9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Proses pengujian panas yang

advertisement
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Proses pengujian panas yang dihasilkan dari pembakaran gas HHO diperlukan
perencanaan yang cermat dalam perhitungan dan ukuran. Teori-teori yang berhubungan
dengan pengujian yang akan dicoba perlu dijadikan landasan dalam proses uji coba,
sehingga dapat menghasilkan data yang akurat.
2.1. Elektrolisis
Sebelum membahas lebih jauh tentang proses pembakaran gas HHO,
yang perlu diketahui adalah pengertian dari elektrolisis. Elektrolisis adalah
proses penguraian senyawa berbentuk larutan atau cairan biasa oleh arus listrik
yang mengalir melalui senyawa tersebut. Air sendiri dapat digunakan sebagai
campuran bahan bakar. Dengan menggunakan arus listrik, dua molekul air
bereaksi dengan menangkap dua elektron pada katoda yang tereduksi menjadi
gas hidrogen (H2) dan ion hidroksida (OH). Pada kutub anoda, dua molekul air
lainnya akan terurai menjadi gas oksigen (O2) dengan melepaskan 4 ion H+ serta
http://digilib.mercubuana.ac.id/
10
mengalirkan elektron ke katoda. Akibat reaksi tersebut, ion H+ dan OH- akan
mengalami netralisasi dan membentuk molekul air kembali.
Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan oleh reaksi tersebut
membentuk gelembung dan mengumpul disekitar elektroda. Prinsip ini
kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen. Elektrolisis merupakan
proses kimia yang mengubah energi listrik menjadi energi kimia. Komponen
terpenting dari proses elektrolisis ini adalah elektroda dan larutan yang akan
dielektrolisis. Pada proses elektrolisis diperlukan dua buah kutub, yaitu katoda
sebagai kutub negatif (-) dan anoda sebagai kutub positif (+).
Alat yang digunakan untuk menguraikan air disebut dengan elektroliser
(electrolyzer). Di dalam elektroliser, air dipecah menjadi gas HHO atau sering
disebut sebagai brown gas. Elektroliser juga merupakan istilah lain untuk
menyebut generator hidrogen. Elektroliser menghasilkan hidrogen dengan cara
mengalirkan arus listrik pada media air yang mengandung larutan elektrolit.
Arus listrik yang mengalir pada elektroda akan mengubah struktur atom
hidrogen dan oksigen pada air dari bentuk diatomik (lebih dari satu atom)
menjadi monoatomik (satu atom). Selain itu, ikatan neutron yang mengikat
partikel H dan O akan terlepas, sehingga partikel H tertarik ke kutub positif dan
partikel O akan tertarik ke kutub negatif elektroliser. Ini yang disebut sebagai
disosiasi. Sejalan dengan proses tersebut, volume dan gelembung gas H dan O
yang melekat pada elektroda elektroliser akan bertambah, terlepas mengambang,
dan kemudian bergerak naik. Saat gelembung gas hidrogen dan oksigen
monoatomik terlepas dari permukaan air, partikel gas tersebut akan berikatan
kembali di ruang udara sebagai gas HHO.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
11
Anoda
Katoda
Gambar 2.1 Proses Elektrolisis [1].
Gas HHO merupakan bahan bakar yang kuat, bersih, mampu
meningkatkan jarak tempuh, dan mengurangi secara signifikan emisi gas buang
jika digunakan di kendaraan bermotor.
Molekul air dipecah menjadi unsur-unsur asalnya dengan mengalirnya
arus listrik. Proses ini disebut elektrolisis air. Pada katoda, dua molekul air
bereaksi dengan menangkap dua elektron, tereduksi menjadi gas H2 dan ion
hidroksida (OH-). Sementara itu pada anoda, dua molekul air lain terurai menjadi
gas oksigen (O2), melepaskan 4 ion H+ serta mengalirkan elektron ke katoda. Ion
H+ dan OH
-
mengalami netralisasi sehingga terbentuk kembali beberapa
molekul air.
Reaksi keseluruhan yang setara dari elektrolisis air dapat dituliskan pada
persamaan dibawah ini (Farid, 2012) :
Anoda
: H2O
2H+ + ½O2 + 2e-
Katoda
: H2O
½H2 + OH-
Kedua reaksi diatas dapat dituliskan sebagai berikut :
2H2O(l)
2H2(g) + O2(g)
http://digilib.mercubuana.ac.id/
12
Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan dari reaksi ini membentuk gelembung
pada elektroda dan dapat dikumpulkan. Prinsip ini kemudian dimanfaatkan
untuk menghasilkan hidrogen yang dapat digunakan sebagai bahan bakar
kendaraan hidrogen.
Faktor yang mempengaruhi elektrolisis antara lain penggunaan
katalisator beserta jumlah elektrolit (aquades), sifat logam bahan elektroda dan
daya yang digunakan.
2.2. Komponen Elektrolisis
2.2.1.
Katalis
Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi-reaksi
kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh
reaksi itu sendiri. Suatu katalis hanya berperan dalam reaksi tapi bukan
sebagai pereaksi. Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat
atau memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat perubahan
yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis menyediakan suatu jalur
pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis mengurangi
energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya suatu reaksi.
Katalis dapat dibedakan ke dalam dua golongan utama, katalis
heterogen dan katalis homogen. Katalis heterogen adalah katalis yang
ada dalam fase berbeda dengan pereaksi dalam reaksi yang dikatalisnya,
sedangkan katalis homogen berada dalam fase yang sama. Katalis
homogen umumnya bereaksi dengan satu atau lebih pereaksi untuk
membentuk suatu perantara kimia yang selanjutnya bereaksi membentuk
produk akhir reaksi, dalam suatu proses yang memulihkan katalisnya.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
13
Dalam proses uji coba ini digunakan tiga jenis katalisator, KOH
(Kalium Hidroksida), NaOH (Natrium Hidroksida) dan NaHCO3
(Natrium Bikarbonat) untuk mengetahui perbedaan secara signifikan dari
ketiga katalis yang digunakan.
2.2.1.1.
KOH (Kalium Hidroksida)
Kalium Hidroksida adalah basa kuat yang terbuat dari
logam alkali kalium yang bernomor atom 19 pada tabel periodik,
yang berbentuk kristal dengan warna putih yang higrokopis
(mudah menghisap dan melepaskan uap air). Elektrolisis larutan
kalium hidroksida akan menghasilkan gas klor (gas yang dapat
larut dalam air) pada satu elektroda dan kalium hidroksida pada
yang lain. Dengan reaksi :
2 KCl + 2 H2O
2 KOH + Cl2 + H2
Terbentuk gas hidrogen pada katoda, seperti halnya
kalium hidroksida, sedangkan terbentuk gas klor pada anoda.
2.2.1.2.
NaOH (Natrium Hidroksida)
Natrium Hidroksida adalah basa kuat berbentuk putih
padat dan bersifat lembap cair, dapat secara spontan menyerap
karbon dioksida (CO2) dari udara bebas. Natrium hidroksida
sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika
dilarutkan. NaOH membentuk larutan alkalin yang kuat ketika
dilarutkan ke dalam air.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
14
NaHCO3 (Natrium Bikarbonat)
2.2.1.3.
Natrium Bikarbonat dapat disebut juga sebagai soda kue
dapat diklasifikasikan sebagai garam asam dan biasanya
erbentuk serbuk dengan warna putih. Karakteristik soda kue
diantaranya :
2.2.2.

Memiliki titik lebur yang tinggi.

Merupakan senyawa ionik dengan ikatan kuat.

Dalam bentuk larutan dapat menghantarkan listrik.
Larutan Elektrolit
Elektrolit adalah suatu zat yang larut atau terurai ke dalam bentuk
ion-ion dan selanjutnya larutan menjadi konduktor elektrik, ion-ion
merupakan atom-atom bermuatan elektrik. Elektrolit dapat berupa air,
asam, basa, atau berupa senyawa kimia lainnya. Elektrolit umumnya
berbentuk asam, basa, atau garam. Sebagai contoh yaitu KOH (Kalium
Hidroksida), NaOH (Natrium Hidroksida), dan NaHCO3 (Natrium
Bikarbonat). Beberapa gas dapat berfungsi sebagai elektrolit pada
kondisi tertentu misalnya pada suhu tinggi atau tekanan rendah.
Elektrolit kuat identik dengan asam, basa, dan garam kuat. Elektrolit
yang digunakan pada alat pembangkit hidrogen untuk proses elektrolisis
adalah elektrolit yang bersifat basa yaitu KOH (Kalium Hidroksida).
Elektrolit merupakan senyawa yang berikatan ion dan kovalen
polar. Sebagian besar senyawa yang berikatan ion merupakan elektrolit.
Elektrolit digunakan untuk menghasilkan gas HHO pada proses
elektrolisis. Elektrolit terdiri atas air murni atau air destilasi dan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
15
katalisator (pemercepat reaksi). Katalisator akan larut di dalam air murni
dan menyatu membentuk larutan elektrolit.
2.2.3.
Elektroda
Elektroda berfungsi sebagai penghantar arus listrik dari sumber
tegangan ke air yang akan dielektrolisis. Pada elektrolisis yang
menggunakan arus DC, elektroda terbagi menjadi dua kutub yaitu positif
(+) sebagai anoda dan negatif (-) sebagai katoda. Material serta luasan
elektroda yang digunakan sangat berpengaruh pada gas HHO yang
dihasilkan dari proses elektrolisis air sehingga material elektroda harus
dipilih dari material yang memiliki konduktifitas listrik yang tinggi serta
ketahanan terhadap korosi yang baik.
Stainless steel pada dasarnya adalah baja paduan logam besi (Fe)
denga unsur paduan utama carbon (C), nikel (Ni), dan chromium (Cr).
Stainless merupakan logam paduan yang memiliki konduktifitas dan
ketahanan terhadap korosi yang relatif lebih baik dibanding dengan
logam-logam paduan ataupun logam murni yang lainnya serta harganya
juga relatif lebih terjangkau. Secara garis besar stainless steel dapat
dibedakan menjadi lima kelompok ( Harrold M. Cobb, 1999), yaitu :

Austenistic Stainless Steel (bersifat non-magnetis)

Ferritic Stainless Steel (bersifat magnetis)

Martensitic Stainless Steel (bersifat magnetis)

Duplex Stainless Steel (gabungan Austenitic & Ferritic)

Precipitation Hardening Stainless Steel
http://digilib.mercubuana.ac.id/
16
Berdasarkan Tabel 2.1 dapat dilihat bahwa stainless steel tipe SS
316F, 316L, 316N, 317, 329, dan 304 mempunyai ketahanan korosi
diberbagai lingkungan, sehingga stainless steel tipe ini sangat cocok
digunakan sebagai elektroda pada proses elektrolisis air untuk
memproduksi HHO (Wahyudzin, 2012).
Tabel 2.1 Standar Komposisi Stainless Steel [2].
Stainless steel tipe SS 316L merupakan stainless steel yang relatif
banyak tersedia dipasaran . SS 316L juga merupakan elektroda yang
paling baik untuk memproduksi gas HHO dikarenakan memiliki tingkat
ketahanan korosi yang sangat baik dan dapat menghasilkan produksi gas
yang paling besar (Gunawan, 2012).
http://digilib.mercubuana.ac.id/
17
2.2.4.
Aquades
Aquades adalah air hasil destilasi atau penyulingan sama dengan
air murni atau H2O, karena hampir tidak mengandung mineral. Proses
destilasi atau penyulingan adalah cara pemisahan bahan kimia
berdasarkan perbedaan titik didih untuk memperoleh senyawa murninya.
2.3. Prinsip Kerja Elektroliser
Gas hidrogen oksida (HHO) yang dihasilkan oleh proses elektrolisis akan
tetap terisap oleh elektroliser. Gas tersebut terbentuk akibat adanya arus listrik
yang berasal dari sumber listrik. Jika kedua kutub elektroda (katoda dan anoda)
diberi arus listrik, elektroda tersebut akan saling berhubungan karena adanya
larutan elektrolit sebagai penghantar listrik. Dengan adanya aliran listrik pada
elektroda, menimbulkan gelembung-gelembung kecil berwarna putih. Inilah
proses produksi gas hidrogen oksida (HHO) berlangsung.
Larutan elektrolit yang terdapat pada generator HHO akan berubah
warna menjadi coklat, itu sebabnya sering disebut brown's gas. Perubahan warna
pada larutan tersebut menandakan bahwa generator HHO bekerja dengan baik.
Gas hidrogen dihasilkan oleh kutub katoda (-), sedangkan oksigen dihasilkan
oleh kutub anoda (+).
2.4. Generator HHO
Generator HHO adalah alat untuk memisahkan air menjadi hidrogen dan
oksigen sehingga menghasilkan gas HHO. Dalam penelitian ini digunakan
generator HHO tipe dry cell, karena sebagian elektrodanya tidak terendam oleh
larutan elektrolit dan larutan elektrolit hanya mengisi celah antara elektroda
tersebut.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
18
Gambar 2.2 Generator HHO Dry Cell [3].
2.5. Daya Generator HHO
Untuk menghasilkan gas HHO dari air melalui proses elektolisis,
dibutuhkan energi listrik. Energi listrik ini bisa bersumber dari baterai aki.
Untuk menghitung besarnya daya yang dibutuhkan dapat menggunakan rumus
sebagai berikut (Teguh, 2013) :
P = V x I ....................................................................................... (1)
Dimana : P = Daya yang dibutuhkan generator HHO (J/s)
V = Beda potensial/voltase (Volt)
I = Arus listrik (Ampere)
2.6. Teori Pembakaran Gas
Secara umum, pembakaran dapat didefinisikan sebagai proses yang
sangat cepat antara bahan bakar dan oksidator dengan menimbulkan panas.
Bahan bakar merupakan substansi yang melepaskan panas ketika dioksidasi dan
secara umum mengandung unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O),
Nitrogen (N), dan sulfur (S). Sementara oksidator adalah segala substansi yang
mengandung oksigen (misalnya udara) yang akan bereaksi dengan bahan bakar.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
19
Flashback terjadi ketika kecepatan pembakaran lebih cepat daripada
keepatan campuran udara dengan bahan bakar, sehingga nyala api masuk
kembali dan merambat kembali ke dalam alat penghasil gas. Flashback tidak
hanya menggangu, tetapi juga dari sisi keamanan bisa menjadi berbahaya.
Secara umum, flashback merupakan kejadian sesaat dimana apabila terjadi,
aliran bahan bakar dikurangi atau ditutup.
2.7. Kalor Jenis
Kalor didefinisikan sebagai energi panas yang dimiliki oleh suatu zat.
Secara umum untuk mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda
yaitu dengan mengukur suhu benda tersebut. Jika suhunya tinggi maka kalor
yang dikandung oleh benda sangat besar, begitu juga sebaliknya jika suhunya
rendah maka kalor yang terkandung sedikit. Dari hasil percobaan yang sering
dilakukan, besar kecilnya kalor yang dibutuhkan suatu benda (zat) bergantung
pada 3 faktor :

Massa zat

Jenis zat (kalor jenis)

Perubahan suhu
Sehingga secara matematis dapat dirumuskan :
Q = m x c x T ................................................................................ (2)
Keterangan :
Q : Kalor yang dibutuhkan (J)
m : Massa benda (kg)
c : Kalor jenis (J/kgC)
T (t2 - t1) : Perubahan suhu (C)
http://digilib.mercubuana.ac.id/
20
Kalor merupakan salah satu bentuk energi yang dapat diterima atau
dilepaskan oleh suatu benda. Satuan kalor adalah joule atau kalori.
Persamaannya adalah :

1 joule
= 0,24 calories

1 kilojoule
= 239,006 calories

1 calorie
= 4,184 joules

1 kilocalorie = 4.184 joules
Kalor jenis adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan
suhu satu satuan massa benda sebesar satu derajat dengan satuan J/kgC. Suhu
suatu gas dapat dinaikkan dalam kondisi yang bermacam-macam, dengan kata
lain suatu gas mempunyai bermacam-macam kapasitas panas. Tetapi hanya ada
dua macam yang memiliki arti praktis yaitu :

Kapasitas panas pada volume konstan

Kapasitas panas pada tekanan konstan
Kapasitas panas gas ideal pada tekanan konstan selalu lebih besar dari kapasitas
panas gas ideal pada volume konstan dan selisihnya sebesar konstanta gas
umum.
2.8. Perhitungan Pembakaran Gas
Energi panas ekuivalen dengan energi yang dihasilkan, mengetahui
energi bakar per satuan waktu memberikan gambaran jumlah energi yang
dihasilkan (Poempida, 2008). untuk menghitung energi yang dihasilkan dari
pembakaran gas hho digunakan rumus :
http://digilib.mercubuana.ac.id/
21
Energi pembakaran gas HHO =
(J/s) .......................................... (3)
Dimana :
Q = kalor yang dibutuhkan gas hho untuk menaikkan suhu air 1'C (J/s)
t = waktu (s)
Maka didapat rumus :
............................................ (4)
Menurut (George, 2012) karena arus listrik yang menyebabkan proses
elektrolisis terjadi, untuk menghitung jumlah maksimum teoritis produksi gas
HHO per jam dapat menggunakan rumus :
Jumlah produksi gas =
HHO
(gr/jam) ...... (5)
Dimana menurut (Harman,2013) ρHHO = 0,491167 gr/l
Maka untuk menghitung nilai kalori bakar gas HHO (NKBHHO)
digunakan rumus sebagai berikut :
NKBHHO =
=
Dimana :
NKBHHO : Nilai Kalori Bakar HHO (kJ/kg)
A : Besarnya Ampere yang digunakan.
26,8 : Ampere per Jam (1 Faraday)
16,8 : molar volume (liters)
C : Jumlah Cell dalam generator HHO
ρHHO : Densitas HHO (0.491167 gr/l)
http://digilib.mercubuana.ac.id/
x 100%
x 100% ........................ (6)
Download