Gangguan Amnestik - Universitas Mercu Buana

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Gangguan
gangguan
Psikologi
Penuaan dan GG. psikologis
yang terkait
Fakultas
Program Studi
PSIKOLOGI
S1 Psikologi
Tatap Muka
15
Kode MK
Disusun Oleh
Putri R. Wulandari
Abstract
Kompetensi
Berisikan hal-hal yang berkaitan
dengan penuaan dan gangguan yang
terkait, seperti definisi, kriteria, dan
penanganan
Mahasiswa mengetahui dan memahami
hal-hal yang berkaitan dengan penuaan
dan gangguan yang terkait,, seperti
definisi, kriteria, dan penanganan
Pendahuluan
Banyak perubahan psikologis yang terjadi sejalan dengan penuaan. Perubahan dalam
metabolism kalsium mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan meningkatkan resiko patah bila
terjatuh. Kulit tumbuh kurang elastis,menyebabkan keriput dan lipatan. Indra menjadi kutang tajam,
sehingga orang tua kurang dapat melihat dan mendengar secara akurat. Orang lanjut usia butuh
waktu lebih lama ( yang disebut waktu reaksi ) untuk berespons terhadap stimulus, baik ketika
mereka mengemudi ataupun melakukan test intelegensi. Sebagai contoh, pengemudi yang sudah
tua butuh watu lebih lama untuk bereaksi terhadap tanda-tanda lalu lintas maupun kendaraan lain.
Fungsi sistem kekebalan menjadi kurang efektif seiring meningkatnya usia, sehingga orang lebih
rentan terhadap penyakit ketika mereka menua. Kulit menjadi kurang eastis sehingga mudah
tergores. Indera pendengaran berkurang, sebagaimana elastisitas lensa mata yang mmbuat mereka
lebih sulit untuk berfokus pada objek yang dekat dan tulisan yang tercetak.
Perubahan kognitif sejalan dengan usia. Sangatlah normal bagi orang-orang usia tua mengalami
penurunan dalam hal memori dan kemampuan kognitif umum, sebagaimana yang diukur oleh tes
intelegensi maupun tes IQ. Penurunan yang paling tajam terjadi pada item-iten yang diukur dengan
waktu, seperti skala kerja dari Wechsler Adult Intellegence Scale. Meskipun beberapa penurunan
pada kemampuan kognitif ( pemahaman bacaan, kemmapuan spasial seperti dalam membaca peta,
atau penalaran matematika dasar ) pada usia remaja umum terjadi, hal ini tidaklah berlaku secara
menyeluruh. Penelitian menyebutkan bahwa 20% hingga 30% orang pada usia 80-an menunjukkan
hasil tes intellegensi sebaik ketika mereka berusia 30 atau 40 tahunan (Goleman, 1994d ). Beberapa
kemampuan seperti perbendaharaan kata dan perbendaharaan pengetahauan yang terakumulasi
bertahan cukup baik pada kehidupan lanjut. Namun, orang biasanya mengalami beberapa
penurunan dalam ingatan saat mereka menua, terutama ingatan tentang nama-nama atau
peristiwa-peristiwa yang baru. Namun terlepas dari rasa malu secara sosial akibat melupakan nama
seseorang, penurunan kognitif yang dialami saat mereka bertambah tua tidak secara signifikan
mengganggu kemampuan mereka untuk memenuhi tanggung jawab sosial maupun pekerjaan.
Pengurangan dalam fungsi kognitif pada derajat tertentu mungkin juga dapat diimbangi dengan
peningkatan pengetahuan pengalaman.
Hal yang penting disini adalah dimensia atau kepikunan bukan merupakan hasil dari proses penuaan
yang normal. Ini merupakan tanda dari penyakit otak degenaratif. Penyaringan dan pengujian
dengan menggunakan tes neurologis dan neoropsikologis dapat membantu membedakan demensia
dengan proses penuaan yang normal. Biasanya proses pengurangan dalam fungsi intelektual pada
dimensia terjadi lebih cepat dan parah.
Gg. kecemasan pada penuaan
Gangguan kecemasan dapat menyerang pada berbagai usia, namun pravalensinya lebih
sedikit pada usia tua dibandingkan dengan usia-usia yang lebih muda. Gangguan kecemasan
merupakan jenis gangguan mental yang umumnya menyerang orang tua dan dua kali lebih umum
dibandingkan dengan gangguan mood seperti depresi. Kurang lebih 1 dari 10 orang dewasa berusia
lebih dari 55 tahun menderita gangguan kecemasan yang dapat didiagnosis. Perempuan tua
2015
2
Gangguan-Gangguan Psikologi
Putri R. Wulandari, M.Psi, PSI
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
cnderung lebih terpengaruh terhadap kecemasan disbanding dengan laki-laki tua, dengan ratio dua
disbanding satu ( 2:1 ) ( Stanley & Beck 2000 ). Gangguan kecemasan yang paling sering terjadi pada
orang lanjut usia adalah gangguan kecemasan menyeluruh ( Generalized Anxiety Disorder : GAD )
dan gangguan fobia, gangguan panic jarang terjadi. Kebanyakan kasus agoraphobia yang menyerang
orang tua cenderung berasal dari hal-hal yang baru terjadi dan mungkin melibatkan hilangnya sistem
dukungan sosial karena kematian pasangan atau teman-teman dekat. Dan lagi inividu lanjut usia
yang lemah mungkin memiliki kekuatan yang realistis akan terjatuh di jalanan dan mungkin
mengalami salah diagnosis menderita agarofobia apabila mereka menolak meninggalkan rumah
sendiri.
Gangguan kecemasan mungkil timbul dari persepsi bahwa orang tersebut kehilangan kendali atas
kehidupanya, yang miungkin berkembang pada masa kehidupan lanjut ketika orang itu berusaha
melawan penyakitnya, kehilangan teman-teman dan orang yang dicintai serta mengalami penurunan
kesempatan dalam hal ekonomi. Penenang ringan seperti benzodiazepine ( valium salah satunya ),
biasanya digunakan untuk mengatasi kecemasan pada orang usia lanjut. Demikian intervensi
psikologis, seperti terapi kognitif behavioral mungkin merupakan alternative dari penurunan obatobat psikis yang sesuai.
Depresi dan Penuaan
Meskipun resiko depresi mayor juga menurun seiring usia, depresi merupakan masalah umum yang
dihdapi oleh orang usia lanjut. Pada sejumlah kasus, depresi merupakan kelanjutan dari pola yang
berlangsung seumur hidup. Pada kasus lain depresi pertama kali muncul pada usi lanjut,. Antara 8%
dan 20% orang usialanjut mengalami beberapa simtom depresi, dengan sekitar 3% dari mereka
mengalami gangguan depresi mayor. Tingkat depresi tetap lebih tinggi. Meskipun lebih sedikit orang
usia lanjut yang menderita depress mayor dibandngkan orang dewasa muda, bunuh diri lebih sering
terjadi pada orang lanjut usia, terutama laki-laki tua.
Depresi pada masa tua juga dihubungkan dengan tingkat penurunan fisik yang lebih cepat dan
tingkat moralitas yang lebih tinggi. Depresi mungkin dikaitkan dengan tingkat moralitas yang tinggi
karena kondisi medis yang menyertai atau mungkin Karena hilangnya kepatuhan untuk engkonsumsi
obat-obatan yang dibutuhkan.
Gangguan depresi pada umumnya menyerang pada orang-oranag yang memiliki gangguan otak.
Beberapa diantaranya seperti gangguan Alzheimer dan strok secara tidak seimbang mempengaruhi
orang lanjut usia.Parapeneliti memperkirakan bahwa gangguan depresi menyerang setengah dari
orang-orang yang menderita penyakit stroke dan sepertiga hingga setengah dari orang-orang yang
menderita penyakit Alzheimer atau penyakit Parkinson. Pada kasus Parkinson depresi bukan sekedar
reaksi dalam menghadapi penyakit, tetapi juga merupakan akibat perubahan neurbiologis di otak
yang disebabkan oleh penyakit tersebut.
Ketersdiaan dukungan sosial tampaknya menjadi tameng dai dampak stress, duka cita, dan penyakit
sehingga mengurangi resiko depresi. Dukungan sosial adalah penting terutama bagi orang tua yang
mmiliki gangguan fisik. Namun, mengahdapi pasangan yang depresi dapat memkana korban, karena
dapat menyebabkan resiko depresi pada orang yang merawatnya.
2015
3
Gangguan-Gangguan Psikologi
Putri R. Wulandari, M.Psi, PSI
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Di lain pihak, partisipasidalam organisasi sukarela dan intuisi keagamaan dihubungkan dengan resiko
depresi yang lebih rendah pada orang tua. Bentuk-bentuk partisipasi sosial ini mungkin memberikan
bukan hanya perasaan bermakna dan tujuan tetapi juga penyaluran sosial yang dibutukan.
Orang lanjut usia mungkin sangat rentan terhadap depresi yang disebabkan oleh stress dalam
menghadapi perubahan-perubahan kehidupan yang berhubungan dengan apa yang dahulu disebut
sebagai tahun emas-pensiun, penyakit atau ketidakmampuan fisik, penempatan dalam rumahrumah jompo, kematian pasangan, saudara kandung, teman lama dan kenalan-kenalan atau
kebutuhan untuk merawat pasangan yang kessehatnya menurun. Pensiun, baik sukarela maupun
terpaksa, mungkin melemahkan perasaan bermakna dalam hidup dan menyebabkan hilangnya
identitas peran. Kehilangan keluarga dan teman-teman meninggalkan duka cita dan mengingatkan
orang yang berusia lanjut akan usia mereka yang semakin bertambah serta semakin berkurangnya
keersediaan dukungan sosial. Orang lanjut usia mungkin merasa tidka mampu untuk membentuk
pertemanan yang baru atau menemukan tujuan baru dalam hidup.
Bukti menunjukan bahwa ketegangan kronis dalam menghadapi anggota keluarga yang mengalami
demensia dapat menyebabkan depresi pada orang yang merawat, bila sebelumnya tidak ada
kerentanan pada depresi. Hampir setengah dari orang yang merawat pasien Alzheimer mengalami
depresi.
Terlepas dari pravealensi depresi pada orang tua, dokter seringkali gagal mengenali atau
memberikan obat yang sesuai. Pada sebuah penelitian terhadap lebih dari 500 orang usia lanjut usia
tua di Ontario yang melakukan bunuh diri, hampir dari 9 dari 10 orang ditemukan meninggal tanpa
penanganan. Penyediaan layana kesehatan mungkin cenderung kurang dapat mengenali depresi
pada orang yang lebih tua dibandingkan orang pada usia peretengahan tau orang muda karena
cenderung lebih berfokus pada keluhan-keluhan fisik orang yang lebih tua atau karena depresi pada
orang yang lebih tua seringkali tertutup oleh keluhan-keluhan fisik atau gangguan tidur.
Kebanyakan orang lanjut usia yang mengalami penuruna ingatan tidan menderita penyakit
Alzheimer. Mereka cnderung mengalami kehilangan memori akibat depresi atau faktor-faktor lain
sebagai penggunaan alcohol yang kronis atau dampak dari stroke kecil. Berita baiknya adalah
periode hendaya ingatan yang menyertai depresi pada orang lanjut usia seringkali hilang apabila
depresi yang mendasarinya disembuhkan.
Bukti menunjuka bahwa perawatan untuk orang yang depresi yang efektif untuk orang yang lebih
muda sepert pengobatan antidepresan, terapi kognitif behavioral, dan piskoterapi interpersonal,
demikian pula ECT juga efektif dalam menangani depresi geriartik. Bahkan, orang lanjut usia juga
memperoleh keuntungan, meskkipun mungkin lebih perlahan, dari intervensi farmakologis dan
psikologis. Seperti halnya orang pada usia pertengahan atau orang dewasa muda. Penemuanpenemuan ini seharusnya membantu menghilangkan keyakinan bahwa psikoterapi tidak sesuai
untukorang lanjut usia
2015
4
Gangguan-Gangguan Psikologi
Putri R. Wulandari, M.Psi, PSI
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Dimensia tipe Alzheimer
Definisi____________________________________________________________________________
Dimensia merupakan penyakit otak degenaratif yang menyebabkan bentuk dimensia yang
progresif dan tidak dapat diperbaiki, ditandai dengan hilangnya ingatan dan fungsi kognitif lainya.
Meskipun berhubungan dengan penuaan AD ( Alzheimer Disease ) merupakan penyakit dan bukan
merupakan konsekuensi dari penuaan yang normal. Perempuan memiliki resiko yang lebih tinggi
untuk mengalami penyakit ini dibandingkan laki-laki meskipun hal ini merupakan konsekuensi dari
perempuan yang cenderung hidup lebih lama.
Demensia yang dikaitkan dengan AD meliputi suatu deteriorasi progresif dari kemampuan mental
yang meliputi ingatan, bahasa dan pemecahan masalah. Kehilangan ingatan sementara atau menjadi
pelupa pada usia pertengahan ( misalnya lupa dimana meletakkan kacamatanya ) merupakan
konsekuensi normal dari proses penuaan dan bukan merupakan suatu tanda dari tahapan awal
penyakit alzheimer. Orang-orang berusia lanjut mengeluh tidak dapat mengingat nama-nama seperti
dahulu, atau lupa nama-nama sebelumnya mereka kenal dengan baik. Meskkipun lupa yang ringan
mungkin mengkhawatirkan orang-orang, hal ini tidak mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan
mereka.
Dugaan tentang AD diajukan apabila hendaya kognitif yang dialami lebih parah dan pervasive,
mempengaruhi kemampuan individu untuk emmnuhi tanggung jawabnya yang biasa dalam
pekerjaan sehari-hari dan peran-peran sosial. Seiring berjalanya penyakit, orang yang mengalami AD
dapat tersesat di tempat parker atau took atau bahkan di rumah mereka. Istri dari seorang pasien
AD menggambarkan bagaimana AD mempengaruhi suaminya, “Tanpa pengobatan, Alzheimer
merampok jati diri seseorang. Agitasi, perilaku berkeliling, depresi dan perilaku agresif menjadi
umum ketika penyakit semkain parah.
Orang yang menderita AD mungkin mengalami kbingungan atau waham dalam pemikiran mereka
dan mungkin merasakan bahwa kemampuan mental mereka menghilang tetapi tidak dapat
memahami mengapa hal itu terjadi. Kebingungan dan ketakutan mungkin membawa pada waham
paranoid atau keyakinan bahwa orang yang mereka cintai menghianati mereka, merampok mereka
atau tidak peduli pada mereka. Mereka mungkin lupa nama-nama orang yang mereka cintai atau
mungkin mereka tidak mengingatnya lagi dan bahkan mereka lupa dengan namanya sendiri.
Karakteristik psikotik seperti waham dan halusinasi ditemukan pada satu atau tiga orang yang
menderita AD. Tampilan simtom-simtom psikotik tampaknya berhubungan dengan hendaya kognitif
yang semakin besar dan deteriosasi yang lebih cepat. Orang-orang yang mengalami Alzheimer
cenderung mengalami gangguan bunuh diri dan depresi, tetapi dokter-dokter mereka melewatkan
gejala-gejalanya atau bahkan mungkin mengabaikanya.
Alzheime rMenurut Whitbourne (2003), Alzheimer dikenal sebagai salah satu penyakit yang paling
sering ditemui sebagai penyebab demensia. Demensia adalah suatu penyakit penurunan fungsi
kognitif/gangguan intelektual/daya ingat yang umumnya semakin lama semakin memburuk
(progresif) dan tidak dapat diubah (irreversible). Gejala gangguan perilaku lain yang sering dialami
2015
5
Gangguan-Gangguan Psikologi
Putri R. Wulandari, M.Psi, PSI
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
penderita penyakit ini adalah mereka jadi mudah tersinggung, sering merasa cemas, sulit tidur,
pencuriga, sering keluyuran, bahkan berperilaku memalukan, misalnya telanjang di depan umum,
pergi ke kantor dengan pakaian tidur, dan sebagainya. Alzheimer banyak dialami oleh orang lanjut
usia, terutama usia 65 tahun ke atas, tetapi dalam perkembangannya kelompok usia sebelum usia
diatas pun cenderung rentan terkena penyaki ini, yang disebabkan oleh berbagai factor, misalnya
penerapan pola hidup dan gaya hidup yang tidak sehat dan atau semakin tingginya tuntutan hidup
dan tekanan hidup karena pekerjaan terutama di kota-kota besar (megapolitan).
Menurut dr. Samino, Sp.S (K), spesialis syaraf dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta,
penegakan definisi Alzheimer dapat diketahui dari gejala-gejala yaitu lupa akan kejadian yang baru
dialami, kesulitan dalam berbahasa, kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari, sering salah
menaruh barang-barang, tidak dapat membuat keputusan, serta kesulitan dalam hitung-menghitung
sederhana.
Ditambahkan oleh dr Suryo, selain penurunan daya ingat, penderita demensia Alzheimer stadium
awal juga kerap mengalami gangguan psikologi dan perilaku. “Karena ada ingatan yang kosong,
penderita demensia sering mengarang cerita yang diyakininya benar, hal ini menimbulkan
pertentangan dengan orang di sekitarnya yang mengetahui bahwa cerita tersebut tidak benar,
akibatnya penderita jadi bersikap paranoid,” jelasnya. Gejala gangguan perilaku lain yang sering
dialami penderita penyakit ini adalah mereka jadi mudah tersinggung, sering merasa cemas, sulit
tidur, pencuriga, sering keluyuran, bahkan berperilaku memalukan, misalnya telanjang di depan
umum, pergi ke kantor dengan pakaian tidur.dan sebagainya.
Jadi dari penjelasan yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa Alzhaimer adalah salah
satu penyakit yang paling sering ditemui sebagai penyebab demensia yang ditandai dengan
penurunan daya ingat, lupa akan kejadian yang baru dialami, kesulitan dalam berbahasa, kesulitan
melakukan pekerjaan sehari-hari, sering salah menaruh barang-barang, tidak dapat membuat
keputusan, serta kesulitan dalam hitung-menghitung sederhana. Selain itu gejala gangguan terkait
dengan perilaku yaitu penderita jadi mudah tersinggung, sering merasa cemas, sulit tidur, pencuriga,
sering keluyuran, bahkan berperilaku memalukan, misalnya telanjang di depan umum, pergi ke
kantor dengan pakaian tidur
Diagnosis__________________________________________________________________________
Tidak ada tes yang jelas untuk diagnosis AD. Diagnosis AD biasanya didasarkan pada proses
pengecualian ( exclusion ) dan hanya diberikan ketika kemungkinan penyebab dari lain demensia
dapat dihilangkan. Kondisi medis dan psikologis lain yang mungkin mirip dengan AD, sepereti
depresiyang parah yang berakibat hilangnya ngatan dan hendaya fungsi kognitif. Akibatnya
kesalahan diagnosis dapat terjadi terurama pada tahap-tahap awal dari penyakit. Diagnosis untuk
mengkonfirmasi AD dapat dibuat hanya berdassar pemeriksaan terhadap jaringan otak melalui
biopsy atau autopsy. Namum biopsy jarang dilakukan karena danya resiko hemoragi atau infeksi,
dan autopsy tentunya terjadi saat sudah terlalu loambat untuk dapat membantu pasien.
Gejala-gejala Alzheimer_____________________________________________________________
Gejala AlzheimerBerdasarkan National Alzheimer’s Association (2003), gejala Alzheimer dibagi
menjadi 3 tahap, yaitu:
Gejala ringan
• Lebih sering bingung dan melupakan informasi yang baru dipelajari
2015
6
Gangguan-Gangguan Psikologi
Putri R. Wulandari, M.Psi, PSI
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
• Disorientasi: tersesat di daerah sekitar yang dikenalnya dengan baik
• Bermasalah dalam melaksanakan tugas rutin
• Mengalami perubahan dalam kepribadian dan penilaian
Gejala menengah
• Kesulitan dalam mengerjakan aktivitas hidup sehari-hari, seperti makan dan mandi
• Cemas, curiga, dan agitasi
• Mengalami gangguan tidur
• Keluyuran
• Kesulitan mengenali keluarga dan teman.
Pertama-tama yang akan sulit untuk dikenali adalah orang-orang yang paling jarang ditemuinya,
mulai dari nama, hingga tidak mengenali wajah sama sekali. Kemudian bertahap kepada orang-orang
yang cukup jarang ditemui.
Gejala akut
• Sulit / kehilangan kemampuan berbicara
• Kehilangan nafsu makan, menurunnya berat badan
• Tidak mampu mengontrol buang air kecil dan buang air besar
• Sangat tergantung pada caregiver/pengasuh.
Tahap Alzheimer ___________________________________________________________________
taraf tingkat keparahan penyakit ini terbagi dalam tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap sederhana,
dan tahap serius. Setiap tahap memiliki perilaku yang teridentifikasi.
Tahap awal
Menurunya Pertuturan
Menurunya daya ingatan ( tidak dapat mengingatkan benda yang biasa dalam kehidupannya
ataupun ahli keluarga yang tersayang )
Menurunya kemampuan pertimbangan tidak rasional,
Perubahan tingkah laku
Perubahan personaliti.
Tahap sederhana
Tidak dapat mengingati pekara yang baru berlaku.
Mempunyai masalah dalam tugasan harian seperti mencuci pinggan-mangkuk.
Mengambil masa yang lama dalam pemilihan pakaian untuk majlis-majlis atau
bersesuaian dengan cuaca.
Lupa untuk mandi dan merapikan diri.
Selalu bertengkar mulut.
Berangan-angan,kerap berlaku pada waktu malam. ( perubahan corak tidur )
mendengar suara atau bisikan halus dan mengadu ternampak bayangan menakutkan.
Gelisah dan stress selalu.mereka memerlukan perhatian yang sepenuhnya.
Tahap serius
Mempunyai masalah dalam makan ( gangguan makan ) .
Tidak dapat bertutur.
2015
7
Gangguan-Gangguan Psikologi
Putri R. Wulandari, M.Psi, PSI
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Tidak mengenali diri sendiri dan ahli keluarga.
Tidak mengawal kencing dan berak.
Mempunyai masalah dalam pergerakan.
Ciri-ciri Alzheimer___________________________________________________________________
Tahap awal dari penyakit ditandai oleh masalah-masalah keterbatasan ingatan dan perubahan
kepribadian yang tidak kentara . Penderita pada awalnya mungkin mengalami masalah dalam
mengatur keuangannya,mengingat peristiwa-peristiwa yang baru terjadi atau informasi dasar seperti
nomor telepon,kode area,kode pos dan nama cucu-cucu mereka serta dalam melakukan hitungan
numerik.
Tahap keparahan sedang ditandai dengan mulai tidak dapat memilih pakaian untuk musim atau
acara tertentu,tidak mampu mengingat alamat rumah ,atau melakukan kesalahan-kesalahan pada
saat mengemudi.
Sejumlah orang yang menderita AD tidak menyadari kekurangan mereka.Awalnya mereka mungkin
menghubungkan masalah mereka dengan sebab-sebab lain ,seperti stress atau kelelahan.
Penderita tingkat lanjut mungkin mulai bicara dengan diri mereka sendiri atau mengalami halusinasi
visual dan bahkan waham paranoid.Mereka meyakini bahwa seseorang berusaha menyakiti mereka
atau mencuri apa saja yang mereka miliki,atau merasa pasangan mereka tidak setia
Pada tingkat yang paling parah,fungsi kognitif menurun hingga derajat dimana orang tersebut
menjadi tidak berdaya.Mereka mungkin kehilangan kemampuan untuk berbicara atau
mengendalikan pergerakan tubuh.Mereka juga tidak mapu mengendalikan kadung kemih,tidak
mapu untuk berkomunikasi,berjalan atau bahkan duduk,serta membutuhkan bantuan dalam
aktivitas di toilet dan maka. Pada tahap akhir,penderita akan mengalami kejang,koma,dan kematian
terjadi.
Orang yang berisiko
Pengidap hipertensi yang mencapai usia 40 tahun ke atas
Pengidap kencing manis
Kurang berolahraga
Tingkat kolesterol yang tinggi
Faktor keturunan – mempunyai keluarga yang mengidap penyakit ini pada usia 50-an.
Dementia Vaskular
Demensia vaskular adalah bentuk demensia yang merupakan akibat dari stroke yang berulang-ulang.
Demensia vaskular kebanyakan menyerang orang pada usia lanjut. Demensia vaskular biasanya
diakibatkan oleh stroke berganda yang terjadi pada waktu yang berbeda dan memiliki efek kumulatif
2015
8
Gangguan-Gangguan Psikologi
Putri R. Wulandari, M.Psi, PSI
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
pada kisaran yang luas dari kemampuan mental. Ciri-ciri demensia vaskular, demensia vaskular
biasanya terjadi secara cepat dengan mengikuti tahap-tahap deteriorasi yang mencakup pola
penurunan fungsi kognitif yang cepat dan diyakini mencerminkan dampak dari stroke tambahan.
Beberapa fungsi kognitif mungkin relatif tetap baik di awal serangan penyakit.
Demensia akibat kondisi medis umum
a) Demensia akibat penyakit pick, penyakit pick menyebabkan demensia progresif. Simtomsimtomnya mencakup hilangnya ingatan dan ketidaklayakan secara sosial. Penyakit pick diyakini
berkontribusi pada sekitar 5% dari demensia. Penyakit ini paling banyak terjadi antara usia 50 dan 60
tahun. Risiko akan berkurang dengan meningkatnya usia setelah 70 tahun. Penyakit pick lebih
banyak dialami oleh laki-laki.
b) Demensia akibat penyakit parkinson, demensia terjadi sekitar 20% hingga 60% orang yang
menderita parkinson. Penyakit parkinson ditandai oleh getaran-getaran anggota badan yang tidak
terkontrol, gangguan dalam postur, dan hilangnya kontrol terhadap gerakan tubuh.
c) Demensia akibat penyakit huntington, penyakit huntington mempengaruhi sekitar 1 dari 10.000
orang, biasanya berawal pada masa dewasa antara 30 dan 45 tahun. Laki-laki dan perempuan
cenderung memiliki kemungkinan yang sama untuk terserang penyakit ini. Penyakit huntington
disebabkan oleh kerusakan genetis pada satu gen yang telah mengalami kerusakan. Penyakit ini
diturunkan secara genetis.
d) Demensia akibat penyakit HIV, demensia jarang terjadi pada orang dengan HIV yang belum
berkembang menjadi AIDS sepenuhnya. Satu dari empat orang yang mengidap AIDS
mengembangkan beberapa bentuk hendaya kognitif yang dapat berkembang menjadi demensia.
e) Demensia akibat penyakit creutzfeldt-jakob, penyakit ini merupakan penyakit otak yang jarang
terjadi dan fatal. Penyakit ini ditandai oleh pembentukan rongga kecil pada otak yang menyerupai
lubang-lubang pada spons. Penyakit ini biasanya menyerang orang-orang pada rentang usia 40-60
tahun. Pada sekitar 5% hingga 15% kasus terdapat bukti penularan dalam keluarga, yang
mengindikasikan bahwa komponen genetis mungkin terlibat dalam menentukan kerentanan
terhadap penyakit ini.
f)
Demensia akibat trauma kepala, trauma kepala dapat melukai otak. Sentakan yang keras,
pukulan, atau jaringan-jaringan otak yang terpotong, biasanya karena kecelakaan atau akibat
serangan adalah penyebab dari luka pada otak. Demensia progresif akibat trauma kepala lebih
cenderung merupakan hasil trauma kepala berulang daripada pukulan atau trauma kepala tunggal.
Delirium
Delerium berasal dari bahasa latin,de berarti dari dan lira berarti garis atau alur. Hal ini
berarti pergeseran dari garis atau norma,,dalam persepsi,kognisi dan perilaku.Delerium mencakup
keadaan kebingungan mental yang ekstreem dimana orang mengalami kesulitan berkonsentrasi dan
2015
9
Gangguan-Gangguan Psikologi
Putri R. Wulandari, M.Psi, PSI
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
berbicara jelas serta masuk akal. Orang yang terkena delerium mungkin mengalami kesulitan untuk
mengabaikan stimulus yang tidak sesuai atau mengalihkan perhatian mereka pada tugas yang baru.
Orang-orang dalam kondisi delerium mungkin mengalami halusinasi yang menakutkan ,terutama
halusinasi visual . Gangguan dalam persepsi juga sering terjadi .
Delirium adalah satu gangguan yang berkaitan dengan penurunan daya konsentrasi/masalah
pemusatan perhatian adalah delirium.
Delirium adalah keadaan dimana penderita mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan
perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara
jernih. Gangguan delirium ini biasanya bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak.
Delirium bisa timbul pada segala umur, tetapi sering pada usia lanjut. Sedikitnya 10% dari pasien
lanjut usia yang dirawat inap menderita delirium; 15-50% mengalami delirium sesaat pada masa
perawatan rumah sakit. Delirium juga sering dijumpai pada panti asuhan. Bila delirium terjadi pada
orang muda biasanya karena penggunaan obat atau penyakit yang berbahaya mengancam jiwanya.
Delirium merupakan suatu keadaan mental yang abnormal dan bukan merupakan suatu penyakit.
Gangguan ini dapat terlihat dengan ditemukannya sejumlah gejala yang menunjukkan penurunan
fungsi mental. Berbagai keadaan atau penyakit (mulai dari dehidrasi ringan sampai keracunan obat
atau infeksi yang bisa berakibat fatal), bisa menyebabkan delirium.
Gangguan delirium ini sendiri paling sering terjadi pada usia lanjut dan penderita yang otaknya telah
mengalami gangguan, termasuk di sini adalah orang yang sakit berat, orang yang mengkonsumsi
obat yang menyebabkan perubahan pikiran atau perilaku dan orang yang mengalami demensia.
Melihat dari pengertian di atas, mungkin dapat dikatakan bahwa perbedaan antara delirium dengan
beberapa penyakit/gangguan yang berkaitan dengan masalah penurunan konsentrasi adalah bahwa
delirium ini bersifat sementara dan bukan merupakan suatu penyakit. Harapannya delirium ini akan
hilang dengan sendiri manakala penyakit berat, ataupun efek dari obat-obatan yang menjadi sebab
dari timbulnya delirium ini sudah hilang.
Tanda dan gejala___________________________________________________________________
Delirium ditandai oleh kesulitan dalam:
* Konsentrasi dan memfokus
* Mempertahankan dan mengalihkan daya perhatian
* Kesadaran naik-turun
* Disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang
* Halusinasi biasanya visual, kemudian yang lain
* Bingung menghadapi tugas se-hari-hari
* Perubahan kepribadian dan afek
* Pikiran menjadi kacau
* Bicara ngawur
* Disartria dan bicara cepat
* Neologisma
* Inkoheren
2015
10
Gangguan-Gangguan Psikologi
Putri R. Wulandari, M.Psi, PSI
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gejala termasuk:
* Perilaku yang inadekuat
* Rasa takut
* Curiga
* Mudah tersinggung
* Agitatif
* Hiperaktif
* Siaga tinggi (Hyperalert)
akibat_____________________________________________________________________________
* Pendiam
* Menarik diri
* Mengantuk
* Banyak pasien yang berfluktuasi antara diam dan gelisah
* Pola tidur dan makan terganggu
* Gangguan kognitif, jadi daya mempertimbangkan dan tilik-diri terganggu
Terapi__________________________________________________________________________
Psikopatologi
Delirium biasanya hilang bila penyakit badaniah yang menyebabkan sudah sembuh, mungkin sampai
kira-kira 1 bulan sesudahnya. Gangguan jiwa yang psikotik atau nonpsikotik yang disebabkan oleh
gangguan jaringan fungsi otak. Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit
badaniah yang terutama mengenai otak (meningoensephalitis, gangguan pembuluh darah ootak,
tumur otak dan sebagainya) atau yang terutama di luar otak atau tengkorak (tifus, endometriasis,
payah jantung, toxemia kehamilan, intoksikasi dan sebagainya). Bila bagian otak yang terganggu itu
luas, maka gangguan dasar mengenai fungsi mental sama saja, tidak tergantung pada penyakit yang
menyebabkannya. Jika disebabkan oleh proses yang langsung menyerang otak , bila proses itu
sembuh maka gejala-gejalanya tergantung pada besarnya kerusakan yang ditinggalkan gejala-gejala
neurologik dan atau gangguan mental dengan gejala utama gangguan intelegensi. Bisa juga
didapatkan adanya febris. Terdapat gejala psikiatrik bila sangat mengganggu dapat diberikan
neroleptika, terutama yang mempunyai dosis efektif tinggi.
Gangguan Amnestik
Gangguan amnestik ditandai oleh penurunan fungsi ingatan secara secara dramatis yang tidak
berhubungan dengan keadaan delirium atau dementia. Amnesti meliputi ketidakmampuan untuk
mempelajari informasi baru atau untuk mengingat kembali informasi yang sebelumnya dapat
diakses atau kejadian-kejadian masa lalu dari kehidupan seseorang. Penyebab amnesia mencakup
mencakup operasi otak, hipoksia atau kehilangan oksigen di otak secara mendadak, infeksi atau
penyakit otak, infarktus atau penyumbatan pada pembuluh darah yang menyalurkan darah ke otak,
serta penggunaan yang kronis dan berat zat-zat psikoaktif tertentu.
2015
11
Gangguan-Gangguan Psikologi
Putri R. Wulandari, M.Psi, PSI
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gangguan Tidur
Insomnia adalah keluhan yang umum terjadi dikalangan orang lanjut usia. Survvei nasional
menemukan insomnia 25% dari responden berusia 65-79 tahun, dibandingkan dengan 14% dalam
kelompok umur 18-34 tahun(Mellinger,Balter,& uhlenhuth,1985)
Masalah tidur yang sering dialami oleh usia lanjut adalah terjaga pada malam hari, sering terbangun
pada dini hari, sulit untuk tertidur dan rasa lelah yang amat sangat pada siang hari (Millest &
Demment, 1980). Keluhan tersebut sejalan dengan berbagai perubahan fisiologis yang terjadi secara
normal ketika memasuki usia tua ( Bootzin Engle Friedman & Hazelwood, 1983). Orang usia lanjut
memiliki jam tidur yang agak singkat atau sama dengan orang dewasa yang berusia lebih muda,
namun waktu tidur mereka lebih sering terputus secara spontan, mereka membutuhkan waktu lebih
lama untuk dapat kembali tertidur setelah terjaga (Webb & Campbell, 1980).
Orang lanjut usia memiliki waktu mutlak yang lebih sedikit dalam fase dengan gerakan mata cepat,
dan tidur tahap 4-tahap paling lelap- hampir tidak dialami. Para laki-laki lanjut usia umumnya lebih
banyak gangguan dalam tidur mereka dibanding perempuan lanjut usia, sutu perbedaan yang lebih
sedikit pada orang dewasa muda (Dement, Laughton & Carskadon, 1981)
Penyebab gangguan tidur_____________________________________________________________
Selain hal-hal yang menyangkut penuaan, berbagai macam penyakit, obat-obatan, kafein, stres,
kecemasan, depresi, kurang beraktifitas dan kebiasaan tidur yang buruk dapat menyebabkan
insomnia. Rasa sakit karena arthritis merupakan pengganggu tidur nomor satu pada orang usia lanjut
(Prinz & Raskin, 1978). Apnea tidur adalah gangguan pernapasan dimana berulang kali berhenti
selam beberapa detik hingga setengah menit ketika orang yang bersangkutan dalam keadaan tidur.
Gangguan ini disebabkan oleh sangat berkembangnya aliran udara karena adanya hambatan dari
jaringan yang lebih menghasilkan relaksasi otot dibagian belakang tenggorokan. Gangguan
pernapasan ini terjadi 60 kali dalam satu jam. §
Penanganan gangguan tidur
_____________________________________________________
Obat-obatan yang dijual bebas dan obat-obatan resep dapat dikonsumsi oleh insomnia lanjut usia.
Akan tetapi efektifitas obat tidur tersebut cepat hilang dan bila digunakan terus menerus dapat
membuat tidur menjadi tidak lelap. Obat yang dianggap alat bantu tidur tersebut juga daapt
menimbulkan rasa lemas dan meningkatkan kesulitan bernapas setelah minum obat tersebut. oleh
karena itu penanganan dapat dilakukan dengan relaksasi
Daftar Pustaka
Fitri Fausiah & Julianty Widury, ed. Augustine S. Basri (2005). Psikologi Abnormal Klinis Dewasa.
Jakarta : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
2015
12
Gangguan-Gangguan Psikologi
Putri R. Wulandari, M.Psi, PSI
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Kring, Ann M., Johnson, Sheri, L., Davison, G.C., Neale, J.M. (2010). Abnormal Psychology 11th ed.
New York : John Wiley & Sons .
Nevid, J.S., Rathus, S.A. & Greene, B. (2008). Abnormal Psychology in a Changing World 7th ed.
Pearson International Edition
2015
13
Gangguan-Gangguan Psikologi
Putri R. Wulandari, M.Psi, PSI
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download