9 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pendekatan

advertisement
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pendekatan Basis Data
Berikut penjelasan lebih dalam dan rinci tentang pengertian basis data.
2.1.1. Pengertian Basis Data
Hoffer (2005:5) mengatakan bahwa data adalah representasi dari objek dan
kejadian yang memiliki arti dan penting dalam lingkungan user. Basis data menurut
Connolly (2010,p.65) adalah kumpulan data yang berhubungan secara logical dan
gambaran dari data yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi dari suatu
organisasi.
Kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa basis data adalah suatu kumpulan datadata yang disimpan dan dimanipulasi untuk memperoleh suatu informasi.
2.1.2. Sistem Manajemen Basis Data
Connolly (2010, p.66) mengatakan bahwa DBMS merupakan sebuah sistem
aplikasi yang memungkinkan user untuk mendefinisikan, membuat, memelihara, dan
mengontrol akses ke basis data.
DBMS memiliki fasilitas antara lain:
1. DDL (Data Definition Language)
Menspesifikasikan tipe data beserta strukturnya dan batasan
mengenai data yang bisa disimpan.
2. DML (Data Manipulation Language)
9
10
Menambahkan, mengedit, menghapus, dan mendapatkan kembali
data yang dilakukan melalui sebuah Query Language.
3. DCL (Data Control Language)
Mengontrol akses ke basis data untuk mencegah user yang
tidak memiliki hak akses data.
Keuntungan DBMS menurut Connolly (2010, p.77) yaitu:
1. Kendali terhadap pengulangan data
Pendekatan basis data berguna untuk menghilangkan redudansi
data dengan mengintegrasikan setiap file sehingga penggandaan
data yang sama tidak disimpan. Redudansi data tidak hilang
sepenuhnya melainkan dikendalikan jumlahnya.
2. Konsistensi data
Menghilangkan
atau
mengendalikan
redudansi,
sehingga
mengurangi resiko terjadinya ketidak konsistensi.
3. Lebih banyak informasi dari jumlah data yang sama
Dengan integrasi dari data operasional, lebih memungkinkan bagi
organisasi untuk memperolah informasi tambahan dari data yang
sama.
4. Akses data bersamaan
Basis data dimiliki oleh cakupan suatu organisasi dan dapat
digunakan bersama oleh user yang berada di lingkungan organisasi
tersebut.
5. Meningkatkan integritas data
Integritas basis data mengacu pada validitas dan konsistensi data
yang disimpan. Integritas biasanya menunjukan batasan-batasan,
seperti aturan konsistensi yang tidak boleh dilanggar dalam basis
data, batasan-batasan dapat diterapkan pada data atau pada relasi
antar
data.
Integrasi
memungkinkan
DBA
(Database
11
Administrator) untuk mendifinisikan dan DBMS menerapkan
batasan integritas.
6. Meningkatkan keamanan data
Karena DBMS memiliki integrasi yang tinggi, maka dapat
menyebabkan data menjadi lebih rawan. Pengaksesan dari user
yang dibolehkan dapat dibatasi oleh operation type (retrieved,
insert, update, delete).
7. Skala ekonomi
Penggabungan seluruh data operasional organisasi ke dalam satu
basis data dan membuat serangkaian aplikasi yang bekerja pada
suatu sumber data ini sehingga menghemat biaya.
8. Keseimbangan dari kebutuhan yang bertentangan
Setiap user atau department memiliki kebutuhan yang mungkin
saling bertentangan dengan kebutuhan dari user lain, karena basis
data di dalam control DBA (Database Administrator), DBA dapat
membuat keputusan desain dan operasional dari basis data untuk
menyediakan penggunan terbaik dari sumber daya untuk organisasi
secara menyeluruh.
9. Peningkatan data dan responsiveness
Sebagai hasil integrasi, data yang melewati batasan departemen
dapat langsung diakses oleh user. Banyak DBMS menyediakan
fasilitas query atau membuat laporan yang memungkinkan user
untuk menanyakan pertanyaan khusus dan untuk mendapatkan
informasi secara cepat dari terminalnya, tanpa membutuhkan
programmer
untuk
membuat
informasi basis data.
10. Meningkatkan produktivitas
program
yang
menghasilkan
12
DBMS menyediakan banyak fungsi-fungsi standar yang biasanya
programmer harus ditulis di aplikasi yang berbasis file.
Perlengkapan dari fungsi-fungsi ini memungkinkan programmer
untuk berkonsentrai pada fungsi-fungsi khusus yang dibutuhkan
oleh user tanpa harus khawatir tentang detail implementasi.
Hasilnya meningkatkan produktivitas programmer dan mengurangi
waktu pengembangan.
11. Meningkatkan pemeliharaan dengan data yang independen
DBMS memisahkan data dengan aplikasi, sehingga membuat
aplikasi tidak harus terpengaruh oleh perubahan data.
12. Meningkatkan concurrency
Bila dua atau lebih user dapat mengakses file yang sama secara
bersamaan, kemungkinan pengaksesan tersebut akan saling
mempengaruhi sehingga menyebabkan kehilangan informasi dan
integritas. DBMS mengelola pengaksesan secara bersamaan pada
basis data dan memastikan tidak ada masalah yang terjadi.
13. Memperbaiki back up dan layanan pemulihan
DBMS menyediakan fasilitas yang megurangi pemrosesan yang
hilang dikarenakan kegagalan muncul disaat pengelolaan.
Kerugian DBMS menurut Connolly (2010, p.80) yaitu:
1. Kerumitan
Karena penetapan fungsi dari DBMS yang baik, menyebabkan
DBMS menjadi piranti lunak yang cukup rumit. Seluruh user
hanya mengetahui fungsi-fungsi yang ada dengan baik, sehingga
memperoleh manfaatnya.
2. Ukuran
13
Karena kerumitan dari luasnya fungsi, membuat DBMS menjadi
bagian yang sangat besar dalam piranti lunak. Kapasitas yang
dibutuhkan sehingga megabytes dan membutuhkan sejumlah besar
memori untuk berjalan secara efisien.
3. Biaya kebutuhan DBMS
Biaya kebutuhan DBMS sangat bervariasi, tergantung dari
lingkungan organisasi dan fungsionalitas yang disediakan.
4. Biaya tambahan untuk piranti keras
Kebutuhan penyimpanan data untuk DBMS dan basis data
mungkin mengharuskan pembelian ruang penyimpanan tambahan.
Untuk mencapai kinerja yang baik, dibutuhkan mesin yang lebih
besar bahkan mesin khusus untuk menjalankan DMBS.
5. Biaya konversi
Dalam beberapa situasi, biaya tambahan perangkat keras dan
DBMS tak seberapa dibandingkan dengan biaya untuk melakukan
konversi aplikasi yang ada untuk dapat di jalankan di dalam
DBMS dan piranti keras yang baru. Biaya ini juga termasuk di
dalam pelatihan karyawan untuk menggunakan sistem baru.
6. Kinerja
DBMS dibuat lebih umum, karena tujuannya untuk dapat melayani
aplikasi dalam jumlah banyak. Efek dari DBMS tersebut
menyebabkan beberapa aplikasi tidak dapat bekerja secepat
biasanya.
7. Tingkat kegagalan yang tinggi
Sentralisasi sumber daya meningkatkan kerentanan sistem. Karena
semua user dan aplikasi bergantung pada keteresediaan DBMS,
kegagalan komponen tertentu dapat membuat pengoperasian
menjadi terhenti
14
2.1.3. Structured Query Language
Sebagian bahasa yang muncul dari pengembangan relational model
disebut Structured Query Language, atau lebih dikenal sebagai SQL
(Connolly & Begg, 2010, p. 183).
Data language terdiri atas dua bagian yaitu Data Definition Language
(DDL) dan Data Manipulation Language (DML). Keduanya disebut sebagai
database language karena keduanya tidak dibuat untuk keperluan komputasi
atau perhitungan seperti keadaaan kondisi ataupun keadaan berulang yang
harus disajikan lebih sebagai bahasa pemrograman tingkat tinggi (Connolly &
Begg, 2010, p. 91).
2.1.3.1. Data Definition Language
Data Definition Language (DDL) adalah sebuah bahasa
database yang mengijinkan DBA atau user untuk mendiskripsikan
nama entitas, atribut-atribut dan relasi yang diperlukan oleh aplikasi
dan integritas dan aturan-aturan di dalam penyimpannya (Connolly &
Begg, 2010, p. 92).
2.1.3.2. Data Manipulation Language
Data Manipulation Language (DML) adalah sebuah bahasa
database yang menyediakan sejumlah set operasi untuk mendukung
manipulasi data terhadap data yang dimiliki oleh database (Connolly
& Begg, 2010, p. 92).
2.1.4. Forth Generation Language
Dibandingkan dengan 3GL (Third Generation Language) yang
procedural, 4GL (Forth Generation Language) tidak procedural: user
mendifinisikan apa yang harus di kerjakan bukan bagaimana cara kerjanya.
4GL diharapkan mengandalkan sebagian besar komponen tingkat tinggi yang
diketahui sebagai Fourth-generation tools. User tidak mendefinisikan
15
langkah-langkah yang program harus lakukan, tapi malah mendefinisikan
parameter untuk tools yang digunakan untuk generate sebuah program
aplikasi (Connolly & Begg, 2010, p. 94).
16
2.1.5. Siklus Hidup Aplikasi Basis Data
Berikut merupakan gambar tentang siklus hidup aplikasi basis data.
Gambar 2. 1 Siklus Hidup Aplikasi Basis Data
2.1.5.1. Database Planning
Kegiatan manajemen yang memungkinkan tahapan aplikasi
basis data dapat direalisasikan secara efektif dan efisien. Ada 3
persoalan utama yang terlibat dalam memformulasikannya, yaitu:
(Connolly & Begg, 2010, p. 313)
1. Identifikasikan rencana dan tujuan dari perusahaan
dengan penentuan selanjutnya sistem basis data yang
dibutuhkan.
2. Mengevalusi sistem basis data yang sekarang untuk
mengetahui kekurangan dan kelebihannya.
3. Penilaian
terhadap
kesempatan
yang
menghasilkan keuntungan yang kompetitif.
mungkin
17
2.1.5.2. System Definition
Menentukan ruang lingkup dan batasan-batasan dari
aplikasi basis data termasuk area utama dari aplikasi dan bagian
dari kelompok user.
2.1.5.3. Requirement Collection and Analysis
Proses mengumpulkan dan menganalisa informasi tentang
bagian dari organisasi yang harus didukung oleh aplikasi basis
data, dan menggunakan informasi untuk mengidentifikasi user
sistem baru (Connolly & Begg, 2010, p. 316)
2.1.5.4. Database Design
Proses desain basis data untuk mendukung operasi
perusahaan dan tujuan yang dimulai dengan menggunakan
pendekatan perancangan basis data. Terbagi atas beberapa tahap:
(Connolly & Begg, 2010, p. 320).
1. conceptual database design,
2. logical database design,
3. physical database design.
2.1.5.5. DBMS Selection
Pemilihan DBMS yang tepat untuk mendukung sistem
basis data yang akan dibangun. Ada kesempatan untuk memastikan
bahwa proses seleksi sesuai rencana dan sistem memebrikan
keuntungan kepada perusahaan (Connolly & Begg, 2010, p. 325).
2.1.5.6. Application Design
Desain user interface dan aplikasi program yang digunakan
dengan memproses basis data. Desain aplikasi ini terdiri dari:
(Connolly & Begg, 2010, p. 329)
1. Desain transaksi
Bentuk aksi yang dilakukan oleh user atau program aplikasi,
yang memiliki kendali dalam mengubah isi dari basis data.
18
2. User interface design
Bentuk perancangan yang akan dibangun bagi user untuk
memudahkan mengenali setiap perintah, tindakan, ataupun
keterangan yang ditampilkan dari suatu basis data dalam
bentuk aplikasi program secara fisik atau tergambar.
2.1.5.7. Prototyping
Membangun model kerja dari sistem basis data. Tujuan dari
pengembangaan sistem prototpype adalah memungkinkan user
untuk menggunakan prototype untuk mengidentifikasikan fitur dari
sistem yang bekerja memadai atau tidak memadai, jika mungkin
untuk menyarankan perbaikan atau fitur baru untuk sistem basis
data (Connolly & Begg, 2010, p. 333).
2.1.5.8. Implementation
Realisasi fisikal dari sebuah basis data atau desain aplikasi.
Implementasi basis data dapat dicapai menggunkan Data
Definition Language (DDL) dari DBMS yang dipilih (Connolly &
Begg, 2010, p. 333).
2.1.5.9. Data conversion and loading
Memindahkan semua data yang sudah ada kedalam basis
data yang baru dan mengkonversikan semua aplikasi untuk
menjalankan basis data yang baru (Connolly & Begg, 2010, p.
334).
2.1.5.10. Testing
Proses menjalankan sistem basis data dengan tujuan untuk
menemukan kesalahan dan melakukan pengujian terhadap sistem
yang sudah penulis buat. Contoh kriteria yang bisa digunakan
untuk melakukan testing:
1. Learnability
19
Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh user baru untuk
menguasai sistem yang baru ini.
2. Performance
Seberapa baik sistem merespon dengan pekerjaan user.
3. Robustness
Seberapa toleran sistem terhadap kesalahan.
4. Recoverability
Seberapa baik sistem dalam melakukan pemulihan dari
kesalahan user.
5. Adapatability
Seberapa dekat sistem terkait dengan model kerja single.
2.1.5.11. Opertional Maintenance
Proses mengawasi dan pemeliharaan sistem basis data
terhadap instalasi. Pada tahap pemeliharaan operasional terdiri
dari:
1.
memantau kinerja sistem,
2.
memelihara dan mengingkatkan sistem basis data yang baru
(jika diperlukan).
2.1.6. Entity-Relationship Modeling
Entity relationship diagram adalah alat pemodelan yang membantu
dalam mengorganisasi data dalam proyek ke dalam suatu entitas dan
menetukan hubungan antara kedua entitas.
Komponen-komponen yang digunakan pada pembuatan ERD yaitu:
2.1.6.1. Entity Types
Suatu entitas data yang nyata maupun abstrak yang
digunakan untuk menyimpan data yang diinginkan. Entitas terbagi
dalam 5 kelas berbeda yaitu peran, kejadian, lokasi, hal-hal nyata,
atau konsep. Contoh dari ERD adalah customer, pembayaran,
pembelian.
Entitas yang spesifik disebut dengan instance.
20
Tipe entitas dapat dikelompokan menjadi:
1. Strong entity
Tipe strong entity adalah tipe entitas yang keberadaannya
tidak bergantung pada tipe entitas lain (Connolly & Begg,
2010, p. 383).
2. Weak entity
Tipe weak entity adalah tipe entitas yang keberadaannya
bergantung pada tipe entitas lain (Connolly & Begg, 2010,
p. 383).
2.1.6.2. Relationship Types
Relasi data adalah asosiasi yang ada diantara satu entitas
atau lebih dari satu entitas. Contoh karyawan melakukan
pembayaran.
2.1.6.3. Attributes
Suatu data atribut merupakan karakteristik umum untuk
sebagian besar instance pada entitas tertentu termasuk property,
element data dan field. Yang terditri dari atribut domain, atribut
simple, atribut komposit, atribut single-valued, atribut multivalued, dan atribut derivasi. Yang dijelaskan lebih lanjut di bawah
ini.
2.1.6.3.1. Atribut Domain
Atribut domain adalah kumpulan nilai yang
diizinkan untuk satu atau lebih atribut mungkin menyimpan
dan serupa dengan domain pada model relasi.
2.1.6.3.2. Atribut Simple
Sebuah atribut yang disusun dari komponen tunggal
dengan keberadaan yang mandiri. Atribut simple tidak bisa
dibagi lagi menjadi komponen yang lebih kecil. Atribut
21
simple dapat disebut juga atomic attribute (Connolly &
Begg, 2010, p. 379).
2.1.6.3.3. Atribut Composite
Sebuah atribut yang disusun dari komponen berlipat
ganda, masing-masing dengan sebuah keberadaaan yang
bebas. Beberapa atribut dapat dibagi lagi ke hasil
komponen yang lebih kecil dengan keberadaan mandiri
yang dimiliki atribut itu sendiri (Connolly & Begg, 2010, p.
380).
2.1.6.3.4. Atribut Single-Valued
Atribut yang mempunyai nilai tunggal untuk setiap
kejadian pada tipe entitas (Connolly & Begg, 2010, p. 380).
2.1.6.3.5. Atribut Multi-Valued
Atribut yang mempunyai beberapa nilai untuk
setiap kejadian pada sebuah entitas (Connolly & Begg,
2010, p. 380).
2.1.6.3.6. Atribut Derivasi
Sebuah atribut yang mewakili sebuah nilai yang
dapat lditurunkan dari atribut lain yang berhubungan atau
kumpulan dari beberapa atribut, dan tidak harus berasal dari
entitas yang sama (Connolly & Begg, 2010, p. 380).
2.1.6.4. Keys
Terdapat 4 keys yaitu candidate key, primary key, composite key, dan
foreign key yang dijelaskan lebih detil di bawah ini:
2.1.6.4.1. Candidate key
Sejumlah
kecil
atribut
yang
secara
unik
mengidentifikasikan dari setiap tipe entitas (Connolly &
Begg, 2010, p. 381).
22
2.1.6.4.2. Primary Key
Kunci kandidat yang terpilih untuk medifinisikan
secara unik setiap kejadian dari sebuah entitas (Connolly &
Begg, 2010, p. 381).
2.1.6.4.3. Composite Key
Sebuah kunci kandidat yang terdiri dari sebuah dua
atau banyak atribut (Connolly & Begg, 2010, p. 382).
2.1.6.4.4. Foreign Key
Himpunan atribut dalam suatu hubnugana yang
cocok dengan kunci kandidat dari beberapa hubungan
lainnya (Connolly & Begg, 2010, p. 151).
2.1.6.5. Structural Constraint
Constraint harus menggambarkan pembatasan di dalam
hubungan seperti halnya di “dunia nyata”. Jenis utama dari Constraint
di namakan multiplicity.
Multiplicity adalah banyak kejadian yang mungkin pada suatu
tipe entitas yang mungkin berhubungan dengan suatu kejadian dari
entitas lain pada suatu hubungan (Connolly & Begg, 2010, p. 385).
Derajat yang paling umum pada suatu hubungan adalah biner.
Hubungan biner terdiri dari:
2.1.6.5.1. Relationship one to one (1:1)
23
Gambar 2.2 Relationship One to One
Pada gambar di atas, bisa di lihat bahwa SG5 hanya terhubung
one-to-one dengan B003, dan SL21 hanya terhubung one-toone dengan B005 (Connolly & Begg, 2010, p. 386)
Berdasarkan gambar diatas dapat ditulis multiplcity-nya seperti
pada gambar berikut:
Gambar 2.3 Multiplicty One to One
2.1.6.5.2. Relationship one to many (1:*)
Gambar 2.4 Relationship One to Many
Pada gambar diatas, bisa dilihat bahwa SG37 terhubung one to
many dengan PG21 dan PG36. Berdasarkan dari gambar diatas
24
dapat ditulis multiplicity-nya seperti gambar di bawah ini
(Connolly & Begg, 2010, p. 387).
Gambar 2.5 Multiplicity One to Many
2.1.6.5.3. Relationship many to many
Gambar 2.6 Relationship Many to Many
Pada gambar di atas, dapat dilihat Glasgow daily terhubung one
to many dengan PG21 dan PG36, sedangkan PG36 terhubung one to
many dengan glasglow daily dan the west news. Maka entitas
newspaper (dengan value glasglow daily dari gambar diatas) dan etitas
propertyForRent (dengan value PG36 dari gambar diatas) tehubung
many to many. Berdasarkan gambar dia atas dapat ditulis multiplictynya seperti pada gambar dibawah ini (Connolly & Begg, 2010, p. 388).
Gambar 2.7 Many to Many Multiplicty
25
2.1.6.6. Cardinality
Cardinality adalah nilai maksimum dari kejadian hubungan yang
mungkin terjadi untuk sebuah entitas yang ikut serta pada suatu hubungan
(Connolly & Begg, 2010, p. 390).
Gambar 2.8 Cardinality
2.1.6.7. Participation
Participation menentukan apakah semua atau hanya beberapa
kejadian entitas yagn ikut serta dalam sebuah hubungan (Connolly & Begg,
2010, p. 391).
26
Gambar 2.9 Participation
2.1.7. Metodologi Perancangan Basis Data
Berikut merupakan penjelasan lebih dalam tentang metodologi perancangan
basis data.
2.1.7.1. Perancangan Konseptual
Menurut Connolly (2010, p.470) perancangan konseptual
model terdiri atas:
1. jenis entitas,
2. jenis relasi,
3. atribut dan domain atribut,
4. kunci primer dan kunci alternatif,
5. batasan integritas.
Model konseptual didukung oleh dokumentasi, termasuk diagram ER
dan kamus data yang merupakan hasil dari pengembangan suatu
model. Berikut langkah-langkah yang mendukung pengembangan dari
konseptual model.
27
1. Identifikasi jenis entitas (Identify Entity Types)
Mengidentifiaksi
jenis
entitas
yang
diperlukan.
Metode
mengidentifikasi entitas dengan memeriksa spesifikasi kebutuhan
user. Berdasarkan dari itu dapat diketahui benda atapun kata benda
yang disebutkan (contoh: manusia, tempat, konsep yang menarik)
dengan melalui ekstrasi kamus data.
2. Identifikasi jenis relasi (Identify Relationship Types)
Untuk mengidentifikasi relasi penting yang ada atara jenis entitas.
Untuk
mempresentasikan
entitas
dan
bagaimana
mereka
berhubungan satu sama lain dengan mudah dapat menggunakan
Entity-Relationship (ER) diagrams.
3. Identifikasi dan mengasosiasikan atribut dengan jenis entitas atau
relasi (Identify and Associate Attributes with Entity or Relationship
Types)
Untuk mengasosiasikan atribut dengan entitas atau jenis relasi
yang sesuai. Mengidentifikasi atribut sederhana atau komposit,
atribut single atau multi value, dan atribut turunan.
4. Menentukan domain atribut (Determine Attributes Domains)
Untuk menentukan domain untuk atribut didalam konseptual
model.
5. Menemukan kunci kandidat, primer, dan alternate atribut
(Determine Candidate, Primary, and Alternate Key Atributes)
Untuk mengidentifikasi kunci kandidat untuk setiap jenis entitas
dan apabila terdapat lebih dari satu kunci kandidat, untuk memilih
salah satu untuk mejadi kunci primer dan lainnya menjadi kunci
alternate.
6. Mempertimbangkan
penggunaan
konsep-konsep
(Consider Use of Enhanced Modeling Concepts)
permodelan
28
Penggunaan salah satu bentuk konsep seperti spesialisasi atau
generalisasi, agregasi dan komposisi.
7. Periksa model untuk redudansi (Check Model for Redudancy)
Memeriksa apakah ada kemungkinan redudansi di dalam model
dengan cara memeriksa relasi one-to-one (1:1), menghapus relasi
redudansi, dan mempertimbangkan dimensi waktu.
8. Validasi model konseptual terhadap transaksi user (Validate
Conceptual Data Model Against User Transantions)
Untuk memastikan model konseptual mendukung kebutuhan
transaksi, menggunakan dua pendekatan yaitu menggunakan jalur
transaksi.
9. Meninjau model konseptual dengan user (Review Conceptual Data
Model with User)
Untuk meninjau model data konseptual dengan user untuk
memastikan bahwa model merupakan representasi sempurna dari
kebutuhan data perusahaan.
2.1.7.2. Perancangan Logikal
Tahapan yang harus dilakukan untuk mengubah dari bentuk konseptual
data ke model data logical menurut Connolly (2010, p.490) sebagai
berikut.
1. Turunan relasi untuk model data logical (Derive Relations for
Logical Data Model)
Membuat
relasi
bagi
model
data
logical
untuk
mempresentasikan entitas, relasi dan atribut yang telah
diidentifikasikan.
2. Validasi relasi menggunakan normalisasi (Validate Relations
Using Normalization)
Memvalidasi relasi dalam model data logical menggunakan
normalisasi. Tujuan dilakukannya normalisasi adalah untuk
29
memastikan himpunan relasi memiliki jumlah yang minimum
tetapi atribut yang diperlukan masih mencukupi untuk
persyaratan data yang diperlukan oleh perusahaan.
3. Validasi relasi terhadap transaksi user (Validate Relations
Against User Transactions)
Untuk
memastikan
bahwa
relasi
model
data
logical
mendukung kebutuhan user.
4. Memeriksa batasan integritas (Check Integrity Constraint)
Untuk memeriksa batasan integritas mempresentasikan model
data logical. Batasan integritas adalah batasan yang dibutuhkan
untuk melindungi basis data menjadi tidak lengkap, tidak
akurat dan tidak konsisten.
5. Meninjau model data logical dengan user (Review Logical
Data Model with User)
Memastikan bahwa user menganggap model menjadi salah
satu bentuk represntasi yang tepat berdasarkan dari persyaratan
data perusahaan.
6. Menggabungkan model data logical menjadi model global
(Merge Logical Data Models into Global Data Model)
Untuk menggabungkan model data logical menjadi model data
logical
global
tunggal
yang
mempresentasikan
semua
pandangan user basis data.
7. Memeriksa pertumbuhan masa depan (Check for Future
Growth)
Untuk menetukan apakah ada kemungkinan perubahan yang
signifikan di masa depan dan untuk menilai apakah logical
model data dapat diakomodasikan dengan perubahan ini.
2.1.7.3. Perancangan Fisikal
30
Menurut Connolly (2010, p.523), tahapan untuk melakukan
perancangan fisikal sebagai berikut.
2.1.7.3.1. Mengubah Model Data Logikal ke DBMS
Menghasilkan skema basis data relasional dari model
data logical yang dapat diimplementasikan ke dalam DBMS.
2.1.7.3.1.1.
Desain Relasi Dasar
Memutuskan bagaimana cara mempresentasikan
relasi dasar dapat diidentifikasi di model data logical yang
akan dimasukkan ke dalam DBMS.
2.1.7.3.1.2.
Desain Representasi dari Data Turunan
Memutuskan bagaimana cara merepresentasikan data
turunan berada di model data logical yang akan dimasukkan
ke dalam DBMS. Nilai atribut berasal dari evaluasi atribut
turunan dan hitungan.
2.1.7.3.1.3.
Desain Batasan Umum
Melakukan update untuk relasi yang dibatasi oleh
batasan intergritas yang mengatur “dunia nyata” trasnsaksi
berdasarkan representasi melalui update. Batasan biasanya
tergantung dari bentuk DBMS dan sistem yang menyediakan
fasilitas untuk mendefinisikan segala situasi umum.
2.1.7.3.2. Desain Organisasi file dan indeks
Menentukan pengorganisasian file secara optimal untuk
menyimpan relasi dasar dan indeks yang diperlukan untuk
mencapai performa yang diinginkan dengan cara penyimpanan
relasi dan tuples pada media penyimpanan sekunder.
31
2.1.7.3.2.1.
Analisis transaksi
Membuat perancangan basis data fisikal secara
efektif dengan cara mengenali atau mengidentifikasi pada
analisis transaksi sebagai berikut:
1.
transaksi yang digunakan dapat memberikan
dampak besar terhadap performa,
2.
transaksi yang merupakan transaksi bisnis yang
kritis,
3.
jangka waktu hari atau mingguan ketika akan ada
permintaan tinggi yang dibuat basis data.
2.1.7.3.2.2.
Memilih organisasi file
Menentukan organisasi file secara efektif untuk
setiap relasional data.
2.1.7.3.2.3.
Pemilihan indeks
Menentukan penambahan indeks yang bertujuan
untuk meningkatkan performa dari suatu sistem.
2.1.7.3.2.4.
Perkiraan kapasitas penyimpanan
Mengestimasi ukuran kapasitas penyimpanan
yang diperlukan untuk menyimpan basis data.
2.1.7.3.3. Desain User View
Sudah melalui pengidentifikasian selama pengumpulan
kebutuhan dan analisis terhadap pengembangan sistem basis
data siklus hidup.
2.1.7.3.4. Desain Mekanisme Keamanan
Merancang ukuran keamanan untuk basis data yang
sudah dispesifikasikan untuk user dengan memberikan
mekanisme proteksi pada basis data untuk menghindari dari
kejadian yang disengaja maupun tidak disengaja.
32
2.1.8. Normalisasi
Connolly (2010, p.416) mengatakan bahwa normalisasi adalah teknik
memproduksi sebuah kumpulan dari relasi dengan sifat yang diingkan,
mengingat persyaratan dari suatu perusahaan.
1.
Tujuan Normalisasi
Tujuan dari normalisasi adalah untuk mengidentifikasi
sekumpulan relasi yang sesuai yang dapat mendukung persyaratan
data untuk perusahaan.
Karakteristik dari sekumpulan relasi yang sesuai termasuk dalam
contoh berikut:
a.
jumlah minimal atribut yang diperlukan untuk mendukung
kebutuhan data dari suatu perusahaan,
b.
atribut dengan relasi logical dekat (dijelaskan sebagai
ketergantungan fungsi) yang ditemukan pada relasi yang
sama,
c.
meminimalisasi redudansi, dengan setiap atribut yang
direpresentasikan hanya sekali, dengan pengecualian penting
dari atribut yang dibentuk atau sebagai dari foreign key, yang
penting untuk penggabungan hubungan yang terkait.
2. Reduduansi Data
Dengan adanya pengelompokan atribut ke dalam relasi
yang bertujuan untuk mengurangi redudansi data yang menjadi
tujuan dari relasi basis data desain. Jika tujuan tercapai maka
potensi keuntungan untuk implementasi basis data termasuk
sebagai berikut:
a. memperbaharui data yang tersimpan dalam basis data yang
dapat diterima dengan jumlah operasi minimal, sehingga
33
mengurangi kemungkinan data tidak konsisten yang terjadi
dalam basis data,
b. pengurangan dalam ruang penyimpanan file yang dibutuhkan
dari relasi dasar sehingga mengurangi biaya.
3.
Update Anomalies
Masalah yang ditimbulkan karena relasi memiliki data yang
berulang, yang dapat diklasifikasikan sebagai insertion, deletion,
atau modification anomalies.
4.
Proses Normalisasi
Normalisasi adalah teknik formal untuk menganalisa relasi
berdasarkan dari kunci primer (atau kunci kandidat) dan
ketergantungan fungsi. Teknik melibatkan sekumpulan aturan yang
dapat digunakan untuk tes satu relasi sehingga basis data dapat
dinormalisasikan ke semua tingkatan. Ketika persyaratan tidak
terpenuhi, relasi melanggar persyaratan harus didekomposisikan
menjadi
relasi
secara
individual
memenuhi
persyaratan
normalisasi.
a. Unnormalized Form (UNF)
Suatu tabel yang terdiri dari satu atau lebih kelompok
yang berulang (Repeating Group). Repeating Group adalah
sebuah atribut atau himpunan atribut didalam table yang
memiliki lebih dari satu nilai (multi value) untuk sebuah
primary key pada tabel tersebut (Connolly & Begg, 2010, p.
430).
b. First Normal Form (1NF)
Sebuah hubungan dimana titik antara baris dan
kolomnya hanya mengandung satu nilai. Sebuah hubungan
34
berada dalam 1NF jika repeating group tersebut telah hilang.
Ada dua pendekatan umum untuk menghilangkan repeating
group dari tabel yang tidak normal, yaitu:
a) memasukkan data yang tepat dikolom yang kosong dari
baris yang mengandung data berulang,
b) menempatkan data berulang bersama salinan atribut
kunci pada hubungan yang terpisah. Sebuah primary
key diidentifikasi kehubungan yang baru (Connolly &
Begg, 2010, p. 430).
c. Second Normal Form (2NF)
Sebuah hubungan yang berada pada 1NF dan setiap
atribut yang bukan primary key berfungsi secara penuh
bergantung pada primary key-nya (Connolly & Begg, 2010,
p. 434).
d. Third Normal Form (3NF)
Sebuah hubungan yang berada pada 1NF dan 2NF,
dan tidak ada atribut yang bukan primary key secara
langsung bergantung pada primary key-nya (Connolly &
Begg, 2010, p. 435).
2.2. Pemahaman Objek Studi
Pemahaman objek studi akan dibagi menjadi 4 bagian antara lain: sistem
produksi, pembelian, persediaan, dan penjualan.
2.2.1. Sistem Produksi
Produksi adalah proses yang dilakukan untuk menghasilkan barang dan jasa.
Sistem produksi merupakan kumpulan dari sub sistem yang saling berinteraksi dengan
tujuan mengubah input produksi menjadi output produksi. Dalam sistem produksi sendiri
35
ada proses-proses yang saling mendukung seperti, sistem pembelian, sistem penjualan,
dan sistem persediaan.
Tabel 2. 1 Sistem Produksi
Seperti yang ditampilkan di gambar di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak
ada output tanpa input dan proses produksi. Input meliputi tenaga kerja, modal,
material, energi, tanah, informasi, dan manajerial.
Pada sistem produksi dapat penulis jelaskan lebih lengkap dengan gambar di
bawah ini.
Tabel 2. 2 Sistem Produksi (detail)
2.2.2. Sistem
Pembelian
Suatu proses yang mendukung proses penjualan, tanpa adanya proses pembelian
maka tidak ada proses produksi barang yang akan dijual.
2.2.2.1. Fungsi yang terkait dalam Pembelian
Berikut fungsi-fungsi yang terkait dalam pembelian.
1. Fungsi gudang
Fungsi gudang bertanggung jawab untuk mengajukan permintaan
pembelian sesuai dengan persediaan barang digudang.
2. Fungsi pembelian
36
Fungsi ini bertanggung jawab untuk memperoleh informasi mengenai
barang, mementukan pemasok yang dipilih dalam pengadaan barang dan
mengeluarkan order pembelian kepada pemasok yang dipilih.
3. Fungsi penerimaan
Fungsi ini bertanggung jawab untuk memeriksa jenis, mutu dan kuantitas
barang yang diterima.
4. Fungsi akuntansi
Fungsinya adalah melakukan pencatatan terhadap utang dan fungsi
pencatatan persediaan.
2.2.2.2. Jaringan Prosedur yang Membentuk Sistem Pembelian
Prosedur-prosedur yang membentuk sistem pembelian antara lain:
1. prosedur permintan pembelian,
2. prosedur permintaan penawaran harga dan pemilih pemasok,
3. prosedur order pembelian,
4. prosedur penerimaan barang,
5. prosedur pencatatan utang,
6. prosedur distribusi pembelian.
2.2.2.3. Dokumen pada Sistem Pembelian
Dokumen-dokumen yang ada pada sistem pembelian antara lain:
1. surat permintaan pembelian,
2. surat permintaan penawaran harga,
3. surat order pembelian,
4. laporan penerimaan barang,
5. surat perubahan order,
6. bukti kas keluar.
2.2.3. Sistem Persediaan
37
Persediaan dalam kata lain bisa disebut sebagai sumber daya yang belum dipakai.
Sumber daya ini belom digunakan karena menunggu proses lebih lanjut seperti kegiatan
produksi.
2.2.3.1. Fungsi yang terkait Sistem Persediaan
Fungsi utama persediaan yaitu sebagai penyangga, penghubung antar proses
produksi dengan proses distribusi untuk memperoleh efisiensi. Persediaan dapat
dikategorikan berdasarkan fungsinya.
1. Persedian dalam lot size
Persediaan
muncul
karena
adanya
persediaan
ekonomis
untuk
penyediaan. Penyediaan dalam lot yang besar akan lebih ekonomis.
2. Persediaan cadangan
Permintaan konsumen terkadang disertai kesalahan-peramalan. Dalam
artian tidak sesuai dengan stock barang yang tersedia. Oleh karena itu,
ada persediaan cadangan untuk mencegah kekurangan dari permintaan.
3. Persediaan antisipasi
Persediaan yang timbul untuk mencegah sesuatu yang tidak dinginkan
seperti terjadinya penurunan persediaan dan peningkatan permintaan.
Untuk menjaga persediaan barang ke konsumen dalam rangka libur
karyawan atau hal-hal yang tidak dinginkan seperti huru hara dan lainlain.
4. Persediaan pipeline
Persediaan pipeline adalah persediaan setengah jadi dan persediaan
transportasi. Persediaan pipeline merupakan total investasi perubahan
dan harus dikendalikan.
5. Persediaan lebih
Persediaan yang tidak dapat digunakan karena kelebihan atau kerusakan
fisik yang terjadi.
38
2.2.3.2. Jaringan Prosedur yang Membentuk Sistem Persediaan
Prosedur yang akan dilakukan dalam membentuk sistem persediaan
antara lain:
1. prosedur pencataan barang jadi,
2. prosedur pencatatan harga pokok produk jadi yang dijual,
3. prosedur pencatatan harga pokok produk jadi yang dikembalikan oleh
pembeli,
4. prosedur pencatatan tambahan dan penyesuain kembali harga pokok
persediaan produk dalam proses,
5. prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dibeli,
6. prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dikembalikan kepada
pemasok,
7. prosedur permintaan dan pengeluaran barang gudang,
8. prosedur pencatatan
tambahan
harga
pokok
persediaan
karean
pengembalian barang gudang,
9. sistem perhitungan fisik persediaan.
2.2.3.3. Dokumen pada Sistem Persediaan
Dokumen-dokumen yang ada pada sistem persediaan antara lain:
1. kartu perhitungan fisik,
2. daftar hasil perhitungan fisik,
3. bukti memorial.
2.2.4. Sistem Penjualan
Suatu kesatuan proses yang saling mendukung dalam usahanya untuk memenuhi
kebutuhan pembeli dan bersama–sama mendapatkan kepuasan dan keuntungan.
2.2.4.1. Fungsi yang terkait Sistem Penjualan
39
1. Bagian penjualan
Bagian ini menerima pesanan dari pembeli, mengedit pesanan dan
meminta persetujuan dari bagian keuangan.
2. Bagian gudang atau pengiriman
Bagian ini bertugas untuk menyimpan barang yang belum dikirim dan
mengirim barang atas dasar pesanan.
3. Bagian penagihan
Bagian ini membuat faktur untuk di berikan kepada pembeli dan nanti
diserhakan ke bagian akuntasi.
4. Bagian akuntansi
Bagian ini bertujuan untuk membuat pembukuan ke dalam jurnal
penjualan dan secara periodik membukukan ke dalam rekening buku besar.
2.2.4.2. Jaringan Prosedur yang Membentuk Sistem Penjualan
Berikut
merupakan
prosedur-prosedur
yang
membentuk
sistem
penjualan.
1. Prosedur order penjualan
Fungsi penjulaan menerima order dari pembeli dan membuat faktur
penjualan tunai supaya pembeli dapat melakukan pembayaran barang.
2. Prosedur penerimaan kas
Fungsi kas menerima pembayaran harga barang dari pembeli dan
memberikan tanda pembayaran kepada pembeli.
3. Prosedur penyerahan barang
Dalam prosedur ini yang akan menyerahkan barang ke pembeli.
4. Prosedur pencatatan penjualan tunai
40
Fungsi akuntasi melakukan pencatatan transaksi penjualan tunai dalam
jurnal penjualan dan jurnal penerimaan kas.
5. Prosedur penyetoran kas ke bank
Fungsi kas meyetorkan kas yang diterima dari penjualan tunai ke bank
dalam jumlah penuh.
6. Prosedur pencatatan penerimaan kas
Fungsi akuntasi melakukan pencatatan penerimaan kas ke dalam jurnal
penerimaan kas berdasarkan bukti setor bank yang diterima dari bank
melalui fungsi kas.
7. Prosedur pencatatan harga pokok penjualan
Fungsi
akuntasi
membuat
rekapitulasi
harga
pokok
penjualan
berdasarkan data yang dicatat dalam kartu persediaan.
2.2.4.3. Dokumen pada Sistem Penjualan
Berikut merupakan dokumen-dokumen pada sistem penjualan.
1. Faktur penjualan tunai
Dokumen yang digunakan untuk merekam berbagai informasi yang
diperlukan manajemen mengenai transaksi penjualaan tunai.
2. Pita kas register
Dokumen ini dihasilkan oleh fungsi kas dengan cara mengoperasikan
mesin register kas, merupakan bukti penerimaan kas yang dikeluarkan
oleh fungsi kas dan merupakan pendukung faktur penjualan tunai yang
dicatat dalam jurnal penjualan.
3. Bill of lading
Dokumen ini digunakan oleh fungsi pengiriman dalam penjuaan COD
(Cash On Delivery) yang penyerahaan barangnya dilakukan oleh
perusahaan angkutan umum.
41
4. Faktur penjualan COD (Cash On Delivery)
Dokumen ini digunakan merekam penjualan COD. Tembusan faktur
diserahkan kepada customer melalui bagian angkutan umum.
5. Bukti setoran bank
Dokumen ini dibuat oleh fungsi kas sebagai bukti penyertoran kas ke
bank. Bukti setor dibuat tiga lembar dan diserhakan oleh fungsi kas ke
bank.
6. Rekapitulasi harga pokok penjualan
Dokumen ini digunakan oleh fungsi akuntansi untuk meringkas harga
pokok produk yang dijual selama satu periode.
2.3. Tools yang Digunakan
Berikut merupakan penjelasan tentang alat-alat yang digunakan dalam
pembuatan sistem ini.
2.3.1. Diagram Tools
Alat-alat yang digunakan untuk merancang sistem basis data ada 4, yaitu Entity
Relationship Diagram (ERD), Data Flow Diagram (DFD), dan flowchart.
2.3.1.1. Entity Relationship Diagram (ERD)
Entity Relationship Diagram (ERD) digunakan untuk menggambarkan
hubungan antara satu entitas dengan entitas yang lain. (Connolly & Begg, 2010, p.
473)
2.3.1.2. Data Flow Diagram (DFD)
42
Data Flow Diagram (DFD) adalah sistem model grafik yang menampilkan
semua kebutuhan sistem informasi dalam satu diagram. Ada input, output, process,
dan data storage (Satzinger, Jackson, & Burd, 2009, p. 206).
2.3.1.3. State Transition Diagram (STD)
State Transition Diagram (STD) adalah suatu alat yang digunakan untuk
memodelkan penggambaran urutan dan variasi layar yang terjadi dalam sesi
pengguna. (Whitten, Jeffery, Lonnie, Dittman, & Kevin, 2004, p. 673)
2.3.1.4. Flowchart
Flowchart adalah gambaran terpisah dari tahap-tahap proses yang berurutan.
Flowchart digunakan saat ingin mengembangkan dan menyampaikan pemahaman
tentang bagaimana proses diselesaikan, untuk mempelajari proses untuk perbaikan,
untuk mendokumentasikan proses, dan ketika merencanakan suatu proyek (ASQ,
2014).
Elemen-elemen yang dimiliki oleh Flowchart antara lain:
1. sequence of actions,
2. inputs and outputs,
3. decisions,
4. people who become involved,
5. time involved at each step and/ or process measurement
2.3.2. Software Tools
Berikut akan dijelaskan tentang perangkat lunak yang digunakan dalam
pembuatan aplikasi ini.
2.3.2.1. PHP
Bahasa PHP adalah perwakilan dari proyek open source yang bersifat
stereotip, Diciptakan untuk menggabungkan kebutuhan lain yang belum terpenuhi dan
43
yang belum disempurnakan dari waktu ke waktu untuk menemukan kebutuhan
masyarakat yang berkembang (Gilmore, 2010, p. 1).
PHP diciptakan pada tahun 1995 oleh seorang pengembang software bernama
Rasmus Ledrof membangun Perl/CGI script yang memungkinkan beliau untuk
melihat orang yang melihat resume online-nya.
2.3.2.2. PHP MyAdmin
Merupakan software gratis yang berbasis PHP, yang digunakan untuk
menangani administrasi dari MySQL melalui web. phpMyAdmin mendukung
berbagai operasi yang sering digunakan bisa dilakukan melalui user interface,
sementara user masih memiliki kemampuan untuk menajalakan semua statement
SQL secara langsung (phpMyAdmin, 2013).
2.3.2.3. SQL
SQL adalah bahasa standar international untuk menangani data di dalam
database relasional. Dikembangkan oleh IBM, SQL menjadi bahasa standar
international pada tahun 1986. Kemudian diperbaharui pada tahun 1989, 1992, 1999,
2003 dan terakhir pada tahun 2008. SQL terus menerus berkembang hingga saat ini
(Taylor, 2011, p. 1).
SQL khusus dirancang untuk menangani data di database relasional. Tugastugas yang dapat dilakukan oleh SQL antara lain:
1. membuat database, termasuk table dan hubungannya,
2. mengisi table dengan data,
3. mengganti data di dalam table,
4. menghapus data di dalam table,
5. memberi dan mencabut akses ke table,
6. melindungi database dari kerusakan karena konflik saat akses atau
kesalahan user.
44
2.3.2.4. MySQL
MySQL adalah database open source yang paling terkenal. MySQL
memungkinkan penyampaian yang cost-efficient yang dapat diandalkan, dengan
kinerja yang tinggi, dan scalable dari aplikasi berbasis web dan embedded database
(Oracle, 2013).
2.4. Teori Pendukung
2.4.1. 8 Aturan Emas
Dalam merancang antarmuka user teradapat 8 aturan emas (Eight Golden Rules)
sebagai berikut (Shneiderman, 2010, p. 74).
2.4.1.1.1. Berusaha untuk konsisten
Konsistensi dilakukan pada urutan perintah, tindakan, dan istilah yang
digunakan pada prompt, menu serta layar bantuan. Buatlaha agar user
dapat mengetahui apa yang harus dilakukan seracar iuntuisi karean
mereka sudah melihat situasi yang sama pada antar muka sebelumnya.
2.4.1.1.2. Adanya shortcut
Memberikan user shortcut untuk informasi yang dibutuhkan, supaya
user tidak bekerja terlalu keras. Cara untuk memaksimalkan kecepatan
interaksi bisa melalui singkatan, simbol/icon, atau menggunakan
menu yang sudah disiapkan pada halaman awal.
2.4.1.1.3. Memberikan umpan balik yang informatif
Untuk setiap tindakan yang diambil pada sistem harus selalu ada
umpan balik, baik ataupun buruk. Untuk tindakan yang sering
digunakan atau tidak terlalu penting dapat diberikan umpan balik yang
sederahana, sedangkan untuk hal yang penting dapat diberikan umpan
balik yang lebih substansial.
2.4.1.1.4. Merancang dialog untuk menghasilkan suatu penutupan
Merancang dialog untuk menghasilkan suatu penutupan akhir dari
suatu proses. Urutan tindakan sebaiknya diorganisir dalam suatu
kelompok dengan bagian awal, tengah dan akhir. Desain langkahlangkah yang harus dikakukan agar user dapat menyelesaikan suatu
aksi.
45
2.4.1.1.5. Mencegah kesalahan
Sebaiknya sistem dirancang agar user tidak dapat melakukan
kesalahan fatal. Sistem dapat mendeteksi kesalahan dengan cepat dan
memberikan mekanisme sederhana dan mudah dipahami oleh user
2.4.1.1.6. Memungkinkan pembalik aksi yang mudah.
Mengurangi kekuatiran user karena user mengetahui kesalahan yang
dilakukan dapat dibatalkan, sehingga user tidak takut untuk
mengeksplorasi pilihan-pilihan yang belum digunakan.
2.4.1.1.7. Dukungan internal dari tempat kendali
Membuat user sebagai pemegang kendali, bukan sistem yang
mengendalikan user. Rancang antarmuka sedemikan rupa sehingga
user menjadi inisiator bukan menjadi responden. User dapat bebas
bernavigasi sesuai dengan keinginannya.
2.4.1.1.8. Mengurangi beban ingatan jangka pendek
Rancanglah
tampilan
atarmuka
sesederhana
mungkin
tetapi
dimengerti oleh user. Dengan tampilan antarmuka yang simple dan
menarik dapat membantu user untu mengurangi beban ingtan jangka
pendek, sehingga tidak perlu mengingat terlalu banyak perintah.
2.4.2. CSS
Merupakan aturan untuk mengedalikan beberapa komponen dalam sebuah web
sehingga akan lebih lebih terstruktur dan seragam. Pada umumnya CSS dipakai untuk
memformat tampilan halaman web yang dibuat dengan bahasa HTML dan XHTML.
Tujuan CSS adalah menyediakan bahasa styling deklaratif yang fleksibel. CSS
meyediakan kemampuan untuk styling dan cascade. (Meyer, 2012, p. 1).
2.4.3. jQuery
jQuery merupakan suatu framework (library) javascript yang menekankan
interaksi anatara Javascript dan HTML. jQuery merupakan library open source dengan
lisensi GNU General Public License dan MIT License. Framework jQuery sunguh
ramping hanya sekitar 20KB dan hanya terdiri dari 1 file. Jika menginginkan fungsi
46
lebih, jQuery memungkinkan penambahan fungsionalitas dalam bentuk plug in. (Chaffer
& Swedberg, 2011).
2.5. Hasil Rancangan Sistem Basis Data Yang Serupa
Pada pembuatan sistem basis data ini, diperlukan rancangan-rancangan yang
telah dibuat sebelumnya untuk membandingkan dan menganalisis apa saja yang
diperlukan agar pembuatan sistem basis data kali ini menjadi lebih baik daripada
rancangan-rancangan yang telah dibuat sebelumnya.
Analisis yang dilihat pada rancangan sebelumnya harus mengetahui apa saja
yang menjadi kelebihan dan kekurangannya sehingga dapat menjadi pertimbangan
dalam merancang sistem basis data pada PT. Tritunggal Adikarya Teknik. Dengan
adanya analisis pada rancangan sebelumnya juga dapat menjadi alat pendukung untuk
pembuatan sistem basis data ini.
2.5.1. Sistem Basis Data Manajemen Proses Produksi pada PT. Timah Industri
Pada buku jurnal yang dibuat oleh Rizki Fiqarun Nisa (2014) mengatakan bahwa
setiap perusahaan harus dapat mengolah datanya dengan cepat dan akurat. Dalam
menggunakan teknologi informasi pada suatu perusahaan akan membuat dampak yang
signifikan dan positif terhadap perusahaan yang sedang berkembang. Pada basis data di
Indonesia kali ini sudah cukup terkenal sehingga basis data banyak sekali digunakan
pada perusahaan baik dalam skala kecil maupun skala besar. Dengan adanya sistem basis
data, kelalaian manusia dapat berkurang dan kerusakan data-data dapat dicegah dan
diminimalisir.
PT. Timah Industri merupakan salah satu produsen dan pengekspor timah
terbesar di dunia. Perusahaan ini mengembangkan logam timah yang diolah menjadi
Methyltin PVC (polyvinyl clorida) Heat Stabilizer dalam campuran pembuatan PVC.
Pada saat itu PT. Timah Industri memiliki sistem yang masih manual dan perlu
dikembangkan agar tercipta sistem kerja yang lebih efektif dan efisien. Salah satu
kendala yang dialami adalah laporan produksi karena diperlukan 1 sampai 2 minggu
dalam membuat laporan produksi setelah proses produksi selesai sehingga laporan yang
47
sampai pada pihak Perencanaan dan Pengendalian Produksi tidak sesuai dengan waktu
yang diharapkan.
Masalah lain yang dihadapi oleh PT. Timah Industri adalah persediaan bahan
baku untuk kebutuhan produksi produk. Kegiatan produksi menjadi terhambat karena
pengelolahan data bahan baku tidak baik.
Oleh karena itu, diperlukan solusi yang tepat demi terjawabnya perumusan
masalah yang terjadi pada PT. Timah Industri.
Kesamaan yang terjadi antara masalah pada PT. Timah Industri dengan PT.
Tritunggal Adikarya Teknik adalah sistem yang berlum terintegrasi dengan baik. Pada
PT. Timah Industri sistem yang berjalan secara manual, sistem basis data pada
perusahaan tersebut belum digunakan pada saat itu, sehingga data-data yang disimpan
masih belum terintergrasi dengan baik. Begitu pula dengan PT. Tritunggal Adikarya
Teknik, walaupun sistem yang berjalan sudah baik tetapi data-data yang tersimpan
belum terintegrasi, sehingga sistem kerja menjadi kurang efektif, kurang efisien, dan
waktu produktifitas menjadi lambat.
Kelebihan aplikasi yang telah dibuat untuk PT. Timah Industri adalah memiliki
hak akses yang berbeda-beda sehingga setiap user. Lalu user interface pada aplikasi PT.
Timah Industri ini juga sangat mudah untuk digunakan. Navigasi pada aplikasi tersebut
juga sangat mudah untuk diketahui dimana posisi halaman user berada. Sesuai dengan 8
aturan emas (8 golden rules) dalam design user interface, aplikasi yang dirancang juga
sangat konsisten. Menu bar dan header pada setiap user yang hak aksesnya berbeda,
letak-letaknya sama dan tidak berubah.
2.5.2. Analisis dan Perancangan Sistem Basis Data Produksi dan Penjualan pada
PT. Sawit Riau Makmur
Menurut Arief Surjono. (2013), perkembangan tentang konsep basis data
muncul dan berkembang seiring adanya kebutuhan pengelolahan data untuk
memenuhi kebutuhan informasi. Basis data saat ini diperlukan oleh perusahaan
hingga industri besar untuk mempermudah proses pengelolahan data yang besar.
48
PT. Sawit Riau Makmur merupakan perusahaan yang bergerak dibidang
pengelolahan Tandan Buah Sawit (TBS) yang menghasilkan Crude Palm Oil (CPO)
dan Palm Kernel (PK). Pada PT. Sawit Riau ini memerlukan sistem basis data yang
baru karena sistem yang lama tidak dapat mengelolah data dalam skala besar dalam
mengontrol setiap perkembangan yang terjadi dalam perusahaan.
Sistem yang digunakan pada saat itu ialah menggunakan excel dan access. Hal
ini membuat kinerja perusahaan PT. Riau Sawit Makmur kurang efisien karena
pengontrolan terhadap laporan sulit dikontrol secara real time. Begitu juga laporan
hasil pengelolahan minyak setiap harinya dari pabrik yang kadang terhambat karena
sistem kerja divisi produksi yang lambat.
Masalah yang terjadi pada PT. Sawit Riau Makmur memerlukan suatu solusi
atas perumusan masalah yang didapat. Solusi itu adalah merancang sistem basis data
dan aplikasinya agar sistem kerja di PT. Sawit Riau Makmur dapat lebih cepat dan
efektif.
Kesamaan masalah yang terjadi antara PT. Sawit Riau Makmur dengan PT.
Tritunggal Adikarya Teknik adalah penggunaan sistem lama yang kurang efektif
seperti excel dan access. Hal ini membuat penyimpanan data-data menjadi terpisah
dan bisa menimbulkan duplikasi data akibat human error. Data-data yang ada saat
menggunakan sistem lama belum terintegrasi karena masalah pada PT. Sawit Riau
Makmur yang mana bagian direktur harus menunggu laporan dari divisi penjualan.
Kelebihan yang ada pada aplikasi PT. Sawit Riau Makmur adalah tampilan
yang simpel sehingga bagi user yang ingin menggunakannya, dapat mudah
mempelajari fitur-fitur yang ada pada aplikasi tersebut. Lalu dalam setiap mengakses
halamannya, aplikasi ini juga diberikan fitur hak akses.
2.5.3. Merancang Sistem Basis Data Produksi, Penjualan, Pembelian, dan
persediaan PT. Shansco Gunakarya Piranti
Perkembangan teknologi informasi yang pesat membuat segala aspek kegiatan
kehidupan mulai berlomba untuk menggunakan teknologi yang canggih, seperti salah
satunya dalam dunia bisnis. Seiring perkembagan teknologi, persaingan dunia bisnis juga
49
semakin kuat. Dalam mengiringi persaingan yang kuat, perusahaan tentu memerlukan
sebuah informasi yang cepat, tepat, dan akurat untuk menjamin segala informasi yang
dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Teknologi yang sudah banyak dibuat
oleh perusahaan hingga saat ini yaitu sebuah sistem berbasis data.
PT. Shasco Gunakarya Piranti adalah sebuah perusahaan dagang yang bergerak
di bidang manufakturing. Perusahaan ini membuat produk-produk sesuai pesanan
customer, seperti contohnya: rak supermarket, cook ware, automotive parts, dan tabung
gas 3 kg. PT. Shasco Gunakarya Piranti ini menganggap bahwa teknologi sangat penting
dalam persaingan dunia bisnis.
PT. Shasco Gunakarya Piranti memiliki kesulitan dalam mencari bahan baku yang
mengakibatkan terhambatnya proses produksi dan pengiriman ke customer. Lalu faktor
human error juga masih menjadi masalah bagi perusahaan ini. Dalam pencatatan
transaksi, apabila terjadi kesalahan maka akan menghambat proses produksi. Oleh
karena itu, diperlukan sebuah sistem basis data untuk memenuhi kebutuhan proses
kegiatan produksi.
Kesamaan PT. Shasco Gunakarya Piranti dengan PT. Tritunggal Adikarya
Teknik adalah kegiatan proses produksi yang pembuatan produknya berdasarkan pada
pemesanan customer. Aplikasi yang dibuat untuk PT. Shasco Gunakarya Piranti
memiliki user interface yang menarik dan juga mudah untuk digunakan.
50
Download