aspek chirality di dalam farmakologi suatu tantangan farmakoterapi

advertisement
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
ASPEK CHIRALITY DI DALAM FARMAKOLOGI
SUATU TANTANGAN FARMAKOTERAPI
DI MASA DEPAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
PERGURUAN TINGGI NEGERI – BADAN HUKUM
Pidato
Disampaikan pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar
dalam Bidang Ilmu Farmakologi
pada Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
di Surabaya pada Hari Sabtu, Tanggal 22 September 2012
Oleh
ACHMAD BASORI
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Buku ini khusus dicetak dan diperbanyak untuk acara
Pengukuhan Guru Besar di Universitas Airlangga
Tanggal 22 September 2012
Dicetak: Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair (AUP)
Isi di luar tanggung jawab Pencetak
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya,
baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka
maupun dari apa yang tidak mereka ketahui
(Quran Surah Yaasin 36: 36)
Dan segala sesuatu yang kami ciptakan berpasang-pasang
(Quran Surah Adz-Dzaariyaat: 49)
”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang
yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah
yang dapat menerima pelajaran”
(Quran Surah Az-Zumar: 9)
”Sesungguhnya yang takut kepada Allah
di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang yang berilmu”
(Quran Surah Al-Faathir: 28)
Kupersembahkan untuk:
Almarhum Orang Tuaku
Istri dan Anak-anakku
Cucu-cucuku
Almamater Universitas Airlangga
Bangsa dan Negara Republik Indonbesia
iii
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Bismillahirrahmannirahim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat Pagi dan Salam Sejahtera bagi kita semua
Yang terhormat,
Ketua, dan Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Airlangga,
Ketua, Sekretaris, dan Para Ketua Komisi berserta Anggota Senat
Akademik Universitas Airlangga,
Rektor dan Para Wakil Rektor Universitas Airlangga,
Para Guru Besar Universitas Airlangga dan Guru Besar Tamu,
Para Direktur di Lingkungan Universitas Airlangga,
Dekan Fakultas Kedokteran dan Para Dekan di Lingkungan
Universitas Airlangga,
Para Ketua Lembaga di Lingkungan Universitas Airlangga,
Para Teman Sejawat dan segenap Civitas Academica Universitas
Airlangga,
Seluruh Staf Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga,
Dan Para Undangan sekalian.
Undangan dan Hadirin yang saya hormati,
Pada kesempatan yang sangat berbahagia ini, marilah kita
panjatkan puji syukur kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan
rakhmat, taufik, hidayah, dan karuniah-Nya kepada kita semua.
Serta shalawat dan salam semoga Allah mencurahkannya kepada
junjungan Nabi Besar Muhammad saw beserta keluarga dan
sahabat-Nya. Sehingga kita semua mendapatkan nikmat kesehatan
dan pada pagi hari ini kita dapat bersama-sama menghadiri rapat
Terbuka Senat Akademik Universitas Airlangga dalam acara
pengukuhan penerimaan jabatan saya sebagai Guru Besar dalam
Bidang Ilmu Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga. Jabatan akademik ini merupakan anugerah dari
1
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Allah swt dan merupakan amanah yang harus terus dijalankan
dalam mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan.
Mudah mudahan amanah yang telah diberikan Alllah swt ini bisa
memajukan ilmu pengetahuan yang dapat bermanfaat bagi bangsa
dan negara. Pada kesempatan ini sesuai dengan keilmuan saya,
perkenankan saya menyampaikan pidato ilmiah yang berjudul:
ASPEK CHIRALITY DI DALAM FARMAKOLOGI
SUATU TANTANGAN FARMAKOTERAPI
DI MASA DEPAN
Hadirin yang saya hormati,
Sebelum suatu obat memberikan efek terapi, ada 4 fase yang
harus dilalui yaitu Fase Farmasetik, Fase Farmakokinetik, Fase
Farmakodinamik, dan Fase Farmakoterapi. Fase Farmasetik
meliputi proses desintegrasi bentuk sediaan dan disolusi obat ke
dalam medium pengabsorpsian. Fase Farmakokinetik meliputi
proses Absorpsi, Distribusi, Biotransformasi dan Eliminasi obat. Fase
Farmakodinamik merupakan fase interaksi obat dengan reseptor di
jaringan target. Interaksi antara obat dengan reseptor menghasilkan
perubahan transduksi sinyal pada tingkat molekuler, seluler, organ
dan jaringan. Fase Farmakoterapi merupakan fase transformasi
dari efek farmakologi menjadi efek klinik (Gambar 1). Salah satu
faktor yang sangat memengaruhi fase farmasetik, farmakokinetik,
farmakodinamik, dan fase farmakoterapi obat adalah chirality.
Adanya chirality ini menyebabkan perbedaan efek farmakologi, efek
terapetik, efek samping dan efek toksik dari obat-obat chiral. Pada
pidato pengukuhan ini saya mau mengupas aspek chirality di dalam
farmakologi yang merupakan suatu tantangan farmakoterapi di
masa mendatang.
Konsep chirality yang awalnya ditemukan pada senyawa
alam (misalnya, Asam tartrate, asam amino) telah berkembang
2
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
luas ke arah konsep efikasi, keamanan obat, bioavailabilitas dan
bioekivalensi, farmakoterapi dan disain obat-obat baru yang lebih
poten, serta mempunyai efek samping dan efek toksik yang minimal.
Di Amerika Serikat, obat-obat yang diijinkan beredar oleh FDA
sejak tahun 1992, pada umumnya antara 60–70% adalah merupakan
senyawa chiral. Dan kira kira 90% dari obat-obat chiral tersebut
adalah dalam bentuk racemat (Tabel 1). Dari segi farmako ekonomi,
konsep chirality ini menyebabkan perkembangan produksi obatobat enantiomer tunggal yang membutuhkan dana triliunan dolar
Amerika tiap tahunnya. Konsep chirality ini mencuat setelah
terjadinya tragedi teratogenik terbesar di Eropah pada tahun 1960,
yaitu berupa terjadinya kelainan bawaan phocomelia pada lebih dari
10.000 bayi bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang selama kehamilan
minum Thalidomide (Anti muntah dan sedatif). Di dalam cairan
tubuh, Thalidomide adalah merupakan obat racemat, yang terdiri
dari 50% R -Thalidomide dan 50% S-Thalidomide. Kemajuan di
bidang sintesa asimetrik berhasil memisahkan R-Thalidomide dan
S-Thalidomide. Penelitian farmakologi eksperimental membuktikan
bahwa S-Thalidomide merupakan teratogen yang sangat toksik
dan mematikan. Sedangkan bentuk R-Thalidome terbukti tidak
toksik dan mempunyai efek anticemas, sedatip, menghambat
TNF-alpha, imunomodulator, menghambat angiogenesis, serta
menghambat karsinogenesis. Pada saat ini R-Thalidomide memasuki
uji klinik fase III pada manusia sebagai obat antikanker yang sangat
poten (Lenz W, 1962; Tseng S et al, 1996; Stirling D, 2000; www.
Clinical Trial.org). Hal ini membuktikan bahwa bentuk racemat
(campuran 50% dari masing-masing enantiomer) mempunyai efek
terapi yang tidak spesifik dan sangat berpotensi menimbulkan
berbagai efek samping dan efek toksik. Bagi penyakit dengan risiko
tinggi (misalnya, infark miokard, stroke, dan TIA), atau tindakan
intervensi koroner perkutan pada bidang kardiologi dan neurologi,
maka pemberian obat racemat yang mengandung enantiomer toksik
dan tidak aktif, akan menyebabkan terjadinya efek samping yang
3
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
berpotensi berakibat fatal. Misalnya, pemberian Obat Antithombotic
racemat pada penderita pascapemasangan stent, dapat menyebabkan
kemungkinan terjadinya stent thromobosis.
Administered
dose
Phases of Drug Activity
Desintegration and dissolution
PHARMACEUTICAL PHASE
Chirality
Abs, Distrib, Metab, Elim
PHARMACOKINETICS
Chirality
PHARMACODYNAMIC PHASE
Drug–receptor
Molecular effects
Cellular effects
Chirality
Tissues effects
Organ effects
Clinical effects
PHARMACOTHERAPY PHASE
Side Effects
Therapeutic Effects Toxic Effects
Gambar 1. Pengaruh Chirality terhadap proses aktivitas obat
Tabel 1. Obat-obat Chiral dari berbagai kelompok terapetik
No
1
2
3
4
Kelompok Obat
Antiarrhytmics
Antibiotics
Antihrombotic
ACE-inhibitor
Obat-obat
Propafenon, Tocainide, Quinidine
Ofloxacin, Mosolactam
Warfarin, Clopidogrel
Captopril, Enalapril, Ramipril, Lisinopril,
Benazepril, Fosinopril, Perindopril
5 Antihipertensi Sentral Methyldopa
6 Anesthetics
Prilocaine, Ketamine, Pentobarbital
7 Antiemetics
Ondansetron
8 Antihistamine
Terfenadine, Loratadine
9 Antihiperlipidemic
Atorvastatin, Simvastatin, Pravastatin,
Lovastatin, Rosuvastatin
4
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
No
10
11
12
13
14
15
Kelompok Obat
Antineoplastics
Antimalarials
Muscle relaxants
NSAIDS
Beta - Blocker
Beta - Adrenergic
Agonist
16 Calcium Channel
Blocker
17 Opiate Analgesic
18 Proton Pump Inhibitor
Obat-obat
Cyclophosphamide, Iphosphamide
Chloroquine, halofantrine, Mefloquine
Methocarbamol, Baclofen
Ibuprofen, Ketorolac
Propanolol, Metoprolol
Salbutamol, Terbutaline
Verapamil, Nimodipine, Amlodipine
Methadone, Pentazocine
Omeprazole, pantoprazole, lanzoprazole
Diambil dari: Davies, NM and Teng XW (2004), Hutt, AJ (2006), Ngu Yen, LA., Hua
He dan Huy, CP (2006), Liu, Y dan Hui, X (2011), King, M (2012)
KONSEP CHIRALITY OBAT
Konsep chirality obat bermula dari penemuan Louis Pasteur
pada tahun 1848–1853, yang membuktikan bahwa Asam Tartrat
mempunyai dua bentuk kristal berbeda, tetapi sifat fisika dan
kimia sama. Dua bentuk kristal tersebut masing-masing memutar
bidang cahaya terpolarisasi berbeda. Satu kristal memutar ke arah
berlawanan dengan arah jarum jam (ditandai dengan l = laevo
atau –) dan satu kristal memutar searah dengan arah jarum jam
(ditandai d = dextro atau +). Dengan demikian molekul Asam
Tartrat merupakan suatu stereoisomer, yaitu senyawa dengan
rumus kimia sama, tetapi konfigurasi stereometrik tiga dimensi
berbeda (+ tartrate dan – tartrate). Isomer yang aktif memutar
bidang cahaya terpolarisasi ini bersifat optical activity (optic active
isomer). Seiring dengan penemuan Kekule pada tahun 1858 bahwa
atom Carbon mempunyai valensi 4, maka Vant Hoff dan Le Bel
(1874), membuktikan bahwa ada 4 grup molekul berbeda yang dapat
terikat dengan atom Carbon membentuk susunan tetrahedron. Atom
C yang demikian dikenal sebagai atom C asymmetric (stereogenic
centre, chiral centre). Menurut Pasteur (1857) adanya atom C
5
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
asimetrik ini menyebabkan Asam Tartrate mempunyai 2 isomer, di
mana satu isomer merupakan bayangan kaca dari isomer yang lain
(Mirror image). Molekul obat yang mempunyai isomer bayangan
kaca dan bersifat ” not superimposable” dinamakan molekul Chiral.
Chiral berasal dari bahasa Yunani yang artinya ”Kheir” atau tangan.
Tangan kiri kita adalah merupakan bayangan kaca dari tangan
kanan kita, tetapi tidak bersifat ”superimposable” satu sama lain.
Sebaliknya molekul achiral adalah molekul yang terdiri dari isomer
bayangan kaca dan bersifat superimposable (identik) satu sama
lain (lihat gambar 2). Dua isomer yang merupakan bayangan kaca
satu sama lain (mirror image) dan bersifat ”not superimposable” ini
dikenal sebagai enantiomer (optical isomer atau optical antipode).
Sedangkan dua isomer yang bersifat ”superimposable” dikenal
sebagai diastereoisomer. Diastereoisomer mempunyai sifat fisika dan
kimia berbeda. Sistem penamaan konfigurasi molekul chiral yang
digunakan untuk menjelaskan chirality di dalam farmakologi adalah
sistem penamaan menurut ”Cahn-Ingold-Prelog (CIP) system”
atau dikenal sebagai sistem (R) dan (S). Menurut cara CIP ini, grup
yang berikatan dengan chiral centre (atom C asymmetric) ditandai
dengan angka 1–4 berdasarkan prioritas. Angka 1 prioritas nomer
atom tertinggi dan angka 4 mendapatkan prioritas nomer atom yang
paling rendah. Molekul cenderung bergerak dari nomer atom paling
tinggi menuju nomer atom paling rendah. Berdasarkan metode CIP
ini, bagi molekul chiral berputar searah dengan arah jarum jam
diberi nama bentuk R (rectus = kanan) dan molekul yang berputar
melawan arah jarum jam diberi nama bentuk S (sinister = kiri).
(lihat Gambar 3). Bentuk S dan R adalah merupakan pasangan
enantiomer, dan senyawa yang mengandung 50% R dan 50% S (tidak
optik aktif) dikenal sebagai senyawa racemat. Obat racemat dinamai
dengan simbol RS atau SR. Bila jumlah atom C asymmeric hanya 1,
maka banyaknya enantiomer adalah hanya 2 (S dan R). Bila atom
C asimetrik jumlahnya 2, maka jumlah enantiomer adalah 4 (RS,
SR, RR, SS) dan seterusnya. Misalnya, Clopidogrel (Anti Platelet)
6
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
mempunyai 1 atom C asimetrik, maka mempunyai 2 enantiomer
yaitu S-Clopidogrel dan R-Clopidogrel). Sedangkan Labetalol
nonsuperimposable
mirror images
Gambar 2. Molekul enantiomer dari Obat Chiral yang bersifat
”not super imposable”
clockwise
1
2
2
C
counter
clockwise
C
4
view with
substituent
of lowest
priority in
back
1
4
3
R
3
(rectus)
S
(sinister)
Gambar 3. Sistem penamaan molekul Chiral menurut cara CahnInglod- Prelog (CIP)
7
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
(Penghambat reseptor beta) mempunyai 2 atom C asimetrik, maka
mempunyai 4 enantiomer yaitu: RR-Labetalol, SR-Labetalol, SSLabetalol, RS-Labetalol. Proses perubahan enantiomer menuju
racemat dikenal sebagai ”racemization”, dan perubahan bentuk
antar enantiomer dikenal sebagai ”chiral inversion”. Perubahan ini
bisa terjadi invitro dan invivo di dalam cairan tubuh. Sedangkan
proses perubahan racemate menjadi senyawa enantiomer tunggal
(single enantiomer) dikenal sebagai Chirality switch (USAN
Program, 1999).
CHIRALITY DAN INTERAKSI OBAT - RESEPTOR
Berbagai senyawa yang ada di alam, antara lain, DNA,
RNA, asam amino, karbohidrat, nucleoside, alkaloid, hormon,
neurohormone, neurotransmiter, cotransmiter, molekul transporter,
protein, enzim, molekul adesif, reseptor obat dan lain-lainnya,
pada dasarnya adalah merupakan senyawa chiral yang mempunyai
konfigurasi stereometrik tiga dimensi. Semua sistem reseptor
biologik (antara lain, reseptor obat, reseptor neurotransmiter,
reseptor sitokin dan reseptor hormon) adalah mempunyai struktur
molekul tersier, konfigurasi helix, dan bersifat chiral (handedness).
Hal ini menyebabkan interaksi antara molekul obat dengan reseptor
bersifat sangat stereo selektif dan bersifat ”chiral discrimination”.
Pada tahun 1858 Louis Pateur membuktikan bahwa dextro dan laevo
Ammonium Tartrate dimetabolisme oleh jamur Penicillium glaucum
dengan kecepatan yang berbeda. Abderhalde dan Muller pada tahun
1908 membuktikan adanya perbedaan efek antihipertensi antara (+)
dan (–) Epinephrine. Cushny juga membuktikan adanya perbedaan
efek Anticholinergik antara (–) Hyosciamine, Atropine (racemat),
dan (+) Hyosciamine. Menurut Easson dan Stedman (1933)
bahwa ikatan antara enantiomer dengan reseptor obat, molekul
transporter, enzim atau saluran ion, memerlukan konfigurasi
stereometrik tiga dimensi, dan merupakan proses yang bersifat
8
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
sangat enantio selektif dan ”chiral discrimination”. Di mana satu
enantiomer berikatan dengan seluruh titik tangkap molekuler pada
reseptor, sedangkan enantiomer lainnya tidak. Model ini dikenal
dengan Three Point Interaction Model (TPIM) (Nerkar, GA et al,
2011, Peepliwala et al, 2010). Perkembangan dekade terakhir di
bidang receptology, membuktikan bahwa berbagai reseptor obat
di dalam tubuh pada dasarnya merupakan suatu susunan molekul
chiral yang bersifat ”supra molecular complex”. Di mana reseptor
merupakan susunan dari berbagai sub unit protein globular yang
merupakan tempat ikatan (receptive site) dari berbagai molekul
obat dan bersifat chiral (misalnya komplek reseptor Cholinergic
tipe Nicotinic, komplek reseptor GABA, dan komplek reseptor
NMDA). Gambaran skematik reseptor Cholinergic tipe Nicotinic
yang bersifat chiral dapat dilihat pada gambar 5. Obat yang mampu
berikatan dengan reseptor (mempunyai afinitas) dan merangsang
transduksi sinyal (mempunyai aktivitas intrinsik) disebut agonist.
Sedangkan antagonist adalah molekul obat yang mampu berikatan
dengan reseptor tetapi tidak dapat merangsang transduksi sinyal.
Bagi molekul chiral, enantiomer yang mempunyai afinitas besar dan
dan mempunyai aktivitas intrinsik disebut ”Eutomer”. Sedangkan
antagonist yang tidak aktif disebut ”distomer”. Efek farmakologi
(efikasi dan keamanan) suatu enantiomer ditentukan oleh harga
”eudismic ratio” yaitu, perbandingan komposisi eutomer dengan
distomer. Senyawa racemate yang mengandung enantiomer S dan
R, aktivitas farmakologinya ditentukan besarnya harga eudismic
ratio. Makin tinggi harga eudismic ratio suatu enantiomer, makin
spesifik efek farmakologi dan efek terapetik suatu obat. Misalnya,
R-Butaclamol suatu antipsikotik yang sangat poten. Sedangkan
S-Butaclamol tidak aktif. Eudismic ratio dari R-Butaclamol/
S-Butaclamol = 1250 × terhadap reseptor D2, 160 × terhadap reseptor
D1, 73 × terhadap reseptor alpha1, dan reseptor serotonin, serta
0,8 × terhadap reseptor Muscarinic.
9
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Gambar 4. Model interaksi antara enantiomer dengan reseptor
biologik yang bersifat enantioselektif.
Chiral molecule
Chiral Molecule
Chiral Molecule
Gambar 5. Chirality dari reseptor Chlinergik tipe Nikotinik yang
merupakan komplek supra molekul dengan berbagai
tempat ikatan dari berbagai agonist dan antagonist.
10
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
CHIRALITY DAN FARMASETIK OBAT
Pada fase Farmasetik terjadi proses desintegrasi bentuk sediaan
obat dan disolusi molekul obat menuju medium pengabsorpsian.
Enantiomer tunggal mempunyai sifat fisika kimia berbeda dengan
racemat, kelarutan, disolusi, kompaktibilitas dan stabilitas lebih
baik dari pada racemat. Pada senyawa racemat terjadi kekuatan
tarik menarik yang kuat antar molekul enantiomer sehingga akan
memperlambat proses disolusi dan kelarutan. Di samping itu akan
terjadi interaksi antara tiap enantiomer dengan bahan pembantu
formulasi chiral (mis, turunan cellulose) membentuk senyawa
diastereoisomer yang berbeda sifat fisika-kimia dan menyebabkan
perbedaan pelepasan, disolusi, absorpsi dan bioavailabilitas obat
chiral. Yang selanjutnya akan memengaruhi efek farmakologi dan
efek terapetik pada penderita. Enantiomer tunggal lebih mudah
teknik formulasinya, lebih mudah ditolerir, dan menghasilkan
sediaan obat dengan efikasi sangat baik pada penderita, jika
dibandingkan terhadap senyawa racemat.
CHIRALITY DAN FARMAKOKINETIK OBAT
Farmakokinetik adalah merupakan efek tubuh terhadap obat.
Proses farmakokinetik meliputi dua aspek, yaitu kualitatif dan
kuantitatif. Aspek kualitatif meliputi mekanisme proses, titik
tangkap proses dan faktor-faktor yang memengaruhi proses Absorpsi,
Distribusi, Metabolisme dan Eliminasi obat (ADME) di dalam tubuh.
Aspek kuantitatif meliputi kuantifikasi matematik dari proses ADME
yaitu pengukuran parameter farmakokinetik primer dan sekunder
misalnya, t½, Clearance, AUC (Area Under the Curve), volume
distribusi (Vd), konstante distribusi antar kompartemen tubuh.
Perbedaan proses ADME dari enantiomer menyebabkan perbedaan
parameter farmakokinetik antar enantiomer, dan menyebabkan
perbedaan mula kerja, lama kerja, intensitas efek, terjadinya efek
samping maupun efek toksik obat-obat chiral. Perbedaan enantiomer
11
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
pada proses farmakokinetik terjadi pada fase interaksi antara obat
dengan molekul transporter, molekul anti transporter, protein
plasma, protein jaringan dan cyt P450.
CHIRALITY DAN ABSORPSI OBAT DI DALAM TUBUH
Pada pemberian obat secara intravaskuler (i.v, intra
arterial) tidak terjadi absorpsi. Sedangkan pada cara pemberian
ekstravaskuler (p.o, im, sc), absorpsi merupakan proses yang
harus dilalui obat sebelum memasuki sirkulasi sistemik. Obatobat chiral diabsorpsi secara difusi pasif, transport aktif, dan
mengalami proses anti transport. Difusi pasif hanya tergantung
pada faktor fisika-kimia (a.l, Berat Molekul, lipofilisiti, pKa obat,
ionisasi, ukuran molekul dan pH tempat pengabsorpsian). Karena
enantiomer mempunyai sifat fisika kimia sama, maka bagi obatobat chiral proses difusi ini tidak bersifat enantioselektif. Bagi obat
chiral, transport aktif dan anti transport adalah bersifat sangat
enantioselektif, dan menyebabkan perbedaan kecepatan absorpsi
dan jumlah obat yang menuju sirkulasi sistemik antar enantiomer.
Absorpsi melalui saluran cerna dari L-Dopa (Antiparkinson),
L-Penicillamine (Antiinflamasi), dan L-Methotrexate (Antikanker)
terjadi sangat cepat dan spesifik jika dibandingkan terhadap bentuk
D-nya, karena bentuk L mempunyai afinitas sangat tinggi terhadap
molekul transporter dari pada bentuk L. Pemberian L-MTX
sebagai anti kanker secara p.o menghasilkan jumlah obat dalam
tubuh (AUC) dan kadar obat maksimum dalam darah (Cmax) =
40 × lebih besar dari D-MTX. Hal ini karena L-MTX mempunyai
afinitas 60 × lebih kuat terhadap sistem transporter folat di mukosa
usus dibandingkan terhadap D-MTX. Transport enantioselektif juga
terjadi pada eflux obat oleh anti-transporter P-glycoprotein (ABCB1)
di saluran cerna. Misalnya, S-Talinolol (penghambat reseptor
beta) adalah merupakan substrat bagi P-glycoprotein. Sedangkan
R-Talinolol bukan merupakan substrat bagi P-glycoprotein.
12
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Akibatnya kadar R-Talinolol dalam darah dan jumlah R-Talinolol
dalam tubuh (AUC) jauh lebih tinggi dari S-Talinolol. Perbedaan
absorpsi juga terjadi bila tiap enantiomer mempunyai efek yang
berbeda terhadap pembuluh darah lokal. Misalnya, pemberian injeksi
intradermal dari S-Bupivacaine (Lokal anestetik) memberikan
efek yang lebih lama jika dibandingkan terhadap R-Bupivacaine,
karena S-Bupivacaine mempunyai efek vasokonstriktor pada
pembuluh darah, sedangkan R-Bupivacaine tidak mempunyai efek
vasokonstriktor.
CHIRALITY DAN DISTRIBUSI OBAT DI DALAM TUBUH
Enantioselektivitas dari distribusi obat di dalam tubuh terjadi
pada fase ikatan obat dengan protein plasma dan protein jaringan,
uptake oleh jaringan tubuh, dan mekanisme akumulasi dalam
jaringan tubuh. Tiap enantiomer mempunyai afinitas yang berbeda
di dalam mengadakan ikatan dengan protein plasma, protein
jaringan, dan molekul transporter. Obat-obat di dalam plasma
berikatan dengan albumin (HSA = Human Serum Albumin) dan
Alpa1-acid glycoprotein (AGP). Obat-obat chiral yang bersifat asam
terikat dengan HSA. Sifat enantioselektif dari ikatan obat dengan
HSA terutama terjadi pada tempat ikatan II (Benzodiazepine
Binding Site) dan tidak terjadi pada ikatan I (Warfarin Binding
Site). Obat chiral yang bersifat basa terikat dengan AGP. Obat yang
terikat protein plasma (HSA dan AGP) merupakan bentuk obat tidak
aktif. Hanya bentuk obat bebas yang mempunyai derajad larut lipid
tinggi, mampu menembus membran dan berikatan dengan reseptor.
Obat-obat chiral mengadakan ikatan dengan protein plasma sangat
bervariasi. Misalnya, S-Oxazepam hemisuccinate berikatan dengan
HSA 40 kali lebih kuat dari pada R-Oxazepam hemisuccinate.
Enantiomer mempunyai selektivitas yang berbeda terhadap HSA
dan AGP. R-Propanolol terikat secara enantioselektif dengan HSA,
sedangkan S-Propanolol terikat secara enantioselektif dengan AGP.
13
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Di dalam plasma ikatan yang paling kuat dan dominan adalah
antara S-Propanolol dengan AGP. Sehingga di dalam plasma fraksi
obat bebas dari R-Propanolol jauh lebih tinggi dari S-Propanolol.
Akibatnya, efek penghambat reseptor beta dari R-Propanolol jauh
lebih kuat dari S-Propanolol. Karena ikatan antara obat dengan
protein plasma berbanding linier dengan banyaknya obat bebas
yang difiltrasi di glomerulus, maka adanya enantioselektifitas ikatan
antara obat chiral dengan HSA dan AGP, akan memengaruhi
kliren obat, eliminasi obat, lama kerja obat dan efek terapi dari obat
chiral. Distribusi enantioselektif juga terjadi pada proses interaksi
antara obat chiral dengan molekul transporter pada proses distribusi
menuju jaringan tubuh. Misalnya:
– Efek anti rheumatic dari S-Ibuprofen lebih poten dari
R-Ibuprofen, karena S-Ibuprofen mengalami distribusi menuju
cairan synovial lebih besar jika dibandingkan terhadap
R-Ibuprofen,
– R-Baclofen (Anti spastisitas) mempunyai afinitas terhadap
reseptor GABA-B = 100 kali lebih kuat dari pada S-Baclofen,
karena R-Baclofen mengalami transport aktif menuju sawar
darah – otak, sedangkan S-Baclofen tidak mengalami transport
aktif dan tidak aktif,
– S-Leuvocorin mempunyai efek anti tumor, karena mengalami
transport dan akumulasi di dalam jaringan sel tumor, sedangkan
R-Leucovorin tidak aktif, karena tidak dapat menembus jaringan
sel tumor
– Hanya bentuk L-Dopa (Antiparkinson) yang bisa menembus
sawar darah–otak menuju jaringan syaraf dan dirubah menjadi
Dopamine. Sedangkan D-Dopa tidak bisa menembus sawar
darah-otak dan tidak aktif.
CHIRALITY DAN METABOLISME OBAT DI DALAM TUBUH
Metabolisme obat pada prinsipnya merubah senyawa induk
(Parent drug) yang bersifat lipofilik (larut lipid) menjadi metabolit
14
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
yang bersifat hidrofilik (larut air). Metabolisme obat chiral
sebagian besar terjadi di hepar. Proses metabolisme obat dihepar
terdiri dari fase I (fungsionalisasi) dan fase II (konyugasi). Fase I
merupakan modifikasi struktur obat secara oksidasi, reduksi dan
hidrolisa. Sebagian besar metabolisme obat pada fase I dilakukan
oleh sistem enzim CYP450 menjadi metabolit. Fase II merupakan
reaksi konyugasi obat atau metabolit dengan berbagai konyugat
endogen (glukoronid, gluthation, sulfat, dll). Karena reaksi pada fase
I dan fase II merupakan interaksi antara obat chiral dengan reseptor
CYP450 dan enzim konyugat yang bersifat chiral, maka reaksi yang
terjadi adalah bersifat enantioselektif dan ”chiral discrimination”
(Tabel 2). Adanya SNP (Single Nucleotide Polymorphism) dari gene
CYP450 menyebabkan terjadinya ekspresi enzim CYP450 yang
bervariasi, dalam bentuk famili, sub-famili, isoform dan alele mutan
dengan berbagai sifat dari aktivitas metabolisme normal, aktivitas
menurun, in aktif dan hiperaktif. Adanya sifat enantio selektif dan
polimorfisme dari CYP450 ini menyebabkan perbedaan afinitas dari
tiap enantiomer terhadap berbagai jenis CYP450 dan enzim-enzim
konyugasi fase II yang dapat menyebabkan terjadinya perbedaan
proses metabolisme (a.l, jalur metabolisme, pembentukan metabolit,
kecepatan metabolisme, dan ekskresi metabolit dari enantiomer)
dan jenis reaksi metabolisme (a.l, pro-chiral menjadi chiral, chiral
menjadi chiral lainnya, chiral menjadi diastereoisomer, chiral
menjadi achiral, dan chiral inversion). Hal ini dapat berdampak
pada perbedaan farmakokinetik, farmakodinamik, efek farmakologi,
efek terapetik, efek samping dan efek toksik tiap enantiomer di
dalam obat chiral. Misalnya, Clopidogrel (anti-platelet) merupakan
suatu pro-drug yang hanya aktif di dalam tubuh setelah melalui
metabolisme oleh CYP2C19. Hanya bentuk S-Clopidogrel yang
mengalami aktivasi menjadi metabolit aktif sebagai Antiplatelet.
Sedangkan R-Clopidogrel tidak mengalami aktivasi dan tidak
aktif. Contoh lainnya, adalah Warfarin (Antikoagulan). S-Warfarin
mempunyai efek antikoagulan 4 kali lebih poten dari R-Warfarin.
15
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Di dalam tubuh S-Warfarin terutama dimetabolisme oleh CYP2C9.
Sedangkan R-Warfarin dimetabolisme oleh CYP1A2 dan CYP3A4.
Pemakaian kombinasi antara Warfarin dengan suatu induser atau
inhibitor CYP2C9 hanya memengaruhi kadar S-Warfarin, tanpa
berpengaruh pada R-Warfarin.
Tabel 2. Enantioselektivitas dari metabolisme obat chiral oleh
CYP450 di hepar
Obat
Jalur Metabolisme Enzim CYP450
Disopyramide Mono-N-Dealkylation
CYP3A3
CYP3A4
Fluoxetine
N-Dealkylation
CYP2C9
CYP2D6
Omeprazole
Hydroxylation
CYP2C19
Sulfone formation
CYP3A4
5-O-demethylation
CYP2C19
Warfarin
7-hydroxylation
CYP2C9
6-hydroxylation
CYP1A2
8-hydroxylation
CYP1A2
10-hydroxylation
CyP3A4
Clopidogrel
Two step oxydation
CYP2C19
Selektivitas
S/R = 1.4
S/R = 2.2
R/S = 5
R/S = 1.3
R/S= 20
S/R = 10
S/R = 11
S >>> R
R >>> S
R >>> S
R >>> S
S/R = 100
Diambil dari: Francotte, E and Lindner,W (2006), Liu, Y and Hui Gu, X (2006) Hutt,
AJ (2006), Nerkar, GA (2011)
Di antara jenis reaksi metabolisme, maka chiral inversion adalah
fenomena metabolisme yang merubah satu jenis enantiomer menjadi
jenis enantiomer lain, tanpa diikuti oleh perubahan strukturnya.
Misalnya obat-obat yang mengalami chiral inversion adalah Anti
Inflamasi Non Steroid (NSAID) misalnya, Ibuprofen, Fenoprofen,
Flurbiprofen, Ketoprofen. Pada golongan NSAID ini reaksi chiral
inversion bersifat stereoselektif dan membentuk senyawa inaktif
atau kurang akti. Adanya chiral inversion ini sering menyulitkan di
dalam pengukuran bioavailabilitas dan bioekivalen.
16
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
CHIRALITY DAN ELIMINASI OBAT DARI TUBUH
Ekskresi obat-obat chiral terutama terjadi melalui ginjal, hanya
dalam jumlah kecil melalui air susu, keringat, udara pernapasan,
dan saliva. Ekskresi lewat ginjal dapat terjadi melalui beberapa
proses antara lain, filtrasi glomerulus, sekresi aktif dan pasif, serta
reabsorpsi aktif. Filtrasi glomerulus merupakan suatu proses filtrasi
sederhana dari bentuk obat dan metabolit yang tidak terikat protein
plasma (unbound). Jumlah obat yang dieksresi melalui filtrasi
tergantung pada aliran darah menuju ginjal. Meskipun proses
ini bersifat non enantioselektif, tetapi enantiomer mempunyai
kecepatan filtrasi yang berbeda, karena perbedaan afinitas terhadap
ikatannya dengan protein plasma (HSA dan AGP). Proses reabsorpsi
pasif di tubulus adalah merupakan proses reabsorpsi dari fraksi
obat tak terionkan di dalam plasma yang mengikuti teori partisi
dan tidak bersifat enantio selektif. Proses enantioselektif pada
umumnya terjadi pada obat chiral yang mengalami sekresi aktif di
tubulus proksimalis. Karena proses tersebut, merupakan proses
interaksi enantioselektif antara obat chiral dengan makromolekul
P-glycoprotein, multidrug resistance-associated protein, transporter
anion, kation, dan senyawa netral. Misalnya, S-Oxprenolol
mempunyai efek penghambat reseptor beta-1 di otot jantung =
30 × lebih poten dari R-Oxprenolol. Kliren ginjal dari R-Oxprenolol
dan R-Oxprenolol-glucoronide jauh lebih besar dari S-Oxprenolol
dan S-Oxprenolol-glucoronide, maka S-Oxprenolol mempunyai lama
kerja yang lebih panjang dan intensitas penghambat reseptor beta-1
lebih poten dari R-Oxprenolol.
CHIRALITY DAN PARAMETER FARMAKOKINETIK
Parameter farmakokinetik adalah merupakan indikator
kuantitatif dari ADME obat di dalam tubuh, yang meliputi kecepatan
absorpsi, mula kerja, lama kerja, jumlah obat di dalam tubuh, kadar
terapetik dalam darah, intensitas efek farmakologi dan indeks
terapetik dari obat chiral. Indikator ini menggambarkan profil
17
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
klinik, efikasi dan keamanan obat chiral. Parameter farmakokinetik
ini menggambarkan proses di dalam sirkulasi (misalnya, systemic
clearance, volume of distribution, elimination half life), di dalam
sistem organ (misalnya, hepatic clearance, renal clearance), dan
di dalam sistem makromolekuler (misalnya, Intrinsic metabolic
clearane). Parameter farmakokinetik ini menggambarkan interaksi
yang bersifat enantioselektif antara molekul chiral dengan
makromolekul reseptor, enzim, dan molekul transporter yang
bersifat chiral. Pada beberapa obat chiral, perbedaan parameter
farmakokinetik di dalam sirkulasi tubuh tidak begitu terlihat,
meskipun perbedaan parameter farmakokinetik pada tingkat organ
atau makromolekul berbeda sangat bermakna. Misalnya Verapamil,
rasio t½ dari enantiomer S/R = 1.2, rasio volume distribusi dari
S/R = 2.34, rasio kliren S/R = 1.77. Akan tetapi rasio kliren
metabolisme demetilasi dari S/R = 33. Dalam hal ini parameter
kliren metabolisme demetilasi dari Verapamil merupakan indikator
perbedaan efek terapi antara S-Verapamil dan R-Verapamil sebagai
penghambat saluran ion Calcium.
Aplikasi parameter farmakokinetik untuk melakukan Monitoring
Kadar Terapetik Obat (TDM = Therapeutic Drug Monitoring) harus
berdasarkan kadar enantiomer aktif dalam darah. Pengukuran
kadar enantiomer aktif lebih menggambarkan kadar obat aktif
pada reseptor, dan efek terapetik dari pada pengukuran kadar
obat total (S dan R). Misalnya, Tocainide (Antiaritmia) merupakan
senyawa racemat. Bentuk R-Tocainide merupakan enantiomer
aktif, dan bentuk S-Tocaionide tidak aktif. Waktu paruh (t½) dari
R-Tocainide = 10 jam, dan waktu paruh S-Tocainide = 17 jam.
Pada pemberian infus, rasio kadar obat dalam darah S/R = 1 setelah
1 jam dan 1.7 setelah 48 jam. Dalam hal ini kadar obat total (S dan
R) meningkat tajam searah dengan lama infus, dan perbedaan efek
terapetik kelihatannya tidak bermakna. Perbedaan efek terapetik
akan terlihat bermakna, bila pengukuran kadar obat dalam darah
berdasarkan kadar enantiomer aktif R-Tocainide. Parameter
18
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
farmakokinetik tiap enantiomer dari beberapa obat chiral dapat
dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Parameter Farmakokinetik dari beberapa enantiomer dari
obat chiral
Obat
Rute
Enantiomer Clerance
Pemberian
Warfarin
p.o
Mexiletine
p.o
p.o
Buvipacaine Iv
Carvedilol
p.o
Mephobarbitone
p.o
Sotalol
p.o
Tocainide
I.V
Verapamil
I.V
Etodolac
p.o
R
S
R
S
R
S
R
S
R
S
R
S
R
S
R
S
R
S
1.9
2
8.6
8.1
0.40
0.32
0.87
1.26
170
1.5
12.4
11.7
11.1
6.3
0.80
1.4
22
288
Vd
129
70.5
6.6
7.3
84
54
302
487
716
105
2
2
136
134
2.74
6.42
0.21
1.6
Protein
binding
%
Ratio
unbound (S/R)
1.2
0.7
0.9
19.8
1.4
28.3
6.6
0.68
4.5
0.45
1.4
0.63
66
0.8
53
65
0.95
62
91
1.1
83
6.4
1.7
11
0.47
1.8
0.85
Half
Life
47.1
24.4
9.1
11
3.5
2.6
5.3
5.1
3.1
50.5
7.9
8.2
9.3
17.1
4.1
4.8
6.6
4.3
Diambil dari: Francotte, E and Lindner, W. (2006), Dong, H et al (2011)
CHIRALITY DAN FARMAKODINAMIK
Akibat adanya pengaruh chirality pada fase farmakokinetik akan
menyebabkan terjadinya perbedaan kecepatan metabolisme dan
pembentukan metabolit, besarnya kadar enantiomer aktif dalam
darah yang mencapai reseptor, yang diakhiri dengan terjadinya efek
farmakologi dan efek terapetik. Meskipun enantiomer mempunyai
reaktivitas yang sama terhadap senyawa achiral, tetapi akan berbeda
reaktivitasnya terhadap reseptor obat. Perbedaan reaktivitas
enantiomer terhadap reseptor sangat bermakna dan rasio eudismik
19
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
dapat mencapai 100 sampai 1000 kali. Hal ini berarti satu enantiomer
merupakan agonist dan menyebabkan efek farmakologi, sedangkan
enantiomer lain merupakan antagonist,,tidak mengadakan ikatan
dengan reseptor atau ikatannya sangat lemah sekali. Karena
perbedaan afinitas dan aktivitas intrinsik dari tiap enantiomer dalam
senyawa racemat, maka obat-obat chiral (racemat) mempunyai profil
farmakologi sebagai berikut:
1. Obat chiral dengan satu enantiomer (eutomer) mempunyai efek
teraputik yang utama, sedangkan enantiomer lainnya (distomer)
tidak aktif. Dalam hal ini eutomer berikatan dengan reseptor
obat, sedangkan distomer tidak berikatan atau sangat lemah
sekali.
2. Obat chiral di mana satu enantiomer di dalam tubuh mengalami
perubahan menjadi enantiomer lainnya (chiral inversion). Efek
farmakologi terletak pada enantiomer kedua Dalam hal ini
enantiomer pertama merupakan pro-drug, yaitu aktif hanya
setelah mengalami perubahan di dalam tubuh.
3. Obat chiral yang mempunyai enantiomer dengan efek farmakologi
yang berbeda satu sama lain. Satu enantiomer mempunyai
efek farmakologi yang diharapkan, sedangkan enantiomer
lainnya mempunyai efek farmakologi yang berbeda. Dalam hal
ini enantiomer lain tersebut kemungkinan mengadakan ikatan
dengan reseptor yang berbeda.
4. Obat chiral di mana satu enantiomer bersifat antagonisme
terhadap terhadap reseptor bagi enantiomer lainnya.
Untuk mengadakan interaksi dengan reseptor, molekul obat
harus mempunyai persyaratan konfigurasi stereometrik tertentu
misalnya, chirality dari molekul. Karena reseptor obat adalah
merupakan makromolekul yang bersifat chiral dan memerlukan
konfigurasi stereometrik tiga dimensi, maka hanya satu enantiomer
yang berikatan dengan reseptor untuk memberikan efek farmakologi
dan efek terapi yang optimal pada penderita. Ikatan obat reseptor
20
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
ini mengikuti teori interaksi obat-reseptor yang berupa ”Three
Point Interaction Model” atau teori ”key and lock hypotheses”.
Dalam hal ini obat (Key) harus mempunyai sifat chirality yang
sangat spesifik untuk mengadakan ikatan dengan reseptor (Lock).
Ikatan antara obat dengan tempat ikatan di dalam molekul reseptor
(binding site) adalah merupakan tahapan yang sangat penting
(critical factor) untuk menyebabkan terjadinya sinyal transduksi,
efek farmakologi dan efek terapi. Seperti telah diketahui bahwa 90%
obat-obat yang beredar sampai saat ini adalah merupakan obat-obat
dalam bentuk racemat yang terdiri dari campuran enantiomer (50%
R dan 50% S) dengan efek farmakologi yang berbeda. Misalnya,
Clopidogrel (Obat Anti Agregasi Platelet) merupakan molekul
chiral. Di dalam satu molekul Clopidogrel terdiri dari enantiomer
S-Clopidogrel dan R-Clopidogrel. Di mana S-Clopidogrel mempunyai
afinitas dan aktivitas intrinsik terhadap reseptor P2Y12 pada
permukaan platelet. Sedangkan R-Clopidogrel tidak mempunyai
afinitas dan aktivitas intrisik terhadap reseptor P1Y12, sehingga
tidak mempunyai efek anti agregasi platelet. Dalam hal ini molekul
Clopidogrel merupakan molekul yang bersifat ”Jackel and Hyde
Molecule”. Satu molekul merupakan molekul baik (good molecule)
dan satu molekul merupakan molekul jelek (bad molecule). Begitu
juga obat chiral lainnya yang bersifat racemat, maka tiap enantiomer
dari racemat, dapat dipertimbangkan sebagai individu obat dengan
efek farmakologi yang berbeda. Adanya kontaminasi dari enantiomer
tidak aktif, enantiomer yang merupakan antagonist dan enantiomer
toksik ini menyebabkan efikasi, potensi, toksisitas dan keamanan
obat racemat akan berbeda dengan obat enantiomer tunggal (Single
enantiomer). Perbedaan efek farmakologi dan efek toksik dari
enantiomer obat chiral dapat dilihat pada tabel 4.
CHIRALITY DAN INTERAKSI OBAT-OBAT
Interaksi obat-obat dapat terjadi pada fase absorpsi, distribusi,
metabolisme, eliminasi dan interaksi antara obat dengan reseptor.
21
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Adanya interaksi obat-obat ini dapat meningkatkan dan menurunkan
efek terapetik serta menyebabkan terjadinya efek samping dan efek
toksik dari obat. Interaksi obat-obat dapat terjadi akibat interaksi
antar enantiomer di dalam obat chiral dan antara enantiomer di
dalam obat chiral dengan obat lain. Titik tangkap interaksi obatobat dapat terjadi pada proses interaksi dengan molekul transporter
di dalam fase absorpsi, ikatan dengan protein plasma, interaksi
dengan enzim pemetabolisme obat (CYP450 dan konyugat endogen),
dan interaksi dengan molekul transporter pada fase ekskresi lewat
ginjal. Bagi obat chiral khususnya, adanya interaksi obat-obat ini
dapat menyebabkan penurunan atau peningkatan kadar enantio
aktif di dalam darah, yang berakibat menurunnya efikasi dan
potensi obat, ataupun terjadinya efek samping dan efek toksis.
Tabel 4. Perbedaan Efek Farmakologi dan Efek toksik dari
enantiomer beberapa obat chiral
No Klas Farmakologi Obat Chiral
Efek Farmakologi
1 Bronchodilator
Salbutamol
R-(–)-Salbutamol:
bronchodilator
S-(+)-Salbutamol: tidak
aktif, pro-inflammatory,
meningkatkan angka kesakitan
dan kematian pada penderita
asma
2 Ace-inhibitor
Imidapril
S-Imidapril: 1000.000× lebih
poten dari R-Imidapril
Captopril
(S,S)-Captopril: 100× lebih
poten dari (R,R)-Captopril
3 Antiplatelet
Clopidogrel
S-Clopidogrel: aktif
R-Clopidogrelk: tidak aktif dan
neurotoksik
4 Anti-urinary
Terodiline
R-Terodiline: Perpanjangan
incontinence
interval QTc dan QRS,
Proarrhythmic, Cardiac arrest
S-Terodiline: Tidak toksik dan
aman
22
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
No Klas Farmakologi Obat Chiral
Efek Farmakologi
5 Antihistamine
Sopromidine R-Sopromidine: Antagonist
reseptor H2
S-Sopromidine: Agonist
reseptor H2
6 NSAID
Benoxaprofen R-Benoxaprofen: Aktif, tidak
toksik
S-Benoxaprofen: Gagal ginjal
dan hepar
7 Anesthetic
8 Antituberculotic
9 Cardiotonic
10 Sedatif/Anti
Muntah
11 Antirheumatic
12 Anti Parkinson
Ketamine
R-Ketamine: Aktif dan tidak
toksik
S-Ketamine: Hallucinogenic,
Agitation
Ethambutol S,S-Ethambutol: efek anti
Mycobacterium 500× lebih
poten dari R,R-Ethambutol
RR-Ethambutol: Tidak aktif,
Optical neuritis dan Kebutaan
permanen
Dobutamine (+)-Dobutamine: agonist
reseptor beta1 & beta2,
antagonist alpha-1sangat
lemah
(–)-Dobutamine: reseptor
alpha1 sangat kuat
Thalidomide S-Thalidomide: Teratogen
R-Thalidomide: Sedatif
Penicillamine S-Penicillamine: Antiarthritic
R-Penicillamine: Mutagenik
Dopa
L-Dopa: Antiparkinson
D-Dopa: tidak aktif dan toksik
Diambil dari: Nguyen, LA et al (2006); Liu, Y dan Hui Gu, X (2011); Nerkar, GA
(2011); Guang, Y and Hai, ZB (2011); Mitra, P and Chopra, P (2011);
Qiang Lin, G et al (2011); Sunnic, V and Pharnham, MJ (2011)
Di bawah ini beberapa contoh interaksi antara enantiomer dengan
obat lain ataupun antar enantiomer di dalam campuran racemat.
Misalnya pemberian Warfarin (Antikoagulan) yang dikombinasi
dengan Cimetidine dan Sulfinpyrazone. Efek antikoagulan dari
23
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
S-Warfarin kekuatannya 4 kali dari R-Warfarin. R-Warfarin
dimetabolisme hidroksilasi oleh CYP1A2, sedangkan S-Warfarin
dimetabolisme oleh CYP2C9. Pemberian Warfarin bersama dengan
Cimetidine (inhibitor CYP1A2) akan meningkatkan AUC dan t½
dari R-Warfarin. Cimetidine tidak memengaruhi metabolisme
S-Warfarin. Sedangkan pemberian bersama dengan Sulfinpyrazone
(inhibitor CYP2C9) akan meningkatkan AUC, t½ dan menghambat
kliren dari S-Warfarin dan menyebabkan terjadinya efek samping
hypoprothrombinemia. (...). Interaksi yang bersifat enantioselektif
pada eskresi pada ginjal juga terjadi antara obat penghambat sekresi
tubulus (Misalnya, Probenecide) dengan obat-obat chiral. Dalam
hal interaksi antar enantiomer, maka pemberian suatu obat chiral
yang bersifat racemat, dapat dianggap pemberian dua macam obat
pada waktu bersamaan. Misalnya Ofloxacin (Antibiotik). S-Ofloxacin
mempunyai aktivitas antimikroba dan R-ofloxacin tidak aktif.
R-ofloxacin akan menurunkan kliran total dan kliren ginjal dari
S-ofloxacin karena R-ofloxacin menghambat sekresi aktif dari
S-ofloxacin pada sistem transport kation aktif di tubulus
proksimalis (...). Adanya selektifitas di dalam proses sekresi aktif
ini menyebabkan tiap enantiomer di dalam campuran racemat,
mempunyai kecepatan ekskresi yang berbeda. Sebagai akibatnya,
akan memengaruhi lama kerja obat, intensitas efek farmakologi,
efek terapi,efek samping dan efek toksik. Interaksi antar enantiomer
di dalam satu senyawa racemat ini dapat memberikan perubahan
efek farmakologi dan efek tarapi yang sangat bermakna.
CHIRALITY, BIOAVAILABILITAS, DAN BIOEKIVALENSI
Obat-obat paten adalah obat dengan zat aktif pertama kali
yang ditemukan oleh suatu industri farmasi (Innovator). Obat ini
dilindungi oleh hak patent sampai masa patennya habis. Menurut
UU No. 14 Tahun 2001 masa berlaku paten di Indonesia adalah
20 tahun. Setelah paten habis maka obat paten dapat disubstitusi
24
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
oleh obat generik. Depkes RI (1988) meluncurkan konsep obat
generik (bermerk dan berlogo). Obat generik bermerk (obat branded)
adalah obat dengan kandungan zat aktif yang sama dengan produk
innovator, dengan catatan obat innovator telah habis masa patennya.
29 Maret 2005, Pedoman Uji BE dan Peraturan Kepala BPOM-RI,
18 Juli 2005 tentang tata laksana Uji Bioekivalensi, mewajibkan uji
bioavailabilitas dan bioekivalensi terhadap obat copy yang beredar
(obat generik, me-too drugs). Obat-obat generik yang dimaksud
adalah yang bersifat ekivalensi farmasetik (mengandung jumlah
dan jenis obat yang sama). Berbagai otoritas regulasi dan perijinan
obat di seluruh dunia, misalnya FDA di Amerika, EMEA di Eropah
telah memberikan panduan pengujian Bioavailabilitas obat yang
diuraikan pada berbagai petunjuk uji Bioavailabilitas (Bioavailability
Guideline).
Bioavailabilitas adalah kecepatan (rate) dan jumlah obat
aktif yang menuju sirkulasi (AUC) setelah pemberian. Bila dua
produk mempunyai bioavailabilitas yang sama, maka diharapkan
memberikan ekivalen terapetik (Bioekivalen) pada penderita
meskipun hal ini tentunya memerlukan uji klinik terlebih dahulu.
Bagi obat-obat achiral, penentuan bioavailabilitas obat dengan
pembanding bentuk sediaan obat ”innovator” merupakan pengujian
rutin dan tidak memberikan banyak permasalahan. Akan tetapi
bagi obat-obat chiral, maka hal ini sangatlah berbeda. Regulasi
bioavailabilitas obat chiral pertama kali dilakukan oleh pemerintah
Swedia pada tahun 1991, dengan memberikan ketentuan, antara
lain:
– Bila tidak ada informasi atau tidak diketahui efek farmakologi
masing-masing enantiomer, maka bioavailabilitas harus
ditentukan untuk masing-masing enantiomer.
– Bila efek farmakologi hanya dimiliki oleh salah satu enantiomer,
maka bioavailabilitas harus diukur berdasarkan kadar eutomer
(enantiomer aktif) dalam darah.
25
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
–
–
Bila kedua enantiomer mempunyai efek farmakologi, maka
bioavailabilitas harus berdasarkan kadar tiap enantiomer dalam
darah.
Bila efek satu enantiomer meningkatkan atau menurunkan efek
farmakologi lainnya (mis, chiral inversion), maka bioavailabilitas
harus diukur berdasarkan kadar kedua enantiomer dalam darah.
Prinsip ini yang digunakan sebagai pijakan oleh EMA (Europian
Medicines Agency) (2001, 2006) dan FDA (2000, 2006) sebagai
pedoman uji bioavailabilitas dan bioekivalensi obat-obat chiral.
Menurut FDA (2006) dan EMA (2006), uji bioavailabilitas harus
dikerjakan pada tiap enantiomer dengan menggunakan metode
pengukuran kadar yang bersifat enantio-selektif, bila obat-obat
chiral mempunyai karakteristik sebagai berikut:
– Tiap enantiomer berbeda sifat farmakodinamiknya
– Tiap enantiomer berbeda sifat farmakokinetiknya
– Efikasi dan keamanan obat chiral terletak pada enantiomer minor
– Proses absorpsi salah satu enantiomer bersifat non-linier.
Pada saat ini umumnya penentuan bioavailabilitas dari obat-obat
chiral dilakukan dengan metode penentuan kadar obat total yang
bersifat non-enantioselektif. Adanya enantioselektivitas dari tiap
enantiomer dalam proses ADME akan memengaruhi bioavailabilitas
dan bioekivalensi obat chiral (racemat). Hal ini bila dilakukan
dapat memberikan hasil yang bersifat bias. Misalnya, pengukuran
bioekivalensi dua produk Flurbiprofen dengan menggunakan metode
non-enantio selektif memberikan hasil AUC yang tidak bermakna
secara statistik. Bila pengukuran dilakukan dengan menggunakan
metode enantio selektif, maka harga AUC dari dua produk berbeda
secara bermakna (Jamali, 1991). Contoh lain, adalah penentuan
bioavailabilitas dari Ibuprofen. Pada pengukuran kadar obat dengan
metode non-stereoselektif, tidak ada beda C max antara S-enantiomer
dan R-enantiomer. Akan tetapi bila digunakan pengukuran dengan
26
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
metode stereo selektif, maka C max dari R-Ibuprofen lebih tinggi
dari pada C max dari bentuk S-enantiomernya (Walker SE and
Hardy BG, 1992). Hal ini disebabkan karena R-Ibuprofen diabsorpsi
lebih cepat dari pada racematnya (Geisslinger et al, 1990). Begitu
juga bioavailabilitas dan bioekivalensi dari dua produk Ketoprofen.
Pengukuran non enantioselektif, menunjukkan harga C max dan
AUC tidak berbeda satu sama lain. Akan tetapi pengukuran dengan
metode enantio selektif, membuktikan bahwa harga C max dan AUC
dari S-Ketoprofen lebih besar dari R-Ketaprofen (Valliapan et al,
2006). Oleh karenanya pada pengukuran bioekivalensi senyawa
enantiomer tunggal, maka mutlak diperlukan metode pengukuran
kadar obat secara enantioselektif. Pada saat ini sudah banyak
dikembangkan berbagai metode pengukuran kadar tiap enantiomer
secara enantioselektif (a.l, chiral Liquid chromatography, chiral
HLPLC, chiral gas Chromatography, chiral LC-MS, dan lain lain
metode pengukuran chiral) (Beesly, TE and Scott, RPW, 1998;
Kenneth B, and Marianna AB, 2006; Sinh SB, 2011). Sehingga hasil
pengukuran bioekivalensi benar benar bersifat selektif, akurat dan
presisi serta menggambarkan kadar enantiomer aktif di dalam
tubuh, yang merupakan indikator kadar terapetik dalam darah dan
efek terapetik pada penderita.
PERKEMBANGAN OBAT ENANTIOMER TUNGGAL
(CHIRALITY SWITCH)
Sejak tahun 1990 kira kira 80% produk obat yang beredar di
pasaran dunia adalah merupakan molekul chiral dalam bentuk
senyawa racemat. Seperti telah diketahui bahwa obat-obat racemat
adalah mengandung komponen molekul baik (good molecule) dan
molekul jelek (bad molecule) dengan komposisi perbandingan
50%:50%. Ini membuat efek terapetik dari obat racemat tidak
spesifik, tidak efektif, efikasi menurun, dan menyebabkan terjadinya
efek samping dan efek toksik. Para ilmuwan, akademisi, dan bahkan
27
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
industri farmasi berupaya mengembangkan berbagai teknologi
pemisahan senyawa racemat menjadi enantiomer tunggal yang
mempunyai efek utama, dan tidak terkontaminasi oleh efek dari
enantiomer toksik. Sejak tahun 1990 para ilmuwan telah berusaha
mengembangkan teknologi sintesa chiral, metode identifikasi
enantioselektif, dan teknik pemisahan senyawa chiral, yang
memungkinkan pembentukan senyawa racemat menjadi senyawa
enantiomer tunggal (Single Enantiomer Substance) atau oleh FDA
dikenal sebagai NCE (New Chemical Entity). Pada tahun 2001,
Sharpless, Noyori, dan Knowles memenangkan hadiah Nobel di
bidang Kimia dengan menemukan metode sintesa asimetrik yang
merubah senyawa racemat menjadi enantiomer tunggal. Sejak itu,
terjadi perubahan besar-besaran di dalam bidang pengembangan
obat-obat racemat menjadi enantiomer tunggal (Single enantiomer).
Dengan disintesisnya senyawa enantiomer tunggal ini menyebabkan
pengobatan pada penderita lebih spesifik dan dihindarkan terjadinya
efek samping dan efek toksik pada pengobatan dengan obat-obat
chiral dalam bentuk racemat. Proses perkembangan perubahan
racemat menjadi enantiomer tunggal ini dikenal sebagai Chirality
Switch. Bahkan banyak juga obat-obat chiral yang sebelumnya
merupakan ”old racemate” dikembangkan lagi menjadi enantiomer
tunggal. Dari segi efikasi dan keamanan obat, maka penggunaan
senyawa enantiomer tunggal (Single Enantiomer) lebih
menguntungkan dari pada racemat, karena berbagai alasan berikut:
– Mempunyai kelarutan yang sangat baik di dalam air, sehingga
memudahkan formulasi intravena
– Lebih selektif terhadap reseptor, afinitas yang lebih besar
terhadap receptor, meningkatnya potensi, dan meningkatnya
indek terapetik obat
– Menurunnya efek samping dan efek toksik
– Meningkatnya efek farmakologi
– Menurunnya pemakaian dosis
– Mengurangi beban metabolisme obat oleh tubuh
28
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
–
–
–
Menurunnya kemungkinan terjadinya interaksi obat-obat
Menurunnya variabilitas obat antar individu
Mempunyai profil farmakokinetik dan farmakodinamik kurang
kompleks.
Berbagai Industri farmasi berlomba-lomba mengembangkan
produk mereka yang sebelumnya merupakan senyawa racemat
menjadi senyawa enantiomer tunggal. Di Amerika saja, selama
16 tahun terakhir, persentase obat enantiomer tunggal (NCE)
yang dihasilkan dari racemat meningkat dari 44% pada tahun 1992
menjadi 63% pada tahun 2008 (tabel 6). Analisis farmakoekonomik
menunjukkan di seluruh dunia, bahwa dengan adanya obat
enantiomer tunggal, penjualan obat enantiomer tunggal ratarata mencapai 4,8 miliar dolar US pada tahun 1999 meningkat
menjadi 14,9 miliar pada tahun 2009, dengan kenaikan rata rata
penjualan tiap tahunnya mencapai 12%. Diprediksi pada tahun
2017, adanya perkembangan di bidang teknologi sintesa chiral, maka
akan meningkatkan pemasaran produk chiral sebesar 5,1 triliun
dolar Amerika. Sedangkan pada tahun 2020, diprediksi 95% dari
produk chiral sudah merupakan produk enantiomer tunggal (Single
Enantiomer). Hal ini menunjukkan suatu perkembangan ekonomi
yang meningkat dari produksi, pemasaran dan penjualan obat-obat
enantiomer tunggal. Perkembangan obat-obat enantiomer tunggal
dimasa mendatang, disebabkan karena berbagai tuntutan hal antara
lain:
– Meningkatnya kenyataan dan kepercayaan atas pentingnya
memperbaiki profil terapetik dari obat-obat chiral
– Perkembangan aturan baru perijinan dari otoritas pemerintah
(guide line of regulatory agency)
– Kemajuan teknologi chiral
– Perkembangan Chirality Switch
– Perlunya obat-obat baru yang lebih baru dan efektif (Obat
Kardiovaskuler, Anti Kanker, Anti Viral, dan Anti Stroke)
29
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Di Amerika, produk obat enantiomer tunggal ini selanjutnya
harus mengikuti paraturan proteksi undang-undang paten, dan
nama generik baru mengikuti aturan penamaan senyawa enantiomer
menurut USAN program (the US Adopted Names) dan WHO.
Industri farmasi memasarkan obat enantiomer tunggal sebagai
produk baru, dengan nama dagang yang berbeda dengan nama
sebelumnya. Chiral switch ini merupakan pijakan dari berbagai
industri farmasi untuk mempertahankan produk papan atas mereka
(blockbuster drug). Seperti diketahui bahwa obat chiral adalah
merupakan stereoisomer yang terdiri dari dua molekul dengan sifat
kimia, dan struktur ikatan kimia sama, tetapi aktivitas farmakologi
yang berbeda. Menurut para akademisi, ilmuwan dan otoritas obat,
adanya aktivitas farmakologi antar enantiomer yang berbeda, maka
molekul racemat dapat dianggap sebagai produk kombinasi. Adanya
potensial perbedaan dari enantiomer pada obat chiral atau sediaan
farmasetik chiral, maka berbagai otoritas regulasi obat di beberapa
negara memberikan perhatian yang lebih fokus pada pengembangan
dan perijinan obat-obat chiral. Beberapa negara antara lain
Amerika Serikat, Kanada, negara-negara Eropah, dan Jepang sudah
memberikan pedoman pegangan (guide lines) ataupun persyaratan
registrasi obat-obat chiral. Sedangkan di negara lainnya, juga
Indonesia belum ada. Pengembangan obat-obat chiral, persyaratan
lebih kompleks dibandingkan dengan persyaratan registrasi bagi
obat-obat achiral. Di samping meliputi persyaratan bahan obat
pada umumnya, maka persyaratan bagi obat-obat chiral harus
mencakup aspek sifat fiska kimia tiap enantiomer, kemurnian bahan
chiral, adanya racemization, besarnya rasio eutomer dan distomer,
karakteristik farmakokinetik dan farmakodinamik tiap enantiomer,
karakteristik efek farmakologi dan efek toksis dari tiap enantiomer,
stabilitas tiap enantiomer di dalam penyimpanan, dan adanya proses
chiral inversion baik in vivo dan in vitro (Thomasjeewski J and
Rumor MM, 1994; Strong M et al, 1999; Adeyeye, 2004; Francotte
and Lindner, 2006; Gu CH and Grant DJW, 2004; Jayakrishnan SS
30
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
and George LE, 2012; Mohan SJ et al, 2009; Peepliwala AK et al,
2010; Sunjic V and Pharnham MJ, 2011)
Tabel 5. Distribusi Obat jadi per tahun yang telah diijinkan oleh
FDA untuk beredar selama tahun 1992–2008
Tahun
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
Racemat (%)
21
16
38
21
9
24
15
19
3
0
6
0
6
5
10
5
5
Single Enantiomer (%)
44
45
38
46
41
30
50
50
67
72
58
76
76
63
55
68
63
Achiral (%)
35
39
24
33
50
46
35
31
30
28
36
24
18
32
35
27
32
Diambil dari: Netkar, GA et al (2011), Qiang Lin, G et al (2011), Peepliwala et al
(2011), King, M (2012)
Tabel 6. Obat Chiral yang merupakan Enantiomer Tunggal
No
Nama Obat
1 Clopidogrel
2 Levofloxacin
3 Dexibuprofen
4 Dexketoprofen
Klas terapi
Anti Agregasi
Platelet
Antimikroba
NSAID
NSAID
Status perijinan
enantiomer
diterima
Perancis, USA
Jepang, UK, USA
Austria, Switzerland
Spanyol, UK
31
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
No
Nama Obat
Klas terapi
5 Levobupivacaine
6 S – Ketamine
7 Esomeprazole
Lokal Anestetik
Anestetik Umum
Proton Pump
Inhibitor
8 R – Salbutamol
Beta2-agonist
9 Cisatracurium
NMBA
10 Levocetirizine
Anti H1 receptor
11 R, R-Methylphenidate ADHD
12 Escitalopram
Antidepressant
(SSRI)
13 S – Amlodipine
CCB
14 Eszopiclone
Antinarcoleptic
15 Arformoterol
Beta2 agonist
16 Armodafinil
Antinarcoleptic
17 Atrovastatine
Antidyslipidemia
18 Simvastatine
Antidyslipidemia
19 Sertraline
Antidepressant
20 Fluticasone
Corticosteroid
21 Montelukast
Anti Leukotriene
receptor
Status perijinan
enantiomer
diterima
UK
Jerman
UK, USA
USA
UK, USA
UK
USA
UK, USA
India
USA
USA
USA
USA
USA
USA
USA
USA
Nerkar, AG (2011)
Tabel 7. Produk enantiomer tunggal dengan nama paten yang
berbeda dengan nama dagang produk racemat yang
beredar di Amerika
No
1
2
3
4
5
Produk racemat
Nama
Obat
dagang
Citalopram
Celexa
Omeprazole
Prilosec
Ketoprofen
Actron,
Orudis
Methylphenidate Ritalin
Lanzoprazole
Prevacid
Produk enantiomer tunggal
Obat
Escitalopram
Esomeprazole
Dexketoprofen
Nama paten
Lexapro
Nexium
Trometamol
Dexmethylphenidate Focalin
Dexlanzoperazole
Dexilant
32
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
No
7
8
9
10
11
12
13
Produk racemat
Nama
Obat
dagang
Zopiclone
Lmovane
Cetirizine
Zyrtec
Modafinil
Provigil,
Alertec
Amphetamine
Benzedrine
Bupivacaine
Marcaine
Ofloxacin
Floxin
Salbutamol
Ventolin
Produk enantiomer tunggal
Obat
Nama paten
Eszopiclone
Levocetirizine
Armodafinil
Lunesta
Xyzal/Zuzal
Nuvigil
Dextroamphetamine
Levobuvicaine
Levofloxacine
Levalbuterol
Dexedrine
Chirocaine
Levaquine
Xopenex
Diambil dari: http://www.chemeurope.com/en/enclycopedia/Enantiomer.html;
Netkar, GA et al (2011); Liu, Y dan Hui Gu, X (2011)
HARAPAN DIMASA MENDATANG
Hadirin yang saya muliakan,
Mengingat bahwa obat chiral adalah seperti mata uang dengan
dua sisi, yaitu satu sisi enantiomer baik (good molecule) dan sisi lain
adalah enantiomer jelek (bad molecule). Sehingga menurut para
ilmuwan dan akademisi molekul chiral bagaikan Molecular Jekyll
and Hyde. Enantiomer baik akan memberikan efek farmakologi dan
terapi seperti yang diharapkan. Sedangkan enantiomer jelek akan
memberikan efek samping dan efek toksik.
Berdasarkan aspek chirality di dalam proses Absorpsi, Distribusi,
Metabolisme, dan Eksresi di dalam tubuh, maka tiap enantiomer di
dalam molekul chiral (racemat) tidak akan mencapai konsentrasi
obat dalam jumlah yang sama di dalam cairan tubuh, jaringan
tubuh, dan tidak pernah mencapai titik tangkap kerja (receptor)
dalam jumlah yang sama pula. Perbedaan farmakokinetik dari
farmakodinamik dari enantiomer ini akan menyebabkan perbedaan
kadar enantiomer mencapai reseptor, serta memberikan perbedaan
efek farmakologi, hubungan dosis dengan efek, efek terapetik, efek
samping dan efek toksik dari obat racemat dibandngkan dengan
33
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
obat enantiomer murni (single enantiomer). Oleh karenanya pada
akhir pidato ini, saya mengemukakan berbagai pemikiran atau ide
untuk diperhatikan baik oleh kalangan akademisi, profesi kesehatan,
ataupun pihak industri farmasi. Berbagai pemikiran tersebut antara
lain:
1. Informasi jumlah enantiomer di dalam molekul
Jumlah enantiomer di dalam molekul chiral tergantung
banyaknya atom C asimetrik. Jumlah enantiomer ditunjukkan
oleh rumus 2n. Bila jumlah atom C asymmeric hanya 1, maka
banyaknya enantiomer adalah hanya 2. Hal ini akan berbeda
bagi Chymotrypsin, suatu enzim pencernaan di saluran cerna,
yang mempunyai atom C asimetrik sebanyak 251 buah, maka
diperkirakan mempunyai enantiomer maksimum sebanyak 2251.
Bayangkan, sedangkan Galaksi Bima Sakti kita diperkirakan
hanya mempunyai 238 bintang.
Oleh karenanya informasi tentang aspek chirality ini adalah
sangat penting sebagai pijakan di dalam memilih obat mana yang
mempunyai enantiomer excess paling besar, efek farmakologi
yang spesifik, efikasi maksimum, efek samping minimum, dan
efek toksik minimum.
2. Pengukuran Bioavailabilitas dan Bioekivalensi (BA-BE)
Karena BA-BE adalah merupakan indikator dari kecepatan
dan jumlah obat aktif yang menuju sirkulasi sistemik, maka
pengukuran kadar obat chiral dalam darah harus berdasarkan
pengukuran kadar enantiomer aktif dengan metode
enantioselektif. Pengukuran kadar obat total (dalam bentuk
racemat) atau metabolit tidak aktif akan memberikan informasi
yang salah dan bersifat bias.
3. Monitoring kadar terapetik obat dalam darah
Di dalam melakukan monitoring terapi dan regimentasi dosis
dari obat-obat chiral, maka pengukuran kadar obat dalam darah
harus berdasarkan kadar enantiomer aktif. Sehingga hasil
perhitungan parameter farmakokinetik benar-benar akurat dan
34
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
presisi, serta menggambarkan efek farmakologi dan efek terapi.
Bila pengukuran berdasarkan kadar obat total (enantiomer aktif
dan enantiomer tidak aktif), maka hasil yang diperoleh bersifat
bias, dan tidak benar.
4. Farmakoterapi dengan obat-obat chiral
Di dalam melakukan farmakoterapi dengan pemilihan obat-obat
pada penyakit-penyakit yang bersifat ”life saving” (penyakit
jantung dan stroke, tindakan intervensi koroner perkutan = PCI,
TIA), pemilihan obat-obat Single Enantiomer adalah merupakan
dasar pertimbangan utama yang perlu direkomendasikan untuk
mencapai pengobatan rasional. Pemberian obat chiral racemat
yang mengandung enantiomer yang tidak aktif dan bersifat
toksik, dapat menyebabkan terjadinya efek samping dan efek
toksik.
5. Konsep perijinan dan regulasi obat
Lembaga yang berwewenang (Pemerintah) atau lembaga
lembaga yang berkaitan dengan pengujian bioavalaibilitas dan
bioekivalensi obat, haruslah memberikan suatu perijinan dan
regulasi yang bersifat khusus bagi obat-obat chiral, antara lain,
kemurnian bahan obat chiral, sifat fisika kimia masing-masing
enantiomer, komposisi eutomer dan distomer dari enantiomer
di dalam senyawa racemat (rasio eutomer/distomer), jumlah
enantio excess dari eutomer, apakah ada proses chiral inversion
selama penyimpanan bahan dan obat dan lain-lainnya. Terutama
bagi obat-obat chiral yang digunakan pada kondisi penyakit
yang bersifat ”live saving”, misalnya obat-obat golongan
Kardiovaskuler, Anti koagulan, Anti Platelet, Antibiotika, dan
obat-obat yang digunakan dalam penanganan penyakit stroke,
serta obat-obat yang digunakan pada tindakan Intervensi
Koroner Perkutan (Percutaneous Copronary Intervention).
6. Informasi obat dalam kemasan
Industri farmasi dalam brosur produknya wajib memberikan
informasi kandungan obat chiral, baik mengenai enantiomer
35
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
excess, rasio eutomer dan distomer, serta efek farmakologi, efek
terapetik, efek samping, dan efek toksik dari masing-masing
enantiomer, interaksi obat-obat dari tiap kandungan enantiomer
bila senyawa berupa sediaan racemat. Informasi ini sangatlah
berguna bagi para klinisi dan profesi kesehatan lainnya di dalam
memilih bentuk sediaan obat bagi penderita, untuk tujuan
pengobatan rasuional.
Berbagai saran di atas diharapkan menjadi pijakan pemikiran
kita di dalam melakukan uji bioavailabilitas dan bioekivalensi,
farmakoterapi yang bertujuan untuk melakukan pengobatan rasional
ataupun tindakan terapi lainnya di dalam bidang farmakologi
klinik. Karena tidak menutup kemungkinan, bahwa pengukuran
kadar obat total dari obat chiral yang berbentuk racemat, yang
selama ini banyak dilakukan baik oleh para akademisi, ilmuwan
otorita institusi, yang berkaitan dengan moniting terapetik atau
pengukuran BA-BE, adalah tidak menggambarkan kadar obat
aktif dalam tubuh. Dan besarnya kadar obat total dalam darah
bukan merupakan indikator terapetik yang tepat. Suatu monitoring
terapetik, pengukuran BA-BE, dan pengaturan regimentasi dosis
berdasarkan kadar obat total dalam darah akan menghasilkan hasil
yang bersifat bias (positip palsu atau negatip palsu). Pengukuran
seharusnya dilakukan pada kadar enantiomer aktif melalui cara
pengukuran yang bersifat enantio selektif.
UNGKAPAN RASA SYUKUR DAN TERIMA KASIH
Hadirin yang saya hormati,
Pada akhir pidato pengukuhan Jabatan Guru Besar ini,
perkenankan saya untuk memanjatkan puji syukur yang tak
terhingga kehadirat ALLAH swt, atas segala limpahan baroqah-NYA,
rachmat-NYA dan karunia-NYA kepada saya, sehingga saya menjadi
seorang Guru Besar di Universitas Airlangga yang tercinta ini.
36
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Saya bersujud di hadapanmu ya ALLAH yang AKBAR. Tanpa
karunia-MU ya ALLAH, saya tidak berarti apa-apa.
Pada kesempatan ini perkenankan saya pertama kali
mengucapkan rasa terima kasih dan rasa hormat kepada pemerintah
Republik Indonesia, dalam hal ini diwakili oleh Menteri Pendidikan
Nasional Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Nuh, DEA yang telah
menyetujui pengangkatan saya sebagai Guru Besar dalam bidang
Ilmu Farmakologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Kepada yang terhormat Ketua Senat Akademik Universitas
Airlangga Prof. Sam Suharto, dr., Sp.MK, Sekteraris Senat
Akademik Universitas Airlangga Prof. Dr. H. Nur Cholis
Zaini, Apt. beserta seluruh Anggota Senat Akademik Universitas
Airlangga, saya sampaikan terima kasih atas kepercayaan yang
diberikan kepada saya untuk mengemban jabatan Guru Besar di
Universitas Airlangga.
Kepada yang terhormat Rektor Universitas Airlangga Prof.
Dr. H. Fasich, Apt beserta para Wakil Rektor, saya mengucapkan
terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk
diangkat menjadi Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga.
Kepada yang terhormat Dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga Prof. Dr. H. Agung Pranoto, dr., M.Kes., Sp.PD.,
K-EMD., FINASIM, dan Mantan Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga Prof. Dr. Muhammad Amin, dr., Sp.P(K)
serta para Wakil Dekan yang telah menyetujui pengusulan saya
sebagai Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga.
Kepada yang terhormat, Prof. Dr. H.M.S Wiyadi, dr.,
Sp-THT-KL(K) Ketua Badan Pertimbangan Fakultas, Sekretaris,
dan para anggota Badan Pertimbangan Fakultas Kedokteran,
saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan
kepada saya untuk menjadi Guru Besar pada Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga.
37
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Kepada yang terhormat Prof. Marifin Husin, dr., MSc.,
Promotor yang telah membimbing saya mulai dari pendidikan
Pascasarjana (S2) dan dan Doktor di Universitas Airlangga. Dari
beliaulah saya mula mula mengenal Ilmu Kedokteran Dasar
Farmakologi. Saya mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar
besarnya atas bimbingannya selama ini.
Kepada yang terhormat Prof. Dr. Benyamin Chandra,
dr., Sp.S(K), Co-promotor yang telah membimbing saya
selama pendidikan Doktor di Universitas Airlangga. Dari beliau
saya mengetahui pentingnya aplikasi Ilmu Dasar ke dalam Ilmu
Klinik. Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas
bimbingannya selama ini.
Kepada yang terhormat Prof. Dr. Achmad Syahrani, MS.,
Apt. sejawat saya, teman saya, yang selama ini banyak membantu
dan memberikan dorongan moril terus-menerus kepada saya untuk
mencapai Guru Besar di Universitas Airlangga. Saya mengucapkan
terima kasih sebesar-besarnya atas dukungannya selama ini.
Kepada yang terhormat Drs. Ahaditomo, Apt., MS, Anggota
Komite Farmasi Nasional, sejawat saya, teman saya, yang selama
ini banyak membantu dan memberikan dorongan moril terusmenerus kepada saya untuk mencapai Guru Besar di Universitas
Airlangga. Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas
dukungannya selama ini.
Kepada yang terhormat, Ramadhani, dr., M.Kes Kepala
Departemen Farmakologi yang lama, yang pertama kali menyetujui
pengusulan saya untuk menjadi Guru Besar Ilmu Farmakologi pada
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, saya ucapkan banyak
terima kasih atas dukungannya dan kesediaannya.
Kepada yang terhormat, Roostantia Indrawati, dr., M.Kes.,
AFK, Kepala Departemen Farmakologi yang baru, terima kasih saya
ucapkan atas dukungannya yang diberikan kepada saya selama ini.
38
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
K e p a d a t e m a n -t e m a n d i D e p a r t e m e n F a r m a k o l o g i ,
Sunarni Zakaria, dr., M.Kes., Sri Purwaningsing, dr.,
M.Kes., Machtuchah Rochmanti, dr., M.Kes., Danti Nur
Indiastuti, dr., M.Kes., Yuani Setiawati, dr., M.Kes., Nurina
Hasanatuludhhiyah, dr., Mohammad Fathul Qorib, dr.,
Sp.RM, dan Abdul Khairul Rizki Purba, dr., MS yang telah
banyak memberikan semangat, solidaritas, dan dukungan kepada
saya di dalam pengajuan Guru Besar, saya mengucapkan banyak
terima kasih kepada saudara saudara.
Rasa terima kasih juga saya ucapkan kepada bapak H. Mulyono
Basuki S.Sos dan stafnya di Sub Bagian Keuangan dan SDM
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, yang selama ini banyak
membantu saya di dalam proses pengusulan saya sebagai Guru
Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Kepada yang terhormat Guru-guru saya mulai SR Pacarkeling,
SMP Negeri 1, dan SMA Negeri 4 Surabaya, hingga Perguruan
Tinggi, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggitingginya, karena ketekunan beliau dalam mendidik saya inilah yang
memungkinkan saya menjadi seperti sekarang.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mengenang dengan
rasa haru dan rasa terma kasih yang tidak terhingga kepada kedua
orang tua kandung saya Mochamad Safari (Alm), Sutika (Almh),
serta kedua orang tua asuh saya Abdullah (Alm) dan Riamah
(Almh), yang telah membesarkan saya, memberi kasih sayang,
mendidik, memberikan pengalaman hidup, mengayomi, menasihati,
dan telah membesarkan saya selama ini. Doa dan restu mereka
adalah penghantar kesuksesan dalam hidup ananda baik dunia dan
akherat. Saya sekeluarga selalu berdoa mereka diampuni segala
dosa-dosanya dan diterima amalnya oleh ALLAH swt. Amin ya
robbal alamin.
39
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Demikian juga rasa terima kasih saya kepada kedua mertua
saya H. Mas Djaelan (Alm) dan Hj. Djumaisyah yang telah
memberikan dorongan moril serta doa dan restu kepada saya,
sehingga saya bisa mencapai cita-cita sekarang. Kepada bapak
mertua saya, diampuni segala dosa-dosanya dan diterima amalnya
oleh ALLAH swt. Amin ya robbal alamin.
Kepada kakak kandung saya H. Mochamad Syafii dan istri,
Mochamad Tohir dan istri, dan Siti Djulaika dan saudara ipar
saya H. Faturachman dan istri, Ir. H. Suyitno Hidayat dan
istri, Fathur Rahem dan istri, Ir. H. Fathur Effendi dan istri,
Ir. H. Fathur Yulianto dan istri, Ir. Arif Hidayat dan istri,
saya ucapkan banyak terima kasih atas dukungannya yang telah
diberikan kepada saya selama ini.
Kepada istri yang tercinta Siti Nurhastuty, beserta ketiga anakanak saya Robby Nurhariansyah, dr., Rossi Nurfajariansyah,
dr., dan Rocky Nurakbariansyah, S.Ked, yang selama ini dengan
setia mendampingi suka dukanya hidup selama ini, mulai pendidikan
Pascasarjana dan pendidikan Doktor sampai proses pengajuan Guru
Besar, saya mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga.
Kepada anak menantu saya Erlin Hanifah Damayanti, dr.,
dan Feranti Meutia, dr. terima kasih atas perhatian yang kalian
yang berikan kepada saya selama ini.
Saya ucapkan pula rasa terima kasih yang tak terhingga kepada
seluruh panitia pengukuhan Guru Besar yang dipimpin oleh saudara
Zunaidi Khatib, SSi, Apt, MS, PhD, begitu pula pada Tim
Paduan Suara Universitas Airlangga serta kepada semua pihak yang
telah membantu terselanggaranya upacara ini dengan baik.
Kepada para mahasiswa, sahabat, handai taulan dan semua pihak
yang selama ini selalu memberikan dorongan moril, membantu saya
di dalam menylesaikan tugas-tugas saya, secara langsung dan tak
langsung, saya ucapkan banyak terima kasih.
40
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Sebagai akhir kata kepada semua hadirin yang terhormat, terima
kasih yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada hadirin, atas
kesediaanya untuk meluangkan waktu dan kesabarannya dalam
mengikuti acara pengukuhan ini, apabila terdapat kesalahan atau
kurang berkenan di dalam penyampaian orasi serta tutur kata saya
pada pengukuhan ini, saya memohon maaf sebesar-besarnya, semoga
ALLAH swt selalu melimpahkan barokah, rakhmat dan hidayahNYA bagi kita semua. Amin, amin, amin ya robbal alamin.
Wabillahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
41
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
DAFTAR PUSTAKA
1. Adeyeye, MC. Use of Chiral exipients in formulation of
containing chiral drugs, In: Chirality in drug Design and Drug
Development, edited by IK Reddy and R. Mehvar, Marcel
Dekker, USA, 1–48, 2004.
2. Asean guideline. The conduct of Bioavailability and
Bioequivalence, Final Draft, July, 2004.
3. Badan Pengawas Obat dan Makanan, Peraturan Kepala Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor:
HK. 00.05.3.1818 tentang Pedoman Uji Bioekivalensi, Jakarta
29 Maret 2005.
4. Bari, SB., et al. Impurity profile: Significance in Active
Pharmaceutical Ingredient, Eurasian Journal of Analytical
Chemistry Volume 2, Number 1, 2007.
5. Beesly, TE and Scott, RPW. Chiral Chromatography, 1st edition,
John Wiley and Son, England, 1998.
6. Brocks DR, Vakily, M and Mehvar, R. Stereospecific
Pharmacokinetics and Pharmacodynamics: Selected Classes of
Drugs, In: Chirality in Drug Design and Development, edited
by Indra K.R and Reza Mehvar, 1st edition, Marcell Deker, NY,
USA, 2004.
7. Chernavkaya, NM et al. Origin of Biological Chirality, In:
Progress in Biological Chirality, 1st edition, edited by G. Palyi, C.
Zucci and L. Caglioti, Elsevier, London, 2004: 257–260.
8. Davies, NM and Teng XW. Chiral Inversion, In: Chirality in
Drug Design and Development, edited by Indra K.R and Reza
Mehvar, 1th edition, Marcell Deker, NY, USA, 2004.
9. Dong, H., Guo, X and Li, Z. Pharmacokinetics of Chiral Drugs In
Chiral Drugs, Chemistry and Biological Action, edited by GouQiang Lin, QI-Dong You, Jie-Fei Cheng., A John Wiley & Sons,
Inc. Publication, Hoboken, New Jersey, 347–380, 2011.
42
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
10. EMEA Guideline on the investigation of Bioequivalency,
2008. European Medicines Agency, GUIDELINE ON THE
INVESTIGATION OF BIOEQUIVALENCE, London, 24 July
2008.
11. European Medicines Agency, Note for Guidance on the
Investigation of Bioavailability and Bioequivalence, London,
26 July, 2001.
12. Food and Drug Administration. FDA”s Policy Statement for the
Development of New Stereometric Drugs. US Food and Drug
Administration (policy documents). Diambil dari: www.fda.gov/
cder/guidance/stereo.htm.
13. Flugel, RM. Chirality and Live, 1st edition, Springer Heidelberg
Dordrecht London, 2011.
14. Francotte, E and Lindner, W (Eds). Chirality in Drug Research,
1st edition WILEY-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA, Weinheim,
2006.
15. Food and Drug Administration, Bioavailability Guidline, 2006.
Food and Drug Administration Center for Drug Evaluation and
Research (CDER): Guidance for Industry Providing Clinical
Evidence of Effectiveness for Human Drug and Biological
Products, May 6th, 1998.
16. Geisslinger G, Schuster O, Stock KP et al. Pharmacokinetics of
S(+) and R (–)-Ibuprofen in volunteers and first experience of
S(+)-Ibuprofen in remathoid arthritis. Eur. J. Clin. Pharmacol
38: 493–497, 1990.
17. Guang Yang and Hai-Zhi Bu Toxicology of Chiral Drugs in
Chiral Drugs, edited by Gou-Qiang Lin, QI-Dong You, Jie-Fei
Cheng, A John Wiley & Sons, Inc. Publication, Hoboken, New
Jersey, 361–400, 2011.
18. Guijarro, A and Yus, M. The Origin of Chirality in the Molecules
of Life, Royal Society of Chemistry, Cambridge, UK, 2009.
43
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
19. Gu, CH and Grant, DJW. Effects of Crystall Structure and
Pysical Properties on the Release of Chiral Drugs, In: Chirality
in Drug Design and Drug Development, edited by IK Reddy and
R. Mehvar, Marcel Dekker, USA, 49–78, 1994.
20. Hutt, AJ. Drug Chirality and its Pharmacology Consequences,
In: Introduction to the Principles of Drug Design and Action,
4th edition, Edited by Smith, HJ, Harwood Academic Publishers,
117–183, 2006.
21. Hutt, AJ and Valentova, J. The Chiral Switch: The Development
of Single Enantiomer Drugs from Racemates, Acta Facultatis
Pharmaceuticae Universitatis Comenianae, 7–23, 2003.
22. Indra K,R and Reza, M (Eds). Chirality in Drug Design and
Development, 1st Edirion, Marcel Dekker, NY,USA, 2004.
23. Jayakrishnan, SS and George, LE. Chiral drugs as a matter
of Specialization in Modern Medicine, International Journal
of Reseach in Pharmacetical and Biomedical Science, Vol. 3(1)
Jan–Mar p 3–5, 2012.
24. Jamali, F et al. Comparative Bioavailability of two Flurbiprofen
products: Stereospecific versus Conventional approach,
Biopharm. Drug. Dispos, 12: 435–455, 1991.
25. Karim, A., Madhu, C., and Cook, C. Bioequivalency
determination of Racemic drug Formulation: Is Stereospecific
Assay essential? In: Chirality in Drug Design and Development,
edited by Indra K.R and Reza Mehvar, 1st edition, Marcell
Deker, NY, USA, 2004.
26. Kenneth B and Marianna AB. Chiral Analysis, Elsevier,
Amsterdam, 2006.
27. King, Mike. 95% Pharmaceutical Drugs to Bechiral by 2020:
www.Companiesandmarkets.com/News/Chemicals/95-ofpharmaceutical.
28. Lenz, W. Thalidomide and Congenital Anomalies, 1962; 1: 45.
44
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
29. Liu,Y and Hui Gu, X. Pharmacology of Chiral Drugs, in: In
Chiral Drugs, edited by Gou-Qiang Lin, QI-Dong You, Jie-Fei
Cheng., A John Wiley & Sons, Inc. Publication, Hoboken, New
Jersey, 323–346, 2011.
30. Mehvar, R and Brock, DR. Stereospecific of Pharmacokinetic
and Pharmacodynamic of Cardiovascular Drugs, In: Chirality
in Drug Design and Development, edited by Indra K.R and Reza
Mehvar, 1st edition, Marcell Deker, NY, USA, 2004.
31. Medical Product Agency. Some Views from the Medical
Product Agency of Documentation for Chiral Drugs. Uppsala:
Registration Division, 1991.
32. Mitra, S and Chopra P. Chirality and Anaesthetic Drugs:
A Review and an Update, Indian. J. Anaesth 55: 556–562, 2011.
33. Midha KK and McKay G. Bioequivalence: Its History, Practice,
and Future the AAPS Jouirnal Vol. II, No. 4, Desember,
664–670, 2009.
34. Mitra, P and Chopra, P. Chirality and Anaesthetic Drugs:
A review and Update, Indian Journal of Anaesthesia, Vol. 55,
Issue 6: Nov–Dec, 556–5, 2011.
35. Mohan, SJ. Chiral Interaction and Chiral Inversion – New to
Challenges to Chiral Scientist, Pharmacie Globale (IJCP) 3 (01):
1–9, 2011.
36. Mohan SJ et al. Chirality and its Importance in Pharmaceutical
Field-An Overview. International Journal of Pharmaceutical
Sciences and Nanotechnology Volume 1, Issue, January–March
309–316, 2009.
37. Nguyen, LA., Hua He, and Huy, CP. Chiral Drugs. An
Overview, International Journal of Biomedical Science June
Vol. 2 No. 2, 85–100, 2006.
38. Nerkar, GA et al. Chiral Switches: Review, Journal of Pharmacy
Research, 4(4): 1300–1303, 2011.
39. Nitchuck WM. Regulatory requirements for generic chiral drugs.
J. Clin. Pharmacol, 32: 953–954, 1992.
45
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
40. Patel BK and Hutt, AJ. Setereoselectivity in Drug Action and
Distribution: An Overview, In: Chirality in Drug Design and
Development, edited by Indra K.R and Reza Mehvar, 1st edition,
Marcell Deker, NY, USA, 2004.
41. Peepliwala, AK, Bagadea, SB and Bondea, CG. A Review:
Stereochemical and eudismic ratio in chiral drug development,
J Biomed Sci and Res., Vol 2 (1), 29–45, 2010.
42. Qiang Lin, G., Ge Zhang, J, and Fei Cheng, J. Ch1. Overview
of Chirality and Chiral Drugs, In Chiral Drugs, edited by GouQiang Lin, QI-Dong You, Jie-Fei Cheng., A John Wiley & Sons,
Inc. Publication, Hoboken, New Jersey, 3–28, 2011.
43. Rapposelli, S. Effects of stereochemistry in Medicinal and Drug
Discovery, Current Topics in Medicinal Chemistry, Vol. 11, No. 7:
758–759, 2011.
44. Riehl, JP. Mirror Image Asymmetry, John Wiley Publication,
New Jersey, USA, 2010.
45. Roden, DM. Mirror, Mirror on the Wall. Stereochemistry in
Therapeutics Circulation Vol 89, No. 5, May, 2451–2453, 2011.
46. Singh Sekhon, B. Enantioseparation of Chiral Drugs – An
Overview, International Journal of PharmTech Research Vol. 2,
No. 2, pp 1584–1594, April–June 2010.
47. Smith, SW. Chiral Toxicology: It’s the Same Thing Only
Different, Toxicological Sciences 110 (1), 4–30, 2009.
48. Somagoni, JA et al. Chiral Interaction and Chiral inversion-New
Challenges to Chiral Scientist, Pharmacie Globale (IJCP) Vol. 2,
issue 3: 1–9, 2011.
49. Shimazawa, R et al. Present state of New Chiral Drug
Development and Review in japan, Journal of Health Science,
54 (1) 23–29, 2008.
50. Sunjic, V and Pharnham, MJ. Signpost to Chiral Drugs, 1st
edition, Springer basel AG, 2011.
51. Stirling, DI. Pharmacology of Thalidomide. Semin. hematol, 37
(1 suppl3): 5–14, 2000.
46
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
52. Strong, M. FDA Policy and Regulation of Stereoisomers:
Paradigm Shift and the Future of Safer, More Effective Drugs,
Food and Drug Law Journal, Vol. 54: 463–487, 1999.
53. Tomaszewski, J and Rumore, MM. Stereoisomeric Drugs: FDA’s
Policy Statement and the Impact on Drug Development, Drug
Development and Industrial Pharmacy 20(2): 119–139, 1994.
54. Tseng S, Pak G, Washenic, K et al. Rediscovering Thalidomide:
A Review of its Mechanism of Action, Side Effects, and Potential.
J. Am. Acad. Dermatol. 35: 969–979, 1996.
55. US Adopted Names Program, 1999.
56. Valliapan et al. Ketoprofen Bioavailability, J. Apll. Biomed 4:
153–161, 2006.
57. Walker, SE and Hardy, BG. Alteration in Apparent
Bioequivalency of Ibuprofen Based on Isomer Analysis. J. Clin.
Pharmacol. 32: 33–38, 1992.
47
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
RIWAYAT HIDUP
Nama
NIP
Tempat/Tanggal Lahir
Agama
Pekerjaan
:
:
:
:
:
Pangkat/Golongan
Jabatan Fungsional
Status Perkawinan
Nama istri
Nama Anak
:
:
:
:
:
Nama Anak Menantu :
Nama Cucu
:
Alamat Rumah
Telp./Faks.
:
:
Alamat e-mail
:
Prof. Dr. H. Achmad Basori, Apt., MS
195004011978021001
Surabaya 1 April 1950
Islam
Staf Pengajar Departemen Farmakologi
Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga
Pembina Utama (IV/c)
Guru Besar
Menikah
Siti Nurhastuty
1. Robby Nurhariansyah, dr
2. Rossi Nurfajariansyah, dr
3. Rocky Nurakbariansyah, S.Ked
1. Erlin Hanafiah Damayanti, dr
2. Feranti Meutia, dr
1. Tania Rosa Fidelia
2. Muhammad Archielo Kamara
Dastansyah
Jl. Kalikepiting 29A Surabaya
03171235679 (Rumah), 08123548267 (HP),
087852414222 (HP), 085730530555 (HP)
[email protected], [email protected].
ac.id, [email protected]
49
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
RIWAYAT PENDIDIKAN
Pendidikan Dasar dan Menengah
1962
1965
1968
: Lulus Sekolah Rakyat Negeri Patjarkembang II Surabaya.
: Lulus Sekolah Menengah Pertama Negeri I Surabaya.
: Lulus Sekolah Menengah Atas Negeri IV Surabaya.
Pendidikan Tinggi
1976
1986
: Lulus Apoteker Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga
: Lulus Magister Sain, dalam bidang Ilmu Kedokteran Dasar
Program Pascasarjana Universitas airlangga
1994 : Lulus Doktor dalam Bidang Ilmu Kedokteran Farmakologi,
Program Doktor Universitas Airlangga (Promotor: Prof.
Marifin Husin, dr., Co Promotor: Prof. Dr. Benyamin
Chandra, dr., SP(K)., Predikat lulusan: Cum laude)
PELATIHAN
Dalam Negeri
1984
1986
1989
1989
1991
1992
1994
1996
: International Course on Drug Evaluation, WHO SEARO IUPHAR – IKAFI, Jakarta
: Kursus Pharmacochemistry, 27 Mei, Fakultas Pascasarjana
Unair, Surabaya
: Kursus Farmakologi Prinsip Penapisan Obat, 4–9
September FK Unair, Surabaya
: Kursus Terapan Analisis Farmakokinetika dengan Metode
Komputerisasi, 23–24 Juni, FFUA, Surabaya
: Semiloka Peran Therapeutic Drug Monitoring dalam
Meningkatkan Keberhasilan Terapi Obat, FKUI, Jakarta
: Semiloka Therapeutic Drug Monitoring, RSUD
Dr. Soetomo dan FK Unair
: Semiloka Penyakit Degeneratif, Keganasan, dan Herediter,
TKP–FK UNAIR, Surabaya
: Lokakarya Traumatologi, FK Unair
50
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
2004
2007
2008
2009
2010
2010
2010
: Applied Aproach, FK Unair, Surabaya
: Pelatihan Pembimbingan Proposal Penelitian, FK Unair,
Surabaya
: Pelatihan Pembimbingan Penelitian Mahasiswa S-1, FK
Unair, Surabaya
: Semiloka Sistem Pembinaan Moralitas, FK Unair,
Surabaya
: Lokakakarya Redesign Kurikulum dan Penggantian
Nama Program Pendidikan Magister IKD FK Unair, 1
September, 2010
: Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah Internasional, Program
Doktor FK Unair, 9 Desember, Surabaya
: Kursus TOT Asesor, Universitas Airlangga
Luar Negeri
1995
1995
1995
1995
: Clerkship in Clinical Pharmacokinetics, Centre for Medical
and Clinical Pharmacy Study, Universiti Sain Malaysia,
Kota Bahru, Kelantan, Malaysia
: Therapeutic Drug Monitoring Visit, National University
Hospital, National University of Singapore, Singapore
: Therapeutic Drug Monitoring Visit, Singapore General
Hospital, Singapore
: Therapeutic Drug Monitoring Visit, Hospital Besar Kuala
Lumpur, Malaysia
RIWAYAT JABATAN FUNGSIONAL
1979
1980
1984
1988
2007
2009
2011
:
:
:
:
:
:
:
Asisten Ahli Madya
Asisten Ahli
Lektor Muda
Lektor Madya
Lektor
Lektor Kepala
Guru Besar
51
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
RIWAYAT PANGKAT DAN GOLONGAN
1978
1979
1980
1984
1988
2007
2009
2012
:
:
:
:
:
:
:
:
Calon Pegawai Negeri Sipil
Penata Muda (Gol. III/a)
Penata Muda Tinglkat I (Gol. III/b)
Penata (Gol. III/c)
Penata Tingkat I (Gol. III/d)
Pembina (Gol. IV/a)
Pembina Tingkat I (Gol. IV/b)
Pembina Utama Muda (Gol. IV/c)
RIWAYAT PEKERJAAN DAN JABATAN STRUKTURAL
1978–sekarang : Staf Pengajar di Departemen Farmakologi FK
Unair
1985–sekarang : Mengajar Farmakologi Mahasiswa S1 Pendidikan
Dokter FK Unair
1990–sekarang : Mengajar Farmakologi Mahasiswa S1 FF Unair
1994–2001
: Anggota Panitia Medik Farmasi dan Terapi
2000–2002
: Koordinator Farmakologi Pendidikan Dokter FK
Unair
2002–2010
: Koordinator Farmakologi FF Unair
2002–2010
: PJMK Farmakologi FF Unair
2006–sekarang : Membimbing Modul Proposal (S IV) dan
Penelitian (S V) Mahasiswa S1 Pendidikan
Dokter FK Unair
2006–sekarang : Membimbing, mengajar, dan menguji mahasiswa
peserta program Doktor (S3) Unair dan FK
Unair
2006–sekarang : Membimbing, mengajar, dan menguji mahasiswa
peserta program S2 FK Unair
2007–sekarang : Membimbing Tesis Akhir dan Menguji
Mahasiswa PPDS-1 FK
52
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
2007–sekarang : Mengajar Mahasiswa PPDGS FKG Unair
2008–2010
: Koordinator Penelitian dan Pengabdian Kepada
Masyarakat Departemen Farmakologi FK Unair
2009–sekarang : Anggota BPF Komisi 3 FK Unair
2010–sekarang : Mengajar Mahasiswa International Class School
of Medicine, Airlangga University
2008–sekarang : Mengajar Mahasiswa PPDGS FKG Unair
2009–sekarang : PJMA Farmakologi Klinik MKDU-PPDS-1 FK
Unair
2009–sekarang : Ketua Minat Program Studi S2 Farmakologi FK
Unair
2011–2012
: Mengajar MKPD Program Doktor FK Unair
ORGANISASI PROFESIONAL
1. Anggota IAI (Ikatan Apoteker Indonesia)
2. Anggota IKAFI (Ikatan Ahli Farmakologi Indonesia)
PEM BICA R A PA DA KONGR ES I L M I A H T I NGK AT
NASIONAL
1. Achmad Basori. Farmakokinetik Obat-obat Psikotropik, Formal
Course pada Peserta PPDS Departemen Kedokteran Jiwa FK
Unair, 24 September 1988
2. Achmad Basori. Farmakologi Histamin dan Obat-obat
Antihistamin, Simposium Antihistamin Problematika dan
Perkembangan Era Baru, Pendidikan Berkelanjutan Apoteker,
15 Juni 1996, Surabaya
3. Achmad Basori, Epilepsi ditinjau dari Bedah Saraf. Simposium
Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Imu Bedah Saraf,
FK-UNAIR, 26 Oktober 1996, Surabaya
4. Achmad Basori. Ketergantungan Obat Ditinjau dari Sudut
Farmakologi, RAKERNAS IKAFI, 27–29 Juni, 1997, Trawas
53
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
5. Achmad Basori. Aspek Farmakologi dari Obat-obat Psikotropika,
Pendidikan Berkelanjutan ISFI Cabang Sidoarjo, 2 November,
Sidoarjo
6. Achmad Basori. Prinsip Dasar Toksikologi, Tinjauan Aspek
Toksikokinetik dan Toksikodinamik, Basic Course of Toxicity
Studies, FK-UNAIR 4 Maret 2000, Surabaya
7. Achmad Basori. Farmakologi Kortikosteroid dan Antagonis
Kortikosteroid, Pendidikan Berkelanjutan XX : Pelayanan
Kortikosteroid Topikal Kulit, 24 Agustus 2002, Surabaya
8. Achmad Basori. Patobiologi of Epileptogenesis: Suatu Tinjauan
Aspek Neurofarmakologi. Kongres Nasional I: Perhimpunan
Patobiologi Indonesia, 10–12 November, 2000
9. Achmad Basori. Patobiologi Epileptogenesis Dan Mekanisme
Seluler Obat Antiseizure. Suatu Kajian Aspek Neurofarmakologi.
Kursus Penyegaran Farmakoterapi, Fakultas Farmasi Unair, 29
November 2000, Surabaya
10. Achmad Basori. Farmakologi Clopidogrel, Obat Antiplatelet
baru untuk Pencegahan Stroke, Simposium: New Paradigm
Secondary Prevention of Stroke and Other Atherothrombotic
Events, 22 Februari, PERDOSSI Jawa Timur Hotel Westin,
Surtabaya, 2003
11. Achmad Basori. Farmakologi Obat-obat Aphrodisiac, Symposium
of Aphrodisiac and Sexual Function, 8 Agustus 2005, Surabaya
12. Achmad Basori. Clopidogrel, Obat Anti Platelet Baru Untuk
pencegahan Stroke, Joint Scientific Meeting on Neurology
Continuing Medical Education and Pain, PERDOSSI –
INDONESIAN PAIN SOCIETY, 28–31 Mei, Surabaya, 2009
13. Achmad Basori. The Difference Between Clopidogrel Form I and
Form 2, Biennial Meeting, KONAS PERDOSSI ke-V, 16 Juli
2009, Marriot Hotel Medan
14. Achmad Basori. The Different Among Clopidogrel Form 1 and
Form 2: From Pharmacology Perspective to Clinical Practice,
the Regional Cardiology Udate IV, Concepts and Management
54
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
of Heart Failure, PERKI Sumatra Selatan, 7–8 Agustus 2009,
Palembang
Achmad Basori. Meneliti Keunikan Clopidogrel Form 1 dan
Form 2, Keunikan Obat Clopidogrel, Clargine dan Tantangan
Pekerjaan Kefarmasian, Seminar Profesi Apoteker ISFI Jakarta
Pusat, 7 November 2009, Jakarta
Achmad Basori. The difference between Clopidogrel Form I and
Form 2, Ceramah Klinik ke-7 PERDOSSI Cabang Semarang,
6 Februari 2010, Semarang
Achmad Basori. Learning from FDA/EMEA: Is it BA/BE Data
enough for High Risk Disease? Conprehensip in Coronary
Artery Disease: The latest Progress, Cardiology Update 2010,
PERKI, 6–7 March 2010, Surabaya
Achmad Basori. Different between Clopidogrel Form 1 and Form
2: Is it BA/BE data enough for high risk disease? INDONESIAN
STROKE SOCIETY (INA - SS) – PERDOSSI 13 Maret, 2010,
Jakarta
Achmad Basori. Not All Clopidogrel are the same. Why?
Simposium HISFARSI Jawa Timur, 14 April 2010, RSAL
Dr. Ramelan, Surabaya
Achmad Basori, Not All Clopidogrel is the same. Why?
Management of Cardiovascular Disease: Now and Beyond, PKB
Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler ke-XII, PERKI, Sheraton
Hotel, 12–13 Juni 2010, Surabaya
Achmad Basori. The Different between Clopidogrel Form 1 and
Form 2: The 10th Symposium on Clinical Cardiology and ECG
Course 2010, RS Harapan Kita, PB PERKI, 17–18 Juli, 2010,
Jakarta
Achmad Basori. Clopidogrel Form 1 and Form 2: The Difference
and Evidence, Symposium III: EBM Approach Management
of Atherothrombosis: Focus on Antiplatelet Therapy, KONAS
IKAFI KE-XIII, 2010, Yogyakarta
55
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
23. Achmad Basori. Clopidogrel Form I and Form II From
Pharmacological Perspective to Clinical Application THE 3rd
Indonesian Echocardiography Meeting, 2 Juli 2011, PERKI
Jakarta Pusat, Hotel Santika, Jakarta
24. Achmad Basori. Clopidogrel Inovator (Plavix) dan Clopidopgrel
generic. Tidak semua Clopidopgrel adalah sama, mengapa?
Pertemuan PAFI Kabupaten Lamongan, 23 September 2011,
RS. Muhamadiah, Lamongan
25. Achmad Basori. Hot News on Clopidogrel: The 2 nd Pekan
Baru Cardiology Update, PERKI Pekan Baru, Pangeran Hotel,
1–2 Oktober 2011 Pekan Baru
26. Achmad Basori. Antithrombotik Pada Stroke Thrombotik.
Symposium dan Workshop Manajemen Stroke, PERDOSSI
Banjarmasin, 7 April 2012, Banjarmasin
27. Achmad Basori. CYP2C19 Genotype: Platelet Function and
Cardiovascular Events. 2nd Symcard 2012. Cardiovascular
Continum, Pangeran Beach Hotel, PERKI Sumatra Barat 12–13
Mei 2012, Padang
28. Achmad Basori. CYP2C19 Genotype: Platelet Function and
Cardiovascular Events, 4 th Continuing Education, Basic
Clinical Aproach in Cardiovascular Management, PERKI, Hotel
Shangrila, Surabaya, 22–24 Juni, 2012
29. Achmad Basori. CYP2C19 Genotype: Clopidogrel, Platelet
Function and Cardiovascular Events, Semarang Cardiology
Update, Acute Coronary Syndrome. From Prevention to
Intervention, PERKI Jawa Tengah, Patra Semarang Convention
Hotel, Semarang, 29 Juni–1 Juli 2012
30. Achmad Basori. CYP2C19 Genotype: Clopidogrel, Platelet
Function and Cardiovascular Events, Update in Diagnostic
Procedures and Treatment in Internal Medicine, Pertemuan
Ilmiah Nasional ke-10 (PIN X) PB PAPDI, Hotel Gran Senyiur,
29 Juni–1 Juli, 2012, Balikpapan
56
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
31. Achmad Basori. CYP2C19 Genotype: Clopidogrel, Platelet
Function and Cardiovascular Events, Palembang Cardiology
Update VI, 6–7 Juli 2012, PERKI Sumatra Selatan, Hotel Aston,
Palembang
PEMBICARA PADA ROUND TABLE DISCUSSION (RTD)
1. Achmad Basori. Antithrombotic, RTD PERKI Cabang Malang,
13 September 2009, MALANG
2. Achmad Basori. Clopidogrel: is it BA-BE Enough for Hights Risk
Disease, 10 Oktober, 2009, RTD PERKI Jakarta Pusat, Jakarta
Pusat
3. Achmad Basori. Not All Clopidogrel are the same, RTD Forum
Neurologist RSCM, Rumah Sakit Harapan Kita 17 Oktober,
2009, Jakarta
4. Achmad Basori. Clopidogrel Form I dan Form II Round
Table Discussion, Pertemuan Dokter Umum dan Dokter Ahli
Kardiologi, Hotel Acasia 13 November, 2010, Jakarta
5. Achmad Basori. RTD Departemen Neurologi RS. Dr. Soetomo,
Desember 2009
6. Achmad Basori. RTD Departemen Kardiologi RS Dr. Soetomo
2010
7. Achmad Basori. Antithrombotic Drug: RTD PERDOSSI Malang,
Departemen Neurology, RS. Saiful Anwar FK Unibraw, 1 Juli,
2011, Malang
PENGALAMAN PENELITIAN
1997
1998
: RISBIN IPTEKDOK I – BALITBANGKES: Studi
Farmakologi Eksperimental dari Ligustrosid sebagai Obat
Antiepilepsi
: RISBIN IPTEKDOK 2 – BALITBANGKES: Studi
Farmakologi Eksperimental dari Ligustrosid sebagai Obat
Antiepilepsi
57
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
1998
1999
2000
2003
2007
: ILMU PENGETAHUAN DASAR – DITBINLITABMAS
DIRJEN DIKTI: Studi Potensi dan Mekanisme Antiseizure
dari Ligustroside, 1999
: RUT VII tahun 1–BPPT: Isolasi dan Identifikasi efek
antiseizure, mekanisme antiseizure, efek nurotoksisitas
dari glikosida Ligustroside dalam kaitannya sebagai Obat
Antiepilepsi, 2000
: RUT VII tahun 2 – BPPT: Isolasi dan Identifikasi
efek antiseizure, mekanisme antiseizure, serta efek
neurotoksisitas dari glikosida Ligustroside dalam kaitannya
sebagai Obat Antiepilepsi
: PROYEK PENINGKATAN PENELITIAN PENDIDIKAN
TINGGI–DITBINLITABMAS DIRJEN DIKTI: Identifikasi
efek depresan SSP, efek antiseizuire, mekanisme
antiseizure, serta efek neurotoksisitas dari Ekstrak
Fraxinus Griffithii Clarke Pohon Orang Aring
: MRU – FK UNAIR: Uji Potensi Infusum daun Kopi (Coffea
Robusta Lindl ex de wild). Sebagai agen hipoglikemik pada
Mencit diabetik yang diinduksi Aloxan
KARYA ILMIAH HASIL PENELITIAN YANG DIPUBLIKASI
1. Idayani, Damayanti, Ika dan Basori, A. A Preliminary Study of
MSG on Induced Metabolism of the Liver in Mice and Rabbit,
12 th Asian Congress of PHARMACEUTICAL SCIENCES,
September 12–16, 1988, Bali – Indonesia
2. Idayani, Basori, A, Swandito, Max. Uji Penapisan Mekanisme
Kerja Hipoglikemik dari Infus daun Mengkudi (Morinda
Citrifolia, Linn) pada Kelinci, Simposium Penelitian Tumbuhan
Obat ke-VII Dan Muktamar PERHIPBA V, 4–5 November 1992,
Ujung Pandang
3. Idayani dan Basori, A. A Comparative Study of Bioavailability
Between Acetosal tablet and Acetosal enteric coated tablet,
58
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
Asian Conference on Clinical Pharmacology and Therapeutic,
31 October–4 November 1993, Yogyakarta
Achmad Basori. Isolation and Pharmacodynamic Screening
of Ligustroside Isolated from Fraxinus graffithii, Folia Medica
Indonesiana 4: Okt–Des, 1999
Suprapti, B dan Basori, A. The use of Non-Parametric Expectation
Maximization (NPEM) Model for Population Pharmacokinetic
Modeling of Gentamycin in Geriatric Urologic Surgery Patient
Folia Medica Indonesiana Juli-September, 3, 1999
Alfiah, H dan Basori, A. Effects of Amphetamine on Sperm
Morphology Rattus Norvegicus, Folia Medica Indonesiana Juli–
September, 3, 1999
Alfiah, H. dan Basori, A. The effects of Amphetamine on the
ultrastructure of the rat leydig cell, Folia Medica Indonesiana
Oct–Des, 4, 2000
Achmad Basori. Pharmacodynamic studies of central nervous
System Depressan Effects of Ligustrosid (A CNS Active
Substance) Isolated from Fraxinus Griffthii Clarke, Folia Medica
Indonesia Jan–March, 2000
Achmad Basori. Pharmacodynamic Identification of Anti Seizure
of Ligustrosid Glycoside Isolated from Fraxinus Griffithii Clarke
on Mice, Folia Medica Indonesiana July–Sept, 3, 2004
Achmad Basori. Identifikasi Efek Depresan SSP dari Ekstrak
Fraxinus Griffithii Clarke, Majalah Farmasi Airlangga Vol. 4
No. 1, April 2004
Siswandono dan Basori, A. Uji Aktivitas Antikejang Turunan
Benzoil Urea terhadap Mencit, Majalah Farmasi Airlangga,
Vol. 4, No. 2, Mei 2004
Achmad Basori. Identifikasi Efek Antiseizure dari Ekstrak
Fraxinus Griffithii Clarke, Majalah Farmasi Airlangga Vol. 4
No. 1, April 2004
Basori, A. Identifikasi Efek Depresan SSP, Antiseizure
Mekanisme, serta Efek Neurotoksisitas dari Ekstrak Fraxinus
59
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Griffithii Clarke, J. Penelit. Med. Eksakta Vol. 5, No. 3, Des
2004
14. Achmad Basori. Pharmacological Effects of Antiseizure Effects of
Ligustroside (A CNS Active Substance) Isolated from Fraxinus
Griaffithii Clarke Against Chemically Induced Seizure on Mice,
Folia Medica Indonesiana, Vol. 44, No. 2, April–June, 2008
15. Achmad Basori. Pharmacological Effects of Antiseizure Effects of
Ligustroside (A CNS Active Substance) Isolated from Fraxinus
Griaffithii Clarke Against chemically Induced Seizure on Mice
Folia Medica Indonesiana, Vol. 44, No. 2, April–June, 2009
16. Achmad Basori. Anti Seizure and Neurotoxicity Effects of
Ligustroside Isolated from Fraxinus Graffithii Clarke Compared
to Phenytoin and Diazepam Folia Medica Indonesiana No. 1,
Januari–Maret 2010
K ARYA ILMIAH BUK AN HASIL PENELITIAN YANG
DIPUBLIKASI
1. Achmad Basori. Aspek Farmakokinetik dan Farmakodinamik
dari Penyalagunaan Obat, Buletin PIO, PMFT-IFRS, RSUD
Dr. Soetomo, No. 2, Februari, 1998.
2. Achmad Basori, Dwiprahasto, I., Lelo, Aznan., Setiawati, A. Not
All the Clopidogrel are the Same: From Pharmacology Perspective
to Clinical Practice, Medical Tribune, Desember, 2009.
MENGHADIRI
INTERNASIONAL
SEMINAR
NASIONAL
DAN
Seminar Nasional
Seminar Ilmiah Farmasi, Peringatan 30 tahun Fakultas Farmasi
UNIKA Widya Mandala, 26 November 1994.
Seminar Sehari: Dilema Etik pada Riset dan Penerapan Stem
Cell dalam Bidang Kesehatan di Indonesia, 28 Agustus 2008,
Surabaya.
60
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
Simposium Curcuma, Alternatif pengobatan Penyakit Hati,
13 Januari 1998, Surabaya.
Simposium Triad Lipid, Konsensus Nasional Pengelolaan
Dislipidemia Diabetik di Indonesia, 27 April 1996.
Simposium Penanganan Terpadu Penyakit Infeksi saluran
Pernafasan Secara Rasional, 23 April 1998.
Lokakarya Traumatologi, 6–8 November 1995.
Simposium Penatalaksanaan Dislipidemia dan Risiko Kardiovaskuler,
21 April 1996, Surabaya.
Simposium Perkembangan Mutakhir Helicobacter Pylori pada
Penyakit saluran Cerna Bagian Atas, 30 Maret 1996.
Simposium Dampak Negatif Radikal Bebas pada Organ Tubuh dan
Manfaat Antioksidan, 4 November 1995.
Simposium Baru Terapi Hepatitis Virus dengan Pemacu Interferon,
28 Oktober 1995.
Simposium Fluvastatin, 18 November, 1995.
Simposium Penelitian Tumbuhan Obat V, 23 Juli 1986, Surabaya.
Kongres Nasional IKATAN AHLI FARMAKOLOGI ke-XIII 2010,
Yogyakarta.
Kongres Nasional ke-I, Perhimpunan Patobiologi Indonesia, 10–12
November 2000, Surabaya.
Lunch Symposium Recent Advances in Brain Injury, 3 Desember,
1996, Surabaya.
Seminar Internasional
1. The 8 th Asian Conference on Clinical Pharmacy: Toward
Harmonisation of Education and Practice of Asian Clinical
Pharmacy, July 1–4, 2008, Surabaya Indonesia.
2. The 7th WORLD STROKE CONGRESS, October 13–16, 2011,
Ceoux, Seoul, Republic of Korea.
61
PIDATO GURU BESAR
ASPEK CHIRALITY DI DALAM...
ACHMAD BASORI
Download