analisis impelementasi pendidikan nilai karakter kedisiplinan di

advertisement
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PPKn III | 2017
ANALISIS IMPELEMENTASI PENDIDIKAN NILAI KARAKTER
KEDISIPLINAN DI SEKOLAH DASAR
Candra Dewi
Universitas PGRI Madiun
[email protected]
Abstrak
Salah satu permasalahan yang sering dialami oleh seorang guru dalam menanamkan pendidikan
karakter di sekolah yaitu siswa sering tidak disiplin dalam mengikuti pembelajaran ditandai
dengan ada beberapa siswa yang masih terlambat masuk sekolah dan siswa tidak disiplin dalam
mengerjakan tugasnya tepat waktu. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis implementasi
pendidikan nilai karakter kedisiplinan di Sekolah Dasar. Penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif deskriptif. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa fakta dan informasi
implementasi pendidikan karakter kedisiplinan di Sekolah Dasar. Pada penelitian ini sumber
datanya adalah guru dan siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini
terdiri dari (a) observasi, (b) wawancara, dan (c) tes. Pada penelitian ini keabsahan data
menggunakan triangulasi data. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik
analisis data model interaktif. Penerapan pendidikan karakter kedisiplinan menggunakan metodemetode tertentu supaya implementasinya dapat tercapai dengan baik. Untuk membentuk karakter
disiplin siswa di SDN tanjung 3 Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan diperlukan peran dari guru
dalam membentuk karakter disiplin siswa.
Kata Kunci: pendidikan karakter, disiplin, sekolah dasar
PENDAHULUAN
Pendidikan karakter kini memang
menjadi isu utama pendidikan. Selain
menjadi bagian dari proses pembentukan
akhlak anak bangsa, pendidikan karakter
ini pun diharapkan mampu menjadi
pondasi utama dalam meningkatkan
derajat dan martabat bangsa Indonesia. Di
lingkungan
Kemdiknas
sendiri,
pendidikan karakter menjadi fokus
pendidikan di seluruh jenjang pendidikan
yang dibinannya. Pembentukan karakter
itu dimulai dari fitrah yang diberikan
Tuhan, yang kemudian membentuk jati
diri dan prilaku.
Dunia pendidikan diharapkan
sebagai
motor
penggerak
untuk
memfasilitasi pembangunan karakter
sehingga anggota masyarakat mempunyai
kesadaran kehidupan berbangsa dan
bernegara yang harmonis dan demokratis
dengan tetap memperhatikan normanorma di masyarakat yang telah menjadi
kesepakatan bersama.
Pembangunan
karakter dan pendidikan karakter menjadi
suatu keharusan karena pendidikan tidak
hanya menjadikan peserta didik menjadi
cerdas, akan tetapi juga mempunyai budi
pekerti dan sopan santun sehingga
keberadannya sebagai anggota masyarakat
menjadi bermakna baik bagi dirinya
maupun orang
lain
Sekolah merupakan lembaga
pendidikan
selain
keluarga
dan
lingkungan yang menjamin untuk mampu
melewati tahapan perkembangan dengan
lancar dan optimal. Sekolah sebagai
lembaga sosial yang tepat untuk
mendampingi anak di setiap tahapan
perkembangannya.
Sekolah
juga
memberikan pembagian jenjang yang
sesuai dengan tahapan perkembangan dan
tujuan tahapan perkembangan. Meskipun
sekolah memberikan perlakuan yang
setara bagi setiap individu, namun antara
individu yang berbeda usia dan kebutuhan
belajar akan dibedakan dengan adil.
Sekolah merupakan lembaga akademik
dengan
tugas
utamanya
menyelenggarakan
pendidikan
dan
mengembangkan ilmu, pengetahuan,
teknologi, dan seni. Tujuan pendidikan,
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PPKn III | 2017
sejatinya tidak hanya mengembangkan
keilmuan,
tetapi
juga
membentuk
kepribadian, kemandirian, keterampilan
sosial, dan karakter. Oleh sebab itu,
berbagai
program
dirancang
dan
diimplementasikan untuk mewujudkan
tujuan pendidikan tersebut, terutama
dalam rangka pembinaan karakter.
Pada dasarnya disiplin merupakan
kebutuhan dasar bagi perkembangan
perilaku anak mengingat masa ini
merupakan masa yang sangat efektif untuk
pembentukan perilaku moral anak. Setiap
anak memiliki potensi memahami aturan
yang berkembang pada setiap tahap
kehidupannya. Disiplin diperlukan untuk
membantu penyesuaian pribadi dan sosial
anak. Lickona (2013) menjelaskan bahwa
melalui disiplin anak dapat belajar
berperilaku sesuai dengan cara yang
disetujui oleh lingkungan sosial. Disiplin
merupakan kesadaran diri yang muncul
dari batin terdalam untuk mengikuti dan
menaati peraturan-peraturan nilai-nilai dan
hukum yang berlaku dalam satu
lingkungan tertentu. Kesadaran itu antara
lain, kalau dirinya berdisiplin baik maka
akan memberi dampak yang baik bagi
keberhasilan dirinya pada masa depannya.
Disiplin juga menjadi sarana pendidikan.
Dalam mendidik disiplin berperan
mempengaruhi,
mendorong,
mengendalikan, mengubah, membina dan
membentuk perilaku-perilaku tertentu
sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan,
diajarkan dan diteladankan. Karena itu,
perubahan perilaku seseorang termasuk
prestasinya merupakan hasil dari suatu
proses pendidikan dan pembelajaran yang
terencana, informal atau otodidak. Orang
yang disiplin selalu membuka diri untuk
mempelajari banyak hal. Sebaliknya,
orang yang terbuka untuk belajar selalu
membuka diri untuk belajar berdisiplin
dan mendisiplikan dirinya
Maka dari itu dapat dikatakan
disiplin sangat penting pengaruhnya
dalam proses pembentukan perilaku anak.
Disiplin perlu ditanamkan sejak usia
Sekolah Dasar karena hal tersebut akan
berpengaruh pada perkembangan moral
Anak di masa yang akan datang. Agar
penanaman disiplin anak tidak keliru,
maka perlu adanya penyelenggaraan
pendidikan karakter disiplin yang tepat
oleh orang tua dan guru sehingga anak
dapat berperilaku dengan tepat.
Menurut
Rimm
(2003)
penanaman disiplin perlu dimulai sejak
dini. Disiplin bukanlah pengekangan
terhadap anak dan bukan juga pemberian
kebebasan mutlak terhadap anak. Disiplin
mengarahkan agar anak belajar mengenai
hal- hal baik yang merupakan persiapan
bagi masa dewasanya kelak. Disiplin diri
diharapkan akan membuat hidup mereka
bahagia, berhasil, dan penuh kasih sayang.
Kedisiplinan siswa menjadi sangat
berarti bagi kemajuan sekolah (Nursito,
2002: 78). Di sekolah yang tertib akan
selalu menciptakan proses pembelajaran
yang baik. Sebaliknya, pada sekolah yang
tidak tertib kondisinya akan jauh berbeda.
Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi
dianggap biasa dan untuk memperbaiki
keadaan yang demikian tidaklah mudah.
Hal ini diperlukan kerja keras dari
berbagai pihak untuk mengubahnya
sehingga, berbagai jenis pelanggaran yang
dilakukan terhadap siswa perlu dicegah
dan ditangkal karena dapat mengganggu
prestasi belajar siswa.
Di lingkungan internal sekolah
pun pelanggaran terhadap berbagai aturan
dan tata tertib sekolah masih sering
ditemukan yang merentang pelanggaran
dari tingkat ringan sampai pelanggaran
tingkat tinggi seperti: mengabaikan
pelanggaran tata tertib sekolah, khususnya
tentang berpakaian dan berpenampilan,
membolos,
ketahuan
merokok
di
lingkuangan sekolah, terlambat masuk
sekolah, geng siswa, , pertikaian antar
siswa, dan tidak mengerjakan tugas yang
diberikan oleh guru.
Salah satu permasalahan yang
sering dialami oleh seorang guru dalam
menanamkan pendidikan karakter di
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PPKn III | 2017
sekolah yaitu siswa sering tidak disiplin
dalam mengikuti pembelajaran ditandai
dengan ada beberapa siswa yang masih
terlambat masuk sekolah dan siswa tidak
disiplin dalam mengerjakan tugasnya tepat
waktu. Berdasarkan fakta yang diperoleh
pada observasi pertama maka pendidikan
karakter berupa kedisiplinan di SDN
Tanjung 3 Kecamatan Bendo Kabupaten
Magetan masih kurang efektif atau masih
rendahnya kualitas karakter.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Berdasarkan masalah dan tujuan
penelitian, maka pendekatan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian dengan pendekatan deskriptif
kualitatif. Dalam penelitian deskriptif,
peneliti tidak melakukan manipulasi atau
memberikan perlakuan-perlakuan tertentu
terhadap variabel, tetapi semua kegiatan,
keadan, kejadian, aspek komponen dan
variable berjalan apa adanya. Penelitian
ini bertujuan untuk mendeskripsikan
implementasi pendidikannkarakter melalui
kultur sekolah. Penelitian ini dilaksanakan
di SDN Tanjung 2 Kecamatan Bendo
Kabupaten Magetan. SD tersebut sudah
melaksanakan pendidikan karakter dalam
prosess pembelajaran.
Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah
guru kelas IV dan selusuh siswa kelas IV
SDN Tanjung 3 yang berjumlah 12 siswa.
Kepala Sekolah dan Koordinator sekolah
dasar di SDN Tanjung 3 Kecamatan
Bendo Kabupaten Magetan.
Instrumen dan Teknik Pengumpulan
Data
Menurut
Sugiono (2009:305)
dalam penelitian kualitatif, yang menjadi
instrumen atau
alat penelitian adalah peneliti itu sendiri
sehingga peneliti harus “divalidasi”.
Validasi terhadap peneliti, meliputi:
pemahaman metode penelitian kualitatif,
penguasaan wawasan terhadap bidang
yang diteliti, kesiapan peneliti untuk
memasuki objek penelitian baik secara
akademik maupun logiknya. Peneliti
kualitatif sebagai human instrument
berfungsi menetapkan fokus penelitian,
memilih informan sebagai sumber data,
melakukan pengumpulan data, menilai
kualitas data, analisis data, menafsirkan
data dan membuat kesimpulan atas
temuannya (Sugiono, 2009:306).
Dalam
penelitian
kualitatif,
pengumpulan data dilakukan pada natural
setting (kondisi yang alamiah), sumber
data primer, dan teknik pengumpulan data
lebih banyak pada observasi berperan
serta
(participation
observation),
wawancara mendalam (in depth intervieu)
dan dokumentasi.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dilakukan
dengan menggunakan teknik analisis data
model interaktif. Tiga hal utama analisis
data model interaktif menurut Miles dan
Huberman (1992: 19-20) yaitu reduksi
data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan atau verifikasi.
HASIL
PENELITIAN
DAN
PEMBAHASAN
Pendidikan karakter merupakan upaya
untuk meningkatkan kedisiplinan siswa.
Menanamkan karakter
siswa di SDN Tanjung 3 Kecamatan
Bendo Kabupaten Magetan secara
kontinyu
atau
berkelanjutan
akan
mengembangkan kebiasaan atau perilaku
siswa yang terpuji.
SDN Tanjung 3 Kecamatan Bendo
Kabupaten
Magetan
mengadakan
program-program pendidikan karakter
yang ada di sekolah dalam upaya
meningkatkan
kedisiplinan
siswa.
Program-program tersebut antara lain:
1. Pembiasaan 5 S (Senyum, Salam,
Sapa, Sopan Santun dan Shodaqoh
Pembiasaan 5 S di SMP Negeri 2
Pekalongan dilakukan ketika siswa
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PPKn III | 2017
bertemu dengan guru mereka senyum
salam sapa seraya berjabat tangan
dengan guru yang mereka temui.
Siswa juga bersikap sopan dan santun
baik terhadap guru, karyawan, staff
TU, teman sebaya dan warga sekolah.
Dari keadaan di atas dapat dianalisis
bahwa pembiasaan 5 S dapat
memberikan
keakraban
dan
mempunyai rasa saling peduli bagi
semua warga SMP Negeri 2
Pekalongan.
Siswa
lebih
menghormati guru, bersikap ramah
dan bertutur kata sopan dan santun
baik ketika di sekolah maupun dalam
kehidupan sehari-hari.
2. Shalat Dhuha dan Shalat Dzuhur
berjamaah
Shalat Dhuha berjamah dilakukan
pada jam istirahat pertama di Sekolah
dan Shalat dhuhur berjamaah
dilakukan pada setelah bel pulang
sekolah yang biasa diimami oleh pak
guru. Kegiatan shalat dilakukan di
mushola sekolah. Dengan adanya
kegiatan pembiasaan shalat dluhur
berjamaah di sekolah, maka akan
membentuk karakter religius siswa
dan melaksanakan shalat wajib
dengan disiplin. Artinya tepat pada
waktunya, tidak menunda-nunda.
3. Infak Sosial Siswa
Salah satu kegiatan rutin yang
dilakukan dalam membentuk karakter
siswa adalah dengan program
infaksosial siswa. Program ini
dilaksanakan setiap hari jumat. Ketua
kelas atau perwakilannya mengambil
tempat yang berbentuk kotak untuk
digunakan dalam penarikan infak.
Masing-masing kelas mencatat hasil
yang diperoleh infak untuk disetorkan
kepada guru.
4. Pemberian bak sampah di depan
setiap kelas
Bak sampah yang diberikan di depan
masing-masing
kelas
sangat
membantu siswa untuk melatih sikap
peduli terhadap lingkungan, cinta
terhadap lingkungan dan disiplin
dalam membuang sampah pada
tempatnya,
5. Pemberian bak cuci tangan di depan
setiap kelas
Setiap kali siswa setelah mereka
selesai bermain atau mau makan
sesuatu, siswa tersebut dilatih untuk
mencuci tangan terlebi dahulu di bak
yang sudah disediakan di depan kelas
masing-masing. Mencuci tangan
selain
memberikan
karakter
kedisiplinan juga mengajarkan siswa
untuk peduli terhadap kesehatan diri
sendiri.
Penerapan
pendidikan
karakter
kedisiplinan
menggunakan
metodemetode tertentu supaya implementasinya
dapat tercapai dengan baik. Salah satu
metodenya yaitu metode pembiasaan.
Metode pembiasaan merupakan cara yang
dilakukan untuk membentuk tingkah laku
siswa yang dilakukan secara terusmenerus. Pembiasaan yang dilakukan
bukan untuk memaksa siswa agar
melakukan sesuatu secara otomatis,
melainkan agar siswa dapat melaksanakan
segala kebaikan dengan mudah tanpa
merasa susah atau berat hati. Selain itu
metode
Pemberian
Reward
and
Punishment juga diterapkan di sekolahan
ini dimaksudkan Untuk mendorong dan
mempercepat proses pendidikan karakter,
sebaiknya pihak lembaga pendidikan
memberikan reward kepda siswa yang
berprestasi dan sanksi kepada siswa yang
gagal.
Kemudian
sekolah
juga
menerapkan metode keteladanan yaitu
memberi contoh, baik berupa tingkah
laku, sifat, cara berfikir, dan sebagainya.
Banyak ahli pendidikan yang berpendapat
bahwa dengan teladan merupakan metode
yang paling berhasil guna.
KESIMPULAN DAN SARAN
Untuk membentuk karakter disiplin siswa
di SDN tanjung 3 Kecamatan Bendo
Kabupaten Magetan diperlukan peran dari
guru dalam membentuk karakter disiplin
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PPKn III | 2017
siswa. Adapun peran tersebut
yaitu:
Pertama,
pelaksanaan
pembiasaan
merupakan cara yang dilakukan untuk
membentuk tingkah laku siswa yang
dilakukan secara terus-menerus. Kedua,
Pemberian Reward and Punishment juga
diterapkan di sekolahan ini dimaksudkan
Untuk mendorong dan mempercepat
proses pendidikan karakter. Ketiga,
memberikan keteladanan yang baik dari
guru.
Untuk melaksanakan semua itu, guru
harus menjalankan perannya dengan baik
dalam membentuk karakter disiplin siswa
disekolah. Hal tersebut ditunjang dengan
adanya
peraturan
sekolah
yang
menerapkan sanksi point terhadap
pelanggaran
kedisiplinan.
Dengan
penerapan peraturan tersebut diharapkan
dapat membentuk karakter disiplin siswa
Guru memegang peranan sentral dalam
keberhasilan dalam pembelajaran dan
ketertiban lingkungan sekolah, maka dari
itu guru diharapkan terus melakukan
pembinaan, pengarahan, dan inovasi
dalam pembelajaran supaya dapat tetap
memberikan
keteladanan
khususnya
dalam kedisiplinan yang selama ini
ditanamkan dan dibentuk pada diri siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Anni, Catharina. 2004. Psikologi Belajar.
Semarang: UNNES Press.
Daryanto & Suryatri Darmiatun. 2013.
Implementasi
Pendidikan
Karakter
di
Sekolah.
Yogyakarta: Gava Media
Doni Koesoema, A. 2010. Pendidikan
Karakter: Strategi Mendidik
Anak di Zaman Global. Jakarta:
Grasindo
Fathurrohman, dkk. 2013. Pengembangan
Pendidikan
Karaktern.
Bandung: PT Refika Aditama,
Lickona,
Thomas. 2003. Character
Matters: How to Help Our
Children
Develop
Good
Judgement, Integrity, and Other
Essential Virtues. New York:
Simon & Schuster.
llen, Jane Elizabeth dan Marilyn Cheryl.
2005. Disiplin Positif, terj. Imam
Machfud.
Jakarta:
Prestasi
Pustakaraya.
Priyodarminto, Soegeng. 1994. Disiplin
Kiat Menuju Sukses. Jakarta:
Pradnya Paramita.
Rimm, S. Alih Bahasa Lina Jusuf. 2003.
Mendidik
dan
menerapkan
disiplin pada anak prasekolah.
PT Gramedia Pustaka Utama:
Jakarta.
Rusdianto, (ed.), 2012. Buku Panduan
Internalisasi
Pendidikan
Karakter di Sekolah. Yogjakarta:
DIVA Press.
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PPKn III | 2017
.
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PPKn III | 2017
Download