivasi dapat memupuk optimisme
dalam belajar.
Anak didik yang mempunyai motivasi
dalam belajar selalu yakin dapat
menyelesaikan setiap pekerjaan yang
dilakukan.Dia yakin bahwa belajar
bukanlah kegiatan yang sia-sia. Hasilnya
pasti akan berguna tidak hanya kini,
tetapi juga di hari-hari mendatang.
f. Motivasi melahirkan prestasi dalam
belajar.
Dari berbagai hasil penelitian selalu
menyimpulkan
bahwa
motivasi
mempengaruhi prestasi belajar.Tinggi
rendahnya motivasi selalu dijadikan
indikator baik buruknya prestasi belajar
seorang anak didik.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat
disimpulkan bahwa belajar adalah suatu
proses perubahan di dalam diri seseorang
yang di sengaja dan terarah untuk menuju
pada suatu tujuan kepribadian yang lebih
utuh dan tangguh.
5. Belajar
Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab
dengan semua lapisan masyarakat, bagi para
pelajar atau siswa kata “belajar” merupakan
kata yang tidak asing.Bahkan sudah
merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari semua kegiatan mereka dalam menuntut
ilmu di lembaga pendidikan formal.Menurut
Slameto dalam Syaiful Bahri (2002:13)
belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalaman
individu itu sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya. Slameto mengatakan bahwa
suatu kegiatan yang dilakukan dengan
melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga.
Gerak raga yang ditunjukkan harus sejalan
dengan proses jiwa untuk mendapatkan
perubahan, perubahan yang dimaksudkan
dalam hal ini adalah perubahan sebagai hasil
dari proses belajar dan perubahan jiwa yang
mempengaruhi tingkah laku seseorang.
Menurut
Hasan
Basri
(1994:92),
mendefinisikan bahwa belajar adalah proses
perubahan di dalam diri seseorang, setelah
belajar seseorang mengalami perubahan
dalam
dirinya
seperti
mengetahui,
memahami, lebih terampil, dapat melakukan
sesuatu dan sebagainya.
Hasan Basri menekankan bahwa dengan
belajar seseorang akan mengalami proses
perubahan di dalam diri seseorang, setelah
belajar seseorang mengalami perubahan
dalam
dirinya
seperti
mengetahui,
memahami, lebih terampil, dapat melakukan
sesuatu.Menurut James (dalam Syaiful Bahri,
2002:12) merumuskan belajar sebagai proses
tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui
latihan atau pengalaman. Sedangkan C.T
Morgan dalam Singgih D. Gunarsa (2003:22)
belajar adalah sesuatu perubahan yang relatif
menetap dalam tingkah laku sebagai akibat
(hasil) pengalaman yang lalu.
KESIMPULAN
Pola asuh yang dikaitkan dengan
motivasi belajar siswa.Ada beberapa macam
pola asuh menurut para ahli.Ada yang
menyatakan 3 macam bahkan ada yang
mengatakan lebih. Dalam kajian ini penulis
mencoba untuk melihat hubungan 4 (empat)
pola asuh yaitu Authoritarian, Authoritative,
Permisif Indifferent dan Permisif Indulgent
yang penulis kaitkan dengan motivasi belajar
siswa. Motivasi sangat penting diberikan
kepada siswa, dan peran ini dimainkan oleh
orang dewasa baik di sekolah, masyarakat
maupun keluarga (orang tua).
Orang tua sebagai orang terdekat bagi
siswa, memiliki peranan penting dalam
memberikan motivasi bagi siswa.Pola asuh
yang sesuai memberikan pengaruh terhadap
motivasi siswa sesuai dengan karakter
anak.Pola asuh orang tua adalah cara
mengasuh dan metode disiplin orang tua
dalam berhubungan dengan anaknya dengan
tujuan membentuk watak, kepribadian, dan
memberikan nilainilai bagi anak untuk dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan
sekitar. Dalam memberikan aturan-aturan
atau nilai terhadap anak-anaknya tiap orang
tua akan memberikan bentuk pola asuh yang
berbeda
berdasarkan
latar
belakang
pengasuhan orang tua sendiri sehingga akan
menghasilkan bermacam-macam polaasuh
yang berbeda dari orang tua yang berbeda
pula.
REFERENSI
Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan
Remaja, (Jakarta: Ghalia Indonesia,
2004)
M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah, Cet.I,
Jilid
I,
(Jakarta:
Lentera
Hati.,2003).
A. Mudjad Mahali, Hubungan Timbal Balik
Orang Tua dan Anak, Cet III, (Solo:
Ramadhani, 1994).
Hery Noer Ali, Ilmu Pendidikan Islam. Cet.I,
(Jakarta : Logos Wacana Ilmu, l
999).
Bagir Sharif al Qarashi, Seni Mendidik
Islami, (Jakarta: Pustaka Zahra ,
Tanpa Tahun).
Brouwer, MAW. 1982. Kepribadian dan
Perubahannya. Jakarta : Gramedia
Shochib. 1997. Pola Asuh Orang Tua :
Untuk
Membantu
Anak
Mengembangkan Disiplin Diri.
Jakarta : PT Rineka Cipta.
M. Alisif Sabri, Ilmu Pendidikan, Cet.I,
(Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya,
1999) hal. 8
Iswantini.H. 2002.Hubungan antara Pola
Asuh Otoriter dengan Locus of
Control. Skripsi (tidak diterbitkan).
Surakarta:
Fakultas
Psikologi
Universitas
Muhammadiyah
Surakarta.
Agoes.
2004.
Psikologi
Perkembangan Remaja. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Gunarsa, S.D. 1995. Perkembangan
Kepribadian Remaja. Jakarta : BPK
Gunung Mulia.
Gunarsa, Singgih D. 1995.Psikologi
Perkembangan.
Jakarta:
BPK
Gunung Mulia.
Mussen P.H. 1989. Perkembangan dan
kepribadian Anak. Jakarta : Arcan
Dariyo,
Bahri,
syaiful.
2002.
Psikologi
Belajar..Jakarta ; PT. Rineka Cipta
Thoha,
chabib. 1996. Kapita Selekta
Pendidikan Islam, Yogyakarta :
Pustaka pelajar (IKAPI)
Prasetya, G. Tembong. 2003. Pola
Pengasuhan Ideal. Jakarta: Elex
Media Komputindo.
Basri, Hasan. 2000. Remaja Berkualitas
(Problematika
Remaja
dan
Solusinya). Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Prayitno, Elida. 1989. Motivasi dalam
Belajar. Jakarta : FKIP IKIP
Padang
Hamalik, Oemar. 1995. Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta : Bumi
Aksara
Sardiman. 2001. Interaksi dan
Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta
: PT Raja Grafindo Persada.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi
Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
A.M,
Download