PROPOSAL KULIAH LAPANGAN
“ TIPOLOGI MASYARAKAT DESA SUMBER PANG KIDUL”
SEMESTER GENAP 2014
Oleh:
1.
Chaterina Ervita P (135120107111029)
2.
Lia Anggraeni (135120101111047)
3.
Muhammad Faris (135120101111023)
4.
Nisfal Desmianda (135120101111059)
5.
Rendi Irfan P (135120101111027)
6.
Zeniarti (130120107111007)
7.
Zulfa Nuraini (135120107111037)
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLTIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Manusia secara umum disebut sebagai makhluk sosial, artinya setiap individu
tidak ada yang dapat hidup tanpa individu lain. Karena itu setiap individu perlu
berinteraksi dengan individu lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai
makhluk sosial. Interaksi yang dibangun oleh individu-individu itulah yang
menjadi faktor terbentuknya masyarakat.
Dalam sebuah masyarakat terdapat kebudayaan yang berkembang secara
alami. Karena masyarakat adalah orang yang hidup bersama dan saling berinterksi
sehingga menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian hampir dapat dipastikan
tak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan. Budaya yang dimaksud
adalah hasil karya manusia yang menjadi kebiasaan dan memunculkan suatu
tradisi. Dimana kebiasaan itu secara tidak langsung menimbulkan interaksi karena
adanya dorongan dari diri sendiri yang memunculkan rasa solidaritas antar
masyarakat.
Menurut ilmu antropologi, kebudayaan merupakan keseluruhan sistem
gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat
yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.1 Oleh karena itu, tindakan
manusia termasuk dalam kebudayaan, karena tindakan manusia dalam kehidupan
masyarakat didasarkan pada naluri maupun refleks. Seperti misalnya cara
berjalan, makan, berbicara seseorang bisa berubah dari suatu waktu atau terombak
karena tindakan kebudayaan. Adapun juga kebudayaan berasal dari bahasa asing,
yaitu colere yang berarti mengolah, mengerjakan.2 Dari situ, dapat dicontohkan
kebudayaan gotong royong yang dimana masyarakat ikut berpartisipasi dalam
kegiatan gotong royong entah itu mengerjakan bangunan ataupun mengolah SDA
di suatu kelompok. Dalam proses gotong royong akan membutuhkan interaksi
1
Koentjaraningrat, Pengantar ilmu antropologi, 1990: 180
2
Koentjaraningrat, Pengantar ilmu antropologi, 1990: 182
antar anggotanya. Interaksi dalam kegiatan gotong-royong ini timbul karena
dorongan dari diri masing-masing anggota masyarakat, maksudnya yaitu
dorongan seperti seorang anggota yang melihat anggota lainnya sedang menolong,
maka anggota lainya akan mempunyai dorongan dalam dirinya untuk ikut
membantu anggota yang lainnya, begitu pula yang terjadi pada diri setiap anggota
tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebudayaan yang ada dalam
masyarakat dapat memunculkan rasa solidaritas diantara masyarakat maupun
suatu kelompok tersebut.
Solidaritas menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan
kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut
bersama. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti ingin menentukan tipologi
masyarakat di Dusun Sumber Pang Kidul, Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir,
Kabupaten malang menurut teori Emile Durkheim dan Ferdinand Tonnies.
Menurut Emile durkheimmasyarakat dibagi menjadi dua yaitu masyarakat organis
dan masyarakat mekanis dan Menurut teori Ferdinand Tonnies, masyarakat dibagi
menjadi dua, yaitu gemeinschaft dan gesselschaft. Dalam masyarakat organis
sifatnya cenderung individualis dan heterogen. Jika disangkutpautkan dengan
kebudayaan, masyarakat organis cenderung bersolidaritas rendah karena mereka
tidak terlalu peduli apa yang menjadi urusan bersama. Sedangkan dalam
masyarakat mekanis, masyarakat cenderung homogen dan memiliki solidaritas
yang tinggi karena mereka mempunyai dorongan yang kuat dari diri sendiri untuk
ikut serta dalam kebudayaan yang menjadi identitas dalam wilayah tersebut.
Dalam masyarakat gemeinschaft menurut Tonnies, masyarakat tersebut
didasarkan pada ikatan darah, tempat tinggal dan pikiran yang sama. Dalam
kebudayaan yang ada dalam suatu wilayah terjadi suatu keterikatan yang kuat
antara ikatan darah, tempat tinggal dan pikiran yang sama, jadi mau tidak mau
dorongan untuk saling bersolidaritas terjadi secara alami.Pada masyarakat
Gesselschaft, keikutsertaan mereka pada kebudayaan dalam suatu wilayah terjadi
karena adanya suatu perjanjian.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam proposal ini, diajukan dua masalah sebagai bahan untuk
mengidentifikasi dan menganalisis dengan tujuan penentuan tipe masyarakat.
1. Bagaimana tingkat solidaritas sosial masyarakat di desa Sumber Pang
Kidul?
2. Bagaimana perubahan sosial masyarakat di Desa Sumber Pang Kidul?
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mentipologikan masyarakat, terutama di Desa Sumber Pang Kidul.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis, untuk mengembangkan kemampuan mengamati dan
sebagai penerapan berbagai teori yang sudah dipelajari selama dalam
masa perkuliahan.
2. Agar masyarakat umum dapat mengetahui tentang tipe-tipe masyarakat
pedesaan.
3. menambah wawasan pembaca terhadap perilaku masyarakat setelah di
tipologikan, penelitian ini juga bermanfaat sebagai kajian sosial.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Dalam sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh mahasiswa
Universitas Airlangga yang berjudul “ Tipologi Sosial Desa Wonosalam “ tahun
2012.3 Hasil penelitian tersebut memfokuskan pada teori Durkheim yaitu
membagi dua kelompok masyarakat ke dalam solidaritas mekanis dan organis.
Penelitian ini menyimpulkan tipe masyarakat Desa Wonosalam adalah solidaritas
mekanis. Hal ini dapat dilihat dari masyarakat Desa Panglungan yang saling
mengenal satu sama lain dengan tujuan bersilaturahmi antar tetangga. Solidaritas
mekanis yang terlihat dari masyarakat ini dapat dilihat dari tingginya tingkat
kepedulian masyarakat yang saling membantu apabila ada tetangga yang sakit,
meninggal, dan terkena musibah dan bantuan tersebut kebanyakan berupa uang
dan tenaga. Solidaritas lain yang mereka tunjukan yaitu dengan membantu jika
ada anggota masyarakat lain bila sedang ada hajatan seperti hajatan manten,
hajatan sunatan dan lain-lain. Untuk hajatan seperti itu mereka biasanya
memberikan sumbangan berupa uang, beras, gula, mie dan barang (kado).
No
Kategori
Frekuensi
%
1.
Rendah
0
0
2.
Sedang
8
8
3.
Tinggi
92
92
100
100
Jumlah
( Tingkat Solidaritas Sosial Masyarakat Desa Wonosalam )
Selain
menggunakan
teori
dari
Durkheim,
penelitian
ini
juga
menggunakan teori dari Tonnis. Dimana teori Tonnis ini tipe masyarakat dibagi
3
Penelitian kelompok 3 fisip Unair, Rizka Ramadhani, dkk, diakses pada tanggal 04/04/2014,
pukul 11.50 wib
menjadi dua yaitu Gemeinschaft dan Gesellschaft. Berdasarkan tingkat solidaritas
sosial dapat diketahui bahwa masyarakat Desa Wonosalam masuk ke dalam tipe
Gemeinschaft. Terlihat dari kepentingan bersama lebih diutamakan ketika
tetangga mengalami musibah. Selain itu juga terlihat dari kepercayaan
tertentu secara turun menurun yang dikuasai masyarakat setempat.
Dengan melihat hasil dari penelitian yang telah dilakukan ini maka dapat
disimpulkan bahwa tradisi dan kebudayaan yang dilakukan masyarakat Desa
Panglungan masih tergolong masyarakat tradisional. Hal ini dapat dilihat dari
masih terpeliharanya sebagian besar tradisi masyarakat setempat antara lain
upacara kehamilan, upacara kelahiran, upacara pengantin, upacara kematian masih
sangat terpelihara dan tetapdilaksanakan guna menjaga tradisi yang merupakan
warisan dari leluhur mereka. Selain itu alasan masyarakat desa Panglungan masih
menjaga tradisi yang ada adalah untuk mendapat barokah dan keselamatan atau
dengan kata lain untuk menolak dan menghindar dari mala petaka oleh suatu
kekuatan yang mengendalikan alam ini. Selain itu dapat disimpulkan bahwa
masyarakat desa Panglungan tergolong dalam tipe masyarakat Gemeinschaft.
Kesamaa penelittian kami dengan penelitian desa wonosalam adalah kami
juga menggunakan metode kuantitatif untuk mengukur tipologi masyarakat desa
sumberpang kidul. Dengan menggunakan kuisioner dan wawancara sebagai
instrumen penelitian, kami akan mendapatkan data kuantitatif yang dapat
digunakan untuk mengukur typologi masyarakat desa sumberpang kidul.
2.2 Landasan Teori
2.2.1Teori menurut emile durkheim
a. Solidaritas mekanis
solidaritas yang muncul pada masyarakat yang masih sederhana dan diikat
oleh kesadaran kolektif serta belum mengenal adanya pembagian kerja
diantara para anggota kelompok. Biasanya disebut dengan masyarakat
pedesaan, karena masyarakat pedesaan identik dengan kesamaan. Ciri-ciri
solidaritas mekanik adalah solidaritas yang merujuk kepada ikatan sosial
yang dibangun atas kesamaan, kepercayaan dan adat bersama. Disebut
dengan mekanik itu karena orang yang hidup dalam unit keluarga suku
atau kota relatif dapat berdiri sendiri dan juga memenuhi semua kebutuhan
hidup tanpa tergantung pada kelompok-kelompok lain.
b. Solidaritas organik
solidaritas yang mengikat masyarakat yang sudah kompleks dan telah
mengenal pembagian kerja yang teratur sehingga disatukan oleh saling
ketergantungan antar anggota. Biasanya terdapat pada masyarakat
perkotaan. Yang artinya suatu keberadaan. Solidaritas organik terjadi
karena masing-masing memunculkan adanya suatu perbedaan. Tetapi
perbedaan tersebut saling berinteraksi dan membentuk suatu ikatan yang
sifatnya tergantung. Solidaritas organik prinsipnya yaitu bahwa setiap
individu dan individu lain itu sangat tergantung dalam artian tidak bisa
lepas. Ciri-ciri solidaritas organik adalah menguraikan tatanan sosial
berdasarkan perbedaan individual diantara rakyat, yang merupakan ciri
dari masyarakat modern, khususnya yaitu daerah perkotaan. Bersandar
pada pembagian kerja yang rumit dan didalamnya orang terspesialisasi
dalam pekerjaan yang berbeda-beda.
2.2.2 teori menurut Ferdinand tonnies
a. masyarakat paguyuban (gemeinschaft)
Sebagai sesuatu yang kontras, menandakan terhadap perubahan yang
berkembang, berperilaku rasional dalam suatu individu dalam kesehariannya,
hubungan individu yang bersifat superficial (lemah, rendah, dangkal), tidak
menyangkut orang tertentu, dan sering kali antar individu tak mengenal,
seperti tergambar dalam dalam berkurangnya peran dan bagian dalam tataran
nilai, latar belakang, norma dan sikap, bahkan peran pekerja tidak
terakomodasi dengan baik seiring dengan bertambahnya arus urbanisasi dan
migrasi juga mobilisasi.4
Cirri-ciri masyarakat gemeinschaft
1. Kehendak bersama lebih dominan
2. Mengedepankan anggota lebih keseluruhan
3. Kepentingan bersama lebih mengedepankan
b. masyarakat patembayan (Gesellschaft)
Patembayan (Gesellschaft) merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok
untuk jangka waktu yang pendek bersifat sebagai suatu bentuk dalam
pikiran belaka serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat
diumpamakan dengan sebuah mesin. Bentuk patembayan terutama
terdapat di dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal
balik misalnya ikatan antarpedagang, organisasi pegawai dalam suatu
pabrik atau industri. Bentuk organisasi sosial ini adalah yang paling cocok
untuk menjelaskan penerapan teori penetrasi sosial, dimana hubungan
timbal balik, percampuran berbagai kepentingan pribadi atau kelompok
sangat mendasari terbentuknya hubungan.
Cirri-ciri masyarakat gesselschaft
1. kehendak indivdu lebih dominan.
2. Kepentingan pribadi lebih mengedepankan
3. Mengedepankan individu sebagai keseluruhan5
4
http://nurhidayati494.wordpress.com/2014/03/01masyarakat-menurut-emile-durkheim-dan-
ferdinand-tonnies, diakses tanggal 30 pukul 14:30 wib
5
http://lydianatalia72.blogspot.com/2011/01/gemeinschaft-dan-gesellschaft-menurut.html, tanggal
30, waktu 16:55 wib
2.3 Definisi Konseptual
2.3.1 Kebudayaan
Secara etimologis kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta
“budhayah”, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal.6
Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil
karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik
diri manusia dengan belajar.7 Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan
mempunyai tiga wujud, yaitu:8
1.
Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ideide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan
sebagainya.
2.
Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas
serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3.
Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya
manusia.
Wujud pertama diatas merupakan wujud yang ideal. Maksudnya
sifatnya abstrak, tak dapat diraba atau difoto karena wujud pertama berada
dalam pikiran masyarakat. Ide-ide dan gagasan manusia berasal dari dalam
diri masyarakat tersebut, karena ide dan gagasan akan memberi jiwa di
dalam suatu masyarakat. Gagasan ini tidak lepas satu sama lain karena
gagasan ini saling berkaitan menjadi suatu sistem.Dalam bahasa indonesia
6
Koentjaraningrat dalam Abdulsyani, Sosiologi sistematika, teori dan terapan, 2007: 45
7
Koentjaraningrat, Pengantar ilmu antropologi, 1990: 180
8
Koentjaraningrat, Pengantar ilmu antropologi, 1990: 186-187
terdapat juga istilah lain yang sangat tepat untuk menyebut wujud ideal
dari kebudayaan ini, yaitu adat, atau adat-istiadat untuk bentuk jamaknya.9
Wujud kedua dari kebudayaan disebut sistem sosial. Sistem sosial
disini yang dimaksud adalah suatu sistem tindakan yang berpola dari suatu
masyarakat. Sistem sosial ini contohnya rangkaian aktivitas dalam
masyarakat seperti gotong royong yang berinteraksi. Rangkaian aktivitas
akan membuat pola-pola yang terjadi dalam masyarakat tersebut. Sistem
sosial ini bersifat konkret karena dapat difoto, diobservasi dan terjadi
dalam kegiatan sehari-hari.
Wujud ketiga dalam kebudayaan adalah wujud fisik. Wujud fisik
inilah yang sifatnya paling konkret karena berupa seluruh total dari hasil
fisik dari aktivitas, perbuatan dan karya semua manusia.10
2.3.2 Masyarakat
Auguste Comte mengatakan bahwa masyarakat merupakan
kelompok-kelompok makhluk hidup dengan realitas-realitas baru yang
berkembang menurut hukum-hukumnya sendiri dan berkembang menurut
pola perkembangan yang tersendiri.11 Dalam masyarakat, suatu kelompok
yang memiliki unsur dan berhubungan antara satu dengan lainnya tidak
luput dari interaksi. Unsur yang meliputi termasuk interaksi individu
dengan individu lainnya sehingga terjadi keterikatan di dalam kelompok
tersebut. Keterikatan itu dapat menentukan tingkat kesolidaritasan diantara
masyarakat tersebut. Maksudnya adalah jika tingkat keterikatan rendah
maka tingkat kesolidaritas pun juga rendah, begitu sebaliknya jika tingkat
keterikatan tinggi maka tingkat kesolidaritasan pun juga tinggi. Jika
9
Koentjaraningrat, Pengantar ilmu antropologi, 1990: 187
10
Koentjaraningrat, Pengantar ilmu antropologi, 1990: 188
11
Auguste Comte dalam Abdulsyani, Sosiologi stematika, teori dan terapan, 2007: 30
keterikatan semakin kuat maka tingkat solidaritas semakin tinggi. Itu bisa
kita jumpai di daerah pedesaan yang masih terbilang masyarakat mekanis.
Dimana masyarakat mekanis itu masih kental terhadap kebudayaan
bergotong royong yang dapat membuat masyarakat yang saling terikat satu
sama lain sehingga terwujudlah solidaritas yang tinggi.
2.3.3 Solidaritas Masyarakat
Menurut Durkheim, perubahan yang terjadi adalah karena adanya
solidaritas yang didasarkan pada pembagian kerja12.Pembagian kerja
sebagai salah satu unsur terpenting dalam solidaritas, karena dalam
pembagian kerja tersebut masyarakat hidup saling bergantung dan
berhubungan. Durkheim membagi solidaritas tersebut menjadi dua
macam, yaitu solidaritas mekanis dan solidaritas organis. Solidaritas
mekanis didasarkan atas persamaan. Ciri masyarakat dengan solidaritas
mekanis ini ditandai dengan adanya kesadaran kolektif dimana mereka
mempunyai kesadaran untuk hormat pada ketaatan karena nilai-nilai
keagamaan masih sangat tinggi. Hukuman yang terjadi bersifat represif
yang dibalas dengan penghinaan terhadap kesadaran kolektif sehingga
memperkuat kekuatan diantara mereka. Pada solidaritas organis cirinya
ditandai dengan kecenderungan masyarakat yang individualis. Dan juga
masyarakat yang heterogen. Pembagian kerja pada masyarakat organis
berdasarkan adanya perjanjian dan tujuan yang sama.
12
http://tutinayati.wordpress.com/2013/03/21/gagasan-integrasi-masyarakat-emile-durkheimsolidaritas-mekanis-dan-solidaritas-organis/, diakses 04/04/2014, pukul 11.45
Variabel
Indikator
Tingkat
Kegiatan yang berlangsung
-
Jenis-jenis kegiatan
Solidaritas Sosial
di Desa
-
Intensitas kegiatan
-
Waktu kegiatan
-
Bentuk kepedulian
Kepedulian terhadap
Item
tetangga
masyarakat
-
Keadaan yang
memunculkan
kepedulian
Kesadaran kolektif
-
Komunikasi antar
tetangga
-
Ruang lingkup
mengenal antar tetangga
-
Kepercayaan antar
tetangga
Sanksi Hukum
-
Bentuk penyimpangan
-
Sanksi yang diterapkan
di desa
Keterikatan terhadap
tetangga
-
Ikatan darah
2.4 Kerangka Berfikir
MASYARAKAT
TINGKAT SOLIDARITAS
IKATAN
SOLIDARITAS
KUAT
IKATAN
SOLIDARITAS
LEMAH
MASYARAKAT
MEKANIS
MASYARAKAT
ORGANIS
Masyarakat menurut Emile Durkheim terbagi menjadi 2, yaitu masyarakat
mekanis dan organis. Masyarakat mekanis memiliki ikatan solidaritas yang kuat
dengan ciri kesadaran kolektif yang kuat, hukum represif sangat dominan, dan
tingkat individualisme rendah, berbeda jauh dengan masyarakat organis,
dimanakesadaran
kolektif
lemah,
hukum
restitutif
yang
dominan
individualitas tinggi, sehingga menyebabkan tingkat solidaritasnya rendah.
dan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Metode deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai
variabel
dengan
perbandingan.
menghubungkan
Sedangkan
metode
variabel
yang
kuantitatif
lain,
adalah
tanpa
penelitian
membuat
dengan
memperoleh data yang berbentuk angka atau data yang berbentuk kata, skema,
dan gambar yang diangkakan.
Dengan pengertian diatas maka penelitian ini menggunakan metode
deskriptif kuantitatif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif untuk
mengolah data. Data yang diperoleh dari sampel populasi penelitian dianalisis
dengan menggunakan statistik kemudian di interpretasi. Kami menggunakan
pendekatan deskriptif kuantitatif karena dapat menentukan tipe-tipe masyarakat
secara detail dengan menggunakan perbandingan angka. Karena dengan
menggunakan angka akan terlihat tipe seperti apakah yang ada di masyarakat.
Sehingga mempermudah dalam mengidentifikasi dan menganalisis rumusan
masalah.
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang dapat terdiri dari
manusia, benda-benda, hewan, tumbuhan-tumbuhan, gejala-gejala, nilai test atau
peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di
dalam suatu penelitian.13 Jadi populasi tidak terbatas pada sekelompok/kumpulan
orang-orang, namun mengacu pada seluruh ukuran, hitungan, atau kualitas yang
menjadi fokus perhatian suatu kajian. Suatu pengamatan atau survey terhadap
13
Nawawi, Metode penelitian sosial,2012: 150
seluruh anggota populasi disebut sensus. Populasi sering juga disebut universe
atau sekelompok individu atau objek yang memiliki karakteristik yang sama,
misalnya status sosial yang sama, atau objek lain yang mempunyai karakteristik
sama seperti golongan darah. Populasi dalam penelitian ini adalah warga yang
berdomisili di Desa Sumber Pang Kidul RT 20 dengan usia di atas 18 tahun
sampai 50 tahun
3.2.2 sampel
Sampel adalah sebagian, atau subset ( himpunan bagian) dari suatu
populasi. Populasi dapat berisi data yang besar sekali jumlahnya, yang
mengakibatkan tidak mungkin atau sulit untuk dilakukan pengkajian terhadap
seluruh data tersebut, sehingga pengkajian dilakukan terhadap sampelnya saja.
Namun jika pengambilan sampel dilakukan dengan mengikuti kaidah-kaidah
ilmiah, maka biasanya sangat mudah diperoleh hasil-hasil sampel yang cukup
akurat untuk menggambarkan populasi yang dilakukan dalam kajian yang
dilakukan. Sampel dalam penelitian ini adalah 41 penduduk dengan menggunakan
rumus random sampling.
3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai
dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan
memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang
representatif atau benar-benar mewakili populasi.14 Disini peneliti menggunakan
teknik random sampling.
Teknik random sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana
semua dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama diberi
kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel.15
14
15
Nawawi, Metode penelitian bidang sosial, 2012: 161
Nawawi, Metode penelitian bidang sosial, 2012: 162
Random sampling yang juga diberi istilah pengambilan sampel secara
rambang atau acak yaitu pengambilan sampel yang tanpa pilih-pilih atau tanpa
pandang bulu, didasarkan atas prinsip-prinsip matematika yang telah diuji dalam
praktek. Karenanya dipandang paling baik dalam penelitian.
Rumus Random Sampling :
=
N
[1 + N(d)2
Keterangan :
n
: Besar sampel
N
: Besar populasi
d
: Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan ( 0,5 )
3.4 Metode pengumpulan data
Disini peneliti menggunakan sumber data langsung (Primer) langsung dari
narasumber, maka dari itu kami menggunakan kuisioner sebagai instrumen
penelitian untuk pengumpulan data.
3.4.1 Kuisioner
Kuisioner adalah teknik pengumpulan data melalui daftar pertanyaan yang
diisi oleh responden sendiri.16 Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
penyusunan angket menurut Uma sekaran (dalam sugiyono 2007:163) terkait
dengan prinsip penulisan angket, prinsip pengukuran dan penampilan fisik.
Prinsip penulisan angket menyangkut beberapa faktor antara lain :
16
Muslimin, Metode penelitian di bidang sosial, 2002: 20
-
Harus ada skala yang jelas dalam pilihan jawaban jika isi pertanyaan
ditujukan untuk pengukuran
-
Bahasa
harus
disesuaikan
dengan
kemampuan
responden
(tidak
menggunakan bahasa/istilah yang sulit yang tidak dipahami oleh
responden)
-
Tipe dan pertanyaan bila menggunakan angket tertutup maka jawabannya
pilihan bila menggunakan angket terbuka maka menggunakan pertanyaaan
bebas.
3.4.2 Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan yang bertujuan untuk
mendapatkan informasi maupun pendirian responden secara lisan dan tatap muka
antara pewawancara dengan responden.17 Jenis teknik wawancara ini dapat
dibedakan atas wawancara berstruktur dan wawancara tidak berstruktur.18
1. Wawancara berstruktur
Yang dimaksud dengan teknik wawancara berstruktur adalah suatu
wawancara
yang
dilakukan
berdasarkan
kuisioner.
Kuisioner
digunakan pewawancara untuk mengkomunikasikan pertanyaanpertanyaan sebagaimana yang tertera dalam kuisioner tersebut.
2. Wawancara tidak berstruktur
Yang dimaksud dengan teknik wawancara tidak berstruktur adalah
wawancara yang berisi pokok-pokok mengenai hal yang akan
ditanyakan pada waktu wawancara berlangsung. Pedoman atau catatan
tersebut biasanya disebut pedoman wawancara. Pedoman yang
digunakan
dalam
teknik
wawancara
tidak
berstruktur
tidak
mencantumkan pertanyaan-pertanyaan lebih terperinci sebagaimana
halnya kuisioner yang digunakan pada teknik wawncara berstruktur.
17
Muslimin, metode penelitian di bidang sosial, 2002: 20
18
Muslimin, metode penelitian di bidang sosial, 2002, 21
Download

PROPOSAL KULIAH LAPANGAN new FIX