pelaksanaan pendaftaran hak atas tanah

advertisement
1
PELAKSANAAN PENDAFTARAN HAK ATAS TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap negara tentu harus memiliki tujuan, karena tujuan negara
merupakan pedoman atau arah dalam penyelenggaraan negara berlangsung
dan pemerintahannya. Tujuan setiap negara berbeda-beda sesuai dengan
pandangan hidup rakyat yang sumbernya berasal dari nilai-nilai luhur bangsa.
Secara umum, Tujuan Negara adalah menyelenggarakan kesejahteraan dan
kebahagian rakyatnya. Dalam perbedaan setiap tujuan negara tentu
dipengaruhi oleh tempat, sejarah terbentuknya negara tersebut, dan ideologi
yang dianut.
Indonesia adalah negara hukum yang berdasar kepada Undang-Undang
Dasar 1945 serta memberikan jaminan perlindungan atas hak-hak warga
negara, salah satunya yaitu hak warga negara untuk memperoleh, memiliki
dan menikmati hak milik. Hak milik atas tanah adalah satu dari sekian macam
hak milik dan statusnya sangat penting untuk masyarakat Indonesia sebagai
penduduk dari negara agraris. Mengingat bahwa Indonesia sendiri dalam
perjalanannya menuju pembangunan dan pengembangan industri dan
sebagainya, perihal hak milik atas tanah pun menjadi lebih signifikan dengan
sendirinya.
Hukum tanah di Indonesia sebelum berlakunya Undang-Undang
Pokok Agraria yang selanjutnya disebut UUPA pada tanggal 24 September
1960, merupakan dualisme, yaitu dalam pengertian bahwa di samping diakui
berlakunya hukum tanah adat (yang bersumber dari Hukum Adat), diakui pula
peraturan-peraturan tentang tanah yang didasari atas pemahaman Hukum
Barat. Setelah lahir UUPA itulah baru kemudian terjadi penyatuan hukum
tanah. Kemudian dalam soal kepemilikan hak milik atas tanah, diketahui
bahwa sebelum berlakunya UUPA, terdapat dua golongan besar hak milik atas
11
2
tanah yaitu, hak milik menurut Hukum Adat dan hak milik menurut Hukum
Perdata Barat yang dinamakan Eigendom (Adrian, 2008:2). Kedua jenis hak
milik tersebut kemudian dikonversi menjadi satu yaitu hak milik, setelah
disesuaikan dengan ketentuan konversi dalam UUPA. Hak-hak atas tanah
yang ada sebelum berlakunya UUPA, secara otomatis berubah menjadi hakhak atas tanah yang turut dalam ketentuan UUPA.
Tanah mempunyai peranan yang penting dan strategis bagi kehidupan
manusia. Tanah dimaknai sebagai sumber kehidupan bagi manusia karena
disinilah manusia hidup, melanjutkan keturunannya, serta melakukan berbagai
aktivitas di atas tanah sehingga setiap saat manusia selalu berhubungan
dengan tanah. Setiap orang memerlukan tanah tidak hanya pada masa
hidupnya saja, namun pada saat meninggal pun manusia membutuhkan tanah
guna tempat peristirahatannya atau penguburannya. Selain itu jika ditinjau dari
segi ekonomis, tanah menjadi komoditi yang mempunyai nilai ekonomis yang
sangat tinggi karena tanah mempunyai sifat tetap dan dapat dipergunakan pada
masa yang akan datang.
Kebutuhan manusia akan tanah dari waktu ke waktu semakin
meningkat sejalan dengan perkembangan pembangunan, pertambahan
penduduk dan kemajuan ekonomi. Ketidakseimbangan antara permintaan akan
tanah yang semakin meningkat, dengan ketersediaan tanah yang terbatas,
menjadikan harga tanah selalu mengalami kenaikan. Mengingat pentingnya
tanah bagi kehidupan manusia dan mengingat pula harga tanah selalu
mengalami kenaikan, maka manusia selalu berupaya semaksimal mungkin
untuk memiliki dan menguasai tanah demi memenuhi kebutuhan hidupnya
serta meningkatkan kesejahteraannya.
Peralihan hak atas tanah dapat terjadi karena 2 (dua) hal yaitu
perbuatan hukum dan peristiwa hukum. Peralihan hak atas tanah karena
perbuatan hukum adalah peralihan hak atas tanah yang terjadi karena
perbuatan hukum yang dilakukan para pihak. Perbuatan hukum yang
menyebabkan beralihnya hak atas tanah tersebut antara lain jual beli, tukarmenukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan, dan pembagian hak bersama.
3
Peralihan hak atas tanah karena peristiwa hukum yaitu peralihan hak yang
terjadi karena meninggalnya seseorang. Akibat dari meninggalnya seseorang,
maka hak atas tanah yang dimilikinya secara hukum akan beralih kepada ahli
warisnya.
Ketidak pastian hukum menyebabkan kekhawatiran pihak-pihak yang
akan menguasai sebidang tanah kerena peralihan hak atau pun kreditur yang
akan memberikan kredit dengan jaminan sebidang tanah (Perangin efendi,
1994:1). Permasalahan ini sering terjadi pada waktu pemindahan hak milik
atas tanah berlangsung, yang menyebabkan hak atas tanah dari seseorang
kepada orang lain.
Salah satu tujuan pokok UUPA adalah meletakkan dasar untuk
memberikan kepastian hukum mengenai hak-hak atas tanah bagi seluruh
rakyat, dengan telah dilaksanakan pendaftaran tanah pada setiap tanah di
seluruh Indonesia, berarti telah telah memberikan dasar-dasar untuk
mewujutkan kepastian hukum terhadap hak-hak atas tanah bagi rakyat
Indonesia, terutama bagi rakyat petani sebagai masyarakat dapat dilindungi
haknya.
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Pasal 1 yang dimaksud
pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah
secara terus menerus, berkesinambungan, teratur meliputi pengumpulan,
pengolahan, pembukuan, penyajian, serta pemeliharaan data fisik dan data
yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan
satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi
bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah
susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya, dan dilaksanakan melalui
pendaftaran tanah secara sistematik dan pendaftaran tanah secara sporadik.
Peralihan hak atas tanah di Indonesia yang lebih umum dilakukan oleh
masyarakat adalah dengan cara jual beli. Konsep jual beli tanah tidak
terlepaskan dari konsep jual beli secara umum yang diatur dalam hukum
perdata (Privaatrecht). Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk
Wetboek) dalam Buku ke III tentang Perikatan pada Bab Kelima memberikan
4
konsep tentang jual beli. Menurut Pasal 1457 KUH Perdata “jual beli adalah
suatu persetujuan, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk
menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga
yang telah dijanjikan”. Dilihat dari rumusan tentang jual beli tersebut, proses
jual beli melibatkan dua subyek hukum, yakni penjual dan pembeli.Penjual
selaku pihak yang menyerahkan barang dan pembeli selaku pihak yang
membayar dan menerima barang. Pada unsur sebaliknya penjual sebagai pihak
penerima uang dan pembeli sebagai penerima barang sesuai dengan apa yang
telah diperjanjikan atau disetujui bersama. Dengan demikian masing-masing
pihak yaitu penjual dan pembeli dituntut adanya pemenuhan hak dan
kewajiban (Andy Hartanto, 2009:46).
Jual beli menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1457
adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya
untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar
harga yang telah dijanjikan. Perkataan jual beli menunjukan bahwa dari satu
pihak perbuatan dinamakan penjual, sedangkan dari pihak yang lain
dinamakan pembeli. Istilah yang mencakup dua perbuatan yang bertimbal
balik itu adalah sesuai dengan istilah belanda koop en verkoop yang juga
mengandung pengertian bahwa pihak yang satu verkoopt (menjual) sedangkan
yang lainnya menjual koop, membeli dalam Bahasa Inggris jual beli disebut
dengan hanya sale saja yang berarti penjualan (hanya dilihat dari sudutnya si
penjual), begitu pula dalam Bahasa Perancis disebut hanya dengan vente yang
juga berarti penjualan, sedangkan dalam bahasa jerman dipakainya perkataan
kauf yang berarti pembeli (Sonang, 2013:106). Barang yang menjadi objek
perjanjian jual beli harus cukup tertentu, setidaknya dapat ditentukan wujud
dan jumlahnya pada saat akan diserahkan hak miliknya kepada si pembeli
(Sonang, 2013:106).
Perjanjian jual beli itu sudah dilahirkan pada detik tercapainya
“sepakat” mengenai barang dan harga. Begitu kedua pihak sudah setuju
tentang barang dan harga, maka lahirlah perjanjian jual beli yang sah. Jual beli
dengan objek hak atas tanah, juga dilakukan dengan perjanjian untuk lebih
5
memberikan kepastian hukum, karena hak atas tanah termasuk objek
perjanjian yang secara khusus diatur dalam peraturan perundang-undangan
yang berlaku, di mana setiap perbuatan hukum yang menyangkut tentang hak
atas tanah terikat atau harus mengikuti ketentuan yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan tersebut. Maksudnya pihak yang akan melakukan
perbuatan hukum yang menyangkut tentang hak atas tanah, harus tunduk
terhadap aturan hukum yang mengatur atau berkaitan dengan pengaturan
tentang hak atas tanah (Bambang Eko, 2013:60).
Semua hak-hak atas tanah wajib didaftarakan kepada kantor
pendaftaran tanah oleh pemegangnya untuk menjamin kepastian hak dan
merupakan bukti yang kuat terhadap pihak ketiga. Dalam hal ini pemegang
hak atas tanah akan mendapatkan suatu tanda bukti hak atas tanah yang
terkenal dengan sebutan Sertipikat Tanah (Bambang Eko, 2013:61).
Pendaftaran tanah sebagai pembuktian mengenai hak kepemilikan akan suatu
bidang tanah perlu dilakukan, sehingga jelas siapa pihak yang mempunyai hak
penguasaan dan pemilikan akan bidang tanah tersebut. Hal ini sesuai dengan
tujuan dan fungsi dilakukannya pendaftaran tanah sebagaimana diatur dalam
Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran
(Bambang Eko, 2013:61).
Pendaftaran tanah yang merupakan kepunyaan bersama menurut
hukum adat tidak dapat didaftarkan begitu saja tanpa ada musyawarah dari
kaum dan pemilik tanah, oleh sebab itu petugas Kantor Pertanahan harus
menanyakan terlebih dahulu pada pemilik tanah adat tersebut, apakah sudah
merupakan kesepakatan bersama dari anggota kaum untuk mendaftarkan tanah
adat tersebut. Untuk mendaftarkan tanah adat haruslah ada kesepakatan atau
persetujuan dari anggota kaum yang gunanya untuk menjaga jangan timbulnya
sengketa nantinya.
Pembuatan dan penerbitan sertifikat hak atas tanah merupakan salah
satu rangkaian kegiatan pelaksanaan pendaftaran tanah di Indonesia
sebagaimana diatur dalam UUPA dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun
1997, yang bertujuan untuk menjamin kepastian hukum bagi pemegang hak
6
atas tanah. Disamping itu dengan dilakukannya pendaftaran tanh secara tertib
dan teratur akan merupakan salah satu perwujudan dari pada pelaksanaan
Catur Tertib Pertanahan.
Sejak berlakunya ketentuan UUPA, maka perbuatan hukum jual beli
tanah tidak lagi dibuat di hadapan Kepala Adat atau Kepala Desa secara
dibawah tangan, melainkan dihadapan pejabat yang berwenang yaitu seorang
Pejabat Pembuat Akta Tanah (selanjutnya disebut PPAT) atau Pejabat
Pembuat Akta Tanah Sementara (PPAT Sementara) apabila suatu daerah
Kecamatan belum diangkat seorang PPAT.
Secara historis ketentuan mengenai keharusan peralihan hak atas tanah
oleh para pihak yang dibuktikan dengan akta PPAT pada awalnya bersumber
dari UUPA yaitu dalam Pasal 19 Ayat (1) yang menyebutkan bahwa : “Untuk
menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah diadakan pendaftaran tanah
diseluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang
diatur dengan Peraturan Pemerintah”. Peraturan Pemerintah yang dimaksud
dalam ayat tersebut menunjuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun
1961 (Lembaran Negara Tahun 1961 Nomor 28; Tambahan Lembaran Negara
Nomor 2171) tentang Pendaftaran Tanah (selanjutnya disebut PP No. 10
Tahun 1961) yang merupakan peraturan pelaksanaan dari UUPA.
Menurut Pasal 1 angka (1) Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun
1998 yang dimaksud dengan PPAT adalah pejabat umum yang diberi
kewenangan untuk membuat akta-akta otentik mengenai perbuatan hukum
tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun.
Tugas pokok PPAT dalam hal ini adalah melaksanakan sebagian kegiatan
pendaftaran tanah dengan membuat akta sebagai bukti telah dilakukannya
perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas
Satuan Rumah Susun yang akan dijadikan dasar bagi pendaftaran perubahan
data pendaftaran tanah seperti yang dinyatakan dalam Pasal 2 Ayat (1)
Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998. Perbuatan hukum itu disebutkan
dalam Pasal 2 Ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 adalah
jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan (inbreng),
7
pembagian hak bersama, pemberian Hak Guna Bangunan/hak Pakai atas tanah
Hak Milik, pemberian hak Tanggungan, dan pemberian Kuasa Membebankan
Hak Tanggungan.
Sesuai dengan masalah yang akan bahas yaitu pelaksanaan pendaftaran
hak milik atas tanah karena jual beli di kantor Pertanahan Kota Surakarta,
maka yang penulis maksud dengan peralihan hak milik atas tanah adalah suatu
perbuatan hukum yang memindahkan hak dari suatu pihak ke pihak lain. Hak
atas tanah yang dimaksud adalah hak milik yaitu hak yang terkuat, turun
menurun dan terpenuh dan dapat di punyai setiap orang, dimana dalam
peruntukan dan panggunaannya harus berfungsi sosial. Sedangkan yang di
maksud pengertian jual beli tanah adalah beralihnya suatu hak atas tanah, baik
secara keseluruhan maupun sebagian hak dari seseorang ke orang lain atau
badan hukum dengan cara jual beli, yang nantinya hak di alihkan tersebut akan
menjadi hak sepenuhnya dari penerima hak/pemegang hak yang baru. Dan hak
milik atas tanah tersebut yang di maksud disini adalah hak milik yang
tanahnya saudah bersertifikat. Pendaftaran peralihan hak atas tanah yang
dimaksud adalah kegiatan pelaksanaan pencatatan mengenai perihan hak atas
tanah. Pencatatan peralihan hak atas tanah di sini dimaksudnya adalah suatu
kegiatan
pencatatan
administrasi/yuridis
bahkan
kadang
teknis
atau
beralihnya/berpindahnya kepemilikan suatu bidang tanah dari suatu pihak
kepada pihak lain yang dalam hal ini peralihannya dikarenakan jual beli. Yaitu
agar kepastian hukum dari hak-hak atas tanah diharuskan melaksanakan
pendaftaran hak-hak atas tanahnya di Kantor Pertanahan setempat, begitu juga
bila dilakukan jual beli peralihan/bila dialihkan pada pihak lain melalui jual
beli, khususnya pada tanah milik harus segera didaftarkan pada kantor
pertanahan setempat yaitu pada kantor pertanahan surakarta.
Dengan terselenggaranya pelaksanaan pendaftaran tanah di kantor
pertanahan di Kota Surakarta, maka bagi masyarakat yang melakukan
pendaftaran peralihan hak atas tanah tersebut, yang pada pendaftaran peralihan
hak atas tanah khususnya karena jual beli, akan mendapatkan jaminan
kepastian hukum mengenai terjadinya peralihan hak atas tanah karena jual beli
8
tersebut, selain itu akan mendapat surat tanda bukti hak yang sah dan kuat
yang disebut dengan sertifikat hak atas tanah (Efendi Bachtiar, 1993:20).
Jaminan kepastian hukum yang dimaksud adalah (Efendi Bachtiar,
1993:21) :
1. Kepastian hukum mengenai orang/badan hukum yang menjadi pemegang
hukum atas tanah. Kepastian siapa yang memiliki sebidang tanah atau
subyek hak.
2. Kepastian hukum di bidang tanah yang dimiliki. Hal ini menyangkut letak,
batas serta luas bidang tanah/obyek hak.
3. Kepastian hukum mengenai hak atas tanah. Kepastian hukum mengenai
hak-hak tanah sebagaimana yang disebut diatas.
Pentingnya pendaftaran peralihan hak atas tanah khususnya karena jual
beli tersebut, pada kenyataanya masih banyak masyarakat yang dalam
melakukan peralihan hak atas tanahnya belum didaftarkan peralihannya pada
Kantor Pertanahan. Hal ini yang menyebabkan adanya berbagai macam
hambatan dalam proses pelaksanaan peralihan hak atas tanah khususnya dalam
hal pendaftaran pelaksanaan peralihan hak milik atas tanah ini yang tidak
selesai tepat pada waktunya (dalam hal penyelesaian pekerjaanya), dan dapat
juga terjadi kerena adanya bukti-bukti dan syarat pendaftaran yang kurang
lengkap.
Berdasarkan uraian permasalahan tersebut diatas serta mengamati
kenyataannya dalam praktek, maka dapat diketahui bahwa sebagian besar
permasalahan pertanahan di Indonesia timbul perkaitan dengan permasalahan
dalam hal peralihan hak milik atas tanah dan Penulis mengambil judul
penulisan hukum “Pelaksanaan Pendaftaran Hak Atas Tanah Karena Jual Beli
di Kantor Pertanahan Kota Surakarta”. Kantor pertanahan Kota Surakarta
terpilih untuk dijadikan sebagai objek penelitian bukan tanpa alasan lain
adalah karena masih ditemukannya permasalahan seperti yang ingin Penulis
teliti lebih mendalam terkait dengan permasalahan peraturan pendaftaran
peralihan hak atas tanah karena jual beli.
9
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan
sebelumnya, maka diperlukan suatu rumusan masalah yang disusun secara
baik dan sistematis supaya permasalahan yang akan diteliti menjadi lebih jelas
dan penulisan penelitian hukum mencapai tujuan yang diinginkan, maka
dalam penyusunan penelitian ini permasalahan yang akan dikaji yaitu :
1. Apakah pendaftaran hak atas tanah karena jual beli, harus memenuhi
ketentuan Pasal 37 Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 1997 ?
2. Apakah akibat hukum apabila pendaftaran hak tanah karena jual beli tidak
dilakukan di hadapan PPAT ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan
rumusan
masalah
yang
telah
dikemukakan
sebelumnya, untuk memperjelas dalam mengarahkan suatu penelitian
diperlukan adanya suatu tujuan tertentu yang hendak dicapai. Tujuan
penelitian juga harus jelas sehingga dpat memberikan arah dalam pelaksanaan
penelitian tersebut.
1. Tujuan Obyektif
Tujuan obyektif merupakan tujuan penulisan dilihat dari tujuan
umum yang mendasari penulis dalam melakukan penelitian. Tujuan
obyektif dari penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui dan menganalisis pendaftaran hak atas tanah karena jual
beli, harus memenuhi ketentuan Pasal 37 No. 24 tahun 1997.
b. Mengetahui dan menganalisis akibat hukum apabila pendaftaran hak
tanah karena jual beli tidak dilakukan di hadapan PPAT.
2. Tujuan Subyektif
Tujuan subyektif merupakan tujuan penulisan dilihat dari tujuan
pribadi peneliti yang mendasari peneliti dalam melakuan penulisan. Tujuan
subyektif peneliti dalam penulisan hukum ini adalah:
10
a. Memenuhi persyaratan akademis guna memperoleh gelar Strata 1
(Sarjana) dalam bidang Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
b. Menambah
wawasan
dan
pengetahuan,
mengembangkan
serta
memperdalam pemahaman penulis khususnya di bidang Hukum
Administrasi Negara
c. Menerapkan ilmu yang telah penulis peroleh agar dapat memberikan
manfaat baik bagi penulis sendiri khususnya dan bagi masyarakat pada
umumnya.
D. Manfaat Penelitian
Suatu penelitian sangat diharapkan adanya manfaat dan kegunaan
yang dapat diperoleh dari sebuah penelitian, khususnya bagi ilmu pengetahuan
pada bidang penelitian tersebut karena suatu penelitian akan mempunyai nilai
apabila penelitian tersebut memberikan manfaat bagi banyak pihak. Adapun
manfaat yang dapat diperoleh dari penulis hukum ini adalah :
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran bagi pengembangan Ilmu Hukum pada umumnya dan Hukum
Administrasi Negara pada khususnya.
b. Hasil penelitian ini dapat menambah dan memperkaya bahan referensi di
bidang karya ilmiah serta dapat menjadi bahan masukan dan acuan bagi
penelitian-penelitian sejenis di masa yang akan datang.
c. Hasil penelitian ini dapat menyumbangkan pemecahan-pemecahan atas
permasalahan yang dikaji.
2. Manfaat Praktis
a. Menjadi sebuah wahana bagi penulis guna mengembangkan penalaran,
membentuk pola pikir ilmiah sekaligus untuk mengetahui kemampuan
penulis dalam menerapkan ilmu yang di peroleh.
b. Untuk memberikan jawaban atas kasus ataupun pertanyaan yang di teliti
oleh penulis.
11
c. Memberikan pendalaman, pengetahuan, dan pengalaman yang baru
kepada penulis mengenai permasalahan hukum yang dikaji, sehingga
dapat berguna bagi penulis maupun orang lain di kemudian hari.
d. Sebagai praktek dan teori penelitian dalam bidang hukum dan juga
sebagai praktek dalam pembuatan karya ilmiah dengan suatu metode
penelitian ilmiah.
E. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian dalam penelitian hukum ini adalah penelitian
hukum normatif atau doktrinal. Terry Hutchinson sebagaimana dikutip
Peter Mahmud Marzuki mendefinisikan bahwa penelitian hukum doktrinal
adalah sebagai berikut (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 32):
“doctrinal research : research which provides a systematic exposition
of the rules goverming a particular legal category, analysis the
relationship between rules, explain areas of difficulty and, perhaps,
predicts future development”.
Penelitian yuridis normatif dilakukan untuk menjelaskan dan
menganalisis permasalahan yang berhubungan dengan akibat hukum
peralihan hak atas tanah karena jual beli yang didaftarkan pada kantor
pertanahan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah.
2. Sifat Penelitian
Sifat penelitian dalam hal ini adalah preskriptif dan terapan. Ilmu
hukum mempunyai karakteristik sebagai ilmu yang bersifat preskriptif dan
terapan sebagai ilmu yang bersifat preskriptif, ilmu hukum mempelajari
tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep
hukum dan norma-norma hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 22).
Penelitian ini bersifat preskriptif karena dimaksudkan untuk
menjawab isu hukum yang diangkat dengan argumentasi, teori, atau
12
konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang
dihadapi (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 35).
3. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan. Dengan
pendekatan tersebut, penulis bisa mendapatkan informasi dari berbagai
aspek mengenai isu yang sedang diteliti. Adapun macam pendekatan
dalam penelitian hukum adalah sebagai berikut (Peter Mahmud Marzuki,
2005: 93):
a. Pendekatan Perundang-undangan (statute approach);
b. Pendekatan Kasus (case approach);
c. Pendekatan Historis (historical approach);
d. Pendekatan Perbandingan (comparative approach); dan
e. Pendekatan Konseptual (conseptual approach).
Adapun pendekatan yang digunakan oleh penulis dalam penelitian
ini adalah pendekatan dengan Undang-Undang (Statue Ap.proach) dengan
menelaah semua Undang-Undang dan regulasi yang bersangkut paut
dengan isu hukum dan pendekatan konseptual (conceptual ap.proach)
yang beranjak dari pandangan dan doktrin yang berkembang di dalam ilmu
hukum untuk menemukan ide yang melahirkan konsep-konsep hukum.
4. Jenis Sumber Bahan Hukum
Dalam penelitian ini bahan hukum yang dipakai adalah bahan hukum
primer dan sekunder. Bahan hukum primer merupakan bahan hukum
autoritatif. Artinya, bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang
memiliki otoritas atau kekuasaan dalam pelaksanaannya. Sedangkan
bahan-bahan hukum sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang
bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. Publikasi tentang hukum
meliputi buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum dan
komentar-komentar atas putusan pengadilan (Peter Mahmud Marzuki,
2005: 141). Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
13
a. Bahan Hukum Primer
Sumber bahan hukum primer adalah bahan hukum yang
diperoleh secara langsung dari masyarakat, dan juga melalui studi
lapangan dengan mengadakan penelitian dengan instansi yang
bersangkutan yaitu :
1. Kantor Pertanahan Kota Surakarta
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang diperlukan
guna melengkapi data primer, diperoleh dengan cara mengumpulkan
dan meneliti buku-buku, serta sumber data lain yang berkaitan dengan
masalah yang diteliti.
5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Teknik dan alat pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian
ini adalah :
a. Wawancara
Wawancara merupakan cara untuk memperoleh informasi
yang dilakukan dengan cara mewawancarai Pejabat Kantor Pertanahan
Kota Surakarta dan pemilik tanah serta pembeli. Tujuan dari
wawancara ini untuk mendapatkan keterangan langsung mengenai
proses peralihan hak milik atas tanah dalam bentuk jual beli
masyarakat Kota Surakarta. Wawancara dilakukan dengan Bapak Agus
Suprapta, S.H., M.Kn. selaku KASI Pendaftaran Tanah Kantor BPN
Kota Surakarta
b. Studi Dokumen
Studi dokumen adalah cara penelitian yang dilakukan terhadap
berbagai data sekunder yang berhubungan dengan objek penelitian.
Studi ini dilakukan dengan bahan hukum primer, sekunder, maupun
bahan hukum tersier yang berhubungan dengan prosedur penelitian,
khususnya yang berkaitan dengan peralihan hak milik atas tanah secara
jual beli.
14
6. Teknik Analisis Bahan Hukum
Teknik analisis bahan hukum yang dipergunakan adalah analisis
bahan hukum yang bersifat deduksi dengan metode silogisme. Artinya
bahwa analisis bahan hukum ini mengutamakan pemikiran secara logika
sehingga akan menemukan sebab dan akibat yang akan terjadi.
Menurut Philipus M. Hadjon sebagaimana dikutip oleh Peter
Mahmud Marzuki, metode deduksi sebagaimana silogisme yang diajarkan
oleh Aristoteles, penggunaan metode deduksi berpangkal dari pengajuan
premis mayor (pernyataan bersifat umum). Kemudian diajukan premis
minor (bersifat khusus). Dari kedua premis itu kemudian ditarik suatu
kesimpulan atau conclusion (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 47).
Setelah semua bahan hukum terkumpul, akan diolah dan dianalisa
dengan menghubungkan antara teori dengan hasil penelitian, selanjutnya
dianalisis dengan menggunakan metode interpretasi restriktif, yaitu suatu
metode penafsiran yang memberikan batas-batas jelas dalam memaknai
suatu frase yang terdapat dalam Pasal maupun dalam penjelasan
perundang-undangan dan bahan hukum terkait. Bahan hukum primer,
sekunder dan tersier dianalisis dengan menggunakan instrument teori
untuk membahas dan menjawab permasalahan, yang kemudian diharapkan
memperoleh kejelasan dari permasalahan mengenai akibat hukum
peralihan hak atas tanah karena jual beli yang didaftarkan pada kantor
pertanahan menurut PP No 24 Th 1997 dan perlindungan hukum bagi
pembeli yang peralihan hak atas tanah karena jual beli yang didaftarkan
pada kantor pertanahan.
F. Sistematika Penulisan Hukum
Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai sistematika
penulisan hukum yang sesuai dengan aturan dalam penulisan hukum serta
untuk mempermudah pemahaman mengenai seluruh isi penulisan hukum ini,
maka peneliti menjabarkan dalam bentuk sistematika penulisan hukum yang
terdiri dari 4 (empat) bab dimana tiap-tiap bab terbagi dalam sub-sub bagian
15
yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman mengenai seluruh isi
penulisan hukum ini. Adapun sistematika penulisan hukum ini adalah sebagai
berikut:
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis akan memberikan gambaran penulisan
hukum tentang Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah,
Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, dan
Sistematika Penulisan Hukum.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini penulis memberikan landasan teori atau memberikan
penjelasan secara teoritik, yang bersumber pada bahan hukum yang
penulis gunakan dan doktrin ilmu hukum yang dianut secara
universal,
mengenai
persoalan
yang
berkaitan
dengan
permasalahan yang sedang penulis teliti. Landasan teori tersebut
meliputi, tinjauan umum tentang Hak Atas Tanah, tinjauan umum
tentang
Pengalihan
Atas
Tanah,
tinjauan
umum
tentang
Pendaftaran Tanah, dalam bab ini juga disertai kerangka pemikiran.
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis hendak menguraikan pembahasan dan hasil
perolehan dari penelitian yang dilakukan. Berpijak dari rumusan
masalah yang ada, yaitu ketentuan persyaratan permohonan
sertifikat tanah karena jual beli sudah dilaksanakan sesuai dengan
peraturan yang ada dan perlindungan hukum atas hak tanah karena
jual beli.
BAB IV
PENUTUP
Pada bab ini penulis mengemukakan kesimpulan dari hasil
penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan dalam bab
sebelumnya serta memberikan saran terkait dengan permasalahan
yang diteliti
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Download