1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sungai

advertisement
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sungai merupakan ekosistem yang dinamis dengan keragaman hayati yang
tinggi. Kondisi alami sungai kian memburuk seiring dengan meningkatnya
pertumbuhan dan kebutuhan manusia. Perubahan dramatis pada kondisi biofisik
sungai yang dilakukan manusia salah satunya adalah akibat pendirian struktur
penghalang atau pembatas aliran seperti bendungan,bendung, atau groundsill.
Struktur-struktur tersebut dibangun untuk membantu manusia dalam upaya
pemanfaatan sumber daya air sungai, namun di sisi lain keberadaan struktur
penghalang tersebut memberi dampak pemutusan ruang gerak ikan dari hilir ke
hulu. Sungai sendiri merupakan zona interaksi antara aspek fisik, biologis dan
kimia dalam ekosistem lotic (ekosistem air mengalir). Perubahan yang terjadi
pada ekosistem alami sungai berpotensi menyebabkan degradasi habitat dan
menurunnya nilai keragaman hayati di sungai terkait yang mengakibatkan reaksi
berantai yang berujung pada kerusakan aspek-aspek lain dalam ekosistem tersebut
(Katopodis,1992).
Salah satu biota air yang paling sering kita temui di sungai adalah ikan.
Migrasi atau pergerakan ikan dari ekosistem air satu dengan lainnya memegang
peran penting dalam kelangsungan hidupnya. Proses migrasi ikan dapat terjadi
dalam satu jenis ekosistem (potamodromous dan oceanodromous) maupun
perpindahan antara ekosistem air tawar dan ekosistem air laut (anadromous dan
catadromous). Pergerakan ikan sendiri tidak terpaku pada alasan kebutuhan
pemijahan namun juga pemenuhan kebutuhan hidup yang lain seperti
pembentukan teritori, akses pemenuhan nutrisi, pengaruh suhu dan musim,
menghindari predator dan sebagainya. Populasi ikan sangat tergantung pada
pemenuhan proses migrasi tersebut. Adanya bangunan penghalang pada badan air
berpotensi memutus atau menghambat proses pergerakan siklus hidup ikan-ikan
lokal sehingga jumlah populasi ikan tertekan (Larinier, 2001).
1
2
Sebagai salah satu upaya merestorasi daya dukung sungai sebagai habitat
biota di dalamnya adalah dengan pembuatan akses untuk melewati bangunan air
yang ada atau disebut juga tangga ikan atau fishway. Tangga ikan merupakan
aliran penghubung badan air dari bagian hulu struktur ke hilir struktur. Aliran ini
berperan sebagai nature bridge atau jembatan perlintasan biota air sungai. Di
negara-negara
dengan
penerapan
prinsip
ekologi
yang
maju
banyak
dikembangkan jenis-jenis tangga ikan dengan karakter masing-masing yang
berbeda. Jenis tangga ikan yang banyak digunakan adalah berupa saluran terbuka
yang prinsipnya memanfaatkan debit aliran limpasan sungai mengisi aliran dalam
tangga ikan untuk membentuk badan air yang dapat dilalui biota air.Dalam
perencanaan tangga ikan, faktor perilaku renang ikan merupakan salah satu kunci
dari penentu perancangan dimensi saluran tangga ikan untuk mendapatkan aliran
yang dapat dilalui. Penyesuaian aliran pada tangga ikan saluran terbuka dilakukan
dengan penggunaan baffle dan penentuan kemiringan saluran. Pembuatan saluran
yang landai membutuhkan lahan pekerjaan yang cukup panjang. Tangga ikan ini
memanfaatkan luapan air atau overflow, maka pada saat tinggi air tidak
mencukupi tangga ikan saluran terbuka tidak dapat beroperasi (Ota dkk., 2015).
Permasalahan yang terjadi di Indonesia, isu ekologi dalam pekerjaan
bangunan air belum banyak menjadi fokus pertimbangan dalam perancangan,
sedangkan sudah banyak bangunan air yang terlanjur berdiri. Demikian yang
terjadi dengan pembangunan bendung dan bendungan atau bangunan air lainnya
yang memberi dampak pembatasan gerak biota lokal. Penerapan sebuah konsep
yang praktis dapat menjadi solusi untuk memperbaiki dampak yang ditimbulkan
dari bangunan yang terlanjur berdiri tersebut. Research Center Nishi-Nippon
Institute of Technology di Fukuoka, Jepang, dalam penelitian bernama Indonesian
River Ecosystem Conservation Project (Ir-ECO) mengembangkan sebuah tangga
ikan dengan konsep siphon. Konsep tangga ikan jenis ini diharapkan dapat
menjadi alternatif penerapan konsep eko-hidraulik pada bangunan-bangunan air di
Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan formula rancangan
(design formula) dan mengetahui cara membuat tangga ikan tipe siphon.
Selanjutnya dibuat purwarupa tangga ikan tersebut untuk diteliti kinerja
3
komponen baffle atau pereduksi yang dipasang. Purwarupa tangga ikan tipe
siphon tersebut dirancang berdasar parameter dimensi lapangan berupa groundsill
di Sungai Code sebelah Barat RSUP Dr. Sardjito, pedukuhan Gemawang, yang
secara geografis terletak pada 7°46’06” LS, 110°22’14” BT.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka dapat ditetapkan
perumusan masalah sebagai berikut ini.
1. Bagaimana formula perancangan tangga ikan tipe siphon?
2. Bagaimana pembuatan purwarupa tangga ikan tipe siphon?
3. Bagaimana proses pemasangan dan kinerja tangga ikan di lapangan?
4. Bagaimana kesesuaian formula perancangan dengan kondisi purwarupa di
lapangan?
5. Berapa nilai koefisien hilang yang dihasilkan oleh komponen pereduksi yang
dipasang pada kondisi di lapangan?
1.3 Batasan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang ditentukan, agar penelitian dapat berjalan
sesuai dengan keinginan sehingga tidak terjadi penyimpangan dikarenakan fokus
permasalahan berpotensi untuk merambah pada fokus ilmu perikanan maka
batasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut ini.
1. Perancangan bentuk saluran hanya memperhatikan faktor dimensi groundsill
di lapangan dalam pengukuran awal dengan tujuan menghubungkan badan air
bagian hilir dan hulu.
2. Purwarupa tangga ikan yang diamati ada 2 jenis yaitu tanpa komponen
baffle/pereduksi dan dengan komponen pereduksi yaitu berupa sambungan
increaser PVC ukuran diameter 2 inchi – 3 inchi.
3. Penentuan kecepatan rancangan pada perhitungan awal tangga ikan adalah 0,3
m/s sebagai nilai pendekatan kecepatan ikan yang dapat naik berdasarkan
pendekatan nilai antara kecepatan renang cruising hingga burst speed
(Beamish, 1978) dari ikan nila dengan ukuran 5 cm - 10 cm (Afdhaliza, 2004).
4
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rumus serta mengetahui cara
pembuatan dan cara kerja tangga ikan dengan konsep siphon yang mula-mula
dikembangkan oleh pusat penelitian Nishinippon Institute of Technology di
Fukuoka, Jepang, dengan mempertimbangkan dimensi groundsill di lokasi
pemasangan dan untuk mendapatkan nilai koefisien hilang akibat komponen
pereduksi yang dipasang. Perolehan nilai kecepatan di lapangan menjadi
pembanding dan penarikan kesimpulan bagaimana ketelitian hitungan teoritis
terhadap kondisi lapangan dan berapa nilai koefisien hilang akibat pereduksi di
lapangan sehingga diharapkan dapat menjadi acuan perancangan tangga ikan tipe
siphon untuk aplikasi kedepannya karena dalam kajian pustaka tidak ditemukan
perhitungan koefisien hilang untuk bentuk komponen terkait. Di sisi lain
penelitian ini berperan sebagai percobaan pembuatan purwa rupa tangga ikan jenis
siphon untuk mengetahui “know how” hal-hal apa saja yang perlu dilakukan atau
dipertimbangkan agar tangga ikan jenis siphon dapat berfungsi dengan baik.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah memperkenalkan konsep tangga ikan
tipe siphon, mengetahui cara perancangan dan pembuatannya sekaligus
meningkatkan kesadaran pentingnya fokus ekologi dalam perancangan bangunan
terutama bangunan air.
1.6 Keaslian Penelitian
Penelitian ini berupaya menemukan formula perancangan tangga ikan
jenis siphon, membuat purwarupa serta menentukan nilai koefisien hilang yang
dihasilkan per-unit komponen baffle/pereduksi yang berupa sambungan soket
increaser diameter 2 inchi – 3 inchi dengan pengujian purwarupa di lapangan
berdasar konsep dasar yang dikembangkan dalam Ir-ECO project. Formula
perancangan
yang
dikembangkan
sendiri
oleh
penulis
belum
pernah
dipublikasikan sebelumnya. Pembuatan purwarupa juga berdasar rancangan
penulis sendiri dengan berkonsultasi dan saran dari Dr. Yukio Ota. Penelitian
menggunakan parameter lapangan yang baru karena pada lokasi penempatan
5
tangga ikan yang digunakan dalam penelitian belum pernah dibuat tangga ikan
jenis siphon. Purwarupa tangga ikan dibuat dengan cara perangkaian alat yang
bisa berbeda dengan konsep acuan yang dimaksud.
Download