PENINGKATAN KADAR S100β DAN KADAR

advertisement
TESIS
PENINGKATAN KADAR S100β DAN
KADAR INTERLEUKIN-6 SERUM BERKORELASI
DENGAN TINGKAT KEPARAHAN DELIRIUM
PADA PASIEN GERIATRI YANG DIRAWAT
DI RSUP SANGLAH
YOSEF SAMON SUGI
NIM 1014048107
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
1
2
2016
PENINGKATAN KADAR S100β DAN
KADAR INTERLEUKIN-6 SERUM BERKORELASI
DENGAN TINGKAT KEPARAHAN DELIRIUM
PADA PASIEN GERIATRI YANG DIRAWAT
DI RSUP SANGLAH
Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister
pada Program Magister, Program Studi Ilmu Biomedik,
Program Pascasarjana Universitas Udayana
YOSEF SAMON SUGI
NIM 1014048107
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
3
2016
Lembar Pengesahan
TESIS INI TELAH DISETUJUI
TANGGAL…………….
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Dr. dr. R.A.Tuty Kuswardhani,SpPD-KGER.MARS
NIP. 195911041989032003
dr. I.G.P. Suka Aryana, SpPD-KGER
NIP. 197103292006041001
Mengetahui
Ketua Program Studi Ilmu Biomedik
Program Pascasarjana
Universitas Udayana,
Direktur
Program Pascasarjana
Universitas Udayana,
Dr.dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, M.SC,
SpGK
NIP. 195805211985031002
Prof.Dr.dr. A.A Raka Sudewi, Sp.S(K)
NIP : 195902151985102001
4
Tesis Ini Telah Diuji pada
Tanggal………….
Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor
Universitas Udayana, No…………, Tanggal……….
Ketua
: Dr. dr. R.A.Tuty Kuswardhani,SpPD-KGER.MARS
Anggota :
1. dr. I Gusti Putu Suka Aryana, Sp.PD-KGER
2. dr. Nyoman Astika, Sp.PD-KGER
3. Dr. dr. Wayan Sudhana, Sp.PD-KGH
4. Dr. dr. Desak Made Wihandani, M.Kes
5
UCAPAN TERIMA KASIH
Pertama-tama perkenankanlah penulis memanjatkan puji syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas karunia dan izin Nya tesis yang berjudul
“Peningkatan Kadar S100β dan Kadar Interleukin-6 Serum Berkorelasi dengan
Tingkat Keparahan Delirium pada Pasien Geriatri yang Dirawat di RSUP
Sanglah” dapat diselesaikan dalam rangka menyelesaikan pendidikan di Program
Pascasarjana pada Program Studi Ilmu Kedokteran Biomedik Universitas Udayana.
Tulisan ini disusun untuk memenuhi persyaratan tugas akhir studi yang dijalani
Penulis untuk memperoleh Gelar Magister pada Program Magister Program Studi
Ilmu Kedokteran Biomedik, Program Pascasarjana Universitas Udayana.
Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan rasa hormat, rasa
kagum dan penghargaan serta terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dr. dr. R.A. Tuty Kuswardhani, SpPD-KGER.MARS selaku Pembimbing I, yang
telah memberikan banyak sekali masukan dan bimbingan serta semangat kepada
penulis selama penyusunan tesis ini.
2. dr. I Gusti Putu Suka Aryana, SpPD-KGER selaku pembimbing II, yang telah
banyak memberikan bimbingan, banyak sumber masukan dan dorongan serta
semangat kepada penulis selama penyusunan tesis ini.
3. Bapak Rektor Universitas Udayana saat itu, Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PDKHOM yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti
pendidikan Magister pada Program Studi Ilmu Kedokteran Biomedik Universitas
Udayana.
6
4. Bapak Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD
yang juga telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti
pendidikan Magister pada Program Studi Ilmu Kedokteran Biomedik Universitas
Udayana.
5. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Putu Astawa,
Sp.OT. M.Kes yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
mengikuti pendidikan Magister pada Program Studi Ilmu Kedokteran Biomedik
Universitas Udayana
6. Ibu Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Anak
Agung Raka Sudewi, Sp.S(K) yang telah memberikan kesempatan kepada
penulis untuk mengikuti pendidikan Magister pada Program Studi Ilmu
Kedokteran Biomedik Universitas Udayana.
7. Dr.dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, M.SC, SpGK selaku ketua Program Studi Ilmu
Kedokteran Biomedik Universitas Udayana yang telah memberikan kesempatan
kepada penulis untuk mengikuti pendidikan Magister pada Program Studi Ilmu
Kedokteran Biomedik Universitas Udayana.
8. Dr. dr. Ketut Suega, SpPD-KHOM selaku Kepala Bagian/SMF Ilmu Penyakit
Dalam FK Universitas Udayana, atas kesempatan kepada penulis untuk
mengikuti pendidikan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana.
9. Kepala Program Studi Ilmu Penyakit Dalam, Prof. Dr. dr. IDN. Wibawa SpPD
KGEH atas kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
10. dr. Nyoman Astika, SpPD-KGER, Dr. dr. Wayan Sudhana, SpPD-KGH, dan Dr.
7
dr. Desak Made Wihandani, M.Kes, selaku penguji yang telah banyak
memberikan bimbingan dan masukan kepada penulis selama penyusunan tesis
ini.
11. Prof. Dr. dr Tjok Raka Putra, SpPD-KR, sebagai mantan Kepala Bagian /SMF
Ilmu Penyakit Dalam FK Unud/ RSUP Sanglah dan Prof. Dr. dr Ketut Suwitra,
SpPD-KGH sebagai mantan Ketua Program Studi Ilmu Penyakit Dalam FK
Unud/ RSUP Sanglah yang pada masanya telah memberi kesempatan kepada
penulis untuk mengikuti pendidikan spesialisasi.
12. Para dosen pengajar dan rekan-rekan residen Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam
FK UNUD/RSUP Sanglah yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang selalu
memberikan doa dan dorongan.
13. Ayahanda Drs. Yoseph Sugi, MSc beserta ibunda Petronela Neno atas doa,
dukungan dan pengertiannya selama menempuh pendidikan
14. Kakak dan adik, Fransiska V. Sugi, Antonius R.B. Ola, Maria D.N Sugi, Felix
Sugi dan Gavriel A. Sugi atas doa, dukungan dan pengertiannya selama
menempuh pendidikan.
15. dr. Petrus Irianto, dr. Anselmus Ake, dr. Yohanes SP, teman-teman “IRB 2010”
dan teman-teman lainnya, terimakasih atas motivasi dan persahabatan yang
kalian berikan selama ini.
Penulis juga sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu
dalam pelaksanaan dan penyelesaian tesis ini, semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa,
Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa melimpahkan berkat dan rahmat-Nya kepada
mereka semua.
Akhir kata, tiada gading yang tidak retak, untuk itu penulis berharap dengan
8
segala kekurangan dalam tugas akhir ini dapat memberikan manfaat bagi penulis
pribadi, bagi program pendidikan Magister Program Studi Ilmu Biomedik, Program
Pascasarjana Universitas Udayana, serta pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Denpasar, April 2016
Penulis,
dr. Yosef S. Sugi
ABSTRAK
PENINGKATAN KADAR S100β DAN
9
KADAR INTERLEUKIN-6 SERUM BERKORELASI DENGAN
TINGKAT KEPARAHAN DELIRIUM PADA PASIEN GERIATRI
Delirium adalah sebuah sindrom neuropsikiatrik yang kompleks dengan onset
yang akut dan berfluktuasi. Pasien-pasien yang mengalami delirium, ketika
dibandingkan dengan pasien-pasien yang tidak mengalami delirium, menjalani
perawatan yang lebih lama. S100β merupakan calcium-binding protein yang
disekresi oleh astrosit dibawah pengaruh kondisi metabolik stres dan merupakan
biomarker yang menandakan kerusakan dari sistem saraf pusat. Sedangkan
peningkatan kadar IL-6 (penanda neuroinflamasi) berhubungan dengan risiko
terjadinya delirium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya korelasi antara
kadar S100β dan kadar interleukin-6 serum dengan tingkat keparahan delirium pada
pasien geriatri.
Rancangan penelitian ini merupakan penelitian potong lintang analitik untuk
mengetahui korelasi antara kadar S100β serum dan kadar interleukin-6 serum
dengan tingkat keparahan delirium.Tingkat keparahan delirium diukur menggunakan
kuesioner. Setiap subyek penelitian akan dilakukan pemeriksaan kadar S100β dan
kadar IL-6 serum dengan menggunakan metode ELISA.
Penelitian ini melibatkan 72 subyek penelitian, laki-laki 38 (52,8%) dan
perempuan 34 (47,25%). Rerata usia subyek adalah 68 ± 6,96. Median S100B 5520
pg/ml (950,87-7741,89 pg/ml). Median IL-6 63,58 pg/ml (1,03-376,80 pg/ml).
Median MDAS 17 (13-24). Tidak didapatkan korelasi antara kadar S100B serum
dengan tingkat keparahan delirium (r = -0,051, p = 0,673). Tetapi, pada penelitian ini
didapatkan korelasi antara kadar IL-6 dan Charlson’s age-comorbidity index dengan
tingkat keparahan delirium (r = 0.162, p = 0.173; r = 0,473, p = 0,000).
Pada penelitian ini tidak didapatkan korelasi antara kadar S100B serum
dengan tingkat keparahan delirium, tetapi didapatkan korelasi antara kadar IL-6 dan
skor CACI dengan tingkat keparahan delirium.
Kata kunci: S100β, IL-6, Delirium,Geriatri
10
ABSTRACT
INCREASING LEVELS OF S100β and INTERLEUKIN-6 SERUM
CORRELATE WITH DELIRIUM SEVERITY IN GERIATRIC PATIENTS
Delirium is a complex neuropsychiatric syndrome with acute onset and
fluctuating. Patients who experienced delirium, when compared with patients who
did not experience delirium, have longer hospital stay. S100β is a calcium-binding
protein secreted by astrocytes under the influence of metabolic stress conditions and
a biomarker that indicates damage of the central nervous system. While increased
levels of IL-6 (a marker of neuroinflamasi) associated with risk of delirium. Aim of
this study is to investigate the correlation between levels of S100β and levels of
interleukin-6 with the severity of delirium in elderly patients.
The study design was cross-sectional analytical study on the correlation
between levels of S100β and levels of interleukin-6 with severity of delirium.
Delirium severity was measured using a Memorial Delirium Assesment Scale
(MDAS) questionnaire. Levels of S100β and IL-6 will be measured using the
ELISA.
The study involved 72 study subjects, 38 males (52.8%) and 34 women
(47.25%). The mean age of subjects was 68 ± 6.96. Median S100B 5520 pg / ml
(950.87 to 7741.89 pg / ml). Median IL-6 63.58 pg / ml (1.03 to 376.80 pg / ml).
Median MDAS 17 (13-24). In this study, there is no correlation between levels of
S100B with severity of delirium (r = -0.051, p = 0.673). However, there is significant
correlation between levels of IL-6 and Charlson's age-comorbidity index with the
severity of delirium (r = 0.162, p = 0.173; r = 0,473, p = 0,000).
In this study, there is no correlation between levels of S100B with the
severity of delirium, but levels of IL-6 and scores of CACI have correlation with the
severity of delirium.
Key word: S100β, IL-6, Delirium, Geriatric
11
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM .............................................................................................i
PRASYARAT GELAR ......................................................................................ii
LEMBAR PERSETUJUAN ........................................................................... iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI ............................................................... iv
UCAPAN TERIMAKASIH ........................................................................... v
ABSTRAK ...................................................................................................... ix
ABSTRACT .................................................................................................... x
DAFTAR ISI.................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL............................................................................................ xv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvi
DAFTAR SINGKATAN ................................................................................. xvii
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………... xix
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1
Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah ................................................................................ 3
1.3
Tujuan Penelitian ................................................................................. 3
1.4
Manfaat Penelitian ............................................................................... 3
BAB II KAJIAN PUSTAKA .......................................................................... 5
2.1
Delirium ............................................................................................... 5
2.1.1 Definisi Delirium ......................................................................... 5
12
2.1.2 Epidemiologi ................................................................................ 5 2.1.3
Etiologi............................................................................................................. 6
2.1.4 Patogenesis................................................................................... 8
2.1.5 Gambaran Klinis .......................................................................... 9
2.1.6 Diagnosis ..................................................................................... 14
2.2
Peranan Neuroinflamasi pada Delirium ................................................ 17
2.2.1 Kondisi Klinis dengan Reaksi Inflamasi Sistemik yang
Mencetuskan terjadinya delirium................................................. 17
2.2.2 Efek Inflamasi Sistemik Akut terhadap Otak .............................. 19
2.2.2.1 Dari Proses Inflamasi Sistemik menjadi Neuroinflamasi 19
2.2.2.2 Kerusakan Sawar Darah Otak .......................................... 20
2.2.2.3 Respon Sistem Saraf Pusat yang Diperantarai oleh
Molekul-Molekul dalam Sirkulasi Sistemik .................... 21
2.2.2.4 Inflamasi Sistemik Akut dan Disfungsi Neurokognisi .... 22
2.3
Peranan Proses Penuaan pada Delirium………………………………. 25
2.4
Biomarker Delirium .............................................................................. 26
2.4.1 S100 Calcium Binding Protein B (S100β) ................................... 29
2.4.2 Interleukin-6................................................................................. 30
2.5
Instrumen Diagnosis Delirium .............................................................. 30
2.5.1 Confusion Assesment Scale (CAM) ............................................ 31
2.5.2 Memorial Delirium Assesment Scale (MDAS) ........................... 33
13
BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN..... 35
3.1
Kerangka Berpikir................................................................................. 35
3.2
Konsep Penelitian ................................................................................. 37
3.3
Hipotesis .............................................................................................. 37
BAB IV METODE PENELITIAN ................................................................. 38
4.1
Rancangan Penelitian ........................................................................... 38
4.2
Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................... 38
4.3
Ruang Lingkup Penelitian ................................................................... 38
4.4
Penentuan Sumber Data Penelitian ....................................................... 38
4.5
Sampel dan Besar Sampel..................................................................... 39
4.6
Variabel Penelitian ............................................................................... 40
4.7
Definisi Operasional Variabel .............................................................. 40
4.8
Alat dan Bahan Penelitian .................................................................... 41
4.9
Prosedur Penelitian .............................................................................. 42
4.10
Alur Penelitian ...................................................................................... 43
4.11
Analisis Data ......................................................................................... 43
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... 45
5.1
Karakteristik Subyek Penelitian............................................................ 45
5.2
Hubungan antara Kadar S100B dengan Tingkat Keparahan Delirium . 47
5.3
Hubungan antara Kadar IL-6 dengan Tingkat Keparahan Delirium ... 51
5.4
Hubungan antara Usia dan Penyakit Komorbid dengan Tingkat
Keparahan Delirium .............................................................................. 54
14
5.5
Keterbatasan Penelitian ......................................................................... 57
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 58
6.1
Simpulan................................................................................................. 58
6.2
Saran ....................................................................................................... 58
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 59
LAMPIRAN..................................................................................................... 63
15
DAFTAR TABEL
Halaman
2.1 Beberapa Instrumen Klinis untuk Diagnosis Delirium .........................
24
5.1 Karakteristik Subyek Penelitian ............................................................
47
5.2 Hasil Uji Korelasi antara Kadar S100B, Kadar IL-6 dan Charlson’s Age
Comorbidity Index dengan Tingkat Keparahn Delirium ......................
48
16
DAFTAR GAMBAR
Halaman
2.1 Model Multifaktorial dari Delirium ........................................................
8
2.2 Teori-teori Terjadinya Delirium ............................................................
9
2.3 Pengenalan dan Propagasi dari Rangsangan Imun Perifer pada SSP ....
22
3.1 Kerangka Berpikir .................................................................................
34
3.2 Konsep Penelitian ..................................................................................
35
4.1 Alur Penelitian ......................................................................................
41
5.1 Korelasi antara kadar S100B dengan Tingkat Keparahan Delirium…...
48
5.2 Grafik Perbandingan rerata kadar S100B pada kelompok delirium ringan,
sedang dan berat………………………………………………………... 51
5.3 Korelasi antara kadar IL-6 dengan Tingkat Keparahan Delirium……… 52
5.4 Grafik Perbandingan rerata kadar IL-6 pada kelompok delirium
ringan, sedang dan berat…………………………………………… ...
54
5.5 Korelasi antara CACI dengan Tingkat Keparahan Delirium.................
55
5.6 Grafik Perbandingan rerata skor CACI pada kelompok delirium
ringan, sedang dan berat ........................................................................
56
17
DAFTAR SINGKATAN
Apo
: Apolipoprotein
AMTS
: Abbreviated Mental Test Score
BDNF
: Brain-derived Growth Factor
CACI
: Charlson’s Age-Comorbidity Index
CAM
: Confusion Assesment Scale
CD
: Class of Differentiation
CRP
: C-reactive protein
DOSS
: Delirium Observational Screening Scale
DRS
: Delirium Rating Scale
DSM
: Diagnostic and Statistic Manual
EEG
: Elektroensefalografi
FDA
: Food and Drug Asociation
GABA
: Gamma Aminobutyric Acid
GAR
: Global Attentiveness Rating
HELP
: Hospital Elder Life Program
ICU
: Intensive Care Unit
IFN
: Interferon
IGF
: Insulin Growth Factor
IL
: Interleukin
LPS
: Lipopolisakarida
MDAS
: Memorial Delirium Assesment Scale
MMSE
: Mini Mental Scale Examination
MRI
: Magneting Resonance Imaging
NICE
: National Institute for Health and Care
Excellence
NO
: Nitrit Oksida
NSE
: Neuro-specific Enolase
ROS
: Reactive Oxygen Species
S100 Calcium Binding Protein B
: S100β
18
SAA
: Serum Aktivitas Antikolinergik
SN
: Substantia Nigra
SSP
: Sistem Saraf Pusat
TLR
: Toll-like Receptor
TNF
: Tumor Necrosis Factor
19
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Ethical Clearance…………………………………………
62
Lampiran 2. Informed Consent…………………………………………... 64
Lampiran 3. Formulir Persetujuan….………………………………..…... 66
Lampiran 4. Rencana Jadwal Penelitian ………………………………..
67
Lampiran 5. Anggaran Biaya Penelituan ………………………………
68
Lampiran 6. Formulir Pengumpulan Data……………………………….. 69
Lampiran 7. Prosedur Pemeriksaan S100B Serum ……………………….. 77
Lampiran 8. Prosedur Pemeriksaan IL-6 Serum………………………….. 78
Lampiran 9. Hasil Penelitian……………………………………………… 81
20
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Delirium yang dikenal juga dengan sebutan acute confusional state adalah
sebuah sindrom neuropsikiatrik yang kompleks dengan onset yang akut dan
berfluktuasi. Sindrom ini mempengaruhi kesadaran dan fungsi kognitif yang
mungkin diikuti oleh peningkatan aktivitas psikomotor. Selain itu delirium juga
mempengaruhi atensi dan pada beberapa pasien ada yang mengalami gangguan
depresi (Mittal dkk, 2011).
Pada penelitian yang terbaru di Inggris, prevalensi delirium sebesar 20% pada
pasien yang dirawat di rumah sakit. Beberapa penelitian menunjukkan sekitar 14%24% pasien usia lanjut dirawat di rumah sakit karena delirium dan delirium sendiri
terjadi pada 50% pasien usia lanjut yang dirawat di rumah sakit (Saxenal, 2009).
Pasien-pasien yang mengalami delirium, ketika dibandingkan dengan pasienpasien yang menderita penyakit yang sama tetapi tidak mengalami delirium,
menjalani perawatan yang lebih lama, rata-rata 5-10 hari lebih lama meskipun telah
dilakukan kontrol terhadap beberapa kovariat (Boettger, 2014).
Penyebab delirium merupakan multifaktorial. Adanya interaksi antara faktor
presipitasi (infeksi, inflamasi, pembedahan, trauma dan obat-obat psikoaktif) , faktor
predisposisi (usia, gangguan kognitif dan sensoris, penyakit komorbid) dan faktor
protektif menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan neurotransmiter di otak. Pada
pasien geriatri biasanya menggunakan Charlson’s Age Comorbidity Index untuk
menilai pengaruh usia dan penyakit komorbid terhadap angka morbiditas dan angka
mortalitas. Perubahan neuroinflamasi ini menyebabkan gangguan permeabilitas
21
sawar darah otak yang ditandai dengan peningkatan kadar S100 Calcium Binding
Protein β (S100β) dan perubahan pada transmisi sinaptik, tingkat eksitabilitas sel
saraf dan aliran darah otak, yang menyebabkan gejala neurobehavioral dan kognitif
(Cerejeira, 2010). Pada sebuah penelitian case–control
tahun 2011 menemukan
hubungan antara aktivitas mikroglia, sel astrosit dan interleukin (IL)-6 dengan
delirium, dimana peningkatan kadar IL-6 berhubungan dengan risiko terjadinya
delirium (Van Munster, 2011).
Protein S100β merupakan calcium-binding protein yang disekresi oleh
astrosit dibawah pengaruh kondisi metabolik stres dan merupakan biomarker yang
menandakan kerusakan dari sistem saraf pusat (SSP) (Maldonado, 2013). Beberapa
penelitian menunjukkan peningkatan kadar serum S100β pada pasien-pasien yang
mengalami delirium dan berhubungan dengan tingkat keparahan dari delirium
(Stoicea, 2014).
Delirium sering tidak dikenali dan salah terdiagnosis oleh tenaga medis
profesional dimana sekitar sepertiga sampai dua pertiga kasus delirium tidak
terdiagnosis. Studi terbaru di bagian gawat darurat menyimpulkan bahwa dokter di
unit gawat darurat melewatkan diagnosis delirium pada 76% kasus. Hal ini
berhubungan dengan beberapa faktor seperti sifat delirium yang fluktuatif, tumpang
tindih dengan demensia dan depresi, jarangnya pemeriksaan rutin terhadap kognitif
secara formal di rumah sakit umum, kurang apresiasi terhadap konsekuensi klinis,
dan gagal memikirkan pentingnya diagnosis tersebut (Han, 2010).
Secara klinis penegakan diagnosis delirium dapat menggunakan beberapa alat
bantu yaitu Confusion Assesment Method (CAM), Diagnostic and Statistic Manual
(DSM) IV-TR, Memorial Delirium Assesment Scale (MDAS), Delirium Rating Scale
22
(DRS), Delirium Observational Screening Scale (DOSS), Nursing Delirium
Screening Scale
dan Global Attentiveness Rating (GAR). CAM merupakan
instrumen skrining delirium yang banyak digunakan berdasarkan kriteria DSM-III-R.
CAM dapat digunakan dengan mudah pada kondisi klinis rutin oleh staf medis
nonpsikiatrik atau staf perawat dengan latihan sebelumnya. Sedangkan untuk
mengukur severitas dari delirium, pemeriksaan MDAS dan DRS merupakan alat
bantu yang paling sering dipakai (Adamis, 2010; Grover, 2012).
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah
penelitian sebagai berikut:
Apakah peningkatan kadar S100β dan kadar IL-6 serum berkorelasi dengan
tingkat keparahan delirium pada pasien geriatri?
1.3 Tujuan penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keparahan
delirium pada pasien geriatri.
1.3.2 Tujuan khusus
Untuk membuktikan adanya korelasi antara kadar S100β dan kadar
interleukin-6 serum dengan tingkat keparahan delirium pada pasien geriatri.
1.4 Manfaat penelitian
1.4.1 Manfaat akademik/ilmiah
Jika peningkatan kadar S100β serum dan kadar IL-6 terbukti berkorelasi
dengan tingkat keparahan delirium, maka dapat memberikan kontribusi
ilmiah baru dalam penilaian tingkat keparahan delirium pada pasien geriatri.
23
1.4.2 Manfaat praktis
Memberikan masukan untuk stratifikasi tingkat keparahan delirium, sehingga
bermanfaat untuk diagnosis dan pengobatan dini delirium pada pasien
geriatri.
24
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Delirium
2.1.1 Definisi
Kata delirium berasal dari istilah latin delirare yang berarti menjadi “gila atau
marah”. Istilah ini telah didokumentasikan di dalam literatur medis selama lebih dari
2000 tahun. Pertama kali dilaporkan pada masa Hippocrates yang menggunakan
istilah phrenitis (gila) dan lethargus (letargi) untuk mendeskripsikan delirium subtipe
hiperaktif dan hipoaktif. Sebagai istilah medis, delirium pertama digunakan oleh
Celsus di abad pertama setelah Masehi untuk mendeskripsikan gangguan mental
yang berhubungan dengan demam atau trauma kepala ( Mittal dkk., 2011) .
Berbagai istilah telah digunakan dalam literatur untuk mendeskripsikan
delirium, meliputi acute confusional state, acute brain syndrome, acute cerebral
insufficiency, dan toxic-metabolic encephalopathy. Namun, delirium sekarang
menjadi istilah yang dipilih dan disarankan untuk menerima istilah acute confusional
syndrome sebagai sinonim untuk sindrom ini (Fong., 2009; Mittal dkk., 2011).
Delirium merupakan adalah sebuah sindrom neuropsikiatrik yang kompleks
dengan onset yang akut dan berfluktuasi. Sindrom ini mempengaruhi kesadaran dan
fungsi kognitif yang mungkin diikuti oleh peningkatan aktivitas psikomotor. Selain
itu delirium juga mempengaruhi atensi dan pada beberapa pasien ada yang
mengalami gangguan depresi (Mittal dkk., 2011).
2.1.2 Epidemiologi
Delirium adalah kondisi yang sering terjadi dan bersifat serius, terutama pada
lanjut usia yang dirawat di rumah sakit, dan menyerang sekitar 30% diantaranya.
5
25
Studi terbaru melaporkan prevalensi delirium sebesar 10-31% saat pasien masuk dan
insiden 3-29% selama masa rawat (Boettger, 2014).
Risiko meningkat secara eksponensial di ruang rawat intensif, dengan
prevalensi mencapai 80% dan di unit rawat paliatif dimana prevalensi dilaporkan
sebesar 85%. Angka yang lebih tinggi juga ditemukan di kondisi bedah dengan
insiden dilaporkan 10-70% setelah pembedahan, terutama pada pasien yang
menjalani operasi kardiotoraks, prosedur ortopedi emergensi (perbaikan fraktur
panggul), bedah vaskuler, atau operasi katarak (Munster, 2009). Studi pada lanjut
usia yang datang ke unit gawat darurat melaporkan prevalensi 5-30% (Han, 2009).
Selain
sebagai
tempat
rawat
jangka
panjang,
penghuni
panti
jompo
merepresentasikan kelompok yang rentan, dan diperkirakan prevalensi delirium
sekitar 3,4-33,3%. Di masyarakat, sesuai perkiraan, prevalensi rendah, berkisar
antara 1-2% (Miller, 2008).
2.1.3 Etiologi
Etiologi delirium biasanya multifaktorial. Namun, penelitian telah berhasil
mengidentifikasi faktor risiko konsisten untuk delirium yang diklasifikasikan
menjadi dua kelompok yakni faktor predisposisi dan faktor presipitasi. Faktor
predisposisi adalah faktor yang membuat orang lanjut usia lebih rentan terhadap
delirium dan faktor presipitasi terdiri dari faktor akut yang mencetuskan terjadinya
delirium. Kombinasi kedua faktor itu harus ada pada orang lanjut usia yang delirium.
Faktor predisposisi yang paling sering adalah usia lanjut, jenis kelamin pria,
demensia dan depresi yang telah ada sebelumnya, gangguan visual dan pendengaran,
ketergantungan fungsional, frailty, gangguan sensoris, dehidrasi dan malnutrisi,
polifarmasi (terutama obat psikoaktif), penyalahgunaan alkohol dan kondisi medis
berat yang terjadi bersamaan (Cerejeira, 2010; Maldonado, 2013).
26
Adapun beberapa faktor risiko terkait dengan delirium diantaranya usia yang
lebih dari 65 tahun, adanya riwayat delirium, riwayat trauma/pembedahan, adanya
komorbid demensia, depresi, gagal ginjal, penyakit hati, penurunan fungsi
penglihatan dan pendengaran, serta adanya pengobatan spesifik (antikolinergik,
narkotika, benzodiazepines, hipnotiks, anti inflamasi, beta bloker, diuretiks, dan
antidepresan). Selain itu faktor risiko lain yang memicu delirium yakni adanya
multifarmaka, stimulus lingkungan yang berlebihan, ketergantungan alkohol/obat,
abnormalitas metabolik (elektrolit,kadar gula), infeksi akut (infeksi saluran kemih,
pneumonia), serta ketidakadekuatan kontrol rasa nyeri (Maldonado, 2013). Setelah
bertambah tuanya usia, demensia menjadi faktor risiko paling sering kedua untuk
terjadinya delirium. Menurut Inouye pada tahun 2006, kerentanan yang mendasari
otak pada pasien demensia dapat menjadi predisposisi bagi mereka untuk mengalami
delirium, sebagai akibat gangguan yang berhubungan dengan penyakit medis akut,
obat, serta faktor lingkungan (Inouye, 2006). Menurut Saxena dan Lawley pada
tahun 2009, faktor presipitasi yang paling sering adalah: penyakit yang terjadi
bersamaan (misalnya infeksi), komplikasi iatrogenik, gangguan metabolik, kondisi
neurologis primer (misalnya stroke akut), operasi, obat (terutama benzodiazepin,
analgetik narkotik, dan obat dengan efek antikolinergik). Nyeri yang tak terkontrol
juga berhubungan dengan terjadinya delirium. Faktor lingkungan seperti masuk
ruang rawat intensif, pasien dalam kondisi terikat, atau kateterisasi kandung kemih
juga berkontribusi pada terjadinya delirium. Dalam konteks ini, Inouye dan
Charpentier pada tahun 1996 menyajikan suatu model untuk memprediksikan
terjadinya delirium pada pasien lanjut usia yang dirawat di rumah sakit, dengan
faktor predisposisi yang lebih banyak dan lebih berat (pasien terikat, malnutrisi,
27
penggunaan lebih dari tiga obat pada hari sebelumnya, penggunaan kateter kandung
kemih, dan kejadian iatrogenik), berhubungan dengan sejumlah faktor presipitasi
(Cerejeira, 2010).
Gambar 1.
Model Multifaktorial dari Delirium (Maldonado, 2013)
2.1.4 Patogenesis Delirium
Walaupun prevalensi dan angka morbiditasnya yang tinggi, mekanisme
patogenesis dari delirium masih belum jelas sampai saat ini. Selama beberapa tahun
ini, proses metabolik telah diperkirakan sebagai penyebab dari delirium. Sekitar lima
puluh tahun lalu, Engel dan Romano mengatakan bahwa terganggunya fungsi
metabolik mendasari terjadinya delirium dan hal ini digambarkan dengan terjadinya
gangguan pada berbagai fungsi kognisi. Oleh karena itu, delirium merupakan
sindrom neurobehavioral yang disebabkan oleh disregulasi aktivitas sel saraf akibat
gangguan sistemik (Maldonado, 2013).
Dalam beberapa tahun ini, beberapa teori telah dikemukan telah mencoba
menjelaskan proses yang menyebabkan terjadinya delirium. Setiap teori yang
diusulkan telah dipusatkan pada sebuah mekanisme atau proses patologi yang
28
spesifik. Beberapa teori telah diusulkan sebagai penyebab dari delirium, diantaranya
adalah teori
neuroinflamatory, neuronal
aging, stres
oksidatif, defisiensi
neurotransmiter, neuroendokrin, disregulasi diurnal dan network conectivity. Sampai
saat ini belum ada mekanisme patofisiologi tunggal yang telah didentifikasi sebagai
penyebab delirium. Hampir semua teori-teori ini saling melengkapi bukan saling
bersaing dalam menjelaskan terjadinya delirium. Oleh karena itu, teori-teori ini
tampaknya tidak ada yang mampu menjelaskan secara sendiri-sendiri penyebab
ataupun gejala delirium. Tetapi dua atau lebih teori-teori ini bersama-sama
menyebabkan gangguan biokimiawi yang kemudian menyebabkan terjadinya
delirium (Maldonado, 2013).
Faktor presipitasi delirium
(infeksi, trauma, obat – obat anestesi,
pembedahan, hipoksia, hipoglikemia, gangguan
metabolik)
Neuroinflamasi
Penuaan
Network Disconnectivity
Stress oksidatif
Kelainan neuroendokrin
Gangguan tidur /
disregulasi
melatonin
Disregulasi
neurotransmiter
Gambar 2.
Gambaran skematik yang menunjukkan interrelationship dari teori-teori ini
dalam patofisologi terjadinya delirium (Maldonado, 2013).
2.1.5 Gambaran Klinis
Berdasarkan kriteria DSM-IV, delirium dicirikan oleh gejala yang mulainya
sangat cepat (biasanya dalam beberapa jam sampai hari) dan cenderung berfluktuasi,
29
dengan perubahan tingkat kesadaran, ketidakmampuan berfokus, perhatian yang
bertahan atau teralih, dan perubahan kognitif (seperti gangguan memori, disorientasi,
gangguan bahasa) atau terjadinya gangguan perseptual hanya dapat dijelaskan oleh
demensia. Lebih lanjut, terdapat bukti dari anamnesis, pemeriksaan fisik, atau
temuan laboratoris bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh konsekuensi fisiologis
langsung dari suatu kondisi medis umum, atau intoksikasi/withdrawal senyawa, atau
karena berbagai penyebab (Popeo, 2011; Martins dan Fernandes, 2012).
Awal perjalanan yang tiba-tiba dan akut adalah gambaran sentral delirium.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memastikan tingkat fungsi kognitif dasar
pasien serta perjalanan perubahan kognitifnya. Kesadaran sebagai fungsi otak
memungkinkan kewaspadaan terhadap dirinya sendiri serta kewaspadaan terhadap
lingkungannya dan dicirikan oleh dua aspek utama: tingkat dan isi kesadaran.
Tingkat kesadaran mencerminkan bangkitan kewaspadaan: bangun, tidur, atau koma.
Isi kesadaran, atau bagiannya, dialami oleh subyek sebagai kewaspadaan terhadap
dirinya sendiri serta lingkungannya saat subyek bangun dan sadar baik. Isi kesadaran
dan kognitif hanya dapat diperiksa jika subyek minimal memiliki tingkat kesadaran
tertentu (Browne, 2010; Popeo, 2011; Martins dan Fernandes, 2012).
Pada delirium, gangguan kesadaran adalah salah satu manifestasi paling awal,
yang sering berfluktuasi, terutama di malam hari saat stimulasi lingkungan berada
pada titik terendah. Tingkat kesadaran dapat berflukutasi pada yang paling ekstrim
untuk pasien yang sama, atau dapat muncul dengan tanda yang lebih ringan seperti
mengantuk atau gangguan tingkat perhatian. Faktanya, pasien dapat tampak benarbenar mengantuk, letargi, atau bahkan semi-koma pada kasus yang lebih berat.
30
Ektrim yang berlawanan, sangat waspada, juga dapat terjadi, terutama pada kasus
withdrawal alkohol atau obat sedatif (lebih jarang pada lanjut usia).
Perhatian adalah proses yang memungkinkan kita untuk memilih stimulus
yang relevan dari lingkungan, berfokus dan mempertahankan respon perilaku
terhadap stimulus tersebut, dan mengubah aktivitas mental menuju stimulus yang
lebih baru, mengorientasi ulang perilaku seseorang, berdasarkan relevansi stimulus.
Perhatian merupakan fungsi yang berbeda dari kesadaran, namun tetap bersifat
dependen. Oleh karena itu, berbagai derajat perhatian masih mungkin ditemukan
pada subyek yang sadar baik, namun perhatian dan konsentrasi penuh tidak mungkin
ditemukan pada penurunan kesadaran. Faktanya, perhatian dapat menurun secara
patologis pada kondisi organik, biasanya dengan penurunan kesadaran tertentu
(Browne, 2010; Popeo, 2011; Martins dan Fernandes, 2012).
Pada delirium, terjadi penurunan perhatian dan juga dikatakan sebagai salah
satu dari gambaran kardinal yang penting. Biasanya pasien tersebut mudah dialihkan
perhatiannya oleh stimulus yang irelevant, atau memiliki kesulitan mengingat apa
yang dikatakan pada anamnesis. Lebih lanjut, pertanyaan sebagian besar harus
diulang karena perhatian subyek menyimpang. Biasanya terjadi defisit global atau
multipel dalam hal kognitif, meliputi gangguan memori dan disorientasi. Faktanya,
karena penurunan perhatian, registrasi informasi baru dapat terganggu sehingga
mempengaruhi memori dan fungsi orientasi tertentu (Browne, 2010; Popeo, 2011;
Martins dan Fernandes, 2012).
Memori jangka pendek adalah yang paling sering terkena, namun kembalinya
informasi yang telah tersimpan juga dapat terganggu. Misalnya pasien mungkin tidak
mampu mengingat peristiwa di rumah sakit atau kesulitan mengingat instruksi.
31
Disorientasi biasanya sering terjadi, yang pertama terhadap waktu, berikutnya
terhadap tempat. Namun, disorientasi dikatakan abnormal pada pasien rawat inap
dengan sakit berat yang lama, tanpa acuan hari atau bulan. Fungsi pikir dan bicara
menjadi tumpang tindih dan keduanya dapat terganggu pada kondisi delirium
tertentu (Martins dan Fernandes, 2012).
Kesulitan bahasa dan gangguannya pada pasien delirium mungkin lebih
berhubungan dengan gangguan bangun dan tingkat perhatian, bukan penyebab
spesifik, atau tetap masih tetap dapat menunjukkan terjadinya perubahan proses.
Pada kasus gangguan global yang berat, konfabulasi dapat mendominasi, sehingga
hanya ada sedikit kemungkinan untuk menilai bahasa, memori, dan isi pikiran.
Seringkali bahasa dan bicara, yang mencakup membaca, hanya sedikit terpengaruh
dibanding menulis, terutama pada kondisi ringan atau stadium awal. Sejumlah hal
spesifik pada gangguan bahasa ditemukan dalam perjalanan delirium. Dalam satu
studi, sering ditemukan salah menyebutkan, sama seringnya dengan yang ditemukan
pada pasien demensia, namun berbeda dimana lebih sering terjadi dalam bentuk
gangguan kata dan salah menyebut nama yang tidak terkait. Gangguan kata dapat
dijelaskan oleh perseverasi. Pasien mengulang kata-kata yang sebelumnya diucapkan
(sehingga menjadi perseverasi), bukan kata yang diharapkan yang tidak dapat
ditemukan atau diucapkan oleh subyek. Salah menyebut yang tidak terkait adalah
penggunaan kata yang benar-benar berbeda arti dengan kata yang diharapkan
sehingga tidak berhubungan dengan konteks, tidak seperti parafasia (Maldonado,
2013).
Gambaran klinis lain adalah pikiran yang tidak terorganisir, bermanifes
sebagai bicara inkoheren dan bicara ngawur atau irelevant, atau alur pikir tidak jelas
32
atau tidak logis. Pasien mungkin tidak mampu membuat keputusan yang tepat, atau
melakukan tugas sederhana. Penilaian dan pikirannya buruk dan dapat pula timbul
delusi pada sekitar 30% kasus, terutama dengan sifat paranoid atau persekutor
(Popeo, 2011).
Gangguan persepsi juga dapat dideskripsikan pada subyek dengan delirium
yang meliputi ilusi dan misinterpretasi, muncul dari salah kesan terhadap stimulus
yang sebenarnya. Misalnya, pasien menjadi agitasi dan ketakutan, percaya bahwa
bayangan dalam ruangan adalah orang yang akan menyerang. Gangguan persepsi
juga dapat meliputi halusinasi, dimana sebenarnya tidak ada obyek. Halusinasi visual
merupakan yang paling sering terjadi, terutama di malam hari, dan pada sejumlah
kasus dapat terjadi di siang hari segera setelah pasien menutup mata. Isi halusinasi
cenderung sederhana, kadang hanya berupa warna, garis, atau bentuk. Namun, juga
dapat meliputi hewan yang berbahaya atau gambar aneh (Martin dan Fernandes,
2012).
Terdapat gambaran klinis lain yang sering berhubungan dengan delirium
yang tidak dimasukkan ke dalam kriteria diagnosis. Salah satunya adalah gangguan
siklus tidur-bangun, bercirikan ngantuk berlebihan di siang hari dengan insomnia di
malam hari, fragmentasi, dan kurang tidur atau siklus tidur yang benar-benar
terbalik. Sejumlah studi telah menemukan potensi peran gangguan tersebut, terutama
gangguan irama sirkadian dan fragmentasi tidur sebagai faktor kontributor penting
pada sindrom sundowning. Fenomena ini ditemukan pada pasien delirium yang
bercirikan perburukan perilaku disruptif di sore atau malam hari. Sindrom ini juga
dapat disebabkan oleh kelelahan dan penurunan input sensorik di malam hari
(Mistraletti, 2008).
33
Gangguan perilaku psikomotor adalah gambaran klinis lain pada delirium,
dengan aktivitas motorik yang meningkat atau menurun. Pada kasus pertama, pasien
dapat mengalami gelisah atau seringnya perubahan posisi yang tiba-tiba. Di sisi lain,
pasien juga dapat menunjukkan kelesuan atau letargi, mendekati kondisi stupor.
Gangguan emosi seperti cemas, ketakutan, iritabilitas, kemarahan, depresi, dan
euforia juga dapat terjadi. Gejala tersebut sering dipengaruhi oleh berbagai faktor
seperti kondisi medis atau bedah, karakteristik personal, gangguan psikiatrik
premorbid, atau peristiwa hidup terbaru (Boettger, 2012).
Delirium seharusnya berada dalam kategori gangguan kesadaran yang lebih
luas. Adapun beberapa penelitian menyarankan penggunan derajat untuk yang paling
berat sampai yang paling ringan: koma, kondisi vegetatif persisten, stupor, mutisme
akinetik, kondisi sadar minimal, delirium/kondisi konfusional. Taksonomi tersebut
akan menjadi satu kesatuan dengan suatu “area abu-abu” atau regio transisi yang
membatasi antara satu derajat dengan derajat lainnya. Pendekatan ini akan
memungkinkan kesatuan beratnya penyakit tersebut terkait delirium itu sendiri, yang
saat ini telah ditinggalkan pada DSM-IV (Boettger, 2013).
2.1.6 Diagnosis
Delirium sering tidak dikenali dan salah terdiagnosis oleh profesional medis.
Sekitar sepertiga sampai dua pertiga kasus delirium tidak terdiagnosis. Studi terbaru
di bagian gawat darurat menyimpulkan bahwa dokter di unit gawat darurat
melewatkan diagnosis delirium pada 76% kasus. Hal ini berhubungan dengan faktor
seperti sifat delirium yang fluktuatif, tumpang tindih dengan demensia dan depresi,
jarangnya pemeriksaan rutin terhadap kognitif secara formal di rumah sakit umum,
kurang apresiasi terhadap konsekuensi klinis, dan gagal memikirkan pentingnya
34
diagnosis tersebut. Empat faktor risiko independen untuk tidak dikenalinya delirium
oleh perawat: delirium hipoaktif, usia sangat tua, gangguan penglihatan, dan
demensia (Han, 2010).
Perlu dipikirkan tentang onset akut delirium dan perjalanannya yang
fluktuatif. Penting untuk memastikan tingkat fungsi kognitif dasar pasien serta
perjalanan perubahan kognitifnya. Dengan cara ini, diagnosis lebih mudah dibuat
jika sebelumnya terdapat pemeriksaan kemampuan kognitif. Dalam anamnesis,
penting untuk mencari informasi dari anggota keluarga/caregiver, dan/atau staf
medis dan perawat. Selanjutnya, pasien harus diperiksa lebih dari satu kali sehari di
siang hari unruk mendeteksi kemungkinan fluktuasi gejala ( Mittal dkk., 2011).
Adapun pemeriksaan lengkap yang perlu dilakukan untuk membantu
menegakkan
diagnosis
delirium
yakni
diantaranya pemeriksaan
neurologi,
pemeriksaan tingkat kesadaran dengan Glasgow Coma Scale, serta pemeriksaan
fungsi kognitif dengan alat yang sudah terstandardisasi seperti abbreviated mental
test score (AMTS). Disamping itu perlu dievaluasi adanya kondisi demam dan
ketergantungan alkohol. Adapun pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan untuk
mengevaluasi adanya penyebab dasar, yakni pemeriksaan darah lengkap, elektrolit,
kalsium, urea darah, test fungsi hati dan tiroid, kadar gula darah, foto polos dada,
elektrokardiografi, kultur darah, serta urinalisis ( Mittal dkk., 2011).
Penurunan perhatian adalah ciri penting lain pada delirium. Pemeriksaan
kognitif harus meliputi alat skrining kognitif global (misalnya: Mini Mental State
Examination,MMSE) serta pemeriksaan perhatian. Terdapat instrumen skrining yang
dapat mendeteksi penurunan perhatian secara cepat dan cukup sering digunakan
yaitu Digit Span Test dan Trail Making Test. Dalam konteks ini, penting pula untuk
mengingat bahwa perubahan gairah dapat mempengaruhi kinerja uji perhatian seperti
35
kondisi lainnya, misalnya kelelahan. Bahkan, berdasarkan beratnya delirium, tugas
kognitif dapat dipengaruhi secara proporsional oleh perhatian yang dibutuhkan pada
tugas tersebut (Grover., 2012).
Berdasarkan pedoman internasional terbaru (NICE 2010), semua orang tua
yang dirawat di rumah sakit atau tempat perawatan jangka panjang harus diskrining
untuk mencari tahu faktor risiko terjadinya delirium dan gangguan kognitif
menggunakan uji kognitif singkat (misalnya MMSE). Jika teridentifikasi perubahan
baru atau fluktuasi pada fungsi kognitif, persepsi, fungsi fisik, atau perilaku sosial
pada mereka yang berisiko, pemeriksaan klinis harus dilakukan berdasarkan kriteria
DSM-IV atau Confusion Assesment Method (CAM) untuk menegakkan diagnosis.
Evaluasi ini harus dikerjakan oleh profesional medis yang terlatih baik (Grover,
2012).
Confusion Assesment Method merupakan instrumen skrining delirium yang
banyak digunakan berdasarkan kriteria DSM-III-R. CAM dapat digunakan dengan
mudah pada kondisi klinis rutin oleh staf medis nonpsikiatrik atau staf perawat
dengan latihan sebelumnya. Versi singkatnya meliputi algoritme diagnostik,
berdasarkan empat ciri kardinal delirium yakni (1) onset akut dan perjalanan
fluktuatif; (2) penurunan perhatian; (3) pikiran tak terorganisir; dan (4) perubahan
tingkat kesadaran. Diagnosis delirium berdasarkan CAM membutuhkan ciri 1, 2,
disertai 3 atau 4 (Vietarra DW., 2012). Pada ruang rawat kritis (Intensive Care Unit,
ICU) atau ruang pemulihan pasca bedah, terutama pada pasien yang tidak dapat
berkomunikasi secara verbal, CAM-ICU (adaptasi dari CAM) harus digunakan. Studi
review terbaru menguatkan rekomendasi ini untuk mendukung penggunaan CAM
sebagai instrumen diagnostik (Adamis, 2010; Grover, 2012).
36
Identifikasi penyebab dasar penting untuk diagnosis delirium. Karena itu,
pemeriksaan fisik dan neurologis sangat penting, membantu menyingkirkan penyakit
infeksi, metabolik, endokrin, kardiovaskuler, dan penyakit serebrovaskuler.
Pemeriksaan fisik harus mencakup evaluasi tanda vital dengan saturasi oksigen.
Pemeriksaan umum harus difokuskan pada fungsi jantung dan paru. Di luar itu,
pemeriksaan neurologis harus memasukkan status mental dan temuan fokal.
Pendekatan diagnostik harus mencakup tes berikut seperti darah lengkap, kadar
ureum darah, kreatinin serum, elektrolit, gula darah, C-reactive protein (CRP), fungsi
hati, dan fungsi tiroid. Penting pula untuk mengidentifikasi penggunaan obat dan
senyawa lain misalnya alkohol atau benzodiazepin, yang dapat berkontribusi pada
penyakit ini (Mittal dkk, 2011).
Tidak ada pemeriksaan laboratorium, pencitraan otak atau tes lain yang lebih
akurat dibanding pemeriksaan klinis. Namun, mereka dapat berguna untuk
mengidentifikasi kemungkinan penyebab delirium dan faktor kontributor yang dapat
dikoreksi. Pada sejumlah kondisi, pencitraan otak dan elektroensefalografi (EEG)
bermanfaat, jika terdapat bukti kuat adanya penyebab intrakranial, berdasarkan
pemeriksaan klinis (misalnya perubahan status mental setelah terjadi benturan pada
kepala) atau jika tanda neurologis fokal atau aktivitas kejang terdeteksi saat
dilakukan pemeriksaan fisik (Choi, 2012)
2.2 Peranan Neuroinflamasi pada Delirium
2.2.1 Kondisi Klinis dengan Reaksi Inflamasi Sistemik yang Mencetuskan
terjadinya Delirium
Inflamasi sistemik sering merupakan gambaran yang nyata dari beberapa
kondisi medis dan bedah yang berhubungan dengan delirium, terutama ketika proses
37
ini melibatkan kerusakan jaringan dan atau infeksi. Oleh karena itu, delirium
merupakan manifestasi yang paling sering dari disfungsi multiorganik. Misalnya
pada kondisi sepsis, yang merupakan gambaran klinis dari infeksi saluran kemih atau
pneumonia (khususnya pada pasien lansia yang mengalami dementia) (Siami dkk.,
2008) atau merupakan komplikasi dari pembedahan mayor (O’Keeffe, Chonchubair,
1994).
Infeksi perifer mengaktivasi kaskade inflamasi yang diikuti pengenalan
komponen spesifik dari mikroorganisme, misalnya lipopolisakarida (LPS) dari
bakteri gram negatif, oleh fagosit dalam sirkulasi (Sheng dkk., 2003). Banyak sekali
faktor-faktor, misalnya kerusakan jaringan, kehilangan darah, nyeri dan anestesi
dapat mempengaruhi fungsi dari sel imunokompeten dan menghasilkan mediator
inflamasi. Bahkan pada kondisi yang steril, inflamasi dapat dipicu oleh kerusakan
jaringan dengan pelepasan ligan endogen, termasuk heat shock protein, hialuronan,
β-defensin dan kristal asam urat. Sitokin proinflamasi yang dihasilkan oleh makrofag
dan monosit, termasuk tumor necrosis alpha (TNF-α) dan IL-1 akan merangsang
ekspresi dari beberapa mediator yang berfungsi untuk menghasilkan sel inflamasi
lainnya yang akan merusak jaringan. Oleh karena itu, pada awalnya terjadi respon
imun lokal kemudian akan menyebar ke seluruh tubuh, sehingga respon sistemik
akan meningkatkan kadar sitokin dalam sirkulasi. Pada pembedahan jantung,
cardiopulmonal
bypass
tampaknya
merupakan
faktor
risiko
utama
yang
mengaktivasi komplemen dan mensekresikan sitokin proinflamasi yang berkontribusi
terhadap disfungsi multiorgan postoperasi. Peningkatan kadar mediator inflamasi
juga berhubungan dengan disfungsi organ postoperasi pada pembedahan nonkardiak
(Groeneveld dkk.,1997).
38
Pada banyak kondisi medis dan bedah, dimana delirium paling banyak
terjadi, pelepasan dan produksi mediator proinflamasi ke dalam sirkulasi merupakan
bagian dari proses patofisiologi. Bukti nyata yang secara langsung membuktikan
keterlibatan inflamasi sistemik dalam hal terjadinya delirium berasal dari beberapa
penelitian yang menyatakan bahwa kadar CRP, IL-6, IL-8 dan TNF-α tinggi pada
pasien yang mengalami delirium postoperasi dibandingkan dengan yang tidak
mengalami delirium (Van Munster dkk., 2008).
2.2.2 Efek Inflamasi Sistemik Akut terhadap Otak
2.2.2.1 Dari Proses Inflamasi Sistemik menjadi Neuroinflamasi
Saat ini sudah terbukti bahwa sel SSP bereaksi terhadap adanya sinyal imun
perifer, yang menyebabkan terjadinya produksi dari sitokin dan mediator inflamasi
lainnya di otak, kemudian terjadi proliferasi sel dan aktivasi hypothalamus-pituitaryadrenal axis melalui interaksi sistem yang kompleks. Respon imun alamiah ini
merupakan mekasime adaptasi yang penting karena mengatur respon sentral untuk
melawan infeksi akut. Beberapa mekanisme yang terlibat dalam respon ini adalah
(Hopkins, 2007):
1. Pengenalan langsung terhadap sinyal patogen atau mediator inflamasi pada
daerah-daerah dimana sawar darah otak terganggu atau tidak ada.
2. Sistem transport sitokin pada sawar darah otak yang bergantung pada energi
(energy-dependent) atau diproduksinya second messenger aktif di dalam sawar
darah otak.
3. Pengenalan aktivasi respon umun perifer oleh sel saraf sensoris yang membawa
informasi ke otak melalui sistem saraf otonom.
39
2.2.2.2 Kerusakan Sawar Darah Otak
Penelitian-penelitian
pada
binatang menunjukkan
bahwa
rangsangan
inflamasi perifer berhubungan dengan perubahan fungsi dan molekuler sawar darah
otak. Peningkatan permeabilitas sawar darah otak dan perubahan ekspresi protein
tight-junctional dilaporkan pada tiga model inflamasi yang berbeda. Injeksi LPS
merangsang kaskade inflamasi pada fase awal yang menyebabkan kerusakan sawar
darah otak, over-expresion dari molekul adhesi di sel endotel, perekrutan dan
infiltrasi dari derivat sel darah putih ke dalam jaringan otak (Nishioku, 2009).
Penelitian postmortem pada jaringan otak manusia juga menunjukkan hubungan
antara inflamsi sistemik dengan aktivasi sel sel endotel dan sel perivaskular.
Walaupun konfirmasi neuropatologi dari kerusakan sawar darah otak pada manusia
sangat sulit untuk dibuktikan, namun peningkatan kadar S100B
dapat
dipertimbangkan sebagai bukti terjadinya peningkatan permeabilitas sawar darah
otak (Munster dkk, 2010). Oleh karena itu, beberapa kondisi yang berhubungan
dengan inflamasi sistemik akut (misalnya syok sepsis dan pembedahan jantung)
mungkin berhubungan dengan disfungsi sawar darah otak. Demikian juga, kerusakan
sawar darah otak selama episode delirium dapat disimpulkan dari penelitian yang
menunjukkan peningkatan kadar S100B serum pada pasien lansia yang menderita
penyakit medis. Begitu pula delirium yang terjadi pada fase awal syok sepsis,
berhubungan dengan leucoencephalopathy pada otak. Hal inilah yang diperkirakan
sebagai penyebab terjadinya kerusakan sawar darah otak. Sebagai tambahan, faktor
lain yang mempengaruhi struktur dan fungsi dari sawar darah otak adalah hipoksia,
iskemik dan nyeri (Gambar 3) (Sharshar dkk., 2007).
40
2.2.2.3 Respon Sistem Saraf Pusat yang Diperantarai oleh Molekul-molekul dalam
Sirkulasi Sistemik
Pada SSP, bermacam-macam molekul, seperti LPS dapat berinteraksi secara
langsung dengan reseptor yang terdapat dalam sel endotel dan sel parenkim otak. Sel
mikroglia merupakan sel yaang paling bisa mendeteksi perubahan pada lingkungan
SSP melalui banyak resptor inti dan reseptor permukaan. Oleh karena itu, pada SSP
tikus, sel yang terletak pada pembuluh darah besar dan mikroglia mengekspersikan
Toll-like Recptor 4 (TLR4; reseptor dari LPS). Aktivasi TLR4 merupakan kunci
utama dalam respon inflamasi SSP terhadap LPS perifer. Ada juga bukti yang
menyatakan bahwa mediator lainya juga berpengaruh terhadap komunikasi antara sel
perifer dengan otak, termasuk TNF-α dan protein chemoattractant monosit. Sekali
teraktivasi, mikroglia mengalami perubahan morfologi dan bersamaan dengan itu,
mikroglia mengekspresikan beberapa molekul seperti MHC klas I, CD45, CD4,
ICAM-1, VLA-4, LFA-4 dan Fas. Setelah terstimulasi, beberapa mikroglia
mengekspersikan MHC klas II dan molekul B7. Perubahan ini bergabung dengan
produksi dari sitokin proinflamasi oleh mikroglia (TGF-B1, IL-1B, TNFa, IGF-1),
spesies oksigen reaktif (Reactive Oksigen Species, ROS) dan ekspansi dari populasi
mikroglia melalui proliferasi dari sel dan perekrutan dari sekitarnya atau melalui
darah (Block dkk., 2007).
Pengenalan awal rangsangan inflamasi di sawar darah otak diikuti oleh
aktivasi kaskade inflamasi yang mengakibatkan pergerakan sel-sel berdekatan dan
unit struktural neurovaskular. Sel endotel, astrosit, mikroglia, sel periset dan lamina
basal berinterkasi melalui perantaraan mediator inflamasi, termasuk sitokin, kemokin
dan metaloproteinase. Astrosit merupakan sel yang paling penting dalam
41
mengantarkan sinyal di dalam unit neurovaskular kepada bagian otak lainnya dengan
menggunakan kontrol multimodal dari transmisi sinaptik, eksitabilitas sel saraf dan
aliran darah otak (Block dkk., 2007).
Gambar 3. Pengenalan dan propagasi dari rangsangan imun perifer pada SSP.
Interakasi awal dari mediator inflamasi (sitokin proinflamasi dan LPS) dengan
unit neurovaskular terjadi melalui beberapa reseptor dan berkaitan dengan
peningkatan permeabilitas sawar darah otak (Cerejeira dkk, 2010).
2.2.2.4 Inflamasi Sistemik Akut dan Disfungsi Neurokognisi
Hasil akhir dari inflamasi sistemik tidak hanya berhubungan dengan delirium
tetapi juga dengan banyak gejala neuropsikiatri. Pada manusia yang sehat, studi
eksperimental dengan menggunakan endotoksin bakteri ternyata berefek terhadap
fungsi kognisi, status emosional dan pola tidur. Sitokin dalam sirkulasi mengalami
peningkatan setelah pemberian dosis sangat rendah dari LPS (0.2 ng/KgBB) dan
perubahan ini mempunyai pengaruh negatif terhadap memori (Qin., 2007). Yang
terbaru adalah sebuah penelitian menggunakan magneting resonance imaging (MRI)
yang mendokumentasikan tentang injeksi LPS pada manusia sehat ternyata
menyebabkan reaksi inflamasi sistemik yang menetap dan retardasi psikomotor. Hal
42
ini berhubungan dengan peningkatan aktivitas substansia nigra (SN) kiri (Brydon,
2008).
Perubahan fungsi kognitif yang terjadi setalah inflamasi sistemik yang akut
diperkirakan sebagai akibat dari interaksi selular dan molekular yang sinergis pada
bagian-bagian otak yang berbeda dan terutama pada hipokampus. Sitokin
proinflamatory IL-1 telah lama dikenal sebagai perusak hipokampus dan mempunyai
peranan penting pada proses neurofisiologis dari konsolidasi memori, dan modulasi
plastisitas sinaptik. IL-6 juga mempengaruhi disfungsi hipokampus. Sebaliknya, IL10 tampaknya mengimbangi efek IL-1 dan IL-6, dengan cara menghambat pengaruh
inflamasi sistemik terhadap perubahan kognisi dan perilaku. Demikian juga,
penurunan ekspresi hipokampal brain-derived growth factor (BDNF) dan
peningkatan stres oksidatif karena disfungsi mitokondria juga berpengaruh pada
defisit kemampuan belajar dan memori yang berhubungan dengan neuroinflamasi.
Hal ini memberi kesan bahwa reaksi kombinasi otak untuk menghasilkan ROS,
sitokin
proinflamasi,
metaloproteinase,
Nitrit
Oksida
(NO)
dan
kemokin
menyebabkan perubahan fungsional pada sel saraf, kemudian mempengaruhi
beberapa proses misalnya: plastisitas sinaptik, potensiasi jangka panjang, dan dapat
mengganggu memori dan proses belajar.
Ada bukti bahwa aktivasi mikroglia dan astrosit oleh sistem imun perifer
dapat mengakibatkan ketidak seimbangan Bax/Bcl-2 dan mempengaruhi sel
intraparenkim otak. Pada kasus yang fatal, misalnya syok sepsis, Sharsat dkk
melaporkan bahwa terjadi apoptosis sel glial dan sel saraf dalam pusat otonomik di
otak manusia. Lee dkk menduga bahwa aktivasi amyloidegenesis berhubungan
dengan neuroinflamasi, dimana hal ini merupakan mekanisme utama yang
43
mengakibatkan apoptosis dan kematian sel saraf serta disfungsi neurokognisi.
Rangkaian proses ini terjadi dalam sistem saraf pusat setelah adanya stimulasi
sistem imun perifer. Oleh karena itu, sekali terjadi paparan LPS atau TNF-α dapat
menimbulkan kehilangan saraf dopaminergik yang signifikan dalam SN, sekitar 27%
dalam tujuh bulan pertama dan bertambah berat (47%) dalam sepuluh bulan setelah
paparan pertama.
Secara keseluruhan, data-data ini menunjukkan bahwa paparan akut terhadap
inflamasi sistemik menyebabkan sindrom klinis neurokognisi yang dapat disamakan
dengan delirium. Hal ini disebabkan oleh reaksi neuroinflamasi yang mempengaruhi
fungsi sel saraf dan sinaptik. Sintesis asetilkolin sangat sensitif terhadap perubahan
homeostasis otak, dimana proses neuroinflamasi menimbulkan defisit kolinergik
yang berkaitan dengan ketidakseimbangan neurotransmiter lainnya, misalnya
dopamin, serotonin dan norephineprin. Ilmu pengetahuan saat ini tidak dapat
menjelaskan secara lengkap mekanisme yang pasti tentang apakah perubahan
struktural, fungsional dan neurokimiawi menimbulkan gejala kognisi, perilaku dan
emosional. Data dari bagian anestesi menggambarkan bahwa beberapa gejala utama
delirium melibatkan perubahan aspek dinamik dari aktivitas sel saraf, kemudian
mempengaruhi kemampuan otak untuk mengintegrasikan informasi melalui
diskoneksi fungsional dari struktur-struktur anatomi yang berbeda. Demikian juga,
perbedaan gambaran klinis mungkin timbul karena gangguan pada bagian otak yang
berbeda, yang dikenal sebagai pusat kesadaran, perhatian dan kewaspadaan.
Kemudian, mekanisme neuroinflamasi ini juga mungkin terlibat dalam beberapa
gejala spesifik delirium (Qin dkk., 2007).
44
2.3
Peranan Proses Penuaan pada Delirium
Proses penuaan yang disertai perubahan fisiologis pada penuaan merupakan
faktor risiko terjadinya delirium. Proses penuaan berhubungan perubahan pada otak
misalnya
pengaturaran neurotransmiter yang berkaitan dengan stress metabolik,
penurunan aliran darah otak , penurunan densitas vaskuler, kehilangan sel saraf
(terutama pada locus cereleus dan substantia nigra) dan penurunan transduksi
intraseluler. Proses-proses ini yang menjelaskan mengapa proses penuaan berkaitan
dengan beberapa gangguan defisist kognitif
dan peningkatan risiko dementia.
Beberapa penelitian menyatakan bahwa ada hubungan resiprokal antara delirium dan
penurunan fungsi kognitif. Dementia merupakan faktor risiko utama delirium pada
pasien-pasien usia lanjut dan kelanjutan proses delirium itu sendiri tampaknya
meningkatkan risiko penurunan fungsi kognisi, termasuk dementia.
Penuaan itu sendiri menunjukkan peningkatan jumlah mediator inflamasi di
dalam sirkulasi yang menunjukkan bahwa proses neurodegenerasi kronik yang
disebakan oleh respon inflamasi mengaktivasi sel mikroglia SSP. Sel mikroglia ini
menghasilkan respon inflamasi yang berlebihan terhadap perubahan imunologi.
Perubahan pada sistem imun yang berkaitan dengan penuaan (immunosenescence)
menyebabkan peningkatan sekresi sitokin oleh jaringan adiposit. Hal ini merupakan
penyebab utama inflamasi kronik, yang lebih dikenal sebagai “inflammaging”.
Proses inflamasi ini mungkin berkontribusi terhadap progresifitas penyakit melalui
produksi mediator inflamasi. Proses penuaan berhubungan dengan peningkatan nilai
baseline dua sampai empat kali mediator inflamasi termasuk sitokin dan protein fase
akut. Faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap delirium pada pasien usia lanjut
adalah lower cognitive reserves, kapasitas metabolik yang rendah, peningkatan
45
sensitivitas terhadap obat-obatan dan rendahnya threshold terhadap efek obat-obat
antikoloinergik.
Beberapa mekanisme utama yang berhubungan dengan peningkatan risiko
terjadinya delirium pada usai lanjut:
1. Kehilanagn sel saraf terutama pada lokus coereleus dan substantia nigra.
2. Perubahan pada berbagai sistem neurotransmitter.
3. Penurunan intergritas white matter yang berhubungan dengan usia.
4. Penurunan aliran darah otak, terutama pada gyrus cingulate anterior, basal
ganglia bilateral, bagian prefrontal kiri, bagian frontal lateral kiri dan bagian
temporal superior kiri, dan korteks insular.
5. Penurunan metabolisme oksigen pada otak.
6. Berkurangnya suplai oksigen (misalnya hipoksia).
7. Berkurangnya metabolism oksidatif otak.
2.4
Biomarker Delirium
Untuk meningkatkan diagnosis dan perawatan delirium, beberapa
biomarker telah diteliti sebagai alat penunjang untuk stratifikasi, diagnosis,
monitoring dan prognosis delirium. Penelitian-penelitian telah direview dan tidak
ditemukan evidence yang menyokong kegunaan klinis dari biomarker delirium,
walaupun beberapa biomarker seperti S100B, insulin-like growth factor (IGF)-1 dan
beberapa marker inflamasi telah menunjukkan hasil yang menjanjikan untuk
dievaluasi pada penelitian-penelitian berikutnya. Untuk meningkatkan diagnosis dan
perawatan, para peneliti telah mengidentifikasi beberapa biomarker yang mungkin
membantu dalam diagnosi, severitas, perkembangan terapi terbaru, monitoring
respon terapi dan hasil akhir dari delirium yang telah membaik (Khan dkk., 2011).
46
Patofisiologi delirium belum bisa dijelaskan dengan pasti dan mungkin
menunjukkan respon otak terhadap stres lokal atau sistemik yang melibatkan
interaksi jalur biologi sentral dan perifer yang menimbulkan gejala klinis delirium.
Ada dua hipotesis utama untuk menjelaskan mekanisme terjadinya delirium, yaitu:
teori neurotransmiter dan teori inflamasi. Teori neurotransmiter menggambarkan
kelebihan atau kekurangan beberapa neurotransmiter mengakibatkan timbulnya
gejala yang berhubungan dengan delirium. Seperti yang sudah dikemukan bahwa
delirium merupakan akibat dari interaksi yang kompleks antara berbagai faktor
presiposisi dan faktor presipitasi. Interaksi ini mengakibatkan ketidakseimbangan
neurotransmiter yang mengakibatkan terjadinya delirium, dimana terjadi pelepasan
dopamin yang berlebihan, defisiensi sintesis asetilkolin dan tinggi atau rendahnya
kadar serotonin dan gamma-amino-butiric-acid (GABA) (Cerejeira, 2012).
Teori inflamasi menekankan pada peran dari sitokin sebagai respon terhadap
adanya stressor pada delirium, termasuk diantaranya IL-1, IL-6, interferon danTNFα. Teori ini menggambarkan kesamaan gangguan berikut yang disebabkan oleh
pelepasan sitokin dan delirium. Berdasarkan penelitian pada binatang, kedua teori ini
tidak dapat berdiri sendiri melainkan saling mempengaruhi satu sama lain dalam
menjelaskan terjadinya delirium. Beberapa biomarker telah dihubungkan dengan
risiko terjadinya delirium, menilai aktivitas penyakit dan juga dihubungkan dengan
derajat severitas delirium itu sendiri. Genetik marker seperti Apolipoprotein (Apo)-E,
marker inflamasi (IL-6, IL-8, Kortisol, CRP) dan IGF-1 telah dihubungkan dengan
risiko terjadinya delirium pada pasien usia lanjut. Alel Apo-E merupakan faktor
risiko terjadinya delirium dan durasi delirium yang lebih lama. Tingginya kadar IL-8,
kortisol dan CRP mungkin dapat memprediksi terjdanya delirium bersamaan dengan
47
rendahnya kadar IGF-1. Dalam hal diagnosis dan penilaian aktivitas penyakit, serum
aktifitas antikolinergik (SAA), mediator inflamasi (IL-6 dan IL-8) dan IGF-1 juga
berkorelasi sangat kuat dengan delirium (Cerejeira dkk, 2012). Sedangkan kadar
S100B dan neuro-specific enolase (NSE) berhubungan dengan derajat severitas
delirium, dimana S100B merupakan faktor yang paling konsisten berhubungan
dengan delirim setelah dilakukan adjustmen terhadap beberapa variabel perancu (Aly
dkk., 2014).
Biomarker memegang peranan penting dalam menjelaskan patofisologi
delirium. Diagnosis, prognosis dan pengaruh jangka panjang dari delirium.
Biomarker dapat sangat berguna untuk perkembangan terapi delirium dan secara
tidak langsung bermanfaat untuk menilai severitas delirium. Secara umum biomarker
dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu biomarker yang berhubungan
dengan risiko terjadinya delirium dan biomarker yang menggambarkan delirium itu
sendiri, dalam hal ini diagnosis, severitas dan lama delirium terjadi (Khan dkk.,
2011).
Keadaan tumpang tindih ditemukan antara marker inflamasi pada delirium
dan sistem kolinergik pasien. Asetilkolin bersifat menghambat pelepasan sitokin
proinflamasi IL-6 sehingga mengontrol inflamasi pada otak. Oleh karena itu, prosesproses yang menyebabkan sistem kolinergik gagal dengan berkurangnya simpanan
asetilkolin mungkin akan menyebabkan kontrol yang inadekuat terhadap kaskade
inflamasi dan mempengaruhi terjadinya delirium. Delirium juga dapat dilihat sebagai
perilaku penyakit yang diakibatkan oleh sitokin. Sitokin-sitiokin ini menyebabkan
terjadinya demam, kelemahan dan letargi sehingga menyebabkan gangguan
konsentrasi, gangguan tidur dan agitasi. Sitokin ini mengurangi aktiviats kolinergik
48
terutama pada usia lanjut dengan penyakit neurodegenratif misalnya penyakit
Alzheimer. Siklus berulang ini terus berlangsung, regulasi yang tidak adekuat dari
inflamasi karena menurunnya aktivitas kolinergik. Regulasi yang tidak adekuat ini
menjelaskan interaksi yang kompleks anatar teori inflamasi dan teori neurtransmiter
(Cerejeira dkk., 2012).
2.4.1 S100 Calcium Binding Protein B (S100B)
S100 merupakan protein dengan berat molekul 20kDa termasuk pada
superfamili S100/calmodulin/troponin C dari protein calcium binding EF-hand. S100
diisolasi dari otak manusia dan diperkirakan sebagai protein spesifik pada sel glia.
Sampai saat ini, ada 20 monomer family S100 yang telah teridentifikasi berdasarkan
kesamaan fungsi dan struktur. Hampir semua protein S100 dalam bentuk dimer dan
diakspresikan oleh sel-sel yag khusus. Dua monomer S100 (S100A1 dan S100B)
terdapat pada sel glia sistem saraf pusat dan pada beberapa sel perifer, misalnya: sel
Schwan, sel melanosit, sel adiposit dan sel kondrosit. Disamping itu, kedua monomer
ini juga ditemukan pada beberapa penyakit keganasan seperti melanoma, glioma,
karsinoma tiroid dan renal cell carcinoma (Macedo dkk., 2014). Pengukuran kadar
S100B pada serum telah menunjukkan kegunaan klinik untuk monitoring terapi dan
prognosis pasien dengan melanoma maligna. Beberapa penelitian juga menyatakan
bahwa kadar S100B serum berguna dalam manajemen pasien dengan cedera kepala,
henti jantung, pembedahan jantung dan stroke (Heizmann, 2002).
S100B merupakan biomarker yang menunjukkan injuri secara langsung pada
sel saraf, misalnya cedera kepala dan penyakit cerebrovascular. S100B menunjukkan
hal yang menjanjikan untuk menilai tingkat keparahan delirium. Astrosit melepaskan
S100B dan kadar S100B yang tinggi mungkin menunjukkan injuri tidak langsung
49
pada sel glia. Adanya hubungan yang kuat antara kadar S100B serum dengan
delirium setelah dilakukan adjustment terhadap variabel perancu. Pada ketiga
penelitian ini menunjukkan kadar S100B yang tinggi pada pasien yang mngalami
delirium. Salah satu penelitian melaporkan adanya korelasi antara S100B dengan
sitokin IL-6 dan IL-8 (Aly dkk., 2014).
2.4.2 Interleukin-6
Interleukin-6 merupakan glikoprotein multifungsi yang diproduksi oleh sel
normal dan sel yang mengalami transformasi, misalnya: sel T, monosit/makrofag,
fibroblast, hepatosit, sel endotel vaskular, cardiac mixoma, sel karsinoma kandung
kemih, sel mieloma, astroglioma dan glioblastoma. Produksi IL-6 pada sel-sel
tersebut diatas diatur baik secara positif maupun negatif
oleh berbagai sinyal
termasuk mitogen, stimulasi antigen, LPS, IL-1, TNF, dan virus (Scheller dkk.,
2011).
Pada SSP, sel astrosit merupakan sumber utama IL-6. Walaupun IL-6
mempunyai efek yang menguntungkan karena bersifat neurotropik, overekspresi dari
IL-6 pada umumnya bersifat merusak. Hal inilah yang berhubungan dengan
patofisiologi terjadinya gangguan pada SSP. Interleukin-6 sebagai marker inflamasi
mempunyai peranan dalam terjadinya delirium. Pada beberapa penelitian, IL-6
berhubungan dengan risiko terjadinya delirium, aktifitas penyakit dan diagnosis
delirium (Adamis dkk., 2007; Van Munster dkk., 2010).
2.5
Instrumen Diagnosis Delirium
Sebelum adanya revisi Diagnostic and Statistical Manual (DSM) III,
beberapa instrumen diagnsotik delirium masih belum terstandarisasi. Oleh karena itu,
sebelum tahun 1980, ada banyak istilah (gagal otak akut, acute confusional state,
50
sindrom organik akut, psikosis postoperasi, insufisiensi serebral, ensefalopati, dll)
yang digunakan dalam literatur untuk mengambarkan delirium. Kemudian dalam
beberapa tahun ini, ada beberapa instrumen yang telah dipakai untuk skrining,
diagnosis dan menilai derajat severitas delirium. Diantara berbagai instrumen
skrining delirium, NEECHAM confusion scale dan Delirium Observation Scale
merupakan yang paling cocok dipakai pada pasien-pasien di bangsal perawatan
bedah dan medik. Secara umum, instrumen-instrumen yang dipakai untuk
mendiagnosis delirium (seperti CAM, CAM-ICU, DRS-R-98, dan MDAS) selalu
mengacu pada kriteria DSM. Instrumen-intrumen tersebut mempunyai nilai
reliabilitas dan validitas yang baik. Diantara bermacam-macam instrumen delirium
ini, CAM merupakan yang paling sering digunakan sebagai instrumen diagnosis
karena akurasi, ringkas, dan mudah digunakan para klinisi (Grover dan Kate, 2012;
Adamis dkk, 2010).
Tabel 1. Beberapa Instrumen Klinis untuk Diagnosis Delirium (Grover dan
Kate, 2012).
Sensitivitas
DRS
≥ 10
95%
DRS-98-R
≥ 12
80%
MDAS
≥ 13
68%
MMSE
< 24
96%
Spesifitas
61%
76%
94%
38%
Negatif PA
89%
69%
63%
88%
Positif PA
80%
85%
95%
72%
Cutoff
2.5.1
Confusion Assesment Method (CAM)
Confusion Assesment Method merupakan alat diagnostik utama untuk
delirium yang banyak digunakan berdasarkan kriteria DSM-III-R dan diskusi panel
ahli. Versi singkatnya meliputi algoritme diagnostik, berdasarkan empat ciri kardinal
delirium yakni (1) onset akut dan perjalanan fluktuatif; (2) penurunan perhatian; (3)
pikiran tak terorganisir; dan (4) perubahan tingkat kesadaran. Diagnosis delirium
51
berdasarkan CAM membutuhkan ciri 1, 2, disertai 3 atau 4. Kelima butir lainnya
yang tidak tercakup dalam algoritma CAM, dianggap tidak memiliki kontribusi
apappun bagi spesivitas dan sensitivitas diagnostik. Kelima gambaran tersebut,
ketika ditambahkan sendiri atau dalam kombinasi yang bervariasi, tidak
meningkatkan sensitivitas, spesivitas atau rasio probabilitas. Keberadaan gambaran
satu dan dua serta salah satu dari butir tiga atau empat dalam algoritma CAM
memberikan kontribusi terbaik dari seluruh kombinasi yang dinilai. Butir satu dan
dua diidentifikasi sebagai gejala terpenting delirium dalam DSM III-R, sedangkan
gambaran tiga dan empat didukung oleh opini ahli dan praktek klinis dengan
pertimbangan bahwa dalam kondisi kesadaran yang menurun, pikiran yang tidak
tertata seringkali tidak dapat diperkirakan atau diketahui (Vietara, 2012).
Confusion Assesment Method memiliki sensitivitas (antara 77%-100%)
(Hesterman dkk, 2009) (Vresswijk dkk., 2009) dan spesifitas yang baik (antara 84%99%) (Laurila dkk., 2002) (Gonzales dkk., 2004). CAM juga memiliki nilai
predictive value yang tinggi (antara 97%-100%) ketika digunakan di unit gawat
darurat (Monette dkk., 2001).
Confusion Assesment Method dapat digunakan dengan mudah pada kondisi
klinis rutin oleh staf medis nonpsikiatrik atau staf perawat dengan latihan
sebelumnya. Pada ruang rawat kritis atau ruang pemulihan pasca bedah, terutama
pada pasien yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal, CAM-IC (adaptasi dari
CAM) harus digunakan. Studi review terbaru menguatkan rekomendasi ini, mensitasi
bukti untuk mendukung penggunaan CAM sebagai instrumen diagnostik (Vietara,
2012).
52
2.5.2
Memorial Delirium Assesment Scale (MDAS)
Memorial Delirium Assesment Scale merupakan instrumen yang dipakai oleh
dokter untuk menilai tingkat keparahan delirium pada pasien-pasien yang menderita
penyakit medis. MDAS terdiri dari sepuluh item, dimana masing-masing item
memiliki nilai nol sampai tiga berdasarkan interaksi dengan pasien atau perilaku
pasien atau kejadian beberapa jam yang lalu. Sepuluh item pada MDAS
menggambarkan kriteria diagnostik delirium pada DSM IV.
Setiap item menilai gangguan kesadaran dan tingkat kesadaran, seperti pada
beberapa area dari fungsi kognisi (memori, perhatian, orientasi, dan gangguan
berpikir) dan aktivitas psikomotor. Item-item ini dihubungkan dengan gambaran
severitas atau intensitas dari gejala, dan telah ditinjau oleh dokter yang
berpengalaman untuk memastikan kemudahan pelaksanaan dan ketepatan penilaian.
MDAS hanya membutuhkan waktu ± 10 menit untuk dilakukan, observasi perilaku
dan tes pengenalan obyek. Ketika salah satu item tidak bisa dikerjakan, skor tetap
bisa dibagi rata dari item-item yaang bisa dikerjakan. MDAS dibuat dengan maksud
bahwa MDAS dapat dikerjakan beberapa kali pada hari yang sama, untuk menilai
secara objektif perubahan severitas delirium sebagai respon terhadap intervensi
klinis. Total skor MDAS secara signifikan dapat membedakan pasien delirium
dengan pasien-pasien yang mengalami gangguan kognisi lainnya atau mereka yang
tidak mengalami gangguan kognisi. MDAS dapat dipakai juga untuk mengdiagnosis
delirium dimana cutoff skornya adalah 13 (Breitbart dkk., 1997).
Validasi MDAS telah dilakukan oleh dua penelitian terpisah , dimana kedua
penelitian ini dikerjakan di Memorial Sloan King-Kettering Cancer Center antara
tahun 1992 sampai dengan tahun 1995. Penelitian yang pertama meneliti tentang
reliabilitass dan validasi diskriman dari MDAS dan penelitian kedua menilai
53
validitas dari MDAS. MDAS memiliki nilai interreliabilitas (0,92) dan konsistensi
internal yang tinggi (koefisien a = 0,91). MDAS juga menunjukkan korelasi yang
kuat dengan DRS (r = 0,88, p < 0,0001), MMSE (r = 0,91, P < 0,0001) dan Clinian’s
Global Ratings of Delirium Severity (r = 0,89, P < 0,0001) (Grover dan Kate, 2012).
54
BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEP,
DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Berpikir
Delirium merupakan gejala SSP yang terjadi sebagai akibat dari penyakit
sistemik. Beberapa kondisi yang berhubungan dengan terjadinya delirium (misalnya:
infeksi, pembedahan, trauma, dll) mungkin merupakan faktor pencetus aktivasi
kaskade inflamasi. Proses neuroinflamasi ini menyebabkan terjadinya gangguan
permeabilitas dari sawar darah otak. Gangguan permeabilitas sawar darah otak ini
kemudian menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan neurotransmiter, dimana
terjadi penurunan kadar asetilkolin, peningkatan kadar dopamin dan peningkatan
kadar GABA. Interaksi antara ketiga faktor ini juga menyebabkan terjadinya
gangguan permeabilitas dari sawar darah otak, hal ini ditandai dengan meningkatnya
kadar S100B.
Secara klinis penegakan diagnosis delirium dapat menggunakan Confusion
Assesment Method (CAM). Namun untuk mengukur tingkat keparahan delirium,
pemeriksaan MDAS dan DRS merupakan alat bantu yang paling sering dipakai.
35
55
Faktor Presipitasi
1. Infeksi
2. Pembedahan
3. Trauma
4. Obat-obatan
psikoaktif
5. Gangguan tidur
Faktor Predisposisi
1. Dementia
2. Penyakit yang berat
3. Gangguan sensoris
4. Usia
Interaksi
Faktor Protektif
Neuroinflamasi,
Peningkatan produksi sitokin
proinflamasi (IL-6, CRP, dan IL-8)
Ketidakseimbangan
Neurotransmiter
Ach,
Dop
GABA
Delirium
Memorial Delirum
Assesment Scale
Ringan
S100β
Sedang
Gambar 3.1 Kerangka Berpikir
Berat
56
3.2 Konsep Penelitian
Neuroinflamasi
( IL-6 )
Delirium
Memorial Delirum
Assesment Scale
↑ S100B
Keterangan:
: Variabel tergantung
: Variabel bebas
Gambar 3.2 Konsep Penelitian
3.3 Hipotesis
Adapun hipotesis pada penelitian ini yakni adanya hubungan korelasi antara
peningkatan kadar S100B dan kadar IL-6 serum dengan tingkat keparahan delirium
pada pasien geriatri.
57
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini merupakan penelitian crosssectional analitik untuk
mengetahui korelasi antara kadar S100B serum dan kadar interleukin-6 dengan
tingkat keparahan delirium pada pasien geriatri yang dirawat di RSUP Sanglah,
Denpasar.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
4.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Ruang Perawatan RSUP Sanglah, Denpasar.
4.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2014 sampai dengan bulan
Februari 2015.
4.3 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini meliputi bidang Geriatri Bagian Ilmu Penyakit
Dalam RSUP Sanglah, Denpasar.
4.4 Penentuan Sumber Data Penelitian
4.4.1 Populasi Target
Populasi target penelitian ini adalah semua pasien geriatri.
4.4.2 Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau penelitian ini adalah semua pasien geriatri yang dirawat di
RSUP Sanglah, Denpasar.
38
58
4.5 Sampel dan Besar Sampel
4.5.1 Sampel Penelitian
Sampel penelitian yang digunakan adalah semua pasien geriatri (lansia dengan
multipatologi) di ruang perawatan RSUP Sanglah yang memenuhi kriteria inklusi
dan eksklusi.
Kriteria Inklusi :
a. Pasien Geriatri yang dirawat di RSUP Sanglah, baik pria maupun wanita.
b. Bersedia ikut serta dalam penelitian dengan menandatangani informed consent.
Kriteria Eksklusi :
a. Pasien dengan penyakit keganasan.
b. Pasien yang mengalami pembedahan.
c. Pasien yang menggunakan obat-obatan psikoaktif.
4.5.2 Besar Sampel Penelitian
Perkiraan besar sampel untuk penelitian ini dihitung berdasarkan rumus
untuk penelitian analitik koleratif (Dahlan, 2009):
2


Z  Z 
n 
 3
 0.5 In [ (1  r ) / (1  r ) ] 
Keterangan :
n = perkiraan minimal jumlah sampel yang diperlukan
Kesalahan tipe I = 5 %, hipotesis dua arah, Zα = 1,96
Kesalahan tipe II = 10 % sehingga Zβ = 1,282
r = koefisien korelasi = 0,3
Dari rumus diatas maka didapatkan jumlah n adalah :
2


1,64  1,28
n 
 3
 0.5 In [ (1  0,3 ) / (1  0,3) ] 
= 71,621  dibulatkan 72
Jadi jumlah sampel minimal yang harus diteliti adalah 72 orang
59
4.6 Variabel Penelitian
4.6.1 Variabel tergantung : Kadar S100β serum dan kadar IL-6
4.6.2 Variabel bebas
: Tingkat Keparahan Delirium
4.6.3 Variabel perancu
: Usia, penyakit komorbid (Charlson’s Age-Comorbidity
Index).
4.7 Definisi Operasional Variabel Penelitian
4.7.1 Geriatri: populasi usia lanjut yang berusia lebih dari 60 tahun serta
mempunyai ciri khas multipatologi, tampilan gejalanya tidak khas, daya
cadangan faali menurun, dan biasanya disertai gangguan fungsional (Martono
dan Pranarka, 2010).
4.7.2 Tingkat Keparahan Delirium: manifestasi delirium yang diukur menggunakan
kuesioner MDAS (lampiran 5) yang terdiri dari sepuluh item, dimana masingmasing item memiliki nilai nol sampai empat berdasarkan interaksi dengan
pasien atau perilaku pasien atau kejadian beberapa jam yang lalu. Semakin
tinggi nilai MDAS menggambarkan semakin berat delirium.
4.7.3 Kadar S100β serum: merupakan suatu calcium-binding protein yang disekresi
oleh astrosit dibawah pengaruh kondisi metabolik stres dan merupakan
biomarker yang menandakan kerusakan dari SSP. Kadar S100B serum diukur
menggunakan Human
S100B ELISA Kit (Elabscience) yang dinyatakan
dalam pg/mL.
4.7.4 Kadar IL-6: merupakan glikoprotein multifungsi yang juga diproduksi oleh
astrosit sebagai respon terhadap inflamasi sistemik. Kadar IL-6 diukur
menggunakan alat Human Interleukin 6 Immunoassay (Quantikine) yang
dinyatakan dalam pg/mL.
60
4.7.5 Usia : Usia biologis pasien yang dinyatakan dalam tahun, diperoleh dari akte
kelahiran atau Kartu Tanda Penduduk (KTP). Jika tidak diketahui umur
berdasarkan akte kelahiran atau KTP, maka umur dapat diperkirakan
dengan menghubungkan kelahiran dengan kejadian yang bersejarah di
lingkungan sekitar.
4.7.6 Penyakit Komorbid: Penyakit lain yang juga juga diderita pasien. Penyakit
komorbid ini akan diukur menggunakan Charlson’s-Age Comorbidity Index
(CACI) untuk mengukur pengaruh penyakit komorbid terhadap delirium.
4.7.7 Penyakit Keganasan:
penyakit-penyakit keganasan yang juga dapat
meningkatkan kadar S100B serum dan kadar IL-6. Misalnya: melanoma
maligna, karsinoma tiroid dan renal cell carcinoma. Penyakit-penyakit
keganasan ini didiagnosis berdasarkan manifestasi klinis yang ada pada
pasien.
4.7.8 Pembedahan: Tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan
membuka
atau
menampilkan
bagian
tubuh
yang
akan
ditangani.
(Sjamsuhidayat, 2005).
4.7.9 Obat-obatan
psikoaktif:
Golongan
obat-obatan
psikoaktif
adalah
antikolinergik, narkotika, benzodiazepines, hipnotik.
4.8 Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Kuesioner umum berdasarkan Rekam Medis Geriatri RSUP Sanglah
Denpasar untuk mengetahui identitas, keluhan, karakteristik pasien,
keluhannya secara subyektif dan pemeriksaan secara obyektif.
61
2. Kuesioner CAM untuk mendiagnosis delirium.
3. Kuesioner Khusus Memorial Delirium Assesment Scale (MDAS) untuk
mengetahui tingkat keparahan delirium yang sudah divalidasi di beberapa
negara (Machado dkk., 2011).
4. Human
S100β ELISA Kit (Elabscience) untuk mengukur kadar S100B
serum. Bahan yang digunakan adalah darah penderita sebanyak 5 cc untuk
pemeriksaan serum S100B.
5. Kit Human Interleukin 6 Immunoassay (Quantikine) untuk mengukur kadar
IL-6.
6. Kuesioner Charlson’s Age-Comorbidity Index untuk mengukur pengaruh
penyakit komorbid terhadap delirium.
4.9 Prosedur Penelitian
Setelah mendapatkan izin dari Komisi Etik dan izin dari Direktur Rumah
Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, dilanjutkan dengan pengambilan sampel
penelitian di Bangsal Perawatan RSUP Sanglah Denpasar. Semua responden
diberitahukan dan dijelaskan tentang penelitian ini dan bila bersedia ikut dalam
penelitian, responden akan menandatangani informed consent. Kemudian dilakukan
skrining pada responden untuk diagnosis delirium dengan menggunakan kriteria
CAM dan dilanjutkan dengan pemeriksaan MDAS untuk mengukur tingkat
keparahan delirium pada pasien yang terdiagnosis delirium.Selanjutnya dilakukan
pengambilan sampel darah pada responden untuk pemeriksaan kadar S100β serum
dan kadar IL-6. Setelah data terkumpul semua akan dianalisis untuk mendapatkan
hasil dari penelitian tersebut.
62
4.10 Alur Penelitian
Pasien Geriatri yang di rawat di RSUP Sanglah,
Denpasar

Izin Direktur RSUP sanglah
Komisi Etik
Memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi
Pemeriksaan Untuk Diagnosis Delirium
Anamnesis dengan kriteria CAM
Menilai derajat severitas delirium menggunakan MDAS
Menghitung nilai MDAS
Pengambilan serum untuk memeriksa
kadar S100β dan IL-6
Analisis data
Hasil
Gambar 4. Alur Penelitian
4.11 Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dan diolah dengan
menggunakan program SPSS 21.0 meliputi (Dahlan, 2009):
1. Analisis Deskriptif.
Setelah data terkumpul, analisis deskriptif dikerjakan untuk menilai umur, jenis
kelamin, Charlson’s Age-Comorbidity Index, nilai MDAS, kadar S100β serum
dan kadar IL-6.
2. Uji Normalitas.
Uji Normalitas menggunakan uji Kolmogorov-smirnov (sampel lebih dari 50)
untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak.
63
3. Analisis Bivariat.
Apabila data berdistribusi normal, maka dilakukan uji korelasi dengan uji
pearson. Tetapi bila data tidak berdistribusi normal, maka dilakukan uji korelasi
dengan uji Spearman’s.
Uji korelasi dalam penelitian ini untuk mengetahui
korelasi antara kadar S100β serum dengan nilai MDAS dan untuk mengetahui
korelasi antara kadar IL-6 dengan nilai MDAS.
64
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Subyek Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan dari periode Januari 2016 sampai
dengan Maret 2016. Subyek penelitian berjumlah 72 orang yang terdiri dari 38 orang
laki-laki (52,8%) dan 34 orang perempuan (47,2%). Pada penelitian ini rerata umur
subyek adalah 68 ± 6,96 tahun. Penelitian ini sesuai dengan yang dilakukan oleh
Cindy dkk., (2014) dan Isfandiaty dkk., (2012). Cindy dkk. melakukan penelitian di
RSUP Sanglah periode Agustus 2013 sampai April 2014 dimana didapatkan laki-laki
paling banyak mengalami delirium (58%) dibandingkan dengan perempuan (42%).
Pada penelitian oleh Cindy dkk. (2014) juga didapatkan karakteristik umur yang
hampir sama yaitu dengan rerata umur 66 tahun. Sedangkan Isdianty dkk. (2012)
melakukan penelitian di RS Cipto Mangunkusumo juga mendapatkan hasil yang
sama dimana sebagian besar laki-laki yang mengalami delirium (52,5%) dengan
rerata umur 69,6 tahun. Karakteristik subyek selengkapnya tertera pada table 5.1.
Setelah dilakukan uji normalitas data dengan menggunakan tes KolmogorovSmirnov didapatkan hasil skor Charlson’s Age-Comorbidity Index (CACI), S100B,
IL-6 dan MDAS tidak berdistribusi normal. Pada penelitian ini didapatkan median
kadar S100B serum sebesar 5520 pg/ml dengan kadar minimal 950,87 pg/ml dan
maksimal 7741,89 pg/ml. Hasil ini menunjukkan kadar S100B yang tinggi pada
pasien yang mengalami delirium. Tingginya kadar S100B pada semua subyek
penelitian kami sesuai dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya, dimana didapatkan
kadar S100B yang tinggi pada pasien-pasien yang mengalami delirium dibandingkan
dengan yang tidak delirium (Aly, 2014; Macedo, 2013; Van Munster, 2010). Pada
45
65
penelitian yang dilakukan oleh Aly dkk., (2014) didapatkan bahwa pasien-pasien
usia lanjut yang mengalami delirium mempunyai kadar S100B lebih tinggi (32,4 ±
9,8 pg/ml) dibandingkan dengan yang tidak delirium (30,3 ± 9,3 pg/ml).
Median kadar IL-6 63,68 pg/ml dengan kadar minimal 1,03 pg/ml dan kadar
maksimal 376,89). Penelitian ini sesuai dengan yang dilakukan oleh Egberts dkk.,
pada pasien-pasien usia lanjut yang dirawat di bangsal penyakit dalam dan bangsal
geriatri didapatkan dimana didapatkan kadar IL-6 yang lebih tinggi pada pasien yang
mengalami delirium dibandingkan dengan yang tidak delirium (43,1 vs 18,5 pg/ml).
Median skor MDAS 17 dengan skor terendah 13 dan skor tertinggi 24.
Berdasarkan skor MDAS delirum dapat dikategorikan menjadi ringan (<16), sedang
(16-22) dan berat (>24). Pada penelitian ini didapatkan delirium ringan 35 orang
(48,6%), delirium sedang 20 orang (27,8%) dan delirium berat 17 orang (23,65%).
Sedangkan pada penelitian Kelly dkk., (2003) didapatkan 30% pasien mengalami
delirium berat pada saat ataupun sesudah dirawat di bagian akut rumah sakit. Pada
penelitian lain yang dilakukan oleh Marcantonio dkk., (2002) didapatkan 51%
mengalami delirium berat selama dirawat di rumah sakit.
Pada penelitian kami didapatkan median CACI enam dengan nilai terendah
tiga dan nilai tertinggi sebelas. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian oleh
Khan dkk. (2013). Pada penelitian yang dilakukan oleh Khan dkk.,
(2013)
didapatkan CCI 3,2 ± 2,7 pada pasien usia lanjut yang mengalami delirium. Hal ini
dikarenakan subyek penelitian Kahn dkk dilakukan di ruangan ICU, dimana lebih
banyak pasien post operasi. Operasi merupakan salah satu faktor presipitasi
terjadinya delirium, baik karena penggunaan obat anestesi maupun karena prosedur
operasi itu sendiri.
66
Tabel 5.1 Karakteristik Subyek Penelitian (N=72)
Rerata ±(SD) atau
Karakteristik
Median (Minimum-Maksimum)
Demografi
- Jenis Kelamin
Laki-laki (%)
Perempuan (%)
- Umur
Klinis
- Charlon’s AgeComorbidity Index
- Laboratorium,
Leukosit
Hemoglobin
Trombosit
Ureum
Kreatinin
ALT
AST
Albumin
Natrium
S100B (pg/ml)
IL-6 (pg/ml)
MDAS
38 (52,8)
34 (47,2)
67(60-85)
6 (3-11)
15,35 ± 7,38
10,92 ± 3,14
210 (20,90-809,40)
28,5 (8,00-164,00)
1,5 (0,29-15,91)
24,9 (4,90-417,10)
34,45 (4,80-718,50)
2,99 ± 0,71
131,56 ± 9,13
5520 (950,87-7741,89)
63,58 (1,03-376,80)
17 (13-24)
5.2 Hubungan antara Kadar S100B Serum dengan Tingkat Keparahan
Delirium
Baik data kadar S100B serum maupun skor MDAS tidak berdistribusi normal
walaupun telah dilakukan usaha transformasi data. Oleh karena itu uji korelasi antara
kadar S100B dengan skor MDAS menggunakan uji korelasi Spearman’s. Uji korelasi
Spearman’s menunjukkan tidak adanya korelasi antara kadar S100B dengan tingkat
keparahan delirium dengan r = -0,051 dan p = 0,673.
Pada penelitian kami didapatkan perbedaan rerata kadar S100B pada masingmasing kelompok delirium. Rerata kadar S100B pada kelompok delirium ringan
lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok delirium sedang dan delirium berat
(5185,46 ± 1656,34 vs 5180,43 ± 1593,63 vs 5019,54 ± 1740,69, p=0,95). Namun
perbedaan ini tidak bermakna.
67
Gambar 5.1 Korelasi antara kadar S100B dengan Tingkat Keparahan Delirium.
Tingginya kadar S100B pada pasien-pasien yang mengalami delirium sangat
bergantung pada kondisi pasien tersebut. Pada penelitian yang dilakukan oleh Pfister
dkk didapatkan tingginya kadar S100B pada pasien delirium yang mengalami
kondisi sepsis (Pfister dkk., 2008). Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh
Van Munster dkk, Hermann dkk, dan Rasmussen dkk mendapatkan kadar S100B
yang tinggi pada pasien delirium setelah mengalami operasi panggul, operasi jantung
dan operasi pada bagian perut (Van Munster dkk., 2010; Hermann dkk., 2000;
Rasmussen., 2000).
Penelitian yang mengukur kadar S100B pada pasien-pasien geriatri yang
mengalami delirium didapatkan hasil kadar S100B lebih tinggi dibandingkan dengan
yang tidak mengalami delirium, dimana kadar S100B tertinggi didapatkan pada
waktu sesudah terjadinya delirium dibandingkan dengan sebelum maupun saat
68
terjadinya delirium. Hal ini mungkin menunjukkan bahwa peningkatan kadar S100B
tidak menunjukkan kerusakan pada otak tetapi menunjukkan aktivitas dari astrosit
dan meningkatnya permeabilitas sawar darah otak (Van Munster dkk., 2010).
Mekanisme astrosit tetap teraktivasi sesudah delirium sampai saat ini belum jelas,
padahal seperti yang kita ketahui sitokin proinflamasi berkurang jumlahnya pada
waktu sesudah delirium (Van Munster dkk., 2008). Proses pelepasan S100B oleh
astrosit ini memberikan efek yang menguntungkan pada pemeliharaan sel saraf,
neurogenesis dan fungsi kognitif. Hal ini telah digambarkan melalui proses perbaikan
pada otak terutama pada daerah hipokampus (Donato dkk., 2008; Goncalves dkk.,
2008).
Pada penelitian kami didapatkan hasil yang serupa dengan penelitianpenelitian sebelumnya yang mengukur kadar S100B pada pasien-pasien geriatri yang
mengalami delirium, dimana didapatkan hasil kadar S100B yang tinggi (Aly, 2014;
Macedo, 2013; Munster, 2010). Namun pada penelitian kami tidak didapatkan
korelasi antara kadar S100B dengan tingkat keparahan delirium. Hal ini dapat
disebabkan oleh beberapa kemungkinan sebagai berikut:
1. Kadar S100B yang diukur adalah kadar S100B yang di serum bukan pada
cairan
serebrospinal.
Kadar
S100B
serum
tidak
sepenuhnya
menggambarkan kadar S100B di SSP walaupun SSP merupakan sumber
utama S100B. Di luar SSP, lemak dan otot merupakan sumber utama
S100B (Pham dkk., 2010). Disamping itu S100B juga dihasilkan oleh
berbagai organ dan sel-sel tubuh (Sorci dkk., 2013). Pada penelitian yang
dilakukan oleh Gerlach, pelepasan S100B oleh astrosit dipengaruhi oleh
beberapa kondisi yaitu hipoksia, kadar glukosa darah dan kadar laktat
69
dehydrogenase (LDH). Pelepasan S100B ini sangat berhubungan dengan
mekanisme stress oksidasi (Gerlach dkk., 2006). Pada penelitian yang
dilakukan oleh Pfister dkk didapatkan kadar S100B yang tinggi pada
pasien-pasien yang mengalami ensefalopati sepsis (Pfister dkk., 2008).
Pada penelitian kami didapatkan kadar S100B yang tinggi pada semua
kelompok delirium namun tidak ada perbedaan rerata yang bermakna
pada masing-masing kelompok delirium. Tingginya kadar S100B pada
penelitian kami mungkin karena sebagian besar populasi penelitian kami
mengalami sepsis (63%). Disamping itu populasi penelitian kami juga
memiliki berbagai penyakit komorbid, dimana penyakit komorbid ini juga
meningkatkan proses stres oksidatif.
Peningkatan
sekresi
S100B
oleh
astrosit
yang
teraktivasi
menunjukkan suatu proses neurodegenerasi. Peningkatan kadar S100B
ditemukan pada pasien-pasien Alzheimer, stroke, schizophrenia dan
traumatic brain injuries (Tateishi dkk., 2006). Kadar S100B dalam
jumlah kecil bersifat neuroprotektif, tetapi konsentrasi kadar S100B yang
tinggi bersifat destruksi. Kadar S100B yang tinggi akan merangsang
pelepasan sitokin proinflamasi dan menginduksi proses apoptosis pada sel
saraf dan sel glia (Ruhtermuth dkk., 2003).
2. Pengukuran kadar S100B hanya pada satu saat saja yaitu pada saat
pemeriksaan tingkat keparahan delirium. Padahal proses pelepasan S100B
sangat berkaitan erat dengan waktu terjadinya delirium dan kondisi
delirium itu sendiri bersifat fluktuatif. Pada penelitian yang dilakukan
oleh Van Munster dkk didapatkan kadar S100B tertinggi pada waktu
70
sesudah delirium dibandingkan pada waktu sebelum dan saat terjadi
delirium itu sendiri (Van Munster dkk., 2010). Disamping itu sekresi
S100B oleh astrosit bersifat time-dependent. Pada kondisi hipoksia dan
hipoglikemi terjadi pelepasan S100B yang cepat dalam duabelas sampai
dua puluh empat jam pertama. Sedangkan peningkatan kadar LDH
Kadar S100B (pg/ml)
meningkatkan sekresi S100B secara konstan (Gerlach dkk., 2006).
5200
5150
5100
5050
5000
4950
4900
5185.46
5180.43
5019.54
Delirium Ringan Delirium Sedang Delirium Berat
Gambar 5.2 Grafik Perbandingan rerata kadar S100B pada kelompok
delirium ringan, sedang dan berat.
5.3 Hubungan antara Kadar IL-6 Serum dengan Tingkat Keparahan Delirium
Kadar IL-6 juga tidak berdistribusi normal sehingga korelasi antara kadar IL6 dengan skor MDAS juga menggunakan uji korelasi Spearman’s. Dari uji ini
menunjukkan adanya korelasi antara kadar IL-6 dengan tingkat keparahan delirium
dengan r = 0,162 dan p = 0,173.
71
Gambar 5.3 Korelasi antara kadar IL-6 dengan Tingkat Keparahan Delirium.
Hasil analisis ini sesuai dengan beberapa penelitian sebelumnya yang
menunjukkan adanya korelasi antara IL-6 dengan delirium (Egberts dkk., 2015; Liu
dkk., 2013; Munster, 2010). Pada penelitian yang dilakukan oleh Egberts dkk di
bangsal penyakit dalam dan geriatri didapatkan kadar IL-6 lebih tinggi pada pasien
delirium dibandingkan dengan yang tidak delirium. De Rooij dkk yang juga
melakukakan penelitian di bangsal penyakit dalam dan geriatri mendapatkan hasil
yang sama dimana kadar IL-6 lebih tinggi pada pasien delirium dibandingkan dengan
yang tidak delirium. Sedangkan Liu dkk melakukan penelitian pada pasien-pasien
yang menjalani pembedahan didapatkan bahwa kadar IL-6 yang tinggi setelah
pembedahan berhubungan dengan kejadian delirium setelah pembedahan (Liu dkk.,
2013)
72
Pada proses inflamasi sistemik sitokin-sitokin proinflamasi perifer melewati
sawar darah otak dan berinteraksi dengan sel-sel otak. Sitokin-sitokin proinflamasi
ini baik perifer maupun sentral
akan dinonaktifkan oleh asetilkolin. Sintesis
asetilkolin di otak memerlukan enzim choline acetyltransferase yang dihasilkan oleh
astrosit (Sfera dkk., 2015). Tetapi pada kondisi-kondisi tertentu misalnya sepsisinduced delirium, hipoglikemia dan ensefalopati metabolik terjadi kegagalan astrosit
dalam menjaga homeostasis di otak (Thrane dkk., 2014). Kegagalan astrosit ini
diakibatkan karena terjadinya edem astrosit sehingga mengakibatkan terjadinya
delirium.
Interleukin-6 disekresikan oleh astrosit sebagai respon terhadap proses
inflamasi sistemik. IL-6 bekerja sebagai antiinflamasi melalui mekanisme
penghambatan sekresi VCAM-1, intercellular adhesion molecule-1 dan TNF-α yang
disekresikan oleh sel-sel otak (Wagoner dkk., 1999).
Pada SSP, IL-6 mempunyai efek neurotropik dan neuroprotektif (Loddick
dkk., 1998). Tetapi overekspresi IL-6 bersifat neurotoksik terhadap SSP. Hal inilah
yang menjelaskan hubungan antara IL-6 dengan patofisiologi penyakit-penyakit pada
SSP (Klein dkk., 1997).
Selain didapatkan adanya korelasi positif, penelitian kami juga mendapatkan
adanya perbedaan yang bermakna rerata kadar IL-6 pada masing-masing kelompok
delirium (p=0,04). Rerata kadar IL-6 pada kelompok delirium ringan lebih rendah
dibandingkan dengan kelompok delirium berat dan berbeda bermakna (76,87 ±
100,27 vs 140,02 ± 124,79, p=0,03). Rerata kadar IL-6 pada kelompok delirium
sedang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok delirium berat dan berbeda
bermakna (67,96 ± 91,04 vs 140,02 ± 124,79, p=0,03).
73
Kadar IL-6
(pg/ml)
150
100
50
0
Delirium Ringan Delirium Sedang
Delirium Berat
Gambar 5.4 Grafik Perbandingan rerata kadar IL-6 pada kelompok delirium ringan,
sedang dan berat.
Penelitian kami menunjukkan bahwa tingginya kadar IL-6 serum sebagai
penanda proses neuroinflamasi mempunyai peranan dalam terjadinya delirium,
dimana hal ini berkaitan dengan tingkat keparahan delirium.
5.4 Hubungan antara Usia dan Penyakit Komorbid dengan Tingkat
Keparahan Delirium
Usia dan penyakit komorbid dalam penelitian kami bersifat sebagai variable
perancu yang tidak bisa dikendalikan by design sehingga dikendalikan by analisis.
Dalam penelitian kami usia dan penyakit komorbid diukur menggunakan kuesioner
CACI.
Pada penelitian kami didapatkan adanya korelasi antara CACI dengan tingkat
keparahan delirium yang bermakna secara statistik. Dari uji korelasi Spearman’s
didapatkan nilai r = 0,473 dan p = 0,000. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
semakin tua usia pasien dan semakin banyak penyakit komorbid yang diderita akan
semakin memperberat delirium.
74
Gambar 5.5 Korelasi antara CACI dengan Tingkat Keparahan Delirium.
Rerata skor CACI pada kelompok delirium ringan berbeda bermakna dan
lebih rendah dibandingkan dengan kelompok delirium sedang dan berat, (5,37 ± 1,66
vs 6,30 ± 1,53, p=0,02 ; 5,37 ± 1,66 vs 7,18 ± 1,38, p=0,00). Rerata skor CACI pada
kelompok delirium sedang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok delirium
berat, namun tidak berbeda bermakna (6,30 ± 1,53 vs 7,18 ± 1,38, p=0,13).
75
8
6.3
7.18
5.37
Skor CACI
6
4
2
0
Delirium Ringan
Delirium Sedang
Delirium Berat
Gambar 5.6 Grafik Perbandingan rerata skor CACI pada kelompok delirium ringan,
sedang dan berat.
Delirium merupakan suatu proses yang diakibatkan oleh adanya interaksi
antara faktor presiposisi dan faktor presipitasi. Faktor predisposisi yang paling sering
adalah usia lanjut, jenis kelamin pria, dementia dan depresi yang telah ada
sebelumnya, gangguan visual dan pendengaran, ketergantungan fungsional, frailty,
gangguan sensoris, dehidrasi dan malnutrisi, polifarmasi (terutama obat psikoaktif),
penyalahgunaan alkohol dan kondisi medis berat yang terjadi bersamaan (Cerejeira,
2010; Maldonado, 2013).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Voyer dkk., (2007) didapatkan
Charlson’s Comorbidity Index (CCI) tidak berhubungan dengan tingkat keparahan
delirium. Perbedaan hasil penelitian ini terjadi karena perbedaan alat ukur yang
digunakan pada masing-masing penelitian. Skor CACI memang lebih tinggi dari CCI
karena CACI merupakan pengembangan dari CCI dimana penambahan satu poin
akan diberikan pada setiap periode umur 10 tahun, dimulai dari umur 50 tahun.
Disamping itu pada penelitian Voyer dkk., (2007) tingkat keparahan delirium dinilai
menggunakan Delirium Index (DI) sedangkan pada penelitian kami menggunakan
MDAS.
76
Penelitian kami menunjukkan bahwa proses penuaan dan penyakit-penyakit
kronik sebenarnya berhubungan dengan perubahan fisiologis pada otak terutama
dalam hal regulasi neurotransmitter, penurunan aliran darah otak, dan kematian sel
saraf. Kemudian faktor akut (faktor presipitasi) tidak hanya mencetuskan terjadinya
delirium tetapi juga memperberat kerusakan dan/atau kematian sel saraf dan astrosit
yang sudah terjadi sebelumnya (Maldonado, 2013;Gunther, 2008).
Table 5.2 Hasil Uji Korelasi antara S100B, IL-6, CACI dengan MDAS.
MDAS
S100B
r
-0,051
p
0,673
IL-6
0,162
0,173
CACI
0,473
0,000
Penelitian kami merupakan penelitian yang pertama kali dilakukan untuk
menilai hubungan antara kadar S100B dan IL-6 serum dengan tingkat keparahan
delirium pada pasien geriatri. Hasil dari penelitian kami mendapatkan tidak adanya
korelasi antara kadar S100B dengan tingkat keparahan delirium. Tetapi didapatkan
adanya korelasi antara kadar IL-6, usia dan penyakit komorbid (skor CACI) dengan
tingkat keparahan delirium.
Oleh karena itu, kadar S100B serum belum bisa dipakai untuk memprediksi
tingkat keparahan delirium. Sedangkan kadar IL-6 dan skor CACI bisa digunakan
untuk memprediksi tingkat keparahan delirium.
5.5 Keterbatasan Penelitian
Pada penelitian ini pengambilan data dilakukan hanya pada saat pasien
mengalami delirium sehingga tidak dapat mencatat perubahan kadar S100B dan IL-6
pada waktu sebelum, saat terjadi dan sesudah delirium. Disamping itu kuesioner
77
MDAS yang dipakai untuk menilai tingkat keparahan delirium belum tervalidasi di
Indonesia.
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
6.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tidak terdapat korelasi antara
kadar S100B serum dengan tingkat keparahan delirium. Sedangkan kadar IL-6 serum
dan CACI berkorelasi dengan tingkat keparahan delirium.
6.2 Saran
1. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya dengan rancangan kohort untuk menilai
korelasi antara kadar S100B dan IL-6 dengan tingkat keparahan delirium sesuai
dengan kronologis waktu terjadinya delirium.
2. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya untuk memvalidasi kuesioner MDAS yang
sering dipakai untuk menilai tingkat keparahan delirium.
78
Daftar Pustaka
Adamis D, Treloar A, Darwiche F, Gregson N, Macdonald AJ, Martin FC.
Associations of delirium with in-hospital and in 6-months mortality in elderly
medical inpatients. J Age and Ageing 2007; 36: 644–649.
Adamis D, Sharma N, Whelan PJ, Macdonald AJ. Delirium Scales: A review of
current evidence, J Aging & Mental Health 2010;14 (5): 543-555.
Aly WW, Abdul-Rahman SA, E Said SM, Bastawy SW. S100B and delirium in the
geriatric acute care setting. Advances in Aging Research 2014;3:1-5.
Anderson RE, Hanson LO, Nilson O, Dijlai-Merzoug R, Settergen G. High Serum
S100B levels for Trauma Patients without Head Injuries. Neurosurgery J 2001;
48(6):1255-1258
Block ML, Zecca L, Hong JS. Microglia-mediated neurotoxicity: uncovering the
molecular mechanisms. Nat Rev Neurosci 2007 ;8(1):57–69.
Block ML, Zecca L, Hong JS. Astrocytes, from brain glue to communication
elements: the revolution continues. Nat Rev Neurosci 2007 6(8):626–640.
Boettger S, Breitbart W, Campion P,. The Phenomenology of Delirium and its
Motoric Subtypes in Patients with Cancer. German J Psychiatry 2011; 14(2):
66-71.
Boettger S, Breitbart W,. The Phenomenology of Delirium: Presence, Severity, and
Relationship between Symptoms. Journal of Geriatrics Volume 2014; 6-12.
Breitbart W, Rosenfeld B, Roth A, Smith MJ, Cohen K, Passik S. The Memorial
Delirium Assessment Scale, Journal of Pain and Symptom Management
1997;13: 128-138.
Brydon L, Harrison NA, Walker C, Steptoe A, Critchley HD (2008) Peripheral
inflammation is associated with altered substantia nigra activity and
psychomotor slowing in humans. Biol Psychiatry 63(11):1022–1029.
Campbell N, Boustani MA, Ayub A, et al. Pharmacological management if delirium
in hospitalized adults—a systemic evidence review. J Gen Intern Med.
2009;24(7):848-853.
Cerejeira J, Nogueira N, Luıs P, Vaz-Serra A, Mukaetova-Ladinska EB,. The
Cholinergic System and Inflammation: Common Pathways in Delirium
Pathophysiology. JAGS 2012
Fong, TG., Tulebaev SR., Inouye SK. Delirium in Elderly Adults: Diagnosis,
Prevention and Treatment. Nat Rev Neurol 2011. 5(4): 210-220.
79
Groeneveld AB, Raijmakers PG, Rauwerda JA, Hack CE. The inflammatory
response to vascular surgery-associated ischaemia and reperfusion in man:
effect on postoperative pulmonary function. Eur J Vasc Endovasc Surg 2007;
14(5):351–359.
Grover S, Kate N. Assessment scales for delirium: A review. World J Psychiatr
2012; 2(4): 58-70.
Sorci G, Riuzzi F, Arcuri C, dkk. S100B protein in tissue development, repair and
degeneration. World J Biol Chem. 2013;26(4);1-12
Heizmann CW, dkk. S100 proteins:structure, functions and pathology. Front Biosci
2002; 7:1356-1368.
Hempenius L, van Leeuwen BL, van Asselt DZ, et al. Structured analyses of
interventions to prevent delirium. Int J Geriatr Psychiatry. 2010;3(5):145-157.
Hermann M, Siegemund M, Il-Kuster S, dkk. Neurobehavioral outcome prediction
after cardiac surgery: role of neurobiochemical markers of damage to neuronal
and glial brain tissue. Stroke. 2000; 31(3):645-50
Hopkins SJ. Central nervous system recognition of peripheral inflammation: a
neural, hormonal collaboration. Acta Biomed 2007; 78(Suppl 1):231–247.
Jin Ho Han, Delirium in the Older Emergency Department Patient – A Quiet
Epidemic. Emerg Med Clin North Am. 2010 August ; 28(3): 611–631.
Khan BA, Zawahiri M, Campbell NL, Boustani MA,. Biomarkers for Delirium - A
Review. J Am Geriatr Soc. 2011 November ; 59(02): S256–S261.
Macedo RC, Tomasi CD, Giombelli VR, Alves SC, Bristot ML, Locks MFT, et all.
Lack of association of S100b and neuron-specific enolase with mortality in
critically ill patients. Revista Brasileira de Psiquiatria. 2013;35:267–270.
Maldonado JR. Neuropathogenesis of Delirium: Review of Current Etiologic
Theories and Common Pathway. Am J Geriatr Psychiatri. 2013 December;
21(12): 1190-1222.
Martins S. Femandes L. Delirium in Elderly People : a review. 2012. Frontiers in
Neurology. 101(3):1-12.
McAfoose J, Baune BT. Evidence for a cytokine model of cognitive function.
Neurosci Biobehav Rev. 2009; 33(3):355–366.
Mittal V, Kurup L, Williamson D, McEnerney N, Thomas J, Cash M, Tampi RR.
Risk of cerebrovascular adverse events and death in elderly demented patients
when treated with antipsychotic medications: a literature review of evidence.
Am J Alzheimers Dis Other Demen. 2011.
80
Mittal V, Muralee S, Williamson D, McEnerney N, Thomas J, Cash M, Tampi RR,.
Review: Delirium in the Elderly: A Comprehensive Review. AM J Alzheimer
dis other Demen.2011; 26: 97-110.
Munster BC, Korevaar JC, Zwinderman AH, Levi M Wiersinga WJ, De Rooij SE.
Time-course of cytokinesduring delirium in elderly patients with hip fractures.
J AmGeriatr Soc. 2008; 56(9):1704–1709.
Munster BC, Korevaar JC, Korse CM, Bonfrer JM, Zwinderman AH, de Rooij SE.
Serum S100B in elderly patients with and without delirium. Int J Geriatr
Psychiatry. 2010;25(3):234–239.
Munster, B.C. van, Bisschop, P.H., Zwinderman, A.H., Korevaar, J.C., Endert, E.,
Wiersinga, W.J., Oosten, H.E. van, Goslings, J.C., Rooij, S.E. de. Cortisol,
interleukins and S100B in delirium in the elderly. Brain and Cognition. 2010,
74(1), 18-23.
Nishioku T, Dohgu S, Takata F et al. Detachment of brain pericytes from the basal
lamina is involved in disruption of the blood-brain barrier caused by
lipopolysaccharide-induced sepsis in mice. Cell Mol Neurobiol. 2009;
29(3):309–316.
Ozbolt LB, Paniagua MA, Kaiser RM. Atypical antipsychotics for the treatment of
delirious elders. J Am Med Dir Assoc. 2008;9(1):18-28.
O’Keeffe ST, Nı´ Chonchubhair A. Postoperative deliriumin the elderly. Br J
Anaesth. 1994; 73(5):673–687.
Pham N, Fazio V, Cucullo L, dkk. Extracranial sources of S100B do not affect serum
levels. J Plos. 2010;5(9)
Pfister D, Siegemund M, Il-Kuster S, dkk. Cerebral perfusion in sepsis-associated
delirium. Crit care. 2008: 12(3)
Ponath G, Schettler C, Kaestner F, dkk. Autocrine S100B effects on astrocytes are
mediated via rage. J Plos. 2019;4(8)
Popeo DM. Delirium in Older Adults. 2011. Mt Sinai J Med. 78(4): 571-582.
Rasmussen LS, Christiansen M, Rasmussen H, dkk. Do blood concentrasions of
neurone specific enolase and S100 beta protein reflect cognitive dysfunction
after abdominal surgery. Br J Anaesth. 2000; 84(2): 242-44
RoutRoutsi C, Stamataki E, Nana S, et al. Increased level of S100B protein in
critically ill patients without brain injury. Shock . 2006; 26(1):20-24.
Qin L, Wu X, Block ML, et al. Systemic LPS causes chronic neuroinflammation and
progressive neurodegeneration. Glia. 2007;55(5):453–462.
81
Siddiqi N, Stockdale R, Britton AM, et al. Interventions for preventing delirium in
hospitalised patients. Cochrane Database Syst Rev. 2007;(2).
Siami S, Annane D, Sharshar T (2008) The encephalopathy insepsis. Crit Care Clin
24(1):67–82.
Sheng JG, Bora SH, Xu G, Borchelt DR, Price DL, Koliatsos VE.
Lipopolysaccharide-induced-neuroinflammation
increases
intracellular
accumulation of amyloid precursor protein and amyloid beta peptide in
APPswe transgenic mice. Neurobiol Dis. 2003; 14(1):133–145.
Sharshar T, Carlier R, Bernard F et al,. Brain lesions in septic shock: a magnetic
resonance imaging study. Intensive Care Med .33(5):798–806.
Scheller J, Chalaris A, Schmidt-Arras D, Rose-John S. The pro- and antiinflammatory properties of the cytokine interleukin-6. Biochimica et
Biophysica Acta . 2011; 1813:878–88.
Snyder-Ramos SA, Gruhlke T, Bauer H, et al. Cerebral and extracerebral release of
protein S100B in cardiac surgical patients. Anaesthesia. 2004;59(4):344-349.
Stoicea N,McVicker S,Quinones A, Agbenyefia P, Bergese P,. Delirium-biomarkers
and genetic variance. Frontiers in pharmacology J, April 2014;5:75-76.
82
Lampiran 1. Ethical Clearance
83
Lampiran 2. Informed Consent
INFORMASI BAGI PASIEN DAN FORMULIR
PERSETUJUAN IKUT SERTA DALAM PENELITIAN
Peneliti mengharapkan partisipasi pasien dalam penelitian ini yang akan
dilaksanakan oleh dr. Yosef Samon Sugi. Sebelum memutuskan untuk setuju ikut
dalam penelitian ini, maka diharapkan anda membaca informasi berikut, dan peneliti
akan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk bertanya tentang penelitian
ini.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya korelasi antara kadar
S100β serum dan kadar interleukin-6 dengan tingkat keparahan delirium pada pasien
geriatri. Penelitian ini akan memberikan
masukan untuk stratifikasi prognosis
delirium, sehingga bermanfaat untuk diagnosis dan pengobatan dini delirium pada
pasien-pasien geriatri. Apabila anda setuju ikut dalam penelitian, maka akan
dilakukan wawancara dan pengisian kuisioner memorial delirium assesment scale
(MDAS), pemeriksaan fisik dan laboratorium. Untuk pemeriksaan laboratorium,
akan diambil darah vena sebanyak 5 ml yang akan dipakai bahan untuk pemeriksaan
kadar S100 β dan kadar IL-6. Pasien berhak mengetahui seluruh hasil pemeriksaan
tersebut.
Data yang telah dikumpulkan akan dianalisis dan disimpan dengan sistem
komputerisasi, tanpa disertai identitas pasien. Hasil penelitian ini mungkin akan
dipublikasikan dalam majalah kesehatan juga tanpa disertai identitas pasien.
84
Petugas kesehatan dan karyawan yang bertugas akan tetap menjaga
kerahasiaan riwayat kesehatan pasien, dan akan melakukan tugas dan kewajibannya
secara baik, benar dan bertanggung jawab.
Semua prosedur penelitian ini hanya dapat dilakukan sesudah anda
memahami informasi ini dan menandatangani lembar persetujuan. Sesudah
berpartisipasi dalam penelitian ini dirasakan terdapat hal-hal yang merugikan dan
terbukti, maka peneliti akan bertanggung jawab berdasarkan hukum dan kode etik
kedokteran yang berlaku.
Apabila terdapat informasi yang belum jelas dan menimbulkan pertanyaan
maka anda dapat menghubungi peneliti:
1. Nama
: dr. Yosef Samon Sugi
2. Alamat
: Jl. Nusa Penida No.7X, Sanglah.
3. Telepon
: 085338473963
Peneliti mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya
bagi pasien yang berpartisipasi dalam penelitian ini serta menyampaikan
permohonan maaf apabila terdapat hal yang kurang berkenan selama penelitian
berlangsung.
Hormat saya,
Peneliti
dr. Yosef Samon Sugi
85
Lampiran 3. Formulir Persetujuan
Menerangkan bahwa saya :
Nama
:
Umur
:
Jenis kelamin :
Alamat
:
No Telepon
:
Telah membaca keterangan terlampir dan telah berdiskusi mengenai penelitian ini
dengan dokter (nama, hurup cetak) ………………………………………………….
Dan mengerti hal-hal yang menyangkut penelitian ini.
PASIEN
Saya bersedia dengan sukarela ikut serta dalam
penelitian tentang :
PENINGKATAN KADAR S100β SERUM DAN
KADAR
INTERLEUKIN-6
BERKORELASI
DENGAN TINGKAT KEPARAHAN DELIRIUM
PADA PASIEN GERIATRI
Bila ada hal-hal yang merugikan terkait penelitian, saya
berhak menolak untuk mengikuti penelitian ini dan
meminta ganti rugi sesuai aturan yang berlaku
PENELITI
……………………
…….………………….
Tanggal
Nama dan tanda tangan
saya telah menjelaskan maksud dan tujuan dari penelitian
ini kepada pasien tersebut diatas dengan sebaik-baiknya.
…………………..
……..…………………
Tanggal
Nama dan tanda tangan
86
Lampiran 4. Rencana Jadwal Penelitian
Rencana Penelitian ini disusun sebagai berikut :
No
1
Kegiatan
Pembuatan
Proposal
2
Presentasi
Proposal
3
Pengambilan
Sampel
4
Pengolahan
Data
5
Presentasi
hasil
penelitian
Jul
Ags
Sep
2014-2015
Okt
Nov Des
Jan
Feb
Mar
87
Lampiran 5. Anggaran Biaya Penelitian
Anggaran penelitian ini disusun sebagai berikut :
No
1
2
Kegiatan
Jumlah
Pembelian kertas dan alat tulis
a. Kertas, fotokopi, dan alat tulis lain
Rp 1.000.000,-
b. Tinta printer
Rp
750.000,-
a. Semprit dan jarum 21 G : 72 X Rp 3.500
Rp
250.000,-
b. Kit pemeriksaan S100β
Rp 9.500.000,-
c. Kit pemeriksaan IL-6
Rp 12.500.000,-
Pembelian bahan dan biaya pemeriksaan penelitian
3
Analisis Data
Rp 1.000.000,-
4
Percetakan dan Pengadaan Hasil
Rp
Total
500.000,-
Rp 25.500.000,-
88
Lampiran 6.
FORMULIR PENGUMPULAN DATA
I. Identitas Pasien
Nomor CM
: …………………………………………………….
Tgl pengambilan data
: …………………………………………………….
Nama
: …………………………………………………….
Umur
: …………………………………………………….
Suku
: …………………………………………………….
Pekerjaan
: …………………………………………………….
Alamat
: …………………………………………………….
Nomor telepon
: …………………………………………………….
II. DATA UMUM
1. Tinggi badan ( cm )
:
2. Berat badan ( kg )
:
2
3. IMT ( kg/m )
:
III. ANAMNESIS
1. Keluhan utama
:
a. Penurunan Kesadaran :
b. Demam
:
c. Batuk
:
d. Sesak Nafas
:
e. Lain-lain (sebutkan):
2. Riwayat Penyakit Dahulu ( lingkari salah satu ):
a.
Kencing manis
: ( Ya / Tidak )
b.
Jantung
c.
Tekanan darah tinggi
d.
Stroke
: (Ya/Tidak)
e.
Dementia
: (Ya/Tidak)
f.
Lain-lain
:
: ( Ya / Tidak )
: (Ya / Tidak )
89
5. Riwayat pengobatan dalam 2 minggu terakhir (lingkari salah satu) : ( Ya / Tidak )
a.
NSAID
:
b.
Steroid
:
c.
Psikoaktif
:
IV. PEMERIKSAAN FISIK
1. Kesadaran : ( E V M )
2. Tekanan darah:
mmHg)
3. Denyut nadi
:
kali/menit
4. Respirasi
:
kali/menit
5. temperatur axila:
ºC
6. Charlson’s Age-Comorbidity Index:
7. Mata : anemia:
8. THT :
9. Thoraks:

Jantung:

Paru-paru:
10. Abdomen:
11. Ekstremitas:
V. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
a. Darah:
i. S100β
:
ii. IL-6
:
b. CT Scan Kepala:
VI. Diagnosis
1.
2.
90
Charlson Age-Comorbidity Index
Charlson Age-Comorbidity Index (CACI) merupakan pengembangan
dari Charlson Comorbidity Index dimana penambahan satu poin akan
diberikan pada setiap periode umur 10 tahun, dimulai dari umur 50 tahun.
CACI terdiri dari dua komponen yaitu komponen penyakit komorbid dan
komponen umur.
1. Komponen Penyakit Komorbid: tambahkan satu poin pada masingmaasing penyakit.
a. Infark Miokard
b. Penyakit Jantung Kongestif
c. Peripheral Vascular Disease
d. Penyakit Serebrovaskular
e. Demensia
f. PPOK
g. Connective Tissue Disease
h. Ulkus peptikum
i. Diabetes Melitus (1 poin apabila tidak ada komplikasi, 2 poin
apabila ada kerusakan end-organ)
j. Moderate to Severe Chronic Kidney Disease (2 poin)
k. Hemiplegi (2 poin)
l. Leukimia (2 poin)
m. Limfoma Maligna (2 poin)
n. Solid Tumor (2 poin, 6 poin jika metastasis)
o. Penyakit hati (1 poin jika ringan, 3 poin jika sedang sampai berat)
p. AIDS (6 poin)
2. Komponen Umur:
i.
ii.
iii.
iv.
v.
vi.
vii.
Umur < 40 tahun: 0 poin
Umur 41-50 tahun: 1 poin
Umur 51-60 tahun: 2 poin
Umur 61-70 tahun: 3 poin
Umur 71-80 tahun: 4 poin
Umur 81-90 tahun: 5 poin
Umur 91-100 tahun: 6 poin
91
MEMORIAL DELIRIUM ASSESSMENT SCALE (MDAS)
Instruksi: Nilailah beratnya gejala delirium berikut berdasarkan interaksi saat ini
dengan subyek atau penilaian terhadap perilaku atau pengalaman dalam beberapa
jam terakhir (sesuai yang ditunjukkan oleh masing-masing item)
Item 1-Penurunan kesadaran (kewaspadaan): Nilailah kewaspadaan pasien
terhadap lingkungannya saat ini serta interaksinya dengan lingkungan saat ini
(pewawancara, orang/obyek dalam ruangan; misalnya, minta pasien untuk
mendeskripsikan lingkungan di sekitarnya).
0: tidak ada
(pasien mengetahui sepenuhnya mengenai lingkungan
sekitarnya secara spontan serta dapat berinteraksi dengan baik)
1: ringan
(pasien
tidak
mengetahui
beberapa
elemen
di
lingkungannya, atau tidak secara spontan dan baik mampu
berinteraksi dengan pewawancara; sadar penuh dan berinteraksi
dengan baik jika didesak dengan kuat; wawancara menjadi lama
namun tidak mengalami gangguan serius)
2: sedang
(pasien tidak mengetahui beberapa atau semua elemen
di lingkungannya, atau tidak secara spontan mampu berinteraksi
dengan pewawancara; sadar namun tidak sempurna dan berinteraksi
jika didesak dengan kuat namun tidak baik; wawancara menjadi lama
namun tidak mengalami gangguan serius)
3: berat
(pasien
tidak
mengetahui
semua
elemen
di
lingkungannya, tidak ada interaksi spontan dan subyek tidak
menyadari keberadaan pewawancara, sehingga wawancara menjadi
sulit atau tidak mungkin, bahkan jika didesak hingga maksimal)
Item 2-Disorientasi: Nilailah kondisi saat ini dengan menanyakan 10 item orientasi
berikut: tanggal, bulan, hari, tahun, musim, lantai, nama rumah sakit, propinsi, dan
negara.
0: tidak ada
(pasien mengetahui 9-10 item)
1: ringan
(pasien mengetahui 7-8 item)
92
2: sedang
(pasien mengetahui 5-6 item)
3: berat
(pasien mengetahui tidak lebih dari 4 item)
Item 3-Gangguan memori sementara: Nilailah kondisi saat ini dengan
menggunakan repetisi dan mengingat kembali 3 kata (pasien harus mengingat dan
mengulang kata-kata tersebut 5 menit setelah menyelesaikan suatu tugas. Gunakan
set 3 kata yang berbeda untuk pemeriksaan berikutnya (misalnya apel, meja, besok,
langit, rokok, keadilan).
0: tidak ada
(ketiga kata berhasil diingat dan diulang)
1: ringan
(ketiga kata berhasil diulang, pasien gagal mengingat 1
kata)
2: sedang
(ketiga kata berhasil diulang, pasien gagal mengingat
2-3 kata)
3: berat
(pasien gagal mengulang 1 atau lebih kata)
Item 4-Gangguan pengulangan digit: Nilailah kinerja saat ini dengan meminta
subyek mengulang 3, 4, kemudian 5 digit pertama (arah maju), dan kemudian 3, 4,
digit mundur; lanjutkan ke langkah berikutnya hanya jika pasien berhasil
menyelesaikan yang pertama.
0: tidak ada
(pasien dapat melakukan minimal 5 digit maju dan 4
digit mundur)
1: ringan
(pasien dapat melakukan minimal 5 digit maju, 3 digit
mundur)
2: sedang
(pasien dapat melakukan 4-5 digit maju, tidak dapat
melakukan 3 digit mundur)
3: berat
(pasien tidak dapat melakukan lebih dari 3 angka maju)
Item 5-Penurunan kemampuan untuk mempertahankan dan mengalihkan
perhatian: Sesuai yang ditunjukkan dalam wawancara dengan pertanyaan yang
harus dipenggal dan/atau diulang karena perhatian pasien yang berputar-putar, pasien
kehilangan jalur, pasien teralih oleh rangsangan luar atau terlalu terfokus pada tugas
yang diberikan.
93
0: tidak ada
(tidak ada satu pun dari gejala di atas; pasien mampu
mempertahankan dan mengubah perhatian dengan normal)
1: ringan
(masalah perhatian di atas terjadi satu atau dua kali
tanpa memperpanjang wawancara)
2: sedang
(masalah
perhatian
di
atas
sering
terjadi,
memperpanjang wawancara tanpa mengalami gangguan serius)
3: berat
(masalah perhatian di atas terjadi secara konstan,
mengganggu, dan membuat wawancara sulit atau tidak mungkin
dilakukan)
Item 6-Pikiran kacau: Sesuai yang ditunjukkan dalam wawancara seperti
mengumik, bicara tidak nyambung, atau inkoheren, atau memberikan alasan yang
tangensial, sirkumstansial, atau salah. Beri pasien pertanyaan yang kompleks
(misalnya, “Deskripsikan kondisi medis Anda saat ini”).
0: tidak ada
(pasien berbicara koheren dan memiliki tujuan)
1: ringan
(bicara pasien sedikit sulit untuk diikuti; respon
terhadap pertanyaan sedikit melenceng dari target namun tidak
sampai memperpanjang wawancara)
2: sedang
(pikiran atau bicara yang tidak tertata jelas terlihat,
sehingga wawancara memanjang namun tidak terganggu)
3: berat
(pemeriksaan sangat sulit atau tidak dapat dilakukan
karena pikiran dan bicara yang kacau)
Item 7-Gangguan persepsi: Mispersepsi, ilusi, halusinasi yang disimpulkan dari
perilaku yang tidak pantas saat wawancara atau yang diakui oleh subyek, serta yang
diperoleh dari laporan perawat/keluarga/grafik dalam beberapa jam terakhir atau saat
pemeriksaan terakhir.
0: tidak ada
(tidak ada salah persepsi, ilusi, atau halusinasi)
1: ringan
(salah persepsi atau ilusi yang berhubungan dengan
tidur, halusinasi sepintas dalam 1-2 kesempatan tanpa disertai
perilaku tak pantas)
94
2: sedang
(halusinasi atau ilusi yang sering pada beberapa
kesempatan dengan perilaku tak pantas namun minimal yang tidak
mengganggu wawancara)
3: berat
(ilusi atau halusinasi yang sering atau intens disertai
perilaku tak pantas yang persisten dan mengganggu wawancara atau
mengganggu perawatan medis)
Item 8-Waham: Nilailah waham yang disimpulkan dari perilaku tak pantas selama
wawancara atau yang diakui oleh pasien, juga waham yang diperoleh dari laporan
perawat/keluarga/grafik dalam beberapa jam sejak pemeriksaan sebelumnya.
0: tidak ada
(tidak ada bukti mengenai salah interpretasi atau
waham)
1: ringan
(salah interpretasi atau kecurigaan tanpa adanya ide
delusional [waham] yang jelas atau perilaku tak pantas)
2: sedang
(waham yang diakui oleh pasien atau terbukti dari
perilaku subyek yang tidak mengganggu atau hanya sedikit
mengganggu wawancara ataupun perawatan kesehatan)
3: berat
(waham persisten dan/atau intens yang menyebabkan
perilaku tak pantas, mengganggu wawancara atau secara serius
mengganggu perawatan kesehatan)
Item 9-Penurunan atau peningkatan aktivitas psikomotor: Nilailah aktivitas
dalam beberapa jam terakhir, juga aktivitas selama wawancara, dengan melingkari
(a) hipoaktif, (b) hiperaktif, atau (c) terdapat elemen keduanya.
0: tidak ada
(aktivitas psikomotor normal)
a b c 1: ringan
(hipoaktivitas sulit dilihat, diekspresikan berupa
sedikit melambatnya pergerakan. Hiperaktivitas sulit dilihat atau
terlihat berupa sedikit gelisah)
a b c 2: sedang
(hipoaktivitas tidak dapat dipungkiri, dengan
penurunan bermakna dalam jumlah pergerakan atau melambatnya
pergerakan yang dapat dilihat dengan mudah; subyek jarang bergerak
atau berbicara spontan. Hiperaktivitas juga tidak dapat dipungkiri,
95
subyek bergerak hampir secara konstan; pada kedua kasus,
pemeriksaan menjadi lebih lama)
a b c 3: berat (hipoaktivitas berat, pasien tidak bergerak ataupun
berbicara tanpa didesak atau katatonik. Hiperaktivitas berat; pasien
bergerak secara konstan, bereaksi berlebihan terhadap rangsangan,
membutuhkan
pengawasan
dan/atau
diikat;
menyelesaikan
pemeriksaan sulit atau tidak mungkin dilakukan)
Item 10-Gangguan siklus tidur-bangun (disorder of arousal): Nilailah
kemampuan pasien untuk tidur atau tetap terjaga pada waktu yang sesuai. Lakukan
pengamatan langsung selama wawancara, serta laporan dari perawatm keluarga,
pasien, atau grafik yang mendeskripsikan gangguan siklus tidur-bangun dalam
beberapa jam terakhir atau sejak pemeriksaan terakhir. Gunakan pengamatan di
malam sebelumnya hanya untuk evaluasi pagi hari.
0: tidak ada
(di malam hari, tidur nyenyak; di siang hari, tetap
bangun)
1: ringan
(penyimpangan ringan dari kondisi tidur dan bangun
yang baik: di malam hari, sulit memulai tidur atau terbangun sebentar
di malam hari, membutuhkan obat untuk tidur dengan baik; di siang
hari, terdapat periode mengantuk atau selama wawancara terlihat
mengantuk namun dapat dengan mudah terbangun sendiri)
2: sedang
(penyimpangan sedang dari kondisi tidur dan bangun
yang baik: di malam hari, sering terbangun dan dalam waktu yang
lama; di siang hari, dilaporkan sering tertidur dan dalam waktu yang
lama atau, saat wawancara, hanya dapat dibangunkan sampai benarbenar terbangun dengan rangsangan yang kuat)
3: berat
(penyimpangan berat dari kondisi tidur dan bangun: di
malam hari, tidak dapat tidur; di siang hari, pasien menghabiskan
sebagian besar waktunya untuk tidur atau, saat wawancara, tidak
dapat dibangunkan sampai benar-benar terbangun dengan rangsangan
apapun)
96
Lampiran 7.
PROSEDUR PEMERIKSAAN S100β SERUM
A. Metode :
Human S100β ELISA Kit (Elabscience)
B. Prinsip
Kit ELISA ini menggunakan metode Sandwich-ELISA. Microplate yang terdapat
pada kit ini telah dilapisi dengan antibodi speseifik terhadap S100β. Sampe dan
kontrol ditambahkan ke dalam microplate dan digabungkan dengan antibodi
spesifik. Kemudian sebuah biotinylated mendeteksi antibodi spesifik dari S100β
dan Avidin-Horseradish Peroxidase (HRP) yang telah terkonjugasi ditambahkan
pada setiap microplate dan kemudian diinkubasikan. Komponen yang bebas akan
dibersihkan. Kemudian larutan substrat ditambahkan. Hanya larutan yang berisi
S100β akan tampak berwarna biru. Reaksi antara enzim-substrat ini akan
dihentikan dengan penambahan larutan asam sulfat dan warnanya akan menjadi
kuning. Optical density (OD) diukur secara spektrofotometer pada panjang
gelombang 450 nm ± 2 nm. Nilai OD melambangkan kadar S100β. Kita dapat
menghitung kadar S100β sampel dengan membandingkan nilai OD sampel
dengan kurva standar.
C. Komponen kit
-
ELISA microplate
-
Reference Standard
-
Reference Standard dan Sampel Diluent
-
Concentrated Biotinylated Detection Ab
-
Biotinylated Detection Ab Diluent
-
Concentrated HRP Conjugate
-
HRP Conjugate Diluent
97
-
Substrat Reagen
-
Stop Dilution
-
Plate Sealer
D. Prosedur Kerja
Semua reagen dan sample dibiarkan hingga mencapai suhu kamar sebelum
digunakan, hal ini disarankan pada semua sampel , kontrol, dan standar yang
diperiksa.
-
Siapkan semua reagen
dan dikerjakan dikerjakan pemeriksaan sesuai
langkah-langkah tanpa terputus
-
Tambahkan 100 µL sampel atau standar pada tabung. Inkubasikan selama 90
menit pada suhu 370.
-
Tambahkan 100 µL Biotinylated detection Ab. Inkubasikan selama satu jam
pada suhu 370.
-
Aspirasi dan cuci sebanyak 3 kali.
-
Tambahkan 100 µL HRP conjugate. Inkubasikan selama 30 menit pada suhu
370.
-
Aspirasi dan cuci sebanyak 5 kali.
-
Tambahkan 90 µL Reagen substrat. Inkubasi selama 15 menit pada suhu 370.
-
Tambahkan 50 µL Stop Solution. Baca pada 450 nm sesegera mungkin.
Kalkulasikan hasilnya.
98
Lampiran 8.
PROSEDUR PEMERIKSAAN INTERLEUKIN 6 SERUM
A. Metode :
Human Interleukin 6 Immunoassay ( Quantikine )
B. Prinsip
Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan kuantitatif dengan teknik
immunoassay. Suatu monoklonal antibodi spesifik untuk interleukin 6 dan
dimasukkan kedalam mikroplate, standar dan sampel di masukkan ke
dalam tabung dan akan terbentuk interleukin 6 yang akan terikat dengan
antibodi. Setelah menghilangkan substansi yang tidak terikat, enzim yang
berikatan dengan antibodi poliklonal spesifik untuk interleukin 6
ditambahkan dalam tabung selanjutnya diikuti dengan pencucian untuk
menghilangkan reagen antibodi/enzim yang tidak terikat larutan substrat
ditambahkan dalam tabung dan pembentukan warna dalam proporsi pada
jumlah ikatan interleukin 6 pada langkah awal. Intensitas warna akan
berhenti dan intensitas warna akan dihitung.
C. Reagen
a. Interleukin 6 microplate
b. Interleukin conjugate
c. Interleukin standard
d. Assay Diluent RD1-85
e. Calibrator Diluent RD5P concentrate (5X)
f. Washing Buffer Concentrate
g. Color Reagen A
h. Color Reagen B
i. Plate Cover
99
D. Prosedur Kerja
a. Semua reagen dan sample dibiarkan hingga mencapai suhu kamar
sebelum digunakan, hal ini disarankan pada semua sampel , kontrol,
dan standar yang diperiksa.
b. Siapkan semua reagen dan dikerjakan dikerjakan pemeriksaan sesuai
langkah-langkah tanpa terputus
c. Hilangkan sisa mikroplate dari plate frame
d. Tambahkan 100 µL diluent RD1-85 pada semua wells
e. Tambahkan 50 µL pada standard , kontrol atau sampel pada well,
tutup dengan plate sealer dan simpan semua 2 jam pada suhu kamar.
f. Ambil dan bersihkan setiap well, ulangi sampai 3 kali
g. Tambahkan 100 µL Interleukin conjugated pada semua well, tutup
dengan plate sealer dan simpan selama 1 jam pada suhu kamar.
h. Ulangi mengambil/ bersihkan
i. Tambahkan 200 µL cairan substrate pada setiap well, simpan pada
suhu kamar selama 30 menit, hindari dari cahaya matahari.
j. Tambahkan 50 µL cairan stop pada setiap well, warna pada well akan
berubah dari biru menjadi kuning.
k. Tentukan optical density setiap well selama 30 menit, menggunakan
suatu microplate reader set to 450 nm.
E. Penghitungan Hasil
Rata-rata
salinan
yang terbaca untuk
standar, kontrol dan sampel
mengurangi rata-rata standar nol dari densitas optik. Kurva standar dibuat
dengan mengurangi data menggunakan software komputer, yang dapat
menghasilkan 4 parameter logistik atau 4-PL yang sesuai dengan kurva.
Sebagai alternatif, buatlah kurva standar dengan mengelompokkan rerata
yang diserap untuk masing-masing standar pada aksis y, berlawanan
100
dengan konsentrasi pada aksis x, dan gambarlah kurva yang tepat melalui
setiap
titik
pada
grafik.
Data
mungkin
berupa
garis
dengan
mengelompokkan logaritma dari konsentrasi IL-6 melawan logaritma dari
O.D. Garis yang tepat dapat ditentukan dengan analisis regresi hasil.
Prosedur ini akan menghasilkan data yang adekuat namun kurang tepat
dan pas.
101
Lampiran 9.
HASIL PENELITIAN
Identitas
S100B (pg/ml)
IL-6 (pg/ml)
MKW
6798.65
131.98
KS
2433.78
177.53
MO
950.87
17.74
NMS
1541.89
23.12
KB
3144.60
22.49
BW
4293.24
93.59
NWS
1985.14
7.51
DMK
2144.60
7.08
IMS
3950.00
79.38
WK
4285.14
14.25
WKu
2236.49
92.08
NMK
3377.03
376.80
SWD
4914.87
6.55
NME
6317.57
7.16
NKS
6731.08
95.10
IBNM
5517.57
18.46
AMu
5641.89
73.15
NPD
7344.60
61.61
HJ
4322.97
11.16
SH
2001.35
5.20
IGAP
5047.30
5.65
HH
7058.11
78.05
NPD
5522.97
82.92
WS
3914.87
2.14
NWL
2690.54
19.00
WG
3798.65
80.83
102
YY
5379.73
110.06
WN
6285.14
363.84
WP
5482.43
14.70
INW
3679.73
57.54
NL
4398.65
368.69
War
6509.46
62.67
NNR
6552.70
360.81
NKB
6271.62
1.03
KS
5544.60
62.37
WL
5868.92
51.36
MR
6420.27
23.84
MRn
3652.70
51.36
WW
4887.84
22.85
MD
3031.08
287.64
NKSr
5087.84
343.37
Kus
3985.14
222.84
IKS
5374.32
179.95
NWG
5922.97
3.54
VLD
6790.54
16.40
AA
6074.32
13.08
NMR
2509.46
79.38
NKsb
6860.81
1.03
NKK
5079.73
85.97
WSe
6023.57
64.48
HjB
6390.54
8.38
YP
5241.89
88.96
AAPRM
6825.68
262.33
WJo
4122.97
343.85
103
Mna
6525.68
87.08
NNR
7741.89
76.88
WA
6528.38
73.23
Luc
6812.16
19.27
Aco
6082.43
19.00
IMS
5560.81
7.94
KR
5777.03
85.42
GNA
4295.95
14.88
NWW
6674.32
109.69
Suk
6339.19
88.02
NNN
7017.57
1.29
Bar
6014.87
357.90
NNS
6798.65
78.13
WS
4739.19
13.98
VEV
7041.89
81.15
KTur
7128.38
87.10
KtR
7144.60
78.73
IPED
3985.14
7.34
KURVA STANDAR S100B
STANDAR
OD 1
OD2
KADAR (PG/ML)
1
1.237
1.308
2000
2
0.892
0.913
1000
3
0.62
0.727
500
4
0.345
0.313
250
5
0.235
0.261
125
6
0.16
0.141
62.5
7
0.103
0.089
31.25
BLANKO
0.053
0.053
0
KURVA STANDAR IL-6
104
STANDAR
OD 1
OD2
RERATA OD
KADAR (PG/ML)
1
2.937
2.879
2.908
300
2
1.272
1.242
1.257
100
3
0.614
0.574
0.594
50
4
0.361
0.347
0.354
25
5
0.219
0.21
0.2145
12.5
6
0.147
0.138
0.1425
6.25
7
0.116
0.101
0.1085
3.13
blanko
0.072
0.072
0.072
0
105
Download