pengaruh pengembangan pola kewirausahaan dan strategi

advertisement
ANALISIS PENGARUH KOMUNIKASI VERTIKAL TERHADAP
PENINGKATAN KINERJA PEGAWAI PADA BAGIAN TATA USAHA
SEKRETARIAT DAERAH KOTA BANDUNG
Konsentrasi Kebijakan Publik Program Magister Administrasi Dan
Kebijakan Publik Pascasarjana Universitas Pasundan Bandung
Oleh : Ane Supriatin NPM :148010073
ABSTRAK
Masalah pokok dalam penelitian ini adalah kinerja pegawai pada Tata
Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung rendah, diduga disebabkan oleh
komunikasi orgnisasi antara masing-masing unit atau bagian belum berjalan
secara optimal.
Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah
explanatory survey. Metode explanatory survey digunakan secara meluas dan
mendalam terhadap obyek yang diteliti setidaknya secara parsial, yaitu
pendekatan menyeluruh yang didasarkan pada sistemnya”. Penggunaan metode
semacam ini tidak hanya menggambarkan dan menjelaskan fakta empiris yang
ditemui di lapangan tetapi juga melakukan analisis pengaruh baik secara parsial
maupun secara simultan antara variabel-variabel yang menjadi fokus penelitian,
dalam hal ini variabel komunikasi vertikal sebagai variabel bebas (Independent
variable) dan kinerja pegawai pegawai sebagai variabel terikat (Dependent
variable).
Hasil penelitian secara simultan telah ditemukan bahwa hasil analisis uji
kontribusi pengaruh, menunjukkan bahwa variabel komunikasi organisasi
berpengaruh terhadap kinerja pegawai Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota
Bandung adalah sebesar 0.744 atau 74.4%. Artinya komunikasi organisasi
memberikan konstribusi yang cukup besar dalam meningkatkan kinerja pegawai
di lingkungan Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung. Sedangkan pengaruh
epsilonnya atau pengaruh variabel yang tidak diteliti sebesar 25,6%.
Secara parsial, komunikasi organisasi yang terbangun melalui karakteristik
komunikasi ke bawah, komunikasi ke atas, komunikasi horisontal memberikan
pengaruh ynag positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai di lingkungan
Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung. Adapun karakteristik
komunikasi organisasi yang memberikan pengaruh dari terbesar sampai terkecil
secara berurutan adalah komunikasi komunikasi horizontal sebesar 27,1%,
komunikasi ke atas sebesar 25,3% dan komunikasi ke bawah sebesar 22,0%
Peneliti dapat menyimpulkan bahwa komunikasi vertikal pada Bagian Tata
Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung menjadikan salah satu variabel yang
sangat penting dan harus dilaksanakan sebaik-baiknya oleh Kepala Bagian agar
kinerja pegawai pada Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung
berjalan dengan efektif.
ABSTRACT
The underlying question in this research is the performance of employees
at the Administrative Secretariat of Bandung low, suspected to be caused by the
communication society together between each unit or section has not run
optimally.
The method used in this research is explanatory survey. Explanatory
survey method is used widely and deeply towards the object under study at least
partially, the overall approach is based on the system ". The use of such methods
not only describe and explain the empirical facts found in the field but also to
analyze the influence of either partial or simultaneously between the variables
that are the focus of research, in this case the vertical communication variables as
independent variables (independent variable) and the employee's performance of
employees as the dependent variable (dependent variable).
The results of the study have simultaneously found that the results of test
analysis contributions influence, suggesting that organizational communication
variables affect the performance of employees of Administration Regional
Secretariat Bandung is 0.744 or 74.4%. This means that organizational
communication contribute substantially in improving the performance of
employees within the Administrative Secretariat of Bandung. While influence of
its epsilon or the influence of variables not examined by 25.6%.
Partially, communication organization that is built up through the
characteristics of downward communication, upward communication, horizontal
communication that influence positively and significantly to the performance of
the staff of the Division of Administration Secretariat of Bandung. The
characteristics that influence organizational communication and sequentially in
descending horizontal communication is communication of 27.1%, the
communication up by 25.3% and communication down by 22.0%.
Researchers can deduce that vertical communication at the Administrative
Secretariat of Bandung make one very important variable and should be
implemented as well as possible by the Head of Division so that the performance
of employees in the Administrative Secretariat of Bandung run effectively.
1. LATAR BELAKANG
Komunikasi organisasi merupakan sarana yang paling vital bagi setiap
manusia untuk mengerti dirinya sendiri, mengerti orang lain dan memahami
lingkungannya. Mengetahui tempat dan cara kehadirannya di masyarakat serta
hubungan dengan sesama yang ada di sekitarnya. Semua itu dapat dipahami
dengan adanya “Jalur Komunikasi” yang terjalin baik. Hampir di setiap aspek
kehidupan manusia terjalin proses komunikasi yang disadari maupun tidak
disadari. Dalam proses organisasi dibutuhkan komunikasi sehingga miskomunikasi dan mis-understanding tidak terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan dan
tidak mengganggu kepada pencapaian kinerja.
Organisasi merupakan model sistem yang membentuk persekutuan antara
dua orang atau lebih untuk melakukan kerjasama satu sama lain dalam rangka
pencapaian tujuan. Sistem kerjasama yang dilakukan dalam bentuk ikatan
organisasi yang di dalamnya terdapat seorang atau beberapa orang yang sering
disebut atasan dan bawahan. Hubungan atasan dan bawahan atau sebaliknya di
dalam organisasi secara struktural sering pula disebut hubungan top down atau
bottom up. Aktualisasi setiap orang di dalam organisasi ditentukan oleh
kemampuan orang tersebut mampu berinteraksi dengan lingkungan organisasi
melalui perilaku dan kepribadian, sehingga mampu memberikan respon terhadap
interaksi tersebut. Interaksi antar orang ini dapat menghasilkan interaksi positif
dan interaksi negatif, sangat bergantung pada kemampuan orang tersebut untuk
melakukan interaksi.
Kinerja pegawai dimaksud merupakan penyelesaian pekerjaan yang
berkualitas, tepat waktu yang disertai dengan kualitas dan kuantitas yang
dihasilkan sesuai dengan target yang telah ditentukan. Pelaksanaan suatu
pekerjaan dinilai memenuhi standar yang tepat, bila mengacu pada basil
pekerjaan sesuai dengan standar mutu yang telah ditentukan, sehingga mencapai
hasil dan sasaran yang telah ditetapkan.
Berdasarkan Rincian Tugas Pokok, Fungsi, Uraian Tugas dan Tata Kerja
Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung, Kepala Bagian Tata Usaha
Sekretariat Daerah Kota Bandung mempunyai tugas pokok melaksanakan
sebagian tugas pokok Asisten Administrasi Umum lingkup Bagian Tata Usaha
Sekretariat Daerah Kota Bandung, dan dalam melaksanakan tugasnya membawahi
Asisiten Administrasi Umum. Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota
Bandung dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya mengalami berbagai
hambatan, mengingat kemampuan pegawai dalam memahami perintah atasan
sering salah pengertian yang berpengaruh terhadap kinerja pegawai, sehingga
hasil kerja pegawai tidak berjalan secara efektif.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, ditemukan masalah kinerja
pegawai yang belum berjalan secara efektif pada Bagian Tata Usaha Sekretariat
Daerah Kota Bandung. Hal ini dapat dilihat dari indikator-indikator masalah
sebagai berikut :
1. Kuantitas kerja pegawai dilihat dari indikator pencapaian target yang
belum maksimal Contohnya: Pegawai pada Sub Bagian Keuangan dalam
melaksanakan penyusunan laporan keuangan sekretariat daerah dan
keuangan pimpinan, sering terjadi keterlambatan, yang seharusnya selesai
pada awal bulan atau tanggal 1 kenyataannya selesai pada tanggal 5 dan
ini berakibat kepada pengajuan anggaran untuk kegiatan berikutnya
menjadi terhambat. Kondisi tersebut disebabkan oleh laporan pelaksanaan
tugas yang belum berjalan dengan baik.
2. Kualitas kerja pegawai dilihat dari indikator tingkat kecermatan rendah.
Contoh pegawai pada Sub Bagian Administrasi, Sandi dan
Telekomunikasi dalam melaksanakan tugas administrasi, sandi dan
telekomunikasi naskah dinas serta naskah sandi yang dibuat dan yang
diterima dan/atau dikirim melalui faksimili, dan wesel board sentral
inventarisasi, sering terjadi kesalahan akibat kurang cermat dalam
memeriksa sebuah naskah, sehingga naskah yang dibuat harus diperbaiki
dan akibatnya dapat mengganggu kelancaran dalam berkomunikasi.
Kondisi ini akibat dari kurang adanya penjelasan dasar dalam
melaksanakan pekerjaan.
2. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka peneliti
mengemukakan pernyataan masalah (Problem Statement), yaitu rendahnya
Kinerja Pegawai Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung yang
diduga disebabkan belum dijalankannya Komunikasi Organisasi secara efektif.
Selanjutnya berdasarkan pernyataan masalah tersebut dirumuskan identifikasi
masalah sebagai berikut :
1. Berapa besar pengaruh komunikasi organisasi terhadap peningkatan
kinerja pegawai pada Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota
Bandung ?
2. Berapa besar pengaruh komunikasi organisasi diukur melalui dimensi
komunikasi ke bawah, komunikasi ke atas, komunikasi horisontal,
terhadap peningkatan kinerja pegawai pada Bagian Tata Usaha
Sekretariat Daerah Kota Bandung?
3. TUJUAN PENELITIAN
1. Menganalisis besarnya pengaruh komunikasi organisasi terhadap
peningkatan peningkatan kinerja pegawai pada Bagian Tata Usaha
Sekretariat Daerah Kota Bandung.
2. Menganalisis besarnya pengaruh komunikasi organisasi diukur melalui
dimensi komunikasi ke bawah, komunikasi ke atas, komunikasi
horisontal, terhadap peningkatan kinerja pegawai pada Bagian Tata
Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung.
3. KEGUNAAN PENELITIAN
1. Kegunaan teoritis, hasil penelitian ini dapat mengembangkan khasanah
keilmuan, khususnya Ilmu administrasi publik dan kebijakan publik
yang berkaitan dengan komunikasi organisasi dan kinerja pegawai.
2. Kegunaan praktis, hasil penelitian ini dapat berguna sebagai bahan
masukan kepada Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung
berkaitan dengan komunikasi organisasi dalam meningkatkan kinerja
pegawai.
Untuk melihat hubungan keterkaitan variabel Komunikasi Organisasi dan
Kinerja Pegawai dapat dilihat pada paradigma berpikir sebagai berikut ini :
Kinerja Pegawai
(Miner dalam Sudarmanto,
2009)
Komunikasi Organisasi
(Adler dan Rodman, 2000)
1. Komu nikasi
ke Bawah
2. Komunikasi ke Atas
3. Komunikasi Horisontal
(Robbins, 2001)
1.
2.
3.
4.
Kualitas Kerja
Kuantitas
Penggunaan Waktu
Kerjasama
Gambar 2.1
Paradigma Berpikir Komunikasi Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai
4. HIPOTESIS
Berdasarkan identifikasi masalah dan kerangka berpikir di atas, penulis
mengajukan hipotesis utama sebagai berikut :
1. Secara simultan komunikasi organisasi besar pengaruhnya terhadap
peningkatan kinerja pegawai pada Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah
Kota Bandung.
2. Secara parsial koomunikasi organisasi diukur melalui dimensi komunikasi
ke bawah, komunikasi ke atas dan komunikasi horisontal besar
pengaruhnya terhadap peningkatan kinerja pegawai pada Bagian Tata
Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung.
5. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah
explanatory survey. Lebih jauh Sugiyono (2000:24) menjelaskan bahwa “metode
explanatory survey digunakan secara meluas dan mendalam terhadap obyek yang
diteliti setidaknya secara parsial, yaitu pendekatan menyeluruh yang didasarkan
pada sistemnya”. Penggunaan metode semacam ini tidak hanya menggambarkan
dan menjelaskan fakta empiris yang ditemui di lapangan tetapi juga melakukan
analisis pengaruh baik secara parsial maupun secara simultan antara variabelvariabel yang menjadi fokus penelitian, dalam hal ini variabel komunikasi
organisasi sebagai variabel bebas (Independent variable) dan kinerja pegawai
pegawai sebagai variabel terikat (Dependent variable).
Desain penelitiannya menjabarkan berbagai variabel yang akan diteliti,
kemudian membuat pengaruh antara satu variabel terhadap variabel lainnya,
sehingga akan mudah dirumuskan masalah penelitian, pemilihan teori, rumusan
hipotesis, metode penelitian, instrumen penelitian, teknik analisis dan kesimpulan
yang diharapkan.
Variabel dan Operasional Variabel Penelitian
a. Variabel Penelitian
Penelitian penelitian dalam penelitian ini meliputi dua variabel, yaitu
Komunikasi Organisasi sebagai Variabel Bebas (X) yang meliputi 3 dimensi, yaitu
: komunikasi ke Bawah, Komunikasi ke Atas, dan Komunikasi Horisontal. Adapun
Kinerja Pegawai sebagai Variabel Terikat (Y) yang meliputi 4 dimensi, yaitu:
Kualitas, Kuantitas, Penggunaan Waktu dan Kerjasama.
b. Operasional Variabel Penelitian
Operasional variabel penelitian dirumuskan untuk mendukung pemahaman
operasional dan variabel-variabel yang digunakan, variabel-variabel tersebut
dirumuskan sebagai berikut :
1. Komunikasi Organisasi (X) dimaksudkan adalah komunikasi di lingkungan
Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung yang dilaksanakan
berdasarkan arus komunikasi ke Bawah, Komunikasi ke Atas, dan
Komunikasi Horisontal.
2. Kinerja Pegawai (Y) dimaksudkan yaitu hasil kerja yang dicapai oleh
pegawai di lingkungan Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota
Bandung sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab dalam rangka
mencapai tujuan organisasi dengan memperhatikan Kualitas, Kuantitas,
Penggunaan Waktu dan Kerjasama.
6. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini mengambil variabel penelitian yang terdiri dari dua variabel,
yaitu variabel komunikasi organisasi sebagai variabel bebas yang diberi simbol X
dan kinerja pegawai sebagai variabel tidak bebas yang diberi simbol Y. Penelitian
ini dilakukan dengan cara menganalisis variabel komunikasi organisasi yang
diperkirakan mempunyai pengaruh besar terhadap kinerja pegawai, rangkaian
penelitian yang dilakukan sebagai suatu studi kasus di Bagian Tata Usaha
Sekretariat Daerah Kota Bandung. Pada penelitian ini yang dijadikan sebagai unit
analisis adalah seluruh PNS di Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota
Bandung, dengan keseluruhan jumlah pegawai sebanyak 97 orang diambil sebagai
responden. Selanjutnya kepada responden tersebut diajukan pernyataan-pernyataan
dalam angket yang merupakan penjabaran dari indikator-indikator variabel
komunikasi organisasi dan variabel kinerja pegawai. Indikator-indikator dalam
setiap variabel penelitian dituangkan ke dalam pernyataan tertutup, dimana setiap
pernyataan angket memiliki lima alternatif jawaban yang dapat dipilih oleh
responden.
Sesuai dengan tujuan penelitian, pengujian struktur variabel dibagi menjadi
struktur utama dan satu sub struktur.
Pada struktur dari variabel X ke Y diuji berapa besar pengaruh variabel
komunikasi organisasi terhadap variabel kinerja pegawai. Metode analisis yang
digunakan adalah Path Analysis. Adapun hasil Path Analysis dijelaskan sebagai
berikut :
Tabel 4.18
Koefisien Korelasi Multipel
Model Summary
Model
1
R
.863a
R Square
.744
Adjusted
R Square
.700
Std. Error of
the Estimate
3.2716
a. Predictors: (Constant), x
Tabel di atas menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.744
berarti bahwa 74.4% variabilitas kinerja pegawai dapat diterangkan oleh variabel
bebas dalam hal ini komunikasi organisasi, yang juga dapat diartikan bahwa
terdapat pengaruh komunikasi organisasi terhadap kinerja pegawai sebesar
koefisien determinasi (R2 = 74.4%) atau 74.4% ini juga dapat diartikan bahwa
pengaruh variabel-variabel di luar model yaitu sebesar y = 1 – R2 = 0.256 (error).
Besarnya koefisien jalur untuk masing-masing variabel adalah sebagai berikut :
Tabel 4.19
Nilai-nilai Standardized Coefficients
untuk Koefisien Jalur
Coefficientsa
Model
1
(Constant)
x
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
40.524
4.998
.121
.105
Standardi
zed
Coefficien
ts
Beta
.863
t
8.109
1.152
Sig.
.000
.252
a. Dependent Variable: y
Tabel tersebut menjelaskan nilai standaridized cofficients atau koefisien
jalur dari variabel komunikasi organisasi terhadap variabel kinerja pegawai, yaitu
koefisien jalur dari X ke Y = 0.863. Hasil pengolahan data dapat dibuat dalam arus
diagram jalur dan persamaan struktural dengan menyertakan koefisien estimasi
hasil pengolahan data, maka persamaan strukturalnya adalah :
Y
=  X + 
Y
= 0.863X + 
dimana :
X
= Komunikasi organisasi
Y
= Kinerja pegawai

= Epsilon
Mengacu pada tabel koefisien korelasi multiple untuk struktur yang diuji
menunjukkan nilai koefisien determinasi multipel dan seluruh variabel eksogenus
yang diuji adalah sebesar R2 = 74.4%. Nilai determinasi multipel ini merupakan
kuadrat dari nilai koefisien korelasi multipel R = 0.863. Nilai R2 ini menunjukkan
bahwa derajat pengaruh komunikasi organisasi sangat erat jika dibandingkan
dengan variabel lain yang tidak diteliti. Hasil perhitungan tersebut dapat dilihat pada
gambar berikut ini :

0.256=25.6%
0.744=74.4%
X
Y
Gambar 4.8
Besarnya pengaruh Variabel X ke Y
Komunikasi organisasi yang terdiri dari arus komunikasi ke bawah,
komunikasi ke atas dan komunikasi horizontal berpengaruh terhadap kinerja
pegawai sebesar 74.4%, sedangkan selebihnya yaitu sebesar 25.6% dipengaruhi
oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Pada sub struktur ini diuji berapa besar pengaruh komunikasi ke bawah,
komunikasi ke atas dan komunikasi horizontal terhadap kinerja pegawai (Y) di
Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung Metode analisis yang
digunakan adalah Path Analysis. Adapun hasil Path Analysis dijelaskan pada tabel
berikut ini :
Tabel 4.20
Koefisien Korelasi Multipel
Model Summary
Model
1
R
.863a
R Square
.744
Adjusted
R Square
.736
Std. Error of
the Estimate
1.6392
a. Predictors: (Constant), x3, x1, x2
Tabel di atas menjelaskan bahwa koefisien determinasi (R2) sebesar 0.744,
hal ini berarti bahwa 74.4% variabilitas variabel kinerja pegawai dapat diterangkan
oleh variabel bebas dalam hal ini arus komunikasi ke bawah (X1), komunikasi ke
atas (X2) dan komunikasi horizontal (X3), yang juga dapat diartikan bahwa terdapat
pengaruh bersama-sama antara arus komunikasi ke bawah (X1), komunikasi ke atas
(X2) dan komunikasi horizontal (X3) terhadap kinerja pegawai sebesar koefisien
determinasi (R2 = 74.4%) atau ini juga dapat diartikan bahwa pengaruh variabelvariabel di luar model yaitu sebesar 1 – R2 = 0.256 (error). Besarnya nilai koefisien
jalur dari masing-masing variabel terikat adalah sebagai berikut :
Tabel 4.21
Nilai-nilai Standardized Coefficients
Coeffi cientsa
Model
1
(Const ant)
x1
x2
x3
Unstandardized
Coeffic ients
B
St d. Error
-2. 795
3.100
1.089
.129
1.102
.149
.971
.106
St andardi
zed
Coeffic ien
ts
Beta
.460
.411
.503
t
-.901
8.449
7.403
9.170
Sig.
.370
.000
.000
.000
a. Dependent Variable: x
Tabel di atas menjelaskan nilai standaridized cofficients atau koefisien jalur
dari masing-masing arus dengan penjelasan sebagai berikut :
(1) Koefisien pertama =0.460, maknanya adalah bahwa arus komunikasi ke
bawah (X1) berpengaruh terhadap kinerja pegawai.
(2) Koefisien kedua = 0.411, maknanya adalah bahwa arus komunikasi ke
atas (X2) berpengaruh terhadap kinerja pegawai.
(3) Koefisien ketiga = 0.503, maknanya adalah bahwa arus komunikasi
horizontal (X3) berpengaruh terhadap kinerja pegawai.
Hasil pengolahan data dapat dibuat dalam arus diagram jalur dan persamaan
struktural dengan menyertakan koefisien estimasi hasil pengolahan data, maka
persamaan strukturalnya adalah sebagai berikut :
Y = β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + 
Y = 0.460X1 + 0.411X2 + 0.503X3 + 
Dimana :
X1 = Arus Komunikasi ke bawah
X 2 = Arus Komunikasi ke atas
X 3 = Arus Komunikasi horizontal
Y
= Kinerja pegawai

= Epsilon
Mengacu pada tabel koefisien korelasi multipel untuk struktur yang diuji,
nilai koefisien determinasi multipel dan seluruh variabel eksogenus yang diuji
adalah sebesar R2 = 74.4%, nilai determinasi multipel ini merupakan kuadrat dari
nilai koefisien korealsi multiple R = 0.863. nilai R2 ini menunjukkan bahwa derajat
pengaruh arus komunikasi ke bawah (X1), komunikasi ke atas (X2) dan komunikasi
horizontal (X3) erat jika dibandingkan dengan variabel lain yang tidak diteliti.
Berdasarkan nilai-nilai koefisien jalur tersebut dapat dihitung bahwa
besarnya pengaruh X1 ke Y adalah sebesar 0.220, pengaruh X2 ke Y adalah sebesar
0.253, pengaruh X3 ke Y adalah sebesar 0.006, dengan besarnya pengaruh variabel
lain adalah sebesar 0.271 untuk lebih jelasnya besar pengaruh dapat dilihat pada
gambar sebagai berikut :

X1


rx1x2 = 0.301
X2
rx1x3 = -0.129
rx2x3 = 0.231

Y

X3
Gambar 4.9
Besarnya Pengaruh Arus X1, X2 dan X3 ke Y
Pembahasan Hasil Penelitian
Pembahasan pengaruh komunikasi organisasi terhadap kinerja pegawai di
Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung dimaksudkan untuk
mengungkapkan dan menjelaskan hasil penelitian serta menganalisis hasil
penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif juga
membahas pengujian hipotesis.
Pembahasan Secara Simultan Pengaruh Komunikasi Organisasi (X) terhadap
Kinerja Pegawai (Y)
Berdasarkan hasil analisis uji kontribusi pengaruh, menunjukkan bahwa
variabel komunikasi organisasi berpengaruh terhadap kinerja pegawai Bagian Tata
Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung adalah sebesar 0.744 atau 74.4%.
Komunikasi organisasi yang terdiri dari arus komunikasi ke bawah, komunikasi ke
atas dan komunikasi horizontal sangat kuat terhadap kinerja pegawai yang terdiri
dari dimensi kualitas kerja, kuantitas, penggunaan waktu dan kerjasama..
Komunikasi organisasi di Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota
Bandung berdasarkan hasil penelitian ini terbukti memberikan pengaruh positif dan
signifikan, artinya bahwa komunikasi organisasi sangat dominan dan menentukan
terhadap kinerja pegawai di Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung.
Disamping itu pula bahwa semakin efektif pelaksanaan komunikasi organisasi
semakin besar kinerja pegawai untuk memberikan kontribusinya kepada capaian
kinerja organisasi secara keseluruhan. Dengan demikian pengaruh secara simultan
menunjukkan hasil yang cukup kuat, potensial dan menentukan dalam
meningkatkan kinerja pegawai pada Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota
Bandung.
Berdasarkan temuan di lapangan memperlihatkan bahwa faktor komunikasi
organisasi secara substansial telah dilaksanakan oleh Bagian Tata Usaha Sekretariat
Daerah Kota Bandung melalui komunikasi atasan kepada bawahan, komunikasi
bawahan kepada atasan dan komunikasi sesama pegawai dalam tingkatan yang
sama. Adapun hasil wawancara dengan kepala bagian terungkap bahwa aspek
komunikasi organisasi dipandang penting oleh Bagian Tata Usaha Sekretariat
Daerah Kota Bandung, karena komunikasi organisasi membantu menyelesaikan
tugas-tugas anggota organisasi dalam mencapai tujuan sesuai dengan visi dan misi
Pemerintah Kota Bandung. Fakta dilapangan mengindikasikan keadaan kinerja
pegawai yang belum optimal di Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota
Bandung. Hal ini dapat dilihat pada pegawai di Bagian Tata Usaha yang seharusnya
menyelesaikan dokumen perencanaan kegiatan dalam waktu dua minggu, namun
kenyataannya, baru dapat menyelesaikan tugas pekerjaannya dalam waktu tiga
minggu. Jika hal ini dibiarkan begitu saja tanpa penanganan maka pekerjaan akan
selalu terlambat dan menumpuk padahal masih banyak tugas lain yang harus
diselesaikan.
Berdasarakan hasil wawancara dengan Sekretaris Daerah Kota Bandung,
bahwa komunikasi organisasi sanat diperlukan dalam mencapai tujuan organisasi.
Karena dengan pelaksanaan komunikasi segala apa yang menjadikan hambatan
dalam pelaksanaan kerja tentunya akan dapat memperlancar dan menjadikan sebuah
solusi dalam memecahkan masalah yang dihadapi orgnisasi daalam mencapai
tujuannya.
Peneliti dapat mengabalisis bahwa belum optimalnya kinerja pegawai
tersebut, secara empirik disebabkan oleh beberapa hal, dikarenakan masih
kurangnya dukungan sumber daya yang ada salah satunya kemampuan pegawai
dalam melakukan komunikasi secara baik terutama dalam menyikapi pekerjaan
yang dihadapinya. Hal ini karena dapat terdeteksi penyebab masalahnya berkaitan
dengan komunikasi organisasi yang belum dijalankan secara optimal yang
dilaksanakan oleh pegawai dilingkungan Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah
Kota Bandung.
Pembahasan Secara Parsial Pengaruh Komunikasi Organisasi (X) terhadap
Kinerja Pegawai (Y)
Variabel komunikasi organisasi (X) yang terdiri dari tiga dimensi, yaitu
dimensi komunikasi ke bawah (X1), dimensi komunikasi ke atas (X2) dan dimensi
komunikasi horizontal (X3), berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Untuk lebih
lengkapnya dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Pembahasan Secara Parsial Pengaruh Komunikasi ke Bawah (X1) terhadap
Kinerja Pegawai (Y)
Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa arus komunikasi ke bawah
berpengaruh terhadap kinerja pegawai adalah sebesar 0.220 atau 22.0%. Arus
komunikasi ke bawah yang terdiri dari indikator instruksi kerja, penjelasan dasar
pekerjaan, penyampaian peraturan dan pemberian motivasi sedangkan kinerja
pegawai diwakili oleh dimensi kualitas kerja, kuantitas, penggunaan waktu dan
kerjasama.
Berdasarkan data tersebut tergambarkan bahwa dimensi komunikasi ke
bawah memberikan sumbangsih yang cukup signifikan terhadap kinerja pegawai
Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung. Artinya, semakin tinggi
komunikasi yang terjalin dari atasan kepada bawahan, maka akan semakin
meningkat pula kinerja pegawai. Hal ini diterangkan bahwa melalui komunikasi ke
bawah, bawahan dapat mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana
melakukan pekerjaan sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh atasan. Bawahan
juga dapat mengetahui bagaimana pekerjaan mereka berhubungan dengan tugastugas dan posisi lainnya dalam organisasi dan mengapa mereka melakukan
pekerjaannya sehingga dapat membantu organisasi dalam mencapai tujuannya.
Fakta empiris di lapangan menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan
komunikasi ke bawah di instansi telah berjalan namun belum optimal sehingga
pelaksanaanya perlu ditingkatkan terutama penyampaian instruksi kerja (job
instruction), penjelasan dari pimpinan tentang mengapa suatu tugas perlu
dilaksanakan (job rationale), penyampaian informasi mengenai pertauran-peraturan
yang berlaku (procedures and practices) dan pemberian motivasi kepada bawahan
agar bekerja lebih baik.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Sekretaris Daerah
Kota Bandung bahwa pada Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung
pada umumnya sudah menjalankan instruksi kerja (job instruction), penjelasan
dasar pekerjaan (job rationale), penyampaian peraturan (procedures and practices)
dan pemberian motivasi. Akan tetapi di dalam pelaksanaannya perlu lebih
ditingkatkan agar kinerja pegawai berjalan sesuai dengan tujuan organisasi. Dengan
demikian dimensi komunikasi ke bawah dalam variabel komunikasi organisasi
menjadi perhatian untuk dilaksanakan secara optimal di lingkungan Bagian Tata
Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung.
Melalui komunikasi ke bawah ini, bawahan dapat mengetahui apa yang
harus dilakukan dan bagaimana melakukan pekerjaan sesuai dengan instruksi (job
instruction) yang diberikan oleh atasan. Bawahan juga dapat mengetahui
bagaimana pekerjaan mereka berhubungan dengan tugas-tugas dan posisi lainnya
dalam organisasi dan mengapa mereka melakukan pekerjaannya sehingga dapat
membantu organisasi dalam mencapai tujuannya. Komunikasi ke bawah juga
meliputi penyampaian informasi dari atasan kepada bawahan mengenai praktikpraktik organisasi, peraturan-peraturan organisasi, kebiasaan dan data lain yang
tidak berhubungan dengan instruksi dan rasional. Atasan berkomunikasi dengan
bawahan dengan menjelaskan seberapa baik bawahan telah bekerja dan dengan
cara bagaimana bawahan dapat memperbaiki kinerjanya. Dengan demikian,
bawahan merasa termotivasi untuk menghasilkan kinerja yang baik.
Berdasarkan hal tersebut di atas peneliti dapat menganalisis bahwa
komunikasi ke bawah dalam konteks komunikasi organisasi cukup memberikaan
konstribusi terutama berkaitan dengan instruksi kerja yang dilakukan oleh
pemimpin dalam hal ini Kepala Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota
Bandung. Instruksi yang dilakukan adalah semua berkaitan dengan pelaksanaan
kerja yang harus di lakukan oleh bawahan, agar semua pegawai dapat bekerja sesuai
dengan tugas dan fungsinya.
b. Pembahasan Secara Parsial Karakteristik Komunikasi ke Atas (X2)
terhadap Kinerja Pegawai (Y)
Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa arus komunikasi ke atas
berpengaruh terhadap kinerja pegawai sebesar 0.253 atau 25.3%. Arus komunikasi
ke atas ini terdiri dari indikator laporan pelaksanaan tugas, persoalan kerja, saran
perbaikan dan kebutuhan pribadi/pekerjaan sedangkan kinerja pegawai diwakili
oleh dimensi kualitas kerja, kuantitas, penggunaan waktu, kerjasama. Berdasarkan
hasil pengolahan data tersebut tergambar bahwa dimensi komunikasi ke atas
memberikan sumbangsih relatif besar terhadap kinerja pegawai Bagian Tata Usaha
Sekretariat Daerah Kota Bandung.
Dalam konteks tersebut dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi komunikasi
yang terjalin dari bawahan kepada atasan, maka akan semakin meningkat pula
kinerja pegawai dilingkungan Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung.
Hal ini dapat diterangkan bahwa melalui komunikasi ini, atasan dapat mengetahui
apa yang dilakukan bawahan, pekerjaannya, hasil yang dicapainya serta kemajuan
dalam pelaksanaan tugasnya. Jika dalam pelaksanaan tugasnya itu menghadapi
persoalan maka bawahan menyampaikannya kepada atasan agar dapat dibantu
sehingga pelaksanaan tugas berjalan dengan lancar. Fakta empiris di lapangan
menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan komunikasi ke atas di instansi telah
berjalan dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan perilaku bawahan menyampaikan
laporan kepada atasan terkait dengan penyelesaian pekerjaan dan penyampaian
masalah/persoalan dalam pekerjaan sudah berjalan dengan baik.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Sekretaris Daerah
Kota Bandung , bahwa pada umumnya di Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah
Kota Bandung sudah menjalankan laporan pelaksanaan tugas, penyampaian
persoalan pekerjaan, penyampaian saran perbaikan serta keluhan pribadi maupun
pekerjaannya. Akan tetapi di dalam pelaksanaannya perlu lebih ditingkatkan agar
kinerja pegawai berjalan sesuai dengan tujuan organisasi. Dengan demikian dimensi
komunikasi ke atas dalam variabel komunikasi organisasi menjadi perhatian untuk
dilaksanakan lebih optimal di lingkungan Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah
Kota Bandung.
Melalui komunikasi ini, atasan dapat mengetahui apa yang dilakukan
bawahan, pekerjaannya, hasil yang dicapainya serta kemajuan mereka dalam
pelaksanaan tugasnya. Jika dalam pelaksanaan tugasnya itu menghadapi persoalan
maka bawahan perlu menyampaikannya kepada atasan agar dapat dibantu sehingga
pelaksanaan tugas berjalan dengan lancar. Bawahan juga perlu memberikan saransaran atau ide-ide kepada atasan bagi penyempurnaan unit kerjanya masing-masing
maupun bagi organisasi secara keseluruhan. Demikian pula halnya dengan pikiran
dan perasaan bawahan mengenai pekerjaan, teman sekerjanya dan organisasi perlu
disampaikan kepada atasan.
Berdasarakan fakta di atas peneliti dapat menjelaskan bahwa komunikasi ke
atas sangat memberikan konstribusi terhadap pencapaian tujuan organisasi. Hal ini
dikarenakan bahwa dalam pelaksanaan kerja yang dilakukan oleh bawahan dapat
terpantau melalui laporan pelaksanaan kerja, artinya apabila ada laporan pekerjaan
yang salah maka dapat segera diketahui dan dapat segera di perbaiki. Hal ini
tentunya sangat membantu terhadap pencapaian tujuan organisasi sesacara
keseluruhan terutama berkaian dengan tugas dan fungsi yang ada di lingkungan
Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung.
c. Pembahasan Secara Parsial Karakteristik Komunikasi Horizontal (X3)
terhadap Kinerja Pegawai (Y)
Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa arus komunikasi horizontal
berpengaruh terhadap kinerja pegawai adalah sebesar 0.271 atau 27.1%. Arus
komunikasi horizontal ini terdiri dari indikator koordinasi tugas, pemecahan
masalah, berbagi infromasi dan membina hubungan kerjasama sedangkan kinerja
pegawai diwakili oleh dimensi kualitas kerja, kuantitas, penggunaan waktu,
kerjasama. Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut tergambar bahwa dimensi
komunikasi horizontal memberikan sumbangsih yang signifikan terhadap kinerja
pegawai Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung.
Berdasarkan hasil tersebut peneliti dapat menjelaskan bahwa semakin tinggi
komunikasi yang terjalin di antara para pegawai yang setara kedudukannya dalam
organisasi, maka akan semakin meningkat pula kinerja pegawai. Fakta empiris
menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan komunikasi horizontal di instansi telah
berjalan dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan koordinasi di antara sesama
pegawai sudah berjalan dengan baik sehingga dapat membantu kelancaran
penyelesaian tugas pekerjaan.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Sekretaris Daerah
Kota Bandung bahwa di Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung pada
umumnya sudah menjalankan komunikasi horizontal berupa koordinasi tugas,
pemecahan masalah, berbagi informasi dan membina hubungan kerjasama dengan
bagian lain atau instansi lainnya. Akan tetapi di dalam pelaksanaannya perlu lebih
ditingkatkan agar kinerja pegawai berjalan sesuai dengan tujuan organisasi. Dengan
demikian komunikasi horizontal dalam variabel komunikasi organisasi menjadikan
sesuatu hal yang sangat penting pula untuk dilaksanakan lebih optimal di
lingkungan Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung.
Fungsi komunikasi horisontal yang pertama adalah koordinasi tugas kepalakepala bagian dalam suatu organisasi kadang-kadang perlu mengadakan rapat atau
pertemuan untuk mendiskusikan bagaimana tiap-tiap bagian memberikan
kontribusi dalam mencapai tujuan organisasi. Munculnya masalah dalam
pelaksanaan tugas pada organisasi sering ditemui dan harus segera ditangani. Oleh
karena itu, orang-orang yang berada pada tingkatan yang sama berupaya untuk
terlibat dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Mereka juga saling berbagi
informasi untuk mencari ide yang lebih baik. Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian
besar waktu kerja anggota organisasi berinteraksi dengan sesamanya, maka
merekalah memperoleh dukungan hubungan interpersonal dari temannya. Hal ini
akan memperkuat hubungan diantara mereka dan membantu kekompakkan dalam
kerja kelompok.
Berdasarkan data tersebut peneliti dapat menganalisis bahwa komunikasi
horizontal dalam konteks komunikasi organisasi ini merupakan karakteristik yang
sangat penting disamping karakteristik komunikasi organisasi lainnya. Hal ini dapat
dijelaskan bahwa pencapaian tujuan organisasi memerlukan komunikasi horizontal
dengan bagian lainnya atau instansi lainnya melalui fungsi koordinasi. Sebagaimana
di jelaskan bahwa koordinasi ini mempunyai peran penting dalam organisasi untuk
menyatupadukan arah kegiatan agar tidak tumpang tindih dalam melaksanaan
kegiatannya. Dengan koordinasi pekerjaan dapat terarah sehingga proses
penyelesaian tujuan dapat terlaksana dengan efektif dan efesien.
7. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebagaimana dijelaskan pada
Bab IV terdahulu, maka secara komprehensif peneliti dapat menyimpulkan hasil
penelitian dan pembahasan ini sebagai berikut :
1. Secara simultan komunikasi organisasi memberikan pengaruh sangat besar dan
signifikan terhadap kinerja pegawai Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah
Kota Bandung. Artinya komunikasi organisasi sangat dominan dan dapat
menentukan terhadap peningkatan kinerja pegawai pada Bagian Tata Usaha
Sekretariat Daerah Kota Bandung. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa
kinerja pegawai pada Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota Bandung
ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh komunikasi organisasi semata, tetapi ada
variabel lain yang juga ikut mempengaruhi terhadap kinerja pegawai.
2. Secara parsial komunikasi organisasi yang diukur melalui komunikasi ke
bawah, komunikasi ke atas dan komunikasi horizontal memberikan pengaruh
cukup besar dan signifikan terhadap kinerja pegawai di Bagian Tata Usaha
Sekretariat Daerah Kota Bandung. Hal tersebut menggambarkan bahwa semua
karakteristik yang ada dalam komunikasi organisasi sangat menentukan
terhadap peningkatan kinerja pegawai pada Bagian Tata Usaha Sekretariat
Daerah Kota Bandung, namun secara operasional belum seluruhnya berjalan
secara efektif, sehingga berpengaruh pada kinerja pegawai. Adapun pengaruh
paling besar dari karakteristik komunikasi organisasi adalah komunikasi
horizontal, sedangkan yang paling kecil adalah komunikasi ke bawah.
8. Saran
Berdasarkan temuan penelitian, peneliti dapat menyampaikan saran-saran
penelitian yang dapat menjadi rekomendasi, baik dalam konteks pengembangan
ilmu maupun sebagai kontribusi bagi perbaikan dalam komunikasi organisasi
dalam peningkatan kinerja pegawai pada Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah
Kota Bandung. Adapun saran yang dimaksud antara lain :
Saran Akademik
Perlu dilakukan penelitian lanjutan oleh peneliti lain tentang fenomena belum
efektifnya komunikasi organisasi terhadap kinerja pegawai, khususnya ditinjau
dari perspektif ilmu administrasi publik dan kebijakan publik. Fenomena
tersebut diperkuat oleh adanya variabel lain yang tidak diteliti, namun dapat
mempengaruhi kinerja pegawai.
Saran Praktis
1. Disarankan kepada Kepala Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota
Bandung agar komunikasi organisasi ini dijalankan secara efektif dan
komprehensif dan dapat dilaksanakan secara sungguh-sungguh, sehingga
mampu memberikan konstribusi terhadap peningkatan kinerja pegawai dan
dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan oleh Bagian Tata Usaha
Sekretariat Daerah Kota Bandung secara efektif dan efesien.
2. Disarankan kepada Kepala Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Kota
Bandung, agar dapat meningkatkan pelaksanaan komunikasi ke bawah
dengan efektif dengan cara melaksanakan instruksi kebawahan dengan
baik, dapat memberikan penjelasan dasar pekerjaan, dapat menyampaikan
peraturan kepada bawahan disamping memberikan motivasi kerja pada
bawahan, sehingga kinerja pegawai di Bagian Tata Usaha Sekretariat
Daerah Kota Bandung dapat tercapai secara efektif.
9. DAFTAR PUSTAKA
Al-Rasid, Harun. 1994. Analisis Jalur (Path Analysis) Sebagai Sarana Statistika
Dalam Analisis Kausal. Bandung: LP3ES Fakultas Ekonomi UNPAD.
As'ad, Muhammad. 1995. Seri Ilmu Sumber Daya Manusia Psikologi Industri.
Yogyakarta : Librty.
Atmosudirdjo, Prajudi. 1982. Administrasi dan Manajemen. Jakarta : Ghalia
Indonesia.
Dharma, Agus. 1985. Manajemen Prestasi Kerja. Jakarta: Rajawali.
Effendy, Onong. 1993. Human Relations dan Public Relations. Bandung: Alumni.
Griffin, Em. 2003. A First Look at Communication Theory. McGrraw-Hill
Companies.
Handayaningrat, Soewarno. 1995. Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen. Jakarta:
Gunung Agung.
Handoko, T. Hani. 2003. Manajemen Personalia & Sumber Daya Manusia.
Yogyakarta: UGM Press.
Haryani, Sri. 2001. Komunikasi Bisnis. Yogyakarta: UPP AMIP YKPN.
Hasibuan, Malayu S. P. 1999. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Erlangga.
Henry, Nicholas. 1988. Administrasi Negara dan Masalah Kenegaraan.
Terjemahan: Luciana D. Lontoh. Jakarta: Rajawali.
Iskandar. 2001. Metode Penelitian Survey. Jakarta: Gramedia.
Islamy, M. Irian. 1994. Prinsip-prinsip Perumusan Kebijakan Negara. Jakarta :
Bumi Aksara Jakarta.
Kasim, M. 1994. Analisis Kebijakan Negara. Jakarta : Erlangga.
Kristiadi, J.R. 1994. Administrasi Pembangunan dan Keuangan Daerah. Jakarta:
Gramedia.
Mahmudi. 2007. Manajemen Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta : Sekolah Tinggi
Ilmu Manajemen YKPN.
Mangkunegara, Anwar. 2004. Manajemen Sumber Daya Perusahaan. Bandung:
Remaja Rosda Karya.
Moeheriono. 2009. Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Nazir, Mohammad. 1985. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Putra, Fadillah. 2001. Paradigma Kritis Dalam Studi Kebijakan Publik, Perubahan
dan Inovasi Kebijakan dan Ruang Partisipasi Masyarakat Dalam
Proses Kebijakan Publik. Surabaya: Pustaka Pelajar.
Sedarmayanti. 2001. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas. Bandung: Mandar
Maju.
Sendjaja, 1994. Teori-Teori Komunikasi. Universitas Terbuka.
Siagian, Sondang P. 1994. Pengembangan Sumber Daya Insani. Jakarta: Gunung
Agung.
Silalahi. 1989. Sistem Administrasi Pemerintahan. Jakarta: Bina Aksara.
Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1982. Metode Penelitian Survai. Jakarta :
LP3ES.
Sudarmanto. 2009. Kinerja dan Pengembangan Kompetensi SDM. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Suganda, Dann. 1995. Kapita Selekta Administrasi dan Pendapat Para Pakar.
Jakarta: Arcan.
Sugiono. 1992. Metoda Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.
Suradinata, Ernmaya. 1993. Kebijakan, Keputusan dan Kebijaksanaan. Bandung:
Mandar Maju.
The Liang Gie. 1982. Ensiklopedi Administrasi. Jakarta : Gunung Agung.
Wahab, Abdul Solihin. 1997. Analisis Kebijaksanaan Dari Formulasi Ke
Implementasi Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Bumi Aksara.
Winardi, Joseph. 2003. Teori Organisasi dan Pengorganisasian. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Winarno, Budi. 2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta: MedPress.
Wursanto. 1995. Etika Komunikasi Kantor. Yogyakarta: Kanisius.
Yulianita, Neni. 2005. Public Relations untuk Komunikasi. Bandung: LPPM
UNISBA.
Dokumentasi
Vaughan, Regan. 2012. Analisis Dampak Komunikasi Persuasif terhadap Kinerja
Pegawai pada Bidang Pengembangan Karir Badan Kepegawaian Daerah
Provinsi Jawa Barat. Tesis. Program Magister Ilmu Administrasi
Fakultan Pascasarjana Unpas Bandung.
Firmansyah, 2010. Analisis Dampak Komunikasi Organisasi terhadap Kinerja
Pegawai pada Sekretariat Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Tesis.
Program Magister Ilmu Administrasi Program Pascasarjana Unpad
Bandung.
Peraturan Walikota Bandung Nomor 420 Tahun 2010 tentang Rincian Tugas
Pokok, Fungsi, Uraian Tugas dan Tata Kerja Bagian Tata Usaha
Sekretariat Daerah Kota Bandung.
Download